P. 1
makalah ilmu kalam

makalah ilmu kalam

|Views: 43|Likes:
Published by dani_rhamdani45

More info:

Published by: dani_rhamdani45 on Dec 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Setiap orang yang ingin mengetahui selukbeluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang

terdapat dalam agamanya. Mempelajari teologi akan memberikan kepada seseorang keyakinan yang didasarkan pada landasan yang kuat , yang tidak mudah diumbang-ambingkan oleh perubahan zaman. Teologi islam disebut juga “ Ilmu Kalam “, dinamakan demikian, karena masalah kalam atau firman Tuhan yaitu Al-qur’an, pernah menjadi polemic yang menimbulkan pertentangan-tertentangan keras dikalangan umat islam, terutama pada abad 9 sampai 10 M yang membawa penganiyayaan-penganiyaan bahkan pembunuhanpembunuhan terhadap sesama muslim pada waktu itu. Dalam islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada aliran yang bersifat liberal, ada juga yang bersifat tradisional dan ada pula yang bersifat tengantengah anatara liberal dan tradisional. Orang yang bersifat tradisional dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima paham-paham dari ajaran teologi tradisional. Sedangkan orang yang bersipat liberal dalam pemikirannya, mungkin lebih sesuai dan dapat menerima pahampaham dari ajaran teologi liberal. Dalam soal paham Jabariyah (fatalisme) dan paham kodariyah (free will) misalnya orang yang bersipat liberal dalam pamikimannya, tentu tidak dapat menerima paham jabariyah (fatatisme). Baginya paham qodariyah yang terdapat dalam ajaran teologi liberalisme yang lebih sesuai dengan jiwa dan pemikirannya. Begitu pula sebaliknya. Adapun beberapa aliaran teologi dalam islam diantaranya Jabariyah. yaitu aliran Khawarij, aliran Murji’ah, aliran Qodariyah dan aliran

BAB II PEMBAHASAN A. Khawarij 1. Sejarah Khawarij Kelompok Khawarij merupakan aliran teologi pertama yang muncul dalam dunia Islam, yakni abad I H/8 M pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Kemunculannya dilatar belakangi oleh pertikaian politik antara Ali dengan Muawiyah bin Abi Sufyan, yang pada waktu itu maenjabat sebagai gubernur Syam (sekarang : Suriah). Muawiyah menolak memberikan baiat kepada Ali yang terpilih sebagai khalifah sehingga Ali mengerahkan bala tentara untuk menggempur Muawiyah. Muawiyah juga mengumpulkan pasukan untuk menghadapi Ali. Kedua pasukan itu lalu bertemu di suatu tempat bernama Siffin. Pertempuran yang dinilai dahsyat dan tergolong besar terjadi antara kedua belah pihak, buktinya dengan banyak korban. Di pihak Ali, 25.000 orang gugur, sementara di pihak Muawiyah 45.000 orang tewas. Dalam pertarungan ini pihak Ali memperlihatkan akan memperoleh kemenangan dan berhasil mendesak pasukan Muawiyah. Amir bin As yang ikut berperang di pihak Muawiyah mengusulkan kepada Muawiyah agar memerintahkan pasukannya mengangkat mushaf (kumpulan lembaran) al-Quran dengan ujung tombak sebagai isyarat minta damai. Pada mulanya, Ali tidak mau menerima tawaran damai Muawiyah tersebut. Tetapi, karena desakan sebagian pengikutnya, terutama para qurra’ (pembaca) dan huffadz (penghafal), diputuskan untuk mengadakan arbitrasi (tahkim). Sebagai hakam atau penengah, diangkat dua orang, yaitu Abu Musa al-Asy’ari yang dikenal lurus mewakili kelompok Ali dan Amir bin As yang licik menjadi delegasi golongan Muawiyah. Keputusan Ali menerima arbitrasi sebagai jalan penyelesaian sengketa tentang khilafah dengan Muawiyah ternyata tidak didukung oleh semua pengikutnya. Mereka yang tidak setuju dengan sikap Ali keluar dari barisan, lalu mengangkat Abdullah bin Wahab al-Rasibi sebagai pemimpin mereka yang baru. Kelompok ini kemudian memisahkan diri ke Harura, suatu desa dekat Kufah. Mereka inilah yang dikenal dengan sebutan golongan Khawarij. Seiring perjalanan waktu, kaum Khawarij di Harura berhasil menyusun kekuatan dan memperoleh banyak pengikut, sehingga mereka berani menyatakan pembangkangan terhadap Ali. Menurut keyakinan mereka, Ali dan Muawiyah serta

semua yang menyetujui arbitrasi dianggap telah menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karenanya, mereka harus ditentang dan dijatuhkan. Untuk menumpas kaum Khawarij tersebut, Ali menyiapkan sepasukan tentara dan kemudian kedua pasukan itu bertempur di sebuah tempat yang bernama Nahrawan. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan tentara Ali dan hampir seluruh kekuatan Khawarij dapat dimusnahkan. Menurut Abdul Karim Syahristani, tidak sampai sepuluh orang kaum Khawarij yang selamat dari peperangan ini. Lainnya tumbang dalam medan perang, termasuk pemimpin mereka Abdullah bin Wahab al-Rasibi. Akan tetapi, kekalahan total di Nahrawan tidak membuat kaum Khawarij patah semangat, malah justru membangkitkan semangat jihad mereka untuk menjatuhkan Ali. Akhirnya salah seorang di antara mereka yang bernama Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Ali saat beliau keluar rumah hendak melaksanakan shalat Subuh pada 17 Ramadlan 40 H/24 Januari 661 M. Sirajuddin Abbas menambahkan bahwa rencana pembunuhan yang dirancang oleh kaum Khawarij tidak saja Ali, tetapi juga terhadap Muawiyah yaitu al-Barak dan Amir bin As yang akan dilaksanakan oleh Umar bin Bakir. Amir bin As akan dibunuh karena dinilai sebagai delegasi Muawiyah dalam arbitrasi yang menipu. Tetapi pembunuhan terencana terhadap keduanya tidak berhasil. 2. Pengertian Khawarij Khawarij dalam bahasa arab ialah Kharaja yang berarti keluar, sedangkan jamaknya Khowaarij, secara harfiah berarti mereka yang keluar. Semula khawarij adalah golongan politik yang menolak sikaf Ali bin Abi Tholib dalam menerima arbitrase penyesuaian sengketa antara Ali sebagai khalifah dan Mu’awiyah bin Abi Sopyan yang menuntut khalipah. Pertama kali muncul pada abad pertengahan ke 7 berpusat di daerah yang kini bernama irak . 3. Paham atau ajaran Khawarij Secara umum ajaran-ajaran khawarij ialah : a. kaum muslimin yang melakukan dosa besar adalah kafir b. kaum muslimin yang terlibat dalam perang Jamal, yakni perang antara Aisiyah, Thalhah dan Zubair melawan Ali dan pelaku arbitrase (termasuk menerima dan membenarkannya) dihukumi kafir.

c. Khalifah harus dipilih rakyat serta tidak harus dari keturunan Nabi Muhammad SAW dan tidakmesti keturunan Qurais. d. Khalipah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat islam e. Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab. f. Khalifah dipilih secara permanent selama yang bersangkutan bersikaf adil dan menjalankan syari’at islam g. Khalifah sebelim Ali ( Abu Bakar, Umar, Usman ) adalah sah, tetapi setelah tahun ke tujuh dari masa khalifahnya, usman di anggap telah menyeleweng. h. Khalifah Ali adalah sah tetapi setelah terjadi abitrase di anggap telah menyeleweng. i. Pasukan perang Jamal yang melawan Ali juga kafir. j. Setiap muslim harus harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka, bila tidak mau bergabung,mereka wajib diperangi. k. Memalingkan ayat-ayat alqur’an yang mutasabihat (samara) 4. Tokoh-tokoh Khawarij Tokoh-tokoh utama Khawarij antara lain : Abdullah bin Wahab, Urwah bin Hudair, Muatarid bin Sa’ad, Zuber bin Ali, Hausarah bin Asadi, Quraib bin Maruah, Nafi bin al-Azraq, Abdullah bin Basyir, Abdu Rabbih, dll B. Murji ah 1. Sejarah Murji ah Pada awal mulanya Irja’ muncul untuk mengcounter paham Khawarij yang mengkafirkan Hakamain [dua orang yang memutuskan perkara dalam masalah Ali dan Muawiyah], juga untuk mengcounter Ali bin Abi Thalib. Irja’ semacam ini bukanlah Irja’ yang bersangkutan dengan Iman, akan tetapi mereka hanya membicarakan tentang perkara dua kelompok yang berperang di antara para sahabat saja. Dalam sejarah kemunculannya didapatkan bahwa orang yang pertama kali

membicarakan masalah Irja’ adalah Al Hasan bin Muhammad bin Hanafiyah, beliau meninggal pada tahun 99 H. Dan setiap orang yang mengisahkan riwayat hidupnya akan menyebutkan tentang permasalahan Irja’ beliau. Ibnu Sa’ad berkata: “Al Hasan adalah orang yang pertama kali mengatakan tentang irja’. Dikisahkan bahwa Zadzan dan Maisarah datang kepadanya dan

langsung mencelanya, lantaran sebuah buku yang ia tulis tentang irja’, maka Al Hasan berkata pada Zadzan: "Wahai Abu Umar, sungguh aku lebih suka mati dan aku dalam keadaan tidak menulis buku tersebut.” Buku yang ditulis oleh Al Hasan ini hanyalah Irja’ tentang sahabat yang ikut serta dalam fitnah (red : perselisihan) yang terjadi setelah wafatnya Syaikhani (Abu Bakar dan Umar). Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam buku yang telah diterbitkan menegaskan bahwa yang dimaksud dengan Irja’ yang dibawa oleh Al Hasan adalah Irja’ yang tidak dicela oleh Ahlus Sunnah, yaitu Irja’ yang berkaitan dengan iman, hal tersebut saya (Ibnu Hajar) tegaskan berdasarkan pada kitab yang dikarang oleh Al Hasan bin Muhammmad. Di akhir kitab "Al Iman", karangan Ibnu Abi Umar dikatakan: "Telah diceritakan oleh Ibrahim bin Uyainah dari Abdul Wahid bin Ayman bahwa Al Hasan bin Muhammad menyuruhku untuk membacakan kitabnya kepada khalayak, yang bunyinya sebagai berikut: “Amma ba'du. Kami wasiatkan kepada Anda sekalian agar bertakwa pada Allah, kemudian dia berwasiat tentang kitabullah dan agar mengikutinya serta menyebutkan keyakinannya lalu dia berkata pada akhir-akhir wasiatnya: "Kami telah mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai khalifah dan kami berjihad di masa mereka berdua, karena keduanya belum pernah dibunuh oleh ummatnya bahkan ummatnya tidak merasa ragu terhadap urusan-urusan mereka. Sedangkan orang–orang setelahnya yang berselisih maka kami akhirkan (posisi) mereka dan kami serahkan urusannya kepada Allah ……. ." Inilah Irja’ yang telah dikatakan oleh Al Hasan bin Muhammad, dan

permasalahan tersebut telah dikuatkan oleh Ibnu Hajar. Kejadian tersebut di atas mengilhami beliau (Ibnu Hajar) untuk menulis suatu karangan yang berjudul : “Perkara Irja’ yang tidak berkaitan dengan iman tidak menjadikan seseorang tercela” .

2.

Pengertian Murji’ah

Asal kata Murji’ah dari irja yang berarti menagguhkan. Kaum mujri ah artinya kaum yang menangguhkan. Murji ah dari kata arja’a berarti sesuatu yang ada di

belakang dan berarti pula harapan atau irja’a berarti menunda. Aliran murji ah adalah aliran islam yang muncul dari golongan yang tak sepada dengan khowarij.ini tercermin dari ajaran yang bertolak belakang dengan ajaran khowarij. Pengertian murji’ah sendiri adalah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Alloh SWT kelak. Jadi mereka tak mengkafirkan seorang muslim yang berdosa besar,sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyyalah Alloh SWT, sehingga seorang muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini masih diakui sebagai muslimdan punya harapan untuk bertaubat.

3. Paham atau ajaran Murji’ah Secara garis besar ajaran-ajaran pokok Murji’ah diantaranya : a. Pengkuan iman cukup dalam hati. Jadi pengikut golongan ini tidak di tuntut membuktikan keimanan dalamperbuatan sehari-hari.ini merupakan sesuatu yang janggal dan sulit di terima kalangan murjites sendiri, karena iman dan amal perbuatan dalam islam merupakan satu kesatuan. b. Selama meyakini 2 kalimah syahadat, seorang muslim yang berdosa besar tak di hokum kafir. Hukuman terhadap perbuatan manusia di tangguhkan, artinya hanya allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat. c. d. e. f. g. Penangguhan keputusan terhadap ali dan muawiyah hingga allah Penangguhan ali untuk menduduki ranking ke empat dalam al-khalifah Pemberian harapan terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk Doktrin-doktrin murji’ah menyerupai pengajaran [mazhab] para skeptis Iman adalah percaya ke pada allah dan rasul-nya saja. Adapun amal dan memutuskannya di akhirat kelak. ar-rasyidin. memperoleh ampunan dan rahmat dari allah. dan empirin dari kalangan helenis. perbuatan tidak merupakan satu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang difardukan dan melakukan dosa besar.

4. Tokoh-tokoh ajaran Murji’ah Tokoh-tokoh ajaran Murji’ah diantaranya : Hasan bin Bilal Muzni, Abu Sallat Samman, Didir bin Umar. Dan dalam perkemangan selanjutnya, aliran ini terbagi menjadi kelompok moderat (dipelopori hasan bin Muhammad bin ‘ali bin abi tholib) dan kelompok ekstrem ( dipelopori jaham bin shofwan). C. Jabariyah 1. Sejarah Jabariyah Kaum Jabariyah diduga lebih dahulu muncul dibandingkan dengan kaum Qadariyah, karena Jabariyah nampaknya sudah dapat diketahui secara jelas ketika Mu’awiyah Ibn Ali Sofyan (621 H) menulis surat kepada al Mughirah ibn Syu’bah (salah seorang sahabat Nabi) tentang doa yang selalu dibaca Nabi, lalu Syu’bah menjawab bahwa doa yang selalu dibaca setiap selesai shalat adalah yang artinya sebagai berikut : “Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu baginya, Ya Allah tidak ada sesuatu yang dapat menahan apa-apa yang Engkau telah berikan, tidak berguna kesungguhan semuanya bersumber dariMu ” (H.R Bukahri) Dilihat dari segi pendekatan kebahasaan, Jabariyah berarti ‘keterpaksaan’ , artinya suatu paham bahwa manusia tidak dapat berikhtiar. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah fatalism atau predestination (segalanya ditentukan oleh Tuhan) Memang dalam aliran ini paham keterpaksaan melaksanakan sesuatu bagi manusia sangat dominan, karena segala perbuatan manusia telah ditentukan semula oleh Tuhan. Ada dua tokoh di dalam paham Jabariyah sebagai pencetus dan penyebar aliran ini : Ja’ad bin Dirham (wafat 124 H) di Zandaq, dikenal sebagai pencetus paham Jabariyah. Selanjutnya paham ini disebarluaskan oleh Jahm bin Shafwan yang dalam perkembangannya paham Jabariyah menjadi terkenal dengan nama Jahmiyah. Jahm bin Shafwan pada mulanya dikenal sebagai seorang budak yang telah di merdekakan dari Khurasan dan bermukim di Kufah (Iraq). Aliran ini lahir di Tirmiz (Iran Utara). Jahm bin Shafwan terkenal sebagai seorang yang pintar berbicara sehingga pendapatnya mudah diterima oleh orang lain.

Perlu dicatat bahwa Jahm bin Shafwan juga mempunyai hubungan kerja dengan al Harits bin Suriah yakni sebagai sekretaris yang menentang kepemimpinan Bani Umayyah di Khurasan Perlawanan al Harits dapat dipatahkan, sehingga ia sendiri dijatuhi hukuman mati pada tahun 128 H/ 745 M.Sementara Jahm diperlakukan sebagai tawanan yang pada akhirnya juga dibunuh. Pembunuhan pada dirinya bukan karena motif mengembangkan paham Jabariyah, tetapi karena keterikatannya dangan pemberontakan melawan pemerintahan Bani Umayyah bersama dengan al Harits. Pembunuhan Jahm bin Shafwan kurang lebih dua tahun setelah kematian al Harits yakni pada 747 M, yang pada saat itu pemerintah Bani Umayyah dipimpin oleh Khalifah Marwan bin Muhammad (744 – 750 M) 2. Pengertian Jabariyah Kata jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa. Di dalam AlMunjid, dijelaskan bahwa nama jabariyah berasal dari kata jabara yang berarti memaksa dan mengahruskannya melakukan sesuatu. Dalam bahasa inggris jabariyah disebut fatatisme, yaitu paham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semual oleh qodo dan qodar Tuhan. 3. Paham teknologi jabariyah a. manusia tidak mampu untuk berbuat apa apa .Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat jahm tentang keterpaksaan ini lebih terkenal dibanding dengan pendapatnya tentang surga dan neraka,konsep iman, kalam tuhan, meniadakan sifat tuhan ( nafyu as-sifat) dan melihat tuhan di akhirat. b. c. d. Surga dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain tuhan. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini, Kalam tuhan adalah makhluq. Allah maha suci dari segala sifat dan dan melihat.

pendapatnya sama dengan konsep iman yang diajukan kaum murji’ah keserupaan dengan manusia seperti berbicara,mendengar

Begitupula tuhan tidak dapat dilihat dengan indera mata di akhirat kelak

e. f. g.

Al quran itu adalah makhluk.oleh karena itu,dia baru.sesuatu yang baru Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk,seperti Manusia terpaksa oleh allah dalam segala-galanya. Tuhan menciptakan

tidak dapat disifatkan kepada allah. berbicara,melihat, dan mendengar. segala perbuatan manusia, tetapi manusia bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu. Itulah yang disebut kasab dalam teori Al-Asy’ari. Dengan demikian, manusia dalam pandangan An-Najjar tidak lagi seperti wayang yang gerakannya tergantung pada dalang, sebab tenaga yang di ciptakan Tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatanperbuatannya. h. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat.Akan tetapi,An-Najjar menyatakan bahwa Tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat Tuhan. 4. Tokoh-tokoh Paham Jabariyah Tokoh- tokoh jabariyah diantaranya : Al – Husain bin Muhamad An –Najjar dan ja’d bindirrar, ja’d bin Dirham, jahm bin shufwan, ja’d bin dirham, jahm. AlGhuraby,An-najjar D. Kodariyah 1. Sejarah Kodariyah Mazhab Qadariyah muncul sekitar tahun 70 H (689 M). Ajaran-ajaran mazhab ini banyak persamaannya dengan ajaran Mu’tazilah. Mereka berpendapat sama tentang, misalnya, manusia mampu mewujudkan tindakan atau perbuatannya, Tuhan tidak campur tangan dalam perbuatan manusia itu, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena qada dan qadar Allah swt. Tokoh utama Qadariyah ialah Ma’bad al Juhani dan Ghailan al Dimasyqi, kedua tokoh inilah yang pertama kali mempersoalkan tentang qadar. Semasa hidupnya, Ma’bad al Juhani berguru pada Hasan al Basri, sebagaimana Washil bin Atha’ ; tokoh pendiri Mu’tazilah, Jadi, Ma’bad termasuk tabi’in atau generasi kedua sesudah Nabi, sedangkan Ghailan semula tinggal di Damaskus. Ia seorang ahli pidato sehingga banyak

orang tertarik dengan kata-kata dan pendapatnya. Ayahnya menjadi maula (pembantu) Usman bin Affan. Kedua tokoh Qadariyah ini mati terbunuh, Ma’bad al Juhani terbunuh dalam pertempuran melawan al Hajjaj tahun 80 H. Ia terlibat dalam dunia politik dengan mendukung Gubernur Sajistan, Abdurrahman al Asy’ats, menentang kekuasaan Bani Umayyah. Sedangkan Ghailan al Dimasyqi dihukum bunuh pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M), yaitu khalifah dinasti Umayyah yang ke-sepuluh. Hukuman bunuh atas Ghailan dilakukan karena ia terus menyebarluaskan paham Qadariyah yang dinilai membahayakan pemerintah. Ghailan gigih menyiarkan paham Qadariyah di Damaskus sehingga dapat tekanan dari Khalifah Umar bin Abdul Azis (717-720 M). Meskipun mendapat tekanan, Ghailan tetap melakukan aktivitasnya hingga Umar wafat dan diganti oleh Yazid II (720-724 M). Ditinjau dari segi politik, keberadaan Qadariyah merupakan tantangan bagi dinasti Bani Umayyah membangkitkan sebab dengan paham yang diseberluaskannya dapat Dengan paham Qadariyah bahwa manusia pemberontakan.

mewujudkan perbuatannya dan bertanggung jawab atas perbuatan itu, maka setiap tindakan dinasti Bani Umayyah yang negatif akan mendapat reaksi keras dari masyarakat. Berbeda dengan paham Murji’ah yang menguntungkan pemerintah. Karena kehadiran Qadariyah merupakan isyarat penentangan terhadap politik pemerintahan Bani Umayyah, aliran ini selalu mendapat tekanan dari pemerintah, namun paham Qadariyah tetap berkembang. Dalam perkembangannya paham ini tertampung dalam paham Mu’tazilah. 2. Pengertian Kodariyah Kodariah berasal dari bahasa Arab, yaitu kata qodara yang artinya kemampuan dan kekeuatan. Adapun penegrtian menurut terminology qodariyah adalah suatu aliran yang percarcaya bahwa segala tindakan manusia tidak di intervensi oleh tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya, ia dapat berbuat sesuatu dan meninggalkannya atas kehendaknya sendiri. Harun Nasution menegaskan bahwa manusia mempunyai qudrah dan kekuatan untukmelaksanakan kehendaknya,dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar Tuhan.

3. Ajaran atau Paham Aliran Kodariyah Harun Nusation menjelaskan pendapat Ghailan tentang doktrin Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Manusia sendirilah yang melakukan baik atas kehendak dan kekuasaannya sendiri. Dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Dari penjelasan di atas dapat di pahami bahqa doktrin Qadariyah pada dasarnya menyatakan bahwa segala tingkah laku manusia di lakukan atas kehendaknya sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang ia lakukan dan juga berhak pula memperoleh hukuman atas kejahatan yang di perbuat. Paham takdir dalam pandangan qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum di pakai oleh bangsa arab ketika itu, yaitu faham mengatakan bahwa nasib manusia telah di tentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatan-perbuatannya, manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya. Dalam, faham Qadariyah, takdir itu adalah ketentuan Allah yang di ciptakan-nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya, sejak azali, yaitu hokum yang dalam istilah AlQuran sunnatullah 4. Tokoh-tokoh aliran Qodariyah Ma’bad Al-Jauhani ,Ghailan, Ad-Dimasqy, Hasan Al-Bashri, Ibnu Nabatah.

BAB III PENUTUP Demikianlah sekelumit uraian tentang pengertian, pemahaman dan tokoh-tokoh aliran Khawarij, Mujri’ah, Jabariah dan Qodariyah dalam teknologi islam. Apabiala ada kata atau ada yang kurang kami selaku pembuat makalah mohon maaf atas segala kekurangannya. Selanjutnya saran dan kritik yang produktif sangat kami harapkan dalam memperbaiki eksistensi urain tetntang aliran kalam ini,mudah-mudahan kita selalu dalam naungan-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. (UI Press), Jakarta 3. 4.

Abbas, Siradjuddin, 2005, I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, Nasution, Harun, 2008, Teologi Islam, Universitas Indonesia WWW.google.com www.motifasi.wordpress.com

Pustaka Tarbiyah, Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->