P. 1
islam pada masa umar II (umar bin abdul aziz

islam pada masa umar II (umar bin abdul aziz

|Views: 358|Likes:
Published by Muhammad Ghozali
tugas kuliah
tugas kuliah

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Muhammad Ghozali on Dec 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2015

pdf

text

original

Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam Masa Dinasti Umayyah (Kebijakan Umar bin Abdul Azis dalam Pengembangan

Pemikiran dan Peradaban Islam)

Makalah ini disusun untuk memenui tugas Matakuliah Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam Dosen Pengampu: Dr. Karwadi, M.Ag

Disusun oleh: Rifai Kusuma Nurudin (1220411189) Muhammad Ghozali (1220411190)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM KONSENTRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2012

1

BAB I PENDAHULUAN
Pergantian dari khalifah Utsman ke Ali banyak menimbulkan pro dan kontra dalam masarakat Islam kala itu salah satunya dari pihak Mua’awiyah yang saat itu menjabat sebagai gubernur Damaskus. Beliau tidak setuju dengan pengangkatan Ali sebagai penganti khalifah Utsman, karena Muawiyah merasa bahwa Ali ikut bertanggung jawab atas kematian keponakannya (Ustman bin affan). Ketidak cocokan Muawiyah terhadap ke kholifahan Ali ini memunculkan berbagai permasalahan hingga berakhir kekhalifahan karena Ali di bunuh oleh salah seorang dari golongan khawarij yang tidak setuju dengan di adakannya tahkim antar Ali dengan Muawiyah yang pada akhirnya Mu’awiyah di anggakat menjadi kholifah. Dengan segala trik dan intrik yang mewarnai awal mulanya pergantian dari Ali ke Mu’awiyah maka ini akan mewarnai jalannya pemerintahan Bani Umayyah ke depannya. Pergantian masa kepemimpinan khulafaurrasyidin menjadi sistem kerajaan turun-temurun banyak hal positif dan negatif yang muncul dari hal tersebut, untuk lebih jelasnya kita akan membahas hal itu dalam makalah ini

BAB II PEMBAHASAN

A. Berdirinya Dinasti Umayyah Muawiyyah dinobatkan sebagai khalifah di Iliya (Yerusalem) pada 40 H./660 M. Dengan penobatannya itu, ibu kota provinsi Suriah, Damaskus, berubah menjadi ibu kota kerajaan Islam. Meskipun telah resmi dinobatkan menjadi khlaifah, Muawiyah memiliki kekuasaan yang terbatas karena beberapa wilayah Islam tidak mengakui kekhalifahannya.1 Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayyah, pemerintahan yang bersifat demokratis berubah menjadi monarchiheridetis (kerajaan turun-temurun). Kekhalifahan Muawiyah diperoleh melalui kekerasan, diplomasi dan tipu daya, tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid. Muawiyah bermaksud mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan istilah khalifah, namun ia memberikan interprestasi baru dari kata-kata itu untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia menyebutnya “khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang diangkat oleh Allah.2 Karakteristik Bani Umayyah:3 1. Lebih tertarik pada pemerintahan dari pada terhadap agama. 2. Penggunaan bahasa Arab diperkenalkan sebagai suatu kebutuhan. 3. Negara Muslim yang bersifat eksperimental dan adabtif. 4. Kebiasaan bersenang-senang, pajak yang berlebihan, perlakuan kasar, pemborosan.
1 Philip K. Hitti, History of The Arabs, Penerjemah: R. Cecep Lukaman dan Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 235 2 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta: PT Raja Grafindo, 2000), hlm. 42 3 Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat: Deskripsi Analisis Abad Keemasan Islam, Penerjemah: Joko S. Kahlar dan Supriyanto Abdullah, (Surabaya: Risalah Gusti, 2003), hlm. 280

3

5. Hukum sipil Romawi dimasukkan ke dalam tradisi resmi Islam. Kekuasaan Bani Umayyah berumur kurang lebih 90 tahun. Ibu kota negara dipindahkan Muawiyah dari Madinah ke Damaskus, tempat ia berkuasa sebagai gubernur sebelumnya. Khalifah-khalifah besar dinasti Bani Umayyah ini adalah Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M), Abd Al Malik Al Marwan (685-705 M), Al Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abdul Aziz (717-720 M) dan Hasyim ibn Abdul Malik (724-742 M).4
B. Biografi Khalifah Umar bin Abdul Aziz5

Umar bin Abdul Aziz bin Marwan lahir di Hulwan, sebuah desa di Mesir, tahun 61 H saat ayahnya menjadi gubernur di daerah itu. Ibunya, Ummu ‘Ashim, putri ‘Ashim bin Umar bin Khaththab. Jadi, Umar bin Abdul Aziz adalah cicit Umar bin Khaththab dari garis ibu. Umar bin Abdul Aziz dibesarkan di lingkungan istana. Keluarganya, seperti keluarga raja-raja Dinasti Umayyah lainnya, memiliki kekayaan berimpah yang berasal dari tunjangan yang diberikan raja kepada keluarga dekatnya. Perkebunan miliknya menghasilkan 50.000 dinar per tahun. Meski demikian, orangtuanya tak tidak lupa memberi pendidikan agama. Sejak kecil Umar sudah hafal Al-Qur’an. Ayahandanya mengirim Umar ke Madinah untuk berguru kepada Ubaidillah bin Abdullah. Inilah salah satu titik balik dalam hidup Umar bin Abdul Aziz. Ia kini dikenal sebagai orang saleh dan meninggalkan gaya hidup suka berfoya-foya. Bahkan, Zaid bin Aslam berkata, “Saya tidak pernah melakukan shalat di belakang seorang imam pun yang hampir sama shalatnya dengan shalat Rasulullah saw. daripada anak muda ini, yaitu Umar bin Abdul Aziz. Dia sempurna dalam melakukan ruku’ dan sujud, serta meringankan saat berdiri dan duduk.” (Zaid bin Aslam dari Anas). Madinah bukan hanya membuat Umar bin Abdul Aziz saleh, tapi juga memberi perspektif tentang prinsip-prinsip dasar peradaban Islam di masa Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Umar memiliki pandangan yang berbeda dengan Bani Umayyah tentang sistem kekhalifahan yang diwariskan secara turun temurun. Ketika ayahandanya meninggal, Khalifah Abdul Malik bin Marwan meminta Umar bin Abdul Aziz datang ke Damaskus untuk dinikahkan dengan anaknya, Fathimah.
4 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam..., hlm. 43 5 Umar bin Abdul Aziz Menolak Kendaraan Khusus Kekhalifahan _ dakwatuna.com.htm.

Abdul Malik wafat dan kekhalifahan diwariskan kepada Al-Walid bin Abdul Malik. Di tahun 86 H, Khalifah baru mengangkat Umar bin Abdul Aziz menjadi Gubernur Madinah. Namun, pada tahun 93 H Khalifah Al-Walid memberhentikannya karena kebijakan Umar tidak sejalan dengan kebijakannya. Al-Walid juga berusaha mencopot kedudukan saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik, dari posisi Putra Mahkota. Ia ingin anaknya yang menjadi Putra Mahkota. Para pembesar dan pejabat negara menyetujui langkah Al-Walid. Tapi, Umar bin Abdul Aziz menolak.”Di leher kami ada bai’at,” kata Umar diulang-ulang di berbagai forum dan kesempatan. Akhirnya, AlWalid memenjarakannya di ruang sempit dengan jendela tertutup. Setelah dikurung tiga hari, ia dibebaskan dalam kondisi memprihatikan. Mengetahui kondisi itu, Sulaiman bin Abdul Malik berkata, ”Dia adalah pengganti setelah saya.” Di tahun 99 H, ketika berusia 37 tahun, Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Khalifah berdasarkan surat wasiat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Saat diumumkan sebagai pengganti Sulaiman bin Abdul Malik, Umar berkata, ”Demi Allah, sesungguhnya saya tidak pernah memohon perkara ini kepada Allah satu kali pun.” Karena itu, di hadapan rakyat sesaat setelah dibaiat ia berkata, ”Saudara-saudara sekalian, saat ini saya batalkan pembaiatan yang saudara-saudara berikan kepada saya, dan pilihlah sendiri Khalifah yang kalian inginkan selain saya.” Umar ingin mengembalikan cara pemilihan kekhilafahan seperti yang diajarkan Nabi, bukan diwariskan secara turun-temurun. Tapi, rakyat tetap pada keputusannya: membaiat Umar bin Abdul Aziz. C. Kebijakan-kebijkan pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz 1. Kehidupan keluarga istana Setelah menjadi kahlifah, ia kirim segala kekayaan ke kas negara, termasuk kekayaan pribadi ibu negara, Fatimah binti Abdul Malik yang mendapat pemeberian dari ayahnya. Di dalamnya terdapat kalung emas yang bernilai 10.000 dinar emas. Khalifah beralasan bahwa selama seluruh wanita ini belum memiliki kemampuan memakai seharga kalung emas yang dimiliki ibu negara, maka baginya dilarang Umar bin Abdul Aziz untuk memakainya. Seorang yang hidup mewah, lahir di istana, tumbuh dan hidup sebagai pangeran yang serba mewah, selalu menjadi omongan karena kerapian, ketampanan, kewangian, dan kegemerlapan pakaiannya, bahkan gayanya dalam berjalan menjadi ikutan banyak orang, karena begitu 5

indahnya. Umar II (Umar bin Abdul Aziz) sering terlambat salat karena para pembantunya belum selesai merawat rambutnya. Ia tidak mau memakai satu pakaian lebih dari satu kali, karena dianggap telah usang. Tiba-tiba meloncat ke puncak tanjaakan hidupanya, meninggalkan semua kemewahan, untuk memikul tanggung jawab yang berat dengan semangat kepahlawanan.6 Hidupnya berubah menjadi hidup yang sederhana, tetapi penuh dengan tanggung jawab. Dikembalikannya semua harta yang menjadi kemewahan khalifah ke bait al maal. Seakan-akan tidak ada lagi hubungan antara masa ia menjadi khalifah denagn masa sebelumnya. Sebelum menjadi khalifah ia menolak memakai pakaian seharga 1000 dinar, seteah menjadi khalifah, pernah terlambat datang ke masjid di hari Jum’at, karena pakaian satu-satunya, yang bertempelan jahitan lebih dari 100 tambalan belum kering. Suatu hari anak bungsunya menghadapnya karena ridak tahan lagi dengan makanan-makanan kasar yang selama ini dimakannya, ia berkata, ‘’anak-anakku, apakah kau senang makanan-makanan yang lezat-lezat, sedangkan ayahmu masuk ke neraka?”7 Tampak betapa bayangan Hari Perhitungan selalu berada di pelupuk matanya, ketika seseorang keheran-heranan karena Umar II tidak mempunyai uang untuk membeli anggur, ia berkata: “ini lebih ringan daripada belenggu di jahanam besok”. Tanggung jawab atas rakyatnya dan mendahulukan kepntingan mereka ats kepentingannya tampak jelas dengn kisah-kisahnya yang sangat indah. Misalnya ketika istrinya memberikan madu yang sangat digemarinya. Ia berkata: “ dari mana kau mendapatkan ini?” Istrinya menjawab: “budakku ku suruh membelinya dengan mengensarai keledai pos”, maka ia marah dan sisa madu yang masih banyak itu menyuruh orang lain untuk menjualnya, lalu hsilnya dimasukkan ke bait al maal. Kemudian Umar II berkata, kau payahkan kendaraan kaum muslimin untuk memenuhui keinginanku. Kalau muntahanku ada gunanya, pasti madu yang kuminum ini akan aku muntahkan.8 Suatu malam datang seorang kawan saat Umar II bekerja di kantor. Ia tanya kepadanya apakah kedatanganmu kemari untuk kepentingan pribadi atau urusan kantor? Ia menjawab pribadi. Umar lansung mematikan lampu kantor dan bicara
6 M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2009, hlm. 123 7 Ibid., hlm. 124 8 Ibid., hlm. 124

dalam keadaan gelap. Kawan sejatinya dengan marah besar atas tindakannya, lalu Umar berkata lampu itu milik rakyat, saya tidak kuasa menggunakannnya untuk pribadi.9 2. Menata administrasi negara Kebijakan Umar bin Abdul Aziz dalam menata administrasi pemerintahan terfokus pada dua karakteristik. Pertama, memberikan jaminan keamanan bagi rakyat, demi mewujudkan ketenangan dan keamanan ia meningggalkan kebijakankebijakan para pendahulunya yang memfokuskan perluasan negara.10 Dia menyatakan bahwa memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam wilayah Islam lebih baik dari pada menambah dan memperluasnya. Ini berarti bahwa prioritas utama adalah pembangunan dalam negeri.11 Kedua, demi mewujudkan keamanan dan ketertiban, baik pribadi maupun kebijakan pemerintah yang netral dan berada di atas golongan, ras, dan suku. Saat Umar II (Umar bin Abdul Aziz) berkuasa situasi dan kondisi Pemerintah Umayyah dan sistem keuangan negara berada dalam pintu politik yang gawat dan riskan. Atas dasar kekuasaan Arab atas mawali dan dzimmi, menjadi pokok kebijakan pemerintah Bani Umayyah. Mereka menerapkan kebijakan pajak; kharaj, jizyah, dan pajakpajak lain yang tidak manusiawi. Para pendahulu Umar II (Umar bin Abdul Aziz) tergantung kepada orang Arab yang memusuhi keluarga dan simpatisan Ali serta orang-orang Anshar di madinah yang punya jasa besar untuk menolong saat Nabi dan shahabat hijrah ke madinah, serta penyebaran Islam. Pada era Al Khulafa Ar Rasyidiin orang-orang yang terkenal karena mencintai Islam dan berjang demi Islam. Mereka tidak disukai dan melihat dengan mata sebelah oleh para penguasa pada awal era Bani Umayyah yang lalim.12 3. Menjunjung tinggi nilai persamaan dan keadilan. Umar II (Umar bin Abdul Aziz) menjadi khalifah, mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk memperbaiki dan mengatur urusan dalam negeri. Kebijakan yang di terapkan; mengatur para penguasa dan pejabat daerah. Netral, adil, dalam pemberian persamaan hak dan kewajiban kepada orang Arab dan mawali. Merka
9 10 11 12 Ibid., hlm. 124 Ibid., hlm. 124 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam..., hlm. 47 M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam..., hlm. 125

7

yang tidk cakap, tidak mampu, ber KKN, dan lalim, serta tidak memihak kepad kepentingan rakyat, dipecat tanpa pandang bulu, dan mengangkat orang saleh dan jujur, yang memperhatikan kesejahteraan rakyat, serta berada di atas golongan, suku, dan ras. Ialah mengangkat para pejabat negara dari suku yang saling bermusuhan dan bagaikan hubungan antar ke dua suku seperti minyak dan air.13 Umar II, khalifah saleh dan jujur dalam hal penegakan hukum dan keadilan tanpa pandang bulu, siapapu itu salah, diukum. Hal ini terjadi sebelumnya, dengan puluhan kepala pemerintah daerah dan pejabat termasuk Yazid bin Muhallab14, gubernur Khurasan, di mana Yazid tidak mampu membuktikan tentang tuduhan penggelapan pajak dari kas provinsi, maka ia dipecat dan dihukum untuk diasingkan ke Pulau Syprus, dan diganti dengan Jabi bin Abdullah. Dengan menyogok kepala penjara Syprus, melarikan diri dan berontak, maka khalifah memnjarakannya di Aleppo.15 Keadilan adlah satu-satunya daar pemerintahan yang sangat diperhatikan oleh Umar II. Ia mengaplikasikan ajaran Islam yang berbicara tentang keadilan murni dalam kepemimpinannya. Rakyat tidak dibedakan tentang hak pelayanan dan peradilan. Ia melarang keras hukuman mati dan potong tangan terhadap seseorang apabila dirinya tidak terbukti benar-benar bersalah. Di kutip Ali,”sesorang tidak boleh didera meski hanya sekali saja, sebelum menanyakan kepadanya dan meminta kepadanya atas belaan”.16 Dalam hal ekspansi, periode Umar II, tidak ada kejaidan yang berarti, bahkan ekspedisi-ekspedisi yang berjalan pun telah diberhentikan dengan tujuan rakyat yang sudah ada dalam naungan khalifah Umayyah, diislamkan dulu secara kaffah. Ia memberi kelonggaran agar masuk Islam kepada non Arab dengan imbalan, mereka dapat keadilan dan kedudukan sama dengan orang Arab, yang selama zaman Dinasti Umayah telah dirampas. Dengan demikian di Andalusia, Siprus, Sind, Bukhara, Samarkand, Nishapur, Khawarizam, dan lain-lain beridri pusat-pusat kajian Islam, bahkan mawali (Berber) Afrika yang selama ini di pandang sebela mata oleh para

13 Ibid., hlm. 125 14 Yazid bin Muhallab adalah pejabat terpercaya pada masa Sulaiman (pemimin Umayah sebelum Umar II) di al Masyriq. 15 Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam..., hlm. 126 16 Ibid., hlm. 131

pendahulu Umar II, diangkat keudukannya dengan Arab.17 4. Kebijakan pajak. Khalifah Umar II berusaha meredakan ketidak-puasan yang merebak di kalangan muslim baru dengan menata ulang prinsip lama para pendahulunya bahwa seorang muslim, baik Arab maupun mawali, tidak perlu membayar pajak apapun, tapi ia menegaskan bahwa tanah kharaj merupakan milik bersama komunitas Islam. Jadi setelah 100 H./718-719M, ia melarang penjualan tanah kharaj kepada orang Arab dan orang Islam, serta menyatakan jika pemilik tanah itu masuk Islam, maka tanah miliknya harus dikembalikan kepada komunitas kampung, dan ia bisa terus menggunakannya dengan posisi sebagai pemilik tanah.18 5. Menjalin hubungan baik dengan Syiah Sebagai kepala negara yang saleh, Umar II selalu bermusyawarah dengan para sahabat Nabi SAW yang masih hidup dan para ulama’ yang saleh pula dalam hal memutuskan sesuatu supaya tidak menyimpang dari pokok ajaran Islam (Al Quran dan Al hadits) dan tidak merugikan masyarakat, yakni yang palin penting di antara semua hasil kerja Umar II, dia menyadari, bahwa keluarganya wajib menjalankan pemerintahan dengan cra Islami. Umar II juga mengembalikan kebun Fadak (Fidak), milik Nabi SAW yang diperuntukkan untuk rakyat, kepada ahl al bait (keuarga Ali) yang secara pribadi telah dikuasai oleh Khalifah Marwan bin Hakam semasa kekuasaanya. Juga menghapus pemeberian laknat (mencaci-maki) yang diterapkan oleh Kalifah Muawiyah dalam khutbah Jum’at terhadap Ali bin Abi Thalib dan keluarganya. Akan tetapi, setelah Umar II wafat, sistem buruk ini dipraktikkan kembali.19 Pada masa Umar II golongan Khawarij tidak pernah mengganggu keamanan yang selama ini oleh para pendahulu khalifah mencap sebagai kelompok yang membuat kacau dan huru-hara. Khalifah memanggil para pemuka Khawarij dan menjawab pertanyaan, siapa yang memberi wewenang kepada anda untuk menduduki jabatan kekhalifahan? Umar II menjelaskan, bahwa ia hanya berkuasa sementara, sampai rakyat memilih penggantinya yang tepat dan mampu, maka ia akan segera
17 Ibid., hlm. 133 18 Philip K. Hitti, History of The Arabs, Penerjemah: R. Cecep Lukaman dan Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 273 19 Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam..., hlm. 133

9

turun dari jabatan ini dan diserahkan kepada khalifah yang terpilih. Mendenganr jawaban tersebut, mereka keluar dari istana khalifah sambil berkata “Anda ini benar dan kami mendukungnya”20

20 Ibid., hlm. 133

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->