KEBIJAKAN PERIZINAN PENGEMBANGAN PERUMAHAN DI KABUPATEN SLEMAN

Oleh: Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah Kabupaten Sleman Disampaikan dalam Pelatihan Brigadir Idik Tindak Pidana Pertanahan di SPN Selopamioro, Imogiri, Bantul Rabu, 19 Oktober 2011 I. Pendahuluan Tanah menjadi unsur pokok dalam kehidupan manusia. Di atas tanahlah semua kegiatan hidup dan penghidupan dilakukan oleh manusia. Peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun membuat kebutuhan atas tanah terus meningkat disisi lain ketersediaan tanah terbatas. Kondisi ini akan menimbulkan konflik kepentingan antar individu maupun antar warga apabila tidak dikelola dan diatur dengan baik. Salah satu kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan papan atau rumah yang membutuhkan tanah tentu juga akan menimbulkan masalah dengan tanah yang terbatas tersebut. Kebutuhan dasar ini pemenuhannya dicukupi individu dengan membangun sendiri di atas tanah sendiri, ada pula yang disediakan oleh pihak lain, pengembang melalui perumahan yang ditawarkan. Pengembangan perumahan yang dilakukan oleh pengembang perlu diatur sedemikian rupa sehingga pengembangannya sesuai dengan fungsi arahan rencana tata ruang, guna menjaga keseimbangan lingkungan fisik maupun sosial. Disisi lain pengembangan perumahan juga diharapkan mampu menyediakan perumahan yang layak secara fisik dan tertib secara administrasi. Pemenuhan hak-hak konsumen atau penghuni perumahan harus dipenuhi oleh pihak pengembang sampai tuntas, sehingga tidak menimbulkan permasalahan hukum di kemudian hari terutama menyangkut hak kepemilikan tanahnya. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan negara mempunyai hak untuk mengatur fungsi dan pengendalian tanah. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana beberapa kali diubah terakhir dengan UU Nomor 12 Tahun 2008, salah satu urusan wajib menjadi kewenangan pemerintah daerah kabupaten/ kota, meliputi: a) perencanaan dan pengendalian pembangunan; b) perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan ruang; …. k) pelayanan pertanahan. Kemudian dalam PP Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota, urusan yang menjadi kewenangan Pemerintah kabupaten di bidang pertanahan meliputi antara lain: a) izin lokasi ……. i) perencanaan penggunaan tanah wilayah kabupaten/ kota. Berkaitan dengan itu untuk melaksanakan kewenangan tersebut Pemerintah Kabupaten Sleman telah menetapkan Perda Nomor 38 tahun 2008 tentang urusan Pemerintah yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kabupaten Sleman. Disamping itu dalam upaya pelaksanaan pengendalian pertanahan di Kabupaten Sleman diatur melalui Perda Nomor 19 Tahun 2001 tentang Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT). IPPT tersebut mengatur seluruh perizinan yang berhubungan dengan pemanfaatan tanah termasuk di dalamnya izin dalam pengembangan perumahan.

II. Izin Perubahan Penggunaan Tanah (IPPT) IPPT diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 19 Tahun 2001 tentang Izin Peruntukan Penggunaan Tanah, Keputusan Bupati Sleman Nomor 53/Kep.KDH/A/2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 19 Tahun 2001 tentang izin Peruntukan Penggunaan Tanah jo Peraturan Bupati Sleman Nomor 53/Kep.KDH/A/2003. 1

Izin lokasi dengan keluasan tanah sampai dengan 25 Ha = 1 tahun b. dan diajukan 15 hari sebelum waktu izin lokasi habis. izin dapat diperpanjang satu kali dengan ketentuan lebih dari 50% telah diperoleh (terjadi pelepasan hak atas tanah). 2. Aspek tata ruang. 2 . pemindahan hak dan penggunaan tanah. yang berlaku pula sebagai izin pemindahan hak dan untuk menggunakan tanah tersebut guna keperluan usaha penanaman modal. IPT diberikan berdasarkan pertimbangan mengenai: a. maka harus mengajukan izin lokasi baru. Aspek penggunaan tanah yang meliputi perolehan hak. Untuk usaha pertanian ≥ 25 Ha b. Aspek tata ruang. dengan keluasan: a. Izin Pemanfaatan Tanah (IPT) Izin Pemanfaatan Tanah adalah izin peruntukan penggunaan tanah yang wajib dimiliki orang atau pribadi dan atau badan yang akan melaksanakan kegiatan dan atau kegiatan yang mengakibatkan perubahan peruntukan tanah pada bangunan/ usaha yang dilakukan dengan batasan keluasan: a. b. sosial budaya dan lingkungan wajib memperoleh izin peruntukan penggunaan tanah dari bupati. pemindahan hak dan penggunaan tanah. sosial budaya dan lingkungan. dan diajukan 15 hari sebelum waktu izin pemanfaatan tanah habis. c. Apabila dalam jangka waktu tersebut perolehan tanah belum selesai. A. IL dengan keluasan lebih dari 50 Ha = 3 tahun Apabila dalam jangka waktu tersebut perolehan tanah belum selesai. Apabila sampai dengan waktu izin lokasi dan perpanjangan izin lokasi habis dan perolehan tanah belum selesai. IL dengan keluasan 25 Ha sampai dengan 50 Ha = 2 tahun c. Izin Lokasi (IL) Izin lokasi adalah izin peruntukan penggunaan tanah yang wajib dimiliki perusahaan untuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam rnagka penanaman modal. Aspek ekonomi. Untuk usaha pertanian ≤ 25 Ha b. Aspek ekonomi. Untuk usaha non pertanian ≥ 1 Ha Izin lokasi diberikan untuk jangka waktu: a.Jenis Izin 1. Aspek penggunaan tanah yang meliputi perolehan hak. sosial budaya dan lingkungan. Izin lokasi diberikan berdasarkan pertimbangan mengenai: a. c. izin dapat diperpanjang satu kali dengan ketentuan lebih dari 50% telah diperoleh (terjadi pelepasan hak atas tanah).Setiap orang pribadi dan atau badan yang menggunakan tanah untuk kegiatan pembangunan fisik dan atau untuk keperluan lain yang berdampak pada struktur ekonomi. Untuk usaha non pertanian ≤ 1 Ha IPT diberikan untuk jangka waktu satu tahun. b.

Sarana ibadah umum dengan ketentuan untuk semua keluasan. Perhotelan dan sejenisnya dengan ketentuan semua keluasan. e. c. 6) Tempat hiburan dengan ketentuan untuk semua keluasan. Ippt diberikan berdasarkan pertimbangan: a.Jenis peruntukan tanah yang wajib memiliki izin pemanfaatan tanah: a. k. 5) Gedung pertemuan dengan ketentuan luas tanah ≥ 1000 m² atau luas lantai ≥ 500 m². Letak tanah di lokasi yang mempunyai aksesibilitas umum jalan dan fasilitas umum lainnya antara lain fasilitas listrik. Stasiun televisi/ radio dengan ketentuan untuk semua keluasan. 2) Pasar dengan ketentuan semua keluasan. 7) Pusat kebugaran dengan ketentuan untuk semua keluasan. d. 4) LPK/ kursus dengan ketentuan luas lantai ≥ 100 m² atau di tepi jalan arteri atau kolektor primer untuk semua keluasan. Letak tanah berbatasan langsung dengan permukiman yang telah ada dan termasuk daerah pertumbuhan permukiman. 3. 2) SD/SLTP/SMU dengan ketentuan untuk semua keluasan. m. Pembangunan makam baru atau perluasan makam dengan ketentuan untuk semua keluasan. f. Pendidikan: 1) Perguruan tinggi dengan ketentuan untuk semua keluasan. 3) Pertokoan/ rumah toko dengan ketentuan ≥ 4 unit dalam 1 lokasi dengan ketentuan jumlah keluasan ≥ 250 m². Perkantoran dan sejenisnya dengan ketentuan untuk semua keluasan. Rumah sakit/ balai pengobatan/ rumah bersalin dengan ketentuan untuk semua keluasan. c. Rumah produksi hiburan dengan ketentauan untuk semua keluasan. 3 . Permukiman: 1) Perumahan dengan ketentuan ≥ 4 unit dalam 1 lokasi. Perdagangan/ jasa: 1) Pasar swalayan/ super market dengan ketentuan semua keluasan. Letak tanah termasuk dalam wilayah ibukota kecamatan yang bersangkutan. Sarana olah raga dengan ketentuan luas tanah ≥ 5000 m². PAM dan telepon. Ippt diberikan untuk jangka waktu satu tahun. 2) Pondokan dengan ketentuan ≥ 10 kamar tidur. Izin Perubahan Penggunaan Tanah (ippt) Izin Perubahan Penggunaan Tanah adalah izin peruntukan penggunaan tanah yang wajib dimiliki orang pribadi yang akan mengubah peruntukan tanah pertanian menjadi non pertanian guna pembangunan rumah tempat tinggal pribadi/ perseorangan. 3) Taman kanak-kanak/ kelompok bermain dengan ketentuan semua keluasan. i. h. Aspek tata ruang. n. 4) Restoran/ rumah makan/ usaha katering/ toko dengan ketentuan luas tanah ≥ 500 m² atau luas lantai ≥ 250 m². Peternakan dengan ketentuan untuk semua keluasan. 3) Rumah sewa dengan ketentuan ≥ 4 unit dalam 1 lokasi. d. b. g. l. Industri dan gudang kecuali industri rumah tangga dengan ketentuan semua keluasan. Tempat pembuangan sampah/ depo sampah dengan ketentuan luas tanah ≥ 100 m². j. b. dengan ukuran seluas-luasnya 5000 m² diberikan secara bertahap seluas 600 m².

Apabila sekurang-kurangnya 85 % dari pemilik tanahnya meliputi sekurang-kurangnya 85% dari luas seluruh areal tanah yang akan dikonsolidasikan menyatakan persetujuannya dalam surat pernyataaan persetujuan.e. d. ditambah luas untuk sempadan jalan. Tanah yang dimohonkan tidak termasuk tanah pertanian subur/ sawah irigasi teknis. sosial budaya dan lingkungan. c. IPL diberikan untuk jangka waktu satu tahun. Tanah sudah bersertipikat. Adanya kesediaan dari para peserta konsolidasi tanah untuk merelakan sebagian tanahnya untuk sumbangan pembangunan/ fasilitas umum. Setiap perubahan penggunaan tanah harus selalu memperhatikan fungsi tanah dan daya dukung lingkungan sekitarnya. Aspek tata ruang. Tanah yang diperoleh akan dimiliki pemerintah dan digunakan untuk kepentingan umum. i. IKT diberikan untuk jangka waktu satu tahun. f. pemindahan hak dan penggunaan tanah. Aspek penggunaan tanah yang meliputi perolehan hak. apabila jangka waktu habis dan perolehan tanah belum selesai. Aspek ekonomi.Sistem dan prosedur Perizinan 1. Letak tanah di daerah perkotaan dan merupakan tanah non pertanian atau letak di daerah perdesaan dan merupakan tanah pertanian. d. 4. Aspek tata ruang. Izin Konsolidasi Tanah (IKT) Izin Konsolidasi Tanah adalah izin peruntukan penggunaan tanah yang wajib dimiliki kumpulan orang pribadi dan atau badan yang akan melaksanakan penataan kembali penguasaan tanah. f. Luas tanah yang diberi izin sebanyak-banyaknya 2 kali luas rencana bangunan yang akan dibangun. 5. dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat pemilik tanah pada lokasi tersebut untuk kepentingan umum sesuai tata ruang. Persyaratan Adminitrasi IPPT 4 . Status tanah sudah dikuasai oleh peserta konsolidasi. Letah tanah tidak beraturan/ tidak ada jalan penghubung antara penghuni. h. IKT diberikan berdasarkan pertimbangan: a. B. b. Aspek tata ruang. b. pemindahan hak dan penggunaan tanah. IPL dapat diberikan berdasarkan pertimbangan: a. g. penggunaan tanah dan usaha pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan guna meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya alam. dapat diperpanjang selama satu tahun. e. j. Izin Penetapan Lokasi Pembangunan untuk Kepentingan Umum (IPL) Izin penetapan lokasi pembangunan untuk kepentingan umum adalan izin peruntukan penggunaan tanah yang diperlukan oleh instansi pemerintah yang akan melaksanakan pengadaan tanah guna pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. Aspek penggunaan tanah yang meliputi perolehan hak. c.

(dilengkapi apabila direkomendasikan untuk diizinkan) 12) Siteplan sementara. 3) FC NPWP. 3) FC KTP para peserta konsolidasi. formulir disediakan. 16) Surat pernyataan dengan materai cukup tentang tanah-tanah yang sudah dimiliki oleh perusahaan pemohon dan perusahaanperusahaan lain yang merupakan grup pemohon. formulir disediakan. formulir disediakan. 4) FC akte pendirian perusahaan yang telah disahkah oleh pejabat yang berwenang. 15) Salinan surat persetujuan penanaman modal dari presiden/ BKPM/ BKPMD/ bagi perusahaan PMA/ PMDN. 5) Gambar kasar letak tanah atau denah letak tanah yang dimohon. 13) Site tanah (apabila tanah lebih dari satu bidang). 5) Gambar kasar letak tanah/ denah letak tanah yang diomohon. 4) Bukti penguasaan/ pemilikan tanah masing-masing calon peserta konsolidasi tanah. 7) Siteplan sementara lokasi konsolidasi tanah. c. 4) FC sertipikat tanah. 14) Surat pernyataan menyediakan fasilitas makam/ atau menggunakan TPU Pemkab Sleman (khusus pembangunan perumahan). 8) FC bukti kepemilikan tanah yang direncanakan akan dimohon. 7) Surat pernyataan dengan materai cukup tentang kerelaan dari pemilik hak atas tanah. Persyaratan IKT: 1) Surat permohonan. 6) Sketsa dan luas rencana lokasi konsolidasi tanah sebelum dan sesudah penataan. 2) FC KTP pemohon. 9) FC surat pemberitahuan PBB terutang dari tanah yang direncanakan diperoleh.a. 10) Uraian rencana proyek yang akan dibangun (proposal) dengan ditandatangani oleh pemohon. Persyaratan IL dan IPT: 1) Surat permohonan. 2) FC KTP pemohon. 5) Surat pernyataan kesediaan sebagai peserta. 2) Daftar nominatif calon peserta konsolidasi tanah. 11) Notulen dan daftar hadir sosialisasi rencana kegiatan yang akan dilaksanakan yang diketahui Dukuh. b. Persyaratan Ippt: 1) Surat permohonan. 5 . kesediaan memberikan sumbangan tanah untuk pembangunan fasilitas umum/ fasilitas sosial dan bersedia membayar biaya pelaksanaan kegiatan konsolidasi tanah. 6) Surat pernyataan dengan materai cukup tentang kesanggupan akan memberikan ganti kerugian dan atau menyediakan tempat penampungan bagi pemilik tanah yang berhak atas tanah. 3) FC SPPT PBB terakhir. 6) Surat keterangan waris apabila pemilik tanah sudah meninggal dunia. Kepala Desa dan Camat setempat. 7) Surat kuasa bermaterai cukup apabila tidak diurus oleh pemohon sendiri.

Penandatanganan izin perubahan penggunaan tanah. 6) Balai pengobatan dan atau rumah bersalin. 5) Uraian rencana proyek yang akan dibangun disertai keterangan mengenai aspek pembiayaan dan lamanya pelaksanaan pembangunan. 4) Pusat kebugaran. 2) Lokasi tanah yang diperlukan. Prosedur IPPT Prosedur IPPT dapat digambarkan dalam bagan berikut: Pemohon Kantor Pelayanan Perizinan Dinas Pengendalian Pertanahan Peninjauan Lokasi Rapat Koordinasi Tim 3. *Semua permohonan dibuat rangkap 15 eksemplar. formulir disediakan. 3) Luas dan gambar kasar tanah yang dimohonkan.KDH/A/2006 tentang Pendelegasian Wewenang Penandatanganan Izin Peruntukan Penggunaan Tanah. Pendelegasian Kewenangan Penandatanganan IPPT Berdasarkan Keputusan Bupati Sleman Nomor 57/Kep. 4) Penggunaan tanah pada saat permohonan diajukan.8) Surat kuasa dikuasakan). Penandatanganan izin pemanfaatan tanah. b. 5) Villa/ motel. 3) Restoran/ rumah makan/ usaha katering/ toko. dari calon peserta konsolidasi tanah (apabila d. khusus untuk jenis kegiatan: 1) Taman kanak-kanak/ kelompok bermain. 7) Makam baru atau perluasan makam. 6 . 2) Lembaga pendidikan kejuruan/ lembaga kursus. 2. Persyaratan IPL 1) Surat permohonan. Bupati Rekomendasi Tim 4. jenis kegiatan yang didelegasikan penandatanganannya kepada Kepala Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah adalah: a. 8) Stasiun penyiaran radio.

Kecamatan Gamping: Desa Trihanggo.00. Kawasan perkotaan meliputi: a. Tirtoadi. f. Pengembangan perumahan di kawasan perkotaan 2.000. Memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional. 10) Salon.9) Bengkel. h. 3. c. Minomartani.000. dan salon mobil. 12) Jasa laundry. A. Tujuan pengembangan perumahan adalah: 1. Memberi arah pertumbuhan bisnis perumahan. C. Tlogoadi. ** Mulai tahun 2011 IPPT tidak dikenakan retribusi. Nogotirto. dengan berlakukanya UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah** III. Menunjang pembangunan di bidang ekonomi. 2. harus memenuhi ketentuan: Kawasan Budidaya Kawasan Diluar Kawasan Resapan Air Resapan Air 200 m² 125 m² 40 % 50 % 70% 80% 60% 70% 7 No 1 2 3 4 Ketentuan Kavling minimal KDB maksimun KTLK maksimum KTLL maksimum . Kecamatan Godean: Desa Sidoarum. Pengembangan perumahan di kawasan perdesaan 3. 4. Melindungi masyarakat dan konsumen perumahan. Kecamatan Berbah: Desa Kalitirto. Sumberadi. i. budaya dan bidangbidang lain. cuci mobil. sosial. e. Kecamatan Kalasan: Desa Purwomartani. Caturtunggal. Ambarketawang. B. Kecamatan Depok: Desa Maguwoharjo. Kecamatan Mlati: Desa Sinduadi. Pengembangan rumah susun C. Untuk pengembangan perumahan di daerah perkotaan yang belum diatur dalam rencana detail tata ruang dan atau rencana tata ruang yang lebih rinci. Kecamatan Ngemplak: Desa Wedomartani. Banyuraden. Kecamatan Sleman: Desa Tridadi. Pengembangan Perumahan di Sleman Pengembangan perumahan di Kabupaten Sleman diatur dalam Peraturan Bupati Sleman Nomor 11 Tahun 2007 tentang Pengembangan Perumahan. d. Sendangadi. Condongcatur. Sanksi Setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 (kewajiban IPPT) diancam pidana kurungan selama-lamanya 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp5. Kecamatan Ngaglik: Desa Sariharjo. b. Pembagian kawasan 1. Jenis pengembangan perumahan 1. g. 11) Stasiun pengisian bahan bakar umum. melestarikan kawasan lindung dan konservasi sesuai dengan RTRW. Balecatur.

d. Berbetuk badan hukum (PT. Tidak terletak di kawasan hutan lindung dan atau situs purbakala.000 m². Kualifikasi pengembang Persyaratan pengembang yang bisa melakukan pembangunan perumahan antara lain: a. E. Yayasan. c. 6. Sekurang-kurangnya jalan lokal untuk luas perumahan sampai dengan 150. KTLK (Koefisien Tutupan Lahan Kavling) adalah perbandingan antara luas bangunan dan bangunan gedung yang menutup tanah terhadap luas kavling. e.Keterangan: KDB (Koefisien Dasar Bangunan) adalah koefisien perbandingan antara luas lantai dasar bangunan gedung dengan persil/ kavling. 8 .000 m². Sesuai dengan rencana tata ruang. 2. 3. dan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah bagi Koperasi. KTTL (Koefisien Tutupan Lahan Lingkungan) adalah perbandingan antara luas bangunan dan bangunan gedung yang menutup tanah terhadap luas lahan perumahan. Bagi Yayasan dan Koperasi dalam AD dan ART bertujuan menyediakan perumahan bagi anggotanya. Persyaratan lokasi pengembangan perumahan Lokasi pengembangan perumahan harus memenuhi persyaratan teknis antara lain: 1. Sekurang-kurangnya jalan kolektor sekunder untuk luas perumahan lebih dari 150. Luas lahan kurang dari 1 ha harus menempel dengan permukiman penduduk atau terpisah oleh sarana dan atau prasarana lingkungan. harus memenuhi ketentuan: Kawasan Budidaya Kawasan Diluar Kawasan Resapan Air Resapan Air 500 m² 200 m² 30 % 40 % 60% 70% 60% 70% No 1 2 3 4 Ketentuan Kavling minimal KDB maksimun KTLK maksimum KTLL maksimum D. Dalam akta pendiriannya bertindak sebagai pengembang bagi PT. Terdapat potensi air bersih dan jaringan listrik. adalah desa-desa diluar kawasan perkotaan. Untuk pengembangan perumahan di daerah perdesaan yang belum diatur dalam rencana detail tata ruang dan atau rencana tata ruang yang lebih rinci. jalan masuk utama tidak berhubungan langsung dengan jalan arteri atau kolektor primer. Memliki aksesibilitas jalan: a. 2. Pengesahan sebagai badan hukum dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia bagi PT dan Yayasan. b. Koperasi) b. seperti: REI. 5. Kawasan perdesaan. 4. Setiap pengembang perumahan harus memiliki sertipikat pengembang perumahan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang dan atau tergabung dalam asosiasi pengembang perumahan yang sah menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk izin lokasi perlu pertimbangan teknis pertanahan dari BPN yang membutuhkan biaya (PP 13 Tahun 2010 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak di BPN). Menyediakan sarana dan prasarana lingkungan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Setiap pengembangan perumahan tanah harus terlebih dulu menjadi Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama PT. Penyusunan siteplan harus memenuhi ketentuan dalam Peraturan Bupati Sleman Nomor 18/ Per. F. Penyusunan dokumen lingkungan dan disahkan pejabat yang berwenang. Perolehan tanah yaitu proses pelepasan hak atas tanah dari kepemilikan pribadi kepada negara dan berhak dimohon oleh PT untuk menjadi Hak Guna Bangunan (HGB). c. G. 3. (Perda 19 Tahun 2001) . . Untuk tanah yang statusnya masih sawah/ tegalan dibutuhkan pertimbangan teknis pertanahan dari BPN. Siteplan menjadi dasar penerbitan IMB dan pemecahan sertipikat. 5 Tahun 2011) 9 . Kewajiban pengembang Kewajiban pengembang dalam pembangunan perumahan antara lain: a. c. Izin mendirikan bangunan.Pelepasan hak atas tanah dapat dilaksanakan dihadapan notaris untuk tanah yang sudah bersertipikat atau dihadapan kepala Kantor Pertanahan untuk yang sudah bersertipikat maupun belum. e. dan dalam permohonan HGB oleh PT ada BPHTB yang harus ditanggung oleh PT. d. Menyerahkan sarana dan prasarana lingkungan dalam kondisi baik beserta bukti dokumen kelngkapannya. c.*Perseorangan bisa membangun perumahan maksimal sebanyak 4 unit dalam satu lokasi. b. a. Memenuhi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam pengembangan perumahan. Penyusunan siteplan dan disahkan pejabat yang berwenang. (Perda No. 2. Izin lokasi atau izin pemanfaatan tanah sesuai dengan keluasannya. b. (Keputusan Bupati Sleman Nomor 17/Kep. Mengurus perizinan sampai final. b.Bup/A/2005 tentang Persyaratan Tata Bangunan dan Lingkungan. 5. Siteplan disahkan apabila tanah telah dikuasai sepenuhnya oleh PT dalam bentuk HGB atas nama PT. Dalam proses perolehan tanah ada PPH penjualan atas tanah yang harus dibayar oleh pemilik tanah. Perolehan tanah: a. Perizinan Perumahan di Sleman Perizinan dan ketentuan yang wajib dilakukan oleh pengembang perumahan adalah: 1. wajib mendapatkan IV.KDH/A/2004) 4. Pemasaran perumahan Sebelum perumahan dipasarkan pengembang rekomendasi dari Dinas yang berwenang. Memenuhi hak-hak konsumen perumahan. ada biaya (PP Nomor 13 Tahun 2010 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak di BPN) -> apabila melalui IPT d.

b. Permasalahan Pengembangan Perumahan di Sleman Pembeli: Permasalahan perumahan yang ada di Sleman antara lain: BPHTB 1. 10 . Perda 19/2001 PP 13/2010 Kepbup 17/Kep. IMB yang tidak sesuai dengan ketentuan dikenakan denda. Sertipikat kavling atas nama PT baru bisa diperjualbelikan dalam bentuk HGB ke perorangan dan dalam kurun waktu tertentu oleh perorangan bisa ditingkatkan haknya menjadi Hak Milik (HM). IMB ada biaya retribusi. Proses perizinan tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut: Perda 5/2011 Perda 6/2011 a.Bup/A/200 5 IPT /IL Peroleha n Tanah Dokumen Lingkung an Sitepl an IMB Pecah Sertipika t PNBP Jual beli Hak Konsumen: 1. 3. 5. Pengembang mengajukan IL/ IPT tidak diambil (dianggap belum berizin). Pemecahan sertipikat. Perumahan dibangun di lokasi yang tidak sesuai dengan fungsi arahan tata ruang. Pengembang menghilang. 6 Tahun 2011) IMB terbit per kavling atas nama PT. Pengembang mempunyai IL/ IPT tetapi tidak dilakukan perolehan tanah sampai tuntas (sampai terbit HGB). a. IMB menjadi syarat untuk pemecahan tanah. 12. Pengembang telah melakukan perolehan tanah (HGB). 6. setelah jual beli kepada perorangan bisa dibalik nama perorangan.KDH/A/200 4 Kepbup 18/Per. 9. Pengembang tidak bonafit/ profesional. 10. 4. siteplan tidak sesuai dengan ketentuan akibatnya tidak bisa terbit IMB dan tidak bisa dilakukan pecah sertipikat. pengembang enggan menyelesaikan akibatnya IMB tidak terbit dan tidak bisa dilakukan pecah sertipikat. Sertipikat 2. 13. Perumahan tidak berizin sama sekali. 7. 11. c. b. 2. 6. Pengembang bangkrut. Siteplan yang tidak sesuai dengan ketentuan dikenakan denda. Perumahan dibangun sebelum izinnya lengkap. d. IMB PNBP Penjual: PPH PT: BPHTB Non retribusi Retribus i PT: PPH V. (Perda No.IMB dapat diberikan apabila siteplan telah disahkan. 8. Sertipikat HGB atas nama PT dipecah per kavling masih atas nama PT. Pengembang tidak bertanggung jawab. pengembang enggan melanjutkan izin akibatnya tidak bisa pecah sertipikat. Perumahan dibangun sebelum ada izin.

Perumahan diperjualbelikan dengan bentuk perikatan jual beli.14. baik dari pemerintah sendiri. Semoga materi ini bermanfaat dalam pelatihan. Sertipikat diagunkan di bank oleh pengembang yang seharusnya diperoleh dulu. VI. Dengan kebijakan otonomi daerah. dimungkinkan prosedur dan tata cara perizinan berbeda dari satu daerah dengan daerah lain khususnya kebijakan yang ditetapkan oleh daerah melalui Perda maupun Perbub/wal. Penutup Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa proses perizinan dan khususnya perumahan di Kabupaten Sleman telah diatur sedemikian rupa demi untuk kepentingan pengendalian pertanahan daerah di Sleman. 11 . Prosedur perizinan secara jelas telah diatur. masyarakat pihak swasta bahkan pihak pegak hukum. Dengan materi ini diharapkan bisa memberikan pemahan kepada aparat penegak hukum mengenai sistem dan prosedur serta hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan perumahan khususnya di Kabupaten Sleman. 16. Konsumen tidak mengetahui persis proses perizinan yang dilakukan oleh pihak pengembangan perumahan dan pihak pengembang tidak menginformasikan secara lengkap kepada konsumen. Penawaran perumahan yang tidak jujur oleh pengembang. padahal sertipikat belum pecah. Dalam prakteknya pengembangan perumahan masih saja menimbulkan masalah karena alasan-alasan yang tidak seharusnya. Kebutuhan akan perumahan sebagai kebutuhan dasar manusia dipenuhi dengan pembangunan secara mandiri maupun pembangunan perumahan oleh pihak pengembang. 15. membuka peluang pengembang perumahan berinvestasi dan melindungi hak-hak konsumen perumahan. 17. tinggal bagaimana ketaatan para pengembang untuk mematuhinya. Guna mengurangi permasalahan perumahan di belakang hari yang biasanya akan berdampak sosial lebih luas perlu kiranya dilakukan upaya-upaya pemahaman oleh semua pihak. Posisi Kabupaten Sleman yang berada di atas dari kabupaten dan kota lainnya perlu dikendalikan demi kepentingan keberlanjutan Sleman dan daerah lainnya. 18. Konsumen tidak mendapatkan hak-haknya sebagai pembeli.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful