P. 1
kutu putih

kutu putih

|Views: 1,239|Likes:
Published by Fitria Eka
hama pada tanaman mangga
hama pada tanaman mangga

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Fitria Eka on Dec 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/04/2014

pdf

text

original

Kutu putih

Wednesday, 25 April 2012 04:27 ndik_63

Kutu dompolan / Kutu putih: (Pseudococcus sp.)
Ordo : Hemiptera Famili : Pseudococcidae

Gejala serangan

Kutu putih ini biasanya ditemukan pada anak daun terutama dekat tulang daun karena serangga ini merusak tanaman dengan cara mengisap cairan tanaman. Infestasi berat serangan ditandai adanya warna putih dan terdapat semacam massa seperti lilin pada bagian batang, buah dan sepanjang tulang daun bagian permukaan bawah daun. Infestasi berat biasanya muncul pada percabangan dan daun disertai embun madu. Apabila serangan terjadi pada pucuk, daun tidak dapat berkembang dengan sempurna, bahkan dapat mati. Daun tua yang terserang menjadi berwarna hijau kusam, pada serangan berat, daun menjadi layu.

Morfologi dan Bioekologi

Populasi kutu biasanya meningkat pada bulan kering terutama saat kelembaban nisbi pada siang hari turun sampai di bawah 75%. Eksplosi dapat terjadi apabila kelembaban nisbi turun drastis di bawah 70% selama 3 – 4 bulan dan dikombinasikan dengan hari hujan kurang dari 10 hari per bulan. Serangga dewasa tidak menghasilkan telur. Nimfanya berukuran 0.3 mm berwarna kekuningan pucat seluruh tubuhnya tertutup lilin putih. Serangga betina baik yang dewasa maupun yang belum dewasa memiliki warna sama, dan masing-masing memiliki 17 pasang ’tungkai’ berwarna putih.

Tanaman Inang Lainnya

Jeruk, persik, alpukat, jambu biji, pir, terong dan anggur.

Pengendalian

Cara Biologis

 

Pengendalian secara biologi, pernah diterapkan di California, dilakukan dengan penggunaan parasitoid jenis lebah, yaitu : Tetracnemoidea sydneyensis dan T. Peregrina, serta predator dari bangsa kepik : Cryptolaemus montrouzieri. Terjadinya ledakan hama sering disebabkan oleh penggunaan pestisida secara tidak bijaksana, jadi sedapat mungkin pengendalian dengan bahan kimia dihindari karena b erdasarkan penelitian, terdapat resistensi setelah dilakukan aplikasi pestisida pada kutu ini.

http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=396&Itemid=3 55

Kutu Putih dan penanggulangannya
1/07/2010 05:08:00 PM By Gema Pramugia Rachmat

Wah tanaman hiasku terserang kutu putih, dan parahnya hama ini bisa terbang dan pindah ke tanaman lainnya dengan cepat, ditambah dengan kemampuannya bertelur, repot deh. Untuk urusan ini terpaksa diriku cari info di internet, sekalian buat bahan tulisan di blog tentunya.

Berikut yang aku temukan. Hama kutu putih atau bahasa kerennya mealy bug atau paracoccus marginatus merupakan salah satu hama yang kerap menyerang tanaman, baik tanaman sayuran maupun tanaman hias, Hama jenis serangga ini mengeluarkan sejenis zat putih yang berlilin, berkapas putih yang menutupi keseluruhan badan lembut yang berwarna merah muda, menyebabkan ia kelihatan seperti debu putih. Kutu putih dapat ditemukan pada bagian tanaman yang menjadi pertemuan antara daun dan batang (buku-buku batang), atau batang dan buah (kebetulan pohon jerukku juga terkena hama ini, dan sang kutu berdiam diri di sela sela buah dan batang), serta diatas dan atau dibawah daun muda. Sang kutu menyerang tanaman dengan cara menghisap sari dari tanaman, yang mengakibatkan tanaman menjadi layu, dan itu juga sebabnya daun muda tanaman hiasku semuanya mengkerut. Selain itu kutu putih ini juga mengeluarkan cairan manis sepertt madu yang dapat mengundang semut, dan seperti pepatah ada gula ada semut, maka juga berlaku keadaan ada kutu putih ada pula semut, pada awalnya aku kira semut ini berfungsi sebagai predator alam sang kutu tapi ternyata bukan begitu adanya. Menurut beberapa sumber, hama kutu putih terjadi pertama kali di luar negeri pada 1998, tepatnya di Florida, Amerika Serikat. Hama ini bisa sampai ke Indonesia dengan perantara melalui tanaman hias impor seperti plumeria, hibiscus, acalypha yang dikenal luas sebagai tanaman inang hama kutu putih yang sama. Dengan kemampuannya menempel di baju, bisa jadi salah satu kemungkinan mengapa sang kutu bisa ada di Indonesia adalah melalu proses pertukaran baju dan atau kegiatan import barang bekas, bisa juga sang kutu menempel di baju pelancong dari luar negeri lalu melayang terbang saat sang turis singgah di Indonesia. Tentu saja ini masih harus dibuktikan lebih lanjut, dan aku pikir tidak ada pihak yang berniat untuk mengadakan penelitian mengenai ini.

Dengan kemampuannya dalam berkembangbiak, disebutkan bahwa kutu putih dewasa betina mampu bertelur hingga 500 butir yang diletakkan dalam satu kantung telur terbuat dari lilin dan berbiak 11-12 generasi dalam kurun setahun, adalah menjadi sangat wajar bila kutu ini menjadi ancaman serius didalam dunia pertanaman. Saking seriusnya, sampai ada penelitian mengenai sang kutu seperti dilaporkan dalam Journal of Agricultural and Urban Entomology, berikut ini aku tampilkan abstrak dari penelitian tersebut. The papaya mealybug, Paracoccus marginatus Williams and Granara de Willink (Hemiptera: Pseudococcidae), is recorded from the Oriental Region for the first time, where it was found in Indonesia (Java) and India (Tamil Nadu) in 2008. Papaya mealybug is a polyphagous pest that damages many tropical crops. A native of Central America, it spread to the Caribbean region and South America in the 1990s; since then it has been accidentally introduced to some islands in the Pacific region. The distribution, host range and characteristics of the mealybug are summarized. Mengapa papaya, karena ternyata kutu putih ini pada awalnya adalah hama papaya. Silahkan klik link ini untuk membaca mengenai kutu putih pepaya. Lalu bagaimanakah cara kita membasminya? Ada banyak cara yang bisa lakukan, dari pengobatan alami/herbal sampai pengobatan menggunakan insectisida. Kita mulai dari pengobatan alami. Menurut beberapa sumber bawang putih bisa dijadikan alternatif untuk obat kutu putih ini. Akan tetapi, itu tergantung dari pemilihan bawang putih itu sendiri, yaitu pengetahuan kita mengenai sehat atau tidaknya bawang putih yang akan kita gunakan untuk obat, apabila kita memotong bawang putih, akan sering ditemukan kondisi bawang putih dengan bercak coklat, atau busuk kecil atau lingkaran berwarna coklat pada daging bawang yang menurut beberapa literature, tanda bahwa bawang putih tersebut mengalami serangan jamur dan bakteri. Jadi saran mengenai teknik ini adalah gunakanlah bawang putih yang sehat sehingga tujuan yang kita kehendaki dapat tercapai, Amien. Berikutnya adalah metoda yang di dapat dari milis India, yaitu pengobatan menggunakan campuran Air, Sabun Colek, Minyak Tanah dan Obat Pestisida. Berikut adalah langkah langkahnya: 1. Ambil sabun colek satu sendok makan lalu larutkan dalam kaleng susu bekas ukuran 900 gram. Gunakan air bersih sebanyak setengah kaleng susu tersebut. 2. Tambahkan minyak tanah (kerosene) sebanyak seperempat dari kaleng tersebut. (jadi perbandingan air dan minyak tanah adalah 2:1). 3. Jika tidak mempunyai pestisida, maka gunakanlah cairan pembunuh serangga sebanyak dua sendok makan. 4. Campur dan aduk hingga membentuk emulsi dan sabun tidak berbusa dan tidak menggumpal lagi. Hindari gumpalan sabun karena akan menyumbat botol sprayer. Tampak larutan seperti air cucian

beras. 5. Masukkan cairan kedalam botol sprayer. Semprotkan ke tanaman yang terkena kutu putih, terutama bagian bawah daun dimana hama kutu putih berkumpul. Jangan lupa, gulma sekitar tanaman harus disemprot juga agar menghindari serangan hama tersebut di kemudian hari. Kemudian metoda lainnya yang bisa dan biasa digunakan adalah penggunaan insectisida, berikut ini beberapa alternatif yang ada: 1. Insektisida kontak atau sistemik yang bisa digunakan, seperti mitac 200 EC dosis 1-2 ml/l, Decis 1 cc/l, dan Cofidor 200 SL dosisi 1 ml/l. 2. merujuk dari daftar obat Deptan 2006, kutu putih dapat ditanggulangi dengan menggunakan AKOTHION 400EC, Akothion ini berbahan aktif Akothion 400 EC berbahan aktif : metidation :400 g/l. Itulah yang aku dapatkan dari internet, dan dari beberapa alternative yang ada, aku akan lari ke alternatif terakhir yaitu penggunaan akothion, untuk itu, trubus kembali menjadi tujuan akhir pekan ini. Wah sempatkah? Rencanaya weekend ini aku akan mulai berkebun sayuran, dan belajar menanam papaya California, wah bahan tulisan baru nih. Next Time http://grachmat.blogspot.com/2010/01/kutu-putih-dan-penanggulangannya.html

Serangan Kutu Putih pada Tanaman

Selama beberapa hari terakhir ini kami menerima keluhan serangan kutu putih pada tanaman. Serangan hama tsb dikeluhkan oleh masyarakat JABODETABEK, Lampung, juga di Sumatera Utara. Berikut kami sampaikan latar belakang hingga upaya pengendalian hama kutu putih tsb. MENGATASI EKSPLOSI SERANGAN KUTU PUTIH DI INDONESIA Oleh John M. Sianturi Pendahuluan Outbreak atau eksplosi serangan kutu putih diyakini berasal dari impor tanaman hias. Serangan hama ini telah menyebar ke seluruh Indonesia. Kutu putih ini tergolong Famili Coccidae, Ordo Homoptera dan masih berkerabat dekat dengan Kutu putih pada kopi. Masuknya hama ini ke Indonesia adalah akibat tidak hati-hatinya pemasukan sumber bibit tanaman hias dari luar negara. Hama ini diduga berasal dari Amerika Tengah. Kesesuaian iklim tropis di Indonesia menyebabkan hama ini segera menyebar luas karena keterbatasan musuh alami dibanding di tempat asalnya. Hama ini terutama berkembang pada musim kemarau atau musim peralihan dimana beberapa hari tidak hujan. Akan tetapi dapat juga berkembang jika hujan tidak teratur. Morfologi dan Daur Hidup Info teknis tentang kutu putih sebagaimana terlampir. Musuh Alami Musuh alami hama ini sebenarnya banyak, yaitu predator dan patogen. Predator umum dari Famili Coccinellidae, Coleoptera. Kesulitan di perkotaan adalah terbatasnya mangsa serangga lain atau populasi tidak tersedia karena terbatas¬nya keragaman jenis tumbuhan. Musuh alami yang memiliki prospek baik dan sesuai dengan perkotaan/daerah urban adalah Beauveria bassiana yang sering disingkat Bb. Bb adalah musuh alami serangga secara umum, bahkan termasuk nyamuk. Bb ideal karena penggunaannya mudah dan tidak seberbahaya pestisida kimiawi. Efeknya pada manusia termasuk sangat minimal jika diaplikasikan sesuai petunjuk penggunaan. Bb adalah sejenis jamur yang dapat tumbuh pada kulit serangga dan menghasilkan toksin yang membunuh serangga inangnya. Bb hanya dapat tumbuh pada kulit jenis serangga saja. Itulah sebabnya Bb tidak berbahaya pada manusia, karena kulit manusia berbeda dengan serangga. Petunjuk Penggunaan Bb 1. Musuh alami Bb sebaiknya diaplikasikan pada sore hari, idealnya mulai pukul 16.00 waktu

setempat. 2. Dua sendok Bb dilarutkan dalam 2 liter air ditambah satu sendok Teevol (bentuk larutan dan biasa dijual di toko kimia) dan 20 gram gula batu. Larutan tsb selanjutnya ditambah air 10-15 lt. 3. Larutan telah siap digunakan. Jika berlebih masih dapat disimpan di tempat terlindung dan adem hingga satu minggu kemudian. 4. Pengulangan dilakukan 2-3 kali dengan interval 7 hari. Peringatan: 1. WALAUPUN Beauveria bassiana LEBIH AMAN DIBANDING PESTISIDA KIMIA AKAN TETAPI AGAR DIJAUHKAN DARI JANGKAUAN ANAK-ANAK. 2. SIMPANLAH DI TEMPAT TERLINDUNG DAN TIDAK TERKENA PANAS/CAHAYA MATAHARI SECARA LANGSUNG
http://dairipers.blogspot.com/2009/05/serangan-kutu-putih-pada-tanaman.html

INSEKTISIDA BIOLOGI BEAUVERIA BASSIANA
5:34 AM MASPARY

Rekan-rekan petani dan pecinta pertanian semua, kali ini Gerbang Pertanian akan sedikit mengulas tentang jamur atau cendawan musuh alami dari berbagai jenis serangga hama yaitu Beauveria bassiana. Cendawan ini biasa dikenal sebagai cendawan patogen serangga yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga. Cara kerjanya cendawan ini akan membuat sakit serangga hama baru kemudian menyebabkan hama tersebut mati. Beberapa contoh serangga yang dapat dikendalian oleh Beauveria bassiana antara lain berbagai jenis wereng, walang, walang sangit, ulat, lembing dan sundep beluk (penggerek batang). Beauveria bassiana secara alami terdapat didalam tanah sebagai jamur saprofit. Pertumbuhan jamur di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, seperti kandungan bahan organik, suhu, kelembapan, kebiasaan makan serangga, adanya pestisida sintetis, dan waktu aplikasi.Secara umum, suhu di atas 30 °C, kelembapan tanah yang berkurang dan adanya antifungal atau pestisida dapat menghambat pertumbuhannya.

Cara cendawan Beauvaria bassiana menginfeksi tubuh serangga dimulai dengan kontak inang,

masuk ke dalam tubuh inang, reproduksi di dalam satu atau lebih jaringan inang, kemudian kontak dan menginfeksi inang baru. Menurut beberapa artikel yang maspary baca Beauveria bassiana masuk ke tubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kulit tubuh. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin.Pada proses selanjutnya, jamur akan bereproduksi di dalam tubuh inang. Jamur akan berkembang dalam tubuh inang dan menyerang seluruh jaringan tubuh, sehingga serangga mati. Miselia jamur menembus ke luar tubuh inang, tumbuh menutupi tubuh inang dan memproduksi konidia.Dalam hitungan hari, serangga akan mati. Serangga yang terserang jamur Beauveria bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan jamur menutupi tubuh inang dengan warna putih. Dalam infeksinya, Beauveria bassiana akan terlihat keluar dari tubuh serangga terinfeksi mulamula dari bagian alat tambahan (apendages) seperti antara segmen-segmen antena, antara segmen kepala dengan toraks , antara segmen toraks dengan abdomen dan antara segmen abdomen dengan cauda (ekor).Setelah beberapa hari kemudian seluruh permukaan tubuh serangga yang terinfeksi akan ditutupi oleh massa jamur yang berwarna putih.Penetrasi jamur entomopatogen sering terjadi pada membran antara kapsul kepala dengan toraks atau diantara segmen-segmen apendages demikian pula miselium jamur keluar pertama kali pada bagianbagian tersebut. Dari informasi yang diperoleh Gerbang Pertanian telah diketahui lebih dari 175 jenis serangga hama yang menjadi inang jamur Beauveria bassiana . Hebat bukan??? Berdasarkan hasil kajian jamur ini efektif mengendalikan hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) dan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) pada tanaman padi serta hama kutu (Aphis sp.) pada tanaman sayuran. Sebagian contoh lain yang menjadi inang jamur B. bassiana adalah jangkrik, ulat sutra, dan semut merah. Karena B.bassiana dapat menyerang hampir semua jenis serangga, cendawan ini digolongkan ke dalam non-selektif pestisida sehingga dianjurkan tidak digunakan pada tanaman yang pembuahannya dibantu oleh serangga. Penggunaan jamur ini untuk membasmi hama dapat dilakukan dengan beberapa metode. Jamur ini bisa dipakai untuk jebakan hama. Adapun cara penggunaanya yaitu dengan memasukkan Beauveria bassiana beserta alat pemikat berupa aroma yang diminati serangga (feromon) ke dalam botol mineral. Serangga akan masuk ke dalam botol dan terkena spora. Akhirnya menyebabkan serangga tersebut terinfeksi. Cara aplikasi lain yaitu dengan metode penyemprotan. Serangga yang telah terinfeksi Beauveria bassiana selanjutnya akan mengkontaminasi lingkungan, baik dengan cara mengeluarkan spora menembus kutikula keluar tubuh inang, maupun melalui fesesnya yang terkontaminasi. Serangga sehat kemudian akan terinfeksi. Jalur ini dinamakan transmisi horizontal patogen (inter/intra generasi). Menurut Gerbang Pertanian ada kendala dilapangan dalam aplikasi pestisida biologis, yaitu pestisida biologis sangat peka terhadap keadaan lingkungan. Jika aplikasi pestisida biologis

tersebut pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan bagi perkembangan pestisida tersebut maka aplikasi pestisida biologis akan kurang efektif. Sebagai contoh jika suhu terlalu panas atau dingin, kelembaban terlalu rendah, angin terlalu kencang dll. Maka dalam aplikasi pestisida biologis sangat perlu diperhatikan keadaan lingkungan. Demikian sekelumit artikel tentang Beauveria bassiana yang bisa digunakan sebagai salah satu alternatif non kimia pengendalian hama-hama pada tanama pangan maupun hortikultura. Harapan Maspary dan Gerbang Pertanian semoga artikel tersebut bisa memberikan wawasan baru dan sumber inspirasi dalam mengendalikan hama pada tanaman (maspary).
http://www.gerbangpertanian.com/2011/06/insektisida-biologi-beauveria-bassiana.html

Kutu Putih pada Daun

Gambar : Gejala serangan kutu putih Nipaecoccus nipae (A) dan Imago Nipaecoccus nipae (B) Sumber : Ditlin Horti dan Dep. Proteksi Tanaman IPB Gejala serangan: Pada tanaman yang terserang tampak dipenuhi oleh koloni kutu berwarna cokelat muda dan berwarna putih. Akibat serangan kutu putih ini menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Imago kutu putih betina dan nimfa menghisap cairan sel tanam-an. Pada tingkat kerusakan berat menyebabkan terjadi-nya pertumbuhan daun tidak normal. Ekskresi kutu me-ngandung zat gula yang seringkali menempel pada permukaan daun dan di-jadikan media tumbuh oleh cendawan jelaga (Capnodium sp.). Cendawan ini berwarna hitam menutupi permukaan daun, sehingga menghalangi proses fotosintesa selain mengganggu keindahan tanaman. Penyebab : Nipaecoccus nipae (Maskell) (Famili : Pseudococcidae, Ordo : Hemiptera) Nipaecoccus nipae dikenal dengan nama kutu putih kelapa, bermetamorfosis bertingkat (paurometabola), melalui urutan perkembangan: telur-nimfa-imago. Tubuh imago jantan bersayap dengan alat mulut tereduksi, sedangkan imago betina tidak bersayap dan memiliki alat mulut menusuk-menghisap. Imago jantan berasal dari fase nimfa yang berpupa dan diliputi lilin putih seperti kapas. Kutu putih kelapa yang menyerang tanaman adalah nimfa dan imago betina. Morfologi kedua fase ini serupa yakni tubuh ditutupi lilin berbentuk piramida berwarna cokelat dan lilin yang berbentuk tonjolan-tonjolan pada sekeliling tubuhnya. Sumber serangan dan cara penyebaran Populasi awal kutu putih dapat berasal dari materi tanaman yang dibawa ke kebun atau pun dari nimfa instar muda yang terbawa angin. Sumber serangan dapat berasal dari tanaman inang lain dari kutu ini, yaitu: anggrek, srikaya, kelapa, salak, mangga, jambu, alpukat, pisang dan lain-lain. Faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi - Jarak tanam yang terlalu rapat - Naungan yang terlalu banyak - Kebanyakan pupuk N

KUTU PUTIH Kutu berbentuk oval, datar, tertutup lapisan tebal seperti lilin, sering hinggap di daun dan menghisap cairan sel daun. Akibat serangan kutu tersebut, pada daun terdapat bercak kuning kotor. Cara Pengendalian - Memotong dan memusnahkan daun tempat koloni serangga. - Menyemprotkan insektisida DIKROTOFOS (BILDRIN 24 WSC).

Cara Membasmi Hama Kutu Putih
Tanaman anda terserang hama kutu putih ? tidak usah bingung. Berikut ada cara sederhana tetapi cukup manjur untuk membasminya. Cukup dengan ramuan sederhana campuran air, sabun colek, minyak tanah, dan pestisida. Caranya ? Ambil sabun colek satu sendok makan lalu larutkan dalam kaleng susu bekas ukuran 900 gram. Gunakan air bersih sebanyak setengah kaleng susu tersebut. Tambahkan minyak tanah (kerosene) sebanyak seperempat dari kaleng tersebut. Perbandingan air dan minyak tanah adalah 2:1 Tambahkan pestisida, kalau tidak punya bisa diganti dengan cairan pembunuh serangga atau nyamuk, cukup 2 sendok makan saja. Campur dan aduk ramuan tadi hingga membentuk emulsi dan sabun tidak menggumpal dan berbusa lagi. Hasil akhirnya kurang lebih seperti air sisa cucian beras. Masukkan cairan kedalam botol sprayer plastik (bisa dibeli di supermarket). Selanjutnya, tinggal semprotkan ke tanaman yang diserang kutu putih. Terutama bagian bawah daun dimana hama kutu putih berkumpul. Jangan lupa, gulma sekitar tanaman harus disemprot juga agar menghindari serangan hama tersebut di kemudian hari.
http://ibutani.blogspot.com/2011/09/cara-membasmi-hama-kutu-putih.html

Pengendalian OPT Ramah Lingkungan
Wednesday, 25 April 2012 07:27 ndik_63

TEKNOLOGI PENGENDALIAN OPT
RAMAH LINGKUNGAN 1. Pendahuluan

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan kendala utama dalam peningkatan dan pemantapan produksi hortikultura. Sejalan dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi pengendalian OPT, maka upaya penerapan pengendalian secara terpadu diharapkan semakin baik, meluas dan memasyarakat. Teknologi tersebut selanjutnya berkembang menjadi teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Teknologi ini harus dapat disebarluaskan melalui komunikasi pembangunan karena teknologi pengendalian hama terpadu yang merupakan salah satu teknologi yang dapat menjamin produktivitas, nilai ekonomi usahatani dan dapat mempertahankan kelestarian ekosistem.

Petani sebagai pelaku utama kegiatan pertanian sering menggunakan pestisida sintetis secara berlebihan terutama untuk penyakit-penyakit yan sulit dikendalikan, misalnya penyakit yang disebabkan oleh virus dan patogen tular tanah (soil borne pathogens). Pada tanaman hortikultura, pestisida sintetis merupakan andalan pengendalian yang utama. Penyakit bercak ungu (trotol) pada bawang merah dan bawang putih merupakan salah satu penyakit yang sampai sekarang sulit dikendalikan.
Pada beberapa daerah misalnya di Brebes dan Tegal, bawang merah merupakan tanaman andalan petani. Petani cenderung menanam sepanjang tahun tanpa memperhatikan faktor lingkungan. Untuk mengendalikan penyakit ini petani cenderung menggunakan pestisida sintetis secara berlebihan sehingga menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Hal ini dilakukan petani antara lain karena modal yang ditanam dalam usaha tani cukup besar sehingga petani tidak mau menanggunag resiko kegagalan usaha taninya, konsumen menghendaki produk hortikultura yang bersih dan cantik (blemish free) dan kurang tersedianya pengendalian non kimia yang efektif. Penggunaan pestida yang kurang bijaksana seringkali menimbulkan masalah kesehatan, Pembangunan penyakit tumbuhan secara hayati merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu (PHT) yang sesuai untuk menunjang pertanian berkelanjutan karena pengendalian ini lebih selektif (tidak merusak organisme yang berguna dan manusia) dan lebih berwawasan lingkungan. Pengendalian hayati berupaya memanfaatkan mikroorganisme hayati dan proses-proses alami. Aplikasi pengendalian hayati harus kompatibel dengan peraturan (karantina), pengendalian dengan jenis tahan, pemakaian pestisida dan lain-lain.

Perkembangan hasil penelitian tentang berbagai agensi hayati yang bermanfaat untuk mengendalikan patogen pada tanaman, sebenarnya sudah cukup menggembirakan, walaupun masih relatif sedikit yang dapat digunakan secara efektif di lapangan. Komponen ini jelas berperan dalam peningkatan peranan Fitopatologi Indonesia dalam pengamanan produksi dan pelestarian lingkungan. 2. 2.1 Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Pengertian OPT

Organisme pengganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman hortikultura, pangan maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim (Anonymous,2010). 2.2 Pengendalian hayati yang ekologis dan berkelanjutan

Pengendalian hayati adalah pengendalian dengan cara memanfaatkan musuh alami untuk mengendalikan OPT termasuk memanipulasi inang, lingkungan atau musuh alami itu sendiri. Pengendalian hayati bersifat ekologis dan berkelanjutan. Ekologis berarti pengendalian hayati harus dilakukan melalui pengelolaan ekosistem pertanian secara efisien dengan sedikit mungkin mendatangkan akibat samping negatif bagi lingkungan hidup. Sedangkan berkelanjutan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk bertahan dan menjaga upaya agar tidak merosot atau menjaga agar suatu upaya terus berlangsung. Pengendalian hayati memiliki arti khusus, karena pada umumnya beresiko kecil, tidak mengakibatkan kekebalan atau resurgensi, tidak membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungan dan tidak memerlukan banyak input luar. Pengendalian hayati yang ekologis dan berkelanjutan mengacu pada bentuk-bentuk pertanian sebagai berikut :

1. Berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang ada. Misalnya keanekaragaman
mikroorganisme antagonistik dalam tanah atau di rizosfir (daerah sekitar perakaran) dengan mengkombinasikan berbagai komponen system usaha tani yaitu tanaman, tanah, air, iklim dan manusia sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang paling besar. Berusaha memanfaatkan pestisida sintetis seminimal mungkin untuk meminimalisasi kerusakan lingkungan.

2.

Pemanfaatan musuh alami OPT menjadi sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekologis karena sumberdaya tersebut dikembalikan lagi ke alam sehingga kualitas lingkungan terutama tanah dapat dipertahankan. Di alam musuh alami dapat terus berkembang selama nutrisi dan faktor-faktor lain (kelembaban, suhu dan lain-lain) sesuai untuk pertumbuhannya. Proses pengendalian hayati meniru ekologi alami sehingga untuk menciptakan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan musuh alami tersebut bisa dilakukan dengan memanipulasi sinar matahari, unsur hara tanah dan curah hujan sehingga sistem pertanian dapat terus berlanjut. Misalnya dengan penambahan bahan organik pada tanaman yang akan dikendalikan. Bahan organik atau residu tanaman adalah media yang kondusif untuk mikrooraganisme yang antagonistik terhadap OPT yang pada dasarnya beraspek majemuk, yaitu sebagai pencegah berkembangnya OPT, sebagai sumber unsur hara dan untuk perbaikan fisik tanah pertanian. 2.3 Mekanisme pengendalian hayati

Beberapa mekanisme pengendalian hayati, antara lain adalah sebagai berikut :

1. Antagonisme. Antagonis adalah mikroorganisme yang mempunyai pengaruh yang merugikan
terhadap mikrooraganisme lain yang tumbuh dan berasosiasi dengannya. Antagonisme meliputi (a) kompetisi nutrisi atau sesuatu yang lain dalam jumlah terbatas tetapi diperlukan oleh OPT, (b) antibiosis sebagai hasil dari pelepasan antibiotika atau senyawa kimia yang lain oleh mikroorganisme dan berbahaya bagi OPT dan (c) predasi, hiperparasitisme, mikroparasitisme atau bentuk yang lain dari eksploitasi langsung terhadap OPT oleh mikroorganisme yang lain. Ketahanan Terimbas. Ketahanan terimbas adalah ketahanan yang berkembang setelah tanaman diinokulasi lebih awal dengan elisitor biotik (mikroorganisme avirulen, non patogenik, saptrofit) dan elisitor abiotik (asam salisilik, asam 2-kloroetil fosfonik) Buncis yang diimbas dengan Colletotrichum lindemuthianum ras non patogenik menjadi tahan terhadap ras patogenik Proteksi Silang. Tanaman yang diinokulasi dengan stran virus yang lemah hanya sedikit menderita kerusakan, tetapi akan terlindung dari infeksi strain yang kuat. Strain yang dilemahkan antara lain dapat dibuat dengan pemanasan in vivo, pendinginan in vivo dan dengan asam nitrit. Proteksi silang sudah banyak dilakukan, di banyak negara, antara lain Taiwan dan Jepang.

2.

3.

Pengendalian hayati terhadap bakteri tanaman sudah maju penelitiannya, misalnya untuk Agrobacterium tumefaciens yang avirulen, digunakan A. radiobacter yang avirulen. Pupuk organic yang mengandung nitrogen 5 persen atau lebih untuk menekan penyakit layu Xanthomonas solanacearum pada tembakau. Pengendalian hayati penyakit layu bakteri pada jahe disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum antara lain: rotasi tanaman (2-3 tahun), menggunakan pupuk kandang yang matang dan pengaturan drainase kebun yang baik. 2.4 Pengendalian OPT Berdasarkan Konsep Pengendalian hayati

Pengendalian hayati didasarkan pada pemahaman siklus hidup OPT dan mencegah perkembangan OPT tersebut. Untuk mengembangkan teknik pengendalian secara hayati maka langkah-langkah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Definisi masalah. Pertama harus dipahami masalahnya apa, mengetahui penyebab penyakitnya,
di mana penyebab penyakit bertahan, bagaimana cara menularnya dan memahami faktor-faktor yang mendukung perkembangan ekobiologi dan epidemiologinya. Pada sebagian besar kasus, informasi ini dapat diperoleh dari literature pertanian. Informasi yang dapat diperoleh adalah tingkat kerusakan, periode ketika tanaman rentan, tingkat ambang ekonomi. Langkah-langkah pencegahan. Langkah selanjutnya analisis praktek budidaya, selangkah demi selangkah. Dengan pengetahuan tentang patogen yang diperoleh selama definisi masalah, orang biasa mengetahui apakah praktek budidaya dapat diubah untuk membatasi berkembangnya patogen. Sumber informasi utama dapat diperoleh dari petani. Langkah-langkah pengendalian. Langkah-langlah pengendalian yang khusus dipertimbangkan, dimulai dari langkah-langkah yang lebih lemah dan kemudian ke yang lebih kuat yang lebih memiliki efek samping lingkungan.

2.

3.

Dalam pengendalian hayati banyak hal-hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan sifatnya yang ekologis dan berkelanjutan. Secara garis besar konsep pengendalian penyakit secara hayati meliputi hal-hal berikut ini :

1. Mengenal OPT dan memahami faktor-faktor yang mendukung perkembangan ekobiologi dan
epidemiologinya.

2. Memahami situasi pada saat tertentu, seperti tanda-tanda terjadinya eksplosi, apakah proses 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.
3. penularan penyakit berlangsung biasa atau lambat Menghindari terjadinya lingkungan yang kondusif untuk perkembangan dan penularan penyakit, misalnya drainase jelek, tumpukan tanaman inang, tanaman yang tidak terpelihara. Keberadaan dan efektifitas agensia hayati dikaitan dalam kondisi seperti ini kurang memberi keuntungan Memanfaatkan proses pengendalian alami yang berorientasi pada keseimbangan biologi dan ekosistem, maka agensia hayati harus dipantau untuk mempertahankan dan meningkatkan peranannya dalam jangka waktu tertentu Karena konsep ini mengait dengan system, maka partisipasi dan kepedulian dari pihak-pihak disiplin ilmuawan terkait perlu ada, sebaiknya secara institusional Sebagai salah satu alternatif dari PHT, pengendalian hayati harus kompatibel dengan komponen lain, dengan catatan khusus terhadap pestisida sintetis. Pengendalian hayati sebagai satu sub-system yang efektif dapat terwujud dengan mengembangkan pengadaan dan proses sub-komponen utama antagonistic, bahan organik, rotasi dengan tanaman/tumbuhan yang bermanfaat Melakukan eksploirasi, identifikasi, efikasi, perbanyakan dan aplikasi yang sistematik dari antagonis potential Mengidupkan informasi dua arah antara pengguna, penyuluh dan sumber teknologi pengendalian hayati Memasukkan komponen lain (mekanik, pestisida dan lain-lain) pada situasi epidemik dan pertimbangan lain yang memerlukan tindakan khusus

Kesimpulan

Dari uraian dan penjelasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pengendalian secara hayati berupaya untuk mempertahankan dan meningkatkan sumberdaya alam serta memanfaatkan proses-proses alami. 2. Penelitian tentang pengendalian penyakit tumbuhan secara hayati tidak bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dalam jangka pendek, namun untuk mencapai tingkat produksi stabil dan memadai dalam jangka panjang. 3. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap OPT dengan penyakit yang ditimbulkannya terutama kalau dikaitan dengan tanaman inang, pola tanam, system pertanian, daya dukung lahan dan system pengendalian pada waktu tertentu perlu diantisipasi dengan cermat dan baik. 4. Dalam menerapkan pengendalian hayati di lapangan, keperdulian unsur-unsur terkait (peneliti/pakar, penyuluh/petugas proteksi tanaman, petani, tokoh masyarakat, pengambil keputusan perlu terpadu dengan aktif. 5. Proses pengendalian hayati harus berkelanjutan dan kesempatan sebagai komponen yang kuat dalam PHT akan terwujud dengan menggiatkan koordinasi untuk melakukan eksplorasi, pengadaan agensia, penggunaan di lapangan dan evaluasi terus menerus. 6. Peluang dan prospek pengendalian hayati penyakit tanaman cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia.

http://blog.ub.ac.id/alphien/2012/06/27/penerapan-pengendalian-hama-terpadu-menujupertanian-organik/

MACAM-MACAM HAMA TANAMAN MANGGA
Author: Qolamul Hasna | Filed Under: buah, Hama | di 09:46 |

Tanaman mangga (Mangifera Indica L.) sebenarnya adalah tanaman asli negeri India, namun kini sudah menjadi tanaman yang tidak asing bagi masyarakat kita. Hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat tanaman mangga, walaupun umumnya hanya berupa tanaman pekarangan rumah atau sebagai pelindung maupun sebagai tanaman sela di kebun-kebun warga, tetapi beberapa daerah seperti Indramayu, Cirebon dan Probolinggo dikenal sebagai sentra produksi mangga di Pulau Jawa.

Beberapa jenis hama dan penyakit yang umumnya menyerang tanaman mangga adalah:

1. Wereng Mangga ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni)

Serangan terjadi saat malai bunga stadia bud elongation (perpanjangan tunas). Nimfa dan wereng dewasa menyerang secara bersamaan dengan menghisap cairan pada bunga, sehingga kering, penyerbukan dan pembentukan buah terganggu kemudian mati. Serangan parah terjadi jika didukung cuaca panas yang lembab. Hama ini mengeluarkan cairan manis (embun madu) yang dapat mengundang tumbuh dan berkembangnya penyakit embun jelaga (sooty mold). Disamping itu, embun madu dapat menyebabkan phytotoxic pada tunas, daun dan bunga.

Pengendalian kimiawi dengan penyemprotan insektisida Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali.2. Penggerek Pucuk, Tip Borer (Clumetia transversa)

Ulat ini menggerek pucuk yang masih muda (flush) dan malai bunga dengan mengebor/menggerek tunas atau malai menuju ke bawah. Tunas daun atau malai bunga menjadi layu, kering akibatnya rusak dan transportasi unsur hara terhenti kemudian mati. Pengendalian; cabang tunas terinfeksi dipotong lalu dibakar, pendangiran untuk mematikan pupa, penyemprotan dengan insektisida sistemik.3. Ulat Philotroctis sp.

Warna sedikit coklat (beda dengan Clumetia sp. yang warnanya hijau) sering menggerek pangkal calon malai bunga. Telur Philoctroctis sp. menetas dan dewasa menyerang tangkai buah muda (pentil). Buah muda gugur karena lapisan absisi pada tangkai buah bernanah kehitaman. Aktif pada malam hari.

Pengendalian dengan PESTONA.4. Penggerek Buah, Seed Borer (Noorda albizonalis)

Hama ini menggerek buah pada bagian ujung atau tengah dan umumnya meninggalkan bekas kotoran dan sering menyebabkan buah pecah. Ulat ini langsung menggerek biji buah akibatnya buah busuk dan jatuh. Berbeda dengan Black Borer yang menggerek buah pada bagian pangkal buah. Lubang gerekan dapat sebagai sumber penyakit. Pengendalian : pembungkusan buah, kumpulkan buah terserang lalu dibakar, semprot dengan PESTONA.5. Bubuk buah mangga

Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini.

Pengendalian: memusnahkan buah mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus, mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ke tanah yang telah dicangkul.6. Bisul daun (Procontarinia matteiana.)

Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan kemerahan. Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan memperbaiki aerasi.7. Lalat buah ( Bractocera dorsalis )

Buah yang terserang mula-mula tampak titik hitam, di sekitar titik menjadi kuning, buah busuk serta terjadi perkembangan larva. Bersifat agravator yaitu memungkinkan serangan hama sekunder (Drosophilla sp.), jamur dan bakteri. Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas. Pengendalian: dengan memusnahkan buah yang rusak, pembungkusan buah , pemasangan perangkap lalat buah dengan memberi umpan berupa larutan sabun atau metil eugenol di dalam wadah dan insektisida.8. Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis)

Menyerang buah dan masuk ke dalamnya.

Pengendalian: dengan semut merah yang menyebabkan kepik tidak bertelur.9. Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus)

Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang rangkaian bunga. Pengendalian dengan menyemprotkan tepung belerang, insektisida Diazinon atau Basudin.10. Thrips ( Scirtothrips dorsalis )

Hama ini sering disebut thrips bergaris merah karena pada segment perut yang pertama terdapat suatu garis merah. Hama ini selain menyerang daun muda juga bunga dengan menusuk dan menghisap cairan dari epidermis daun dan buah. Tempat tusukan bisa menjadi sumber penyakit. Daun kelihatan seperti terbakar, warna coklat dan menggelinting. Apabila bunga diketok-ketok dengan tangan dan dibawahnya ditaruh alas dengan kertas putih akan terlihat banyak thrips yang jatuh.

Pengendalian : tunas muda terserang dipotong lalu dibakar, tangkap dengan perangkap warna kuning, pemangkasan teratur, penyemprotan dengan BVR atau PESTONA11. Codot

Memakan buah mangga di malam hari. Pengendalian: dengan membiarkan semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit dan melindungi pohon dengan jaring.

http://planthospital.blogspot.com/2012/06/macam-macam-hama-tanaman-mangga.html

Penyakit Pada Tanaman Mangga 1) Penyakit mangga Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung. Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux. 2) Penyakit diplodia Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi. Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum. 3) Cendawan jelaga Penyebab: virus Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan oleh jamur yang hidup di cairan manis. Pengendalian: dengan memberantas serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung belerang. 4) Bercak karat merah Penyebab: jamur Colletotrichum gloeosporiodes. Menyerang daun, ranting, bunga dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat mempengaruhi proses pembuahan. Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang, ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga. 5) Kudis buah Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun. Gejala: adanya bercak kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga berjatuhan. Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang. 6) Penyakit Blendok Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan getah yang akan berubah warna menjadi coklat atau hitam. Pengendalian: memotong bagian yang sakit, lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan menyemprot pohon dengan bubur bordeaux.

http://agromaret.com/artikel/680/penyakit_pada_tanaman_mangga
Hama Pada Tanaman Mangga 1) Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis) Menyerang buah dan masuk ke dalamnya. Pengendalian: dengan semut merah yang menyebabkan kepik tidak bertelur. 2) Bubuk buah mangga Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini. Pengendalian: memusnahkan buah mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus, mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ke tanah yang telah dicangkul.

3) Bisul daun(Procontarinia matteiana.) Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan kemerahan. Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord, Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan memperbaiki aerasi. 4) Lalat buah Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas. Pengendalian: dengan memusnahkan buah yang rusak, memberi umpan berupa larutan sabun atau metil eugenol di dalam wadah dan insektisida. 5) Wereng ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni) Jenis wereng ini berbeda dengan yang menyerang padi. Wereng ini menyerang daun, rangkaian bunga dan ranting sambil mengeluarkan cairan manis sehingga mengundang semut api untuk memakan tunas atau kuncup. Cairan yang membeku menimbulkan jamur kerak hitam. Pengendalian dengan insektisida Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali. 6) Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus) Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang rangkaian bunga. Pengendalian dengan menyemprotkan tepung belerang, insektisida Diazinon atau Basudin. 7) Codot Memakan buah mangga di malam hari. Pengendalian: dengan membiarkan semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit dan melindungi pohon dengan jaring.

http://agromaret.com/artikel/679/hama_pada_tanaman_mangga

Daftar Pustaka
Anonymous, 2010. Organisme Pengganggu Tanaman. Available @.http://rudyct.com/PPS702-ipb/05123/yunik_istikorini.htm Hamid. A, Miftakhul. A, Suharno, dan Yekti. A. 2006 Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang Yogyakarta. Hidayat,A. 2001. Metoda Pengendalian Hama. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Jakarta.

http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=408:pengendal ian-opt-ramah-lingkungan&catid=50:pengendalian-opt-rl

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->