Supercritical Fluide Extraction (SFE) Ekstraksi Fluida Superkritis

Teknik ekstraksi dengan Fluida Superkritis merupakan suatu teknik pemisahan yang memanfaatkan daya pelarut dari fluida superkritik pada suhu dan tekanan di sekitar titik kritis. Cara ini sangat efektif terutama sekali untuk mengisolasi senyawa dengan berat molekul sedang dengan kepolaran yang rendah. Karena proses pemisahannya menggunakan suhu yang rendah, metode ini dapat digunakan untuk mengisolasi senyawa yang tidak tahan panas dan dapat dikembangkan dalam industri makanan minyak, bahan alam dan petrolatum. Dibandingkan dengan pelarut lain, Fluida superkritis memiliki densitas dan viskositas yang rendah, serta difusitas tinggi hingga memungkinkan untuk ekstraksi dan pemisahan yang cepat. Daya pelarut dari fluida superkritis cukup tinggi terhadap senyawa padat, cair, atau gas dan ini dapatdiubah dengan memvariasikan suhu dan tekanan. Selain itu fluida dapat mudah dipisahkan dari ekstrak karena memiliki volatilitas yang tinggi. Penggunaan teknik fluida superkritis dalam proses ekstraksi dan fraksinasi berkembang semakin pesat baik dibidang industry kimia, pangan, farmasi, serta penanganan limbah industry. Keunggulan sifat fluida superkritis seperti koefisien difusi antara fase gas dan cair, kekentalan fase gas, kerapatan fase cair, membuat daya pelarutnya semakin baik dibandingkan pelarut lain. Kecenderungan adanya peraturan penggunaan pelarut organic dalam industry makanan serta kebutuhan akan system pemisahan yang hemat energy, menyebabkan teknologi fluida CO2 superkritis mendapat peluang yang sangat besar diawali dengan skala komersial dai proses dekafeinasi kopi (1968) di Jerman. Fluida Superkritis Fluida superkritik adalah suatu keadaan fluida di atas titik kritis. Perhatikan gambar dibawah ini:

Dari tabel terlihat bahwa gas memiliki difusifitas yang paling besar. mudah diperoleh dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Dalam prosesnya tidak dihasilkan oksigen. ekstraksi dengan teknologi fluida super kritis.Sifat-sifat fisikokimianya berada diantara fase cair dan gas yang membuat daya larutnya lebih tinggi dibandingkan pelarut lain. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada proses ekstraksi menggunakan metode distilasi maupun metode konvensional lainnya. CO2 merupakan fluida yang digunakan secara luas dalam fluida superkritis. menghasilkan ekstrak dengan aroma dan rasa yang alami. Viskositas yang lebih rendah dari cairan yang menyebabkan fluida superkritis memiliki kemampuan untuk penetrasi matriks inert dan solute ekstrak yang lebih baik. relative murah. memiliki parameter kritis yang sesuai (Tc = 31. antara lain : jumlah ekstrak yang dihasilkan . sehingga proses oksidasi dari ekstrak dapat dikurangi secara signifikan. tidak beracun. Keuntungan Ekstraksi Fluida Superkritis Ekstraksi fluida superkritis memberikan keuntungan lebih jika dibandingkan dengan proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut organik tradisional. ramah lingkungan. Dengan densitas kecil. karena pelarut CO2 memerlukan temperatur rendah. karena adanya pengurangan pada proses selanjutnya. akan tetapi produk akhir yang dihasikan dengan menggunakan metode ini tidak akan ditemui sisa pelarut. dalam setiap proses ekstraksi sisa pelarut tidak dapat dihindari dan selalu terukur secara kuantitatif. sehingga laju transfer massanya terlihat paling besar. Pc = 73. Selain itu. kekuatan gas sebagai pelarut kurang. dengan pertimbangan sebagai berikut : tidak berwarna.1°C. dapat mengekstrak dalam waktu singkat dan siklusnya dapat di recycle. tidak meninggalkan residu. tidak berbau.8 MPa). CO2 secara umum telah diakui dan dicantumkan dalam US Food and Drug Asministration sebagai bahan tambahan pangan manusia. Keunggulan utama fluida superkritis dibandingkan cairan adalah memiliki difusifitas yang besar 1000 kali lipatnya sehingga menghasilkan laju transfer massa yang lebih besar. tidak mudah terbakar. sehingga mampu menahan koponen yang memiliki kontribusi terbesar terhadap aroma yang sensitif terhadap panas. Fluida superkritis memiliki densitas dan kekuatan pelarut yang hamper sebanding dengan cairan. sebagai misal.

dibutuhkan pressure vessel yang tahan terhadap tekanan yang tinggi sedangkan di Indonesia sendiri belum ada industri manufacturing yang bisa membuatnya yang berarti harus dibuat di luar negeri yang dalam segi perekonomiannya pun mahal. Selan itu. jika tekanannya tidak tinggi maka rendemennya akan turun dan waktu proses penyulingannya akan lebih lama. degradasi komponen tidak jenuh karena adanya peengaruh panas. kehilangn komponen yang mudah meguap. tidak terjadi pada ekstraksi fluida superkritis. sisa pelarut yang bersifat toksik. Ekstraksi dengan fluida superkritik biasanya dilakukan dengan menggunakan hubungan perbandingan antara pelarut dan bahan yang dilarutkan memiliki laju alir ke atas yang tinggi.sedikit. memperkecil jarak tempuh perpindahan massa di dalam bahan atau dengan menghilangkan berbagai penghambat terhadap difusi yang dihadapi . Oleh karena itu perpindahan massa sangat dipengaruhi oleh laju difusi pelarut dan komponen terlarut didalamnya melalui struktur media bahan ketika keluar menuju fase pelarut. dan kekentalan fluida yang rendah. Kekurangan Ekstraksi Fluida Superkritis Pada proses ekstraksi. waktu ekstraksi yang panjang. Dengan demikian. laju perpindahan massa dapat ditingkatkan dengan meningkatkan difusitas pelarut. tekanan yang dibutuhkan harus tinggi. Prinsip Ekstraksi dengan Fluida Superkritik Pada prinsipnya ekstraksi / pemisahan komponen tertentu dari suatu bahan baku ditentukan dengan empat tahap perpindahan masa : 1) 2) 3) 4) Difusi pelarut ke dalam bahan yang sedang dekstrak Melarutnya komponen tertentu ke dalam pelarut di dalam bahan Difusi komponen yang sudah larut dari dalam bahan ke fasa pelarut di luar bahan Pengangkutan bahan yang telah larut dan keseluruhan pelarut keluar dari zona ekstraksi.

Dari tangki yang berisi fluida CO2 dan komponen yang dilarutkan ditransfer ke pemisah dimana kekuatan solvasi cairan tersebut menurun sebesar pertambahan suhu. termasuk air dapat sebagai medium fluida superkritis tapi CO2 adalah yang paling umum digunakan. Produk kemudian dikumpulkan melalui sebuah katup yang terletak di bagian bawah pemisah 5. Karena itum CO2 pada teknologi fluida superkritis merupakan media terbaik. dan akan mengurangi tekanan sistem.Pada dasarnya berbagai gas. dapat dengan mudah mencapai titik kontrol superkritis. Tangki ekstraksi diberikan tekanan fluida melalui pompa. Kemudian dapat dilakukan ekstraksi lagi seperti sebelumnya . 2. 4. yang juga dibutuhkan untuk sirkulasi cairan dalam sistem. Cara Kerja Ekstraksi Fluida Superkritis Berikut ini adalah cara kerja dari ekstraksi cairan superkritis : 1. 6. . Bahan baku yang akan diekstraksi dimasukkan ke dalam tangki ekstraksi yang dilengkapi dengan pengendali suhu serta katup tekanan di kedua ujungnya untuk menjaga kondisi ekstraksi yang diinginkan. 3. Suhu CO2 yang mendekati suhu kabar dan dalam kondisi normal tekanan atmosfer. Uap CO2 terkondensasi dan kembali menjadi fluida dan kembali ke tangki. atau bisa lebih.

com/waters/nav.html Wenclawiak. Trisnamuty • • • .bme. Germany. Analysis with Supercritical Fluid: Extaction and Chromatography.waters. Penggunaan lainnya dalam industry makanan adalah mengekstraksi rempah-rempah dimana setelah pelarutan masih mempunyai karakteristik dan organoleptik yang sama dengan bahan dasar. Daftar Pustaka : • • • • agoes.A. A review on supercritical Fluid Extraction as New Analyical Method.at/processdescriptionextr. bandung:penerbit ITB http://www.html 2008. American Journal of Biochemistry and Biotechnology Teknologi Fluida superkritik dalam industri pada proses pemisahan dengan kemurnian tinggi.vemt.htm?cid=10146521&locale=en_US http://sfe.Abbas K. 2007. 1992 http://www. Anny Sulaswaty dan Roy H. Bernd (Editor). namun perkembangannya terus meningkat. Springer Laboratory.Penggunaan Ekstraksi Fluida Superkritikal Fluida superkritis secara umum dapat digunakan sebagai larutan pengekstrak.natex. goeswin. eluen dalam teknik kromatografi dan media reaksi.hu/angol/supercritical. teknologi bahan alam. Penggunaan secara komersial masih terbatas. Penggunaan SFE secara komersial diawali dari ekstraksi kafein dari kopi tahun 1968 di Jerman dengan menggunakan tekanan 160-220 atm dengan temperature 70-90oC dan selanjutnya lebih dikembangkan lagi kearah proses yang optimal dalam skala komersial.