AKREDITASI GUDEP

Posted on November 24, 2011 by trisnomarsa1 AKREDITASI GUDEP MATRIK PENILAIAN INSTRUMEN AKREDITASI GUGUSDEPAN 1 STANDAR ADMINISTRASI GUGUSDEPAN A 1 Memiliki Nomor Gudep 2 Memiliki Buku Registrasi Pesertadidik 3 Memiliki Buku Catatan Pribadi Pesertadidik 4 Memiliki Buku Presensi 5 Memiliki Buku Daftar Anggota di setiap Satuan 6 Memiliki Log Book 7 Memiliki Buku Inventaris Satuan 8 Memiliki Buku Iuran 9 Memiliki Buku Administrasi Dana dan Keuangan Satuan 10 Memiliki Buku Registrasi Pembina dan Anggota Mabi 11 Memiliki Catatan/notulen rapat/risalah rapat 12 Memiliki Formulir Pelaksanaan Kegiatan 13 Memiliki Buku Agenda, Verbal dan expedisi surat menyurat 14 Memiliki Buku Acara Kegiatan 15 Memiliki Program Kegiatan 16 Memiliki Buku Laporan Keuangan Bulanan 17 Memiliki Buku Inventaris Gugusdepan 18 Memiliki Catatan tentang Pelaksanaan Pelatihan (Program Kegiatan) 19 Memiliki Buku Catatan Pribadi setiap Pembina 20 Mengirimkan laporan Gudep ke Kwarran dan Kwarcab 21 Memiliki Buletin Gudep B 1 Memiliki Nomor Gudep 2 Memiliki Buku Registrasi Pesertadidik 3 Memiliki Buku Catatan Pribadi Pesertadidik 4 Memiliki Buku Presensi 5 Memiliki Buku Daftar Anggota di setiap Satuan 6 Memiliki Log Book 7 Memiliki Buku Inventaris Satuan 8 Memiliki Buku Iuran 9 Memiliki Buku Administrasi Dana dan Keuangan Satuan Matrik Akreditasi 25 nop Page 1

Martin Luther King.D Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama. maka pendidikan karakter tidak akan efektif. tanpa ketiga aspek ini. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. bangsa dan negara. diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan . Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. 2011 by trisnomarsa1 PENDIDIKAN KARAKTER PENDIDIKAN KARAKTER Rate This Urgensi Pendidikan Karakter Prof . Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. baik dan rendah hati. kepribadian dan akhlak mulia. keenam. diplomatis. dan tindakan (action). Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal. hormat dan santun. ketiga. intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya). dan. juga pernah dikatakan Dr. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan. kemandirian dan tanggungjawab. karakter toleransi. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. kesembilan. ketujuh. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas. yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). keempat. Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. dermawan. masyarakat. kelima. kedua. kedelapan. kedamaian. dan kesatuan. Kesembilan pilar karakter itu. namun juga berkepribadian atau berkarakter. suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama. Menurut Thomas Lickona. perasaan (feeling). percaya diri dan pekerja keras. kepemimpinan dan keadilan.PENDIDIKAN KARAKTER Posted on Desember 5. yaitu: pertama. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan. yakni. baik dalam lingkup keluarga. Memahami Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus. kejujuran/amanah. karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya. Suyanto Ph. karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan. sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

et. Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. kemampuan bekerja sama. Character Educator. karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya.al. barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit. seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah. tetapi pada karakter. sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age). Marvin Berkowitz dari University of Missouri. kemampuan bergaul. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Karena guru adalah ujung tombak di kelas. Faktorfaktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa. yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr.St. yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. feeling the good. Dari sini. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Louis. orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Namun bagi sebagian keluarga. Setelah terbiasa melakukan kebajikan. dan acting the good. Karena itu. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. Dampak Pendidikan Karakter Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Anak-anak yang mempunyai . yaitu rasa percaya diri. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja.holistik menggunakan metode knowing the good. Dasar pendidikan karakter ini. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good. yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru. Di sinilah peran guru. dan kemampuan berkomunikasi. maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan. rasa empati. Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. dipertaruhkan. kemampuan berkonsentrasi. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah.

Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Prof. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. narkoba. semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya.Pd. perilaku seks bebas.Hum dan Drs. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan.Mahfud. Ph. pada dasarnya pembentukan karakter itu .Dr. M.Sunaryo Kartadinata. berakhlak mulia. pendidikan karakter pun mendapatkan perhatian yang cukup besar.Dr. Selain Wakil Menteri Pendidikan Nasional. tawuran. pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. Wamendiknas mengungkapkan bahwa telah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan pendidikan karakter. Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini.masalah dalam kecerdasan emosinya. akan mengalami kesulitan belajar. yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. SH. Jepang. Wamendiknas dalam acara ini mengungkapkan arti penting pendidikan karakter bagi bangsa dan negara. Prof.A. miras. dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. mandiri. Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan. beliau pun menjelaskan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatar belakangi oleh keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945. pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. M.MD. cakap. Acara yang digelar di Balai Pertemuan UPI ini. Prof. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. kreatif.Jimly Asshiddiqie. Cina.M.Djohermansyah Djohan. Yadi Ruyadi.Fasli Jalal. Amerika Serikat.si. Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa.Dr. Di lingkungan Kemdiknas sendiri. Tidak kecuali di pendidikan tinggi. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.” Dari bunyi pasal tersebut. selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa.SH. Prof. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya.Dadan Wildan. Prof. dan Korea.Dr. SU. sehat. Wamendiknas pun mengatakan bahwa.H.Dr. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter. berilmu.H. hadir pula menjadi pembicara seperti Prof. M.D. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. dibidani oleh Pusat Kajian Nasional Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan UPI. dan sebagainya. kemarin (1/06) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengadakan Rembuk Nasioanal dengan tema “ Membangun Karakter Bangsa dengan Berwawasan Kebangsaan”.dr.

adalah Menkokesra. Mendiknas.dimulai dari fitrah yang diberikan Ilahi. Wamendiknas juga mengatakan bahwa hendaknya pendidikan karakter ini tidak dijadikan kurikulum yang baku. melainkan sebagai corong utama titik balik kesuksesan peradaban bangsa. mengingat ruang lingkup pendidikan karakter sendiri ssangatlah luas. diadakan Rapat Kerja yang membahas pendidikan karakter. Menag. maka indonesia harus merombak istem pendidikan yang ada saat ini. Oleh karena itu Wamendiknas mengatakan bahwasanya sekolah sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting. kurikulum pendidikan di Indonesia masih belum menyentuh aspek karakter ini. Hadir dirapat tersebut selain 25 anggota fraksi. Menbudpar. Dalam prosesnya sendiri fitrah Ilahi ini dangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Tetapi yang masih umum diterapkan mengenai pendidikan karakter ini masih pada taraf jenjang pendidikan pra sekolah (taman bermain dan taman kanak-kanak). melainkan dibiasakan melalui proses pembelajaran. Dalam Rapat Kerja tersebut dibahas mengenai kesiapan masing-masing kementerian mengenai pendidikan karakter tersebut. yang kemudian membentuk jati diri dan prilaku. tapi itu masih sebatas teori dan tidak dalam tataran aplikatif. Wamendiknas. . Sehari sebelum acara yang digelar di UPI ini ( 31/05). Lebih lanjut Wamendiknas pun berpesan. sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku. Padahal jika Indonesia ingin memperbaiki mutu SDM dan segera bangkit dari ketinggalannya. serta para pejabat eselon 1 kementerian terkait. Semoga pendidikan karakter ini tidak hanya menjadi proses pencarian watak bangsa saja. Menkokesra sebagai koordinator perumus pendidikan karakter ini menyebutkan bahwa setiap kementerian yang terikat memiliki program-program berencana mengenai pendidikan karakter yang nantinya diajukan sebagai bahan untuk mengagas lahirnya Keppres mengenai pendidikan karakter. Selain itu mengenai sarana-prasaran. sementara pada jenjang sekolah dasar dan seterusnya masih sangat-sangat jarang sekali. Menkokesra pun menyebutkan bahwa nantinya pendidikan karakter ini akan dijadikan aksi bersama dalam pelaksanaannya. Menpora. Perwakilan Kementerian Dalam Negeri. Para anggota fraksi pun melihat pendidikan karakter ini sangat penting dalam membentuk akhlak dan paradigma masyarakat Indonesia. DPR-RI. Wamendiknas menganjurkan agar setiap sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki school culture . Saat ini mulai marak dibicarakan mengenai pendidikan karakter. dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. meskipun ada pelajaran pancasila. Wamendiknas melihat bahwa kearifan lokal dan pendidikan di pesantern dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pengembangan pendidikan karakter. pendidikan karakter ini tidak memiliki sarana-prasarana yang istimewa. agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut. di Ruang Rapat Komisi X. Prihal pengembangannya sendiri. karena yang diperlukan adalah proses penyadaran dan pembiasaan. kewarganegaraan dan semisalnya.

al. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah. anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak. rasa empati. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter.Mungkin banyak yang bertanya-tanya sebenarnya apa sih dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. dan tindakan (action). tawuran. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan. tetapi pada karakter. dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive). kemampuan bekerja sama. kemampuan bergaul. yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. dan sebagainya. Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins. maka pendidikan karakter tidak akan efektif. yaitu rasa percaya diri. Dengan pendidikan karakter. Character Educator. dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya. kemampuan berkonsentrasi. tanpa ketiga aspek ini. dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. perilaku seks bebas. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak. termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. dan kemampuan berkomunikasi. Louis.Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat. Marvin Berkowitz dari University of Missouri. Dikatakan bahwa ada sederet faktorfaktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Menurut Thomas Lickona. akan mengalami kesulitan belajar. dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan . Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan. miras. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak.St. et. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin. menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. narkoba. karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan. ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi. 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Namun masalahnya. perasaan (feeling). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya.

Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal. sebagian besar anakanak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. apa mau dikata jika realitanya demikian? Karena pertanyaannya. sebagai anak yang kurang pandai. Jadi. SMP dan SMU. Namun. Maka. lokakarya maupun workshop yang digelar di hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat atau bahkan pelosok negeri. terutama pasca digulirkannya UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005. sehingga tidak sedikit dari kalangan pendidik sebagai peserta seminar. apa mungkin lokakarya atau workshop itu bisa berjalan secara efektif (sampai pada tahap perumusan kesimpulan untuk direkomendasikan) jika perbandingan antara jumlah peserta dengan kapasitas ruangan menunjukkan keadaan yang tidak representatif? Adalah sesuatu yang nyaris impossible untuk bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan jika sebuah forum. dan masih banyak lagi tema lain yang tidak kalah menarik.itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Akibatnya sejak usia dini. yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter).that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter…. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. ANTARA PENDIDIKAN KARAKTER DAN KARAKTER PENDIDIKAN “Pendidikan karakter” atau “character building”. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”. lokakarya maupun workshop sebagai sebuah protokoler demimendapat selembar sertifikat belaka. akan menimbulkan stress berkepanjangan. Tentu yang demikian bukan sesuatu yang diharapkan dari sebuah seminar atau apapun namanya itu. tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran. Dr. yang kesemuanya merupakan konsep dan wacana pendidikan yang sangat brilian. Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character…. menjadi tema yang sangat akrab di ruang-ruang seminar. dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU.pembicaraan ramai. dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya. terlebih dengan narasumber yang terbatas dari segi kuantitas maupun kualitasnya. pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Bahkan kesan yang timbul adalah demikian kentalnya unsur . terlibat kriminalitas. Di sisi lain tidak sedikit pula peserta yang memilih melewati seminar. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri. lokakarya maupun workshop yang seakan terhipnotis untuk dapat segera mengaplikasikan konsep-konsep dan wacana tersebut ke dalam proses pembelajaran. maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD. putus sekolah. melibatkan 300 hingga 600 peserta. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia.. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter.

bahkan bunuh diri yang dialami dan dilakukan oleh siswa yang tidak lulus. jika realitanya demikian terasa memvonis anak bangsa? Memvonis karena perjuangan dan keluh kesah siswa selama kurang lebih 3 tahun dengan indeks prestasi “memuaskan” untuk setiap bidang studi selama ini menjadi sia-sia tatkala karena sesuatu hal “lebih karena teknis LJK” maka terpaksa harus menerima pahitnya “label tidak lulus” dan pada akhirnya justru label lulus diperoleh dari ujian paket yang mau tidak mau mempengaruhi kelancaran mereka dalam menempuh pendidikan lebih lanjut termasuk juga mempengaruhi nasib mereka dalam memasuki dunia kerja. Maka pertanyaannya kemudian adalah. UAN dengan SKLnya merupakan upaya yang tepat untuk sekedar kepentingan standardisasi Nasional. Belum lagi. lokakarya maupun workshop. adanya kecenderungan masyarakat (orang tua / wali murid) menempuh jalan pintas demi kelulusan putra-putrinya sampai pada adanya kecenderungan siswa mempercayai sms-sms menyesatkan. adanya kecenderungan membocorkan soal atau kunci jawaban UAN oleh sejumlah oknum dari dunia pendidikan demi pencapaian prosentase kelulusan di wilayahnya. Begitu pun karakter peserta yang seharusnya memilih aktif melibatkan diri dalam proses seminar. Karena setidaknya. Padahal penyelenggara sudah jelas dari lingkungan pendidikan atau minimal LSM yang mengklaim peduli terhadap pendidikan. menambah lagi panjang daftar “karakter menyimpang” dari dunia pendidikan kita. topik masalah maupun pihak yang terlibat di dalamnya adalah bagian dari komponen pendidikan. Padahal belum tentu mereka tidak cerdas.“komersialisme” di balik penyelenggaraan seminar. karena baik forum. demikian pula halnya bagi mereka yang lulus UAN yang ternyata tidak juga menjamin untuk bisa mask ke sekolah / pendidikan tinggi unggulan terlebih ke dunia kerja yang prospektif. namun selalu dingin dan beku dalam penerapan karena indahnya konsep-konsep pendidikan yang “brilian” ternyata tidak pernah mampu menembus kerasnya dinding-dinding gedung tempat . haruskah “standardisasi Nasional” menjadi sesuatu yang yang selalu naif serta memilukan dan berujung dengan dinginnya tembok-tembok penyelenggaraan ujian paket demi menyandang label lulus? Sementara seminar. dampak dari pengumuman kelulusan itu sendiri. Hal itu membuktikan bahwa faktor keberuntungan masih terbuka dalam penyelenggaraan UAN dengan bentuk soal yang “multiple choice” itu. Di sisi lain. lokakarya maupun workshop selelu menjadi hal lain yang hanya hangat dalam pembahasan dan penyelenggaraan. lokakarya maupun workshop. Penyelenggra yang cenderung sengaja membludagkan peserta demi kepentingan komersial atau peserta yang cenderung hanya mengejar sertifikat demi nilai poin portopolio dalam sertifikasi. histeria. apakah benar. Dari sini jelas. Dengan demikian. Pertanyaannya adalah. hingga sampai pada tahap aplikasinya di lapangan. stres. penyelenggara bisa membatasi jumlah peserta jika memang menghendaki lokakarya/workshop bisa berjalan lebih kondusif dengan segala hasilnya. Hal itu menunjukka UAN sebagai “monster” yang menakutkan sehingga lagi-lagi ditempuh berbagai cara demi mendapatkan label “lulus”. tanpa disadari baik dari sisi penyelenggara maupun peserta telah dapat terpotret “sebuah karakter” tegasnya “bagian dari karakter pendidikan kita”. seperti berupa. jelas menunjukkan karakter yang menyimpang karena seharusnya karakter yang ada adalah penyelenggara yang mengutamakan proses serta hasil secara substansial.

Padahal tidak sedakit masyarakat/orang tua murid yang entah sampai kapan harus merindukan suatu sistem dan ukuran keberhasilan pendidikan yang lebih protektif terhadap minat dan bakat anaknya. Maka pertanyaannya adalah. serta cerdas dalam skill yang sangat dibutuhkan untuk bisa hidup layak di zamannya. lokakarya maupun workshop yang sejatinya mengakui bahwa kontribus IQ terhadap keberhasilan hidup anak manusia hanya sebesar 20%. Hal ini penting. EQ. efektivitas serta efisiensi pendidikan akan lebih bisa dirasakan. serta sedapat mungkinmenghindari faktor keberuntungan. dunia pendidikan Nasional kita bisa merumuskan kembali sistem serta ukuran keberhasilan yang lebih representatif. Barangkali kita sepakat bahwa standardisasi Nasional merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan kita. Oleh karena itu. serta bisa lebih protektif terhadap berkembangnya kecerdasan yang komprehensif dan holistik. jika kita menginginkan terbentuknya karakter bangsa sebagaimana tersirat dalam konsep-konsep dan wacana pendidikan di ruang-ruang seminar. Mengingat pendidikan hanya akan bisa dikatakan berhasl jika mampu mencetak manusia yang cerdas secara IQ. Namun kiranya perlu formulasi sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan yang tidak hanya menekankan “hasil kuantitatif” hanya pada bidang-bidang akademis melainkan perlu rumusan sistem serta ukuran keberhasilan yang protektif terhadap “esensi proses” serta nilai sikap (kualitatif) termasuk pada bidang-bidang non akademis yang selama ini “teranaktirikan” atau “termarjinalkan”. sebagai bidang kompetensinya? Sehingga dengan demikian. seyogianya. Presented by Pradhani Khatulistyaningrum Bagian Akademik Ilmiah Penelitian dan Pengembangan HMJ PGSD FKIP UNTAN PONTIANAK . sedang selebihnya ditentukan oleh EQ dan SQ. SQ. tidak cukupkah KTSP sebagai penyempurnaan dari KBK yang selayaknya mampu menerjemahkan minat dan bakat peserta didik sejak dini untuk kemudia dibina semaksimal mungkin.digodognya sistem serta ukuran keberhasilan pendidikan Nasional kita.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful