Blog Saling Berbagi

Berpacu menjadi yang terbaik

  

Home Profil Login

Kategori
  

a. Bahan Penunjang Kuliah (0) a. Semester - : Farmasetika (1) a. Semester - : Farmasi Komunitas (3)

                

a. Semester 6 : Fisika Farmasi (1) a. Semester 7 : Pharmacotherapy (16) a. Semester 8 : KIE (1) a. Semester III IV Farmakologi (3) a. Smester 8 : Clinical Pharmacy (14) B. InfoHealth update (0) B. KESEHATAN (22) B. perawatan (11) C. InterMezzo (4) D. Agama Vs. Sains (2) D. Harun Yahya (18) D. Hikmah (8) D. Kisah teladan (2) E. Umum (3) f. Smoking Area (2) Z. Aku (2) Z. SUKSES ADALAH HAK KITA (7)

Artikel Terbaru
    

RANGKUMAN FISFAR Cerita Anak Cerdas \"Asad dan Kupu-Kupu Warna-Warni\" 30 checklist konseling pasien Cerita Tentang Kerang Mutiara Gout and Hyperuricemia (Pharmacotherapy – A Pathophylogic Approach - Dipiro) indonesia

Artikel Populer
    

OSTEOPOROSIS _ Handbook pharmacotherapi dipiro (indo) ETIKA KETIKA BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN KERUNTUHAN TEORI EVOLUSI OSTEOARTRITIS _Handbook Pharmacotherapy_Dipiro RANGKUMAN FISFAR

Data Pribadi
Erlisa Nurwahida Subekti, mahasiswi farmasi UA '07 Pertama kali saya menempati Bumi Allah 13 Nov 1989 dari Perut seorang malaikat kecilku, yang mana Allah mengutusku memanggilnya IBU Wanita yang selalu menjagaku, mendoakanku, dan memelukku saat aku hidup didunia yang penuh dengan cobaan ini Blog ini saya Hidupkan Kembali setelah pihak Univ. membuatkan Blog secara cuma cuma kepada Kami, dan Saya menisinya dengan harapan 1. Memberi sedikit kemudahan bagi teman sejawat dalam mendapatkan Literatur "yang saya upload" 2. Memberi informasi kepada teman2 tentang hal yang saya upload 3. Berbagi IlmuNya.. :)

nampaknya ia belum memahami tujuan dan efek samping obatnya.Edward baru menerima terapi dengan obat baru untuk schizophrenia. A. Menurut laporan Ms. Obat tersebut memiliki sejumlah efek samping. Edward saat ia bertanya tentang efek samping . Etika Pelayanan Pasien Berikut ini merupakan contoh ilustrasi kasus beberapa prinsip etika perilaku yang dapat didiskusikan 1. Saat Anda tanya apakah dokternya telah menjelaskan tentang obat tersebut. dia menanyakan pada Anda tentang tujuan pengobatannya dan efek samping yang mungkin timbul. Semester 8 : KIE . UKAY!!! Z ZZ 3 ETIKA KETIKA BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN diposting oleh erlian-ff07 pada 29 March 2012 di a.digg JANGAN LUPA MENINGGALKAN komentar DI BLOG INI ya. Studi Kasus 1 Ms.4 komentar TUGAS MATA KULIAH KIE (FAS-322) ETIKA KETIKA BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN 1. beberapa di antaranya bisa serius.

17 tahun. Ketika Megan memasuki apotek untuk mengambil resep dia terganggu dan menolak untuk berbicara. Dia membawa resep untuk Plan B. jika Anda berada di pihak orangtua. “Saya mempunyai banyak pasien yang memakai obat ini dan mereka baik-baik saja”. Sehari . seorang mahasiswa. 1. tapi ia tetap tidak. Anda yakin bahwa Megan dalam masalah dan butuh bantuan keluarganya. anak dari teman dekat Anda menerima resep untuk kontrasepsi oral dan untuk mengatasi penyakit menular seksual (PMS). dokter hanya menjawab. Ternyata Megan telah bergaul dengan sekelompok siswa dimana orang tuanya telah melarangnya untuk bergabung. Setelah melakukan tanya jawab dengannya. yang terakhir mengambilkan resep untuk James tidak pernah menyadari penolakan anaknya atas epilepsinya ataupun ketidakpatuhan terhadap obatnya. Catatan medis menunjukkan adanya pola ketidakpatuhan. Ia juga tetap menyetir mobil sendiri dan baru-baru ini mengalami kecelakaan. dan tak percaya dengan diagnosis dokternya. patuh. Edward akan menolak menggunakan obat tersebut jika Anda menceritakan efek sampingnya. Ayahnya. 17 tahun. Apa yang seharusnya dikatakan kepada Ms. Studi Kasus 4 Nancy berusia 19 tahun. Jeff tetap bersikukuh dan merekomendasikan Nancy untuk memperoleh konseling. Dengan sedih Nancy menjelaskan pada Jeff bahwa alasan dia membutuhkan resep tersebut karena dia telah diserang dan diperkosa ketika ke asrama setalah pesta. Pasien tersebut meninggalkan apotek dengan resep yang tak dilayani dalam keadaan gusar dan emosional. menolak untuk melayani resep tersebut. Anda mendapati bahwa ia menganggap epilepsi itu menakutkan. seorang klien apotek Anda didiagnosis epilepsi dan mendapatkan resep fenitoin. Apakah sebaiknya Anda memberitahu ayahnya tentang ketidakpatuhan James? Bagaimana dengan polisi atau dokternya? 1. 1. Studi Kasus 3 Anda bekerja sebagai farmasis di apotek. Edward. Anda memperhatikan Megan. Anda ingin tahu tentang resep itu. yang diekspresikan pasien dengan keyakinannya bahwa ia tidak memerlukan obatnya. Anda telah memberikan edukasi dengan baik tentang fenitoin dan pentingnya pemakaian yang konsisten untuk mengontrol kejang. Resep ini digunakan untuk kontrasepsi post-coital darurat.kepada dokternya. Studi Kasus 2 James Bently. Anda khawatir Ms. Farmasis yang bertugas pada waktu itu adalah Jeff. Nancy menjadi bingung dan memohon dengan sangat kepada Jeff untuk melayani resep tersebut karena hanya apotek tersebut yang terdekat dari kampus serta yang menerima asuransi dan dia tidak tahu harus ke apotek mana untuk menebus resep tersebut. Anda sangat peduli terhadap Megan dan ingin tahu apakah dia menggunakan kontrasepsi oral yang dan menggunakan kondom terlebih dahulu yang dapat melindungi PMS.

setelah dia menghubungi dan berbicara kepada manajer Jeff. Apakah Anda telah benar jika menolak untuk melayani obat? Apa yang seharusnya Anda lakukan? Apakah prinsip etika yang terlibat dalam kasus ini? Apa yang akan Anda katakan kepada pasien? Beberapa dari kasus pasien di atas menggambarkan keputusan yang harus dibuat berdasarkan aspek hukum dan prinsip etik. Peraturan farmasi yang muncul sebagai manager terapi memerlukan anda untuk menjadi lebih efektif dan efisien ketika terlibat dalam semua bentuk komunikasi yang berhubugan dengan obat (Dhillon et al. Persoalan lain yang didapat dari prinsip-prinsip tersebut dan bagian yang penting dalam konseling pasien adalah informed consent. Kemampuan anda untuk memilih serangkaian aksi yang tepat dalam situasi tersebut berdasarkan apa yang anda pahami tentang prinsip etik yang terlibat. Hal itu merupakan konsep yang akan didiskusikan pada bagian akhir dalam makalah ini. datang ke apotek membawa sebuah resep untuk obat lethal dose dan menjelaskan keinginannya untuk mengakhiri hidup. dia menjelaskan situasi dan permintaan agar Jeff dipecat. 2001). Aspek hukum pada kasus-kasus tersebut dilindungi oleh negara dan hukum pemerintahan. merupakan pelanggan apotek Anda yang menderita penyakit dalam tahap akhir. 1. autonomy. lingkungan pelayanan kesehatan menyisakan tempat yang menarik dan kompleks yang menawarkan banyak kesempatan untuk pertumbuhan. yang mana melegalkan pelayanan obat yang digunakan untuk mengakhiri hidup pada orang yang membutuhkan. dan tantangan intelektual yang menarik yang mempengaruhi semua professional termasuk farmasis. Studi Kasus 5 Ny. dan agama yang kuat untuk membantu mengakhiri hidup dan merasa jika Anda tidak bisa melayani resep tersebut. Meskipun perubahan terjadi dengan cepat. Apakah Jeff telah benar dengan menolak untuk melayani obat? Apa sebenarnya yang harus Jeff lakukan kepada pasien? 1. Pharmacy Code dalam Berperilaku di Era Modern Pada dekade terakhir ini meningkatnya kemajuan dalam pelayanan kesehatan dan pemakaian suatu teknologi baru telah merubah lingkungan dimana pelayanan kesehatan diberikan. Jones. Dia menyatakan bahwa dia perlu beberapa penjelasan tentang cara pakainya. Negara tempat Anda melakukan praktek baru-baru ini telah memberikan izin “Death with Dignity Act”. Anda memiliki penilaian moral. confidentiality. kepuasan professional. B. etika. farmasis akan menemukan dirinya ditengah banyaknya aturan etik dan pertimbangan hukum yang . dan fidelity. banyak elemen yang tidak spesifik pada hukum dan peraturan tetapi melibatkan dasar prinsip etik dalam pembuatan keputusan pada pelayanan pasien termasuk beneficence. dan honesty. Akan tetapi. Sebagai praktik yang komprehensif dari pertumbuhan asuhan kefarmasian.

Tindall and Millonig. . honesty and truth telling. 2001. Katakata ini diadopsi dari Joint Commision of Pharmacy Practitioners mengikuti Pharmacy in the 21st Century Conference (Zelmer. Tujuh Prinsip Etik Pedoman Berperilaku Etik Tujuh prinsip tersebut antara lain nonmaleficence. 2001). farmasis harus bersiap untuk mengenal dan memecahkan persoalan etika dengan pemahaman umum dan prinsip etika yang spesifik dan dengan menggunakan prinsip-prinsip tersebut dalam asuhan kefarmasian dan managemen terapi pengobatan. compassionate. dan fidelity. confidentiality. atau obat yang mengakhiri kehamilan (lihat kasus 4). Berikut ini adalah delapan prinsip yang dideskripsikan pada APhA Code of Ethics for Pharmacist: Prinsip 1 : farmasis menghormati hubungan antara pasien dan farmasis Prinsip 2 : farmasis memperlihatkan hal yang baik pada pasien dalam hal kepedulian. dan menjaga kerahasiaan pasien Prinsip 3 Prinsip 4 Prinsip 5 : farmasis menghormati hak dan martabat pasien : farmasis bersikap jujur dan penuh integritas pada professional lain : farmasis memelihara kompetensi professional Prinsip 6 : farmasis menghormati hasil dan kemampuan teman sejawat dan profesi kesehatan lainnya Prinsip 7 Prinsip 8 : farmasis melayani kebutuhan individual dan masyarakat : farmasis mencari keadilan pada distribusi sumber kesehatan. informed consent. C. 1.membutuhkan resolusi jika farmasis akan berpegang kepada aturan pelayanan yang lebih teoritis dalam “membantu masyarakat untuk mendapat manfaat terbaik dari penggunaan obat”. 2003) dan berusaha untuk menyampaikan satu faktor penting didalam praktik farmasi kontemporer. Farmasis dapat dibanggakan. beneficence. Farmasi menyediakan tempat yang sensitif dan terlindungi untuk pelayanan informasi kesehatan pasien. Farmasis juga ditantang oleh permasalahan sosial kontemporer seperti diminta untuk meracik obat untuk mengakhiri kehidupan (lihat kasus 5). yang mana oleh WHO telah dipuji kepentingannya sebagai komunikator dan pemberi pelayanan kesehatan (Zelmer. autonomy versus paternalism. Oleh karena itu.

harapan ini masuk akal karena kesempurnaan dalam obat tidak mungkin karena ini bukanlah ilmu yang sempurna atau tepat. peralatan dan teknologi agar dapat memberikan manfaat dan informasi kesehatan dapat mengalami kemajuan”. Sebagai contoh. Dengan jalan ini. Prinsip nonmaleficence ini menghendaki penyedia layanan kesehatan untuk tidak berbuat hal yang menimbulkan kerugian atau membahayakan pasien. standar untuk practical learning dan kepercayaan komite untuk mengatur entry barrier pada profesi. Prinsip nonmaleficence dapat pula dilanggar dimana tidak ada niat untuk melakukan hal yang mencelakakan atau merugikan pasien. dimana hal yang mereka lakukan dievaluasi dan diputuskan sebagai hal yang merugikan ataukah hal yang tepat. dan juga berbuat sesuai peraturan atau tidak lalai (Munson. kemajuan ini dikemukan dalam sumpah Hippocrates. 1. Demikian. dengan sengaja memenuhi resep untuk pasien yang memiliki alergi atau memenuhi resep dimana pada literatur yang dipublikasikan dinyatakan dapat terjadi interaksi obat-makanan dan farmasis meyerahkan obat tanpa mengatakan pada pasien tentang interaksi obat-makanan. Farmasis dapat dianggap gagal dalam menjalankan aktivitas pelayanan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang professional.1. Hal ini mungkin merupakan prinsip yang paling banyak dikutip oleh pepatah dan telah digunakan selama 3500 tahun. 2000). Kewajiban pelayanan dipengaruhi oleh prinsip nonmaleficence tidak untuk menuntut farmasis atau professional kesehatan lainnya menyempurnakan hal yang tidak mungkin atau untuk menjadikan sempurna. . Prinsip dari Nonmaleficence Prinsip nonmaleficence umumnya dinyatakan sebagai prinsip “above all else do no harm”. Farmasis gagal untuk memenuhi kewajiban nonmaleficence-nya dan perbuatannya dipertanggungjawabkan dengan sistem pengadilan. Yang pertama. farmasis mungkin lalai pada apa yang mereka perbuat meskipun farmasis tidak berniat untuk mencelakakan pasien. masyarakat memiliki jaminan yakni individu yang dilatih sebagai farmasis dan selanjutnya diharuskan untuk mempertahankan tingkat pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk memulai tanggung jawab menyediakan layanan. Sebagai contoh. farmasis dan profesi kesehatan lainnya disatukan pada “standard of due care”. Tentu saja farmasis harus menyediakan standar pelayanan yang masuk akal untuk professional lain dan dapat dilaksanakan secara bersama dan juga pada level yang lebih tinggi daripada orang biasa. Intinya. hal ini dapat disebut sebagai malfeasance. yang dirancang oleh profesi. jika farmasis mengetahui dan sengaja menyebabkan bahaya/celaka pada pasien. beberapa standar proses wajib dicocokkan dengan menggunakan undang-undang dan regulasi yang berlaku. APhA Code of Ethics for Pharmacist yang mengamanatkan prinsip etik nonmaleficence ini menyatakan bahwa farmasis harus mempertahankan kompetensi professional dan bahwa mereka “memiliki kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan kemampuan pada obat baru. Prinsip ini dapat dilanggar dengan dua cara yang berbeda. farmasis dengan tidak sengaja salah membaca resep untuk Zyrtec dan memberinya Zyprexa. Dengan standar ini. Maka hal ini dapat merugikan pasien. Untuk melindungi anggota masyarakat lebih lanjut dari malfeasance. keperluan edukasi.

penggunaan obat ini untuk tujuan pencegahan dapat menyebabkan adanya hubungan resiko-manfaat yang harus diperhitungkan oleh pasien dan praktisi. Intinya. kepercayaan dan kebiasaan pasien. Ini sebabnya. Pedoman ini didapat dari tulisan Hippocrates fokus pada dua prinsip moral: nonmaleficence. 2002). Prinsip Autonomy versus Paternalism Prinsip etik lain yang diharapkan pada layanan kesehatan didasarkan atas penemuan keseimbangan antara autonomy dan paternalism untuk menyediakan bantuan terbaik pada pasien. 1994) dinyatakan “a pharmacist places concern for the well-being of the patient at the center of professional practice”. terutama . intervensi seharusnya dapat menjawab beberapa atau semua dari tujuh pertanyaan:        Apakah itu membantu kesehatan dan mencegah penyakit? Apakah itu mengatasi gejala. Untuk lebih spesifik. seperti yang telah didiskusikan sebelumnya dan beneficence.1. Kedua prinsip tersebut menghendaki penyedia layanan kesehatan untuk mengevaluasi keuntungan yang potensial dari intervensi pada hubugan resiko yang merugikan pasien. penggunaan kombinasi terapi antiretroviral pada terapi infeksi HIV dapat membawa keuntungan dan juga kerugian. 2. paternalism merupakan praktik yang tak memungkinkan untuk mengambil pertimbangan pada kesenangan. Prinsip beneficence juga tertulis pada APhA Code of Ethics for Pharmacists (APhA. Ketika memperhitungkan intervensi medik atau farmasetik untuk memberi manfaat terbaik pada pasien. Sebagai contoh. Prinsip dari Beneficence “Pada sebuah penyakit. Paternalism berarti profesi kesehatan atau farmasis yang melihat hubungan dengan pasien sebagai paternalistik. 3. 1. beneficence merupakan prinsip bahwa professional kesehatan seharusnya bersikap untuk kepentingan terbaik pada pasien. Mereka melihat dirinya sebagai orang tua yang mengerti apa yang terbaik untuk anaknya (pasien). nyeri dan sakit? Apakah itu menyembuhkan penyakit? Akankah itu mencegah untimely death? Akankah itu memperbaiki functional status atau mempertahankan a compromised health state? Akankah edukasi yang cukup dan konseling membantu mencapai kondisi pasien ynag lebih baik dan prognosis? Akankah intervensi membantu menghindari kerugian pasien pada proses terapi? Walaupun ada waktu ketika semua atau sebagian besar pertnyaan dapat dijawab. Penggunaan obat memperbaiki kualitas hidup pasien dan memperpanjang hidupnya. biasakanlah dua hal untuk membantu atau tidak melakukan hal yang merugikan”. ada kalanya pada kehidupan tiap professional ketika dihadapkan pada hal yang sulit untuk mencapai outcome terapi yang diinginkan yang disebabkan adanya konflik antara pasien dan harapan provider (contohnya apa yang pasien inginkan versus apa yang professional inginkan untuk pasien) (Jonsen et al. profil efek samping obat ini luas dan biaya untuk obat ini sangat mahal.

Munson. Ketika farmasis ingin menilai situasi dilema etik. Begitu juga. mereka membuat keputusan tertentu berdasar pada persepsi mereka apa yang dibutuhkan. seperti mengabaikan kemampuan pasien. ada kekuatan yang membatasi atau bahkan menghalangi penghargaan pada patient autonomy. Hak moral pasien untuk memilih rencana hidupnya sendiri dan apa yang akan dilakukan (Jonsen et al. Pada kebiasaan sehari-hari. Sebagai contoh. . farmasis mengatakan mereka menggunakan “professional judgement” ketika mereka menyesuaikan dosis atau menambahkan pengobatan tertentu ketika rasionalisasi bahwa pasien tidak perlu mengetahui apa yang terjadi. Pada era consumer-driven heath care. Sesuai dengan “Harm Principle” memaksakan sebuah pilihan pada individu secara moral diperbolehkan hanya ketika keinginan individu tersebut melanggar hak dan keselamatan orang lain. psikodinamik dari hubungan pasien-provider dan tekanan sakit (Jonsen et al. Medical ethicists sering menyatakan bahwa kerugian dari paternalism adalah mengancam hak individu dan kebebasan personal. obat menggunakan prinsip beneficence sebagai pembenaran hubungan “paternalistik” dengan pasien. prinsip autonomy menetapkan hak pasien untuk memutuskan hal untuk dirinya. edukasi pada pasien dan informed consent terkadang dikesampingkan. Itu sebabnya. Itu sebabnya. walaupun farmasis tidak dengan sengaja mencoba melanggar patient autonomy. dahulu. Walaupun sebagian besar profesi kesehatan menganut dan menemukan keuntungan dari prinsip patient autonomy.bila itu dapat mendatangkan keuntungan untuknya. untuk menjadi pemberi informasi yang baik. dokter membuat keputusan untuk pasien (tanpa menginformasikan pada pasien dan tanpa patient consent) dan kemudian mereka lakukan apa yang perlu sebab mereka melihat pada kepentingan terbaik pasien. Sama halnya. dan mereka tidak melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan. Sebaliknya. dan untuk menjelaskan pada istilah yang tidak bias pilihan pengobatan yang mungkin termasuk keuntungan dan resikonya. Hal mudah untuk melihat bagaimana autonomy sangat dikaitkan dengan informasi. Perbuatan yang mengajak pasien terlibat pada pengambilan keputusan dapat mengarah pada “patient autonomy” pada akhir proses. pasien sering merasa sibuk dan kurang persiapan untuk membuat keputusan tentang kesehatannya dan menyebabkan hak autonomy-nya diserahkan pada penyedia layanan kesehatan. ketidakseimbangan antara pengetahuan pasien dengan penyedia layanan kesehatan. tak terpelajar atau buta huruf dapat merasa tertekan pada kehadiran seseorang yang menggunakan jas putih. pada beberapa situasi patient autonomy sengaja diabaikan. 2002. pasien perlu untuk diberi informasi dengan bahasa yang mereka mengerti. Sebagai contoh. 2000). Informasi merupakan hal yang penting untuk melindungi dan menjaga patient autonomy. Pada lingkungan medik yang cenderung terburu-buru. hal sulit untuk menolak well-informed patients active partnership roles pada pelayanan kesehatan mereka. 2002). nonasertif. mereka menemukan itu dapat membantu menyelesaikannya secara mudah antara patient autonomy-paternalistic. Meskipun demikian. faktor sosial dan psikososial dapat sangat berpengaruh pada apa yang dirasakan pasien pada dirinya yang tidak memiliki kekuatan untuk membuat keputusan. beberapa pasien yang secara alami pemalu. Disisi lain. Hak ini diperhitungkan terutama bila profesi kesehatan memutuskan keputusan pada pasien yang merugikan untuk kesehatannya.

Beberapa penyedia layanan kesehatan. Jonsen et al. 1. 5. ketika penyampaian informasi penting. akan mengklaim “therapeutic privilege” sebagai alasan untuk melaksanakan prinsip honesty. APhA Code of Ethics for Pharmacist (1994) menyatakan bahwa farmasis memiliki kewajiban untuk mengatakan hal yang benar dan bertindak dengan keyakinan sesuai hati nurani. Hal ini membiarkan farmasis pada posisi untuk membuat keputusan sendiri dengan tidak melewati batas undang-undang dan regulasi. p. 2000.420). Prinsip Honesty (Kejujuran) dan Truth Telling (Mengatakan Hal yang Benar) Pada prinsipnya. 2002). pengobatan yang direkomendasikan dan alternatif pengobatan yang mungkin. 2003. Lebih lanjut. Farmasis mungkin mendapati dirinya diantara dilema etik yang berhubungan dengan mengatakan truth telling dan therapeutic privilege. semua komunikasi antara pasien dan para profesi kesehatan lain haruslah dilakukan secara benar. Selain itu. 69). 4. Penulis resep mungkin mengklaim professional privilege. “privilege” akan terasa pada etik yang berdasar pada keuntungan pasien paternalistik. Prinsip Informed Consent . Pada beberapa kasus. juga harus dikritisi sebab “displaying such behaviour is not seen as providing a service but as guarding special knowledge and who would be in control as to when and who to reveal the truth to” (Da Silva et al. Kepercayaan pada level tertentu harus dikembangkan antara pasien dan farmasis untuk memperkuat hubungan. therapeutic privilege. tetapi juga interpretasinya dapat diterima secara etis. Namun apa yang seharusnya dilakukan ketika penyingkapan secara penuh (full disclosure) pada tiap hal yang detail dapat menunjukkan hal yang berbahaya? Dengan meningkatnya keunggulan prinsip autonomy dan dengan hak pasien untuk informed consent pada saat yang modern ini. Ini yang menyebabkan mereka melihat bahwa membuka rahasia informasi medis menjadikan kacau atau bahaya untuk pasien. full disclosure dan truthfulness dapat menjadi tindakan etik yang lebih diterima (Da Silva et al. 2003. sebagai sikap paternalistik. Sebagai contoh. farmasis dari pasien mungkin bertanya untuk tidak memberi lembar informasi obat pasien. Kepercayaan ini dikembangkan karena farmasis merupakan bagian dari prinsip kejujuran (honesty). namun ini bertentangan dengan etik yang memberikan tempat penting untuk prinsip autonomy”(Veatch. p. perjalanan penyakitnya.1. pasien yang mengklaim memiliki alergi dan atau hipersensitif pada beberapa pengobatan sebelumnya yang diambil mungkin diresepkan pengobatan yang mirip namun tidak disampaikan potensi alergi atau hipersensitivitas oleh penulis resep yang mempercayai informasi terkait psikologi dan tidak ada dasar patologi. Prinsip honesty menyatakan bahwa pasien memiliki hak untuk komunikasi yang benar selama kondisi mediknya. menyatakan bahwa mengatakan pada pasien tentang efek samping yang mungkin atau reaksi samping dapat menyebabkan kesedihan pasien yang tidak pada tempatnya atau mendorong pasien untuk tidak mengambil seluruh pengobatan.

“Informed consent merupakan elemen kritis dari beberapa teori yang memberi pengaruh pada autonomy” (Veatch. Meski begitu. Informed consent merupakan jalan dimana keinginan pasien diungkapkan dan digunakan sebagai penghargaan pada patient’s autonomy (Jonsen et al. Penyedia layanan kesehatan harus mempertimbangkan keadaan masyarakat yang mudah terserang penyakit seperti anak–anak. Informed consent berbentuk dasar etik untuk hubungan pasien-provider yakni terdiri atas karakteristik partisipasi satu sama lain. Bahkan pada keadaan yang sangat baik. harus mendapatkan informed consent. pasien yang mengalami kemunduran mental dan gangguan jiwa. Semua terapi alternatif yang sesuai atau prosedur dan diskusi mengenai resiko yang mungkin terjadi serta keuntungan termasuk pilihan untuk tidak melaksanakan terapi. penuaan. 2. Kemungkinan terapi yang disarankan dapat terlaksana dengan baik. 2002). penyedia layanan kesehatan mungkin menghadapi pasien yang mempunyai kompetensi secara hukum yang terlihat dari kekuatan mentalnya dalam menghadapi penyakit. . Keadaan klinis ini disebut sebagai “decisional capacity” yang lebih sering digunakan daripada istilah hukumnya yaitu “determination competency”. Wingfield. Diagnosa keadaan spesifik yang diperlukan dalam pelaksanaan terapi. Pasien yang demikian harus menjadi pertimbangan apakah pasien tersebut setuju untuk mematuhi inform concent. 2003). saling menghormati dan turut andil dalam pengambilan keputusan (Jonsen et al. Honesty dan autonomy dipenuhi sebagai dasar hak pasien untuk memberikan informed consent untuk pengobatan. Wingfield. nyeri. 2005) yaitu : 1. consent tidak dikehendaki ketika prosedurnya sederhana dan resiko umumnya dapat dimengerti (Cady. 4. Secara umum. 2000. 2003). beberapa provider yang merekomendasikan pengobatan pada pasien. Resiko dan komplikasi potensial yang dihubungkan dengan terapi yang disarankan. 2000). 2000. Walaupun demikian. Hakim sendiri mempunyai kewenangan untuk untuk mengatur apakah seseorang tidak berkompeten secara hukum. 2005). dan pasien mampu mengerti pentingnya informasi yang diberikan. persetujuan tersebut diberikan secara bebas dan tanpa paksaan. Agar inform consent dapat berjalan dengan baik. 3. atau bahkan ketika dirawat di rumah sakit (Jonsen et al. Tujuan dan perbedaan sifat dasar terapi. Quallich.Undang sering digunakan istilah “competence” dan “incompetence” untuk menunjukkan apakah seseorang mempunyai kewenangan hukum membuat keputusan layanan kesehatan terhadap dirinya. 2002. Di dalam Undang . khususnya bila bersifat invasif. 5. inform concent tidak selalu mudah untuk menentukan siapakah yang berkompeten dan tidak berkompeten untuk menyetujui terapi yang dilaksanakan (Munson. maka diperlukan dialog antara pasien dan penyedia layanan kesehatan yang terdiri dari lima komponen berbeda (Quallich. 2000). Prinsip informed consent menyatakan bahwa pasien mempuyai hak untuk penyingkapan penuh (full disclosure) pada semua aspek pelayanan yang sesuai dan harus memberi deliberate consent untuk pengobatan yang berdasar pada informasi yang bersifar usable dan pemahaman yang benar pada informasi (Munson. 2002). Terapi dapat dilaksanakan apabila tersedia semua informasi yang memadai. komunikasi yang baik.

pemahaman pasien. 2002). dokter sering kali tidak secara jelas mendiskusikan aspek inti terapi pengobatan dan sering mengalami kegagalan untuk memperoleh persetujuan yang berarti dari pasien. farmasis diharapkan bertanggung jawab dalam menjamin inform concent yang terjadi sebelum treatment obat dimulai. . Tetapi asumsi ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan baru-baru ini dan laporan pemerintah seperti Institute of Medicine’s Crossing the Quality Chasm (Iom. dan waktu yang dipaksakan mengesankan bahwa pasien mengeluarkan uang untuk membayar semua prosedur komunikasi yang telah dilaksanakan bukan karena pasien memperoleh edukasi dari komunikasi tersebut (Jonsen et al. beberapa pasien kekurangan informasi pada aspek penting dari terapi pengobatan.Dalam praktek sehari – hari. Terapi obat merupakan salah satu bentuk terapi dalam terapi layanan kesehatan. ketidakmampuan farmasis untuk mendengarkan secara teliti kata–kata pasien dan emosi yang dirasakan pasien. Percakapan yang berarti atau proses persetujuan tidak mungkin dimulai pertama kali oleh pasien untuk beberapa alasan karena pasien berdiam diri atau tutup mulut terhadap pertanyaan yang diajukan oleh farmasis. banyak waktu yang digunakan oleh profesional layanan kesehatan untuk lebih fokus dalam menyingkap masalah kesehatan pasien (disclosure) daripada pemahaman pasien terhadap informasi yang diberikan. Berdasarkan penelitian dan laporan pemerintah disebutkan bahwa perkiraan jumlah kematian dan kejadian berbahaya yang berhubungan dengan kesehatan yang disebabkan oleh terapi yang tidak tepat ternyata mengejutkan.. pasien menyetujui terapi pengobatan. 2001). 1989). pasien sering tidak mengetahui bahwa farmasis membutuhkan informasi penting dari terapi pengobatan yang sebelumnya telah dilakukan. Farmasis harus menciptakan suasana yang mendorong pasien untuk mencoba menjawab pertanyaan. Selain itu. Pada waktu terapi obat paling banyak digunakan sebagai terapi dalam layanan kesehatan. Pada kenyataannya. pasien telah mengerti tentang informasi yang diberikan. Pada awalnya masyarakat berasumsi bahwa resiko yang berhubungan dengan terapi obat adalah minimal. c. |Apakah peran farmasis dalam inform concent? Beberapa farmasis beranggapan bahwa ketika pasien membawa resep : a. Selain itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa “masalah utama inform consent adalah masalah komunikasi dibandingkan pencabutan dan ringkasan masalah tentang penyingkapan standard hukum” (Beauchamp. Kerugian dari komunikasi jenis ini adalah sering menghambat komunikasi itu sendiri karena membatasi gaya dan kemampuan komunikasi. b. Pada masa mendatang. dokter yang menangani pasien pembawa resep telah memberikan semua informasi yang relefan. Pesan yang secara lengkap diberikan bahwa keberhasilan farmasis dalam berkomunikasi dengan pasien berkaitan dengan gangguan kesehatan pasien adalah mengikutsertakan pasien dalam komunikasi yang dilakukan secara terbuka dan jujur berdasarkan pertanyaan yang disampaikan oleh farmasis dan saling bertukar informasi serta sepenuhnya menyingkap semua permasalahan yang dihadapi pasien dalam komunikasi tersebut. Beban utama penyedia layanan kesehatan disini adalah dalam meyakinkan pasien bahwa pasien memahami semua kebutuhan yang diperlukan dalam membuat pertimbangan mengenai keputusan terapi dan pelaksanaan rencana terapi yang tepat. persoalan inform concent dalam terapi pengobatan diabaikan penggunaannya dibandingkan dengan penggunaan inform concent dalam terapi bentuk lain seperti pembedahan.

2002. Tanggal 14 April 2003 HIPAA mengambil pengaruh terhadap prinsip kerahasiaan dan merupakan bagian paling signifikan dalam Undang–undang federal untuk mempengaruhi praktek kefarmasian sejak Omnibus Budget Reconciliation Act tahun 1990 (OBRA) (Spies and Van Dusen. badan pemerintah. Ketika pasien pertama kali mengungkapkan keberatan tentang terapi pengobatan. orang yang membayar karena telah munggunakan layanan kesehatan. meningkatkan informasi statistik dan tugas administratif memberikan tersedianya beberapa catatan untuk tiga bagian employer. Pasien mungkin tidak sepenuhnya mengerti aspek penting dari terapi. HIPAA juga merupakan peraturan federal pertama yang berarti luas yang dirancang untuk melindungi rahasia pribadi dan menjaga informasi kesehatan yang dilindungi (protected health information). serta anggota keluarga yang terlibat dalam layanan kesehatan.Dalam keadaan tertentu. Selain itu. dan peraturan mengenai “informasi kesehatan yang dilindungi” (protected health information). inform concent ternyata tidak dilakukan. Semua tanggung jawab profesionalisme ini bersifat penting karena perubahan besar yang terjadi saat ini dalam prinsip kerahasiaan merupakan hasil dari perkembangan teknologi dalam menyimpan informasi. Setiap farmasi mengadakan transaksi keuangan dan administratif . hal–hal yang sering dilakukan oleh dokter. 2003). 1. Dalam hal ini sulit untuk menentukan apakah persetujuan terapi dapat secara bebas diberikan. atau mungkin tidak peduli terhadap efek samping yang signifikan berhubungan dengan terapi obat yang akan dilakukan. Dengan adanya peraturan baru yang disusun oleh Health Insurance Portability and Accountability Act tahun 1996 (HIPAA).. 6. dan melakukan akses untuk mendapatkan informasi tersebut (Jonsen et al. 2002). dan kemungkinan tindakan mengabaikan kerahasiaan yang dapat mengecilkan hati pasien dalam mengungkapkan informasi diagnosa secara penuh dan mendorong penggunaan informasi medis pasien untuk membantu kebutuhan pasien (Jonsen et al. farmasis harus mengetahui peraturan mengenai pekerjaan kefarmasian dan dapat mengetahui persoalan yang berhubungan dengan prinsip kerahasiaan dan persetujuan. Pendekatan lain kerahasiaan “etika medis modern berdasarkan kewajiban untuk menghormati autonomy pasien. Wingfield and Foster. pasien mungkin menunjukkan keengganan untuk memulai melakukan pengobatan tetapi merasa bahwa mereka tidak mempunyai pilihan dan hanya untuk mengikuti petunjuk dokternya.. Prinsip Confidentially (Kerahasiaan) Prinsip kerahasiaan dalam pelayanan kesehatan adalah menjamin bahwa provider kesehatan wajib menahan diri untuk tidak membocorkan informasi yang diperoleh dari pasien selama terapi medis dan mengambil tindakan pencegahan yang layak untuk melindungi informasi tersebut. Ketika komputerisasi mulai digunakan dalam pekerjaan kefarmasian dan catatan medis dapat meningkatkan layanan pasien. mencari informasi. 2002). mereka memperoleh akses untuk mendapatkan informasi pribadi pasien yang dibutuhkan untuk mengatur terapi pengobatan secara tepat. Farmasis terlibat langsung dalam layanan kesehatan. mungkin tidak menjawab pertanyaan. farmasis mungkin memerlukan untuk melakukan konsultasi tidak hanya dengan pasien tetapi juga dokter penulis resep untuk menginformasikan kepada pasien dan dokter bahwa persetujuan terapi kurang dapat diberikan secara bebas.

Telah dinyatakan bahwa “walaupun kerahasiaan merupakan persoalan yang penting. HIPAA juga menuliskan untuk “meningkatkan efisiensi dan keefektifan penukaran data untuk transaksi administrasi dan keuangan serta meningkatkan keamanan dan kerahasiaan informasi layanan kesehatan” (Mackowiak. Untuk menyelesaikannya. PHI diartikan sebagai individu yang dapat mengidentifikasi informasi kesehatan yang telah dikirimkan atau menjaga informasi kesehatan tersebut dalam beberapa bentuk dan melalui beberapa media” (Spies and Van Dusen. pembayaran. 2003). dan pelaksanaan layanan kesehatan di semua institusi pelayanan kesehatan termasuk farmasis (Giacalone and Cacciatore. serta melindungi informasi kesehatan (Protected Health Information/PHI). Selain itu juga memberikan kebenaran kepada pasien seperti “kebenaran untuk mengakses informasi. disingkap. 1. dan menggunakan data untuk penelitian. Walaupun demikian. HIPAA menyediakan pedoman yang membatasi tindakan yang dilakukan farmasis dengan adanya informaasi kesehatan pasien. Hal ini menjadi tanggung jawab penyedia layanan kesehatan untuk menganjurkan pasien lebih bisa mengenal peraturan dan kebijakan serta menganjurkan untuk mengontrol informasi dengan lebih baik dan meningkatkan kebijakan dan peraturan perlindungannya. 2003). atau untuk tujuan audit (Jonsen et al. Spies and Van Dusen. 7. farmasis harus menggunakan kebijakan dan prosedur yang layak yang membatasi bagaimana PHI digunakan. HIPAA memerintahkan pelaksanaan pedoman prinsip kerahasiaan. kesehatan umum. HIPAA menentukan kerangka kerja untuk menggunakan dan menyingkap informasi kesehatan yang dibutuhkan untuk treatment. Contoh PHI adalah resep dan sistem catatan pasien. Prinsip Fidelity dan hubungan antara pasien dengan farmasis Prinsip kesetiaan memiliki keterkaitan dengan hubungan pasien-farmasis. dan meminta. Kerahasiaan selalu memainkan peran penting dalam praktek kefarmasian dan pedoman baru HIPAA tidak perlu mengganti pernyataan yang ada didalam Undang–undang dan peraturan kefarmasian. The Privacy Rule (The Rule) HIPAA memberikan farmasis beberapa keleluasaan untuk menciptakan peraturan kerahasiaan farmasis sendiri. kebenaran untuk melihat informasi yang lengkap tentang penyingkapan informasi. 2003). didasarkan pada konsep loyalitas. termasuk kemampuan profesional kesehatan untuk saling bertukar informasi dengan pasien ketika farmasis melakukan pelayanan kepada pasien. 2002).tertentu secara elektronik seperti pembayaran tagihan yang harus memenuhi peraturan HIPAA. kebenaran bahwa orang tua merasa sensitif terhadap kesehatan anak–anak mereka. Hal ini berarti bahwa tipe hubungan yang special diciptakan oleh pasien dan .. 2003. usaha untuk melindungi kerahasiaan tersebut mungkin menimbulkan konflik dengan kebutuhan sosial. dan diminta. 2003). “The Privacy Rule tersebut membutuhkan setiap farmasi untuk mengambil langkah–langkah yang bertanggung jawab untuk membatasi penggunaan dan penyingkapannya. Selanjutnya farmasis juga harus menempatkan kelengkapan peringatan praktek kerahasiaan farmasis dalam fasilitas yang sebaik – baiknya dalam website apabila tersedia salah satu. dan kebenaran untuk melihat kebijakan dan prosedur farmasi mengenai informasi rahasia yang diperoleh dari pasien (Spies and Van Dusen.

Pasien membutuhkan keramahan. agama. dan kepentingan pribadi lainnya. sangat rentan. situasi yang dihadapi dalam hubungan pasienprovider sering rumit. Ada peringatan untuk membantu peran ini. Farmasis yang menolak resep dokter yang tidak benar karena mereka ingin memastikan bahwa para dokter akan terus menyuruh pasien ke farmasis untuk menampilkan salah satu tanggung jawab professional mereka. farmasis yang mempromosikan penggunaan vitamin oleh pasien yang tidak membutuhkannya dapat meningkatkan kesejahteraan finansial dengan mengorbankan pasien mereka. hal itu didasarkan pada semua prinsip etika yang telah didiskusikan atau dibahas sebelumnya. khususnya status yang diberikan kepada dokter dan para profesional lain yang membantu mendirikan sebuah power difference antara pasien dan penyedia. professional. sekarang ini. Misalnya. hubungan saling percaya kemudian menjadi bagian besar dari pekerjaan farmasis sebagai bagian dari tanggung jawab profesional mereka untuk pasien. Akan mudah untuk membuat daftar dos dan don’ts untuk masing-masing pihak untuk mengikuti. mungkin memiliki pengalaman yang berbeda yang membuat mereka tertarik. Farmasis. yang membutuhkan investasi usaha dan bahkan kadang-kadang merupakan sebuah kepentingan pribadi” (Jonsen et al.1992). Demikian. Demikian. prinsip-prinsip yang dibahas di atas harus dipertimbangkan ketika bekerja dengan pasien. 1. Demikian. teman. seperti penyedia layanan kesehatan lainnya. "if one shares power with the person having the greatest danger of being victimized. komunitas. Demikian masalah etika merupakan tanggung jawab yang bisa muncul ketika mempunyai prioritas yang tidak jelas atau ketika ada kewajiban kepada salah satu pasien yang bertentangan dengan kewajiban lain (Jonsen et al. dengan keputusan dibuat dalam konteks hubungan yang saling menghargai. Langkah-langkah untuk Pengambilan Keputusan Etik . 2002). kemampuan untuk secara efektif bekerja melalui isu-isu sensitif tergantung pada kepercayaan. Untuk keluarga. Sehingga sekali lagi perlunya partisipasi bersama melalui peran aktif pasien dalam pengambilan keputusan kesehatan menjadi sangat penting jika seseorang ingin mengurangi kesalahan perawatan kesehatan dan kecelakaan. Menyemangati pasien untuk berpartisipasi secara aktif pada pengambilan keputusan terapi. memiliki loyalitas. peduli akan membantu mereka dalam membuat keputusan terbaik yang mereka mampu perbuat. Ini adalah inti dari peran membantu dari professional kesehatan. Kesetiaan atau loyalitas bahkan lebih jelas didefinisikan sebagai “komitmen berkelanjutan bagi kesejahteraan seseorang atau keberhasilan suatu usaha. farmasis. Merawat hubungan antara pasien dan penyedia layanan. Selain itu. yang sulit ketika satu pilihan harus dibuat. Pada kenyataannya. Fokus pada hak-hak pasien dan kewajiban penyedia dapat membuat hubungan antara mereka terlihat mekanistik dan legalistik. dan keuangan. the potential for self-correction of errors seems greatest” (Brody.farmasis. Sangat dipengaruhi oleh kerentanan pasien. Namun. pasien memiliki hak untuk diperlakukan dengan manusiawi. D. 2002). Etika pengobatan mengatur farmasis secara tradisional untuk mengikuti secara eksklusif untuk kebutuhan pasien dan menindak lanjuti kepentingan pasien. Akan tetapi farmasis juga memiliki tanggung jawab terhadap pasien. perawatan sensitif dari penyedia. Setiap pasien adalah individu yang unik dan dalam situasi sakit.

Mengidentifikasi siapa yang tertarik. dan hubungan antara dua pihak. seperti otonomi. . Berhati-hati dalam mempertimbangkan manfaat dan beban dari kasus ini. 2. 8. Ada banyak model dan panduan yang tersedia untuk membantu para professional medis untuk proses pembuatan keputusan. Ketika dihadapkan dengan dilema etis atau moral yang membutuhkan sebuah keputusan yang akan dibuat. Memecahkan dilema etik adalah tantangan bagi para professional kesehatan. Berpikir melalui hasil yang disampaikan atau prinsip-prinsip yang terlibat Mempertimbangkan manfaat dan beban Mencari kasus serupa Membahas kasus dengan pihak-pihak terkait dan mengumpulkan pendapat Mempertimbangkan aturan-aturan hukum dan organisasi yang terlibat Merenungkan bagaimana kenyamanan pelaku terhadap keputusan tersebut Untuk mencapai keputusan etis farmasis harus menggunakan pendekatan terstruktur untuk mengidentifikasi. Sebagai peringatan. keterampilan ini datang melalui pengalaman. kesetiaan dan yang mungkin dipertaruhkan dalam pengambilan keputusan. Mempertimbangkan dan mengidentifikasi nilai-nilai bersama atau prinsip-prinsip.Langkah-langkah dalam etika mengambil keputusan etik. mengumpulkan pendapat dan meminta alasan-alasan dari pendapat yang disampaikan. 7. Kita tidak dilahirkan dengan keterampilan ini. dan memecahkan masalah etik. antara lain: 1. menganalisis. 3. Yang dapat Anda pikirkan keputusan yang sama? tindakan apa yang diambil? bertanya diri Anda bagaimana kasus seperti itu? bagaimana cara yang berbeda? Berkonsultasi dengan rekan dan penasihat lain yang relevan. kematangan. kejujuran. Manfaat dapat meliputi promosi kesehatan dan pencegahan penderitaan dan penyakit. satu sama lain. yang memiliki peran dalam pengambilan keputusan. Mencari kasus analog dalam literatur atau di antara rekan-rekan. Jika waktu memungkinkan. kemampuan Anda untuk mendiskusikan kasus dengan orang lain dibatasi oleh HIPAA dan prinsip kerahasiaan. Satu pedoman (MacDonald. 6. Menghargai dimensi moral Mengidentifikasi semua stakeholder dan bagian yang menarik/penting. Mempertimbangkan hubungan mereka dengan Anda. 1998) menawarkan pendekatan delapan langkah sederhana yang menawarkan baik struktur untuk proses pengambilan keputusan dan mempertimbangkan semua aspek yang relevan dari kasus. 4. keputusan tersebut didiskusikan dengan sebagai banyak orang yang memiliki kepentingan di dalamnya. sedangkan beban mungkin termasuk menyebabkan rasa sakit fisik atau emosional atau memaksakan beban keuangan yang tidak semestinya. 5. Tanyakan diri Anda apakah hubungan tersebut membawa kewajiban khusus atau harapan yang tidak teridentifikasi. dan dengan instansi terkait. dan hubungan dengan orang lain yang dapat menerapkan prinsip yang disebutkan di atas. seorang farmasis harus:       Mengakui bahwa keputusan tersebut adalah sesuatu yang melibatkan aspek moral dan tercipta oleh konflik antara dua atau lebih nilai atau cita-cita.

Argumen terhadap informasi tersebut dapat memberikan rasa takut pada Ms. dan lain-lain) juga mungkin memiliki kebijakan yang terbatas. Edward mengkonsumsi obatnya. Kasus ini menunjukkan konflik potensial yang terjadi antara diri farmais dengan orang lain (dokter) yang mengesampingkan kepentingan pasien. Farmasis mungkin mengambil posisi untuk berkompromi dengan posisi sebagai dokter sesuai kebutuhan pasien. Kasus 2 . Edward mempunyai informasi yang tepat untuk pengobatannya. 2. Edward mungkin difokuskan terhadap dokter. dikelola organisasi perawatan. Edward untuk bersama-sama berunding tentang terapi dan memberikan informasi yang yang tepat. Menganalisis Kasus Pasien 1. Lebih lanjut. Edward tidak mengerti tentang tujuan terapi obat ataupun efek samping yang akan terjadi. Ms. informasi tersebut harus tetap diberikan sebelum Ms. Ini dapat menyebabkan dia tidak konsen terhadap informasi yang diberikan. Tanyakan pada diri sendiri apakah apakah Anda merasa nyaman dengan keputusan tersebut. 1. Mungkin farmasis perlu menelpon dokter dari Ms. Argumen lain terhadap informasi untuk Ms. Keputusan etis juga dapat dipengaruhi oleh aturan-aturan yang ditetapkan oleh organisasi profesional. 1. namun bagaimanapun juga informasi tersebut akan berdampak terhadap keputusan terkait pengobatannya. Edward sehingga mungkin dia tidak minum obat yang dia butuhkan untuk mengobati kondisi medisnya jika dia menyadari adanya efek samping. 1. Prinsip kemandirian dan kewenangan pasien untuk menentukan apa yang akan dilakukan terhadap dirinya terhadap pertolongan yang farmasis berikan tentang obat termasuk mengenai tujuan dan efek sampingnya. dimaksudkan untuk memandu pengambilan keputusan individu. tepat dibuat berdasarkan peraturan hukum. Dari sisi kepatuhan pasien dalam hubungan pasien-apoteker terpengaruh terhadap posisi. Argumen lainnya adalah ketakutan terhadap perbedaan pemberian informasi antara dokter dan farmasi. E. Meskipun prinsip manfaat dan kemandirian mungkin menjadi masalah dalam kasus ini sisi penentuan pribadi oleh pasien adalah sangat penting sebagai pertimbangan tertinggi. Kasus 1 Ms. dipercayakan bahwa informasi kepada pasien adalah tanggung jawab dokter atau kewenangan dokter untuk memilih terapi yang tepat untuk dirinya.  Mempertimbangkan negara dan atau undang-undang federal yang terlibat. lembaga (rumah sakit. tanpa diragukan lagi. Anda dapat hidup dengan keputusan tersebut? berkali-kali "reaksi Anda" akan memberitahu Anda apakah masih ada beberapa aspek dalam kasus ini Anda belum sepenuhnya dianggap atau apakah alasan Anda tidak suara dan berdasarkan kepentingan terbaik pasien. Prinsip yang yang diambil dalam kasus ini adalah beneficence. Beberapa keputusan. Meskipun demikian. seperti APhA Code of Ethics for Pharmacist.

terlebih dahulu harus mempertimbangkan pertanyaan berikut:       Apakah dilema etis? Apa fakta mungkin diperlukan untuk membantu Anda untuk mengambil keputusan dalam kasus ini? Apa alternatif yang mungkin Anda pertimbangkan dalam dilema ini? Apa prinsip etis yang terlibat dalam keputusan ini? Apa alternatif yang akan Anda pilih dan mengapa? Bagaimana Anda melanjutkan dan menjalankan keputusan Anda? Dalam daftar prinsip etik yang terlibat dengan kasus ini. Anda mungkin mengidentifikasi confidentially dan beneficence sebagai dua prinsip yang paling penting. Informasi dari dokter James umumnya tidak akan dianggap sebagai pelanggaran rahasia. Terserah James untuk memutuskan informasi apa yang disampaikan kepada pihak lainnya tentang terapinya. Dalam mengevaluasi masing-masing pendekatan. mereka mempunyai potensi terluka dalam kecelakaan mobil). sebagai seorang farmasis. masalah confidentiality tampak lebih jelas daripada masalah beneficence. karena pengobatan dimulai dari dokter dan informasi medis sah dapat dibagi dengan kalangan praktisi kesehatan lain yang terlibat dalam perawatan pasien. Prinsip pertama menyiratkan bahwa. Pada kenyataannya Anda mungkin akan dibenarkan dalam memecahkan rahasia dengan menerapkan kewajiban untuk melindungi orang yang tidak bersalah (misalnya. Di sisi lain. hal ini dapat bertentangan dengan kebutuhan Anda untuk melakukan sesuatu untuk kepentingan terbaik Megan (beneficence). Anda mungkin merasa terpaksa untuk memberitahu orang tuanya dan membuat mereka terlibat dalam menangani masalah medis Megan. Anda mungkin tidak ingin mendekati orang-orang ini. Anda harus melindungi rahasia dalam hubungan pasien-provider dan karenanya tidak harus membicarakan masalah ini dengan orang tua Megan. Dengan demikian. Pengungkapan informasi tanpa izin pasien sangat berkaitan dengan hak dan kewenangan pasien. dan sosial. psikologi. keputusan untuk menginformasikan kepada orang tua dan polisi akan dapat memecahkan rahasia dan HIPAA. Mungkin dokter James dan Anda bisa mendiskusikan bagaimana pendekatan James dan orang tuanya tentang masalah penting ini.Studi kasus ini melibatkan sebuah keputusan apakah akan mengungkapkan informasi rahasia (bahwa James tidak mengambil regimen pengobatan antiseizure) ke pihak lain. Confidentiality secara sederhana menyatakan bahwa Anda tidak . Kasus 3 Ketika meninjau kasus Megan. Motivasi ini didasarkan atas keinginan Anda untuk membantu James dengan pengobatannya. Namun. Salah satu pendekatan untuk menekan James adalah mendiskusikan situasi ini dengan orang tuanya sehingga mereka dapat berperan dalam proses yang kompleks. Argumen untuk melanggar kerahasiaan dalam situasi ini adalah pada prinsip beneficence (bertindak untuk kepentingan terbaik James dengan mencegah dia terluka dalam kecelakaan mobil). 1.

tetapi resep tersebut harus sesuai dengan apa yang dituliskan dokter. 1. untuk menggunakan keputusan profesionalnya untuk membuat keputusan yang faktual dan objektif dan tidak berdasarkan pada keputusan pribadi atau personal. Takut kehilangan teman dan rekan bisnis seharusnya tidak menjadi motivasi utama dalam situasi ini. 4. Misalnya. seperti ketika ada kekhawatiran bunuh diri. dalam jangka panjang. Dilema moral muncul ketika farmasis merasa secara moral tidak bisa menjalin hubungan dengan pasien dengan tidak memenuhi resep yang valid. Anda dapat menyelesaikan masalah confidentiality dengan mendesak Megan untuk memberikan izin kepada Anda untuk berbicara kepada orang tuanya. Anda mungkin menanggapi karena takut apa yang akan terjadi jika orang tua Megan mengetahui masalah tersebut. 5. dia berkewajiban untuk mematuhi kebijakan dan keputusan dari atasan…. penyusunan alternatif diperlukan untuk membantu pasien. Studi Kasus 4 Kasus ini melibatkan prinsip etik dalam patient autonomy dan provider fidelity dan nonmaleficence. Masalah beneficence lebih kompleks. farmasis terlihat berperan sebagai “orang tua” yang mana seperti mengerti apa yang terbaik untuk si pasien tanpa mempertimbangkan kebebasan pasien. Anda harus bertanya diri Anda. Menurut Harvey and colleagues (2006). Dengan tidak memenuhi resep tersebut. "apakah saya benar-benar melihat masalah Megan atau menanggapi naluri saya sendiri sebagai orang tua?". itu akan menjadi yang terbaik untuk semua pihak. lebih baik bila farmasis menyelesaikan persoalan seperti ini dengan atasan dalam diskusi terbuka sebelum menjadi halangan yang berpotensi menjadikan situasi yang kurang kondusif pada kepuasan pasien dan kesejahteraan pasien. 1. Farmasis mempunyai tugas untuk menyediakan informasi obat kepada orang yang membutuhkan obat dan pasien berhak atas perawatan yang diberikan oleh dokter. “ketika farmasis mengambil sebuah pekerjaan. Dengan demikian. termasuk farmasis. menyelesaikan masalah confidentiality ketika yang terkait dengan kesehatan pasien. Farmasis perlu menyadari implikasi keberatan dari hati nurani tidak hanya kepada pasien tetapi juga pada atasan dan rekan kerja. Pasien mengharapkan adanya pelayan perawatan kesehatan mereka.perlu memberitahu orang tua Megan tanpa persetujuan Megan. Namun. akan lebih sulit. Sangat penting untuk dipahami bahwa tren dalam pelayanan kesehatan adalah memberdayakan pasien untuk mengontrol pelayanan kesehatan untuk mereka dan kebebasan diwujudkan dengan kebebasan memilih berdasarkan keputusan yang dibuat yang telah diinformasikan. Farmasis dapat membuka rahasia ini ketika hidup pasien dalam bahaya. yang lebih bersifat psikologis daripada fisik. Pasien mengungkapkan informasi yang bersifat pribadi dan sensitif pada farmasis dan kepercayaan dimana mereka mengharapkan loyalitas tinggi dari farmasis. karena Anda perlu mengidentifikasi masalah mendasar yang sebenarnya.” Dengan demikian. Studi Kasus 5 . pada farmasis yang merujuk kepada farmasis lain untuk memenuhi resep tersebut.

menghormati kebebasan pasien. mereka harus melupakan hal tersebut” (AHSP. Dengan demikian. 1999). Kimberlin CL. DAFTAR PUSTAKA 1. kerahasiaan. 2007. AHSP (1999) juga mendukung keberatan hati nurani farmasis dengan menyatakan “farmasis harus mempertahankan hak-hak mereka untuk memilih antara melayani atau tidak secara moral. editor. pelayanan obat untuk mengakhiri hidup memberikan dilema bagi farmasis. Bagaimanapun. sudah merupakan tugas farmasis untuk memastikan bahwa pasien dan tim kesehatan untk diberitahu semua pilihan farmakoterapi yang bisa dilakukan terhadap kondisi pasien. Communication Skill in Pharmacy Practice. Sedrak M. Ethical Behaviour when Communicating with Patient. 4 Komentar . agama dan. Untuk membantu menuntun farmasis dalam proses membuat keputusan dalam kasus bunuh diri. serta dalam pengambilan keputusan. etika dalam terapi pasien”. berkaca pada hubungan pasien-farmasis yang berdasarkan rasa kepercayaan. AHSP. titik berat ditempatkan pada privasi pasien serta resiko yang akan timbul. Akhirnya.Mirip dengan kasus 4. Juga dinyatakan bahwa pasien berhak memutuskan pilihan terapetik terhadap kondisinya termasuk mengakhiri hidup. tetapi juga prinsip etika dan moral yang terlibatkan dalam hubungan antara pasien-provider kesehatan (farmasis). In: Beardsley RS. Farmasis harus menghormati keputusan tersebut dan menjaga kerahasiaan “terlepas dari apakah farmasis setuju dengan nilai-nilai yang mendasari pilihan atau keputusan pengobatan pasien. 5th Ed. Beberapa farmasis merasa bahwa benar adanya untuk mengetahui kapan sebuah obat akan digunakan untuk mengakhiri hidup. farmasis juga harus mempertimbangkan tidak hanya peraturan negara yang melegalkan bunuh diri dan keberatan hari nurani farmasis. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Tindall WN.

Tindall WN.matur suwun. 2007. klo kutipan dari sumber mana. soalx mw saya pake sebagai bahan refernsi skripsi saya. klo sempat tolong emailkan mbk. In: Beardsley RS. 5th Ed. editor. Yohanes : di email k mana ini??? itu d ambil dr Sedrak M.desy kurniawati pada : 21 May 2012 "wuih sangar pean mbak er. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Jonsen dan beberapa penulis lain. tq" . Ethical Behaviour when Communicating with Patient.... Communication Skill in Pharmacy Practice. aq gag sengaja nemu blognya sampeyan" Yohanes pada : 29 September 2012 "bagus sekali tulisannya. " Erlisa Eureka ElZahra pada : 02 October 2012 "Desi : ini mah blog dibuatin sama kampus. Kimberlin CL.Mbak tolong cantumin pustaka seperti Dillhon .

ANGGA pada : 19 October 2012 "BLOG ANDA I LIKE THIS TO BEST TUESDAY HOUR DAY" Tinggalkan Komentar Nama E-mail Web : : : tanpa http:// Komentar : Pengumuman    Blogroll    FF Unair Kang Zamzoel Nita Poenya .

 UNAIR Komentar Terbaru      ANGGA di ETIKA KETIKA BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN anti di Sukses adalah Hak Saya Erlisa Eureka ElZahra di ETIKA KETIKA BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN okky di Pe_Be_El Sediaan Patch Nikotin Yohanes di ETIKA KETIKA BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN Arsip       January 2012 March 2012 April 2012 June 2011 October 2011 December 2011 Pengunjung 41930    Home Profil UNAIR Copyright � 2011 DSI Unair | Website Templates by Free CSS Templates .