DAFTAR ISI

Prakata Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN Definisi Keuangan Publik Alasan Mempelajari Keuangan Publik Pentingnya Sektor Publik Karakteristik Kebijakan Publik Ruang Lingkup Keuangan Publik Pendekatan Analisis Kriteria yang Digunakan untuk Mengevaluasi kebijakan Politik BARANG PUBLIK DAN EKSTERNALITAS Identifikasi Barang Publik Karakteristik Barang Publik Perbedaan antara Barang Publilk dan Barang Pribadi Permintaan Barang Publik Tingkat Output yang Efisien Free Rider Problem Eksternalitas PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga Penentuan Harga Barang Publik Implementasi Penentuan Harga dalam Produk Pertanian Fungsi Penawaran dan Tanggapan Sektor Pertanian Kebijakan Harga Positif Kebijakan Harga Negatif Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi Utama Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi Alokasi Fungsi Distribusi Fungsi Stabilisasi Koordinasi Fungsi Anggaran FUNGSI ALOKASI Latar Belakang Adanya Fungsi Alokasi Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar iii v 1 1 1 2 4 5 6 7 9 9 10 10 12 13 13 14 16 16 17 18 19 20 21 21 23 23 24 26 26 27 28 29 30 30 31

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

v

Penyediaan Barang Publik Efisiensi Penyediaan Barang Publik oleh Pemerintah BAB VI FUNGSI DISTRIBUSI Konsep Keadilan Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Distribusi sebagai Suatu Kebijakan Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Redistribusi FUNGSI STABILISASI Kebijakan Stabilisasi Kebijakan Moneter Kebijakan Fiskal Stabilisasi Anggaran SISTEM PILIHAN PUBLIK Konsep Keseimbangan Politis (Political Equilibrum) Pemilihan dan Pemungutan Suara (Election and Voting) Memberikan Suara atau Abstain (Vote or not to vote) Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas (Majority Rule) Fenomena Cycling Penyebab Cycling Metode Pemungutan Suara KONSEP ANGGARAN Balance budget Jenis-Jenis Anggaran Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) Siklus Anggaran Masalah Umum Anggaran KEBIJAKAN STABILISASI Model-model Pengganda dengan Investasi Tetap Pengeluaran publik Pajak Lump-Sum Peranan Tunjangan Sosial (transfer) Sistem dengan Pajak Penghasilan Kenaikan Anggaran Berimbang Jenis-Jenis Inflasi Keseimbangan menurut Paham Ricardo PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Unsur-Unsur Pembangunan Kebijakan Struktur Perpajakan Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Pengembangan Struktur Perpajakan Pajak Penghasilan Perorangan Pajak Penghasilan Perusahaan

34 39 43 44 46 46 47 47 50 50 50 51 51 52 52 53 54 56 62 63 65 69 70 70 73 75 78 80 80 83 83 84 84 85 86 89 91 91 93 93 95 95 96

BAB VII

BAB VIII

BAB IX

BAB X

BAB XI

vi

Pajak Tanah Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Pajak dan Bea atas Komoditas Insentif Perpajakan Insentif Domestik Insentif bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Insentif bagi Modal Asing Insentif Ekspor Kebijakan Pengeluaran Bantuan Internasional dan Redistribusi BAB XII HUTANG PUBLIK Pertumbuhan Hutang Pemerintah Struktur Hutang Pemerintah Hutang Publik sebagai Bagian dari Struktur Likuiditas Ekonomi Pendanaan Kembali vs Pelunasan Hutang Beban Pajak dari Pelunasan Hutang Pengalihan Beban melalui Hutang Luar Negeri Peminjaman oleh Pemerintah Daerah Manajemen Hutang Struktur Jangka Waktu dari Suku Bunga Teori Struktur Jangka Waktu Dampak Inflasi Struktur Jangka Waktu dan Manajemen Hutang yang Efektif Hutang Pemerintah Lokal DASAR-DASAR PERPAJAKAN Penerimaan Pajak Penerimaan Non Pajak Prinsip-Prinsip Pajak Siklus Arus Pajak Tarif Pajak Istilah-istilah dalam Perpajakan PRINSIP KEADILAN PERPAJAKAN Prinsip Manfaat Prinsip Kemampuan Membayar Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan DAMPAK PERPAJAKAN TERHADAP PEREKONOMIAN Efficiency Effect Dampak Pajak Kriteria Tarif Pajak Kriteria Struktur Pajak yang Baik

97 97 98 98 99 100 101 102 102 103 106 106 106 110 110 111 115 116 117 117 118 118 119 121 124 124 124 126 127 128 129 132 132 133 134 136 137 138 140 140 141 143 145

BAB XIII

BAB XIV

BAB XV

vii

BAB XVI

PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Aturan Utama Penentuan Penghasilan Kena Pajak Penerapan Tarif Pajak Prosedur Pembayaran Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Praktek Definisi Penghasilan : Pengecualian Praktek Definisi Penghasilan : Pengurangan atas Penghasilan Neto Preferensi Pajak Permasalahan-Permasalahan Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Perlakuan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Pola Progresivitas Tarif Pajak Penyesuaian Terhadap Inflasi Pilihan Unit Kena Pajak PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Integrasi Pajak Aspek-Apek Khusus Definisi Basis Pajak Aturan Penyusutan dan Waktu Penyusutan Metode Penyusutan Ekonomis vs Metode Penyusutan Dipercepat Pembebanan Sekaligus Penyesuaian Terhadap Inflasi Investment Tax Credit Siapa yang Menanggung Beban Pajak? Pajak Penghasilan Badan untuk Usaha Kecil dan Menengah PAJAK ATAS KONSUMSI Jenis Pajak atas Konsumsi di Indonesia Bahasan-bahasan dalam Pajak atas Konsumsi Tahap Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Nilai Akhir Sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Jenis Pajak Pertambahan Nilai Distribusi Beban Pajak Cukai Pajak Penjualan Umum Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi PAJAK ATAS KEKAYAAN Alasan-alasan Pengenaan Pajak atas Kekayaan Pajak atas Tanah Distribusi Beban Pajak Kekayaan Pajak Kekayaan sebagai pajak atas Penghasilan Modal Pola-Pola Alternatif

147 147 148 148 149 150 153 157 158 159 159 161 163 163 167 167 167 172 174 175 177 179 180 180 181 182 184 184 185 187 188 189 189 192 192 192 193 197 197 199 201 202 205

BAB XVII

BAB XVIII

BAB XIX

viii

Pajak atas Kekayaan Bersih Pengalaman Berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih Struktur dan Basis Pajak Peranan Harta tak Berwujud (Intangibles) Bea atas Modal BAB XX PAJAK ATAS WARISAN Alasan-alasan Pengenaan pajak atas Warisan Tujuan dan Jenis Pajak Permasalahan-Permasalahan Khusus ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA ATAS BARANG DAN JASA SOSIAL Mengidentifikasai Manfaat dan Biaya Mengevaluasi dan Mengkonversi Manfaat dan Biaya Mendiskonto Manfaat yang Akan Datang Pengaruh Tingkat Diskonto terhadap Present Value Menentukan Tingkat Diskonto Sosial (Social Rate of Discount) Pengaruh Inflasi Menentukan Peringkat Proyek STRUKTUR BELANJA PUBLIK Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Faktor Belanja Barang dan Jasa Faktor Pengeluaran dari Transfer Porsi Pendapatan Klasifikasi Belanja Publik KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Perlunya Analisis Sektor Pertahanan Nasional Jalan Raya Pendidikan Fasilitas Rekreasi KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Tunjangan Kepada Penghasilan Rendah Asuransi Sosial Sistem Tunjangan Sosial Terkini KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dimensi Ekonomi dan Desentralisasi Fiskal Efisiensi Stabilitas Makro Ekonomi Keadilan (Equity) Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal

206 206 206 207 209 210 210 210 212 213 214 214 215 216 217 219 220 224 224 224 226 229 231 231 232 233 234 235 237 237 239 239 241 243 243 244 245 245

BAB XXI

BAB XXII

BAB XXIII

BAB XXIV

BAB XXV

ix

BAB XXVI

TRANSFER PUSAT KE DAERAH : TEORI DAN PRAKTIK Pendahuluan Tujuan Transfer Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Jenis-Jenis Transfer

247 247 249 255 256 264 264 265 266 269 271 271 272 274 274 274 276 277 278 279 280 284 284 287 288 290 292 293 294 295 301 301 304 307

BAB XXVII PERPAJAKAN DAERAH Pendahuluan Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Ketentuan Mengenai Bagi Hasil Pajak Propinsi dan Peruntukannya Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Pembiayaan Daerah BAB XXVIII PINJAMAN DAERAH Pendahuluan Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Penggunaan Pinjaman dalam Pembiayaan Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah BAB XXIX KOORDINASI PAJAK INTERNASIONAL Pendahuluan Prinsip-Prinsip Pajak Internasional Koordinasi atas Pajak Penghasilan dan Pajak Laba Koordinasi Pajak Produk Koordinasi Pengeluaran Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Pemahaman atas Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda) Cakupan Tax Treaty Pencegahan Penghindaran Pajak Ketentuan Lain-Lain

Daftar Pustaka Biografi Penyusun

x

sebagai contoh. Alasan Mempelajari Keuangan Publik Keuangan publik erat kaitannya dalam proses pengambilan keputusan berdasar asas demokrasi. uraian-uraian mengapa pertahanan nasional harus dikelola oleh negara sedangkan makanan diserahkan kepada swasta dan mengapa suatu negara menggunakan komposisi berbagai jenis pajak . ditribusi pendapatan. Apabila para pemilih wakil rakyat memonitor aktivitas para wakilnya.bukan pada pajak tunggal merupakan hal-hal yang dibahas didalamnya. penting untuk mengembangkan model-model ekonomi yang membantu menjelaskan arti alokasi sumber daya yang efisien atau optimal. Keuangan publik mempelajari proses pengambilan keputusan oleh pemerintah. karena setiap keputusan mempunyai pengaruh pada ekonomi dan keuangan rumah tangga dan swasta. Dengan demikian. Dalam keuangan publik. Keuangan publik menjelaskan belanja publik dan teknik-teknik yang digunakan oleh pemerintah untuk membiayai belanja tersebut. dan stabilitas ekonomi. fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah dan menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya. arti keadilan.1 B A B I PENDAHULUAN Definisi Keuangan Publik K euangan publik adalah bagian ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah. dan antisipasi akibat finansial maupun ekonomi atas suatu keputusan publik. Yang termasuk pemerintah disini adalah seluruh unit pemerintah dan institusi atau organisasi pemegang otoritas publik lainnya yang dikendalikan dan didanai oleh pemerintah. Sehingga. Keuangan publik juga menganalisis pengeluaran publik untuk membantu kita dalam memahami mengapa jasa tertentu harus disediakan oleh negara dan mengapa pemerintah menggantungkannya pada jenis-jenis pajak tertentu. maka para wakil rakyat ini akan bekerja lebih keras dan berusaha Dasar-dasar Keuangan Publik .

2 meyakinkan para pemilih bahwa kontribusi mereka atas pembayaran-pembayaran pajak akan menyebabkan pencapaian kondisi yang lebih baik. Penting bagi kita untuk mengamati aktivitas organisasi pemerintah . Seiring dengan itu. karena para individu ini menaruh perhatian pada aktivitas belanja publik setelah mereka membayar pajak. Pertanyaan-pertanyaan lain akan timbul berkaitan dengan mengapa pemerintah memerlukan anggaran sebanyak itu. pembayar pajak akan memberikan otoritas lebih kepada pemerintah untuk mengelola dan mengendalikan sejumlah sumber daya keuangannya. kesehatan dan rekreasi. Pentingnya Sektor publik Di Amerika Serikat. dan apakah uang tersebut digunakan dengan bijaksana? Secara normal. digunakan untuk apa uang-uang itu. prosentase belanja publik tersebut lebih besar. Pada situasi ini. Sistem perpajakan haruslah diarahkan pada kepuasan dari sudut pandang para individu tersebut. Kemudian. muncul pertanyaan apakah pengeluaran-pengeluaran untuk masing-masing jenis tersebut dilakukan dengan bijaksana. lebih dari dua puluh persen pendapatan nasional (GNP) berasal dari belanja pemerintah. semakin tinggi pendapatan rumah tangga maka semakin besar proporsi pajak yang harus dibayarkan. kepentingan dan perhatian publik akan meningkat. mereka akan merasa sukarela pada saat pemerintah mengambil sebagian pendapatan mereka. Salah satu perhatian pokok pengeluaran rumah tangga ada pada makanan.yang tidak ditujukan untuk mencari laba tetapi memaksimalkan jasa pelayanan kepada masyarakat . transportasi.dan mengetahui karakteristik khusus yang melekat pada sektor publik. Bagi individu yang merasa tidak puas dengan beban pajak yang menjadi tanggungan mereka. Karena. perumahan. pakaian. apabila pembayar pajak merasa terpuaskan. kecuali dalam hal-hal yang tidak dapat diatur sendiri oleh para individu. sedangkan di negara-negara Eropa Barat. melalui kebijakan moneter dan penganggaran. Kebijakan publik dianggap penting dalam hal mempengaruhi kegiatan ekonomi nasional. Kemudian. Sektor publik telah mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. Jumlah yang sangat besar nilainya ini merupakan alasan yang kuat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu masalah keuangan publik. dikehendaki adanya kebebasan individu yang mutlak dan tidak membenarkan pengaturan ekonomi oleh pemerintah. Dalam situasi ini. apakah hasil penerimaan pajak (terutama pajak penghasilan) dari rumah tangga seperti yang tercantum dalam anggaran negara memang relevan dengan aktivitas-aktivitas sektor publik ini. karena sektor publik dan sektor swasta merupakan kesatuan integral dalam sistem perekonomian. peran pemerintah timbul untuk mengatur dan mengelola aspek-aspek kepentingan publik dan karakteristik umum dari aktivitas tersebut adalah bahwa kegiatan tersebut tidak ditujukan untuk memperoleh Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam sistem perekonomian kapitalis. maka mereka akan memberi pengawasan yang lebih pada aktivitas pemerintah.

Pemerintah semakin diperlukan dalam melakukan kegiatankegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. Adanya risiko yang sangat besar yang tidak mungkin dikelola oleh swasta. tipikalnya dalam penyediaan pertahanan nasional. karena usaha seperti itu dapat dijalankan oleh sektor swasta. dibutuhkan dalam memelihara perdamaian dan melindungi masyarakat terhadap serangan yang datang dari luar maupun dari dalam. 6. Adanya inflasi atau deflasi yang tidak dapat diselesaikan secara otomatis oleh mekanisme pasar. Adanya barang publik (akan didefinisikan dan dibahas dalam bab mendatang) yang tidak dapat disediakan oleh mekanisme pasar. Peran tersebut dapat dilihat dalam aliran sirkuler seperti dibawah ini. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pemerintah dapat melakukan tiga kegiatan publik utama. Adanya perbedaan biaya pribadi dan biaya sosial. keadilan sosial dan pekerjaan umum. John Stuart Mill menyampaikan alasan-alasan tentang perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah sebagai berikut: 1. sehingga pemerintah secara nyata diperlukan dalam pengelolaan biaya dan manfaat sosial karena swasta tidak ada keinginan mengelolanya. Akan tetapi. 2. Adanya sifat monopoli dalam bidang usaha tertentu yang menyebabkan pemerintah harus campur tangan agar monopoli tidak merugikan para pelaku ekonomi. 3. 3. Bahwa campur tangan pemerintah. sehingga pemerintah hanya bergerak dalam area yang menyangkut kepentingan publik atau umum. 4. Adanya distribusi pendapatan yang tidak merata antar pelaku ekonomi pasar. walaupun harus membatasi kebebasan individu. Dalam perkembangannya. Diantara kelemahan-kelemahan mekanisme pasar tersebut adalah sebagai berikut: 1. Bahwa individu akan lebih percaya diri apabila mengerjakan sesuatu untuk kepentingannya sendiri. manfaat pribadi dan manfaat sosial. fungsi sektor publik berbeda dengan fungsi rumah tangga dan perusahaan dalam perekonomian. tidak ada lagi paham ekstrim seperti itu sehingga negara kapitalis pun memandang perlu adanya peranan pemerintah dalam perekonomian. sehingga harus disediakan oleh pemerintah.3 keuntungan. 2. Bahwa pemerintah haruslah bersifat inferior dalam melakukan kegiatan industri dan perdagangan. 5.

karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi. Itulah sebabnya dalam merancang suatu kebijakan fiskal. ada sejumlah kriteria dimana komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen. adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. perlu diperhatikan bagaimana sektor swasta akan bereaksi. Peranan sektor publik dalam perhitungan GNP (Gross National Product) atau pendapatan nasional adalah bahwa pemerintah memberi kontribusi terhadap GNP melalui pembelian barang dan jasa.4 Gambar 1. Dasar-dasar Keuangan Publik . atau diproduksi oleh swasta untuk dijual kepada pemerintah. Arus barang pribadi dan barang publik tidak dibiayai oleh penjualan tapi melalui perpajakan atau melalui pinjaman. dan tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. Karakteristik Kebijakan publik Dalam menilai pentingnya sektor publik.1 Dari gambar terlihat bahwa akan terdapat hubungan yang erat antara arus sektor swasta (rumah tangga dan perusahaan) dan sektor pemerintah. Barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah dapat saja diproduksi oleh pemerintah. Sektor publik (anggaran pemerintah) memberi kontribusi pada pasar faktor produksi dan pasar produk sehingga merupakan bagian integral dari sistem pembentukan harga.

dan sebagainya. Pertukaran barang dan jasa tertentu dalam mekanisme pasar perlu ada proteksi dari pemerintah untuk melindungi pelaku pasar. 3. Timbulnya masalah eksternalitas (akan dibahas lebih lanjut pada bab mendatang) perlu dipecahkan oleh pemerintah. Hal ini menyangkut kondisi-kondisi adanya eksternalitas yang perlu dikendalikan pemerintah. Setelah itu. perlunya pencapaian kondisi stabil dalam eknomi dimana peran pemerintah sangat dominan. Bahasan Keuangan Publik dimulai dari keadaan dan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian. mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar.mensyaratkan adanya informasi yang lengkap mengenai pasar baik bagi produsen maupun konsumen dan peraturan pemerintah diperlukan untuk menjamin persyaratan kelengkapan informasi itu. adanya barang publik yang perlu disediakan oleh pemerintah. 5. adanya mekanisme pasar yang perlu diintervensi pemerintah karena berbagai alasan. 2. Hasil pemilihan umum ini akan Dasar-dasar Keuangan Publik . subsidi dan pajak. 4. melalui anggaran. Untuk mencapai efisiensi pasar . 6. Ruang Lingkup Keuangan Publik Ruang lingkup Keuangan Publik dapat digambarkan dalam bagan berikut ini. Perlunya peran sosial yang dilakukan oleh pemerintah dalam distribusi pendapatan dan kesejahteraan dalam mekanisme pasar. Rincian karakteristik tersebut adalah sebagai berikut: 1. stabilitas harga dan tingkat pertumbuhan ekonomi. keseimbangan publik yang dicapai melalui proses pemilihan umum.kondisi dimana produksi barang sama dengan keinginan pasar . Kebijakan publik diperlukan untuk menjamin kesempatan kerja. Peraturan pemerintah diperlukan untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi bila terdapat kondisi persaingan yang tidak efisien.5 Dengan demikian karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. Keuangan Publik juga mencoba memberi gambaran tentang pilihan publik yang menyangkut aspek institusi publik.

dan juga alokasi dan distribusi sumber daya. dalam keuangan publik. misalnya.6 menghasilkan keputusan diantaranya menyangkut penyediaan barang dan jasa publik . dapat dipakai beberapa pendekatan analisis sebagai berikut: Pendekatan Normatif. Kemudian. kegiatan yang mencakup belanja publik dan kegiatan pembiayaan sering disebut sebagai struktur fiskal (fiscal structure). kesehatan dan pertahanan. Segala kegiatan yang berhubungan dengan alokasi sumber daya. bahasan keuangan publik biasanya juga menyangkut kegiatan analisis hubungan antara kebijakan pemerintah dengan perekonomian yang dikelola oleh rumah tangga dan swasta. dimana bahasan tersebut akan dihubungkan dengan aspek efisiensi penyediaan jasa tersebut. Yang terakhir. Contohcontoh belanja pemerintah tersebut meliputi pendidikan. Secara tipikal. Dengan demikian. pemerintah dapat melakukan usaha-usaha memperoleh sumber pendanaan lainya melalui hutang. Permasalahan keuangan pemerintah itu sendiri. ruang lingkup Keuangan Publik akan menyangkut ketiga bidang utama sebagai berikut: 1. dimana belanja tersebut dapat didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pemerintah. dan. dan bagaimana agar Dasar-dasar Keuangan Publik . Aspek pembiayaan merupakan area pembahasan Keuangan Publik berikutnya. Pendekatan Analisis Dalam melakukan analisis kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan anggaran pemerintah. distribusi pendapatan. Bahasan yang meliputi kegiatan memperoleh pendapatan. Sumber pendapatan pemerintah dapat mencakup pajak dan non pajak. Fokus buku ini akan meliputi kegiatan penerimaan dan pengeluaran dari anggaran pemerintah dan hal-hal yang berkaitan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara. bagaimana kualitas kebijakan fiskal. Keuangan Publik kemudian akan membahas aspek belanja publik yang merupakan aktivitas utama pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. Analisis hubungan sektor publik dan sektor swasta. dengan keterbatasanketerbatasan yang ada. termasuk kebijakan publik. 2. Pendekatan ini mencakup kriteria yang perlu ditetapkan untuk menilai kebijakan anggaran. bahasan Keuangan Publik akan mencakup masalah-masalah kreasi memperoleh pendapatan yang dilakukan oleh pemerintah. sumber-sumber tersebut akan dihubungkan dengan aspek keadilan dan distribusi pendapatan. dan aspek stabilisasi. 3. pemerintah perlu memberikan stimulus pada perekonomian melalui kebijakan belanjanya yang mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. Salah satu titik penting sisi belanja tersbut juga akan mencakup efek pengganda (multiplier) yang diperankan oleh pemerintah. Untuk menutup kekurangannya.

Pendekatan ini menggunakan alat eksperimen berdasar suatu estimasi untuk melihat perubahan perilaku. Jadi. Teori dasar dari welfare economics menyatakan bahwa. kedua. apakah wajar bagi keluarga tanpa anak harus membayar pajak pendidikan? Dasar-dasar Keuangan Publik . Implementasi kebijakan sektor publik mempunyai derajat kesulitan lebih tinggi. Kriteria yang Digunakan untuk Mengevaluasi Kebijakan Publik Beberapa kriteria dibawah ini dapat digunakan untuk melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik. apakah wajar menutup perusahaan yang menyebabkan polusi udara dibandingkan dengan kesempatan kerja yang disediakan oleh usaha tersebut? Apakah wajar menutup bisnis penebangan hutan untuk menyelamatkan habitat burung hantu? Atau. menyatakan suatu masyarakat dapat mencapai efisiensi Pareto tersebut dengan membuat kesepakatan (dengan melibatkan intervensi pemerintah) atas donasi individuindividu dan kemudian memberi kebebasan pada masyarakat untuk melakukan pertukaran satu sama lain. karena erat kaitannya dengan aspek politik dan harus mempertimbangkan aspek pemerataan dan keadilan. Pendekatan ini menggunakan model-model ekonometrik untuk melihat pengaruh dari suatu kebijakan dalam perilaku ekonomi yang diobservasi dan juga menggunakan analisis regresi untuk memprediksi pengaruh kebijakan setelah parameternya dapat diketahui dari model ekonometrik tersebut. historis.7 prestasi dapat ditingkatkan. dan. dan bagaimana proses politik. Pendekatan Positif. Pendekatan ini menggunakan alat indifference curve untuk menyatakan preferensi individu yang kemudian dihubungkan dengan preferensi bermuatan sosial untuk mendapatkan kondisi efisiensi Pareto. analisis dihubungkan dengan kondisi efisien perilaku rumah tangga dan perusahaan. Pendekatan ini dilakukan dengan membahas hal-hal yang berhubungan dengan estimasi. 1. bagaimana tekanan pihak-pihak yang berkepentingan dan bagaimana preferensi fiskal. politik dan sosial. Jadi. pendekatan normatif ini akan mengarah pada bagaimana seharusnya suatu kebijakan publik ditetapkan. berdasar bukti empiris. Equity & Fairness (Keadilan dan kewajaran) Suatu kebijakan publik dapat diuji dengan berbagai pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan kewajaran dalam persepsi sosial dan seberapa fair suatu kebijakan publik terhadap isu hak kepemilikan? Sebagai contoh. Dengan menggunakan welfare economics. pendekatan positif ini akan mengarah pada kebijakan publik apa yang harus diambil. pertama. mekanisme pasar yang kompetitif mengarah pada hasil yang efisien. dalam kondisi tertentu. Analisis ini menilai mengapa kebijakan fiskal pemerintah mencakup aspek ekonomi.

Contoh. 4. Akan tetapi. orang tidak akan menabung dalam jumlah yang cukup untuk pensiun sehingga pemerintah harus mengalokasikan penerimaan pajak agar penduduk usia lanjut dapat memperoleh manfaat. Freedom of choice (Kebebasan Individu) Dalam asas demokrasi.perlu diintervensi pemerintah? Trade Off Secara umum. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh. welfare economics telah dipertimbangkan sebagai cara pemberian insentif untuk mengoreksi kebijakan berdasar keadilan sosial.yang dapat memberi pekerjaan pada setiap orang . tetapi hal ini mungkin tidak efisien. kebijakan upah minimum mungkin mendorong keadilan. Kemudian. 6. Stabilization (Stabilisasi) Kebijakan publik dapat dianalisis dengan menilai apakah kebijakan yang diambil pemerintah mampu meningkatkan pengeluaran agregat? Atau apakah ekonomi sektor swasta . Paternalism (Sistem Paternal) Kebijakan publik dapat dievaluasi dari asumsi bahwa pemerintah adalah pihak yang paling mengetahui permasalahan penduduk suatu negara dan pemerintah bebas menentukan kebijakan apa saja. Economic Efficiency (Efisiensi Ekonomi) Kebijakan publik dapat dianalisis dari sudut Pareto Efficiency yaitu alokasi sumber daya dari kondisi yang tidak mungkin – melalui perubahan alokasi – sehingga mencapai kondisi dimana seseorang atau beberapa orang mengalami kepuasan lebih baik tanpa menyebabkan pihak lain terbebani. 3. Sehingga salah satu indikator keberhasilan kebijakan publik adalah apakah kebijakan pemerintah dapat mendorong kebebasan individu dalam bertransaksi ekonomi. ekonom menekankan efisiensi dan keadilan sebagai kriteria melakukan evaluasi atas kebijakan publik. 5. kebebasan individu dalam perekonomian memungkinkan pertukaran sukarela atau mempromosikan proses pengambilan keputusan sukarela yang didasarkan atas pertimbangan dagang yang bebas biaya transfer antar pihak yang bertransaksi. Suatu kebijakan publik dapat dievaluasi dengan pertanyaan apakah pilihan kebijakan tidak akan mengorbankan tujuan lainnya atau apakah manfaat agregat dapat melampaui beban agregat.8 2. mungkin ada konflik yang substansial antara beberapa kriteria tersebut.

terutama sifat-sifat dasar yang dipertimbangkan dalam pembahasan aspek keuangan publik. Pengangkut sampah Jalan lokal Rivalry Tinggi Dari gambar diatas. Karakteristik masing-masing jenis akan dibahas kemudian. sebagai berikut. mobil Makanan. barang pribadi. kita dapat menggunakan gambar dengan sumbu horizontal berupa tingkat excludability dan sumbu verikal berupa tingkat rivalry. dapat ditunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability. Dasar-dasar Keuangan Publik . barang publik lokal (sering disebut congestible goods) dan barang dengan eksternalitas. suatu barang dapat dikelompokkan kedalam empat kategori yaitu barang publik.9 B A B II BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS Identifikasi Barang Publik D alam mengklasifikasi barang publik dan barang pribadi. pakaian Jasa personal lain Barang Publik: Pertahanan Danau & sungai Lampu Jalan Excludability Rendah Barang dengan eksternalitas: Pendidikan. Rivalry rendah Barang Publik Lokal: Perpustakaan Taman Rekreasi Area parkir Excludability Tinggi Barang Pribadi: Rumah.

Contoh barang publik dengan sifat ini adalah jalan raya dan pertahanan nasional dimana konsumsi terhadap barang tersebut oleh seseorang tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk ikut mengkonsumsinya. sedangkan pertukaran barang publik selain dapat Dasar-dasar Keuangan Publik . tapi mungkin tidak memenuhi kriteria yang lain. suatu barang publik mempunyai sifat-sifat berikut: 1. Sifat barang publik seperti ini disebut non rival consumption. Suatu komoditas dapat saja memenuhi satu kriteria dari barang publik. Walaupun setiap orang mengkonsumsi jumlah yang sama atas barang publik. Non rival consumption mengandung maksud bahwa sejumlah orang dapat mengkonsumsi secara bersama-sama terhadap barang tersebut atau. tidak ada persyaratan bahwa konsumsi ini dinilai atau dihargai oleh semua orang. Sifat barang publik seperti ini disebut non exclusion. Pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak menghasilkan eksternalitas. 3. Beberapa barang tertentu yang secara konvensional tidak dipandang sebagai komoditas pribadi dapat saja mempunyai karakteristik sebagai barang publik. Penyediaan barang publik yang dilakukan oleh pemerintah tidak berarti bahwa produksinya harus dilakukan oleh sektor publik. Sifat lain dari barang publik yang lain adalah bahwa barang publik tidak disediakan secara eksklusif oleh pihak swasta. apakah seseorang itu mau membayar atau tidak (free rider) dalam mengkonsumsi barang. tapi mungkin disediakan oleh swasta kemudian pemerintah melakukan pembelian atas barang tersebut. Walaupun penyedia barang menginginkan. Sedangkan non exclusion mengandung arti bahwa orang tidak dapat membatasi manfaat atas barang tersebut pada orang-orang yang sanggup membayar saja. Konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi penawaran barang publik tersebut untuk dikonsumsi oleh orang lain. pada tingkat tertentu. atau suatu barang dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama. Perbedaan antara Barang Publik dan Barang Pribadi Barang publik adalah barang-barang yang mempunyai dua sifat pokok yaitu non rival consumption dan non exclusion. konsumsi yang dilakukan atas barang tidak akan mengurangi jumlah yang tersedia bagi orang lain. orang tersebut tetap dapat memperoleh barang tersebut.10 Karakteristik Barang Publik Secara umum. Karakteristik barang publik seperti diatas tidaklah absolut. setiap anggota masyarakat tidak dapat dibatasi/dilarang untuk mengkonsumsi barang publik atau kegiatan pembatasan tersebut sangat sulit untuk dilakukan. tetapi tergantung pada kondisi pasar dan teknologi. Dengan lain perkataan. 2. Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik.

Semua orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang sama. sampai batas tertentu. Suatu pasar menyediakan Dasar-dasar Keuangan Publik . dipastikan akan mengurangi porsi orang lain. karena keikutsertaan orang lain untuk memanfaatkan alat tidak mengurangi manfaat bagi yang lainnya. dan bila seseorang akan mengkonsumsi lebih dari porsinya. Contoh barang pribadi adalah roti. sedangkan suatu barang publik tidak dapat dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang terpisah yang dapat dikonsumsi habis. Manfaat yang dihasilkan oleh barang publik tidak terbatas pada konsumen tertentu saja yang membeli barang itu. Jika alat tersebut berfungsi dan terjadi peningkatan kualitas udara. Mekanisme pasar secara tepat dapat menggambarkan penyediaan barang pribadi. akan tetapi juga bagi konsumen lainnya. Konsumsi atas alat anti pencemaran udara tadi oleh beberapa individu adalah tidak saling bersaing (non rival). Untuk memperjelas karakteristik diatas. Mekanisme ini didasarkan pada pertukaran dan pertukaran hanya terjadi jika terdapat hak eksklusif bagi pihak yang membelinya. sedangkan kebutuhan barang publik dirasakan secara bersama-sama oleh para individu dalam masyarakat. Sejumlah roti mempunyai karakteristik sebagai barang pribadi sedangkan tingkat suhu seperti uraian diatas mempunyai karakteristik sebagai barang publik bagi orang-orang yang menghuni ruangan. Suatu unit barang pribadi hanya dapat dinikmati oleh konsumen tertentu dan setelah itu tidak tersedia bagi orang lain. Penambahan orang dalam ruangan. tidak mungkin membagi temperatur yang telah diberi pendingin udara kepada orangorang dalam ruangan tersebut. Contoh barang publik yang menghasilkan manfaat eksternal adalah pertahanan nasional dan contoh barang publik yang menghasilkan beban adalah penyediaan mesin atau peralatan yang menyebabkan adanya polusi udara. manfaat yang dihasilkan akan tersedia bagi semua orang yang bernafas. Jumlah roti yang tersedia akan dikonsumsi dengan porsi yang sama oleh orang-orang yang berada di ruangan itu. Hal ini merupakan efek dari sifat non rival consumption. Perbedaan lain adalah bahwa biaya marjinal untuk distribusi barang publik kepada konsumen adalah nihil. Tidak mungkin orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang berbeda satu sama lain. karena apabila roti tadi dikonsumsi oleh seseorang. maka barang tersebut tidak tersedia bagi orang lain. penghuni ruang ini dapat mengkonsumsi sejumlah roti dan udara sejuk dari alat pendingin ruangan. Setiap hari. tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi atas udara sejuk tersebut. Konsumsi orang satu dengan orang lainnya berada dalam hubungan yang saling bersaingan (rival).11 menghasilkan manfaat eksternal juga dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Jadi. Sedangkan contoh barang publik adalah alat untuk mengurangi pencemaran udara. satuan kuantitas barang publik dapat dinikmati bersamasama secara kolektif oleh sekelompok orang. Di lain pihak. Perbedaan karena kegagalan mekanisme pasar Kebutuhan barang pribadi dirasakan secara perorangan. dimisalkan ada sekelompok orang yang berada di satu ruangan tertentu. Kedua sifat barang tadi akan menimbulkan permasalahan bagaimana konsumen berperilaku dan bagaimana kedua jenis barang tadi harus disediakan.

sehingga pembayaran hanya oleh satu konsumen tidak signifikan. Konsumen akan dapat memilih sebagai free rider (dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut) atas apa yang disediakan oleh pemerintah. Hubungan antara produsen dan konsumen menjadi tidak ada dan pemerintah lah yang harus bersedia memproduksi barang publik. Perbedaan karena penyediaan barang publik Permasalahan yang ada adalah bagaimana pemerintah harus menentukan berapa banyak barang publik tersebut perlu diadakan. Permintaan Barang Publik Kurva permintaan barang publik harus diinterpretasikan secara berbeda dengan kurva permintaan barang pribadi. kecuali ada jaminan konsumen lain juga melakukan hal yang sama. Dengan demikian. Lain halnya dengan penyediaan barang publik dimana tidak terjadi mekanisme pasar yang efisien. Pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. Dalam kondisi ini. Pada tahap ini. karena transaksi pemanfaatan barang dianalogikan suatu tender terbuka dan setiap orang boleh mengikuti tender sehingga tidak ada yang dirugikan. Konsumen juga tidak bersedia untuk melakukan pembayaran atas barang publik tadi. Kesulitan yang sama adalah bagaimana manfaat ini dapat dinilai oleh konsumen. sementara individu lain Dasar-dasar Keuangan Publik . seluruh konsumen harus mengkonsumsi sejumlah kuantitas yang sama atas barang. Persediaan barang publik tidak banyak dipengaruhi oleh kontribusi individu. Manfaat yang dirasakan oleh satu pihak akan sama dengan manfaat yang dirasakan pihak lain. Hasil pemungutan suara akan menggantikan pilihan melalui mekanisme pasar. Para pembeli barang publik tidak akan dapat menyesuaikan tingkat konsumsinya sehingga seorang individu mengkonsumsi satu unit. mereka tidak dapat menyatakan kepada pemerintah berapa nilai pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. pada saat yang sama orang atau pihak lain dapat mengkonsumsi barang publik tersebut secara bersama-sama. Kesulitan terjadi dalam menentukan jenis dan kualitas barang publik. karena apabila orang tersebut mengkonsumsi. cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar. dan berapa konsumen harus membayar. proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Tingkat efisiensi proses pemilihan dan kebersamaan pilihan masyarakat akan menentukan tingkatan pencapaian pemecahan yang efisien. Konsumen tidak mempunyai hak suara secara perorangan untuk menyatakan bagaimana nilai pelayanan yang nyata bagi mereka. pasar menjadi efisien. Mereka merasa berkepentingan untuk memilih apa yang akan memberi manfaat bagi mereka. Hanya pihak yang bersedia membayar barang itulah yang dapat memperoleh manfaat atas barang. Untuk barang publik (murni). dengan pertimbangan bahwa orang lain juga menikmati barang yang sama. Satu orang tidak dapat secara ekslusif memanfaatkan barang publik. Dari sudut pandang konsumen.12 sistem dimana produsen akan akan memproduksi barang jika konsumen membutuhkan barang itu.

Sebagai contoh. karena sifatnya yang non exclusion. karena setiap anggota kelompok dengan mudah dapat mengidentifikasi manfaat barang tersebut. Bila digambarkan dalam grafik. Gabungan seluruh manfaat yang dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya memberikan manfaat sosial marjinal atas tambahan unit yang disediakan. barang publik tidak dapat dihargai seperti itu. Penyediaan barang publik oleh orang itu akan memberi manfaat kepada si penyedia dan juga kepada orang-orang di sekitarnya. Jadi. sekelompok orang yang menghuni sebuah apartemen yang mewah mempunyai kepentingan yang sama dalam memperbaiki jalan akses atau mengadakan proteksi keamanan. Para konsumen tidak dapat menyesuaikan jumlah yang dibeli sampai harga barang publik sama dengan manfaat marjinalnya atau sampai dengan transaksi pengadaan barang publik tersebut terjadi (kondisi equilibrium). Prinsip ini dapat juga berlaku untuk penerapan teori barang publik. Free Rider Problem Sebuah sistem yang mensyaratkan kontribusi secara sukarela untuk penyediaan dan pembiayaan barang publik dapat berjalan apabila komunitas publik terdiri hanya beberapa individu. yakni sumbu horizontalnya berupa jumlah unit barang. tetapi jumlah maksimum seseorang bersedia membayar per unit barang publik. Harga sewa satpam merupakan jumlah maksimal yang individu bersedia membayar dan kuantitas proteksi keamanan dapat diukur dari jumlah satpam yang disewa untuk tujuan itu. sumbu vertikal bukanlah harga pasar. Sebagai contoh. Kuantitas yang efisien per periode waktu berhubungan dengan titik dimana output meningkat sedemikian rupa sehingga jumlah manfaat marjinal konsumen sama dengan biaya sosial marjinal atas barang. manfaat sosial marjinalnya akan melebihi manfaat yang diterima oleh orang yang menyediakan barang tadi. Dalam kelompok kecil. dan merupakan cerminan dari barang publik yang dapat dikonsumsi oleh ketiga orang tersebut. sebagai fungsi dari jumlah barang yang secara nyata tersedia. ada tiga orang hidup bersama dalam sebuah komunitas yang kecil dan mempunyai keinginan yang sama untuk mengadakan satuan pengamanan (satpam). akan secara mudah mencapai kompromi untuk menyediakan barang Dasar-dasar Keuangan Publik . Tingkat Output yang Efisien Efisiensi dalam pasar barang pribadi mensyaratkan bahwa seluruh aktivitas ekonomi dilaksanakan sampai pada titik dimana manfaat sosial marjinal (marginal social benefit) sama dengan biaya sosial marjinal (marginal social cost). manfaat sosial marjinal adalah jumlah manfaat marjinal yang dinikmati oleh seluruh konsumen tersebut. masing-masing orang kenal satu sama lain dan apabila mempunyai gagasan penyediaan suatu barang akan mudah mencapai kompromi. Dengan demikian.13 dapat mengkonsumsi dua unit. Dimisalkan ada seseorang berkeinginan memproduksi atau membeli suatu barang (publik) untuk kepentingan pribadinya. Sayangnya.

pada akhirnya. Apabila kondisi itu terjadi. akan terdapat orang-orang yang enggan memberikan kontribusi biaya. Beban ini tetap akan timbul tidak tergantung apakah bau tak sedap akan berkurang atau tidak. Pertanyaannya adalah siapa yang harus menanggung beban tersebut. sepertinya akan sulit menggambarkan preferensi kelompok tersebut. misalnya perbaikan jalan akses ke apartemen. Tetapi. jika jumlah orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan bertambah dan informasi tentang selera dan kemampuan ekonomi kurang. namun di lain pihak. keinginan warga sekitar untuk membebaskan diri dari bau tak sedap akan menimbulkan beban bagi perusahaan. Di sisi lain. mempengaruhi produksi atau konsumsi suatu barang. Orang ini disebut free rider. biasanya. Manfaat yang dinikmati atau biaya yang menjadi beban pihak ketiga ini tidak dipertimbangkan oleh baik pembeli maupun penjual dari barang atau jasa yang bersangkutan. Eksternalitas muncul pada saat pihak ketiga. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan berbagai cara. Eksternalitas ini muncul. Eksternalitas dapat dihasilkan dari kegiatan produksi maupun konsumsi. Perhatian ekonom tertuju pada distribusi manfaat dan beban sedemikian rupa sehingga menggerakkan produksi pada tingkat dimana biaya marjinal sama dengan manfaat marjinal. selain pembeli dan penjual. tidak jadi dilakukan. tidak dapat menikmati kenyamanan menggunakan jalan tadi. karena tidak seorang pun dalam kelompok besar tersebut secara akurat memperoleh informasi tentang manfaat nyata pengadaan barang publik. karena karakteristik dasarnya. Eksternalitas produksi dan konsumsi dapat merupakan sesuatu yang negatif. Contoh ektrenalitas negatif ini adalah kepadatan jalan dan taman yang tidak dirawat dan dikelola secara baik. Eksternalitas Eksternalitas didefinisikan sebagai biaya atau manfaat dari transaksi pasar yang tidak tercermin dalam harga. akan ada orang-orang yang mengambil manfaat barang publik tanpa memberikan kontribusi apa pun terhadap biaya penyediaan barang tersebut. seseorang akan secara sukarela memberikan kontribusi untuk penyediaan barang publik tersebut. Mereka mengetahui secara persis bahwa barang publik yang akan dibeli atau diadakan tidak mungkin hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membayar saja. Problem muncul jika free rider berjumlah banyak dan akhirnya penyediaan barang publik. Selain proses mencapai kesepakatannya tidak rumit. ada keterikatan moral antar mereka. Salah satu karakteristik penting dari eksternalitas adalah sifat reciprocal. dalam transaksi penyediaan dan atau pertukuaran barang publik. Suatu pabrik mungkin menyebabkan eksternalitas kepada lingkungannya dengan aroma yang tidak sedap.14 publik tersebut dengan mendanai secara bersama-sama. Dasar-dasar Keuangan Publik . Di satu pihak. Semua anggota kelompok tersebut.

Apabila biaya-biaya kepada pihak lain timbul karena proses produksi menimbulkan kebisingan. yang dibayar oleh para warga dalam kompleks tersebut. Masih banyak kasus lain yang dapat dijadikan contoh untuk eksternalitas postif. tenaga kerja. Tanpa intervensi pihak lain. Banyak teknik dapat digunakan dalam proses internalisasi ekstrnalitas tersebut. kita dapat berjalan dalam kondisi aman di malam hari. dan akan memiliki selera yang lebih mapan dalam barang dan jasa. biaya sosial harus ditambahkan dalam biaya produksi biaya material. Dasar-dasar Keuangan Publik . manfaat tidak hanya dinikmati oleh warga sekitar. Ketika lampu penerangan jalan ada di seberang blok rumah kita.dalam kurva biaya marjinal. produsen dan konsumen akan mempertimbangkan harga yang terlalu rendah. lebih berperilaku positif.15 Eksternalitas Positif Beberapa kasus eksternalitas positif dicontoh berikut ini. Pendidikan untuk anak. Ketika sebuah keluarga memperbaiki rumah dan lingkungan sekitar dengan indah. dan bahaya lain – termasuk biaya sosial – pasar tidak akan memperhitungkan biaya tersebut dalam menentukan harga equilibrium. akan tetapi juga dinikmati oleh orang-orang yang lewat di perumahan tersebut. Perokok pasif – orang yang ikut menghirup asap rokok meskipun dia tidak merokok – merupakan contoh eksternalitas konsumsi. sementara polusi air yang diakibatkan oleh limbah pabrik merupakan contoh eksternalitas produksi. Orang-orang yang berpendidikan akan lebih produktif. tidak hanya memberi manfaat bagi anak-anak dan keluarganya. modal dan input lain . Keduanya merupakan eksternalitas negatif. Dengan demikian. Proses menambahkan biaya sosial kedalam biaya produksi dan nantinya tercermin dalam biaya pasar tersebut sering disebut sebagai proses internalisasi eksternalitas (internalizing externalities). Eksternalitas Negatif Beberapa kasus eksternalitas negatif dapat dijadikan contoh berikut ini. peraturan mengharuskan produsen untuk memperhatikan keamanan pekerjanya. mengurangi emisi gas buang. Ketika barang diproduksi dan dijual atau dikonsumsi. akan tetapi juga bagi masyarakat. Misalnya. kurva biaya marjinal hanya menggambarkan biaya yang nyata timbul untuk memproduksi barang tersebut. ketika sampah lingkungan kita diangkut secara teratur. yang merupakan ciri-ciri masayarakat terdidik. risiko kesehatan kita akan berkurang. mengurangi kebisingan dalam metode produksinya. Dengan cara yang sama. dan nilai properti kita akan mengalami peningkatan. polusi. karena mereka tidak mempertimbangkan biaya-biaya sosial. misalnya.

Semua keterlibatan pemerintah ini ditujukan untuk mencapai penentuan harga yang efisien. Dalam kasus ini. Dasar-dasar Keuangan Publik . Ini tidak berarti bahwa setiap tindakan pemerintah pasti berhasil mengatasi problem ini. Sebuah proses politik digunakan dalam menentukan jumlah yang harus disediakan dan distribusi biaya kepada para individu. Namun demikian. Pemerintah terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik ini karena kegagalan mekanisme pasar. adalah ingin meningkatkan baik efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. pemerintah akan melibatkan diri untuk menjamin bahwa manfaat eksternal harus juga dipertimbangkan dalam mengambil keputusan jumlah yang akan dikonsumsi oleh individu. sehingga kesempatan bahwa barang tersebut tersedia di pasar akan sangat kecil. Dalam menentukan seberapa banyak suatu barang harus dibeli oleh individu-individu. Dengan analogi yang sama. Harapan pemerintah. jasa pertahanan nasional tidak dijual kepada para individu dimana individu harus membayar bila memanfaatkannya.16 B A B III PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga ecara umum. akan tetapi pemerintah menyediakan jasa publik kepada masyarakat tanpa harus membayar. Jasa ini disediakan secara seragam kepada seluruh pengguna di seluruh daerah dan seluruh masayarakat dapat memanfaatkan jasa ini. kepastian tersedianya jasa (misal jasa rumah sakit dan pos). dengan keterlibatan dalam penentuan harga barang publik. S Pertanyaan mendasar tentang mengapa pemerintah terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. pemerintah juga akan terlibat dalam penyediaan barang pribadi untuk memproteksi masyarakat dari penipuan (misalnya kebenaran iklan). pemerintah tidak menjual jasanya kepada masyarakat. bukan berarti bahwa penyediaan jasa publik ini tanpa menimbulkan biaya. maupun keseragaman kualitas jasa (misal pendidikan). mereka hanya akan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh secara pribadi. Sebagai contoh.

17 Tujuan kebijakan harga oleh pemerintah mencakup tindakan-tindakan yang diperlukan agar pasar bekerja lebih baik. termasuk memperbaiki arus informasi atau mengurangi unsur-unsur monopoli dan batasan-batasan dalam masuknya perusahaan-perusahaan baru dalam pasar. Akan selalu ada tujuantujuan ekonomi dan non-ekonomi yang dapat diikuti pemerintah melalui campur tangan. dalam meminimalkan biaya ekonomi guna mencapai sasaran-sasaran yang diinginkan. Sehingga. berlaku hukum bahwa harga sama dengan biaya marginal (marginal cost) dan sama dengan pendapatan marjinal (marginal revenue) bagi produsen. Pertanyaan akan timbul. Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. Diberikan secara gratis kepada para konsumennya. apakah hukum ekonomi tersebut berlaku juga untuk barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah? Pada dasarnya. Penentuan Harga Barang Publik Tergantung pada masing-masing tujuannya. dimana p adalah price atau harga. Dalam perekonomian. pemerintah mempunyai banyak pilihan berkaitan dengan keputusan penyediaan barang atau jasanya: 1. Dapat dijual dengan harga pasar. Dijual dengan tingkat harga tertentu yang berbeda dengan harga pasar. Konsekuensinya. Dalam mekanisme pasar barang pribadi yang bersifat persaingan sempurna. cara ini menimbulkan biaya yang sangat tinggi yang harus ditanggung oleh pemerintah. Dengan kata lain. untuk menentukan tingkat keseimbangan. Masing-masing keputusan akan mempunyai konsekuensi. contoh tersebut menggambarkan kondisi yang tidak efisien bagi penyediaan barang dan jasa oleh pemerintah. pada tingkat equilibrium. Itulah sebabnya. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai yang merupakan kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen. pemerintah seringkali menetapkan harga dibawah tingkat harga yang sebenarnya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen barang tersebut. keputusan pemerintah ini menimbulkan akibat Dasar-dasar Keuangan Publik . 2. atau p = MC = MR. pemerintah akan ditekan oleh kekuatan politik untuk tidak mengambil keuntungan dari barang atau jasa yang dihasilkannya. tugas pemerintah adalah menyediakan barang untuk kepentingan orang banyak dengan harga murah. Dengan demikian. 3. Sebagai contoh. meskipun keputusan memberikan secara gratis kepada masyarakat akan memaksimalkan penggunaan barang atau jasa oleh masyarakat. MC adalah marginal cost atau biaya marjinal dan MR adalah marginal revenue atau pendapatan marjinal. sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen. konsumen akan membeli barang-barang sampai tercapai kondisi equilibrium tersebut. apabila konsumen akan memaksimalkan kepuasannya.

situasi penyediaan public utilities tersebut diatas tidak berlaku untuk seluruh barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah. sedangkan pemerintah berkewajiban membatasi keuntungan yang harus diperoleh oleh perusahaan-perusahaan tersebut. pupuk kimia dan obat pembasmi hama. Produk-produk pertanian merupakan barang primer. Contoh yang dapat digunakan adalah penyediaan public utilities oleh pemerintah. Pemerintah hanya menutup biaya totalnya yang mengakibatkan perusahaanperusahaan pemerintah penyedia barang public utilities akan tetap dapat berjalan tanpa mengalami kerugian. Kajian-kajian harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yang tepat sasaran. Implementasi Penentuan Harga dalam Produk Pertanian. seperti bahan makanan atau bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi. seperti alat-alat pertanian. karena konsumen menilai barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah terlalu mudah diperoleh. Akan tetapi. selain menghasilkan barang dan jasa sebanyak mungkin untuk mencukupi kebutuhan rakyat banyak. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. kemudian konsumen akan membayar jumlah diatas nilai yang ditetapkan sebelumnya pada saat zero profit. Pendekatan yang dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan kebijakan harga positif. tetapi produsen masih dapat melakukan perluasan usaha untuk menambah investasinya. Maka. seperti air minum dan listrik. Sektor pertanian juga mempunyai kaitan yang erat dengan kebutuhan jasa angkutan. Penentuan harga dengan metode seperti inilah yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik oleh pemerintah. sehingga pemerintah dapat menetapkan harga tertinggi. artinya perusahaan penghasil public utilities diwajibkan menyediakan barang dan jasa publik. Produk pertanian mempunyai posisi strategis dan erat kaitannya dengan produk non pertanian. artinya kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong Dasar-dasar Keuangan Publik . mengingat tugas pemerintah dalam penyediaan brang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. Dalam menentukan harga atas produk pertanian.18 ketidakefisienan atau terjadi pemborosan apabila dipandang dari ilmu ekonomi. konsumen tidak terlalu dibebankan tingkat harga yang terlalu tinggi. Pada kondisi ini. perusahaan juga diijinkan memperoleh keuntungan dalam jumlah tertentu. kebijakan publik dapat difungsikan. Pemerintah tidak diharapkan untuk memperoleh keuntungan dari penyediaan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak itu. Perusahaan yang mengelola public utilities yang harus menjual produksinya tanpa memperoleh keuntungan sama sekali akan menghadapi permasalahan dalam ekspansi atau melakukan perluasan usaha. pendidikan dan kesehatan. pemerintah akan mengarahkan perusahaan pada kondisi bahwa. Pemerintah akan menetapkan jumlah keuntungan maksimum.

T ) Dimana: Qa Pa S F X T = = = = = = jumlah barang A yang ditawarkan harga barang A jumlah input yang tersedia keadaan alam pajak atau subsidi atau keduanya tingkat teknologi. S. Apabila jumlah produk pertanian ada di gudang. apabila peningkatan penawaran membutuhkan tenggang waktu. Hukum penawaran menyatakan bahwa jumlah yang ditawarkan akan meningkat apabila harga barang tersebut semakin tinggi. X. penyesuaian produksi akan mengikuti pola Cobweb theorem (sarang laba-laba) seperti digambarkan grafik sebagai berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam menggambarkan hukum penawaran. dan sebaliknya. atau kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurang peningkatan produksi.19 peningkatan produksi. F. peningkatan harga segera mendorong peningkatan penawaran produk tersebut. kurva penawaran merupakan garis miring dari bawah keatas. fungsi penawaran dapat dinyatakan dengan: Q a = f ( P a. yang berarti apabila barang yang ditawarkan harganya naik. Sehingga. pemerintah akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. Secara matematis. Namun. Fungsi Penawaran dan Tanggapan Sektor Pertanian Fungsi penawaran menunjukkan hubungan antara jumlah barang yang ditawarkan dan berbagai tingkat harga dari barang tersebut. Tentang jumlah barang yang ditawarkan akan tergantung dari tingkat elastisitas penawaran. (hal-hal lain tetap atau ceteris paribus). maka yang dinyatakan tetap (ceteris paribus) adala S. maka jumlah yang ditawarkan akan meningkat. F. Dengan mengubah harga. X dan T.

Dengan memberikan jaminan harga yang tinggi. Peningkatan produksi pertanian secara total karena adanya perbaikan harga relatif komoditi pertanian dalam perbandingannya dengan harga komoditi sektor non pertanian. maka harga pasar akan turun menjadi P a2. Perubahan komposisi produksi pertanian karena perubahan harga relatif masing-masing komoditi pertanian secara individu. karena fungdi permintaan tetap.20 Gambar 3. Hubungan tersebut mengakibatkan tingkat harga akan cenderung mencapai equlibrium pada perpotongan kurva penawaran dan kurva permintaan. Ada tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga yang dapat dianalisis sebagai berikut: 1. 2. Karena terjadi peningkatan produksi di periode 2. Dasar-dasar Keuangan Publik . produsen akan terdorong untuk mengurangi produksinya dan harga akan meningkat menjadi P a3. Kebijakan Harga Positif Dari analisis diatas menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sumber kapital bagi pembangunan. Pada tingkat harga tersebut. para petani akan terdorong untuk meningkatkan produksi pangan. Dengan tingkat harga itu. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian dan kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian. petani akan terdorong memproduksi sebesar Q a3 di akhir periode tanam berikutnya. Syaratnya adalah apabila produsen cukup responsif terhadap insentif harga. harga akan terkoreksi menjadi P a4. Tetapi. Akan terjadi pergerakan sepanjang waktu ke arah titik perpotongan antara kurva D dan kurva S. petani akan terdorong menanam atas dasar harga tersebut dan akan menghasilkan Q a1 pada akhir periode tanam. Apabila pada periode tertentu harga pasar setinggi P a1.1 D merupakan kurva permintaan dan S kurva penawaran.

Di lain Dasar-dasar Keuangan Publik . tenaga kerja dan kapital. Dari uraian diatas. Sektor ini menghendaki adanya harga pangan yang murah. maka pemerintah mengenalkan program subsidi input dibarengi dengan penyuluhan pertanian yang intensif. untuk mencegah agar produksi pertanian tidak merosot. sedangkan tanaman komersial memiliki elastisitas penawaran yang tinggi. Namun demikian. Kebijakan Harga Negatif Kebijakan harga yang positif diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi pertanian. sehingga akan menghambat perkembangan produksi sektor industri dan jasa. Hasil studi mengenai tanggapan produksi di negara berkembang menunjukkan bahwa tanggapan pertama tersebut dapat bersifat sangat elastis untuk jenis komoditi tertentu. elastisitas penawaran komoditi yang dipasarkan akan sama dengan elastisitas produksi/output. tetapi akan menghambat perkembangan ekonomi secara keseluruhan. maka produksi pertanian secara total dapat menurun. karena hasil pertanian merupakan kebutuhan primer masyarakat (seperti makanan). Simpulan umum menyatakan bahwa tanaman yang merupakan kebutuhan sekunder masyarakat cenderung memiliki elastisitas penawaran yang rendah. Di satu pihak. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. kebijakan ini membuat biaya produksi sektor industri dan jasa lain akan tinggi juga. dan pertumbuhan sektor lain tidak terhambat. Banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan mesyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif agar sektor industri dan jasa mampu berkembang. jelas terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input.21 3. jika tanaman tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan sekunder. Berdasarkan hasil studi. akan menunjukkan positif. artinya prosentase peningkatan produksi sama dengan prosentase peningkatan pemasaran. harus diserap dari produksi komoditi lain. Tetapi. bukan dalam hal peningkatan produktivitas. karena produktivitas berkaitan erat dengan kondisi musim maupun faktor lain. Peningkatan produksi pertanian yang dapat dipasarkan sebagai respon terhadap kenaikan harga komoditi pertanian (marketable surplus). Namun apabila faktor produksi. peningkatan produksi merupakan bentuk perubahan luas areal tanam. para petani tidak terlalu dirugikan dengan meningkatnya produksi pertanian. program bantuan harga membuat harga pangan dan produk pertanian mahal dan hasilnya dinikmati para petani. seperti tanah. tetapi juga ditujukan untuk ketersediaan pasar maka respon yang diharapkan. Perkecualian dapat terjadi. Misalnya setiap tanaman ditujukan untuk tujuan komersial. untuk memungkinkan menekan tingkat upah di sektor itu. baik untuk produksi pertanian secara keseluruhan maupun untuk marketable surplus. Dengan demikian. akan tetapi untuk tanggapan kedua dan ketiga justru sangat inelastis atau bahkan turun dengan adanya kenaikan harga.

Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy). Pemerintah berkewajiban melindungi kedua kepentingan tersebut agar konsumen dan produsen tidak menderita. juga merupakan alternatif yang menjamin ketenangan masyarakat. secara politis. para produsen selalu menginginkan agar hasil produksinya dapat terjual dengan harga yang layak. jembatan. murah. menjadi berkurang. kebijakan ini juga diarahkan agar swasta dapat berkembang dengan sendirinya akibat dukungan harga pangan yang murah. pemerintah menghadapi dilema kepentingan. pelabuhan dan lainnya. sedangkan harga maksimum ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. dan produk pertanian khususnya.22 pihak. Di satu pihak. para konsumen mengharapkan harga pangan. seperti jalan. Harga dasar ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. program subsidi input lewat harga faktor produksi pertanian yang murah akan mendorong produksi pertanian sehingga harga pangan akan murah dan dapat mendorong perkembangan ekonomi lebih lanjut. dan di lain pihak. Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah dengan menentukan harga patokan berupa harga dasar (floor) dan harga maksimum (ceiling). khususnya. Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) Dalam merumuskan kebijakan harga barang dan jasa publik umumnya.2 Dasar-dasar Keuangan Publik . Kebijakan penyangga dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut: Gambar 3. Cara subsidi yang terakhir ini menyebabkan pemerintah harus menyisihkan sebagian anggarannya untuk membiayai subsidi. Meskipun dengan menyisihkan anggaran ini mengakibatkan investasi di bidang lain. Cara ini.

Apabila dana operasi terbatas. kurva penawaran bergeser ke kanan. Berhasil atau tidaknya kebijakan penentuan harga ini tergantung pada tersedianya dana untuk operasi (sering disebut operasi pasar). pemerintah turut membeli hasil panen. atau sebaliknya. kebijakan penentuan harga perlu dukungan kebijakan lain. seperti kebijakan moneter. keadaan keseimbangan tercapai pada harga P ao dan Q ao. Untuk melindungi konsumen. Untuk mencegah supaya harga turun tidak terlalu drastis.23 Pada awalnya. sehingga kurva permintaan pasar bergeser kekanan menjadi D1 sampai memotong kurva penawaran S 1 tepat pada harga dasar P a2. Harga dapat saja bergerak lebih rendah dari P a2. bila terjadi paceklik. bila penawaran bertambah. Dengan demikian. Kemudian. Keadaan sebaliknya dapat pula terjadi. dan harga cenderung menjadi turun. misalnya bergeser dari S o menjadi S 1. maka pemerintah dapat saja tidak mampu melindungi produsen. misal pada saat panen. sedangkan harga cenderung merosot terus (dalam keadaan over supply). Dasar-dasar Keuangan Publik . maka pemerintah dapat mencegah naiknya harga komoditi dengan turut menjual produk pertanian ke pasar.

Fungsi Distribusi. dapat secara simultan diarahkan kepada tiga tujuan tadi. Yang dimaksud dengan fungsi distribusi dalam kebijakan publik adalah penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan.24 B A B IV FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi Utama emerintah sangat diperlukan dalam perekonomian dan berfungsi dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan standar kehidupan penduduk pada tingkat yang layak. 2. Yang dimaksud fungsi alokasi dalam kebijakan publik adalah fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi. fungsi pemerintah dapat dikelompokkan sebagai berikut. misalnya pengenaan pajak dan pengeluaran publik. 3. Permasalahan utama adalah bagaimana merancang kebijakan anggaran sehingga tujuan yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Fungsi stabilisasi. P 1. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. Fungsi Alokasi. Suatu kebijakan publik. Dengan melihat berbagai kelemahan mekanisme pasar. Yang dimaksud dengan fungsi stabilisasi dalam kebijakan publik adalah penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja.

Ada beberapa barang publik yang bersifat non-rival dan non-excludable. pemerintah harus membebankan secara pro rata kepada pengguna. 2. seharusnya. 2. tidak dapat diharapkan bahwa pekerjaan-pekerjaan tersebut akan disediakan dalam kuantitas yang tepat. suatu masyarakat dapat saja memilih alokasi yang tidak efisien atas dasar kesetaraan atau kriteria lainnya. 3. Hal ini menyebabkan kegagalan pasar dimana negara dapat saja mencoba turut campur mengatasi permasalahan ini. Tugas memproteksi setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan dan dominasi yang dilakukan oleh anggota lain dalam masyarakat. dalam mendanai. Pada saat pemerintah memproduksi barang atau jasa. mengatur dan menyediakan barang atau jasa yang gratis. baik secara langsung atau tidak langsung. yang membuat tidak mungkin membebankan biaya penyediannya kepada para pengguna. 4. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas. Ada dua argumen perlunya intervensi pemerintah yaitu kegagalan pasar dan penekanan pada aspek keadilan. bukan bertransaksi dengan pengguna. Tugas memproteksi suatu kelompok masyarakat dari pelanggaran dan invasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lainnya. bukan mengendalikan/mengatur sumber daya tersebut. Namun demikian. Adam Smith mencatat empat fungsi ‘pengoreksi’ dari pemerintah: 1. Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Dalam situasi tertentu. seperti pertahanan nasional dan penerangan jalan. misalnya tanpa mengelola aktivitas (swasta tersebut). hanya berperan sebagai last resort. Aktivitas pemerintah. Kegagalan pasar. Tugas mempertemukan biaya yang diperlukan untuk mendukung peraturan-peraturan. keterlibatan tersebut harus mempunyai tingkat yang minimal. Pedoman aktivitas pemerintah yang dipromosikan oleh Milton Friedman adalah bahwa keterlibatan pemerintah harus dapat membuat dan memaksa aturan-aturan umum yang mengatur perilaku para individu dan apabila pemerintah memutuskan untuk campur tangan dalam aktivitas individu. Milton Friedman juga menyarankan pemerintah supaya membeli sumber daya yang digunakannya dalam pasar. mekanisme pasar mengarah pada alokasi sumber daya yang efisien yang timbul pada saat tidak seorang pun dapat dipuaskan lebih baik tanpa menyebabkan orang lain menderita kerugian (sering disebut efisiensi Pareto). Tugas membentuk dan memelihara institusi publik agar memberi manfaat yang tinggi dan pekerjaan publik yang karena sifatnya profit yang diperoleh institusi tersebut tidak pernah mencapai tingkat pembayaran kembali dari individu yang menyediakan dan. Dalam the Wealth of Nations. 1.25 berbeda-beda tersebut dapat dicapai secara lebih terpadu. dengan demikian. Konsumsi atau produksi barang/jasa publik mungkin menghasilkan suatu akibat eksternal positif atau negatif kepada masyarakat yang tidak Dasar-dasar Keuangan Publik .

Tugas ini berhubungan dengan penyediaan kesempatan. 3. pemberdayaan dan proteksi. dan memberikan kontribusi untuk mengurangi ketidakadilan melalui aktivitas yang berhubungan dengan pemerintah dan partisipasinya dalam sektor swasta (rumah sakit umum dan sekolah yang dananya dari swasta) Dengan demikian. mempromosikan tambahan kepada anggota masyarakat (erat hubungannya kepada produsen dan pekerja swasta). dan stabilitas nasional. kegagalan pasar juga berhubungan dengan permasalahan dari seleksi yang tidak menguntungkan dan bahaya moral ketika pembeli atau penjual bertindak secara eksklusif atas dasar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Tiga dimensi pokok dari kemiskinan yang tidak dimiliki secara eksklusif oleh sektor publik. dapat membantu mencegah pencapaian alokasi sumber daya yang efisien. Monopoli yang alami dalam sektor tertentu seperti energi. Namun demikian. Informasi yang tidak simetris dan tidak sempurna mungkin mengarah pada penilaian yang salah atas barang dan jasa publik. saat sekarang dalam pertanyaan berkaitan dengan teknologi masa kini. keadilan. Penekanan pada aspek keadilan bukan berarti bahwa hanya negara yang harus atau dapat memberikan kontribusi menekan kemiskinan. peran pemerintah terdiri dari: Peran penyedia (Provider Role). Ketidakadilan sering menghasilkan ketidakamanan dan kejahatan. 4. pembangunan lebih cepat. Dasar-dasar Keuangan Publik . 6. penyelesaian konflik. Peranan sektor swasta dan kebutuhan kemitraan dalam kesempatan. dan kurangnya kemiskinan. eksternalitas negatif yang mempengaruhi pertumbuhan dan keadilan sosial. Negara harus menyediakan barang publik untuk menjamin stabilitas ekonomi makro. terutama tenaga kerja. Tanpa intervensi pemerintah. tambang dan lain-lain. tergantung pada apakah eksternalitas ini baik atau buruk. Data empiris di seluruh dunia secara umum menyarankan bahwa peningkatan keadilan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sektor swasta dapat berperan aktif dalam menciptakan kesempatan ekonomi (penciptaan lapangan kerja. lingkungan yang bersih. pemberdayaan dan proteksiperlu difasilitasi oleh pemerintah. Aspek keadilan 1.26 tercermin dalam harga barang. 3. 5. 2. secara nasional dan global. 4. kredit). perlindungan hak asasi. Tidak bisa bergeraknya sumber daya yang produktif. pasar akan memproduksi barang publik tersebut melebihi atau kekurangan. 5. Kepedulian secara luas atas kebutuhan mengatasi kemiskinan secara lebih serius harus menjadi perhatian oleh pemerintah. tidak semua fungsi mensyaratkan kehadiran negara sebagai penyedia barang atau jasa publik. Akhirnya. dimana beberapa diantaranya difasilitasi oleh peraturan dan penciptaan ruang gerak yang tepat. dan dengan demikian menyebabkan penawaran dan permintaan yang tidak tepat.

namun tidak efisien. Fungsi Alokasi. Dalam kasus ini. Inilah yang dimaksud dengan true incidence dari kebijakan. Pemerintah dapat menjadi mitra swasta dalam penyedia peraturan. Kebijakan publik dapat mempengaruhi distribusi pendapatan nyata. Diakui secara luas bahwa baik negara maupun sektor swasta tidak dapat berfungsi secara tepat tanpa berfungsinya kedua sektor tersebut secara bersamaan. Sebagai contoh. Siapa yang menanggung beban atas akibat diterapkannya kebijakan pajak penghasilan badan? Apakah kepada pengusaha. Mungkin ada opprtunity cost dalam hubungannya dengan efisiensi dalam merubah distribusi pendapatan. mekanisme pasar berfungsi. Akibat kegagalan mekanisme pasar. Isu ini disebut internerational transfer. pekerja atau konsumen? Dan siapa juga yang menerima tanggung jawab akibat adanya pajak penjualan? Konsumen atau pekerja? Beberapa kebijakan secara aktual menggeser ditribusi pendapatan antara generasi sekarang dan generasi mendatang. kebijakan dalam upah minimum akan menyebabkan penerimaan upah lebih tinggi kepada pekerja. Dilihat dari fungsi alokasi. Hukum ekonomi mengatakan biaya yang naik didasarkan pada fakta bahwa sumber daya cenderung mengarah pada kondisi yang spesifik. Pertanyaannya adalah siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung beban dari suatu kebijakan distribusi tertentu. Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Tingkat konsumsi dan produksi barang dan jasa publik oleh masyarakat dapat dirubah oleh kebijakan publik. sehingga sejumlah produktivitas hilang bila ditransfer dari kondisi yang relatif baik kepada kondisi yang baik. Pada masa sekarang. para ekonom mengatakan bahwa kebijakan ini tidak dalam kondisi pareto optimal. Sering. suatu barang publik – yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi – tidak dapat disediakan melalui sistem pasar yang melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individu. Kebijakan publik menggunakan sumber daya yang mempunyai nilai yang lebih tinggi kepada masyarakat bila digunakan dalam sektor swasta. Alasan-alasan adalah seperti diuraikan dibawah ini. yakni memindahkan alokasi pasar dari hak kekayaan. lebih banyak kebutuhan negara dalam perannya sebagai regulator dari mekanisme pasar dan sebagai fasilitator dari lingkungan kelembagaan dan pengaturan yang kondusif atas pembangunan sektor swasta.27 Peran Kemitraan (Partnership Role). hubungan antara produsen dan konsumen yang terjadi dalam mekanisme pasar tidak ada dan pemerintah Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi kesempatan kerja total mungkin turun karena kebijakan ini. pembangunan infrastruktur dasar dan perlindungan dari risiko dan kerugian (misalnya asuransi). 1. secara langsung dan tidak langsung.

Apabila hukum ekonomi pasar diberlakukan. peningkatan kesejahteraan seseorang tidak akan merugikan orang lain. Kriteria ini tidak sama artinya dengan suatu tindakan pendistribusian kembali atas sumber daya yang ada kepada konsumen. Namun hal ini dipandang sebagai suatu tingkat ketidakadilan yang besar. barang publik dengan cara yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan swasta dan dijual kepada pemerintah atau dapat juga diproduksi secara langsung oleh pemerintah. Lebih khusus. 2. Dalam ilmu ekonomi kesejahteraan modern berlaku prinsip bahwa suatu kondisi ekonomi disebut efisien jika. (Pareto Optimum). Sedangkan.28 lah yang harus bersedia memproduksi barang publik. Distribusi Optimal. Pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. distribusi pendapatan dan kekayaan akan tergantung pada ketersediaan sumber daya alam dan kepemilikan kekayaan. dan inilah yang selanjutnya diperhitungkan dalam merancang kebijakan distribusi. penggunaan sumber daya yang efisien ditentukan oleh nilai penetapan harga faktor produksi yang kompetitif dan distribusi pendapatan keluarga ditentukan oleh proses pasar. pernyataan yang telah diterima secara luas adalah orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuan mereka membayar. Permasalahannya terletak pada aspek pemerataan dan keadilan. Proses penyesuaian ini akan menimbulkan inefisiensi dan merupakan biaya. Dasar-dasar Keuangan Publik . fungsi distribusi memainkan peranan penting dalam kebijakan pajak dan transfer. Dengan menyimpulkan berbagai kriteria. Akibat kegagalan mekanisme pasar yang lain adalah bahwa proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Para ekonom sepakat bahwa dibutuhkan penyesuaian untuk menentukan batas minimum kelompok berpenghasilan rendah. Faktor yang Menentukan Fungsi Distribusi Tanpa adanya intervensi kebijakan. Pemerintah harus menjamin bahwa proses politik dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik dapat terjadi secara efisien. Masalah-masalah yang timbul dalam fungsi alokasi adalah berapa banyak barang publik yang harus disediakan oleh pemerintah dan jenis maupun kualitas barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. tetapi kriteria ini digunakan untuk menilai tingkat efisiensi pasar. Distribusi yang adil mempunyai pengertian yang sangat dalam yang menyangkut perimbangan sosial dan pertimbangan nilai. terutama dalam distribusi pendapatan modal. Barang pribadi dapat diproduksi dan dijual kepada pembeli swasta baik oleh swasta maupun oleh perusahaan pemerintah. seperti misalnya pelayanan yang diberikan oleh pemerintah. Fungsi Distribusi Dilihat dari fungsi distribusi. fungsi distribusi mempunyai sifat yang lebih sulit dipecahkan dibanding fungsi alokasi dan merupakan permasalahan utama dalam penentuan kebijakan publik. dan hanya jika.

perlu diperhitungkan bobot atau biaya efisiensi. dan kedua. perekonomian cenderung mengalami fluktuasi. dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan keputusan pengeluaran dipengaruhi oleh pendapatan. 3. Fokus perhatian distribusi terletak pada aspek posisi pendapatan relatif yakni pemerataan secara keseluruhan. Kombinasi antara pajak atas barang mewah dengan subsidi terhadap barang tidak mewah. neraca pembayaran yang sehat. Secara lebih detail. Dasar-dasar Keuangan Publik . Fungsi Stabilisasi Akhirnya dilihat dari fungsi stabilisasi. Pertama. Meskipun demikian. Instrumen Fiskal Alternatif peralatan fiskal dalam fungsi distribusi adalah: 1. Permintaan agregat merupakan akumulasi dari pengeluaran individu dan perusahaan. 2. Simpulan umum berkaitan dengan pemerataan adalah bahwa kebijakan distribusi akan mencakup biaya efisiensi yang harus diperhitungkan. besarnya pendapatan yang tersedia tidak dapat dipisahkan dengan cara mendistribusikan pendapatan tersebut. pengangguran dan inflasi. fungsi stabilisasi dirancang untuk mencapai tingkat kesempatan kerja. Pajak penghasilan progresif yang digunakan untuk membiayai pelayanan umum. Skema pemindahan pajak yang menggabungkan pajak progresif. Tanpa kebijakan stabilisasi pemerintah. aspek pemerataan membahas pencegahan kemiskinan dan penentuan batas minimum kelompok berpenghasilan rendah. Pemecahan optimal menghendaki suatu kombinasi yang kompleks antara pajak dan subsidi. hampir tidak mungkin membandingkan tingkat utilitas masing-masing individu atas pendapatannya. tingkat stabilitas harga. faktor-faktor penyebab ketidakpastian dapat dialihkan dari suatu negara ke negara lain. Dalam mempertimbangkan instrumen kebijakan. yaitu biaya yang timbul akibat pilihan terhadap perilaku konsumen atau produsen.29 Sedangkan kaidah pemerataan mempunyai dua masalah. yaitu pengenaan jenis pajak dimana rasio pajak terhadap penghasilan naik dengan naiknya pendapatan. Perlunya Kebijakan Stabilisasi. Tingkat kesempatan kerja dan tingkat harga tergantung dari tingkat permintaan agregat dan output kapasitas berdasar harga yang berlaku. karena adanya saling sifat salain ketergantuangan antar negara. Konsekuensi pilihan instrumen fiskal akan menunjukkan bahwa setiap perubahan harus diselesaikan dengan biaya efisiensi yang minimum dan timbulnya suatu kebutuhan untuk menyeimbangkan konflik antara tujuan pemerataan dan tujuan efisiensi.

Instrumen Kebijakan Stabilisasi. Instrumen moneter tidak dibahas secara detail pada buku ini. 2. kebijakan pasar terbuka dan pengendalian kredit selektif. tingkat diskonto. Namun demikian. bila kebijakan peredaran uang diperketat. Dasar-dasar Keuangan Publik . para ekonom berpendapat bahwa jumlah uang beredar harus diawasi oleh sistem bank sentral dan disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi. akan tetapi mengurangi permintaan apabila terjadi tingkat pengeluaran melebihi output sehingga dapat menyebabkan inflasi. karena pendapatan yang dapat diterima (disposable income) para wajib pajak lebih besar sehingga akan membelanjakan pendapatannya dengan lebih besar. pengaruh ekspansioner akan tinggi karena defisit ditutup dari pinjaman. penyediaan kredit dan pengharapan. Meskipun mekanisme pasar berfungsi. sehingga kebijakan anggaran. 2. Koordinasi Fungsi Anggaran. pinjaman akan mempertinggi bunga sehingga menghambat ekspansi pasar. sehingga dimungkinkan akan ada banyak pengecualian. Jika kebijakan moneter longgar. 3. Kegiatan-kegiatan pemerintah dalam melaksanakan ketiga fungsi tersebut akan tercermin dalam kebijakan anggaran. dan Kebijakan yang lebih ekspasioner diperlukan dengan menaikkan pengeluaran publik atau dengan menurunkan pajak (tujuan stabilisasi) Suatu kebijakan publik tertentu mungkin tidak dapat memenuhi tiga tujuan sekaligus. Peningkatan pelayanan pemerintah perlu diikuti dengan kenaikan pajak (tujuan alokasi) Distribusi pendapatan ke kelompok rendah/tinggi perlu diikuti pengenaan pajak progresif atau sebaliknya (tujuan distribusi).30 kesejahteraan. Instrumen Fiskal. mempunyai beberapa tujuan: 1. suatu kebijakan selalu berupaya meminimumkan konflik antar masingmasing tujuan. Yang dibutuhkan adalah meningkatkan permintaan agregat apabila ingin meningkatkan kesempatan kerja. Instrumen Moneter. Komponen kebijakan moneter mencakup antara lain pembentukan cadangan wajib. Peningkatan anggaran belanja pemerintah yang bersifat ekspansi akan meningkatkan permintaan pemerintah dan kemudian menjalar ke sektor swasta. Sebaliknya. Kondisi stabil tidak ada dapat dicapai secara otomatis. 1. Peranan sektor publik yang penting terletak pada bagaimana defisit anggaran dibiayai. Penurunan pungutan pajak dapat juga bersifat ekspansi. secara simultan.

Untuk barang seperti pakaian. aplikasi dari prinsip hubungan permintaan dan penawaran seperti ini menjadi suatu pemecahan yang efisien. manfaat yang tersedia bagi orang lain tidak akan berkurang.31 B A B V FUNGSI ALOKASI Latar Belakang adanya fungsi alokasi ntuk barang-barang pribadi (private goods). maka pakaian yang sama tidak akan tersedia untuk orang lain (konsumsi terhadap barang tersebut bersifat bersaing). Apabila seseorang membeli satu set pakaian. dapat dimisalkan bahwa kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang akan pakaian akan sangat berbeda dengan kebutuhan pakaian yang dirasakan oleh orang yang berbeda. misalnya. penggunaan atas jalan umum. Berbeda dengan kebutuhan seseorang terhadap. sedangkan produsen akan menjual barang dengan harga yang setingi-tingginya. Apabila seseorang mengambil manfaat dari adanya jalan umum tersebut. sistem pasar terjadi melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individual secara suka rela dan sangat tepat untuk menggambarkan hubungan permintaan dan penawaran. Mekanisme pasar akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu. kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen. Akan banyak Dasar-dasar Keuangan Publik . Konsumen akan berusaha mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harga yang serendah-rendahnya. begitu pula manfaat yang dihasilkan dengan adanya jalan umum tersebut tersedia bagi banyak orang (tidak untuk satu konsumen). Namun untuk barang-barang publik (social goods). U Sebagai ilustrasi. Kebutuhan atas barang ini dirasakan secara bersama-sama. Dari ilustrasi tersebut dapat dipahami bahwa mekanisme pasar sangat cocok untuk menggambarkan penyediaan barang-barang pribadi. Mekanisme pasar terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. sistem pasar tidak berlaku.

Di sinilah kemudian terjadi alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar. pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. baik jika dia membayar ataupun tidak. Alasan ketiga terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik. Tentu saja. misalnya terhadap sejumlah barang tertentu yang menjadi preferensi konsumen. Harga atas suatu komoditi sudah ditetapkan atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. manfaat yang dirasakan masing-masing individu akan semakin tidak berarti apa-apa. pandangan ini merupakan gambaran paling ekstrim dari sistem pasar.terutama oleh produsen . sehubungan dengan pemenuhan kriteria efisien. Karena pemanfaatan barang publik oleh seseorang tidak akan mengurangi manfaat yang dirasakan oleh orang lain. karena manfaat yang akan dirasakan oleh setiap orang akan sama saja. Berbeda halnya dengan barang publik. Hal ini berarti tidak ada distorsi pasar yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. misalnya. Dalam keadaan demikian mekanisme pasar tentunya tidak berfungsi secara sempurna. Di sini. sehingga pasar dapat menjadi ajang persaingan yang tidak sempurna. Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar Dalam suatu sistem ekonomi pasar. dan hal ini berarti bahwa informasi yang dimiliki oleh kosumen dan produsen tidaklah sama. kriteria efisien dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya dimana semua pasar dalam kondisi persaingan sempurna. akan sangat tidak efisien untuk menghalangi seorang konsumen (yang tidak membayar) untuk ikut memanfaatkan barang publik. Konsumen biasanya tidak bersedia untuk membayar pemanfaatan atas barang publik. Dasar-dasar Keuangan Publik . Selain itu. Akibatnya tidak ada pembayaran yang dilakukan secara sukarela. Apalagi jika semakin banyak orang yang menggunakan barang tersebut. Alasan kedua. terutama dalam hal persaingan. Bila semua kondisi tersebut telah terpenuhi. Distorsi yang disebabkan oleh iklan. terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. Alasan pertama adalah bahwa pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. Dalam kenyataannya banyak kesulitan yang terjadi. sistem ekonomi pasar dapat menjamin penggunaan sumber daya secara efisien dalam penyediaan barang pribadi. masih banyak permasalahan lain yang tidak dapat dipecahkan oleh mekanisme pasar.32 keuntungan yang didapat . Dalam hal ini hubungan antara produsen dan konsumen terputus dan pemerintah harus bersedia turut campur. diasumsikan bahwa terdapat hak ekslusif terhadap semua sumber daya produktif yang tersedia di pasar dan tidak ada individu yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atas komoditi atau produk yang diperjualbelikan. akan mengakibatkan konsumen kekurangan informasi atau dapat tersesatkan.apabila membatasi konsumen ikut dalam sistem pasar dengan syarat mereka mau membayar.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan untuk mencegah seseorang yang tidak memberikan kontribusi (tidak membayar) ikut mengkonsumsi barang publik. Efisiensi produksi pemerintah di sini akan menjadi fokus pembahasan. jalan lokal. karena apabila pemerintah mencegah dengan cara tidak membangun jalan di sekitar rumahnya. Barang publik. barang publik seperti lampu jalan dan keamanan. Namun. Rendah Jalan Lokal Pendidikan Pelayanan Kesehatan Udara bersih Keamanan Tinggi Lampu Jalan Gambar 5. Sebaliknya. Kedua sifat tersebutlah yang kemudian akan mengakibatkan kegagalan pasar dalam memproduksi secara efisien. Istilah barang publik digunakan untuk menggambarkan barang atau jasa apapun yang disediakan oleh pemerintah. tidak menutup kemungkinan sifat ini dihilangkan. Namun demikian. pelayanan kesehatan dan pendidikan. bahwa sifat tidak bersaing bukan berarti bahwa manfaat yang diterima oleh setiap konsumen adalah sama. Misalnya konsumsi atas lampu jalan. maka hal tersebut akan dapat merugikan orang-orang di sekitarnya yang membayar pajak. Namun perlu dipahami. terdapat barangbarang yang mempunyai sifat tidak bersaing dengan kadar yang tinggi dan rendah.33 namun pasar gagal dalam memproduksinya. Dari berbagai macam barang publik. terdapat sifat tidak bersaing yang rendah dalam konsumsinya. akan ada kemungkinan sifat bersaing dalam penggunaan barang publik tersebut. orang yang tinggal disekitar wilayah lampu tersebut akan lebih merasakan manfaatnya. Sifat Tidak Bersaing Sifat tidak bersaing berarti bahwa barang tersebut dapat dikonsumsi sebanyak-banyaknya oleh seseorang tanpa akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh orang lain. mulai lampu jalan sampai dengan keamanan nasional. Para ekonom secara lebih spesifik menjabarkan istilah barang publik sebagai barang-barang yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) dan tanpa pengecualian (non excludability). Semakin banyak orang dalam suatu wilayah. akan sulit bagi pemerintah untuk mencegah orang tersebut agar tidak menggunakan jalan umum. Sifat Tanpa Pengecualian Dimensi kedua dari barang publik adalah sifat tanpa pengecualian. seseorang dapat terlindungi dari gelapnya malam.1 Untuk barang publik seperti. jika biaya untuk mendapatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . sifat tidak bersaingnya tinggi. Misalkan. dibandingkan dengan orang yang tinggal lebih jauh dari wilayah lampu tersebut. A tidak memberi kontribusi dengan membayar pajak. tanpa mengurangi kebutuhan orang lain atas lampu yang sama.

Misalnya untuk tempat rekreasi. Semua titik-titik dalam kurva permintaan pasar Dt merupakan gabungan dari titik-titik harga dan kuantitas yang diminta dalam kurva perimtaan A dan B. Kurva permintaan pasar Dt berhimpitan dengan kurva permintaan Db. dan 5.34 kontribusi konsumen tidak lebih besar dari manfaatnya. Oleh karena itu.3. selama tingkat harga masih cukup tinggi. Dasar-dasar Keuangan Publik Db . Kurva permintaan pasar (Dt) diperoleh dengan menambahkan secara horizontal kurva permintaan A (Da) dan kurva permintaan B (Db). pemerintah mungkin saja menarik bayaran dari para pengunjung.4 dibawah ini menguraikan tentang perbedaan antara barang publik dan barang pribadi dalam suatu masyarakat yang diasumsikan hanya terdiri dari dua kelompok individu. Dengan catatan bahwa Qt merupakan penjumlahan dari Qa (barang yang dibeli oleh A) dan Qb (barang yang dibeli oleh B). A dapat masuk ke dalam pasar sehingga kurva permintaan pasar Dt berbelok. yaitu A dan B. Kurva Permintaan Atas Barang Pribadi P MC P1 Da Qa Qb Qt Dt Q Gambar 5.3. terdapat garis spektrum yang menggambarkan tinggi rendahnya sifat tanpa pengecualian Rendah Tempat Parkir Tempat Rekreasi Perpustakaan Udara bersih Pendidikan Tinggi Jalan Lokal Gambar 5. Kurva penawaran pasar SS memperlihatkan biaya marginal (MC) yang dapat dibebankan kepada A dan B secara bersama-sama untuk berbagai output dari barang pribadi. Perpotongan antara kurva SS dan Dt menentukan titik ekuilibrium harga P1 dan titik ekuilibrium kuantitas Qt. Gambar 5. selanjutnya pada saat tingkat harga sudah cukup rendah.2 Barang publik versus barang pribadi Gambar 5. selama biaya yang dikeluarkan untuk membayar staf penjaga tempat rekreasi tersebut tidak lebih besar dari pendapatan yang diterima. sama halnya dengan sifat tidak bersaing.3 mewakili barang pribadi yang mempunyai sifat bersaing dan pengecualian yang sangat tinggi.

Situasi yang berbeda terjadi di sini. Kurva Permintaan Atas Barang publik P MC P1 Pa Dt Db Pb Da Qb Qt Q Gambar 5. Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar.4 memperlihatkan pola yang sama namun untuk barang publik. Sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar. keamanan nasional dan lain-lain. pendidikan. Dasar-dasar Keuangan Publik . dan lain-lain. sehingga barang yang dikonsumsi oleh A sama jumlahnya dengan barang yang dikonsumsi B. baik manfaat yang diterima A lebih besar maupun lebih kecil. dalam hal ini perbedaan terjadi bukan pada kuantitas yang dikonsumsi oleh masing-masing orang. seperti: jalan umum. seperti makanan.35 Gambar 5. pakaian. Gambar 5. tapi lebih kepada perbedaan dari manfaat marjinal dari setiap konsumen atau harga yang dibayarkan oleh masing-masing konsumen.4.5 menunjukkan alternatif kombinasi antara barang publik dan barang pribadi. trade off dari penyediaan barang publik oleh pemerintah dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar dapat digambarkan dengan kurva kemungkinan produksi. Misalnya A sebagai warga kota Jakarta dapat menggunakan seluruh jalan kota maka demikian juga halnya dengan B. dengan asumsi seluruh sumber daya yang ada digunakan. Oleh karena itu. meskipun A memiliki mobil sedangkan B tidak. karena barang publik mempunyai sifat tidak bersaing dan tanpa pengecualian. Penyediaan Barang publik Ketika pemerintah melakukan fungsi penyediaan barang publik.

Masalah yang timbul kemudian adalah bahwa setiap individu seharusnya mau membayar atas setiap manfaat yang dia Dasar-dasar Keuangan Publik .5 Titik A dalam gambar menunjukkan bahwa MX1 unit adalah jumlah barang pribadi yang dikorbankan oleh masyarakat sehingga pemerintah dapat menyediakan barang publik sejumlah OG1. jika diumpamakan peningkatan jumlah barang publik per tahun merupakan respon pemerintah atas peningkatan permintaan masyarakat terhadap keamanan nasional. Namun di sisi lain. Peningkatan jumlah barang publik yang tersedia di pasar dalam satu tahun dari OG1 ke OG2 (titik B) akan meminta penurunan dari jumlah barang pribadi di pasar dari OX1 ke OX2. Jika untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional tersebut pemerintah harus meningkatkan pajak penghasilan. Pengorbanan masyarakat merupakan harga sumber daya yang seharusnya digunakan untuk memproduksi barang pribadi digunakan oleh pemerintah untuk dapat menyediakan barang publik. atau dengan kata lain meminta pengorbanan lebih besar dari MX1 ke MX2. Penyediaan Barang Melalui Anggaran Sebagaimana telah diterangkan dalam bab sebelumnya.36 Kurva Kemungkinan Produksi P Penyediaan Batang Publik per Tahun C B A G2 G1 O X2 X1 M Penyediaan Barang Pribadi per Tahun Gambar 5. Sumber daya yang dikorbankan tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh masyarakat atau pajak yang diminta oleh pemerintah agar barang publik dapat tersedia. pengorbanan dari pihak masyarakat terjadi dengan menurunnya kemampuan konsumsi atas barangbarang pribadi. maka kualitas keamanan yang disediakan pemerintah akan meningkat dan masyarakat akan merasa lebih aman. penyediaan barang publik perlu adanya campur tangan pemerintah.

ketika pemerintah akan menetapkan jumlah uang yang harus disumbangkan untuk memperoleh barang publik. barang publik disediakan untuk semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. Setiap orang akan dengan senang hati ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik – mulai dari sekedar memberikan suara. Sementara itu. sering anggota masyarakat merasa bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk menyatakan tuntutan mereka seringkali lebih besar dari manfaatnya. ada barang publik Dasar-dasar Keuangan Publik . Akan timbul masalah tentang jenis dan kualitas barang seperti apa yang harus disediakan oleh pemerintah. Untuk ini. dilakukan proses pemungutan suara guna menetapkan keputusan perpajakan dan pengeluaran publik. karena setiap keputusan pemerintah diambil mengikuti keputusan suara terbanyak. karena biaya yang mereka keluarkan akan lebih besar dari manfaat yang akan mereka terima. Secara normatif.masyarakat akan merasa enggan untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Keterbatasan Jangkauan Manfaat atas Barang publik Pada dasarnya. diperlukan proses politik untuk mengungkapkan preferensi masyarakat kepada pemerintah tentang barang publik apa yang perlu disediakan dan melengkapinya dengan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan untuk membayar barang-barang publik tersebut. Pilihan para pemilih karena itu akan tergantung pada pengetahuan mereka sendiri serta kesadaran mereka bahwa orang lain juga menyumbang sesuai dengan rencana perpajakan yang dianut. Masalah lain yang timbul. Agar dapat berfungsi sebagai mekanisme yang efisien dalam mengungkapkan preferensi. masyarakat dalam sistem yang demokratis akan terhindar dari apatisme anggotanya dalam proses pengambilan keputusan politik.37 terima. Dasar pemikiran tentang komunikasi efektif antara pemerintah dan masyarakat mengikuti logika kepentingan setiap individu dalam masyarakat. apabila suatu usulan kebijakan tidak berpengaruh langsung . Para pemberi suara kemudian akan dihadapkan pada suatu pilihan diantara beberapa usulan pengeluaran publik berkaitan dengan sumbangan pajak mereka. tidak cukup informasi yang disampaikan oleh masyarakat kepada pemerintah. Proses ini dimulai dengan pemahaman dari anggota masyarakat tentang pentingnya memberikan suara mereka. maka orang tidak bersedia untuk membayar manfaat barang. berkampanye. Akibatnya.atau kecil pengaruhnya . namun karena manfaat yang diterima dari barang publik dirasakan oleh banyak orang. Oleh karena itu. maka proses pemungutan suara harus mengaitkan keputusan perpajakan (sebagai alat pendanaan) dengan keputusan pengeluaran atau belanja publik. Pengungkapan preferensi masyarakat kepada pemerintah dilakukan melalui suatu proses pemungutan suara. Namun dalam prakteknya. menyumbang bahkan sampai keluar dari pekerjaannya – jika mereka merasa bahwa ada akibat langsung dari kebijakan politik pemerintah kepada mereka. Namun dalam prakteknya.

uang. harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan. tapi paling dekat dengan tempat tujuanya. mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. dengan biaya tarip yang rendah. Mereka akan terus menambah konsumsi mereka atas barang publik ini sampai manfaat yang mereka dapatkan maksimal. jika pemerintah lokal harus menarik kontribusi atas Dasar-dasar Keuangan Publik . selama tidak ada tambahan biaya yang harus mereka keluarkan. bagi yang sedikit atau tidak memberikan berkontribusi. yang dalam garis spektrum mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. Dari berbagai macam barang publik jenis ini. Sehingga. Artinya para pengguna seharusnya akan lebih termotivasi untuk menggunakan barang-barang ini sampai pada titik dimana manfaat marjinal yang mereka peroleh sama dengan atau mendekati nol. dengan mempertimbangkan kondisi kemacetan (biaya oportunitas) di luar jalan tol. Dari sini dapat terlihat bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik ini sama dengan atau paling tidak mendekati nol. Melihat sifatnya tersebut. sementara barang publik berskala lokal lebih tepat disediakan oleh pemerintah lokal atau pemerintah daerah. dalam suatu kelompok yang kecil. Hal ini disebabkan. Sebagai contoh. maupun pemberian suara akan dapat menciptakan perubahan atas suatu keputusan. Bagi pengguna juga tidak akan merasa keberatan membayar untuk dapat menggunakan barang publik karena akan lebih jelas manfaat yang dapat mereka peroleh bila dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan. untuk setiap tambahan pintu tol yang dia lewati. Barang publik berskala lokal dalam garis kontinum. tol. seorang pengguna jalan tol dalam kota akan masuk dari pintu terdekat dengan tempat dia berangkat dan keluar dari pintu terjauh. Sementara di waktu yang lain ketika jumlah pengguna barang ini hanya sedikit. Sebaliknya. sehingga akan lebih memperkecil timbulnya masalah free rider. Berbeda dengan pengguna jalan tol luar kota.seperti yang terlihat pada gambar 5.2. atau retribusi pasar. maka sifat tidak bersaingnya akan menjadi tinggi.1. kontribusi seseorang baik itu berupa waktu. barang publik berskala nasional lebih tepat disediakan oleh pemerintah pusat. yaitu barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah yaitu hanya pada waktu penggunaannya padat dan penggunanya mencapai jumlah tertentu. Sebagai contoh. karcis parkir..38 yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). dan 5. maka akan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali manfaat yang mereka dapatkan. Selain itu dalam skala lokal akan lebih dimungkinkan untuk mengatasai permasalahan free rider. ada yang disebut dengan istilah congestible goods. Berpartisipasi atau tidak berpartisipasi akan menjadi sangat terlihat. dia akan berfikir dari pintu tol mana dia harus masuk dan di pintu tol mana dia harus keluar. Akan sangat mudah bagi pemerintah lokal untuk menarik kontribusi dari para pengguna barang publik yang disediakan seperti tiket masuk tempat rekreasi. Barang publik berskala lokal adalah barang-barang yang diproduksi oleh pemerintah lokal. karena dari manapun dia masuk dan dimanapun dia keluar biaya yang harus dikeluarkan adalah sama.

39 pengguna barang publik ini. Misalnya pada tempat-tempat rekreasi. maka biaya marjinalnya bisa akan lebih mahal dari manfaat marjinalnya. begitu juga biaya marginalnya yang tetap (jika dimungkinkan nol). memperlihatkan bahwa tambahan permintaan atas congestible goods pada musim sepi jumlahnya sedikit (pergeseran dari titik O ke D1 sampai ke D2). dapat dikenakan tarif tinggi. para pengunjung dapat menikmati tempat rekreasi dengan biaya yang lebih rendah. yaitu tarif tinggi pada musim padat dan tarif tinggi pada musim sepi. Kurva Permintaan Congestible Goods P MC P1 O D1 D2 Q1 Gambar 5.6. Gambar 5. sehingga biaya menempatkan penjaga gerbang akan tertutup dari pembayaran tiket masuk. Hal ini diharapkan dapat menarik minat pengunjung untuk mau masuk ke tempat rekreasi tersebut. pemerintah lokal tidak perlu menarik kontribusi dari pengguna barang publik ini. pada musim liburan dimana pengunjungnya sangat padat. dimana pada hari-hari libur hampir tidak ada mobil yang datang berkunjung. sehingga tidak perlu juga ada penjaga gerbang sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghapus biaya marjinal. Di lokasi perkantoran misalnya. Sebegitu rendah permintaannya sehingga pemerintah lokal merasa tidak perlu ada penarikan atas pengguna barang publik tersebut. Strategi lain dalam memperlakukan congestible goods adalah dengan menggunakan dua macam tarif. sedangkan untuk hari kerja atau sekolah.6. Apabila dimungkinkan. pemerintah dapat menghilangkan biaya parkir. D3 Q Dasar-dasar Keuangan Publik .

dimana A akan dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang Y sedangkan B dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang X. maka jelas bahwa teknologi pertama yang akan terpilih. sedangkan teknologi lain memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan hanya 5 unit barang Y. sampai tercapai tingkat substitusi marjinal yang sama. Efisiensi menghendaki bahwa dengan menggunakan teknologi terbaik. Jika perubahan itu masih dimungkinkan maka susunan terdahulu belumlah efisien dan peningkatan efisiensi dapat diperoleh dengan melakukan perubahan. Tingkat substitusi marjinal barang X untuk barang Y dalam konsumsi haruslah sama dengan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. Kaidah efisiensi mengarah pada terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu agar tercapai pemecahan alokasi yang efisien. maka akan lebih diinginkan untuk meningkatkan output barang X dan mengurangi barang Y sampai kedua tingkat tersebut menjadi sama. atau besarnya sektor pemerintah dalam usaha untuk membantu seseorang atau kelompok tanpa merugikan orang atau kelompok lain. Artinya tingkat dimana A dan B berkeinginan untuk menukarkan unit terakhir barang X dengan barang Y haruslah sama. Jika kondisi-kondisi di atas terpenuhi seluruhnya. maka menurut pengertian Pareto. sedangkan B mau menukarkan tiga unit barang Y untuk satu unit barang X. 2.40 Efisiensi Penyediaan Barang publik oleh Pemerintah Seorang ekonom Italia mengusulkan konsep efisiensi yang dikenal dengan istilah Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency). kombinasi barang yang diproduksi. Jadi jika tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi adalah 3X dan 2Y. Jadi tidaklah mungkin dalam keadaan ini untuk mengubah metode produksi. Efisiensi Pareto didefinisikan sebagai suatu pengaturan ekonomi tertentu adalah efisien jika di sana tidak dapat dilakukan pengaturan kembali yang akan menyebabkan seseorang menjadi lebih baik tanpa memperburuk posisi orang lain. Tingkat substitusi marjinal dalam mengkonsumsi barang X dan Y harus sama baik bagi konsumen A maupun B. yaitu A dan B serta dua macam barang yaitu X dan Y. Dasar-dasar Keuangan Publik . Secara sederhana. sedangkan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi adalah 3X untuk 1Y. jumlah tertentu barang X harus diproduksi sedemikian rupa sehingga memungkinkan diproduksinya Y sebanyak-banyaknya pada saat yang sama dan demikian pula sebaliknya. Tingkat transformasi marjinal dapat didefinisikan sebagai suatu tambahan unit barang X yang dapat diproduksi bila produksi barang Y dikurangi satu unit. 3. Jika suatu teknologi memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan 8 unit barang Y. kita akan mempertimbangkan suatu perekonomian dengan hanya ada dua konsumen. alokasi sumber daya akan menjadi efisien. Jika A ingin memberikan satu unit barang X untuk dua barang Y. Kondisi-kondisi berikut harus terpenuhi: 1. maka hal ini akan menguntungkan keduanya bila melakukan pertukaran.

Dari sini. kita akan melihat bahwa kurva kemungkinan produksi pada sumbu XY paling atas sekali lagi mencatat kombinasi barang pribadi dan barang publik yang dapat diproduksi dengan menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia. Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi jumlah konsumsinya berbeda. produsen akan memaksimalkan keuntungan dengan menggunakan metode biaya sekecil mungkin (memenuhi kondisi 1). setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumber-sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. karena disini konsumen didorong untuk menyatakan preferensi mereka. ditunjukkan melalui beberapa langkah sebagai berikut. Bagi barang pribadi yang tersedia melalui mekanisme pasar dimana produsen akan memproduksi barang-baranng yang paling diinginkan oleh konsumen (preferensi konsumen jelas ternyatakan). kita dapat melihat bahwa mekanisme pasar menjamin terlaksananya penggunaan sumber daya yang efisien. Pemecahan masalah efisiensi sangat dimudahkan dengan menggunakan mekanisme pasar. penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar. Pemecahan masalah efisiensi kembali perlu untuk ditemukan.41 Alokasi yang Efisien Melalui Mekanisme Pasar Sekarang kita mempertimbangkan suatu kondisi dimana baik barang publik maupun barang pribadi diproduksi. Ini adalah kelebihan dari the invisible hands sebagaimana yang dikemukakan pertama kali oleh Adam Smith.3 dimana kondisi seluruh sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. Karena sifat barang publik yang tidak bersaing dan tanpa pengecualian. Alokasi yang Efisien Atas Barang publik Seperti diperlihatkan dalam gambar 5. sehingga keduanya akan berada pada titik yang berbeda pada sumbu vertikal.7 dibawah ini. konsumen akan mengalokasikan anggaran belanjanya diantara barang-barang tersebut sedemikian rupa sehingga menyamakan tingkat substitusi marjinal mereka dengan rasio harga barang (memenuhi kondisi 2). tetapi mereka dapat mengkonsumsi barang pribadi dengan jumlah yang berbeda. jika kita perhatikan dalam gambar 5. Penjual dalam upayanya untuk memaksimalkan manfaat akan menyamakan biaya marjinal dengan penerimaan marjinal yang dalam keadaan bersaing juga akan menyamakan biaya marjinal dengan harga atau pendapatan rata-rata (memenuhi kondisi 3). Selanjutnya. dan sumbu XY pada gambar bagian bawah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu B. sehingga kedua individu tersebut (A dan B) akan berada pada titik yang sama pada sumbu horizontal. tergantung pada selera dan pendapatan mereka. sehingga produsen termotivasi untuk memproduksi apa yang diinginkan oleh konsumen. maka dapat diasumsikan bahwa jumlah barang yang dikonsumsi dari setiap individu adalah sama. Harga yang sama dibayar oleh semua konsumen. oleh karenanya harus disediakan oleh pemerintah. sebagaimana pertama kali pernah dikembangkan oleh Samuelson. Namun kembali kepada masalah bahwa tidak semua barang bisa disediakan melalui mekanisme pasar. Selanjutnya. Sumbu XY pada gambar bagian tengah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu A. Artinya.

menunjukkan bahwa jika A berada pada titik G maka B akan berada pada titik H pada gambar di bagian bawah. misalnya ke kurva ia3. Semua ini adalah efisien menurut pemikiran Pareto dan memenuhi kondisi kesamaan di antara tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi dan tingkat transformasi marjinal di alam produksi. Dalam setiap kasus. Kemudian jika A bergerak sepanjang ia2 ke titik P. diketahui bahwa kombinasi output yang paling efisien meliputi barang publik sebanyak OF dan barang pribadi sebanyak FE. Z dan K. Bagi A. berdasarkan alasan yang sama akan menempatkan B pada titik L. T. titik-titik ini akan berhubungan dengan kondisi bahwa jumlah barang X yang dikonsumsi oleh A dan B harus sama dengan output total barang X. Karena FG dikonsumsi oleh A maka jumlah yang tersisa bagi B sama FE-FG = FH. Untuk A misalnya dinyatakan oleh kurva indiferen ia2 pada gambar bagian tengah. artinya A mengkonsumsi barang publik sebanyak OF dan barang pribadi sebanyak FG. sedangkan total output barang pribadi sebanyak NM akan dibagi antara A dan B sehingga A menerima sebanyak NP dan B menerima sebanyak NL. maka kita dapat mengulangi prosedur yang sama untuk B. Inilah kurva tertinggi yang dapat dicapai oleh B. Dengan cara ini. Hal ini akan terjadi pada titik L. Sebagai ilustrasi. dimana ULK bersinggungan dengan kurva indeferen ib4 dari B pada gambar bagian bawah. Selanjutnya kita akan melihat pada tingkat kesejahteraan terbaik untuk A dan B.42 Akan tetapi. semua titik sepanjang ia2 akan sama baiknya. kita akan memperoleh serangkaian pemecahan yang berkaitan dengan berbagai tingkat kesejahteraan untuk A dan B. Jika A berada pada kurva indeferen ia1 pemecahan terbaik adalah membiarkan A dan B pada titik P dan L. kita akan menemukan posisi baru bagi B pada gambar di bagian bawah (dihubungkan dengan ULK) dan satu hasil optimal baru (dihubungkan kepada L). kesejahteraan A akan menjadi maksimal apabila A mendapatkan suatu titik yang akan dapat membuat B menjadi lebih baik. maka B akan berpindah ke kiri sepanjang ULK. dan V. sehingga menempatkan B pada titik H pada gambar bagian bawah. dimana output total barang publik (yang paling efisien) sejumlah ON. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dari gambar bagian atas. Jika A bergerak sepanjang ia2 dari tititk W ke kiri. Jika utilitas A berubah lagi. jika A berada pada titik G pada gambar di bagian tengah.

43 Jumlah Total Barang Pribadi M E Y O N F Q Konsumsi A atas barang pribadi T Jumlah Total Barang publik J ia3 P G W ia2 ia1 R N F U Konsumsi B atas barang pribadi Konsumsi A atas barang publik ZL K ib1 N F U ib3 ib2 Gambar 5.7 Konsumsi B atas barang publik Dasar-dasar Keuangan Publik .

Pertanyaannya kemudian adalah apakah ada distribusi yang adil atau merata? Bagaimana keadaan distribusi yang adil dan merata itu yang dimaksud diatas?. Teori ini memainkan peranan yang sangat penting dalam analisis ekonomi. teori efisiensi alokasi faktor produksi ini bukan teori fungsi distribusi. alokasi faktor produksi dapat dikatakan efisien apabila dasar penetapan harga faktor produksi juga efisien.44 B A B VI FUNGSI DISTRIBUSI S eperti telah dibahas dalam bab sebelumnya. terdapat dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal yaitu masalah penggunaan sumber daya yang efisien dan masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil. Sebagai contoh. istilah keadilan berada dalam suatu area yang sangat berlawanan. Agar alokasi sumber daya menjadi efisien maka jumlah faktor produksi yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga nilainya sama dengan nilai biaya marjinal. yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah. penekanan utama dari teori fungsi distribusi adalah pada bagaimana pendistribusian hasil produksi kepada individu-individu atau keluarga-keluarga. tanpa memperhatikan masalah distribusi akhir dari hasil penjualan produksi tersebut di pasar. tenaga kerja dan modal. teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Istilah keadilan lebih dekat pada nilai normatif daripada obyektif. Dalam pembahasan terdahulu penekanan lebih pada efisiensi. yaitu tentang bagaimana pengalokasian sumber daya diantara berbagai kebutuhan produksi yang saling bersaing guna mencapai suatu tingkat hasil (utilitas atau kepuasan) tertentu. Ketika istilah efisiensi berada dalam suatu area yang dapat dikatakan mendekati nilai obyektif. Dalam ilmu ekonomi. Oleh karenanya. Sedangkan. Dasar-dasar Keuangan Publik . masalah distribusi pendapatan terhadap individu maupun keluarga harus dibahas lebih lanjut. namun demikian penekanan teori peranan produksi lebih pada pengalokasian yang efisien. Walaupun demikian.

pemerintah akan menyediakan sejumlah barang publik yang sama pula. Oleh karena itu. Apakah ada suatu cara untuk mendefinisikan keadilan? Pertanyaan ini telah memicu munculnya beberapa pemikiran terbaik dari para ekonom dalan kurun waktu dua abad terakhir ini. sistem perpajakan dan belanja publik harus dapat menjamin terciptanya suatu pengorbanan yang adil dari setiap warga negara. cacat atau normal dan sebagainya. Selain itu. bukan hanya pendapatan dalam satu tahun. atau paling tidak kapasitasnya berada dalam suatu interval tertentu. Konsep Keadilan Horizontal Salah satu jawaban atas dilema dalam mendefinisikan dan mengukur keadilan adalah konsep keadilan horizontal. melainkan tetap lebih memihak kepada si kaya. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar. Contoh konkrit dari konsep ini dapat ditemukan pada tiket masuk suatu tempat rekreasi yang tidak membedakan bagi setiap orang. atau kondisi-kondisi khusus lainnya seperti ketidakmampuan (cacat). Dalam konsep ini. umur. hal lain yang mungkin perlu dimasukkan kedalam pertimbangan adalah masalah kekayaan. tidak hanya sekedar persoalan pendapatan. Konsep Keadilan Vertikal Konsep kedua dalam mengukur keadilan adalah konsep keadilan vertikal. Pendapatan sendiri harus mencakup masalah seluruh pendapatan seumur hidup seseorang. Namun pada kenyataannya. Jadi. tidak perduli kaya atau miskin. si miskin dan si kaya. Permasalahannya adalah bahwa dalam suatu perekonomian.45 Konsep Keadilan Idealnya. Dalam konsep ini. melalui konsep ini. jumlah anggota keluarga. Oleh karena itu. jumlah pajak yang ditarik dari Dasar-dasar Keuangan Publik . dari setiap orang akan ditarik pajak dengan jumlah yang sama. Sehingga apabila ada dua kelompok ekstrim dalam masyarakat. tua atau muda. secara umum. masih dalam konteks ideal. Jadi. kekayaannya. keadilan berarti memperlakukan setiap orang berbeda disesuaikan dengan kondisinya masing-masing. disumsikan bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang sama untuk menikmati pendapatan. Selanjutnya. bukan dalam ukuran rupiahnya namun lebih pada utilitasnya. pengukuran menggunakan konsep keadilan horizontal sulit ditemukan. sebagian besar pendistribusian yang dilakukan pemerintah tidak menguntungkan bagi si miskin. setiap orang dianggap sama. Dasar pengukuran dapat berupa pendapatannya. dan kondisi kesehatan seseorang. akan terasa sangat logis jika standar adil dalam pengorbanan dipenuhi melalui sistem yang menjamin bahwa kontribusi si miskin harus lebih kecil dari kontribusi si kaya. Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik. fungsi pendistribusian oleh pemerintah dapat mencakup proses penarikan dana (melalui pajak) dari si kaya dan mentransfernya kepada si miskin baik itu dalam bentuk uang ataupun jasa.

sehingga pajak penghasilan menetapkan tarif yang berbeda. konsep ketiga dalam upaya menginterpretasikan keadilan jatuh pada konsep prinsip kompensasi. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan adalah prinsip kompensasi yang menawarkan suatu pedoman kasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan prinsip bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau sejahtera. Prinsip Kompensasi Terakhir. Contoh penurunan secara bertahap terhadap hambatan perdagangan internasional akan memberikan keuntungan bagi para konsumen dan eksportir di atas beban para tenaga kerja dan produsen importir dalam industri yang bersaing. tanpa menyebabkan kondisi orang lain sebaliknya (lebih buruk). Menyadari hal ini. para ekonom mencari beberapa kriteria untuk pengambilan keputusan dimana kondisi Pareto optimal tidak mungkin dapat dicapai. Tarif pajak progresif . seperti pembebasan atau pengurangan biaya sekolah. namun disesuaikan dengan kondisi mereka.001. dimana harus menetapkan batas suatu jumlah pendapatan sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah tersebut mempunyai kemampuan membayar pajak lebih rendah atau lebih tinggi. Namun Dasar-dasar Keuangan Publik . Ketidakmampuan untuk membandingkan utilitas dari setiap orang. dan subsidi perumahan dan kesehatan bagi rakyat miskin.00 lebih rendah kemampuan membayar pajaknya dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai pendapatan Rp 50.-. Jadi dalam konsep ini akan tercipta peraturan atau kebijakan yang mau tidak mau akan terdapat pihak yang menang dan kalah. Kriteria ini akan memandu pengambil keputusan untuk memilih keputusan terbaik kedua setelah Pareto optimal. Kategori rakyat miskin adalah mereka yang memiliki pendapatan rata-rata – berdasarkan uji rata-rata – di bawah tingkat pendapatan tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Keadilan diterjemahkan sebagai optimalisasi pareto yang menyatakan bahwa tidak mungkin merubah kondisi seseorang menjadi lebih baik.yang akan dibahas lebih lanjut di bagian mendatang merupakan salah satu contoh konkrit dari konsep keadilan vertikal. Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika harus dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak.46 setiap orang tidaklah sama. Selanjutnya. Salah satu kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang.000. Apakah seseorang yang mempunyai jumlah pendapatan Rp 50. Prinsip kompensasi sebagian dapat terlihat dalam kebijakan perdagangan. Apakah seseorang yang mempunyai pendapatan dua kali pendapatan orang yang lain berarti bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan membayar dua kali juga atau tidak.000. Konsep keadilan vertikal juga tercermin dalam metode pengujian rata-rata yang digunakan bagi banyak program pemerintah. menyebabkan suatu keputusan atau perubahan kebijakan sangat sulit untuk dibuat tanpa mengakibatkan adanya pihak-pihak yang diuntungkan dan pihakpihak yang dirugikan.000.

maka tetap saja akan ada pihak-pihak yang diuntungkan sebagai pemenang dan pihak-pihak yang dirugikan sebagai yang kalah. Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. tingkat pengembalian lebih ditentukan oleh pasar persaingan tidak sempurna dimana faktor-faktor institusi seperti. masih memainkan peran yang penting.47 kebijakan ini tetap diinginkan karena secara total. Oleh sebab itu. pola hidup dan simpanan semasa hidup. Selain bergantung pada penurunan dari faktor-faktor produksi tersebut. Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Dalam ekonomi pasar. 1991). Distribusi pendapatan tenaga kerja berkaitan dengan distribusi kemampuan sekaligus keinginan tenaga kerja yang bersangkutan untuk memperoleh pendapatannya. oleh karenanya harga-harga tersebut bergantung langsung pada sejumlah variabel seperti faktor penawaran. yang merupakan pengaruh dari tingkat upah yang dapat dicapai oleh seseorang. Distribusi Sebagai Suatu Kebijakan Jika sebelumnya. dalam banyak kasus. tingkat pendapatan dari berbagai macam pekerjaan mungkin berbeda sejalan dengan pertimbangan status dibandingkan dengan produk marjinal. Begitu pula dengan kesempatan seseorang memperoleh pekerjaan akan lebih bergantung pada hubungan kekeluargaan dibandingkan dengan kemampuan produktifitasnya. hubungan keluarga. menunjukkan tingkat ketidakadilan yang sangat menyolok. tingkat harga sama dengan nilai dari faktor produk marjinal. Seandainya hambatan perdagangan tetap dipertahankan sehingga tetap ada dinding yang membatasi suatu negara dalam bertransaksi dengan negara lain. Dasar-dasar Keuangan Publik . meskipun tidak secara langsung. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan prosentase dari pendapatan yang diperoleh dengan prosentase rumah tangga yang menghasilkan. status sosial. dan akhirnya pola pernikahan juga menjadi faktor terpenting dalam pendistribusian pendapatan. tetap mempunyai dampak distribusional. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan meningkatnya ketidakadilan dalam pendistribusian pendapatan (Musgrave. distribusi pendapatan ditentukan oleh penjualan faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal. Namun sebaliknya. Distribusi pendapatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor tersebut di atas. sebagaimana telah ditentukan oleh warisan. Misalnya. dan preferensi pelanggan. kali ini pembahasan akan di fokuskan pada distribusi sebagai hasil dari suatu kebijakan. distribusi pendapatan juga bergantung pada faktor harga. ras dan lain-lain. teknologi. kebijakan mengenai anti trust atau anti monopoli sebenarnya dirancang untuk mengefisienkan pasar. Dalam persaingan sempurna. Dari distribusi pendapatan tenaga kerja dan modal terkait dengan investasi pendidikan. struktur gaji. kesejahteraan publik ini akan lebih menguntungkan. pola perkawinan. Sedangkan distribusi pendapatan modal mencakup distribusi kesejahteraan. pembahasan distribusi lebih terfokus sebagai hasil dari perekonomian pasar.

seperti pembangunan jalan yang tujuannya untuk menyediakan barang publik kepada masyarakat . maka masalah distribusi akan menjadi lebih sederhana. hal ini bisa mempengaruhi bagian dari pendapatan nasional yang tersedia untuk redistribusi dan juga bisa menimbulkan biaya yang tentunya harus dipikul. Namun sayangnya. maka masalah ini tetap belum terpecahkan. karena masalah distribusi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kebijakan ekonomi secara dominan terhadap politik ekonomi. perancangan kebijakan publik seharusnya juga mempertimbangkan masalah distribusi. Pertanyaannya sekarang adalah perlu tidaknya untuk mempertimbangkan atau bahkan menanggulangi masalah redistribusi. tetapi dalam perpaduan satu sama lain. Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu apa yang seharusnya menjadi kriteria bagi distribusi yang adil dan wajar. namun kebijakan penarikan pajak berdasarkan pada prinsip keadilan horizontal baru akan diterapkan jika memang kondisi ini sudah tercapai. Oleh karena itu. Namun karena belum ada alasan atau nilai-nilai yang terpilih sebagai dasar dalam menetapkan struktur masyarakat yang baik. Tetapi. Contoh lain adalah kebijakan program investasi pemerintah . Selain itu. semestinya para ekonom yang berurusan dengan kebijakan umum pemerintah tidak boleh melepaskan pemikiran mereka dari masalah keadilan dalam distribusi pendapatan. Selanjutnya. Misalnya saja.akan mempengaruhi kesejahteraan berbagai kelompok masyarakat dari segi ekonomi dan tentunya pola distribusi. Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Seandainya asumsi-asumsi yang mendasari berbagai konsep keadilan dapat digali kemudian konsekuensinya dapat diamati sehingga dapat dipilih satu konsep tertentu untuk diterapkan. Redistribusi Sebelumnya pembahasan lebih berfokus pada pertanyaan dasar mengenai apa yang merupakan distribusi yang adil dan merata. sampai saat ini analis ekonomi belum dapat menetapkan standar distribusi mana yang sebenarnya menjadi patokan.48 namun secara tidak langsung akan mempengaruhi pendapatan modal dan tenaga kerja pada industri yang terkait dengan kebijakan tersebut. Pada gilirannya. berbagai pendekatan dalam setiap konsep keadilan tidak perlu diterapkan secara murni. prinsip keadilan yang dianut menginginkan tidak ada satu anggota masyarakat pun yang miskin. Hal ini bisa dicapai melalui kebijakan redistribusi yang ditetapkan melalui proses anggaran. Jika diperhatikan. pendapatan riil dari konsumen yang menggunakan produk tersebut juga akan ikut terpengaruh. hasil dari kebijakan ini dapat dilihat melalui respon dari setiap pihak yang dirugikan atau diuntungkan dari proses tersebut . yaitu sampai sejauh mana dan dengan cara bagaimana mengubah keadaan distribusi yang ditentukan oleh pasar dan lembaga publik yang ada saat ini.

terutama dalam bentuk pembebasan uang sekolah dan wajib belajar. organisasi nir laba dan sumbangan sosial individu. para pembayar pajak akan lebih tertarik untuk mendapatkan keadilan atas kesempatan dan memastikan apakah dana yang telah mereka keluarkan dibelanjakan dengan seharusnya. meskipun hal tersebut akan lebih terlihat.49 Sebagian orang akan menolak adanya kebijakan redistribusi jika hal tersebut merupakan kebijakan wajib dari pemerintah. Sementara itu di pihak penerima pajak – katakanlah rakyat miskin – lebih tertarik untuk memperhatikan keadilan atas hasil dan memiliki fleksibilitas dalam menggunakan sumber-sumber dana yang mereka dapatkan. Secara umum. seperti penggalangan dana di mesjid. Perbedaan filosofi dari dua pendekatan keadilan redistribusi ini tercermin dalam pribahasa ”Berikan seseorang ikan. maka dia dapat makan untuk satu hari. Menyamakan Kepentingan Pembayar Pajak dan Penerima Pajak Pembayar pajak – dalam kasus kebijakan redistribusi oleh pemerintah – mungkin mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda dengan para penerima pajak. Didalam masyarakat yang kecil pun. karena akan sangat mudah bagi setiap orang untuk menghindar dari membayar suatu sumbangan sukarela (menjadi free rider). apakah menjamin bahwa perubahan yang terjadi akan optimal bagi masyarakat. keadilan atas hasil sebagai suatu strategi anti kemiskinan telah semakin menurun popularitasnya di banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada. Namun. maka dia dapat makan seumur hidupnya”. maka campur tangan pemerintah tidak lagi dibutuhkan. keadilan atas kesempatan mewakili bentuk utama dari redistribusi. dan melakukan lobi politik untuk mempengaruhi pemerintah dengan berbagai cara. Pertanyaan berikutnya bagi pemerintah adalah apakah perhatian mereka terkait dengan konsep redistribusi. Dalam masyarakat yang besar. gereja. Keadilan ini lebih bersifat filosofi dalam hubungannya dengan sistem pasar. Dalam keadilan atas hasil. Keadilan atas kesempatan dapat berupa penyediaan pendidikan. dimana terjadi penurunan atas tingkat kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat. atau apakah harus lebih terpusat pada keadilan atas kesempatan atau keadilan atas hasil. terlebih dalam kelompok masyarakat yang besar. Dasar-dasar Keuangan Publik . Secara umum. orang dapat tetap menghindar dari menyumbang secara sukarela. ajari seseorang memancing. Rasanya hampir mustahil. Tetapi apakah mungkin cukup menggantungkan keputusan redistribusi ini kepada individu atau kelompok sosial saja. Kedua kelompok ini akan memberikan suaranya. hal sebaliknya sering kali terjadi jika redistribusi didanai melalui kontribusi sukarela. Jika kegiatan sukarelawan ini cukup untuk membuat perubahan yang dapat diterima. penekanannya lebih pada penurunan kesenjangan pendapatan dan penghapusan kemiskinan dengan cepat daripada menekankan pada berinvestasi pada orang miskin. pelayanan kesehatan atau jasa lainnya yang dapat membantu masyarakat untuk berkembang atau paling tidak tetap berproduksi. Hal ini dapat meredistribusi posisi pendapatan atau kekayaan yang telah ditentukan oleh kekuatan pasar.

Bagi pemerintah. dan makanan. pakaian. kebijakan untuk melakukan redistribusi dapat mengakibatkan bagian yang tersedia untuk didistribusikan justru menjadi lebih kecil. Di sisi lain pembayar pajak lebih memilih memberikan dananya dalam bentuk barang seperti. Hal ini dapat diperlihatkan dalam hubungan antara penawaran tenaga kerja dengan masalah tabungan. sehingga membatasi fleksibilitas penggunaan dana tersebut. Besarnya Bagian untuk Redistribusi Isu penting lainnya dalam masalah redistribusi yang efisien adalah penetapan bagian yang harus di redistribusikan.1 Y2 Y1 Y3 Waktu Senggang Dasar-dasar Keuangan Publik . pihak pendana akan memasukkan preferensi mereka kepada pihak penerima.1. Para penerima akan lebih memilih untuk menerima uang tunai. sehingga tingkat produktivitas masyarakat menurun. Pertama-tama. dimana keduanya harus dipertimbangkan. Ketika redistribusi ditetapkan sehingga akan menurunkan tingkat pendapatan. waktu senggang dan pajak dapat dilihat pada grafik 6. Pendapatan A1 Pendapatan. Hal ini diakibatkan oleh bekerjanya pengaruh perbedaan yang berlaku pada baik pihak pembayar pajak maupun pihak penerima pajak. cara yang termudah adalah dengan memberikan jasa pelayanan langsung seperti pelayanan kesehatan dan program pendidikan. Waktu Senggang dan Pajak A2 X1 X2 A3 X3 Grafik 6. Seandainya diberikan dalam bentuk uang. maka pada tingkat tertentu sebagian besar masyarakat akan mengurangi usaha mereka dalam mencari pendapatan atau dengan kata lain mereka akan memperbanyak waktu santai mereka.50 Isu kedua yang seringkali dipandang berbeda dari pihak pembayar dan penerima pajak adalah bentuk redistribusi. masalah serupa juga akan timbul. investasi dan pertumbuhan ekonomi. Redistribusi yang telah dibahas sejauh ini mencakup masalah biaya dan manfaat. karena akan lebih memberikan fleksibilitas kepada mereka untuk menggunakan dana tersebut. Hubungan antara pendapatan.

Pada intinya. Dasar-dasar Keuangan Publik . keberadaan Bank Sentral sebagai pengawas jumlah uang beredar perlu menyesuaikan jumlah uang beredar dengan kebutuhan ekonomi. sehingga tidak hanya akan menghasilkan jumlah uang beredar yang tidak sesuai. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. jika tidak diawasi. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. tingkat diskonto. Oleh karena itu. baik dalam hal stabilisasi jangka pendek maupun pertumbuhan jangka panjang. sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya. Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. Sistem perbankan. D Kebijakan Moneter Jika berfungsi dengan baik. Dalam hubungannya dengan persaingan yang terjadi pada ekonomi pasar. tetapi juga menimbulkan reaksi dalam permintaan kredit di pasar yang akan cenderung menimbulkan fluktuasi. akan berjalan tidak teratur. suatu mekanisme pasar dijamin dapat diandalkan untuk menentukan alokasi sumber daya yang efisien di antara barang pribadi. fungsi pemerintah sebagai pengatur (regulator) semakin dirasakan kebutuhannya.51 B A B VII FUNGSI STABILISASI Kebijakan Stabilisasi i era globalisasi ekonomi yang semakin luas. Namun. tingkat stabilitas harga yang pantas. fungsi pengatur tersebut dapat berupa beberapa kebijakan baik sebagai pemicu maupun sebagai penghambat persaingan. neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. para ekonom setuju bahwa mekanisme pasar tidak dapat dengan sendirinya mengatur jumlah uang yang beredar secara tepat.

seperti ideologi. Hasil dari proses tersebut tergantung dari hasil pemungutan suara atau dari tingkah laku para politisi yang bermain di dalam pemerintahan tersebut. Kebijakan menurunkan pajak dapat dilakukan dalam upaya pemerintah untuk memperbesar total belanja pemerintah. kebijakan defisit anggaran pemerintah juga dapat memainkan peranan yang tidak kalah penting. warga negara mempunyai kesempatan untuk memberikan suaranya dalam memutuskan suatu masalah. tetapi jika peredaran uang diperketat. kedua isu tersebut seharusnya dipisahkan. tergantung pada bagaimana defisit itu dibiayai. dari sudut pandang ekonomi. Pembiayaan defisit akan lebih besar jika defisit tersebut ditutupi dengan pinjaman. tetapi dalam prakteknya hal ini saling tumpang tindih sehingga mempersulit penyusunan kebijakan yang efisien. Masyarakat seharusnya bersedia membayar apa yang dianggap sebagai distribusi yang adil. misalnya masyarakat menginginkan peningkatan atas pelayanan pemerintah. Idealnya. Dalam suatu negara demokrasi. suatu kebijakan fiskal mempengaruhi secara langsung tingkat permintaan barang dan jasa. tujuan politik adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi seluruh warga negaranya. wajib pajak selayaknya melihat manfaat yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. Dalam proses pemungutan suara akan ada pihak-pihak yang mendukung dan menolak terhadap perubahan atas model pelayanan pemerintah. kita dapat mengambil simpulan bahwa penentuan anggaran lebih condong sebagai proses politik ketimbang proses pasar. Sebagai ilustrasi. suatu kebijakan menambah pengeluaran publik jelas merupakan jenis kebijakan yang bersifat ekspansi. akan menaikkan tingkat permintaan sektor pemerintah dan kemudian akan diikuti oleh sektor swasta. Stabilisasi Anggaran Kebijakan anggaran semestinya melibatkan beberapa tujuan yang berbeda. maka pinjaman tambahan akan mempertinggi suku bunga sehingga cenderung menghambat transaksi pasar. berkaitan dengan perubahan kebijakan perpajakan. tanpa harus dihubungkan dengan kontribusinya. dalam masalah pembiayaan kegiatan pemerintah. Di sisi lain. Kebijakan ini. Akhirnya. Hal ini bisa diwujudkan dengan meningkatkan penerimaan dari sektor pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . Kemudian. Sejalan dengan itu. karena akan meningkatkan total permintaan agregat.52 Kebijakan Fiskal Sementara itu. karena dua masalah ini sulit diselesaikan secara simultan. pada awalnya. yang pada gilirannya nanti akan dipertanyakan oleh masyarakat tentang cara pendistribusiannya. Proses politik didasarkan pada peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang suatu negara. Proses politik tentunya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain faktor ekonomi. yaitu kebijakan yang benar-benar adil dalam rangka mencapai tujuan yang beraneka ragam tersebut. Namun demikian. karena para wajib pajak akan mempunyai disposible income yang lebih besar sehingga diharapkan akan membelanjakan jumlah pendapatan yang lebih besar pula.

dari sudut pandang ekonomi. Namun demikian. Proses politik yang ada didalam sistem tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti. dikeluarkan setelah melalui suatu proses politik? Hal-hal mulai dari peningkatan taraf hidup.53 B A B VIII SISTEM PILIHAN PUBLIK P ernahkah anda berpikir bahwa segala keputusan yang dibuat oleh pemerintah. Penyediaan suatu barang publik memerlukan kesepakatan mengenai jumlah yang akan disediakan dan anggaran yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang tersebut. keputusan politis ditetapkan melalui suatu proses politik yang melibatkan masyarakat. Teori pilihan publik mempelajari bagaimana proses politik digunakan untuk menentukan besarnya barang dan jasa yang akan disediakan oleh pemerintah. Di negara demokratis. bila masyarakat menginginkan anggaran pendidikan yang lebih tinggi maka mereka dapat melakukan voting untuk meloloskan kebijakan itu atau memilih untuk mendukung orang yang pro dengan kebijakan anggaran pendidikan yang lebih tinggi tersebut. pusat maupun daerah. dan ideologi. Konsep Keseimbangan Politis (Political Equilibrium) Suatu keputusan publik dibuat setelah melalui interaksi politis antara beberapa orang menurut aturan yang disepakati bersama. Seringkali keputusan untuk menentukan jumlah serta dana yang diperlukan ini dibuat dengan cara melakukan pemungutan suara (voting). sampai dengan penentuan pajak dan subsidi ditetapkan dalam suatu keputusan politis. ekonomi. tujuan politik tersebut adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi masyarakat. budaya. pembangunan jalan raya. Teori pilihan publik mempelajari bagaimana suatu keputusan yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak dibuat melalui suatu sistem politik. Misalnya. Masyarakat dapat menyumbangkan suara mereka untuk menentukan kebijakan apa yang hendak dilaksanakan atau menyumbangkan suara kepada orang yang mewakili kebijakan tersebut. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Pada kampanye inilah penduduk mendapatkan gambaran mengenai biaya dan manfaat yang dapat diperoleh dari barang publik tersebut. Dasar-dasar Keuangan Publik . Besarnya porsi pajak adalah sama dengan biaya per unit dari barang publik yang akan disediakan oleh pemerintah. Pada titik ini. Porsi pajak (tax shares) adalah bagian biaya yang dibebankan ke masyarakat. Jika ti melambangkan porsi pajak barang publik bagi voter i. Pemilihan dan Pemungutan Suara (Election and Voting) Pilihan publik dilaksanakan secara formal melalui suatu pemilihan umum dimana setiap individu memiliki satu suara. Adanya kenaikan biaya produksi barang publik akan menaikkan pula besarnya pajak yang harus dibayar oleh penduduk. Pada kenyataannya. Keputusan rasional yang paling diinginkan dari suatu proses politik untuk menentukan jumlah barang publik yang disediakan akan tercapai pada titik dimana porsi pajak per individu sama persis dengan manfaat marginal dari barang publik tersebut. masyarakat yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut harus tunduk dengan keputusan yang sudah dibuat. Kondisinya akan berbeda jika barang dan jasa publik tersebut sebagian atau seluruhnya dibiayai dari sumbangan atau retribusi dari masyarakat. porsi pajak tersebut merupakan harga per unit dari barang yang disediakan oleh pemerintah. Individu diasumsikan akan menetapkan pilihan jika hal itu dapat membuat kehidupan mereka lebih baik. Kenaikan maupun penurunan diluar titik ini akan menurunkan tingkat kepuasan individu. maka Σti untuk seluruh voter harus sama dengan average cost dari barang tersebut. Jumlah dari seluruh porsi pajak harus sama dengan biaya rata-rata (average cost) dari barang publik tersebut untuk menghindari anggaran surplus ataupun defisit.54 Pada kondisi dimana barang dan jasa publik di supply oleh pemerintah dengan dana dari pajak. Analisis ekonomi terhadap proses politik mengasumsikan bahwa individu menilai kebutuhannya terhadap barang publik seperti layaknya mereka menilai kebutuhan atas barang dan jasa lainnya. perdebatan maupun kampanye yang dilakukan sebelum dikeluarkannya keputusan itulah yang dapat mempengaruhi masyarakat dalam memberikan suaranya. Biaya untuk menyediakan barang publik mempengaruhi besarnya pajak yang harus dibayar oleh penduduk untuk memproduksi barang tersebut. Bagi seorang voter. Keseimbangan politis (political equilibrium) adalah persetujuan mengenai jumlah barang publik yang akan disediakan. Pada kasus ini. informasi mengenai besarnya biaya yang diperlukan untuk memproduksi barang publik susah diperoleh. jumlah barang yang disediakan memberikan kepuasan maksimal bagi setiap individu. pada kondisi dimana aturan dalam mengambil keputusan kolektif dan besarnya pajak sudah terbentuk. Jika kenaikan biaya tidak diiringi dengan kenaikan manfaat. Akhirnya. maka akan mengurangi dukungan penduduk terhadap kebijakan publik tersebut. masyarakat dapat mengajukan keberatan bila kebijakan tersebut bertentangan dengan kehendak masyarakat.

keputusan yang paling diinginkan tersebut terletak pada titik Z.1. masih mungkin untuk diajukan kembali bila menerapkan tingkat pajak yang berbeda dari yang sebelumnya karena perubahan tingkat pajak akan mempengaruhi titik Z. Memberikan suara atau abstain (Vote or not to vote) Keputusan seseorang untuk memberikan suaranya tergantung pada untung rugi yang akan ia terima sebagai akibat keputusannya tersebut dan juga kemungkinan (probabillitas) suaranya akan memberikan keuntungan bagi dirinya. Pada titik Z ini. Namun.1: Keputusan yang Paling Diinginkan dari Proses Politis ti Pajak Z Pajak per unit output MBi 0 Q* Pada kondisi dimana aturan main pilihan umum sudah ada. untuk mencapai titik keseimbangan politis. Z. Suatu usulan yang pernah ditolak masih mungkin akan diterima bila distribusi manfaatnya dirubah sehingga sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemilih. Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu keputusan yang paling diinginkan.55 Pada Gambar 8. ada dua hal yang perlu dipertimbangkan yaitu porsi pajak (ti) dan distribusi benefit (MBi). dimana jumlah barang publik yang diproduksi adalah sebesar Q* dan porsi pajak sebesar ti. Usulan untuk meningkatkan output yang ditolak pada tingkat pajak tertentu. Gambar 8. Jadi. penambahan yang dilakukan diatas titik Q* akan membuat kondisi i lebih buruk karena pajak yang ia bayar melebihi marginal benefit yang ia terima. Titik equilibrium juga dapat dipengaruhi oleh distribusi manfaat (benefit). marginal benefit bagi individu i sama dengan porsi pajaknya. penentuan hasil pemilihan umum akan tergantung pada besarnya alokasi pajak yang dibebankan pada setiap pemilih. Setiap individu akan bertindak seolah-olah barang publik tersebut bisa dibeli di pasar bebas dengan harga ti dan akan mendukung kebijakan yang berkaitan dengannya sepanjang manfaat yang mereka terima melebihi biaya (pajak) yang harus mereka keluarkan. Setiap penambahan output barang publik dari titik 0 sampai dengan titik Q* akan membuat kondisi individu i lebih baik.

Di negara demokrasi. tingkat partisipasi masyarakat untuk ikut pemilu lebih rendah dibanding dengan negara bagian lain yang tidak dikuasai oleh satu partai. partisipasi masyarakat untuk datang ke tempat pemilihan sangat tinggi. Ada juga orang yang percaya bahwa suara mereka terlalu kecil dan tidak mungkin akan mempengaruhi hasil pemilihan. ada beberapa pemilih yang menentukan pilihannya berdasarkan informasi yang terbatas. pilihan mereka mungkin saja berbeda dari yang sebelumnya. Namun demikian. Karena pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk ikut pemilihan sudah jelas. Kenyataannya. Pada negara bagian yang anggota legislatifnya mayoritas dikuasai oleh satu partai. Mereka beranggapan bahwa probabilitas suaranya akan mempengaruhi hasil pemilihan sangat kecil (bahkan mendekati nol) bila jumlah peserta pemilunya sedemikian besar. Dampaknya. hasil suatu pemilihan tidak tergantung pada orang-orang yang tidak memilih (di Indonesia biasa disebut golongan putih atau golput).56 Namun demikian. Namun demikian. Informasi juga merupakan alasan seseorang untuk memberikan suaranya. dimana apapun pilihan masyarakat. di beberapa negara-negara yang tidak mewajibkan penduduknya untuk memilih. Jika setiap penduduk berpikiran seperti diatas. Alasan mereka enggan untuk ikut memilih adalah karena anggapan bahwa suara mereka akan jatuh ke orang yang sama. Hal ini cukup merepotkan bagi sebagian orang. maka tujuan diadakannya negara demokrasi tidak tercapai karena semua penduduk tidak ada yang memberikan suaranya. Kadang pemungutan suara dilakukan pada waktu yang tidak tepat. pemilu dijadikan kewajiban bagi penduduk yang telah memenuhi syarat dengan maksud untuk menghindari free rider. Di Amerika Serikat telah ditemukan beberapa fakta bahwa tingkat partisipasi warga negara terhadap pemilu terkait pada mayoritas partai tertentu. Jika mereka memiliki informasi yang memadai. atau tempat pemungutannya terlalu jauh sehingga orang tidak bisa hadir. orang-orang yang ”golput” ini akan mengikuti saja arus keinginan (free riders) dari orang-orang yang ikut pemilihan. internet. hal ini juga menjadi alasan seseorang untuk tidak ikut memberikan suaranya. sedangkan manfaatnya belum jelas. sebelum seseorang memberikan suaranya ia harus mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seperti surat kabar. Kadangkala. Beberapa hal yang menyebabkan orang enggan untuk memberikan suaranya adalah kendala waktu dan tempat. majalah. Ini membuktikan bahwa ada motivasi lain yang mendorong mereka untuk datang ketempat pemilihan seperti kebanggaan sebagai warga negara atau rasa kebersamaan antar sesama pemilih. alasan seseorang untuk memberikan suaranya tidak melulu didasari atas untung rugi semata namun bisa juga didasari atas kewajibannya sebagai seorang warga negara. Kondisi ini mirip ketika Indonesia hanya mengakui tiga partai peserta pemilu pada masa orde baru. yang menjadi presiden dengan mudah dapat diperkirakan. dan sebagainya untuk meyakinkan bahwa suaranya nanti ditujukan pada pilihan yang tepat. Hal lain yang juga menjadi kendala adalah informasi. Ketika seseorang menentukan pilihan berdasarkan informasi yang tidak memadai atau Dasar-dasar Keuangan Publik .

yang akan ditentukan melalui pemungutan suara yang diikuti oleh 10 pemilih. Aturan main dari pemilu itu sendiri. Dalam contoh diatas. minimal. setengah plus satu dari seluruh peserta pemilihan. yaitu pemenang pemungutan suara akan diperoleh bila mampu mengumpulkan. maka sangat mungkin hasil yang ia capai tidak berbeda dibandingkan jika ia menjadi ”golput”. Cost.2: Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas 350 E MB = AC Marginal Benfit. Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas (Majority Rule) Dalam melakukan pemungutan suara dikenal aturan simple majority rule. seandainya jumlah pemilih hanya 9. Distribusi manfaat ke setiap pemilih Jika salah satu dari kelima faktor diatas berubah. maka titik equilibriumnya pun akan berubah sesuai dengan faktor perubahannya. seseorang harus mempunyai informasi yang lengkap mengenai konsekuensi dari setiap pilihan yang diambilnya. Gambar 8. 4. Pilihan A akan menang jika minimal ada 6 orang (10/2 +1) yang memilih A. Biaya marjinal dan biaya rata-rata dari barang publik Informasi yang tersedia mengenai untung rugi yang terkait dengan kebijakan tersebut Distribusi pajak ke setiap pemilih. Untuk dapat menetapkan pilihan dengan benar. 2.57 salah. Bila jumlah pemilihnya ganjil. maka yang paling banyak mengumpulkan suara adalah pemenangnya. maka pemenangnya adalah yang mampu mengumpulkan 5 suara. 5. Misalkan ada dua pilihan. Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suatu pemilihan umum dalam menghasilkan keputusan tentang kebijakan publik adalah: 1. dan Pajak (rupiah) Σ MB 50 MBA MBB MBC MBM MBF 4 5 MBG 6 7 t 0 1 2 3 Jumlah satpam per minggu Dasar-dasar Keuangan Publik . 3. A atau B. yaitu bagaimana kriteria untuk menerima atau menolak kebijakan publik.

dan seterusnya. semua warga setuju untuk memperkerjakan seorang satpam karena marginal benefit yang diterima setiap warga berada diatas iuran yang harus dibayar. Pada pemungutan suara yang kedua untuk menambah jumlah satpam menjadi 2 orang. ketujuh warga tersebut akan melakukan voting untuk persetujuan atas setiap penambahan satu orang satpam yang akan mereka pekerjakan. B. B menghendaki 2 orang. namun jika disetujui kurang dari setengah maka akan dibatalkan. Namun demikian. Hal ini telah sesuai dengan rumus AC/n = Rp50 ribu. G. Hasil Pemungutan Suara menurut Aturan Mayoritas Sekarang. Asumsikan ada n orang yang tinggal dalam satu komunitas dimana Average Cost (AC) dan beban pajak untuk setiap barang publik sudah ditetapkan. 6 satpam. maka setiap warga akan menikmati keamanan dalam porsi yang sama. dimana masing-masing individu dapat mengkonsumsi barang sesuai yang diinginkannya tanpa memperdulikan individu yang lain. ketujuh warga tersebut harus menentukan kesepakatan tentang berapa orang satpam yang dibutuhkan untuk menjaga lingkungan mereka. yaitu Rp350 ribu. bila penambahan seorang satpam disetujui oleh lebih dari setengah warga yang ikut memilih maka penambahan tersebut akan dilaksanakan. Dalam contoh diatas. 3 satpam.2. C. Hasil dari pemungutan suara mereka tercantum dalam Tabel 10. Setiap orang akan mendapat beban pajak yang sama besarnya yaitu sebesar AC/n untuk setiap unit barang publik yang dikonsumsi. Ketentuannya. A tidak setuju terhadap usulan tersebut karena baginya jumlah iuran yang dibayarkan melebihi manfaat Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan demikian pajak (t dalam hal ini adalah iuran) yang harus ditanggung oleh masingmasing warga untuk membiayai seorang satpam adalah Rp50 ribu per minggu (Rp350 ribu/7). Umpamakan gaji seorang satpam adalah Rp350 ribu per minggu sehingga average cost dan marginal cost dari barang publik ini adalah sama. F.1. 4 satpam. Karena keamanan lingkungan merupakan barang publik. Pada pemungutan pertama kali. Misalkan sekarang ada tujuh orang warga yang sedang berembuk untuk menentukan berapa orang satpam yang diperlukan untuk mengawasi wilayah tempat tinggal mereka. marginal benefit ketujuh orang tersebut berbeda-beda seperti yang ditunjukkan pada kurva A. 5 satpam. kemudian dari 1 menjadi 2 satpam. Diantara mereka telah ada kesepakatan bahwa keamanan lingkungan adalah barang publik yang harus disediakan dan didanai oleh mereka sendiri.1 menunjukkan hasil pemungutan suara untuk setiap penambahan seorang satpam yang akan dipekerjakan. 2 satpam. A menghendaki hanya seorang satpam saja yang dibutuhkan. Pemungutan suara dimulai dengan penambahan dari 0 satpam menjadi 1 satpam. M. dan H dalam Gambar 8. Hal ini berbeda dengan barang pribadi. Tabel 8. kemudian dari 2 menjadi 3 satpam. dan seterusnya hingga H yang menghendaki 7 orang. atau 7 satpam.58 Berikut ini akan penulis berikan contoh penerapan simple majority rule dalam keuangan publik. Asumsikan dalam setiap pemungutan suara tidak ada yang abstain. Ada tujuh alternatif keputusan yang akan diambil yaitu memperkerjakan 1 satpam.

titik keseimbangan politis tentang jumlah satpam yang akhirnya dipekerjakan untuk mengawasi lingkungan mereka adalah 4 orang per minggu. yang keputusan ideal baginya adalah 4 orang satpam sesuai kurva marginal benefitnya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Besarnya iuran yang harus ditanggung tiap warga adalah Rp200 ribu per minggu. dan H akan memilih 4 satpam. maka hasil pemungutan suaranya akan selalu dimenangkan oleh warga yang pro dengan jumlah 4 orang satpam. F. hanya 3 warga saja yang menyetujuinya sehingga usulan tersebut ditolak. dan C) memiliki keputusan ideal yang kurang dari 4 orang satpam sedangkan F. Ketika melakukan pemungutan yang ketiga. yaitu A dan B.1: Hasil Pemungutan Suara Penambahan jumlah satpam per minggu 1 A B Warga C M F G H Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju 2 setuju setuju setuju setuju setuju setuju setuju 3 4 5 6 7 Setuju tdk setuju Tdk setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Tdk setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Tolak tdk setuju tdk setuju setuju setuju tolak tdk setuju Setuju Tolak Keputusan Setuju Pemilih Menengah (Median Voter) Pemilih menengah adalah pemilih yang keputusan ideal dirinya merupakan median dari keputusan ideal seluruh pemilih yang ikut voting. ada 2 orang yang tidak setuju atas penambahan jumlah satpam menjadi 3 orang. Tabel 8.59 yang ia terima. M. maka penambahan satpam tersebut akhirnya disetujui. Ingat. B. Namun. Dengan demikian. lagi-lagi usulan ini disetujui karena didukung oleh 5 warga lainnya. jika diajukan pilihan 4 orang satpam atau 2 orang satpam. Pada contoh di atas. dalam voting A. adalah pemilih menengah. G. dan H memiliki keputusan ideal lebih dari 4 orang satpam. Sedangkan keputusan ideal bagi seluruh warga berkisar dari 1 orang sampai 7 orang satpam. Namun karena 6 warga lainnya setuju. Sebagai bukti. B dan C akan memilih 2 satpam sedangkan M. Jika jumlah 4 orang satpam ini dibandingkan dengan jumlah yang lain. G. apabila memperkerjakan 2 orang satpam maka iuran masing-masing warga menjadi Rp100 ribu per minggu (Rp700 ribu / 7). Hal ini karena jumlah 4 orang satpam adalah keputusan politis yang paling diinginkan (ideal) melalui sistem Aturan Mayoritas. maka dengan memperhatikan kurva marginal benefit masing-masing warga. Ketika usulan penambahan jumlah satpam dari 4 menjadi 5 orang diajukan. Tiga warga (A.

maka political externalities nya akan kecil. Jadi. B. maka akan semakin tinggi tingkat kekecewaan terhadap keputusan yang dihasilkan dengan cara aturan mayoritas. maka hanya pemilih menengah saja yang keputusan idealnya sama dengan keputusan hasil voting dengan menggunakan Aturan Mayoritas. G. agar ke-6 warga lainnya setuju memperkerjakan 4 orang satpam maka iuran yang harus A. Pada kasus ekstrem dimana semua warga memiliki kurva marginal benefit yang sama. atau membelinya secara langsung melalui mekanisme pasar. B. yang diperlukan untuk mencapai suatu kesepakatan.60 Jika marginal benefit dari barang publik bagi seluruh warga didalam contoh berubah. semua warga adalah pemilih menengah. dan sebagainya. warga yang keinginannya untuk memperkerjakan satpam semakin kecil atau semakin besar dari dari 4 orang maka akan makin kecewa dengan hasil keputusan yang dibuat. Warga yang keputusan idealnya berbeda dengan keputusan ideal pemilih menengah akan mengkonsumi lebih banyak ataupun lebih sedikit dari yang sesungguhnya mereka inginkan jika mereka dapat menyewa tenaga satpam sendiri-sendiri. Dengan demikian. dan H harus lebih besar dari Rp200 ribu per minggu. baik waktu. political externalities dialami oleh keenam warga selain M. Dalam hal ini A dan H adalah yang paling kecewa. F. semua orang setuju atau tidak setuju. jika ada lebih dari dua kemungkinan keputusan yang dihasilkan dalam suatu pemungutan suara. Kekecewaan paling tinggi dialami oleh orang yang keputusan ideal bagi dirinya terletak paling jauh dari keputusan ideal si pemilih menengah. sedangkan C dan F mungkin tidak terlalu kecewa. Di lain pihak. maka tidak terdapat political externalities. Jika keputusan voting dihasilkan dari suara yang bulat. Oleh karena itu. Hal yang sama juga akan terjadi bila masing-masing warga kenakan jumlah iuran yang tidak sama. Dalam contoh diatas. usaha. dan C bayarkan harus lebih kecil dari Rp200 ribu per minggu. Semakian jauh jarak perbedaan antara keputusan ideal pemilih menengah dengan keputusan ideal warga lainnya. C. G. Political Externalities adalah potensi kesejahteraan yang hilang yang dialami oleh voter yang keinginan idealnya berbeda dengan hasil keputusan voting. Pihak-pihak lain selain pemilih menengah akan tetap menerima hasil keputusan voting tersebut meskipun diantara mereka ada yang kecewa. masyarakat harus membandingkan antara political externalities dengan political transaction cost nya. keputusan ideal bagi pemilih menengah akan selalu sama dengan titik keseimbangan politis bila aturan mayoritas diterapkan. untuk mencapai keputusan yang bulat diperlukan political transaction cost yang cukup besar. dalam memilih instistusi politis. Political externalities akan hilang jika iuran bagi A. Jika keputusan untuk memproduksi barang/jasa memerlukan kesepakatan bulat atau mendekati bulat dari semua warga. maka keputusan yang dihasilkan melalui voting adalah keputusan bulat dimana semua warga menyetujui usulan yang diajukan. Pada kasus ekstrem ini. Hal ini adalah faktor yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah sebelum memutuskan untuk mengadakan/ memproduksi sendiri barang/jasa. Pada contoh kita. Political transaction cost adalah seluruh pengorbanan. Dasar-dasar Keuangan Publik . dan H disesuaikan sesuai dengan marginal benefit masing-masing warga. sedangkan bagi F.

dan C dikenakan Rp25 ribu per festival. maka ia lebih memilih yang paling banyak daripada yang moderat. maka pilihan utamanya jatuh pada 3-festival. A adalah orang yang suka pesta. C adalah orang moderat yang pilihan utamanya jatuh pada 2-festival. sehingga yang meraih 2 suara itulah yang menang. Pada kasus tertentu. Pemenang voting ditentukan dengan aturan mayoritas sederhana. Agar lebih jelas. yaitu: 1 kali festival per tahun. artinya hanya ada satu yaitu 4 orang satpam per minggu. B adalah orang yang ekstrem. Misalkan. memuat informasi mengenai urutan preferensi setiap warga atas alternatif yang diajukan. Semakin jarang festival dilakukan. Pilihan utama B jatuh pada 1 kali festival. political equilibrium dengan menggunakan aturan mayoritas dapat lebih dari satu. penulis coba memberikan contoh kasus dimana tidak terdapat political equilibrium yang unik. Setiap penyelenggaraan festival memakan biaya sebesar 200 ribu rupiah. dan C) yang hendak menentukan banyaknya penyelenggaraan festival dalam setahun. dan 3 kali festival per tahun. maka warga yang memilih 4 satpam akan selalu menjadi mayoritas.2: Urutan Preferensi Pilihan 1 Pilihan 2 (utama) 3-festival 2-festival 1-festival 3-festival 2-festival 1-festival Warga A B C Pilihan 3 1-festival 2-festival 3-festival Dasar-dasar Keuangan Publik . sedangkan pilihan keduanya adalah 3-festival. semakin kecil ia menerima net benefit. political equilibrium yang dihasilkan adalah unik. Tabel 8. Bila jumlah 4 orang satpam dibandingkan dengan jumlah yang lain. 2 kali festival per tahun. Faktor yang dapat mempengaruhi antara lain adalah urutan dalam melakukan pemungutan suara. Tabel 8. Setiap penambahan maupun pengurangan frekuensi festival akan membuat net benefit yang diterimanya semakin kecil. Warga A dikenakan iuran Rp100 ribu per festival. Ada tiga alternatif yang diajukan oleh warga. Jika tidak mendapatkan yang paling sedikit. warga B dikenakan Rp75 ribu per festival.2. kemudian dilakukan voting.61 Masalah Pemungutan Suara dengan Aturan Mayoritas Pada contoh kita di atas. B. ada tiga warga (A. Jika ini terjadi maka penentuan keputusan yang menang dipengaruhi oleh faktor lain diluar dari manfaat dan biaya yang sudah dihitung sebelumnya.

Titik optimal A adalah pada 1 kali festival dan titik optimal C adalah pada 2 kali Dasar-dasar Keuangan Publik .3: Preferensi terhadap penyelenggaraan festival Single peak * Net benefit A * * Festival 2 1 3 * Net benefit B ** Multiple peaks Single peak * Net benefit B * * Festival 2 * 1 Festival 2 3 1 3 Single peak * Net benefit C * * 1 Festival 2 3 Gambar 8.62 Gambar 8.3 menunjukkan grafik preferensi masing-masing warga atas frekuensi festival yang ditawarkan. sekali penyelenggaraan festival masih lebih baik dibanding dengan tiga kali festival per tahun. Grafik C menunjukkan bahwa C menikmati net benefit tertinggi jika hanya 2 kali saja diadakan festival per tahun. Grafik A menunjukkan konsistensi warga A pada net benefit yang semakin besar jika makin sering diadakan festival. Penambahan maupun pengurangan frekuensi festival membuatnya menerima net benefit yang makin kecil. Namun demikian. A dan C disebut memiliki preferensi tunggal (single-peak preferences) karena hanya mempunyai satu titik optimal atas preferensi yang paling diinginkan.

Hasil dari pair-wise elections tercantum dalam tabel 10. Pada grafik B. Tetapi. 1festival menang karena B dan C mendukungnya. ia akan mendapatkan net benefit yang lebih baik. 2) perang dengan kekuatan sedang. jika alternatif yang ditawarkan berlanjut pada arah yang sama. maka lebih baik AS tidak perlu mengirimkan tentaranya ke Vietnam karena hanya akan mengorbankan tentara saja. Jika militer AS tidak diperkenankan menggunakan kekuatan penuhnya. Kemudian. Pada pemilihan pertama. dan C). Tabel 8. opini yang timbul di masyarakat AS adalah jika ingin perang melawan Vietnam maka harus dengan menggunakan kekuatan penuh. 1-festival dibandingkan dengan 2-festival. bila kemudian diajukan lagi 3 kali festival yang paling sering. maka net benefit B menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Pada pemilihan ini 3-festival menang karena hanya C yang menolaknya. Fenomena ini disebut dengan cycling. Pemilihan berikutnya dilakukan untuk membandingkan antara 3-festival dan 1-festival. pemilihan terakhir dilakukan untuk membandingkan antara 2-festival dan 3-festival. Karena hanya ada 3 warga yang mengikuti pemilihan (A. Contoh nyata dimana preferensi jamak pernah muncul adalah ketika Amerika melakukan perang melawan Vietnam. arah alternatif frekuensi yang ditawarkan adalah mulai dari yang paling jarang (1 kali) hingga yang paling sering (3 kali). tetapi akhirnya 3-festival dapat mengalahkan 2festival. Setiap alternatif mempunyai kesempatan untuk menang tergantung dengan siapa ia dibandingkan. Fenomena Cycling Pemilihan berpasangan (pair-wise elections) adalah pemilihan yang membandingkan 2 alternatif diantara 3 atau lebih alternatif yang tersedia. Namun.63 festival.3: Hasil Pemungutan Suara dengan Pemilihan Berpasangan (Pair-Wise) Dasar-dasar Keuangan Publik . B disebut memiliki preferensi jamak (multiple-peaked preferences) karena ketika tidak mendapatkan preferensi optimalnya maka ia menerima net benefit yang lebih rendah.3. maka alternatif yang meraih 2 suara akan menang. dengan kata lain tidak ada perang. 2 kali. Dengan cara seperti ini. 1) perang dengan full power. atau 3) tidak perang. kemudian 3. Hasilnya 2-festival menang karena didukung oleh A dan C. bila perlu menggunakan senjata nuklir agar kemenangan cepat diraih. dan terakhir 2. Hal ini terlihat pada garis yang menurun pada Grafik B di atas. Dilain pihak. Jika B ditawarkan 2 kali festival maka net benefit yang ia terima menjadi lebih rendah. dan 3 kali festival. maka urutan preferensi di masyarakat adalah nomor 1. 2-festival mengalahkan 1-festival. Ketika itu. maka net benefit mereka akan semakin rendah. B. Titik optimal tertinggi B adalah pada sekali festival saja. kemudian 1festival mengalahkan 3-festival. Jika tidak mendapatkan titik optimal tersebut. Dalam 3 kali pemilihan. Kali ini. Berikut ini akan kita lakukan pair-wise elections untuk setiap alternatif yang tersedia yaitu 1 kali. voting dengan aturan mayoritas sederhana akan menemui jalan buntu karena setiap alternatif mempunyai kesempatan untuk menang. ketika ada 3 pilihan yaitu. Jadi.

4 dan Gambar 8. Tabel 8. Urutan pilihan terhadap berbagai alternatif dan grafik net benefit dengan masuknya warga B’ adalah seperti tercantum pada Tabel 8. Kali ini. Jika semua voter memiliki preferensi tunggal. Dengan masih menggunakan contoh sebelumnya. warga B diganti dengan warga B’ yang memiliki preferensi tunggal. akan penulis tunjukkan contoh dimana political equilibrium dapat terwujud jika tidak ada warga yang memiliki preferensi jamak. disebabkan oleh adanya preferensi jamak (multiple-peaked preferences). Asumsikan B’ membayar iuran yang besarnya sama dengan B.64 Pemilihan I 1-festival A B C Total suara Hasil : 2-festival menang X 1 suara Pemilihan II 3-festival X 1 suara Pemilihan III 2-festival X 1 suara 2-festival X X 2 suara 1-festival X X 2 suara A B C Total suara Hasil : 1-festival menang A B C Total suara Hasil: 3-festival menang 3-festival X X 2 suara Penyebab Cycling Cycling dan tidak adanya political equilibrium dengan menggunakan pairwise election dalam aturan mayoritas. maka aturan mayoritas akan mampu menghasilkan political equilibrium untuk setiap isu yang dibahas. Titik equilibrium tersebut akan terletak pada median dari semua voter.4: Urutan Pilihan Berbagai Alternatif Pilihan 1 Pilihan 2 (utama) 3-festival 2-festival 1-festival 2-festival 2-festival 1-festival Warga A B C Pilihan 3 1-festival 3-festival 3-festival Dasar-dasar Keuangan Publik .4.

Median puncak terletak pada 2festival per tahun dan karena C memiliki preferensi utama pada titik ini maka ia adalah pemilih median. Walaupun 1-festival dapat mengalahkan 3festival pada Pemilihan II. Dengan hasil ini maka 2-festival akan menjadi political equilibrium karena dapat mengalahkan dua alternatif lainnya yaitu 1-festival dan 3-festival. B akan menerima net benefit tertinggi jika festival diselenggarakan hanya satu kali saja per tahun. Hasil pairwise election tanpa adanya preferensi jamak tercantum pada Tabel 8. yaitu dimenangkan oleh 2-festival dan 1-festival.4 di atas. Hasil Pemilihan I dan Pemilihan II berturut-turut masih sama dengan yang sebelumnya. Dengan tidak adanya preferensi jamak maka hanya satu political equilibrium yang muncul yaitu milik median voter. Sekarang.4: Net Benefit Berbagai Alternatif titik puncak voter C titik puncak voter B’ * * Net benefit * titik puncak voter C * * * * * 0 1 2 3 Jumlah festival per tahun Pada Gambar 8. Dasar-dasar Keuangan Publik . kini semua warga memiliki preferensi tunggal dan setiap ada perubahan keputusan diluar preferensi utama akan mengakibatkan menurunnya net benefit yang mereka terima. Pada Pemilihan III. sedangkan B’ kali ini memiliki preferensi tunggal. Dengan kondisi ini. dengan tidak adanya preferensi jamak maka kali ini dimenangkan oleh 2-festival karena didukung oleh B’ dan C.65 Gambar 8.5. mari kita lakukan pair-wise election kembali dengan kondisi seperti di atas. A dan C masih memiliki preferensi yang sama seperti yang sebelumnya. namun 1-festival akan kalah dalam pemilihan jika dibandingkan dengan 2-festival.

maka diperlukan N/N suara yang mendukung keputusan tersebut. Ketika setiap keputusan selalu dibuat oleh kelompok minoritas maka hal ini disebut oligarki. kandidat atau suatu keputusan dapat dimenangkan walaupun hanya didukung kurang dari setengah peserta yang melakukan voting.5: Pair-Wise Election tanpa ada Preferensi Jamak Pemilihan I 1-festival 2-festival A X B’ X C X Total suara 1 suara 2 suara Hasil : 2-festival menang Pemilihan II 3-festival 1-festival A X B’ X C X Total suara 1 suara 2 suara Hasil : 1-festival menang Pemilihan III 2-festival 3-festival A X B’ X C X Total suara 2 suara 1 suara Hasil: 2-festival menang Metode Pemungutan Suara Simple Majority Rule Misalkan jumlah masyarakat yang mengikuti voting adalah N. dengan menggunakan simple majority rule jika ada 100 orang yang mengikuti voting. maka kandidat yang mengumpulkan 51% suara adalah pemenangnya. Dengan metode simple majority rule. Sistem ini dilakukan pada negara yang berbentuk kerajaan atau pada negara yang dipimpin oleh seorang diktator. Hal yang paling ekstrem dari minority rule adalah ketika suatu keputusan dibuat oleh satu orang saja. kandidat yang mampu mengumpulkan ( N/2 + 1 ) / N suara adalah pemenangnya. maka kandidat tersebut harus mampu mengumpulkan 100% suara agar bisa jadi pemenangnya. Pada kasus ini. Dengan metode ini. Dasar-dasar Keuangan Publik . Contoh. Bila yang dibutuhkan adalah keputusan bulat.66 Tabel 8. risiko munculnya ketidakpuasan akan lebih tinggi dibanding dengan menggunakan majority rule. Jika dibutuhkan keputusan yang bulat. Minority Rule Dengan metode Minority Rule.

Dengan menggunakan metode plurality rule. 3. dan 2. Contoh. Alternatif I II III A 5 3 2 Tabel 8.Sebagai contoh. Akibatnya. dan 3) yang hendak dipilih salah satunya melalui voting.67 mungkin tidak akan pernah diadakan pemungutan suara. dan alternatif III tidak penting. perhatikan tabel berikut ini. pemilih diberikan sejumlah point (misalkan 10) untuk kemudian dibagi-bagikan ke masing-masing alternatif menurut tingkat kepentingan yang mereka rasakan. Namun demikian dampak positifnya adalah setiap voter diberi kesempatan untuk memberikan preferensinya ke masing-masing Dasar-dasar Keuangan Publik . C. perlu dilakukan pemilihan ulang yang tentunya akan menambah biaya dan memakan waktu. Pada metode plurality rule. Dengan metode majority rule maka tidak ada pemenangnya. Pada contoh di atas. 32% suara memilih 2. hal yang sama dilakukan oleh B. Jadi. Metode ini mempunyai efek samping yaitu dapat menimbulkan transaksi jual-beli point antar sesama voter. Bila 32% suara memilih 1. 2. dan 36% suara memilih 3 maka tidak ada alternatif yang memperoleh suara diatas 50%. maka kondisi diatas dapat ditentukan pemenangnya yaitu alternatif 3 karena memperoleh porsi suara yang terbanyak (36%) jika dibanding dengan 2 lainnya. A dan D sama-sama menganggap alternatif I penting. karena keputusan ditentukan sepenuhnya oleh satu orang saja. Hal ini dapat memicu ketidak stabilan karena keputusan tidak didukung oleh suara mayoritas. ada tiga alternatif (1. Ia mendistribusikan point ke masingmasing alternatif tersebut sebesar 5. dengan plurality rule pemenangnya ditentukan oleh alternatif yang memperoleh porsi suara paling besar. yang jadi pemenangnya adalah alternatif I karena memperoleh point paling banyak. Bila kita perhatikan.6: Point Voting B C 2 5 2 5 6 0 D 10 0 0 Total 22 10 8 Misalkan setiap pemilih memperoleh 10 point untuk dibagikan ke masingmasing alternatif. Dengan metode ini. Salah satu kelemahan dari Majority Rule adalah bila lebih dari 2 alternatif untuk diputuskan maka terdapat kemungkinan dimana tidak ada alternatif yang memperoleh suara mayoritas. Plurality Voting Metode Plurality Rule umum dilakukan bila sekurang-kurangnya ada 3 alternatif yang hendak diputuskan. alternatif 3 (36%) adalah minoritas jika dibanding dengan alternatif 1 plus alternatif 2 (64%). Point Voting Pada metode point voting. dimungkinkan suara minoritas untuk menjadi pemenangnya. alternatif II kurang penting. A menganggap alternatif I paling penting. namun D memberikan seluruh point nya ke alternatif I tanpa membagi kepada alternatif lainnya. dan D.

d. Untuk lebih jelasnya penulis berikan contoh sebagai berikut. misalkan didapat hasil sebagai berikut. peringkat 2 untuk kandidat I. dan C yang memilih kandidat I sebagai peringkat pertama.895 4. Misal. kandidat II mengumpulkan 48. 4 suara diberikan kepada kandidat III. dan 173 voter yang memberikan peringkat pertama pada kandidat IV. dan peringkat terakhir untuk kandidat IV. C. Menurut hasil pemilihan pertama ini.7: Pemungutan suara I C D E 1 2 4 3 3 1 4 4 2 2 1 3 … … … … … Total 38 4. Dari 38 orang yang memilih kandidat I. dst. Instant Runoff Voting Instant runoff voting merupakan penyempurnaan dari majority rule dan plurality rule. kita akan melihat bagaimana mereka menyusun peringkat untuk kandidat II.).38% 48. Karena kandidat I tersisih. Walaupun sama-sama menganggap alternatif I penting. kandidat III mengumpulkan 48. Seandainya pada pemungutan suara I ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50% suara maka otomatis dialah pemenangnya dan tidak perlu ada instant runoff.73%. IV) yang akan dicari pemenangnya melalui pemungutan suara yang diikuti oleh 10. dan IV. Voter yang lainnya juga diminta untuk melakukan hal yang sama sehingga dicapai hasil seperti pada tabel dibawah ini. III. belum ada kandidat yang mencapai suara mayoritas karena kandidat I baru mengumpulkan 0. voter D memberi peringkat 1 untuk kandidat III.95% 48. Suara B dialihkan ke kandidat IV dan suara C juga dialihkan ke kandidat IV. B.894 voter memberikan peringkat pertama pada kandidat III. mari kita perhatikan preferensi A. 4. peringkat 3 untuk kandidat II. Sebagai contoh.94% 1. Ada 4 kandidat ( I s. setiap kandidat dihitung perolehan peringkat pertamanya. Setelah dilakukan proses runoff terhadap 38 suara yang memilih kandidat I. Kandidat I II III IV A 1 2 3 4 B 1 3 4 2 Tabel 8. B.68 alternatif. yaitu kandidat I. kemudian membagikan porsi suaranya ke 3 kandidat lainnya berdasarkan peringkat. Hal yang harus dilakukan adalah menyingkirkan kandidat yang memperoleh suara paling kecil.94% dan kandidat IV mengumpulkan 1. D lebih tinggi preferensinya terhadap alternatif ini dibanding oleh A.38%.895 voter memberikan peringkat pertama pada kandidat II. Karena belum ada kandidat yang memperoleh mayoritas.73% Setelah pemungutan suara. maka dilakukan proses runoff yang pertama. dan 1 suara diberikan kepada kandidat IV Dasar-dasar Keuangan Publik . Setiap voter diminta untuk memberikan suara dalam bentuk peringkat untuk masing-masing kandidat. 4.95%.000 voter (A. Ada 38 voter yang memberikan peringkat pertama pada kandidat I.894 173 %tase 0. maka suara A akan dialihkan ke kandidat II karena ia berada pada urutan 2. 33 suara diberikan kepada kandidat II.

Dasar-dasar Keuangan Publik . Misalkan. kandidat IV akan tersingkir karena memperoleh porsi suara paling kecil. kandidat II menerima limpahan 17 suara dan kandidat III menerima 157 suara.945 suara (49. Kandidat II III A 2 3 B 3 4 C 3 4 Tabel 8.895 + 33 4 … 4.055 %tase 49.69 berdasarkan peringkat 2 yang mereka masukkan.898 174 %tase 49. Hasil proses runoff kedua dapat dilihat pada tabel berikut.898 + 157 Total 4. Proses pembagiannya sama seperti yang dilakukan pada runoff pertama.45% 50.55% Berdasarkan hasil runoff pertama. kandidat II memperoleh 4. Kandidat II III IV A 2 3 4 B 3 4 2 C 3 4 2 Tabel 8.95%) dan kandidat III memperoleh 5.894 + 4 1 … 173 + 1 Total 4.98% 1.28% 48. Dengan hasil ini maka kandidat III menjadi pemenangnya karena mampu mengumpulkan suara diatas 50%. Suara ini kemudian ditambahkan pada jumlah sebelumnya sehingga diperoleh hasil sebagai berikut. suara D akan dialihkan ke kandidat II karena memiliki urutan berikutnya setelah kandidat IV. 174 suara dari kandidat IV yang tersingkir akan didistribusikan ke kandidat II dan III pada runoff kedua. masih belum terdapat kandidat yang memperoleh suara mayoritas.945 5. 174 suara yang memilih kandidat IV kemudian didistribusikan ke kandidat yang tersisa berdasarkan preferensi yang diberikan oleh masingmasing voter.55%). Berdasarkan tabel di atas.928 4. Sebagai contoh.9: Runoff Kedua D … perhitungan 3 … 4. Oleh karena itu perlu dilakukan runoff kedua.8: Runoff Pertama D … perhitungan 3 … 4.055 suara (50.928 + 17 4 … 4. ketiga dan seterusnya hingga diperoleh kandidat yang memperoleh suara mayoritas. Hasil runoff pertama bisa dilihat pada tabel berikut ini.74% Setelah dilakukan runoff pertama.

sosial dan ekonominya. Berikutnya. dan pengeluaran versus belanja. Sedangkan pinjaman luar negeri digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Yang pertama. termasuk kebijakan fiskal. Agar tidak terjadi tambahan inflasi akibat adanya hutang. pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. Selanjutnya secara terus menerus diusahakan agar penerimaan dalam negeri dapat lebih tinggi dari pengeluaran rutin sehingga tercipta tabungan pemerintah yang dapat digunakan sebagai bagian belanja pembangunan. seluruh nilai hutang dipergunakan untuk kegiatan pembelian barang-barang impor. Dalam beberapa periode lanjut Seda (2004). Pengeluaran publik seperti pembayaran pokok hutang akan diikuti dengan pengurangan liabilitas publik sehingga tidak mengurangi kekayaan neto Dasar-dasar Keuangan Publik . Tujuan utama dari diterapkannya sistem ini pada awal orde baru menurut Seda (2004) dimaksudkan mengurangi hyper-inflation yang mencapai 650% akibat adanya kegiatan pencetakan uang terus menerus untuk menutupi defisit anggaran. Pada masa orde baru. maka pemerintahan yang baru akan dinilai kinerjanya oleh masyarakat melalui paket-paket kebijakan politik. Sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. J Didalam konsep anggaran perlu dibedakan antara penerimaan versus pendapatan. sistem tersebut cukup efektif mengendalikan inflasi. Kebijakan fiskal suatu negara secara keseluruhan terangkum dalam laporan anggaran tahunannya yang di Indonesia dikenal sebagai Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. Seluruh pengeluaran rutin dalam sistem ini diusahakan untuk ditutup dari penerimaan dalam negeri. Setelah itu diberlakukan balance budget yang mengakui adanya budget surplus dan budget deficit (dibahas pada subbab berikut). Sistem ini berlaku sampai dengan tahun 1999. contoh penerimaan pajak.70 B A B IX KONSEP ANGGARAN ika proses pilihan publik telah selesai. Sistem ini kemudian dikenal sebagai APBN Berimbang dan Dinamis. anggaran di Indonesia menganut sistem anggaran berimbang. Karena ada beberapa aktivitas yang mengakibatkan aliran dana masuk yang tidak menambah kekayaan neto negara. Pada sistem ini pinjaman luar negeri dimasukkan sebagai unsur penerimaan negara. seperti penerimaan kembali anggaran pengeluaran yang tidak terpakai.

Jenis Pengeluaran Jumlah Dasar-dasar Keuangan Publik . Apabila dikatakan untuk membeli barang. perlengkapan dan material serta peralatan. Pada umumnya on-budget mengalami deficit. Pengeluaran tersebut harus jelas maksud dan tujuannya. Setiap anggaran belanja menguraikan berbagai fakta yang khusus (spesifik) tentang apaapa yang direncanakan untuk dilakukan oleh unit organisasi yang menyusun anggaran belanja tersebut pada periode waktu yang akan datang. Namun ada sebagian kecil anggaran yang dibiayai dengan dedicated fund tidak dibahas oleh lembaga legislatif setiap tahunnya. maka anggaran yang dihasilkan disebut unified-budget. yaitu obyek-obyek atau itemitem apa yang akan dibeli dengan uang yang dianggarkan itu. Oleh karena itu harus disebutkan secara khusus atau spesifik. Pengolongan barang tersebut misalnya: jasa-jasa kontrak. Dari pengelompokan barang-barang inilah maka digunakan istilah obyek atau lineitems. hal ini adalah sesuatu hal yang masih sangat umum. Contoh dari off-budget adalah alokasi dana yang diperuntukkan bagi program pensiun dan tunjangan hari tua. Dalam anggaran. Anggaran memuat perkiraan dari pengeluaran uang. Contoh line-item budget adalah sebagai berikut. disebabkan setiap instansi atau Departemen mempunyai kebutuhan barang yang berbeda. Bila obyek yang ada dalam line-item budget cukup banyak. Belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. maka perlu dibuat pengelompokan ataupun penggolongan. Selanjutnya. on-budget. misalnya pembayaran bunga hutang. Jika rencana pengeluaran melebihi anggaran penerimaan.71 negara. dikenal sebagai off-budget. Rencana pengeluaran sebaiknya mengindikasikan juga urutan skala prioritas serta ekspektasi kualitas dan kuantitas layanan. disebut anggaran oyek pengeluaran atau anggaran belanja line-item. dipaparkan adanya rencana pengeluaran yang didasarkan pada ekspektasi pendapatan. sedangkan off-budget mengalami surplus. anggaran adalah suatu rencana keuangan yang merupakan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dimasa yang akan datang. Anggaran belanja line-item (line-item budgeting) Jenis anggaran belanja yang hanya membuat daftar barang-barang atau obyekobyek. Balance budget Seluruh rencana pengeluaran dan penerimaan pemerintah biasanya melalui prosedur pembahasan oleh lembaga legislatif untuk disahkan setiap tahun. tergantung pada kriteria unit atau organisasi yang bersangkutan. Apabila anggaran disusun dengan mengkonsolidasikan antara on-budget dan off-budget. Jenis-jenis Anggaran Jenis-jenis anggaran meliputi: a. maka timbul budget deficit sebaliknya jika penerimaan diproyeksikan dapat lebiih tinggi dari rencana pengeluaraan maka disebut budget surplus.

Dengan kata lain. fungsi-fungsi dan kegiatankegiatan pengeluarannya disebut anggaran berprogram (a program budget). sehingga dari catatan tersebut dapat dilihat secara tepat. Sedangkan kelemahan sistem anggaran line-items adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan. dan Program PELAYANAN UMUM PEMERINTAHAN LEMBAGA EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF. Belanja Barang III. Dengan demikian orang yang bertanggung jawab dalam membelanjakan uang itu mudah diperiksa melalui keharusan mengikuti pengeluaran sebagaimana yang telah direncanakan. kegiatan. atau misi. Belanja Pegawai II. Subsidi Daerah Otonom IV. DAN LUAR NEGERI PENYELENGGARAAN PIMPINAN Jumlah XXX XXX XXX Dasar-dasar Keuangan Publik .72 • Pengeluaran Rutin I. apakah anggaran belanja itu dipatuhi dengan baik atau tidak. Setiap barang atau kelompok barang dibuat daftarnya disertai angka nilai rupiah. Kode 01 01. Angaran belanja berprogram (a program budgeting) Suatu anggaran yang berorientasi kepada maksud dan tujuan untuk apa uang dibelanjakan. Bunga Kredit Program 2. Penggunaan kata fungsi. b. Contoh dari anggaran berprogram yang digunakan dalam menyusun APBN Indonesia Tahun 2005 adalah sebagai berikut. suatu anggaran belanja yang disusun sesuai dengan tujuan. Di samping itu. Sub Fungsi.01 01 Nama Fungsi. KEUANGAN DAN FISKAL. karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyek-obyek di mana uang itu dibelanjakan. Pembiayaan Rupiah 1. kadang-kadang diperlukan sebagai pengganti program-program. disebut anggaran berprogram (a program budget). Pembayaran Bunga & cicilan Hutang Pengeluaran Pembangunan I. Anggaran berprogram mengelompokan pengeluarannya ke dalam program-program. terdapat perbedaan pengelompokan barang-barang antara unit atau organisasi yang satu dengan unit atau organisasi barang yang diperlukan setiap organisasi tersebut dan tidak didasarkan atas perencanaan yang menyeluruh dan berkesinambungan. Pembiayaan Proyek Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX • Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran line-item ialah mudah mengawasi penggunaanya. Restrukturisasi Perbankan II. Bunga Obl. karena perkiraan kebutuhan untuk masa mendatang tidak dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang lebih luas.01 01.

sekalipun ia dianggap fungsi yang lebih penting. Oleh karena itu akan terdapat program yang mendapat dana jauh lebih sedikit dari yang lain. sebab suatu program terdiri atas unsur-unsur program. karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. yang merupakan bagian program yang lebih luas. sebab dari arti ketertiban umum itu dapat pula untuk pembangunan prasarana fisik (kantor) yang mewah bagi kepentingan ketertiban umum yang menyimpan dari tujuan yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena dalam anggaran berprogram. Kelebihan sistem anggaran berprogram adalah: 1) Memungkinkan kita membuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. Sedangkan kelemahan anggaran berprogram ialah kurang mengandung arti pengawasan didalamnya. c. Dasar-dasar Keuangan Publik . Anggaran berbasis kinerja (performance budgeting). Misalnya X rupiah untuk kepentingan ketertiban umum. Salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram dalam segi pengawasan dan tingkat keluwesan (flexibility) adalah dengan cara mengkombinasikan sifat anggaran berprogram dengan sifat anggaran berdasarkan anggaran line-item. disebabkan tidak hanya sekedar mendaftar barang-barang dan jasa-jasa yang akan dibelanjakan. tetapi penyusunan dana itu disesuaikan dengan program-programnya. anggaran belanja sistem hanya mencantumkan X rupiah untuk belanja yang satu dan Y rupiah untuk belanja yang lain. Kemudian. Anggaran belanja berbasis kinerja (performance budget) dibangun atas anggaran berprogram.01 02 01. kita dapat mengetahui tujuan serta maksud membelanjakan uang tersebut. Dengan anggaran berprogram. XXX XXX Dst.01 03 Dst. Dengan demikian tak cukup kita menggunakan suatu anggaran yang hanya menyebutkan daftar barang-barang yang akan dibelanjakan. 2) Lebih informatif. Anggaran belanja berbasis kinerja ini hanya menambahkan keterangan berapa banyak jenis pelayanan yang akan disediakan untuk melaksanakan suatu tujuan. Sekalipun demikian dapat disebut anggaran berprogram. Dengan demikian anggaran berprogram yang mempunyai perincian line-item dikaitkan dengan tujuan dari pada program. kita juga dapat menetapkan tingkat prioritas untuk membedakan bahwa program yang satu lebih penting dari program yang lain. dibandingkan dengan anggaran line-item (line-item budget).73 KENEGARAAN DAN PEMERINTAHAN PENYELENGGARAAN PIMPINAN DEPARTEMEN/ LEMBAGA PEMBINAAN PRODUK LEGISLATIF Dst. 01. bukan perincian yang sempit sifatnya. yang tidak jelas obyek-obyeknya.

yang merupakan landasan untuk penilaian kegiatan.Panjang lahan yang dibebaskan: 10 kilometer .Biaya pembebasan per kilometer: Rp50. Dengan demikian anggaran berbasis kinerja adalah anggaran pelaksanaan yang mencakup kombinasi antara anggaran belanja line-item (line-item budget). Zero-based budgeting Tidak seperti kebanyakan proses pengganggaran yang jumlah dan rincian kegiatannya didasarkan atas anggaran tahun sebelumnya seperti dinaikkan atau sama.000. dapat dijelaskan melalui konsep-konsep sebagai berikut: Tujuan Sebagaimana telah diuraikan bahwa suatu anggaran belanja yang berencana (planning budget) disusun dengan penentuan tujuan-tujuan. konsep penganggaran ini sulit dilaksanakan sehingga tidak banyak digunakan. Konsep ini banyak didukung oleh para pemerhati anggaran yang tidak menginginkan adanya pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu oleh pemerintah. Program: Peningkatan prasarana jalan Kegiatan I: Pembebasan tanah Ukuran hasil: . artinya berapa banyak suatu hasil yang dapat dibuat dengan biaya itu. obyek-obyek pengeluaran (seperti persediaan dan bahan).000 d.000.000 Jumlah Sub Total Kegiatan II: Pembangunan jalan Ukuran hasil: .Biaya per kilometer: Rp10.Panjang jalan yang dibuat: 10 kilometer . langkah selanjutnya adalah menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar.000. Konsep tujuan sangat penting dalam sistem ini. Dalam membicarakan teori PPBS. zero-based budgeting menggunakan paket-paket anggaran.000. Disamping itu Dasar-dasar Keuangan Publik . dan data-data hasil kerja.74 Ada dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja.000 600. pertama.000 Rp Rp 100. yaitu. karena orang ingin mengetahui mengapa suatu kegiatan dilaksanakan. Kedua. Contoh anggaran belanja berbasis kinerja adalah sebagai berikut. Seluruh program kegiatan pemerintah harus dijustifikasi setiap tahun dengan tidak mendasarkan atas kemiripan kegiatan yang telah selenggarakan tahun sebelumnya. Jelasnya unit ukuran yang digunakan harus menguraikan secara nyata (konkrit) apa yang akan dikerjakan. harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis.000. Namun dalam prakteknya.000 Jumlah Sub Total Total Biaya peningkatan prasarana jalan Jumlah Rp 500. anggaran berprogram (program budget). Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) PPBS dimaksudkan sebagai usaha memperbaiki sistem penyusunan anggaran belanja pemerintah yang telah diuraikan diatas.

Landasan berpikirnya adalah. yang dikelompokkan menurut tujuannya.75 dalam sistem anggaran belanja. 3) Berguna bagi tujuan akhir dari kegiatan-kegiatan sesuatu pemerintahan. Yang dimaksud dengan biaya kesempatan ialah hilangnya kesempatan untuk membelanjakan uang atau waktu atau sumber-sumber lain untuk suatu alternatif tujuan. Pendekatan sistem anggaran ini adalah mengaitkatkan satu sama lain segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi. yaitu semua manfaat dan semua biaya yang harus diperhitungkan. dibuat juga suatu perbandingan manfaat dan biaya. akan tetapi yang dimaksud disini ialah setiap penyelesaian kerja yang nyata dari seorang karyawan pemerintah adalah hasil (output) pemerintah. Konsep biaya sebagaimana digunakan dalam PPBS adalah bersifat komprehensif (lengkap). Hal ini dapat juga berupa sejumlah formulir pajak yang diproses sampai kepada pembangkit listrik yang menghasilkan sejumlah kilowatt listrik bagi kepentingan masyarakat. Akan tetapi efektivitas biaya (cost effectiveness) harus dipertimbangkan pula terhadap hasil-hasil dari sudut manfaat biaya (cost-benefits). Pengukuran biaya dan manfaat kegiatan pemerintah. Oleh karena itu PPBS menghendaki agar dalam pengambilan keputusan yang rasional memasukkan biaya kesempatan (opportunity cost) sebagai bagian dari biaya-biaya yang relevan terhadap output. ialah: 1) Berguna untuk mengukur efisiensi dan produktivitas dalam pengertian manajemen. Output. Sekalipun belum ada kesepakatan mengenai definisi hasil (output). Pandangan yang paling umum mengenai hasil dari suatu institusi ialah konsep output yang universal. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hasil ialah barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan untuk disalurkan keluar pemerintah. 2) Berguna dalam menilai keputusan-keputusan alokasi sumber. bahwa dalam menghitung biaya produksi sesuatu produk (manfaat). Adapun kelebihan penentuan tujuan. Konsep output yang universal beranggapan bahwa setiap penyelesaian kerja yang nyata dari suatu karyawan pemerintah dapat dipandang sebagai output. ditunjukkan hubungan antara cita-cita atau tujuan pemerintah dengan kegiatan pemerintah. Analisis menghitung hubungan antara besarnya input (biaya) dan besarnya output (hasil-hasil yang dicapai) disebut input output analysis. dimana manfaat-manfaat yang dinyatakan dalam nilai uang dibagi dengan biayaDasar-dasar Keuangan Publik . Misalnya kegiatan menghadiri rapat akan menghilangkan kesempatan untuk melakukan pekerjaan lain yang memperoleh hasil. Untuk itu. Ukuran efektivitas biaya menunjukkan jumlah hasil-hasil yang dapat dicapai dengan mengeluarkan sejumlah rupiah tertentu. kita harus melihat secara menyeluruh biaya-biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan secara nyata. disamping mengukur biaya-biaya maupun manfaat menurut nilai sekarang.

dan pembiayaan defisit. pemerintah berkewajiban menyusun dan mengajukan rancangan anggaran. PPBS menitikberatkan pada pertimbangan rasional yang didasarkan atas data dan informasi. sehingga asumsi itu bersifat rasional dan objektif. obyektif. dan informasi terkait lainnya. Peran lembaga legislatif dalam proses penyusunan anggaran menyebabkan proses penyusunan menjadi lebih demokratis. Hal ini disebabkan karena hasil analisis itu mungkin diuji oleh analis-analis lain dan mungkin diulangi lagi dengan menggunakan susunan asumsi yang berbeda. dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. karena biayanya lebih besar dari pada manfaatnya. defisit/surplus. maka simpulannya adalah bahwa proyek itu tidak layak. Jika perbandingan itu lebih besar dari satu (>1) maka simpulannya adalah bahwa proyek tersebut layak. data aktual dan proyeksi perekonomian. Umpamanya : manfaat Biaya = Rp50 juta Rp25 juta = 2 = 2 (>1) 1 Sebaliknya seandainya rasio itu adalah kurang dari satu (<1). transparan. termasuk lembaga legislatif. Mekanisme analisis data dan informasi harus jelas. transfer. yang di Indonesia disebut APBN. Selain itu juga dimuat perkiraan terperinci pengeluaran dan penerimaan departemen/lembaga. dan kebijaksanaan pemerintah. Penyusunan anggaran negara merupakan rangkaian aktifitas yang melibatkan banyak pihak. tidak termasuk anggaran pendapatan dan pelanja pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan milik negara. Hal ini berarti bahwa semua asumsi yang dipergunakan sebagai dasar pertimbangan harus dibuat dan didukung oleh data atau informasi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. dan proyek. Istilah APBN yang dipakai di Indonesia secara formal mengacu pada anggaran pendapatan dan belanja pemerintah pusat. Sebelum dibahas oleh lembaga legislatif. akan tetapi kecenderungan untuk menutupi atau menyembunyikan data kunci harus dapat dihindarkan.76 biaya. Rancangan ini memuat asumsi umum yang mendasari penyusunan anggaran seperti perkiraan penerimaan. pengeluaran. Objektivitas yang selengkap-lengkapnya barang kali tidak mungkin diperoleh. Dasar-dasar Keuangan Publik . Umpamanya : manfaat Biaya = Rp25 juta = Rp50 juta = 1 (<1) 2 Analisis yang terbuka dan jelas Analisis yang terbuka dan jelas merupakan asumsi yang merupakan unsur-unsur kunci dan merupakan prasyarat pokok bagi keberhasilan PPBS. Siklus Anggaran Kebijakan fiskal pemerintah suatu negara secara ringkas tercermin dalam anggarannya. karena manfaatnya melebihi biayanya.

Campuran Cara ini merupakan gabungan dari 2 cara di atas. Pada kebanyakan negara. Beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran antara lain: ekspektasi pertumbuhan ekonomi. Anggota dewan dapat mengundang pihak esksekutif pada waktu pembahasannya. Kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya sering dijadikan landasan penyusunan anggaran tahun berikutnya. Pemerintah dapat saja melakukan perubahan drastis terhadap beberapa pengeluaran jika dipandang perlu dipilih sebagai reaksi atas perubahan indikatorindikator perekonomian. Proses penyusunan dapat memakan waktu hingga beberapa bulan.77 Proses perjalanan suatu Anggaran yang dimulai dari penyusunan hingga pertanggungjawaban disebut dengan siklus anggaran. Secara umum siklus anggaran terbagi atas empat tahap yaitu: 1. Penyusunan Anggaran (budget formulation). Namun hal ini tidak mencerminkan bahwa seluruh kegiatan harus dibiayai secara bertahap. tergantung kompleksitas struktur pemerintahan yang dilayani. unit organisasi yang paling tinggi menetapkan batas tertinggi (plafond) anggaran yang dapat dibelanjakan oleh unit organisasi yang lebih rendah. unit organisasi yang paling bawah harus memperhitungkan besar kecilnya kegiatan yang akan dilakukan. Lembaga tersebut biasanya dibawah naungan Departmen Keuangan yang bertugas mengkoordinasikan dan mengorganisasikan usulan anggaran pembiayaan dan pengeluaran dari instansiinstansi terkait. 3. atau memilih untuk mendengarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . 4. Dalam mengajukan usulan. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran (budget execution). Pengesahan Anggaran Proses ini dimulai ditandai dengan pengajuan usulan anggaran oleh eksekutif untuk dibahas di lembaga legislatif. Penyusunan Anggaran Pada umumnya proses formulasi anggaran dilakukan oleh eksekutif yang khusus menangani anggaran negara. serta mendistribusikannya sesuai urutan prioritas kegiatan dan tersedianya dana. anggaran disusun untuk masa satu tahun. Ada tiga cara dalam menyusun anggaran yaitu: 1. 2. Bottom – Up (dari bawah ke atas) Pada cara ini. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran (budget auditing and assessment). Pada cara ini. 2. inflasi dan karakteristik makro ekonomi lainnya seperti harga minyak mentah dunia. penyusunan anggaran dimulai dari unit organisasi yang paling bawah kemudian diteruskan secara berjenjang ke unit organisasi yang lebih tinggi. Pengesahan Anggaran (budget enactment). Top – Down (dari atas ke bawah) Cara ini merupakan kebalikan dari cara bottom – up. Unit organisasi yang telah ditetapkan batas anggarannya tidak boleh melakukan pengeluaran melebihi dari batas tersebut 3.

dibutuhkan kegiatan pengawasan. Faktor politik juga dapat ikut berperan dalam proses pembahasannya.78 opini publik untuk kemudian diambil keputusan. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. dan memberi persetujuan terhadap pengeluaranpengeluaran yang besar. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh unit inspeksi yang betugas melakukan pengawasan di lingkungan departemen yang bersangkutan. Dalam hal tersebut. Pengawasan fungsional (wasnal) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh institusi. memonitor efektifitas alokasi anggaran ke departemen-departemen lainnya. melakukan belanja publik terbatas maksimal sebesar tertera pada anggaran. Untuk mengefektifkan pelaksaaan anggaran. Hal ini biasa terjadi dikarenakan adanya kemungkinan anggota legislatif yang ditunjuk dalam komisi pembahasan anggaran tidak menguasai kerangka kerja anggaran. Kesemua itu tidak mempengaruhi dibutuhkannya legalisasi usulan anggaran oleh dewan legislatif. Bisa juga disebabkan oleh tidak efisiennya mekanisme dan kekakuan pelaksanaan teknis realisasi anggaran di lapangan. Pengawasan intern. Pengawasan melekat (waskat). Atau departemen-departemen dibuat lebih independen dalam realisasi belanja publik. Instansi dan departemen terkait. beberapa negara memungkinkan anggota dewan menyusun anggarannya sendiri atau memutuskan untuk menggunakan anggaran tahun sebelumnya. Sedangkan untuk penerimaan publik diharapkan dapat melebihi atau minimal sama dengan anggaran yang telah disetujui. Pada prakteknya. Menteri Keuangan secara terpusat dapat menerapkan kontrol ketat terhadap prosedur aliran dana keluar. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sedangkan tugas Departemen Keuangan hanya memonitor melalui laporan yang sampaikan oleh departemen-departemen. Kemungkinan dari adanya perbedaan yang signifikan adalah adanya penyelewengan kekuasaan oleh lembaga eksekutif. Pengawasan ekstern. anggaran tidak dijalankan sama persis dengan jumlah yang disetujui. Tetapi pertanyaan harus diajukan oleh tim pengawas manakala terjadi perbedaan yang signifikan tetapi tanpa dasar alasan yang dapat diterima. Anggota dewan berhak menolak usulan anggaran yang diajukan pemerintah. Beberapa deviasi menyebabkan beberapa pos pengeluaran tidak terealisasi sebagaimana tertera dalam anggaran. Menurut subyeknya. 2. 2. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran Proses berikutnya adalah pelaksanaan anggaran yang telah disetujui dewan. Prosedur pengawasan eksekusi anggaran dapat berbeda di tiap negara. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Proses pembahasan selesai setelah usulan anggaran diundangkan atau diamandemen. Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi dalam 2 bagian yaitu: 1. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar departemen.

Jika dimungkinkan. aparat pengawasan fungsional. kombinasi konflik antara manajemen dan politik perlu diakomodasi secara memadai. Untuk mencapai hasil yang diharapkan. yaitu pengawasan yang dilakukan berdasarkan laporan dari pejabat yang bersangkutan. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. BPK merupakan lembaga tinggi negara yang melakukan pengawasan terhadap pemerintah. Pengawasan sebelum kegiatan dimulai. sidak. Problem pada fase penyusunan dan pembahasan lebih banyak akibat adanya campur tangan politik. Pada umumnya negara berkembang. 2. Di Indonesia. Menurut waktunya. atau dari masyarakat. Pengawasan legislatif (wasleg) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Legislatif. Agar proses pemeriksaan atas pertanggungjawaban dapat dengan mudah dilakukan. pihak eksekutif harus dapat melaporkan pelaksanaan kebijakan fiskalnya secara lengkap. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Laporan ini harus diaudit secara reguler oleh badan independen semacam Auditor General (di Indonesia disebut BPK) yang memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan yang akurat dan tepat waktu. Tapi lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara.79 3. Pengawasan masyarakat. yang disebut sebagai pengawasan represif. 4. Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif tidak dimaksudkan untuk menekan pihak eksekutif atau sekedar mencari-cari kesalahan pejabat publik. Negara-negara Dasar-dasar Keuangan Publik . problem anggaran yang dihadapi meliputi penentuan asumsi-asumsi ekonomi dan indikator fiskal. Pengawasan selama kegiatan dilaksanakan. Pengawasan tidak langsung. Pengawasan langsung. Masalah Umum Anggaran Setiap siklus anggaran memiliki problem tersendiri. Pengawasan setelah kegiatan dilaksanakan. yang disebut sebagai pengawasan preventif 2. yaitu pengawasan yang dilakukan on the spot melalui inspeksi. Sedangkan pada pelaksanaan dan pemeriksaan lebih mengarah pada isu-isu manajemen dan akuntansi. Menurut caranya. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Siklus terakhir dari anggaran adalah pemeriksaan dan pertanggungjawaban atas efektifitas anggaran khususnya penggunaan pendapatan publik. maupun pemeriksaan. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat yang disampaikan secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah. 3. aparat pengawasan legislatif. yang disebut sebagai post audit. Manajemen anggaran modern lebih menekankan pada perlunya sosialisasi dan distribusi informasi mengenai anggaran publik agar lebih dapat ditingkatkan efektifitas dan efisiensi prosesnya.

menghadapi kerentanan tehadap fluktuasi perdagangan dunia. Dasar-dasar Keuangan Publik . akan tetapi banyak juga ketidakefisienan yang disebabkan oleh praktek penyusunan anggaran yang tidak fair. koordinasi pembangunan terencana dalam jangka panjang serta berkesinambungan.80 tersebut seperti halnya Indonesia. Beberapa permasalahan mungkin diakibatkan oleh faktorfaktor diluar kontrol. menentukan jumlah ideal penyerapan pendapatan publik melalui pajak. Hal tersebut dapat juga disebabkan oleh lembaga-lembaga legislatif dan pemeriksa yang tidak independen atau tidak mempunyai kapasitas sebagaimana mestinya. Sebagian anggaran mengalami kebocoran atau penggunaan yang tidak selaras dengan pembangunan perekonomian berkesinambungan.

pada gilirannya. Mau tidak mau. Investasi akan dianggap sebagai variabel endogen (variabel yang dipengaruhi oleh pendapatan). Kebijakan fiskal terhadap tingkat permintaan agregrat dalam keadaan dimana terdapat tingkat pengangguran yang tinggi diharapkan lebih berpengaruh terhadap perubahan output riil dibanding pada penyesuaian tingkat harga. kebijakan anggaran juga mempengaruhi tingkat distribusi output total dengan membaginya di antara konsumsi dan tabungan (yang membentuk modal) yang selanjutnya mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. mempengaruhi tingkat permintaan agregat. Dasar-dasar Keuangan Publik . Perubahan tingkat permintaan agregat pada akhirnya menentukan kesempatan kerja dan tingkat harga. Anggaran. Penentuan Pendapatan Tanpa Anggaran Sekarang kita akan menyimak bagaimana tingkat pendapatan ekuilibrium ditentukan. maka pendapatan ekuilibrium ditentukan pada tingkat dimana tabungan masyarakat sama dengan investasi. Sementara jumlah atau tingkat investasi dianggap tetap.81 B A B X KEBIJAKAN STABILISASI T opik ini membicarakan lebih jauh mengenai fungsi utama ketiga dari kebijakan anggaran yang. hal ini ditentukan dalam suatu sistem Model-Model Pengganda dengan Investasi yang Tetap Mari kita mulai dengan model yang paling sederhana di mana konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan. akan menjadi alat yang cukup efektif untuk mempengaruhi perilaku tersebut. anggaran akan sangat dikaitkan dengan perilaku perekonomian secara makro dan. Lebih jauh lagi. khususnya pengeluaran publik. pertama-tama tanpa anggaran dan kemudian dengan anggaran. seperti telah dibahas pada Bab VII. stabilisasi ekonomi. Dengan mempertimbangkan bahwa dalam suatu sistem tingkat investasi adalah sesuatu yang given (tidak dapat dipengaruhi) dan apabila tidak ada suatu pemerintahan. Kebijakan fiskal itu sendiri kemudian dapat digunakan untuk mempengaruhi tingkat investasi. Saling keterkaitan inilah yang akan kita simak pada bab ini.

pendapatan ekuilibrium tercapai pada perpotongan garis pengeluaran total (atau C+I) dengan garis 450. nilai uang menurun dan tingkat harga meningkat Dasar-dasar Keuangan Publik . Gambar 10-1 Penentuan Pendapatan tanpa Sektor Publik Perpotongan terjadi dimana pendapatan adalah A. Di pihak lain. yakni I. pengeluaran total tidak akan memadai untuk membeli jumlah output tersebut (yakni garis C+I terletak di bawah garis 450). C adalah fungsi konsumsi ymg menunjukkan bahwa pengeluaran untuk konsumsi akan meningkat sejalan dengan pertambahan pendapatan. C+I terletak di atas garis 450). jika tingkat output atau pendapatan berada di bawah A.82 Penentuan pendapatan dalam bentuknya yang paling sederhana diperlihatkan pada Gambar 10-1 di mana pendapatan diletakan pada sumbu horizontal dan pengeluaran pada sumbu vertikal. Pendapatan ekuilibrium tercapai apabila pendapatan yang diterima pada suatu periode sama dengan jumlah pengeluaran. Nantinya pengeluaran tersebut akan menjadi pendapatan pada periode berikutnya. pengeluaran harus sama dengan pendapatan sehingga tabungan (atau pendapatan dikurangi konsumsi) harus tertutupi oleh investasi. kita akan memperoleh garis pengeluaran total Y=C+I. pendapatan) melebihi tingkat A. Pengeluaran untuk investasi. Jika jumlah output (atau dengan kata lain. Dengan demikian output serta pendapatan pada akhirnya akan menurun sampai ke A. nilai uang meningkat dan tingkat harga menurun. Dengan menambahkan I ke C secara vertikal. Untuk menjaga tingkat ekuilibrium. Dengan demikian. dianggap konstan dan independen terhadap tingkat pendapatan. pengeluaran total akan melampaui tingkat output periode berjalan (yakni.

sementara persamaan (2) menggambarkan fungsi konsumsi. Pada Tabel 10-1. maka pendapatan Y=$750 milyar [($50+$100)*5].83 sehingga akhirnya menggeser tingkat output dan pendapatan meningkat sampai ke A. sedangkan kecenderungan marjinal untuk mengkonsumsi c menunjukkan kemiringannya. persamaan (3) diperoleh dengan mensubstitusi persamaan (2) ke dalam persamaan (1). Jika c=0.2 Penentuan Pendapatan dengan Pengeluaran Publik Pengeluaran publik Pertama-tama kita masukkan unsur pengeluaran publik G ke dalam sistem kita. dan jika a=$50 milyar dan I=$100 milyar. Dengan demikian diperoleh garis pengeluaran total Y=C+I+G. dan jumlah konstanta-konstanta (a+I) adalah jumlah yang digandakan (multiplicand). Pecahan 1/(1-c) adalah apa yang disebut sebagai pengganda (multiplier). Gambar 10. maka penggandanya adalah 5. Seperti terlihat pada Gambar 10-2.8. Penentuan Pendapatan dengan Anggaran Sekarang kita masukkan pengeluaran dan penerimaan publik ke dalam sistem tersebut guna melihat bagaimana tingkat pendapatan dipengaruhi oleh berbagai kebijakan anggaran. Konstanta a adalah perpotongan garis C pada Gambar 10-1 dengan sumbu vertikal. persamaan (1) menunjukkan bahwa pendapatan total sama dengan jumlah konsumsi dan investasi. Artinya pengeluaran publik tersebut menaikkan output dari A Dasar-dasar Keuangan Publik .

Sekarang apabila terhadap penerimaan dikenakan pajak. Perpotongan garis pengeluaran yang baru. Jika pendapatan nasional masih berada di bawah tingkat pendapatan pada kesempatan kerja penuh. kenaikan G sebesat $1 milyar akan menaikkan pendapatan ekuilibrium sebesar $5 milyar. Dengan menambahkan I dan C. Persamaan (4) dan (5) menyatakan kembali persamaan dasar. C'+I. kita mendapatkan C+I dan tingkat pendapatan sebesar A. masuknya pengeluaran publik bisa digunakan untuk menaikkan pendapatan. fungsi konsumsi merosot dari C ke C’. menunjukkan kenaikan pendapatan yang ditimbulkan. seperti diperlihatkan juga pada persamaan (4) sampai (7) dari Tabel 10-1. Konsumen yang menerima pendapatan A setelah membayar pajak akan mempunyai pendapatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Gambar 10-3 Penentuan Pendapatan dengan Pajak Lump-Sum Pajak Lump-Sum Selanjutnya mari kita perhatikan peranan pengenaan pajak dalam bentuk lumpsum.8. dengan garis 450 menjadi lebih rendah dan pendapatan menurun dari A ke D. sedangkan persamaan (6) menghasilkan formula pendapatan yang baru. Persamaan (7) yang diperoleh dengan menyajikan persamaan (6) dalam bentuk diferensial.84 menjadi B. tanpa memperdulikan pendapatan. Konsumsi menurun sebesar pajak yang dikenakan. pengeluaran publik bisa digunakan untuk mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Pengeluaran publik G akan menjadi bagian dari konstanta yang digandakan. Dengan demikian. Jika C=0. yakni pajak dalam suatu jumlah yang tetap.

Akan tetapi disinipun perubahan pendapatan yang ditimbulkannya lebih kecil daripada yang ditimbulkan oleh kenaikan G. Dengan demikian. yaitu sebagian dari kenaikan pendapatan disposabel yang berasal dari tunjangan akan tercemin dalam kenaikan tabungan dan bukan dalam konsumsi. Karena itu. Pajak bertambah sejalan dengan bertambahnya pendapatan. Agar pendapatan meningkat maka diperlukan penurunan tarif pajak t seperti yang diperlihatkan pada Gambar 10-4. dapat dianggap sebagai pajak negatif dalam analisis ini. kita melihat kaitan pajak dengan pendapatan. Fungsi konsumsi ditentukan melalui C'=a+c(Y-T). Dalam tabel 10-1 terlihat. Sistem dengan Pajak Penghasilan. di mana C adalah fungsi konsumsi sebelum penurunan pajak dan C” setelah penurunan pajak. tetapi mengurangi jumlah yang digandakan. Dasar-dasar Keuangan Publik . pengaruh kenaikan pajak terhadap penurunan tingkat pendapatan tidak sebesar penurunan yang diakibatkan oleh berkurangnya pengeluaran publik. Sisanya tercermin dalam kenaikan tabungan.85 disposabel sebesar D. Pada persamaan (10) kita melihat bagaimana pajak memperkecil jumlah yang digandakan. Pajak lump-sum tidak mempengaruhi faktor pengganda. atau pendapatan setelah pajak. Pada persamaan (9). Persamaan (11) diperoleh dengan mengubah persamaan (10) ke dalam bentuk diferensial dan melakukan pemecahan untuk ΔT. kemiringan fungsi konsumsilah dan bukan titik perpotongannya yang menurun. tunjangan atau R dapat disubstitusikan terhadap I pada persamaan (11) tetapi dengan tanda yang terbalik. Persamaan tersebut menunjukkan konsumsi sebelum pengenaan pajak sekaligus dengan penurunan pendapatan disposabel karena adanya pajak. kenaikan pendapatan akibat turunnya pajak untuk setiap dollar lebih rumit dibanding kenaikan pendapatan akibat tambahan pengeluaran publik. dimana pendapatan menurun A ke E. Karena penambahan pendapatan akibat pengurangan pajak dalam konsumsi hanya sebesar c*ΔT saja. tetapi bergerak ke bawah dengan tetap berpusat pada titik potong dengan sumbu vertikal yang sama. sebagaimana halnya dengan pajak lump-sum. yang menunjukkan bahwa kenaikan R akan bersifat ekspansioner (memperbesar pendapatan). Alasannya sama. Peranan Tunjangan Sosial (transfer) Tunjangan pemerintah atau pembayaran transfer (tranfer payments). Pengenaan pajak semacam ini tidak menggeser fungsi konsumsi secara paralel. Sekarang kita harus beralih ke kasus yang lebih realistis dimana penerimaan pemerintah berasal dari pajak penghasilan bukan dari pajak lump-sum. yang tentunya berbeda dari dari pembelian pemerintah (G). pajak dimasukkan ke fungsi konsumsi sementara kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi c merupakan pendapatan disposabel. Dengan demikian baik perubahan pajak maupun perubahan pengeluaran publik bisa digunakan untuk menyesuaikan tingkat pengeluaran yang tentunya juga mempengaruhi tingkat pendapatan serta kesempatan kerja. Dengan alasan yang sama. Pengaruh pungutan pajak lump-sum diperlihatkan pada persamaan (8) sampai (11) dari Tabel 10-1.

sehingga memperkecil pendapatan disposabel C. naik pulalah penerimaan pajak. Kenaikan berimbang dalam pelaksanaan anggaran mempunyai efek ekspansioner. tetapi hanya satu banding satu.86 Gambar 10-4 Pengaruh Pajak Penghasilan Proses ini diperlihatkan pada persamaan (12) sampai (18) dari Tabel 10-1. Perhatikan bahwa cara memperhitungkan pajak ke dalam fungsi konsumsi pada persamaan (13) berbeda dengan cara memperhitungkan pajak lump-sum pada persamaan (9).27. karena pengenaan pajak penghasilan dalam hal ini menurunkan kecenderungan marjinal untuk mengkonsumsi pendapatan sebelum pajak.8. Karena itu pengaruh pajak penghasilan dapat menghambat keefektifan dari kenaikan pengeluaran publik. tarif pajak t=0. Dasar-dasar Keuangan Publik .27 milyar. Dengan naiknya pendapatan. Artinya tingkat penerimaan publik bertambah sebesar kenaikan pengeluaran publik. Karena itu bisa meniadakan seluruh efek ekspansioner yang ditimbulkan oleh kenaikan G. Jadi. Efek pengganda yang melipatgandakan pendapatan tidak berlaku. Dengan kata lain. hal ini memperkecil faktor pengganda. Kiranya hal ini cukup masuk akal karena T=tY. Kenaikan Anggaran Berimbang Setelah menyadari bahwa kenaikan pengeluaran adalah bersifat ekspansioner sementara kenaikan pajak bersifat restriktif (menurunkan pendapatan). kita perlu mempertimbangkan perubahan anggaran berimbang seperti ΔG=ΔT. sekiranya c=0.3 akan menurunkan pengganda dari 5 menjadi 2. Penambahan G sebesar $1 milyar hanya akan menaikkan Y sebesar $2. Pengganda dalam anggaran berimbang sama dengan 1.

Kenaikan pengeluaran agregat mungkin akan tercermin pada kenaikan harga dan bukan pada kenaikan output.t)Y (a + I) 1 – c(1-t) (1) (2) (3) Sistem dengan pembelian pemerintah Y = C = Y = ΔY Sistem dengan pajak lump-sum = (4) (5) (6) (7) Y C Y ΔY = = = = (8) (9) (10) (11) Sistem dengan pajak penghasilan Y C Y = = = (12) (13) (14) Sistem dengan pembelian pemerintah dan pajak penghasilan Y = C+I+G C = a + c (1 .t)Y Y = a + I + G) 1 – c(1-t) ΔY = ΔG 1 – c(1-t) (15) (16) (17) (18) Jenis-Jenis lnflasi Sejauh ini kita mengasumsikan bahwa tingkat harga konstan sehingga dampak kebijakan angaran terhadap tingkat permintaan agregat tercermin pada perubahan output dan kesempatan kerja. Pembangunan yang mengatasi pengangguran besarbesaran dan penggunaan modal yang sangat rendah tidaklah mampu untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi mungkin bukan demikian halnya.87 Tabel 10-1: Penentuan Pendapatan dan Faktor Pengganda Fiskal (Investasi = Konstan) Sistem tanpa sektor publik Y C Y = = = C+I a + cY (a + I) 1–c C+I+G a + cY (a + I + G) 1–c ΔG 1–c C+I a + c ( Y – T) (a + I .cT) 1–c c*ΔT 1–c C+I a + c (1 .

akan mendorong kenaikan harga dan selanjutnya mengakibatkan kenaikan upah. dengan kata lain pengeluaran tambahan tersebut dibiayai dengan anggaran yang defisit. Selanjutnya kita mengasumsikan bahwa pemerintah menaikkan pengeluaran publik tanpa menaikkan pungutan pajak. jika disokong oleh perluasan permintaan. Mari kita ubah model tersebut ke dalam bentuk yang dinamis dan kita identifikasi periode pada saat mana pengeluaran dilakukan atau pendapatan diperoleh. Kenaikan biaya secara tiba-tiba ini. Permintaan agregat meningkat dan akibatnya terjadilah inflasi. inflasi bisa juga timbul karena hal-hal lain di luar kebijakan stabilisasi. seluruh kenaikan pengeluaran menyebabkan penurunan nilai uang yang tercermin pada kenaikan harga. misalnya berupa kenaikan investasi atau pergeseran fungsi konsumsi ke arah atas. sehingga akan menimbulkan inflasi yang berkelanjutan. Dasar-dasar Keuangan Publik . dan diasumsikan bahwa konsumsi sama dengan pendapatan disposable. Dalam keadaan demikian kebijakan stabilisasi diperlukan untuk mengatasi inflasi tersebut. Kedua aspek ini akan kita pertimbangkan kemudian. Untuk memahami bagaimana inflasi tersebut berlangsung kita bisa menyimak kembali model penentuan pendapatan yang paling sederhana di mana kita hanya memperhitungkan konsumsi dan pengeluaran publik. Karena itu diperlukan kebijakan fiskal yang cermat untuk menghindarkan inflasi sambil menanggulangi pengangguran. dan dalam keadaan demikian kenaikan tingkat pengeluaran cenderung tercermin pada kenaikan harga.88 menyediakan output yang dibutuhkan secara cepat.Pull Inflation) Inflasi yang timbul karena meningkatnya pemintaan bisa disorot dari dua sektor. Di sini kita melihat bahwa kebijakan yang salah bisa menjadi penyebab inflasi. seperti kenaikan harga minyak. • lnflasi yang Diakibatkan Anggaran Pertama-tama mari kita bayangkan suatu keadaan di mana kebijakan anggaran bisa menjadi penyebab inflasi. lnflasi Akibat Permintaan (Demand . Di pihak lain. Inflasi yang Ditimbulkan Sektor Swasta Proses yang sama juga bisa terjadi jika pihak swasta mengakibatkan perubahan pemintaan. Anggaplah perekonomian berada pada tingkat tanpa pengangguran sedangkan pengeluaran publik akan ditingkatkan tanpa menaikkan pajak. Pada kondisi perekonomian berada dalam kesempatan kerja penuh. yaitu sektor anggaran pemerintah dan sektor swasta. Dan sekali lagi pemerintah melalui instrumen kebijakan fiskal harus mengambil sikap apakah akan membiarkan atau menekan kenaikan harga-harga tersebut. • lnflasi yang Diakibatkan Biaya (Cost-Push Inflation) Sekarang kita akan beralih pada suatu situasi di mana gejolak awal diakibatkan oleh kenaikan biaya secara tiba-tiba oleh faktor luar. Kita akan memulainya dengan situasi ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh dengan anggaran yang berimbang.

analisis makro sampai saat ini cenderung mengarah pada suatu konsensus tentang bagaimana kebijakan harus dilaksanakan dalam keadaan yang serba sulit tersebut. perekonomian akan bergerak ke arah ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh. Hal ini tidak efektif. Sebagai reaksi. Dapatkah ini ditanggulangi dengan kebijakan yang ekspansioner? Jawabnya tergantung pada apa yang terjadi dengan pengharapan. sedangkan kebijakan yang bersifat acak belum tentu merupakan suatu tindakan yang tepat. Hasilnya. nilai riil dari biaya pekerja tidak akan berubah. tetapi pada tingkat yang wajar.89 Pengharapan yang Rasional Banyak alasan mengapa pelaksanaan kebijakan stabilisasi merupakan tugas yang pelik.sama halnya dengan ilustrasi terdahulu mengenai tingkat inflasi yang mengarah ke keadaan ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh. Harga dan upah akan bergerak bersama-sama sehingga nilai riil dari semua faktor pendapatan tidak berubah . semua perubahan yang diharapkan langsung disesuaikan terhadap ekuilibrium dan sistem itu tidak mungkin berubah dari keadaan tersebut kecuali jika terjadi perubahan mendadak yang tidak diharapkan atau bersifat acak. Jika pemerintah mengumumkan tekadnya untuk menaikkan pengeluaran publik pada tingkat tertentu. Nilai riil dari biaya pekerja meningkat dan pada akhirnya terjadilah pengangguran. tidak akan terpengaruh oleh kebijakan tersebut. Pemikiran ini didasarkan pada asumsi (1) bahwa perubahan kebijakan diantisipasikan dan (2) bahwa antisipasi tersebut mendorong dilakukannya penyesuaian sesegera mungkin tanpa adanya kesenjangan dalam sistem Dasar-dasar Keuangan Publik . misalnya dengan menaikkan jumlah pengeluaran publik untuk mendorong kenaikan harga. mereka berasumsi semua harga dan upah akan naik. Anggaplah semua pelaku ekonomi memperlihatkan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan ekspansioner. termasuk tingkat kesempatan kerja. Dalam perekonomian semacam itu. Teorema tentang Ketidakefektitan Kebijakan Jika harga-harga dan upah secara menyeluruh bersifat fleksibel. Meskipun demikian. Pengangguran memang akan ada. Di sini tidak diperlukan kebijakan tertentu untuk mempertahankan kesempatan kerja penuh. jumlah upah dinaikkan berkat desakan tertentu dari serikat pekerja sedangkan produsen belum mengantisipasi kenaikan biaya ini atau karena itu belum menaikkan harga. yaitu bagi mereka yang sedang mencari kerja dan sedang pindah kerja. Anggaplah misalnya. semua pelaku ekonomi akan mengharapkan harga untuk naik pada tingkat yang sama. Variabel-variabel riil lainnya dari sistem tersebut. Tetapi kebijakan yang dianggap layak cenderung merupakan hal yang dapat di pekirakan sebelumnya. Perdebatan mengenai efektivitas kebijakan fiskal dibanding kebijakan moneter telah menumbuhkan pengakuan bahwa kedua alat tersebut bisa efektif dan harus dipadukan dalam proporsi yang tepat. Kebijakan akan dapat mempengaruhi sistem dalam nilai riil hanya jika tindakan tersebut tidak dapat duga dan karena itu itu tidak diantisipasi oleh pelaku perekonomian.

juga dilandasi oleh asumsi yang tidak realistik. pembiayan dengan pajak atau pinjaman mempunyai efek ekonomi yang seimbang .90 perekonomian. Keseimbangan Menurut Paham Ricardo Dalil kedua mengenai pengharapan yang rasional dilandaskan pada pilihan antara pembiayaan dengan pajak atau pembiayaan dengan pinjaman. namun bisa efektif. meskipun sukar. Lebih jauh lagi. Karena itu. Pada pembahasan sebelumnya kita telah melihat bahwa kedua kebijakan itu berbeda. tetapi tetap lebih besar jika dibanding dengan pembiayaan melalui pajak. jika dihadapkan pada penambahan anggaran yang dibiayai secara defisit. Pendekatan dengan pengharapan yang rasional mempertanyakan apakah memang demikian kenyataannya? Individu yang rasional. bauran kebijakan yang semestinya. maka teorema ini tidak bisa dianggap sebagai suatu penilaian yang realistis atas keampuhan dari kebijakan. tidak perlu rasanya mempersoalkan metode mana yang dipilih. Jika antisipasi itu tidak sempurna atau jika kesenjangan terjadi. Dia akan menghitung nilai sekarang dari kenaikan pajak masa mendatang tersebut. Kenaikan pengeluaran publik lebih ekspansioner jika dibiayai dengan pinjaman daripada dengan pajak. undang-undang pajak masa mendatang dan distribusi beban mereka tidaklah pasti. Hampir tak bisa dibayangkan bahwa para konsumen akan mengantisipasikan konsekuensi masa mendatang dari pembiayaan dari pinjaman yang dilaksanakan saat ini. Karena ketidaksempumaan kita untuk memperkirakan masa mendatang dan dengan adanya keterpakuan dan ketidakluwesan. nilai dari hutang di masa mendatang mungkin juga menurun karena inflasi. akan bereaksi dengan cara yang sama tanpa memperdulikan apa pun metode pembiayaan yang dipilih. keseimbangan menurut Paham Ricardo ini (Ricardian Equivalence). Karena itu. Efek crowding out terhadap investasi (dengan mengasumsikan jumlah uang yang beredar konstan) mengurangi efek ekspansioner dari pembiayaan dengan anggaran defisit. Nilai sekarang itu sama dengan jumlah yang harus dibayar sekarang jika kenaikan anggaran dibiayai dengan pajak. begitu juga halnya dengan. yang mengabadikan nama seorang ekonom klasik yang terkenal yaitu Bapak David Ricardo. kebijakan stabilisasi. Tentu saja antisipasi mengenai pembahasan kebijakan serta kredibilitas dari pengumuman mengenai kebijakan yang diambil akan mempercepat tercapainya hasil yang diharapkan kebijakan tersebut dan memperbesar keefektifannya. dan tambahan pembayaran bunga mungkin juga akan dibiayai dengan pinjaman lain. Pada kedua kasus tersebut terjadi pengurangan nilai bersih dalam jumlah yamg sama. Pemberi pinjaman dan pembayar pajak bukanlah orang ymg sama.yaitu bahwa konsumen yang rasional. Dalam dunia nyata. Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi. Karena itu teorema yang menyatakan ketidakmungkinan di atas akan tergantung pada validitas empiris dari asumsi (1) dan (2). Dampak penurunan bukanlah merupakan masalah. menyadari bahwa pada masa mendatang pajak pasti dinaikkan guna membayar beban bunga dan tambahan hutang. jika berada dalam posisi yang sama pada kedua kasus tersebut. tindakan ekspansioner bisa mendorong kenaikan pemintaan melebihi kenaikan biaya sehingga memperbesar kesempatan kerja.

defisit besar-besaran pada tahun 1980-an di AS justru disertai oleh tingkat tabungan perorangan yang rendah. Sebagai contoh nyata. bukan tingkat tabungan yang tinggi seperti yang dihipotesiskan oleh pengharapan yang rasional.91 Semua faktor ini menunjukkan bahwa mustahil kiranya setiap orang akan memberikan reaksi yang sama bagi pembiayaan dengan pajak dan pembiayaan dengan pinjaman sehingga tidak ada pengenaan efek kebijakan terhadap tingkat permintaan agregat atau terhadap pembagian output di antara konsumsi dan investasi. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Unsur-Unsur Pembangunan Persyaratan yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi di negaranegara berpendapatan rendah termasuk dalam rangka kelanjutan pertumbuhan perekonomiannya sama halnya seperti persyaratan yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di negara yang relatif sudah maju. Namun di luar itu. Sejumlah kesulitan yang mengganggu kemajuan ekonomi suatu negara harus dipecahkan oleh sektor publik.92 B A B XI PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN K euangan publik memainkan peranan penting dalam perekonomian negara. masih banyak persyaratan lain yang diperlukan. tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab dan akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah. sektor publik cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. sektor publik memegang peranan penting terhadap semua unsur pembangunan ini. Gambaran semacam itu yang terdapat baik pada negara berpendapatan tinggi maupun rendah. namun masalah kelembagaan dan sosial yang dihadapi oleh suatu negara dapat memperpelik dan membatasi tugas kewenangan dalam menetapkan kebijakan anggaran dan stabilisasi. Untuk mencapai pertumbuhan. Besarnya Sektor publik dan Pendapatan per Kapita Sebagaimana telah di ulas pada bagian terdahulu mengenai perkembangan sektor publik di negara-negara maju. Dasar-dasar Keuangan Publik . tidak cukup hanya dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan. Karena itulah masalah-masalah pembiayaan pembangunan perlu dibicarakan secara khusus dan terpisah. Pembentukan Modal Pembangunan Persyaratan fundamental untuk pembangunan ekonomi adalah tingkat pengadaan modal pembangunan yang seimbang dengan pertambahan penduduk. Dalam hal ini.

sumber modal pembangunan semacam ini mempunyai keterbatasan tersendiri dan penyediaan lapangan kerja bagi para pengangguran mungkin akan memerlukan investasi pendukung tertentu. dan walau bagaimanapun juga bantuan tersebut tidak akan diperoleh tanpa adanya usaha pendukung dari negara bersangkutan.93 Pembentukan modal tersebut harus didefinisikan secara luas sehingga mencakup semua pengeluaran yang sifatnya menaikkan produktivitas. irigasi. maka konsumsi periode berjalan harus dikurangi agar sumber daya bagi investasi tersedia. pembentukan modal pembangunan meliputi investasi pada sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (training) seperti halnya investasi dalam bentuk fisik. mobilisasi sumber daya yang terbengkalai pasti masih memungkinkan. Para investor swasta dari luar negeri. Selanjutnya. prioritas akan selalu berubah. Kemungkinan lain adalah dengan mengusahakan sumber daya investasi dari luar negeri dalam bentuk pinjaman dan bantuan pemerintah atau sebagai investasi swasta. semua itu tentunya tidak akan mencukupi. memerlukan investasi yang memadai dalam bentuk infrastruktur dan bantuan pemerintah baru akan diberikan jika telah ada rencana pembangunan yang dirumuskan dengan baik. Lebih jauh lagi. Jika sumber daya yang terbengkalai tidak bisa dimanfaatkan atau jika sumber daya tambahan tidak dapat diperoleh dari luar negeri. banyak negara berpendapatan rendah mempunyai sedemikian banyak tenaga kerja yang terbengkalai dan lapangan kerja bagi mereka bisa tersedia hanya dengan usaha pembangunan yang sangat sederhana seperti pembangunan drainase. Untuk sementara waktu kita akan mengabaikan perencanaan masalah investasi dan memusatkan perhatian pada dari mana kita akan memperoleh sumber daya tambahan untuk investasi tersebut. Misalnya. tak bisa dipungkiri bahwa salah satu masalah besar adalah bagaimana mengalihkan sebagian konsumsi periode berjalan untuk digunakan sebagai sumber daya pembangunan. Hal ini akan mencakup ketentuan mengenai peningkatan investasi domestik yang sebagian besar dibiayai dengan pajak. Tetapi dilain pihak. pengalihan ini dapat dilakukan dengan menahan sebagian hasil pengembalian (returns) yang dibayar kepada faktor produksi sehingga pembayaran lebih kecil Dasar-dasar Keuangan Publik . dan perpaduan berbagai cara tersebut harus ditentukan dalam proses perencanaan pengeluaran dan sumber daya. Bisa saja hal itu berupa investasi di sektor publik dan swasta. khususnya investasi pemerintah dalam bentuk infrastruktur. entah itu oleh pemerintah (di negara-negara sosialis) atau oleh swasta (dalam perekonomian pasar bebas). jalan. Akan tetapi. Lebih jauh lagi. pemerintah hanya perlu berperan sebagai pengorganisasi bagi pemanfaatan sumber daya. demikian juga dengan bauran investasi yang optimum. Pada tahap-tahap awal pembangunan. Dalam kondisi seperti ini. sebagaimana halnya dengan investor domestik. Pada perekonomian yang dikendalikan secara terpusat di mana badan usaha milik negara memegang dominasi. sangatlah penting karena hal itu menjadi kerangka persiapan bagi investasi manufaktur pada tahap berikutnya. Terdapat berbagai cara penggunaan sumber daya untuk meningkatkan produktivitas. dan bendungan. Sampai pada tingkat tertentu.

tetapi tidak terlihat adanya suatu hubungan yang mencolok di dalam kelompok tersebut. Tabungan perusahaan juga dapat dirangsang melalui sistem penarikan pajak laba usaha yang mendorong ditahannya dan diinvestasikannya kembali laba usaha. pembentukan modal dari hasil internal pasti akan berasal dari tabungan pemerintah atau swasta. Usaha terakhir ini sangat penting bagi para penabung kecil karena bagi mereka umumnya tidak tersedia sarana penabungan perorangan selain daripada meminjamkannya dengan risiko tinggi atau dengan menukarnya dengan barang berharga seperti logam mulia. Di negara-negara Amerika Latin rasio umumnya adalah sekitar 14 persen. Rasio penerimaan pajak terhadap GNP di negara terbelakang cenderung sangat rendah. Dalam kondisi ini. Sementara rasio semacam itu di negara-negara maju adalah 40 persen atau lebih. Di sinilah diperlukan suatu usaha pemerintah untuk menjaga stabilitas moneter sehingga kebiasaan menabung tidak diredupkan oleh inflasi yang tak berkesudahan. dan di beberapa negara sampai 8 persen. Dalam hal ini. meskipun bermanfaat dan penting. tetapi hal itu tidak bisa dianggap sebagai variabel dependen di dalam sistem tersebut yang berubah secara otomatis sesuai dengan pengenaan pajak yang diperlukan. kebijakan perpajakan harus dipertimbangkan secara bersama-sama dengan aspek-aspek lain dari kebijakan pembangunan. bagaimana kita dapat menilai kemampuan membayar pajak dari suatu negara dan bagaimana kelancaran pembayaran pajak dapat diukur? Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa besarnya sektor publik di negaranegara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita. jika keadaan cukup mendukung. tidak mungkin akan cukup. Di samping itu pemerintah juga bisa berperan dalam penyediaan dan pembentukan lembaga keuangan yang cocok guna menarik tabungan rumah tangga dan menggunakannya secara produktif. Dalam kadar tertentu. Jika demikian.94 dari hasil produk marjinal. Rasio pada negara-negara di Asia dan Afrika dengan pendapatan per kapita yang serupa cenderung lebih tinggi. perpajakan akan sangat berperan untuk memberikan insentif bagi tabungan atau disinsentif bagi konsumsi barang-barang mewah. namun kelayakan tingkat pengenaan pajak itu sendiri merupakan faktor penting yang harus diperhitungkan dalam menentukan target pertumbuhan. tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP. yaitu berkisar dari 8 sampai 18 persen. Kebijakan Struktur Perpajakan Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Walaupun merupakan suatu hal yang esensial untuk mengetahui berapa tingkat penerimaan pajak yang diperlukan guna menjamin tingkat pertumbuhan tertentu. khususnya pada tahap awal pembangunan. Tetapi pada perekonomian yang didesentralisir. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pada kenyataannya persentase sektor publik jauh lebih kecil pada negara-negara berpendapatan rendah sebagai suatu kelompok. Pola yang sama juga akan kita jumpai sehubungan dengan rasio penerimaan pajak terhadap GNP. Tabungan swasta secara sukarela. kenaikan tingkat tabungan bisa terjadi secara sukarela di sektor swasta.

demikian juga halnya dengan penetapan kuota pajak bagi para petugas pajak. Lembaga pemberi pinjaman internasional mungkin saja mensyaratkan agar bantuan yang diberikan dibarengi dengan upaya perpajakan yang sepadan dengan negara penerima bantuan. dan survai pertanahan belum memadai untuk menghasilkan penilaian yang semestinya. Dengan demikian. dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. Karena alasan ini dan alasan-alasan lainnya. Pajak produk tidak bisa dikenakan pada tingkat pengecer jika perusahaan pengecer kecil dan tidak permanen. semua pendapatan pribadi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. pengenaan pajak sangat sederhana pada perekonomiam yang sangat terbuka di mana impor dan ekspor berlangsung melalui pelabuhan-pelabuhan utama dan terbuka bagi petugas fiskus. adanya penanganan pajak akan selalu berkaitan dengan struktur perekonomian suatu negara. seperti pangan. sektor pertanian belum terukur dengan nilai mata uang. Pada tingkat pendapatan per kapita yang sangat rendah. dan papan. Keadaan ini sangat perlu diperhatikan sebagai sumber penerimaan yang potensial. yaitu sistem di mana kepada para pemungut pajak diberikan persentase tertentu sebagai insentif.95 Mengapa upaya perpajakan (tax effort) di negara-negara berkembang sedemikian rendah. Pengenaan pajak tanah yang efektif sukar dilaksanakan jika hasil pangannya dikonsumsi sendiri. Dengan demikian lembaga itu mungkin akan menuntut agar pada negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi terdapat rasio penerimaan pajak yang tinggi guna menunjukkan keselarasannya dengan upaya perpajakan. dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. Akhirnya. ukuran komparatif atas upaya perpajakan dapat diperoleh dengan membandingkan rasio aktual dari penerimaam terhadap GNP pada suatu negara tertentu dengan rasio yang Dasar-dasar Keuangan Publik . kelayakan pengenaan pajak tergantung juga pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Penarikan pajak laba tidaklah layak sebelum praktek akuntansi mencapai standar minimal. sandang. hanya bisa diandalkan untuk sementara waktu saja. Terlepas dari tingkat dan distribusi pendapatan. maka penilaian yang realistis atas upaya perpajakan (tax effort) harus memperhitungkan penanganan pajak (tax handles) yang tersedia untuk itu. Dengan demikian. Tetapi asumsi ini tidak berlaku jika distribusi pendapatan sangat timpang yang mana akan mengakibatkan besarnya konsumsi barang-barang mewah. Negara berpendapatan rendah menghadapi keterbatasan dalam mentransfer sumber daya untuk digunakan pemerintah. Di pihak lain. Sekiranya dana pemerintah tidak dimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan hidup yang samasama mendasar (misalnya program kesehatan) maka penggunaan dana tersebut akan menimbulkan beban berat yang tidak sepatutnya. dengan cara-cara semacam ini pun tidak akan tercipta struktur perpajakan yang mapan dan adil. pengelolaan pajak penghasilan akan jauh lebih sulit jika semua lapangan kerja terdapat pada perusahaan-perusahaan kecil. dan hal ini sulit tercapai jika perusahaan-perusahaan yang ada berukuran kecil dan tidak stabil. dan benarkah rasio yang rendah itu pada kenyataannya menandakan upaya perpajakan yang rendah? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita mengartikan upaya perpajakan itu. Pemberian jasa pungut pajak (tax farming). Meskipun demikian.

dengan melihat respon pada umumnya terhadap penanganan yang tersedia. Prinsip penghitungan pajak sendiri (self assessment) seperti diterapkan di Indonesia tidak berjalan lancar. Pengembangan Struktur Perpajakan Masalah perencanaan dan pengelolaan perpajakan akan berbeda-beda sesuai dengan struktur perekonomian suatu negara dan sikap masyarakat terhadap perpajakan. Sejalan dengan itu. Selain itu terdapat fenomena menarik yang menyatakan bahwa pajak yang sering diklasifikasikan sebagai pajak penghasilan di negara miskin sering kali jauh berbeda dari pajak penghasilan perorangan di negara maju. Penghitungan pajak oleh para petugas sering kali didasarkan pada negoisasi dan bukan ditetapkan secara objektif. peranan pajak penghasilan pun makin meningkat relatif terhadap bea demikian juga terhadap pajak penjualan dan produksi domestik. Karyawan perusahaan kecil dan sebagian besar masyarakat yang mengelola usaha sendiri. tetapi penerapannya sangat terbatas pada jenis upah dan gaji tertentu saja sehingga lebih Dasar-dasar Keuangan Publik .96 seharusnya diperoleh. pajak penghasilan usaha sering kali lebih mirip dengan pajak penjualan daripada dengan pajak laba sebagaimana kita temukan di negara-negara maju dan sebagainya. Perbedaan juga akan timbul sebagai akibat tahap-tahap pembangunan ekonomi. Penggunaan sistem pemungutan pajak oleh orang lain (witholding) bisa mempercepat pemungutan pajak dan hal itu sangat baik. Pemungutan pajak penghasilan atas modal bahkan lebih sukar lagi. Pajak ini bersifat elastis terhadap pertumbuhan GNP dan karena itu bisa menjadi sumber penerimaan yang cukup besar untuk pembiayaan pembangunan. Pajak Penghasilan Perorangan Pajak penghasilan perorangan tidak mungkin dan tidak dapat diharapkan untuk menduduki posisi sentral dalam struktur perpajakan pada Negara sedang berkembang dan begitu juga umumnya di negara-negara maju. pada umumnya masih di luar jangkauan pajak penghasilan. Pajak akan berperan besar terhadap perdagangan luar negeri (terutama bea) dan pajak atas produksi dan penjualan domestik untuk negara-negara berpendapatan rendah. dan pembayaran akhir sangat banyak yang terlambat. Peranan pajak upah juga makin penting dengan naiknya pendapatan per kapita. tetapi hal itu juga merupakan akibat dari upaya pengelolaan yang tidak aktif. Dengan naiknya pendapatan per kapita. perusahaan asing. Meskipun demikian. Di satu sisi hal ini akan mencerminkan tingkat pembebasan pajak yang ditetapkan relatif tinggi jika dikaitkan dengan pendapatan rata-rata. Kontribusi pajak penghasilan perorangan di negara-negara Amerika Latin lazimnya berkisar 20 persen dan karena itu merupakan bagian yang besar dari penerimaan pemerintah. pajak penghasilan harus ditata dengan baik sejak dini dan ditingkatkan selama berlangsungnya pembangunan. dan kelompok perusahaan domestik besar yang jumlahnya sangat kecil. dan sejumlah ciri struktur perpajakan yang lazim ditemukan dalam kaitannya dengan pendapatan per kapita dapat diamati. khususnya di sektor pertanian.

yang digunakan secara luas di negara-negara Asia. sehingga hubungan antara tarif marjinal dan pendapatan riil dipertahankan konstan. komputerisasi dan penanganan terpusat atas surat pemberitahuan pajak. metode lain harus digunakan. sangat penting bagi negara-negara berkembang di mana urbanisasi yang pesat akan menaikan nilai tanah sebagaimana dialami Amerika Serikat pada akhir abad sembilan belas sesuai dengan pengamatan Henry George dan juga terjadi di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya. Tidak ada satu obat mujarab untuk mengatasi kesulitan ini kecuali dengan menerapkan wajib pungut pajak. Banyak negara menggunakan taksiran dan bukan pendekatan langsung guna menentukan laba. terutama dalam kaitannya dengan tanah dan bangunan. entah itu berupa pajak laba perseroan atau pajak persekutuan dan perusahaan perseorangan yang dikenakan menurut pajak penghasilan perorangan. Pajak Penghasilan Perusahaan Masalah yang pelik akan timbul dalam pengenaan pajak penghasilan perusahaan. misalnya telah dialami Cili dan Brasil selama bertahun-tahun. Akibatnya. dikelola sebagai suatu jenis pajak tersendiri. pengelolaan pajak penghasilan diperparah oleh masalah inflasi. namun bisa dikatakan bahwa pendapatan kena pajak akan benar-benar dicapai bila peraturan perpajakan dijalankan secara ketat. Meskipun tidak tersedia estimasi yang andal. Karena itu. Inilah prasyarat utama yang kerap kali sukar untuk dipenuhi oleh negara-negara berkembang dalam konteks budaya dan politik. Lebih jauh lagi. Hal itu. Bila akuntansi perusahaan belum begitu maju sehingga belum bisa mengukur laba dengan cukup akurat. Caranya adalah dengan menaksir marjin laba atas penjualan di mana terdapat marjin yang beragam untuk berbagai industri. Masalah keuntungan modal. Keterlambatan pembayaran pajak atas pendapatan modal merupakan keuntungan besar khususnya jika hukumannya tidak sebanding dengan suku bunga dan nilai hutang pajak tersebut semakin menurun akibat inflasi. pengaruh inflasi terhadap perpajakan dinetralisir. pengurangan keterlambatan penafsiran. tetapi peredaran inflasi secara melekat melalui pajak penghasilan progresif akan melemah. Metode ini. Guna menghadapinya.97 mudah dilaksanakan. pajak atas keuntungan modal bagi real estate. yang mana akan mengubah bentuk pajak laba menjadi Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu bangunan dan tanah. dan hukuman yang lebih tinggi bagi pembayaran yang tertunda semuanya bermanfaat Namun semua itu tidak akan mencukupi kecuali jika badan pengadilan mendukung penuh penegakan peraturan perpajakan. Tidak jarang negara-negara berkembang menghadapi inflasi puluhan bahkan ratusan persen per tahun. diharuskannya perusahaan dan bank menyampaikan informasi tentang pembayaran bunga dan pembayaran deviden. penjatahan jumlah wajib pajak bagi setiap petugas (khususnya wajib pajak berpendapatan tinggi). badan perpajakan bisa menaikkan tingkat pembebasan dan kelompok tarif secara otomatis setiap tahunnya sejalan dengan naiknya harga-harga.

Pasar atas tanah mungkin tidak tersedia dan nilai jualnya saat ini tidak bisa diperoleh. tidak demikian halnya. atas pendapatan aktual. ketiga dasar tersebut akan bisa saling dipertukarkan karena nilai tanah akan sama dengan nilai pendapatannya yang dikapitalisasi. khususnya selama berlangsungnya urbanisasi. Dengan demikian. Hal ini terjadi karena kewajiban pajak menjadi fungsi dari penjualan dan marjin tersebut merupakan taksiran dan bukan aktual. Serentak dengan itu. atau atas pendapatan potensial yang bisa dihasilkan tanah tersebut jika dimanfaatkan secara penuh. laba taksiran didasarkan pada patokan tertentu seperti luasnya lantai atau ruang kerja dan lokasi pada wilayah perkotaan. dan praktek yang cocok bagi suatu negara seperti Amerika Serikat mungkin tidak dapat diterapkan di Negara sedang berkembang dengan mengingat tradisi dan tingkat pembangunannya saat ini. pembayar pajak yang setia perlu diberi penghargaan. Proses perbaikannya harus bertahap dan tidak bisa bergerak lebih cepat dari perbaikan metode akuntansi. Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Disamping penerimaan dari tanah. Di negara-negara Amerika Latin. khususnya sehubungan dengan pendapatan profesional. Pajak Tanah Satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas tanah adalah apakah pajak tersebut harus dikenakan atas nilai tanah. Dalam hal pertanian. ketiga dasar tersebut akan memberikan nilai yang sangat berbeda. bentuk hukum dari badan-badan usaha sering kali berbeda. Dalam keadaan lain. Pajak penghasilan jarang diterapkan secara efektif ke sektor pertanian sehingga pendapatan dari tanah sering kali merupakan gabungan dari pajak penghasilan dan pajak atas tanah. Dalam sistem persaingan sempurna. Di luar semua ini. yang meliputi tidak hanya penyewaan atas tanah tersebut tetapi juga peningkatan nilai atas tanah. Dalam kenyataan. penarikan pajak atas real estate dan pertokoan juga menjadi dasar pengenaan pajak yang penting. dan pendapatan aktual akan sama dengan pendapatan potensial. Ini juga merupakan praktek yang bisa ditemukan pada tradisi perpajakan Eropa. Meskipun pajak semacam ini Dasar-dasar Keuangan Publik . misalnya. Tanah sering kali tidak dimanfatkan secara penuh dan ditahan untuk tujuan spekulatif atau ditahan sesuai dengan adat istiadat setempat. Para pembaharu pajak sering menyepelekan perbaikan teknik penaksiran pajak terhadap perbaikan teknis dalam pemajakan perseroan. luasnya lahan atau jumlah ternak bisa digunakan sebagai dasar taksiran. yang mengabungkan pajak atas sejumlah rumah dalam satu dasar pengenaan pajak guna melengkapi sistem penarikan pajak komoditas atas konsumsi barang-barang mewah di samping terhadap perumahan. Ada baiknya jika hal tersebut di atas dikenakan pajak progresif atas tempat hunian. hukum Eropa daratan lebih berperan daripada tradisi common law (hukum Inggris). padahal hal terakhir ini tidak begitu penting bagi negara yang sedang berkembang.98 semacam pajak penjualan. sementara yang bandel diberi hukuman. Lebih jauh lagi. pajak kekayaan atas harta benda bersih jarang ditemukan dalam struktur perpajakan di Negara sedang berkembang. sedangkan di negaranegara Asia sistem hukum kebendaan yang sangat berbeda bisa diterapkan.

penerimaan pemerintah yang hilang tidak akan besar meskipun tingkat pengecer tidak terjangkau. Dengan pajak yang dikenakan secara berjenjang seperti halnya pajak pertambahan nilai. Cukai domestik juga perlu untuk dikoordinasikan dengan bea impor. Disamping itu pendekatan keadilan menuntut agar pendekatan ini dipadukan dengan penarikan pajak atas pendapatan modal dengan tarif progresif. Insentif Perpajakan Tujuan pemerintah yang berupa pertumbuhan ekonomi dan pemerataan paling bisa dicapai dengan berpedoman pada pajak kosumsi progresif. Penggunaan metode faktur mungkin akan membuat para wajib pajak lebih taat. Pendekatan terbaik mungkin adalah dengan menggunakan tarif yang cukup seragam sambil tetap memasukkan unsur bea impor barang mewah di dalam sistem pengenaan cukai domestik. Dalam situasi di mana. Di pihak lain. Jika suatu produk dengan nilai kena pajak yang sangat besar dihasilkan pada perusahaan yang relatif besar. karena berbagai alasan. Pajak dan Bea atas Komoditas Pengenaan pajak komoditas harus ditentukan berdasarkan kelayakan administratif sehingga tergantung pada struktur perekonomian negara tertentu. namun jenis pajak ini penting guna melengkapi pajak penghasilan. maka pengenaan cukai atas produsen akan merupakan pendekatan yang paling sederhana dan gamblang. bea masuk sering menjadi pelindung bagi produk barang mewah pengganti di dalam negeri. biaya modal cenderung dinilai terlalu rendah. praktek ini akan memperburuk distorsi harga. Jika hal ini terjadi akan merupakan kebijakan yang buruk. Aspek kebijakan bea masuk lainnya yang perlu ditinjau secara kritis adalah praktek pembebasan cukai atas barang modal yang digunakan di dalam negeri. karena banyaknya harta tak berwujud yang tidak termasuk dalam dasar pengenaan pajak. Kombinasi dari berbagai metode bisa diterapkan. Dengan demikian. Kebijakan perpajakan harus memperhatikan bahwa kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi bukan merupakan kehilangan total seperti pada pajak penjualan eceran. pengenaan pajak produk dengan tarif yang berbedabeda cenderung lebih sukar jika diterapkan dengan pendekatan nilai tambah. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitannya dengan pengenaan bea cukai atas produk domestik.99 pada akhirnya akan lebih kecil dari pada pajak bumi dan bangunan. Jika pemerintah ingin menggunakan bea masuk sebagai proteksi atas industri itu harus dipilih sesuai dengan potensi pembangunan sehingga pengembangan itu bukan merupakan akibat sampingan dari pengenaan pajak barang mewah. sering kali mengenakan bea impor yang lebih tinggi atas barang mewah. Karena ingin membebani konsumsi barang mewah dengan lebih berat. tergantung mana yang paling jitu dalam keadaan tertentu. Karena adanya kemungkinan timbulnya konflik antara pajak penghasilan progresif dengan insentif untuk inventasi maka tidak mengherankan bahwa telah diupayakan berbagai cara untuk meminimumkan pengaruh masalah justifikasi sampai dimana pemerataan dan pertumbuhan didahulukan terhadap satu sama lain.

Lebih jauh lagi. Selain itu di beberapa negara sering kali diberikan pembebasan pajak (tax holiday) untuk jangka waktu tertentu misalnya selama lima atau tujuh tahun. Insentif bisa dirancang untuk menggalakkan ekspor dan memperkuat neraca pembayaran. penolakan total tidak bisa diterima. Bagi perusahaan lama yang mengadakan investasi lama dan baru. masalah ini bisa diatasi dengan pendekatan kredit investasi atau bantuan investasi. Metode ini merupakan insentif bagi investasi yang memberikan laba yang tinggi pada tahap awal dan hal ini bertentangan dengan kebutuhan akan investasi yang stabil dan bersifat jangka panjang. dan karena ini tidak bisa dielakkan. Lebih jauh lagi.100 tidak akan memperparah pemerataan. Tentu saja masalahnya adalah bagaimana mencapai suatu jumlah tabungan tertentu tanpa mengurangi tabungan di sektor lain. Ini bisa tercapai dengan mendorong perusahaan untuk menahan laba atau dengan memberikan kredit pajak bagi tabungan atas pendapatan perorangan. Masalah utama di sini adalah bagaimana memilih industri yang akan diberi perlakuan istimewa tersebut. Dapat diduga Dasar-dasar Keuangan Publik . Apapun masalahnya. sehingga banyak pengamat sampai sampai terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. tidaklah bijaksana jika pemerintah mengadakan komitmen jangka panjang untuk mensubsidi pajak. atau dibatasi pada industri atau wilayah tertentu. beberapa kelonggaran bagi pertumbuhan mungkin layak asalkan hal itu dilaksanakan dengan cara terbaik. namun insentif yang dibatasi pada sektor atau industri tertentu kiranya bisa lebih efektif dalam mengalokasikan modal data ekspor industri tersebut. Dengan alasan alasan ini insentif pajak bagi investasi pada umumnya merupakan pemborosan dan tidak adil. Daftar Skala Prioritas Meskipun keefektifan investasi umum di ragukan. bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. Namun meskipun demikian. Insentif domestik bisa dikaitkan dengan investasi pada umumnya. Insentif Umum Intensif investasi umum bisa berupa kredit pajak atas investasi atau penyusutan yang dipercepat seperti lazim digunakan dinegara-negara maju. dimana selama jangka waktu itu pajak atas laba di bebaskan. Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan. Insentif Domestik Dalam menangani masalah insentif. Tekanan politik agar diberikan insentif pajak akan tetap ada. teristimewa jika diperkirakan bahwa subsidi semacam itu tidak akan di perlukan di masa mendatang. insentif investasi umum tidak bisa efektif guna menaikkan tingkat investasi menyeluruh kecuali jika peningkatan tabungan juga mendapat perhatian. ada baiknya kita membedakan antara insentif domestik dan masalah insentif yang berkaitan dengan modal asing. maka sebaiknya insentif dirancang seefisien mungkin.

kebijakan pajak bisa mempengaruhi keputusan lokasi investasi. Insentif Regional Insentif selektif lainnya dapat kita temukan dalam kebijakan regional. dan pasar modal yang tidak sempurna bisa mengacaukan investasi meskipun tanpa eksternalitas. Tenaga kerja mungkin tidak bisa berpindah secara luwes. Tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembangunan mengandung dampak eksternal (external economies) yang tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan investasi swasta. Cara-cara semacam itu mungkin akan tepat dalam kaitannya dengan insentif regional di mana tujuannya adalah untuk menaikkan tingkat pendapatan di daerah terbelakang. Untuk tujuan terakhir ini. Seiring daftar skala prioritas sedemikian luas sehingga hampir tidak ada yang patut di pilih. seperti pabrik baja. yaitu apakah peningkatan produksi atau nilai tambah didaerah tersebut. dan dalam kesempatan lain lagi kita akan melihat bahwa insentif diberikan untuk mempertahankan pasar bagi perusahaan negara. Bisa juga pajak atas laba diperingan dengan syarat peralatan yang digunakan harus padat tenaga kerja. Meskipun pada prinsipnya insentif yang selektif itu baik. yang seharusnya tidak mendapat prioritas utama. pemilihan industri tertentu selalu di barengi dengan teknan politik dari kelompok tertentu. Karena itu. dan pengenaan pajak atas laba yang tidak efektif. biaya modal yang rendah disebabkan oleh kurs valuta yang menguntungkan. pembebasan bea masuk. subsidi upah bisa diberikan entah secara langsung atau tidak melalui kredit atas daftar upah yang pada prinsipnya mirip dengan kredit investasi. Seperti telah kita ketengahkan sebelumya. Biaya buruh yang tinggi umumnya disebabkan oleh peraturan upah minimum dan berbagai tuntutan serikat pekerja. Karena itu investasi semacam itu perlu dikoreksi. Hal itu juga mungkin tepat untuk menanggulangi Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal itu sangat sukar untuk dilaksankan. Jawabannya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Masalahnya adalah apakah insentif itu lebih baik diberikan dengan mensubsidi investasi atau mensubsidi perusahaan pekerja di wilayah bersangkutan. Guna mengembalikannya ke keseimbangan semula. Sedangkan dipihak lain. khususnya jika terdapat banyak penganggur atau penganggur tak kentara di sektor pertanian yang dapat di tarik kesektor industri apabila biaya upah berkurang. atau apakah peningkatan upah atau standar hidup masyarakatnya. Namun keadaan negara negara berkembang bisa menuntut lain. atau mungkin juga tenaga kerja ingin dipertahankan di suatu daerah tertentu karena terlalu banyaknya perpindahan penduduk ke kota atau karena alasan non ekonomis yang menghendaki pemerataan tingkat pembangunan daerah.101 bahwa industri yang akan dipilih adalah industri yang memainkan peranan strategis dalam pembangunan dan yang tidak akan berkembang jika tidak mendapat bantuan khusus. subsidi upah akan lebih efektif. insentif khusus bisa diberikan demi pembangunan daerah tersebut. namun penerapannya secara efisien sukar untuk dilaksanakan. apakah itu untuk tenaga kerja atau modal dan umumnya diharapkan agar kebijakan pajak bersifat netral. Insentif Bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Penggunaan bentuk investasi yang insentif modal didorong oleh distorsi harga yang menyebabkan biaya buruh terlalu tinggi dan biaya modal menjadi rendah.

Persoalan terakhir yang timbul dalam kaitannya dengan persaingan di antara negara sedang berkembang untuk memperebutkan modal asing adalah jika Dasar-dasar Keuangan Publik . Karena itu. Insentif bagi modal domestik hanyalah melibatkan transfer dari pemerintah ke investor. Karena itu. Cara lain untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama (tax-sparing arrangement). dan menghambat investasi yang hanya ingin mengeruk keuntungan sesaat. Hal itu tidak hanya berfungsi sebagai penarik modal ke suatu negara yang menawarkan insentif pajak tetapi juga mendorong terlaksananya reinvestasi di negara tersebut. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa insentif tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga mendorong dilakukannya reinvestasi dan operasi permanen. Dengan pendekatan ini. maka penarikan pajak atas laba secara umum bagi investasi domestik harus dipertimbangkan. insentif pajak harus dikaitkan dengan nilai tambah domestik sebagai akibat adanya modal asing. kerugian ini harus dikompensasi oleh keuntungan yang diperoleh akibat pelipatgandaan modal tersebut agar insentif pajak tersebut bisa diterima. Dalam hal ini. Akan tetapi. Apapun masalahnya. pendekatan ini tidak menggairahkan reinvestasi. dan karena tekanan politik akan menuntut agar insentif tersebut diberlakukan secara umum bagi investasi domestik.102 pengangguran akibat berjubelnya perpindahan penduduk ke kota. Tidak ada manfaatnya bagi suatu negara untuk menerima modal asing lengkap dengan sumber dayanya dan hanya meminjam lokasi pada negara tersebut. Perancangan insentif mungkin akan bisa mengarahkan investasi tersebut pada sektor yang menguntungkan negara bersangkutan. cukup beralasan untuk mempertahankan penundaan atas investasi di suatu negara yang sedang berkembang dan meniadakannya untuk investasi di negara maju. maka pajak yang lebih rendah di negara tersebut hanya akan menjadi transfer ke negara lain tanpa adanya manfaat bagi investor yang mengirimkan labanya ke negara asalnya. Karena itu. Jika negara sumber modal tersebut menarik pajak penghasilan yang diperoleh dari luar negeri dengan tarifnya sendiri sambil tetap memberikan kredit pajak luar negeri. penundaan pajak akan menjadi sangat penting. Keuntungan tersebut adalah berupa kenaikan penghasilan faktor-faktor produksi domestik akibat adanya modal asing. Cara lain untuk mendorong investasi yang padat kerja adalah dengan memberikan insentif pajak bagi pekerjaan gilir kerja (shift) malam. tetapi keringanan pajak yang diberikan kepada investor asing akan mengurangi jatah keseluruhan negara atas laba yang dihasilkan modal asing tersebut. suatu negara membutuhkan kerja sama dari negara asal investor asing agar insentif yang efektif bisa diberikan. peranan insentif pajak bagi modal asing berbeda dari insentif pajak bagi modal domestik. negara asal modal akan memberikan kredit atas laba yang direpatriasi sebesar pajak yang dikenakan di negara tujuan meskipun tidak ada pajak yang dibayar menurut kesepakatan insentif tersebut. Insentif bagi Modal Asing Dari sudut pandang nasional.

Untuk mengatasi hal semacam itu diperlukan semacam kerja sama antar negara sedang berkembang. insentif semacam itu tidak harus dikaitkan dengan total penjualan di luar negeri atau laba yang dihasilkannya. Negara–negara berkembang bisa dihantui oleh pemborosan sumber daya. maka negara sedang berkembang sebagai suatu kelompok akan dirugikan. Besarnya tunjangan sosial di negara-negara kaya mencerminkan sistem jaminan sosial yang lebih baik. Kebijakan Pengeluaran Peranan kebijakan pengeluaran dalam pembangunan ekonomi kurang disorot bila dibandingkan dengan kebijakan perpajakan. Di satu pihak analisis biaya–manfaaat akan lebih mudah diterapkan di negara berkembang dari pada negara maju. Jadi manfaat dari proyek transportasi atau irigasi dapat di nilai berdasarkan penurunan biaya produk yang di timbulkannya dipasar. Dalam konteks ini. dan data pembanding lebih sukar diperoleh. Dalam kadar tertentu. Peranan strategis dari investasi pemerintah dalam pembangunan ekonomi sebagian dilandasi oleh belum berkembangnya pasar modal swasta dan sebagian karena kurangnya bakat entrepreneurial (kewiraswastaan) masyarakat. Suatu ukuran yang tidak bisa diperoleh jika pengeluaran publik digunakan untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Lebih jauh lagi. pengunaan analsis biaya-manfaat sangat penting. namun evaluasi proyek yang efisien merupakan suatu tugas yang sukar. Hal ini juga dilandasi oleh kenyataan bahwa tipe investasi yang diperlukan pada tahaptahap awal pembangunan sering kali memerlukan jumlah besar seperti untuk pembangunan sistem transportasi atau pembukaan suatu daerah yang terbelakang. Insentif Ekspor Insentif pajak untuk ekspor merupakan kebijakan umum guna membantu pengembangan pasar luar negeri dan memperkuat neraca pembayaran. Negara-negara berpendapatan rendah menghabiskan banyak pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan sementara tunjangan sosial kurang diperhatikan. karena investasi pemerintah lazimnya dimaksudkan untuk penyediaan barang–barang antara yang nilainya bisa diukur dengan melihat pengaruhnya terhadap harga–harga barang yang disediakan oleh swasta. tetapi dengan nilai tambah domestik. seperti lazimnya kita hadapi. Pengeksporan kembali atas barang yang diimpor atau barang dalam transito tidak memberikan nilai tambah domestik. Hanya nilai tambah domestiklah yang menambah hasil perdagangan luar negeri bagi suatu negara. Agar efektif. banyak pengeluaran untuk pendidikan juga mencerminkan tingginya biaya pendidikan di negara-negara ini. Karena itu tidak mengherankan jika pengembangan investasi pemerintah memainkan fungsi utama dalam perancangan rencana pembangunan di negara sedang berkembang.103 suatu negara mengalahkan yang lain dengan menawarkan insentif yang lebih besar. Salah satu peran utama pasar bersama antar negara sedang berkembang adalah untuk menghindarkan hal semacam itu. investasi semacam ini menghasilkan manfaat eksternal sehingga penyediannya sebaiknya dilakukan oleh pemerintah.

pelaksanaan evaluasinya di negara sedang berkembang lebih sulit. utilitas marjinal dari konsumsi itu akan lebih kecil karena pendapatan sudah lebih tinggi. pemerintah mungkin akan merasa lebih praktis untuk menentukan tingkat konsumsi minimum yang secara politis dapat di terima untuk lima atau sepuluh tahun mendatang dan kemudian menghitung tingkat diskonto dari konsumsi minimum tersebut. akan kita jumpai bahwa biaya konsumsi sangat tinggi pada tingkat pendapatan yang rendah. Bantuan Internasional dan Redistribusi Pertimbangan kemanusiaan atau politis yang menyangkut distribusi pendapatan di suatu negara tidak bisa dibatasi hanya pada lingkup negara itu saja. Tetapi di pihak lain. Sejumlah studi telah memperlihatkan betapa besarnya manfaat investasi di bidang pendidikan bagi negara–negara berkembang. Jika kita melihat dari sisi yang berlawanan. Kenyataan ini cenderung diabaikan dalam pengambilan keputusan tabungan perorangan.104 menghasilkan barang jadi untuk konsumsi. Yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa investasi bagi pendidikan dirancang guna menghasilkan pekerja terampil sesuai dengan kebutuhan negara bersangkutan. taksiran yang lebih kasar mungkin akan di gunakan. manfaat langsung yang tersedia akan di sertai dengan manfaat tidak langsung atau manfaat eksternal yang lebih sukar untuk diperkirakan. kemungkinan ini menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dan evaluasi atas setiap proyek dalam konteks rencana pembangunan yang menyeluruh. tetapi pemerintah harus memperhitungkannya. Di suatu sisi. maka untuk itu harus di gunakan harga bayangan (shadow price). maka penggunaan tarif sosial kiranya tidak bisa dielakkan. Jika modal dinilai terlalu rendah sementara tenaga kerja dinilai terlalu tinggi penggunaan harga pasar akan menimbulkan distorsi yang mengarah kepada teknologi yang sangat padat modal sebagaimana telah kita simak sebelumnya. Investasi dalam sumber daya manusia perlu mendapat perhatian khusus dalam konteks pembangunan. Dasar-dasar Keuangan Publik . jumlah biaya lebih sulit untuk di tentukan. Dengan memperhitungkan adanya manfaat eksternal tarif sosial tersebut harus di tetapkan lebih rendah dari pada tarif yang berlaku sehingga menunjukkan tingkat diskonto yang lebih tinggi bagi penyediaan modal dan lebih mendukung pengadaan proyek–proyek jangka panjang. Program pendidikan penting bukan hanya dalam kaitannya dengan kebijakan pertumbuhan tetapi juga dengan pendistribusian hasil-hasil pembangunan diantara lapisan masyarakat dan keberbagai sektor perekonomian. Tetapi di sini sebagaimana halnya dalam penentuan tingkat diskonto lainnya. Sekali lagi. Karena harga pasar mungkin tidak mencerminkan biaya sosial yang benar–benar terjadi. Faktor lain yang juga penting adalah penentuan tarif/tingkat diskonto yang semestinya karena pasar modal swasta yang belum berkembang sepenuhnya. Dalam konteks pembangunan lazimnya. Di sisi lain. namun di masa mendatang setelah keuntungan dari penundaan konsumsi itu diperoleh. Kesulitan–kesulitan itu akan makin rumit dalam konteks pembangunan yang dinamis dimana hargaharga relatif yang berlaku pada saat proyek dimulai mungkin akan sangat berbeda dari harga–harga yang berlaku setelah proyek berfungsi.

Pendekatan ini telah dilaksanakan secara cukup besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir. khususnya di negara maju. Jika seseorang di suatu negara memperoleh pendapatan sebesar rata-rata di antara berbagai negara tersebut. mustahil kiranya untuk meratakan ketimpangan ini. Masalah Besarnya Transfer Dalam menangani distribusi pada taraf internasional. masalah distribusi di tingkat internasional lebih sukar untuk di tangani dari pada lingkup suatu negara. maka akan lebih mengena lagi pada tingkat internasional di mana skala Dasar-dasar Keuangan Publik . sekali lagi masalahnya mirip dengan masalah antara negara bagian di suatu negara berserikat. maka bisa diperkirakan bahwa 40 persen termiskin dari penduduk dunia menerima 3 persen dari pendapatan seluruh dunia. Atau mungkin juga pada suatu saat hal itu dilaksanakan berupa redistribusi dari tingkat pendapatan dunia pada saat itu.105 Kelihatannya aspek–aspek dari distribusi internasional akan menjadi unsur yang makin penting dalam politik dunia masa mendatang. masalah mendasar adalah redistribusi di antara anggota masyarakat. sementara 20 persen terkaya menerima 60 persen. kesenjangan lebih besar dan masalah organisasi lebih pelik karena tidak ada pemerintah pusat yang harus menanganinya dan upaya mengatasi ketimpangan tersebut harus melalui transfer antar negara. yang menjadi persoalan mungkin adalah perbedaan pendapatan rata-rata di negara-negara. Tidak ada gunanya jika redistribusi ke negara berpenghasilan rendah pada akhirnya hanya akan menambah kekayaan segelintir masyarakat kaya di negara tersebut. Dalam kadar tertentu kedua masalah itu bertumpang tindih karena kebanyakan masyarakat miskin pada kenyataannya merupakan penduduk dari negara berpendapatan rendah. Lebih jauh lagi. harus ditelaah dengan seksama. tetapi jika keduanya tidak tumpang tindih. Ketimpangan di dalam negeri diperparah dengan ketimpangan pendapatan rata-rata di antara berbagai negara. Jika ketimpangan di dalam negara-negara masih diperhitungkan lagi. sehingga situasi tersebut akan semakin parah seperti halnya distribusi pendapatan domestik. Upaya itu bisa dilaksanakan dalam bentuk bantuan internasional yang di rancang untuk menaikkan tingkat pertumbuhan negara-negara berkembang. lebih masuk akal bahwa pendapatan per kapita di negara maju akan naik lebih cepat ketimbang di negara miskin. Bantuan Pembangunan Dari penjelasan terdahulu terlihat dengan jelas bahwa kebijakan redistribusi tidaklah sederhana dan pengaruhnya pertumbuhan ekonomi. maka rasio tersebut berubah menjadi 2 dan 70 persen. sehingga mirip dengan pajak penghasilan negatif yang diterapkan pada redistribusi domestik. Meskipun pendekatan ini tidak bisa diharapkan dalam waktu dekat. Dalam kondisi ini. namun mungkin saja pada suatu saat nanti hal itu akan menjadi suatu pemikiran pokok. Jadi. Tetapi meskipun hal itu penting. Di tingkat internasional. Tingkat ketimpangan ini jauh lebih besar daripada ketimpangan di suatu negara. Jika sudut pandang ini mengena pada redistribusi yang bersifat nasional. Ketimpangan distribusi pendapatan di antara masyarakat dunia merupakan masalah yang sangat pelik. atau juga ketimpangan distribusi diantara masyarakat seluruh dunia tanpa memandang batas negara.

di samping menambah keahlian juga menghambat pengembangan kewiraswastaan domestik dan menciptakan ketergantungan politis. Ini bisa dilakukan dengan memberikan preferensi dan penghapusan pembatasan perdagangan. Dalam hal ini. Para pemasok modal dari negara kaya tetap mendapat keuntungan karena memperoleh hasil pengembalian yang lebih besar dari investasinya di negara-negara miskin. Tak ada manfaatnya jika kontribusi negara-negara maju terlalu dipaksakan sehingga kemampuan ekonominya untuk mempertahankan kesinambungan bantuan menjadi terganggu. baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. pekerja di negara maju juga dirugikan karena mereka kurang leluasa untuk berpindah jika dibandingkan dengan faktor modal. Akan tetapi. perbaikan distribusi pendapatan dunia dapat dicapai meskipun dengan memperbesar ketimpangan (kendatipun hanya dalam taraf yang lebih kecil) di negara maju. Perbaikan besar atas kemelaratan masyarakat hanya dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas pekerja-pekerja di negara miskin. output dunia akan meningkat karena modal akan dimanfaatkan secara efisien di negara di mana keuntungan modal pekerja sangat rendah. Dengan demikian. akan terjadi redistribusi pendapatan dari pekerja negara kaya (yang akan beroperasi dengan modal yang cukup besar) kepada pekerja di negara miskin yang produktivitasnya akan meningkat bersamaan dengan naiknya keuntungan modal pekerja. Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi di pihak lain sebagai konsumen mereka akan diuntungkan karena harga barang-barang impor menjadi turun. Salah satu upaya penting untuk ini adalah dengan menata kembali aliran modal dari negara kaya ke negara miskin dengan penerapan itu. Karena itu sindrome orang kaya baru akan tetap menggejala dan hal ini merupakan hambatan. Juga dipermasalahkan bahwa masuknya tenaga manajemen asing yang menyertai masuknya modal asing.106 penyesuaian potensial yang harus dicapai melalui distribusi sangat besar. kebijakan-kebijakan semacam ini tidak menjamin bahwa negara-negara berkembang akan mampu secara independen untuk mempertahankan pertumbuhan yang telah mereka capai. Kontribusi penting kedua bagi pembangunan ekonomi adalah dengan membuka pasar negara-negara maju lebih lebar bagi ekspor negara-negara berkembang. Akan tetapi.

prakiraan pertumbuhan ini. tetapi ini bukan faktor utama karena faktanya adalah bahwa sebagian besar hutang pemerintah jatuh tempo dalam jangka sangat pendek. Tetapi meningkatnya rasio pembayaran bunga terhadap GNP. akan bersifat moderat dan tidak eksplosif. surat berharga yang jatuh tempo. Struktur Hutang pemerintah Setelah menelaah pertumbuhan dan struktur hutang pemerintah. Sepertiga dari hutang yang beredar jatuh tempo kurang dari satu tahun. Kekhawatiran bahwa hutang yang beredar tidak dapat dibayar kembali pada saat jatuh tempo tidak beralasan. P Pertumbuhan hutang pemerintah harus dilihat dalam kaitannya dengan GNP. Bank komersial. Namun dengan menaikkan tingkat pembayaran bunga dan anggaran cenderung mengganggu program publik lainnya. bahkan dengan asumsi yang paling pesimistik. Pertumbuhan hutang publik sudah lama menjadi isu yang hangat dalam perdebatan mengenai kebijakan fiskal. khususnya dalam keadaan meningkatnya defisit dewasa ini. Sesuai dengan sifat hutang publik. Kritik-kritik terhadap pembiayaan defisit tidak hanya ditujukan pada pengaruh inflasionernya.107 B A B XII HUTANG PUBLIK Pertumbuhan Hutang Pemerintah ertumbuhan hutang pemerintah dan implikasinya terhadap perekononian sejak lama menjadi isu perdebatan yang hangat. kita beralih pada implikasi ekonomi dari hutang yang beredar. Inflasi dapat berlaku sebagai bentuk penyangkalan hutang yang tersembunyi. bukan dilunasi. Lebih dari 70 persen hutang pemerintah berbentuk surat berharga yang mudah dipasarkan. menimbulkan beban karena perpajakan diperlukan untuk membiayai pembayaran bunga dan mengakibatkan timbulnya deadweight loss. perusahaan asuransi dan lembaga tabungan merupakan penanam utama hutang pemerintah. tetapi juga terhadap konsekuensi akumulasi hutang di masa depan dan bebannya terhadap gcnerasi mendatang. Kegiatan hutang pemerintah meliputi peminjaman dari instansi dalam bentuk kredit hipotik. Dasar-dasar Keuangan Publik . didanakan kembali. Namun demikian.

Obligasi Umum (General Obligation Bonds) Dijamin penuh oleh pemerintah yang menerbitkan 2. cadangannya. Rating ini dibuat berdasarkan pada catatan kinerja pelunasan hutang masa lalu. 3. Permodalan sektor publik paling sering diperoleh melalui bursa dengan penerbitan obligasi. Hutang publik sebagai menunjukkan persentase dari aktiva lancar (hutang publik dan jumlah uang beredar). surat berharga yang dapat dipasarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pinjaman juga mendistribusikan beban pembayaran kepada para wajib pajak secara lebih adil daripada meletakkan semua beban pada mereka yang hidup pada saat fasilitas diperoleh atau dibangun. Pinjaman darurat digunakan untuk menanggulangi bencana alam dan kontijensi yang tidak terprediksikan sebelumnya. tingkat bunga adalah berbeda antara dua jenis dasar hutang pemerintah: obligasi umum pemerintah dan obligasi penerimaan. pinjaman jangka pendek sering dimanfaatkan untuk mengkoreksi pendapatan. tidak menjadi masalah. bangunan dan fasilitas-fasilitas selama masa ekonomis proyek permodalan. dan kepentingan darurat. dan semua hal yang terkait dengan kemampuan untuk membayarnya. sebagai suatu jalan untuk berhutang. dimana lebih seperti arus sepanjang tahun. taxbase-nya. Pada tingkat lokal. Municipal Bond Obligasi yang bunganya dibebaskan dari pajak dari institusi penerbitnya. yang diterima tidak merata. Sebagai tambahan. praktek kebijakan fiskal. Obligasi Pendapatan (Revenue Bonds) Pendapatan dari penjualan jasa dijaminkan untuk pembayaran hutang. Tetapi pertimbangan utama adalah evaluasi dari penyedia jasa rating obligasi yang menilai potensi pemerintah untuk membayar pokok dan bunganya pada tanggal jatuh temponya. Tetapi yang menjadi masalah adalah hutang publik yang memegang sebagai bagian dari struktur likuiditas ekonomi.108 Tujuan Hutang Pemerintah Tiga tujuan utama Pemerintah pusat dan daerah berhutang adalah: Pembiayaan modal. Hutang yang Ditanam Swasta Dalam beberapa aspek hutang publik (khususnya pembiayaan pembayaran bunga melalui pajak). Beberapa jenis obligasi pemerintah: (Holley Ulbrich) 1. kebutuhan jangka pendek. Pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan modal mengalokasikan biaya perolehan tanah. dan hanya hutang publik yang ditanam swasta yang menimbulkan masalah bagi manajemen. Beberapa faktor akan menentukan tingkat bunga yang harus dibayar oleh pemerintah atas obligasi yang diterbitkannya. Komposisi hutang Pemerintahan menurut jenis penerbitnya dibagi menjadi: 1. apakah hutang itu ditanam oleh lembaga masyarakat atau pun oleh instansi pemerintah. Komposisi Hutang Berdasarkan Jenis Penerbitnya. terhadap pengeluaran permintaan.

80 persen ditahan secara domestik. Surat berharga yang tidak dapat dipasarkan ditawarkan kepada berbagai kelompok investor dan hanya dapat ditahan oleh pembeli pertama. Wesel berkisar dari 1 sampai 10 tahun dan obligasi untuk periode yang lebih panjang. Dasar-dasar Keuangan Publik . Surat berharga yang dapat dipasarkan diperdagangkan dan tersedia bagi setiap pembeli. Kecuali hutang yang ditahan pada negara-negara maju. penanaman itu sebenamya merupakan bagian dari dasar moneter (monetary base) ketimbang bagian dari hutang pemerintah kepada publik. Hal ini dilakukan dalam bentuk surat berharga khusus. tetapi jatuh tempo itu bisa saja tiga bulan. Tagihan diterbitkan sebagian besar dengan jatuh tempo dua belas bulan. Surat berharga ini dirancang terutama bagi berbagai dana trust lokal. Sebagian besar penanaman swasta adalah pada lembaga tabungan dan dana trust perseroan. Karena sifat publik. obligasi sebagai sumber pembiayaan utama menjadi makin kurang penting. dan 8 persen oleh perusahaan asuransi. Pengandalan pada jangka pendek selama periode inflasi memungkinkan Departemen Keuangan guna menghindarkan komitmen jangka panjang untuk meminjam pada tingkat bunga nominal yang tinggi dengan harapan inflasi akan dapat dicek dan tingkat bunga akan turun di masa depan. Dengan tersedianya. Perbedaan utama dari ketiga jenis hutang itu terletak pada jatuh temponya. Struktur Jatuh Tempo Instrumen hutang diterbitkan untuk berlaku selama periode waktu tertentu. wesel dan obligasi. meliputi tagihan. yang menahan kewajiban dalam tahun-tahun di mana peneriman pajak masa berjalan melebihi pembayaran tunjangan. Surat berharga yang dapat dipasarkan (berjumlah sekitar tiga perempat dari total). Namun kebanyakan hutang masih terpusat pada jangka pendek.109 2. 18 persen ditahan oleh bank komersial. surat berharga yang tidak dapat dipasarkan. yang menyerap lebih dari 50 persen. Penerbitan yang tak dapat dipasarkan ditahan oleh individu dalam bentuk obligasi tabungan (savings bond). dimana peningkatan nilai sampai jatuh tempo merupakan pengembalian investor. Wesel dan obligasi mempunyai kupon pembayaran tahunan dan dapat ditebus dengan nilai pari pada tanggal jatuh tempo. 14 persen oleh pribadi (sebagian besar dalam bentuk obligasi tabungan). Siapa yang Menanam Hutang? Pembagian hutang menurut jenis penanamnya menjadi penting karena mempengaruhi struktur likuiditas dan posisi pasar modal. 95 persen dari penanaman domestik adalah dari investor swasta. Tagihan dijual dengan diskonto dan tidak berbunga. dan 20 persen ditanam luar negeri. dengan pembayaran modal dilakukan pada nilai pari pada tanggal jatuh tempo. dengan jatuh tempo di atas 10 tahun. Sedangkan penanaman Bank Sentral berbentuk surat berharga yang dapat dipasarkan dan diperoleh melalui proses pembelian pasar terbuka. sarana investasi baru yang lebih menarik. Yang paling penting adalah Trust Fund. tetapi surat berharga khusus juga disediakan untuk pemerintah daerah dan pemerintah luar negeri.

pemberian tambahan pinjaman $100 dengan jatuh tempo sepuluh tahun akan sama dengan pelunasan penerbitan hutang $100 dengan jatuh tempo ymg sama dengan asumsi pendapatan pajak yang sama digunakan urituk membiayai masing-masing transaksi itu. Dalam pagu modal yang sempuma. lebih cepat mendapatkan pengembalian pada surat berharga jangka pendek. legislatif di USA memberlakukan pagu bunga 4 1/4 persen pada surat berharga yang lebih lama dari lima tahun. Pagu Bunga Menjelang akhir Perang Dunia I.000 milyar. namun dengan demikian likuiditas struktur klaim meningkat. Jadi tidak ada obligasi jangka panjang yang dapat dijual sesudah tahun 1965 manakala hasil pasar melebihi pagu. Sesudah Departemen Keuangan meminta berkali-kali. tidak temasuk yang diterbitkan kepada instansi pemerintah. Karena instansiinstansi ini menggunakan dana.110 Pada saat yang sama. Jadi. persen pada bunga di bawah pari. mengurangi posisi hutang bersih pemerintah. alasan utama pemberian pinjaman oleh pemerintah adalah menyediakan dana bagi peminjam yang tidak mampu meminjam dari tempat lain tetapi yang pantas mendapat Dasar-dasar Keuangan Publik . Pagu sebagian besar tetap tidak efektif sampai paruh kedua tahun 1960-an ketika limit jangka panjang di pasar naik di atas tingkat ini. merupakan suatu anakhronisme karena setiap saat legislatif. Jadi ini bukan merupakan faktor yang berarti dalam membatasi penggunaan surat berharga jangka panjang. Pemberian pinjaman. pinjaman yang diberikan oleh pemerintah (yang dibedakan dari pengeluaran) memasuki arena sebagai instrumen kebijakan penganggaran tambahan. Pagu hutang. karena ini akan mengganggu ketentuan legislatif. Departemen Keuangan memilih tidak melakukan hal itu. seperti penarikan hutang. lembaga legislatif dapat menetapkan batas hutang eksplisit yang tak boleh dilewati oleh Departemen Keuangan. Menteri Keuangan meminta kenaikan pagu pinjaman. seperti yang disepakati oleh kebanyakan pengamat. Batas ini diperluas oleh Legislatif empat kali. Konggres mengesahkan penerbitan terbatas obligasi Tresury di atas hasil pagu. dan 1988 adalah sebesar $150. Meskipun pagu ini dapat dielakkan dengan penjualan obligasi bertarif kupon 4 1/4. Apabila operasi masa berjalan memerlukan kenaikan pinjaman pemerintah di atas pagunya. Sesudah menentukan defisit atau surplus dan perubahan tingkat bunga dengan cara ini. pemerintah dapat terlibat dalam penjanjian dan pensponsoran pinjaman oleh berbagai institusi yang pada gilirannya meminjamkannya kembali pada peminjam swasta. Sebenarnya. Pembatasan Hutang Pertumbuhan hutang ditentukan oleh peraturan pajak dan pengeluaran yang mendasarinya serta tingkat surplus dan defisit yang dihasilkannya. Tetapi hasil kedua transaksi itu bisa sangat berbeda dalam pasar yang tidak sempurna. investor merasa tak yakin mengenai masa depan (inflasi dapat memburuk) dan lebih suka untuk mencegah komitmen jangka panjang. Penerima pinjaman pemerintah mungkin tidak mampu mendapatkan kredit dari tempat lain. Hutang lnstansi dan Pinjaman yang diberikan oleh Pemerintah Di samping pinjaman langsung Departemen Keuangan. bisa menentukan penambahan hutang melalui peraturan pajak dan pengelurannya.

111
pinjaman karena alasan kebijakan publik. Jadi hal itu digunakan umum sebagai alat untuk alokasi, bukan sebagai kebijakan stabilisasi. Dengan demikian, masalah ini penting dalam konteks negara berkembang di mana investasi yang ditunjang pemerintah merupakan segi yang penting dari kebijakan pembangunan.

Hutang Publik sebagai Bagian dari Struktur Likuiditas Ekonomi
Sifat hutang yang berjangka waktu sangat pendek telah membuatnya makin likuid dan merupakan pengganti uang yang lebih dekat. Hutang publik merupakan media investasi yang penting bagi lembaga keuangan, khususnya bank, perusahaan asuransi dan pasar uang. Setelah meninjau pertumbuhan dan status hutang pemerintah, sekarang kita dapat beralih pada implikasi ekonominya. Masalahnya adalah bagaimana hutang yang beredar mempengaruhi berfungsinya ekonomi, yaitu bagaimana konsekuensi dari kebijakan masa lalu (yakni, defisit yang telah ditambahkan pada hutang) terhadap kondisi ekonomi di depan. Pengaruh ekonomi dari hutang yang beredar oleh karenanya harus dibedakan dengan dampak masa kini dari pembiayaan defisit yang melibatkan penciptaan hutang. Apakah akumulasi hutang yang berkelanjutan tidak akan mengarah pada kebangkrutan fiskal? Pendanaan Kembali versus Pelunasan Hutang Dengan makin membengkaknya hutang, apakah ada kemungkinan untuk membayarnya kembali? Pertanyaan yang menguatirkan ini tidaklah tepat: cepat atau lambat, hutang rumah tangga memang harus dibayar kembali, karena tindakan rumah tangga merupakan kegiatan yang terbatas. Sebaliknya hutang publik tidak perlu dibayar kembali, karena anggaran dan perekonomian merupakan kegiatan yang berkesinambungan. Apabila suatu penerbitan hutang jatuh tempo, hal itu harus dilunasi; tetapi dana yang diperlukan diperoleh dengan menerbitkan obligasi baru. Hutang itu didanakan kembali (refunded). Dengan hutang yang sebagian besar berjangka pendek, volume pendanaan kembali tabungan sekarang dengan pembayaran obligasi jatuh tempo dan penggantian melalui penerbitan obligasi kembali merupakan operasi mingguan. Sekalipun operasi penerbitan kembali obligasi secara tradisional melibatkan prosedur yang sangat rumit, yang memerlukan taksiran yang tepat atas hasil (yield) yang diinginkan masyarakat, teknik-teknik yang dikembangkan dalam tahun-tahun terakhir ini telah banyak disederhanakan. Penerbitan baru sekarang dijual melalui sistem lelang, dengan penawaran tertutup diterima dari dealer dan kemudian didasarkan pada sistem datang pertama, dilayani pertama. Meningkatnya pengandalan pada hutang jangka pendek, yang dijual pada diskonto dan bukan dengan suatu kupon, telah memperlancar perkembangan ini. Guna mempercepat proses ini, Bank Sentral bekerja erat dengan Pejabat Bendahara (Departemen Keuangan) dan bertindak sebagai instansinya. Singkatnya, operasi pendanaan kembali merupakan masalah manajemen dan apakah kita dapat membayar kembali hutang merupakan pertanyaan yang salah arah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana jasa bunga akan mempengaruhi perekonomian dan bagaimana hutang yang beredar masuk ke dalam struktur ekononomi.

Dasar-dasar Keuangan Publik

112
Beban Pajak dari Pelunasan Hutang Untuk melunasi hutang, bunga harus dibayar. Pajak yang dikenakan untuk membiayai pembayaran ini menimbulkan beban bagi perekononian. Beban ini tidak terlihat karena sumber daya ditarik dari perekonomian. Dengan asumsi kita membicarakan hutang yang ditahan secara domestik, kita berhutang kepada diri kita sendiri dan pembayaran bunga hanyalah pemindahan dana dari satu kantong ke kantong yang lain. Namun demikian, pajak yang harus dikenakan untuk membiayai transfer ini membawa kerugian yang berat, seperti juga pajak laimya, dan ini menimbulkan beban bagi perekonomian. Beratnya pengaruh tersebut cenderung muncul bila rasio penerimaan pajak (yang diperlukan untuk melunasi hutang) pada GNP meningkat. Jelaslah hal itu menjadi begitu besar sehingga menimbulkan masalah beban dan hambatan yang serius, suatu faktor yang terlupakan dalam proposisi kita berhutang kepada diri kita sendiri. Akumulasi hutang selama perang mungkin begitu drastis, sehingga menyebabkan kekacauan fiskal dan penyangkalan hutang dalam periode sesudah perang. Peristiwa ini terjadi di negara-negara Eropa sesudah kedua perang dunia. Untunglah hanya ada sedikit kemungkinan bahwa bencana seperti itu akan terjadi dalam keadaan damai. Untuk memastikan, perluasan hutang yang terus menerus digabungkan dengan GNP yang konstan akan mengakibatkan suatu rasio hutang terhadap GNP yang tak terbatas. Tetapi GNP juga mengalami peningkatan dan dapat diperlibatkan bahwa rasio defisit pada GNP digabungkan tingkat pertumbuhan GNP yang konstan, akan mengakibatkan, rasio hutang pada GNP dan rasio bunga pada GNP yang mendekati konstan. Dengan melihat pada dekade yang akan datang, marilah kita andaikan bahwa GNP meningkat pada tingkat tahunan 5 persen (3 persen untuk inflasi dan 2 persen untuk pertumbuhan riil.) Selain itu, defisit tahunan kita andaikan sama dengan 4 persen dari GNP. Dengan asumsi yang agak pesimistik ini, rasio hutang terhadap GNP akan naik dari 51 persen menjadi 64 persen dalam 10 tahun, sedangkan rasio pembayaran bunga pada GNP akan meningkat dari 4,1 ke 5,1, Tingkat yang sepadan sesudah periode lima puluh tahun, masing-masing akan menjadi 8,1 dan 6,5 persen. Tampak bahwa prospek pertumbuhan hutang, sekalipun menurut asumsi sangat defisit, tidak langsung mengasumsikan proporsi yang eksplosif. Bahaya yang melekat dalam melanjutkan defisit yang besar tidak terletak pada pengaruhnya terhadap besarnya hutang, seperti dalam dampak langsung pada bauran fiskalmoneter sehingga berarti pada tingkat tabungan dan pertumbuhan. Penyangkalan Hutang melalui lnflasi? Secara nominal nilai pari dari hutang yang beredar bersifat tetap, tetapi inflasi akan mengurangi nilainya dalam satuan riil. Contoh, nilai pari hutang yang beredar di USA dalam tahun 1970 adalah $370 milyar. Tetapi antara tahun 1970 s.d. 1982, harga-harga naik dengan 150 persen atau pada tingkat majemuk tahunan 8 persen. Jadi nilai hutang ini dalam satuan dollar tahun 1970 turun menjadi $148 milyar, atau 40 persen dari saat itu. Apakah ini berarti bahwa inflasi menghasilkan penyangkalan (repudiation) hutang tersembunyi sebesar 60 persen? Jawabannya tergantung pada jangka waktu saat hutang diterbitkan. Bila diasumsikan seorang investor yang membeli obligasi pemerintah berjangka tiga Dasar-dasar Keuangan Publik

113
tahun dalam tabun 1970. Hasil pada saat itu adalah 7 persen, sehingga obligasi itu dapat ditebus pada $100 dalam tahun 1982 dan peneriman per tahun sampai terjual $100 adalah $7. Kemudian bila diasumsikan tingkat pengembalian modal yang sebenarnya adalah 3 persen, sehingga investor kita mengharapkan tingkat inflasi sebesar 4 persen. Pada tingkat inflasi ini hasil nominal 7 persen akan menghasilkan tingkat pengembalian 3 persen. Tetapi ternyata tingkat inflasi selama tiga tahun adalah 8 persen. Jika si investor telah mengetahui hal ini, ia akan meminta hasil sebesar 11 persen, yakni suatu obligasi yang terjual pada nilai pari yang seharusnya mempunyai pembayaran kupon sebesar $11 per tahun. Tingkat inflasi yang lebih tinggi dari yang diantisipasikan memberikan tingkat pengembalian riil (real rate of return) kepada investor sebesar -1 persen (7 persen dikurangi 8 persen). Kerugian investor ini dicerminkan oleh keuntungan yang diterima pembayar pajak, yang beruntung dalam melunasi hutang (bunga dan pembayaran kembali pada jatuh tempo) dengan dollar yang lebih murah. Pada tahun 1982, hasil (yields) telah meningkat menjadi 13 persen dan disusul dengan meningkatnya perkiraan inflasi. Sejak itu jumlahnya menurun menjadi sekitar 8 persen, bersama dengan penurunan dalam tingkat inflasi menjadi di bawah 4 persen. Dengan demikian, apakah penyangkalan hutang melalui inflasi akan terjadi, tergantung pada seberapa tepat inflasi dintisipasi pada waktu hutang diterbitkan dan bagaimana antisipasi ini dicerminkan dalam tingkat bunga nominal yang lebih tinggi. Pada gilirannya hal ini tergantung pada jatuh tempo hutang. Jika hutang ditanam dalam bentuk klaim jangka pendek, katakanlah tagihan tiga bulan, tingkat hasilnya akan sesuai dengan tingkat bunga yang berlaku dalam pasar uang hingga akan cenderung menceminkan tingkat inflasi. Situasinya berbeda jika hutang tersebut bersifat jangka panjang dan terjadi tingkat inflasi yang tinggi yang tidak diperhitungkan kctika menetapkan syarat-syarat pada waktu hutang diterbitkan. Karena hutang paling banyak diterbitkan dalam bentuk surat berharga jangka pendek, maka penyangkalan hutang melalui inflasi tidak lagi menjadi isu utama.

Apakah Pembiayaan melalui Hutang akan Membebani Generasi Mendatang?
Pembahasan yang berhati-hati dilakukan terhadap pertanyaan apakah pembiayaan melalui hutang akan menimbulkan beban bagi generasi mendatang. Pengalihan beban kepada generasi mendatang adalah layak, sebagai suatu keadilan antar generasi, untuk pembiayaan atas pengeluaran modal publik. Terdapat berbagai mekanisme pengalihan beban, di antaranya termasuk a) pembentukan modal yang berkurang, b) pengalihan melalui tumpang tindih generasi, dan c) pengalihan beban dari hutang luar negeri. Lebih lanjut, pengandalan pada sumber daya luar tidak harus melibatkan penyerapan hutang luar negeri, tetapi dapat mengambil bentuk arus modal masuk dan surplus impor yang berkaitan. Menimbang bahwa ketakutan terhadap kebangkrutan fiskal adalah tidak realistik, timbul pertanyaan apakah pembelanjaan dengan hutang tidak akan membebani generasi mendatang?

Dasar-dasar Keuangan Publik

114
Bagaimana pengalihan (transfer) beban itu terjadi dan apa pengaruhnya pada ekuitas fiskal? Pengalihan Beban melalui Pembentukan Modal yang Berkurang Jika sumber daya sepenuhnya dimanfaatkan, kenaikan dalam jasa publik akan memindahkan sumber daya dari sektor swasta ke sektor publik, sehingga sumber daya yang tersedia untuk produksi barang-barang swasta akan berkurang. Dalam pengertian pelepasan sumber daya, beban tersebut haruslah dipikul oleh generasi sekarang. Tetapi tidak demikian halnya jika pemindahan beban dipandang dalam artian konsumsi masa berjalan (current consumption). Mekanisme pertama dari pengalihan beban diberikan melalui pembentukan modal yang berkurang. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme ini bekerja, kita kembali ke kerangka sistem klasik dimana investasi menyesuaikan dirinya sendiri secara otomatis terhadap tingkat tabungan yang akan datang, pada tingkat pendapatan full-employment. Dalam sistem tersebut, setiap pengalihan sumber daya dari sektor swasta ke sektor publik mengakibatkan sumber daya sektor sawsta berkurang. Dalam pengertian sempit ini, beban dari pengeluaran sekarang harus dipikul oleh generasi sekarang. Tetapi sumber daya yang ditarik dari sektor swasta mungkin berasal dari konsumsi atau pembentukan modal. Dalam kasus pertama, kesejahteraan dari generasi sekarang, yang diukur dengan konsumsinya dikurangi, dan pendapatan generasi mendatang tidak dipengaruhi. Dalam kasus kedua, kesejahteran konsumsi dari generasi sekarang tidak diganggu sementara generasi mendatang akan mewarisi stok modal yang lebih kecil dan menikmati pendapatan yang lebih rendah. Dalam pengertian ini, generasi mendatang akan dibebani. Jika kita selanjutnya mengasumsikan bahwa pembelanjaan dengan pajak berasal dari konsumsi, sedangkan pembelanjaan dari pinjaman berasal dari tabungan (sehingga menurut asumsi sistem klasik; berasal dari investasi maka selanjutnya pembelanjaan dengan pinjaman akan membebani generasi masa depan. Mengikuti prinsip bahwa jasa publik harus dibiayai atas dasar manfaat, sifat pengeluaran, yang harus dibiayai menjadi sangat panting. Dalam hal pengeluaran modal, manfaat akan terbawa ke masa depan sehingga pengalihan beban diperlukan sebagai suatu keseimbangan antar generasi. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, ini merupakan penalaran untuk membagi anggaran menjadi komponen masa berjalan dan komponen modal, dengan yang pertama dibiayai oleh pajak dan yang terakhir oleh pinjaman. Beberapa kualifikasi dari argumen yang berlaku perlu dikemukakan; 1. Tergantung pada jenis pajak yang digunakan, pembiayaan dengan pajak sebagian dapat berasal dari tabungan. Demikian pula, pembiayan dengan pinjaman sebagian dapat berasal dari konsumsi. Tidak perlu semua transfer menaikkan konsumsi. Oleh sebab itu, defisit hanya memberikan suatu taksiran kasar mengenai penarikan sumber daya dari pembentukan modal swasta.

Dasar-dasar Keuangan Publik

115
2. Pendekatan harapan yang rasional (the rational expectation approach), seperti yang dikemukakan pada Bab X, mempertanyakan apakah tanggapan setiap individu terhadap pembiayaan melalui pajak dan pinjaman akan berbeda. Ketika generasi sekarang (sebagai individu yang rasional) meminjam kepada pemerintah, mereka diasumsikan dapat mengantisipasikan pajak masa depan (yang terhutang oleh pewarisnya) yang harus dipenuhi untuk melunasi hutang itu. Oleh karena itu, pembiayaan dengan pinjaman akan membuat keaadaan generasi pertama seperti pada pembiayaan dengan pajak. Tetapi apakah kekayaan bersih wajib pajak berkurang sedangkan pemberi pinjaman dikompensasikan ketika menerima obligasi pemerintah? Jawabannya adalah tidak, atau begitulah menurut pandangan aliran harapan rasional. Karena keuntungan ini akan dibatalkan oleh adanya asumsi kewajiban pajak masa depan. Jadi kekayaan bersih sektor swasta akan berkurang oleh pengeluaran publik, apapun metode pembiayaan (pajak atau hutang) yang digunakan. Berdasarkan argumen 'Ricardan Equivalence' ini, tidak dapat lagi dikemukakan bahwa pembiayaan melalui pinjaman akan mengakibatkan pengalihan beban sedangkan pembiayaan melalui pajak tidak seperti yang dinyatakan sebelumnya, hal ini merupakan asumsi yang hampir tidak realistis. Penalaran kita didasarkan atas asumsi sistem klasik yang terlaksana baik, di mana tingkat pemintaan agregat tidak dipengaruhi oleh pilihan antara pembiayaan melalui pajak dan melalui pinjaman. Jika asumsi ini tidak berlaku, pilihan antara pembiayaan melalui pajak dan melalui pinjaman seperti halnya bauran kebijakan fiskal-moneter mungkin harus ditentukan untuk memberikan tingkat permintaan agregat yang tepat, bukan mengakomodasikan pertimbangan keseimbangan antar generasi. Pertimbangan ini khususnya penting pada tingkat nasional, yang memikul tanggung jawab terhadap kebijakan stabilisasi; dan kurang penting pada tingkat lokal. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, pada tingkat lokal lebih sesuai menggunakan anggaran modal. Pengalihan Beban Melalui Tumpang Tindih Generasi Bila tidak ada tumpang tindih generasi (generation overlap), pembentukan modal swasta yang berkurang merupakan satu-satunya mekanisme di mana pinjaman domestik dapat dialihkan kepada generasi masa depan. Tetapi tidak demikian halnya jika terdapat dua generasi yang tumpang tindih dalam suatu waktu. Andaikan bahwa generasi 1 hidup dari tahun satu sampai tahun lima puluh, sedangkan generasi 2 hidup dari tahun dua puluh lima sampai tahun tujuh puluh lima. Juga andaikan bahwa semua pajak berasal dari konsumsi. Sekarang generasi 1, dalam tahun satu, dikenakan pajak sebesar $200.000 untuk memikul biaya gedung pemerintah ymg memiliki kegunaan selama lima puluh tahun. Hal itu dilakukan dengan mengorbankan konsumsi generasi tersebut dalam jumlah yang sama. Akan tetapi terdapat pula kemungkinan dalam tahun dua puluh lima sampai lima puluh untuk memungut pajak sebesar $100.000 dari generasi 2 guna membayar generasi 1, jadi melibatkan pengalihan konsumsi swasta dari generasi 2 ke generasi 1. Dengan cara ini generasi 1, sekalipun pada awalnya memikul keseluruhan beban tembut, namun kemudian dapat mengalihkan sebagian dari

3.

Dasar-dasar Keuangan Publik

116
beban itu ke generasi 2. Untuk maksud memastikan kembali, generasi 1 dapat diberi janji pembayaran kembali dalam bentuk obligasi, yang akan ditebus kemudian dengan pajak yang dikenakan pada generasi 2. Transfer antar generasi yang tumpang tindih seperti itu dapat berfungsi, sekalipun tidak ada pengaruh pada pembentukan modal sektor swasta. Kebalikan dari kasus ini, generasi 1 dapat memberi hadiah kepada generasi 2 dan menanggung semua beban tanpa menghasilkan generasi 2 untuk membayar hutang di masa mendatang. Hal ini persis sama dengan mekmisme yang diterapkan ketika pensiun hari tua diberlakukan dan yang pensiun pertama kali diberi tunjangan tanpa harus memberi sumbangan. Pengalihan Beban Melalui Hutang Luar Negeri Setelah membahas peranan pinjaman domestik, sekarang kita beralih pada pinjaman dari sumber-sumber luar. Mekanisme pengalihan beban melalui pinjaman luar negeri berbeda dalam beberapa hal. Perbedaan pertama adalah bahwa sekarang tidak ada keharusan bagi generasi 1 untuk mengurangi pengeluarannya. Pengeluaran sektor swasta tetap tidak berubah karena sumber daya tambahan yang diperlukan diperoleh dari luar negeri melalui surplus impor. Pembiayaan melalui pinjaman sekarang menimbulkan beban pada generasi 2 bukan dalam bentuk pembentukan modal yang berkurang, tetapi dengan membebani mereka dengan kewajiban untuk melunasi hutang kepada luar negeri. Pajak sekarang dipakai untuk membayar bunga kepada pihak luat negeri, bukan kepada pemegang hutang domestik. Generasi 2 tidak lagi berhutang kepada dirinya sendiri. Beban hutang luar negeri ini menggantikan kerugian pendapatan modal yang harus ditanggung oleh generasi 2, bila pembiayaan dilakukan melalui pinjaman domestik dan berakibat pengurangan dalam pembentukan modal. Sekarang bandingkanlah tiga sumber pembiayaan: (1) pajak, (2) pinjaman domestik dan (3) pinjaman luar negeri. Asumsikan bahwa metode I diambil dari konsumsi dan 2 diambil dari pembentukan modal, maka metode I akan membebani gcnerasi sekarang sedangkan metode 2 dan 3 akan membebani masa depan. Sekalipun metode 2 dan 3 sama dalam hal ini (dalam masalah beban), tetapi pilihan diantara keduanya tidak berarti harus persis sama. Jawabanya tergantung pada biaya pinjaman di dalam negeri dan di luar negeri. Jika biayanya sama (jika pengembalian pada modal domestik sama dengan tingkat bunga di luar), beban yang ditanggung generasi 2 akan sama dalam kedua kasus tersebut. Tetapi jika biaya domestik lebih tinggi, pinjaman luar mungkin akan lebih disukai. Pengandalan pada sumber daya luar negeri tidak harus melibatkan penempatan langsung hutang di luar negeri, tetapi dapat mengambil bentuk yang tidak langsung. Hasil yang sama bisa diperoleh jika hutangnya ditempatkan secara domestik, yaitu dengan menaikkan tingkat bunga yang menyebabkan arus masuk modal dan sekali lagi merupakan surplus impor. Jika disalurkan pada konsumsi, generasi 1 sekali lagi lepas dari beban sedangkan generasi 2 membayar pelunasan hutang pada dirinya sendiri, tetapi mereka harus membagi sebagian pendapatan nasional dengan pemilik luar negerinya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

Dasar-dasar Keuangan Publik . dan yang lebih penting adalah bahwa tidak adil menimpakan semua beban kepada mereka yang membayar pajak dalam tahun tersebut. Prinsip pemajakan berdasar kaidah manfaat ditempatkan dalam mengalokasikan beban di antara generasi-generasi. Meskipun mekanisme pengalihan beban dapat digunakan untuk menyebarkan biaya investasi publik. Kenaikan ini dengan sendirinya tidak diinginkan. karena hal ini akan mengakibatkan penurunan tingkat pembentukan modal swasta. hutang diamortisasi dan dibayar kembali pada saat fasilitas itu digunakan. Lagipula. yaitu topik. Sayangnya. tidak demikian halnya dengan pinjaman luar negeri. keadilan antar generasi terjamin. yang akan mempunyai usia kegunaan selama tiga puluh tahun. Pengalihan Beban dalam Pembiayaan Pembangunan Pembahasan sebelumnya memberi implikasi yang kurang menyenangkan terhadap pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Tetapi tidak ada keuntungan yang diperoleh dalam pencapaian tujuan ini jika pembentukan modal publik dibiayai dengan pinjaman. kenaikan sementara yang tajam dalam tarif pajak mungkin diperlukan. Akan tetapi. Dalam proses itu. namun hal itu tidak dapat digunakan untuk menyebarkan biaya program pembangunan dalam arti luas. cara yang paling adil adalah menyebarkan beban itu di antara generasigenerasi berikutnya dari warga kota yang akan memanfaatkan fasilitas tersebut. karena pada tingkat inilah sejumlah besar pengeluaran investasi publik dilakukan dan dibiayai. Pembagian beban itu tidak hanya terjadi di antara kelompok umur. oleh karenanya memberikan suatu pola pembagian beban yang seimbang. karena tujuan pokok program terebut mensyaratkan bahwa pembentukan modal secara total (publik atau swasta) harus naik. generasi mendatang. Bila pengeluaran itu akan dibiayai dari pajak. dengan setiap generasi membayar untuk bagian manfaatnya sendiri. Karena usia kegunaan fasilitas itu akan berlangsung selama tiga puluh tahun. Pengeluaran ini dengan demikian menyebabkan kenaikan tajam dalam total pengeluaran kotapraja. mekanisme pengalihan beban pembiayaan dari pinjaman intern dengan demikian tidak dapat ditempatkan dalam situasi di mana seharusnya sangat tepat.117 Peminjaman oleh Pemerintah Daerah Masalah keadilan antar generasi muncul paling serius pada tingkat lokal. Sebuah kotapraja yang membiayai bangunan sekolahnya dengan meminjam dan mengamortisasikan hutang itu selama usia kegunaan aktiva itu. biaya awal ditutup dengan pinjaman yang biasanya diperoleh dari pasar luar. Untuk melaksanakan pemajakan berdasarkan manfaat. Sekali lagi. Dalam tahun-tahun berikutnya. yang akan kita bahas nanti pada saat membicarakan pembiayaan pembangunan. tetapi juga di antara kelompok-kelompok warga kota yang berubah dengan berubahnya populasi jurisdiksi akibat migrasi ke dalam dan migrasi ke luar. warga kota dan penerima manfaat akan dipajaki setiap tahun sesuai dengan bagian manfaat yang diterimanya dalam masa berjalan. karena wajib pajak merasa lebih mudah untuk membayar tarif pajak yang kurang lebih stabil. Andaikan suatu kotapraja bermaksud membangun gedung sekolah.

tetapi ini tidak berkaitan khusus untuk menentukan struktur jatuh tempo. tergantung pada apakah suku bunga itu diperkirakan akan naik atau turun. Bila dipertimbangkan lebih cermat. Apakah suku bunga jangka panjang berada di atas atau di bawah suku bunga jangka pendek. Pola ini terbalik selama tahun-tahun depresi 1930an di mana laju suku bunga menurun tajam dan suku bunga jangka pendek berada di bawah suku Dasar-dasar Keuangan Publik . Karena biaya untuk meminjam cenderung berbeda sesuai dengan jatuh tempo hutang. tetapi marilah kita lihat bagaimana penerapannya. Makin pendek rata-rata hutang yang beredar. ini tampaknya suatu aturan yang terlalu sederhana. hal itu akan didanakan kembali ke dalam surat berharga lain. tidak dapat diperkirakan bahwa akumulasi hutang masa lain dapat dilunasi. makin besar volume kegiatan pendanaan kembali tahunan. seperti halnya pembiayaan kenaikan total hutang.118 Manajemen Hutang Struktur jangka waktu dari suku bunga dan kriteria untuk bauran jatuh tempo hutang yang optimal perlu ditelaah. Pandangan modern terhadap hutang nasional dan posisi pemerintah nasional dalam pasar hutang sangat berbeda. juga berlaku terhadap pinjaman. Manajemen hutang didasarkan pada asumsi bahwa surat berharga yang jatuh tempo selalu dapat dilunasi. tetapi dapat ditarik oleh pemerintah asalkan dibayarkan pada harga pasar. pedoman dasar apa yang dipakai untuk memilih jatuh tempo yang akan ditawarkan Departemen Keuangan? Salah satu jawaban yang mungkin adalah memilih struktur jangka waktu dari hutang untuk meminimalkan biaya bunga. Jadi hutang Inggris selama abad sembilan belas sebagian besar berbentuk konsol atau surat berharga berkesinambungan (perpetual securities) yang tidak mempunyai tanggal jatuh tempo tetap. maka surat berharga yang harus dipilih adalah surat berharga yang menyerap biaya paling rendah bagi investor. suku bunga jangka pendek teeryata selalu mendekati atau di atas suku bunga jangka panjang. Ketentuan ini akan melindungi pemerintah terhadap kontinjensi bahwa kreditor akan menuntut uangnya kembali pada waktu yang tidak tepat. Pilihan terhadap struktur jatuh tempo dapat dipandang sebagai suatu cara untuk membeli likuiditas pada biaya yang paling rendah. Dalam melaksanakan kegiatan ini. yakni mereka akan meminjam dari pemberi pinjaman yang berbiaya paling rendah. Masalah utamanya adalah pilihan jatuh tempo. Apabila suatu surat berharga jatuh tempo. Meskipun tingkat keseluruhan hutang dapat dinaikkan pada beberapa periode dan diturunkan pada periode lainnya (tergantung pada apakah kebijakan stabilisasi menghendaki defisit atau surplus). Seperti yang dikemukakan sebelumnya. yaitu dalam jatuh tempo jangka panjang. Prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa pemerintah akan membeli pensil dari pemasok yang paling murah. Jika demikian halnya. harus diambil keputusan mengenai jenis instrumen hutang apa yang akan diterbitkan. Secara tradisional dinyatakan bahwa hutang publik harus didanai (funded) dengan baik. Struktur Jangka Waktu dari Suku Bunga Jika kita melihat ke belakang pada sejarah suku bunga sepanjang-abad ini. manajemen hutang melibatkan kegiatan pelunasan tahunan yang besar.

sedangkan laju inflasi yang diperkirakan adalah 6 persen. Kebijakan Bank Sentral dengan demikian menggunakan ketentuan tagihan saja di mana semua kegiatan pasar terbuka dan dijalankan dalam Treasury Bills. Jadi. Metode yang dipertahankan oleh Departemen Keuangan ini diserang oleh Sistem Bank Sentral.119 bunga jangka panjang. pemintaan surat hutang jangka panjang turun relatif terhadap penawarannya. kurva hasil akan miring ke atas. Sesudah transisi secara bertahap. pasaran surat berharga kembali ke pola suku bunga yang lebih tinggi. atau 9 persen. dengan tingkat jangka pendek dan jangka panjang bergerak mendekat satu sama lain dan tingkat jangka pendek kadang-kadang di atas tingkat jangka panjang. Penyesuaian inflasioner ini diperhitungkan untuk kenaikan tajam dalam suku bunga umum. Peminjam (atau penawar surat hutang). sehingga memungkinkan pembiayaan hutang perang pada biaya yang lebih rendah. Kebijakan ini terbukti tidak sesuai dengan penerapan pembatasan moneter. Dampak lnflasi Akhimya. Jadi pemintaan akan surat hutang beralih dari jangka panjang ke jangka pendek. akibat naiknya harga-harga. Hal sebaliknya akan timbul bila diperkirakan akan terjadi penurunan tingkat bunga. Jadi. karena Bank Sentral harus selalu siap membeli obligasi di pasar terbuka. jika suku bunga atau pengembalian riil dalam keadaan tanpa inflasi adalah 3 persen. karena mereka berharap mendapatkan jangka waktu yang lebih menguntungkan di waktu berikutnya. sesuai dengan teori ini. di pihak lain senang meminjam sebelum biaya-biaya naik. seperti yang berlaku dalam argumen. harga surat hutang jangka panjang menurun dan hasilnya meningkat. Inflasi akan menaikkan suku bunga karena pemberi pinjaman ingin melindungi diri mereka terhadap kerugian nilai riil klaim mereka. Kebijakan masa perang ini berlanjut sampai awal tahun lima puluhan. timbul untuk menceminkan tingkat jangka pendek masa depan yang diperkirakan. Dalam suatu situasi di mana diperkirakan tidak ada perubahan dalam suku bunga. apabila diperlukan untuk menjaga harga obligasi agar tidak turun dan menjaga hasil obligasi agar tidak naik. Pada saat yang sama. Akibatnya. tidak ada alasan bahwa tingkat jangka pendek dan jangka panjang akan berbeda. Tingkat jangka panjang. pemberi pinjaman (atau peminta surat hutang) akan ragu-ragu untuk mengikat dirinya untuk periode waktu yang lama. tingkat ymg rendah ini dipertahankan. Akibatnya. Jadi. Akibatnya. Selama periode perang. sama seperti Dasar-dasar Keuangan Publik . Teori Struktur jangka Waktu Para ekonom telah mencoba untuk menjelaskan istilah struktur suku bunga berdasarkan tingkat pengharapan. bagaimanakah mekanisme masuknya inflasi ke dalam struktur suku bunga? Dampak inflasi terhadap suku bunga umum mudah kita lihat. pemintaan akan surat hutang jangka pendek meningkat relatif terhadap penawarannya. Hal ini mengharuskan penyempurnaan jumlah besar hutang oleh bank-bank komersial dan kenaikan yang sepadan dalam jumlah uang beredar. Tambahan 6 persen diperlukan untuk mempertahankm daya beli obligasi sekalipun keuntungan bersih dalam bentuk neto hanyalah 3 persen. maka suku bunga nominal akan cenderung menjadi 3+6. Harga surat hutang jangka pendek meningkat dan hasilnya menurun. penawaran surat hutang beralih dari pasar jangka pendek ke pasar jangka panjang.

suatu harapan bahwa inflasi akan menurun akan ccnderung menurunkan suku bunga nominal masa depan. dengan menerbitkan obligasi yang berjangka lebih panjang dan nilai pelunasan dari surat berharga tersebut diindeks pada tingkat harga. Hanya jika laju inflasi yang diperkirakan berubah. karena pada akhir tahun peluang untuk meminjam pada 7 persen mungkin akan lenyap jika tingkat bunga naik. beban tambahan inflasi juga akan tetap pada 4 persen. Jadi. Jika para pengelola hutang berharap suku bunga akan naik. Biaya bunga hutang yang telah dibuat harus dibayar untuk periode penuh meskipun tingkatnya bisa turun.120 perkiraan penurunan inflasi yang diperhitungkan untuk perkiraan penuruan suku bunga. katakanlah 4 persen. dapat ditempatkan pada biaya jatuh tempo ymg paling rendah. Yang menjadi masalah pokok adalah arah perubahan suku bunga yang diharapkan oleh Departemen Keuangan. Namun bagaimanapun juga. Andaikan bahwa Departemen Keuangan dapat meminjam untuk jangka waktu satu tahun pada 5 persen dan dua puluh tahun pada 7 persen. tidak ada lagi jalan keluar lain. Telah beberapa kali diusulkan agar Departemen Keuangan dan wajib pajak dapat dilindungi terhadap perubahan yang tak terduga dalam laju inflasi. bila diukur dengan hasil saat ini. Pilihan yang pertama belum tentu baik karena tingkat bunga bisa juga turun sebelum dua puluh tahun berakhir. pilihan yang tepat adalah meminjam untuk jangka panjang. Dengan demikian manajemen hutang merupakan suatu seni yang tinggi. yang membutuhkan penaksiran tajam terhadap prospek pasar untuk jangka waktu yang cukup panjang. dan investor mengharapkan laju ini dapat dipertahankan. Jawabnya jelas tidak. Atau terhadap obligasi tersebut ditetapkan nilai pari yang tetap. Hal yang penting adalah sekali suatu komitmen telah dibuat. Demikian pula sebaliknya untuk kenaikan yang diperkirakan dalam tingkat inflasi. kriteria biaya bunga minimum tidak memberikan pedoman yang mencukupi. sehingga struktur jangka waktu tidak akan dipengaruhi. Ini tidak berarti bahwa mengambil surat berharga satu tahun akan lebih baik. pemerintah pusat dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi dengan pembayaran kupon tahunan yang bervariasi mengikuti tingkat inflasi. sehingga menyebabkan penurunan dalam tingkat jangka panjang relatif terhadap tingkat jangka pendek. jika mereka memperkirakan suku bunga akan turun. Struktur Jangka Waktu dan Manajemen Hutang yang Efektif Sekarang kita dapat mempertimbangkan kembali implikasi struktur jangka waktu dari suku bunga untuk majemen hutang dan mempertanyakan apakah biaya bunga dapat diperkecil dengan menjual surat berharga yang. Atau andaikan Departemen Keuangan dapat meminjam untuk 20 tahun pada 5 persen dan untuk satu tahun pada 7 persen. pilihannya adalah pada jangka pendek. maka struktur jangka waktu akan dipengaruhi. Hubungan antara inflasi dan jangka waktu suku bunga kurang jelas. Selama inflasi bergerak pada laju yang konstan. dan keuntungan dari suku bunga yang rendah akan terus diakrualkan sekalipun tingkatnya mungkin naik. Tetapi seandainya pun perubahan tingkat yang diperkirakan telah diperhitungkan.

yang tidak selaras dengan tujuan kebijakan stabilisasi. karena mengganti hutang dengan uang akan menaikkan likuiditas dalam jumlah besar. tujuan menerbitkan surat hutang dan bukan uang (atau mengganti hutang jatuh tempo yang beredar dengan hutang baru dan bukan menguangkannya) adalah membeli likuiditas. Namun itu bukanlah pemecahan yang memuaskan. yang menimbulkan kenaikan tingkat pemintaan agregat dan inflasi yang berlebihan. sejauh bersangkutan dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . dan cara melakukan hal ini adalah dengan membayar mereka. Pertimbangan serupa yang diterapkan pada pendanaan kembali (atau swapping hutang) juga berlaku dalam hal memilih jenis penerbitan surat berharga untuk membiayai defisit. yang mungkin merupakan faktor penentu dalam menentukan kebijakan manajemen hutang. manajemen hutang dapat digunakan untuk mendukung dampak ekspansioner dan restriktif dari kebijakan stabilisas saat ini. baik langsung melalui pencetakan uang ataupun dengan meminjam dari bank sentral. Perpanjangan akan menaikkan suku bunga jangka panjang relatif dibanding jangka pendek. mungkin beralasan bagi Departemen Keuangan untuk menerbitkan surat berharga seperti itu. Timbul pertanyaan apakah satu dollar dari hutang jangka pendek bermanfaat mengurangi likuiditas seperti satu dollar dari hutang jangka panjamg. Untuk melakukan hal ini. Para investor harus diyakinkan untuk memiliki surat hutang dan bukan uang. Jika hutang jangka panjang membuat penanamnya kurang likuid. atau jenis penerbitan yang akan ditarik bila surplus digunakan untuk pengurangan hutang. Dalam hal apapun. karena pengeluaran modal biasanya didasarkan pada pembelanjaan jangka panjang. dan sebaliknya mempersingkat hutang cenderung untuk menjadi ekspansioner. Konsekuensinya. tujuan kebijakan jangka pendek. tetap ada pertanyaan mengenai apa yang merupakan bauran jatuh tempo yang baik. Dipandang dari sudut ini. Pengaruh restriktif dari kenaikan suku bunga jangka panjang pada investasi swasta akan melebihi pengaruh ekspansioner dari penurunan suku bunga jangka pendek. karena sama sekali tidak akan melibatkan biaya bunga. sekalipun biaya bunga agak lebih tinggi. Para investor yang ingin menahan persediaan surat berharga jangka panjang dan jangka pendek pada rentang hasil tertentu.121 pengendaliannya atas penciptaan uang dapat mengatur laju suku bunga di pasar. mereka menginginkan syarat yang lebih menguntungkan pada surat berharga jangka panjang dan bisa menerima syarat yang kurang menguntungkan pada surat berharga jangka pendek. Di samping penyesuaian jangka pendek. Jadi prinsip meminimisasikan biaya bunga harus dinilai kembali karena adanya pembelian likuiditas pada jangka yang lebih murah. Perpanjangan hutang pada saat pengembalian cenderung untuk menjadi restriktif. jadi perpanjangan hutang akan bersifat restriktif. Penggantian hutang dengan uang jelas merupakan cara yang paling murah untuk menangani masalah tersebut. sekarang harus menahan lebih banyak surat berharga jangka panjang dan lebih sedikit jangka pendek. Hutang jangka pendek cenderung lebih mirip uang. bukan perkiraan perubahan tingkat jangka panjang dan implikasinya pada biaya bunga. Mereka selalu dapat mengganti hutang publik dengan uang.

di mana kebijakan stabilisasi merupakan penentu utama. Dalam situasi apapun. tetapi ini hampir bukan merupakan pertimbangan yang menentukan. orang akan mempunyai pandangan bahwa struktur jatuh tempo yang seimbang sampai. tergantung pada posisi fiskal dari juridiksi dan peringkat kreditnya. dan biaya peminjaman banyak bevariasi. Masalah manajemen hutang untuk pemerintah lokal berbeda dengan tingkat pusat. Pertimbangan untuk meminjam pada tingkat pemerintah lokal dengan demikian sangat besar dibandingkan dengan tingkat pusat. Hutang pemerintah lokal sekarang melebihi $500 milyar dan telah naik dengan jumlah tahunan rata-rata sekitar $15 milyar selama dekade lalu. dan lebih mirip investor swasta yang berupaya mengamankan dana di pasar. Akibatnya. memerlukan volume kegiatan pendanaan kembali yang lebih kecil. Suatu hutang pada ukuran tenentu. Yang terbaik dapat dilakukan adalah mendapatkan dana pada syarat yang menguntungkan yang tersedia. sebagian besar akan tergantung pada besamya stok uang. akan dipilih oleh seseorang dengan hampir semuanya jangka pendek atau hampir semuanya jangka panjang. Jika kita perhatikan kembali pembahasan dalam pemerintah lokal. Hutang Pemerintah Lokal Akhimya. Hutang jangka panjang. temasuk obligasi umum dan obligasi pendapatan khusus. Pada sisi penawaran dalam pasar dana. Hutang ini sebagian besar berjangka panjang dan mengmbil berbagai bentuk. seperti perusaahaan listrik dan air minum yang dikelola Dasar-dasar Keuangan Publik . Di pihak lain. hal ini. Pada sisi pemintaan. tugas kebijakan stabilisasi menjadi lebih sulit. Persentase kenaikannya agak di bawah hutang pemerintah dan GNP. karena hasil (yields) tergantung pada peringkat kredit dari jurisdiksi. jika hal itu tidak efisien. Peningkatan penggunaan yang meragukan atas pinjaman pemerintah lokal dilakukan dalam bentuk obligasi pendapatan. yang pada hakikatnya berlaku untuk membiayai industri swasta di bawah payung kebebasan pajak. mungkin serupa dengan dampak kombinasi hutang jangka pendek dengan persediaan uang (jumlah uang beredar) yang lebih kecil. seperti yangg dikemukakan sebelumnya. katakanlah lima belas tahun. Perbedaan ini berlaku baik mtuk sisi permintaan maupun untuk sisi penawaran.122 hutang yang beredar. pemerintah lokal tidak memiliki kendali atas kondisi pasar uang tempat mereka harus meminjam. kita bahas secara singkat mengenai pasar bagi hutang pemerintah lokal. akan membuat perkonomian berada dalam posisi yang lebih likuid hingga cenderung untuk menaikkan kemungkinan perubahannya. suatu hutang ymg terlalu panjang dapat menimbulkan kekakuan dalam struktur keuangan dan kurang dapat memberikan likuiditas yang diperlukan. lebih bijaksana apabila pengeluaran tersebut dibiayai dari pinjaman dan bukan dari pajak. dengan membebaskan pajak pusat untuk pembayaran bunga atas hutang tersebut. Biaya peminjaman untuk pemerintah lokal dikurangi. Bila tidak ada penalaran yang lebih baik. Yang terakhir dikeluarkan oleh instansi tertentu atau perusahaan umum. Dampak likuiditas pada sektor swasta dari kombinasi hutang yang lebih panjang serta persediaan uang yang lebih besar. jika jangka pendek. kesempatan untuk meminjam oleh pemerintah lokal terjadi terutama ketika sejumlah besar pengeluaran modal harus dibiayai. Pasar untuk hutang pemerintah lokal sangat terstratifikasi.

terdapat pertanyaan selanjutnya tentang apakah dukungan umum untuk pembayaran bunga pada tingkat negara bagianlokal tersebut diperlukan. Dipandang dari sudut ini. Tampaknya. Seperfi telah dibahas sebelumnya. Terlepas dari pertanyaan tentang cara bagaimana dukungan pembayaran bunga yang paling baik dapat diberikan. Keuntungan pajak ini akan mengalihkan dana ke pasar yang bebas pajak. kebijakan publik memberikan dukungan secara umum terhadap pinjaman pemerintah lokal dengan membebaskm pajak penghasilan bunga surat berharga menurut pajak penghasilan. Penerima penghasilan tinggi yang menerima bunga bebas pajak. Dukungan terhadap pinjaman negara bagian dan lokal atas dasar lebih selektif. seperti halnya hibah menurut kategori tertentu. Tetapi bentuk bantuan khusus ini memperoleh kritik karena dua alasan. membayar pajak lebih sedikit daripada mcreka yang mendapat penghasilan sama dari sumber lain. pertanyaan yang timbul kemudian adalah apakah pengeluaran modal (capital expenditure) sebagai suatu kelompok lebih dipilih dibanding pengeluaran masa berjalan (current expenditure) hingga bermanfaat memberikan subsidi khusus. mungkin lebih dapat Dasar-dasar Keuangan Publik . kotapraja. jawaban pertanyaan tersebut negatif. alasan pokok terhadap dukungan bunga umum tampaknya meragukan. sehingga mcngurangi biaya peminjaman pemerintah lokal dan negara bagian. Karena pinjaman pemerintah lokal digunakan untuk pengeluran modal. Terlepas dari masalah politik dan sejarah konstitusional (dilihat dari pembahasan sebelumnya bahwa instrumentalitas pemerintah lokal harus dibebaskan dari perpajakan pusat). dan laba perusahaan itu digadaikan untuk membiayai pelunasan hutang. misalnya jalan raya dan bangunan sekolah. Pertama.6 persen. maka dukungan seperti itu maka sama saja dengan menggunakan hibah untuk keperluan pengeluaaran modal. Dengan demikian. Biaya penyediaan dana bagi berbagai juridiksi peminjamaman merupakan faktor penting bagi ketentuan pelayanan lokal dan negara bagian yang melibatkan pengeluaran modal yang besar. baik berdasarkan dampak pelimpahan (spillover effects) atau pun pertimbangan manfaat. akan lebih baik jika bantuan tersebut diberikan dcngan cara yang tidak melibatkan preferemi pajak. Karena alasan ini. negara bagian maupun lokal.123 oleh negara bagian. Pembebasan Pajak versus Subsidi Bunga Langsung Seperti yang telah kita bahas sebelumnya. bantuan ini mempengaruhi segi keadilan dari struktur pajak penghasilan. nilai pembebasan pajak meningkat menurut tarif kelompok sehingga mengganggu keadilan vertikal. Lebih lanjut. pembebasan pajak hanya menghasilkan keuntungan tabungan bunga yang lebih kecil terhadap pemerintah lokal. keuntungan ini banyak dikurangi pada tahun 1986 melalui pemotongan tarif pajak marjinal. Selain itu. peminjaman ncgara bagian dan lokal merupakan aspek tambahan dari federalisme fiskal. atau subdivisi lain. Pengeluaran seperti itu sangat penting baik dari sudut pandang nasional. dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh subsidi langsung dari pemerintah pusat pada biaya yang sama. Seorang investor yang tarif pajak marginalnya 28 persen akan bersedia (dengan asumsi hal lain tetap sama) mensubstitusikan obligasi kotapraja yang menghasilkan 4 persen untuk obligasi perusahaan yang menghasilkan 5.

Tetapi kebijakan seperti itu tidak dapat dipertahankan dari sudut pandang nasional. Di pihak lain. suatu bank dapat berfungsi sebagai alat dalam mengatasi ketidakmenentuan yang sekarang berlaku dari sistem peringkat kredit. Jadi. hal itu juga akan menimbulkan pembiasan politik pada dana yang tersedia. institusi tersebut dapat bermanfaat dalam menstabilisasikan fluktuasi siklus pada biaya pinjaman dan dalam memodifikasi dampak perubahan kebijakan moneter terhadap sektor pasar modal ini. Jadi. Obligasi Pendapatan industri Akhimya. dan berbagai pembatasan telah diterapkan.124 dibenarkan Dalam hubungan ini. Dengan perkataan lain. pembentukan lembaga perantara keuangan (financial intermediaries) yang meminjam untuk dirinya sendiri di pasar dan kemudian meminjamkan kembali kepada kotapraja lebih bisa dipertimbangkan. Akhir-akhir ini praktek seperti itu juga telah diperluas dengan memberikan dana hipotik. dan hasilnya digunakan untuk membangun fasilitas industri yang pada gilirannya disewakan kepada perusahaan-perusahaan swasta. pengurangan dalam biaya pendanaan melalui pembebasan pajak pusat diteruskan pada kesatuan yang pada hakikatnya merupakan perusahaan swasta. hal itu dipandang sebagai sarana untuk menarik perusahaan ke daerahnya. dan hal itu akan mengurangi biaya pinjaman bagi kotapraja kecil dengan cara menyebarkan risiko. perlu diperhatikan pula pertumbuhm pendapatan obligasi industri selama dekade terakhir. Dan sudut pandang kotapraja tertentu. Obligasi seperti itu diterbitkan oleh jurisdiksi pemerintah lokal. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Untuk itu. Sedangkan terhadap pelanggar peraturan perpajakan dapat dikenai hukuman yang berlaku. Jenis-jenis penerimaan tersebut antara lain: Dasar-dasar Keuangan Publik . pajak dimaksudkan untuk mengumpulkan dana yang akan digunakan bagi pembiayaan kegiatan rutin operasional pemerintah mengatur negara. Dengan sistem perpajakan. A Penerimaan Pajak Pajak adalah pungutan yang ditarik dari masyarakat tanpa mengakibatkan timbulnya kewajiban bagi pemerintah terhadap pihak pembayar. pajak adalah wajib. Di Indonesia. pemerintah dapat menggunakan sumber-sumber non pajak yang mampu menggalang dana bagi keperluan pembiayaan pengeluaran publik. Mekanisme perpajakan juga dapat diterapkan untuk mendorong atau mengurangi jumlah pendapatan yang dikonsumsikan. Pengumpulan pendapatan dari masyarakat dapat dikategorikan sebagai penerimaan pajak dan penerimaan non pajak. Sedangkan pada fungsi regulator. pajak juga dapat difungsikan sebagai alat pengaturan dan pengawasan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sektor swasta (fungsi regulator). Pada fungsi budget. Penerimaan Non Pajak Disamping pajak. masyarakat harus dihimbau secara sukarela menyerahkan sebagian pendapatannya untuk kepentingan penyediaan barang-barang dan jasa-jasa publik. Disamping sebagai sumber penerimaan negara (fungsi budget). sumber penerimaan pajak adalah yang terbesar. pemerintah dapat mendorong investasi yang menghasilkan barang-barang produksi tertentu atau sebaliknya. kebijakan perpajakan dimaksudkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan dengan cara mengatur pola produksi dan konsumsi barang-barang ekonomi. Menurut sifatnya. Kewajiban pajak menurut undang-undang dapat dipaksakan.125 B A B XIII DASAR-DASAR PERPAJAKAN ktivitas pemerintah memerlukan realokasi sumber-sumber daya dari sektor swasta.

karena sulitnya memprediksi. tarif pintu masuk tempat-tempat rekreasi. Penggalangan dana tersebut biasa dilakukan melalui himbauan-himbauan yang dapat menggugah kerelaan masyarakat. pemerintah akan membayarkan sejumlah bunga selama pinjaman tersebut belum dilunasi. Adanya tambahan jumlah uang beredar yang tidak diikuti tambahan jumlah produksi. 3. jalan tol dan sebagainya. adanya keterkaitan langsung antara jumlah nominal yang dibayar dengan balas jasa yang diterima. 4. Government Enterprise adalah perusahaan yang dimiliki pemerintah yang memproduksi dan menjual barang. Pinjaman merupakan penarikan dana masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah dengan janji untuk membayar kembali pada masa mendatang. Inti dari kegiatan ini adalah mengakibatkan penambahan jumlah uang yang beredar dimasyarakat. korban peperangan dan sebagainya. tarif parkir dan sebagainya. Government Induced Inflation dilakukan dengan cara mencetak uang baru untuk membiayai pengeluaran publik. dewasa ini fungsi perusahaan negara terutama bukan untuk mencari laba tetapi lebih pada pemicu pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia. Kebijakan yang serupa seperti kegiatan melepas cadangan uang yang ditahan oleh bank sentral dapat juga dikategorikan sebagai Government Induced Inflation. dewasa ini banyak sekali jenis-jenis retribusi yang diatur dengan Peraturan Daerah yang dimaksudkan untuk menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD). mekanisme pinjaman oleh pemerintah terhadap dana masyarakat dapat juga digunakan untuk mengurangi jumlah uang beredar. User Charges atau retribusi dipungut apabila dimungkinkan untuk dikenakan kepada masyarakat yang menggunakan jasa-jasa tertentu. Dana hibah (grant/sumbangan yang tidak perlu dikembalikan) negara lain dapat juga dianggap sebagai donations. Berkaitan dengan otonomi daerah. 6. jasa atau keduanya untuk memperoleh laba. Untuk mendorong iklim investasi yang positif. Akan tetapi. Pada kebanyakan negara maju. Sebagian laba yang dihasilkan perusahaan-perusahaan negara dapat dijadikan sebagai tambahan penerimaan pemerintah. menurut kaidah ekonomi akan menyebabkan kenaikan harga pasar barang dan jasa. Donations adalah kontribusi sukarela kepada pemerintah dari masyarakat atau oraganisasi-organisasi kemasyarakatan. 5. Hal ini biasanya dilakukan untuk membiayai suatu proyek besar dan memakan waktu lama seperti pembangunan rumah sakit. Untuk keperluan pinjaman. Misalnya penggalangan dana kemanusiaan untuk korban bencana alam. 2.126 1. Dewasa ini. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan kata lain. kebijakan utang oleh pemerintah diaplikasikan dengan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN). seperti tarif jalan tol. Debt Finance Government Induced Inflation Donations User Charges Government Enterprise Lottery Debt Finance adalah penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pengeluaran publik. dana hibah tidak dapat diharapkan sebagai alternatif penerimaan andalan.

Prinsip keadilan (equity) 2. Prinsip kepastian dimaksudkan agar pada pelaksanaan pemungutan pajak tidak terjadi distorsi berupa kesalahan yang disengaja (penyelewengan) atau yang tidak disengaja akibat kekurangpahaman. kebijakan ini sering disalahgunakan oleh sebagian masyarakat dengan kultur tertentu yang senang berangan-angan dan ingin merubah status sosialnya secara cepat. Atau masyarakat diharapkan lebih berniat untuk menyumbang kepada pemerintah dibanding berharap memenangkan hadiah. surat undian harus dijual secara murah sehingga tidak menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak menang. Hal ini juga perlu ditunjang dengan adanya kecukupan proses sosialisasi dengan memasukkan unsur-unsur kemajemukan masyarakat. kebijakan perpajakan harus berlandaskan pada prinsip-prinsip yang relevan. tetapi juga dapat difungsikan sebagai regulator (pengatur). Jumlah nominal pajak yang dibayarkan oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah harus lebih kecil dari golongan masyarakat yang lebih tinggi. Prinsip-Prinsip Pajak Pada awal bab digambarkan bahwa pajak tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana masyarakat untuk membiayai pengeluaran publik. Prinsip kepastian (certainty) 3. Hal ini berakibat kurangnya tingkat produktivitas masyarakat pada sektor-sektor ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa. Secara teori. Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsipprinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1. perusahaan-perusahaan yang dimiliki negara lebih berkonsentrasi pada sektor-sektor ekonomi yang belum mampu dibiayai swasta. Jika dirasakan bahwa sektor swasta telah mampu mengembangkan sektor ekonomi tertentu. Pembahasan selanjutnya akan memaparkan bahwa apapun kebijakan yang diambil. Kebijakan perpajakan harus dibuat sesederhana mungkin dan diformulasikan menggunakan kata-kata yang meminimalkan adanya penafsiran ganda. Pada prakteknya. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. Lottery adalah kegiatan penggalangan dana yang bertujuan untuk membiayai kegiatan tertentu dengan diiming-imingi hadiah bagi yang membeli surat undian. Prinsip kenyamanan (convenience) 4. Prinsip ekonomi (economy) Prinsip keadilan menekankan bahwa beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan relatif masyarakat. Dasar-dasar Keuangan Publik .127 perusahaan-perusahaan milik negara sebisa mungkin bersaing secara kompetitif dalam iklim pasar yang sehat. pemerintah dapat mengurangi perannya sedemikian rupa dengan cara melepas sahamnya kepada publik. Pajak diharapkan dapat menjadi alat distribusi pendapatan secara lebih fair dan mengurangi kesenjangan pendapatan. prinsip keadilan yang memuaskan semua pihak tidak akan pernah tercapai. Pada akhirnya.

sebisa mungkin dihindarkan adanya unsur-unsur menekan atau kekerasan. Pada hakekatnya siklus penerimaan dan pengeluaran dalam perekonomian pada umumnya adalah seperti gambar berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik .128 Prinsip kenyamanan menggarisbawahi pentingnya menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi wajib pajak agar dengan sukarela bersedia memenuhi kewajiban-kewajibannya. Prosedur pembayaran pajak atau menjadi wajib pajak harus dibuat semudah mungkin. Kepada mereka yang patuh diberikan penghargaan yang setimpal. Kenyamanan wajib pajak dapat diberikan dengan bentuk layanan prima. Siklus Arus Pajak Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. Pajak atas pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pola pengeluaran rumah tangga serta perusahaan. Upaya-upaya penarikan pajak harus disertai dengan kegiatan yang meminimalkan biaya pemungutan atau biaya-biaya lain yang dapat mengurangi penerimaan bersih negara. Mereka sedapat mungkin tidak dikenakan biayabiaya lain diluar kewajiban pajak murni. Sebaliknya. Sehingga tujuan penggunaan pajak untuk pembiayaan pengeluaran publik lebih mudah tercapai. Untuk itu perlu diidentifikasi pos-pos penerimaan dan pengeluaran dalam siklus perekonomian. Dengan kata lain. Prinsip ekonomi menegaskan pentingnya perbandingan antara biaya dan hasil yang efisien. Biaya pemungutan juga tidak layak dibebankan kepada wajib pajak.

Jika dilihat dari sudut pandangan dasar penentuan tarif pajak. Sebagian pengeluaran perusahaan akan disisihkan untuk biaya penyusutan (9). deviden. Pendapatan rumah tangga ini kemudian akan mengalir dalam dua bentuk yaitu sebagian menjadi konsumsi rumah tangga (2) sebagai biaya pemenuhan kehidupan sehari-hari masyarakat dan sisanya menjadi tabungan rumah tangga (3). Termasuk dalam keuntungan perusahaan adalah pendapatan jasa modal (14) yang dibayarkan kepada rumah tangga seperti bunga. berapapun jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. Progressive tax rate 3.1 Pos yang pertama adalah pendapatan rumah tangga (1). Tarif Pajak Titik-titik pembebanan dalam siklus pajak adalah segala sesuatu yang dapat dikenakan pajak atau biasa disebut objek pajak. Sedangkan golongan masyarakat lainnya yang memiliki usaha yang menghasilkan produk dikategorikan sebagai perusahaan. jumlah pengenaan tarif pajaknya sama. Proportional (flat) tax rate 2. dan sewa. dan sebagian lagi dibayarkan perusahaan sebagai biaya gaji karyawan (11) sedangkan sisanya adalah keuntungan perusahaan (12). Jumlah pendapatan rumah tangga yang dikonsumsi kemudian akan mengalir ke pasar barang konsumsi.129 Gambar 11. Sedangkan tabungan perusahaan bersama-sama tabungan rumah tangga. Jumlah biaya gaji yang dibayarkan perusahaan akan menjadi pendapatan gaji (13) bagi rumah tangga. Regressive tax rate Proportional (flat) tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu. diasumsikan akan menjadi investasi seluruhnya. secara umum terbagi atas tiga bentuk yaitu: 1. Sedangkan sisa keuntungan yang tidak dibagi (15) akan menjadi tabungan perusahaan (16). Sedangkan jumlah pajak yang dipungut dihitung dengan mempergunakan tarif pajak. Jumlah nominal konsumsi masyarakat akan sama dengan jumlah penerimaan kotor perusahaan dari pasar barang konsumsi (4) sedangkan jumlah investasi akan sama dengan jumlah penerimaan kotor dari pasar barang modal (6). Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan golongan masyarakat yang diperoleh dari penghasilan upah atau gaji sebagai karyawan dan pendapatan jasa modal. jika pendapatan yang diterima Dasar-dasar Keuangan Publik . Total penerimaan perusahaan tersebut selanjutnya sebagian akan digunakan sebagai pengeluaran perusahaan (8). Sebagai ilustrasi. sedangkan seluruh tabungan masyarakat diasumsikan mengalir menjadi bagian dari investasi (5) yang pada akhirnya mengalir ke pasar barang modal. Adapun total penerimaan dari kedua pasar tersebut disebut penerimaan kotor perusahaan (7). Dengan kata lain.

Sebagai ilustrasi.0 3.3: Pajak Regresif Pendapatan Pajak Nominal 1. semakin menurun tarif yang dikenakan. Beberapa istilah yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain: • Pajak Perseorangan dan Pajak in Rem • Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung • Pembayaran Transfer Dasar-dasar Keuangan Publik .000 200 10.000 300 15. Tabel 11. jumlah pajak yang terhutang menjadi naik melebihi 100%.130 oleh wajib pajak naik sebesar 100%.000 300 10. Tabel dibawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak progessive diterapkan. Tabel 11.0 Istilah-istilah Dalam Perpajakan Pembahasan lebih lanjut mengenai perpajakan perlu dimulai dengan mengenal lebih jauh tentang definisi istilah yang sering muncul dalam dunia perpajakan. Dengan kata lain.1: Pajak Proporsional Pendapatan Pajak Nominal % 1. Sebagai ilustrasi. maka secara otomatis jumlah pajak yang terhutang menjadi naik sebesar 100%.0 2. maka jumlah kenaikan pajaknya kurang dari 100%.2: Pajak Progresif Pendapatan Pajak Nominal % 1. Dengan kata lain.000 100 2. akan dikenakan tarif yang lebih besar pula. Tabel dibawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak proportional diterapkan. Tabel 11.000 600 20. jumlah pendapatan yang lebih besar yang diterima oleh wajib pajak.000 180 3.000 240 % 10.000 100 10.000 100 10.0 Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak.0 Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu. jika seorang wajib pajak mendapat kenaikan pendapatan sebesar 100%. Tabel dibawah ini menggambarkan bagaimana tarif pajak regressive diterapkan. jika kemampuan membayar seorang wajib pajak naik sebesar 100%.0 9.0 3. peningkatan jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak.0 8.0 2.

Pengertian dari pajak cukai adalah pajak tidak langsung yang diterapkan atas penjualan barang-barang manufaktur tertentu. Dikarenakan kesederhanaan landasan aturan yang dipakai. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap rumah tangga ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala. semua yang melakukan transaksi atau kejadian tertentu. Aktivitas atau objek yang dikenakan pajak tidak terkait dengan karakteristik pihak-pihak yang melakukan transaksi atau pemiliknya. Pajak perseorangan dikenakan atas transaksi rumah tangga berupa pendapatan dan konsumsi. Maka hampir semua pajak in Rem. Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak langsung. Pengenaan pajak dapat mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang besar kecilnya penghasilan yang diperoleh. Pajak atas transaksi jual beli yang dikenakan terhadap perusahaan akan dapat diperlakukan juga terhadap semua rumah tangga yang melakukan transaksi.131 Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan dimana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak. penjualan. wajib membayar pajaknya. Jumlah nilai yang diperoleh melalui pajak tidak langsung cenderung lebih mudah diprediksi. Biaya-biaya yang ditimbulkan akibat adanya penerapan pajak tidak langsung relatif lebih murah dibanding pajak langsung. diwajibkan melunasi pajak yang tertenggung. Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. atau pemilikan harta kekayaan. Tanpa pandang bulu. Untuk menentukan kemampuan seseorang dalam membayar pajak atas pendapatan (personal income tax). menurut Suparmoko adalah sebagai berikut: Kebaikan: 1. Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal yang sama juga berlaku ketika mengenakan pajak terhadap harta kekayaan. tidak diperlukan banyak perangkat yang bertujuan untuk mensosialisasikan aturan tersebut. 3. Beberapa kebaikan dan kekurangan dari pajak tidak langsung. Pajak pertambahan nilai dan cukai merupakan pajak tidak langsung. Sifat pemungutan pajak ini cukup sederhana dan biasanya dikaitkan dengan adanya kejadian tertentu. Siapapun yang melakukan aktivitas-aktivitas tertentu atau memiliki objek-objek pajak tertentu. maka seluruh sumber pendapatan perseorangan harus digabung sebagai basis pembayar pajak. Pajak tidak langsung adalah pajak yang tidak dipungut secara berkala dan dapat beralih sampai dengan penanggung akhir beban tersebut. Pajak tidak langsung cenderung lebih stabil digunakan sebagai sarana penerimaan negara dibanding pajak langsung. yang berkaitan dengan nilai kekayaan dari perseorangan atau perusahaan. Pajak in Rem dapat dikenakan atas rumah tangga atau badan usaha. 2. Sedangkan jika konsumsi juga akan dikenai pajak. maka pajak perseorangan diterapkan dalam bentuk pajak pengeluaran perseorangan (personal expenditure tax) Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian.

dapat dengan mudah diterapkan. Fungsi regulator yang dimiliki pemerintah dalam hal kebijakan perpajakan. tunjangan sosial dapat diterapkan untuk memenuhi prinsip keadilan perpajakan. program pensiun kepada semua pegawai akan menguntungkan golongan pendapatan yang rendah karena mereka memperoleh manfaat dari program ini melebihi jumlah kontribusi yang dibayarkan melalui pajak penghasilan yang progresif. Sedangkan pembayaran transfer oleh pemerintah dapat dipandang sebagai pajak negatif. Hal ini dikarenakan kedua golongan tersebut dibebani tarif pajak yang sama untuk setiap transaski atau kejadian tertentu. Kekurangan: 1. Sebagai contoh. 5. Hal ini terutama diakibatkan sulitnya melakukan administrasi yang baik dan teliti untuk menerapkan pajak langsung. dalam kondisi seperti itu beban pajak tidak langsung tidak dapat dialihkan kepada konsumen. apabila kurva permintaan suatu barang adalah elastis sempurna maka seluruh beban pajak tidak langsung akan menjadi tanggungan produsen. 2. pemerintah lebih mudah memperkirakan dampak dari setiap kebijakan perpajakan yang dikeluarkan. Kurangnya rasa berkeadilan antara golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Karena dimungkinkannya terjadi penggeseran beban pajak kepada golongan wajib pajak lainnya. Akibatnya. Dengan mudahnya dipahami. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh. Hal ini tergantung dari tingkat elastisitas kurva permintaan dan penawaran untuk barang-barang terkena pajak tidak langsung.132 4. Menurut studi yang pernah dilakukan. peranan kebijakan fiskal adalah sangat penting. pajak langsung lebih banyak digunakan dalam instrumen fiskal di negara-negara tersebut. Kesederhanaan aturan juga memungkinkan dilakukannya penelusuran dan pengecekan jika terjadi kesalahan dengan cepat tanpa perlu menggunakan formula audit yang kompleks. penanggung akhir dari beban pajak tidak langsung belum tentu sesuai dengan target awal. Dengan kata lain. Misalnya adalah tunjangan sosial dan subsidi pajak terhadap beberapa jenis usaha tertentu. Pembayaran transfer atau grant oleh pemerintah dapat dianggap sebagai arus pajak dengan arah yang berlawanan. Pada beberapa negara. Teknik pemungutannya yang sederhana tidak memerlukan kegiatan administrasi yang kompleks. Hal tersebut disubsidi silang oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah keatas. Sedangkan untuk negara-negara maju. pajak yang diterima sebagian besar negara-negara berkembang lebih banyak dari kategori pajak tidak langsung. Seluruh aliran dana yang masuk kas negara akibat diterapkannya kebijakan perpajakan biasa disebut sebagai pajak positif.

Berdasarkan prinsip ini. sulit sekali didapat suatu formula kebijakan perpajakan yang memenuhi seluruh aspek keadilan. P Prinsip Manfaat Setiap orang setuju bahwa sistem perpajakan harus adil. Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. Prinsip manfaat cenderung mengalokasikan penerimaan pajak untuk membiayai jasa-jasa publik. Dasar-dasar Keuangan Publik . Penerapan berdasarkan manfaat secara umum didasarkan karena setiap wajib pajak mempunyai preferensi terhadap jasa publik yang berbeda-beda.133 B A B XIV PRINSIP KEADILAN PERPAJAKAN ada kenyataannya. Lebih lanjut pembahasan keadilan perpajakan dikaitkan dengan beberapa jenis pajak. tetapi tidak terlalu mempertimbangkan pembiayaan transfer serta tujuan redistributif. Setiap wajib pajak akan membayar sesuai hasil evaluasi individu. Agar prinsip manfaat dapat dilaksanakan. prinsip manfaat memandang perekonomian sektor publik sebagai sektor yang melibatkan pengeluaran maupun penerimaan yang berkesinambungan. dimana setiap wajib pajak harus memberikan kontribusinya yang layak untuk membiayai kegiatan pemerintah. maka tidak ada rumusan umum yang berlaku bagi semua orang. Pendekatan pertama adalah prinsip manfaat (benefit principle). sistem pajak yang adil akan tergantung dari struktur pengeluaran publik. sudah terdapat distribusi yang tepat dalam perekonomian. Akan tetapi ada pola umum yang bisa dipelajari. tetapi kurang adil dari sisi yang lain. Untuk itu perlu dibandingkan prinsip-prinsip yang menerangkan bagaimana konsep keadilan dapat dibakukan. maka harus diasumsikan bahwa ketika sistem tersebut mulai diberlakukan. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi. Suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. maka manfaat yang diperoleh wajib pajak atas terjadinya pengeluaran publik harus diketahui terlebih dahulu. Agar sistem perpajakan dengan prinsip manfaat bisa adil. Oleh karena itu.

Ukuran kemampuan membayar mencerminkan kesejahteraan menyeluruh yang dapat diperoleh seseorang termasuk diantaranya adalah pendapatan. Pendapat lain mengatakan bahwa tabungan adalah konsumsi yang ditunda. sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. Prinsip Kemampuan Membayar Yang kedua adalah prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle). Berkeadilan horizontal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang sama harus membayar dengan jumlah yang sama. Dan apabila tabungan masyarakat memperoleh bunga. Dengan penetapan harga. jumlah pajak yang dibayar ikut meningkat apabila seluruh tabungan tersebut dikonsumsikan. Adapun perbandingan dari metode pengenaan pajak terhadap pendapatan dan konsumsi dari prinsip kemampuan membayar tercermin dari table berikut. pemborosan harus dikenakan pajak. sedangkan kebajikan harus diberi penghargaan. Misalnya pembebanan bea (bea cukai dan bea masuk) serta pajak pengganti pembebanan seperti pajak BBM dan pajak kendaraan dalam rangka pembiayaan jalan raya.134 Penerapan kebijakan fiskal berdasarkan prinsip manfaat didalam prakteknya. Hobbes berpendapat bahwa kewajiban membayar pajak harus dikaitkan dengan pendapatan yang dibelanjakan bukan yang ditabung. Menurut prinsip ini. Kemampuan membayar seseorang meningkat jika pendapatan meningkat. Pendekatan kemampuan membayar lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi. Manfaat hanya dapat diperoleh apabila pemakai dapat membayar misalnya biaya penggunaan sarana transportasi dan penyediaan fasilitas bandar udara. lebih banyak ditetapkan pada penyediaan jasa-jasa publik berdasarkan prinsip manfaat yang khusus. dan kekayaan. Perekonomian memerlukan suatu jumlah penerimaan tertentu dan setiap wajib pajak diminta untuk membayar sesuai dengan kemampuannya. Agar prinsip kemampuan membayar dapat diterapkan. harus diketahui dulu bagaimana mengukur kemampuan tersebut. Mekanisme pasar dapat diterapkan untuk mendapatkan posisi tawar menawar yang efisien. pola konsumsi. Pendekatan ini menyebabkan sisi pengeluaran publik menjadi tidak jelas. Dalam halnya pengenaan pajak melalui pembebanan langsung terhadap pengguna. Berkeadilan vertikal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih besar harus membayar pajak dengan jumlah yang lebih besar pula. penyediaan jasa-jasa publik oleh pemerintah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip yang sama seperti yang dilakukan oleh swasta. tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. Dalam arti. Prinsip ini dianggap lebih berkeadilan secara horizontal dan vertikal. konsumsinya bersaing secara bebas. Keuntungan penyediaan jasa publik model ini adalah dapat meringankan beban keuangan pemerintah. Dasar-dasar Keuangan Publik .

dimungkinkan adanya bagian pendapatan yang tidak pernah kena pajak.82 10 10 Pajak = 10%. Atau dengan kata lain. Ilustrasi pajak atas konsumsi terlihat lebih adil.9 10 11 Nilai Sekarang (PV) 10 10. Sebaliknya kekayaan individu bisa menambah pendapatan pemiliknya sebagai pendapatan barang-barang modal. maka pendapatan tersebut selamanya bisa tidak dikonsumsi dan tidak kena pajak.9 0 11 • Pajak 0 98. Apabila kekayaan individu dapat diwariskan kepada individu lain tanpa dikenakan pajak. maka tidak akan ada tambahan pendapatan pada periode II (berikutnya) dari tabungan gaji periode I. Bagian pendapatan itu ditabung dan tidak pernah dikonsumsi. yang pada akhirnya menjadi kekayaan individu. pajak dapat dikategorikan sebagai pajak penghasilan. Keadaan ini menyebabkan orang cenderung untuk mengurangi tabungan.1 0 99 • Konsumsi 0 0 0 0 • Tabungan Total Pajak 10 10.135 Tabel 12. Apabila pajak atas konsumsi yang dipilih. Atas dasar ini. Walaupun pada umumnya perpajakan lebih didasarkan atas penghasilan yang dimiliki masyarakat. pajak penjualan (barang dan jasa) dan pajak kekayaan. jumlah total pajak yang dibayar memiliki nilai sekarang yang sama (asumsi nilai bunga sama dengan inflasi). Hal ini disebabkan tanpa melihat kapan pendapatan akan dikonsumsi. Dasar-dasar Keuangan Publik . jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak mempunyai nilai sekarang yang sama. Inflasi/Bunga = 10% Pengenaan pajak yang didasarkan atas diterimanya pendapatan (termasuk pendapatan dari bunga tabungan) akan menyebabkan total pajak yang dibayar oleh wajib pajak menjadi lebih besar berbanding lurus dengan besarnya jumlah pendapatan yang ditabung. kekayaan individu dan warisan bisa dikenakan pajak. ditabung atau dikonsumsi. Ilustrasi pada pajak penghasilan menggambarkan apabila seluruh pendapatan setelah dikurangi pajak dikonsumsi habis. Sedangkan tambahan pajak akan dikenakan terhadap bagian gaji yang ditabung yang mendapat bunga. Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Untuk keperluan analisis.1: Perbandingan Pajak Penghasilan dan Pajak Konsumsi Pajak penghasilan Pajak Konsumsi Periode I 100 100 100 100 • Gaji 10 10 10 0 • Pajak 90 0 90 0 • Konsumsi 0 90 0 100 • Tabungan Periode II 0 9 0 10 • Bunga 0 0.

Hambatan utama dari kebijakan pajak adalah keadaan ekonomi dan politik suatu negara. dibawah umur. Dalam prakteknya. Struktur pajak yang progresif cenderung lebih mudah dicapai pada struktur perekonomian yang mapan. Prinsip ini dianut oleh semua negara dalam rangka memenuhi tuntutan keadilan dalam hukum. Sulitnya menerapkan metode assesment yang baik juga muncul dalam hal menentukan subjek pajak yang dikecualikan. ketakutan akan efek negatif pajak terhadap produksi dan investasi nasional. Perlu juga prinsip keadilan pajak dilihat secara geografis dimana orang-orang yang tinggal pada daerah tertentu harus dikenakan pajak yang lebih tinggi. pajak terhadap seorang petani harus lebih rendah dari hasil pertanian yang dimilikinya. Juga dapat dikatakan tidak adil jika sumber pendapatan tertentu dikenakan pajak tinggi. Prinsip keadilan pajak dapat juga dilihat dari sisi yakni penerimaan dan pengeluaran. keadilan perpajakan mengimplikasikan proses redistribusi kekayaan masyarakat dimana orang kaya membayar lebih banyak dari orang yang lebih miskin (dimensi vertikal). tidak dipungkiri jika orang kaya ikut menikmati sebagian keuntungan dari adanya belanja negara. Sebagai ilustrasi. Beberapa argumen menyimpulkan keadilan pajak jika misalnya kenaikan pajak dikompensasikan dengan penyediaan pendidikan dan transportasi umum yang murah. Lebih lanjut keadilan pajak juga harus memperhitungkan besarnya jumlah tanggungan dalam keluarga.136 Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi oleh metode assesment dan akurasi penghitungan pajak terhutang. Menurut konsep ini. terbatasnya volume pendapatan masyarakat yang dapat dikenakan pajak. serta pengaruh kekuatan orang-orang kaya terhadap kebijakan politik nasional. Dasar-dasar Keuangan Publik . perlu juga diperhatikan secara horizontal dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar. masyarakat golongan ekonomi rendah harus dikenakan pajak yang ringan atau dibebaskan dari kewajiban pajak seluruhnya. Distribusi pembebanan pajak yang adil dipengaruhi oleh cakupan faktorfaktor siapa yang membayar dan jenis pendapatannya serta tarif pajak. Sekali lagi pada negara-negara yang relatif maju dalam perekonomian cenderung dapat mempercayai dokumen-dokumen yang membuktikan adanya hak atas pengecualian pajak. Tidak jarang para pelaku ekonomi yang kuat menyuarakan keluhan-keluhannya terhadap kebijakan pajak baru yang dapat menggangu kegiatan bisnisnya. dan cacat dikecualikan dari subjek kena pajak. Secara konsep. Walaupun pada pelaksanaannya banyak menimbulkan perbedaan-perbedaan. Disamping keadilan pajak secara dimensi vertikal. sementara sumber tersebut memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Ketidakakuratan mengakibatkan ketidakadilan karena adanya pajak yang lebih atau kurang bayar. kemiskinan. Kebijakan pajak dianggap adil jika faktor-faktor seperti lanjut usia.

Biaya pelatihan juga diperdebatkan sebagai pengeluaran yang dapat mengurangi pendapatan kena pajak. dan kenaikan nilai kekayaan. dan tabungan. biaya penitipan anak. Sebagai pajak badan adalah pengenaan pajak atas keuntungan badan usaha yang dapat diterima para pemegang saham sesuai proporsi nilai saham yang dimilikinya. ada item-item pengeluaran yang erat kaitannya dengan kegiatan memperoleh pendapatan seperti peralatan kerja. Sedangkan berdasarkan penggunaannya berupa pembelian barang dan jasa. Kebanyakan sistem akuntansi menggunakan sisi sumber sebagai alat ukurnya. wajib pajak dimungkinkan menerima pendapatan selain uang tunai. Pada beberapa kasus. Untuk itu perlu dihitung pendapatan yang real jika dimasukkan unsur inflasi sebagai penyeimbang. I = C + ΔNW I C ΔNW = Pendapatan tahunan (annual income) = Konsumsi tahunan (annual consumption) = Perubahan kekayaan bersih setahun (annual change in net worth) Metode untuk mengukur pendapatan baik berdasarkan sumbernya atau penggunaannya harus ditentukan sebelum pajak penghasilan di jalankan. Jika dari sisi pengeluaran.137 Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak individu dan pajak badan. Kesulitan muncul pada saat menghitung berapa nilai tambahan kekayaan yang timbul akibat adanya transaksi non moneter ini (income in kind). iuran serikat pekerja. seorang wajib pajak memperoleh suatu produk atau menerima jasa yang dihasilkan sendiri sehingga tanpa harus mengeluarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Berdasarkan sumbernya. sumbangan. tunjangan dari pemerintah atau swasta. dan transportasi dari/menuju tempat kerja. pakaian kerja. pendapatan adalah seluruh penerimaan selama periode pajak. Pengukuran relatif lebih mudah jika kekayaan yang dimiliki berupa saham dan obligasi. Sebagai pajak individu. Pendapatan masyarakat dapat diukur berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya. pajak penghasilan dikenakan kepada orang perorang yang memiliki penghasilan tanpa melihat umur atau jumlah yang diterimanya. Penghasilan tersebut merupakan daya beli individu atas barang dan jasa selama satu tahun yang dapat dikonsumsikan atau disimpan untuk keperluan mendatang. keuntungan jasa. pajak penghasilan biasanya dihitung atas jumlah penghasilan selama satu tahun. Adakalanya. beban pajak. Beberapa ahli menyarankan untuk memasukkan unsur tambahan kenaikan kekayaan sebagai bagian pendapatan kena pajak. Pengeluaran-pengeluaran tersebut diperlukan untuk mendapatkan penghasilan dan tidak menambah kekayaan wajib pajak sehingga layak dikeluarkan dari jumlah pendapatan kena pajak. Berdasarkan dimensi waktu. Pendapatan jenis ini sering terjadi pada usaha-usaha kecil yang memproduksi barang atau jasa.

Baik prinsip keadilan secara horizontal maupun secara vertikal. pengenaan pajak harus sesuai dengan kesetaraan kemampuan ekonomi masyarakatnya. tapi biasanya luput dari pengenaan pajak. ada semacam penundaan pajak penghasilan sampai terjadi konsumsi atas bagian penghasilan tersebut. perbedaan pendapat dalam hal kebijakan yang berkeadilan lebih kompleks lagi pada pajak penghasilan. Supaya lebih adil. dimana seorang wajib pajak misalnya menerima pinjaman kendaraan yang dapat digunakan untuk keperluan pribadi atau tunjangan makan yang diberikan tidak dalam bentuk uang. Kegiatan tersebut jelas menambah kekayaan bersih wajib pajak. Secara horizontal. Kesemua itu dapat dikategorikan sebagai pendapatan yang tidak tercermin dalam gaji yang tertera (nonpecuniary returns). Kedua adalah kebijakan pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi untuk setiap tambahan pendapatan. biaya kesehatan. Hal-hal seperti jumlah anggota keluarga. Sama sekali mengabaikan potensi perbedaan pengeluaran dari masing-masing rumah tangga. Atau kesetaraan ini hanya diukur dari jumlah pendapatan yang diterima saja. Banyak pendapat yang kurang setuju jika keadilan secara vertikal dilambangkan dengan tarif pajak progresif. biaya pendidikan yang bervariasi sangat mempengaruhi pola pengeluaran rumah tangga. Basis yang menyeluruh terhadap kajian pajak penjualan dapat diturunkan dari basis pajak penghasilan. Akan tetapi. Adapun alasan yang mendasari dapat dilihat dari dua kebijakan yang biasa berkaitan dengan pajak progresif. perumusan rancangan kebijakan fiskal lebih memerlukan perhatian khusus. Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip umum yang ingin dicapai dalam pajak penjualan adalah bahwa jumlah pendapatan masyarakat yang ditabung seharusnya tidak perlu dikenakan pajak. Wajib pajak cenderung mempermainkan tempo pengakuan suatu pendapatan untuk menghindari pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. Pertama adalah kebijakan pendapatan tidak kena pajak. Sedangkan kesetaraan kemampuan ekonomi bisa diejawantahkan sebagai kesamaan tingkat pendapatan. Pada akhirnya. maka pada pajak penjualan tambahan kekayaan tersebut (yang biasanya dari tabungan) dikeluarkan dari basis pajak. seharusnya hal-hal yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga juga ikut diperhitungkan. konsep keadilan dalam perpajakan masih dapat diperdebatkan. Jika dalam pajak penghasilan seluruh konsumsi dan tambahan kekayaan wajib pajak dikenakan pajak. kerumitan cenderung mendorong keengganan dan penyelewengan wajib pajak. Hal ini dipercaya dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan tabungannya disamping kegiatan administrasi perpajakannya yang cenderung lebih mudah. Secara umum. Contoh lain adalah fringe benefit. Seperti pada ilustrasi awal bab. Kompensasi dari adanya kebijakan ini adalah rumitnya pelaksanaan peraturan dalam praktek.138 sejumlah uang. Untuk menghindari Dasar-dasar Keuangan Publik .

golongan masyarakat ini cenderung untuk mengkonsumsi seluruh pendapatan yang dimilikinya. 3. Perbedaan menarik pajak penjualan dengan pajak penghasilan adalah pada dana yang tersedia berupa pinjaman. seperti dijelaskan oleh Ulbrich. Hal ini dikarenakan banyak wajib pajak yang berpenghasilan rendah memiliki sejumlah kekayaan yang mana mereka memungut sewa atas pemanfaatan kekayaan tersebut oleh orang lain. Memperbanyak item aktivitas penjualan kena pajak yang hanya mungkin dilakukan oleh golongan masyarakat berpenghasilan tinggi. Banyak pendapat yang setuju jika pajak kekayaan diterapkan. Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan Kekayaan adalah akumulasi dari tabungan dan investasi suatu negara. selisih lebih kekayaan wajib pajak secara moneter akibat adanya inflasi tidak membuat kemampuan membayarnya meningkat sebagai akibat wajib pajak tersebut harus membelanjakan penghasilannya dengan harga yang telah terinflasi. Pada pajak penjualan.139 akumulasi pendapatan yang tidak kena pajak akibat wajib pajak meninggal dunia. Mengenakan tarif pajak yang lebih tinggi untuk beberapa jenis produk yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. Makin besar pendapatan golongan masyarakat. Seorang wajib pajak dapat memiliki kekayaan melalui kegiatan menabung. Dalam pajak penjualan. Sedangkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi memiliki kesempatan untuk menabung sebagian pendapatannya. pinjaman yang dikonsumsikan tetap dikenai pajak. Mengurangi atau mengeliminasi pengenaan pajak yang lebih banyak dikonsumsi oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Seorang wajib pajak yang tidak mampu menabung. capital gain harus memperhitungkan tingkat inflasi sebelum menentukan jumlah kena pajak. hanya porsi penghasilan yang dibelanjakan lah yang kena pajak. tidak memperoleh hibah/hadiah atau warisan tidak akan pernah disebut kaya. 2. Hal ini disebabkan. Hal ini dikarenakan. Pengenaan pajak penjualan lebih dirasakan dampaknya oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. makin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Mengembalikan jumlah pajak penjualan yang dibayar kepada masyarakat dengan standar penghasilan tertentu. pinjaman tidak dikenakan pajak. Dibandingkan dengan pajak penghasilan. memperoleh hibah atau mewarisi kekayaan keluarganya. sulit sekali mengukur berapa jumlah tambahan pendapatan dari kegiatan sewa tersebut. Jika hal ini terjadi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sedangkan pada pajak penghasilan. beberapa langkah. warisan dikenai pajak seketika setelah wajib pajak diumumkan meninggal dunia. Untuk menghindari hal tersebut. dapat ditempuh oleh pemerintah seperti: 1. Pajak penjualan sama sekali tidak dipengaruhi inflasi. 4. Justru bunga yang timbul akibat adanya pinjaman dapat mengurangi dasar penghasilan yang dikenai pajak.

Artinya. Dalam dunia usaha. Cara lain yang dapat dipakai untuk mengukur nilai sebuah kekayaan adalah dengan menghitung nilai sekarang (present value) dari potensi pendapatan sewa selama masa manfaat kekayaan tersebut. Dalam halnya kekayaan yang dimiliki dengan cara hutang. pengenaan tarif didasarkan atas estimasi nilai yang dihasilkan. Jika hasilnya dirasa memadai. Estimasi nilainya sering meleset dari nilai yang sesungguhnya. konsumen. Aplikasi pengenaan pajak terhadap kekayaan akan lebih mudah diterapkan jika pemilik dan pengguna kekayaan tersebut adalah sama. Hal ini terutama untuk kekayaan yang jarang diperjualbelikan. pajak kekayaan lebih menguntungkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi karena nilai uang yang dikeluarkannya sebagai pajak jauh lebih rendah dengan nilai uang untuk pajak kekayaan yang dikeluarkan oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah.140 Mengadministrasikan pajak kekayaan cenderung lebih sulit. Pengukuran nilai kekayaan akan menjadi lebih sulit jika berupa kekayaan tak berwujud (intangible asset). Problem distribusi pajak yang muncul akan lebih kompleks diprediksi keadilannya apabila kekayaan tersebut disewakan kepada pihak ketiga. Tentu saja hal ini harus memperhitungkan tren kenaikan harga sewa sehingga dapat mencerminkan nilai pasar sesungguhnya. seorang penilai independen ditunjuk untuk mengestimasikan nilai. Dasar-dasar Keuangan Publik . penanggung akhir dari adanya pengenaan pajak kekayaan makin sulit ditentukan karena melibatkan pemilik usaha. Pajak kekayaan cenderung bersifat regresif. para pegawai. target pengenaan pajak kekayaan (kekayaan atas bendabenda seperti rumah dan mobil) adalah pemiliknya. dan pemilik kekayaan. nilai bersih kekayaan harus dikurangi dulu dengan jumlah total hutang supaya tidak terjadi penghitungan ganda. Secara prinsip. Secara umum pada pajak kekayaan.

Berkaitan dengan penerimaan negara. kebijakan perpajakan yang dapat ditempuh dapat dengan mengenakan pajak tidak langsung. terkadang total excess burden tidak sama dengan total penerimaan negara. penurunan pendapatan penjual tidak diikuti dengan peningkatan kuantitas yang tersedia untuk dibeli. Hal ini dimungkinkan karena pelaku ekonomi yang secara hukum berkewajiban membayar pajak kepada Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan mengurangi pengenaan pajak yang menimbulkan excess burden lebih besar dalam jumlah nominal yang sama. Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar pembeli dibanding jumlah yang diterima oleh penjual. Efficiency Effect Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat diatas jumlah pajak yang seharusnya dibayar.141 B A B XV DAMPAK PERPAJAKAN TERHADAP PEREKONOMIAN istem perpajakan yang baik adalah sistem perpajakan yang memberikan pengaruh terbaik terhadap perekonomian negara. tarif pajak dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah total penerimaan negara. Dengan kata lain. Hal ini mengakibatkan adanya keuntungan yang hilang akibat terdistorsinya keseimbangan harga pada kurva permintaan dan penawaran. Untuk mengukurnya digunakan efficiency-loss ratio dengan persamaan sebagai berikut: W R = Excess Burden = Tax Revenue S Estimasi efficiency-loss ratio penting dilakukan untuk meminimalkan total excess burden pada sistem perpajakan nasional. Jika tujuan tersebut adalah mengoptimalkan tingkat produksi. Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku-pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. pajak langsung yang progresif lebih tepat untuk diterapkan. Sebaliknya jika tujuan yang ingin dicapai adalah pemerataan penghasilan.

142 pemerintah belum tentu menggunakan dana pribadi atau dengan kata lain dapat membebankan pajaknya kepada pelaku ekonomi yang lain. Berkenaan dengan dimungkinkannya memindahkan beban pajak kepada pelaku ekonomi lain secara keseluruhan atau sebagian (distribusi pembebanan) maka pembahasan tax incidence dapat dibagi dalam dua konsep yakni statutory incidence dan economic incidence. dan pengangguran. Apabila seluruh Tabungan (S) digunakan sebagai Investasi (S = I). Sedangkan Economic Incidence lebih mengarah pada pengaruh pendistribusian pembebanan pajak pada tingkat ekulibrium harga. jumlah Konsumsi (C) dan Tabungan (S). penurunan harga (deflasi). Kondisi ini menyebabkan kegairahan ekonomi dan kenaikan harga (inflasi). Gambar 13. Statutory Incidence merujuk pada pelaku-pelaku ekonomi yang secara hukum terlibat dalam pendistribusian pembebanan pajak. Dampak Pajak Terhadap Sistem Ekonomi Keseluruhan Secara umum. Hubungan dari ketiga unsur tersebut adalah Pendapatan Nasional sama dengan jumlah Konsumsi ditambah jumlah Tabungan (Y = C + S). Yang sering terjadi justru jumlah Tabungan lebih rendah dari jumlah Investasi (S < I). maka tidak akan pernah terjadi inflasi atau deflasi. Kadang-kadang yang muncul adalah jumlah Tabungan (S) lebih besar dari jumlah Investasi (I) atau dengan kata lain. struktur perekonomian nasional (tanpa pajak) terdiri dari Pendapatan Nasional (Y).1 Dasar-dasar Keuangan Publik . tidak semua tabungan digunakan untuk investasi (S > I) maka akan terjadi kelesuan ekonomi.

Sebaliknya pada tingkat pendapatan 0Y2 (S>I) terdapat deflationary gap dimana harga-harga cenderung terus turun sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktor-faktor produksi. Perusahaan lain dapat saja berpindah lokasi industri dari suatu tempat yang mengenakan pajak yang tinggi ke tempat yang memberikan insentif pajak. Pajak dapat menyebabkan orang menjadi kurang giat bekerja. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. pajak mempunyai pengaruh negatif terhadap kemauan usaha kerja. menggeser kurva C+I keatas dengan menerapkan pajak atas tabungan. Orang lebih memilih untuk mempunyai lebih banyak waktu santai. dikenakan pajak yang ringan. Sebaliknya. pegawai-pegawai tersebut mempunyai dua pilihan yaitu bekerja atau tidak bekerja (memanfaatkan waktu santai) akibat adanya pengenaan pajak penghasilan. Sebagai contoh. Konsumen akan membayar seluruh beban pajak yang ditambahkan pada harga barang. Pergeseran yang dimaksud adalah dengan mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi. Sehingga disarankan untuk barang-barang yang memiliki elastisitas tinggi. perusahaan dapat saja mengurangi produksi barang-barang yang merupakan objek pajak dan meningkatkan produksi barang-barang lain yang masih belum merupakan kategori barang kena pajak. Seberapa jauh pengaruh pajak terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dipengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang-barang yang dihasilkan. Barang-barang yang tingkat permintaannya in-elastis sempurna tidak akan terpengaruh dengan adanya pengenaan pajak. Berkaitan dengan dimungkinkannya penerapan insentif pajak pada suatu daerah tertentu. dengan tingkat Konsumsi (C) dan tingkat Investasi (I). Terhadap Usaha Kerja Sebagian besar penerimaan negara dari pajak di Indonesia adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas pendapatan para pegawai.143 Gambar menunjukkan hubungan antara tingkat Pendapatan Nasional (Y). perusahaan tidak dapat mengalihkan beban pajaknya pada harga barang. jika elastisitas permintaan barang adalah sempurna. perekonomian dalam keadaan seimbang. Harga-harga cenderung terus naik sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. Pada tingkat pendapatan nasional sebesar 0Y (S=I). Pada Dasar-dasar Keuangan Publik . Pada tingkat pendapatan 0Y1 (S<I) terdapat inflationary gap. Terhadap Komposisi Produksi Pajak dapat digunakan sebagai pendorong kepada pelaku ekonomi untuk melakukan aktivitas tertentu dengan memberikan insentif-insentif. menggeser kurva C+I kebawah dengan menerapkan pajak atas konsumsi. Secara mudah dikatakan. Dengan kata lain. menimbulkan adanya beberapa alternatif pilihan yang dapat diambil oleh para pelaku ekonomi. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. Secara teoritis. tidak ada inflasi ataupun deflasi.

Juga tidak setiap kenaikan pajak akan memberi dampak negatif pada Tabungan masyarakat ataupun Investasi. Kriteria Tarif Pajak Pertumbuhan ekonomi hanya akan terjadi apabila lebih banyak masyarakat yang bekerja. Mereka juga tidak begitu saja meningkatkan tabungan dan investasi apabila dikenakan tarif pajak rendah atau subsidi perpajakan lainnya. Sehingga elastisitas penawaran usahanya adalah tinggi dimana dengan turunnya pendapatan. Tetapi pada kenyataannya. penciptaan lapangan kerja. Hal ini dilakukan dengan menerapkan tarif pajak progresif dan minimum pendapatan yang dapat dikenakan pajak. Untuk meningkatkan pendapatan nasional sesuai Dasar-dasar Keuangan Publik . masyarakat kelompok miskin tidak punya kemampuan tabungan dan investasi. Sedangkan bagi mereka yang kurang peduli dengan gaya hidup mewah. pengaruh pajak terhadap kemauan kerja individu memiliki sifat yang lebih kompleks. keadaan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. pendapatan nasional yang dikenai pajak akan banyak mempengaruhi turunnya jumlah tabungan masyarakat bukan pada porsi pendapatan yang dikonsumsi yang diasumsikan tetap. Bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. biasanya permintaannya terhadap penghasilan adalah tinggi. semakin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Berdasarkan kenyataan tersebut. Kelemahan dari tarif pajak progresif adalah menekan pada kelompok-kelompok kaya pemilik modal sehingga mereka malas bekerja. dan melakukan investasi. menabung.144 kenyataannya. dan distribusi pendapatan yang merata dan keseimbangan dalam neraca pembayaran internasional. Terhadap Distribusi Pendapatan Tujuan pembangunan suatu negara pada umumnya adalah peningkatan pendapatan per kapita nasional. Reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha. justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. menabung sebagian pendapatannya serta menginvestasikan nilai tabungannya. Bagi sebagian orang. Dari kelompok-kelompok kaya inilah diharapkan sejumlah dana tabungan yang dapat digunakan untuk investasi. Secara teori. Hal-hal tersebut menurut Daniel J Mitchell (2003) adalah prilaku-prilaku yang dapat meningkatkan kekayaan nasional. Masyarakat tidak begitu saja bekerja secara produktif dengan diterapkannya anggaran pendapatan dan belanja berimbang. kebijakan perpajakan di Indonesia lebih banyak diterapkan untuk mengurangi kesenjangan pendapatan di masyarakat. Menurut pengertian ini. semakin tinggi pendapatan seseorang. Sehingga sulit didapatkan dana tabungan masyarakat. pola konsumsi masyarakat cenderung lebih tinggi dari pola konsumsi masyarakat di negara-negara maju. Penarikan dana masyarakat secara sukarela dengan iming-iming bunga yang tinggi pada akhirnya juga ikut berpengaruh pada tingkat inflasi nasional. permintaannya terhadap penghasilan rendah sehingga elastisitas penawaran usaha dalam hubungannya dengan penghasilan adalah rendah juga. Dengan kata lain. pajak tidak menimbulkan disinsentif untuk bekerja.

3. studi membuktikan bahwa banyak pengeluaran publik yang justru berefek negatif terhadap Dasar-dasar Keuangan Publik . faktor produksi tersebut akan juga mendorong pertumbuhan ekonomi agregat menjadi lebih baik. Sebagai contoh. insentif pajak investasi dalam jangka pendek akan menarik minat pemodal masuk kedalam negeri. Justru sebaliknya. Beberapa opsi tarif pajak yang dipungut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Fokus pada pertumbuhan ekonomi. bukan pada penurunan tarif. Pada akhirnya penurunan tarif pajak tidak merubah total pengeluaran. para pengambil keputusan bidang pajak harus mengkonsentrasikan pada hal-hal yang berakibat positif terhadap prilaku bekerja. Efisiensi belanja negara penting dilakukan. Meskipun beberapa pos-pos belanja negara membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti penyediaan keamanan dan penegakkan hukum. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya cenderung kurang peduli dengan pungutan pajak. 4. penurunan tarif pajak justru meningkatkan jumlah penerimaan negara. Beberapa kebijakan insentif pajak atau subsidi dapat berakibat hanya mengurangi jumlah penerimaan negara tanpa menghasilkan peningkatan kegiatan ekonomi secara signifikan. Pertumbuhan ekonomi tidak diakibatkan oleh peningkatan konsumsi. Kebijakan yang baik menghasilkan penerimaan negara lebih banyak. Karena tarif pajak yang rendah dapat membuat masyarakat yang produktif semakin giat bekerja. harus diperhitungkan cara-cara yang dapat mengkompensasikan turunnya penerimaan negara akibat pengenaan tarif yang lebih rendah. Jumlah potensi tambahan konsumsi masyarakat akibat adanya penurunan tarif pajak kurang signifikan terhadap peningkatan kegiatan ekonomi dibandingkan dengan turunnya jumlah total penerimaan negara. 5. 6. Sehingga penurunan tarif pajak tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Beberapa negara telah membuktikan bahwa deregulasi perpajakan yang kecil pengaruhnya terhadap turunnya penerimaan negara justru dapat meningkatkan gairah investasi dunia usaha. 2. pendapatan nasional. Kebijakan pajak yang bardampak positif pada jangka pendek biasanya berdampak positif pula pada jangka panjang. Untuk itu. Secara jangka panjang. Untuk itu perlu diupayakan suatu kebijakan pelengkap yang dapat meng-offset selisih penurunan penerimaan negara tersebut. Mitchell (2003) memaparkan sembilan petunjuk kebijakan perpajakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sebagai berikut: 1. dan pertumbuhan ekonomi.145 dengan karakteristik masyarakat disuatu negara. Jika keadaan prilaku masyarakat wajib pajak adalah produktif. 7. menabung dan berinvestasi. sebaiknya kebijakan publik tidak mengedepankan motif yang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan jalan mendorong konsumsi. Agar pelaksanaan kegiatan pemerintah tidak terganggu. Penurunan tarif pajak tidak perlu diterapkan seragam untuk seluruh wajib pajak. pertumbuhan ekonmi sebagai faktor yang mendorong jumlah total konsumsi akibat meningkatnya jumlah daya beli masyarakat.

atau defisit dengan tingkat suku bunga. Penerimaan/pendapatan harus ditentukan dengan tepat 2. Efisiensi belanja negara dapat dilakukan dengan merampingkan struktur pemerintahan. berimbang. 8. Untuk itu perlu dikembangkan kebijakan pajak yang mendorong iklim investasi dan menabung. Pada akhirnya. Dana investasi terutama diambil dari tabungan masyarakat. Biaya administrasi dan biaya-biaya pembayaran pajak lainnya harus dibuat serendah mungkin. 6. Jika jumlah yang ditetapkan terlalu besar. kriteria yang bisa menentukan baik tidaknya sebuah kebijakan perpajakan dapat dilihat sebagai berikut: 1. Riset akademis yang dihasilkan menunjukkan bahwa tidak ada korelasi positif antara anggaran surplus. Setiap orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuannya. Penanggung akhir beban pajak harus menjadi pokok perhatian. Sedangkan tarif pajak adalah salah satu faktor yang mempengaruhi suku bunga. Defisit belanja negara dapat berpengaruh pada turunnya tingkat suku bunga. Struktur pajak harus memudahkan penggunaan kebijakan fiskal untuk mencapai stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi. Seperti dikutip dari Musgrave. penurunan tarif bukanlah satu-satunya cara yang dapat diambil pemerintah. Tetapi pengaruhnya kurang signifikan dibanding pengaruh faktorfaktor lain seperti pasar modal. Peraturan perpajakan harus mendukung kebijakan perekonomian dan mendorong pasar yang efisien. Penerimaan pajak harus dirumuskan secara tepat. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh investasi yang produktif. keduanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Sistem pajak harus menerapkan administrasi yang wajar dan mudah dipahami oleh wajib pajak. dikhawatirkan investor tidak akan mau menanamkan modalnya di dalam negeri. Hal ini mengakibatkan multiplier efek yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tidak tercapai. dengan mempertimbangkan seluruh dampak yang dapat ditimbulkan pada level ekonomi makro. 7. jumlah target penerimaan pajak tidak akan pernah tercapai. Walaupun dibeberapa negara penurunan tarif pajak justru dapat meningkatkan penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya jika terlalu kecil. Distribusi beban pajak harus adil. Invesatsi dan tabungan. 3. 5. Inti dari sembilan petunjuk diatas adalah segala upaya kebijakan pajak seharusnya difokuskan pada pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberikan insentif pada aktivitas-aktivitas produktif nasional. 9. Kriteria Struktur Pajak yang Baik Kebijakan perpajakan akan memberi dampak yang signifikan jika disusun secara komprehensif.146 pertumbuhan ekonomi. sehingga bisa merefleksikan kemampuan membayar dari seluruh wajib pajak yang ada sehingga tidak terlalu besar atau terlalu kecil. 4. dikhawatirkan jumlahnya tidak dapat membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah Dasar-dasar Keuangan Publik .

Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika pajak diterapkan atas produk-produk tertentu. Simulasi terhadap bakal munculnya kekeliruan yang tidak diharapkan harus disiapkan secara matang. perlu dikaji serius mengenai elastisitas permintaan dan penawarannya dalam ekonomi pasar. Dengan kata lain. misalnya dengan adanya kegiatan sosialisasi yang memadai. Segala biaya yang tidak berkaitan langsung dengan beban pajak sesungguhnya harus diminimalkan. Hal ini untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pemilik modal dalam rangka menghitung proyeksi keuntungan investasi. Kebijakan perpajakan harus tetap mengindahkan konsep kestabilan ekonomi. Perlu dibuat aturan-aturan teknis yang simple dan dapat menghindarkan terjadinya salah sasaran.147 yang bermanfaat untuk menciptakan value yang dapat merangsang perputaran gerak roda eknomi. Kemungkinan pergeseran titik equilibrium kurva permintaan dan penawaran harus terus diantisipasi dan terus diawasi dengan memasukkan unsurunsur spesifik para pelaku ekonomi setempat. Segala kebijakan harus mengacu pada kesederhanaan. Dengan demikian risiko biaya tinggi yang tidak terduga akibat penyelewengan peraturan oleh oknum pelaku ekonomi bisa dieliminasi. Kecilnya kesenjangan bisa mendorong stabilisasi yang kondusif bagi perbaikan ekonomi nasional. perlu dilakukan pengkajian mendalam dengan melakukan simulasi yang menyeluruh untuk dapat memperoleh gambaran dampak pembebanan penanggung akhir terhadap stabilisasi ekonomi. Ekonomi yang terus tumbuh dan pasar yang efisien harus terus dijaga agar kemakmuran masyarakat tidak rusak akibat adanya penerapan kebijakan perpajakan. Keadilan perpajakan pada intinya adalah. beban pajak harus terdistribusi sedemikian rupa sehingga target pencapaian penerimaan pajak bisa diimbangi dengan mengurangi kesenjangan pendapatan golongan masyarakat yang kaya dengan golongan masyarakat miskin. Adanya kemungkinan peralihan beban pajak kepada penanggung akhir. investor-investor terutama para pemodal asing sangat mengharapkan adanya kepastian iklim berusaha. Ekonomi yang sering bergejolak biasanya tidak menguntungkan iklim investasi. Rumusan-rumusan yang dipakai harus menghindari kesalahpahaman massal yang menyebabkan kekacauan pada proses administrasi. Harus dapat ditentukan pada awal permusan kebijakan bahwa implementasinya pada akhirnya akan meminimalkan gejolak ekonomi. Simulasi tersebut bisa menggunakan beberapa skenario yang berbeda dan mengamati hasilnya.

Dividen dan Royalti (PBDR). Pajak Perseroan (PPs) serta Pajak atas Bunga. pajak-pajak berdasarkan peraturan perpajakan Belanda ini disatukan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang berlaku sejak 1 Januari 1984. yaitu tahun 1991. Selama masa revolusi. Yang ada hanyalah kantor iuran negara yang menerima pembayaran pajak dari beberapa pedagang. peraturan perpajakan Belanda dipergunakan kembali dengan melakukan penataan dan perluasan seperlunya.148 B A B XVI PAJAK PENGHASILAN WAJIB P AJAK PRIBADI ajak penghasilan pertama kali diberlakukan di Indonesia sebagai suatu sistem perpajakan integral yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Setelah kedaulatan diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. P Aturan Utama Prinsip dasar Pajak Penghasilan adalah bahwa penghasilan wajib pajak dari semua sumber harus digabungkan menjadi satu angka tunggal ukuran penghasilannya. Pada tahun 1944. peraturan pajak ini diubah dengan Ordonansi Perpajakan tahun 1944 yang digunakan oleh Pemerintah Kolonial Jepang untuk melakukan pungutan-pungutan terhadap hasil pertanian sebagai pajak. Setelah reformasi perpajakan tahun 1983. 1994 dan 2000. sehingga sampai dengan sebelum reformasi perpajakan tahun 1983. tidak ada pungutan pajak yang berarti yang dapat dikumpulkan. Penghasilan total ini kemudian dikurangi dengan pengecualianpengecualian dan pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan yang akan dikenakan pajak. Undang-Undang ini mengalami perubahan dan perbaikan sebanyak tiga kali. pajak-pajak yang berlaku di Indonesia yang dapat dikelompokkan sebagai pajak penghasilan adalah Pajak penghasilan (PPd). Pertama kali diberlakukan dikenal dengan nama Pajak Penghasilan 1932 atau Inkomsten Belasting 1932. Inilah dasar pengenaan pajak yang akan Dasar-dasar Keuangan Publik .

dan sebagainya. dividen. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. wajib pajak dapat mengurangkan biaya-biaya atau pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan neto. Penentuan Penghasilan Kena Pajak Konsep utama dalam perhitungan penghasilan kena pajak adalah penghasilan bruto dan penghasilan kena pajak.149 dikalikan dengan tarip pajak untuk mendapatkan pajak yang menjadi beban bagi wajib pajak. Penghasilan lain-lain. d. royalti. Penghasilan Bruto. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. Sejak tahun 1983 sampai Dasar-dasar Keuangan Publik . selain yang dikecualikan digabungkan untuk menentukan Penghasilan Bruto. Penghasilan neto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan PTKP. alat ukur ini ternyata tidak sekomprehensif mungkin. c. Penghasilan dari usaha dan pekerjaan bebas dimasukkan dalam penghasilan neto setelah dikurangkan biaya-biaya. Penghasilan dari semua sumber. Penghasilan dari usaha dan kegiatan. Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dilaporkan dalam penghasilan setelah dikurangkan dengan beberapa biaya dan penghasilan yang dikecualikan. penghasilan dari praktik profesi dan sebagainya.440. Dari angka penghasilan ini.000. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga. Penghasilan dari modal. seperti pembebasan utang. Penerapan Tarip Pajak Pajak dihitung dengan menerapkan angka tarip pada skedul tarip pajak dengan angka Penghasilan Neto setelah dikurangi PTKP.000). dan lain sebagainya. Walaupun penghasilan neto dimaksudkan untuk menjadi satu alat ukur yang komprehensif atas posisi penghasilan wajib pajak. b. honorarium.880.000) ditambah tiga orang tanggungan (masing-masing Rp1.440. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun. kecuali bila pasangannya tidak berpenghasilan maka PTKP-nya Rp1. keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 mendefinisikan penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak. Skedul tarip ini ditetapkan berdasarkan Undang-Undang dalam bentuk tarip marjinal. PTKP yang berlaku saat penulisan buku ini adalah wajib pajak dan pasangannya (masing-masing Rp2. hadiah. Beberapa penghasilan nonkas diabaikan (seperti imputed rent dan capital gain yang belum direalisasikan) dan beberapa penghasilan kas tertentu dikecualikan (seperti pembayaran asuransi dan pensiun). seperti gaji. yang berlaku untuk tingkatan penghasilan yang naik secara berurutan. sewa. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Penghasilan ini akan meliputi: a.

Setiap wajib pajak bertanggung jawab untuk menyatakan penghasilan mereka dan menghitung besarnya pajak penghasilan yang terhutang. Sistem Pemotongan Pajak juga memastikan ketaatan sepenuhnya karena pernyataan penghasilan tidak diberikan sepenuhnya hanya kepada wajib pajak. Kewajiban menyerahkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan diberlakukan kepada semua wajib pajak yang telah memiliki NPWP. harus mengembalikan kelebihan pemotongan ini kepada para wajib pajak tertentu tersebut. Pemerintah. Walaupun Direktorat Jenderal Pajak memeriksa aritmetika perhitungan pajaknya. DJP tidak dapat mengaudit semua SPT yang diterima. sejak tahun 1995 tarip pajak diturunkan antara 10% sampai dengan 30%. hanya wajib pajak yang tidak wajib memiliki NPWP tidak diwajibkan untuk menyerahkan SPT Tahunan. dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak. Jika tarip pajak yang dipotong ditetapkan cukup tinggi untuk mendapatkan penerimaan pajak setinggi-tingginya. wajib pajak menyerahkan estimasi pajak penghasilan yang harus dibayar tahun berikutnya. Responsifitas sangat penting bagi efektivitas kebijakan stabilisasi. Audit. dan setoran pajak penghasilan masa tahun berikutnya itu didasarkan pada informasi estimasi ini.150 dengan 1994. dalam hal ini sangat dibantu oleh fasilitas komputer yang dimilikinya. Pemotongan Pajak (Withholding). Oleh karena itu. Sistem ini memiliki banyak keunggulan. responsivitas pembayaran pajak terhadap perubahan dalam tingkat penghasilan pribadi sangat meningkat. SPT yang melaporkan hal-hal yang tidak biasa (misalnya biaya yang mengurangi penghasilan yang sangat besar atau sumber penghasilan yang tidak biasa dapat diaudit). tarip pajak yang ditetapkan antara 15% sampai dengan 35%. Pada saat yang sama. pada waktu-waktu tertentu kelompok wajib pajak tertentu akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Prosedur Pembayaran Beberapa hal penting berkenaan dengan aspek prosedural utama pajak penghasilan Kewajiban menyerahkan SPT. pemeriksaan sampel secara acak digunakan untuk membuat wajib pajak tetap patuh pada peraturan perpajakan. Bersamaan dengan penyerahan SPT. pembayaran pajak dikaitkan dengan tingkat penghasilan tahun berjalan daripada tertinggal satu tahun. Biaya untuk mengaudit semua SPT tersebut akan sangat besar. Oleh karena itu. pada saat wajib pajak harus menyerahkan pembayaran terakhir untuk pajak-pajak yang terutang pada Tahun Pajak yang telah berakhir atau menagih pengembalian pajak. Sebagian besar pajak dipungut dengan cara dipotong oleh pihak yang melakukan pembayaran. Wajib pajak tersebut adalah mereka yang mempunyai penghasilan neto lebih kecil dari PTKP atau yang memperoleh penghasilan hanya dari satu pemberi kerja. Batas waktu penyerahan SPT Tahunan adalah tiga bulan setelah Tahun Pajak berakhir. Dengan cara ini. kelebihan pemotongan pajak akan dialami oleh para wajib pajak tertentu sehingga para wajib pajak ini yang secara riil memberikan pinjaman bebas bunga kepada Pemerintah. Sistem dasar yang melandasi Pajak Penghasilan Indonesia adalah self assessment. sistem pemotongan pajak juga menimbulkan biaya tersendiri.

kerugian operasi harus dikurangkan dalam menentukan penghasilan neto dari kegiatan usaha. Semua tambahan kemampuan ekonomis (accretion) harus dimasukkan. Bila kita memilih penghasilan sebagai basis pajak. Pandangan pajak penghasilan ini banyak diterima oleh berbagai kalangan dewasa ini. misalnya dokter atau pengusaha retail. yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. konsep tambahan kemampuan ekonomis ini akan dianalisis secara mendalam apa implikasinya dalam praktik dan bagaimana konsep ini diterapkan secara memuaskan dalam perhitungan penghasilan neto. Tanpa pengglobalan ini. terutama berkaitan dengan perlakuan biaya-biaya permodalan lainnya. perlakuan biaya bunga yang boleh dikurangkan dipertanyakan konsistensinya.151 diperiksa. Walaupun ada pengecualian-pengecualian tertentu. Penghasilan bruto versus penghasilan neto Penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto. baik yang teratur ataupun yang fluktuatif. Kita tidak perlu mempertimbangkan bagaimana penghasilan tersebut digunakan. pada umumnya penghasilan yang dapat dikenakan pajak telah dinyatakan dalam satuan penghasilan neto. cakupan auditnya terbatas. penghasilan dari semua sumber yang didefinisikan harus diperlakukan secara seragam dan digabungkan sebagai penghasilan global yang akan dikenakan tarip pajak. apakah akan diinvestasikan atau akan dikonsumsi. ada dua kandidat utama sebagai basis pajak untuk pajak pribadi. yaitu penghasilan dan konsumsi. penerapan tarip yang progresif tidak dapat menghasilkan efek yang diharapkan yaitu mengadaptasi pajak pada kemampuan membayar wajib pajak. Peraturan perpajakan mendefinisikan penghasilan yang akan dikenakan pajak sebagai penghasilan neto karena biaya-biaya yang terjadi dalam memperoleh penghasilan pada umumnya. baik yang terealisasi ataupun yang tidak terealisasi. harus didefinisikan sebagai kenaikan total atas kekayaan seseorang. Walaupun begitu. Sekarang. Seberapa baikkah penghasilan neto digunakan sebagai suatu ukuran kapasitas pajak? Dalam konsep basis pajak. Selain itu. sebagai indeks kapasitas kemampuan membayar pajak. Kerugian mengurangi Dasar-dasar Keuangan Publik . Akan tetapi. Karena tambahan kemampuan ekonomis dirancang untuk mengukur konsumsi plus kenaikan dalam kekayaan bersih. walaupun tidak selalu. Peraturan perundang-undangan juga membolehkan wajib pajak mengurangkan biaya-biaya yang berkaitan dengan pekerjaan. dikurangkan dari penghasilan. Prinsip lain dalam mendefinisikan penghasilan neto adalah bahwa kerugian harus dapat diperlakukan sebagai pengurangan sepenuhnya. Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Konsep penghasilan dasar yang menjadi penentuan kewajiban pajak penghasilan dalam praktiknya adalah penghasilan neto. maka penghasilan. seperti biaya jabatan dan iuran pensiun. yang diharapkan ataupun yang tidak diharapkan.

contohnya adalah rumah yang ditinggali pemiliknya. seperti makanan yang diperoleh dari tanaman dari lahan pribadi. Pandangan ini menjadi penting ketika tingkat inflasi sangat tinggi. Penghasilan yang Terakumulasi versus Penghasilan yang Terealisasi Sesuai dengan definisi penghasilan sebagai ukuran peningkatan penghasilan. Direalisasikan ataupun tidak adalah pilihan portofolio bagi investor dan tidak boleh mempengaruhi penghasilan yang diukur untuk keperluan perpajakan. yang menekankan bahwa penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. upah. yang lainnya memiliki barang-barang konsumsi jangka panjang yang memberikan imputed income. Pemilik mendapatkan imputed rent yang sama dengan penghasilan yang ia dapatkan apabila ia menyewakan rumahnya.152 kekayaan bersih sebagaimana keuntungan meningkatkannya. Hal ini dinilai sebagai ketidakkonsistenan penerapan konsep penghasilan ini. kewajiban pajak dalam satuan riil sama dengan nol. Walaupun peraturan perundang-undangan tidak memberikan fasilitas pengembalian pajak. Capital Income versus Labor Income Berdasarkan konsep tambahan kemampuan ekonomis. para wajib pajak dapat memperlakukannya untuk mengurangi kewajiban pajak beberapa tahun yang akan datang. Karena kenaikan kemampuan (accretion) didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan bersih dan konsumsi. layanan kendaraan kantor atau Dasar-dasar Keuangan Publik . Pemerintah harus konsisten memperlakukan keduanya. Kenaikan dalam penghasilan uang yang sepadan dengan kenaikan harga-harga bukan merupakan kenaikan dalam penghasilan riil. Imputed Income Beberapa orang memiliki aset yang memberikan penghasilan kas. Hal inilah yang menjadi bagian dari topik kontroversial untuk memajaki capital gains. Penghasilan Riil versus Penghasilan Nominal Penghasilan adalah alat ukur kemampuan membayar. ada kredit pajak bagi wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan tetapi wajib pajak yang hanya memperoleh penghasilan atas modal tidak memperoleh kredit pajak ini. yang condong pada konsep penghasilan kas. Akan tetapi. dalam situasi ini. maka tidak menjadi perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji. sumber penghasilan bukanlah suatu permasalahan. Penghasilan neto. Dengan demikian. tidak memperhitungkan imputed income. Pada beberapa negara maju. Oleh karenanya. beberapa ahli perpajakan secara tradisional membedakan antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal. Pembayaran yang diterima dalam bentuk natura. oleh karenanya harus didefinisikan dalam satuan riil. nilai dari konsumsi yang imputed tersebut harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Pengabaian ini menyebabkan ketidakadilan perlakuan pajak bagi pemilik rumah dan penyewa. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset yang tidak dijual.

Pemilihan basis pajak merupakan permasalahan keadilan pajak. Akan tetapi. seperti juga tambahan kemampuan ekonomis dari sumber-sumber lain. implementasi dari aturan ini tidak akan mungkin bisa dilakukan. seperti warisan dan hibah. Akan tetapi.153 keuntungan-keuntungan dari tunjangan-tunjangan natura. ini adalah bukti (seperti yang dinyatakan oleh logika ekonomi) bahwa ia menilai tidak bekerja tersebut sama dengan penghasilan ekuivalen yang hilang karena tidak bekerja. bukannya penggunaan. dalam bentuk berbagai tunjangan-tunjangan natura seperti kendaraan kantor. Penghasilan versus Transfer Dari sudut pandang ekonom. Dan juga. juga tidak diperhitungkan dalam penghasilan neto. Juga. Warisan dan Hibah Transfer pribadi. Jika hal ini dilakukan. jasa rumah tangga yang dilakukan sendiri (seperti memasak. perlakuan pajak seharusnya tidak mengikuti aturan dalam perhitungan pendapatan nasional. perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima. Dasar-dasar Keuangan Publik . Akan tetapi. apakah transfer seperti ini harus dikurangkan dari basis penghasilan pajak pemberi? Tidak selalu. tidak ada keharusan bahwa basis pajak agregat sama dengan penghasilan total yang didefinisikan dalam pendapatan nasional. Contohnya. karena konsep penghasilan berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis. mencuci dan memelihara anak) merupakan penghasilan imputed bagi rumah tangga. dengan demikian harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. harus dimasukkan ke dalam basis pajak. penghasilan kena pajak seseorang tidak harus sama dengan bagiannya dalam pendapatan nasional dan juga total penghasilan kena pajak dala suatu negara harus sama dengan total pendapatan nasional. penerapan imputed income menjadi tidak mungkin apabila dilakukan terlalu jauh. yang juga menyatakan nilai dari output yang diproduksi oleh faktor-faktor tersebut. Transfer seperti ini tidak dikurangkan dari penghasilan oleh pemberi dan juga tidak dilaporkan sebagai penghasilan oleh penerima. dalam bentuk santai. Dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion). secara konseptual. pendapatan nasional adalah jumlah dari pendapatan faktor selama satu periode. memasukkan penghasilan ini ke dalam penghasilan neto memunculkan permasalahan serius dalam hal pengukuran dan hal-hal lain yang harus diperhitungkan ketika memberlakukan pajak penghasilan atas dasar rumah tangga. Permasalahan yang lebih membingungkan lagi adalah waktu santai (tidak bekerja). walaupun seharusnya diperhitungkan dalam konsep penhasilan. menjadi pengganti penghasilan kas untuk menghindari pajak penghasilan. Oleh karenanya. Jika seseorang memutuskan untuk santai (tidak bekerja). Transfer yang diterima dari pemerintah atau sumber-sumber swasta (seperti donasi dan hibah) bukan merupakan komponen penghasilan dalam istilah pendapatan nasional. Hal ini menjadi penting karena pembayaran dalam bentuk natura. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura. juga tidak dikenakan pajak penghasilan.

pajak langsung dibayarkan dengan sistem pemotongan dan tidak dapat dikreditkan dalam perhitungan Pajak Penghasilan akhir. tarip pajak yang progresif cenderung diskriminatif terhadap penghasilan yang fluktuatif. debat yang terjadi berkisar (1) apakah laba yang direalisasikan harus diperlakukan sebagai penghasilan biasa. Permasalahan ini dapat dikurangi dengan menerapkan aturan meratakan penghasilan. Oleh karena itu. posisi ini seringkali tanpa alasan yang kuat. 2. seperti imputed income. sedangkan beberapa lainnya dikecualikan dari penghasilan neto. sebelum tahun 2000. tidak ada alasan untuk membedakannya. Praktek Definisi Penghasilan: Pengecualian Analisis terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan menunjukkan banyaknya penyimpangan dari prinsip tambahan kemampuan ekonomis. Dasar-dasar Keuangan Publik . 4. pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarip pajak final. 3. Keadilan horizontal dilanggar karena perlakuan ini menghasilkan perbedaan dalam kewajiban pajak pada tingkatan penghasilan tertentu. Penghasilan yang diperoleh dari hak atas tanah dan bangunan. Demikian pula pada transaksi-transaksi yang menguntungkan. Penghasilan-penghasilan yang dikenakan pajak final Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak. dan (2) apakah laba yang tidak direalisasikan harus juga dipajaki. Penghasilan jasa konstruksi dan jasa konsultan. karena pada transaksi tertentu seperti transaksi penjualan saham di bursa efek. wajib pajak sudah diharuskan membayar pajak. tarip pajaknya proporsional seberapapun besarnya penghasilan (keuntungan) yang didapat. Capital gain Berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap capital gain. Keadilan vertikal dipengaruhi karena prinsip progresivitas tidak berlaku pada penerapan pajak final. Beberapa penghasilan yang dikenakan pajak final adalah: 1. Bagaimanapun juga. Pada transaksi-transaksi ini. penghasilan yang tidak teratur dan penghasilan yang teratur sama pengaruhnya bagi kemampuan wajib pajak. Beberapa tambahan kemampuan ekonomis. tidak dimasukkan. walaupun belum ada penghasilan karena belum tentu transaksi tersebut memberikan untung.154 Penghasilan Teratur versus Penghasilan Tidak Teratur Seringkali dimunculkan argumen bahwa penghasilan yang tidak teratur dan tidak diharapkan harus dimasukkan dalam penghasilan yang dikenakan pajak. Walaupun demikian. Akan tetapi. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek. Penghasilan dari hadiah undian Perlakuan atas pajak final ini sebenarnya melanggar prinsip keadilan pajak.

kekayaannya telah bertambah sebanyak jumlah ini yang dapat diubahnya menjadi kas bila ia memutuskannya. Apakah laba telah terealisasi tidak ada relevansinya dengan apakah ada peningkatan kemampuan ekonomis. Walaupun tidak ada konsumsi. Faktanya dia tetap memiliki dalam bentuk portofolio saham menunjukkan preferensinya untuk tetap terus memegangnya bila dibandingkan dengan alternatif lainnya. baik keadilan horizontal maupun keadilan vertikal. Tidak ada dasar yang kuat berdasarkan prinsip keadilan untuk membedakan perlakuan pajak terhadap laba yang direalisasikan terhadap penghasilan dari usaha. yaitu capital gain dari penjualan saham di bursa efek dan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. simpulan ini telah menjadi bahan perdebatan yang berkelanjutan dalam bentuk argumentasi-argumentasi berikut: a. Pajak untuk transaksi-transaksi ini bersifat final dan dikenakan atas nilai transaksi. laba yang belum direalisasikan akan dikecualikan dan laba yang direalisasikan akan dimasukkan hanya jika dikonsumsi.) Dasar-dasar Keuangan Publik . Penghasilan didapatkan dari keduanya dan tidak ada dasar yang membedakan keduanya. keputusan untuk merealisasikan dalam bentuk kas atau tidak adalah keputusan manajemen portofolio dan bukan adanya tambahan penghasilan. Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena pemiliknya dihalangi untuk melakukan konsumsi. Laba yang sudah direalisasikan tetapi tidak dikonsumsi perlakuannya sama dengan laba yang belum direalisasikan. Prinsipnya adalah semua penghasilan harus dipajaki. Memang ada masalah khusus bahwa capital gain sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga harus membayar lebih banyak dalam sistem tarip pajak yang progresif. Perlakuan ini jelas-jelas melanggar prinsip keadilan pajak. Penundaan pengenaan pajak setelah realisasi memberikan perlakuan yang menguntungkan kepada jenis penghasilan yang belum direalisasikan. Semua tambahan harus dimasukkan. penghasilan sebagai suatu indeks dari kemampuan membayar wajib pajak harus diukur sebagai tambahan kekayaan. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip tambahan kemampuan ekonomis.000. Bahwa realisasi dalam bentuk kas memungkinkan. Jika Tuan Amir memiliki portofolio saham PT Telkom yang nilainya naik Rp100. Perlakuan terhadap laba yang belum direalisasikan. Walaupun demikian. (Berdasarkan suatu pajak konsumsi. bila dibandingkan jika capital gain tersebut diterima sebagai pendapatan tetap. tidak peduli akan digunakan untuk apa.155 Perlakuan atas laba yang direalisasikan. dan walaupun berdasarkan pajak konsumsi. kesulitan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan perataan yang tepat.000. pembedaan apakah sudah terealisasi dan belum terealisasi bukan merupakan hal yang utama. baik terealisasi (berubah menjadi kas) ataupun tidak. laba yang belum terealisasikan tidak dipajaki. Karena penghasilan neto dinyatakan dalam bentuk penghasilan kas dan hanya memasukkan penghasilan kas saja. Berdasarkan prinsip ini. bukannya atas labanya. hal ini tidak relevan dengan definisi basis dari pajak penghasilan. misalnya menjualnya untuk dikonsumsi atau diinvestasikan dalam bentuk aset lainnya. Peraturan perpajakan memberikan perbedaan perlakuan pada beberapa capital gain.

tetapi apakah hal itu jadi persoalan? Sebagaimana halnya hutang-hutang lainnya yang jatuh tempo. Oleh karena itu. Pada awal munculnya pembukuan oleh para saudagar Venesia. misalnya setiap lima tahun. untuk aset lainnya (seperti lukisan dan tanah pertanian) sulit untuk dinilai. Suatu pendekatan yang konsisten mengharuskan bahwa pengenaan pajak pada semua laba ini harus diikuti dengan pemberian pengurangan untuk kerugian-kerugian. d. Prinsip akuntansi yang hati-hati hanya mengakui pendapatan setelah ada realisasi. Pengukuran atas laba yang belum direalisasikan memang sulit. pengenaan pajak atas capital gain harus juga disesuaikan dengan inflasi. situasi bisnis telah berubah dan analogi seperti ini tidak tepat lagi. Pandangan ini tepat. Pemisahan adalah pilihan investasi. c. Untuk suatu penghasilan yang akan diterima. Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena ketiadaan realisasi membuat kita tidak mengetahui keberadaannya. tetapi hal ini bukan halangan yang luar biasa. ketidakadilan yang timbul karena likuidasi paksa dapat dihindari. Pengenaan pajak secara tahunan atas laba yang belum direalisasikan tidak memungkinkan karena ketidakpraktisan dalam melakukan penilaian aset secara tahunan. Untuk situasisituasi di mana likuidasi parsial tidak memungkinkan (misalnya bisnis keluarga). misalnya untuk pemegang saham PT Telkom yang dapat menjual sahamnya sewaktu-waktu. seperti sekuritas yang diperdagangkan. Akan tetapi. apakah ada cara yang layak untuk memajakinya? Pengenaan pajak sepenuhnya atas laba yang sudah direalisasikan dapat dilaksanakan tanpa kesulitan-kesulitan teknis yang muncul. Akan tetapi. Jika pendekatan tambahan kemampuan ekonomis diikuti. penghasilan tersebut harus dapat dipisahkan dari aset yang menghasilkannya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pemajakan atas laba yang belum direalisasikan mengharuskan wajib pajak membayar pajak walaupun ia tidak memiliki uang kas untuk membayarnya. laba yang sudah ataupun yang belum direalisasikan harus dimasukkan dalam penghasilan kena pajak dan digabungkan dengan penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Hal ini sering disebut dengan realisasi konstruktif yang akan mengurangi kebutuhan penilaian aset hanya pada satu tanggal tertentu sehingga lebih mudah dikelola. Pandangan ini. Beberapa aset. pemerintah dapat memberikan waktu yang cukup untuk itu. mereka tidak membukukan pendapatan mereka sampai nakhoda kapal telah kembali ke pelabuhan dan menyerahkan uang hasil dagangan. sulit digunakan untuk meyakinkan para ekonom. Selain itu juga. Walaupun permasalahan pengenaan pajaknya telah jelas secara prinsip. Dengan membolehkan perataan dan menyebarkan pembayaran pada beberapa periode. adalah beralasan bagi pemerintah untuk meminta wajib pajak melikuidasi sebagian asetnya untuk membayar pajak bila diperlukan. Permasalahan penerapan. yang banyak mendapatkan dukungan-dukungan hukum pada tahap-tahap awal diskusi pajak penghasilan. sedangkan penghasilan diperoleh karena nilai aset meningkat. dapat dinilai dan dikenakan pajak secara periodik. telah ada usulan untuk mengenakan pajak pada saat kematian atau pemindahan aset ini (misalnya melalui pemberian) seolah-olah telah terealisasi pada saat itu. akan tetapi situasinya jauh lebih sulit untuk laba yang belum direalisasikan.156 b.

Tabungan Hari Tua. pajak atas laba yang belum direalisasikan ditunda sampai kematian. Bila penghasilan-penghasilan lain dipajaki secara reguler. dan ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. Perlakuan yang tepat tentu saja dengan memperlakukan iuran Tabungan sebagaimana bentuk tambahan kemampuan lainnya dan dikenakan pajak sebagaimana mestinya. yang nilainya dapat sangat substansial terutama bagi para wajib pajak muda yang mampu menunda untuk periode waktu yang sangat panjang. membolehkan pembayaran-pembayaran ini sebagai pengurang atas penghasilan dan mengenakan pajak sepenuhnya pada saat uang pensiun/tabungan dibayarkan kembali.157 Walaupun realisasi konstruktif dapat memindahkan laba yang belum direalisasikan ke dalam basis pajak. Hal ini berlaku baik iuran pensiun itu dipotong dari penghasilan para pegawai maupun dibayarkan atau ditanggung oleh perusahaan. yang memungkinkan wajib pajak untuk memperoleh penghasilan atas aset tersebut sementara waktu. Pajak penghasilan atas gaji/upah juga tidak dikurangkan dan menjadi bagian dari penghasilan umum dan diperlakukan sama seperti pajak-pajak lainnya. Iuran ini tidak dikenakan pajak apabila penghasilan penerima berada di bawah PTKP. Alternatif yang dilakukan saat ini. Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan. tanpa memandang penggunaannya. memunculkan ketidakadilan terhadap para penabung lainnya karena dua keuntungan bagi pembayar iuran pensiun/tabungan. cara ini masih memberikan beberapa keuntungan bagi capital gain. Iuran yang tidak dikenakan pajak penghasilan adalah iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. bukannya asuransi. Tabungan Hari Tua dan Rencana Pensiun Tabungan Hari Tua adalah kegiatan memisahkan penghasilan tahun berjalan untuk penggunaan di masa depan. Iuran Pensiun. dengan menyetorkan sejumlah uang kepada lembaga dana pensiun atau sejenisnya. aturan ini sama saja memberikan kepada pembayar Tabungan Hari Tua suatu pinjaman bebas bunga dan penerapan tarip pajak yang lebih rendah di kemudian hari ketika tabungan ini diambil oleh penabung. penghasilan pembayar iuran pensiun di masa depan akan lebih kecil sehingga penghasilan yang ditunda pengenaannya ini pada akhirnya terkena tarip pajak yang lebih rendah. sebagaimana yang berlaku pada penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Pertama. Kedua. Tabungan ini semakin beralasan untuk dimasukkan ke dalam basis pajak apabila dipandang sebagai skema redistribusi. Peraturan perundang-undangan pajak penghasilan membolehkan pembayaran Tabungan Hari Tua kepada PT Taspen tidak dimasukkan sebagai penghasilan kena pajak. Apabila prinsip penghasilan global diikuti. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagaimana disebutkan di muka. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan. semua penghasilan harus dikenakan pajak. Penundaan pajak sama dengan memperoleh pinjaman bebas bunga. penundaan pembayaran pajak sama saja dengan memperoleh pinjaman bebas bunga.

Dukungan untuk pengurangan khusus Prinsip pengenaan pajak atas penghasilan mengharuskan basis pajak yang komprehensif. Perlakuan premi asuransi telah sesuai dengan konsep tambahan kemampuan tetapi perlakuan atas pembayaran asuransinya tidak sesuai. Asuransi Jiwa. Pembayaran premi kepada perusahaan asuransi jiwa dan pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi jiwa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Asuransi jiwa tertentu memiliki komponen tabungan (investasi) yang karena perlakuan ini bunga yang diperoleh atas tabungan ini terhindar dari pengenaan pajak. perlakuannya sudah tepat yaitu pembayarannya dikecualikan dari pengenaan pajak tanpa memperbolehkan pengurangan atas premi yang dibayarkan. Pada umumnya wajib pajak yang berpenghasilan tinggi akan memilih pengurangan khusus karena akan memberikan jumlah pengurangan yang lebih besar daripada pengurangan standar. sehingga memudahkan penghitungan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Peraturan pajak penghasilan di Amerika Serikat memberikan pilihan bagi wajib pajak. Pengurangan standar pada mulanya diberlakukan untuk memudahkan ketaatan dan administrasi. Para wajib pajak dengan tagihan-tagihan darurat yang berat. apakah akan menggunakan pengurangan standar atau pengurangan khusus (itemized deduction). Aspek Keadilan. Penghasilan yang sama tidak berarti kemampuan yang sama untuk membayar jika para wajib pajak berada pada posisi yang berbeda-beda. pembayaran asuransinya tidak dikenakan pajak penghasilan. seperti tagihan biaya pengobatan yang besar. yakni memasukkan semua tambahan kemampuan. Praktik Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Peraturan pajak penghasilan di Indonesia hanya membolehkan satu jenis pengurangan terhadap penghasilan neto yang disebut Pengurangan Standar atau Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Pembayaran premi asuransi jiwa tidak boleh digunakan untuk mengurangi penghasilan yang akan dikenakan pajak. angka pengurangan standar ini telah dinaikkan jauh melebihi angka pengurangan khusus yang disubtitusikan. Akan tetapi kemudian. pengurangan standar fungsinya menjadi hibrida antara pengganti pengurangan khusus dan memberikan tambahan pengurangan yang tidak berkaitan dengan ukuran rumah tangga. Di Amerika Serikat. Untuk asuransi jiwa yang tidak memiliki komponen investasi. Sementara itu.158 Pengenaan pajaknya ditunda sampai uang pensiun diterima oleh para pegawai selama masa pensiun. Oleh karena itu. Pendekatan ini menjadi dasar utama keberatan akan adanya pengurangan-pengurangan. dapat dikatakan memiliki kemampuan Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini tidak saja disebabkan oleh ukuran rumah tangga tetapi juga oleh beberapa hal lainnya. pengurangan standar ini ditujukan untuk menjadi subtitusi dari pengurangan khusus. tetapi beberapa pengeluaran mungkin layak diberikan.

yang seharusnya identik dengan konsep teoritis tentang tambahan kemampuan ekonomis. Misalnya. pada kenyataannya insiden preferensi sangat bervariasi. Perbedaan-perbedaan yang substansial timbul yang seringkali menyebabkan penghasilan kena pajak jumlahnya di bawah dari yang ditentukan oleh konsep tambahan kemampuan. pengurangan ini tidak saja mendapat dukungan tetapi juga mampu mendorong terciptanya basis pajak yang lebih adil. Akan tetapi. apakah subsidi ini harus diberikan dalam bentuk pengurangan pajak. setelah pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan. baik bagi Dasar-dasar Keuangan Publik . banyak bukti menunjukkan bahwa kerugian atau penyusutan pendapatan atau pengeluaran pajak yang telah terjadi jumlahnya cukup besar. Dalam hal ini. aturan yang membebaskan pajak atas bunga pinjaman rumah sama dengan mengenakan pajak sepenuh pada pemilik rumah dan kemudian secara bersamaan melakukan pengeluaran subsidi kepada mereka. Jika aktivitas tertentu layak didukung dan jika pengurangan pajak adalah cara terbaik untuk melakukannya. keuntungan yang didapatkan dapat jauh melebihi kerugiannya pada aspek keadilan pajak. pengurangan bertindak sebagai hibah tandingan yang disediakan oleh pemerintah di mana biaya pelaksanaan aktivitas-aktivitas tertentu oleh wajib pajak menjadi berkurang. Istilah penyusutan pengeluaran pajak digunakan karena kegagalan memperoleh penerimaan pajak karena lubanglubang dalam basis penghasilan kena pajak pada dasarnya adalah sama dengan memperoleh penerimaan pajak sepenuhnya kemudian melakukan pengeluaran sehingga wajib pajak tetap pada posisi yang sama. Keberadaan preferensi pajak tidak menjadi masalah besar apabila basis yang berkurang karena pengecualian dan pajak final merupakan proporsi yang tetap dari basis pajak sepenuhnya bagi seluruh wajib pajak. Prinsip ini dapat dinyatakan dengan memberikan pengurangan atas penghasilan untuk biaya pengobatan. situasi seperti ini menjadi sangat penting terutama bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Dalam hal ini. Pertanyaannya adalah apakah aktivitas yang perlu didukung itu membutuhkan subsidi. Pengurangan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang mulia seperti sumbangan sosial atau untuk mendorong konsumsi atas hal-hal yang menimbulkan manfaat-manfaat eksternal. Pertimbangan yang sama juga dapat diberlakukan bagi para wajib pajak yang cacat karena mereka membutuhkan biaya hidup yang lebih banyak. Jika dirancang dengan baik. Jika subsidi dibutuhkan. sehingga mendorong wajib pajak untuk membelanjakan lebih banyak pada aktivitas-aktivitas ini.159 untuk membayar yang lebih kecil dibandingkan dengan para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi tagihan-tagihan darurat tersebut. preferensi pajak dapat dinetralisasi dengan pengenaan tarip pajak yang progresif. Walaupun penentuan kerugian basis pajak karena suatu hal tertentu masih diperdebatkan. Tidak ada aturan alam yang tidak membolehkan pajak penghasilan digunakan tujuan-tujuan selain perolehan penghasilan. Oleh karena itu. Aspek Insentif. Preferensi Pajak Kita telah mempelajari bagaimana definisi perundang-undangan dari penghasilan kena pajak.

investor dapat menghapuskan kerugian yang besar tersebut pada penghasilan mereka sehingga mengurangi pajak yang dibayarkan. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. bagaimana aturan pajak menciptakan preferensi pajak bagi golongan-golongan wajib pajak dengan penghasilan tertentu. di Amerika Serikat. Dalam menentukan jumlah PTKP ini. sehingga menimbulkan adanya ketidakadilan secara vertikal dan horizontal. Penghasilan yang dikenakan pajak harus didefinisikan sebagai penghasilan kena pajak dikurangi dengan PTKP.160 wajib pajak rata-rata pada berbagai tingkatan penghasilan maupun wajib pajak tertentu pada satu tingkatan pajak penghasilan. Cara penghindaran pajak yang paling utama adalah adanya tax shelter yang timbul dari kerugian usaha. keduanya ternyata dapat dipakai untuk menghindari pajak dengan membentuk tax shelter. Contohnya. Ketidakadilan pajak secara horizontal terjadi karena wajib pajak dengan penghasilan sama tidak mendapat manfaat yang sama karena perbedaan aturan. Ketidakadilan pajak secara vertikal dapat terjadi karena manfaat-manfaat pengeluaran pajak hanya dinikmati oleh kelompok wajib pajak dengan penghasilan tertentu. Untuk di Indonesia. tetapi juga yang lebih penting adalah seberapa sedikit wajib pajak yang berpenghasilan rendah harus membayar pajak Berapa besarnya penghasilan minimal yang tidak dikenakan pajak? Pada umumnya. kerugian dapat digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak dan bunga dapat dikurangkan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak. Kedua aturan ini memang sejalan dengan konsep yang benar tentang laba bersih sebagai basis pajak. kita harus menggunakan tingkat Dasar-dasar Keuangan Publik . Perlakuan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Permasalahan keadilan pajak secara vertikal tidak hanya seberapa besar wajib pajak berpenghasilan tinggi dipajaki. Misalnya. Wajib pajak yang menerima penghasilan dalam bentuk natura membayar lebih sedikit daripada pegawai yang menerima seluruh penghasilannya dalam bentuk kas. semua sependapat bahwa ada sejumlah pertama penghasilan tertentu yang tidak boleh dikenakan pajak. Permasalahan-Permasalahan Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Beberapa permasalahan penghindaran pajak timbul berkaitan dengan berbagai jenis penghasilan modal. Bila dikombinasikan. kehilangan penerimaan dari aturan pajak terhadap terhadap capital gain lebih dinikmati oleh wajib pajak berpenghasilan tinggi. Dengan melakukan investasi pada firma tersebut. suatu firma dibentuk untuk investasi di dunia real estate. Pembayaran bunga akan mengakibatkan kerugian yang besar pada periodeperiode awal beroperasinya firma tersebut sebelum firma tersebut memperoleh penghasilan yang cukup besar. penelitian tentang hal ini ada. firma tersebut dapat meminjam dalam jumlah yang banyak dengan jaminan harta real estatenya. Dengan investasi modal yang kecil.

Di Indonesia.440. Batas bebas pajak tersebut tidak hanya penting dalam menentukan batas bawah untuk kewajiban pajak. Ditambah dengan faktor ini maka jumlah PTKP maksimal adalah Rp10. jumlah PTKP maksimal adalah Rp7. sehingga tarip pajak efektif naik.000. Kredit Pajak bagi Wajib Pajak berpenghasilan Rendah Pada negara maju. Tarip pajak efektif (yang didefinisikan sebagai rasio pajak terhadap penghasilan neto) pada tingkat penghasilan neto yang rendah jumlahnya sangat kecil karena porsi terbesar dari penghasilan neto adalah PTKP. adanya PTKP sebesar Rp1. Karena tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga. masing-masing sebesar Rp1.000 per wajib pajak. Untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . ada PTKP bagi anggota keluarga yang memiliki penghasilan untuk wajib pajak yang bersangkutan dan pasangannya.440. Praktik ini dapat dilakukan dengan memberikan kredit pajak pada para wajib pajak berpenghasilan rendah. sehingga beban pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga. tetapi bergerak dari tarip negatif pada penghasilan nol (wajib pajak pada tingkatan penghasilan ini mendapatkan subsidi dari pemerintah) bergerak ke angka nol (titik impas) dan menjadi tarip positif pada angka di atas titik impas ini. Signifikansi utama dari pemberian PTKP berkaitan erat dengan pola tingkat pajak efektif pada para wajib pajak dengan penghasilan menengah ke bawah. Ketidakadilan didapatkan oleh wajib pajak yang karena sesuatu dan lain hal harus memiliki jumlah tanggungan lebih dari tiga orang. Struktur tarip pajak tidak lagi selalu positif. tetapi juga mendominasi kenaikan tarip pajak efektif atau pola progresivitas pada skala penghasilan menengah ke bawah. PTKP memperhitungkan ukuran keluarga dengan asumsi implisit bahwa tambahan tanggungan tidak menciptakan skala ekonomis.200. Ketika penghasilan neto naik. aturan hukum di negara maju menyediakan kredit pajak bagi keluarga yang memiliki anak dan pasangannya juga bekerja.000. jumlah PTKP turun secara relatif terhadap penghasilan neto. Prinsip progresifitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarip pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin.161 penghasilan yang rendah yang membuat wajib pajak diklasifikasikan sebagai miskin.800. Berdasarkan faktor ini. Hal ini menimbulkan permasalahan ketidakadilan pajak karena aturan pajak telah terdistorsi untuk memenuhi tujuantujuan nonfiskal. Kita dapat mengatakan bahwa PTKP adalah penghasilan yang dikenakan tarip pajak sebesar nol persen dan merupakan bagian integral dari struktur tarip pajak. Titik awal beban pajak bergantung pada berbagai faktor. Pertama.000. telah muncul pemikiran-pemikiran dan praktik-praktik berkaitan dengan tarip pajak negatif. pasangannya dan setiap tanggungan (maksimal tiga tanggungan). Kredit Pajak untuk Biaya Mengasuh Anak Sejalan dengan perkembangan tentang hak-hak wanita dan perlakuan yang adil terhadap penghasilan keluarga. Berikutnya. jumlah maksimal tanggungan adalah tiga orang karena adanya tujuan tambahan untuk mendukung program keluarga kecil.

(Y0 − T0 ) Y1 − Y0 Dasar-dasar Keuangan Publik . Pembedaan ini sangat jelas. Beberapa ukuran dapat dipakai.162 keluarga seperti ini. proporsional dan regresif dapat digambarkan dengan mudah. Pola Progresivitas Tarip Pajak Pajak penghasilan secara tradisional telah dipandang sebagai suatu instrumen pajak yang progresif. semakin progresif pajak penghasilan. T0 Y1 − Y0 Rasio persentase perubahan kewajiban pajak terhadap perubahan penghasilan. tidak cukup apabila kewajiban pajak meningkat ketika tingkat penghasilan meningkat. T1 Rumusnya: • − T0 Y1 Y0 Y1 − Y0 T1 − T0 Y0 . Tidak ada cara tunggal yang tepat mengukur tingkat progresivitas. semakin cepat kenaikan rasio pajak terhadap pendapatan nasional. yaitu: • Rasio perubahan tarip efektif terhadap perubahan penghasilan. mereka harus menyediakan dana untuk menyewa pengasuh untuk anak-anak mereka.Untuk suatu pajak penghasilan dikatakan progresif. proporsional apabila tarip pajak konstan pada semua tingkat penghasilan. dan regresif bila tarip pajak turun pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. tetapi situasinya lebih rumit bila kita ingin mengukur derajat progresivitas atau regresivitas. Suatu pajak dikatakan progresif bila rasio pajak terhadap penghasilan naik ketika skala penghasilan meningkat. tarip pajak yang dikenakan meningkat seiring dengan peningkatan penghasilan neto. Peningkatan kewajiban pajak yang lebih rendah daripada peningkatan penghasilan membuat pajak menjadi regresif. Rumusnya: • Rasio persentase perubahan penghasilan setelah pajak terhadap persentase perubahan penghasilan sebelum pajak Rumusnya: (Y1 − T1 ) − (Y0 − T0 ) Y0 . dan regresif bila rasionya turun. Mengukur Tingkat Progresivitas Perbedaan antara pajak-pajak progresif. proporsional bila rasionya konstan. Seberapa progresifkah pajak penghasilan Indonesia dan perubahan-perubahan apa yang telah dilakukan dalam pola progresivitasnya? Arti Progresivitas Tarip Pajak Pada saat membahas penghasilan neto. Pajak dikatakan progresif apabila tarip pajak cenderung meningkat pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. Selain itu.

163 Ukuran pertama. Dengan demikian. Apakah yang dimaksud dengan kenetralan dalam hal ini? Misalkan pajak akan dinaikkan. yang juga disebut sebagai progresivitas kewajiban pajak. konsep teoritis dapat menimbulkan implikasi politis. Ketika tarip-tarip pajak dinaikkan atau diturunkan. perlu ditetapkan apa ukuran yang akan digunakan. merupakan ukuran kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi tarip pajak efektif terhadap penghasilan. Proporsionalitas ditunjukkan dengan nilai koefisien sama dengan satu dan progresivitas ditunjukkan dengan nilai koefisien di atas satu. Yang lebih menarik lagi adalah urutan preferensi tersebut akan terbalik bila yang diperjuangkan adalah pengurangan pajak. Jika progresivitas kewajiban pajak ditetapkan konstan. Tarip-tarip pajak dinaikkan pada persentase yang semakin besar pada tariptarip yang lebih tinggi. Ukuran kedua. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat yang berpenghasilan rendah tentu saja akan sangat berkeinginan untuk menginterpretasikan netralitas dalam bentuk yang paling diinginkan adalah progresivitas tarip rata-rata. Untuk menghindari kebingungan dalam membandingkan progresivitas pada jangkauan penghasilan tertentu yang berbeda atau untuk struktur pajak yang berbeda. tarip-tarip pajak akan dinaikkan pada persentase yang semakin kecil pada tarip-tarip yang lebih tinggi. Progresivitas pada semua indikator cenderung menurun seiring dengan kenaikan skala penghasilan setelah tingkatan penghasilan tertentu. Nilai dari koefisien ini adalah nol untuk pajak proporsional dan positif untuk pajak progresif. semua hutang pajak harus dinaikkan dengan persentase yang sama. Kurva tarip efektif cenderung berkurang kemiringannya dan progresivitas cenderung menurun seiring dengan meningkatnya skala penghasilan. mencatat elastisitas kewajiban pajak terhadap penghasilan. semua tarip pajak dinaikkan sebesar persentase kenaikan yang sama. Ukuran ketiga atau progresivitas penghasilan residu mencatat elastisitas dari penghasilan setelah pajak Ukuran ini menunjukkan kemiringan kurva yang diperoleh dengan menggambar penghasilan sebelum dan sesudah pajak pada bagan logaritme. Hal ini menjadi sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi terhadap progresivitas ketika tarip-tarip pajak berubah. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika progresivitas tarip pajak rata-rata ditetapkan konstan. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat berpenghasilan tinggi akan cenderung mengambil posisi yang berlawanan. yang juga disebut sebagai progresivitas tarip rata-rata (average-rate progression). Koefisien ini mengukur kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi kewajiban pajak terhadap penghasilan pada bagan logaritme-ganda. kemudian progresivitas kewajiban pajak dan yang terakhir adalah progresivitas penghasilan residu. Jika progresivitas penghasilan residu ditetapkan konstan. Koefisiennya juga satu untuk pajak proporsional tetapi progresivitas sekarang ditunjukkan dengan angka koefisien yang kurang dari satu. banyak pihak yang mengusulkan perubahan pada seluruh tarip untuk menjaga kenetralan kenaikan dan penurunan.

164 Penyesuaian Terhadap Inflasi Permasalahan inflasi tidak hanya berkaitan dengan angka nominal PTKP dan tarip pajak. tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak tertentu tidak pernah disesuaikan. Di Indonesia. nilai riil dari PTKP menjadi turun. Perlakuan yang sama terhadap capital gain seharusnya hanya akan memajaki laba dalam nilai riil. tetapi juga dalam cara yang rumit berkaitan dengan perlakuan terhadap penghasilan modal. tingkat penghasilan riil yang mulai dikenakan pajak semakin turun. Untuk kedua alasan inilah. bukannya laba dalam nilai nominal. Permasalahan yang sama juga muncul berkenaan dengan kerugian yang dialami kreditur dalam nilai riil hutang nominal yang mereka berikan kepada debitur. Akibatnya. Karena pajak di Indonesia tidak terlindung dari pengaruh inflasi. Berkaitan dengan pengaruh inflasi. diperlukan penyesuaian terhadap inflasi. nilai riil dari PTKP cenderung turun. Selain itu. Ketika harga-harga naik. Permasalahan selanjutnya yang ditimbulkan oleh inflasi adalah berkenaan dengan depresiasi. tetapi beberapa tahun sekali. Capital gain yang sudah terealisasi. sehingga tingkat tarip pajak yang berlaku untuk tingkat penghasilan riil tertentu akan naik. yang tentu saja merupakan keuntungan bagi debitur. Oleh karena itu. pengembalian dari biaya perolehan aktiva berkurang dalam nilai riil dan penyesuaian inflasi juga diperlukan dalam hal ini. nilai riil dari tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak turun. Sementara itu. Penghasilan yang berbasis tambahan kemampuan yang didefinisikan dalam nilai riil harus membolehkan kreditur mengakui kerugian dan juga mengharuskan debitur mengakui keuntungan. peraturan pajak di Indonesia hanya menyesuaikan PTKP. Itupun tidak dilakukan setiap tahun. Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah mengurangi penghasilan bunga kena pajak sesuai dengan tingkat inflasi. Solusi atas permasalahan ini dalam perundang-undangan pajak hanyalah parsial dalam bentuk penggunaan metode penyusutan dipercepat Pilihan Unit Kena Pajak Perlakuan yang tepat untuk unit kena pajak berdasarkan pajak penghasilan progresif adalah suatu hal yang kontroversial yang sampai saat ini belum ada solusi yang memadai. PTKP dan tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak Ketika harga-harga naik. Penghasilan Modal Beberapa permasalahan lanjutan muncul berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap penghasilan modal. sebagian dikenakan pajak final dan sebagian lagi dikenakan pajak reguler. Dalam hal ini kewajiban pajak naik dalam nilai riil. ketika harga-harga naik. wajib pajak di Indonesia mengalami kenaikan kewajiban pajak dalam nilai riil. kewajiban pajak naik lebih cepat daripada kenaikan harga. permasalahan ini disebabkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan demikian.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya. perlakuan yang adil adalah apabila pajak yang dikenakan kepada seorang bujangan tersebut lebih tinggi daripada pajak yang dikenakan kepada pasangan suami-istri dengan tingkat penghasilan yang sama. kita akan mempertimbangkan suatu alternatif lainnya yang mendefinisikan unit kena pajak dalam bentuk individu yang memperoleh penghasilan. Ada hal yang perlu dipertegas bahwa aturan ini tidak membedakan kemampuan untuk membayar dalam konteks unit keluarga apakah penghasilan diperoleh oleh satu anggota atau lebih. 3. bahwa unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar harus diarahkan kepada unit keluarga. walaupun dibatasi hanya sampai tiga tanggungan. baik hanya satu orang dari pasangan yang menikah tersebut yang memiliki penghasilan ataupun keduaduanya memiliki penghasilan. Walaupun beberapa jenis pengeluaran konsumsi (misalnya penerangan di ruang tamu) dikonsumsi dalam jumlah yang sama baik oleh satu orang atau dua orang. pengeluaran-pengeluaran konsumsi lainnya (misalnya kursi untuk santai) lebih mahal apabila untuk pasangan. Penggabungan Penghasilan. jumlah pajak (yang dinyatakan dalam persentase terhadap penghasilan) untuk unit-unit dengan jumlah anggota yang sama harus naik seiring dengan kenaikan penghasilan unit. aturan perpajakan membolehkan tambahan PTKP sesuai dengan ukuran keluarga. Prinsip. Pembahasan masalah ini ditinjau dari pandangan pengenaan pajak berdasarkan kemampuan untuk membayar.165 adanya kecenderungan sosioekonomis yaitu meningkatnya partisipasi wanita dalam angkatan kerja. Kemudian. keadilan mengharuskan ketaatan akan tiga aturan berikut: 1. 2. Aturan 3 mengikuti secara langsung prinsip progresivitas dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Di antara unit-unit yang berpenghasilan sama. Sistem yang mengikuti aturan-aturan keadilan ini tidak akan mempengaruhi keputusan pernikahan. Aturan 1 tidak perlu penjelasan lebih lanjut karena aturan ini secara sederhana mewakili persyaratan bahwa hal yang sama harus diperlakukan sama juga. Sistem Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendekatan Unit Keluarga Kita mulai pembahasan dengan suatu hipotesis yang sering diterapkan dalam kebanyakan diskusi pajak penghasilan. unit yang jumlah anggotanya lebih kecil harus membayar pajak lebih banyak dan unit yang jumlah anggotanya lebih besar harus membayar pajak lebih sedikit. Aturan 2 menunjukkan proposisi bahwa seorang bujangan dengan penghasilan Rp30 juta memiliki posisi (kemampuan) lebih baik daripada pasangan dengan total penghasilan keduanya juga sama dengan Rp30 juta. Oleh karena itu. Perbedaan seperti ini (pada jumlah yang layak) tidak boleh dipandang sebagai pajak yang diskriminatif terhadap seorang bujangan. Instrumen yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan di atas meliputi penerapan PTKP dan penggunaan struktur tarip pajak untuk berbagai jenis Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Unit-unit dengan penghasilan yang sama dan jumlah anggota yang sama harus membayar pajak yang sama jumlahnya. Dengan pengenaan pajak progresif.

Asumsikan bahwa A dan C penghasilannya sama dan bahwa B memiliki potensi penghasilan yang sama dengan D. atau menganggur. kewajiban pajak gabungan pasangan suami istri bergantung pada bagaimana penghasilan terdistribusi di antara mereka. Suatu keluarga besar dengan penghasilan neto tertentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih redah daripada keluarga kecil dengan penghasilan neto yang sama. sudah selayaknya memberikan manfaat pajak yang lebih besar pula. pendekatan kredit pajak lebih tepat digunakan. Pertanyaan pertama akan menyangkut masalah bagaimana memperlakukan anak-anak yang tinggal jauh dari orang tua dan yang memiliki penghasilan. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak.000 untuk setiap tanggungan.440. Struktur tarip yang digunakan. Bila dibandingkan dengan unit keluarga. Pasangan yang tidak Bekerja. Dalam hal ini. tapi dengan jumlah maksimal tiga tanggungan. Penggabungan penghasilan ini tidak mengurangi jumlah PTKP yang dapat dikurangkan dari penghasilan. tetapi jika biayanya diukur dalam berapa banyak pengeluaran akan dilakukan. Dalam proses mengukur kemampuan untuk membayar dari suatu unit keluarga. Pertanyaan terakhir dalam pajak penghasilan adalah bagaimana pengaturan tentang pasangan yang tidak bekerja dan hanya tinggal di rumah untuk mengurus rumah. pendekatan Eropa ini memberikan perlakuan yang lebih menguntungkan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. progresif ataupun regresif. Karena wajib pajak dengan penghasilan yang tinggi mengeluarkan biaya untuk anak yang lebih besar. baik ketika penghasilan masih dilaporkan sendiri maupun penghasilan digabungkan. Padahal berdasarkan aturan opsi yang sama (bekerja dan tidak bekerja) Dasar-dasar Keuangan Publik . Misalkan ada sepasang suami istri A dan B di mana A memiliki penghasilan dan B tidak dan bandingkan dengan pasangan lain C dan D yang keduanya memiliki penghasilan. tidak menimbulkan perbedaan. pendekatan pengurang atas penghasilan lebih tepat digunakan. Pertanyaan kedua berkenaan dengan apakah pengurangan tersebut diberikan dalam bentuk pengurang atas penghasilan atau kredit pajak. Pengurangan untuk Tanggungan. jumlah tanggungan tentu saja menjadi pertimbangan utama. menjaga anak-anak.166 pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. Cara lain dari perlakuan pajak terhadap tanggungan adalah PTKP. Pendekatan Alternatif: Unit Peroleh Penghasilan Pendekatan alternatif untuk mengatasi permasalahan di atas yang diikuti oleh beberapa negara Eropa adalah mengabaikan unit keluarga dan menggunakan individu sebagai unit yang dikenakan pajak. Jika biaya dari setiap tambahan anak diukur dalam satuan pengeluaran standar (misalnya pengeluaran rata-rata). Dalam peraturan perpajakan sekarang ini keluarga C dan D membayar pajak lebih besar daripada keluarga A dan B. Pertanyaannya adalah siapa yang menjadi tanggungan dan bagaimana pengurangan diberikan. Peraturan pajak di Indonesia menggunakan cara ini dengan memberikan pengurangan atas penghasilan netto sebesar Rp1. baik proporsional.

Selain itu. imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik .167 keduanya harus membayar pajak dalam jumlah yang sama. secara prinsip. yang harus dimasukkan sebagai tambahan kemampuan. prosedur yang sama juga harus diberlakukan kepada bujangan yang tidak bekerja. seperti simpulan kita pada pembahasan tentang imputed income di muka. Secara prinsip.

Pada dasarnya semua pengeluaran dapat dibebankan sebagai biaya apabila mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan.168 B A B XVII PAJAK PENGHASILAN WAJIB P AJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan rinsip dasar penentuan penghasilan kena pajak cukup sederhana. ditambah dengan masalah-masalah lain yang khusus ada pada pengenaan pajak penghasilan kepada wajib pajak badan. P Beberapa permasalahan penghasilan yang dikecualikan yang muncul pada wajib pajak pribadi juga muncul pada wajib pajak badan. Penghasilan kotor dari perseroan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka menjalankan usaha. Dengan adanya kerumitan hukum dari perseroan dan hubungan di antara mereka maka suatu pajak penghasilan badan yang adil bukanlah pajak yang sederhana Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Peranan pajak penghasilan badan dalam suatu sistem pajak yang baik tampak jelas. menagih dan memelihara penghasilan bruto yang menjadi objek pajak. Demikian juga pengeluaran yang melebihi batas kewajaran karena adanya hubungan istimewa tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Setiap industri memiliki kerumitan tersendiri sehingga sangat sulit untuk merancang suatu perlakuan pajak yang seragam untuk berbagai industri yang berbeda tersebut. yang akan menghasilkan laba bersih untuk dikenakan pajak. pajak penghasilan tidak boleh dikenakan kepada badan. Pengeluaran untuk penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Jika basis pajak yang tepat dinyatakan dalam bentuk konsumsi. menambah kerumitan dalam merancang pajak penghasilan badan yang adil dan efisien. Sumber penghasilan dari Dasar-dasar Keuangan Publik . Permasalahan ini diantaranya penentuan pengeluaran-pengeluaran apa yang dapat dibebankan sebagai biaya dan kapan pembebanan tersebut dapat dilakukan.

Apabila kedua pajak ini digabungkan. Dengan demikian. Pada kenyataannya. sebab semua penghasilan (termasuk yang Dasar-dasar Keuangan Publik . jumlahnya menjadi Rp4. Walaupun demikian. Baginya. yang kemudian akan membayar pajak atasnya sebesar Rp1. Bila mengenakan pajak pada laba. di atas jumlah kelebihan bagi wajib pajak A. Pandangan lain yang berkembang adalah mengintegrasikan penghasilan perusahaan ke dalam pajak penghasilan individu.250.000 hanya akan sebesar Rp2. pajak tambahan sebagai persentase dari total penghasilan akan lebih besar bagi A daripada bagi B. Dalam hal ini. atau sebesar Rp3.825. pajak penghasilan yang dibayarkan pada penghasilan yang didistribusikan (dividen) sejumlah Rp10.750.901.401. pajak tambahan ini tidak adil bila ditinjau dari sudut pandang penganut integrasi. Pengenaan pajak kepada badan juga tetap dipertanyakan walaupun konteksnya adalah pendekatan berbasis penghasilan. pertama pada tingkatan perusahaan dalam bentuk pajak penghasilan badan. yang dikenakan pajak dengan tarip efektif sebesar 28.169 perusahaan hanya dapat dipajaki apabila didistribusikan dan dibelanjakan oleh penerima.175.000.793.000. maka laba tersebut ketika didistribusikan dipajaki dua kali. Bagiannya pada laba perusahaan adalah Rp10.250.000. Berikutnya.118. sehingga ada kelebihan pajak sebesar Rp2. Pandangan ini juga yang digunakan oleh Peraturan Pajak Penghasilan di Indonesia. yang membayar pajak penghasilan pribadi pada tarip pajak 15%. Pandangan Integrasi Para penganut posisi integrasi memandang permasalahan perpajakan pada tingkatan perusahaan hanyalah sebagai satu cara memasukkan semua penghasilan yang bersumber dari perusahaan ke dalam basis pajak penghasilan pribadi. tanpa memperdulikan dari mana sumbernya.000 ditambah Rp1.000. Dalam hal ini.750.000 didistribusikan sebagai dividen kepada A. Badan (dalam hal ini perusahaan) dikenakan pajak dan tidak dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan pribadi atas penghasilan dividen.825. seorang wajib pajak B.000.000). Sisanya. pajak gabungan sama dengan Rp2. pengenaan pajak pada tingkatan perusahaan dapat dipandang sebagai alat untuk mengintegrasikan sumber penghasilan dari perusahaan ke dalam pajak penghasilan pribadi.618. Dengan tidak mengintegrasikan penghasilan.500. mereka berpendapat bahwa penghasilan harus dipajaki secara keseluruhan dalam konsep penghasilan global. seorang wajib pajak A yang membayar pajak penghasilan pribadi pada tarip pajak 25%. atau pajak terhadap perusahaan dapat dipandang sebagai pajak absolut terhadap penghasilan bersumber dari perusahaan. Proposisi dasarnya adalah pada akhirnya pajak harus menjadi beban pribadi dan bahwa konsep pajak yang adil hanya dapat dibebankan kepada pribadi.500. sebesar Rp7.250.076. Bila tidak ada pajak penghasilan badan.750. Pajaknya berdasarkan sistem integrasi hanya akan sebesar Rp1. ada kelebihan pajak sebesar Rp2. sistem pajak sekarang memberikan tambahan beban pajak dan beban pajak atas penghasilan yang bersumber dari perusahaan lebih besar bagi pemegang saham kecil yang pajak penghasilan pribadinya sebenarnya lebih kecil. dividen yang diterima mungkin merupakan bagian penghasilan terbesar bagi A daripada bagi B.25% (atau sebesar Rp2. Misalkan. Selain itu. dan berikutnya pada tingkatan pribadi sebagai dividen dalam perhitungan pajak penghasilan pribadi.

dioperasikan oleh profesional manajemen yang tidak begitu dikendalikan oleh pemegang saham secara individu. Perseroan yang dimiliki publik secara luas – merupakan wajib pajak besar yang menjadi sumber terbesar penerimaan pajak negara – bukan hanya merupakan instrumen untuk penghasilan pribadi. pelaku yang kekuatan besar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan sosial. sehingga membutuhkan kebijakan pengaturan pada tingkatan perusahaan daripada pada tingkatan pemegang saham. Oleh karena itu. sebagai entitas yang terpisah.) Pada akhirnya. Dalam kenyataanya tidak harus seperti ini. pajak penghasilan badan telah memenuhi fungsinya untuk mencakup laba yang ditahan. Apakah laba setelah pajak yang diperoleh akan dibagikan atau ditahan tidaklah relevan dalam konteks ini. Pandangan Absolut Para penganut pandangan yang berlawanan menyatakan bahwa pendekatan integrasi memandang perusahaan secara tidak realistis. Akan tetapi. harus ada sumber pungutan pajak penghasilan pribadi untuk penghasilan yang bersumber dari perusahaan. Walaupun penggeseran terjadi. seluruh pajak harus dibebankan pada orang. Perusahaan adalah entitas legal yang memiliki keberadaan sendiri. perusahaan juga mempunyai kapasitas membayar pajak tersendiri. Konsep kapasitas membayar yang digunakan dalam pendapat ini lebih berkaitan dengan efek ekonomi dari pajak bukannya kemampuan untuk membayar yang digunakan dalam konteks keadilan pajak. Pandangan absolutmendasarkan pada asumsi bahwa pajak dikenakan atas laba dan tidak digeserkan kepada para pelanggan atau pekerja. niat dari para penganut absolutisme untuk membebankan Dasar-dasar Keuangan Publik . alat-alat pajak dapat berguna pada situasisituasi tertentu untuk tujuan-tujuan peraturan perundang-undangan tersebut. Dengan tidak memperhitungkan laba yang ditahan pada penghasilan pemegang saham (seperti yang seharusnya ada pada sistem terintegrasi). yang dengan tepat telah dikenakan pajak yang terpisah dan absolut. hanya tidak begitu jelas kaitannya dengan keinginan para pemegang saham. permasalahannya akan berbeda apabila mengusulkan pengenaan pajak pada perusahaan karena lembaga ini memiliki kemampuan membayar pajak sendiri dan oleh karenanya harus dikenakan pajak terpisah. Pandangan absolut atau klasik tentang pajak ini sangat rasional. sebab paling tidak sebagian dari laba perusahaan setelah pajak ditanamkan kembali pada operasi perusahaan. Perusahaan memang bertindak sebagai unit-unit pengambilan keputusan. Ilustrasi sebelumnya ini mengasumsikan bahwa laba setelah pajak didistribusikan sebagai dividen. Pada pajak penghasilan badan. harus dipajaki sebagai bagian dari penghasilan mereka. Laba perusahaan merupakan bagian penghasilan para pemegang saham dan. dalam konteks pendekatan kemampuan ekonomis pada pajak penghasilan.170 diperoleh dari sumber perusahaan) harus dipajaki dengan tarip yang sama. (Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan ini adalah kemampuan untuk membayar pajak tanpa mengalami kebangkrutan atau mengganggu operasinya. Tidak ada alasan mengapa para pemegang saham harus membayar pajak tambahan atau diberikan perlakuan khusus. Selain itu.

transportasi akan menunjukkan layanan jalan raya. Alasan-Alasan Lain Mengenakan Pajak kepada Perseroan Walaupun tidak ada argumentasi sah untuk mengenakan pajak atas badan secara absolut berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. tentu saja sangat berharga bagi perusahaan tetapi institusi dengan kewajiban terbatas seperti itu tidak membebani biaya kepada masyarakat dan oleh karenanya tidak layak dikenakan pajak atas manfaat. Bentuk pajak perusahaan yang tepat bergantung pada tujuan kebijakan tertentu yang akan dicapai. tidak hanya dinikmati oleh perusahaan. jumlah pegawai akan menunjukkan input untuk pengeluaran untuk sekolah umum. Karena sebagian besar layanan publik yang memberikan manfaat kepada bisnis diberikan pada tingkatan pemerintah daerah. pajak tersebut tidak akan seperti yang diberlakukan sekarang. Walaupun ada beberapa biaya pemerintah yang dikeluarkan dalam kaitannya dengan perusahaan secara khusus. Sebagian dari layanan ini. Apabila penerapan pajak atas manfaat dipandang tepat. dalam kasus ini. total biaya yang dikeluarkan pada daerah operasi lebih tepat digunakan sebagai ukuran keseluruhan. Kasus berbeda untuk pengenaan pajak perusahaan secara absolut dapat dilakukan apabila pajak dipandang sebagai instrumen pengendali berkaitan dengan tingkah laku perusahaan. Oleh karena itu. Pertimbangan Manfaat.171 pajak tambahan pada penghasilan yang bersumber dari perusahaan tetap tidak tepat. Pertama berkaitan dengan tingkatan mana pajak tersebut harus dikenakan. bukannya sesuai dengan jumlah laba yang dihasilkan. tetapi juga oleh berbagai bentuk organisasi lainnya. Walaupun demikian. Pajaknya akan bervariasi sesuai dengan jumlah layanan yang diberikan. Tujuan dari pajak atas manfaat adalah mengalokasikan biaya layanan publik yang diberikan. Langkah yang paling rasional adalah menerapkan pajak umum atas kegiatan bisnis daripada menerapkannya dengan menggunakan pajak penghasilan badan saja. biaya-biaya ini hanyalah faktor yang minor dan sulit untuk mendukung pengenaan suatu pajak. Hal melakukan kegiatan berdasarkan kewajiban terbatas. memperluas pasar. Tujuan-tujuan Peraturan Perundang-Undangan. menjadi pajak penjualan atau pajak atas upah yang inferior dan arbiter. dua pertanyaan lanjutan muncul. dan sebagainya. kekayaan akan lebih tepat menunjukkan nilai layanan pemadam kebakaran. sejumlah pertimbangan lain dapat mendukung keberadaan pajak tersebut. Jika ukuran umum yang digunakan. Perusahaan dapat diminta untuk membayar pajak atas manfaat. Dasar-dasar Keuangan Publik . bukannya untuk membebani manfaat yang tidak menimbulkan biaya. tanpa landasan rasional dalam suatu struktur pajak yang adil (Pajak ini dikatakan inferior karena tarip implisit dari pajak penjualan atau upah akan bervariasi secara arbiter dengan rasio [marjin] laba atas penjualan atau rasio laba atas upah dari beberapa perusahaan). Pemerintah menyediakan berbagai layanan yang memberi manfaat kepada perusahaan dengan cara mengurangi biaya. dan lain-lain. dengan nilai tambah (termasuk laba dan biaya-biaya faktor lainnya) sebagai kemungkinan kedua. membantu transaksi-transaksi keuangan. maka pajak tersebut bukan merupakan urusan pemerintah pusat. Pajak.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah pajak tersebut sebaiknya dikenakan pada laba dan bukannya ukuran aset atau penjualan. Alasan progresivitas tentu saja bukanlah kemampuan untuk membayar seperti pada pajak penghasilan pribadi. yang berkaitan dengan tingkat pembatasan monopolistik. Pengendalian ini membutuhkan pajak bisnis yang progresif. Alternatif kebijakan lain. itu bukan alasan memberikan penalti kepada perusahaan besar yang menguntungkan. atau. 4.172 1. tabungan perusahaan perlu didukung dan distribusi dividen perlu dibatasi. Suatu situasi lain yang berbeda di mana pajak atas kelebihan laba secara selektif dapat dikenakan karena krisis tertentu. Perusahaan-perusahaan besar dapat dimiliki oleh investor-investor kecil dan perusahaan-perusahaan kecil dapat dimiliki oleh investor-investor kaya. Walaupun ukuran yang besar tidak diinginkan. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas dividen yang dibayarkan dan mengecualikan laba yang ditahan. dan pajak atas kelebihan laba merupakan alat-alat yang berguna dalam kaitannya dengan situasi ini. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas laba yang tidak dibagi dan mengecualikan laba yang dibayar sebagai dividen. Pengendalian ini tentu saja tidak akan menggunakan pajak umum atas laba. sehingga memunculkan masalah yang sulit dalam hal menentukan tarip berapa yang cocok untuk setiap industri. Pengendalian terhadap monopoli telah dilakukan dengan menggunakan alat peraturan perundang-undangan. suatu pajak dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini. Pengendalian ini memerlukan suatu pajak yang lebih kompleks. Dasar-dasar Keuangan Publik . 2. dalam rangka mendukung berfungsinya pasar modal atau meningkatkan pengeluaran konsumsi. Suatu pajak atas kelebihan laba dapat dikenakan pada periode-periode krisis (seperti perang) ketika diperlukan pengendalian langsung atas upah dan harga. Progresivitas akan digunakan untuk memberlakukan diskriminasi terhadap perusahaan besar dan membatasi apa yang dianggap sebagai akibat-akibat sosial yang tidak diinginkan dari perusahaan-perusahaan besar. Kelebihan laba tersebut harus diukur dengan membandingkannya dengan periode dasar. dalam hal ini disparitas risiko dapat terlewatkan. yang tidak akan efektif untuk mengoreksi tingkat laku monopolistik. tetapi akan muncul ketidakadilan karena perbedaan posisi awal. distribusi dividen perlu didukung sedangkan menahan laba perlu dihindari. seperti krisis harga minyak dan pelepasan kendali atas harga minyak. suatu tingkat pengembalian standar dapat digunakan. yang memunculkan pengenaan pajak atas laba tak terduga dari kenaikan harga minyak. pajak atas kelebihan laba sulit diadministrasikan karena kelebihan laba tidak mudah didefinisikan. 3. Sebagai stimulus bagi formasi modal dan pertumbuhan. Pembatasan atas upah dalam kondisi seperti ini tidak dapat diterapkan secara efektif tanpa juga membatasi laba. Jika ada keinginan untuk membatasi ukuran absolut atau besarnya perusahaan (yang tidak sama dengan membatasi monopoli atau pangsa pasar). Walaupun kelihatannya baik secara prinsip. tetapi pendekatan pajak dapat digunakan.

Karena ia telah dipotong sebesar Rp2. Hal ini dapat dicapai baik dengan menggunakan metode partnership atau melalui pengenaan pajak sepenuhnya atas capital gain. pemegang saham akan melaporkan jumlah kotornya sebesar Rp10. Secara keseluruhan. Terakhir. Integrasi Pajak Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.000 yang dipotong oleh sumber penghasilan.000. dan telah diberitahukan kepadanya. Alatalat seperti penyusutan dipercepat dan kredit pajak investasi dapat digunakan untuk tujuan ini dan juga dapat diterapkan secara siklus atau pada saat-saat tertentu. Apakah penyesuaianpenyesuaian yang diperlukan dalam struktur pajak untuk mencapai tujuan ini? Integrasi Penuh Untuk menjamin integrasi sepenuhnya. perusahaan juga dapat bertindak sebagai pemotong dan pemungut pajak untuk penghasilan laba dari pemegang sahamnya.173 5. Perusahaan memotong dan memungut pajak.000. dan hanya membayar sisanya sebesar Rp500. penyesuaian harus mengintegrasikan perlakuan pajak baik untuk laba yang ditahan maupun distribusi dividen.000.000.000. pembahasan di atas menunjukkan bahwa instrumen pajak dapat menjadi alat yang berguna dalam mengendalikan tingkah laku perusahaan dalam banyak hal. Solusi ini memasukkan laba total kepada penghasilan pemegang saham dan mengenakan pajaknya dengan pajak penghasilan pribadi.000. ia dapat mengkreditkan Rp2. pajaknya akan sebesar Rp2.000.000.500. pemberlakuan skema pemotongan pajak (withholding) juga diperlukan terhadap penghasilan laba ini. Sebagaimana perusahaan bertindak sebagai pemotong dan pemungut pajak untuk pajak penghasilan pribadi atas upah dan gaji karyawannya. Jika pajak marjinalnya 25%.000.000. banyak pendapat yang menyatakan bahwa perusahaan adalah alat untuk mencari penghasilan bagi pemegang saham dan oleh karenanya sumber penghasilan dari perusahaan diintegrasikan ke dalam pajak penghasilan pribadi. yang berbeda dari tabungan perusahaan. Misalkan bahwa seorang pemegang saham menerima bagian laba sebesar Rp10. Metode Partnership. misalnya 20 persen.000. ia berhak mendapatkan Dasar-dasar Keuangan Publik .500. Bila laba tidak dibagi. Pada saat yang sama. Atas jumlah pajak ini.000 dalam penghasilan kena pajaknya. tetapi bentuk pajak yang diperlukan bukanlah pajak atas laba. pajak perusahaan dapat digunakan untuk memberikan insentif atau disinsentif investasi. sehingga pemegang saham mendapatkan sisanya sebesar Rp8. Seorang pemegang saham yang dikenakan pajak marjinal sebesar 15% akan memunculkan beban pajak sebesar Rp1. Seberapa besar bagian laba tersebut akan didistribusikan sebagai dividen. perusahaan akan memberitahukan kepada para pemegang saham berapa jumlah yang tidak dibagi yang menjadi bagian mereka dan ditambahkan ke dalam ekuitas mereka dan kemudian pemegang saham akan memasukkan jumlah ini ke dalam perhitungan laba kena pajak mereka.

Pendekatan ini tidak memungkinkan untuk perusahaan yang bukan perseroan publik yang sahamnya tidak diperdagangkan. Keberatan ini sama dengan yang dikemukakan dalam pembahasan pajak atas laba yang belum direalisasikan. permasalahanpermasalahan ini terbukti bukan sesuatu yang tidak dapat diselesaikan bila usaha integrasi yang serius dijalankan. sehingga tidak menimbulkan permasalahan likuiditas pada pemegang saham. Dengan melaporkan penghasilan laba pada jumlah kotornya ini. tidak praktis untuk perusahaan besar dan dimiliki publik secara luas. tetapi tidak begitu meyakinkan. Akan tetapi. walaupun memungkinkan untuk perseroan kecil dan perseroan non-publik. kesulitan-kesulitan lain akan muncul berkenaan dengan kebijakan-kebijakan pemberian insentif. pemegang saham akan membayar pajak sesuai dengan tarip pajak marjinalnya. Dengan penjelasan lain. Karena para pemegang saham bertransaksi saham secara cepat di pasar modal. pemegang saham diperlakukan seolah-olah mereka adalah partner dalam suatu bisnis nonperusahaan. Dasar-dasar Keuangan Publik .174 pengembalian pajak sebesar Rp500. Ada juga argumentasi yang menyatakan bahwa pendekatan partnership. perlu dicatat bahwa integrasi dengan menggunakan metode partnership tidak akan menghilangkan permasalahan-permasalahan dalam penentuan laba kena pajak perusahaan. Integrasi dengan metode partnership tidak menyederhanakan administrasi pajak bahkan menambah kerumitan atasnya. yang umumnya membuat keputusan investasi. sulit untuk mengalokasikan bagian laba diantara mereka. tetapi para pemegang saham dapat meningkatkan rasio yang dibayarkan sebagai dividen untuk mendapatkan kas yang dibutuhkan. Oleh karena itu. Akan tetapi. tidak akan memberikan respons atas suatu kredit pajak yang manfaatnya diserahkan kepada para pemegang saham. adalah tidak adil bila memasukkan laba yang ditahan ke dalam penghasilan kena pajak pribadi. Hal ini daat dilakukan dengan cara membolehkan pemegang saham menambahkan basisnya (menambahkan ke harga pokok investasi saham mereka) dengan jumlah yang sama dengan bagian mereka atas laba yang tidak dibagi.000. Penentuan laba kena pajak ini sama pentingnya seperti dalam pajak perusahaan absolut. beberapa kesulitas dengan metode ini perlu dikemukakan. Sisanya. sebagian besar bagian dari pajak akan dibayar pada sumber pemotongan. capital gain yang menunjukkan kenaikan nilai kepemilikan yang ditimbulkan dari menahan laba harus dikecualikan dari pajak atas capital gain. Bagaimanapun juga. dan cara ini yang diusulkan sebagai prosedur standar oleh para ahli pajak. dapat dibayar dengan menjual sebagian saham. seperti kredit pajak atas investasi. Manajemen. dan proses penyerahan itu sendiri memunculkan kesulitan-kesulitan teknis. terutang apabila tarip pajak marjinal yang dikenakan kepada pemegang saham melebihi tarip potongan. Prosedur ini tampaknya cukup adil. Ada pendapat bahwa wajib pajak tidak diharuskan membayar pajak atas penghasilan yang tidak mereka terima. Selain itu. Satu hal penting. untuk tujuan pajak. Karena pajaknya dikenakan ketika laba diperoleh.

pendapatan dividen maksimal sebesar $200 dikecualikan dari penghasilan kena pajak. Bagian yang didistribusikan akan muncul dalam penghasilan pemegang saham sebagai dividen. Distorsi yang sama muncul pada sisi manajemen yang lebih memilih pendanaan hutang. Akibatnya. Jika dana diperoleh dari hutang. dikombinasikan dengan penghapusan pajak atas laba. atau Dasar-dasar Keuangan Publik . hal ini memunculkan insentif bagi pemberi dana untuk meminjamkan daripada melakukan investasi ekuitas. Cara ini tidak memerlukan penentuan laba kena pajak untuk perusahaan. insentif investasi seperti kredit pajak atas investasi harus diberikan pada tingkatan pemegang saham atau diberikan langsung sebagai subsidi kepada perusahaan. sedangkan laba atas modal ekuitas tidak boleh dikurangkan. Dalam pendekatan ini. beberapa praktik di negara maju telah memunculkan sampai tingkatan tertentu suatu integrasi parsial. keringanan ini diberikan dalam bentuk pengecualian dan bukannya kredit pajak. demikian juga permasalahan pada desain pajaknya. Integrasi Parsial Bila integrasi sepenuhnya telah didiskusikan selama beberapa tahun. Penggunaan integrasi sepenuhnya akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak. pengecualian dividen ini ditiadakan dan tarip pajak atas perusahaan disesuaikan ke tingkat tarip pajak untuk pajak penghasilan pribadi. Jika tidak ada integrasi sepenuhnya.175 Metode Capital gain. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. sehingga menguntungkan wajib pajak yang berpenghasilan besar. Dengan ketiadaan integrasi. Hutang versus Modal Saham Bunga yang dibayar oleh perusahaan atas dana yang diperolehnya dengan berutang dikurangkan dari penghasilan kena pajak ketika memperhitungkan pajak penghasilan badan. Sejak tahun 1986. cara ini tidak pernah dipandang sebagai cara yang realistis. sedangkan bagian yang tidak dibagikan akan muncul sebagai capital gain. Bila meminjamkan. pengenaan pajak secara periodik dapat digabungkna dengan pajak atas pemindahan aset. Dengan ketiadaan pajak pada tingkatan perusahaan. manfaatnya bagi penerima dividen akan meningkat sejalan dengan tarip pajak marjinalnya. tetapi pajak berganda tetap berlaku bagi dividen. bunga yang dibayarkan dapat dikurangkan dari laba kena pajak. lebih rumit daripada keuangan pada rumah tangga. netralitas dapat dikembalikan dengan cara (1) tidak membolehkan pengurangan biaya bunga pada pajak penghasilan badan tetapi akan memperluas cakupan pajak berganda. pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi. distribusi dividen mengalami pajak berganda. Cara ini dipandang sebagai mendekati perlakuan yang terintegrasi untuk laba yang tidak dibagi. seperti juga pembayaran gaji dan upah. Misalnya. Berikut ini beberapa contoh atas permasalahan-permasalahan pajak tersebut. Bila menanam modal. di AS sebelum tahun 1986. Perlu diingat. Akan tetapi. Cara lainnya untuk mencapai integrasi sepenuhnya adalah dengan mengenakan pajak sepenuhnya atas semua capital gain (termasuk yang belum direalisasikan). Aspek-Aspek Khusus Definisi Basis Pajak Permasalahan-permasalahan pada keuangan perusahaan.

Peraturan perundang-undangan harus menentukan pada tarip berapa para investor diperbolehkan untuk memperoleh kembali biaya investasi mereka. perusahaan telah membantu pengawainya mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka. Dalam hal investasi modal. Kapan waktu perolehan kembali biaya modal sangat penting karena nilai tunai dari kewajiban pajak berkurang ketika penyusutan dibebankan. laba kena pajak harus didedinisikan dan berbagai kesulitan harus dihadapi dalam proses definisi ini. Akan tetapi. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode. nilai tunai dari pajak dan juga pengurangan atas penghasilan tidak hanya bergantung pada tarip pajak tetapi juga pada kapan pengurangan penyusutan diperbolehkan. kenaikan gaji akan menambah kewajiban pajaknya. Cara penghindaran pajak penghasilan pribadi ini dapat ditutup baik dengan cara memasukkan pembayaran dalam bentuk natura ke dalam pajak penghasilan pribadi atau melarang pengurangan biaya-biaya tersebut pada pajak penghasilan badan.000. semua biaya usaha harus dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Lama Masa Manfaat. Cara yang dilakukan sekarang ini adalah jalan tengah dengan membatasi pengurangan atas pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment. biaya untuk pengeluaran tersebut berkurang sebanyak 30 persen dan aktivitasnya sulit dikategorikan untuk didukung dengan subsidi publik. karena sangat mengandalkan sumber pendanaan internal. dan akan lebih besar bila biaya modal dikurangkan lebih cepat. Pengurangan biaya modal memunculkan penghematan pajak bagi investor. Pembayaran dalam bentuk Natura dan Biaya Entertainment Pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment merupakan topik yang banyak dibahas.176 (2) membolehkan pengurangan bunga yang diperhitungkan atas modal ekuitas dalam pajak penghasilan badan sehingga mengurangi cakupan pajak berganda. Selain itu. Ketika biaya entertainment dapat dikurangkan dari penghasilan.000 diberikan kepada manajer perusahaan. Faktor-faktor ini melibatkn jangka waktu penyusutan dibebankan dan kecepatan hasilnya dalam interval ini. biaya dari perusahaan akan sama dengan apabila gajinya dinaikkan dengan jumlah yang sama. Permasalahan penyusutan adalah salah satu permasalahan yang paling sulit dan paling penting Karena pajak perusahaan adalah pajak atas laba bersih. sedangkan tunjangan kendaraan tidak. Jangka waktu periode di mana investasi dapat diperoleh kembali atau penyusutan dibebankan pada umumnya telah ditetapkan sesuai Dasar-dasar Keuangan Publik . bila sebuah mobil senilai Rp200. Oleh karena itu. modal ekuitas pada perusahaan selalu meningkat. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi. dengan membayar dalam bentuk natura daripada dalam bentuk kas. Dalam hal pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah. Pada kenyataaanya. dengan sedikit bukti bahwa adanya perlakuan pajak yang buruk tersebut memiliki pengaruh. Jadi. Aturan Penyusutan dan Waktu Penyusutan Apakah dalam bentuk pajak perusahaan absolut atau integrasi berbentuk partnership.

000 boleh dikurangkan. beban untuk tahun kedua adalah 9/55 dari Rp100.177 dengan masa manfaat dari aset bersangkutan. untuk suatu aset dengan harga perolehan Rp100. Bangunan harus disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus di mana jumlah yang sama sebesar C/n harus dihapuskan setiap tahun.000. di mana bagian yang dikurangkan pada setiap tahun sama rasio dari sisa tahun terhadap jumlah angka tahun selama masa manfaat aset. dan seterusnya. dengan C sama dengan nilai perolehan aset dan n adalah umur aset. Rp16. Ada satu metode lagi yang tidak diperbolehkan berdasarkan peraturan perundangundangan saat ini. Simpulan yang sama juga berlaku apabila kita membandingkan metode jumlah angka tahun dengan metode garis lurus.000 = Rp18. Peralatan disusutkan dengan menggunakan metode saldo menurun.636. Jadi.000.000. dengan persentase sebesar dua kali tarip garis lurus dikurangkan pada tahun dan persentase yang sama ini kemudian diterapkan pada jumlah yang belum disusutkan setiap tahunnya. Bila kita membandingkan antara metode saldo menurun dengan metode jumlah angka tahun. Seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini. Peraturan perpajakan telah menetapkan patokan umur yang sejalan dengan praktik bisnis yang sehat. Jadi.000. yaitu metode jumlah angka tahun (sum-of-years-digits method).000 dan masa manfaat selama 10 tahun.000 akan dikurangkan pada tahun pertama. dan perbedaan semakin besar dengan semakin lamanya masa manfaat.111.000 dengan masa umur selama 10 tahun. metode saldo menurun lebih menguntungkan pada aset-aset berumur pendek dan metode jumlah angka tahun lebih menguntungkan pada aset-aset yang berumur panjang.000. Metode Penyusutan. setiap tahun sejumlah Rp10. dan seterusnya. jumlah angka tahunnya sama dengan 10 + 9 + 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 55.000 = Rp16.000 akan dikurangkan pada tahun kedua. nilai tunai dari penyusutan yang paling tinggi apabila menggunakan metode penyusutan saldo menurun daripada engan menggunakan metode garis lurus. Dasar-dasar Keuangan Publik .363.111. untuk suatu aset yang bernilai Rp100. Beban penyusutan tahun pertama adalah 10/55 dari Rp100.000.000. Metode penyusutan yang diperbolehkan untuk dipakai hanya dua metode yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun (declining balance method). sebesar Rp20. Dengan demikian.

pajaknya akan semakin turun.829 Metode Penyusutan Ekonomis versus Metode Penyusutan Dipercepat Tarif efektif dari pajak bergantung pada tarip nominal (sekarang 30 persen untuk perusahaan) dan tingkat penyusutan yang diperbolehkan.460 40.661 32. Harga Perolehan Aset = Rp100.100 64.515 79.806 28.178 Nilai Tunai Penyusutan (dalam Rupiah. hal ini tidaklah sulit.534 81. semakin cepat penyusutan dilakukan.935 DISKONTO 10 PERSEN 79.614 70. terutama yang menginvestasikan pada asetaset yang berumur panjang. Dari sudut pandang investor. Hasilnya demikian karena nilai tunai dari penghematan pajak akan semakin tinggi ketika penghematan pajak tersebut semakin cepat terealisasi.787 78.750 87.439 Masa Manfaat (I) 5 10 20 50 5 10 20 50 Garis Lurus Saldo Menurun (II) (III) DISKONTO 6 PERSEN 86.528 44.055 64. Nilai tunai ini sama dengan nilai tunai dari arus laba sebelum pajak dikurangi dengan nilai tunai dari pembayaran pajaknya. semakin rendah tarip efektif pajaknya.811 75.680 44.469 68. Pemerintah akan mengalami kerugian dari semakin cepatnya penyusutan yang diperoleh oleh wajib pajak dan oleh karenanya beban yang sama – yang didefinisikan sebagai Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika komponen negatif ini menjadi semakin besar seperti yang ditunjukkan pada tabel di ataas.099 54. dengan nilai tunai dari penghematan bunganya sama dengan nilai tunai dari penghematan pajak yang dihasilkan.000) Jumlah Angka Tahun (IV) 87. Netralitas Metode Penyusutan Ekonomis.539 20. investor akan menimbang nilai tunai dari arus laba bersihnya terhadap biaya perolehan dari aset. Semakin cepat tingkat penyusutannya.997 67.697 31. Mempercepat penyusutan (baik dengan cara memperendek periode penyusutan atau membolehkan menyusutkan jumlah yang besar pada awal-awal masa guna aset) akan mengurangi tarip efektif pajak dengan menunda tanggal jatuh tempo dari kewajiban pajak.716 59. Nilai tunai dari pajak dapat dipandang sama dengan nilai tunai dari pajak kotor (sebelum dikurangi dengan penyusutan yang diperbolehkan) dikurangi dengan nilai tunai dari penghematan pajak karena penyusutan.663 51. percepatan ini ekuivalen dengan pinjaman tanpa bunga. Ketika mempertimbangkan suatu investasi.756 80. Bagaimana mengoreksi tarip penyusutan yang akan memperlakukan semua investasi secara netral? Bila hanya melihat satu investasi saja. Sudah terbukti bahwa penyusutan yang cepat menguntungkan investor.

pengenaan pajak akan mengurangi nilai dari arus laba bersih sebesar persentase tarip pajak yang berlaku. walaupun prinsipnya jelas. maupun dalam hal netralitas (pajak tidak boleh mendistorsi pola investasi). Akan tetapi. yang adalah biaya modal atau penyusutan ekonomis yang harus dibebankan bersama-sama dengan biaya lain dalam menghitung laba bersih. Pola penyusutan seperti apa yang diperlukan untuk memastikan definisi penghasilan yang adil dan netral? Aset yang disusutkan. penerapannya tidak mudah. Oleh karena itu. yang ditimbulkan dari semakin memburuknya kondisi aset dan penurunan nilai karena keusangan. Pertama adalah arus penghasilan positif berupa laba. Jika penyusutan diperbolehkan dengan tarip percepatan. Peralatan modal modern tidak aus secara seragam dan juga menjadi usang sebelum sempat digunakan sepenuhnya. Oleh karena itu. penurunan dalam nilai berjalan sama dengan nilai kapitalisasi dari penurunan arus penghasilan. Aset dengan nilai tunai arus laba bersih yang sama harus mendapat beban yang sama yang didefinisikan sebagai nilai tunai pajak. Oleh karenanya. Dengan demikian. baik dalam hal keadilan (investor dengan penghasilan yang sama harus membayar pajak yang sama besar). pilihan-pilihan investasi akan terdistorsi dan lebih banyak modal akan mengalir ke arah tersebut. Yang lainnya adalah arus penghasilan negatif. aset tersebut memberikan arus laba bersih positif. Jika semua investasai sama. investasi yang lebih lama akan mendapat keuntungan terbanyak dan juga mendapat manfaat dari tarip pajak efektif yang lebih rendah. tidak akan menjadi masalah kombinasi mana yang dipilih yang memberikan kepada pemerintah arus pendapatan yang tertentu. Tarip efektifnya akan sama dengan tarip nominal atau tarip yang berlaku dan tarip ini independen terhadap umur aset dan karenanya tidak akan mendistorsi pilihan investasi di antara mereka.179 nilai tunai dari pajak – dapat diberlakukan dengan berbagai kombinasi tarip pajak dan tarip penyusutan. Nilai berjalan dari aset pada setiap waktu sama dengan nilai kapitalisasi dari arus penghasilan di masa depan yang dihasilkannya. nilai tunai yang menjadi nilai aset tersebut. Hal tersebut akan sesuai ketika penyusutan dibebankan sejalan dengan pengurangan nilai aset. sehingga mengenakan pajak pada arus laba bersih yang sebenarnya ketika diterima setiap tahun. yang timbul dari penggunaan aset. Tingkat keusangan akan berbeda dan tidak dapat diprediksi. Dalam hal penyusutan pajak sama dengan penyusutan ekonomis. dapat dipandang sebagai menghasilkan dua arus penghasilan. Bila dijumlahkan. seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. cara yang terbaik yang dapat dilakukan adalah memakai masa guna seperti yang biasa dipakai dalam praktik bisnis dand Dasar-dasar Keuangan Publik . Kesulitan akan muncul karena investasi berbeda dalam jangka waktu dan keuntungan sehingga menghasilkan pendapatan yang berbeda dalam berbagai kebijakan. Suatu tarip pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarip pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. ada alasan kuat untuk menggunakan penyusutan ekonomis. Hal sebaliknya akan terjadi bila tarip penyusutan yang diperbolehkan lebih rendah daripada tarip ekonomis. padahal investasi-investasi ini harus diperlakukan sama.

180 dengan asumsi bahwa masa guna yang dipercepat merupakan masa guna sebenarnya dan jejak waktu dari arus penghasilannya. Untuk investasi yang berkelanjutan. Ada juga kasus di mana suatu perusahaan terusmenerus meningkatkan aset-asetnya yang dapat disusutkan. Wajib pajak mendapat keuntungan dari penundaan (dan kerugian bagi Pemerintah) dan nilai sepanjang tahun-tahun awal dan kemudian akan rata. tampaklah jelas bahwa tingkat tarip nominal dan perubahannya bukanlah indikator yang cukup atas tingkat tarip efektif. Pembebanan Sekaligus Biaya gaji dan pembelian bahan dikurangkan ketika terjadi investasi. kejadiannya tidak sama. yaitu bila percepatan dilakukan sampai titik ekstrem dan biaya investasi dibebankan ketika terjadi? Seorang investor yang melakukan investasi tunggal mungkin tidak akan dapat memanfaatkan penghapusan segera tersebut. Tarip efektif ditentukan dengan cara menghitung (rb – ra) / rb. investor tidak perlu membayar pajak dan pemerintah tidak memperoleh pendapatan pajak. Perolehan kembali baru terjadi setelah reinvestasi berakhir. Misalkan suatu perusahaan memiliki penghasilan dari investasi lain yang dapat digunakan untuk pembebanan tersebut. kita membahas pengaruh dari penyusutan yang dipercepat terhadap tingkat pengembalian bersih dari investasi tunggal. kerugian pendapatan pemerintah akan berakhir tetapi tidak ada perolehan kembali kerugian awal selama reinvestasi terus-menerus berlangsung. Kewajiban pajaknya berkurang pada tahun-tahun awal dan bertambah pada tahun-tahun akhir. Tarip ini bergantung pada tarip pajak yang berlaku dan tarip penyusutan. Misalkan bahwa suatu aset diganti ketika semakin usang sedemikian rupa sehingga dasar yang akan disusutkan tidak berubah. Labanya (ekuivalen dengan pinjaman bebas bunga) timbul dari penangguhan pajak sekali. Jika penyusutannya cukup cepat dan ekspansinya cukup tajam. perusahaan seperti ini dapat menunda pembayaran pajak selamanya. Tarip Pajak yang Efektif. Apa yang akan terjadi bila hal yang sama juga dilakukan terhadap pengeluaran modal. yang dilakukan sekali dan kemudian selesai. Pada tahun-tahun awal. Dalam diskusi sebelumnya. Biaya-biaya ini langsung dibebankan pada biaya investasi. di mana pemerintah kehilangan pendapatan pada tahun-tahun awal dan mendapatkan kembali pendapatan tersebut pada tahun-tahun terakhir. Dasar-dasar Keuangan Publik . Untuk investasi seperti itu. Investasi Tunggal versus Investasi Berkelanjutan. penyusutan yang dipercepat tidak mengurangi jumlah total pajak yang akan dibayarkan. tarip efektif sama dengan persentase pengurangan dalam pengembalian modal karena pajak. Investor tersebut mungkin tidak dapat merealisasikan penghematan pajak (tax savings) sampai diperoleh pendapatan (laba) yang cukup di mana penyusutan akan dibebankan. Semua pembayaran dapat dihindari dan tanpa terjadi perolehan kembali. Dengan demikian. di mana rb adalah tingkat pengembalian sebelum pajak dan ra adalah tingkat pengembalian setelah pajak. Berdasarkan diskusi sebelumnya.

Penyesuaian terhadap Inflasi Dengan harga yang selalu naik. penghasilan kena pajak terlalu besar. misalkan kita menginvestasikan uang Rp100 juta pada aset A dan segera membebankannya sebagai penyusutan sebesar Rp100 juta. Penyusutan segera dengan reinvestasi secara kontinyu dari penghematan pajak yang didapat membatalkan pajak. pada dua dekade sebelum reformasi pajak tahun 1986. Bila kegiatan serial ini diulangi terus-menerus. membebankan tambahan Rp30 juta sebagai penyusutan. Dalam hal ini. sehingga mengurangi kewajiban pajak dari penghasilan aset B. Hal ini sangat relevan terutama dalam periode inflasi tinggi. dan seterusnya. Suatu sistem yang membolehkan sebagian dari pajak dibiayakan dan menyusutkan sisanya sesuai dengan penyusutan secara ekonomis akan netral antara investasi jangka pendek dan jangka panjang. kita menderita kerugian sebesar Rp100 juta. .181 Untuk mengetahui mekanisme ini. dua solusi tersedia: (1) basis penyusutan dapat diindeks untuk naik sesuai dengan biaya penggantian. Akibatnya. Kebijakan yang dilaksanakan tidak akan sejauh ini. membuat posisi kita sama dengan menginvestasikan Rp100 juta tanpa pajak. (2) seluruh penyusutan dapat dilakukan pada tahun pertama sehingga menghilangkan pengaruh inflasi. = Rp142. . Kita harus membayar suatu pajak dengan tarip 30 persen penghasilan kita dari Rp142. suatu kredit pajak diperbolehkan atas sebagian (pada tahun 1985 sebesar 10%) dari biaya investasi yang dikualifikasikan. kredit pajak investasi (investment tax credit) merupakan alat insentif yang utama.857 juta dalam investasi pada A. Jadi.857 juta. hanya sepertiga dari pajak yang akan dihapuskan. mendapatkan penghematan pajak sebesar Rp9 juta. Karena kita belum mendapatkan penghasilan dari A. seorang investor yang membeli aset dengan harga Rp100 juta dapat memperolehnya pada biaya perolehan bersih sebesar Rp90 juta. perolehan kembali investasi dengan berdasarkan harga perolehan tidak akan memberikan penghematan pajak yang cukup untuk menjaga modal perusahaan dalam nilai riilnya. penghematan pajaknya akan sebesar Rp30 juta. Pendekatan ini sering disebut sebagai cadangan awal (initial allowance) yang merupakan cara yang netral dalam memberikan insentif investasi. Aturan hukum biasanya hanya membolehkan sebagian (misalnya sepertiga) dari biaya investasi yang dapat diperoleh kembali dengan penyusutan segera. Investment Tax Credit Di Amerika Serikat. Dasar-dasar Keuangan Publik . Kita kemudian menambahkan sejumlah ini ke dalam investasi anda pada A. kita akan berakhir dengan investasi pada A sebesar Rp100 juta + 0. bila diukur dalam nilai riil. Dengan tarip pajak 30%. Untuk menghilangkan permasalahan ini dan untuk mengatasi permasalahan inflasi dengan benar. Kemudian kita membebankan kerugian ini pada laba dari aset B. menimbulkan kenaikan tarif efektif pajak yang tersembunyi.302 x Rp100 juta . Investasi yang dikualifikasikan untuk kredit pajak tersebut adalah semua aset yang dapat disusutkan kecuali gedung. . Pertama kali diperkenalkan tahun 1964.30 x Rp100 juta + 0.

Beberapa struktur industri sering terjadi apa yang disebut administered pricing. Pandangan ekonomis adalah pandangan yang tepat bila diasumsikan bahwa semua pasar beroperasi untuk memaksimalkan laba. sesuai dengan model kompetitif. Ada banyak usaha pada tahun-tahun terakhir untuk memberikan bukti tentang ini. kredit investasi tidak hanya merupakan alat penunda pajak. dan marjin laba perusahaan. Bedanya dengan penyusutan dipercepat. Pemindahan beban dengan cara penyesuaian administered pricing (dibedakan dengan pemindahan beban karena perpindahan faktor dan perubahan pasokan faktor dalam pasar yang kompetitif) tidak dapat dianggap tidak ada. tetapi juga alat yang memberi hak untuk pengurangan pajak. Siapa Yang Menanggung Beban Pajak? Sebagian besar ekonom memandang beban pajak penghasilan badan jatuh kepada modal. Kemungkinan yang tersisa adalah mempelajari pengalaman sektor perusahaan dan bagaimana berbagai komponen dalam sektor perusahaan menanggapi pajak. yaitu penentuan harga bukan berdasarkan mekanisme pasar. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajak dengan harga yang lebih tinggi. bagian laba perusahaan dalam nilai tambah pada sektor perusahaan. Akan tetapi. Pendekatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Hasilnya bergantung pada struktur dan tingkah laku pasar yang ada. jika perusahaan berada dalam situasi monopoli. termasuk tingkat pengembalian dari pemegang saham perusahaan. atau aturan harga lainnya yang berubah. Para pebisnis sering memiliki pandangan berbeda dan memandang pajak sebagai biaya yang harus dipindahkan. kedua pendekatan itu berbeda diantara berbagai investasi. Akan tetapi. masalahnya akan cukup sederhana. Demikian juga. pembandingan antara tingkat pengembalian dari investasi pada perseroan dan non-perseroan sulit dilakukan karena ketidaktersediaan data pada usaha-usaha non-perseroan. Jika tarip pajak perseroan berbeda antar industri. yang penjualan bukannya laba yang dimaksimalkan. Untuk suatu investasi tertentu dengan lama masa manfaat tertentu. bila pasar tenaga kerja tidak sempurna.182 Bagaimana kedua alat insentif. Hal yang sama juga berlaku pada pasar tenaga kerja yang terorganisir. Demikian juga. sedangkan kredit pajak memberikan keuntungan bagi aset berumur pendek. Penyusutan dipercepat lebih tepat untuk investasi jangka panjang. kredit investasi dan penyusutan dipercepat. dimungkinkan untuk merancang penyusutan yang dipercepat dan provisi kredit yang menghasilkan nilai tunai yang sama kepada investor. dapat diperbandingkan? Kredit investasi sama dengan penyusutan dipercepat dalam hal keduanya dapat digunakan untuk mengurangi pajak. tetapi mekanismenya berbeda. pajak yang tinggi dapat dicerminkan dalam permintaan yang lebih terbatas dalam perundingan dengan manajemen dan oleh karenanya dapat dipindahkan bebannya kepada tenaga kerja. Aset yang berumur lebih pendek dapat diganti lebih sering sehingga dapat dimungkinkan untuk mendapatkan kredit pajak lebih sering lagi. Beberapa pandangan dapat diperoleh dari memeriksa perubahan-perubahan harga yang terjadi dan membandingkan posisi-posisi relatif beberapa sektor sebelum dan sesudah perubahan pajak. Hal ini tidak dapat dilaksanakan dalam dunia nyata karena pajak diterapkan pada semua perseroan dengan tarip efektif yang sama.

Dengan memasukkan tarip pajak perusahaan. Beberapa studi mengindikasikan adanya pemindahan beban pajak yang cukup tinggi. tarip pajak itu sendiri merupakan konsep yang kompleks. Perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk membayar seperti halnya yang dimiliki individu dan beban pajak pada akhirnya ditanggung oleh individual. tingkat inflasi. akan tetapi masalah ini masih kontroversial. Teknik ekonometrik yang lebih baik dikombinasikan dengan penggunaan data yang kurang agregatif mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik. Satu jenis penelitian menggunakan model bahwa tingkat pengembalian perusahaan adalah suatu fungsi dari berbagai variabel yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini terjadi karena banyaknya faktor-faktor non-pajak yang mempengaruhi hasil penelitian sehingga penelitian tidak dapat menunjukkan siapa sebenarnya yang menanggung beban pajak. para analis berharap menggunakan koefisien regresi dari variabel ini untuk mengukur pengaruh perubahan tarip pada tingkat pengembalian. kredit investasi. Jika tarip pajak akan ditetapkan progresif maka harus didasarkan pada alasan-alasan lain. seperti tingkat permintaan konsumen. Tidak ada hubungan positif antara ukuran usaha perusahaan dan laba bersih pemiliknya. yang dirancang untuk mengisolasi pengaruh pajak penghasilan perseroan. Tarip pajak efektif ini bergantung pada aturan penyusutan. kondisi ekonomi dan faktorfaktor lain. utilisasi kapasitas. Pajak Penghasilan Badan Untuk Usaha Kecil Dan Menengah Haruskah tarip pajak bagi UKM berbeda? Alasan pengenaan tarip pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perusahaan. seperti menahan ukuran bisnis sehingga tidak terlalu besar atau mendukung usaha-usaha kecil. Hasil penelitian di Amerika Serikat tentang perubahan tarip pajak dalam rangka menguji adanya pemindahan beban pajak menunjukkan hasil yang berbeda-beda dan konsisten dengan kedua hipotesa pemindahan dan nonpemindahan. yang terpenting adalah tarip pajak efektif bukannya tarip pajak nominal. Berbagai studi telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. Pada kenyataannya. Beberapa studi lainnya mengindikasikan hasil yang sebaliknya. Dan juga. dan berbagai faktor yang tidak dapat dinilai dengan jelas. Analisis ekonometrik tidak mampu secara bulat memisahkan pengaruh pajak dari beberapa perubahan yang terjadi secara bersamaan dalam pengeluaran publik.183 inipun tidak dapat menghasilkan pandangan yang cukup jelas karena perubahan tarip pajak tidak berlangsung secara sering. Banyak perusahaan kecil dimiliki oleh individu-individu berpenghasilan tinggi dan sebagian besar dividen yang dibayarkan oleh perusahaan diterima oleh individuindividu dengan penghasilan menengah. dan tarip pajak perusahaan. sehingga mengarahkan kepada hipotesa pemindahan beban pajak. pengeluaran publik. Jika tujuan menahan ukuran bisnis yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendekatan lain untuk mengukur adanya pemindahan beban pajak adalah dengan menggunakan pendekatan ekonometrika.

pajak yang progresif dapat diberlakukan tetapi diterapkan pada ukuran usaha (ukuran aset) dan bukannya tingkat laba. suatu penerapan integrasi yang sempurna. Dasar-dasar Keuangan Publik . Selain itu. Tarip awal yang rendah. walaupun sedikit sekali bukti bahwa ukuran usaha yang besar diperlukan untuk mencapai efisiensi. karena pada umumnya perusahaan-perusahaan ukuran menengah dan besar lebih efisien daripada usaha kecil. Permasalahan lain yang dapat muncul adalah aturan ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan besar dengan memecahnya menjadi unit-unit kecil dengan melakukan spin off. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memberikan penalti kepada suatu perusahaan holding yang memiliki banyak anak perusahaan. keringanan pajak untuk usaha-usaha kecil selalu menjadi perbincangan politik yang penting. Posisi ini dapat dipandang benar untuk mengurangi kemampuan perusahaan-perusahaan besar untuk beroperasi pada pasar-pasar modal yang tidak sempurna dan mendapat manfaat dari praktikpraktik monopolis. Walaupun tarip awal yang rendah ini dapat digunakan oleh wajib pajak pribadi untuk mengurangi pajaknya. Akan tetapi tujuan ini pun dapat dipertanyakan. Perusahaan kecil ini dipandang sebagai mekanisme melewatkan beban pajak. Hal ini dapat dihindari dengan membuat aturan pajak berbeda untuk wajib pajak pribadi.184 ditetapkan. Untuk menghilangkan penerapan pajak berganda bagi usaha kecil berbentuk perusahaan. Pemerintah dapat pula memberikan bantuan kepada UKM dengan mengenakan tarip awal pajak yang rendah. ada pandangan yang selalu ada bahwa memelihara usaha-usaha kecil yang diinginkan secara sosial walaupun tidak efisien. ada aturan khusus bahwa usaha-usaha kecil sampai dengan ukuran aset atau ukuran penjualan tertentu boleh dipajaki sebagai suatu partnership. Penggunaan tarip awal yang rendah tidak banyak manfaatnya bagi usaha-usaha besar. Bantuan kepada UKM Pilihan partnership. Walaupun demikian.

pajak penjualan inferior baik dalam hal keadilan vertikal maupun keadilan horizontal. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1984. Pajak penjualan atas barang konsumsi dapat dipandang ekuivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga.185 B A B XVIII PAJAK ATAS KONSUMSI ajak penjualan mirip dengan pajak penghasilan karena dikenakan pada arus yang diciptakan oleh produksi output. dengan angka penjualan diukur dalam ukuran unit produk atau penerimaan kotor. dan tarip progresif. semua penggunaan dikenakan kecuali untuk menabung. Proses penggantian Pajak Penjualan menjadi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) merupakan salah satu rangkaian perombakan sistem perpajakan nasional sebagai Reformasi Perpajakan tahun 1983 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 April 1985. atas penghasilan yang diterima oleh rumah tangga) maka pajak penjualan dikenakan pada sisi penjual dari transaksi produksi (misalnya atas penjualan yang dilakukan perusahaan). pengurangan. Bila pajak penghasilan dikenakan pada sisi penjual dari faktor-faktor produksi (misalnya. Dalam pajak umum atas barang-barang konsumsi. yang telah Dasar-dasar Keuangan Publik . Oleh karenanya. dalam pajak penjualan tidak membolehkan situasi-situasi pribadi konsumen sebagaimana halnya dalam pajak penghasilan individu dengan aturanaturan pengecualian. Bila pajak penghasilan didasarkan pada sisi sumber pada rumah tangga maka pajak penjualan didasarkan pada sisi penggunaan. P Hal yang paling penting adalah pajak penjualan berbeda dari pajak penghasilan dalam hal pajak ini merupakan pajak in rem bukannya pajak pribadi. Jenis Pajak Atas Konsumsi Di Indonesia Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Pajak atas konsumsi yang pertama kali berlaku di Indonesia adalah Pajak Penjualan (PPn) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1951. Oleh karena itu.

jasa pengiriman surat dengan perangko. cukai adalah pajak atas konsumsi. gula. rumah makan. PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. Pada prinsipnya. Pajak Hotel. jasa keagamaan. cukai tembakau dan cukai minuman keras. termasuk definisi basis pajak. . untuk konsumsi barang-barang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri. Pajak Hiburan. bensin dan minuman keras. jasa keuangan. warung dan sejenisnya. Khusus untuk PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. Cukai Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barangbarang tertentu. dan surat-surat berharga. jasa pendidikan dan lain-lain. Pajak Reklame dan Pajak Parkir. Pajak per Unit versus Pajak atas Nilai (Ad Valorem) Pembedaan lebih lanjut dalam pajak penjualan adalah pajak yang dikenakan berdasarkan unit produk dan pajak yang dikenakan atas nilai produk. . Cukai merupakan hak atas pemerintah pusat. . misalnya pajak atas bahan bakar minyak. terdiri dari beberapa jenis. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. cakupan dan saat pengenaannya. Pajak Konsumsi di Daerah Jenis pajak konsumsi lainnya diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarip pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. restoran.Uang. Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk. tetapi hanya dikenakan pada barang-barang tertentu seperti tembakau. Selain itu. Bahasan-Bahasan Dalam Pajak Atas Konsumsi Pajak penjualan.Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. seperti pajak penjualan. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barang-barang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri (di dalam Daerah Pabean). seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. jasa pelayanan sosial. Tidak semua konsumsi barang dan jasa dikenakan pajak.Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. Jasa-jasa yang tidak dikenakan PPN cukup banyak. emas batangan. Jenis barang yang tidak dikenakan PPN adalah: . bentuk Dasar-dasar Keuangan Publik .Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya.186 mengalami perubahan-perubahan yang terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2000. Di antara dua basis ini. seperti jasa pelayanan kesehatan. Pajakpajak ini diantaranya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Pajak Restoran.

untuk menghindari pajak. penjualan lembaran baja dikenakan pajak ketika lembaran baja berpindah dari pabrik produksi lembaran baja ke pabrik mobil. kemudian penjualan besi baja dikenakan pajak ketika besi baja berpindah dari pabrik baja ke pabrik produksi lembaran baja. Pajak penjualan jenis GNP akan mengenakan pajak penjualan atas barangbarang konsumsi dan barang-barang produksi. Selain itu.187 ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit. penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar Rp46 trilyun. basis ini akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan demikian. pajak berdasarkan perputaran menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produk-produk yang harus melalui banyak tahapan produksi dan distribusi. perusahaan-perusahaan akan bergabung dengan para pemasok mereka. Apakah pajak-pajak tersebut mencakup semua transaksi ataukah basisnya sama dengan GNP ataukah hanya konsumsi saja yang dapat dimasukkan? Inferioritas Basis Transaksi. Memasukkan seluruh transaksi akan tidak menimbulkan permasalahan bila setiap produk melalui jumlah transaksi yang sama sehingga persentase total kewajiban pajak berdasarkan perputaran terhadap nilai pada penjualan akhir akan sama. Dalam kenyataannya. Bahkan beberapa negara Eropa telah menggantikan bentuk pajak ini dengan pajak pertambahan nilai yang menunjukkan inferioritas pajak atas perputaran ini. atau sepertiga hasil dari pajak penghasilan. Dengan GNP Indonesia yang diperkirakan sebesar sebesar Rp1180 trilyun misalnya. seperti yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya. dan seterusnya sampai pajak terakhir dikenakan pada penjualan mobil eceran. Pajak berdasarkan perputaran (turnover tax) yang dikenakan pada jumlah total seluruh transaksi adalah pajak yang paling tidak diinginkan untuk diterapkan. Akibatnya. Basis GNP versus Basis Penghasilan atau Konsumsi. Dalam pajak jenis ini. suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sejalan dengan pergerakannya sepanjang tahapan produksi. setiap produk tidak melalui jumlah transaksi yang sama. Atas dasar inilah. pajak berdasarkan perputaran dipandang sebagai bentuk pajak yang inferior. Prosedur seperti ini mempunyai daya tarik karena kemampuannya menghasilkan pajak yang besar dengan penerapan tarip yang kecil. pajak penjualan yang dikenakan di berbagai negara berbasiskan konsumsi. Dengan pertimbangan bahwa pengenaan ganda seperti yang dibahas dalam basis transaksi harus dihindari. Pada umumnya. penjualan biji besi dikenakan pajak ketika biji besi tersebut berpindah dari tambang ke pabrik baja. basis pajaknya akan berjumlah beberapa kali lipat dari GNP dan hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarip pajak yang rendah. Ruang Lingkup Cakupan Pajak Penjualan Umum Pajak-pajak penjualan umum dapat berbeda dalam cakupan pengenaannya. Misalnya. Dengan demikian. sehingga mendorong timbulnya integrasi vertikal yang pada gilirannya akan mengurangi kompetisi. pilihan basis pajak yang tersisa adalah GNP (Pendapatan Nasional) atau konsumsi.

Pajak seperti ini akan memiliki basis yang sama dengan pajak penghasilan dan dapat diselenggarakan dengan menggunakan pajak pertambahan nilai jenis penghasilan. Pengenaan tarip yang berbeda untuk menghilangkan perbedaan ini akan sangat sulit dan merupakan cara yang tidak seefisien dan seefektif pengenaan pajak pada tingkatan penjualan eceran. Karena basis penghasilan telah digunakan dalam pajak pribadi dengan pengenaan pajak penghasilan. Kelemahan ini akan hilang bila pajak hanya dikenakan pada basis yang sama dengan Pendapatan Nasional atau GNP dikurangi dengan pajak-pajak tidak langsung dan penyusutan. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. Pajak Konsumsi Komprehensif versus Pajak Konsumsi Tertentu. konsumsi makanan rumah. Saat Produksi versus Saat Penjualan Eceran. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). satu-satunya basis yang tersisa sebagai kandidat basis pajak adalah basis konsumsi. tetapi dalam jumlah netonya. pengenaan pada saat penjualan eceran lebih baik karena memungkinkan pengenaap tarip ad valorem yang seragam. karena rasio harga eceran terhadap harga produksi berbeda-beda untuk berbagai produk. Bila menggunakan pajak yang dikenakan satu kali. pajak penjualan yang komprehensif sebesar 10% akan menghasilkan pendapatan negara sebesar Rp117 trilyun. Jika pajaknya bersifat umum. pemilihan tahap pengenaan lebih merupakan masalah administratif dalam rangka efisiensi penerapan pajak atas basis yang dipilih. Dalam hal keadilan. pilihan pengenaan pajak biasanya antara saat selesai produksi atau saat dijual secara eceran kepada konsumen. pajak ini akan memberikan perlakuan diskriminatif yang mengecualikan penghasilan yang ditabung (tidak dikonsumsikan) yang dalam pajak penghasilan tidak dikecualikan. pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber harus dikenakan pajak sepenuhnya.188 sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan kotor. dalam hal ini penghasilan sebelum perhitungan penyusutan. Bilamana penetapan cakupan pajak merupakan hal yang substantif dalam menentukan jenis pajak yang akan diberlakukan. Pajak penjualan umum atau eceran bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. Dalam hal efisiensi. Tahap Pengenaan Keputusan mengenai tahap pengenaan melibatkan pilihan tahapan mana yang terbaik bagi pengenaan pajak satu kali dan pilihan mengenakan pajak satu kali atau beberapa kali. Pajak jenis ini memiliki kelemahan dalam hal keadilan dan efisiensi.170 trilyun. Dasar-dasar Keuangan Publik . jasa kesehatan dan lain-lain. Pengenaan pajak ad valorem dengan tarip yang sama pada tingkatan produksi menghasilkan tarip ekuivalen yang tidak sama dengan pengenaan pada tingkatan penjualan eceran. Basis inilah yang paling banyak digunakan dalam pajak penjualan.

Dengan cara kedua. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah pajak harus dikumpulkan dalam satu kali pengenaan dan pada titik penjualan final atau apakah dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. nilai produk dibagi dalam potonganpotongan (nilai tambah pada setiap tahapan) di mana pajak dikenakan pada tahapan-tahapan sepanjang proses produksi. Selain itu. basis nilai tambah dari pajak penjualan jenis konsumsi sama dengan basis penjualan eceran. walaupun hal ini menimblkan dampak yang berbeda pada tingkatan penjualan eceran. hanya cara penagihannya yang berbeda. Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan sifat dari produk final pada tahapan penjualan eceran. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran. Dengan menelusuri ke berbagai tahapan produksi. pandangan umum lebih condong kepada pengenaan pada tahapan penjualan eceran untuk diterapkan pada pajak penjualan umum dan tidak begitu sering digunakan pada pajak-pajak penjualan selektif. pajak ini hanyalah pajak penjualan yang diadministrasikan dengan cara berbeda. Di negara-negara berkembang. lebih permanen. misalnya mobil murah atau televisi. badan-badan usaha produksi cenderung lebih besar. Penggunaan pendekatan beberapa tahapan dalam konteks pertambahan nilai harus dibedakan dengan yang sebelumnya dibahas dalam diskusi tentang pajak atas perputaran Pajak Pertambahan Nilai Menurut sudut pandang ekonom. pajak pertambahan nilai yang diselenggarakan dengan benar akan ekuivalen dengan penerapan pajak dalam satu tahapan. Pajak pertambahan nilai bentuk pajak yang baru seperti pajak pengeluaran. Pemilihan keduanya lebih didasarkan pada kemudahan administrasi. jawaban atas pertanyaan tahapan pengenaan akan lebih tidak jelas lagi. Dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah). kita akan mulai dengan peternak yang menjual kulit hewan kepada penyamak. pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan karena cara ini akan mengurangi jumlah pembayar pajak yang harus ditagih pajaknya sehingga mempermudah administrasi. Walaupun demikian. Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena jumlah titik penagihan pajak yang lebih sedikit. Jika produknya diidentifikasi pada tahapan produksi. penyamak menjual kulit bahan sepatu kepada produsen Dasar-dasar Keuangan Publik .189 Jika pajak akan dikenakan secara selektif. identifikasi produk tidak memungkinkan. akan lebih menguntungkan mengenakan pajak pada tahapan ini. misalnya sepatu. Karakteristik-karakteristik ini memperbaiki kualitas untuk tujuan perhitungan pajak. Saat Penjualan Eceran versus Pertambahan Nilai. Nilai akhir sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Mari kita lihat suatu produk. karena pengenaan pajak secara selektif pada tingkatan eceran akan sangat sulit. Walaupun ada perbedaan dalam teknik.

Jenis Pajak Pertambahan Nilai Ada tiga jenis pajak pertambahan nilai sesuai dengan basis GNP. produsen sepatu menjual sepatu kepada distributor utama. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. dengan nilai atau harga final dari produk tersebut sama dengan jumlah kenaikan atau pertambahan nilai pada seluruh tahapan. Pada setiap tahapan. seperti yang telah dibahas sebelumnya.5 trilyun pendapatan pajak bagi negara. pajak ini ekuivalen dengan pajak penjualan yang diterapkan pada barang konsumsi dan barang modal. atau oleh suatu perusahaan untuk pembelian barang-barang modal. Jenis Penghasilan. menjadi subyek pajak penjualan umum. yaitu GNP. yang sama dengan GNP dikurangi cadangan untuk konsumsi modal atau penyusutan. Hasil yang sama dapat diperoleh dengan menerapkan pajak penghasilan umum karena basis suatu pajak produk neto dan pajak penghasilan pada dasarnya sama. Jenis GNP. Jumlah yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan nilai tambah. NNP. Jadi. mengenakan pajak kepada setiap penjual dengan tarip 5 persen dari nilai tambah. Suatu pajak yang dikenakan pada pertambahan nilai akan identik basisnya dengan suatu pajak yang dikenakan pada nilai final dari produk tersebut. dengan nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi nilai bersih dari barang setengah jadi dan penyusutan.190 sepatu. Anggaplah bahwa semua barang dan jasa final yang diproduksi dan dijual dalam suatu periode. Pajak tersebut akan diberlakukan baik pada barang konsumsi maupun barang modal. Basis pajak pada setiap tahapan akan sama dengan penyusutan. distributor utama menjual sepatu kepada toko eceran. Anggaplah tujuannya adalah mengenakan pajak pada NNP.170 trilyun. tetapi hanya jenis konsumsi yang dapat diterapkan secara praktis. hanya pendekatan nilai tambah yang layak digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto). Setiap kenaikan harga menunjukkan tambahan nilai pada setiap tahapan. Pajak ini akan merupakan bentuk yang paling komprehensif dari pajak pertambahan nilai dan dapat disebut sebagai pajak pertambahan nilai jenis GNP. baik oleh konsumen rumah tangga. Pendekatan nilai tambah ini. pajak. nilai barang meningkat dan harga jual juga meningkat sejalan dengan peningkatan nilai tersebut. bunga. laba dan biaya-biaya. Dengan GNP sebesar Rp1. pajak dengan tarip 5% yang mencakup semua barang tersebut akan menghasilkan Rp58. juga dapat digunakan untuk menyelenggarakan pajak penjualan pada produk neto. Pajak seperti ini dapat dikenakan dalam bentuk beberapa tahapan dengan mengenakan pajak pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. yaitu penerimaan kotor dikurangi dengan biaya pembelian barang setengah jadi dari produsen sebelumnya dalam lini produksi. Pajak ini akan dibayarkan oleh penjual ketika produk dijual kepada pembeli terakhir. yang akhirnya akan menjual sepatu tersebut kepada konsumen. oleh suatu perusahaan untuk menambah persediaan barangnya. (Catatan: Pajak ini tidak dapat dikenakan sebagai pajak atas total nilai bersih dari barang pada saat penjualan terakhir dilakukan karena prosedur ini mengharuskan pencatatan biayabiaya penyusutan yang dibebankan oleh semua produsen sepanjang lini produksi. Pajak pertambahan nilai jenis penghasilan berbeda dari jenis konsumsi dalam hal jenis penghasilan Dasar-dasar Keuangan Publik . dan konsumsi.

dengan perbedaan hanya pada prosedur administrasi saja. Jumlah total Biaya Modal 09. Penyusutan 08. Minus Penyusutan 17. Penjualan barang modal 04. Untuk basis penghasilan. Penjualan barang konsumsi 02. Basis konsumsi (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 09) 11. Alternatif lainnya yang dapat digunakan adalah metode penambahan. Plus Investasi 15. bunga.1: Ilustrasi Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai A Pendapatan 01. Upah. Pajak seperti ini akan sama dengan pajak penjualan eceran umum atas barang konsumsi. Jenis Konsumsi. Basis GNP Perhitungan Pendapatan Nasional 13. Basis untuk pajak pertambahan nilai jenis ini didefinisikan sebagai pendapatan bruto perusahaan dikurang nilai dari seluruh pembelian produk-produk setengah jadi (bahan mentah dan barang dalam proses) dan juga pengeluaran modalnya atas pabrik dan peralatan-perakatan. Pembelian barang-barang modal Basis-basis pajak 10.191 membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan sedangkan jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. Basis konsumsi ditentukan dengan menambahkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pembelian produk setengah jadi 07. NNP atau Pendapatan Nasional PERUSAHAAN B C Ekonomi 120 120 70 145 100 315 151 151 221 265 100 100 20 120 80 120 15 215 90 45 16 151 270 165 51 - - 100 100 120 100 120 195 180 95 6 90 106 321 370 321 - - - 221 100 321 51 270 (Tabel ini menunjukkan perhitungan ketiga basis dengan menggunakan metode yang disebut metode pengurangan. 06. Basis GNP dihitung dengan cara menambahkan pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07). Jumlah total Biaya 05. Konsumsi 14. laba. perhitungan dengan metode penambahan adalah dengan cara menambahkan semua pembayaran kepada berbagai faktor yang dinyatakan pada baris 05. Penjualan produk setengah jadi 03. GNP 16. Basis penghasilan (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 07) 12. yang tersisa hanyalah nilai dari output barang konsumsi saja. yaitu pembelian barang-barang modal. Ilustrasi Perhitungan PPN untuk setiap Jenis Tabel 18. Dengan membolehkan setiap perusahaan untuk mengurangkan pengeluaran modalnya. dsb.

Jumlah total basis-basis ini sama dengan nilai dari konsumsi. metode faktur. Bila demikian. kita akan menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang setengah jadi dan barang modal. metode faktur memiliki elemen ketaatan karena setiap pembeli akan meminta salinan dari bukti setor tersebut. Dengan membuat aturan bahwa kredit pajaknya bergantung pada penyajian bukti setor pajak yang dilakukan oleh para pemasok. Dasar-dasar Keuangan Publik . dihitung untuk setiap perusahaan dengan mendapatkan angka penjualannya dan dikurangi dengan pembelian barang-barang setengah jadi dan barang-barang modal (baris 06 dan 09). seperti yang ditunjukkan pada baris 12. Selain pertimbangan politis. Simpulan Kita telah melihat bahwa pajak pertambahan nilai jenis konsumsi memiliki basis yang sama dengan pajak penjualan eceran dengan cakupan yang sama. Metode Penagihan Bila kita melihat jenis konsumsi dari pajak pertambahan nilai. Pertama. seperti yang ditunjukkan pada kolom terakhir.192 pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07) kemudian dikurangi dengan pembelian barang modal (baris 09). dihitung untuk setiap perusahaan dengan cara penjualan dikurangi dengan biaya barang-barang setengah jadi dan penyusutan (baris 06 dan 07). yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarip pajak terhadap total penjualan dan mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah yang sama dengan pajak yang telah dibayarkan oleh para pemasok yang barang-barang setengah jadi dan barang-barang modalnya dibeli oleh perusahaan. Basis penghasilan. Jika pajak bruto pengecer disajikan sebagai bagian terpisah dari harga-harga bagi para konsumen. konsumen akan menyadari adanya pajak pada kedua pendekatan ini. Bila perhitungan pajak telah selesai. Kedua. akan sama dengan penjualan total (baris 04) dikurangi pembelian barang-barang setengah jadi (baris 06). Metode ini cocok di negara yang ketaatan pajaknya rendah. mengapa harus ada perbedaan pendapat yang cukup tajam mengenai mana di antara kedua pajak ini yang lebih baik? Satu perbedaan berkaitan dengan persoalan politik dari kedua pajak ini. seperti yang ditunjukkan pada baris 11. yang mungkin saja menjadi atau tidak menjadi masalah. seperti yang ditunjukkan pada baris 10. Penjumlahan basis-basis pada setiap perusahaan ini menghasilkan basis-basis untuk seluruh ekonomi. ada dua cara untuk menagihnya. yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung tersebut. Pendukung pajak pertambahan nilai merasa bahwa pajak ini tampak berbeda sehingga tidak terkontaminasi reputasi buruk dari pajak penjualan eceran.) Basis konsumsi. pendapatan nasional. dan GNP yang ditentukan dalam perhitungan pendapatan nasional. dikenal dengan nama metode perhitungan. ada beberapa perbedaan teknis dalam implementasi yang cukup penting. Jadi metode penambahan langsung menghasilkan angka pada pajak pertambahan nilai jenis penghasilan tetapi agak membingungkan pada pajak pertambahan nilai jenis konsumsi. Basis GNP.

193 Dalam pajak penjualan eceran. Keluarga-keluarga dengan penghasilan yang sama mungkin saja Dasar-dasar Keuangan Publik . karena hanya dikenakan pada barang-barang tertentu. tetapi hal ini belum menjadi kebijakan yang telah diterapkan. Bila dilihat dari keadilan horizontal. Karena sebagian besar cukai dikenakan atas barang-barang konsumsi masal. sehingga memudahkan administrasi karena para pengecer dapat diakses secara efektif. Cukai umumnya dikenakan kepada barang-barang konsumsi massal yang dipandang kurang baik untuk dikonsumsi. Dan juga. Cukai juga dikenakan dalam rangka meminimalkan dead weight loss. kita menyimpulkan bahwa distribusi beban pajak berdasarkan kelompok penghasilan didominasi dari sisi penggunaan. Pajak Penjualan Umum Pajak penjualan umum dalam bentuk pajak penjualan eceran atas barang-barang konsumsi pada dasarnya sama dengan pajak umum bertarip tetap atas pengeluaran konsumen. pengecualian barang-barang modal dapat dilakukan dengan lebih efektif daripada dalam pajak penjualan eceran karena sulitnya menelusuri penggunaan barang-barang yang dibeli dari para pengecer. cukai memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal. cukai bersifat diskriminatif di antara konsumen dengan penghasilan yang sama tetapi dengan preferensi yang berbeda. seperti rokok dan minuman beralkohol. suatu pajak penjualan umum akan adil bila indeks keadilan dinyatakan dalam bentuk konsumsi tetapi akan tidak adil bila indeksnya dinyatakan dalam bentuk penghasilan. yaitu berdasarkan pola pengeluaran konsumsi atas produk yang dipajaki. dengan menggunakan metode faktur. seperti minuman beralkohol dan rokok. Dengan keterbatasan-keterbatasan seperti ini. bebannya cenderung regresif. Karena tidak dibebankan secara pribadi. Distribusi Beban Pajak Pajak penghasilan memiliki peringkat yang tinggi dalam hal keadilan karena dikenakan sebagai suatu pajak pribadi yang berusaha mencapai kemampuan membayar dari wajib pajak. Dalam pajak pertambahan nilai. tetapi di negara berkembang di mana usaha ritelnya umumnya usaha kecil. Beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan seharihari cenderung regresif. hal ini mudah dilakukan. pajak pertambahan nilai memiliki elemen ketaatan yang tidak dimiliki dalam pajak penjualan eceran. Cukai Pada diskusi kita sebelumnya tentang tax incidence dari pajak penjualan. pajak-pajak ini tidak memberikan aturan mengenai kemampuan untuk membayar. Di negara maju yang usaha ritelnya sudah mapan. Oleh karena itu. Selain itu. pajak penjualan eceran tidak akan efektif. Selain itu. Hal yang sama tidak berlaku untuk pajak penjualan dan cukai. sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. mengapa cukai tetap digunakan? Pertanyaan ini dijawab dengan mempertimbangkan jenis barang yang dikenakan cukai. jumlah pembayar pajak lebih rendah daripada dalam pajak pertambahan nilai. cukai akan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak yang lebih umum.

wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak. Semua konsumsi harus dimasukkan ke dalam basis pajak dan kewajiban pajak para wajib pajak tidak dipengaruhi oleh pola tertentu dari pengeluaran konsumsi mereka. suatu pajak penjualan umum akan proporsional berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun (menabung dalam persentase atas penghasilan naik) sejalan dengan kenaikan penghasilan. tidak ada dasar logika yang tepat pada kedua basis pajak yang mengharuskan keduanya sama. Dengan demikian. sehingga melanggar keadilan horizontal dalam bentuk penghasilan. Bila dipandang dari keadilan vertikal. Penentuan Konsumsi Kena Pajak Apabila konsumsi digunakan sebagai indeks atas kemampuan untuk membayar. tetapi pengenaan pajak ini dalam situasi modern belum pernah ada. Keluarga-keluarga seperti itu akan membayar jumlah pajak yang berbeda. Penggunaan suatu jenis pajak pribadi dari pajak pengeluaran akan menghilangkan perbedaan ini dan membuat pemajakan atas konsumsi menjadi bersifat pribadi dan progresif. Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi Walaupun telah mengecualikan beberapa produk konsumsi massal. Berikut ini pembahasan teknis apabila pajak ini diterapkan. penghindaran atas pajak penjualan hanya dapat dilakukan dengan melalui warisan. Perbedaan progresivitas di antara kedua jenis pajak ini muncul karena pajak penghasilan telah dikembangkan dalam kerangka pajak pribadi. Perlu dicatat pula bahwa sifat regresif dari pajak penjualan telah dimodifikasi dengan mengecualikan beberapa produk konsumsi massal. Pajak seperti ini pernah dicobakan di India dan Sri Lanka. semua yang telah dikemukakan sebelumnya tentang keinginan untuk suatu definisi global dari basis pajak penghasilan berlaku juga. pajak penjualan dipandang sebagai pajak yang progresif dan pajak penjualan dipandang sebagai pajak regresif.194 memiliki tingkat konsumsi (menabung) yang berbeda karena faktor usia atau faktor-faktor lainnya. Bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup. Pola ini kurang regresif bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup dan bukannya tahunan. Akan tetapi.Oleh karena itu. Analogi dengan pajak penghasilan. pendekatan tradisional atas pajak konsumsi baik melalui cara selektif (cukai) maupun pajak penjualan umum (PPN bila di Indonesia) tetap bersifat regresif karena pengeluaran konsumsi dalam persentase penghasilan cenderung menurun sejalan dengan peningkatan penghasilan. sedangkan pajak konsumsi telah ditetapkan sebagai kerangka dalam pendekatan nonpribadi atau in rem dari pajak penjualan. sedangkan pendukung pajak penjualan cenderung berasal dari penentang progresivitas pajak. dalam perkembangan historis. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Pajak ini merupakan ide yang baru dan menarik dan telah banyak mendapatkan dukungan dari para akademisi di dunia perpajakan. pendukung pajak penghasilan cenderung berasal dari pendukung progresivitas pajak. seperti makanan.

Hal ini akan menjadi tugas yang sangat berat. Dan juga. jumlah tambahan tabungan harus didefinisikan sebagai tabungan neto (tambahan tabungan dikurangi penarikan tabungan). atau penambahan atas kekayaan bersih. Dividen akan muncul sebagai penerimaan. Cara yang paling baik dan yang paling mungkin untuk menentukan konsumsi tahunan wajib pajak adalah dengan menggunakan cara berikut Saldo bank dan uang pada awal tahun 1. yang diperoleh dengan menahan laba. Penyesuaian terhadap inflasi hanya diperlukan untuk indeks tarip-tarip pajak. Jika aset dijual. – saldo bank dan uang pada akhir tahun 5. SPT harus digunakan untuk membuat wajib pajak menyatakan jumlah-jumlah tersebut (dengan dirinci) seperti pelaporan penghasilan dalam pajak penghasilan. dan capital gain yang belum direalisasikan. Dasar-dasar Keuangan Publik . dan menerapkan tarip pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. + penerimaan uang 2. tetapi belum diketahui bagaimana konsumsi kena pajak dapat ditentukan dalam kenyataannya. tidak ada kebutuhan untuk menentukan laba perusahaan. – investasi bersih (biaya pembelian aset-aset dikurangi hasil dari aset-aset yang dijual) 4. Permasalahan sulit dari akuntansi penyusutan juga akan hilang. pendekatan ini lebih sederhana daripada yang dipakai dalam pajak penghasilan. Ide ini tampaknya sederhana.195 diperbolehkan. pembelian barang-barang konsumsi jangka panjang (seperti mobil). Konsep penerimaan yang digunakan dalam skedul perhitungan di atas sama dengan penghasilan yang didefinisikan dalam pajak penghasilan. Perhitungan dengan menambahkan pengeluaran rupiah untuk konsumsi individu bukan merupakan pendekatan yang mungkin. akan diperlakukan sebagai konsumsi tahun berjalan. Konsumsi dalam cara ini akan diperoleh dari perubahan dalam saldo bank dan uang dan arus penerimaan dan pembayaran-pembayaran nonkonsumsi selama tahun berjalan. + tambahan pinjaman bersih (pinjaman baru dikurangi pembayaran pinjaman atau memberikan pinjaman) 3. = konsumsi untuk tahun berjalan. bukan hal yang relevan sampai realisasi terjadi dan hasilnya disalurkan ke dalam konsumsi. Untuk mendapatkan angka konsumsi. Dilema dalam memperlakukan capital gain yang belum direalisasikan akan tidak ada. Dalam beberapa hal. dengan membolehkan penggunaan tarip merata untuk menghindari ketidakadilan. Walaupun konsumsi rumah akan dimasukkan dengan cara memasukkan komponen imputed rent. hasil yang diterima akan masuk ke dalam basis pajak kecuali dikurangi dengan pembelian aset-aset lain atau kenaikan dalam saldo-saldo aset. disesuaikan dengan mengecualikan capital gain tetapi memasukkan imputed rent dari rumah-rumah yang dihuni pemiliknya dan juga warisan dan hadiah yang diterima. Kemungkinan yang lain adalah dimulai dari penghasilan dan mengurangkannya dengan jumlah tambahan tabungan.

196
karena permasalahan yang lebih mengganggu berupa perubahan nilai-nilai nominal tidak akan muncul. Akan tetapi, pajak pengeluaran akan memunculkan kesulitan-kesulitan baru. Untuk alasan-alasan administratif dan lainnya, metode pemotongan pajak harus tetap diberlakukan, tetapi cara ini akan sangat sulit dalam pajak pengeluaran daripada dalam pajak penghasilan. Karena pemotongan pajak harus dilakukan terhadap penghasilan, suatu rasio yang ditetapkan sebelumnya dari penghasilan terhadap konsumsi harus diterapkan. Selain itu, pemotongan pajak dalam sistem tarip yang gradual mempersulit penerapan karena tarip pajak yang tepat bergantung pada apakah penerimaan tersebut akan dibelanjakan atau diinvestasikan kembali, suatu faktor yang sangat mengganggu dalam kasus penghasilan modal. Permasalahan lainnya adalah pentingnya mencatat secara lengkap saldosaldo kas pada awal tahun. Bila tidak dilakukan, konsumsi yang tidak dikenakan pajak akan dapat dilakukan oleh wajib pajak yang akan didanai nantinya dengan menarik lebih banyak uang dari bank. Untuk memastikan peminjaman dipertanggungjawabkan, pemberi pinjaman diharuskan untuk melaporkan informasi mengenai pinjaman-pinjaman yang diberikan. Dengan demikian, pengecekan silang akan lebih banyak dilakukan. Hal yang sama juga diperlakukan untuk penjualan-penjualan aset. Untuk tujuan ini, wajib pajak diharuskan untuk melaporkan neraca atau daftar harta mereka dalam SPT. Perlakuan atas Warisan dan Hibah Dalam konsep pajak pengeluaran wajib pajak pribadi, ada suatu permasalahan khusus timbul karena penghasilan tidak digunakan untuk konsumsi tetapi akan diwariskan atau dihibahkan. Berdasarkan filosofi tambahan kemampuan ekonomis, penerimaan suatu warisan/hibah akan dimasukkan ke dalam basis pajak penerima warisan/hibah. Akan tetapi, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, konsep penghasilan yang berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis memperlakukan secara diskriminatif terhadap konsumsi di masa depan. Pajak berdasarkan konsumsi, memberikan perlakuan yang sama dengan menerapkannya pada nilai tunai konsumsi sehingga beban pajak tidak dipengaruhi oleh faktor waktu. Tetap saja, perlakuan terhadap warisan/hibah masih menimbulkan tanda tanya. Seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya, penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. Cara terbaik untuk mengatasi penghindaran pajak ini adalah dengan memasukkan warisan/hibah sebagai basis pajak pengeluaran. Dengan demikian, basis pajak yang adil bukannya konsumsi saja tetapi semua penggunaan penghasilan, baik itu untuk konsumsi ataupun untuk diwariskan. Evaluasi Penggunaan pajak pengeluaran wajib pajak pribadi akan meningkatkan kualitas perpajakan konsumsi karena memungkinkan penerapan prinsip kemampuan Dasar-dasar Keuangan Publik

197
untuk membayar dan menghilangkan sifat regresif yang melekat pada pajak penjualan umum. Walaupun pajak pengeluaran berbasis konsumsi merupakan cara yang lebih baik, akan tetapi ada dua pertanyaan yang harus dijawab yaitu basis mana yang lebih baik (penghasilan atau konsumsi) dan bagaimana memperlakukan warisan/hibah. Dalam hal kegiatan menabung berupaya didukung dengan sistem pajak yang ada, pendekatan pajak pengeluaran lebih disukai daripada pemberlakuan pengecualian secara sepotong-potong dalam sistem pajak penghasilan. Penggantian pajak penghasilan dengan pajak pengeluaran akan menyederhanakan beberapa hal penting, terutama yang berkaitan dengan permasalahan inflasi. Akan tetapi, penggantian ini juga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru seperti masalah pemotongan pajak. Pajak pengeluaran juga tidak akan menghilangkan perlakuan-perlakuan khusus dan loophole yang selama ini ada pada pajak penghasilan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

198

B A B XIX
PAJAK ATAS KEKAYAAN
Alasan-Alasan Pengenaan Pajak Atas Kekayaan
rgumen atas pengenaan pajak kekayaan didasarkan pada kemanfaatannya dan kemampuan untuk membayar, akan tetapi kedua alasan ini tidak pernah dapat menjelaskan mengapa hanya pajak atas bumi dan bangunan saja yang diberlakukan. Pertimbangan manfaat mengarah pada pemberlakuan pajak bumi dan bangunan jenis in-rem sedangkan pertimbangan kemampuan untuk membayar mengarah pada pemberlakuan pajak kekayaan wajib pajak pribadi.

A

Alasan Manfaat Pajak atas Kekayaan Alasan pengenaan pajak kekayaan atas dasar manfaat adalah bahwa layananlayanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan dan oleh karenanya harus dibayarkan oleh pemiliknya. Dalam bentuknya yang paling umum, argumentasi dukungan ini dapat diturunkan dari teori Locke yang menyatakan bahwa negara adalah pelindung bumi dan bangunan, yang dinyatakan pada akhir abad ke-17. Salah satu dari fungsi dasar suatu negara, sebagaimana pendapat para ahli teori hukum alam, adalah pelindung kekayaan; dan oleh karenanya pemilik kekayaan membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut. Logikanya, basis pajaknya adalah seluruh kekayaan yang dimiliki oleh seseorang. Atau lebih tepat lagi, basis pajaknya akan didefinisikan sebagai kekayaan bersih, yaitu kekayaan wajib pajak dikurangi dengan kewajibannya. Demikian juga, berdasarkan konsep ini, pendapatan dari pajak harus dibatasi hanya sebesar biaya yang diperlukan untuk melaksanakan layanan perlindungan, seperti biaya penegakan hukum, administrasi perundang-undangan dan administrasi pengadilan. Walaupun berapa besarnya biaya tersebut masih dapat diperdebatkan, yang pasti tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai pendidikan, misalnya, tidak memiliki dasar yang rasional.

Dasar-dasar Keuangan Publik

199
Penerapan aturan kemanfaatan yang lebih spesifik lagi, terutama berkaitan pada tingkat lokal, mengharuskan pemilik kekayaan membayar untuk layananlayanan khusus yang meningkatkan nilai dari kekayaan. Pembangunan trotoar, misalnya, meningkatkan nilai gedung di belakang trotoar tersebut, demikian juga perlindungan khusus oleh polisi pada daerah-daerah tertentu. Dalam kasus-kasus tertentu, manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap kekayaan dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. Dalam kasus-kasus lain, manfaat yang dinikmati harus diperkirakan secara relatif terhadap nilai dari kekayaan. Hal ini mengindikasikan bahwa suatu pajak khusus dapat dikenakan untuk mendanai suatu layanan tertentu. Cara pengenaan seperti ini sangat tepat dikenakan pada tingkatan lokal untuk mendanai layanan-layanan khusus tadi. Alasan Kemampuan Membayar Pajak Dalam kaitannya dengan kemampuan untuk membayar pajak, asal mula dari pajak kekayaan harus dilihat dari konteks sejarahnya. Pada masa lalu, kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan indeks yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar. Sebagian besar pajak yang dipungut oleh negara diterima dalam bentuk barang, sehingga pendapatan uang seperti yang digunakan sekarang akan merupakan indeks yang menyesatkan. Akan tetapi, dalam kondisi modern di mana penghasilan sebagian besar diterima dalam bentuk uang, kekayaan lebih sulit diukur daripada penghasilan. Berdasarkan situasi ini, dapatkah pajak kekayaan dapat dibenarkan untuk alasan kemampuan untuk membayar? Berdasarkan diskusi sebelumnya, ada dua simpulan yang diambil. Penggunaan penghasilan sebagai indeks kesetaraan, tidak diperlukan lagi pajak kekayaan sebagai pelengkap apabila penghasilan tersebut didefinisikan sebagai secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. Akan tetapi dalam praktiknya tidak semua penghasilan dapat dicakup sehingga memunculkan kebutuhan akan pajak kekayaan. Juga dalam hal konsep pajak atas konsumsi, pajak tambahan atas kekayaan dapat dibenarkan karena alasan penumpukkan kekayaan. Oleh karena itu, jika kekayaan dipajaki karena kemampuan untuk membayar, yang diperlukan bukanlah pajak atas kekayaan tetapi pajak atas kekayaan besih wajib pajak pribadi. Alasan Pengendalian Sosial Pajak atas kekayaan dapat dibenarkan dengan alasan untuk pengendalian sosial. Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi, dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. Untuk tujuan ini, suatu pajak progresif atas kekayaan dan bukannya atas penghasilan adalah instrumen yang tepat. Sebagaimana berdasarkan pendekatan kemampuan untuk membayar, indikasinya adalah juga pajak pribadi dan definisi kekayaan secara global. Bedanya, basisnya lebih tepat didefinisikan sebagai kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan cakupan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

200

Pajak atas Tanah
Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari kekayaan telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. Karena pengembalian atas tanah adalah dalam bentuk rente ekonomis (yaitu suatu tingkat pengembalian dari suatu faktor produksi dalam penawaran yang tidak elastis), tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu excess burden. Pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif. Selain itu, kenaikan nilai tahan dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil, seperti yang dikemukakan oleh Henry George dalam bukunya Progress and Poverty. Struktur Dan Basis Pajak Atas Kekayaan Di Indonesia (Pajak Bumi Dan Bangunan) Jenis pajak atas kekayaan yang berlaku di Indonesia adalah pajak atas bumi (tanah) dan bangunan. Sebelum reformasi perpajakan tahun 1983, peraturan yang berkaitan dengan pajak atas tanah dan bangunan ini adalah Undang-Undang Nomor 11 PRp1959 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum adat, Ordonansi Verponding Indonesia 1923 dan Ordonansi Verponding 1928 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum Belanda (Barat), dan Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908 untuk pungutan-pungutan lain daerah atas tanah dan bangunan. Setelah reformasi pajak, dasar hukum yang mengatur pajak atas bumi dan bangunan adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1994. Basis Pajak, Tarip Nominal, Rasio Penilaian dan Tarip Efektif Yang menjadi objek PBB adalah bumi dan bangunan. Bumi mencakup permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya, yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan, meliputi jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan, jalan tol, kolam renang, pagar mewah, tempat olah raga, galangan kapal, dermaga, taman mewah, dan fasilitas lain yang memberikan manfaat. Beberapa objek pajak dikecualikan dari pengenaan pajak, yaitu: Objek pajak yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. Objek pajak yang digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenisnya dengan itu. Hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. Objek pajak yang digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. Objek pajak yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Dasar-dasar Keuangan Publik

-

-

201

Basis pajak untuk objek-objek pajak ini adalah harga pasar wajar atau harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Karena harga ini sulit didapat, yang sering dilakukan adalah menggunakan harga objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru atau nilai pengganti. Pada praktiknya, basis pajak ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap tiga tahun sekali, kecuali untuk daerah yang mengalami perkembangan pembangunan yang cepat, penetapannya dilakukan setiap tahun. Dari basis pajak ini tidak seluruhnya akan diterapkan PBB. Basis yang akan diterapkan pajak serendah-rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100%, bergantung pada jenis objek pajaknya. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 1998, hanya 40% dan 20% dari basis pajak saja yang akan dikenakan. Pada umumnya, pengenaan tarip pajak hanya akan dikenakan sebesar 20% dari basis pajak kecuali untuk objek-objek pajak tertentu, yaitu: Objek pajak perumahan yang WP-nya perseorangan dengan basis pajak sama dengan atau di atas Rp1 milyar, tidak berlaku untuk PNS, ABRI, Pensiunan Janda/Duda yang semata-mata dari gaji/uang pensiun. Objek pajak perkebunan yang luasnya sama dengan atau lebih dari 25 Ha yang dikuasai BUMN dan Badan Usaha Swasta. Objek pajak kehutanan, termasuk areal blok tebangan dalam kegiatan Pemegang HPH, Hak Pemungutan Hasil Hutan dan Pemegang Ijin Pemanfaatan Kayu.

-

Tarip pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah 0,5 persen yang merupakan tarip tunggal. Dengan demikian, tarip efektif PBB yang berlaku sekarang ini secara nasional adalah 1 persen dan 2 persen. Nilai Pasar versus Penghasilan sebagai Basis Penilaian Ada satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas kekayaan yaitu bagaimana mengukur nilai kekayaan. Apakah kekayaan tersebut diukur dengan nilai jualnya atau nilai sewanya dan apakah nilai yang digunakan adalah nilai aktual atau nilai potensialnya? Negara-negara tertentu, seperti Amerika Serikat dan Indonesia, menggunakan harga jual atau harga pasar sebagai nilai kekayaan, sedangkan negara-negara lain, seperti Inggris, menggunakan penghasilan sewa aktual yang diperoleh dari harta tersebut. Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi, perbedaan ini akan hilang karena harga jual dari kekayaan akan sama dengan nilai kapitalisasi dari penghasilan aktual yang juga akan sama dengan potensi penghasilannya. Dalam kenyataannya, hal ini tidak terjadi. Jika kekayaan kurang didayagunakan, pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan akan menyajikan nilainya terlalu rendah, suatu faktor yang sangat penting bagi negara-negara berkembang. Perbedaan lainnya antara pendekatan nilai pasar dan pendekatan penghasilan muncul dari perbedaan dalam risiko. Satu kekayaan dengan penghasilan tahunan sebesar Rp100 juta dapat memiliki nilai pasar sebesar Rp500 juta, sedangkan kekayaan lainnya dengan penghasilan yang sama dapat memiliki nilai pasar dua kali lipat. Penghasilan dikapitalisasi dengan

Dasar-dasar Keuangan Publik

Dalam praktiknya. Prosedur seperti ini memiliki keunggulan dalam hal memungkinkan dilakukannya penyesuaian atas nilai tanah dan bangunan lebih sering lagi. Pandangan lain Dasar-dasar Keuangan Publik . Sejumlah besar pemilik rumah yang berpenghasilan rendah adalah orang-orang tua. Tanah versus Bangunan sebagai Komponen Basis Pajak kekayaan dikenakan atas nilai pasar suatu real estate tanpa membedakan apakah dikenakan pada komponen tanah atau komponen penyempurnaan tanah (bangunan). pembendaan ini penting sekali karena berkaitan dengan pembebanan pajak. Walaupun penilaian dengan menggunakan nilai jual lebih disukai. terutama investasi untuk rumah-rumah murah. seringkali tidak terjadi frekuensi penjualan rumah-rumah sejenis yang cukup untuk memberikan basis evaluasi nilai jual.202 tingkat bunga yang berbeda karena adanya premi risiko yang harus dibebankan pada kekayaan yang pertama. suatu hal yang sangat penting dalam periode inflasi. Pada kota-kota besar negara maju. yang disebut juga dengan circuit breaker. Kasus-kasus ini dapat terjadi dalam kondisi ekonomi yang melesu pada daerah-daerah bisnis yang menyebabkan kekayaankekayaan pada daerah ini memiliki tingkat hasil yang tinggi atas penghasilan bila dibandingkan secara relatif terhadap nilai pasarnya. Pada negara-negara tertentu. Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia tua dan keluarga dengan penghasilan rendah. berdasarkan jenis rumah dan lokasinya. pengenaan pajak atas penyempurnaan tanah telah menghambat investasi seperti itu. Basis pengenaan pajak yang paling baik pada kondisi seperti ini adalah pendekatan nilai pasar karena memperhitungkan perbedaan tingkat risiko atas kekayaan-kekayaan tersebut. keuntungan yang timbul dari kenaikan nilai tanah karena pertumbuhan populasi dan pendapatan dapat dipandang sebagai laba yang tidak diinginkan secara sosial. yang mengaitkan nilai rumah terhadap berbagai karakteristik. terpaksa digunakan. Circuit Breaker Pajak kekayaan atas rumah tinggal dipandang sebagai beban bagi penduduk yang berusia tua. dikenakan dalam pasar-pasar yang kompetitif. Distribusi Beban Pajak Kekayaan Beban atas pajak kekayaan merupakan hal yang kontroversial. Karena penawaran atas tanah jumlahnya tetap. Dalam sudut pandang ekonomi. pengenaan pajak terjadi sebaliknya. telah dikembangkan prosedur yang canggih untuk melakukan evaluasi atas nilai jual dengan menggunakan persamaan regresi yang berisi sejumlah variabel. Satu pandangan menyatakan bahwa pajak kekayaan merupakan pajak atas penghasilan modal. Penilaian dengan perkiraan. pengenaan pajak atas rente tanah atau mengenakan pajak atas nilai tanah (yang menunjukkan nilai kapitalisasi dari rentenya) telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif untuk menginvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan). Selain itu.

Hal ini juga berlaku pada bangunan dan tanah. Pajak Kekayaan sebagai Pajak atas Penghasilan Modal Bila Pajak Kekayaan dikenakan secara Nasional. dan i adalah tingkat bunga pasar. Penerima beban pajak dalam jangka pendek adalah pemilik dari kekayaan lokal yang dikenai beban pajak yang lebih tinggi. Dengan pengecualian pada sisi terendah. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam jangka panjang. Beban pajak diterima oleh pemilik yang memiliki kekayaan pada saat pajak tersebut dinaikkan. sehingga V = Y/i. maka tpY/i = ty atau tp = ity. di mana V adalah nilai aset. Bila PBB dikenakan secara Lokal. Jika daerah dibebaskan untuk menentukan tarip atas pajak kekayaan. Dengan menggunakan rumus umum. pengurangan dalam tingkat pengembalian bersih dari modal akan menekan persediaan modal. Mereka tidak dapat mengurangi beban pajak dengan menjual aset yang dipajaki. modal yang diinvestasikan pada daerah-daerah bertarip tinggi tidak dapat bergerak dan pemiliknya harus menanggung beban pajak yang tinggi. Hutang pajak berdasarkan pajak 5 persen atas nilai aset akan sebesar Rp5 juta. pajak seperti itu akan mengurangi tingkat pengembalian bersih dari modal dan diserap oleh penerima penghasilan modal. penghasilan ini sebagai bagian dari total penghasilan akan meningkat besarnya sejalan dengan peningkatan. Dengan asumsi pasar modal yang dan prosedur penilaian yang sempurna. suatu pajak sebesar 5 persen yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. Pajak sebesar 5 persen atas nilai aset (pajak kekayaan) adalah sama dengan pajak sebesar 50 persen atas penghasilan kekayaan (pajak penghasilan). seperti yang berlaku di Amerika Serikat. jumlah ini sama dengan 50 persen. Dengan kejadian ditentukan terutama dari sisi sumber. Dalam jangka pendek.203 membedakan berdasarkan jenis pengenaan dan menempatkan lebih banyak pembahasan pada konsekuensi-konsekuensi dari ketidaksempurnaan pasar. Bila dinyatakan dalam suatu persentase atas penghasilan aset. kejadian pajak dari suatu pajak umum atas nilai aset modal yang dikenakan dengan tarip Rp5 juta per Rp100 juta nilai aset sama dengan kejadian pajak dari suatu pajak atas penghasilan dengan tarip 50 persen. Dalam suatu pasar di mana modal menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 10 persen. sehingga mengurangi produktivitas tenaga kerja di masa depan. distribusi beban pajak pada pajak umum atas penghasilan modal kembali berlaku. Pajak seperti ini dapat juga dipandang sebagai pajak atas penghasilan modal. yang juga karenanya akan mendapatkan tanggungan beban pajak. sehingga kejadian pajaknya progresif. Jika hasil yang sama akan diperoleh dari pajak kekayaan pada tingkat pajak tp dan suatu pajak atas penghasilan aset tersebut pada tingkat pajak ty. yang sesuai dengan tingkat bunga pasar yang sebesar 10 persen. Beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai dari kekayaan. Misalkan bahwa ada suatu pajak nasional atas semua barang modal. Y adalah penghasilan tahunan. Misalkan aset tersebut memiliki nilai Rp100 juta dan memperoleh penghasilan tahunan sebesar Rp10 juta. Dengan demikian. nilai dari suatu aset pada pasar modal yang sempurna ditentukan dengan persamaan Y = iV. maka kejadian pajak akan terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang.

modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. Jika pemilik aset yang semula ingin menjual aset tersebut. pajak ini sama dengan pajak penghasilan sebesar 50 persen. Karena kepemilikan tanah lebih banyak pada wajib pajak berpenghasilan tinggi. pajak akan dinyatakan dalam bentuk pengurangan upah. Situasinya berbeda apabila yang dikenakan pajak adalah modal. Jika tenaga kerja dapat berpindah dengan segera. sehingga suatu aset yang menghasilkan Rp10 juta per tahun memiliki nilai sebesar Rp100 juta. pemilik tanah dan pemilik modal lainnya. Bila tenaga kerja pada daerah berpajak tinggi cenderung merugi. Penghasilan neto berkurang menjadi Rp5 juta. Seberapa besar perpindahan modal dari daerah yang berpajak tinggi bergantung pada mobilitas keluar dari tenaga kerja. Modal yang diinvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan) tidak akan melekat selamanya. tenaga kerja tersebut harus dibayar sebesar apa yang ia terima di tempat lain dan perpindahan modal akan semakin besar. Demikian juga. Pengaruh ini adalah yang paling penting bila Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika tenaga kerja tidak dapat berpindah. bagian pajak yang menyatakan nilai dari tanah tidak berubah. Karena tenaga kerja yang tidak terampil cenderung kurang mudah bergerak daripada tenaga kerja terampil. Pengeluaran pemeliharaan atas aset-aset tua akan berkurang dan investasi baru pada daerah berpajak tinggi akan menurun. yang bila dikapitalisasikan pada tingkat 10 persen akan menurunkan nilai aset menjadi sebesar Rp50 juta. Dalam jangka panjang. ia harus menanggung kerugian pajak tersebut karena pembeli akan meminta suatu tingkat pengembalian sebesar 10 persen. Pemilik berikutnya yang membeli aset tersebut akan melakukannya hanya pada harga yang lebih rendah sehingga tidak dibebani oleh pajak tersebut. Kerugiannya telah dikapitalisasikan dan tetap berada pada pemilik aslinya. suatu pajak yang dikenakan pada modal dalam satu sektor ekonomi akan dibagi bebannya oleh semua pemilik modal. situasi seperti ini akan memunculkan pengaruh regresif. kita mengasumsikan kembali bahwa tingkat pengembalian atas modal sebelum pajak adalah 10 persen. yaitu pemilik aset sebelum pengenaan pajak tersebut. tingkat pengembalian bruto atas modal pada daerah berpajak tinggi akan naik sedangkan tingkat pengembalian bruto atas modal pada daerah berpajak rendah akan turun. sehingga pemilik asli dari tanah pada daerah-daerah berpajak tinggi akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan bagiannya dalam pajak. Sekarang asumsikan suatu daerah tempat aset tersebut mengenakan pajak kekayaan sebesar Rp5 juta untuk setiap Rp100 juta nilai aset.204 Untuk mengilustrasikan fakta ini. tenaga kerja pada daerah berpajak rendah cenderung beruntung. Sejalan dengan penurunan persediaan modal pada daerah berpajak tinggi dan kenaikan persediaan modal pada daerah berpajak rendah. Pergerakan ini akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain. Dalam jangka panjang. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. sama dengan tingkat pengembalian investasi-investasi lain yang tersedia. Tanah tidak dapat dipindahkan. Tidak ada perbedaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Seperti situasi pada pajak perseroan. beban pajaknya bersifat progresif. Beban pajak jatuh pada pemilik aset mula-mula.

tidak berpengaruh atau naik. Walaupun demikian. penduduk lokal merasakan bahwa sewa meningkat dan upah turun sedangkan pihak luar mengalami keuntungan. Semakin besar perpindahan modal. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagaimana kenaikan dalam tarip pajak kekayaan akan mengurangi nilai dari kekayaan dan mendorong perpindahan modal ke luar. dan karenanya menimbulkan efek sebaliknya dari kenaikan tarip pajak kekayaan. demikian pula penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai dari kekayaan dan menarik modal masuk. Sekolah atau layanan-layanan lokal yang lebih baik akan membuat suatu kota atau daerah menjadi tempat yang lebih menarik untuk ditinggali dan menjadi lokasi bisnis. Akibatnya. manfaat-manfaat dari pengeluaran-pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi tidak kurang dari beban pajaknya sehingga pengaruh kombinasi pajak dan pengeluaran akan menyebabkan nilai perumahan menjadi turun. Jika semua pajak kekayaan dikenakan dalam kesesuaian kuat dengan prinsip manfaat. seperti PBB. sehingga menyatakan secara jelas pentingnya mempertimbangkan kedua aspek tersebut. tetapi mereka juga mengalami kerugian terhadap pihak luar karena modal makin sedikit tersedia untuk mereka. semakin kecil pendapatan yang diperoleh dan semakin besar juga kenaikan sewa dan penurunan penghasilan yang dialami oleh penduduk yang berpajak tinggi. penyelidikan empiris menunjukkan bahwa nilai kekayaan berkaitan dengan pengeluaran dan juga perbedaan pajak. penduduk lokal tidak akan menikmati hal ini dalam jangka panjang ketika modal dapat berpindah ke luar. Pajak kekayaan. Sekarang. walaupun secara nasional tidak berpengaruh terhadap distribusi beban pajak. Perbaikan ini akan meningkatkan permintaan akan rumah dan bangunan. Perbedaan Manfaat.205 dipandang dari perspektif suatu daerah khusus. digunakan sebagai sumber pendapatan umum dan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi pajak. Hal ini juga terjadi pada tingkatan internasional dalam hal perbedaan pajak antar negara. Akan tetapi. Kenyataannya tidak demikian. Tidak hanya penduduk lokal tidak mampu mengekspor beban pajak tersebut ketika ditagihkan. Pajak nasional dan lokal yang akan menjadi perhatian suatu daerah lokal hanya bagian yang akan terbeban bagi penduduknya dan bukan bagian yang menjadi beban penduduk daerah lain. Jadi misalkan suatu kekayaan yang berada pada daerah A dimiliki oleh penduduk daerah B. Kebijakan pajak lokal akan melibatkan suatu pilihan yang sulit antara (1) laba yang diperoleh dari pemindahan beban pajak kepada pihak luar melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh orang asing dan (2) bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal asing. bergantung pada bagaimana pendapatan pajak diperoleh dan apa penggunaannya. beban jangka pendek akan berada pada individu luar tersebut sedangkan penduduk lokal menikmati free ride. Dengan demikian. mendorong pada peningkatan nilai kekayaan. kedua pengaruh tadi akan saling menghilangkan dengan nilai kekayaan tidak bergantung pada tarip pajak. Beban di Dalam versus Beban di Luar.

dengan distribusi bebannya sejalan dengan penghasilan modal. dapat direkonsiliasikan dengan interpretasi yang lebih awal. pemilik yang menempati akan bersedia menerima sewa imputed yang lebih rendah pada perumahan daripada pada investasi lainnya.206 Keadilan pengenaan PBB dan Pajak Penghasilan. Distribusi pembebanannya cenderung progresif. misalkan separuhnya. Tingkat pajak kekayaan efektif cenderung akan tinggi pada lingkungan berpenghasilan rendah dan sebagian disebabkan oleh pengenaan Dasar-dasar Keuangan Publik . dengan mempertimbangkan tidak hanya pajak kekayaan. Pajak dapat mengarah pada peningkatan batas atas sewa atau pelonggaran dari penentuan harga monopoli yang dibatasi sebelumnya. Pola-Pola Alternatif Bagian pajak yang dikenakan kepada tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. Karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis dan tanah tidak dapat dipindahkan. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan badan. tidak ada penghindaran atas pajak. Penjelasan di atas tidak berlaku untuk kekayaan yang disewakan. pajak ini dipandang sebagai pajak atas jasa-jasa konsumsi perumahan. pajaknya akan bersifat regresif. Jika pasarnya kompetitif. di mana pemiliknya hanya mempertimbangkan pilihan investasi. Sebagaimana masyarakat melihatnya. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah daripada kombinasi ketiga pajak ini. mari kita bandingkan posisi mereka sebagai investor dalam jasa perumahan dengan posisi investor saham perusahaan. yaitu pajak atas penghasilan modal? Kunci dari teka teki ini terletak pada fakta bahwa perumahan dapat dipandang sebagai pos investasi. Akan tetapi hasilnya akan berbeda bila pasar sewa tidak sempurna sebagaimana yang sering terjadi. tetapi (dalam kasus perumahan yang ditinggali pemiliknya) juga dipandang sebagai barang konsumsi yang tahan lama. Yang tersisa adalah pajak atas rumah tinggal. Hasil ini menunjukkan tambahan beban yang harus ditanggung oleh pemegang saham karena pajak penghasilan wajib pajak badan dan juga perlakuan yang lebih baik kepada pemilik rumah dalam kerangka pajak penghasilan wajib pajak pribadi. kita dapat mengasumsikan suatu pasar yang tidak sempurna dan mempostulasikan bahwa sebagian dari pajak tersebut. Walaupun investor pada jasa-jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi dalam kerangka pajak kekayaan. Sebagian dari pajak akan terserap dalam sewa-kepemilikan ini dan didistribusikan sejalan dengan konsumsi dan bukannya dibagi dengan semua penghasilan modal. dipindahkan kepada konsumen. yang merupakan pajak atas pengeluaran perumahan. Karena pengeluaran perumahan akan menjadi bagian yang semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan. Karena keberatan utama atas pajak kekayaan berasal dari pemilik rumah. tetapi juga pajak penghasilan wajib pajak pribadi dan pajak penghasilan wajib pajak badan. Dalam kasus ini. modal yang diinvestasikan pada rumah sewaan akan meminta tingkat penghasilan yang sama dengan modal-modal lain. Bagian dari distribusi beban pajak ini kemudian akan menjadi regresif. Karena hal ini. Bagaimana pandangan pajak ini.

Pengalaman berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih Pajak atas kekayaan bersih diberlakukan pada beberapa negara.5 persen). sehingga dapat memberikan perlakuan yang sama pada semua komponen kekayaan bersih. pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap untuk pajak pengeluaran. Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. India dan beberapa negara Amerika Latin juga menggunakan pajak jenis ini. Tambahan beban pajak ini akan ditanggung pula oleh penyewa. negara-negara Skandinavia.207 pajak pada tarip yang lebih tinggi di tengah-tengah kota pada lingkungan berpenghasilan rendah. dikenakan sebagai pajak pusat. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi dan juga badan. walaupun pada beberapa negara (seperti Jerman dan India) perseroan juga dipajaki. Pajak ini merupakan salah satu komponen penting dalam struktur pajak karena pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap dari cakupan atas penghasilan modal yang tidak efektif dalam kerangka pajak penghasilan. Pajak kekayaan (PBB) – yang diterapkan kurang lebih secara seragam sebagai pajak in rem kepada semua bumi dan bangunan dalam suatu daerah tertentu – tidak mengikuti kedua pola ini. Orang pribadi diberikan pengecualian dan tarip pajak dapat proporsional (umumnya 1 persen atau kurang) atau progresif ( berkisar sampai 2. prinsip keseragaman harus diterapkan baik kepada sisi Dasar-dasar Keuangan Publik . seperti Belanda. kecuali di Swiss. Negara yang menggunakan pajak ini umumnya menerapkannya sebagai tambahan atas pajak kekayaan. Sejalan dengan pandangan partnership dari pajak laba perusahaan. kekayaan bersih dari perusahaan harus diperhitungkan kepada pemiliknya. yaitu pajak atas kekayaan bersih. Akan tetapi. Oleh karena itu. Pajak Atas Kekayaan Bersih Dalam mendiskusikan alasan pengenaan pajak atas kekayaan dan kekayaan. Selain itu. Sebagaimana dalam hal pajak penghasilan. beberapa negara tidak membolehkan kewajiban tidak berkaitan dengan perolehan aset kena pajak. Jerman. dengan pendapatan dari pajak atas kekayaan bersih hanya merupakan bagian kecil (di bawah 5 persen) dari total pendapatan pajak. dan Swiss. pajak ini dikenakan hanya kepada individu. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud dan dalam banyak kasus semua kewajiban hutang dapat dikurangkan. Pajak atas kekayaan bersih. kita membedakan antara argumentasi kemanfaatan yang menunjukkan perbedaan beban kepada pengguna dalam kekayaan yang dikenakan dengan basis in rem dan argumentasi kemampuan untuk membayar yang mengarahkan pada pajak atas kekayaan bersih yang dikenakan secara pribadi. Untuk negara-negara lain. Sekarang kita bahas jenis pajak yang lain yang lebih menarik tetapi jarang digunakan. Di kebanyakan negara. Struktur dan Basis Pajak Basis Pajak. basisnya harus didefinisikan secara global. Aspek ini sangat penting pada negara-negara berkembang karena sulitnya mengenakan pajak atas penghasilan modal.

aset yang menjadi subjek pajak kekayaan (terutama bila pengenaannya disamakan) dapat dinilai dengan cara itu. Misalnya hanya ada dua orang.000 60. pemerintah harus memastikan bahwa semua aset telah dinyatakan. Peranan Harta tak Berwujud (Intangibles) Klaim kepada swasta. pernyataan ini akan menambah basis dari pajak atas kekayaan bersih. basis total untuk suatu pajak atas harta berwujud dan kekayaan bersih akan sama. Selain itu. Asumsikan suatu keadaan di mana tidak ada hutang publik atau uang yang dikeluarkan pemerintah.000 dan B akan membayar sebesar Rp5. dapat dinilai berdasarkan harga penawaran di pasar.000 10.000. Semua aset berwujud dan tak berwujud.000 150. seperti sekuritas yang diperdagangkan. kesulitan ini tidaklah sangat besar. Demikian juga.000. Administrasi ini mengharuskan SPT yang melampirkan neraca tahunan yang berisi daftar harta dan kewajiban pembayar pajak. Semua instrumen hutang adalah antara orang pribadi. Perolehan aset harus dinyatakan untuk meminimalkan pajak pengeluaran. yaitu sebesar Rp150. Bila dikaitkan dengan administrasi pajak penghasilan. yang posisi kekayaannya adalah berikut: Tabel 19. ada juga permasalahan dalam penilaian aset.000 10. perkiraan yang kasar (seperti biaya perolehan dikurangi dengan penyusutan) harus digunakan. Berkenaan dengan akuntansi untuk asset. A akan membayar sebesar Rp10.000 90. dapat memunculkan elemen self enforcement. semua kewajiban hutang juga dikurangkan. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan semuanya dimasukkan. Di sini juga perkiraan juga harus dipergunakan. yaitu A dan B. Kesulitan yang sama juga terjadi pada hutanghutang yang dapat dikurangkan. Kesulitan-kesulitan yang melekat dalam penilaian saat ini atas semua aset telah didiskusikan dalam kaitannya dengan pajak atas penghasilan modal. Dengan demikian.000 Sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di atas.000 A+B 150.208 aset maupun sisi kewajiban pada neraca. sedangkan aset lain. Jika kita menagih sebesar Rp15.1: Basis Pajak A B Harta berwujud Hutang Piutang Kekayaan bersih 100. Jika kita mengumpulkan jumlah yang sama dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Tidaklah mengherankan bila pajak atas kekayaan bersih lama kelamaan akan terdegenerasi menjadi pajak atas bumi dan bangunan saja. Kesulitan dalam mengadministrasikan suatu pajak atas kekayaan bersih yang baik cukup besar. Administrasi pajak atas kekayaan bersih mengharuskan adanya identifikasi atas aset kena pajak dan verifikasi atas hutang yang diklaim. Mengukur Kekayaan Bersih. Untuk sisanya.000 50.000 dari suatu pajak sebesar 10 persen atas semua harta berwujud. dan secara khusus dengan administrasi pajak pengeluaran. Akan tetapi.

Sesuai dengan tabel di atas. Untuk mendapatkan sejumlah pendapatan yang sama dengan pajak kekayaan. distribusi beban akan sama dengan yang terjadi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih. Klaim-klaim seperti ini dapat menjadi tambahan pada basis kekayaan bersih bagi seluruh kelompok secara keseluruhan. Jika suatu tarip proposional dikenakan.000 20. sehingga sebagian beban dipindahkan dari A ke B. Pemberi pinjaman harus puas dengan suatu tingkat bunga yang lebih rendah. yaitu sejalan dengan distribusi kekayaan.888 dari A dan Rp5. Pasar sekali lagi akan mengkompensasikan untuk pengurangan tingkat pengembalian bersih dari kekayaan. Pada awalnya. dan mendapatkan Rp9. kita dapat melihat bahwa distribusi beban dari suatu tarip progresif pada kekayaan (di mana basis A dua kali basis B) akan berbeda dengan yang dikenakan pada basis kekayaan bersih (di mana basis A hanya lebih besar 50 persen daripada basis B).000. keduanya berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarip progresif. pasar akan menyesuaikan seperlunya.2: Basis Pajak Modifikasi A Kekayaan bersih dari tabel sebelumnya Klaim terhadap pemerintah Kekayaan bersih 90.000 90. Klaim seperti ini akan menambah kekayaan dari seseorang tanpa mengurangi kekayaan dari orang lainnya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Klaim terhadap Pemerintah. penagihan sebesar Rp15.000 160. apakah klaim itu dalam bentuk hutang publik atau uang yang didukung oleh kredit Bank Sentral. Karena pajak pribadi mengharuskan adanya pengenaan pajak berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. Sebaliknya.000 240. Perbedaan lebih lanjut dapat terjadi jika kita mengasumsikan adanya klaim terhadap pemerintah.000 dan Rp5. Misalnya tabel di atas dimodifikasi sebagai berikut: Tabel 19. tetapi beban A akan tetap lebih tinggi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih daripada pajak atas kekayaan.000 dan B akan membayar sebesar Rp6.000 70.112 dari B.000 masing-masing.000 B 60.000 berdasarkan pajak atas kekayaan bersih tarip tetap akan mengharuskan pengenaan tarip sebesar 6. hal ini menyarankan bahwa A akan lebih menyukai pajak atas kekayaan bersih sedangkan B akan lebih menyukai pajak kekayaan.000 80. A akan membayar sebesar Rp9. Akan tetapi. suatu tarip sebesar 10 persen. pajak atas kekayaan bersih adalah bentuk yang paling baik dari pajak atas kekayaan. dengan pembayaran sebesar Rp10. Pada akhirnya. pilihan diantara keduanya tidak ada permasalahan.000 A+B 150.209 menggunakan pajak atas kekayaan bersih.000 Dalam kasus ini.2 persen. peminjam tidak akan bersedia membayar pada tingkat bunga yang sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya karena penghasilan neto mereka dari investasi pada kekayaan akan menurun. Ketika pajak atas kekayaan dikenakan.

Hal ini menambah daya tarik pajak jenis ini sebagai instrumen pajak redistribusi. bea ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasisituasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan inflasi setelah perang. akan tetapi asumsi mendasar tentang aplikasinya yang unik dan tanpa antisipasi menyebabkan pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dikenakan sekali dan selamanya. bea seperti itu berbeda dari bentuk pajak kekayaan lainnya karena tidak ada efek-efek mengganggu terhadap tingkah laku ekonomi. Jika sifatnya benar-benar satu kali dan selamanya.210 Bea Atas Modal Satu bentuk pajak kekayaan lainnya adalah bea atas modal. yang tidak diantisipasikan atau diharapkan akan terjadi kembali.

Walaupun basisnya dikembangkan secara substansial. Jika Dasar-dasar Keuangan Publik . Orang pribadi dapat menggunakan harta mereka ketika mereka masih hidup tetapi hak kepemilikan mereka berakhir ketika meninggal. Akan tetapi. suatu pengecualian dapat diberlakukan. pajak atas warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. Akan tetapi. suatu pajak atas kekayaan dapat diberlakukan. pajak atas warisan tidak akan menjadi sumber pendapatan utama suatu negara. tidak ada perbedaan apakah pajak dikenakan atas warisan atau kepada penerima warisan. perbedaan pengenaan ini dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak. Masyarakat mungkin ingin membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. Pajak atas warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun pada tingkatan lokal. Untuk alasan inilah pajak atas warisan secara potensial merupakan elemen yang penting dalam struktur pajak. Jika masyarakat ingin membolehkan warisan bebas sampai sejumlah tertentu.211 B A B XX PAJAK ATAS WARISAN P ajak atas warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang tidak dikenakan setiap tahun tetapi dikenakan pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan. Sekilas pandang. Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. Dalam hal ini. Tujuan dan Jenis Pajak Beberapa hal berikut yang memunculkan pengenaan pajak atas warisan pada suatu masyarakat: 1. Alasan-Alasan Pengenaan Pajak atas Warisan Pajak atas warisan dapat dikenakan dalam berbagai bentuk dan untuk berbagai alasan. apabila tarip pajak yang dipakai tidak proporsional.

Dalam hal ketiadaan memasukkan hal tersebut. Jika diinginkan untuk membolehkan beberapa perolehan harta melalui warisan tetapi membedakan antara perolehan-perolehan besar dan kecil. yaitu tanpa usahanya sendiri. tingkatan tarip pajak atas warisan yang dapat diterapkan akan naik ketika kekayaan diwariskan secara berurutan. dalam hal ini. 4. 5. masyarakat dapat menerapkan pajak atas warisan (yang mengurangi hak pewaris membagikan hartanya) dan pajak kepada ahli waris yang dirancang untuk membatasi hak ahli waris untuk menerima dan/atau mengkompensasikan ketidaktercakupan warisan ke dalam penghasilan kena pajak. Dalam mencapai tujuan 1 dan 3 di atas. Eugino Rignano. Walaupun tujuannya berbeda. suatu tarip pajak 100 persen di atas batas tersebut dapat diberlakukan. Masyarakat juga dapat mempunyai tujuan yang lebih umum mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil. Oleh karena itu. suatu pendekatan yang pertama kali disarankan oleh ekonom Italia. suatu pajak atas warisan (yang taripnya dikaitkan dengan penghasilan dari ahli waris) dapat dipandang sebagai koreksi definisi penghasilan yang kurang baik.212 masyarakat ingin menyita warisan yang melebihi suatu jumlah tertentu. Berdasarkan pendekatan tambahan kemampuan ekonomis dari pajak penghasilan. Pilihan di antara tujuan-tujuan ini dan pemilihan pajak yang tepat merupakan permasalahan yang harus dibedakan dengan pertanyaan bagaimana transaksi-transaksi pada saat kematian Dasar-dasar Keuangan Publik . Pandangan ini dapat dinyatakan bahwa penggantian kepada pajak atas warisan dari pajak atas penghasilan modal yang progresif akan mengurangi pengaruh disinsentif pada menabung dan investasi. keduanya tidak harus mutually exclusice. Masyarakat juga dapat membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan. Pajak atas warisan dapat digunakan untuk mengurangi ketidakadilan dalam distribusi kekayaan ini. penerimaan dari suatu warisan selayaknya dimasukkan sebagai penghasilan bagi ahli waris. Dalam hal ini. pilihan antara pendekatan pajak atas warisan atau pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai dengan merancang pajak tersebut. Hal yang sama juga dapat dinyatakan untuk pernanan dari pajak atas warisan (yang berkaitan dengan konsumsi dari pewaris) sebagai koreksi untuk definisi basis yang efektif dalam hal pajak pengeluaran yang tidak memasukkan warisan dalam basisnya. Pajak pada saat kematian dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan daripada sebagai tambahan pajak atas transfer. Pajak atas warisan dapat dipandang sebagai suatu alternatif dari pajak atas penghasilan modal selama masa hidup penerimanya. Suatu masyarakat mungkin ingin menetapkan batasan-batasan yang semakin meningkat atas hak seseorang untuk memindahkan kekayaannya pada generasi-generasi berikutnya. 3. pajak dapat diterapkan kepada ahli waris. Tradisi pewarisan merupakan satu faktor utama yang menimbulkan konsentrasi kekayaan. Hanya jika tarip pajaknya proporsional tidak ada perbedaan di antara keduanya. 2. 6. tarip progresif dapat diterapkan. dengan kekayaan dari warisan merupakan sumber lebih dari separuh kekayaan dari priapria kaya dan merupakan sumber hampir seluruh kekayaan wanitawanita kaya.

Bisnis Keluarga. yang tidak harus melibatkan pemecahan unit usaha. Konsekuensi yang mungkin sulit dicegah adalah gangguan atau pengurangan terhadap kendali keluarga atas bisnis sebagai akibat dari pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga. Walaupun demikian. Pengurangan karena Status Pernikahan. walaupun sebelum kematian kepemilikannya terpisah. Walaupun demikian. Di Amerika Serikat. sosial dan politik yang sudah di luar pembahasan kebijakan pajak. Apabila salah satu pasangan meninggal.213 (penerimaan suatu warisan atau memberikan warisan) harus diperlakukan dalam suatu pajak penghasilan atau pengeluaran. Jadi. melibatkan persoalanpersoalan budaya. aturan sampai seberapa jauh hubungan kekeluargaan menyebabkan pengecualian dari pengenaan pajak sangat bergantung pada peranan keluarga dalam kaitannya dengan hak untuk memindahkan harta setelah meninggal. Unit tersebut dapat dijual secara keseluruhan atau sebagian dari ekuitas dapat dipindahkan kepada pihak luar. Organisasi-organisasi yang didukung oleh sumbangan-sumbangan tidak kena pajak telah mencapai tujuan-tujuan yang berguna yang tidak dapat dicapai oleh anggaran negara. Harta yang diwariskan kepada pasangan yang masih hidup diperlakukan seolah-olah harta tersebut adalah harta bersama. Peranan dari sumbangan sosial dalam pajak warisan. Permasalahan-Permasalahan Khusus Capital gain. Keberatan ini sebenarnya bukan masalah besar karena dapat diatasi dengan aturan-aturan yang liberal untuk pembayaran yang dicicil atau ditunda. aset untuk tujuan pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal. Sumbangan sosial juga penting dalam pajak atas warisan/hibah. Permasalahan perlakuan terhadap unit keluarga yang muncul pada pajak penghasilan. Pada umumnya tidak ada batasan pengurangan atas sumbangan sosial dalam kerangka pajak atas warisan. bukannya sebesar harga perolehan aslinya. warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup bebas dari pajak. terjadi juga pada pajak warisan. Para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. hanya peningkatan harga dari saat kematian saja yang diperhitungkan. sebagaimana juga dalam pajak penghasilan. Kontribusi bagi Lembaga Sosial. membuat peningkatan harga sebelum kematian tidak dipajaki. Salah satu keberatan yang dimunculkan adalah pajak atas warisan dapat membuat ahli waris harus melikuidasi perusahaan dengan persyaratan-persyaratan yang tidak menguntungkan dalam rangka membayar pajak tersebut. Dasar-dasar Keuangan Publik . akan tetapi pembebasan pajak ini mendorong timbulnya kendali privat yang tinggi dalam penggunaan dana yang sebenarnya dana publik. Basis yang baru ini kemudian digunakan untuk tujuan pemajakan atas penghasilan modal pada saat penjualan aset tersebut oleh ahli waris. Hal ini sesuai dengan pendekatan unit keluarga dalam pajak penghasilan. Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. pembayaran pajak akan mengharuskan suatu likuidasi.

harus memperhitungkan pula seluruh dampak sampingan (externalities) yang timbul dari proyek tersebut.214 B A B XXI ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA ATAS BARANG DAN JASA SOSIAL nalisis manfaat dan biaya (cost benefit analysis) adalah suatu cara untuk menentukan bobot dari berbagai alternatif proyek pemerintah. Langkah tersebut bertujuan untuk mengetahui nilai sekarang (present value) dari manfaat proyek dibandingkan dengan anggaran biaya yang dibutuhkan untuk membiayai proyek tersebut. dan Mendiskontokan manfaat yang akan datang. Dalam mengukur manfaat. Tingkat diskonto juga harus ditentukan dengan benar guna membandingkan manfaat sekarang dan manfaat yang akan datang dari berbagai alternatif proyek. Mengevaluasi dan mengkonversi manfaat dan biaya tersebut kedalam suatu nilai uang. namun analisis manfaat dan biaya yang benar membutuhkan kombinasi dari keahlian ekonomi. 2. A yaitu: 1. Tujuan analisis ini adalah untuk meyakinkan pengambil keputusan bahwa proyek yang akan dilaksanakan adalah yang paling efisien dan memiliki marginal benefit yang lebih besar dari marginal cost nya. 3. Dasar-dasar Keuangan Publik . Ada tiga langkah pokok dalam melakukan analisis manfaat dan biaya Mengidentifikasi manfaat dan biaya dari setiap proyek yang diusulkan. Analisis ini akan menyajikan informasi yang berguna bagi pengambil keputusan dalam menentukan proyek yang akan dilaksanakan dari berbagai alternatif proyek yang diajukan. teknik. Biaya pun harus diterapkan dengan benar. termasuk menghitung manfaat yang dikorbankan (opportunity cost) karena melepaskan alternatif proyek. dan logika. Walau langkah-langkah diatas terlihat sederhana.

perlu juga diperhatikan jangan sampai terjadi perhitungan ganda. Selain itu. Dalam menghitung manfaat. Contoh. Pada proyek-proyek tertentu terdapat kendala dalam menghitung besarnya manfaat yang diperoleh. hanya kenaikan riil pada output atau kesejahteraan saja yang perlu diperhitungkan. mengidentifikasi biaya yang dibutuhkan serta manfaat yang dihasilkan selama umur ekonomis proyek tersebut. Oleh karena itu bila kita memasukkan kenaikan harga tanah dan juga hasil panennya dalam menghitung manfaat. nilai tanah yang dilalui proyek irigasi diperkirakan akan bertambah mahal karena disamping harga tanah itu sendiri. Dalam menghitung biaya proyek. Sebagai contoh. kenaikan penghasilan yang dinikmati orang yang menerima proyek pendidikan dapat juga dimasukkan sebagai manfaat proyek tersebut. Sebagai contoh. Dalam proyek peningkatan keselamatan kerja. Dalam contoh irigasi diatas. orang akan memperhitungkan pula potensi lahan yang dapat dikembangkan. Biayabiaya yang timbul akibat kesulitan air tersebut harus pula dimasukkan sebagai biaya dalam proyek pembangunan bendungan itu. dalam suatu proyek irigasi yang bertujuan untuk meningkatkan areal persawahan maka yang menjadi manfaat langsung adalah seluruh hasil bersih yang diperoleh petani yang tinggal di areal yang dilalui oleh jaringan irigasi tersebut. kita harus memperhitungkan pula biaya tidak langsung (externalities) yang timbul karena proyek tersebut. maka kita telah melakukan penghitungan ganda karena hasil panen sudah tercermin dalam harga tanah. bagaimana cara mengkuantifkan manfaat dari proyek pendidikan maupun proyek kesehatan? Dalam proyek pendidikan. Misalnya. Manfaat dapat dibagi kedalam dua kategori yaitu. maka langkah selanjutnya adalah mengevaluasi serta mengkonversi manfaat dan biaya tersebut kedalam nilai uang tertentu. Mengevaluasi dan Mengkonversi Manfaat dan Biaya Setelah berhasil mengidentifikasi seluruh manfaat dan biaya yang timbul. Selanjutnya. manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.215 Mengidentifikasi Manfaat dan Biaya Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan proyek-proyek yang diusulkan beserta masing-masing outputnya. yang menjadi manfaat tidak langsung adalah meningkatnya kesuburan tanah di daerah yang tidak dilewati jaringan irigasi secara langsung. Manfaat langsung adalah manfaat yang diterima oleh pihak-pihak yang terkait langsung dengan output dari proyek yang bersangkutan. manfaat dapat mencakup kenaikan produksi sebagai akibat berkurangnya kecelakaan kerja. Dalam menilai output dari suatu proyek diperlukan estimasi mengenai permintaan dan surplus konsumen atas Dasar-dasar Keuangan Publik . disamping memasukkan unsur biaya langsung. suatu proyek pembangunan bendungan telah menyebabkan beberapa daerah menjadi kekurangan air. Manfaat tidak langsung adalah manfaat yang diterima oleh pihak-pihak yang tidak terkait langsung dengan output proyek yang bersangkutan.

kita memerlukan estimasi permintaan dan surplus konsumen terhadap komoditi padi untuk menghitung manfaat dari proyek tersebut. dalam proyek peningkatan kesehatan masyarakat.Secara umum. present value (PV) dapat dihitung dengan rumus sbb: PV = dimana: X (1 + r )n X = adalah nilai uang masa yang akan datang r = tingkat suku bunga n = jangka waktu Semakin tinggi kita menerapkan tingkat suku bunga. misalnya bahan bakar. namun karena pasokannya dimonopoli oleh PLN maka harga listrik yang diterapkan adalah harga monopolistik yang lebih tinggi dibanding dengan harga pasar persaingan sempurna. Kesulitan lain dapat pula timbul apabila input maupun output suatu proyek merupakan barang yang dapat dipasarkan namun harganya tidak sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya. listrik merupakan output proyek pembangkit listrik yang dapat dipasarkan. Bila harga input yang digunakan terlalu rendah karena input tersebut menerima subsidi. Nilai Rp. Sebagai contoh. 95. disebut juga sosial rate of discount yang digunakan untuk menghitung present value dari penerimaan dimasa yang Dasar-dasar Keuangan Publik . r. 95. Demikian pula dengan faktor input. manfaat proyek dapat diestimasi dengan cara menghitung besarnya kenaikan penghasilan yang dinikmati oleh masyarakat yang menjadi obyek proyek kesehatan tersebut.216 output yang bersangkutan. Misalnya. Tingkat suku bunga. 100.24 akan menjadi Rp. 95. Misalnya. 100 satu tahun yang akan datang. uang sebesar Rp. Alternatifnya. 100 setahun yang akan datang. dalam menghitung manfaat proyek kita harus menurunkan harga output agar sesuai dengan kondisi harga pasar yang sebenarnya. kita sulit menentukan secara langsung manfaat proyek tersebut mengingat outputnya dinikmati oleh masyarakat secara kolektif. dengan asumsi suku bunga perbankan positif.24)(0. maka hanya dengan menyimpan uang sebesar Rp. Mendiskonto Manfaat yang akan datang Alasan kita melakukan diskonto karena nilai uang Rp 100 saat ini lebih tinggi dibanding nilai uang Rp 100 di masa yang akan datang. Kesulitan baru timbul bila hasil proyek tidak bisa dijual atau merupakan benda yang tidak berwujud.24 sekarang kita akan mendapatkan Rp. 95. Diakhir tahun.24 + (Rp. Jika tingkat suku bunga bank sebesar 5% setahun. dalam proyek yang akan menghasilkan padi. 95. kita harus menaikkan harga bahan bakar tersebut dalam menghitung biaya yang dibutuhkan suatu proyek. semakin rendah present value dari X.24 adalah present value dari Rp. Oleh karena itu.05) = Rp. Cara yang sama juga dapat diterapkan untuk menghitung manfaat proyek pendidikan.

05)2 Rp. present value seluruh penerimaan tersebut adalah. Suatu analisis yang sudah menetapkan tingkat diskonto secara tepat namun salah dalam mengkalkulasi manfaat dan biayanya maka akan menghasilkan informasi yang menyesatkan.6 (1 + 0. Proyek A menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp. Diasumsikan ada 2 alternatif proyek.90. 90 Rp.100 = Rp. 5 %.82. Namun demikian.100 = Rp.100 = Rp. Tingkat Diskonto 0% 5% 10% Tabel 21. PV = X1 X2 + 1 (1 + r ) (1 + r ) 2 Pengaruh Tingkat Diskonto terhadap Present Value Mengapa memilih tingkat diskonto yang tepat merupakan hal yang penting? Pertama. Tingkat diskonto yang rendah cenderung menguntungkan proyek yang berjangka panjang dibanding proyek yang berjangka lebih pendek. Pada tingkat tingkat diskonto 0 %. Bila suatu proyek menghasilkan penerimaan sebesar Xi per tahun selama beberapa tahun mendatang.1)2 Dasar-dasar Keuangan Publik . dan X2 pada tahun kedua.217 akan datang. maka present value dari seluruh penerimaan tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: PV = ∑ Xi i i =1 (1 + i ) n Misalnya. karena dalam rangka mengevaluasi manfaat dan biaya secara akurat. 90 Rp. jika suatu proyek menghasilkan penerimaan sebesar X1 pada tahun pertama. penentuan tingkat diskonto akan berdampak pada peringkat proyek yang diajukan. 90 Rp. 100 pada tahun kedua. dan 10 %. yang akan dipilih salah satunya untuk dilaksanakan. Berikut ini disajikan ilustrasi pengaruh tingkat diskonto yang berbeda dalam memilih suatu proyek. 0 pada tahun pertama dan Rp. present value dari dua proyek tersebut adalah sebagai berikut. Seluruh tahap dalam menganalisis manfaat dan biaya adalah sama pentingnya bila hendak menghasilkan informasi yang akurat. Proyek B menghasilkan Rp.100 (1 + 0) 2 Rp.1: Tingkat Diskonto dan Peringkat Proyek Present value Present Value Proyek A Proyek B Rp. 90 pada saat itu juga.7 (1 + 0.

Suatu proyek yang menghasilkan present value negatif akan dapat menjadi positif bila menggunakan tingkat diskonto yang lebih rendah. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 21.1 Dasar-dasar Keuangan Publik . semakin kecil nilai manfaat yang diterima dimasa yang akan datang. Proyek A lebih menguntungkan dibanding Proyek B. Namun pada tingkat diskonto 10 %. Tingkat diskonto yang lebih besar dari bunga tabungan berarti opportunity cost belanja pemerintah lebih besar dibanding kepuasan masyarakat yang hilang. semakin besar tingkat diskonto yang digunakan. jika perusahaan dikenakan pajak penghasilan sebesar 50 persen. Sebagai contoh. Tingkat diskonto sosial merupakan opportunity cost dari dana tersebut bila digunakan untuk membiayai proyek-proyek pemerintah. maka keuntungan bersih perusahaan dari hasil investasinya hanya setengah dari keuntungan aktual yang diperoleh. Tingkat return yang diharapkan oleh penabung dan investor tidak selalu sama karena adanya distorsi dalam perekonomian (misalnya pajak). Menentukan Tingkat diskonto Sosial (Social Rate of Discount) Tingkat diskonto sosial mencerminkan tingkat return yang dapat dihasilkan dari suatu dana jika dikelola pada sektor swasta atau masyarakat. jika suku bunga tabungan adalah sebesar 10 persen. Hal ini berarti pemerintah dituntut untuk lebih efisien agar dapat menerapkan tingkat diskonto yang lebih rendah. Alasan kedua perlunya ditentukan tingkat diskonto secara akurat adalah semakin besar tingkat diskonto yang digunakan maka akan semakin banyak proyek-proyek pemerintah yang akan ditolak pelaksanaannya. Tingkat diskonto sosial merupakan tingkat suku bunga dimana baik penabung maupun investor rela melepaskan dananya guna membiayai kegiatan atau proyek pemerintah. 90 karena langsung menghasilkan manfaat di awal proyek. Secara umum.1 terlihat bahwa present value Proyek B lebih besar daripada present value Proyek A pada tingkat diskonto 0 % dan 5 %. dana tersebut tidak boleh digunakan oleh pemerintah jika ternyata alternatif penggunaannya di sektor swasta menghasilkan manfaat sosial yang lebih tinggi. Agar tidak timbul pemborosan. pajak.218 Present value Proyek A selalu Rp. maka proyek pemerintah harus dapat menghasilkan manfaat yang sama atau lebih besar dari 10 persen agar ada aliran dana dari sektor swasta ke sektor publik. Sebagai contoh. Sejauh ini. tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat suku bunga umum yang dipakai untuk menghitung bunga tabungan dan investasi oleh masyarakat. Present value Proyek B bervariasi tergantung pada tingkat diskontonya. Pada Tabel 8. maka dana tersebut harus dapat menghasilkan keuntungan lebih dari 20 persen supaya dapat menutup biaya bunga. beserta keuntungan yang diharapkan. Penggunaan tingkat diskonto sosial sebagai tingkat diskonto dalam menganalisis suatu proyek adalah untuk meyakinkan bahwa tidak terjadi salah kalkulasi dalam menganalisis manfaat dan biaya proyek. Bila dalam investasinya tersebut perusahaan harus membayar bunga sebesar 10 persen atas dana yang dipinjamnya.

semakin sedikit dana yang diminta oleh investor untuk diinvestasikan. Pada Tabel 8. rg. akan sama dengan bunga yang dibayarkan kepada penabung. diasumsikan investor dikenakan pajak penghasilan sebesar 50 persen sedangkan bunga tabungan tetap tidak dikenakan pajak. maka Dasar-dasar Keuangan Publik .1 Pengaruh Pajak terhadap Tingkat Return S 20 = rg Return (persen) 16 E i = 10 = rn E’ D = keuntungan D’ = keuntungan setelah pajak 0 F2 F1 Dana tabungan dan investasi per tahun Pada Gambar 21. Pada kondisi tidak ada pajak. semakin banyak dana yang disediakan oleh penabung.1. Sekarang. Semakin tinggi gross return. gross return yang dikehendaki investor naik menjadi 20 persen (rg) karena harus membayar pajak. kurva D adalah tingkat permintaan dana untuk investasi tanpa dipengaruhi pajak. Gross return sebesar 20 persen ini hanya akan menghasilkan penghasilan neto sebesar 10 persen (rn). Akibat turunnya dana yang diinvestasikan dari F1 ke F2 per tahun. titik keseimbangan pasar akan terjadi pada titik E. Kurva S adalah supply dana yang siap diinvestasikan. Setiap titik dalam kurva S menggambarkan suku bunga yang harus dibayarkan kepada penabung agar mau menyimpan dananya untuk kepentingan investasi. Dampak pengenaan pajak penghasilan ini adalah penerimaan bersih investor turun hingga setengahnya. Penerimaan kotor (gross return) yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi tingkat bunga. hal ini digambarkan oleh pergeseran kurva D ke D’. dan dalam contoh ini diumpamakan sebesar 16 persen.2.219 Gambar 21. Jika dana sebesar F2 ini hendak diinvestasikan ke proyek pemerintah. Titik keseimbangan yang baru sekarang terletak di E’. Setiap titik dalam kurva ini menunjukkan gross return yang diperoleh perusahaan atau investor untuk setiap dana yang diinvestasikannya.

bila manfaat dan biaya dihitung tanpa memperhitungkan inflasi. maka investor akan menginginkan gross return yang lebih tinggi lagi. NPV manfaat dan biaya yang sudah memasukkan unsur inflasi tersebut didiskonto dengan menggunakan nilai nominal tingkat bunga.000 1. dalam contoh diatas bisa lebih tinggi dari 20 persen.000.000 1.000. Hal lain yang dapat mempengaruhi tingkat diskonto selain pajak adalah tingkat risiko.1.000.575.000 525.102. semakin tinggi pula gross return yang diharapkan dari proyek tersebut. Namun.000 Net Benefit Proyek B . jika faktor risiko tidak diperhitungkan maka titik keseimbangan pasar akan terletak pada rate sebesar 10 persen. Nominal Tingkat Bunga adalah 15% Bila menggunakan cara pertama.500. kemudian tingkat inflasinya disesuaikan.000 500.220 tingkat diskonto yang digunakan adalah 20 persen.500 Dasar-dasar Keuangan Publik .000. maka NPV nya dihitung dengan menggunakan tingkat suku bunga murni saja (yaitu nominal interest rate setelah dikurangi tingkat inflasi).1. Dalam contoh diatas. opportunity cost nya hanya 10 persen. yang mempunyai jangka waktu selama 1 dan 2 tahun. kita perhitungkan dahulu pengaruh tingkat inflasi terhadap net benefit yang diterima pada tahun ke-1 dan ke-2. bila dana tersebut digunakan untuk konsumsi. Contoh: Ada 2 proyek yang diajukan. Ada dua alternatif cara untuk mengatasi masalah inflasi ini. Pengaruh Inflasi Inflasi dapat menjadi masalah dalam analisis manfaat dan biaya karena ia mempengarungi net present value dari manfaat bersih suatu proyek. Manfaat bersih (net benefit) kedua proyek tersebut adalah sebagai berikut.000 Net Benefit Proyek B . Tahun 0 1 2 Net Benefit Proyek A .000. Dan. Semakin tinggi faktor risiko suatu proyek.000 Tingkat Inflasi pertahun adalah 5%. Nominal tingkat bunga adalah tingkat bunga murni ditambah dengan tingkat inflasi.1. manfaat dan biaya suatu proyek diperhitungkan dahulu.000 1. Kedua.000 1.1. A dan B. Jika memasukkan faktor risiko dan inflasi dalam menghitung penghasilan neto. Pertama. Hasil dari penyesuaian terhadap inflasi adalah sebagai berikut Tahun 0 1 2 Net Benefit Proyek A .

000 525.000 1.000. NPV proyek A dan B dihitung dengan menggunakan nominal tingkat bunga sebagai tingkat diskonto nya. yaitu memilih melaksanakan Proyek A karena ia menghasilkan NPV manfaat bersih yang paling besar.500 NPV ( B) = + + = 290.000 NPV ( B) = + + = 280. perhitungan dengan cara kedua akan menghasilkan NPV sebagai berikut: − 1. proyek yang menghasilkan manfaat bersih positif akan dipertimbangkan untuk dilaksanakan. Rumus yang digunakan untuk menghitung Net Benefit Criterion adalah Net _ Benefit _ Criterion :B − C = ∑ dimana: Bi = manfaat tahun ke-i Ci = biaya tahun ke-I r = tingkat diskonto ( Bi − Ci ) i i =1 (1 + r ) n Jika ada beberapa proyek yang menghasilkan manfaat bersih positif. Tingkat suku bunga murni pada contoh ini adalah 10% (15% . Perhitungannya adalah sebagai berikut: − 1. NPV proyek A dan B dihitung dengan menggunakan tingkat suku bunga murni sebagai tingkat diskonto nya.000 + = 369. Benefit-Cost ratio Dasar-dasar Keuangan Publik . Net Benefit Criterion (Net Present Value) Dengan kriteria ini.000 1.565 (1 + 15%)0 (1 + 15%)1 − 1. 2.000. yaitu: 1.000 + = 363.5%).000.991 (1 + 10%)0 (1 + 10%)1 (1 + 10%)2 NPV ( A) = Perhitungan dengan cara pertama maupun kedua menghasilkan NPV yang hampir sama dan keputusan yang diambil pun sama. Menentukan Peringkat Proyek Jika ada beberapa proyek yang diajukan.000 500. maka biasanya mereka akan diurut sesuai dengan besarnya NPV manfaat bersih yang dihasilkan oleh masingmasing proyek tersebut.221 Setelah itu.000 1.500. Ada tiga kriteria dalam menentukan peringkat proyek.000.000 1. maka proyek yang dipilih adalah proyek yang menghasilkan manfaat bersih yang paling besar.170 (1 + 15%)0 (1 + 15%)1 (1 + 15%)2 NPV ( A) = Bila menggunakan cara kedua. Maka.575.102.636 (1 + 10%)0 (1 + 10%)1 − 1.000.

350.900.000 250.000 4 1.000) 750.000) 0 200.550.000 (200.000 1.000 0 (100. Bila ada beberapa proyek menghasilkan rasio diatas 1.000.000 1.000 100.000 200.000) (200.000 (200.000 1.000 200. Proyeksi penerimaan dan pengeluaran dari masing-masing proyek tersebut adalah sebagai berikut.000 1.000 1 (200.000 2 750.000.000) 1. Contoh: Anggota DPRD suatu daerah sedang mempertimbangkan usulan pemda setempat untuk mengucurkan dana guna membiayai proyek pemanfaatan lahan kosong.900. Analisis masing-masing proyek adalah sebagai berikut: Proyek A Net Benefit Criterion: NBC = (100.000 250.000 1.550.350. Rumus yang digunakan untuk menghitung adalah B Benefit − Cost _ Ratio : = C dimana: Bi = manfaat tahun ke-i Ci = biaya tahun ke-I r = tingkat diskonto ∑ B (1 + r ) i n i ∑ C (1 + r ) i i =1 i =1 n i Pada kriteria Benefit-Cost Ratio.000 750.000 1.000.490 Dasar-dasar Keuangan Publik . peringkat proyek tersebut dapat ditentukan sebagai berikut. Arus Penerimaan dan Pengeluaran Proyek (dalam ribuan rupiah) Proyek A Proyek B Tahun Penerimaan Pengeluaran Net Benefit Penerimaan Pengeluaran Net Benefit 0 100. Ada dua usulan yang diajukan yaitu Proyek A dan Proyek B.000 1.119.000 5 1.000 1.000 1.000 250. proyek yang dipilih adalah yang menghasilkan rasio lebih dari 1 (satu).350.000 1.000) 0 200.900.900.550.000 2.000 Bila tingkat suku bunga yang berlaku adalah 5% per tahun. maka yang dipilih adalah proyek dengan rasio paling besar.000 200.000 + + + + + 0 1 2 (1 + 5%) (1 + 5%) (1 + 5%) (1 + 5%)3 (1 + 5%)4 (1 + 5%)5 = 6.222 Benefit-Cost ratio merupakan modifikasi dari Net Benefit Criterion.350.000) 50.000 200.000 2.000 1.000 100.000.550.000 3 750.

. 3.176.350. Di negara berkembang seperti di Indonesia..200 = = 6.000 + ..05)0 (1.414 1. + 200.350.000 + + + + + (1 + 5%)0 (1 + 5%)1 (1 + 5%)2 (1 + 5%)3 (1 + 5%)4 (1 + 5%)5 = 6.223 Benefit-Cost Ratio: + 50. pemilihan proyek tidak hanya diukur dari manfaat dan biaya semata.05)5 B / C _ Ratio = 200.000 + 250.550.2 1. Proyek A memiliki peringkat diatas Proyek B. maka proyek dengan IRR yang tertinggilah yang akan dilaksanakan.05)5 7. dan bila IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga pasar maka proyek tersebut tidak layak dilaksanakan. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return adalah tingkat suku bunga pada posisi apabila selisih antara present value manfaat dan present value biaya sama dengan nol (PV manfaat – PV biaya = 0).. Rumus untuk mencari IRR adalah sebagai berikut: IRR = ∑ i =1 n ( Bi − C i ) =0 (1 + r ) i IRR adalah tingkat suku bunga ( r ) yang diperlukan untuk menghasilkan NPV = 0. + 1.000 + 200. + 1.000) 1. tingkat suku bunga pada kondisi proyek tersebut mencapai titik impas..000) (200.365. Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga DPRD sebaiknya memilih Proyek A untuk dilaksanakan.900.05)1 (1.05)0 (1..000 1.05)5 7.082 Benefit-Cost Ratio: + 0 + .000 + .382 0 Berdasarkan analisis Net Benefit Criterion dan Benefit-Cost Ratio.000 (1. Jika ada dua atau lebih proyek yang memiliki IRR diatas suku bunga pasar. Ketiga metode analisis tersebut di atas hanya merupakan salah satu ukuran untuk dapat menolak atau menerima pelaksanaan proyek.710 0 Proyek B Net Benefit Criterion: NBC = (200.000 (1.000 1.000 + .005.296.000 1.350. + 100.350.000 (1.05)1 (1.05)1 (1.05)0 (1.000 (1. Dengan kata lain. Bila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga pasar maka proyek layak dilaksanakan..464 = = 5.05)5 B / C _ Ratio = 100.360.05)1 (1..05)0 (1.

karena tujuan pemilihan proyek adalah memaksimalkan kemakmuran secara keseluruhan dan bukan memaksimalkan keuntungan per proyek saja.224 namun juga harus memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memberikan kesejahteraan menyeluruh secara nasional. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Belanja publik juga cenderung mengalami kenaikan porsinya. dan belanja transfer. Kajian-kajian struktur belanja publik perlu mempertimbangkan kondisi objektif ini. Implikasinya adalah bahwa kebijakan anggaran yang efisien menghendaki adanya peningkatan rasio pembelian pemerintah terhadap pendapatan nasional. Dasar-dasar Keuangan Publik . Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Dalam memahami faktor penyebab pertumbuhan belanja publik.225 B A B XXII STRUKTUR BELANJA PUBLIK B ab ini berkaitan dengan struktur belanja publik dan permasalahan kebijakan dalam penyusunan program belanja. dan porsi barang publik selalu menunjukkan peningkatan. Faktor belanja barang dan jasa. perlu dibedakan faktor antara belanja barang dan jasa. apabila dibandingkan dengan total pendapatan nasional. Pertumbuhan belanja publik sangat erat kaitannya dengan tuntutan kemajuan masyarakat dan dikehendakinya pertimbangan sosial yang diperankan oleh pemerintah dalam menjalankan kebijakannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa diantaranya adalah sebagai berikut: Pertumbuhan Pendapatan per Kapita Proporsi antara barang pribadi dan barang publik selalu berubah sesuai dengan kenaikan pendapatan per kapita. Kedua faktor ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain. Dari studi empiris telah dibuktikan bahwa belanja publik menunjukkan angka yang cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

apabila sektor swasta telah terbuka kesempatannya menanamkan modal dalam pengembangan industri. Selama pendapatan rata-rata meningkat. Ernst Engel seperti dikutip oleh Musgrave mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pengeluaran untuk barang-barang tertentu. tetapi pengembangan industri akan menimbulkan akibat sampingan. Ditambah. Sedangkan kebutuhan lainnya. seperti pendidikan tinggi dan pelayanan kesehatan. sehingga tidak mudah dilakukan oleh pihak swasta. maka proses produksi juga berubah. pendidikan dasar dan sanitasi . akan mengalami kecenderungan yang semakin meningkat. dimana belanja modal diperlukan dalam jumlah yang besar yang memerlukan pengembalian jangka panjang. dan peran pemerintah akan semakin menurun dalam pengadaan barang modal. Barang publik yang merupakan kebutuhan dasar (bukan kemewahan) . Pola pertumbuhan belanja publik untuk penyediaan barang modal kelihatannya terbalik. Barang modal tersebut mempunyai manfaat yang bersifat eksternal. Permintaan barang publik akan semakin meningkat dengan meningkatnya pendapatan per kapita. seperti polusi dan kemacetan kota. pelabuhan dan instalasi listrik. dapat disimpulkan bahwa tidak dapat diestimasikan secara tepat kecenderungan yang akan terjadi pada belanja publik untuk barang konsumsi dan barang modal yang diakibatkan pertumbuhan pendapatan per kapita. yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan investasi pemerintah. Pengamatan bisa dilakukan juga pada belanja publik dalam penyediaan barang modal. Jika teknologi berubah. kecenderungan seperti diatas mempunyai dua kemungkinan. seperti jalan. Kadang kecenderungannya meningkat. Dengan demikian. Dasar-dasar Keuangan Publik . barang-barang pelayanan umum yang merupakan barang mewah. Kebutuhan akan barang modal ini harus lebih besar pada awal pembangunan ekonomi. Perubahan teknologi dapat meningkatkan atau menurunkan kepentingan penyediaan barang publik yang mempunyai manfaat eskternal besar sehingga harus disediakan oleh pemerintah. Pada tahap awal.226 Biasanya. terdapat kecenderungan yang meningkat. bila pendapatan meningkat. maka pola konsumsi bagi perekonomian diharapkan akan meningkat pula. seperti penyelidikan angkasa luar dan pangkalan perahu. peningkatan per kapita seiring dengan perkembangan perekonomian yang berubah dari negara agraris (yang diasumsikan berpendapatan rendah) menjadi negara industri (yang diasumsikan berpendapatan tinggi). pembangunan ekonomi menimbulkan kebutuhan khusus terhadap barang modal.seperti keamanan. investasi dalam sumber daya manusia dan biaya pendidikan akan mengalami peningkatan selama pendapatan meningkat seiring dengan laju pembangunan. dan kadang menurun. Perubahan Teknologi Perubahan teknologi mempunyai pengaruh penting dalam pertumbuhan porsi belanja publik.mengalami kecenderungan menurun. Untuk barang publik. Akhirnya.

Kebutuhan pendidikan juga akan mendorong peningkatan permintaan perumahan. Urbanisasi Proses urbanisasi dapat menimbulkan permasalahan bagi pemerintah. Sejak tahun 1930-an. Dengan meningkatnya industri mobil. permintaan jalan raya bergerak sangat cepat. Menurut Musgrave. Contoh lain adalah perubahan teknologi persenjataan yang mengakibatkan meningkatnya pengeluaran militer. yang pada akhirnya menyebabkan pertumbuhan anggaran. Perubahan Populasi Perubahan populasi terutama akan meningkatkan belanja pendidikan dan kesehatan. dan penyediaan jaminan hari tua. maka bisa diestimasikan bahwa porsi belanja publik akan meningkat. Faktor Pengeluaran dari Transfer Porsi Pendapatan. Hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan barang-barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. sehingga biaya penggantian akan meningkat. Sebuah barang publik dapat disubstitusi dengan barang pribadi. Peningkatan populasi yang disertai dengan mobilitas populasi juga mendorong pertumbuhan kota baru yang tentunya menyebabkan kebutuhan peningkatan pelayanan umum. bukan berarti porsi belanja publik dalam pendapatan nasional harus meningkat. sehingga belanja sektor publik meningkat dibandingkan masa kereta kuda dan mesin uap yang digunakan untuk kereta api. Sebagai contoh. Perubahan teknologi juga mempercepat barang menjadi usang. penemuan mesin pembakaran mengakibatkan berkembangnya industri mobil. kecuali terbukti teknologi angkasa luar menjadi barang pribadi. Biaya Relatif Selain perubahan-perubahan kuantitas seperti diuraikan diatas. sifat penyediaan barang dan jasa publik yang dapat mengubah komponen pendapatan nasional menjadi kurang apabila dibandingkan dengan perubahan teknologi. Meski pun biaya jasa publik menjadi lebih mahal. karena terjadi perubahan komposisi umur. kecuali bila permintaan barang publik bersifat inelastis. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya inflasi harga faktor produksi yang dibeli pemerintah lebih cepat dibanding dengan rasio deflasi dalam pendapatan nasional.227 Sebagai contoh. karena sifatnya yang elastis. tak kalah pentingnya adanya pengaruh perubahan biaya jasa publik terhadap pengeluaran publik. Perubahan teknologi di masa datang yang menyebabkan membengkaknya anggaran pemerintah adalah bidang teknologi angkasa luar merupakan faktor penting dalam porsi pengeluaran negara. porsi belanja keperluan sosial dalam pendapatan nasional meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan transfer. perbedaan respon terhadap inflasi bukanlah merupakan faktor utama. kemacetan di perkotaan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan umum. Dalam jangka panjang. Contohnya adalah Dasar-dasar Keuangan Publik .

tingkat efisien semacam itu dapat dicapai. Manfaat yang akan diperoleh A dan B masing-masing $70. jika tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. kebutuhan untuk pendistibusikan kembali pendapatan akan menurun jika pendapatan rata-rata meningkat. dan C harus membiayai masing-masing senilai $50. Program ini lebih merupakan alat untuk menyediakan jaminan hari tua dengan dasar pembiayaan swadaya.000. Namun demikian. jika tujuan pendistribusian kembali pendapatan adalah untuk menyesuaikan pendapatan keluarga. sehingga diusulkan agar konsep efisiensi diperlunak. peningkatan pendapatan rata-rata tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan. Adanya perubahan ruang lingkup redistribusi pendapatan dapat timbul akibat faktor-faktor demografi. Pertama. Sistem ini ditujukan untuk menyeimbangkan besarnya distribusi pendapatan melalui transfer dari anggaran pengeluaran ke program pembelian pemerintah yang ditujukan bagi penyediaan barang dan jasa untuk kelompok berpenghasilan rendah. sehingga A. diperlukan peningkatan penyediaan kebutuhan penduduk berusia lanjut. proyek semacam itu sangat sulit dicapai. prinsip Pareto Optimum dilanggar.228 peningkatan asuransi hari tua. Karena nilai manfaat lebih besar dari biayanya. Secara teoritis.000 yang akan dibebankan dari general fund. Apabila terjadi penurunan pertumbuhan populasi dalam bentuk meningkatnya penduduk yang lanjut usia. Misalkan suatu jalan akan dibangun dengan biaya $150. sehingga manfaat agregat adalah $180. Efisiensi dan Keadilan dalam Belanja Publik Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain. perubahan hanya terjadi pada tingkat yang tidak signifikan atau distribusi pendapatan tetap stabil.000. dan hanya sedikit mengarah pada pemerataan. efisiensi proyek tetap ada apabila orang-orang yang diuntungkan (A dan B) dapat menutupi kerugian Dasar-dasar Keuangan Publik . Akan tetapi dalam kenyataannya. Pada kasus ini. penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut yang perlu dilakukan. Tindakan pendistribusian kembali pendapatan tersebut dapat dipengaruhi dari dua arah. jika terdapat ketimpangan pendapatan oleh karena peningkatan pendapatan per kapita. Namun demikian. apakah ada tekanan politis untuk mendistribusikan pendapatan kembali atau tidak. sehingga memerlukan peningkatan dalam rasio pengeluaran publik untuk penduduk usia lanjut terhadap pendapatan nasional. Kecuali. perubahan tersebut diikuti dengan pergeseran rasio penduduk pensiun ke usia kerja. Penjelasan ini perlu dihubungkan dengan perubahan sosial dan politik.000. sehingga ruang lingkup pendistribusian kembali – yaitu transfer pendapatan sebagai suatu prosentase dari pendapatan nasional – akan tetap konstan. meski pun C mengalami kerugian. dengan memperlunak konsep. B.000 dan C adalah $40. Sehingga. maka dikatakan bahwa proyek tersebut layak dibangun. Kedua. Tingkat pendapatan minimum ditentukan dalam pengertian rata-rata.

Aspek Keadilan Dalam meninjau aspek keadilan dalam belanja publik. Berdasarkan kriteria ini. Jika kondisi yang berlaku adalah distribusi optimal. sementara dana terbatas untuk satu proyek. Hal ini menunjukkan kecocokan dengan konsep efisiensi yang lebih luas. Proyek I. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen juga akan optimal dipandang dari segi sosial. Apabila nilai nominal proyek yang dijadikan dasar pertimbangan. dalam bentuk transfer dari A dan B kepada C. pihak C tidak menerima manfaat dan kerugiannya belum tentu akan diganti. sehingga salah satu harus dikorbankan. dimana kedua proyek mempunyai biaya dan tingkat penggunaan yang sama. jumlah agregat manfaat bersih senilai $30. Dimisalkan akan dibangun sebuah kapal laut.000 dapat disahkan dan proyek dikatakan efisien. Cara yang lebih tepat adalah dengan mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih dan kondisi ini menghasilkan proyek yang efisien menurut prinsip Pareto optimum. masyarakat berpenghasilan tinggi akan menerapkan nilai yang lebih tinggi dibanding masyarakat berpenghasilan rendah. Kondisi yang sama juga muncul jika ada dua proyek yang menghasilkan jasa yang sama. dimisalkan ada dua buah proyek yang dipertimbangkan. Setiap rupiah yang dibelanjakan oleh masyarakat miskin dapat dinilai lebih tinggi. tetapi dengan biaya yang berbeda. Petimbangan distribusi dimulai dengan penentuan apakah apakah bobot distribusi dapat digunakan dalam menilai besarnya manfaat dan biaya. karena mereka mampu membayar lebih tinggi dan proyek I dianggap lebih layak. dimisalkan. Tetapi dalam kenyataan. Problem utamanya adalah bahwa preferensi seseorang tidak mudah untuk diungkapkan dan mungkin saja proyek tersebut tidak efisien. dimisalkan. Tetapi. Perlu diadakan persyaratan tambahan agar proyek tetap dikatakan efisien yaitu bahwa penggantian kerugian harus benar-benar dilaksanakan. Yang pertama. evaluasi sosial yang tercermin dari kesejahteraan sosial akan menyimpang dari evaluasi swasta dan proyek II akan dipandang lebih layak. Permasalahan timbul dalam menyusun peringkat manfaat kedua proyek tersebut. pertimbangan sosial dapat menyimpulkan sebaliknya. berupa penyediaan taman bermain di lingkungan masyarakat berpenghasilan tinggi dan Proyek II. Akan tetapi. sehingga proyek II akan dipandang lebih layak. berupa penyediaan taman serupa untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. jika distribusi yang berlaku tidak optimal. Alternatif I akan memilih lokasi konstruksi di daerah yang upahnya tinggi. pertimbangan mengenai distribusi dan fungsi obyektif dapat dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan proyek. sementara alternatif II memilih lokasi yang tingkat upahnya Dasar-dasar Keuangan Publik .229 pihak lain ( C ) dan dipandang masih lebih baik dibandingkan dengan tidak ada proyek. Efisiensi proyek tergantung pada bagaimana mendefinisikan efisiensi tersebut.

Fungsi obyektif dapat digunakan sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. dan belanja administrasi transfer antar unit pemerintah. Belanja Pertahanan. belanja transaksi hutang. Hasil yang berisiko dapat diestimasikan dengan cara pembobotan berbagai hasil berdasarkan angka probabilitasnya. karena memberikan manfaat kepada mereka yang berpenghasilan rendah. bila bobot distribusi pendapatan diperhitungkan. Misalkan juga biaya modal. belanja riset dasar. proyek II akan lebih diutamakan. Klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah adalah sebagai berikut: Belanja jasa publik umum. berdasarkan asumsi bahwa dalam menerapkan tarip pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . 1. Evaluasi proyek jangka panjang perlu mempertimbangkan dinamika perkembangan perekonomian yang berkaitan dengan harga relatif dan pengaruh distorsi harga. Klasifikasi Belanja Publik. Atau bobot dapat diperoleh dari analisis pajak penghasilan. bahan baku dan transportasi di lokasi I lebih rendah. karena adanya dimensi waktu. Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah belanja operasi untuk organisasi eksekutif dan legislatif. analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek. Penjumlahan hasil tertimbang ini kemudian akan digunakan dalam analisis nilai manfaat yang diharapkan. pemerintah bermaksud mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prinsip pengorbanan yang sama. Dapat disimpulkan bahwa. dimana jumlah probabilitas adalah sama dengan satu.230 rendah. jika distribusi pendapatan tidak optimal. Risiko Perubahan Perekonomian Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. Kalsifikasi belanja publik dapat dikategorikan berdasar berbagai macam kriteria. Akibatnya. lokasi I dianggap lebih layak. Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. karena nilai manfaat bersih lebih tinggi. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan sebagai alat pengoreksi aspek distribusi. Risiko perubahan perekonomian mempunyai implikasi perlunya pendiskontoan atas manfaat maupun biaya. Tetapi. sehingga total biaya di lokasi I akan lebih rendah. belanja untuk jasa-jasa umum. Salah satu kriteria yang sering digunakan untuk mengklasifikasikan belanja pemerintah adalah seperti diuraikan dalam Government Finance Statistics Manual. 2. Tanpa mempertimbangkan aspek distribusi. Pengaruh penundaan satu tahun akan menyebabkan perubahan nilai sekarang atas perhitungan neto manfaat dan biaya.

belanja kehutanan dan pertanian. Belanja Pendidikan. Belanja perlindungan umum. belanja untuk mengatasi pengangguran. dan dianatara contohnya adalah belanja jasa kepolisian. proteksi keragaman hewani maupun tata kota. Belanja urusan ekonomi Belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja urusan ketenagakerjaan. Belanja yang termasuk disini diantaranya adalah belanja pengelolaan limbah dan polusi. dan belanja sosial lainnya. 10. komunikasi dan belanja untuk perindustrian lainnya. Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja perlindungan terhadap manusia lanjut usia (manula). sistem penyediaan air bersih. Belanja kesehatan. dan risetnya. belanja penerangan jalan. jasa rumah sakit umum. jasa pemadam kebakaran. bantuan militer untuk asing. 9. riset pertahanan dan sebagainya. belanja energi dan bahan bakar. Dasar-dasar Keuangan Publik . termasuk belanja pendukung pendidikan lainnya. 3. dan juga riset untuk perlindungan publik. 7. Diantara belanja yang termasuk dalam kategori ini adalah belanja jasa olahraga dan rekreasi. dan lain-lain. dan pendidikan tinggi. pendidikan menengah. budaya dan agama. jasa urusan keagamaan dan komunitas. Pendidikan mencakup belanja pendidikan dasar. 6. belanja komersial dan ekonomi. jasa rumah tahanan dan penjara. Belanja dalam kategori ini dibedakan dengan belanja pertahanan. 5. jasa pengadilan. belanja jasa kebudayaan. 8. Belanja perumahan dan public utilities.231 Belanja-belanja dalam kategori ini antara lain adalah belanja pertahanan militer dan sipil. termasuk risetnya. pertambangan. Belanja dalam kategori ini diantaranya adalah pengembangan perumahan dan pemukiman. belanja perlindungan anak dan keluarga. Belanja perlindungan sosial. jasa kepada pasien. 4. Belanja perlindungan lingkungan. dan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya. Belanja rekreasi. jasa penyiaran. transportasi. Belanja kesehatan meliputi perlengkapan dan peralatan kesehatan.

pembangunan jalan raya. pendekatan pengelompokan sektor diasumsikan mengacu pada laporan-laporan Bank Dunia. Perencanaan yang berhasil memerlukan penerjemahan tujuan dan kebijakan sektor kedalam kebutuhan sektor dan subsektor secara individual dan juga kedalam rincian yang lebih detail pada proyek-proyek Dasar-dasar Keuangan Publik . Mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan. prioritas. akan tetapi sektor-sektor yang dibahas disini didasarkan pada klasifikasi Bank Dunia. 2. Sehingga. Membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. untuk lebih fokus pada pembahasan materi.232 B A B XXIII KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM D alam bab ini akan dibahas lebih rinci berbagai jenis belanja serta masalahmasalah yang ditimbulkannya. belanja pendidikan dan perlindungan lingkungan berupa pembangunan taman rekreasi. 3. Tujuan analisis sektor menyangkut beberapa tujuan: 1. Perlunya Analisis Sektor Banyak pendapat tentang pengelompokan pengeluaran publik kepada sektor. Menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyekproyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan. dengan melihat pengalaman-pengalaman empiris di berbagai negara. 4. dan hubungan antar sektor diantara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. Pembahasan akan dimulai dari jenis belanja pertahanan nasional. Memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara.

Dengan demikian. Melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor. Yang paling penting. Analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. juga melibatkan masalah-masalah kebijakan luar negeri. sektor. ruang lingkup nasional. laut. udara dan marinir. penelitian dan pengembangan. pembelian barang dan jasa. regional atau internasional. Ada beberapa cara atau metode yang dapat digunakan dalam analisis 1. belanja pertahanan nasional merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan anggaran. Dalam dekade tersebut. Masalah lainnya adalah menyangkut keseimbangan antara angkatan darat. Alasannya. tetapi juga bisa mencegah konflik yang juga menimbulkan pengrusakan. dan perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro. Pertahanan Nasional. seperti kesediaan untuk menerima risiko konflik militer. Belanja pertahanan dibagi menjadi belanja personil. sehingga contoh penyediaan jasa pertahanan menjadi contoh klasik yang dapat dibahas. Suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subyektif. Di Amerika Serikat. masalah kekuatan militer tidak hanya meningkatkan akibat pengrusakan. Keputusan politik memegang peranan angat penting dalam menentukan pola kebijakan pertahanan ini. dan pemilihan sistem persenjataan tertentu. meski pun menjadi kebijakan yang sulit diperkirakan. perencanaan pertahanan nasional harus menemukan keseimbangan antara senjata konvensional dan modern. Terakhir. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu. struktur pajak. tapi orang lain dapat berpandangan bahwa kebijakan tersebut ofensif. operasi dan pemeliharaan. selama tahun 80-an. lapangan kerja. Dasar-dasar Keuangan Publik . tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat nasional.233 tertentu. seseorang dapat saja memandang kebijakan tersebut defensif. 3. 2. Masalah utama dalam belanja pertahanan. belanja pertahanan menjadi faktor utama anggaran pemerintah dalam pembelian barang dan jasa dari swasta. sub sektor dan proyek. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. variabel-variabel kebijakan umum seperti nilai tukar. Analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil. Masyarakat tidak dapat menyediakan sendiri keamanan bagi dirinya dan proteksi yang diberikan haruslah secara kolektif. Belanja pertahanan selain menghadapi masalah yang kompleks dalam perencanaan. meskipun akhirnya dilampaui oleh pertumbuhan program sosial. kebijakan upah dan tingkat bunga.

sektor ini secara nyata juga mendukung kesempatan kerja di sektor swasta. maupun Administrations Strategic Defensive Initiative (sering disebut perang bintang). dampaknya terhadap perkenomian negara layak dilakukan pembahasan. misalnya Jerman dan Jepang. Jalan Raya yaitu: 1. terserapnya bakat ilmiah oleh industri pertahanan akan menyebabkan industri swasta tersebut ke arah penurunan. Pertumbuhan produktivitas jangka panjang akan tergantung pada peningkatan jumlah orang berbakat ilmiah dan kontribusi anggaran dalam peningkatan aktivitas ilmiah tersebut. Dengan melihat anggaran pertahanan Amerika Serikat saat ini. Kebutuhan pertahanan nasional dan berbagai masalahnya memerlukan perancangan yang kesemuanya harus dipenuhi dengan seefisien mungkin. Perdebatan yang muncul di Amerika Serikat tentang sistem persenjataan adalah apakah harus memodernisasi kekuatan strategis ataukah harus membangun kekuatan strategis baru. seperti Amerika Serikat. Jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. Bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan prosentase belanja pertahanan terhadap pendapatan nasionalnya kecil. Keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik menyangkut tiga hal Kerjasama yang rapi antara pemerintah federal.234 Efektifitas biaya modernisasi kekuatan strategis. Kelayakan proyek-proyek militer. pabrik pembuatan kapal laut.seperti komputer . Program riset dan pengembangan yang dilakukan untuk kepentingan pertahanan nasional berpengaruh besar terhadap perkembangan teknologi dan pertumbuhan produktivitas. Industri pertahanan mencakup sektor manufaktur. sangat sulit memperkirakan apakah akan ada pembatasan persenjataan strategis dengan melakukan pemotongan anggaran. Dampak terhadap pertumbuhan produktivitas. dan pabrik persenjataan elektronik. Dari satu pihak. Terdapat pergeseran dari permintaan swasta untuk barang konsumsi dan perumahan kepada pembelian pemerintah untuk sektor pertahanan. mulai land-based missiles. Dampak terhadap industri Karena pertahanan merupakan kontributor utama dalam defisit anggaran pemerintah federal AS. Di lain pihak. sampai sekarang masih dipertentangkan oleh para ilmuwan. Dasar-dasar Keuangan Publik . submarine-based missiles. 2. seperti aerospace. mengingat risikonya yang sangat tinggi. produktivitas yang ditimbulkan oleh sektor pertahanan akan dialihkan ke sektor swasta . ternyata mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibanding dengan negara dengan prosentase belanja pertahanan yang lebih besar.namun di lain pihak. mengingat peran Amerika dalam perang melawan terorisme sangat besar bahkan menjadi sponsor bagi program internasional ini. pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal lainnya. Dampak pertama terjadi pada besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan.

Dana negara bagian yang disalurkan kepada pemerintah lokal dalam bentuk bantuan dan subsidi. Permasalahan yang ada dalam kebijakan pendidikan menyangkut apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurikulum). penerimaan berasal dari pajak bahan bakar. Swasta ikut memberikan andil membiayai pendidikan juga. karena pendidikan pada dasarnya tetap merupakan jasa publik yang harus disediakan oleh pemerintah. siapa yang berhak memperoleh pendidikan. Untuk tingkat federal. Sedangkan pada tingkat pemerintah lokal. Penerimaan dari tarip tol tidak terlalu siginifikan dibanding dengan sumber pendanaan lainnya. meskipun tidak terlalu besar. Sedangkan pemerintah lokal bertanggungjawab terhadap jalan raya di daerahnya. termasuk jalan antar negara bagian. jalan raya dibiayai dari general fund. paling banyak dilakukan pada tingkat negara bagian. terutama untuk mendanai pendidikan tingkat tinggi. negara bagian. Pemerintah federal juga ikut membiayai pembangunan pendidikan. yaitu penghasilan yang ditransfer dari Highway Trust Fund dalam bentuk grant antar pemerintahan. Perkiraan pajak yang besar. Pembangunan jalan raya sebagian besar didanai oleh pemakai jalan. terutama dibiayai oleh pemerintah lokal dan negara bagian. di Amerika Serikat. yang salah satunya berasal dari pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal serta dari pembebanan khusus lainnya.235 3. meskipun pengendalian sistem pendidikan tetap berada di bawah pemerintah lokal. Sebagian yang lain dilakukan oleh pemerintah federal dengan mentransfer hampir seluruh penerimaannya melalui grant kepada tingkat pemerintah dibawahnya dan sebagian besar diterima oleh negara bagian. Hal ini telah mendapat dukungan undang-undang di negara bagian dan telah pula diakui oleh Mahkamah Agung bahwa setiap Dasar-dasar Keuangan Publik . maupun pemerintah lokal lainnya. dan apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta juga. penerimaan jalan raya diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor. Pada tingkat negara bagian. baik federal. Negara bagian pada umumnya mempunyai kebebasan yang cukup memadai dalam merancang struktur fiskal masing-masing dan dalam mengendalikan pemerintah lokal yang secara langsung bertanggungjawab dalam penyediaan pendidikan. Pengeluaran untuk jalan raya. meskipun kontribusinya tidak sebesar pemerintah. Kerjasama antar unit pemerintah. Pembagian kerja dan pembiayaan ini menunjukkan perhatian yang besar dari pemerintah. Pembiayaan melalui pungutan kepada pemakai. yang selanjutnya dipakai untuk membangun jalan negara bagian dan sebagian lainnya ditransfer ke pemerintah lokal dalam bentuk grant. Pendidikan Anggaran pendidikan. bagaimana proses pengajaran berlangsung. Masalah-masalah kebijakan pendidikan. di Amerika Serikat.

236
warganegara berhak atas perlakukan yang sama dalam bidang pendidikan. Namun demikian, tidak ada keharusan menurut konstitusi bahwa pendidikan harus sebanding di seluruh negara bagian. Pendidikan dasar dan menengah sebagian besar disediakan oleh pemerintah, melalui sekolah negeri. Pada tingkat ini, timbul perdebatan tentang perlunya monopoli pemerintah atas sekolah pada tingkatan itu. Hasil yang efisien akan dapat diperoleh jika terdapat persaingan yang sehat antara lembaga pendidikan negeri dan swasta. Penganjur pendidikan berpendapat bahwa pendidikan merupakan kepentingan umum sehingga harus disediakan oleh pemerintah, akan tetapi mereka juga setuju bahwa tidaklah berarti bahwa pendidikan harus disediakan oleh sekolah negeri. Konsumen pendidikan mengharapkan pemberian pendidikan yang sama atau paling tidak ada standar minimum. Masalah pokok yang juga timbul adalah berkaitan dengan tingkat pendidikan. Persaingan yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah swasta perlu didukung dengan kebijakan dalam menjamin persaingan yang sehat oleh pemerintah. Persoalan pendidikan bukanlah hanya persoalan fiskal saja, akan tetapi merupakan persoalan politik.

Fasilitas Rekreasi
Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda yakni manfaat bagi pemakai, manfaat bagi masyarakat di sekitarnya dan manfaat lain - seperti keindahan alam. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik yang bersifat barang akhir atau barang konsumsi, tidak seperti jalan raya yang bersifat barang antara. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat barang tersebut dapat dinikmati oleh publik. Pengukuran manfaat atas barang ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pengukuran cara pertama dengan menghitung pungutan kepada pemakai. Dengan cara ini, kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarip yang akan dibebankan kepada para pengguna yang kemudian dibandingkan dengan biaya proyek. Cara kedua adalah dengan melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi. Dari penghitungan tersebut, kurva permintaan dapat disimulasikan sehingga dapat dijadikan dasar pengukuran manfaat. Kemudian, ada cara ketiga dengan analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. Cara lain adalah dengan penghitungan manfaat yang dapat dilakukan dengan menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi keluar rumah. Sebagai alternatif, dapat dilakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai fasilitas ini dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana. Selain berbagai manfaat diatas, perlu juga dipertimbangkan manfaat dalam bentuk lain dari suatu fasilitas rekreasi. Sebagi contoh, proyek sumber daya Dasar-dasar Keuangan Publik

237
air dapat mempunyai manfaat ganda, selain untuk rekreasi juga dapat digunakan untuk konservasi sumber daya air. Contoh lain adalah sebuah bendungan dapat dinilai manfaatnya sebagai pembangkit tenaga listrik, pengendalian banjir, irigasi, selain ditujukan untuk rekreasi. Analisis pasar dapat digunakan dalam penilaian manfaat atas fasilitas rekreasi, meski pun bukan satu-satunya cara. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik sehingga penilaian dan pembobotan sosial atas fasilitas rekreasi harus lebih diutamakan, bukan penilaian seperti yang dilakukan dalam pengadaan fasilitas swasta. Dan, hal ini dapat dianggap sebagai subsidi untuk jenis jasa swasta. Tujuan non finansial tertentu, misalnya keindahan alam dan margasatwa, harus dipertimbangkan, meskipun tidak dapat diukur dengan mudah melalui pengujian pasar.

Dasar-dasar Keuangan Publik

238

B A B XXIV
KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL

T

erdapat berbagai macam bentuk tunjangan sosial yang dikelola pemerintah. Contoh yang diuraikan dalam bab ini merupakan contohcontoh tunjangan sosial utama yang umumnya terdapat di negara-negara maju. Sampai seberapa jauh mana tingkat tunjangan diberikan tergantung pada kemampuan finansial masing-masing negara.

Tunjangan kepada Penghasilan Rendah
Di Amerika Serikat, terdapat sejumlah program tunjangan yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Komponen-komponen utama program tersebut antara lain sebagai berikut: Medicaid. Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Fammilies with Dependent Children) yang sering disebut sebagai program kesejahteraan. Kriteria-kriteria tersebut antara lain adalah orang yang mempunyai pendapatan terbatas menurut kriteria SSA (Supplementary Security Income), serta semua orang yang berumur diatas 65 tahun. Bantuan diberikan dalam bentuk Medicare yaitu asuransi kesehatan yang preminya dibayar oleh pemerintah suatu negara. Program ini biasanya dirancang dan dikelola oleh negara bagian dengan berpedoman pada standar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Jaminan Penghasilan Tambahan. Tunjangan ini diberikan dalam bentuk pembayaran tunai kepada orang-orang yang penghasilannya atau aset seseorang kurang dari jumlah minimum yang ditetapkan. Program ini dikelola oleh pemerintah federal.

Dasar-dasar Keuangan Publik

239
Kupon Makanan. Rumah tangga (tidak terbatas umur) berhak memperoleh kupon makanan jika mempunyai aktiva atau berpenghasilan kotor yang kurang dari nilai yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Meskipun demikian, program ini diberikan melalui pemerintah lokal. Perumahan Murah. Program ini merupakan program pemerintah federal dimana subsidi perumahan diberikan dalam bentuk hipotik berbunga rendah bagi petani berpenghasilan rendah. Tunjangan Kesejahteraan. Program AFDC menetapkan bahwa pemerintah federal memberikan bantuan kepada setiap negara bagian – baik uang tunai maupun dalam bentuk lain – yang kemudian dipakai untuk menunjang keluarga yang mempunyai anak dibawah 18 tahun yang belum mandiri. Standar yang digunakan dapat berbeda antara satu negara bagian dengan negara bagian lain. Program kesejahteraan ini paling banyak menimbulkan perdebatan. Program ini dipandang sebagai program yang merendahkan martabat karena persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria. Tunjangan yang diberikan dinilai tidak memadai untuk standar kehidupan minimum yang layak. Selain itu, program ini dipandang tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat, karena tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat – sering disebut tarif pajak marjinal. Titik permasalahan telah berubah dari memberikan keringanan dalam ekonomi kepada kesejahteraan anak dalam keluarga yang berorang tua tunggal. Untuk mengatasi kritik ini, pola tunjangan alternatif mulai dipertimbangkan. Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. Dengan demikian alternatif ini akan menjamin tingkat minimum yang cukup sesuai ketersediaan dana sosial pemerintah. Namun demikian, kebijakan pemberian tunjangan alternatif ini dapat mengurangi jumlah bantuan yang dapat diberikan kepada golongan yang paling membutuhkan. Pola alternatif lain adalah bentuk pajak penghasilan negatif. Bantuan diberikan kepada orang-orang dengan pendapatan rendah atau yang tidak berpendapatan. Jika pendapatan kotor meningkat, maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif yang terhutang. Prinsip ini merupakan perluasan prinsip perpajakan progresif yang telah diterima umum dan berbagai cara untuk menggabungkan prinsip pajak negatif ke dalam struktur pajak positif telah dipertimbangkan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

240

Asuransi Sosial
Komponen-komponen utama dari asuransi sosial ini di Amerika Serikat meliputi sistem asuransi sosial OASI (Old Age and Survivors Insurance), HI (Health Insurance), dan DI (Disability Insurance). Asuransi Pensiun dan Cacat. Peraturan OASI menetapkan bahwa program ini mencakup semua pekerja berusia dibawah 65 tahun dan bekerja di bidang komersial serta industri - kecuali jalan kereta api dan karyawan pemerintahan yang mempunyai skema lain - berhak mendapatkan asuransi pensiun dan cacat yang preminya bersumber dari penerimaan pajak penghasilan upah dan gaji (payroll tax). Prinsipnya adalah menggabungkan kontribusi pemberi kerja dan karyawan. Asuransi Kesehatan. Setiap individu berhak atas jaminan sosial pensiun dan juga berhak atas Medicare pada usia 65 tahun. Tunjangan ini untuk memberikan perlindungan dasar terhadap biaya jasa rumah sakit, biaya rawat jalan, dan jasa perawatan kesehatan rumah. Perdebatan sekitar asuransi kesehatan ini menyangkut apakah asuransi hanya mencakup orang yang berusia lanjut atau harus diperluas kepada seluruh penduduk, dan kalau diperluas bagaimana bentuknya. Perdebatan muncul karena menyangkut pembiayaan yang sangat besar, pengaruhnya terhadap jasa medis yang diberikan, kebebasan memilih dokter, dan peranan asuransi swasta. Asuransi Pengangguran. Program ini dibiayai dari pajak upah dan gaji federal dan pajak tambahan dari negara bagian yang dibayarkan oleh pemberi kerja. Semua kontribusi dari pemerintah federal dan negara bagian dibayarkan kepada dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund.

Sistem Tunjangan Sosial Terkini.
Seiring dengan perkembangan pemikiran aspek keadilan, sistem tunjangan sosial juga mengalami perubahan. Sistem tunjangan dalam bentuk tunai dipandang oleh para ekonom dapat menimbulkan efek yang negatif bagi golongan penghasilan rendah dalam hal produktivitasnya, sehingga golongan penghasilan tinggi mempunyai preferensi memberikan kontribusinya dalam bentuk non tunuai. Salah satu perubahan yang substansial dari sistem kesejahteraan di Amerika Serikat berubah sejak diundangkannya Undang Undang Rekonsiliasi Kesempatan Kerja dan Tanggungjawab Personal tahun 1996. Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (disingkat TANF) yang pada intinya mengatur hal-hal dibawah ini. 1. Menurut aturan AFDC, setiap orang yang mempunyai pendapatan dibawah batasan tertentu dan memenuhi persyaratan tertentu diberikan bantuan manfaat tunai secara mutlak tanpa pandang bulu. TANF mengubah aturan bantuan tunai tersebut kecuali dalam hal bahwa

Dasar-dasar Keuangan Publik

241
bantuan secara tunai tersedia hanya temporer – tidak setiap saat berdasarkan ada tidaknya prgram tunjangan tunai tersebut. Secara umum, TANF mengatur bahwa individu tidak dijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. Setiap orang dewasa yang normal (tidak cacat) yang telah menerima pembayaran bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam suatu kegiatan yang ditujukan untuk membuat individu tersebut dapat menghidupi dirinya sendiri. Setiap negara bagian diberikan grant dari pemerintah federal untuk mendanai program kesejahteraan dimana jumlahnya adalah tetap, kemudian negara bagian tersebut melaksanakan prgram kesejahteraannya sepanjang tepat sasaran dalam batasan grant tersebut. Dengan demikian, struktur pemberian bantuan kesejahteraan negara bagian dikendalikan oleh pemerintah federal. Suatu negara bagian dapat menggunakan grant tersebut untuk membayar bantuan secara tunai, melaksanakan program pelatihan kerja, melaksanakan program pembatasan kehamilan, atau program lainnya yang sejenis.

2. 3.

4.

Dasar-dasar Keuangan Publik

baik itu negara federal maupun negara kesatuan (unitary). Konsep federalisme fiskal maksudnya adalah Pemerintahan Daerah Tingkat II (Kabupaten/Kota) merupakan kepanjangan tangan dari Pusat. Kolumbia. keuangan federal (federal finance).242 B A B XXV KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH D alam konteks desentralisasi fiskal. di beberapa negara yang berbentuk federal. Tunisia Pakistan. Kanada Negara Berkembang Indonesia. Maroko. federalisme fiskal (fiscal federalism). Pertama. Tabel 25-1: Susunan Rak Desentralisasi Fiskal Kelompok Negara Federalisme Fiskal Keuangan Federal Negara Maju Perancis. apapun bentuk pemerintahan suatu negara. terdapat dua model hubungan fiskal antar pemerintahan yang berlaku saat ini (lihat Tabel 25-1). Kedua. Dan sebagaimana dikemukakan oleh Norregaard (1995). Jepang Amerika Serikat. India. Vietnam Rusia. akan selalu memunculkan pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship). Brasil. pemerintahan negara bagian (state) bukan merupakan pelaku otonom. Perancis dan Inggris mencerminkan pola ini Dasar-dasar Keuangan Publik . Afrika Selatan Negara Transisi Cina. terdapat perbedaan-perbedaan dalam interval luas dalam struktur kelembagaan dan hubungan keuangan pusat dan daerah. Bosnia Herzegovina Sumber: Bird dan Vaillancourt (1998) Menurut Bird dan Vaillancourt (1998). baik dalam negaranegara yang pada dasarnya berbentuk federal maupun negara yang berbentuk kesatuan. Atau. Argentina.

di Amerika Serikat. walaupun wewenang terakhir tetap pada pihak pemberi wewenang (sovereign-authority). wewenang. Pihak yang menerima wewenang mempunyai keleluasaan (discretion) dalam penyelenggaraan pendelegasian tersebut. Di Amerika Serikat. state dibagi ke dalam counties (wilayah kabupaten). 1994b serta Bird dan Chen. Menurut teori ini. fungsi. Dalam model federalisme fiskal. counties merupakan agen utama pemerintahan regional dari pemerintahan propinsi dan memiliki memiliki kewenangan (authority) independensi yang signifikan.5 Di mana.243 untuk kelompok negara-negara maju (Bennet. Pendelegasian wewenang ini biasanya diatur dengan ketentuan perundang-undangan. kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah bersifat “top down” dan berpola dekonsentrasi2 atau maksimalnya berpola delegasi3. serta Cina dan Vietnam adalah contoh negara transisi (Bank Dunia. masing-masing pemerintahan memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. Berbeda dengan model federalisme fiskal. Dalam perspektif ini. biasanya akan dibelanjakan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan pedoman dan sektor-sektor yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. model keuangan federal (federal finance) lebih cocok diterapkan untuk beberapa negara. batas-batas resmi. Maroko dan Tunisia adalah untuk negara berkembang. parishes (suatu wilayah pemerintahan gereja. serta perbedaan-perbedaan tujuan antara principal dan agent (Pemerintah Daerah). serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan melalui sebuah undang-undang. sementara Indonesia1. Secara teoritis. yaitu Lousiana). Namun. Di Amerika Serikat (yang berbentuk negara federal). 1990). terutama negara-negara yang memiliki keanekaragam dalam aspek geografis dan etnis (Bird. serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. konsentrasi kekuasaan di pusat demikian tinggi. negara yang berbentuk federal. 2 3 4 5 Dasar-dasar Keuangan Publik . Contoh yang paling aktual adalah Amerika Serikat dan Kanada. Dalam model keuangan federal. 1996). Delegasi adalah pelimpahan wewenang untuk tugas tertentu kepada organisasi yang berada di luar struktur birokrasi reguler yang dikontrol secara tidak langsung oleh Pemerintah Pusat. model hubungan fiskal yang terjadi adalah hubungan fiskal antara Pemerintah Federal (Pusat) dengan Pemerintah Negara Bagian/Propinsi (state) dan hubungan fiskal antara Pemerintah Negara Bagian/Propinsi (state) dengan Pemerintah Lokal (Kabupaten/Kota). 1 Indonesia di sini maksudnya adalah sebelum keluarnya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory4. 1996a). atau townships (Kota). principal (Pemerintah Pusat) dapat secara sepihak menentukan dan mengubah baik tanggung jawab pengeluaran maupun pendapatan Pemerintah Daerah dan pengaturan hubungan keuangan antar pemerintahan dalam upaya mengatasi permasalahan-permasalahan informasi yang tidak simetri. Implikasi dari hubungan fiskal model federalisme fiskal ini adalah berbagai bentuk transfer dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (Dati I dan Dati II) dalam rangka untuk menggalakkan otonomi regional dan untuk memperbaiki infrastruktur lokal. penyerahan fungsi. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat di Daerah. pada umumnya menganut model keuangan federal.

yaitu: (1) Efisiensi Alokasi Sumber Daya (Efficient Allocation of Resources) Desentralisasi akan meningkatkan efisiensi karena Pemerintah Daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan Pemerintah Pusat. Pada negara yang berbentuk kesatuan (unitary). Namun demikian. setiap individu dapat memilih untuk tinggal di sebuah komunitas atau masyarakat yang sesuai dengan preferensi mereka dalam rangka untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial. dan efisiensi (Musgrave dan Musgrave. Argumentasi ekonomi tentang efisiensi berasal dari fakta bahwa Pemerintah Daerah dapat memenuhi berbagai kepentingan dan pendapat dari para penduduk dan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya (resources) secara lebih efisien dibandingkan Pemerintah Pusat. Sesungguhnya. Pemerintah Daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. Ini terbukti. Menurut Bank Dunia (1995b) negara-negara seperti Pakistan. terdapat keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal. Menurut para ahli ekonomi. Meski secara teoritis negara yang berbentuk federal akan menerapkan model keuangan federal. tetapi pada prakteknya tidak selalu demikian. aspek efisiensi merupakan raison d'etre untuk desentralisasi fiskal. Indonesia secara tidak langsung telah menerapkan model keuangan federal. maka dalam suatu sistem fiskal yang terdesentralisasi. Dimensi Ekonomi dari Desentralisasi Fiskal Dimensi yang ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. beberapa dewan sekolah (school board) di Amerika Serikat memiliki kekuasaan untuk mengenakan pajak (Davey. sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 25/1999. Keputusan mengenai pengeluaran publik yang Dasar-dasar Keuangan Publik . model keuangan federal juga berlaku. Bahkan. namun prakteknya sejauh ini masih sentralisasi fiskal dan federalisme fiskal. Karena preferensi setiap individu terhadap barang publik berbeda. 1983).244 Bahkan. Disain fiskal antar pemerintahan juga memiliki implikasi penting atas] keadilan dan stabilitas makro ekonomi. keadilan (equity). Argentina. Oleh karenanya. dibandingkan dengan Amerika Serikat. derajat desentralisasi fiskal di Indonesia lebih tinggi. sesuai dengan argumen ini. Efisiensi Teori desentralisasi didasarkan pada asumsi bahwa Pemerintah Pusat hanya dapatmenyediakan barang dan jasa secara lintas wilayah secara konsisten. aspek efisiensi tidaklah satu-satunya dimensi ekonomi untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. 1989). dan Afrika Selatan adalah negara-negara berbentuk federal.

1996). negara-negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi seperti Swiss. Atau. 2002). Jerman. Masyarakat akan memilih untuk tinggal di lingkungan yang anggaran daerahnya memenuhi preferensi yang paling tinggi antara pelayanan publik dari Pemerintah Daerahnya dengan pajak yang dibayar oleh masyarakat. Stabilitas Makro Ekonomi Penilitian empiris tentang desentralisasi dan pengelolaan makro ekonomi (macroeconomic governance) memberikan sedikit dukungan bahwa desentralisasi inheren dengan destabilisasi. 1994). Studi terkini mengenai hubungan antara desentralisasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi menemukan bahwa “sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkansistem fiskal yang tersentralisasi”. Dasar-dasar Keuangan Publik . stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis dapat terwujud dengan diterapkannya desentralisasi fiskal. yaitu meninggalkan wilayah tersebut atau tetap tinggal di wilayah tersebut dengan berusaha mengubah kebijakan pemerintah lokal melalui DPRD-nya (Hyman. Namun demikian. Tiebout menekankan bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyakarat lokal dengan Pemerintah Daerahnya. Daerah akan menekan Pusat untuk mendapatkan tambahan kucuran dana yang lebih besar. 1997). Hipotesis tersebut memberikan petunjuk bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. khusus bagi negara-negara berkembang. Ketika masyarakat tidak senang pada kebijakan pemerintah lokal dalam pembebanan pajak untuk pembiayaan barang publik bersifat lokal. Salah satu contoh terjelas adalah kasus-kasus di negara Federasi Rusia (Wallich. Austria. Suatu analogi argumen untuk menjelaskan hal ini dikemukakan oleh Tiebot (1956) yang kemudian dikenal sebagai "The Tiebout Model". atau pinjaman yang lebih besar.245 dibuat oleh Pemerintah daerah akan lebih responsif terhadap keinginan konstituennya dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh Pemerintah Pusat. dan Amerika Serikat memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah (Shah. atau kedua-duanya. Sebaliknya. maka mobilisasi dana Daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi dapat kembali muncul (Yu. (2) Persaingan Antar Pemerintah Daerah (Competition Among Local Governments) Persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. Pengalaman internasional memperlihatkan bahwa jika suatu negara mendesentralisasikan tanggung jawab pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan sumber-sumber yang tersedia. jika lebih banyak penerimaan daripada pengeluaran yang didesentralisasikan. maka hanya ada dua pilihan bagi warga masyarakat. Fakyanya. maka tingkat pelayanan akan menurun.

Dasar-dasar Keuangan Publik . redistribusi biasanya berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan. maka perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya (resources) yang lebih besar kepada Daerah yang lebih miskin. Dalam konteks desentralisasi. penyediaan resources yang lebih banyak kepada daerah miskin hanyalah satu aspek dari problem keadilan. seharusnya tidak perlu terjadi “ekspor pajak” dan tidak ada tambahan transfer dari level pemerintahan yang lain. Dengan kata lain. isu redistribusi memiliki dua dimensi: keadilan horisontal (horizontal equity) dan keadilan lokal (within-locality equity). Dalam merancang kebijakan redistribusi. Terdapat dua faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal: (1) basis pajak (taxes bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan daerah yang lain dan (2) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. itu berarti pajak bagi penduduk kaya dan subsidi bagi penduduk miskin. Keadilan horizontal merujuk pada tingkat kapasitas Pemerintah Daerah (subnational governments) dalam memenuhi pelayanan publik. Jika Pemerintah Daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif. terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro. Namun demikian. Untuk itu. proses implementasi. Pertama. Kesuksesan dalam kebijakan redistribusi juga memerlukan perhatian yang khusus terhadap keadilan dalam wilayah lokal setempat (within-locality equity). Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal Bird dan Vaillancourt (1998) mengisyaratkan ada dua prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi. Sidik (2002) menyebutkan bahwa keberhasilan pelaksanaan desentralisasi akan sangat tergantung pada desain. ia akan menciptakan suatu insentif yang kuat bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan akan mendorong penduduk berpenghasilan tinggi untuk pindah kemana saja.246 Keadilan (Equity) Apek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. yaitu pengambilan keputusan tentang manfaat dan biayanya harus transparan dan pihak-pihak yang terkait harus memiliki kesempatan untuk mempengaruhi keptusan-keputusan tersebut. Sebab. dengan program redistribusi pendapatan. Pemerintah Daerah tidak dapat mengambil kebijakan redistribusi secara efektif. Pemerintah Daerah memerlukan dukungan dari Pemerintah Pusat. adalah alat yang biasa digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat. Untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ini. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil Pemerintah Daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi. Kedua. proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis. Sementara itu. Dalam definisi klasik. Bantuan pemerataan (equalization grant).

247 dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan. Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya Pemerintah Pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi Daerah. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi. baik yang berasal dari local revenue. pinjaman. maka Pemerintah Daerah harus didukung sumbersumber keuangan yang memadai. pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. Di samping itu. maupun masyarakat secara keseluruhan. Sidik (2002) juga berpendapat untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi. perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik. maupun transfer dari pemerintah pusat. Dasar-dasar Keuangan Publik . kesiapan administrasi pemerintahan.

248

B A B XXVI
TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTEK
Pendahuluan
alam konteks desentralisasi fiskal, transfer dana dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Desentralisasi memang merupakan pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah. Sejalan dengan desentralisasi tersebut, aspek pembiayaannya juga ikut terdesentralisasi. Implikasinya, Daerah dituntut untuk dapat membiayai sendiri biaya pembangunannya.

D

Namun, ternyata banyak daerah di berbagai negara ini local government revenue) tidak cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran Daerah (lihat Tabel 26.1). Dari Tabel 26.1. terlihat bahwa, tidak ada satupun Pemerintah Daerah di berbagai negara yang disurvei memiliki pendapatan yang dapat membiayai seluruh pengeluarannya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

249
Tabel 26.1: Prosentase Pendapatan atas Pengeluaran Daerah Negara Kesatuan Albania Azerbaijan Belarusia Bulgaria Kroasia Republik Cekoslowakia Denmark Estonia Irlandia Kazakhstan Latvia Lithuania Mauritius Moldova Mongolia Norwegia Polandia Republik Slovakia Slovenia Inggris Negara Federal* Australia Austria Bolivia México Switzerland United States 1995 5.64% 73.97% 73.18% 57.27% 98.11% 72.26% 57.10% 65.95% 87.26% N/A 75.53% 73.82% 39.51% 72.74% 58.46% 60.96% 71.52% N/A 77.31% 27.47% 1996 6.85% 68.65% 70.63% 66.19% 93.62% 60.28% 57.50% 66.97% 84.64% N/A 77.93% 72.22% 39.91% 60.50% 56.92% 62.10% 66.49% 89.65% 82.83% 27.31% 199 7 3.69% 66.78% 77.73% 65.35% 93.83% 72.74% 58.55% 73.10% 84.29% 78.76% 73.82% 71.71% 40.68% 58.66% 60.10% 61.30% 66.21% 79.75% 81.88% 27.91% 1998 4.05% 58.30% 81.69% 61.08% 89.18% 75.80% 59.25% 72.04% 85.31% 71.68% 72.08% 80.65% 42.52% 62.49% 57.32% 59.71% 64.83% 73.69% 80.60% 29.33%

85.73% 82.74% 85.64% 97.37% 81.35% 62.43%

83.28% 85.31% 85.93% 97.72% 81.91% 63.51%

81.92% 87.28% 85.85% 99.98% 81.96% 64.32%

81.80% 83.89% 85.76% N/A 82.02% 64.51%

* Pemerintah Daerah di negara-negara federal adalah kelompok Pemerintah Daerah yang terendah tingkat pendapatannya. Catatan: Pendapatan Pemerintah Daerah tidak termasuk transfer antar pemerintahan (intergovernmental transfers) Sumber: International Monetary Fund. 1998. Government Finance Statistics Year Book 1998, Country Tables. Implikasi dari kondisi tersebut, transfer dana dari Pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang amat dominan bagi Pemerintah Daerah di banyak negara, terutama negara berkembang. Tidak terkecuali Indonesia. Sumber ini membiayai sekitar 85% dari pengeluaran pemerintah daerah di Afrika Selata, antara 67% sampai 95% pengeluaran negara bagian di Nigeria, 70% sampai 90% pengeluaran negara bagian yang miskin di Meksiko, 72% pengeluaran popinsi dan 86% pengeluaran Kabupaten/Kota pada dekade 1990-an di Indonesia (Simanjuntak, 2002).

Dasar-dasar Keuangan Publik

250

Tujuan Transfer
Pada dasarnya, transfer Pusat ke Daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants). Adapun tujuan dari transfer ini bermacam-macam yaitu pemerataan vertikal (vertical equalization), pemerataan horisontal (horizontal equalization), mengatasi persoalan efek pelayanan publik (correcting spatial externalities), mengarahkan prioritas (redirecting priorities), melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (experimenting with new ideas), stabilisasi, dan kewajiban untuk menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah. Vertical Equalization Transfer Di banyak negara, Pemerintah Pusat menguasai sebagian besar sumber-sumber penerimaan (pajak) utama negara yang bersangkutan. Sementara itu, Pemerintah Daerah hanya menguasai sebagian kecil sumber-sumber penerimaan negara, atau hanya berwenang untuk memungut pajak-pajak yang basis pajaknya bersifat lokal dan mobilitas yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaannya relatif kurang signifikan. Kondisi ini akhirnya menimbulkan ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pada era tahun 1960-an, Pemerintah Federal Amerika Serikat sangat memonopoli sumber-sumber penerimaan. Kondisi ini akhirnya bisa menimbulkan ketimpangan antara Pemerintah Federal, Pemerintah Negara Bagian (State), dan Pemerintahan Lokal. Kemudian, pada pertengahan era 1960-an hingga pertengahan 1980-an lahirlah kebijakan bagi hasil penerimaan umum (General Revenue Sharing/GRS). GRS untuk tingkat negara bagian diberlakukan secara tuntas pada tahun 1982 dan untuk tingkat lokal diberlakukan pada secara tuntas pada tahun 1986. Dengan demikian, tujuan dari vertical equalization transfer ini adalah untuk mengkoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

251

KOTAK 26.1: PRAKTEK VERTICAL EQUALIZATION DI INDONESIA Penerapan vertical equalization di Indonesia berlaku sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Latar belakang diberlakukannya formula vertical equalization ini didasari oleh suatu kondisi selama Orde Baru, dimana Pemerintah Pusat begitu dominan dalam menguasai sumber-sumber penerimaan negara yang berujung pada timbulnya ketimpangan fiskal secara vertikal antara Pemerintah Pusat dengan Daerah. Daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam, seperti Aceh dan Irian Jaya, terpaksa harus menjadi daerah miskin karena hasil dari sumber-sumber kekayaan alam mereka diangkut ke Pusat. Kondisi ini kemudian berubah dengan keluarnya Undang-undang Nomor 25/1999. Menurut Undang-undang No. 25/1999 ini, daerah penghasil penerimaan (baik itu pajak maupun sumber daya alam) mendapat porsi yang besar dalam bagi hasil penerimaan umum (general revenue sharing) yang lebih besar dibandingkan sebelum diberlakukannya Undang-undang No. 25/1999 (lihat Tabel 2.2. Dengan bagi hasil yang lebih besar ini, taxing power yang diterima Daerah menjadi lebih besar dan ketimpangan vertikal dapat dikurangi

.

Tabel 26.2. Proporsi Bagi Hasil Beberapa Penerimaan Negara Sebelum dan Sesudah UU No. 25/1999 (dalam %)
No Jenis Penerimaan Sebelum UU No. 25/1999 Pusat Dati I Dati II Pusat Sesudah UU No. 25/1999 Propinsi Kab /Kota 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. PBB BPHTB IHH PSDH/IHPH Land Rent/Iuran Tetap Royalty Pertambangan Umum Perikanan Minyak Gas Alam Dana Reboisasi PPh 10 20 55 55 20 20 100 100 100 100 100 16,2 16 30 30 16 16 64,8 64 15 15 64 64 20 20 20 20 20 85 70 60 80 16,2 16 16 16 16 16 3 6 8 64,8(+) 64(+) 64 32 64 32 6 12 40 12 Pemertaan Kab/Kota Lainnya + + 32 32 80 6 12 -

Sumber : Sidik 2002, berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999

Horizontal Equalization Transfer Keseimbangan antara kebutuhan pendapatan (revenue needs) dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan juga memiliki dimensi horisontal. Artinya, dengan tarif pajak yang sama seharusnya juga menghasilkan penerimaan yang sama di antara daerah. Pengalaman empirik di berbagai negara menunjukkan ternyata kemampuan Daerah untuk menghasilkan pendapatan sangat bervariasi, tergantung kondisi daerah bersangkutan yang memiliki kekayaan sumber daya alam atau tidak, ataupun daerah dengan intensitas kegiatan ekonomi yang tinggi atau rendah. Kondisi ini berimplikasi kepada besarnya basis pajak atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) di daerah-daerah bersangkutan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

252
Di sisi lain, daerah-daerah juga memiliki kebutuhan belanja yang sangat bervariasi. Terdapat daerah-daerah dengan penduduk miskin, penduduk lanjut usia, dan anak-anak serta remaja yang tinggi proporsinya. Ada pula daerah-daerah yang berbentuk kepulauan luas, dimana sarana-prasarana transportasi dan infrastruktur lainnya masih belum memadai. Sementara di lain pihak, ada daerahdaerah dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, namun memiliki sarana dan prasasarana yang telah lengkap. Ini mencerminkan tinggi rendahnya kebutuhan fiskal (fiscal need) dari daerah-daerah yang bersangkutan. Membandingkan kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal tersebut di atas, maka dapat dihitung kesenjangan atau celah fiskal (fiscal gap) dari masing-masing daerah yang seyogyanya ditutup oleh transfer dari Pemerintah Pusat. Dengan kata lain tujuan dari horizontal equalization transfer adalah untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh setiap daerah.

Dasar-dasar Keuangan Publik

253

KOTAK 26.2: PRAKTEK HORIZONTAL EQUALIZATION DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalizataion di Indonesia. Secara faktual, peran DAU dapat dijadikan counter atas pembagian dana bagian daerah yang didasarkan atas dasar penghasil daerah (by origin atau vertical equalization) yang cenderung menimbulkan ketimpangan antardaerah, karena daerah yang mempunyai potensi pajak dan SDA yang terbatas pada daerah-daerah tertentu. Sebagai horizontal equalization, DAU dirancang dengan sebuah formula yang digunakan untuk menghitung potensi penerimaan daerah atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) dan kebutuhan fiskal daerah (fiscal needs). Sehingga, melalui suatu formula ini, maka dapat dihitung celah fiskal (fiscal gap) yang akan ditutup dengan transfer DAU dari Pusat. Rumus Umum DAU 2001 adalah sebagai berikut: 1. DAU akan dialokasikan kepada Daerah dengan menggunakan bobot daerah. Bobot daerah harus dirumuskan dengan menggunakan suatu formula yang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan dan potensi potensi penerimaan. Besarnya DAU setelah formula paling tidak sama dengan besarnya bantuan Subsidi Daerah Otonom (SDO) dan Inpres tahun 2000. Oleh karenanya, dalam alokasi DAU 2001 terdapat faktor penyeimbang dan faktor lumsum. Faktor Penyeimbang adalah suatu mekanisme untuk mencegah penurunan kapasitas Pemerintah Daerah dalam membiayai kewajiban-kewajiban mereka. Faktor penyeimbang juga diarahkan untuk mengatasi permasalahan pendanaan akibat terjadinya transfer pegawai dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah yang tentunya membawa konsekuensi pada gaji dan biaya-biaya terkait lainnya. Faktor lumpsum intinya adalah suatu mekanisme untuk membagi habis total DAU yang sudah dianggarkan dalam APBN 925% dari penerimaan bersih domestik). Dalam prakteknya, terjadi selisih hitung antara total DAU yang dianggarkan dengan total faktor penyeimbang dan faktor formula. 3. Faktor formula. Formula DAU terdiri dari dua, yaitu potensi penerimaan dan kebutuhan fiskal. Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan potensi penerimaan adalah (a) PDRB sektor sumber daya alam (primer); (b) PDRB sektor industri dan jasa lainnya (non-primer); dan besarnya angkatan kreja (SDM). Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan kebutuhan daerah adalah (a) jumlah penduduk; (b) luas wilayah; (3) indeks harga bangunan; dan (4) jumlah penduduk miskin. 4. Penentuan Bobot dan Alokasi Daerah.

2.

Sumber: Brodjonegoro dan Pakpahan (2002)

Dasar-dasar Keuangan Publik

Namun. pendidikan tinggi (universitas). karena biayanya terlalu mahal.254 Correcting Spatial Externalities Beberapa jenis pelayanan publik di satu wilayah memiliki “efek menyebar” (atau eksternalities) ke wilayah-wilayah lainnya. Agar penyediaan barang publik tersebut tetap dilakukan oleh Daerah bersangkutan. Gambar 26-1: Koreksi “Spillovers” Melalui Transfer P MC P1 PB PA DA QB QT DB Q DT Berdasarkan Gambar 26-1. jalan raya penghubung antar-daerah. Sehingga. perguruan tinggi). pemadam kebakaran. tanpa adanya “imbalan” (dalam bentuk pendapatan) yang berarti dari proyek-proyek serupa di atas. peminatnya juga berasal dari luar daerah (nonresident demands). total permintaan atas barang publik tersebut adalah DT dengan harga (biaya) sebesar P1. untuk permintaan atas barang publik tertentu (misalnya. maka Daerah Dasar-dasar Keuangan Publik . sistem pengendali polusi (udara dan air). Oleh karena itu. Dengan adanya subsidi ini. maka Pemerintah Pusat memberikan transfer (subsidi). biasanya Pemerintah Daerah enggan untuk berinvestasi di sini. yaitu sebesar DB dengan harga (biaya) sebesar PB. Pemerintah Pusat perlu memberikan semacam insentif ataupun menyerahkan sumber-sumber keuangan agar pelayananpelayanan publik demikian dapat dipenuhi oleh daerah. Namun. dan rumah sakit daerah. yaitu sebesar DA dan harganya (biayanya) pun relatif murah (PA) sehingga Daerah setempat dipastikan dapat mengadakannya. Misalnya. tidak bisa dibatasi manfaatnya hanya untuk masyarakat tertentu saja. yaitu sebesar perbedaan antara PB dan P1. maka jumlah permintaannya akan sangat rendah. jika permintaan dari penduduk (resident demands) setempat yang diperhitungkan. yang bagi Daerah bersangkutan akan sangat sulit untuk dapat mengadakannya.

Ini terkait dengan pemenuhan harapan para konstituen pemilih ketika pemilihan umum berlangsung. Jika dikaitkan dengan postulat Musgrave (1983) yang menyatakan bahwa peran redistributif dari sektor publik akan dijalankan oleh Pemeirntah Pusat. Stabilisasi Transfer dana dapat ditingkatkann oleh Pemerintah ketika aktivitas perekonomian sedang lesu. seyogyanya Pemerintah Pusat memberikan transfer atau insentif kepada Daerah. Transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants) adalah merupakan instrumen yang cocok untuk tujuan ini. Namun kecermatan dalam mengkalkulasi amat diperlukan agar tindakan menaikkan/menurunkan dana transfer itu berakibat merusak atau bertentangan dengan tujuan stabilisasi. Memenuhi Standar Pelayanan Minimum Daerah-daerah dengan sumber daya yang sedikit memerlukan subsidi agar dapat mencapai standar pelayanan minimum. Pemerintah Pusat berkeinginan mengedepankan pembangunan di sektor pendidikan secara murah dan terjangkau. Experimenting with New Ideas Bantuan (grants) seperti ini berawal dari adanya keinginan Pemerintah Pusat untuk mengujicobakan suatu program baru di suatu Daerah sebelum program tersebut diberlakukan terhadap seluruh Daerah. Misalnya. keinginan tersebut ternyata tidak sinkron dengan pola kebijakan Daerah. karena biayanya berada dalam jangkauan anggaran Daerah. maka penerapan standar pelayanan minimum Dasar-dasar Keuangan Publik . Di saat lain. Pemerintah Daerah ternyata menginginkan pembangunan di sektor kesehatan lebih mendapat prioritas karena pertimbangan kondisi masyarakat setempat. Namun ternyata.255 bersangkutan dapat menyediakan barang publik tersebut. Alasan perlunya bantuan dari Pusat kepada Daerah sehubungan dengan uji coba program baru tersebut. Dengan demikian. karena Daerah yang menjadi tempat uji coba tidak mau menanggung kerugian dan risiko manakala terjadi dampak negatif terhadap program baru tersebut. Dan seringkali prioritas yang dikembangkan oleh setiap level pemerintahan tersebut. Redirecting Priorities Setiap level pemerintahan memiliki prioritas masing-masing di dalam penyediaan pelayanan publik kepada masyarakatnya. Transfer Pemerintah Pusat kepada Daerah semacam ini akan membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh masing-masing level pemerintahan. akhirnya bertentangan dengan prioritas yang sedang dibangun oleh level pemerintahan lainya. sesungguhnya bantuan untuk tujuan uji coba program baru ini tidak lebih dari sebuah kompensasi atas kesediaan Daerah menjadi ajang uji coba suatu program baru dari Pusat. bisa saja dana transfer ke daerah dikurangi manakala perekonomian sedang booming. Agar keinginan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat berjalan secara paralel.

Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Dari berbagai tujuan yang hendak dicapai dalam rangka transfer antar tingkat pemerintahan. Di samping itu juga formula yang dipakai seyogyanya relatif mudah untuk dipahami. Sederhana (simplicity). Desain dari transfer ini harus sedemikian sehingga memberikan semacam insentif bagi daerah dengan manajemen fiskal yang baik. Transparan dan stabil. Berikut adalah beberapa kriteria umum yang biasa digunakan di banyak negara di dunia. Formula transfer mesti diumumkan sehingga dapat diakses masyarakat. dapat kiranya sebagai acuan untuk mendesain sistem atau model transfer bagaimana yang akan diterapkan. Otonomi. Besarnya dana transfer dari Pusat ke daerah seyogyanya berhubungan positif dengan kebutuhan fiskal daerah dan. Pemerintah daerah semestinya memiliki pendapatan (termasuk transfer) yang cukup untuk menjalankan segala kewajiban atau fungsi yang diembannya. 4. berkebalikan dengan besarnya kapasitas fiskal daerah yang bersangkutan. Formula tersebut seyogyanya dipakai untuk jangka menengah (misalnya 3-5 tahun). 3. sebaliknya. Alokasi dana kepada Pemeirntah Daerah semestinya didasarkan pada faktor-faktor obyektif dimana unit-unit individual tidak memiliki kontrol atau dapat mempengaruhinya. agar perencanaan jangka menengah dan panjang dapat dilakukan oleh Daerah. bagi hasil (revenue sharing) berdasarkan formula. Prinsip ini menekankan agar Pemerintah Daerah memiliki independensi dan fleksibilitas dalam menentukan prioritas-prioritas mereka. Prinsip ini merupakan dasar desentralisasi fiskal di dunia. Keadilan (equity). 5. Pajakpajak dimana Daerah bisa ikut memungut di atas tingkat yang ditetapkan Pusat (piggyback). sehingga memudahkan penyusunan anggaran. 2. Insentif. 6. 1. Penerimaan yang memadai (revenue adequacy). apakah negara tersebut berbentuk federal maupun negara kesatuan. baik sebaliknya menangkal praktik-praktik yang tidak efisien. tidak Dasar-dasar Keuangan Publik . ataupun transfer yang bersifat umum (block grant) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang konsisten dengan tujuan tersebut.256 di setiap daerah pun akan lebih bisa dijamin pelaksanaannya oleh Pemerintah Pusat. Tidak boleh ada pembatasan yang sedemikian ketat sehingga sebagian besar keputusan di Daerah harus mengikuti atau mengacu kepada ketentuan Pusat. Dengan demikian. Hal yang lebih penting lagi adalah bahwa setiap daerah dapat memperkirakan berapa penerimaan totalnya (termasuk transfer).

Jenis-Jenis Transfer Pengalaman empiris dari berbagai negara menunjukkan bahwa pemberian transfer oleh Pemerintah Pusat kepada Daerah dapat disertai dengan syarat-syarat tertentu atau tidak bersyarat sama sekali. amat tergantung kepada kondisi atau keadaan di masing-masing negara. sehingga setiap Daerah dapat melaksanakan urusan rumah tangganya sendiri pada tingkat yang layak. Ciri utama dari transfer ini adalah Daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkan dana transfer ini sesuai dengan pertimbanganpertimbangannya sendiri atau sesuai dengan aturan apa yang menjadi prioritas daerahnya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Transfer Tanpa Syarat Pada umumnya transfer jenis ini ditujukan untuk menjamin adanya pemerataan dalam kemampuan fiskal antar daerah. Dengan demikian. Namun. Transfer tanpa syarat biasanya dibagikan berdasarkan suatu formula tertentu. pada dasarnya jenisjenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar. formula apa yang tepat untuk menjamin meratanya kemampuan fiskal (fiscal capacity) Daerah dalam menjalankan pelayanan publik minimum. block grant dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. categorial grant.257 perlu ada transfer khusus/spesifik untuk membiayai defisit anggaran Pemerintah Daerah. yaitu (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. atau ada semacam kontrol terhadap belanja daerah. general purpose grant. Tujuan dari transfer ini adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal (horizontal equalization). spesific purpose grant).

DAU adalah dana yang berasal dari APBN.258 KOTAK 26. Dalam hal terjadi perubahan kewenangan di antara Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. Penghitungan DAU berdasarkan rumus di atas dilakukan oleh Sekretariat Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Porsi Daerah Propinsi merupakan proporsi bobot Daerah Propinsi yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua Daerah Propinsi di seluruh Indonesia. 9. yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 4. DAU untuk Daerah Propinsi dan untuk Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan masing-masing 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh persen) dari total DAU nasional. DAU untuk suatu Daerah Kabupaten/Kota tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh Daerah Kabupaten/Kota yang ditetapkan dalam APBN dengan porsi Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Menurut UU No. • potensi ekonomi Daerah. DAU untuk suatu Daerah Propinsi tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh Daerah Propinsi yang ditetapkan dalam APBN. 7. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Penjelasan efek dari unconditional grant terhadap pembiayaan daerah. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). dengan porsi Daerah Propinsi yang bersangkutan. 2. Bobot Daerah ditetapkan berdasarkan: • kebutuhan wilayah otonomi Daerah. 25/1999 ketentuan mengenai aturan alokasi DAU adalah sebagai berikut: 1. Garis AB adalah garis anggaran6 Daerah setempat (community budget line). persentase Dana Alokasi Umum untuk Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota disesuaikan dengan perubahan tersebut. Dasar-dasar Keuangan Publik .3: PRAKTEK TRANSFER TANPA SYARAT DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan bentuk yang masuk dalam kategori transfer tanpa syarat (unconditional grant) untuk kasus di Indonesia. 6. DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi 6 Garis anggaran (budget line) adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang membutuhkan biaya (anggaran) yang sama besar. Porsi Daerah Kabupaten/Kota merupakan proporsi bobot Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua Daerah Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. 8. 3. 5. dapat dilihat pada Gambar 26-2.

tingkat kepuasan masyarakat pun menjadi lebih besar. maka yang bertambah akibat adanya transfer adalah jumlah anggaran. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Dengan demikian. Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu menjadi OK (untuk assested public goods) dan menjadi OH (untuk other public goods). Hal ini digambarkan dengan adanya pergeseran (shifting) budget line yang sejajar dari AB menjadi FG. dengan unconditional grants memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang lebih baik bagi Daerah yang muncul dari kemungkinan untuk memilih yang lebih besar. Sehingga. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. Pada kondisi sebelum ada transfer. Gambar 2-2: Efek Unconditional Grant Terhadap Pembiayaan Daerah Other Public Goods i2 F i1 A H E E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods 7 Kurva indiferensi (indifference curve) adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi seorang konsumen. Kurva i1i1. Ini mengingat. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve)7. Namun. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. jumlah barang yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. hal ini bisa juga menjadi suatu kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan maksud pemberian grants tersebut. Karena tidak ada batasan pada cara pembelanjaan fasilitas publik manapun. bagi pemberi. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan bentuk transfer lainnya. i2i2.259 barang yang tersedia.

kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. Sama dengan kasus sebelumnya. Daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. Contohnya adalah proyek-proyek yang menimbulkan efek eksternalitas positif bagi daerahdaerah lain ataupun proyek-proyek dari Pemerintah Pusat yang sifatnya ujicoba atas suatu program atau ide baru (experimenting with new ideas). Jadi.260 Transfer Dengan Syarat (Conditional Transfer) Transfer ini biasanya digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh Pemerintah Pusat namun kurang dianggap penting oleh Daerah. kekurangan tersebut. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh Pusat. Hanya saja. Transfer ini diperuntukkan apabila transfer tersebut dapat dan memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana yang terjadi. Penjelasan efek dari open-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 26-3. Misalnya. Pemerintah Pusat dan Daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. sebuah proyek pembangunan universitas membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. Transfer dari Pemerintah Pusat dalam hal ini berfungsi untuk membantu mengatasi kekurangan dana tersebut. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh Pusat kepada Daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. yaitu hanya menggeser kuantitas Dasar-dasar Keuangan Publik . Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). Pada kondisi sebelum ada transfer. Maka. i2i2. Dengan demikian. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Transfer ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. sedangkan barang A dibiarkan tetap. Pemerintah Pusat dan Daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. yaitu misalnya Pusat 90% dan Daerah 10%. di sini Pemerintah Daerah telah mengalokasikan sejumlah dana dari pendapatan daerahnya untuk penyelenggaraan urusan tersebut. dana Daerah belum cukup untuk menjamin penyelenggaraan urusan tersebut dengan baik. Transfer pengimbang ini juga dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis: 1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open-ended matching grants). yaitu: Transfer pengimbang (matching grants). Kurva i1i1. Untuk tujuan ini. Sementara itu. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E.

yaitu dari OD menjadi OP. daerah yang kaya akan mampu membuat proyek yang kaya pula dan menjadi semakin kaya. Gambar 26-3: Efek Dari Open-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Efek negatif dari open-ended matching grants adalah grant yang diberikan oleh Pemerintah Pusat justru akan menyebabkan ketidakmerataan antardaerah. estimasi biaya ternyata membengkak menjadi Rp110 miliar atau mengalami kekurangan Rp10 miliar lagi. Akibatnya. dengan Dasar-dasar Keuangan Publik .261 barang B. karena walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. Daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. Sehingga. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh Pusat. Dengan demikian. namun setelah besarnya biaya proyek melampaui jumlah tertentu. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. Sementara itu. namun untuk barang A tetap. sementara barang A tetap. Pada transfer ini terdapat batasan jumlah dana maksimum yang dapat digunakan. sebuah proyek pembangunan universitas awalnya membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. Maka. karena sifat grant ini yang tidak terbatas. Hal ini sangat disukai oleh pemberi bantuan (Pemerintah Pusat). 2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants). dalam perjalanannya. Karena Pemerintah Pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. Namun. sementara Daerah yang miskin akan tetap miskin karena mereka tidak dapat membuat proyek kaya. Misalnya. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. kekurangan tersebut. pemberi bantuan dapat mencukupkan bantuannya. yang pembiayaannya bisa sebagian besar dari Pemerintah Pusat. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak.

tetapi dari AB menjadi AT yang berarti jumlah barang A yang dapat dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan perkiraan semula. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Dalam gambar terlihat bahwa rotasi pada budget line setelah batas tertentu. garis anggaran tidak jadi bergeser dari AB menjadi AM. dimana posisi E0 ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. Sama dengan kasus sebelumnya. Pada kondisi sebelum ada transfer. Transfer bukan pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh Pusat kepada Daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa Pemerintah Daerah sendiri telah/akan mengalokasikan dananya dengan jumlah besar atau kecil. namun untuk barang A tetap. dari proyek senilai Rp100 miliar. sementara barang A tetap. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Dalam rencana awal. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. Untuk tujuan ini. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. Misalnya. Karena Pemerintah Pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. Sehingga. Jenis transfer ini dapat dipakai oleh Pemerintah Pusat untuk menjadi sarana menginternalisasikan Dasar-dasar Keuangan Publik . slope-nya menjadi sejajar pada budget line awalnya. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. yaitu Rp100 miliar. yaitu hanya menggeser kuantitas barang B. Dengan demikian. Transfer bukan pengimbang (non-matching grants). yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. Pemerintah Pusat akan memberikan kontribusinya sebesar 90% dan Daerah 10%. i2i2. Dengan demikian. Pemerintah Pusat dan Daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. Kurva i1i1. Pemerintah Pusat dan Daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. dimana posisi permintaan (demand) barang barang B adalah tetap OD. terjadi kenaikan bahan baku sehingga budget seharusnya dinaikkan menjadi Rp110 miliar. terjadi titik keseimbangan baru dari E menjadi E1. yaitu dari OD menjadi OP.262 sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. Implikasinya. sedangkan barang A dibiarkan tetap. Implikasinya. Namun dalam perkembangannya. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E0. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Penjelasan efek dari closed-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 26-4. yaitu Rp100 miliar.

Dengan adanya transfer dari Pusat ke Daerah untuk keperluan khusus tanpa diperlukannya dana pendamping. Jadi. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). namun karena pelaksanaannya menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. Kurva i1i1. transfer diberikan oleh Pusat untuk mendorong Daerah agar tetap bersemangat dan mau mengalokasikan pendapatan daerahnya untuk pelaksanaan fungsi tersebut. maka budget line dari barang Dasar-dasar Keuangan Publik . Penjelasan efek dari non-matching grants terhadap pembiayaan daerah. Gambar 26-4: Efek Closed-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q T O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Pada kondisi sebelum ada transfer. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. (eksternalitas) terutama kepada Daerah yang menghasilkan limpahan manfaat tersebut. dapat dilihat pada Gambar 26-5. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B.263 limpahan manfaat. Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). kendati Pemerintah Daerah yang bersangkutan telah mengalokasikan pendapatan daerahnya (local revenue) untuk pembiayaan penyelenggaraan urusan itu. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). i2i2.

Gambar 26-5: Efek Non-Matching Grants Other Public Goods i2 i1 A H E F E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods Dasar-dasar Keuangan Publik . namun tidak mengubah batas maksimum fasilitas publik lainnya (other public goods).264 publik yang dibantu (assested public goods) mengalami pergeseran (shifting).

265 B A B XXVII PERPAJAKAN DAERAH Pendahuluan P emerintah Daerah dapat memperoleh pendapatan dari dari perpajakan dengan tiga cara. Pemerintah Daerah mengenakan opsen atas pajak penjualan di tingkat negara bagian (state). pajak Pemerintah Pusat yang dibagikan adalah Pajak Penghasilan (PPh). Pemerintah Daerah Swedia. dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Davey (1983) mendefinisikan bahwa opsen adalah semacam pungutan pajak (precept) yang dipungut oleh propinsi (county) atau dewan desa (parish council) di Inggris di atas rate (pajak atas harta tetap. Pemerintah Pusat membayarkan pendapatan opsen tersebut kepada Pemerintah Daerah. Dalam konteks Indonesia. Pemerintah Daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pertama. Di Amerika Serikat. para Wajib Pajak di wilayah (daerah) mereka. Menurut pengertian ini. pada umumnya membayar pungutan tambahan beserta pajak-pajaknya kepada Pemerintah Pusat. Amerika Serikat. Untuk lebih jelas memahami opsen. sedangkan di daerahdaerah nonmetropolitan. Sedangkan. Kedua. dalam hal pajak penghasilan atau alternatifnya. surchage di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh Pemerintah Pusat. semacam PBB) dewan kabupaten (district council). Kemudian. Opsen tersebut mungkin dipungut sebagai prosentase tambahan atas pendapatan kena pajak (PKP). sebagai suatu prosentase Dasar-dasar Keuangan Publik . memungut opsen atas pajak penghasilan nasional. dan India. beberapa panchayats (Pemerintah Kabupaten) di India menikmati opsen atas pajak tanah. 25/1999. ialah melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh Pemerintah Pusat. precept Pemerintah Propinsi merupakan proporsi yang tinggi dari seluruh pungutan pungutan wajib wajib pajak. sebagaimana telah dibahas sebelumnya. misalnya. Praktek seperti ini diterapkan di Swedia. menurut Undang-undang No.

karena Indonesia tidak menerapkan sistem opsen. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. pertumbuhan potensi dari dasar pengenaan pajak itu sendiri. kecukupan dan elastisitas. apabila harga-harga meningkat. Dalam hubungan ini. Sedangkan elastis maksudnya adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran Pemerintah Daerah. dan pendapatan individu meningkat. penduduk. pajak daerah jenis ini diatur dalam UU No. pajak dikatakan tidak baik. kurang relevan dengan sistem perpajakan di Indonesia. Adapun variabel yang utama adalah dasar hukumnya (kewenangannya). maka dengan sendirinya pajak juga harus meningkat. Dalam konteks ini. Bagian ini hanya akan mendiskusikan mengenai pajak yang diperoleh oleh Pemerintah Daerah sendiri. Sedangkan. Elastisitas merupakan kualitas suatu sumber pajak yang penting. yaitu dalam hubungan pembebanan pajak atas tingkat pendapatan yang berbeda-beda. atau PDRB.266 tambahan atas pajak yang sebenarnya dibayarkan kepada Pemerintah Pusat atau negara bagian. Pertama. Keempat kriteria tersebut adalah kecukupan dan elastisitas. Suatu jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah mungkin ditetapkan berdasarkan ketentuan perundangan Pemerintah Pusat. yakni prosentase pendapatan seseorang yang dibayarkan untuk pajak bertambah sesuai dengan tingkat pendapatannya. elastisitas mempunyai dua dimensi. dan (ii) pembahasan mengenai opsen. kemudahan untuk memungut pertumbuhan pajak tersebut. Seringkali dijumpai Pemerintah Daerah mempunyai banyak jenis pajak. adalah keadilan. Elastisitas juga dengan mudah dapat diukur dengan membandingkan hasil penerimaan selama beberapa tahun dengan perubahan dalam indeks harga. Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah Menurut Davey (1983) terdapat empat kriteria mengenai pajak Daerah. jika Dasar-dasar Keuangan Publik . pemerataan secara vertikal. Kriteria pertama. dan dapat diterma secara politik. Kedua. Pertama. pemerataan. Ketiga. dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis. adalah pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh Pemerintah Daerah sendiri. tetapi pendapatan yang dihasilkan tidak mampu melebihi biaya yang dikeluarkan untuk memungutnya. Dalam konteks di Indonesia. penduduk di suatu daerah meningkat. kemampuan administratif. Alasan pembatasan ini. Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendadapat tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. Keadilan memiliki tiga dimensi. Kriteria kedua. pajak dapat dikatakan baik kalau pajak tersebut bersifat progresif. Prinsip keadilan ini adalah bahwa beban pengeluaran Pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan. adalah (i) tax revenue sharing telah dibahas pada bagian sebelumnya. misalnya.

yakni persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak berkurang dengan adanya kenaikan pendapatan. implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. Pada dasarnya setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan suatu beban baik bagi konsumen maupun produsen. sehingga akan merugikan masyarakat secara menyeluruh (dead-weight loss). pajak daerah juga harus memenuhi kriteria non-distorsi terhadap perekonomian. Kriteria ketiga adalah kemampuan adimistratif. Kriteria keempat. adalah keadilan geografis. dalam beberapa jenis pajak. Kedua. adalah adanya kesepakatan politik. menetapkan struktur tarif. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. Artinya. Petani yang memiliki pendapatan Rp100 juta per tahun. lebih tidak populer dibandingkan jenis pajak yang lain. Seseorang seharusnya tidak dibebani pajak lebih berat hanya karena mereka tinggal di suatu daerah tertentu. yaitu dalam konteks hubungan pembebanan pajak berdasarkan sumber pendapatan. memungut pajak secara fisik. seharusnya dikenakan pajak dalam jumlah yang sama. Namun demikian. sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. jangan sampai suatu pajak atau pungutan menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan. Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah Untuk mempertahankan prinsip-prinsip pajak daerah tersebut di atas. Dengan adanya UU No. Ketiga. maka perpajakan daerah harus memiliki ciri-ciri tertentu. Bahkan. Semua orang pada dasarnya ingin menolak membayar pajak. Maksudnya adalah seseorang yang memiliki jumlah pendapatan yang sama. kalau diperbolehkan. Tidak ada pajak yang populer. Untuk menilai suatu pajak agar dapat memenuhi tuntutan keadilan dan pemerataan. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut ditetapkan. 34 Tahun 2000 ini diharapkan pajak daerah tidak menimbulkan beban tambahan bagi masyarakat. Sidik (2002) menambahkan bahwa selain keempat kriteria yang ditetapkan Davey (1983) di atas. kriteria non-distorsi terhadap perekonomian merupakan alasan keluarnya UU No. Dalam kondisi seperti ini. Dimana. mudah dihitung. administrasi pemungutan pajak harus sederhana. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. maka pajaknya harus sama dengan pegawai kantor (swasta atau negeri) yang memiliki gaji sebesar Rp100 juta per tahun. maka diharapkan pajak pun dapat secara politis diterima oleh masyarakat. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. pemerataan secara horisontal. maka dibutuhkan suatu administrasi yang baik dan fleksibel. kemauan politik diperlukan dalam mengenakan pajak. Dengan adanya kemauan politik seperti ini. Pembebanan pajak harus adil antarpenduduk di berbagai daerah. Dalam konteks Indonesia. maka diharapkan tidak ada penduduk yang yang kebal pajak.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dengan konsep keadilan horisontal seperti ini. Adapun ciri-ciri Dasar-dasar Keuangan Publik .267 pajak tersebut bersifat regresif.

• tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). Dengan demikian. Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah. terutama kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah. fungsi regulator yaitu bila pajak dipergunakan sebagai alat mengatur untuk mencapai tujuan. maka pemberian kewenangan untuk mengadakan pemungutan pajak selain mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan yang berlaku secara umum. 2. khususnya yang terjadi di banyak negara sedang berkembang. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam konteks Indonesia. 3. Menurut Teresa Ter-Minassian (1997). Pemerintah Daerah dalam melakukan pungutan pajak harus tetap “menempatkan” sesuai dengan fungsinya. seyogyanya. Pajak daerah yang sangat “mobile” akan mendorong pembayar pajak merelokasi usahanya dari daerah yang beban pajaknya tinggi ke daerah yang beban pajaknya rendah. adalah sebagai berikut: • pajak daerah secara ekonomis dapat dipungut. basis pajak yang “mobile” merupakan persyaratan utama untuk mempertahankan di tingkat pemerintah yang lebih tinggi (Pusat/Propinsi). Sementara. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. Untuk alasan ini pajak komsumsi di banyak negara yang diserahkan kepada daerah hanya karena pertimbangan wilayah daerah yang cukup luas (seperti propinsi di Canada). kadang-kadang meningkat secara drastis dan adakalanya menurun secara tajam. beberapa kriteria dan pertimbangan yang diperlukan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat Pemerintahan Pusat. Adapun fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). Untuk itu. Basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu “mobile”. misalnya: pajak minuman keras dimaksudkan agar rakyat menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras. Fungsi budgeter yaitu bila pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. pajak ekspor dimaksudkan untuk mengekang pertumbuhan ekspor komoditi tertentu dalam rangka menghindari kelangkaan produk tersebut di dalam negeri. Sebaliknya. yaitu: fungsi budgeter dan fungsi regulator. Propinsi dan Kabupaten/Kota. seharusnya diserahkan kepada Pemerintah Pusat. Pajak yang dimaksudkan untuk tujuan stabilisasi ekonomi dan cocok untuk tujuan distribusi pendapatan seharusnya tetap menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. juga harus mempertimbangkan ketepatan suatu pajak sebagai pajak daerah. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi.268 dimaksud. yaitu: 1. basis pajak yang tidak terlalu “mobile” akan mempermudah daerah untuk menetapkan tarip pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. • relatif stabil.

Model Leviathan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi. 6. seperti identifikasi jumlah pembayar pajak. menghasilkan Total Penerimaan Pajak Maksimum yang ditentukan oleh kemampuan wajib pajak untuk menghindari beban pajak baik legal maupun illegal dengan mengubah “economic behavior” dari wajib pajak. Pada tarif t*. tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga Dasar-dasar Keuangan Publik . Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data. yaitu : (i) dasar pengenaan pajak dan (ii) tarif pajak. maka Gambar 27-1 di bawah ini menunjukkan hubungan antara tarif pajak proporsional atas basis pajak tertentu. dan hanya kegiatan ekonomi saja yang dipengaruhi oleh besaran pajak. Model Leviathan Penggalian sumber-sumber keuangan daerah khususnya yang berasal dari pajak daerah pada dasarnya perlu memperhatikan 2 (dua) hal. idealnya. karena akan memperlemah hubungan antar pembayar pajak dengan pelayanan yang diterima (pajak adalah fungsi dari pelayanan). secara teoritis tidak selalu menghasilkan total penerimaan maksimum. harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak terlalu berfluktuasi. Gambar 27-1 ini juga mengasumsikan bahwa penyesuaian wajib pajak terhadap pengenaan tarif pajak tertentu adalah independent terhadap jenis pajak dan tarif pajak lainnya. dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi pembayar pajak daerah. Bentuk kurva (“Laffer”) yang berbentuk parabola menghadap sumbu Y (tarif pajak). Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. Pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. 8. Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain. 7. Hasil penerimaan. penegakkan hukum (law-enforcement) dan komputerisasi.269 4. Model Leviathan akan mencapai total penerimaan pajak maksimum (T*) pada tarif t*. Hal ini tergantung pada respons wajib pajak. 5. Dengan asumsi bahwa biaya administrasi perpajakan dianggap tidak signifikan dan ceteris-paribus level pelayanan publik yang dibiayai dari penerimaan pajak. Formulasi model ini dikenal sebagai Model Leviathan. Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan secukupnya pada semua tingkat pemerintahan. permintaan dan penawaran barang yang dikenakan tarif pajak lebih tinggi. menunjukkan bukanlah tarif tertinggi. Pajak daerah seharusnya “visible”. Pada kondisi ini dikenal sebagai Revenue Maximizing Tax Rate. namun penyerahan kewenangan pemungutannya kepada daerah akan tepat sepanjang manfaatnya dapat dilokalisir bagi pembayar pajak lokal. objek dan subjek pajak dan besarnya pajak terutang dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah. Pemerintah Daerah cenderung untuk menggunakan tarif yang tinggi agar diperoleh total penerimaan pajak daerah yang maksimal. tetapi dapat dicapai total penerimaan pajak maksimum.

66 Tahun 2001 tentang Retribusi Dasar-dasar Keuangan Publik . 18 Tahun 1997 berlaku belum ada satupun daerah yang mengusulkan pungutan baru karena dianggap hal tersebut sulit dilakukan. 22/1999 dan UU No.65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No.270 dan kuantitas barang terhadap pengenaan pajak sedemikian rupa. Walaupun dalam UU tersebut sebenarnya memberikan kewenangan kepada daerah. diharapkan pajak daerah dan retribusi daerah akan menjadi salah satu PAD yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. namun harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP). Sehingga pada waktu UU No. yaitu PP No.34 Tahun 2000. Model Leviathan ini dapat dikembangkan untuk menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak untuk mencapai Total Penerimaan Pajak Maksimal. pengaturan agar Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah harus mendapat pengesahan dari Pusat juga dianggap telah mengurangi otonomi daerah. Selain itu.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.18 Tahun 1997 diubag dengan UU No. Dengan diubahnya UU No. UU No. maka UU No. Seiring dengan keluarnya UU No. Gambar 27-1: Model Leviathan Tarif Pajak Daerah Kurva Laffer t* Total Penerimaan Pajak Daerah T* Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Pengaturan kewenangan pengenaan pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Indonesia telah diatur sejak lama.18 Tahun 1997 dianggap kurang memberikan peluang kepada daerah untuk mengadakan pungutan baru. Namun.34 Tahun 2000.34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya. Dalam UU No. dalam perkembangannya. terutama sejak tahun 1997 dengan dikeluarkannya UU No. maka akan dicapai Total Penerimaan Maksimum. 25/1999.18 Tahun 1997 menjadi UU No.

c. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU. Jenis Pajak Propinsi bersifat limitatif yang berarti Propinsi tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. (vii) Pajak Parkir. Objek pajak bukan merupakan objek pajak Propinsi dan/atau objek pajak Pusat. g. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum. d. (vi) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C. e. b. Dasar-dasar Keuangan Publik . (iv) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3ABT & AP). Berkaitan dengan besarnya tarif. yaitu : (i) Pajak Hotel. Kriteria dimaksud (Pasal 2 ayat 4) adalah : a. artinya Kabupaten/Kota diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. berlaku definitif untuk Pajak Propinsi yang ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No. (iii) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). (iii) Pajak Hiburan. (v) Pajak Penerangan Jalan. Jenis-Jenis Pajak Daerah Kabupaten Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota diberi kewenangan untuk memungut 7 (tujuh) jenis pajak (Pasal 2 ayat 2). Adanya pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh Propinsi terkait dengan kewenangan Propinsi sebagai daerah otonom yang terbatas yang hanya meliputi kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas daerah Kabupaten/Kota dan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan daerah Kabupaten/Kota. 34 Tahun 2000. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Menjaga kelestarian lingkungan. dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria yang ditetapkan dalam UU tersebut.271 Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh Propinsi dan jenis pajak yang dipungut oleh Kabupaten/Kota.65 Tahun 2001. (ii) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB & KAA). serta kewenangan bidang pemerintahan tertentu. yaitu : (i) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (PKB & KAA). Namun demikian. (iv) Pajak Reklame. Jenis pajak Kabupaten/Kota tidak bersifat limitatif. dalam pelaksanaannya Propinsi dapat tidak memungut jenis pajak yang telah ditetapkan tersebut jika dipandang hasilnya kurang memadai. f. Jenis-Jenis Pajak Daerah Propinsi Pajak Propinsi ditetapkan sebanyak 4 (empat) jenis pajak. dan h. Potensinya memadai. (ii) Pajak Restoran. Bersifat pajak dan bukan retribusi.

Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota Besarnya tarif yang berlaku definitif untuk Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen). Gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Daerah Kabupaten/Kota yang terkait. Hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). c. Gubernur berwenang merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Daerah Kabupaten/Kota dalam Propinsi yang bersangkutan. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen). tarif jenis pajak ditetapkan paling tinggi sebesar: a. Disebutkan dalam UU No. Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 30% (tiga puluh persen). 34/2000 Pasal 3 ayat (1). Hasil penerimaan pajak Kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10% (sepuluh persen) bagi Desa di wilayah Daerah Kabupaten yang bersangkutan. b. Bagian Desa ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Desa. Sedangkan ketentuan mengenai realokasi dilakukan oleh Gubernur atas dasar kesepakatan yang dicapai antar Daerah Kabupaten/Kota yang terkait dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen).272 Ketentuan Mengenai Bagi Peruntukkannya (Pasal 2A) Hasil Pajak Propinsi dan Hasil penerimaan pajak Propinsi sebagian diperuntukkan bagi Daerah Kabupaten/Kota di wilayah Propinsi yang bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Bagian Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Daerah Propinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Daerah Kabupaten/Kota. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen). Dengan adanya pemisahan jenis pajak yang dipungut oleh Propinsi dan yang dipungut oleh Kabupaten/Kota diharapkan tidak adanya pengenaan pajak berganda. c. Dalam hal hasil penerimaan pajak Kabupaten/Kota dalam suatu Propinsi terkonsentrasi pada sejumlah kecil Daerah Kabupaten/Kota. Penggunaan bagian Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan sepenuhnya oleh Daerah Kabupaten/Kota. Dasar-dasar Keuangan Publik . b. Dalam hal objek pajak Kabupaten/Kota dalam satu Propinsi yang bersifat lintas Daerah Kabupaten/Kota. namun tidak boleh lebih tinggi dari tarif maksimum yang telah ditentukan dalam UU tersebut.

Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. serta sifatnya bervariasi antar daerah. Peranan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Mendukung Pembiayaan Daerah Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah.34 Tahun 2000 daerah Kabupaten/Kota dimungkinkan untuk menetapkan jenis pajak dan retribusi baru. banyaknya bantuan dan subsidi ini mengurangi “usaha” daerah dalam pemungutan PAD-nya. f. Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). Hal ini mengakibatkan bahwa pemungutan pajak cenderung dibebani olehbiaya pungut yang besar. Untuk mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi daerah. terutama hal ini disebabkan oleh: • Relatif rendahnya basis pajak dan retribusi daerah. buoyancy adalah elastisitas penerimaan 9 Dasar-dasar Keuangan Publik . melihat kriteria pengadaan pajak baru sangat ketat. Keadaan inidiperlihatkan dalam suatu studi yang dilakukan oleh LPEM-UI bekerjasama dengan Clean Urban Project. Jakarta. Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). Namun. Berdasarkan UU No. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen). i. Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). khususnya kriteria pajak daerah tidak boleh tumpang tindih dengan Pajak Pusat dan Pajak Propinsi. k. PAD masih tergolong memiliki tingkat buoyancy9 yang 8 Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia.273 d. e. RTI8 bahwa banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD. g. diperkirakan daerah memiliki basis pungutan yang relatif rendah dan terbatas. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). Dengan kata lain. Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). h. j. 1999. Sebagian besar penerimaan daerah masih berasal dari bantuan Pusat. • Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. Buoyancy adalah perbandingan persentase perubahan penerimaan pajak terhadap persentase perubahan pendapatan nasional. Permasalahan yang dihadapi oleh Daerah pada umumnya dalam kaitan penggalian sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah. yang merupakan salah satu komponen dari PAD. Pajak Reklame 25 % (dua puluh lima persen). dan lebih mengandalkan kemampuan “negosiasi” daerah terhadap Pusat untuk memperoleh tambahan bantuan. RTI. LPEM Universitas Indonsia bekerjasama dengan Clean Urban Project. tampaknya pungutan pajak dan retribusi daerah masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi. Rendahnya basis pajak ini bagi sementara daerah berarti memperkecil kemampuan manuver keuangan daerah dalam menghadapi krisis ekonomi. adalah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Dari segi upaya pemungutan pajak. • Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. Pajak Parkir 20% (dua puluh persen).

Peranan pajak dan retribusi daerah dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi juga terjadi karena adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah penduduk. Demikian pula. Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah. yaitu jumlah penerimaan pajak yang dipungut oleh daerah hanya sebesar 3. 2002. Variasi dalam penerimaan ini diperparah lagi dengan sistem bagi hasil (bagi hasil didasarkan pada daerah penghasil sehingga hanya menguntungkan daerah tertentu). seperti: pajak penghasilan. Sebagai akibatnya. Sebagian besar daerah Propinsi hanya dapat membiayai kebutuhan pengeluarannya kurang dari 10%10. walaupun dari sisi pertumbuhan ekonomi sebenarnya pemasukkan pajak dan retribusi daerah dapat melampaui target yang ditetapkan. dan kemampuan masyarakat. Hal ini mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat berarti bagi daerah. peranan PAD dalam membiayai kebutuhan pengeluaran daerah sangat kecil dan bervariasi antar daerah yaitu kurang dari 10% hingga 50%. • Tidak signifikannya peran PAD dalam anggaran daerah tidak lepas dari ‘sistem tax assignment’ di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada Pemerintah Pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial (yang tentunya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu). keadaan geografis (berdampak pada biaya yang relatif mahal). Machfud Sidik.274 rendah. Salah satu sebabnya adalah diterapkan sistem “target” dalam pungutan daerah.11 Ketimpangan dalam penguasaaan sumbersumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia dari sisi revenue assignment masih terlalu ”sentralistis”. pajak pertambahan nilai dan bea masuk. perpajakan terhadap PDB yang menunjukkan berapa persen perubahan penerimaan perpajakan apabila PDB berubah 1%. sehingga mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat bervariasi. beberapa daerah lebih condong memenuhi target tersebut. op. distribusi pajak antar daerah juga sangat timpang karena basis pajak antar daerah sangat bervariasi (ratio PAD tertinggi dengan terendah mencapai 600).cit. 8.39% dari total penerimaan pajak (Pajak Pusat dan Pajak Daerah). Dasar-dasar Keuangan Publik . 10 11 Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2001. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa distribusi kewenangan perpajakan antara daerah dan pusat sangat timpang. hal. Selama ini.

dalam subbagian selanjutnya akan disajikan praktek pinjaman daerah di Indonesia. namun perlu diperhatikan adanya batas meminjam yang disesuaikan dengan kemampuan tiap-tiap daerah. P Pada bagian ini akan dibahas mengenai tujuan dan batas-batas pinjaman. Pemilihan jangka waktu akan sangat tergantung pada jenis proyek yang akan dibiayai. metode dan sumber-sumber pinjaman. Dalam konstitusi di berbagai negara. terutama risiko dalam pembayaran bunga maupun pokok. lembaga keuangan bank. Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Pemerintah Daerah dapat membiayai sebagian pengeluarannya dengan melakukan pinjaman. Pada dasarnya kewenangan daerah Dasar-dasar Keuangan Publik . dan kemampuan meminjam (ability to borrowing). Walaupun kemungkinan nilai pinjaman yang mampu dikumpulkan cukup besar karena banyaknya sumber yang bisa digunakan. Pemerintah Pusat. masyarakat. Pinjaman yang berasal dari masyarakat penghimpunan dana dapat melalui penerbitan Obligasi Daerah. Banyaknya pihak yang dapat dijadikan sumber pinjaman membuat pembiayaan pembangunan dengan pinjaman mampu mengumpulkan dana yang cukup besar. Risiko yang terkandung dalam melakukan pinjaman. dan sumber lainnya seperti pinjaman dari daerah lain. Sumber pinjaman dapat berasal dari berbagai pihak. Pinjaman dalam negeri dapat berasal dari. jangka pendek dan jangka panjang. Dan agar pembahasan ini lebih riil di lapangan. Pinjaman juga dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu. harus menjadi pertimbangan dalam melakukan pinjaman. lembaga keuangan bukan bank. baik dari dalam negeri maupun luar negeri. persyaratan-persyaratan pinjaman. masalah kewenangan daerah untuk meminjam ini telah diatur.275 B A B XXVIII PINJAMAN DAERAH Pendahuluan injaman merupakan alternatif lain yang bisa dipilih untuk membiayai pembangunan daerah.

Pada tahun 1975. Maksudnya adalah. untuk membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. biasanya diarahkan untuk membiayai prasarana publik yang reraltif cenderung lebih mengedepankan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pembelian sebuah pabrik dan peralatan lainnya juga dapat dibiayai dengan pinjaman. bahwa berbagai pinjaman dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Manfaat dari pinjaman seperti ini adalah. 5. untuk membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). proyek yang dibiayai tersebut dapat menghasilkan penerimaan (revenue) yang dapat digunakan untuk membayar kembali dana pinjaman. Pinjaman dengan maksud untuk menutup kebutuhan dana jangka pendek adalah sangat umum dilakukan. Sebagai contoh. Praktek-praktek seperti ini antara lain sering diterapkan di negara-negara maju. biasanya sebagai suatu keharusan karena pola pengumupulan penerimaan daerah yang tidak seimbang. 3. untuk membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. untuk menutup kebutuhan dana (cash) jangka pendek. dengan jangka waktu sampai tiga bulan. Pemerintah Daerah juga mampu menyediakan pelayanan publik secara lebih baik. 4. Pemerintahan New York juga pernah melakukan pinjaman untuk membayar gaji pegawai dan uang pensiunan dan membayar hutang yang telah jatuh tempo. Suatu cara penyelesaian yang umum untuk membeli peralatan dengan pinjaman adalah dengan membeda-bedakan perkiraan umur masingmasing peralatan. 2. Kekurangan dana dari anggaran tahunan adalah hal yang umum terjadi untuk Pemerintah Pusat. untuk membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah. Tetapi jarang diperkenankan bagi Pemerintah Daerah. membayar hutang dan membiayai sebagaian besar dari biaya-biaya rutin (operating cost). Cara leasing ini semakin dikenal untuk menghindari pembelian peralatan yang cepat menjadi usang sebagai akibat perubahan teknologi. penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pembangunan prasarana dan penyediaan pelayanan umum. Pemerintah Daerah di Italia meminjam 61% dari penerimaan kotor mereka untuk membiayai pengeluaran modal. pembangunan British New Town Corporation dibiayai oleh Pemeirntah Pusat Inggris. Pengembalian pinjaman tersebut dari hasil penjualan rumah-rumah dan toko-toko yang dibangun oleh British. Praktek dan konsep yang secara luas dapat diterima adalah dana pinjaman untuk membiayai kegiatan investasi yang dapat “membiayai sendiri”. Pemerintah negara bagian di Amerika Serikat juga mengadakan pinjaman melalui industrial aid bonds untuk menyediakan dana investasi perusahaan manufaktur perorangan. selain mendapatkan sumber penerimaan bagi daerah. Bentuk pinjaman yang umum berupa bank overdraft. akan tetapi Pemerintah Daerah seringkali mencari pinjaman langsung dari deposito jangka pendek dari masyarakat berupa short-term bills. Sementara itu.276 melakukan pinjaman adalah seperti yang dituliskan oleh Davey (1983). Pilihan lain adalah dengan cara pinjam sewa (leasing).

4. adalah Pemerintah Pusat memberikan pinjaman kepada Pemerintah Daerah. Praktek ini diterapkan oleh India. Oleh karenanya. Pinjaman hipotek atas asset tetap. kemudian oleh Pemerintah Pusat. dimana 71. yaitu: 1. Kedua. Dasar-dasar Keuangan Publik . 9. Pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas (umumnya dari Pemerintah Pusat). Pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing. Pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional.277 manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat dibandingkan dengan revenue yang dihasilkan. Pertama. 6. Pembahasan lebih lanjut untuk kasus di Indonesia ini akan di bahas secara khusus di subbagian berikutnya. karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan. sumber dana yang berasal 12 Mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan aggreement adalah pinjaman dari luar negeri ke Pemerintah Pusat. Bank Asia Afrika dan bantuan bilateral. tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan atau investasi jangka panjang.12 3. Obligasi Jangka Panjang (bond) 5. Di antara sistem pinjaman tersebut di atas. Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB). yang biasanya pinjaman ini diberikan kepada Pemerintah Pusat negara yang bersangkutan melalui mekanisme pinjaman two step loan atau subsidary loan aggreement. Dana untuk sewa beli peralatan (leasing). Bank Pembangunan Amerika Latin (untuk negara-negara di kawasan Amerika Latin). Pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. Bahkan. 8. Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). karena ada larangan dari Pemerintah Pusat bagi Pemerintah Daerah untuk meminjam di luar skema Pemerintah Pusat. Dari pembahasan ini prinsip dasar yang harus dipegang ketika Pemerintah Daerah melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristik dari pinjaman itu sendiri. 2. Pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bank-bank komersial. misalnya dana pensiun.6% pinjaman daerah berasal dari Pemerintah Pusat pada tahun 1979. ada tiga cara yang paling sering digunakan oleh Pemerintah Daerah di berbagai negara. Pinjaman yang bersifat jangka pendek. seperti Bank Dunia (World Bank). sumber pinjaman untuk pembiayaan jenis ini biasanya berasal dari negara-negara donor dengan tingkat bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan bunga komersial. sesungguhnya batasan-batasan atau teknik-teknik pembiayaan yang berlaku dalam dunia korporasi juga berlaku bagi Pemerintah Daerah. hampir 100% pinjaman jangka panjang Pemerintah Daerah berasal dari Pemerintah Pusat. di Indonesia. pinjaman tersebut diteruskan ke Pemerintah Daerah. Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Terdapat beberapa sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek. 7. Dengan kata lain.

(iv) keamanan pinjaman. dimana angsuran pinjaman dibayar secara tetap. Akan tetapi. Di Indonesia. Namun. Yang terpenting adalah bahwa jangka waktu pinjaman bergantung pada sikap pasar serta suku bunga yang berlaku. Jika menggunakan metode anuitas berarti membayar beberapa kali angsuran dalam jumlah yang sama besarnya setiap kali pembayaran hingga masa pembayaran selesai. Sementara itu. berupa management fee dan commitment fee yang besarnya sangat tergantung dari negosiasi antara kedua belah pihak. Persyaratan tingkat bunga pinjaman yang bersumber dari pasar keuangan pasti didasarkan pada bunga pasar. (iii) tingkat bunga. melalui bank-bank komersial. Metode pembayaran yang lain adalah menggunakan metode sinking fund. Misalnya. Ketiga. pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat atau lembaga keuanga internasional sering mencari turnover dana yang dipinjamkan secepat mungkin.278 dari pasar keuangan. Biasanya. Komponen dalam setiap kali pembayaran tersebut adalah pokok pinjaman dan bunga pinjaman. dan (v) persetujuan dan penyidikan. dengan maksud agar dapat meningkatkan kemampuan finansial Pemerintah Daerah. misalnya. Jangka waktu pinjaman Pemerintah Daerah bisa saja berkisar antara 24 jam (overnight) hingga 40 tahun. semakin lama suatu pinjaman.25% dari pinjaman yang belum ditarik. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional tersebut juga memberlakukan fee. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional oleh suatu Pemerintah biasanya memberlakukan bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan bunga pasar. Untuk tujuan capital investment. pengalaman menunjukkan bahwa bila cara sinking fund dtelah diterapkan dan untuk memenuhi kewajibannya disanggupi dengan baik. khusus untuk pinjaman jangka pendek untuk memenuhi cash flow Pemerintah Daerah. Persyaratan cara pembayaran kembali akan tergantung pada metode pembayaran yang dilakukan. management fee dan commitment fee sekitar 0. (ii) cara pembayaran kembali. misalnya pinjaman untuk masa 10 tahun. namun dalam prakteknya metode ini sering lebih merupakan usaha penyelematan terhadap utang kepada pihak luar (external debt). Jangka waktu pinjaman sangat tergantung dengan tujuan penggunaan pinjaman. maka Pemerintah Daerah harus mendapatkan pinjaman dengan jangka waktu yang setidaknya sama dengan umur proyek. Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah (i) jangka waktu pinjaman. Sebagai pilihan yang dapat dilakukan adalah dimana jangka waktu pinjaman dapat diturunkan sesuai penerimaan dari pajak dan retribusi untuk mengimbangi beban pinjaman tersebut. dengan mengeluarkan obligasi (bonds) di pasar modal. Pada umumnya. Persyaratan keamanan pinjaman muncul karena pihak pemberi pinjaman biasanya menghendaki suatu keadaan aman terhadap kegagalan pembayaran Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga hutang pokok yang dibayarkan adalah kumulatif selama masa pinjaman. tingkat bunga pun akan semakin tinggi.

Dari sisi teori fiskal. Untuk menghindari risiko yang dapat terjadi atas penggunaan pinjaman daerah dalam pembiayaan hendaknya memperhatikan kaidah yang berlaku dalam memperkirakan kapasitas meminjam Pemerintah Daerah. DSR merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah yang pada prinsipnya digunakan Pemerintah Daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman. misalnya proyekproyek infrastruktur. Sedangkan DCR pada prinsipnya merupakan angka Dasar-dasar Keuangan Publik . pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). Keterbatasan Pemerintah Daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah yang berasal dari daerahnya sendiri menjadi alasan penggunaan pinjaman dalam pembiayaan suatu daerah. Keterbatasan keuangan Pemerintah Pusat yang berimplikasi pada dana perimbangan pusat dan daerah... Proyek-proyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial selayaknya didanai oleh pembiayaan jangka panjang. Masyarakat yang menerima manfaat proyek di masa mendatang secara prinsip harus ikut menanggung beban biaya pengadaan proyek tersebut. Dua ukuran yang sering digunakan untuk itu adalah Debt Service Ratio (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR). dalam berbagai klausul pinjaman oleh Pemerintah Daerah.. karena Pemerintah Daerah harus memperhitungkan secara tepat nilai opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek-proyek yang akan dilaksanakannya sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi (Alisjahbana. 2001). misalnya lembaga perwakilan daerah. Prasyarat utama bagi diperbolehkannya daerah meminjam adalah dengan menerapkan “the golden rule guidelines” bagi pinjaman daerah (Magrassi. Hal ini dilandasi dengan perkembangan tingkat urbanisasi yang lebih tinggi daripada kemampuan daerah menyediakan berbagai infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik. tidak jarang pemberi pinjaman meminta adanya jaminan dari Pemerintah Pusat atau dijamin dengan aset tertentu.279 kembali. Persyaratan persetujuan muncul karena suatu pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Kewenangan yang lebih besar kepada Daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah dan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan daerah. local government should only use sub-national debt to finance capital projects that are anticipated to produce financial rate of returns that. vis-a-vis the project socioeconomic benefits.. pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah baru dapat dijalankan jika DPRD setempat memberikan persetujuan. 2000): “ . justify the debt service paid to lenders”. Penggunaan Pinjaman Dalam Pembiayaan Kebutuhan akan pinjaman daerah muncul akibat kecenderungan yang terjadi dimana peningkatan peran Pemerintah Daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah.. Dalam konteks di Indonesia. sedangkan pinjaman daerah yang berasal dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. semakin besar. Makanya. biasanya tidak dapat dilakukan sebelum ada persetujuan dari lembaga yang berwenang.

25 Tahun 1999 menyebutkan bahwa daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari. (a) sumber dalam negeri (b) sumber luar negeri. pembiayaan investasi yang diharapkan dapat secara langsung menghasilkan pendapatan. Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya maka. Pinjaman harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan mengangsur serta cara mengalokasikan pada pembangunan dan atau penyediaan layanan publik yang produktif. Pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran arus kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang Dasar-dasar Keuangan Publik .280 perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan neto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Ketentuan Dasar Pinjaman Daerah di Indonesia Undang-undang No. perlunya persetujuan Pemerintah Pusat harus ada evaluasi yang menyeluruh tentang aspek-aspek dapat tidaknya usulan pinjaman untuk diproses lebih lanjut. a. pembiayaan defisit anggaran rutin tahunan. Pinjaman daerah sebaiknya bersifat jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat (Wiratmo. § Pemerintahan Pusat § Lembaga Keuangan Bank § Lembaga Keuangan Bukan Bank § Masyarakat § Sumber Lainnya Pinjaman daerah menurut PP No 107 Tahun 2000 adalah: semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang. Pinjaman daerah yang berasal dari luar negeri harus melalui Pemerintah Pusat. Walaupun demikian. sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Sedangkan untuk pinjaman dari dalam negeri dapat secara langsung dilakukan bila disetujui oleh DPRD dengan prinsip pinjaman tersebut harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan daerah untuk membayar pinjamannya. Dalam hal ini. dan terutama tersedianya dana untuk pengembalian pinjaman secara aman. tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. 2001). pembelian peralatan dan kendaraan yang memiliki umur ekonomis jangka menengah. Pinjaman dari dalam negeri dapat bersumber dari (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2). pinjaman harus didefinisikan sebagai sumber dana pelengkap untuk mempercepat proses pembangunan daerah. Istilah disisihkan dimaksudkan untuk mempertegas adanya rencana untuk membiayai proyek melalui dana pinjaman daerah. Undangundang No 25 Tahun 1999 Pasal 11 ayat 1 menyebutkan bahwa: "Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya". dan pembiayaan investasi jangka panjang yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. Pinjaman pada dasarnya dapat digunakan untuk pembiayaan defisit aliran kas jangka pendek.

Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 telah menyebabkan terjadi perubahan yang sangat mendasar mengenai pengaturan hubungan Pusat dan Daerah. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. 25/1999 (lihat Tabel 28-1 ). Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah Pada tahun 1999. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat.281 b. dan lain-lain) mensyaratkan perpanjian pinjaman dilakukan oleh negara sebagai anggota. Pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali. 22/1999 dan UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. Kondisi ini sangat berbeda dengan ketentuan mengenai pinjaman daerah sebelum UU No. dimana negara lender hanya melakukan pinjaman dengan Pemerintah Pusat sebagai peminjam (Pakpahan. baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri. 2004). 25/1999 adalah diperkenankannya Daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. yang dalam hal ini adalah Pemerintah Pusat. Hal yang sama juga berlaku untuk pinjaman bilateral. Pemerintah RI memberlakukan dua undang-undang penting yang berkaitan dengan desentralisasi. dan (4) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas Daerah. Namun. khususnya dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. (2) Daerah melakukan pinjaman dari sumber luar negeri melalui Pemerintah Pusat. yaitu UU No. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB. yang artinya Pemerintah Pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). Dasar-dasar Keuangan Publik . yang dalam banyak literatur disebut intergovernment fiscal relation yang dalam UU 25/1999 disebut perimbangan keuangan. Pasal 11 UU No. (3) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset Daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. World Bank. 25/1999 menyebutkan bahwa: (1) Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya. 22/1999 dan UU No. Salah satu hal penting yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU No.

berkenaan • Menteri Keuangan dengan persetujuan batas • DPRD maksimum pinjaman dan persetujuan pemberian. sebagai pengawas RPD dan persetujuannya Batasan Pinjaman (Persyaratan) Batasan Pinjaman (Persyaratan) • 1982: Debt Service Coverage Ratio • Jumlah kumulatif pokok pinjaman (DSCR) < 15% yang wajib dibayar tidak melebihi 75% dari jumlah Penerimaan • Kepmendagri Nomor 96 Tahun Umum APBD tahun sebelumnya. 5/1974 Lebih jauh. 25/1999. 1994: § Minimum DSCR = 1 • DSCR minimal 2. • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 jumlah belanja APBD tahun anggaran berjalan. 25/1999 PP 107/2000 Institutional Setting Persetujuan (Approval) Persetujuan (Approval) • Menteri Dalam Negeri.5 proyeksi penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu pinjaman. dalam rangka mengimplementasikan Pasal 11 UU No. Beberapa komponen kunci tentang pinjaman daerah yang ditetapkan oleh UU No.5 berdasarkan § Average DSCR > 1. • Menteri Keuangan. yaitu PP 107/2000 tentang Pinjaman Daerah. 2000 UU No.282 Tabel 28-1: Pinjaman Daerah Sebelum dan Setelah Kebijakan Desentralisasi SEBELUM DESENTRALISASI SETELAH DESENTRALISASI Legal Foundation UU No. 25/1999 dan PP 107/2000 adalah sebagai berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi/peraturan. Sumber-Sumber Pinjaman • Pinjaman Luar Negeri Pemerintah • Sumber Dalam Negeri: § Pemerintah Pusat Pusat § Perbankan • Pinjaman Pemerintah Pusat melalui § Lembaga keuangan nonRDI bank • INPRES untuk pembangunan pasar § Sumber-sumber lain • IPEDA • Sumber-sumber lain (BPD dan • Sumber Luar Negeri § Bilateral sektor swasta) § Multilateral • Pemerintah Pusat melalui RPD Sumber: Alm & Mulyani.

5 (dua setengah). 25/1999 dan Pasal 4 & 5 PP 107/2000 Persyaratan Jangka Panjang (Long Term) Keterangan • Jumlah kumulatif pokok Pinjaman Daerah yang wajib dibayar tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah Penerimaan Umum APBD tahun sebelumnya. Jangka Pendek (Short Term) • Daerah dapat melakukan Pinjaman Jangka Pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan Kas Daerah. • Masyarakat. Jangka Pendek (Short Term) Sumber: Pasal 6 & 7 PP 107/2000 Dasar-dasar Keuangan Publik . • Sumber lainnya. Luar Negeri • Bilateral • Multilateral Sumber: Pasal 11 UU No. 25/1999 dan Pasal 2 PP 107/2000 Jenis/Tipe Pinjaman Jangka Panjang (Long Term) Penggunaannya • Hanya dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset Daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. • Jumlah maksimum Pinjaman Jangka Pendek adalah 1/6 (satu per enam) dari jumlah belanja APBD tahun anggaran yang berjalan. dan • Berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran Daerah tahunan selama jangka waktu pinjaman. • Lembaga Keuangan Bukan Bank. Sumber: Pasal 11 UU No. Debt Service Coverage Ratio (DSCR) paling sedikit 2. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat.283 Sumber Pinjaman Indonesia/Dalam Negeri Institusi tempat Meminjam • Pemerintah Pusat. • Lembaga Keuangan Bank.

• Perjanjian pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat ditandatangani oleh Menteri Keuangan dan Kepala Daerah. maka Pemerintah Pusat memperhitungkan kewajiban tersebut dengan Dana Alokasi Umum (DAU) kepada Daerah. Sumber: Pasal 13 PP 107/2000 Pembayaran Kembali Pinjaman Daerah • Semua pembayaran yang menjadi kewajiban Daerah yang jatuh tempo atas Pinjaman Daerah merupakan prioritas dan dianggarkan dalam pengeluaran APBD. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. Pemerintah Daerah mengadakan perundingan dengan calon pemberi pinjaman yang hasilnya dilaporkan untuk mendapatkan persetujuan Pemerintah Pusat. Sumber: Pasal 14 PP 107/2000 Larangan Penjaminan • Daerah dilarang melakukan perjanjian yang bersifat penjaminan terhadap pinjaman pihak lain yang mengakibatkan beban atas keuangan Daerah. • Pemerintah Pusat melakukan evaluasi dari berbagai aspek untuk dapat tidaknya menyetujui usulan tersebut. • Daerah dapat melakukan Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. maka kewajiban tersebut diselesaikan sesuai perjanjian pinjaman. • Apabila Pemerintah Pusat telah memberikan persetujuan. setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Pemerintah Pusat. • Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijadikan jaminan dalam memperoleh Pinjaman Daerah. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk dilakukan evaluasi. • Daerah mengajukan usulan pinjaman kepada Pemerintah Pusat disertai surat persetujuan DPRD. Sumber: Pasal 12 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Luar Negeri • Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui Pemerintah Pusat.284 Prosedur Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat • Untuk memperoleh pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat. • Pembayaran kembali Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri oleh Daerah. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan. Sumber: Pasal 10 PP 107/2000 Dasar-dasar Keuangan Publik . Daerah mengajukan usulan kepada Menteri Keuangan disertai surat persetujuan DPRD. dilakukan dalam mata uang sesuai yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman luar negeri. • Perjanjian Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri ditandatangani oleh Kepala Daerah dengan pemberi pinjaman luar negeri. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat.

modal. skala ekonomi. Transaksi tersebut sudah dilakukan sejak jauh sebelum abad Masehi. Asumsi dalam teori tersebut adalah bahwa faktor produksi seperti tenaga kerja. bukannya barang yang terdiferensiasi. Jika ekonomi klasik mengasumsikan bahwa faktor produksi tidak mudah berpindah.285 B A B XXIX KOORDINASI PAJAK INTERNATIONAL Pendahuluan ransaksi internasional bukan merupakan hal yang baru. tanah dan mesin tidak mudah berpindah (tidak mobil). sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah. tergantung sumberdaya yang dipunyai. kemudian memperoleh modal dari pasar keuangan eropa. Juga teori tersebut mengasumsikan pertukaran barang komoditi. Faktor lain seperti ketidakpastian. Dengan cara semacam itu kemakmuran dunia akan semakin meningkat. kemudian barang jadi dijual ke Dasar-dasar Keuangan Publik . Daya saing suatu negara sudah ditentukan (given). T Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. Perusahaan multinasional bisa memproduksi barang di Indonesia (karena tenaga kerja murah). Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya. sedangkan yang lainnya mengekspor computer dan mengimpor tekstil. Ekonom klasik menaruh perhatian terhadap perdagangan internasional. negara dengan tenaga kerja murah akan lebih baik memproduksi barang bercirikan padat karya. Sebagai contoh. produk didesain di prancis. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai doktrin keunggulan komparatif. perusahaan multinasional dibangun dengan asumsi bahwa faktor produksi sangat mobil. mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien. teknologi tidak dipertimbangkan dalam teori tersebut. seperti tekstil dan sepatu. Kemudian kedua negara tersebut akan melakukan pertukaran: negara yang satu mengeksport tekstil dan mengimpor computer. Negara dengan kemampuan teknologi tinggi sebaiknya memproduksi barang seperti computer atau perangkat lunak.

terdapat beberapa asas yang perlu diperhatikan yang diantaranya adalah: 1. Mr. Keputusan ini tentunya akan diambil secara bersamasama dengan negara lain. Karena dia juga menerima pendapatan sebagai warga negara Amerika Serikat. Keadilan antar perorangan Keadilan antar negara Efisiensi Keadilan Antar Perorangan Dalam prakteknya. B. makin meningkatnya peranan perusahaan multinasional. yang menerima pendapatan total yang sama tetapi seluruhnya berasal dari Amerika Serikat? Atau sudah cukupkah kiranya jika Amerika Serikat menganggap pajak yang di bayar ke negara lain sebagai pengurangan pendapatan dan menyamakan beban pajak sesuai dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam kasus ini yang menjadi pertanyaan adalah. A. Dalam hal penerapan koordinasi pajak internasional. Sejalan dengan kondisi tersebut suatu negara tentunya juga harus mengatur bagaimana pajak produk dan pajak penjualan dari negara bersangkutan akan diterapkan pada sistem ekspor impornya. seorang warga negara Amerika Serikat. Misalnya adalah Mr. Faktor produksi tidak dibatasi oleh batas-batas negara. Dalam kasus lain. jika seseorang menerima pendapatan yang berasal dari berbagai negara. A juga akan dikenakan pajak oleh pemerintah Amerika Serikat. yang dalam masa tertentu bekerja di Indonesia. dan ketimpangan distribusi pendapatan internasional akan mengarah kepada perlunya koordinasi fiskal internasional. akan membayar pajak sesuai dengan ketentuan Indonesia atas penghasilan yang diperolehnya di Indonesia. Koordinasi dan alokasi sumberdaya menjadi kunci pengelolaan perusahaan multinasional. A juga melakukan investasi di Indonesia dan menerima deviden yang dikenakan pajak oleh Indonesia. tetapi sudah melintas batas-batas negara. Penyatuan perekonomian Eropa ke dalam pasar bersama. 2. apakah keadilan horizontal (keadilan antar perorangan) yang mengharuskan bahwa pajak total yang dibayarnya (baik didalam maupun luar negeri) akan sama dengan pajak yang di bayar oleh Mr. sedangkan pusat perusahaan tersebut di Jepang. Perusahaan multinasional berusaha mengoptimalkan sumberdaya yang ada di dunia ini tidak terbatas pada batas-batas negara. Setiap negara tentunya akan mengatur bagaimana negara tersebut akan menarik pajak terhadap pendapatan warga negaranya yang diperolehnya dari luar negeri dan pendapatan warga negara asing yang berasal dari dalam negeri. pembiayaan badan kerjasama internasional seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan NATO. 3.286 Amerika Serikat. tentunya Mr. Gambaran mengenai perusahaan multinasional tersebut diatas menunjukkan fakta bahwa semakin hari akan semakin meningkat saling ketergantungan perekonomian dunia dan kondisi ini akan semakin mempengaruhi aspek internasional dalam hal keuangan publik. dia akan dikenakan pajak lebih dari satu kali. dan perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah tersebut.

B keadilan diinterpretasikan dalam artian nasional. harga ekspor akan naik dan konsumen di luar negeri akan membayar lebih mahal. Dengan demikian. Jika Mr. permasalahannya adalah bagaimana mengelola pengenaan pajak atas pendapatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi. secara umum disetujui bahwa negara dimana pendapatan itu dihasilkan (juga di sebut sebagai negara sumber) berhak menarik pajak atas pendapatan tersebut.C. masalah keadilan berkaitan dengan kemungkinan untuk membebani warga asing melalui perubahan harga. sedangkan dalam kasus Mr. kerugian yang di derita Amerika Serikat hanya akan tergantung pada tarif pajak atas modal Amerika Serikat yang di kenakan di Indonesia. keadilan diinterpretasikan dalam artian internasional. Berbeda halnya dengan pajak tambahan yang mungkin di kenakan oleh Amerika Serikat. Sehubungan dengan pajak penghasilan. Dalam hal pajak produk. maka Mr C akan menanamkan lebih banyak modalnya di Vietnam. jika Impor dikenakan pajak. maka penggeseran beban semacam itu bisa dianggap sebagai hambatan bagi keadilan antar negara. tentunya biaya ekspor akan naik. seorang investor merasakan bahwa pajaknya akan lebih rendah apabila dia menanamkan modal di Vietnam dari pada di Indonesia. Meskipun dengan cara yang berbeda. masalah ini akan timbul baik dalam hal pajak penghasilan maupun pajak produk. tetapi berapa tarif yang akan di kenakan masih menjadi persoalan. Jika negara A mengenakan pajak atas ekspor. Konsekuensi dari kondisi tersebut di atas adalah bahwa pajak Indonesia yang di kenakan terhadap penghasilan atas modal Amerika Serikat yang ditanamkan di Indonesia tentunya akan mengurangi pengembalian (return) bagi Amerika Serikat. sehingga tidak akan merugikan bagi Amerika Serikat tetapi hanya merupakan transfer dari warga negara Amerika Serikat ke Departemen Keuangan Amerika Serikat. Oleh karena itu. sebagian dari beban pajak akan digeser keluar negeri. Kondisi ini bisa disebut sebagai prinsip berbalasan. Jika negara tersebut mendominasi pasar ekspor. pemasok luar negeri harus menjual produknya dengan harga yang lebih rendah.287 pengenaan pajak di Amerika Serikat saja? Dalam kasus Mr. Efisiensi Perbedaan tarif pajak tentunya akan mempengaruhi lokasi dari kegiatan perekonomian dan cenderung menghambat penggunaan sumber daya yang paling efisien. Hal ini juga menunjukkan bahwa sebagian beban pajak akan di geser keluar negeri. Keadilan Antar Negara Masalah keadilan yang lebih pelik akan kita temui dalam menentukan pembagian penerimaan pajak diantara ditjen pajak atau departemen keuangan di berbagai negara. Jika kita menerima kriteria bahwa suatu negara harus membayar pajaknya sendiri. Salah satu pandangan mengenai keadilan antar negara adalah bahwa negara sumber harus diperbolehkan menarik pajak atas pendapatan yang di peroleh investor asing dengan tarif sebesar yang di kenakan negara lain atas pendapatan warganya di negara tersebut. A. Sejalan dengan itu.

Syaratsyarat in tergantung pada undang-undang masing-masing negara. Di samping itu. yang berbeda dari negara lain. akan tercipta efisiensi alokasi sumber daya di seluruh dunia dalam integrasi perekonomi dunia.288 dan investasi internasional sehingga tidak mengganggu efisiensi alokasi modal secara global. yaitu (a) jenis penghasilan itu sendiri dan (b) penentuan sumber penghasilan berdasarkan undang-undang pajak dari suatu negara. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni pajak langsung dan pajak tidak langsung. setiap negara mempunyai definisi penduduk sendiri-sendiri. untuk menentukan letak sumber penghasilan. Prinsip pajak berdasarkan asas domisili menyatakan bahwa penduduk akan dikenakan pajak di negara di mana ia berdomisili tanpa memperhatikan darimana sumber penghasilan yang diperolehnya baik pendapatan yang diperolehnya di dalam negeri maupun di luar negeri. Kondisi ini akan mengakibatkan bahwa lokasi produksi tidak lagi di tentukan oleh keunggulan komparatif (atau biaya sumber daya relatif). Pada umumnya. yaitu: • Penghasilan dari usaha (active income) • Penghasilan dari modal (passive income). tanpa memperhatikan tempat domisili penerima pendapatan tersebut. Artinya. Walaupun kemungkinan tidak ada satu negarapun yang secara ketat menerapkan prinsip prinsip pajak internasional. Bagi yang bukan merupakan penduduk tidak akan ditarik pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di negara tersebut. bunga. royalty dan penghasilan dari harta. yang merupakan persyaratan bagi perdagangan yang efisien. tergantung dari falsafah yang dianutnya. Yang berkaitan erat dengan asas domisili ini adalah penentuan domisili bagi subjek pajak. Pajak Langsung /Capital Income (Direct) Taxation Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan. seseorang subjek pajak akan dianggap sebagai penduduk dalam negeri (resident taxpayer) apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Dasar-dasar Keuangan Publik . Prinsip Prinsip Pajak Internasional Berbagai struktur sistem pajak nasional mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional dan konsekuensinya. jenis-jenis penghasilan dibagi menjadi dua. penduduk suatu negara tidak akan dikenakan pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di luar negeri dan warga negara asing akan dikenakan pajak sama dengan pendapatan penduduk yang diterima di negara tersebut. tetapi di modifikasi oleh perbedaan biaya pajak. Penentuan sumber penghasilan tergantung dari dua hal yang pokok. misalnya dividen. baik itu warga negara ataupun bukan warga negara. Jadi. Prinsip pajak berdasarkan asas dari sumber pendapatan menyatakan bahwa seluruh pendapatan yang diperoleh di suatu negara akan dikenakan pajak.

Secara umum prinsipnya adalah memperbolehkan pengenaan pajak atas pendapatan di negara sumber sedangkan negara asal warga bersangkutan akan memberikan kredit pajak. pendapatan di Inggris juga akan diperhitungkan. barang atau jasa yang dibeli oleh penduduk dikenakan pajak. Guna menentukan pajak yang akan di bayarnya di Amerika Serikat. Menurut prinsip pajak sumber. tetapi bisa menerapkan tarifnya sendiri terhadap penghasilan orang asing. Menurut prinsip pajak tujuan. Nn. tanpa memperhatikan sumber ataupun asal produksi. akan membayar pajak Inggris Raya atas pendapatan yang diperolehnya di Inggris. Pengenaan Pajak Tehadap Pendapatan Atas Modal Pada umumnya terdapat beberapa ketentuan dalam memperlakukan pendapatan investasi asing. Kondisi ini selaras dengan konsep keadilan antar negara yang menyatakan bahwa negara sumber pendapatan tidak boleh melakukan diskriminasi. terdapat dua prinsip pajak tidak langsung yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni prinsip pajak tujuan dan prinsip pajak sumber. meskipun menyebabkan menurunnya penerimaan negara bersangkutan. D yang bekerja selama enam bulan di Inggris dan kemudian kembali ke Amerika Serikat. segala barang maupun jasa yang bertujuan untuk konsumsi akhir pada suatu negara akan dikenakan pajak. karena hal itu merupakan pajak seharusnya akan dibayarnya seandainya pendapatan tersebut diperoleh di Amerika Serikat. 1. Paling tidak itulah prosedurnya seandainya pajak yang dikenakan Inggris tidak melebihi pajak yang akan dikenakan Amerika Serikat atas pendapatan yang diperoleh di Inggris tersebut. Jadi barang barang impor akan dikenakan pajak sedangkan barang barang ekspor dibebaskan dari pajak. Pemerintah di negara sumber pendapatan lazimnya akan Dasar-dasar Keuangan Publik . kondisi ini selaras dengan pandangan internasional mengenai keadilan antar perorangan. Demikian juga dengan pemberian kredit pajak oleh negara asal warga bersangkutan.289 Pajak Komoditi (Pajak Tidak Langsung) Dengan menganalogikan pada pajak domisili dan pajak sumber pendapatan pada pajak langsung. Koordinasi Atas Pajak penghasilan Dan Pajak Laba Pengenaan Pajak atas Pendapatan yang Diperoleh Setiap negara berhak untuk menarik pajak atas pendapatan warganya entah di manapun pendapatan itu di peroleh. Investor perorangan yang menerima pendapatan investasi dari luar negeri akan membayar pajak penghasilan perorangan atas pendapatan tersebut. Berkaitan dengan pengertian tersebut berikut illustrasi yang mungkin terjadi jika seseorang warga negara Amerika Serikat bekerja di Inggris. tetapi pajak yang telah dibayar di Inggris akan dikreditkan terhadap kewajiban pajaknya di Amerika Serikat. baik barang atau jasa tersebut dibuat di dalam negeri ataupun barang import.

implementasi dari aturan ini. misalnya sebesar 15 persen. 3. . Jika kondisi ini terjadi (biasanya pada negara–negara yang sedang berkembang. secara hukum merupakan satuan perusahaan terpisah. Untuk mengantisipasi kondisi ini. Tetapi dengan cara apakah laba ini benar-benar bisa dipisahkan dari laba perusahaan induknya di Amerika Serikat? Jika terjadi transaksi jual beli yang terjadi antara perusahan induk dan perusahaan anak. kelihatannya hal ini akan bertentangan dengan ketentuan mengenai pengkreditan yang mengganggap pajak perusahaan anak pada kenyataannya merupakan pajak perusahaan induk. yang selanjutnya akan dikreditkan terhadap pajak yang akan dibayarkan di negara asal investor. Perusahaan yang mengoperasikan kantor cabang di luar negeri akan dikenakan pajak atas laba kantor cabang sesuai dengan peraturan pajak perseroan negara bersangkutan. Kanada berhak menarik pajak perusahaan anak tersebut. Jadi. Jika dikaitkan dengan perusahaan multinasional. Untuk pengenan pajak di negara asal. telah diupayakan berbagai aturan untuk menghambat penggeseran laba. Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan perbedaan apa pun bagi perusahaan induk jika pajak luar negeri tidak lebih kecil dari pajak yang akan dikenakan di dalam negeri. dimana mungkin tarif pajak sangat rendah). akan menyebabkan perlunya ditentukan berapa besar laba yang timbul pada setiap negara. Karena kesulitan-kesulitan yang di hadapi Dasar-dasar Keuangan Publik 2. perusahaan anak akan lebih condong untuk menginvestasikannya kembali labanya dinegara yang menerapkan tarif pajak yang rendah (yang disebut sebagai surga pajak). Sesuai dengan konsep keadilan antar negara. Perusahaan anak yang didirikan di luar negeri (foreign incomporated subsidiary).290 mengenakan withholding tax. Sebuah perusahaan Amerika Serikat mengoperasikan sebuah perusahaan anak di Kanada. laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit. Hal ini merupakan persoalan yang rumit. maka laba bisa di geser dari satu negara ke negara lain guna memanipulasi pajak agar diperoleh pajak yang terendah. Pembagian Laba sebagai Dasar Pengenaan Pajak Dalam Lingkup Internasional Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa suatu negara berhak mengenakan pajak dari laba yang timbul di wilayah bersangkutan. Penangguhan Pajak Ketentuan mengenai penangguhan pajak didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan anak diluar negeri benar-benar merupakan satuan usaha yang tepisah. Labanya akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing dan pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba perusahaan anak tersebut dikirimkan ke perusahan induk sebagai deviden. misalnya: persyaratan agar harga ditentukan berdasarkan transaksi yang wajar dengan pihak ketiga atau transaksi tanpa hubungan istimewa (arm’s-length-basis). Kesulitan akan berlipat ganda apabila serangkaian perusahaan anak beroperasi di berbagai negara.

namun pelaksanaan pendekatan ini memerlukan pengaturan pajak internasional dan karena itu masih merupakan alternatif yang tak terjangkau. Hal ini akan semakin terasa jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Baik A maupun B akan lebih makmur daripada jika tidak ada perdagangan. Laba sebagai dasar pengenaan pajak (profits base) dari perusahaan multinasional dapat dialokasikan di antara negara negara tidak berdasarkan lokasi dari perusahaan anak tetapi berdasarkan negara asal laba yang diperoleh oleh group usaha tersebut secara keseluruhan. yang diproduksi di dalam negeri maupun yang diimpor. Penyesuaian ini bisa mempengaruhi tingkat perdagangan. dan hal sebaliknya berlaku untuk B.291 dalam menghitung laba yang terpisah bagi satuan satuan usaha yang terkait. Dasar-dasar Keuangan Publik . baik produksi domestik maupun impor. Dalam menentukan apakah berbagai pajak yang ada berpengaruh atau tidak terhadap lokasi produksi. negara A akan memperoleh pendapatan riil yang lebih tinggi daripada jika ia memproduksi semua Y yang dibutuhkannya. Anggaplah negara A mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan produk X sementara negara B mengimpor X dan mengekspor Y. negara A akan tetap memproduksi sebagian dari Y dan negara B memproduksi sebagian dari X yang dibutuhkannya. maka pajak produk mengarahkan perhatian kita pada pengaruhnya terhadap aliran produk. yaitu jika pajak tersebut dalam bentuk bea masuk dan cukai. Perdagangan internasional yang berlangsung secara bebas didasarkan pada argumen dasar bahwa semua negara yang berdagang akan mendapat manfaat jika masing-masing berspesalisasi pada produk di mana ia memiliki keunggulan komparatif. karena biaya produksi semakin meningkat untuk jumlah yang makin besar. tetapi lokasi untuk kedua produk itu (pada tingkat produksi yang baru) masih akan tetap sejalan dengan keunggulan komparatif. Negara asal tersebut bisa diperkirakan dengan suatu rumus yang memperhitungkan lokasi nilai tambah dan penjualan. Pajak Konsumsi. Misalkan negara A mengenakan pajak terhadap konsumsi atas semua X dan Y. Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak mempengaruhi lokasi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. Dengan mengekspor X dan mengimpor Y. akibatnya konsumen akan menambah konsumsi X dan mengurangi konsumsi Y. Akan tetapi. maka pernah disarankan suatu cara yang berbeda sama sekali. konsumen akan mensubstitusikan kedua jenis barang itu satu sama lain dan lokasi produksi akan berbeda dari lokasi produksi untuk pajak yang netral. pertanyaan kini adalah apakah pajak bersangkutan mempengaruhi harga relatif antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. Koordinasi Pajak Produk Aspek Efisiensi Jika pajak penghasilan mempengaruhi aliran atau perpindahan modal. Jika pajak mempengaruhi harga. Jika pajak itu hanya dikenakan terhadap Y. Meskipun cukup menarik. Ini tidak akan mempengaruhi perdagangan karena harga relatif antara produksi dalam negeri dan impor tidak berubah.

konsumen negara B akan memperbesar impor. Perbandingan harga antara ekspor dan impor tidak akan berubah dan nilai riil perdagangan tidak terpengaruh. Artinya hal itu sejajar dengan pajak Dasar-dasar Keuangan Publik . ekspor X dari A juga akan menurun sampai tercapai suatu titik ekuilibrium pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dan dengan pemberian produksi X dan Y yang kurang efisien di antara negara A dan B. nilai mata uang A terhadap B akan naik.292 Situasinya akan sangat jauh berbeda jika negara A mengenakan pajak hanya terhadap Y impor. Ini akan menghambat keinginan konsumen B untuk menambah impor dan keinginan konsumen A untuk mengurangi impor. yaitu terhadap Y dikenakan bea masuk. Dengan menurunnya impor A atas barang Y. Pajak Produksi Dalam mempermasalahkan pajak produksi atau pajak asal produk (origin taxes). Pajak atau bea semacam itu akan melemahkan perdagangan yang efisien. Jadi. kita bisa melihat bahwa distorsi atau penyimpangan bisa saja terjadi meskipun tidak ada upaya untuk mendiskriminasikan produk luar negeri. Eksportir B akan menambahkan pajak tersebut ke biaya (harga) produknya sehingga harga barang impor bagi konsumen A menjadi lebih tinggi sehingga impor akan dikurangi. Sekali lagi konsumen A akan merasakan naiknya biaya (harga) Y dan akan mensubstitusinya dengan Y produksi dalam negeri. Tindakan B akan membatalkan kenaikan harga barang impor Y di negara A sehingga tidak perlu mensubtitusinya dengan memproduksi Y di dalam negeri. Karena merasa bahwa harga produk dalam negeri telah naik jika dibandingkan dengan harga produk impor. Pajak ini akan menyebabkan perbedaan harga relatif antara produk domestik dan impor. mata uang A terhadap mata uang B akan naik. misalnya atas produk Y yang diekspornya. Situasinya akan berbeda jika pajak produksi negara B dikenakan hanya pada satu jenis produk saja. Dengan dihapusnya pajak atas barang Y oleh negara B. maka pajak atas barang Y telah berubah dari pajak produksi menjadi pajak konsumsi. harga barang di negara B akan naik sejalan dengan pajak tersebut. sehingga Y produksi dalam negeri akan mensubstitusi Y impor. Dengan menurunnya impor. kenaikan permintaan atas mata uang A dan penurunan permintaan atas mata uang B akan menyebabkan naiknya nilai mata uang A terhadap B. Karena itu. dan dewasa ini telah banyak cara diupayakan untuk mengurangi perdagangan yang bersifat proteksionis. Konsumen negara A akan merasakan hal sebaliknya. Titik ekuilibrium yang baru akan dicapai pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dengan disertai perubahan distribusi lokasi produksi. Biaya impor bagi konsumen B menjadi naik dan karena itu impor dikurangi. Sekarang negara A memproduksi lebih banyak barang Y dan negara B memproduksi lebih banyak barang X dari pada sebelumnya. Distorsi ini bisa dihindarkan seandainya barang B memberikan penghapusan pajak atas barang Y yang di ekspornya. pengenaan pajak produk hanya kepada barang Y saja di negara B menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan efek distorsi yang timbul akibat dikenakannya bea masuk atas barang Y di negara A. Akibatnya. Pertama-tama anggaplah bahwa harga negara B mengenakan pajak produksi umum misalnya cukai sebesar 10 persen terhadap barang X dan barang Y. Jika kurs valuta asing bersifat fleksibel.

Koordinasi Pengeluaran Diantara sejumlah negara. Distorsi dalam hal ini bisa dihindarkan jika B mengenakan bea masuk atas X untuk mengkompensasi pajak produksi X. akan timbul pertanyaan apakah kelompok tarif tersebut hanya dikaitkan dengan pendapatan perkapita dari penduduk di berbagai negara (dimana penduduk dianggap sebagai patokan dasar). kerja sama akan lebih menguntungkan sekutu yang kecil karena peningkatan pertahanan yang kecil sekalipun oleh sekutu yang besar akan merupakan tambahan perlindungan yang sangat besar bagi sekutu tersebut. ketentuan kontribusi minimum. Jika jumlah anggota kelompok atau pesertanya kecil. Ini bisa saja menyangkut pembangunan jalan di perbatasan dua negara. tetapi lagi-lagi lokasi produksi akan mengalami distorsi. Khusus mengenai pertahanan. melainkan dengan hak penarikan (drawing rights) yang ditetapkan sesuai dengan kemungkinan diperlukan kredit-kredit IMF. Pada akhirnya. maka masalahnya akan mirip dengan masalah penentuan anggaran antar perorangan. terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. dan penyesuain selanjutnya akan terjadi. usaha pertahanan bersama seperti NATO. Kedua macam pertimbangan di atas diperhitungkan dalam menentukan kontribusi bagi anggaran Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ceritanya juga akan sama jika B memajaki X. dengan bagian tertinggi (sekarang 25 persen) disumbangkan oleh Amerika Serikat. Semua ini menyebabkan perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. Kontribusi bagi Dana Moneter Internasional (IMF) tidak ditentukan berdasarkan manfaat yang diperoleh. Prosedur yang kiraDasar-dasar Keuangan Publik . Organisasi-organisasi lain menerapkan pola yang berbeda. Jika perhitungan progresif digunakan. Konsumen B dalam hal ini akan melakukan subtitusi dengan X impor. Selanjutnya prinsip ini dimatangkan lagi dengan menambah sejumlah ketentuan seperti pembebasan beban bagi negara miskin.293 penjualan eceran atas produk Y di negara B yang seperti telah kita lihat. Prosedurnya pada dasarnya adalah: biaya total dibagi di antara negara anggota sesuai perbandingan kontribusi dasar atau GNP. setiap negara mungkin akan diharuskan untuk membayar dalam presentase GNP atau presentase pendapatan nasional yang sama. Jika anggotanya sangat banyak. Jika tarif perkiraan (assesment rate) yang proposional digunakan. Pembagian beban biaya ditentukan melalui pemungutan suara setiap tahun dan direvisi berkali-kali. dan pasar bersama. usaha bersama dalam memerangi penyakit. sebagaimana halnya dengan pemerintah daerah. pembagian beban biaya bisa dirundingkan dengan membandingkan manfaat yang akan diperoleh setiap pihak. tingkat perdagangan riil akan naik. Ini akan menimbulkan pajak proporsional dalam kaitannya dengan GNP. Disini juga pajak berubah menjadi pajak konsumsi (yaitu pajak atas semua X yang di konsumsi di B) tanpa adanya distorsi atas lokasi produksi. jaringan narkotik. Makin banyak X diproduksi di A dan makin banyak Y diproduksi di B dari pada sebelumnya. dan pembatasan jumlah yang harus dikontribusikan oleh suatu negara. tidak mendistorsikan lokasi produksi sejauh dikenakan terhadap produk impor dan produk dalam negeri. terlepas dari pendapatan per kapita.

pengalihan permintaan ke Negara B ini tidak akan terjadi karena adanya penurunan nilai mata uang A. Sekali lagi.294 kira sama diikuti dalam pemesanan modal saham Internasional Bank for Reconstruction and Development (IBRD). Pengaruh kebijakan ekspansioner dari negara A terhadap perdagangan akan diperlemah jika kurs valuta asing bersifat fleksible. Kebocoran yang ditimbulkan impor akan memperkecil faktor pengganda (multiplier) dan karena itu kebijakan A menjadi kurang efektif. nilai mata uangnya akan turun. Suatu negara tidak mungkin lagi bertindak sendiri untuk mengendalikan persoalan yang dihadapinya. Kontribusi untuk NATO. yang melibatkan jumlah yang besar. Amerika Serikat merupakan penanggung terbesar atas biaya NATO. Karena itu. kebijakan inflasioner negara akan memperlemah (mendefisitkan) neraca perdagangannya dan menimbulkan besarnya permintaan ke negara B. tidak ditentukan dengan suatu dasar perumusan yang tetapkan tetapi pada hakikatnya tergantung pada negosiasi. Hal ini khususnya berlaku untuk negara negara dengan perekonomian yang terkait erat seperti pasar bersama. Dengan naiknya impor A. menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja dinegara A. Dengan demikian kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan. dengan kontribusi yang mungkin melebihi bagian yang seharusnya ditanggungnya seandainya hal itu ditentukan berdasarkan presentase GNP. tetapi juga berlaku bagi negara dengan perdagangan luar negeri yang terkecil seperti Amerika Serikat. dan hal itu juga turut memulihkan keaadan negara B karena ekspornya jadi meningkat. akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara B yang menghadapi penurunan ekspor. Penyesuaian kurs tidak berlangsung dalam sekejap dan perubahan kurs secara diskresioner dapat menjadi faktor pengganggu Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal yang sama berlaku juga untuk keadaan inflasi. Koordinasi khususnya diperlukan karena saling ketergantungan tidak hanya menyangkut perdagangnan tetapi juga aliran atau perpindahan modal. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Dengan makin meningkatnya saling ketergantungan dunia. Harus dicatat bahwa semua kontribusi ini relatif kecil jumlahnya sehingga pengecualian atau penyimpanan bagi negara tertentu tidak begitu berpengaruh. kurs yang fleksibel akan mengurangi gejolak perdagangan. biaya impornya menjadi tinggi sehingga membatasi atau memperkecil devisit perdagangan negara A dan ekspor negara B. kebijakan suatu negara akan berpengaruh terhadap negara lain sehingga diperlukan kordinasi kebijakan untuk menampung kebutuhan kedua negara. Pengaruh terhadap Perdagangan Dengan asumsi bahwa keadaan kurs valuta asing yang bersifat tetap. Karena itu. maka nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. pendapatannya naik dan begitu juga halnya dengan impornya. dengan kurs yang tetap. Jika A mengambil kebijakan ekspansionir. Dengan kurs yang fleksibel. Akan tetapi gambaran ini telalu disederhanakan.

bagian yang mengatur minimalisasi pengenaan pajak berganda. Aliran Modal Pengaruh kebijakan yang ekspansioner atau restriktif terhadap perdagangan bisa dikatakan sama. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. Perjanjian ini akan digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan aspek perpajakan yang timbul dari suatu transaksi diantara mereka. Sebagai suatu perjanjian. Oleh karena itu. sebagai bagian dari konvensi internasional di mana setiap negara yang terlibat dalam suatu tax treaty menyusun perjanjiannya masing masing berdasarkan model-model perjanjian yang diakui secara internasional. Pemahaman atas Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda) Tax Treaty atau perjanjian pajak berganda adalah merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka mengantisipasi pemajakan ganda dan berbagai usaha penghindaran pajak. Pasal-pasal ataupu ayat-ayat yang terdapat dalam sebuah tax treaty pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang mengungkapkan cakupan tax treaty. maka akan terjadi peningkatan modal di negara bersangkutan yang akan tercermin pada kenaikan produktivitas tenaga kerjanya. Pada dasarnya terdapat dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun suatu treaty yaitu model OECD dan Model PBB. dan begitu juga sebaliknya. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing. sebuah treaty adalah merupakan suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. bauran kebijakan stabilisasi akan menjadi masalah besar jika dikaitkan dengan aliran modal.295 pengendalian atas kurs itu sendiri merupakan alat kebijakan yang memerlukan kerja sama lebih lanjut. Akan tetapi. Jika surplus impor tersebut berupa investasi riil. pasal-pasal dan ayatayat yang berkaitan dengan suatu aspek transaksi dan pihak tertentu. Setiap tax treaty mempunyai prinsip prinsip dasar yang kurang lebih sama. Peranan aliran modal menjadi penting jika kita mempertimbangkan pengaruh kebijakan stabilitasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Penentuan aspek perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan klausul-klausul yang terdapat dalam tax treaty yang bersangkutan sesuai dengan transaksi yang dihadapi. didalamnya selalu berisi klausul-klausul. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendapatan modal di masa mendatang akan dikirimkan keluar negeri. Banyak hal tergantung pada bagaimana bentuk dari surplus impor yang ditimbulkan tersebut. entah itu kebijakan fiskal atau moneter. sehingga keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produtivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya.

Cakupan Tax Treaty Personal Scope Tax treaty adalah persetujuan yang ditandatangani oleh dua negara. Dengan kata lain. domisili. ketentuan personal scope mengatur tentang kepada siapa sajakah ketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. penduduk adalah Subjek Pajak dalam negeri suatu negara yang dikenai pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan lokal yang berlaku dinegara tersebut. international traffic (lalu lintas internasional). Definisi penduduk adalah setiap orang pribadi atau badan yang berdasarkan ketentuan internal suatu negara – seperti keberadaan. Dengan kata lain. badan atau entitas lainnya yang dianggap sebagai penduduk dengan status kependudukan ganda (double residence). Biasanya disini definisi mengenai penduduk maupun perihal kependudukan ganda tidak diartikan lebih lanjut. Kedua hal tersebut akan diatur dalam klausul lain yaitu dalam klausul tentang general definitions dan tentang residence. Tax Covered Klausul ini mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty yang bersangkutan. yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu. enterprise (badan usaha) dan lain lain. badan usaha dan entitas lainnya yang berdasarkan treaty tersebut dianggap sebagai penduduk dari salah satu negara yang terikat perjanjian. termasuk di dalamnya orang pribadi. sehingga subyek pajak yang menjadi sasaran adalah mereka yang menjadi penduduk dari kedua negara tersebut (Rachmanto Surachmat. ketentuan suatu tax treaty memiliki suatu kekuatan yang berada di atas sistem perundang undangan yang berlaku secara internal di dalam suatu negara. Dalam ketentuan umumnya (general definitions).296 bagian tentang pencegahan penghindaran pajak dan bagian yang mencakup halhal lainnya. Jenis pajak yang diatur disini akan mengikuti ketentuan sesuai dengan tax treaty dan mengabaikan ketentuan internal yang berlaku di masing-masing negara. Atas pajak tidak langsung seperti Pajak Pertambahan Nilai atau pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah tidak diatur dalam tax treaty. Aturan dalam tax treaty hanya diberlakukan untuk jenis pajak langsung seperti Pajak Penghasilan (PPh). Dalam pasal dan ayat ini akan diatur ketentuan tentang siapa saja yang merupakan orang pribadi. Dalam beberapa hal. tempat kedudukan manajemen atau sebab-sebab lain yang mempunyai karakteristik yang sama – dapat dikenai pajak di negara tersebut. diatur tentang definisi istilah-istilah umum yang berkaitan dengan definisi persons (orang atau badan). Residence Dalam kriteria ini akan diatur tentang dua hal yakni definisi penduduk (berkaitan dengan personal scope) serta tie breaker rule. national (negara atau kewarganegaraan). Undang-undang nasional dari banyak negara umumnya mengenakan Dasar-dasar Keuangan Publik . Oleh karena itu. 2001). pengertian personal scope akan berkaitan dengan pengertian-pengertian dalam kedua klausul tersebut.

Sementara itu tie breaker rule untuk pihak selain orang pribadi hanya ada satu ketentuan yaitu tempat dimana manajemennya efektif berada. Contoh contoh dari BUT dapat dikatagorikan menjadi empat macam yaitu: • • BUT Fasilitas Fisik. Hal ini bisa terjadi karena setiap negara pada dasarnya berhak mengatur definisi penduduk sesuai dengan versinya masing-masing. article residence selanjutnya mengatur langkah yang dapat digunakan untuk menghilangkan status kependudukan ganda yang sering disebut dengan tie breaker rule. artinya apabila dengan menggunakan ketentuan pertama masalah kependudukan ganda telah bisa dipecahkan. Menyadari efek-efek negative tersebut. Timbulnya BUT tipe ini ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. BUT tipe ini merupakan tipe yang paling mudah diketahui keberadaannya. center of economic and social interests (pusat kepentingan ekonomi dan social). habitual abode (tempat kebiasaan untuk tinggal). kantor perwakilan.297 pajak berdasarkan hubungannya dengan negara yang bersangkutan (Rachmanto Surachmat. Artinya. suatu usaha tidak hanya dilakukan di negara sendiri. BUT timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung. Tie breaker rule dibedakan menjadi dua yaitu yang diterapkan untuk orang pribadi dan yang diterapkan untuk selain orang pribadi. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnnya). Langkah-langah tersebut secara berurutan bersifat prioritas. Cerminan dari batas atau aturan tersebut adalah ketentuan tentang permanent establishment atau bentuk usaha tetap (BUT). Time test ini disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara. orang pribadi atau badan dapat dianggap sebagai penduduk dari dua negara berdasarkan asas world wide income yang dianut. Lamanya time test yang digunakan dapat berbeda beda antara satu tax treaty dengan tax treaty yang lain. pengenaan pajak tidak hanya mendasarkan pada alasan tempat tinggal. Di negara lainpun suatu pihak melakukan usaha. Dalam klausul ini juga menegaskan bahwa orang pibadi atau badan tidak dapat langsung dianggap sebagai penduduk suatu negara hanya karena mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. Pada jaman sekarang. Permanent Establishment Klausul ini mengatur tentang seberapa jauh jangkauan suatu negara dalam mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. pabrik. Apabila usaha di negara lain itu ternyata berhasil. tentunya harus ada batasan-batasan ataupun aturan yang jelas hingga bisnis yang dilakukan yang sekaligus merupakan investasi di negara tersebut tetap saja berjalan dengan baik. Dasar-dasar Keuangan Publik . Namun berkaitan dengan keinginan tersebut. maka langkah kedua dan seterusnya tidak perlu digunakan lagi. bengkel dan lain lain. Dalam prakteknya. national (kewarganegaraan) serta mutual agreement (perjanjian antar otoritas perpajakan). BUT Aktivitas. 2001). adalah hal yang logis jika otoritas pajak di negara tersebut ingin mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima. Tie breaker rule untuk orang pribadi terdiri dari penentuan permanent home (tempat tinggal tetap). tetapi juga karena keberadaan secara teratur di negara tersebut.

Setelah kedua negara selesai meratifikasi. Bila kegiatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Laba usaha milik penduduk suatu negara pada dasarnya hanya dapat dikenakan pajak di negara tersebut. Business Profits Klausul ini merupakan perluasan dari klausul permanent establishment yang mangatur tentang pengenaan pajak atas laba usaha milik penduduk suatu negara yang bersumber dari negara treaty partner (negara pasangan dalam tax treaty). Namun apabila penduduk suatu negara mendapatkan penghasilan di negara treaty partner melalui BUT-nya. BUT tipe keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang memiliki wewenang untuk menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. Saat berlakunya tax treaty sangat bergantung dari selesainya tahap-tahap pembentukannya. selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Minimalisasi Pemajakan Berganda Income from Immovable Property Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang berasal dari harta tak bergerak termasuk penghasilan yang bersumber dari pertanian atau sektor perhutanan. BUT Keagenan. sangat tergantung pada ada atau tidaknya BUT di suatu negara. Didalamnya diatur bahwa negara tempat harta tak bergerak tersebut terletak juga dapat mengenakan pajak atas penghasilan dari harta tersebut.298 • • BUT Asuransi. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. tempat yang hanya dipergunakan untuk pembelian barang dagangan atau mengumpulkan informasi dan sebagainya. maka negara treaty partner tersebut berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima melalui BUT itu. Dalam klausul ini juga ditentukan kondisi-kondisi dimana BUT dianggap tidak muncul seperti dalam hal suatu tempat yang hanya berfungsi untuk memajang barang-barang dagangan. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. Termination Klausul ini menjelaskan tentang saat berakhirnya sebuah tax treaty. Entry Into Force Klausul ini menjelaskan tentang saat berlakunya sebuah tax treaty. Timbulnya BUT Asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan maka tax treaty pun dapat diberlakukan. Penentuan dapat atau tidaknya negara treaty partner mengenakan pajak. Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati.

memberikan hak pemajakan kepada negara tempat di mana manajemen efektif berada. memang merupakan aturan mengenai pengenaan pajak atas penghasilan yang berupa dividen. Dividends Dividen merupakan penghasilan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu perusahaan. Dalam menghadapi permasalahan ini pada umumnya diatur dua alternatif pengenaan pajak. Tak sedikit negara yang mengenakan pajak atas penghasilan berupa dividen ini. 2001) Shipping. Dalam artikel ini juga menyatakan tentang tarif pajak maksimal yang dapat dikenakan di negara asal dividen tersebut yang dibedakan menjadi dua yaitu tarif untuk dividen portofolio (saham dengan kepentingan semata mata investasi) dan untuk dividen dari penyertaan langsung ( saham dengan kepentingan control) Interets Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan bunga yang diterima dari negara treaty partner. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa negara tempat dividen berasal juga berhak mengenakan pajak atas dividen tersebut. artikel royalti ini juga memberikan definisi royalti disamping mengatur bahwa negara tempat di mana royalti berasal dapat mengenakan pajak sesuai dengan tarif maksimal yang disepakati. Inland Waterways Transport and Air Transport Klausul ini menjelaskan tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh perusahaan pelayaran (termasuk pengangkutan di sungai dan danau) dan perusahaan penerbangan yang beroperasi di jalur internasional. Klausul dividen. klausul ini juga mengatur bahwa negara tempat bunga berasal (treaty partner) juga dapat mengenakan pajak atas bunga tersebut. Perusahaan yang bergerak di bidang ini bisa memperoleh penghasilan dari beberapa negara. artikel bunga pun mengatur tentang tarif maksimal pemotongan pajak untuk negara tempat dividen berasal. Alternatif pertama. Alternatif kedua.299 usaha yang dilakukan penduduk negara domisili di negara sumber tidak melalui BUT. sama dengan alternatif pertama dengan pengecualian untuk penghasilan dari pengoperasian kapal laut yang hak pemajakannya diberikan kepada kedua negara sekaligus. maka laba usaha dari kegiatan itu hanya dikenai pajak di negara domisili (Rachmanto Surachmat. Dasar-dasar Keuangan Publik . Selain memberikan definisi tentang bunga. Royalties Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan royalti yang diterima dari negara treaty partner. Indonesia pun mengenakan pajak atas dividen baik yang diterima oleh wajib pajak dalam negeri maupun wajib pajak luar negeri. Tak berbeda dengan artikel dividen. Jika setiap negara mengenakan pajak atas laba yang diterimanya maka perusahaan pelayaran dan penerbangan tersebut tentunya akan menanggung beban pajak yang terlalu besar. Tak berbeda dengan artikel dividend dan bunga. sebagaimana namanya.

Hal ini diserahkan kepada undang undang pajak domestik masing-masing negara. Karena itu.. Independent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima orang pribadi yang bersumber dari negara treaty partner sebagai imbalan dari jasa-jasa professional yang diberikannya di negara tersebut.300 Capital Gains Klausul ini mengatur tentang penghasilan berupa keuntungan pemindahtanganan harta. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa penghasilan Dasar-dasar Keuangan Publik . Di sini diatur bahwa negara tempat orang pribadi tersebut bekerja dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterimanya. Ketentuan dalam tax treaty pada umumnya mengatur bahwa negara tempat harta tersebut terletak sebelum dipindahkan juga berhak untuk mengenakan pajak. Aturan ini pada dasarnya sejalan dengan aturan permanent establishment dan business profits namun secara khusus ditujukan untuk orang pribadi yang memberikan jasa-jasa profesional (seperti dokter. • Penghasilan yang diterima oleh orang pribadi tersebut dibayarkan oleh pemberi kerja. persetujuan penghindaran pajak berganda tidak memerlukan aturan khusus yang membedakan capital gain dari business profit. jasa yang diberikan oleh orang pribadi yang dimaksud di sini merupakan jasa yang dilakukan untuk dan atas nama pihak lain yang memiliki hubungan kerja dengannya. Negara treaty partner tempat jasa tersebut dilakukan dapat mengenakan pajak sepanjang orang pribadi tersebut memiliki tempat tetap (fixed base) disana atau berada di negara treaty partner melebihi batas waktu yang disepakati bersama. Director’s Fees Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh direktur yang bekerja pada perusahaan yang berada di negara lain (merupakan penduduk di negara tersebut). tanpa membedakan apakah keuntungan itu diperlakukan sebagai gain dari usaha. • Penghasilan tersebut tidak dibebankan kepada BUT. Termasuk dalam pengertian harta dalam artikel ini adalah harta berupa perumahan dalam suatu kawasan real estate. Berbeda dari pemberian jasa oleh independent personal yang dilakukan untuk dan atas namanya sendiri. Dependent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi sehubungan dengan pemberian jasa yang dilakukannya di negara lain dalam suatu hubungan kerja. yaitu negara yang berhak mengenakan pajak atas business profit (negara tempat perusahaan berdomisili). Rachmanto Surachmat (2001) memaparkan bahwa hak mengenakan pajak atas keuntungan karena pemindahtanganan harta yang digunakan untuk berusaha harus diberikan kepada negara yang sama. pengacara) untuk dan atas namanya sendiri di negara treaty partner. Namun untuk menganakan pajak tersebut. ada beberapa syarat kumulatif yang terlebih dahulu harus dipenuhi yaitu: • Orang pribadi yang bersangkutan berada di negara lain melebihi time test yang telah disepakati. Dalam bukunya.

Namun sebagian besar tax treaty mengatur bahwa penghasilan tersebut dikenai pajak di negara di mana yang bersangkutan menjadi penduduk pada saat pensiun Government Services Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri. karena itu yang diberikan hak pemajakan adalah negara di mana pihak yang membayarkan gaji berkedudukan. Fungsi sebagai direktur bisa saja dilakukan di negara dimana ia berdomisili. Namun demikian. Bila diperhatikan. apabila pekerjaan yang dilakukan tidak lagi murni sebagai seorang direktur maka pemajakan atas penghasilan tersebut tidak lagi mengikuti ketentuan dalam klausul ini. Pada prinsipnya. artis radio atau musisi. hak pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri diberikan kepada negara di mana ia bekerja. contohnya agen). penghasilan berupa pensiun dikenai pajak di negara tempat di mana pekerjaan itu dahulunya dilakukan. pemain catur atau pemain bridge. maka aspek pemajakannya mengacu pada klausul dependent personal services. hal ini untuk menyederhanakan pengenaan pajaknya. Penentuan aspek pemajakannya disesuaikan dengan jenis kegiatan (pekerjaan) yang dilakukan oleh direktur tersebut. pemain golf. Menurut Rachmanto Surachmat (2001). Termasuk dalam pengertian entertainer dalam artikel ini antara lain yaitu artis televisi. Prinsip pemajakan yang diatur dalam artikel ini adalah negara tempat penghasilan tersebut bersumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima oleh artis ataupun atlit. Namun apabila direktur tersebut bekerja sebagai konsultan pada perusahaan.301 yang diterima oleh direktur dalam kapasitasnya yang murni sebagai seorang direktur dapat dikenai pajak di negara domisili perusahaanya tanpa memandang jangka waktu keberadannya di sana. sebab seringkali penentuan di mana kegiatan pekerjaan dilakukan – dalam kedudukannya sebagai anggota dewan direksi – adalah sulit. prinsip ini berbeda dengan prinsip pemajakan atas penghasilan orang pribadi yang lain sebagaimana diatur dalam klausul dependent dan independent personal services yang menggunakan syarat jangka waktu keberadaan sebagai alat menentukan aspek pemajakan. Prinsip ini juga berlaku meskipun penghasilan tersebut tidak langsung dibayarkan kepada sang artis/atlit (dibayarkan kepada pihak lain. Pensions Klausul ini mengatur tentang penghasilan yang diterima oleh pensiunan swasta. Sedangkan termasuk dalam olahragawan antara lain adalah pemain sepakbola. apabila pegawai negeri atau pensiunan tersebut merupakan warga negara dari salah satu negara dan sudah Dasar-dasar Keuangan Publik . pemain tennis. Namun demikian. maka aspek pemajakannya dalam hal ini akan mengacu pada klausul independent personal services. Artists and Sportsmen Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh artis (entertainer) dan olahragawan (sportsmen) dari negara lain. Hal yang sama juga berlaku atas penghasilan yang diterima oleh pensiunan pegawai negeri. Pada umumnya. Jika direktur tersebut melakukan tugas tugas manajerial misalnya.

Exchange of Information Klausul ini mengatur tentang pertukaran informasi antar otoritas pajak di kedua negara yang terkait dalam suatu tax treaty. Secara khusus Rachmato Surachmat (2001) dalam bukunya menyatakan bahwa klausul ini adalah aturan dalam hukum internasional yang memberikan perlindungan dari diskriminasi. Dalam kondisi demikian. Dengan adanya pertukaran informasi. Apabila terjadi transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa. dapat dikatakan bahwa klausul ini merupakan salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. Salah satu efek dari adanya harga yang tidak wajar itu adalah terjadinya pergeseran laba dari suatu negara kepada negara yang lainnya. Pertukaran informasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pertukaran informasi secara rutin dan pertukaran informasi berdasarkan permintaan. Harga yang wajar adalah harga yang terjadi antara dua pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Suatu negara yang terikat tax treaty memiliki kewajiban untuk memberikan perlakuan perpajakan yang sama untuk warga negaranya. Pencegahan Penghindaran Pajak Associated Enterprises Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa. kepada negara yang bersangkutan diberikan hak untuk mengadakan penyesuaian penyesuaian sehubungan dengan pergeseran laba tersebut. Ketentuan Lain Lain Non Discrimination Klausul ini mengatur tentang persamaan perlakuan perpajakan yang diberikan oleh suatu negara kepada warga negara dan kepada bukan warga negara. Klausul ini dapat dipandang sebagai semacam sarana bagi para pembayar pajak untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Mutual Agreement Procedure Klausul ini mengatur tentang prosedur yang digunakan oleh kedua negara untuk berkomunikasi dalam menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pembayar pajak dengan otoritas pajak mengenai perpajakan tertentu. Perlakuan yang sama juga harus diberikan kepada mereka yang bukan merupakan warga negara dari kedua negara yang terikat perjanjian. Hal ini dipandang sebagai suatu usaha untuk menghindari pajak dari suatu negara. Perlakuakn perpajakan yang sama ini mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama. akan ada kecenderungan di mana harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar.302 sejak awal menjadi penduduk di negara tersebut maka penghasilan yang diterimanya hanya dikenakan pajak di sana.

Namun demikian perlu diingat bahwa mutual agreement procedure tidak mencakup seluruh klausul yang terdapat dalam sebuah tax treaty. Pertama. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral. Namun demikian. antara dua negara. Yang perlu diperhatikan adalah. tax treaty juga dimaksudkan untuk mencegah usaha-usaha penghindaran pajak yang dapat berpengaruh terhadap penerimaan pajak suatu negara. negara tersebut tidak dapat mengenakan pajak atasnya. tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. Tax Treaty Mengalahkan UU PPh Bisa disimpulkan bahwa tax treaty muncul karena dua sebab yang mendasar. Klausul-klausul yang dapat menikmati ketentuan dalam mutual agreement procedure antara lain adalah business profits.303 “curhat” tentang suatu perlakuan perpajakan yang tidak disetujuinya. Dengan memiliki SKD/CRT. tidak memperoleh perlakuan yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan berdasarkan hukum internasional. keinginan untuk menghindari pemajakan berganda yang bisa menimbulkan distorsi ekonomi. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negara-negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Surat keterangan yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau instansi sejenis di negara treaty Partner juga bisa dipersamakan dengan SKD/CRT. Menurut Rachmato Surachmat (2001). berdasarkan tax treaty. yang berakibat buruk bagi investasi. yang dijadikan sebagai acuan pada saat pembuatannya. ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. Ketentuan dalam klausul ini pun mengatur hal yang sama. Member of Diplomatic Missions and Consular Posts Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan yang diberikan kepada anggota dari suatu misi diplomatik dan konsulat. related persons dan royalty. maksud dari kalusul ini adalah untuk menjamin bahwa para diplomat. maka suatu pihak berhak untuk menerapkan suatu ketentuan tax treaty dengan negara dimana yang bersangkutan berkedudukan atau berdomisili. maka pengenaan pajaknya kembali pada Undang Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi. setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat. Dalam kesepakatan internasional. Kedua. Melalui ketentuan dalam klausul ini. dalam tax treaty pada umumnya sudah disepakati bahwa setiap negara treaty partner berhak menentukan prosedur dan tata cara untuk membuktikan bahwa suatu pihak benar-benar berdomisili atau berkedudukan dan berstatus sebagai pembayar pajak di negara treaty partner. antara berbagai negara pada umumnya dan antara Indonesia dengan negara negara lain pada khususnya. secara umum setiap tax treaty mengikuti prinsip prinsip dasar dari model model tax treaty yang ada seperti model OECD atau model PBB. Memahami prinsip prinsip dasar tersebut akan memudahkan setiap pihak dalam memahami berbagai tax treaty yang ada. otoritas perpajakanpun memiliki sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. meskipun anggota korps diplomatik atau konsulat mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara di mana mereka bertugas. Jika tidak memiliki SKD/CRT. Bukti dimaksud seringkali disebut Surat Keterangan Domisili (SKD) atau Certificate of Residence Taxpayer (CRT) yang diterbitkan oleh competent authority atau pejabat yang berwenang yang ditunjuk oleh suatu negara treaty partner.

Sebagai contoh.304 Undang yang berlaku di negara masing masing. jika Wajib Pajak luar negeri yang berkedudukan di Inggris. Jika tidak. maka Wajib Pajak luar negeri tersebut hanya dapat menerapkan ketentuan tax treaty Indonesia – Inggris apabila memiliki SKD/CRT dari competent authority yang ditunjuk negara Inggris. Dasar-dasar Keuangan Publik . maka penghasilan Wajib Pajak Luar Negeri yang bersumber dari Indonesia langsung dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 26% dari penghasilan bruto.

Fullerton. Decentralisation. Massachusetts Avenue Cambridge. dkk. “Federal Finance and Fiscal Federalism: The Two Worlds of Canadian Public Finance”. dalam “Democratic Choice and Taxation: A Theoritical and Empirical Analysis”. Martin. 2002. International Centre for Tax Studies.305 DAFTAR PUSTAKA Alisjahbana. ”Evaluasi atas Alokasi DAU 2001 dan Permasalahannya” dalam Machfud Sidik.. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Arsjad. MIT Press. 2003. McGraw Hill. Banting. Brennan. Discussion Paper No. Richard M dan Chen. Bennet. Cambridge. Aronson. Armida S. dkk. D. Public Finance. Ont. (1984). David N. London. The Future of Fiscal Federalism. editor. Jogyakarta Hyman. Oxford: Clarendon Press. Don dan Metcalf. Hettich. 2002. (2003). Public Finance. University of Toronto (July). “A Comparative Perspective on Federal Finance” dalam K. Cambridge University Press. Edisi Ketujuh. 1998. Keuangan Negara. 1983. Bird.J. USA.J. Sijbren & Hans-Werner Sinn.G. 2004. Brodjonegoro. Manajemen Keuangan Internasional. Jakarta Hanafi. Pajak Internasional. Mamduh. Bunga Rampai Desentralisasi Dasar-dasar Keuangan Publik . “Tinjauan Permasalahan serta Prakondisi yang Diperlukan Bagi Pengembangan Penggunaan Pinjaman Daerah di Indonesia”. Local Governments and Markets. Public Finance and Public Policy in the New Century. United States: South-Western. 1990. Cambridge (Maret). Gilbert. Bird. dkk. 1985. 2004. Richard M. Richard M. Thompson Learning. Debt and Taxes in The Theory of Public Finance. Bambang dan Arlen T. University of Birmingham: Institute of Local Government Studies. Robert J. Lembaga Penerbit FE UI. Tax Incidence. Brown. 2002. 2001. BPFE. Geoffrey dan Buchanan. J.Walter dan Winer. Pakpahan. Dana Alokasi Umum. Bird. Cnossen. Courchence. 6. Jakarta. Indonesia.M. Stanley. Duanjie. 2002. Financing Regional Government: International Practices and Their Relevance to the Third World. A Contemporary Application of Theory to Policy. Feldstein. 14 April. 1994b. Inc. M. MA. Kingston.: Queen’s University School of Public Policy. Intermedia. Batam. Fiscal Decentralization in Developing Countries.Working Paper 8829. Davey. Makalah pada sidang ISEI. L. Gunadi. editor. James. “Tax Limits and The Logic of Constitutional Restriction. 1996. K. 1992. Richard. Nurjaman. 1981. NBER. dan T. (1999). United Kingdom: Cambridge University Press. dan Francois Vaillancourt. Kadjatmiko. “Transfer Antar Tingkat Pemerintahan (Intergovernmental Transfer)” dalam Machfud Sidik. National Bereau of Economics Reserach.

2002. 2002. Jogjakarta dengan United States Agency for International Development (USAID). Sidik. Machfud. Harvey S. yang merupakan kerjasama Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Republik Indonesia. 2000. Public Finance (Sixth Edition). Magrassi. (15 April). Makalah yang disampaikan dalam Acara Orasi Ilmiah dengan Thema “Strategi Meningkatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . New York. Republik Indonesia. “Subnational Investment Needs and Financial Market Response”. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. DC: International Monetary Fund. Makalah yang disampaikan Seminar Nasional Rencana Revisi Undang-Undang Otonomi Daerah Kerja sama Forum Rektor . Machfud. Inc. United States: McGraw-Hill. LPEM Universitas Indonesia bekerjasama dengan Clean Urban Project. Musgrave. Richard A dan Peggy B. 2004. NBER. Laporan Akhir Pengembangan Obligasi Daerah di Indonesia. 1995.34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”. “Optimalisasi Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah”. John. Inter-American Development Bank. 2004. Assaaf. Marco. Capitalism Magazine. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Daniel J. 4 April. USA. 2002. (1991). Public Finance in Theory and Practice. “Pinjaman Daerah Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah” dalam Machfud Sidik. Dana Alokasi Umum. “Undang-undang No. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah”. 2003. MA. dkk. 2002. Departemen Keuangan RI.. Sadka Efraim. Jakarta. “Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia”. Republik Indonesia. International Edition. 2002. Studi yang dilakukan oleh Sustainable Indonesian Growth Alliance (SIAGA) Project A Banking Industry Reform. Sidik. Pakpahan. McGraw Hill. “Undang-undang No. Nine Simple Guidelines for Pro-Growth Tax Policy. Norregaard.Fraksi Utusan Daerah MPR-RI. “Undang-undang No. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Razin. Musgrave. 1989. RTI (1999). dkk.306 Fiskal. Shome. Tax Policy Handbook. Sidik. Machfud. Rosen. Jakarta.25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusar dan Daerah”. Massachusetts Avenue Cambridge. Arlen T. Washington. editor. Departemen Keuangan RI. Mitchell. International Fiscal Policy Coordination and Competition: An Exposition. ”Implementasi UU Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah (Kebijakan Pemerintah Dalam Perimbangan Keuangan)”. “Intergovernmental Fiscal Relations” dalam P.

Zakaria. Yogyakarta. United States: SouthWestern. Drs. Tax Review. Bandung. Keuangan Negara: Dalam Teori dan Praktek (Edisi 4). (2001). dkk. Sidik. “Kebijakan Fiskal: Pemikiran.D.(2001). Wiratmo. Fiska Sarana. “Vietnam: Fiscal Decentralization and the Delivery of Rural Services”. ”Transfer Pusat ke Daerah: Konsep dan Praktik di Beberapa Negara” Machfud Sidik. Jakarta. Jaja. 26-27 September. The Center on Budget and Policy Priorities. Volume I/No. editor. BPFE. Ulbrich. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Washington. 1996a. 2003. Indonesia. Thompson Learning. 2003. Ph. “Fiscal Federalism in Theory and Practice”. 2002. “Perencanaan Pembiayaan Daerah”. Robert A. M. 2004. Gramedia Pustaka Utama. Masykur. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Dana Alokasi Umum. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Ter-Minassian. Machfud. Public Finance in Theory and Practice. Subiyantoro. 1997. Report No. Jakarta.. International Monetary Fund. Suparmoko. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2001. 15745-VN. Heru dan Singgih Riphat. Sebuah Pengantar. Simandjuntak. Rachmanto. Makalah pada Worskhop Manajemen Strategik Penerimaan Daerah dan Keuangan Daerah. DC (Oktober). M. The International Budget Project. Washington DC (Desember). 1996. A Guide to Budget Work for NGOs. Konsep. Malang. 2002. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda serta penerapannya di Indonesia. Dasar-dasar Keuangan Publik .307 Kemampuan Keuangan daerah Melalui Penggalian Potensi Daerah Dalam Rangka Otonomi Daerah” Acara Wisuda XXI STIA LAN Bandung Tahun Akademik 2001/2002.A. 2001.Teresa.. World Bank. Departemen Keuangan RI. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda. ---------. Surahmat. dkk. 10 April. Washington. dan Implementasi”. DC. Holley. 5/2004.

tahun 1984.1 No. Anggota Tim Penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN Departemen Keuangan. Yogyakarta pada tahun 1972. USA. Departemen Keuangan. Jurnal Keuangan Publik. USA. Penasehat Tim Penyempurnaan Sistem Akuntansi. Anggota Dewan Komisaris PT Telkom dan Anggota Redaksi Jurnal Keuangan dan Moneter. dosen luar biasa pada Universitas Trisakti. Beberapa penugasan yang pernah diterima antara lain. dilahirkan di Kudus. ”Pengaruh Eksternal Shock Negara Industri terhadap Negara Berkembang” (terjemahan. Cross Section Analysis” (1980). dan STIE Indonesia. Selain itu. Selanjutnya meneruskan ke program master bidang kebijakan ekonomi di University of Illinois at Urbana Champaign. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. 1 Januari 1947. Departemen Keuangan. Pengalaman mengajar yang pernah dilaksanakan antara lain. Anggota Dewan Komisaris PT Pelindo III dan Ketua Dewan Pengawas Rumah Sakit Persahabatan. dan ” The Impact of Institutional Environment on Public Official Permormance: Does Instititional Environment Affect The Rate Of Corruption?” (bersama Andie Megantara. Beberapa jabatan penting di lingkungan Departemen Keuangan pernah dipercayakan kepadanya. Ketua Tim Koordinasi dan Monitoring Perhitungan APBN. menikah dan telah dikaruniai 1 putri dan 2 putra. saat ini beliau masih aktif sebagai Anggota Dewan Penasehat ISEI Cabang Jakarta. yaitu ” Energy Comsumption in USA. Jakarta. tahun 1986. antara lain sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan dan Kepala Badan Analisa Keuangan dan Moneter. ”Pokok-pokok Pengembangan Pendidikan dan latihan Jarak Jauh di Departemen Keuangan (1994). September 2003).1. Dasar-dasar Keuangan Publik . Saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. kemudian melanjutkan pada undergraduate program bidang ekonomi di Boulder Colorado University. BPPK Vol. ”Services Account Balance of Payment” (1985).308 BIOGRAFI PENYUSUN Noor Fuad. Gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Universitas Gadjah Mada. sebagai Ketua Grup Kerja Tim Subsidi Impor Bulog. Jakarta. sebagai dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sedangkan beberapa hasil karya penulisan atau papernya. 1984).

kemudian menyelesaikan program masternya pada bidang Manajemen Keuangan dari Universitas Gadjah Mada. Saat ini aktif memberikan pelatihan Manajemen Keuangan Daerah pada beberapa Pemerintah Daerah melalui Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan. Bambang Widjajarso tercatat sebagai staf pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Selain itu. ”An Overview of the Indonesian Automotive Industry” (Journal of Economics and Business Administration No. tahun 1993. dosen pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. tahun 1990 sedangkan program master pada bidang Business Administration diraih dari University of Kentucky. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. sebagai tenaga ahli bidang sektor publik. dan ”The Impact of Institutional Environment on Public Official Performance: Does Institutional Environment Affect the Rate of Corruption?” (bersama Noor Fuad. Dilahirkan di Boyolali. sehingga sampai sekarang mendalami manajemen keuangan sektor publik. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. juga aktif sebagai peneliti pada Research Institute in Political Economy and Local Government Empowerment. Nagoya. Berbagai penugasan lain di luar jabatan struktural banyak dipercayakan kepadanya. “Memahami GASB Statement No 34”. 30. STAN. Universitas Budi Luhur dan Universitas Al Azhar Indonesia. March 2002). tahun 1994. USA. Dasar-dasar Keuangan Publik . antara lain sebagai Direktur Program Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Keuangan Terapan (LP2MKt). Beberapa hasil tulisan atau paper yang pernah dibuat antara lain. Pusdiklat Pegawai BPPK.1 No. ”The Impact of Institutional Environment on Public Official Corruption” (Journal of Economics and Business Administration No. lahir di Solo. Lexington. Jakarta. 29. Minatnya pada bidang keuangan publik dimulai sejak meniti karir sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Propinsi Bali dimana penugasan-penugasannya meliputi aspek penerimaan dan pengeluaran negara dari aktivitas pemerintah yang didanai APBN. khususnya untuk mata kuliah Seminar Akuntansi Sektor Publik. 13 Agustus 1961. Anggota Dewan Editor Jurnal Keuangan Publik BPPK.1. tahun 1996. Yogyakarta. Gelar Sarjana Hukum didapatkan dari Universitas Airlangga. dan Universitas Indonesia. Sedangkan program doktoral bidang Manajemen diselesaikan di Nanzan University. Surabaya. Selain aktif di bidang pengajaran. Gelar akuntan diperoleh dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Universitas Paramadina Mulya. “Prospek Akuntansi Pemerintah Indonesia”. antara lain pada Diklat Pimpinan Tingkat III dan IV serta diklat-diklat lain di Pusdiklat Pegawai BPPK. Jepang tahun 2003. Depok. hampir seluruh perjalanan karirnya diabdikan sebagai pengajar di berbagai institusi. September 2003). Saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Kurikulum. 29 Januari 1970. March 2003). Jurnal Keuangan Publik Vol. dan “Konsep Dasar Akuntansi Dana”. Tangerang. dan Ketua Tim Penyusun Buku Dasar-dasar Keuangan Publik. Makalah-makalah yang dihasilkan diantaranya “Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah”.309 Andie Megantara.

saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Perumusan Program pada Sekretariat Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. juga aktif berkecimpung di bidang pengembangan kepemimpinan. Saat ini disamping jabatan struktural yang disandangnya sebagai Kepala Sub Bidang Program pada Pusdiklat Pegawai BPPK Jakarta.310 Huriah Akbar Prabowo. sedangkan gelar Master of Business Administration dan Master of Accountancy diperoleh pada tahun 2001 dari Weatherhead School of Management. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). kemudian pada tahun 2001 berhasil menyelesaikan program Master of Accounting di University of Southern Californa. Case Western University. Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Sejak tahun 1997 telah menjadi staf pengajar pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara untuk beberapa mata kuliah di bidang Akuntansi dan Manajemen Keuangan. Tercatat pembangunan jaringan sistem informasi kepegawaian dan sistem kontrol awal database keuangan BPPK (early warning system) merupakan hasil rintisan bersama. Diploma IV (Program dalam Bahasa Inggris) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan Diklat Pimpinan Tingkat IV BPPK. Departemen Keuangan. Adi Budiarso. Sydney. USA. menikah dan dikaruniai dua anak. lahir di Jakarta 31 Oktober 1971. 1 September 1970. Rahmadi Murwanto. praktik perpajakan. sistem akuntabilitas instansi pemerintah. Dasar-dasar Keuangan Publik . Kecintaannya kepada almamater. Pendidikan Diplomanya diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. perpajakan dan keuangan publik. mendapat penugasan sebagai Asisten Dosen STAN dan Verifikator pada Bagian Keuangan BPPK. investasi dan manajemen risiko. Pendidikan program Diploma III dan IV diselesaikan di STAN sedangkan gelar Master of Commerce diraih dari University of New South Wales. lahir di Salatiga. setelah sebelumnya menjadi asisten dosen dari tahun 1991 sampai dengan 1994. serta mengajar pada program Pascasarjana Universitas Atmajaya. membuat dirinya terpanggil untuk lebih mengembangkan potensi di bidang sistem informasi yang dikuasainya bagi kemajuan STAN dan BPPK. Setelah menyelesaikan program diploma III Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 1991. Australia. Jabatan lain yang dipegangnya adalah sebagai Direktur Program Lembaga Pengembangan Kepemimpinan Global Yayasan Artha Bhakti BPPK. juga aktif mengamati berbagai perkembangan dalam bidang regulasi akuntansi. Sekarang menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan Pendidikan Akuntan. Di samping pekerjaan utama yang bersangkutan dengan pengembangan SDM Departemen Keuangan. Gelar Akuntan diperolehnya setelah lulus dari program Diploma IV STAN tahun 1997. Kegiatannya selain menjabat di BPPK antara lain aktif mengajar pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan beberapa diklat yang diselenggarakan di BPPK seperti Diklat Pimpinan Tingkat IV.

dan Universitas Al Azhar Indonesia. minat yang besar juga dicurahkan pada dunia komputer. Kepala Divisi Riset Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan STAN. Disamping itu. Kegiatannya selain menjabat di BPPK. pernah beberapa kali menjadi Asisten Dosen untuk mata kuliah tertentu. dan Anggota Tim Perumus Kebijakan Exit Strategy Pasca IMF (Tim Indonesia Bangkit 2001). Jakarta. Kegiatan lainnya antara lain sebagai Kontributor Ahli Majalah ”Warta Bisnis”. Kemudian melanjutkan program master bidang finance di The University of Newcastle. Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan sejak September 1995. Jakarta pada tahun 1995. penulis di berbagai harian dan majalah nasional. sedangkan gelar Master of Arts diraih dari University of Colorado pada tahun 2003. Australia. menikah dan telah dikaruniai 1 putra dan 1 putri. Gelar Sarjana Ekonomi di bidang akuntansi diperoleh dari Universitas Indonesia pada tahun 1997. Direktur bidang Kajian Ekonomi Center for Indonesian Reform (CIR). adalah mengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). kemudian melanjutkan pendidikan pada program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MKPK) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Anggota Komite Risiko dan Kepatuhan PT Bank BNI (Persero) Tbk. Pendidikan Diploma III diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Di samping bekerja di Pusdiklat Pegawai. Departemen Keuangan. pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan Universitas Al Azhar Indonesia. Tidak heran. dilahirkan di Tuban. menikah dan telah dikaruniai 3 putra. lulus tahun 2002. Dasar-dasar Keuangan Publik . 25 Mei 1973. Editor Pelaksana Jurnal Keuangan Publik BPPK. Beberapa mata kuliah yang pernah diberikan antara lain Evaluasi Proyek dan Akuntansi Keuangan Lanjutan. Disamping hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi. Sunarsip. sebagai Dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Insyafiah. serta sebagai pembicara di berbagai seminar dan pelatihan tingkat lokal maupun nasional. 25 Maret 1974. Umar dan Ilyas.. STIE Tri Bhakti – Bekasi. Mengajar bukan hal yang baru baginya sebab sejak lulus Diploma III STAN tahun 1993. Sebelumnya pernah bertugas di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan dan Badan Analisa Fiskal. hal yang sering dilakukan di waktu senggang bersama keluarga adalah bermain game bersama dua anaknya yang beranjak besar. saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Evaluasi Program pada Sekretariat BPPK. sedangkan gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Universitas Indonesia. aktivitas lainnya yang pernah dilakukan adalah sebagai peneliti di Badan Analisa Fiskal. saat ini juga aktif mengajar antara lain. Pendidikan Diploma IV diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada tahun 2000. Jakarta pada tahun 1999. dilahirkan di Jakarta. pemandu acara talk show ekonomi di radio SMART FM. Sejak November 2004 bekerja pada Kementerian BUMN sebagai Tenaga Ahli Menteri BUMN.311 Fajar Hasri Ramadhana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful