P. 1
MAKALAH AKHLAK TASAWUF

MAKALAH AKHLAK TASAWUF

|Views: 1,311|Likes:
Published by Psb Diki

More info:

Published by: Psb Diki on Dec 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2014

pdf

text

original

MAKALAH AKHLAK TASAWUF “Akhlak Tasawuf Akhlaqi dan Akhlak Tasawuf Amali”

Kelompok 4 : • • • • • • • Armila Sofi S Diah Rosmiati Diki Cahyana Dita Eka Winanti Eka Wartika Irma Nurhayati Jafar Aziz Permana 1211702007 1211702015 1211702018 1211702019 1210703010 1211702040 1211702042

Biologi III A

BIOLOGI SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadarat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-Nya kami bisa merampungkan makalah ini yang berjudul “”. Tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang mendukung sehingga makalah yang merupakan tugas kuliah, selesai tepat pada waktunya dan dipersentasikan sebagai pertanggungjawaban kami dalam membuat makalah ini. Terima kasih kepada Dosen yang telah membimbing kami sampai kami bisa menyelesaikan tugas yang diberikan. Makalah ini tidak akan rampung jika tidak ada kesolidan di dalam kelompok.

Bandung, 28 November 2012

Penulis

Daftar Isi Kata Pengantar……………………………………………………………………………… Daftar Isi……………………………………………………………………………………. Bab I. Pendahuluan………………………………………………………………………… Latar Belakang……………………………………………………………………………… Rumusan Masalah…………………………………………………………………………. Tujuan……………………………………………………………………………………… Bab II. ISI…………………………………………………………………………………… Bab III. Penutup…………………………………………………………………………….... Kesimpulan…………………………………………………………………………………. Referensi……………………………………………………………………………………

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sejarah perkembangan tasawuf, para ahli membagi tasawuf menjadi dua, yaitu tasawuf yang mengarah pada perilaku dan tasawuf yang mengarah pada teori-teori perilaku dan tasawuf yang mengarah pada teori-teori yang rumit dan memerlukan pemahaman mendalam. Tasawuf pertama sering disebut tasuwuf akhlaqi. Ada yang menyebutkan tasawuf yang sering dikembangkan oleh kaum salaf. Adapun tasawuf yang berorientas ke arah kedua disebut tasawuf falsafi. Tasawuf banyak dikembangakan para sufi yang berlatar belakang sebagai filosof di samping sebagai sufi. Pembagian dua jenis tasawuf di atas didasarkan atas kecenderungan ajaran yang dikembangkan, yakni kecenderungan pada perilaku atau moral keagamaan dan kecenderungna pada pemikirin. Kajian yang berkenaan dengan akhlak ini menjadikan tasawuf terlihat sebagai amalan yang sangat sederhana dan mudah dipraktekkan oleh semua orang. Kesederhanaannya dilihat dari kemudahan landasan-landasan atau alur befikirnya. Tasawuf pada alur yang sederhana ini kelihatannya banyak ditampilkan oleh kaum salaf. Perhatian mereka lebih tertuju pada realitas pengamalan Islam dalam praktek yang lebih menekankan perilaku manusia yang terpuji. Dengan munculnya para sufi yang juga filosofi, orang mulai membedakannya dengan tasawuf yang mula-mula berkembang, yakni tasawuf akhlaqi. Kemudian, tasawuf akhlaqi ini diidentikkan dengan tasawuf sunni. Hanya saja, titik tekan penyebutan tasawuf sunni dilihat pada upaya yang dilakukan oleh sufi-sufi yang memegari tasawufnya dengan Al-Quran dan AsSunnah. Dengan demikian terbagi menjadi dua, yaitu sunni yang lebih berorientasi pada pengokohan akhlak, dan tasawuf falsafi, yakni aliran yang menonjolkan pemikiran-pemikiran filosofis dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya (syathahiyat) dalam ajaran-ajaran yang dikembangkannya. Ungkapan-ungkapan syathahiyat itu bertolak dari keadaan yang fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan ataupun hulul. Dalam pengertian ini, Tasawuf Amali berkonotasikan tarekat. Tarekat dibedakan antara kemampuan sufi yang satu dari pada yang lain,

ada orang yang dianggap mampu dan tahu cara mendekatkan diri kepada Allah, dan ada orang yang memerlukan bantuan orang lain yang dianggap memiliki otoritas dalam masalah itu. Dalam perkembangan selanjutnya, amalan lahiriah dan latihan olah batiniah dalam usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan melakukan macam-macam amalan yang terbaik serta cara-cara beramal yang paling sempurna. Menurut para sufi, ajaran agama itu mengandung dua aspek, lahiriah dan bathiniyah. Tasawuf Akhlaqi pada mulanya tasawuf itu ditandai dengan ciri-ciri psikologis dan moral, yaitu pembahasan analisis tentang jiwa manusia dalam upaya menciptakan moral yang sempurna. Dalam pandangan sufi, ternyata manusia depedensia kepada hawa nafsunya. Manusia dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu pribadi, bukan manusia yang mengendalikan hawa nafsunya. Kenikmatan hidup di dunia menjadi tujuan,bukan lagi sebagai jembatan emas menuju kebahagiaan sejati.efek dari pandangan hidup seperti ini emnuju kearah pertentangan manusia dengan sesama manusia, sikap ethnosentrisme, egoisme, persaingan tidak sehat, sehingga manusia lupa kepada eksistensialnya sebagai hamba Allah. Karena ekspresi manusiawinya sebagian besar dihabiskan untuk persoalan-persoalan duniawi, menyebabkan ingatan dan perhatiannya jauh dari Tuhan. Menurut orang sufi,Untuk merehabilitir sikap mental yang tidak baik tidak akan berhasil apabila terapinya hanya dari aspek lahiriah saja. Itulah sebabnya, pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seorang kandidat diharuskan melakukan amalan dan latihan yang cukup berat, tujuannya adalah untuk menguasai hawa nafsu, untuk menekan hawa nafsu sampai ke titik terendah dan bila memungkinkan mematikan hawa nafsu itu sama sekali. B. Rumusan Masalah 1. Pembagian tasawuf ? 2. Tokoh-tokoh tasawuf dan pemikirannya ? 3. Tujuan Penulisan
a. Agar mengetahui apa itu tasawuf. Tasawuf akhlaqi dan tasawuf amali? b. Mengetahui pembagian tasawuf.

4. Manfaat penulisan • Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah, kita sebagai manusia harus : o Dapat menerapkan dan mempraktekan dari prinsip tasawuf sebagai dasar pola hidup yang sederhana dan tidak tamak.

o Dapat melakukan hubungan yang baik dengan lingkungan, dan kepada tuhannya. o Mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa. C. Tujuan o Dapat menerapkan dan mempraktekan dari prinsip tasawuf sebagai dasar pola hidup yang sederhana dan tidak tamak. o Dapat melakukan hubungan yang baik dengan lingkungan, dan kepada tuhannya. o Dapat membedakan antar taswuf akhlaqi dan tasawuf amali.

BAB II ISI
A. Pengertian Akhlak Tasawuf Akhlaqi

Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang berkonstrasi pada teori-teori perilaku, akhlaq atau budi pekerti atau perbaikan akhlaq. Dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan, taawuf seperti ini berupaya untuk menghindari akhlaq mazmunah dan mewujudkan akhlaq mahmudah. Tasawuf seperti ini dikembangkan oleh ulama’ lama sufi. Dalam pandangan para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental yang tidak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah. Oleh karena itu pada tahaptahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seseorang diharuskan melakukan amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat tujuannya adalah mengusai hawa nafsu, menekan hawa nafsu, sampai ke titik terendah dan -bila mungkin- mematikan hawa nafsu sama sekali oleh karena itu dalam tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem pembinaan akhlak disusun sebagai berikut: • Takhalli Takhalli merupakan langkah pertama yang harus di lakukan oleh seorang sufi. Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah satu dari akhlak tercela yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi. • Tahalli Tahalli adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaum sufi setelah mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela. Dengan menjalankan ketentuan agama baik yang bersifat eksternal (luar) maupun internal (dalam). Yang disebut aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti sholat, puasa, haji dll. Dan

adapun yang bersifat dalam adalah seperti keimanan, ketaatan dan kecintaan kepada Tuhan

Tajalli Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli,

maka rangkaian pendidikan akhlak selanjutnya adalah fase tajalli. Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh – yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur- tidak berkurang, maka, maka rasa ketuhanan perlu dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-Nya. B. PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN TASAWUF ‘AMALI Tasawuf amali adalah menghapus sifat-sifat yang tercela, melintasi semua hambatan itu, dan menghadap total dengan seganap esensi diri hanya kepada Allah SWT. Di dalamnya terdapat kaidah-kaidah suluk (perjalanan tarbiyah ruhiyah), macam-macam etika (adab) secara terperinci, seperti hubungan antara murid dengan shaykh, ‘uzlah dengan khalwah, tidak banyak makan (alju’), mengoptimalkan waktu malam, diam, memperbanyak dzikir, dan semua yang berkaitan dengan kaidah-kaidah suluk dan adab. Pada hakikatnya metode kaum sufi ini hanyalah sebuah lanjutan atau pengembangan dari tasawuf nazari (tasawuf Sunni). Dinamakan tasawuf ‘amali adalah karena sisi amal di dalamnya lebih dominan dari sisi nazari (teori), akan tetapi tidak berarti tasawuf ini kosong dari teori, bahkan sisi ini lebih sempurna dan komprehensip dari sisi pertama. Istilah ‘amali di sini menunjukkan bahwa tasawuf ini telah menjadi sebuah madrasat tariqah (tarbiyah ruhiyah kolektif) yang terorganisir. Tasawuf ini berawal dari sifat zuhud, kemudian tasawuf dan akhlak (Sunni), berakhir kepada sistem tarbiyah kolektif (tariqat jama’i). Inilah akar perkembangan tariqah yaitu semenjak abad keenam dan ketujuh hijriyah. Maka kita dapati tariqah ini adalah sebuah janji antara Shaykh dan muridnya untuk bertaubat, istiqomah, masuk kepada jalan Allah dan

senantiasa mengingat-Nya (al-dhikr), serta beramal dengan etika dan dasar-dasar tariqah yang harus diikuti oleh seorang murid di samping melaksanakan wirid-wirid (rutinitas ibadah), serta al-hizb (gubahan do’a) Shaykh tariqah pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Tasawuf ini menjadi bentuk kolektif setelah sebelumnya berjalan secara individuindividu yang terpisah dan tidak terorganisir. Akhirnya tasawuf ini mereka namakan: “kumpulan individu-individu sufi yang berloyalitas kepada Shaykh tertentu, dan patuh terhadap sistem tarbiyah ruhiyah, hidup secara kolektif di zawiyah, rubbat, dan khanaqah, mengadakan perkumpulan rutin pada kesempatan-kesempatan tertentu, serta mengadakan majlis-majlis ilmu dan dzikir secara teratur. Kajian tasawuf ‘amali ini berkembang pada abad 3 dan 4 H. Pada masa ini terdapat dua kecenderungan para tokoh. Pertama cenderung pada kajian tasawuf yang bersifat ‘amali yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Sunnah. Kedua cenderung pada kajian tasawuf falsafi dan banyak berbaur dengan kajian filsafat metafisika. Dalam lingkungan aliran pertama diantaranya muncul tiga orang penulis aliran tasawuf terkenal yang buku-bukunya masih dapat ditemukan dewasa ini.(1) Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi, seorang penulis kitab besar dan fundamentalis dalam tasawuf berjudul al-Luma’ (2) Abu Talib al-Maki membuktikan keabsahan dari doktrin dan praktik sufi dalam karyanya Qut al-Qulub (3) Abu Bakr al-Kalabazi penulis buku kecil Ta’aruf li Madhhab al-Tasawwuf. Ketiga penulis tersebut telah memperkenalkan doktrin dan praktik tasawuf yang muncul pada abad 4 H dan sebelumnya. Imam terbesar tasawuf ‘amali, yang telah berhasil menyatukan antara teori dan amal adalah Shaykh Abd al-Qodir al-Jilani (470 H/1077 M - 561 H/1166 M), dia adalah orang pertama yang mendirikan madrasah ini dalam bentuk tariqah. Kemudian diikuti oleh Imam Ahmad al-Rifa’i (w.578 H/1106 M), Imam Abu al-Hasan al-Shadhili, dan Imam Baha’ al-Din Muhammad al-Naqshabandi (717-791 M), dan Imam lainya. Mereka adalah ulama-ulama dalam ilmu-ilmu Islam, dan teladan yang baik dalam akhlak yang mulia, serta para murshid yang membimbing untuk sampai kepada ma’rifah kepada Allah SWT dengan al-Qur’an dan alSunnah.

Sehingga menurut penulis, tasawuf ‘amali ini identik dengan aliran tariqah sufiyyah yang didalamnya ada berbagai unsur praktik ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menekankan aspek amaliah. Artinya, dalam melaksanakan tasawuf tidak hanya sekedar teori tetapi juga praktik, sehingga lebih bisa merasakan tujuan utama daripada tasawuf yaitu dekatnya seorang makhluq kepada al-Khaliq. C. Tokoh-tokoh Tasawuf dan Pemikirannya Tasawuf Akhlaki merupakan tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak’ mencari hakikat kebenaran yang mewujudkan menuasia yang dapat ma’rifah kepada Allah, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf Akhlaki, biasa disebut juga dengan istilah tasawuf sunni. Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ulama salaf assalih. Tasawuf Sunni (akhlaki) yaitu tasawuf yang benar-benar mengikuti Al-qur’an dan Sunnah, terikat, bersumber, tidak keluar dari batasan-batasan keduanya, mengontrol prilaku, lintasan hati serta pengetahuan dengan neraca keduanya. Sebagaimana ungkapan Abu Qosim Junaidi al-Bagdadi: “Mazhab kami ini terikat dengan dasar-dasar Al-qur’an dan Sunnah”, perkataannya lagi: “Barang siapa yang tidak hafal (memahami) Al-qur’an dan tidak menulis (memahami) Hadits maka orang itu tidak bisa dijadikan qudwah dalam perkara (tarbiyah tasawuf) ini, karena ilmu kita ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”. Tasawuf ini diperankan oleh kaum sufi yang mu’tadil (moderat) dalam pendapatpendatnya, mereka mengikat antara tasawuf mereka dan Al-qur’an serta Sunnah dengan bentuk yang jelas. Boleh dinilai bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa menimbang tasawuf mereka dengan neraca Syari’ah. Tasawuf ini berawal dari zuhud, kemudian tasawuf dan berakhir pada akhlak. Mereka adalah sebagian sufi abad kedua, atau pertengahan abad kedua, dan setelahnya sampai abad keempat hijriyah. Dan personal seperti Hasan Al-Bashri, Imam Abu Hanifa, al-Junaidi al-Bagdadi, al-Qusyairi, as-Sarri as-Saqeti, al-Harowi, adalah merupakan tokohtokoh sufi utama abad ini yang berjalan sesuai dengan tasawuf sunni. Kemudian pada pertengahan abad kelima hijriyah imam Ghozali membentuknya ke dalam format atau konsep yang sempurna, kemudian diikuti oleh pembesar syekh Toriqoh. Akhirnya menjadi

salah satu metode tarbiyah ruhiyah Ahli Sunnah wal jamaah. Dan tasawuf tersebut menjadi sebuah ilmu yang menimpali kaidah-kaidah praktis. Tasawuf ini juga dinamakan tasawuf nazhari (teori), demikian, karena tasawuf Islam terbagi kepada nazhari dan amali (praktek). Dan hal ini tidak berarti bahwa tasawuf nazhori ini kosong dari sisi praktis. Istilah teori ini hanya melambangkan bahwa tasawuf belum menjadi bentuk thoreqoh (tarbiyah kolekltif) secara terorganisir seperti toreqoh yang terjadi sekarang ini. • Junaid Al-Baghdadi Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim al-Junaid bin Muhammad al-Kazzaz alnihawandi. Dia aadalah seorang putera pedagang barang pecah belah dan keponakan Surri al-Saqti serta teman akrab dari Haris al-Muhasibi. Dia meninggal di Baghdad pada tahun 297/910 M. dia termasuk tokoh sufi yang luar biasa, yang teguh dalam menjalankan syari`at agama, sangat mendalam jiwa kesufiannya. Dia adalah seorang yang sangat faqih, sering memberi fatwa sesuia apa yang dianutnya, madzhab abu sauri: serta teman akrab imam Syafi`i. • Al-Qusyairi An-Naisabury Dialah Imam Al-Qusyary an-Naisabury, tokoh sufi yang hidup pada abad kelima hijriah. Tepatnya pada masa pemerintahan Bani Saljuk. Nama lengkapnya adalah Abdul Karim al-Qusyairy, nasabnya Abdul Karim ibn Hawazin ibn Abdul Malik ibn Thalhah ibn Muhammad. Ia lahir di Astawa pada Bulan Rabiul Awal tahun 376 H atau 986 M. Al-Qusyairy banyak menelaah karya-karya al-Baqillani, dari sini ia menguasai doktrin Ahlusunnah wal Jama’ah yang dikembangkan Abu Hasan al-Asy’ary (w.935 M) dan para pengikutnya. Karena itu tidak mengherankan, kalau Kitab Risalatul Qusyairiyah yang merupakan karya monumentalnya dalam bidang Tasawuf -dan sering disebut sebagai salah satu referensi utama Tasawuf yang bercorak Sunni-, Al-Qusyairy cenderung mengembalikan Tasawuf ke dalam landasan Ahlusunnah Wal Jama’ah. Dia juga penentang keras doktrin-doktri aliran Mu’tazilah, Karamiyah, Mujassamah dan Syi’ah. Karena tindakannya itu, Al-Qusyairy pernah mendekam dalam penjara selama sebulan lebih, atas

perintah Taghrul Bek, karena hasutan seorang menteri yang beraliran Mu’tazilah yaitu Abu Nasr Muhammad ibn Mansyur al-Kunduri Ajaran-Ajaran Akhlak Tasawuf
1. Hasan AL-BashriAjaran akhlak Hasan Al-Bashri tentang hidup dan kehidupan sangat berarti

bagi umat Islam. Ia mengajarkan kehidupan yang tawadhu‟, zuhud, sabar, syukur, khauf, beramal akan memiiki akhlak yang baik dan terpuji karena ia mengetahui dengan yakin bahwa amalnya tidak akan sia-sia di mata AllahSWT.

raja‟, dan ajaran tentang tafakur bini’mah. Manusia yang memahami dunia sebagai ladang

2. Al-Muhasibi Pandangan sufisiknya mengajarkan aga manusia berakhlak dengan cara mawas

diri dari segala perbuatan dosa. Manusia berakhlak dimulai dengan taat kepada Allah SWT dan menyucikan diri dengan memperbanyak zikir dan bertobat, sehingga manusia aka dengan mudah mengenal AllahSWT dan Allah SWT pun akan menyukainya. 3. Al-QusyairiAjaran akhlak Al-Qusyairi adalah akhlak yang berdasarkan pada syariat yang benar menurut Al-Quran dan As-Sunnah. Menurutnya akhlak mukia yang harus dilaksanakan adalah akhlak yang

D. ISTILAH-ISTILAH DALAM TASAWUF ‘AMALI, ada beberapa istilah yang perlu diketahui. Pertama adalah murid yang terdiri atas: 1. Mubtadi’ yaitu orang yang baru memulai memepalajari shari’ah. 2. Mutawasit}, yaitu seseorang yang sudah mempunyai pengetahuan yang cukup tentang shariat Islam. 3. Muntahi, yaitu seseorang yang ilmu shari’ahnya telah matang. Dan telah menjalani tariqah dan mendalami ilmu bathiniah sehingga jiwanya bersih dan tidak melakukan maksiat. Lebih lanjut Imam al-Ghazali membagi tasawuf menjadi tiga tingkatan. Pertama murid (talib) dan kedua, mutawasit (sair) serta yang ketiga, disebut sebagai muntaha (wasil). Murid adalah orang yang memegang kendali waktunya, sedang mutawasit yang mengamalkan

perilakunya, serta muntaha, adalah orang yang telah memiliki keteguhan keyakinan. Jadi dalam diri seorang murid, shari’ah mempunyai peranan yang penting dalam memasuki lapangan tasawuf. Istilah kedua yang perlu diketahui dalam tasawuf ‘amali adalah Shaykh. Shaykh disebut juga dengan murshid. Dilihat dari jenis amalan dan ilmu yang dipelajari, dalam tasawuf ‘amaliada empat tingkatan kelompok ilmu yang harus dipelajari, yaitu:

Pertama, Shariah yaitu amalan lahir yang terkumpul pada rukun Islam yang lima. Shariat ini bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah.

Kedua, Tariqah yaitu tata cara yang telah digariskan dalam agama dan dilakukan hanya karena penghambaan diri kepada Allah SWT.

Ketiga, Haqiqah yaitu diartikan sebagai aspek batiniah. Haqiqah merupakan rahasia yang paling dalam dalam dari segala amal, inti dari shariah, dan akhir dari perjalanan yang ditempuh seorang sufi.

Keempat, ma’rifah yaitu pengalaman, pemahaman dan penghayatan yang mendalam tentang Tuhan melalui hati sanubari yang sedemikian luas dan lengkap, sehingga jiwa seorang sufi merasa menyatu dengan Tuhan. Dalam tasawuf ‘amali dikenal beberapa istilah yang menunjukkan derajat seseorang sufi

melalui bimbingan seorang Shaykh yaitu: 1. al-Manazil, yaitu tempat-tempat perhatian yang dilalui oleh mubtadi’. 2. al-Mashahid, yaitu hal yang terlihat ditengah perjalanan yang sedang ditempuh oleh mutawasit maupun muntahi. 3. al-Maqamah, yaitu derajat yang diperoleh oleh seorang sufi setelah mampu berjuang melawan hawa nafsu. 4. al-Ahwal, yaitu derajat atau situasi kejiwaan seseorang yang diperoleh dari Allah SWT, bukan dari hasil usahanya. Yang dapat digolongkan dalam al-ahwal adalah al-muraqabah, al-qawf, alraja’, al-shawq, al-uns.

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Dari pemaparan diatas ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam makalah ini, antara lain:

Ada beberapa perbedaan mengenai definisi atau pengertian dari tasawuf. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pengalaman para sufi dalam proses mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amaliah yang dilakukannya.

Secara historis, tasawuf dalam arti amaliah sudah muncul pada awal kelahiran agama Islam, yaitu sejak Nabi Muhammad SAW yang sering berkhalwah ke gua Hira untuk menghindarkan diri dari hawa nafsu keduniawian, juga dalam rangka mencari jalan untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa.

Pada awalnya muncul dua golongan tasawuf, yaitu tasawuf sunni dan tasawuf falsafi. Pada perkembanganya ada tiga golongan tasawuf, yatitu tasawuf ‘akhlaqi, tasawuf ‘amali dan tasawuf falsafi. Penggolongan ini berdasarkan apa yang menjadi fokus utama dalam tasawuf tersebut.

tasawuf akhlaqi adalah ajaran tasawuf yang inti pengajarannya mengarah pada penyucian segala sifat yang Allah tidak ridho, sehingga melahirkan komunitas manusia mulia di hadapan Allah dan makhluk-Nya.

Tasawuf ‘amali merupakan tasawuf yang mengedepankan mujahadah, dengan menghapus sifat-sifat yang tercela, melintasi semua hambatan itu, dan menghadap total dengan seganap esensi diri hanya kepada Allah SWT.

Tasawuf ‘amali merupakan perkembangan dari tasawuf sunni yang sudah muncul pada abad pertama dan kedua Hijriyah.

Referensi • Mukhtar Hadi, M.Si. 2009. Memahami Ilmu Tasawuf “Sebuah Pengantar Ilmu Tasawuf. Yogyakarta: Aura Media. • Simuh. 1997. Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Suriono. 2011. Tasawuf amali. http://referensiagama.blogspot.com. Diakses pada tanggal 27 November 2012

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->