P. 1
pancasila

pancasila

|Views: 60|Likes:
Published by Black Hole Wendi
wendi UNRAM
wendi UNRAM

More info:

Published by: Black Hole Wendi on Dec 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2013

pdf

text

original

MEMAHAMI AJARAN MARXISME – KOMUNISME – ATHEISME (Dalam Perbandingan dengan Ideologi Kapitalisme-Liberalisme dan Ideologi Pancasila) Memahami

ajaran (ideologi) marxisme-komunisme-atheisme perlu juga memahami bagaimana ajaran ini lahir dan dikembangkan. Karenanya, kita perlu mengkaji sumber ajaran filsafat yang sesungguhnya cukup benar dan sesuai dengan kodrat martabat manusia; kemudian diubah (baca: dijiplak dan diturunkan) menjadi teori materialisme- marxisme-komunisme-atheisme. I. AJARAN FILSAFAT HEGEL (IDEALISME MURNI) Sejarah mencatat bahwa Hegel (George Wilhelm Friederich Hegel 1770 – 1831) adalah seorang filosof besar yang mengajarkan aliran filsafat idealisme murni. Ajaran Hegel dianggap sangat fundamental karena nilai-nilai Ketuhanan (theisme) dan peletak ajaran/teori evolusi alam dan nilai-nilai universal. Hegel diakui sebagai filosof besar yang ajarannya kemudian dikembangkan oleh pengikutnya, sehingga ada yang menamakannya sebagai Hegelian dan Neo-Hegelian. Ajarannya menjangkau berbagai bidang filsafat; mulai filsafat alamiah, sejarah (evolusi peradaban), sampai filsafat hukum dengan ajaran teori kedaulatan Tuhan (theokratisme) yang kemudian menjadi teori kedaulatan negara; yang dikembangkan oleh marxisme-komunisme menjadi teori etatisme (= serba negara, pemujaan kepada negara). 1. Teori Dialektika Hegel tokoh filsafat idealisme-murni ini mengajarkan bahwa alam semesta dan budaya/peradaban umat manusia berkembang berdasarkan proses dialektika. Makna dan proses dialektika menurut Hegel, terutama: “......bahwa setiap adanya sesuatu, termasuk ide atau pemikiran, senantiasa akan melahirkan ide yang bertentangan dengannya. Tiap ide, dinamakan thesis; dan tiap thesis berhadapan dengan lawannya, yakni antithesis. Proses dialektika atau pertentangan demikian melahirkan sinthesis; yang bersifat lebih komprehensif dan mengandung validitas kebenaran yang lebih tinggi dibandingkan thesis maupun antithesis. Sinthesis itu, kemudian berkedudukan sebagai thesis baru...... yang melahirkan antithesis baru. Demikian berlanjut dalam dinamika hukum alam semesta dan budaya/peradaban. Artinya, budaya dan peradaban lahir dan terbentuk oleh proses dialektika ini. Jadi, seluruh alam termasuk ide, budaya dan peradaban terbentuk dan berkembang dalam proses dialektika. Tegasnya, tanpa dialektika tidak ada perkembangan budaya dan peradaban. Proses dialektika demikian bila kita lukiskan dalam skema, nampak sebagai berikut:

1

MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

sinthesis

2O

O antithesis

thesis

1O

X

O

antithesis

Proses dan dinamika thesis (1) berhadapan antithesis (1), melahirkan sinthesis (1); dan seterusnya. Artinya, sinthesis (1) berkedudukan sebagai thesis (2) yang berhadapan dengan antithesis (2); dan membentuk/melahirkan sinthesis (2)........; dst. Puncak perkembangan proses dialektika itu (= garis lurus yang mengandung thesis (1 – 2 – 3 – 4 ....... dst). Jadi, garis lurus ke atas, bermakna bahwa dialektika menuju puncak kesempurnaan......; yang tiada berakhir sepanjang sejarah alam, budaya dan peradaban menuju kesempurnaan yang hakiki. Menurut Hegel puncak kesempurnaan hakiki itu, ialah Tuhan sendiri, Yang Maha Sempurna dan Maha Pencipta. Sesungguhnya seluruh proses alam, sosial budaya dan peradaban adalah ciptaan Tuhan, yang terus berkembang menuju Tuhan (= menuju kesempurnaan), Yang Maha Benar dan Maha Sempurna. Sesungguhnya, teori Hegel demikian mengandung makna dan essensi adanya proses perkembangan dan atau evolusi dalam nilai-nilai (ide, pikiran) yang membentuk budaya dan peradaban secara universal. Teori Hegel ini sejalan dengan teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin (1809 – 1882). Teori Darwin yang juga dikenal sebagai paham evolusionisme, mengakui bahwa alam semesta ---termasuk semua makhluk hidup, juga manusia--- adalah hasil proses evolusi. Darwin percaya evolusi alam semesta bersumber dan berwujud sebagai dinamika hukum alam (natural law). Nampaknya pemikiran teori evolusi Darwin dan berbagai tokoh pelopor filsafat materialisme (yang umumnya berwatak agnostic/atheisme, cukup mengilhami pemikiran dan ajaran Karl Marx dengan teori komunisme. 2. Hak Asasi Manusia: Kedudukan Manusia dalam Negara Hegel percaya bahwa manusia individu manunggal di dalam kebersamaan (kolektivitas). Individu bermakna dan berfungsi dalam keutuhan lingkungan peradabannya; kolektivitas atau negara merupakan organisme (totalitas). Hak asasi manusia (HAM), dan martabatnya demi negara, dan kedaulatan negara. Jadi, Hegel mengutamakan komunitas atau sosialitas dalam integritas negara. Hegel percaya manusia dan negara diciptakan oleh Tuhan; demi kesejahteraan manusia sebagai masyarakat (kolektif). Manusia menikmati hak asasi manusia (HAM) bukan sebagai individu, melainkan sebagai masyarakat (kolektif, negara). Individu lebur dalam kebersamaan; bermakna dalam fungsi sosial. Sebaliknya, individu samasekali tidak berfungsi dalam kesendirian (individualisme). Ajaran Hegel, yakni idealisme murni mengakui asas ketuhanan (theokratisme) sebagai Maha Pencipta dan Maha Pengatur semua ciptaannya: umat manusia, bangsabangsa, budaya dan peradaban, termasuk negara. Masyarakat dan negara adalah kelembagaan hidup bersama sebagai keluarga (makro); mereka bermakna di dalam dan untuk masyarakat/negara.

2

MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

3.

Ajaran Theokratisme Ajaran theokratisme berpusat pada teori negara dan kedaulatan negara. Hegel mengakui negara sebagai pelembagaan aspirasi nasional yang terikat dengan hukum dialektika. Hegel menyatakan: negara adalah perwujudan karsa dan kekuasaan (kedaulatan) Tuhan. Karenanya, teori Hegel tentang negara ialah berdasarkan asas theokratisme. Maknanya, negara dan kedaulatan dalam negara diamanatkan oleh Tuhan untuk ditegakkan oleh kepala negara atas nama Tuhan. Karena itu pula, teori negara menurut Hegel ialah teori kedaulatan Tuhan (theokratisme). Negara memiliki kedaulatan sebagai amanat Tuhan; karenanya diakui sebagai kedaulatan Tuhan (theokratisme). Sebagai penegak kedaulatan Tuhan di dalam negara, diwakilkan dan dipercayakan kepada kepala negara ---karenanya kepala negara memiliki otoritas mutlak atas nama Tuhan---. Kemudian teori kedaulatan Tuhan yang dalam praktek kenegaraan ditegakkan dan dilaksanakan oleh Kepala Negara atas nama Tuhan. Terbentuklah sistem diktatur atau otoriter (authoritarianisme, totaliter) yang memimpin dan menguasai pemerintahan negara atas nama kedaulatan Tuhan (atas nam Tuhan). Terbentuklah teori kedaulatan negara (etatisme); pemujaan kepada negara yang dalam praktek memuja Kepala Negara ---yaitu ketua sentral komite (CC) partai komunis, sebagai partai tunggal dalam negara (baca: partai negara). Berdasarkan ajaran dan teori Hegel ini, manusia mengemban amanat (moral) Ketuhanan, sehingga masyarakat dan negara termasuk penegakan HAM berdasarkan asas moral dan nilai Ketuhanan. (Encyclopaedia Britannica 1982, vol. 7 – 8: 612 – 731). II. AJARAN KARL MARX (1818 – 1883) Karl Marx adalah tokoh sosialis revolusioner, ahli teori sosial dan ekonomi. Marx, belajar filsafat kepada filosof terkemuka, yakni Hegel. Ajaran Karl Marx tidak diakui sebagai ajaran filsafat; hanya sebagai ajaran ideologi dogmatis. Dinamakan demikian karena cukup alasan untuk menganggap ajarannya irrasional, bahkan bertentangan dengan realitas semesta dan akal sehat manusia. Ideologi marxisme bersifat dogmatis-doktriner: bahwa alam semesta termasuk manusia adalah materi dalam ikatan hukum alam. Marx menganggap realitas kehidupan sosial budaya (umat manusia dan di dalam negara) sebagai wujud dialektika, yakni bagian dari dialektika historis materialisme. Artinya, hidup ditentukan adanya materi (ekonomi, komuditas ekonomi) sebagai kebutuhan dasar kehidupan manusia. Untuk bertahan hidup secara alamiah manusia berjuang memperebutkan komuditas tersebut. Sebaliknya, tanpa memiliki dan menguasai komuditas/ekonomi manusia tidak mungkin hidup (bertahan hidup). Jadi, kehidupan manusia ditentukan dan bergantung kepada komuditas ekonomi; yang sesungguhnya berwujud materi. Teori dialektika Hegel yang lebih bersifat ide (ideal, pemikiran) sebagai konsepsi dasar pengembangan budaya dan peradaban, sebagai proses perkembangan nilai-nilai ---yang berpuncak kepada nilai Yang Maha Sempurna, ialah Tuhan Yang Maha Esa---. Karenanya, teori Hegel bersifat theisme (theokratisme, religious). Oleh Karl Marx, teori dialektika ini dijadikan sebagai dialektika historis materialisme; bermakna bahwa seluruh wujud kehidupan umat manusia, termasuk makhluk lainnya hanya akan hidup berkat tersedianya materi (= prakondisi dan unsur bahan dasar kehidupan), seperti: tanah, air, dan makanan. Karenanya, terkenal teori hukum alam: bahwa hidup adalah perjuangan; dan hanya yang paling unggul yang mampu bertahan hidup (= life is struggle; survival of the fittest). Teori dialektika Hegel dipraktekkan oleh Karl Marx sebagai asas dan pola: pertentangan kelas (dialektika). Teori ini berkembang, bahwa dalam masyarakat ada kelas penguasa dan penindas rakyat (warga negara, proletar). Kelas penguasa ini identitak dengan kaum kapitalis, kaum penjajah ---sekalipun komunisme juga membentuk pemerintahan diktatur, otoriter yang dikendalikan partai negara, partai komunis dalam negara itu---. Dengan strategi partai menguasai negara melalui revolusi, rakyat di dalam negara dibedakan: pendukung revolusi (= revolusioner, kaum komunis dan kader-kadernya); berhadapan dengan kaum penentang revolusi (= kontra-revolusi, reaksioner); mereka harus dimusnahkan! 3
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Siapakah yang akan mereka musnahkan? Terutama, kaum feodal, ningrat, kaum modal (kapitalis), umat penganut agama yang berKetuhanan (theisme) yang dianggapnya menentang atheisme! Karenanya, telah terjadi proses revolusi dan penumpasan kaum atau rakyat non-komunis, bahkan juga terjadi pengikisan nilai-nilai budaya dan agama yang dianggap bertentangan dengan paham atau ajaran marxismekomunisme-atheisme. Bila kondisi itu terjadi, negara dan masyarakat menjadi medan atau kancah revolusi, anarchisme..... yang bermuara sebagai tragedi nasional, tragedi peradaban dan tragedi moral kemanusiaan! Teori dialektika ini diaplikasikan oleh Karl Marx dalam kehidupan sosial politik manusia; terutama dalam merebut dan menguasai sumber daya alam (komuditas ekonomi sebagai prasyarat kehidupan). Perebutan antar kekuatan sosial ialah berwujud polarisasi antar kekuatan yang saling berhadapan untuk menguasai sumber daya alam demi kehidupan. Analog dengan dinamika itu, dalam sosial politik manusia berjuang memperebutkan materi (benda ekonomi, komuditas) yang menjamin hidupnya, maka dalam sosial politik manusia memperebutkan posisi dan kekuasaan. Kekuasaan dalam makna kehidupan nasional dan kenegaraan ialah kemerdekaan, kedaulatan atau politik. Semua potensi yang memperebutkan kekuasaan (politik) berhadapan sebagai lawan antar mereka. Terbentuklah polarisasi: kawan dan lawan. Materi demi kehidupan meliputi lahan (land) untuk mukim dan pertanian sebagai modal dasar kehidupan (ingat: PKI selalu memprioritaskan politik land reform/pembagian hak pemilikan lahan untuk petani dan rakyat; tidak boleh ada tuan tanah, kaum feodal). Materi untuk kehidupan berikutnya ialah tenaga kerja, yakni manusia (rakyat) yang mengolah lahan untuk produktivitas yang dibutuhkan kehidupan. Hanya berkat kerja (karya, labor) manusia mampu berproduksi demi kehidupan. Karenanya, kaum buruh (pekerja, labor) adalah subyek dan pemilik negara. Dalam budaya dan sistem politik feodalisme dan kapitalisme, kaum buruh hanya diperalat (ditindas) oleh kaum kapitalis (kaum modal, kaum ningrat) sehingga mereka makin miskin; karena hasil kerja mereka dinikmati oleh kaum kapitalis (pemilik modal). Jadi, buruh yang memeras tenaga dan keringatnya, mengolah komuditas menjadi bendabenda ekonomi hanya menguntungkan kaum kapitalis! Karena itulah Karl Marx menganjurkan: “Hai kaum buruh sedunia, bersatulah! Rebutlah hak kamu yang dirampas oleh kaum kapitalis. Kalian tidak akan kehilangan apa-apa; kecuali belenggu yang mengikat kebebasanmu dan kemiskinanmu!” Ajaran Marx ini terkenal sebagai teori-nilai-lebih (the theory of surplus values). Maknanya, benda alamiah (materi, seperti tanah atau kayu) diolah kaum buruh menjadi pertanian atau industri mebel. Kemudian sebagai komuditas laku dijual dengan harga berlipat ganda. Laba penjualan = nilai lebih; yang dirampas/dikuasai pemilik modal! Semua teori Karl Marx tentang politik ekonomi sudah usang dan batal dalam dunia modern yang didukung teknologi canggih. Artinya, produktivitas ekonomi berlipat ganda bukan hanya oleh tenaga kerja (buruh); melainkan berkat adanya ipteks (berbagai alat teknologi modern yang canggih). Demikianlah budaya modern telah membuktikan kegagalan teori Karl Marx. Karl Marx yang mengutamakan asas dan wawasan sosial ekonomi, dengan kecerdasannya menurunkan (baca: mendegradasi) teori Hegel ---dari langit atau Tuhan, ke bumi, kehidupan manusia---. Karya Marx yang dianggap sebagai doktrin ideologi komunisme, terutama Communist Manifesto (1848) sebagai kritik dan sanggahan atas teori kapitalisme-liberalisme. Kemudian ajarannya tentang komunisme dikembangkan dalam karya Das Kapital (1867) sebagai landasan doktrin dialektika-historismaterialisme ---yang dianggap umum sebagai kitab suci penganut: marxismekomunisme-atheisme---. Dalam buku ini Marx mengajarkan asas ekonomi komunisme: “.........material condition of life” and specifically” the mode of production of the material means of exsistence” determine much else in human consciousness of society.” Dalam karyakaryanya Marx mengajarkan bahwa kapitalisme adalah musuh rakyat dan lawan dari komunisme dan sosialisme. Untuk menaklukkan mereka, rakyat (buruh dan proletar) bersatu melalui revolusi. (Edwards 1972 vol. 5 – 6: 171 – 176). Dilengkapi dengan beberapa karya lain, Karl Marx menulis juga bersama mitranya Frederich Engels (1820 - 1895) sebagai propaganda dan pengkaderan kaum 4
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

komunis yang bertujuan menggerakkan revolusi untuk merebut kekuasaan di dalam negara yang dianggapnya feodal, kapitalis dan theokratis. Engels adalah sahabat Karl Marx; bahkan dalam berbagai karya mereka selalu dipikirkan bersama. Terutama: The Communist Manifesto (1848). Karl Marx terkenal dengan karyanya Das Kapital (1876) sebagai ajaran dasar komunisme. Kemudian, oleh Engels dikembangkan dan diterbitkan Das Kapital (volume 2 dan 3) 1885 dan 1894 sebagai bukti kesetiaannya melanjutkan pemikiran Karl Marx. Asas teori dialektika diadopsi oleh Marx, sebagai dialektika-historismaterialisme. Artinya, seluruh perkembangan alam, makhluk hidup...... termasuk manusia ialah proses dialektika-historis-materialisme. Tiada satu makhlukpun akan dapat bertahan hidup tanpa tersedianya prakondisi hidupnya; berupa: benda-benda yang menjamin hidup...... yakni dalam teori sosial ekonomi ialah benda-benda ekonomi. Semua makhluk hidup, termasuk manusia adalah bagian dari alam; karenanya terikat dan tunduk dengan hukum alam. Apabila kondisi untuk hidup, alam dan unsurunsurnya (cahaya matahari, udara, air, tanah dan tumbuh-tumbuhan) maka mereka akan mati. Jadi, semua makhluk dan manusia tergantung kepada alam; berwujud materi dalam makna benda-benda ekonomi. Semua makhluk berjuang memperebutkan materi, benda-benda ekonomi itu demi mempertahankan hidupnya. Teori ini menganut asas: survival of the fittest; yakni hanya mereka yang unggul ---yang mampu merebut materi benda-benda ekonomi itu--- yang akan dapat bertahan hidup. Jadi, semua makhluk hidup dapat bertahan dan berkembang apabila mereka menang dan menguasai materi (materialisme) berupa benda-benda ekonomi. Mereka tertindas oleh penguasa materi itu; sehingga lemah....... dan mati. Inilah hukum alam (sebab – akibat) yang aktual. Teori dialektika Hegel, diubah menjadi teori dialektikahistoris-materialisme; sepenuhnya sebagai teori kebendaan (benda-benda ekonomi yang menentukan hidup mati makhluk hidup). Marx mengajarkan, manusia tidak boleh menyerah kepada alam dengan menyatakan semua telah ditakdirkan oleh Tuhan. Marx mengajarkan, nasib manusia sepenuhnya di tangannya sendiri; bukan dari Tuhan. Hanya manusia yang lemah yang menyerahkan nasibnya kepada belas kasihan Tuhan (Yang Maha Pengasih). Mereka yang lemah inilah yang menciptakan Tuhan, sebagai pelarian dan impian dari penindasan, penistaan dan penderitaan. Karenanya, terkenal doktrin Karl Marx tentang moral dan agama: • Agama adalah candu bagi rakyat (religions is an opium for the people). • Bukan Tuhan yang menciptakan manusia; melainkan manusia (yang lemah) yang menciptakan Tuhan ---maksudnya sebagai pelarian dan impian masuk surga--Marx mengajarkan pula, dalam teori sosial ekonomi bahwa mereka yang menguasai materi benda-benda ekonomi itu ialah kaum yang menguasai modal sebagai kekayaan dan kekuatan. Marx menyebut mereka sebagai kaum kapitalisme (= kaum yang menguasai modal untuk hidup. Modal terutama berwujud: tanah dan uang). Kaum modal makin berkembang sebagai kaum kapitalis berkat tenaga kerja (buruh). Buruh ini dengan karyanya mampu menghasilkan nilai tambah; dari bendabenda modal (tanah dan komuditas ekonomi) diolah kaum buruh menjadi benda-benda ekonomi yang menghasilkan nilai tambah (surplus value theory). Uraian teori nilai tambah: kaum kapitalis dengan modalnya menyediakan bahan baku: kayu jati; yang diolah oleh buruh menjadi meubel. Dengan upah buruh yang rendah, harga meubel dijual dengan harga yang cukup tinggi. Kapitalis mendapat laba .................. yang berlipat ganda, bertambah kaya. Marx menyatakan kaum kapitalis adalah penghisap dan penindas kaum buruh. Kapitalis makin kaya berkat tenaga kerja atau buruh yang murah. Proses demikian berlangsung sebagai budaya ekonomi kapitalisme-liberalisme. Karena itulah, Marx mengeluarkan doktrin: “Hai kaum buruh sedunia, bersatulah untuk merebut hak dan kekayaanmu yang dirampas (karena diperas, dihisap) oleh kapitalis! Kaum buruh tidak akan kehilangan apapun dalam perebutan itu; kecuali kamu akan mendapatkan hak kamu ---dan kehilangan penderitaan dan kemiskinanmu!--Doktrin ini meningkat, menjadi doktrin revolusioner. Artinya, Marx menyatakan perang pada kaum kapitalis, feodal yang menindas dan menghisap kaum buruh khususnya dan rakyat miskin pada umumnya. Rakyat miskin ini dinamakan kaum 5
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

proletar. Karena itu, Marx itu memprovokasi dengan doktrin berikut: “Hai rakyat dan proletar sedunia yang tertindas. Kalian harus merebut hak yang dirampas oleh kaum kapitalis (feodal dan penguasa) dengan revolusi. Kalian tidak akan kehilangan apapun, kecuali rantai belenggu kemiskinan dan penindasanmu! Jadi, Karl Marx adalah pejuang yang mengomandokan doktrin revolusioner; yang sekarang dianut oleh kaum komunis (marxisme-komunisme-atheisme). Sesungguhnya di Rusia berkembang paham sosialisme untuk perubahan nasib rakyat Rusia, dengan dipelopori oleh revolusi kaum sosialis Mensheviks; kemudian terjadi perebutan kekuasaan oleh kaum komunis revolusioner (Bolsheviks) yang dipimpin Lenin. Terjadilah perang saudara sebagai dilukiskan oleh pujangga Boris Pasternak dalam novelnya yang terkenal Dr. Zhivago ---yang mendapat nobel sastra 1960---. Nampak sejarah revolusi komunis di Rusia seperti revolusi Indonesia 17 Agustus 1945 yang dicoba untuk direbut dan dijadikan negara komunis oleh pemberontakan PKI Madiun 18 September 1945. Kemudian dunia mencatat sejarah revolusi di Rusia 17 Oktober 1917 dengan menumbangkan kekaisaran Rusia (dan membunuh semua lawan-lawannya) termasuk penindasan kaum beragama. Juga revolusi komunis di negara Cina. Sebenarnya bangsa Cina dipimpin Dr. Sun Yat Sen dengan ajaran nasionalismenya (San Min Chu I sebagai ajaran Three People Principles = Minchu, Minchuan, Minsheng = nasionalisme, demokrasi, sosialisme). Sun Yat Sen merombak kekuasaan kaisar menjadi negara demokrasi pada 1912. Cina, yang lebih terkenal sebagai Tiongkok Raya dikembangkan dengan asas San Min Chu I. Ketika Dr. Sun Yat Sen wafat, kepemimpinan nasional Cina dipimpin oleh Jenderal Chiang Kai Chek. Chiang Kai Chek dengan partai nasional (Koumintang) dianggap korrup. Kaum oposisi yang terhimpun dalam partai Kouchantang (= partai komunis Cina) dipimpin Mao Zedong, pada 1 Oktober 1949 berhasil menggerakkan revolusi rakyat dan mendirikan Republik Rakyat Cina (RRC). Chiang Kai Check bersama rakyat yang berjiwa nasionalis mengasingkan diri dan pemerintahannya ke pulau Formosa; yang kemudian menjadi negara Taiwan (perhatikan: partai nasionalis pelopor pembaruan bangsa dan negara Cina, dari kekaisaran menjadi republik Cina; namun direbut/kudeta oleh revolusi partai komunis Cina 1 Oktober 1949), menjadi Republik Rakyat Cina (RRC) Bagi Karl Marx, semua manusia yang tidak menganut paham marxismekomunisme-atheisme, adalah lawan (= musuh) yang harus ditaklukkan/dikuasai, untuk dijadikan (penganut) komunisme!. Demikianlah secara umum, berbagai bangsa dengan berbagai ajaran ideologi di dunia modern, mereka bedakan dan pertentangkan antara: 1. Penganut setia ajaran komunisme, berhadapan dengan semua ajaran selain komunisme (non-komunis). 2. Mereka yang menganut paham non-komunis (kaum feodalisme, kapitalisme, liberalisme, agamis) adalah lawan atau musuh yang harus ditaklukkan. Dalam praktek sosial politik, kaum komunis berhadapan dengan kaum kapitalis (seperti: kaum modal, ningrat, penguasa). Kaum komunis senantiasa membela (sebagai misi perjuangannya) kaum miskin (proletar, buruh, petani) dan rakyat yang ditindas oleh penguasa dan atau kaum kapitalis!. 3. Kaum komunis percaya manusia miskin akibat penindasan kaum kapitalis, termasuk kaum feodal dan kekuasaan lembaga keagamaan ---dalam sejarah Barat lembaga Gereja---. Karena itulah, kaum komunis anti semuanya. Untuk mengikis kekuatan musuhnya itu, Karl Marx juga menyatakan: agama adalah candu bagi rakyat “Religion is the opium of the people . ....... That is why the founders of Marxism considered scientific and materialist propaganda as the most powerful weapon in the fight against religion!” (Marx & Engels 1955: 9-10). 4. Kaum buruh diperalat dan diperbudak oleh kaum modal (kapitalis) sehingga makin miskin dan tertindas. Karena itulah Marx mempropagandakan perlunya revolusi sosial untuk meruntuhkan kekuasaan kapitalis (yang di dunia modern dipelopori oleh negara Amerika Serikat dan Eropa Barat sebagai penganut ideologi kapitalisme-liberalisme). Polarisasi dunia modern berwujud perang dingin antara 6
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

blok Timur (= negara-negara komunis) berhadapan dengan blok Barat (= negaranegara kapitalisme-liberalisme). 5. Ajaran marxisme-komunisme-atheisme ditegakkan dan dikembangkan sebagai doktrin dan dogma yang dianut dengan keyakinan dan fanatisme oleh penganutnya. Keyakinan dogmatisnya sederajat dengan agama (Tuhan). Artinya, ajaran ideologi marxisme-komunisme telah menggantikan posisinya bagi penganut komunis, sebagai agama! (dogmatisme ideologi). Kaum komunis punya doktrin unggul: “tujuan menghalalkan cara”. Juga, mereka berkeyakinan, bahwa untuk mencapai tujuan komunisme, jalan dan metode terbaik hanyalah revolusi! Karenanya, kita umat beragama; termasuk semua ideologi non-komunis menganggap Karl Marx adalah nabi kaum komunis; dan marxisme-komunisme adalah agama mereka. Karena kaum komunisme menganut paham atheisme, berarti tidak ada moral agama! Bagi mereka, hanya ada satu kebenaran: marxisme-komunisme-atheisme. Jadi, merekalah yang paling baik dan paling benar! Kita bangsa Indonesia menganut ideologi Pancasila, yang mengakui sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mengajarkan supaya umat manusia adil dan beradab, berdasarkan moral Ketuhanan dan keagamaan kita masing-masing. Jadi, kita berkewajiban menegakan nilai-nilai moral yang diamanatkan Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran agama kita masing-masing. RENUNGKAN: Sejarah bangsa dan NKRI: PKI dengan G.30S/PKI melakukan kudeta 1 Oktober 1965 yang didukung oleh RRC. Mereka berkeyakinan akan sukses sebagaimana partai komunis Cina sukses 1 Oktober 1949! Jadi, tanggal 1 Oktober 1965 bukanlah suatu kebetulan, melainkan berdasarkan dogma dan doktrin komunis untuk kejayaan kaum komunis sedunia; sebagaimana juga revolusi Rusia 17 Oktober 1917 (jadi, hari keramat komunis = bulan Oktober). Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, NKRI berdasarkan Pancasila – UUD 45 diselamatkan oleh pemimpin-pemimpin, terutama oleh kepemimpinan TNI bersama seluruh komponen bangsa. Kritik (dari Penulis) Memperhatikan pemikiran dan karya serta praktek ajaran Karl Marx dalam sistem kenegaraan dan politik negara-negara komunis di dunia, dapat dikemukakan beberapa kritik: A. Kritik Normatif Filosofis Ideologis 1. Karl Marx mendegradasikan teori dialektika yang diajarkan Hegel, menjadi teori dialektika historis materialisme. Karena potensi dan kehidupan pribadi manusia sebagai makhluk unggul yang bermoral dan bermartabat bukanlah hanya tergantung dan ditentukan oleh faktor materi (= benda-benda ekonomi, komuditas, sandangpangan-papan yang bersifat materi dan jasmaniah). Martabat manusia juga memiliki potensi kerokhanian: pikir, rasa-karsa, ciptakarya, dan budinurani dalam integritas dengan potensi jasmaniah (termasuk pancaindera). 2. Benda ekonomi bahkan alam “hanyalah” prawahana dan media kehidupan umat manusia. Secara filosofis dan religius manusia diciptakan oleh Maha Pencipta mengemban visi-misi penciptaan; terutama: untuk mengabdi kepada Maha Pencipta dan memelihara kebersamaan sebagai kebajikan yang menjamin kesejahteraan, keadilan serta kebahagiaannya di dunia dan dalam alam keabadian (posthumous). 3. Realitas sosial ekonomi dan politik bukanlah sepenuhnya dalam dialektika (polarisasi) atau pertentangan; melainkan antar perbedaan unsur dan komponen semesta justru sinergis (bekerjasama, terpadu) sesuai dengan fungsi eksistensial mereka. Kita menyaksikan kehadiran matahari (untuk cahaya dan energi), rembulan yang redup-sejuk sebagai wahana beristirahat makhluk hidup. Demikian juga keberadaan orang kaya (kapitalis) membutuhkan tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas komuditas ---demi kehidupan seluruh masyarakat---. Juga tenaga kerja (buruh, orang miskin) memerlukan kerja untuk mendapatkan upah demi memenuhi 7
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

kebutuhan hidupnya ---karema mereka tidak memiliki sumber daya alam/materi/komuditas---. Jadi, realitas semesta adalah realitas sinergis-fungsional. B. Kritik Ideologis, Politik dan Sosial Ekonomi Fakta sejarah dari negara Unie Soviet (USSR) sebagai negara adidaya di dunia internasional, dan sebagai panglima blok Timur (blok komunis) yang dikembangkan oleh revolusi komunis sejak 17 Oktober 1917. Kejayaan USSR yang menindas dan memaksa semua rakyat Eropa Timur untuk menganut marxisme-komunisme, ternyata berakhir dengan tragedi sosial politik ekonomi yang meruntuhkan citra ajaran ideologi marxisme-komunisme-atheisme! Mulai bergejolaknya tantangan internal antara kaum fanatik – doktriner marxisme-komunisme-atheisme berhadapan dengan kaum revisionisme; juga kaum pembangkang yang dipelopori oleh baik politisi intelektual (seperti: Millovan Djilas tokoh Hungaria, yang menulsi: New Class; oleh pujangga Boris Pasternak di Rusia dengan karyanya Dr. Zhivago penerima Nobel Sastra; juga oleh tokoh-tokoh politik yang ditindas oleh diktator Joseph Stalin dan pengikut-pengikutnya). Penindasan itu terus berlangsung, termasuk di daratan Cina (RRC, melalui revolusi kebudayaan); sampai oleh pemimpin/Ketua Dewan ilmu pengetahuan USSR Dr. Andrei Sakharov; dan lain-lain. Kemudian dalam dinamika proses perang dingin yang cukup panjang, USSR justru runtuh oleh kekuatan reformasi di dalam negaranya sendiri. Khusus bagi neo-PKI/KGB, cermati dan hayati secara rasional data berikut: a. Reformasi dalam negara Unie Soviet yang dipelopori Michail Gorbachev dengan visi-misi glasnost dan perestroika telah melahirkan kebangkitan primordialisme; sehingga bangsa dan negara-negara yang membentuk konfederasi Unie Soviet (adidaya) runtuh, kembali menjadi negara merdeka sebagai pra-revolusi 17 Oktober 1917. Unie Soviet runtuh menjadi negara tidak berdaya! Tinggallah, Rusia (dengan penduduk 155 juta) sebagai negara terbesar, ex. Unie Soviet! b. Dengan kepemimpinan Presiden Gorbachev, era reformasi memberi kemerdekaan 5.000 gereja dan 2.500 masjid dibuka dengan kebebasan penuh bagi penganutnya! c. Kemudian Rusia di bawah kepemimpinan Boris Yeltsin, dan dilanjutkan oleh Presiden Vladimir Putin Rusia bangkit menjadi negara adidaya, sosial politik dan ekonomi. Negara Rusia 2007 telah memiliki devisa cadangan US $ 500 milyard, GDP rata-rata di atas 7%; + dana stabilisasi nasional US $160M; dan semua hutang LN-nya lunas! d. Rakyat Rusia bebas beragama, partai komunis amat kecil; dan kemakmuran rakyat sangat meningkat! Memasuki kepemimpinan pasca Presiden Putin, negara Rusia terus berkembang dengan peningkatan GNP khusus migas lebih dari US $ 170 milyard/tahun. Mengapa Rusia berjaya? Kami yakin, fenomena itu mendidik umat manusia, lebih-lebih bangsa Indonesia dan elite reformasi, untuk mengakui bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberkati rakyat, bangsa dan negara Rusia……karena mereka kembali memuja Tuhan ---yang lebih dari 70 tahun revolusi komunis, Tuhan dan agama dianggap sebagai candu masyarakat seraya memuja materialisme – atheisme….sehingga mereka makin miskin dan menderita karena belenggu totalitarianisme marxisme-komunisme-atheisme dalam budaya ideologi politik etatisme! Apakah penganut dan kader komunisme di Indonesia (PRD, Papernas, neoPKI/KGB) tidak memiliki pemikiran rasional atas fakta sejarah dari benteng dan pelopor revolusi komunisme di dunia itu…..?! Kita akan terus menyaksikan drama dunia dan drama moral kemanusiaan dan peradaban yang mereka akan alami. (McCoubrey & Nigel D. White 1996: 109 – 132; dan Harian Kompas No. 249 tahun ke-43,12 Maret 2008) III. AJARAN IDEOLOGI KAPITALISME-LIBERALISME Ideologi ini bersumber dari ajaran filsafat hukum alam, atau dikenal dengan nama Natural Law Theory. Ajaran kapitalisme-liberalisme dikembangkan oleh tokoh 8
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

pemikirnya, Adam Smith (1723 – 1790). Dia adalah tokoh amat berpengaruh dalam politik ekonomi Barat, yang semula lebih terkenal sebagai ahli filsafat moral, sebagai terbukti dari karyanya: The Theory of Moral Sintements (1759) yang sinergis dengan psikologi moral. Kemudian Adam Smith lebih terkenal dengan karyanya: The Wealth of Nations (1776) yang mengajarkan bahwa setiap bangsa memiliki dan mewarisi kekayaan nasional, baik sumber daya alam, sumber daya manusia maupun nilai-nilai budaya. Kekayaan nasional berkembang atau menyusut; sebagai proses alamiah yang ditentukan oleh potensi dan kebutuhan warga bangsanya. Bila bangsa itu berkembang dan mampu mengembangkan sumber daya alam dengan menguasai komuditas ekonomi, bangsa itu akan berjaya. Karyanya ini menjadi “landasan dan kitab suci” kaum penganut kapitalisme-liberalisme. Pemikiran Smith dapat juga kita pahami melalui kutipan berikut: “Smith believes that the general welafare will be best served by permitting each person to pursue his own interest. Sympathy, which figured largely in Smith’s account of moral psychology, is not mentioned in his economics. Self-interest is the motive required to explain economic action. Smith argues, “Every individual is continually exerting himself to find out the most advantageous employment for wathever capital he can command.” Since the most advantageous employment of capital is to be found in producing and selling the goods which satisfy the greatest needs of people, the capitalist is bound to work to satisfy thoe needs. Intending only his own gain, he contributes nonetheless to the general welfare. Thus, the capitalist is “led by an invisible hand to promote an end which was no part of his imtention.” (Edwards 1972, vol. 7 – 8: 461 – 463) Ajaran kapitalisme-liberalisme menjadi budaya dan peradaban Barat; bahkan sebagai sistem nilai dan budaya politik Eropa dan Amerika modern. Artinya, kapitalisme-liberalisme menjadi identitas ideologi negara-negara Barat. Dapat juga diartikan bahwa paham individualisme dan liberalisme sebagai ajaran HAM berdasarkan teori hukum alam dikembangkan dengan kapitalisme-liberalisme dalam politik ekonomi. Makin berkembang dengan asas moral sekularisme, pragmatisme dan behaviorisme; karenanya budaya politik mereka bersifat individualismekapitalisme (= materialisme) dengan memuja kebebasan (= liberalisme) melalui tatanan demokrasi. Identitas atau watak individualisme-materialisme berdasarkan liberalisme melahirkan budaya free fight liberalism, yang berpuncak dengan penguasaan kekayaan alam (dan manusia)......... yang dikenal sebagai kolonialisme-imperialisme. Sampai memasuki abad XXI budaya demikian terus memuncak dengan gerakan globalisasiliberalisasi dalam dinamika postmodernisme......yang sesungguhnya adalah neo dan ultraimperialisme. Amerika Serikat dan Unie Eropa adalah sekutu untuk merebut supremasi politik dan ekonomi dunia masa depan. Renungkan dan hayati apa yang kita saksikan dalam sejarah modern abad XVI sampai abad XX; berlanjut dan berpuncak dalam abad XXI. Kita menyaksikan bagaimana organisasi dunia (UNO/PBB) juga sudah dibawah supremasi USA. IV. KEUNGGULAN AJARAN SISTEM FILSAFAT PANCASILA Kita percaya bangsa dan budaya Indonesia adalah bagian dari bangsa dan budaya serta peradaban Timur (bahkan: Timur Tengah). Artinya, bangsa dan buday Indonesia memancarkan identitas dan integritas religius (theisme-religius) sebagaimana terpancar dalam pandangan hidup (manusia) bangsa Indonesia. Pancaran identitas – integritas demikian sebagai bagian dari ajaran dan sistem filsafat Timur, yang bersumber dari nilai filsafat dan ajaran agama yang berkembang di Timur Tengah. Budaya dan peradaban modern mengakui bagaimana supremasi pengaruh nilai filsafat dan ajaran agama yang bersumber dari Timur Tengah, sekitar 6.000 – 1.000 sM. Ajaran filsafat dan agama itu, ialah nilai-nilai agama wahyu (revelation religions), terutama: agama Yahudi, Kristen dan Islam. Juga diakui, semua Nabi dan Rasul 9
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

penyebar agama wahyu semuanya dari Timur Tengah. (Avey, 1962........; Radhakrishnan 1950:...........). Pandangan hidup bangsa (Weltanschauung) yang kemudian terkenal sebagai dasar negara Pancasila, sesungguhnya adalah suatu sistem filsafat yang memiliki identitas dan integritas keunggulan, karena sesuai dengan potensi dan martabat luhur kepribadian manusia. A. Rasional Bahwa Nilai Pancasila Sebagai Sistem Filsafat Untuk kejelasan bahwa nilai Pancasila bersifat filosofis; atau sebagai ajaran sistem filsafat, dapat dihayati argumentasi (rasional) di bawah ini. Bagi bangsa Indonesia filsafat Pancasila adalah bagian dari sistem filsafat Timur yang memancarkan nilai keunggulannya, sebagai sistem filsafat theisme-religious. Pembuktiannya secara rasional meliputi: 1. Secara material-substansial dan intrinsik nilai Pancasila adalah filosofis; misal hakikat Kemanusiaan yang adil dan beradab, apalagi Ketuhanan Yang Maha Esa adalah metafisis/filosofis. 2. Secara praktis-fungsional, dalam tata-budaya masyarakat Indonesia prakemerdekaan nilai Pancasila diakui sebagai filsafat hidup atau pandangan hidup yang dipraktekkan. 3. Secara formal-konstitusional, bangsa Indonesia mengakui Pancasila dalah dasar negara (filsafat negara) RI. 4. Secara psikologis dan kultural, bangsa dan budaya Indonesia sederajat dengan bangsa dan budaya manapun. Karenanya, wajar bangsa Indonesia sebagaimana bangsa-bangsa lain (Cina, India, Arab, Eropa) mewarisi sistem filsafat dalam budayanya. Jadi, Pancasila adalah filsafat yang diwarisi dalam budaya Indonesia. 5. Secara potensial, filsafat Pancasila akan berkembang bersama dinamika budaya; filsafat Pancasila akan berkembang secara konsepsional, kaya konsepsional dan kepustakaan secara kuantitas dan kualitas. Filsafat Pancasila merupakan bagian dari khasanah dan filsafat yang ada dalam kepustakaan dan peradaban modern. Ajaran filsafat Pancasila ditegakkan dalam negara Proklamasi 17 Agustus 1945, sebagaimana terumus dalam UUD 45 seutuhnya. Karenanya identitas dan integritas NKRI dalam dinamakan dengan predikat sebagai sistem kenegaraan Pancasila ---analog dengan sistem negara kapitalisme-liberalisme dan sistem negara marxismekomunisme---. Jadi, sistem filsafat dan atau sistem ideologi suatu bangsa memberikan identitas sistem kenegaraan. Dalam abad modern antar sistem filsafat dan atau ideologi senantiasa bersaing merebut supremasi politik demi otoritas keunggulan mereka, sekaligus sebagai propaganda dalam rangka hegemoni internasional. Bagaimana integritas dan keunggulan sistem filsafat dan ideologi sangat menentukan potensi keunggulan SDM sebagai asset masa depan yang unggul terpercaya. Misalnya: keunggulan SDM bukan hanya potensi IQ dan EQ; melainkan juga SQ dan MQ. SDM tanpa nilai Ketuhanan dan religius, berarti kualitas dan integritasnya hanyalah IQ dan EQ. Silahkan direnungkan bagaimana keunggulan berbagai sistem filsafat dan ideologi yang mengandung ajaran nilai moral dan martabat keunggulan manusia. B. Pokok-Pokok Ajaran Pancasila Sebagai Sistem Filsafat Secara ringkas dan sederhana, seyogyanya dapat kita renungkan dan hayati nilai ajaran filsafat Pancasila dalam pokok-pokok ajarannya melalui skema di bawah. Secara filosofis-ideologis dan konstitusional essensi ajaran filsafat moral Pancasila, berpedoman kepada UUD 45 seutuhnya, terutama Pembukaan dan pasal 29. Sistem filsafat Pancasila adalah bagian dari sistem filsafat Timur yang memiliki identitas dan integritas keunggulan universal sebagai sistem filsafat theisme-religious. Sistem filsafat demikian memancarkan keunggulan karena sesuai dengan potensi kodrati martabat kepribadian manusia yang dianugerahi integritas-kerokhanian yang memancarkan akal dan budinurani; yang potensial mengembangkan budaya dan peradaban: sebagai subyek budaya (termasuk subyek hukum dan subyek dalam negara) dan subyek moral. 10
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

T

SK AS P SM Penjelasan ringkas: 1. T = Abstraksi makna dan nilai Tuhan Yang Maha Esa, yang kita yakini sebagai Maha Pencipta, Maha Kuasa, Maha Berdaulat, Maha Pengatur dan Maha Pengayom semesta dalam kodrat kekuasaan Maha Pencipta. Kesemestaan berkembang dalam harmoni dan kesejahteraan berkat pengayoman abadi Yang Maha Berdaulat melalui ikatan fungsional-integral-universal (imperatif, mutlak) dalam tatanan hukum: a. hukum alam yang bersifat obyektif, fisis, kausalitas, mutlak, abadi, dan universal; b. hukum moral yang bersifat obyektif-subyektif, psiko-fisis, sosial-subyektif, mutlak, teleologis, abadi dan universal ---tercermin dalam budinurani dan kesadaran keagamaan---. 2. AS = Alam Semesta, makro-kosmos yang meliputi realitas eksistensial-fenomenal dan tidak terbatas dalam keberadaan ruang dan waktu sebagai prakondisi dan wahana kehidupan semua makhluk (flora, fauna, manusia dsb); misalnya: cahaya dan panas matahari, udara, air, tanah (untuk pemukiman dan cocok-tanam), tambang (berbagai zat tambang dalam bumi: mineral, gas, logam, permata), flora dan fauna. Semua potensi dan realitas kesemestaan menentukan keberadaan semua yang ada dan hidup di dalam alam semesta, sebagai prawahana kehidupan (yang dikembangkan manusia menjadi wujud budaya dan peradaban, termasuk ipteks). AS berkembang dan bernilai bagi kehidupan semesta, termasuk sebagai “maha sumber” ipteks yang terpadu dalam hukum alam, integral-fungsional-universal. 3. SM = Subyek Manusia sebagai umat manusia keseluruhan di dalam alam semesta. Subyek manusia dengan potensi, harkat-martabatnya mengemban amanat Ketuhanan (keberagamaan), kebudayaan dan peradaban berwujud kesadaran hak asasi manusia (HAM) dan kewajiban asasi manusia (KAM). Penghayatan dan pengamalan manusia atas HAM secara normatif berlangsung dalam asas keseimbangan HAM dan KAM dalam antar hubungan sesama, dengan negara, budaya, dengan alam semesta dan kehadapan Tuhan Maha Pencipta. Potensi kepribadian manusia berkembang dalam asas teleologis (motivasi luhur, cita-karsa) untuk menegakkan cinta-kasih dan kebajikan. Pribadi manusia berkembang (berketurunan, berkarya, berkebajikan) sebagai pancaran keunggulan dan kemuliaan martabat kepribadian manusia. 4. SB = Sistem Budaya, sebagai prestasi cipta-karya manusia, wahana komunikasi, perwujudan potensi dan martabat kepribadian manusia, berpuncak sebagai peradaban dan moral! Sistem budaya warisan sosio-budaya: lokal, nasional dan universal menjadi bahan/isi pembinaan (kependidikan) manusia masa depan melalui kependididikan dan ipteks. Sistem budaya merupakan wujud cita dan citra martabat manusia; sekaligus menampilkan kualitas kesejahteraan umat manusia. Sistem budaya memberikan 11
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

SB

fasilitas dan kemudahan baik dalam komunikasi (mulai: bahasa, sampai transportasi, komunikasi, informasi) maupun ipteks yang supra canggih, pancaran keunggulan dan kemuliaan martabat kepribadian manusia . 5. SK = Sistem Kenegaraan sebagai perwujudan dan prestasi perjuangan dan cita nasional; wujud kemerdekaan dan kedaulatan bangsa; pusat kesetiaan dan kebanggaan nasional warganegara. Sistem kenegaraan sebagai pusat dan puncak kelembagaan dan kepemimpinan nasional, pusat kesetiaan dan pengabdian warga negara. SK sebagai pengelola kesejahteraan rakyat warga negara; penegak kedaulatan dan keadilan; dan pusat kelembagaan kepemimpinan nasional dalam fungsi pengayom rakyat warga negara. SK berkembang dalam kejayaan berkat integritas manusia waganegara dengan menegakkan kemerdekaan, kedaulatan, keadilan demi kesejahteraan dan perdamaian antar bangsa. 6. P = Pribadi, subyek manusia mandiri yang keberadaan dan perkembangannya di dalam dan untuk antarhubungan kondisional-fungsional semua komponen horizontal (cermati garis diagonal: antar AS – SM – SB – SK) antar semua eksistensi sebagai nampak dalam antarhubungan P- garis diagonal horizontal, dan vertikal. Pribadi sebagai subyek mandiri berkembang (berketurunan, berkarya, berkebajikan) dengan asas teleologis (vertikal), menuju ideal- self (cita-pribadi) dengan motivasi cita-karsa keseimbangan hak asasi dan kewajiban asasi demi cinta-kasih, keadilan dan kebajikan; sebagai pancaran nilai dan martabat kerokhanian manusia yang unggul, agung dan mulia. Pribadi manusia berkembang berkat cinta dalam (wujud) keluarga dan berketurunan; berkarya dan berbakti kepada sesama (pengabdian kepada bangsa negara): sosial kultural dan moral. . . yang dijiwai kesadaran theisme-religious. Sebagai integritas kepribadian manusia P berkembang secara kualitatif dalam makna integritas martabat kepribadiannya dengan khidmat mengabdi dan menuju (asas teleologis) Maha Pencipta, Maha Pengayom demi tanggungjawab moral manusia sebagai penunaian amanat kewajiban asasi manusia. Pribadi dengan harkat-martabat kepribadiannya memelihara antarhubungan harmonis dengan semua eksistensi horizontal berdasarkan wawasan vertikal (theisme- religious). Artinya, antarhubungan pribadi manusia dengan alam, sesama, budaya dan dengan kenegaraan dijiwai kesadaran tanggung jawab dan kewajiban moral Ketuhanan-keagamaan. Asas demikian mengandung makna bahwa filsafat Pancasila memancarkan identitas dan integritas moral theismereligious (sila I). Lukisan dalam klarifikasi skematis di atas, sebagai kandungan fundamental sistem filsafat Pancasila yang memancarkan identitas-integritas- martabatnya sebagai sistem filsafat theisme-religious (monotheisme-religious) yang unggul dan luhur karena sesuai dengan kodrat martabat kepribadian manusia. Uraian ringkas pokok-pokok ajaran sistem filsafat Pancasila di atas, diakui sebagai suatu alternatif pemikiran, yang dapat dikembangkan oleh para pakar demi pengayaan khanasah kepustakaan sistem filsafat Pancasila. V. AJARAN FILSAFAT PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN IDEOLOGI NEGARA INDONESIA Bangsa Indonesia bersyukur dan bangga diberkati dengan nusantara yang amat luas, subur, kaya sumber daya alam dan nilai-nilai budaya luhur serta amat strategis posisinya secara geografi dan geopolitik-strategis. Nilai budaya luhur ini berwujud pandangan hidup bangsa yang kemudian dikenal sebagai filsafat negara Pancasila. Bangsa Indonesia sepanjang sejarahnya dijiwai nilai-nilai budaya dan moral Pancasila, yang dikutip di muka merupakan sari dan puncak nilai sosio budaya Indonesia. Nilai fundamental ini ialah filsafat hidup (Weltanschauung, Volkgeist) Indonesia raya. Berdasarkan kepercayaan dan cita-cita bangsa Indonesia, maka diakui nilai filsafat Pancasila mengandung multi - fungsi dalam kehidupan bangsa, negara dan budaya Indonesia. 12
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Kedudukan dan fungsi nilai dasar Pancasila, dapat dilukiskan sebagai berikut: 7. Sistem Nasional (cermati skema 2 terlampir) 6. Sistem Filsafat Pancasila, filsafat dan budaya Indonesia: asas dan moral politik NKRI. 5. Ideologi Negara, ideologi nasional. 4. Dasar Negara (Proklamasi, Pembukaan UUD 45): asas kerokhanian bangsa, jiwa UUD 45; Nilai Dasar Grundnorm, basic norm, sumber dari segala Filsafat Pancasila sumber hukum. 3. Jiwa dan kepribadian bangsa; jatidiri nasional (Volkgeist) Indonesia. 2. Pandangan hidup bangsa (Weltanschauung). 1. Warisan sosio-budaya bangsa. Sesungguhnya nilai dasar filsafat Pancasila demikian, telah terjabar secara filosofis-ideologis dan konstitusional di dalam UUD Proklamasi (pra-amandemen) dan teruji dalam dinamika perjuangan bangsa dan sosial politik 1945 – 1998 (1945 – 1949; 1949 – 1950; 1950 – 1959 dan 1959 – 1998). Reformasi 1998 sampai sekarang, mulai amandemen I – IV: 1999 – 2002 cukup mengandung distorsi dan kontroversial secara fundamental (filosofis-ideologis dan konstitusional) sehingga praktek kepemimpinan dan pengelolaan nasional cukup memprihatinkan. Berdasarkan analisis normatif filosofis-ideologis dan konstitusional demikian, integritas nasional dan NKRI juga memprihatinkan. Karena, berbagai jabaran di dalam amandemen UUD 45 belum sesuai dengan amanat filosofis-ideologis filsafat Pancasila secara intrinsik. Terbukti, berbagai penyimpangan dalam tatanan dan praktek pengelolaan negara cukup memprihatinkan, terutama dalam fenomena praktek: demokrasi liberal dan ekonomi liberal, serta berbagai kontroversial budaya dan moral sosial politik! Demi cita-cita nasional yang diamanatkan para pahlawan dan pejuang nasional, khususnya the founding fathers dan PPKI maka semua komponen bangsa sekarang ---10 tahun reformasi--- berkewajiban untuk merenung (refleksi) dan mawas diri untuk melaksanakan evaluasi dan audit nasional apakah kita sudah sungguh-sungguh menegakkan integritas NKRI berdasarkan Pancasila – UUD 45 sebagai sistem kenegaraan Pancasila dan sistem ideologi nasional. Kita semua bukan hanya melaksanakan visi-misi reformasi; melainkan secara moral nasional kita berkewajiban menunaikan amanat dan visi-misi Proklamasi, sebagaimana terkandung seutuhnya dalam UUD Proklamasi. A. Ajaran Sistem Filsafat Pancasila dan Sistem Kenegaraan RI Filsafat Pancasila memberikan kedudukan tinggi dan mulia atas potensi dan martabat manusia (sila I dan II); karenanya ajaran HAM berdasarkan Pancasila dijiwai dan dilandasi asas normatif theisme-religious: 1. bahwa HAM adalah karunia dan anugerah Maha Pencipta (sila I dan II); sekaligus amanat untuk dinikmati dan disyukuri oleh umat manusia. 2. bahwa menegakkan HAM senantiasa berdasarkan asas keseimbangan dengan kewajiban asasi manusia (KAM). Artinya, HAM akan tegak hanya berkat (umat) manusia menunaikan KAM sebagai amanat Maha Pencipta. 3. kewajiban asasi manusia (KAM) berdasarkan filsafat Pancasila, ialah: a. manusia wajib mengakui sumber (HAM: life, liberty, property) adalah Tuhan Maha Pencipta (sila I). b. manusia wajib mengakui dan menerima kedaulatan Maha Pencipta atas semesta, termasuk atas nasib dan takdir manusia; dan c. manusia wajib berterima kasih dan berkhidmat kepada Maha Pencipta, atas anugerah dan amanat yang dipercayakan kepada (kepribadian) manusia. Tegaknya ajaran HAM ditentukan oleh tegaknya asas keseimbangan HAM dan KAM; sekaligus sebagai derajat (kualitas) moral dan martabat manusia. 13
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Sebagai manusia percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita juga bersyukur atas potensi jasmani-rokhani, dan martabat unggul, agung dan mulia manusia berkat anugerah kerokhaniannya ---sebagai terpancar dari akal-budinuraninya--- sebagai subyek budaya (termasuk subyek hukum) dan subyek moral. (M. Noor Syam 2007: 147-160) Berdasarkan ajaran suatu sistem filsafat, maka wawasan manusia (termasuk wawasan nasional) atas martabat manusia, menetapkan bagaimana sistem kenegaraan ditegakkan; sebagaimana bangsa Indonesia menetapkan NKRI sebagai negara berkedaulatan rakyat dan negara hukum. Kedua asas fundamental ini memancarkan identitas dan keunggulan sistem kenegaraan RI berdasarkan Pancasila – UUD 45. Filsafat Pancasila memancarkan identitas dan integritas martabatnya sebagai sistem filsafat theisme-religious. Integritas demikian sebagai bagian dari keunggulan dari sistem filsafat Timur, karena sesuai dengan potensi martabat dan integritas kepribadian manusia. Berdasarkan ajaran filsafat Pancasila, terutama tentang kedudukan dan martabat kepribadian manusia, maka oleh pendiri negara (PPKI) dengan musyawarah mufakat ditetapkan dan disahkan sistem kenegaraan Indonesia merdeka, sebagai terumus dalam UUD Proklamasi 1945 seutuhnya. B. Integritas Sistem Kenegaraan Pancasila – UUD Proklamasi Dalam analisis kajian normatif-filosofis-ideologis dan kritis atas UUD 45 (amandemen) dan dampaknya dalam hukum ketatanegaraan RI, dapat diuraikan landasan pemikiran berikut: 1. Baik menurut teori umum hukum ketatanegaraan dari Nawiasky, maupun Hans Kelsen dan Notonagoro diakui kedudukan dan fungsi kaidah negara yang fundamental yang bersifat tetap; sekaligus sebagai norma tertinggi, sumber dari segala sumber hukum dalam negara. Karenanya, kaidah ini tidak dapat diubah, oleh siapapun dan lembaga apapun, karena kaidah ini ditetapkan hanya sekali oleh pendiri negara (Nawiasky1948: 31 – 52; Kelsen 1973: 127 – 135; 155 – 162; Notonagoro 1984: 57 – 70; 175 – 230; Soejadi 1999: 59 – 81). Sebagai kaidah negara yang fundamental, sekaligus sebagai asas kerokhanian negara dan jiwa konstitusi, nilai-nilai dumaksud bersifat imperatif (mengikat, memaksa). Artinya, semua warga negara, organisasi infrastruktur dan suprastruktur dalam negara imperatif untuk melaksanakan dan membudayakannya. Sebaliknya, tiada seorangpun warga negara, maupun organisasi di dalam negara yang dapat menyimpang dan atau melanggar asas normatif ini; apalagi merubahnya. 2. Dengan mengakui kedudukan dan fungsi kaidah negara yang fundamental, dan bagi negara Proklamasi 17 Agustus 1945 (baca: NKRI) ialah berwujud: Pembukaan UUD Proklamasi 1945. Maknanya, PPKI sebagai pendiri negara mengakui dan mengamanatkan bahwa atas nama bangsa Indonesia kita menegakkan sistem kenegaraan Pancasila – UUD 45. Asas demikian terpancar dalam nilai-niai fundamental yang terkandung di dalam Pembukaan UUD 45 sebagai kaidah filosofis-ideologis Pancasila seutuhnya. Karenanya dengan jalan apapun, oleh lembaga apapun tidak dapat diubah. Karena Pembukaan ditetapkan hanya 1 x oleh pendiri negara (the founding fathers, PPKI) yang memiliki legalitas dan otoritas pertama dan tertinggi (sebagai penyusun yang mengesahkan UUD negara dan sistem kelembagaan negara). Artinya, mengubah Pembukaan dan atau dasar negara berarti mengubah negara; berarti pula mengubah atau membubarkan negara Proklamasi (membentuk negara baru; mengkhianati negara Proklamasi 17 Agustus 1945). Siapapun dan organisasi apapun yang tidak mengamalkan dasar negara Pancasila ---beserta jabarannya di dalam UUD negara---; bermakna pula tidak loyal dan tidak membela dasar negara Pancasila, maka sikap dan tindakan demikian dapat dianggap sebagai makar (tidak menerima ideologi negara dan UUD negara). Jadi, mereka dapat dianggap melakukan separatisme ideologi dan atau mengkhianati negara. 3. Penghayatan kita diperjelas oleh amanat pendiri negara di dalam Penjelasan UUD 45; terutama melalui uraian: keempat pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 45 (sebagai asas kerokhanian negara dan Weltanschauung bangsa) terutama: 14
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

"4. Pokok pikiran yang keempat yang terkandung dalam "pembukaan" ialah negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemnusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar harus mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh citacita moral rakyat yang luhur. III. Undang-Undang Dasar menciptakan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan dalam pasal-pasalnya. Pokok-pokok pikiran tersebut meliputi suasana kebatinan dari Undang-Undang Dasar Negara Indonesia. Pokok-pokok pikiran ini mewujudkan cita-cita hukum (Rechtsidee) yang menguasai hukum dasar negara, baik hukum yang tertulis (Undang-Undang Dasar) maupun hukum yang tidak tertulis. Undang-Undang Dasar menciptakan pokok-pokok pikiran ini dalam pasal-pasalnya." Jadi, kedudukan Pembukaan UUD 45 berfungsi sebagai perwujudan dasar negara Pancasila; karenanya memiliki supremasi dan integritas filosofis-ideologis secara konstitusional (terjabar dalam Batang Tubuh dan Penjelasan UUD 45). Sistem kenegaraan RI secara formal adalah kelembagaan nasional yang bertujuan mewujudkan asas normatif filosofis-ideologis (in casu dasar negara Pancasila) sebagai kaidah fundamental dan asas kerokhanian negara di dalam kelembagaan negara bangsa (nation state); sebagai asas budaya dan moral politik nasional NKRI. C. Keunggulan Sistem Filsafat Pancasila dan Indonesia Raya Keunggulan Indonesia Raya terpancar dari mulai alam nusantara, warisan budaya, sistem filsafat dan ideologi sampai potensi kuantitas – kualitas SDM Indonesia Kita bangsa Indonesia wajib bersyukur dan bangga atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa bahwa bangsa dan NKRI diberkati dengan berbagai keunggulan potensial, terutama: 1. Keunggulan natural (alamiah): nusantara Indonesia amat luas (15 juta km2, 3 juta km2 daratan + 12 juta km2 lautan, dalam gugusan 17.584 pulau); amat subur dan nyaman iklimnya; amat kaya sumber daya alam (SDA); amat strategis posisi geopolitiknya: sebagai negara bahari (maritim, kelautan) di silang benua dan samudera sebagai transpolitik-ekonomi dan kultural postmodernisme dan masa depan. 2. Keunggulan kuantitas-kualitas manusia (SDM) sebagai rakyat dan bangsa; merupakan asset primer nasional: 235 juta dengan karakteristika dan jatidiri yang diwarisinya sebagai bangsa pejuang (ksatria)…… ---silahkan dievaluasi bagaimana identitas dan kondisi kita sekarang!--- dalam era reformasi. 3. Keunggulan sosiokultural dengan puncak nilai filsafat hidup bangsa (terkenal sebagai filsafat Pancasila) yang merupakan jatidiri nasional, jiwa bangsa, asas kerokhanian negara dan sumber cita nasional sekaligus identitas dan integritas nasional. 4. Keunggulan historis; bahwa bangsa Indonesia memiliki sejarah keemasan: kejayaan negara Sriwijaya (abad VII - XI); dan kejayaan negara Majapahit (abad XIII - XVI) dengan wilayah kekuasaan kedaulatan geopolitik melebihi NKRI sekarang (dari Taiwan sampai Madagaskar). 5. Keunggulan sistem kenegaraan Pancasila sebagai negara Proklamasi 17 Agustus 1945; terjabar dalam asas konstitusional UUD 45: a. NKRI sebagai negara berkedaulatan rakyat (demokrasi); b. NKRI sebagai negara hukum (Rechtsstaat); c. NKRI sebagai negara bangsa (nation state); d. NKRI sebagai negara berasas kekeluargaan (paham persatuan, wawasan nasional dan wawasan nusantara); e. NKRI menegakkan sistem kenegaraan berdasarkan UUD Proklamasi yang memancarkan asas konstitusionalisme melalui tatanan kelembagaan dan kepemimpinan nasional dengan identitas Indonesia, dengan asas budaya dan 15
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

asas moral filsafat Pancasila yang memancarkan identitas martabatnya sebagai sistem filsafat theisme-religious. Asas demikian memancarkan keunggulan sistem filsafat Pancasila (sebagai bagian dari sistem filsafat Timur) dalam menghadapi tantangan dan godaan masa depan: neo-liberalisme, neoimperialisme dalam pascamodernisme yang mengoda dan melanda bangsabangsa modern abad XXI. Keunggulan potensial demikian sinergis dan berpuncak dalam kepribadian SDM Indonesia sebagai penegak kemerdekaan dan kedaulatan NKRI yang memancarkan budaya dan moral Pancasila dalam mewujudkan cita-cita nasional. Potensi nasional dan keunggulan NKRI akan ditentukan oleh kuantitas-kualitas SDM yang memadai + UUD Negara yang mantap terpercaya ---bukan kontroversial sebagaimana UUD 45 amandemen---. Berdasarkan asas-asas normatif filosofis-ideologis dan konstitusional di atas, maka bangsa Indonesia berkewajiban menegakkan dan mewariskan serta membudayakan nilai-nilai keunggulan Indonesia raya, terutama: 1. Keunggulan Indonesia raya: alam nusantara, SDM dan warisan budaya; 2. Keunggulan ajaran filsafat Pancasila sebagai ideologi nasional terjabar dalam UUD Proklamasi 45; dan 3. NKRI = Sistem Kenegaraan Pancasila Bangsa Indonesia percaya bahwa NKRI sebagai sistem kenegaraan Pancasila, yang diamanatkan pendiri negara (PPKI) dalam Pembukaan UUD Proklamasi 1945; “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Inilah NKRI sebagai sistem kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 1945 untuk ditegakkan, dikembangkan dan dilestarikan. Amanat demikian hanya akan terlaksana, dengan membudayakan nilai fundamental dalam bagian V. A – B – C di atas, insya Allah akan jaya sentausa, adil dan bermartabat. VI. KOMUNISME INTERNASIONAL DAN PKI Paham dan ajaran ideologi komunisme mulai berkembang di Eropa (di German) oleh Karl Marx. Ideologi ini menghimpun semua kaum buruh sedunia, dan kaum miskin ( proletar, jembel) yang dinggap tertindas oleh kaum modal (kapitalis, orang kaya). Ideologi ini mempropagandakan kehidupan kaum buruh dan rakyat miskin yang lebih sejahtera; dengan merebut kembali hak-hak mereka yang dikuasai dan dirampas oleh kaum kapitalis ( kapitalisme- liberalisme) yang menjajah bangsa-bangsa. Ideologi komunisme membangkitkan semangat kaum buruh dan rakyat miskin (sedunia) untuk bersatu melawan kapitalisme-liberalisme. Jadi, ideologi komunis bersifat mendunia (internasional). Karenanya, dinamakan komunisme internasional (Komintern). Sebagian pemuda pelajar mahasiswa Indonesia yang studi di Eropa, sangat terpikat dengan ideologi komunis. Ketika mereka kembali ke Indonesia, kaum terpelajar ini juga menjadi kader dan pelopor kaum komunisme. Mereka, mulai menyelinap dalam berbagai organisasi perjuangan melawan penjajahan Belanda. Merekalah perintis dan pejuang pelopor kaum komunis Indonesia. Ketika, mereka merasa cukup kuat barulah secara terbukan menyatakan diri sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI) 1926. Ajaran komunisme yang dikembangkan oleh Karl Marx bersama Frederich Engels, mulai ditegakkan dengan revolusi I kaum komunis di Rusia 17 Oktober 1917. Melalui berbagai propaganda gerakan komunisme menjangkau berbagai negara di Eropa; kemudian dianggap sebagai gerakan komunis internasional ---terkenal sebagai comintern = communisme international---. Jadi, pengikut Karl Marx berjuang untuk mengembangkan ajaran komunisme bagi bangsa-bangsa sedunia. Di negeri Belanda seorang pemimpin buruh bernama H.J.F.M.Sneevliet mendirikan Partai Buruh Sosial-Demokrat (Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP) sebagai gerakan kaum komunis di negeri Belanda. Gerakan ini berkembang 16
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

menjadi Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV), kemudian menjadi pelopor partai komunis. Kader ISDV ini menyelinap menjadi anggota Sarekat Islam (SI), yang kemudian baru (berani) mendirikan SI-Merah 1924; sebagai cikal bakal PKI 1926. Dalam proses itulah, tokoh-tokoh komunis mulai berjuang sebagai penganut marxisme-komunisme-atheisme; seperti : Semaun, Darsono, Alimin, Muso, dal lainlain. Mereka, sebagai bangsa Indonesia suku Jawa (penganut agama Islam abangan) tergoda dan terpikat dengan ideologi sosialisme-komunisme yang mulai menampilkan perjuangannya melalui revolusi Oktober di Rusia 1917. Sekitar tahun 1920-an pemuda-pemuda Indonesia yang belajar di Eropa mulai aktif memperjuangkan Indonesia Merdeka, dengan mendirikan Perhimpinan Indonesia (PI). Dalam kongres PI 5 Desember 1926 di Paris, PI dengan resmi menuntut Indonesia Merdeka. Karenanya, pemerintah Hindia Belanda menganggap PI gerakan radikal; dan mengawasi gerakannya. Sementara itu tokoh-tokoh muda komunis (PKI) menyatakan mengakui kepemimpinan PI, sehingga pemerintah Belanda makin mencurigai PI sebagai organisasi radikal---dengan sikap komunis demikian, berarti kaum komunis menumpangi perjuangan PI---. Jadi, kaum komunis senantiasa tidak mandiri; dan tidak ksatria dalam perjuangannya. Ketika itu di Indonesia juga pemuda mahasiswa terus menggalang perjuangan dan persatuan melalui organisasi sosial budaya dan politik untuk kemerdekaan Indonesia. Demikianlah tercatat dibentuknya Budi Utomo 20 Mei 1908 ---yang kemudian diakui sebagai Kebangkitan Nasional---. Juga didirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang dipelopori H. Samanhudi. (1911, 1913) Perjuangan dibidang ekonomi ini berlanjut dengan perjuangan politik melalui pembentukan Sarekat Islam (SI) yang dipelopori HOS Tjokroaminoto. Kemudian ternyata, sebagian tokoh SI ini adalah kader penganut dan pelopor gerakan komunisme ---yang kemudian dicatat sebagai SI merah--- dan memisahkan diri dengan membentuk partai komunis Indonesia (PKI), Bangsa Indonesia yang mayoritas menganut agama Islam terus berjuang demi kemerdekaan nasional, melalui berbagai organisasi dan media perjuangan. Mulai melalui lembaga pedidikan Islam (pondok pesantren), sampai organisasi keagamaan dan sosial, terutama organisasi Islam: 1. Sarekat Islam dan Sarekat Dagang Islam (SI dan SDI 1911 dan 1913) yang dipelopori: H. Samanhudi, HOS Tjokroaminoto, dan lain-lain 2. Organisasi Islam Muhamadiyah, didirikan 18 November 1912 oleh tokoh H. Ahmad Dahlan (1868-1923) 3. Organisasi Islam Nahdatul Ulama, didirikan 1926 oleh Syech KH Hasyim As’ Ari (1871-1947). 4. Organisasi Pendididkan Nasional Taman Siswa, 3 Juli 1922 oleh Soewardi Soeryaningrat---yang kemudian terkenal dengan nama : Dr. Ki Hadjar Dewantara ( ... ) 5. dan berbagai organisasi sosial, politik dan kebudayaan demi perjuangan kemerdekaan Indonesia

Perjuangan kaum terpelajar, mahasiswa dan intelektual muda Indonesia berpuncak dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang mempersatukan potensi nasional demi kemerdekaan nasional. Semangat kebangsaan Indonesia yang telah mengakui Nusantara Indonesia sebagai milik bangsa Indonesia berpuncak dengan Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945; dan melahirkan NKRI berdasarkan Pancasila – UUD Proklamasi 1945. A. Marxisme-Komunisme dan Revolusi Ajaran ideologi komunisme yang terkenal sebagai marxisme-komunismeatheisme mempropagandakan masyarakat merdeka dalam persamaan dan keadilan; sehingga terkenal semboyan: masyarakat sama rasa, sama rata! Kaum komunis memperjuangkan kemedekaan dan keadilan dengan asas sama rasa sama rata dalam makna tidak ada kaum feodal (ningrat) yang menindas rkyat 17
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

miskin (buruh dan tani) sebagai umumnya ada dalam masyarakat, apalagi masyarakat jajahan. Untuk tujuan ini kaum komunis memperjuangkan melalui revolusi dengan merebut kekuasaan ---misalnya dari kerajaan menjadi republik--- dan atau dari kekuasaan kapitalis untuk rakyat (buruh dan tani). Karenanya, terjadi konflik sosial yang melaksanakan asas pertentangan kelas: antara kaum buruh berhadapan (x) dengan majikan; antara kaum miskin dengan kapitalis; bahkan juga antara rakyat dengan pemerintah (menurut istilah PKI = penguasa!) Kaum komunis melalui partai komunis Indonesia (PKI) adalah bagian dari perjuangan komunisme internasional (komintern). Karenanya, gerakan mereka senantiasa terkoordinasi antar negara komunis dalam upaya mencapai tujuannya terutama saling membantu baik dalam bidang strategi dan program maupun tenaga dan dana. Kerjasama dan bantuan tersebut terbukti dengan konspirasi PKI dengan RRC untuk melaksanakan kudeta di Indonesia yang berwujud G.30S/PKI 1 Oktober 1965. Bagi kaum komunis, revolusi Oktober dimitoskan sejak keberhasilan revolusi di Rusia yang dipimpin oleh Lenin 17 Oktober 1917. Mitos ini pula menghilhami Mao Tse Tung (Mao Zedong) dengan partainya Kou Chantang (Partai Komunis Cina) merebut kekuasaan Republik Cina Nasionalis yang didirikan oleh partai Kou Mintang (partai nasional Cina) pada 1 Oktober 1949. Mao Zedong sukses dengan berdirinya RRC ---sementara pemerintahan Cina Nasionalis mengungsi dan meneruskan pemerintahannya di Taiwan/pulau Formusa (dikenal sebagai negara Cina Taiwan)---. Berdasarkan data sejarah pemberontakan kaum komunis di Rusia dan di Cina, maka kita percaya kudeta PKI dengan G.30S/PKI 1 Oktober 1965 di Jakarta adalah dilandasi kepercayaan dan mitos kaum komunis atas keberhasilan revolusi Oktober tersebut di atas! Karenanya, kita bangsa Indonesia yang menganut ideologi negara Pancasila tetap percaya bahwa G.30S/PKI adalah sungguh-sungguh perjuangan kaum komunis Indonesia ---yang didukung RRC sesuai berbagai bukti yang negara kumpulkan--- dengan bantuan dan konspirasi bersama tokoh-tokoh RRC. Jadi, adalah rekayasa dan fitnah keji kaum komunis (PKI dan kader-kadernya) untuk cuci tangan dan memutarbalikkan fakta sejarah dengan menghujat komponen Orde Baru sebagai dalang G.30S/PKI! Sudah menjadi asas dan metode kaum komunis, bahwa tujuan menghalalkan cara; termasuk : provokasi, fitnah dan agitasi, adu-domba (pertentangan kelas). Karenanya, dalam era reformasi 1998-sekarang, kader komunis bangkit dengan hujatan dan pemutarbalikan fakta sejarah. Mereka berdalih bahwa peristiwa G30S/PKI itu adalah konflik internal Angkatan Darat (AD) TNI dalam NKRI. Bagaimanapun mereka menyusun rekayasa dan hujatan kepada Orde Baru, rakyat dan bangsa Indonesia tetap sadar, dan percaya bahwa kaum komunis-atheis (mengingkari adanya Tuhan Yang Maha Esa, berarti anti Pancasila, terutama sila I, sehingga mereka adalah manusia tidak bermoral!) Mereka juga berdalih bahwa G.30S/PKI adalah urusan dan konflik internal Angkatan Darat dalam TNI. Bagi PKI tujuan menghalalkan cara; karenanya dengan memanipulasi data dan fakta sejarah, bahkan merekayasa fitnah ---seperti adanya Dewan Jenderal--- adalah metode yang biasa mereka lakukan. Kaum komunis sebagai penganut atheisme tidak mengenal Tuhan apalagi dosa. Karenanya, bagi mereka apa dan bagaimanapun cara perjuangannya tidak berdasarkan landasan hukum, atau etika apalagi moral; karena nilai Ketuhanan dan keagamaan samasekali mereka langkahi dan kikis dalam budaya manusia, bangsa dan warga negara di mana mereka mulai menguasai negara itu. Bangsa Indonesia mengalami dan membuktikan bagaimana PKI melakukan pemberontakan dan kudeta, baik di Madiun September 1948; maupun di Jakarta 1 Oktober 1965---yang terkenal sebagai G30S/PKI---. B. Partai Komunis Indonesia dan Revolusi Indonesia Merebut Kemerdekaan Nasional Sejak awal berdirinya kaum komunis selalu membonceng suatu organisasi; bukan dengan prakarsa sendiri membentuk organisasi mandiri (PKI). Nampaknya mereka adalah manusia yang ragu dan tidak percaya diri (baca: pengecut). Sejarah 18
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

mencatat, kaum komunis Indonesia lahir melalui organisasi Islam: Sarekat Islam (SI) yang didirikan di Solo 1911 yang kemudian menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Ketika mereka mulai merasa cukup kuat, berbagai gerakan internal di dalam SI cukup dirasakan oleh tokoh-tokoh SI murni sebagai penyimpangan (pengkhianatan) dari landasan perjuangan SI. Sekitar tahun 1924 mereka mulai bangkit dengan mendirikan SI-Merah dengan nama resmi menjadi Sarekat Rakyat, dengan tokoh-tokoh (Semaun, Darsono, Alimin). Kemudian tokoh-tokoh itu dengan resmi mendirikan PKI 1926 yang menerima mandat dan dukungan dari partai komunis Rusia melalui tokoh Semaun. Kemudian mereka mencoba dengan pemberontakan PKI 1926...... yang kemudian gagal dan sebagian tokohnya ditangkap Pemerintah (penjajahan) Belanda dan sebagian melarikan diri ke luar negeri. Sejak itulah mereka semua tidak terlibat lagi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, sebagai terekam dalam sejarah sejak Sumpah Pemuda 1928 sampai Proklamasi 1945. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, kondisi revolusi Indonesia mendorong Pemerintah RI mengungsi ke Yogjakarta. Dalam kondisi yang cukup krisis---karena agresi tentara Belanda---PKI bukan membela kemerdekaan Indonesia; melainkan justru menikam Pemerintah Indonesia. Sejarah mencatat, PKI melakukan pemberontakan untuk merebut kekuasaan Pemerintah yang sah di bawah kepemimpinan SoekarnoHatta. Peristiwa ini terkenal sebagai pengkhianatan PKI melalui pemberontakan PKI Madiun. 1. Pemberontakan PKI di Madiun 18 September 1948 Tokoh-tokoh PKI baru “bangkit” berjuang untuk tujuan komunisme melalui pemberontakan PKI 18 September 1948. Nampak bagi kita, kaum komunis bukanlah ksatria dan pejuang kemerdekaan Indonesia! Indonesia merdeka yang baru merangkak bangkit mempertahankan Proklamasi ---sementara ibukota NKRI mengungsi ke Jogjakarta--- PKI melakukan pemberontakan dan makar terhadap pemerintahan yang sah dan negara Indonesia! Mereka dihadapi oleh Presiden Soekarno bersama Wakil Presiden Hatta, sebagai tersurat dalam pidato Bung Karno: “kepada rakyat warga bangsa Indonesia yang cinta Indonesia merdeka. Rakyat Indonesia silahkan memilih apakah cinta kepada Soekarno – Hatta (yang memimpin NKRI yang sah) ataulah memilih Muso – Alimin PKI! Kalau memilih Soekarno – Hatta, kami perintahkan supaya rakyat bersama TNI menumpas pemberontakan PKI Muso – Alimin sebagai pengkhianat bangsa dan negara kita!” TNI kita dengan bulat dan sigap bertindak menaklukkan, menguasai dan menumpas kaum komunis di Madiun khususnya. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dan kesadaran rakyat yang setia kepada negara Proklamasi 45 bersama TNI, mereka kaum komunis (PKI Muso – Alimin) dapat ditumpas. 2. Pemberontakan PKI (G.30S/PKI) 1 Oktober 1965 Pemerintahan Presiden Soekarno sejak 5 Juli 1959 (setelah Dekrit Presiden kembali melaksanakan UUD 45), ternyata lebih bernuansa revolusioner. Dengan beberapa doktrin marhenisme, Bung Karno menerapkan asas marhenisme sebagai marxisme yang diterapkan di Indonesia dengan kondisi Indonesia. Ajaran Bung Karno sebagai pendiri PNI dengan penerapan marhaenisme demikian, dipimpin oleh Mr. Ali Sastroamidjojo (Ketua) dan Ir. Surachman (Sekjen) menimbulkan reaksi dari sebagian tokoh PNI yang berpegang kepada ajaran Bung Karno yang aseli, dengan memasyarakatkan tulisan Soekarnoisme ---melalui media cetak, terutama koran harian: Suluh Indonesia. PNI marhaensime sejati ini dipelopori oleh tokoh Osa Maliki dan Usep Ranuwijaya, SH. Di dalam masyarakat Indonesia berkembang dan bersaing 2 pandangan PNI marhaenisme, yang dinamakan dengan akronim: PNI (ASU) sebagai singkatan marhaenisme pimpinan Ali – Surachman; dan PNI Osa-Usep yang dianggap marhaenisme sejati. Pertentangan kedua kubu PNI tersebut terkenal sebagai pertentangan PNI-ASU dengan PNI-Osa-Usep. Pertentangan ini berakhir, ketika rakyat Indonesia bangkit menumpas dan mengikis paham marxisme-komunisme-atheisme yang diperjuangkan PKI sebagai pembalasan rakyat bersama ABRI (TNI). 19
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Melalui PNI marhaenisme ASU, mereka mempropagandakan berbagai doktrin revolusioner; mulai Panca Azimat revolusi (*) sampai doktrin: revolusi belum selesai. Karenanya, rakyat Indonesia hidup dalam pertentangan (konflik horisontal) antara : kaum revolusioner (PKI dan PNI-ASU) berhadapan dengan rakyat yang dianggap kontra-revolusi (mereka partai-partai lainnya, dan umat Islam). Juga terjadilah pertentangan sosial politik antara ASU dan Osa-Usep yang cukup mengancam kesatuan dan kerukunan nasional, karena lembaga-lembaga negara (tingkat Pusat dan Daerah, kebanyakan dipimpin oleh tokoh-tokoh antar mereka). Apalagi, PKI terus provokatif dengan menuduh berbagai partai Islam, bahkan umat Islam sebagai komponen kontra-revolusi; atau sebagai kaum reaksioner! Dalam kondisi demikian, PKI terus meningkatkan propaganda dan perjuangannya untuk merebut posisi yang lebih dominan terhadap berbagai komponen sosial politik 1960 – 1965. Melalui nasakomisasi berbagai lembaga negara, PKI makin mendapat posisi yang berimbang dengan kekuatan sosial politik lainnya. Nasakom, bermakna kesatuan kekuatan: nasional, agama, dan komunis. Artinya, ketiga potensi kekuatan dalam NKRI dianggap s a m a ; meskipun dalam realitas sosial politik: adalah kaum agama = mayoritas, nasional dan komunis (PKI) adalah minoritas. Ajaran Bung Karno marhenisme dianggap menyimpang oleh tokoh-tokoh muda pada waktu itu, dipelopori oleh PNI Osa-Usep bersama tokoh Sayuti Melik yang menulis Soekarnoisme sebagai ajaran Bung Karno tentang Marhaenisme yang aseli--bukan : Marhaenisme ala PNI-ASU yang direkayasa kaum PKI demi perjuangannya---. Kondisi dialektis, atau pertentangan dan konflik antara komponen revolusioner berhadapan kaum kontra-revolusioner terus berlangsung (=keadaan negara dalam krisis), tidak stabil. Dalam kondisi demikian PKI terus memantapkan tahap perjuangannya untuk merebut kekuasaan negara. Berbagai kasus sosial politik terjadi : seperti : Kasus penyerbuan di Kediri; kasus Bandar Betsi di Sumatera Utara dan kasus 7 Maret 1965 di Pendopo Kabupaten Malang Puncak (*)=Catatan: Panca Azimat Revolusi=1. NASAKOM JIWAKU; 2. PANCASILA, 3. MANIPOL-USDEK; 4. TRISAKTI; dan 5. BERDIKARI. Panca Azimat Revolusi diakui sebagai intisari ajaran Bung Karno yang wajib diamalkan sebagai pedoman pendukung revolusi Indonesia. VI. TANTANGAN NASIONAL: GLOBALISASI – LIBERALISASI DAN POSTMODERNISME Memasuki abad XXI sebagai awal millenium III, kehidupan umat manusia (internasional) mengalami dinamika yang makin memuncak. Artinya, dinamika dunia baik secara alamiah (natural) dengan peningkatan iklim global (pemanasan suhu dunia) dan makin terbatasnya berbagai sumber daya alam (energi/gas alam dan BBM; termasuk lingkungan alam, terutama hutan yang menyediakan zat asam/O2; bahkan juga lahan subur dan air) sebagai kebutuhan dasar kehidupan umat manusia. Kondisi demikian memacu kompetisi antar kekuatan politik ekonomi dunia untuk merebut penguasaan sumber daya alam. Dinamika ini dinamakan globalisasi-liberalisasi yang bermuara neoimperialisme ---yakni politik supremasi dan dominasi oleh negara adidaya USA dan Unie Eropa sebagai pelopor ideologi kapitalisme-liberalisme---. Memahami dinamika dan fenomena dunia demikian, tiap bangsa dan negara, termasuk bangsa Indonesia berkewajiban untuk meningkatkan Ketahanan Nasional demi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dan NKRI yang mandiri dan bermartabat. Landasan tegaknya Ketahanan Nasional sebagai wujud tegaknya integritas nasional dan NKRI sebagai sistem kenegaraan Pancasila ditentukan oleh potensi SDM unggulkompetitif-terpercaya yang mampu menghadapi semua tantangan masa depan. Integritas SDM demikian adalah kepribadian yang sehat dan kuat jasmaniah, memiliki integritas mental-moral luhur yang tegak-tegar menghadapi dinamika: globalisasi – liberalisasi dan postmodernisme yang menggoda dan melanda dunia! 20
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Berdasarkan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku, negara melaksanakan pembinaan kesadaran mental-ideologi berbangsa dan bernegara melalui program pendidikan kewarganegaraan (PKn) dan atau bela negara. Kemudian ditingkatkan dengan gerakan pembudayaan nilai Pancasila (PNP). Visi-misi PKn dan PNP akan lebih meningkatkan dan memantapkan pembinaan mental ideologi generasi muda dan SDM warga negara RI dalam menghadapi tantangan nasional, globalisasiliberalisasi dan postmodernisme. Kita bersyukur terbitnya buku Pendidikan Kewarganegaran (PKn) SD. Semoga buku ini dapat dijadikan pedoman bagi guru dalam mendidikkan dan membudayakan nilai dasar negara Pancasila dan UUD Negara bagi generasi muda. Para guru dan pendidik berkewajiban membudayakan amanat nasional dalam Pembukaan UUD 45 dan NKRI. Tekad rakyat Indonesia untuk bersatu sejak Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, dimantapkan dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Tekad ini menjadi modal nasional merebut kemerdekaan nasional Proklamasi 17 Agustus 1945. Kemerdekaan dan kedaulatan tegak dalam integritas NKRI berdasarkan Pancasila – UUD 45, sistem kenegaraan dan rumah tangga bangsa Indonesia. Untuk menjamin kelangsungan NKRI, pendiri negara (PPKI) secara konstitusional mengamanatkan: "…..untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…." Bermakna bangsa – negara wajib membina SDM unggul-kompetitif-terpercaya sebagai subyek penegak kemerdekaan, kedaulatan, dan kepemimpinan nasional. Sesungguhnya, visi-misi mencerdaskan kehidupan bangsa mengandung makna nation and character building. Asas moral yang terkandung di dalamnya terutama menjamin tegaknya sistem kenegaraan Pancasila oleh dan untuk SDM unggul-kompetitif-terpercaya sebagai bhayangkari negara Pancasila. Amanat konstitusional ini dijabarkan dalam UUD 45 Pasal 31 dan dimantapkan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi pedoman pengembangan SDM unggul-kompetitifterpercaya sebagai bhayangkari NKRI berdasarkan Pancasila – UUD 45. A. Tantangan Globalisasi-Liberalisasi dan Postmodernisme Visi-misi PNP seyogyanya mampu meningkatkan wawasan nasional agar SDM warga negara kita mampu mewaspadai tantangan: globalisasi-liberalisasi dan postmodernisme; serta tantangan nasional dalam era reformasi (yang memuja kebebasan atas nama demokrasi dan HAM) ---dalam praktek menjadi budaya liberalisme dan anarchisme--- yang mengancam integritas NKRI. Pendidikan dan pembudayaan NKRI berdasarkan Pancasila – UUD 45 dalam PNP juga mengandung tujuan mendasar berikut: 1. Meningkatkan mental-moral manusia dan warga negara RI sebagai satu bangsa Indonesia dalam NKRI sebagai negara bangsa (nation state, negara kebangsaan) seutuhnya. Maknanya, kondisi warisan budaya daerah dan kearifan lokal sebagai kebhinnekaan (pluralisme) dalam nusantara secara kultural dan moral ditingkatkan menjadi bangsa Indonesia. Jadi, pluralisme dan warisan keunggulan daerah (= kearifan lokal), ditingkatkan dalam puncak budaya dan semangat kebangsaan dalam integritas nasional: kesatuan nasional (tunggal ika) dan kebanggaan nasional. Inilah jiwa kebangsaan dan jiwa nasional Indonesia yang melembaga dalam NKRI berdasarkan Pancasila – UUD 45. Bandingkan dengan motto negara Amerika Serikat: " E Pluribus Unum" (CCE 1994: 25). 2. Bangsa dan NKRI hidup dalam dinamika dan antar hubungan regional dan internasional. Bangsa Indonesia adalah bagian dari tatanan peradaban dunia modern dalam semangat persahabatan dan kerjasama demi kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dunia abad XXI ditandai era globalisasi – liberalisasi dan postmodernisme (pasca modernisme). Dunia demikian menjadi medan adu kekuatan. Negara adidaya, dipelopori Amerika Serikat dan Unie Eropa bergerak pesat merebut supremasi (keunggulan) politik, ekonomi, budaya dan ipteks serta militer (hankam). Kita menyaksikan bagaimana USA dan Unie Eropa bersama negara-negara industri maju lainnya (Jepang, RRC, Australia) terus mendominasi politik dan ekonomi dunia. Kapitalisme – liberalisme menggoda dan melanda dunia! 21
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

3.

4.

5.

Khusus dalam NKRI mulai era reformasi, kita mengalami budaya politik liberal dan neo-liberalisme, demokrasi liberal, termasuk ekonomi liberal…. Praktek politik memuja kebebasan (liberalisme, neo-liberalisme) atas nama demokrasi dan HAM. Budaya dan praktek politik mengalami degradasi nasional, degradasi mental dan moral. Atas nama demokrasi dan HAM eks PKI (G.30S/PKI) melalui hujatan pelurusan sejarah, mereka bangkit dengan berbagai gerakan. Ini tantangan atas integritas Pancasila – UUD 45 dan NKRI! Bangsa dan NKRI wajib waspada PKI ---sekarang terkenal sebagai Komunis Gaya Baru atau KGB--- adalah penganut marxisme-komunisme-atheisme. Ajaran ini bertentangan dengan dasar negara Pancasila yang beridentitas theismereligious! Tegakkan asas moral theisme-religious sebagai benteng menghadapi marxisme-atheisme. Kekuatan neo-liberalisme yang hanya memuja kebebasan dan materi (kapitalisme), yang berwatak moral individualisme-sekularisme sinergis dengan marxisme-komunisme-atheisme yang memuja materi (materialisme) dan etatisme (memuja: kedaulatan negara, negara = hanya ada satu partai politik dalam negara, partai komunis sebagai partai negara)! Dalam sistem negara komunis tidak ada demokrasi atau kedaulatan rakyat; yang ada hanya kedaulatan negara yang dilaksanakan dengan otoritas tunggal partai negara! Tidak ada moral Ketuhanan dan agama, karena marxisme = atheisme! Karenanya, "tujuan menghalalkan semua cara!" Secara filosofis-ideologis PKI melakukan gerakan separatisme ideologi (= mengkhianati ideologi nasional). Tantangan nasional yang amat mendesak: bagaimana rakyat dan negara kita mengatasi tantangan sosial ekonomi yang menghimpit bangsa: kemiskinan, pengangguran; pendidikan biaya mahal; konflik horisontal sampai anarchisme. Jadikan program PNP, sinergis dengan PKn untuk meningkatkan mental-moral SDM Indonesia sebagai warga negara unggul-kompetitif-terpercaya (ksatria dan bhayangkari negara Pancasila). Tantangan dan Ancaman Ideologi Marxisme-komunisme-atheisme

B.

VIII. SEJARAH PKI DAN REVOLUSI INDONESIA A. Pengkhianatan PKI

B. NKRI Sebagai Sistem Kenegaraan Pancasila Bukti pemberontakan PKI: 1948 + 1965. Bukti G.30S/PKI adalah strategi PKI merebut NKRI Pancasila menjadi negara komunis Indonesia

VIII. PEMBUDAYAAN FILSAFAT PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA A. Menegakkan Sistem Kenegaraan Pancasila

B.

Visi – Misi PNDP/PNP dan PKn 22
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Dengan wawasan nasional dalam NKRI sebagai negara bangsa (nation state) maka program PNP adalah mendasar dan mendesak sebagai strategi nasional untuk menjamin dan memantapkan integritas sistem kenegaraan (berdasarkan) Pancasila – UUD 45. Karenanya, visi-misi PNP dapat sinergis dengan PKn dan dimantapkan secara nasional oleh lembaga-lembaga lintas departemental dan non-departemental. Khusus pembudayaan nilai dasar negara Pancasila (PNDP), PNP dan PKn dalam lembaga kependidikan dan lembaga nasional merupakan pembinaan mental dan moral SDM Indonesia. Visi-misi ini sinergis dengan visi-misi nation and character building. Hanya dengan visi-misi demikian, SDM Indonesia akan unggul terpercaya sebagai bhayangkari nilai dasar negara Pancasila dan NKRI sebagai sistem kenegaraan Pancasila. Gagasan nasional yang mendasar dan mendesak ini cukup sinergis dengan asasasas fundamental dan konstitusional NKRI sejak G.30S/PKI yang secara filosofisideologis telah melakukan gerakan separatisme ideologi. Mengingat PKI menganut ajaran marxisme-komunisme-atheisme yang berwatak materialisme-etatisme, maka sistem kenegaraan Pancasila secara niscaya tidak mungkin mereka terima atau kita menerima mereka. Artinya, akan terjadi kondisi dialektika politik dan ideologi di dalam NKRI. Itu berarti, mereka akan selalu melakukan revolusi di dalam kehidupan nasional kita; berjuang mendirikan negara di dalam negara (NKRI sebagai sistem negara Pancasila): merongrong kewibawaan dan integritas negara Pancasila ---sehingga rakyat tidak akan pernah tenteram, rukun bersatu untuk membangun masa depan yang adil – beradab dan bermartabat---. Manakala mereka tidak dihadapi dengan kaidah filosofis-ideologis dan konstitusional yang mantap, mereka akan terus menjadi tantangan nasional (= duri dalam daging, kanker dalam tubuh NKRI). Misalnya seperti gerakan neo-PKI dan KGB yang bangkit melalui upaya (pembentukan) Papernas di seluruh nusantara mendapat tantangan; terutama dari rakyat yang setia membela dasar negara Pancasila. Tanpa perlawanan kita, mereka akan benar-benar bangkit dan menodai negara Pancasila. Perlawanan rakyat di berbagai kota, dihujat Papernas sebagai melawan asas demokrasi dan HAM. Juga perlawanan kelompok pembela Pancasila dituduh bertindak anarchis! Karena itulah, seharusnya aparatur negara (Kejaksanaan Agung dan Polri) bertindak tegas menegakkan asas-asas normatif tersebut di bawah ini, demi integritas, otoritas dan supremasi hukum NKRI sebagai negara hukum! Sebaliknya, aparatur negara jangan sampai lalai, membiarkan rakyat yang menentang neo-PKI dan KGB ---sehingga seperti membiarkan anarchisme---; padahal justru, rakyat itulah yang membela dan mengawal NKRI dan dasar negara Pancasila – UUD 45. Berdasarkan analisis filosofis-ideologis demikianlah, maka kaidah fundamental dan konstitusional berikut wajib ditegakkan oleh NKRI sebagai negara hukum; terutama: 1. Bahwa filsafat dan ideologi Pancasila memancarkan integritas sebagai sistem filsafat dan ideologi theisme-religius. Artinya, warga negara RI senantiasa menegakkan moral dan budaya politik yang adil dan beradab yang dijiwai moral Pancasila. 2. UUD Proklamasi seutuhnya memancarkan nilai filsafat Pancasila: mulai Pembukaan, Batang Tubuh (hayati: pasal 29) dan Penjelasan UUD 45. 3. Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966 dan dikukuhkan Tap MPR RI No. I/MPR/2003 Pasal 2 dan Pasal 4. 4. Tap MPR RI No. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa; dan Undang Undang No. 27 tahun 1999 tentang Keamanan Negara. Asas normatif 1 – 5 mengandung nilai menegakkan ideologi Pancasila dan menangkal separatisme ideologi. Artinya, meningkatkan ketahanan mental ideologi dan ketahanan nasional. Amanat dan kewajiban menegakkan kaidah fundamental konstitusional di atas dijiwai dan dilandasi kesadaran hak asasi manusia (HAM) berdasarkan filsafat Pancasila, yang menegakkan asas keseimbangan HAM dan KAM (kewajiban asasi manusia). Maknanya, KAM berdasarkan filsafat Pancasila ialah mengakui bahwa HAM adalah anugerah dan amanat Allah Yang Maha Kuasa. 23
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Integritas dan martabat kepribadian manusia ialah yang menunaikan dan menegakkan KAM lebih dahulu, sebelum menuntut HAM! (Hayati skema 1, terlampir). Keseluruhan ketentuan filosofis-ideologis dan konstitusional ini belum ditegakkan baik oleh lembaga-lembaga tinggi negara (Presiden-MPR-DPR, MA-MK, DPD) bahkan juga oleh Menkopolhukam, Jaksa Agung dan Kapolri ---yang kita saksikan sering terjadi bentrokan massa antara rakyat pembela Pancasila dengan gerakan neo-PKI (KGB) yang dipelopori PRD dan Papernas. Semoga keprihatinan nasional atas fenomena sosial politik era reformasi yang memuja kebebasan atas nama demokrasi dan HAM…….jangan sampai meruntuhkan NKRI sebagai sistem kenegaraan Pancasila! Benteng nasional NKRI yang dijiwai wawasan nasional, kesetiaan dan kebanggaan kepada nilai dasar negara Pancasila hendaknya menjadi asas moral dan sumber energi perjuangan generasi penerus sebagai ksatria dan bhayangkari NKRI. Bagian dari kurikulum dasar (kurikulum inti) sebagai matakuliah pembinaan kepribadian (MKPK) ialah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) secara umum (universal) tiap bangsa memberikan civics education. Jadi, PKn adalah pendidikan nilai kebangsaan dan kenegaraan yang imperatif; atau visi-misi keniscayaan tiap bangsa dan negara. Demi integritas dan kejayaan NKRI maka nilai-nilai fundamental berikut secara niscaya ditanamkan dan dibudayakan bagi SDM generasi penerus bangsa: 1. Rakyat Indonesia secara geografis hidup dalam kesatuan nusantara, dengan karakter sosio-psikologis dan sosio-budaya nusantara terintegrasi dengan bahasa nusantara (Melanesia, Melayu); dan melalui Sumpah Pemuda mengakui sebagai bahasa nasional Indonesia. Maknanya secara natural dan kultural bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. 2. Sari dan puncak sosio-budaya dengan bahasa nasional Indonesia; sosio-psikologis terbentuk sebagai jatidiri bangsa (jiwa bangsa dan jatidiri nasional) berkat nilai asas kerokhanian bangsa (filsafat hidup, Weltanschauung) Pancasila memancarkan jiwa dan kepribadian bangsa (jatidiri nasional) dengan nilai kekeluargaan dan moral Ketuhanan sebagai bangsa Indonesia yang adil dan beradab (bermartabat). 3. PPKI menjelang Proklamasi mufakat menetapkan filsafat hidup Pancasila sebagai dasar negara (ideologi negara, ideologi nasional) secara filosofis-ideologis terumus sebagai Hukum Dasar di dalam Pembukaan UUD 45. Nilai-nilai fundamental dalam Pembukaan UUD 45 terjabar secara konstitusional dalam Batang Tubuh (Pasal-pasal) seutuhnya. (Karenanya nilai fundamental dalam Hukum Dasar/Pembukaan bersifat tetap). 4. Dasar negara Pancasila secara imperatif menjadi tatanan kebangsaan dan kenegaraan NKRI. Maknanya, mulai ajaran HAM bersumber dari filsafat Pancasila, terjabar dalam asas negara berkedaulatan rakyat (= demokrasi berdasarkan moral Pancasila), NKRI sebagai negara hukum sampai tata ekonomi nasional berdasarkan Pancasila (= keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). Kaidah fundamental ini adalah asas, identitas dan integritas sistem kenegaraan NKRI berdasarkan Pancasila – UUD 45. 5. Tatanan kelembagaan negara dan tata kepemimpinan nasional sepenuhnya berkewajiban (= imperatif) menegakkan asas normatif dasar negara dalam kaidah fundamental negara (Pembukaan UUD 45). Visi-misi demikian dididikkan kepada generasi muda bangsa sebagai warga negara penegak dan pewaris NKRI berdasarkan Pancasila – UUD 45. Tantangan dalam V. A + B atas tegaknya integritas NKRI sebagai sistem kenegaraan Pancasila dapat dihayati dalam skema 2 terlampir. Pokok pikiran dalam bahasan V. A + B ini dapat dikembangkan dan dijabarkan sebagai materi pokok yang diprioritaskan dalam PNP dan PKn melalui lembaga pendidikan mulai pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Pengembangannya secara normatif-filosofis-ideologis dan konstitusional terkandung dalam potensi nilai-nilai sistem filsafat dan ideologi dunia modern yang berwatak kompetitif merebut supremasi dunia. 24
MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Tujuan dan nilai dalam uraian ini kiranya dapat dijadikan bahan pertimbangan para guru dan pendidik dalam upaya kita mengantarkan anak didik menjadi warga negara yang dicita-citakan dalam NKRI tercinta. Lebih-lebih dalam keluarga; dan kelembagaan negara yang menjadi penegak kemerdekaan dan kedaulatan serta integritas sistem kenegaraan Pancasila-UUD 45. Semoga bangsa dan NKRI berdasarkan Pancasila – UUD 45 senantiasa dalam pengayoman Tuhan Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Kuasa, Yang menganugerahkan dan mengamanatkan kemerdekaan nasional dalam integritas NKRI. Amien.

Malang, 2008 Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang Ketua Prof. Dr. Mohammad Noor Syam, SH

25

MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Kepustakaan

Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and Government, Calabasas, California, U.S Departement of Education. Dake, Antonie CA 2006: Soekarno File (Berkas-berkas Soekarno 1965-1967 Kronologi suatu Keruntuhan, cetakan IV) . Jakarta, Aksara Karunia Edwards, Paul (editor), 1972: The Encyclopaedia of Philosophy, vol. 1 – 8, New York, MacMillan Publishing Co. Inc & The Free Press. Encyclopaedia Britannica, Micropaedia 1982, vol. 7 – 8, Chicago, The University of Chicago. Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4, Bandung, Penerbit Alumni. Karl Marx & Engels 1955: On Religion ( 2nd edition) Moscow, Foreign Language Publishing House. Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition), Glasgow, Bell & Bain Ltd. Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum (sebagai Landasan Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III, Malang, Laboratotium Pancasila. Moeljanto, Ds.DS& Taufiq Ismail 1945: Prahara Budaya (cetak III). Jakarta, Penerbit Yayasan Titik Infinatun ------------------ 2000: Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan SosioKultural, Filosofis dan Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila. Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to Jurisprudence, San Francisco, Westview Press. Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe, Zurich/Koln Verlagsanstalt Benziger & Co. AC. Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara, cetakan ke-6. Sartono Kartodirdjo dkk 1977: Sejarah Nasional Indonesia V-VI, Jakarta Depdikbud, Balai Pustaka. Taufiq Ismail 2004 2004: Kertas Trofi Mendunia Marxisme Leninisme, Stalinisme, Maonisme Narkoba. Jakarta, Penerbit Yayasan Titik Infinatun UNO 1988: HUMAN RIGHTS, Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang berlaku. (1966; 2001, 2003) UUD Proklamasi 1945; UUD 45 (Amandemen) 1999 – 2002 UU No. 27 tahun 1999; dan UU No. 20 tahun 2003 Victor Di Fic 2005: Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi (terjemah) Jakarta, Yayasan Obor Indonesia

26

MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard College, University Press.

NU Hasyim Asy’ari (1871-1947) L 31-1-1926

+ Taman Siswa 3-7-1922 by Ki Hadjar Dewantara Kepustakaan +

* Tokoh-tokoh PKI otak & pelaksana G30S/PKI DN Aidit Ketua OC PKI Lukman, Njoto, Sakirman, Sudisman

27

MNS-Lab. Pancasila-UM-2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->