DAFTAR ISI

Prakata Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN Definisi Keuangan Publik Alasan Mempelajari Keuangan Publik Pentingnya Sektor Publik Karakteristik Kebijakan Publik Ruang Lingkup Keuangan Publik Pendekatan Analisis Kriteria yang Digunakan untuk Mengevaluasi kebijakan Politik BARANG PUBLIK DAN EKSTERNALITAS Identifikasi Barang Publik Karakteristik Barang Publik Perbedaan antara Barang Publilk dan Barang Pribadi Permintaan Barang Publik Tingkat Output yang Efisien Free Rider Problem Eksternalitas PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga Penentuan Harga Barang Publik Implementasi Penentuan Harga dalam Produk Pertanian Fungsi Penawaran dan Tanggapan Sektor Pertanian Kebijakan Harga Positif Kebijakan Harga Negatif Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi Utama Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi Alokasi Fungsi Distribusi Fungsi Stabilisasi Koordinasi Fungsi Anggaran FUNGSI ALOKASI Latar Belakang Adanya Fungsi Alokasi Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar iii v 1 1 1 2 4 5 6 7 9 9 10 10 12 13 13 14 16 16 17 18 19 20 21 21 23 23 24 26 26 27 28 29 30 30 31

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

v

Penyediaan Barang Publik Efisiensi Penyediaan Barang Publik oleh Pemerintah BAB VI FUNGSI DISTRIBUSI Konsep Keadilan Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Distribusi sebagai Suatu Kebijakan Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Redistribusi FUNGSI STABILISASI Kebijakan Stabilisasi Kebijakan Moneter Kebijakan Fiskal Stabilisasi Anggaran SISTEM PILIHAN PUBLIK Konsep Keseimbangan Politis (Political Equilibrum) Pemilihan dan Pemungutan Suara (Election and Voting) Memberikan Suara atau Abstain (Vote or not to vote) Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas (Majority Rule) Fenomena Cycling Penyebab Cycling Metode Pemungutan Suara KONSEP ANGGARAN Balance budget Jenis-Jenis Anggaran Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) Siklus Anggaran Masalah Umum Anggaran KEBIJAKAN STABILISASI Model-model Pengganda dengan Investasi Tetap Pengeluaran publik Pajak Lump-Sum Peranan Tunjangan Sosial (transfer) Sistem dengan Pajak Penghasilan Kenaikan Anggaran Berimbang Jenis-Jenis Inflasi Keseimbangan menurut Paham Ricardo PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Unsur-Unsur Pembangunan Kebijakan Struktur Perpajakan Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Pengembangan Struktur Perpajakan Pajak Penghasilan Perorangan Pajak Penghasilan Perusahaan

34 39 43 44 46 46 47 47 50 50 50 51 51 52 52 53 54 56 62 63 65 69 70 70 73 75 78 80 80 83 83 84 84 85 86 89 91 91 93 93 95 95 96

BAB VII

BAB VIII

BAB IX

BAB X

BAB XI

vi

Pajak Tanah Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Pajak dan Bea atas Komoditas Insentif Perpajakan Insentif Domestik Insentif bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Insentif bagi Modal Asing Insentif Ekspor Kebijakan Pengeluaran Bantuan Internasional dan Redistribusi BAB XII HUTANG PUBLIK Pertumbuhan Hutang Pemerintah Struktur Hutang Pemerintah Hutang Publik sebagai Bagian dari Struktur Likuiditas Ekonomi Pendanaan Kembali vs Pelunasan Hutang Beban Pajak dari Pelunasan Hutang Pengalihan Beban melalui Hutang Luar Negeri Peminjaman oleh Pemerintah Daerah Manajemen Hutang Struktur Jangka Waktu dari Suku Bunga Teori Struktur Jangka Waktu Dampak Inflasi Struktur Jangka Waktu dan Manajemen Hutang yang Efektif Hutang Pemerintah Lokal DASAR-DASAR PERPAJAKAN Penerimaan Pajak Penerimaan Non Pajak Prinsip-Prinsip Pajak Siklus Arus Pajak Tarif Pajak Istilah-istilah dalam Perpajakan PRINSIP KEADILAN PERPAJAKAN Prinsip Manfaat Prinsip Kemampuan Membayar Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan DAMPAK PERPAJAKAN TERHADAP PEREKONOMIAN Efficiency Effect Dampak Pajak Kriteria Tarif Pajak Kriteria Struktur Pajak yang Baik

97 97 98 98 99 100 101 102 102 103 106 106 106 110 110 111 115 116 117 117 118 118 119 121 124 124 124 126 127 128 129 132 132 133 134 136 137 138 140 140 141 143 145

BAB XIII

BAB XIV

BAB XV

vii

BAB XVI

PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Aturan Utama Penentuan Penghasilan Kena Pajak Penerapan Tarif Pajak Prosedur Pembayaran Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Praktek Definisi Penghasilan : Pengecualian Praktek Definisi Penghasilan : Pengurangan atas Penghasilan Neto Preferensi Pajak Permasalahan-Permasalahan Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Perlakuan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Pola Progresivitas Tarif Pajak Penyesuaian Terhadap Inflasi Pilihan Unit Kena Pajak PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Integrasi Pajak Aspek-Apek Khusus Definisi Basis Pajak Aturan Penyusutan dan Waktu Penyusutan Metode Penyusutan Ekonomis vs Metode Penyusutan Dipercepat Pembebanan Sekaligus Penyesuaian Terhadap Inflasi Investment Tax Credit Siapa yang Menanggung Beban Pajak? Pajak Penghasilan Badan untuk Usaha Kecil dan Menengah PAJAK ATAS KONSUMSI Jenis Pajak atas Konsumsi di Indonesia Bahasan-bahasan dalam Pajak atas Konsumsi Tahap Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Nilai Akhir Sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Jenis Pajak Pertambahan Nilai Distribusi Beban Pajak Cukai Pajak Penjualan Umum Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi PAJAK ATAS KEKAYAAN Alasan-alasan Pengenaan Pajak atas Kekayaan Pajak atas Tanah Distribusi Beban Pajak Kekayaan Pajak Kekayaan sebagai pajak atas Penghasilan Modal Pola-Pola Alternatif

147 147 148 148 149 150 153 157 158 159 159 161 163 163 167 167 167 172 174 175 177 179 180 180 181 182 184 184 185 187 188 189 189 192 192 192 193 197 197 199 201 202 205

BAB XVII

BAB XVIII

BAB XIX

viii

Pajak atas Kekayaan Bersih Pengalaman Berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih Struktur dan Basis Pajak Peranan Harta tak Berwujud (Intangibles) Bea atas Modal BAB XX PAJAK ATAS WARISAN Alasan-alasan Pengenaan pajak atas Warisan Tujuan dan Jenis Pajak Permasalahan-Permasalahan Khusus ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA ATAS BARANG DAN JASA SOSIAL Mengidentifikasai Manfaat dan Biaya Mengevaluasi dan Mengkonversi Manfaat dan Biaya Mendiskonto Manfaat yang Akan Datang Pengaruh Tingkat Diskonto terhadap Present Value Menentukan Tingkat Diskonto Sosial (Social Rate of Discount) Pengaruh Inflasi Menentukan Peringkat Proyek STRUKTUR BELANJA PUBLIK Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Faktor Belanja Barang dan Jasa Faktor Pengeluaran dari Transfer Porsi Pendapatan Klasifikasi Belanja Publik KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Perlunya Analisis Sektor Pertahanan Nasional Jalan Raya Pendidikan Fasilitas Rekreasi KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Tunjangan Kepada Penghasilan Rendah Asuransi Sosial Sistem Tunjangan Sosial Terkini KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dimensi Ekonomi dan Desentralisasi Fiskal Efisiensi Stabilitas Makro Ekonomi Keadilan (Equity) Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal

206 206 206 207 209 210 210 210 212 213 214 214 215 216 217 219 220 224 224 224 226 229 231 231 232 233 234 235 237 237 239 239 241 243 243 244 245 245

BAB XXI

BAB XXII

BAB XXIII

BAB XXIV

BAB XXV

ix

BAB XXVI

TRANSFER PUSAT KE DAERAH : TEORI DAN PRAKTIK Pendahuluan Tujuan Transfer Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Jenis-Jenis Transfer

247 247 249 255 256 264 264 265 266 269 271 271 272 274 274 274 276 277 278 279 280 284 284 287 288 290 292 293 294 295 301 301 304 307

BAB XXVII PERPAJAKAN DAERAH Pendahuluan Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Ketentuan Mengenai Bagi Hasil Pajak Propinsi dan Peruntukannya Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Pembiayaan Daerah BAB XXVIII PINJAMAN DAERAH Pendahuluan Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Penggunaan Pinjaman dalam Pembiayaan Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah BAB XXIX KOORDINASI PAJAK INTERNASIONAL Pendahuluan Prinsip-Prinsip Pajak Internasional Koordinasi atas Pajak Penghasilan dan Pajak Laba Koordinasi Pajak Produk Koordinasi Pengeluaran Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Pemahaman atas Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda) Cakupan Tax Treaty Pencegahan Penghindaran Pajak Ketentuan Lain-Lain

Daftar Pustaka Biografi Penyusun

x

ditribusi pendapatan. sebagai contoh. arti keadilan.bukan pada pajak tunggal merupakan hal-hal yang dibahas didalamnya. Keuangan publik juga menganalisis pengeluaran publik untuk membantu kita dalam memahami mengapa jasa tertentu harus disediakan oleh negara dan mengapa pemerintah menggantungkannya pada jenis-jenis pajak tertentu. penting untuk mengembangkan model-model ekonomi yang membantu menjelaskan arti alokasi sumber daya yang efisien atau optimal. karena setiap keputusan mempunyai pengaruh pada ekonomi dan keuangan rumah tangga dan swasta. Dalam keuangan publik. Dengan demikian. fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah dan menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya. uraian-uraian mengapa pertahanan nasional harus dikelola oleh negara sedangkan makanan diserahkan kepada swasta dan mengapa suatu negara menggunakan komposisi berbagai jenis pajak .1 B A B I PENDAHULUAN Definisi Keuangan Publik K euangan publik adalah bagian ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah. Alasan Mempelajari Keuangan Publik Keuangan publik erat kaitannya dalam proses pengambilan keputusan berdasar asas demokrasi. dan antisipasi akibat finansial maupun ekonomi atas suatu keputusan publik. Sehingga. Apabila para pemilih wakil rakyat memonitor aktivitas para wakilnya. Keuangan publik menjelaskan belanja publik dan teknik-teknik yang digunakan oleh pemerintah untuk membiayai belanja tersebut. Yang termasuk pemerintah disini adalah seluruh unit pemerintah dan institusi atau organisasi pemegang otoritas publik lainnya yang dikendalikan dan didanai oleh pemerintah. dan stabilitas ekonomi. Keuangan publik mempelajari proses pengambilan keputusan oleh pemerintah. maka para wakil rakyat ini akan bekerja lebih keras dan berusaha Dasar-dasar Keuangan Publik .

muncul pertanyaan apakah pengeluaran-pengeluaran untuk masing-masing jenis tersebut dilakukan dengan bijaksana. Jumlah yang sangat besar nilainya ini merupakan alasan yang kuat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu masalah keuangan publik. peran pemerintah timbul untuk mengatur dan mengelola aspek-aspek kepentingan publik dan karakteristik umum dari aktivitas tersebut adalah bahwa kegiatan tersebut tidak ditujukan untuk memperoleh Dasar-dasar Keuangan Publik .yang tidak ditujukan untuk mencari laba tetapi memaksimalkan jasa pelayanan kepada masyarakat . Dalam situasi ini. mereka akan merasa sukarela pada saat pemerintah mengambil sebagian pendapatan mereka.2 meyakinkan para pemilih bahwa kontribusi mereka atas pembayaran-pembayaran pajak akan menyebabkan pencapaian kondisi yang lebih baik. Kemudian. melalui kebijakan moneter dan penganggaran. Salah satu perhatian pokok pengeluaran rumah tangga ada pada makanan. Dalam sistem perekonomian kapitalis. perumahan. prosentase belanja publik tersebut lebih besar. Kebijakan publik dianggap penting dalam hal mempengaruhi kegiatan ekonomi nasional. pembayar pajak akan memberikan otoritas lebih kepada pemerintah untuk mengelola dan mengendalikan sejumlah sumber daya keuangannya. karena sektor publik dan sektor swasta merupakan kesatuan integral dalam sistem perekonomian. kepentingan dan perhatian publik akan meningkat. Penting bagi kita untuk mengamati aktivitas organisasi pemerintah . Bagi individu yang merasa tidak puas dengan beban pajak yang menjadi tanggungan mereka. Pertanyaan-pertanyaan lain akan timbul berkaitan dengan mengapa pemerintah memerlukan anggaran sebanyak itu. lebih dari dua puluh persen pendapatan nasional (GNP) berasal dari belanja pemerintah. pakaian. digunakan untuk apa uang-uang itu. Karena. Sektor publik telah mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. transportasi. Seiring dengan itu. Sistem perpajakan haruslah diarahkan pada kepuasan dari sudut pandang para individu tersebut. maka mereka akan memberi pengawasan yang lebih pada aktivitas pemerintah. Pada situasi ini.dan mengetahui karakteristik khusus yang melekat pada sektor publik. Pentingnya Sektor publik Di Amerika Serikat. apakah hasil penerimaan pajak (terutama pajak penghasilan) dari rumah tangga seperti yang tercantum dalam anggaran negara memang relevan dengan aktivitas-aktivitas sektor publik ini. Kemudian. apabila pembayar pajak merasa terpuaskan. semakin tinggi pendapatan rumah tangga maka semakin besar proporsi pajak yang harus dibayarkan. kesehatan dan rekreasi. dikehendaki adanya kebebasan individu yang mutlak dan tidak membenarkan pengaturan ekonomi oleh pemerintah. sedangkan di negara-negara Eropa Barat. kecuali dalam hal-hal yang tidak dapat diatur sendiri oleh para individu. dan apakah uang tersebut digunakan dengan bijaksana? Secara normal. karena para individu ini menaruh perhatian pada aktivitas belanja publik setelah mereka membayar pajak.

3 keuntungan. 4. keadilan sosial dan pekerjaan umum. Adanya sifat monopoli dalam bidang usaha tertentu yang menyebabkan pemerintah harus campur tangan agar monopoli tidak merugikan para pelaku ekonomi. Bahwa campur tangan pemerintah. sehingga harus disediakan oleh pemerintah. fungsi sektor publik berbeda dengan fungsi rumah tangga dan perusahaan dalam perekonomian. Adanya barang publik (akan didefinisikan dan dibahas dalam bab mendatang) yang tidak dapat disediakan oleh mekanisme pasar. 2. Dalam perkembangannya. 6. tipikalnya dalam penyediaan pertahanan nasional. 3. walaupun harus membatasi kebebasan individu. sehingga pemerintah secara nyata diperlukan dalam pengelolaan biaya dan manfaat sosial karena swasta tidak ada keinginan mengelolanya. Diantara kelemahan-kelemahan mekanisme pasar tersebut adalah sebagai berikut: 1. Adanya risiko yang sangat besar yang tidak mungkin dikelola oleh swasta. karena usaha seperti itu dapat dijalankan oleh sektor swasta. dibutuhkan dalam memelihara perdamaian dan melindungi masyarakat terhadap serangan yang datang dari luar maupun dari dalam. 3. Adanya inflasi atau deflasi yang tidak dapat diselesaikan secara otomatis oleh mekanisme pasar. Adanya distribusi pendapatan yang tidak merata antar pelaku ekonomi pasar. Akan tetapi. tidak ada lagi paham ekstrim seperti itu sehingga negara kapitalis pun memandang perlu adanya peranan pemerintah dalam perekonomian. sehingga pemerintah hanya bergerak dalam area yang menyangkut kepentingan publik atau umum. Bahwa pemerintah haruslah bersifat inferior dalam melakukan kegiatan industri dan perdagangan. Bahwa individu akan lebih percaya diri apabila mengerjakan sesuatu untuk kepentingannya sendiri. Pemerintah dapat melakukan tiga kegiatan publik utama. Pemerintah semakin diperlukan dalam melakukan kegiatankegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. John Stuart Mill menyampaikan alasan-alasan tentang perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah sebagai berikut: 1. Dasar-dasar Keuangan Publik . Adanya perbedaan biaya pribadi dan biaya sosial. Peran tersebut dapat dilihat dalam aliran sirkuler seperti dibawah ini. 2. 5. manfaat pribadi dan manfaat sosial.

Dasar-dasar Keuangan Publik .4 Gambar 1. Peranan sektor publik dalam perhitungan GNP (Gross National Product) atau pendapatan nasional adalah bahwa pemerintah memberi kontribusi terhadap GNP melalui pembelian barang dan jasa. Sektor publik (anggaran pemerintah) memberi kontribusi pada pasar faktor produksi dan pasar produk sehingga merupakan bagian integral dari sistem pembentukan harga. atau diproduksi oleh swasta untuk dijual kepada pemerintah. Karakteristik Kebijakan publik Dalam menilai pentingnya sektor publik. Arus barang pribadi dan barang publik tidak dibiayai oleh penjualan tapi melalui perpajakan atau melalui pinjaman. perlu diperhatikan bagaimana sektor swasta akan bereaksi. ada sejumlah kriteria dimana komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen. Itulah sebabnya dalam merancang suatu kebijakan fiskal. karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi. Barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah dapat saja diproduksi oleh pemerintah.1 Dari gambar terlihat bahwa akan terdapat hubungan yang erat antara arus sektor swasta (rumah tangga dan perusahaan) dan sektor pemerintah. dan tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi.

Bahasan Keuangan Publik dimulai dari keadaan dan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian. Keuangan Publik juga mencoba memberi gambaran tentang pilihan publik yang menyangkut aspek institusi publik. Timbulnya masalah eksternalitas (akan dibahas lebih lanjut pada bab mendatang) perlu dipecahkan oleh pemerintah. keseimbangan publik yang dicapai melalui proses pemilihan umum.5 Dengan demikian karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. Rincian karakteristik tersebut adalah sebagai berikut: 1. 2. subsidi dan pajak. Peraturan pemerintah diperlukan untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi bila terdapat kondisi persaingan yang tidak efisien. Ruang Lingkup Keuangan Publik Ruang lingkup Keuangan Publik dapat digambarkan dalam bagan berikut ini. adanya mekanisme pasar yang perlu diintervensi pemerintah karena berbagai alasan. Hasil pemilihan umum ini akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Setelah itu. 4. mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar. Kebijakan publik diperlukan untuk menjamin kesempatan kerja.mensyaratkan adanya informasi yang lengkap mengenai pasar baik bagi produsen maupun konsumen dan peraturan pemerintah diperlukan untuk menjamin persyaratan kelengkapan informasi itu. stabilitas harga dan tingkat pertumbuhan ekonomi. Untuk mencapai efisiensi pasar . perlunya pencapaian kondisi stabil dalam eknomi dimana peran pemerintah sangat dominan. melalui anggaran. adanya barang publik yang perlu disediakan oleh pemerintah. Hal ini menyangkut kondisi-kondisi adanya eksternalitas yang perlu dikendalikan pemerintah. 6.kondisi dimana produksi barang sama dengan keinginan pasar . dan sebagainya. 5. Pertukaran barang dan jasa tertentu dalam mekanisme pasar perlu ada proteksi dari pemerintah untuk melindungi pelaku pasar. Perlunya peran sosial yang dilakukan oleh pemerintah dalam distribusi pendapatan dan kesejahteraan dalam mekanisme pasar. 3.

Permasalahan keuangan pemerintah itu sendiri. Pendekatan ini mencakup kriteria yang perlu ditetapkan untuk menilai kebijakan anggaran. Fokus buku ini akan meliputi kegiatan penerimaan dan pengeluaran dari anggaran pemerintah dan hal-hal yang berkaitan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara. Salah satu titik penting sisi belanja tersbut juga akan mencakup efek pengganda (multiplier) yang diperankan oleh pemerintah. 2.6 menghasilkan keputusan diantaranya menyangkut penyediaan barang dan jasa publik . termasuk kebijakan publik. Segala kegiatan yang berhubungan dengan alokasi sumber daya. sumber-sumber tersebut akan dihubungkan dengan aspek keadilan dan distribusi pendapatan. Aspek pembiayaan merupakan area pembahasan Keuangan Publik berikutnya. Pendekatan Analisis Dalam melakukan analisis kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan anggaran pemerintah. Kemudian. Secara tipikal. Keuangan Publik kemudian akan membahas aspek belanja publik yang merupakan aktivitas utama pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. Yang terakhir. dan aspek stabilisasi. pemerintah perlu memberikan stimulus pada perekonomian melalui kebijakan belanjanya yang mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. Sumber pendapatan pemerintah dapat mencakup pajak dan non pajak. dan bagaimana agar Dasar-dasar Keuangan Publik . dengan keterbatasanketerbatasan yang ada. bagaimana kualitas kebijakan fiskal. dalam keuangan publik. distribusi pendapatan. Dengan demikian. Untuk menutup kekurangannya. 3. misalnya. kegiatan yang mencakup belanja publik dan kegiatan pembiayaan sering disebut sebagai struktur fiskal (fiscal structure). dimana bahasan tersebut akan dihubungkan dengan aspek efisiensi penyediaan jasa tersebut. Bahasan yang meliputi kegiatan memperoleh pendapatan. bahasan Keuangan Publik akan mencakup masalah-masalah kreasi memperoleh pendapatan yang dilakukan oleh pemerintah. ruang lingkup Keuangan Publik akan menyangkut ketiga bidang utama sebagai berikut: 1. pemerintah dapat melakukan usaha-usaha memperoleh sumber pendanaan lainya melalui hutang. Contohcontoh belanja pemerintah tersebut meliputi pendidikan. dan juga alokasi dan distribusi sumber daya. dan. dapat dipakai beberapa pendekatan analisis sebagai berikut: Pendekatan Normatif. dimana belanja tersebut dapat didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pemerintah. bahasan keuangan publik biasanya juga menyangkut kegiatan analisis hubungan antara kebijakan pemerintah dengan perekonomian yang dikelola oleh rumah tangga dan swasta. kesehatan dan pertahanan. Analisis hubungan sektor publik dan sektor swasta.

pendekatan normatif ini akan mengarah pada bagaimana seharusnya suatu kebijakan publik ditetapkan. Jadi. pertama. historis. Implementasi kebijakan sektor publik mempunyai derajat kesulitan lebih tinggi. Pendekatan ini dilakukan dengan membahas hal-hal yang berhubungan dengan estimasi. pendekatan positif ini akan mengarah pada kebijakan publik apa yang harus diambil. apakah wajar bagi keluarga tanpa anak harus membayar pajak pendidikan? Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendekatan ini menggunakan alat eksperimen berdasar suatu estimasi untuk melihat perubahan perilaku. Kriteria yang Digunakan untuk Mengevaluasi Kebijakan Publik Beberapa kriteria dibawah ini dapat digunakan untuk melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik. Pendekatan Positif. Pendekatan ini menggunakan alat indifference curve untuk menyatakan preferensi individu yang kemudian dihubungkan dengan preferensi bermuatan sosial untuk mendapatkan kondisi efisiensi Pareto. apakah wajar menutup perusahaan yang menyebabkan polusi udara dibandingkan dengan kesempatan kerja yang disediakan oleh usaha tersebut? Apakah wajar menutup bisnis penebangan hutan untuk menyelamatkan habitat burung hantu? Atau. karena erat kaitannya dengan aspek politik dan harus mempertimbangkan aspek pemerataan dan keadilan. Pendekatan ini menggunakan model-model ekonometrik untuk melihat pengaruh dari suatu kebijakan dalam perilaku ekonomi yang diobservasi dan juga menggunakan analisis regresi untuk memprediksi pengaruh kebijakan setelah parameternya dapat diketahui dari model ekonometrik tersebut. Jadi. 1. mekanisme pasar yang kompetitif mengarah pada hasil yang efisien. bagaimana tekanan pihak-pihak yang berkepentingan dan bagaimana preferensi fiskal. menyatakan suatu masyarakat dapat mencapai efisiensi Pareto tersebut dengan membuat kesepakatan (dengan melibatkan intervensi pemerintah) atas donasi individuindividu dan kemudian memberi kebebasan pada masyarakat untuk melakukan pertukaran satu sama lain. dalam kondisi tertentu. dan. kedua. Analisis ini menilai mengapa kebijakan fiskal pemerintah mencakup aspek ekonomi. politik dan sosial. berdasar bukti empiris.7 prestasi dapat ditingkatkan. Teori dasar dari welfare economics menyatakan bahwa. Dengan menggunakan welfare economics. analisis dihubungkan dengan kondisi efisien perilaku rumah tangga dan perusahaan. dan bagaimana proses politik. Equity & Fairness (Keadilan dan kewajaran) Suatu kebijakan publik dapat diuji dengan berbagai pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan kewajaran dalam persepsi sosial dan seberapa fair suatu kebijakan publik terhadap isu hak kepemilikan? Sebagai contoh.

Economic Efficiency (Efisiensi Ekonomi) Kebijakan publik dapat dianalisis dari sudut Pareto Efficiency yaitu alokasi sumber daya dari kondisi yang tidak mungkin – melalui perubahan alokasi – sehingga mencapai kondisi dimana seseorang atau beberapa orang mengalami kepuasan lebih baik tanpa menyebabkan pihak lain terbebani. orang tidak akan menabung dalam jumlah yang cukup untuk pensiun sehingga pemerintah harus mengalokasikan penerimaan pajak agar penduduk usia lanjut dapat memperoleh manfaat. mungkin ada konflik yang substansial antara beberapa kriteria tersebut. 5. welfare economics telah dipertimbangkan sebagai cara pemberian insentif untuk mengoreksi kebijakan berdasar keadilan sosial. Freedom of choice (Kebebasan Individu) Dalam asas demokrasi.perlu diintervensi pemerintah? Trade Off Secara umum.yang dapat memberi pekerjaan pada setiap orang .8 2. ekonom menekankan efisiensi dan keadilan sebagai kriteria melakukan evaluasi atas kebijakan publik. 4. Sehingga salah satu indikator keberhasilan kebijakan publik adalah apakah kebijakan pemerintah dapat mendorong kebebasan individu dalam bertransaksi ekonomi. Kemudian. Stabilization (Stabilisasi) Kebijakan publik dapat dianalisis dengan menilai apakah kebijakan yang diambil pemerintah mampu meningkatkan pengeluaran agregat? Atau apakah ekonomi sektor swasta . kebijakan upah minimum mungkin mendorong keadilan. Sebagai contoh. 6. Paternalism (Sistem Paternal) Kebijakan publik dapat dievaluasi dari asumsi bahwa pemerintah adalah pihak yang paling mengetahui permasalahan penduduk suatu negara dan pemerintah bebas menentukan kebijakan apa saja. Suatu kebijakan publik dapat dievaluasi dengan pertanyaan apakah pilihan kebijakan tidak akan mengorbankan tujuan lainnya atau apakah manfaat agregat dapat melampaui beban agregat. Contoh. kebebasan individu dalam perekonomian memungkinkan pertukaran sukarela atau mempromosikan proses pengambilan keputusan sukarela yang didasarkan atas pertimbangan dagang yang bebas biaya transfer antar pihak yang bertransaksi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Akan tetapi. tetapi hal ini mungkin tidak efisien. 3.

9 B A B II BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS Identifikasi Barang Publik D alam mengklasifikasi barang publik dan barang pribadi. barang pribadi. barang publik lokal (sering disebut congestible goods) dan barang dengan eksternalitas. Rivalry rendah Barang Publik Lokal: Perpustakaan Taman Rekreasi Area parkir Excludability Tinggi Barang Pribadi: Rumah. Pengangkut sampah Jalan lokal Rivalry Tinggi Dari gambar diatas. sebagai berikut. kita dapat menggunakan gambar dengan sumbu horizontal berupa tingkat excludability dan sumbu verikal berupa tingkat rivalry. suatu barang dapat dikelompokkan kedalam empat kategori yaitu barang publik. mobil Makanan. Karakteristik masing-masing jenis akan dibahas kemudian. pakaian Jasa personal lain Barang Publik: Pertahanan Danau & sungai Lampu Jalan Excludability Rendah Barang dengan eksternalitas: Pendidikan. dapat ditunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability. terutama sifat-sifat dasar yang dipertimbangkan dalam pembahasan aspek keuangan publik. Dasar-dasar Keuangan Publik .

pada tingkat tertentu. sedangkan pertukaran barang publik selain dapat Dasar-dasar Keuangan Publik . suatu barang publik mempunyai sifat-sifat berikut: 1. orang tersebut tetap dapat memperoleh barang tersebut. Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik. Suatu komoditas dapat saja memenuhi satu kriteria dari barang publik. Konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi penawaran barang publik tersebut untuk dikonsumsi oleh orang lain. Penyediaan barang publik yang dilakukan oleh pemerintah tidak berarti bahwa produksinya harus dilakukan oleh sektor publik. tapi mungkin tidak memenuhi kriteria yang lain. tapi mungkin disediakan oleh swasta kemudian pemerintah melakukan pembelian atas barang tersebut. Sedangkan non exclusion mengandung arti bahwa orang tidak dapat membatasi manfaat atas barang tersebut pada orang-orang yang sanggup membayar saja. 2. tidak ada persyaratan bahwa konsumsi ini dinilai atau dihargai oleh semua orang. apakah seseorang itu mau membayar atau tidak (free rider) dalam mengkonsumsi barang.10 Karakteristik Barang Publik Secara umum. tetapi tergantung pada kondisi pasar dan teknologi. Walaupun setiap orang mengkonsumsi jumlah yang sama atas barang publik. Karakteristik barang publik seperti diatas tidaklah absolut. Pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak menghasilkan eksternalitas. Dengan lain perkataan. Sifat barang publik seperti ini disebut non rival consumption. Beberapa barang tertentu yang secara konvensional tidak dipandang sebagai komoditas pribadi dapat saja mempunyai karakteristik sebagai barang publik. Sifat lain dari barang publik yang lain adalah bahwa barang publik tidak disediakan secara eksklusif oleh pihak swasta. Perbedaan antara Barang Publik dan Barang Pribadi Barang publik adalah barang-barang yang mempunyai dua sifat pokok yaitu non rival consumption dan non exclusion. konsumsi yang dilakukan atas barang tidak akan mengurangi jumlah yang tersedia bagi orang lain. Contoh barang publik dengan sifat ini adalah jalan raya dan pertahanan nasional dimana konsumsi terhadap barang tersebut oleh seseorang tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk ikut mengkonsumsinya. atau suatu barang dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama. 3. Non rival consumption mengandung maksud bahwa sejumlah orang dapat mengkonsumsi secara bersama-sama terhadap barang tersebut atau. Walaupun penyedia barang menginginkan. setiap anggota masyarakat tidak dapat dibatasi/dilarang untuk mengkonsumsi barang publik atau kegiatan pembatasan tersebut sangat sulit untuk dilakukan. Sifat barang publik seperti ini disebut non exclusion.

tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi atas udara sejuk tersebut. sedangkan suatu barang publik tidak dapat dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang terpisah yang dapat dikonsumsi habis. karena apabila roti tadi dikonsumsi oleh seseorang. Setiap hari. dimisalkan ada sekelompok orang yang berada di satu ruangan tertentu. Perbedaan karena kegagalan mekanisme pasar Kebutuhan barang pribadi dirasakan secara perorangan. dan bila seseorang akan mengkonsumsi lebih dari porsinya. Contoh barang publik yang menghasilkan manfaat eksternal adalah pertahanan nasional dan contoh barang publik yang menghasilkan beban adalah penyediaan mesin atau peralatan yang menyebabkan adanya polusi udara. Suatu pasar menyediakan Dasar-dasar Keuangan Publik . Penambahan orang dalam ruangan. Konsumsi orang satu dengan orang lainnya berada dalam hubungan yang saling bersaingan (rival). Kedua sifat barang tadi akan menimbulkan permasalahan bagaimana konsumen berperilaku dan bagaimana kedua jenis barang tadi harus disediakan. Sejumlah roti mempunyai karakteristik sebagai barang pribadi sedangkan tingkat suhu seperti uraian diatas mempunyai karakteristik sebagai barang publik bagi orang-orang yang menghuni ruangan. akan tetapi juga bagi konsumen lainnya. manfaat yang dihasilkan akan tersedia bagi semua orang yang bernafas. tidak mungkin membagi temperatur yang telah diberi pendingin udara kepada orangorang dalam ruangan tersebut. dipastikan akan mengurangi porsi orang lain.11 menghasilkan manfaat eksternal juga dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Untuk memperjelas karakteristik diatas. Mekanisme pasar secara tepat dapat menggambarkan penyediaan barang pribadi. sedangkan kebutuhan barang publik dirasakan secara bersama-sama oleh para individu dalam masyarakat. Sedangkan contoh barang publik adalah alat untuk mengurangi pencemaran udara. Suatu unit barang pribadi hanya dapat dinikmati oleh konsumen tertentu dan setelah itu tidak tersedia bagi orang lain. Jika alat tersebut berfungsi dan terjadi peningkatan kualitas udara. satuan kuantitas barang publik dapat dinikmati bersamasama secara kolektif oleh sekelompok orang. karena keikutsertaan orang lain untuk memanfaatkan alat tidak mengurangi manfaat bagi yang lainnya. Konsumsi atas alat anti pencemaran udara tadi oleh beberapa individu adalah tidak saling bersaing (non rival). sampai batas tertentu. Tidak mungkin orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang berbeda satu sama lain. Hal ini merupakan efek dari sifat non rival consumption. Jadi. Contoh barang pribadi adalah roti. Manfaat yang dihasilkan oleh barang publik tidak terbatas pada konsumen tertentu saja yang membeli barang itu. Mekanisme ini didasarkan pada pertukaran dan pertukaran hanya terjadi jika terdapat hak eksklusif bagi pihak yang membelinya. Perbedaan lain adalah bahwa biaya marjinal untuk distribusi barang publik kepada konsumen adalah nihil. Semua orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang sama. Di lain pihak. Jumlah roti yang tersedia akan dikonsumsi dengan porsi yang sama oleh orang-orang yang berada di ruangan itu. maka barang tersebut tidak tersedia bagi orang lain. penghuni ruang ini dapat mengkonsumsi sejumlah roti dan udara sejuk dari alat pendingin ruangan.

Kesulitan yang sama adalah bagaimana manfaat ini dapat dinilai oleh konsumen. sementara individu lain Dasar-dasar Keuangan Publik . Hanya pihak yang bersedia membayar barang itulah yang dapat memperoleh manfaat atas barang. mereka tidak dapat menyatakan kepada pemerintah berapa nilai pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. Persediaan barang publik tidak banyak dipengaruhi oleh kontribusi individu. Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar. Kesulitan terjadi dalam menentukan jenis dan kualitas barang publik. Perbedaan karena penyediaan barang publik Permasalahan yang ada adalah bagaimana pemerintah harus menentukan berapa banyak barang publik tersebut perlu diadakan. Lain halnya dengan penyediaan barang publik dimana tidak terjadi mekanisme pasar yang efisien. karena apabila orang tersebut mengkonsumsi. dan berapa konsumen harus membayar. Mereka merasa berkepentingan untuk memilih apa yang akan memberi manfaat bagi mereka. Dari sudut pandang konsumen. Manfaat yang dirasakan oleh satu pihak akan sama dengan manfaat yang dirasakan pihak lain. kecuali ada jaminan konsumen lain juga melakukan hal yang sama. seluruh konsumen harus mengkonsumsi sejumlah kuantitas yang sama atas barang. Konsumen tidak mempunyai hak suara secara perorangan untuk menyatakan bagaimana nilai pelayanan yang nyata bagi mereka. Para pembeli barang publik tidak akan dapat menyesuaikan tingkat konsumsinya sehingga seorang individu mengkonsumsi satu unit. Dengan demikian. Untuk barang publik (murni). proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Pada tahap ini.12 sistem dimana produsen akan akan memproduksi barang jika konsumen membutuhkan barang itu. Hasil pemungutan suara akan menggantikan pilihan melalui mekanisme pasar. sehingga pembayaran hanya oleh satu konsumen tidak signifikan. Pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. Dalam kondisi ini. pada saat yang sama orang atau pihak lain dapat mengkonsumsi barang publik tersebut secara bersama-sama. Konsumen juga tidak bersedia untuk melakukan pembayaran atas barang publik tadi. dengan pertimbangan bahwa orang lain juga menikmati barang yang sama. Hubungan antara produsen dan konsumen menjadi tidak ada dan pemerintah lah yang harus bersedia memproduksi barang publik. Konsumen akan dapat memilih sebagai free rider (dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut) atas apa yang disediakan oleh pemerintah. Tingkat efisiensi proses pemilihan dan kebersamaan pilihan masyarakat akan menentukan tingkatan pencapaian pemecahan yang efisien. pasar menjadi efisien. Permintaan Barang Publik Kurva permintaan barang publik harus diinterpretasikan secara berbeda dengan kurva permintaan barang pribadi. karena transaksi pemanfaatan barang dianalogikan suatu tender terbuka dan setiap orang boleh mengikuti tender sehingga tidak ada yang dirugikan. Satu orang tidak dapat secara ekslusif memanfaatkan barang publik.

sumbu vertikal bukanlah harga pasar. barang publik tidak dapat dihargai seperti itu. ada tiga orang hidup bersama dalam sebuah komunitas yang kecil dan mempunyai keinginan yang sama untuk mengadakan satuan pengamanan (satpam). dan merupakan cerminan dari barang publik yang dapat dikonsumsi oleh ketiga orang tersebut. Penyediaan barang publik oleh orang itu akan memberi manfaat kepada si penyedia dan juga kepada orang-orang di sekitarnya. akan secara mudah mencapai kompromi untuk menyediakan barang Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh. karena setiap anggota kelompok dengan mudah dapat mengidentifikasi manfaat barang tersebut. masing-masing orang kenal satu sama lain dan apabila mempunyai gagasan penyediaan suatu barang akan mudah mencapai kompromi.13 dapat mengkonsumsi dua unit. tetapi jumlah maksimum seseorang bersedia membayar per unit barang publik. Dimisalkan ada seseorang berkeinginan memproduksi atau membeli suatu barang (publik) untuk kepentingan pribadinya. Dalam kelompok kecil. Bila digambarkan dalam grafik. Sayangnya. manfaat sosial marjinal adalah jumlah manfaat marjinal yang dinikmati oleh seluruh konsumen tersebut. Dengan demikian. Para konsumen tidak dapat menyesuaikan jumlah yang dibeli sampai harga barang publik sama dengan manfaat marjinalnya atau sampai dengan transaksi pengadaan barang publik tersebut terjadi (kondisi equilibrium). karena sifatnya yang non exclusion. Free Rider Problem Sebuah sistem yang mensyaratkan kontribusi secara sukarela untuk penyediaan dan pembiayaan barang publik dapat berjalan apabila komunitas publik terdiri hanya beberapa individu. Prinsip ini dapat juga berlaku untuk penerapan teori barang publik. Harga sewa satpam merupakan jumlah maksimal yang individu bersedia membayar dan kuantitas proteksi keamanan dapat diukur dari jumlah satpam yang disewa untuk tujuan itu. sekelompok orang yang menghuni sebuah apartemen yang mewah mempunyai kepentingan yang sama dalam memperbaiki jalan akses atau mengadakan proteksi keamanan. Jadi. Sebagai contoh. yakni sumbu horizontalnya berupa jumlah unit barang. Kuantitas yang efisien per periode waktu berhubungan dengan titik dimana output meningkat sedemikian rupa sehingga jumlah manfaat marjinal konsumen sama dengan biaya sosial marjinal atas barang. Tingkat Output yang Efisien Efisiensi dalam pasar barang pribadi mensyaratkan bahwa seluruh aktivitas ekonomi dilaksanakan sampai pada titik dimana manfaat sosial marjinal (marginal social benefit) sama dengan biaya sosial marjinal (marginal social cost). sebagai fungsi dari jumlah barang yang secara nyata tersedia. Gabungan seluruh manfaat yang dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya memberikan manfaat sosial marjinal atas tambahan unit yang disediakan. manfaat sosial marjinalnya akan melebihi manfaat yang diterima oleh orang yang menyediakan barang tadi.

Eksternalitas Eksternalitas didefinisikan sebagai biaya atau manfaat dari transaksi pasar yang tidak tercermin dalam harga. keinginan warga sekitar untuk membebaskan diri dari bau tak sedap akan menimbulkan beban bagi perusahaan. Tetapi. jika jumlah orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan bertambah dan informasi tentang selera dan kemampuan ekonomi kurang. Eksternalitas muncul pada saat pihak ketiga. biasanya. tidak jadi dilakukan. akan terdapat orang-orang yang enggan memberikan kontribusi biaya. Pertanyaannya adalah siapa yang harus menanggung beban tersebut. Dasar-dasar Keuangan Publik . pada akhirnya. tidak dapat menikmati kenyamanan menggunakan jalan tadi. Contoh ektrenalitas negatif ini adalah kepadatan jalan dan taman yang tidak dirawat dan dikelola secara baik. Salah satu karakteristik penting dari eksternalitas adalah sifat reciprocal. Mereka mengetahui secara persis bahwa barang publik yang akan dibeli atau diadakan tidak mungkin hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membayar saja. Semua anggota kelompok tersebut. Problem muncul jika free rider berjumlah banyak dan akhirnya penyediaan barang publik.14 publik tersebut dengan mendanai secara bersama-sama. Beban ini tetap akan timbul tidak tergantung apakah bau tak sedap akan berkurang atau tidak. Suatu pabrik mungkin menyebabkan eksternalitas kepada lingkungannya dengan aroma yang tidak sedap. Di sisi lain. akan ada orang-orang yang mengambil manfaat barang publik tanpa memberikan kontribusi apa pun terhadap biaya penyediaan barang tersebut. Orang ini disebut free rider. misalnya perbaikan jalan akses ke apartemen. Perhatian ekonom tertuju pada distribusi manfaat dan beban sedemikian rupa sehingga menggerakkan produksi pada tingkat dimana biaya marjinal sama dengan manfaat marjinal. dalam transaksi penyediaan dan atau pertukuaran barang publik. Eksternalitas dapat dihasilkan dari kegiatan produksi maupun konsumsi. selain pembeli dan penjual. karena tidak seorang pun dalam kelompok besar tersebut secara akurat memperoleh informasi tentang manfaat nyata pengadaan barang publik. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan berbagai cara. Selain proses mencapai kesepakatannya tidak rumit. Eksternalitas ini muncul. Apabila kondisi itu terjadi. Eksternalitas produksi dan konsumsi dapat merupakan sesuatu yang negatif. mempengaruhi produksi atau konsumsi suatu barang. karena karakteristik dasarnya. seseorang akan secara sukarela memberikan kontribusi untuk penyediaan barang publik tersebut. Manfaat yang dinikmati atau biaya yang menjadi beban pihak ketiga ini tidak dipertimbangkan oleh baik pembeli maupun penjual dari barang atau jasa yang bersangkutan. ada keterikatan moral antar mereka. Di satu pihak. namun di lain pihak. sepertinya akan sulit menggambarkan preferensi kelompok tersebut.

dan bahaya lain – termasuk biaya sosial – pasar tidak akan memperhitungkan biaya tersebut dalam menentukan harga equilibrium. risiko kesehatan kita akan berkurang.dalam kurva biaya marjinal. Tanpa intervensi pihak lain. mengurangi emisi gas buang. tenaga kerja. Dengan demikian. Keduanya merupakan eksternalitas negatif. Banyak teknik dapat digunakan dalam proses internalisasi ekstrnalitas tersebut. Ketika sebuah keluarga memperbaiki rumah dan lingkungan sekitar dengan indah. Ketika lampu penerangan jalan ada di seberang blok rumah kita. dan akan memiliki selera yang lebih mapan dalam barang dan jasa. Orang-orang yang berpendidikan akan lebih produktif. sementara polusi air yang diakibatkan oleh limbah pabrik merupakan contoh eksternalitas produksi. produsen dan konsumen akan mempertimbangkan harga yang terlalu rendah. lebih berperilaku positif. kita dapat berjalan dalam kondisi aman di malam hari. Apabila biaya-biaya kepada pihak lain timbul karena proses produksi menimbulkan kebisingan. Masih banyak kasus lain yang dapat dijadikan contoh untuk eksternalitas postif. manfaat tidak hanya dinikmati oleh warga sekitar. misalnya. karena mereka tidak mempertimbangkan biaya-biaya sosial. polusi. Ketika barang diproduksi dan dijual atau dikonsumsi. mengurangi kebisingan dalam metode produksinya. yang dibayar oleh para warga dalam kompleks tersebut. Eksternalitas Negatif Beberapa kasus eksternalitas negatif dapat dijadikan contoh berikut ini. Dengan cara yang sama. ketika sampah lingkungan kita diangkut secara teratur. biaya sosial harus ditambahkan dalam biaya produksi biaya material. tidak hanya memberi manfaat bagi anak-anak dan keluarganya. akan tetapi juga bagi masyarakat. Proses menambahkan biaya sosial kedalam biaya produksi dan nantinya tercermin dalam biaya pasar tersebut sering disebut sebagai proses internalisasi eksternalitas (internalizing externalities). dan nilai properti kita akan mengalami peningkatan.15 Eksternalitas Positif Beberapa kasus eksternalitas positif dicontoh berikut ini. kurva biaya marjinal hanya menggambarkan biaya yang nyata timbul untuk memproduksi barang tersebut. modal dan input lain . peraturan mengharuskan produsen untuk memperhatikan keamanan pekerjanya. yang merupakan ciri-ciri masayarakat terdidik. Misalnya. Perokok pasif – orang yang ikut menghirup asap rokok meskipun dia tidak merokok – merupakan contoh eksternalitas konsumsi. Dasar-dasar Keuangan Publik . akan tetapi juga dinikmati oleh orang-orang yang lewat di perumahan tersebut. Pendidikan untuk anak.

jasa pertahanan nasional tidak dijual kepada para individu dimana individu harus membayar bila memanfaatkannya. Sebuah proses politik digunakan dalam menentukan jumlah yang harus disediakan dan distribusi biaya kepada para individu. Namun demikian. akan tetapi pemerintah menyediakan jasa publik kepada masyarakat tanpa harus membayar. pemerintah tidak menjual jasanya kepada masyarakat. pemerintah akan melibatkan diri untuk menjamin bahwa manfaat eksternal harus juga dipertimbangkan dalam mengambil keputusan jumlah yang akan dikonsumsi oleh individu. Ini tidak berarti bahwa setiap tindakan pemerintah pasti berhasil mengatasi problem ini. Jasa ini disediakan secara seragam kepada seluruh pengguna di seluruh daerah dan seluruh masayarakat dapat memanfaatkan jasa ini. Dengan analogi yang sama. S Pertanyaan mendasar tentang mengapa pemerintah terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Dalam menentukan seberapa banyak suatu barang harus dibeli oleh individu-individu. sehingga kesempatan bahwa barang tersebut tersedia di pasar akan sangat kecil. pemerintah juga akan terlibat dalam penyediaan barang pribadi untuk memproteksi masyarakat dari penipuan (misalnya kebenaran iklan). dengan keterlibatan dalam penentuan harga barang publik. Sebagai contoh. kepastian tersedianya jasa (misal jasa rumah sakit dan pos).16 B A B III PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga ecara umum. Pemerintah terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik ini karena kegagalan mekanisme pasar. Harapan pemerintah. Semua keterlibatan pemerintah ini ditujukan untuk mencapai penentuan harga yang efisien. Dasar-dasar Keuangan Publik . bukan berarti bahwa penyediaan jasa publik ini tanpa menimbulkan biaya. mereka hanya akan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh secara pribadi. maupun keseragaman kualitas jasa (misal pendidikan). adalah ingin meningkatkan baik efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. Dalam kasus ini.

cara ini menimbulkan biaya yang sangat tinggi yang harus ditanggung oleh pemerintah. pada tingkat equilibrium. apabila konsumen akan memaksimalkan kepuasannya. dalam meminimalkan biaya ekonomi guna mencapai sasaran-sasaran yang diinginkan. keputusan pemerintah ini menimbulkan akibat Dasar-dasar Keuangan Publik . Itulah sebabnya. Dijual dengan tingkat harga tertentu yang berbeda dengan harga pasar. Akan selalu ada tujuantujuan ekonomi dan non-ekonomi yang dapat diikuti pemerintah melalui campur tangan. Diberikan secara gratis kepada para konsumennya. Dengan demikian. Sebagai contoh. Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. termasuk memperbaiki arus informasi atau mengurangi unsur-unsur monopoli dan batasan-batasan dalam masuknya perusahaan-perusahaan baru dalam pasar. Dalam perekonomian. Sehingga. meskipun keputusan memberikan secara gratis kepada masyarakat akan memaksimalkan penggunaan barang atau jasa oleh masyarakat. Dengan kata lain. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai yang merupakan kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen.17 Tujuan kebijakan harga oleh pemerintah mencakup tindakan-tindakan yang diperlukan agar pasar bekerja lebih baik. Masing-masing keputusan akan mempunyai konsekuensi. 2. Pertanyaan akan timbul. MC adalah marginal cost atau biaya marjinal dan MR adalah marginal revenue atau pendapatan marjinal. sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen. contoh tersebut menggambarkan kondisi yang tidak efisien bagi penyediaan barang dan jasa oleh pemerintah. 3. Dalam mekanisme pasar barang pribadi yang bersifat persaingan sempurna. konsumen akan membeli barang-barang sampai tercapai kondisi equilibrium tersebut. dimana p adalah price atau harga. Konsekuensinya. berlaku hukum bahwa harga sama dengan biaya marginal (marginal cost) dan sama dengan pendapatan marjinal (marginal revenue) bagi produsen. tugas pemerintah adalah menyediakan barang untuk kepentingan orang banyak dengan harga murah. pemerintah seringkali menetapkan harga dibawah tingkat harga yang sebenarnya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen barang tersebut. Penentuan Harga Barang Publik Tergantung pada masing-masing tujuannya. atau p = MC = MR. pemerintah akan ditekan oleh kekuatan politik untuk tidak mengambil keuntungan dari barang atau jasa yang dihasilkannya. pemerintah mempunyai banyak pilihan berkaitan dengan keputusan penyediaan barang atau jasanya: 1. untuk menentukan tingkat keseimbangan. apakah hukum ekonomi tersebut berlaku juga untuk barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah? Pada dasarnya. Dapat dijual dengan harga pasar.

seperti bahan makanan atau bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi. selain menghasilkan barang dan jasa sebanyak mungkin untuk mencukupi kebutuhan rakyat banyak. kebijakan publik dapat difungsikan. Perusahaan yang mengelola public utilities yang harus menjual produksinya tanpa memperoleh keuntungan sama sekali akan menghadapi permasalahan dalam ekspansi atau melakukan perluasan usaha. pendidikan dan kesehatan. Pemerintah akan menetapkan jumlah keuntungan maksimum. Pemerintah hanya menutup biaya totalnya yang mengakibatkan perusahaanperusahaan pemerintah penyedia barang public utilities akan tetap dapat berjalan tanpa mengalami kerugian.18 ketidakefisienan atau terjadi pemborosan apabila dipandang dari ilmu ekonomi. Implementasi Penentuan Harga dalam Produk Pertanian. Contoh yang dapat digunakan adalah penyediaan public utilities oleh pemerintah. sehingga pemerintah dapat menetapkan harga tertinggi. Dalam menentukan harga atas produk pertanian. seperti air minum dan listrik. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. mengingat tugas pemerintah dalam penyediaan brang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Penentuan harga dengan metode seperti inilah yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik oleh pemerintah. situasi penyediaan public utilities tersebut diatas tidak berlaku untuk seluruh barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah. kemudian konsumen akan membayar jumlah diatas nilai yang ditetapkan sebelumnya pada saat zero profit. pemerintah akan mengarahkan perusahaan pada kondisi bahwa. pupuk kimia dan obat pembasmi hama. artinya kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong Dasar-dasar Keuangan Publik . Akan tetapi. Pada kondisi ini. Sektor pertanian juga mempunyai kaitan yang erat dengan kebutuhan jasa angkutan. tetapi produsen masih dapat melakukan perluasan usaha untuk menambah investasinya. sedangkan pemerintah berkewajiban membatasi keuntungan yang harus diperoleh oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Produk-produk pertanian merupakan barang primer. Produk pertanian mempunyai posisi strategis dan erat kaitannya dengan produk non pertanian. konsumen tidak terlalu dibebankan tingkat harga yang terlalu tinggi. Pendekatan yang dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan kebijakan harga positif. Maka. perusahaan juga diijinkan memperoleh keuntungan dalam jumlah tertentu. Kajian-kajian harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yang tepat sasaran. karena konsumen menilai barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah terlalu mudah diperoleh. Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. seperti alat-alat pertanian. artinya perusahaan penghasil public utilities diwajibkan menyediakan barang dan jasa publik. Pemerintah tidak diharapkan untuk memperoleh keuntungan dari penyediaan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak itu.

S. X dan T. X. kurva penawaran merupakan garis miring dari bawah keatas. T ) Dimana: Qa Pa S F X T = = = = = = jumlah barang A yang ditawarkan harga barang A jumlah input yang tersedia keadaan alam pajak atau subsidi atau keduanya tingkat teknologi. Dalam menggambarkan hukum penawaran. yang berarti apabila barang yang ditawarkan harganya naik. pemerintah akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. Sehingga. Hukum penawaran menyatakan bahwa jumlah yang ditawarkan akan meningkat apabila harga barang tersebut semakin tinggi. F. Apabila jumlah produk pertanian ada di gudang. Dengan mengubah harga. maka yang dinyatakan tetap (ceteris paribus) adala S. Fungsi Penawaran dan Tanggapan Sektor Pertanian Fungsi penawaran menunjukkan hubungan antara jumlah barang yang ditawarkan dan berbagai tingkat harga dari barang tersebut. fungsi penawaran dapat dinyatakan dengan: Q a = f ( P a. F. Secara matematis.19 peningkatan produksi. penyesuaian produksi akan mengikuti pola Cobweb theorem (sarang laba-laba) seperti digambarkan grafik sebagai berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . Namun. dan sebaliknya. peningkatan harga segera mendorong peningkatan penawaran produk tersebut. Tentang jumlah barang yang ditawarkan akan tergantung dari tingkat elastisitas penawaran. (hal-hal lain tetap atau ceteris paribus). maka jumlah yang ditawarkan akan meningkat. apabila peningkatan penawaran membutuhkan tenggang waktu. atau kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurang peningkatan produksi.

Peningkatan produksi pertanian secara total karena adanya perbaikan harga relatif komoditi pertanian dalam perbandingannya dengan harga komoditi sektor non pertanian. para petani akan terdorong untuk meningkatkan produksi pangan. maka harga pasar akan turun menjadi P a2. Kebijakan Harga Positif Dari analisis diatas menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sumber kapital bagi pembangunan. Hubungan tersebut mengakibatkan tingkat harga akan cenderung mencapai equlibrium pada perpotongan kurva penawaran dan kurva permintaan.1 D merupakan kurva permintaan dan S kurva penawaran. Dengan memberikan jaminan harga yang tinggi. petani akan terdorong menanam atas dasar harga tersebut dan akan menghasilkan Q a1 pada akhir periode tanam. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian dan kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian. Perubahan komposisi produksi pertanian karena perubahan harga relatif masing-masing komoditi pertanian secara individu. petani akan terdorong memproduksi sebesar Q a3 di akhir periode tanam berikutnya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi.20 Gambar 3. Akan terjadi pergerakan sepanjang waktu ke arah titik perpotongan antara kurva D dan kurva S. Apabila pada periode tertentu harga pasar setinggi P a1. Syaratnya adalah apabila produsen cukup responsif terhadap insentif harga. 2. harga akan terkoreksi menjadi P a4. Ada tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga yang dapat dianalisis sebagai berikut: 1. produsen akan terdorong untuk mengurangi produksinya dan harga akan meningkat menjadi P a3. Pada tingkat harga tersebut. Dengan tingkat harga itu. Karena terjadi peningkatan produksi di periode 2. karena fungdi permintaan tetap.

artinya prosentase peningkatan produksi sama dengan prosentase peningkatan pemasaran. baik untuk produksi pertanian secara keseluruhan maupun untuk marketable surplus. tetapi juga ditujukan untuk ketersediaan pasar maka respon yang diharapkan. program bantuan harga membuat harga pangan dan produk pertanian mahal dan hasilnya dinikmati para petani. Misalnya setiap tanaman ditujukan untuk tujuan komersial. tenaga kerja dan kapital. maka pemerintah mengenalkan program subsidi input dibarengi dengan penyuluhan pertanian yang intensif. Namun apabila faktor produksi. jelas terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input. bukan dalam hal peningkatan produktivitas. seperti tanah. kebijakan ini membuat biaya produksi sektor industri dan jasa lain akan tinggi juga. akan menunjukkan positif. Berdasarkan hasil studi. Di satu pihak. karena hasil pertanian merupakan kebutuhan primer masyarakat (seperti makanan). akan tetapi untuk tanggapan kedua dan ketiga justru sangat inelastis atau bahkan turun dengan adanya kenaikan harga. Peningkatan produksi pertanian yang dapat dipasarkan sebagai respon terhadap kenaikan harga komoditi pertanian (marketable surplus). sehingga akan menghambat perkembangan produksi sektor industri dan jasa. maka produksi pertanian secara total dapat menurun. Hasil studi mengenai tanggapan produksi di negara berkembang menunjukkan bahwa tanggapan pertama tersebut dapat bersifat sangat elastis untuk jenis komoditi tertentu. karena produktivitas berkaitan erat dengan kondisi musim maupun faktor lain. dan pertumbuhan sektor lain tidak terhambat. peningkatan produksi merupakan bentuk perubahan luas areal tanam.21 3. tetapi akan menghambat perkembangan ekonomi secara keseluruhan. jika tanaman tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan sekunder. Tetapi. Namun demikian. sedangkan tanaman komersial memiliki elastisitas penawaran yang tinggi. Dari uraian diatas. Dengan demikian. elastisitas penawaran komoditi yang dipasarkan akan sama dengan elastisitas produksi/output. Perkecualian dapat terjadi. para petani tidak terlalu dirugikan dengan meningkatnya produksi pertanian. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. untuk mencegah agar produksi pertanian tidak merosot. Di lain Dasar-dasar Keuangan Publik . harus diserap dari produksi komoditi lain. untuk memungkinkan menekan tingkat upah di sektor itu. Simpulan umum menyatakan bahwa tanaman yang merupakan kebutuhan sekunder masyarakat cenderung memiliki elastisitas penawaran yang rendah. Kebijakan Harga Negatif Kebijakan harga yang positif diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi pertanian. Banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan mesyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif agar sektor industri dan jasa mampu berkembang. Sektor ini menghendaki adanya harga pangan yang murah.

Cara subsidi yang terakhir ini menyebabkan pemerintah harus menyisihkan sebagian anggarannya untuk membiayai subsidi. Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah dengan menentukan harga patokan berupa harga dasar (floor) dan harga maksimum (ceiling). Harga dasar ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. pemerintah menghadapi dilema kepentingan.22 pihak. Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy). secara politis. pelabuhan dan lainnya. murah. Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) Dalam merumuskan kebijakan harga barang dan jasa publik umumnya. Cara ini. dan produk pertanian khususnya. dan di lain pihak.2 Dasar-dasar Keuangan Publik . program subsidi input lewat harga faktor produksi pertanian yang murah akan mendorong produksi pertanian sehingga harga pangan akan murah dan dapat mendorong perkembangan ekonomi lebih lanjut. seperti jalan. para konsumen mengharapkan harga pangan. menjadi berkurang. para produsen selalu menginginkan agar hasil produksinya dapat terjual dengan harga yang layak. sedangkan harga maksimum ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. juga merupakan alternatif yang menjamin ketenangan masyarakat. kebijakan ini juga diarahkan agar swasta dapat berkembang dengan sendirinya akibat dukungan harga pangan yang murah. Meskipun dengan menyisihkan anggaran ini mengakibatkan investasi di bidang lain. Kebijakan penyangga dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut: Gambar 3. Di satu pihak. jembatan. Pemerintah berkewajiban melindungi kedua kepentingan tersebut agar konsumen dan produsen tidak menderita. khususnya.

Kemudian. Dengan demikian. bila penawaran bertambah. Keadaan sebaliknya dapat pula terjadi. kurva penawaran bergeser ke kanan. Berhasil atau tidaknya kebijakan penentuan harga ini tergantung pada tersedianya dana untuk operasi (sering disebut operasi pasar). bila terjadi paceklik. Harga dapat saja bergerak lebih rendah dari P a2. sedangkan harga cenderung merosot terus (dalam keadaan over supply). dan harga cenderung menjadi turun. Untuk melindungi konsumen. maka pemerintah dapat saja tidak mampu melindungi produsen. misal pada saat panen. misalnya bergeser dari S o menjadi S 1. atau sebaliknya. seperti kebijakan moneter. pemerintah turut membeli hasil panen. Apabila dana operasi terbatas. Dasar-dasar Keuangan Publik . Untuk mencegah supaya harga turun tidak terlalu drastis. kebijakan penentuan harga perlu dukungan kebijakan lain. sehingga kurva permintaan pasar bergeser kekanan menjadi D1 sampai memotong kurva penawaran S 1 tepat pada harga dasar P a2. maka pemerintah dapat mencegah naiknya harga komoditi dengan turut menjual produk pertanian ke pasar.23 Pada awalnya. keadaan keseimbangan tercapai pada harga P ao dan Q ao.

Yang dimaksud fungsi alokasi dalam kebijakan publik adalah fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. Yang dimaksud dengan fungsi distribusi dalam kebijakan publik adalah penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan. Fungsi stabilisasi. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. Fungsi Alokasi. dapat secara simultan diarahkan kepada tiga tujuan tadi. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi. Yang dimaksud dengan fungsi stabilisasi dalam kebijakan publik adalah penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja. 3. Dengan melihat berbagai kelemahan mekanisme pasar. Suatu kebijakan publik. Permasalahan utama adalah bagaimana merancang kebijakan anggaran sehingga tujuan yang Dasar-dasar Keuangan Publik . misalnya pengenaan pajak dan pengeluaran publik. P 1. Fungsi Distribusi.24 B A B IV FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi Utama emerintah sangat diperlukan dalam perekonomian dan berfungsi dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan standar kehidupan penduduk pada tingkat yang layak. 2. fungsi pemerintah dapat dikelompokkan sebagai berikut.

dengan demikian. bukan mengendalikan/mengatur sumber daya tersebut. misalnya tanpa mengelola aktivitas (swasta tersebut). Adam Smith mencatat empat fungsi ‘pengoreksi’ dari pemerintah: 1. dalam mendanai. seperti pertahanan nasional dan penerangan jalan. Tugas membentuk dan memelihara institusi publik agar memberi manfaat yang tinggi dan pekerjaan publik yang karena sifatnya profit yang diperoleh institusi tersebut tidak pernah mencapai tingkat pembayaran kembali dari individu yang menyediakan dan. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas. hanya berperan sebagai last resort. 1. Ada beberapa barang publik yang bersifat non-rival dan non-excludable. Hal ini menyebabkan kegagalan pasar dimana negara dapat saja mencoba turut campur mengatasi permasalahan ini. tidak dapat diharapkan bahwa pekerjaan-pekerjaan tersebut akan disediakan dalam kuantitas yang tepat. 4. yang membuat tidak mungkin membebankan biaya penyediannya kepada para pengguna. Konsumsi atau produksi barang/jasa publik mungkin menghasilkan suatu akibat eksternal positif atau negatif kepada masyarakat yang tidak Dasar-dasar Keuangan Publik . Pedoman aktivitas pemerintah yang dipromosikan oleh Milton Friedman adalah bahwa keterlibatan pemerintah harus dapat membuat dan memaksa aturan-aturan umum yang mengatur perilaku para individu dan apabila pemerintah memutuskan untuk campur tangan dalam aktivitas individu. Milton Friedman juga menyarankan pemerintah supaya membeli sumber daya yang digunakannya dalam pasar. pemerintah harus membebankan secara pro rata kepada pengguna. 2. Kegagalan pasar. Namun demikian. Aktivitas pemerintah. Ada dua argumen perlunya intervensi pemerintah yaitu kegagalan pasar dan penekanan pada aspek keadilan. mekanisme pasar mengarah pada alokasi sumber daya yang efisien yang timbul pada saat tidak seorang pun dapat dipuaskan lebih baik tanpa menyebabkan orang lain menderita kerugian (sering disebut efisiensi Pareto). keterlibatan tersebut harus mempunyai tingkat yang minimal. Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Dalam situasi tertentu. mengatur dan menyediakan barang atau jasa yang gratis. Tugas mempertemukan biaya yang diperlukan untuk mendukung peraturan-peraturan.25 berbeda-beda tersebut dapat dicapai secara lebih terpadu. Tugas memproteksi suatu kelompok masyarakat dari pelanggaran dan invasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lainnya. seharusnya. suatu masyarakat dapat saja memilih alokasi yang tidak efisien atas dasar kesetaraan atau kriteria lainnya. Tugas memproteksi setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan dan dominasi yang dilakukan oleh anggota lain dalam masyarakat. bukan bertransaksi dengan pengguna. Pada saat pemerintah memproduksi barang atau jasa. Dalam the Wealth of Nations. baik secara langsung atau tidak langsung. 2. 3.

pemberdayaan dan proteksi. Tidak bisa bergeraknya sumber daya yang produktif. Informasi yang tidak simetris dan tidak sempurna mungkin mengarah pada penilaian yang salah atas barang dan jasa publik. dimana beberapa diantaranya difasilitasi oleh peraturan dan penciptaan ruang gerak yang tepat. 2. saat sekarang dalam pertanyaan berkaitan dengan teknologi masa kini. penyelesaian konflik. Akhirnya. mempromosikan tambahan kepada anggota masyarakat (erat hubungannya kepada produsen dan pekerja swasta). kegagalan pasar juga berhubungan dengan permasalahan dari seleksi yang tidak menguntungkan dan bahaya moral ketika pembeli atau penjual bertindak secara eksklusif atas dasar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. 4. Dasar-dasar Keuangan Publik . Peranan sektor swasta dan kebutuhan kemitraan dalam kesempatan. Tugas ini berhubungan dengan penyediaan kesempatan. lingkungan yang bersih. dan stabilitas nasional. Kepedulian secara luas atas kebutuhan mengatasi kemiskinan secara lebih serius harus menjadi perhatian oleh pemerintah. terutama tenaga kerja. dapat membantu mencegah pencapaian alokasi sumber daya yang efisien. Tiga dimensi pokok dari kemiskinan yang tidak dimiliki secara eksklusif oleh sektor publik. pemberdayaan dan proteksiperlu difasilitasi oleh pemerintah. pasar akan memproduksi barang publik tersebut melebihi atau kekurangan. peran pemerintah terdiri dari: Peran penyedia (Provider Role). tidak semua fungsi mensyaratkan kehadiran negara sebagai penyedia barang atau jasa publik. perlindungan hak asasi. Monopoli yang alami dalam sektor tertentu seperti energi. eksternalitas negatif yang mempengaruhi pertumbuhan dan keadilan sosial. Penekanan pada aspek keadilan bukan berarti bahwa hanya negara yang harus atau dapat memberikan kontribusi menekan kemiskinan. 5. dan dengan demikian menyebabkan penawaran dan permintaan yang tidak tepat. Data empiris di seluruh dunia secara umum menyarankan bahwa peningkatan keadilan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. dan kurangnya kemiskinan. pembangunan lebih cepat. Negara harus menyediakan barang publik untuk menjamin stabilitas ekonomi makro. Aspek keadilan 1. Namun demikian. keadilan. 6. kredit). Sektor swasta dapat berperan aktif dalam menciptakan kesempatan ekonomi (penciptaan lapangan kerja. dan memberikan kontribusi untuk mengurangi ketidakadilan melalui aktivitas yang berhubungan dengan pemerintah dan partisipasinya dalam sektor swasta (rumah sakit umum dan sekolah yang dananya dari swasta) Dengan demikian. tergantung pada apakah eksternalitas ini baik atau buruk. 4. tambang dan lain-lain. Tanpa intervensi pemerintah. 5. 3. 3.26 tercermin dalam harga barang. Ketidakadilan sering menghasilkan ketidakamanan dan kejahatan. secara nasional dan global.

kebijakan dalam upah minimum akan menyebabkan penerimaan upah lebih tinggi kepada pekerja. hubungan antara produsen dan konsumen yang terjadi dalam mekanisme pasar tidak ada dan pemerintah Dasar-dasar Keuangan Publik . Hukum ekonomi mengatakan biaya yang naik didasarkan pada fakta bahwa sumber daya cenderung mengarah pada kondisi yang spesifik. lebih banyak kebutuhan negara dalam perannya sebagai regulator dari mekanisme pasar dan sebagai fasilitator dari lingkungan kelembagaan dan pengaturan yang kondusif atas pembangunan sektor swasta. secara langsung dan tidak langsung. Dalam kasus ini. Akibat kegagalan mekanisme pasar. Mungkin ada opprtunity cost dalam hubungannya dengan efisiensi dalam merubah distribusi pendapatan. Diakui secara luas bahwa baik negara maupun sektor swasta tidak dapat berfungsi secara tepat tanpa berfungsinya kedua sektor tersebut secara bersamaan.27 Peran Kemitraan (Partnership Role). pembangunan infrastruktur dasar dan perlindungan dari risiko dan kerugian (misalnya asuransi). suatu barang publik – yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi – tidak dapat disediakan melalui sistem pasar yang melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individu. Pertanyaannya adalah siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung beban dari suatu kebijakan distribusi tertentu. Sebagai contoh. 1. mekanisme pasar berfungsi. Kebijakan publik menggunakan sumber daya yang mempunyai nilai yang lebih tinggi kepada masyarakat bila digunakan dalam sektor swasta. pekerja atau konsumen? Dan siapa juga yang menerima tanggung jawab akibat adanya pajak penjualan? Konsumen atau pekerja? Beberapa kebijakan secara aktual menggeser ditribusi pendapatan antara generasi sekarang dan generasi mendatang. tetapi kesempatan kerja total mungkin turun karena kebijakan ini. Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Tingkat konsumsi dan produksi barang dan jasa publik oleh masyarakat dapat dirubah oleh kebijakan publik. Inilah yang dimaksud dengan true incidence dari kebijakan. sehingga sejumlah produktivitas hilang bila ditransfer dari kondisi yang relatif baik kepada kondisi yang baik. Sering. Kebijakan publik dapat mempengaruhi distribusi pendapatan nyata. yakni memindahkan alokasi pasar dari hak kekayaan. Alasan-alasan adalah seperti diuraikan dibawah ini. Isu ini disebut internerational transfer. Siapa yang menanggung beban atas akibat diterapkannya kebijakan pajak penghasilan badan? Apakah kepada pengusaha. Pada masa sekarang. namun tidak efisien. Dilihat dari fungsi alokasi. Fungsi Alokasi. para ekonom mengatakan bahwa kebijakan ini tidak dalam kondisi pareto optimal. Pemerintah dapat menjadi mitra swasta dalam penyedia peraturan.

Namun hal ini dipandang sebagai suatu tingkat ketidakadilan yang besar. Pemerintah harus menjamin bahwa proses politik dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik dapat terjadi secara efisien. dan inilah yang selanjutnya diperhitungkan dalam merancang kebijakan distribusi. Lebih khusus.28 lah yang harus bersedia memproduksi barang publik. peningkatan kesejahteraan seseorang tidak akan merugikan orang lain. Dalam ilmu ekonomi kesejahteraan modern berlaku prinsip bahwa suatu kondisi ekonomi disebut efisien jika. Dengan menyimpulkan berbagai kriteria. Dasar-dasar Keuangan Publik . penggunaan sumber daya yang efisien ditentukan oleh nilai penetapan harga faktor produksi yang kompetitif dan distribusi pendapatan keluarga ditentukan oleh proses pasar. Kriteria ini tidak sama artinya dengan suatu tindakan pendistribusian kembali atas sumber daya yang ada kepada konsumen. (Pareto Optimum). 2. fungsi distribusi memainkan peranan penting dalam kebijakan pajak dan transfer. seperti misalnya pelayanan yang diberikan oleh pemerintah. Proses penyesuaian ini akan menimbulkan inefisiensi dan merupakan biaya. Permasalahannya terletak pada aspek pemerataan dan keadilan. Barang pribadi dapat diproduksi dan dijual kepada pembeli swasta baik oleh swasta maupun oleh perusahaan pemerintah. terutama dalam distribusi pendapatan modal. Para ekonom sepakat bahwa dibutuhkan penyesuaian untuk menentukan batas minimum kelompok berpenghasilan rendah. pernyataan yang telah diterima secara luas adalah orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuan mereka membayar. barang publik dengan cara yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan swasta dan dijual kepada pemerintah atau dapat juga diproduksi secara langsung oleh pemerintah. Sedangkan. Akibat kegagalan mekanisme pasar yang lain adalah bahwa proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. tetapi kriteria ini digunakan untuk menilai tingkat efisiensi pasar. fungsi distribusi mempunyai sifat yang lebih sulit dipecahkan dibanding fungsi alokasi dan merupakan permasalahan utama dalam penentuan kebijakan publik. Fungsi Distribusi Dilihat dari fungsi distribusi. Faktor yang Menentukan Fungsi Distribusi Tanpa adanya intervensi kebijakan. dan hanya jika. distribusi pendapatan dan kekayaan akan tergantung pada ketersediaan sumber daya alam dan kepemilikan kekayaan. Apabila hukum ekonomi pasar diberlakukan. Masalah-masalah yang timbul dalam fungsi alokasi adalah berapa banyak barang publik yang harus disediakan oleh pemerintah dan jenis maupun kualitas barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. Pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. Distribusi Optimal. Distribusi yang adil mempunyai pengertian yang sangat dalam yang menyangkut perimbangan sosial dan pertimbangan nilai.

3. Meskipun demikian. dan pertumbuhan ekonomi. Tanpa kebijakan stabilisasi pemerintah. Fungsi Stabilisasi Akhirnya dilihat dari fungsi stabilisasi. dan kedua.29 Sedangkan kaidah pemerataan mempunyai dua masalah. Secara lebih detail. besarnya pendapatan yang tersedia tidak dapat dipisahkan dengan cara mendistribusikan pendapatan tersebut. Fokus perhatian distribusi terletak pada aspek posisi pendapatan relatif yakni pemerataan secara keseluruhan. Perlunya Kebijakan Stabilisasi. pengangguran dan inflasi. tingkat stabilitas harga. yaitu biaya yang timbul akibat pilihan terhadap perilaku konsumen atau produsen. Kombinasi antara pajak atas barang mewah dengan subsidi terhadap barang tidak mewah. 2. perekonomian cenderung mengalami fluktuasi. Instrumen Fiskal Alternatif peralatan fiskal dalam fungsi distribusi adalah: 1. Dasar-dasar Keuangan Publik . Permintaan agregat merupakan akumulasi dari pengeluaran individu dan perusahaan. Pertama. fungsi stabilisasi dirancang untuk mencapai tingkat kesempatan kerja. Skema pemindahan pajak yang menggabungkan pajak progresif. Konsekuensi pilihan instrumen fiskal akan menunjukkan bahwa setiap perubahan harus diselesaikan dengan biaya efisiensi yang minimum dan timbulnya suatu kebutuhan untuk menyeimbangkan konflik antara tujuan pemerataan dan tujuan efisiensi. Tingkat kesempatan kerja dan tingkat harga tergantung dari tingkat permintaan agregat dan output kapasitas berdasar harga yang berlaku. Pemecahan optimal menghendaki suatu kombinasi yang kompleks antara pajak dan subsidi. karena adanya saling sifat salain ketergantuangan antar negara. hampir tidak mungkin membandingkan tingkat utilitas masing-masing individu atas pendapatannya. aspek pemerataan membahas pencegahan kemiskinan dan penentuan batas minimum kelompok berpenghasilan rendah. perlu diperhitungkan bobot atau biaya efisiensi. yaitu pengenaan jenis pajak dimana rasio pajak terhadap penghasilan naik dengan naiknya pendapatan. Dalam mempertimbangkan instrumen kebijakan. Simpulan umum berkaitan dengan pemerataan adalah bahwa kebijakan distribusi akan mencakup biaya efisiensi yang harus diperhitungkan. Sedangkan keputusan pengeluaran dipengaruhi oleh pendapatan. faktor-faktor penyebab ketidakpastian dapat dialihkan dari suatu negara ke negara lain. Pajak penghasilan progresif yang digunakan untuk membiayai pelayanan umum. neraca pembayaran yang sehat.

Instrumen Kebijakan Stabilisasi. sehingga dimungkinkan akan ada banyak pengecualian. Peningkatan pelayanan pemerintah perlu diikuti dengan kenaikan pajak (tujuan alokasi) Distribusi pendapatan ke kelompok rendah/tinggi perlu diikuti pengenaan pajak progresif atau sebaliknya (tujuan distribusi). sehingga kebijakan anggaran. akan tetapi mengurangi permintaan apabila terjadi tingkat pengeluaran melebihi output sehingga dapat menyebabkan inflasi. Instrumen Moneter. Yang dibutuhkan adalah meningkatkan permintaan agregat apabila ingin meningkatkan kesempatan kerja. Namun demikian. pengaruh ekspansioner akan tinggi karena defisit ditutup dari pinjaman. Instrumen moneter tidak dibahas secara detail pada buku ini. para ekonom berpendapat bahwa jumlah uang beredar harus diawasi oleh sistem bank sentral dan disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi. mempunyai beberapa tujuan: 1. 3. dan Kebijakan yang lebih ekspasioner diperlukan dengan menaikkan pengeluaran publik atau dengan menurunkan pajak (tujuan stabilisasi) Suatu kebijakan publik tertentu mungkin tidak dapat memenuhi tiga tujuan sekaligus. 1. Kondisi stabil tidak ada dapat dicapai secara otomatis. Koordinasi Fungsi Anggaran. kebijakan pasar terbuka dan pengendalian kredit selektif. 2. Instrumen Fiskal. tingkat diskonto. secara simultan.30 kesejahteraan. penyediaan kredit dan pengharapan. Jika kebijakan moneter longgar. Peranan sektor publik yang penting terletak pada bagaimana defisit anggaran dibiayai. suatu kebijakan selalu berupaya meminimumkan konflik antar masingmasing tujuan. Meskipun mekanisme pasar berfungsi. 2. Peningkatan anggaran belanja pemerintah yang bersifat ekspansi akan meningkatkan permintaan pemerintah dan kemudian menjalar ke sektor swasta. Sebaliknya. bila kebijakan peredaran uang diperketat. Komponen kebijakan moneter mencakup antara lain pembentukan cadangan wajib. Penurunan pungutan pajak dapat juga bersifat ekspansi. Dasar-dasar Keuangan Publik . pinjaman akan mempertinggi bunga sehingga menghambat ekspansi pasar. Kegiatan-kegiatan pemerintah dalam melaksanakan ketiga fungsi tersebut akan tercermin dalam kebijakan anggaran. karena pendapatan yang dapat diterima (disposable income) para wajib pajak lebih besar sehingga akan membelanjakan pendapatannya dengan lebih besar.

sistem pasar tidak berlaku. aplikasi dari prinsip hubungan permintaan dan penawaran seperti ini menjadi suatu pemecahan yang efisien. sistem pasar terjadi melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individual secara suka rela dan sangat tepat untuk menggambarkan hubungan permintaan dan penawaran. penggunaan atas jalan umum. Mekanisme pasar terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. Apabila seseorang mengambil manfaat dari adanya jalan umum tersebut. Dari ilustrasi tersebut dapat dipahami bahwa mekanisme pasar sangat cocok untuk menggambarkan penyediaan barang-barang pribadi. Apabila seseorang membeli satu set pakaian. U Sebagai ilustrasi. Konsumen akan berusaha mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harga yang serendah-rendahnya. kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen. manfaat yang tersedia bagi orang lain tidak akan berkurang. Namun untuk barang-barang publik (social goods). Akan banyak Dasar-dasar Keuangan Publik . Kebutuhan atas barang ini dirasakan secara bersama-sama. Berbeda dengan kebutuhan seseorang terhadap. Untuk barang seperti pakaian. misalnya. Mekanisme pasar akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu. sedangkan produsen akan menjual barang dengan harga yang setingi-tingginya.31 B A B V FUNGSI ALOKASI Latar Belakang adanya fungsi alokasi ntuk barang-barang pribadi (private goods). begitu pula manfaat yang dihasilkan dengan adanya jalan umum tersebut tersedia bagi banyak orang (tidak untuk satu konsumen). dapat dimisalkan bahwa kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang akan pakaian akan sangat berbeda dengan kebutuhan pakaian yang dirasakan oleh orang yang berbeda. maka pakaian yang sama tidak akan tersedia untuk orang lain (konsumsi terhadap barang tersebut bersifat bersaing).

Dalam kenyataannya banyak kesulitan yang terjadi. terutama dalam hal persaingan. misalnya. Akibatnya tidak ada pembayaran yang dilakukan secara sukarela. Di sinilah kemudian terjadi alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar. diasumsikan bahwa terdapat hak ekslusif terhadap semua sumber daya produktif yang tersedia di pasar dan tidak ada individu yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atas komoditi atau produk yang diperjualbelikan. Berbeda halnya dengan barang publik. Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar Dalam suatu sistem ekonomi pasar. manfaat yang dirasakan masing-masing individu akan semakin tidak berarti apa-apa. akan mengakibatkan konsumen kekurangan informasi atau dapat tersesatkan. sehubungan dengan pemenuhan kriteria efisien.32 keuntungan yang didapat . Selain itu.terutama oleh produsen . masih banyak permasalahan lain yang tidak dapat dipecahkan oleh mekanisme pasar. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam hal ini hubungan antara produsen dan konsumen terputus dan pemerintah harus bersedia turut campur. Karena pemanfaatan barang publik oleh seseorang tidak akan mengurangi manfaat yang dirasakan oleh orang lain. Alasan kedua. Harga atas suatu komoditi sudah ditetapkan atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. Distorsi yang disebabkan oleh iklan. Dalam keadaan demikian mekanisme pasar tentunya tidak berfungsi secara sempurna. Apalagi jika semakin banyak orang yang menggunakan barang tersebut. dan hal ini berarti bahwa informasi yang dimiliki oleh kosumen dan produsen tidaklah sama. karena manfaat yang akan dirasakan oleh setiap orang akan sama saja. baik jika dia membayar ataupun tidak.apabila membatasi konsumen ikut dalam sistem pasar dengan syarat mereka mau membayar. Hal ini berarti tidak ada distorsi pasar yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. akan sangat tidak efisien untuk menghalangi seorang konsumen (yang tidak membayar) untuk ikut memanfaatkan barang publik. pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. pandangan ini merupakan gambaran paling ekstrim dari sistem pasar. Bila semua kondisi tersebut telah terpenuhi. terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. misalnya terhadap sejumlah barang tertentu yang menjadi preferensi konsumen. Tentu saja. Di sini. sehingga pasar dapat menjadi ajang persaingan yang tidak sempurna. Konsumen biasanya tidak bersedia untuk membayar pemanfaatan atas barang publik. Alasan ketiga terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik. Alasan pertama adalah bahwa pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. kriteria efisien dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya dimana semua pasar dalam kondisi persaingan sempurna. sistem ekonomi pasar dapat menjamin penggunaan sumber daya secara efisien dalam penyediaan barang pribadi.

Barang publik. terdapat barangbarang yang mempunyai sifat tidak bersaing dengan kadar yang tinggi dan rendah. Namun perlu dipahami. Misalkan. Efisiensi produksi pemerintah di sini akan menjadi fokus pembahasan. Sifat Tanpa Pengecualian Dimensi kedua dari barang publik adalah sifat tanpa pengecualian.1 Untuk barang publik seperti. Sifat Tidak Bersaing Sifat tidak bersaing berarti bahwa barang tersebut dapat dikonsumsi sebanyak-banyaknya oleh seseorang tanpa akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh orang lain. pelayanan kesehatan dan pendidikan. terdapat sifat tidak bersaing yang rendah dalam konsumsinya. Para ekonom secara lebih spesifik menjabarkan istilah barang publik sebagai barang-barang yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) dan tanpa pengecualian (non excludability). akan ada kemungkinan sifat bersaing dalam penggunaan barang publik tersebut. Kedua sifat tersebutlah yang kemudian akan mengakibatkan kegagalan pasar dalam memproduksi secara efisien.33 namun pasar gagal dalam memproduksinya. bahwa sifat tidak bersaing bukan berarti bahwa manfaat yang diterima oleh setiap konsumen adalah sama. barang publik seperti lampu jalan dan keamanan. jika biaya untuk mendapatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . seseorang dapat terlindungi dari gelapnya malam. Dari berbagai macam barang publik. Sebaliknya. akan sulit bagi pemerintah untuk mencegah orang tersebut agar tidak menggunakan jalan umum. dibandingkan dengan orang yang tinggal lebih jauh dari wilayah lampu tersebut. Istilah barang publik digunakan untuk menggambarkan barang atau jasa apapun yang disediakan oleh pemerintah. orang yang tinggal disekitar wilayah lampu tersebut akan lebih merasakan manfaatnya. tanpa mengurangi kebutuhan orang lain atas lampu yang sama. jalan lokal. Rendah Jalan Lokal Pendidikan Pelayanan Kesehatan Udara bersih Keamanan Tinggi Lampu Jalan Gambar 5. Misalnya konsumsi atas lampu jalan. A tidak memberi kontribusi dengan membayar pajak. tidak menutup kemungkinan sifat ini dihilangkan. mulai lampu jalan sampai dengan keamanan nasional. Semakin banyak orang dalam suatu wilayah. sifat tidak bersaingnya tinggi. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan untuk mencegah seseorang yang tidak memberikan kontribusi (tidak membayar) ikut mengkonsumsi barang publik. Namun. Namun demikian. karena apabila pemerintah mencegah dengan cara tidak membangun jalan di sekitar rumahnya. maka hal tersebut akan dapat merugikan orang-orang di sekitarnya yang membayar pajak.

selanjutnya pada saat tingkat harga sudah cukup rendah.3 mewakili barang pribadi yang mempunyai sifat bersaing dan pengecualian yang sangat tinggi. dan 5.3.4 dibawah ini menguraikan tentang perbedaan antara barang publik dan barang pribadi dalam suatu masyarakat yang diasumsikan hanya terdiri dari dua kelompok individu.3. Gambar 5. Semua titik-titik dalam kurva permintaan pasar Dt merupakan gabungan dari titik-titik harga dan kuantitas yang diminta dalam kurva perimtaan A dan B. Kurva permintaan pasar Dt berhimpitan dengan kurva permintaan Db. Kurva penawaran pasar SS memperlihatkan biaya marginal (MC) yang dapat dibebankan kepada A dan B secara bersama-sama untuk berbagai output dari barang pribadi.2 Barang publik versus barang pribadi Gambar 5. sama halnya dengan sifat tidak bersaing. selama biaya yang dikeluarkan untuk membayar staf penjaga tempat rekreasi tersebut tidak lebih besar dari pendapatan yang diterima. Oleh karena itu. Perpotongan antara kurva SS dan Dt menentukan titik ekuilibrium harga P1 dan titik ekuilibrium kuantitas Qt. yaitu A dan B. selama tingkat harga masih cukup tinggi. terdapat garis spektrum yang menggambarkan tinggi rendahnya sifat tanpa pengecualian Rendah Tempat Parkir Tempat Rekreasi Perpustakaan Udara bersih Pendidikan Tinggi Jalan Lokal Gambar 5. Dasar-dasar Keuangan Publik Db . A dapat masuk ke dalam pasar sehingga kurva permintaan pasar Dt berbelok. pemerintah mungkin saja menarik bayaran dari para pengunjung. Kurva permintaan pasar (Dt) diperoleh dengan menambahkan secara horizontal kurva permintaan A (Da) dan kurva permintaan B (Db).34 kontribusi konsumen tidak lebih besar dari manfaatnya. Dengan catatan bahwa Qt merupakan penjumlahan dari Qa (barang yang dibeli oleh A) dan Qb (barang yang dibeli oleh B). Kurva Permintaan Atas Barang Pribadi P MC P1 Da Qa Qb Qt Dt Q Gambar 5. Misalnya untuk tempat rekreasi.

4. Gambar 5. baik manfaat yang diterima A lebih besar maupun lebih kecil. Misalnya A sebagai warga kota Jakarta dapat menggunakan seluruh jalan kota maka demikian juga halnya dengan B. Dasar-dasar Keuangan Publik . dan lain-lain. tapi lebih kepada perbedaan dari manfaat marjinal dari setiap konsumen atau harga yang dibayarkan oleh masing-masing konsumen. Penyediaan Barang publik Ketika pemerintah melakukan fungsi penyediaan barang publik. Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar. karena barang publik mempunyai sifat tidak bersaing dan tanpa pengecualian.35 Gambar 5.4 memperlihatkan pola yang sama namun untuk barang publik. dalam hal ini perbedaan terjadi bukan pada kuantitas yang dikonsumsi oleh masing-masing orang. pakaian. trade off dari penyediaan barang publik oleh pemerintah dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar dapat digambarkan dengan kurva kemungkinan produksi. pendidikan. Kurva Permintaan Atas Barang publik P MC P1 Pa Dt Db Pb Da Qb Qt Q Gambar 5. dengan asumsi seluruh sumber daya yang ada digunakan. Sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar. sehingga barang yang dikonsumsi oleh A sama jumlahnya dengan barang yang dikonsumsi B. Oleh karena itu. seperti makanan. keamanan nasional dan lain-lain. seperti: jalan umum. Situasi yang berbeda terjadi di sini. meskipun A memiliki mobil sedangkan B tidak.5 menunjukkan alternatif kombinasi antara barang publik dan barang pribadi.

5 Titik A dalam gambar menunjukkan bahwa MX1 unit adalah jumlah barang pribadi yang dikorbankan oleh masyarakat sehingga pemerintah dapat menyediakan barang publik sejumlah OG1. jika diumpamakan peningkatan jumlah barang publik per tahun merupakan respon pemerintah atas peningkatan permintaan masyarakat terhadap keamanan nasional. maka kualitas keamanan yang disediakan pemerintah akan meningkat dan masyarakat akan merasa lebih aman. Masalah yang timbul kemudian adalah bahwa setiap individu seharusnya mau membayar atas setiap manfaat yang dia Dasar-dasar Keuangan Publik . atau dengan kata lain meminta pengorbanan lebih besar dari MX1 ke MX2. Jika untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional tersebut pemerintah harus meningkatkan pajak penghasilan. pengorbanan dari pihak masyarakat terjadi dengan menurunnya kemampuan konsumsi atas barangbarang pribadi. Peningkatan jumlah barang publik yang tersedia di pasar dalam satu tahun dari OG1 ke OG2 (titik B) akan meminta penurunan dari jumlah barang pribadi di pasar dari OX1 ke OX2.36 Kurva Kemungkinan Produksi P Penyediaan Batang Publik per Tahun C B A G2 G1 O X2 X1 M Penyediaan Barang Pribadi per Tahun Gambar 5. penyediaan barang publik perlu adanya campur tangan pemerintah. Pengorbanan masyarakat merupakan harga sumber daya yang seharusnya digunakan untuk memproduksi barang pribadi digunakan oleh pemerintah untuk dapat menyediakan barang publik. Sumber daya yang dikorbankan tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh masyarakat atau pajak yang diminta oleh pemerintah agar barang publik dapat tersedia. Penyediaan Barang Melalui Anggaran Sebagaimana telah diterangkan dalam bab sebelumnya. Namun di sisi lain.

menyumbang bahkan sampai keluar dari pekerjaannya – jika mereka merasa bahwa ada akibat langsung dari kebijakan politik pemerintah kepada mereka. Oleh karena itu. ada barang publik Dasar-dasar Keuangan Publik . namun karena manfaat yang diterima dari barang publik dirasakan oleh banyak orang. karena setiap keputusan pemerintah diambil mengikuti keputusan suara terbanyak. maka proses pemungutan suara harus mengaitkan keputusan perpajakan (sebagai alat pendanaan) dengan keputusan pengeluaran atau belanja publik. berkampanye. barang publik disediakan untuk semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. Pilihan para pemilih karena itu akan tergantung pada pengetahuan mereka sendiri serta kesadaran mereka bahwa orang lain juga menyumbang sesuai dengan rencana perpajakan yang dianut. Setiap orang akan dengan senang hati ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik – mulai dari sekedar memberikan suara. maka orang tidak bersedia untuk membayar manfaat barang. Akan timbul masalah tentang jenis dan kualitas barang seperti apa yang harus disediakan oleh pemerintah. karena biaya yang mereka keluarkan akan lebih besar dari manfaat yang akan mereka terima. Untuk ini. Akibatnya. Secara normatif. tidak cukup informasi yang disampaikan oleh masyarakat kepada pemerintah. Proses ini dimulai dengan pemahaman dari anggota masyarakat tentang pentingnya memberikan suara mereka. Pengungkapan preferensi masyarakat kepada pemerintah dilakukan melalui suatu proses pemungutan suara. Agar dapat berfungsi sebagai mekanisme yang efisien dalam mengungkapkan preferensi.masyarakat akan merasa enggan untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan tersebut. ketika pemerintah akan menetapkan jumlah uang yang harus disumbangkan untuk memperoleh barang publik.37 terima. diperlukan proses politik untuk mengungkapkan preferensi masyarakat kepada pemerintah tentang barang publik apa yang perlu disediakan dan melengkapinya dengan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan untuk membayar barang-barang publik tersebut. Sementara itu. Para pemberi suara kemudian akan dihadapkan pada suatu pilihan diantara beberapa usulan pengeluaran publik berkaitan dengan sumbangan pajak mereka. Masalah lain yang timbul. apabila suatu usulan kebijakan tidak berpengaruh langsung .atau kecil pengaruhnya . Namun dalam prakteknya. Namun dalam prakteknya. Dasar pemikiran tentang komunikasi efektif antara pemerintah dan masyarakat mengikuti logika kepentingan setiap individu dalam masyarakat. masyarakat dalam sistem yang demokratis akan terhindar dari apatisme anggotanya dalam proses pengambilan keputusan politik. Keterbatasan Jangkauan Manfaat atas Barang publik Pada dasarnya. dilakukan proses pemungutan suara guna menetapkan keputusan perpajakan dan pengeluaran publik. sering anggota masyarakat merasa bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk menyatakan tuntutan mereka seringkali lebih besar dari manfaatnya.

Selain itu dalam skala lokal akan lebih dimungkinkan untuk mengatasai permasalahan free rider. karena dari manapun dia masuk dan dimanapun dia keluar biaya yang harus dikeluarkan adalah sama. Mereka akan terus menambah konsumsi mereka atas barang publik ini sampai manfaat yang mereka dapatkan maksimal. Sementara di waktu yang lain ketika jumlah pengguna barang ini hanya sedikit. Sebagai contoh. dengan biaya tarip yang rendah. kontribusi seseorang baik itu berupa waktu. sementara barang publik berskala lokal lebih tepat disediakan oleh pemerintah lokal atau pemerintah daerah.2. tol. seorang pengguna jalan tol dalam kota akan masuk dari pintu terdekat dengan tempat dia berangkat dan keluar dari pintu terjauh. Barang publik berskala lokal dalam garis kontinum. karcis parkir. atau retribusi pasar. jika pemerintah lokal harus menarik kontribusi atas Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh. Bagi pengguna juga tidak akan merasa keberatan membayar untuk dapat menggunakan barang publik karena akan lebih jelas manfaat yang dapat mereka peroleh bila dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan. Melihat sifatnya tersebut.38 yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). yaitu barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah yaitu hanya pada waktu penggunaannya padat dan penggunanya mencapai jumlah tertentu. mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. Sebaliknya. Dari sini dapat terlihat bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik ini sama dengan atau paling tidak mendekati nol.1. barang publik berskala nasional lebih tepat disediakan oleh pemerintah pusat. Barang publik berskala lokal adalah barang-barang yang diproduksi oleh pemerintah lokal. Sehingga. bagi yang sedikit atau tidak memberikan berkontribusi. Artinya para pengguna seharusnya akan lebih termotivasi untuk menggunakan barang-barang ini sampai pada titik dimana manfaat marjinal yang mereka peroleh sama dengan atau mendekati nol. dengan mempertimbangkan kondisi kemacetan (biaya oportunitas) di luar jalan tol. Akan sangat mudah bagi pemerintah lokal untuk menarik kontribusi dari para pengguna barang publik yang disediakan seperti tiket masuk tempat rekreasi. yang dalam garis spektrum mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. dia akan berfikir dari pintu tol mana dia harus masuk dan di pintu tol mana dia harus keluar. tapi paling dekat dengan tempat tujuanya. sehingga akan lebih memperkecil timbulnya masalah free rider. Berbeda dengan pengguna jalan tol luar kota.seperti yang terlihat pada gambar 5.. Berpartisipasi atau tidak berpartisipasi akan menjadi sangat terlihat. maka akan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali manfaat yang mereka dapatkan. untuk setiap tambahan pintu tol yang dia lewati. selama tidak ada tambahan biaya yang harus mereka keluarkan. dalam suatu kelompok yang kecil. maka sifat tidak bersaingnya akan menjadi tinggi. Dari berbagai macam barang publik jenis ini. uang. dan 5. harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan. maupun pemberian suara akan dapat menciptakan perubahan atas suatu keputusan. ada yang disebut dengan istilah congestible goods. Hal ini disebabkan.

dapat dikenakan tarif tinggi. para pengunjung dapat menikmati tempat rekreasi dengan biaya yang lebih rendah. Strategi lain dalam memperlakukan congestible goods adalah dengan menggunakan dua macam tarif. Gambar 5. pemerintah lokal tidak perlu menarik kontribusi dari pengguna barang publik ini.6. begitu juga biaya marginalnya yang tetap (jika dimungkinkan nol). yaitu tarif tinggi pada musim padat dan tarif tinggi pada musim sepi. pada musim liburan dimana pengunjungnya sangat padat.6. Hal ini diharapkan dapat menarik minat pengunjung untuk mau masuk ke tempat rekreasi tersebut. sehingga biaya menempatkan penjaga gerbang akan tertutup dari pembayaran tiket masuk.39 pengguna barang publik ini. Sebegitu rendah permintaannya sehingga pemerintah lokal merasa tidak perlu ada penarikan atas pengguna barang publik tersebut. Apabila dimungkinkan. pemerintah dapat menghilangkan biaya parkir. sehingga tidak perlu juga ada penjaga gerbang sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghapus biaya marjinal. memperlihatkan bahwa tambahan permintaan atas congestible goods pada musim sepi jumlahnya sedikit (pergeseran dari titik O ke D1 sampai ke D2). Misalnya pada tempat-tempat rekreasi. Di lokasi perkantoran misalnya. D3 Q Dasar-dasar Keuangan Publik . Kurva Permintaan Congestible Goods P MC P1 O D1 D2 Q1 Gambar 5. maka biaya marjinalnya bisa akan lebih mahal dari manfaat marjinalnya. dimana pada hari-hari libur hampir tidak ada mobil yang datang berkunjung. sedangkan untuk hari kerja atau sekolah.

3. kita akan mempertimbangkan suatu perekonomian dengan hanya ada dua konsumen. sampai tercapai tingkat substitusi marjinal yang sama. jumlah tertentu barang X harus diproduksi sedemikian rupa sehingga memungkinkan diproduksinya Y sebanyak-banyaknya pada saat yang sama dan demikian pula sebaliknya. yaitu A dan B serta dua macam barang yaitu X dan Y. Kaidah efisiensi mengarah pada terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu agar tercapai pemecahan alokasi yang efisien. maka menurut pengertian Pareto. alokasi sumber daya akan menjadi efisien. dimana A akan dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang Y sedangkan B dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang X. Dasar-dasar Keuangan Publik . atau besarnya sektor pemerintah dalam usaha untuk membantu seseorang atau kelompok tanpa merugikan orang atau kelompok lain. Tingkat substitusi marjinal dalam mengkonsumsi barang X dan Y harus sama baik bagi konsumen A maupun B.40 Efisiensi Penyediaan Barang publik oleh Pemerintah Seorang ekonom Italia mengusulkan konsep efisiensi yang dikenal dengan istilah Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency). sedangkan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi adalah 3X untuk 1Y. Tingkat transformasi marjinal dapat didefinisikan sebagai suatu tambahan unit barang X yang dapat diproduksi bila produksi barang Y dikurangi satu unit. maka hal ini akan menguntungkan keduanya bila melakukan pertukaran. Jika kondisi-kondisi di atas terpenuhi seluruhnya. sedangkan B mau menukarkan tiga unit barang Y untuk satu unit barang X. kombinasi barang yang diproduksi. Jika A ingin memberikan satu unit barang X untuk dua barang Y. Secara sederhana. Kondisi-kondisi berikut harus terpenuhi: 1. sedangkan teknologi lain memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan hanya 5 unit barang Y. maka akan lebih diinginkan untuk meningkatkan output barang X dan mengurangi barang Y sampai kedua tingkat tersebut menjadi sama. Tingkat substitusi marjinal barang X untuk barang Y dalam konsumsi haruslah sama dengan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. Jika suatu teknologi memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan 8 unit barang Y. maka jelas bahwa teknologi pertama yang akan terpilih. Artinya tingkat dimana A dan B berkeinginan untuk menukarkan unit terakhir barang X dengan barang Y haruslah sama. Jadi jika tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi adalah 3X dan 2Y. Efisiensi Pareto didefinisikan sebagai suatu pengaturan ekonomi tertentu adalah efisien jika di sana tidak dapat dilakukan pengaturan kembali yang akan menyebabkan seseorang menjadi lebih baik tanpa memperburuk posisi orang lain. 2. Efisiensi menghendaki bahwa dengan menggunakan teknologi terbaik. Jadi tidaklah mungkin dalam keadaan ini untuk mengubah metode produksi. Jika perubahan itu masih dimungkinkan maka susunan terdahulu belumlah efisien dan peningkatan efisiensi dapat diperoleh dengan melakukan perubahan.

tetapi jumlah konsumsinya berbeda. Selanjutnya. ditunjukkan melalui beberapa langkah sebagai berikut. Alokasi yang Efisien Atas Barang publik Seperti diperlihatkan dalam gambar 5.41 Alokasi yang Efisien Melalui Mekanisme Pasar Sekarang kita mempertimbangkan suatu kondisi dimana baik barang publik maupun barang pribadi diproduksi. sebagaimana pertama kali pernah dikembangkan oleh Samuelson. jika kita perhatikan dalam gambar 5. Selanjutnya. kita akan melihat bahwa kurva kemungkinan produksi pada sumbu XY paling atas sekali lagi mencatat kombinasi barang pribadi dan barang publik yang dapat diproduksi dengan menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia. Namun kembali kepada masalah bahwa tidak semua barang bisa disediakan melalui mekanisme pasar. Harga yang sama dibayar oleh semua konsumen. Sumbu XY pada gambar bagian tengah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu A. produsen akan memaksimalkan keuntungan dengan menggunakan metode biaya sekecil mungkin (memenuhi kondisi 1). karena disini konsumen didorong untuk menyatakan preferensi mereka. dan sumbu XY pada gambar bagian bawah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu B. setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumber-sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. sehingga kedua individu tersebut (A dan B) akan berada pada titik yang sama pada sumbu horizontal. Pemecahan masalah efisiensi kembali perlu untuk ditemukan. oleh karenanya harus disediakan oleh pemerintah.7 dibawah ini. Bagi barang pribadi yang tersedia melalui mekanisme pasar dimana produsen akan memproduksi barang-baranng yang paling diinginkan oleh konsumen (preferensi konsumen jelas ternyatakan). sehingga keduanya akan berada pada titik yang berbeda pada sumbu vertikal. Dari sini. Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi mereka dapat mengkonsumsi barang pribadi dengan jumlah yang berbeda.3 dimana kondisi seluruh sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. konsumen akan mengalokasikan anggaran belanjanya diantara barang-barang tersebut sedemikian rupa sehingga menyamakan tingkat substitusi marjinal mereka dengan rasio harga barang (memenuhi kondisi 2). Karena sifat barang publik yang tidak bersaing dan tanpa pengecualian. kita dapat melihat bahwa mekanisme pasar menjamin terlaksananya penggunaan sumber daya yang efisien. Penjual dalam upayanya untuk memaksimalkan manfaat akan menyamakan biaya marjinal dengan penerimaan marjinal yang dalam keadaan bersaing juga akan menyamakan biaya marjinal dengan harga atau pendapatan rata-rata (memenuhi kondisi 3). Artinya. Pemecahan masalah efisiensi sangat dimudahkan dengan menggunakan mekanisme pasar. penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar. Ini adalah kelebihan dari the invisible hands sebagaimana yang dikemukakan pertama kali oleh Adam Smith. tergantung pada selera dan pendapatan mereka. sehingga produsen termotivasi untuk memproduksi apa yang diinginkan oleh konsumen. maka dapat diasumsikan bahwa jumlah barang yang dikonsumsi dari setiap individu adalah sama.

Karena FG dikonsumsi oleh A maka jumlah yang tersisa bagi B sama FE-FG = FH. kesejahteraan A akan menjadi maksimal apabila A mendapatkan suatu titik yang akan dapat membuat B menjadi lebih baik. artinya A mengkonsumsi barang publik sebanyak OF dan barang pribadi sebanyak FG. maka B akan berpindah ke kiri sepanjang ULK. dan V. diketahui bahwa kombinasi output yang paling efisien meliputi barang publik sebanyak OF dan barang pribadi sebanyak FE. Dari gambar bagian atas. Inilah kurva tertinggi yang dapat dicapai oleh B. Selanjutnya kita akan melihat pada tingkat kesejahteraan terbaik untuk A dan B. berdasarkan alasan yang sama akan menempatkan B pada titik L.42 Akan tetapi. dimana output total barang publik (yang paling efisien) sejumlah ON. Hal ini akan terjadi pada titik L. Sebagai ilustrasi. Dengan cara ini. sedangkan total output barang pribadi sebanyak NM akan dibagi antara A dan B sehingga A menerima sebanyak NP dan B menerima sebanyak NL. Jika A berada pada kurva indeferen ia1 pemecahan terbaik adalah membiarkan A dan B pada titik P dan L. sehingga menempatkan B pada titik H pada gambar bagian bawah. Kemudian jika A bergerak sepanjang ia2 ke titik P. Semua ini adalah efisien menurut pemikiran Pareto dan memenuhi kondisi kesamaan di antara tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi dan tingkat transformasi marjinal di alam produksi. titik-titik ini akan berhubungan dengan kondisi bahwa jumlah barang X yang dikonsumsi oleh A dan B harus sama dengan output total barang X. Dasar-dasar Keuangan Publik . dimana ULK bersinggungan dengan kurva indeferen ib4 dari B pada gambar bagian bawah. kita akan memperoleh serangkaian pemecahan yang berkaitan dengan berbagai tingkat kesejahteraan untuk A dan B. misalnya ke kurva ia3. jika A berada pada titik G pada gambar di bagian tengah. Bagi A. kita akan menemukan posisi baru bagi B pada gambar di bagian bawah (dihubungkan dengan ULK) dan satu hasil optimal baru (dihubungkan kepada L). Dalam setiap kasus. Jika utilitas A berubah lagi. Untuk A misalnya dinyatakan oleh kurva indiferen ia2 pada gambar bagian tengah. Z dan K. menunjukkan bahwa jika A berada pada titik G maka B akan berada pada titik H pada gambar di bagian bawah. Jika A bergerak sepanjang ia2 dari tititk W ke kiri. T. semua titik sepanjang ia2 akan sama baiknya. maka kita dapat mengulangi prosedur yang sama untuk B.

7 Konsumsi B atas barang publik Dasar-dasar Keuangan Publik .43 Jumlah Total Barang Pribadi M E Y O N F Q Konsumsi A atas barang pribadi T Jumlah Total Barang publik J ia3 P G W ia2 ia1 R N F U Konsumsi B atas barang pribadi Konsumsi A atas barang publik ZL K ib1 N F U ib3 ib2 Gambar 5.

penekanan utama dari teori fungsi distribusi adalah pada bagaimana pendistribusian hasil produksi kepada individu-individu atau keluarga-keluarga. tenaga kerja dan modal. Istilah keadilan lebih dekat pada nilai normatif daripada obyektif. Dalam ilmu ekonomi. Sedangkan. namun demikian penekanan teori peranan produksi lebih pada pengalokasian yang efisien. tanpa memperhatikan masalah distribusi akhir dari hasil penjualan produksi tersebut di pasar. Sebagai contoh. Dasar-dasar Keuangan Publik .44 B A B VI FUNGSI DISTRIBUSI S eperti telah dibahas dalam bab sebelumnya. Dalam pembahasan terdahulu penekanan lebih pada efisiensi. Ketika istilah efisiensi berada dalam suatu area yang dapat dikatakan mendekati nilai obyektif. istilah keadilan berada dalam suatu area yang sangat berlawanan. yaitu tentang bagaimana pengalokasian sumber daya diantara berbagai kebutuhan produksi yang saling bersaing guna mencapai suatu tingkat hasil (utilitas atau kepuasan) tertentu. alokasi faktor produksi dapat dikatakan efisien apabila dasar penetapan harga faktor produksi juga efisien. teori efisiensi alokasi faktor produksi ini bukan teori fungsi distribusi. yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah. Agar alokasi sumber daya menjadi efisien maka jumlah faktor produksi yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga nilainya sama dengan nilai biaya marjinal. teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Oleh karenanya. masalah distribusi pendapatan terhadap individu maupun keluarga harus dibahas lebih lanjut. terdapat dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal yaitu masalah penggunaan sumber daya yang efisien dan masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil. Walaupun demikian. Pertanyaannya kemudian adalah apakah ada distribusi yang adil atau merata? Bagaimana keadaan distribusi yang adil dan merata itu yang dimaksud diatas?. Teori ini memainkan peranan yang sangat penting dalam analisis ekonomi.

Konsep Keadilan Horizontal Salah satu jawaban atas dilema dalam mendefinisikan dan mengukur keadilan adalah konsep keadilan horizontal. jumlah anggota keluarga. pemerintah akan menyediakan sejumlah barang publik yang sama pula. si miskin dan si kaya. jumlah pajak yang ditarik dari Dasar-dasar Keuangan Publik . Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik. sebagian besar pendistribusian yang dilakukan pemerintah tidak menguntungkan bagi si miskin. masih dalam konteks ideal. dari setiap orang akan ditarik pajak dengan jumlah yang sama. Contoh konkrit dari konsep ini dapat ditemukan pada tiket masuk suatu tempat rekreasi yang tidak membedakan bagi setiap orang. kekayaannya. Oleh karena itu. atau paling tidak kapasitasnya berada dalam suatu interval tertentu. dan kondisi kesehatan seseorang. Selanjutnya. Pendapatan sendiri harus mencakup masalah seluruh pendapatan seumur hidup seseorang. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar. tidak perduli kaya atau miskin. disumsikan bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang sama untuk menikmati pendapatan. Selain itu. Dasar pengukuran dapat berupa pendapatannya. cacat atau normal dan sebagainya. Permasalahannya adalah bahwa dalam suatu perekonomian. bukan hanya pendapatan dalam satu tahun. setiap orang dianggap sama. Dalam konsep ini. umur. Sehingga apabila ada dua kelompok ekstrim dalam masyarakat. Dalam konsep ini.45 Konsep Keadilan Idealnya. Oleh karena itu. bukan dalam ukuran rupiahnya namun lebih pada utilitasnya. akan terasa sangat logis jika standar adil dalam pengorbanan dipenuhi melalui sistem yang menjamin bahwa kontribusi si miskin harus lebih kecil dari kontribusi si kaya. pengukuran menggunakan konsep keadilan horizontal sulit ditemukan. melainkan tetap lebih memihak kepada si kaya. melalui konsep ini. sistem perpajakan dan belanja publik harus dapat menjamin terciptanya suatu pengorbanan yang adil dari setiap warga negara. hal lain yang mungkin perlu dimasukkan kedalam pertimbangan adalah masalah kekayaan. atau kondisi-kondisi khusus lainnya seperti ketidakmampuan (cacat). tua atau muda. secara umum. keadilan berarti memperlakukan setiap orang berbeda disesuaikan dengan kondisinya masing-masing. tidak hanya sekedar persoalan pendapatan. Konsep Keadilan Vertikal Konsep kedua dalam mengukur keadilan adalah konsep keadilan vertikal. Namun pada kenyataannya. Apakah ada suatu cara untuk mendefinisikan keadilan? Pertanyaan ini telah memicu munculnya beberapa pemikiran terbaik dari para ekonom dalan kurun waktu dua abad terakhir ini. Jadi. fungsi pendistribusian oleh pemerintah dapat mencakup proses penarikan dana (melalui pajak) dari si kaya dan mentransfernya kepada si miskin baik itu dalam bentuk uang ataupun jasa. Jadi.

Namun Dasar-dasar Keuangan Publik . dimana harus menetapkan batas suatu jumlah pendapatan sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah tersebut mempunyai kemampuan membayar pajak lebih rendah atau lebih tinggi. Jadi dalam konsep ini akan tercipta peraturan atau kebijakan yang mau tidak mau akan terdapat pihak yang menang dan kalah. Tarif pajak progresif .00 lebih rendah kemampuan membayar pajaknya dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai pendapatan Rp 50. sehingga pajak penghasilan menetapkan tarif yang berbeda. tanpa menyebabkan kondisi orang lain sebaliknya (lebih buruk).000. namun disesuaikan dengan kondisi mereka. Keadilan diterjemahkan sebagai optimalisasi pareto yang menyatakan bahwa tidak mungkin merubah kondisi seseorang menjadi lebih baik. dan subsidi perumahan dan kesehatan bagi rakyat miskin. Apakah seseorang yang mempunyai jumlah pendapatan Rp 50. Prinsip kompensasi sebagian dapat terlihat dalam kebijakan perdagangan. Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika harus dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak. Prinsip Kompensasi Terakhir.yang akan dibahas lebih lanjut di bagian mendatang merupakan salah satu contoh konkrit dari konsep keadilan vertikal. para ekonom mencari beberapa kriteria untuk pengambilan keputusan dimana kondisi Pareto optimal tidak mungkin dapat dicapai.000. Kategori rakyat miskin adalah mereka yang memiliki pendapatan rata-rata – berdasarkan uji rata-rata – di bawah tingkat pendapatan tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.46 setiap orang tidaklah sama. seperti pembebasan atau pengurangan biaya sekolah. Apakah seseorang yang mempunyai pendapatan dua kali pendapatan orang yang lain berarti bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan membayar dua kali juga atau tidak. Contoh penurunan secara bertahap terhadap hambatan perdagangan internasional akan memberikan keuntungan bagi para konsumen dan eksportir di atas beban para tenaga kerja dan produsen importir dalam industri yang bersaing. konsep ketiga dalam upaya menginterpretasikan keadilan jatuh pada konsep prinsip kompensasi. Salah satu kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang.001. Menyadari hal ini. Selanjutnya. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan adalah prinsip kompensasi yang menawarkan suatu pedoman kasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan prinsip bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau sejahtera. Konsep keadilan vertikal juga tercermin dalam metode pengujian rata-rata yang digunakan bagi banyak program pemerintah.-. Ketidakmampuan untuk membandingkan utilitas dari setiap orang. menyebabkan suatu keputusan atau perubahan kebijakan sangat sulit untuk dibuat tanpa mengakibatkan adanya pihak-pihak yang diuntungkan dan pihakpihak yang dirugikan.000. Kriteria ini akan memandu pengambil keputusan untuk memilih keputusan terbaik kedua setelah Pareto optimal.

dalam banyak kasus. dan preferensi pelanggan. Distribusi Sebagai Suatu Kebijakan Jika sebelumnya. Dari distribusi pendapatan tenaga kerja dan modal terkait dengan investasi pendidikan. Misalnya. distribusi pendapatan ditentukan oleh penjualan faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal. ras dan lain-lain. pola perkawinan. masih memainkan peran yang penting. Distribusi pendapatan tenaga kerja berkaitan dengan distribusi kemampuan sekaligus keinginan tenaga kerja yang bersangkutan untuk memperoleh pendapatannya. meskipun tidak secara langsung. kali ini pembahasan akan di fokuskan pada distribusi sebagai hasil dari suatu kebijakan. sebagaimana telah ditentukan oleh warisan. tingkat harga sama dengan nilai dari faktor produk marjinal. Seandainya hambatan perdagangan tetap dipertahankan sehingga tetap ada dinding yang membatasi suatu negara dalam bertransaksi dengan negara lain. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan prosentase dari pendapatan yang diperoleh dengan prosentase rumah tangga yang menghasilkan. kebijakan mengenai anti trust atau anti monopoli sebenarnya dirancang untuk mengefisienkan pasar. Begitu pula dengan kesempatan seseorang memperoleh pekerjaan akan lebih bergantung pada hubungan kekeluargaan dibandingkan dengan kemampuan produktifitasnya.47 kebijakan ini tetap diinginkan karena secara total. tetap mempunyai dampak distribusional. 1991). Oleh sebab itu. struktur gaji. Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. status sosial. maka tetap saja akan ada pihak-pihak yang diuntungkan sebagai pemenang dan pihak-pihak yang dirugikan sebagai yang kalah. hubungan keluarga. pembahasan distribusi lebih terfokus sebagai hasil dari perekonomian pasar. pola hidup dan simpanan semasa hidup. yang merupakan pengaruh dari tingkat upah yang dapat dicapai oleh seseorang. Dasar-dasar Keuangan Publik . tingkat pengembalian lebih ditentukan oleh pasar persaingan tidak sempurna dimana faktor-faktor institusi seperti. oleh karenanya harga-harga tersebut bergantung langsung pada sejumlah variabel seperti faktor penawaran. dan akhirnya pola pernikahan juga menjadi faktor terpenting dalam pendistribusian pendapatan. teknologi. menunjukkan tingkat ketidakadilan yang sangat menyolok. Dalam persaingan sempurna. kesejahteraan publik ini akan lebih menguntungkan. Namun sebaliknya. Selain bergantung pada penurunan dari faktor-faktor produksi tersebut. Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Dalam ekonomi pasar. distribusi pendapatan juga bergantung pada faktor harga. Sedangkan distribusi pendapatan modal mencakup distribusi kesejahteraan. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan meningkatnya ketidakadilan dalam pendistribusian pendapatan (Musgrave. tingkat pendapatan dari berbagai macam pekerjaan mungkin berbeda sejalan dengan pertimbangan status dibandingkan dengan produk marjinal. Distribusi pendapatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor tersebut di atas.

Hal ini bisa dicapai melalui kebijakan redistribusi yang ditetapkan melalui proses anggaran. sampai saat ini analis ekonomi belum dapat menetapkan standar distribusi mana yang sebenarnya menjadi patokan. Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Seandainya asumsi-asumsi yang mendasari berbagai konsep keadilan dapat digali kemudian konsekuensinya dapat diamati sehingga dapat dipilih satu konsep tertentu untuk diterapkan. Oleh karena itu. hal ini bisa mempengaruhi bagian dari pendapatan nasional yang tersedia untuk redistribusi dan juga bisa menimbulkan biaya yang tentunya harus dipikul. Namun sayangnya. pendapatan riil dari konsumen yang menggunakan produk tersebut juga akan ikut terpengaruh. Pada gilirannya. yaitu apa yang seharusnya menjadi kriteria bagi distribusi yang adil dan wajar. Jika diperhatikan. tetapi dalam perpaduan satu sama lain.akan mempengaruhi kesejahteraan berbagai kelompok masyarakat dari segi ekonomi dan tentunya pola distribusi. Selanjutnya.seperti pembangunan jalan yang tujuannya untuk menyediakan barang publik kepada masyarakat . maka masalah ini tetap belum terpecahkan. Redistribusi Sebelumnya pembahasan lebih berfokus pada pertanyaan dasar mengenai apa yang merupakan distribusi yang adil dan merata. Contoh lain adalah kebijakan program investasi pemerintah . Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi. maka masalah distribusi akan menjadi lebih sederhana. namun kebijakan penarikan pajak berdasarkan pada prinsip keadilan horizontal baru akan diterapkan jika memang kondisi ini sudah tercapai. berbagai pendekatan dalam setiap konsep keadilan tidak perlu diterapkan secara murni. yaitu sampai sejauh mana dan dengan cara bagaimana mengubah keadaan distribusi yang ditentukan oleh pasar dan lembaga publik yang ada saat ini. semestinya para ekonom yang berurusan dengan kebijakan umum pemerintah tidak boleh melepaskan pemikiran mereka dari masalah keadilan dalam distribusi pendapatan. prinsip keadilan yang dianut menginginkan tidak ada satu anggota masyarakat pun yang miskin. Misalnya saja. hasil dari kebijakan ini dapat dilihat melalui respon dari setiap pihak yang dirugikan atau diuntungkan dari proses tersebut . Pertanyaannya sekarang adalah perlu tidaknya untuk mempertimbangkan atau bahkan menanggulangi masalah redistribusi. Namun karena belum ada alasan atau nilai-nilai yang terpilih sebagai dasar dalam menetapkan struktur masyarakat yang baik. Selain itu. perancangan kebijakan publik seharusnya juga mempertimbangkan masalah distribusi. karena masalah distribusi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kebijakan ekonomi secara dominan terhadap politik ekonomi.48 namun secara tidak langsung akan mempengaruhi pendapatan modal dan tenaga kerja pada industri yang terkait dengan kebijakan tersebut.

ajari seseorang memancing. Keadilan atas kesempatan dapat berupa penyediaan pendidikan. seperti penggalangan dana di mesjid. Pertanyaan berikutnya bagi pemerintah adalah apakah perhatian mereka terkait dengan konsep redistribusi. Secara umum. Jika kegiatan sukarelawan ini cukup untuk membuat perubahan yang dapat diterima. terlebih dalam kelompok masyarakat yang besar. Dasar-dasar Keuangan Publik . keadilan atas kesempatan mewakili bentuk utama dari redistribusi. orang dapat tetap menghindar dari menyumbang secara sukarela. Tetapi apakah mungkin cukup menggantungkan keputusan redistribusi ini kepada individu atau kelompok sosial saja. Dalam keadilan atas hasil. hal sebaliknya sering kali terjadi jika redistribusi didanai melalui kontribusi sukarela. Hal ini dapat meredistribusi posisi pendapatan atau kekayaan yang telah ditentukan oleh kekuatan pasar. Dalam masyarakat yang besar. atau apakah harus lebih terpusat pada keadilan atas kesempatan atau keadilan atas hasil. meskipun hal tersebut akan lebih terlihat. pelayanan kesehatan atau jasa lainnya yang dapat membantu masyarakat untuk berkembang atau paling tidak tetap berproduksi. maka dia dapat makan untuk satu hari. dimana terjadi penurunan atas tingkat kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat. para pembayar pajak akan lebih tertarik untuk mendapatkan keadilan atas kesempatan dan memastikan apakah dana yang telah mereka keluarkan dibelanjakan dengan seharusnya. gereja. Sementara itu di pihak penerima pajak – katakanlah rakyat miskin – lebih tertarik untuk memperhatikan keadilan atas hasil dan memiliki fleksibilitas dalam menggunakan sumber-sumber dana yang mereka dapatkan. Perbedaan filosofi dari dua pendekatan keadilan redistribusi ini tercermin dalam pribahasa ”Berikan seseorang ikan. keadilan atas hasil sebagai suatu strategi anti kemiskinan telah semakin menurun popularitasnya di banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada. apakah menjamin bahwa perubahan yang terjadi akan optimal bagi masyarakat. karena akan sangat mudah bagi setiap orang untuk menghindar dari membayar suatu sumbangan sukarela (menjadi free rider). organisasi nir laba dan sumbangan sosial individu. maka dia dapat makan seumur hidupnya”. Rasanya hampir mustahil. Keadilan ini lebih bersifat filosofi dalam hubungannya dengan sistem pasar. dan melakukan lobi politik untuk mempengaruhi pemerintah dengan berbagai cara. terutama dalam bentuk pembebasan uang sekolah dan wajib belajar. Menyamakan Kepentingan Pembayar Pajak dan Penerima Pajak Pembayar pajak – dalam kasus kebijakan redistribusi oleh pemerintah – mungkin mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda dengan para penerima pajak. maka campur tangan pemerintah tidak lagi dibutuhkan. Secara umum.49 Sebagian orang akan menolak adanya kebijakan redistribusi jika hal tersebut merupakan kebijakan wajib dari pemerintah. penekanannya lebih pada penurunan kesenjangan pendapatan dan penghapusan kemiskinan dengan cepat daripada menekankan pada berinvestasi pada orang miskin. Didalam masyarakat yang kecil pun. Kedua kelompok ini akan memberikan suaranya. Namun.

cara yang termudah adalah dengan memberikan jasa pelayanan langsung seperti pelayanan kesehatan dan program pendidikan. investasi dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat diperlihatkan dalam hubungan antara penawaran tenaga kerja dengan masalah tabungan. masalah serupa juga akan timbul. Waktu Senggang dan Pajak A2 X1 X2 A3 X3 Grafik 6. maka pada tingkat tertentu sebagian besar masyarakat akan mengurangi usaha mereka dalam mencari pendapatan atau dengan kata lain mereka akan memperbanyak waktu santai mereka. Redistribusi yang telah dibahas sejauh ini mencakup masalah biaya dan manfaat. Hubungan antara pendapatan. Para penerima akan lebih memilih untuk menerima uang tunai. Bagi pemerintah. kebijakan untuk melakukan redistribusi dapat mengakibatkan bagian yang tersedia untuk didistribusikan justru menjadi lebih kecil.1. Pertama-tama. pihak pendana akan memasukkan preferensi mereka kepada pihak penerima. dimana keduanya harus dipertimbangkan. Hal ini diakibatkan oleh bekerjanya pengaruh perbedaan yang berlaku pada baik pihak pembayar pajak maupun pihak penerima pajak. dan makanan. Ketika redistribusi ditetapkan sehingga akan menurunkan tingkat pendapatan. Pendapatan A1 Pendapatan. Besarnya Bagian untuk Redistribusi Isu penting lainnya dalam masalah redistribusi yang efisien adalah penetapan bagian yang harus di redistribusikan. sehingga membatasi fleksibilitas penggunaan dana tersebut. Seandainya diberikan dalam bentuk uang. Di sisi lain pembayar pajak lebih memilih memberikan dananya dalam bentuk barang seperti. pakaian.50 Isu kedua yang seringkali dipandang berbeda dari pihak pembayar dan penerima pajak adalah bentuk redistribusi. waktu senggang dan pajak dapat dilihat pada grafik 6.1 Y2 Y1 Y3 Waktu Senggang Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga tingkat produktivitas masyarakat menurun. karena akan lebih memberikan fleksibilitas kepada mereka untuk menggunakan dana tersebut.

D Kebijakan Moneter Jika berfungsi dengan baik. Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. suatu mekanisme pasar dijamin dapat diandalkan untuk menentukan alokasi sumber daya yang efisien di antara barang pribadi.51 B A B VII FUNGSI STABILISASI Kebijakan Stabilisasi i era globalisasi ekonomi yang semakin luas. tingkat stabilitas harga yang pantas. Oleh karena itu. sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya. Namun. tetapi juga menimbulkan reaksi dalam permintaan kredit di pasar yang akan cenderung menimbulkan fluktuasi. neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. sehingga tidak hanya akan menghasilkan jumlah uang beredar yang tidak sesuai. Dasar-dasar Keuangan Publik . baik dalam hal stabilisasi jangka pendek maupun pertumbuhan jangka panjang. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. Dalam hubungannya dengan persaingan yang terjadi pada ekonomi pasar. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. Pada intinya. akan berjalan tidak teratur. Sistem perbankan. keberadaan Bank Sentral sebagai pengawas jumlah uang beredar perlu menyesuaikan jumlah uang beredar dengan kebutuhan ekonomi. kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. fungsi pengatur tersebut dapat berupa beberapa kebijakan baik sebagai pemicu maupun sebagai penghambat persaingan. para ekonom setuju bahwa mekanisme pasar tidak dapat dengan sendirinya mengatur jumlah uang yang beredar secara tepat. jika tidak diawasi. fungsi pemerintah sebagai pengatur (regulator) semakin dirasakan kebutuhannya. menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. tingkat diskonto.

misalnya masyarakat menginginkan peningkatan atas pelayanan pemerintah. karena para wajib pajak akan mempunyai disposible income yang lebih besar sehingga diharapkan akan membelanjakan jumlah pendapatan yang lebih besar pula. seperti ideologi. warga negara mempunyai kesempatan untuk memberikan suaranya dalam memutuskan suatu masalah. berkaitan dengan perubahan kebijakan perpajakan. Kemudian. Stabilisasi Anggaran Kebijakan anggaran semestinya melibatkan beberapa tujuan yang berbeda. akan menaikkan tingkat permintaan sektor pemerintah dan kemudian akan diikuti oleh sektor swasta. tanpa harus dihubungkan dengan kontribusinya. tujuan politik adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi seluruh warga negaranya. suatu kebijakan menambah pengeluaran publik jelas merupakan jenis kebijakan yang bersifat ekspansi. Akhirnya. Dalam proses pemungutan suara akan ada pihak-pihak yang mendukung dan menolak terhadap perubahan atas model pelayanan pemerintah. Hasil dari proses tersebut tergantung dari hasil pemungutan suara atau dari tingkah laku para politisi yang bermain di dalam pemerintahan tersebut. pada awalnya. dalam masalah pembiayaan kegiatan pemerintah. Namun demikian. karena dua masalah ini sulit diselesaikan secara simultan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Idealnya. tergantung pada bagaimana defisit itu dibiayai. Sebagai ilustrasi. yaitu kebijakan yang benar-benar adil dalam rangka mencapai tujuan yang beraneka ragam tersebut. kita dapat mengambil simpulan bahwa penentuan anggaran lebih condong sebagai proses politik ketimbang proses pasar. Dalam suatu negara demokrasi. Hal ini bisa diwujudkan dengan meningkatkan penerimaan dari sektor pajak. suatu kebijakan fiskal mempengaruhi secara langsung tingkat permintaan barang dan jasa. Kebijakan ini. Sejalan dengan itu. kedua isu tersebut seharusnya dipisahkan. wajib pajak selayaknya melihat manfaat yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. Proses politik didasarkan pada peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang suatu negara. dari sudut pandang ekonomi. tetapi dalam prakteknya hal ini saling tumpang tindih sehingga mempersulit penyusunan kebijakan yang efisien. maka pinjaman tambahan akan mempertinggi suku bunga sehingga cenderung menghambat transaksi pasar. kebijakan defisit anggaran pemerintah juga dapat memainkan peranan yang tidak kalah penting. Pembiayaan defisit akan lebih besar jika defisit tersebut ditutupi dengan pinjaman.52 Kebijakan Fiskal Sementara itu. Kebijakan menurunkan pajak dapat dilakukan dalam upaya pemerintah untuk memperbesar total belanja pemerintah. yang pada gilirannya nanti akan dipertanyakan oleh masyarakat tentang cara pendistribusiannya. Proses politik tentunya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain faktor ekonomi. tetapi jika peredaran uang diperketat. Masyarakat seharusnya bersedia membayar apa yang dianggap sebagai distribusi yang adil. Di sisi lain. karena akan meningkatkan total permintaan agregat.

Misalnya. Seringkali keputusan untuk menentukan jumlah serta dana yang diperlukan ini dibuat dengan cara melakukan pemungutan suara (voting). Dasar-dasar Keuangan Publik . dan ideologi. Namun demikian. dari sudut pandang ekonomi. Penyediaan suatu barang publik memerlukan kesepakatan mengenai jumlah yang akan disediakan dan anggaran yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang tersebut. bila masyarakat menginginkan anggaran pendidikan yang lebih tinggi maka mereka dapat melakukan voting untuk meloloskan kebijakan itu atau memilih untuk mendukung orang yang pro dengan kebijakan anggaran pendidikan yang lebih tinggi tersebut. Di negara demokratis. Teori pilihan publik mempelajari bagaimana suatu keputusan yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak dibuat melalui suatu sistem politik. keputusan politis ditetapkan melalui suatu proses politik yang melibatkan masyarakat. dikeluarkan setelah melalui suatu proses politik? Hal-hal mulai dari peningkatan taraf hidup. tujuan politik tersebut adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi masyarakat. pembangunan jalan raya. sampai dengan penentuan pajak dan subsidi ditetapkan dalam suatu keputusan politis. Proses politik yang ada didalam sistem tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti. Konsep Keseimbangan Politis (Political Equilibrium) Suatu keputusan publik dibuat setelah melalui interaksi politis antara beberapa orang menurut aturan yang disepakati bersama. ekonomi. Masyarakat dapat menyumbangkan suara mereka untuk menentukan kebijakan apa yang hendak dilaksanakan atau menyumbangkan suara kepada orang yang mewakili kebijakan tersebut. Teori pilihan publik mempelajari bagaimana proses politik digunakan untuk menentukan besarnya barang dan jasa yang akan disediakan oleh pemerintah.53 B A B VIII SISTEM PILIHAN PUBLIK P ernahkah anda berpikir bahwa segala keputusan yang dibuat oleh pemerintah. budaya. pusat maupun daerah.

Jika kenaikan biaya tidak diiringi dengan kenaikan manfaat. Analisis ekonomi terhadap proses politik mengasumsikan bahwa individu menilai kebutuhannya terhadap barang publik seperti layaknya mereka menilai kebutuhan atas barang dan jasa lainnya. Porsi pajak (tax shares) adalah bagian biaya yang dibebankan ke masyarakat. porsi pajak tersebut merupakan harga per unit dari barang yang disediakan oleh pemerintah. Besarnya porsi pajak adalah sama dengan biaya per unit dari barang publik yang akan disediakan oleh pemerintah. perdebatan maupun kampanye yang dilakukan sebelum dikeluarkannya keputusan itulah yang dapat mempengaruhi masyarakat dalam memberikan suaranya. pada kondisi dimana aturan dalam mengambil keputusan kolektif dan besarnya pajak sudah terbentuk. Individu diasumsikan akan menetapkan pilihan jika hal itu dapat membuat kehidupan mereka lebih baik. Jika ti melambangkan porsi pajak barang publik bagi voter i. informasi mengenai besarnya biaya yang diperlukan untuk memproduksi barang publik susah diperoleh. Keseimbangan politis (political equilibrium) adalah persetujuan mengenai jumlah barang publik yang akan disediakan. Pada titik ini.54 Pada kondisi dimana barang dan jasa publik di supply oleh pemerintah dengan dana dari pajak. Pada kampanye inilah penduduk mendapatkan gambaran mengenai biaya dan manfaat yang dapat diperoleh dari barang publik tersebut. Pada kasus ini. Dasar-dasar Keuangan Publik . Adanya kenaikan biaya produksi barang publik akan menaikkan pula besarnya pajak yang harus dibayar oleh penduduk. Pemilihan dan Pemungutan Suara (Election and Voting) Pilihan publik dilaksanakan secara formal melalui suatu pemilihan umum dimana setiap individu memiliki satu suara. masyarakat dapat mengajukan keberatan bila kebijakan tersebut bertentangan dengan kehendak masyarakat. Jumlah dari seluruh porsi pajak harus sama dengan biaya rata-rata (average cost) dari barang publik tersebut untuk menghindari anggaran surplus ataupun defisit. Bagi seorang voter. Keputusan rasional yang paling diinginkan dari suatu proses politik untuk menentukan jumlah barang publik yang disediakan akan tercapai pada titik dimana porsi pajak per individu sama persis dengan manfaat marginal dari barang publik tersebut. Biaya untuk menyediakan barang publik mempengaruhi besarnya pajak yang harus dibayar oleh penduduk untuk memproduksi barang tersebut. jumlah barang yang disediakan memberikan kepuasan maksimal bagi setiap individu. maka Σti untuk seluruh voter harus sama dengan average cost dari barang tersebut. masyarakat yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut harus tunduk dengan keputusan yang sudah dibuat. Kenaikan maupun penurunan diluar titik ini akan menurunkan tingkat kepuasan individu. Pada kenyataannya. Kondisinya akan berbeda jika barang dan jasa publik tersebut sebagian atau seluruhnya dibiayai dari sumbangan atau retribusi dari masyarakat. Akhirnya. maka akan mengurangi dukungan penduduk terhadap kebijakan publik tersebut.

ada dua hal yang perlu dipertimbangkan yaitu porsi pajak (ti) dan distribusi benefit (MBi). Pada titik Z ini. Usulan untuk meningkatkan output yang ditolak pada tingkat pajak tertentu. Z. Titik equilibrium juga dapat dipengaruhi oleh distribusi manfaat (benefit). Setiap individu akan bertindak seolah-olah barang publik tersebut bisa dibeli di pasar bebas dengan harga ti dan akan mendukung kebijakan yang berkaitan dengannya sepanjang manfaat yang mereka terima melebihi biaya (pajak) yang harus mereka keluarkan. dimana jumlah barang publik yang diproduksi adalah sebesar Q* dan porsi pajak sebesar ti. Gambar 8. Suatu usulan yang pernah ditolak masih mungkin akan diterima bila distribusi manfaatnya dirubah sehingga sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemilih. Setiap penambahan output barang publik dari titik 0 sampai dengan titik Q* akan membuat kondisi individu i lebih baik. Memberikan suara atau abstain (Vote or not to vote) Keputusan seseorang untuk memberikan suaranya tergantung pada untung rugi yang akan ia terima sebagai akibat keputusannya tersebut dan juga kemungkinan (probabillitas) suaranya akan memberikan keuntungan bagi dirinya.1: Keputusan yang Paling Diinginkan dari Proses Politis ti Pajak Z Pajak per unit output MBi 0 Q* Pada kondisi dimana aturan main pilihan umum sudah ada. penambahan yang dilakukan diatas titik Q* akan membuat kondisi i lebih buruk karena pajak yang ia bayar melebihi marginal benefit yang ia terima. Dasar-dasar Keuangan Publik . masih mungkin untuk diajukan kembali bila menerapkan tingkat pajak yang berbeda dari yang sebelumnya karena perubahan tingkat pajak akan mempengaruhi titik Z.1. marginal benefit bagi individu i sama dengan porsi pajaknya.55 Pada Gambar 8. penentuan hasil pemilihan umum akan tergantung pada besarnya alokasi pajak yang dibebankan pada setiap pemilih. untuk mencapai titik keseimbangan politis. yaitu keputusan yang paling diinginkan. Jadi. keputusan yang paling diinginkan tersebut terletak pada titik Z. Namun.

Karena pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk ikut pemilihan sudah jelas. Kenyataannya. Kadang pemungutan suara dilakukan pada waktu yang tidak tepat. yang menjadi presiden dengan mudah dapat diperkirakan. Jika mereka memiliki informasi yang memadai. Kadangkala. atau tempat pemungutannya terlalu jauh sehingga orang tidak bisa hadir. Mereka beranggapan bahwa probabilitas suaranya akan mempengaruhi hasil pemilihan sangat kecil (bahkan mendekati nol) bila jumlah peserta pemilunya sedemikian besar. Beberapa hal yang menyebabkan orang enggan untuk memberikan suaranya adalah kendala waktu dan tempat. Informasi juga merupakan alasan seseorang untuk memberikan suaranya. pemilu dijadikan kewajiban bagi penduduk yang telah memenuhi syarat dengan maksud untuk menghindari free rider. alasan seseorang untuk memberikan suaranya tidak melulu didasari atas untung rugi semata namun bisa juga didasari atas kewajibannya sebagai seorang warga negara. Di Amerika Serikat telah ditemukan beberapa fakta bahwa tingkat partisipasi warga negara terhadap pemilu terkait pada mayoritas partai tertentu. Kondisi ini mirip ketika Indonesia hanya mengakui tiga partai peserta pemilu pada masa orde baru. Namun demikian. Namun demikian. di beberapa negara-negara yang tidak mewajibkan penduduknya untuk memilih. majalah. sedangkan manfaatnya belum jelas. hasil suatu pemilihan tidak tergantung pada orang-orang yang tidak memilih (di Indonesia biasa disebut golongan putih atau golput). Ini membuktikan bahwa ada motivasi lain yang mendorong mereka untuk datang ketempat pemilihan seperti kebanggaan sebagai warga negara atau rasa kebersamaan antar sesama pemilih. Pada negara bagian yang anggota legislatifnya mayoritas dikuasai oleh satu partai. dan sebagainya untuk meyakinkan bahwa suaranya nanti ditujukan pada pilihan yang tepat. Hal ini cukup merepotkan bagi sebagian orang. orang-orang yang ”golput” ini akan mengikuti saja arus keinginan (free riders) dari orang-orang yang ikut pemilihan. Alasan mereka enggan untuk ikut memilih adalah karena anggapan bahwa suara mereka akan jatuh ke orang yang sama. ada beberapa pemilih yang menentukan pilihannya berdasarkan informasi yang terbatas. Dampaknya. Jika setiap penduduk berpikiran seperti diatas. hal ini juga menjadi alasan seseorang untuk tidak ikut memberikan suaranya. Hal lain yang juga menjadi kendala adalah informasi. sebelum seseorang memberikan suaranya ia harus mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seperti surat kabar. Di negara demokrasi. partisipasi masyarakat untuk datang ke tempat pemilihan sangat tinggi.56 Namun demikian. Ada juga orang yang percaya bahwa suara mereka terlalu kecil dan tidak mungkin akan mempengaruhi hasil pemilihan. Ketika seseorang menentukan pilihan berdasarkan informasi yang tidak memadai atau Dasar-dasar Keuangan Publik . maka tujuan diadakannya negara demokrasi tidak tercapai karena semua penduduk tidak ada yang memberikan suaranya. tingkat partisipasi masyarakat untuk ikut pemilu lebih rendah dibanding dengan negara bagian lain yang tidak dikuasai oleh satu partai. pilihan mereka mungkin saja berbeda dari yang sebelumnya. dimana apapun pilihan masyarakat. internet.

Biaya marjinal dan biaya rata-rata dari barang publik Informasi yang tersedia mengenai untung rugi yang terkait dengan kebijakan tersebut Distribusi pajak ke setiap pemilih. Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas (Majority Rule) Dalam melakukan pemungutan suara dikenal aturan simple majority rule. 3. dan Pajak (rupiah) Σ MB 50 MBA MBB MBC MBM MBF 4 5 MBG 6 7 t 0 1 2 3 Jumlah satpam per minggu Dasar-dasar Keuangan Publik . A atau B. Pilihan A akan menang jika minimal ada 6 orang (10/2 +1) yang memilih A. maka pemenangnya adalah yang mampu mengumpulkan 5 suara. Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suatu pemilihan umum dalam menghasilkan keputusan tentang kebijakan publik adalah: 1. maka yang paling banyak mengumpulkan suara adalah pemenangnya. Untuk dapat menetapkan pilihan dengan benar. Gambar 8. minimal. Misalkan ada dua pilihan. 2. yaitu bagaimana kriteria untuk menerima atau menolak kebijakan publik. maka titik equilibriumnya pun akan berubah sesuai dengan faktor perubahannya. 5. yang akan ditentukan melalui pemungutan suara yang diikuti oleh 10 pemilih. maka sangat mungkin hasil yang ia capai tidak berbeda dibandingkan jika ia menjadi ”golput”. seseorang harus mempunyai informasi yang lengkap mengenai konsekuensi dari setiap pilihan yang diambilnya.57 salah. Cost. Aturan main dari pemilu itu sendiri. setengah plus satu dari seluruh peserta pemilihan. 4. Distribusi manfaat ke setiap pemilih Jika salah satu dari kelima faktor diatas berubah.2: Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas 350 E MB = AC Marginal Benfit. Dalam contoh diatas. seandainya jumlah pemilih hanya 9. Bila jumlah pemilihnya ganjil. yaitu pemenang pemungutan suara akan diperoleh bila mampu mengumpulkan.

5 satpam. F. Diantara mereka telah ada kesepakatan bahwa keamanan lingkungan adalah barang publik yang harus disediakan dan didanai oleh mereka sendiri. Setiap orang akan mendapat beban pajak yang sama besarnya yaitu sebesar AC/n untuk setiap unit barang publik yang dikonsumsi. Asumsikan dalam setiap pemungutan suara tidak ada yang abstain. Tabel 8. 4 satpam. Umpamakan gaji seorang satpam adalah Rp350 ribu per minggu sehingga average cost dan marginal cost dari barang publik ini adalah sama. semua warga setuju untuk memperkerjakan seorang satpam karena marginal benefit yang diterima setiap warga berada diatas iuran yang harus dibayar. Misalkan sekarang ada tujuh orang warga yang sedang berembuk untuk menentukan berapa orang satpam yang diperlukan untuk mengawasi wilayah tempat tinggal mereka. 2 satpam. Dalam contoh diatas. Hal ini telah sesuai dengan rumus AC/n = Rp50 ribu. bila penambahan seorang satpam disetujui oleh lebih dari setengah warga yang ikut memilih maka penambahan tersebut akan dilaksanakan. dan seterusnya hingga H yang menghendaki 7 orang. dan seterusnya.58 Berikut ini akan penulis berikan contoh penerapan simple majority rule dalam keuangan publik. atau 7 satpam. kemudian dari 2 menjadi 3 satpam. Namun demikian. Pemungutan suara dimulai dengan penambahan dari 0 satpam menjadi 1 satpam. B. A menghendaki hanya seorang satpam saja yang dibutuhkan. Pada pemungutan suara yang kedua untuk menambah jumlah satpam menjadi 2 orang. Asumsikan ada n orang yang tinggal dalam satu komunitas dimana Average Cost (AC) dan beban pajak untuk setiap barang publik sudah ditetapkan. 6 satpam. A tidak setuju terhadap usulan tersebut karena baginya jumlah iuran yang dibayarkan melebihi manfaat Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini berbeda dengan barang pribadi. ketujuh warga tersebut harus menentukan kesepakatan tentang berapa orang satpam yang dibutuhkan untuk menjaga lingkungan mereka. namun jika disetujui kurang dari setengah maka akan dibatalkan. 3 satpam. Hasil dari pemungutan suara mereka tercantum dalam Tabel 10. ketujuh warga tersebut akan melakukan voting untuk persetujuan atas setiap penambahan satu orang satpam yang akan mereka pekerjakan. dimana masing-masing individu dapat mengkonsumsi barang sesuai yang diinginkannya tanpa memperdulikan individu yang lain. G. Dengan demikian pajak (t dalam hal ini adalah iuran) yang harus ditanggung oleh masingmasing warga untuk membiayai seorang satpam adalah Rp50 ribu per minggu (Rp350 ribu/7). Ketentuannya. Karena keamanan lingkungan merupakan barang publik. dan H dalam Gambar 8. kemudian dari 1 menjadi 2 satpam. C.1. Ada tujuh alternatif keputusan yang akan diambil yaitu memperkerjakan 1 satpam. Pada pemungutan pertama kali.2. M. B menghendaki 2 orang.1 menunjukkan hasil pemungutan suara untuk setiap penambahan seorang satpam yang akan dipekerjakan. maka setiap warga akan menikmati keamanan dalam porsi yang sama. yaitu Rp350 ribu. marginal benefit ketujuh orang tersebut berbeda-beda seperti yang ditunjukkan pada kurva A. Hasil Pemungutan Suara menurut Aturan Mayoritas Sekarang.

dan C) memiliki keputusan ideal yang kurang dari 4 orang satpam sedangkan F. yaitu A dan B. dan H memiliki keputusan ideal lebih dari 4 orang satpam. Hal ini karena jumlah 4 orang satpam adalah keputusan politis yang paling diinginkan (ideal) melalui sistem Aturan Mayoritas. Sebagai bukti. Ketika usulan penambahan jumlah satpam dari 4 menjadi 5 orang diajukan. Namun. ada 2 orang yang tidak setuju atas penambahan jumlah satpam menjadi 3 orang. adalah pemilih menengah. B dan C akan memilih 2 satpam sedangkan M. G. Besarnya iuran yang harus ditanggung tiap warga adalah Rp200 ribu per minggu.59 yang ia terima. Jika jumlah 4 orang satpam ini dibandingkan dengan jumlah yang lain. maka penambahan satpam tersebut akhirnya disetujui. G. dan H akan memilih 4 satpam. jika diajukan pilihan 4 orang satpam atau 2 orang satpam. maka hasil pemungutan suaranya akan selalu dimenangkan oleh warga yang pro dengan jumlah 4 orang satpam. Tiga warga (A. maka dengan memperhatikan kurva marginal benefit masing-masing warga. F. M. Ingat. dalam voting A. apabila memperkerjakan 2 orang satpam maka iuran masing-masing warga menjadi Rp100 ribu per minggu (Rp700 ribu / 7). Dengan demikian. Sedangkan keputusan ideal bagi seluruh warga berkisar dari 1 orang sampai 7 orang satpam. Dasar-dasar Keuangan Publik . B. lagi-lagi usulan ini disetujui karena didukung oleh 5 warga lainnya. Pada contoh di atas. hanya 3 warga saja yang menyetujuinya sehingga usulan tersebut ditolak. Namun karena 6 warga lainnya setuju. Tabel 8.1: Hasil Pemungutan Suara Penambahan jumlah satpam per minggu 1 A B Warga C M F G H Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju 2 setuju setuju setuju setuju setuju setuju setuju 3 4 5 6 7 Setuju tdk setuju Tdk setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Tdk setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Tolak tdk setuju tdk setuju setuju setuju tolak tdk setuju Setuju Tolak Keputusan Setuju Pemilih Menengah (Median Voter) Pemilih menengah adalah pemilih yang keputusan ideal dirinya merupakan median dari keputusan ideal seluruh pemilih yang ikut voting. titik keseimbangan politis tentang jumlah satpam yang akhirnya dipekerjakan untuk mengawasi lingkungan mereka adalah 4 orang per minggu. yang keputusan ideal baginya adalah 4 orang satpam sesuai kurva marginal benefitnya. Ketika melakukan pemungutan yang ketiga.

jika ada lebih dari dua kemungkinan keputusan yang dihasilkan dalam suatu pemungutan suara. agar ke-6 warga lainnya setuju memperkerjakan 4 orang satpam maka iuran yang harus A. Dengan demikian. dan sebagainya. Jika keputusan voting dihasilkan dari suara yang bulat. maka akan semakin tinggi tingkat kekecewaan terhadap keputusan yang dihasilkan dengan cara aturan mayoritas. Jika keputusan untuk memproduksi barang/jasa memerlukan kesepakatan bulat atau mendekati bulat dari semua warga. Hal ini adalah faktor yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah sebelum memutuskan untuk mengadakan/ memproduksi sendiri barang/jasa. atau membelinya secara langsung melalui mekanisme pasar. dan C bayarkan harus lebih kecil dari Rp200 ribu per minggu. G. dan H harus lebih besar dari Rp200 ribu per minggu. maka tidak terdapat political externalities. baik waktu. untuk mencapai keputusan yang bulat diperlukan political transaction cost yang cukup besar. dalam memilih instistusi politis. F. Warga yang keputusan idealnya berbeda dengan keputusan ideal pemilih menengah akan mengkonsumi lebih banyak ataupun lebih sedikit dari yang sesungguhnya mereka inginkan jika mereka dapat menyewa tenaga satpam sendiri-sendiri. Oleh karena itu. Dalam contoh diatas. Pada kasus ekstrem dimana semua warga memiliki kurva marginal benefit yang sama. masyarakat harus membandingkan antara political externalities dengan political transaction cost nya. Political Externalities adalah potensi kesejahteraan yang hilang yang dialami oleh voter yang keinginan idealnya berbeda dengan hasil keputusan voting. Kekecewaan paling tinggi dialami oleh orang yang keputusan ideal bagi dirinya terletak paling jauh dari keputusan ideal si pemilih menengah. maka hanya pemilih menengah saja yang keputusan idealnya sama dengan keputusan hasil voting dengan menggunakan Aturan Mayoritas. warga yang keinginannya untuk memperkerjakan satpam semakin kecil atau semakin besar dari dari 4 orang maka akan makin kecewa dengan hasil keputusan yang dibuat. maka keputusan yang dihasilkan melalui voting adalah keputusan bulat dimana semua warga menyetujui usulan yang diajukan. semua warga adalah pemilih menengah. Semakian jauh jarak perbedaan antara keputusan ideal pemilih menengah dengan keputusan ideal warga lainnya. Jadi. G. dan H disesuaikan sesuai dengan marginal benefit masing-masing warga. Hal yang sama juga akan terjadi bila masing-masing warga kenakan jumlah iuran yang tidak sama. Political externalities akan hilang jika iuran bagi A.60 Jika marginal benefit dari barang publik bagi seluruh warga didalam contoh berubah. Pada contoh kita. usaha. sedangkan bagi F. Di lain pihak. keputusan ideal bagi pemilih menengah akan selalu sama dengan titik keseimbangan politis bila aturan mayoritas diterapkan. Dasar-dasar Keuangan Publik . political externalities dialami oleh keenam warga selain M. Pada kasus ekstrem ini. sedangkan C dan F mungkin tidak terlalu kecewa. Pihak-pihak lain selain pemilih menengah akan tetap menerima hasil keputusan voting tersebut meskipun diantara mereka ada yang kecewa. Political transaction cost adalah seluruh pengorbanan. C. yang diperlukan untuk mencapai suatu kesepakatan. Dalam hal ini A dan H adalah yang paling kecewa. semua orang setuju atau tidak setuju. maka political externalities nya akan kecil. B. B.

political equilibrium yang dihasilkan adalah unik. penulis coba memberikan contoh kasus dimana tidak terdapat political equilibrium yang unik. artinya hanya ada satu yaitu 4 orang satpam per minggu. semakin kecil ia menerima net benefit. Agar lebih jelas. maka warga yang memilih 4 satpam akan selalu menjadi mayoritas. 2 kali festival per tahun.2: Urutan Preferensi Pilihan 1 Pilihan 2 (utama) 3-festival 2-festival 1-festival 3-festival 2-festival 1-festival Warga A B C Pilihan 3 1-festival 2-festival 3-festival Dasar-dasar Keuangan Publik . dan C) yang hendak menentukan banyaknya penyelenggaraan festival dalam setahun. sedangkan pilihan keduanya adalah 3-festival. Pemenang voting ditentukan dengan aturan mayoritas sederhana. Ada tiga alternatif yang diajukan oleh warga. ada tiga warga (A. C adalah orang moderat yang pilihan utamanya jatuh pada 2-festival. warga B dikenakan Rp75 ribu per festival.2. kemudian dilakukan voting. Tabel 8. Tabel 8. A adalah orang yang suka pesta. Jika tidak mendapatkan yang paling sedikit. maka ia lebih memilih yang paling banyak daripada yang moderat. Setiap penyelenggaraan festival memakan biaya sebesar 200 ribu rupiah. B adalah orang yang ekstrem. dan C dikenakan Rp25 ribu per festival. Pada kasus tertentu. dan 3 kali festival per tahun. yaitu: 1 kali festival per tahun. Setiap penambahan maupun pengurangan frekuensi festival akan membuat net benefit yang diterimanya semakin kecil. Jika ini terjadi maka penentuan keputusan yang menang dipengaruhi oleh faktor lain diluar dari manfaat dan biaya yang sudah dihitung sebelumnya. Pilihan utama B jatuh pada 1 kali festival. Misalkan. sehingga yang meraih 2 suara itulah yang menang. Bila jumlah 4 orang satpam dibandingkan dengan jumlah yang lain.61 Masalah Pemungutan Suara dengan Aturan Mayoritas Pada contoh kita di atas. Warga A dikenakan iuran Rp100 ribu per festival. B. maka pilihan utamanya jatuh pada 3-festival. Semakin jarang festival dilakukan. memuat informasi mengenai urutan preferensi setiap warga atas alternatif yang diajukan. Faktor yang dapat mempengaruhi antara lain adalah urutan dalam melakukan pemungutan suara. political equilibrium dengan menggunakan aturan mayoritas dapat lebih dari satu.

3 menunjukkan grafik preferensi masing-masing warga atas frekuensi festival yang ditawarkan. Penambahan maupun pengurangan frekuensi festival membuatnya menerima net benefit yang makin kecil. Grafik C menunjukkan bahwa C menikmati net benefit tertinggi jika hanya 2 kali saja diadakan festival per tahun.3: Preferensi terhadap penyelenggaraan festival Single peak * Net benefit A * * Festival 2 1 3 * Net benefit B ** Multiple peaks Single peak * Net benefit B * * Festival 2 * 1 Festival 2 3 1 3 Single peak * Net benefit C * * 1 Festival 2 3 Gambar 8. Grafik A menunjukkan konsistensi warga A pada net benefit yang semakin besar jika makin sering diadakan festival. Titik optimal A adalah pada 1 kali festival dan titik optimal C adalah pada 2 kali Dasar-dasar Keuangan Publik . sekali penyelenggaraan festival masih lebih baik dibanding dengan tiga kali festival per tahun. Namun demikian.62 Gambar 8. A dan C disebut memiliki preferensi tunggal (single-peak preferences) karena hanya mempunyai satu titik optimal atas preferensi yang paling diinginkan.

Jika militer AS tidak diperkenankan menggunakan kekuatan penuhnya. kemudian 1festival mengalahkan 3-festival. atau 3) tidak perang. B. kemudian 3. Dilain pihak. Hasil dari pair-wise elections tercantum dalam tabel 10. Titik optimal tertinggi B adalah pada sekali festival saja.3. Karena hanya ada 3 warga yang mengikuti pemilihan (A. Kali ini.63 festival. opini yang timbul di masyarakat AS adalah jika ingin perang melawan Vietnam maka harus dengan menggunakan kekuatan penuh. dan C). 2 kali. Tabel 8. 1festival menang karena B dan C mendukungnya. Pada grafik B. Fenomena Cycling Pemilihan berpasangan (pair-wise elections) adalah pemilihan yang membandingkan 2 alternatif diantara 3 atau lebih alternatif yang tersedia. Namun. Ketika itu. ketika ada 3 pilihan yaitu. Dengan cara seperti ini. jika alternatif yang ditawarkan berlanjut pada arah yang sama. pemilihan terakhir dilakukan untuk membandingkan antara 2-festival dan 3-festival. 2) perang dengan kekuatan sedang. maka alternatif yang meraih 2 suara akan menang. tetapi akhirnya 3-festival dapat mengalahkan 2festival. Jika B ditawarkan 2 kali festival maka net benefit yang ia terima menjadi lebih rendah. Tetapi. 2-festival mengalahkan 1-festival. ia akan mendapatkan net benefit yang lebih baik. arah alternatif frekuensi yang ditawarkan adalah mulai dari yang paling jarang (1 kali) hingga yang paling sering (3 kali). Kemudian. bila kemudian diajukan lagi 3 kali festival yang paling sering. maka net benefit mereka akan semakin rendah. Berikut ini akan kita lakukan pair-wise elections untuk setiap alternatif yang tersedia yaitu 1 kali. voting dengan aturan mayoritas sederhana akan menemui jalan buntu karena setiap alternatif mempunyai kesempatan untuk menang. Jadi. B disebut memiliki preferensi jamak (multiple-peaked preferences) karena ketika tidak mendapatkan preferensi optimalnya maka ia menerima net benefit yang lebih rendah. maka net benefit B menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Hal ini terlihat pada garis yang menurun pada Grafik B di atas. bila perlu menggunakan senjata nuklir agar kemenangan cepat diraih. maka urutan preferensi di masyarakat adalah nomor 1. Pada pemilihan ini 3-festival menang karena hanya C yang menolaknya. dan 3 kali festival. Setiap alternatif mempunyai kesempatan untuk menang tergantung dengan siapa ia dibandingkan. Hasilnya 2-festival menang karena didukung oleh A dan C. maka lebih baik AS tidak perlu mengirimkan tentaranya ke Vietnam karena hanya akan mengorbankan tentara saja. Dalam 3 kali pemilihan. Fenomena ini disebut dengan cycling. Pemilihan berikutnya dilakukan untuk membandingkan antara 3-festival dan 1-festival. 1) perang dengan full power. Pada pemilihan pertama. 1-festival dibandingkan dengan 2-festival. dengan kata lain tidak ada perang. dan terakhir 2. Contoh nyata dimana preferensi jamak pernah muncul adalah ketika Amerika melakukan perang melawan Vietnam.3: Hasil Pemungutan Suara dengan Pemilihan Berpasangan (Pair-Wise) Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika tidak mendapatkan titik optimal tersebut.

64 Pemilihan I 1-festival A B C Total suara Hasil : 2-festival menang X 1 suara Pemilihan II 3-festival X 1 suara Pemilihan III 2-festival X 1 suara 2-festival X X 2 suara 1-festival X X 2 suara A B C Total suara Hasil : 1-festival menang A B C Total suara Hasil: 3-festival menang 3-festival X X 2 suara Penyebab Cycling Cycling dan tidak adanya political equilibrium dengan menggunakan pairwise election dalam aturan mayoritas. maka aturan mayoritas akan mampu menghasilkan political equilibrium untuk setiap isu yang dibahas. Titik equilibrium tersebut akan terletak pada median dari semua voter.4: Urutan Pilihan Berbagai Alternatif Pilihan 1 Pilihan 2 (utama) 3-festival 2-festival 1-festival 2-festival 2-festival 1-festival Warga A B C Pilihan 3 1-festival 3-festival 3-festival Dasar-dasar Keuangan Publik . warga B diganti dengan warga B’ yang memiliki preferensi tunggal. disebabkan oleh adanya preferensi jamak (multiple-peaked preferences). Asumsikan B’ membayar iuran yang besarnya sama dengan B. Urutan pilihan terhadap berbagai alternatif dan grafik net benefit dengan masuknya warga B’ adalah seperti tercantum pada Tabel 8. Dengan masih menggunakan contoh sebelumnya. akan penulis tunjukkan contoh dimana political equilibrium dapat terwujud jika tidak ada warga yang memiliki preferensi jamak.4.4 dan Gambar 8. Tabel 8. Jika semua voter memiliki preferensi tunggal. Kali ini.

Median puncak terletak pada 2festival per tahun dan karena C memiliki preferensi utama pada titik ini maka ia adalah pemilih median. yaitu dimenangkan oleh 2-festival dan 1-festival. Sekarang. A dan C masih memiliki preferensi yang sama seperti yang sebelumnya. Pada Pemilihan III. dengan tidak adanya preferensi jamak maka kali ini dimenangkan oleh 2-festival karena didukung oleh B’ dan C. Dengan kondisi ini.65 Gambar 8. sedangkan B’ kali ini memiliki preferensi tunggal. Dengan tidak adanya preferensi jamak maka hanya satu political equilibrium yang muncul yaitu milik median voter. mari kita lakukan pair-wise election kembali dengan kondisi seperti di atas.4 di atas. kini semua warga memiliki preferensi tunggal dan setiap ada perubahan keputusan diluar preferensi utama akan mengakibatkan menurunnya net benefit yang mereka terima. B akan menerima net benefit tertinggi jika festival diselenggarakan hanya satu kali saja per tahun. Hasil Pemilihan I dan Pemilihan II berturut-turut masih sama dengan yang sebelumnya.4: Net Benefit Berbagai Alternatif titik puncak voter C titik puncak voter B’ * * Net benefit * titik puncak voter C * * * * * 0 1 2 3 Jumlah festival per tahun Pada Gambar 8. namun 1-festival akan kalah dalam pemilihan jika dibandingkan dengan 2-festival. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan hasil ini maka 2-festival akan menjadi political equilibrium karena dapat mengalahkan dua alternatif lainnya yaitu 1-festival dan 3-festival. Hasil pairwise election tanpa adanya preferensi jamak tercantum pada Tabel 8. Walaupun 1-festival dapat mengalahkan 3festival pada Pemilihan II.5.

dengan menggunakan simple majority rule jika ada 100 orang yang mengikuti voting. maka kandidat yang mengumpulkan 51% suara adalah pemenangnya. Sistem ini dilakukan pada negara yang berbentuk kerajaan atau pada negara yang dipimpin oleh seorang diktator. kandidat yang mampu mengumpulkan ( N/2 + 1 ) / N suara adalah pemenangnya. kandidat atau suatu keputusan dapat dimenangkan walaupun hanya didukung kurang dari setengah peserta yang melakukan voting. Jika dibutuhkan keputusan yang bulat. Dasar-dasar Keuangan Publik .5: Pair-Wise Election tanpa ada Preferensi Jamak Pemilihan I 1-festival 2-festival A X B’ X C X Total suara 1 suara 2 suara Hasil : 2-festival menang Pemilihan II 3-festival 1-festival A X B’ X C X Total suara 1 suara 2 suara Hasil : 1-festival menang Pemilihan III 2-festival 3-festival A X B’ X C X Total suara 2 suara 1 suara Hasil: 2-festival menang Metode Pemungutan Suara Simple Majority Rule Misalkan jumlah masyarakat yang mengikuti voting adalah N. Contoh. Bila yang dibutuhkan adalah keputusan bulat. Minority Rule Dengan metode Minority Rule. Pada kasus ini. Dengan metode simple majority rule. risiko munculnya ketidakpuasan akan lebih tinggi dibanding dengan menggunakan majority rule. maka kandidat tersebut harus mampu mengumpulkan 100% suara agar bisa jadi pemenangnya. Hal yang paling ekstrem dari minority rule adalah ketika suatu keputusan dibuat oleh satu orang saja. Dengan metode ini. maka diperlukan N/N suara yang mendukung keputusan tersebut.66 Tabel 8. Ketika setiap keputusan selalu dibuat oleh kelompok minoritas maka hal ini disebut oligarki.

dan D. Salah satu kelemahan dari Majority Rule adalah bila lebih dari 2 alternatif untuk diputuskan maka terdapat kemungkinan dimana tidak ada alternatif yang memperoleh suara mayoritas. 3. Namun demikian dampak positifnya adalah setiap voter diberi kesempatan untuk memberikan preferensinya ke masing-masing Dasar-dasar Keuangan Publik . dan 3) yang hendak dipilih salah satunya melalui voting. Jadi. Dengan metode ini. Alternatif I II III A 5 3 2 Tabel 8. namun D memberikan seluruh point nya ke alternatif I tanpa membagi kepada alternatif lainnya. 2. A menganggap alternatif I paling penting. dengan plurality rule pemenangnya ditentukan oleh alternatif yang memperoleh porsi suara paling besar. Contoh. Point Voting Pada metode point voting. Hal ini dapat memicu ketidak stabilan karena keputusan tidak didukung oleh suara mayoritas. karena keputusan ditentukan sepenuhnya oleh satu orang saja.Sebagai contoh. A dan D sama-sama menganggap alternatif I penting. Dengan metode majority rule maka tidak ada pemenangnya. 32% suara memilih 2. C. Dengan menggunakan metode plurality rule. Pada metode plurality rule. Metode ini mempunyai efek samping yaitu dapat menimbulkan transaksi jual-beli point antar sesama voter. Bila 32% suara memilih 1. yang jadi pemenangnya adalah alternatif I karena memperoleh point paling banyak. hal yang sama dilakukan oleh B. dan 2. Pada contoh di atas. Ia mendistribusikan point ke masingmasing alternatif tersebut sebesar 5. Akibatnya. pemilih diberikan sejumlah point (misalkan 10) untuk kemudian dibagi-bagikan ke masing-masing alternatif menurut tingkat kepentingan yang mereka rasakan. maka kondisi diatas dapat ditentukan pemenangnya yaitu alternatif 3 karena memperoleh porsi suara yang terbanyak (36%) jika dibanding dengan 2 lainnya. dimungkinkan suara minoritas untuk menjadi pemenangnya.6: Point Voting B C 2 5 2 5 6 0 D 10 0 0 Total 22 10 8 Misalkan setiap pemilih memperoleh 10 point untuk dibagikan ke masingmasing alternatif. perhatikan tabel berikut ini. ada tiga alternatif (1. Plurality Voting Metode Plurality Rule umum dilakukan bila sekurang-kurangnya ada 3 alternatif yang hendak diputuskan. alternatif II kurang penting. dan 36% suara memilih 3 maka tidak ada alternatif yang memperoleh suara diatas 50%.67 mungkin tidak akan pernah diadakan pemungutan suara. perlu dilakukan pemilihan ulang yang tentunya akan menambah biaya dan memakan waktu. Bila kita perhatikan. alternatif 3 (36%) adalah minoritas jika dibanding dengan alternatif 1 plus alternatif 2 (64%). dan alternatif III tidak penting.

kita akan melihat bagaimana mereka menyusun peringkat untuk kandidat II.895 4. dan 1 suara diberikan kepada kandidat IV Dasar-dasar Keuangan Publik . dan C yang memilih kandidat I sebagai peringkat pertama. Voter yang lainnya juga diminta untuk melakukan hal yang sama sehingga dicapai hasil seperti pada tabel dibawah ini. kandidat III mengumpulkan 48.38% 48. 4. peringkat 3 untuk kandidat II. kemudian membagikan porsi suaranya ke 3 kandidat lainnya berdasarkan peringkat. kandidat II mengumpulkan 48. 4 suara diberikan kepada kandidat III. 33 suara diberikan kepada kandidat II. Untuk lebih jelasnya penulis berikan contoh sebagai berikut. B.95%. maka suara A akan dialihkan ke kandidat II karena ia berada pada urutan 2.000 voter (A. Ada 38 voter yang memberikan peringkat pertama pada kandidat I.7: Pemungutan suara I C D E 1 2 4 3 3 1 4 4 2 2 1 3 … … … … … Total 38 4.894 173 %tase 0. belum ada kandidat yang mencapai suara mayoritas karena kandidat I baru mengumpulkan 0. dst.894 voter memberikan peringkat pertama pada kandidat III. dan IV. mari kita perhatikan preferensi A. Karena kandidat I tersisih. B.73% Setelah pemungutan suara.68 alternatif. 4. D lebih tinggi preferensinya terhadap alternatif ini dibanding oleh A.895 voter memberikan peringkat pertama pada kandidat II. Setelah dilakukan proses runoff terhadap 38 suara yang memilih kandidat I. Seandainya pada pemungutan suara I ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50% suara maka otomatis dialah pemenangnya dan tidak perlu ada instant runoff.d. dan 173 voter yang memberikan peringkat pertama pada kandidat IV. Suara B dialihkan ke kandidat IV dan suara C juga dialihkan ke kandidat IV. Setiap voter diminta untuk memberikan suara dalam bentuk peringkat untuk masing-masing kandidat. Karena belum ada kandidat yang memperoleh mayoritas. Walaupun sama-sama menganggap alternatif I penting. Ada 4 kandidat ( I s. peringkat 2 untuk kandidat I. IV) yang akan dicari pemenangnya melalui pemungutan suara yang diikuti oleh 10. Menurut hasil pemilihan pertama ini.94% dan kandidat IV mengumpulkan 1.94% 1. Sebagai contoh.38%. Instant Runoff Voting Instant runoff voting merupakan penyempurnaan dari majority rule dan plurality rule. Dari 38 orang yang memilih kandidat I. yaitu kandidat I. Hal yang harus dilakukan adalah menyingkirkan kandidat yang memperoleh suara paling kecil.95% 48. Misal.73%. dan peringkat terakhir untuk kandidat IV. voter D memberi peringkat 1 untuk kandidat III.). misalkan didapat hasil sebagai berikut. setiap kandidat dihitung perolehan peringkat pertamanya. Kandidat I II III IV A 1 2 3 4 B 1 3 4 2 Tabel 8. maka dilakukan proses runoff yang pertama. C. III.

masih belum terdapat kandidat yang memperoleh suara mayoritas.945 5. Berdasarkan tabel di atas.928 + 17 4 … 4.74% Setelah dilakukan runoff pertama.55%).55% Berdasarkan hasil runoff pertama. Oleh karena itu perlu dilakukan runoff kedua. Sebagai contoh. Suara ini kemudian ditambahkan pada jumlah sebelumnya sehingga diperoleh hasil sebagai berikut. 174 suara dari kandidat IV yang tersingkir akan didistribusikan ke kandidat II dan III pada runoff kedua. 174 suara yang memilih kandidat IV kemudian didistribusikan ke kandidat yang tersisa berdasarkan preferensi yang diberikan oleh masingmasing voter. Hasil proses runoff kedua dapat dilihat pada tabel berikut.895 + 33 4 … 4. Dasar-dasar Keuangan Publik . Kandidat II III IV A 2 3 4 B 3 4 2 C 3 4 2 Tabel 8.898 + 157 Total 4. Misalkan. Kandidat II III A 2 3 B 3 4 C 3 4 Tabel 8. kandidat II menerima limpahan 17 suara dan kandidat III menerima 157 suara. kandidat IV akan tersingkir karena memperoleh porsi suara paling kecil. kandidat II memperoleh 4. Proses pembagiannya sama seperti yang dilakukan pada runoff pertama.28% 48.898 174 %tase 49.45% 50.9: Runoff Kedua D … perhitungan 3 … 4.95%) dan kandidat III memperoleh 5.8: Runoff Pertama D … perhitungan 3 … 4.055 %tase 49. Dengan hasil ini maka kandidat III menjadi pemenangnya karena mampu mengumpulkan suara diatas 50%.894 + 4 1 … 173 + 1 Total 4.945 suara (49.928 4. ketiga dan seterusnya hingga diperoleh kandidat yang memperoleh suara mayoritas. Hasil runoff pertama bisa dilihat pada tabel berikut ini.98% 1.69 berdasarkan peringkat 2 yang mereka masukkan. suara D akan dialihkan ke kandidat II karena memiliki urutan berikutnya setelah kandidat IV.055 suara (50.

Sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. J Didalam konsep anggaran perlu dibedakan antara penerimaan versus pendapatan. sistem tersebut cukup efektif mengendalikan inflasi. Seluruh pengeluaran rutin dalam sistem ini diusahakan untuk ditutup dari penerimaan dalam negeri. Dalam beberapa periode lanjut Seda (2004). pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. contoh penerimaan pajak. Setelah itu diberlakukan balance budget yang mengakui adanya budget surplus dan budget deficit (dibahas pada subbab berikut). Berikutnya. Yang pertama. dan pengeluaran versus belanja.70 B A B IX KONSEP ANGGARAN ika proses pilihan publik telah selesai. Sedangkan pinjaman luar negeri digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Selanjutnya secara terus menerus diusahakan agar penerimaan dalam negeri dapat lebih tinggi dari pengeluaran rutin sehingga tercipta tabungan pemerintah yang dapat digunakan sebagai bagian belanja pembangunan. seluruh nilai hutang dipergunakan untuk kegiatan pembelian barang-barang impor. Agar tidak terjadi tambahan inflasi akibat adanya hutang. Pada sistem ini pinjaman luar negeri dimasukkan sebagai unsur penerimaan negara. Sistem ini kemudian dikenal sebagai APBN Berimbang dan Dinamis. Pada masa orde baru. termasuk kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal suatu negara secara keseluruhan terangkum dalam laporan anggaran tahunannya yang di Indonesia dikenal sebagai Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Karena ada beberapa aktivitas yang mengakibatkan aliran dana masuk yang tidak menambah kekayaan neto negara. sosial dan ekonominya. Tujuan utama dari diterapkannya sistem ini pada awal orde baru menurut Seda (2004) dimaksudkan mengurangi hyper-inflation yang mencapai 650% akibat adanya kegiatan pencetakan uang terus menerus untuk menutupi defisit anggaran. anggaran di Indonesia menganut sistem anggaran berimbang. penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. seperti penerimaan kembali anggaran pengeluaran yang tidak terpakai. Pengeluaran publik seperti pembayaran pokok hutang akan diikuti dengan pengurangan liabilitas publik sehingga tidak mengurangi kekayaan neto Dasar-dasar Keuangan Publik . Sistem ini berlaku sampai dengan tahun 1999. maka pemerintahan yang baru akan dinilai kinerjanya oleh masyarakat melalui paket-paket kebijakan politik.

yaitu obyek-obyek atau itemitem apa yang akan dibeli dengan uang yang dianggarkan itu. Contoh dari off-budget adalah alokasi dana yang diperuntukkan bagi program pensiun dan tunjangan hari tua. on-budget. Jenis-jenis Anggaran Jenis-jenis anggaran meliputi: a. dikenal sebagai off-budget. misalnya pembayaran bunga hutang. Jenis Pengeluaran Jumlah Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika rencana pengeluaran melebihi anggaran penerimaan. maka timbul budget deficit sebaliknya jika penerimaan diproyeksikan dapat lebiih tinggi dari rencana pengeluaraan maka disebut budget surplus. anggaran adalah suatu rencana keuangan yang merupakan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dimasa yang akan datang. Dari pengelompokan barang-barang inilah maka digunakan istilah obyek atau lineitems. Apabila anggaran disusun dengan mengkonsolidasikan antara on-budget dan off-budget. Apabila dikatakan untuk membeli barang. Balance budget Seluruh rencana pengeluaran dan penerimaan pemerintah biasanya melalui prosedur pembahasan oleh lembaga legislatif untuk disahkan setiap tahun. Selanjutnya. Bila obyek yang ada dalam line-item budget cukup banyak.71 negara. disebabkan setiap instansi atau Departemen mempunyai kebutuhan barang yang berbeda. perlengkapan dan material serta peralatan. dipaparkan adanya rencana pengeluaran yang didasarkan pada ekspektasi pendapatan. Namun ada sebagian kecil anggaran yang dibiayai dengan dedicated fund tidak dibahas oleh lembaga legislatif setiap tahunnya. Setiap anggaran belanja menguraikan berbagai fakta yang khusus (spesifik) tentang apaapa yang direncanakan untuk dilakukan oleh unit organisasi yang menyusun anggaran belanja tersebut pada periode waktu yang akan datang. Oleh karena itu harus disebutkan secara khusus atau spesifik. disebut anggaran oyek pengeluaran atau anggaran belanja line-item. sedangkan off-budget mengalami surplus. tergantung pada kriteria unit atau organisasi yang bersangkutan. Rencana pengeluaran sebaiknya mengindikasikan juga urutan skala prioritas serta ekspektasi kualitas dan kuantitas layanan. Anggaran belanja line-item (line-item budgeting) Jenis anggaran belanja yang hanya membuat daftar barang-barang atau obyekobyek. maka perlu dibuat pengelompokan ataupun penggolongan. Belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. maka anggaran yang dihasilkan disebut unified-budget. Pada umumnya on-budget mengalami deficit. Anggaran memuat perkiraan dari pengeluaran uang. Pengolongan barang tersebut misalnya: jasa-jasa kontrak. Dalam anggaran. Contoh line-item budget adalah sebagai berikut. hal ini adalah sesuatu hal yang masih sangat umum. Pengeluaran tersebut harus jelas maksud dan tujuannya.

suatu anggaran belanja yang disusun sesuai dengan tujuan. sehingga dari catatan tersebut dapat dilihat secara tepat. Dengan demikian orang yang bertanggung jawab dalam membelanjakan uang itu mudah diperiksa melalui keharusan mengikuti pengeluaran sebagaimana yang telah direncanakan. Dengan kata lain. Belanja Pegawai II. dan Program PELAYANAN UMUM PEMERINTAHAN LEMBAGA EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF. Penggunaan kata fungsi. Bunga Kredit Program 2.72 • Pengeluaran Rutin I. fungsi-fungsi dan kegiatankegiatan pengeluarannya disebut anggaran berprogram (a program budget). terdapat perbedaan pengelompokan barang-barang antara unit atau organisasi yang satu dengan unit atau organisasi barang yang diperlukan setiap organisasi tersebut dan tidak didasarkan atas perencanaan yang menyeluruh dan berkesinambungan. Sub Fungsi. DAN LUAR NEGERI PENYELENGGARAAN PIMPINAN Jumlah XXX XXX XXX Dasar-dasar Keuangan Publik . disebut anggaran berprogram (a program budget). b. KEUANGAN DAN FISKAL. Pembiayaan Rupiah 1. karena perkiraan kebutuhan untuk masa mendatang tidak dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang lebih luas. Contoh dari anggaran berprogram yang digunakan dalam menyusun APBN Indonesia Tahun 2005 adalah sebagai berikut. Anggaran berprogram mengelompokan pengeluarannya ke dalam program-program. Setiap barang atau kelompok barang dibuat daftarnya disertai angka nilai rupiah. atau misi. apakah anggaran belanja itu dipatuhi dengan baik atau tidak. Kode 01 01. kadang-kadang diperlukan sebagai pengganti program-program. Subsidi Daerah Otonom IV. Sedangkan kelemahan sistem anggaran line-items adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan. kegiatan. Di samping itu.01 01 Nama Fungsi. Angaran belanja berprogram (a program budgeting) Suatu anggaran yang berorientasi kepada maksud dan tujuan untuk apa uang dibelanjakan. Pembiayaan Proyek Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX • Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran line-item ialah mudah mengawasi penggunaanya. karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyek-obyek di mana uang itu dibelanjakan. Restrukturisasi Perbankan II. Belanja Barang III.01 01. Bunga Obl. Pembayaran Bunga & cicilan Hutang Pengeluaran Pembangunan I.

kita juga dapat menetapkan tingkat prioritas untuk membedakan bahwa program yang satu lebih penting dari program yang lain. yang merupakan bagian program yang lebih luas. sebab suatu program terdiri atas unsur-unsur program. dibandingkan dengan anggaran line-item (line-item budget). Kelebihan sistem anggaran berprogram adalah: 1) Memungkinkan kita membuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. Sekalipun demikian dapat disebut anggaran berprogram.73 KENEGARAAN DAN PEMERINTAHAN PENYELENGGARAAN PIMPINAN DEPARTEMEN/ LEMBAGA PEMBINAAN PRODUK LEGISLATIF Dst. kita dapat mengetahui tujuan serta maksud membelanjakan uang tersebut. anggaran belanja sistem hanya mencantumkan X rupiah untuk belanja yang satu dan Y rupiah untuk belanja yang lain. Misalnya X rupiah untuk kepentingan ketertiban umum. Oleh karena itu akan terdapat program yang mendapat dana jauh lebih sedikit dari yang lain. c. tetapi penyusunan dana itu disesuaikan dengan program-programnya. XXX XXX Dst. karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. Dengan demikian tak cukup kita menggunakan suatu anggaran yang hanya menyebutkan daftar barang-barang yang akan dibelanjakan. Hal ini disebabkan karena dalam anggaran berprogram. Anggaran belanja berbasis kinerja ini hanya menambahkan keterangan berapa banyak jenis pelayanan yang akan disediakan untuk melaksanakan suatu tujuan. Anggaran belanja berbasis kinerja (performance budget) dibangun atas anggaran berprogram. Dasar-dasar Keuangan Publik . Anggaran berbasis kinerja (performance budgeting). sekalipun ia dianggap fungsi yang lebih penting. disebabkan tidak hanya sekedar mendaftar barang-barang dan jasa-jasa yang akan dibelanjakan. 2) Lebih informatif. Sedangkan kelemahan anggaran berprogram ialah kurang mengandung arti pengawasan didalamnya. Kemudian. Dengan anggaran berprogram. Dengan demikian anggaran berprogram yang mempunyai perincian line-item dikaitkan dengan tujuan dari pada program. 01. sebab dari arti ketertiban umum itu dapat pula untuk pembangunan prasarana fisik (kantor) yang mewah bagi kepentingan ketertiban umum yang menyimpan dari tujuan yang diharapkan. yang tidak jelas obyek-obyeknya.01 02 01. bukan perincian yang sempit sifatnya. Salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram dalam segi pengawasan dan tingkat keluwesan (flexibility) adalah dengan cara mengkombinasikan sifat anggaran berprogram dengan sifat anggaran berdasarkan anggaran line-item.01 03 Dst.

Jelasnya unit ukuran yang digunakan harus menguraikan secara nyata (konkrit) apa yang akan dikerjakan.Panjang lahan yang dibebaskan: 10 kilometer . Disamping itu Dasar-dasar Keuangan Publik .000 Rp Rp 100. anggaran berprogram (program budget). zero-based budgeting menggunakan paket-paket anggaran.000 Jumlah Sub Total Kegiatan II: Pembangunan jalan Ukuran hasil: . harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis. Zero-based budgeting Tidak seperti kebanyakan proses pengganggaran yang jumlah dan rincian kegiatannya didasarkan atas anggaran tahun sebelumnya seperti dinaikkan atau sama. Contoh anggaran belanja berbasis kinerja adalah sebagai berikut. karena orang ingin mengetahui mengapa suatu kegiatan dilaksanakan. yaitu. dapat dijelaskan melalui konsep-konsep sebagai berikut: Tujuan Sebagaimana telah diuraikan bahwa suatu anggaran belanja yang berencana (planning budget) disusun dengan penentuan tujuan-tujuan.000.74 Ada dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja. pertama.000.000.Biaya pembebasan per kilometer: Rp50. langkah selanjutnya adalah menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar. konsep penganggaran ini sulit dilaksanakan sehingga tidak banyak digunakan.000. Dengan demikian anggaran berbasis kinerja adalah anggaran pelaksanaan yang mencakup kombinasi antara anggaran belanja line-item (line-item budget).000 d. yang merupakan landasan untuk penilaian kegiatan. obyek-obyek pengeluaran (seperti persediaan dan bahan). Program: Peningkatan prasarana jalan Kegiatan I: Pembebasan tanah Ukuran hasil: . dan data-data hasil kerja. Konsep ini banyak didukung oleh para pemerhati anggaran yang tidak menginginkan adanya pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu oleh pemerintah. Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) PPBS dimaksudkan sebagai usaha memperbaiki sistem penyusunan anggaran belanja pemerintah yang telah diuraikan diatas.000 600.Biaya per kilometer: Rp10.000. artinya berapa banyak suatu hasil yang dapat dibuat dengan biaya itu. Konsep tujuan sangat penting dalam sistem ini. Kedua. Namun dalam prakteknya.000 Jumlah Sub Total Total Biaya peningkatan prasarana jalan Jumlah Rp 500.Panjang jalan yang dibuat: 10 kilometer . Seluruh program kegiatan pemerintah harus dijustifikasi setiap tahun dengan tidak mendasarkan atas kemiripan kegiatan yang telah selenggarakan tahun sebelumnya. Dalam membicarakan teori PPBS.

3) Berguna bagi tujuan akhir dari kegiatan-kegiatan sesuatu pemerintahan. yaitu semua manfaat dan semua biaya yang harus diperhitungkan. dimana manfaat-manfaat yang dinyatakan dalam nilai uang dibagi dengan biayaDasar-dasar Keuangan Publik . bahwa dalam menghitung biaya produksi sesuatu produk (manfaat). ialah: 1) Berguna untuk mengukur efisiensi dan produktivitas dalam pengertian manajemen. Untuk itu. Landasan berpikirnya adalah. Akan tetapi efektivitas biaya (cost effectiveness) harus dipertimbangkan pula terhadap hasil-hasil dari sudut manfaat biaya (cost-benefits). Ukuran efektivitas biaya menunjukkan jumlah hasil-hasil yang dapat dicapai dengan mengeluarkan sejumlah rupiah tertentu. Yang dimaksud dengan biaya kesempatan ialah hilangnya kesempatan untuk membelanjakan uang atau waktu atau sumber-sumber lain untuk suatu alternatif tujuan. Analisis menghitung hubungan antara besarnya input (biaya) dan besarnya output (hasil-hasil yang dicapai) disebut input output analysis. 2) Berguna dalam menilai keputusan-keputusan alokasi sumber. Pendekatan sistem anggaran ini adalah mengaitkatkan satu sama lain segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi. yang dikelompokkan menurut tujuannya. Konsep biaya sebagaimana digunakan dalam PPBS adalah bersifat komprehensif (lengkap). disamping mengukur biaya-biaya maupun manfaat menurut nilai sekarang. Hal ini dapat juga berupa sejumlah formulir pajak yang diproses sampai kepada pembangkit listrik yang menghasilkan sejumlah kilowatt listrik bagi kepentingan masyarakat. Sekalipun belum ada kesepakatan mengenai definisi hasil (output). dibuat juga suatu perbandingan manfaat dan biaya. Pandangan yang paling umum mengenai hasil dari suatu institusi ialah konsep output yang universal. Misalnya kegiatan menghadiri rapat akan menghilangkan kesempatan untuk melakukan pekerjaan lain yang memperoleh hasil. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hasil ialah barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan untuk disalurkan keluar pemerintah. akan tetapi yang dimaksud disini ialah setiap penyelesaian kerja yang nyata dari seorang karyawan pemerintah adalah hasil (output) pemerintah. ditunjukkan hubungan antara cita-cita atau tujuan pemerintah dengan kegiatan pemerintah. Konsep output yang universal beranggapan bahwa setiap penyelesaian kerja yang nyata dari suatu karyawan pemerintah dapat dipandang sebagai output. Adapun kelebihan penentuan tujuan.75 dalam sistem anggaran belanja. Output. Oleh karena itu PPBS menghendaki agar dalam pengambilan keputusan yang rasional memasukkan biaya kesempatan (opportunity cost) sebagai bagian dari biaya-biaya yang relevan terhadap output. Pengukuran biaya dan manfaat kegiatan pemerintah. kita harus melihat secara menyeluruh biaya-biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan secara nyata.

dan kebijaksanaan pemerintah.76 biaya. pemerintah berkewajiban menyusun dan mengajukan rancangan anggaran. Dasar-dasar Keuangan Publik . Umpamanya : manfaat Biaya = Rp50 juta Rp25 juta = 2 = 2 (>1) 1 Sebaliknya seandainya rasio itu adalah kurang dari satu (<1). Hal ini berarti bahwa semua asumsi yang dipergunakan sebagai dasar pertimbangan harus dibuat dan didukung oleh data atau informasi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. yang di Indonesia disebut APBN. karena manfaatnya melebihi biayanya. Selain itu juga dimuat perkiraan terperinci pengeluaran dan penerimaan departemen/lembaga. Rancangan ini memuat asumsi umum yang mendasari penyusunan anggaran seperti perkiraan penerimaan. Jika perbandingan itu lebih besar dari satu (>1) maka simpulannya adalah bahwa proyek tersebut layak. transparan. Sebelum dibahas oleh lembaga legislatif. sehingga asumsi itu bersifat rasional dan objektif. obyektif. data aktual dan proyeksi perekonomian. termasuk lembaga legislatif. Objektivitas yang selengkap-lengkapnya barang kali tidak mungkin diperoleh. dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. defisit/surplus. PPBS menitikberatkan pada pertimbangan rasional yang didasarkan atas data dan informasi. Umpamanya : manfaat Biaya = Rp25 juta = Rp50 juta = 1 (<1) 2 Analisis yang terbuka dan jelas Analisis yang terbuka dan jelas merupakan asumsi yang merupakan unsur-unsur kunci dan merupakan prasyarat pokok bagi keberhasilan PPBS. Hal ini disebabkan karena hasil analisis itu mungkin diuji oleh analis-analis lain dan mungkin diulangi lagi dengan menggunakan susunan asumsi yang berbeda. tidak termasuk anggaran pendapatan dan pelanja pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan milik negara. maka simpulannya adalah bahwa proyek itu tidak layak. pengeluaran. Istilah APBN yang dipakai di Indonesia secara formal mengacu pada anggaran pendapatan dan belanja pemerintah pusat. dan pembiayaan defisit. akan tetapi kecenderungan untuk menutupi atau menyembunyikan data kunci harus dapat dihindarkan. dan proyek. karena biayanya lebih besar dari pada manfaatnya. Siklus Anggaran Kebijakan fiskal pemerintah suatu negara secara ringkas tercermin dalam anggarannya. Penyusunan anggaran negara merupakan rangkaian aktifitas yang melibatkan banyak pihak. Mekanisme analisis data dan informasi harus jelas. dan informasi terkait lainnya. transfer. Peran lembaga legislatif dalam proses penyusunan anggaran menyebabkan proses penyusunan menjadi lebih demokratis.

Proses penyusunan dapat memakan waktu hingga beberapa bulan. Beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran antara lain: ekspektasi pertumbuhan ekonomi. Lembaga tersebut biasanya dibawah naungan Departmen Keuangan yang bertugas mengkoordinasikan dan mengorganisasikan usulan anggaran pembiayaan dan pengeluaran dari instansiinstansi terkait. Campuran Cara ini merupakan gabungan dari 2 cara di atas. 4. Dalam mengajukan usulan. Pemerintah dapat saja melakukan perubahan drastis terhadap beberapa pengeluaran jika dipandang perlu dipilih sebagai reaksi atas perubahan indikatorindikator perekonomian. unit organisasi yang paling bawah harus memperhitungkan besar kecilnya kegiatan yang akan dilakukan. Unit organisasi yang telah ditetapkan batas anggarannya tidak boleh melakukan pengeluaran melebihi dari batas tersebut 3. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran (budget auditing and assessment). Namun hal ini tidak mencerminkan bahwa seluruh kegiatan harus dibiayai secara bertahap. 3. 2. Penyusunan Anggaran Pada umumnya proses formulasi anggaran dilakukan oleh eksekutif yang khusus menangani anggaran negara. unit organisasi yang paling tinggi menetapkan batas tertinggi (plafond) anggaran yang dapat dibelanjakan oleh unit organisasi yang lebih rendah. Pada cara ini. tergantung kompleksitas struktur pemerintahan yang dilayani. penyusunan anggaran dimulai dari unit organisasi yang paling bawah kemudian diteruskan secara berjenjang ke unit organisasi yang lebih tinggi. anggaran disusun untuk masa satu tahun. inflasi dan karakteristik makro ekonomi lainnya seperti harga minyak mentah dunia. Pada kebanyakan negara. Pengesahan Anggaran Proses ini dimulai ditandai dengan pengajuan usulan anggaran oleh eksekutif untuk dibahas di lembaga legislatif. atau memilih untuk mendengarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran (budget execution). Bottom – Up (dari bawah ke atas) Pada cara ini. Anggota dewan dapat mengundang pihak esksekutif pada waktu pembahasannya. Secara umum siklus anggaran terbagi atas empat tahap yaitu: 1. Kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya sering dijadikan landasan penyusunan anggaran tahun berikutnya. Ada tiga cara dalam menyusun anggaran yaitu: 1. Top – Down (dari atas ke bawah) Cara ini merupakan kebalikan dari cara bottom – up. Pengesahan Anggaran (budget enactment). Penyusunan Anggaran (budget formulation). serta mendistribusikannya sesuai urutan prioritas kegiatan dan tersedianya dana.77 Proses perjalanan suatu Anggaran yang dimulai dari penyusunan hingga pertanggungjawaban disebut dengan siklus anggaran. 2.

beberapa negara memungkinkan anggota dewan menyusun anggarannya sendiri atau memutuskan untuk menggunakan anggaran tahun sebelumnya. Sedangkan tugas Departemen Keuangan hanya memonitor melalui laporan yang sampaikan oleh departemen-departemen. Pengawasan intern. Faktor politik juga dapat ikut berperan dalam proses pembahasannya. Untuk mengefektifkan pelaksaaan anggaran. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar departemen. anggaran tidak dijalankan sama persis dengan jumlah yang disetujui. memonitor efektifitas alokasi anggaran ke departemen-departemen lainnya. Tetapi pertanyaan harus diajukan oleh tim pengawas manakala terjadi perbedaan yang signifikan tetapi tanpa dasar alasan yang dapat diterima. Hal ini biasa terjadi dikarenakan adanya kemungkinan anggota legislatif yang ditunjuk dalam komisi pembahasan anggaran tidak menguasai kerangka kerja anggaran. 2. Menteri Keuangan secara terpusat dapat menerapkan kontrol ketat terhadap prosedur aliran dana keluar. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh unit inspeksi yang betugas melakukan pengawasan di lingkungan departemen yang bersangkutan. Pengawasan ekstern. Anggota dewan berhak menolak usulan anggaran yang diajukan pemerintah. melakukan belanja publik terbatas maksimal sebesar tertera pada anggaran. dibutuhkan kegiatan pengawasan. 2. Dasar-dasar Keuangan Publik . Bisa juga disebabkan oleh tidak efisiennya mekanisme dan kekakuan pelaksanaan teknis realisasi anggaran di lapangan. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran Proses berikutnya adalah pelaksanaan anggaran yang telah disetujui dewan. Atau departemen-departemen dibuat lebih independen dalam realisasi belanja publik. Kemungkinan dari adanya perbedaan yang signifikan adalah adanya penyelewengan kekuasaan oleh lembaga eksekutif. Sedangkan untuk penerimaan publik diharapkan dapat melebihi atau minimal sama dengan anggaran yang telah disetujui. Prosedur pengawasan eksekusi anggaran dapat berbeda di tiap negara.78 opini publik untuk kemudian diambil keputusan. dan memberi persetujuan terhadap pengeluaranpengeluaran yang besar. Pengawasan melekat (waskat). Pada prakteknya. Dalam hal tersebut. Kesemua itu tidak mempengaruhi dibutuhkannya legalisasi usulan anggaran oleh dewan legislatif. Pengawasan fungsional (wasnal) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh institusi. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. Menurut subyeknya. Instansi dan departemen terkait. Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi dalam 2 bagian yaitu: 1. Beberapa deviasi menyebabkan beberapa pos pengeluaran tidak terealisasi sebagaimana tertera dalam anggaran. Proses pembahasan selesai setelah usulan anggaran diundangkan atau diamandemen.

Pengawasan tidak langsung. Di Indonesia.79 3. yang disebut sebagai post audit. Laporan ini harus diaudit secara reguler oleh badan independen semacam Auditor General (di Indonesia disebut BPK) yang memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan yang akurat dan tepat waktu. Pengawasan setelah kegiatan dilaksanakan. yaitu pengawasan yang dilakukan on the spot melalui inspeksi. Jika dimungkinkan. Menurut caranya. Pengawasan masyarakat. Pengawasan selama kegiatan dilaksanakan. Masalah Umum Anggaran Setiap siklus anggaran memiliki problem tersendiri. yaitu pengawasan yang dilakukan berdasarkan laporan dari pejabat yang bersangkutan. aparat pengawasan legislatif. maupun pemeriksaan. Pengawasan legislatif (wasleg) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Legislatif. atau dari masyarakat. Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif tidak dimaksudkan untuk menekan pihak eksekutif atau sekedar mencari-cari kesalahan pejabat publik. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Pengawasan langsung. Problem pada fase penyusunan dan pembahasan lebih banyak akibat adanya campur tangan politik. Untuk mencapai hasil yang diharapkan. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Siklus terakhir dari anggaran adalah pemeriksaan dan pertanggungjawaban atas efektifitas anggaran khususnya penggunaan pendapatan publik. Pengawasan sebelum kegiatan dimulai. Pada umumnya negara berkembang. Tapi lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara. sidak. Manajemen anggaran modern lebih menekankan pada perlunya sosialisasi dan distribusi informasi mengenai anggaran publik agar lebih dapat ditingkatkan efektifitas dan efisiensi prosesnya. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat yang disampaikan secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah. aparat pengawasan fungsional. Agar proses pemeriksaan atas pertanggungjawaban dapat dengan mudah dilakukan. 3. problem anggaran yang dihadapi meliputi penentuan asumsi-asumsi ekonomi dan indikator fiskal. Menurut waktunya. 2. BPK merupakan lembaga tinggi negara yang melakukan pengawasan terhadap pemerintah. pihak eksekutif harus dapat melaporkan pelaksanaan kebijakan fiskalnya secara lengkap. yang disebut sebagai pengawasan represif. Negara-negara Dasar-dasar Keuangan Publik . kombinasi konflik antara manajemen dan politik perlu diakomodasi secara memadai. yang disebut sebagai pengawasan preventif 2. 4. Sedangkan pada pelaksanaan dan pemeriksaan lebih mengarah pada isu-isu manajemen dan akuntansi. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1.

menghadapi kerentanan tehadap fluktuasi perdagangan dunia.80 tersebut seperti halnya Indonesia. akan tetapi banyak juga ketidakefisienan yang disebabkan oleh praktek penyusunan anggaran yang tidak fair. koordinasi pembangunan terencana dalam jangka panjang serta berkesinambungan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal tersebut dapat juga disebabkan oleh lembaga-lembaga legislatif dan pemeriksa yang tidak independen atau tidak mempunyai kapasitas sebagaimana mestinya. Sebagian anggaran mengalami kebocoran atau penggunaan yang tidak selaras dengan pembangunan perekonomian berkesinambungan. Beberapa permasalahan mungkin diakibatkan oleh faktorfaktor diluar kontrol. menentukan jumlah ideal penyerapan pendapatan publik melalui pajak.

hal ini ditentukan dalam suatu sistem Model-Model Pengganda dengan Investasi yang Tetap Mari kita mulai dengan model yang paling sederhana di mana konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan. Lebih jauh lagi.81 B A B X KEBIJAKAN STABILISASI T opik ini membicarakan lebih jauh mengenai fungsi utama ketiga dari kebijakan anggaran yang. Perubahan tingkat permintaan agregat pada akhirnya menentukan kesempatan kerja dan tingkat harga. Kebijakan fiskal itu sendiri kemudian dapat digunakan untuk mempengaruhi tingkat investasi. Mau tidak mau. pertama-tama tanpa anggaran dan kemudian dengan anggaran. pada gilirannya. stabilisasi ekonomi. Dasar-dasar Keuangan Publik . maka pendapatan ekuilibrium ditentukan pada tingkat dimana tabungan masyarakat sama dengan investasi. Saling keterkaitan inilah yang akan kita simak pada bab ini. Penentuan Pendapatan Tanpa Anggaran Sekarang kita akan menyimak bagaimana tingkat pendapatan ekuilibrium ditentukan. kebijakan anggaran juga mempengaruhi tingkat distribusi output total dengan membaginya di antara konsumsi dan tabungan (yang membentuk modal) yang selanjutnya mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. mempengaruhi tingkat permintaan agregat. Dengan mempertimbangkan bahwa dalam suatu sistem tingkat investasi adalah sesuatu yang given (tidak dapat dipengaruhi) dan apabila tidak ada suatu pemerintahan. akan menjadi alat yang cukup efektif untuk mempengaruhi perilaku tersebut. seperti telah dibahas pada Bab VII. Sementara jumlah atau tingkat investasi dianggap tetap. Anggaran. Investasi akan dianggap sebagai variabel endogen (variabel yang dipengaruhi oleh pendapatan). anggaran akan sangat dikaitkan dengan perilaku perekonomian secara makro dan. Kebijakan fiskal terhadap tingkat permintaan agregrat dalam keadaan dimana terdapat tingkat pengangguran yang tinggi diharapkan lebih berpengaruh terhadap perubahan output riil dibanding pada penyesuaian tingkat harga. khususnya pengeluaran publik.

Dengan demikian output serta pendapatan pada akhirnya akan menurun sampai ke A. Gambar 10-1 Penentuan Pendapatan tanpa Sektor Publik Perpotongan terjadi dimana pendapatan adalah A. Jika jumlah output (atau dengan kata lain. pendapatan) melebihi tingkat A. pendapatan ekuilibrium tercapai pada perpotongan garis pengeluaran total (atau C+I) dengan garis 450. Di pihak lain. C adalah fungsi konsumsi ymg menunjukkan bahwa pengeluaran untuk konsumsi akan meningkat sejalan dengan pertambahan pendapatan. Nantinya pengeluaran tersebut akan menjadi pendapatan pada periode berikutnya.82 Penentuan pendapatan dalam bentuknya yang paling sederhana diperlihatkan pada Gambar 10-1 di mana pendapatan diletakan pada sumbu horizontal dan pengeluaran pada sumbu vertikal. Dengan demikian. Untuk menjaga tingkat ekuilibrium. pengeluaran total akan melampaui tingkat output periode berjalan (yakni. Dengan menambahkan I ke C secara vertikal. nilai uang menurun dan tingkat harga meningkat Dasar-dasar Keuangan Publik . jika tingkat output atau pendapatan berada di bawah A. pengeluaran total tidak akan memadai untuk membeli jumlah output tersebut (yakni garis C+I terletak di bawah garis 450). nilai uang meningkat dan tingkat harga menurun. Pengeluaran untuk investasi. dianggap konstan dan independen terhadap tingkat pendapatan. Pendapatan ekuilibrium tercapai apabila pendapatan yang diterima pada suatu periode sama dengan jumlah pengeluaran. C+I terletak di atas garis 450). yakni I. pengeluaran harus sama dengan pendapatan sehingga tabungan (atau pendapatan dikurangi konsumsi) harus tertutupi oleh investasi. kita akan memperoleh garis pengeluaran total Y=C+I.

2 Penentuan Pendapatan dengan Pengeluaran Publik Pengeluaran publik Pertama-tama kita masukkan unsur pengeluaran publik G ke dalam sistem kita. Pecahan 1/(1-c) adalah apa yang disebut sebagai pengganda (multiplier). Dengan demikian diperoleh garis pengeluaran total Y=C+I+G. sedangkan kecenderungan marjinal untuk mengkonsumsi c menunjukkan kemiringannya. Penentuan Pendapatan dengan Anggaran Sekarang kita masukkan pengeluaran dan penerimaan publik ke dalam sistem tersebut guna melihat bagaimana tingkat pendapatan dipengaruhi oleh berbagai kebijakan anggaran. sementara persamaan (2) menggambarkan fungsi konsumsi. Gambar 10. maka penggandanya adalah 5. Pada Tabel 10-1. persamaan (1) menunjukkan bahwa pendapatan total sama dengan jumlah konsumsi dan investasi. Artinya pengeluaran publik tersebut menaikkan output dari A Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika c=0. dan jika a=$50 milyar dan I=$100 milyar. dan jumlah konstanta-konstanta (a+I) adalah jumlah yang digandakan (multiplicand). Seperti terlihat pada Gambar 10-2. Konstanta a adalah perpotongan garis C pada Gambar 10-1 dengan sumbu vertikal.8. maka pendapatan Y=$750 milyar [($50+$100)*5]. persamaan (3) diperoleh dengan mensubstitusi persamaan (2) ke dalam persamaan (1).83 sehingga akhirnya menggeser tingkat output dan pendapatan meningkat sampai ke A.

Konsumsi menurun sebesar pajak yang dikenakan. kenaikan G sebesat $1 milyar akan menaikkan pendapatan ekuilibrium sebesar $5 milyar. Konsumen yang menerima pendapatan A setelah membayar pajak akan mempunyai pendapatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pengeluaran publik G akan menjadi bagian dari konstanta yang digandakan.8. pengeluaran publik bisa digunakan untuk mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Jika pendapatan nasional masih berada di bawah tingkat pendapatan pada kesempatan kerja penuh. menunjukkan kenaikan pendapatan yang ditimbulkan. Persamaan (4) dan (5) menyatakan kembali persamaan dasar. Dengan menambahkan I dan C. seperti diperlihatkan juga pada persamaan (4) sampai (7) dari Tabel 10-1. Persamaan (7) yang diperoleh dengan menyajikan persamaan (6) dalam bentuk diferensial. sedangkan persamaan (6) menghasilkan formula pendapatan yang baru. Gambar 10-3 Penentuan Pendapatan dengan Pajak Lump-Sum Pajak Lump-Sum Selanjutnya mari kita perhatikan peranan pengenaan pajak dalam bentuk lumpsum. fungsi konsumsi merosot dari C ke C’. kita mendapatkan C+I dan tingkat pendapatan sebesar A. Jika C=0. Sekarang apabila terhadap penerimaan dikenakan pajak. C'+I. masuknya pengeluaran publik bisa digunakan untuk menaikkan pendapatan.84 menjadi B. tanpa memperdulikan pendapatan. Dengan demikian. Perpotongan garis pengeluaran yang baru. yakni pajak dalam suatu jumlah yang tetap. dengan garis 450 menjadi lebih rendah dan pendapatan menurun dari A ke D.

yang menunjukkan bahwa kenaikan R akan bersifat ekspansioner (memperbesar pendapatan). tetapi mengurangi jumlah yang digandakan. yang tentunya berbeda dari dari pembelian pemerintah (G). dapat dianggap sebagai pajak negatif dalam analisis ini. Peranan Tunjangan Sosial (transfer) Tunjangan pemerintah atau pembayaran transfer (tranfer payments). kemiringan fungsi konsumsilah dan bukan titik perpotongannya yang menurun. pengaruh kenaikan pajak terhadap penurunan tingkat pendapatan tidak sebesar penurunan yang diakibatkan oleh berkurangnya pengeluaran publik. Karena penambahan pendapatan akibat pengurangan pajak dalam konsumsi hanya sebesar c*ΔT saja. Karena itu. Alasannya sama. sebagaimana halnya dengan pajak lump-sum. tunjangan atau R dapat disubstitusikan terhadap I pada persamaan (11) tetapi dengan tanda yang terbalik. Pajak bertambah sejalan dengan bertambahnya pendapatan. Dengan demikian baik perubahan pajak maupun perubahan pengeluaran publik bisa digunakan untuk menyesuaikan tingkat pengeluaran yang tentunya juga mempengaruhi tingkat pendapatan serta kesempatan kerja. Fungsi konsumsi ditentukan melalui C'=a+c(Y-T). Dengan demikian. kita melihat kaitan pajak dengan pendapatan. Persamaan (11) diperoleh dengan mengubah persamaan (10) ke dalam bentuk diferensial dan melakukan pemecahan untuk ΔT. Sekarang kita harus beralih ke kasus yang lebih realistis dimana penerimaan pemerintah berasal dari pajak penghasilan bukan dari pajak lump-sum.85 disposabel sebesar D. pajak dimasukkan ke fungsi konsumsi sementara kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi c merupakan pendapatan disposabel. Pengenaan pajak semacam ini tidak menggeser fungsi konsumsi secara paralel. yaitu sebagian dari kenaikan pendapatan disposabel yang berasal dari tunjangan akan tercemin dalam kenaikan tabungan dan bukan dalam konsumsi. Pada persamaan (10) kita melihat bagaimana pajak memperkecil jumlah yang digandakan. Dengan alasan yang sama. kenaikan pendapatan akibat turunnya pajak untuk setiap dollar lebih rumit dibanding kenaikan pendapatan akibat tambahan pengeluaran publik. Pada persamaan (9). di mana C adalah fungsi konsumsi sebelum penurunan pajak dan C” setelah penurunan pajak. Dalam tabel 10-1 terlihat. Akan tetapi disinipun perubahan pendapatan yang ditimbulkannya lebih kecil daripada yang ditimbulkan oleh kenaikan G. Sistem dengan Pajak Penghasilan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pengaruh pungutan pajak lump-sum diperlihatkan pada persamaan (8) sampai (11) dari Tabel 10-1. Agar pendapatan meningkat maka diperlukan penurunan tarif pajak t seperti yang diperlihatkan pada Gambar 10-4. atau pendapatan setelah pajak. Persamaan tersebut menunjukkan konsumsi sebelum pengenaan pajak sekaligus dengan penurunan pendapatan disposabel karena adanya pajak. Sisanya tercermin dalam kenaikan tabungan. dimana pendapatan menurun A ke E. tetapi bergerak ke bawah dengan tetap berpusat pada titik potong dengan sumbu vertikal yang sama. Pajak lump-sum tidak mempengaruhi faktor pengganda.

Karena itu bisa meniadakan seluruh efek ekspansioner yang ditimbulkan oleh kenaikan G.8. Perhatikan bahwa cara memperhitungkan pajak ke dalam fungsi konsumsi pada persamaan (13) berbeda dengan cara memperhitungkan pajak lump-sum pada persamaan (9). tarif pajak t=0. tetapi hanya satu banding satu. kita perlu mempertimbangkan perubahan anggaran berimbang seperti ΔG=ΔT.27. karena pengenaan pajak penghasilan dalam hal ini menurunkan kecenderungan marjinal untuk mengkonsumsi pendapatan sebelum pajak. naik pulalah penerimaan pajak. Kiranya hal ini cukup masuk akal karena T=tY. Karena itu pengaruh pajak penghasilan dapat menghambat keefektifan dari kenaikan pengeluaran publik. Kenaikan berimbang dalam pelaksanaan anggaran mempunyai efek ekspansioner. Dengan kata lain.27 milyar. Penambahan G sebesar $1 milyar hanya akan menaikkan Y sebesar $2. Dasar-dasar Keuangan Publik . sekiranya c=0. Jadi.86 Gambar 10-4 Pengaruh Pajak Penghasilan Proses ini diperlihatkan pada persamaan (12) sampai (18) dari Tabel 10-1. Dengan naiknya pendapatan. Kenaikan Anggaran Berimbang Setelah menyadari bahwa kenaikan pengeluaran adalah bersifat ekspansioner sementara kenaikan pajak bersifat restriktif (menurunkan pendapatan).3 akan menurunkan pengganda dari 5 menjadi 2. sehingga memperkecil pendapatan disposabel C. hal ini memperkecil faktor pengganda. Artinya tingkat penerimaan publik bertambah sebesar kenaikan pengeluaran publik. Pengganda dalam anggaran berimbang sama dengan 1. Efek pengganda yang melipatgandakan pendapatan tidak berlaku.

t)Y (a + I) 1 – c(1-t) (1) (2) (3) Sistem dengan pembelian pemerintah Y = C = Y = ΔY Sistem dengan pajak lump-sum = (4) (5) (6) (7) Y C Y ΔY = = = = (8) (9) (10) (11) Sistem dengan pajak penghasilan Y C Y = = = (12) (13) (14) Sistem dengan pembelian pemerintah dan pajak penghasilan Y = C+I+G C = a + c (1 .t)Y Y = a + I + G) 1 – c(1-t) ΔY = ΔG 1 – c(1-t) (15) (16) (17) (18) Jenis-Jenis lnflasi Sejauh ini kita mengasumsikan bahwa tingkat harga konstan sehingga dampak kebijakan angaran terhadap tingkat permintaan agregat tercermin pada perubahan output dan kesempatan kerja. Kenaikan pengeluaran agregat mungkin akan tercermin pada kenaikan harga dan bukan pada kenaikan output. Pembangunan yang mengatasi pengangguran besarbesaran dan penggunaan modal yang sangat rendah tidaklah mampu untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi mungkin bukan demikian halnya.cT) 1–c c*ΔT 1–c C+I a + c (1 .87 Tabel 10-1: Penentuan Pendapatan dan Faktor Pengganda Fiskal (Investasi = Konstan) Sistem tanpa sektor publik Y C Y = = = C+I a + cY (a + I) 1–c C+I+G a + cY (a + I + G) 1–c ΔG 1–c C+I a + c ( Y – T) (a + I .

akan mendorong kenaikan harga dan selanjutnya mengakibatkan kenaikan upah. Permintaan agregat meningkat dan akibatnya terjadilah inflasi. Inflasi yang Ditimbulkan Sektor Swasta Proses yang sama juga bisa terjadi jika pihak swasta mengakibatkan perubahan pemintaan. Mari kita ubah model tersebut ke dalam bentuk yang dinamis dan kita identifikasi periode pada saat mana pengeluaran dilakukan atau pendapatan diperoleh. yaitu sektor anggaran pemerintah dan sektor swasta. Kedua aspek ini akan kita pertimbangkan kemudian.Pull Inflation) Inflasi yang timbul karena meningkatnya pemintaan bisa disorot dari dua sektor. dan dalam keadaan demikian kenaikan tingkat pengeluaran cenderung tercermin pada kenaikan harga. Dalam keadaan demikian kebijakan stabilisasi diperlukan untuk mengatasi inflasi tersebut. misalnya berupa kenaikan investasi atau pergeseran fungsi konsumsi ke arah atas. seluruh kenaikan pengeluaran menyebabkan penurunan nilai uang yang tercermin pada kenaikan harga. Kita akan memulainya dengan situasi ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh dengan anggaran yang berimbang. Anggaplah perekonomian berada pada tingkat tanpa pengangguran sedangkan pengeluaran publik akan ditingkatkan tanpa menaikkan pajak. jika disokong oleh perluasan permintaan. Selanjutnya kita mengasumsikan bahwa pemerintah menaikkan pengeluaran publik tanpa menaikkan pungutan pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . Di sini kita melihat bahwa kebijakan yang salah bisa menjadi penyebab inflasi. Di pihak lain. • lnflasi yang Diakibatkan Anggaran Pertama-tama mari kita bayangkan suatu keadaan di mana kebijakan anggaran bisa menjadi penyebab inflasi. Karena itu diperlukan kebijakan fiskal yang cermat untuk menghindarkan inflasi sambil menanggulangi pengangguran. lnflasi Akibat Permintaan (Demand . sehingga akan menimbulkan inflasi yang berkelanjutan. Pada kondisi perekonomian berada dalam kesempatan kerja penuh. Dan sekali lagi pemerintah melalui instrumen kebijakan fiskal harus mengambil sikap apakah akan membiarkan atau menekan kenaikan harga-harga tersebut. dengan kata lain pengeluaran tambahan tersebut dibiayai dengan anggaran yang defisit. seperti kenaikan harga minyak. Kenaikan biaya secara tiba-tiba ini. Untuk memahami bagaimana inflasi tersebut berlangsung kita bisa menyimak kembali model penentuan pendapatan yang paling sederhana di mana kita hanya memperhitungkan konsumsi dan pengeluaran publik. inflasi bisa juga timbul karena hal-hal lain di luar kebijakan stabilisasi. • lnflasi yang Diakibatkan Biaya (Cost-Push Inflation) Sekarang kita akan beralih pada suatu situasi di mana gejolak awal diakibatkan oleh kenaikan biaya secara tiba-tiba oleh faktor luar. dan diasumsikan bahwa konsumsi sama dengan pendapatan disposable.88 menyediakan output yang dibutuhkan secara cepat.

Tetapi kebijakan yang dianggap layak cenderung merupakan hal yang dapat di pekirakan sebelumnya. Perdebatan mengenai efektivitas kebijakan fiskal dibanding kebijakan moneter telah menumbuhkan pengakuan bahwa kedua alat tersebut bisa efektif dan harus dipadukan dalam proporsi yang tepat. Anggaplah semua pelaku ekonomi memperlihatkan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan ekspansioner. Di sini tidak diperlukan kebijakan tertentu untuk mempertahankan kesempatan kerja penuh. Teorema tentang Ketidakefektitan Kebijakan Jika harga-harga dan upah secara menyeluruh bersifat fleksibel. mereka berasumsi semua harga dan upah akan naik. analisis makro sampai saat ini cenderung mengarah pada suatu konsensus tentang bagaimana kebijakan harus dilaksanakan dalam keadaan yang serba sulit tersebut. Dalam perekonomian semacam itu. perekonomian akan bergerak ke arah ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh. Harga dan upah akan bergerak bersama-sama sehingga nilai riil dari semua faktor pendapatan tidak berubah . Pengangguran memang akan ada. Hal ini tidak efektif. Sebagai reaksi. termasuk tingkat kesempatan kerja. nilai riil dari biaya pekerja tidak akan berubah. Anggaplah misalnya. tidak akan terpengaruh oleh kebijakan tersebut. Kebijakan akan dapat mempengaruhi sistem dalam nilai riil hanya jika tindakan tersebut tidak dapat duga dan karena itu itu tidak diantisipasi oleh pelaku perekonomian. Hasilnya. jumlah upah dinaikkan berkat desakan tertentu dari serikat pekerja sedangkan produsen belum mengantisipasi kenaikan biaya ini atau karena itu belum menaikkan harga. yaitu bagi mereka yang sedang mencari kerja dan sedang pindah kerja. misalnya dengan menaikkan jumlah pengeluaran publik untuk mendorong kenaikan harga.89 Pengharapan yang Rasional Banyak alasan mengapa pelaksanaan kebijakan stabilisasi merupakan tugas yang pelik.sama halnya dengan ilustrasi terdahulu mengenai tingkat inflasi yang mengarah ke keadaan ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh. Dapatkah ini ditanggulangi dengan kebijakan yang ekspansioner? Jawabnya tergantung pada apa yang terjadi dengan pengharapan. Pemikiran ini didasarkan pada asumsi (1) bahwa perubahan kebijakan diantisipasikan dan (2) bahwa antisipasi tersebut mendorong dilakukannya penyesuaian sesegera mungkin tanpa adanya kesenjangan dalam sistem Dasar-dasar Keuangan Publik . Nilai riil dari biaya pekerja meningkat dan pada akhirnya terjadilah pengangguran. semua perubahan yang diharapkan langsung disesuaikan terhadap ekuilibrium dan sistem itu tidak mungkin berubah dari keadaan tersebut kecuali jika terjadi perubahan mendadak yang tidak diharapkan atau bersifat acak. Jika pemerintah mengumumkan tekadnya untuk menaikkan pengeluaran publik pada tingkat tertentu. tetapi pada tingkat yang wajar. semua pelaku ekonomi akan mengharapkan harga untuk naik pada tingkat yang sama. sedangkan kebijakan yang bersifat acak belum tentu merupakan suatu tindakan yang tepat. Variabel-variabel riil lainnya dari sistem tersebut. Meskipun demikian.

Dalam dunia nyata. dan tambahan pembayaran bunga mungkin juga akan dibiayai dengan pinjaman lain. keseimbangan menurut Paham Ricardo ini (Ricardian Equivalence). undang-undang pajak masa mendatang dan distribusi beban mereka tidaklah pasti. tidak perlu rasanya mempersoalkan metode mana yang dipilih. juga dilandasi oleh asumsi yang tidak realistik. Karena itu. Pada kedua kasus tersebut terjadi pengurangan nilai bersih dalam jumlah yamg sama. meskipun sukar. Lebih jauh lagi. bauran kebijakan yang semestinya. Nilai sekarang itu sama dengan jumlah yang harus dibayar sekarang jika kenaikan anggaran dibiayai dengan pajak. maka teorema ini tidak bisa dianggap sebagai suatu penilaian yang realistis atas keampuhan dari kebijakan. Pemberi pinjaman dan pembayar pajak bukanlah orang ymg sama. Jika antisipasi itu tidak sempurna atau jika kesenjangan terjadi. Kenaikan pengeluaran publik lebih ekspansioner jika dibiayai dengan pinjaman daripada dengan pajak. Tetapi. Karena ketidaksempumaan kita untuk memperkirakan masa mendatang dan dengan adanya keterpakuan dan ketidakluwesan. Karena itu. akan bereaksi dengan cara yang sama tanpa memperdulikan apa pun metode pembiayaan yang dipilih. Hampir tak bisa dibayangkan bahwa para konsumen akan mengantisipasikan konsekuensi masa mendatang dari pembiayaan dari pinjaman yang dilaksanakan saat ini. Pendekatan dengan pengharapan yang rasional mempertanyakan apakah memang demikian kenyataannya? Individu yang rasional. Keseimbangan Menurut Paham Ricardo Dalil kedua mengenai pengharapan yang rasional dilandaskan pada pilihan antara pembiayaan dengan pajak atau pembiayaan dengan pinjaman.90 perekonomian. Efek crowding out terhadap investasi (dengan mengasumsikan jumlah uang yang beredar konstan) mengurangi efek ekspansioner dari pembiayaan dengan anggaran defisit. Tentu saja antisipasi mengenai pembahasan kebijakan serta kredibilitas dari pengumuman mengenai kebijakan yang diambil akan mempercepat tercapainya hasil yang diharapkan kebijakan tersebut dan memperbesar keefektifannya. Karena itu teorema yang menyatakan ketidakmungkinan di atas akan tergantung pada validitas empiris dari asumsi (1) dan (2). Dampak penurunan bukanlah merupakan masalah. jika berada dalam posisi yang sama pada kedua kasus tersebut. Dasar-dasar Keuangan Publik . menyadari bahwa pada masa mendatang pajak pasti dinaikkan guna membayar beban bunga dan tambahan hutang. begitu juga halnya dengan. tetapi tetap lebih besar jika dibanding dengan pembiayaan melalui pajak. pembiayan dengan pajak atau pinjaman mempunyai efek ekonomi yang seimbang . tindakan ekspansioner bisa mendorong kenaikan pemintaan melebihi kenaikan biaya sehingga memperbesar kesempatan kerja. jika dihadapkan pada penambahan anggaran yang dibiayai secara defisit. yang mengabadikan nama seorang ekonom klasik yang terkenal yaitu Bapak David Ricardo. Dia akan menghitung nilai sekarang dari kenaikan pajak masa mendatang tersebut. nilai dari hutang di masa mendatang mungkin juga menurun karena inflasi. kebijakan stabilisasi. namun bisa efektif.yaitu bahwa konsumen yang rasional. Pada pembahasan sebelumnya kita telah melihat bahwa kedua kebijakan itu berbeda.

Dasar-dasar Keuangan Publik .91 Semua faktor ini menunjukkan bahwa mustahil kiranya setiap orang akan memberikan reaksi yang sama bagi pembiayaan dengan pajak dan pembiayaan dengan pinjaman sehingga tidak ada pengenaan efek kebijakan terhadap tingkat permintaan agregat atau terhadap pembagian output di antara konsumsi dan investasi. Sebagai contoh nyata. bukan tingkat tabungan yang tinggi seperti yang dihipotesiskan oleh pengharapan yang rasional. defisit besar-besaran pada tahun 1980-an di AS justru disertai oleh tingkat tabungan perorangan yang rendah.

sektor publik memegang peranan penting terhadap semua unsur pembangunan ini. Gambaran semacam itu yang terdapat baik pada negara berpendapatan tinggi maupun rendah. sektor publik cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. Namun di luar itu. Pembentukan Modal Pembangunan Persyaratan fundamental untuk pembangunan ekonomi adalah tingkat pengadaan modal pembangunan yang seimbang dengan pertambahan penduduk. Dasar-dasar Keuangan Publik . Unsur-Unsur Pembangunan Persyaratan yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi di negaranegara berpendapatan rendah termasuk dalam rangka kelanjutan pertumbuhan perekonomiannya sama halnya seperti persyaratan yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di negara yang relatif sudah maju. Untuk mencapai pertumbuhan. tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab dan akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah. tidak cukup hanya dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan.92 B A B XI PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN K euangan publik memainkan peranan penting dalam perekonomian negara. Sejumlah kesulitan yang mengganggu kemajuan ekonomi suatu negara harus dipecahkan oleh sektor publik. namun masalah kelembagaan dan sosial yang dihadapi oleh suatu negara dapat memperpelik dan membatasi tugas kewenangan dalam menetapkan kebijakan anggaran dan stabilisasi. Besarnya Sektor publik dan Pendapatan per Kapita Sebagaimana telah di ulas pada bagian terdahulu mengenai perkembangan sektor publik di negara-negara maju. Dalam hal ini. masih banyak persyaratan lain yang diperlukan. Karena itulah masalah-masalah pembiayaan pembangunan perlu dibicarakan secara khusus dan terpisah.

pemerintah hanya perlu berperan sebagai pengorganisasi bagi pemanfaatan sumber daya. Pada tahap-tahap awal pembangunan. Bisa saja hal itu berupa investasi di sektor publik dan swasta. Terdapat berbagai cara penggunaan sumber daya untuk meningkatkan produktivitas. Pada perekonomian yang dikendalikan secara terpusat di mana badan usaha milik negara memegang dominasi. mobilisasi sumber daya yang terbengkalai pasti masih memungkinkan. Akan tetapi. pembentukan modal pembangunan meliputi investasi pada sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (training) seperti halnya investasi dalam bentuk fisik. Untuk sementara waktu kita akan mengabaikan perencanaan masalah investasi dan memusatkan perhatian pada dari mana kita akan memperoleh sumber daya tambahan untuk investasi tersebut. pengalihan ini dapat dilakukan dengan menahan sebagian hasil pengembalian (returns) yang dibayar kepada faktor produksi sehingga pembayaran lebih kecil Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam kondisi seperti ini. tak bisa dipungkiri bahwa salah satu masalah besar adalah bagaimana mengalihkan sebagian konsumsi periode berjalan untuk digunakan sebagai sumber daya pembangunan. dan walau bagaimanapun juga bantuan tersebut tidak akan diperoleh tanpa adanya usaha pendukung dari negara bersangkutan. prioritas akan selalu berubah. maka konsumsi periode berjalan harus dikurangi agar sumber daya bagi investasi tersedia. Para investor swasta dari luar negeri. khususnya investasi pemerintah dalam bentuk infrastruktur. Sampai pada tingkat tertentu. sangatlah penting karena hal itu menjadi kerangka persiapan bagi investasi manufaktur pada tahap berikutnya. memerlukan investasi yang memadai dalam bentuk infrastruktur dan bantuan pemerintah baru akan diberikan jika telah ada rencana pembangunan yang dirumuskan dengan baik. irigasi. Lebih jauh lagi.93 Pembentukan modal tersebut harus didefinisikan secara luas sehingga mencakup semua pengeluaran yang sifatnya menaikkan produktivitas. demikian juga dengan bauran investasi yang optimum. dan perpaduan berbagai cara tersebut harus ditentukan dalam proses perencanaan pengeluaran dan sumber daya. Kemungkinan lain adalah dengan mengusahakan sumber daya investasi dari luar negeri dalam bentuk pinjaman dan bantuan pemerintah atau sebagai investasi swasta. Jika sumber daya yang terbengkalai tidak bisa dimanfaatkan atau jika sumber daya tambahan tidak dapat diperoleh dari luar negeri. banyak negara berpendapatan rendah mempunyai sedemikian banyak tenaga kerja yang terbengkalai dan lapangan kerja bagi mereka bisa tersedia hanya dengan usaha pembangunan yang sangat sederhana seperti pembangunan drainase. Misalnya. jalan. Lebih jauh lagi. sumber modal pembangunan semacam ini mempunyai keterbatasan tersendiri dan penyediaan lapangan kerja bagi para pengangguran mungkin akan memerlukan investasi pendukung tertentu. semua itu tentunya tidak akan mencukupi. entah itu oleh pemerintah (di negara-negara sosialis) atau oleh swasta (dalam perekonomian pasar bebas). dan bendungan. Tetapi dilain pihak. sebagaimana halnya dengan investor domestik. Hal ini akan mencakup ketentuan mengenai peningkatan investasi domestik yang sebagian besar dibiayai dengan pajak. Selanjutnya.

tetapi tidak terlihat adanya suatu hubungan yang mencolok di dalam kelompok tersebut. Rasio pada negara-negara di Asia dan Afrika dengan pendapatan per kapita yang serupa cenderung lebih tinggi. perpajakan akan sangat berperan untuk memberikan insentif bagi tabungan atau disinsentif bagi konsumsi barang-barang mewah. Di negara-negara Amerika Latin rasio umumnya adalah sekitar 14 persen. Usaha terakhir ini sangat penting bagi para penabung kecil karena bagi mereka umumnya tidak tersedia sarana penabungan perorangan selain daripada meminjamkannya dengan risiko tinggi atau dengan menukarnya dengan barang berharga seperti logam mulia. pembentukan modal dari hasil internal pasti akan berasal dari tabungan pemerintah atau swasta. jika keadaan cukup mendukung. Dalam kadar tertentu. tidak mungkin akan cukup. Jika demikian. Dasar-dasar Keuangan Publik . bagaimana kita dapat menilai kemampuan membayar pajak dari suatu negara dan bagaimana kelancaran pembayaran pajak dapat diukur? Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa besarnya sektor publik di negaranegara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita.94 dari hasil produk marjinal. Di samping itu pemerintah juga bisa berperan dalam penyediaan dan pembentukan lembaga keuangan yang cocok guna menarik tabungan rumah tangga dan menggunakannya secara produktif. Dalam hal ini. yaitu berkisar dari 8 sampai 18 persen. khususnya pada tahap awal pembangunan. Tabungan perusahaan juga dapat dirangsang melalui sistem penarikan pajak laba usaha yang mendorong ditahannya dan diinvestasikannya kembali laba usaha. kebijakan perpajakan harus dipertimbangkan secara bersama-sama dengan aspek-aspek lain dari kebijakan pembangunan. kenaikan tingkat tabungan bisa terjadi secara sukarela di sektor swasta. Kebijakan Struktur Perpajakan Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Walaupun merupakan suatu hal yang esensial untuk mengetahui berapa tingkat penerimaan pajak yang diperlukan guna menjamin tingkat pertumbuhan tertentu. Pola yang sama juga akan kita jumpai sehubungan dengan rasio penerimaan pajak terhadap GNP. Di sinilah diperlukan suatu usaha pemerintah untuk menjaga stabilitas moneter sehingga kebiasaan menabung tidak diredupkan oleh inflasi yang tak berkesudahan. Dalam kondisi ini. meskipun bermanfaat dan penting. Tetapi pada perekonomian yang didesentralisir. tetapi hal itu tidak bisa dianggap sebagai variabel dependen di dalam sistem tersebut yang berubah secara otomatis sesuai dengan pengenaan pajak yang diperlukan. dan di beberapa negara sampai 8 persen. Tabungan swasta secara sukarela. Pada kenyataannya persentase sektor publik jauh lebih kecil pada negara-negara berpendapatan rendah sebagai suatu kelompok. namun kelayakan tingkat pengenaan pajak itu sendiri merupakan faktor penting yang harus diperhitungkan dalam menentukan target pertumbuhan. tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP. Sementara rasio semacam itu di negara-negara maju adalah 40 persen atau lebih. Rasio penerimaan pajak terhadap GNP di negara terbelakang cenderung sangat rendah.

pengelolaan pajak penghasilan akan jauh lebih sulit jika semua lapangan kerja terdapat pada perusahaan-perusahaan kecil.95 Mengapa upaya perpajakan (tax effort) di negara-negara berkembang sedemikian rendah. Karena alasan ini dan alasan-alasan lainnya. Di pihak lain. dan benarkah rasio yang rendah itu pada kenyataannya menandakan upaya perpajakan yang rendah? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita mengartikan upaya perpajakan itu. pengenaan pajak sangat sederhana pada perekonomiam yang sangat terbuka di mana impor dan ekspor berlangsung melalui pelabuhan-pelabuhan utama dan terbuka bagi petugas fiskus. dan survai pertanahan belum memadai untuk menghasilkan penilaian yang semestinya. sektor pertanian belum terukur dengan nilai mata uang. hanya bisa diandalkan untuk sementara waktu saja. Lembaga pemberi pinjaman internasional mungkin saja mensyaratkan agar bantuan yang diberikan dibarengi dengan upaya perpajakan yang sepadan dengan negara penerima bantuan. Dengan demikian lembaga itu mungkin akan menuntut agar pada negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi terdapat rasio penerimaan pajak yang tinggi guna menunjukkan keselarasannya dengan upaya perpajakan. Negara berpendapatan rendah menghadapi keterbatasan dalam mentransfer sumber daya untuk digunakan pemerintah. adanya penanganan pajak akan selalu berkaitan dengan struktur perekonomian suatu negara. Sekiranya dana pemerintah tidak dimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan hidup yang samasama mendasar (misalnya program kesehatan) maka penggunaan dana tersebut akan menimbulkan beban berat yang tidak sepatutnya. demikian juga halnya dengan penetapan kuota pajak bagi para petugas pajak. sandang. Pemberian jasa pungut pajak (tax farming). Tetapi asumsi ini tidak berlaku jika distribusi pendapatan sangat timpang yang mana akan mengakibatkan besarnya konsumsi barang-barang mewah. seperti pangan. Terlepas dari tingkat dan distribusi pendapatan. Pajak produk tidak bisa dikenakan pada tingkat pengecer jika perusahaan pengecer kecil dan tidak permanen. Meskipun demikian. dengan cara-cara semacam ini pun tidak akan tercipta struktur perpajakan yang mapan dan adil. Akhirnya. dan papan. dan hal ini sulit tercapai jika perusahaan-perusahaan yang ada berukuran kecil dan tidak stabil. Pengenaan pajak tanah yang efektif sukar dilaksanakan jika hasil pangannya dikonsumsi sendiri. Keadaan ini sangat perlu diperhatikan sebagai sumber penerimaan yang potensial. ukuran komparatif atas upaya perpajakan dapat diperoleh dengan membandingkan rasio aktual dari penerimaam terhadap GNP pada suatu negara tertentu dengan rasio yang Dasar-dasar Keuangan Publik . kelayakan pengenaan pajak tergantung juga pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Penarikan pajak laba tidaklah layak sebelum praktek akuntansi mencapai standar minimal. dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. yaitu sistem di mana kepada para pemungut pajak diberikan persentase tertentu sebagai insentif. semua pendapatan pribadi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. maka penilaian yang realistis atas upaya perpajakan (tax effort) harus memperhitungkan penanganan pajak (tax handles) yang tersedia untuk itu. dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. Dengan demikian. Pada tingkat pendapatan per kapita yang sangat rendah. Dengan demikian.

dan pembayaran akhir sangat banyak yang terlambat. pajak penghasilan usaha sering kali lebih mirip dengan pajak penjualan daripada dengan pajak laba sebagaimana kita temukan di negara-negara maju dan sebagainya. khususnya di sektor pertanian. Di satu sisi hal ini akan mencerminkan tingkat pembebasan pajak yang ditetapkan relatif tinggi jika dikaitkan dengan pendapatan rata-rata.96 seharusnya diperoleh. Karyawan perusahaan kecil dan sebagian besar masyarakat yang mengelola usaha sendiri. Penggunaan sistem pemungutan pajak oleh orang lain (witholding) bisa mempercepat pemungutan pajak dan hal itu sangat baik. Pajak akan berperan besar terhadap perdagangan luar negeri (terutama bea) dan pajak atas produksi dan penjualan domestik untuk negara-negara berpendapatan rendah. Perbedaan juga akan timbul sebagai akibat tahap-tahap pembangunan ekonomi. Penghitungan pajak oleh para petugas sering kali didasarkan pada negoisasi dan bukan ditetapkan secara objektif. Pajak Penghasilan Perorangan Pajak penghasilan perorangan tidak mungkin dan tidak dapat diharapkan untuk menduduki posisi sentral dalam struktur perpajakan pada Negara sedang berkembang dan begitu juga umumnya di negara-negara maju. tetapi penerapannya sangat terbatas pada jenis upah dan gaji tertentu saja sehingga lebih Dasar-dasar Keuangan Publik . pajak penghasilan harus ditata dengan baik sejak dini dan ditingkatkan selama berlangsungnya pembangunan. tetapi hal itu juga merupakan akibat dari upaya pengelolaan yang tidak aktif. Selain itu terdapat fenomena menarik yang menyatakan bahwa pajak yang sering diklasifikasikan sebagai pajak penghasilan di negara miskin sering kali jauh berbeda dari pajak penghasilan perorangan di negara maju. Sejalan dengan itu. dan kelompok perusahaan domestik besar yang jumlahnya sangat kecil. Pemungutan pajak penghasilan atas modal bahkan lebih sukar lagi. peranan pajak penghasilan pun makin meningkat relatif terhadap bea demikian juga terhadap pajak penjualan dan produksi domestik. Meskipun demikian. dengan melihat respon pada umumnya terhadap penanganan yang tersedia. Pajak ini bersifat elastis terhadap pertumbuhan GNP dan karena itu bisa menjadi sumber penerimaan yang cukup besar untuk pembiayaan pembangunan. perusahaan asing. Peranan pajak upah juga makin penting dengan naiknya pendapatan per kapita. Kontribusi pajak penghasilan perorangan di negara-negara Amerika Latin lazimnya berkisar 20 persen dan karena itu merupakan bagian yang besar dari penerimaan pemerintah. Prinsip penghitungan pajak sendiri (self assessment) seperti diterapkan di Indonesia tidak berjalan lancar. pada umumnya masih di luar jangkauan pajak penghasilan. dan sejumlah ciri struktur perpajakan yang lazim ditemukan dalam kaitannya dengan pendapatan per kapita dapat diamati. Dengan naiknya pendapatan per kapita. Pengembangan Struktur Perpajakan Masalah perencanaan dan pengelolaan perpajakan akan berbeda-beda sesuai dengan struktur perekonomian suatu negara dan sikap masyarakat terhadap perpajakan.

namun bisa dikatakan bahwa pendapatan kena pajak akan benar-benar dicapai bila peraturan perpajakan dijalankan secara ketat. Hal itu. Caranya adalah dengan menaksir marjin laba atas penjualan di mana terdapat marjin yang beragam untuk berbagai industri. Inilah prasyarat utama yang kerap kali sukar untuk dipenuhi oleh negara-negara berkembang dalam konteks budaya dan politik. dan hukuman yang lebih tinggi bagi pembayaran yang tertunda semuanya bermanfaat Namun semua itu tidak akan mencukupi kecuali jika badan pengadilan mendukung penuh penegakan peraturan perpajakan. misalnya telah dialami Cili dan Brasil selama bertahun-tahun. yang mana akan mengubah bentuk pajak laba menjadi Dasar-dasar Keuangan Publik . Meskipun tidak tersedia estimasi yang andal. Lebih jauh lagi.97 mudah dilaksanakan. Tidak jarang negara-negara berkembang menghadapi inflasi puluhan bahkan ratusan persen per tahun. Guna menghadapinya. Masalah keuntungan modal. Bila akuntansi perusahaan belum begitu maju sehingga belum bisa mengukur laba dengan cukup akurat. Keterlambatan pembayaran pajak atas pendapatan modal merupakan keuntungan besar khususnya jika hukumannya tidak sebanding dengan suku bunga dan nilai hutang pajak tersebut semakin menurun akibat inflasi. Karena itu. metode lain harus digunakan. pajak atas keuntungan modal bagi real estate. pengelolaan pajak penghasilan diperparah oleh masalah inflasi. yaitu bangunan dan tanah. sangat penting bagi negara-negara berkembang di mana urbanisasi yang pesat akan menaikan nilai tanah sebagaimana dialami Amerika Serikat pada akhir abad sembilan belas sesuai dengan pengamatan Henry George dan juga terjadi di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya. Banyak negara menggunakan taksiran dan bukan pendekatan langsung guna menentukan laba. tetapi peredaran inflasi secara melekat melalui pajak penghasilan progresif akan melemah. Metode ini. dikelola sebagai suatu jenis pajak tersendiri. pengurangan keterlambatan penafsiran. diharuskannya perusahaan dan bank menyampaikan informasi tentang pembayaran bunga dan pembayaran deviden. Akibatnya. komputerisasi dan penanganan terpusat atas surat pemberitahuan pajak. penjatahan jumlah wajib pajak bagi setiap petugas (khususnya wajib pajak berpendapatan tinggi). badan perpajakan bisa menaikkan tingkat pembebasan dan kelompok tarif secara otomatis setiap tahunnya sejalan dengan naiknya harga-harga. terutama dalam kaitannya dengan tanah dan bangunan. sehingga hubungan antara tarif marjinal dan pendapatan riil dipertahankan konstan. Pajak Penghasilan Perusahaan Masalah yang pelik akan timbul dalam pengenaan pajak penghasilan perusahaan. Tidak ada satu obat mujarab untuk mengatasi kesulitan ini kecuali dengan menerapkan wajib pungut pajak. entah itu berupa pajak laba perseroan atau pajak persekutuan dan perusahaan perseorangan yang dikenakan menurut pajak penghasilan perorangan. yang digunakan secara luas di negara-negara Asia. pengaruh inflasi terhadap perpajakan dinetralisir.

khususnya sehubungan dengan pendapatan profesional. Pajak Tanah Satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas tanah adalah apakah pajak tersebut harus dikenakan atas nilai tanah. pembayar pajak yang setia perlu diberi penghargaan. ketiga dasar tersebut akan memberikan nilai yang sangat berbeda. Meskipun pajak semacam ini Dasar-dasar Keuangan Publik . Pasar atas tanah mungkin tidak tersedia dan nilai jualnya saat ini tidak bisa diperoleh. Dengan demikian. Di luar semua ini. laba taksiran didasarkan pada patokan tertentu seperti luasnya lantai atau ruang kerja dan lokasi pada wilayah perkotaan. bentuk hukum dari badan-badan usaha sering kali berbeda. pajak kekayaan atas harta benda bersih jarang ditemukan dalam struktur perpajakan di Negara sedang berkembang. Dalam hal pertanian. yang meliputi tidak hanya penyewaan atas tanah tersebut tetapi juga peningkatan nilai atas tanah. Dalam sistem persaingan sempurna. padahal hal terakhir ini tidak begitu penting bagi negara yang sedang berkembang. sementara yang bandel diberi hukuman. tidak demikian halnya. Ini juga merupakan praktek yang bisa ditemukan pada tradisi perpajakan Eropa. Lebih jauh lagi. Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Disamping penerimaan dari tanah. Serentak dengan itu. Dalam keadaan lain. Pajak penghasilan jarang diterapkan secara efektif ke sektor pertanian sehingga pendapatan dari tanah sering kali merupakan gabungan dari pajak penghasilan dan pajak atas tanah. Proses perbaikannya harus bertahap dan tidak bisa bergerak lebih cepat dari perbaikan metode akuntansi. Dalam kenyataan.98 semacam pajak penjualan. atau atas pendapatan potensial yang bisa dihasilkan tanah tersebut jika dimanfaatkan secara penuh. Para pembaharu pajak sering menyepelekan perbaikan teknik penaksiran pajak terhadap perbaikan teknis dalam pemajakan perseroan. yang mengabungkan pajak atas sejumlah rumah dalam satu dasar pengenaan pajak guna melengkapi sistem penarikan pajak komoditas atas konsumsi barang-barang mewah di samping terhadap perumahan. penarikan pajak atas real estate dan pertokoan juga menjadi dasar pengenaan pajak yang penting. khususnya selama berlangsungnya urbanisasi. atas pendapatan aktual. hukum Eropa daratan lebih berperan daripada tradisi common law (hukum Inggris). misalnya. Di negara-negara Amerika Latin. dan pendapatan aktual akan sama dengan pendapatan potensial. sedangkan di negaranegara Asia sistem hukum kebendaan yang sangat berbeda bisa diterapkan. Hal ini terjadi karena kewajiban pajak menjadi fungsi dari penjualan dan marjin tersebut merupakan taksiran dan bukan aktual. ketiga dasar tersebut akan bisa saling dipertukarkan karena nilai tanah akan sama dengan nilai pendapatannya yang dikapitalisasi. dan praktek yang cocok bagi suatu negara seperti Amerika Serikat mungkin tidak dapat diterapkan di Negara sedang berkembang dengan mengingat tradisi dan tingkat pembangunannya saat ini. luasnya lahan atau jumlah ternak bisa digunakan sebagai dasar taksiran. Tanah sering kali tidak dimanfatkan secara penuh dan ditahan untuk tujuan spekulatif atau ditahan sesuai dengan adat istiadat setempat. Ada baiknya jika hal tersebut di atas dikenakan pajak progresif atas tempat hunian.

99 pada akhirnya akan lebih kecil dari pada pajak bumi dan bangunan. Cukai domestik juga perlu untuk dikoordinasikan dengan bea impor. penerimaan pemerintah yang hilang tidak akan besar meskipun tingkat pengecer tidak terjangkau. karena banyaknya harta tak berwujud yang tidak termasuk dalam dasar pengenaan pajak. Jika pemerintah ingin menggunakan bea masuk sebagai proteksi atas industri itu harus dipilih sesuai dengan potensi pembangunan sehingga pengembangan itu bukan merupakan akibat sampingan dari pengenaan pajak barang mewah. Jika suatu produk dengan nilai kena pajak yang sangat besar dihasilkan pada perusahaan yang relatif besar. Jika hal ini terjadi akan merupakan kebijakan yang buruk. Karena ingin membebani konsumsi barang mewah dengan lebih berat. Kombinasi dari berbagai metode bisa diterapkan. Disamping itu pendekatan keadilan menuntut agar pendekatan ini dipadukan dengan penarikan pajak atas pendapatan modal dengan tarif progresif. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitannya dengan pengenaan bea cukai atas produk domestik. praktek ini akan memperburuk distorsi harga. Kebijakan perpajakan harus memperhatikan bahwa kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi Dasar-dasar Keuangan Publik . Penggunaan metode faktur mungkin akan membuat para wajib pajak lebih taat. karena berbagai alasan. pengenaan pajak produk dengan tarif yang berbedabeda cenderung lebih sukar jika diterapkan dengan pendekatan nilai tambah. maka pengenaan cukai atas produsen akan merupakan pendekatan yang paling sederhana dan gamblang. sering kali mengenakan bea impor yang lebih tinggi atas barang mewah. Dengan demikian. Pajak dan Bea atas Komoditas Pengenaan pajak komoditas harus ditentukan berdasarkan kelayakan administratif sehingga tergantung pada struktur perekonomian negara tertentu. Di pihak lain. Karena adanya kemungkinan timbulnya konflik antara pajak penghasilan progresif dengan insentif untuk inventasi maka tidak mengherankan bahwa telah diupayakan berbagai cara untuk meminimumkan pengaruh masalah justifikasi sampai dimana pemerataan dan pertumbuhan didahulukan terhadap satu sama lain. bea masuk sering menjadi pelindung bagi produk barang mewah pengganti di dalam negeri. namun jenis pajak ini penting guna melengkapi pajak penghasilan. Pendekatan terbaik mungkin adalah dengan menggunakan tarif yang cukup seragam sambil tetap memasukkan unsur bea impor barang mewah di dalam sistem pengenaan cukai domestik. Insentif Perpajakan Tujuan pemerintah yang berupa pertumbuhan ekonomi dan pemerataan paling bisa dicapai dengan berpedoman pada pajak kosumsi progresif. biaya modal cenderung dinilai terlalu rendah. Dengan pajak yang dikenakan secara berjenjang seperti halnya pajak pertambahan nilai. Aspek kebijakan bea masuk lainnya yang perlu ditinjau secara kritis adalah praktek pembebasan cukai atas barang modal yang digunakan di dalam negeri. Jadi bukan merupakan kehilangan total seperti pada pajak penjualan eceran. Dalam situasi di mana. tergantung mana yang paling jitu dalam keadaan tertentu.

insentif investasi umum tidak bisa efektif guna menaikkan tingkat investasi menyeluruh kecuali jika peningkatan tabungan juga mendapat perhatian.100 tidak akan memperparah pemerataan. Insentif domestik bisa dikaitkan dengan investasi pada umumnya. beberapa kelonggaran bagi pertumbuhan mungkin layak asalkan hal itu dilaksanakan dengan cara terbaik. penolakan total tidak bisa diterima. Apapun masalahnya. namun insentif yang dibatasi pada sektor atau industri tertentu kiranya bisa lebih efektif dalam mengalokasikan modal data ekspor industri tersebut. Insentif bisa dirancang untuk menggalakkan ekspor dan memperkuat neraca pembayaran. Insentif Umum Intensif investasi umum bisa berupa kredit pajak atas investasi atau penyusutan yang dipercepat seperti lazim digunakan dinegara-negara maju. Dengan alasan alasan ini insentif pajak bagi investasi pada umumnya merupakan pemborosan dan tidak adil. Masalah utama di sini adalah bagaimana memilih industri yang akan diberi perlakuan istimewa tersebut. Dapat diduga Dasar-dasar Keuangan Publik . Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan. Insentif Domestik Dalam menangani masalah insentif. Tentu saja masalahnya adalah bagaimana mencapai suatu jumlah tabungan tertentu tanpa mengurangi tabungan di sektor lain. Tekanan politik agar diberikan insentif pajak akan tetap ada. atau dibatasi pada industri atau wilayah tertentu. Ini bisa tercapai dengan mendorong perusahaan untuk menahan laba atau dengan memberikan kredit pajak bagi tabungan atas pendapatan perorangan. Namun meskipun demikian. Bagi perusahaan lama yang mengadakan investasi lama dan baru. maka sebaiknya insentif dirancang seefisien mungkin. sehingga banyak pengamat sampai sampai terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. Lebih jauh lagi. Selain itu di beberapa negara sering kali diberikan pembebasan pajak (tax holiday) untuk jangka waktu tertentu misalnya selama lima atau tujuh tahun. Daftar Skala Prioritas Meskipun keefektifan investasi umum di ragukan. tidaklah bijaksana jika pemerintah mengadakan komitmen jangka panjang untuk mensubsidi pajak. dimana selama jangka waktu itu pajak atas laba di bebaskan. dan karena ini tidak bisa dielakkan. Metode ini merupakan insentif bagi investasi yang memberikan laba yang tinggi pada tahap awal dan hal ini bertentangan dengan kebutuhan akan investasi yang stabil dan bersifat jangka panjang. ada baiknya kita membedakan antara insentif domestik dan masalah insentif yang berkaitan dengan modal asing. Lebih jauh lagi. masalah ini bisa diatasi dengan pendekatan kredit investasi atau bantuan investasi. bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. teristimewa jika diperkirakan bahwa subsidi semacam itu tidak akan di perlukan di masa mendatang.

Biaya buruh yang tinggi umumnya disebabkan oleh peraturan upah minimum dan berbagai tuntutan serikat pekerja. pemilihan industri tertentu selalu di barengi dengan teknan politik dari kelompok tertentu. Meskipun pada prinsipnya insentif yang selektif itu baik. insentif khusus bisa diberikan demi pembangunan daerah tersebut. Tenaga kerja mungkin tidak bisa berpindah secara luwes. Sedangkan dipihak lain. Masalahnya adalah apakah insentif itu lebih baik diberikan dengan mensubsidi investasi atau mensubsidi perusahaan pekerja di wilayah bersangkutan. dan pengenaan pajak atas laba yang tidak efektif. Untuk tujuan terakhir ini. yang seharusnya tidak mendapat prioritas utama. yaitu apakah peningkatan produksi atau nilai tambah didaerah tersebut. khususnya jika terdapat banyak penganggur atau penganggur tak kentara di sektor pertanian yang dapat di tarik kesektor industri apabila biaya upah berkurang. subsidi upah akan lebih efektif. Karena itu. Hal itu juga mungkin tepat untuk menanggulangi Dasar-dasar Keuangan Publik . Insentif Bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Penggunaan bentuk investasi yang insentif modal didorong oleh distorsi harga yang menyebabkan biaya buruh terlalu tinggi dan biaya modal menjadi rendah. Tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembangunan mengandung dampak eksternal (external economies) yang tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan investasi swasta. Seiring daftar skala prioritas sedemikian luas sehingga hampir tidak ada yang patut di pilih. Cara-cara semacam itu mungkin akan tepat dalam kaitannya dengan insentif regional di mana tujuannya adalah untuk menaikkan tingkat pendapatan di daerah terbelakang. pembebasan bea masuk. Namun keadaan negara negara berkembang bisa menuntut lain. Bisa juga pajak atas laba diperingan dengan syarat peralatan yang digunakan harus padat tenaga kerja.101 bahwa industri yang akan dipilih adalah industri yang memainkan peranan strategis dalam pembangunan dan yang tidak akan berkembang jika tidak mendapat bantuan khusus. seperti pabrik baja. Seperti telah kita ketengahkan sebelumya. kebijakan pajak bisa mempengaruhi keputusan lokasi investasi. biaya modal yang rendah disebabkan oleh kurs valuta yang menguntungkan. atau mungkin juga tenaga kerja ingin dipertahankan di suatu daerah tertentu karena terlalu banyaknya perpindahan penduduk ke kota atau karena alasan non ekonomis yang menghendaki pemerataan tingkat pembangunan daerah. dan dalam kesempatan lain lagi kita akan melihat bahwa insentif diberikan untuk mempertahankan pasar bagi perusahaan negara. dan pasar modal yang tidak sempurna bisa mengacaukan investasi meskipun tanpa eksternalitas. namun penerapannya secara efisien sukar untuk dilaksanakan. Karena itu investasi semacam itu perlu dikoreksi. Jawabannya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Insentif Regional Insentif selektif lainnya dapat kita temukan dalam kebijakan regional. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal itu sangat sukar untuk dilaksankan. Guna mengembalikannya ke keseimbangan semula. atau apakah peningkatan upah atau standar hidup masyarakatnya. subsidi upah bisa diberikan entah secara langsung atau tidak melalui kredit atas daftar upah yang pada prinsipnya mirip dengan kredit investasi. apakah itu untuk tenaga kerja atau modal dan umumnya diharapkan agar kebijakan pajak bersifat netral.

dan karena tekanan politik akan menuntut agar insentif tersebut diberlakukan secara umum bagi investasi domestik. Jika negara sumber modal tersebut menarik pajak penghasilan yang diperoleh dari luar negeri dengan tarifnya sendiri sambil tetap memberikan kredit pajak luar negeri. Dalam hal ini. Karena itu. Karena itu. peranan insentif pajak bagi modal asing berbeda dari insentif pajak bagi modal domestik. Persoalan terakhir yang timbul dalam kaitannya dengan persaingan di antara negara sedang berkembang untuk memperebutkan modal asing adalah jika Dasar-dasar Keuangan Publik . Perancangan insentif mungkin akan bisa mengarahkan investasi tersebut pada sektor yang menguntungkan negara bersangkutan. tetapi keringanan pajak yang diberikan kepada investor asing akan mengurangi jatah keseluruhan negara atas laba yang dihasilkan modal asing tersebut. kerugian ini harus dikompensasi oleh keuntungan yang diperoleh akibat pelipatgandaan modal tersebut agar insentif pajak tersebut bisa diterima. suatu negara membutuhkan kerja sama dari negara asal investor asing agar insentif yang efektif bisa diberikan. Keuntungan tersebut adalah berupa kenaikan penghasilan faktor-faktor produksi domestik akibat adanya modal asing. Insentif bagi modal domestik hanyalah melibatkan transfer dari pemerintah ke investor. pendekatan ini tidak menggairahkan reinvestasi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa insentif tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga mendorong dilakukannya reinvestasi dan operasi permanen. dan menghambat investasi yang hanya ingin mengeruk keuntungan sesaat. Apapun masalahnya. Tidak ada manfaatnya bagi suatu negara untuk menerima modal asing lengkap dengan sumber dayanya dan hanya meminjam lokasi pada negara tersebut. insentif pajak harus dikaitkan dengan nilai tambah domestik sebagai akibat adanya modal asing. Akan tetapi. Karena itu. Cara lain untuk mendorong investasi yang padat kerja adalah dengan memberikan insentif pajak bagi pekerjaan gilir kerja (shift) malam. Insentif bagi Modal Asing Dari sudut pandang nasional. Dengan pendekatan ini. penundaan pajak akan menjadi sangat penting.102 pengangguran akibat berjubelnya perpindahan penduduk ke kota. cukup beralasan untuk mempertahankan penundaan atas investasi di suatu negara yang sedang berkembang dan meniadakannya untuk investasi di negara maju. maka pajak yang lebih rendah di negara tersebut hanya akan menjadi transfer ke negara lain tanpa adanya manfaat bagi investor yang mengirimkan labanya ke negara asalnya. negara asal modal akan memberikan kredit atas laba yang direpatriasi sebesar pajak yang dikenakan di negara tujuan meskipun tidak ada pajak yang dibayar menurut kesepakatan insentif tersebut. maka penarikan pajak atas laba secara umum bagi investasi domestik harus dipertimbangkan. Hal itu tidak hanya berfungsi sebagai penarik modal ke suatu negara yang menawarkan insentif pajak tetapi juga mendorong terlaksananya reinvestasi di negara tersebut. Cara lain untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama (tax-sparing arrangement).

Suatu ukuran yang tidak bisa diperoleh jika pengeluaran publik digunakan untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam konteks ini. Jadi manfaat dari proyek transportasi atau irigasi dapat di nilai berdasarkan penurunan biaya produk yang di timbulkannya dipasar. Insentif Ekspor Insentif pajak untuk ekspor merupakan kebijakan umum guna membantu pengembangan pasar luar negeri dan memperkuat neraca pembayaran. Di satu pihak analisis biaya–manfaaat akan lebih mudah diterapkan di negara berkembang dari pada negara maju. Negara–negara berkembang bisa dihantui oleh pemborosan sumber daya. banyak pengeluaran untuk pendidikan juga mencerminkan tingginya biaya pendidikan di negara-negara ini. karena investasi pemerintah lazimnya dimaksudkan untuk penyediaan barang–barang antara yang nilainya bisa diukur dengan melihat pengaruhnya terhadap harga–harga barang yang disediakan oleh swasta. dan data pembanding lebih sukar diperoleh. Negara-negara berpendapatan rendah menghabiskan banyak pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan sementara tunjangan sosial kurang diperhatikan. Besarnya tunjangan sosial di negara-negara kaya mencerminkan sistem jaminan sosial yang lebih baik. Hal ini juga dilandasi oleh kenyataan bahwa tipe investasi yang diperlukan pada tahaptahap awal pembangunan sering kali memerlukan jumlah besar seperti untuk pembangunan sistem transportasi atau pembukaan suatu daerah yang terbelakang. investasi semacam ini menghasilkan manfaat eksternal sehingga penyediannya sebaiknya dilakukan oleh pemerintah. maka negara sedang berkembang sebagai suatu kelompok akan dirugikan. pengunaan analsis biaya-manfaat sangat penting. Karena itu tidak mengherankan jika pengembangan investasi pemerintah memainkan fungsi utama dalam perancangan rencana pembangunan di negara sedang berkembang. seperti lazimnya kita hadapi. insentif semacam itu tidak harus dikaitkan dengan total penjualan di luar negeri atau laba yang dihasilkannya. Peranan strategis dari investasi pemerintah dalam pembangunan ekonomi sebagian dilandasi oleh belum berkembangnya pasar modal swasta dan sebagian karena kurangnya bakat entrepreneurial (kewiraswastaan) masyarakat. Dalam kadar tertentu. Kebijakan Pengeluaran Peranan kebijakan pengeluaran dalam pembangunan ekonomi kurang disorot bila dibandingkan dengan kebijakan perpajakan.103 suatu negara mengalahkan yang lain dengan menawarkan insentif yang lebih besar. Pengeksporan kembali atas barang yang diimpor atau barang dalam transito tidak memberikan nilai tambah domestik. Agar efektif. Salah satu peran utama pasar bersama antar negara sedang berkembang adalah untuk menghindarkan hal semacam itu. tetapi dengan nilai tambah domestik. Hanya nilai tambah domestiklah yang menambah hasil perdagangan luar negeri bagi suatu negara. namun evaluasi proyek yang efisien merupakan suatu tugas yang sukar. Untuk mengatasi hal semacam itu diperlukan semacam kerja sama antar negara sedang berkembang. Lebih jauh lagi.

namun di masa mendatang setelah keuntungan dari penundaan konsumsi itu diperoleh. Program pendidikan penting bukan hanya dalam kaitannya dengan kebijakan pertumbuhan tetapi juga dengan pendistribusian hasil-hasil pembangunan diantara lapisan masyarakat dan keberbagai sektor perekonomian. Tetapi di sini sebagaimana halnya dalam penentuan tingkat diskonto lainnya. Bantuan Internasional dan Redistribusi Pertimbangan kemanusiaan atau politis yang menyangkut distribusi pendapatan di suatu negara tidak bisa dibatasi hanya pada lingkup negara itu saja. Di sisi lain. taksiran yang lebih kasar mungkin akan di gunakan. Dengan memperhitungkan adanya manfaat eksternal tarif sosial tersebut harus di tetapkan lebih rendah dari pada tarif yang berlaku sehingga menunjukkan tingkat diskonto yang lebih tinggi bagi penyediaan modal dan lebih mendukung pengadaan proyek–proyek jangka panjang. pelaksanaan evaluasinya di negara sedang berkembang lebih sulit. utilitas marjinal dari konsumsi itu akan lebih kecil karena pendapatan sudah lebih tinggi. kemungkinan ini menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dan evaluasi atas setiap proyek dalam konteks rencana pembangunan yang menyeluruh. Sejumlah studi telah memperlihatkan betapa besarnya manfaat investasi di bidang pendidikan bagi negara–negara berkembang. Karena harga pasar mungkin tidak mencerminkan biaya sosial yang benar–benar terjadi. maka penggunaan tarif sosial kiranya tidak bisa dielakkan. Yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa investasi bagi pendidikan dirancang guna menghasilkan pekerja terampil sesuai dengan kebutuhan negara bersangkutan. akan kita jumpai bahwa biaya konsumsi sangat tinggi pada tingkat pendapatan yang rendah.104 menghasilkan barang jadi untuk konsumsi. Tetapi di pihak lain. Investasi dalam sumber daya manusia perlu mendapat perhatian khusus dalam konteks pembangunan. Kesulitan–kesulitan itu akan makin rumit dalam konteks pembangunan yang dinamis dimana hargaharga relatif yang berlaku pada saat proyek dimulai mungkin akan sangat berbeda dari harga–harga yang berlaku setelah proyek berfungsi. manfaat langsung yang tersedia akan di sertai dengan manfaat tidak langsung atau manfaat eksternal yang lebih sukar untuk diperkirakan. Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi pemerintah harus memperhitungkannya. Jika kita melihat dari sisi yang berlawanan. Faktor lain yang juga penting adalah penentuan tarif/tingkat diskonto yang semestinya karena pasar modal swasta yang belum berkembang sepenuhnya. Dalam konteks pembangunan lazimnya. Kenyataan ini cenderung diabaikan dalam pengambilan keputusan tabungan perorangan. Di suatu sisi. maka untuk itu harus di gunakan harga bayangan (shadow price). Sekali lagi. pemerintah mungkin akan merasa lebih praktis untuk menentukan tingkat konsumsi minimum yang secara politis dapat di terima untuk lima atau sepuluh tahun mendatang dan kemudian menghitung tingkat diskonto dari konsumsi minimum tersebut. jumlah biaya lebih sulit untuk di tentukan. Jika modal dinilai terlalu rendah sementara tenaga kerja dinilai terlalu tinggi penggunaan harga pasar akan menimbulkan distorsi yang mengarah kepada teknologi yang sangat padat modal sebagaimana telah kita simak sebelumnya.

105 Kelihatannya aspek–aspek dari distribusi internasional akan menjadi unsur yang makin penting dalam politik dunia masa mendatang. kesenjangan lebih besar dan masalah organisasi lebih pelik karena tidak ada pemerintah pusat yang harus menanganinya dan upaya mengatasi ketimpangan tersebut harus melalui transfer antar negara. maka bisa diperkirakan bahwa 40 persen termiskin dari penduduk dunia menerima 3 persen dari pendapatan seluruh dunia. masalah mendasar adalah redistribusi di antara anggota masyarakat. lebih masuk akal bahwa pendapatan per kapita di negara maju akan naik lebih cepat ketimbang di negara miskin. Ketimpangan di dalam negeri diperparah dengan ketimpangan pendapatan rata-rata di antara berbagai negara. Tetapi meskipun hal itu penting. Jika sudut pandang ini mengena pada redistribusi yang bersifat nasional. Pendekatan ini telah dilaksanakan secara cukup besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir. Di tingkat internasional. Lebih jauh lagi. Dalam kadar tertentu kedua masalah itu bertumpang tindih karena kebanyakan masyarakat miskin pada kenyataannya merupakan penduduk dari negara berpendapatan rendah. Ketimpangan distribusi pendapatan di antara masyarakat dunia merupakan masalah yang sangat pelik. mustahil kiranya untuk meratakan ketimpangan ini. masalah distribusi di tingkat internasional lebih sukar untuk di tangani dari pada lingkup suatu negara. maka rasio tersebut berubah menjadi 2 dan 70 persen. Dalam kondisi ini. Upaya itu bisa dilaksanakan dalam bentuk bantuan internasional yang di rancang untuk menaikkan tingkat pertumbuhan negara-negara berkembang. Atau mungkin juga pada suatu saat hal itu dilaksanakan berupa redistribusi dari tingkat pendapatan dunia pada saat itu. atau juga ketimpangan distribusi diantara masyarakat seluruh dunia tanpa memandang batas negara. Meskipun pendekatan ini tidak bisa diharapkan dalam waktu dekat. sekali lagi masalahnya mirip dengan masalah antara negara bagian di suatu negara berserikat. Tidak ada gunanya jika redistribusi ke negara berpenghasilan rendah pada akhirnya hanya akan menambah kekayaan segelintir masyarakat kaya di negara tersebut. khususnya di negara maju. sehingga situasi tersebut akan semakin parah seperti halnya distribusi pendapatan domestik. tetapi jika keduanya tidak tumpang tindih. yang menjadi persoalan mungkin adalah perbedaan pendapatan rata-rata di negara-negara. Bantuan Pembangunan Dari penjelasan terdahulu terlihat dengan jelas bahwa kebijakan redistribusi tidaklah sederhana dan pengaruhnya pertumbuhan ekonomi. sementara 20 persen terkaya menerima 60 persen. Jadi. sehingga mirip dengan pajak penghasilan negatif yang diterapkan pada redistribusi domestik. Jika ketimpangan di dalam negara-negara masih diperhitungkan lagi. Jika seseorang di suatu negara memperoleh pendapatan sebesar rata-rata di antara berbagai negara tersebut. namun mungkin saja pada suatu saat nanti hal itu akan menjadi suatu pemikiran pokok. maka akan lebih mengena lagi pada tingkat internasional di mana skala Dasar-dasar Keuangan Publik . Masalah Besarnya Transfer Dalam menangani distribusi pada taraf internasional. Tingkat ketimpangan ini jauh lebih besar daripada ketimpangan di suatu negara. harus ditelaah dengan seksama.

106 penyesuaian potensial yang harus dicapai melalui distribusi sangat besar. Ini bisa dilakukan dengan memberikan preferensi dan penghapusan pembatasan perdagangan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Akan tetapi. Kontribusi penting kedua bagi pembangunan ekonomi adalah dengan membuka pasar negara-negara maju lebih lebar bagi ekspor negara-negara berkembang. output dunia akan meningkat karena modal akan dimanfaatkan secara efisien di negara di mana keuntungan modal pekerja sangat rendah. Karena itu sindrome orang kaya baru akan tetap menggejala dan hal ini merupakan hambatan. Dengan demikian. akan terjadi redistribusi pendapatan dari pekerja negara kaya (yang akan beroperasi dengan modal yang cukup besar) kepada pekerja di negara miskin yang produktivitasnya akan meningkat bersamaan dengan naiknya keuntungan modal pekerja. Tetapi di pihak lain sebagai konsumen mereka akan diuntungkan karena harga barang-barang impor menjadi turun. kebijakan-kebijakan semacam ini tidak menjamin bahwa negara-negara berkembang akan mampu secara independen untuk mempertahankan pertumbuhan yang telah mereka capai. Dalam hal ini. Para pemasok modal dari negara kaya tetap mendapat keuntungan karena memperoleh hasil pengembalian yang lebih besar dari investasinya di negara-negara miskin. baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. Salah satu upaya penting untuk ini adalah dengan menata kembali aliran modal dari negara kaya ke negara miskin dengan penerapan itu. perbaikan distribusi pendapatan dunia dapat dicapai meskipun dengan memperbesar ketimpangan (kendatipun hanya dalam taraf yang lebih kecil) di negara maju. Perbaikan besar atas kemelaratan masyarakat hanya dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas pekerja-pekerja di negara miskin. Tak ada manfaatnya jika kontribusi negara-negara maju terlalu dipaksakan sehingga kemampuan ekonominya untuk mempertahankan kesinambungan bantuan menjadi terganggu. pekerja di negara maju juga dirugikan karena mereka kurang leluasa untuk berpindah jika dibandingkan dengan faktor modal. Juga dipermasalahkan bahwa masuknya tenaga manajemen asing yang menyertai masuknya modal asing. di samping menambah keahlian juga menghambat pengembangan kewiraswastaan domestik dan menciptakan ketergantungan politis. Akan tetapi.

Namun demikian.107 B A B XII HUTANG PUBLIK Pertumbuhan Hutang Pemerintah ertumbuhan hutang pemerintah dan implikasinya terhadap perekononian sejak lama menjadi isu perdebatan yang hangat. Lebih dari 70 persen hutang pemerintah berbentuk surat berharga yang mudah dipasarkan. Kekhawatiran bahwa hutang yang beredar tidak dapat dibayar kembali pada saat jatuh tempo tidak beralasan. P Pertumbuhan hutang pemerintah harus dilihat dalam kaitannya dengan GNP. menimbulkan beban karena perpajakan diperlukan untuk membiayai pembayaran bunga dan mengakibatkan timbulnya deadweight loss. perusahaan asuransi dan lembaga tabungan merupakan penanam utama hutang pemerintah. Kritik-kritik terhadap pembiayaan defisit tidak hanya ditujukan pada pengaruh inflasionernya. Sesuai dengan sifat hutang publik. bukan dilunasi. tetapi juga terhadap konsekuensi akumulasi hutang di masa depan dan bebannya terhadap gcnerasi mendatang. khususnya dalam keadaan meningkatnya defisit dewasa ini. Inflasi dapat berlaku sebagai bentuk penyangkalan hutang yang tersembunyi. tetapi ini bukan faktor utama karena faktanya adalah bahwa sebagian besar hutang pemerintah jatuh tempo dalam jangka sangat pendek. Bank komersial. Kegiatan hutang pemerintah meliputi peminjaman dari instansi dalam bentuk kredit hipotik. Struktur Hutang pemerintah Setelah menelaah pertumbuhan dan struktur hutang pemerintah. Dasar-dasar Keuangan Publik . bahkan dengan asumsi yang paling pesimistik. akan bersifat moderat dan tidak eksplosif. Sepertiga dari hutang yang beredar jatuh tempo kurang dari satu tahun. kita beralih pada implikasi ekonomi dari hutang yang beredar. prakiraan pertumbuhan ini. Tetapi meningkatnya rasio pembayaran bunga terhadap GNP. surat berharga yang jatuh tempo. Pertumbuhan hutang publik sudah lama menjadi isu yang hangat dalam perdebatan mengenai kebijakan fiskal. Namun dengan menaikkan tingkat pembayaran bunga dan anggaran cenderung mengganggu program publik lainnya. didanakan kembali.

Sebagai tambahan. apakah hutang itu ditanam oleh lembaga masyarakat atau pun oleh instansi pemerintah. dimana lebih seperti arus sepanjang tahun. yang diterima tidak merata. Pinjaman juga mendistribusikan beban pembayaran kepada para wajib pajak secara lebih adil daripada meletakkan semua beban pada mereka yang hidup pada saat fasilitas diperoleh atau dibangun. taxbase-nya. Obligasi Umum (General Obligation Bonds) Dijamin penuh oleh pemerintah yang menerbitkan 2. Rating ini dibuat berdasarkan pada catatan kinerja pelunasan hutang masa lalu. dan semua hal yang terkait dengan kemampuan untuk membayarnya. Beberapa faktor akan menentukan tingkat bunga yang harus dibayar oleh pemerintah atas obligasi yang diterbitkannya. cadangannya. praktek kebijakan fiskal. tingkat bunga adalah berbeda antara dua jenis dasar hutang pemerintah: obligasi umum pemerintah dan obligasi penerimaan. kebutuhan jangka pendek. Permodalan sektor publik paling sering diperoleh melalui bursa dengan penerbitan obligasi.108 Tujuan Hutang Pemerintah Tiga tujuan utama Pemerintah pusat dan daerah berhutang adalah: Pembiayaan modal. Obligasi Pendapatan (Revenue Bonds) Pendapatan dari penjualan jasa dijaminkan untuk pembayaran hutang. Hutang yang Ditanam Swasta Dalam beberapa aspek hutang publik (khususnya pembiayaan pembayaran bunga melalui pajak). bangunan dan fasilitas-fasilitas selama masa ekonomis proyek permodalan. pinjaman jangka pendek sering dimanfaatkan untuk mengkoreksi pendapatan. Tetapi yang menjadi masalah adalah hutang publik yang memegang sebagai bagian dari struktur likuiditas ekonomi. Municipal Bond Obligasi yang bunganya dibebaskan dari pajak dari institusi penerbitnya. 3. Tetapi pertimbangan utama adalah evaluasi dari penyedia jasa rating obligasi yang menilai potensi pemerintah untuk membayar pokok dan bunganya pada tanggal jatuh temponya. Pada tingkat lokal. dan kepentingan darurat. tidak menjadi masalah. surat berharga yang dapat dipasarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Beberapa jenis obligasi pemerintah: (Holley Ulbrich) 1. terhadap pengeluaran permintaan. Pinjaman darurat digunakan untuk menanggulangi bencana alam dan kontijensi yang tidak terprediksikan sebelumnya. Komposisi hutang Pemerintahan menurut jenis penerbitnya dibagi menjadi: 1. Komposisi Hutang Berdasarkan Jenis Penerbitnya. Hutang publik sebagai menunjukkan persentase dari aktiva lancar (hutang publik dan jumlah uang beredar). Pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan modal mengalokasikan biaya perolehan tanah. sebagai suatu jalan untuk berhutang. dan hanya hutang publik yang ditanam swasta yang menimbulkan masalah bagi manajemen.

Surat berharga ini dirancang terutama bagi berbagai dana trust lokal. Perbedaan utama dari ketiga jenis hutang itu terletak pada jatuh temponya. Siapa yang Menanam Hutang? Pembagian hutang menurut jenis penanamnya menjadi penting karena mempengaruhi struktur likuiditas dan posisi pasar modal. dimana peningkatan nilai sampai jatuh tempo merupakan pengembalian investor. Karena sifat publik. tetapi surat berharga khusus juga disediakan untuk pemerintah daerah dan pemerintah luar negeri. Kecuali hutang yang ditahan pada negara-negara maju. Pengandalan pada jangka pendek selama periode inflasi memungkinkan Departemen Keuangan guna menghindarkan komitmen jangka panjang untuk meminjam pada tingkat bunga nominal yang tinggi dengan harapan inflasi akan dapat dicek dan tingkat bunga akan turun di masa depan. Wesel dan obligasi mempunyai kupon pembayaran tahunan dan dapat ditebus dengan nilai pari pada tanggal jatuh tempo. 18 persen ditahan oleh bank komersial. meliputi tagihan.109 2. Tagihan dijual dengan diskonto dan tidak berbunga. Hal ini dilakukan dalam bentuk surat berharga khusus. yang menahan kewajiban dalam tahun-tahun di mana peneriman pajak masa berjalan melebihi pembayaran tunjangan. tetapi jatuh tempo itu bisa saja tiga bulan. dan 8 persen oleh perusahaan asuransi. Namun kebanyakan hutang masih terpusat pada jangka pendek. dan 20 persen ditanam luar negeri. sarana investasi baru yang lebih menarik. Surat berharga yang dapat dipasarkan (berjumlah sekitar tiga perempat dari total). 95 persen dari penanaman domestik adalah dari investor swasta. Sebagian besar penanaman swasta adalah pada lembaga tabungan dan dana trust perseroan. Struktur Jatuh Tempo Instrumen hutang diterbitkan untuk berlaku selama periode waktu tertentu. yang menyerap lebih dari 50 persen. Sedangkan penanaman Bank Sentral berbentuk surat berharga yang dapat dipasarkan dan diperoleh melalui proses pembelian pasar terbuka. Surat berharga yang dapat dipasarkan diperdagangkan dan tersedia bagi setiap pembeli. 14 persen oleh pribadi (sebagian besar dalam bentuk obligasi tabungan). surat berharga yang tidak dapat dipasarkan. Surat berharga yang tidak dapat dipasarkan ditawarkan kepada berbagai kelompok investor dan hanya dapat ditahan oleh pembeli pertama. Tagihan diterbitkan sebagian besar dengan jatuh tempo dua belas bulan. Penerbitan yang tak dapat dipasarkan ditahan oleh individu dalam bentuk obligasi tabungan (savings bond). Dasar-dasar Keuangan Publik . penanaman itu sebenamya merupakan bagian dari dasar moneter (monetary base) ketimbang bagian dari hutang pemerintah kepada publik. dengan pembayaran modal dilakukan pada nilai pari pada tanggal jatuh tempo. wesel dan obligasi. dengan jatuh tempo di atas 10 tahun. obligasi sebagai sumber pembiayaan utama menjadi makin kurang penting. Yang paling penting adalah Trust Fund. Dengan tersedianya. Wesel berkisar dari 1 sampai 10 tahun dan obligasi untuk periode yang lebih panjang. 80 persen ditahan secara domestik.

seperti penarikan hutang. investor merasa tak yakin mengenai masa depan (inflasi dapat memburuk) dan lebih suka untuk mencegah komitmen jangka panjang. pemerintah dapat terlibat dalam penjanjian dan pensponsoran pinjaman oleh berbagai institusi yang pada gilirannya meminjamkannya kembali pada peminjam swasta. Dalam pagu modal yang sempuma. Pagu sebagian besar tetap tidak efektif sampai paruh kedua tahun 1960-an ketika limit jangka panjang di pasar naik di atas tingkat ini. tidak temasuk yang diterbitkan kepada instansi pemerintah. namun dengan demikian likuiditas struktur klaim meningkat. Menteri Keuangan meminta kenaikan pagu pinjaman. Pagu hutang. lembaga legislatif dapat menetapkan batas hutang eksplisit yang tak boleh dilewati oleh Departemen Keuangan. Apabila operasi masa berjalan memerlukan kenaikan pinjaman pemerintah di atas pagunya. Sebenarnya. Pembatasan Hutang Pertumbuhan hutang ditentukan oleh peraturan pajak dan pengeluaran yang mendasarinya serta tingkat surplus dan defisit yang dihasilkannya. legislatif di USA memberlakukan pagu bunga 4 1/4 persen pada surat berharga yang lebih lama dari lima tahun. Sesudah menentukan defisit atau surplus dan perubahan tingkat bunga dengan cara ini. persen pada bunga di bawah pari. Pagu Bunga Menjelang akhir Perang Dunia I. Tetapi hasil kedua transaksi itu bisa sangat berbeda dalam pasar yang tidak sempurna. Konggres mengesahkan penerbitan terbatas obligasi Tresury di atas hasil pagu. dan 1988 adalah sebesar $150. Departemen Keuangan memilih tidak melakukan hal itu. pemberian tambahan pinjaman $100 dengan jatuh tempo sepuluh tahun akan sama dengan pelunasan penerbitan hutang $100 dengan jatuh tempo ymg sama dengan asumsi pendapatan pajak yang sama digunakan urituk membiayai masing-masing transaksi itu. lebih cepat mendapatkan pengembalian pada surat berharga jangka pendek. Penerima pinjaman pemerintah mungkin tidak mampu mendapatkan kredit dari tempat lain. merupakan suatu anakhronisme karena setiap saat legislatif. Hutang lnstansi dan Pinjaman yang diberikan oleh Pemerintah Di samping pinjaman langsung Departemen Keuangan. Jadi tidak ada obligasi jangka panjang yang dapat dijual sesudah tahun 1965 manakala hasil pasar melebihi pagu.000 milyar. Batas ini diperluas oleh Legislatif empat kali. Sesudah Departemen Keuangan meminta berkali-kali. bisa menentukan penambahan hutang melalui peraturan pajak dan pengelurannya. mengurangi posisi hutang bersih pemerintah. alasan utama pemberian pinjaman oleh pemerintah adalah menyediakan dana bagi peminjam yang tidak mampu meminjam dari tempat lain tetapi yang pantas mendapat Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi. Meskipun pagu ini dapat dielakkan dengan penjualan obligasi bertarif kupon 4 1/4. seperti yang disepakati oleh kebanyakan pengamat. Karena instansiinstansi ini menggunakan dana. Pemberian pinjaman. Jadi ini bukan merupakan faktor yang berarti dalam membatasi penggunaan surat berharga jangka panjang. karena ini akan mengganggu ketentuan legislatif.110 Pada saat yang sama. pinjaman yang diberikan oleh pemerintah (yang dibedakan dari pengeluaran) memasuki arena sebagai instrumen kebijakan penganggaran tambahan.

111
pinjaman karena alasan kebijakan publik. Jadi hal itu digunakan umum sebagai alat untuk alokasi, bukan sebagai kebijakan stabilisasi. Dengan demikian, masalah ini penting dalam konteks negara berkembang di mana investasi yang ditunjang pemerintah merupakan segi yang penting dari kebijakan pembangunan.

Hutang Publik sebagai Bagian dari Struktur Likuiditas Ekonomi
Sifat hutang yang berjangka waktu sangat pendek telah membuatnya makin likuid dan merupakan pengganti uang yang lebih dekat. Hutang publik merupakan media investasi yang penting bagi lembaga keuangan, khususnya bank, perusahaan asuransi dan pasar uang. Setelah meninjau pertumbuhan dan status hutang pemerintah, sekarang kita dapat beralih pada implikasi ekonominya. Masalahnya adalah bagaimana hutang yang beredar mempengaruhi berfungsinya ekonomi, yaitu bagaimana konsekuensi dari kebijakan masa lalu (yakni, defisit yang telah ditambahkan pada hutang) terhadap kondisi ekonomi di depan. Pengaruh ekonomi dari hutang yang beredar oleh karenanya harus dibedakan dengan dampak masa kini dari pembiayaan defisit yang melibatkan penciptaan hutang. Apakah akumulasi hutang yang berkelanjutan tidak akan mengarah pada kebangkrutan fiskal? Pendanaan Kembali versus Pelunasan Hutang Dengan makin membengkaknya hutang, apakah ada kemungkinan untuk membayarnya kembali? Pertanyaan yang menguatirkan ini tidaklah tepat: cepat atau lambat, hutang rumah tangga memang harus dibayar kembali, karena tindakan rumah tangga merupakan kegiatan yang terbatas. Sebaliknya hutang publik tidak perlu dibayar kembali, karena anggaran dan perekonomian merupakan kegiatan yang berkesinambungan. Apabila suatu penerbitan hutang jatuh tempo, hal itu harus dilunasi; tetapi dana yang diperlukan diperoleh dengan menerbitkan obligasi baru. Hutang itu didanakan kembali (refunded). Dengan hutang yang sebagian besar berjangka pendek, volume pendanaan kembali tabungan sekarang dengan pembayaran obligasi jatuh tempo dan penggantian melalui penerbitan obligasi kembali merupakan operasi mingguan. Sekalipun operasi penerbitan kembali obligasi secara tradisional melibatkan prosedur yang sangat rumit, yang memerlukan taksiran yang tepat atas hasil (yield) yang diinginkan masyarakat, teknik-teknik yang dikembangkan dalam tahun-tahun terakhir ini telah banyak disederhanakan. Penerbitan baru sekarang dijual melalui sistem lelang, dengan penawaran tertutup diterima dari dealer dan kemudian didasarkan pada sistem datang pertama, dilayani pertama. Meningkatnya pengandalan pada hutang jangka pendek, yang dijual pada diskonto dan bukan dengan suatu kupon, telah memperlancar perkembangan ini. Guna mempercepat proses ini, Bank Sentral bekerja erat dengan Pejabat Bendahara (Departemen Keuangan) dan bertindak sebagai instansinya. Singkatnya, operasi pendanaan kembali merupakan masalah manajemen dan apakah kita dapat membayar kembali hutang merupakan pertanyaan yang salah arah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana jasa bunga akan mempengaruhi perekonomian dan bagaimana hutang yang beredar masuk ke dalam struktur ekononomi.

Dasar-dasar Keuangan Publik

112
Beban Pajak dari Pelunasan Hutang Untuk melunasi hutang, bunga harus dibayar. Pajak yang dikenakan untuk membiayai pembayaran ini menimbulkan beban bagi perekononian. Beban ini tidak terlihat karena sumber daya ditarik dari perekonomian. Dengan asumsi kita membicarakan hutang yang ditahan secara domestik, kita berhutang kepada diri kita sendiri dan pembayaran bunga hanyalah pemindahan dana dari satu kantong ke kantong yang lain. Namun demikian, pajak yang harus dikenakan untuk membiayai transfer ini membawa kerugian yang berat, seperti juga pajak laimya, dan ini menimbulkan beban bagi perekonomian. Beratnya pengaruh tersebut cenderung muncul bila rasio penerimaan pajak (yang diperlukan untuk melunasi hutang) pada GNP meningkat. Jelaslah hal itu menjadi begitu besar sehingga menimbulkan masalah beban dan hambatan yang serius, suatu faktor yang terlupakan dalam proposisi kita berhutang kepada diri kita sendiri. Akumulasi hutang selama perang mungkin begitu drastis, sehingga menyebabkan kekacauan fiskal dan penyangkalan hutang dalam periode sesudah perang. Peristiwa ini terjadi di negara-negara Eropa sesudah kedua perang dunia. Untunglah hanya ada sedikit kemungkinan bahwa bencana seperti itu akan terjadi dalam keadaan damai. Untuk memastikan, perluasan hutang yang terus menerus digabungkan dengan GNP yang konstan akan mengakibatkan suatu rasio hutang terhadap GNP yang tak terbatas. Tetapi GNP juga mengalami peningkatan dan dapat diperlibatkan bahwa rasio defisit pada GNP digabungkan tingkat pertumbuhan GNP yang konstan, akan mengakibatkan, rasio hutang pada GNP dan rasio bunga pada GNP yang mendekati konstan. Dengan melihat pada dekade yang akan datang, marilah kita andaikan bahwa GNP meningkat pada tingkat tahunan 5 persen (3 persen untuk inflasi dan 2 persen untuk pertumbuhan riil.) Selain itu, defisit tahunan kita andaikan sama dengan 4 persen dari GNP. Dengan asumsi yang agak pesimistik ini, rasio hutang terhadap GNP akan naik dari 51 persen menjadi 64 persen dalam 10 tahun, sedangkan rasio pembayaran bunga pada GNP akan meningkat dari 4,1 ke 5,1, Tingkat yang sepadan sesudah periode lima puluh tahun, masing-masing akan menjadi 8,1 dan 6,5 persen. Tampak bahwa prospek pertumbuhan hutang, sekalipun menurut asumsi sangat defisit, tidak langsung mengasumsikan proporsi yang eksplosif. Bahaya yang melekat dalam melanjutkan defisit yang besar tidak terletak pada pengaruhnya terhadap besarnya hutang, seperti dalam dampak langsung pada bauran fiskalmoneter sehingga berarti pada tingkat tabungan dan pertumbuhan. Penyangkalan Hutang melalui lnflasi? Secara nominal nilai pari dari hutang yang beredar bersifat tetap, tetapi inflasi akan mengurangi nilainya dalam satuan riil. Contoh, nilai pari hutang yang beredar di USA dalam tahun 1970 adalah $370 milyar. Tetapi antara tahun 1970 s.d. 1982, harga-harga naik dengan 150 persen atau pada tingkat majemuk tahunan 8 persen. Jadi nilai hutang ini dalam satuan dollar tahun 1970 turun menjadi $148 milyar, atau 40 persen dari saat itu. Apakah ini berarti bahwa inflasi menghasilkan penyangkalan (repudiation) hutang tersembunyi sebesar 60 persen? Jawabannya tergantung pada jangka waktu saat hutang diterbitkan. Bila diasumsikan seorang investor yang membeli obligasi pemerintah berjangka tiga Dasar-dasar Keuangan Publik

113
tahun dalam tabun 1970. Hasil pada saat itu adalah 7 persen, sehingga obligasi itu dapat ditebus pada $100 dalam tahun 1982 dan peneriman per tahun sampai terjual $100 adalah $7. Kemudian bila diasumsikan tingkat pengembalian modal yang sebenarnya adalah 3 persen, sehingga investor kita mengharapkan tingkat inflasi sebesar 4 persen. Pada tingkat inflasi ini hasil nominal 7 persen akan menghasilkan tingkat pengembalian 3 persen. Tetapi ternyata tingkat inflasi selama tiga tahun adalah 8 persen. Jika si investor telah mengetahui hal ini, ia akan meminta hasil sebesar 11 persen, yakni suatu obligasi yang terjual pada nilai pari yang seharusnya mempunyai pembayaran kupon sebesar $11 per tahun. Tingkat inflasi yang lebih tinggi dari yang diantisipasikan memberikan tingkat pengembalian riil (real rate of return) kepada investor sebesar -1 persen (7 persen dikurangi 8 persen). Kerugian investor ini dicerminkan oleh keuntungan yang diterima pembayar pajak, yang beruntung dalam melunasi hutang (bunga dan pembayaran kembali pada jatuh tempo) dengan dollar yang lebih murah. Pada tahun 1982, hasil (yields) telah meningkat menjadi 13 persen dan disusul dengan meningkatnya perkiraan inflasi. Sejak itu jumlahnya menurun menjadi sekitar 8 persen, bersama dengan penurunan dalam tingkat inflasi menjadi di bawah 4 persen. Dengan demikian, apakah penyangkalan hutang melalui inflasi akan terjadi, tergantung pada seberapa tepat inflasi dintisipasi pada waktu hutang diterbitkan dan bagaimana antisipasi ini dicerminkan dalam tingkat bunga nominal yang lebih tinggi. Pada gilirannya hal ini tergantung pada jatuh tempo hutang. Jika hutang ditanam dalam bentuk klaim jangka pendek, katakanlah tagihan tiga bulan, tingkat hasilnya akan sesuai dengan tingkat bunga yang berlaku dalam pasar uang hingga akan cenderung menceminkan tingkat inflasi. Situasinya berbeda jika hutang tersebut bersifat jangka panjang dan terjadi tingkat inflasi yang tinggi yang tidak diperhitungkan kctika menetapkan syarat-syarat pada waktu hutang diterbitkan. Karena hutang paling banyak diterbitkan dalam bentuk surat berharga jangka pendek, maka penyangkalan hutang melalui inflasi tidak lagi menjadi isu utama.

Apakah Pembiayaan melalui Hutang akan Membebani Generasi Mendatang?
Pembahasan yang berhati-hati dilakukan terhadap pertanyaan apakah pembiayaan melalui hutang akan menimbulkan beban bagi generasi mendatang. Pengalihan beban kepada generasi mendatang adalah layak, sebagai suatu keadilan antar generasi, untuk pembiayaan atas pengeluaran modal publik. Terdapat berbagai mekanisme pengalihan beban, di antaranya termasuk a) pembentukan modal yang berkurang, b) pengalihan melalui tumpang tindih generasi, dan c) pengalihan beban dari hutang luar negeri. Lebih lanjut, pengandalan pada sumber daya luar tidak harus melibatkan penyerapan hutang luar negeri, tetapi dapat mengambil bentuk arus modal masuk dan surplus impor yang berkaitan. Menimbang bahwa ketakutan terhadap kebangkrutan fiskal adalah tidak realistik, timbul pertanyaan apakah pembelanjaan dengan hutang tidak akan membebani generasi mendatang?

Dasar-dasar Keuangan Publik

114
Bagaimana pengalihan (transfer) beban itu terjadi dan apa pengaruhnya pada ekuitas fiskal? Pengalihan Beban melalui Pembentukan Modal yang Berkurang Jika sumber daya sepenuhnya dimanfaatkan, kenaikan dalam jasa publik akan memindahkan sumber daya dari sektor swasta ke sektor publik, sehingga sumber daya yang tersedia untuk produksi barang-barang swasta akan berkurang. Dalam pengertian pelepasan sumber daya, beban tersebut haruslah dipikul oleh generasi sekarang. Tetapi tidak demikian halnya jika pemindahan beban dipandang dalam artian konsumsi masa berjalan (current consumption). Mekanisme pertama dari pengalihan beban diberikan melalui pembentukan modal yang berkurang. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme ini bekerja, kita kembali ke kerangka sistem klasik dimana investasi menyesuaikan dirinya sendiri secara otomatis terhadap tingkat tabungan yang akan datang, pada tingkat pendapatan full-employment. Dalam sistem tersebut, setiap pengalihan sumber daya dari sektor swasta ke sektor publik mengakibatkan sumber daya sektor sawsta berkurang. Dalam pengertian sempit ini, beban dari pengeluaran sekarang harus dipikul oleh generasi sekarang. Tetapi sumber daya yang ditarik dari sektor swasta mungkin berasal dari konsumsi atau pembentukan modal. Dalam kasus pertama, kesejahteraan dari generasi sekarang, yang diukur dengan konsumsinya dikurangi, dan pendapatan generasi mendatang tidak dipengaruhi. Dalam kasus kedua, kesejahteran konsumsi dari generasi sekarang tidak diganggu sementara generasi mendatang akan mewarisi stok modal yang lebih kecil dan menikmati pendapatan yang lebih rendah. Dalam pengertian ini, generasi mendatang akan dibebani. Jika kita selanjutnya mengasumsikan bahwa pembelanjaan dengan pajak berasal dari konsumsi, sedangkan pembelanjaan dari pinjaman berasal dari tabungan (sehingga menurut asumsi sistem klasik; berasal dari investasi maka selanjutnya pembelanjaan dengan pinjaman akan membebani generasi masa depan. Mengikuti prinsip bahwa jasa publik harus dibiayai atas dasar manfaat, sifat pengeluaran, yang harus dibiayai menjadi sangat panting. Dalam hal pengeluaran modal, manfaat akan terbawa ke masa depan sehingga pengalihan beban diperlukan sebagai suatu keseimbangan antar generasi. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, ini merupakan penalaran untuk membagi anggaran menjadi komponen masa berjalan dan komponen modal, dengan yang pertama dibiayai oleh pajak dan yang terakhir oleh pinjaman. Beberapa kualifikasi dari argumen yang berlaku perlu dikemukakan; 1. Tergantung pada jenis pajak yang digunakan, pembiayaan dengan pajak sebagian dapat berasal dari tabungan. Demikian pula, pembiayan dengan pinjaman sebagian dapat berasal dari konsumsi. Tidak perlu semua transfer menaikkan konsumsi. Oleh sebab itu, defisit hanya memberikan suatu taksiran kasar mengenai penarikan sumber daya dari pembentukan modal swasta.

Dasar-dasar Keuangan Publik

115
2. Pendekatan harapan yang rasional (the rational expectation approach), seperti yang dikemukakan pada Bab X, mempertanyakan apakah tanggapan setiap individu terhadap pembiayaan melalui pajak dan pinjaman akan berbeda. Ketika generasi sekarang (sebagai individu yang rasional) meminjam kepada pemerintah, mereka diasumsikan dapat mengantisipasikan pajak masa depan (yang terhutang oleh pewarisnya) yang harus dipenuhi untuk melunasi hutang itu. Oleh karena itu, pembiayaan dengan pinjaman akan membuat keaadaan generasi pertama seperti pada pembiayaan dengan pajak. Tetapi apakah kekayaan bersih wajib pajak berkurang sedangkan pemberi pinjaman dikompensasikan ketika menerima obligasi pemerintah? Jawabannya adalah tidak, atau begitulah menurut pandangan aliran harapan rasional. Karena keuntungan ini akan dibatalkan oleh adanya asumsi kewajiban pajak masa depan. Jadi kekayaan bersih sektor swasta akan berkurang oleh pengeluaran publik, apapun metode pembiayaan (pajak atau hutang) yang digunakan. Berdasarkan argumen 'Ricardan Equivalence' ini, tidak dapat lagi dikemukakan bahwa pembiayaan melalui pinjaman akan mengakibatkan pengalihan beban sedangkan pembiayaan melalui pajak tidak seperti yang dinyatakan sebelumnya, hal ini merupakan asumsi yang hampir tidak realistis. Penalaran kita didasarkan atas asumsi sistem klasik yang terlaksana baik, di mana tingkat pemintaan agregat tidak dipengaruhi oleh pilihan antara pembiayaan melalui pajak dan melalui pinjaman. Jika asumsi ini tidak berlaku, pilihan antara pembiayaan melalui pajak dan melalui pinjaman seperti halnya bauran kebijakan fiskal-moneter mungkin harus ditentukan untuk memberikan tingkat permintaan agregat yang tepat, bukan mengakomodasikan pertimbangan keseimbangan antar generasi. Pertimbangan ini khususnya penting pada tingkat nasional, yang memikul tanggung jawab terhadap kebijakan stabilisasi; dan kurang penting pada tingkat lokal. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, pada tingkat lokal lebih sesuai menggunakan anggaran modal. Pengalihan Beban Melalui Tumpang Tindih Generasi Bila tidak ada tumpang tindih generasi (generation overlap), pembentukan modal swasta yang berkurang merupakan satu-satunya mekanisme di mana pinjaman domestik dapat dialihkan kepada generasi masa depan. Tetapi tidak demikian halnya jika terdapat dua generasi yang tumpang tindih dalam suatu waktu. Andaikan bahwa generasi 1 hidup dari tahun satu sampai tahun lima puluh, sedangkan generasi 2 hidup dari tahun dua puluh lima sampai tahun tujuh puluh lima. Juga andaikan bahwa semua pajak berasal dari konsumsi. Sekarang generasi 1, dalam tahun satu, dikenakan pajak sebesar $200.000 untuk memikul biaya gedung pemerintah ymg memiliki kegunaan selama lima puluh tahun. Hal itu dilakukan dengan mengorbankan konsumsi generasi tersebut dalam jumlah yang sama. Akan tetapi terdapat pula kemungkinan dalam tahun dua puluh lima sampai lima puluh untuk memungut pajak sebesar $100.000 dari generasi 2 guna membayar generasi 1, jadi melibatkan pengalihan konsumsi swasta dari generasi 2 ke generasi 1. Dengan cara ini generasi 1, sekalipun pada awalnya memikul keseluruhan beban tembut, namun kemudian dapat mengalihkan sebagian dari

3.

Dasar-dasar Keuangan Publik

116
beban itu ke generasi 2. Untuk maksud memastikan kembali, generasi 1 dapat diberi janji pembayaran kembali dalam bentuk obligasi, yang akan ditebus kemudian dengan pajak yang dikenakan pada generasi 2. Transfer antar generasi yang tumpang tindih seperti itu dapat berfungsi, sekalipun tidak ada pengaruh pada pembentukan modal sektor swasta. Kebalikan dari kasus ini, generasi 1 dapat memberi hadiah kepada generasi 2 dan menanggung semua beban tanpa menghasilkan generasi 2 untuk membayar hutang di masa mendatang. Hal ini persis sama dengan mekmisme yang diterapkan ketika pensiun hari tua diberlakukan dan yang pensiun pertama kali diberi tunjangan tanpa harus memberi sumbangan. Pengalihan Beban Melalui Hutang Luar Negeri Setelah membahas peranan pinjaman domestik, sekarang kita beralih pada pinjaman dari sumber-sumber luar. Mekanisme pengalihan beban melalui pinjaman luar negeri berbeda dalam beberapa hal. Perbedaan pertama adalah bahwa sekarang tidak ada keharusan bagi generasi 1 untuk mengurangi pengeluarannya. Pengeluaran sektor swasta tetap tidak berubah karena sumber daya tambahan yang diperlukan diperoleh dari luar negeri melalui surplus impor. Pembiayaan melalui pinjaman sekarang menimbulkan beban pada generasi 2 bukan dalam bentuk pembentukan modal yang berkurang, tetapi dengan membebani mereka dengan kewajiban untuk melunasi hutang kepada luar negeri. Pajak sekarang dipakai untuk membayar bunga kepada pihak luat negeri, bukan kepada pemegang hutang domestik. Generasi 2 tidak lagi berhutang kepada dirinya sendiri. Beban hutang luar negeri ini menggantikan kerugian pendapatan modal yang harus ditanggung oleh generasi 2, bila pembiayaan dilakukan melalui pinjaman domestik dan berakibat pengurangan dalam pembentukan modal. Sekarang bandingkanlah tiga sumber pembiayaan: (1) pajak, (2) pinjaman domestik dan (3) pinjaman luar negeri. Asumsikan bahwa metode I diambil dari konsumsi dan 2 diambil dari pembentukan modal, maka metode I akan membebani gcnerasi sekarang sedangkan metode 2 dan 3 akan membebani masa depan. Sekalipun metode 2 dan 3 sama dalam hal ini (dalam masalah beban), tetapi pilihan diantara keduanya tidak berarti harus persis sama. Jawabanya tergantung pada biaya pinjaman di dalam negeri dan di luar negeri. Jika biayanya sama (jika pengembalian pada modal domestik sama dengan tingkat bunga di luar), beban yang ditanggung generasi 2 akan sama dalam kedua kasus tersebut. Tetapi jika biaya domestik lebih tinggi, pinjaman luar mungkin akan lebih disukai. Pengandalan pada sumber daya luar negeri tidak harus melibatkan penempatan langsung hutang di luar negeri, tetapi dapat mengambil bentuk yang tidak langsung. Hasil yang sama bisa diperoleh jika hutangnya ditempatkan secara domestik, yaitu dengan menaikkan tingkat bunga yang menyebabkan arus masuk modal dan sekali lagi merupakan surplus impor. Jika disalurkan pada konsumsi, generasi 1 sekali lagi lepas dari beban sedangkan generasi 2 membayar pelunasan hutang pada dirinya sendiri, tetapi mereka harus membagi sebagian pendapatan nasional dengan pemilik luar negerinya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

mekanisme pengalihan beban pembiayaan dari pinjaman intern dengan demikian tidak dapat ditempatkan dalam situasi di mana seharusnya sangat tepat. biaya awal ditutup dengan pinjaman yang biasanya diperoleh dari pasar luar. Kenaikan ini dengan sendirinya tidak diinginkan. karena tujuan pokok program terebut mensyaratkan bahwa pembentukan modal secara total (publik atau swasta) harus naik. Meskipun mekanisme pengalihan beban dapat digunakan untuk menyebarkan biaya investasi publik. generasi mendatang. Dalam proses itu. dan yang lebih penting adalah bahwa tidak adil menimpakan semua beban kepada mereka yang membayar pajak dalam tahun tersebut. hutang diamortisasi dan dibayar kembali pada saat fasilitas itu digunakan. karena hal ini akan mengakibatkan penurunan tingkat pembentukan modal swasta. kenaikan sementara yang tajam dalam tarif pajak mungkin diperlukan. yang akan kita bahas nanti pada saat membicarakan pembiayaan pembangunan. karena wajib pajak merasa lebih mudah untuk membayar tarif pajak yang kurang lebih stabil. Sekali lagi. dengan setiap generasi membayar untuk bagian manfaatnya sendiri. Andaikan suatu kotapraja bermaksud membangun gedung sekolah. Pembagian beban itu tidak hanya terjadi di antara kelompok umur. Sebuah kotapraja yang membiayai bangunan sekolahnya dengan meminjam dan mengamortisasikan hutang itu selama usia kegunaan aktiva itu. tidak demikian halnya dengan pinjaman luar negeri. warga kota dan penerima manfaat akan dipajaki setiap tahun sesuai dengan bagian manfaat yang diterimanya dalam masa berjalan. Karena usia kegunaan fasilitas itu akan berlangsung selama tiga puluh tahun. Dalam tahun-tahun berikutnya. Pengalihan Beban dalam Pembiayaan Pembangunan Pembahasan sebelumnya memberi implikasi yang kurang menyenangkan terhadap pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Prinsip pemajakan berdasar kaidah manfaat ditempatkan dalam mengalokasikan beban di antara generasi-generasi. keadilan antar generasi terjamin. Lagipula. cara yang paling adil adalah menyebarkan beban itu di antara generasigenerasi berikutnya dari warga kota yang akan memanfaatkan fasilitas tersebut. Tetapi tidak ada keuntungan yang diperoleh dalam pencapaian tujuan ini jika pembentukan modal publik dibiayai dengan pinjaman. Sayangnya. Pengeluaran ini dengan demikian menyebabkan kenaikan tajam dalam total pengeluaran kotapraja. tetapi juga di antara kelompok-kelompok warga kota yang berubah dengan berubahnya populasi jurisdiksi akibat migrasi ke dalam dan migrasi ke luar. yaitu topik. Bila pengeluaran itu akan dibiayai dari pajak. namun hal itu tidak dapat digunakan untuk menyebarkan biaya program pembangunan dalam arti luas. Akan tetapi. karena pada tingkat inilah sejumlah besar pengeluaran investasi publik dilakukan dan dibiayai. yang akan mempunyai usia kegunaan selama tiga puluh tahun.117 Peminjaman oleh Pemerintah Daerah Masalah keadilan antar generasi muncul paling serius pada tingkat lokal. oleh karenanya memberikan suatu pola pembagian beban yang seimbang. Untuk melaksanakan pemajakan berdasarkan manfaat. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Masalah utamanya adalah pilihan jatuh tempo. ini tampaknya suatu aturan yang terlalu sederhana. Jadi hutang Inggris selama abad sembilan belas sebagian besar berbentuk konsol atau surat berharga berkesinambungan (perpetual securities) yang tidak mempunyai tanggal jatuh tempo tetap. suku bunga jangka pendek teeryata selalu mendekati atau di atas suku bunga jangka panjang. yaitu dalam jatuh tempo jangka panjang. Makin pendek rata-rata hutang yang beredar. harus diambil keputusan mengenai jenis instrumen hutang apa yang akan diterbitkan. makin besar volume kegiatan pendanaan kembali tahunan. hal itu akan didanakan kembali ke dalam surat berharga lain. Bila dipertimbangkan lebih cermat. Secara tradisional dinyatakan bahwa hutang publik harus didanai (funded) dengan baik. manajemen hutang melibatkan kegiatan pelunasan tahunan yang besar. Meskipun tingkat keseluruhan hutang dapat dinaikkan pada beberapa periode dan diturunkan pada periode lainnya (tergantung pada apakah kebijakan stabilisasi menghendaki defisit atau surplus). maka surat berharga yang harus dipilih adalah surat berharga yang menyerap biaya paling rendah bagi investor. Struktur Jangka Waktu dari Suku Bunga Jika kita melihat ke belakang pada sejarah suku bunga sepanjang-abad ini. Apakah suku bunga jangka panjang berada di atas atau di bawah suku bunga jangka pendek. seperti halnya pembiayaan kenaikan total hutang. tetapi dapat ditarik oleh pemerintah asalkan dibayarkan pada harga pasar. Seperti yang dikemukakan sebelumnya. Dalam melaksanakan kegiatan ini. Apabila suatu surat berharga jatuh tempo. yakni mereka akan meminjam dari pemberi pinjaman yang berbiaya paling rendah. Prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa pemerintah akan membeli pensil dari pemasok yang paling murah. Manajemen hutang didasarkan pada asumsi bahwa surat berharga yang jatuh tempo selalu dapat dilunasi. Pandangan modern terhadap hutang nasional dan posisi pemerintah nasional dalam pasar hutang sangat berbeda. tergantung pada apakah suku bunga itu diperkirakan akan naik atau turun. Jika demikian halnya. tidak dapat diperkirakan bahwa akumulasi hutang masa lain dapat dilunasi. Pola ini terbalik selama tahun-tahun depresi 1930an di mana laju suku bunga menurun tajam dan suku bunga jangka pendek berada di bawah suku Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi ini tidak berkaitan khusus untuk menentukan struktur jatuh tempo. Ketentuan ini akan melindungi pemerintah terhadap kontinjensi bahwa kreditor akan menuntut uangnya kembali pada waktu yang tidak tepat.118 Manajemen Hutang Struktur jangka waktu dari suku bunga dan kriteria untuk bauran jatuh tempo hutang yang optimal perlu ditelaah. juga berlaku terhadap pinjaman. pedoman dasar apa yang dipakai untuk memilih jatuh tempo yang akan ditawarkan Departemen Keuangan? Salah satu jawaban yang mungkin adalah memilih struktur jangka waktu dari hutang untuk meminimalkan biaya bunga. tetapi marilah kita lihat bagaimana penerapannya. Pilihan terhadap struktur jatuh tempo dapat dipandang sebagai suatu cara untuk membeli likuiditas pada biaya yang paling rendah. Karena biaya untuk meminjam cenderung berbeda sesuai dengan jatuh tempo hutang.

Jadi pemintaan akan surat hutang beralih dari jangka panjang ke jangka pendek. Pada saat yang sama. sesuai dengan teori ini. Kebijakan Bank Sentral dengan demikian menggunakan ketentuan tagihan saja di mana semua kegiatan pasar terbuka dan dijalankan dalam Treasury Bills. Teori Struktur jangka Waktu Para ekonom telah mencoba untuk menjelaskan istilah struktur suku bunga berdasarkan tingkat pengharapan. Akibatnya. penawaran surat hutang beralih dari pasar jangka pendek ke pasar jangka panjang. Akibatnya.119 bunga jangka panjang. pasaran surat berharga kembali ke pola suku bunga yang lebih tinggi. pemintaan surat hutang jangka panjang turun relatif terhadap penawarannya. Kebijakan ini terbukti tidak sesuai dengan penerapan pembatasan moneter. Jadi. sehingga memungkinkan pembiayaan hutang perang pada biaya yang lebih rendah. Tambahan 6 persen diperlukan untuk mempertahankm daya beli obligasi sekalipun keuntungan bersih dalam bentuk neto hanyalah 3 persen. Harga surat hutang jangka pendek meningkat dan hasilnya menurun. Tingkat jangka panjang. harga surat hutang jangka panjang menurun dan hasilnya meningkat. apabila diperlukan untuk menjaga harga obligasi agar tidak turun dan menjaga hasil obligasi agar tidak naik. pemberi pinjaman (atau peminta surat hutang) akan ragu-ragu untuk mengikat dirinya untuk periode waktu yang lama. Penyesuaian inflasioner ini diperhitungkan untuk kenaikan tajam dalam suku bunga umum. Dalam suatu situasi di mana diperkirakan tidak ada perubahan dalam suku bunga. Selama periode perang. di pihak lain senang meminjam sebelum biaya-biaya naik. tingkat ymg rendah ini dipertahankan. Jadi. seperti yang berlaku dalam argumen. kurva hasil akan miring ke atas. karena Bank Sentral harus selalu siap membeli obligasi di pasar terbuka. Peminjam (atau penawar surat hutang). Inflasi akan menaikkan suku bunga karena pemberi pinjaman ingin melindungi diri mereka terhadap kerugian nilai riil klaim mereka. Jadi. Hal ini mengharuskan penyempurnaan jumlah besar hutang oleh bank-bank komersial dan kenaikan yang sepadan dalam jumlah uang beredar. Kebijakan masa perang ini berlanjut sampai awal tahun lima puluhan. jika suku bunga atau pengembalian riil dalam keadaan tanpa inflasi adalah 3 persen. atau 9 persen. timbul untuk menceminkan tingkat jangka pendek masa depan yang diperkirakan. Sesudah transisi secara bertahap. Dampak lnflasi Akhimya. sedangkan laju inflasi yang diperkirakan adalah 6 persen. pemintaan akan surat hutang jangka pendek meningkat relatif terhadap penawarannya. karena mereka berharap mendapatkan jangka waktu yang lebih menguntungkan di waktu berikutnya. sama seperti Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal sebaliknya akan timbul bila diperkirakan akan terjadi penurunan tingkat bunga. Metode yang dipertahankan oleh Departemen Keuangan ini diserang oleh Sistem Bank Sentral. dengan tingkat jangka pendek dan jangka panjang bergerak mendekat satu sama lain dan tingkat jangka pendek kadang-kadang di atas tingkat jangka panjang. bagaimanakah mekanisme masuknya inflasi ke dalam struktur suku bunga? Dampak inflasi terhadap suku bunga umum mudah kita lihat. tidak ada alasan bahwa tingkat jangka pendek dan jangka panjang akan berbeda. akibat naiknya harga-harga. Akibatnya. maka suku bunga nominal akan cenderung menjadi 3+6.

tetapi dengan pembayaran kupon tahunan yang bervariasi mengikuti tingkat inflasi. Andaikan bahwa Departemen Keuangan dapat meminjam untuk jangka waktu satu tahun pada 5 persen dan dua puluh tahun pada 7 persen. Hal yang penting adalah sekali suatu komitmen telah dibuat. Dengan demikian manajemen hutang merupakan suatu seni yang tinggi. Atau terhadap obligasi tersebut ditetapkan nilai pari yang tetap. Telah beberapa kali diusulkan agar Departemen Keuangan dan wajib pajak dapat dilindungi terhadap perubahan yang tak terduga dalam laju inflasi.120 perkiraan penurunan inflasi yang diperhitungkan untuk perkiraan penuruan suku bunga. Jika para pengelola hutang berharap suku bunga akan naik. Jawabnya jelas tidak. sehingga struktur jangka waktu tidak akan dipengaruhi. pemerintah pusat dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Biaya bunga hutang yang telah dibuat harus dibayar untuk periode penuh meskipun tingkatnya bisa turun. Hubungan antara inflasi dan jangka waktu suku bunga kurang jelas. Yang menjadi masalah pokok adalah arah perubahan suku bunga yang diharapkan oleh Departemen Keuangan. suatu harapan bahwa inflasi akan menurun akan ccnderung menurunkan suku bunga nominal masa depan. maka struktur jangka waktu akan dipengaruhi. pilihannya adalah pada jangka pendek. Demikian pula sebaliknya untuk kenaikan yang diperkirakan dalam tingkat inflasi. beban tambahan inflasi juga akan tetap pada 4 persen. dan keuntungan dari suku bunga yang rendah akan terus diakrualkan sekalipun tingkatnya mungkin naik. Jadi. Hanya jika laju inflasi yang diperkirakan berubah. dapat ditempatkan pada biaya jatuh tempo ymg paling rendah. tidak ada lagi jalan keluar lain. sehingga menyebabkan penurunan dalam tingkat jangka panjang relatif terhadap tingkat jangka pendek. karena pada akhir tahun peluang untuk meminjam pada 7 persen mungkin akan lenyap jika tingkat bunga naik. Atau andaikan Departemen Keuangan dapat meminjam untuk 20 tahun pada 5 persen dan untuk satu tahun pada 7 persen. jika mereka memperkirakan suku bunga akan turun. dan investor mengharapkan laju ini dapat dipertahankan. Namun bagaimanapun juga. Ini tidak berarti bahwa mengambil surat berharga satu tahun akan lebih baik. dengan menerbitkan obligasi yang berjangka lebih panjang dan nilai pelunasan dari surat berharga tersebut diindeks pada tingkat harga. Pilihan yang pertama belum tentu baik karena tingkat bunga bisa juga turun sebelum dua puluh tahun berakhir. yang membutuhkan penaksiran tajam terhadap prospek pasar untuk jangka waktu yang cukup panjang. kriteria biaya bunga minimum tidak memberikan pedoman yang mencukupi. bila diukur dengan hasil saat ini. Tetapi seandainya pun perubahan tingkat yang diperkirakan telah diperhitungkan. katakanlah 4 persen. pilihan yang tepat adalah meminjam untuk jangka panjang. Selama inflasi bergerak pada laju yang konstan. Struktur Jangka Waktu dan Manajemen Hutang yang Efektif Sekarang kita dapat mempertimbangkan kembali implikasi struktur jangka waktu dari suku bunga untuk majemen hutang dan mempertanyakan apakah biaya bunga dapat diperkecil dengan menjual surat berharga yang.

mungkin beralasan bagi Departemen Keuangan untuk menerbitkan surat berharga seperti itu. atau jenis penerbitan yang akan ditarik bila surplus digunakan untuk pengurangan hutang. Untuk melakukan hal ini. Penggantian hutang dengan uang jelas merupakan cara yang paling murah untuk menangani masalah tersebut. Dalam hal apapun. Para investor yang ingin menahan persediaan surat berharga jangka panjang dan jangka pendek pada rentang hasil tertentu. Timbul pertanyaan apakah satu dollar dari hutang jangka pendek bermanfaat mengurangi likuiditas seperti satu dollar dari hutang jangka panjamg. Perpanjangan hutang pada saat pengembalian cenderung untuk menjadi restriktif. Pertimbangan serupa yang diterapkan pada pendanaan kembali (atau swapping hutang) juga berlaku dalam hal memilih jenis penerbitan surat berharga untuk membiayai defisit. tujuan kebijakan jangka pendek. mereka menginginkan syarat yang lebih menguntungkan pada surat berharga jangka panjang dan bisa menerima syarat yang kurang menguntungkan pada surat berharga jangka pendek. Jadi prinsip meminimisasikan biaya bunga harus dinilai kembali karena adanya pembelian likuiditas pada jangka yang lebih murah. yang tidak selaras dengan tujuan kebijakan stabilisasi.121 pengendaliannya atas penciptaan uang dapat mengatur laju suku bunga di pasar. karena sama sekali tidak akan melibatkan biaya bunga. sekarang harus menahan lebih banyak surat berharga jangka panjang dan lebih sedikit jangka pendek. Pengaruh restriktif dari kenaikan suku bunga jangka panjang pada investasi swasta akan melebihi pengaruh ekspansioner dari penurunan suku bunga jangka pendek. Dipandang dari sudut ini. manajemen hutang dapat digunakan untuk mendukung dampak ekspansioner dan restriktif dari kebijakan stabilisas saat ini. baik langsung melalui pencetakan uang ataupun dengan meminjam dari bank sentral. Namun itu bukanlah pemecahan yang memuaskan. yang menimbulkan kenaikan tingkat pemintaan agregat dan inflasi yang berlebihan. bukan perkiraan perubahan tingkat jangka panjang dan implikasinya pada biaya bunga. dan cara melakukan hal ini adalah dengan membayar mereka. sejauh bersangkutan dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Para investor harus diyakinkan untuk memiliki surat hutang dan bukan uang. karena pengeluaran modal biasanya didasarkan pada pembelanjaan jangka panjang. Jika hutang jangka panjang membuat penanamnya kurang likuid. karena mengganti hutang dengan uang akan menaikkan likuiditas dalam jumlah besar. Mereka selalu dapat mengganti hutang publik dengan uang. dan sebaliknya mempersingkat hutang cenderung untuk menjadi ekspansioner. Perpanjangan akan menaikkan suku bunga jangka panjang relatif dibanding jangka pendek. Di samping penyesuaian jangka pendek. tetap ada pertanyaan mengenai apa yang merupakan bauran jatuh tempo yang baik. Konsekuensinya. tujuan menerbitkan surat hutang dan bukan uang (atau mengganti hutang jatuh tempo yang beredar dengan hutang baru dan bukan menguangkannya) adalah membeli likuiditas. yang mungkin merupakan faktor penentu dalam menentukan kebijakan manajemen hutang. Hutang jangka pendek cenderung lebih mirip uang. sekalipun biaya bunga agak lebih tinggi. jadi perpanjangan hutang akan bersifat restriktif.

Pertimbangan untuk meminjam pada tingkat pemerintah lokal dengan demikian sangat besar dibandingkan dengan tingkat pusat. di mana kebijakan stabilisasi merupakan penentu utama. Akibatnya. Dampak likuiditas pada sektor swasta dari kombinasi hutang yang lebih panjang serta persediaan uang yang lebih besar. orang akan mempunyai pandangan bahwa struktur jatuh tempo yang seimbang sampai. Jika kita perhatikan kembali pembahasan dalam pemerintah lokal. akan membuat perkonomian berada dalam posisi yang lebih likuid hingga cenderung untuk menaikkan kemungkinan perubahannya. jika hal itu tidak efisien. dengan membebaskan pajak pusat untuk pembayaran bunga atas hutang tersebut. seperti yangg dikemukakan sebelumnya. akan dipilih oleh seseorang dengan hampir semuanya jangka pendek atau hampir semuanya jangka panjang. Peningkatan penggunaan yang meragukan atas pinjaman pemerintah lokal dilakukan dalam bentuk obligasi pendapatan. mungkin serupa dengan dampak kombinasi hutang jangka pendek dengan persediaan uang (jumlah uang beredar) yang lebih kecil. tergantung pada posisi fiskal dari juridiksi dan peringkat kreditnya. Perbedaan ini berlaku baik mtuk sisi permintaan maupun untuk sisi penawaran. Persentase kenaikannya agak di bawah hutang pemerintah dan GNP. Hutang pemerintah lokal sekarang melebihi $500 milyar dan telah naik dengan jumlah tahunan rata-rata sekitar $15 milyar selama dekade lalu. yang pada hakikatnya berlaku untuk membiayai industri swasta di bawah payung kebebasan pajak. temasuk obligasi umum dan obligasi pendapatan khusus. Suatu hutang pada ukuran tenentu. sebagian besar akan tergantung pada besamya stok uang. dan biaya peminjaman banyak bevariasi. Pada sisi pemintaan. Hutang ini sebagian besar berjangka panjang dan mengmbil berbagai bentuk. Hutang Pemerintah Lokal Akhimya. tugas kebijakan stabilisasi menjadi lebih sulit. katakanlah lima belas tahun.122 hutang yang beredar. pemerintah lokal tidak memiliki kendali atas kondisi pasar uang tempat mereka harus meminjam. suatu hutang ymg terlalu panjang dapat menimbulkan kekakuan dalam struktur keuangan dan kurang dapat memberikan likuiditas yang diperlukan. Hutang jangka panjang. tetapi ini hampir bukan merupakan pertimbangan yang menentukan. Masalah manajemen hutang untuk pemerintah lokal berbeda dengan tingkat pusat. kita bahas secara singkat mengenai pasar bagi hutang pemerintah lokal. memerlukan volume kegiatan pendanaan kembali yang lebih kecil. Pada sisi penawaran dalam pasar dana. Yang terakhir dikeluarkan oleh instansi tertentu atau perusahaan umum. karena hasil (yields) tergantung pada peringkat kredit dari jurisdiksi. dan lebih mirip investor swasta yang berupaya mengamankan dana di pasar. Bila tidak ada penalaran yang lebih baik. Di pihak lain. Biaya peminjaman untuk pemerintah lokal dikurangi. Yang terbaik dapat dilakukan adalah mendapatkan dana pada syarat yang menguntungkan yang tersedia. lebih bijaksana apabila pengeluaran tersebut dibiayai dari pinjaman dan bukan dari pajak. seperti perusaahaan listrik dan air minum yang dikelola Dasar-dasar Keuangan Publik . Pasar untuk hutang pemerintah lokal sangat terstratifikasi. jika jangka pendek. kesempatan untuk meminjam oleh pemerintah lokal terjadi terutama ketika sejumlah besar pengeluaran modal harus dibiayai. hal ini. Dalam situasi apapun.

Keuntungan pajak ini akan mengalihkan dana ke pasar yang bebas pajak. maka dukungan seperti itu maka sama saja dengan menggunakan hibah untuk keperluan pengeluaaran modal. Dukungan terhadap pinjaman negara bagian dan lokal atas dasar lebih selektif. dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh subsidi langsung dari pemerintah pusat pada biaya yang sama. jawaban pertanyaan tersebut negatif. baik berdasarkan dampak pelimpahan (spillover effects) atau pun pertimbangan manfaat. sehingga mcngurangi biaya peminjaman pemerintah lokal dan negara bagian. membayar pajak lebih sedikit daripada mcreka yang mendapat penghasilan sama dari sumber lain.6 persen. keuntungan ini banyak dikurangi pada tahun 1986 melalui pemotongan tarif pajak marjinal. atau subdivisi lain. Tetapi bentuk bantuan khusus ini memperoleh kritik karena dua alasan. Lebih lanjut. misalnya jalan raya dan bangunan sekolah. Pertama. Dengan demikian. mungkin lebih dapat Dasar-dasar Keuangan Publik . akan lebih baik jika bantuan tersebut diberikan dcngan cara yang tidak melibatkan preferemi pajak. pertanyaan yang timbul kemudian adalah apakah pengeluaran modal (capital expenditure) sebagai suatu kelompok lebih dipilih dibanding pengeluaran masa berjalan (current expenditure) hingga bermanfaat memberikan subsidi khusus. seperti halnya hibah menurut kategori tertentu. Seorang investor yang tarif pajak marginalnya 28 persen akan bersedia (dengan asumsi hal lain tetap sama) mensubstitusikan obligasi kotapraja yang menghasilkan 4 persen untuk obligasi perusahaan yang menghasilkan 5.123 oleh negara bagian. bantuan ini mempengaruhi segi keadilan dari struktur pajak penghasilan. terdapat pertanyaan selanjutnya tentang apakah dukungan umum untuk pembayaran bunga pada tingkat negara bagianlokal tersebut diperlukan. Dipandang dari sudut ini. nilai pembebasan pajak meningkat menurut tarif kelompok sehingga mengganggu keadilan vertikal. kebijakan publik memberikan dukungan secara umum terhadap pinjaman pemerintah lokal dengan membebaskm pajak penghasilan bunga surat berharga menurut pajak penghasilan. kotapraja. pembebasan pajak hanya menghasilkan keuntungan tabungan bunga yang lebih kecil terhadap pemerintah lokal. Penerima penghasilan tinggi yang menerima bunga bebas pajak. Terlepas dari masalah politik dan sejarah konstitusional (dilihat dari pembahasan sebelumnya bahwa instrumentalitas pemerintah lokal harus dibebaskan dari perpajakan pusat). negara bagian maupun lokal. Seperfi telah dibahas sebelumnya. Tampaknya. Karena pinjaman pemerintah lokal digunakan untuk pengeluran modal. Selain itu. alasan pokok terhadap dukungan bunga umum tampaknya meragukan. Biaya penyediaan dana bagi berbagai juridiksi peminjamaman merupakan faktor penting bagi ketentuan pelayanan lokal dan negara bagian yang melibatkan pengeluaran modal yang besar. Karena alasan ini. dan laba perusahaan itu digadaikan untuk membiayai pelunasan hutang. Pembebasan Pajak versus Subsidi Bunga Langsung Seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Terlepas dari pertanyaan tentang cara bagaimana dukungan pembayaran bunga yang paling baik dapat diberikan. Pengeluaran seperti itu sangat penting baik dari sudut pandang nasional. peminjaman ncgara bagian dan lokal merupakan aspek tambahan dari federalisme fiskal.

Akhir-akhir ini praktek seperti itu juga telah diperluas dengan memberikan dana hipotik. Obligasi seperti itu diterbitkan oleh jurisdiksi pemerintah lokal. hal itu juga akan menimbulkan pembiasan politik pada dana yang tersedia. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi. hal itu dipandang sebagai sarana untuk menarik perusahaan ke daerahnya. Dengan perkataan lain. suatu bank dapat berfungsi sebagai alat dalam mengatasi ketidakmenentuan yang sekarang berlaku dari sistem peringkat kredit. perlu diperhatikan pula pertumbuhm pendapatan obligasi industri selama dekade terakhir. pembentukan lembaga perantara keuangan (financial intermediaries) yang meminjam untuk dirinya sendiri di pasar dan kemudian meminjamkan kembali kepada kotapraja lebih bisa dipertimbangkan. institusi tersebut dapat bermanfaat dalam menstabilisasikan fluktuasi siklus pada biaya pinjaman dan dalam memodifikasi dampak perubahan kebijakan moneter terhadap sektor pasar modal ini.124 dibenarkan Dalam hubungan ini. Jadi. Obligasi Pendapatan industri Akhimya. dan berbagai pembatasan telah diterapkan. Di pihak lain. pengurangan dalam biaya pendanaan melalui pembebasan pajak pusat diteruskan pada kesatuan yang pada hakikatnya merupakan perusahaan swasta. dan hal itu akan mengurangi biaya pinjaman bagi kotapraja kecil dengan cara menyebarkan risiko. Dan sudut pandang kotapraja tertentu. Tetapi kebijakan seperti itu tidak dapat dipertahankan dari sudut pandang nasional. dan hasilnya digunakan untuk membangun fasilitas industri yang pada gilirannya disewakan kepada perusahaan-perusahaan swasta.

Sedangkan pada fungsi regulator. pajak dimaksudkan untuk mengumpulkan dana yang akan digunakan bagi pembiayaan kegiatan rutin operasional pemerintah mengatur negara.125 B A B XIII DASAR-DASAR PERPAJAKAN ktivitas pemerintah memerlukan realokasi sumber-sumber daya dari sektor swasta. pajak adalah wajib. masyarakat harus dihimbau secara sukarela menyerahkan sebagian pendapatannya untuk kepentingan penyediaan barang-barang dan jasa-jasa publik. Sedangkan terhadap pelanggar peraturan perpajakan dapat dikenai hukuman yang berlaku. Kewajiban pajak menurut undang-undang dapat dipaksakan. sumber penerimaan pajak adalah yang terbesar. Untuk itu. Di Indonesia. Jenis-jenis penerimaan tersebut antara lain: Dasar-dasar Keuangan Publik . pemerintah dapat mendorong investasi yang menghasilkan barang-barang produksi tertentu atau sebaliknya. Dengan sistem perpajakan. Menurut sifatnya. Disamping sebagai sumber penerimaan negara (fungsi budget). pemerintah dapat menggunakan sumber-sumber non pajak yang mampu menggalang dana bagi keperluan pembiayaan pengeluaran publik. kebijakan perpajakan dimaksudkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan dengan cara mengatur pola produksi dan konsumsi barang-barang ekonomi. A Penerimaan Pajak Pajak adalah pungutan yang ditarik dari masyarakat tanpa mengakibatkan timbulnya kewajiban bagi pemerintah terhadap pihak pembayar. Pada fungsi budget. Mekanisme perpajakan juga dapat diterapkan untuk mendorong atau mengurangi jumlah pendapatan yang dikonsumsikan. Penerimaan Non Pajak Disamping pajak. pajak juga dapat difungsikan sebagai alat pengaturan dan pengawasan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sektor swasta (fungsi regulator). Pengumpulan pendapatan dari masyarakat dapat dikategorikan sebagai penerimaan pajak dan penerimaan non pajak.

tarif pintu masuk tempat-tempat rekreasi. Dasar-dasar Keuangan Publik . 3. dewasa ini fungsi perusahaan negara terutama bukan untuk mencari laba tetapi lebih pada pemicu pertumbuhan ekonomi. Government Induced Inflation dilakukan dengan cara mencetak uang baru untuk membiayai pengeluaran publik. Di Indonesia. Untuk mendorong iklim investasi yang positif. pemerintah akan membayarkan sejumlah bunga selama pinjaman tersebut belum dilunasi. 4. Penggalangan dana tersebut biasa dilakukan melalui himbauan-himbauan yang dapat menggugah kerelaan masyarakat. Akan tetapi. menurut kaidah ekonomi akan menyebabkan kenaikan harga pasar barang dan jasa. Debt Finance Government Induced Inflation Donations User Charges Government Enterprise Lottery Debt Finance adalah penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pengeluaran publik. Kebijakan yang serupa seperti kegiatan melepas cadangan uang yang ditahan oleh bank sentral dapat juga dikategorikan sebagai Government Induced Inflation. 6. jalan tol dan sebagainya. adanya keterkaitan langsung antara jumlah nominal yang dibayar dengan balas jasa yang diterima. jasa atau keduanya untuk memperoleh laba. Dewasa ini. Hal ini biasanya dilakukan untuk membiayai suatu proyek besar dan memakan waktu lama seperti pembangunan rumah sakit. Misalnya penggalangan dana kemanusiaan untuk korban bencana alam. Government Enterprise adalah perusahaan yang dimiliki pemerintah yang memproduksi dan menjual barang. 5. Inti dari kegiatan ini adalah mengakibatkan penambahan jumlah uang yang beredar dimasyarakat. Donations adalah kontribusi sukarela kepada pemerintah dari masyarakat atau oraganisasi-organisasi kemasyarakatan. karena sulitnya memprediksi. dewasa ini banyak sekali jenis-jenis retribusi yang diatur dengan Peraturan Daerah yang dimaksudkan untuk menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD). mekanisme pinjaman oleh pemerintah terhadap dana masyarakat dapat juga digunakan untuk mengurangi jumlah uang beredar. Sebagian laba yang dihasilkan perusahaan-perusahaan negara dapat dijadikan sebagai tambahan penerimaan pemerintah. dana hibah tidak dapat diharapkan sebagai alternatif penerimaan andalan.126 1. Untuk keperluan pinjaman. Pinjaman merupakan penarikan dana masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah dengan janji untuk membayar kembali pada masa mendatang. kebijakan utang oleh pemerintah diaplikasikan dengan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN). Dana hibah (grant/sumbangan yang tidak perlu dikembalikan) negara lain dapat juga dianggap sebagai donations. Adanya tambahan jumlah uang beredar yang tidak diikuti tambahan jumlah produksi. Berkaitan dengan otonomi daerah. 2. seperti tarif jalan tol. Dengan kata lain. tarif parkir dan sebagainya. korban peperangan dan sebagainya. Pada kebanyakan negara maju. User Charges atau retribusi dipungut apabila dimungkinkan untuk dikenakan kepada masyarakat yang menggunakan jasa-jasa tertentu.

tetapi juga dapat difungsikan sebagai regulator (pengatur). Hal ini juga perlu ditunjang dengan adanya kecukupan proses sosialisasi dengan memasukkan unsur-unsur kemajemukan masyarakat. Jika dirasakan bahwa sektor swasta telah mampu mengembangkan sektor ekonomi tertentu. kebijakan ini sering disalahgunakan oleh sebagian masyarakat dengan kultur tertentu yang senang berangan-angan dan ingin merubah status sosialnya secara cepat. Kebijakan perpajakan harus dibuat sesederhana mungkin dan diformulasikan menggunakan kata-kata yang meminimalkan adanya penafsiran ganda. Prinsip kepastian dimaksudkan agar pada pelaksanaan pemungutan pajak tidak terjadi distorsi berupa kesalahan yang disengaja (penyelewengan) atau yang tidak disengaja akibat kekurangpahaman. Pajak diharapkan dapat menjadi alat distribusi pendapatan secara lebih fair dan mengurangi kesenjangan pendapatan. Pada prakteknya. Prinsip-Prinsip Pajak Pada awal bab digambarkan bahwa pajak tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana masyarakat untuk membiayai pengeluaran publik. Prinsip keadilan (equity) 2. pemerintah dapat mengurangi perannya sedemikian rupa dengan cara melepas sahamnya kepada publik. Pada akhirnya. Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsipprinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1.127 perusahaan-perusahaan milik negara sebisa mungkin bersaing secara kompetitif dalam iklim pasar yang sehat. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. Prinsip kepastian (certainty) 3. Pembahasan selanjutnya akan memaparkan bahwa apapun kebijakan yang diambil. Secara teori. prinsip keadilan yang memuaskan semua pihak tidak akan pernah tercapai. kebijakan perpajakan harus berlandaskan pada prinsip-prinsip yang relevan. Atau masyarakat diharapkan lebih berniat untuk menyumbang kepada pemerintah dibanding berharap memenangkan hadiah. perusahaan-perusahaan yang dimiliki negara lebih berkonsentrasi pada sektor-sektor ekonomi yang belum mampu dibiayai swasta. Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini berakibat kurangnya tingkat produktivitas masyarakat pada sektor-sektor ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa. surat undian harus dijual secara murah sehingga tidak menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak menang. Prinsip kenyamanan (convenience) 4. Jumlah nominal pajak yang dibayarkan oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah harus lebih kecil dari golongan masyarakat yang lebih tinggi. Lottery adalah kegiatan penggalangan dana yang bertujuan untuk membiayai kegiatan tertentu dengan diiming-imingi hadiah bagi yang membeli surat undian. Prinsip ekonomi (economy) Prinsip keadilan menekankan bahwa beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan relatif masyarakat.

Siklus Arus Pajak Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. Kenyamanan wajib pajak dapat diberikan dengan bentuk layanan prima. pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pola pengeluaran rumah tangga serta perusahaan. Mereka sedapat mungkin tidak dikenakan biayabiaya lain diluar kewajiban pajak murni. Prosedur pembayaran pajak atau menjadi wajib pajak harus dibuat semudah mungkin. Pajak atas pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. Sebaliknya. Kepada mereka yang patuh diberikan penghargaan yang setimpal. Prinsip ekonomi menegaskan pentingnya perbandingan antara biaya dan hasil yang efisien. Untuk itu perlu diidentifikasi pos-pos penerimaan dan pengeluaran dalam siklus perekonomian. Biaya pemungutan juga tidak layak dibebankan kepada wajib pajak. Sehingga tujuan penggunaan pajak untuk pembiayaan pengeluaran publik lebih mudah tercapai. Dengan kata lain. sebisa mungkin dihindarkan adanya unsur-unsur menekan atau kekerasan.128 Prinsip kenyamanan menggarisbawahi pentingnya menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi wajib pajak agar dengan sukarela bersedia memenuhi kewajiban-kewajibannya. Upaya-upaya penarikan pajak harus disertai dengan kegiatan yang meminimalkan biaya pemungutan atau biaya-biaya lain yang dapat mengurangi penerimaan bersih negara. Pada hakekatnya siklus penerimaan dan pengeluaran dalam perekonomian pada umumnya adalah seperti gambar berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik .

deviden. jumlah pengenaan tarif pajaknya sama. Sedangkan jumlah pajak yang dipungut dihitung dengan mempergunakan tarif pajak. Total penerimaan perusahaan tersebut selanjutnya sebagian akan digunakan sebagai pengeluaran perusahaan (8). Dengan kata lain. Jumlah nominal konsumsi masyarakat akan sama dengan jumlah penerimaan kotor perusahaan dari pasar barang konsumsi (4) sedangkan jumlah investasi akan sama dengan jumlah penerimaan kotor dari pasar barang modal (6). Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan golongan masyarakat yang diperoleh dari penghasilan upah atau gaji sebagai karyawan dan pendapatan jasa modal. sedangkan seluruh tabungan masyarakat diasumsikan mengalir menjadi bagian dari investasi (5) yang pada akhirnya mengalir ke pasar barang modal. Progressive tax rate 3. Tarif Pajak Titik-titik pembebanan dalam siklus pajak adalah segala sesuatu yang dapat dikenakan pajak atau biasa disebut objek pajak. Pendapatan rumah tangga ini kemudian akan mengalir dalam dua bentuk yaitu sebagian menjadi konsumsi rumah tangga (2) sebagai biaya pemenuhan kehidupan sehari-hari masyarakat dan sisanya menjadi tabungan rumah tangga (3). Sebagai ilustrasi. dan sebagian lagi dibayarkan perusahaan sebagai biaya gaji karyawan (11) sedangkan sisanya adalah keuntungan perusahaan (12). Jika dilihat dari sudut pandangan dasar penentuan tarif pajak. Termasuk dalam keuntungan perusahaan adalah pendapatan jasa modal (14) yang dibayarkan kepada rumah tangga seperti bunga. secara umum terbagi atas tiga bentuk yaitu: 1. dan sewa. berapapun jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. Sedangkan tabungan perusahaan bersama-sama tabungan rumah tangga. Jumlah pendapatan rumah tangga yang dikonsumsi kemudian akan mengalir ke pasar barang konsumsi.1 Pos yang pertama adalah pendapatan rumah tangga (1). Proportional (flat) tax rate 2. Sedangkan golongan masyarakat lainnya yang memiliki usaha yang menghasilkan produk dikategorikan sebagai perusahaan. Regressive tax rate Proportional (flat) tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu. Sedangkan sisa keuntungan yang tidak dibagi (15) akan menjadi tabungan perusahaan (16). jika pendapatan yang diterima Dasar-dasar Keuangan Publik . Adapun total penerimaan dari kedua pasar tersebut disebut penerimaan kotor perusahaan (7).129 Gambar 11. Jumlah biaya gaji yang dibayarkan perusahaan akan menjadi pendapatan gaji (13) bagi rumah tangga. diasumsikan akan menjadi investasi seluruhnya. Sebagian pengeluaran perusahaan akan disisihkan untuk biaya penyusutan (9).

0 9.000 300 15.000 180 3.000 300 10.0 Istilah-istilah Dalam Perpajakan Pembahasan lebih lanjut mengenai perpajakan perlu dimulai dengan mengenal lebih jauh tentang definisi istilah yang sering muncul dalam dunia perpajakan.0 Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu. Sebagai ilustrasi. jika seorang wajib pajak mendapat kenaikan pendapatan sebesar 100%. Beberapa istilah yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain: • Pajak Perseorangan dan Pajak in Rem • Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung • Pembayaran Transfer Dasar-dasar Keuangan Publik . jumlah pendapatan yang lebih besar yang diterima oleh wajib pajak. Tabel 11.000 200 10.130 oleh wajib pajak naik sebesar 100%. Tabel dibawah ini menggambarkan bagaimana tarif pajak regressive diterapkan.0 3. Dengan kata lain.000 100 10. semakin menurun tarif yang dikenakan. Sebagai ilustrasi. peningkatan jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak.1: Pajak Proporsional Pendapatan Pajak Nominal % 1.0 2.0 8. akan dikenakan tarif yang lebih besar pula. jika kemampuan membayar seorang wajib pajak naik sebesar 100%.000 100 2. Dengan kata lain.000 240 % 10.0 Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak. Tabel 11.000 600 20.0 3. Tabel 11.0 2. Tabel dibawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak progessive diterapkan.3: Pajak Regresif Pendapatan Pajak Nominal 1. maka secara otomatis jumlah pajak yang terhutang menjadi naik sebesar 100%.000 100 10. Tabel dibawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak proportional diterapkan.2: Pajak Progresif Pendapatan Pajak Nominal % 1. jumlah pajak yang terhutang menjadi naik melebihi 100%. maka jumlah kenaikan pajaknya kurang dari 100%.

3. Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak langsung. maka pajak perseorangan diterapkan dalam bentuk pajak pengeluaran perseorangan (personal expenditure tax) Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian. Dasar-dasar Keuangan Publik . penjualan. Pajak tidak langsung cenderung lebih stabil digunakan sebagai sarana penerimaan negara dibanding pajak langsung. Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Tanpa pandang bulu. Biaya-biaya yang ditimbulkan akibat adanya penerapan pajak tidak langsung relatif lebih murah dibanding pajak langsung. maka seluruh sumber pendapatan perseorangan harus digabung sebagai basis pembayar pajak. Pajak tidak langsung adalah pajak yang tidak dipungut secara berkala dan dapat beralih sampai dengan penanggung akhir beban tersebut. Hal yang sama juga berlaku ketika mengenakan pajak terhadap harta kekayaan.131 Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan dimana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak. Jumlah nilai yang diperoleh melalui pajak tidak langsung cenderung lebih mudah diprediksi. semua yang melakukan transaksi atau kejadian tertentu. Untuk menentukan kemampuan seseorang dalam membayar pajak atas pendapatan (personal income tax). Sedangkan jika konsumsi juga akan dikenai pajak. Pengertian dari pajak cukai adalah pajak tidak langsung yang diterapkan atas penjualan barang-barang manufaktur tertentu. Sifat pemungutan pajak ini cukup sederhana dan biasanya dikaitkan dengan adanya kejadian tertentu. diwajibkan melunasi pajak yang tertenggung. menurut Suparmoko adalah sebagai berikut: Kebaikan: 1. Pengenaan pajak dapat mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang besar kecilnya penghasilan yang diperoleh. Beberapa kebaikan dan kekurangan dari pajak tidak langsung. tidak diperlukan banyak perangkat yang bertujuan untuk mensosialisasikan aturan tersebut. wajib membayar pajaknya. Dikarenakan kesederhanaan landasan aturan yang dipakai. atau pemilikan harta kekayaan. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap rumah tangga ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala. Maka hampir semua pajak in Rem. Aktivitas atau objek yang dikenakan pajak tidak terkait dengan karakteristik pihak-pihak yang melakukan transaksi atau pemiliknya. Siapapun yang melakukan aktivitas-aktivitas tertentu atau memiliki objek-objek pajak tertentu. Pajak pertambahan nilai dan cukai merupakan pajak tidak langsung. Pajak in Rem dapat dikenakan atas rumah tangga atau badan usaha. yang berkaitan dengan nilai kekayaan dari perseorangan atau perusahaan. 2. Pajak perseorangan dikenakan atas transaksi rumah tangga berupa pendapatan dan konsumsi. Pajak atas transaksi jual beli yang dikenakan terhadap perusahaan akan dapat diperlakukan juga terhadap semua rumah tangga yang melakukan transaksi.

tunjangan sosial dapat diterapkan untuk memenuhi prinsip keadilan perpajakan. Hal tersebut disubsidi silang oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah keatas. Sebagai contoh. 2. Misalnya adalah tunjangan sosial dan subsidi pajak terhadap beberapa jenis usaha tertentu. program pensiun kepada semua pegawai akan menguntungkan golongan pendapatan yang rendah karena mereka memperoleh manfaat dari program ini melebihi jumlah kontribusi yang dibayarkan melalui pajak penghasilan yang progresif. Menurut studi yang pernah dilakukan. Akibatnya. Teknik pemungutannya yang sederhana tidak memerlukan kegiatan administrasi yang kompleks. Pada beberapa negara. Kurangnya rasa berkeadilan antara golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi dengan masyarakat berpenghasilan rendah. dapat dengan mudah diterapkan. pajak langsung lebih banyak digunakan dalam instrumen fiskal di negara-negara tersebut. Pembayaran transfer atau grant oleh pemerintah dapat dianggap sebagai arus pajak dengan arah yang berlawanan. 5. Fungsi regulator yang dimiliki pemerintah dalam hal kebijakan perpajakan. Kekurangan: 1. apabila kurva permintaan suatu barang adalah elastis sempurna maka seluruh beban pajak tidak langsung akan menjadi tanggungan produsen. Dengan kata lain. Dengan mudahnya dipahami. Karena dimungkinkannya terjadi penggeseran beban pajak kepada golongan wajib pajak lainnya. Hal ini terutama diakibatkan sulitnya melakukan administrasi yang baik dan teliti untuk menerapkan pajak langsung. Hal ini dikarenakan kedua golongan tersebut dibebani tarif pajak yang sama untuk setiap transaski atau kejadian tertentu. peranan kebijakan fiskal adalah sangat penting. dalam kondisi seperti itu beban pajak tidak langsung tidak dapat dialihkan kepada konsumen. Kesederhanaan aturan juga memungkinkan dilakukannya penelusuran dan pengecekan jika terjadi kesalahan dengan cepat tanpa perlu menggunakan formula audit yang kompleks. Sedangkan pembayaran transfer oleh pemerintah dapat dipandang sebagai pajak negatif. Seluruh aliran dana yang masuk kas negara akibat diterapkannya kebijakan perpajakan biasa disebut sebagai pajak positif. pemerintah lebih mudah memperkirakan dampak dari setiap kebijakan perpajakan yang dikeluarkan. Sebagai contoh. Hal ini tergantung dari tingkat elastisitas kurva permintaan dan penawaran untuk barang-barang terkena pajak tidak langsung. Sedangkan untuk negara-negara maju. pajak yang diterima sebagian besar negara-negara berkembang lebih banyak dari kategori pajak tidak langsung.132 4. penanggung akhir dari beban pajak tidak langsung belum tentu sesuai dengan target awal. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Akan tetapi ada pola umum yang bisa dipelajari. Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. sulit sekali didapat suatu formula kebijakan perpajakan yang memenuhi seluruh aspek keadilan. Pendekatan pertama adalah prinsip manfaat (benefit principle). P Prinsip Manfaat Setiap orang setuju bahwa sistem perpajakan harus adil. maka manfaat yang diperoleh wajib pajak atas terjadinya pengeluaran publik harus diketahui terlebih dahulu. Oleh karena itu. Untuk itu perlu dibandingkan prinsip-prinsip yang menerangkan bagaimana konsep keadilan dapat dibakukan. prinsip manfaat memandang perekonomian sektor publik sebagai sektor yang melibatkan pengeluaran maupun penerimaan yang berkesinambungan. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Agar sistem perpajakan dengan prinsip manfaat bisa adil.133 B A B XIV PRINSIP KEADILAN PERPAJAKAN ada kenyataannya. Prinsip manfaat cenderung mengalokasikan penerimaan pajak untuk membiayai jasa-jasa publik. maka tidak ada rumusan umum yang berlaku bagi semua orang. tetapi tidak terlalu mempertimbangkan pembiayaan transfer serta tujuan redistributif. Agar prinsip manfaat dapat dilaksanakan. Setiap wajib pajak akan membayar sesuai hasil evaluasi individu. sudah terdapat distribusi yang tepat dalam perekonomian. tetapi kurang adil dari sisi yang lain. sistem pajak yang adil akan tergantung dari struktur pengeluaran publik. dimana setiap wajib pajak harus memberikan kontribusinya yang layak untuk membiayai kegiatan pemerintah. Suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. maka harus diasumsikan bahwa ketika sistem tersebut mulai diberlakukan. Penerapan berdasarkan manfaat secara umum didasarkan karena setiap wajib pajak mempunyai preferensi terhadap jasa publik yang berbeda-beda. Berdasarkan prinsip ini. Lebih lanjut pembahasan keadilan perpajakan dikaitkan dengan beberapa jenis pajak.

Agar prinsip kemampuan membayar dapat diterapkan. konsumsinya bersaing secara bebas. pemborosan harus dikenakan pajak. jumlah pajak yang dibayar ikut meningkat apabila seluruh tabungan tersebut dikonsumsikan. Dalam halnya pengenaan pajak melalui pembebanan langsung terhadap pengguna. Kemampuan membayar seseorang meningkat jika pendapatan meningkat. penyediaan jasa-jasa publik oleh pemerintah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip yang sama seperti yang dilakukan oleh swasta. dan kekayaan. Hobbes berpendapat bahwa kewajiban membayar pajak harus dikaitkan dengan pendapatan yang dibelanjakan bukan yang ditabung. Berkeadilan horizontal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang sama harus membayar dengan jumlah yang sama. Ukuran kemampuan membayar mencerminkan kesejahteraan menyeluruh yang dapat diperoleh seseorang termasuk diantaranya adalah pendapatan. Mekanisme pasar dapat diterapkan untuk mendapatkan posisi tawar menawar yang efisien. pola konsumsi. Dalam arti. Berkeadilan vertikal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih besar harus membayar pajak dengan jumlah yang lebih besar pula.134 Penerapan kebijakan fiskal berdasarkan prinsip manfaat didalam prakteknya. harus diketahui dulu bagaimana mengukur kemampuan tersebut. Keuntungan penyediaan jasa publik model ini adalah dapat meringankan beban keuangan pemerintah. Dan apabila tabungan masyarakat memperoleh bunga. lebih banyak ditetapkan pada penyediaan jasa-jasa publik berdasarkan prinsip manfaat yang khusus. Prinsip ini dianggap lebih berkeadilan secara horizontal dan vertikal. Menurut prinsip ini. Dasar-dasar Keuangan Publik . Misalnya pembebanan bea (bea cukai dan bea masuk) serta pajak pengganti pembebanan seperti pajak BBM dan pajak kendaraan dalam rangka pembiayaan jalan raya. Pendapat lain mengatakan bahwa tabungan adalah konsumsi yang ditunda. Pendekatan kemampuan membayar lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi. Pendekatan ini menyebabkan sisi pengeluaran publik menjadi tidak jelas. Dengan penetapan harga. Prinsip Kemampuan Membayar Yang kedua adalah prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle). Manfaat hanya dapat diperoleh apabila pemakai dapat membayar misalnya biaya penggunaan sarana transportasi dan penyediaan fasilitas bandar udara. tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. sedangkan kebajikan harus diberi penghargaan. sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. Perekonomian memerlukan suatu jumlah penerimaan tertentu dan setiap wajib pajak diminta untuk membayar sesuai dengan kemampuannya. Adapun perbandingan dari metode pengenaan pajak terhadap pendapatan dan konsumsi dari prinsip kemampuan membayar tercermin dari table berikut.

Bagian pendapatan itu ditabung dan tidak pernah dikonsumsi. Inflasi/Bunga = 10% Pengenaan pajak yang didasarkan atas diterimanya pendapatan (termasuk pendapatan dari bunga tabungan) akan menyebabkan total pajak yang dibayar oleh wajib pajak menjadi lebih besar berbanding lurus dengan besarnya jumlah pendapatan yang ditabung. Walaupun pada umumnya perpajakan lebih didasarkan atas penghasilan yang dimiliki masyarakat. yang pada akhirnya menjadi kekayaan individu. Apabila pajak atas konsumsi yang dipilih. pajak dapat dikategorikan sebagai pajak penghasilan.82 10 10 Pajak = 10%. Ilustrasi pada pajak penghasilan menggambarkan apabila seluruh pendapatan setelah dikurangi pajak dikonsumsi habis.1: Perbandingan Pajak Penghasilan dan Pajak Konsumsi Pajak penghasilan Pajak Konsumsi Periode I 100 100 100 100 • Gaji 10 10 10 0 • Pajak 90 0 90 0 • Konsumsi 0 90 0 100 • Tabungan Periode II 0 9 0 10 • Bunga 0 0. Sedangkan tambahan pajak akan dikenakan terhadap bagian gaji yang ditabung yang mendapat bunga. dimungkinkan adanya bagian pendapatan yang tidak pernah kena pajak.135 Tabel 12.1 0 99 • Konsumsi 0 0 0 0 • Tabungan Total Pajak 10 10. Keadaan ini menyebabkan orang cenderung untuk mengurangi tabungan. Atas dasar ini. Atau dengan kata lain. Dasar-dasar Keuangan Publik .9 10 11 Nilai Sekarang (PV) 10 10. maka pendapatan tersebut selamanya bisa tidak dikonsumsi dan tidak kena pajak. kekayaan individu dan warisan bisa dikenakan pajak. Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Untuk keperluan analisis. jumlah total pajak yang dibayar memiliki nilai sekarang yang sama (asumsi nilai bunga sama dengan inflasi). jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak mempunyai nilai sekarang yang sama. pajak penjualan (barang dan jasa) dan pajak kekayaan. Hal ini disebabkan tanpa melihat kapan pendapatan akan dikonsumsi. maka tidak akan ada tambahan pendapatan pada periode II (berikutnya) dari tabungan gaji periode I. Apabila kekayaan individu dapat diwariskan kepada individu lain tanpa dikenakan pajak.9 0 11 • Pajak 0 98. Sebaliknya kekayaan individu bisa menambah pendapatan pemiliknya sebagai pendapatan barang-barang modal. ditabung atau dikonsumsi. Ilustrasi pajak atas konsumsi terlihat lebih adil.

Disamping keadilan pajak secara dimensi vertikal.136 Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. terbatasnya volume pendapatan masyarakat yang dapat dikenakan pajak. Menurut konsep ini. Hal ini juga dipengaruhi oleh metode assesment dan akurasi penghitungan pajak terhutang. ketakutan akan efek negatif pajak terhadap produksi dan investasi nasional. kemiskinan. dan cacat dikecualikan dari subjek kena pajak. Prinsip keadilan pajak dapat juga dilihat dari sisi yakni penerimaan dan pengeluaran. tidak dipungkiri jika orang kaya ikut menikmati sebagian keuntungan dari adanya belanja negara. serta pengaruh kekuatan orang-orang kaya terhadap kebijakan politik nasional. Tidak jarang para pelaku ekonomi yang kuat menyuarakan keluhan-keluhannya terhadap kebijakan pajak baru yang dapat menggangu kegiatan bisnisnya. masyarakat golongan ekonomi rendah harus dikenakan pajak yang ringan atau dibebaskan dari kewajiban pajak seluruhnya. Struktur pajak yang progresif cenderung lebih mudah dicapai pada struktur perekonomian yang mapan. perlu juga diperhatikan secara horizontal dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar. Sekali lagi pada negara-negara yang relatif maju dalam perekonomian cenderung dapat mempercayai dokumen-dokumen yang membuktikan adanya hak atas pengecualian pajak. sementara sumber tersebut memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Sulitnya menerapkan metode assesment yang baik juga muncul dalam hal menentukan subjek pajak yang dikecualikan. Perlu juga prinsip keadilan pajak dilihat secara geografis dimana orang-orang yang tinggal pada daerah tertentu harus dikenakan pajak yang lebih tinggi. Distribusi pembebanan pajak yang adil dipengaruhi oleh cakupan faktorfaktor siapa yang membayar dan jenis pendapatannya serta tarif pajak. dibawah umur. Sebagai ilustrasi. Hambatan utama dari kebijakan pajak adalah keadaan ekonomi dan politik suatu negara. Secara konsep. keadilan perpajakan mengimplikasikan proses redistribusi kekayaan masyarakat dimana orang kaya membayar lebih banyak dari orang yang lebih miskin (dimensi vertikal). Kebijakan pajak dianggap adil jika faktor-faktor seperti lanjut usia. pajak terhadap seorang petani harus lebih rendah dari hasil pertanian yang dimilikinya. Lebih lanjut keadilan pajak juga harus memperhitungkan besarnya jumlah tanggungan dalam keluarga. Dalam prakteknya. Ketidakakuratan mengakibatkan ketidakadilan karena adanya pajak yang lebih atau kurang bayar. Juga dapat dikatakan tidak adil jika sumber pendapatan tertentu dikenakan pajak tinggi. Prinsip ini dianut oleh semua negara dalam rangka memenuhi tuntutan keadilan dalam hukum. Dasar-dasar Keuangan Publik . Walaupun pada pelaksanaannya banyak menimbulkan perbedaan-perbedaan. Beberapa argumen menyimpulkan keadilan pajak jika misalnya kenaikan pajak dikompensasikan dengan penyediaan pendidikan dan transportasi umum yang murah.

wajib pajak dimungkinkan menerima pendapatan selain uang tunai. Untuk itu perlu dihitung pendapatan yang real jika dimasukkan unsur inflasi sebagai penyeimbang. Sebagai pajak individu. Penghasilan tersebut merupakan daya beli individu atas barang dan jasa selama satu tahun yang dapat dikonsumsikan atau disimpan untuk keperluan mendatang. Pengeluaran-pengeluaran tersebut diperlukan untuk mendapatkan penghasilan dan tidak menambah kekayaan wajib pajak sehingga layak dikeluarkan dari jumlah pendapatan kena pajak. pendapatan adalah seluruh penerimaan selama periode pajak. Beberapa ahli menyarankan untuk memasukkan unsur tambahan kenaikan kekayaan sebagai bagian pendapatan kena pajak.137 Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak individu dan pajak badan. biaya penitipan anak. Pendapatan masyarakat dapat diukur berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya. Sebagai pajak badan adalah pengenaan pajak atas keuntungan badan usaha yang dapat diterima para pemegang saham sesuai proporsi nilai saham yang dimilikinya. Kesulitan muncul pada saat menghitung berapa nilai tambahan kekayaan yang timbul akibat adanya transaksi non moneter ini (income in kind). dan kenaikan nilai kekayaan. ada item-item pengeluaran yang erat kaitannya dengan kegiatan memperoleh pendapatan seperti peralatan kerja. Berdasarkan sumbernya. tunjangan dari pemerintah atau swasta. Berdasarkan dimensi waktu. Jika dari sisi pengeluaran. Pada beberapa kasus. keuntungan jasa. I = C + ΔNW I C ΔNW = Pendapatan tahunan (annual income) = Konsumsi tahunan (annual consumption) = Perubahan kekayaan bersih setahun (annual change in net worth) Metode untuk mengukur pendapatan baik berdasarkan sumbernya atau penggunaannya harus ditentukan sebelum pajak penghasilan di jalankan. iuran serikat pekerja. Pendapatan jenis ini sering terjadi pada usaha-usaha kecil yang memproduksi barang atau jasa. dan tabungan. pajak penghasilan biasanya dihitung atas jumlah penghasilan selama satu tahun. Kebanyakan sistem akuntansi menggunakan sisi sumber sebagai alat ukurnya. Pengukuran relatif lebih mudah jika kekayaan yang dimiliki berupa saham dan obligasi. Biaya pelatihan juga diperdebatkan sebagai pengeluaran yang dapat mengurangi pendapatan kena pajak. sumbangan. beban pajak. Sedangkan berdasarkan penggunaannya berupa pembelian barang dan jasa. Adakalanya. pakaian kerja. seorang wajib pajak memperoleh suatu produk atau menerima jasa yang dihasilkan sendiri sehingga tanpa harus mengeluarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . dan transportasi dari/menuju tempat kerja. pajak penghasilan dikenakan kepada orang perorang yang memiliki penghasilan tanpa melihat umur atau jumlah yang diterimanya.

Kompensasi dari adanya kebijakan ini adalah rumitnya pelaksanaan peraturan dalam praktek. konsep keadilan dalam perpajakan masih dapat diperdebatkan. dimana seorang wajib pajak misalnya menerima pinjaman kendaraan yang dapat digunakan untuk keperluan pribadi atau tunjangan makan yang diberikan tidak dalam bentuk uang. Atau kesetaraan ini hanya diukur dari jumlah pendapatan yang diterima saja. Sedangkan kesetaraan kemampuan ekonomi bisa diejawantahkan sebagai kesamaan tingkat pendapatan. Hal ini dipercaya dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan tabungannya disamping kegiatan administrasi perpajakannya yang cenderung lebih mudah. Banyak pendapat yang kurang setuju jika keadilan secara vertikal dilambangkan dengan tarif pajak progresif. Adapun alasan yang mendasari dapat dilihat dari dua kebijakan yang biasa berkaitan dengan pajak progresif. Baik prinsip keadilan secara horizontal maupun secara vertikal. Contoh lain adalah fringe benefit. Pada akhirnya.138 sejumlah uang. Supaya lebih adil. tapi biasanya luput dari pengenaan pajak. biaya pendidikan yang bervariasi sangat mempengaruhi pola pengeluaran rumah tangga. kerumitan cenderung mendorong keengganan dan penyelewengan wajib pajak. ada semacam penundaan pajak penghasilan sampai terjadi konsumsi atas bagian penghasilan tersebut. pengenaan pajak harus sesuai dengan kesetaraan kemampuan ekonomi masyarakatnya. Kesemua itu dapat dikategorikan sebagai pendapatan yang tidak tercermin dalam gaji yang tertera (nonpecuniary returns). Jika dalam pajak penghasilan seluruh konsumsi dan tambahan kekayaan wajib pajak dikenakan pajak. Seperti pada ilustrasi awal bab. Akan tetapi. Kegiatan tersebut jelas menambah kekayaan bersih wajib pajak. seharusnya hal-hal yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga juga ikut diperhitungkan. Untuk menghindari Dasar-dasar Keuangan Publik . Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip umum yang ingin dicapai dalam pajak penjualan adalah bahwa jumlah pendapatan masyarakat yang ditabung seharusnya tidak perlu dikenakan pajak. Sama sekali mengabaikan potensi perbedaan pengeluaran dari masing-masing rumah tangga. Pertama adalah kebijakan pendapatan tidak kena pajak. Secara horizontal. perumusan rancangan kebijakan fiskal lebih memerlukan perhatian khusus. Wajib pajak cenderung mempermainkan tempo pengakuan suatu pendapatan untuk menghindari pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. Kedua adalah kebijakan pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi untuk setiap tambahan pendapatan. Hal-hal seperti jumlah anggota keluarga. Basis yang menyeluruh terhadap kajian pajak penjualan dapat diturunkan dari basis pajak penghasilan. Secara umum. maka pada pajak penjualan tambahan kekayaan tersebut (yang biasanya dari tabungan) dikeluarkan dari basis pajak. perbedaan pendapat dalam hal kebijakan yang berkeadilan lebih kompleks lagi pada pajak penghasilan. biaya kesehatan.

Hal ini disebabkan. Memperbanyak item aktivitas penjualan kena pajak yang hanya mungkin dilakukan oleh golongan masyarakat berpenghasilan tinggi. pinjaman tidak dikenakan pajak. 4. pinjaman yang dikonsumsikan tetap dikenai pajak. makin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Jika hal ini terjadi. golongan masyarakat ini cenderung untuk mengkonsumsi seluruh pendapatan yang dimilikinya. Untuk menghindari hal tersebut. Sedangkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi memiliki kesempatan untuk menabung sebagian pendapatannya. Seorang wajib pajak yang tidak mampu menabung. Pengenaan pajak penjualan lebih dirasakan dampaknya oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. 2. warisan dikenai pajak seketika setelah wajib pajak diumumkan meninggal dunia. Perbedaan menarik pajak penjualan dengan pajak penghasilan adalah pada dana yang tersedia berupa pinjaman. hanya porsi penghasilan yang dibelanjakan lah yang kena pajak. Seorang wajib pajak dapat memiliki kekayaan melalui kegiatan menabung. beberapa langkah. Sedangkan pada pajak penghasilan. Pajak penjualan sama sekali tidak dipengaruhi inflasi. seperti dijelaskan oleh Ulbrich. Dibandingkan dengan pajak penghasilan. Pada pajak penjualan. Justru bunga yang timbul akibat adanya pinjaman dapat mengurangi dasar penghasilan yang dikenai pajak. Hal ini dikarenakan. Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan Kekayaan adalah akumulasi dari tabungan dan investasi suatu negara. Dasar-dasar Keuangan Publik . memperoleh hibah atau mewarisi kekayaan keluarganya. dapat ditempuh oleh pemerintah seperti: 1. 3. Dalam pajak penjualan. Mengurangi atau mengeliminasi pengenaan pajak yang lebih banyak dikonsumsi oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Mengenakan tarif pajak yang lebih tinggi untuk beberapa jenis produk yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. Mengembalikan jumlah pajak penjualan yang dibayar kepada masyarakat dengan standar penghasilan tertentu. selisih lebih kekayaan wajib pajak secara moneter akibat adanya inflasi tidak membuat kemampuan membayarnya meningkat sebagai akibat wajib pajak tersebut harus membelanjakan penghasilannya dengan harga yang telah terinflasi. Makin besar pendapatan golongan masyarakat. Banyak pendapat yang setuju jika pajak kekayaan diterapkan. sulit sekali mengukur berapa jumlah tambahan pendapatan dari kegiatan sewa tersebut. capital gain harus memperhitungkan tingkat inflasi sebelum menentukan jumlah kena pajak. Hal ini dikarenakan banyak wajib pajak yang berpenghasilan rendah memiliki sejumlah kekayaan yang mana mereka memungut sewa atas pemanfaatan kekayaan tersebut oleh orang lain.139 akumulasi pendapatan yang tidak kena pajak akibat wajib pajak meninggal dunia. tidak memperoleh hibah/hadiah atau warisan tidak akan pernah disebut kaya.

dan pemilik kekayaan. Secara prinsip. Tentu saja hal ini harus memperhitungkan tren kenaikan harga sewa sehingga dapat mencerminkan nilai pasar sesungguhnya. Pajak kekayaan cenderung bersifat regresif. target pengenaan pajak kekayaan (kekayaan atas bendabenda seperti rumah dan mobil) adalah pemiliknya. pajak kekayaan lebih menguntungkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi karena nilai uang yang dikeluarkannya sebagai pajak jauh lebih rendah dengan nilai uang untuk pajak kekayaan yang dikeluarkan oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam halnya kekayaan yang dimiliki dengan cara hutang. Hal ini terutama untuk kekayaan yang jarang diperjualbelikan. Cara lain yang dapat dipakai untuk mengukur nilai sebuah kekayaan adalah dengan menghitung nilai sekarang (present value) dari potensi pendapatan sewa selama masa manfaat kekayaan tersebut. Dalam dunia usaha. penanggung akhir dari adanya pengenaan pajak kekayaan makin sulit ditentukan karena melibatkan pemilik usaha. Aplikasi pengenaan pajak terhadap kekayaan akan lebih mudah diterapkan jika pemilik dan pengguna kekayaan tersebut adalah sama. konsumen. para pegawai. Dasar-dasar Keuangan Publik . Estimasi nilainya sering meleset dari nilai yang sesungguhnya. Problem distribusi pajak yang muncul akan lebih kompleks diprediksi keadilannya apabila kekayaan tersebut disewakan kepada pihak ketiga. nilai bersih kekayaan harus dikurangi dulu dengan jumlah total hutang supaya tidak terjadi penghitungan ganda. seorang penilai independen ditunjuk untuk mengestimasikan nilai.140 Mengadministrasikan pajak kekayaan cenderung lebih sulit. Secara umum pada pajak kekayaan. pengenaan tarif didasarkan atas estimasi nilai yang dihasilkan. Jika hasilnya dirasa memadai. Pengukuran nilai kekayaan akan menjadi lebih sulit jika berupa kekayaan tak berwujud (intangible asset). Artinya.

pajak langsung yang progresif lebih tepat untuk diterapkan. kebijakan perpajakan yang dapat ditempuh dapat dengan mengenakan pajak tidak langsung. terkadang total excess burden tidak sama dengan total penerimaan negara. Jika tujuan tersebut adalah mengoptimalkan tingkat produksi. Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku-pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar pembeli dibanding jumlah yang diterima oleh penjual. Dengan mengurangi pengenaan pajak yang menimbulkan excess burden lebih besar dalam jumlah nominal yang sama. Hal ini mengakibatkan adanya keuntungan yang hilang akibat terdistorsinya keseimbangan harga pada kurva permintaan dan penawaran. tarif pajak dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah total penerimaan negara. Efficiency Effect Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat diatas jumlah pajak yang seharusnya dibayar.141 B A B XV DAMPAK PERPAJAKAN TERHADAP PEREKONOMIAN istem perpajakan yang baik adalah sistem perpajakan yang memberikan pengaruh terbaik terhadap perekonomian negara. Hal ini dimungkinkan karena pelaku ekonomi yang secara hukum berkewajiban membayar pajak kepada Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan kata lain. penurunan pendapatan penjual tidak diikuti dengan peningkatan kuantitas yang tersedia untuk dibeli. Sebaliknya jika tujuan yang ingin dicapai adalah pemerataan penghasilan. Untuk mengukurnya digunakan efficiency-loss ratio dengan persamaan sebagai berikut: W R = Excess Burden = Tax Revenue S Estimasi efficiency-loss ratio penting dilakukan untuk meminimalkan total excess burden pada sistem perpajakan nasional. Berkaitan dengan penerimaan negara.

Apabila seluruh Tabungan (S) digunakan sebagai Investasi (S = I).142 pemerintah belum tentu menggunakan dana pribadi atau dengan kata lain dapat membebankan pajaknya kepada pelaku ekonomi yang lain. Kondisi ini menyebabkan kegairahan ekonomi dan kenaikan harga (inflasi). dan pengangguran. Gambar 13. Yang sering terjadi justru jumlah Tabungan lebih rendah dari jumlah Investasi (S < I). maka tidak akan pernah terjadi inflasi atau deflasi. struktur perekonomian nasional (tanpa pajak) terdiri dari Pendapatan Nasional (Y). Sedangkan Economic Incidence lebih mengarah pada pengaruh pendistribusian pembebanan pajak pada tingkat ekulibrium harga. Dampak Pajak Terhadap Sistem Ekonomi Keseluruhan Secara umum. jumlah Konsumsi (C) dan Tabungan (S). Kadang-kadang yang muncul adalah jumlah Tabungan (S) lebih besar dari jumlah Investasi (I) atau dengan kata lain. Hubungan dari ketiga unsur tersebut adalah Pendapatan Nasional sama dengan jumlah Konsumsi ditambah jumlah Tabungan (Y = C + S). Statutory Incidence merujuk pada pelaku-pelaku ekonomi yang secara hukum terlibat dalam pendistribusian pembebanan pajak. Berkenaan dengan dimungkinkannya memindahkan beban pajak kepada pelaku ekonomi lain secara keseluruhan atau sebagian (distribusi pembebanan) maka pembahasan tax incidence dapat dibagi dalam dua konsep yakni statutory incidence dan economic incidence.1 Dasar-dasar Keuangan Publik . tidak semua tabungan digunakan untuk investasi (S > I) maka akan terjadi kelesuan ekonomi. penurunan harga (deflasi).

Pergeseran yang dimaksud adalah dengan mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi. Berkaitan dengan dimungkinkannya penerapan insentif pajak pada suatu daerah tertentu.143 Gambar menunjukkan hubungan antara tingkat Pendapatan Nasional (Y). Sebaliknya. menggeser kurva C+I kebawah dengan menerapkan pajak atas konsumsi. Seberapa jauh pengaruh pajak terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dipengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang-barang yang dihasilkan. Pada tingkat pendapatan nasional sebesar 0Y (S=I). Secara mudah dikatakan. Pada Dasar-dasar Keuangan Publik . jika elastisitas permintaan barang adalah sempurna. perusahaan tidak dapat mengalihkan beban pajaknya pada harga barang. dengan tingkat Konsumsi (C) dan tingkat Investasi (I). dikenakan pajak yang ringan. Sehingga disarankan untuk barang-barang yang memiliki elastisitas tinggi. Terhadap Usaha Kerja Sebagian besar penerimaan negara dari pajak di Indonesia adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas pendapatan para pegawai. perusahaan dapat saja mengurangi produksi barang-barang yang merupakan objek pajak dan meningkatkan produksi barang-barang lain yang masih belum merupakan kategori barang kena pajak. Secara teoritis. tidak ada inflasi ataupun deflasi. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. Harga-harga cenderung terus naik sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. Sebaliknya pada tingkat pendapatan 0Y2 (S>I) terdapat deflationary gap dimana harga-harga cenderung terus turun sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. menggeser kurva C+I keatas dengan menerapkan pajak atas tabungan. Konsumen akan membayar seluruh beban pajak yang ditambahkan pada harga barang. Sebagai contoh. Barang-barang yang tingkat permintaannya in-elastis sempurna tidak akan terpengaruh dengan adanya pengenaan pajak. pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktor-faktor produksi. perekonomian dalam keadaan seimbang. Perusahaan lain dapat saja berpindah lokasi industri dari suatu tempat yang mengenakan pajak yang tinggi ke tempat yang memberikan insentif pajak. menimbulkan adanya beberapa alternatif pilihan yang dapat diambil oleh para pelaku ekonomi. Terhadap Komposisi Produksi Pajak dapat digunakan sebagai pendorong kepada pelaku ekonomi untuk melakukan aktivitas tertentu dengan memberikan insentif-insentif. Pajak dapat menyebabkan orang menjadi kurang giat bekerja. Pada tingkat pendapatan 0Y1 (S<I) terdapat inflationary gap. pajak mempunyai pengaruh negatif terhadap kemauan usaha kerja. Orang lebih memilih untuk mempunyai lebih banyak waktu santai. Dengan kata lain. pegawai-pegawai tersebut mempunyai dua pilihan yaitu bekerja atau tidak bekerja (memanfaatkan waktu santai) akibat adanya pengenaan pajak penghasilan. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi.

Untuk meningkatkan pendapatan nasional sesuai Dasar-dasar Keuangan Publik . justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. Terhadap Distribusi Pendapatan Tujuan pembangunan suatu negara pada umumnya adalah peningkatan pendapatan per kapita nasional. Sehingga elastisitas penawaran usahanya adalah tinggi dimana dengan turunnya pendapatan. dan distribusi pendapatan yang merata dan keseimbangan dalam neraca pembayaran internasional. masyarakat kelompok miskin tidak punya kemampuan tabungan dan investasi. semakin tinggi pendapatan seseorang. Sedangkan bagi mereka yang kurang peduli dengan gaya hidup mewah. Dengan kata lain. Mereka juga tidak begitu saja meningkatkan tabungan dan investasi apabila dikenakan tarif pajak rendah atau subsidi perpajakan lainnya. biasanya permintaannya terhadap penghasilan adalah tinggi. Dari kelompok-kelompok kaya inilah diharapkan sejumlah dana tabungan yang dapat digunakan untuk investasi. Juga tidak setiap kenaikan pajak akan memberi dampak negatif pada Tabungan masyarakat ataupun Investasi.144 kenyataannya. penciptaan lapangan kerja. Hal-hal tersebut menurut Daniel J Mitchell (2003) adalah prilaku-prilaku yang dapat meningkatkan kekayaan nasional. Menurut pengertian ini. Hal ini dilakukan dengan menerapkan tarif pajak progresif dan minimum pendapatan yang dapat dikenakan pajak. menabung. kebijakan perpajakan di Indonesia lebih banyak diterapkan untuk mengurangi kesenjangan pendapatan di masyarakat. Sehingga sulit didapatkan dana tabungan masyarakat. menabung sebagian pendapatannya serta menginvestasikan nilai tabungannya. Penarikan dana masyarakat secara sukarela dengan iming-iming bunga yang tinggi pada akhirnya juga ikut berpengaruh pada tingkat inflasi nasional. pajak tidak menimbulkan disinsentif untuk bekerja. Bagi sebagian orang. Tetapi pada kenyataannya. permintaannya terhadap penghasilan rendah sehingga elastisitas penawaran usaha dalam hubungannya dengan penghasilan adalah rendah juga. Reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha. pengaruh pajak terhadap kemauan kerja individu memiliki sifat yang lebih kompleks. dan melakukan investasi. Berdasarkan kenyataan tersebut. pendapatan nasional yang dikenai pajak akan banyak mempengaruhi turunnya jumlah tabungan masyarakat bukan pada porsi pendapatan yang dikonsumsi yang diasumsikan tetap. pola konsumsi masyarakat cenderung lebih tinggi dari pola konsumsi masyarakat di negara-negara maju. Kriteria Tarif Pajak Pertumbuhan ekonomi hanya akan terjadi apabila lebih banyak masyarakat yang bekerja. keadaan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. semakin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Masyarakat tidak begitu saja bekerja secara produktif dengan diterapkannya anggaran pendapatan dan belanja berimbang. Kelemahan dari tarif pajak progresif adalah menekan pada kelompok-kelompok kaya pemilik modal sehingga mereka malas bekerja. Secara teori.

Mitchell (2003) memaparkan sembilan petunjuk kebijakan perpajakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sebagai berikut: 1. Meskipun beberapa pos-pos belanja negara membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti penyediaan keamanan dan penegakkan hukum. faktor produksi tersebut akan juga mendorong pertumbuhan ekonomi agregat menjadi lebih baik. Jika keadaan prilaku masyarakat wajib pajak adalah produktif. para pengambil keputusan bidang pajak harus mengkonsentrasikan pada hal-hal yang berakibat positif terhadap prilaku bekerja. 4. menabung dan berinvestasi. 5. Secara jangka panjang. Justru sebaliknya. Beberapa opsi tarif pajak yang dipungut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Jumlah potensi tambahan konsumsi masyarakat akibat adanya penurunan tarif pajak kurang signifikan terhadap peningkatan kegiatan ekonomi dibandingkan dengan turunnya jumlah total penerimaan negara. studi membuktikan bahwa banyak pengeluaran publik yang justru berefek negatif terhadap Dasar-dasar Keuangan Publik . Sedangkan sebagian masyarakat lainnya cenderung kurang peduli dengan pungutan pajak. Agar pelaksanaan kegiatan pemerintah tidak terganggu. bukan pada penurunan tarif. 2. 7. 6. Fokus pada pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh. Kebijakan yang baik menghasilkan penerimaan negara lebih banyak. Beberapa kebijakan insentif pajak atau subsidi dapat berakibat hanya mengurangi jumlah penerimaan negara tanpa menghasilkan peningkatan kegiatan ekonomi secara signifikan. Beberapa negara telah membuktikan bahwa deregulasi perpajakan yang kecil pengaruhnya terhadap turunnya penerimaan negara justru dapat meningkatkan gairah investasi dunia usaha. Untuk itu. sebaiknya kebijakan publik tidak mengedepankan motif yang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan jalan mendorong konsumsi. pertumbuhan ekonmi sebagai faktor yang mendorong jumlah total konsumsi akibat meningkatnya jumlah daya beli masyarakat. Untuk itu perlu diupayakan suatu kebijakan pelengkap yang dapat meng-offset selisih penurunan penerimaan negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi tidak diakibatkan oleh peningkatan konsumsi. 3. Kebijakan pajak yang bardampak positif pada jangka pendek biasanya berdampak positif pula pada jangka panjang. penurunan tarif pajak justru meningkatkan jumlah penerimaan negara. dan pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya penurunan tarif pajak tidak merubah total pengeluaran. Karena tarif pajak yang rendah dapat membuat masyarakat yang produktif semakin giat bekerja.145 dengan karakteristik masyarakat disuatu negara. Efisiensi belanja negara penting dilakukan. Sehingga penurunan tarif pajak tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. pendapatan nasional. Penurunan tarif pajak tidak perlu diterapkan seragam untuk seluruh wajib pajak. insentif pajak investasi dalam jangka pendek akan menarik minat pemodal masuk kedalam negeri. harus diperhitungkan cara-cara yang dapat mengkompensasikan turunnya penerimaan negara akibat pengenaan tarif yang lebih rendah.

Inti dari sembilan petunjuk diatas adalah segala upaya kebijakan pajak seharusnya difokuskan pada pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberikan insentif pada aktivitas-aktivitas produktif nasional. Distribusi beban pajak harus adil. Sistem pajak harus menerapkan administrasi yang wajar dan mudah dipahami oleh wajib pajak. Pada akhirnya. atau defisit dengan tingkat suku bunga. kriteria yang bisa menentukan baik tidaknya sebuah kebijakan perpajakan dapat dilihat sebagai berikut: 1. berimbang. Peraturan perpajakan harus mendukung kebijakan perekonomian dan mendorong pasar yang efisien. Efisiensi belanja negara dapat dilakukan dengan merampingkan struktur pemerintahan. dikhawatirkan investor tidak akan mau menanamkan modalnya di dalam negeri. penurunan tarif bukanlah satu-satunya cara yang dapat diambil pemerintah. Sebaliknya jika terlalu kecil. 5. jumlah target penerimaan pajak tidak akan pernah tercapai. Tetapi pengaruhnya kurang signifikan dibanding pengaruh faktorfaktor lain seperti pasar modal. 4. Invesatsi dan tabungan. Penerimaan pajak harus dirumuskan secara tepat.146 pertumbuhan ekonomi. Penerimaan/pendapatan harus ditentukan dengan tepat 2. 8. 3. Dana investasi terutama diambil dari tabungan masyarakat. Biaya administrasi dan biaya-biaya pembayaran pajak lainnya harus dibuat serendah mungkin. Riset akademis yang dihasilkan menunjukkan bahwa tidak ada korelasi positif antara anggaran surplus. Walaupun dibeberapa negara penurunan tarif pajak justru dapat meningkatkan penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi. Jika jumlah yang ditetapkan terlalu besar. Hal ini mengakibatkan multiplier efek yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tidak tercapai. 9. sehingga bisa merefleksikan kemampuan membayar dari seluruh wajib pajak yang ada sehingga tidak terlalu besar atau terlalu kecil. dengan mempertimbangkan seluruh dampak yang dapat ditimbulkan pada level ekonomi makro. Defisit belanja negara dapat berpengaruh pada turunnya tingkat suku bunga. 6. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh investasi yang produktif. Sedangkan tarif pajak adalah salah satu faktor yang mempengaruhi suku bunga. Setiap orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuannya. Untuk itu perlu dikembangkan kebijakan pajak yang mendorong iklim investasi dan menabung. 7. keduanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. dikhawatirkan jumlahnya tidak dapat membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah Dasar-dasar Keuangan Publik . Kriteria Struktur Pajak yang Baik Kebijakan perpajakan akan memberi dampak yang signifikan jika disusun secara komprehensif. Seperti dikutip dari Musgrave. Penanggung akhir beban pajak harus menjadi pokok perhatian. Struktur pajak harus memudahkan penggunaan kebijakan fiskal untuk mencapai stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi.

Kemungkinan pergeseran titik equilibrium kurva permintaan dan penawaran harus terus diantisipasi dan terus diawasi dengan memasukkan unsurunsur spesifik para pelaku ekonomi setempat. Simulasi tersebut bisa menggunakan beberapa skenario yang berbeda dan mengamati hasilnya. Kecilnya kesenjangan bisa mendorong stabilisasi yang kondusif bagi perbaikan ekonomi nasional. Jika pajak diterapkan atas produk-produk tertentu. Rumusan-rumusan yang dipakai harus menghindari kesalahpahaman massal yang menyebabkan kekacauan pada proses administrasi. perlu dikaji serius mengenai elastisitas permintaan dan penawarannya dalam ekonomi pasar. Dengan demikian risiko biaya tinggi yang tidak terduga akibat penyelewengan peraturan oleh oknum pelaku ekonomi bisa dieliminasi. Perlu dibuat aturan-aturan teknis yang simple dan dapat menghindarkan terjadinya salah sasaran. Dengan kata lain.147 yang bermanfaat untuk menciptakan value yang dapat merangsang perputaran gerak roda eknomi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Adanya kemungkinan peralihan beban pajak kepada penanggung akhir. Segala kebijakan harus mengacu pada kesederhanaan. Harus dapat ditentukan pada awal permusan kebijakan bahwa implementasinya pada akhirnya akan meminimalkan gejolak ekonomi. investor-investor terutama para pemodal asing sangat mengharapkan adanya kepastian iklim berusaha. Kebijakan perpajakan harus tetap mengindahkan konsep kestabilan ekonomi. beban pajak harus terdistribusi sedemikian rupa sehingga target pencapaian penerimaan pajak bisa diimbangi dengan mengurangi kesenjangan pendapatan golongan masyarakat yang kaya dengan golongan masyarakat miskin. Keadilan perpajakan pada intinya adalah. Segala biaya yang tidak berkaitan langsung dengan beban pajak sesungguhnya harus diminimalkan. perlu dilakukan pengkajian mendalam dengan melakukan simulasi yang menyeluruh untuk dapat memperoleh gambaran dampak pembebanan penanggung akhir terhadap stabilisasi ekonomi. Ekonomi yang sering bergejolak biasanya tidak menguntungkan iklim investasi. Ekonomi yang terus tumbuh dan pasar yang efisien harus terus dijaga agar kemakmuran masyarakat tidak rusak akibat adanya penerapan kebijakan perpajakan. Simulasi terhadap bakal munculnya kekeliruan yang tidak diharapkan harus disiapkan secara matang. Hal ini untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pemilik modal dalam rangka menghitung proyeksi keuntungan investasi. misalnya dengan adanya kegiatan sosialisasi yang memadai.

Inilah dasar pengenaan pajak yang akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Selama masa revolusi. peraturan pajak ini diubah dengan Ordonansi Perpajakan tahun 1944 yang digunakan oleh Pemerintah Kolonial Jepang untuk melakukan pungutan-pungutan terhadap hasil pertanian sebagai pajak. tidak ada pungutan pajak yang berarti yang dapat dikumpulkan. Setelah kedaulatan diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. yaitu tahun 1991. Setelah reformasi perpajakan tahun 1983. pajak-pajak yang berlaku di Indonesia yang dapat dikelompokkan sebagai pajak penghasilan adalah Pajak penghasilan (PPd). pajak-pajak berdasarkan peraturan perpajakan Belanda ini disatukan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang berlaku sejak 1 Januari 1984. Dividen dan Royalti (PBDR). sehingga sampai dengan sebelum reformasi perpajakan tahun 1983. peraturan perpajakan Belanda dipergunakan kembali dengan melakukan penataan dan perluasan seperlunya. Undang-Undang ini mengalami perubahan dan perbaikan sebanyak tiga kali.148 B A B XVI PAJAK PENGHASILAN WAJIB P AJAK PRIBADI ajak penghasilan pertama kali diberlakukan di Indonesia sebagai suatu sistem perpajakan integral yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Pertama kali diberlakukan dikenal dengan nama Pajak Penghasilan 1932 atau Inkomsten Belasting 1932. P Aturan Utama Prinsip dasar Pajak Penghasilan adalah bahwa penghasilan wajib pajak dari semua sumber harus digabungkan menjadi satu angka tunggal ukuran penghasilannya. Yang ada hanyalah kantor iuran negara yang menerima pembayaran pajak dari beberapa pedagang. 1994 dan 2000. Pajak Perseroan (PPs) serta Pajak atas Bunga. Penghasilan total ini kemudian dikurangi dengan pengecualianpengecualian dan pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan yang akan dikenakan pajak. Pada tahun 1944.

hadiah. b. Penghasilan dari usaha dan pekerjaan bebas dimasukkan dalam penghasilan neto setelah dikurangkan biaya-biaya. kecuali bila pasangannya tidak berpenghasilan maka PTKP-nya Rp1.000).000) ditambah tiga orang tanggungan (masing-masing Rp1. alat ukur ini ternyata tidak sekomprehensif mungkin.440. Beberapa penghasilan nonkas diabaikan (seperti imputed rent dan capital gain yang belum direalisasikan) dan beberapa penghasilan kas tertentu dikecualikan (seperti pembayaran asuransi dan pensiun).440. dan lain sebagainya. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 mendefinisikan penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak. honorarium. Sejak tahun 1983 sampai Dasar-dasar Keuangan Publik . PTKP yang berlaku saat penulisan buku ini adalah wajib pajak dan pasangannya (masing-masing Rp2. Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dilaporkan dalam penghasilan setelah dikurangkan dengan beberapa biaya dan penghasilan yang dikecualikan. dividen. sewa. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun. dan sebagainya. c. Walaupun penghasilan neto dimaksudkan untuk menjadi satu alat ukur yang komprehensif atas posisi penghasilan wajib pajak. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. Skedul tarip ini ditetapkan berdasarkan Undang-Undang dalam bentuk tarip marjinal. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga. yang berlaku untuk tingkatan penghasilan yang naik secara berurutan. wajib pajak dapat mengurangkan biaya-biaya atau pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan neto. keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. seperti gaji. Penghasilan ini akan meliputi: a. royalti. Penghasilan dari semua sumber. Penghasilan dari modal. Penghasilan Bruto. Penghasilan neto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan PTKP.149 dikalikan dengan tarip pajak untuk mendapatkan pajak yang menjadi beban bagi wajib pajak. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia.000. Penerapan Tarip Pajak Pajak dihitung dengan menerapkan angka tarip pada skedul tarip pajak dengan angka Penghasilan Neto setelah dikurangi PTKP. d.880. Penghasilan dari usaha dan kegiatan. Penghasilan lain-lain. Penentuan Penghasilan Kena Pajak Konsep utama dalam perhitungan penghasilan kena pajak adalah penghasilan bruto dan penghasilan kena pajak. selain yang dikecualikan digabungkan untuk menentukan Penghasilan Bruto. penghasilan dari praktik profesi dan sebagainya. Dari angka penghasilan ini. seperti pembebasan utang. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

Bersamaan dengan penyerahan SPT. Sistem Pemotongan Pajak juga memastikan ketaatan sepenuhnya karena pernyataan penghasilan tidak diberikan sepenuhnya hanya kepada wajib pajak. SPT yang melaporkan hal-hal yang tidak biasa (misalnya biaya yang mengurangi penghasilan yang sangat besar atau sumber penghasilan yang tidak biasa dapat diaudit). Sistem dasar yang melandasi Pajak Penghasilan Indonesia adalah self assessment. Prosedur Pembayaran Beberapa hal penting berkenaan dengan aspek prosedural utama pajak penghasilan Kewajiban menyerahkan SPT. kelebihan pemotongan pajak akan dialami oleh para wajib pajak tertentu sehingga para wajib pajak ini yang secara riil memberikan pinjaman bebas bunga kepada Pemerintah. Sistem ini memiliki banyak keunggulan. Biaya untuk mengaudit semua SPT tersebut akan sangat besar. Pada saat yang sama. dan setoran pajak penghasilan masa tahun berikutnya itu didasarkan pada informasi estimasi ini. pada waktu-waktu tertentu kelompok wajib pajak tertentu akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pemerintah. dalam hal ini sangat dibantu oleh fasilitas komputer yang dimilikinya. Wajib pajak tersebut adalah mereka yang mempunyai penghasilan neto lebih kecil dari PTKP atau yang memperoleh penghasilan hanya dari satu pemberi kerja. Pemotongan Pajak (Withholding). Oleh karena itu. hanya wajib pajak yang tidak wajib memiliki NPWP tidak diwajibkan untuk menyerahkan SPT Tahunan. Dengan cara ini. DJP tidak dapat mengaudit semua SPT yang diterima. Kewajiban menyerahkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan diberlakukan kepada semua wajib pajak yang telah memiliki NPWP. harus mengembalikan kelebihan pemotongan ini kepada para wajib pajak tertentu tersebut. Sebagian besar pajak dipungut dengan cara dipotong oleh pihak yang melakukan pembayaran. pada saat wajib pajak harus menyerahkan pembayaran terakhir untuk pajak-pajak yang terutang pada Tahun Pajak yang telah berakhir atau menagih pengembalian pajak. Responsifitas sangat penting bagi efektivitas kebijakan stabilisasi. Walaupun Direktorat Jenderal Pajak memeriksa aritmetika perhitungan pajaknya.150 dengan 1994. pembayaran pajak dikaitkan dengan tingkat penghasilan tahun berjalan daripada tertinggal satu tahun. Batas waktu penyerahan SPT Tahunan adalah tiga bulan setelah Tahun Pajak berakhir. sistem pemotongan pajak juga menimbulkan biaya tersendiri. Audit. pemeriksaan sampel secara acak digunakan untuk membuat wajib pajak tetap patuh pada peraturan perpajakan. Jika tarip pajak yang dipotong ditetapkan cukup tinggi untuk mendapatkan penerimaan pajak setinggi-tingginya. dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak. wajib pajak menyerahkan estimasi pajak penghasilan yang harus dibayar tahun berikutnya. sejak tahun 1995 tarip pajak diturunkan antara 10% sampai dengan 30%. Oleh karena itu. tarip pajak yang ditetapkan antara 15% sampai dengan 35%. Setiap wajib pajak bertanggung jawab untuk menyatakan penghasilan mereka dan menghitung besarnya pajak penghasilan yang terhutang. responsivitas pembayaran pajak terhadap perubahan dalam tingkat penghasilan pribadi sangat meningkat.

Sekarang. misalnya dokter atau pengusaha retail. penghasilan dari semua sumber yang didefinisikan harus diperlakukan secara seragam dan digabungkan sebagai penghasilan global yang akan dikenakan tarip pajak. Walaupun begitu. Bila kita memilih penghasilan sebagai basis pajak. yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. Peraturan perundang-undangan juga membolehkan wajib pajak mengurangkan biaya-biaya yang berkaitan dengan pekerjaan. Tanpa pengglobalan ini. Akan tetapi. apakah akan diinvestasikan atau akan dikonsumsi. Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Konsep penghasilan dasar yang menjadi penentuan kewajiban pajak penghasilan dalam praktiknya adalah penghasilan neto. sebagai indeks kapasitas kemampuan membayar pajak. Walaupun ada pengecualian-pengecualian tertentu. cakupan auditnya terbatas. perlakuan biaya bunga yang boleh dikurangkan dipertanyakan konsistensinya. yang diharapkan ataupun yang tidak diharapkan. terutama berkaitan dengan perlakuan biaya-biaya permodalan lainnya. Selain itu. penerapan tarip yang progresif tidak dapat menghasilkan efek yang diharapkan yaitu mengadaptasi pajak pada kemampuan membayar wajib pajak. dikurangkan dari penghasilan. seperti biaya jabatan dan iuran pensiun. pada umumnya penghasilan yang dapat dikenakan pajak telah dinyatakan dalam satuan penghasilan neto. Prinsip lain dalam mendefinisikan penghasilan neto adalah bahwa kerugian harus dapat diperlakukan sebagai pengurangan sepenuhnya. Seberapa baikkah penghasilan neto digunakan sebagai suatu ukuran kapasitas pajak? Dalam konsep basis pajak. konsep tambahan kemampuan ekonomis ini akan dianalisis secara mendalam apa implikasinya dalam praktik dan bagaimana konsep ini diterapkan secara memuaskan dalam perhitungan penghasilan neto. harus didefinisikan sebagai kenaikan total atas kekayaan seseorang. Penghasilan bruto versus penghasilan neto Penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto. baik yang terealisasi ataupun yang tidak terealisasi. ada dua kandidat utama sebagai basis pajak untuk pajak pribadi.151 diperiksa. walaupun tidak selalu. Semua tambahan kemampuan ekonomis (accretion) harus dimasukkan. baik yang teratur ataupun yang fluktuatif. Kita tidak perlu mempertimbangkan bagaimana penghasilan tersebut digunakan. kerugian operasi harus dikurangkan dalam menentukan penghasilan neto dari kegiatan usaha. Peraturan perpajakan mendefinisikan penghasilan yang akan dikenakan pajak sebagai penghasilan neto karena biaya-biaya yang terjadi dalam memperoleh penghasilan pada umumnya. Kerugian mengurangi Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu penghasilan dan konsumsi. Karena tambahan kemampuan ekonomis dirancang untuk mengukur konsumsi plus kenaikan dalam kekayaan bersih. Pandangan pajak penghasilan ini banyak diterima oleh berbagai kalangan dewasa ini. maka penghasilan.

contohnya adalah rumah yang ditinggali pemiliknya. Kenaikan dalam penghasilan uang yang sepadan dengan kenaikan harga-harga bukan merupakan kenaikan dalam penghasilan riil. ada kredit pajak bagi wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan tetapi wajib pajak yang hanya memperoleh penghasilan atas modal tidak memperoleh kredit pajak ini. Pada beberapa negara maju. Pembayaran yang diterima dalam bentuk natura. Penghasilan neto. Pemerintah harus konsisten memperlakukan keduanya. yang lainnya memiliki barang-barang konsumsi jangka panjang yang memberikan imputed income. Dengan demikian. beberapa ahli perpajakan secara tradisional membedakan antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal.152 kekayaan bersih sebagaimana keuntungan meningkatkannya. oleh karenanya harus didefinisikan dalam satuan riil. Capital Income versus Labor Income Berdasarkan konsep tambahan kemampuan ekonomis. tidak memperhitungkan imputed income. upah. Akan tetapi. kewajiban pajak dalam satuan riil sama dengan nol. yang condong pada konsep penghasilan kas. Imputed Income Beberapa orang memiliki aset yang memberikan penghasilan kas. Pengabaian ini menyebabkan ketidakadilan perlakuan pajak bagi pemilik rumah dan penyewa. Oleh karenanya. nilai dari konsumsi yang imputed tersebut harus dimasukkan ke dalam basis pajak. layanan kendaraan kantor atau Dasar-dasar Keuangan Publik . para wajib pajak dapat memperlakukannya untuk mengurangi kewajiban pajak beberapa tahun yang akan datang. Pemilik mendapatkan imputed rent yang sama dengan penghasilan yang ia dapatkan apabila ia menyewakan rumahnya. Penghasilan Riil versus Penghasilan Nominal Penghasilan adalah alat ukur kemampuan membayar. yang menekankan bahwa penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. seperti makanan yang diperoleh dari tanaman dari lahan pribadi. Hal inilah yang menjadi bagian dari topik kontroversial untuk memajaki capital gains. dalam situasi ini. Pandangan ini menjadi penting ketika tingkat inflasi sangat tinggi. Penghasilan yang Terakumulasi versus Penghasilan yang Terealisasi Sesuai dengan definisi penghasilan sebagai ukuran peningkatan penghasilan. Walaupun peraturan perundang-undangan tidak memberikan fasilitas pengembalian pajak. maka tidak menjadi perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji. Karena kenaikan kemampuan (accretion) didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan bersih dan konsumsi. sumber penghasilan bukanlah suatu permasalahan. Hal ini dinilai sebagai ketidakkonsistenan penerapan konsep penghasilan ini. Direalisasikan ataupun tidak adalah pilihan portofolio bagi investor dan tidak boleh mempengaruhi penghasilan yang diukur untuk keperluan perpajakan. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset yang tidak dijual.

Penghasilan versus Transfer Dari sudut pandang ekonom. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura. Jika seseorang memutuskan untuk santai (tidak bekerja). juga tidak diperhitungkan dalam penghasilan neto. menjadi pengganti penghasilan kas untuk menghindari pajak penghasilan. Jika hal ini dilakukan. Akan tetapi. mencuci dan memelihara anak) merupakan penghasilan imputed bagi rumah tangga. Transfer seperti ini tidak dikurangkan dari penghasilan oleh pemberi dan juga tidak dilaporkan sebagai penghasilan oleh penerima. harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Akan tetapi. seperti warisan dan hibah. Dan juga. Juga. secara konseptual. Pemilihan basis pajak merupakan permasalahan keadilan pajak. seperti juga tambahan kemampuan ekonomis dari sumber-sumber lain. dalam bentuk berbagai tunjangan-tunjangan natura seperti kendaraan kantor. Permasalahan yang lebih membingungkan lagi adalah waktu santai (tidak bekerja).153 keuntungan-keuntungan dari tunjangan-tunjangan natura. Transfer yang diterima dari pemerintah atau sumber-sumber swasta (seperti donasi dan hibah) bukan merupakan komponen penghasilan dalam istilah pendapatan nasional. dalam bentuk santai. yang juga menyatakan nilai dari output yang diproduksi oleh faktor-faktor tersebut. apakah transfer seperti ini harus dikurangkan dari basis penghasilan pajak pemberi? Tidak selalu. karena konsep penghasilan berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis. Hal ini menjadi penting karena pembayaran dalam bentuk natura. dengan demikian harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. pendapatan nasional adalah jumlah dari pendapatan faktor selama satu periode. perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima. perlakuan pajak seharusnya tidak mengikuti aturan dalam perhitungan pendapatan nasional. Dasar-dasar Keuangan Publik . Contohnya. memasukkan penghasilan ini ke dalam penghasilan neto memunculkan permasalahan serius dalam hal pengukuran dan hal-hal lain yang harus diperhitungkan ketika memberlakukan pajak penghasilan atas dasar rumah tangga. Akan tetapi. bukannya penggunaan. Oleh karenanya. penerapan imputed income menjadi tidak mungkin apabila dilakukan terlalu jauh. implementasi dari aturan ini tidak akan mungkin bisa dilakukan. tidak ada keharusan bahwa basis pajak agregat sama dengan penghasilan total yang didefinisikan dalam pendapatan nasional. ini adalah bukti (seperti yang dinyatakan oleh logika ekonomi) bahwa ia menilai tidak bekerja tersebut sama dengan penghasilan ekuivalen yang hilang karena tidak bekerja. walaupun seharusnya diperhitungkan dalam konsep penhasilan. Warisan dan Hibah Transfer pribadi. penghasilan kena pajak seseorang tidak harus sama dengan bagiannya dalam pendapatan nasional dan juga total penghasilan kena pajak dala suatu negara harus sama dengan total pendapatan nasional. juga tidak dikenakan pajak penghasilan. jasa rumah tangga yang dilakukan sendiri (seperti memasak. Dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion).

tarip pajak yang progresif cenderung diskriminatif terhadap penghasilan yang fluktuatif. Beberapa tambahan kemampuan ekonomis. Penghasilan jasa konstruksi dan jasa konsultan. 2. Penghasilan dari hadiah undian Perlakuan atas pajak final ini sebenarnya melanggar prinsip keadilan pajak. pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarip pajak final. Akan tetapi. walaupun belum ada penghasilan karena belum tentu transaksi tersebut memberikan untung. Keadilan horizontal dilanggar karena perlakuan ini menghasilkan perbedaan dalam kewajiban pajak pada tingkatan penghasilan tertentu. Demikian pula pada transaksi-transaksi yang menguntungkan.154 Penghasilan Teratur versus Penghasilan Tidak Teratur Seringkali dimunculkan argumen bahwa penghasilan yang tidak teratur dan tidak diharapkan harus dimasukkan dalam penghasilan yang dikenakan pajak. 3. Permasalahan ini dapat dikurangi dengan menerapkan aturan meratakan penghasilan. karena pada transaksi tertentu seperti transaksi penjualan saham di bursa efek. Bagaimanapun juga. Capital gain Berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap capital gain. Praktek Definisi Penghasilan: Pengecualian Analisis terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan menunjukkan banyaknya penyimpangan dari prinsip tambahan kemampuan ekonomis. tidak ada alasan untuk membedakannya. sebelum tahun 2000. posisi ini seringkali tanpa alasan yang kuat. Beberapa penghasilan yang dikenakan pajak final adalah: 1. Oleh karena itu. seperti imputed income. Penghasilan yang diperoleh dari hak atas tanah dan bangunan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Walaupun demikian. wajib pajak sudah diharuskan membayar pajak. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek. penghasilan yang tidak teratur dan penghasilan yang teratur sama pengaruhnya bagi kemampuan wajib pajak. 4. debat yang terjadi berkisar (1) apakah laba yang direalisasikan harus diperlakukan sebagai penghasilan biasa. tidak dimasukkan. Pada transaksi-transaksi ini. Keadilan vertikal dipengaruhi karena prinsip progresivitas tidak berlaku pada penerapan pajak final. dan (2) apakah laba yang tidak direalisasikan harus juga dipajaki. pajak langsung dibayarkan dengan sistem pemotongan dan tidak dapat dikreditkan dalam perhitungan Pajak Penghasilan akhir. tarip pajaknya proporsional seberapapun besarnya penghasilan (keuntungan) yang didapat. sedangkan beberapa lainnya dikecualikan dari penghasilan neto. Penghasilan-penghasilan yang dikenakan pajak final Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak.

Perlakuan ini jelas-jelas melanggar prinsip keadilan pajak. Walaupun tidak ada konsumsi. Berdasarkan prinsip ini. Bahwa realisasi dalam bentuk kas memungkinkan. Karena penghasilan neto dinyatakan dalam bentuk penghasilan kas dan hanya memasukkan penghasilan kas saja. Laba yang sudah direalisasikan tetapi tidak dikonsumsi perlakuannya sama dengan laba yang belum direalisasikan. keputusan untuk merealisasikan dalam bentuk kas atau tidak adalah keputusan manajemen portofolio dan bukan adanya tambahan penghasilan. Semua tambahan harus dimasukkan. Peraturan perpajakan memberikan perbedaan perlakuan pada beberapa capital gain.000. tidak peduli akan digunakan untuk apa. Jika Tuan Amir memiliki portofolio saham PT Telkom yang nilainya naik Rp100. baik terealisasi (berubah menjadi kas) ataupun tidak.000. penghasilan sebagai suatu indeks dari kemampuan membayar wajib pajak harus diukur sebagai tambahan kekayaan. Prinsipnya adalah semua penghasilan harus dipajaki. yaitu capital gain dari penjualan saham di bursa efek dan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. bukannya atas labanya.155 Perlakuan atas laba yang direalisasikan. kekayaannya telah bertambah sebanyak jumlah ini yang dapat diubahnya menjadi kas bila ia memutuskannya. baik keadilan horizontal maupun keadilan vertikal. simpulan ini telah menjadi bahan perdebatan yang berkelanjutan dalam bentuk argumentasi-argumentasi berikut: a. Walaupun demikian. Memang ada masalah khusus bahwa capital gain sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga harus membayar lebih banyak dalam sistem tarip pajak yang progresif. hal ini tidak relevan dengan definisi basis dari pajak penghasilan. (Berdasarkan suatu pajak konsumsi. pembedaan apakah sudah terealisasi dan belum terealisasi bukan merupakan hal yang utama. Penundaan pengenaan pajak setelah realisasi memberikan perlakuan yang menguntungkan kepada jenis penghasilan yang belum direalisasikan. Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena pemiliknya dihalangi untuk melakukan konsumsi. dan walaupun berdasarkan pajak konsumsi. Apakah laba telah terealisasi tidak ada relevansinya dengan apakah ada peningkatan kemampuan ekonomis. bila dibandingkan jika capital gain tersebut diterima sebagai pendapatan tetap. Tidak ada dasar yang kuat berdasarkan prinsip keadilan untuk membedakan perlakuan pajak terhadap laba yang direalisasikan terhadap penghasilan dari usaha. laba yang belum terealisasikan tidak dipajaki. Perlakuan terhadap laba yang belum direalisasikan.) Dasar-dasar Keuangan Publik . kesulitan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan perataan yang tepat. misalnya menjualnya untuk dikonsumsi atau diinvestasikan dalam bentuk aset lainnya. laba yang belum direalisasikan akan dikecualikan dan laba yang direalisasikan akan dimasukkan hanya jika dikonsumsi. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip tambahan kemampuan ekonomis. Penghasilan didapatkan dari keduanya dan tidak ada dasar yang membedakan keduanya. Faktanya dia tetap memiliki dalam bentuk portofolio saham menunjukkan preferensinya untuk tetap terus memegangnya bila dibandingkan dengan alternatif lainnya. Pajak untuk transaksi-transaksi ini bersifat final dan dikenakan atas nilai transaksi.

misalnya untuk pemegang saham PT Telkom yang dapat menjual sahamnya sewaktu-waktu. misalnya setiap lima tahun. Selain itu juga. Prinsip akuntansi yang hati-hati hanya mengakui pendapatan setelah ada realisasi.156 b. pemerintah dapat memberikan waktu yang cukup untuk itu. yang banyak mendapatkan dukungan-dukungan hukum pada tahap-tahap awal diskusi pajak penghasilan. Akan tetapi. Pemisahan adalah pilihan investasi. sulit digunakan untuk meyakinkan para ekonom. d. telah ada usulan untuk mengenakan pajak pada saat kematian atau pemindahan aset ini (misalnya melalui pemberian) seolah-olah telah terealisasi pada saat itu. Untuk situasisituasi di mana likuidasi parsial tidak memungkinkan (misalnya bisnis keluarga). sedangkan penghasilan diperoleh karena nilai aset meningkat. Oleh karena itu. Pandangan ini. dapat dinilai dan dikenakan pajak secara periodik. Pada awal munculnya pembukuan oleh para saudagar Venesia. penghasilan tersebut harus dapat dipisahkan dari aset yang menghasilkannya. untuk aset lainnya (seperti lukisan dan tanah pertanian) sulit untuk dinilai. Hal ini sering disebut dengan realisasi konstruktif yang akan mengurangi kebutuhan penilaian aset hanya pada satu tanggal tertentu sehingga lebih mudah dikelola. Permasalahan penerapan. Dengan membolehkan perataan dan menyebarkan pembayaran pada beberapa periode. adalah beralasan bagi pemerintah untuk meminta wajib pajak melikuidasi sebagian asetnya untuk membayar pajak bila diperlukan. seperti sekuritas yang diperdagangkan. Jika pendekatan tambahan kemampuan ekonomis diikuti. tetapi hal ini bukan halangan yang luar biasa. situasi bisnis telah berubah dan analogi seperti ini tidak tepat lagi. tetapi apakah hal itu jadi persoalan? Sebagaimana halnya hutang-hutang lainnya yang jatuh tempo. Akan tetapi. Pandangan ini tepat. Pemajakan atas laba yang belum direalisasikan mengharuskan wajib pajak membayar pajak walaupun ia tidak memiliki uang kas untuk membayarnya. apakah ada cara yang layak untuk memajakinya? Pengenaan pajak sepenuhnya atas laba yang sudah direalisasikan dapat dilaksanakan tanpa kesulitan-kesulitan teknis yang muncul. laba yang sudah ataupun yang belum direalisasikan harus dimasukkan dalam penghasilan kena pajak dan digabungkan dengan penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Walaupun permasalahan pengenaan pajaknya telah jelas secara prinsip. mereka tidak membukukan pendapatan mereka sampai nakhoda kapal telah kembali ke pelabuhan dan menyerahkan uang hasil dagangan. Pengukuran atas laba yang belum direalisasikan memang sulit. Untuk suatu penghasilan yang akan diterima. Suatu pendekatan yang konsisten mengharuskan bahwa pengenaan pajak pada semua laba ini harus diikuti dengan pemberian pengurangan untuk kerugian-kerugian. akan tetapi situasinya jauh lebih sulit untuk laba yang belum direalisasikan. pengenaan pajak atas capital gain harus juga disesuaikan dengan inflasi. ketidakadilan yang timbul karena likuidasi paksa dapat dihindari. Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena ketiadaan realisasi membuat kita tidak mengetahui keberadaannya. Pengenaan pajak secara tahunan atas laba yang belum direalisasikan tidak memungkinkan karena ketidakpraktisan dalam melakukan penilaian aset secara tahunan. c. Beberapa aset. Dasar-dasar Keuangan Publik .

tanpa memandang penggunaannya. penundaan pembayaran pajak sama saja dengan memperoleh pinjaman bebas bunga. Iuran yang tidak dikenakan pajak penghasilan adalah iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. Penundaan pajak sama dengan memperoleh pinjaman bebas bunga. Kedua. cara ini masih memberikan beberapa keuntungan bagi capital gain. Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan. Iuran Pensiun. dengan menyetorkan sejumlah uang kepada lembaga dana pensiun atau sejenisnya. membolehkan pembayaran-pembayaran ini sebagai pengurang atas penghasilan dan mengenakan pajak sepenuhnya pada saat uang pensiun/tabungan dibayarkan kembali. Peraturan perundang-undangan pajak penghasilan membolehkan pembayaran Tabungan Hari Tua kepada PT Taspen tidak dimasukkan sebagai penghasilan kena pajak. semua penghasilan harus dikenakan pajak. sebagaimana yang berlaku pada penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Perlakuan yang tepat tentu saja dengan memperlakukan iuran Tabungan sebagaimana bentuk tambahan kemampuan lainnya dan dikenakan pajak sebagaimana mestinya. Alternatif yang dilakukan saat ini. Sebagaimana disebutkan di muka. memunculkan ketidakadilan terhadap para penabung lainnya karena dua keuntungan bagi pembayar iuran pensiun/tabungan. dan ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. Tabungan Hari Tua. pajak atas laba yang belum direalisasikan ditunda sampai kematian. aturan ini sama saja memberikan kepada pembayar Tabungan Hari Tua suatu pinjaman bebas bunga dan penerapan tarip pajak yang lebih rendah di kemudian hari ketika tabungan ini diambil oleh penabung. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan. yang memungkinkan wajib pajak untuk memperoleh penghasilan atas aset tersebut sementara waktu. Tabungan Hari Tua dan Rencana Pensiun Tabungan Hari Tua adalah kegiatan memisahkan penghasilan tahun berjalan untuk penggunaan di masa depan. Hal ini berlaku baik iuran pensiun itu dipotong dari penghasilan para pegawai maupun dibayarkan atau ditanggung oleh perusahaan. Pertama. Iuran ini tidak dikenakan pajak apabila penghasilan penerima berada di bawah PTKP. Apabila prinsip penghasilan global diikuti. bukannya asuransi. Bila penghasilan-penghasilan lain dipajaki secara reguler. Tabungan ini semakin beralasan untuk dimasukkan ke dalam basis pajak apabila dipandang sebagai skema redistribusi. Dasar-dasar Keuangan Publik . penghasilan pembayar iuran pensiun di masa depan akan lebih kecil sehingga penghasilan yang ditunda pengenaannya ini pada akhirnya terkena tarip pajak yang lebih rendah. Pajak penghasilan atas gaji/upah juga tidak dikurangkan dan menjadi bagian dari penghasilan umum dan diperlakukan sama seperti pajak-pajak lainnya. yang nilainya dapat sangat substansial terutama bagi para wajib pajak muda yang mampu menunda untuk periode waktu yang sangat panjang.157 Walaupun realisasi konstruktif dapat memindahkan laba yang belum direalisasikan ke dalam basis pajak.

Praktik Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Peraturan pajak penghasilan di Indonesia hanya membolehkan satu jenis pengurangan terhadap penghasilan neto yang disebut Pengurangan Standar atau Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). apakah akan menggunakan pengurangan standar atau pengurangan khusus (itemized deduction). Dukungan untuk pengurangan khusus Prinsip pengenaan pajak atas penghasilan mengharuskan basis pajak yang komprehensif. Untuk asuransi jiwa yang tidak memiliki komponen investasi. Pada umumnya wajib pajak yang berpenghasilan tinggi akan memilih pengurangan khusus karena akan memberikan jumlah pengurangan yang lebih besar daripada pengurangan standar. dapat dikatakan memiliki kemampuan Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga memudahkan penghitungan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah.158 Pengenaan pajaknya ditunda sampai uang pensiun diterima oleh para pegawai selama masa pensiun. Di Amerika Serikat. Asuransi jiwa tertentu memiliki komponen tabungan (investasi) yang karena perlakuan ini bunga yang diperoleh atas tabungan ini terhindar dari pengenaan pajak. Sementara itu. yakni memasukkan semua tambahan kemampuan. angka pengurangan standar ini telah dinaikkan jauh melebihi angka pengurangan khusus yang disubtitusikan. Oleh karena itu. Hal ini tidak saja disebabkan oleh ukuran rumah tangga tetapi juga oleh beberapa hal lainnya. Asuransi Jiwa. Pembayaran premi kepada perusahaan asuransi jiwa dan pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi jiwa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Akan tetapi kemudian. Para wajib pajak dengan tagihan-tagihan darurat yang berat. Aspek Keadilan. tetapi beberapa pengeluaran mungkin layak diberikan. Pengurangan standar pada mulanya diberlakukan untuk memudahkan ketaatan dan administrasi. Pembayaran premi asuransi jiwa tidak boleh digunakan untuk mengurangi penghasilan yang akan dikenakan pajak. pengurangan standar fungsinya menjadi hibrida antara pengganti pengurangan khusus dan memberikan tambahan pengurangan yang tidak berkaitan dengan ukuran rumah tangga. perlakuannya sudah tepat yaitu pembayarannya dikecualikan dari pengenaan pajak tanpa memperbolehkan pengurangan atas premi yang dibayarkan. pengurangan standar ini ditujukan untuk menjadi subtitusi dari pengurangan khusus. Perlakuan premi asuransi telah sesuai dengan konsep tambahan kemampuan tetapi perlakuan atas pembayaran asuransinya tidak sesuai. Peraturan pajak penghasilan di Amerika Serikat memberikan pilihan bagi wajib pajak. seperti tagihan biaya pengobatan yang besar. pembayaran asuransinya tidak dikenakan pajak penghasilan. Pendekatan ini menjadi dasar utama keberatan akan adanya pengurangan-pengurangan. Penghasilan yang sama tidak berarti kemampuan yang sama untuk membayar jika para wajib pajak berada pada posisi yang berbeda-beda.

keuntungan yang didapatkan dapat jauh melebihi kerugiannya pada aspek keadilan pajak. situasi seperti ini menjadi sangat penting terutama bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Dalam hal ini. baik bagi Dasar-dasar Keuangan Publik . Tidak ada aturan alam yang tidak membolehkan pajak penghasilan digunakan tujuan-tujuan selain perolehan penghasilan. Oleh karena itu. Jika subsidi dibutuhkan. yang seharusnya identik dengan konsep teoritis tentang tambahan kemampuan ekonomis. Perbedaan-perbedaan yang substansial timbul yang seringkali menyebabkan penghasilan kena pajak jumlahnya di bawah dari yang ditentukan oleh konsep tambahan kemampuan. banyak bukti menunjukkan bahwa kerugian atau penyusutan pendapatan atau pengeluaran pajak yang telah terjadi jumlahnya cukup besar. preferensi pajak dapat dinetralisasi dengan pengenaan tarip pajak yang progresif. aturan yang membebaskan pajak atas bunga pinjaman rumah sama dengan mengenakan pajak sepenuh pada pemilik rumah dan kemudian secara bersamaan melakukan pengeluaran subsidi kepada mereka. apakah subsidi ini harus diberikan dalam bentuk pengurangan pajak. setelah pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan. Jika aktivitas tertentu layak didukung dan jika pengurangan pajak adalah cara terbaik untuk melakukannya. Walaupun penentuan kerugian basis pajak karena suatu hal tertentu masih diperdebatkan. Istilah penyusutan pengeluaran pajak digunakan karena kegagalan memperoleh penerimaan pajak karena lubanglubang dalam basis penghasilan kena pajak pada dasarnya adalah sama dengan memperoleh penerimaan pajak sepenuhnya kemudian melakukan pengeluaran sehingga wajib pajak tetap pada posisi yang sama. Aspek Insentif. Keberadaan preferensi pajak tidak menjadi masalah besar apabila basis yang berkurang karena pengecualian dan pajak final merupakan proporsi yang tetap dari basis pajak sepenuhnya bagi seluruh wajib pajak. sehingga mendorong wajib pajak untuk membelanjakan lebih banyak pada aktivitas-aktivitas ini. Pertanyaannya adalah apakah aktivitas yang perlu didukung itu membutuhkan subsidi. Prinsip ini dapat dinyatakan dengan memberikan pengurangan atas penghasilan untuk biaya pengobatan. pengurangan bertindak sebagai hibah tandingan yang disediakan oleh pemerintah di mana biaya pelaksanaan aktivitas-aktivitas tertentu oleh wajib pajak menjadi berkurang. Akan tetapi. Preferensi Pajak Kita telah mempelajari bagaimana definisi perundang-undangan dari penghasilan kena pajak.159 untuk membayar yang lebih kecil dibandingkan dengan para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi tagihan-tagihan darurat tersebut. Pertimbangan yang sama juga dapat diberlakukan bagi para wajib pajak yang cacat karena mereka membutuhkan biaya hidup yang lebih banyak. pada kenyataannya insiden preferensi sangat bervariasi. pengurangan ini tidak saja mendapat dukungan tetapi juga mampu mendorong terciptanya basis pajak yang lebih adil. Pengurangan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang mulia seperti sumbangan sosial atau untuk mendorong konsumsi atas hal-hal yang menimbulkan manfaat-manfaat eksternal. Dalam hal ini. Misalnya. Jika dirancang dengan baik.

sehingga menimbulkan adanya ketidakadilan secara vertikal dan horizontal. suatu firma dibentuk untuk investasi di dunia real estate. kehilangan penerimaan dari aturan pajak terhadap terhadap capital gain lebih dinikmati oleh wajib pajak berpenghasilan tinggi. Pembayaran bunga akan mengakibatkan kerugian yang besar pada periodeperiode awal beroperasinya firma tersebut sebelum firma tersebut memperoleh penghasilan yang cukup besar. bagaimana aturan pajak menciptakan preferensi pajak bagi golongan-golongan wajib pajak dengan penghasilan tertentu. Cara penghindaran pajak yang paling utama adalah adanya tax shelter yang timbul dari kerugian usaha. Perlakuan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Permasalahan keadilan pajak secara vertikal tidak hanya seberapa besar wajib pajak berpenghasilan tinggi dipajaki. Kedua aturan ini memang sejalan dengan konsep yang benar tentang laba bersih sebagai basis pajak. Untuk di Indonesia.160 wajib pajak rata-rata pada berbagai tingkatan penghasilan maupun wajib pajak tertentu pada satu tingkatan pajak penghasilan. Ketidakadilan pajak secara vertikal dapat terjadi karena manfaat-manfaat pengeluaran pajak hanya dinikmati oleh kelompok wajib pajak dengan penghasilan tertentu. Dengan melakukan investasi pada firma tersebut. tetapi juga yang lebih penting adalah seberapa sedikit wajib pajak yang berpenghasilan rendah harus membayar pajak Berapa besarnya penghasilan minimal yang tidak dikenakan pajak? Pada umumnya. semua sependapat bahwa ada sejumlah pertama penghasilan tertentu yang tidak boleh dikenakan pajak. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Bila dikombinasikan. Penghasilan yang dikenakan pajak harus didefinisikan sebagai penghasilan kena pajak dikurangi dengan PTKP. keduanya ternyata dapat dipakai untuk menghindari pajak dengan membentuk tax shelter. firma tersebut dapat meminjam dalam jumlah yang banyak dengan jaminan harta real estatenya. Misalnya. Contohnya. investor dapat menghapuskan kerugian yang besar tersebut pada penghasilan mereka sehingga mengurangi pajak yang dibayarkan. Dengan investasi modal yang kecil. Ketidakadilan pajak secara horizontal terjadi karena wajib pajak dengan penghasilan sama tidak mendapat manfaat yang sama karena perbedaan aturan. kita harus menggunakan tingkat Dasar-dasar Keuangan Publik . penelitian tentang hal ini ada. Wajib pajak yang menerima penghasilan dalam bentuk natura membayar lebih sedikit daripada pegawai yang menerima seluruh penghasilannya dalam bentuk kas. di Amerika Serikat. kerugian dapat digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak dan bunga dapat dikurangkan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak. Permasalahan-Permasalahan Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Beberapa permasalahan penghindaran pajak timbul berkaitan dengan berbagai jenis penghasilan modal. Dalam menentukan jumlah PTKP ini.

Pertama.000. Kredit Pajak bagi Wajib Pajak berpenghasilan Rendah Pada negara maju.440. tetapi bergerak dari tarip negatif pada penghasilan nol (wajib pajak pada tingkatan penghasilan ini mendapatkan subsidi dari pemerintah) bergerak ke angka nol (titik impas) dan menjadi tarip positif pada angka di atas titik impas ini. Ditambah dengan faktor ini maka jumlah PTKP maksimal adalah Rp10. sehingga tarip pajak efektif naik.000.200. Titik awal beban pajak bergantung pada berbagai faktor. Prinsip progresifitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarip pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin. pasangannya dan setiap tanggungan (maksimal tiga tanggungan). adanya PTKP sebesar Rp1. aturan hukum di negara maju menyediakan kredit pajak bagi keluarga yang memiliki anak dan pasangannya juga bekerja. Berikutnya. Praktik ini dapat dilakukan dengan memberikan kredit pajak pada para wajib pajak berpenghasilan rendah. Ketidakadilan didapatkan oleh wajib pajak yang karena sesuatu dan lain hal harus memiliki jumlah tanggungan lebih dari tiga orang.000 per wajib pajak. Karena tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga.800. Untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Signifikansi utama dari pemberian PTKP berkaitan erat dengan pola tingkat pajak efektif pada para wajib pajak dengan penghasilan menengah ke bawah.000. Hal ini menimbulkan permasalahan ketidakadilan pajak karena aturan pajak telah terdistorsi untuk memenuhi tujuantujuan nonfiskal. PTKP memperhitungkan ukuran keluarga dengan asumsi implisit bahwa tambahan tanggungan tidak menciptakan skala ekonomis. jumlah PTKP maksimal adalah Rp7. ada PTKP bagi anggota keluarga yang memiliki penghasilan untuk wajib pajak yang bersangkutan dan pasangannya. jumlah PTKP turun secara relatif terhadap penghasilan neto. Kita dapat mengatakan bahwa PTKP adalah penghasilan yang dikenakan tarip pajak sebesar nol persen dan merupakan bagian integral dari struktur tarip pajak. Batas bebas pajak tersebut tidak hanya penting dalam menentukan batas bawah untuk kewajiban pajak.161 penghasilan yang rendah yang membuat wajib pajak diklasifikasikan sebagai miskin. telah muncul pemikiran-pemikiran dan praktik-praktik berkaitan dengan tarip pajak negatif. Di Indonesia. Struktur tarip pajak tidak lagi selalu positif.440. tetapi juga mendominasi kenaikan tarip pajak efektif atau pola progresivitas pada skala penghasilan menengah ke bawah. Kredit Pajak untuk Biaya Mengasuh Anak Sejalan dengan perkembangan tentang hak-hak wanita dan perlakuan yang adil terhadap penghasilan keluarga. Ketika penghasilan neto naik. sehingga beban pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga. jumlah maksimal tanggungan adalah tiga orang karena adanya tujuan tambahan untuk mendukung program keluarga kecil. Tarip pajak efektif (yang didefinisikan sebagai rasio pajak terhadap penghasilan neto) pada tingkat penghasilan neto yang rendah jumlahnya sangat kecil karena porsi terbesar dari penghasilan neto adalah PTKP. masing-masing sebesar Rp1. Berdasarkan faktor ini.

Pembedaan ini sangat jelas. Suatu pajak dikatakan progresif bila rasio pajak terhadap penghasilan naik ketika skala penghasilan meningkat. Pola Progresivitas Tarip Pajak Pajak penghasilan secara tradisional telah dipandang sebagai suatu instrumen pajak yang progresif.Untuk suatu pajak penghasilan dikatakan progresif. Peningkatan kewajiban pajak yang lebih rendah daripada peningkatan penghasilan membuat pajak menjadi regresif. proporsional apabila tarip pajak konstan pada semua tingkat penghasilan. semakin cepat kenaikan rasio pajak terhadap pendapatan nasional. tetapi situasinya lebih rumit bila kita ingin mengukur derajat progresivitas atau regresivitas. tidak cukup apabila kewajiban pajak meningkat ketika tingkat penghasilan meningkat. proporsional dan regresif dapat digambarkan dengan mudah. T0 Y1 − Y0 Rasio persentase perubahan kewajiban pajak terhadap perubahan penghasilan. mereka harus menyediakan dana untuk menyewa pengasuh untuk anak-anak mereka. Tidak ada cara tunggal yang tepat mengukur tingkat progresivitas. (Y0 − T0 ) Y1 − Y0 Dasar-dasar Keuangan Publik . proporsional bila rasionya konstan. tarip pajak yang dikenakan meningkat seiring dengan peningkatan penghasilan neto. semakin progresif pajak penghasilan. Pajak dikatakan progresif apabila tarip pajak cenderung meningkat pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. Seberapa progresifkah pajak penghasilan Indonesia dan perubahan-perubahan apa yang telah dilakukan dalam pola progresivitasnya? Arti Progresivitas Tarip Pajak Pada saat membahas penghasilan neto. dan regresif bila tarip pajak turun pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. Rumusnya: • Rasio persentase perubahan penghasilan setelah pajak terhadap persentase perubahan penghasilan sebelum pajak Rumusnya: (Y1 − T1 ) − (Y0 − T0 ) Y0 . dan regresif bila rasionya turun. Mengukur Tingkat Progresivitas Perbedaan antara pajak-pajak progresif.162 keluarga seperti ini. T1 Rumusnya: • − T0 Y1 Y0 Y1 − Y0 T1 − T0 Y0 . yaitu: • Rasio perubahan tarip efektif terhadap perubahan penghasilan. Beberapa ukuran dapat dipakai. Selain itu.

Yang lebih menarik lagi adalah urutan preferensi tersebut akan terbalik bila yang diperjuangkan adalah pengurangan pajak. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat yang berpenghasilan rendah tentu saja akan sangat berkeinginan untuk menginterpretasikan netralitas dalam bentuk yang paling diinginkan adalah progresivitas tarip rata-rata. Koefisien ini mengukur kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi kewajiban pajak terhadap penghasilan pada bagan logaritme-ganda. Proporsionalitas ditunjukkan dengan nilai koefisien sama dengan satu dan progresivitas ditunjukkan dengan nilai koefisien di atas satu. Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini menjadi sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi terhadap progresivitas ketika tarip-tarip pajak berubah. Koefisiennya juga satu untuk pajak proporsional tetapi progresivitas sekarang ditunjukkan dengan angka koefisien yang kurang dari satu. banyak pihak yang mengusulkan perubahan pada seluruh tarip untuk menjaga kenetralan kenaikan dan penurunan. Untuk menghindari kebingungan dalam membandingkan progresivitas pada jangkauan penghasilan tertentu yang berbeda atau untuk struktur pajak yang berbeda. mencatat elastisitas kewajiban pajak terhadap penghasilan. konsep teoritis dapat menimbulkan implikasi politis.163 Ukuran pertama. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat berpenghasilan tinggi akan cenderung mengambil posisi yang berlawanan. semua hutang pajak harus dinaikkan dengan persentase yang sama. Ukuran ketiga atau progresivitas penghasilan residu mencatat elastisitas dari penghasilan setelah pajak Ukuran ini menunjukkan kemiringan kurva yang diperoleh dengan menggambar penghasilan sebelum dan sesudah pajak pada bagan logaritme. Ketika tarip-tarip pajak dinaikkan atau diturunkan. merupakan ukuran kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi tarip pajak efektif terhadap penghasilan. kemudian progresivitas kewajiban pajak dan yang terakhir adalah progresivitas penghasilan residu. perlu ditetapkan apa ukuran yang akan digunakan. semua tarip pajak dinaikkan sebesar persentase kenaikan yang sama. Dengan demikian. yang juga disebut sebagai progresivitas kewajiban pajak. Nilai dari koefisien ini adalah nol untuk pajak proporsional dan positif untuk pajak progresif. Ukuran kedua. Jika progresivitas tarip pajak rata-rata ditetapkan konstan. Apakah yang dimaksud dengan kenetralan dalam hal ini? Misalkan pajak akan dinaikkan. Tarip-tarip pajak dinaikkan pada persentase yang semakin besar pada tariptarip yang lebih tinggi. Progresivitas pada semua indikator cenderung menurun seiring dengan kenaikan skala penghasilan setelah tingkatan penghasilan tertentu. tarip-tarip pajak akan dinaikkan pada persentase yang semakin kecil pada tarip-tarip yang lebih tinggi. Jika progresivitas penghasilan residu ditetapkan konstan. Jika progresivitas kewajiban pajak ditetapkan konstan. yang juga disebut sebagai progresivitas tarip rata-rata (average-rate progression). Kurva tarip efektif cenderung berkurang kemiringannya dan progresivitas cenderung menurun seiring dengan meningkatnya skala penghasilan.

bukannya laba dalam nilai nominal. nilai riil dari PTKP menjadi turun. Di Indonesia. Itupun tidak dilakukan setiap tahun. Oleh karena itu. Perlakuan yang sama terhadap capital gain seharusnya hanya akan memajaki laba dalam nilai riil. Sementara itu. diperlukan penyesuaian terhadap inflasi. Capital gain yang sudah terealisasi. Solusi atas permasalahan ini dalam perundang-undangan pajak hanyalah parsial dalam bentuk penggunaan metode penyusutan dipercepat Pilihan Unit Kena Pajak Perlakuan yang tepat untuk unit kena pajak berdasarkan pajak penghasilan progresif adalah suatu hal yang kontroversial yang sampai saat ini belum ada solusi yang memadai. tetapi beberapa tahun sekali. sebagian dikenakan pajak final dan sebagian lagi dikenakan pajak reguler.164 Penyesuaian Terhadap Inflasi Permasalahan inflasi tidak hanya berkaitan dengan angka nominal PTKP dan tarip pajak. peraturan pajak di Indonesia hanya menyesuaikan PTKP. nilai riil dari tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak turun. Karena pajak di Indonesia tidak terlindung dari pengaruh inflasi. tingkat penghasilan riil yang mulai dikenakan pajak semakin turun. Ketika harga-harga naik. Selain itu. tetapi juga dalam cara yang rumit berkaitan dengan perlakuan terhadap penghasilan modal. nilai riil dari PTKP cenderung turun. yang tentu saja merupakan keuntungan bagi debitur. Berkaitan dengan pengaruh inflasi. tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak tertentu tidak pernah disesuaikan. Dalam hal ini kewajiban pajak naik dalam nilai riil. pengembalian dari biaya perolehan aktiva berkurang dalam nilai riil dan penyesuaian inflasi juga diperlukan dalam hal ini. Untuk kedua alasan inilah. Akibatnya. ketika harga-harga naik. Permasalahan selanjutnya yang ditimbulkan oleh inflasi adalah berkenaan dengan depresiasi. Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah mengurangi penghasilan bunga kena pajak sesuai dengan tingkat inflasi. wajib pajak di Indonesia mengalami kenaikan kewajiban pajak dalam nilai riil. Dengan demikian. sehingga tingkat tarip pajak yang berlaku untuk tingkat penghasilan riil tertentu akan naik. Permasalahan yang sama juga muncul berkenaan dengan kerugian yang dialami kreditur dalam nilai riil hutang nominal yang mereka berikan kepada debitur. Penghasilan Modal Beberapa permasalahan lanjutan muncul berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap penghasilan modal. kewajiban pajak naik lebih cepat daripada kenaikan harga. permasalahan ini disebabkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Penghasilan yang berbasis tambahan kemampuan yang didefinisikan dalam nilai riil harus membolehkan kreditur mengakui kerugian dan juga mengharuskan debitur mengakui keuntungan. PTKP dan tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak Ketika harga-harga naik.

3. keadilan mengharuskan ketaatan akan tiga aturan berikut: 1. Perbedaan seperti ini (pada jumlah yang layak) tidak boleh dipandang sebagai pajak yang diskriminatif terhadap seorang bujangan. aturan perpajakan membolehkan tambahan PTKP sesuai dengan ukuran keluarga. bahwa unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar harus diarahkan kepada unit keluarga. Di antara unit-unit yang berpenghasilan sama. Walaupun beberapa jenis pengeluaran konsumsi (misalnya penerangan di ruang tamu) dikonsumsi dalam jumlah yang sama baik oleh satu orang atau dua orang. Instrumen yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan di atas meliputi penerapan PTKP dan penggunaan struktur tarip pajak untuk berbagai jenis Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Pendekatan Unit Keluarga Kita mulai pembahasan dengan suatu hipotesis yang sering diterapkan dalam kebanyakan diskusi pajak penghasilan. perlakuan yang adil adalah apabila pajak yang dikenakan kepada seorang bujangan tersebut lebih tinggi daripada pajak yang dikenakan kepada pasangan suami-istri dengan tingkat penghasilan yang sama. Sistem Dasar-dasar Keuangan Publik . Penggabungan Penghasilan. baik hanya satu orang dari pasangan yang menikah tersebut yang memiliki penghasilan ataupun keduaduanya memiliki penghasilan. Dengan pengenaan pajak progresif. Pembahasan masalah ini ditinjau dari pandangan pengenaan pajak berdasarkan kemampuan untuk membayar. Aturan 1 tidak perlu penjelasan lebih lanjut karena aturan ini secara sederhana mewakili persyaratan bahwa hal yang sama harus diperlakukan sama juga. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu. pengeluaran-pengeluaran konsumsi lainnya (misalnya kursi untuk santai) lebih mahal apabila untuk pasangan.165 adanya kecenderungan sosioekonomis yaitu meningkatnya partisipasi wanita dalam angkatan kerja. Prinsip. Ada hal yang perlu dipertegas bahwa aturan ini tidak membedakan kemampuan untuk membayar dalam konteks unit keluarga apakah penghasilan diperoleh oleh satu anggota atau lebih. unit yang jumlah anggotanya lebih kecil harus membayar pajak lebih banyak dan unit yang jumlah anggotanya lebih besar harus membayar pajak lebih sedikit. walaupun dibatasi hanya sampai tiga tanggungan. Kemudian. Unit-unit dengan penghasilan yang sama dan jumlah anggota yang sama harus membayar pajak yang sama jumlahnya. Sistem yang mengikuti aturan-aturan keadilan ini tidak akan mempengaruhi keputusan pernikahan. 2. Aturan 2 menunjukkan proposisi bahwa seorang bujangan dengan penghasilan Rp30 juta memiliki posisi (kemampuan) lebih baik daripada pasangan dengan total penghasilan keduanya juga sama dengan Rp30 juta. jumlah pajak (yang dinyatakan dalam persentase terhadap penghasilan) untuk unit-unit dengan jumlah anggota yang sama harus naik seiring dengan kenaikan penghasilan unit. Aturan 3 mengikuti secara langsung prinsip progresivitas dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut. kita akan mempertimbangkan suatu alternatif lainnya yang mendefinisikan unit kena pajak dalam bentuk individu yang memperoleh penghasilan.

Jika biaya dari setiap tambahan anak diukur dalam satuan pengeluaran standar (misalnya pengeluaran rata-rata).000 untuk setiap tanggungan. tetapi jika biayanya diukur dalam berapa banyak pengeluaran akan dilakukan. Pasangan yang tidak Bekerja. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak. Dalam proses mengukur kemampuan untuk membayar dari suatu unit keluarga. baik proporsional. Peraturan pajak di Indonesia menggunakan cara ini dengan memberikan pengurangan atas penghasilan netto sebesar Rp1. Dalam peraturan perpajakan sekarang ini keluarga C dan D membayar pajak lebih besar daripada keluarga A dan B. pendekatan kredit pajak lebih tepat digunakan. Struktur tarip yang digunakan. Pengurangan untuk Tanggungan. Pertanyaan pertama akan menyangkut masalah bagaimana memperlakukan anak-anak yang tinggal jauh dari orang tua dan yang memiliki penghasilan. menjaga anak-anak.166 pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. Asumsikan bahwa A dan C penghasilannya sama dan bahwa B memiliki potensi penghasilan yang sama dengan D. kewajiban pajak gabungan pasangan suami istri bergantung pada bagaimana penghasilan terdistribusi di antara mereka. Cara lain dari perlakuan pajak terhadap tanggungan adalah PTKP. Pendekatan Alternatif: Unit Peroleh Penghasilan Pendekatan alternatif untuk mengatasi permasalahan di atas yang diikuti oleh beberapa negara Eropa adalah mengabaikan unit keluarga dan menggunakan individu sebagai unit yang dikenakan pajak. jumlah tanggungan tentu saja menjadi pertimbangan utama. tapi dengan jumlah maksimal tiga tanggungan.440. Padahal berdasarkan aturan opsi yang sama (bekerja dan tidak bekerja) Dasar-dasar Keuangan Publik . pendekatan Eropa ini memberikan perlakuan yang lebih menguntungkan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Misalkan ada sepasang suami istri A dan B di mana A memiliki penghasilan dan B tidak dan bandingkan dengan pasangan lain C dan D yang keduanya memiliki penghasilan. Bila dibandingkan dengan unit keluarga. Penggabungan penghasilan ini tidak mengurangi jumlah PTKP yang dapat dikurangkan dari penghasilan. Karena wajib pajak dengan penghasilan yang tinggi mengeluarkan biaya untuk anak yang lebih besar. tidak menimbulkan perbedaan. Suatu keluarga besar dengan penghasilan neto tertentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih redah daripada keluarga kecil dengan penghasilan neto yang sama. Pertanyaan terakhir dalam pajak penghasilan adalah bagaimana pengaturan tentang pasangan yang tidak bekerja dan hanya tinggal di rumah untuk mengurus rumah. Dalam hal ini. progresif ataupun regresif. pendekatan pengurang atas penghasilan lebih tepat digunakan. Pertanyaannya adalah siapa yang menjadi tanggungan dan bagaimana pengurangan diberikan. baik ketika penghasilan masih dilaporkan sendiri maupun penghasilan digabungkan. sudah selayaknya memberikan manfaat pajak yang lebih besar pula. Pertanyaan kedua berkenaan dengan apakah pengurangan tersebut diberikan dalam bentuk pengurang atas penghasilan atau kredit pajak. atau menganggur.

yang harus dimasukkan sebagai tambahan kemampuan. seperti simpulan kita pada pembahasan tentang imputed income di muka. Dasar-dasar Keuangan Publik . imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan pajak.167 keduanya harus membayar pajak dalam jumlah yang sama. prosedur yang sama juga harus diberlakukan kepada bujangan yang tidak bekerja. secara prinsip. Secara prinsip. Selain itu.

Pengeluaran untuk penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Jika basis pajak yang tepat dinyatakan dalam bentuk konsumsi. Setiap industri memiliki kerumitan tersendiri sehingga sangat sulit untuk merancang suatu perlakuan pajak yang seragam untuk berbagai industri yang berbeda tersebut. P Beberapa permasalahan penghasilan yang dikecualikan yang muncul pada wajib pajak pribadi juga muncul pada wajib pajak badan. pajak penghasilan tidak boleh dikenakan kepada badan. Pada dasarnya semua pengeluaran dapat dibebankan sebagai biaya apabila mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. yang akan menghasilkan laba bersih untuk dikenakan pajak. menagih dan memelihara penghasilan bruto yang menjadi objek pajak. Dengan adanya kerumitan hukum dari perseroan dan hubungan di antara mereka maka suatu pajak penghasilan badan yang adil bukanlah pajak yang sederhana Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Peranan pajak penghasilan badan dalam suatu sistem pajak yang baik tampak jelas.168 B A B XVII PAJAK PENGHASILAN WAJIB P AJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan rinsip dasar penentuan penghasilan kena pajak cukup sederhana. Permasalahan ini diantaranya penentuan pengeluaran-pengeluaran apa yang dapat dibebankan sebagai biaya dan kapan pembebanan tersebut dapat dilakukan. Penghasilan kotor dari perseroan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka menjalankan usaha. Demikian juga pengeluaran yang melebihi batas kewajaran karena adanya hubungan istimewa tidak boleh dibebankan sebagai biaya. menambah kerumitan dalam merancang pajak penghasilan badan yang adil dan efisien. ditambah dengan masalah-masalah lain yang khusus ada pada pengenaan pajak penghasilan kepada wajib pajak badan. Sumber penghasilan dari Dasar-dasar Keuangan Publik .

dividen yang diterima mungkin merupakan bagian penghasilan terbesar bagi A daripada bagi B. sebesar Rp7.000. pajak penghasilan yang dibayarkan pada penghasilan yang didistribusikan (dividen) sejumlah Rp10. Bila tidak ada pajak penghasilan badan. Dengan tidak mengintegrasikan penghasilan. sehingga ada kelebihan pajak sebesar Rp2. Bila mengenakan pajak pada laba.750.169 perusahaan hanya dapat dipajaki apabila didistribusikan dan dibelanjakan oleh penerima. Pandangan ini juga yang digunakan oleh Peraturan Pajak Penghasilan di Indonesia. tanpa memperdulikan dari mana sumbernya. Proposisi dasarnya adalah pada akhirnya pajak harus menjadi beban pribadi dan bahwa konsep pajak yang adil hanya dapat dibebankan kepada pribadi. Berikutnya. yang membayar pajak penghasilan pribadi pada tarip pajak 15%. sistem pajak sekarang memberikan tambahan beban pajak dan beban pajak atas penghasilan yang bersumber dari perusahaan lebih besar bagi pemegang saham kecil yang pajak penghasilan pribadinya sebenarnya lebih kecil. pajak gabungan sama dengan Rp2.25% (atau sebesar Rp2. Pandangan Integrasi Para penganut posisi integrasi memandang permasalahan perpajakan pada tingkatan perusahaan hanyalah sebagai satu cara memasukkan semua penghasilan yang bersumber dari perusahaan ke dalam basis pajak penghasilan pribadi. Apabila kedua pajak ini digabungkan. Badan (dalam hal ini perusahaan) dikenakan pajak dan tidak dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan pribadi atas penghasilan dividen.825. yang dikenakan pajak dengan tarip efektif sebesar 28. pengenaan pajak pada tingkatan perusahaan dapat dipandang sebagai alat untuk mengintegrasikan sumber penghasilan dari perusahaan ke dalam pajak penghasilan pribadi.000 hanya akan sebesar Rp2.750.500.000 didistribusikan sebagai dividen kepada A. pajak tambahan ini tidak adil bila ditinjau dari sudut pandang penganut integrasi. pertama pada tingkatan perusahaan dalam bentuk pajak penghasilan badan. seorang wajib pajak A yang membayar pajak penghasilan pribadi pada tarip pajak 25%. Sisanya. Dalam hal ini.000.401. sebab semua penghasilan (termasuk yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Bagiannya pada laba perusahaan adalah Rp10. Walaupun demikian. di atas jumlah kelebihan bagi wajib pajak A.618.901. yang kemudian akan membayar pajak atasnya sebesar Rp1. pajak tambahan sebagai persentase dari total penghasilan akan lebih besar bagi A daripada bagi B. Pada kenyataannya.118. maka laba tersebut ketika didistribusikan dipajaki dua kali. dan berikutnya pada tingkatan pribadi sebagai dividen dalam perhitungan pajak penghasilan pribadi. Dalam hal ini.825. Dengan demikian. Misalkan.175.000. mereka berpendapat bahwa penghasilan harus dipajaki secara keseluruhan dalam konsep penghasilan global. Pandangan lain yang berkembang adalah mengintegrasikan penghasilan perusahaan ke dalam pajak penghasilan individu. ada kelebihan pajak sebesar Rp2. seorang wajib pajak B.000). atau pajak terhadap perusahaan dapat dipandang sebagai pajak absolut terhadap penghasilan bersumber dari perusahaan.000 ditambah Rp1.250. jumlahnya menjadi Rp4. Baginya.793. Pajaknya berdasarkan sistem integrasi hanya akan sebesar Rp1. Pengenaan pajak kepada badan juga tetap dipertanyakan walaupun konteksnya adalah pendekatan berbasis penghasilan.750.000. atau sebesar Rp3.500.076. Selain itu.250.000.250.

perusahaan juga mempunyai kapasitas membayar pajak tersendiri. Pandangan absolut atau klasik tentang pajak ini sangat rasional. sebab paling tidak sebagian dari laba perusahaan setelah pajak ditanamkan kembali pada operasi perusahaan. Oleh karena itu. yang dengan tepat telah dikenakan pajak yang terpisah dan absolut. pajak penghasilan badan telah memenuhi fungsinya untuk mencakup laba yang ditahan. Perusahaan memang bertindak sebagai unit-unit pengambilan keputusan. sehingga membutuhkan kebijakan pengaturan pada tingkatan perusahaan daripada pada tingkatan pemegang saham. Apakah laba setelah pajak yang diperoleh akan dibagikan atau ditahan tidaklah relevan dalam konteks ini. pelaku yang kekuatan besar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan sosial. Dengan tidak memperhitungkan laba yang ditahan pada penghasilan pemegang saham (seperti yang seharusnya ada pada sistem terintegrasi). Walaupun penggeseran terjadi. Pandangan Absolut Para penganut pandangan yang berlawanan menyatakan bahwa pendekatan integrasi memandang perusahaan secara tidak realistis.170 diperoleh dari sumber perusahaan) harus dipajaki dengan tarip yang sama.) Pada akhirnya. harus ada sumber pungutan pajak penghasilan pribadi untuk penghasilan yang bersumber dari perusahaan. permasalahannya akan berbeda apabila mengusulkan pengenaan pajak pada perusahaan karena lembaga ini memiliki kemampuan membayar pajak sendiri dan oleh karenanya harus dikenakan pajak terpisah. (Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan ini adalah kemampuan untuk membayar pajak tanpa mengalami kebangkrutan atau mengganggu operasinya. hanya tidak begitu jelas kaitannya dengan keinginan para pemegang saham. Pandangan absolutmendasarkan pada asumsi bahwa pajak dikenakan atas laba dan tidak digeserkan kepada para pelanggan atau pekerja. seluruh pajak harus dibebankan pada orang. alat-alat pajak dapat berguna pada situasisituasi tertentu untuk tujuan-tujuan peraturan perundang-undangan tersebut. Tidak ada alasan mengapa para pemegang saham harus membayar pajak tambahan atau diberikan perlakuan khusus. dalam konteks pendekatan kemampuan ekonomis pada pajak penghasilan. Ilustrasi sebelumnya ini mengasumsikan bahwa laba setelah pajak didistribusikan sebagai dividen. harus dipajaki sebagai bagian dari penghasilan mereka. sebagai entitas yang terpisah. Akan tetapi. Konsep kapasitas membayar yang digunakan dalam pendapat ini lebih berkaitan dengan efek ekonomi dari pajak bukannya kemampuan untuk membayar yang digunakan dalam konteks keadilan pajak. Laba perusahaan merupakan bagian penghasilan para pemegang saham dan. dioperasikan oleh profesional manajemen yang tidak begitu dikendalikan oleh pemegang saham secara individu. niat dari para penganut absolutisme untuk membebankan Dasar-dasar Keuangan Publik . Selain itu. Pada pajak penghasilan badan. Dalam kenyataanya tidak harus seperti ini. Perusahaan adalah entitas legal yang memiliki keberadaan sendiri. Perseroan yang dimiliki publik secara luas – merupakan wajib pajak besar yang menjadi sumber terbesar penerimaan pajak negara – bukan hanya merupakan instrumen untuk penghasilan pribadi.

tetapi juga oleh berbagai bentuk organisasi lainnya. pajak tersebut tidak akan seperti yang diberlakukan sekarang. Hal melakukan kegiatan berdasarkan kewajiban terbatas. memperluas pasar. Oleh karena itu. Langkah yang paling rasional adalah menerapkan pajak umum atas kegiatan bisnis daripada menerapkannya dengan menggunakan pajak penghasilan badan saja. Pemerintah menyediakan berbagai layanan yang memberi manfaat kepada perusahaan dengan cara mengurangi biaya. Apabila penerapan pajak atas manfaat dipandang tepat. Alasan-Alasan Lain Mengenakan Pajak kepada Perseroan Walaupun tidak ada argumentasi sah untuk mengenakan pajak atas badan secara absolut berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. tidak hanya dinikmati oleh perusahaan. bukannya untuk membebani manfaat yang tidak menimbulkan biaya. Pertimbangan Manfaat. transportasi akan menunjukkan layanan jalan raya. jumlah pegawai akan menunjukkan input untuk pengeluaran untuk sekolah umum. Kasus berbeda untuk pengenaan pajak perusahaan secara absolut dapat dilakukan apabila pajak dipandang sebagai instrumen pengendali berkaitan dengan tingkah laku perusahaan. bukannya sesuai dengan jumlah laba yang dihasilkan. Walaupun ada beberapa biaya pemerintah yang dikeluarkan dalam kaitannya dengan perusahaan secara khusus. Dasar-dasar Keuangan Publik . dua pertanyaan lanjutan muncul. sejumlah pertimbangan lain dapat mendukung keberadaan pajak tersebut. menjadi pajak penjualan atau pajak atas upah yang inferior dan arbiter. Bentuk pajak perusahaan yang tepat bergantung pada tujuan kebijakan tertentu yang akan dicapai. Tujuan-tujuan Peraturan Perundang-Undangan. total biaya yang dikeluarkan pada daerah operasi lebih tepat digunakan sebagai ukuran keseluruhan. Tujuan dari pajak atas manfaat adalah mengalokasikan biaya layanan publik yang diberikan. dan sebagainya. tentu saja sangat berharga bagi perusahaan tetapi institusi dengan kewajiban terbatas seperti itu tidak membebani biaya kepada masyarakat dan oleh karenanya tidak layak dikenakan pajak atas manfaat. maka pajak tersebut bukan merupakan urusan pemerintah pusat. dan lain-lain. Jika ukuran umum yang digunakan. Sebagian dari layanan ini. Pertama berkaitan dengan tingkatan mana pajak tersebut harus dikenakan. Perusahaan dapat diminta untuk membayar pajak atas manfaat. kekayaan akan lebih tepat menunjukkan nilai layanan pemadam kebakaran. Pajak. Walaupun demikian. Karena sebagian besar layanan publik yang memberikan manfaat kepada bisnis diberikan pada tingkatan pemerintah daerah. biaya-biaya ini hanyalah faktor yang minor dan sulit untuk mendukung pengenaan suatu pajak. dalam kasus ini. Pajaknya akan bervariasi sesuai dengan jumlah layanan yang diberikan. tanpa landasan rasional dalam suatu struktur pajak yang adil (Pajak ini dikatakan inferior karena tarip implisit dari pajak penjualan atau upah akan bervariasi secara arbiter dengan rasio [marjin] laba atas penjualan atau rasio laba atas upah dari beberapa perusahaan).171 pajak tambahan pada penghasilan yang bersumber dari perusahaan tetap tidak tepat. dengan nilai tambah (termasuk laba dan biaya-biaya faktor lainnya) sebagai kemungkinan kedua. membantu transaksi-transaksi keuangan.

Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas laba yang tidak dibagi dan mengecualikan laba yang dibayar sebagai dividen. Jika ada keinginan untuk membatasi ukuran absolut atau besarnya perusahaan (yang tidak sama dengan membatasi monopoli atau pangsa pasar). Alternatif kebijakan lain. Suatu pajak atas kelebihan laba dapat dikenakan pada periode-periode krisis (seperti perang) ketika diperlukan pengendalian langsung atas upah dan harga. Pengendalian ini tentu saja tidak akan menggunakan pajak umum atas laba. yang tidak akan efektif untuk mengoreksi tingkat laku monopolistik. itu bukan alasan memberikan penalti kepada perusahaan besar yang menguntungkan. tetapi pendekatan pajak dapat digunakan. 4. tetapi akan muncul ketidakadilan karena perbedaan posisi awal. dalam rangka mendukung berfungsinya pasar modal atau meningkatkan pengeluaran konsumsi. Sebagai stimulus bagi formasi modal dan pertumbuhan. Pertanyaan berikutnya adalah apakah pajak tersebut sebaiknya dikenakan pada laba dan bukannya ukuran aset atau penjualan. pajak atas kelebihan laba sulit diadministrasikan karena kelebihan laba tidak mudah didefinisikan. dalam hal ini disparitas risiko dapat terlewatkan. Pengendalian terhadap monopoli telah dilakukan dengan menggunakan alat peraturan perundang-undangan. 3. suatu pajak dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini. atau. yang berkaitan dengan tingkat pembatasan monopolistik. tabungan perusahaan perlu didukung dan distribusi dividen perlu dibatasi. Walaupun kelihatannya baik secara prinsip. Suatu situasi lain yang berbeda di mana pajak atas kelebihan laba secara selektif dapat dikenakan karena krisis tertentu. Progresivitas akan digunakan untuk memberlakukan diskriminasi terhadap perusahaan besar dan membatasi apa yang dianggap sebagai akibat-akibat sosial yang tidak diinginkan dari perusahaan-perusahaan besar. seperti krisis harga minyak dan pelepasan kendali atas harga minyak. suatu tingkat pengembalian standar dapat digunakan. distribusi dividen perlu didukung sedangkan menahan laba perlu dihindari. Perusahaan-perusahaan besar dapat dimiliki oleh investor-investor kecil dan perusahaan-perusahaan kecil dapat dimiliki oleh investor-investor kaya. sehingga memunculkan masalah yang sulit dalam hal menentukan tarip berapa yang cocok untuk setiap industri. Kelebihan laba tersebut harus diukur dengan membandingkannya dengan periode dasar. dan pajak atas kelebihan laba merupakan alat-alat yang berguna dalam kaitannya dengan situasi ini. Pembatasan atas upah dalam kondisi seperti ini tidak dapat diterapkan secara efektif tanpa juga membatasi laba. yang memunculkan pengenaan pajak atas laba tak terduga dari kenaikan harga minyak. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas dividen yang dibayarkan dan mengecualikan laba yang ditahan. Walaupun ukuran yang besar tidak diinginkan. 2. Pengendalian ini memerlukan suatu pajak yang lebih kompleks. Alasan progresivitas tentu saja bukanlah kemampuan untuk membayar seperti pada pajak penghasilan pribadi. Pengendalian ini membutuhkan pajak bisnis yang progresif.172 1. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Pada saat yang sama. misalnya 20 persen. Integrasi Pajak Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.000.000. Solusi ini memasukkan laba total kepada penghasilan pemegang saham dan mengenakan pajaknya dengan pajak penghasilan pribadi.000 yang dipotong oleh sumber penghasilan.000. Alatalat seperti penyusutan dipercepat dan kredit pajak investasi dapat digunakan untuk tujuan ini dan juga dapat diterapkan secara siklus atau pada saat-saat tertentu.000 dalam penghasilan kena pajaknya. Hal ini dapat dicapai baik dengan menggunakan metode partnership atau melalui pengenaan pajak sepenuhnya atas capital gain. Karena ia telah dipotong sebesar Rp2. pembahasan di atas menunjukkan bahwa instrumen pajak dapat menjadi alat yang berguna dalam mengendalikan tingkah laku perusahaan dalam banyak hal.000. Secara keseluruhan. pajak perusahaan dapat digunakan untuk memberikan insentif atau disinsentif investasi. Sebagaimana perusahaan bertindak sebagai pemotong dan pemungut pajak untuk pajak penghasilan pribadi atas upah dan gaji karyawannya. pemberlakuan skema pemotongan pajak (withholding) juga diperlukan terhadap penghasilan laba ini. Metode Partnership.500.000.173 5. ia dapat mengkreditkan Rp2. yang berbeda dari tabungan perusahaan. Apakah penyesuaianpenyesuaian yang diperlukan dalam struktur pajak untuk mencapai tujuan ini? Integrasi Penuh Untuk menjamin integrasi sepenuhnya. pemegang saham akan melaporkan jumlah kotornya sebesar Rp10. dan telah diberitahukan kepadanya. perusahaan juga dapat bertindak sebagai pemotong dan pemungut pajak untuk penghasilan laba dari pemegang sahamnya. Jika pajak marjinalnya 25%. sehingga pemegang saham mendapatkan sisanya sebesar Rp8. Terakhir. Seorang pemegang saham yang dikenakan pajak marjinal sebesar 15% akan memunculkan beban pajak sebesar Rp1. Perusahaan memotong dan memungut pajak. Atas jumlah pajak ini.000. pajaknya akan sebesar Rp2.000. Seberapa besar bagian laba tersebut akan didistribusikan sebagai dividen. tetapi bentuk pajak yang diperlukan bukanlah pajak atas laba.000. perusahaan akan memberitahukan kepada para pemegang saham berapa jumlah yang tidak dibagi yang menjadi bagian mereka dan ditambahkan ke dalam ekuitas mereka dan kemudian pemegang saham akan memasukkan jumlah ini ke dalam perhitungan laba kena pajak mereka. Misalkan bahwa seorang pemegang saham menerima bagian laba sebesar Rp10.000.000. ia berhak mendapatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . dan hanya membayar sisanya sebesar Rp500.500.000. Bila laba tidak dibagi. penyesuaian harus mengintegrasikan perlakuan pajak baik untuk laba yang ditahan maupun distribusi dividen. banyak pendapat yang menyatakan bahwa perusahaan adalah alat untuk mencari penghasilan bagi pemegang saham dan oleh karenanya sumber penghasilan dari perusahaan diintegrasikan ke dalam pajak penghasilan pribadi.

Ada pendapat bahwa wajib pajak tidak diharuskan membayar pajak atas penghasilan yang tidak mereka terima. beberapa kesulitas dengan metode ini perlu dikemukakan. Penentuan laba kena pajak ini sama pentingnya seperti dalam pajak perusahaan absolut. Oleh karena itu. Dengan melaporkan penghasilan laba pada jumlah kotornya ini. dapat dibayar dengan menjual sebagian saham. Hal ini daat dilakukan dengan cara membolehkan pemegang saham menambahkan basisnya (menambahkan ke harga pokok investasi saham mereka) dengan jumlah yang sama dengan bagian mereka atas laba yang tidak dibagi. dan proses penyerahan itu sendiri memunculkan kesulitan-kesulitan teknis. Bagaimanapun juga.174 pengembalian pajak sebesar Rp500. pemegang saham diperlakukan seolah-olah mereka adalah partner dalam suatu bisnis nonperusahaan. sebagian besar bagian dari pajak akan dibayar pada sumber pemotongan. tidak akan memberikan respons atas suatu kredit pajak yang manfaatnya diserahkan kepada para pemegang saham. walaupun memungkinkan untuk perseroan kecil dan perseroan non-publik. adalah tidak adil bila memasukkan laba yang ditahan ke dalam penghasilan kena pajak pribadi. tetapi tidak begitu meyakinkan. Manajemen. dan cara ini yang diusulkan sebagai prosedur standar oleh para ahli pajak. Karena para pemegang saham bertransaksi saham secara cepat di pasar modal. tidak praktis untuk perusahaan besar dan dimiliki publik secara luas. terutang apabila tarip pajak marjinal yang dikenakan kepada pemegang saham melebihi tarip potongan.000. Selain itu. capital gain yang menunjukkan kenaikan nilai kepemilikan yang ditimbulkan dari menahan laba harus dikecualikan dari pajak atas capital gain. Karena pajaknya dikenakan ketika laba diperoleh. pemegang saham akan membayar pajak sesuai dengan tarip pajak marjinalnya. Sisanya. Akan tetapi. Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi para pemegang saham dapat meningkatkan rasio yang dibayarkan sebagai dividen untuk mendapatkan kas yang dibutuhkan. sulit untuk mengalokasikan bagian laba diantara mereka. perlu dicatat bahwa integrasi dengan menggunakan metode partnership tidak akan menghilangkan permasalahan-permasalahan dalam penentuan laba kena pajak perusahaan. sehingga tidak menimbulkan permasalahan likuiditas pada pemegang saham. Dengan penjelasan lain. yang umumnya membuat keputusan investasi. Pendekatan ini tidak memungkinkan untuk perusahaan yang bukan perseroan publik yang sahamnya tidak diperdagangkan. Prosedur ini tampaknya cukup adil. Ada juga argumentasi yang menyatakan bahwa pendekatan partnership. Integrasi dengan metode partnership tidak menyederhanakan administrasi pajak bahkan menambah kerumitan atasnya. permasalahanpermasalahan ini terbukti bukan sesuatu yang tidak dapat diselesaikan bila usaha integrasi yang serius dijalankan. Akan tetapi. Satu hal penting. seperti kredit pajak atas investasi. untuk tujuan pajak. Keberatan ini sama dengan yang dikemukakan dalam pembahasan pajak atas laba yang belum direalisasikan. kesulitan-kesulitan lain akan muncul berkenaan dengan kebijakan-kebijakan pemberian insentif.

di AS sebelum tahun 1986. Akibatnya. Sejak tahun 1986. Distorsi yang sama muncul pada sisi manajemen yang lebih memilih pendanaan hutang. dikombinasikan dengan penghapusan pajak atas laba. Dalam pendekatan ini. pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi. Dengan ketiadaan integrasi. netralitas dapat dikembalikan dengan cara (1) tidak membolehkan pengurangan biaya bunga pada pajak penghasilan badan tetapi akan memperluas cakupan pajak berganda. Bila meminjamkan. Misalnya. tetapi pajak berganda tetap berlaku bagi dividen. Cara ini dipandang sebagai mendekati perlakuan yang terintegrasi untuk laba yang tidak dibagi. Penggunaan integrasi sepenuhnya akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak. beberapa praktik di negara maju telah memunculkan sampai tingkatan tertentu suatu integrasi parsial. Hutang versus Modal Saham Bunga yang dibayar oleh perusahaan atas dana yang diperolehnya dengan berutang dikurangkan dari penghasilan kena pajak ketika memperhitungkan pajak penghasilan badan. Cara ini tidak memerlukan penentuan laba kena pajak untuk perusahaan. Cara lainnya untuk mencapai integrasi sepenuhnya adalah dengan mengenakan pajak sepenuhnya atas semua capital gain (termasuk yang belum direalisasikan). cara ini tidak pernah dipandang sebagai cara yang realistis. Jika tidak ada integrasi sepenuhnya. Aspek-Aspek Khusus Definisi Basis Pajak Permasalahan-permasalahan pada keuangan perusahaan. sedangkan bagian yang tidak dibagikan akan muncul sebagai capital gain.175 Metode Capital gain. Bagian yang didistribusikan akan muncul dalam penghasilan pemegang saham sebagai dividen. demikian juga permasalahan pada desain pajaknya. lebih rumit daripada keuangan pada rumah tangga. Berikut ini beberapa contoh atas permasalahan-permasalahan pajak tersebut. pengenaan pajak secara periodik dapat digabungkna dengan pajak atas pemindahan aset. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. pendapatan dividen maksimal sebesar $200 dikecualikan dari penghasilan kena pajak. Integrasi Parsial Bila integrasi sepenuhnya telah didiskusikan selama beberapa tahun. bunga yang dibayarkan dapat dikurangkan dari laba kena pajak. Dengan ketiadaan pajak pada tingkatan perusahaan. Akan tetapi. sedangkan laba atas modal ekuitas tidak boleh dikurangkan. atau Dasar-dasar Keuangan Publik . Perlu diingat. Bila menanam modal. distribusi dividen mengalami pajak berganda. manfaatnya bagi penerima dividen akan meningkat sejalan dengan tarip pajak marjinalnya. pengecualian dividen ini ditiadakan dan tarip pajak atas perusahaan disesuaikan ke tingkat tarip pajak untuk pajak penghasilan pribadi. seperti juga pembayaran gaji dan upah. keringanan ini diberikan dalam bentuk pengecualian dan bukannya kredit pajak. Jika dana diperoleh dari hutang. hal ini memunculkan insentif bagi pemberi dana untuk meminjamkan daripada melakukan investasi ekuitas. insentif investasi seperti kredit pajak atas investasi harus diberikan pada tingkatan pemegang saham atau diberikan langsung sebagai subsidi kepada perusahaan. sehingga menguntungkan wajib pajak yang berpenghasilan besar.

Cara yang dilakukan sekarang ini adalah jalan tengah dengan membatasi pengurangan atas pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment. biaya untuk pengeluaran tersebut berkurang sebanyak 30 persen dan aktivitasnya sulit dikategorikan untuk didukung dengan subsidi publik. Selain itu. dengan membayar dalam bentuk natura daripada dalam bentuk kas. Lama Masa Manfaat. Permasalahan penyusutan adalah salah satu permasalahan yang paling sulit dan paling penting Karena pajak perusahaan adalah pajak atas laba bersih. Ketika biaya entertainment dapat dikurangkan dari penghasilan.000. Dalam hal pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah.176 (2) membolehkan pengurangan bunga yang diperhitungkan atas modal ekuitas dalam pajak penghasilan badan sehingga mengurangi cakupan pajak berganda. Jadi. Pada kenyataaanya. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi.000 diberikan kepada manajer perusahaan. semua biaya usaha harus dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Akan tetapi. modal ekuitas pada perusahaan selalu meningkat. Faktor-faktor ini melibatkn jangka waktu penyusutan dibebankan dan kecepatan hasilnya dalam interval ini. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode. bila sebuah mobil senilai Rp200. nilai tunai dari pajak dan juga pengurangan atas penghasilan tidak hanya bergantung pada tarip pajak tetapi juga pada kapan pengurangan penyusutan diperbolehkan. sedangkan tunjangan kendaraan tidak. kenaikan gaji akan menambah kewajiban pajaknya. biaya dari perusahaan akan sama dengan apabila gajinya dinaikkan dengan jumlah yang sama. Aturan Penyusutan dan Waktu Penyusutan Apakah dalam bentuk pajak perusahaan absolut atau integrasi berbentuk partnership. dengan sedikit bukti bahwa adanya perlakuan pajak yang buruk tersebut memiliki pengaruh. karena sangat mengandalkan sumber pendanaan internal. dan akan lebih besar bila biaya modal dikurangkan lebih cepat. Pengurangan biaya modal memunculkan penghematan pajak bagi investor. Cara penghindaran pajak penghasilan pribadi ini dapat ditutup baik dengan cara memasukkan pembayaran dalam bentuk natura ke dalam pajak penghasilan pribadi atau melarang pengurangan biaya-biaya tersebut pada pajak penghasilan badan. Pembayaran dalam bentuk Natura dan Biaya Entertainment Pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment merupakan topik yang banyak dibahas. Oleh karena itu. Dalam hal investasi modal. Jangka waktu periode di mana investasi dapat diperoleh kembali atau penyusutan dibebankan pada umumnya telah ditetapkan sesuai Dasar-dasar Keuangan Publik . laba kena pajak harus didedinisikan dan berbagai kesulitan harus dihadapi dalam proses definisi ini. Kapan waktu perolehan kembali biaya modal sangat penting karena nilai tunai dari kewajiban pajak berkurang ketika penyusutan dibebankan. Peraturan perundang-undangan harus menentukan pada tarip berapa para investor diperbolehkan untuk memperoleh kembali biaya investasi mereka. perusahaan telah membantu pengawainya mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka.

000 dengan masa umur selama 10 tahun.177 dengan masa manfaat dari aset bersangkutan. jumlah angka tahunnya sama dengan 10 + 9 + 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 55. Simpulan yang sama juga berlaku apabila kita membandingkan metode jumlah angka tahun dengan metode garis lurus. Beban penyusutan tahun pertama adalah 10/55 dari Rp100. Bangunan harus disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus di mana jumlah yang sama sebesar C/n harus dihapuskan setiap tahun. Seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.000 dan masa manfaat selama 10 tahun. untuk suatu aset dengan harga perolehan Rp100.636. Rp16. Metode penyusutan yang diperbolehkan untuk dipakai hanya dua metode yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun (declining balance method).363. Bila kita membandingkan antara metode saldo menurun dengan metode jumlah angka tahun. dengan C sama dengan nilai perolehan aset dan n adalah umur aset.000. setiap tahun sejumlah Rp10. sebesar Rp20. dan perbedaan semakin besar dengan semakin lamanya masa manfaat. dan seterusnya.000 boleh dikurangkan. di mana bagian yang dikurangkan pada setiap tahun sama rasio dari sisa tahun terhadap jumlah angka tahun selama masa manfaat aset. metode saldo menurun lebih menguntungkan pada aset-aset berumur pendek dan metode jumlah angka tahun lebih menguntungkan pada aset-aset yang berumur panjang.000 akan dikurangkan pada tahun kedua. Jadi. Dengan demikian.000.111.000 = Rp18. Jadi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Peraturan perpajakan telah menetapkan patokan umur yang sejalan dengan praktik bisnis yang sehat.000 akan dikurangkan pada tahun pertama. untuk suatu aset yang bernilai Rp100.000. Ada satu metode lagi yang tidak diperbolehkan berdasarkan peraturan perundangundangan saat ini. nilai tunai dari penyusutan yang paling tinggi apabila menggunakan metode penyusutan saldo menurun daripada engan menggunakan metode garis lurus.000.000. Metode Penyusutan. dengan persentase sebesar dua kali tarip garis lurus dikurangkan pada tahun dan persentase yang sama ini kemudian diterapkan pada jumlah yang belum disusutkan setiap tahunnya.000. dan seterusnya. Peralatan disusutkan dengan menggunakan metode saldo menurun.000.000 = Rp16.111. beban untuk tahun kedua adalah 9/55 dari Rp100. yaitu metode jumlah angka tahun (sum-of-years-digits method).

750 87.806 28. Sudah terbukti bahwa penyusutan yang cepat menguntungkan investor. Pemerintah akan mengalami kerugian dari semakin cepatnya penyusutan yang diperoleh oleh wajib pajak dan oleh karenanya beban yang sama – yang didefinisikan sebagai Dasar-dasar Keuangan Publik . Mempercepat penyusutan (baik dengan cara memperendek periode penyusutan atau membolehkan menyusutkan jumlah yang besar pada awal-awal masa guna aset) akan mengurangi tarip efektif pajak dengan menunda tanggal jatuh tempo dari kewajiban pajak.614 70. investor akan menimbang nilai tunai dari arus laba bersihnya terhadap biaya perolehan dari aset. semakin cepat penyusutan dilakukan.716 59.997 67.787 78.178 Nilai Tunai Penyusutan (dalam Rupiah.439 Masa Manfaat (I) 5 10 20 50 5 10 20 50 Garis Lurus Saldo Menurun (II) (III) DISKONTO 6 PERSEN 86.663 51.055 64.528 44. dengan nilai tunai dari penghematan bunganya sama dengan nilai tunai dari penghematan pajak yang dihasilkan. semakin rendah tarip efektif pajaknya. Jika komponen negatif ini menjadi semakin besar seperti yang ditunjukkan pada tabel di ataas.534 81.099 54.539 20. pajaknya akan semakin turun.100 64. Nilai tunai dari pajak dapat dipandang sama dengan nilai tunai dari pajak kotor (sebelum dikurangi dengan penyusutan yang diperbolehkan) dikurangi dengan nilai tunai dari penghematan pajak karena penyusutan. Semakin cepat tingkat penyusutannya.811 75. Nilai tunai ini sama dengan nilai tunai dari arus laba sebelum pajak dikurangi dengan nilai tunai dari pembayaran pajaknya. Bagaimana mengoreksi tarip penyusutan yang akan memperlakukan semua investasi secara netral? Bila hanya melihat satu investasi saja. Ketika mempertimbangkan suatu investasi.661 32.756 80. Netralitas Metode Penyusutan Ekonomis. terutama yang menginvestasikan pada asetaset yang berumur panjang. percepatan ini ekuivalen dengan pinjaman tanpa bunga. hal ini tidaklah sulit.829 Metode Penyusutan Ekonomis versus Metode Penyusutan Dipercepat Tarif efektif dari pajak bergantung pada tarip nominal (sekarang 30 persen untuk perusahaan) dan tingkat penyusutan yang diperbolehkan. Hasilnya demikian karena nilai tunai dari penghematan pajak akan semakin tinggi ketika penghematan pajak tersebut semakin cepat terealisasi. Harga Perolehan Aset = Rp100.460 40.000) Jumlah Angka Tahun (IV) 87.935 DISKONTO 10 PERSEN 79.680 44.515 79.469 68.697 31. Dari sudut pandang investor.

sehingga mengenakan pajak pada arus laba bersih yang sebenarnya ketika diterima setiap tahun. Suatu tarip pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarip pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. cara yang terbaik yang dapat dilakukan adalah memakai masa guna seperti yang biasa dipakai dalam praktik bisnis dand Dasar-dasar Keuangan Publik . Nilai berjalan dari aset pada setiap waktu sama dengan nilai kapitalisasi dari arus penghasilan di masa depan yang dihasilkannya. maupun dalam hal netralitas (pajak tidak boleh mendistorsi pola investasi). pengenaan pajak akan mengurangi nilai dari arus laba bersih sebesar persentase tarip pajak yang berlaku. investasi yang lebih lama akan mendapat keuntungan terbanyak dan juga mendapat manfaat dari tarip pajak efektif yang lebih rendah. seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. ada alasan kuat untuk menggunakan penyusutan ekonomis. yang adalah biaya modal atau penyusutan ekonomis yang harus dibebankan bersama-sama dengan biaya lain dalam menghitung laba bersih. yang timbul dari penggunaan aset.179 nilai tunai dari pajak – dapat diberlakukan dengan berbagai kombinasi tarip pajak dan tarip penyusutan. Aset dengan nilai tunai arus laba bersih yang sama harus mendapat beban yang sama yang didefinisikan sebagai nilai tunai pajak. penerapannya tidak mudah. Pertama adalah arus penghasilan positif berupa laba. Yang lainnya adalah arus penghasilan negatif. tidak akan menjadi masalah kombinasi mana yang dipilih yang memberikan kepada pemerintah arus pendapatan yang tertentu. Hal sebaliknya akan terjadi bila tarip penyusutan yang diperbolehkan lebih rendah daripada tarip ekonomis. Akan tetapi. Oleh karena itu. walaupun prinsipnya jelas. Jika semua investasai sama. Dalam hal penyusutan pajak sama dengan penyusutan ekonomis. nilai tunai yang menjadi nilai aset tersebut. Oleh karenanya. Kesulitan akan muncul karena investasi berbeda dalam jangka waktu dan keuntungan sehingga menghasilkan pendapatan yang berbeda dalam berbagai kebijakan. baik dalam hal keadilan (investor dengan penghasilan yang sama harus membayar pajak yang sama besar). Bila dijumlahkan. Hal tersebut akan sesuai ketika penyusutan dibebankan sejalan dengan pengurangan nilai aset. Peralatan modal modern tidak aus secara seragam dan juga menjadi usang sebelum sempat digunakan sepenuhnya. Jika penyusutan diperbolehkan dengan tarip percepatan. penurunan dalam nilai berjalan sama dengan nilai kapitalisasi dari penurunan arus penghasilan. Tingkat keusangan akan berbeda dan tidak dapat diprediksi. dapat dipandang sebagai menghasilkan dua arus penghasilan. Dengan demikian. Tarip efektifnya akan sama dengan tarip nominal atau tarip yang berlaku dan tarip ini independen terhadap umur aset dan karenanya tidak akan mendistorsi pilihan investasi di antara mereka. padahal investasi-investasi ini harus diperlakukan sama. Oleh karena itu. Pola penyusutan seperti apa yang diperlukan untuk memastikan definisi penghasilan yang adil dan netral? Aset yang disusutkan. aset tersebut memberikan arus laba bersih positif. yang ditimbulkan dari semakin memburuknya kondisi aset dan penurunan nilai karena keusangan. pilihan-pilihan investasi akan terdistorsi dan lebih banyak modal akan mengalir ke arah tersebut.

di mana pemerintah kehilangan pendapatan pada tahun-tahun awal dan mendapatkan kembali pendapatan tersebut pada tahun-tahun terakhir. kerugian pendapatan pemerintah akan berakhir tetapi tidak ada perolehan kembali kerugian awal selama reinvestasi terus-menerus berlangsung. perusahaan seperti ini dapat menunda pembayaran pajak selamanya. Perolehan kembali baru terjadi setelah reinvestasi berakhir. tampaklah jelas bahwa tingkat tarip nominal dan perubahannya bukanlah indikator yang cukup atas tingkat tarip efektif. Labanya (ekuivalen dengan pinjaman bebas bunga) timbul dari penangguhan pajak sekali. Tarip ini bergantung pada tarip pajak yang berlaku dan tarip penyusutan. Apa yang akan terjadi bila hal yang sama juga dilakukan terhadap pengeluaran modal. di mana rb adalah tingkat pengembalian sebelum pajak dan ra adalah tingkat pengembalian setelah pajak. Wajib pajak mendapat keuntungan dari penundaan (dan kerugian bagi Pemerintah) dan nilai sepanjang tahun-tahun awal dan kemudian akan rata. Dengan demikian. kejadiannya tidak sama. Pada tahun-tahun awal. Biaya-biaya ini langsung dibebankan pada biaya investasi. Misalkan suatu perusahaan memiliki penghasilan dari investasi lain yang dapat digunakan untuk pembebanan tersebut. Misalkan bahwa suatu aset diganti ketika semakin usang sedemikian rupa sehingga dasar yang akan disusutkan tidak berubah.180 dengan asumsi bahwa masa guna yang dipercepat merupakan masa guna sebenarnya dan jejak waktu dari arus penghasilannya. Kewajiban pajaknya berkurang pada tahun-tahun awal dan bertambah pada tahun-tahun akhir. Dasar-dasar Keuangan Publik . penyusutan yang dipercepat tidak mengurangi jumlah total pajak yang akan dibayarkan. Dalam diskusi sebelumnya. kita membahas pengaruh dari penyusutan yang dipercepat terhadap tingkat pengembalian bersih dari investasi tunggal. Investasi Tunggal versus Investasi Berkelanjutan. Investor tersebut mungkin tidak dapat merealisasikan penghematan pajak (tax savings) sampai diperoleh pendapatan (laba) yang cukup di mana penyusutan akan dibebankan. Berdasarkan diskusi sebelumnya. Untuk investasi yang berkelanjutan. Tarip efektif ditentukan dengan cara menghitung (rb – ra) / rb. tarip efektif sama dengan persentase pengurangan dalam pengembalian modal karena pajak. yaitu bila percepatan dilakukan sampai titik ekstrem dan biaya investasi dibebankan ketika terjadi? Seorang investor yang melakukan investasi tunggal mungkin tidak akan dapat memanfaatkan penghapusan segera tersebut. Pembebanan Sekaligus Biaya gaji dan pembelian bahan dikurangkan ketika terjadi investasi. Jika penyusutannya cukup cepat dan ekspansinya cukup tajam. yang dilakukan sekali dan kemudian selesai. Ada juga kasus di mana suatu perusahaan terusmenerus meningkatkan aset-asetnya yang dapat disusutkan. investor tidak perlu membayar pajak dan pemerintah tidak memperoleh pendapatan pajak. Untuk investasi seperti itu. Semua pembayaran dapat dihindari dan tanpa terjadi perolehan kembali. Tarip Pajak yang Efektif.

Penyesuaian terhadap Inflasi Dengan harga yang selalu naik. Kita harus membayar suatu pajak dengan tarip 30 persen penghasilan kita dari Rp142. penghasilan kena pajak terlalu besar. suatu kredit pajak diperbolehkan atas sebagian (pada tahun 1985 sebesar 10%) dari biaya investasi yang dikualifikasikan. kita akan berakhir dengan investasi pada A sebesar Rp100 juta + 0. menimbulkan kenaikan tarif efektif pajak yang tersembunyi. . (2) seluruh penyusutan dapat dilakukan pada tahun pertama sehingga menghilangkan pengaruh inflasi. Kebijakan yang dilaksanakan tidak akan sejauh ini. dua solusi tersedia: (1) basis penyusutan dapat diindeks untuk naik sesuai dengan biaya penggantian.302 x Rp100 juta . Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini sangat relevan terutama dalam periode inflasi tinggi. kredit pajak investasi (investment tax credit) merupakan alat insentif yang utama. perolehan kembali investasi dengan berdasarkan harga perolehan tidak akan memberikan penghematan pajak yang cukup untuk menjaga modal perusahaan dalam nilai riilnya. seorang investor yang membeli aset dengan harga Rp100 juta dapat memperolehnya pada biaya perolehan bersih sebesar Rp90 juta.181 Untuk mengetahui mekanisme ini. Suatu sistem yang membolehkan sebagian dari pajak dibiayakan dan menyusutkan sisanya sesuai dengan penyusutan secara ekonomis akan netral antara investasi jangka pendek dan jangka panjang.857 juta dalam investasi pada A. misalkan kita menginvestasikan uang Rp100 juta pada aset A dan segera membebankannya sebagai penyusutan sebesar Rp100 juta. sehingga mengurangi kewajiban pajak dari penghasilan aset B. bila diukur dalam nilai riil. membuat posisi kita sama dengan menginvestasikan Rp100 juta tanpa pajak. Karena kita belum mendapatkan penghasilan dari A. Kita kemudian menambahkan sejumlah ini ke dalam investasi anda pada A. = Rp142. Dalam hal ini. pada dua dekade sebelum reformasi pajak tahun 1986. hanya sepertiga dari pajak yang akan dihapuskan. Pertama kali diperkenalkan tahun 1964. dan seterusnya. . Dengan tarip pajak 30%. Aturan hukum biasanya hanya membolehkan sebagian (misalnya sepertiga) dari biaya investasi yang dapat diperoleh kembali dengan penyusutan segera. Kemudian kita membebankan kerugian ini pada laba dari aset B. Untuk menghilangkan permasalahan ini dan untuk mengatasi permasalahan inflasi dengan benar. penghematan pajaknya akan sebesar Rp30 juta. Penyusutan segera dengan reinvestasi secara kontinyu dari penghematan pajak yang didapat membatalkan pajak. Akibatnya. Investment Tax Credit Di Amerika Serikat. Jadi. Pendekatan ini sering disebut sebagai cadangan awal (initial allowance) yang merupakan cara yang netral dalam memberikan insentif investasi. Investasi yang dikualifikasikan untuk kredit pajak tersebut adalah semua aset yang dapat disusutkan kecuali gedung.30 x Rp100 juta + 0. mendapatkan penghematan pajak sebesar Rp9 juta. Bila kegiatan serial ini diulangi terus-menerus. membebankan tambahan Rp30 juta sebagai penyusutan.857 juta. kita menderita kerugian sebesar Rp100 juta. .

Hasilnya bergantung pada struktur dan tingkah laku pasar yang ada. Para pebisnis sering memiliki pandangan berbeda dan memandang pajak sebagai biaya yang harus dipindahkan. jika perusahaan berada dalam situasi monopoli. kredit investasi tidak hanya merupakan alat penunda pajak.182 Bagaimana kedua alat insentif. dan marjin laba perusahaan. Untuk suatu investasi tertentu dengan lama masa manfaat tertentu. masalahnya akan cukup sederhana. kedua pendekatan itu berbeda diantara berbagai investasi. Beberapa struktur industri sering terjadi apa yang disebut administered pricing. dapat diperbandingkan? Kredit investasi sama dengan penyusutan dipercepat dalam hal keduanya dapat digunakan untuk mengurangi pajak. Akan tetapi. dimungkinkan untuk merancang penyusutan yang dipercepat dan provisi kredit yang menghasilkan nilai tunai yang sama kepada investor. Pandangan ekonomis adalah pandangan yang tepat bila diasumsikan bahwa semua pasar beroperasi untuk memaksimalkan laba. Pemindahan beban dengan cara penyesuaian administered pricing (dibedakan dengan pemindahan beban karena perpindahan faktor dan perubahan pasokan faktor dalam pasar yang kompetitif) tidak dapat dianggap tidak ada. yang penjualan bukannya laba yang dimaksimalkan. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajak dengan harga yang lebih tinggi. Hal ini tidak dapat dilaksanakan dalam dunia nyata karena pajak diterapkan pada semua perseroan dengan tarip efektif yang sama. Demikian juga. Aset yang berumur lebih pendek dapat diganti lebih sering sehingga dapat dimungkinkan untuk mendapatkan kredit pajak lebih sering lagi. Beberapa pandangan dapat diperoleh dari memeriksa perubahan-perubahan harga yang terjadi dan membandingkan posisi-posisi relatif beberapa sektor sebelum dan sesudah perubahan pajak. bila pasar tenaga kerja tidak sempurna. Pendekatan Dasar-dasar Keuangan Publik . termasuk tingkat pengembalian dari pemegang saham perusahaan. kredit investasi dan penyusutan dipercepat. bagian laba perusahaan dalam nilai tambah pada sektor perusahaan. Kemungkinan yang tersisa adalah mempelajari pengalaman sektor perusahaan dan bagaimana berbagai komponen dalam sektor perusahaan menanggapi pajak. atau aturan harga lainnya yang berubah. Jika tarip pajak perseroan berbeda antar industri. Akan tetapi. pembandingan antara tingkat pengembalian dari investasi pada perseroan dan non-perseroan sulit dilakukan karena ketidaktersediaan data pada usaha-usaha non-perseroan. Penyusutan dipercepat lebih tepat untuk investasi jangka panjang. Hal yang sama juga berlaku pada pasar tenaga kerja yang terorganisir. sedangkan kredit pajak memberikan keuntungan bagi aset berumur pendek. yaitu penentuan harga bukan berdasarkan mekanisme pasar. Ada banyak usaha pada tahun-tahun terakhir untuk memberikan bukti tentang ini. Siapa Yang Menanggung Beban Pajak? Sebagian besar ekonom memandang beban pajak penghasilan badan jatuh kepada modal. Demikian juga. pajak yang tinggi dapat dicerminkan dalam permintaan yang lebih terbatas dalam perundingan dengan manajemen dan oleh karenanya dapat dipindahkan bebannya kepada tenaga kerja. tetapi juga alat yang memberi hak untuk pengurangan pajak. Bedanya dengan penyusutan dipercepat. sesuai dengan model kompetitif. tetapi mekanismenya berbeda.

dan berbagai faktor yang tidak dapat dinilai dengan jelas. seperti tingkat permintaan konsumen. Beberapa studi lainnya mengindikasikan hasil yang sebaliknya. Dengan memasukkan tarip pajak perusahaan. Tarip pajak efektif ini bergantung pada aturan penyusutan. para analis berharap menggunakan koefisien regresi dari variabel ini untuk mengukur pengaruh perubahan tarip pada tingkat pengembalian. utilisasi kapasitas. Hal ini terjadi karena banyaknya faktor-faktor non-pajak yang mempengaruhi hasil penelitian sehingga penelitian tidak dapat menunjukkan siapa sebenarnya yang menanggung beban pajak. Dan juga. Satu jenis penelitian menggunakan model bahwa tingkat pengembalian perusahaan adalah suatu fungsi dari berbagai variabel yang telah ditentukan sebelumnya. kondisi ekonomi dan faktorfaktor lain. Jika tujuan menahan ukuran bisnis yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendekatan lain untuk mengukur adanya pemindahan beban pajak adalah dengan menggunakan pendekatan ekonometrika. Hasil penelitian di Amerika Serikat tentang perubahan tarip pajak dalam rangka menguji adanya pemindahan beban pajak menunjukkan hasil yang berbeda-beda dan konsisten dengan kedua hipotesa pemindahan dan nonpemindahan. Jika tarip pajak akan ditetapkan progresif maka harus didasarkan pada alasan-alasan lain. Berbagai studi telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. sehingga mengarahkan kepada hipotesa pemindahan beban pajak. yang dirancang untuk mengisolasi pengaruh pajak penghasilan perseroan. kredit investasi. Teknik ekonometrik yang lebih baik dikombinasikan dengan penggunaan data yang kurang agregatif mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik. Beberapa studi mengindikasikan adanya pemindahan beban pajak yang cukup tinggi. tarip pajak itu sendiri merupakan konsep yang kompleks. dan tarip pajak perusahaan. Pajak Penghasilan Badan Untuk Usaha Kecil Dan Menengah Haruskah tarip pajak bagi UKM berbeda? Alasan pengenaan tarip pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perusahaan. Perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk membayar seperti halnya yang dimiliki individu dan beban pajak pada akhirnya ditanggung oleh individual. akan tetapi masalah ini masih kontroversial. pengeluaran publik. Analisis ekonometrik tidak mampu secara bulat memisahkan pengaruh pajak dari beberapa perubahan yang terjadi secara bersamaan dalam pengeluaran publik. Banyak perusahaan kecil dimiliki oleh individu-individu berpenghasilan tinggi dan sebagian besar dividen yang dibayarkan oleh perusahaan diterima oleh individuindividu dengan penghasilan menengah. seperti menahan ukuran bisnis sehingga tidak terlalu besar atau mendukung usaha-usaha kecil.183 inipun tidak dapat menghasilkan pandangan yang cukup jelas karena perubahan tarip pajak tidak berlangsung secara sering. Pada kenyataannya. Tidak ada hubungan positif antara ukuran usaha perusahaan dan laba bersih pemiliknya. yang terpenting adalah tarip pajak efektif bukannya tarip pajak nominal. tingkat inflasi.

Selain itu. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memberikan penalti kepada suatu perusahaan holding yang memiliki banyak anak perusahaan. Penggunaan tarip awal yang rendah tidak banyak manfaatnya bagi usaha-usaha besar.184 ditetapkan. Perusahaan kecil ini dipandang sebagai mekanisme melewatkan beban pajak. Tarip awal yang rendah. ada aturan khusus bahwa usaha-usaha kecil sampai dengan ukuran aset atau ukuran penjualan tertentu boleh dipajaki sebagai suatu partnership. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pemerintah dapat pula memberikan bantuan kepada UKM dengan mengenakan tarip awal pajak yang rendah. Akan tetapi tujuan ini pun dapat dipertanyakan. walaupun sedikit sekali bukti bahwa ukuran usaha yang besar diperlukan untuk mencapai efisiensi. suatu penerapan integrasi yang sempurna. ada pandangan yang selalu ada bahwa memelihara usaha-usaha kecil yang diinginkan secara sosial walaupun tidak efisien. Untuk menghilangkan penerapan pajak berganda bagi usaha kecil berbentuk perusahaan. pajak yang progresif dapat diberlakukan tetapi diterapkan pada ukuran usaha (ukuran aset) dan bukannya tingkat laba. Posisi ini dapat dipandang benar untuk mengurangi kemampuan perusahaan-perusahaan besar untuk beroperasi pada pasar-pasar modal yang tidak sempurna dan mendapat manfaat dari praktikpraktik monopolis. Hal ini dapat dihindari dengan membuat aturan pajak berbeda untuk wajib pajak pribadi. karena pada umumnya perusahaan-perusahaan ukuran menengah dan besar lebih efisien daripada usaha kecil. Bantuan kepada UKM Pilihan partnership. keringanan pajak untuk usaha-usaha kecil selalu menjadi perbincangan politik yang penting. Walaupun tarip awal yang rendah ini dapat digunakan oleh wajib pajak pribadi untuk mengurangi pajaknya. Permasalahan lain yang dapat muncul adalah aturan ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan besar dengan memecahnya menjadi unit-unit kecil dengan melakukan spin off. Walaupun demikian.

yang telah Dasar-dasar Keuangan Publik . pajak penjualan inferior baik dalam hal keadilan vertikal maupun keadilan horizontal. pengurangan. atas penghasilan yang diterima oleh rumah tangga) maka pajak penjualan dikenakan pada sisi penjual dari transaksi produksi (misalnya atas penjualan yang dilakukan perusahaan). Dalam pajak umum atas barang-barang konsumsi. dan tarip progresif. semua penggunaan dikenakan kecuali untuk menabung. Bila pajak penghasilan dikenakan pada sisi penjual dari faktor-faktor produksi (misalnya. Pajak penjualan atas barang konsumsi dapat dipandang ekuivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga. P Hal yang paling penting adalah pajak penjualan berbeda dari pajak penghasilan dalam hal pajak ini merupakan pajak in rem bukannya pajak pribadi. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1984. Bila pajak penghasilan didasarkan pada sisi sumber pada rumah tangga maka pajak penjualan didasarkan pada sisi penggunaan. Jenis Pajak Atas Konsumsi Di Indonesia Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Pajak atas konsumsi yang pertama kali berlaku di Indonesia adalah Pajak Penjualan (PPn) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1951.185 B A B XVIII PAJAK ATAS KONSUMSI ajak penjualan mirip dengan pajak penghasilan karena dikenakan pada arus yang diciptakan oleh produksi output. Oleh karenanya. dengan angka penjualan diukur dalam ukuran unit produk atau penerimaan kotor. dalam pajak penjualan tidak membolehkan situasi-situasi pribadi konsumen sebagaimana halnya dalam pajak penghasilan individu dengan aturanaturan pengecualian. Proses penggantian Pajak Penjualan menjadi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) merupakan salah satu rangkaian perombakan sistem perpajakan nasional sebagai Reformasi Perpajakan tahun 1983 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 April 1985. Oleh karena itu.

Khusus untuk PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. cukai adalah pajak atas konsumsi. Cukai merupakan hak atas pemerintah pusat. Pada prinsipnya. seperti pajak penjualan. termasuk definisi basis pajak. Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk. Jenis barang yang tidak dikenakan PPN adalah: . . Cukai Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barangbarang tertentu. bentuk Dasar-dasar Keuangan Publik . jasa pendidikan dan lain-lain. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barang-barang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri (di dalam Daerah Pabean). rumah makan. misalnya pajak atas bahan bakar minyak. dan surat-surat berharga. emas batangan. cukai tembakau dan cukai minuman keras. gula. seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. restoran. Pajak per Unit versus Pajak atas Nilai (Ad Valorem) Pembedaan lebih lanjut dalam pajak penjualan adalah pajak yang dikenakan berdasarkan unit produk dan pajak yang dikenakan atas nilai produk. Pajak Hiburan.186 mengalami perubahan-perubahan yang terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2000. Bahasan-Bahasan Dalam Pajak Atas Konsumsi Pajak penjualan. PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. jasa pengiriman surat dengan perangko. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. jasa pelayanan sosial. Pajak Reklame dan Pajak Parkir. Selain itu. Pajak Konsumsi di Daerah Jenis pajak konsumsi lainnya diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarip pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. warung dan sejenisnya.Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. untuk konsumsi barang-barang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri. Di antara dua basis ini. tetapi hanya dikenakan pada barang-barang tertentu seperti tembakau. jasa keagamaan. terdiri dari beberapa jenis. Tidak semua konsumsi barang dan jasa dikenakan pajak. Pajakpajak ini diantaranya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. seperti jasa pelayanan kesehatan.Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. Jasa-jasa yang tidak dikenakan PPN cukup banyak. . .Uang.Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. jasa keuangan. bensin dan minuman keras. Pajak Hotel. Pajak Restoran. cakupan dan saat pengenaannya.

Memasukkan seluruh transaksi akan tidak menimbulkan permasalahan bila setiap produk melalui jumlah transaksi yang sama sehingga persentase total kewajiban pajak berdasarkan perputaran terhadap nilai pada penjualan akhir akan sama. pajak berdasarkan perputaran menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produk-produk yang harus melalui banyak tahapan produksi dan distribusi. pajak berdasarkan perputaran dipandang sebagai bentuk pajak yang inferior. penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar Rp46 trilyun. Apakah pajak-pajak tersebut mencakup semua transaksi ataukah basisnya sama dengan GNP ataukah hanya konsumsi saja yang dapat dimasukkan? Inferioritas Basis Transaksi. Dalam kenyataannya. seperti yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya. kemudian penjualan besi baja dikenakan pajak ketika besi baja berpindah dari pabrik baja ke pabrik produksi lembaran baja. Pajak berdasarkan perputaran (turnover tax) yang dikenakan pada jumlah total seluruh transaksi adalah pajak yang paling tidak diinginkan untuk diterapkan. Akibatnya. atau sepertiga hasil dari pajak penghasilan. sehingga mendorong timbulnya integrasi vertikal yang pada gilirannya akan mengurangi kompetisi. Basis GNP versus Basis Penghasilan atau Konsumsi. Pajak penjualan jenis GNP akan mengenakan pajak penjualan atas barangbarang konsumsi dan barang-barang produksi. dan seterusnya sampai pajak terakhir dikenakan pada penjualan mobil eceran. Dalam pajak jenis ini. setiap produk tidak melalui jumlah transaksi yang sama. Ruang Lingkup Cakupan Pajak Penjualan Umum Pajak-pajak penjualan umum dapat berbeda dalam cakupan pengenaannya. Bahkan beberapa negara Eropa telah menggantikan bentuk pajak ini dengan pajak pertambahan nilai yang menunjukkan inferioritas pajak atas perputaran ini. pajak penjualan yang dikenakan di berbagai negara berbasiskan konsumsi. pilihan basis pajak yang tersisa adalah GNP (Pendapatan Nasional) atau konsumsi. Dengan demikian. Dengan GNP Indonesia yang diperkirakan sebesar sebesar Rp1180 trilyun misalnya. basis pajaknya akan berjumlah beberapa kali lipat dari GNP dan hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarip pajak yang rendah. penjualan lembaran baja dikenakan pajak ketika lembaran baja berpindah dari pabrik produksi lembaran baja ke pabrik mobil. penjualan biji besi dikenakan pajak ketika biji besi tersebut berpindah dari tambang ke pabrik baja. suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sejalan dengan pergerakannya sepanjang tahapan produksi. Misalnya. Pada umumnya. untuk menghindari pajak.187 ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit. basis ini akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan pertimbangan bahwa pengenaan ganda seperti yang dibahas dalam basis transaksi harus dihindari. Atas dasar inilah. Prosedur seperti ini mempunyai daya tarik karena kemampuannya menghasilkan pajak yang besar dengan penerapan tarip yang kecil. Selain itu. perusahaan-perusahaan akan bergabung dengan para pemasok mereka. Dengan demikian.

Bilamana penetapan cakupan pajak merupakan hal yang substantif dalam menentukan jenis pajak yang akan diberlakukan. Karena basis penghasilan telah digunakan dalam pajak pribadi dengan pengenaan pajak penghasilan. Pengenaan tarip yang berbeda untuk menghilangkan perbedaan ini akan sangat sulit dan merupakan cara yang tidak seefisien dan seefektif pengenaan pajak pada tingkatan penjualan eceran. Pajak jenis ini memiliki kelemahan dalam hal keadilan dan efisiensi. Basis inilah yang paling banyak digunakan dalam pajak penjualan.188 sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan kotor. Pajak penjualan umum atau eceran bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif. Dasar-dasar Keuangan Publik . dalam hal ini penghasilan sebelum perhitungan penyusutan. Tahap Pengenaan Keputusan mengenai tahap pengenaan melibatkan pilihan tahapan mana yang terbaik bagi pengenaan pajak satu kali dan pilihan mengenakan pajak satu kali atau beberapa kali. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. pajak penjualan yang komprehensif sebesar 10% akan menghasilkan pendapatan negara sebesar Rp117 trilyun. Bila menggunakan pajak yang dikenakan satu kali. karena rasio harga eceran terhadap harga produksi berbeda-beda untuk berbagai produk. satu-satunya basis yang tersisa sebagai kandidat basis pajak adalah basis konsumsi. Dalam hal efisiensi. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). pemilihan tahap pengenaan lebih merupakan masalah administratif dalam rangka efisiensi penerapan pajak atas basis yang dipilih. Pengenaan pajak ad valorem dengan tarip yang sama pada tingkatan produksi menghasilkan tarip ekuivalen yang tidak sama dengan pengenaan pada tingkatan penjualan eceran. konsumsi makanan rumah. pilihan pengenaan pajak biasanya antara saat selesai produksi atau saat dijual secara eceran kepada konsumen. Pajak Konsumsi Komprehensif versus Pajak Konsumsi Tertentu. Kelemahan ini akan hilang bila pajak hanya dikenakan pada basis yang sama dengan Pendapatan Nasional atau GNP dikurangi dengan pajak-pajak tidak langsung dan penyusutan. Dalam hal keadilan. tetapi dalam jumlah netonya. Jika pajaknya bersifat umum. Saat Produksi versus Saat Penjualan Eceran. jasa kesehatan dan lain-lain. Pajak seperti ini akan memiliki basis yang sama dengan pajak penghasilan dan dapat diselenggarakan dengan menggunakan pajak pertambahan nilai jenis penghasilan.170 trilyun. pengenaan pada saat penjualan eceran lebih baik karena memungkinkan pengenaap tarip ad valorem yang seragam. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. pajak ini akan memberikan perlakuan diskriminatif yang mengecualikan penghasilan yang ditabung (tidak dikonsumsikan) yang dalam pajak penghasilan tidak dikecualikan. pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber harus dikenakan pajak sepenuhnya.

Dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah). Nilai akhir sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Mari kita lihat suatu produk. Karakteristik-karakteristik ini memperbaiki kualitas untuk tujuan perhitungan pajak. nilai produk dibagi dalam potonganpotongan (nilai tambah pada setiap tahapan) di mana pajak dikenakan pada tahapan-tahapan sepanjang proses produksi. Di negara-negara berkembang. Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan sifat dari produk final pada tahapan penjualan eceran. Walaupun demikian. walaupun hal ini menimblkan dampak yang berbeda pada tingkatan penjualan eceran. lebih permanen. basis nilai tambah dari pajak penjualan jenis konsumsi sama dengan basis penjualan eceran. identifikasi produk tidak memungkinkan. kita akan mulai dengan peternak yang menjual kulit hewan kepada penyamak. Walaupun ada perbedaan dalam teknik. Pajak pertambahan nilai bentuk pajak yang baru seperti pajak pengeluaran. Saat Penjualan Eceran versus Pertambahan Nilai. jawaban atas pertanyaan tahapan pengenaan akan lebih tidak jelas lagi. hanya cara penagihannya yang berbeda. badan-badan usaha produksi cenderung lebih besar. misalnya sepatu. akan lebih menguntungkan mengenakan pajak pada tahapan ini. Dengan cara kedua. pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan karena cara ini akan mengurangi jumlah pembayar pajak yang harus ditagih pajaknya sehingga mempermudah administrasi. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah pajak harus dikumpulkan dalam satu kali pengenaan dan pada titik penjualan final atau apakah dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran. Dengan menelusuri ke berbagai tahapan produksi. Selain itu. karena pengenaan pajak secara selektif pada tingkatan eceran akan sangat sulit. penyamak menjual kulit bahan sepatu kepada produsen Dasar-dasar Keuangan Publik . Pemilihan keduanya lebih didasarkan pada kemudahan administrasi.189 Jika pajak akan dikenakan secara selektif. pandangan umum lebih condong kepada pengenaan pada tahapan penjualan eceran untuk diterapkan pada pajak penjualan umum dan tidak begitu sering digunakan pada pajak-pajak penjualan selektif. Penggunaan pendekatan beberapa tahapan dalam konteks pertambahan nilai harus dibedakan dengan yang sebelumnya dibahas dalam diskusi tentang pajak atas perputaran Pajak Pertambahan Nilai Menurut sudut pandang ekonom. Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena jumlah titik penagihan pajak yang lebih sedikit. pajak pertambahan nilai yang diselenggarakan dengan benar akan ekuivalen dengan penerapan pajak dalam satu tahapan. misalnya mobil murah atau televisi. Jika produknya diidentifikasi pada tahapan produksi. pajak ini hanyalah pajak penjualan yang diadministrasikan dengan cara berbeda.

pajak dengan tarip 5% yang mencakup semua barang tersebut akan menghasilkan Rp58. menjadi subyek pajak penjualan umum. Basis pajak pada setiap tahapan akan sama dengan penyusutan. distributor utama menjual sepatu kepada toko eceran. (Catatan: Pajak ini tidak dapat dikenakan sebagai pajak atas total nilai bersih dari barang pada saat penjualan terakhir dilakukan karena prosedur ini mengharuskan pencatatan biayabiaya penyusutan yang dibebankan oleh semua produsen sepanjang lini produksi. oleh suatu perusahaan untuk menambah persediaan barangnya. hanya pendekatan nilai tambah yang layak digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto). pajak ini ekuivalen dengan pajak penjualan yang diterapkan pada barang konsumsi dan barang modal. produsen sepatu menjual sepatu kepada distributor utama. juga dapat digunakan untuk menyelenggarakan pajak penjualan pada produk neto. Jenis Penghasilan. Anggaplah tujuannya adalah mengenakan pajak pada NNP. atau oleh suatu perusahaan untuk pembelian barang-barang modal. bunga. Anggaplah bahwa semua barang dan jasa final yang diproduksi dan dijual dalam suatu periode. tetapi hanya jenis konsumsi yang dapat diterapkan secara praktis. laba dan biaya-biaya. yaitu penerimaan kotor dikurangi dengan biaya pembelian barang setengah jadi dari produsen sebelumnya dalam lini produksi. yaitu GNP. Pada setiap tahapan.5 trilyun pendapatan pajak bagi negara.170 trilyun. Pajak pertambahan nilai jenis penghasilan berbeda dari jenis konsumsi dalam hal jenis penghasilan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pajak ini akan merupakan bentuk yang paling komprehensif dari pajak pertambahan nilai dan dapat disebut sebagai pajak pertambahan nilai jenis GNP. Setiap kenaikan harga menunjukkan tambahan nilai pada setiap tahapan. Pajak tersebut akan diberlakukan baik pada barang konsumsi maupun barang modal. dengan nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi nilai bersih dari barang setengah jadi dan penyusutan. nilai barang meningkat dan harga jual juga meningkat sejalan dengan peningkatan nilai tersebut. Jenis GNP. NNP. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. pajak. dengan nilai atau harga final dari produk tersebut sama dengan jumlah kenaikan atau pertambahan nilai pada seluruh tahapan. Jadi. seperti yang telah dibahas sebelumnya. Hasil yang sama dapat diperoleh dengan menerapkan pajak penghasilan umum karena basis suatu pajak produk neto dan pajak penghasilan pada dasarnya sama. yang sama dengan GNP dikurangi cadangan untuk konsumsi modal atau penyusutan. dan konsumsi. Pajak ini akan dibayarkan oleh penjual ketika produk dijual kepada pembeli terakhir. mengenakan pajak kepada setiap penjual dengan tarip 5 persen dari nilai tambah. yang akhirnya akan menjual sepatu tersebut kepada konsumen.190 sepatu. Jumlah yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan nilai tambah. Jenis Pajak Pertambahan Nilai Ada tiga jenis pajak pertambahan nilai sesuai dengan basis GNP. Pendekatan nilai tambah ini. Dengan GNP sebesar Rp1. Pajak seperti ini dapat dikenakan dalam bentuk beberapa tahapan dengan mengenakan pajak pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. Suatu pajak yang dikenakan pada pertambahan nilai akan identik basisnya dengan suatu pajak yang dikenakan pada nilai final dari produk tersebut. baik oleh konsumen rumah tangga.

dsb. Penjualan barang konsumsi 02. yang tersisa hanyalah nilai dari output barang konsumsi saja. GNP 16. dengan perbedaan hanya pada prosedur administrasi saja. Pembelian barang-barang modal Basis-basis pajak 10. Ilustrasi Perhitungan PPN untuk setiap Jenis Tabel 18. Penyusutan 08. Basis penghasilan (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 07) 12. Plus Investasi 15. Jenis Konsumsi. Penjualan barang modal 04. Upah.1: Ilustrasi Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai A Pendapatan 01. Pajak seperti ini akan sama dengan pajak penjualan eceran umum atas barang konsumsi. Penjualan produk setengah jadi 03. Untuk basis penghasilan.191 membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan sedangkan jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. bunga. Basis GNP Perhitungan Pendapatan Nasional 13. yaitu pembelian barang-barang modal. laba. 06. Jumlah total Biaya 05. Alternatif lainnya yang dapat digunakan adalah metode penambahan. Konsumsi 14. Pembelian produk setengah jadi 07. Dengan membolehkan setiap perusahaan untuk mengurangkan pengeluaran modalnya. Basis untuk pajak pertambahan nilai jenis ini didefinisikan sebagai pendapatan bruto perusahaan dikurang nilai dari seluruh pembelian produk-produk setengah jadi (bahan mentah dan barang dalam proses) dan juga pengeluaran modalnya atas pabrik dan peralatan-perakatan. NNP atau Pendapatan Nasional PERUSAHAAN B C Ekonomi 120 120 70 145 100 315 151 151 221 265 100 100 20 120 80 120 15 215 90 45 16 151 270 165 51 - - 100 100 120 100 120 195 180 95 6 90 106 321 370 321 - - - 221 100 321 51 270 (Tabel ini menunjukkan perhitungan ketiga basis dengan menggunakan metode yang disebut metode pengurangan. Minus Penyusutan 17. Basis GNP dihitung dengan cara menambahkan pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07). Jumlah total Biaya Modal 09. perhitungan dengan metode penambahan adalah dengan cara menambahkan semua pembayaran kepada berbagai faktor yang dinyatakan pada baris 05. Basis konsumsi (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 09) 11. Basis konsumsi ditentukan dengan menambahkan Dasar-dasar Keuangan Publik .

seperti yang ditunjukkan pada baris 10. pendapatan nasional. seperti yang ditunjukkan pada baris 11. dihitung untuk setiap perusahaan dengan cara penjualan dikurangi dengan biaya barang-barang setengah jadi dan penyusutan (baris 06 dan 07). Kedua. Selain pertimbangan politis. Basis GNP. yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung tersebut. Jumlah total basis-basis ini sama dengan nilai dari konsumsi. Pertama. Bila perhitungan pajak telah selesai. seperti yang ditunjukkan pada baris 12. Bila demikian. dan GNP yang ditentukan dalam perhitungan pendapatan nasional. Basis penghasilan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi metode penambahan langsung menghasilkan angka pada pajak pertambahan nilai jenis penghasilan tetapi agak membingungkan pada pajak pertambahan nilai jenis konsumsi. yang mungkin saja menjadi atau tidak menjadi masalah. Simpulan Kita telah melihat bahwa pajak pertambahan nilai jenis konsumsi memiliki basis yang sama dengan pajak penjualan eceran dengan cakupan yang sama. metode faktur.) Basis konsumsi. akan sama dengan penjualan total (baris 04) dikurangi pembelian barang-barang setengah jadi (baris 06). metode faktur memiliki elemen ketaatan karena setiap pembeli akan meminta salinan dari bukti setor tersebut. dihitung untuk setiap perusahaan dengan mendapatkan angka penjualannya dan dikurangi dengan pembelian barang-barang setengah jadi dan barang-barang modal (baris 06 dan 09). Dengan membuat aturan bahwa kredit pajaknya bergantung pada penyajian bukti setor pajak yang dilakukan oleh para pemasok. dikenal dengan nama metode perhitungan. konsumen akan menyadari adanya pajak pada kedua pendekatan ini. seperti yang ditunjukkan pada kolom terakhir. kita akan menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang setengah jadi dan barang modal. yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarip pajak terhadap total penjualan dan mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah yang sama dengan pajak yang telah dibayarkan oleh para pemasok yang barang-barang setengah jadi dan barang-barang modalnya dibeli oleh perusahaan. mengapa harus ada perbedaan pendapat yang cukup tajam mengenai mana di antara kedua pajak ini yang lebih baik? Satu perbedaan berkaitan dengan persoalan politik dari kedua pajak ini.192 pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07) kemudian dikurangi dengan pembelian barang modal (baris 09). Pendukung pajak pertambahan nilai merasa bahwa pajak ini tampak berbeda sehingga tidak terkontaminasi reputasi buruk dari pajak penjualan eceran. ada beberapa perbedaan teknis dalam implementasi yang cukup penting. Penjumlahan basis-basis pada setiap perusahaan ini menghasilkan basis-basis untuk seluruh ekonomi. Jika pajak bruto pengecer disajikan sebagai bagian terpisah dari harga-harga bagi para konsumen. Metode Penagihan Bila kita melihat jenis konsumsi dari pajak pertambahan nilai. ada dua cara untuk menagihnya. Metode ini cocok di negara yang ketaatan pajaknya rendah.

sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. kita menyimpulkan bahwa distribusi beban pajak berdasarkan kelompok penghasilan didominasi dari sisi penggunaan. cukai memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal. Selain itu. Dalam pajak pertambahan nilai. tetapi hal ini belum menjadi kebijakan yang telah diterapkan. Oleh karena itu. jumlah pembayar pajak lebih rendah daripada dalam pajak pertambahan nilai. Di negara maju yang usaha ritelnya sudah mapan. Cukai umumnya dikenakan kepada barang-barang konsumsi massal yang dipandang kurang baik untuk dikonsumsi. cukai bersifat diskriminatif di antara konsumen dengan penghasilan yang sama tetapi dengan preferensi yang berbeda. Dengan keterbatasan-keterbatasan seperti ini. Pajak Penjualan Umum Pajak penjualan umum dalam bentuk pajak penjualan eceran atas barang-barang konsumsi pada dasarnya sama dengan pajak umum bertarip tetap atas pengeluaran konsumen. Dan juga. tetapi di negara berkembang di mana usaha ritelnya umumnya usaha kecil. pajak pertambahan nilai memiliki elemen ketaatan yang tidak dimiliki dalam pajak penjualan eceran. Distribusi Beban Pajak Pajak penghasilan memiliki peringkat yang tinggi dalam hal keadilan karena dikenakan sebagai suatu pajak pribadi yang berusaha mencapai kemampuan membayar dari wajib pajak. pajak-pajak ini tidak memberikan aturan mengenai kemampuan untuk membayar. Cukai Pada diskusi kita sebelumnya tentang tax incidence dari pajak penjualan. dengan menggunakan metode faktur. cukai akan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak yang lebih umum. suatu pajak penjualan umum akan adil bila indeks keadilan dinyatakan dalam bentuk konsumsi tetapi akan tidak adil bila indeksnya dinyatakan dalam bentuk penghasilan. Karena sebagian besar cukai dikenakan atas barang-barang konsumsi masal. Selain itu. hal ini mudah dilakukan. pajak penjualan eceran tidak akan efektif. Beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan seharihari cenderung regresif. Cukai juga dikenakan dalam rangka meminimalkan dead weight loss. seperti rokok dan minuman beralkohol. sehingga memudahkan administrasi karena para pengecer dapat diakses secara efektif.193 Dalam pajak penjualan eceran. Keluarga-keluarga dengan penghasilan yang sama mungkin saja Dasar-dasar Keuangan Publik . Bila dilihat dari keadilan horizontal. bebannya cenderung regresif. pengecualian barang-barang modal dapat dilakukan dengan lebih efektif daripada dalam pajak penjualan eceran karena sulitnya menelusuri penggunaan barang-barang yang dibeli dari para pengecer. seperti minuman beralkohol dan rokok. karena hanya dikenakan pada barang-barang tertentu. Hal yang sama tidak berlaku untuk pajak penjualan dan cukai. Karena tidak dibebankan secara pribadi. yaitu berdasarkan pola pengeluaran konsumsi atas produk yang dipajaki. mengapa cukai tetap digunakan? Pertanyaan ini dijawab dengan mempertimbangkan jenis barang yang dikenakan cukai.

pendekatan tradisional atas pajak konsumsi baik melalui cara selektif (cukai) maupun pajak penjualan umum (PPN bila di Indonesia) tetap bersifat regresif karena pengeluaran konsumsi dalam persentase penghasilan cenderung menurun sejalan dengan peningkatan penghasilan. sehingga melanggar keadilan horizontal dalam bentuk penghasilan. Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi Walaupun telah mengecualikan beberapa produk konsumsi massal. sedangkan pajak konsumsi telah ditetapkan sebagai kerangka dalam pendekatan nonpribadi atau in rem dari pajak penjualan. sedangkan pendukung pajak penjualan cenderung berasal dari penentang progresivitas pajak. Akan tetapi.194 memiliki tingkat konsumsi (menabung) yang berbeda karena faktor usia atau faktor-faktor lainnya. Dengan demikian. penghindaran atas pajak penjualan hanya dapat dilakukan dengan melalui warisan. tidak ada dasar logika yang tepat pada kedua basis pajak yang mengharuskan keduanya sama. Penggunaan suatu jenis pajak pribadi dari pajak pengeluaran akan menghilangkan perbedaan ini dan membuat pemajakan atas konsumsi menjadi bersifat pribadi dan progresif. Pola ini kurang regresif bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup dan bukannya tahunan. Keluarga-keluarga seperti itu akan membayar jumlah pajak yang berbeda. Perbedaan progresivitas di antara kedua jenis pajak ini muncul karena pajak penghasilan telah dikembangkan dalam kerangka pajak pribadi. Analogi dengan pajak penghasilan.Oleh karena itu. wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak. Bila dipandang dari keadilan vertikal. pendukung pajak penghasilan cenderung berasal dari pendukung progresivitas pajak. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang Dasar-dasar Keuangan Publik . semua yang telah dikemukakan sebelumnya tentang keinginan untuk suatu definisi global dari basis pajak penghasilan berlaku juga. Perlu dicatat pula bahwa sifat regresif dari pajak penjualan telah dimodifikasi dengan mengecualikan beberapa produk konsumsi massal. seperti makanan. Pajak ini merupakan ide yang baru dan menarik dan telah banyak mendapatkan dukungan dari para akademisi di dunia perpajakan. tetapi pengenaan pajak ini dalam situasi modern belum pernah ada. karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun (menabung dalam persentase atas penghasilan naik) sejalan dengan kenaikan penghasilan. Bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup. pajak penjualan dipandang sebagai pajak yang progresif dan pajak penjualan dipandang sebagai pajak regresif. Berikut ini pembahasan teknis apabila pajak ini diterapkan. Semua konsumsi harus dimasukkan ke dalam basis pajak dan kewajiban pajak para wajib pajak tidak dipengaruhi oleh pola tertentu dari pengeluaran konsumsi mereka. Pajak seperti ini pernah dicobakan di India dan Sri Lanka. suatu pajak penjualan umum akan proporsional berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. dalam perkembangan historis. Penentuan Konsumsi Kena Pajak Apabila konsumsi digunakan sebagai indeks atas kemampuan untuk membayar.

Konsumsi dalam cara ini akan diperoleh dari perubahan dalam saldo bank dan uang dan arus penerimaan dan pembayaran-pembayaran nonkonsumsi selama tahun berjalan. Cara yang paling baik dan yang paling mungkin untuk menentukan konsumsi tahunan wajib pajak adalah dengan menggunakan cara berikut Saldo bank dan uang pada awal tahun 1. akan diperlakukan sebagai konsumsi tahun berjalan. SPT harus digunakan untuk membuat wajib pajak menyatakan jumlah-jumlah tersebut (dengan dirinci) seperti pelaporan penghasilan dalam pajak penghasilan. dengan membolehkan penggunaan tarip merata untuk menghindari ketidakadilan. Walaupun konsumsi rumah akan dimasukkan dengan cara memasukkan komponen imputed rent. – saldo bank dan uang pada akhir tahun 5. Perhitungan dengan menambahkan pengeluaran rupiah untuk konsumsi individu bukan merupakan pendekatan yang mungkin. Permasalahan sulit dari akuntansi penyusutan juga akan hilang. dan menerapkan tarip pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. + penerimaan uang 2. tidak ada kebutuhan untuk menentukan laba perusahaan. atau penambahan atas kekayaan bersih. yang diperoleh dengan menahan laba. disesuaikan dengan mengecualikan capital gain tetapi memasukkan imputed rent dari rumah-rumah yang dihuni pemiliknya dan juga warisan dan hadiah yang diterima. Penyesuaian terhadap inflasi hanya diperlukan untuk indeks tarip-tarip pajak. pembelian barang-barang konsumsi jangka panjang (seperti mobil). = konsumsi untuk tahun berjalan. Untuk mendapatkan angka konsumsi. Konsep penerimaan yang digunakan dalam skedul perhitungan di atas sama dengan penghasilan yang didefinisikan dalam pajak penghasilan. Jika aset dijual. – investasi bersih (biaya pembelian aset-aset dikurangi hasil dari aset-aset yang dijual) 4. dan capital gain yang belum direalisasikan. Dalam beberapa hal. Ide ini tampaknya sederhana. Dividen akan muncul sebagai penerimaan. hasil yang diterima akan masuk ke dalam basis pajak kecuali dikurangi dengan pembelian aset-aset lain atau kenaikan dalam saldo-saldo aset. Dan juga. Dilema dalam memperlakukan capital gain yang belum direalisasikan akan tidak ada. tetapi belum diketahui bagaimana konsumsi kena pajak dapat ditentukan dalam kenyataannya.195 diperbolehkan. pendekatan ini lebih sederhana daripada yang dipakai dalam pajak penghasilan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini akan menjadi tugas yang sangat berat. bukan hal yang relevan sampai realisasi terjadi dan hasilnya disalurkan ke dalam konsumsi. + tambahan pinjaman bersih (pinjaman baru dikurangi pembayaran pinjaman atau memberikan pinjaman) 3. jumlah tambahan tabungan harus didefinisikan sebagai tabungan neto (tambahan tabungan dikurangi penarikan tabungan). Kemungkinan yang lain adalah dimulai dari penghasilan dan mengurangkannya dengan jumlah tambahan tabungan.

196
karena permasalahan yang lebih mengganggu berupa perubahan nilai-nilai nominal tidak akan muncul. Akan tetapi, pajak pengeluaran akan memunculkan kesulitan-kesulitan baru. Untuk alasan-alasan administratif dan lainnya, metode pemotongan pajak harus tetap diberlakukan, tetapi cara ini akan sangat sulit dalam pajak pengeluaran daripada dalam pajak penghasilan. Karena pemotongan pajak harus dilakukan terhadap penghasilan, suatu rasio yang ditetapkan sebelumnya dari penghasilan terhadap konsumsi harus diterapkan. Selain itu, pemotongan pajak dalam sistem tarip yang gradual mempersulit penerapan karena tarip pajak yang tepat bergantung pada apakah penerimaan tersebut akan dibelanjakan atau diinvestasikan kembali, suatu faktor yang sangat mengganggu dalam kasus penghasilan modal. Permasalahan lainnya adalah pentingnya mencatat secara lengkap saldosaldo kas pada awal tahun. Bila tidak dilakukan, konsumsi yang tidak dikenakan pajak akan dapat dilakukan oleh wajib pajak yang akan didanai nantinya dengan menarik lebih banyak uang dari bank. Untuk memastikan peminjaman dipertanggungjawabkan, pemberi pinjaman diharuskan untuk melaporkan informasi mengenai pinjaman-pinjaman yang diberikan. Dengan demikian, pengecekan silang akan lebih banyak dilakukan. Hal yang sama juga diperlakukan untuk penjualan-penjualan aset. Untuk tujuan ini, wajib pajak diharuskan untuk melaporkan neraca atau daftar harta mereka dalam SPT. Perlakuan atas Warisan dan Hibah Dalam konsep pajak pengeluaran wajib pajak pribadi, ada suatu permasalahan khusus timbul karena penghasilan tidak digunakan untuk konsumsi tetapi akan diwariskan atau dihibahkan. Berdasarkan filosofi tambahan kemampuan ekonomis, penerimaan suatu warisan/hibah akan dimasukkan ke dalam basis pajak penerima warisan/hibah. Akan tetapi, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, konsep penghasilan yang berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis memperlakukan secara diskriminatif terhadap konsumsi di masa depan. Pajak berdasarkan konsumsi, memberikan perlakuan yang sama dengan menerapkannya pada nilai tunai konsumsi sehingga beban pajak tidak dipengaruhi oleh faktor waktu. Tetap saja, perlakuan terhadap warisan/hibah masih menimbulkan tanda tanya. Seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya, penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. Cara terbaik untuk mengatasi penghindaran pajak ini adalah dengan memasukkan warisan/hibah sebagai basis pajak pengeluaran. Dengan demikian, basis pajak yang adil bukannya konsumsi saja tetapi semua penggunaan penghasilan, baik itu untuk konsumsi ataupun untuk diwariskan. Evaluasi Penggunaan pajak pengeluaran wajib pajak pribadi akan meningkatkan kualitas perpajakan konsumsi karena memungkinkan penerapan prinsip kemampuan Dasar-dasar Keuangan Publik

197
untuk membayar dan menghilangkan sifat regresif yang melekat pada pajak penjualan umum. Walaupun pajak pengeluaran berbasis konsumsi merupakan cara yang lebih baik, akan tetapi ada dua pertanyaan yang harus dijawab yaitu basis mana yang lebih baik (penghasilan atau konsumsi) dan bagaimana memperlakukan warisan/hibah. Dalam hal kegiatan menabung berupaya didukung dengan sistem pajak yang ada, pendekatan pajak pengeluaran lebih disukai daripada pemberlakuan pengecualian secara sepotong-potong dalam sistem pajak penghasilan. Penggantian pajak penghasilan dengan pajak pengeluaran akan menyederhanakan beberapa hal penting, terutama yang berkaitan dengan permasalahan inflasi. Akan tetapi, penggantian ini juga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru seperti masalah pemotongan pajak. Pajak pengeluaran juga tidak akan menghilangkan perlakuan-perlakuan khusus dan loophole yang selama ini ada pada pajak penghasilan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

198

B A B XIX
PAJAK ATAS KEKAYAAN
Alasan-Alasan Pengenaan Pajak Atas Kekayaan
rgumen atas pengenaan pajak kekayaan didasarkan pada kemanfaatannya dan kemampuan untuk membayar, akan tetapi kedua alasan ini tidak pernah dapat menjelaskan mengapa hanya pajak atas bumi dan bangunan saja yang diberlakukan. Pertimbangan manfaat mengarah pada pemberlakuan pajak bumi dan bangunan jenis in-rem sedangkan pertimbangan kemampuan untuk membayar mengarah pada pemberlakuan pajak kekayaan wajib pajak pribadi.

A

Alasan Manfaat Pajak atas Kekayaan Alasan pengenaan pajak kekayaan atas dasar manfaat adalah bahwa layananlayanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan dan oleh karenanya harus dibayarkan oleh pemiliknya. Dalam bentuknya yang paling umum, argumentasi dukungan ini dapat diturunkan dari teori Locke yang menyatakan bahwa negara adalah pelindung bumi dan bangunan, yang dinyatakan pada akhir abad ke-17. Salah satu dari fungsi dasar suatu negara, sebagaimana pendapat para ahli teori hukum alam, adalah pelindung kekayaan; dan oleh karenanya pemilik kekayaan membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut. Logikanya, basis pajaknya adalah seluruh kekayaan yang dimiliki oleh seseorang. Atau lebih tepat lagi, basis pajaknya akan didefinisikan sebagai kekayaan bersih, yaitu kekayaan wajib pajak dikurangi dengan kewajibannya. Demikian juga, berdasarkan konsep ini, pendapatan dari pajak harus dibatasi hanya sebesar biaya yang diperlukan untuk melaksanakan layanan perlindungan, seperti biaya penegakan hukum, administrasi perundang-undangan dan administrasi pengadilan. Walaupun berapa besarnya biaya tersebut masih dapat diperdebatkan, yang pasti tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai pendidikan, misalnya, tidak memiliki dasar yang rasional.

Dasar-dasar Keuangan Publik

199
Penerapan aturan kemanfaatan yang lebih spesifik lagi, terutama berkaitan pada tingkat lokal, mengharuskan pemilik kekayaan membayar untuk layananlayanan khusus yang meningkatkan nilai dari kekayaan. Pembangunan trotoar, misalnya, meningkatkan nilai gedung di belakang trotoar tersebut, demikian juga perlindungan khusus oleh polisi pada daerah-daerah tertentu. Dalam kasus-kasus tertentu, manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap kekayaan dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. Dalam kasus-kasus lain, manfaat yang dinikmati harus diperkirakan secara relatif terhadap nilai dari kekayaan. Hal ini mengindikasikan bahwa suatu pajak khusus dapat dikenakan untuk mendanai suatu layanan tertentu. Cara pengenaan seperti ini sangat tepat dikenakan pada tingkatan lokal untuk mendanai layanan-layanan khusus tadi. Alasan Kemampuan Membayar Pajak Dalam kaitannya dengan kemampuan untuk membayar pajak, asal mula dari pajak kekayaan harus dilihat dari konteks sejarahnya. Pada masa lalu, kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan indeks yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar. Sebagian besar pajak yang dipungut oleh negara diterima dalam bentuk barang, sehingga pendapatan uang seperti yang digunakan sekarang akan merupakan indeks yang menyesatkan. Akan tetapi, dalam kondisi modern di mana penghasilan sebagian besar diterima dalam bentuk uang, kekayaan lebih sulit diukur daripada penghasilan. Berdasarkan situasi ini, dapatkah pajak kekayaan dapat dibenarkan untuk alasan kemampuan untuk membayar? Berdasarkan diskusi sebelumnya, ada dua simpulan yang diambil. Penggunaan penghasilan sebagai indeks kesetaraan, tidak diperlukan lagi pajak kekayaan sebagai pelengkap apabila penghasilan tersebut didefinisikan sebagai secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. Akan tetapi dalam praktiknya tidak semua penghasilan dapat dicakup sehingga memunculkan kebutuhan akan pajak kekayaan. Juga dalam hal konsep pajak atas konsumsi, pajak tambahan atas kekayaan dapat dibenarkan karena alasan penumpukkan kekayaan. Oleh karena itu, jika kekayaan dipajaki karena kemampuan untuk membayar, yang diperlukan bukanlah pajak atas kekayaan tetapi pajak atas kekayaan besih wajib pajak pribadi. Alasan Pengendalian Sosial Pajak atas kekayaan dapat dibenarkan dengan alasan untuk pengendalian sosial. Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi, dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. Untuk tujuan ini, suatu pajak progresif atas kekayaan dan bukannya atas penghasilan adalah instrumen yang tepat. Sebagaimana berdasarkan pendekatan kemampuan untuk membayar, indikasinya adalah juga pajak pribadi dan definisi kekayaan secara global. Bedanya, basisnya lebih tepat didefinisikan sebagai kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan cakupan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

200

Pajak atas Tanah
Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari kekayaan telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. Karena pengembalian atas tanah adalah dalam bentuk rente ekonomis (yaitu suatu tingkat pengembalian dari suatu faktor produksi dalam penawaran yang tidak elastis), tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu excess burden. Pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif. Selain itu, kenaikan nilai tahan dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil, seperti yang dikemukakan oleh Henry George dalam bukunya Progress and Poverty. Struktur Dan Basis Pajak Atas Kekayaan Di Indonesia (Pajak Bumi Dan Bangunan) Jenis pajak atas kekayaan yang berlaku di Indonesia adalah pajak atas bumi (tanah) dan bangunan. Sebelum reformasi perpajakan tahun 1983, peraturan yang berkaitan dengan pajak atas tanah dan bangunan ini adalah Undang-Undang Nomor 11 PRp1959 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum adat, Ordonansi Verponding Indonesia 1923 dan Ordonansi Verponding 1928 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum Belanda (Barat), dan Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908 untuk pungutan-pungutan lain daerah atas tanah dan bangunan. Setelah reformasi pajak, dasar hukum yang mengatur pajak atas bumi dan bangunan adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1994. Basis Pajak, Tarip Nominal, Rasio Penilaian dan Tarip Efektif Yang menjadi objek PBB adalah bumi dan bangunan. Bumi mencakup permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya, yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan, meliputi jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan, jalan tol, kolam renang, pagar mewah, tempat olah raga, galangan kapal, dermaga, taman mewah, dan fasilitas lain yang memberikan manfaat. Beberapa objek pajak dikecualikan dari pengenaan pajak, yaitu: Objek pajak yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. Objek pajak yang digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenisnya dengan itu. Hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. Objek pajak yang digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. Objek pajak yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Dasar-dasar Keuangan Publik

-

-

201

Basis pajak untuk objek-objek pajak ini adalah harga pasar wajar atau harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Karena harga ini sulit didapat, yang sering dilakukan adalah menggunakan harga objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru atau nilai pengganti. Pada praktiknya, basis pajak ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap tiga tahun sekali, kecuali untuk daerah yang mengalami perkembangan pembangunan yang cepat, penetapannya dilakukan setiap tahun. Dari basis pajak ini tidak seluruhnya akan diterapkan PBB. Basis yang akan diterapkan pajak serendah-rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100%, bergantung pada jenis objek pajaknya. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 1998, hanya 40% dan 20% dari basis pajak saja yang akan dikenakan. Pada umumnya, pengenaan tarip pajak hanya akan dikenakan sebesar 20% dari basis pajak kecuali untuk objek-objek pajak tertentu, yaitu: Objek pajak perumahan yang WP-nya perseorangan dengan basis pajak sama dengan atau di atas Rp1 milyar, tidak berlaku untuk PNS, ABRI, Pensiunan Janda/Duda yang semata-mata dari gaji/uang pensiun. Objek pajak perkebunan yang luasnya sama dengan atau lebih dari 25 Ha yang dikuasai BUMN dan Badan Usaha Swasta. Objek pajak kehutanan, termasuk areal blok tebangan dalam kegiatan Pemegang HPH, Hak Pemungutan Hasil Hutan dan Pemegang Ijin Pemanfaatan Kayu.

-

Tarip pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah 0,5 persen yang merupakan tarip tunggal. Dengan demikian, tarip efektif PBB yang berlaku sekarang ini secara nasional adalah 1 persen dan 2 persen. Nilai Pasar versus Penghasilan sebagai Basis Penilaian Ada satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas kekayaan yaitu bagaimana mengukur nilai kekayaan. Apakah kekayaan tersebut diukur dengan nilai jualnya atau nilai sewanya dan apakah nilai yang digunakan adalah nilai aktual atau nilai potensialnya? Negara-negara tertentu, seperti Amerika Serikat dan Indonesia, menggunakan harga jual atau harga pasar sebagai nilai kekayaan, sedangkan negara-negara lain, seperti Inggris, menggunakan penghasilan sewa aktual yang diperoleh dari harta tersebut. Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi, perbedaan ini akan hilang karena harga jual dari kekayaan akan sama dengan nilai kapitalisasi dari penghasilan aktual yang juga akan sama dengan potensi penghasilannya. Dalam kenyataannya, hal ini tidak terjadi. Jika kekayaan kurang didayagunakan, pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan akan menyajikan nilainya terlalu rendah, suatu faktor yang sangat penting bagi negara-negara berkembang. Perbedaan lainnya antara pendekatan nilai pasar dan pendekatan penghasilan muncul dari perbedaan dalam risiko. Satu kekayaan dengan penghasilan tahunan sebesar Rp100 juta dapat memiliki nilai pasar sebesar Rp500 juta, sedangkan kekayaan lainnya dengan penghasilan yang sama dapat memiliki nilai pasar dua kali lipat. Penghasilan dikapitalisasi dengan

Dasar-dasar Keuangan Publik

telah dikembangkan prosedur yang canggih untuk melakukan evaluasi atas nilai jual dengan menggunakan persamaan regresi yang berisi sejumlah variabel. yang mengaitkan nilai rumah terhadap berbagai karakteristik. Sejumlah besar pemilik rumah yang berpenghasilan rendah adalah orang-orang tua. Penilaian dengan perkiraan. yang disebut juga dengan circuit breaker. Selain itu. terpaksa digunakan. Basis pengenaan pajak yang paling baik pada kondisi seperti ini adalah pendekatan nilai pasar karena memperhitungkan perbedaan tingkat risiko atas kekayaan-kekayaan tersebut. Pada kota-kota besar negara maju. Tanah versus Bangunan sebagai Komponen Basis Pajak kekayaan dikenakan atas nilai pasar suatu real estate tanpa membedakan apakah dikenakan pada komponen tanah atau komponen penyempurnaan tanah (bangunan). Prosedur seperti ini memiliki keunggulan dalam hal memungkinkan dilakukannya penyesuaian atas nilai tanah dan bangunan lebih sering lagi. pengenaan pajak atas penyempurnaan tanah telah menghambat investasi seperti itu. Dalam praktiknya. terutama investasi untuk rumah-rumah murah. Kasus-kasus ini dapat terjadi dalam kondisi ekonomi yang melesu pada daerah-daerah bisnis yang menyebabkan kekayaankekayaan pada daerah ini memiliki tingkat hasil yang tinggi atas penghasilan bila dibandingkan secara relatif terhadap nilai pasarnya. pengenaan pajak terjadi sebaliknya. Circuit Breaker Pajak kekayaan atas rumah tinggal dipandang sebagai beban bagi penduduk yang berusia tua. Distribusi Beban Pajak Kekayaan Beban atas pajak kekayaan merupakan hal yang kontroversial. seringkali tidak terjadi frekuensi penjualan rumah-rumah sejenis yang cukup untuk memberikan basis evaluasi nilai jual. Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia tua dan keluarga dengan penghasilan rendah. berdasarkan jenis rumah dan lokasinya. Pandangan lain Dasar-dasar Keuangan Publik . Satu pandangan menyatakan bahwa pajak kekayaan merupakan pajak atas penghasilan modal. suatu hal yang sangat penting dalam periode inflasi.202 tingkat bunga yang berbeda karena adanya premi risiko yang harus dibebankan pada kekayaan yang pertama. pengenaan pajak atas rente tanah atau mengenakan pajak atas nilai tanah (yang menunjukkan nilai kapitalisasi dari rentenya) telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif untuk menginvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan). pembendaan ini penting sekali karena berkaitan dengan pembebanan pajak. dikenakan dalam pasar-pasar yang kompetitif. Karena penawaran atas tanah jumlahnya tetap. Dalam sudut pandang ekonomi. Pada negara-negara tertentu. Walaupun penilaian dengan menggunakan nilai jual lebih disukai. keuntungan yang timbul dari kenaikan nilai tanah karena pertumbuhan populasi dan pendapatan dapat dipandang sebagai laba yang tidak diinginkan secara sosial.

Hal ini juga berlaku pada bangunan dan tanah. pengurangan dalam tingkat pengembalian bersih dari modal akan menekan persediaan modal. Dasar-dasar Keuangan Publik . seperti yang berlaku di Amerika Serikat. Bila dinyatakan dalam suatu persentase atas penghasilan aset. Dengan asumsi pasar modal yang dan prosedur penilaian yang sempurna. Beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai dari kekayaan. Hutang pajak berdasarkan pajak 5 persen atas nilai aset akan sebesar Rp5 juta. yang sesuai dengan tingkat bunga pasar yang sebesar 10 persen. modal yang diinvestasikan pada daerah-daerah bertarip tinggi tidak dapat bergerak dan pemiliknya harus menanggung beban pajak yang tinggi. Mereka tidak dapat mengurangi beban pajak dengan menjual aset yang dipajaki. Dalam suatu pasar di mana modal menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 10 persen. suatu pajak sebesar 5 persen yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. Pajak sebesar 5 persen atas nilai aset (pajak kekayaan) adalah sama dengan pajak sebesar 50 persen atas penghasilan kekayaan (pajak penghasilan). sehingga mengurangi produktivitas tenaga kerja di masa depan. kejadian pajak dari suatu pajak umum atas nilai aset modal yang dikenakan dengan tarip Rp5 juta per Rp100 juta nilai aset sama dengan kejadian pajak dari suatu pajak atas penghasilan dengan tarip 50 persen.203 membedakan berdasarkan jenis pengenaan dan menempatkan lebih banyak pembahasan pada konsekuensi-konsekuensi dari ketidaksempurnaan pasar. Bila PBB dikenakan secara Lokal. Dalam jangka panjang. distribusi beban pajak pada pajak umum atas penghasilan modal kembali berlaku. Dengan menggunakan rumus umum. pajak seperti itu akan mengurangi tingkat pengembalian bersih dari modal dan diserap oleh penerima penghasilan modal. Penerima beban pajak dalam jangka pendek adalah pemilik dari kekayaan lokal yang dikenai beban pajak yang lebih tinggi. sehingga kejadian pajaknya progresif. jumlah ini sama dengan 50 persen. maka tpY/i = ty atau tp = ity. Beban pajak diterima oleh pemilik yang memiliki kekayaan pada saat pajak tersebut dinaikkan. yang juga karenanya akan mendapatkan tanggungan beban pajak. nilai dari suatu aset pada pasar modal yang sempurna ditentukan dengan persamaan Y = iV. Dalam jangka pendek. Jika daerah dibebaskan untuk menentukan tarip atas pajak kekayaan. Pajak seperti ini dapat juga dipandang sebagai pajak atas penghasilan modal. Misalkan bahwa ada suatu pajak nasional atas semua barang modal. di mana V adalah nilai aset. dan i adalah tingkat bunga pasar. maka kejadian pajak akan terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. penghasilan ini sebagai bagian dari total penghasilan akan meningkat besarnya sejalan dengan peningkatan. Y adalah penghasilan tahunan. Dengan pengecualian pada sisi terendah. Misalkan aset tersebut memiliki nilai Rp100 juta dan memperoleh penghasilan tahunan sebesar Rp10 juta. Jika hasil yang sama akan diperoleh dari pajak kekayaan pada tingkat pajak tp dan suatu pajak atas penghasilan aset tersebut pada tingkat pajak ty. Pajak Kekayaan sebagai Pajak atas Penghasilan Modal Bila Pajak Kekayaan dikenakan secara Nasional. sehingga V = Y/i. Dengan demikian. Dengan kejadian ditentukan terutama dari sisi sumber.

pemilik tanah dan pemilik modal lainnya. pajak akan dinyatakan dalam bentuk pengurangan upah. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Bila tenaga kerja pada daerah berpajak tinggi cenderung merugi. tingkat pengembalian bruto atas modal pada daerah berpajak tinggi akan naik sedangkan tingkat pengembalian bruto atas modal pada daerah berpajak rendah akan turun. Pemilik berikutnya yang membeli aset tersebut akan melakukannya hanya pada harga yang lebih rendah sehingga tidak dibebani oleh pajak tersebut. Jika tenaga kerja tidak dapat berpindah. bagian pajak yang menyatakan nilai dari tanah tidak berubah. Demikian juga. beban pajaknya bersifat progresif. situasi seperti ini akan memunculkan pengaruh regresif. sehingga suatu aset yang menghasilkan Rp10 juta per tahun memiliki nilai sebesar Rp100 juta. Beban pajak jatuh pada pemilik aset mula-mula. Modal yang diinvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan) tidak akan melekat selamanya. Tanah tidak dapat dipindahkan. sama dengan tingkat pengembalian investasi-investasi lain yang tersedia. tenaga kerja pada daerah berpajak rendah cenderung beruntung. Pengaruh ini adalah yang paling penting bila Dasar-dasar Keuangan Publik . kita mengasumsikan kembali bahwa tingkat pengembalian atas modal sebelum pajak adalah 10 persen. Seperti situasi pada pajak perseroan. Jika pemilik aset yang semula ingin menjual aset tersebut. Jika tenaga kerja dapat berpindah dengan segera. Seberapa besar perpindahan modal dari daerah yang berpajak tinggi bergantung pada mobilitas keluar dari tenaga kerja. sehingga pemilik asli dari tanah pada daerah-daerah berpajak tinggi akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan bagiannya dalam pajak. ia harus menanggung kerugian pajak tersebut karena pembeli akan meminta suatu tingkat pengembalian sebesar 10 persen. tenaga kerja tersebut harus dibayar sebesar apa yang ia terima di tempat lain dan perpindahan modal akan semakin besar. Karena tenaga kerja yang tidak terampil cenderung kurang mudah bergerak daripada tenaga kerja terampil. suatu pajak yang dikenakan pada modal dalam satu sektor ekonomi akan dibagi bebannya oleh semua pemilik modal. Tidak ada perbedaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka panjang. pajak ini sama dengan pajak penghasilan sebesar 50 persen. Kerugiannya telah dikapitalisasikan dan tetap berada pada pemilik aslinya. Situasinya berbeda apabila yang dikenakan pajak adalah modal. Karena kepemilikan tanah lebih banyak pada wajib pajak berpenghasilan tinggi. Pengeluaran pemeliharaan atas aset-aset tua akan berkurang dan investasi baru pada daerah berpajak tinggi akan menurun. yang bila dikapitalisasikan pada tingkat 10 persen akan menurunkan nilai aset menjadi sebesar Rp50 juta. Sekarang asumsikan suatu daerah tempat aset tersebut mengenakan pajak kekayaan sebesar Rp5 juta untuk setiap Rp100 juta nilai aset. yaitu pemilik aset sebelum pengenaan pajak tersebut. modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. Penghasilan neto berkurang menjadi Rp5 juta. Sejalan dengan penurunan persediaan modal pada daerah berpajak tinggi dan kenaikan persediaan modal pada daerah berpajak rendah. Pergerakan ini akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain.204 Untuk mengilustrasikan fakta ini. Dalam jangka panjang.

semakin kecil pendapatan yang diperoleh dan semakin besar juga kenaikan sewa dan penurunan penghasilan yang dialami oleh penduduk yang berpajak tinggi. Tidak hanya penduduk lokal tidak mampu mengekspor beban pajak tersebut ketika ditagihkan. Dengan demikian. digunakan sebagai sumber pendapatan umum dan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi pajak. mendorong pada peningkatan nilai kekayaan. Pajak kekayaan. penduduk lokal tidak akan menikmati hal ini dalam jangka panjang ketika modal dapat berpindah ke luar. Jika semua pajak kekayaan dikenakan dalam kesesuaian kuat dengan prinsip manfaat. beban jangka pendek akan berada pada individu luar tersebut sedangkan penduduk lokal menikmati free ride. bergantung pada bagaimana pendapatan pajak diperoleh dan apa penggunaannya. Kenyataannya tidak demikian. Akibatnya. tidak berpengaruh atau naik. penduduk lokal merasakan bahwa sewa meningkat dan upah turun sedangkan pihak luar mengalami keuntungan. Jadi misalkan suatu kekayaan yang berada pada daerah A dimiliki oleh penduduk daerah B. Walaupun demikian. walaupun secara nasional tidak berpengaruh terhadap distribusi beban pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . Akan tetapi. Hal ini juga terjadi pada tingkatan internasional dalam hal perbedaan pajak antar negara. tetapi mereka juga mengalami kerugian terhadap pihak luar karena modal makin sedikit tersedia untuk mereka. Beban di Dalam versus Beban di Luar. Kebijakan pajak lokal akan melibatkan suatu pilihan yang sulit antara (1) laba yang diperoleh dari pemindahan beban pajak kepada pihak luar melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh orang asing dan (2) bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal asing. kedua pengaruh tadi akan saling menghilangkan dengan nilai kekayaan tidak bergantung pada tarip pajak. Sekarang. penyelidikan empiris menunjukkan bahwa nilai kekayaan berkaitan dengan pengeluaran dan juga perbedaan pajak. demikian pula penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai dari kekayaan dan menarik modal masuk. Perbaikan ini akan meningkatkan permintaan akan rumah dan bangunan. seperti PBB. Semakin besar perpindahan modal. Perbedaan Manfaat. sehingga menyatakan secara jelas pentingnya mempertimbangkan kedua aspek tersebut. Pajak nasional dan lokal yang akan menjadi perhatian suatu daerah lokal hanya bagian yang akan terbeban bagi penduduknya dan bukan bagian yang menjadi beban penduduk daerah lain. Sebagaimana kenaikan dalam tarip pajak kekayaan akan mengurangi nilai dari kekayaan dan mendorong perpindahan modal ke luar. dan karenanya menimbulkan efek sebaliknya dari kenaikan tarip pajak kekayaan.205 dipandang dari perspektif suatu daerah khusus. manfaat-manfaat dari pengeluaran-pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi tidak kurang dari beban pajaknya sehingga pengaruh kombinasi pajak dan pengeluaran akan menyebabkan nilai perumahan menjadi turun. Sekolah atau layanan-layanan lokal yang lebih baik akan membuat suatu kota atau daerah menjadi tempat yang lebih menarik untuk ditinggali dan menjadi lokasi bisnis.

Akan tetapi hasilnya akan berbeda bila pasar sewa tidak sempurna sebagaimana yang sering terjadi. Yang tersisa adalah pajak atas rumah tinggal. modal yang diinvestasikan pada rumah sewaan akan meminta tingkat penghasilan yang sama dengan modal-modal lain. Walaupun investor pada jasa-jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi dalam kerangka pajak kekayaan. Bagian dari distribusi beban pajak ini kemudian akan menjadi regresif. Distribusi pembebanannya cenderung progresif. Jika pasarnya kompetitif. Bagaimana pandangan pajak ini. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah daripada kombinasi ketiga pajak ini. misalkan separuhnya. dengan distribusi bebannya sejalan dengan penghasilan modal. mari kita bandingkan posisi mereka sebagai investor dalam jasa perumahan dengan posisi investor saham perusahaan. Sebagaimana masyarakat melihatnya. yang merupakan pajak atas pengeluaran perumahan. tetapi juga pajak penghasilan wajib pajak pribadi dan pajak penghasilan wajib pajak badan. kita dapat mengasumsikan suatu pasar yang tidak sempurna dan mempostulasikan bahwa sebagian dari pajak tersebut. pajak ini dipandang sebagai pajak atas jasa-jasa konsumsi perumahan. Sebagian dari pajak akan terserap dalam sewa-kepemilikan ini dan didistribusikan sejalan dengan konsumsi dan bukannya dibagi dengan semua penghasilan modal. Karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis dan tanah tidak dapat dipindahkan. pajaknya akan bersifat regresif. dipindahkan kepada konsumen. Pola-Pola Alternatif Bagian pajak yang dikenakan kepada tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan badan. dengan mempertimbangkan tidak hanya pajak kekayaan. tetapi (dalam kasus perumahan yang ditinggali pemiliknya) juga dipandang sebagai barang konsumsi yang tahan lama.206 Keadilan pengenaan PBB dan Pajak Penghasilan. Karena keberatan utama atas pajak kekayaan berasal dari pemilik rumah. Karena hal ini. tidak ada penghindaran atas pajak. Pajak dapat mengarah pada peningkatan batas atas sewa atau pelonggaran dari penentuan harga monopoli yang dibatasi sebelumnya. Dalam kasus ini. dapat direkonsiliasikan dengan interpretasi yang lebih awal. pemilik yang menempati akan bersedia menerima sewa imputed yang lebih rendah pada perumahan daripada pada investasi lainnya. di mana pemiliknya hanya mempertimbangkan pilihan investasi. Tingkat pajak kekayaan efektif cenderung akan tinggi pada lingkungan berpenghasilan rendah dan sebagian disebabkan oleh pengenaan Dasar-dasar Keuangan Publik . Karena pengeluaran perumahan akan menjadi bagian yang semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan. Penjelasan di atas tidak berlaku untuk kekayaan yang disewakan. Hasil ini menunjukkan tambahan beban yang harus ditanggung oleh pemegang saham karena pajak penghasilan wajib pajak badan dan juga perlakuan yang lebih baik kepada pemilik rumah dalam kerangka pajak penghasilan wajib pajak pribadi. yaitu pajak atas penghasilan modal? Kunci dari teka teki ini terletak pada fakta bahwa perumahan dapat dipandang sebagai pos investasi.

Aspek ini sangat penting pada negara-negara berkembang karena sulitnya mengenakan pajak atas penghasilan modal. dikenakan sebagai pajak pusat. dengan pendapatan dari pajak atas kekayaan bersih hanya merupakan bagian kecil (di bawah 5 persen) dari total pendapatan pajak. walaupun pada beberapa negara (seperti Jerman dan India) perseroan juga dipajaki. prinsip keseragaman harus diterapkan baik kepada sisi Dasar-dasar Keuangan Publik . Di kebanyakan negara. beberapa negara tidak membolehkan kewajiban tidak berkaitan dengan perolehan aset kena pajak. Untuk negara-negara lain. Negara yang menggunakan pajak ini umumnya menerapkannya sebagai tambahan atas pajak kekayaan. Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. Pengalaman berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih Pajak atas kekayaan bersih diberlakukan pada beberapa negara. pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap untuk pajak pengeluaran. Pajak atas kekayaan bersih. kekayaan bersih dari perusahaan harus diperhitungkan kepada pemiliknya. seperti Belanda. sehingga dapat memberikan perlakuan yang sama pada semua komponen kekayaan bersih. kecuali di Swiss. basisnya harus didefinisikan secara global. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi dan juga badan. Jerman. Pajak ini merupakan salah satu komponen penting dalam struktur pajak karena pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap dari cakupan atas penghasilan modal yang tidak efektif dalam kerangka pajak penghasilan. Sejalan dengan pandangan partnership dari pajak laba perusahaan. Orang pribadi diberikan pengecualian dan tarip pajak dapat proporsional (umumnya 1 persen atau kurang) atau progresif ( berkisar sampai 2. yaitu pajak atas kekayaan bersih. Tambahan beban pajak ini akan ditanggung pula oleh penyewa. Struktur dan Basis Pajak Basis Pajak.207 pajak pada tarip yang lebih tinggi di tengah-tengah kota pada lingkungan berpenghasilan rendah. kita membedakan antara argumentasi kemanfaatan yang menunjukkan perbedaan beban kepada pengguna dalam kekayaan yang dikenakan dengan basis in rem dan argumentasi kemampuan untuk membayar yang mengarahkan pada pajak atas kekayaan bersih yang dikenakan secara pribadi.5 persen). Sekarang kita bahas jenis pajak yang lain yang lebih menarik tetapi jarang digunakan. India dan beberapa negara Amerika Latin juga menggunakan pajak jenis ini. Akan tetapi. Oleh karena itu. pajak ini dikenakan hanya kepada individu. dan Swiss. Sebagaimana dalam hal pajak penghasilan. Pajak Atas Kekayaan Bersih Dalam mendiskusikan alasan pengenaan pajak atas kekayaan dan kekayaan. negara-negara Skandinavia. Selain itu. Pajak kekayaan (PBB) – yang diterapkan kurang lebih secara seragam sebagai pajak in rem kepada semua bumi dan bangunan dalam suatu daerah tertentu – tidak mengikuti kedua pola ini. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud dan dalam banyak kasus semua kewajiban hutang dapat dikurangkan.

000.000 150. yang posisi kekayaannya adalah berikut: Tabel 19.1: Basis Pajak A B Harta berwujud Hutang Piutang Kekayaan bersih 100. ada juga permasalahan dalam penilaian aset.208 aset maupun sisi kewajiban pada neraca. Kesulitan dalam mengadministrasikan suatu pajak atas kekayaan bersih yang baik cukup besar. aset yang menjadi subjek pajak kekayaan (terutama bila pengenaannya disamakan) dapat dinilai dengan cara itu.000 50. dapat dinilai berdasarkan harga penawaran di pasar. yaitu sebesar Rp150. Bila dikaitkan dengan administrasi pajak penghasilan. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan semuanya dimasukkan. pemerintah harus memastikan bahwa semua aset telah dinyatakan. Administrasi pajak atas kekayaan bersih mengharuskan adanya identifikasi atas aset kena pajak dan verifikasi atas hutang yang diklaim.000 10. dan secara khusus dengan administrasi pajak pengeluaran.000 60.000 dari suatu pajak sebesar 10 persen atas semua harta berwujud. A akan membayar sebesar Rp10. Untuk sisanya. Administrasi ini mengharuskan SPT yang melampirkan neraca tahunan yang berisi daftar harta dan kewajiban pembayar pajak.000 dan B akan membayar sebesar Rp5. Demikian juga. Semua instrumen hutang adalah antara orang pribadi. Misalnya hanya ada dua orang. Jika kita menagih sebesar Rp15.000 A+B 150. Selain itu. Mengukur Kekayaan Bersih. Akan tetapi. Berkenaan dengan akuntansi untuk asset. dapat memunculkan elemen self enforcement. yaitu A dan B.000.000 10. Kesulitan-kesulitan yang melekat dalam penilaian saat ini atas semua aset telah didiskusikan dalam kaitannya dengan pajak atas penghasilan modal. Perolehan aset harus dinyatakan untuk meminimalkan pajak pengeluaran. semua kewajiban hutang juga dikurangkan. Dengan demikian. Di sini juga perkiraan juga harus dipergunakan.000 Sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di atas. Peranan Harta tak Berwujud (Intangibles) Klaim kepada swasta. perkiraan yang kasar (seperti biaya perolehan dikurangi dengan penyusutan) harus digunakan. sedangkan aset lain. Jika kita mengumpulkan jumlah yang sama dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . basis total untuk suatu pajak atas harta berwujud dan kekayaan bersih akan sama. Kesulitan yang sama juga terjadi pada hutanghutang yang dapat dikurangkan. pernyataan ini akan menambah basis dari pajak atas kekayaan bersih. Semua aset berwujud dan tak berwujud. seperti sekuritas yang diperdagangkan. Tidaklah mengherankan bila pajak atas kekayaan bersih lama kelamaan akan terdegenerasi menjadi pajak atas bumi dan bangunan saja. Asumsikan suatu keadaan di mana tidak ada hutang publik atau uang yang dikeluarkan pemerintah. kesulitan ini tidaklah sangat besar.000 90.

112 dari B. yaitu sejalan dengan distribusi kekayaan. Ketika pajak atas kekayaan dikenakan. A akan membayar sebesar Rp9. Pasar sekali lagi akan mengkompensasikan untuk pengurangan tingkat pengembalian bersih dari kekayaan. pajak atas kekayaan bersih adalah bentuk yang paling baik dari pajak atas kekayaan.000 berdasarkan pajak atas kekayaan bersih tarip tetap akan mengharuskan pengenaan tarip sebesar 6. distribusi beban akan sama dengan yang terjadi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih. peminjam tidak akan bersedia membayar pada tingkat bunga yang sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya karena penghasilan neto mereka dari investasi pada kekayaan akan menurun.000 20.888 dari A dan Rp5.000 70. dengan pembayaran sebesar Rp10. hal ini menyarankan bahwa A akan lebih menyukai pajak atas kekayaan bersih sedangkan B akan lebih menyukai pajak kekayaan.000 90. Akan tetapi. Jika suatu tarip proposional dikenakan. tetapi beban A akan tetap lebih tinggi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih daripada pajak atas kekayaan. Misalnya tabel di atas dimodifikasi sebagai berikut: Tabel 19. dan mendapatkan Rp9.000 80. Pemberi pinjaman harus puas dengan suatu tingkat bunga yang lebih rendah. Klaim terhadap Pemerintah.000 B 60. Sesuai dengan tabel di atas. Dasar-dasar Keuangan Publik .000 240. apakah klaim itu dalam bentuk hutang publik atau uang yang didukung oleh kredit Bank Sentral. Pada akhirnya. Klaim-klaim seperti ini dapat menjadi tambahan pada basis kekayaan bersih bagi seluruh kelompok secara keseluruhan.000 dan B akan membayar sebesar Rp6. kita dapat melihat bahwa distribusi beban dari suatu tarip progresif pada kekayaan (di mana basis A dua kali basis B) akan berbeda dengan yang dikenakan pada basis kekayaan bersih (di mana basis A hanya lebih besar 50 persen daripada basis B).2: Basis Pajak Modifikasi A Kekayaan bersih dari tabel sebelumnya Klaim terhadap pemerintah Kekayaan bersih 90. Perbedaan lebih lanjut dapat terjadi jika kita mengasumsikan adanya klaim terhadap pemerintah.000 masing-masing.209 menggunakan pajak atas kekayaan bersih.2 persen.000 160. Untuk mendapatkan sejumlah pendapatan yang sama dengan pajak kekayaan. Karena pajak pribadi mengharuskan adanya pengenaan pajak berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar.000 A+B 150. pasar akan menyesuaikan seperlunya. Klaim seperti ini akan menambah kekayaan dari seseorang tanpa mengurangi kekayaan dari orang lainnya. penagihan sebesar Rp15.000 dan Rp5. pilihan diantara keduanya tidak ada permasalahan. sehingga sebagian beban dipindahkan dari A ke B. Pada awalnya. keduanya berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarip progresif.000 Dalam kasus ini. Sebaliknya.000. suatu tarip sebesar 10 persen.

akan tetapi asumsi mendasar tentang aplikasinya yang unik dan tanpa antisipasi menyebabkan pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal. Jika sifatnya benar-benar satu kali dan selamanya. bea ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasisituasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan inflasi setelah perang.210 Bea Atas Modal Satu bentuk pajak kekayaan lainnya adalah bea atas modal. Dasar-dasar Keuangan Publik . yang tidak diantisipasikan atau diharapkan akan terjadi kembali. Dikenakan sekali dan selamanya. Hal ini menambah daya tarik pajak jenis ini sebagai instrumen pajak redistribusi. bea seperti itu berbeda dari bentuk pajak kekayaan lainnya karena tidak ada efek-efek mengganggu terhadap tingkah laku ekonomi.

Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. suatu pajak atas kekayaan dapat diberlakukan. pajak atas warisan tidak akan menjadi sumber pendapatan utama suatu negara. Walaupun basisnya dikembangkan secara substansial. Orang pribadi dapat menggunakan harta mereka ketika mereka masih hidup tetapi hak kepemilikan mereka berakhir ketika meninggal. Akan tetapi. Dalam hal ini. Jika masyarakat ingin membolehkan warisan bebas sampai sejumlah tertentu. apabila tarip pajak yang dipakai tidak proporsional. Untuk alasan inilah pajak atas warisan secara potensial merupakan elemen yang penting dalam struktur pajak. Sekilas pandang. Tujuan dan Jenis Pajak Beberapa hal berikut yang memunculkan pengenaan pajak atas warisan pada suatu masyarakat: 1. Pajak atas warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun pada tingkatan lokal. Akan tetapi. Alasan-Alasan Pengenaan Pajak atas Warisan Pajak atas warisan dapat dikenakan dalam berbagai bentuk dan untuk berbagai alasan. perbedaan pengenaan ini dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak. suatu pengecualian dapat diberlakukan. pajak atas warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. Masyarakat mungkin ingin membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. Jika Dasar-dasar Keuangan Publik .211 B A B XX PAJAK ATAS WARISAN P ajak atas warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang tidak dikenakan setiap tahun tetapi dikenakan pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan. tidak ada perbedaan apakah pajak dikenakan atas warisan atau kepada penerima warisan.

212 masyarakat ingin menyita warisan yang melebihi suatu jumlah tertentu. Hal yang sama juga dapat dinyatakan untuk pernanan dari pajak atas warisan (yang berkaitan dengan konsumsi dari pewaris) sebagai koreksi untuk definisi basis yang efektif dalam hal pajak pengeluaran yang tidak memasukkan warisan dalam basisnya. dalam hal ini. Dalam hal ini. Masyarakat juga dapat membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan. 4. Pilihan di antara tujuan-tujuan ini dan pemilihan pajak yang tepat merupakan permasalahan yang harus dibedakan dengan pertanyaan bagaimana transaksi-transaksi pada saat kematian Dasar-dasar Keuangan Publik . 5. Masyarakat juga dapat mempunyai tujuan yang lebih umum mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil. pilihan antara pendekatan pajak atas warisan atau pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai dengan merancang pajak tersebut. keduanya tidak harus mutually exclusice. Walaupun tujuannya berbeda. 6. Oleh karena itu. 3. 2. tarip progresif dapat diterapkan. Eugino Rignano. Pandangan ini dapat dinyatakan bahwa penggantian kepada pajak atas warisan dari pajak atas penghasilan modal yang progresif akan mengurangi pengaruh disinsentif pada menabung dan investasi. Suatu masyarakat mungkin ingin menetapkan batasan-batasan yang semakin meningkat atas hak seseorang untuk memindahkan kekayaannya pada generasi-generasi berikutnya. dengan kekayaan dari warisan merupakan sumber lebih dari separuh kekayaan dari priapria kaya dan merupakan sumber hampir seluruh kekayaan wanitawanita kaya. Pajak atas warisan dapat dipandang sebagai suatu alternatif dari pajak atas penghasilan modal selama masa hidup penerimanya. Dalam hal ketiadaan memasukkan hal tersebut. suatu pendekatan yang pertama kali disarankan oleh ekonom Italia. penerimaan dari suatu warisan selayaknya dimasukkan sebagai penghasilan bagi ahli waris. Pajak atas warisan dapat digunakan untuk mengurangi ketidakadilan dalam distribusi kekayaan ini. pajak dapat diterapkan kepada ahli waris. Tradisi pewarisan merupakan satu faktor utama yang menimbulkan konsentrasi kekayaan. tingkatan tarip pajak atas warisan yang dapat diterapkan akan naik ketika kekayaan diwariskan secara berurutan. Berdasarkan pendekatan tambahan kemampuan ekonomis dari pajak penghasilan. masyarakat dapat menerapkan pajak atas warisan (yang mengurangi hak pewaris membagikan hartanya) dan pajak kepada ahli waris yang dirancang untuk membatasi hak ahli waris untuk menerima dan/atau mengkompensasikan ketidaktercakupan warisan ke dalam penghasilan kena pajak. yaitu tanpa usahanya sendiri. Hanya jika tarip pajaknya proporsional tidak ada perbedaan di antara keduanya. suatu tarip pajak 100 persen di atas batas tersebut dapat diberlakukan. Jika diinginkan untuk membolehkan beberapa perolehan harta melalui warisan tetapi membedakan antara perolehan-perolehan besar dan kecil. Pajak pada saat kematian dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan daripada sebagai tambahan pajak atas transfer. Dalam mencapai tujuan 1 dan 3 di atas. suatu pajak atas warisan (yang taripnya dikaitkan dengan penghasilan dari ahli waris) dapat dipandang sebagai koreksi definisi penghasilan yang kurang baik.

Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. akan tetapi pembebasan pajak ini mendorong timbulnya kendali privat yang tinggi dalam penggunaan dana yang sebenarnya dana publik. pembayaran pajak akan mengharuskan suatu likuidasi. Peranan dari sumbangan sosial dalam pajak warisan. bukannya sebesar harga perolehan aslinya. Bisnis Keluarga.213 (penerimaan suatu warisan atau memberikan warisan) harus diperlakukan dalam suatu pajak penghasilan atau pengeluaran. sosial dan politik yang sudah di luar pembahasan kebijakan pajak. Apabila salah satu pasangan meninggal. warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup bebas dari pajak. Salah satu keberatan yang dimunculkan adalah pajak atas warisan dapat membuat ahli waris harus melikuidasi perusahaan dengan persyaratan-persyaratan yang tidak menguntungkan dalam rangka membayar pajak tersebut. Sumbangan sosial juga penting dalam pajak atas warisan/hibah. Para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. terjadi juga pada pajak warisan. hanya peningkatan harga dari saat kematian saja yang diperhitungkan. Jadi. Di Amerika Serikat. Basis yang baru ini kemudian digunakan untuk tujuan pemajakan atas penghasilan modal pada saat penjualan aset tersebut oleh ahli waris. Hal ini sesuai dengan pendekatan unit keluarga dalam pajak penghasilan. walaupun sebelum kematian kepemilikannya terpisah. Harta yang diwariskan kepada pasangan yang masih hidup diperlakukan seolah-olah harta tersebut adalah harta bersama. melibatkan persoalanpersoalan budaya. aturan sampai seberapa jauh hubungan kekeluargaan menyebabkan pengecualian dari pengenaan pajak sangat bergantung pada peranan keluarga dalam kaitannya dengan hak untuk memindahkan harta setelah meninggal. Walaupun demikian. Konsekuensi yang mungkin sulit dicegah adalah gangguan atau pengurangan terhadap kendali keluarga atas bisnis sebagai akibat dari pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga. Unit tersebut dapat dijual secara keseluruhan atau sebagian dari ekuitas dapat dipindahkan kepada pihak luar. Pada umumnya tidak ada batasan pengurangan atas sumbangan sosial dalam kerangka pajak atas warisan. Organisasi-organisasi yang didukung oleh sumbangan-sumbangan tidak kena pajak telah mencapai tujuan-tujuan yang berguna yang tidak dapat dicapai oleh anggaran negara. sebagaimana juga dalam pajak penghasilan. yang tidak harus melibatkan pemecahan unit usaha. Pengurangan karena Status Pernikahan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Keberatan ini sebenarnya bukan masalah besar karena dapat diatasi dengan aturan-aturan yang liberal untuk pembayaran yang dicicil atau ditunda. Permasalahan-Permasalahan Khusus Capital gain. membuat peningkatan harga sebelum kematian tidak dipajaki. Permasalahan perlakuan terhadap unit keluarga yang muncul pada pajak penghasilan. Kontribusi bagi Lembaga Sosial. aset untuk tujuan pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal. Walaupun demikian.

Dasar-dasar Keuangan Publik . dan Mendiskontokan manfaat yang akan datang. teknik. Mengevaluasi dan mengkonversi manfaat dan biaya tersebut kedalam suatu nilai uang. Tujuan analisis ini adalah untuk meyakinkan pengambil keputusan bahwa proyek yang akan dilaksanakan adalah yang paling efisien dan memiliki marginal benefit yang lebih besar dari marginal cost nya. Dalam mengukur manfaat.214 B A B XXI ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA ATAS BARANG DAN JASA SOSIAL nalisis manfaat dan biaya (cost benefit analysis) adalah suatu cara untuk menentukan bobot dari berbagai alternatif proyek pemerintah. Biaya pun harus diterapkan dengan benar. harus memperhitungkan pula seluruh dampak sampingan (externalities) yang timbul dari proyek tersebut. Ada tiga langkah pokok dalam melakukan analisis manfaat dan biaya Mengidentifikasi manfaat dan biaya dari setiap proyek yang diusulkan. 3. termasuk menghitung manfaat yang dikorbankan (opportunity cost) karena melepaskan alternatif proyek. Tingkat diskonto juga harus ditentukan dengan benar guna membandingkan manfaat sekarang dan manfaat yang akan datang dari berbagai alternatif proyek. namun analisis manfaat dan biaya yang benar membutuhkan kombinasi dari keahlian ekonomi. Analisis ini akan menyajikan informasi yang berguna bagi pengambil keputusan dalam menentukan proyek yang akan dilaksanakan dari berbagai alternatif proyek yang diajukan. 2. dan logika. Langkah tersebut bertujuan untuk mengetahui nilai sekarang (present value) dari manfaat proyek dibandingkan dengan anggaran biaya yang dibutuhkan untuk membiayai proyek tersebut. Walau langkah-langkah diatas terlihat sederhana. A yaitu: 1.

Contoh. hanya kenaikan riil pada output atau kesejahteraan saja yang perlu diperhitungkan. Manfaat langsung adalah manfaat yang diterima oleh pihak-pihak yang terkait langsung dengan output dari proyek yang bersangkutan. Manfaat dapat dibagi kedalam dua kategori yaitu. Dalam menilai output dari suatu proyek diperlukan estimasi mengenai permintaan dan surplus konsumen atas Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh. manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. Biayabiaya yang timbul akibat kesulitan air tersebut harus pula dimasukkan sebagai biaya dalam proyek pembangunan bendungan itu. nilai tanah yang dilalui proyek irigasi diperkirakan akan bertambah mahal karena disamping harga tanah itu sendiri. Dalam proyek peningkatan keselamatan kerja. yang menjadi manfaat tidak langsung adalah meningkatnya kesuburan tanah di daerah yang tidak dilewati jaringan irigasi secara langsung. disamping memasukkan unsur biaya langsung. Pada proyek-proyek tertentu terdapat kendala dalam menghitung besarnya manfaat yang diperoleh. kita harus memperhitungkan pula biaya tidak langsung (externalities) yang timbul karena proyek tersebut. maka kita telah melakukan penghitungan ganda karena hasil panen sudah tercermin dalam harga tanah. Manfaat tidak langsung adalah manfaat yang diterima oleh pihak-pihak yang tidak terkait langsung dengan output proyek yang bersangkutan. Sebagai contoh.215 Mengidentifikasi Manfaat dan Biaya Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan proyek-proyek yang diusulkan beserta masing-masing outputnya. manfaat dapat mencakup kenaikan produksi sebagai akibat berkurangnya kecelakaan kerja. kenaikan penghasilan yang dinikmati orang yang menerima proyek pendidikan dapat juga dimasukkan sebagai manfaat proyek tersebut. Selanjutnya. suatu proyek pembangunan bendungan telah menyebabkan beberapa daerah menjadi kekurangan air. Oleh karena itu bila kita memasukkan kenaikan harga tanah dan juga hasil panennya dalam menghitung manfaat. mengidentifikasi biaya yang dibutuhkan serta manfaat yang dihasilkan selama umur ekonomis proyek tersebut. perlu juga diperhatikan jangan sampai terjadi perhitungan ganda. Mengevaluasi dan Mengkonversi Manfaat dan Biaya Setelah berhasil mengidentifikasi seluruh manfaat dan biaya yang timbul. Dalam menghitung manfaat. Selain itu. maka langkah selanjutnya adalah mengevaluasi serta mengkonversi manfaat dan biaya tersebut kedalam nilai uang tertentu. Dalam contoh irigasi diatas. Dalam menghitung biaya proyek. dalam suatu proyek irigasi yang bertujuan untuk meningkatkan areal persawahan maka yang menjadi manfaat langsung adalah seluruh hasil bersih yang diperoleh petani yang tinggal di areal yang dilalui oleh jaringan irigasi tersebut. Misalnya. orang akan memperhitungkan pula potensi lahan yang dapat dikembangkan. bagaimana cara mengkuantifkan manfaat dari proyek pendidikan maupun proyek kesehatan? Dalam proyek pendidikan.

Kesulitan lain dapat pula timbul apabila input maupun output suatu proyek merupakan barang yang dapat dipasarkan namun harganya tidak sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya. 95. 95. 100 setahun yang akan datang.Secara umum. dalam menghitung manfaat proyek kita harus menurunkan harga output agar sesuai dengan kondisi harga pasar yang sebenarnya. kita sulit menentukan secara langsung manfaat proyek tersebut mengingat outputnya dinikmati oleh masyarakat secara kolektif. kita harus menaikkan harga bahan bakar tersebut dalam menghitung biaya yang dibutuhkan suatu proyek. Bila harga input yang digunakan terlalu rendah karena input tersebut menerima subsidi. Alternatifnya.24 akan menjadi Rp. 100 satu tahun yang akan datang. semakin rendah present value dari X. maka hanya dengan menyimpan uang sebesar Rp. Misalnya. Diakhir tahun.24 adalah present value dari Rp. 100. Tingkat suku bunga. 95. Oleh karena itu.24 + (Rp.24 sekarang kita akan mendapatkan Rp. Nilai Rp. Cara yang sama juga dapat diterapkan untuk menghitung manfaat proyek pendidikan. dalam proyek yang akan menghasilkan padi. 95. dengan asumsi suku bunga perbankan positif. Kesulitan baru timbul bila hasil proyek tidak bisa dijual atau merupakan benda yang tidak berwujud. manfaat proyek dapat diestimasi dengan cara menghitung besarnya kenaikan penghasilan yang dinikmati oleh masyarakat yang menjadi obyek proyek kesehatan tersebut. r.24)(0. Jika tingkat suku bunga bank sebesar 5% setahun.216 output yang bersangkutan. disebut juga sosial rate of discount yang digunakan untuk menghitung present value dari penerimaan dimasa yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Misalnya. 95. present value (PV) dapat dihitung dengan rumus sbb: PV = dimana: X (1 + r )n X = adalah nilai uang masa yang akan datang r = tingkat suku bunga n = jangka waktu Semakin tinggi kita menerapkan tingkat suku bunga. namun karena pasokannya dimonopoli oleh PLN maka harga listrik yang diterapkan adalah harga monopolistik yang lebih tinggi dibanding dengan harga pasar persaingan sempurna. misalnya bahan bakar. Demikian pula dengan faktor input. Mendiskonto Manfaat yang akan datang Alasan kita melakukan diskonto karena nilai uang Rp 100 saat ini lebih tinggi dibanding nilai uang Rp 100 di masa yang akan datang. kita memerlukan estimasi permintaan dan surplus konsumen terhadap komoditi padi untuk menghitung manfaat dari proyek tersebut. uang sebesar Rp. Sebagai contoh.05) = Rp. listrik merupakan output proyek pembangkit listrik yang dapat dipasarkan. dalam proyek peningkatan kesehatan masyarakat.

100 = Rp. Bila suatu proyek menghasilkan penerimaan sebesar Xi per tahun selama beberapa tahun mendatang. yang akan dipilih salah satunya untuk dilaksanakan. PV = X1 X2 + 1 (1 + r ) (1 + r ) 2 Pengaruh Tingkat Diskonto terhadap Present Value Mengapa memilih tingkat diskonto yang tepat merupakan hal yang penting? Pertama. Namun demikian. Berikut ini disajikan ilustrasi pengaruh tingkat diskonto yang berbeda dalam memilih suatu proyek.1)2 Dasar-dasar Keuangan Publik . 90 pada saat itu juga. Tingkat diskonto yang rendah cenderung menguntungkan proyek yang berjangka panjang dibanding proyek yang berjangka lebih pendek.6 (1 + 0.90. maka present value dari seluruh penerimaan tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: PV = ∑ Xi i i =1 (1 + i ) n Misalnya. present value seluruh penerimaan tersebut adalah. dan X2 pada tahun kedua.7 (1 + 0.82.1: Tingkat Diskonto dan Peringkat Proyek Present value Present Value Proyek A Proyek B Rp. 100 pada tahun kedua. Pada tingkat tingkat diskonto 0 %. jika suatu proyek menghasilkan penerimaan sebesar X1 pada tahun pertama.100 (1 + 0) 2 Rp.100 = Rp. 90 Rp.100 = Rp. penentuan tingkat diskonto akan berdampak pada peringkat proyek yang diajukan. present value dari dua proyek tersebut adalah sebagai berikut. karena dalam rangka mengevaluasi manfaat dan biaya secara akurat. 90 Rp. Proyek A menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp. dan 10 %. Proyek B menghasilkan Rp. Suatu analisis yang sudah menetapkan tingkat diskonto secara tepat namun salah dalam mengkalkulasi manfaat dan biayanya maka akan menghasilkan informasi yang menyesatkan. Diasumsikan ada 2 alternatif proyek. 90 Rp.05)2 Rp.217 akan datang. Tingkat Diskonto 0% 5% 10% Tabel 21. 5 %. 0 pada tahun pertama dan Rp. Seluruh tahap dalam menganalisis manfaat dan biaya adalah sama pentingnya bila hendak menghasilkan informasi yang akurat.

90 karena langsung menghasilkan manfaat di awal proyek. Menentukan Tingkat diskonto Sosial (Social Rate of Discount) Tingkat diskonto sosial mencerminkan tingkat return yang dapat dihasilkan dari suatu dana jika dikelola pada sektor swasta atau masyarakat. Sejauh ini. pajak.218 Present value Proyek A selalu Rp. tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat suku bunga umum yang dipakai untuk menghitung bunga tabungan dan investasi oleh masyarakat. Namun pada tingkat diskonto 10 %. Bila dalam investasinya tersebut perusahaan harus membayar bunga sebesar 10 persen atas dana yang dipinjamnya. Alasan kedua perlunya ditentukan tingkat diskonto secara akurat adalah semakin besar tingkat diskonto yang digunakan maka akan semakin banyak proyek-proyek pemerintah yang akan ditolak pelaksanaannya. semakin besar tingkat diskonto yang digunakan. maka keuntungan bersih perusahaan dari hasil investasinya hanya setengah dari keuntungan aktual yang diperoleh. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 21. maka proyek pemerintah harus dapat menghasilkan manfaat yang sama atau lebih besar dari 10 persen agar ada aliran dana dari sektor swasta ke sektor publik. Present value Proyek B bervariasi tergantung pada tingkat diskontonya. dana tersebut tidak boleh digunakan oleh pemerintah jika ternyata alternatif penggunaannya di sektor swasta menghasilkan manfaat sosial yang lebih tinggi. Secara umum. Tingkat diskonto sosial merupakan opportunity cost dari dana tersebut bila digunakan untuk membiayai proyek-proyek pemerintah.1 Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh. Suatu proyek yang menghasilkan present value negatif akan dapat menjadi positif bila menggunakan tingkat diskonto yang lebih rendah. Proyek A lebih menguntungkan dibanding Proyek B. Tingkat diskonto yang lebih besar dari bunga tabungan berarti opportunity cost belanja pemerintah lebih besar dibanding kepuasan masyarakat yang hilang. Tingkat diskonto sosial merupakan tingkat suku bunga dimana baik penabung maupun investor rela melepaskan dananya guna membiayai kegiatan atau proyek pemerintah. Tingkat return yang diharapkan oleh penabung dan investor tidak selalu sama karena adanya distorsi dalam perekonomian (misalnya pajak). beserta keuntungan yang diharapkan. maka dana tersebut harus dapat menghasilkan keuntungan lebih dari 20 persen supaya dapat menutup biaya bunga. Pada Tabel 8. Agar tidak timbul pemborosan. semakin kecil nilai manfaat yang diterima dimasa yang akan datang. Penggunaan tingkat diskonto sosial sebagai tingkat diskonto dalam menganalisis suatu proyek adalah untuk meyakinkan bahwa tidak terjadi salah kalkulasi dalam menganalisis manfaat dan biaya proyek. Sebagai contoh. jika perusahaan dikenakan pajak penghasilan sebesar 50 persen. Hal ini berarti pemerintah dituntut untuk lebih efisien agar dapat menerapkan tingkat diskonto yang lebih rendah. jika suku bunga tabungan adalah sebesar 10 persen.1 terlihat bahwa present value Proyek B lebih besar daripada present value Proyek A pada tingkat diskonto 0 % dan 5 %.

maka Dasar-dasar Keuangan Publik . Sekarang.1.1 Pengaruh Pajak terhadap Tingkat Return S 20 = rg Return (persen) 16 E i = 10 = rn E’ D = keuntungan D’ = keuntungan setelah pajak 0 F2 F1 Dana tabungan dan investasi per tahun Pada Gambar 21. Penerimaan kotor (gross return) yang diperoleh perusahaan. Dampak pengenaan pajak penghasilan ini adalah penerimaan bersih investor turun hingga setengahnya. dan dalam contoh ini diumpamakan sebesar 16 persen. Jika dana sebesar F2 ini hendak diinvestasikan ke proyek pemerintah.219 Gambar 21. Titik keseimbangan yang baru sekarang terletak di E’. Pada Tabel 8. diasumsikan investor dikenakan pajak penghasilan sebesar 50 persen sedangkan bunga tabungan tetap tidak dikenakan pajak. Setiap titik dalam kurva S menggambarkan suku bunga yang harus dibayarkan kepada penabung agar mau menyimpan dananya untuk kepentingan investasi. Gross return sebesar 20 persen ini hanya akan menghasilkan penghasilan neto sebesar 10 persen (rn). Pada kondisi tidak ada pajak. akan sama dengan bunga yang dibayarkan kepada penabung. semakin sedikit dana yang diminta oleh investor untuk diinvestasikan. titik keseimbangan pasar akan terjadi pada titik E.2. hal ini digambarkan oleh pergeseran kurva D ke D’. Setiap titik dalam kurva ini menunjukkan gross return yang diperoleh perusahaan atau investor untuk setiap dana yang diinvestasikannya. Akibat turunnya dana yang diinvestasikan dari F1 ke F2 per tahun. Semakin tinggi tingkat bunga. gross return yang dikehendaki investor naik menjadi 20 persen (rg) karena harus membayar pajak. Kurva S adalah supply dana yang siap diinvestasikan. semakin banyak dana yang disediakan oleh penabung. Semakin tinggi gross return. rg. kurva D adalah tingkat permintaan dana untuk investasi tanpa dipengaruhi pajak.

000 1. Pertama.000. Nominal tingkat bunga adalah tingkat bunga murni ditambah dengan tingkat inflasi.000 1.1. yang mempunyai jangka waktu selama 1 dan 2 tahun. kemudian tingkat inflasinya disesuaikan.000 Tingkat Inflasi pertahun adalah 5%. Hasil dari penyesuaian terhadap inflasi adalah sebagai berikut Tahun 0 1 2 Net Benefit Proyek A . kita perhitungkan dahulu pengaruh tingkat inflasi terhadap net benefit yang diterima pada tahun ke-1 dan ke-2. jika faktor risiko tidak diperhitungkan maka titik keseimbangan pasar akan terletak pada rate sebesar 10 persen.102.000.1. manfaat dan biaya suatu proyek diperhitungkan dahulu. opportunity cost nya hanya 10 persen. A dan B. Hal lain yang dapat mempengaruhi tingkat diskonto selain pajak adalah tingkat risiko.000. Jika memasukkan faktor risiko dan inflasi dalam menghitung penghasilan neto. Semakin tinggi faktor risiko suatu proyek. bila dana tersebut digunakan untuk konsumsi. NPV manfaat dan biaya yang sudah memasukkan unsur inflasi tersebut didiskonto dengan menggunakan nilai nominal tingkat bunga.500. Tahun 0 1 2 Net Benefit Proyek A . Dalam contoh diatas.1.000 1.500 Dasar-dasar Keuangan Publik . Nominal Tingkat Bunga adalah 15% Bila menggunakan cara pertama.000 Net Benefit Proyek B .000 500. Manfaat bersih (net benefit) kedua proyek tersebut adalah sebagai berikut. maka NPV nya dihitung dengan menggunakan tingkat suku bunga murni saja (yaitu nominal interest rate setelah dikurangi tingkat inflasi). Contoh: Ada 2 proyek yang diajukan.000 Net Benefit Proyek B . semakin tinggi pula gross return yang diharapkan dari proyek tersebut. Kedua.000.000 1.220 tingkat diskonto yang digunakan adalah 20 persen. maka investor akan menginginkan gross return yang lebih tinggi lagi.000. bila manfaat dan biaya dihitung tanpa memperhitungkan inflasi. Dan.575. dalam contoh diatas bisa lebih tinggi dari 20 persen. Pengaruh Inflasi Inflasi dapat menjadi masalah dalam analisis manfaat dan biaya karena ia mempengarungi net present value dari manfaat bersih suatu proyek. Namun.000 525.1. Ada dua alternatif cara untuk mengatasi masalah inflasi ini.

maka biasanya mereka akan diurut sesuai dengan besarnya NPV manfaat bersih yang dihasilkan oleh masingmasing proyek tersebut.000 500.000 + = 369.000 1.000. Tingkat suku bunga murni pada contoh ini adalah 10% (15% .000. maka proyek yang dipilih adalah proyek yang menghasilkan manfaat bersih yang paling besar.000 NPV ( B) = + + = 280. NPV proyek A dan B dihitung dengan menggunakan nominal tingkat bunga sebagai tingkat diskonto nya.5%). Perhitungannya adalah sebagai berikut: − 1.000 1.000. Maka. Ada tiga kriteria dalam menentukan peringkat proyek.000 + = 363.102.575.000 525. perhitungan dengan cara kedua akan menghasilkan NPV sebagai berikut: − 1.500 NPV ( B) = + + = 290.636 (1 + 10%)0 (1 + 10%)1 − 1. yaitu memilih melaksanakan Proyek A karena ia menghasilkan NPV manfaat bersih yang paling besar. Benefit-Cost ratio Dasar-dasar Keuangan Publik .565 (1 + 15%)0 (1 + 15%)1 − 1. 2. Net Benefit Criterion (Net Present Value) Dengan kriteria ini. proyek yang menghasilkan manfaat bersih positif akan dipertimbangkan untuk dilaksanakan.000.500. Menentukan Peringkat Proyek Jika ada beberapa proyek yang diajukan. Rumus yang digunakan untuk menghitung Net Benefit Criterion adalah Net _ Benefit _ Criterion :B − C = ∑ dimana: Bi = manfaat tahun ke-i Ci = biaya tahun ke-I r = tingkat diskonto ( Bi − Ci ) i i =1 (1 + r ) n Jika ada beberapa proyek yang menghasilkan manfaat bersih positif. yaitu: 1.000 1.000.221 Setelah itu. NPV proyek A dan B dihitung dengan menggunakan tingkat suku bunga murni sebagai tingkat diskonto nya.991 (1 + 10%)0 (1 + 10%)1 (1 + 10%)2 NPV ( A) = Perhitungan dengan cara pertama maupun kedua menghasilkan NPV yang hampir sama dan keputusan yang diambil pun sama.170 (1 + 15%)0 (1 + 15%)1 (1 + 15%)2 NPV ( A) = Bila menggunakan cara kedua.000 1.

000 (200.000 1.000. Bila ada beberapa proyek menghasilkan rasio diatas 1.000 3 750.000 1.000 200.000 1. peringkat proyek tersebut dapat ditentukan sebagai berikut.000 2.000 (200.900.000 100.000 250.000 1.000 1.000) 1. Proyeksi penerimaan dan pengeluaran dari masing-masing proyek tersebut adalah sebagai berikut.000 100. maka yang dipilih adalah proyek dengan rasio paling besar.000) 0 200.222 Benefit-Cost ratio merupakan modifikasi dari Net Benefit Criterion.000 200.000 1.000 250.000.900.000 1.000 0 (100.000 2.900.550. Analisis masing-masing proyek adalah sebagai berikut: Proyek A Net Benefit Criterion: NBC = (100.000) 50.490 Dasar-dasar Keuangan Publik . Arus Penerimaan dan Pengeluaran Proyek (dalam ribuan rupiah) Proyek A Proyek B Tahun Penerimaan Pengeluaran Net Benefit Penerimaan Pengeluaran Net Benefit 0 100.900.000) (200.000 1.000 750.350. Ada dua usulan yang diajukan yaitu Proyek A dan Proyek B. Contoh: Anggota DPRD suatu daerah sedang mempertimbangkan usulan pemda setempat untuk mengucurkan dana guna membiayai proyek pemanfaatan lahan kosong.000) 750.000 200.000 1.000 1.350.000 200.119.550.550.000) 0 200.000 Bila tingkat suku bunga yang berlaku adalah 5% per tahun.000 1.350.000 4 1.000 250.000 2 750.000.000 5 1. Rumus yang digunakan untuk menghitung adalah B Benefit − Cost _ Ratio : = C dimana: Bi = manfaat tahun ke-i Ci = biaya tahun ke-I r = tingkat diskonto ∑ B (1 + r ) i n i ∑ C (1 + r ) i i =1 i =1 n i Pada kriteria Benefit-Cost Ratio.000.350.000 1 (200. proyek yang dipilih adalah yang menghasilkan rasio lebih dari 1 (satu).550.000 + + + + + 0 1 2 (1 + 5%) (1 + 5%) (1 + 5%) (1 + 5%)3 (1 + 5%)4 (1 + 5%)5 = 6.

05)0 (1. Di negara berkembang seperti di Indonesia..000 + . sehingga DPRD sebaiknya memilih Proyek A untuk dilaksanakan. Bila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga pasar maka proyek layak dilaksanakan..05)1 (1.000 + + + + + (1 + 5%)0 (1 + 5%)1 (1 + 5%)2 (1 + 5%)3 (1 + 5%)4 (1 + 5%)5 = 6.05)1 (1.000 (1.900. + 100.000 (1.082 Benefit-Cost Ratio: + 0 + . Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return adalah tingkat suku bunga pada posisi apabila selisih antara present value manfaat dan present value biaya sama dengan nol (PV manfaat – PV biaya = 0).350.000) 1.000) (200.550.05)5 7. tingkat suku bunga pada kondisi proyek tersebut mencapai titik impas.005. Ketiga metode analisis tersebut di atas hanya merupakan salah satu ukuran untuk dapat menolak atau menerima pelaksanaan proyek.365.350.05)1 (1.000 1..296.000 + 250. Rumus untuk mencari IRR adalah sebagai berikut: IRR = ∑ i =1 n ( Bi − C i ) =0 (1 + r ) i IRR adalah tingkat suku bunga ( r ) yang diperlukan untuk menghasilkan NPV = 0.05)0 (1.000 + .05)1 (1. + 200.05)0 (1. maka proyek dengan IRR yang tertinggilah yang akan dilaksanakan.2 1..000 + . + 1.000 1.05)5 B / C _ Ratio = 100.200 = = 6.414 1.05)5 7.710 0 Proyek B Net Benefit Criterion: NBC = (200. Dengan kata lain.223 Benefit-Cost Ratio: + 50.360.. Proyek A memiliki peringkat diatas Proyek B. Jika ada dua atau lebih proyek yang memiliki IRR diatas suku bunga pasar.350.000 (1.000 (1. 3. + 1.. pemilihan proyek tidak hanya diukur dari manfaat dan biaya semata. dan bila IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga pasar maka proyek tersebut tidak layak dilaksanakan.464 = = 5.05)5 B / C _ Ratio = 200.05)0 (1. Dasar-dasar Keuangan Publik .000 1..350.382 0 Berdasarkan analisis Net Benefit Criterion dan Benefit-Cost Ratio.176.000 + 200..

224 namun juga harus memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memberikan kesejahteraan menyeluruh secara nasional. karena tujuan pemilihan proyek adalah memaksimalkan kemakmuran secara keseluruhan dan bukan memaksimalkan keuntungan per proyek saja. Dasar-dasar Keuangan Publik .

apabila dibandingkan dengan total pendapatan nasional. dan porsi barang publik selalu menunjukkan peningkatan. Belanja publik juga cenderung mengalami kenaikan porsinya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Dalam memahami faktor penyebab pertumbuhan belanja publik. Implikasinya adalah bahwa kebijakan anggaran yang efisien menghendaki adanya peningkatan rasio pembelian pemerintah terhadap pendapatan nasional.225 B A B XXII STRUKTUR BELANJA PUBLIK B ab ini berkaitan dengan struktur belanja publik dan permasalahan kebijakan dalam penyusunan program belanja. Kedua faktor ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain. Faktor belanja barang dan jasa. Kajian-kajian struktur belanja publik perlu mempertimbangkan kondisi objektif ini. dan belanja transfer. Pertumbuhan belanja publik sangat erat kaitannya dengan tuntutan kemajuan masyarakat dan dikehendakinya pertimbangan sosial yang diperankan oleh pemerintah dalam menjalankan kebijakannya. perlu dibedakan faktor antara belanja barang dan jasa. Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa diantaranya adalah sebagai berikut: Pertumbuhan Pendapatan per Kapita Proporsi antara barang pribadi dan barang publik selalu berubah sesuai dengan kenaikan pendapatan per kapita. Dari studi empiris telah dibuktikan bahwa belanja publik menunjukkan angka yang cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

barang-barang pelayanan umum yang merupakan barang mewah. seperti pendidikan tinggi dan pelayanan kesehatan. Dasar-dasar Keuangan Publik . akan mengalami kecenderungan yang semakin meningkat.mengalami kecenderungan menurun. pembangunan ekonomi menimbulkan kebutuhan khusus terhadap barang modal. Jika teknologi berubah. Sedangkan kebutuhan lainnya. sehingga tidak mudah dilakukan oleh pihak swasta. maka pola konsumsi bagi perekonomian diharapkan akan meningkat pula.226 Biasanya. Permintaan barang publik akan semakin meningkat dengan meningkatnya pendapatan per kapita. seperti penyelidikan angkasa luar dan pangkalan perahu. yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan investasi pemerintah. pelabuhan dan instalasi listrik.seperti keamanan. investasi dalam sumber daya manusia dan biaya pendidikan akan mengalami peningkatan selama pendapatan meningkat seiring dengan laju pembangunan. Barang publik yang merupakan kebutuhan dasar (bukan kemewahan) . dapat disimpulkan bahwa tidak dapat diestimasikan secara tepat kecenderungan yang akan terjadi pada belanja publik untuk barang konsumsi dan barang modal yang diakibatkan pertumbuhan pendapatan per kapita. Dengan demikian. Kebutuhan akan barang modal ini harus lebih besar pada awal pembangunan ekonomi. seperti polusi dan kemacetan kota. dimana belanja modal diperlukan dalam jumlah yang besar yang memerlukan pengembalian jangka panjang. Kadang kecenderungannya meningkat. kecenderungan seperti diatas mempunyai dua kemungkinan. dan kadang menurun. Selama pendapatan rata-rata meningkat. Pengamatan bisa dilakukan juga pada belanja publik dalam penyediaan barang modal. Pada tahap awal. Akhirnya. Barang modal tersebut mempunyai manfaat yang bersifat eksternal. maka proses produksi juga berubah. peningkatan per kapita seiring dengan perkembangan perekonomian yang berubah dari negara agraris (yang diasumsikan berpendapatan rendah) menjadi negara industri (yang diasumsikan berpendapatan tinggi). Perubahan Teknologi Perubahan teknologi mempunyai pengaruh penting dalam pertumbuhan porsi belanja publik. Untuk barang publik. Perubahan teknologi dapat meningkatkan atau menurunkan kepentingan penyediaan barang publik yang mempunyai manfaat eskternal besar sehingga harus disediakan oleh pemerintah. tetapi pengembangan industri akan menimbulkan akibat sampingan. bila pendapatan meningkat. seperti jalan. dan peran pemerintah akan semakin menurun dalam pengadaan barang modal. Ditambah. apabila sektor swasta telah terbuka kesempatannya menanamkan modal dalam pengembangan industri. terdapat kecenderungan yang meningkat. pendidikan dasar dan sanitasi . Pola pertumbuhan belanja publik untuk penyediaan barang modal kelihatannya terbalik. Ernst Engel seperti dikutip oleh Musgrave mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pengeluaran untuk barang-barang tertentu.

perbedaan respon terhadap inflasi bukanlah merupakan faktor utama. sehingga belanja sektor publik meningkat dibandingkan masa kereta kuda dan mesin uap yang digunakan untuk kereta api. Sejak tahun 1930-an. Urbanisasi Proses urbanisasi dapat menimbulkan permasalahan bagi pemerintah. Biaya Relatif Selain perubahan-perubahan kuantitas seperti diuraikan diatas. Menurut Musgrave. sehingga biaya penggantian akan meningkat. Peningkatan populasi yang disertai dengan mobilitas populasi juga mendorong pertumbuhan kota baru yang tentunya menyebabkan kebutuhan peningkatan pelayanan umum. bukan berarti porsi belanja publik dalam pendapatan nasional harus meningkat. porsi belanja keperluan sosial dalam pendapatan nasional meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan transfer. Sebuah barang publik dapat disubstitusi dengan barang pribadi. kecuali bila permintaan barang publik bersifat inelastis. Faktor Pengeluaran dari Transfer Porsi Pendapatan. Dalam jangka panjang. Perubahan Populasi Perubahan populasi terutama akan meningkatkan belanja pendidikan dan kesehatan. Contoh lain adalah perubahan teknologi persenjataan yang mengakibatkan meningkatnya pengeluaran militer. kemacetan di perkotaan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan umum. dan penyediaan jaminan hari tua. sifat penyediaan barang dan jasa publik yang dapat mengubah komponen pendapatan nasional menjadi kurang apabila dibandingkan dengan perubahan teknologi. karena terjadi perubahan komposisi umur. maka bisa diestimasikan bahwa porsi belanja publik akan meningkat. Sebagai contoh.227 Sebagai contoh. tak kalah pentingnya adanya pengaruh perubahan biaya jasa publik terhadap pengeluaran publik. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya inflasi harga faktor produksi yang dibeli pemerintah lebih cepat dibanding dengan rasio deflasi dalam pendapatan nasional. Meski pun biaya jasa publik menjadi lebih mahal. Hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan barang-barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. yang pada akhirnya menyebabkan pertumbuhan anggaran. kecuali terbukti teknologi angkasa luar menjadi barang pribadi. Perubahan teknologi juga mempercepat barang menjadi usang. penemuan mesin pembakaran mengakibatkan berkembangnya industri mobil. Contohnya adalah Dasar-dasar Keuangan Publik . permintaan jalan raya bergerak sangat cepat. Dengan meningkatnya industri mobil. Kebutuhan pendidikan juga akan mendorong peningkatan permintaan perumahan. Perubahan teknologi di masa datang yang menyebabkan membengkaknya anggaran pemerintah adalah bidang teknologi angkasa luar merupakan faktor penting dalam porsi pengeluaran negara. karena sifatnya yang elastis.

perubahan tersebut diikuti dengan pergeseran rasio penduduk pensiun ke usia kerja. Akan tetapi dalam kenyataannya. jika terdapat ketimpangan pendapatan oleh karena peningkatan pendapatan per kapita. Apabila terjadi penurunan pertumbuhan populasi dalam bentuk meningkatnya penduduk yang lanjut usia. Pada kasus ini. Secara teoritis. apakah ada tekanan politis untuk mendistribusikan pendapatan kembali atau tidak. peningkatan pendapatan rata-rata tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan. Program ini lebih merupakan alat untuk menyediakan jaminan hari tua dengan dasar pembiayaan swadaya. dengan memperlunak konsep.000. Pertama. Manfaat yang akan diperoleh A dan B masing-masing $70. efisiensi proyek tetap ada apabila orang-orang yang diuntungkan (A dan B) dapat menutupi kerugian Dasar-dasar Keuangan Publik . Misalkan suatu jalan akan dibangun dengan biaya $150. prinsip Pareto Optimum dilanggar. sehingga manfaat agregat adalah $180. Karena nilai manfaat lebih besar dari biayanya. Sistem ini ditujukan untuk menyeimbangkan besarnya distribusi pendapatan melalui transfer dari anggaran pengeluaran ke program pembelian pemerintah yang ditujukan bagi penyediaan barang dan jasa untuk kelompok berpenghasilan rendah. sehingga A. Penjelasan ini perlu dihubungkan dengan perubahan sosial dan politik. proyek semacam itu sangat sulit dicapai. jika tujuan pendistribusian kembali pendapatan adalah untuk menyesuaikan pendapatan keluarga.228 peningkatan asuransi hari tua. penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut yang perlu dilakukan. tingkat efisien semacam itu dapat dicapai. perubahan hanya terjadi pada tingkat yang tidak signifikan atau distribusi pendapatan tetap stabil. Sehingga. Kecuali. diperlukan peningkatan penyediaan kebutuhan penduduk berusia lanjut.000. sehingga diusulkan agar konsep efisiensi diperlunak. Namun demikian. kebutuhan untuk pendistibusikan kembali pendapatan akan menurun jika pendapatan rata-rata meningkat. Namun demikian. jika tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. Kedua. Adanya perubahan ruang lingkup redistribusi pendapatan dapat timbul akibat faktor-faktor demografi. B. meski pun C mengalami kerugian. sehingga ruang lingkup pendistribusian kembali – yaitu transfer pendapatan sebagai suatu prosentase dari pendapatan nasional – akan tetap konstan. dan hanya sedikit mengarah pada pemerataan.000 dan C adalah $40. dan C harus membiayai masing-masing senilai $50. maka dikatakan bahwa proyek tersebut layak dibangun.000. Tindakan pendistribusian kembali pendapatan tersebut dapat dipengaruhi dari dua arah. Tingkat pendapatan minimum ditentukan dalam pengertian rata-rata. sehingga memerlukan peningkatan dalam rasio pengeluaran publik untuk penduduk usia lanjut terhadap pendapatan nasional.000 yang akan dibebankan dari general fund. Efisiensi dan Keadilan dalam Belanja Publik Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain.

Petimbangan distribusi dimulai dengan penentuan apakah apakah bobot distribusi dapat digunakan dalam menilai besarnya manfaat dan biaya. sementara dana terbatas untuk satu proyek. jumlah agregat manfaat bersih senilai $30. Setiap rupiah yang dibelanjakan oleh masyarakat miskin dapat dinilai lebih tinggi. Aspek Keadilan Dalam meninjau aspek keadilan dalam belanja publik. berupa penyediaan taman serupa untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Proyek I. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen juga akan optimal dipandang dari segi sosial. Cara yang lebih tepat adalah dengan mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih dan kondisi ini menghasilkan proyek yang efisien menurut prinsip Pareto optimum. Akan tetapi. sementara alternatif II memilih lokasi yang tingkat upahnya Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini menunjukkan kecocokan dengan konsep efisiensi yang lebih luas. Tetapi. dalam bentuk transfer dari A dan B kepada C. dimisalkan. Permasalahan timbul dalam menyusun peringkat manfaat kedua proyek tersebut. Dimisalkan akan dibangun sebuah kapal laut. berupa penyediaan taman bermain di lingkungan masyarakat berpenghasilan tinggi dan Proyek II. sehingga proyek II akan dipandang lebih layak. Yang pertama. pihak C tidak menerima manfaat dan kerugiannya belum tentu akan diganti. dimisalkan ada dua buah proyek yang dipertimbangkan. Problem utamanya adalah bahwa preferensi seseorang tidak mudah untuk diungkapkan dan mungkin saja proyek tersebut tidak efisien.229 pihak lain ( C ) dan dipandang masih lebih baik dibandingkan dengan tidak ada proyek. dimana kedua proyek mempunyai biaya dan tingkat penggunaan yang sama. Alternatif I akan memilih lokasi konstruksi di daerah yang upahnya tinggi. Apabila nilai nominal proyek yang dijadikan dasar pertimbangan.000 dapat disahkan dan proyek dikatakan efisien. Perlu diadakan persyaratan tambahan agar proyek tetap dikatakan efisien yaitu bahwa penggantian kerugian harus benar-benar dilaksanakan. evaluasi sosial yang tercermin dari kesejahteraan sosial akan menyimpang dari evaluasi swasta dan proyek II akan dipandang lebih layak. tetapi dengan biaya yang berbeda. Kondisi yang sama juga muncul jika ada dua proyek yang menghasilkan jasa yang sama. pertimbangan sosial dapat menyimpulkan sebaliknya. Jika kondisi yang berlaku adalah distribusi optimal. pertimbangan mengenai distribusi dan fungsi obyektif dapat dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan proyek. karena mereka mampu membayar lebih tinggi dan proyek I dianggap lebih layak. dimisalkan. sehingga salah satu harus dikorbankan. Berdasarkan kriteria ini. masyarakat berpenghasilan tinggi akan menerapkan nilai yang lebih tinggi dibanding masyarakat berpenghasilan rendah. Tetapi dalam kenyataan. Efisiensi proyek tergantung pada bagaimana mendefinisikan efisiensi tersebut. jika distribusi yang berlaku tidak optimal.

dan belanja administrasi transfer antar unit pemerintah. Risiko Perubahan Perekonomian Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. karena memberikan manfaat kepada mereka yang berpenghasilan rendah. Salah satu kriteria yang sering digunakan untuk mengklasifikasikan belanja pemerintah adalah seperti diuraikan dalam Government Finance Statistics Manual. Dapat disimpulkan bahwa. proyek II akan lebih diutamakan. Misalkan juga biaya modal. 2. dimana jumlah probabilitas adalah sama dengan satu. sehingga total biaya di lokasi I akan lebih rendah. jika distribusi pendapatan tidak optimal. Akibatnya. bahan baku dan transportasi di lokasi I lebih rendah. Risiko perubahan perekonomian mempunyai implikasi perlunya pendiskontoan atas manfaat maupun biaya. Penjumlahan hasil tertimbang ini kemudian akan digunakan dalam analisis nilai manfaat yang diharapkan. Klasifikasi Belanja Publik. Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah belanja operasi untuk organisasi eksekutif dan legislatif. 1. karena adanya dimensi waktu.230 rendah. Evaluasi proyek jangka panjang perlu mempertimbangkan dinamika perkembangan perekonomian yang berkaitan dengan harga relatif dan pengaruh distorsi harga. Dasar-dasar Keuangan Publik . berdasarkan asumsi bahwa dalam menerapkan tarip pajak. bila bobot distribusi pendapatan diperhitungkan. belanja riset dasar. belanja transaksi hutang. analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek. Fungsi obyektif dapat digunakan sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. Kalsifikasi belanja publik dapat dikategorikan berdasar berbagai macam kriteria. Tetapi. Hasil yang berisiko dapat diestimasikan dengan cara pembobotan berbagai hasil berdasarkan angka probabilitasnya. Atau bobot dapat diperoleh dari analisis pajak penghasilan. Tanpa mempertimbangkan aspek distribusi. Klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah adalah sebagai berikut: Belanja jasa publik umum. Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. karena nilai manfaat bersih lebih tinggi. Belanja Pertahanan. pemerintah bermaksud mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prinsip pengorbanan yang sama. lokasi I dianggap lebih layak. belanja untuk jasa-jasa umum. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan sebagai alat pengoreksi aspek distribusi. Pengaruh penundaan satu tahun akan menyebabkan perubahan nilai sekarang atas perhitungan neto manfaat dan biaya.

Belanja perlindungan umum. 4. Belanja rekreasi. 6. 8. Belanja kesehatan meliputi perlengkapan dan peralatan kesehatan. jasa rumah sakit umum. termasuk belanja pendukung pendidikan lainnya. jasa rumah tahanan dan penjara. dan risetnya. Belanja urusan ekonomi Belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja urusan ketenagakerjaan. 7. jasa kepada pasien. dan dianatara contohnya adalah belanja jasa kepolisian. belanja penerangan jalan. jasa urusan keagamaan dan komunitas. termasuk risetnya. belanja komersial dan ekonomi. Dasar-dasar Keuangan Publik . belanja kehutanan dan pertanian. Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja perlindungan terhadap manusia lanjut usia (manula). Belanja perumahan dan public utilities. Belanja yang termasuk disini diantaranya adalah belanja pengelolaan limbah dan polusi. bantuan militer untuk asing. dan belanja sosial lainnya. Belanja Pendidikan. dan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya. 10. belanja untuk mengatasi pengangguran. sistem penyediaan air bersih. jasa pengadilan. pendidikan menengah. jasa penyiaran. Pendidikan mencakup belanja pendidikan dasar. transportasi. Belanja perlindungan lingkungan.231 Belanja-belanja dalam kategori ini antara lain adalah belanja pertahanan militer dan sipil. dan juga riset untuk perlindungan publik. jasa pemadam kebakaran. proteksi keragaman hewani maupun tata kota. belanja jasa kebudayaan. belanja perlindungan anak dan keluarga. Belanja kesehatan. pertambangan. 3. Diantara belanja yang termasuk dalam kategori ini adalah belanja jasa olahraga dan rekreasi. Belanja dalam kategori ini diantaranya adalah pengembangan perumahan dan pemukiman. 5. Belanja dalam kategori ini dibedakan dengan belanja pertahanan. komunikasi dan belanja untuk perindustrian lainnya. riset pertahanan dan sebagainya. 9. budaya dan agama. Belanja perlindungan sosial. dan lain-lain. dan pendidikan tinggi. belanja energi dan bahan bakar.

untuk lebih fokus pada pembahasan materi. Pembahasan akan dimulai dari jenis belanja pertahanan nasional. Tujuan analisis sektor menyangkut beberapa tujuan: 1. pembangunan jalan raya. belanja pendidikan dan perlindungan lingkungan berupa pembangunan taman rekreasi. Membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan. Perencanaan yang berhasil memerlukan penerjemahan tujuan dan kebijakan sektor kedalam kebutuhan sektor dan subsektor secara individual dan juga kedalam rincian yang lebih detail pada proyek-proyek Dasar-dasar Keuangan Publik . Perlunya Analisis Sektor Banyak pendapat tentang pengelompokan pengeluaran publik kepada sektor. Sehingga. akan tetapi sektor-sektor yang dibahas disini didasarkan pada klasifikasi Bank Dunia. prioritas. dengan melihat pengalaman-pengalaman empiris di berbagai negara.232 B A B XXIII KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM D alam bab ini akan dibahas lebih rinci berbagai jenis belanja serta masalahmasalah yang ditimbulkannya. 4. 3. Menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyekproyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan. dan hubungan antar sektor diantara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. pendekatan pengelompokan sektor diasumsikan mengacu pada laporan-laporan Bank Dunia. 2. Mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. Memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara.

Melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor. Masalah lainnya adalah menyangkut keseimbangan antara angkatan darat. Analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil. Keputusan politik memegang peranan angat penting dalam menentukan pola kebijakan pertahanan ini. Pertahanan Nasional. laut. udara dan marinir. operasi dan pemeliharaan. sehingga contoh penyediaan jasa pertahanan menjadi contoh klasik yang dapat dibahas. Belanja pertahanan selain menghadapi masalah yang kompleks dalam perencanaan. lapangan kerja. Dasar-dasar Keuangan Publik . Analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. meskipun akhirnya dilampaui oleh pertumbuhan program sosial. 2. Yang paling penting. Masalah utama dalam belanja pertahanan. Alasannya. Di Amerika Serikat. perencanaan pertahanan nasional harus menemukan keseimbangan antara senjata konvensional dan modern. Dalam dekade tersebut. Ada beberapa cara atau metode yang dapat digunakan dalam analisis 1. belanja pertahanan nasional merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan anggaran. tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat nasional. penelitian dan pengembangan. dan perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro. masalah kekuatan militer tidak hanya meningkatkan akibat pengrusakan. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. 3. seperti kesediaan untuk menerima risiko konflik militer. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu. Terakhir. belanja pertahanan menjadi faktor utama anggaran pemerintah dalam pembelian barang dan jasa dari swasta. sub sektor dan proyek. ruang lingkup nasional. meski pun menjadi kebijakan yang sulit diperkirakan. juga melibatkan masalah-masalah kebijakan luar negeri. variabel-variabel kebijakan umum seperti nilai tukar. pembelian barang dan jasa. sektor. regional atau internasional. dan pemilihan sistem persenjataan tertentu. kebijakan upah dan tingkat bunga. selama tahun 80-an. Suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subyektif.233 tertentu. Belanja pertahanan dibagi menjadi belanja personil. tapi orang lain dapat berpandangan bahwa kebijakan tersebut ofensif. struktur pajak. tetapi juga bisa mencegah konflik yang juga menimbulkan pengrusakan. Dengan demikian. Masyarakat tidak dapat menyediakan sendiri keamanan bagi dirinya dan proteksi yang diberikan haruslah secara kolektif. seseorang dapat saja memandang kebijakan tersebut defensif.

mengingat peran Amerika dalam perang melawan terorisme sangat besar bahkan menjadi sponsor bagi program internasional ini. Program riset dan pengembangan yang dilakukan untuk kepentingan pertahanan nasional berpengaruh besar terhadap perkembangan teknologi dan pertumbuhan produktivitas. 2. Terdapat pergeseran dari permintaan swasta untuk barang konsumsi dan perumahan kepada pembelian pemerintah untuk sektor pertahanan. Industri pertahanan mencakup sektor manufaktur. seperti Amerika Serikat.namun di lain pihak. Dampak terhadap pertumbuhan produktivitas.234 Efektifitas biaya modernisasi kekuatan strategis. pabrik pembuatan kapal laut. dampaknya terhadap perkenomian negara layak dilakukan pembahasan. Dampak pertama terjadi pada besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan. mengingat risikonya yang sangat tinggi. sektor ini secara nyata juga mendukung kesempatan kerja di sektor swasta. maupun Administrations Strategic Defensive Initiative (sering disebut perang bintang). Keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik menyangkut tiga hal Kerjasama yang rapi antara pemerintah federal. dan pabrik persenjataan elektronik. Bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan prosentase belanja pertahanan terhadap pendapatan nasionalnya kecil. Dengan melihat anggaran pertahanan Amerika Serikat saat ini. submarine-based missiles.seperti komputer . seperti aerospace. terserapnya bakat ilmiah oleh industri pertahanan akan menyebabkan industri swasta tersebut ke arah penurunan. misalnya Jerman dan Jepang. Dampak terhadap industri Karena pertahanan merupakan kontributor utama dalam defisit anggaran pemerintah federal AS. Kebutuhan pertahanan nasional dan berbagai masalahnya memerlukan perancangan yang kesemuanya harus dipenuhi dengan seefisien mungkin. sampai sekarang masih dipertentangkan oleh para ilmuwan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Perdebatan yang muncul di Amerika Serikat tentang sistem persenjataan adalah apakah harus memodernisasi kekuatan strategis ataukah harus membangun kekuatan strategis baru. produktivitas yang ditimbulkan oleh sektor pertahanan akan dialihkan ke sektor swasta . mulai land-based missiles. Jalan Raya yaitu: 1. Kelayakan proyek-proyek militer. ternyata mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibanding dengan negara dengan prosentase belanja pertahanan yang lebih besar. Di lain pihak. Pertumbuhan produktivitas jangka panjang akan tergantung pada peningkatan jumlah orang berbakat ilmiah dan kontribusi anggaran dalam peningkatan aktivitas ilmiah tersebut. pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal lainnya. Jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. Dari satu pihak. sangat sulit memperkirakan apakah akan ada pembatasan persenjataan strategis dengan melakukan pemotongan anggaran.

Sedangkan pada tingkat pemerintah lokal. terutama untuk mendanai pendidikan tingkat tinggi. Negara bagian pada umumnya mempunyai kebebasan yang cukup memadai dalam merancang struktur fiskal masing-masing dan dalam mengendalikan pemerintah lokal yang secara langsung bertanggungjawab dalam penyediaan pendidikan. Sebagian yang lain dilakukan oleh pemerintah federal dengan mentransfer hampir seluruh penerimaannya melalui grant kepada tingkat pemerintah dibawahnya dan sebagian besar diterima oleh negara bagian. bagaimana proses pengajaran berlangsung. termasuk jalan antar negara bagian. Pembiayaan melalui pungutan kepada pemakai. negara bagian. Masalah-masalah kebijakan pendidikan. Kerjasama antar unit pemerintah. Dana negara bagian yang disalurkan kepada pemerintah lokal dalam bentuk bantuan dan subsidi. meskipun pengendalian sistem pendidikan tetap berada di bawah pemerintah lokal. paling banyak dilakukan pada tingkat negara bagian.235 3. Pendidikan Anggaran pendidikan. Pemerintah federal juga ikut membiayai pembangunan pendidikan. maupun pemerintah lokal lainnya. Penerimaan dari tarip tol tidak terlalu siginifikan dibanding dengan sumber pendanaan lainnya. di Amerika Serikat. Perkiraan pajak yang besar. meskipun tidak terlalu besar. dan apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta juga. yang salah satunya berasal dari pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal serta dari pembebanan khusus lainnya. Pada tingkat negara bagian. Hal ini telah mendapat dukungan undang-undang di negara bagian dan telah pula diakui oleh Mahkamah Agung bahwa setiap Dasar-dasar Keuangan Publik . Pengeluaran untuk jalan raya. karena pendidikan pada dasarnya tetap merupakan jasa publik yang harus disediakan oleh pemerintah. baik federal. Permasalahan yang ada dalam kebijakan pendidikan menyangkut apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurikulum). yaitu penghasilan yang ditransfer dari Highway Trust Fund dalam bentuk grant antar pemerintahan. jalan raya dibiayai dari general fund. terutama dibiayai oleh pemerintah lokal dan negara bagian. penerimaan jalan raya diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor. Pembagian kerja dan pembiayaan ini menunjukkan perhatian yang besar dari pemerintah. Untuk tingkat federal. Sedangkan pemerintah lokal bertanggungjawab terhadap jalan raya di daerahnya. siapa yang berhak memperoleh pendidikan. penerimaan berasal dari pajak bahan bakar. di Amerika Serikat. Pembangunan jalan raya sebagian besar didanai oleh pemakai jalan. meskipun kontribusinya tidak sebesar pemerintah. Swasta ikut memberikan andil membiayai pendidikan juga. yang selanjutnya dipakai untuk membangun jalan negara bagian dan sebagian lainnya ditransfer ke pemerintah lokal dalam bentuk grant.

236
warganegara berhak atas perlakukan yang sama dalam bidang pendidikan. Namun demikian, tidak ada keharusan menurut konstitusi bahwa pendidikan harus sebanding di seluruh negara bagian. Pendidikan dasar dan menengah sebagian besar disediakan oleh pemerintah, melalui sekolah negeri. Pada tingkat ini, timbul perdebatan tentang perlunya monopoli pemerintah atas sekolah pada tingkatan itu. Hasil yang efisien akan dapat diperoleh jika terdapat persaingan yang sehat antara lembaga pendidikan negeri dan swasta. Penganjur pendidikan berpendapat bahwa pendidikan merupakan kepentingan umum sehingga harus disediakan oleh pemerintah, akan tetapi mereka juga setuju bahwa tidaklah berarti bahwa pendidikan harus disediakan oleh sekolah negeri. Konsumen pendidikan mengharapkan pemberian pendidikan yang sama atau paling tidak ada standar minimum. Masalah pokok yang juga timbul adalah berkaitan dengan tingkat pendidikan. Persaingan yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah swasta perlu didukung dengan kebijakan dalam menjamin persaingan yang sehat oleh pemerintah. Persoalan pendidikan bukanlah hanya persoalan fiskal saja, akan tetapi merupakan persoalan politik.

Fasilitas Rekreasi
Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda yakni manfaat bagi pemakai, manfaat bagi masyarakat di sekitarnya dan manfaat lain - seperti keindahan alam. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik yang bersifat barang akhir atau barang konsumsi, tidak seperti jalan raya yang bersifat barang antara. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat barang tersebut dapat dinikmati oleh publik. Pengukuran manfaat atas barang ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pengukuran cara pertama dengan menghitung pungutan kepada pemakai. Dengan cara ini, kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarip yang akan dibebankan kepada para pengguna yang kemudian dibandingkan dengan biaya proyek. Cara kedua adalah dengan melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi. Dari penghitungan tersebut, kurva permintaan dapat disimulasikan sehingga dapat dijadikan dasar pengukuran manfaat. Kemudian, ada cara ketiga dengan analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. Cara lain adalah dengan penghitungan manfaat yang dapat dilakukan dengan menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi keluar rumah. Sebagai alternatif, dapat dilakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai fasilitas ini dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana. Selain berbagai manfaat diatas, perlu juga dipertimbangkan manfaat dalam bentuk lain dari suatu fasilitas rekreasi. Sebagi contoh, proyek sumber daya Dasar-dasar Keuangan Publik

237
air dapat mempunyai manfaat ganda, selain untuk rekreasi juga dapat digunakan untuk konservasi sumber daya air. Contoh lain adalah sebuah bendungan dapat dinilai manfaatnya sebagai pembangkit tenaga listrik, pengendalian banjir, irigasi, selain ditujukan untuk rekreasi. Analisis pasar dapat digunakan dalam penilaian manfaat atas fasilitas rekreasi, meski pun bukan satu-satunya cara. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik sehingga penilaian dan pembobotan sosial atas fasilitas rekreasi harus lebih diutamakan, bukan penilaian seperti yang dilakukan dalam pengadaan fasilitas swasta. Dan, hal ini dapat dianggap sebagai subsidi untuk jenis jasa swasta. Tujuan non finansial tertentu, misalnya keindahan alam dan margasatwa, harus dipertimbangkan, meskipun tidak dapat diukur dengan mudah melalui pengujian pasar.

Dasar-dasar Keuangan Publik

238

B A B XXIV
KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL

T

erdapat berbagai macam bentuk tunjangan sosial yang dikelola pemerintah. Contoh yang diuraikan dalam bab ini merupakan contohcontoh tunjangan sosial utama yang umumnya terdapat di negara-negara maju. Sampai seberapa jauh mana tingkat tunjangan diberikan tergantung pada kemampuan finansial masing-masing negara.

Tunjangan kepada Penghasilan Rendah
Di Amerika Serikat, terdapat sejumlah program tunjangan yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Komponen-komponen utama program tersebut antara lain sebagai berikut: Medicaid. Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Fammilies with Dependent Children) yang sering disebut sebagai program kesejahteraan. Kriteria-kriteria tersebut antara lain adalah orang yang mempunyai pendapatan terbatas menurut kriteria SSA (Supplementary Security Income), serta semua orang yang berumur diatas 65 tahun. Bantuan diberikan dalam bentuk Medicare yaitu asuransi kesehatan yang preminya dibayar oleh pemerintah suatu negara. Program ini biasanya dirancang dan dikelola oleh negara bagian dengan berpedoman pada standar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Jaminan Penghasilan Tambahan. Tunjangan ini diberikan dalam bentuk pembayaran tunai kepada orang-orang yang penghasilannya atau aset seseorang kurang dari jumlah minimum yang ditetapkan. Program ini dikelola oleh pemerintah federal.

Dasar-dasar Keuangan Publik

239
Kupon Makanan. Rumah tangga (tidak terbatas umur) berhak memperoleh kupon makanan jika mempunyai aktiva atau berpenghasilan kotor yang kurang dari nilai yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Meskipun demikian, program ini diberikan melalui pemerintah lokal. Perumahan Murah. Program ini merupakan program pemerintah federal dimana subsidi perumahan diberikan dalam bentuk hipotik berbunga rendah bagi petani berpenghasilan rendah. Tunjangan Kesejahteraan. Program AFDC menetapkan bahwa pemerintah federal memberikan bantuan kepada setiap negara bagian – baik uang tunai maupun dalam bentuk lain – yang kemudian dipakai untuk menunjang keluarga yang mempunyai anak dibawah 18 tahun yang belum mandiri. Standar yang digunakan dapat berbeda antara satu negara bagian dengan negara bagian lain. Program kesejahteraan ini paling banyak menimbulkan perdebatan. Program ini dipandang sebagai program yang merendahkan martabat karena persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria. Tunjangan yang diberikan dinilai tidak memadai untuk standar kehidupan minimum yang layak. Selain itu, program ini dipandang tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat, karena tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat – sering disebut tarif pajak marjinal. Titik permasalahan telah berubah dari memberikan keringanan dalam ekonomi kepada kesejahteraan anak dalam keluarga yang berorang tua tunggal. Untuk mengatasi kritik ini, pola tunjangan alternatif mulai dipertimbangkan. Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. Dengan demikian alternatif ini akan menjamin tingkat minimum yang cukup sesuai ketersediaan dana sosial pemerintah. Namun demikian, kebijakan pemberian tunjangan alternatif ini dapat mengurangi jumlah bantuan yang dapat diberikan kepada golongan yang paling membutuhkan. Pola alternatif lain adalah bentuk pajak penghasilan negatif. Bantuan diberikan kepada orang-orang dengan pendapatan rendah atau yang tidak berpendapatan. Jika pendapatan kotor meningkat, maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif yang terhutang. Prinsip ini merupakan perluasan prinsip perpajakan progresif yang telah diterima umum dan berbagai cara untuk menggabungkan prinsip pajak negatif ke dalam struktur pajak positif telah dipertimbangkan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

240

Asuransi Sosial
Komponen-komponen utama dari asuransi sosial ini di Amerika Serikat meliputi sistem asuransi sosial OASI (Old Age and Survivors Insurance), HI (Health Insurance), dan DI (Disability Insurance). Asuransi Pensiun dan Cacat. Peraturan OASI menetapkan bahwa program ini mencakup semua pekerja berusia dibawah 65 tahun dan bekerja di bidang komersial serta industri - kecuali jalan kereta api dan karyawan pemerintahan yang mempunyai skema lain - berhak mendapatkan asuransi pensiun dan cacat yang preminya bersumber dari penerimaan pajak penghasilan upah dan gaji (payroll tax). Prinsipnya adalah menggabungkan kontribusi pemberi kerja dan karyawan. Asuransi Kesehatan. Setiap individu berhak atas jaminan sosial pensiun dan juga berhak atas Medicare pada usia 65 tahun. Tunjangan ini untuk memberikan perlindungan dasar terhadap biaya jasa rumah sakit, biaya rawat jalan, dan jasa perawatan kesehatan rumah. Perdebatan sekitar asuransi kesehatan ini menyangkut apakah asuransi hanya mencakup orang yang berusia lanjut atau harus diperluas kepada seluruh penduduk, dan kalau diperluas bagaimana bentuknya. Perdebatan muncul karena menyangkut pembiayaan yang sangat besar, pengaruhnya terhadap jasa medis yang diberikan, kebebasan memilih dokter, dan peranan asuransi swasta. Asuransi Pengangguran. Program ini dibiayai dari pajak upah dan gaji federal dan pajak tambahan dari negara bagian yang dibayarkan oleh pemberi kerja. Semua kontribusi dari pemerintah federal dan negara bagian dibayarkan kepada dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund.

Sistem Tunjangan Sosial Terkini.
Seiring dengan perkembangan pemikiran aspek keadilan, sistem tunjangan sosial juga mengalami perubahan. Sistem tunjangan dalam bentuk tunai dipandang oleh para ekonom dapat menimbulkan efek yang negatif bagi golongan penghasilan rendah dalam hal produktivitasnya, sehingga golongan penghasilan tinggi mempunyai preferensi memberikan kontribusinya dalam bentuk non tunuai. Salah satu perubahan yang substansial dari sistem kesejahteraan di Amerika Serikat berubah sejak diundangkannya Undang Undang Rekonsiliasi Kesempatan Kerja dan Tanggungjawab Personal tahun 1996. Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (disingkat TANF) yang pada intinya mengatur hal-hal dibawah ini. 1. Menurut aturan AFDC, setiap orang yang mempunyai pendapatan dibawah batasan tertentu dan memenuhi persyaratan tertentu diberikan bantuan manfaat tunai secara mutlak tanpa pandang bulu. TANF mengubah aturan bantuan tunai tersebut kecuali dalam hal bahwa

Dasar-dasar Keuangan Publik

241
bantuan secara tunai tersedia hanya temporer – tidak setiap saat berdasarkan ada tidaknya prgram tunjangan tunai tersebut. Secara umum, TANF mengatur bahwa individu tidak dijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. Setiap orang dewasa yang normal (tidak cacat) yang telah menerima pembayaran bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam suatu kegiatan yang ditujukan untuk membuat individu tersebut dapat menghidupi dirinya sendiri. Setiap negara bagian diberikan grant dari pemerintah federal untuk mendanai program kesejahteraan dimana jumlahnya adalah tetap, kemudian negara bagian tersebut melaksanakan prgram kesejahteraannya sepanjang tepat sasaran dalam batasan grant tersebut. Dengan demikian, struktur pemberian bantuan kesejahteraan negara bagian dikendalikan oleh pemerintah federal. Suatu negara bagian dapat menggunakan grant tersebut untuk membayar bantuan secara tunai, melaksanakan program pelatihan kerja, melaksanakan program pembatasan kehamilan, atau program lainnya yang sejenis.

2. 3.

4.

Dasar-dasar Keuangan Publik

baik dalam negaranegara yang pada dasarnya berbentuk federal maupun negara yang berbentuk kesatuan. Bosnia Herzegovina Sumber: Bird dan Vaillancourt (1998) Menurut Bird dan Vaillancourt (1998). terdapat perbedaan-perbedaan dalam interval luas dalam struktur kelembagaan dan hubungan keuangan pusat dan daerah. pemerintahan negara bagian (state) bukan merupakan pelaku otonom. Perancis dan Inggris mencerminkan pola ini Dasar-dasar Keuangan Publik . India. Jepang Amerika Serikat. Pertama. keuangan federal (federal finance). Brasil. federalisme fiskal (fiscal federalism). Konsep federalisme fiskal maksudnya adalah Pemerintahan Daerah Tingkat II (Kabupaten/Kota) merupakan kepanjangan tangan dari Pusat. apapun bentuk pemerintahan suatu negara. di beberapa negara yang berbentuk federal.242 B A B XXV KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH D alam konteks desentralisasi fiskal. Argentina. terdapat dua model hubungan fiskal antar pemerintahan yang berlaku saat ini (lihat Tabel 25-1). Atau. Afrika Selatan Negara Transisi Cina. Kolumbia. Tabel 25-1: Susunan Rak Desentralisasi Fiskal Kelompok Negara Federalisme Fiskal Keuangan Federal Negara Maju Perancis. Tunisia Pakistan. akan selalu memunculkan pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship). Dan sebagaimana dikemukakan oleh Norregaard (1995). Kanada Negara Berkembang Indonesia. Kedua. Vietnam Rusia. Maroko. baik itu negara federal maupun negara kesatuan (unitary).

Pendelegasian wewenang ini biasanya diatur dengan ketentuan perundang-undangan. Dalam perspektif ini. Di Amerika Serikat. serta perbedaan-perbedaan tujuan antara principal dan agent (Pemerintah Daerah). serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. Dalam model keuangan federal. penyerahan fungsi. batas-batas resmi. konsentrasi kekuasaan di pusat demikian tinggi. terutama negara-negara yang memiliki keanekaragam dalam aspek geografis dan etnis (Bird. fungsi. Pihak yang menerima wewenang mempunyai keleluasaan (discretion) dalam penyelenggaraan pendelegasian tersebut. sementara Indonesia1. yaitu Lousiana). Berbeda dengan model federalisme fiskal. serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan melalui sebuah undang-undang. negara yang berbentuk federal. Contoh yang paling aktual adalah Amerika Serikat dan Kanada. Maroko dan Tunisia adalah untuk negara berkembang. model hubungan fiskal yang terjadi adalah hubungan fiskal antara Pemerintah Federal (Pusat) dengan Pemerintah Negara Bagian/Propinsi (state) dan hubungan fiskal antara Pemerintah Negara Bagian/Propinsi (state) dengan Pemerintah Lokal (Kabupaten/Kota). Menurut teori ini. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat di Daerah. walaupun wewenang terakhir tetap pada pihak pemberi wewenang (sovereign-authority). state dibagi ke dalam counties (wilayah kabupaten). Implikasi dari hubungan fiskal model federalisme fiskal ini adalah berbagai bentuk transfer dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (Dati I dan Dati II) dalam rangka untuk menggalakkan otonomi regional dan untuk memperbaiki infrastruktur lokal.5 Di mana. Di Amerika Serikat (yang berbentuk negara federal). masing-masing pemerintahan memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. pada umumnya menganut model keuangan federal. Namun. 1994b serta Bird dan Chen. 1990). kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah bersifat “top down” dan berpola dekonsentrasi2 atau maksimalnya berpola delegasi3. biasanya akan dibelanjakan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan pedoman dan sektor-sektor yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. atau townships (Kota). model keuangan federal (federal finance) lebih cocok diterapkan untuk beberapa negara. di Amerika Serikat. wewenang. 1996a). serta Cina dan Vietnam adalah contoh negara transisi (Bank Dunia. Secara teoritis. principal (Pemerintah Pusat) dapat secara sepihak menentukan dan mengubah baik tanggung jawab pengeluaran maupun pendapatan Pemerintah Daerah dan pengaturan hubungan keuangan antar pemerintahan dalam upaya mengatasi permasalahan-permasalahan informasi yang tidak simetri. 2 3 4 5 Dasar-dasar Keuangan Publik . 1 Indonesia di sini maksudnya adalah sebelum keluarnya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. parishes (suatu wilayah pemerintahan gereja. Dalam model federalisme fiskal.243 untuk kelompok negara-negara maju (Bennet. 1996). Delegasi adalah pelimpahan wewenang untuk tugas tertentu kepada organisasi yang berada di luar struktur birokrasi reguler yang dikontrol secara tidak langsung oleh Pemerintah Pusat. counties merupakan agen utama pemerintahan regional dari pemerintahan propinsi dan memiliki memiliki kewenangan (authority) independensi yang signifikan. dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory4.

Argentina. dibandingkan dengan Amerika Serikat. terdapat keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal. sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Indonesia secara tidak langsung telah menerapkan model keuangan federal. aspek efisiensi tidaklah satu-satunya dimensi ekonomi untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. dan Afrika Selatan adalah negara-negara berbentuk federal. Keputusan mengenai pengeluaran publik yang Dasar-dasar Keuangan Publik . setiap individu dapat memilih untuk tinggal di sebuah komunitas atau masyarakat yang sesuai dengan preferensi mereka dalam rangka untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial. derajat desentralisasi fiskal di Indonesia lebih tinggi. beberapa dewan sekolah (school board) di Amerika Serikat memiliki kekuasaan untuk mengenakan pajak (Davey. sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 25/1999. 1989). dan efisiensi (Musgrave dan Musgrave. Menurut Bank Dunia (1995b) negara-negara seperti Pakistan. Pada negara yang berbentuk kesatuan (unitary). sesuai dengan argumen ini. tetapi pada prakteknya tidak selalu demikian. maka dalam suatu sistem fiskal yang terdesentralisasi. Bahkan. Karena preferensi setiap individu terhadap barang publik berbeda. Pemerintah Daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. Oleh karenanya. Argumentasi ekonomi tentang efisiensi berasal dari fakta bahwa Pemerintah Daerah dapat memenuhi berbagai kepentingan dan pendapat dari para penduduk dan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya (resources) secara lebih efisien dibandingkan Pemerintah Pusat. Namun demikian.244 Bahkan. Ini terbukti. Disain fiskal antar pemerintahan juga memiliki implikasi penting atas] keadilan dan stabilitas makro ekonomi. Menurut para ahli ekonomi. keadilan (equity). namun prakteknya sejauh ini masih sentralisasi fiskal dan federalisme fiskal. Efisiensi Teori desentralisasi didasarkan pada asumsi bahwa Pemerintah Pusat hanya dapatmenyediakan barang dan jasa secara lintas wilayah secara konsisten. Sesungguhnya. 1983). Dimensi Ekonomi dari Desentralisasi Fiskal Dimensi yang ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. model keuangan federal juga berlaku. Meski secara teoritis negara yang berbentuk federal akan menerapkan model keuangan federal. aspek efisiensi merupakan raison d'etre untuk desentralisasi fiskal. yaitu: (1) Efisiensi Alokasi Sumber Daya (Efficient Allocation of Resources) Desentralisasi akan meningkatkan efisiensi karena Pemerintah Daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan Pemerintah Pusat.

Fakyanya. Sebaliknya. Daerah akan menekan Pusat untuk mendapatkan tambahan kucuran dana yang lebih besar. 1996). Suatu analogi argumen untuk menjelaskan hal ini dikemukakan oleh Tiebot (1956) yang kemudian dikenal sebagai "The Tiebout Model". 1994). Hipotesis tersebut memberikan petunjuk bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. jika lebih banyak penerimaan daripada pengeluaran yang didesentralisasikan. Stabilitas Makro Ekonomi Penilitian empiris tentang desentralisasi dan pengelolaan makro ekonomi (macroeconomic governance) memberikan sedikit dukungan bahwa desentralisasi inheren dengan destabilisasi. Dasar-dasar Keuangan Publik . maka mobilisasi dana Daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi dapat kembali muncul (Yu. khusus bagi negara-negara berkembang. stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis dapat terwujud dengan diterapkannya desentralisasi fiskal. Masyarakat akan memilih untuk tinggal di lingkungan yang anggaran daerahnya memenuhi preferensi yang paling tinggi antara pelayanan publik dari Pemerintah Daerahnya dengan pajak yang dibayar oleh masyarakat. yaitu meninggalkan wilayah tersebut atau tetap tinggal di wilayah tersebut dengan berusaha mengubah kebijakan pemerintah lokal melalui DPRD-nya (Hyman. Jerman. Austria. Studi terkini mengenai hubungan antara desentralisasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi menemukan bahwa “sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkansistem fiskal yang tersentralisasi”. 2002). atau kedua-duanya. Namun demikian. negara-negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi seperti Swiss. atau pinjaman yang lebih besar. Salah satu contoh terjelas adalah kasus-kasus di negara Federasi Rusia (Wallich. Tiebout menekankan bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyakarat lokal dengan Pemerintah Daerahnya. (2) Persaingan Antar Pemerintah Daerah (Competition Among Local Governments) Persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. 1997).245 dibuat oleh Pemerintah daerah akan lebih responsif terhadap keinginan konstituennya dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh Pemerintah Pusat. maka tingkat pelayanan akan menurun. Pengalaman internasional memperlihatkan bahwa jika suatu negara mendesentralisasikan tanggung jawab pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan sumber-sumber yang tersedia. maka hanya ada dua pilihan bagi warga masyarakat. dan Amerika Serikat memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah (Shah. Ketika masyarakat tidak senang pada kebijakan pemerintah lokal dalam pembebanan pajak untuk pembiayaan barang publik bersifat lokal. Atau.

Untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ini. maka perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya (resources) yang lebih besar kepada Daerah yang lebih miskin. Bantuan pemerataan (equalization grant). seharusnya tidak perlu terjadi “ekspor pajak” dan tidak ada tambahan transfer dari level pemerintahan yang lain. Dengan kata lain. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil Pemerintah Daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi. Pemerintah Daerah tidak dapat mengambil kebijakan redistribusi secara efektif. proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis. Pemerintah Daerah memerlukan dukungan dari Pemerintah Pusat. Kedua. penyediaan resources yang lebih banyak kepada daerah miskin hanyalah satu aspek dari problem keadilan. Sebab. Sidik (2002) menyebutkan bahwa keberhasilan pelaksanaan desentralisasi akan sangat tergantung pada desain. Keadilan horizontal merujuk pada tingkat kapasitas Pemerintah Daerah (subnational governments) dalam memenuhi pelayanan publik. Kesuksesan dalam kebijakan redistribusi juga memerlukan perhatian yang khusus terhadap keadilan dalam wilayah lokal setempat (within-locality equity). Untuk itu. proses implementasi. Jika Pemerintah Daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif. Pertama. terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro. Namun demikian. itu berarti pajak bagi penduduk kaya dan subsidi bagi penduduk miskin. Dalam merancang kebijakan redistribusi. adalah alat yang biasa digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. isu redistribusi memiliki dua dimensi: keadilan horisontal (horizontal equity) dan keadilan lokal (within-locality equity). Dalam definisi klasik. Dalam konteks desentralisasi. Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal Bird dan Vaillancourt (1998) mengisyaratkan ada dua prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi.246 Keadilan (Equity) Apek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. Dasar-dasar Keuangan Publik . biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat. redistribusi biasanya berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan. dengan program redistribusi pendapatan. Terdapat dua faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal: (1) basis pajak (taxes bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan daerah yang lain dan (2) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. yaitu pengambilan keputusan tentang manfaat dan biayanya harus transparan dan pihak-pihak yang terkait harus memiliki kesempatan untuk mempengaruhi keptusan-keputusan tersebut. ia akan menciptakan suatu insentif yang kuat bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan akan mendorong penduduk berpenghasilan tinggi untuk pindah kemana saja. Sementara itu.

247 dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan. pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. baik yang berasal dari local revenue. maupun masyarakat secara keseluruhan. Dasar-dasar Keuangan Publik . pinjaman. maupun transfer dari pemerintah pusat. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi. Di samping itu. perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik. maka Pemerintah Daerah harus didukung sumbersumber keuangan yang memadai. Sidik (2002) juga berpendapat untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi. kesiapan administrasi pemerintahan. Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya Pemerintah Pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi Daerah.

248

B A B XXVI
TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTEK
Pendahuluan
alam konteks desentralisasi fiskal, transfer dana dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Desentralisasi memang merupakan pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah. Sejalan dengan desentralisasi tersebut, aspek pembiayaannya juga ikut terdesentralisasi. Implikasinya, Daerah dituntut untuk dapat membiayai sendiri biaya pembangunannya.

D

Namun, ternyata banyak daerah di berbagai negara ini local government revenue) tidak cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran Daerah (lihat Tabel 26.1). Dari Tabel 26.1. terlihat bahwa, tidak ada satupun Pemerintah Daerah di berbagai negara yang disurvei memiliki pendapatan yang dapat membiayai seluruh pengeluarannya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

249
Tabel 26.1: Prosentase Pendapatan atas Pengeluaran Daerah Negara Kesatuan Albania Azerbaijan Belarusia Bulgaria Kroasia Republik Cekoslowakia Denmark Estonia Irlandia Kazakhstan Latvia Lithuania Mauritius Moldova Mongolia Norwegia Polandia Republik Slovakia Slovenia Inggris Negara Federal* Australia Austria Bolivia México Switzerland United States 1995 5.64% 73.97% 73.18% 57.27% 98.11% 72.26% 57.10% 65.95% 87.26% N/A 75.53% 73.82% 39.51% 72.74% 58.46% 60.96% 71.52% N/A 77.31% 27.47% 1996 6.85% 68.65% 70.63% 66.19% 93.62% 60.28% 57.50% 66.97% 84.64% N/A 77.93% 72.22% 39.91% 60.50% 56.92% 62.10% 66.49% 89.65% 82.83% 27.31% 199 7 3.69% 66.78% 77.73% 65.35% 93.83% 72.74% 58.55% 73.10% 84.29% 78.76% 73.82% 71.71% 40.68% 58.66% 60.10% 61.30% 66.21% 79.75% 81.88% 27.91% 1998 4.05% 58.30% 81.69% 61.08% 89.18% 75.80% 59.25% 72.04% 85.31% 71.68% 72.08% 80.65% 42.52% 62.49% 57.32% 59.71% 64.83% 73.69% 80.60% 29.33%

85.73% 82.74% 85.64% 97.37% 81.35% 62.43%

83.28% 85.31% 85.93% 97.72% 81.91% 63.51%

81.92% 87.28% 85.85% 99.98% 81.96% 64.32%

81.80% 83.89% 85.76% N/A 82.02% 64.51%

* Pemerintah Daerah di negara-negara federal adalah kelompok Pemerintah Daerah yang terendah tingkat pendapatannya. Catatan: Pendapatan Pemerintah Daerah tidak termasuk transfer antar pemerintahan (intergovernmental transfers) Sumber: International Monetary Fund. 1998. Government Finance Statistics Year Book 1998, Country Tables. Implikasi dari kondisi tersebut, transfer dana dari Pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang amat dominan bagi Pemerintah Daerah di banyak negara, terutama negara berkembang. Tidak terkecuali Indonesia. Sumber ini membiayai sekitar 85% dari pengeluaran pemerintah daerah di Afrika Selata, antara 67% sampai 95% pengeluaran negara bagian di Nigeria, 70% sampai 90% pengeluaran negara bagian yang miskin di Meksiko, 72% pengeluaran popinsi dan 86% pengeluaran Kabupaten/Kota pada dekade 1990-an di Indonesia (Simanjuntak, 2002).

Dasar-dasar Keuangan Publik

250

Tujuan Transfer
Pada dasarnya, transfer Pusat ke Daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants). Adapun tujuan dari transfer ini bermacam-macam yaitu pemerataan vertikal (vertical equalization), pemerataan horisontal (horizontal equalization), mengatasi persoalan efek pelayanan publik (correcting spatial externalities), mengarahkan prioritas (redirecting priorities), melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (experimenting with new ideas), stabilisasi, dan kewajiban untuk menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah. Vertical Equalization Transfer Di banyak negara, Pemerintah Pusat menguasai sebagian besar sumber-sumber penerimaan (pajak) utama negara yang bersangkutan. Sementara itu, Pemerintah Daerah hanya menguasai sebagian kecil sumber-sumber penerimaan negara, atau hanya berwenang untuk memungut pajak-pajak yang basis pajaknya bersifat lokal dan mobilitas yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaannya relatif kurang signifikan. Kondisi ini akhirnya menimbulkan ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pada era tahun 1960-an, Pemerintah Federal Amerika Serikat sangat memonopoli sumber-sumber penerimaan. Kondisi ini akhirnya bisa menimbulkan ketimpangan antara Pemerintah Federal, Pemerintah Negara Bagian (State), dan Pemerintahan Lokal. Kemudian, pada pertengahan era 1960-an hingga pertengahan 1980-an lahirlah kebijakan bagi hasil penerimaan umum (General Revenue Sharing/GRS). GRS untuk tingkat negara bagian diberlakukan secara tuntas pada tahun 1982 dan untuk tingkat lokal diberlakukan pada secara tuntas pada tahun 1986. Dengan demikian, tujuan dari vertical equalization transfer ini adalah untuk mengkoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

251

KOTAK 26.1: PRAKTEK VERTICAL EQUALIZATION DI INDONESIA Penerapan vertical equalization di Indonesia berlaku sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Latar belakang diberlakukannya formula vertical equalization ini didasari oleh suatu kondisi selama Orde Baru, dimana Pemerintah Pusat begitu dominan dalam menguasai sumber-sumber penerimaan negara yang berujung pada timbulnya ketimpangan fiskal secara vertikal antara Pemerintah Pusat dengan Daerah. Daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam, seperti Aceh dan Irian Jaya, terpaksa harus menjadi daerah miskin karena hasil dari sumber-sumber kekayaan alam mereka diangkut ke Pusat. Kondisi ini kemudian berubah dengan keluarnya Undang-undang Nomor 25/1999. Menurut Undang-undang No. 25/1999 ini, daerah penghasil penerimaan (baik itu pajak maupun sumber daya alam) mendapat porsi yang besar dalam bagi hasil penerimaan umum (general revenue sharing) yang lebih besar dibandingkan sebelum diberlakukannya Undang-undang No. 25/1999 (lihat Tabel 2.2. Dengan bagi hasil yang lebih besar ini, taxing power yang diterima Daerah menjadi lebih besar dan ketimpangan vertikal dapat dikurangi

.

Tabel 26.2. Proporsi Bagi Hasil Beberapa Penerimaan Negara Sebelum dan Sesudah UU No. 25/1999 (dalam %)
No Jenis Penerimaan Sebelum UU No. 25/1999 Pusat Dati I Dati II Pusat Sesudah UU No. 25/1999 Propinsi Kab /Kota 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. PBB BPHTB IHH PSDH/IHPH Land Rent/Iuran Tetap Royalty Pertambangan Umum Perikanan Minyak Gas Alam Dana Reboisasi PPh 10 20 55 55 20 20 100 100 100 100 100 16,2 16 30 30 16 16 64,8 64 15 15 64 64 20 20 20 20 20 85 70 60 80 16,2 16 16 16 16 16 3 6 8 64,8(+) 64(+) 64 32 64 32 6 12 40 12 Pemertaan Kab/Kota Lainnya + + 32 32 80 6 12 -

Sumber : Sidik 2002, berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999

Horizontal Equalization Transfer Keseimbangan antara kebutuhan pendapatan (revenue needs) dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan juga memiliki dimensi horisontal. Artinya, dengan tarif pajak yang sama seharusnya juga menghasilkan penerimaan yang sama di antara daerah. Pengalaman empirik di berbagai negara menunjukkan ternyata kemampuan Daerah untuk menghasilkan pendapatan sangat bervariasi, tergantung kondisi daerah bersangkutan yang memiliki kekayaan sumber daya alam atau tidak, ataupun daerah dengan intensitas kegiatan ekonomi yang tinggi atau rendah. Kondisi ini berimplikasi kepada besarnya basis pajak atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) di daerah-daerah bersangkutan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

252
Di sisi lain, daerah-daerah juga memiliki kebutuhan belanja yang sangat bervariasi. Terdapat daerah-daerah dengan penduduk miskin, penduduk lanjut usia, dan anak-anak serta remaja yang tinggi proporsinya. Ada pula daerah-daerah yang berbentuk kepulauan luas, dimana sarana-prasarana transportasi dan infrastruktur lainnya masih belum memadai. Sementara di lain pihak, ada daerahdaerah dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, namun memiliki sarana dan prasasarana yang telah lengkap. Ini mencerminkan tinggi rendahnya kebutuhan fiskal (fiscal need) dari daerah-daerah yang bersangkutan. Membandingkan kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal tersebut di atas, maka dapat dihitung kesenjangan atau celah fiskal (fiscal gap) dari masing-masing daerah yang seyogyanya ditutup oleh transfer dari Pemerintah Pusat. Dengan kata lain tujuan dari horizontal equalization transfer adalah untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh setiap daerah.

Dasar-dasar Keuangan Publik

253

KOTAK 26.2: PRAKTEK HORIZONTAL EQUALIZATION DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalizataion di Indonesia. Secara faktual, peran DAU dapat dijadikan counter atas pembagian dana bagian daerah yang didasarkan atas dasar penghasil daerah (by origin atau vertical equalization) yang cenderung menimbulkan ketimpangan antardaerah, karena daerah yang mempunyai potensi pajak dan SDA yang terbatas pada daerah-daerah tertentu. Sebagai horizontal equalization, DAU dirancang dengan sebuah formula yang digunakan untuk menghitung potensi penerimaan daerah atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) dan kebutuhan fiskal daerah (fiscal needs). Sehingga, melalui suatu formula ini, maka dapat dihitung celah fiskal (fiscal gap) yang akan ditutup dengan transfer DAU dari Pusat. Rumus Umum DAU 2001 adalah sebagai berikut: 1. DAU akan dialokasikan kepada Daerah dengan menggunakan bobot daerah. Bobot daerah harus dirumuskan dengan menggunakan suatu formula yang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan dan potensi potensi penerimaan. Besarnya DAU setelah formula paling tidak sama dengan besarnya bantuan Subsidi Daerah Otonom (SDO) dan Inpres tahun 2000. Oleh karenanya, dalam alokasi DAU 2001 terdapat faktor penyeimbang dan faktor lumsum. Faktor Penyeimbang adalah suatu mekanisme untuk mencegah penurunan kapasitas Pemerintah Daerah dalam membiayai kewajiban-kewajiban mereka. Faktor penyeimbang juga diarahkan untuk mengatasi permasalahan pendanaan akibat terjadinya transfer pegawai dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah yang tentunya membawa konsekuensi pada gaji dan biaya-biaya terkait lainnya. Faktor lumpsum intinya adalah suatu mekanisme untuk membagi habis total DAU yang sudah dianggarkan dalam APBN 925% dari penerimaan bersih domestik). Dalam prakteknya, terjadi selisih hitung antara total DAU yang dianggarkan dengan total faktor penyeimbang dan faktor formula. 3. Faktor formula. Formula DAU terdiri dari dua, yaitu potensi penerimaan dan kebutuhan fiskal. Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan potensi penerimaan adalah (a) PDRB sektor sumber daya alam (primer); (b) PDRB sektor industri dan jasa lainnya (non-primer); dan besarnya angkatan kreja (SDM). Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan kebutuhan daerah adalah (a) jumlah penduduk; (b) luas wilayah; (3) indeks harga bangunan; dan (4) jumlah penduduk miskin. 4. Penentuan Bobot dan Alokasi Daerah.

2.

Sumber: Brodjonegoro dan Pakpahan (2002)

Dasar-dasar Keuangan Publik

Gambar 26-1: Koreksi “Spillovers” Melalui Transfer P MC P1 PB PA DA QB QT DB Q DT Berdasarkan Gambar 26-1. Agar penyediaan barang publik tersebut tetap dilakukan oleh Daerah bersangkutan. tidak bisa dibatasi manfaatnya hanya untuk masyarakat tertentu saja. yang bagi Daerah bersangkutan akan sangat sulit untuk dapat mengadakannya. Pemerintah Pusat perlu memberikan semacam insentif ataupun menyerahkan sumber-sumber keuangan agar pelayananpelayanan publik demikian dapat dipenuhi oleh daerah. Sehingga. maka Daerah Dasar-dasar Keuangan Publik . maka Pemerintah Pusat memberikan transfer (subsidi). jalan raya penghubung antar-daerah. Dengan adanya subsidi ini. total permintaan atas barang publik tersebut adalah DT dengan harga (biaya) sebesar P1. jika permintaan dari penduduk (resident demands) setempat yang diperhitungkan. Namun. Misalnya. yaitu sebesar DB dengan harga (biaya) sebesar PB. yaitu sebesar DA dan harganya (biayanya) pun relatif murah (PA) sehingga Daerah setempat dipastikan dapat mengadakannya. dan rumah sakit daerah. untuk permintaan atas barang publik tertentu (misalnya. Oleh karena itu. sistem pengendali polusi (udara dan air). karena biayanya terlalu mahal. Namun. perguruan tinggi). pemadam kebakaran.254 Correcting Spatial Externalities Beberapa jenis pelayanan publik di satu wilayah memiliki “efek menyebar” (atau eksternalities) ke wilayah-wilayah lainnya. maka jumlah permintaannya akan sangat rendah. yaitu sebesar perbedaan antara PB dan P1. peminatnya juga berasal dari luar daerah (nonresident demands). tanpa adanya “imbalan” (dalam bentuk pendapatan) yang berarti dari proyek-proyek serupa di atas. biasanya Pemerintah Daerah enggan untuk berinvestasi di sini. pendidikan tinggi (universitas).

karena biayanya berada dalam jangkauan anggaran Daerah. Namun ternyata. Ini terkait dengan pemenuhan harapan para konstituen pemilih ketika pemilihan umum berlangsung. Memenuhi Standar Pelayanan Minimum Daerah-daerah dengan sumber daya yang sedikit memerlukan subsidi agar dapat mencapai standar pelayanan minimum. maka penerapan standar pelayanan minimum Dasar-dasar Keuangan Publik .255 bersangkutan dapat menyediakan barang publik tersebut. Agar keinginan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat berjalan secara paralel. Dan seringkali prioritas yang dikembangkan oleh setiap level pemerintahan tersebut. Dengan demikian. akhirnya bertentangan dengan prioritas yang sedang dibangun oleh level pemerintahan lainya. Experimenting with New Ideas Bantuan (grants) seperti ini berawal dari adanya keinginan Pemerintah Pusat untuk mengujicobakan suatu program baru di suatu Daerah sebelum program tersebut diberlakukan terhadap seluruh Daerah. Stabilisasi Transfer dana dapat ditingkatkann oleh Pemerintah ketika aktivitas perekonomian sedang lesu. sesungguhnya bantuan untuk tujuan uji coba program baru ini tidak lebih dari sebuah kompensasi atas kesediaan Daerah menjadi ajang uji coba suatu program baru dari Pusat. Transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants) adalah merupakan instrumen yang cocok untuk tujuan ini. Misalnya. karena Daerah yang menjadi tempat uji coba tidak mau menanggung kerugian dan risiko manakala terjadi dampak negatif terhadap program baru tersebut. bisa saja dana transfer ke daerah dikurangi manakala perekonomian sedang booming. Pemerintah Daerah ternyata menginginkan pembangunan di sektor kesehatan lebih mendapat prioritas karena pertimbangan kondisi masyarakat setempat. Transfer Pemerintah Pusat kepada Daerah semacam ini akan membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh masing-masing level pemerintahan. Pemerintah Pusat berkeinginan mengedepankan pembangunan di sektor pendidikan secara murah dan terjangkau. seyogyanya Pemerintah Pusat memberikan transfer atau insentif kepada Daerah. Di saat lain. Jika dikaitkan dengan postulat Musgrave (1983) yang menyatakan bahwa peran redistributif dari sektor publik akan dijalankan oleh Pemeirntah Pusat. keinginan tersebut ternyata tidak sinkron dengan pola kebijakan Daerah. Alasan perlunya bantuan dari Pusat kepada Daerah sehubungan dengan uji coba program baru tersebut. Redirecting Priorities Setiap level pemerintahan memiliki prioritas masing-masing di dalam penyediaan pelayanan publik kepada masyarakatnya. Namun kecermatan dalam mengkalkulasi amat diperlukan agar tindakan menaikkan/menurunkan dana transfer itu berakibat merusak atau bertentangan dengan tujuan stabilisasi.

Di samping itu juga formula yang dipakai seyogyanya relatif mudah untuk dipahami. Sederhana (simplicity). Pemerintah daerah semestinya memiliki pendapatan (termasuk transfer) yang cukup untuk menjalankan segala kewajiban atau fungsi yang diembannya. Penerimaan yang memadai (revenue adequacy). Dengan demikian. 1. Formula tersebut seyogyanya dipakai untuk jangka menengah (misalnya 3-5 tahun). Hal yang lebih penting lagi adalah bahwa setiap daerah dapat memperkirakan berapa penerimaan totalnya (termasuk transfer). Otonomi. Pajakpajak dimana Daerah bisa ikut memungut di atas tingkat yang ditetapkan Pusat (piggyback). Prinsip ini menekankan agar Pemerintah Daerah memiliki independensi dan fleksibilitas dalam menentukan prioritas-prioritas mereka. Formula transfer mesti diumumkan sehingga dapat diakses masyarakat. 4. 3. Tidak boleh ada pembatasan yang sedemikian ketat sehingga sebagian besar keputusan di Daerah harus mengikuti atau mengacu kepada ketentuan Pusat. Alokasi dana kepada Pemeirntah Daerah semestinya didasarkan pada faktor-faktor obyektif dimana unit-unit individual tidak memiliki kontrol atau dapat mempengaruhinya. Desain dari transfer ini harus sedemikian sehingga memberikan semacam insentif bagi daerah dengan manajemen fiskal yang baik. berkebalikan dengan besarnya kapasitas fiskal daerah yang bersangkutan. Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Dari berbagai tujuan yang hendak dicapai dalam rangka transfer antar tingkat pemerintahan. dapat kiranya sebagai acuan untuk mendesain sistem atau model transfer bagaimana yang akan diterapkan. 2. Transparan dan stabil. agar perencanaan jangka menengah dan panjang dapat dilakukan oleh Daerah. Berikut adalah beberapa kriteria umum yang biasa digunakan di banyak negara di dunia. 5. 6. apakah negara tersebut berbentuk federal maupun negara kesatuan. Besarnya dana transfer dari Pusat ke daerah seyogyanya berhubungan positif dengan kebutuhan fiskal daerah dan. baik sebaliknya menangkal praktik-praktik yang tidak efisien. bagi hasil (revenue sharing) berdasarkan formula. Insentif. tidak Dasar-dasar Keuangan Publik . sebaliknya. Prinsip ini merupakan dasar desentralisasi fiskal di dunia. ataupun transfer yang bersifat umum (block grant) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang konsisten dengan tujuan tersebut. sehingga memudahkan penyusunan anggaran.256 di setiap daerah pun akan lebih bisa dijamin pelaksanaannya oleh Pemerintah Pusat. Keadilan (equity).

Jenis-Jenis Transfer Pengalaman empiris dari berbagai negara menunjukkan bahwa pemberian transfer oleh Pemerintah Pusat kepada Daerah dapat disertai dengan syarat-syarat tertentu atau tidak bersyarat sama sekali. block grant dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. Transfer Tanpa Syarat Pada umumnya transfer jenis ini ditujukan untuk menjamin adanya pemerataan dalam kemampuan fiskal antar daerah. Tujuan dari transfer ini adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal (horizontal equalization). atau ada semacam kontrol terhadap belanja daerah. Dengan demikian. amat tergantung kepada kondisi atau keadaan di masing-masing negara. Ciri utama dari transfer ini adalah Daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkan dana transfer ini sesuai dengan pertimbanganpertimbangannya sendiri atau sesuai dengan aturan apa yang menjadi prioritas daerahnya. yaitu (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. spesific purpose grant). sehingga setiap Daerah dapat melaksanakan urusan rumah tangganya sendiri pada tingkat yang layak. formula apa yang tepat untuk menjamin meratanya kemampuan fiskal (fiscal capacity) Daerah dalam menjalankan pelayanan publik minimum. Namun. general purpose grant.257 perlu ada transfer khusus/spesifik untuk membiayai defisit anggaran Pemerintah Daerah. categorial grant. Transfer tanpa syarat biasanya dibagikan berdasarkan suatu formula tertentu. pada dasarnya jenisjenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar. Dasar-dasar Keuangan Publik .

DAU untuk suatu Daerah Propinsi tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh Daerah Propinsi yang ditetapkan dalam APBN.3: PRAKTEK TRANSFER TANPA SYARAT DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan bentuk yang masuk dalam kategori transfer tanpa syarat (unconditional grant) untuk kasus di Indonesia. Dasar-dasar Keuangan Publik . 3. 9. DAU adalah dana yang berasal dari APBN. Bobot Daerah ditetapkan berdasarkan: • kebutuhan wilayah otonomi Daerah. DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN. 8. Porsi Daerah Kabupaten/Kota merupakan proporsi bobot Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua Daerah Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 7. Penjelasan efek dari unconditional grant terhadap pembiayaan daerah. 5. 2.258 KOTAK 26. DAU untuk suatu Daerah Kabupaten/Kota tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh Daerah Kabupaten/Kota yang ditetapkan dalam APBN dengan porsi Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. 6. 25/1999 ketentuan mengenai aturan alokasi DAU adalah sebagai berikut: 1. Dalam hal terjadi perubahan kewenangan di antara Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi 6 Garis anggaran (budget line) adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang membutuhkan biaya (anggaran) yang sama besar. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Porsi Daerah Propinsi merupakan proporsi bobot Daerah Propinsi yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua Daerah Propinsi di seluruh Indonesia. persentase Dana Alokasi Umum untuk Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota disesuaikan dengan perubahan tersebut. Menurut UU No. 4. dapat dilihat pada Gambar 26-2. • potensi ekonomi Daerah. Penghitungan DAU berdasarkan rumus di atas dilakukan oleh Sekretariat Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). DAU untuk Daerah Propinsi dan untuk Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan masing-masing 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh persen) dari total DAU nasional. dengan porsi Daerah Propinsi yang bersangkutan. Garis AB adalah garis anggaran6 Daerah setempat (community budget line).

259 barang yang tersedia. Gambar 2-2: Efek Unconditional Grant Terhadap Pembiayaan Daerah Other Public Goods i2 F i1 A H E E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods 7 Kurva indiferensi (indifference curve) adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi seorang konsumen. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Hal ini digambarkan dengan adanya pergeseran (shifting) budget line yang sejajar dari AB menjadi FG. Pada kondisi sebelum ada transfer. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve)7. Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan bentuk transfer lainnya. hal ini bisa juga menjadi suatu kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan maksud pemberian grants tersebut. bagi pemberi. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. Sehingga. jumlah barang yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. maka yang bertambah akibat adanya transfer adalah jumlah anggaran. Namun. Dengan demikian. Dasar-dasar Keuangan Publik . sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. dengan unconditional grants memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang lebih baik bagi Daerah yang muncul dari kemungkinan untuk memilih yang lebih besar. Ini mengingat. i2i2. yaitu menjadi OK (untuk assested public goods) dan menjadi OH (untuk other public goods). Karena tidak ada batasan pada cara pembelanjaan fasilitas publik manapun. tingkat kepuasan masyarakat pun menjadi lebih besar. Kurva i1i1.

Maka. Daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. Jadi. Transfer pengimbang ini juga dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis: 1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open-ended matching grants). dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. sebuah proyek pembangunan universitas membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. Pada kondisi sebelum ada transfer. Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh Pusat kepada Daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. Transfer dari Pemerintah Pusat dalam hal ini berfungsi untuk membantu mengatasi kekurangan dana tersebut. Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). Penjelasan efek dari open-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 26-3. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Hanya saja. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Sama dengan kasus sebelumnya. Pemerintah Pusat dan Daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. Dengan demikian. Transfer ini diperuntukkan apabila transfer tersebut dapat dan memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana yang terjadi. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. di sini Pemerintah Daerah telah mengalokasikan sejumlah dana dari pendapatan daerahnya untuk penyelenggaraan urusan tersebut. Transfer ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. Pemerintah Pusat dan Daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. dana Daerah belum cukup untuk menjamin penyelenggaraan urusan tersebut dengan baik. sedangkan barang A dibiarkan tetap. Misalnya. kekurangan tersebut. Kurva i1i1. Untuk tujuan ini.260 Transfer Dengan Syarat (Conditional Transfer) Transfer ini biasanya digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh Pemerintah Pusat namun kurang dianggap penting oleh Daerah. yaitu: Transfer pengimbang (matching grants). yaitu misalnya Pusat 90% dan Daerah 10%. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. yaitu hanya menggeser kuantitas Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh Pusat. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. i2i2. Sementara itu. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Contohnya adalah proyek-proyek yang menimbulkan efek eksternalitas positif bagi daerahdaerah lain ataupun proyek-proyek dari Pemerintah Pusat yang sifatnya ujicoba atas suatu program atau ide baru (experimenting with new ideas).

Dengan demikian. sebuah proyek pembangunan universitas awalnya membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. karena walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh Pusat. Akibatnya. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. Misalnya. yang pembiayaannya bisa sebagian besar dari Pemerintah Pusat. Namun. estimasi biaya ternyata membengkak menjadi Rp110 miliar atau mengalami kekurangan Rp10 miliar lagi. 2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants). Daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. yaitu dari OD menjadi OP. sementara Daerah yang miskin akan tetap miskin karena mereka tidak dapat membuat proyek kaya. pemberi bantuan dapat mencukupkan bantuannya. karena sifat grant ini yang tidak terbatas. daerah yang kaya akan mampu membuat proyek yang kaya pula dan menjadi semakin kaya. Sehingga. Maka. Hal ini sangat disukai oleh pemberi bantuan (Pemerintah Pusat). namun setelah besarnya biaya proyek melampaui jumlah tertentu. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. dalam perjalanannya. dengan Dasar-dasar Keuangan Publik .261 barang B. kekurangan tersebut. Karena Pemerintah Pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. Gambar 26-3: Efek Dari Open-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Efek negatif dari open-ended matching grants adalah grant yang diberikan oleh Pemerintah Pusat justru akan menyebabkan ketidakmerataan antardaerah. Pada transfer ini terdapat batasan jumlah dana maksimum yang dapat digunakan. Sementara itu. sementara barang A tetap. namun untuk barang A tetap.

dari proyek senilai Rp100 miliar. Kurva i1i1.262 sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. Dengan demikian. yaitu Rp100 miliar. Sehingga. dimana posisi E0 ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. tetapi dari AB menjadi AT yang berarti jumlah barang A yang dapat dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan perkiraan semula. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Pemerintah Pusat dan Daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. Untuk tujuan ini. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. Implikasinya. Transfer bukan pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh Pusat kepada Daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa Pemerintah Daerah sendiri telah/akan mengalokasikan dananya dengan jumlah besar atau kecil. Pemerintah Pusat akan memberikan kontribusinya sebesar 90% dan Daerah 10%. Namun dalam perkembangannya. slope-nya menjadi sejajar pada budget line awalnya. garis anggaran tidak jadi bergeser dari AB menjadi AM. Penjelasan efek dari closed-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 26-4. Karena Pemerintah Pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. Misalnya. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Dalam rencana awal. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. Dengan demikian. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. Jenis transfer ini dapat dipakai oleh Pemerintah Pusat untuk menjadi sarana menginternalisasikan Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu Rp100 miliar. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E0. Pada kondisi sebelum ada transfer. terjadi kenaikan bahan baku sehingga budget seharusnya dinaikkan menjadi Rp110 miliar. sedangkan barang A dibiarkan tetap. sementara barang A tetap. Transfer bukan pengimbang (non-matching grants). yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Implikasinya. Pemerintah Pusat dan Daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. terjadi titik keseimbangan baru dari E menjadi E1. dimana posisi permintaan (demand) barang barang B adalah tetap OD. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. namun untuk barang A tetap. Dalam gambar terlihat bahwa rotasi pada budget line setelah batas tertentu. yaitu dari OD menjadi OP. i2i2. Sama dengan kasus sebelumnya. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. yaitu hanya menggeser kuantitas barang B.

yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. (eksternalitas) terutama kepada Daerah yang menghasilkan limpahan manfaat tersebut. Kurva i1i1. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. namun karena pelaksanaannya menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. Gambar 26-4: Efek Closed-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q T O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Pada kondisi sebelum ada transfer. Jadi. dapat dilihat pada Gambar 26-5. transfer diberikan oleh Pusat untuk mendorong Daerah agar tetap bersemangat dan mau mengalokasikan pendapatan daerahnya untuk pelaksanaan fungsi tersebut. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). maka budget line dari barang Dasar-dasar Keuangan Publik . posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. i2i2. Penjelasan efek dari non-matching grants terhadap pembiayaan daerah. kendati Pemerintah Daerah yang bersangkutan telah mengalokasikan pendapatan daerahnya (local revenue) untuk pembiayaan penyelenggaraan urusan itu. Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). Dengan adanya transfer dari Pusat ke Daerah untuk keperluan khusus tanpa diperlukannya dana pendamping.263 limpahan manfaat.

namun tidak mengubah batas maksimum fasilitas publik lainnya (other public goods).264 publik yang dibantu (assested public goods) mengalami pergeseran (shifting). Gambar 26-5: Efek Non-Matching Grants Other Public Goods i2 i1 A H E F E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods Dasar-dasar Keuangan Publik .

Di Amerika Serikat. menurut Undang-undang No. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pertama. Amerika Serikat. memungut opsen atas pajak penghasilan nasional. Dalam konteks Indonesia. semacam PBB) dewan kabupaten (district council). sedangkan di daerahdaerah nonmetropolitan. Pemerintah Daerah Swedia. sebagaimana telah dibahas sebelumnya. dalam hal pajak penghasilan atau alternatifnya. precept Pemerintah Propinsi merupakan proporsi yang tinggi dari seluruh pungutan pungutan wajib wajib pajak.265 B A B XXVII PERPAJAKAN DAERAH Pendahuluan P emerintah Daerah dapat memperoleh pendapatan dari dari perpajakan dengan tiga cara. Sedangkan. Kedua. surchage di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh Pemerintah Pusat. Davey (1983) mendefinisikan bahwa opsen adalah semacam pungutan pajak (precept) yang dipungut oleh propinsi (county) atau dewan desa (parish council) di Inggris di atas rate (pajak atas harta tetap. para Wajib Pajak di wilayah (daerah) mereka. Menurut pengertian ini. pada umumnya membayar pungutan tambahan beserta pajak-pajaknya kepada Pemerintah Pusat. Opsen tersebut mungkin dipungut sebagai prosentase tambahan atas pendapatan kena pajak (PKP). beberapa panchayats (Pemerintah Kabupaten) di India menikmati opsen atas pajak tanah. Pemerintah Daerah mengenakan opsen atas pajak penjualan di tingkat negara bagian (state). 25/1999. dan India. pajak Pemerintah Pusat yang dibagikan adalah Pajak Penghasilan (PPh). sebagai suatu prosentase Dasar-dasar Keuangan Publik . Praktek seperti ini diterapkan di Swedia. Kemudian. misalnya. ialah melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh Pemerintah Pusat. Untuk lebih jelas memahami opsen. Pemerintah Pusat membayarkan pendapatan opsen tersebut kepada Pemerintah Daerah. dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Pemerintah Daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen.

Kriteria kedua. Sedangkan. kemudahan untuk memungut pertumbuhan pajak tersebut. Elastisitas juga dengan mudah dapat diukur dengan membandingkan hasil penerimaan selama beberapa tahun dengan perubahan dalam indeks harga. dan (ii) pembahasan mengenai opsen. Kedua. Sedangkan elastis maksudnya adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran Pemerintah Daerah. jika Dasar-dasar Keuangan Publik . Kriteria pertama. Ketiga. penduduk di suatu daerah meningkat. adalah keadilan. maka dengan sendirinya pajak juga harus meningkat. pajak daerah jenis ini diatur dalam UU No. adalah pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh Pemerintah Daerah sendiri. elastisitas mempunyai dua dimensi. Alasan pembatasan ini. Prinsip keadilan ini adalah bahwa beban pengeluaran Pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan. Pertama.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. dan pendapatan individu meningkat. karena Indonesia tidak menerapkan sistem opsen. pemerataan. atau PDRB. Seringkali dijumpai Pemerintah Daerah mempunyai banyak jenis pajak. Pertama.266 tambahan atas pajak yang sebenarnya dibayarkan kepada Pemerintah Pusat atau negara bagian. pajak dapat dikatakan baik kalau pajak tersebut bersifat progresif. penduduk. kurang relevan dengan sistem perpajakan di Indonesia. Adapun variabel yang utama adalah dasar hukumnya (kewenangannya). Dalam hubungan ini. pajak dikatakan tidak baik. Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendadapat tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. Elastisitas merupakan kualitas suatu sumber pajak yang penting. Keempat kriteria tersebut adalah kecukupan dan elastisitas. kecukupan dan elastisitas. adalah (i) tax revenue sharing telah dibahas pada bagian sebelumnya. tetapi pendapatan yang dihasilkan tidak mampu melebihi biaya yang dikeluarkan untuk memungutnya. pertumbuhan potensi dari dasar pengenaan pajak itu sendiri. misalnya. Dalam konteks ini. Dalam konteks di Indonesia. Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah Menurut Davey (1983) terdapat empat kriteria mengenai pajak Daerah. Bagian ini hanya akan mendiskusikan mengenai pajak yang diperoleh oleh Pemerintah Daerah sendiri. yakni prosentase pendapatan seseorang yang dibayarkan untuk pajak bertambah sesuai dengan tingkat pendapatannya. dan dapat diterma secara politik. Suatu jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah mungkin ditetapkan berdasarkan ketentuan perundangan Pemerintah Pusat. yaitu dalam hubungan pembebanan pajak atas tingkat pendapatan yang berbeda-beda. dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. kemampuan administratif. Keadilan memiliki tiga dimensi. pemerataan secara vertikal. apabila harga-harga meningkat.

Dalam kondisi seperti ini. implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. kalau diperbolehkan. Seseorang seharusnya tidak dibebani pajak lebih berat hanya karena mereka tinggal di suatu daerah tertentu. maka diharapkan pajak pun dapat secara politis diterima oleh masyarakat. Dengan konsep keadilan horisontal seperti ini. Semua orang pada dasarnya ingin menolak membayar pajak. menetapkan struktur tarif. Sidik (2002) menambahkan bahwa selain keempat kriteria yang ditetapkan Davey (1983) di atas. yakni persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak berkurang dengan adanya kenaikan pendapatan. administrasi pemungutan pajak harus sederhana. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut ditetapkan. maka diharapkan tidak ada penduduk yang yang kebal pajak. kemauan politik diperlukan dalam mengenakan pajak. Bahkan. Maksudnya adalah seseorang yang memiliki jumlah pendapatan yang sama. kriteria non-distorsi terhadap perekonomian merupakan alasan keluarnya UU No. jangan sampai suatu pajak atau pungutan menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan. Artinya. Dengan adanya UU No. Kedua. Dengan adanya kemauan politik seperti ini. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. Untuk menilai suatu pajak agar dapat memenuhi tuntutan keadilan dan pemerataan. maka perpajakan daerah harus memiliki ciri-ciri tertentu. Kriteria ketiga adalah kemampuan adimistratif. 34 Tahun 2000 ini diharapkan pajak daerah tidak menimbulkan beban tambahan bagi masyarakat. Dimana. Adapun ciri-ciri Dasar-dasar Keuangan Publik . maka pajaknya harus sama dengan pegawai kantor (swasta atau negeri) yang memiliki gaji sebesar Rp100 juta per tahun. sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. Ketiga. yaitu dalam konteks hubungan pembebanan pajak berdasarkan sumber pendapatan.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. Petani yang memiliki pendapatan Rp100 juta per tahun. adalah adanya kesepakatan politik. Pembebanan pajak harus adil antarpenduduk di berbagai daerah. Kriteria keempat. Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah Untuk mempertahankan prinsip-prinsip pajak daerah tersebut di atas. Dalam konteks Indonesia. maka dibutuhkan suatu administrasi yang baik dan fleksibel. memungut pajak secara fisik. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. pemerataan secara horisontal. sehingga akan merugikan masyarakat secara menyeluruh (dead-weight loss). Tidak ada pajak yang populer. dalam beberapa jenis pajak. mudah dihitung. pajak daerah juga harus memenuhi kriteria non-distorsi terhadap perekonomian. Namun demikian. lebih tidak populer dibandingkan jenis pajak yang lain. seharusnya dikenakan pajak dalam jumlah yang sama. Pada dasarnya setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan suatu beban baik bagi konsumen maupun produsen.267 pajak tersebut bersifat regresif. adalah keadilan geografis.

268 dimaksud. khususnya yang terjadi di banyak negara sedang berkembang. Adapun fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). 3. • tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). basis pajak yang tidak terlalu “mobile” akan mempermudah daerah untuk menetapkan tarip pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. Pajak daerah yang sangat “mobile” akan mendorong pembayar pajak merelokasi usahanya dari daerah yang beban pajaknya tinggi ke daerah yang beban pajaknya rendah. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. kadang-kadang meningkat secara drastis dan adakalanya menurun secara tajam. misalnya: pajak minuman keras dimaksudkan agar rakyat menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras. Pemerintah Daerah dalam melakukan pungutan pajak harus tetap “menempatkan” sesuai dengan fungsinya. Basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu “mobile”. Menurut Teresa Ter-Minassian (1997). 2. Propinsi dan Kabupaten/Kota. yaitu: fungsi budgeter dan fungsi regulator. fungsi regulator yaitu bila pajak dipergunakan sebagai alat mengatur untuk mencapai tujuan. adalah sebagai berikut: • pajak daerah secara ekonomis dapat dipungut. Untuk alasan ini pajak komsumsi di banyak negara yang diserahkan kepada daerah hanya karena pertimbangan wilayah daerah yang cukup luas (seperti propinsi di Canada). Dengan demikian. Dasar-dasar Keuangan Publik . juga harus mempertimbangkan ketepatan suatu pajak sebagai pajak daerah. seyogyanya. Pajak yang dimaksudkan untuk tujuan stabilisasi ekonomi dan cocok untuk tujuan distribusi pendapatan seharusnya tetap menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. Untuk itu. Dalam konteks Indonesia. pajak ekspor dimaksudkan untuk mengekang pertumbuhan ekspor komoditi tertentu dalam rangka menghindari kelangkaan produk tersebut di dalam negeri. beberapa kriteria dan pertimbangan yang diperlukan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat Pemerintahan Pusat. • relatif stabil. Fungsi budgeter yaitu bila pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi. basis pajak yang “mobile” merupakan persyaratan utama untuk mempertahankan di tingkat pemerintah yang lebih tinggi (Pusat/Propinsi). Sementara. terutama kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah. maka pemberian kewenangan untuk mengadakan pemungutan pajak selain mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan yang berlaku secara umum. Sebaliknya. artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. yaitu: 1. seharusnya diserahkan kepada Pemerintah Pusat. Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah.

Model Leviathan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi. karena akan memperlemah hubungan antar pembayar pajak dengan pelayanan yang diterima (pajak adalah fungsi dari pelayanan). idealnya. Gambar 27-1 ini juga mengasumsikan bahwa penyesuaian wajib pajak terhadap pengenaan tarif pajak tertentu adalah independent terhadap jenis pajak dan tarif pajak lainnya. namun penyerahan kewenangan pemungutannya kepada daerah akan tepat sepanjang manfaatnya dapat dilokalisir bagi pembayar pajak lokal. Pemerintah Daerah cenderung untuk menggunakan tarif yang tinggi agar diperoleh total penerimaan pajak daerah yang maksimal. Pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. Dengan asumsi bahwa biaya administrasi perpajakan dianggap tidak signifikan dan ceteris-paribus level pelayanan publik yang dibiayai dari penerimaan pajak. 8. harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak terlalu berfluktuasi. Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar.269 4. 5. maka Gambar 27-1 di bawah ini menunjukkan hubungan antara tarif pajak proporsional atas basis pajak tertentu. Bentuk kurva (“Laffer”) yang berbentuk parabola menghadap sumbu Y (tarif pajak). penegakkan hukum (law-enforcement) dan komputerisasi. menghasilkan Total Penerimaan Pajak Maksimum yang ditentukan oleh kemampuan wajib pajak untuk menghindari beban pajak baik legal maupun illegal dengan mengubah “economic behavior” dari wajib pajak. tetapi dapat dicapai total penerimaan pajak maksimum. Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan secukupnya pada semua tingkat pemerintahan. seperti identifikasi jumlah pembayar pajak. secara teoritis tidak selalu menghasilkan total penerimaan maksimum. 7. Hal ini tergantung pada respons wajib pajak. tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga Dasar-dasar Keuangan Publik . Pada kondisi ini dikenal sebagai Revenue Maximizing Tax Rate. dan hanya kegiatan ekonomi saja yang dipengaruhi oleh besaran pajak. Model Leviathan Penggalian sumber-sumber keuangan daerah khususnya yang berasal dari pajak daerah pada dasarnya perlu memperhatikan 2 (dua) hal. Formulasi model ini dikenal sebagai Model Leviathan. dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi pembayar pajak daerah. Model Leviathan akan mencapai total penerimaan pajak maksimum (T*) pada tarif t*. menunjukkan bukanlah tarif tertinggi. Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain. 6. objek dan subjek pajak dan besarnya pajak terutang dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah. Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data. Hasil penerimaan. Pada tarif t*. Pajak daerah seharusnya “visible”. yaitu : (i) dasar pengenaan pajak dan (ii) tarif pajak. permintaan dan penawaran barang yang dikenakan tarif pajak lebih tinggi.

66 Tahun 2001 tentang Retribusi Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam UU No.18 Tahun 1997 menjadi UU No. Model Leviathan ini dapat dikembangkan untuk menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak untuk mencapai Total Penerimaan Pajak Maksimal.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Gambar 27-1: Model Leviathan Tarif Pajak Daerah Kurva Laffer t* Total Penerimaan Pajak Daerah T* Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Pengaturan kewenangan pengenaan pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Indonesia telah diatur sejak lama. namun harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP). Seiring dengan keluarnya UU No. maka UU No.34 Tahun 2000.65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No. diharapkan pajak daerah dan retribusi daerah akan menjadi salah satu PAD yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. pengaturan agar Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah harus mendapat pengesahan dari Pusat juga dianggap telah mengurangi otonomi daerah. dalam perkembangannya. Selain itu. Walaupun dalam UU tersebut sebenarnya memberikan kewenangan kepada daerah. maka akan dicapai Total Penerimaan Maksimum. yaitu PP No.34 Tahun 2000. 18 Tahun 1997 berlaku belum ada satupun daerah yang mengusulkan pungutan baru karena dianggap hal tersebut sulit dilakukan. UU No. 22/1999 dan UU No. Dengan diubahnya UU No.18 Tahun 1997 diubag dengan UU No.18 Tahun 1997 dianggap kurang memberikan peluang kepada daerah untuk mengadakan pungutan baru. terutama sejak tahun 1997 dengan dikeluarkannya UU No. Namun.34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya. 25/1999. Sehingga pada waktu UU No.270 dan kuantitas barang terhadap pengenaan pajak sedemikian rupa.

f. Jenis Pajak Propinsi bersifat limitatif yang berarti Propinsi tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan. (vi) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C. artinya Kabupaten/Kota diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. b. e. dalam pelaksanaannya Propinsi dapat tidak memungut jenis pajak yang telah ditetapkan tersebut jika dipandang hasilnya kurang memadai. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. Namun demikian.271 Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh Propinsi dan jenis pajak yang dipungut oleh Kabupaten/Kota. Jenis-Jenis Pajak Daerah Propinsi Pajak Propinsi ditetapkan sebanyak 4 (empat) jenis pajak. (iii) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). (ii) Pajak Restoran. Menjaga kelestarian lingkungan. Dasar-dasar Keuangan Publik . (iii) Pajak Hiburan. Berkaitan dengan besarnya tarif. dan h. yaitu : (i) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (PKB & KAA). Adanya pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh Propinsi terkait dengan kewenangan Propinsi sebagai daerah otonom yang terbatas yang hanya meliputi kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas daerah Kabupaten/Kota dan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan daerah Kabupaten/Kota. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. (ii) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB & KAA). Objek pajak bukan merupakan objek pajak Propinsi dan/atau objek pajak Pusat. dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria yang ditetapkan dalam UU tersebut. (iv) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3ABT & AP). c. Kriteria dimaksud (Pasal 2 ayat 4) adalah : a. Jenis-Jenis Pajak Daerah Kabupaten Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota diberi kewenangan untuk memungut 7 (tujuh) jenis pajak (Pasal 2 ayat 2). (vii) Pajak Parkir. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. yaitu : (i) Pajak Hotel. berlaku definitif untuk Pajak Propinsi yang ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No. Potensinya memadai.65 Tahun 2001. 34 Tahun 2000. (v) Pajak Penerangan Jalan. serta kewenangan bidang pemerintahan tertentu. (iv) Pajak Reklame. Jenis pajak Kabupaten/Kota tidak bersifat limitatif. Bersifat pajak dan bukan retribusi. g. d. dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU.

c. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen). Gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Daerah Kabupaten/Kota yang terkait. tarif jenis pajak ditetapkan paling tinggi sebesar: a. b. Dalam hal objek pajak Kabupaten/Kota dalam satu Propinsi yang bersifat lintas Daerah Kabupaten/Kota. Dengan adanya pemisahan jenis pajak yang dipungut oleh Propinsi dan yang dipungut oleh Kabupaten/Kota diharapkan tidak adanya pengenaan pajak berganda. Hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota Besarnya tarif yang berlaku definitif untuk Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 30% (tiga puluh persen). Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen). Hasil penerimaan pajak Kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10% (sepuluh persen) bagi Desa di wilayah Daerah Kabupaten yang bersangkutan. 34/2000 Pasal 3 ayat (1). b. Bagian Desa ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Desa. Sedangkan ketentuan mengenai realokasi dilakukan oleh Gubernur atas dasar kesepakatan yang dicapai antar Daerah Kabupaten/Kota yang terkait dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Penggunaan bagian Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan sepenuhnya oleh Daerah Kabupaten/Kota. Bagian Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Daerah Propinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Daerah Kabupaten/Kota.272 Ketentuan Mengenai Bagi Peruntukkannya (Pasal 2A) Hasil Pajak Propinsi dan Hasil penerimaan pajak Propinsi sebagian diperuntukkan bagi Daerah Kabupaten/Kota di wilayah Propinsi yang bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Dalam hal hasil penerimaan pajak Kabupaten/Kota dalam suatu Propinsi terkonsentrasi pada sejumlah kecil Daerah Kabupaten/Kota. namun tidak boleh lebih tinggi dari tarif maksimum yang telah ditentukan dalam UU tersebut. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). c. Disebutkan dalam UU No. Dasar-dasar Keuangan Publik . Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen). Gubernur berwenang merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Daerah Kabupaten/Kota dalam Propinsi yang bersangkutan.

Rendahnya basis pajak ini bagi sementara daerah berarti memperkecil kemampuan manuver keuangan daerah dalam menghadapi krisis ekonomi. adalah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). Pajak Reklame 25 % (dua puluh lima persen). k.273 d. f.34 Tahun 2000 daerah Kabupaten/Kota dimungkinkan untuk menetapkan jenis pajak dan retribusi baru. • Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. buoyancy adalah elastisitas penerimaan 9 Dasar-dasar Keuangan Publik . Keadaan inidiperlihatkan dalam suatu studi yang dilakukan oleh LPEM-UI bekerjasama dengan Clean Urban Project. e. Permasalahan yang dihadapi oleh Daerah pada umumnya dalam kaitan penggalian sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah. yang merupakan salah satu komponen dari PAD. Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). Sebagian besar penerimaan daerah masih berasal dari bantuan Pusat. dan lebih mengandalkan kemampuan “negosiasi” daerah terhadap Pusat untuk memperoleh tambahan bantuan. g. h. i. • Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. RTI. serta sifatnya bervariasi antar daerah. Hal ini mengakibatkan bahwa pemungutan pajak cenderung dibebani olehbiaya pungut yang besar. melihat kriteria pengadaan pajak baru sangat ketat. terutama hal ini disebabkan oleh: • Relatif rendahnya basis pajak dan retribusi daerah. Peranan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Mendukung Pembiayaan Daerah Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Pajak Parkir 20% (dua puluh persen). Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). diperkirakan daerah memiliki basis pungutan yang relatif rendah dan terbatas. LPEM Universitas Indonsia bekerjasama dengan Clean Urban Project. Jakarta. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). RTI8 bahwa banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD. khususnya kriteria pajak daerah tidak boleh tumpang tindih dengan Pajak Pusat dan Pajak Propinsi. Buoyancy adalah perbandingan persentase perubahan penerimaan pajak terhadap persentase perubahan pendapatan nasional. Dengan kata lain. Untuk mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi daerah. Namun. j. Berdasarkan UU No. banyaknya bantuan dan subsidi ini mengurangi “usaha” daerah dalam pemungutan PAD-nya. PAD masih tergolong memiliki tingkat buoyancy9 yang 8 Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia. 1999. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen). Dari segi upaya pemungutan pajak. Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). tampaknya pungutan pajak dan retribusi daerah masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

sehingga mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat bervariasi. Salah satu sebabnya adalah diterapkan sistem “target” dalam pungutan daerah. Variasi dalam penerimaan ini diperparah lagi dengan sistem bagi hasil (bagi hasil didasarkan pada daerah penghasil sehingga hanya menguntungkan daerah tertentu). Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa distribusi kewenangan perpajakan antara daerah dan pusat sangat timpang. Machfud Sidik. Hal ini mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat berarti bagi daerah. Dasar-dasar Keuangan Publik .11 Ketimpangan dalam penguasaaan sumbersumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia dari sisi revenue assignment masih terlalu ”sentralistis”.274 rendah. Sebagai akibatnya. Sebagian besar daerah Propinsi hanya dapat membiayai kebutuhan pengeluarannya kurang dari 10%10. pajak pertambahan nilai dan bea masuk. 8. 10 11 Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2001. Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah. perpajakan terhadap PDB yang menunjukkan berapa persen perubahan penerimaan perpajakan apabila PDB berubah 1%. seperti: pajak penghasilan. op. • Tidak signifikannya peran PAD dalam anggaran daerah tidak lepas dari ‘sistem tax assignment’ di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada Pemerintah Pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial (yang tentunya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu). peranan PAD dalam membiayai kebutuhan pengeluaran daerah sangat kecil dan bervariasi antar daerah yaitu kurang dari 10% hingga 50%. dan kemampuan masyarakat. Demikian pula. 2002.cit. Selama ini.39% dari total penerimaan pajak (Pajak Pusat dan Pajak Daerah). distribusi pajak antar daerah juga sangat timpang karena basis pajak antar daerah sangat bervariasi (ratio PAD tertinggi dengan terendah mencapai 600). walaupun dari sisi pertumbuhan ekonomi sebenarnya pemasukkan pajak dan retribusi daerah dapat melampaui target yang ditetapkan. yaitu jumlah penerimaan pajak yang dipungut oleh daerah hanya sebesar 3. keadaan geografis (berdampak pada biaya yang relatif mahal). beberapa daerah lebih condong memenuhi target tersebut. hal. Peranan pajak dan retribusi daerah dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi juga terjadi karena adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah penduduk.

Walaupun kemungkinan nilai pinjaman yang mampu dikumpulkan cukup besar karena banyaknya sumber yang bisa digunakan. Pemerintah Pusat. baik dari dalam negeri maupun luar negeri. jangka pendek dan jangka panjang. dan kemampuan meminjam (ability to borrowing). Pinjaman dalam negeri dapat berasal dari. Banyaknya pihak yang dapat dijadikan sumber pinjaman membuat pembiayaan pembangunan dengan pinjaman mampu mengumpulkan dana yang cukup besar. P Pada bagian ini akan dibahas mengenai tujuan dan batas-batas pinjaman. lembaga keuangan bank. Sumber pinjaman dapat berasal dari berbagai pihak. harus menjadi pertimbangan dalam melakukan pinjaman. lembaga keuangan bukan bank. Pinjaman yang berasal dari masyarakat penghimpunan dana dapat melalui penerbitan Obligasi Daerah. terutama risiko dalam pembayaran bunga maupun pokok. Risiko yang terkandung dalam melakukan pinjaman. dan sumber lainnya seperti pinjaman dari daerah lain. Pinjaman juga dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu. Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Pemerintah Daerah dapat membiayai sebagian pengeluarannya dengan melakukan pinjaman. Pemilihan jangka waktu akan sangat tergantung pada jenis proyek yang akan dibiayai. persyaratan-persyaratan pinjaman. Dan agar pembahasan ini lebih riil di lapangan. namun perlu diperhatikan adanya batas meminjam yang disesuaikan dengan kemampuan tiap-tiap daerah. Dalam konstitusi di berbagai negara.275 B A B XXVIII PINJAMAN DAERAH Pendahuluan injaman merupakan alternatif lain yang bisa dipilih untuk membiayai pembangunan daerah. metode dan sumber-sumber pinjaman. Pada dasarnya kewenangan daerah Dasar-dasar Keuangan Publik . dalam subbagian selanjutnya akan disajikan praktek pinjaman daerah di Indonesia. masyarakat. masalah kewenangan daerah untuk meminjam ini telah diatur.

untuk membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. Cara leasing ini semakin dikenal untuk menghindari pembelian peralatan yang cepat menjadi usang sebagai akibat perubahan teknologi. proyek yang dibiayai tersebut dapat menghasilkan penerimaan (revenue) yang dapat digunakan untuk membayar kembali dana pinjaman. Pembelian sebuah pabrik dan peralatan lainnya juga dapat dibiayai dengan pinjaman. dengan jangka waktu sampai tiga bulan. untuk menutup kebutuhan dana (cash) jangka pendek. Sementara itu. Suatu cara penyelesaian yang umum untuk membeli peralatan dengan pinjaman adalah dengan membeda-bedakan perkiraan umur masingmasing peralatan. Pinjaman dengan maksud untuk menutup kebutuhan dana jangka pendek adalah sangat umum dilakukan. Praktek dan konsep yang secara luas dapat diterima adalah dana pinjaman untuk membiayai kegiatan investasi yang dapat “membiayai sendiri”. 3. Pemerintahan New York juga pernah melakukan pinjaman untuk membayar gaji pegawai dan uang pensiunan dan membayar hutang yang telah jatuh tempo. Pemerintah negara bagian di Amerika Serikat juga mengadakan pinjaman melalui industrial aid bonds untuk menyediakan dana investasi perusahaan manufaktur perorangan. penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pembangunan prasarana dan penyediaan pelayanan umum. Praktek-praktek seperti ini antara lain sering diterapkan di negara-negara maju. biasanya sebagai suatu keharusan karena pola pengumupulan penerimaan daerah yang tidak seimbang. untuk membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. Pengembalian pinjaman tersebut dari hasil penjualan rumah-rumah dan toko-toko yang dibangun oleh British. bahwa berbagai pinjaman dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Manfaat dari pinjaman seperti ini adalah. selain mendapatkan sumber penerimaan bagi daerah. pembangunan British New Town Corporation dibiayai oleh Pemeirntah Pusat Inggris. Maksudnya adalah. akan tetapi Pemerintah Daerah seringkali mencari pinjaman langsung dari deposito jangka pendek dari masyarakat berupa short-term bills. Pilihan lain adalah dengan cara pinjam sewa (leasing). Kekurangan dana dari anggaran tahunan adalah hal yang umum terjadi untuk Pemerintah Pusat. 2. membayar hutang dan membiayai sebagaian besar dari biaya-biaya rutin (operating cost). Pada tahun 1975. Bentuk pinjaman yang umum berupa bank overdraft. Pemerintah Daerah juga mampu menyediakan pelayanan publik secara lebih baik.276 melakukan pinjaman adalah seperti yang dituliskan oleh Davey (1983). untuk membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). untuk membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah. 4. 5. biasanya diarahkan untuk membiayai prasarana publik yang reraltif cenderung lebih mengedepankan Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh. Tetapi jarang diperkenankan bagi Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah di Italia meminjam 61% dari penerimaan kotor mereka untuk membiayai pengeluaran modal.

hampir 100% pinjaman jangka panjang Pemerintah Daerah berasal dari Pemerintah Pusat. Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Terdapat beberapa sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing. Di antara sistem pinjaman tersebut di atas. 8. ada tiga cara yang paling sering digunakan oleh Pemerintah Daerah di berbagai negara. Dana untuk sewa beli peralatan (leasing). Pertama. kemudian oleh Pemerintah Pusat. Bank Pembangunan Amerika Latin (untuk negara-negara di kawasan Amerika Latin). Kedua. misalnya dana pensiun. Dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek. sumber dana yang berasal 12 Mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan aggreement adalah pinjaman dari luar negeri ke Pemerintah Pusat. sumber pinjaman untuk pembiayaan jenis ini biasanya berasal dari negara-negara donor dengan tingkat bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan bunga komersial. sesungguhnya batasan-batasan atau teknik-teknik pembiayaan yang berlaku dalam dunia korporasi juga berlaku bagi Pemerintah Daerah. Pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional. di Indonesia. Pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bank-bank komersial. Obligasi Jangka Panjang (bond) 5. yaitu: 1. Praktek ini diterapkan oleh India. Dari pembahasan ini prinsip dasar yang harus dipegang ketika Pemerintah Daerah melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristik dari pinjaman itu sendiri. 9.6% pinjaman daerah berasal dari Pemerintah Pusat pada tahun 1979. Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). 4. Bank Asia Afrika dan bantuan bilateral. karena ada larangan dari Pemerintah Pusat bagi Pemerintah Daerah untuk meminjam di luar skema Pemerintah Pusat. Pinjaman hipotek atas asset tetap.277 manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat dibandingkan dengan revenue yang dihasilkan. tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan atau investasi jangka panjang. Pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB). Bahkan. Dengan kata lain. yang biasanya pinjaman ini diberikan kepada Pemerintah Pusat negara yang bersangkutan melalui mekanisme pinjaman two step loan atau subsidary loan aggreement. dimana 71. pinjaman tersebut diteruskan ke Pemerintah Daerah. 6. 2. seperti Bank Dunia (World Bank). karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pembahasan lebih lanjut untuk kasus di Indonesia ini akan di bahas secara khusus di subbagian berikutnya.12 3. adalah Pemerintah Pusat memberikan pinjaman kepada Pemerintah Daerah. Pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas (umumnya dari Pemerintah Pusat). Oleh karenanya. Pinjaman yang bersifat jangka pendek. 7.

maka Pemerintah Daerah harus mendapatkan pinjaman dengan jangka waktu yang setidaknya sama dengan umur proyek. Di Indonesia. Akan tetapi. Untuk tujuan capital investment. Jangka waktu pinjaman sangat tergantung dengan tujuan penggunaan pinjaman. Misalnya. tingkat bunga pun akan semakin tinggi. (iv) keamanan pinjaman. misalnya pinjaman untuk masa 10 tahun. Ketiga. Sementara itu. Persyaratan keamanan pinjaman muncul karena pihak pemberi pinjaman biasanya menghendaki suatu keadaan aman terhadap kegagalan pembayaran Dasar-dasar Keuangan Publik . Komponen dalam setiap kali pembayaran tersebut adalah pokok pinjaman dan bunga pinjaman. Metode pembayaran yang lain adalah menggunakan metode sinking fund. Jika menggunakan metode anuitas berarti membayar beberapa kali angsuran dalam jumlah yang sama besarnya setiap kali pembayaran hingga masa pembayaran selesai. semakin lama suatu pinjaman. melalui bank-bank komersial. Sebagai pilihan yang dapat dilakukan adalah dimana jangka waktu pinjaman dapat diturunkan sesuai penerimaan dari pajak dan retribusi untuk mengimbangi beban pinjaman tersebut. pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat atau lembaga keuanga internasional sering mencari turnover dana yang dipinjamkan secepat mungkin. sehingga hutang pokok yang dibayarkan adalah kumulatif selama masa pinjaman. Persyaratan cara pembayaran kembali akan tergantung pada metode pembayaran yang dilakukan. Yang terpenting adalah bahwa jangka waktu pinjaman bergantung pada sikap pasar serta suku bunga yang berlaku. Persyaratan tingkat bunga pinjaman yang bersumber dari pasar keuangan pasti didasarkan pada bunga pasar. dan (v) persetujuan dan penyidikan. Pada umumnya. (ii) cara pembayaran kembali.278 dari pasar keuangan. (iii) tingkat bunga. Jangka waktu pinjaman Pemerintah Daerah bisa saja berkisar antara 24 jam (overnight) hingga 40 tahun. berupa management fee dan commitment fee yang besarnya sangat tergantung dari negosiasi antara kedua belah pihak. khusus untuk pinjaman jangka pendek untuk memenuhi cash flow Pemerintah Daerah. namun dalam prakteknya metode ini sering lebih merupakan usaha penyelematan terhadap utang kepada pihak luar (external debt). dengan mengeluarkan obligasi (bonds) di pasar modal. management fee dan commitment fee sekitar 0. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional oleh suatu Pemerintah biasanya memberlakukan bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan bunga pasar. pengalaman menunjukkan bahwa bila cara sinking fund dtelah diterapkan dan untuk memenuhi kewajibannya disanggupi dengan baik. dimana angsuran pinjaman dibayar secara tetap. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional tersebut juga memberlakukan fee. misalnya. Namun. Biasanya. Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah (i) jangka waktu pinjaman. dengan maksud agar dapat meningkatkan kemampuan finansial Pemerintah Daerah.25% dari pinjaman yang belum ditarik.

semakin besar. Kewenangan yang lebih besar kepada Daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah dan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan daerah. justify the debt service paid to lenders”. Sedangkan DCR pada prinsipnya merupakan angka Dasar-dasar Keuangan Publik . misalnya lembaga perwakilan daerah. vis-a-vis the project socioeconomic benefits. Hal ini dilandasi dengan perkembangan tingkat urbanisasi yang lebih tinggi daripada kemampuan daerah menyediakan berbagai infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik. pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). biasanya tidak dapat dilakukan sebelum ada persetujuan dari lembaga yang berwenang.. Persyaratan persetujuan muncul karena suatu pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Keterbatasan keuangan Pemerintah Pusat yang berimplikasi pada dana perimbangan pusat dan daerah. Keterbatasan Pemerintah Daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah yang berasal dari daerahnya sendiri menjadi alasan penggunaan pinjaman dalam pembiayaan suatu daerah. Untuk menghindari risiko yang dapat terjadi atas penggunaan pinjaman daerah dalam pembiayaan hendaknya memperhatikan kaidah yang berlaku dalam memperkirakan kapasitas meminjam Pemerintah Daerah. local government should only use sub-national debt to finance capital projects that are anticipated to produce financial rate of returns that.. DSR merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah yang pada prinsipnya digunakan Pemerintah Daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman.. Dalam konteks di Indonesia. 2000): “ .. dalam berbagai klausul pinjaman oleh Pemerintah Daerah. pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah baru dapat dijalankan jika DPRD setempat memberikan persetujuan. Penggunaan Pinjaman Dalam Pembiayaan Kebutuhan akan pinjaman daerah muncul akibat kecenderungan yang terjadi dimana peningkatan peran Pemerintah Daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah. misalnya proyekproyek infrastruktur. sedangkan pinjaman daerah yang berasal dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. Prasyarat utama bagi diperbolehkannya daerah meminjam adalah dengan menerapkan “the golden rule guidelines” bagi pinjaman daerah (Magrassi. Proyek-proyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial selayaknya didanai oleh pembiayaan jangka panjang.279 kembali.. Dari sisi teori fiskal. karena Pemerintah Daerah harus memperhitungkan secara tepat nilai opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek-proyek yang akan dilaksanakannya sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi (Alisjahbana. Makanya. Dua ukuran yang sering digunakan untuk itu adalah Debt Service Ratio (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR). 2001). Masyarakat yang menerima manfaat proyek di masa mendatang secara prinsip harus ikut menanggung beban biaya pengadaan proyek tersebut. tidak jarang pemberi pinjaman meminta adanya jaminan dari Pemerintah Pusat atau dijamin dengan aset tertentu.

pembiayaan defisit anggaran rutin tahunan. Pinjaman daerah yang berasal dari luar negeri harus melalui Pemerintah Pusat. 2001). Pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran arus kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang Dasar-dasar Keuangan Publik . Walaupun demikian. tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. dan pembiayaan investasi jangka panjang yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. (a) sumber dalam negeri (b) sumber luar negeri. dan terutama tersedianya dana untuk pengembalian pinjaman secara aman. a. Pinjaman harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan mengangsur serta cara mengalokasikan pada pembangunan dan atau penyediaan layanan publik yang produktif. § Pemerintahan Pusat § Lembaga Keuangan Bank § Lembaga Keuangan Bukan Bank § Masyarakat § Sumber Lainnya Pinjaman daerah menurut PP No 107 Tahun 2000 adalah: semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang. 25 Tahun 1999 menyebutkan bahwa daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari. sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Pinjaman daerah sebaiknya bersifat jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat (Wiratmo. Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Ketentuan Dasar Pinjaman Daerah di Indonesia Undang-undang No. Pinjaman dari dalam negeri dapat bersumber dari (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2). Undangundang No 25 Tahun 1999 Pasal 11 ayat 1 menyebutkan bahwa: "Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya". Istilah disisihkan dimaksudkan untuk mempertegas adanya rencana untuk membiayai proyek melalui dana pinjaman daerah. pinjaman harus didefinisikan sebagai sumber dana pelengkap untuk mempercepat proses pembangunan daerah.280 perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan neto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. Dalam hal ini. Pinjaman pada dasarnya dapat digunakan untuk pembiayaan defisit aliran kas jangka pendek. pembiayaan investasi yang diharapkan dapat secara langsung menghasilkan pendapatan. perlunya persetujuan Pemerintah Pusat harus ada evaluasi yang menyeluruh tentang aspek-aspek dapat tidaknya usulan pinjaman untuk diproses lebih lanjut. pembelian peralatan dan kendaraan yang memiliki umur ekonomis jangka menengah. Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya maka. Sedangkan untuk pinjaman dari dalam negeri dapat secara langsung dilakukan bila disetujui oleh DPRD dengan prinsip pinjaman tersebut harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan daerah untuk membayar pinjamannya.

Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 telah menyebabkan terjadi perubahan yang sangat mendasar mengenai pengaturan hubungan Pusat dan Daerah. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB. dimana negara lender hanya melakukan pinjaman dengan Pemerintah Pusat sebagai peminjam (Pakpahan. Dasar-dasar Keuangan Publik . World Bank. Pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. Pasal 11 UU No. (3) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset Daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. Kondisi ini sangat berbeda dengan ketentuan mengenai pinjaman daerah sebelum UU No. 25/1999 menyebutkan bahwa: (1) Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya. 22/1999 dan UU No. 22/1999 dan UU No. yang artinya Pemerintah Pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). (2) Daerah melakukan pinjaman dari sumber luar negeri melalui Pemerintah Pusat.281 b. Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah Pada tahun 1999. dan lain-lain) mensyaratkan perpanjian pinjaman dilakukan oleh negara sebagai anggota. yaitu UU No. Pemerintah RI memberlakukan dua undang-undang penting yang berkaitan dengan desentralisasi. Hal yang sama juga berlaku untuk pinjaman bilateral. Namun. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. khususnya dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. Salah satu hal penting yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU No. 25/1999 adalah diperkenankannya Daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. dan (4) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas Daerah. baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri. yang dalam banyak literatur disebut intergovernment fiscal relation yang dalam UU 25/1999 disebut perimbangan keuangan. yang dalam hal ini adalah Pemerintah Pusat. 2004). 25/1999 (lihat Tabel 28-1 ).

25/1999 dan PP 107/2000 adalah sebagai berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . dalam rangka mengimplementasikan Pasal 11 UU No. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi/peraturan. 25/1999 PP 107/2000 Institutional Setting Persetujuan (Approval) Persetujuan (Approval) • Menteri Dalam Negeri. berkenaan • Menteri Keuangan dengan persetujuan batas • DPRD maksimum pinjaman dan persetujuan pemberian. • Menteri Keuangan. 25/1999. Beberapa komponen kunci tentang pinjaman daerah yang ditetapkan oleh UU No. 1994: § Minimum DSCR = 1 • DSCR minimal 2. 2000 UU No. • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 jumlah belanja APBD tahun anggaran berjalan. 5/1974 Lebih jauh. sebagai pengawas RPD dan persetujuannya Batasan Pinjaman (Persyaratan) Batasan Pinjaman (Persyaratan) • 1982: Debt Service Coverage Ratio • Jumlah kumulatif pokok pinjaman (DSCR) < 15% yang wajib dibayar tidak melebihi 75% dari jumlah Penerimaan • Kepmendagri Nomor 96 Tahun Umum APBD tahun sebelumnya.282 Tabel 28-1: Pinjaman Daerah Sebelum dan Setelah Kebijakan Desentralisasi SEBELUM DESENTRALISASI SETELAH DESENTRALISASI Legal Foundation UU No. Sumber-Sumber Pinjaman • Pinjaman Luar Negeri Pemerintah • Sumber Dalam Negeri: § Pemerintah Pusat Pusat § Perbankan • Pinjaman Pemerintah Pusat melalui § Lembaga keuangan nonRDI bank • INPRES untuk pembangunan pasar § Sumber-sumber lain • IPEDA • Sumber-sumber lain (BPD dan • Sumber Luar Negeri § Bilateral sektor swasta) § Multilateral • Pemerintah Pusat melalui RPD Sumber: Alm & Mulyani. yaitu PP 107/2000 tentang Pinjaman Daerah.5 berdasarkan § Average DSCR > 1.5 proyeksi penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu pinjaman.

25/1999 dan Pasal 2 PP 107/2000 Jenis/Tipe Pinjaman Jangka Panjang (Long Term) Penggunaannya • Hanya dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset Daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. Sumber: Pasal 11 UU No. • Lembaga Keuangan Bank. • Lembaga Keuangan Bukan Bank. 25/1999 dan Pasal 4 & 5 PP 107/2000 Persyaratan Jangka Panjang (Long Term) Keterangan • Jumlah kumulatif pokok Pinjaman Daerah yang wajib dibayar tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah Penerimaan Umum APBD tahun sebelumnya. • Jumlah maksimum Pinjaman Jangka Pendek adalah 1/6 (satu per enam) dari jumlah belanja APBD tahun anggaran yang berjalan.5 (dua setengah). dan • Berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran Daerah tahunan selama jangka waktu pinjaman. • Sumber lainnya.283 Sumber Pinjaman Indonesia/Dalam Negeri Institusi tempat Meminjam • Pemerintah Pusat. Debt Service Coverage Ratio (DSCR) paling sedikit 2. Luar Negeri • Bilateral • Multilateral Sumber: Pasal 11 UU No. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. • Masyarakat. Jangka Pendek (Short Term) • Daerah dapat melakukan Pinjaman Jangka Pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan Kas Daerah. Jangka Pendek (Short Term) Sumber: Pasal 6 & 7 PP 107/2000 Dasar-dasar Keuangan Publik .

Daerah mengajukan usulan kepada Menteri Keuangan disertai surat persetujuan DPRD. • Apabila Pemerintah Pusat telah memberikan persetujuan. • Daerah mengajukan usulan pinjaman kepada Pemerintah Pusat disertai surat persetujuan DPRD. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat. maka kewajiban tersebut diselesaikan sesuai perjanjian pinjaman. • Pemerintah Pusat melakukan evaluasi dari berbagai aspek untuk dapat tidaknya menyetujui usulan tersebut. Pemerintah Daerah mengadakan perundingan dengan calon pemberi pinjaman yang hasilnya dilaporkan untuk mendapatkan persetujuan Pemerintah Pusat. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk dilakukan evaluasi. setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Pemerintah Pusat.284 Prosedur Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat • Untuk memperoleh pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat. Sumber: Pasal 13 PP 107/2000 Pembayaran Kembali Pinjaman Daerah • Semua pembayaran yang menjadi kewajiban Daerah yang jatuh tempo atas Pinjaman Daerah merupakan prioritas dan dianggarkan dalam pengeluaran APBD. • Perjanjian Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri ditandatangani oleh Kepala Daerah dengan pemberi pinjaman luar negeri. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan. • Perjanjian pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat ditandatangani oleh Menteri Keuangan dan Kepala Daerah. Sumber: Pasal 10 PP 107/2000 Dasar-dasar Keuangan Publik . • Pembayaran kembali Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri oleh Daerah. Sumber: Pasal 14 PP 107/2000 Larangan Penjaminan • Daerah dilarang melakukan perjanjian yang bersifat penjaminan terhadap pinjaman pihak lain yang mengakibatkan beban atas keuangan Daerah. maka Pemerintah Pusat memperhitungkan kewajiban tersebut dengan Dana Alokasi Umum (DAU) kepada Daerah. • Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijadikan jaminan dalam memperoleh Pinjaman Daerah. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. Sumber: Pasal 12 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Luar Negeri • Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui Pemerintah Pusat. • Daerah dapat melakukan Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. dilakukan dalam mata uang sesuai yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman luar negeri.

Transaksi tersebut sudah dilakukan sejak jauh sebelum abad Masehi. modal. Perusahaan multinasional bisa memproduksi barang di Indonesia (karena tenaga kerja murah). Sebagai contoh. Faktor lain seperti ketidakpastian. kemudian barang jadi dijual ke Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan cara semacam itu kemakmuran dunia akan semakin meningkat. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai doktrin keunggulan komparatif. skala ekonomi.285 B A B XXIX KOORDINASI PAJAK INTERNATIONAL Pendahuluan ransaksi internasional bukan merupakan hal yang baru. Juga teori tersebut mengasumsikan pertukaran barang komoditi. Kemudian kedua negara tersebut akan melakukan pertukaran: negara yang satu mengeksport tekstil dan mengimpor computer. mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien. Asumsi dalam teori tersebut adalah bahwa faktor produksi seperti tenaga kerja. kemudian memperoleh modal dari pasar keuangan eropa. Daya saing suatu negara sudah ditentukan (given). negara dengan tenaga kerja murah akan lebih baik memproduksi barang bercirikan padat karya. Ekonom klasik menaruh perhatian terhadap perdagangan internasional. produk didesain di prancis. perusahaan multinasional dibangun dengan asumsi bahwa faktor produksi sangat mobil. tergantung sumberdaya yang dipunyai. seperti tekstil dan sepatu. tanah dan mesin tidak mudah berpindah (tidak mobil). sedangkan yang lainnya mengekspor computer dan mengimpor tekstil. bukannya barang yang terdiferensiasi. Jika ekonomi klasik mengasumsikan bahwa faktor produksi tidak mudah berpindah. T Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah. teknologi tidak dipertimbangkan dalam teori tersebut. Negara dengan kemampuan teknologi tinggi sebaiknya memproduksi barang seperti computer atau perangkat lunak. Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya.

akan membayar pajak sesuai dengan ketentuan Indonesia atas penghasilan yang diperolehnya di Indonesia. sedangkan pusat perusahaan tersebut di Jepang. A juga akan dikenakan pajak oleh pemerintah Amerika Serikat. Mr. tetapi sudah melintas batas-batas negara. terdapat beberapa asas yang perlu diperhatikan yang diantaranya adalah: 1. Faktor produksi tidak dibatasi oleh batas-batas negara. makin meningkatnya peranan perusahaan multinasional. apakah keadilan horizontal (keadilan antar perorangan) yang mengharuskan bahwa pajak total yang dibayarnya (baik didalam maupun luar negeri) akan sama dengan pajak yang di bayar oleh Mr. 2. Dalam kasus lain. pembiayaan badan kerjasama internasional seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan NATO. Keputusan ini tentunya akan diambil secara bersamasama dengan negara lain. Misalnya adalah Mr. Perusahaan multinasional berusaha mengoptimalkan sumberdaya yang ada di dunia ini tidak terbatas pada batas-batas negara. Koordinasi dan alokasi sumberdaya menjadi kunci pengelolaan perusahaan multinasional. Dalam hal penerapan koordinasi pajak internasional. seorang warga negara Amerika Serikat. Dalam kasus ini yang menjadi pertanyaan adalah. tentunya Mr. A juga melakukan investasi di Indonesia dan menerima deviden yang dikenakan pajak oleh Indonesia. Gambaran mengenai perusahaan multinasional tersebut diatas menunjukkan fakta bahwa semakin hari akan semakin meningkat saling ketergantungan perekonomian dunia dan kondisi ini akan semakin mempengaruhi aspek internasional dalam hal keuangan publik. dia akan dikenakan pajak lebih dari satu kali. jika seseorang menerima pendapatan yang berasal dari berbagai negara. Sejalan dengan kondisi tersebut suatu negara tentunya juga harus mengatur bagaimana pajak produk dan pajak penjualan dari negara bersangkutan akan diterapkan pada sistem ekspor impornya. Karena dia juga menerima pendapatan sebagai warga negara Amerika Serikat. yang dalam masa tertentu bekerja di Indonesia. B. dan perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah tersebut. A. Keadilan antar perorangan Keadilan antar negara Efisiensi Keadilan Antar Perorangan Dalam prakteknya. yang menerima pendapatan total yang sama tetapi seluruhnya berasal dari Amerika Serikat? Atau sudah cukupkah kiranya jika Amerika Serikat menganggap pajak yang di bayar ke negara lain sebagai pengurangan pendapatan dan menyamakan beban pajak sesuai dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . dan ketimpangan distribusi pendapatan internasional akan mengarah kepada perlunya koordinasi fiskal internasional. 3. Penyatuan perekonomian Eropa ke dalam pasar bersama. Setiap negara tentunya akan mengatur bagaimana negara tersebut akan menarik pajak terhadap pendapatan warga negaranya yang diperolehnya dari luar negeri dan pendapatan warga negara asing yang berasal dari dalam negeri.286 Amerika Serikat.

pemasok luar negeri harus menjual produknya dengan harga yang lebih rendah.C. Berbeda halnya dengan pajak tambahan yang mungkin di kenakan oleh Amerika Serikat. Konsekuensi dari kondisi tersebut di atas adalah bahwa pajak Indonesia yang di kenakan terhadap penghasilan atas modal Amerika Serikat yang ditanamkan di Indonesia tentunya akan mengurangi pengembalian (return) bagi Amerika Serikat. A. sebagian dari beban pajak akan digeser keluar negeri. Sejalan dengan itu. Jika negara A mengenakan pajak atas ekspor. harga ekspor akan naik dan konsumen di luar negeri akan membayar lebih mahal. Hal ini juga menunjukkan bahwa sebagian beban pajak akan di geser keluar negeri. keadilan diinterpretasikan dalam artian internasional. Kondisi ini bisa disebut sebagai prinsip berbalasan. secara umum disetujui bahwa negara dimana pendapatan itu dihasilkan (juga di sebut sebagai negara sumber) berhak menarik pajak atas pendapatan tersebut. kerugian yang di derita Amerika Serikat hanya akan tergantung pada tarif pajak atas modal Amerika Serikat yang di kenakan di Indonesia. Jika Mr. tentunya biaya ekspor akan naik. masalah ini akan timbul baik dalam hal pajak penghasilan maupun pajak produk. Jika kita menerima kriteria bahwa suatu negara harus membayar pajaknya sendiri. jika Impor dikenakan pajak. masalah keadilan berkaitan dengan kemungkinan untuk membebani warga asing melalui perubahan harga. Sehubungan dengan pajak penghasilan. tetapi berapa tarif yang akan di kenakan masih menjadi persoalan. sehingga tidak akan merugikan bagi Amerika Serikat tetapi hanya merupakan transfer dari warga negara Amerika Serikat ke Departemen Keuangan Amerika Serikat. permasalahannya adalah bagaimana mengelola pengenaan pajak atas pendapatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Salah satu pandangan mengenai keadilan antar negara adalah bahwa negara sumber harus diperbolehkan menarik pajak atas pendapatan yang di peroleh investor asing dengan tarif sebesar yang di kenakan negara lain atas pendapatan warganya di negara tersebut. B keadilan diinterpretasikan dalam artian nasional. Oleh karena itu. Jadi. Keadilan Antar Negara Masalah keadilan yang lebih pelik akan kita temui dalam menentukan pembagian penerimaan pajak diantara ditjen pajak atau departemen keuangan di berbagai negara. Efisiensi Perbedaan tarif pajak tentunya akan mempengaruhi lokasi dari kegiatan perekonomian dan cenderung menghambat penggunaan sumber daya yang paling efisien. seorang investor merasakan bahwa pajaknya akan lebih rendah apabila dia menanamkan modal di Vietnam dari pada di Indonesia. Jika negara tersebut mendominasi pasar ekspor. Dengan demikian. maka Mr C akan menanamkan lebih banyak modalnya di Vietnam.287 pengenaan pajak di Amerika Serikat saja? Dalam kasus Mr. Dalam hal pajak produk. Meskipun dengan cara yang berbeda. maka penggeseran beban semacam itu bisa dianggap sebagai hambatan bagi keadilan antar negara. sedangkan dalam kasus Mr.

yaitu (a) jenis penghasilan itu sendiri dan (b) penentuan sumber penghasilan berdasarkan undang-undang pajak dari suatu negara. baik itu warga negara ataupun bukan warga negara. Kondisi ini akan mengakibatkan bahwa lokasi produksi tidak lagi di tentukan oleh keunggulan komparatif (atau biaya sumber daya relatif). Walaupun kemungkinan tidak ada satu negarapun yang secara ketat menerapkan prinsip prinsip pajak internasional. tergantung dari falsafah yang dianutnya. untuk menentukan letak sumber penghasilan. Pada umumnya. penduduk suatu negara tidak akan dikenakan pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di luar negeri dan warga negara asing akan dikenakan pajak sama dengan pendapatan penduduk yang diterima di negara tersebut. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni pajak langsung dan pajak tidak langsung. Syaratsyarat in tergantung pada undang-undang masing-masing negara. Yang berkaitan erat dengan asas domisili ini adalah penentuan domisili bagi subjek pajak.288 dan investasi internasional sehingga tidak mengganggu efisiensi alokasi modal secara global. Di samping itu. Prinsip pajak berdasarkan asas domisili menyatakan bahwa penduduk akan dikenakan pajak di negara di mana ia berdomisili tanpa memperhatikan darimana sumber penghasilan yang diperolehnya baik pendapatan yang diperolehnya di dalam negeri maupun di luar negeri. Artinya. misalnya dividen. Prinsip Prinsip Pajak Internasional Berbagai struktur sistem pajak nasional mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional dan konsekuensinya. yang merupakan persyaratan bagi perdagangan yang efisien. Penentuan sumber penghasilan tergantung dari dua hal yang pokok. bunga. royalty dan penghasilan dari harta. Jadi. seseorang subjek pajak akan dianggap sebagai penduduk dalam negeri (resident taxpayer) apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. akan tercipta efisiensi alokasi sumber daya di seluruh dunia dalam integrasi perekonomi dunia. setiap negara mempunyai definisi penduduk sendiri-sendiri. Bagi yang bukan merupakan penduduk tidak akan ditarik pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di negara tersebut. Pajak Langsung /Capital Income (Direct) Taxation Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan. tetapi di modifikasi oleh perbedaan biaya pajak. yaitu: • Penghasilan dari usaha (active income) • Penghasilan dari modal (passive income). Dasar-dasar Keuangan Publik . Prinsip pajak berdasarkan asas dari sumber pendapatan menyatakan bahwa seluruh pendapatan yang diperoleh di suatu negara akan dikenakan pajak. tanpa memperhatikan tempat domisili penerima pendapatan tersebut. jenis-jenis penghasilan dibagi menjadi dua. yang berbeda dari negara lain.

terdapat dua prinsip pajak tidak langsung yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni prinsip pajak tujuan dan prinsip pajak sumber. Demikian juga dengan pemberian kredit pajak oleh negara asal warga bersangkutan. barang atau jasa yang dibeli oleh penduduk dikenakan pajak. Koordinasi Atas Pajak penghasilan Dan Pajak Laba Pengenaan Pajak atas Pendapatan yang Diperoleh Setiap negara berhak untuk menarik pajak atas pendapatan warganya entah di manapun pendapatan itu di peroleh. karena hal itu merupakan pajak seharusnya akan dibayarnya seandainya pendapatan tersebut diperoleh di Amerika Serikat. tetapi pajak yang telah dibayar di Inggris akan dikreditkan terhadap kewajiban pajaknya di Amerika Serikat.289 Pajak Komoditi (Pajak Tidak Langsung) Dengan menganalogikan pada pajak domisili dan pajak sumber pendapatan pada pajak langsung. Pengenaan Pajak Tehadap Pendapatan Atas Modal Pada umumnya terdapat beberapa ketentuan dalam memperlakukan pendapatan investasi asing. segala barang maupun jasa yang bertujuan untuk konsumsi akhir pada suatu negara akan dikenakan pajak. Menurut prinsip pajak sumber. Nn. tetapi bisa menerapkan tarifnya sendiri terhadap penghasilan orang asing. Pemerintah di negara sumber pendapatan lazimnya akan Dasar-dasar Keuangan Publik . baik barang atau jasa tersebut dibuat di dalam negeri ataupun barang import. Berkaitan dengan pengertian tersebut berikut illustrasi yang mungkin terjadi jika seseorang warga negara Amerika Serikat bekerja di Inggris. akan membayar pajak Inggris Raya atas pendapatan yang diperolehnya di Inggris. Investor perorangan yang menerima pendapatan investasi dari luar negeri akan membayar pajak penghasilan perorangan atas pendapatan tersebut. Menurut prinsip pajak tujuan. Kondisi ini selaras dengan konsep keadilan antar negara yang menyatakan bahwa negara sumber pendapatan tidak boleh melakukan diskriminasi. Jadi barang barang impor akan dikenakan pajak sedangkan barang barang ekspor dibebaskan dari pajak. kondisi ini selaras dengan pandangan internasional mengenai keadilan antar perorangan. Guna menentukan pajak yang akan di bayarnya di Amerika Serikat. D yang bekerja selama enam bulan di Inggris dan kemudian kembali ke Amerika Serikat. Paling tidak itulah prosedurnya seandainya pajak yang dikenakan Inggris tidak melebihi pajak yang akan dikenakan Amerika Serikat atas pendapatan yang diperoleh di Inggris tersebut. pendapatan di Inggris juga akan diperhitungkan. 1. tanpa memperhatikan sumber ataupun asal produksi. Secara umum prinsipnya adalah memperbolehkan pengenaan pajak atas pendapatan di negara sumber sedangkan negara asal warga bersangkutan akan memberikan kredit pajak. meskipun menyebabkan menurunnya penerimaan negara bersangkutan.

dimana mungkin tarif pajak sangat rendah). kelihatannya hal ini akan bertentangan dengan ketentuan mengenai pengkreditan yang mengganggap pajak perusahaan anak pada kenyataannya merupakan pajak perusahaan induk. Perusahaan yang mengoperasikan kantor cabang di luar negeri akan dikenakan pajak atas laba kantor cabang sesuai dengan peraturan pajak perseroan negara bersangkutan. perusahaan anak akan lebih condong untuk menginvestasikannya kembali labanya dinegara yang menerapkan tarif pajak yang rendah (yang disebut sebagai surga pajak). Sesuai dengan konsep keadilan antar negara. akan menyebabkan perlunya ditentukan berapa besar laba yang timbul pada setiap negara. laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit. Untuk mengantisipasi kondisi ini. Karena kesulitan-kesulitan yang di hadapi Dasar-dasar Keuangan Publik 2. Labanya akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing dan pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba perusahaan anak tersebut dikirimkan ke perusahan induk sebagai deviden. Jika kondisi ini terjadi (biasanya pada negara–negara yang sedang berkembang. Penangguhan Pajak Ketentuan mengenai penangguhan pajak didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan anak diluar negeri benar-benar merupakan satuan usaha yang tepisah. secara hukum merupakan satuan perusahaan terpisah. Perusahaan anak yang didirikan di luar negeri (foreign incomporated subsidiary). . Sebuah perusahaan Amerika Serikat mengoperasikan sebuah perusahaan anak di Kanada. Kesulitan akan berlipat ganda apabila serangkaian perusahaan anak beroperasi di berbagai negara. 3. Kanada berhak menarik pajak perusahaan anak tersebut. Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan perbedaan apa pun bagi perusahaan induk jika pajak luar negeri tidak lebih kecil dari pajak yang akan dikenakan di dalam negeri. yang selanjutnya akan dikreditkan terhadap pajak yang akan dibayarkan di negara asal investor. Hal ini merupakan persoalan yang rumit. implementasi dari aturan ini. telah diupayakan berbagai aturan untuk menghambat penggeseran laba. Jika dikaitkan dengan perusahaan multinasional. Pembagian Laba sebagai Dasar Pengenaan Pajak Dalam Lingkup Internasional Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa suatu negara berhak mengenakan pajak dari laba yang timbul di wilayah bersangkutan.290 mengenakan withholding tax. Tetapi dengan cara apakah laba ini benar-benar bisa dipisahkan dari laba perusahaan induknya di Amerika Serikat? Jika terjadi transaksi jual beli yang terjadi antara perusahan induk dan perusahaan anak. maka laba bisa di geser dari satu negara ke negara lain guna memanipulasi pajak agar diperoleh pajak yang terendah. Untuk pengenan pajak di negara asal. Jadi. misalnya: persyaratan agar harga ditentukan berdasarkan transaksi yang wajar dengan pihak ketiga atau transaksi tanpa hubungan istimewa (arm’s-length-basis). misalnya sebesar 15 persen.

Ini tidak akan mempengaruhi perdagangan karena harga relatif antara produksi dalam negeri dan impor tidak berubah. Laba sebagai dasar pengenaan pajak (profits base) dari perusahaan multinasional dapat dialokasikan di antara negara negara tidak berdasarkan lokasi dari perusahaan anak tetapi berdasarkan negara asal laba yang diperoleh oleh group usaha tersebut secara keseluruhan. Dalam menentukan apakah berbagai pajak yang ada berpengaruh atau tidak terhadap lokasi produksi. Negara asal tersebut bisa diperkirakan dengan suatu rumus yang memperhitungkan lokasi nilai tambah dan penjualan. yang diproduksi di dalam negeri maupun yang diimpor. karena biaya produksi semakin meningkat untuk jumlah yang makin besar. baik produksi domestik maupun impor. namun pelaksanaan pendekatan ini memerlukan pengaturan pajak internasional dan karena itu masih merupakan alternatif yang tak terjangkau. negara A akan tetap memproduksi sebagian dari Y dan negara B memproduksi sebagian dari X yang dibutuhkannya. dan hal sebaliknya berlaku untuk B. maka pajak produk mengarahkan perhatian kita pada pengaruhnya terhadap aliran produk. Akan tetapi. Penyesuaian ini bisa mempengaruhi tingkat perdagangan. tetapi lokasi untuk kedua produk itu (pada tingkat produksi yang baru) masih akan tetap sejalan dengan keunggulan komparatif. maka pernah disarankan suatu cara yang berbeda sama sekali. Meskipun cukup menarik. Koordinasi Pajak Produk Aspek Efisiensi Jika pajak penghasilan mempengaruhi aliran atau perpindahan modal.291 dalam menghitung laba yang terpisah bagi satuan satuan usaha yang terkait. Hal ini akan semakin terasa jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. negara A akan memperoleh pendapatan riil yang lebih tinggi daripada jika ia memproduksi semua Y yang dibutuhkannya. Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak mempengaruhi lokasi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. Jika pajak itu hanya dikenakan terhadap Y. konsumen akan mensubstitusikan kedua jenis barang itu satu sama lain dan lokasi produksi akan berbeda dari lokasi produksi untuk pajak yang netral. Dengan mengekspor X dan mengimpor Y. Jika pajak mempengaruhi harga. Perdagangan internasional yang berlangsung secara bebas didasarkan pada argumen dasar bahwa semua negara yang berdagang akan mendapat manfaat jika masing-masing berspesalisasi pada produk di mana ia memiliki keunggulan komparatif. akibatnya konsumen akan menambah konsumsi X dan mengurangi konsumsi Y. yaitu jika pajak tersebut dalam bentuk bea masuk dan cukai. Pajak Konsumsi. Misalkan negara A mengenakan pajak terhadap konsumsi atas semua X dan Y. Anggaplah negara A mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan produk X sementara negara B mengimpor X dan mengekspor Y. Dasar-dasar Keuangan Publik . pertanyaan kini adalah apakah pajak bersangkutan mempengaruhi harga relatif antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. Baik A maupun B akan lebih makmur daripada jika tidak ada perdagangan.

dan dewasa ini telah banyak cara diupayakan untuk mengurangi perdagangan yang bersifat proteksionis. Jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Artinya hal itu sejajar dengan pajak Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga Y produksi dalam negeri akan mensubstitusi Y impor. Eksportir B akan menambahkan pajak tersebut ke biaya (harga) produknya sehingga harga barang impor bagi konsumen A menjadi lebih tinggi sehingga impor akan dikurangi. kenaikan permintaan atas mata uang A dan penurunan permintaan atas mata uang B akan menyebabkan naiknya nilai mata uang A terhadap B. Dengan menurunnya impor A atas barang Y. Situasinya akan berbeda jika pajak produksi negara B dikenakan hanya pada satu jenis produk saja. Biaya impor bagi konsumen B menjadi naik dan karena itu impor dikurangi. Dengan menurunnya impor. Pertama-tama anggaplah bahwa harga negara B mengenakan pajak produksi umum misalnya cukai sebesar 10 persen terhadap barang X dan barang Y. kita bisa melihat bahwa distorsi atau penyimpangan bisa saja terjadi meskipun tidak ada upaya untuk mendiskriminasikan produk luar negeri. konsumen negara B akan memperbesar impor. Pajak ini akan menyebabkan perbedaan harga relatif antara produk domestik dan impor. yaitu terhadap Y dikenakan bea masuk. Perbandingan harga antara ekspor dan impor tidak akan berubah dan nilai riil perdagangan tidak terpengaruh. Dengan dihapusnya pajak atas barang Y oleh negara B. Titik ekuilibrium yang baru akan dicapai pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dengan disertai perubahan distribusi lokasi produksi. Distorsi ini bisa dihindarkan seandainya barang B memberikan penghapusan pajak atas barang Y yang di ekspornya. Sekarang negara A memproduksi lebih banyak barang Y dan negara B memproduksi lebih banyak barang X dari pada sebelumnya. Akibatnya. Pajak atau bea semacam itu akan melemahkan perdagangan yang efisien. pengenaan pajak produk hanya kepada barang Y saja di negara B menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan efek distorsi yang timbul akibat dikenakannya bea masuk atas barang Y di negara A. maka pajak atas barang Y telah berubah dari pajak produksi menjadi pajak konsumsi. Konsumen negara A akan merasakan hal sebaliknya. misalnya atas produk Y yang diekspornya. ekspor X dari A juga akan menurun sampai tercapai suatu titik ekuilibrium pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dan dengan pemberian produksi X dan Y yang kurang efisien di antara negara A dan B.292 Situasinya akan sangat jauh berbeda jika negara A mengenakan pajak hanya terhadap Y impor. Ini akan menghambat keinginan konsumen B untuk menambah impor dan keinginan konsumen A untuk mengurangi impor. harga barang di negara B akan naik sejalan dengan pajak tersebut. Sekali lagi konsumen A akan merasakan naiknya biaya (harga) Y dan akan mensubstitusinya dengan Y produksi dalam negeri. Karena itu. Pajak Produksi Dalam mempermasalahkan pajak produksi atau pajak asal produk (origin taxes). Karena merasa bahwa harga produk dalam negeri telah naik jika dibandingkan dengan harga produk impor. nilai mata uang A terhadap B akan naik. mata uang A terhadap mata uang B akan naik. Jadi. Tindakan B akan membatalkan kenaikan harga barang impor Y di negara A sehingga tidak perlu mensubtitusinya dengan memproduksi Y di dalam negeri.

Organisasi-organisasi lain menerapkan pola yang berbeda. kerja sama akan lebih menguntungkan sekutu yang kecil karena peningkatan pertahanan yang kecil sekalipun oleh sekutu yang besar akan merupakan tambahan perlindungan yang sangat besar bagi sekutu tersebut. usaha pertahanan bersama seperti NATO. Koordinasi Pengeluaran Diantara sejumlah negara. Kontribusi bagi Dana Moneter Internasional (IMF) tidak ditentukan berdasarkan manfaat yang diperoleh. dan pasar bersama. Kedua macam pertimbangan di atas diperhitungkan dalam menentukan kontribusi bagi anggaran Perserikatan Bangsa-Bangsa. tidak mendistorsikan lokasi produksi sejauh dikenakan terhadap produk impor dan produk dalam negeri. maka masalahnya akan mirip dengan masalah penentuan anggaran antar perorangan. Makin banyak X diproduksi di A dan makin banyak Y diproduksi di B dari pada sebelumnya. Pada akhirnya. Jika anggotanya sangat banyak. Semua ini menyebabkan perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. Ini akan menimbulkan pajak proporsional dalam kaitannya dengan GNP. terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. dan pembatasan jumlah yang harus dikontribusikan oleh suatu negara. Jika jumlah anggota kelompok atau pesertanya kecil. Prosedurnya pada dasarnya adalah: biaya total dibagi di antara negara anggota sesuai perbandingan kontribusi dasar atau GNP. Disini juga pajak berubah menjadi pajak konsumsi (yaitu pajak atas semua X yang di konsumsi di B) tanpa adanya distorsi atas lokasi produksi. melainkan dengan hak penarikan (drawing rights) yang ditetapkan sesuai dengan kemungkinan diperlukan kredit-kredit IMF. Prosedur yang kiraDasar-dasar Keuangan Publik . Selanjutnya prinsip ini dimatangkan lagi dengan menambah sejumlah ketentuan seperti pembebasan beban bagi negara miskin. sebagaimana halnya dengan pemerintah daerah. pembagian beban biaya bisa dirundingkan dengan membandingkan manfaat yang akan diperoleh setiap pihak. Jika tarif perkiraan (assesment rate) yang proposional digunakan. usaha bersama dalam memerangi penyakit. dengan bagian tertinggi (sekarang 25 persen) disumbangkan oleh Amerika Serikat. Pembagian beban biaya ditentukan melalui pemungutan suara setiap tahun dan direvisi berkali-kali. tetapi lagi-lagi lokasi produksi akan mengalami distorsi. Konsumen B dalam hal ini akan melakukan subtitusi dengan X impor.293 penjualan eceran atas produk Y di negara B yang seperti telah kita lihat. setiap negara mungkin akan diharuskan untuk membayar dalam presentase GNP atau presentase pendapatan nasional yang sama. ketentuan kontribusi minimum. Khusus mengenai pertahanan. Jika perhitungan progresif digunakan. Ini bisa saja menyangkut pembangunan jalan di perbatasan dua negara. dan penyesuain selanjutnya akan terjadi. jaringan narkotik. terlepas dari pendapatan per kapita. akan timbul pertanyaan apakah kelompok tarif tersebut hanya dikaitkan dengan pendapatan perkapita dari penduduk di berbagai negara (dimana penduduk dianggap sebagai patokan dasar). Ceritanya juga akan sama jika B memajaki X. tingkat perdagangan riil akan naik. Distorsi dalam hal ini bisa dihindarkan jika B mengenakan bea masuk atas X untuk mengkompensasi pajak produksi X.

Suatu negara tidak mungkin lagi bertindak sendiri untuk mengendalikan persoalan yang dihadapinya. Sekali lagi. Dengan demikian kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan. Dengan naiknya impor A. kurs yang fleksibel akan mengurangi gejolak perdagangan. Amerika Serikat merupakan penanggung terbesar atas biaya NATO. akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara B yang menghadapi penurunan ekspor. maka nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. Pengaruh kebijakan ekspansioner dari negara A terhadap perdagangan akan diperlemah jika kurs valuta asing bersifat fleksible. dengan kurs yang tetap. kebijakan suatu negara akan berpengaruh terhadap negara lain sehingga diperlukan kordinasi kebijakan untuk menampung kebutuhan kedua negara. Kontribusi untuk NATO. dengan kontribusi yang mungkin melebihi bagian yang seharusnya ditanggungnya seandainya hal itu ditentukan berdasarkan presentase GNP. tidak ditentukan dengan suatu dasar perumusan yang tetapkan tetapi pada hakikatnya tergantung pada negosiasi. Dengan kurs yang fleksibel. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. pendapatannya naik dan begitu juga halnya dengan impornya. Karena itu. tetapi juga berlaku bagi negara dengan perdagangan luar negeri yang terkecil seperti Amerika Serikat. dan hal itu juga turut memulihkan keaadan negara B karena ekspornya jadi meningkat. Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Dengan makin meningkatnya saling ketergantungan dunia. Hal ini khususnya berlaku untuk negara negara dengan perekonomian yang terkait erat seperti pasar bersama. Harus dicatat bahwa semua kontribusi ini relatif kecil jumlahnya sehingga pengecualian atau penyimpanan bagi negara tertentu tidak begitu berpengaruh.294 kira sama diikuti dalam pemesanan modal saham Internasional Bank for Reconstruction and Development (IBRD). kebijakan inflasioner negara akan memperlemah (mendefisitkan) neraca perdagangannya dan menimbulkan besarnya permintaan ke negara B. Penyesuaian kurs tidak berlangsung dalam sekejap dan perubahan kurs secara diskresioner dapat menjadi faktor pengganggu Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal yang sama berlaku juga untuk keadaan inflasi. Pengaruh terhadap Perdagangan Dengan asumsi bahwa keadaan kurs valuta asing yang bersifat tetap. nilai mata uangnya akan turun. menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja dinegara A. biaya impornya menjadi tinggi sehingga membatasi atau memperkecil devisit perdagangan negara A dan ekspor negara B. Kebocoran yang ditimbulkan impor akan memperkecil faktor pengganda (multiplier) dan karena itu kebijakan A menjadi kurang efektif. Koordinasi khususnya diperlukan karena saling ketergantungan tidak hanya menyangkut perdagangnan tetapi juga aliran atau perpindahan modal. yang melibatkan jumlah yang besar. Jika A mengambil kebijakan ekspansionir. pengalihan permintaan ke Negara B ini tidak akan terjadi karena adanya penurunan nilai mata uang A. Karena itu. Akan tetapi gambaran ini telalu disederhanakan.

Dasar-dasar Keuangan Publik . didalamnya selalu berisi klausul-klausul. Pendapatan modal di masa mendatang akan dikirimkan keluar negeri. pasal-pasal dan ayatayat yang berkaitan dengan suatu aspek transaksi dan pihak tertentu. sebagai bagian dari konvensi internasional di mana setiap negara yang terlibat dalam suatu tax treaty menyusun perjanjiannya masing masing berdasarkan model-model perjanjian yang diakui secara internasional. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing. Oleh karena itu. Banyak hal tergantung pada bagaimana bentuk dari surplus impor yang ditimbulkan tersebut. Peranan aliran modal menjadi penting jika kita mempertimbangkan pengaruh kebijakan stabilitasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi. Jika surplus impor tersebut berupa investasi riil. maka akan terjadi peningkatan modal di negara bersangkutan yang akan tercermin pada kenaikan produktivitas tenaga kerjanya. dan begitu juga sebaliknya. entah itu kebijakan fiskal atau moneter. Pemahaman atas Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda) Tax Treaty atau perjanjian pajak berganda adalah merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka mengantisipasi pemajakan ganda dan berbagai usaha penghindaran pajak. bauran kebijakan stabilisasi akan menjadi masalah besar jika dikaitkan dengan aliran modal. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. Aliran Modal Pengaruh kebijakan yang ekspansioner atau restriktif terhadap perdagangan bisa dikatakan sama. Perjanjian ini akan digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan aspek perpajakan yang timbul dari suatu transaksi diantara mereka. Pada dasarnya terdapat dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun suatu treaty yaitu model OECD dan Model PBB. sehingga keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produtivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya. Setiap tax treaty mempunyai prinsip prinsip dasar yang kurang lebih sama. sebuah treaty adalah merupakan suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan.295 pengendalian atas kurs itu sendiri merupakan alat kebijakan yang memerlukan kerja sama lebih lanjut. bagian yang mengatur minimalisasi pengenaan pajak berganda. Sebagai suatu perjanjian. Penentuan aspek perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan klausul-klausul yang terdapat dalam tax treaty yang bersangkutan sesuai dengan transaksi yang dihadapi. Pasal-pasal ataupu ayat-ayat yang terdapat dalam sebuah tax treaty pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang mengungkapkan cakupan tax treaty.

ketentuan suatu tax treaty memiliki suatu kekuatan yang berada di atas sistem perundang undangan yang berlaku secara internal di dalam suatu negara. national (negara atau kewarganegaraan). Dalam pasal dan ayat ini akan diatur ketentuan tentang siapa saja yang merupakan orang pribadi. domisili. Dalam ketentuan umumnya (general definitions). Oleh karena itu. Atas pajak tidak langsung seperti Pajak Pertambahan Nilai atau pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah tidak diatur dalam tax treaty. Jenis pajak yang diatur disini akan mengikuti ketentuan sesuai dengan tax treaty dan mengabaikan ketentuan internal yang berlaku di masing-masing negara. termasuk di dalamnya orang pribadi. ketentuan personal scope mengatur tentang kepada siapa sajakah ketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. enterprise (badan usaha) dan lain lain. Residence Dalam kriteria ini akan diatur tentang dua hal yakni definisi penduduk (berkaitan dengan personal scope) serta tie breaker rule. 2001). yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu. pengertian personal scope akan berkaitan dengan pengertian-pengertian dalam kedua klausul tersebut. tempat kedudukan manajemen atau sebab-sebab lain yang mempunyai karakteristik yang sama – dapat dikenai pajak di negara tersebut. badan atau entitas lainnya yang dianggap sebagai penduduk dengan status kependudukan ganda (double residence). Tax Covered Klausul ini mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty yang bersangkutan. penduduk adalah Subjek Pajak dalam negeri suatu negara yang dikenai pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan lokal yang berlaku dinegara tersebut.296 bagian tentang pencegahan penghindaran pajak dan bagian yang mencakup halhal lainnya. international traffic (lalu lintas internasional). diatur tentang definisi istilah-istilah umum yang berkaitan dengan definisi persons (orang atau badan). Undang-undang nasional dari banyak negara umumnya mengenakan Dasar-dasar Keuangan Publik . Biasanya disini definisi mengenai penduduk maupun perihal kependudukan ganda tidak diartikan lebih lanjut. Kedua hal tersebut akan diatur dalam klausul lain yaitu dalam klausul tentang general definitions dan tentang residence. Dengan kata lain. Dalam beberapa hal. sehingga subyek pajak yang menjadi sasaran adalah mereka yang menjadi penduduk dari kedua negara tersebut (Rachmanto Surachmat. Cakupan Tax Treaty Personal Scope Tax treaty adalah persetujuan yang ditandatangani oleh dua negara. Definisi penduduk adalah setiap orang pribadi atau badan yang berdasarkan ketentuan internal suatu negara – seperti keberadaan. Aturan dalam tax treaty hanya diberlakukan untuk jenis pajak langsung seperti Pajak Penghasilan (PPh). Dengan kata lain. badan usaha dan entitas lainnya yang berdasarkan treaty tersebut dianggap sebagai penduduk dari salah satu negara yang terikat perjanjian.

Pada jaman sekarang. Apabila usaha di negara lain itu ternyata berhasil. pabrik. suatu usaha tidak hanya dilakukan di negara sendiri. adalah hal yang logis jika otoritas pajak di negara tersebut ingin mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima. Contoh contoh dari BUT dapat dikatagorikan menjadi empat macam yaitu: • • BUT Fasilitas Fisik. Di negara lainpun suatu pihak melakukan usaha. Tie breaker rule dibedakan menjadi dua yaitu yang diterapkan untuk orang pribadi dan yang diterapkan untuk selain orang pribadi. Timbulnya BUT tipe ini ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. Tie breaker rule untuk orang pribadi terdiri dari penentuan permanent home (tempat tinggal tetap). Sementara itu tie breaker rule untuk pihak selain orang pribadi hanya ada satu ketentuan yaitu tempat dimana manajemennya efektif berada. Namun berkaitan dengan keinginan tersebut. artinya apabila dengan menggunakan ketentuan pertama masalah kependudukan ganda telah bisa dipecahkan. Lamanya time test yang digunakan dapat berbeda beda antara satu tax treaty dengan tax treaty yang lain. orang pribadi atau badan dapat dianggap sebagai penduduk dari dua negara berdasarkan asas world wide income yang dianut. bengkel dan lain lain. Cerminan dari batas atau aturan tersebut adalah ketentuan tentang permanent establishment atau bentuk usaha tetap (BUT). tetapi juga karena keberadaan secara teratur di negara tersebut. BUT tipe ini merupakan tipe yang paling mudah diketahui keberadaannya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Permanent Establishment Klausul ini mengatur tentang seberapa jauh jangkauan suatu negara dalam mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. Artinya. center of economic and social interests (pusat kepentingan ekonomi dan social). article residence selanjutnya mengatur langkah yang dapat digunakan untuk menghilangkan status kependudukan ganda yang sering disebut dengan tie breaker rule. national (kewarganegaraan) serta mutual agreement (perjanjian antar otoritas perpajakan). Dalam prakteknya. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnnya).297 pajak berdasarkan hubungannya dengan negara yang bersangkutan (Rachmanto Surachmat. habitual abode (tempat kebiasaan untuk tinggal). pengenaan pajak tidak hanya mendasarkan pada alasan tempat tinggal. Time test ini disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara. maka langkah kedua dan seterusnya tidak perlu digunakan lagi. Menyadari efek-efek negative tersebut. 2001). Hal ini bisa terjadi karena setiap negara pada dasarnya berhak mengatur definisi penduduk sesuai dengan versinya masing-masing. BUT Aktivitas. Langkah-langah tersebut secara berurutan bersifat prioritas. tentunya harus ada batasan-batasan ataupun aturan yang jelas hingga bisnis yang dilakukan yang sekaligus merupakan investasi di negara tersebut tetap saja berjalan dengan baik. Dalam klausul ini juga menegaskan bahwa orang pibadi atau badan tidak dapat langsung dianggap sebagai penduduk suatu negara hanya karena mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. kantor perwakilan. BUT timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung.

Bila kegiatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati. Saat berlakunya tax treaty sangat bergantung dari selesainya tahap-tahap pembentukannya. Didalamnya diatur bahwa negara tempat harta tak bergerak tersebut terletak juga dapat mengenakan pajak atas penghasilan dari harta tersebut. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. Minimalisasi Pemajakan Berganda Income from Immovable Property Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang berasal dari harta tak bergerak termasuk penghasilan yang bersumber dari pertanian atau sektor perhutanan. Dalam klausul ini juga ditentukan kondisi-kondisi dimana BUT dianggap tidak muncul seperti dalam hal suatu tempat yang hanya berfungsi untuk memajang barang-barang dagangan. selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Entry Into Force Klausul ini menjelaskan tentang saat berlakunya sebuah tax treaty. sangat tergantung pada ada atau tidaknya BUT di suatu negara. Namun apabila penduduk suatu negara mendapatkan penghasilan di negara treaty partner melalui BUT-nya.298 • • BUT Asuransi. Setelah kedua negara selesai meratifikasi. BUT Keagenan. Laba usaha milik penduduk suatu negara pada dasarnya hanya dapat dikenakan pajak di negara tersebut. Business Profits Klausul ini merupakan perluasan dari klausul permanent establishment yang mangatur tentang pengenaan pajak atas laba usaha milik penduduk suatu negara yang bersumber dari negara treaty partner (negara pasangan dalam tax treaty). Termination Klausul ini menjelaskan tentang saat berakhirnya sebuah tax treaty. Penentuan dapat atau tidaknya negara treaty partner mengenakan pajak. maka negara treaty partner tersebut berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima melalui BUT itu. BUT tipe keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang memiliki wewenang untuk menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. Timbulnya BUT Asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain. tempat yang hanya dipergunakan untuk pembelian barang dagangan atau mengumpulkan informasi dan sebagainya. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan maka tax treaty pun dapat diberlakukan.

Alternatif kedua. 2001) Shipping. Dalam menghadapi permasalahan ini pada umumnya diatur dua alternatif pengenaan pajak.299 usaha yang dilakukan penduduk negara domisili di negara sumber tidak melalui BUT. Dividends Dividen merupakan penghasilan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu perusahaan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Royalties Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan royalti yang diterima dari negara treaty partner. Klausul dividen. Tak berbeda dengan artikel dividend dan bunga. Perusahaan yang bergerak di bidang ini bisa memperoleh penghasilan dari beberapa negara. sama dengan alternatif pertama dengan pengecualian untuk penghasilan dari pengoperasian kapal laut yang hak pemajakannya diberikan kepada kedua negara sekaligus. artikel bunga pun mengatur tentang tarif maksimal pemotongan pajak untuk negara tempat dividen berasal. Inland Waterways Transport and Air Transport Klausul ini menjelaskan tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh perusahaan pelayaran (termasuk pengangkutan di sungai dan danau) dan perusahaan penerbangan yang beroperasi di jalur internasional. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa negara tempat dividen berasal juga berhak mengenakan pajak atas dividen tersebut. memberikan hak pemajakan kepada negara tempat di mana manajemen efektif berada. Selain memberikan definisi tentang bunga. Tak sedikit negara yang mengenakan pajak atas penghasilan berupa dividen ini. Jika setiap negara mengenakan pajak atas laba yang diterimanya maka perusahaan pelayaran dan penerbangan tersebut tentunya akan menanggung beban pajak yang terlalu besar. Dalam artikel ini juga menyatakan tentang tarif pajak maksimal yang dapat dikenakan di negara asal dividen tersebut yang dibedakan menjadi dua yaitu tarif untuk dividen portofolio (saham dengan kepentingan semata mata investasi) dan untuk dividen dari penyertaan langsung ( saham dengan kepentingan control) Interets Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan bunga yang diterima dari negara treaty partner. maka laba usaha dari kegiatan itu hanya dikenai pajak di negara domisili (Rachmanto Surachmat. sebagaimana namanya. klausul ini juga mengatur bahwa negara tempat bunga berasal (treaty partner) juga dapat mengenakan pajak atas bunga tersebut. Tak berbeda dengan artikel dividen. artikel royalti ini juga memberikan definisi royalti disamping mengatur bahwa negara tempat di mana royalti berasal dapat mengenakan pajak sesuai dengan tarif maksimal yang disepakati. Indonesia pun mengenakan pajak atas dividen baik yang diterima oleh wajib pajak dalam negeri maupun wajib pajak luar negeri. Alternatif pertama. memang merupakan aturan mengenai pengenaan pajak atas penghasilan yang berupa dividen.

ada beberapa syarat kumulatif yang terlebih dahulu harus dipenuhi yaitu: • Orang pribadi yang bersangkutan berada di negara lain melebihi time test yang telah disepakati. Rachmanto Surachmat (2001) memaparkan bahwa hak mengenakan pajak atas keuntungan karena pemindahtanganan harta yang digunakan untuk berusaha harus diberikan kepada negara yang sama. Namun untuk menganakan pajak tersebut. • Penghasilan yang diterima oleh orang pribadi tersebut dibayarkan oleh pemberi kerja. Di sini diatur bahwa negara tempat orang pribadi tersebut bekerja dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterimanya. Karena itu. persetujuan penghindaran pajak berganda tidak memerlukan aturan khusus yang membedakan capital gain dari business profit. Aturan ini pada dasarnya sejalan dengan aturan permanent establishment dan business profits namun secara khusus ditujukan untuk orang pribadi yang memberikan jasa-jasa profesional (seperti dokter. Termasuk dalam pengertian harta dalam artikel ini adalah harta berupa perumahan dalam suatu kawasan real estate.. yaitu negara yang berhak mengenakan pajak atas business profit (negara tempat perusahaan berdomisili). Negara treaty partner tempat jasa tersebut dilakukan dapat mengenakan pajak sepanjang orang pribadi tersebut memiliki tempat tetap (fixed base) disana atau berada di negara treaty partner melebihi batas waktu yang disepakati bersama. jasa yang diberikan oleh orang pribadi yang dimaksud di sini merupakan jasa yang dilakukan untuk dan atas nama pihak lain yang memiliki hubungan kerja dengannya. Dalam bukunya. Hal ini diserahkan kepada undang undang pajak domestik masing-masing negara. • Penghasilan tersebut tidak dibebankan kepada BUT. Ketentuan dalam tax treaty pada umumnya mengatur bahwa negara tempat harta tersebut terletak sebelum dipindahkan juga berhak untuk mengenakan pajak. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa penghasilan Dasar-dasar Keuangan Publik .300 Capital Gains Klausul ini mengatur tentang penghasilan berupa keuntungan pemindahtanganan harta. Director’s Fees Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh direktur yang bekerja pada perusahaan yang berada di negara lain (merupakan penduduk di negara tersebut). tanpa membedakan apakah keuntungan itu diperlakukan sebagai gain dari usaha. Dependent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi sehubungan dengan pemberian jasa yang dilakukannya di negara lain dalam suatu hubungan kerja. pengacara) untuk dan atas namanya sendiri di negara treaty partner. Berbeda dari pemberian jasa oleh independent personal yang dilakukan untuk dan atas namanya sendiri. Independent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima orang pribadi yang bersumber dari negara treaty partner sebagai imbalan dari jasa-jasa professional yang diberikannya di negara tersebut.

Pada prinsipnya. apabila pegawai negeri atau pensiunan tersebut merupakan warga negara dari salah satu negara dan sudah Dasar-dasar Keuangan Publik . prinsip ini berbeda dengan prinsip pemajakan atas penghasilan orang pribadi yang lain sebagaimana diatur dalam klausul dependent dan independent personal services yang menggunakan syarat jangka waktu keberadaan sebagai alat menentukan aspek pemajakan. penghasilan berupa pensiun dikenai pajak di negara tempat di mana pekerjaan itu dahulunya dilakukan. hak pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri diberikan kepada negara di mana ia bekerja. Penentuan aspek pemajakannya disesuaikan dengan jenis kegiatan (pekerjaan) yang dilakukan oleh direktur tersebut. Jika direktur tersebut melakukan tugas tugas manajerial misalnya. apabila pekerjaan yang dilakukan tidak lagi murni sebagai seorang direktur maka pemajakan atas penghasilan tersebut tidak lagi mengikuti ketentuan dalam klausul ini. Namun demikian. Pada umumnya. Namun apabila direktur tersebut bekerja sebagai konsultan pada perusahaan. Prinsip ini juga berlaku meskipun penghasilan tersebut tidak langsung dibayarkan kepada sang artis/atlit (dibayarkan kepada pihak lain. Termasuk dalam pengertian entertainer dalam artikel ini antara lain yaitu artis televisi. maka aspek pemajakannya mengacu pada klausul dependent personal services. artis radio atau musisi. maka aspek pemajakannya dalam hal ini akan mengacu pada klausul independent personal services. Namun sebagian besar tax treaty mengatur bahwa penghasilan tersebut dikenai pajak di negara di mana yang bersangkutan menjadi penduduk pada saat pensiun Government Services Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri. pemain golf. Prinsip pemajakan yang diatur dalam artikel ini adalah negara tempat penghasilan tersebut bersumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima oleh artis ataupun atlit. sebab seringkali penentuan di mana kegiatan pekerjaan dilakukan – dalam kedudukannya sebagai anggota dewan direksi – adalah sulit. Fungsi sebagai direktur bisa saja dilakukan di negara dimana ia berdomisili. Bila diperhatikan. Pensions Klausul ini mengatur tentang penghasilan yang diterima oleh pensiunan swasta. hal ini untuk menyederhanakan pengenaan pajaknya. Artists and Sportsmen Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh artis (entertainer) dan olahragawan (sportsmen) dari negara lain. Namun demikian. karena itu yang diberikan hak pemajakan adalah negara di mana pihak yang membayarkan gaji berkedudukan. pemain tennis. Sedangkan termasuk dalam olahragawan antara lain adalah pemain sepakbola. contohnya agen). pemain catur atau pemain bridge. Hal yang sama juga berlaku atas penghasilan yang diterima oleh pensiunan pegawai negeri.301 yang diterima oleh direktur dalam kapasitasnya yang murni sebagai seorang direktur dapat dikenai pajak di negara domisili perusahaanya tanpa memandang jangka waktu keberadannya di sana. Menurut Rachmanto Surachmat (2001).

Hal ini dipandang sebagai suatu usaha untuk menghindari pajak dari suatu negara. Apabila terjadi transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa. akan ada kecenderungan di mana harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar. Secara khusus Rachmato Surachmat (2001) dalam bukunya menyatakan bahwa klausul ini adalah aturan dalam hukum internasional yang memberikan perlindungan dari diskriminasi. Exchange of Information Klausul ini mengatur tentang pertukaran informasi antar otoritas pajak di kedua negara yang terkait dalam suatu tax treaty. Dengan adanya pertukaran informasi. Salah satu efek dari adanya harga yang tidak wajar itu adalah terjadinya pergeseran laba dari suatu negara kepada negara yang lainnya. Mutual Agreement Procedure Klausul ini mengatur tentang prosedur yang digunakan oleh kedua negara untuk berkomunikasi dalam menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pembayar pajak dengan otoritas pajak mengenai perpajakan tertentu. Perlakuakn perpajakan yang sama ini mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama. dapat dikatakan bahwa klausul ini merupakan salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Klausul ini dapat dipandang sebagai semacam sarana bagi para pembayar pajak untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Perlakuan yang sama juga harus diberikan kepada mereka yang bukan merupakan warga negara dari kedua negara yang terikat perjanjian. Pencegahan Penghindaran Pajak Associated Enterprises Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa. Harga yang wajar adalah harga yang terjadi antara dua pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Ketentuan Lain Lain Non Discrimination Klausul ini mengatur tentang persamaan perlakuan perpajakan yang diberikan oleh suatu negara kepada warga negara dan kepada bukan warga negara. Suatu negara yang terikat tax treaty memiliki kewajiban untuk memberikan perlakuan perpajakan yang sama untuk warga negaranya. Dalam kondisi demikian. Pertukaran informasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pertukaran informasi secara rutin dan pertukaran informasi berdasarkan permintaan. kepada negara yang bersangkutan diberikan hak untuk mengadakan penyesuaian penyesuaian sehubungan dengan pergeseran laba tersebut.302 sejak awal menjadi penduduk di negara tersebut maka penghasilan yang diterimanya hanya dikenakan pajak di sana.

Kedua. yang dijadikan sebagai acuan pada saat pembuatannya. Member of Diplomatic Missions and Consular Posts Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan yang diberikan kepada anggota dari suatu misi diplomatik dan konsulat. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral. Memahami prinsip prinsip dasar tersebut akan memudahkan setiap pihak dalam memahami berbagai tax treaty yang ada. setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negara-negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Dalam kesepakatan internasional. related persons dan royalty. antara dua negara. Surat keterangan yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau instansi sejenis di negara treaty Partner juga bisa dipersamakan dengan SKD/CRT. tax treaty juga dimaksudkan untuk mencegah usaha-usaha penghindaran pajak yang dapat berpengaruh terhadap penerimaan pajak suatu negara. Klausul-klausul yang dapat menikmati ketentuan dalam mutual agreement procedure antara lain adalah business profits. negara tersebut tidak dapat mengenakan pajak atasnya. Yang perlu diperhatikan adalah. Ketentuan dalam klausul ini pun mengatur hal yang sama. otoritas perpajakanpun memiliki sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. dalam tax treaty pada umumnya sudah disepakati bahwa setiap negara treaty partner berhak menentukan prosedur dan tata cara untuk membuktikan bahwa suatu pihak benar-benar berdomisili atau berkedudukan dan berstatus sebagai pembayar pajak di negara treaty partner. Pertama. berdasarkan tax treaty. ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. Dengan memiliki SKD/CRT. Menurut Rachmato Surachmat (2001). tidak memperoleh perlakuan yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan berdasarkan hukum internasional. maka pengenaan pajaknya kembali pada Undang Dasar-dasar Keuangan Publik . secara umum setiap tax treaty mengikuti prinsip prinsip dasar dari model model tax treaty yang ada seperti model OECD atau model PBB. yang berakibat buruk bagi investasi. maka suatu pihak berhak untuk menerapkan suatu ketentuan tax treaty dengan negara dimana yang bersangkutan berkedudukan atau berdomisili. meskipun anggota korps diplomatik atau konsulat mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara di mana mereka bertugas. antara berbagai negara pada umumnya dan antara Indonesia dengan negara negara lain pada khususnya. Namun demikian. Melalui ketentuan dalam klausul ini.303 “curhat” tentang suatu perlakuan perpajakan yang tidak disetujuinya. Tax Treaty Mengalahkan UU PPh Bisa disimpulkan bahwa tax treaty muncul karena dua sebab yang mendasar. Namun demikian perlu diingat bahwa mutual agreement procedure tidak mencakup seluruh klausul yang terdapat dalam sebuah tax treaty. tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. Jadi. Bukti dimaksud seringkali disebut Surat Keterangan Domisili (SKD) atau Certificate of Residence Taxpayer (CRT) yang diterbitkan oleh competent authority atau pejabat yang berwenang yang ditunjuk oleh suatu negara treaty partner. keinginan untuk menghindari pemajakan berganda yang bisa menimbulkan distorsi ekonomi. maksud dari kalusul ini adalah untuk menjamin bahwa para diplomat. Jika tidak memiliki SKD/CRT.

maka Wajib Pajak luar negeri tersebut hanya dapat menerapkan ketentuan tax treaty Indonesia – Inggris apabila memiliki SKD/CRT dari competent authority yang ditunjuk negara Inggris. Jika tidak. maka penghasilan Wajib Pajak Luar Negeri yang bersumber dari Indonesia langsung dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 26% dari penghasilan bruto.304 Undang yang berlaku di negara masing masing. jika Wajib Pajak luar negeri yang berkedudukan di Inggris. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh.

Keuangan Negara. Kingston. Pakpahan. 14 April. University of Birmingham: Institute of Local Government Studies. 6. Massachusetts Avenue Cambridge. National Bereau of Economics Reserach. 2002. M. Aronson. Decentralisation. Pajak Internasional. Stanley. Bird.: Queen’s University School of Public Policy. BPFE. United Kingdom: Cambridge University Press.. Jogyakarta Hyman. 2004. Cambridge University Press. Gilbert.J. Edisi Ketujuh. 1985. Ont. University of Toronto (July). Makalah pada sidang ISEI. dkk.J. dalam “Democratic Choice and Taxation: A Theoritical and Empirical Analysis”. Martin. “Tinjauan Permasalahan serta Prakondisi yang Diperlukan Bagi Pengembangan Penggunaan Pinjaman Daerah di Indonesia”. D. 1981. 2003. Brennan. Kadjatmiko. dan Francois Vaillancourt. “Tax Limits and The Logic of Constitutional Restriction. Courchence. Local Governments and Markets.305 DAFTAR PUSTAKA Alisjahbana. Geoffrey dan Buchanan. dan T.Walter dan Winer. Intermedia. Discussion Paper No. Batam. Hettich. 2002. NBER. Nurjaman. International Centre for Tax Studies. Richard M. MA. Inc. London.Working Paper 8829. “Transfer Antar Tingkat Pemerintahan (Intergovernmental Transfer)” dalam Machfud Sidik. Brodjonegoro. Mamduh. 2002. The Future of Fiscal Federalism. L. Oxford: Clarendon Press. Don dan Metcalf. Gunadi. USA. editor. editor. Bambang dan Arlen T. Bunga Rampai Desentralisasi Dasar-dasar Keuangan Publik . Brown. Manajemen Keuangan Internasional. Davey. Fiscal Decentralization in Developing Countries. James. (1999). Bird. Richard M dan Chen. Bennet. Arsjad. United States: South-Western. Public Finance. 1998. 2002. 2001. McGraw Hill. 1992. Cambridge (Maret). Richard M. Duanjie. dkk. J. “Federal Finance and Fiscal Federalism: The Two Worlds of Canadian Public Finance”. Indonesia. 1983. A Contemporary Application of Theory to Policy. 1996. dkk. “A Comparative Perspective on Federal Finance” dalam K. Robert J. ”Evaluasi atas Alokasi DAU 2001 dan Permasalahannya” dalam Machfud Sidik. Fullerton.M. Richard. Public Finance. Jakarta Hanafi. MIT Press. Tax Incidence. 2004. Armida S. Debt and Taxes in The Theory of Public Finance. Dana Alokasi Umum. Financing Regional Government: International Practices and Their Relevance to the Third World. Banting. Cambridge. 1990. 1994b. Feldstein. (2003).G. Cnossen. David N. (1984). Thompson Learning. Lembaga Penerbit FE UI. Bird. Jakarta. K. Sijbren & Hans-Werner Sinn. Public Finance and Public Policy in the New Century. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Assaaf. New York. Musgrave. “Optimalisasi Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah”. 2002. Sidik. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Jakarta. Harvey S. Pakpahan. Jogjakarta dengan United States Agency for International Development (USAID). Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Makalah yang disampaikan Seminar Nasional Rencana Revisi Undang-Undang Otonomi Daerah Kerja sama Forum Rektor . Mitchell.306 Fiskal.. United States: McGraw-Hill. 2002. 2004. editor. 2002. “Pinjaman Daerah Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah” dalam Machfud Sidik. Washington. LPEM Universitas Indonesia bekerjasama dengan Clean Urban Project. Machfud. (15 April). Sidik. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Musgrave. Departemen Keuangan RI. “Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia”. (1991). McGraw Hill. International Edition. Republik Indonesia. John. Rosen. Razin. 2004. 2002. Public Finance (Sixth Edition). RTI (1999). Inc. MA. Shome. 1989. “Undang-undang No. 2002. Republik Indonesia. Republik Indonesia. yang merupakan kerjasama Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Nine Simple Guidelines for Pro-Growth Tax Policy. Dana Alokasi Umum. Marco. Machfud. dkk. Sidik. 2003. Massachusetts Avenue Cambridge. Arlen T. International Fiscal Policy Coordination and Competition: An Exposition. Studi yang dilakukan oleh Sustainable Indonesian Growth Alliance (SIAGA) Project A Banking Industry Reform. ”Implementasi UU Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah (Kebijakan Pemerintah Dalam Perimbangan Keuangan)”. Makalah yang disampaikan dalam Acara Orasi Ilmiah dengan Thema “Strategi Meningkatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Jakarta. “Intergovernmental Fiscal Relations” dalam P. Daniel J. USA. Tax Policy Handbook. 4 April. Machfud.Fraksi Utusan Daerah MPR-RI. Norregaard.25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusar dan Daerah”. “Undang-undang No.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah”. Sadka Efraim. Public Finance in Theory and Practice. Inter-American Development Bank. Departemen Keuangan RI.34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”. Magrassi. “Subnational Investment Needs and Financial Market Response”. Richard A dan Peggy B. Laporan Akhir Pengembangan Obligasi Daerah di Indonesia. 2000. 1995. DC: International Monetary Fund. NBER. Capitalism Magazine. “Undang-undang No. dkk.

2002. 15745-VN. 2004. Machfud. BPFE.(2001). Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Simandjuntak. 1996.Teresa. Makalah pada Worskhop Manajemen Strategik Penerimaan Daerah dan Keuangan Daerah. Jakarta. Sebuah Pengantar. Report No. “Kebijakan Fiskal: Pemikiran. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. dkk. 2003.. 2002. Bandung. Rachmanto. Heru dan Singgih Riphat. Ph. dkk. Jaja. 1996a. Yogyakarta. Malang. dan Implementasi”. Masykur. “Fiscal Federalism in Theory and Practice”. United States: SouthWestern. Konsep.307 Kemampuan Keuangan daerah Melalui Penggalian Potensi Daerah Dalam Rangka Otonomi Daerah” Acara Wisuda XXI STIA LAN Bandung Tahun Akademik 2001/2002. Jakarta.A. World Bank. Drs. M. editor. DC. Zakaria. Indonesia. 2003. 2001. 1997. Ter-Minassian. (2001). “Vietnam: Fiscal Decentralization and the Delivery of Rural Services”. Robert A. Dasar-dasar Keuangan Publik . Washington. Dana Alokasi Umum. Departemen Keuangan RI. Holley. Fiska Sarana. 2001.D. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. DC (Oktober). Washington DC (Desember). Wiratmo. Subiyantoro. 10 April. The International Budget Project.. ---------. A Guide to Budget Work for NGOs. ”Transfer Pusat ke Daerah: Konsep dan Praktik di Beberapa Negara” Machfud Sidik. 26-27 September. M. International Monetary Fund. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Public Finance in Theory and Practice. Tax Review. Gramedia Pustaka Utama. “Perencanaan Pembiayaan Daerah”. Volume I/No. Ulbrich. 5/2004. Surahmat. Keuangan Negara: Dalam Teori dan Praktek (Edisi 4). The Center on Budget and Policy Priorities. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda serta penerapannya di Indonesia. Suparmoko. Thompson Learning. Sidik. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda. Washington.

Dasar-dasar Keuangan Publik . Jakarta. Saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. 1 Januari 1947. dan STIE Indonesia. Anggota Tim Penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN Departemen Keuangan. antara lain sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan dan Kepala Badan Analisa Keuangan dan Moneter. Ketua Tim Koordinasi dan Monitoring Perhitungan APBN. USA. kemudian melanjutkan pada undergraduate program bidang ekonomi di Boulder Colorado University.308 BIOGRAFI PENYUSUN Noor Fuad. Sedangkan beberapa hasil karya penulisan atau papernya. tahun 1984. yaitu ” Energy Comsumption in USA. Selain itu. sebagai dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. saat ini beliau masih aktif sebagai Anggota Dewan Penasehat ISEI Cabang Jakarta. Departemen Keuangan. Gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Universitas Gadjah Mada. ”Pengaruh Eksternal Shock Negara Industri terhadap Negara Berkembang” (terjemahan. Jakarta. Pengalaman mengajar yang pernah dilaksanakan antara lain. Beberapa penugasan yang pernah diterima antara lain. menikah dan telah dikaruniai 1 putri dan 2 putra. USA.1. Anggota Dewan Komisaris PT Telkom dan Anggota Redaksi Jurnal Keuangan dan Moneter. ”Pokok-pokok Pengembangan Pendidikan dan latihan Jarak Jauh di Departemen Keuangan (1994). Yogyakarta pada tahun 1972.1 No. Beberapa jabatan penting di lingkungan Departemen Keuangan pernah dipercayakan kepadanya. September 2003). 1984). Jurnal Keuangan Publik. sebagai Ketua Grup Kerja Tim Subsidi Impor Bulog. tahun 1986. Anggota Dewan Komisaris PT Pelindo III dan Ketua Dewan Pengawas Rumah Sakit Persahabatan. dosen luar biasa pada Universitas Trisakti. Cross Section Analysis” (1980). Departemen Keuangan. BPPK Vol. dilahirkan di Kudus. ”Services Account Balance of Payment” (1985). dan ” The Impact of Institutional Environment on Public Official Permormance: Does Instititional Environment Affect The Rate Of Corruption?” (bersama Andie Megantara. Selanjutnya meneruskan ke program master bidang kebijakan ekonomi di University of Illinois at Urbana Champaign. Penasehat Tim Penyempurnaan Sistem Akuntansi. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”.

Lexington. dosen pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Minatnya pada bidang keuangan publik dimulai sejak meniti karir sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Propinsi Bali dimana penugasan-penugasannya meliputi aspek penerimaan dan pengeluaran negara dari aktivitas pemerintah yang didanai APBN. Dilahirkan di Boyolali. ”The Impact of Institutional Environment on Public Official Corruption” (Journal of Economics and Business Administration No. Selain itu. Makalah-makalah yang dihasilkan diantaranya “Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah”. tahun 1996. Pusdiklat Pegawai BPPK. STAN. dan ”The Impact of Institutional Environment on Public Official Performance: Does Institutional Environment Affect the Rate of Corruption?” (bersama Noor Fuad.309 Andie Megantara. March 2003). Saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Kurikulum. Gelar akuntan diperoleh dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tangerang. tahun 1993. antara lain sebagai Direktur Program Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Keuangan Terapan (LP2MKt). lahir di Solo. sebagai tenaga ahli bidang sektor publik. kemudian menyelesaikan program masternya pada bidang Manajemen Keuangan dari Universitas Gadjah Mada. Selain aktif di bidang pengajaran. juga aktif sebagai peneliti pada Research Institute in Political Economy and Local Government Empowerment.1 No. dan “Konsep Dasar Akuntansi Dana”. March 2002). antara lain pada Diklat Pimpinan Tingkat III dan IV serta diklat-diklat lain di Pusdiklat Pegawai BPPK. September 2003). tahun 1994. 29 Januari 1970. 13 Agustus 1961. Bambang Widjajarso tercatat sebagai staf pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. dan Ketua Tim Penyusun Buku Dasar-dasar Keuangan Publik. 29. Gelar Sarjana Hukum didapatkan dari Universitas Airlangga. Yogyakarta. ”An Overview of the Indonesian Automotive Industry” (Journal of Economics and Business Administration No. Jurnal Keuangan Publik Vol. “Memahami GASB Statement No 34”. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. Jepang tahun 2003. Nagoya. Depok. sehingga sampai sekarang mendalami manajemen keuangan sektor publik. Dasar-dasar Keuangan Publik . khususnya untuk mata kuliah Seminar Akuntansi Sektor Publik. Anggota Dewan Editor Jurnal Keuangan Publik BPPK. “Prospek Akuntansi Pemerintah Indonesia”. tahun 1990 sedangkan program master pada bidang Business Administration diraih dari University of Kentucky. Universitas Budi Luhur dan Universitas Al Azhar Indonesia. Berbagai penugasan lain di luar jabatan struktural banyak dipercayakan kepadanya. Sedangkan program doktoral bidang Manajemen diselesaikan di Nanzan University.1. hampir seluruh perjalanan karirnya diabdikan sebagai pengajar di berbagai institusi. USA. Jakarta. Surabaya. dan Universitas Indonesia. Universitas Paramadina Mulya. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. Beberapa hasil tulisan atau paper yang pernah dibuat antara lain. Saat ini aktif memberikan pelatihan Manajemen Keuangan Daerah pada beberapa Pemerintah Daerah melalui Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan. 30.

mendapat penugasan sebagai Asisten Dosen STAN dan Verifikator pada Bagian Keuangan BPPK. Rahmadi Murwanto. menikah dan dikaruniai dua anak. lahir di Jakarta 31 Oktober 1971. Tercatat pembangunan jaringan sistem informasi kepegawaian dan sistem kontrol awal database keuangan BPPK (early warning system) merupakan hasil rintisan bersama. praktik perpajakan. Setelah menyelesaikan program diploma III Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 1991. sistem akuntabilitas instansi pemerintah. saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Perumusan Program pada Sekretariat Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. kemudian pada tahun 2001 berhasil menyelesaikan program Master of Accounting di University of Southern Californa. USA.310 Huriah Akbar Prabowo. Australia. Di samping pekerjaan utama yang bersangkutan dengan pengembangan SDM Departemen Keuangan. Saat ini disamping jabatan struktural yang disandangnya sebagai Kepala Sub Bidang Program pada Pusdiklat Pegawai BPPK Jakarta. Kegiatannya selain menjabat di BPPK antara lain aktif mengajar pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan beberapa diklat yang diselenggarakan di BPPK seperti Diklat Pimpinan Tingkat IV. lahir di Salatiga. Adi Budiarso. juga aktif berkecimpung di bidang pengembangan kepemimpinan. Diploma IV (Program dalam Bahasa Inggris) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan Diklat Pimpinan Tingkat IV BPPK. juga aktif mengamati berbagai perkembangan dalam bidang regulasi akuntansi. Gelar Akuntan diperolehnya setelah lulus dari program Diploma IV STAN tahun 1997. Sekarang menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan Pendidikan Akuntan. Jabatan lain yang dipegangnya adalah sebagai Direktur Program Lembaga Pengembangan Kepemimpinan Global Yayasan Artha Bhakti BPPK. membuat dirinya terpanggil untuk lebih mengembangkan potensi di bidang sistem informasi yang dikuasainya bagi kemajuan STAN dan BPPK. Pendidikan Diplomanya diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). serta mengajar pada program Pascasarjana Universitas Atmajaya. Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Kecintaannya kepada almamater. Dasar-dasar Keuangan Publik . setelah sebelumnya menjadi asisten dosen dari tahun 1991 sampai dengan 1994. Case Western University. 1 September 1970. Sejak tahun 1997 telah menjadi staf pengajar pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara untuk beberapa mata kuliah di bidang Akuntansi dan Manajemen Keuangan. sedangkan gelar Master of Business Administration dan Master of Accountancy diperoleh pada tahun 2001 dari Weatherhead School of Management. perpajakan dan keuangan publik. Pendidikan program Diploma III dan IV diselesaikan di STAN sedangkan gelar Master of Commerce diraih dari University of New South Wales. investasi dan manajemen risiko. Sydney. Departemen Keuangan.

Disamping itu. serta sebagai pembicara di berbagai seminar dan pelatihan tingkat lokal maupun nasional. Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan sejak September 1995. Kepala Divisi Riset Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan STAN. Kegiatan lainnya antara lain sebagai Kontributor Ahli Majalah ”Warta Bisnis”. Insyafiah. sedangkan gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Universitas Indonesia. sebagai Dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.. saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Evaluasi Program pada Sekretariat BPPK. STIE Tri Bhakti – Bekasi. Umar dan Ilyas. menikah dan telah dikaruniai 3 putra. lulus tahun 2002. Jakarta pada tahun 1999. Kegiatannya selain menjabat di BPPK. Gelar Sarjana Ekonomi di bidang akuntansi diperoleh dari Universitas Indonesia pada tahun 1997. Australia. saat ini juga aktif mengajar antara lain. adalah mengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). 25 Mei 1973. dan Universitas Al Azhar Indonesia. Beberapa mata kuliah yang pernah diberikan antara lain Evaluasi Proyek dan Akuntansi Keuangan Lanjutan. penulis di berbagai harian dan majalah nasional. Pendidikan Diploma III diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Dasar-dasar Keuangan Publik . Departemen Keuangan. pernah beberapa kali menjadi Asisten Dosen untuk mata kuliah tertentu. Disamping hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi. Jakarta pada tahun 1995. Sejak November 2004 bekerja pada Kementerian BUMN sebagai Tenaga Ahli Menteri BUMN. pemandu acara talk show ekonomi di radio SMART FM. Direktur bidang Kajian Ekonomi Center for Indonesian Reform (CIR). aktivitas lainnya yang pernah dilakukan adalah sebagai peneliti di Badan Analisa Fiskal. kemudian melanjutkan pendidikan pada program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MKPK) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. menikah dan telah dikaruniai 1 putra dan 1 putri. Sunarsip.311 Fajar Hasri Ramadhana. dan Anggota Tim Perumus Kebijakan Exit Strategy Pasca IMF (Tim Indonesia Bangkit 2001). sedangkan gelar Master of Arts diraih dari University of Colorado pada tahun 2003. Editor Pelaksana Jurnal Keuangan Publik BPPK. Tidak heran. dilahirkan di Jakarta. Anggota Komite Risiko dan Kepatuhan PT Bank BNI (Persero) Tbk. Mengajar bukan hal yang baru baginya sebab sejak lulus Diploma III STAN tahun 1993. hal yang sering dilakukan di waktu senggang bersama keluarga adalah bermain game bersama dua anaknya yang beranjak besar. 25 Maret 1974. minat yang besar juga dicurahkan pada dunia komputer. Pendidikan Diploma IV diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada tahun 2000. pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan Universitas Al Azhar Indonesia. Di samping bekerja di Pusdiklat Pegawai. Kemudian melanjutkan program master bidang finance di The University of Newcastle. dilahirkan di Tuban. Sebelumnya pernah bertugas di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan dan Badan Analisa Fiskal. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful