P. 1
Pelestarian Semangat Dan Nilai 45

Pelestarian Semangat Dan Nilai 45

4.5

|Views: 4,850|Likes:
Published by baekhati3
ni doc untuk tugas ku
ni doc untuk tugas ku

More info:

Published by: baekhati3 on Feb 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2013

Pelestarian Semangat Dan Nilai-Nilai 45

Oleh : SITI ROCHANANIS 081300971

JURUSAN PSIKOLOGI UNIVERSITAS 45 SURABAYA 2009

KATA PENGANTAR
MERDEKA!!!! SEMANGAT Juang 45, adalah semangat untuk berjuang bersama tanpa pamrih mengusir penjajah. Setelah merdeka sebagaimana secara (puitika oleh Bung Karno bahwa “Kemerdekaan adalah Jembatan Emas”. Semangat kejuangan itu tetap relevan guna membangun segala sesuatu di seberang jembatan emas itu. Yaitu memberantas kemiskinan, kebodohan, menegakkan kehidupan bersama yang jujur, melawan korupsi dan ketidakadilan sebuah “maha karya” nation and character building. Gaung perjuangan Angkatan 45 di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat-berbangsa yang semakin kompleks saat ini, memang dirasakan kian meredup. Peringatan untuk mengenang perjuangan mereka yang telah menyerahkan jiwa-raga demi kejayaan bangsa, nyaris tidak lagi menarik minat generasi muda. Generasi penerus bangsa sekarang ini merupakan pelaksana cita-cita pahlawan agar bentuk NKRI tetap utuh dibawah panji Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Nilai-nilai juang 45 harus memiliki tekad dan semangat dalam diri generasi penerus bangsa, dan bukan gampang terbawa arus yang sudah mulai memasuki sendi-sendi kehidupan generasi muda. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang menganugerahi kita bangsa Indonesia tetap bersatu padu, rukun damai tekun bekerja keras, menjadi bangsa mandiri, bermartabat, beradab di bawah dasar negara Pancasila. Merdeka!!

PENULIS

BAB I PENDAHULUAN

1.

LATAR BELAKANG Pada zaman perang kemerdekaan dulu, para pejuang kemerdekaan sangat

menunggu-nunggu tercapainya kemerdekaan. Tentu menunggu-nunggu di sini tidak dapat diartiken sebagai duduk leyeh-leyeh di kursi malas sambil nunggu kemerdekaan dimasukkan besek terus diberikan, melainkan melakukan perjuangan yang keras dan penuh pengorbanan. Proklamasi kemerdekaan adalah puncak perjuangan mereka. Walaupun dari kaca mata yang lain kita dapat melihat bahwa proklamasi kemerdekaan sebenarnya hanya merupakan sebuah pintu gerbang. Pintu gerbang yang menghubungkan alam penjajahan ke dalam alam kebebasan. Setelah proklamasi kemerdekaan masih ada pekerjaan berat yang menunggu, yaitu pekerjaan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang dirumuskan dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945. Dalam pelestarian nilai-nilai juang 45 dibutuhkan sikap nasionalisme dan patriotisme seperti yang sudah dipersembahkan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Generasi penerus bangsa sekarang ini merupakan pelaksana cita-cita pahlawan agar bentuk NKRI tetap utuh dibawah panji Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Nilai-nilai juang 45 harus memiliki tekad dan semangat dalam diri generasi penerus bangsa, dan bukan gampang terbawa arus yang sudah mulai memasuki sendi-sendi kehidupan generasi muda. Banyak cara yang kita tempuh dan laksanakan untuk pelestarian semangat dan nilai-nilai 45, untuk menggambarkan perkembangan tersebut maka disusunlah makalah ini.

2. 1. 2. 3.

TUJUAN Tujuan dari dibuat makalah ini yaitu : Untuk mengetahui perkembangan pelestarian semangat dan nilai-nilai 45 pada generasi muda di Indonesia. Untuk memperluas wawasan kita sebagai generasi muda penerus dan pewaris semangat dan nilai-nilai 45. Untuk memahami pentingnya semangat dan nilai-nilai 45 bagi keutuhan dan majunya bangsa Indonesia

4.

METODE PENULISAN Penulis mempergunakan metode observasi dan kepustakaan. Cara-cara

yang digunakan pada penelitian ini adalah : Studi Pustaka. Dalam metode ini penulis membaca artikel dari internet yang berkaitan denga penulisan makalah ini.

BAB II PEMBAHASAN

SEMANGAT Juang 45, adalah semangat untuk berjuang bersama tanpa pamrih mengusir penjajah. Setelah merdeka sebagaimana secara (puitika oleh Bung Karno bahwa “Kemerdekaan adalah Jembatan Emas”. Semangat kejuangan itu tetap relevan guna membangun segala sesuatu di seberang jembatan emas itu. Yaitu memberantas kemiskinan, kebodohan, menegakkan kehidupan bersama yang jujur, melawan korupsi dan ketidakadilan sebuah “maha karya” nation and character building. Gaung perjuangan Angkatan 45 di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat-berbangsa yang semakin kompleks saat ini, memang dirasakan kian meredup. Peringatan untuk mengenang perjuangan mereka yang telah menyerahkan jiwa-raga demi kejayaan bangsa, nyaris tidak lagi menarik minat generasi muda. Kalimat-kalimat penuh makna di atas, sengaja penulis kutip dari Pidato Gubernur DIY Sri Sultan HB X, ketika meresmikan Gedung Juang 45 DIY, di Jl Kusumanegara Timur Gedongkuning Banguntapan Bantul, 13 Februari 2003 yang lalu. Meski sudah 5 tahun, apa yang diungkapkan Gubernur DIY, kiranya masih sangat relevan untuk menjadi perenungan bangsa Indonesia, pada saat memperingati usia Kemerdekaan negara kita yang ke 63, tahun 2008 ini. Dan boleh jadi, apa yang diungkapkan Ngarsa Dalem, selayaknya dijadikan pintu masuk bagi kita untuk berintrospeksi-mawas diri, sambil bertanya kepada diri pribadi kita masing-masing. Sudahkah kita menghormati, menghargai jasa-jasa para pejuang 45 dulu? Sudahkah kita sudah berbuat sesuatu dalam bidang dan kemampuan masing-masing guna mengisi kemerdekaan untuk menjadikan “Kemerdekaan adalah Jembatan Emas” sebagaimana disampaikan Ngarsa Dalem tadi ? 63 Tahun bangsa Indonesia merdeka, lepas dari cengkeraman penjajah. Lepas dari penindasan dan kekuasaan kolonial penjajah, ternyata kemiskinan, kebodohan masih ada dan disandang sebagian bangsa kita. Apalagi menegakkan kehidupan bersama yang jujur, masih jauh api dari panggang. Perilaku korupsi,

ketidakadilan bukannya semakin hilang, justru sebaliknya. Perilaku korupsi, manipulasi terutama yang dilakukan sebagian elite politik, sejak Rezim Orde Lama, Orde baru, pasca Reformasi justru bak jamur di musim hujan. Korupsi bagaikan agama baru” bagi sebagian pemimpin bangsa yang haus kekuasaan dan bermental ‘aji mumpung, adigang adigung adiguna, sapa sira sapa ingsung’. Mengelola negara, seperti mengelola warisannya ‘mBahne’ lantas sak-karepe dhewe’. Hukum alam, Generasi 45 ke depan semakin surut, sementara Generasi Penerus akan semakin banyak jumlahnya. Pertanyaannya, apakah semangat juang 45 yang dulu menjadi perintis, pendobrak masih perlu digelorakan, meski berbeda tantangan dan problemanya. Dalam kondisi dan situasi seperti sekarang, rasanya semangat dan nilai-nilai 45 masih diperlukan guna memberikan motivasi generasi penerus, jika kita tetap teguh mempertahankan, melestarikan keutuhan NKRI Proklamasi 17 Agustus 1945. Artinya, wujud kepedulian kita, tentu bukan sekadar upacara ritual seperti misalnya memperingati 10 November, sebagai hari Pahlawan saja. Lebih dari itu dan lebih bermakna, adalah bagaimana kita tetap mewarisi semangat pantang menyerah, tidak cepat putus asa, bukan sekadar berebut kursi kekuasaan, saling menjegal, saling menyalahkan, menghujat. Ada pesan penuh nilai, yakni semangat kebersamaan membangun bangsa, terhindar dari keterpurukan, mengupayakan agar kita menjadi bangsa bermartabat, beradab dan berbudi pekerti luhur, toleran, solider satu sama lain. Bukankah kita ini plural, berbhinneka, majemuk. Sehingga keberagaman, semestinya menjadi kekuatan agar kita saat ini, ke depan menjadi bangsa yang mandiri, berjaya dan tidak diinjak-injak/didekte oleh kekuasaan asing. Semangat para pejuang, pendiri NKRI dulu juga telah mewariskan semboyan, slogan ‘rawe-rawe rantas, malangmalang putung”. Merdeka atau mati. Dalam kondisi sekarang memang masih banyak yang relevan diteruskan. Memang ada semboyan yang perlu diubah, misalnya Merdeka atau mati, boleh diganti ‘Merdeka Bebas Korupsi’, atau ‘Basmi Korupsi Hingga Tak Bersemi’, “Reformasi mestinya Bebas Korupsi” Saat sekarang, kita membutuhkan figur pemimpin yang memiliki jiwa kenegarawanan, bukan sekadar pandai berdebat politik. Atau hobi menjual aset negara, menggadaikan sumber daya alam, menyengsarakan rakyat. Tetapi kita

butuh pemimpin, pejuang yang mampu dan mau bekerja keras, mengabdi untuk rakyatnya dan mau mendengarkan amanat penderitaan rakyat, menjiwai nilai-nilai serta semangat juang 45, sebagaimana telah diuraikan di atas tadi. Pemimpin yang, bukan punya hobi memperkaya diri. Kiranya relevan jika penulis kutipkan semangat juang tokoh Angkatan 45 Chairil Anwar, berjudul “Persetujuan dengan Bung Karno” “Ayo! Bung Karno kasih tangan kita bikin janji Aku sudah cukup lama dengar bicaramu Dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu Dari mulai 17 Agustus 1945 Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu. Aku sekarang api aku sekarang laut Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat, Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar, Di uratmu diuratku kapal-kapal bertolak dan berlabuh” Drs Gatot Marsono MM, Wakil Ketua Bidang Ekonomi, Kesra DHD 45 Propinsi DIY

Nilai Kejuangan Bisa Dimasukkan Kurikulum
KALANGAN pejuang 45 prihatin dengan penanaman nilai luhur semangat perjuangan 45 di kalangan generasi muda saat ini. Mereka menganggap sebagian generasi sekarang masih kurang menghargai para pahlawannya. Bagaimana upaya untuk menanamkan semangat dan jiwa kepahlawanan, berikut petikan wawancara Suara Merdeka dengan Suwarno BA, salah seorang tokoh pejuang dan Ketua Badan Penggerak Pembudayaan Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai Kejuangan 45 (BPPJSN 45) Cabang Sukoharjo periode 1999-2004. Berapa jumlah anggota BPPJSN Cabang Sukoharjo saat ini? Anggotanya yang tercatat 669 orang. Tentu saja semua sudah tua.

Menilik keanggotaannya, berarti suatu saat bakal habis? Memang begitu. Maka organisasi yang semula bernama Angkatan 45 kini namanya diubah menjadi BPPJSN 45. Anggotanya bukan hanya para pejuang 45 atau para veteran. Melainkan semua orang juga bisa masuk menjadi anggota. Apa syarat untuk menjadi anggota? Syaratnya mereka harus bertekad untuk mempertahankan Negara Kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Silakan kalau mempunyai tekad kuat seperti itu masuk menjadi anggota BPPJSN 45, kami menerima dengan tangan terbuka. Bagaimana upaya Anda untuk menanamkan semangat luhur perjuangan 45 kepada generasi sekarang? Terus-terang saya sangat prihatin. Generasi sekarang mulai kurang memahami semangat dan jiwa kepahlawanan 1945. Padahal republik ini berdiri sebagian karena perjuangan para pahlawan tersebut. Apa upaya untuk meningkatkan kembali semangat juang tersebut? Kami ingin agar upaya melestarikan jiwa, semangat, dan nilai- nilai 45 ini menjangkau semua masyarakat dengan metode berasaskan persuasi, edukasi, dialog seta objektif dan praktis. Bisa dijelaskan lebih rinci? Gerakan nasional kebangsaan ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan, publikasi, dan forum-forum diskusi. Kami juga mengadakan pemancangan bambu runcing di makam para tokoh pejuang. Bagaimana dengan pendidikan di sekolah? Nilai-nilai kejuangan bisa dimasukkan dalam kurikulum. Bahkan sebenarnya para guru pun dapat memulai dengan cara yang mudah dan sederhana. Umpamanya, menyanyikan lagu ''Indonesia Raya'' setiap akan mulai pelajaran. Cara ini meskipun kelihatan sederhana, bisa menggugah dan menanamkan semangat perjuangan tadi. (Joko Murdowo)

Cinta Produk Indonesia (di negeri orang)
Saat ini, Indonesia perlu lebih mewujudkan rasa cinta produk bangsanya sendiri. Perwujudan rasa cinta tersebut selain akan memberikan dampak baik untuk perekonomian kita, rasa suka terhadap “made-in-Indonesia” juga menunjukkan cita rasa yang tinggi(!). Ini bisa terlihat dari bagaimana produk

Indonesia bahkan dipergunakan oleh bangsa-bangsa lain sebagai lambang jati diri mereka. Berikut ditampilkan pengalaman KK dengan Produk Indonesia ketika melakukan perjalanan ke Hawaii, Maret 2008 lalu. KK membagikan pengalaman tersebut beberapa waktu lalu, di mailing list Forum Pembaca Kompas. Wah … saya punya pengalaman tersendiri dengan “Aku Cinta Produk Indonesia”. Tanggal 1 April 2008 saya mendapat kehormatan diundang Gubernur Hawaii, Direktur PTWC (Pacific Tsunami Warning Center), dan Walikota Hawaii untuk berbagi pengetahuan dan pengelaman dalam membangun Sistem peringatan Dini Tsunami dan Pelatihan Menghadapi Tsunami. Jika kita dihantam tsunami besar di 26 Des 2004, 01 April diperingati Hawaii karena mereka juga dihantam tsunami besar… dalam 10 tahun mereka kena dua kali tsunami.

Singkat cerita, saat jalan-jalan di Honolulu saya mampir ke toko untuk melihat baju khas Hawaii…yang banyak gambar bunga-bunga besar. Saat melihat-lihat baju-baju saya, melihat di merek baju tersebut tertera label “Made in Indonesia”, saya langsung beli 6 buah baju… ini pertama kali dalam hidup saya beli baju sekaligus banyak. Saat membayar di counter saya bincang-bincang dengan sang pramutoko (PT) yang orang Hawaii asli: KK: “Tahukah anda mengapa saya beli baju-baju ini?” PT: “Tentu, itu ciri khas Hawaii dan menjadi kebanggaan kami.” KK: “Selain itu, ada lagi yang menjadi alasan kuat saya… lihat… ini tertera Made in Indonesia.” PT: “Oooh, kamu orang Indonesia?” KK: “So pasti…” PT (sambil teriak dan melambai ke seorang manajer toko): “Bapak ini dari Indonesia, dia suka baju-baju Hawaii” Manajer “Bapak, jika Bapak beli 6 buah lagi maka saya beri diskon khusus 50%. Orang-orang Indonesia di Honololu ini ramah-ramah, saya banyak kenal.” KK: “Asyiik.. tunggu sebentar”…saya kembali pilih 6 buah baju dan celana pendek khas Hawaii. Cinta produk Indonesia merupakan salah satu factor pendukung menumbuhkan semangat dan nilai-nilai 45.

Belajar dari Sejarah untuk Kejayaan Bangsa
Belajar dari Sejarah untuk Kejayaan Bangsa Oleh H. SOEWARNO DARSOPRAJITNO PADA tahun 1929 di Yogyakarta, Ir. Soekarno (Bung Karno) berpidato di depan para perintis kemerdekan yang menyatakan bahwa Perang Pasifik yang menjadi bagian Perang Dunia II tidak lama lagi akan pecah. Pecahnya Perang Pasifik tersebut tidak mustahil akan ikut mencabut akar penjajaran Belanda dan mengusirnya dari bumi pertiwi Indonesia. Pernyataan ini rupanya menjadi sebab Pemerintah Hindia Belanda menangkapnya dan mengadilinya di gedung "Landraad van Justitie" yang sekarang disebut Gedung Indonesia Menggugat. Ternyata ramalan Bung Karno berdasar keademikannya ini benar, dan berdasar analisis beberapa orang ahli politik internasional, tampaknya Amerika juga mencari sesuatu untuk merangsang agar Pemerintah Militer Jepang melakukan suatu gerakan militer yang dapat digunakan oleh Amerika untuk berperang melawan Jepang. Pada waktu itu Jepang memang sudah menyerang daratan Cina di bawah pimpinan Presiden Chiang Kai Sek. Akibatnya Jepang makin banyak membutuhkan bahan bakar minyak bumi. Untuk itu pemerintahan di bawah Perdana Menteri Jenderal Hideki Tojo mengurus Kobayashi untuk perunding dengan Pemerintah Hinda Belanda untuk memperoleh tambahan membeli minyak bumi. Tetapi permintaan ini ditolak oleh Pemerintah Hindia Belanda yang perundingannya dilakukan di Selabintana, Sukabumi. Hindia Belanda diwakili oleh Wakil Gubernur Jenderal Van Mook yang pada awal Perang Dunia II melarikan diri ke Australia dan tinggal landas dari landasan terbang darurat Jalan Buahbatu didampingi perwira intelijen Mayor Spoor. Perundingan yang berlangsung secara singkat menemui jalan buntu dan Kobayashi pulang kembali ke negerinya. Peristiwa ini dilaporkan dalam majalah Hindia Belanda Geef Acht (Bersiap), dan rupanya inilah yang membuat Pemerintah Jepang ngambek dan memutuskan untuk menyerbu Hindia Belanda pada awal tahun 1942 sesudah membombardir Singapura, Manila, dan menghancurkan pangkalan militer

Amerika di Hawaii. Melalui peristiwa inilah akhirnya Amerika menemukan alasan untuk menyerbu Jepang dan menghancurkan pemerintah militer pimpinan Perdana Menteri Hideki Tojo. Lalu bagaimana dengan para perintis kemerdekaan Indonesia dalam mempersiapkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Rupanya dengan keintelektualannya, mereka membagi dua kelompok perjuangan yaitu yang berpura-pura bekerja sama dengan Pemerintah Pendudukan Jepang di bawah pimpinan Letnan Jenderal Harada Kumakichi, dan kelompok yang berjuang secara rahasia, dan dipimpin oleh Sutan Syahrir. Kelompok pura-pura dipimpin Bung Karno dan Bung Hatta. Menurut kedua kelompok ini, Jepang tidak akan bertahan lama dalam Perang Pasifik, dan menjelang titik balik Perang Pasifik, Jepang mulai banyak mengalami kemunduran dalam perang dan Amerika bersama Inggris menjadi pihak yang menyerang. Selanjutnya melalui keunggulan Bung Karno bermanuver politik, meminta agar Pemerintah Pendudukan Jepang segera melatih para pemuda Indonesia untuk dididik secara militer dan terbentuknya Pembela Tanah Air (PETA), Heiho, dan Gakku Tai (Tentara Pelajar). Jiwa atau semangat 17 Agustus 1945 atau disingkat menjadi Semangat '45, memang belum pernah didefinisikan secara akademik atau secara awam. Tetapi para perintis kemerdekaan yang mengilhami berbagai lapisan masyarakat, telah berhasil membentuk pejuang kemerdekaan menjadi insan yang berjiwa jujur, ikhlas, dan sederhana, dalam melaksanakan perjuangannya. Mereka berjuang dengan jujur sesuai kewajibannya untuk melaksanakan UUD-RI 1945 dengan berpedoman "kami mendengar dan kami akan mematuhinya-sami'naa wa atho'naa", demikian pula dengan sifat ikhlas yang mengacu pada pedoman "berlomba berbuat kebajikan-fastabiqul khairaat", dalam berjuang mempertahankan NKRI yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Sementara itu sederhana dalam melaksanakan tugas, para pejuang Angkatan '45 umumnya tidak memikirkan masalah imbalan apapun dari pemerintah atau negara, sebab pada saat itu keadaannya masih dalam suasana perjuangan menegakkan

kemerekaan NKRI dengan mencegah kembalinya penjajah Belanda yang waktu itu dikenal denan NICA (Netherland Indie Civil Administration). Semangat berjuang dengan pemikiran sederhanalah yang membuat para pejuang menjadi militan karena mengacu pada Alquran Surat 94 ayat 5 s.d. 8, terutama ayat "Fa idzaa faraghta fan shap, wailaa rabbika far ghab-maka apabila engkau telah selesai dari suatu perjuangan, kerjakanlah perjuangan berikutnya secara sungguhsungguh, namun hanya kepada Allah SWT sajalah hendaknya engkau berharap." Sekarang bagaimana dengan semangat mengisi kemerdekaan dengan membangun manusia Indonesia seutuhnya dan sekaligus mencerdaskan kehidupannya. Masihkah Semangat '45 dapat dibina dan diterapkan secara militan untuk pembangunan nusa dan bangsa dalam membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan? Jawabannya dapat, sebab bangsa Indonesia merupakan keturunan bangsa pejuang yang juga memiliki teknologi tinggi, maka hal ini tidak sulit diwujudkan. Pelaksanaan kerja memang perlu dilakukan secara jujur, ikhlas, dan sederhana, dengan menerapkan organisasi dan manajemen kerja yang tepat guna dan mengacu pada asas pencagaran. Analisis di atas bedasar pengalaman pribadi sepanjang tahun 1945-1949 di Ibukota RI Yogyakarta yang penuh nostalgia, namun belum dibina untuk kepentingan wisata pendidikan, penelitian, dan sejarah perjuangan kemerdekaan NKRI. Jenderal Besar TNI Soedirman Kolonel Soedirman, Komandan Divisi TKR Banyumas, Jawa Tengah, karena keberhasilannya menghancurkan pasukan Inggris dan Belanda di Amerika, pada 18 Desember 1945 melalui rapat pimpinan TKR diangkat menjadi Panglima Besar, pada saat usianya baru 29 tahun. Panglima Besar TKR yang masih sangat muda ini merupakan tokoh pejuang yang konsekuen bersemangat 1945 sampai akhir hayatnya. Pada 19 Desember 1948 dengan halus menolak saran Presiden Soekarno agar bersama presiden yang sudah melengserkan dirinya ikut ditawan Belanda, karena kesehatannya dan perjuangan kemerdekaan akan dilanjutkan dengan perjuangan diplomasi. Tetapi Jenderal Soedirman menjawab bahwa "tentara adalah tentara"

dan akan melanjutkan perang kemerdekaan sampai titik darah penghabisan. Sebelum meninggalkan Istana Presiden untuk melakukan perang gerilya, meminta agar Sultan Hamengku Buono IX dengan landasan Perjanjian Gianti "tetap bertahan di ktoa Yogyakarta untuk melakukan perlawanan "bawah-tanah melawan Belanda". Ternyata kepiawaian dan semangat juang Jenderal Soedirman amat memusingkan pimpinan pasukan Belanda di Jakarta, hingga ada seorang analis militer Belanda yang menyatakan, pimpinan tentara Belanda Letnan Spoor boleh saja mengolah strategi peperangan, namun yang akan menentukan kemenangan perangnya adalah Jenderal Soedirman. Semangat juang yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan yang dihayati Jenderal Soedirman ini, sebaiknya dihayati pula oleh para pimpinan negara di pusat dan di daerah untuk pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan mencerdaskan kehidupannya hingga berbagai sumber daya alam dan budaya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan sosial, ekonomi, dan adati secara berkesinambungan. Semangat Juang '45 ini dapat digali kembali dan dirumuskan untuk pendidikan dan kebanggaan nasional. Setiap negara maju umumnya memiliki "semangat juang" untuk membangun dan mengelola negara. Khusus mengenai NKRI yang berbentuk kepulauan dan terletak di daerah tropis, memiliki banyak keunggulan, namun karena manusianya belum dicerdaskan kehidupannya, banyak sumber daya yang mubazir. Fantastik, namun bisa Setiap negara yang maju selalu memiliki semangat untuk membina dan membangun negaranya walaupun beberapa negara di antaranya yang tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Mereka ini membangun dengan semangat pahlawan nasionalnya, apalagi Indonesia juga memiliki cukup banyak pahlawan nasional akibat adanya penjajahan. Di daerah mana saja dari Sabang sampai ke Merauke, cukup banyak pahlawan bertebaran yang semuanya anti penjajahan dan sekarang ini penjajahan politik secara fisik sudah tidak ada. Tetapi penjajahan nonfisik berupa

kemiskinan dan kebodohan masih merupakan masalah yang harus segera diselesaikan. Semangat kepahlawanan fisik dan nonfisik dari para pahlawan sebelumnya, tampaknya sudah terproyeksikan ke dalam diri Panglima Besar Jenderal Soedirman, yang secara fisik dalam keadaan sakit dan relatif masih amat muda telah berhasil melaksanakan tugasnya. ide mengadakan serangan umum pada siang harui dari Sultan Hamengku BuonoIX, langsung disetujui Panglima Besar dan diatur strategi dan waktunya oleh Kolonel Abdul Haris Nasution, dan dilaksanakan Letnan Kolonel Soeharto dengan tepat dan cermat. Serangan umum dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949, dan penulis sendiri mendapat tugas menyerang Hotel Merdeka (sekarang disebut Hotel Garuda), tempat para perwira tinggi Belanda bermalam. Tanggal 1 Maret 1949 ini rupanya juga dapat dikaitkan dengan 24 Maret 1946 yang dikenal dengan "Bandung Lautan Api". Sebab keduanya ikut menentukan jalannya perjuangan menegakkan NKRI. Sekarang bagaimana dengan perjuangan untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kemiskinan dan kebodohan? Konsepsi dengan bertumpu pada Mukadimah UUD-RI 1945 tidak sulit dilaksanakan. Konsepsi tersebut pun harus mengacu pada pola kerja yang jujur, ikhlas, dan sederhana atau tawadu (rendah hati). Kepuasan monumental karena keberhasilan ikut berjuang membangun negara, akan menjadi kenangan bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Semuanya ini memang fantastik namun pasti bisa, mengingat bangsa Indonesia juga keturunan bangsa dengan prestasi besar, baik teknologinya maupun gagasannya. Karena itu belajar sejarah untuk merencanakan masa depan yang jaya, merupakan keharusan, jika bangsa Indonesia ingin menjadi bangsa yang jaya dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya. Insya Allah, zaman keemasan seperti zamannya nenek moyang bangsa Indonesia membangun Candi Borobudur dan monumen bersejarah lainnya dapat segera terwujud, adil makmur di dalam naungan ampunan Allah SWT. "baldatun toyibatun wa robbun ghafur."*** Penulis, mantan veteran Perang RI 1945, tinggal di Bandung

Lomba Baca Puisi di Museum Juang 45 ...
Oleh : Puji Rahmat Se., Mm.

31-Okt-2007, 10:39:52 WIB

- [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Dalam Upaya menanamkan jiwa - jiwa kepahlawanan kepada generasi penerus serta memberikan kesempatan kepada masyarakat yang memiliki bakat dalam berpuisi, maka Museum Joang'45 akan menyelenggarakan Lomba Baca Puisi Perjuangan dengan tema "PUISI SEBAGAI AKTUALISASI SEMANGAT JUANG DALAM MENGISI KEMERDEKAAN" Lomba kali ini akan memperebutkan hadiah uang tunai Jutaan Rupiah. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan pada tanggal 10 November 2007, yang diperuntukkan untuk masyarakat umum tanpa pengelompokkan umur. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Museum Joang'45 sebagai salah satu media promosi untuk memperkenalkan keberadaan Museum Joang'45 dan Museum MH. Thamrin yang sampai saat ini masih sangat kurang dikunjungi oleh masyarakat. Maksud dan tujuan dari kegiatan ini sebagai berikut : a. maksud : menyediakan wahana berkreasi dan berkreatifitas yang mendidik positif dan sportif bagi masyarakat dan generasi muda pada umumnya. b. Tujuan : 1. Menumbuhkan kesadaran dan mendidik masyarakat serta generasi muda untuk berkompetisi yang sehat dan sportif 2. Memperkenalkan museum joang45 dan Museum MH Thamrin sebagai salah satu tempat berkreasi dan rekreasi yang positif dan edukatif 3. Menyalurkan bakat dan kreatifitas yang positif di kalangan masyarakat dan generasi muda di bidang seni baca puisi Diharapkan dengan terselenggaranya lomba ini, maka akan menggugah masyarakat untuk berkunjung ke Museum Museum PEMDA DKI Khususnya Museum Joang'45 dan Museum MH Thamrin serta dijadikan tempat berkreasi dan rekreasi yang edukatif. Sumber Informasi : Panitia Lomba Baca Puisi Perjuangan tahun 2007

BAB III PENUTUP

Jauhkan tindakan yang merugikan diri sendiri, tetapi berbuat dan berpikirlah apa yang terbaik bagi diri kita dan bagi sekeliling kita, karena kita hidup saling berdampingan. Apabila dikaji lebih cermat tentang nilai-nilai juang 45 yang sudah dipersembahkan para pahlawan yang gugur, generasi penerus bangsa tidak akan mau atau tidak rela apabila harkat dan harga diri bangsanya tercemoh oleh pihak lain, karena hal tersebut merupakan harga mati bagi pemuda dan pemudi generasi bangsa kita.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->