P. 1
Alkaloid

Alkaloid

|Views: 217|Likes:
Published by Putri Paramita Sari

More info:

Published by: Putri Paramita Sari on Dec 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/24/2015

pdf

text

original

SELASA, 19 OKTOBER 2010

IDENTIFIKASI ALKALOID
BAB I PENDAHULUAN I.1 TUJUAN PRAKTIKUM 1. Sebelum melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan telah mengerti tentang apa yang dimaksud dengan alkaloid dan penggolongannya. 2. Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat mengetahui identifikasi alkaloid secara kimia dan kromatografi, serta cara penyarian alkaloid. I.2 DASAR TEORI I.2.1 Pengertian Alkaloid Kata alkaloid pertama kali diperkenalkan oleh W. Meisner pada awal abad 19 untuk senyawa bahan alam yang bereaksi seperti basa. Alkaloid adalah senyawa nitrogen organik, lazimnya bagian cincin heterosiklik, bersufat basa, sering bersifat optis aktif dan kebanyakan berbentuk kristal. (Tim Penyusun Penuntun Praktikum Farmakognosi. 2009). Alkaloid dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Alkaloid sejati Alkaloid sejati adalah senyawa yang mengandung nitrogen pada struktur heterosiklik, struktur kompleks, distribusi terbatas yang menurut beberapa ahli hanya ada pada tumbuhan. Alkaloid sejati ditemukan dalam bentuk garamnya dan dibentuk dari asam amino sebagai bahan dasar biosintesis. 2. Pseudoalkaloid Pseudoalkaloid memiliki sifat seperti alkaloid sejati tetapi tidak diturunkan dari asam amino. Contoh : isoprenoid, terpenoid (coniin), dan alkaloid steroidal (paravallarine). 3. Protoalkaloid Protoalkaloid adalah senyawa amin sederhana dengan nitrogen tidak berada pada cincin heterosiklik. Contoh : mescaline, betanin, dan serotonin. (Swastini, Dewa Ayu.2007). Fungsi alkaloid dalam tanaman saat ini belum diketahui dengan jelas. Ada beberapa dugaan fungsi alkaloid, yaitu sebagai metabolit sekunder yang berguna melindungi tanaman dari predator, sebagai metabolit akhir yaitu limbah yang tidak berfungsi sebagai substansi simpanan atau sebagai regulator pertumbuhan. Alkaloid banyak dimanfaatkan oleh manusia karena memiliki efek farmakologi, diantaranya : • Depresan saraf pusat, yaitu morfin dan skopolamin • Simulan saraf pusat, yaitu strihnin dan kafein • Simpatomimetik, yaitu efedrin • Simpatolitik, yaitu yohimbin dan alkaloid ergot • Parasimpatomimetik, yaitu eserin dan pilokarpin • Antikolinergik, yaitu atoprin dan hiosiamin • Ganglioplegik, yaitu spartein dan nikotin • Anestesi lokal, yaitu kokain • Mengobati fibrilasi, yaitu quinidin • Antitumor, yaitu vinblastin dan eliptisin • Antibakteri, yaitu berberin

alkaloid dapat ditemukan pada famili Annonaceae. Pada tanaman monokotil. Proteaceae (Belladena dan Darlingia) dan Convoovulaceae (Convovulus dan Calystegia).1] oktan atau 8-metil-8-azabisiklo [3. kemudian residunya dilarutkan dalam aseton maka akan muncul warna ungu gelap. Physalis). yaitu famili Solanaceae (Atropa. Hal ini disebabkan karena munculnya larutan etanol dalam KOH ( Reaksi Vitalli Morin). Neuroptera. Phyllanthus. contohnya lobelin dan lobelia Derivat asam nikotinat. ditemukan bahwa alkaloid banyak ditemukan pada jaringan perifer dari batang atau akar. Alkaloid banyak ditemukan pada angiospermae (10-15%). mekonat. Magnoliaceae. areca dari tanaman areca catechu. dan Coleoptera. . tartrat. alkaloid ditemukan dalam bentuk garam larut air seperti sitrat. Dewa Ayu. Fumariaceae. Alkaloid sebagai sekret dari kelenjar eksokrin banyak ditemukan pada arthropoda seperti Hymenoptera. Loganiceae. Rubiaceae. phyllobates. 2.2. malat. Brugmansia.1] oktan. contohnya arekolin dari areca Derivat piridin dan piperidin. yaitu emetin Selain pada tumbuhan. Datura. dan Solanaceae. misalnya castoramin dari lili air yang ditemukan pada berang-berang. kloroplas. alkaloid dapat ditemukan pada tanaman dari famili Amaryllidaceae dan Liliaceae. yaitu : 1. Scopolia. basa tersier piridin dikonversi menjadi basa piperidin. Menispermaceae. Alkaloid Tropan Alkaloid tropan memiliki struktur inti bisiklik. dan dendrobates. Sementara pada fungi.• Amoebasida. Lauraceae. Contoh alkaloid tropan adalah dihasilkan oleh Atropa belladone dan kokain yang dihasilkan oleh Erythroxylem coca. Rutaceae. yaitu : Derivat piperidin. Secara mikrokimia. Alkaloid tropan secara sporadis ditemukan pada tanaman Bruguiera. terdapat alkaloid psilosin dari jamur halusinogen dan ergomin dari Claviceps sp. Ranunculaceae. isobutirat. Alkaloid juga ditemukan pada beberapa binatang. alkaloid juga ditemukan pada bakteri seperti pyosianin yang dihasilkan oleh Pseudomonas aeruginosa. contohnya nikotin dari tembakau Contoh dari alkaloid ini adalah nikotin dari tembakau. Karakter alkaloid yang mengandung inti tropan adalah jika direaksikan dengan asam nitrat. Penggolongan alkaloid berdasarkan struktur cincin atau inti yang dimiliki. Alkaloid Piridin-Piperidin Pada proses reduksi. atau kadang-kadang kombinasi dengan tanin. Pada tanaman. Alkaloid dengan struktur inti dari kelompok ini terbagi menjadi 3 sub kelompok. dan Cochlearia. Alkaloid sebagai produk metabolisme pada hewan seperti pada salamander atau amfibi seperti bufo. (Swastini. Erythroxylaceae (Erythroxylem). Miriapoda. Apocynaceae. mengandung nitrogen yaitu azabisiklo [3. benzoat. dan sel laktiferus.2007). Pada tanaman dikotil. dalam beberapa kasus karena hewan tersebut mengkonsumsi tanaman yang mengandung alkaloid. Alkaloid disintesis padatempat yang spesifik seperti pada akar yang sedang tumbuh. Alkaloid tropan ditemukan pada angiospermae.2. dan lobelia dari tanaman lobelia inflata. Alkaloid jarang ditemukan pada gymnospermae atau pteridophyta. Papaveraceae.

dan cinchonidin. sanguinaria. Alkaloid yang tergolong quinolin diantaranya quinin. Basa Purin Purin adalah inti heterosiklik yang mengandung anggota 6 cincin pirimidin yang bergabung dengan anggota 5 cincin imidazol. dan teofilin. Quinin dan isomernya yaitu quinidin merupakan 6metoksicinchonin.2 Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis . Alkaloid isoquinolin merupakan hasil kondensasi derivat feniletilamin dengan derivat fenilasetaldehid dimana kedua senyawa ini merupakan derivat dari fenilalanin dan tirosin. hidrastin. Cinchonin yang merupakan isomer dari cinchonidin merupakan ”alkaloid orang tua” dari semua seri alkaloid quinin. catharanthus atau vinca (vinblastin dan vincristin ). Alkaloid Imidazol Cincin imidazol (glioxalin) adalah cincin utama dari pilokarpin yang dihasilkan oleh tanaman Pilocarpus jaborandi. Alkaloid Indol Obat-obat penting yang mengandung gugus indol adalah rauwolfia (reserpin). berberin. Contoh alkaloid ini adalah efedrin dan kolkisin. 5. kurare. Purin sendiri tidak ada di alam tetapi derivatnya signifikan secara biologis. 9. dan Iboga. Corynanthe.2007). Alkaloid Amin Alkaloid dalam kelompok ini tidak memiliki atom nitrogen dalam cincin heterosiklik.2. Dewa Ayu. alkaloid ini mungkin dibentuk dari histidin atau suatu metabolit yang ekivalen. Alkaloid basa purin yang penting adalah kafein. dan ergot (ergotamin dan ergonovin). cinchonin. Alkaloid Isoquinolin Obat-obat penting yang berasal dari alkaloid isoquinolin adalah ipekak. physostigma (fisostigmin). Alkaloid ini biasanya dibentuk dari kolesterol dan memiliki prekursor yang sama dengan kolesterol. Ditinjau dari strukturnya. Meskipun alkaloid isoquinolin memiliki struktur yang kompleks tetapi biosintetsisnya sangat sederhana. Kebanyakan merupakan derivat dari feniletilamin dan asam amino umum seperti fenilalanin dan tirosin. Alkaloid steroid Alkaloid steroid dikarakterisasi dengan adanya inti siklopentanofenantren. Penamaan tipe kerangka ini berdasarkan tanaman yang banyak mengandung alkaloid dengan inti monoterpen. nux vomica (strihnin dan brusin). Alkaloid Quinolin Alkaloid yang memiliki struktur inti quinolin dihasilkan dari tanaman cinchona (kina). 6. teobromin.3. 8. Alkaloid cinchona saat ini merupakan satu-satunya kelompok alkaloid quinolin yang memiliki efek terapeutik. 1. Alkaloid steroid yang penting adalah veratrum. tubokurarin. emetin. quinidin. Pilokarpin adalah basa tersier yang mengandung gugus lakton dan imidazol. dan opium. 4. (Swastini. Terdapat tiga kerangka monoterpenoid yang membentuk kompleks indol yaitu kerangka tipe Aspidosperma. 7.

Bahan tersebut dapat digunakan sebagai penyerap tunggal atau campurannya atau sebagai penyangga bahan lain. hal 523). dan kiselgur kromatografi murni ) dalam keadaan kering atau setelah dicampur dengan sejumLah cairan dimapatkan kedalam tabung kaca atau tabung kuarsa denan ukuran tertentu dan mempunyai lubang pengalir keluar dengan ukuran tertentu. Pemisahan dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut tunggal dengan proses yang analog dengan kromatografi penyerapan atau menggunakan dua pelarut yang tidak dapat bercampur dengan proses analaog dengan kromatografi pembagian. sifat pelarut dan suhu dari sistem komatografi. silika gel. zat yang harus dipisahkan terbagia atas dua cairan yang tidak bercampur. Kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis umumnya lebih berguna untuk percobaan identifikais karena cara ini khas dan mudah dilakukan untuk zat dengan jumLah sedikit. dengan jalan penyarian berfraksi. (Materia Medika Indonesia Jilid V. menggunakan cairan atau gas yang mengalir. Kromatografi Kertas Pada kromatografi kertas sebagai penyerap digunakan sehelai kertas dengan susunan serabut atau tebal yang cocok. Sebagai bahan penyerap selain kertas digunakan juga zat penyerap berpori. dengan atau tanpa tekanan udara. Zat yang diperoleh dapat digunakan untuk percobaan identifikasi atau penetapan kadar. (Materia Medika Indonesia Jilid V. Dengan mengalirkan pelarut lebih lanjut. asam silikat atau silika gel kiselgur dan harsa sintetik. SejumLah sediaan yang diperiksa dilarutkan dalam sedikit pelarut ditambahkan pada puncak kolom dan dibiarkan mengalir dalam zat penyerap. kemudian campuran ini dipindahkan pada puncak kolom. Zat berkhasiat diserap dari larutan oleh bahan penyerap secara sempurna berupa pita sempit pada puncak kolom. Perbandingan jarak perambatan suatu zat dengan jarak perambatan zat . Kromatografi yang sering digunakan adalah kromatografi kolom. Kromatografi Pembagian Pada kromatografi pembagian. 2. kromatografi lapis tipis. Kecepatan bergerak zat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu cairannya yaitu fase tidak gerak atau fase yang lebih polar biasanya diserap oleh zat penyerap padat. Pada kromatografi pembagian fase bergerak merambat perlahan-lahan melalui fase tidak bergerak yang membungkus serabut kertas atau yang membentuk kompleks dengan serabut kertas. karena itu memberikan daerah permukaan yang sangat luas keada pelarut yang mengalir atau fase gerak atau fase yang kurang polar dan menghasilkan pemisahan yang baik yang tidak dapat dicapai pada pengocokan. masing-masing zat bergerak turun dengan kecepatan khas hingga terjadi pemisahan dalam kolom yang disebut kromatogram. misalnya aluminiumoksida yang diaktifkan. Kromatografi Kolom Kromatografi Penyerapan Zat penyerap ( misalnya aluminium oksida yang telah diaktifakan. Perbandingan jarak perambatan suatu zat terhadap jarak perambatan fase bergerak dihitung dari titik penetesan larutan zat dinyatakan sebagai Rf zat tersebut. Dalam hal tertentu lebih baik zat yang diperiksa yang telah dilarutkan dalam fase tidak bergerak ditambahkan pada sedikit zat penyerap. hal 523) 1. Kromatografi pembagian dilakuakn dengan cara mirip dengan kromatografi penyerapan. dan kromatografi gas. kiselgut terkalsinasi. kromatografi kertas. tetapi cara tersebut sangat berguan untuk percobaan identifikasi dan penetapan kadar. Kromatografi gas memerlikan alat yang lebih rumit. atau penukaran ion pada zat padat berpori.Kromatografi adalah cara pemisahan zat berkhasiat dan zat lain yang ada dalam sediaan. misalnya daya serap zat penyerap. atau penyerapan.

2. detektor yang dihubungkan dengan alat pencatat. bak pelarut. baki lempeng. 4. d. sablon. hal 531). kemudian disari dengan pelarut yang cocok. alat pembuat lapisan. Ukuran dan intensitas bercak dapat digunakan untuk memperkirakan kadar. Alat yang digunakan antara lain : tempat penyuntikan yang terletak dimuka kolom kromatografi. dan lampu ultraviolet. Lempeng yang dilapis. 3. bejana kromatografi. Harga Rf yang diperoleh pada KLT tidak tetap jika dibandingkan dengan yang diperoleh pada kromatografi kertas karena itu pada lempeng yang sama disamping kromatogram dari zat yang diperiksa perlu dibuat kromatogram dari zat pembanding kimia lebih baik dengan kadar yang berbeda-beda. kolom kromatografi dari kaca atau baja tahan karat berisi bahan padat penyangga halus yang cocok dan dilapisi dengan fase tidak bergerak. A. (Materia Medika Indonesia Jilid V. KLT dengan penyerap penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan senyawa polar. (Materia Medika Indonesia Jilid V. rak penyimpanan. c. Penetapan kadar yang lebih teliti dapat digunakan dengan cara densito metri atau dengan mengambil bercak dengan hati-hati dari lempeng. (Materia Medika Indonesia Jilid V.3 Alat dan Bahan. Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi lapis tipis digunakan untuk pemisahan zat secara cepat dengan menggunakan zat penyerap berupa serbuk halus yang dilapiskan serba rata pada lempeng kaca. Letak bercak yang diperoleh dari zat yang dikromatografi dapat ditetapkan dengan cara berikut : a. jika tampak dengan cahaya biasa atau dengan sinar ultra violet b. Gelas ukur . hal 528). pelarut. alat penyemprot pereaksi. batang kaca anti sifon dan kertas kromatografi. 1. hal 525). Kromatografi Gas Kromatografi gas adalah satu cara pemisahan kromatografi dimana sebagai fase bergerak digunakan gas yang disebut gas pembawa. Identifikasi Umum dan Kimia Alkaloida Alat : 1. Perkiraan identifikasi diperoleh dengan pengamatan 2 bercak dengan harga Rf dan ukuran yang lebih kurang sama.pembanding kimia dinyatakan sebagai Rr. pipet mikro. Pengamatan dengan cahaya biasa atau dengan sinar ultraviolet setelah kertas disemprot dengan pereaksi yang dapat memberikan warna pada bercak. dan ditetapkan dengan cara spektrofotometri. Pada KLT 2 dimensi lempeng yang telah dievaluasi diputar 900 dan dievaluasi lagi umumnya menggunakan bejana lain yang berisi pelarut lain. menempatkan pita atau potongan kertas pada medium perbiakan yang telah ditanami untuk melihat hasil stimulasi atau pertumbuahan bakteri. Pengamaatan langsung. menggunakan pencacah geiger-muler atau otora diografik jika ada zat radioaktif. Alat yang digunakan berupa bejana kromatogarfi raltahan korosi . Erlenmeyer 2. dapat dianggap sebagai kolom kromatografi terbuka dan pemisahan didasarkan pada penyerapan pembagian atau gabungannya tergantung dari jenis zat penyerap pembagian atau gabungannya tergantung dari jenis zat penyerap dan cara pembuatan lapisan zat penyerap dan jenis pelarut. Jika sebagai fase tidak bergerak digunakan zat padat yang disebut kromatografi gas padat dan jika sebagai fase tidak bergerak digunakan cairan disebut kromatografi gas cairan. Beaker glass 3. Alat yang digunakan adalah lempeng kaca. zat penyerap.

4. Kertas saring Bahan : 1. Mayer LP 8. Kertas perkamen 11. Chinae Cortex. 35 mg Kinina 4. Amonia P 4. Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis Alat : 1. 2. Asam Sulfat Encer 17. Chamber 2. Batang pengaduk 5. Kloroform 6. Wagner LP 9. Pipet tetes 9. Kristal Kadminium Sulfat 16. Corong pisah 7. Nicotiana tabacum Folium. Air 18. Toluena-eter-dietilamina (55:35:10) v/v 3. Tabung reaksi 8. Cacica papaya Flos. Plat KLT silica gel GF 254 3. Penjepit kayu Bahan : 1. HCL 2N 3. Eter P 5. Harger LP 12. Asam Nitrat P 14. Natrium Sulfat Anhidrat P 7. Marme LP 11. Amoni 25 % 5. Simplisia Coffea Semen. Sendok tanduk 6. dan Piperis nigri Fructus. Asam Sulfat pekat . Erdman LP 15. Dragendroff LP 10. Kloroform 6. Asam Sulfat P 13. Penangas air 10. Chinae Cortex 2. Pipet Kapiler 4. Metanol 7. Arang jerap B. Kertas saring 12.

B A B III PEMBAHASAN Pada praktikum identifikasi glikosida ini.B A B II DATA PENGAMATAN HASIL PRAKTIKUM Data pengamatan hasil praktikum terlampir. dilakukan uji identifikasi glikosida secara kimia .

• Nicotiana tabacum Folium terbentuk larutan berwarna coklat kemerahan. Namun. • Coffea Semen terbentuk larutan berwarna coklat muda dan tidak menggumpal. Berdasarkan uji di atas. Carica papaya Flos. • Piperis nigri Fructus terbentuk larutan berwarna orange. Fase organik mengandung alkaloid karena alkaloid memiliki sifat nonpolar sehingga larut dalam kloroform. 2009). kemudian didinginkan dan disaring lalu diambil filtratnya. Reaksi Pengendapan Pada reaksi pengendapan. Filtrat kemudian dipindahkan ke gelas arloji dan ditetesi dengan 2 tetes larutan Mayer LP.maupun secara kromatografi.25). • Piperis nigri Fructus terbentuk larutan berwarna coklat muda dan terbentuk sedikit endapan. sehingga dengan penambahan asam seperti HCl akan terbentuk garam. Kemudian. Berdasarkan pustaka. dan Piperis nigri Fructus. • Carica papaya Flos terbentuk larutan berwarna kuning muda dan tidak terbentuk endapan. yaitu ¼ x 5 ml = 1. • Nicotiana tabacum Folium terbentuk larutan berwarna kuning muda dan tidak terbentuk endapan . Setelah itu fase organik ditambahkan Na2SO4 anhidrat yang bersifat higroskopis. Karena kedua fase ini memiliki massa jenis yang berbeda. simplisia Chinae Cortex mengandung alkaloid quinolin. diketahui bahwa Chinae Cortex mengandung alkaloid. Pemanasan yang dilakukan bertujuan untuk memecah ikatan antara alkaloid dengan asam klorida sehingga diperoleh alkaloid yang bukan dalam bentuk garamnya. terlebih dahulu harus dilakukan penyiapan larutan percobaan. • Chinae Cortex terbentuk larutan berwarna kuning jernih. • Carica papaya Flos terbentuk larutan berwarna orange. a. sedangkan air sebagai fase organik berada pada bagian atas larutan. Nicotiana tabacum Folium. Penambahan dua pelarut ini bertujuan untuk melarutkan fase organik yaitu campuran klorofom dan eter serta fase non organik yaitu air. • Coffea Semen terbentuk larutan berwarna coklat muda. kemudian didinginkan lalu disaring. yaitu ¾ x 5 ml = 3.75 mL dan 1 bagian kloroform. (Buku ajar Farmakognosi. • Chinae Cortex terbentuk larutan berwarna putih kekuningan dan terbentuk endapan. Sedangkan fungsi penambahan air adalah untuk melarutkan garam alkaloid yang terbentuk (Depkes RI. 1979). sehingga mampu mengikat air yang tersisa pada filtrat.1 Identifikasi Umum Pada identifikasi umum dilakukan 2 macam percobaan. 3. Mulamula serbuk simplisia ditimbang sebanyak 250 mg. kemudian ditambahkan 0. dimana fase organik filtrat berada pada bagian bawah larutan. larutan disaring dan filtrat dibagi 2 untuk reaksi pengendapan dan reaksi warna. maka fase organik dan fase non organik pada filtrat akan terpisah. Hal ini ditandai dengan terbentuknya endapan. Alkaloid bersifat basa. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah simplisia Coffea Semen. yaitu reaksi pengendapan dan reaksi warna.5 mL air. filtrat diuapkan terlebih dahulu di atas penangas air untuk . Chinae Cortex. Penambahan HCl 2 N bertujuan untuk menarik alkaloid dari dalam simplisia. Setelah itu dilakukan pemanasan selama 2 menit di atas penangas air. Sisa filtrat kemudian digojog dalam corong pisah dan ditambahkan 3 mL amonia P untuk membuat suasana basa dan 5 mL campuran (3 bagian eter.5 mL HCl 2N dan 4.

: Tidak terbentuk endapan Berdasarkan percobaan reaksi pengendapan di atas. Gol IV : Harger LP.. Reaksi pengendapan dengan pereaksi golongan IV jika bereaksi dengan alkaloid akan membentuk ikatan asam organik. Berdasarkan pustaka. Gol III : Mayer LP dan Dragendroff LP. Reaksi Warna Pada reaksi ini. Tabel 1 : Hasil Uji Reaksi Pengendapan Nama Simplisia Larutan Pereaksi Wagner LP Mayer LP Dragendroff LP Harger LP Coffea Semen .. disebutkan bahwa reaksi pengendapan dengan pereaksi golongan II jika bereaksi dengan alkaloid akan membentuk endapan.Carica papaya Flos . diperoleh hasil : Tabel 2 : Hasil Uji Reaksi Warna Nama Simplisia Larutan percobaan asam sulfat P asam nitrat P Erdman LP Coffea Semen Coklat jernih Kuning jernih Coklat jernih Carica papaya Flos Coklat muda Hijau muda Tetap bening Nicotiana tabacum Folium Agak kekuningan Putih kekuningan Tetap bening Chinae Cortex Agak kuning Tetap bening Tetap bening . dan Erdman LP. Hal ini tidak sesuai dengan pustaka yang menyebutkan bahwa Chinae Cortex mengandung alkaloid qinolin..-Piperis nigri Fructus Ket: : Terbentuk endapan .1977). sampel terlebih dahulu diupkan di atas penangas air dengan menggunakan cawan porselen. sisa filtrat yang telah diuapkan dilarutkan dalam HCl 2N. diperoleh hasil bahwa tidak terdapat simplisia yang mengandung alkaloid karena tidak terbentuk endapan dari sekurangkurangnya dua larutan pereaksi.-Nicotiana tabacum Folium Chinae Cortex . Penambahan HCl berfungsi untuk membentuk garam alkaloid sehingga alkaloid dapat tertarik dari larutannya.. digunakan 3 pereaksi. Pada uji warna ini.. Dari percobaan di atas.. Tidak terbentuknya endapan disebabkan karena rusaknya larutan pereaksi atau kesalahan dalam proses pengerjaan.(Depkes RI. yaitu asam sulfat P. b. asam nitrat P. Adapun larutan pereaksi yang digunakan antara lain: Gol II : Wagner LP.. Hal ini juga bertujuan untuk menguapkan pelarut yang telah bercampur dengan alkaloid. 1980).. Reaksi pengendapan dengan pereaksi golongan III jika bereaksi dengan alkaloid akan membentuk senyawa adisi yang tidak larut.menghilangkan atau menguapkan pelarut yang telah bercampur dengan alkaloid. sebelum ditetesi dengan larutan pereaksi.(Depkes RI. Alkaloid dalam bentuk garamnya inilah yang nantinya akan bereaksi dengan reagent atau larutan pereaksi dan membentuk endapan. misalnya pada proses penguapan dan penambahan HCl 2N. Kemudian.

didihkan dan ditambahkan arang jerap untuk mengabsorpsi pengotor. sedangkan penambahan Asam Sulfat encer bertujuan untuk menarik alkaloid karena alkaloid bersifat basa lemah dan bila direaksikan dengan asam maka akan terbentuk garam yang larut dalam air sehingga garam alkaloid dapat terpisah menuju fase cair dan dapat diisolasi. disaring.2. yang berupa kristal berbentuk jarum.) pada simplisia Carica papaya Folium. diperoleh maserat berwarna coklat muda. digunakan 200 mg serbuk Chinae Cortex dimaserasi dengan 20 mL air dan 2 tetes Asam Sulfat encer selama 1 jam.1 Piperina Pada identifikasi kimia terhadap serbuk piper nigrum dilakukan dengan cara 1-3 tetes sari kloroform dari serbuk piper nigrum yang diteteskan pada objek gelas kemudian ditambahkan dengan 1 tetes asam sulfat pekat terjadi warna coklat tua. Uji positif karena setelah diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran lemah (12. Dilihat di bawah UV 254 nm . 3. karena merupakan senyawa amida basa lemah yang dapat membentuk garam dengan asam mineral kuat. terjadi flourosensi biru. dan Chinae Cortex karena ada yang tidak mengalami perubahan warna setelah ditetesi dengan larutan percobaan tertentu. Setelah filtrat ditambahkan Asam Sulfat encer. kemudian diamati pada lampu UV.Piperis nigri Fructus Kuning Hijau kekuningan kekuningan Dari hasil percobaan.5 x 10) membentuk kristal kadminium sulfat. berwarna kuning.2. Dari hasil percobaan menunjukkan hasil positif untuk kinina karena alkaloid kinina mampu menyerap gelombang cahaya unutk membentuk flourosensi berwana biru.2 Identifikasi Kimia 3.2 Kinina Pada uji ini. Adapun penyimpangan hasil uji warna ini disebabkan oleh ketidaktelitian praktikan dalam penambahan reagent atau larutan percobaan pada filtrat dan mungkin juga disebabkan oleh proses penyarian filtrat yang kurang teliti. 3. Gambar 1. Adanya perubahan warna disebabkan oleh adanya interaksi antara alkaloid yang bersifat basa dengan larutan percobaan yang bersifat asam sehingga menimbulkan reaksi asam-basa dan memicu timbulnya warna tertentu. Hal ini menandakan bahwa simplisia Chinae Cortex memiliki kandungan alkaloid kinina. Nicotiana tabacum Folium. diperoleh hasil uji negatif ( . Maserasi bertujuan menarik alkaloid untuk bereaksi dengan asam membentuk garam yang larut dalam air. Sedangkan diperoleh hasil uji positif (+) pada Coffea Semen dan Piperis nigri Fructus karena terjadi perubahan warna oleh penambahan ketiga larutan percobaan. Flourosensi ini terjadi karena larutan menyerap cahaya pada panjang gelombang 366 nm.

75 ml. Filtrat selanjutnya diuapkan sampai kering.625 Spot 5 berwarna lembayung gelap dengan jarak 6 cm = = 0. antara lain : Spot 1 berwarna lembayung gelap dengan jarak 1 cm = = 0. 250 mg serbuk Chinae cortex dibasahi dengan 5 tetes amonia 25% untuk menciptakan suasana basa sehingga alkaloid lebih mudah disari. Kemudian ditambahkan dengan kloroform dan digojog. Penambahan kloroform bertujuan untuk menarik zat – zat pengotor (Anonim b. Langkah pertama. Setelah pengembangan selesai. dan fase geraknya Toluena – eter – dietilamina (55 : 35 : 10). pemeriksaan alkaloid secara kromatografi lapis tipis juga dilakukan.5 ml.Gambar 2.3 Identifikasi Alkaloid dengan Menggunakan Metode Kromatografi Lapis Tipis Selain identifikasi alkaloid secara kimia. dietil amina 0.75 • Setelah disemprot dengan 10 mL campuran methanol asam sulfat pekat (9:1) v/v dan dipanaskan pada suhu 1050C dan dilihat pada UV366 terbentuk 8 spot. Bahan yang digunakan adalah golongan kinolin yaitu serbuk Chinae cortex. Toluen yang digunakan 2. Metanol dalam hal ini berfungsi sebagai pelarut. sehingga elusi yang terjadi dapat lebih sempurna.5 ml metanol. Tujuan digunakan pipet kapiler adalah untuk memperkecil luas permukaan penotolan. 1979).125 Spot 2 berwarna lembayung gelap dengan jarak 2 cm = = 0. Setelah pengembangan selama 1 jam.5 Spot 4 berwarna lembayung gelap dengan jarak 5 cm = = 0.5 cm = = 0. Dimana sebagai pembanding digunakan 35 mg kinina. dan ditambahkan dengan 0. dimana pada dasarnya prinsip kerja dari kromatografi melawan gradient gravitasi bumi yang menyebabkan larutan dalam percobaan akan bergerak ke atas melalui fase diamnya. terbentuk spot antara lain : Spot 1 berwarna lembayung gelap dengan jarak 1. eter 1.75 ml. Fase diam yang digunakan dalam percobaan ini yaitu Silika gel GF254. Silika gel GF254 artinya silika gel yang terdapat pada plat KLT yaitu gypsum dengan fluoresensi pada panjang gelombang (λ) 254 nm. Kromatografi merupakan suatu metode pemisahan secara fisiko-kimia. lempeng KLT dipanaskan pada suhu 1000 C selama 10 menit. Dilihat di bawah UV 366 nm 3.1875 Spot 2 berwarna biru muda dengan jarak 3 cm = = 0. diamati di bawah sinar UV254.25 .375 Spot 3 berwarna biru tua dengan jarak 4 cm = = 0. Larutan yang diperoleh ditotolkan sebanyak 5 – 10 mikroliter dengan pipet kapiler.

Spot 3 berwarna biru muda dengan jarak 2.835 Berdasarkan percobaan pada simplisia Chinae Cortex diperoleh hasil uji positif mengandung alkaloid yang ditandai dengan adanya pemadaman fluoresensi di bawah UV254 nm.625 Spot 7 berwarna kuning dengan jarak 6 cm = = 0.375 Spot 5 berwarna biru muda dengan jarak 4 cm = = 0. Dilihat di bawah UV 366 nm . Dilihat di bawah UV 254 nm Gambar 4. Pada UV 366 nm setelah disemprot campuran Metanol.5 cm = = 0.5 cm = = 0.75 Spot 8 berwarna hijau dengan jarak 6.Asam Sulfat Pekat (9:1) v/v tidak terbentuk warna biru tua yang menyala. Gambar 3.313 Spot 4 berwarna ungu dengan jarak 3 cm = = 0.5 Spot 6 berwarna kuning dengan jarak 6 cm = = 0.

Uji piperina menghasilkan reaksi positif mengandung alkaloid dengan terbentuknya kristal kadminum sulfat berupa kristal berbentuk jarum. 4. Pada reaksi pengendapan suatu serbuk simplisia mengandung alkaloid sekurangkurangnya jika terbentuk endapan dengan dua larutan pereaksi. . Uji kinina menunjukkan hasil positif mengandung alkaloid yang ditunjukkan dengan terbentuknya flourosensi berwana biru. Carica Papaya Flos. Sedangkan diperoleh hasil uji positif (+) pada Coffea Semen dan Piperis nigri Fructus. dan Harger LP. Piperis Nigri Fructus negatif mengandung alkaloid. 2.Asam Sulfat Pekat (9:1) v/v tidak terbentuk warna biru tua yang menyala. Uji identifikasi alkaloid dengan menggunanakan metode KLT pada simplisia Chinae Cortex menunjukkan hasil uji positif mengandung alkloida yang ditandai dengan adanya pemadaman fluoresensi di bwah UV 254 nm.) pada simplisia Carica Papaya Folium. Nicotiana tabacum Folium. Mayer LP. diperoleh hasil uji negatif ( .KESIMPULAN 1. 3. Nicotiana Tabacum Folium. dan Chinae Cortex. Pada uji warna suatu simplisia mengandung alkaloid jika menghasilkan perubahan warna dengan beberapa larutan pereaksi Wagner LP. Dragendroff LP. Chinae Cortex. Sedangkan pada UV 366 nm setelah disemprot campuran Metanol. 6. Pada uji identifikasi umum terhadap simplisia Coffea Semen. 5. Hal ini menandakan bahwa simplisia Chinae Cortex memiliki kandungan alkaloid kinina. berwarna kuning.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->