Resume TEORI HUKUM Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali Prof. Dr. H.r. Otje Salman. S., S.H Anthon F. Susanto, S.H, M.

Hum BAGIAN SATU Apakah Hukum itu ? A. Memahami Permainan Bahasa. Perlu cara untuk memandu sesorang agar memperoleh gambaran yang jelas tentang apa hukum itu. Banyak literatur yang mencoba memecahkan persoalan ini, demikian halnya dengan teori dan filsafat hukum. Keragamanan tidak harus membingungkan, paling tidak menurut tulisan dalam buku ini akrena pada dasarnya argumentasi tertentu bertolak dari cara berpikir yang tidak seragam yang dilator belakangi oleh pendidikan serta kehidupan seharai-hari yang berbeda pula. Dilihat dari perkembangan aliran pemikiran (hukum) satu aliran pemikiran akan bergantung pada aliran pemikiran lainnya sebagai sandaran kritik untuk membengun kerangka teoritik berikutnya. Munculnya aliran pemikiran baru tidak otomatis bahwa aliran atau pemikran lama ditinggalkan. Sulitnya untuk meramu seluruh ide yang berkembang dalam hukum, karena dua alasan yaitu : Hukum adalah objek kajian yang masih harus dikonstruksi (dibangun) sebagaimana kaum konstrukvitis menjelaskan, diciptakan menurut istilah positivistic atau menggunakan bahasa kaum hermeniam ‘ditafsirkan’ sehingga dengan demikian cara pandang seseorang tentang hukum akan ditentukan oleh bagimana orang tersebut mengonstruksi, menciptakan atau menafsirkan mengenai apa yang disebut hukum itu. Satu pemikiran (aliran tertentu) akan memiliki latar belakang atau sudut pandang yang berbeda dengan aliran (pemikiran) lain, ini merupakan ragam kelemahan dan keunggulan masing-masing. Kondisi ini pada dasarnya memberikan keleluasaan karena hukum akan menjadi wilayah terbuka yang mungkin saja hailnya lebih positif. Kata ‘hukum’ digunakan banyak orang dalam cara yang sangat umum sehingga mencakup seluruh pengalaman hukum, betapapun bervariasinya atau dalam konteksnya yang sederhana. Namun dalam sudut pandang yang paling umum sekalipun, hukum mancakup banyak aktivitas dan ragam aspek kehidupan manusia.

B. Mengapa Pertanyaan itu penting. Seberapa penting pertanyaan itu diajukan, terdapat alas an tertentu tetapi tentu saja sepeerti yang dijelaskan oleh Nonet-Selznick gambaran hukum pada dasarnya menarahkan kepada sekumpulan orang buta yang berkerumun untuk memegang gajah. Namun pada prinsipnya devinisi hukum diharapkan mampu memberikan penjelasan terhadap teori yang telah disusun sebagaimana dijelaskan bahwa sebaiknya devinisi harus memiliki hubungan analitis dengan konteks teori yang lebih luas. Hukum adalah sebuah wilayah dimana setiap orang harus mengkonstruksi, menciptakan atau menafsirkan (sesuatu yang artificial), barulah kemudian dia akan mempu menjelaskan apakah hukum itu. C. Mencari Alternatif. Menurut Smith dalam penjelasannya bahwa hukum seyogyanya dilihat sebagai model jaringan yang memiliki posisi atau kedudukan sederajat dengan disiplin lain. Karena itu hukum harus memiliki kemampuan yang setara atau bahkan lebih dari disiplin lain itu untuk menyelesaikan problem baik kedalam (ilmu itu sendiri atau teoritis) maupun keluar (praktis atau pragmatis). Kedua, dengan posisinya itu berarti hukum manjadi wilayah yang bersifat terbuka dan peka, artinya hukum bukan semata-mata wilayah yang steril namun sebuah sebuah wilayah yang bersifat multi dan interdisipliner sehingga perubahan yang terjadi dalam dunia ilmu (pada umumnya) harus bisa dicerna (dirasakan pengaruhnya) oleh hukum, demikian pula sebaliknya. 1. Hukum Sebagai Jaringan Ada semacam perdebatan yang terus berlangsung dlaam ranah keilmuan hukum, apakah hukum sebagai ilmu atau bukan, ini semacam problem filosofi yang apabila dicarikan jawabannya akan berputar-putar seperti lingkaran tak berujung. Sebagai bagian dari jaringan (dalam) ilmu pengetahuan, maka syarat keilmua harus melekat didalamnya, tidak hanya itu, sebagai jaringan , ruang komunikasi harus terbukasedemikian rupa sehingga hukum dapat memecahkan problem bersihat lintas disiplin. 2. Hukum Sebuah Wilayah Terbuka. Secara teoritis maupun praktis hukum sebagai sebuah disiplin hendaknya memiliki model analisis dan mampu menyelesaikan ragam persoalan. Sebagai wilayah yang terbuka hukum menjadi domain bagi telaah disiplin lain, sebagaimana deskripsi Satjipto Rahardjo bahwa ilmu hukum berkembang dari yang terkotak-kotak menuju holistic (Teching Orders finding Disorder).

dogma. ini merupakan bukan semata-mata gambaran secara umum tentang hukum yang ada selama ini. Apabila Cicero mengatakan bahwa ada masyarakat ada hukum. Kerumitan dan sedemikian tipisnya batasan makna yang terkandung didalam banyak peristilahan yang disebutkan diatas. seberapa ketat sebetulnya setiap orang menggunakan istilah ini dalam kajian keilmuannya artinya seberapa jauh dia terikat untuk menggunakannya sesuai dengan pakem yang ada atau sebaliknya. ‘doktrin’ dan istilah lainnya. ‘paradigma’. sehingga menimbulkan kekeliruan atau tumpang tindih dalam penggunaannya.. Pada tataran tertentu pangguaan istila ‘teori’ banyak yang tidak tepat dan asal-asalan. manusia membangun hukum. Terdapat pemehaman bahwa istilah teori bukanlah sesuatu yang harus dijelaskan tetapi sebagai sesuatu yang sesuatu yang seolah-olah sudah dipahami maknanya. Hukum dan manusia memiliki kedekatan yang khas dan tidak dapat dipisahkan.D. Bahkan teori sering ditafsirkan sebagai istilah tanpa makna apabila tidak berkait dengan kata yang menjadi padanannya. Teori berasal dari kata “theoria” dalam bahasa latin yang berarti “perenungan”. Pintu Masuk Memahami hukum berarti memahami manusia. Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengenai itu. Pemaknaan dan Kesalahpahaman. artinya tanpa manusia hukum tidak dapat disebut sebagai hukum. maka yang sebenarnya dia bicarakan adalah hukum hidup ditengatengah masyarakat (manusia). pandangan yang mengarah kepada “the man behin the gun” membuktikan bahwa actor dibelakang memegang peran yang lebih dominant dari sekedar persoalan struktur. diantaranya : Istilah teori bukan lagi makna ekslusifini yang digunakan dalam ilmu pengetahuan untuk menjelasan fenomena atau keadaan tertentu namun lebih merupakan istilah umum yang dibicarakan oleh siapa saja. Ada kesimpang siuran atau tumpang tindih dalam penggunaan istilah teori. misalnya dengan istilah ‘model. ‘aliran’. Dalam hukum manusia adalah sebagai actor kreatif. menjadi taat hukum namun tidak terbelenggu oleh hukum. Merupakan hal yang penting. hanya untuk memberikan kesan bahwa hal itu terlihat ilmiah. BAGIAN DUA Teori – Apakah itu ? A. yang pada gilirannya berasal dari kata “thea” dalam bahasa .

ada dan objektif yang hanya dapat dikenali dan dipahami lewat mekanisme intuisi dan indra. teori berpijak pada penemuan faktafakta maupun hipotesis. gagasan. logis. yaitu realitas yang tidak dapat dimasukan pada kedua relitas yang disebutkan diatas karena telah melampaui batas realitas yang ada (hyper reality). Prinsip abstrak atau umum didalam tubuh pengetahuan yang menyajikan suatu pandangan yang jelas dan sistematis tentang beberapa materi pokoknya. suatu deskripsi dan penjelasan fakta yang didasarkan atas hukum-hukum dan sebab-sebab niscaya. abstrak dan ideal yang digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala. B. sebagaimana dalam teori seni dan teori atom. sebagaimana dala teori seleksi alam. Apabila ditelaah secara historis bahwa realitas dapat dipandang dari bebrapa sudeut pandang sebagai berikut : Dimana realitas adalah sesuatu yang hanya dapat ditangkap lewat kapasitas akal budi (ide. Teori dan Realitas Sebagaimana disebutkan bahwa teori senantiasa berkaitan dengan apa yang disebut realitas. Realitas berkaitan dengan sesuatu yang bersifat actual. Hipotesis. Berlawanan dengan eksistensi factual dan/atau praktek. nyata. Model atau prinsip umum. C. Dalam filsafat ilmu pengetahuan. Dari kata dasar thea ini pula dating ata modern “teater” yang berarti “pertunjukan” atau “tontonan”. esensi). Berikut beberapa pengertian teori secara luas : 1. Dalam banyak literatur beberapa ahli menggunakan kata ini untuk menunjukan bangunan berpikir yang tersusun sistematis. Deskripsi ini sifatnya pasti. 3. Dan terakhir yaitu sebuah realitas yang muncul ketika sains dan tekhnologi dengan kecanggihannya mampu menciptakan sebuah dunia artificial.Yunani yang secara hakiki menyiratkan sesuatu yang disebut dengan realitas. dan matematis. 4. 5. nonkontradiksi. Pemahaman tentang hal-hal dalam hubungannya yang universal dan ideal antara satu sama lain. 2. Dalam bidang ilmu alam. suposisi atau bangun yang dianggap betul dan yang berlandaskan atasnya gejala-gejala dapat diperkirakan dan/atau dijelaskan dan yang darinya didedukasikan pengetahuan yang lebih lanjut. Menuju Pilihan Cara . mengikuti konfirmasi fakta-fakta itu dengan pengalaman dan percobaan (eksperimen). empiris juga simbolis.

Induksi dari Alam Pengalaman Menurut pandangan ini teori ditarik secara ketat dari fakta (di alam pengalaman) yang diperoleh melalui teknik observasi dan atau eksperimen. Program riset Lakatosian adalah struktur yang memberikan bimbingan untuk riset di masa depan dengan cara positif (bimbingan garis besar yang memperlihatkan bagaiana program riset dapat dikembangkan) maupun cara negatif (program terperinci yang menetapkan bahwa asumsi dasar yang melandasi program itu). Program Riset Lakatosian. Evolusi Kritis Thomas Kuhn. 3. 2. Pandangan Imre Lakatos menjelaskan tantang usaha menganalisis teoriteori sebagai struktur terorganisasi. sedangkan selebihnya didasarkan pada analisis terperinci tentang sejarah (ilmu) dan tentang teori-teori ilmiah modern. Karena pandanagn ini berpendpat bahwa hipotesis dapat menolong memberikan ramalan dan menenukan fakta baru. Bagi Thomas Khun pandangan tradisonal tentang ilmu baik induktivis maupun falsikasionis semuanya tidak mampu bertahan dalma sejarah. 4. . Sebagaimana aliran Postivisme Logikal menyebutkan bahwa suatu teori tidak hanya dibenarkan sejauh ia dapat dibuktikan dengan fakta-fakta yang diperoleh melalui obsrevasi. Seperti pendapat Paul Feyeraben “ilmu tidak mempunyai segisegi istimewa yang dapat menyatakan dirinya mempunyai keunggulan secara hakikat terhadap cabang-cabang pengetahuan lain seperti mitos purba atau voodoo”. sebuah teori dapat dibuktikan benar atau salah. Dan pada dasarnya cara penarikan teori dari alam pengalaman ini dapat disebut cara induksi. karena sebagaimana dikatakan sebagian ilmuwan masa kini. tetapi juga dipertimbangkan mempunyai makna. Hal ini (kebanyakan) didasarkan kepada pertimbangan filsafat dan logika. 1.Beberapa ahi berkeyakinan. Namun klaim (pandangan) tersebut tidak dapat diterima begitu saja. teori ilmiah tidak dapat dibuktikan konklusif benar atau salah dan bahwa rekonstruksi para filsuf hanya mempunyai sedikit kesamaan dengan apa yang terjadi secara actual dalam ilmu. Bagi pandangan ini. Deduktif Hipotesis. teori tidaklah sesuatu yang begitu saja dpaat diambil dari hasil pengamatan (observasi) tetapi lebih jauh dari pada itu pandangan ini menyatakan pentingnya penarikan hipotesis yaitu menyusun pernyataan logis yang menjadi dasar untuk penarikan kesimpulan atau deduksi mengenai hubungan antara benda-benda tertentu yang sedang diselidiki.

Sehingga akan nampak kesulitan untuk membedakannya dengan kajian yang disebut filsafat hukum. dan sebagainya. karena teroi hukum juga akan mempersalahkan hal mengenai : Mengapa hukum berlaku. hal ini ditempuh untuk memberikan kebebasan bagi perkembangan metode-metode alternative agar manusia dapat mengambil keputusan bebas yaitu mengatur perjuangan antara ideologi-ideologi untuk menjamin setiap individu mempertahankan kebebasan memilih dan tidak ada ideologi yang memaksakan kepadanya secara bertentangan dengan kehendaknya. Ia pembela status quo sekaligus anti status quo. Lebih lanjut dikatakan olehnya bahwa mengingat kompleksitas sejarah. Ada kajian filosofis didalam teori hukum sebagaimana dikatakan Radbruch bahwa tugas teori hukum adalah membikin jelas nilai-nilai oleh postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofinya yang tertinggi.Kemudian teorinya dikembangkan sebagai usaha untuk manjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah sebagaimana dilihat oleh Khun dengan menitik beratkan peran yang dimainkan oleh sifat-sifat sosiologi masyarakat ilmiah. Menurutnya tidak ada metodologi ilmu yang pernah dikemukakan selama ini mencapai sukses. Anti Fundationalis Feyerabend Pandangan yang cukup provokatif tentang ilmu pengetahuan dijelaskan oleh seseorang yang bernama Paul Feyerabend. 5. Apa yang menjadi tujuan hukum. Gagasan Feyerabend sering disebut sebagai teori anarkisme epistemelogis yang didalamnya terdapat bentuk anarkisme yang berusaha mempertahankan kemapanan sekaligus menyingkirkan kemapanan. maa paling tidak masuk akal untuk mengharapkan bahwa ilmu dapat diterangkan hanya atas dasar beberapa hukum-hukum metodologi ysng sederhana. Dua Pandangan Besar Teori hukum tentu berbeda dengan apa yang kita pahami dengan hukum positif. Bagaimana seharusnya hukum itu dipahami. BAGIAN TIGA TEORI HUKUM A. . Apa dasar kekuatan mengikatnya.

tetapi sebaliknya dimana teori hukum dapat juga muncul dari situasi yang disebut dengan situasi keos. kandungan dasar dan fungsi dasar) 2. dalam tulisan ini dilihat cara pendekatannya ada dua karakteristik besar atau pandangan besar (grand theory) yang keduanya bertolak belakang namun ada dalam satu realitas. Dalam pandangan yang pertama ini sistem digunakan secara bebas terhadap banyak hal dalam kehidupan. meskipun hal ini bukan berarti seolah-olah hukum dipilih sedemikian rupa sehingga akan menjadi reduksionis. Pandangan Kedua. atau situasi yang tidak sistematis.Meski agak rumit untuk memahami semua hal diatas karena ragam teori masing-masing memiliki cara pandangan yang berbeda. Teori Hukum dalam Model Hukum Menurut Black dan Dragan Milovanovich. dan bahwa hukum sangat dipengaruhi oleh persepsi pengamat dalam memaknai hukum tersebut. Pandangan yang menyatakan bahwa hukum bukanlah sebagai suatu sistem yang teratur tetap merupakan sesuatu yang berkaitan dengan ketidakberaturan. dan teori hukum mampu menjelaskan persoalannya sebagaiana adanya tanpa keterkaitan dengan pengamatnya. sehingga dengan demikan wilayah itu menjadi jelas ada pada posisi mana apabila seseorang menjelaskan tentang hukum atau teori hukum. termasuk hukum digambarkan dalam bentuk yang jelas-jelas dapat diakui sebagai istilah mekanisme dan sistem. keserba tidak beraturan. yaitu : . alam semesta. Pandangan yang didukung oleh tiga argumen yaitu pandangan bahwa hukum sebagai suatu system yang pada prinsipnya dapat diprediksi dari pengetahuan yang akurat tentang konisi sistem itu sekarang. Pandanagan ini menolak bahwa teori hukum harus selalu bersifat sistematis dan teratur. Dalam pandanagan ini pula berpendapat bahwa kebanyakan teori hukum berpusat pada salah satu dari ketiga jenis sistem (sumber dasar. akan tetapi hal ini bertujuan agar dapat mempertajam wilayah analisis terhadap keragaman teori yang sering kali dipahami secara campur aduk. Pandangan Pertama. Donal Black menjelaskan ada dua model hukum. perilaku system ditentukan sepenuhnya oleh baian-bagian yang terkecil dari sistem itu. Dua model menurut Donal Black yang senada dengan pendapat Dragan Milovanovick. 1. tidak dapat diramalkan. Yang mana semuanya itu adalah gambaran dinamika masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Menurut pandangan ini teori hukum sama sekali tidak berada pada jalur yang disebut sebagai sistem. masyarakat. B.

Jan Gijssels dan Mark van Hoecke adalah dua pemikir yang ada pada ranah pemikiran kontinental. Teori Hukum setidaknya oleh kebanyakan dipandang sebagai ilmu a normatif yang bebas nilai. Untuk memahami apa itu Teori Hukum. Hukum dilihat sebagai sesuatu yang bersifat mekanisme dan mengatur dirinya sendiri melalui rules dan logika. C. dan olehkarenanya penyelesaian masalahpun disini lebih mengandalkan kemampuan logika tadi Sociological Model. ini yang persisnya membedakan Teori Hukum dan Ajaran Hukum Umum dan Dogmatik Hukum. Dogmatik Hukum (Rechtsdogmatiek) atau Ajaran Hukum (Rechtsleer) tidak dapat membatasi pada suatu pemaparan dan sistematis melainkan secara sadar mengambil sikap berkenaan dengan butir-butir yang diperdebatkan jadi Dogmatik Hukum (Rechtsdogmatiek) atau Ajaran Hukum (Rechtsleer) dalam . Dogmatik Hukum (Rechtsdogmatiek) atau Ajaran Hukum (Rechtsleer). khususnya batas-batas wilayahnya persepsi Jan Gijssels dan Mark van Hoecke. Menurut mereka teori hukum merupakan disiplin mandiri yang perkembangannya dipengaruhi dan sangat terkait erat dengan Ajaran Hukum Umum. Kajian ini tentu saja lebih kompleks dari sekedar hukum sebagai produk. Dalam model ini fokus kajian hukum lebih kepada struktur sosial. Menurut model ini proses hukum berlangsung ditata dan diatur oleh sesuatu yang diosebut sebagai logic (logika/sistem hukum). berikut ini penjelasan secara singkat mengenai : 1. Kesinambungan antara Teori Hukum dengan Ajaran Hukum Umum yaitu : Teori hukum sebagai lanjutan dari ajaran hukum umum memiliki obejk disiplin mandiri. Teori Hukum Menurut Jan Gijssels dan Mark van Hoecke. Dalam model sosiologi ini yang dipentingkan adalah keragaman dan keunikan dan menempatkan seseorang sebagai penliti agar memudahkan untuk melihat proses secara utuh dengan tujuan akhir beraksud untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang ada dalam realitas sebenarnya. Dalam ati sempit bertujuan untuk memaparkan dan mensistematisasi serta dalam arti tertentu juga menjelaskan hukum positif yang berlaku. Dalam model ini kajian hukum lebih memfokuskan kepada produk kebijakan (aturan/rules). suatu tempat diantara Dogmatik Hukum disatu sisi dan Filsafat Hukum disisi lainnya.- Jurisprudentie Model. Sama seperti ajaran hukum umum dewasa ini.

Yaitu filsafat umum yang diterapkan pada hukum atau gejala-gejala hukum. 1. 4. 5. Filsafat Hukum. teori hukum berbicara tentang cara yang dengannya ilmuwan hukum berbicara tentang hukum. Dogmatik hukum berbicara tentang hukum. maka teori hukum mengajukan pertanyaan tentang dapat digunakannya teknik-teknik interprestasi. Jika teori hukum mewujudkan sebuah meta-teori berkenaan dengan dogamtik hukum maka filsafat hukum memenuhi fungsi dari sebuah metadisiplin berkenaan dengan teori hukum. 1. Secara structural teori hukum terhubungkan pada filsafat hukum dengan cara yang sama seperti dogmatika hukum terhadap teori hukum. Hubungan Dogmatik Hukum dengan Teori Hukum. 2. Teori Hukum dan Ilmu Lain yang Objek Penelitiannya Hukum. . tentang sifat memaksa secara logical dari penalaran interprestasi dan sejenisnya lagi.hal-hal yang penting tidak hianya deskriptif melainkan juga perspektif (bersifat normatif). Dogmatik hukum mencoba lewat teknik-teknik interprestasi tertentu menerapkan teks undang-undang yang pada pandangan pertama tidak dapat diterapkan pada suatu masalah konkret. 3. 3. 3. Menurut mereka Filsafat Hukum memiliki telaah meliputi : Ontologi Hukum (penelitian tentang hakekat dari hukum) Aksiologi Hukum (penentuan isi dan nilai) Ideologi Hukum (ajaran idea) Epistemologi Hukum (ajaran pengetahuan) Teologi Hukum (hal meneetukan makna dan tujuan hukum) Ajaran Ilmu dari Hukum (meta-teori dari ilmu hukum) Logika Hukum 3. Hubungan Filsafat Hukum dengan Teori Hukum. Filsafat hukum merupakan sebuah meta-disiplin berkenaan dengan teori hukum. 2. Dogmatik hukum mempelajari aturan-aturan hukum itu dari suatu sudut pandang teknikal maka teori hukum merupakan refleksi terhadap teknik hukum ini. 2. 1. 2.

5.J.H. Teori hukum secara esensal bersifat interdisipliner. atau ilmu hukum dalam arti sempit). Tipikal dari teori hukum bahwa dalam hal ini ia mamainkan peranan mengintegrasikan. mengingat filsafat hukum mangambil sebagian dari kegiatan-kegiatan dari teori hukum itu sendiri sebagai subjek studi. baik yang berkenaan dengan hubngan antara disiplindisiplin ini satu terhadap yang lainnya maupun yang berkenaan dengan integrasi hasil-hasil penelitian dari disiplin-disiplin ini dengan unsur-unsur dogmatika hukum dan filsafat hukum. Logika Hukum. yaitu dapat berarti produk yaitu keseluruhan pernyataan yang saling berkaitan itu adalah hasil kegiatan teoritik bidang hukum) dan dalam arti proses yaitu kegiatan teoritik tentang hukum atau pada kegiatan penelitian teoritik bidang hukum sendiri. Psikologi Hukum dan sejenisnya). D. Teori Hukum Menurut J. Disamping itu teori hukum menurut Bruggink mengandung makna ganda lainnya yaitu dalam arti luas (hal itu menunjuk kepada pemahaman tentang sifat berbagai bagian cabang sub disiplin teori hukum) dan dalam arti sempit (berbicara tentang keberlakuan evaluatif dari hukum. Sosiologi Hukum Mengarahkan kajian pada keberlakuan empiric atau factual dari hukum.4. dan sistem tersebut untuk sebagian yang penting dipositifkan. terakhir adalah dogmatika hukum. diantaranya sebagai berikut : 1. Sosiologi Hukum. Filsafat hukum sebagai ajaran ilmu dari teori hukum dan sebagai ajaran pengetahuan mewujudkan sebuah meta-disiplin berkenaan dengan teori hukum tidak memerlukan penjelasan lebih jauh. Dengan kata lain sosiologi hukun adalah sebagai teori tentang hubungan antara kaidah- . jadi lebih mengarah pada kenyataan kemasyarakatan. Bruggink. Bruggink menjelaskan teori hukum adalah seluruh pernyataan yang saling berkaitan berkenaan dengan sistem konseptual aturan-aturan hukum dan putusan-putusan hukum. Filsafat hukum sebagai ajaran nilai dan teori hukum dan filsafat hukum sebagai ajaran ilmu dari teori hukum. Untuk mengulas persoalan diatas lebih jelas berikut akan sedikit diuraikan apa yang menjadi bagian dari teori hukum dalam arti luas. Menurut Bruggink definisi diatas memiliki makna ganda. hal ini mengandung arti bahwa teori hukum dalam derajat yang besar akan menggunakan hasil-hasil penelitian dari berbagai disiplin yang mempelajari hukum (Sejarah Hukum. Antropologi Hukum.

BAGIAN EMPAT. 3. yang bagian intinya ditetapkan (dipositifkan) oleh para pengemban kewenangan hukum dalam suatu masyarakat tertentu. 4. sedangkan pengambilan keputusan hukum disebut penemuan hukum. HUKUM DAN PARADIGMA. Teori Hukum dalam Arti Sempit. Dogmatik Hukum Menurut Bruggink dogmatika hukum adalah ilmu hukum (dalam arti sempt) yang merupakan bagian utama dalam pengajaran pada fakultas-fakultas hukum. yang berarti . Filsafat Hukum. Tentang kajian ini nampak belum begitu jelas. karena kajian (studinya) berada pada wilayah dogmatika hukum dan filsfat hukum. teori kebenarannya adalah teori pragmatik dan proposisinya yaitu informatif tetapi terutama normatif dan evaluatif. Bruggink memberikan ikhtisar filsafat hukum objeknya adalah landasan dan batas-batas kaedah hukum. Filsafat hukum memang adalah meta-teori untuk teori hukum dan mengingat teori hukum adalah meta-teori untuk dogmatika hukum. meskipun bukan sesuatu yang tabu untuk diperdebatkan. dari bahasa Yunani “paradeigma” . Menurut Oxfor English Dictionary “paradigm” atau paradigma adalah contoh atau pola. tujuannya adalah teoretikal. Jadi pada dasarnya adalah antara teori yang lebih tinggi dan yang paling rendah pada intinya pengaruh satu sama lainnya. Sosiologi hukum terdiri dari sosiologi hukum empirik dan sosiologi hukum kontempelatif. Apakah Paradgma itu ? Dalam bahasa Inggris “paradigm”. Akan tetapi didalam komunitas ilmiah paradigma dipahami sebagai sesuatu yang lebih konseptual dan signifikan. dari “para” (disamping. disebelah) dan “dekynai” (memperlihatkan .kaidah hukum dengan kenyataan pada masyarakat. 2. ideal). Objek dogmatika hukum terutama adalah hukum positif yaitu sistem konseptual atran hukum dan putusan hukum. model contoh. arketipe. Filsafat hukum adalah induk dari semua disiplin yuridik. Perumusan aturan hukum disebut pembentukan hukum. perspektifnya internal. . karena filsafat hukum membahas masalah-masalah yang paling fundamental yang timbul dalam hukum. A. juga saking fundamentalnya sehingga bagi manusia tidak terpecahkan karena masalahnya melampaui kemampuan berpikir manusia.

C. Dari sekian banyak paradigma dominant dalam ilmu. Chalmers sendiri menjelaskan tentang karakteristik paradigma. yang harus dilepaskan dari sembarang macam pra-konsepsi metafisis yang subyektif sifatnya. Paradigma Dominan dalam Ilmu. menjelaskan tentang paradigma penting dalam hukum yang dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Namun demikian mendampingi ketiga paradigma tersebut ada dua paradigma besar lainnya yaitu feminisme dan post modenisme.Konsep paradigma yang diperkenalkan oleh Khun kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs dalam sosiologi. B. Positivisme merupakan paham yang menganut agar setiap metodologi yang dipikirkan untuk menemukan kebenaran hendaklah memperlakukan realitas sebagai sesuatu yang eksis. paling tidak dapat dijelaskan ada tiga paradigma yang dominan yaitu positivisme. Soetandyo Wignyosoebroto. Paradigma Positivistik. Terdiri dari beberapa prinsip metafisika yang memandu segala karya dan karsa didalam lingkup paradigma dimaksud. dan critical studies. Konsep paradigma Khun lebih kepada sesuatu yang bersifat “metateoritis”. Aliran filsafat yang berkembang di Eropa Kontinental (khususnya Perancis) dengan beberapa eksponen terkenal diantaranya Henri Saint Simon dan August Comte. yang meliputi : Tersusun oleh hukum-hukum paradigma dimaksud dan asumsi-asumsi teoritis yang dinyatakan secara eksplisit. Paradigma Ilmu Hukum. . Mencakup cara-cara standar bagi penerapan hukum-hukum tersebut kedalam beragam situasi dan kondisi. interpretivisme. Mempunyai instrumentasi dan teknik-teknik instrumental yang diperlakukan guna menjadikan hukum-hukum tersebut berjaya didunia nyata. sebagai sesuatu objek. Mengandung beberapa ketentuan metodologis.

konstruktivisme sosial Bergerian. Melepaskan diri dari karakteristik berpikir kaum posivistik.Disini hukum tidak lagi dikonsepsi sebagai atas moral meta yuridis yang abstrak tentang hakikat keadilan. Realitas Dekonstruksi Melalui Interaksi. Paradigma Hermeneutik. Meski kaum ini memiliki keleluasan dalam ragam kajiannya tetapi paling tidak ada delapan posisi argumentative sebagaimana dikatakan Soetandyo Wignyosoebroto. relativitas linguistic. sistem terkadang digambarkan dalam 2 hal yaitu sebagai suatu wujud (entitas) yaitu sistem biasa dianggap sebagai suatu himpunan bagian yang saling berkaitan yang membentuk suatu keseluruhan yang rumit atau kompleks tetapi merupakan satu kesatuan. 2. muncul pemikiran yang oleh Colin disebut kaum social contructivist. khususnya ilmu yang berseluk beluk dengan objek manusia berikut masyarakat. dan juga termasuk paradigma argumentative yang hermeneutic. Teori Sistem Dalam Ilmu Bagi kebanyakan pemikir. mengajak para pengkaji hukum dari perspektif para pengguna atau pencari ekadiilan. Paradigma Pasca-Positivistik . Kajian atau paradigma hermeneutik dalam ilmu hukum membuka kesempatan kepada para pengkaji hukum untuk tidak hanya berkutat demi kepentingan profesi yang ekslusif semata. yaitu positivisme yuridis (bahwa hukum dipandang sebagai suatu gejala tersendiri yang perlu dioleh secara ilmiah) dan positivisme sosiologis (hukum ditanggapi terbuka bagi kehidupan masyarakat. atau yang kedua sistem mempunyai makna metodologik yang dikenal dengan pengertian umum pendekatan sistem (System Approach) yang pada dasarnya merupakan penerapan metode ilmiah didalam memecahkan suatu masalah atau menerapkan kebiasaan berfikir atau beranggapan bahwa ada . gantinya relativisme itu yang diakui. Pendekatan ini dengan strategi metodologisnya menganjurkan to learn from people. yaitu etnometodologi. simbolisme fakta sosial. melainkan ius yang telah mengalami positivisasi sebagai lege atau lex. yang harus diselidiki melalui metode-metode ilmiah). fenomenologi. paradigma konvensi. Kajian atau paradigma Hermeneutik atau yang sering disebut interpreatif mencoba membebaskan kajian-kajian hukum dari otorianisme para yuris positif yang elitis secara jelas dan tegas menolak paham universalisme dalam ilmu hukum. Paling tidak ada dua positivisme hukum sebagaimana dijelaskan Khuzaifah Dimyati. BAGIAN 5 HUKUM SEBAGAI SISTEM A. relativisme budaya. 3.

(Menurut Tatang M. Teori Sistem Dalam Hukum Asumsi umum mengenai sistem mengartikan kepada kita secara langsung bahwa jenis sistem hukum telah ditegaskan lebih dari ketegasan yang dibutuhkan oleh sistem jenis manapun juga. prinsip. . 2. 2. (Menurut William A. Shrode & Dan Voich) 3. Sistem itu bersifat terbuka atau pada umumnya bersifat terbuka. Dikatakan terbuka jika berinteraksi dengan lingkungannya dan sebaliknya dikatakan tertutup jika mengisolasikan diri dari pengaruh apapun. suatu himpunan gagasan. Bila ditinjau kebelakang. agama atau bentuk pemerintahan tertentu. Awad). Ciri-Ciri Sistem Sistem memiliki ciri-ciri pokok yang luas dan bervariasi yang mana dijelaskan oleh beberapa ahli diantaranya sebagai berikut : 1. Setiap sistem mempunyai batas yang memisahkannya dari lingkungan. (Menurut Elias M. Sistem digunakan untuk menunjukkan suatu kesimpulan atau himpunan benda-benda yang disatukan atau dipadukan oleh suatu bentuk saling ketergantungan yang teratur. Sistem digunakan untuk menyebut alat-alat atau organ tubuh secara keseluruhan yang secara khusus memberikan andil atau sumbangan terhadap berfungsinya fungsi tubuh tertentu yang rumit tetapi vital. Dimana sangat penting mempertimbangkan pandangan umum mengenai sistem dasar yang terdapat pada definisi-definisi dan jenis-jenis ideal yang dikemukakan dalam teori sistem secara umum. Sistem mempunyai tujuan sehingga perilaku kegiatannya mengarah pada tujuan tersebut/purposive behavioiur. Sistem yang menunjukkan himpunan gagasan (ide) yang tersusun. doktrin. Amirin). dapat dilihat makna dari sistem itu sendiri yang diantaranya : 1.banyak sebab terjadinya sesuatu didalam memandang atau menghadapi saling keterkaitan yang berusaha memahami adanya kerumitan didalam banyak benda sehingga terhindar dari memandangnya sebagai sesuatu yang amat sederhana. hukum dan sebagainya yang membentuk satu kesatuan yang logik dan dikenal sebagai isi buah pikiran filsafat tertentu. B. terorganisir. tetapi walau sistem mempunyai batas tetapi bersifat terbuka. 3.

Hart. dengan teorinya Content Theory (Pemahaman bahwa hukum yang meliputi prinsip-prinsip. para ahli hukum berharap dapat menemukan yang dimaksud dengan “sistematis”. Adakah Teori Keos ? Didalam teori Keos ini mencoba menerangkan secara lebih baik suatu tatanan akan selalu bergerak dinamis. dan kedua adalah jaringan tersebut haruslah membentuk suatu pola untuk menhasilkan struktur pada suatu sistem. Benoit Mandelbrot. Teori Keos Dalam Hukum Teori Keos mulai dikenal didalam sistem hukum adalah pada akhr tahun 1980-an yang dikemukakan Charles Sampford dalam bukunya The Disorder . Dari banyaknya pendapat yang muncul. BAGIAN 6 TEORI KEOS DALAM HUKUM A. antara lain : 1. dengan teorinya Primery Rules (kewajiban manusia untuk bertindak) dan Secondary Rules (aturan untuk menentukan suatu aturan lain yang sah) 2. Alasan penyelidikan terhadap sistem teori umum adalah untuk memberikan semacam fokus kesadaran kita akan berbagai macam teori sistem hukum dan kebanyakan dari konsepsi-konsepsi sistem yang ditemukan pada teori sistem umum memperlihatkan inti dari ciri-ciri lazim yang digunakan dunia. hampir kesemuanya mengacu kepada 2 hal yakni hubungan-hubungan tersebut harus membentuk jaringan dimana setiap elemen saling terhubung baik langsung atau tak langsung.A. yang mana diharapkan dapat menimbulkan sifat yang lazim dan bisa diciptakan bebas dari prasangka dan penyimpangan yang ditemukan pada beberapa perkembangan konsep yang berhubungan dengan suatu disiplin ilmu khusus. McCormick dan Weinberger. James Gleick bahwa Teori Keos adalah sesuatu yang susah diprediksi dan ada dimana-mana. Selain itu juga muncul pula teori para ahli mengenai sistem hukum ini.L. dengan teorinya Communications System (hukum merupakan suatu komunikasi yang terikat antara manusia) 4. berubah terus menerus dan sulit diprediksi yang intinya melihat dunia secara berbeda dan dari pandangan yang statis dan kaku yang menurut beberapa ahli diantaranya Edward Lorenz. H. politik. Ronald Dworkin. standar-standar dan aturan) 3.Dalam pelaksanaannya. Anthony Allotts. dengan teori mereka (Teori Kelembagaan dan Hukum dimana hukum merupakan suatu norma dasar). B.

Dekonstruksi dapat juga dijadikan sebagai upaya membalik secara terus menerus hirarkis oposisi biner dengan mempertaruhkan bahasa sebagai medannya. . pengertiannya adalah alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. C.of Law. tetapi hal ini tidak dapat mewakili cakupan aktivitas yang dihasilkan oleh pemikiran lain karena aktivitas tidak dapat dilambangkan sebagai sistematis walaupun banyak usaha untuk membuatnya jadi sistematik tetapi seperti yang dikatakan oleh Dewey. Mengapa Teori Sistem Gagal ? Menurut Sampford. D. yang berbeda dari model pemahaman teks yang konvensional dan formal dalam hukum yang cendrung dianggap sesuatu yang sudah jadi yang mana gangguan kecil yang muncul dianggap sebagai perusak yang pada akhirnya tidak dapat memberikan jaminan kepastian teks. gejolak dan kegelisahankegelisanan yang mencirikan budaya Keos yang menurutnya kegelisahan merupakan akibat dari cara tertentu yang diimplikasikan dalam permainan sehingga dapat menciptakan kreatif tanda dan kode-kode yang tanpa batas dan tidak terbatas. apakah untuk penciptaan peranan. Dekonstruksi Derrida bagi Ilmu Hukum memberikan alternatif pemahaman teks. ketidakpastian. Teori sistem gagal dikarenakan bahwa masing-masing mencakup pembentukan sistem untuk menggabungkan prestasi dari banyak pemikiran dalam sistem itu. bahwa “bekerja atas fakta” baik dengan membuat sistem yang sesuai dengan fakta maupun dengan mengubah fakta hingga sesuai dengan sistem dan sebagaimana konsekuensi bahwa fakta itu sendiri tidak dipandang sebagai terorganisir dan sistematis. tetapi menurut Derrida bahwa ada dua cara penafsiran yaitu upaya untuk merekonstruksi makna atau kebenaran awal/orisinil dan secara eksplisit membuka pintu indeterminasi makna didalam sebuah permainan bebas sehingga pemikiran Derrida merupakan bentuk perlawanan terhadap model penafsiran teks yang sudah mapan. yang dalam ilmu hukum cenderung untuk ditolak. Derrida sebagai salah seorang pemikir post-strukturalis lebih mampu mengakomidasi dinamika. Teori Keos Dari Jacques Derrida Pandangan lain tentang Keos adalah menurut Derrida yaitu Dekonstruksi. A Critique of Legal Theory. muatan prinsip-prinsip atau fungsi dari lembaga-lembaga. yang berpendapat bahwa teori hukum tidak hanya muncul atau berasal dari suatu sistem yang sistematis tetapi dapat juga muncul dari suatu keadaan atau kondisi masyarakat yang mana masyarakat selalu menjalin hubungan yang tidak dapat diprediksi dan tidak sistematis (teori keos). Kebanyakan hanya untuk mengejar sasaran sehari-hari secara normal saja. dianggap pasti dan sudah jadi.

termasuk aliran postmodernis namun gaungnya hanya berkisar diantara/terhadap dasar keilmuan. Penekanannya terhadap sifat arbiter dari struktur argumen dan retorika bahasa tetap merupakan bagian yang penting sebagai senjata kritik dekonstruksi postmodernisme. Meski ilmu hukum sendiri bersifat terbuka terhadap berbagai serangan. inilah salah satu bentuk paradoks dan hingar bingarnya Postmodernis. landasan totalisasi atau kelemahan-kelemahan lainnya. postmodernisme lebih kepada sebuah gagasan untuk meruntuhkan atau menolak metanarasi. Dapat dipastikan bahwa pengaruh Postmodernis secara fundamental hanya melintas sebagai suatu wacana kritis dan alternatif dalam tataran teoritis mengingat sulitnya aliran ini untuk dipahami secara utuh. terutama sebagai upaya serius untuk mencapai kebenaran yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial dalam mencari kekuasaan. Teori Hukum Postmodernis Hukum dalam dunia Postmodernis merupakan wilayah yang memiliki pesona berbeda dengan pandangan modernitas. baik dibidang seni dan filsafat. Menurut Lyotard. Pesona Post – Modernis Post – Modernis ini merupakan istilah yang kontroversial. Indah namun absurd dan membingungkan. B. Di salah satu pihak istilah ini kerap digunakan dengan cara sini dan berolok-olok. Pandangan ini sekaligus menjelaskan sentralitas tesis Nietzsche kehendak untuk kuasa dalam epistimologis kontemporer dimana pencaharian kebenaran selalu diartikan membangun kekuasaan. Seluruh realitas akan digenang oleh berlapis-lapis duplikasi simulacra sehingga tidak ada kemungkinan lagi untuk membuat semacam jarak reflektif. wajah simulacra yang beranak-pinak dan berekstase sedemikian rupa hingga mencapai dunia imajiner hyperrealnya sendiri. Sedangkan Post Modernisme lebih mengedepankan pandangan bahwa berbagai lapangan dan spesialisasi ilmu merupakan strategi utama atau kesepakatan dimana realitas dapat dibagi. bahkan dalam kamus The Modern – Day Dictionary of Received Ideas merumuskan “Post Modernis adalah kata yang tidak punya arti. yaitu dianggap sebagai sekedar mode intelektual yang dangkal dan kosong atau sekedar refleksi yang bersifat reaksioner belaka atas perubahan-perubahan sosial yang kini berlangsung. .BAGIAN 7 MENUJU PEMAHAMAN HUKUM POST – MODERNIS A. karena dalam dunia Postmodernis sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang tokohnya yang paling berkibar Jean Baudrillard. wilayah ini merupakan suatu wilayah imajinasi.

Gerakan studi hukum kritis meski hanya sebuah fenomena di Amerika. spekulasi. rasional dan menerima posibilitas penemuan kebenaran. intuisi.Ini dapat dipahami karena perbedaan fundamental teori hukum modern dan post modernis. pengalaman personal dan lain-lain. ada ketidaksepakatan mengenai tujuan. 2. pemikiran Marxis yang mewarisi kritik terhadap hukum liberal yang hanya dianggap melayani sistem kapitalis (David Kairys). Walaupun sebagian besar ahli CLS setuju bahwa bentuk hukum yang sekarang bersifat represif. represif dan ideologi. dengan itu maka gerakan ini tidak lagi bertumpu pada konteks dimana hukum eksis dan melihat hubungan kausal antara doktrin dan teks dengan realitas. perasaan. Penganut aliran ini bermaksud membongkar atau menjungkirbalikkan struktur hierarkis dalam masyarakat yang tercipta karena adanya dominasi. Ketiga. Dekonstruksi Versi Critical Legal Studies Dekonstruksi dalam hukum merupakan strategi pembalik untuk membantu mencoba melihat makna istilah yang tersembunyi yang kadang telah cenderung diistimewakan melalui sejarah. pertama. refleksi. Hubungan antara aturan hukum dan pemenuhan nilainilai sosial penting dalam kritik mereka tentang apa dan didalam proyeksi mereka dan akan seperti apa proyek mereka. Kepentingan hukum hanyalah untuk mendukung kepentingan atau kelas dalam masyarakat yang membentuk hukum tersebut. Unger). ruang lingkup dan bentuk hukum yang . Critical Legal Studies dan Rekonstruksi Ahli-ahli CLS telah berkonsentrasi pada fungsi-fungsi hukum yang fasilitatif. 1. namun sebaliknya dengan hal itu teori post modernis cenderung menjadi relatifistik dan terbuka kemungkinan irasionalitas karena kecenderungannya membuka fenomena model emosi. dan usaha-usaha itu akan dapat dicapai dengan menggunakan hukum sebagai sarananya. mencoba mengintegrasikan dua paradigma yang bersaing yakni konflik dan konsensus (Roberto M. Secara umum kita dapat mengatakan bahwa teori (hukum) modern cenderung menjadi absolut. percaya bahwa logika dan struktur hukum muncul dari adanya power relationships dalan masyarakat. metode ekletis yang membaurkan sekaligus perspektif strukturalis fenomenologis dan neo Marxis. C. Kedua. Critical Legal Studies Ada beberapa varian dalam arus pemikiran ini. Selain itu Dekonstruksi juga mempunyai gagasan tentang “free play of the text” yang mana setiap teks yang disusun termasuk keputusan hukum atau doktrin hukum dibebankan ketika teks itu disusun dengan kata lain melalui dekonstruksi teks mempunyai kehidupan sendiri.

D. 2. keanggotaan CLS disusun dari beberapa sponsor (sponsor lain ahli-ahli teori tentang ras dan feminist) 1. Tetapi lebih jauh dan mendasar gerakan ini lebih melihat dan mengambil dari pengalaman-pengalaman yang dialami kaum wanita. Bahka visi tentang masyarakat yang “baik” tidak jelas. psikoanalisis. semiotik.diinginkan da. disisi lain bekerja dalam kategori hukum seringkali memperkuat legitimasi alat-alat hukum. Disatu sisi hukum mendukung pemberdayaan. antara lain .Kaum ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran feminis dalam filsafat. Metode Feminis dalam Hukum Yang diperlukan dalam aliran ini adalah metode Legal Feminist yang menyebutkan tiga fokus utama yang penting. kritik sasra dan teori politik.am masyarakat yang lebih humanistik. pemahaman praktis feminist dan yang ketiga adalah munculnya kesadaran. bertanya kepada perempuan.singkatnya metode ini lebih difokuskan baik pada dekonstruksi dan rekonstruksi. Feminis Juriprudence Feminis Juriprudence mencoba secara fundamental menentang beberapa asumsi penting dalam teori hukum konvensional dan juga beberapa kebijaksanaan konvensional dalam penelitian hukum kritis. aturan-aturan hukum ideologi dan pada akhirnya aturan laki-laki. mempunyai akses untuk melawan sejumlah penyalahgunaan dan pembatasan pada realisasi nilai-nilai sosial yang menghasilkan perubahan. sejarah. Hyperrealitas dan Implikasinya Terhadap Teori Hukum . dimana tahun 1985 pertemuan tahunan critical legal studies mempunyai tema Feminimisme dan hukum. Pergerakan Hak-Hak Wanita Feminis jurisprudensi telah menempatkan dilema bagi aktivis garis depan dimana perempuan yang membawa tuntutan harus membuktikan tidak hanya “perbedaan statistik” tetapi juga wanita dan pria mempunyai “kepentingan yang sama”. Dengan kata lain pengakuan upaya dialektika mengharuskan suatu pendekatan yang lebih komprehensif untuk suatu jurisprudensi feminis dimana baik pengalaman konkrit wanita dan juga teori dalam hukum yang lebih komprehensif perlu diintegrasikan. post modernisme. Paham ini memiliki keterkaitan dengan critical legal studies. tahun 1987 temanya adalah rasisme dan hukum kemudian tahun 1992 pada konferensi tahunan. E. antropologi.

Pemikiran progresif menurut Beliau maksudnya adalah semacam refleksi dari perjalanan intelektualnya. Lebih ekstrimnya hukum adalah libido kekejaman. Hukum bukanlah sebagai sebuah produk yang selesai ketika diundangkan atau hukum tidak selesai ketika tertera menjadi kalimat yang rapih dan bagus. tetapi melalui proses pemaknaan yang tidak pernah berhenti maka hukum akan menampilkan jati dirinya yaitu sebagai sebuah “ilmu”. turbulensi dan noise. B. yang muncul dalam bentuk keputusan yang ditandai dengan keserakahan dan muslihat birokrasi. Hyperrealitas menyebabkan struktur hukum perlahan-lahan “diperkosa” dan dicabut atau dipreteli. melainkan juga keilmuan. Sifat pergerakan itu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihilangkan atau ditiadakan. Profesi dan Ilmu Sejak lahirnya program pascasarjana dalam pendidikan hukum di Indonesia pada 1990-an.Hyperrealitas adalah suatu situasi dimana realitas telah digantikan oleh suatu yang tidak real yang melampaui citra aslinya. Maka sesungguhnya revolusionerlah sifat atau kualitas perubahan pada pertengahan tahun 1980-an itu. hukum akan muncul atau memperlihatkan wujud yang abjek. salah satunya adalah menurut Satjipto Rahardjo. Didalam hukum. Mendefinisikan hukum adalah sebagai sebuah tatanan yang utuh (holistik) selalu bergerak baik secara evolutif maupun revolusioner. Hukum bukanlah sekedar logika semata tetapi merupakan ilmu sebenarnya yang harus selalu dimaknai sehingga selalu up to date. keaslian dan dunia kultural lenyap secara tiba-tiba (contohnya seperti “orang lebih percaya televisi daripada kejadian sebenarnya) sehingga realitas telah tersingkir dan tereduksi dari posisinya. oleh karena sejak dibuka rechtshogeschool di zaman kolonial Belanda pada 1922-an. Pendahuluan Hukum Indonesia banyak catatan untuk dikaji. . maka Indonesia hanya mengenal program profesi saja. ekstasi kejahatan dan semangat kegilaan yang ditukangi oleh parasit hukum guna melakukan manuver-manuver yaitu membuat simulacra hukum dengan menciptakan huruf dan kalimat yang tersusun rapih dalam sebuah teks undang-undang dan sejenisnya. BAGIAN 8 MENUJU PEMIKIRAN HUKUM PROGRESIF DI INDONESIA A. mulai saat itu Indonesia tidak hanya mengenal pendidikan profesi. tetapi sebagai sesuatu yang eksis dan prinsipil. maka dikatakan sebagai revolusi. khususnya dalam bidang hukum.

undang-undang negara. teori pada dasarnya sangat ditentukan oleh bagaimana orang atau sebuah komunitas memandang apa yang disebut hukum. liberalisme. polisi negara dan seterusnya. peradilan negara. namun hakekat utamanya jelas bahwa lahirnya teori kuantum adalah penjelasan paling logis bahwa ilmu senantiasa berada di tepi garis yang labil. BAGIAN 9 MEMAHAMI PERSOALAN KITA . Gagasan Beliau ini tidak saja memperkaya pengetahuan hukum tetapi lebih dari itu memberikan sebuah keteladanan bahwa kewajiban bagi seorang ilmuan adalah selalu bersikap rendah hati dan terbuka serta memiliki semangat untuk senantiasan berada pada jalur pencaharian. demikian pula dengan ilmu hukum. upaya dan semangat yang dikembangkan dengan terus berusaha mencermati perubahan yang terjadi. artinya apa yang sedang terjadi atau perubahan apa yang tengah terjadi dimana komunitas itu hidup sangat berpengaruh terhadap cara pandangnya tentang hukum. C. Uraian diatas adalah sketsa singkat pemikiran seorang yang selalu berada dijalan ilmu. Kritik Terhadap Hukum Modern Kritik terhadap hukum modern menurut Satjipto telah mengerangkeng kecerdasan berfikir kebanyakan ilmuan hukum di Indonesia. bahwa tugas ilmuan adalah mencerahkan masyarakat sehingga dunia pendidikan memberikan kontribusi dan tidak melakukan pemborosan. ini merupakan puncak sebuah perkembangan yang ujungnya berakhir pada dogmatisme hukum. bergerak. Ilmu Hukum Yang Selalu Bergeser. Sejak munculnya hukum modern seluruh tatanan sosial yang ada mengalami perubahan yang luar biasa dimana tidak terlepas dari munculnya degara modern yang bertujuan untuk menata kehidupan masyarakat dan pada saat yang sama kekuasaan negara menjadi sangat hegemonial sehingga seluruh yang ada dalam lingkup kekuasaan negara harus diberi label NEGARA. pembebasan dan pencerahan dan ini semua adalah hakekat dari apa yang disebut dengan PEMIKIRAN HUKUM PROGRESIF. berubah dan mengalir. formalisme dan kodifikasi. D. Menurut Satjipto Rahardjo. Pada dasarnya ilmu adalah sebagai sesuatu yang terus bergeser. Perubahan itu tentu saja dimaknai secara bervariasi oleh setiap orang yang mencermatinya.Menurut Beliau ilmuan hukum diajak untuk menjelajah hukum secara luas dan mempunyai kewajiban untuk upaya pencarian kebenaran dan proses inilah sebenarnya yang disebut sebagai proses pemaknaan terhadap hukum. kapitalisme. Bagi hukum.

memperbaiki dan membangun kembali puing-puing hukum yang hancur. terlepas dari semuanya. tapi itulah sebuah konsekuensi yang harus ditanggung dari kondisi kehidupan hukum yang kumuh. hukum seperti apa yang didambakan. kita harus menyadari bahwa persoalan yang terjadi saat ini bersifat akumulatif dan bervariasi. menelaah kembali serta menyusun prioritas kebutuhan yang diperlukan untuk kepentingan pembangunan sehingga dengan jelas dapat ditentukan misi apa yang hendak dilakukan dalam pembangunan hukum kedepan. menyelesaikan sengketa 4. C.A. menentukan pembagian kekuasaan dan merinci siapa-siapa saja yang boleh secara sah menentukan paksaan serta siapa yang harus mentaatinya dan sekaligus memilihkan sanksi-sanksi yang efektif 3. Menurut Hoebel ada empat fungsi dasar hukum. yaitu : 1. karena dari kondisi ini kita dapat menyusun asumsi-asumsi. tidak saja bersangkut-paut dengan masalah substansial (produk hukum yang ketinggalan zaman). lebih dari itu penegakan dan komitmen moral yang lemah telah ikut menyebabkan banyaknya persoalan yang muncul. Harmoni Pembangunan Hukum Kita telah terlanjur terbiasa untuk memandang hukum sebagai suatu yang bersifat represif dan memandang konstitusi hanya sebagai wadah perjanjian persetujuan belaka sehingga kita mengabaikan kekuatan besar yang sebenarnya terkandung didalam konstitusi dan didalam setiap sistem hukum . masalah tidak bergerak linier tetapi berputar-putar sehingga sulit mencari akar permasalahannya. 2. Tetapi. menetapkan hubungan antara anggota masyarakat dengan menunjukkan jenis-jenis tingkah laku apa yang diperkanankan dan apa pula yang dilarang. saling terkait. B Sebuah Alternatif Proses degradasinya hukum kedalam situasi yang paling ekstrim dari apa yang disebut dengan kehancuran atau kekacauan merupakan titik berangkat untuk menata. memelihara kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi kehidupan yang berubah dengan cara merumuskan kembali hubungan antar para anggota masyarakat.Pendahuluan Sulit untuk menguraikan penyebab utama dari seluruh persoalan yang menimpa hukum di Indonesia.

Agar sistem hukum dapat berjalan baik. Dan tidak semata- . Pembukaan alenia pertama. hal ini berkaitan dengan diletakkannya peradilan sebagai posisi sentral di dalam tertib hukum sedangkan perumusan kebijakan melalui badan legislatif sebagai inti kekuasaan politik. Apabila berbicara mengenai proses yang tertuang dalam UUD 1945 yang terdiri dari beberapa alenia. Namun harus dipahami bahwa sistem hukum akan berkaitan dengan sistem politik (khususnya mengenai yuridiksi) oleh karena itu meski secara analitis dapat dipisahkan. adil dan makmur. ada empat gagasan menurut Parsons : 1. 2. bagaimana penerapannya dan siapa yang menerapkannya). Secara keilmuan pemahaman ini akan memberikan warna yang berbeda tentang apa yang kita pahami dan apa yang akan kita lakukan. mengenai lima sila dari Pancasila yang merupakan cerminan dari nilai-nilai bangsa yang diwariskan turun-temurun dan abstrak yang Pancasila merupakan kesatuan sistem yang berkaitan erat tidak dapat dipisahkan.manapun yaitu kekuatan yang mampu memaksa hukum agar dapat diterima dan lestari hidup. Masalah interpretasi (penetapan hak dan kewajiban subjek hukum. 4. secara substansial mengandung pokok pri keadilan. 3. 4. merupakan implementasi dari tujuan hukum yang pada dasarnya yaitu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. konsep pemikiran yang mengarah kepada kesempurnaan dalam menjalankan hukum didalam kehidupan. 3. Masalah legitimasi (landasan bagi pentaatan kepada aturan). 2. melalui proses penerapan aturan tertentu). Pembukaan alenia kedua. Pembukaan alenia keempat. mengatur mengenai hubungan manusia denganTuhan atau penciptanya yang telah mengatur tatanan di dunia ini. Itulah hakikat utama dari pemahaman dan pemaknaan holistik. Pembukaan alenia ketiga. Masalah Yuridiksi (Penetapan garis kewenangan yang kuasa menegakkan norma hukum dan golongan apa yang hendak diatur oleh perangkat norma itu). maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa yang terkandung didalam 4 alenia pembukaan tersebut adalah : 1. Masalah sanksi (sanksi apa.

mata hanya berbicara tentang persoalan hukum negara tetapi lebih jauh memahami konteks yang realistis dari upaya pembangunan hukum yang lebih terarah. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful