P. 1
makalah individu masyarakat

makalah individu masyarakat

|Views: 15|Likes:
Published by Nhira Nizt
individu berpancasila
individu berpancasila

More info:

Published by: Nhira Nizt on Dec 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Setiap individu dalam masyarakat mempunyai peran dan kedudukan berbeda. Setiap individu diharapkan dapat berperan sesuai dengan kedudukannya sehingga tercipta ketertiban, kenyamanan, kestabilan hidup bermasyarakat, yang akhirnya tujuan bersama dapat tercapai.

Dalam kehidupan bermasyarakat tentu diperlukan suatu norma yang yang mengaturnya. Norma dan nilai yang berlaku di Indonesia yaitu berdasarkan Pancasila yang menjadi pedoman dalam bersikap, berperilaku dalam bermasyarakat dan bernegara. Pada makalah ini dikaji tentang pembahasan “Individu dan Masyarakat Pancasila” Pembahasan diarahkan pada pengertian belajar menurut pengertian individu, pengertian masyarakat, status dan peran individu dalam masyarakat. Makalah ini diakhiri dengan Pancasila acuan nilai, norma, moral, dan hukum di Indonesia.

1

B. RUMUSAN MASALAH Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah: 1. Apa pengertian dari individu? 2. Apa pengertian dari masyarakat? 3. Bagaimana status dan peran individu dalam masyarakat? 4. Bagaimana acuan pancasila nilai, norma, moral, dan hukum di Indonesia? C. TUJUAN UMUM a. Mengetahui tentang peranan individu dalam masyarakat. b. Memahami kehidupan masyarakat. c. Memahami tentang pranata-pranata sosial budaya yang ada di masyarakat. d. Memahami tentang pentingnya Pancasila sebagai acuan nilai,moral dan norma bagi Bangsa Indonesia. e. Memahami tentang struktur social budaya. f. Mengetahui tentang proses social budaya.

2

D. MANFAAT a. Menjelaskan peranan masyarakat bagi individu. b. Menjelaskan peran dan status individu dalam masyarakat. c. Membandingkan perbedaan social dan stratifikasi nasional. d. Membandingkan antara nilai,moral dan norma. e. Menjelaskan fungsi Pancasila dalam kehidupan Bangsa Indonesia f. Menjelaskan pranata sosial budaya.

3

BAB II PEMBAHASAN
1. Individu A. Manusia selaku Individu Individu adalah seseorang/seorang manusia secara utuh. Utuh di sini diartikan sebagai suatu sifat yang tidak dapat dibagi-bagi. Merupakan satu kesatuan antara jasmaniah dan rohaniah yang melekat pada diri seseorang. Setiap individu mempunyai ciri khas yang berbeda dengan individu lainnya, seperti bentuk fisik, kecerdasan, bakat, keinginan, perasaan dan memiliki tingkat pemahaman/arti tersendiri terhadap suatu objek. Jadi individu adalah kondisi internal dari seorang manusia yang berfungsi sebagai subjek. Manusia selaku individu mempunyai 3 naluri, yaitu : a. Naluri untuk mempertahankan kelangsungan hidup. b. Naluri untuk mempertahankan kelanjutan penghidupan keturunan. c. Naluri ingin tahu dan mencari kepuasan1. B. Naluri mempertahankan kelangsungan hidup Naluri mempertahankan kelangsungan hidup telah menimbulkan berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan yang paling mendasar adalah

1

Bandingkan : Muhammad Hatta,Pengertian pancasial,Jakarta:idayu Press,1977:19-20

4

kebutuhan fisiologis yang terdiri dari makan, minum dan perlindungan. Semua kebutuhan tersebut didapat dari lingkungan dimana manusia tinggal, dan tekhnologi. dipergunakan dalam memanfaatkan dapat untuk lingkungan tersebut membutuhkan yang

Tekhnologi manusia

diartikan memenuhi

sebagai

cara-cara/alat

kebutuhan

hidupnya. Jadi

tekhnologi tidak hanya mencakup perlatan modern/mesin saja. Panah untuk berburu, bertani berpindah-pindah dan alat/cara sederhana lain termasuk ke dalam tekhnologi. Kebutuhan manusia sangat beragam dan kebutuhan ini lebih mudah dipenuhi kalau individu hidup berkelompok dengan individu lainnya. C. Naluri untuk mempertahankan kelanjutan penghidupan keturunan Naluri untuk mempertahankan keturunan, menuntut adanya

kebutuhan akan rasa aman (safety need) baik dari gangguan cuaca yang tidak nyaman, binatang liar/manusia lain. Pakaian yang dibuat dari

berbagai jenis bahan dan model disesuaikan dengan kondisi cuaca. Perumahan dengan bermacam-macam bahan dan juga bentuk, pada

dasarnya adalah usaha untuk memperoleh rasa aman dari berbagai gangguan. Adapun keanekaragaman bahan dan model yang dipergunakan sangat tergantung pada lingkungan. Seperti rumah di daerah tropis umumya dibuat dari kayu/bamboo dengan model atap segitiga/kerucut dan sering kali dibawahnya tidak langsung menyentuh tanah, tapi bertonggak /berkolong. Di iklim sedang rumah banyak dibangun dari bata/tanah, atapnya rata/datar, sedangkan di daerah dingin orang Eskimo membuat rumah dari
5

es dengan bentuknya yang bulat saja. Semua itu tergantung pada cuaca dan bahan mentah yg ada di lingkungannya. Perkawinan selain untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia, juga merupakan cerminan dari adanya ketergantungan individu terhadap

individu lain dan adanya naluri untuk meneruskan keturunan. D. Naluri ingin tahu dan mencari kepuasan Setiap manusia mempunyai naluri untuk ingin tahu tentang sesuatu yg ada di sekitarnya, baik itu lingkungan alam maupun

lingkungan manusia

lainnya. Adanya perbedaan alam seperti daratan, penyebaran tumbuhan dan hewan,

perbukitan, pegunungan, perbedaan

perbedaan fisik manusia seperti ada yg berkulit hitam, putih, sawo matang, berbadan jangkung, pendek dan sebagainya; perbedaan budaya manusia seperti dalam hal cara makan ada yg makan pakai tangan, sendok, sendok garpu dan pisau; perbedaan dalam berpakaian, mata pencaharian, bentuk rumah dan sebagainya. Semua itu telah mendorong manusia untuk mencari tahu. Pertanyaan”apa, mengapa, bagaimana dan siapa” telah melahirkan system pengetahuan, yg kemudian disusun menjadi sistematis melalui aturanaturan tertentu sehingga melahirkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan ini pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan spiritual/batin untuk

manusia. Sedangkan penerapan ilmu dalam bentuk cara dan alat

memenuhi kebutuhan hidup manusia disebut tekhnologi. Jadi tekhnologi adalah berbagai cara/alat untuk memenuhi kebutuhan material manusia.

6

Keduanya kebutuhan

tidak

dapat

dipisahkan selaku

untuk individu

menunjang dan

memenuhi

manusia

baik

maupun masyarakat. Ilmu

pengetahuan dan tekhnologi yg dimiliki individu tidak seluruhnya hasil dari pengalaman sendiri, tetapi lebih banyak dari belajar dan meniru orang lain. Karena itu dalam memenuhi naluri ingin tahu dan mencari kepuasanpun tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kelompok.2 E. Manusia selaku makhluk social Manusia adalah makhluk yang tidak dapat dengan segera

menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada masa bayi sepenuhnya manusia tergantung kepada individu lain. Ia belajar berjalan, belajar makan, belajar berpakaian, belajar membaca, belajar membuat sesuatu dan sebagainya, memerlukan bantuan orang lain yang lebih dewasa. Malinowski(1949), salah satu tokoh ilmu Antropologi dari

Polandia menyatakan bahwa ketergantungan individu terhadap individu lain dalam kelompoknya dapat terlihat dari usaha-usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosialnya yang dilakukan melalui perantaraan kebudayaan. Rasa aman secara khusus tergantung kepada adanya system perlindungan dalam rumah, pakaian dan peralatan. Perlindungan secara umum, dalam pengertian gangguan/kelompok lain akan lebih mudah

2 Bandingkan : Drs. H. Burhanuddin salam “ ETIKA SOSIAL” hal: 113-116

7

diwujudkan kalau manusia berkelompok. Untuk menghasilkan keamanan dan kenyamanan hidup berkelompok ini, diciptakan aturan-aturan dan kontrolkontrol sosial tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh setiap anggota kelompok. Selain itu ditentukan pula siapa yang berhak mengatur kehidupan kelompok untuk tercapainya tujuan bersama. 2. Masyarakat A. Pengertian Masyarakat Masyarakat, dalam sekelompok manusia yang Bahasa hidup Inggris disebut society artinya dan

bersama, saling

berhubungan

mempengaruhi, saling terikat satu sama lain sehingga melahirkan kebudayaan yang sama. Pengertian sekelompok manusia di sini, tidak mempunyai batas yang jelas harus beberapa orang, tetapi jumlahnya minimal 2 orang.

Anderson dan Parker (Astrid Susanto,1977) menyebutkan secara rinci bahwa masyarakat adalah: a. Adanya sejumlah orang, b. Tinggal dalam suatu daerah tertentu, c. Mengadakan hubungan satu sama lain, d. Saling terikat satu sama lain karena mempunyai kepentingan bersama, e. Merupakan satu kesatuan sehingga mereka mempunyai perasaaan solidaritas, f. Adanya saling ketergantungan,

8

g. Masyarakat merupakan suatu system yg diatur oleh normanorma/aturan-aturan tertentu,dan h. Menghasilkan kebudayaan. Menurut Soejono Soekamto (1987) beberapa ciri masyarakat

perkotaan yang menonjol adalah: a. Kehidupan beragama kurang karena disebabkan adanya cara berpikir yg rational, yg berdasarkan pada perhitungan-perhitungan eksak; b. Dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain; c. Pembagian kerja lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata ; d. Banyak peluang mendapat kerja daripada orang desa ; e. Jalan pikiran yg rational menyebabkan interaksi sosial berdasarkan kepentingan daripada faktor pribadi; f. Jalan kehidupan yg cepat mengakibatkan pentingnya faktor waktu; g. Perubahan sosial tampak jelas dan cepat sebagai akibat terbukanya pengaruh dari luar;

B. Status dan Peran Individu dalam Masyarakat Setiap individu dalam masyarakat mempunyai peran (role) dan kedudukan (status) yang berbeda. Peran adalah pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai posisi (status) tertentu. Sedangkan

kedudukan (status) adalah posisi seseorang dalam kelompok. Mengingat setiap individu mempunyai kepentingan yang beragam, maka setiap

individu mempunyai kepentingan yang beragam,maka setiap individu dapat berstatus dan berperan di beberapa kelompok sesuai dengan kepentingan itu.

9

Setiap individu harus berperilaku atau berperan sesuai dengan kedudukannya agar ia dapat diterima dan diakui keberadaanya. Karena setiap organisasi mempunyai aturan sendiri, maka sanksi yang diberikan oleh setiap organisasi kepada anggota yang melanggar pun berbeda pula. Sanksi ini bertujuan menjaga keutuhan, keseimbangan, kestabilan

kelompoknya sehingga tujuan kelompok dapat tercapai. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang mempunyai peran dan tugas yang berbeda. Tugas seorang Dokter berbeda dengan guru, petani, supir atau TNI/POLRI. Tetapi masing-masing saling membutuhkan, saling bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama yaitu terpenuhinya kebutuhan dan mencapai kesejahteraan. Dengan demikian peran dan

kedudukan sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan integritas sosial. Kedudukan atau status seseorang dalam masyarakat ada 2 macam: a) Ascribed status, yaitu kedudukan yang diperoleh tanpa melalui perjuangan atau usaha sendiri. Biasanya diperoleh melalui kelahiran, seperti anak yang bergelar raden, otomatis anaknya juga bergelar raden. Seorang anak menjadi raja karena ayahnya adalah raja. Seorang anak yang berasal dari kasta sudra walaupun ia mempunyai kepintaran dan ketrampilan yang tinggi. Status ini sering pula disebut status yang tertutup, karena setip orang tidak bisa menjadi anggota secara bebas. Perkawinan biasanya adalah cara untuk masuk ke dalm status ini. b) Achieved status, yaitu kedudukan yang diperoleh melalui usaha atau perjuangan sendiri. Seseorang menjadi direktur sebuah perusahaan
10

karena memang ia rajin dan ulet. Status seseorang menjadi guru karena ia berhasil masuk dan belajar dengan baik di IKIP. Status ini bersifat terbuka artinya setiap orang dapat mencapainya atau meraihnya karena kemampuan masing-masing individu dalam beprestasi. Setiap status dan kedudukan mempunyai seperangkat symbol atau lambang yang dapat mencerminkan statusnya. Seperti orang yang

berstatus ekonomi tinggi tercermin dari bentuk dan luas rumah,seorang guru tercermin sikap dan pakainnya,seorang TNI/POLRI dari kegagahan dan pakaiannya, seseorang dari golongan ningrat akan tampak dari cara berbicara dan sopan santunnya. Banyak symbol yang dapat mencerminkan status atau kedudukan seseorang dalam masyarakat. Dengan demikian status dapat disebabkan oleh posisinya dalam pekerjaan, pemilikan

kekayaan, agama dan faktor bilogis seperti jenis kelamin. 3. Pancasila sebagai Acuan Nilai, Moral, Norma dan Hukum dalam

Masyarakat Indonesia Telah kita ketahui bahwa Pancasila adalah dasar negara RI yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Berarti tata kehidupan manusia Indonesia baik selaku individu, selaku anggota masyarakat dan sebagai rakyat suatu negara, harus mengacu nilai, norma, kaidah yang terkandung dalam Pancasila. Nilai mengandung pengertian sebagai sesuatu yang berguna atau berharga. Nilai dapat berupa benda atau material, dan dapat pula non-

11

material yaitu ide, gagasan atau pemikiran. Nilai benda atau material biasanya diukur dari (1) nilai guna yaitu kegunaanya atau manfaatnya ;dan (2) nilai tukar. Semakin tinggi kegunaan suatu barang bagi kehidupan manusia,

semakin bernilai barang itu. Seperti cangkul bagi petani, buku bagi pelajar mesin hitung bagi pegawai bank dan sebagainya. Nilai kegunaan suatu barang sangat tergantung kepada peran dan status individu dalam masyarakat. Selain itu sesutau barang pun dapat diukur dari nilai tukarnya yang tinggi. Satu gram emas dapat ditukar dengan beberapa puluh kilogram beras atau singkong. Nilai non-material dapat berupa nilai kerohanian, seperti nilai keindahan, nilai kebaikan, nilai keagamaan dan sebagainya. Karena sifatnya yang abstrak maka nilai kerohaniannya hanya dapat diukur oleh budi pekerti manusia yang lahir dari akal, perasaan, keyakinan dan kehendak manusia. Manusia selalu mencari sesuatu yang bernilai, nilai ini menjadi dorongan dan landasan untuk berperilaku. Nilai-nilai ideal yang menjadi keyakinan seperti yang dianggap paling berharga, paling indah, paling baik, paling benar menjadi acuan atau pedoman dalam berperilaku. Nilai yang tidak berharga, tidak benar, tidak baik, tidak indah harus dihindarkan karena akan membahayakan individu, baik sebagai anggota masyarakat

maupun sebagai hamba Tuhan. Pancasila merupakan dasar perilaku manusia karena nilai yang terkandung dalam Pancasila penuh dengan nilai keagamaan, nilai kebenaran,

12

nilai kebaikan, nilai kemanusiaan dan nilai keindahan hidup bermasyarakat. Dalam Pancasila terkandung nilai sifat hakiki manusia selaku makhluk ciptaan Tuhan ,selaku individu secara pribadi, individu selaku anggota

masyarakat dan Negara. Di dalamnya terkandung keserasian, keselarasan dan keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat, antara aspek material dan spiritual, antara jasmaniah dan rohaniah. Karena itu sangatlah ideal kalau Pancasila menjadi tuntutan, pedoman dan pegangan setiap individu dalam bersikap dan berperilaku sehingga tercipta kemanan dalam hidup

bermasyarakat dan bernegara. Moral berasal dari kata mores yang artinya tata kelakuan. Tata artinya adalah aturan-aturan dan petunjuk-petunjuk dalam berperilaku. Perbuatan-perbuatan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ajaranajaran tentang perbuatan yang baik dan buruk, yang benar dan salah. Moral sering disebut dengan etika memberikan batas-batas yang jelas kepada individu selaku anggota masyarakat supaya berperilakunya sesuai dengan aturan yang berlaku. Supaya dia dapat diterima dan diakui sebagai anggota dalam masyarakat. Moral mempunyai fungsi menjaga solidaritas antara anggota dalam masyarakat. Norma atau kaidah adalah aturan-aturan tentang perilaku yang harus dan tidak boleh dilakukan dengan disertai sanksi atau ancaman bila norma tidak dilakukan. Dalam kehidupan manusia ada seperangkat aturan kelakuan yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh penganutnya. Bagi yang mengikuti norma agama tersebut akan mendapatkan pahala,
13

sebaliknya bagi yang tidak akan mendapatkan sanksi keagamaan sesuai dengan kadar penyimpangan yang dilakukan terhadap norma tersebut. Ada norma hukum seperti mencuri dilarang, bila dilakukan akan dapat sanksi berupa penjara. Ada norma masyarakat yang berupa adat, misalnya kalau berbicara dengan orang tua tidak boleh kasar, harus sopan, kalau tidak akan mendapat sanksi berupa celaan atau teguran. Setiap individu harus taat kepada norma-norma yang berlaku pada masyarakat, supaya tercipta keseimbangan, keamanan dan kenyamanan. Nilai, moral dan norma bersifat relative dan subjektif, artinya berubah-ubah sesuai dengan waktu, tempat dan masyarakat. Misalnya berpakaian adalah kebutuhan seluruh manusia di mana pun dia hidup, tetapi yang disebut bernilai keindahan dalam berpakaian antara satu masyarakat yang hidup di suatu tempat berbeda dengan masyarakat lain yang hidup di tempat lain. Nilai, moral dan norma yang terkandung dalam Pancasila dapat menjembatani waktu dan perbedaan tempat setiap suku, karena nilai, moral dan norma yang ada dalam Pancasila berakar dari budaya Bangsa Indonesia yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu sampai sekarang. Sejak dahulu masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius (agamais), percaya terhadap adanya Tuhan,bersifat gotong-royong,tolong-menolong,menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan,berani mengemukakan kebenaran dan

keadilan.Pancasila menghasilkan kepribadian yang khas Indonesia yang dapat dibedakan dari bangsa manapun di dunia. Pancasila memberikan arah dan
14

petunjuk kepada setiap orang untuk berperilaku sesuai dengan kepribadian bangsa. 4. Fungsi Pancasila bagi Kehidupan Bangsa Indonesia A. Pancasila sebagai Sikap dan Perilaku setiap Individu Mengingat individu adalah anggota masyarakat dan negara, maka kesejahteraan, keutuhan dan keamanan masyarakat dan negara diawali dari sikap dan perilaku individu. Kalau etika dan norma dipahami, dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap individu maka tujuan hidup bermasyarakat dan bernegara pun dapat dengan mudah dapat dicapai. Kualitas masyarakat dan negara, ditentukan pula oleh kualitas individu, semakin baik kualitas individu maka semakin baik pula kualitas masyarakat dan negara. Setiap individu mempunyai kelebihan dan keterbatasan, mempunyai harapan dan keadaan yang berbeda, namun yang pasti kesejahteraan adalah tujuan setiap individu. Pancasila

memberikan arahan dan pedoman dari kesejahteraan yang ideal yang diinginkan oleh setiap manusia yaitu kesejahteraan yang menyelaraskan antara harapan dan kenyataan, antara lain lahir dan batin, antara jasmaniah dan rohaniah, antara dunia dan akhirat. B. Pancasila sebagai Pedoman Bermasyarakat Pancasila sangat memahami kodrat dan hakiki manusia selaku makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain dalam hidup dan perkembangannya. Dalam sila ke-2 dan ke-5 dijelaskan secara rinci
15

tentang etika bermasyarakat yaitu menghargai persamaan

derajat,

keseimbangan hak dan kewajiban, menjunjung nilai kemanusiaan, bekerja sama, bergotong-royong, gemar melakukan perbuatan-perbuatan luhur berdasarkan kekeluargaan gotong-royong, adil dan menghormati orang lain, suka menolong, sama-sama mewujudkan kemajuan yang merata dan adil. C. Pancasila sebagai Pedoman Bernegara Negara merupakan alat yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat. Negara mempunyai kewenangan mengatur hubungan bermasyarakat demi tercapainya tujuan bersama. Kewenangan yang dimiliki negara tidak semaunya, seenaknya sendiri atau untuk kelompok tertentu, tetapi dikendalikan oleh Pancasila sebagai sumber hukum. Indonesia adalah negara Pancasila yaitu negara yang mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan, selalu punya iktikad baik dan rasa tanggung jawab alam melaksanakan tugas dan mengambil keputusan, menggunakan akal sehat dan hati nurani yang luhur, keputusan-keputusan yang diambil dapat

dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai keselamatan

kebenaran, menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan

bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Melindungi segenap bangsa dan tanah air Indonesia, memajukan persatuan dan kesatuan bangsa. pergaulan demi

16

Pancasila menjadi dasar hidup bernegara, menjadi semangat bernegara untuk mencapai kesejahteraan bersama, menjadi sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia,menjadi pedoman

berperilaku semua unsur aparatur negara dalam melaksanakan beban, tugas dan tanggung jawab.3

3

Lihat : “Etika politik, pandanganseorang politisi muslim” Faisal baasir. 2006

17

BAB III KESIMPULAN

Individu adalah kesatuan utuh antara jasmani dan rohani. Setiap individu mempunyai ciri khas dan kebutuhan yang tersendiri. Dalam

memenuhi kebutuhan tersebut, setiap individu membutuhkan individu lain. Karena aitulah individu selalu hidup berkelompok membentuk masyarakat. Masyarakat adalah sejumlah orang yang hidup dalam suatu daerah saling berhubungan dan terikat satu sama lain sehingga memiliki rasa solidaritas dan menghasilkan kebudayaan. Setiap individu dalam masyarakat mempunyai peran dan kedudukan yang berbeda. Setiap individu diharapkan dapat berperan sesuai dengan kedudukannya sehingga tercipta ketertiban, kenyamanan, kestabilan hidup bermasyarakat, yang akhirnya tujuan bersama dapat tercapai. Dalam setiap masyarakat selalu ada nilai, moral dan norma yang dianut dan dipatuhi. Bagi Bangsa Indonesia, Pancasila adalah sumber nilai, sumber moral dan merupakan seperangkat norma yang harus menjadi pedoman bagi setiap individu dalam bersikap, berperilaku mengandung keindahan nilai dalam

bermasyarakat kemanusiaan,

dan bernegara.

Pancasila dan

ketuhanan,

kebenaran, kebaikan

hidup

bermasyarakat.

Pancasila menuntut dan mengarahkan hidup setiap penduduk Indonesia untuk

18

memiliki keseimbangan, keserasian, keharmonisan hubungan antara individu dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta, individu dengan individu dan individu dengan masyarakat.

19

DAFTAR PUSTAKA

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->