P. 1
Laporan Fix Strabismus b12

Laporan Fix Strabismus b12

|Views: 501|Likes:

More info:

Published by: Istiati Kusuma Wardhani on Dec 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Blok Neurosensory merupakan blok 15 pada semester 5 dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus sebagai bahan pembelajaran untuk menghadapi tutorial yang sebenarnya pada waktu yang akan datang. Penulis memaparkan kasus yang diberikan mengenai Anak laki – laki berumur 10 tahun yang mengeluh mata kanan yang juling ke dalam akibat mengalami kecelakaan lalu lintas.

1.2 Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dari materi praktikum tutorial ini, yaitu : 1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. 2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan pembelajaran diskusi kelompok. 3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial dan memahami konsep dari skenario ini.

1

14 November 2012 Peraturan tutorial : 1.KK : M. 3. Mutia Devi. 4. 2 . Sp. Alat komunikasi dinonaktifkan. 12 November 2012 Rabu. Tidak diperbolehkan makan dan minum. 2. Izwan Iqbal Tyasta : Venny Soentanto : Sintia Eka Aprilia : Senin.BAB II PEMBAHASAN 2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat dengan cara mengacungkan tangan terlebih dahulu dan apabila telah dipersilahkan oleh moderator.1 Data Tutorial Tutorial Skenario A Tutor Moderator Sekretaris papan Sekretaris meja Waktu : dr. Tidak diperkenankan meninggalkan ruangan selama proses tutorial berlangsung.

Bersamaan dengan itu penderita mengeluh mata kanan sulit digerakkan kearah temporal kanan dan penglihatan ganda semakin bertambah bila melihat ke temporal kanan. Pemeriksaan Oftalmologi : AVOD : 6/6 E AVOS : 6/6 E Hischberg : ET 15 o ACT (Alternating cover test) : Shifting (+) OS mata dominan Duction & Version : OD OS WFDT (Worth Four Dor Test) : Uncrossed Diplopia semakin bertambah bila melihat ke sisi mata nondominan FDT (Forced Duction Test) : Tidak terdapat tahanan pada gerakan dengan bantuan pinset 3 .Skenario A Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun dibawa ibunya ke klinik dengan keluhan mata kanannya juling kedalam. Keluhan ini muncul sejak mengalami kecelakaan lalu lintas 6 bulan yang lalu. Pada kecelakaan tersebut kepalanya terbentur dan penderita sempat kehilangan kesadran selama lebih dari 30 menit.

dan anteroposteriornya. AVOD : (Acies Visus Oculus Dextra ). verrtikal. 5. Hischberg test : pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui adanya juling/ tidak dengan sentolop dan melihat reflex sinar pada kornea. Duction : rotasi mata oleh otot ekstraokuler kesekeliling axis horizontal. AVOS : (Acies Visus Okulo Sinistra ). 4. 7. Kesadaran : mampu merespon rangsangan sensoris dan memiliki pengalaman subjektif. 6. Pada kecelakaan tersebut kepala penderita terbentur dan penderita sempat kehilangan kesadaran selama lebih dari 30 menit. ACT : ( Alternating Cover Test ) Pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui apakah pasien mengalami deviasi bola mata/ tidak . 2. Temporal kanan : bagian lateral kepala yang berada di arcus zygomaticum kanan. tajam penglihatan mata kanan. Sumbu pandang mengambil posisi relative satu terhadap lainnya yg berbeda dari yg diperlukan untuk keadaan fisiologis. Penglihatan ganda : persepsi adanya 2 bayangan dari suatu objek. Uncrossed diplopia : suatu gangguan penglihatan yang mana objek terlihat ganda dimana bayangan mata kanan muncul 11. FDT : ( Forced Duction Test ) : pemeriksaan yang bertujuan mengetahui penyebab juling. Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun dibawa ibunya dengan keluhan mata kanannya juling kedalam. 3. 12. ambliopia. 9. 4 . 10. apakah karena otot mata yg lumpuh atau ada jaringan yang menghambat gerakan otot. WFDT : pemeriksaan yang bertujuan untuk melihat adanya supresi. Keluhan tersebut muncul sejak mengalami kecelakaan lalu lintas 6 bulan yang lalu. 2. Identifikasi masalah 1. tajam penglihatan mata kiri. II. deviasi. dan fusi.I. Juling ( strabismus ) : Deviasi mata yang tidak dapat diatasi oleh penderita. Klarifikasi Istilah 1. dimana setiap pergerseran letak reflex sinar dari sentral kornea1 mm berarti ada deviasi bola mata 7 o 8.

3. 4. Hasil Pemeriksaan Oftalmologi AVOD : 6/6 E AVOS : 6/6 E Hischberg : ET 15 o ACT (Alternating cover test) : Shifting (+) OS mata dominan Duction & Version : OD OS WFDT (Worth Four Dor Test) : Uncrossed Diplopia semakin bertambah bila melihat ke sisi mata nondominan FDT (Forced Duction Test) : Tidak terdapat tahanan pada gerakan dengan bantuan pinset 5 . Bersamaan dengan itu penderita mengeluh mata kanan sulit digerakkan kearah temporal kanan dan penglihatan ganda semakin bertambah bila melihat ke temporal kanan.

VI ).III. yaitu mata yang satu memandang lurus ke depan sementara mata lainnya memandang lurus kea rah telinga. yaitu mata yang satu memandang lurus ke depan sementara yang lainnya ke arah bawah. abducens ( N. b. c. Apa saja klasifikasi strabismus? Jawaban : Secara umum jenis-jenis strabismus adalah : a. Hipertropia yaitu mata yang satu memandang lurus ke depan sementara yang lainnya ke arah atas. Analisis masalah 1. Apakah hubungan usia dengan keluhan yang dialami penderita? Jawaban : Usia digunakan untuk membedakan antara strabismus yang dibawa dari lahir atau kongenital dengan strabismus yang didapat serta usia disini juga 6 . Pada kasus ini si anak mengalami strabismus jenis esotropia. Mekanismenya : Trauma kepala akibat kecelakaan menyebabkan parese dari N. Eksotropia. Hipotropia. Rectus Lateralis yang berfungsi menggerakkan bola mata kearah temporal. atau kedua mata melihat kea rah hidung. Kelainan anatomi Kelainan otot ekstraokuler Kelainan dari tulang orbita Kelainan kuantitas stimulus pada otot bola mata Kelainan inervasi 2. Karena hal tersebut lah si anak mengalamai esotropia. a. Apa etiologi secara umum dari strabismus dan bagaimana mekanisme strabismus pada kasus ini? Jawaban : Etiologi secara umum : 1. b. d. Faktor keturunan. c. padahal saraf ini mempersarafi M. walapun “genetic patternya” belum diketahui. atau kedua mata melihat kea rah telinga. Esotropia yaitu satu bola mata memandang lurus kedepan sementara mata lain ke arah hidung.

Cornea --> Bagian terdepan yang terletak pada tengah depan bola mata. Retina --> bagian paling dalam dari mata dan merupakan lapisan ke 3 dari mata. dilubangi oleh pupil 6. Iris. Dan berdasarkan evolusi gerakan binocular dan visus pada anak 10 tahun s sudah matang. batang biasanya sensitif terhadap penglihatan dalam gelap. 3. sedangkan kerucut bermanfaat pada penglihatan terang karena sensitif terang. 9. Lapisan Fibrosa --> merupakan lapisan terluar. fungsinya berperan pada sistem vaskularisasi. menghubungkan choroid dan iris 5. batang dan kerucut. cairan ini biasanya mengisi anterior chamber dan posterior chamber. 8. 2.diperlukan untuk menentukan prognosisnya. a. berbentuk sirkular. Pupil --> Bagian bulat yang terbuka pada lapisan koroid 7. Bagaimana anatomi region orbita ? Jawaban : Secara umum terdiri dari 3 lapisan : 1. dan merupakan lapisan vaskular yang memanjang dari ora serrata sampai optic nerve 4. biasanya terletak dibawah fove centralis dan macyka 10. Lapisan Neural --> merupakan lapisan paling dalam. Punya 2 pigmen. Lensa --> struktur seperti kristal yang terletak dibelakang iris & pupil. terdiri dari Retina. serta berwarna bening. Semakin dini usia anak tersebut terkena strabismus. Discus Opticus --> Merupakan bagian yang disebut blind spot. Bagian-Bagian Bola Mata : 1. warnanya putih 2. Sclera --> lapisan terluar bola mata. maka prognosisnya semakin jelek. Aqueous dan vitreous humor --> merupakan cairan yang diproduksi di mata. Lapisan Vascular --> merupakan lapisan tengah. Fungsinya untuk memberi nutrisi bagi kornea dan lensa. 3. Berfungsi untuk memfokuskan bayangan. Terdiri dari Koroid. dan Corpus ciliary. serta mengatur tekanan intraokular. fungsinya sebagai rangka bola mata. 7 . 2. Choroid --> Lapisan tipis. Corpus cilliary --> lapisan paling tebal dari tunica vasculare mata. Terdiri dari Sclera dan Cornea. Fovea Centralis --> mengandung sel kerucut untuk penglihatan warna 11. berpigmen. Iris --> Membran sirkular berpigmen di belakang kornea.

III yaitu nervus opticus. VI fungsinya lebih ke pergerakan bola mata. dan IV. Apakah pengaruh benturan kepala dengan keluhan yang dialami penderita? Jawaban : N. rectus superior. M. yaitu N. Rectus Superior --> memutar bola mata ke atas 2. Dilator Pupillae --> dilatasi pupil Persarafan Mata Untuk nervi cranialis yang berhubungan dengan penglihatan ada 4.C. IV mempersarafi otot obliqus superior. M. Nervus III mempersarafi otot bola mata sebagai berikut : M. lap. dan obliqus inferior. b. Sedangkan pada N. N. IV.gangguan yang dapat memberi tekanan pada syaraf yang menyebabkan pembengkakan disekitarnya atau peningkatan tekanan di dalam tengkorak.Otot-otot Mata *Ekstrinsik --> berada di luar bola mata 1. Rectus lateralis --> memutar bola mata ke bagian lateral atau temporal 4. II. Rectus medius. sehingga rawan terhadap gangguan. IV. Yang lainnya berhubungan dengan aliran darah menuju syaraf.C. 8 .VI merupakan saraf otak terpanjang intra kranial. Obliqus inferior --> memutar bola mata pada axisnya. gerakan pupil. Rectus Inferior --> memutar bola mata ke bawah 3. M. M. fungsinya lebih ke arah kemampuan bola mata. Serta menggerakan kornea ke bawah dan lateral *Intrinsik --> Otot yang berada di dalam bola mata 1. Pandang. Rectus Medialis --> memutar bola mata ke arah medial 5. C. III. rectus inferior. Kelumpuhan abdusen dapat terjadi pada tekanan intrakranial yang tinggi serta gangguan i. menggerakan kornea ke bawah dan lateral 6. M. Obliqus superior --> memutar bola mata pada axisnya.C. Untuk N. visus. serta penglihatan warna. III. M. Spinchter pupillae --> kontraksi Pupil 2. serta celah mata.

Mengapa mata kanan sulit digerakkan kearah temporal kanan dan terjadi penglihatan ganda yang bertambah parah apabila melihat ke temporal kanan? Jawaban : Karena adanya parese dari N. abduksi elevasi. VI) dan bola mata kanan tidak bias digerakkan kearah temporal. Abducens ( N. Namun strabismusnya berhubungan dengan riwayat trauma yang dialami 6 bulan lalu. 9 . yang berfungsi untuk mengerakan bola mata kearah lateral. a.intorsi Aduksi. Apa hubungan antara kehilangan kesadaran lebih dari 30 menit akibat kepala terbentur dan juling kearah dalam yang diderita anak ini? Jawaban : Tidak ada hubungan antara hilang kesadaran selama 30 menit akibat kecelakaan dengan strabismus. Paralisis nervus VI adalah kelumpuhan nervus VI yang mensarafi m. Kenapa hanya mata kanan yang bermasalah pada kasus ini? Jawaban : Karena kemungkinan bagian kepala yang mengalami benturan saat kecelakaan di daerah temporal kanan. VI (abdusen). rektus lateralis. Mekanisme hilang kesadaran: Dibatang otak ada RAS (Reticular activating system) sebagai pusat kesadaran yang mudah meregang jika ada benturan. 3. abduksi Nervus VI III III III IV III b. Benturan  peregangan RAS  blokade terhadap input aferen  hilang kesadaran. Bagaimana fisiologi pergerakan bola mata? Jawaban : Otot Rektus lateral Rektus medial Rektus superior Rektus inferior Oblik superior Oblik inferior Keria primer abduksi aduksi elavasi depresi intorsi ekstorsi Kerja sekunder Aduksi.c. Sehingga hal tersebut membuat terjadinya parese N.ekstorsi depresi. c. Sehingga pada kasus ini mata kanan sulit digerakkan ke arah temporal kanan.

karena ada deviasi bola mata menyebabkan bayangan jatuh bukan di fovea sentralis tapi di retina perifer. Anak duduk 6 meter dari E-chart. Landolt C.Pada mata kiri (normal) bayangan jatuh di fovea sentralis. Lea symbol. rectus lateralis WFDT Uncrossed diplopia Diplopia yang terjadi jika bayangan yang terlihat oleh mata yang terletak di bagian luar sisi yang sama dengan benda aslinya FDT Tidak terdapat tahanan pada pergerakan dengan bantuan pinset Mata juling akibat paresis otot bola mata b. Pemeriksaan tajam penglihatan pada anak bisa menggunakan : Snellen Chart. Jadi objek yang sama terlihat di dua tempat  diplopia 4. Cara melakukan pemeriksaan tajam penglihatan dengan E-chart : 1. 10 . 2.. mata kanan lalu mata kiri. Bagaimana intrepretasi dan mekanisme hasil pemeriksaan oftalmologi? Jawaban : Pemeriksaan AVOD AVOS Hischberg 15° 6/6 E Kasus Interpretasi Tidak ada gangguan tajam penglihatan Letak penyimpangan posisi bola mata di pinggir pupil ACT Shifting (+) OS mata dominan Duction and version Ada hambatan pada m. Tutup mata namun jangan ditekan. E-chart. Namun pada mata kanan. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan AVOD dan AVOS ? (Acies Visus Okula Dextra dan Sinistra) Jawaban : AVOD dan AVOS merupakan tajam penglihatan mata kanan dan kiri ( visus). Pemeriksaan dilakukan pada masing – masing mata. a.

Mulai dengan huruf E yang paling atas.3. Sentolop disinarkan setinggi mata pasien sebagai sinar fiksasi 2. 3. 4. Refleks sinar pada mata fiksasi diletakkan ditengan pupil. Hasil : 1) Bila letaknya ditengah berarti tidak ada deviasi 2) Bila letaknya dipinggir pupil maka deviasinya 15 º 3) Bila letaknya dipertengahan antara pupil dan limbus maka deviasinya 30 º 4) Bila letaknya dilimbus maka deviasinya 45 º d. Adapun teknik dari pemeriksaan alternating cover test:    Pasien melihat jauh 6 meter/dekat 30 cm Okuler dipindah dari satu mata ke mata lain bergantian Pada tiap penutupan mata diberikan waktu cukup untuk mata lain berfiksasi 11 . 5. 4. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan Hischberg Test ? Jawaban : tujuan test ini adalah untuk melihat derajat pengguliran bola mata abnormal dengan melihat reflex sinar pada kornea. Sentolop terletak 30 cm dari pasien. Cara melakukan pemeriksaan : 1. Minta anak melihat kearah E-chart. Dilihat letak reflex sinar pada kornea mata yang lain. Dengan menutup satu mata kan terjadi disosiasi. Normalnya : 6/6 c. Lakukan sampai anak tidak bisa lagi menunjukkan arah yang sesuai. dan minta anak menunjukkan arah yang sesuai dengan arah ketiga kaki huruf E. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan Alternating Cover Test ? Jawaban : Alternating cover test bertujuan untuk melihat apakah mata melihat dengan binokuler. Dasar dari pemeriksaan ini adalah tutup mata bergantian tidak dimungkinkan kedua mata melihat bersama-sama.

2 lobang lateral berwarna hijau. 1 diatas warna merah. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan Forced Duction Test ? Jawaban : FDT menjadi pilihan yang populer sebagai metode yang simpel dan sangat berguna untuk mendiagnosis adanya gangguan mekanik dari motilitas okular. Kaca filter merah pada mata kanan dan kaca filter hijau pada mata kiri. f. Pasien memakai kaca mata.Selanjutnya pemeriksaan tersebut dinilai:    Bila tidak terdapat pergerakan mata berarti mata ortoforia atau ortotropia yakni normal Pemeriksaan ini membantu cover dan uncover Bila terjadi pergerakan berarti ada tropi atau foria dengan mata tampak juling atau juling laten e. deviasi. Cara melakukan pemeriksaan ini : 1. Cara pemeriksaan : 1. 3. Pasien diperiksa pada jarak 6 meter atau 30cm. sewaktu melihat Worth four dots ( kotak hitam dengan 4 lobang. lebar 2-3 cm. 2. koreksi diberikan sesuai kaca mata. Kita beri Anastesi pada konjungtiva dengan beberapa tetes lidocaine hydriochloride 4% (Xylocaine). Nilai : Bila 2 titik merah saja yang terlihat berarti ada supresi mata kiri Bila 3 titik hijau saja yang terlihat berarti ada supresi mata kanan Bila tampak sumber cahaya putih kadang – kadang berwarna hijau kadang – kadang berwarna merah berarti adanya supresi berganti. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan Worth Four Dot test ? Jawaban : Tujuan test ini adalah untuk melihat adanya supresi. dan fusi. susunan ketupat. Bila tampak 5 sinar berarti diplopia yang dapat bersilang. Xylocaine tidak seperti anastesi lokal lain yang mempunya efek epitelium kornea. 12 . 1 dibawah warna putih ). ambliopia. Pasien diminta menerangkan apa yang dilihat dengan kedua mata.

7. defek motilitas jelas disebabkan oleh kontraktur dari otot rectus medialis. uji objektif.6 tahun prevalensi strabismus sekitar 2. pemeriksaan ketajaman penglihatan. pemeriksaan kelainan refraksi. Bagaimana epidemiologi dari kasus ini? Jawaban : Di Los Angeles pada usia 6 bulan . Strabismus terjadi pada kira-kira 2% anak-anak usia di bawah 3 tahun dan sekitar 3%remaja dan dewasa muda. konjungtiva. Selengkapnya disintesis. atau kapsul tenon. defek motilitas jelas disebabkan oleh paralisis dari otot rectus lateralis. Apa diagnosis banding dari kasus ini? Jawaban :     esotropia et causa parese saraf abdusen pseudoesotropia et causa wide epicanthus esotropia et causa cedera otot esotropia laten 6.5%.dan pemeriksaan sensorik. Working Diagnosisnya adalah esotropia oculi dextra et causa parese N. gerakkan secara pasif dengan forceps tadi ke arah kanan kiri Hasil : Jika tidak terjadi tahanan. Kemudian gerakkan bola mata dengan two-toothed forceps pada konjungtiva di sekitar limbus. Lakukan Gerakan yang berlawanan dengan bagian yang dicurigai mengalami gangguan atau keterbatasan 3. 8. menentukan sudut deviasi. Dan ada faktor keturunan. inspeksi. Apabila terjadi tahanan. Abducens. Two-toothed forceps dapat diletakkan pada posisi jam 12 dan jam 6. Apa pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis kasus ini? Jawaban : CT Scan kepala. Bagaimana menegakkan diagnosis dan apa working diagnosis kasus ini? Jawaban : Cara penegakan diagnosis meliputi anamnesis.2. atau myositis pada otot rectus medialis 5. karena Ct scan diperlukan untuk mengetahui letak lesi. 13 .meningkat dengan bertambahnya usia. Antara pria dan wanita faktor resikonya sama.

Penyumbatan pada arteri yang mensuplai syaraf.Ambliopia . bisa disebabkan dari diabetes. serangan ischemic transient. Glioma di pons 11.Mata lelah .basilaris) 5. Infeksi otak.stroke. 10.Diplopia .9.Gejala objektif : posisi bola mata menyimpang ke arah nasal. bisul otak atau infeksi parasit 6. 8. Apa etiologi dan faktor resiko dari kasus ini ? Jawaban : Banyak gangguan bisa menyebabkan kelumpuhan ini seperti: 1. bisa dua mata bergantian. Tumor 3. seperti meningitis.Penglihatan kabur . Benign intracranial hypertension (pseudotumor cerebri) 10. abducens akibat trauma kepala. Trauma kepala 2. Komplikasi pada telinga atau infeksi mata 7. Aneurysms(a. arteritis atau vasculitis. Multiple sclerosis 4. bisa satu mata. .Fiksasi silang Hipermetropi . Infeksi pernafasan (pada anak) Pada kasus ini paralyse N. Bagaimana patofisiologi kasus ini? Jawaban : di lampiran.Deviasi pada mata 14 .Hyperopia . Apa saja manifestasi klinis kasus ini? Jawaban : .Gejala Subjektif : mata juling ke dalam. .Sakit kepala . Wernickle’s encephalopathy(umumnya disebabkan oleh alkohol kronik) 9. 11.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi pada kasus ini? Jawaban : a. pita. Astenopia (kelelahan mata) d. Bagaimana penatalaksanaan untuk kasus ini? Jawaban : a. Sesudah berusia 8 tahun biasanya dianggap terlambat karena penglihatan yang terbaik berkembang sebelum usia 8 tahun d. Lensa plus / dengan miotik Menurunkan beban akomodasi dan konvergensi yang menyertai 2. Penutup Mata Penggunaan plester mata harus dilakukan sedini mungkin dan mengikuti petunjuk dokter. 3. atau mata ditutup dengan berbagai cara. Lensa minus dan tetes siklopegik Merangsang akomodasi pada anak-anak c. Ambliopia (tajam penglihatan tidak optimal sesuai dengan usia dan intelegensianya. Pleotic Obat-obatan Latihan dengan synoptophone b. 1. Recession : memindahkan insersio otot Resertion : memotong otot ekstraokuler 13. Orthoptic Oklusi Mata yang sehat ditutup dan diharuskan melihat dengan mata yang ambliop.12. Suntikan toksin botulin e. 4. 2. Memanipulasi akomodasi 1.oklusi sebagian juga harus bisa dilakukan dengan membrane plastik. walaupun sudah dikoreksi) c. Gangguan psikis 15 . Operatif 1. 2. lensa. Diplopia (penglihatan ganda) b.

Namun sekitar sepertiga anak-anak dengan strabismus akan mengalami ambliopia sehingga harus dipantau secara ketat.14. Apa prognosis kasus ini? Jawaban : Dalam kasus ini. Apa kompetensi dokter umum untuk kasus ini? Jawaban : Tingkat kemampuan 2 yakni : Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). maka bila segera dirujuk dan ditangani secara cepat dan tepat prognosisnya Bonam. Dokter mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya. 15. IV. Hipotesis : Anak laki-laki. sehubungan dalam test hischberg deviasinya masih sekitar 15°. 10 Tahun menderita Esotropia Oculi Dextra akibat trauma kepala 16 .

rectus lateralis mata kanan.VI) 17 .AVOD dan AVOS : 6/6 E .V.Saat kecelakaan kepala si anak Pemeriksaan Oftalmologi : .Keluhan muncul 6 bulan yg lalu setelah kecelakan. Abducens (N. . .ACT : Shifting + OS mata dominan . Esotropia Oculi Dextra et causa parese N.FDT : Tidak ada tahanan.Bersamaan dengan itu si anak : Uncrossed Diplopia mengeluh sulit menggerakan mata kanan kearah temporal dan mengalami diplopia saat melihat ke temporal kanan bertambah saat melihat ke sisi mata yg dominan . . Kerangka Konsep Anak laki – laki 10 tahun Mengeluh mata kanan juling ke dalam Anamnesis : .WFDT terbentur dan hilang kesadaran lebih dari 30 menit.Hischberg : ET 15 O .Duction& Version : ada hambatan pada M.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->