P. 1
Azbabun Nuzul - Sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Quran

Azbabun Nuzul - Sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Quran

|Views: 1,609|Likes:
Published by sambelijo
Azbabun Nuzul - Sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Quran
Azbabun Nuzul - Sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Quran

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: sambelijo on Dec 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2013

pdf

text

original

TUGAS PELAJARAN AGAMA ISLAM

ASBABUN NUZUL
DAN SEBAB-SEBAB TURUNNYA
SURAT AT-TIN (QS 95)















DISUSUN OLEH:

xxxxxxxxx xxxxxxxxxxx
KELAS: xxxxxxx
NO. ABSEN: xxxx








SEKOLAH XXXXXXXXXX
2012

ASBABUN NUZUL

Pengertian Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul secara bahasa berarti sebab turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. Sebagaimana
diketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan Allah SWT selama masa 22 tahun 2 bulan dan 22
hari atau lebih kurang 23 tahun. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT pada dasarnya
adalah untuk memperbaiki aqidah, ibadah, akhlak dan pergaulan manusia yang telah
menyimpang dari rel kebenaran. Oleh karena itu secara bahasa sebenarnya penyebab
turunnya Al-Qur’an adalah karena kerusakan dan penyimpangan aqidah, ibadah, akhlak
dan tata pergaulan ummat manusia. Namun demikian bukanlah ini yang dimaksud dalam
pembahasan makalah ini, sebab ini adalah sifatnya umum.

Adapun pengertian Asbabun Nuzul secara Ishtilahi sebagaimana disebutkan oleh Shubhi
Al-Shalih dalam bukunya Mabahits Fi ‘Ulumil Qur’an adalah sesuatu yang dengan
sebabnya turun suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi
jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab
tersebut.

Definisi yang dikemukakan oleh Shubhis Shalih tersebut memberikan pengertian bahwa
sebab turun ayat adakalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan.
Oleh karena itulah maka setiap turun suatu ayat atau beberapa ayat, hal itu adalah untuk
menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan peristiwa atau sebagai jawaban atas suatu
pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW. Namun demikian tidak semua
ayat Al-Qur’an itu turun dengan adanya Asbabun Nuzul, sebab banyak juga ayat-ayat Al-
Qur’an yang turun tanpa sebab dan bahkan banyak ayat-ayat yang berkaitan dengan
keimanan, kewajiban, syari’at agama dan kissah para Nabi dan Rasul terdahulu turun
tanpa sebab.

Memang harus diakui bahwa ada sebagian sahabat seperti Ali Ibn Abi Thalib, Ibn Mas’ud
dan lainnya yang menyatakan bahwa tidak suatu ayatpun diturunkan kecuali salah
seorang mereka mengetahui tentang apa ayat itu diturunkan, tentang siapa ayat itu
diturunkan, dan dimana ayat itu diturunkan. Pernyataan ini tidak perlu ditanggapi secara
leterlek sebab merupakan suatu hal yang masuk akal bahwa tidak semua Asbabun Nuzul
ayat Al-Qur’an itu mereka saksikan. Untuk itu pernyataan mereka itu harus dipahami
melalui beberapa kemungkinan, yaitu :

1. Mereka bermaksud mengungkapkan betapa kuatnya perhatian mereka terhadap
Al-Qur’an dan mengikuti setiap keadaan yang berhubungan dengannya.

2. Mereka berbaik sangka dengan segala apa yang mereka dengar dan saksikan pada
masa Rasul dan menginginkan agar orang mengambil apa yang mereka ketahui itu
sehingga tidak akan lenyap dengan berakhirnya hidup mereka.

3. Para periwayat menambah dalam periwayatannya dan membangsakannya kepada
sahabat.

1
Drs. H. Ramli Abdul Wahid, MA dalam bukunya Ulumul Qur’an menyebutkan bahwa
sebab-sebab turun ayat yang berhubungan dengan peristiwa ada tiga macam dan yang
berhubungan dengan pertanyaan juga ada tiga macam.

Adapun sebab-sebab turun ayat yang berhubungan dengan pertanyaan adalah sebagai
berikut :

1. Peristiwa berupa pertengkaran, seperti perselisihan yang berkecamuk antara
segolongan dari suku Aus dan segolongan dari suku Khazraj. Perselisihan itu
timbul dari intrik-intrik yang ditiupkan orang-orang Yahudi sehingga mereka
berteriak-teriak : “Senjata, senjata”, maka turunlah Al-Qur’an Surat Ali Imran
ayat 100.

2. Peristiwa berupa kesalahan yang serius, seperti peristiwa seorang yang
mengimami sholat sedang mabuk sehingga tersalah membaca surah Al-Kafirun,
sehingga turunlah Al-Qur’an surat Al-Nisa’ ayat 42.

3. Peristiwa itu berupa cita-cita dan keinginan, seperti persesuaian-persesuaian
(muwafaqat) Umar Ibn Al-Khaththab dengan ketentuan ayat-ayat Al-Qur’an.
Dalam sejarah, ada beberapa harapan Umar yang dikemukakannya kepada Nabi
Muhammad SAW, kemudian turunlah ayat yang sesuai dengan harapan-harapan
Umar tersebut. Sebagai contoh adalah keinginan Umar Ibn Khaththab untuk
menjadikan Makam Ibrahim sebagai tempat shalat, maka turunlah ayat yang
memerintahkan untuk melaksanakan sholat di Makam Ibrahim.

Adapun sebab-sebab turun ayat yang berkaitan dalam bentuk pertanyaan adalah terbagi
tiga macam, yaitu :

1. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang telah lalu, seperti ayat
pertanyaan tentang Zul Karnain, “Mereka bertanya kepadamu tentang Zul
Karnain”.

2. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada
waktu itu, seperti pertanyaan tentang ruh, “Dan mereka bertanya kepadamu
tentang ruh, katakanlah bahwa urusan ruh itu adalah urusan Tuhanku, dan kamu
tidak diberi ilmu kecuali yang sedikit”.

3. Pertaanyaan yang berhubunagn dengan masa yang akan datang, seperti pertanyaan
tentang kapan terjadinya Hari Kiamat, “Mereka bertanya kepadamu tentang Hari
Kiamat, Bila terjadinya ?”.


Ungkapan-ungkapan Asbabun Nuzul

Para sahabat dalam menyampaikan sebab-sebab turunnya ayat memiliki ungkapan-
ungkapan yang berbeda-beda antara satu sama yang lain. Ungkapan-ungkapan itu dapat
dikelompokkan sebagai berikut :

2
1. Sebab-sebab nuzul ayat diungkapkan secara jelas seperti dengan ungkapan “Sebab
turun ayat ini adalah demikian”. Ungkapan ini sangat jelas, definitif dan pasti serta
tidak mengandung makna lain.

2. Sebab nuzul tidak ditunjukkan dengan lafal sebab, tetapi dengan mendatangkan
lafal “fa” yang masuk kepada ayat dimaksud secara langsung setelah pemaparan
satu peristiwa atau kejadian.Ungkapan seperti ini juga menunjukkan bahwa
peristiwa itu adalah sebab bagi turunnya ayat tersebut. Hal ini sebagaimana dapat
dilihat dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah (2) ayat 223.

3. Sebab nuzul dapat dipahami secara pasti dari konteksnya. Dalam hal ini Rasul
ditanya orang, maka ia diberi wahyu dan menjawab pertanyaan itu dengan ayat
yang baru diterimanya. Para mufassir tidak menunjukkan sebab turunnya dengan
lafal Asbabun Nuzul dan tidak dengan mendatangkan “fa”, akan tetapi Asbabun
Nuzulnya dipahami melalui konteks dan jalan ceritanya, seperti sebab turunnya
ayat tentang ruh.

4. Sebab nuzul tidak disebutkan dengan ungkapan sebab secara jelas, tidak dengan
mendatangkan “fa” yang menunjukkan sebab, dan tidak pula merupakan jawaban
yang dibangun atas dasar pertanyaan, namun ungkapan itu mengandung makna
sebab dan makna lainnya, yaitu tentang hukum kasus atau persoalan yang sedang
dihadapi. Apabila hal ini yang terjadi maka para ulama tafsir berbeda pendapat,
ada yang menyatakan bahwa yang diambil adalah mengenai hukum ini bukan
mengenai sebab turun ayat ini, hal ini sebagaimana dikemukan oleh Al-Zarkasyi.
Namun menurut Al-Zarqani, satu-satunya jalan untuk menentukan salah satu dari
dua makna yang terkandung dalam ungkapan itu adalah konteks pembicaraannya.
Dan nampaknya pendapat Al-Zarqani ini adalah merupakan jalan tengah atas dua
kutub perbedaan pendapat dalam masalah ini.


Peranan Asbabun Nuzul

Untuk memahami Al-Qur’an sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk
dalam hidup dan kehidupan sehari-hari sangatlah diperlukan pengetahuan tentang
Asbabun Nuzul sebab dengan mengetahui Asbabun Nuzul kita dapat memahami makna
yang terkandung secara utuh dari ayat suci Al-Qur’an itu. Al-Qur’an memang adalah
merupakan kalamullah dan dia sudah ada sebelum peristiwa, kejadian atau pertanyaan
ada, namun fakta menunjukkan bahwa setiap ayat suci Al-Qur’an turun maka hal itu tidak
terlepas dari situasi dan kondisi saat itu, baik itu berupa peristiwa maupun berupa
pertanyaan yang dialamatkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Untuk meyakinkan kita betapa pentingnya pengetahuan tentang asbabun nuzul ini para
ulama mufassirin telah banyak menulis buku-buku tentang Asbabun Nuzul dan
menekankan betapa pentingnya pengetahuan tentang Asbabun Nuzul dalam rangka untuk
memahami Al-Qur’an secara utuh dan benar. Mereka itu antara lain adalah Al-Wahidi
berkata : “Tidak mungkin kita mengetahui penafsiran ayat Al-Qur’an tanpa mengetahui
kisahnya dan sebab turunnya”. Hal yang sama dikemukakan oleh Ibn Daqiq Al-‘id
berkata : “Menjelaskan sebab turun ayat adalah jalan yang kuat dalam memahami makna
Al-Qur’an”. Sementara itu Ibnu Taimiyah berkomentar : “mengetahui alasan (sabab)
3
penurunan membantu dalam memahami ayat karena pengetahuan tentang sebab (sabab)
menghasilkan pengetahuan tentang yang disebabkan (akibat).

Komentar mereka ini memang dapat dimaklumi sebab Asbabun Nuzullah yang dapat
menjelaskan siapa pelaku sejarah turunnya ayat, bagaimana rentetan kejadiannya, dan
seterusnya. Alhasil dengan memahami Asbabun Nuzul, kita mengetahui aspek historis
penafsiran Al-Qur’an.

Adapun kegunaan yang diperoleh dalam mengetahui Asbabun Nuzul dalam kaitannya
dengan memahami makna daripada ayat-ayat suci Al-Qur’an antara lain adalah sebagai
berikut :

1. Mengetahui hikmah (rahasia) dan tujuan Allah secara khusus dalam
mensyari’atkan agamaNya yang terkandung di balik ayat-ayat yang
mempersoalkan syari’at (hukum). Misalnya kita dapat memahami lewat
pengetahuan Asbabun Nuzul kenapa judi, riba, memakan harta anak yatim itu
diharamkan. Sebaliknya bagaimana Allah mula-mula mensyari’atkan sholat
Khouf (sholat yang dilakukan waktu situasi gawat/perang), kenapa tidak boleh
melakukan sholat jenazah atas orang musyrik, bagaimana pembagian harta
rampasan perang, dan sebagainya. Hampir semua aspek hukum itu mengandung
aspek filosofis yang sebagian di antara dapat diketahui lewat pengertian tentang
Asbabun Nuzul.

2. Mengetahui pengecualian hukum (takhshish) terhadap orang yang berpendirian
bahwa hukum itu harus dilihat terlebih dahulu dari sebab-sebab yang khusus.

3. Mengetahui Asbabun Nuzul adalah cara yang paling kuat dan paling baik dalam
memahami pengertian ayat, sehingga para sahabat yang paling mengetahui
tentang sebab-sebab turunnya ayat lebih didahulukan pendapatnya tentang
pengertian dari satu ayat, dibandingkan dengan pendapat sahabat yang tidak
mengetahui tentang sebab-sebab turunnya ayat.

4. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul membantu dalam memahami ayat dan
menghindarkan kesulitannya, sebagai contoh adalah dalam memahami ayat Al-
Qur’an : “Dan bagi Allah timur dan barat maka kemana sajapun kamu menghadap
maka di sana wajah Allah, sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha
Mengetahui”. Ayat ini sepintas kilas membicarakan bolehnya orang melaksanaka
sholat dengan mengahadap kemana saja yang ia sukai, padahal ayat ini berbicara
untuk orang yang mengerjakan sholat sunnat dalam suasana musafir dimana ia
tidak mengetahui arah kiblat secara pasti atau orang yang sholat dengan ijtihadnya
dimana dia juga tidak mengetahui arah kiblat secara pasti. Dalam suasana yang
seperti ini maka orang sah melaksanakan sholat menghadap kemana saja.

5. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul dapat menolak dugaan adanya hashr
(pembatasan) dalam ayat yang menurut lahirnya mengandung hashr (pembatasan),
tetapi sebetulnya bukanlah pembatasan, sebagai contoh adalah Al-Qur’an Surat
Al-An’am ayat 145 dalam hal makanan yang diharamkan.

6. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul dapat mengkhususkan (takhshish) hukum
pada sebab menurut ulama yang memandang bahwa yang mesti diperhatikan
4
adalah kekhususan sebab dan bukan keumuman lafal. Hal ini sebagaimana pada
ayat-ayat tentang zhihar (suami menyerupakan istrinya dengan ibunya, seperti ia
berkata pada istrinya, “Punggungmu seperti punggung ibuku) yang terdapat pada
permulaan Surat Al-Mujadalah, dimana sebab turunnya adalah Aus Bin Shamit
yang menzhihar istrinya Khaulah Binti Hakam Ibn Tsa’labah. Menurut pandangan
ini, hukum yang berlaku pada ayat ini khusus untuk kasus ini. Dan adapun hukum
yang berlaku bagi selainnya dapat diketahui pada dalil-dalil yang lain.

7. Dengan mempelajari Asbabun Nuzul diketahui pula bahwa sebab turun ayat tidak
pernah keluar dari hukum yang terkandung dalam ayat tersebut sekalipun datang
mukhashshishnya (yang mengkhususkannya). Hal ini didasarkan atas Ijma’ yang
menyatakan bahwa hukum sebab tetap selama-lamanya.

8. Dengan Asbabun Nuzul diketahui orang ayat tertentu yang turun padanya secara
tepat sehingga tidak terjadi kesamaran, sebab kesamaran bisa membawa kepada
penuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan bagi orang yang
bersalah.

9. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul akan mempermudah orang menghafal ayat-
ayat Al-Qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang
mendengarnya jika ia mengetahui sebab turunnya, sebab pertalian antara sebab
dan musabbab, hukum dan peristiwanya, peristiwa dan pelaku, masa dan
tempatnya, semua ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan mantapnya dan
terlukisnya sesuatu dalam ingatan.

Dari kesembilan manfaat yang diperoleh dalam pentingnya memahami Asbabun Nuzul
tersebut di atas kesemuanya adalah memiliki hubungan yang erat dengan kepentingan
menafsirkan Al-Qur’an dan mengistimbatkan hukum daripadanya, kecuali hanya nomor
sembilan yang adalah merupakan pelengkap saja, namun demikian tetap memagang
peranan yang cukup penting bagi seorang yang ingin menadalami dan memahami isi
kandungan Al-Qur’an.

Kesimpulan

Atas dasar pembahasan hal-hal tersebut di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :

1. Asbabun Nuzul adalah satu bidang ilmu pengetahuan yang membeicarakan
tentang sebab-sebab turun suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab
itu, atau memberi jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada
masa terjadinya sebab tersebut.

2. Ilmu Asbabun Nuzul memagang peranan yang sangat penting dalam memahami
Al-Qur’an secara utuh dan benar, sehingga merupakan persyaratan yang sangat
penting bagi seorang yang ingin menafsirkan Al-Qur’an.***


Sumber: http://riau.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=10114


5
SEBAB-SEBAB TURUNNYA QS. AT-TIIN



È⎦⎫ÏnG9#´ρ ÈβθçG÷ƒ¨“9#´ρ ∩⊇∪ Í‘θèÛ´ρ ⎦⎫ÏΖÅ™ ∩⊄∪ #‹≈δ´ ρ Ï$#7ø9# Â⎥⎫ÏΒ{# ∩⊂∪ ô‰) 9 $´Ζø)={ ´⎯≈¡Σ¸}#
þ’Îû Ç⎯¡ôm& 5ΟƒÈθø)? ∩⊆∪ ¢ΟèO çμ≈Ρ÷ŠŠ´‘ Ÿ≅ó™& ⎦,Î#Ï≈™ ∩∈∪ ωÎ) ⎦⎪Ï%©!# #θãΖΒ#´™ #θè=ÏΗå´ ρ ÏM≈sÎ=≈¢Á9#
óΟßγ=ù íô_& çö î 5βθãΨøÿ Ε ∩∉∪ $ϑ ù 7ç/Éj‹ 3ム߉÷è/ È⎦⎪Ïe$!$Î/ ∩∠∪ ´§øŠ9& ´!# È/3ôm'Î/ ⎦⎫ÉΚÅ3≈tø:# ∩∇∪

1. demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1587],
2. dan demi bukit Sinai[1588],
3. dan demi kota (Mekah) ini yang aman,
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka
pahala yang tiada putus-putusnya.
7. Maka Apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah
(adanya keterangan-keterangan) itu?
8. Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?

[1587] Yang dimaksud dengan Tin oleh sebagian ahli tafsir ialah tempat tinggal Nabi
Nuh, Yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan zaitun ialah Baitul Maqdis yang
banyak tumbuh Zaitun.
[1588] Bukit Sinai Yaitu tempat Nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Tuhannya.



Tentang sebab turunnya ayat ini, Ibnu Jarir meriwayatkan dari al-‘Ufi dari Ibnu Abbas
yang berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan beberapa orang di zaman Rasulullah
yang dipanjangkan umurnya hingga menjadi pikun. Orang-orang lalu bertanya tentang
(perkataan dan perbuatan) mereka ketika pikiran mereka telah tidak berfungsi lagi. Allah
lalu menerangkan bahwa mereka mendapat pemaafan. Artinya, mereka hanya diganjar
dari apa yang mereka kerjakan ketika pikiran mereka masih sehat dan baik”

Sumber: Asbabun nuzul (Jalaluddin as-Suyuthi, 2008).
6


Buah Tin (Ficus Carica)
Gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4a/Ficus_carica8.jpg




Buah Zaitun (Olive)
Gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/84/Olivesfromjordan.jpg


7
Referensi:

1. http://riau.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=10114
2. As-Suyuthi, Jalaluddin. 2008. Asbabun nuzul: sebab turunnya ayat al-qur’an. Jakarta:
Gema Insani.


Sumber gambar:

1. Buah Tin: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/4a/Ficus_carica8.jpg
2. Buah Zaitun:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/84/Olivesfromjordan.jpg


8

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->