DAFTAR ISI

Prakata Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN Definisi Keuangan Publik Alasan Mempelajari Keuangan Publik Pentingnya Sektor Publik Karakteristik Kebijakan Publik Ruang Lingkup Keuangan Publik Pendekatan Analisis Kriteria yang Digunakan untuk Mengevaluasi kebijakan Politik BARANG PUBLIK DAN EKSTERNALITAS Identifikasi Barang Publik Karakteristik Barang Publik Perbedaan antara Barang Publilk dan Barang Pribadi Permintaan Barang Publik Tingkat Output yang Efisien Free Rider Problem Eksternalitas PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga Penentuan Harga Barang Publik Implementasi Penentuan Harga dalam Produk Pertanian Fungsi Penawaran dan Tanggapan Sektor Pertanian Kebijakan Harga Positif Kebijakan Harga Negatif Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi Utama Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi Alokasi Fungsi Distribusi Fungsi Stabilisasi Koordinasi Fungsi Anggaran FUNGSI ALOKASI Latar Belakang Adanya Fungsi Alokasi Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar iii v 1 1 1 2 4 5 6 7 9 9 10 10 12 13 13 14 16 16 17 18 19 20 21 21 23 23 24 26 26 27 28 29 30 30 31

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

v

Penyediaan Barang Publik Efisiensi Penyediaan Barang Publik oleh Pemerintah BAB VI FUNGSI DISTRIBUSI Konsep Keadilan Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Distribusi sebagai Suatu Kebijakan Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Redistribusi FUNGSI STABILISASI Kebijakan Stabilisasi Kebijakan Moneter Kebijakan Fiskal Stabilisasi Anggaran SISTEM PILIHAN PUBLIK Konsep Keseimbangan Politis (Political Equilibrum) Pemilihan dan Pemungutan Suara (Election and Voting) Memberikan Suara atau Abstain (Vote or not to vote) Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas (Majority Rule) Fenomena Cycling Penyebab Cycling Metode Pemungutan Suara KONSEP ANGGARAN Balance budget Jenis-Jenis Anggaran Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) Siklus Anggaran Masalah Umum Anggaran KEBIJAKAN STABILISASI Model-model Pengganda dengan Investasi Tetap Pengeluaran publik Pajak Lump-Sum Peranan Tunjangan Sosial (transfer) Sistem dengan Pajak Penghasilan Kenaikan Anggaran Berimbang Jenis-Jenis Inflasi Keseimbangan menurut Paham Ricardo PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Unsur-Unsur Pembangunan Kebijakan Struktur Perpajakan Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Pengembangan Struktur Perpajakan Pajak Penghasilan Perorangan Pajak Penghasilan Perusahaan

34 39 43 44 46 46 47 47 50 50 50 51 51 52 52 53 54 56 62 63 65 69 70 70 73 75 78 80 80 83 83 84 84 85 86 89 91 91 93 93 95 95 96

BAB VII

BAB VIII

BAB IX

BAB X

BAB XI

vi

Pajak Tanah Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Pajak dan Bea atas Komoditas Insentif Perpajakan Insentif Domestik Insentif bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Insentif bagi Modal Asing Insentif Ekspor Kebijakan Pengeluaran Bantuan Internasional dan Redistribusi BAB XII HUTANG PUBLIK Pertumbuhan Hutang Pemerintah Struktur Hutang Pemerintah Hutang Publik sebagai Bagian dari Struktur Likuiditas Ekonomi Pendanaan Kembali vs Pelunasan Hutang Beban Pajak dari Pelunasan Hutang Pengalihan Beban melalui Hutang Luar Negeri Peminjaman oleh Pemerintah Daerah Manajemen Hutang Struktur Jangka Waktu dari Suku Bunga Teori Struktur Jangka Waktu Dampak Inflasi Struktur Jangka Waktu dan Manajemen Hutang yang Efektif Hutang Pemerintah Lokal DASAR-DASAR PERPAJAKAN Penerimaan Pajak Penerimaan Non Pajak Prinsip-Prinsip Pajak Siklus Arus Pajak Tarif Pajak Istilah-istilah dalam Perpajakan PRINSIP KEADILAN PERPAJAKAN Prinsip Manfaat Prinsip Kemampuan Membayar Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan DAMPAK PERPAJAKAN TERHADAP PEREKONOMIAN Efficiency Effect Dampak Pajak Kriteria Tarif Pajak Kriteria Struktur Pajak yang Baik

97 97 98 98 99 100 101 102 102 103 106 106 106 110 110 111 115 116 117 117 118 118 119 121 124 124 124 126 127 128 129 132 132 133 134 136 137 138 140 140 141 143 145

BAB XIII

BAB XIV

BAB XV

vii

BAB XVI

PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Aturan Utama Penentuan Penghasilan Kena Pajak Penerapan Tarif Pajak Prosedur Pembayaran Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Praktek Definisi Penghasilan : Pengecualian Praktek Definisi Penghasilan : Pengurangan atas Penghasilan Neto Preferensi Pajak Permasalahan-Permasalahan Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Perlakuan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Pola Progresivitas Tarif Pajak Penyesuaian Terhadap Inflasi Pilihan Unit Kena Pajak PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Integrasi Pajak Aspek-Apek Khusus Definisi Basis Pajak Aturan Penyusutan dan Waktu Penyusutan Metode Penyusutan Ekonomis vs Metode Penyusutan Dipercepat Pembebanan Sekaligus Penyesuaian Terhadap Inflasi Investment Tax Credit Siapa yang Menanggung Beban Pajak? Pajak Penghasilan Badan untuk Usaha Kecil dan Menengah PAJAK ATAS KONSUMSI Jenis Pajak atas Konsumsi di Indonesia Bahasan-bahasan dalam Pajak atas Konsumsi Tahap Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Nilai Akhir Sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Jenis Pajak Pertambahan Nilai Distribusi Beban Pajak Cukai Pajak Penjualan Umum Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi PAJAK ATAS KEKAYAAN Alasan-alasan Pengenaan Pajak atas Kekayaan Pajak atas Tanah Distribusi Beban Pajak Kekayaan Pajak Kekayaan sebagai pajak atas Penghasilan Modal Pola-Pola Alternatif

147 147 148 148 149 150 153 157 158 159 159 161 163 163 167 167 167 172 174 175 177 179 180 180 181 182 184 184 185 187 188 189 189 192 192 192 193 197 197 199 201 202 205

BAB XVII

BAB XVIII

BAB XIX

viii

Pajak atas Kekayaan Bersih Pengalaman Berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih Struktur dan Basis Pajak Peranan Harta tak Berwujud (Intangibles) Bea atas Modal BAB XX PAJAK ATAS WARISAN Alasan-alasan Pengenaan pajak atas Warisan Tujuan dan Jenis Pajak Permasalahan-Permasalahan Khusus ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA ATAS BARANG DAN JASA SOSIAL Mengidentifikasai Manfaat dan Biaya Mengevaluasi dan Mengkonversi Manfaat dan Biaya Mendiskonto Manfaat yang Akan Datang Pengaruh Tingkat Diskonto terhadap Present Value Menentukan Tingkat Diskonto Sosial (Social Rate of Discount) Pengaruh Inflasi Menentukan Peringkat Proyek STRUKTUR BELANJA PUBLIK Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Faktor Belanja Barang dan Jasa Faktor Pengeluaran dari Transfer Porsi Pendapatan Klasifikasi Belanja Publik KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Perlunya Analisis Sektor Pertahanan Nasional Jalan Raya Pendidikan Fasilitas Rekreasi KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Tunjangan Kepada Penghasilan Rendah Asuransi Sosial Sistem Tunjangan Sosial Terkini KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dimensi Ekonomi dan Desentralisasi Fiskal Efisiensi Stabilitas Makro Ekonomi Keadilan (Equity) Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal

206 206 206 207 209 210 210 210 212 213 214 214 215 216 217 219 220 224 224 224 226 229 231 231 232 233 234 235 237 237 239 239 241 243 243 244 245 245

BAB XXI

BAB XXII

BAB XXIII

BAB XXIV

BAB XXV

ix

BAB XXVI

TRANSFER PUSAT KE DAERAH : TEORI DAN PRAKTIK Pendahuluan Tujuan Transfer Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Jenis-Jenis Transfer

247 247 249 255 256 264 264 265 266 269 271 271 272 274 274 274 276 277 278 279 280 284 284 287 288 290 292 293 294 295 301 301 304 307

BAB XXVII PERPAJAKAN DAERAH Pendahuluan Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Ketentuan Mengenai Bagi Hasil Pajak Propinsi dan Peruntukannya Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Pembiayaan Daerah BAB XXVIII PINJAMAN DAERAH Pendahuluan Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Penggunaan Pinjaman dalam Pembiayaan Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah BAB XXIX KOORDINASI PAJAK INTERNASIONAL Pendahuluan Prinsip-Prinsip Pajak Internasional Koordinasi atas Pajak Penghasilan dan Pajak Laba Koordinasi Pajak Produk Koordinasi Pengeluaran Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Pemahaman atas Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda) Cakupan Tax Treaty Pencegahan Penghindaran Pajak Ketentuan Lain-Lain

Daftar Pustaka Biografi Penyusun

x

uraian-uraian mengapa pertahanan nasional harus dikelola oleh negara sedangkan makanan diserahkan kepada swasta dan mengapa suatu negara menggunakan komposisi berbagai jenis pajak . arti keadilan. Keuangan publik mempelajari proses pengambilan keputusan oleh pemerintah. fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah dan menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya. maka para wakil rakyat ini akan bekerja lebih keras dan berusaha Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam keuangan publik. Keuangan publik juga menganalisis pengeluaran publik untuk membantu kita dalam memahami mengapa jasa tertentu harus disediakan oleh negara dan mengapa pemerintah menggantungkannya pada jenis-jenis pajak tertentu. Keuangan publik menjelaskan belanja publik dan teknik-teknik yang digunakan oleh pemerintah untuk membiayai belanja tersebut. dan stabilitas ekonomi. Alasan Mempelajari Keuangan Publik Keuangan publik erat kaitannya dalam proses pengambilan keputusan berdasar asas demokrasi. Apabila para pemilih wakil rakyat memonitor aktivitas para wakilnya.1 B A B I PENDAHULUAN Definisi Keuangan Publik K euangan publik adalah bagian ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah. dan antisipasi akibat finansial maupun ekonomi atas suatu keputusan publik.bukan pada pajak tunggal merupakan hal-hal yang dibahas didalamnya. penting untuk mengembangkan model-model ekonomi yang membantu menjelaskan arti alokasi sumber daya yang efisien atau optimal. sebagai contoh. Dengan demikian. Yang termasuk pemerintah disini adalah seluruh unit pemerintah dan institusi atau organisasi pemegang otoritas publik lainnya yang dikendalikan dan didanai oleh pemerintah. Sehingga. ditribusi pendapatan. karena setiap keputusan mempunyai pengaruh pada ekonomi dan keuangan rumah tangga dan swasta.

peran pemerintah timbul untuk mengatur dan mengelola aspek-aspek kepentingan publik dan karakteristik umum dari aktivitas tersebut adalah bahwa kegiatan tersebut tidak ditujukan untuk memperoleh Dasar-dasar Keuangan Publik .dan mengetahui karakteristik khusus yang melekat pada sektor publik. Karena. Bagi individu yang merasa tidak puas dengan beban pajak yang menjadi tanggungan mereka. sedangkan di negara-negara Eropa Barat. maka mereka akan memberi pengawasan yang lebih pada aktivitas pemerintah. Kebijakan publik dianggap penting dalam hal mempengaruhi kegiatan ekonomi nasional. Pentingnya Sektor publik Di Amerika Serikat. kecuali dalam hal-hal yang tidak dapat diatur sendiri oleh para individu. semakin tinggi pendapatan rumah tangga maka semakin besar proporsi pajak yang harus dibayarkan. dikehendaki adanya kebebasan individu yang mutlak dan tidak membenarkan pengaturan ekonomi oleh pemerintah. mereka akan merasa sukarela pada saat pemerintah mengambil sebagian pendapatan mereka. prosentase belanja publik tersebut lebih besar. karena para individu ini menaruh perhatian pada aktivitas belanja publik setelah mereka membayar pajak. Jumlah yang sangat besar nilainya ini merupakan alasan yang kuat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu masalah keuangan publik.yang tidak ditujukan untuk mencari laba tetapi memaksimalkan jasa pelayanan kepada masyarakat . Pertanyaan-pertanyaan lain akan timbul berkaitan dengan mengapa pemerintah memerlukan anggaran sebanyak itu. lebih dari dua puluh persen pendapatan nasional (GNP) berasal dari belanja pemerintah. apabila pembayar pajak merasa terpuaskan.2 meyakinkan para pemilih bahwa kontribusi mereka atas pembayaran-pembayaran pajak akan menyebabkan pencapaian kondisi yang lebih baik. Sistem perpajakan haruslah diarahkan pada kepuasan dari sudut pandang para individu tersebut. transportasi. pembayar pajak akan memberikan otoritas lebih kepada pemerintah untuk mengelola dan mengendalikan sejumlah sumber daya keuangannya. Kemudian. Sektor publik telah mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. karena sektor publik dan sektor swasta merupakan kesatuan integral dalam sistem perekonomian. Pada situasi ini. Penting bagi kita untuk mengamati aktivitas organisasi pemerintah . Seiring dengan itu. kepentingan dan perhatian publik akan meningkat. melalui kebijakan moneter dan penganggaran. kesehatan dan rekreasi. pakaian. Dalam situasi ini. digunakan untuk apa uang-uang itu. dan apakah uang tersebut digunakan dengan bijaksana? Secara normal. perumahan. Kemudian. apakah hasil penerimaan pajak (terutama pajak penghasilan) dari rumah tangga seperti yang tercantum dalam anggaran negara memang relevan dengan aktivitas-aktivitas sektor publik ini. Salah satu perhatian pokok pengeluaran rumah tangga ada pada makanan. Dalam sistem perekonomian kapitalis. muncul pertanyaan apakah pengeluaran-pengeluaran untuk masing-masing jenis tersebut dilakukan dengan bijaksana.

6. Adanya sifat monopoli dalam bidang usaha tertentu yang menyebabkan pemerintah harus campur tangan agar monopoli tidak merugikan para pelaku ekonomi. manfaat pribadi dan manfaat sosial. walaupun harus membatasi kebebasan individu. Peran tersebut dapat dilihat dalam aliran sirkuler seperti dibawah ini. keadilan sosial dan pekerjaan umum. Bahwa campur tangan pemerintah. Pemerintah semakin diperlukan dalam melakukan kegiatankegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. Bahwa pemerintah haruslah bersifat inferior dalam melakukan kegiatan industri dan perdagangan. Akan tetapi. Adanya risiko yang sangat besar yang tidak mungkin dikelola oleh swasta. sehingga pemerintah secara nyata diperlukan dalam pengelolaan biaya dan manfaat sosial karena swasta tidak ada keinginan mengelolanya. 2. Dasar-dasar Keuangan Publik . 3. Adanya distribusi pendapatan yang tidak merata antar pelaku ekonomi pasar. 2. sehingga pemerintah hanya bergerak dalam area yang menyangkut kepentingan publik atau umum. sehingga harus disediakan oleh pemerintah. John Stuart Mill menyampaikan alasan-alasan tentang perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah sebagai berikut: 1. tidak ada lagi paham ekstrim seperti itu sehingga negara kapitalis pun memandang perlu adanya peranan pemerintah dalam perekonomian. karena usaha seperti itu dapat dijalankan oleh sektor swasta. fungsi sektor publik berbeda dengan fungsi rumah tangga dan perusahaan dalam perekonomian. Pemerintah dapat melakukan tiga kegiatan publik utama. tipikalnya dalam penyediaan pertahanan nasional.3 keuntungan. dibutuhkan dalam memelihara perdamaian dan melindungi masyarakat terhadap serangan yang datang dari luar maupun dari dalam. Bahwa individu akan lebih percaya diri apabila mengerjakan sesuatu untuk kepentingannya sendiri. 4. Diantara kelemahan-kelemahan mekanisme pasar tersebut adalah sebagai berikut: 1. 3. Dalam perkembangannya. 5. Adanya barang publik (akan didefinisikan dan dibahas dalam bab mendatang) yang tidak dapat disediakan oleh mekanisme pasar. Adanya inflasi atau deflasi yang tidak dapat diselesaikan secara otomatis oleh mekanisme pasar. Adanya perbedaan biaya pribadi dan biaya sosial.

Peranan sektor publik dalam perhitungan GNP (Gross National Product) atau pendapatan nasional adalah bahwa pemerintah memberi kontribusi terhadap GNP melalui pembelian barang dan jasa.4 Gambar 1. Arus barang pribadi dan barang publik tidak dibiayai oleh penjualan tapi melalui perpajakan atau melalui pinjaman. Dasar-dasar Keuangan Publik . adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. Sektor publik (anggaran pemerintah) memberi kontribusi pada pasar faktor produksi dan pasar produk sehingga merupakan bagian integral dari sistem pembentukan harga. Barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah dapat saja diproduksi oleh pemerintah. Karakteristik Kebijakan publik Dalam menilai pentingnya sektor publik. atau diproduksi oleh swasta untuk dijual kepada pemerintah. ada sejumlah kriteria dimana komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen.1 Dari gambar terlihat bahwa akan terdapat hubungan yang erat antara arus sektor swasta (rumah tangga dan perusahaan) dan sektor pemerintah. karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi. dan tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. Itulah sebabnya dalam merancang suatu kebijakan fiskal. perlu diperhatikan bagaimana sektor swasta akan bereaksi.

5 Dengan demikian karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. 4. adanya barang publik yang perlu disediakan oleh pemerintah. perlunya pencapaian kondisi stabil dalam eknomi dimana peran pemerintah sangat dominan. Untuk mencapai efisiensi pasar . Timbulnya masalah eksternalitas (akan dibahas lebih lanjut pada bab mendatang) perlu dipecahkan oleh pemerintah. adanya mekanisme pasar yang perlu diintervensi pemerintah karena berbagai alasan. Hasil pemilihan umum ini akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Perlunya peran sosial yang dilakukan oleh pemerintah dalam distribusi pendapatan dan kesejahteraan dalam mekanisme pasar. Ruang Lingkup Keuangan Publik Ruang lingkup Keuangan Publik dapat digambarkan dalam bagan berikut ini. 2. dan sebagainya. Pertukaran barang dan jasa tertentu dalam mekanisme pasar perlu ada proteksi dari pemerintah untuk melindungi pelaku pasar. Kebijakan publik diperlukan untuk menjamin kesempatan kerja. melalui anggaran. Keuangan Publik juga mencoba memberi gambaran tentang pilihan publik yang menyangkut aspek institusi publik. 3. Setelah itu. 6.mensyaratkan adanya informasi yang lengkap mengenai pasar baik bagi produsen maupun konsumen dan peraturan pemerintah diperlukan untuk menjamin persyaratan kelengkapan informasi itu. keseimbangan publik yang dicapai melalui proses pemilihan umum. stabilitas harga dan tingkat pertumbuhan ekonomi. Peraturan pemerintah diperlukan untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi bila terdapat kondisi persaingan yang tidak efisien. 5. Hal ini menyangkut kondisi-kondisi adanya eksternalitas yang perlu dikendalikan pemerintah. Bahasan Keuangan Publik dimulai dari keadaan dan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian.kondisi dimana produksi barang sama dengan keinginan pasar . Rincian karakteristik tersebut adalah sebagai berikut: 1. subsidi dan pajak. mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar.

kegiatan yang mencakup belanja publik dan kegiatan pembiayaan sering disebut sebagai struktur fiskal (fiscal structure). Keuangan Publik kemudian akan membahas aspek belanja publik yang merupakan aktivitas utama pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. Pendekatan Analisis Dalam melakukan analisis kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan anggaran pemerintah. Yang terakhir. Sumber pendapatan pemerintah dapat mencakup pajak dan non pajak. Bahasan yang meliputi kegiatan memperoleh pendapatan. sumber-sumber tersebut akan dihubungkan dengan aspek keadilan dan distribusi pendapatan. Fokus buku ini akan meliputi kegiatan penerimaan dan pengeluaran dari anggaran pemerintah dan hal-hal yang berkaitan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara. Secara tipikal. distribusi pendapatan. dapat dipakai beberapa pendekatan analisis sebagai berikut: Pendekatan Normatif. dan. pemerintah perlu memberikan stimulus pada perekonomian melalui kebijakan belanjanya yang mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. bahasan Keuangan Publik akan mencakup masalah-masalah kreasi memperoleh pendapatan yang dilakukan oleh pemerintah. dimana belanja tersebut dapat didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pemerintah. dan bagaimana agar Dasar-dasar Keuangan Publik . misalnya.6 menghasilkan keputusan diantaranya menyangkut penyediaan barang dan jasa publik . Untuk menutup kekurangannya. 3. dan aspek stabilisasi. Contohcontoh belanja pemerintah tersebut meliputi pendidikan. bahasan keuangan publik biasanya juga menyangkut kegiatan analisis hubungan antara kebijakan pemerintah dengan perekonomian yang dikelola oleh rumah tangga dan swasta. Segala kegiatan yang berhubungan dengan alokasi sumber daya. ruang lingkup Keuangan Publik akan menyangkut ketiga bidang utama sebagai berikut: 1. dengan keterbatasanketerbatasan yang ada. Analisis hubungan sektor publik dan sektor swasta. Aspek pembiayaan merupakan area pembahasan Keuangan Publik berikutnya. dan juga alokasi dan distribusi sumber daya. kesehatan dan pertahanan. dalam keuangan publik. Pendekatan ini mencakup kriteria yang perlu ditetapkan untuk menilai kebijakan anggaran. 2. Salah satu titik penting sisi belanja tersbut juga akan mencakup efek pengganda (multiplier) yang diperankan oleh pemerintah. Dengan demikian. dimana bahasan tersebut akan dihubungkan dengan aspek efisiensi penyediaan jasa tersebut. Permasalahan keuangan pemerintah itu sendiri. termasuk kebijakan publik. bagaimana kualitas kebijakan fiskal. pemerintah dapat melakukan usaha-usaha memperoleh sumber pendanaan lainya melalui hutang. Kemudian.

mekanisme pasar yang kompetitif mengarah pada hasil yang efisien. pertama. Teori dasar dari welfare economics menyatakan bahwa. Pendekatan ini menggunakan model-model ekonometrik untuk melihat pengaruh dari suatu kebijakan dalam perilaku ekonomi yang diobservasi dan juga menggunakan analisis regresi untuk memprediksi pengaruh kebijakan setelah parameternya dapat diketahui dari model ekonometrik tersebut.7 prestasi dapat ditingkatkan. politik dan sosial. Dengan menggunakan welfare economics. karena erat kaitannya dengan aspek politik dan harus mempertimbangkan aspek pemerataan dan keadilan. Pendekatan Positif. apakah wajar bagi keluarga tanpa anak harus membayar pajak pendidikan? Dasar-dasar Keuangan Publik . Kriteria yang Digunakan untuk Mengevaluasi Kebijakan Publik Beberapa kriteria dibawah ini dapat digunakan untuk melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik. dalam kondisi tertentu. dan bagaimana proses politik. 1. Equity & Fairness (Keadilan dan kewajaran) Suatu kebijakan publik dapat diuji dengan berbagai pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan kewajaran dalam persepsi sosial dan seberapa fair suatu kebijakan publik terhadap isu hak kepemilikan? Sebagai contoh. Jadi. dan. pendekatan normatif ini akan mengarah pada bagaimana seharusnya suatu kebijakan publik ditetapkan. apakah wajar menutup perusahaan yang menyebabkan polusi udara dibandingkan dengan kesempatan kerja yang disediakan oleh usaha tersebut? Apakah wajar menutup bisnis penebangan hutan untuk menyelamatkan habitat burung hantu? Atau. Analisis ini menilai mengapa kebijakan fiskal pemerintah mencakup aspek ekonomi. historis. pendekatan positif ini akan mengarah pada kebijakan publik apa yang harus diambil. analisis dihubungkan dengan kondisi efisien perilaku rumah tangga dan perusahaan. kedua. menyatakan suatu masyarakat dapat mencapai efisiensi Pareto tersebut dengan membuat kesepakatan (dengan melibatkan intervensi pemerintah) atas donasi individuindividu dan kemudian memberi kebebasan pada masyarakat untuk melakukan pertukaran satu sama lain. Pendekatan ini dilakukan dengan membahas hal-hal yang berhubungan dengan estimasi. Pendekatan ini menggunakan alat eksperimen berdasar suatu estimasi untuk melihat perubahan perilaku. Implementasi kebijakan sektor publik mempunyai derajat kesulitan lebih tinggi. berdasar bukti empiris. Pendekatan ini menggunakan alat indifference curve untuk menyatakan preferensi individu yang kemudian dihubungkan dengan preferensi bermuatan sosial untuk mendapatkan kondisi efisiensi Pareto. Jadi. bagaimana tekanan pihak-pihak yang berkepentingan dan bagaimana preferensi fiskal.

tetapi hal ini mungkin tidak efisien. Contoh. Kemudian. kebebasan individu dalam perekonomian memungkinkan pertukaran sukarela atau mempromosikan proses pengambilan keputusan sukarela yang didasarkan atas pertimbangan dagang yang bebas biaya transfer antar pihak yang bertransaksi. welfare economics telah dipertimbangkan sebagai cara pemberian insentif untuk mengoreksi kebijakan berdasar keadilan sosial.yang dapat memberi pekerjaan pada setiap orang . Stabilization (Stabilisasi) Kebijakan publik dapat dianalisis dengan menilai apakah kebijakan yang diambil pemerintah mampu meningkatkan pengeluaran agregat? Atau apakah ekonomi sektor swasta . 5.8 2. Sehingga salah satu indikator keberhasilan kebijakan publik adalah apakah kebijakan pemerintah dapat mendorong kebebasan individu dalam bertransaksi ekonomi. kebijakan upah minimum mungkin mendorong keadilan. 4. Freedom of choice (Kebebasan Individu) Dalam asas demokrasi. 3. Akan tetapi. Sebagai contoh. Dasar-dasar Keuangan Publik . Paternalism (Sistem Paternal) Kebijakan publik dapat dievaluasi dari asumsi bahwa pemerintah adalah pihak yang paling mengetahui permasalahan penduduk suatu negara dan pemerintah bebas menentukan kebijakan apa saja. Suatu kebijakan publik dapat dievaluasi dengan pertanyaan apakah pilihan kebijakan tidak akan mengorbankan tujuan lainnya atau apakah manfaat agregat dapat melampaui beban agregat.perlu diintervensi pemerintah? Trade Off Secara umum. 6. Economic Efficiency (Efisiensi Ekonomi) Kebijakan publik dapat dianalisis dari sudut Pareto Efficiency yaitu alokasi sumber daya dari kondisi yang tidak mungkin – melalui perubahan alokasi – sehingga mencapai kondisi dimana seseorang atau beberapa orang mengalami kepuasan lebih baik tanpa menyebabkan pihak lain terbebani. ekonom menekankan efisiensi dan keadilan sebagai kriteria melakukan evaluasi atas kebijakan publik. orang tidak akan menabung dalam jumlah yang cukup untuk pensiun sehingga pemerintah harus mengalokasikan penerimaan pajak agar penduduk usia lanjut dapat memperoleh manfaat. mungkin ada konflik yang substansial antara beberapa kriteria tersebut.

suatu barang dapat dikelompokkan kedalam empat kategori yaitu barang publik. terutama sifat-sifat dasar yang dipertimbangkan dalam pembahasan aspek keuangan publik.9 B A B II BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS Identifikasi Barang Publik D alam mengklasifikasi barang publik dan barang pribadi. Dasar-dasar Keuangan Publik . barang publik lokal (sering disebut congestible goods) dan barang dengan eksternalitas. pakaian Jasa personal lain Barang Publik: Pertahanan Danau & sungai Lampu Jalan Excludability Rendah Barang dengan eksternalitas: Pendidikan. mobil Makanan. Rivalry rendah Barang Publik Lokal: Perpustakaan Taman Rekreasi Area parkir Excludability Tinggi Barang Pribadi: Rumah. Pengangkut sampah Jalan lokal Rivalry Tinggi Dari gambar diatas. dapat ditunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability. Karakteristik masing-masing jenis akan dibahas kemudian. barang pribadi. sebagai berikut. kita dapat menggunakan gambar dengan sumbu horizontal berupa tingkat excludability dan sumbu verikal berupa tingkat rivalry.

Walaupun setiap orang mengkonsumsi jumlah yang sama atas barang publik. Contoh barang publik dengan sifat ini adalah jalan raya dan pertahanan nasional dimana konsumsi terhadap barang tersebut oleh seseorang tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk ikut mengkonsumsinya. tapi mungkin tidak memenuhi kriteria yang lain. tapi mungkin disediakan oleh swasta kemudian pemerintah melakukan pembelian atas barang tersebut. Sedangkan non exclusion mengandung arti bahwa orang tidak dapat membatasi manfaat atas barang tersebut pada orang-orang yang sanggup membayar saja. Penyediaan barang publik yang dilakukan oleh pemerintah tidak berarti bahwa produksinya harus dilakukan oleh sektor publik. atau suatu barang dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama. Perbedaan antara Barang Publik dan Barang Pribadi Barang publik adalah barang-barang yang mempunyai dua sifat pokok yaitu non rival consumption dan non exclusion.10 Karakteristik Barang Publik Secara umum. tetapi tergantung pada kondisi pasar dan teknologi. 2. Suatu komoditas dapat saja memenuhi satu kriteria dari barang publik. 3. Sifat barang publik seperti ini disebut non exclusion. Dengan lain perkataan. pada tingkat tertentu. sedangkan pertukaran barang publik selain dapat Dasar-dasar Keuangan Publik . Konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi penawaran barang publik tersebut untuk dikonsumsi oleh orang lain. Walaupun penyedia barang menginginkan. Karakteristik barang publik seperti diatas tidaklah absolut. Pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak menghasilkan eksternalitas. tidak ada persyaratan bahwa konsumsi ini dinilai atau dihargai oleh semua orang. suatu barang publik mempunyai sifat-sifat berikut: 1. apakah seseorang itu mau membayar atau tidak (free rider) dalam mengkonsumsi barang. Non rival consumption mengandung maksud bahwa sejumlah orang dapat mengkonsumsi secara bersama-sama terhadap barang tersebut atau. Sifat lain dari barang publik yang lain adalah bahwa barang publik tidak disediakan secara eksklusif oleh pihak swasta. orang tersebut tetap dapat memperoleh barang tersebut. konsumsi yang dilakukan atas barang tidak akan mengurangi jumlah yang tersedia bagi orang lain. Beberapa barang tertentu yang secara konvensional tidak dipandang sebagai komoditas pribadi dapat saja mempunyai karakteristik sebagai barang publik. Sifat barang publik seperti ini disebut non rival consumption. Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik. setiap anggota masyarakat tidak dapat dibatasi/dilarang untuk mengkonsumsi barang publik atau kegiatan pembatasan tersebut sangat sulit untuk dilakukan.

Perbedaan lain adalah bahwa biaya marjinal untuk distribusi barang publik kepada konsumen adalah nihil. dan bila seseorang akan mengkonsumsi lebih dari porsinya. Hal ini merupakan efek dari sifat non rival consumption. Konsumsi atas alat anti pencemaran udara tadi oleh beberapa individu adalah tidak saling bersaing (non rival). maka barang tersebut tidak tersedia bagi orang lain. sedangkan kebutuhan barang publik dirasakan secara bersama-sama oleh para individu dalam masyarakat. sedangkan suatu barang publik tidak dapat dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang terpisah yang dapat dikonsumsi habis. Manfaat yang dihasilkan oleh barang publik tidak terbatas pada konsumen tertentu saja yang membeli barang itu. Sedangkan contoh barang publik adalah alat untuk mengurangi pencemaran udara. manfaat yang dihasilkan akan tersedia bagi semua orang yang bernafas. Semua orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang sama. Mekanisme pasar secara tepat dapat menggambarkan penyediaan barang pribadi. penghuni ruang ini dapat mengkonsumsi sejumlah roti dan udara sejuk dari alat pendingin ruangan. akan tetapi juga bagi konsumen lainnya. Untuk memperjelas karakteristik diatas. Penambahan orang dalam ruangan. Mekanisme ini didasarkan pada pertukaran dan pertukaran hanya terjadi jika terdapat hak eksklusif bagi pihak yang membelinya. Contoh barang publik yang menghasilkan manfaat eksternal adalah pertahanan nasional dan contoh barang publik yang menghasilkan beban adalah penyediaan mesin atau peralatan yang menyebabkan adanya polusi udara. dipastikan akan mengurangi porsi orang lain. Jadi. Setiap hari. sampai batas tertentu. Contoh barang pribadi adalah roti. tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi atas udara sejuk tersebut. Kedua sifat barang tadi akan menimbulkan permasalahan bagaimana konsumen berperilaku dan bagaimana kedua jenis barang tadi harus disediakan. Suatu unit barang pribadi hanya dapat dinikmati oleh konsumen tertentu dan setelah itu tidak tersedia bagi orang lain. Konsumsi orang satu dengan orang lainnya berada dalam hubungan yang saling bersaingan (rival). karena apabila roti tadi dikonsumsi oleh seseorang. Suatu pasar menyediakan Dasar-dasar Keuangan Publik . Jumlah roti yang tersedia akan dikonsumsi dengan porsi yang sama oleh orang-orang yang berada di ruangan itu. dimisalkan ada sekelompok orang yang berada di satu ruangan tertentu. Perbedaan karena kegagalan mekanisme pasar Kebutuhan barang pribadi dirasakan secara perorangan. karena keikutsertaan orang lain untuk memanfaatkan alat tidak mengurangi manfaat bagi yang lainnya. Tidak mungkin orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang berbeda satu sama lain.11 menghasilkan manfaat eksternal juga dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Sejumlah roti mempunyai karakteristik sebagai barang pribadi sedangkan tingkat suhu seperti uraian diatas mempunyai karakteristik sebagai barang publik bagi orang-orang yang menghuni ruangan. Di lain pihak. tidak mungkin membagi temperatur yang telah diberi pendingin udara kepada orangorang dalam ruangan tersebut. Jika alat tersebut berfungsi dan terjadi peningkatan kualitas udara. satuan kuantitas barang publik dapat dinikmati bersamasama secara kolektif oleh sekelompok orang.

Para pembeli barang publik tidak akan dapat menyesuaikan tingkat konsumsinya sehingga seorang individu mengkonsumsi satu unit. Konsumen juga tidak bersedia untuk melakukan pembayaran atas barang publik tadi. Persediaan barang publik tidak banyak dipengaruhi oleh kontribusi individu. cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. Dari sudut pandang konsumen. karena apabila orang tersebut mengkonsumsi. Untuk barang publik (murni).12 sistem dimana produsen akan akan memproduksi barang jika konsumen membutuhkan barang itu. Pada tahap ini. Konsumen akan dapat memilih sebagai free rider (dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut) atas apa yang disediakan oleh pemerintah. Mereka merasa berkepentingan untuk memilih apa yang akan memberi manfaat bagi mereka. Konsumen tidak mempunyai hak suara secara perorangan untuk menyatakan bagaimana nilai pelayanan yang nyata bagi mereka. sementara individu lain Dasar-dasar Keuangan Publik . Permintaan Barang Publik Kurva permintaan barang publik harus diinterpretasikan secara berbeda dengan kurva permintaan barang pribadi. pasar menjadi efisien. Satu orang tidak dapat secara ekslusif memanfaatkan barang publik. Tingkat efisiensi proses pemilihan dan kebersamaan pilihan masyarakat akan menentukan tingkatan pencapaian pemecahan yang efisien. proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Kesulitan terjadi dalam menentukan jenis dan kualitas barang publik. Hubungan antara produsen dan konsumen menjadi tidak ada dan pemerintah lah yang harus bersedia memproduksi barang publik. dengan pertimbangan bahwa orang lain juga menikmati barang yang sama. Lain halnya dengan penyediaan barang publik dimana tidak terjadi mekanisme pasar yang efisien. mereka tidak dapat menyatakan kepada pemerintah berapa nilai pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. sehingga pembayaran hanya oleh satu konsumen tidak signifikan. dan berapa konsumen harus membayar. seluruh konsumen harus mengkonsumsi sejumlah kuantitas yang sama atas barang. Pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. pada saat yang sama orang atau pihak lain dapat mengkonsumsi barang publik tersebut secara bersama-sama. Hasil pemungutan suara akan menggantikan pilihan melalui mekanisme pasar. Kesulitan yang sama adalah bagaimana manfaat ini dapat dinilai oleh konsumen. Manfaat yang dirasakan oleh satu pihak akan sama dengan manfaat yang dirasakan pihak lain. karena transaksi pemanfaatan barang dianalogikan suatu tender terbuka dan setiap orang boleh mengikuti tender sehingga tidak ada yang dirugikan. kecuali ada jaminan konsumen lain juga melakukan hal yang sama. Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar. Dengan demikian. Perbedaan karena penyediaan barang publik Permasalahan yang ada adalah bagaimana pemerintah harus menentukan berapa banyak barang publik tersebut perlu diadakan. Dalam kondisi ini. Hanya pihak yang bersedia membayar barang itulah yang dapat memperoleh manfaat atas barang.

Tingkat Output yang Efisien Efisiensi dalam pasar barang pribadi mensyaratkan bahwa seluruh aktivitas ekonomi dilaksanakan sampai pada titik dimana manfaat sosial marjinal (marginal social benefit) sama dengan biaya sosial marjinal (marginal social cost).13 dapat mengkonsumsi dua unit. masing-masing orang kenal satu sama lain dan apabila mempunyai gagasan penyediaan suatu barang akan mudah mencapai kompromi. Penyediaan barang publik oleh orang itu akan memberi manfaat kepada si penyedia dan juga kepada orang-orang di sekitarnya. yakni sumbu horizontalnya berupa jumlah unit barang. Dimisalkan ada seseorang berkeinginan memproduksi atau membeli suatu barang (publik) untuk kepentingan pribadinya. Harga sewa satpam merupakan jumlah maksimal yang individu bersedia membayar dan kuantitas proteksi keamanan dapat diukur dari jumlah satpam yang disewa untuk tujuan itu. Dalam kelompok kecil. Free Rider Problem Sebuah sistem yang mensyaratkan kontribusi secara sukarela untuk penyediaan dan pembiayaan barang publik dapat berjalan apabila komunitas publik terdiri hanya beberapa individu. sebagai fungsi dari jumlah barang yang secara nyata tersedia. sekelompok orang yang menghuni sebuah apartemen yang mewah mempunyai kepentingan yang sama dalam memperbaiki jalan akses atau mengadakan proteksi keamanan. manfaat sosial marjinalnya akan melebihi manfaat yang diterima oleh orang yang menyediakan barang tadi. Sebagai contoh. manfaat sosial marjinal adalah jumlah manfaat marjinal yang dinikmati oleh seluruh konsumen tersebut. Sebagai contoh. akan secara mudah mencapai kompromi untuk menyediakan barang Dasar-dasar Keuangan Publik . ada tiga orang hidup bersama dalam sebuah komunitas yang kecil dan mempunyai keinginan yang sama untuk mengadakan satuan pengamanan (satpam). Sayangnya. sumbu vertikal bukanlah harga pasar. barang publik tidak dapat dihargai seperti itu. karena sifatnya yang non exclusion. Jadi. Gabungan seluruh manfaat yang dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya memberikan manfaat sosial marjinal atas tambahan unit yang disediakan. tetapi jumlah maksimum seseorang bersedia membayar per unit barang publik. Para konsumen tidak dapat menyesuaikan jumlah yang dibeli sampai harga barang publik sama dengan manfaat marjinalnya atau sampai dengan transaksi pengadaan barang publik tersebut terjadi (kondisi equilibrium). karena setiap anggota kelompok dengan mudah dapat mengidentifikasi manfaat barang tersebut. dan merupakan cerminan dari barang publik yang dapat dikonsumsi oleh ketiga orang tersebut. Dengan demikian. Kuantitas yang efisien per periode waktu berhubungan dengan titik dimana output meningkat sedemikian rupa sehingga jumlah manfaat marjinal konsumen sama dengan biaya sosial marjinal atas barang. Prinsip ini dapat juga berlaku untuk penerapan teori barang publik. Bila digambarkan dalam grafik.

Eksternalitas muncul pada saat pihak ketiga. Apabila kondisi itu terjadi. namun di lain pihak. Tetapi. selain pembeli dan penjual. akan ada orang-orang yang mengambil manfaat barang publik tanpa memberikan kontribusi apa pun terhadap biaya penyediaan barang tersebut. tidak dapat menikmati kenyamanan menggunakan jalan tadi. Perhatian ekonom tertuju pada distribusi manfaat dan beban sedemikian rupa sehingga menggerakkan produksi pada tingkat dimana biaya marjinal sama dengan manfaat marjinal. pada akhirnya. tidak jadi dilakukan. Suatu pabrik mungkin menyebabkan eksternalitas kepada lingkungannya dengan aroma yang tidak sedap. karena tidak seorang pun dalam kelompok besar tersebut secara akurat memperoleh informasi tentang manfaat nyata pengadaan barang publik. seseorang akan secara sukarela memberikan kontribusi untuk penyediaan barang publik tersebut. mempengaruhi produksi atau konsumsi suatu barang. Manfaat yang dinikmati atau biaya yang menjadi beban pihak ketiga ini tidak dipertimbangkan oleh baik pembeli maupun penjual dari barang atau jasa yang bersangkutan.14 publik tersebut dengan mendanai secara bersama-sama. ada keterikatan moral antar mereka. Salah satu karakteristik penting dari eksternalitas adalah sifat reciprocal. Di satu pihak. Semua anggota kelompok tersebut. Eksternalitas ini muncul. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan berbagai cara. Di sisi lain. Eksternalitas dapat dihasilkan dari kegiatan produksi maupun konsumsi. karena karakteristik dasarnya. Beban ini tetap akan timbul tidak tergantung apakah bau tak sedap akan berkurang atau tidak. Orang ini disebut free rider. Selain proses mencapai kesepakatannya tidak rumit. Mereka mengetahui secara persis bahwa barang publik yang akan dibeli atau diadakan tidak mungkin hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membayar saja. jika jumlah orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan bertambah dan informasi tentang selera dan kemampuan ekonomi kurang. Dasar-dasar Keuangan Publik . Eksternalitas Eksternalitas didefinisikan sebagai biaya atau manfaat dari transaksi pasar yang tidak tercermin dalam harga. akan terdapat orang-orang yang enggan memberikan kontribusi biaya. misalnya perbaikan jalan akses ke apartemen. Contoh ektrenalitas negatif ini adalah kepadatan jalan dan taman yang tidak dirawat dan dikelola secara baik. Pertanyaannya adalah siapa yang harus menanggung beban tersebut. biasanya. dalam transaksi penyediaan dan atau pertukuaran barang publik. keinginan warga sekitar untuk membebaskan diri dari bau tak sedap akan menimbulkan beban bagi perusahaan. Eksternalitas produksi dan konsumsi dapat merupakan sesuatu yang negatif. Problem muncul jika free rider berjumlah banyak dan akhirnya penyediaan barang publik. sepertinya akan sulit menggambarkan preferensi kelompok tersebut.

Perokok pasif – orang yang ikut menghirup asap rokok meskipun dia tidak merokok – merupakan contoh eksternalitas konsumsi. Ketika sebuah keluarga memperbaiki rumah dan lingkungan sekitar dengan indah.dalam kurva biaya marjinal. tidak hanya memberi manfaat bagi anak-anak dan keluarganya. kita dapat berjalan dalam kondisi aman di malam hari. produsen dan konsumen akan mempertimbangkan harga yang terlalu rendah. peraturan mengharuskan produsen untuk memperhatikan keamanan pekerjanya. modal dan input lain . risiko kesehatan kita akan berkurang. Dasar-dasar Keuangan Publik . tenaga kerja. Misalnya. akan tetapi juga bagi masyarakat. Tanpa intervensi pihak lain. ketika sampah lingkungan kita diangkut secara teratur. lebih berperilaku positif. sementara polusi air yang diakibatkan oleh limbah pabrik merupakan contoh eksternalitas produksi. biaya sosial harus ditambahkan dalam biaya produksi biaya material. dan nilai properti kita akan mengalami peningkatan. Banyak teknik dapat digunakan dalam proses internalisasi ekstrnalitas tersebut. Ketika barang diproduksi dan dijual atau dikonsumsi. Dengan demikian. Proses menambahkan biaya sosial kedalam biaya produksi dan nantinya tercermin dalam biaya pasar tersebut sering disebut sebagai proses internalisasi eksternalitas (internalizing externalities). mengurangi kebisingan dalam metode produksinya. yang merupakan ciri-ciri masayarakat terdidik. Dengan cara yang sama. kurva biaya marjinal hanya menggambarkan biaya yang nyata timbul untuk memproduksi barang tersebut.15 Eksternalitas Positif Beberapa kasus eksternalitas positif dicontoh berikut ini. Orang-orang yang berpendidikan akan lebih produktif. polusi. Apabila biaya-biaya kepada pihak lain timbul karena proses produksi menimbulkan kebisingan. karena mereka tidak mempertimbangkan biaya-biaya sosial. dan akan memiliki selera yang lebih mapan dalam barang dan jasa. misalnya. Pendidikan untuk anak. manfaat tidak hanya dinikmati oleh warga sekitar. yang dibayar oleh para warga dalam kompleks tersebut. Eksternalitas Negatif Beberapa kasus eksternalitas negatif dapat dijadikan contoh berikut ini. Ketika lampu penerangan jalan ada di seberang blok rumah kita. Keduanya merupakan eksternalitas negatif. dan bahaya lain – termasuk biaya sosial – pasar tidak akan memperhitungkan biaya tersebut dalam menentukan harga equilibrium. mengurangi emisi gas buang. Masih banyak kasus lain yang dapat dijadikan contoh untuk eksternalitas postif. akan tetapi juga dinikmati oleh orang-orang yang lewat di perumahan tersebut.

Semua keterlibatan pemerintah ini ditujukan untuk mencapai penentuan harga yang efisien. Namun demikian. pemerintah tidak menjual jasanya kepada masyarakat. Dasar-dasar Keuangan Publik .16 B A B III PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga ecara umum. Harapan pemerintah. mereka hanya akan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh secara pribadi. Jasa ini disediakan secara seragam kepada seluruh pengguna di seluruh daerah dan seluruh masayarakat dapat memanfaatkan jasa ini. Ini tidak berarti bahwa setiap tindakan pemerintah pasti berhasil mengatasi problem ini. dengan keterlibatan dalam penentuan harga barang publik. bukan berarti bahwa penyediaan jasa publik ini tanpa menimbulkan biaya. sehingga kesempatan bahwa barang tersebut tersedia di pasar akan sangat kecil. Pemerintah terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik ini karena kegagalan mekanisme pasar. akan tetapi pemerintah menyediakan jasa publik kepada masyarakat tanpa harus membayar. Sebagai contoh. pemerintah akan melibatkan diri untuk menjamin bahwa manfaat eksternal harus juga dipertimbangkan dalam mengambil keputusan jumlah yang akan dikonsumsi oleh individu. Dalam kasus ini. maupun keseragaman kualitas jasa (misal pendidikan). pemerintah juga akan terlibat dalam penyediaan barang pribadi untuk memproteksi masyarakat dari penipuan (misalnya kebenaran iklan). kepastian tersedianya jasa (misal jasa rumah sakit dan pos). Sebuah proses politik digunakan dalam menentukan jumlah yang harus disediakan dan distribusi biaya kepada para individu. S Pertanyaan mendasar tentang mengapa pemerintah terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. adalah ingin meningkatkan baik efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. Dengan analogi yang sama. Dalam menentukan seberapa banyak suatu barang harus dibeli oleh individu-individu. jasa pertahanan nasional tidak dijual kepada para individu dimana individu harus membayar bila memanfaatkannya.

pemerintah akan ditekan oleh kekuatan politik untuk tidak mengambil keuntungan dari barang atau jasa yang dihasilkannya. keputusan pemerintah ini menimbulkan akibat Dasar-dasar Keuangan Publik . konsumen akan membeli barang-barang sampai tercapai kondisi equilibrium tersebut. Dalam perekonomian. berlaku hukum bahwa harga sama dengan biaya marginal (marginal cost) dan sama dengan pendapatan marjinal (marginal revenue) bagi produsen. pada tingkat equilibrium.17 Tujuan kebijakan harga oleh pemerintah mencakup tindakan-tindakan yang diperlukan agar pasar bekerja lebih baik. 3. Diberikan secara gratis kepada para konsumennya. Dapat dijual dengan harga pasar. apabila konsumen akan memaksimalkan kepuasannya. contoh tersebut menggambarkan kondisi yang tidak efisien bagi penyediaan barang dan jasa oleh pemerintah. cara ini menimbulkan biaya yang sangat tinggi yang harus ditanggung oleh pemerintah. apakah hukum ekonomi tersebut berlaku juga untuk barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah? Pada dasarnya. Akan selalu ada tujuantujuan ekonomi dan non-ekonomi yang dapat diikuti pemerintah melalui campur tangan. Sehingga. pemerintah seringkali menetapkan harga dibawah tingkat harga yang sebenarnya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen barang tersebut. 2. Itulah sebabnya. termasuk memperbaiki arus informasi atau mengurangi unsur-unsur monopoli dan batasan-batasan dalam masuknya perusahaan-perusahaan baru dalam pasar. meskipun keputusan memberikan secara gratis kepada masyarakat akan memaksimalkan penggunaan barang atau jasa oleh masyarakat. Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. atau p = MC = MR. Pertanyaan akan timbul. pemerintah mempunyai banyak pilihan berkaitan dengan keputusan penyediaan barang atau jasanya: 1. Dalam mekanisme pasar barang pribadi yang bersifat persaingan sempurna. tugas pemerintah adalah menyediakan barang untuk kepentingan orang banyak dengan harga murah. Sebagai contoh. Dijual dengan tingkat harga tertentu yang berbeda dengan harga pasar. Konsekuensinya. Penentuan Harga Barang Publik Tergantung pada masing-masing tujuannya. MC adalah marginal cost atau biaya marjinal dan MR adalah marginal revenue atau pendapatan marjinal. dalam meminimalkan biaya ekonomi guna mencapai sasaran-sasaran yang diinginkan. Dengan demikian. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai yang merupakan kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen. Dengan kata lain. Masing-masing keputusan akan mempunyai konsekuensi. dimana p adalah price atau harga. untuk menentukan tingkat keseimbangan. sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen.

Sektor pertanian juga mempunyai kaitan yang erat dengan kebutuhan jasa angkutan. kebijakan publik dapat difungsikan. selain menghasilkan barang dan jasa sebanyak mungkin untuk mencukupi kebutuhan rakyat banyak. Kajian-kajian harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yang tepat sasaran. Contoh yang dapat digunakan adalah penyediaan public utilities oleh pemerintah. Akan tetapi. pupuk kimia dan obat pembasmi hama. sedangkan pemerintah berkewajiban membatasi keuntungan yang harus diperoleh oleh perusahaan-perusahaan tersebut. perusahaan juga diijinkan memperoleh keuntungan dalam jumlah tertentu. seperti bahan makanan atau bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi.18 ketidakefisienan atau terjadi pemborosan apabila dipandang dari ilmu ekonomi. Pemerintah hanya menutup biaya totalnya yang mengakibatkan perusahaanperusahaan pemerintah penyedia barang public utilities akan tetap dapat berjalan tanpa mengalami kerugian. mengingat tugas pemerintah dalam penyediaan brang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. sehingga pemerintah dapat menetapkan harga tertinggi. Produk-produk pertanian merupakan barang primer. Pada kondisi ini. seperti air minum dan listrik. Perusahaan yang mengelola public utilities yang harus menjual produksinya tanpa memperoleh keuntungan sama sekali akan menghadapi permasalahan dalam ekspansi atau melakukan perluasan usaha. Pendekatan yang dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan kebijakan harga positif. kemudian konsumen akan membayar jumlah diatas nilai yang ditetapkan sebelumnya pada saat zero profit. Implementasi Penentuan Harga dalam Produk Pertanian. pemerintah akan mengarahkan perusahaan pada kondisi bahwa. artinya kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong Dasar-dasar Keuangan Publik . Produk pertanian mempunyai posisi strategis dan erat kaitannya dengan produk non pertanian. tetapi produsen masih dapat melakukan perluasan usaha untuk menambah investasinya. Penentuan harga dengan metode seperti inilah yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik oleh pemerintah. artinya perusahaan penghasil public utilities diwajibkan menyediakan barang dan jasa publik. seperti alat-alat pertanian. Pemerintah akan menetapkan jumlah keuntungan maksimum. Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. karena konsumen menilai barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah terlalu mudah diperoleh. konsumen tidak terlalu dibebankan tingkat harga yang terlalu tinggi. Maka. Dalam menentukan harga atas produk pertanian. situasi penyediaan public utilities tersebut diatas tidak berlaku untuk seluruh barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. pendidikan dan kesehatan. Pemerintah tidak diharapkan untuk memperoleh keuntungan dari penyediaan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak itu.

Dalam menggambarkan hukum penawaran. Secara matematis. apabila peningkatan penawaran membutuhkan tenggang waktu. F. atau kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurang peningkatan produksi. dan sebaliknya. X. maka jumlah yang ditawarkan akan meningkat. Dengan mengubah harga. (hal-hal lain tetap atau ceteris paribus). Fungsi Penawaran dan Tanggapan Sektor Pertanian Fungsi penawaran menunjukkan hubungan antara jumlah barang yang ditawarkan dan berbagai tingkat harga dari barang tersebut. penyesuaian produksi akan mengikuti pola Cobweb theorem (sarang laba-laba) seperti digambarkan grafik sebagai berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . S. T ) Dimana: Qa Pa S F X T = = = = = = jumlah barang A yang ditawarkan harga barang A jumlah input yang tersedia keadaan alam pajak atau subsidi atau keduanya tingkat teknologi. kurva penawaran merupakan garis miring dari bawah keatas. pemerintah akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. peningkatan harga segera mendorong peningkatan penawaran produk tersebut. yang berarti apabila barang yang ditawarkan harganya naik. Apabila jumlah produk pertanian ada di gudang. F. Namun. X dan T. maka yang dinyatakan tetap (ceteris paribus) adala S. Hukum penawaran menyatakan bahwa jumlah yang ditawarkan akan meningkat apabila harga barang tersebut semakin tinggi.19 peningkatan produksi. Sehingga. fungsi penawaran dapat dinyatakan dengan: Q a = f ( P a. Tentang jumlah barang yang ditawarkan akan tergantung dari tingkat elastisitas penawaran.

Hubungan tersebut mengakibatkan tingkat harga akan cenderung mencapai equlibrium pada perpotongan kurva penawaran dan kurva permintaan. petani akan terdorong memproduksi sebesar Q a3 di akhir periode tanam berikutnya. Dengan memberikan jaminan harga yang tinggi. Dengan tingkat harga itu. Syaratnya adalah apabila produsen cukup responsif terhadap insentif harga. Pada tingkat harga tersebut. Apabila pada periode tertentu harga pasar setinggi P a1. Dasar-dasar Keuangan Publik . Akan terjadi pergerakan sepanjang waktu ke arah titik perpotongan antara kurva D dan kurva S. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian dan kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian. para petani akan terdorong untuk meningkatkan produksi pangan.1 D merupakan kurva permintaan dan S kurva penawaran.20 Gambar 3. harga akan terkoreksi menjadi P a4. Karena terjadi peningkatan produksi di periode 2. maka harga pasar akan turun menjadi P a2. Tetapi. 2. Peningkatan produksi pertanian secara total karena adanya perbaikan harga relatif komoditi pertanian dalam perbandingannya dengan harga komoditi sektor non pertanian. karena fungdi permintaan tetap. Ada tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga yang dapat dianalisis sebagai berikut: 1. produsen akan terdorong untuk mengurangi produksinya dan harga akan meningkat menjadi P a3. Kebijakan Harga Positif Dari analisis diatas menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sumber kapital bagi pembangunan. petani akan terdorong menanam atas dasar harga tersebut dan akan menghasilkan Q a1 pada akhir periode tanam. Perubahan komposisi produksi pertanian karena perubahan harga relatif masing-masing komoditi pertanian secara individu.

tenaga kerja dan kapital. Di satu pihak. program bantuan harga membuat harga pangan dan produk pertanian mahal dan hasilnya dinikmati para petani. jelas terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input. sedangkan tanaman komersial memiliki elastisitas penawaran yang tinggi. elastisitas penawaran komoditi yang dipasarkan akan sama dengan elastisitas produksi/output. tetapi akan menghambat perkembangan ekonomi secara keseluruhan. artinya prosentase peningkatan produksi sama dengan prosentase peningkatan pemasaran. untuk memungkinkan menekan tingkat upah di sektor itu. Misalnya setiap tanaman ditujukan untuk tujuan komersial. kebijakan ini membuat biaya produksi sektor industri dan jasa lain akan tinggi juga. untuk mencegah agar produksi pertanian tidak merosot. Dengan demikian. Peningkatan produksi pertanian yang dapat dipasarkan sebagai respon terhadap kenaikan harga komoditi pertanian (marketable surplus). Kebijakan Harga Negatif Kebijakan harga yang positif diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi pertanian. harus diserap dari produksi komoditi lain. Banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan mesyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif agar sektor industri dan jasa mampu berkembang. karena produktivitas berkaitan erat dengan kondisi musim maupun faktor lain. dan pertumbuhan sektor lain tidak terhambat. baik untuk produksi pertanian secara keseluruhan maupun untuk marketable surplus. Tetapi. seperti tanah. Perkecualian dapat terjadi. Hasil studi mengenai tanggapan produksi di negara berkembang menunjukkan bahwa tanggapan pertama tersebut dapat bersifat sangat elastis untuk jenis komoditi tertentu. bukan dalam hal peningkatan produktivitas. Dari uraian diatas. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Simpulan umum menyatakan bahwa tanaman yang merupakan kebutuhan sekunder masyarakat cenderung memiliki elastisitas penawaran yang rendah. Namun apabila faktor produksi. Di lain Dasar-dasar Keuangan Publik . karena hasil pertanian merupakan kebutuhan primer masyarakat (seperti makanan). akan menunjukkan positif. maka produksi pertanian secara total dapat menurun. akan tetapi untuk tanggapan kedua dan ketiga justru sangat inelastis atau bahkan turun dengan adanya kenaikan harga. para petani tidak terlalu dirugikan dengan meningkatnya produksi pertanian. Berdasarkan hasil studi.21 3. sehingga akan menghambat perkembangan produksi sektor industri dan jasa. tetapi juga ditujukan untuk ketersediaan pasar maka respon yang diharapkan. maka pemerintah mengenalkan program subsidi input dibarengi dengan penyuluhan pertanian yang intensif. jika tanaman tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan sekunder. Sektor ini menghendaki adanya harga pangan yang murah. peningkatan produksi merupakan bentuk perubahan luas areal tanam. Namun demikian.

jembatan. Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) Dalam merumuskan kebijakan harga barang dan jasa publik umumnya. juga merupakan alternatif yang menjamin ketenangan masyarakat. Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy).2 Dasar-dasar Keuangan Publik . Kebijakan penyangga dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut: Gambar 3. pelabuhan dan lainnya. Meskipun dengan menyisihkan anggaran ini mengakibatkan investasi di bidang lain. sedangkan harga maksimum ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. para konsumen mengharapkan harga pangan. Pemerintah berkewajiban melindungi kedua kepentingan tersebut agar konsumen dan produsen tidak menderita. Di satu pihak. pemerintah menghadapi dilema kepentingan. program subsidi input lewat harga faktor produksi pertanian yang murah akan mendorong produksi pertanian sehingga harga pangan akan murah dan dapat mendorong perkembangan ekonomi lebih lanjut. Harga dasar ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. secara politis. menjadi berkurang. para produsen selalu menginginkan agar hasil produksinya dapat terjual dengan harga yang layak. Cara ini.22 pihak. Cara subsidi yang terakhir ini menyebabkan pemerintah harus menyisihkan sebagian anggarannya untuk membiayai subsidi. dan di lain pihak. murah. dan produk pertanian khususnya. seperti jalan. Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah dengan menentukan harga patokan berupa harga dasar (floor) dan harga maksimum (ceiling). kebijakan ini juga diarahkan agar swasta dapat berkembang dengan sendirinya akibat dukungan harga pangan yang murah. khususnya.

dan harga cenderung menjadi turun. Untuk melindungi konsumen. seperti kebijakan moneter. Kemudian. atau sebaliknya. kurva penawaran bergeser ke kanan. Dengan demikian. Berhasil atau tidaknya kebijakan penentuan harga ini tergantung pada tersedianya dana untuk operasi (sering disebut operasi pasar). sehingga kurva permintaan pasar bergeser kekanan menjadi D1 sampai memotong kurva penawaran S 1 tepat pada harga dasar P a2. keadaan keseimbangan tercapai pada harga P ao dan Q ao. Harga dapat saja bergerak lebih rendah dari P a2. Apabila dana operasi terbatas. pemerintah turut membeli hasil panen.23 Pada awalnya. sedangkan harga cenderung merosot terus (dalam keadaan over supply). bila terjadi paceklik. Untuk mencegah supaya harga turun tidak terlalu drastis. Keadaan sebaliknya dapat pula terjadi. kebijakan penentuan harga perlu dukungan kebijakan lain. misal pada saat panen. bila penawaran bertambah. maka pemerintah dapat saja tidak mampu melindungi produsen. maka pemerintah dapat mencegah naiknya harga komoditi dengan turut menjual produk pertanian ke pasar. Dasar-dasar Keuangan Publik . misalnya bergeser dari S o menjadi S 1.

Fungsi Distribusi. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi.24 B A B IV FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi Utama emerintah sangat diperlukan dalam perekonomian dan berfungsi dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan standar kehidupan penduduk pada tingkat yang layak. misalnya pengenaan pajak dan pengeluaran publik. Fungsi Alokasi. Fungsi stabilisasi. 3. Suatu kebijakan publik. fungsi pemerintah dapat dikelompokkan sebagai berikut. Permasalahan utama adalah bagaimana merancang kebijakan anggaran sehingga tujuan yang Dasar-dasar Keuangan Publik . 2. P 1. Yang dimaksud fungsi alokasi dalam kebijakan publik adalah fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. dapat secara simultan diarahkan kepada tiga tujuan tadi. Dengan melihat berbagai kelemahan mekanisme pasar. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. Yang dimaksud dengan fungsi distribusi dalam kebijakan publik adalah penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan. Yang dimaksud dengan fungsi stabilisasi dalam kebijakan publik adalah penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja.

Tugas memproteksi setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan dan dominasi yang dilakukan oleh anggota lain dalam masyarakat. Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Dalam situasi tertentu. 1. Milton Friedman juga menyarankan pemerintah supaya membeli sumber daya yang digunakannya dalam pasar. Adam Smith mencatat empat fungsi ‘pengoreksi’ dari pemerintah: 1. Ada dua argumen perlunya intervensi pemerintah yaitu kegagalan pasar dan penekanan pada aspek keadilan. Tugas memproteksi suatu kelompok masyarakat dari pelanggaran dan invasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lainnya. hanya berperan sebagai last resort. seperti pertahanan nasional dan penerangan jalan. Ada beberapa barang publik yang bersifat non-rival dan non-excludable. misalnya tanpa mengelola aktivitas (swasta tersebut). 4. bukan mengendalikan/mengatur sumber daya tersebut. yang membuat tidak mungkin membebankan biaya penyediannya kepada para pengguna. Tugas mempertemukan biaya yang diperlukan untuk mendukung peraturan-peraturan. dalam mendanai. 3. Pada saat pemerintah memproduksi barang atau jasa. Namun demikian. 2. mengatur dan menyediakan barang atau jasa yang gratis. 2. tidak dapat diharapkan bahwa pekerjaan-pekerjaan tersebut akan disediakan dalam kuantitas yang tepat.25 berbeda-beda tersebut dapat dicapai secara lebih terpadu. Kegagalan pasar. Pedoman aktivitas pemerintah yang dipromosikan oleh Milton Friedman adalah bahwa keterlibatan pemerintah harus dapat membuat dan memaksa aturan-aturan umum yang mengatur perilaku para individu dan apabila pemerintah memutuskan untuk campur tangan dalam aktivitas individu. Aktivitas pemerintah. seharusnya. Hal ini menyebabkan kegagalan pasar dimana negara dapat saja mencoba turut campur mengatasi permasalahan ini. Tugas membentuk dan memelihara institusi publik agar memberi manfaat yang tinggi dan pekerjaan publik yang karena sifatnya profit yang diperoleh institusi tersebut tidak pernah mencapai tingkat pembayaran kembali dari individu yang menyediakan dan. keterlibatan tersebut harus mempunyai tingkat yang minimal. bukan bertransaksi dengan pengguna. dengan demikian. Konsumsi atau produksi barang/jasa publik mungkin menghasilkan suatu akibat eksternal positif atau negatif kepada masyarakat yang tidak Dasar-dasar Keuangan Publik . mekanisme pasar mengarah pada alokasi sumber daya yang efisien yang timbul pada saat tidak seorang pun dapat dipuaskan lebih baik tanpa menyebabkan orang lain menderita kerugian (sering disebut efisiensi Pareto). Dalam the Wealth of Nations. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas. pemerintah harus membebankan secara pro rata kepada pengguna. baik secara langsung atau tidak langsung. suatu masyarakat dapat saja memilih alokasi yang tidak efisien atas dasar kesetaraan atau kriteria lainnya.

Data empiris di seluruh dunia secara umum menyarankan bahwa peningkatan keadilan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. kredit). Tidak bisa bergeraknya sumber daya yang produktif. Tanpa intervensi pemerintah. Ketidakadilan sering menghasilkan ketidakamanan dan kejahatan. lingkungan yang bersih. tidak semua fungsi mensyaratkan kehadiran negara sebagai penyedia barang atau jasa publik. pasar akan memproduksi barang publik tersebut melebihi atau kekurangan. saat sekarang dalam pertanyaan berkaitan dengan teknologi masa kini. 4. Peranan sektor swasta dan kebutuhan kemitraan dalam kesempatan. dan dengan demikian menyebabkan penawaran dan permintaan yang tidak tepat. mempromosikan tambahan kepada anggota masyarakat (erat hubungannya kepada produsen dan pekerja swasta). 5. Informasi yang tidak simetris dan tidak sempurna mungkin mengarah pada penilaian yang salah atas barang dan jasa publik. secara nasional dan global. 6. Tiga dimensi pokok dari kemiskinan yang tidak dimiliki secara eksklusif oleh sektor publik. terutama tenaga kerja. Sektor swasta dapat berperan aktif dalam menciptakan kesempatan ekonomi (penciptaan lapangan kerja. Namun demikian. 4. dan memberikan kontribusi untuk mengurangi ketidakadilan melalui aktivitas yang berhubungan dengan pemerintah dan partisipasinya dalam sektor swasta (rumah sakit umum dan sekolah yang dananya dari swasta) Dengan demikian. Akhirnya. Kepedulian secara luas atas kebutuhan mengatasi kemiskinan secara lebih serius harus menjadi perhatian oleh pemerintah. pemberdayaan dan proteksi. tambang dan lain-lain. dan stabilitas nasional.26 tercermin dalam harga barang. kegagalan pasar juga berhubungan dengan permasalahan dari seleksi yang tidak menguntungkan dan bahaya moral ketika pembeli atau penjual bertindak secara eksklusif atas dasar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Monopoli yang alami dalam sektor tertentu seperti energi. penyelesaian konflik. 2. Aspek keadilan 1. pemberdayaan dan proteksiperlu difasilitasi oleh pemerintah. peran pemerintah terdiri dari: Peran penyedia (Provider Role). perlindungan hak asasi. keadilan. 3. dapat membantu mencegah pencapaian alokasi sumber daya yang efisien. Penekanan pada aspek keadilan bukan berarti bahwa hanya negara yang harus atau dapat memberikan kontribusi menekan kemiskinan. Negara harus menyediakan barang publik untuk menjamin stabilitas ekonomi makro. Dasar-dasar Keuangan Publik . pembangunan lebih cepat. 5. dimana beberapa diantaranya difasilitasi oleh peraturan dan penciptaan ruang gerak yang tepat. Tugas ini berhubungan dengan penyediaan kesempatan. dan kurangnya kemiskinan. eksternalitas negatif yang mempengaruhi pertumbuhan dan keadilan sosial. tergantung pada apakah eksternalitas ini baik atau buruk. 3.

Pemerintah dapat menjadi mitra swasta dalam penyedia peraturan. Pada masa sekarang. suatu barang publik – yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi – tidak dapat disediakan melalui sistem pasar yang melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individu. mekanisme pasar berfungsi. sehingga sejumlah produktivitas hilang bila ditransfer dari kondisi yang relatif baik kepada kondisi yang baik. tetapi kesempatan kerja total mungkin turun karena kebijakan ini. Pertanyaannya adalah siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung beban dari suatu kebijakan distribusi tertentu. yakni memindahkan alokasi pasar dari hak kekayaan. Kebijakan publik dapat mempengaruhi distribusi pendapatan nyata. Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Tingkat konsumsi dan produksi barang dan jasa publik oleh masyarakat dapat dirubah oleh kebijakan publik. Dilihat dari fungsi alokasi.27 Peran Kemitraan (Partnership Role). Dalam kasus ini. pekerja atau konsumen? Dan siapa juga yang menerima tanggung jawab akibat adanya pajak penjualan? Konsumen atau pekerja? Beberapa kebijakan secara aktual menggeser ditribusi pendapatan antara generasi sekarang dan generasi mendatang. Akibat kegagalan mekanisme pasar. secara langsung dan tidak langsung. hubungan antara produsen dan konsumen yang terjadi dalam mekanisme pasar tidak ada dan pemerintah Dasar-dasar Keuangan Publik . 1. lebih banyak kebutuhan negara dalam perannya sebagai regulator dari mekanisme pasar dan sebagai fasilitator dari lingkungan kelembagaan dan pengaturan yang kondusif atas pembangunan sektor swasta. Inilah yang dimaksud dengan true incidence dari kebijakan. Mungkin ada opprtunity cost dalam hubungannya dengan efisiensi dalam merubah distribusi pendapatan. pembangunan infrastruktur dasar dan perlindungan dari risiko dan kerugian (misalnya asuransi). Isu ini disebut internerational transfer. Sebagai contoh. Hukum ekonomi mengatakan biaya yang naik didasarkan pada fakta bahwa sumber daya cenderung mengarah pada kondisi yang spesifik. Alasan-alasan adalah seperti diuraikan dibawah ini. kebijakan dalam upah minimum akan menyebabkan penerimaan upah lebih tinggi kepada pekerja. Diakui secara luas bahwa baik negara maupun sektor swasta tidak dapat berfungsi secara tepat tanpa berfungsinya kedua sektor tersebut secara bersamaan. Sering. para ekonom mengatakan bahwa kebijakan ini tidak dalam kondisi pareto optimal. Fungsi Alokasi. Kebijakan publik menggunakan sumber daya yang mempunyai nilai yang lebih tinggi kepada masyarakat bila digunakan dalam sektor swasta. namun tidak efisien. Siapa yang menanggung beban atas akibat diterapkannya kebijakan pajak penghasilan badan? Apakah kepada pengusaha.

2. Barang pribadi dapat diproduksi dan dijual kepada pembeli swasta baik oleh swasta maupun oleh perusahaan pemerintah. fungsi distribusi mempunyai sifat yang lebih sulit dipecahkan dibanding fungsi alokasi dan merupakan permasalahan utama dalam penentuan kebijakan publik. Proses penyesuaian ini akan menimbulkan inefisiensi dan merupakan biaya. Kriteria ini tidak sama artinya dengan suatu tindakan pendistribusian kembali atas sumber daya yang ada kepada konsumen. tetapi kriteria ini digunakan untuk menilai tingkat efisiensi pasar. Namun hal ini dipandang sebagai suatu tingkat ketidakadilan yang besar. Pemerintah harus menjamin bahwa proses politik dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik dapat terjadi secara efisien. Pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. dan inilah yang selanjutnya diperhitungkan dalam merancang kebijakan distribusi. pernyataan yang telah diterima secara luas adalah orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuan mereka membayar. Masalah-masalah yang timbul dalam fungsi alokasi adalah berapa banyak barang publik yang harus disediakan oleh pemerintah dan jenis maupun kualitas barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. Lebih khusus. Dengan menyimpulkan berbagai kriteria.28 lah yang harus bersedia memproduksi barang publik. barang publik dengan cara yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan swasta dan dijual kepada pemerintah atau dapat juga diproduksi secara langsung oleh pemerintah. Faktor yang Menentukan Fungsi Distribusi Tanpa adanya intervensi kebijakan. fungsi distribusi memainkan peranan penting dalam kebijakan pajak dan transfer. Akibat kegagalan mekanisme pasar yang lain adalah bahwa proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. terutama dalam distribusi pendapatan modal. Para ekonom sepakat bahwa dibutuhkan penyesuaian untuk menentukan batas minimum kelompok berpenghasilan rendah. peningkatan kesejahteraan seseorang tidak akan merugikan orang lain. Dalam ilmu ekonomi kesejahteraan modern berlaku prinsip bahwa suatu kondisi ekonomi disebut efisien jika. Apabila hukum ekonomi pasar diberlakukan. Distribusi Optimal. penggunaan sumber daya yang efisien ditentukan oleh nilai penetapan harga faktor produksi yang kompetitif dan distribusi pendapatan keluarga ditentukan oleh proses pasar. Fungsi Distribusi Dilihat dari fungsi distribusi. (Pareto Optimum). Sedangkan. dan hanya jika. seperti misalnya pelayanan yang diberikan oleh pemerintah. Dasar-dasar Keuangan Publik . distribusi pendapatan dan kekayaan akan tergantung pada ketersediaan sumber daya alam dan kepemilikan kekayaan. Distribusi yang adil mempunyai pengertian yang sangat dalam yang menyangkut perimbangan sosial dan pertimbangan nilai. Permasalahannya terletak pada aspek pemerataan dan keadilan.

Secara lebih detail. besarnya pendapatan yang tersedia tidak dapat dipisahkan dengan cara mendistribusikan pendapatan tersebut. Fokus perhatian distribusi terletak pada aspek posisi pendapatan relatif yakni pemerataan secara keseluruhan. faktor-faktor penyebab ketidakpastian dapat dialihkan dari suatu negara ke negara lain. Instrumen Fiskal Alternatif peralatan fiskal dalam fungsi distribusi adalah: 1.29 Sedangkan kaidah pemerataan mempunyai dua masalah. Perlunya Kebijakan Stabilisasi. Pajak penghasilan progresif yang digunakan untuk membiayai pelayanan umum. Dalam mempertimbangkan instrumen kebijakan. 3. karena adanya saling sifat salain ketergantuangan antar negara. perlu diperhitungkan bobot atau biaya efisiensi. Sedangkan keputusan pengeluaran dipengaruhi oleh pendapatan. Tanpa kebijakan stabilisasi pemerintah. Pertama. Skema pemindahan pajak yang menggabungkan pajak progresif. Simpulan umum berkaitan dengan pemerataan adalah bahwa kebijakan distribusi akan mencakup biaya efisiensi yang harus diperhitungkan. Kombinasi antara pajak atas barang mewah dengan subsidi terhadap barang tidak mewah. Meskipun demikian. yaitu biaya yang timbul akibat pilihan terhadap perilaku konsumen atau produsen. Tingkat kesempatan kerja dan tingkat harga tergantung dari tingkat permintaan agregat dan output kapasitas berdasar harga yang berlaku. hampir tidak mungkin membandingkan tingkat utilitas masing-masing individu atas pendapatannya. 2. perekonomian cenderung mengalami fluktuasi. aspek pemerataan membahas pencegahan kemiskinan dan penentuan batas minimum kelompok berpenghasilan rendah. Fungsi Stabilisasi Akhirnya dilihat dari fungsi stabilisasi. tingkat stabilitas harga. fungsi stabilisasi dirancang untuk mencapai tingkat kesempatan kerja. dan kedua. Permintaan agregat merupakan akumulasi dari pengeluaran individu dan perusahaan. pengangguran dan inflasi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Konsekuensi pilihan instrumen fiskal akan menunjukkan bahwa setiap perubahan harus diselesaikan dengan biaya efisiensi yang minimum dan timbulnya suatu kebutuhan untuk menyeimbangkan konflik antara tujuan pemerataan dan tujuan efisiensi. dan pertumbuhan ekonomi. neraca pembayaran yang sehat. Pemecahan optimal menghendaki suatu kombinasi yang kompleks antara pajak dan subsidi. yaitu pengenaan jenis pajak dimana rasio pajak terhadap penghasilan naik dengan naiknya pendapatan.

suatu kebijakan selalu berupaya meminimumkan konflik antar masingmasing tujuan. Instrumen moneter tidak dibahas secara detail pada buku ini. Jika kebijakan moneter longgar. Instrumen Kebijakan Stabilisasi. sehingga kebijakan anggaran. 2. Instrumen Fiskal. tingkat diskonto. Peningkatan anggaran belanja pemerintah yang bersifat ekspansi akan meningkatkan permintaan pemerintah dan kemudian menjalar ke sektor swasta.30 kesejahteraan. para ekonom berpendapat bahwa jumlah uang beredar harus diawasi oleh sistem bank sentral dan disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi. Instrumen Moneter. Sebaliknya. akan tetapi mengurangi permintaan apabila terjadi tingkat pengeluaran melebihi output sehingga dapat menyebabkan inflasi. Penurunan pungutan pajak dapat juga bersifat ekspansi. Koordinasi Fungsi Anggaran. Meskipun mekanisme pasar berfungsi. Peningkatan pelayanan pemerintah perlu diikuti dengan kenaikan pajak (tujuan alokasi) Distribusi pendapatan ke kelompok rendah/tinggi perlu diikuti pengenaan pajak progresif atau sebaliknya (tujuan distribusi). secara simultan. bila kebijakan peredaran uang diperketat. Dasar-dasar Keuangan Publik . 1. penyediaan kredit dan pengharapan. pinjaman akan mempertinggi bunga sehingga menghambat ekspansi pasar. Komponen kebijakan moneter mencakup antara lain pembentukan cadangan wajib. Kondisi stabil tidak ada dapat dicapai secara otomatis. sehingga dimungkinkan akan ada banyak pengecualian. 3. 2. Yang dibutuhkan adalah meningkatkan permintaan agregat apabila ingin meningkatkan kesempatan kerja. Peranan sektor publik yang penting terletak pada bagaimana defisit anggaran dibiayai. Kegiatan-kegiatan pemerintah dalam melaksanakan ketiga fungsi tersebut akan tercermin dalam kebijakan anggaran. kebijakan pasar terbuka dan pengendalian kredit selektif. Namun demikian. karena pendapatan yang dapat diterima (disposable income) para wajib pajak lebih besar sehingga akan membelanjakan pendapatannya dengan lebih besar. pengaruh ekspansioner akan tinggi karena defisit ditutup dari pinjaman. dan Kebijakan yang lebih ekspasioner diperlukan dengan menaikkan pengeluaran publik atau dengan menurunkan pajak (tujuan stabilisasi) Suatu kebijakan publik tertentu mungkin tidak dapat memenuhi tiga tujuan sekaligus. mempunyai beberapa tujuan: 1.

Apabila seseorang membeli satu set pakaian. begitu pula manfaat yang dihasilkan dengan adanya jalan umum tersebut tersedia bagi banyak orang (tidak untuk satu konsumen). maka pakaian yang sama tidak akan tersedia untuk orang lain (konsumsi terhadap barang tersebut bersifat bersaing). sedangkan produsen akan menjual barang dengan harga yang setingi-tingginya. Apabila seseorang mengambil manfaat dari adanya jalan umum tersebut. aplikasi dari prinsip hubungan permintaan dan penawaran seperti ini menjadi suatu pemecahan yang efisien. Berbeda dengan kebutuhan seseorang terhadap. penggunaan atas jalan umum. Untuk barang seperti pakaian. Akan banyak Dasar-dasar Keuangan Publik . sistem pasar tidak berlaku. manfaat yang tersedia bagi orang lain tidak akan berkurang. U Sebagai ilustrasi. misalnya. Mekanisme pasar akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu. Kebutuhan atas barang ini dirasakan secara bersama-sama. Dari ilustrasi tersebut dapat dipahami bahwa mekanisme pasar sangat cocok untuk menggambarkan penyediaan barang-barang pribadi. dapat dimisalkan bahwa kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang akan pakaian akan sangat berbeda dengan kebutuhan pakaian yang dirasakan oleh orang yang berbeda. Konsumen akan berusaha mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harga yang serendah-rendahnya. Mekanisme pasar terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen. sistem pasar terjadi melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individual secara suka rela dan sangat tepat untuk menggambarkan hubungan permintaan dan penawaran.31 B A B V FUNGSI ALOKASI Latar Belakang adanya fungsi alokasi ntuk barang-barang pribadi (private goods). Namun untuk barang-barang publik (social goods).

akan mengakibatkan konsumen kekurangan informasi atau dapat tersesatkan. Konsumen biasanya tidak bersedia untuk membayar pemanfaatan atas barang publik. masih banyak permasalahan lain yang tidak dapat dipecahkan oleh mekanisme pasar. Dalam keadaan demikian mekanisme pasar tentunya tidak berfungsi secara sempurna. Akibatnya tidak ada pembayaran yang dilakukan secara sukarela. Berbeda halnya dengan barang publik. Di sinilah kemudian terjadi alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar. pandangan ini merupakan gambaran paling ekstrim dari sistem pasar. Alasan ketiga terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik. Tentu saja. Dasar-dasar Keuangan Publik . Alasan pertama adalah bahwa pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. Distorsi yang disebabkan oleh iklan. sehubungan dengan pemenuhan kriteria efisien. Harga atas suatu komoditi sudah ditetapkan atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. diasumsikan bahwa terdapat hak ekslusif terhadap semua sumber daya produktif yang tersedia di pasar dan tidak ada individu yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atas komoditi atau produk yang diperjualbelikan. Hal ini berarti tidak ada distorsi pasar yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. sistem ekonomi pasar dapat menjamin penggunaan sumber daya secara efisien dalam penyediaan barang pribadi. terutama dalam hal persaingan.terutama oleh produsen . Alasan kedua. baik jika dia membayar ataupun tidak. Apalagi jika semakin banyak orang yang menggunakan barang tersebut. Dalam kenyataannya banyak kesulitan yang terjadi. akan sangat tidak efisien untuk menghalangi seorang konsumen (yang tidak membayar) untuk ikut memanfaatkan barang publik. misalnya terhadap sejumlah barang tertentu yang menjadi preferensi konsumen. Karena pemanfaatan barang publik oleh seseorang tidak akan mengurangi manfaat yang dirasakan oleh orang lain. Bila semua kondisi tersebut telah terpenuhi. manfaat yang dirasakan masing-masing individu akan semakin tidak berarti apa-apa. kriteria efisien dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya dimana semua pasar dalam kondisi persaingan sempurna.32 keuntungan yang didapat . Selain itu. Dalam hal ini hubungan antara produsen dan konsumen terputus dan pemerintah harus bersedia turut campur. Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar Dalam suatu sistem ekonomi pasar. dan hal ini berarti bahwa informasi yang dimiliki oleh kosumen dan produsen tidaklah sama. sehingga pasar dapat menjadi ajang persaingan yang tidak sempurna. pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. karena manfaat yang akan dirasakan oleh setiap orang akan sama saja. misalnya. Di sini.apabila membatasi konsumen ikut dalam sistem pasar dengan syarat mereka mau membayar.

Misalnya konsumsi atas lampu jalan. Namun. Sifat Tidak Bersaing Sifat tidak bersaing berarti bahwa barang tersebut dapat dikonsumsi sebanyak-banyaknya oleh seseorang tanpa akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh orang lain. terdapat sifat tidak bersaing yang rendah dalam konsumsinya. Barang publik. pelayanan kesehatan dan pendidikan. bahwa sifat tidak bersaing bukan berarti bahwa manfaat yang diterima oleh setiap konsumen adalah sama. Misalkan. terdapat barangbarang yang mempunyai sifat tidak bersaing dengan kadar yang tinggi dan rendah. jalan lokal. akan sulit bagi pemerintah untuk mencegah orang tersebut agar tidak menggunakan jalan umum. Semakin banyak orang dalam suatu wilayah. Para ekonom secara lebih spesifik menjabarkan istilah barang publik sebagai barang-barang yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) dan tanpa pengecualian (non excludability). Sebaliknya. Rendah Jalan Lokal Pendidikan Pelayanan Kesehatan Udara bersih Keamanan Tinggi Lampu Jalan Gambar 5. tanpa mengurangi kebutuhan orang lain atas lampu yang sama. tidak menutup kemungkinan sifat ini dihilangkan. sifat tidak bersaingnya tinggi. Namun perlu dipahami. karena apabila pemerintah mencegah dengan cara tidak membangun jalan di sekitar rumahnya. orang yang tinggal disekitar wilayah lampu tersebut akan lebih merasakan manfaatnya. Efisiensi produksi pemerintah di sini akan menjadi fokus pembahasan. Kedua sifat tersebutlah yang kemudian akan mengakibatkan kegagalan pasar dalam memproduksi secara efisien. Namun demikian. dibandingkan dengan orang yang tinggal lebih jauh dari wilayah lampu tersebut. Sifat Tanpa Pengecualian Dimensi kedua dari barang publik adalah sifat tanpa pengecualian. Dari berbagai macam barang publik. A tidak memberi kontribusi dengan membayar pajak. akan ada kemungkinan sifat bersaing dalam penggunaan barang publik tersebut. Istilah barang publik digunakan untuk menggambarkan barang atau jasa apapun yang disediakan oleh pemerintah. jika biaya untuk mendapatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . mulai lampu jalan sampai dengan keamanan nasional. barang publik seperti lampu jalan dan keamanan. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan untuk mencegah seseorang yang tidak memberikan kontribusi (tidak membayar) ikut mengkonsumsi barang publik.33 namun pasar gagal dalam memproduksinya. seseorang dapat terlindungi dari gelapnya malam. maka hal tersebut akan dapat merugikan orang-orang di sekitarnya yang membayar pajak.1 Untuk barang publik seperti.

A dapat masuk ke dalam pasar sehingga kurva permintaan pasar Dt berbelok.3 mewakili barang pribadi yang mempunyai sifat bersaing dan pengecualian yang sangat tinggi. pemerintah mungkin saja menarik bayaran dari para pengunjung.3. terdapat garis spektrum yang menggambarkan tinggi rendahnya sifat tanpa pengecualian Rendah Tempat Parkir Tempat Rekreasi Perpustakaan Udara bersih Pendidikan Tinggi Jalan Lokal Gambar 5. Oleh karena itu. Dengan catatan bahwa Qt merupakan penjumlahan dari Qa (barang yang dibeli oleh A) dan Qb (barang yang dibeli oleh B). Kurva Permintaan Atas Barang Pribadi P MC P1 Da Qa Qb Qt Dt Q Gambar 5. Dasar-dasar Keuangan Publik Db .4 dibawah ini menguraikan tentang perbedaan antara barang publik dan barang pribadi dalam suatu masyarakat yang diasumsikan hanya terdiri dari dua kelompok individu.34 kontribusi konsumen tidak lebih besar dari manfaatnya. Semua titik-titik dalam kurva permintaan pasar Dt merupakan gabungan dari titik-titik harga dan kuantitas yang diminta dalam kurva perimtaan A dan B. sama halnya dengan sifat tidak bersaing. Kurva penawaran pasar SS memperlihatkan biaya marginal (MC) yang dapat dibebankan kepada A dan B secara bersama-sama untuk berbagai output dari barang pribadi. Kurva permintaan pasar (Dt) diperoleh dengan menambahkan secara horizontal kurva permintaan A (Da) dan kurva permintaan B (Db). Gambar 5. yaitu A dan B. Perpotongan antara kurva SS dan Dt menentukan titik ekuilibrium harga P1 dan titik ekuilibrium kuantitas Qt.3. selama tingkat harga masih cukup tinggi. dan 5. selama biaya yang dikeluarkan untuk membayar staf penjaga tempat rekreasi tersebut tidak lebih besar dari pendapatan yang diterima.2 Barang publik versus barang pribadi Gambar 5. Misalnya untuk tempat rekreasi. selanjutnya pada saat tingkat harga sudah cukup rendah. Kurva permintaan pasar Dt berhimpitan dengan kurva permintaan Db.

Kurva Permintaan Atas Barang publik P MC P1 Pa Dt Db Pb Da Qb Qt Q Gambar 5. Oleh karena itu. karena barang publik mempunyai sifat tidak bersaing dan tanpa pengecualian. Dasar-dasar Keuangan Publik . seperti: jalan umum. sehingga barang yang dikonsumsi oleh A sama jumlahnya dengan barang yang dikonsumsi B. pendidikan. trade off dari penyediaan barang publik oleh pemerintah dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar dapat digambarkan dengan kurva kemungkinan produksi. Misalnya A sebagai warga kota Jakarta dapat menggunakan seluruh jalan kota maka demikian juga halnya dengan B. dalam hal ini perbedaan terjadi bukan pada kuantitas yang dikonsumsi oleh masing-masing orang. baik manfaat yang diterima A lebih besar maupun lebih kecil.4 memperlihatkan pola yang sama namun untuk barang publik. tapi lebih kepada perbedaan dari manfaat marjinal dari setiap konsumen atau harga yang dibayarkan oleh masing-masing konsumen. Situasi yang berbeda terjadi di sini.35 Gambar 5.4. pakaian. Penyediaan Barang publik Ketika pemerintah melakukan fungsi penyediaan barang publik. Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar. meskipun A memiliki mobil sedangkan B tidak. seperti makanan.5 menunjukkan alternatif kombinasi antara barang publik dan barang pribadi. Sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar. keamanan nasional dan lain-lain. Gambar 5. dengan asumsi seluruh sumber daya yang ada digunakan. dan lain-lain.

Masalah yang timbul kemudian adalah bahwa setiap individu seharusnya mau membayar atas setiap manfaat yang dia Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional tersebut pemerintah harus meningkatkan pajak penghasilan. Penyediaan Barang Melalui Anggaran Sebagaimana telah diterangkan dalam bab sebelumnya. penyediaan barang publik perlu adanya campur tangan pemerintah. Namun di sisi lain. maka kualitas keamanan yang disediakan pemerintah akan meningkat dan masyarakat akan merasa lebih aman.36 Kurva Kemungkinan Produksi P Penyediaan Batang Publik per Tahun C B A G2 G1 O X2 X1 M Penyediaan Barang Pribadi per Tahun Gambar 5.5 Titik A dalam gambar menunjukkan bahwa MX1 unit adalah jumlah barang pribadi yang dikorbankan oleh masyarakat sehingga pemerintah dapat menyediakan barang publik sejumlah OG1. jika diumpamakan peningkatan jumlah barang publik per tahun merupakan respon pemerintah atas peningkatan permintaan masyarakat terhadap keamanan nasional. atau dengan kata lain meminta pengorbanan lebih besar dari MX1 ke MX2. Sumber daya yang dikorbankan tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh masyarakat atau pajak yang diminta oleh pemerintah agar barang publik dapat tersedia. Peningkatan jumlah barang publik yang tersedia di pasar dalam satu tahun dari OG1 ke OG2 (titik B) akan meminta penurunan dari jumlah barang pribadi di pasar dari OX1 ke OX2. Pengorbanan masyarakat merupakan harga sumber daya yang seharusnya digunakan untuk memproduksi barang pribadi digunakan oleh pemerintah untuk dapat menyediakan barang publik. pengorbanan dari pihak masyarakat terjadi dengan menurunnya kemampuan konsumsi atas barangbarang pribadi.

apabila suatu usulan kebijakan tidak berpengaruh langsung . diperlukan proses politik untuk mengungkapkan preferensi masyarakat kepada pemerintah tentang barang publik apa yang perlu disediakan dan melengkapinya dengan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan untuk membayar barang-barang publik tersebut. barang publik disediakan untuk semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. Akibatnya. Setiap orang akan dengan senang hati ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik – mulai dari sekedar memberikan suara.atau kecil pengaruhnya . Pilihan para pemilih karena itu akan tergantung pada pengetahuan mereka sendiri serta kesadaran mereka bahwa orang lain juga menyumbang sesuai dengan rencana perpajakan yang dianut. Keterbatasan Jangkauan Manfaat atas Barang publik Pada dasarnya. Untuk ini. Secara normatif. tidak cukup informasi yang disampaikan oleh masyarakat kepada pemerintah. namun karena manfaat yang diterima dari barang publik dirasakan oleh banyak orang. Masalah lain yang timbul. menyumbang bahkan sampai keluar dari pekerjaannya – jika mereka merasa bahwa ada akibat langsung dari kebijakan politik pemerintah kepada mereka. dilakukan proses pemungutan suara guna menetapkan keputusan perpajakan dan pengeluaran publik. Oleh karena itu. Akan timbul masalah tentang jenis dan kualitas barang seperti apa yang harus disediakan oleh pemerintah. Namun dalam prakteknya. Dasar pemikiran tentang komunikasi efektif antara pemerintah dan masyarakat mengikuti logika kepentingan setiap individu dalam masyarakat. sering anggota masyarakat merasa bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk menyatakan tuntutan mereka seringkali lebih besar dari manfaatnya. karena biaya yang mereka keluarkan akan lebih besar dari manfaat yang akan mereka terima. karena setiap keputusan pemerintah diambil mengikuti keputusan suara terbanyak. Para pemberi suara kemudian akan dihadapkan pada suatu pilihan diantara beberapa usulan pengeluaran publik berkaitan dengan sumbangan pajak mereka. maka orang tidak bersedia untuk membayar manfaat barang.masyarakat akan merasa enggan untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Namun dalam prakteknya. Pengungkapan preferensi masyarakat kepada pemerintah dilakukan melalui suatu proses pemungutan suara. Proses ini dimulai dengan pemahaman dari anggota masyarakat tentang pentingnya memberikan suara mereka.37 terima. berkampanye. ada barang publik Dasar-dasar Keuangan Publik . Sementara itu. ketika pemerintah akan menetapkan jumlah uang yang harus disumbangkan untuk memperoleh barang publik. masyarakat dalam sistem yang demokratis akan terhindar dari apatisme anggotanya dalam proses pengambilan keputusan politik. maka proses pemungutan suara harus mengaitkan keputusan perpajakan (sebagai alat pendanaan) dengan keputusan pengeluaran atau belanja publik. Agar dapat berfungsi sebagai mekanisme yang efisien dalam mengungkapkan preferensi.

sehingga akan lebih memperkecil timbulnya masalah free rider. yaitu barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah yaitu hanya pada waktu penggunaannya padat dan penggunanya mencapai jumlah tertentu. karcis parkir. tapi paling dekat dengan tempat tujuanya.1. Bagi pengguna juga tidak akan merasa keberatan membayar untuk dapat menggunakan barang publik karena akan lebih jelas manfaat yang dapat mereka peroleh bila dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan. kontribusi seseorang baik itu berupa waktu. Sebagai contoh. seorang pengguna jalan tol dalam kota akan masuk dari pintu terdekat dengan tempat dia berangkat dan keluar dari pintu terjauh. Sebaliknya.. sementara barang publik berskala lokal lebih tepat disediakan oleh pemerintah lokal atau pemerintah daerah. harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan. Melihat sifatnya tersebut. mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. Sebagai contoh. barang publik berskala nasional lebih tepat disediakan oleh pemerintah pusat. maka sifat tidak bersaingnya akan menjadi tinggi. yang dalam garis spektrum mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. bagi yang sedikit atau tidak memberikan berkontribusi. dan 5. ada yang disebut dengan istilah congestible goods. maupun pemberian suara akan dapat menciptakan perubahan atas suatu keputusan. untuk setiap tambahan pintu tol yang dia lewati. Berbeda dengan pengguna jalan tol luar kota. dengan mempertimbangkan kondisi kemacetan (biaya oportunitas) di luar jalan tol. Mereka akan terus menambah konsumsi mereka atas barang publik ini sampai manfaat yang mereka dapatkan maksimal. uang. dalam suatu kelompok yang kecil. Artinya para pengguna seharusnya akan lebih termotivasi untuk menggunakan barang-barang ini sampai pada titik dimana manfaat marjinal yang mereka peroleh sama dengan atau mendekati nol.seperti yang terlihat pada gambar 5. Barang publik berskala lokal adalah barang-barang yang diproduksi oleh pemerintah lokal. dengan biaya tarip yang rendah. maka akan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali manfaat yang mereka dapatkan. Selain itu dalam skala lokal akan lebih dimungkinkan untuk mengatasai permasalahan free rider. dia akan berfikir dari pintu tol mana dia harus masuk dan di pintu tol mana dia harus keluar. jika pemerintah lokal harus menarik kontribusi atas Dasar-dasar Keuangan Publik .38 yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). atau retribusi pasar. Hal ini disebabkan. Sementara di waktu yang lain ketika jumlah pengguna barang ini hanya sedikit. Dari sini dapat terlihat bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik ini sama dengan atau paling tidak mendekati nol. tol. karena dari manapun dia masuk dan dimanapun dia keluar biaya yang harus dikeluarkan adalah sama. selama tidak ada tambahan biaya yang harus mereka keluarkan. Berpartisipasi atau tidak berpartisipasi akan menjadi sangat terlihat. Sehingga. Akan sangat mudah bagi pemerintah lokal untuk menarik kontribusi dari para pengguna barang publik yang disediakan seperti tiket masuk tempat rekreasi. Barang publik berskala lokal dalam garis kontinum.2. Dari berbagai macam barang publik jenis ini.

Kurva Permintaan Congestible Goods P MC P1 O D1 D2 Q1 Gambar 5. Hal ini diharapkan dapat menarik minat pengunjung untuk mau masuk ke tempat rekreasi tersebut. Misalnya pada tempat-tempat rekreasi. dimana pada hari-hari libur hampir tidak ada mobil yang datang berkunjung. dapat dikenakan tarif tinggi. pemerintah lokal tidak perlu menarik kontribusi dari pengguna barang publik ini. D3 Q Dasar-dasar Keuangan Publik . Strategi lain dalam memperlakukan congestible goods adalah dengan menggunakan dua macam tarif. maka biaya marjinalnya bisa akan lebih mahal dari manfaat marjinalnya. para pengunjung dapat menikmati tempat rekreasi dengan biaya yang lebih rendah.6. memperlihatkan bahwa tambahan permintaan atas congestible goods pada musim sepi jumlahnya sedikit (pergeseran dari titik O ke D1 sampai ke D2). Di lokasi perkantoran misalnya. begitu juga biaya marginalnya yang tetap (jika dimungkinkan nol). pada musim liburan dimana pengunjungnya sangat padat. sehingga biaya menempatkan penjaga gerbang akan tertutup dari pembayaran tiket masuk.39 pengguna barang publik ini. Sebegitu rendah permintaannya sehingga pemerintah lokal merasa tidak perlu ada penarikan atas pengguna barang publik tersebut. Apabila dimungkinkan.6. Gambar 5. pemerintah dapat menghilangkan biaya parkir. yaitu tarif tinggi pada musim padat dan tarif tinggi pada musim sepi. sedangkan untuk hari kerja atau sekolah. sehingga tidak perlu juga ada penjaga gerbang sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghapus biaya marjinal.

Tingkat substitusi marjinal barang X untuk barang Y dalam konsumsi haruslah sama dengan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. jumlah tertentu barang X harus diproduksi sedemikian rupa sehingga memungkinkan diproduksinya Y sebanyak-banyaknya pada saat yang sama dan demikian pula sebaliknya. Jika suatu teknologi memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan 8 unit barang Y. Artinya tingkat dimana A dan B berkeinginan untuk menukarkan unit terakhir barang X dengan barang Y haruslah sama. Jadi jika tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi adalah 3X dan 2Y. Efisiensi menghendaki bahwa dengan menggunakan teknologi terbaik. sampai tercapai tingkat substitusi marjinal yang sama. maka menurut pengertian Pareto. Kondisi-kondisi berikut harus terpenuhi: 1. 2. Efisiensi Pareto didefinisikan sebagai suatu pengaturan ekonomi tertentu adalah efisien jika di sana tidak dapat dilakukan pengaturan kembali yang akan menyebabkan seseorang menjadi lebih baik tanpa memperburuk posisi orang lain. dimana A akan dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang Y sedangkan B dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang X. Tingkat substitusi marjinal dalam mengkonsumsi barang X dan Y harus sama baik bagi konsumen A maupun B. sedangkan B mau menukarkan tiga unit barang Y untuk satu unit barang X. Kaidah efisiensi mengarah pada terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu agar tercapai pemecahan alokasi yang efisien. sedangkan teknologi lain memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan hanya 5 unit barang Y. sedangkan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi adalah 3X untuk 1Y. Jika kondisi-kondisi di atas terpenuhi seluruhnya. Secara sederhana. maka akan lebih diinginkan untuk meningkatkan output barang X dan mengurangi barang Y sampai kedua tingkat tersebut menjadi sama. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi tidaklah mungkin dalam keadaan ini untuk mengubah metode produksi. yaitu A dan B serta dua macam barang yaitu X dan Y. maka jelas bahwa teknologi pertama yang akan terpilih. Jika A ingin memberikan satu unit barang X untuk dua barang Y. kita akan mempertimbangkan suatu perekonomian dengan hanya ada dua konsumen. atau besarnya sektor pemerintah dalam usaha untuk membantu seseorang atau kelompok tanpa merugikan orang atau kelompok lain. maka hal ini akan menguntungkan keduanya bila melakukan pertukaran.40 Efisiensi Penyediaan Barang publik oleh Pemerintah Seorang ekonom Italia mengusulkan konsep efisiensi yang dikenal dengan istilah Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency). Tingkat transformasi marjinal dapat didefinisikan sebagai suatu tambahan unit barang X yang dapat diproduksi bila produksi barang Y dikurangi satu unit. alokasi sumber daya akan menjadi efisien. kombinasi barang yang diproduksi. Jika perubahan itu masih dimungkinkan maka susunan terdahulu belumlah efisien dan peningkatan efisiensi dapat diperoleh dengan melakukan perubahan. 3.

oleh karenanya harus disediakan oleh pemerintah. ditunjukkan melalui beberapa langkah sebagai berikut. sehingga keduanya akan berada pada titik yang berbeda pada sumbu vertikal. jika kita perhatikan dalam gambar 5. Namun kembali kepada masalah bahwa tidak semua barang bisa disediakan melalui mekanisme pasar. kita dapat melihat bahwa mekanisme pasar menjamin terlaksananya penggunaan sumber daya yang efisien.7 dibawah ini. Pemecahan masalah efisiensi sangat dimudahkan dengan menggunakan mekanisme pasar. Selanjutnya. Ini adalah kelebihan dari the invisible hands sebagaimana yang dikemukakan pertama kali oleh Adam Smith.41 Alokasi yang Efisien Melalui Mekanisme Pasar Sekarang kita mempertimbangkan suatu kondisi dimana baik barang publik maupun barang pribadi diproduksi. tergantung pada selera dan pendapatan mereka. setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumber-sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. tetapi jumlah konsumsinya berbeda. Artinya. sebagaimana pertama kali pernah dikembangkan oleh Samuelson. kita akan melihat bahwa kurva kemungkinan produksi pada sumbu XY paling atas sekali lagi mencatat kombinasi barang pribadi dan barang publik yang dapat diproduksi dengan menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia. Selanjutnya. Karena sifat barang publik yang tidak bersaing dan tanpa pengecualian. produsen akan memaksimalkan keuntungan dengan menggunakan metode biaya sekecil mungkin (memenuhi kondisi 1). penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar. Alokasi yang Efisien Atas Barang publik Seperti diperlihatkan dalam gambar 5. dan sumbu XY pada gambar bagian bawah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu B. Pemecahan masalah efisiensi kembali perlu untuk ditemukan. Sumbu XY pada gambar bagian tengah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu A. sehingga kedua individu tersebut (A dan B) akan berada pada titik yang sama pada sumbu horizontal. tetapi mereka dapat mengkonsumsi barang pribadi dengan jumlah yang berbeda. Harga yang sama dibayar oleh semua konsumen. Dari sini. Bagi barang pribadi yang tersedia melalui mekanisme pasar dimana produsen akan memproduksi barang-baranng yang paling diinginkan oleh konsumen (preferensi konsumen jelas ternyatakan). maka dapat diasumsikan bahwa jumlah barang yang dikonsumsi dari setiap individu adalah sama.3 dimana kondisi seluruh sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. sehingga produsen termotivasi untuk memproduksi apa yang diinginkan oleh konsumen. Penjual dalam upayanya untuk memaksimalkan manfaat akan menyamakan biaya marjinal dengan penerimaan marjinal yang dalam keadaan bersaing juga akan menyamakan biaya marjinal dengan harga atau pendapatan rata-rata (memenuhi kondisi 3). konsumen akan mengalokasikan anggaran belanjanya diantara barang-barang tersebut sedemikian rupa sehingga menyamakan tingkat substitusi marjinal mereka dengan rasio harga barang (memenuhi kondisi 2). Dasar-dasar Keuangan Publik . karena disini konsumen didorong untuk menyatakan preferensi mereka.

Kemudian jika A bergerak sepanjang ia2 ke titik P. berdasarkan alasan yang sama akan menempatkan B pada titik L. Dasar-dasar Keuangan Publik . T. Karena FG dikonsumsi oleh A maka jumlah yang tersisa bagi B sama FE-FG = FH. menunjukkan bahwa jika A berada pada titik G maka B akan berada pada titik H pada gambar di bagian bawah. kita akan menemukan posisi baru bagi B pada gambar di bagian bawah (dihubungkan dengan ULK) dan satu hasil optimal baru (dihubungkan kepada L). artinya A mengkonsumsi barang publik sebanyak OF dan barang pribadi sebanyak FG. kita akan memperoleh serangkaian pemecahan yang berkaitan dengan berbagai tingkat kesejahteraan untuk A dan B. Selanjutnya kita akan melihat pada tingkat kesejahteraan terbaik untuk A dan B. sedangkan total output barang pribadi sebanyak NM akan dibagi antara A dan B sehingga A menerima sebanyak NP dan B menerima sebanyak NL. dimana output total barang publik (yang paling efisien) sejumlah ON. maka kita dapat mengulangi prosedur yang sama untuk B. Dari gambar bagian atas. kesejahteraan A akan menjadi maksimal apabila A mendapatkan suatu titik yang akan dapat membuat B menjadi lebih baik. semua titik sepanjang ia2 akan sama baiknya. Dalam setiap kasus. dan V. Bagi A. dimana ULK bersinggungan dengan kurva indeferen ib4 dari B pada gambar bagian bawah. Dengan cara ini. Inilah kurva tertinggi yang dapat dicapai oleh B. maka B akan berpindah ke kiri sepanjang ULK. titik-titik ini akan berhubungan dengan kondisi bahwa jumlah barang X yang dikonsumsi oleh A dan B harus sama dengan output total barang X. diketahui bahwa kombinasi output yang paling efisien meliputi barang publik sebanyak OF dan barang pribadi sebanyak FE.42 Akan tetapi. Jika utilitas A berubah lagi. Sebagai ilustrasi. Jika A berada pada kurva indeferen ia1 pemecahan terbaik adalah membiarkan A dan B pada titik P dan L. Untuk A misalnya dinyatakan oleh kurva indiferen ia2 pada gambar bagian tengah. misalnya ke kurva ia3. Semua ini adalah efisien menurut pemikiran Pareto dan memenuhi kondisi kesamaan di antara tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi dan tingkat transformasi marjinal di alam produksi. Hal ini akan terjadi pada titik L. Z dan K. jika A berada pada titik G pada gambar di bagian tengah. sehingga menempatkan B pada titik H pada gambar bagian bawah. Jika A bergerak sepanjang ia2 dari tititk W ke kiri.

43 Jumlah Total Barang Pribadi M E Y O N F Q Konsumsi A atas barang pribadi T Jumlah Total Barang publik J ia3 P G W ia2 ia1 R N F U Konsumsi B atas barang pribadi Konsumsi A atas barang publik ZL K ib1 N F U ib3 ib2 Gambar 5.7 Konsumsi B atas barang publik Dasar-dasar Keuangan Publik .

istilah keadilan berada dalam suatu area yang sangat berlawanan. Teori ini memainkan peranan yang sangat penting dalam analisis ekonomi. Sebagai contoh.44 B A B VI FUNGSI DISTRIBUSI S eperti telah dibahas dalam bab sebelumnya. Oleh karenanya. Sedangkan. Walaupun demikian. namun demikian penekanan teori peranan produksi lebih pada pengalokasian yang efisien. Ketika istilah efisiensi berada dalam suatu area yang dapat dikatakan mendekati nilai obyektif. penekanan utama dari teori fungsi distribusi adalah pada bagaimana pendistribusian hasil produksi kepada individu-individu atau keluarga-keluarga. Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu tentang bagaimana pengalokasian sumber daya diantara berbagai kebutuhan produksi yang saling bersaing guna mencapai suatu tingkat hasil (utilitas atau kepuasan) tertentu. teori efisiensi alokasi faktor produksi ini bukan teori fungsi distribusi. teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Istilah keadilan lebih dekat pada nilai normatif daripada obyektif. tenaga kerja dan modal. terdapat dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal yaitu masalah penggunaan sumber daya yang efisien dan masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil. Agar alokasi sumber daya menjadi efisien maka jumlah faktor produksi yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga nilainya sama dengan nilai biaya marjinal. alokasi faktor produksi dapat dikatakan efisien apabila dasar penetapan harga faktor produksi juga efisien. masalah distribusi pendapatan terhadap individu maupun keluarga harus dibahas lebih lanjut. Dalam ilmu ekonomi. tanpa memperhatikan masalah distribusi akhir dari hasil penjualan produksi tersebut di pasar. Dalam pembahasan terdahulu penekanan lebih pada efisiensi. Pertanyaannya kemudian adalah apakah ada distribusi yang adil atau merata? Bagaimana keadaan distribusi yang adil dan merata itu yang dimaksud diatas?. yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah.

Namun pada kenyataannya.45 Konsep Keadilan Idealnya. umur. secara umum. Pendapatan sendiri harus mencakup masalah seluruh pendapatan seumur hidup seseorang. sistem perpajakan dan belanja publik harus dapat menjamin terciptanya suatu pengorbanan yang adil dari setiap warga negara. pemerintah akan menyediakan sejumlah barang publik yang sama pula. akan terasa sangat logis jika standar adil dalam pengorbanan dipenuhi melalui sistem yang menjamin bahwa kontribusi si miskin harus lebih kecil dari kontribusi si kaya. Oleh karena itu. disumsikan bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang sama untuk menikmati pendapatan. tua atau muda. Dalam konsep ini. Jadi. Dasar pengukuran dapat berupa pendapatannya. fungsi pendistribusian oleh pemerintah dapat mencakup proses penarikan dana (melalui pajak) dari si kaya dan mentransfernya kepada si miskin baik itu dalam bentuk uang ataupun jasa. Apakah ada suatu cara untuk mendefinisikan keadilan? Pertanyaan ini telah memicu munculnya beberapa pemikiran terbaik dari para ekonom dalan kurun waktu dua abad terakhir ini. hal lain yang mungkin perlu dimasukkan kedalam pertimbangan adalah masalah kekayaan. Konsep Keadilan Horizontal Salah satu jawaban atas dilema dalam mendefinisikan dan mengukur keadilan adalah konsep keadilan horizontal. bukan dalam ukuran rupiahnya namun lebih pada utilitasnya. keadilan berarti memperlakukan setiap orang berbeda disesuaikan dengan kondisinya masing-masing. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar. cacat atau normal dan sebagainya. sebagian besar pendistribusian yang dilakukan pemerintah tidak menguntungkan bagi si miskin. pengukuran menggunakan konsep keadilan horizontal sulit ditemukan. setiap orang dianggap sama. Oleh karena itu. jumlah pajak yang ditarik dari Dasar-dasar Keuangan Publik . si miskin dan si kaya. Jadi. Selain itu. Permasalahannya adalah bahwa dalam suatu perekonomian. Sehingga apabila ada dua kelompok ekstrim dalam masyarakat. Konsep Keadilan Vertikal Konsep kedua dalam mengukur keadilan adalah konsep keadilan vertikal. bukan hanya pendapatan dalam satu tahun. dan kondisi kesehatan seseorang. jumlah anggota keluarga. tidak perduli kaya atau miskin. Dalam konsep ini. atau paling tidak kapasitasnya berada dalam suatu interval tertentu. Selanjutnya. dari setiap orang akan ditarik pajak dengan jumlah yang sama. tidak hanya sekedar persoalan pendapatan. atau kondisi-kondisi khusus lainnya seperti ketidakmampuan (cacat). melainkan tetap lebih memihak kepada si kaya. Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik. melalui konsep ini. Contoh konkrit dari konsep ini dapat ditemukan pada tiket masuk suatu tempat rekreasi yang tidak membedakan bagi setiap orang. masih dalam konteks ideal. kekayaannya.

Ketidakmampuan untuk membandingkan utilitas dari setiap orang. sehingga pajak penghasilan menetapkan tarif yang berbeda. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan adalah prinsip kompensasi yang menawarkan suatu pedoman kasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan prinsip bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau sejahtera.000. konsep ketiga dalam upaya menginterpretasikan keadilan jatuh pada konsep prinsip kompensasi. dimana harus menetapkan batas suatu jumlah pendapatan sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah tersebut mempunyai kemampuan membayar pajak lebih rendah atau lebih tinggi. Prinsip kompensasi sebagian dapat terlihat dalam kebijakan perdagangan. Namun Dasar-dasar Keuangan Publik . namun disesuaikan dengan kondisi mereka. tanpa menyebabkan kondisi orang lain sebaliknya (lebih buruk). Menyadari hal ini. para ekonom mencari beberapa kriteria untuk pengambilan keputusan dimana kondisi Pareto optimal tidak mungkin dapat dicapai.-. Konsep keadilan vertikal juga tercermin dalam metode pengujian rata-rata yang digunakan bagi banyak program pemerintah. Salah satu kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang. seperti pembebasan atau pengurangan biaya sekolah. Contoh penurunan secara bertahap terhadap hambatan perdagangan internasional akan memberikan keuntungan bagi para konsumen dan eksportir di atas beban para tenaga kerja dan produsen importir dalam industri yang bersaing. Prinsip Kompensasi Terakhir.46 setiap orang tidaklah sama. Jadi dalam konsep ini akan tercipta peraturan atau kebijakan yang mau tidak mau akan terdapat pihak yang menang dan kalah. menyebabkan suatu keputusan atau perubahan kebijakan sangat sulit untuk dibuat tanpa mengakibatkan adanya pihak-pihak yang diuntungkan dan pihakpihak yang dirugikan.00 lebih rendah kemampuan membayar pajaknya dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai pendapatan Rp 50. Kriteria ini akan memandu pengambil keputusan untuk memilih keputusan terbaik kedua setelah Pareto optimal.000. Keadilan diterjemahkan sebagai optimalisasi pareto yang menyatakan bahwa tidak mungkin merubah kondisi seseorang menjadi lebih baik. Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika harus dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak. Apakah seseorang yang mempunyai pendapatan dua kali pendapatan orang yang lain berarti bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan membayar dua kali juga atau tidak. Selanjutnya.001. Kategori rakyat miskin adalah mereka yang memiliki pendapatan rata-rata – berdasarkan uji rata-rata – di bawah tingkat pendapatan tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.yang akan dibahas lebih lanjut di bagian mendatang merupakan salah satu contoh konkrit dari konsep keadilan vertikal. Apakah seseorang yang mempunyai jumlah pendapatan Rp 50. Tarif pajak progresif .000. dan subsidi perumahan dan kesehatan bagi rakyat miskin.

meskipun tidak secara langsung. Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Dalam ekonomi pasar. teknologi. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan prosentase dari pendapatan yang diperoleh dengan prosentase rumah tangga yang menghasilkan. Begitu pula dengan kesempatan seseorang memperoleh pekerjaan akan lebih bergantung pada hubungan kekeluargaan dibandingkan dengan kemampuan produktifitasnya. Sedangkan distribusi pendapatan modal mencakup distribusi kesejahteraan. Dalam persaingan sempurna. Namun sebaliknya. menunjukkan tingkat ketidakadilan yang sangat menyolok. maka tetap saja akan ada pihak-pihak yang diuntungkan sebagai pemenang dan pihak-pihak yang dirugikan sebagai yang kalah. tetap mempunyai dampak distribusional. Oleh sebab itu. Dasar-dasar Keuangan Publik . kesejahteraan publik ini akan lebih menguntungkan. Seandainya hambatan perdagangan tetap dipertahankan sehingga tetap ada dinding yang membatasi suatu negara dalam bertransaksi dengan negara lain. Dari distribusi pendapatan tenaga kerja dan modal terkait dengan investasi pendidikan. sebagaimana telah ditentukan oleh warisan.47 kebijakan ini tetap diinginkan karena secara total. kali ini pembahasan akan di fokuskan pada distribusi sebagai hasil dari suatu kebijakan. pola perkawinan. oleh karenanya harga-harga tersebut bergantung langsung pada sejumlah variabel seperti faktor penawaran. 1991). Distribusi Sebagai Suatu Kebijakan Jika sebelumnya. hubungan keluarga. kebijakan mengenai anti trust atau anti monopoli sebenarnya dirancang untuk mengefisienkan pasar. tingkat pendapatan dari berbagai macam pekerjaan mungkin berbeda sejalan dengan pertimbangan status dibandingkan dengan produk marjinal. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan meningkatnya ketidakadilan dalam pendistribusian pendapatan (Musgrave. dan akhirnya pola pernikahan juga menjadi faktor terpenting dalam pendistribusian pendapatan. Distribusi pendapatan tenaga kerja berkaitan dengan distribusi kemampuan sekaligus keinginan tenaga kerja yang bersangkutan untuk memperoleh pendapatannya. dalam banyak kasus. pola hidup dan simpanan semasa hidup. distribusi pendapatan juga bergantung pada faktor harga. struktur gaji. status sosial. tingkat harga sama dengan nilai dari faktor produk marjinal. yang merupakan pengaruh dari tingkat upah yang dapat dicapai oleh seseorang. pembahasan distribusi lebih terfokus sebagai hasil dari perekonomian pasar. Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Selain bergantung pada penurunan dari faktor-faktor produksi tersebut. Distribusi pendapatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor tersebut di atas. distribusi pendapatan ditentukan oleh penjualan faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal. dan preferensi pelanggan. ras dan lain-lain. Misalnya. tingkat pengembalian lebih ditentukan oleh pasar persaingan tidak sempurna dimana faktor-faktor institusi seperti. masih memainkan peran yang penting.

Oleh karena itu. Dasar-dasar Keuangan Publik . Namun karena belum ada alasan atau nilai-nilai yang terpilih sebagai dasar dalam menetapkan struktur masyarakat yang baik. maka masalah distribusi akan menjadi lebih sederhana. hasil dari kebijakan ini dapat dilihat melalui respon dari setiap pihak yang dirugikan atau diuntungkan dari proses tersebut . pendapatan riil dari konsumen yang menggunakan produk tersebut juga akan ikut terpengaruh. tetapi dalam perpaduan satu sama lain. Pertanyaannya sekarang adalah perlu tidaknya untuk mempertimbangkan atau bahkan menanggulangi masalah redistribusi. namun kebijakan penarikan pajak berdasarkan pada prinsip keadilan horizontal baru akan diterapkan jika memang kondisi ini sudah tercapai. Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Seandainya asumsi-asumsi yang mendasari berbagai konsep keadilan dapat digali kemudian konsekuensinya dapat diamati sehingga dapat dipilih satu konsep tertentu untuk diterapkan. Hal ini bisa dicapai melalui kebijakan redistribusi yang ditetapkan melalui proses anggaran. hal ini bisa mempengaruhi bagian dari pendapatan nasional yang tersedia untuk redistribusi dan juga bisa menimbulkan biaya yang tentunya harus dipikul. berbagai pendekatan dalam setiap konsep keadilan tidak perlu diterapkan secara murni. prinsip keadilan yang dianut menginginkan tidak ada satu anggota masyarakat pun yang miskin.seperti pembangunan jalan yang tujuannya untuk menyediakan barang publik kepada masyarakat . semestinya para ekonom yang berurusan dengan kebijakan umum pemerintah tidak boleh melepaskan pemikiran mereka dari masalah keadilan dalam distribusi pendapatan. maka masalah ini tetap belum terpecahkan. Misalnya saja. karena masalah distribusi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kebijakan ekonomi secara dominan terhadap politik ekonomi. Tetapi. yaitu apa yang seharusnya menjadi kriteria bagi distribusi yang adil dan wajar. Selain itu. sampai saat ini analis ekonomi belum dapat menetapkan standar distribusi mana yang sebenarnya menjadi patokan.48 namun secara tidak langsung akan mempengaruhi pendapatan modal dan tenaga kerja pada industri yang terkait dengan kebijakan tersebut.akan mempengaruhi kesejahteraan berbagai kelompok masyarakat dari segi ekonomi dan tentunya pola distribusi. Redistribusi Sebelumnya pembahasan lebih berfokus pada pertanyaan dasar mengenai apa yang merupakan distribusi yang adil dan merata. Jika diperhatikan. yaitu sampai sejauh mana dan dengan cara bagaimana mengubah keadaan distribusi yang ditentukan oleh pasar dan lembaga publik yang ada saat ini. Namun sayangnya. Pada gilirannya. Selanjutnya. perancangan kebijakan publik seharusnya juga mempertimbangkan masalah distribusi. Contoh lain adalah kebijakan program investasi pemerintah .

Hal ini dapat meredistribusi posisi pendapatan atau kekayaan yang telah ditentukan oleh kekuatan pasar. maka dia dapat makan seumur hidupnya”. apakah menjamin bahwa perubahan yang terjadi akan optimal bagi masyarakat. maka campur tangan pemerintah tidak lagi dibutuhkan. Jika kegiatan sukarelawan ini cukup untuk membuat perubahan yang dapat diterima. orang dapat tetap menghindar dari menyumbang secara sukarela. dan melakukan lobi politik untuk mempengaruhi pemerintah dengan berbagai cara. Didalam masyarakat yang kecil pun. ajari seseorang memancing. terutama dalam bentuk pembebasan uang sekolah dan wajib belajar. Dalam keadilan atas hasil. Menyamakan Kepentingan Pembayar Pajak dan Penerima Pajak Pembayar pajak – dalam kasus kebijakan redistribusi oleh pemerintah – mungkin mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda dengan para penerima pajak. Kedua kelompok ini akan memberikan suaranya. keadilan atas hasil sebagai suatu strategi anti kemiskinan telah semakin menurun popularitasnya di banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada. seperti penggalangan dana di mesjid. Perbedaan filosofi dari dua pendekatan keadilan redistribusi ini tercermin dalam pribahasa ”Berikan seseorang ikan. penekanannya lebih pada penurunan kesenjangan pendapatan dan penghapusan kemiskinan dengan cepat daripada menekankan pada berinvestasi pada orang miskin. Dasar-dasar Keuangan Publik . karena akan sangat mudah bagi setiap orang untuk menghindar dari membayar suatu sumbangan sukarela (menjadi free rider). Rasanya hampir mustahil. Namun. organisasi nir laba dan sumbangan sosial individu. Sementara itu di pihak penerima pajak – katakanlah rakyat miskin – lebih tertarik untuk memperhatikan keadilan atas hasil dan memiliki fleksibilitas dalam menggunakan sumber-sumber dana yang mereka dapatkan. pelayanan kesehatan atau jasa lainnya yang dapat membantu masyarakat untuk berkembang atau paling tidak tetap berproduksi. hal sebaliknya sering kali terjadi jika redistribusi didanai melalui kontribusi sukarela. gereja. meskipun hal tersebut akan lebih terlihat. dimana terjadi penurunan atas tingkat kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat. maka dia dapat makan untuk satu hari. atau apakah harus lebih terpusat pada keadilan atas kesempatan atau keadilan atas hasil.49 Sebagian orang akan menolak adanya kebijakan redistribusi jika hal tersebut merupakan kebijakan wajib dari pemerintah. Pertanyaan berikutnya bagi pemerintah adalah apakah perhatian mereka terkait dengan konsep redistribusi. keadilan atas kesempatan mewakili bentuk utama dari redistribusi. Secara umum. Secara umum. para pembayar pajak akan lebih tertarik untuk mendapatkan keadilan atas kesempatan dan memastikan apakah dana yang telah mereka keluarkan dibelanjakan dengan seharusnya. Keadilan ini lebih bersifat filosofi dalam hubungannya dengan sistem pasar. Keadilan atas kesempatan dapat berupa penyediaan pendidikan. Tetapi apakah mungkin cukup menggantungkan keputusan redistribusi ini kepada individu atau kelompok sosial saja. terlebih dalam kelompok masyarakat yang besar. Dalam masyarakat yang besar.

cara yang termudah adalah dengan memberikan jasa pelayanan langsung seperti pelayanan kesehatan dan program pendidikan. Waktu Senggang dan Pajak A2 X1 X2 A3 X3 Grafik 6. Pertama-tama. Bagi pemerintah. karena akan lebih memberikan fleksibilitas kepada mereka untuk menggunakan dana tersebut. dan makanan. Pendapatan A1 Pendapatan.1 Y2 Y1 Y3 Waktu Senggang Dasar-dasar Keuangan Publik . waktu senggang dan pajak dapat dilihat pada grafik 6.1.50 Isu kedua yang seringkali dipandang berbeda dari pihak pembayar dan penerima pajak adalah bentuk redistribusi. Ketika redistribusi ditetapkan sehingga akan menurunkan tingkat pendapatan. Redistribusi yang telah dibahas sejauh ini mencakup masalah biaya dan manfaat. Hal ini dapat diperlihatkan dalam hubungan antara penawaran tenaga kerja dengan masalah tabungan. Di sisi lain pembayar pajak lebih memilih memberikan dananya dalam bentuk barang seperti. Seandainya diberikan dalam bentuk uang. kebijakan untuk melakukan redistribusi dapat mengakibatkan bagian yang tersedia untuk didistribusikan justru menjadi lebih kecil. pihak pendana akan memasukkan preferensi mereka kepada pihak penerima. dimana keduanya harus dipertimbangkan. sehingga tingkat produktivitas masyarakat menurun. pakaian. Hubungan antara pendapatan. masalah serupa juga akan timbul. sehingga membatasi fleksibilitas penggunaan dana tersebut. maka pada tingkat tertentu sebagian besar masyarakat akan mengurangi usaha mereka dalam mencari pendapatan atau dengan kata lain mereka akan memperbanyak waktu santai mereka. Hal ini diakibatkan oleh bekerjanya pengaruh perbedaan yang berlaku pada baik pihak pembayar pajak maupun pihak penerima pajak. investasi dan pertumbuhan ekonomi. Besarnya Bagian untuk Redistribusi Isu penting lainnya dalam masalah redistribusi yang efisien adalah penetapan bagian yang harus di redistribusikan. Para penerima akan lebih memilih untuk menerima uang tunai.

Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. suatu mekanisme pasar dijamin dapat diandalkan untuk menentukan alokasi sumber daya yang efisien di antara barang pribadi. Dasar-dasar Keuangan Publik . tingkat diskonto. baik dalam hal stabilisasi jangka pendek maupun pertumbuhan jangka panjang. kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. akan berjalan tidak teratur. sehingga tidak hanya akan menghasilkan jumlah uang beredar yang tidak sesuai. tetapi juga menimbulkan reaksi dalam permintaan kredit di pasar yang akan cenderung menimbulkan fluktuasi. fungsi pengatur tersebut dapat berupa beberapa kebijakan baik sebagai pemicu maupun sebagai penghambat persaingan. jika tidak diawasi. Oleh karena itu. keberadaan Bank Sentral sebagai pengawas jumlah uang beredar perlu menyesuaikan jumlah uang beredar dengan kebutuhan ekonomi. neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. Dalam hubungannya dengan persaingan yang terjadi pada ekonomi pasar. Pada intinya. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya. Sistem perbankan. D Kebijakan Moneter Jika berfungsi dengan baik. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. Namun. tingkat stabilitas harga yang pantas.51 B A B VII FUNGSI STABILISASI Kebijakan Stabilisasi i era globalisasi ekonomi yang semakin luas. para ekonom setuju bahwa mekanisme pasar tidak dapat dengan sendirinya mengatur jumlah uang yang beredar secara tepat. fungsi pemerintah sebagai pengatur (regulator) semakin dirasakan kebutuhannya.

Dasar-dasar Keuangan Publik . karena para wajib pajak akan mempunyai disposible income yang lebih besar sehingga diharapkan akan membelanjakan jumlah pendapatan yang lebih besar pula. Pembiayaan defisit akan lebih besar jika defisit tersebut ditutupi dengan pinjaman. Dalam suatu negara demokrasi. tergantung pada bagaimana defisit itu dibiayai. karena akan meningkatkan total permintaan agregat. dalam masalah pembiayaan kegiatan pemerintah. Kebijakan ini. Idealnya. wajib pajak selayaknya melihat manfaat yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. misalnya masyarakat menginginkan peningkatan atas pelayanan pemerintah. Proses politik tentunya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain faktor ekonomi. karena dua masalah ini sulit diselesaikan secara simultan. dari sudut pandang ekonomi. Masyarakat seharusnya bersedia membayar apa yang dianggap sebagai distribusi yang adil.52 Kebijakan Fiskal Sementara itu. kedua isu tersebut seharusnya dipisahkan. seperti ideologi. tetapi dalam prakteknya hal ini saling tumpang tindih sehingga mempersulit penyusunan kebijakan yang efisien. warga negara mempunyai kesempatan untuk memberikan suaranya dalam memutuskan suatu masalah. tanpa harus dihubungkan dengan kontribusinya. Sejalan dengan itu. Hasil dari proses tersebut tergantung dari hasil pemungutan suara atau dari tingkah laku para politisi yang bermain di dalam pemerintahan tersebut. akan menaikkan tingkat permintaan sektor pemerintah dan kemudian akan diikuti oleh sektor swasta. Akhirnya. Namun demikian. kebijakan defisit anggaran pemerintah juga dapat memainkan peranan yang tidak kalah penting. Dalam proses pemungutan suara akan ada pihak-pihak yang mendukung dan menolak terhadap perubahan atas model pelayanan pemerintah. maka pinjaman tambahan akan mempertinggi suku bunga sehingga cenderung menghambat transaksi pasar. kita dapat mengambil simpulan bahwa penentuan anggaran lebih condong sebagai proses politik ketimbang proses pasar. Sebagai ilustrasi. berkaitan dengan perubahan kebijakan perpajakan. suatu kebijakan menambah pengeluaran publik jelas merupakan jenis kebijakan yang bersifat ekspansi. Hal ini bisa diwujudkan dengan meningkatkan penerimaan dari sektor pajak. Kemudian. Kebijakan menurunkan pajak dapat dilakukan dalam upaya pemerintah untuk memperbesar total belanja pemerintah. yang pada gilirannya nanti akan dipertanyakan oleh masyarakat tentang cara pendistribusiannya. Proses politik didasarkan pada peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang suatu negara. tujuan politik adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi seluruh warga negaranya. Di sisi lain. suatu kebijakan fiskal mempengaruhi secara langsung tingkat permintaan barang dan jasa. tetapi jika peredaran uang diperketat. yaitu kebijakan yang benar-benar adil dalam rangka mencapai tujuan yang beraneka ragam tersebut. pada awalnya. Stabilisasi Anggaran Kebijakan anggaran semestinya melibatkan beberapa tujuan yang berbeda.

Misalnya. bila masyarakat menginginkan anggaran pendidikan yang lebih tinggi maka mereka dapat melakukan voting untuk meloloskan kebijakan itu atau memilih untuk mendukung orang yang pro dengan kebijakan anggaran pendidikan yang lebih tinggi tersebut. Masyarakat dapat menyumbangkan suara mereka untuk menentukan kebijakan apa yang hendak dilaksanakan atau menyumbangkan suara kepada orang yang mewakili kebijakan tersebut. tujuan politik tersebut adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi masyarakat. dari sudut pandang ekonomi. Penyediaan suatu barang publik memerlukan kesepakatan mengenai jumlah yang akan disediakan dan anggaran yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang tersebut. Teori pilihan publik mempelajari bagaimana proses politik digunakan untuk menentukan besarnya barang dan jasa yang akan disediakan oleh pemerintah. keputusan politis ditetapkan melalui suatu proses politik yang melibatkan masyarakat.53 B A B VIII SISTEM PILIHAN PUBLIK P ernahkah anda berpikir bahwa segala keputusan yang dibuat oleh pemerintah. dikeluarkan setelah melalui suatu proses politik? Hal-hal mulai dari peningkatan taraf hidup. Konsep Keseimbangan Politis (Political Equilibrium) Suatu keputusan publik dibuat setelah melalui interaksi politis antara beberapa orang menurut aturan yang disepakati bersama. Namun demikian. pusat maupun daerah. Di negara demokratis. Teori pilihan publik mempelajari bagaimana suatu keputusan yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak dibuat melalui suatu sistem politik. sampai dengan penentuan pajak dan subsidi ditetapkan dalam suatu keputusan politis. Proses politik yang ada didalam sistem tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti. budaya. dan ideologi. pembangunan jalan raya. Dasar-dasar Keuangan Publik . ekonomi. Seringkali keputusan untuk menentukan jumlah serta dana yang diperlukan ini dibuat dengan cara melakukan pemungutan suara (voting).

jumlah barang yang disediakan memberikan kepuasan maksimal bagi setiap individu. Kenaikan maupun penurunan diluar titik ini akan menurunkan tingkat kepuasan individu. Pada kampanye inilah penduduk mendapatkan gambaran mengenai biaya dan manfaat yang dapat diperoleh dari barang publik tersebut. Jika ti melambangkan porsi pajak barang publik bagi voter i. Porsi pajak (tax shares) adalah bagian biaya yang dibebankan ke masyarakat. masyarakat dapat mengajukan keberatan bila kebijakan tersebut bertentangan dengan kehendak masyarakat. Analisis ekonomi terhadap proses politik mengasumsikan bahwa individu menilai kebutuhannya terhadap barang publik seperti layaknya mereka menilai kebutuhan atas barang dan jasa lainnya. Bagi seorang voter. informasi mengenai besarnya biaya yang diperlukan untuk memproduksi barang publik susah diperoleh. Adanya kenaikan biaya produksi barang publik akan menaikkan pula besarnya pajak yang harus dibayar oleh penduduk. porsi pajak tersebut merupakan harga per unit dari barang yang disediakan oleh pemerintah. Pada kenyataannya. Besarnya porsi pajak adalah sama dengan biaya per unit dari barang publik yang akan disediakan oleh pemerintah. Kondisinya akan berbeda jika barang dan jasa publik tersebut sebagian atau seluruhnya dibiayai dari sumbangan atau retribusi dari masyarakat. Individu diasumsikan akan menetapkan pilihan jika hal itu dapat membuat kehidupan mereka lebih baik. Dasar-dasar Keuangan Publik . masyarakat yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut harus tunduk dengan keputusan yang sudah dibuat. Keseimbangan politis (political equilibrium) adalah persetujuan mengenai jumlah barang publik yang akan disediakan. Pada titik ini. maka akan mengurangi dukungan penduduk terhadap kebijakan publik tersebut. Pada kasus ini. maka Σti untuk seluruh voter harus sama dengan average cost dari barang tersebut. Akhirnya. pada kondisi dimana aturan dalam mengambil keputusan kolektif dan besarnya pajak sudah terbentuk. Jika kenaikan biaya tidak diiringi dengan kenaikan manfaat. perdebatan maupun kampanye yang dilakukan sebelum dikeluarkannya keputusan itulah yang dapat mempengaruhi masyarakat dalam memberikan suaranya. Jumlah dari seluruh porsi pajak harus sama dengan biaya rata-rata (average cost) dari barang publik tersebut untuk menghindari anggaran surplus ataupun defisit. Biaya untuk menyediakan barang publik mempengaruhi besarnya pajak yang harus dibayar oleh penduduk untuk memproduksi barang tersebut. Keputusan rasional yang paling diinginkan dari suatu proses politik untuk menentukan jumlah barang publik yang disediakan akan tercapai pada titik dimana porsi pajak per individu sama persis dengan manfaat marginal dari barang publik tersebut. Pemilihan dan Pemungutan Suara (Election and Voting) Pilihan publik dilaksanakan secara formal melalui suatu pemilihan umum dimana setiap individu memiliki satu suara.54 Pada kondisi dimana barang dan jasa publik di supply oleh pemerintah dengan dana dari pajak.

Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi. dimana jumlah barang publik yang diproduksi adalah sebesar Q* dan porsi pajak sebesar ti. ada dua hal yang perlu dipertimbangkan yaitu porsi pajak (ti) dan distribusi benefit (MBi). untuk mencapai titik keseimbangan politis. Pada titik Z ini. yaitu keputusan yang paling diinginkan. penentuan hasil pemilihan umum akan tergantung pada besarnya alokasi pajak yang dibebankan pada setiap pemilih. keputusan yang paling diinginkan tersebut terletak pada titik Z. Namun. Memberikan suara atau abstain (Vote or not to vote) Keputusan seseorang untuk memberikan suaranya tergantung pada untung rugi yang akan ia terima sebagai akibat keputusannya tersebut dan juga kemungkinan (probabillitas) suaranya akan memberikan keuntungan bagi dirinya. marginal benefit bagi individu i sama dengan porsi pajaknya. Usulan untuk meningkatkan output yang ditolak pada tingkat pajak tertentu.1: Keputusan yang Paling Diinginkan dari Proses Politis ti Pajak Z Pajak per unit output MBi 0 Q* Pada kondisi dimana aturan main pilihan umum sudah ada. Suatu usulan yang pernah ditolak masih mungkin akan diterima bila distribusi manfaatnya dirubah sehingga sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemilih. masih mungkin untuk diajukan kembali bila menerapkan tingkat pajak yang berbeda dari yang sebelumnya karena perubahan tingkat pajak akan mempengaruhi titik Z. penambahan yang dilakukan diatas titik Q* akan membuat kondisi i lebih buruk karena pajak yang ia bayar melebihi marginal benefit yang ia terima.1. Gambar 8. Setiap individu akan bertindak seolah-olah barang publik tersebut bisa dibeli di pasar bebas dengan harga ti dan akan mendukung kebijakan yang berkaitan dengannya sepanjang manfaat yang mereka terima melebihi biaya (pajak) yang harus mereka keluarkan.55 Pada Gambar 8. Z. Titik equilibrium juga dapat dipengaruhi oleh distribusi manfaat (benefit). Setiap penambahan output barang publik dari titik 0 sampai dengan titik Q* akan membuat kondisi individu i lebih baik.

yang menjadi presiden dengan mudah dapat diperkirakan. Namun demikian. internet. partisipasi masyarakat untuk datang ke tempat pemilihan sangat tinggi. Di negara demokrasi. di beberapa negara-negara yang tidak mewajibkan penduduknya untuk memilih. pilihan mereka mungkin saja berbeda dari yang sebelumnya. orang-orang yang ”golput” ini akan mengikuti saja arus keinginan (free riders) dari orang-orang yang ikut pemilihan. Alasan mereka enggan untuk ikut memilih adalah karena anggapan bahwa suara mereka akan jatuh ke orang yang sama. Karena pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk ikut pemilihan sudah jelas. Kadangkala. majalah. hal ini juga menjadi alasan seseorang untuk tidak ikut memberikan suaranya. maka tujuan diadakannya negara demokrasi tidak tercapai karena semua penduduk tidak ada yang memberikan suaranya. atau tempat pemungutannya terlalu jauh sehingga orang tidak bisa hadir. Hal lain yang juga menjadi kendala adalah informasi. Dampaknya. Ketika seseorang menentukan pilihan berdasarkan informasi yang tidak memadai atau Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini cukup merepotkan bagi sebagian orang. dimana apapun pilihan masyarakat. Jika setiap penduduk berpikiran seperti diatas. sebelum seseorang memberikan suaranya ia harus mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seperti surat kabar. Kadang pemungutan suara dilakukan pada waktu yang tidak tepat. Jika mereka memiliki informasi yang memadai. hasil suatu pemilihan tidak tergantung pada orang-orang yang tidak memilih (di Indonesia biasa disebut golongan putih atau golput). Di Amerika Serikat telah ditemukan beberapa fakta bahwa tingkat partisipasi warga negara terhadap pemilu terkait pada mayoritas partai tertentu. Informasi juga merupakan alasan seseorang untuk memberikan suaranya. Pada negara bagian yang anggota legislatifnya mayoritas dikuasai oleh satu partai. Ada juga orang yang percaya bahwa suara mereka terlalu kecil dan tidak mungkin akan mempengaruhi hasil pemilihan.56 Namun demikian. dan sebagainya untuk meyakinkan bahwa suaranya nanti ditujukan pada pilihan yang tepat. Kenyataannya. sedangkan manfaatnya belum jelas. pemilu dijadikan kewajiban bagi penduduk yang telah memenuhi syarat dengan maksud untuk menghindari free rider. Namun demikian. Beberapa hal yang menyebabkan orang enggan untuk memberikan suaranya adalah kendala waktu dan tempat. Ini membuktikan bahwa ada motivasi lain yang mendorong mereka untuk datang ketempat pemilihan seperti kebanggaan sebagai warga negara atau rasa kebersamaan antar sesama pemilih. tingkat partisipasi masyarakat untuk ikut pemilu lebih rendah dibanding dengan negara bagian lain yang tidak dikuasai oleh satu partai. ada beberapa pemilih yang menentukan pilihannya berdasarkan informasi yang terbatas. Kondisi ini mirip ketika Indonesia hanya mengakui tiga partai peserta pemilu pada masa orde baru. alasan seseorang untuk memberikan suaranya tidak melulu didasari atas untung rugi semata namun bisa juga didasari atas kewajibannya sebagai seorang warga negara. Mereka beranggapan bahwa probabilitas suaranya akan mempengaruhi hasil pemilihan sangat kecil (bahkan mendekati nol) bila jumlah peserta pemilunya sedemikian besar.

Dalam contoh diatas. Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suatu pemilihan umum dalam menghasilkan keputusan tentang kebijakan publik adalah: 1. setengah plus satu dari seluruh peserta pemilihan. dan Pajak (rupiah) Σ MB 50 MBA MBB MBC MBM MBF 4 5 MBG 6 7 t 0 1 2 3 Jumlah satpam per minggu Dasar-dasar Keuangan Publik . 5. Aturan main dari pemilu itu sendiri. maka titik equilibriumnya pun akan berubah sesuai dengan faktor perubahannya. seandainya jumlah pemilih hanya 9. 3. Cost. Misalkan ada dua pilihan. Distribusi manfaat ke setiap pemilih Jika salah satu dari kelima faktor diatas berubah. minimal. seseorang harus mempunyai informasi yang lengkap mengenai konsekuensi dari setiap pilihan yang diambilnya.2: Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas 350 E MB = AC Marginal Benfit. yang akan ditentukan melalui pemungutan suara yang diikuti oleh 10 pemilih. A atau B. 2. maka sangat mungkin hasil yang ia capai tidak berbeda dibandingkan jika ia menjadi ”golput”. maka pemenangnya adalah yang mampu mengumpulkan 5 suara. Pilihan A akan menang jika minimal ada 6 orang (10/2 +1) yang memilih A. yaitu pemenang pemungutan suara akan diperoleh bila mampu mengumpulkan. Biaya marjinal dan biaya rata-rata dari barang publik Informasi yang tersedia mengenai untung rugi yang terkait dengan kebijakan tersebut Distribusi pajak ke setiap pemilih.57 salah. 4. Untuk dapat menetapkan pilihan dengan benar. Gambar 8. Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas (Majority Rule) Dalam melakukan pemungutan suara dikenal aturan simple majority rule. yaitu bagaimana kriteria untuk menerima atau menolak kebijakan publik. Bila jumlah pemilihnya ganjil. maka yang paling banyak mengumpulkan suara adalah pemenangnya.

Ada tujuh alternatif keputusan yang akan diambil yaitu memperkerjakan 1 satpam. B menghendaki 2 orang. Asumsikan dalam setiap pemungutan suara tidak ada yang abstain.1 menunjukkan hasil pemungutan suara untuk setiap penambahan seorang satpam yang akan dipekerjakan. atau 7 satpam. Karena keamanan lingkungan merupakan barang publik. A tidak setuju terhadap usulan tersebut karena baginya jumlah iuran yang dibayarkan melebihi manfaat Dasar-dasar Keuangan Publik . dimana masing-masing individu dapat mengkonsumsi barang sesuai yang diinginkannya tanpa memperdulikan individu yang lain. 2 satpam. F. ketujuh warga tersebut harus menentukan kesepakatan tentang berapa orang satpam yang dibutuhkan untuk menjaga lingkungan mereka.58 Berikut ini akan penulis berikan contoh penerapan simple majority rule dalam keuangan publik. namun jika disetujui kurang dari setengah maka akan dibatalkan. yaitu Rp350 ribu. dan seterusnya hingga H yang menghendaki 7 orang. semua warga setuju untuk memperkerjakan seorang satpam karena marginal benefit yang diterima setiap warga berada diatas iuran yang harus dibayar. 3 satpam. ketujuh warga tersebut akan melakukan voting untuk persetujuan atas setiap penambahan satu orang satpam yang akan mereka pekerjakan. Asumsikan ada n orang yang tinggal dalam satu komunitas dimana Average Cost (AC) dan beban pajak untuk setiap barang publik sudah ditetapkan. C. Dalam contoh diatas. G. 5 satpam. Pada pemungutan suara yang kedua untuk menambah jumlah satpam menjadi 2 orang.1. Umpamakan gaji seorang satpam adalah Rp350 ribu per minggu sehingga average cost dan marginal cost dari barang publik ini adalah sama. 6 satpam. B. Dengan demikian pajak (t dalam hal ini adalah iuran) yang harus ditanggung oleh masingmasing warga untuk membiayai seorang satpam adalah Rp50 ribu per minggu (Rp350 ribu/7). Namun demikian. marginal benefit ketujuh orang tersebut berbeda-beda seperti yang ditunjukkan pada kurva A. Ketentuannya. Pemungutan suara dimulai dengan penambahan dari 0 satpam menjadi 1 satpam. Pada pemungutan pertama kali. Hal ini telah sesuai dengan rumus AC/n = Rp50 ribu. kemudian dari 2 menjadi 3 satpam. maka setiap warga akan menikmati keamanan dalam porsi yang sama. 4 satpam. Hal ini berbeda dengan barang pribadi. Setiap orang akan mendapat beban pajak yang sama besarnya yaitu sebesar AC/n untuk setiap unit barang publik yang dikonsumsi. A menghendaki hanya seorang satpam saja yang dibutuhkan. Tabel 8. dan H dalam Gambar 8. Misalkan sekarang ada tujuh orang warga yang sedang berembuk untuk menentukan berapa orang satpam yang diperlukan untuk mengawasi wilayah tempat tinggal mereka. Hasil Pemungutan Suara menurut Aturan Mayoritas Sekarang. bila penambahan seorang satpam disetujui oleh lebih dari setengah warga yang ikut memilih maka penambahan tersebut akan dilaksanakan. dan seterusnya. kemudian dari 1 menjadi 2 satpam. M.2. Diantara mereka telah ada kesepakatan bahwa keamanan lingkungan adalah barang publik yang harus disediakan dan didanai oleh mereka sendiri. Hasil dari pemungutan suara mereka tercantum dalam Tabel 10.

Tiga warga (A. Hal ini karena jumlah 4 orang satpam adalah keputusan politis yang paling diinginkan (ideal) melalui sistem Aturan Mayoritas. Namun. Tabel 8. apabila memperkerjakan 2 orang satpam maka iuran masing-masing warga menjadi Rp100 ribu per minggu (Rp700 ribu / 7). Sebagai bukti. yaitu A dan B.1: Hasil Pemungutan Suara Penambahan jumlah satpam per minggu 1 A B Warga C M F G H Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju 2 setuju setuju setuju setuju setuju setuju setuju 3 4 5 6 7 Setuju tdk setuju Tdk setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Tdk setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Tolak tdk setuju tdk setuju setuju setuju tolak tdk setuju Setuju Tolak Keputusan Setuju Pemilih Menengah (Median Voter) Pemilih menengah adalah pemilih yang keputusan ideal dirinya merupakan median dari keputusan ideal seluruh pemilih yang ikut voting. yang keputusan ideal baginya adalah 4 orang satpam sesuai kurva marginal benefitnya. Namun karena 6 warga lainnya setuju. G. Ketika usulan penambahan jumlah satpam dari 4 menjadi 5 orang diajukan. dan H memiliki keputusan ideal lebih dari 4 orang satpam. Dengan demikian. Pada contoh di atas. hanya 3 warga saja yang menyetujuinya sehingga usulan tersebut ditolak. Besarnya iuran yang harus ditanggung tiap warga adalah Rp200 ribu per minggu. dan C) memiliki keputusan ideal yang kurang dari 4 orang satpam sedangkan F. dalam voting A. jika diajukan pilihan 4 orang satpam atau 2 orang satpam. B dan C akan memilih 2 satpam sedangkan M. Ingat. Jika jumlah 4 orang satpam ini dibandingkan dengan jumlah yang lain.59 yang ia terima. adalah pemilih menengah. lagi-lagi usulan ini disetujui karena didukung oleh 5 warga lainnya. Sedangkan keputusan ideal bagi seluruh warga berkisar dari 1 orang sampai 7 orang satpam. maka hasil pemungutan suaranya akan selalu dimenangkan oleh warga yang pro dengan jumlah 4 orang satpam. maka dengan memperhatikan kurva marginal benefit masing-masing warga. G. F. Dasar-dasar Keuangan Publik . titik keseimbangan politis tentang jumlah satpam yang akhirnya dipekerjakan untuk mengawasi lingkungan mereka adalah 4 orang per minggu. maka penambahan satpam tersebut akhirnya disetujui. ada 2 orang yang tidak setuju atas penambahan jumlah satpam menjadi 3 orang. B. Ketika melakukan pemungutan yang ketiga. M. dan H akan memilih 4 satpam.

sedangkan bagi F. Jika keputusan untuk memproduksi barang/jasa memerlukan kesepakatan bulat atau mendekati bulat dari semua warga. semua warga adalah pemilih menengah. Pihak-pihak lain selain pemilih menengah akan tetap menerima hasil keputusan voting tersebut meskipun diantara mereka ada yang kecewa. Jika keputusan voting dihasilkan dari suara yang bulat. Political externalities akan hilang jika iuran bagi A. Warga yang keputusan idealnya berbeda dengan keputusan ideal pemilih menengah akan mengkonsumi lebih banyak ataupun lebih sedikit dari yang sesungguhnya mereka inginkan jika mereka dapat menyewa tenaga satpam sendiri-sendiri. dan C bayarkan harus lebih kecil dari Rp200 ribu per minggu. sedangkan C dan F mungkin tidak terlalu kecewa. maka political externalities nya akan kecil. Kekecewaan paling tinggi dialami oleh orang yang keputusan ideal bagi dirinya terletak paling jauh dari keputusan ideal si pemilih menengah. Hal yang sama juga akan terjadi bila masing-masing warga kenakan jumlah iuran yang tidak sama. maka hanya pemilih menengah saja yang keputusan idealnya sama dengan keputusan hasil voting dengan menggunakan Aturan Mayoritas. political externalities dialami oleh keenam warga selain M. Oleh karena itu. untuk mencapai keputusan yang bulat diperlukan political transaction cost yang cukup besar. C. agar ke-6 warga lainnya setuju memperkerjakan 4 orang satpam maka iuran yang harus A. F. dan H harus lebih besar dari Rp200 ribu per minggu. jika ada lebih dari dua kemungkinan keputusan yang dihasilkan dalam suatu pemungutan suara. Political Externalities adalah potensi kesejahteraan yang hilang yang dialami oleh voter yang keinginan idealnya berbeda dengan hasil keputusan voting. Hal ini adalah faktor yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah sebelum memutuskan untuk mengadakan/ memproduksi sendiri barang/jasa. Pada contoh kita. baik waktu. keputusan ideal bagi pemilih menengah akan selalu sama dengan titik keseimbangan politis bila aturan mayoritas diterapkan. Political transaction cost adalah seluruh pengorbanan. Jadi.60 Jika marginal benefit dari barang publik bagi seluruh warga didalam contoh berubah. Dasar-dasar Keuangan Publik . yang diperlukan untuk mencapai suatu kesepakatan. usaha. atau membelinya secara langsung melalui mekanisme pasar. semua orang setuju atau tidak setuju. dan H disesuaikan sesuai dengan marginal benefit masing-masing warga. Dalam hal ini A dan H adalah yang paling kecewa. dan sebagainya. Pada kasus ekstrem dimana semua warga memiliki kurva marginal benefit yang sama. masyarakat harus membandingkan antara political externalities dengan political transaction cost nya. Semakian jauh jarak perbedaan antara keputusan ideal pemilih menengah dengan keputusan ideal warga lainnya. Dengan demikian. maka keputusan yang dihasilkan melalui voting adalah keputusan bulat dimana semua warga menyetujui usulan yang diajukan. Pada kasus ekstrem ini. G. dalam memilih instistusi politis. B. maka tidak terdapat political externalities. Di lain pihak. B. warga yang keinginannya untuk memperkerjakan satpam semakin kecil atau semakin besar dari dari 4 orang maka akan makin kecewa dengan hasil keputusan yang dibuat. G. maka akan semakin tinggi tingkat kekecewaan terhadap keputusan yang dihasilkan dengan cara aturan mayoritas. Dalam contoh diatas.

maka warga yang memilih 4 satpam akan selalu menjadi mayoritas. kemudian dilakukan voting. A adalah orang yang suka pesta. B. political equilibrium dengan menggunakan aturan mayoritas dapat lebih dari satu. maka ia lebih memilih yang paling banyak daripada yang moderat. ada tiga warga (A. political equilibrium yang dihasilkan adalah unik. penulis coba memberikan contoh kasus dimana tidak terdapat political equilibrium yang unik. Semakin jarang festival dilakukan. maka pilihan utamanya jatuh pada 3-festival. dan 3 kali festival per tahun. Pada kasus tertentu. semakin kecil ia menerima net benefit.61 Masalah Pemungutan Suara dengan Aturan Mayoritas Pada contoh kita di atas. Warga A dikenakan iuran Rp100 ribu per festival. yaitu: 1 kali festival per tahun. memuat informasi mengenai urutan preferensi setiap warga atas alternatif yang diajukan. Agar lebih jelas. artinya hanya ada satu yaitu 4 orang satpam per minggu. Tabel 8. Jika ini terjadi maka penentuan keputusan yang menang dipengaruhi oleh faktor lain diluar dari manfaat dan biaya yang sudah dihitung sebelumnya. C adalah orang moderat yang pilihan utamanya jatuh pada 2-festival. sehingga yang meraih 2 suara itulah yang menang. Pemenang voting ditentukan dengan aturan mayoritas sederhana. Tabel 8. warga B dikenakan Rp75 ribu per festival. Setiap penambahan maupun pengurangan frekuensi festival akan membuat net benefit yang diterimanya semakin kecil. Jika tidak mendapatkan yang paling sedikit. sedangkan pilihan keduanya adalah 3-festival.2. dan C dikenakan Rp25 ribu per festival. 2 kali festival per tahun. Misalkan.2: Urutan Preferensi Pilihan 1 Pilihan 2 (utama) 3-festival 2-festival 1-festival 3-festival 2-festival 1-festival Warga A B C Pilihan 3 1-festival 2-festival 3-festival Dasar-dasar Keuangan Publik . Ada tiga alternatif yang diajukan oleh warga. Setiap penyelenggaraan festival memakan biaya sebesar 200 ribu rupiah. Faktor yang dapat mempengaruhi antara lain adalah urutan dalam melakukan pemungutan suara. B adalah orang yang ekstrem. Bila jumlah 4 orang satpam dibandingkan dengan jumlah yang lain. Pilihan utama B jatuh pada 1 kali festival. dan C) yang hendak menentukan banyaknya penyelenggaraan festival dalam setahun.

3 menunjukkan grafik preferensi masing-masing warga atas frekuensi festival yang ditawarkan. Grafik A menunjukkan konsistensi warga A pada net benefit yang semakin besar jika makin sering diadakan festival. Titik optimal A adalah pada 1 kali festival dan titik optimal C adalah pada 2 kali Dasar-dasar Keuangan Publik . Penambahan maupun pengurangan frekuensi festival membuatnya menerima net benefit yang makin kecil. sekali penyelenggaraan festival masih lebih baik dibanding dengan tiga kali festival per tahun. Namun demikian.62 Gambar 8.3: Preferensi terhadap penyelenggaraan festival Single peak * Net benefit A * * Festival 2 1 3 * Net benefit B ** Multiple peaks Single peak * Net benefit B * * Festival 2 * 1 Festival 2 3 1 3 Single peak * Net benefit C * * 1 Festival 2 3 Gambar 8. A dan C disebut memiliki preferensi tunggal (single-peak preferences) karena hanya mempunyai satu titik optimal atas preferensi yang paling diinginkan. Grafik C menunjukkan bahwa C menikmati net benefit tertinggi jika hanya 2 kali saja diadakan festival per tahun.

Jika militer AS tidak diperkenankan menggunakan kekuatan penuhnya. Kemudian. B. pemilihan terakhir dilakukan untuk membandingkan antara 2-festival dan 3-festival. dan C). maka net benefit mereka akan semakin rendah. Hasil dari pair-wise elections tercantum dalam tabel 10.63 festival. Pemilihan berikutnya dilakukan untuk membandingkan antara 3-festival dan 1-festival. Tetapi. Contoh nyata dimana preferensi jamak pernah muncul adalah ketika Amerika melakukan perang melawan Vietnam. bila perlu menggunakan senjata nuklir agar kemenangan cepat diraih. 1) perang dengan full power. Jika B ditawarkan 2 kali festival maka net benefit yang ia terima menjadi lebih rendah.3. arah alternatif frekuensi yang ditawarkan adalah mulai dari yang paling jarang (1 kali) hingga yang paling sering (3 kali). Pada pemilihan ini 3-festival menang karena hanya C yang menolaknya. tetapi akhirnya 3-festival dapat mengalahkan 2festival. ketika ada 3 pilihan yaitu. Setiap alternatif mempunyai kesempatan untuk menang tergantung dengan siapa ia dibandingkan.3: Hasil Pemungutan Suara dengan Pemilihan Berpasangan (Pair-Wise) Dasar-dasar Keuangan Publik . ia akan mendapatkan net benefit yang lebih baik. Fenomena Cycling Pemilihan berpasangan (pair-wise elections) adalah pemilihan yang membandingkan 2 alternatif diantara 3 atau lebih alternatif yang tersedia. B disebut memiliki preferensi jamak (multiple-peaked preferences) karena ketika tidak mendapatkan preferensi optimalnya maka ia menerima net benefit yang lebih rendah. kemudian 1festival mengalahkan 3-festival. Karena hanya ada 3 warga yang mengikuti pemilihan (A. 2 kali. voting dengan aturan mayoritas sederhana akan menemui jalan buntu karena setiap alternatif mempunyai kesempatan untuk menang. Pada grafik B. maka net benefit B menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. kemudian 3. 2) perang dengan kekuatan sedang. dan 3 kali festival. 2-festival mengalahkan 1-festival. Berikut ini akan kita lakukan pair-wise elections untuk setiap alternatif yang tersedia yaitu 1 kali. Titik optimal tertinggi B adalah pada sekali festival saja. Jika tidak mendapatkan titik optimal tersebut. Hal ini terlihat pada garis yang menurun pada Grafik B di atas. 1-festival dibandingkan dengan 2-festival. atau 3) tidak perang. bila kemudian diajukan lagi 3 kali festival yang paling sering. maka lebih baik AS tidak perlu mengirimkan tentaranya ke Vietnam karena hanya akan mengorbankan tentara saja. 1festival menang karena B dan C mendukungnya. Hasilnya 2-festival menang karena didukung oleh A dan C. Dalam 3 kali pemilihan. Dilain pihak. Kali ini. Namun. opini yang timbul di masyarakat AS adalah jika ingin perang melawan Vietnam maka harus dengan menggunakan kekuatan penuh. dengan kata lain tidak ada perang. Pada pemilihan pertama. maka urutan preferensi di masyarakat adalah nomor 1. maka alternatif yang meraih 2 suara akan menang. Fenomena ini disebut dengan cycling. Dengan cara seperti ini. Tabel 8. dan terakhir 2. jika alternatif yang ditawarkan berlanjut pada arah yang sama. Ketika itu. Jadi.

Urutan pilihan terhadap berbagai alternatif dan grafik net benefit dengan masuknya warga B’ adalah seperti tercantum pada Tabel 8.64 Pemilihan I 1-festival A B C Total suara Hasil : 2-festival menang X 1 suara Pemilihan II 3-festival X 1 suara Pemilihan III 2-festival X 1 suara 2-festival X X 2 suara 1-festival X X 2 suara A B C Total suara Hasil : 1-festival menang A B C Total suara Hasil: 3-festival menang 3-festival X X 2 suara Penyebab Cycling Cycling dan tidak adanya political equilibrium dengan menggunakan pairwise election dalam aturan mayoritas. disebabkan oleh adanya preferensi jamak (multiple-peaked preferences). Kali ini. Titik equilibrium tersebut akan terletak pada median dari semua voter. Jika semua voter memiliki preferensi tunggal. maka aturan mayoritas akan mampu menghasilkan political equilibrium untuk setiap isu yang dibahas. akan penulis tunjukkan contoh dimana political equilibrium dapat terwujud jika tidak ada warga yang memiliki preferensi jamak. Dengan masih menggunakan contoh sebelumnya.4: Urutan Pilihan Berbagai Alternatif Pilihan 1 Pilihan 2 (utama) 3-festival 2-festival 1-festival 2-festival 2-festival 1-festival Warga A B C Pilihan 3 1-festival 3-festival 3-festival Dasar-dasar Keuangan Publik .4. Tabel 8.4 dan Gambar 8. warga B diganti dengan warga B’ yang memiliki preferensi tunggal. Asumsikan B’ membayar iuran yang besarnya sama dengan B.

dengan tidak adanya preferensi jamak maka kali ini dimenangkan oleh 2-festival karena didukung oleh B’ dan C.5. Dengan hasil ini maka 2-festival akan menjadi political equilibrium karena dapat mengalahkan dua alternatif lainnya yaitu 1-festival dan 3-festival. Hasil Pemilihan I dan Pemilihan II berturut-turut masih sama dengan yang sebelumnya. B akan menerima net benefit tertinggi jika festival diselenggarakan hanya satu kali saja per tahun. mari kita lakukan pair-wise election kembali dengan kondisi seperti di atas. Walaupun 1-festival dapat mengalahkan 3festival pada Pemilihan II. sedangkan B’ kali ini memiliki preferensi tunggal. Sekarang.4 di atas.65 Gambar 8. namun 1-festival akan kalah dalam pemilihan jika dibandingkan dengan 2-festival. A dan C masih memiliki preferensi yang sama seperti yang sebelumnya. Median puncak terletak pada 2festival per tahun dan karena C memiliki preferensi utama pada titik ini maka ia adalah pemilih median. Pada Pemilihan III. Dengan tidak adanya preferensi jamak maka hanya satu political equilibrium yang muncul yaitu milik median voter.4: Net Benefit Berbagai Alternatif titik puncak voter C titik puncak voter B’ * * Net benefit * titik puncak voter C * * * * * 0 1 2 3 Jumlah festival per tahun Pada Gambar 8. kini semua warga memiliki preferensi tunggal dan setiap ada perubahan keputusan diluar preferensi utama akan mengakibatkan menurunnya net benefit yang mereka terima. yaitu dimenangkan oleh 2-festival dan 1-festival. Dasar-dasar Keuangan Publik . Hasil pairwise election tanpa adanya preferensi jamak tercantum pada Tabel 8. Dengan kondisi ini.

kandidat atau suatu keputusan dapat dimenangkan walaupun hanya didukung kurang dari setengah peserta yang melakukan voting. Bila yang dibutuhkan adalah keputusan bulat. maka kandidat tersebut harus mampu mengumpulkan 100% suara agar bisa jadi pemenangnya. Dengan metode simple majority rule. kandidat yang mampu mengumpulkan ( N/2 + 1 ) / N suara adalah pemenangnya.66 Tabel 8. maka kandidat yang mengumpulkan 51% suara adalah pemenangnya. Hal yang paling ekstrem dari minority rule adalah ketika suatu keputusan dibuat oleh satu orang saja. Dengan metode ini. Pada kasus ini. Sistem ini dilakukan pada negara yang berbentuk kerajaan atau pada negara yang dipimpin oleh seorang diktator. Jika dibutuhkan keputusan yang bulat. maka diperlukan N/N suara yang mendukung keputusan tersebut. Minority Rule Dengan metode Minority Rule.5: Pair-Wise Election tanpa ada Preferensi Jamak Pemilihan I 1-festival 2-festival A X B’ X C X Total suara 1 suara 2 suara Hasil : 2-festival menang Pemilihan II 3-festival 1-festival A X B’ X C X Total suara 1 suara 2 suara Hasil : 1-festival menang Pemilihan III 2-festival 3-festival A X B’ X C X Total suara 2 suara 1 suara Hasil: 2-festival menang Metode Pemungutan Suara Simple Majority Rule Misalkan jumlah masyarakat yang mengikuti voting adalah N. risiko munculnya ketidakpuasan akan lebih tinggi dibanding dengan menggunakan majority rule. Dasar-dasar Keuangan Publik . Contoh. Ketika setiap keputusan selalu dibuat oleh kelompok minoritas maka hal ini disebut oligarki. dengan menggunakan simple majority rule jika ada 100 orang yang mengikuti voting.

alternatif II kurang penting. 32% suara memilih 2. dan alternatif III tidak penting. alternatif 3 (36%) adalah minoritas jika dibanding dengan alternatif 1 plus alternatif 2 (64%). Akibatnya. pemilih diberikan sejumlah point (misalkan 10) untuk kemudian dibagi-bagikan ke masing-masing alternatif menurut tingkat kepentingan yang mereka rasakan. A dan D sama-sama menganggap alternatif I penting. Hal ini dapat memicu ketidak stabilan karena keputusan tidak didukung oleh suara mayoritas. Bila kita perhatikan. Alternatif I II III A 5 3 2 Tabel 8. ada tiga alternatif (1. hal yang sama dilakukan oleh B.67 mungkin tidak akan pernah diadakan pemungutan suara. Metode ini mempunyai efek samping yaitu dapat menimbulkan transaksi jual-beli point antar sesama voter. Dengan metode ini. C. Contoh. maka kondisi diatas dapat ditentukan pemenangnya yaitu alternatif 3 karena memperoleh porsi suara yang terbanyak (36%) jika dibanding dengan 2 lainnya. 2. A menganggap alternatif I paling penting. Pada contoh di atas.6: Point Voting B C 2 5 2 5 6 0 D 10 0 0 Total 22 10 8 Misalkan setiap pemilih memperoleh 10 point untuk dibagikan ke masingmasing alternatif. yang jadi pemenangnya adalah alternatif I karena memperoleh point paling banyak. dan 36% suara memilih 3 maka tidak ada alternatif yang memperoleh suara diatas 50%. Dengan metode majority rule maka tidak ada pemenangnya. Ia mendistribusikan point ke masingmasing alternatif tersebut sebesar 5. Pada metode plurality rule. Point Voting Pada metode point voting. dengan plurality rule pemenangnya ditentukan oleh alternatif yang memperoleh porsi suara paling besar. namun D memberikan seluruh point nya ke alternatif I tanpa membagi kepada alternatif lainnya. 3. dan D. perhatikan tabel berikut ini. perlu dilakukan pemilihan ulang yang tentunya akan menambah biaya dan memakan waktu. Salah satu kelemahan dari Majority Rule adalah bila lebih dari 2 alternatif untuk diputuskan maka terdapat kemungkinan dimana tidak ada alternatif yang memperoleh suara mayoritas. Plurality Voting Metode Plurality Rule umum dilakukan bila sekurang-kurangnya ada 3 alternatif yang hendak diputuskan.Sebagai contoh. Bila 32% suara memilih 1. dimungkinkan suara minoritas untuk menjadi pemenangnya. Dengan menggunakan metode plurality rule. dan 2. Namun demikian dampak positifnya adalah setiap voter diberi kesempatan untuk memberikan preferensinya ke masing-masing Dasar-dasar Keuangan Publik . dan 3) yang hendak dipilih salah satunya melalui voting. karena keputusan ditentukan sepenuhnya oleh satu orang saja. Jadi.

dan 1 suara diberikan kepada kandidat IV Dasar-dasar Keuangan Publik . kemudian membagikan porsi suaranya ke 3 kandidat lainnya berdasarkan peringkat. Hal yang harus dilakukan adalah menyingkirkan kandidat yang memperoleh suara paling kecil. belum ada kandidat yang mencapai suara mayoritas karena kandidat I baru mengumpulkan 0. dan peringkat terakhir untuk kandidat IV. 4 suara diberikan kepada kandidat III. kita akan melihat bagaimana mereka menyusun peringkat untuk kandidat II. B. kandidat II mengumpulkan 48. Sebagai contoh. Ada 38 voter yang memberikan peringkat pertama pada kandidat I. peringkat 3 untuk kandidat II.894 173 %tase 0.d. Suara B dialihkan ke kandidat IV dan suara C juga dialihkan ke kandidat IV.000 voter (A. peringkat 2 untuk kandidat I. maka suara A akan dialihkan ke kandidat II karena ia berada pada urutan 2. Setiap voter diminta untuk memberikan suara dalam bentuk peringkat untuk masing-masing kandidat. dan 173 voter yang memberikan peringkat pertama pada kandidat IV.895 4. C.95% 48.). kandidat III mengumpulkan 48. Voter yang lainnya juga diminta untuk melakukan hal yang sama sehingga dicapai hasil seperti pada tabel dibawah ini. yaitu kandidat I. dst. D lebih tinggi preferensinya terhadap alternatif ini dibanding oleh A. Setelah dilakukan proses runoff terhadap 38 suara yang memilih kandidat I. Dari 38 orang yang memilih kandidat I. 4. Karena kandidat I tersisih. setiap kandidat dihitung perolehan peringkat pertamanya.7: Pemungutan suara I C D E 1 2 4 3 3 1 4 4 2 2 1 3 … … … … … Total 38 4. Karena belum ada kandidat yang memperoleh mayoritas. dan IV. 33 suara diberikan kepada kandidat II. dan C yang memilih kandidat I sebagai peringkat pertama.94% dan kandidat IV mengumpulkan 1.894 voter memberikan peringkat pertama pada kandidat III. Instant Runoff Voting Instant runoff voting merupakan penyempurnaan dari majority rule dan plurality rule. III.38%.38% 48. Untuk lebih jelasnya penulis berikan contoh sebagai berikut. Ada 4 kandidat ( I s.95%.68 alternatif. Menurut hasil pemilihan pertama ini. Seandainya pada pemungutan suara I ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50% suara maka otomatis dialah pemenangnya dan tidak perlu ada instant runoff. IV) yang akan dicari pemenangnya melalui pemungutan suara yang diikuti oleh 10.73%. 4.895 voter memberikan peringkat pertama pada kandidat II.73% Setelah pemungutan suara.94% 1. misalkan didapat hasil sebagai berikut. Misal. mari kita perhatikan preferensi A. maka dilakukan proses runoff yang pertama. B. Kandidat I II III IV A 1 2 3 4 B 1 3 4 2 Tabel 8. Walaupun sama-sama menganggap alternatif I penting. voter D memberi peringkat 1 untuk kandidat III.

945 5.894 + 4 1 … 173 + 1 Total 4.28% 48. kandidat II memperoleh 4. ketiga dan seterusnya hingga diperoleh kandidat yang memperoleh suara mayoritas. suara D akan dialihkan ke kandidat II karena memiliki urutan berikutnya setelah kandidat IV.74% Setelah dilakukan runoff pertama. masih belum terdapat kandidat yang memperoleh suara mayoritas.55% Berdasarkan hasil runoff pertama.945 suara (49. Kandidat II III IV A 2 3 4 B 3 4 2 C 3 4 2 Tabel 8. Misalkan.898 174 %tase 49. Sebagai contoh. Kandidat II III A 2 3 B 3 4 C 3 4 Tabel 8.055 %tase 49.928 4. Oleh karena itu perlu dilakukan runoff kedua. Hasil proses runoff kedua dapat dilihat pada tabel berikut. Hasil runoff pertama bisa dilihat pada tabel berikut ini. Proses pembagiannya sama seperti yang dilakukan pada runoff pertama. Dengan hasil ini maka kandidat III menjadi pemenangnya karena mampu mengumpulkan suara diatas 50%. 174 suara dari kandidat IV yang tersingkir akan didistribusikan ke kandidat II dan III pada runoff kedua. Suara ini kemudian ditambahkan pada jumlah sebelumnya sehingga diperoleh hasil sebagai berikut.055 suara (50.928 + 17 4 … 4.895 + 33 4 … 4.69 berdasarkan peringkat 2 yang mereka masukkan.98% 1.898 + 157 Total 4. kandidat IV akan tersingkir karena memperoleh porsi suara paling kecil. kandidat II menerima limpahan 17 suara dan kandidat III menerima 157 suara.9: Runoff Kedua D … perhitungan 3 … 4.95%) dan kandidat III memperoleh 5.45% 50. Berdasarkan tabel di atas.8: Runoff Pertama D … perhitungan 3 … 4.55%). Dasar-dasar Keuangan Publik . 174 suara yang memilih kandidat IV kemudian didistribusikan ke kandidat yang tersisa berdasarkan preferensi yang diberikan oleh masingmasing voter.

pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. maka pemerintahan yang baru akan dinilai kinerjanya oleh masyarakat melalui paket-paket kebijakan politik. penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. anggaran di Indonesia menganut sistem anggaran berimbang. Setelah itu diberlakukan balance budget yang mengakui adanya budget surplus dan budget deficit (dibahas pada subbab berikut). Tujuan utama dari diterapkannya sistem ini pada awal orde baru menurut Seda (2004) dimaksudkan mengurangi hyper-inflation yang mencapai 650% akibat adanya kegiatan pencetakan uang terus menerus untuk menutupi defisit anggaran. Seluruh pengeluaran rutin dalam sistem ini diusahakan untuk ditutup dari penerimaan dalam negeri. dan pengeluaran versus belanja. Sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. Selanjutnya secara terus menerus diusahakan agar penerimaan dalam negeri dapat lebih tinggi dari pengeluaran rutin sehingga tercipta tabungan pemerintah yang dapat digunakan sebagai bagian belanja pembangunan. Kebijakan fiskal suatu negara secara keseluruhan terangkum dalam laporan anggaran tahunannya yang di Indonesia dikenal sebagai Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Karena ada beberapa aktivitas yang mengakibatkan aliran dana masuk yang tidak menambah kekayaan neto negara. Sistem ini berlaku sampai dengan tahun 1999. J Didalam konsep anggaran perlu dibedakan antara penerimaan versus pendapatan. Dalam beberapa periode lanjut Seda (2004). Yang pertama. Agar tidak terjadi tambahan inflasi akibat adanya hutang.70 B A B IX KONSEP ANGGARAN ika proses pilihan publik telah selesai. seluruh nilai hutang dipergunakan untuk kegiatan pembelian barang-barang impor. Sedangkan pinjaman luar negeri digunakan untuk pembiayaan pembangunan. termasuk kebijakan fiskal. sosial dan ekonominya. Berikutnya. Sistem ini kemudian dikenal sebagai APBN Berimbang dan Dinamis. Pada sistem ini pinjaman luar negeri dimasukkan sebagai unsur penerimaan negara. contoh penerimaan pajak. sistem tersebut cukup efektif mengendalikan inflasi. Pengeluaran publik seperti pembayaran pokok hutang akan diikuti dengan pengurangan liabilitas publik sehingga tidak mengurangi kekayaan neto Dasar-dasar Keuangan Publik . seperti penerimaan kembali anggaran pengeluaran yang tidak terpakai. Pada masa orde baru.

Pengolongan barang tersebut misalnya: jasa-jasa kontrak. Jika rencana pengeluaran melebihi anggaran penerimaan. Selanjutnya. Dari pengelompokan barang-barang inilah maka digunakan istilah obyek atau lineitems. Contoh dari off-budget adalah alokasi dana yang diperuntukkan bagi program pensiun dan tunjangan hari tua. yaitu obyek-obyek atau itemitem apa yang akan dibeli dengan uang yang dianggarkan itu. dipaparkan adanya rencana pengeluaran yang didasarkan pada ekspektasi pendapatan. Jenis-jenis Anggaran Jenis-jenis anggaran meliputi: a. perlengkapan dan material serta peralatan. Apabila dikatakan untuk membeli barang. maka timbul budget deficit sebaliknya jika penerimaan diproyeksikan dapat lebiih tinggi dari rencana pengeluaraan maka disebut budget surplus. Bila obyek yang ada dalam line-item budget cukup banyak. Rencana pengeluaran sebaiknya mengindikasikan juga urutan skala prioritas serta ekspektasi kualitas dan kuantitas layanan. Pada umumnya on-budget mengalami deficit. Belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. Anggaran memuat perkiraan dari pengeluaran uang. Apabila anggaran disusun dengan mengkonsolidasikan antara on-budget dan off-budget. tergantung pada kriteria unit atau organisasi yang bersangkutan. Anggaran belanja line-item (line-item budgeting) Jenis anggaran belanja yang hanya membuat daftar barang-barang atau obyekobyek. Balance budget Seluruh rencana pengeluaran dan penerimaan pemerintah biasanya melalui prosedur pembahasan oleh lembaga legislatif untuk disahkan setiap tahun. Dalam anggaran. dikenal sebagai off-budget. Contoh line-item budget adalah sebagai berikut. hal ini adalah sesuatu hal yang masih sangat umum. maka perlu dibuat pengelompokan ataupun penggolongan. Pengeluaran tersebut harus jelas maksud dan tujuannya. sedangkan off-budget mengalami surplus. Oleh karena itu harus disebutkan secara khusus atau spesifik. misalnya pembayaran bunga hutang. Namun ada sebagian kecil anggaran yang dibiayai dengan dedicated fund tidak dibahas oleh lembaga legislatif setiap tahunnya.71 negara. disebabkan setiap instansi atau Departemen mempunyai kebutuhan barang yang berbeda. disebut anggaran oyek pengeluaran atau anggaran belanja line-item. anggaran adalah suatu rencana keuangan yang merupakan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dimasa yang akan datang. Setiap anggaran belanja menguraikan berbagai fakta yang khusus (spesifik) tentang apaapa yang direncanakan untuk dilakukan oleh unit organisasi yang menyusun anggaran belanja tersebut pada periode waktu yang akan datang. Jenis Pengeluaran Jumlah Dasar-dasar Keuangan Publik . maka anggaran yang dihasilkan disebut unified-budget. on-budget.

Belanja Pegawai II. sehingga dari catatan tersebut dapat dilihat secara tepat. DAN LUAR NEGERI PENYELENGGARAAN PIMPINAN Jumlah XXX XXX XXX Dasar-dasar Keuangan Publik .01 01. Setiap barang atau kelompok barang dibuat daftarnya disertai angka nilai rupiah. Dengan demikian orang yang bertanggung jawab dalam membelanjakan uang itu mudah diperiksa melalui keharusan mengikuti pengeluaran sebagaimana yang telah direncanakan. Pembiayaan Proyek Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX • Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran line-item ialah mudah mengawasi penggunaanya. apakah anggaran belanja itu dipatuhi dengan baik atau tidak. Bunga Kredit Program 2. Sub Fungsi. Angaran belanja berprogram (a program budgeting) Suatu anggaran yang berorientasi kepada maksud dan tujuan untuk apa uang dibelanjakan. Dengan kata lain. Restrukturisasi Perbankan II. Subsidi Daerah Otonom IV. suatu anggaran belanja yang disusun sesuai dengan tujuan. karena perkiraan kebutuhan untuk masa mendatang tidak dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang lebih luas. dan Program PELAYANAN UMUM PEMERINTAHAN LEMBAGA EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF. Penggunaan kata fungsi. atau misi. Bunga Obl. fungsi-fungsi dan kegiatankegiatan pengeluarannya disebut anggaran berprogram (a program budget).01 01 Nama Fungsi. Pembayaran Bunga & cicilan Hutang Pengeluaran Pembangunan I. Belanja Barang III. kegiatan. Pembiayaan Rupiah 1. b. Contoh dari anggaran berprogram yang digunakan dalam menyusun APBN Indonesia Tahun 2005 adalah sebagai berikut. Sedangkan kelemahan sistem anggaran line-items adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan. terdapat perbedaan pengelompokan barang-barang antara unit atau organisasi yang satu dengan unit atau organisasi barang yang diperlukan setiap organisasi tersebut dan tidak didasarkan atas perencanaan yang menyeluruh dan berkesinambungan. karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyek-obyek di mana uang itu dibelanjakan. Anggaran berprogram mengelompokan pengeluarannya ke dalam program-program. disebut anggaran berprogram (a program budget).72 • Pengeluaran Rutin I. Di samping itu. kadang-kadang diperlukan sebagai pengganti program-program. Kode 01 01. KEUANGAN DAN FISKAL.

tetapi penyusunan dana itu disesuaikan dengan program-programnya. sebab dari arti ketertiban umum itu dapat pula untuk pembangunan prasarana fisik (kantor) yang mewah bagi kepentingan ketertiban umum yang menyimpan dari tujuan yang diharapkan. Dengan anggaran berprogram.01 03 Dst. c. Anggaran berbasis kinerja (performance budgeting). Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini disebabkan karena dalam anggaran berprogram. yang tidak jelas obyek-obyeknya. yang merupakan bagian program yang lebih luas. Kelebihan sistem anggaran berprogram adalah: 1) Memungkinkan kita membuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. Sedangkan kelemahan anggaran berprogram ialah kurang mengandung arti pengawasan didalamnya. 2) Lebih informatif. sebab suatu program terdiri atas unsur-unsur program.01 02 01. Oleh karena itu akan terdapat program yang mendapat dana jauh lebih sedikit dari yang lain. kita juga dapat menetapkan tingkat prioritas untuk membedakan bahwa program yang satu lebih penting dari program yang lain. 01. Salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram dalam segi pengawasan dan tingkat keluwesan (flexibility) adalah dengan cara mengkombinasikan sifat anggaran berprogram dengan sifat anggaran berdasarkan anggaran line-item. disebabkan tidak hanya sekedar mendaftar barang-barang dan jasa-jasa yang akan dibelanjakan. Anggaran belanja berbasis kinerja ini hanya menambahkan keterangan berapa banyak jenis pelayanan yang akan disediakan untuk melaksanakan suatu tujuan. Anggaran belanja berbasis kinerja (performance budget) dibangun atas anggaran berprogram. Sekalipun demikian dapat disebut anggaran berprogram.73 KENEGARAAN DAN PEMERINTAHAN PENYELENGGARAAN PIMPINAN DEPARTEMEN/ LEMBAGA PEMBINAAN PRODUK LEGISLATIF Dst. kita dapat mengetahui tujuan serta maksud membelanjakan uang tersebut. Misalnya X rupiah untuk kepentingan ketertiban umum. XXX XXX Dst. bukan perincian yang sempit sifatnya. Kemudian. Dengan demikian tak cukup kita menggunakan suatu anggaran yang hanya menyebutkan daftar barang-barang yang akan dibelanjakan. karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. Dengan demikian anggaran berprogram yang mempunyai perincian line-item dikaitkan dengan tujuan dari pada program. dibandingkan dengan anggaran line-item (line-item budget). sekalipun ia dianggap fungsi yang lebih penting. anggaran belanja sistem hanya mencantumkan X rupiah untuk belanja yang satu dan Y rupiah untuk belanja yang lain.

000.000 Rp Rp 100. artinya berapa banyak suatu hasil yang dapat dibuat dengan biaya itu.Panjang jalan yang dibuat: 10 kilometer . Disamping itu Dasar-dasar Keuangan Publik . Konsep tujuan sangat penting dalam sistem ini. Dalam membicarakan teori PPBS.000. yaitu.000. anggaran berprogram (program budget). obyek-obyek pengeluaran (seperti persediaan dan bahan). Kedua. dapat dijelaskan melalui konsep-konsep sebagai berikut: Tujuan Sebagaimana telah diuraikan bahwa suatu anggaran belanja yang berencana (planning budget) disusun dengan penentuan tujuan-tujuan. Konsep ini banyak didukung oleh para pemerhati anggaran yang tidak menginginkan adanya pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu oleh pemerintah. Namun dalam prakteknya. Contoh anggaran belanja berbasis kinerja adalah sebagai berikut. langkah selanjutnya adalah menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar.000 600.000 Jumlah Sub Total Kegiatan II: Pembangunan jalan Ukuran hasil: . Dengan demikian anggaran berbasis kinerja adalah anggaran pelaksanaan yang mencakup kombinasi antara anggaran belanja line-item (line-item budget).74 Ada dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja.Biaya pembebasan per kilometer: Rp50. pertama. zero-based budgeting menggunakan paket-paket anggaran.000 d. Jelasnya unit ukuran yang digunakan harus menguraikan secara nyata (konkrit) apa yang akan dikerjakan. Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) PPBS dimaksudkan sebagai usaha memperbaiki sistem penyusunan anggaran belanja pemerintah yang telah diuraikan diatas. karena orang ingin mengetahui mengapa suatu kegiatan dilaksanakan. harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis. Seluruh program kegiatan pemerintah harus dijustifikasi setiap tahun dengan tidak mendasarkan atas kemiripan kegiatan yang telah selenggarakan tahun sebelumnya. dan data-data hasil kerja. konsep penganggaran ini sulit dilaksanakan sehingga tidak banyak digunakan.Biaya per kilometer: Rp10.000 Jumlah Sub Total Total Biaya peningkatan prasarana jalan Jumlah Rp 500. yang merupakan landasan untuk penilaian kegiatan.000.Panjang lahan yang dibebaskan: 10 kilometer . Program: Peningkatan prasarana jalan Kegiatan I: Pembebasan tanah Ukuran hasil: .000. Zero-based budgeting Tidak seperti kebanyakan proses pengganggaran yang jumlah dan rincian kegiatannya didasarkan atas anggaran tahun sebelumnya seperti dinaikkan atau sama.

3) Berguna bagi tujuan akhir dari kegiatan-kegiatan sesuatu pemerintahan. Oleh karena itu PPBS menghendaki agar dalam pengambilan keputusan yang rasional memasukkan biaya kesempatan (opportunity cost) sebagai bagian dari biaya-biaya yang relevan terhadap output. Untuk itu. Landasan berpikirnya adalah. ialah: 1) Berguna untuk mengukur efisiensi dan produktivitas dalam pengertian manajemen. Yang dimaksud dengan biaya kesempatan ialah hilangnya kesempatan untuk membelanjakan uang atau waktu atau sumber-sumber lain untuk suatu alternatif tujuan. Misalnya kegiatan menghadiri rapat akan menghilangkan kesempatan untuk melakukan pekerjaan lain yang memperoleh hasil.75 dalam sistem anggaran belanja. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hasil ialah barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan untuk disalurkan keluar pemerintah. yang dikelompokkan menurut tujuannya. Analisis menghitung hubungan antara besarnya input (biaya) dan besarnya output (hasil-hasil yang dicapai) disebut input output analysis. Hal ini dapat juga berupa sejumlah formulir pajak yang diproses sampai kepada pembangkit listrik yang menghasilkan sejumlah kilowatt listrik bagi kepentingan masyarakat. Ukuran efektivitas biaya menunjukkan jumlah hasil-hasil yang dapat dicapai dengan mengeluarkan sejumlah rupiah tertentu. Akan tetapi efektivitas biaya (cost effectiveness) harus dipertimbangkan pula terhadap hasil-hasil dari sudut manfaat biaya (cost-benefits). yaitu semua manfaat dan semua biaya yang harus diperhitungkan. kita harus melihat secara menyeluruh biaya-biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan secara nyata. Output. Pengukuran biaya dan manfaat kegiatan pemerintah. dibuat juga suatu perbandingan manfaat dan biaya. Konsep output yang universal beranggapan bahwa setiap penyelesaian kerja yang nyata dari suatu karyawan pemerintah dapat dipandang sebagai output. disamping mengukur biaya-biaya maupun manfaat menurut nilai sekarang. akan tetapi yang dimaksud disini ialah setiap penyelesaian kerja yang nyata dari seorang karyawan pemerintah adalah hasil (output) pemerintah. dimana manfaat-manfaat yang dinyatakan dalam nilai uang dibagi dengan biayaDasar-dasar Keuangan Publik . Pendekatan sistem anggaran ini adalah mengaitkatkan satu sama lain segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi. Konsep biaya sebagaimana digunakan dalam PPBS adalah bersifat komprehensif (lengkap). Adapun kelebihan penentuan tujuan. Sekalipun belum ada kesepakatan mengenai definisi hasil (output). Pandangan yang paling umum mengenai hasil dari suatu institusi ialah konsep output yang universal. ditunjukkan hubungan antara cita-cita atau tujuan pemerintah dengan kegiatan pemerintah. 2) Berguna dalam menilai keputusan-keputusan alokasi sumber. bahwa dalam menghitung biaya produksi sesuatu produk (manfaat).

Rancangan ini memuat asumsi umum yang mendasari penyusunan anggaran seperti perkiraan penerimaan. transparan. sehingga asumsi itu bersifat rasional dan objektif. Selain itu juga dimuat perkiraan terperinci pengeluaran dan penerimaan departemen/lembaga. Hal ini berarti bahwa semua asumsi yang dipergunakan sebagai dasar pertimbangan harus dibuat dan didukung oleh data atau informasi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. pemerintah berkewajiban menyusun dan mengajukan rancangan anggaran. defisit/surplus. obyektif.76 biaya. pengeluaran. tidak termasuk anggaran pendapatan dan pelanja pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan milik negara. Istilah APBN yang dipakai di Indonesia secara formal mengacu pada anggaran pendapatan dan belanja pemerintah pusat. Umpamanya : manfaat Biaya = Rp50 juta Rp25 juta = 2 = 2 (>1) 1 Sebaliknya seandainya rasio itu adalah kurang dari satu (<1). dan pembiayaan defisit. maka simpulannya adalah bahwa proyek itu tidak layak. Peran lembaga legislatif dalam proses penyusunan anggaran menyebabkan proses penyusunan menjadi lebih demokratis. Hal ini disebabkan karena hasil analisis itu mungkin diuji oleh analis-analis lain dan mungkin diulangi lagi dengan menggunakan susunan asumsi yang berbeda. yang di Indonesia disebut APBN. akan tetapi kecenderungan untuk menutupi atau menyembunyikan data kunci harus dapat dihindarkan. Umpamanya : manfaat Biaya = Rp25 juta = Rp50 juta = 1 (<1) 2 Analisis yang terbuka dan jelas Analisis yang terbuka dan jelas merupakan asumsi yang merupakan unsur-unsur kunci dan merupakan prasyarat pokok bagi keberhasilan PPBS. dan informasi terkait lainnya. Penyusunan anggaran negara merupakan rangkaian aktifitas yang melibatkan banyak pihak. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika perbandingan itu lebih besar dari satu (>1) maka simpulannya adalah bahwa proyek tersebut layak. karena biayanya lebih besar dari pada manfaatnya. karena manfaatnya melebihi biayanya. Siklus Anggaran Kebijakan fiskal pemerintah suatu negara secara ringkas tercermin dalam anggarannya. Sebelum dibahas oleh lembaga legislatif. dan kebijaksanaan pemerintah. dan proyek. data aktual dan proyeksi perekonomian. PPBS menitikberatkan pada pertimbangan rasional yang didasarkan atas data dan informasi. Objektivitas yang selengkap-lengkapnya barang kali tidak mungkin diperoleh. termasuk lembaga legislatif. dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Mekanisme analisis data dan informasi harus jelas. transfer.

3. Unit organisasi yang telah ditetapkan batas anggarannya tidak boleh melakukan pengeluaran melebihi dari batas tersebut 3. Dalam mengajukan usulan. Kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya sering dijadikan landasan penyusunan anggaran tahun berikutnya. Top – Down (dari atas ke bawah) Cara ini merupakan kebalikan dari cara bottom – up. Pemerintah dapat saja melakukan perubahan drastis terhadap beberapa pengeluaran jika dipandang perlu dipilih sebagai reaksi atas perubahan indikatorindikator perekonomian. 2. Beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran antara lain: ekspektasi pertumbuhan ekonomi. Pada kebanyakan negara. Lembaga tersebut biasanya dibawah naungan Departmen Keuangan yang bertugas mengkoordinasikan dan mengorganisasikan usulan anggaran pembiayaan dan pengeluaran dari instansiinstansi terkait. Anggota dewan dapat mengundang pihak esksekutif pada waktu pembahasannya. atau memilih untuk mendengarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran (budget execution). Pada cara ini. 4. inflasi dan karakteristik makro ekonomi lainnya seperti harga minyak mentah dunia. Pengesahan Anggaran Proses ini dimulai ditandai dengan pengajuan usulan anggaran oleh eksekutif untuk dibahas di lembaga legislatif. Secara umum siklus anggaran terbagi atas empat tahap yaitu: 1. unit organisasi yang paling tinggi menetapkan batas tertinggi (plafond) anggaran yang dapat dibelanjakan oleh unit organisasi yang lebih rendah. Penyusunan Anggaran (budget formulation).77 Proses perjalanan suatu Anggaran yang dimulai dari penyusunan hingga pertanggungjawaban disebut dengan siklus anggaran. Proses penyusunan dapat memakan waktu hingga beberapa bulan. 2. anggaran disusun untuk masa satu tahun. Ada tiga cara dalam menyusun anggaran yaitu: 1. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran (budget auditing and assessment). tergantung kompleksitas struktur pemerintahan yang dilayani. Pengesahan Anggaran (budget enactment). Penyusunan Anggaran Pada umumnya proses formulasi anggaran dilakukan oleh eksekutif yang khusus menangani anggaran negara. unit organisasi yang paling bawah harus memperhitungkan besar kecilnya kegiatan yang akan dilakukan. penyusunan anggaran dimulai dari unit organisasi yang paling bawah kemudian diteruskan secara berjenjang ke unit organisasi yang lebih tinggi. Campuran Cara ini merupakan gabungan dari 2 cara di atas. Namun hal ini tidak mencerminkan bahwa seluruh kegiatan harus dibiayai secara bertahap. serta mendistribusikannya sesuai urutan prioritas kegiatan dan tersedianya dana. Bottom – Up (dari bawah ke atas) Pada cara ini.

Tetapi pertanyaan harus diajukan oleh tim pengawas manakala terjadi perbedaan yang signifikan tetapi tanpa dasar alasan yang dapat diterima. Faktor politik juga dapat ikut berperan dalam proses pembahasannya. Instansi dan departemen terkait. Kemungkinan dari adanya perbedaan yang signifikan adalah adanya penyelewengan kekuasaan oleh lembaga eksekutif. melakukan belanja publik terbatas maksimal sebesar tertera pada anggaran. Pengawasan ekstern. Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi dalam 2 bagian yaitu: 1. Prosedur pengawasan eksekusi anggaran dapat berbeda di tiap negara. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh unit inspeksi yang betugas melakukan pengawasan di lingkungan departemen yang bersangkutan. 2. Pada prakteknya. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran Proses berikutnya adalah pelaksanaan anggaran yang telah disetujui dewan. dibutuhkan kegiatan pengawasan. Hal ini biasa terjadi dikarenakan adanya kemungkinan anggota legislatif yang ditunjuk dalam komisi pembahasan anggaran tidak menguasai kerangka kerja anggaran. Anggota dewan berhak menolak usulan anggaran yang diajukan pemerintah. beberapa negara memungkinkan anggota dewan menyusun anggarannya sendiri atau memutuskan untuk menggunakan anggaran tahun sebelumnya. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar departemen. Bisa juga disebabkan oleh tidak efisiennya mekanisme dan kekakuan pelaksanaan teknis realisasi anggaran di lapangan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Beberapa deviasi menyebabkan beberapa pos pengeluaran tidak terealisasi sebagaimana tertera dalam anggaran. Menurut subyeknya. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. Proses pembahasan selesai setelah usulan anggaran diundangkan atau diamandemen. Dalam hal tersebut. memonitor efektifitas alokasi anggaran ke departemen-departemen lainnya. 2. Pengawasan intern. dan memberi persetujuan terhadap pengeluaranpengeluaran yang besar. Sedangkan untuk penerimaan publik diharapkan dapat melebihi atau minimal sama dengan anggaran yang telah disetujui. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1.78 opini publik untuk kemudian diambil keputusan. Sedangkan tugas Departemen Keuangan hanya memonitor melalui laporan yang sampaikan oleh departemen-departemen. Pengawasan fungsional (wasnal) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh institusi. Kesemua itu tidak mempengaruhi dibutuhkannya legalisasi usulan anggaran oleh dewan legislatif. Pengawasan melekat (waskat). Untuk mengefektifkan pelaksaaan anggaran. anggaran tidak dijalankan sama persis dengan jumlah yang disetujui. Menteri Keuangan secara terpusat dapat menerapkan kontrol ketat terhadap prosedur aliran dana keluar. Atau departemen-departemen dibuat lebih independen dalam realisasi belanja publik.

aparat pengawasan legislatif. Agar proses pemeriksaan atas pertanggungjawaban dapat dengan mudah dilakukan. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat yang disampaikan secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah. yaitu pengawasan yang dilakukan on the spot melalui inspeksi. 2. problem anggaran yang dihadapi meliputi penentuan asumsi-asumsi ekonomi dan indikator fiskal. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. yang disebut sebagai post audit. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Siklus terakhir dari anggaran adalah pemeriksaan dan pertanggungjawaban atas efektifitas anggaran khususnya penggunaan pendapatan publik. Pengawasan masyarakat. Pengawasan langsung. Laporan ini harus diaudit secara reguler oleh badan independen semacam Auditor General (di Indonesia disebut BPK) yang memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan yang akurat dan tepat waktu. Di Indonesia. Pengawasan setelah kegiatan dilaksanakan. Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif tidak dimaksudkan untuk menekan pihak eksekutif atau sekedar mencari-cari kesalahan pejabat publik. yaitu pengawasan yang dilakukan berdasarkan laporan dari pejabat yang bersangkutan. kombinasi konflik antara manajemen dan politik perlu diakomodasi secara memadai. Sedangkan pada pelaksanaan dan pemeriksaan lebih mengarah pada isu-isu manajemen dan akuntansi. atau dari masyarakat. sidak. Menurut waktunya. maupun pemeriksaan. Menurut caranya. Jika dimungkinkan. Untuk mencapai hasil yang diharapkan. Pengawasan tidak langsung. Pengawasan legislatif (wasleg) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Legislatif. aparat pengawasan fungsional. Pada umumnya negara berkembang. Tapi lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara. 4. yang disebut sebagai pengawasan preventif 2. yang disebut sebagai pengawasan represif. 3. Problem pada fase penyusunan dan pembahasan lebih banyak akibat adanya campur tangan politik. Masalah Umum Anggaran Setiap siklus anggaran memiliki problem tersendiri. Manajemen anggaran modern lebih menekankan pada perlunya sosialisasi dan distribusi informasi mengenai anggaran publik agar lebih dapat ditingkatkan efektifitas dan efisiensi prosesnya. BPK merupakan lembaga tinggi negara yang melakukan pengawasan terhadap pemerintah. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Pengawasan sebelum kegiatan dimulai.79 3. pihak eksekutif harus dapat melaporkan pelaksanaan kebijakan fiskalnya secara lengkap. Pengawasan selama kegiatan dilaksanakan. Negara-negara Dasar-dasar Keuangan Publik .

Dasar-dasar Keuangan Publik . menghadapi kerentanan tehadap fluktuasi perdagangan dunia. akan tetapi banyak juga ketidakefisienan yang disebabkan oleh praktek penyusunan anggaran yang tidak fair. Beberapa permasalahan mungkin diakibatkan oleh faktorfaktor diluar kontrol.80 tersebut seperti halnya Indonesia. koordinasi pembangunan terencana dalam jangka panjang serta berkesinambungan. menentukan jumlah ideal penyerapan pendapatan publik melalui pajak. Hal tersebut dapat juga disebabkan oleh lembaga-lembaga legislatif dan pemeriksa yang tidak independen atau tidak mempunyai kapasitas sebagaimana mestinya. Sebagian anggaran mengalami kebocoran atau penggunaan yang tidak selaras dengan pembangunan perekonomian berkesinambungan.

kebijakan anggaran juga mempengaruhi tingkat distribusi output total dengan membaginya di antara konsumsi dan tabungan (yang membentuk modal) yang selanjutnya mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. Penentuan Pendapatan Tanpa Anggaran Sekarang kita akan menyimak bagaimana tingkat pendapatan ekuilibrium ditentukan. Mau tidak mau. Kebijakan fiskal itu sendiri kemudian dapat digunakan untuk mempengaruhi tingkat investasi. pertama-tama tanpa anggaran dan kemudian dengan anggaran. stabilisasi ekonomi. Sementara jumlah atau tingkat investasi dianggap tetap. khususnya pengeluaran publik. maka pendapatan ekuilibrium ditentukan pada tingkat dimana tabungan masyarakat sama dengan investasi. Anggaran. Perubahan tingkat permintaan agregat pada akhirnya menentukan kesempatan kerja dan tingkat harga. mempengaruhi tingkat permintaan agregat. Dengan mempertimbangkan bahwa dalam suatu sistem tingkat investasi adalah sesuatu yang given (tidak dapat dipengaruhi) dan apabila tidak ada suatu pemerintahan. hal ini ditentukan dalam suatu sistem Model-Model Pengganda dengan Investasi yang Tetap Mari kita mulai dengan model yang paling sederhana di mana konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan. anggaran akan sangat dikaitkan dengan perilaku perekonomian secara makro dan. akan menjadi alat yang cukup efektif untuk mempengaruhi perilaku tersebut. seperti telah dibahas pada Bab VII. Dasar-dasar Keuangan Publik .81 B A B X KEBIJAKAN STABILISASI T opik ini membicarakan lebih jauh mengenai fungsi utama ketiga dari kebijakan anggaran yang. Lebih jauh lagi. Investasi akan dianggap sebagai variabel endogen (variabel yang dipengaruhi oleh pendapatan). Kebijakan fiskal terhadap tingkat permintaan agregrat dalam keadaan dimana terdapat tingkat pengangguran yang tinggi diharapkan lebih berpengaruh terhadap perubahan output riil dibanding pada penyesuaian tingkat harga. Saling keterkaitan inilah yang akan kita simak pada bab ini. pada gilirannya.

Untuk menjaga tingkat ekuilibrium. C adalah fungsi konsumsi ymg menunjukkan bahwa pengeluaran untuk konsumsi akan meningkat sejalan dengan pertambahan pendapatan. pendapatan ekuilibrium tercapai pada perpotongan garis pengeluaran total (atau C+I) dengan garis 450. Di pihak lain. pengeluaran harus sama dengan pendapatan sehingga tabungan (atau pendapatan dikurangi konsumsi) harus tertutupi oleh investasi. yakni I. pendapatan) melebihi tingkat A. dianggap konstan dan independen terhadap tingkat pendapatan. kita akan memperoleh garis pengeluaran total Y=C+I. jika tingkat output atau pendapatan berada di bawah A. C+I terletak di atas garis 450). Nantinya pengeluaran tersebut akan menjadi pendapatan pada periode berikutnya. pengeluaran total tidak akan memadai untuk membeli jumlah output tersebut (yakni garis C+I terletak di bawah garis 450). Gambar 10-1 Penentuan Pendapatan tanpa Sektor Publik Perpotongan terjadi dimana pendapatan adalah A. Pengeluaran untuk investasi. nilai uang menurun dan tingkat harga meningkat Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendapatan ekuilibrium tercapai apabila pendapatan yang diterima pada suatu periode sama dengan jumlah pengeluaran. nilai uang meningkat dan tingkat harga menurun. Jika jumlah output (atau dengan kata lain. Dengan demikian. Dengan demikian output serta pendapatan pada akhirnya akan menurun sampai ke A.82 Penentuan pendapatan dalam bentuknya yang paling sederhana diperlihatkan pada Gambar 10-1 di mana pendapatan diletakan pada sumbu horizontal dan pengeluaran pada sumbu vertikal. pengeluaran total akan melampaui tingkat output periode berjalan (yakni. Dengan menambahkan I ke C secara vertikal.

sementara persamaan (2) menggambarkan fungsi konsumsi. Pada Tabel 10-1. Konstanta a adalah perpotongan garis C pada Gambar 10-1 dengan sumbu vertikal. persamaan (1) menunjukkan bahwa pendapatan total sama dengan jumlah konsumsi dan investasi. dan jumlah konstanta-konstanta (a+I) adalah jumlah yang digandakan (multiplicand). Artinya pengeluaran publik tersebut menaikkan output dari A Dasar-dasar Keuangan Publik .2 Penentuan Pendapatan dengan Pengeluaran Publik Pengeluaran publik Pertama-tama kita masukkan unsur pengeluaran publik G ke dalam sistem kita. persamaan (3) diperoleh dengan mensubstitusi persamaan (2) ke dalam persamaan (1). Jika c=0. maka penggandanya adalah 5. maka pendapatan Y=$750 milyar [($50+$100)*5]. Dengan demikian diperoleh garis pengeluaran total Y=C+I+G. sedangkan kecenderungan marjinal untuk mengkonsumsi c menunjukkan kemiringannya. Pecahan 1/(1-c) adalah apa yang disebut sebagai pengganda (multiplier). Gambar 10. Penentuan Pendapatan dengan Anggaran Sekarang kita masukkan pengeluaran dan penerimaan publik ke dalam sistem tersebut guna melihat bagaimana tingkat pendapatan dipengaruhi oleh berbagai kebijakan anggaran. Seperti terlihat pada Gambar 10-2.8.83 sehingga akhirnya menggeser tingkat output dan pendapatan meningkat sampai ke A. dan jika a=$50 milyar dan I=$100 milyar.

C'+I. Dengan menambahkan I dan C. Jika C=0. Pengeluaran publik G akan menjadi bagian dari konstanta yang digandakan. kenaikan G sebesat $1 milyar akan menaikkan pendapatan ekuilibrium sebesar $5 milyar.84 menjadi B. fungsi konsumsi merosot dari C ke C’. dengan garis 450 menjadi lebih rendah dan pendapatan menurun dari A ke D. Konsumsi menurun sebesar pajak yang dikenakan. Gambar 10-3 Penentuan Pendapatan dengan Pajak Lump-Sum Pajak Lump-Sum Selanjutnya mari kita perhatikan peranan pengenaan pajak dalam bentuk lumpsum. Konsumen yang menerima pendapatan A setelah membayar pajak akan mempunyai pendapatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Sekarang apabila terhadap penerimaan dikenakan pajak. masuknya pengeluaran publik bisa digunakan untuk menaikkan pendapatan. tanpa memperdulikan pendapatan. Persamaan (7) yang diperoleh dengan menyajikan persamaan (6) dalam bentuk diferensial. menunjukkan kenaikan pendapatan yang ditimbulkan. Persamaan (4) dan (5) menyatakan kembali persamaan dasar. yakni pajak dalam suatu jumlah yang tetap. seperti diperlihatkan juga pada persamaan (4) sampai (7) dari Tabel 10-1.8. Jika pendapatan nasional masih berada di bawah tingkat pendapatan pada kesempatan kerja penuh. Perpotongan garis pengeluaran yang baru. kita mendapatkan C+I dan tingkat pendapatan sebesar A. Dengan demikian. sedangkan persamaan (6) menghasilkan formula pendapatan yang baru. pengeluaran publik bisa digunakan untuk mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi.

pajak dimasukkan ke fungsi konsumsi sementara kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi c merupakan pendapatan disposabel. Pengaruh pungutan pajak lump-sum diperlihatkan pada persamaan (8) sampai (11) dari Tabel 10-1. Pada persamaan (10) kita melihat bagaimana pajak memperkecil jumlah yang digandakan. Sekarang kita harus beralih ke kasus yang lebih realistis dimana penerimaan pemerintah berasal dari pajak penghasilan bukan dari pajak lump-sum. Akan tetapi disinipun perubahan pendapatan yang ditimbulkannya lebih kecil daripada yang ditimbulkan oleh kenaikan G.85 disposabel sebesar D. dapat dianggap sebagai pajak negatif dalam analisis ini. atau pendapatan setelah pajak. Dengan alasan yang sama. di mana C adalah fungsi konsumsi sebelum penurunan pajak dan C” setelah penurunan pajak. Agar pendapatan meningkat maka diperlukan penurunan tarif pajak t seperti yang diperlihatkan pada Gambar 10-4. tetapi bergerak ke bawah dengan tetap berpusat pada titik potong dengan sumbu vertikal yang sama. tunjangan atau R dapat disubstitusikan terhadap I pada persamaan (11) tetapi dengan tanda yang terbalik. Dasar-dasar Keuangan Publik . Peranan Tunjangan Sosial (transfer) Tunjangan pemerintah atau pembayaran transfer (tranfer payments). Pengenaan pajak semacam ini tidak menggeser fungsi konsumsi secara paralel. tetapi mengurangi jumlah yang digandakan. Alasannya sama. Pada persamaan (9). Karena penambahan pendapatan akibat pengurangan pajak dalam konsumsi hanya sebesar c*ΔT saja. yaitu sebagian dari kenaikan pendapatan disposabel yang berasal dari tunjangan akan tercemin dalam kenaikan tabungan dan bukan dalam konsumsi. pengaruh kenaikan pajak terhadap penurunan tingkat pendapatan tidak sebesar penurunan yang diakibatkan oleh berkurangnya pengeluaran publik. Karena itu. kemiringan fungsi konsumsilah dan bukan titik perpotongannya yang menurun. Pajak bertambah sejalan dengan bertambahnya pendapatan. Fungsi konsumsi ditentukan melalui C'=a+c(Y-T). sebagaimana halnya dengan pajak lump-sum. yang menunjukkan bahwa kenaikan R akan bersifat ekspansioner (memperbesar pendapatan). Sisanya tercermin dalam kenaikan tabungan. Pajak lump-sum tidak mempengaruhi faktor pengganda. kita melihat kaitan pajak dengan pendapatan. Sistem dengan Pajak Penghasilan. Dengan demikian. Persamaan (11) diperoleh dengan mengubah persamaan (10) ke dalam bentuk diferensial dan melakukan pemecahan untuk ΔT. yang tentunya berbeda dari dari pembelian pemerintah (G). Dalam tabel 10-1 terlihat. kenaikan pendapatan akibat turunnya pajak untuk setiap dollar lebih rumit dibanding kenaikan pendapatan akibat tambahan pengeluaran publik. dimana pendapatan menurun A ke E. Dengan demikian baik perubahan pajak maupun perubahan pengeluaran publik bisa digunakan untuk menyesuaikan tingkat pengeluaran yang tentunya juga mempengaruhi tingkat pendapatan serta kesempatan kerja. Persamaan tersebut menunjukkan konsumsi sebelum pengenaan pajak sekaligus dengan penurunan pendapatan disposabel karena adanya pajak.

Kenaikan berimbang dalam pelaksanaan anggaran mempunyai efek ekspansioner. Karena itu pengaruh pajak penghasilan dapat menghambat keefektifan dari kenaikan pengeluaran publik. tetapi hanya satu banding satu. Penambahan G sebesar $1 milyar hanya akan menaikkan Y sebesar $2. Karena itu bisa meniadakan seluruh efek ekspansioner yang ditimbulkan oleh kenaikan G. Dengan kata lain. sekiranya c=0. tarif pajak t=0. Dengan naiknya pendapatan.27 milyar. Kenaikan Anggaran Berimbang Setelah menyadari bahwa kenaikan pengeluaran adalah bersifat ekspansioner sementara kenaikan pajak bersifat restriktif (menurunkan pendapatan). Jadi. Efek pengganda yang melipatgandakan pendapatan tidak berlaku. Dasar-dasar Keuangan Publik .86 Gambar 10-4 Pengaruh Pajak Penghasilan Proses ini diperlihatkan pada persamaan (12) sampai (18) dari Tabel 10-1.8. sehingga memperkecil pendapatan disposabel C. Pengganda dalam anggaran berimbang sama dengan 1. Perhatikan bahwa cara memperhitungkan pajak ke dalam fungsi konsumsi pada persamaan (13) berbeda dengan cara memperhitungkan pajak lump-sum pada persamaan (9). naik pulalah penerimaan pajak.27. karena pengenaan pajak penghasilan dalam hal ini menurunkan kecenderungan marjinal untuk mengkonsumsi pendapatan sebelum pajak. Artinya tingkat penerimaan publik bertambah sebesar kenaikan pengeluaran publik. Kiranya hal ini cukup masuk akal karena T=tY.3 akan menurunkan pengganda dari 5 menjadi 2. hal ini memperkecil faktor pengganda. kita perlu mempertimbangkan perubahan anggaran berimbang seperti ΔG=ΔT.

cT) 1–c c*ΔT 1–c C+I a + c (1 .87 Tabel 10-1: Penentuan Pendapatan dan Faktor Pengganda Fiskal (Investasi = Konstan) Sistem tanpa sektor publik Y C Y = = = C+I a + cY (a + I) 1–c C+I+G a + cY (a + I + G) 1–c ΔG 1–c C+I a + c ( Y – T) (a + I . Pembangunan yang mengatasi pengangguran besarbesaran dan penggunaan modal yang sangat rendah tidaklah mampu untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Kenaikan pengeluaran agregat mungkin akan tercermin pada kenaikan harga dan bukan pada kenaikan output. Tetapi mungkin bukan demikian halnya.t)Y Y = a + I + G) 1 – c(1-t) ΔY = ΔG 1 – c(1-t) (15) (16) (17) (18) Jenis-Jenis lnflasi Sejauh ini kita mengasumsikan bahwa tingkat harga konstan sehingga dampak kebijakan angaran terhadap tingkat permintaan agregat tercermin pada perubahan output dan kesempatan kerja.t)Y (a + I) 1 – c(1-t) (1) (2) (3) Sistem dengan pembelian pemerintah Y = C = Y = ΔY Sistem dengan pajak lump-sum = (4) (5) (6) (7) Y C Y ΔY = = = = (8) (9) (10) (11) Sistem dengan pajak penghasilan Y C Y = = = (12) (13) (14) Sistem dengan pembelian pemerintah dan pajak penghasilan Y = C+I+G C = a + c (1 .

akan mendorong kenaikan harga dan selanjutnya mengakibatkan kenaikan upah. Inflasi yang Ditimbulkan Sektor Swasta Proses yang sama juga bisa terjadi jika pihak swasta mengakibatkan perubahan pemintaan. Selanjutnya kita mengasumsikan bahwa pemerintah menaikkan pengeluaran publik tanpa menaikkan pungutan pajak. jika disokong oleh perluasan permintaan. sehingga akan menimbulkan inflasi yang berkelanjutan. Kita akan memulainya dengan situasi ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh dengan anggaran yang berimbang. misalnya berupa kenaikan investasi atau pergeseran fungsi konsumsi ke arah atas. Di pihak lain. Pada kondisi perekonomian berada dalam kesempatan kerja penuh. Anggaplah perekonomian berada pada tingkat tanpa pengangguran sedangkan pengeluaran publik akan ditingkatkan tanpa menaikkan pajak. Permintaan agregat meningkat dan akibatnya terjadilah inflasi. dan dalam keadaan demikian kenaikan tingkat pengeluaran cenderung tercermin pada kenaikan harga. inflasi bisa juga timbul karena hal-hal lain di luar kebijakan stabilisasi. Karena itu diperlukan kebijakan fiskal yang cermat untuk menghindarkan inflasi sambil menanggulangi pengangguran. dengan kata lain pengeluaran tambahan tersebut dibiayai dengan anggaran yang defisit. dan diasumsikan bahwa konsumsi sama dengan pendapatan disposable. seperti kenaikan harga minyak. Kedua aspek ini akan kita pertimbangkan kemudian. Di sini kita melihat bahwa kebijakan yang salah bisa menjadi penyebab inflasi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dan sekali lagi pemerintah melalui instrumen kebijakan fiskal harus mengambil sikap apakah akan membiarkan atau menekan kenaikan harga-harga tersebut. lnflasi Akibat Permintaan (Demand . Mari kita ubah model tersebut ke dalam bentuk yang dinamis dan kita identifikasi periode pada saat mana pengeluaran dilakukan atau pendapatan diperoleh. Kenaikan biaya secara tiba-tiba ini. seluruh kenaikan pengeluaran menyebabkan penurunan nilai uang yang tercermin pada kenaikan harga. yaitu sektor anggaran pemerintah dan sektor swasta.88 menyediakan output yang dibutuhkan secara cepat. • lnflasi yang Diakibatkan Anggaran Pertama-tama mari kita bayangkan suatu keadaan di mana kebijakan anggaran bisa menjadi penyebab inflasi.Pull Inflation) Inflasi yang timbul karena meningkatnya pemintaan bisa disorot dari dua sektor. Untuk memahami bagaimana inflasi tersebut berlangsung kita bisa menyimak kembali model penentuan pendapatan yang paling sederhana di mana kita hanya memperhitungkan konsumsi dan pengeluaran publik. • lnflasi yang Diakibatkan Biaya (Cost-Push Inflation) Sekarang kita akan beralih pada suatu situasi di mana gejolak awal diakibatkan oleh kenaikan biaya secara tiba-tiba oleh faktor luar. Dalam keadaan demikian kebijakan stabilisasi diperlukan untuk mengatasi inflasi tersebut.

Meskipun demikian. Hasilnya. semua pelaku ekonomi akan mengharapkan harga untuk naik pada tingkat yang sama. yaitu bagi mereka yang sedang mencari kerja dan sedang pindah kerja. Sebagai reaksi. mereka berasumsi semua harga dan upah akan naik. Teorema tentang Ketidakefektitan Kebijakan Jika harga-harga dan upah secara menyeluruh bersifat fleksibel. tidak akan terpengaruh oleh kebijakan tersebut. Pemikiran ini didasarkan pada asumsi (1) bahwa perubahan kebijakan diantisipasikan dan (2) bahwa antisipasi tersebut mendorong dilakukannya penyesuaian sesegera mungkin tanpa adanya kesenjangan dalam sistem Dasar-dasar Keuangan Publik . perekonomian akan bergerak ke arah ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh. Harga dan upah akan bergerak bersama-sama sehingga nilai riil dari semua faktor pendapatan tidak berubah . sedangkan kebijakan yang bersifat acak belum tentu merupakan suatu tindakan yang tepat. Nilai riil dari biaya pekerja meningkat dan pada akhirnya terjadilah pengangguran. semua perubahan yang diharapkan langsung disesuaikan terhadap ekuilibrium dan sistem itu tidak mungkin berubah dari keadaan tersebut kecuali jika terjadi perubahan mendadak yang tidak diharapkan atau bersifat acak. misalnya dengan menaikkan jumlah pengeluaran publik untuk mendorong kenaikan harga. Pengangguran memang akan ada. Hal ini tidak efektif. Dalam perekonomian semacam itu. analisis makro sampai saat ini cenderung mengarah pada suatu konsensus tentang bagaimana kebijakan harus dilaksanakan dalam keadaan yang serba sulit tersebut. Kebijakan akan dapat mempengaruhi sistem dalam nilai riil hanya jika tindakan tersebut tidak dapat duga dan karena itu itu tidak diantisipasi oleh pelaku perekonomian. Anggaplah semua pelaku ekonomi memperlihatkan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan ekspansioner. Jika pemerintah mengumumkan tekadnya untuk menaikkan pengeluaran publik pada tingkat tertentu.sama halnya dengan ilustrasi terdahulu mengenai tingkat inflasi yang mengarah ke keadaan ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh. Dapatkah ini ditanggulangi dengan kebijakan yang ekspansioner? Jawabnya tergantung pada apa yang terjadi dengan pengharapan. termasuk tingkat kesempatan kerja. Anggaplah misalnya. Tetapi kebijakan yang dianggap layak cenderung merupakan hal yang dapat di pekirakan sebelumnya. Variabel-variabel riil lainnya dari sistem tersebut. nilai riil dari biaya pekerja tidak akan berubah. tetapi pada tingkat yang wajar. Di sini tidak diperlukan kebijakan tertentu untuk mempertahankan kesempatan kerja penuh. jumlah upah dinaikkan berkat desakan tertentu dari serikat pekerja sedangkan produsen belum mengantisipasi kenaikan biaya ini atau karena itu belum menaikkan harga.89 Pengharapan yang Rasional Banyak alasan mengapa pelaksanaan kebijakan stabilisasi merupakan tugas yang pelik. Perdebatan mengenai efektivitas kebijakan fiskal dibanding kebijakan moneter telah menumbuhkan pengakuan bahwa kedua alat tersebut bisa efektif dan harus dipadukan dalam proporsi yang tepat.

namun bisa efektif. Tentu saja antisipasi mengenai pembahasan kebijakan serta kredibilitas dari pengumuman mengenai kebijakan yang diambil akan mempercepat tercapainya hasil yang diharapkan kebijakan tersebut dan memperbesar keefektifannya. undang-undang pajak masa mendatang dan distribusi beban mereka tidaklah pasti. dan tambahan pembayaran bunga mungkin juga akan dibiayai dengan pinjaman lain.yaitu bahwa konsumen yang rasional. Efek crowding out terhadap investasi (dengan mengasumsikan jumlah uang yang beredar konstan) mengurangi efek ekspansioner dari pembiayaan dengan anggaran defisit. Dia akan menghitung nilai sekarang dari kenaikan pajak masa mendatang tersebut. bauran kebijakan yang semestinya. Kenaikan pengeluaran publik lebih ekspansioner jika dibiayai dengan pinjaman daripada dengan pajak. nilai dari hutang di masa mendatang mungkin juga menurun karena inflasi. jika dihadapkan pada penambahan anggaran yang dibiayai secara defisit. Pemberi pinjaman dan pembayar pajak bukanlah orang ymg sama. keseimbangan menurut Paham Ricardo ini (Ricardian Equivalence).90 perekonomian. Dasar-dasar Keuangan Publik . kebijakan stabilisasi. juga dilandasi oleh asumsi yang tidak realistik. Dalam dunia nyata. Karena itu. tidak perlu rasanya mempersoalkan metode mana yang dipilih. Pendekatan dengan pengharapan yang rasional mempertanyakan apakah memang demikian kenyataannya? Individu yang rasional. Pada pembahasan sebelumnya kita telah melihat bahwa kedua kebijakan itu berbeda. yang mengabadikan nama seorang ekonom klasik yang terkenal yaitu Bapak David Ricardo. Jika antisipasi itu tidak sempurna atau jika kesenjangan terjadi. akan bereaksi dengan cara yang sama tanpa memperdulikan apa pun metode pembiayaan yang dipilih. Tetapi. meskipun sukar. Karena itu teorema yang menyatakan ketidakmungkinan di atas akan tergantung pada validitas empiris dari asumsi (1) dan (2). pembiayan dengan pajak atau pinjaman mempunyai efek ekonomi yang seimbang . Keseimbangan Menurut Paham Ricardo Dalil kedua mengenai pengharapan yang rasional dilandaskan pada pilihan antara pembiayaan dengan pajak atau pembiayaan dengan pinjaman. Hampir tak bisa dibayangkan bahwa para konsumen akan mengantisipasikan konsekuensi masa mendatang dari pembiayaan dari pinjaman yang dilaksanakan saat ini. jika berada dalam posisi yang sama pada kedua kasus tersebut. tindakan ekspansioner bisa mendorong kenaikan pemintaan melebihi kenaikan biaya sehingga memperbesar kesempatan kerja. maka teorema ini tidak bisa dianggap sebagai suatu penilaian yang realistis atas keampuhan dari kebijakan. menyadari bahwa pada masa mendatang pajak pasti dinaikkan guna membayar beban bunga dan tambahan hutang. Karena itu. begitu juga halnya dengan. Lebih jauh lagi. Dampak penurunan bukanlah merupakan masalah. Nilai sekarang itu sama dengan jumlah yang harus dibayar sekarang jika kenaikan anggaran dibiayai dengan pajak. tetapi tetap lebih besar jika dibanding dengan pembiayaan melalui pajak. Karena ketidaksempumaan kita untuk memperkirakan masa mendatang dan dengan adanya keterpakuan dan ketidakluwesan. Pada kedua kasus tersebut terjadi pengurangan nilai bersih dalam jumlah yamg sama.

Sebagai contoh nyata. bukan tingkat tabungan yang tinggi seperti yang dihipotesiskan oleh pengharapan yang rasional.91 Semua faktor ini menunjukkan bahwa mustahil kiranya setiap orang akan memberikan reaksi yang sama bagi pembiayaan dengan pajak dan pembiayaan dengan pinjaman sehingga tidak ada pengenaan efek kebijakan terhadap tingkat permintaan agregat atau terhadap pembagian output di antara konsumsi dan investasi. Dasar-dasar Keuangan Publik . defisit besar-besaran pada tahun 1980-an di AS justru disertai oleh tingkat tabungan perorangan yang rendah.

tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab dan akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah. masih banyak persyaratan lain yang diperlukan.92 B A B XI PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN K euangan publik memainkan peranan penting dalam perekonomian negara. Sejumlah kesulitan yang mengganggu kemajuan ekonomi suatu negara harus dipecahkan oleh sektor publik. Dasar-dasar Keuangan Publik . tidak cukup hanya dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan. Besarnya Sektor publik dan Pendapatan per Kapita Sebagaimana telah di ulas pada bagian terdahulu mengenai perkembangan sektor publik di negara-negara maju. Namun di luar itu. Untuk mencapai pertumbuhan. sektor publik cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. Gambaran semacam itu yang terdapat baik pada negara berpendapatan tinggi maupun rendah. Pembentukan Modal Pembangunan Persyaratan fundamental untuk pembangunan ekonomi adalah tingkat pengadaan modal pembangunan yang seimbang dengan pertambahan penduduk. Unsur-Unsur Pembangunan Persyaratan yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi di negaranegara berpendapatan rendah termasuk dalam rangka kelanjutan pertumbuhan perekonomiannya sama halnya seperti persyaratan yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di negara yang relatif sudah maju. Karena itulah masalah-masalah pembiayaan pembangunan perlu dibicarakan secara khusus dan terpisah. Dalam hal ini. sektor publik memegang peranan penting terhadap semua unsur pembangunan ini. namun masalah kelembagaan dan sosial yang dihadapi oleh suatu negara dapat memperpelik dan membatasi tugas kewenangan dalam menetapkan kebijakan anggaran dan stabilisasi.

irigasi. Pada perekonomian yang dikendalikan secara terpusat di mana badan usaha milik negara memegang dominasi. tak bisa dipungkiri bahwa salah satu masalah besar adalah bagaimana mengalihkan sebagian konsumsi periode berjalan untuk digunakan sebagai sumber daya pembangunan. semua itu tentunya tidak akan mencukupi. Sampai pada tingkat tertentu. prioritas akan selalu berubah. Hal ini akan mencakup ketentuan mengenai peningkatan investasi domestik yang sebagian besar dibiayai dengan pajak. Selanjutnya. Lebih jauh lagi. demikian juga dengan bauran investasi yang optimum. sumber modal pembangunan semacam ini mempunyai keterbatasan tersendiri dan penyediaan lapangan kerja bagi para pengangguran mungkin akan memerlukan investasi pendukung tertentu. Terdapat berbagai cara penggunaan sumber daya untuk meningkatkan produktivitas. Bisa saja hal itu berupa investasi di sektor publik dan swasta. Pada tahap-tahap awal pembangunan. Para investor swasta dari luar negeri. dan walau bagaimanapun juga bantuan tersebut tidak akan diperoleh tanpa adanya usaha pendukung dari negara bersangkutan. khususnya investasi pemerintah dalam bentuk infrastruktur. sangatlah penting karena hal itu menjadi kerangka persiapan bagi investasi manufaktur pada tahap berikutnya. Akan tetapi. mobilisasi sumber daya yang terbengkalai pasti masih memungkinkan. Kemungkinan lain adalah dengan mengusahakan sumber daya investasi dari luar negeri dalam bentuk pinjaman dan bantuan pemerintah atau sebagai investasi swasta. pembentukan modal pembangunan meliputi investasi pada sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (training) seperti halnya investasi dalam bentuk fisik. dan bendungan. pengalihan ini dapat dilakukan dengan menahan sebagian hasil pengembalian (returns) yang dibayar kepada faktor produksi sehingga pembayaran lebih kecil Dasar-dasar Keuangan Publik . sebagaimana halnya dengan investor domestik. Jika sumber daya yang terbengkalai tidak bisa dimanfaatkan atau jika sumber daya tambahan tidak dapat diperoleh dari luar negeri. Lebih jauh lagi. Dalam kondisi seperti ini. maka konsumsi periode berjalan harus dikurangi agar sumber daya bagi investasi tersedia. Untuk sementara waktu kita akan mengabaikan perencanaan masalah investasi dan memusatkan perhatian pada dari mana kita akan memperoleh sumber daya tambahan untuk investasi tersebut. banyak negara berpendapatan rendah mempunyai sedemikian banyak tenaga kerja yang terbengkalai dan lapangan kerja bagi mereka bisa tersedia hanya dengan usaha pembangunan yang sangat sederhana seperti pembangunan drainase. jalan. memerlukan investasi yang memadai dalam bentuk infrastruktur dan bantuan pemerintah baru akan diberikan jika telah ada rencana pembangunan yang dirumuskan dengan baik.93 Pembentukan modal tersebut harus didefinisikan secara luas sehingga mencakup semua pengeluaran yang sifatnya menaikkan produktivitas. Misalnya. pemerintah hanya perlu berperan sebagai pengorganisasi bagi pemanfaatan sumber daya. entah itu oleh pemerintah (di negara-negara sosialis) atau oleh swasta (dalam perekonomian pasar bebas). Tetapi dilain pihak. dan perpaduan berbagai cara tersebut harus ditentukan dalam proses perencanaan pengeluaran dan sumber daya.

perpajakan akan sangat berperan untuk memberikan insentif bagi tabungan atau disinsentif bagi konsumsi barang-barang mewah. yaitu berkisar dari 8 sampai 18 persen. Usaha terakhir ini sangat penting bagi para penabung kecil karena bagi mereka umumnya tidak tersedia sarana penabungan perorangan selain daripada meminjamkannya dengan risiko tinggi atau dengan menukarnya dengan barang berharga seperti logam mulia. tidak mungkin akan cukup. Dalam hal ini. meskipun bermanfaat dan penting. Pada kenyataannya persentase sektor publik jauh lebih kecil pada negara-negara berpendapatan rendah sebagai suatu kelompok. Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi pada perekonomian yang didesentralisir. Rasio pada negara-negara di Asia dan Afrika dengan pendapatan per kapita yang serupa cenderung lebih tinggi. kenaikan tingkat tabungan bisa terjadi secara sukarela di sektor swasta. Di negara-negara Amerika Latin rasio umumnya adalah sekitar 14 persen. Di sinilah diperlukan suatu usaha pemerintah untuk menjaga stabilitas moneter sehingga kebiasaan menabung tidak diredupkan oleh inflasi yang tak berkesudahan. namun kelayakan tingkat pengenaan pajak itu sendiri merupakan faktor penting yang harus diperhitungkan dalam menentukan target pertumbuhan. Sementara rasio semacam itu di negara-negara maju adalah 40 persen atau lebih. dan di beberapa negara sampai 8 persen.94 dari hasil produk marjinal. tetapi hal itu tidak bisa dianggap sebagai variabel dependen di dalam sistem tersebut yang berubah secara otomatis sesuai dengan pengenaan pajak yang diperlukan. kebijakan perpajakan harus dipertimbangkan secara bersama-sama dengan aspek-aspek lain dari kebijakan pembangunan. Jika demikian. Dalam kondisi ini. Tabungan perusahaan juga dapat dirangsang melalui sistem penarikan pajak laba usaha yang mendorong ditahannya dan diinvestasikannya kembali laba usaha. Di samping itu pemerintah juga bisa berperan dalam penyediaan dan pembentukan lembaga keuangan yang cocok guna menarik tabungan rumah tangga dan menggunakannya secara produktif. pembentukan modal dari hasil internal pasti akan berasal dari tabungan pemerintah atau swasta. tetapi tidak terlihat adanya suatu hubungan yang mencolok di dalam kelompok tersebut. Kebijakan Struktur Perpajakan Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Walaupun merupakan suatu hal yang esensial untuk mengetahui berapa tingkat penerimaan pajak yang diperlukan guna menjamin tingkat pertumbuhan tertentu. khususnya pada tahap awal pembangunan. jika keadaan cukup mendukung. Tabungan swasta secara sukarela. tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP. Dalam kadar tertentu. bagaimana kita dapat menilai kemampuan membayar pajak dari suatu negara dan bagaimana kelancaran pembayaran pajak dapat diukur? Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa besarnya sektor publik di negaranegara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita. Rasio penerimaan pajak terhadap GNP di negara terbelakang cenderung sangat rendah. Pola yang sama juga akan kita jumpai sehubungan dengan rasio penerimaan pajak terhadap GNP.

dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. dengan cara-cara semacam ini pun tidak akan tercipta struktur perpajakan yang mapan dan adil. Dengan demikian lembaga itu mungkin akan menuntut agar pada negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi terdapat rasio penerimaan pajak yang tinggi guna menunjukkan keselarasannya dengan upaya perpajakan. Meskipun demikian. Penarikan pajak laba tidaklah layak sebelum praktek akuntansi mencapai standar minimal. demikian juga halnya dengan penetapan kuota pajak bagi para petugas pajak. Sekiranya dana pemerintah tidak dimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan hidup yang samasama mendasar (misalnya program kesehatan) maka penggunaan dana tersebut akan menimbulkan beban berat yang tidak sepatutnya. Tetapi asumsi ini tidak berlaku jika distribusi pendapatan sangat timpang yang mana akan mengakibatkan besarnya konsumsi barang-barang mewah. maka penilaian yang realistis atas upaya perpajakan (tax effort) harus memperhitungkan penanganan pajak (tax handles) yang tersedia untuk itu. seperti pangan. Keadaan ini sangat perlu diperhatikan sebagai sumber penerimaan yang potensial. Dengan demikian. sandang. Di pihak lain. dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. dan survai pertanahan belum memadai untuk menghasilkan penilaian yang semestinya. Terlepas dari tingkat dan distribusi pendapatan. pengelolaan pajak penghasilan akan jauh lebih sulit jika semua lapangan kerja terdapat pada perusahaan-perusahaan kecil. Karena alasan ini dan alasan-alasan lainnya. Pemberian jasa pungut pajak (tax farming). adanya penanganan pajak akan selalu berkaitan dengan struktur perekonomian suatu negara. pengenaan pajak sangat sederhana pada perekonomiam yang sangat terbuka di mana impor dan ekspor berlangsung melalui pelabuhan-pelabuhan utama dan terbuka bagi petugas fiskus.95 Mengapa upaya perpajakan (tax effort) di negara-negara berkembang sedemikian rendah. Pengenaan pajak tanah yang efektif sukar dilaksanakan jika hasil pangannya dikonsumsi sendiri. sektor pertanian belum terukur dengan nilai mata uang. semua pendapatan pribadi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. dan hal ini sulit tercapai jika perusahaan-perusahaan yang ada berukuran kecil dan tidak stabil. Pajak produk tidak bisa dikenakan pada tingkat pengecer jika perusahaan pengecer kecil dan tidak permanen. dan papan. Dengan demikian. yaitu sistem di mana kepada para pemungut pajak diberikan persentase tertentu sebagai insentif. hanya bisa diandalkan untuk sementara waktu saja. Pada tingkat pendapatan per kapita yang sangat rendah. Lembaga pemberi pinjaman internasional mungkin saja mensyaratkan agar bantuan yang diberikan dibarengi dengan upaya perpajakan yang sepadan dengan negara penerima bantuan. kelayakan pengenaan pajak tergantung juga pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Akhirnya. Negara berpendapatan rendah menghadapi keterbatasan dalam mentransfer sumber daya untuk digunakan pemerintah. dan benarkah rasio yang rendah itu pada kenyataannya menandakan upaya perpajakan yang rendah? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita mengartikan upaya perpajakan itu. ukuran komparatif atas upaya perpajakan dapat diperoleh dengan membandingkan rasio aktual dari penerimaam terhadap GNP pada suatu negara tertentu dengan rasio yang Dasar-dasar Keuangan Publik .

Peranan pajak upah juga makin penting dengan naiknya pendapatan per kapita. peranan pajak penghasilan pun makin meningkat relatif terhadap bea demikian juga terhadap pajak penjualan dan produksi domestik. pajak penghasilan usaha sering kali lebih mirip dengan pajak penjualan daripada dengan pajak laba sebagaimana kita temukan di negara-negara maju dan sebagainya. tetapi hal itu juga merupakan akibat dari upaya pengelolaan yang tidak aktif. dan kelompok perusahaan domestik besar yang jumlahnya sangat kecil. Penggunaan sistem pemungutan pajak oleh orang lain (witholding) bisa mempercepat pemungutan pajak dan hal itu sangat baik. Selain itu terdapat fenomena menarik yang menyatakan bahwa pajak yang sering diklasifikasikan sebagai pajak penghasilan di negara miskin sering kali jauh berbeda dari pajak penghasilan perorangan di negara maju. dengan melihat respon pada umumnya terhadap penanganan yang tersedia. Karyawan perusahaan kecil dan sebagian besar masyarakat yang mengelola usaha sendiri. Pajak Penghasilan Perorangan Pajak penghasilan perorangan tidak mungkin dan tidak dapat diharapkan untuk menduduki posisi sentral dalam struktur perpajakan pada Negara sedang berkembang dan begitu juga umumnya di negara-negara maju.96 seharusnya diperoleh. khususnya di sektor pertanian. Perbedaan juga akan timbul sebagai akibat tahap-tahap pembangunan ekonomi. Pengembangan Struktur Perpajakan Masalah perencanaan dan pengelolaan perpajakan akan berbeda-beda sesuai dengan struktur perekonomian suatu negara dan sikap masyarakat terhadap perpajakan. pajak penghasilan harus ditata dengan baik sejak dini dan ditingkatkan selama berlangsungnya pembangunan. perusahaan asing. dan pembayaran akhir sangat banyak yang terlambat. Pajak akan berperan besar terhadap perdagangan luar negeri (terutama bea) dan pajak atas produksi dan penjualan domestik untuk negara-negara berpendapatan rendah. dan sejumlah ciri struktur perpajakan yang lazim ditemukan dalam kaitannya dengan pendapatan per kapita dapat diamati. Kontribusi pajak penghasilan perorangan di negara-negara Amerika Latin lazimnya berkisar 20 persen dan karena itu merupakan bagian yang besar dari penerimaan pemerintah. Prinsip penghitungan pajak sendiri (self assessment) seperti diterapkan di Indonesia tidak berjalan lancar. pada umumnya masih di luar jangkauan pajak penghasilan. Di satu sisi hal ini akan mencerminkan tingkat pembebasan pajak yang ditetapkan relatif tinggi jika dikaitkan dengan pendapatan rata-rata. Pajak ini bersifat elastis terhadap pertumbuhan GNP dan karena itu bisa menjadi sumber penerimaan yang cukup besar untuk pembiayaan pembangunan. Meskipun demikian. tetapi penerapannya sangat terbatas pada jenis upah dan gaji tertentu saja sehingga lebih Dasar-dasar Keuangan Publik . Sejalan dengan itu. Penghitungan pajak oleh para petugas sering kali didasarkan pada negoisasi dan bukan ditetapkan secara objektif. Pemungutan pajak penghasilan atas modal bahkan lebih sukar lagi. Dengan naiknya pendapatan per kapita.

yang mana akan mengubah bentuk pajak laba menjadi Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi peredaran inflasi secara melekat melalui pajak penghasilan progresif akan melemah. misalnya telah dialami Cili dan Brasil selama bertahun-tahun. Tidak jarang negara-negara berkembang menghadapi inflasi puluhan bahkan ratusan persen per tahun. sangat penting bagi negara-negara berkembang di mana urbanisasi yang pesat akan menaikan nilai tanah sebagaimana dialami Amerika Serikat pada akhir abad sembilan belas sesuai dengan pengamatan Henry George dan juga terjadi di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya. Pajak Penghasilan Perusahaan Masalah yang pelik akan timbul dalam pengenaan pajak penghasilan perusahaan. dan hukuman yang lebih tinggi bagi pembayaran yang tertunda semuanya bermanfaat Namun semua itu tidak akan mencukupi kecuali jika badan pengadilan mendukung penuh penegakan peraturan perpajakan. pengaruh inflasi terhadap perpajakan dinetralisir. Bila akuntansi perusahaan belum begitu maju sehingga belum bisa mengukur laba dengan cukup akurat. pajak atas keuntungan modal bagi real estate. entah itu berupa pajak laba perseroan atau pajak persekutuan dan perusahaan perseorangan yang dikenakan menurut pajak penghasilan perorangan. sehingga hubungan antara tarif marjinal dan pendapatan riil dipertahankan konstan. Inilah prasyarat utama yang kerap kali sukar untuk dipenuhi oleh negara-negara berkembang dalam konteks budaya dan politik. Banyak negara menggunakan taksiran dan bukan pendekatan langsung guna menentukan laba. pengelolaan pajak penghasilan diperparah oleh masalah inflasi. komputerisasi dan penanganan terpusat atas surat pemberitahuan pajak. Akibatnya. Masalah keuntungan modal. badan perpajakan bisa menaikkan tingkat pembebasan dan kelompok tarif secara otomatis setiap tahunnya sejalan dengan naiknya harga-harga. Metode ini. diharuskannya perusahaan dan bank menyampaikan informasi tentang pembayaran bunga dan pembayaran deviden. yaitu bangunan dan tanah. pengurangan keterlambatan penafsiran. namun bisa dikatakan bahwa pendapatan kena pajak akan benar-benar dicapai bila peraturan perpajakan dijalankan secara ketat. yang digunakan secara luas di negara-negara Asia. penjatahan jumlah wajib pajak bagi setiap petugas (khususnya wajib pajak berpendapatan tinggi). terutama dalam kaitannya dengan tanah dan bangunan. dikelola sebagai suatu jenis pajak tersendiri. Hal itu. Guna menghadapinya. Caranya adalah dengan menaksir marjin laba atas penjualan di mana terdapat marjin yang beragam untuk berbagai industri. Lebih jauh lagi. Keterlambatan pembayaran pajak atas pendapatan modal merupakan keuntungan besar khususnya jika hukumannya tidak sebanding dengan suku bunga dan nilai hutang pajak tersebut semakin menurun akibat inflasi.97 mudah dilaksanakan. metode lain harus digunakan. Karena itu. Tidak ada satu obat mujarab untuk mengatasi kesulitan ini kecuali dengan menerapkan wajib pungut pajak. Meskipun tidak tersedia estimasi yang andal.

Dalam kenyataan. Lebih jauh lagi. Meskipun pajak semacam ini Dasar-dasar Keuangan Publik . penarikan pajak atas real estate dan pertokoan juga menjadi dasar pengenaan pajak yang penting. Dalam hal pertanian. sementara yang bandel diberi hukuman. ketiga dasar tersebut akan bisa saling dipertukarkan karena nilai tanah akan sama dengan nilai pendapatannya yang dikapitalisasi. atas pendapatan aktual. khususnya sehubungan dengan pendapatan profesional. atau atas pendapatan potensial yang bisa dihasilkan tanah tersebut jika dimanfaatkan secara penuh. Tanah sering kali tidak dimanfatkan secara penuh dan ditahan untuk tujuan spekulatif atau ditahan sesuai dengan adat istiadat setempat. Ini juga merupakan praktek yang bisa ditemukan pada tradisi perpajakan Eropa. misalnya. Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Disamping penerimaan dari tanah. Pajak penghasilan jarang diterapkan secara efektif ke sektor pertanian sehingga pendapatan dari tanah sering kali merupakan gabungan dari pajak penghasilan dan pajak atas tanah. Proses perbaikannya harus bertahap dan tidak bisa bergerak lebih cepat dari perbaikan metode akuntansi. luasnya lahan atau jumlah ternak bisa digunakan sebagai dasar taksiran. khususnya selama berlangsungnya urbanisasi. padahal hal terakhir ini tidak begitu penting bagi negara yang sedang berkembang. Dengan demikian. sedangkan di negaranegara Asia sistem hukum kebendaan yang sangat berbeda bisa diterapkan. yang meliputi tidak hanya penyewaan atas tanah tersebut tetapi juga peningkatan nilai atas tanah. tidak demikian halnya. Pasar atas tanah mungkin tidak tersedia dan nilai jualnya saat ini tidak bisa diperoleh. dan pendapatan aktual akan sama dengan pendapatan potensial. Di negara-negara Amerika Latin.98 semacam pajak penjualan. bentuk hukum dari badan-badan usaha sering kali berbeda. Para pembaharu pajak sering menyepelekan perbaikan teknik penaksiran pajak terhadap perbaikan teknis dalam pemajakan perseroan. Ada baiknya jika hal tersebut di atas dikenakan pajak progresif atas tempat hunian. Hal ini terjadi karena kewajiban pajak menjadi fungsi dari penjualan dan marjin tersebut merupakan taksiran dan bukan aktual. yang mengabungkan pajak atas sejumlah rumah dalam satu dasar pengenaan pajak guna melengkapi sistem penarikan pajak komoditas atas konsumsi barang-barang mewah di samping terhadap perumahan. Serentak dengan itu. laba taksiran didasarkan pada patokan tertentu seperti luasnya lantai atau ruang kerja dan lokasi pada wilayah perkotaan. hukum Eropa daratan lebih berperan daripada tradisi common law (hukum Inggris). pajak kekayaan atas harta benda bersih jarang ditemukan dalam struktur perpajakan di Negara sedang berkembang. Dalam keadaan lain. Pajak Tanah Satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas tanah adalah apakah pajak tersebut harus dikenakan atas nilai tanah. Dalam sistem persaingan sempurna. Di luar semua ini. ketiga dasar tersebut akan memberikan nilai yang sangat berbeda. pembayar pajak yang setia perlu diberi penghargaan. dan praktek yang cocok bagi suatu negara seperti Amerika Serikat mungkin tidak dapat diterapkan di Negara sedang berkembang dengan mengingat tradisi dan tingkat pembangunannya saat ini.

tergantung mana yang paling jitu dalam keadaan tertentu. Jadi bukan merupakan kehilangan total seperti pada pajak penjualan eceran. Di pihak lain. Dengan demikian. Dalam situasi di mana. Disamping itu pendekatan keadilan menuntut agar pendekatan ini dipadukan dengan penarikan pajak atas pendapatan modal dengan tarif progresif. karena berbagai alasan. Insentif Perpajakan Tujuan pemerintah yang berupa pertumbuhan ekonomi dan pemerataan paling bisa dicapai dengan berpedoman pada pajak kosumsi progresif. pengenaan pajak produk dengan tarif yang berbedabeda cenderung lebih sukar jika diterapkan dengan pendekatan nilai tambah. Dengan pajak yang dikenakan secara berjenjang seperti halnya pajak pertambahan nilai. Aspek kebijakan bea masuk lainnya yang perlu ditinjau secara kritis adalah praktek pembebasan cukai atas barang modal yang digunakan di dalam negeri. Jika suatu produk dengan nilai kena pajak yang sangat besar dihasilkan pada perusahaan yang relatif besar. praktek ini akan memperburuk distorsi harga. Pajak dan Bea atas Komoditas Pengenaan pajak komoditas harus ditentukan berdasarkan kelayakan administratif sehingga tergantung pada struktur perekonomian negara tertentu. penerimaan pemerintah yang hilang tidak akan besar meskipun tingkat pengecer tidak terjangkau. sering kali mengenakan bea impor yang lebih tinggi atas barang mewah. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitannya dengan pengenaan bea cukai atas produk domestik. bea masuk sering menjadi pelindung bagi produk barang mewah pengganti di dalam negeri. Pendekatan terbaik mungkin adalah dengan menggunakan tarif yang cukup seragam sambil tetap memasukkan unsur bea impor barang mewah di dalam sistem pengenaan cukai domestik. Kombinasi dari berbagai metode bisa diterapkan. Penggunaan metode faktur mungkin akan membuat para wajib pajak lebih taat. Karena ingin membebani konsumsi barang mewah dengan lebih berat. Jika pemerintah ingin menggunakan bea masuk sebagai proteksi atas industri itu harus dipilih sesuai dengan potensi pembangunan sehingga pengembangan itu bukan merupakan akibat sampingan dari pengenaan pajak barang mewah. Jika hal ini terjadi akan merupakan kebijakan yang buruk. maka pengenaan cukai atas produsen akan merupakan pendekatan yang paling sederhana dan gamblang.99 pada akhirnya akan lebih kecil dari pada pajak bumi dan bangunan. namun jenis pajak ini penting guna melengkapi pajak penghasilan. Kebijakan perpajakan harus memperhatikan bahwa kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi Dasar-dasar Keuangan Publik . Cukai domestik juga perlu untuk dikoordinasikan dengan bea impor. biaya modal cenderung dinilai terlalu rendah. Karena adanya kemungkinan timbulnya konflik antara pajak penghasilan progresif dengan insentif untuk inventasi maka tidak mengherankan bahwa telah diupayakan berbagai cara untuk meminimumkan pengaruh masalah justifikasi sampai dimana pemerataan dan pertumbuhan didahulukan terhadap satu sama lain. karena banyaknya harta tak berwujud yang tidak termasuk dalam dasar pengenaan pajak.

atau dibatasi pada industri atau wilayah tertentu. bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. sehingga banyak pengamat sampai sampai terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. Insentif bisa dirancang untuk menggalakkan ekspor dan memperkuat neraca pembayaran. tidaklah bijaksana jika pemerintah mengadakan komitmen jangka panjang untuk mensubsidi pajak. dan karena ini tidak bisa dielakkan. Dengan alasan alasan ini insentif pajak bagi investasi pada umumnya merupakan pemborosan dan tidak adil. Insentif Domestik Dalam menangani masalah insentif. Daftar Skala Prioritas Meskipun keefektifan investasi umum di ragukan. beberapa kelonggaran bagi pertumbuhan mungkin layak asalkan hal itu dilaksanakan dengan cara terbaik. Tentu saja masalahnya adalah bagaimana mencapai suatu jumlah tabungan tertentu tanpa mengurangi tabungan di sektor lain. teristimewa jika diperkirakan bahwa subsidi semacam itu tidak akan di perlukan di masa mendatang. Apapun masalahnya. maka sebaiknya insentif dirancang seefisien mungkin. Selain itu di beberapa negara sering kali diberikan pembebasan pajak (tax holiday) untuk jangka waktu tertentu misalnya selama lima atau tujuh tahun.100 tidak akan memperparah pemerataan. masalah ini bisa diatasi dengan pendekatan kredit investasi atau bantuan investasi. namun insentif yang dibatasi pada sektor atau industri tertentu kiranya bisa lebih efektif dalam mengalokasikan modal data ekspor industri tersebut. penolakan total tidak bisa diterima. Masalah utama di sini adalah bagaimana memilih industri yang akan diberi perlakuan istimewa tersebut. Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan. insentif investasi umum tidak bisa efektif guna menaikkan tingkat investasi menyeluruh kecuali jika peningkatan tabungan juga mendapat perhatian. Namun meskipun demikian. Metode ini merupakan insentif bagi investasi yang memberikan laba yang tinggi pada tahap awal dan hal ini bertentangan dengan kebutuhan akan investasi yang stabil dan bersifat jangka panjang. Insentif Umum Intensif investasi umum bisa berupa kredit pajak atas investasi atau penyusutan yang dipercepat seperti lazim digunakan dinegara-negara maju. Dapat diduga Dasar-dasar Keuangan Publik . Tekanan politik agar diberikan insentif pajak akan tetap ada. Ini bisa tercapai dengan mendorong perusahaan untuk menahan laba atau dengan memberikan kredit pajak bagi tabungan atas pendapatan perorangan. dimana selama jangka waktu itu pajak atas laba di bebaskan. Lebih jauh lagi. ada baiknya kita membedakan antara insentif domestik dan masalah insentif yang berkaitan dengan modal asing. Bagi perusahaan lama yang mengadakan investasi lama dan baru. Lebih jauh lagi. Insentif domestik bisa dikaitkan dengan investasi pada umumnya.

Cara-cara semacam itu mungkin akan tepat dalam kaitannya dengan insentif regional di mana tujuannya adalah untuk menaikkan tingkat pendapatan di daerah terbelakang. Hal itu juga mungkin tepat untuk menanggulangi Dasar-dasar Keuangan Publik . Jawabannya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. kebijakan pajak bisa mempengaruhi keputusan lokasi investasi. insentif khusus bisa diberikan demi pembangunan daerah tersebut. dan dalam kesempatan lain lagi kita akan melihat bahwa insentif diberikan untuk mempertahankan pasar bagi perusahaan negara. Untuk tujuan terakhir ini. namun penerapannya secara efisien sukar untuk dilaksanakan. apakah itu untuk tenaga kerja atau modal dan umumnya diharapkan agar kebijakan pajak bersifat netral. Biaya buruh yang tinggi umumnya disebabkan oleh peraturan upah minimum dan berbagai tuntutan serikat pekerja. subsidi upah bisa diberikan entah secara langsung atau tidak melalui kredit atas daftar upah yang pada prinsipnya mirip dengan kredit investasi. yang seharusnya tidak mendapat prioritas utama. Tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembangunan mengandung dampak eksternal (external economies) yang tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan investasi swasta. Sedangkan dipihak lain. Seperti telah kita ketengahkan sebelumya. yaitu apakah peningkatan produksi atau nilai tambah didaerah tersebut.101 bahwa industri yang akan dipilih adalah industri yang memainkan peranan strategis dalam pembangunan dan yang tidak akan berkembang jika tidak mendapat bantuan khusus. Meskipun pada prinsipnya insentif yang selektif itu baik. atau mungkin juga tenaga kerja ingin dipertahankan di suatu daerah tertentu karena terlalu banyaknya perpindahan penduduk ke kota atau karena alasan non ekonomis yang menghendaki pemerataan tingkat pembangunan daerah. Insentif Regional Insentif selektif lainnya dapat kita temukan dalam kebijakan regional. pembebasan bea masuk. pemilihan industri tertentu selalu di barengi dengan teknan politik dari kelompok tertentu. biaya modal yang rendah disebabkan oleh kurs valuta yang menguntungkan. Masalahnya adalah apakah insentif itu lebih baik diberikan dengan mensubsidi investasi atau mensubsidi perusahaan pekerja di wilayah bersangkutan. dan pasar modal yang tidak sempurna bisa mengacaukan investasi meskipun tanpa eksternalitas. khususnya jika terdapat banyak penganggur atau penganggur tak kentara di sektor pertanian yang dapat di tarik kesektor industri apabila biaya upah berkurang. seperti pabrik baja. atau apakah peningkatan upah atau standar hidup masyarakatnya. Guna mengembalikannya ke keseimbangan semula. subsidi upah akan lebih efektif. Insentif Bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Penggunaan bentuk investasi yang insentif modal didorong oleh distorsi harga yang menyebabkan biaya buruh terlalu tinggi dan biaya modal menjadi rendah. Karena itu. dan pengenaan pajak atas laba yang tidak efektif. Seiring daftar skala prioritas sedemikian luas sehingga hampir tidak ada yang patut di pilih. Tenaga kerja mungkin tidak bisa berpindah secara luwes. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal itu sangat sukar untuk dilaksankan. Bisa juga pajak atas laba diperingan dengan syarat peralatan yang digunakan harus padat tenaga kerja. Karena itu investasi semacam itu perlu dikoreksi. Namun keadaan negara negara berkembang bisa menuntut lain.

maka penarikan pajak atas laba secara umum bagi investasi domestik harus dipertimbangkan. insentif pajak harus dikaitkan dengan nilai tambah domestik sebagai akibat adanya modal asing. negara asal modal akan memberikan kredit atas laba yang direpatriasi sebesar pajak yang dikenakan di negara tujuan meskipun tidak ada pajak yang dibayar menurut kesepakatan insentif tersebut. Karena itu. tetapi keringanan pajak yang diberikan kepada investor asing akan mengurangi jatah keseluruhan negara atas laba yang dihasilkan modal asing tersebut. Jika negara sumber modal tersebut menarik pajak penghasilan yang diperoleh dari luar negeri dengan tarifnya sendiri sambil tetap memberikan kredit pajak luar negeri.102 pengangguran akibat berjubelnya perpindahan penduduk ke kota. dan karena tekanan politik akan menuntut agar insentif tersebut diberlakukan secara umum bagi investasi domestik. Akan tetapi. Insentif bagi Modal Asing Dari sudut pandang nasional. cukup beralasan untuk mempertahankan penundaan atas investasi di suatu negara yang sedang berkembang dan meniadakannya untuk investasi di negara maju. penundaan pajak akan menjadi sangat penting. Perancangan insentif mungkin akan bisa mengarahkan investasi tersebut pada sektor yang menguntungkan negara bersangkutan. suatu negara membutuhkan kerja sama dari negara asal investor asing agar insentif yang efektif bisa diberikan. Hal itu tidak hanya berfungsi sebagai penarik modal ke suatu negara yang menawarkan insentif pajak tetapi juga mendorong terlaksananya reinvestasi di negara tersebut. Tidak ada manfaatnya bagi suatu negara untuk menerima modal asing lengkap dengan sumber dayanya dan hanya meminjam lokasi pada negara tersebut. dan menghambat investasi yang hanya ingin mengeruk keuntungan sesaat. Dalam hal ini. Insentif bagi modal domestik hanyalah melibatkan transfer dari pemerintah ke investor. Dengan pendekatan ini. Persoalan terakhir yang timbul dalam kaitannya dengan persaingan di antara negara sedang berkembang untuk memperebutkan modal asing adalah jika Dasar-dasar Keuangan Publik . peranan insentif pajak bagi modal asing berbeda dari insentif pajak bagi modal domestik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa insentif tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga mendorong dilakukannya reinvestasi dan operasi permanen. Cara lain untuk mendorong investasi yang padat kerja adalah dengan memberikan insentif pajak bagi pekerjaan gilir kerja (shift) malam. Keuntungan tersebut adalah berupa kenaikan penghasilan faktor-faktor produksi domestik akibat adanya modal asing. Apapun masalahnya. Cara lain untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama (tax-sparing arrangement). kerugian ini harus dikompensasi oleh keuntungan yang diperoleh akibat pelipatgandaan modal tersebut agar insentif pajak tersebut bisa diterima. Karena itu. Karena itu. maka pajak yang lebih rendah di negara tersebut hanya akan menjadi transfer ke negara lain tanpa adanya manfaat bagi investor yang mengirimkan labanya ke negara asalnya. pendekatan ini tidak menggairahkan reinvestasi.

Kebijakan Pengeluaran Peranan kebijakan pengeluaran dalam pembangunan ekonomi kurang disorot bila dibandingkan dengan kebijakan perpajakan. Hanya nilai tambah domestiklah yang menambah hasil perdagangan luar negeri bagi suatu negara. banyak pengeluaran untuk pendidikan juga mencerminkan tingginya biaya pendidikan di negara-negara ini. insentif semacam itu tidak harus dikaitkan dengan total penjualan di luar negeri atau laba yang dihasilkannya. Dalam kadar tertentu.103 suatu negara mengalahkan yang lain dengan menawarkan insentif yang lebih besar. Hal ini juga dilandasi oleh kenyataan bahwa tipe investasi yang diperlukan pada tahaptahap awal pembangunan sering kali memerlukan jumlah besar seperti untuk pembangunan sistem transportasi atau pembukaan suatu daerah yang terbelakang. Negara–negara berkembang bisa dihantui oleh pemborosan sumber daya. Jadi manfaat dari proyek transportasi atau irigasi dapat di nilai berdasarkan penurunan biaya produk yang di timbulkannya dipasar. Insentif Ekspor Insentif pajak untuk ekspor merupakan kebijakan umum guna membantu pengembangan pasar luar negeri dan memperkuat neraca pembayaran. pengunaan analsis biaya-manfaat sangat penting. seperti lazimnya kita hadapi. investasi semacam ini menghasilkan manfaat eksternal sehingga penyediannya sebaiknya dilakukan oleh pemerintah. namun evaluasi proyek yang efisien merupakan suatu tugas yang sukar. Lebih jauh lagi. Suatu ukuran yang tidak bisa diperoleh jika pengeluaran publik digunakan untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . maka negara sedang berkembang sebagai suatu kelompok akan dirugikan. Di satu pihak analisis biaya–manfaaat akan lebih mudah diterapkan di negara berkembang dari pada negara maju. Untuk mengatasi hal semacam itu diperlukan semacam kerja sama antar negara sedang berkembang. Negara-negara berpendapatan rendah menghabiskan banyak pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan sementara tunjangan sosial kurang diperhatikan. dan data pembanding lebih sukar diperoleh. tetapi dengan nilai tambah domestik. Salah satu peran utama pasar bersama antar negara sedang berkembang adalah untuk menghindarkan hal semacam itu. karena investasi pemerintah lazimnya dimaksudkan untuk penyediaan barang–barang antara yang nilainya bisa diukur dengan melihat pengaruhnya terhadap harga–harga barang yang disediakan oleh swasta. Peranan strategis dari investasi pemerintah dalam pembangunan ekonomi sebagian dilandasi oleh belum berkembangnya pasar modal swasta dan sebagian karena kurangnya bakat entrepreneurial (kewiraswastaan) masyarakat. Pengeksporan kembali atas barang yang diimpor atau barang dalam transito tidak memberikan nilai tambah domestik. Besarnya tunjangan sosial di negara-negara kaya mencerminkan sistem jaminan sosial yang lebih baik. Agar efektif. Dalam konteks ini. Karena itu tidak mengherankan jika pengembangan investasi pemerintah memainkan fungsi utama dalam perancangan rencana pembangunan di negara sedang berkembang.

Investasi dalam sumber daya manusia perlu mendapat perhatian khusus dalam konteks pembangunan. Dengan memperhitungkan adanya manfaat eksternal tarif sosial tersebut harus di tetapkan lebih rendah dari pada tarif yang berlaku sehingga menunjukkan tingkat diskonto yang lebih tinggi bagi penyediaan modal dan lebih mendukung pengadaan proyek–proyek jangka panjang. Program pendidikan penting bukan hanya dalam kaitannya dengan kebijakan pertumbuhan tetapi juga dengan pendistribusian hasil-hasil pembangunan diantara lapisan masyarakat dan keberbagai sektor perekonomian. Karena harga pasar mungkin tidak mencerminkan biaya sosial yang benar–benar terjadi. Di sisi lain. Yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa investasi bagi pendidikan dirancang guna menghasilkan pekerja terampil sesuai dengan kebutuhan negara bersangkutan. pemerintah mungkin akan merasa lebih praktis untuk menentukan tingkat konsumsi minimum yang secara politis dapat di terima untuk lima atau sepuluh tahun mendatang dan kemudian menghitung tingkat diskonto dari konsumsi minimum tersebut. Jika modal dinilai terlalu rendah sementara tenaga kerja dinilai terlalu tinggi penggunaan harga pasar akan menimbulkan distorsi yang mengarah kepada teknologi yang sangat padat modal sebagaimana telah kita simak sebelumnya. tetapi pemerintah harus memperhitungkannya. akan kita jumpai bahwa biaya konsumsi sangat tinggi pada tingkat pendapatan yang rendah. Faktor lain yang juga penting adalah penentuan tarif/tingkat diskonto yang semestinya karena pasar modal swasta yang belum berkembang sepenuhnya. Sekali lagi. Jika kita melihat dari sisi yang berlawanan. Tetapi di sini sebagaimana halnya dalam penentuan tingkat diskonto lainnya. Tetapi di pihak lain. Bantuan Internasional dan Redistribusi Pertimbangan kemanusiaan atau politis yang menyangkut distribusi pendapatan di suatu negara tidak bisa dibatasi hanya pada lingkup negara itu saja. pelaksanaan evaluasinya di negara sedang berkembang lebih sulit. jumlah biaya lebih sulit untuk di tentukan. maka untuk itu harus di gunakan harga bayangan (shadow price). Sejumlah studi telah memperlihatkan betapa besarnya manfaat investasi di bidang pendidikan bagi negara–negara berkembang. Di suatu sisi. Dalam konteks pembangunan lazimnya. Dasar-dasar Keuangan Publik . taksiran yang lebih kasar mungkin akan di gunakan. manfaat langsung yang tersedia akan di sertai dengan manfaat tidak langsung atau manfaat eksternal yang lebih sukar untuk diperkirakan. Kesulitan–kesulitan itu akan makin rumit dalam konteks pembangunan yang dinamis dimana hargaharga relatif yang berlaku pada saat proyek dimulai mungkin akan sangat berbeda dari harga–harga yang berlaku setelah proyek berfungsi. kemungkinan ini menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dan evaluasi atas setiap proyek dalam konteks rencana pembangunan yang menyeluruh. utilitas marjinal dari konsumsi itu akan lebih kecil karena pendapatan sudah lebih tinggi.104 menghasilkan barang jadi untuk konsumsi. namun di masa mendatang setelah keuntungan dari penundaan konsumsi itu diperoleh. maka penggunaan tarif sosial kiranya tidak bisa dielakkan. Kenyataan ini cenderung diabaikan dalam pengambilan keputusan tabungan perorangan.

harus ditelaah dengan seksama. Ketimpangan distribusi pendapatan di antara masyarakat dunia merupakan masalah yang sangat pelik. Tidak ada gunanya jika redistribusi ke negara berpenghasilan rendah pada akhirnya hanya akan menambah kekayaan segelintir masyarakat kaya di negara tersebut. tetapi jika keduanya tidak tumpang tindih. sehingga mirip dengan pajak penghasilan negatif yang diterapkan pada redistribusi domestik. Upaya itu bisa dilaksanakan dalam bentuk bantuan internasional yang di rancang untuk menaikkan tingkat pertumbuhan negara-negara berkembang. Dalam kondisi ini. masalah mendasar adalah redistribusi di antara anggota masyarakat. Masalah Besarnya Transfer Dalam menangani distribusi pada taraf internasional. kesenjangan lebih besar dan masalah organisasi lebih pelik karena tidak ada pemerintah pusat yang harus menanganinya dan upaya mengatasi ketimpangan tersebut harus melalui transfer antar negara. maka rasio tersebut berubah menjadi 2 dan 70 persen. Tetapi meskipun hal itu penting. Bantuan Pembangunan Dari penjelasan terdahulu terlihat dengan jelas bahwa kebijakan redistribusi tidaklah sederhana dan pengaruhnya pertumbuhan ekonomi. Meskipun pendekatan ini tidak bisa diharapkan dalam waktu dekat. maka akan lebih mengena lagi pada tingkat internasional di mana skala Dasar-dasar Keuangan Publik . khususnya di negara maju.105 Kelihatannya aspek–aspek dari distribusi internasional akan menjadi unsur yang makin penting dalam politik dunia masa mendatang. Atau mungkin juga pada suatu saat hal itu dilaksanakan berupa redistribusi dari tingkat pendapatan dunia pada saat itu. Pendekatan ini telah dilaksanakan secara cukup besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir. Ketimpangan di dalam negeri diperparah dengan ketimpangan pendapatan rata-rata di antara berbagai negara. Dalam kadar tertentu kedua masalah itu bertumpang tindih karena kebanyakan masyarakat miskin pada kenyataannya merupakan penduduk dari negara berpendapatan rendah. mustahil kiranya untuk meratakan ketimpangan ini. Jadi. masalah distribusi di tingkat internasional lebih sukar untuk di tangani dari pada lingkup suatu negara. atau juga ketimpangan distribusi diantara masyarakat seluruh dunia tanpa memandang batas negara. Jika ketimpangan di dalam negara-negara masih diperhitungkan lagi. sehingga situasi tersebut akan semakin parah seperti halnya distribusi pendapatan domestik. Di tingkat internasional. lebih masuk akal bahwa pendapatan per kapita di negara maju akan naik lebih cepat ketimbang di negara miskin. Jika seseorang di suatu negara memperoleh pendapatan sebesar rata-rata di antara berbagai negara tersebut. namun mungkin saja pada suatu saat nanti hal itu akan menjadi suatu pemikiran pokok. maka bisa diperkirakan bahwa 40 persen termiskin dari penduduk dunia menerima 3 persen dari pendapatan seluruh dunia. sementara 20 persen terkaya menerima 60 persen. Jika sudut pandang ini mengena pada redistribusi yang bersifat nasional. Lebih jauh lagi. Tingkat ketimpangan ini jauh lebih besar daripada ketimpangan di suatu negara. yang menjadi persoalan mungkin adalah perbedaan pendapatan rata-rata di negara-negara. sekali lagi masalahnya mirip dengan masalah antara negara bagian di suatu negara berserikat.

Juga dipermasalahkan bahwa masuknya tenaga manajemen asing yang menyertai masuknya modal asing. Dasar-dasar Keuangan Publik . di samping menambah keahlian juga menghambat pengembangan kewiraswastaan domestik dan menciptakan ketergantungan politis. Tak ada manfaatnya jika kontribusi negara-negara maju terlalu dipaksakan sehingga kemampuan ekonominya untuk mempertahankan kesinambungan bantuan menjadi terganggu. Akan tetapi. Para pemasok modal dari negara kaya tetap mendapat keuntungan karena memperoleh hasil pengembalian yang lebih besar dari investasinya di negara-negara miskin. output dunia akan meningkat karena modal akan dimanfaatkan secara efisien di negara di mana keuntungan modal pekerja sangat rendah. perbaikan distribusi pendapatan dunia dapat dicapai meskipun dengan memperbesar ketimpangan (kendatipun hanya dalam taraf yang lebih kecil) di negara maju. Perbaikan besar atas kemelaratan masyarakat hanya dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas pekerja-pekerja di negara miskin. kebijakan-kebijakan semacam ini tidak menjamin bahwa negara-negara berkembang akan mampu secara independen untuk mempertahankan pertumbuhan yang telah mereka capai. pekerja di negara maju juga dirugikan karena mereka kurang leluasa untuk berpindah jika dibandingkan dengan faktor modal. akan terjadi redistribusi pendapatan dari pekerja negara kaya (yang akan beroperasi dengan modal yang cukup besar) kepada pekerja di negara miskin yang produktivitasnya akan meningkat bersamaan dengan naiknya keuntungan modal pekerja.106 penyesuaian potensial yang harus dicapai melalui distribusi sangat besar. Salah satu upaya penting untuk ini adalah dengan menata kembali aliran modal dari negara kaya ke negara miskin dengan penerapan itu. Karena itu sindrome orang kaya baru akan tetap menggejala dan hal ini merupakan hambatan. baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. Dalam hal ini. Kontribusi penting kedua bagi pembangunan ekonomi adalah dengan membuka pasar negara-negara maju lebih lebar bagi ekspor negara-negara berkembang. Tetapi di pihak lain sebagai konsumen mereka akan diuntungkan karena harga barang-barang impor menjadi turun. Ini bisa dilakukan dengan memberikan preferensi dan penghapusan pembatasan perdagangan. Akan tetapi. Dengan demikian.

prakiraan pertumbuhan ini. Namun dengan menaikkan tingkat pembayaran bunga dan anggaran cenderung mengganggu program publik lainnya. menimbulkan beban karena perpajakan diperlukan untuk membiayai pembayaran bunga dan mengakibatkan timbulnya deadweight loss. Bank komersial. tetapi ini bukan faktor utama karena faktanya adalah bahwa sebagian besar hutang pemerintah jatuh tempo dalam jangka sangat pendek. Kritik-kritik terhadap pembiayaan defisit tidak hanya ditujukan pada pengaruh inflasionernya. perusahaan asuransi dan lembaga tabungan merupakan penanam utama hutang pemerintah. khususnya dalam keadaan meningkatnya defisit dewasa ini. surat berharga yang jatuh tempo. Sesuai dengan sifat hutang publik. Sepertiga dari hutang yang beredar jatuh tempo kurang dari satu tahun. bukan dilunasi. Struktur Hutang pemerintah Setelah menelaah pertumbuhan dan struktur hutang pemerintah. Kegiatan hutang pemerintah meliputi peminjaman dari instansi dalam bentuk kredit hipotik. P Pertumbuhan hutang pemerintah harus dilihat dalam kaitannya dengan GNP. kita beralih pada implikasi ekonomi dari hutang yang beredar.107 B A B XII HUTANG PUBLIK Pertumbuhan Hutang Pemerintah ertumbuhan hutang pemerintah dan implikasinya terhadap perekononian sejak lama menjadi isu perdebatan yang hangat. didanakan kembali. Namun demikian. Inflasi dapat berlaku sebagai bentuk penyangkalan hutang yang tersembunyi. Pertumbuhan hutang publik sudah lama menjadi isu yang hangat dalam perdebatan mengenai kebijakan fiskal. Lebih dari 70 persen hutang pemerintah berbentuk surat berharga yang mudah dipasarkan. Tetapi meningkatnya rasio pembayaran bunga terhadap GNP. bahkan dengan asumsi yang paling pesimistik. Dasar-dasar Keuangan Publik . Kekhawatiran bahwa hutang yang beredar tidak dapat dibayar kembali pada saat jatuh tempo tidak beralasan. akan bersifat moderat dan tidak eksplosif. tetapi juga terhadap konsekuensi akumulasi hutang di masa depan dan bebannya terhadap gcnerasi mendatang.

dimana lebih seperti arus sepanjang tahun. tingkat bunga adalah berbeda antara dua jenis dasar hutang pemerintah: obligasi umum pemerintah dan obligasi penerimaan. cadangannya. Pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan modal mengalokasikan biaya perolehan tanah. Tetapi yang menjadi masalah adalah hutang publik yang memegang sebagai bagian dari struktur likuiditas ekonomi. dan semua hal yang terkait dengan kemampuan untuk membayarnya.108 Tujuan Hutang Pemerintah Tiga tujuan utama Pemerintah pusat dan daerah berhutang adalah: Pembiayaan modal. bangunan dan fasilitas-fasilitas selama masa ekonomis proyek permodalan. Permodalan sektor publik paling sering diperoleh melalui bursa dengan penerbitan obligasi. Beberapa jenis obligasi pemerintah: (Holley Ulbrich) 1. Obligasi Umum (General Obligation Bonds) Dijamin penuh oleh pemerintah yang menerbitkan 2. Komposisi Hutang Berdasarkan Jenis Penerbitnya. Rating ini dibuat berdasarkan pada catatan kinerja pelunasan hutang masa lalu. dan hanya hutang publik yang ditanam swasta yang menimbulkan masalah bagi manajemen. apakah hutang itu ditanam oleh lembaga masyarakat atau pun oleh instansi pemerintah. Pinjaman juga mendistribusikan beban pembayaran kepada para wajib pajak secara lebih adil daripada meletakkan semua beban pada mereka yang hidup pada saat fasilitas diperoleh atau dibangun. praktek kebijakan fiskal. kebutuhan jangka pendek. 3. tidak menjadi masalah. Municipal Bond Obligasi yang bunganya dibebaskan dari pajak dari institusi penerbitnya. pinjaman jangka pendek sering dimanfaatkan untuk mengkoreksi pendapatan. Pinjaman darurat digunakan untuk menanggulangi bencana alam dan kontijensi yang tidak terprediksikan sebelumnya. Pada tingkat lokal. dan kepentingan darurat. Sebagai tambahan. Tetapi pertimbangan utama adalah evaluasi dari penyedia jasa rating obligasi yang menilai potensi pemerintah untuk membayar pokok dan bunganya pada tanggal jatuh temponya. taxbase-nya. Obligasi Pendapatan (Revenue Bonds) Pendapatan dari penjualan jasa dijaminkan untuk pembayaran hutang. surat berharga yang dapat dipasarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Komposisi hutang Pemerintahan menurut jenis penerbitnya dibagi menjadi: 1. Hutang publik sebagai menunjukkan persentase dari aktiva lancar (hutang publik dan jumlah uang beredar). yang diterima tidak merata. terhadap pengeluaran permintaan. sebagai suatu jalan untuk berhutang. Beberapa faktor akan menentukan tingkat bunga yang harus dibayar oleh pemerintah atas obligasi yang diterbitkannya. Hutang yang Ditanam Swasta Dalam beberapa aspek hutang publik (khususnya pembiayaan pembayaran bunga melalui pajak).

95 persen dari penanaman domestik adalah dari investor swasta. Dengan tersedianya. Yang paling penting adalah Trust Fund. Wesel dan obligasi mempunyai kupon pembayaran tahunan dan dapat ditebus dengan nilai pari pada tanggal jatuh tempo. Sedangkan penanaman Bank Sentral berbentuk surat berharga yang dapat dipasarkan dan diperoleh melalui proses pembelian pasar terbuka. Struktur Jatuh Tempo Instrumen hutang diterbitkan untuk berlaku selama periode waktu tertentu. dan 8 persen oleh perusahaan asuransi. Penerbitan yang tak dapat dipasarkan ditahan oleh individu dalam bentuk obligasi tabungan (savings bond). 18 persen ditahan oleh bank komersial. Surat berharga yang dapat dipasarkan diperdagangkan dan tersedia bagi setiap pembeli. 80 persen ditahan secara domestik. Perbedaan utama dari ketiga jenis hutang itu terletak pada jatuh temponya. 14 persen oleh pribadi (sebagian besar dalam bentuk obligasi tabungan). Surat berharga yang dapat dipasarkan (berjumlah sekitar tiga perempat dari total). wesel dan obligasi. Sebagian besar penanaman swasta adalah pada lembaga tabungan dan dana trust perseroan. Pengandalan pada jangka pendek selama periode inflasi memungkinkan Departemen Keuangan guna menghindarkan komitmen jangka panjang untuk meminjam pada tingkat bunga nominal yang tinggi dengan harapan inflasi akan dapat dicek dan tingkat bunga akan turun di masa depan. Kecuali hutang yang ditahan pada negara-negara maju. tetapi jatuh tempo itu bisa saja tiga bulan. Siapa yang Menanam Hutang? Pembagian hutang menurut jenis penanamnya menjadi penting karena mempengaruhi struktur likuiditas dan posisi pasar modal. dimana peningkatan nilai sampai jatuh tempo merupakan pengembalian investor. Dasar-dasar Keuangan Publik . dengan pembayaran modal dilakukan pada nilai pari pada tanggal jatuh tempo. Karena sifat publik. Tagihan dijual dengan diskonto dan tidak berbunga. meliputi tagihan. yang menyerap lebih dari 50 persen. yang menahan kewajiban dalam tahun-tahun di mana peneriman pajak masa berjalan melebihi pembayaran tunjangan. dengan jatuh tempo di atas 10 tahun. dan 20 persen ditanam luar negeri. Tagihan diterbitkan sebagian besar dengan jatuh tempo dua belas bulan. Wesel berkisar dari 1 sampai 10 tahun dan obligasi untuk periode yang lebih panjang. Namun kebanyakan hutang masih terpusat pada jangka pendek.109 2. Surat berharga ini dirancang terutama bagi berbagai dana trust lokal. sarana investasi baru yang lebih menarik. penanaman itu sebenamya merupakan bagian dari dasar moneter (monetary base) ketimbang bagian dari hutang pemerintah kepada publik. Surat berharga yang tidak dapat dipasarkan ditawarkan kepada berbagai kelompok investor dan hanya dapat ditahan oleh pembeli pertama. obligasi sebagai sumber pembiayaan utama menjadi makin kurang penting. Hal ini dilakukan dalam bentuk surat berharga khusus. surat berharga yang tidak dapat dipasarkan. tetapi surat berharga khusus juga disediakan untuk pemerintah daerah dan pemerintah luar negeri.

pemberian tambahan pinjaman $100 dengan jatuh tempo sepuluh tahun akan sama dengan pelunasan penerbitan hutang $100 dengan jatuh tempo ymg sama dengan asumsi pendapatan pajak yang sama digunakan urituk membiayai masing-masing transaksi itu. pinjaman yang diberikan oleh pemerintah (yang dibedakan dari pengeluaran) memasuki arena sebagai instrumen kebijakan penganggaran tambahan. Pagu sebagian besar tetap tidak efektif sampai paruh kedua tahun 1960-an ketika limit jangka panjang di pasar naik di atas tingkat ini. lebih cepat mendapatkan pengembalian pada surat berharga jangka pendek. Jadi. Batas ini diperluas oleh Legislatif empat kali. Pembatasan Hutang Pertumbuhan hutang ditentukan oleh peraturan pajak dan pengeluaran yang mendasarinya serta tingkat surplus dan defisit yang dihasilkannya. Jadi tidak ada obligasi jangka panjang yang dapat dijual sesudah tahun 1965 manakala hasil pasar melebihi pagu. merupakan suatu anakhronisme karena setiap saat legislatif. lembaga legislatif dapat menetapkan batas hutang eksplisit yang tak boleh dilewati oleh Departemen Keuangan. karena ini akan mengganggu ketentuan legislatif. Dalam pagu modal yang sempuma. dan 1988 adalah sebesar $150. bisa menentukan penambahan hutang melalui peraturan pajak dan pengelurannya. Menteri Keuangan meminta kenaikan pagu pinjaman. Sesudah Departemen Keuangan meminta berkali-kali.110 Pada saat yang sama. Jadi ini bukan merupakan faktor yang berarti dalam membatasi penggunaan surat berharga jangka panjang. Departemen Keuangan memilih tidak melakukan hal itu. Hutang lnstansi dan Pinjaman yang diberikan oleh Pemerintah Di samping pinjaman langsung Departemen Keuangan. Sesudah menentukan defisit atau surplus dan perubahan tingkat bunga dengan cara ini. Sebenarnya. seperti yang disepakati oleh kebanyakan pengamat. seperti penarikan hutang. Pagu hutang. Karena instansiinstansi ini menggunakan dana. investor merasa tak yakin mengenai masa depan (inflasi dapat memburuk) dan lebih suka untuk mencegah komitmen jangka panjang. Pemberian pinjaman. Penerima pinjaman pemerintah mungkin tidak mampu mendapatkan kredit dari tempat lain. pemerintah dapat terlibat dalam penjanjian dan pensponsoran pinjaman oleh berbagai institusi yang pada gilirannya meminjamkannya kembali pada peminjam swasta. persen pada bunga di bawah pari. tidak temasuk yang diterbitkan kepada instansi pemerintah. alasan utama pemberian pinjaman oleh pemerintah adalah menyediakan dana bagi peminjam yang tidak mampu meminjam dari tempat lain tetapi yang pantas mendapat Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi hasil kedua transaksi itu bisa sangat berbeda dalam pasar yang tidak sempurna. namun dengan demikian likuiditas struktur klaim meningkat. mengurangi posisi hutang bersih pemerintah. Pagu Bunga Menjelang akhir Perang Dunia I. Apabila operasi masa berjalan memerlukan kenaikan pinjaman pemerintah di atas pagunya. legislatif di USA memberlakukan pagu bunga 4 1/4 persen pada surat berharga yang lebih lama dari lima tahun.000 milyar. Meskipun pagu ini dapat dielakkan dengan penjualan obligasi bertarif kupon 4 1/4. Konggres mengesahkan penerbitan terbatas obligasi Tresury di atas hasil pagu.

111
pinjaman karena alasan kebijakan publik. Jadi hal itu digunakan umum sebagai alat untuk alokasi, bukan sebagai kebijakan stabilisasi. Dengan demikian, masalah ini penting dalam konteks negara berkembang di mana investasi yang ditunjang pemerintah merupakan segi yang penting dari kebijakan pembangunan.

Hutang Publik sebagai Bagian dari Struktur Likuiditas Ekonomi
Sifat hutang yang berjangka waktu sangat pendek telah membuatnya makin likuid dan merupakan pengganti uang yang lebih dekat. Hutang publik merupakan media investasi yang penting bagi lembaga keuangan, khususnya bank, perusahaan asuransi dan pasar uang. Setelah meninjau pertumbuhan dan status hutang pemerintah, sekarang kita dapat beralih pada implikasi ekonominya. Masalahnya adalah bagaimana hutang yang beredar mempengaruhi berfungsinya ekonomi, yaitu bagaimana konsekuensi dari kebijakan masa lalu (yakni, defisit yang telah ditambahkan pada hutang) terhadap kondisi ekonomi di depan. Pengaruh ekonomi dari hutang yang beredar oleh karenanya harus dibedakan dengan dampak masa kini dari pembiayaan defisit yang melibatkan penciptaan hutang. Apakah akumulasi hutang yang berkelanjutan tidak akan mengarah pada kebangkrutan fiskal? Pendanaan Kembali versus Pelunasan Hutang Dengan makin membengkaknya hutang, apakah ada kemungkinan untuk membayarnya kembali? Pertanyaan yang menguatirkan ini tidaklah tepat: cepat atau lambat, hutang rumah tangga memang harus dibayar kembali, karena tindakan rumah tangga merupakan kegiatan yang terbatas. Sebaliknya hutang publik tidak perlu dibayar kembali, karena anggaran dan perekonomian merupakan kegiatan yang berkesinambungan. Apabila suatu penerbitan hutang jatuh tempo, hal itu harus dilunasi; tetapi dana yang diperlukan diperoleh dengan menerbitkan obligasi baru. Hutang itu didanakan kembali (refunded). Dengan hutang yang sebagian besar berjangka pendek, volume pendanaan kembali tabungan sekarang dengan pembayaran obligasi jatuh tempo dan penggantian melalui penerbitan obligasi kembali merupakan operasi mingguan. Sekalipun operasi penerbitan kembali obligasi secara tradisional melibatkan prosedur yang sangat rumit, yang memerlukan taksiran yang tepat atas hasil (yield) yang diinginkan masyarakat, teknik-teknik yang dikembangkan dalam tahun-tahun terakhir ini telah banyak disederhanakan. Penerbitan baru sekarang dijual melalui sistem lelang, dengan penawaran tertutup diterima dari dealer dan kemudian didasarkan pada sistem datang pertama, dilayani pertama. Meningkatnya pengandalan pada hutang jangka pendek, yang dijual pada diskonto dan bukan dengan suatu kupon, telah memperlancar perkembangan ini. Guna mempercepat proses ini, Bank Sentral bekerja erat dengan Pejabat Bendahara (Departemen Keuangan) dan bertindak sebagai instansinya. Singkatnya, operasi pendanaan kembali merupakan masalah manajemen dan apakah kita dapat membayar kembali hutang merupakan pertanyaan yang salah arah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana jasa bunga akan mempengaruhi perekonomian dan bagaimana hutang yang beredar masuk ke dalam struktur ekononomi.

Dasar-dasar Keuangan Publik

112
Beban Pajak dari Pelunasan Hutang Untuk melunasi hutang, bunga harus dibayar. Pajak yang dikenakan untuk membiayai pembayaran ini menimbulkan beban bagi perekononian. Beban ini tidak terlihat karena sumber daya ditarik dari perekonomian. Dengan asumsi kita membicarakan hutang yang ditahan secara domestik, kita berhutang kepada diri kita sendiri dan pembayaran bunga hanyalah pemindahan dana dari satu kantong ke kantong yang lain. Namun demikian, pajak yang harus dikenakan untuk membiayai transfer ini membawa kerugian yang berat, seperti juga pajak laimya, dan ini menimbulkan beban bagi perekonomian. Beratnya pengaruh tersebut cenderung muncul bila rasio penerimaan pajak (yang diperlukan untuk melunasi hutang) pada GNP meningkat. Jelaslah hal itu menjadi begitu besar sehingga menimbulkan masalah beban dan hambatan yang serius, suatu faktor yang terlupakan dalam proposisi kita berhutang kepada diri kita sendiri. Akumulasi hutang selama perang mungkin begitu drastis, sehingga menyebabkan kekacauan fiskal dan penyangkalan hutang dalam periode sesudah perang. Peristiwa ini terjadi di negara-negara Eropa sesudah kedua perang dunia. Untunglah hanya ada sedikit kemungkinan bahwa bencana seperti itu akan terjadi dalam keadaan damai. Untuk memastikan, perluasan hutang yang terus menerus digabungkan dengan GNP yang konstan akan mengakibatkan suatu rasio hutang terhadap GNP yang tak terbatas. Tetapi GNP juga mengalami peningkatan dan dapat diperlibatkan bahwa rasio defisit pada GNP digabungkan tingkat pertumbuhan GNP yang konstan, akan mengakibatkan, rasio hutang pada GNP dan rasio bunga pada GNP yang mendekati konstan. Dengan melihat pada dekade yang akan datang, marilah kita andaikan bahwa GNP meningkat pada tingkat tahunan 5 persen (3 persen untuk inflasi dan 2 persen untuk pertumbuhan riil.) Selain itu, defisit tahunan kita andaikan sama dengan 4 persen dari GNP. Dengan asumsi yang agak pesimistik ini, rasio hutang terhadap GNP akan naik dari 51 persen menjadi 64 persen dalam 10 tahun, sedangkan rasio pembayaran bunga pada GNP akan meningkat dari 4,1 ke 5,1, Tingkat yang sepadan sesudah periode lima puluh tahun, masing-masing akan menjadi 8,1 dan 6,5 persen. Tampak bahwa prospek pertumbuhan hutang, sekalipun menurut asumsi sangat defisit, tidak langsung mengasumsikan proporsi yang eksplosif. Bahaya yang melekat dalam melanjutkan defisit yang besar tidak terletak pada pengaruhnya terhadap besarnya hutang, seperti dalam dampak langsung pada bauran fiskalmoneter sehingga berarti pada tingkat tabungan dan pertumbuhan. Penyangkalan Hutang melalui lnflasi? Secara nominal nilai pari dari hutang yang beredar bersifat tetap, tetapi inflasi akan mengurangi nilainya dalam satuan riil. Contoh, nilai pari hutang yang beredar di USA dalam tahun 1970 adalah $370 milyar. Tetapi antara tahun 1970 s.d. 1982, harga-harga naik dengan 150 persen atau pada tingkat majemuk tahunan 8 persen. Jadi nilai hutang ini dalam satuan dollar tahun 1970 turun menjadi $148 milyar, atau 40 persen dari saat itu. Apakah ini berarti bahwa inflasi menghasilkan penyangkalan (repudiation) hutang tersembunyi sebesar 60 persen? Jawabannya tergantung pada jangka waktu saat hutang diterbitkan. Bila diasumsikan seorang investor yang membeli obligasi pemerintah berjangka tiga Dasar-dasar Keuangan Publik

113
tahun dalam tabun 1970. Hasil pada saat itu adalah 7 persen, sehingga obligasi itu dapat ditebus pada $100 dalam tahun 1982 dan peneriman per tahun sampai terjual $100 adalah $7. Kemudian bila diasumsikan tingkat pengembalian modal yang sebenarnya adalah 3 persen, sehingga investor kita mengharapkan tingkat inflasi sebesar 4 persen. Pada tingkat inflasi ini hasil nominal 7 persen akan menghasilkan tingkat pengembalian 3 persen. Tetapi ternyata tingkat inflasi selama tiga tahun adalah 8 persen. Jika si investor telah mengetahui hal ini, ia akan meminta hasil sebesar 11 persen, yakni suatu obligasi yang terjual pada nilai pari yang seharusnya mempunyai pembayaran kupon sebesar $11 per tahun. Tingkat inflasi yang lebih tinggi dari yang diantisipasikan memberikan tingkat pengembalian riil (real rate of return) kepada investor sebesar -1 persen (7 persen dikurangi 8 persen). Kerugian investor ini dicerminkan oleh keuntungan yang diterima pembayar pajak, yang beruntung dalam melunasi hutang (bunga dan pembayaran kembali pada jatuh tempo) dengan dollar yang lebih murah. Pada tahun 1982, hasil (yields) telah meningkat menjadi 13 persen dan disusul dengan meningkatnya perkiraan inflasi. Sejak itu jumlahnya menurun menjadi sekitar 8 persen, bersama dengan penurunan dalam tingkat inflasi menjadi di bawah 4 persen. Dengan demikian, apakah penyangkalan hutang melalui inflasi akan terjadi, tergantung pada seberapa tepat inflasi dintisipasi pada waktu hutang diterbitkan dan bagaimana antisipasi ini dicerminkan dalam tingkat bunga nominal yang lebih tinggi. Pada gilirannya hal ini tergantung pada jatuh tempo hutang. Jika hutang ditanam dalam bentuk klaim jangka pendek, katakanlah tagihan tiga bulan, tingkat hasilnya akan sesuai dengan tingkat bunga yang berlaku dalam pasar uang hingga akan cenderung menceminkan tingkat inflasi. Situasinya berbeda jika hutang tersebut bersifat jangka panjang dan terjadi tingkat inflasi yang tinggi yang tidak diperhitungkan kctika menetapkan syarat-syarat pada waktu hutang diterbitkan. Karena hutang paling banyak diterbitkan dalam bentuk surat berharga jangka pendek, maka penyangkalan hutang melalui inflasi tidak lagi menjadi isu utama.

Apakah Pembiayaan melalui Hutang akan Membebani Generasi Mendatang?
Pembahasan yang berhati-hati dilakukan terhadap pertanyaan apakah pembiayaan melalui hutang akan menimbulkan beban bagi generasi mendatang. Pengalihan beban kepada generasi mendatang adalah layak, sebagai suatu keadilan antar generasi, untuk pembiayaan atas pengeluaran modal publik. Terdapat berbagai mekanisme pengalihan beban, di antaranya termasuk a) pembentukan modal yang berkurang, b) pengalihan melalui tumpang tindih generasi, dan c) pengalihan beban dari hutang luar negeri. Lebih lanjut, pengandalan pada sumber daya luar tidak harus melibatkan penyerapan hutang luar negeri, tetapi dapat mengambil bentuk arus modal masuk dan surplus impor yang berkaitan. Menimbang bahwa ketakutan terhadap kebangkrutan fiskal adalah tidak realistik, timbul pertanyaan apakah pembelanjaan dengan hutang tidak akan membebani generasi mendatang?

Dasar-dasar Keuangan Publik

114
Bagaimana pengalihan (transfer) beban itu terjadi dan apa pengaruhnya pada ekuitas fiskal? Pengalihan Beban melalui Pembentukan Modal yang Berkurang Jika sumber daya sepenuhnya dimanfaatkan, kenaikan dalam jasa publik akan memindahkan sumber daya dari sektor swasta ke sektor publik, sehingga sumber daya yang tersedia untuk produksi barang-barang swasta akan berkurang. Dalam pengertian pelepasan sumber daya, beban tersebut haruslah dipikul oleh generasi sekarang. Tetapi tidak demikian halnya jika pemindahan beban dipandang dalam artian konsumsi masa berjalan (current consumption). Mekanisme pertama dari pengalihan beban diberikan melalui pembentukan modal yang berkurang. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme ini bekerja, kita kembali ke kerangka sistem klasik dimana investasi menyesuaikan dirinya sendiri secara otomatis terhadap tingkat tabungan yang akan datang, pada tingkat pendapatan full-employment. Dalam sistem tersebut, setiap pengalihan sumber daya dari sektor swasta ke sektor publik mengakibatkan sumber daya sektor sawsta berkurang. Dalam pengertian sempit ini, beban dari pengeluaran sekarang harus dipikul oleh generasi sekarang. Tetapi sumber daya yang ditarik dari sektor swasta mungkin berasal dari konsumsi atau pembentukan modal. Dalam kasus pertama, kesejahteraan dari generasi sekarang, yang diukur dengan konsumsinya dikurangi, dan pendapatan generasi mendatang tidak dipengaruhi. Dalam kasus kedua, kesejahteran konsumsi dari generasi sekarang tidak diganggu sementara generasi mendatang akan mewarisi stok modal yang lebih kecil dan menikmati pendapatan yang lebih rendah. Dalam pengertian ini, generasi mendatang akan dibebani. Jika kita selanjutnya mengasumsikan bahwa pembelanjaan dengan pajak berasal dari konsumsi, sedangkan pembelanjaan dari pinjaman berasal dari tabungan (sehingga menurut asumsi sistem klasik; berasal dari investasi maka selanjutnya pembelanjaan dengan pinjaman akan membebani generasi masa depan. Mengikuti prinsip bahwa jasa publik harus dibiayai atas dasar manfaat, sifat pengeluaran, yang harus dibiayai menjadi sangat panting. Dalam hal pengeluaran modal, manfaat akan terbawa ke masa depan sehingga pengalihan beban diperlukan sebagai suatu keseimbangan antar generasi. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, ini merupakan penalaran untuk membagi anggaran menjadi komponen masa berjalan dan komponen modal, dengan yang pertama dibiayai oleh pajak dan yang terakhir oleh pinjaman. Beberapa kualifikasi dari argumen yang berlaku perlu dikemukakan; 1. Tergantung pada jenis pajak yang digunakan, pembiayaan dengan pajak sebagian dapat berasal dari tabungan. Demikian pula, pembiayan dengan pinjaman sebagian dapat berasal dari konsumsi. Tidak perlu semua transfer menaikkan konsumsi. Oleh sebab itu, defisit hanya memberikan suatu taksiran kasar mengenai penarikan sumber daya dari pembentukan modal swasta.

Dasar-dasar Keuangan Publik

115
2. Pendekatan harapan yang rasional (the rational expectation approach), seperti yang dikemukakan pada Bab X, mempertanyakan apakah tanggapan setiap individu terhadap pembiayaan melalui pajak dan pinjaman akan berbeda. Ketika generasi sekarang (sebagai individu yang rasional) meminjam kepada pemerintah, mereka diasumsikan dapat mengantisipasikan pajak masa depan (yang terhutang oleh pewarisnya) yang harus dipenuhi untuk melunasi hutang itu. Oleh karena itu, pembiayaan dengan pinjaman akan membuat keaadaan generasi pertama seperti pada pembiayaan dengan pajak. Tetapi apakah kekayaan bersih wajib pajak berkurang sedangkan pemberi pinjaman dikompensasikan ketika menerima obligasi pemerintah? Jawabannya adalah tidak, atau begitulah menurut pandangan aliran harapan rasional. Karena keuntungan ini akan dibatalkan oleh adanya asumsi kewajiban pajak masa depan. Jadi kekayaan bersih sektor swasta akan berkurang oleh pengeluaran publik, apapun metode pembiayaan (pajak atau hutang) yang digunakan. Berdasarkan argumen 'Ricardan Equivalence' ini, tidak dapat lagi dikemukakan bahwa pembiayaan melalui pinjaman akan mengakibatkan pengalihan beban sedangkan pembiayaan melalui pajak tidak seperti yang dinyatakan sebelumnya, hal ini merupakan asumsi yang hampir tidak realistis. Penalaran kita didasarkan atas asumsi sistem klasik yang terlaksana baik, di mana tingkat pemintaan agregat tidak dipengaruhi oleh pilihan antara pembiayaan melalui pajak dan melalui pinjaman. Jika asumsi ini tidak berlaku, pilihan antara pembiayaan melalui pajak dan melalui pinjaman seperti halnya bauran kebijakan fiskal-moneter mungkin harus ditentukan untuk memberikan tingkat permintaan agregat yang tepat, bukan mengakomodasikan pertimbangan keseimbangan antar generasi. Pertimbangan ini khususnya penting pada tingkat nasional, yang memikul tanggung jawab terhadap kebijakan stabilisasi; dan kurang penting pada tingkat lokal. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, pada tingkat lokal lebih sesuai menggunakan anggaran modal. Pengalihan Beban Melalui Tumpang Tindih Generasi Bila tidak ada tumpang tindih generasi (generation overlap), pembentukan modal swasta yang berkurang merupakan satu-satunya mekanisme di mana pinjaman domestik dapat dialihkan kepada generasi masa depan. Tetapi tidak demikian halnya jika terdapat dua generasi yang tumpang tindih dalam suatu waktu. Andaikan bahwa generasi 1 hidup dari tahun satu sampai tahun lima puluh, sedangkan generasi 2 hidup dari tahun dua puluh lima sampai tahun tujuh puluh lima. Juga andaikan bahwa semua pajak berasal dari konsumsi. Sekarang generasi 1, dalam tahun satu, dikenakan pajak sebesar $200.000 untuk memikul biaya gedung pemerintah ymg memiliki kegunaan selama lima puluh tahun. Hal itu dilakukan dengan mengorbankan konsumsi generasi tersebut dalam jumlah yang sama. Akan tetapi terdapat pula kemungkinan dalam tahun dua puluh lima sampai lima puluh untuk memungut pajak sebesar $100.000 dari generasi 2 guna membayar generasi 1, jadi melibatkan pengalihan konsumsi swasta dari generasi 2 ke generasi 1. Dengan cara ini generasi 1, sekalipun pada awalnya memikul keseluruhan beban tembut, namun kemudian dapat mengalihkan sebagian dari

3.

Dasar-dasar Keuangan Publik

116
beban itu ke generasi 2. Untuk maksud memastikan kembali, generasi 1 dapat diberi janji pembayaran kembali dalam bentuk obligasi, yang akan ditebus kemudian dengan pajak yang dikenakan pada generasi 2. Transfer antar generasi yang tumpang tindih seperti itu dapat berfungsi, sekalipun tidak ada pengaruh pada pembentukan modal sektor swasta. Kebalikan dari kasus ini, generasi 1 dapat memberi hadiah kepada generasi 2 dan menanggung semua beban tanpa menghasilkan generasi 2 untuk membayar hutang di masa mendatang. Hal ini persis sama dengan mekmisme yang diterapkan ketika pensiun hari tua diberlakukan dan yang pensiun pertama kali diberi tunjangan tanpa harus memberi sumbangan. Pengalihan Beban Melalui Hutang Luar Negeri Setelah membahas peranan pinjaman domestik, sekarang kita beralih pada pinjaman dari sumber-sumber luar. Mekanisme pengalihan beban melalui pinjaman luar negeri berbeda dalam beberapa hal. Perbedaan pertama adalah bahwa sekarang tidak ada keharusan bagi generasi 1 untuk mengurangi pengeluarannya. Pengeluaran sektor swasta tetap tidak berubah karena sumber daya tambahan yang diperlukan diperoleh dari luar negeri melalui surplus impor. Pembiayaan melalui pinjaman sekarang menimbulkan beban pada generasi 2 bukan dalam bentuk pembentukan modal yang berkurang, tetapi dengan membebani mereka dengan kewajiban untuk melunasi hutang kepada luar negeri. Pajak sekarang dipakai untuk membayar bunga kepada pihak luat negeri, bukan kepada pemegang hutang domestik. Generasi 2 tidak lagi berhutang kepada dirinya sendiri. Beban hutang luar negeri ini menggantikan kerugian pendapatan modal yang harus ditanggung oleh generasi 2, bila pembiayaan dilakukan melalui pinjaman domestik dan berakibat pengurangan dalam pembentukan modal. Sekarang bandingkanlah tiga sumber pembiayaan: (1) pajak, (2) pinjaman domestik dan (3) pinjaman luar negeri. Asumsikan bahwa metode I diambil dari konsumsi dan 2 diambil dari pembentukan modal, maka metode I akan membebani gcnerasi sekarang sedangkan metode 2 dan 3 akan membebani masa depan. Sekalipun metode 2 dan 3 sama dalam hal ini (dalam masalah beban), tetapi pilihan diantara keduanya tidak berarti harus persis sama. Jawabanya tergantung pada biaya pinjaman di dalam negeri dan di luar negeri. Jika biayanya sama (jika pengembalian pada modal domestik sama dengan tingkat bunga di luar), beban yang ditanggung generasi 2 akan sama dalam kedua kasus tersebut. Tetapi jika biaya domestik lebih tinggi, pinjaman luar mungkin akan lebih disukai. Pengandalan pada sumber daya luar negeri tidak harus melibatkan penempatan langsung hutang di luar negeri, tetapi dapat mengambil bentuk yang tidak langsung. Hasil yang sama bisa diperoleh jika hutangnya ditempatkan secara domestik, yaitu dengan menaikkan tingkat bunga yang menyebabkan arus masuk modal dan sekali lagi merupakan surplus impor. Jika disalurkan pada konsumsi, generasi 1 sekali lagi lepas dari beban sedangkan generasi 2 membayar pelunasan hutang pada dirinya sendiri, tetapi mereka harus membagi sebagian pendapatan nasional dengan pemilik luar negerinya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

Dalam proses itu. Pembagian beban itu tidak hanya terjadi di antara kelompok umur. warga kota dan penerima manfaat akan dipajaki setiap tahun sesuai dengan bagian manfaat yang diterimanya dalam masa berjalan. Akan tetapi. karena hal ini akan mengakibatkan penurunan tingkat pembentukan modal swasta. Tetapi tidak ada keuntungan yang diperoleh dalam pencapaian tujuan ini jika pembentukan modal publik dibiayai dengan pinjaman. Lagipula. oleh karenanya memberikan suatu pola pembagian beban yang seimbang. Dasar-dasar Keuangan Publik . Andaikan suatu kotapraja bermaksud membangun gedung sekolah. namun hal itu tidak dapat digunakan untuk menyebarkan biaya program pembangunan dalam arti luas. dengan setiap generasi membayar untuk bagian manfaatnya sendiri. Bila pengeluaran itu akan dibiayai dari pajak. tidak demikian halnya dengan pinjaman luar negeri. kenaikan sementara yang tajam dalam tarif pajak mungkin diperlukan. hutang diamortisasi dan dibayar kembali pada saat fasilitas itu digunakan. Prinsip pemajakan berdasar kaidah manfaat ditempatkan dalam mengalokasikan beban di antara generasi-generasi. Pengalihan Beban dalam Pembiayaan Pembangunan Pembahasan sebelumnya memberi implikasi yang kurang menyenangkan terhadap pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. dan yang lebih penting adalah bahwa tidak adil menimpakan semua beban kepada mereka yang membayar pajak dalam tahun tersebut. Kenaikan ini dengan sendirinya tidak diinginkan. karena tujuan pokok program terebut mensyaratkan bahwa pembentukan modal secara total (publik atau swasta) harus naik. Sekali lagi. mekanisme pengalihan beban pembiayaan dari pinjaman intern dengan demikian tidak dapat ditempatkan dalam situasi di mana seharusnya sangat tepat. yang akan mempunyai usia kegunaan selama tiga puluh tahun. Meskipun mekanisme pengalihan beban dapat digunakan untuk menyebarkan biaya investasi publik. yaitu topik. Sebuah kotapraja yang membiayai bangunan sekolahnya dengan meminjam dan mengamortisasikan hutang itu selama usia kegunaan aktiva itu. Pengeluaran ini dengan demikian menyebabkan kenaikan tajam dalam total pengeluaran kotapraja. Dalam tahun-tahun berikutnya. tetapi juga di antara kelompok-kelompok warga kota yang berubah dengan berubahnya populasi jurisdiksi akibat migrasi ke dalam dan migrasi ke luar. yang akan kita bahas nanti pada saat membicarakan pembiayaan pembangunan. keadilan antar generasi terjamin.117 Peminjaman oleh Pemerintah Daerah Masalah keadilan antar generasi muncul paling serius pada tingkat lokal. Sayangnya. Karena usia kegunaan fasilitas itu akan berlangsung selama tiga puluh tahun. karena pada tingkat inilah sejumlah besar pengeluaran investasi publik dilakukan dan dibiayai. biaya awal ditutup dengan pinjaman yang biasanya diperoleh dari pasar luar. Untuk melaksanakan pemajakan berdasarkan manfaat. karena wajib pajak merasa lebih mudah untuk membayar tarif pajak yang kurang lebih stabil. generasi mendatang. cara yang paling adil adalah menyebarkan beban itu di antara generasigenerasi berikutnya dari warga kota yang akan memanfaatkan fasilitas tersebut.

tetapi dapat ditarik oleh pemerintah asalkan dibayarkan pada harga pasar. Karena biaya untuk meminjam cenderung berbeda sesuai dengan jatuh tempo hutang. Jadi hutang Inggris selama abad sembilan belas sebagian besar berbentuk konsol atau surat berharga berkesinambungan (perpetual securities) yang tidak mempunyai tanggal jatuh tempo tetap. Ketentuan ini akan melindungi pemerintah terhadap kontinjensi bahwa kreditor akan menuntut uangnya kembali pada waktu yang tidak tepat. hal itu akan didanakan kembali ke dalam surat berharga lain. maka surat berharga yang harus dipilih adalah surat berharga yang menyerap biaya paling rendah bagi investor. manajemen hutang melibatkan kegiatan pelunasan tahunan yang besar. Secara tradisional dinyatakan bahwa hutang publik harus didanai (funded) dengan baik. harus diambil keputusan mengenai jenis instrumen hutang apa yang akan diterbitkan. Seperti yang dikemukakan sebelumnya. tergantung pada apakah suku bunga itu diperkirakan akan naik atau turun. makin besar volume kegiatan pendanaan kembali tahunan. Jika demikian halnya. tetapi marilah kita lihat bagaimana penerapannya. Prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa pemerintah akan membeli pensil dari pemasok yang paling murah.118 Manajemen Hutang Struktur jangka waktu dari suku bunga dan kriteria untuk bauran jatuh tempo hutang yang optimal perlu ditelaah. Dalam melaksanakan kegiatan ini. Apakah suku bunga jangka panjang berada di atas atau di bawah suku bunga jangka pendek. Bila dipertimbangkan lebih cermat. suku bunga jangka pendek teeryata selalu mendekati atau di atas suku bunga jangka panjang. Pandangan modern terhadap hutang nasional dan posisi pemerintah nasional dalam pasar hutang sangat berbeda. Apabila suatu surat berharga jatuh tempo. tidak dapat diperkirakan bahwa akumulasi hutang masa lain dapat dilunasi. seperti halnya pembiayaan kenaikan total hutang. Makin pendek rata-rata hutang yang beredar. Pola ini terbalik selama tahun-tahun depresi 1930an di mana laju suku bunga menurun tajam dan suku bunga jangka pendek berada di bawah suku Dasar-dasar Keuangan Publik . Masalah utamanya adalah pilihan jatuh tempo. tetapi ini tidak berkaitan khusus untuk menentukan struktur jatuh tempo. juga berlaku terhadap pinjaman. yakni mereka akan meminjam dari pemberi pinjaman yang berbiaya paling rendah. yaitu dalam jatuh tempo jangka panjang. Pilihan terhadap struktur jatuh tempo dapat dipandang sebagai suatu cara untuk membeli likuiditas pada biaya yang paling rendah. Manajemen hutang didasarkan pada asumsi bahwa surat berharga yang jatuh tempo selalu dapat dilunasi. pedoman dasar apa yang dipakai untuk memilih jatuh tempo yang akan ditawarkan Departemen Keuangan? Salah satu jawaban yang mungkin adalah memilih struktur jangka waktu dari hutang untuk meminimalkan biaya bunga. Meskipun tingkat keseluruhan hutang dapat dinaikkan pada beberapa periode dan diturunkan pada periode lainnya (tergantung pada apakah kebijakan stabilisasi menghendaki defisit atau surplus). Struktur Jangka Waktu dari Suku Bunga Jika kita melihat ke belakang pada sejarah suku bunga sepanjang-abad ini. ini tampaknya suatu aturan yang terlalu sederhana.

Jadi. Metode yang dipertahankan oleh Departemen Keuangan ini diserang oleh Sistem Bank Sentral. sedangkan laju inflasi yang diperkirakan adalah 6 persen. dengan tingkat jangka pendek dan jangka panjang bergerak mendekat satu sama lain dan tingkat jangka pendek kadang-kadang di atas tingkat jangka panjang. karena mereka berharap mendapatkan jangka waktu yang lebih menguntungkan di waktu berikutnya. harga surat hutang jangka panjang menurun dan hasilnya meningkat. apabila diperlukan untuk menjaga harga obligasi agar tidak turun dan menjaga hasil obligasi agar tidak naik. Kebijakan masa perang ini berlanjut sampai awal tahun lima puluhan. Penyesuaian inflasioner ini diperhitungkan untuk kenaikan tajam dalam suku bunga umum.119 bunga jangka panjang. atau 9 persen. Hal ini mengharuskan penyempurnaan jumlah besar hutang oleh bank-bank komersial dan kenaikan yang sepadan dalam jumlah uang beredar. jika suku bunga atau pengembalian riil dalam keadaan tanpa inflasi adalah 3 persen. seperti yang berlaku dalam argumen. Jadi. penawaran surat hutang beralih dari pasar jangka pendek ke pasar jangka panjang. Akibatnya. sama seperti Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal sebaliknya akan timbul bila diperkirakan akan terjadi penurunan tingkat bunga. Kebijakan ini terbukti tidak sesuai dengan penerapan pembatasan moneter. tingkat ymg rendah ini dipertahankan. Inflasi akan menaikkan suku bunga karena pemberi pinjaman ingin melindungi diri mereka terhadap kerugian nilai riil klaim mereka. akibat naiknya harga-harga. pemintaan akan surat hutang jangka pendek meningkat relatif terhadap penawarannya. timbul untuk menceminkan tingkat jangka pendek masa depan yang diperkirakan. maka suku bunga nominal akan cenderung menjadi 3+6. kurva hasil akan miring ke atas. Pada saat yang sama. Akibatnya. Dalam suatu situasi di mana diperkirakan tidak ada perubahan dalam suku bunga. sesuai dengan teori ini. Teori Struktur jangka Waktu Para ekonom telah mencoba untuk menjelaskan istilah struktur suku bunga berdasarkan tingkat pengharapan. pemintaan surat hutang jangka panjang turun relatif terhadap penawarannya. Kebijakan Bank Sentral dengan demikian menggunakan ketentuan tagihan saja di mana semua kegiatan pasar terbuka dan dijalankan dalam Treasury Bills. Jadi pemintaan akan surat hutang beralih dari jangka panjang ke jangka pendek. Harga surat hutang jangka pendek meningkat dan hasilnya menurun. Peminjam (atau penawar surat hutang). Sesudah transisi secara bertahap. di pihak lain senang meminjam sebelum biaya-biaya naik. tidak ada alasan bahwa tingkat jangka pendek dan jangka panjang akan berbeda. sehingga memungkinkan pembiayaan hutang perang pada biaya yang lebih rendah. Tingkat jangka panjang. pemberi pinjaman (atau peminta surat hutang) akan ragu-ragu untuk mengikat dirinya untuk periode waktu yang lama. bagaimanakah mekanisme masuknya inflasi ke dalam struktur suku bunga? Dampak inflasi terhadap suku bunga umum mudah kita lihat. Tambahan 6 persen diperlukan untuk mempertahankm daya beli obligasi sekalipun keuntungan bersih dalam bentuk neto hanyalah 3 persen. Akibatnya. Jadi. karena Bank Sentral harus selalu siap membeli obligasi di pasar terbuka. Dampak lnflasi Akhimya. pasaran surat berharga kembali ke pola suku bunga yang lebih tinggi. Selama periode perang.

Atau terhadap obligasi tersebut ditetapkan nilai pari yang tetap. karena pada akhir tahun peluang untuk meminjam pada 7 persen mungkin akan lenyap jika tingkat bunga naik. Hal yang penting adalah sekali suatu komitmen telah dibuat. sehingga menyebabkan penurunan dalam tingkat jangka panjang relatif terhadap tingkat jangka pendek. Ini tidak berarti bahwa mengambil surat berharga satu tahun akan lebih baik. Hubungan antara inflasi dan jangka waktu suku bunga kurang jelas. pilihannya adalah pada jangka pendek. pilihan yang tepat adalah meminjam untuk jangka panjang.120 perkiraan penurunan inflasi yang diperhitungkan untuk perkiraan penuruan suku bunga. dengan menerbitkan obligasi yang berjangka lebih panjang dan nilai pelunasan dari surat berharga tersebut diindeks pada tingkat harga. Hanya jika laju inflasi yang diperkirakan berubah. tetapi dengan pembayaran kupon tahunan yang bervariasi mengikuti tingkat inflasi. Demikian pula sebaliknya untuk kenaikan yang diperkirakan dalam tingkat inflasi. pemerintah pusat dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pilihan yang pertama belum tentu baik karena tingkat bunga bisa juga turun sebelum dua puluh tahun berakhir. dan investor mengharapkan laju ini dapat dipertahankan. Jawabnya jelas tidak. sehingga struktur jangka waktu tidak akan dipengaruhi. Telah beberapa kali diusulkan agar Departemen Keuangan dan wajib pajak dapat dilindungi terhadap perubahan yang tak terduga dalam laju inflasi. Andaikan bahwa Departemen Keuangan dapat meminjam untuk jangka waktu satu tahun pada 5 persen dan dua puluh tahun pada 7 persen. Selama inflasi bergerak pada laju yang konstan. Dengan demikian manajemen hutang merupakan suatu seni yang tinggi. Struktur Jangka Waktu dan Manajemen Hutang yang Efektif Sekarang kita dapat mempertimbangkan kembali implikasi struktur jangka waktu dari suku bunga untuk majemen hutang dan mempertanyakan apakah biaya bunga dapat diperkecil dengan menjual surat berharga yang. Biaya bunga hutang yang telah dibuat harus dibayar untuk periode penuh meskipun tingkatnya bisa turun. yang membutuhkan penaksiran tajam terhadap prospek pasar untuk jangka waktu yang cukup panjang. dan keuntungan dari suku bunga yang rendah akan terus diakrualkan sekalipun tingkatnya mungkin naik. Atau andaikan Departemen Keuangan dapat meminjam untuk 20 tahun pada 5 persen dan untuk satu tahun pada 7 persen. dapat ditempatkan pada biaya jatuh tempo ymg paling rendah. kriteria biaya bunga minimum tidak memberikan pedoman yang mencukupi. Jadi. suatu harapan bahwa inflasi akan menurun akan ccnderung menurunkan suku bunga nominal masa depan. bila diukur dengan hasil saat ini. Jika para pengelola hutang berharap suku bunga akan naik. Namun bagaimanapun juga. beban tambahan inflasi juga akan tetap pada 4 persen. Yang menjadi masalah pokok adalah arah perubahan suku bunga yang diharapkan oleh Departemen Keuangan. jika mereka memperkirakan suku bunga akan turun. katakanlah 4 persen. maka struktur jangka waktu akan dipengaruhi. tidak ada lagi jalan keluar lain. Tetapi seandainya pun perubahan tingkat yang diperkirakan telah diperhitungkan.

yang tidak selaras dengan tujuan kebijakan stabilisasi. bukan perkiraan perubahan tingkat jangka panjang dan implikasinya pada biaya bunga. tujuan menerbitkan surat hutang dan bukan uang (atau mengganti hutang jatuh tempo yang beredar dengan hutang baru dan bukan menguangkannya) adalah membeli likuiditas. Di samping penyesuaian jangka pendek. dan sebaliknya mempersingkat hutang cenderung untuk menjadi ekspansioner. Para investor harus diyakinkan untuk memiliki surat hutang dan bukan uang. mereka menginginkan syarat yang lebih menguntungkan pada surat berharga jangka panjang dan bisa menerima syarat yang kurang menguntungkan pada surat berharga jangka pendek. Dipandang dari sudut ini. Jadi prinsip meminimisasikan biaya bunga harus dinilai kembali karena adanya pembelian likuiditas pada jangka yang lebih murah. Untuk melakukan hal ini. Mereka selalu dapat mengganti hutang publik dengan uang. sejauh bersangkutan dengan Dasar-dasar Keuangan Publik .121 pengendaliannya atas penciptaan uang dapat mengatur laju suku bunga di pasar. sekalipun biaya bunga agak lebih tinggi. karena pengeluaran modal biasanya didasarkan pada pembelanjaan jangka panjang. Konsekuensinya. Perpanjangan akan menaikkan suku bunga jangka panjang relatif dibanding jangka pendek. tujuan kebijakan jangka pendek. Para investor yang ingin menahan persediaan surat berharga jangka panjang dan jangka pendek pada rentang hasil tertentu. Hutang jangka pendek cenderung lebih mirip uang. Pengaruh restriktif dari kenaikan suku bunga jangka panjang pada investasi swasta akan melebihi pengaruh ekspansioner dari penurunan suku bunga jangka pendek. Perpanjangan hutang pada saat pengembalian cenderung untuk menjadi restriktif. baik langsung melalui pencetakan uang ataupun dengan meminjam dari bank sentral. yang mungkin merupakan faktor penentu dalam menentukan kebijakan manajemen hutang. Timbul pertanyaan apakah satu dollar dari hutang jangka pendek bermanfaat mengurangi likuiditas seperti satu dollar dari hutang jangka panjamg. yang menimbulkan kenaikan tingkat pemintaan agregat dan inflasi yang berlebihan. Penggantian hutang dengan uang jelas merupakan cara yang paling murah untuk menangani masalah tersebut. sekarang harus menahan lebih banyak surat berharga jangka panjang dan lebih sedikit jangka pendek. karena sama sekali tidak akan melibatkan biaya bunga. manajemen hutang dapat digunakan untuk mendukung dampak ekspansioner dan restriktif dari kebijakan stabilisas saat ini. jadi perpanjangan hutang akan bersifat restriktif. mungkin beralasan bagi Departemen Keuangan untuk menerbitkan surat berharga seperti itu. Dalam hal apapun. Pertimbangan serupa yang diterapkan pada pendanaan kembali (atau swapping hutang) juga berlaku dalam hal memilih jenis penerbitan surat berharga untuk membiayai defisit. atau jenis penerbitan yang akan ditarik bila surplus digunakan untuk pengurangan hutang. Namun itu bukanlah pemecahan yang memuaskan. Jika hutang jangka panjang membuat penanamnya kurang likuid. tetap ada pertanyaan mengenai apa yang merupakan bauran jatuh tempo yang baik. dan cara melakukan hal ini adalah dengan membayar mereka. karena mengganti hutang dengan uang akan menaikkan likuiditas dalam jumlah besar.

Jika kita perhatikan kembali pembahasan dalam pemerintah lokal. Pada sisi pemintaan. hal ini. memerlukan volume kegiatan pendanaan kembali yang lebih kecil. dan biaya peminjaman banyak bevariasi. yang pada hakikatnya berlaku untuk membiayai industri swasta di bawah payung kebebasan pajak. mungkin serupa dengan dampak kombinasi hutang jangka pendek dengan persediaan uang (jumlah uang beredar) yang lebih kecil. karena hasil (yields) tergantung pada peringkat kredit dari jurisdiksi. dan lebih mirip investor swasta yang berupaya mengamankan dana di pasar. di mana kebijakan stabilisasi merupakan penentu utama. Biaya peminjaman untuk pemerintah lokal dikurangi. Pada sisi penawaran dalam pasar dana. kesempatan untuk meminjam oleh pemerintah lokal terjadi terutama ketika sejumlah besar pengeluaran modal harus dibiayai. tugas kebijakan stabilisasi menjadi lebih sulit. jika hal itu tidak efisien. Peningkatan penggunaan yang meragukan atas pinjaman pemerintah lokal dilakukan dalam bentuk obligasi pendapatan. Yang terbaik dapat dilakukan adalah mendapatkan dana pada syarat yang menguntungkan yang tersedia. kita bahas secara singkat mengenai pasar bagi hutang pemerintah lokal. Perbedaan ini berlaku baik mtuk sisi permintaan maupun untuk sisi penawaran. Dampak likuiditas pada sektor swasta dari kombinasi hutang yang lebih panjang serta persediaan uang yang lebih besar. katakanlah lima belas tahun. akan dipilih oleh seseorang dengan hampir semuanya jangka pendek atau hampir semuanya jangka panjang. jika jangka pendek. suatu hutang ymg terlalu panjang dapat menimbulkan kekakuan dalam struktur keuangan dan kurang dapat memberikan likuiditas yang diperlukan. Hutang jangka panjang. temasuk obligasi umum dan obligasi pendapatan khusus. Hutang pemerintah lokal sekarang melebihi $500 milyar dan telah naik dengan jumlah tahunan rata-rata sekitar $15 milyar selama dekade lalu. Akibatnya. dengan membebaskan pajak pusat untuk pembayaran bunga atas hutang tersebut. seperti yangg dikemukakan sebelumnya. orang akan mempunyai pandangan bahwa struktur jatuh tempo yang seimbang sampai. pemerintah lokal tidak memiliki kendali atas kondisi pasar uang tempat mereka harus meminjam. Di pihak lain. Yang terakhir dikeluarkan oleh instansi tertentu atau perusahaan umum. Hutang ini sebagian besar berjangka panjang dan mengmbil berbagai bentuk. Suatu hutang pada ukuran tenentu. Pasar untuk hutang pemerintah lokal sangat terstratifikasi. Dalam situasi apapun. akan membuat perkonomian berada dalam posisi yang lebih likuid hingga cenderung untuk menaikkan kemungkinan perubahannya. Hutang Pemerintah Lokal Akhimya. seperti perusaahaan listrik dan air minum yang dikelola Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi ini hampir bukan merupakan pertimbangan yang menentukan. Bila tidak ada penalaran yang lebih baik. lebih bijaksana apabila pengeluaran tersebut dibiayai dari pinjaman dan bukan dari pajak.122 hutang yang beredar. sebagian besar akan tergantung pada besamya stok uang. Masalah manajemen hutang untuk pemerintah lokal berbeda dengan tingkat pusat. Pertimbangan untuk meminjam pada tingkat pemerintah lokal dengan demikian sangat besar dibandingkan dengan tingkat pusat. tergantung pada posisi fiskal dari juridiksi dan peringkat kreditnya. Persentase kenaikannya agak di bawah hutang pemerintah dan GNP.

Dukungan terhadap pinjaman negara bagian dan lokal atas dasar lebih selektif. pembebasan pajak hanya menghasilkan keuntungan tabungan bunga yang lebih kecil terhadap pemerintah lokal.6 persen. negara bagian maupun lokal. seperti halnya hibah menurut kategori tertentu. jawaban pertanyaan tersebut negatif. Terlepas dari pertanyaan tentang cara bagaimana dukungan pembayaran bunga yang paling baik dapat diberikan. Pengeluaran seperti itu sangat penting baik dari sudut pandang nasional. keuntungan ini banyak dikurangi pada tahun 1986 melalui pemotongan tarif pajak marjinal. Lebih lanjut. terdapat pertanyaan selanjutnya tentang apakah dukungan umum untuk pembayaran bunga pada tingkat negara bagianlokal tersebut diperlukan. sehingga mcngurangi biaya peminjaman pemerintah lokal dan negara bagian. Pertama. Dengan demikian. Pembebasan Pajak versus Subsidi Bunga Langsung Seperti yang telah kita bahas sebelumnya. atau subdivisi lain. peminjaman ncgara bagian dan lokal merupakan aspek tambahan dari federalisme fiskal. Tetapi bentuk bantuan khusus ini memperoleh kritik karena dua alasan. Tampaknya. akan lebih baik jika bantuan tersebut diberikan dcngan cara yang tidak melibatkan preferemi pajak. misalnya jalan raya dan bangunan sekolah. Karena alasan ini. Selain itu. dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh subsidi langsung dari pemerintah pusat pada biaya yang sama. Seperfi telah dibahas sebelumnya. membayar pajak lebih sedikit daripada mcreka yang mendapat penghasilan sama dari sumber lain. Biaya penyediaan dana bagi berbagai juridiksi peminjamaman merupakan faktor penting bagi ketentuan pelayanan lokal dan negara bagian yang melibatkan pengeluaran modal yang besar. kotapraja. maka dukungan seperti itu maka sama saja dengan menggunakan hibah untuk keperluan pengeluaaran modal. Penerima penghasilan tinggi yang menerima bunga bebas pajak. Terlepas dari masalah politik dan sejarah konstitusional (dilihat dari pembahasan sebelumnya bahwa instrumentalitas pemerintah lokal harus dibebaskan dari perpajakan pusat).123 oleh negara bagian. dan laba perusahaan itu digadaikan untuk membiayai pelunasan hutang. Keuntungan pajak ini akan mengalihkan dana ke pasar yang bebas pajak. bantuan ini mempengaruhi segi keadilan dari struktur pajak penghasilan. kebijakan publik memberikan dukungan secara umum terhadap pinjaman pemerintah lokal dengan membebaskm pajak penghasilan bunga surat berharga menurut pajak penghasilan. nilai pembebasan pajak meningkat menurut tarif kelompok sehingga mengganggu keadilan vertikal. alasan pokok terhadap dukungan bunga umum tampaknya meragukan. mungkin lebih dapat Dasar-dasar Keuangan Publik . Dipandang dari sudut ini. Seorang investor yang tarif pajak marginalnya 28 persen akan bersedia (dengan asumsi hal lain tetap sama) mensubstitusikan obligasi kotapraja yang menghasilkan 4 persen untuk obligasi perusahaan yang menghasilkan 5. Karena pinjaman pemerintah lokal digunakan untuk pengeluran modal. pertanyaan yang timbul kemudian adalah apakah pengeluaran modal (capital expenditure) sebagai suatu kelompok lebih dipilih dibanding pengeluaran masa berjalan (current expenditure) hingga bermanfaat memberikan subsidi khusus. baik berdasarkan dampak pelimpahan (spillover effects) atau pun pertimbangan manfaat.

Tetapi kebijakan seperti itu tidak dapat dipertahankan dari sudut pandang nasional. dan hal itu akan mengurangi biaya pinjaman bagi kotapraja kecil dengan cara menyebarkan risiko. pembentukan lembaga perantara keuangan (financial intermediaries) yang meminjam untuk dirinya sendiri di pasar dan kemudian meminjamkan kembali kepada kotapraja lebih bisa dipertimbangkan. hal itu dipandang sebagai sarana untuk menarik perusahaan ke daerahnya. dan hasilnya digunakan untuk membangun fasilitas industri yang pada gilirannya disewakan kepada perusahaan-perusahaan swasta. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan perkataan lain. Dan sudut pandang kotapraja tertentu. pengurangan dalam biaya pendanaan melalui pembebasan pajak pusat diteruskan pada kesatuan yang pada hakikatnya merupakan perusahaan swasta. perlu diperhatikan pula pertumbuhm pendapatan obligasi industri selama dekade terakhir. Obligasi Pendapatan industri Akhimya. institusi tersebut dapat bermanfaat dalam menstabilisasikan fluktuasi siklus pada biaya pinjaman dan dalam memodifikasi dampak perubahan kebijakan moneter terhadap sektor pasar modal ini.124 dibenarkan Dalam hubungan ini. Akhir-akhir ini praktek seperti itu juga telah diperluas dengan memberikan dana hipotik. Obligasi seperti itu diterbitkan oleh jurisdiksi pemerintah lokal. hal itu juga akan menimbulkan pembiasan politik pada dana yang tersedia. Jadi. dan berbagai pembatasan telah diterapkan. Jadi. Di pihak lain. suatu bank dapat berfungsi sebagai alat dalam mengatasi ketidakmenentuan yang sekarang berlaku dari sistem peringkat kredit.

sumber penerimaan pajak adalah yang terbesar. A Penerimaan Pajak Pajak adalah pungutan yang ditarik dari masyarakat tanpa mengakibatkan timbulnya kewajiban bagi pemerintah terhadap pihak pembayar. Untuk itu. pemerintah dapat menggunakan sumber-sumber non pajak yang mampu menggalang dana bagi keperluan pembiayaan pengeluaran publik. Di Indonesia. Pengumpulan pendapatan dari masyarakat dapat dikategorikan sebagai penerimaan pajak dan penerimaan non pajak. Penerimaan Non Pajak Disamping pajak. Mekanisme perpajakan juga dapat diterapkan untuk mendorong atau mengurangi jumlah pendapatan yang dikonsumsikan. pemerintah dapat mendorong investasi yang menghasilkan barang-barang produksi tertentu atau sebaliknya.125 B A B XIII DASAR-DASAR PERPAJAKAN ktivitas pemerintah memerlukan realokasi sumber-sumber daya dari sektor swasta. Menurut sifatnya. pajak juga dapat difungsikan sebagai alat pengaturan dan pengawasan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sektor swasta (fungsi regulator). Sedangkan pada fungsi regulator. Dengan sistem perpajakan. Pada fungsi budget. pajak dimaksudkan untuk mengumpulkan dana yang akan digunakan bagi pembiayaan kegiatan rutin operasional pemerintah mengatur negara. Kewajiban pajak menurut undang-undang dapat dipaksakan. Sedangkan terhadap pelanggar peraturan perpajakan dapat dikenai hukuman yang berlaku. pajak adalah wajib. Jenis-jenis penerimaan tersebut antara lain: Dasar-dasar Keuangan Publik . kebijakan perpajakan dimaksudkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan dengan cara mengatur pola produksi dan konsumsi barang-barang ekonomi. masyarakat harus dihimbau secara sukarela menyerahkan sebagian pendapatannya untuk kepentingan penyediaan barang-barang dan jasa-jasa publik. Disamping sebagai sumber penerimaan negara (fungsi budget).

2. Government Induced Inflation dilakukan dengan cara mencetak uang baru untuk membiayai pengeluaran publik. menurut kaidah ekonomi akan menyebabkan kenaikan harga pasar barang dan jasa. karena sulitnya memprediksi. Dewasa ini. Di Indonesia. pemerintah akan membayarkan sejumlah bunga selama pinjaman tersebut belum dilunasi. dewasa ini banyak sekali jenis-jenis retribusi yang diatur dengan Peraturan Daerah yang dimaksudkan untuk menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sebagian laba yang dihasilkan perusahaan-perusahaan negara dapat dijadikan sebagai tambahan penerimaan pemerintah. Misalnya penggalangan dana kemanusiaan untuk korban bencana alam. 5. Debt Finance Government Induced Inflation Donations User Charges Government Enterprise Lottery Debt Finance adalah penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pengeluaran publik. Pada kebanyakan negara maju. tarif pintu masuk tempat-tempat rekreasi. Government Enterprise adalah perusahaan yang dimiliki pemerintah yang memproduksi dan menjual barang. kebijakan utang oleh pemerintah diaplikasikan dengan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN). dewasa ini fungsi perusahaan negara terutama bukan untuk mencari laba tetapi lebih pada pemicu pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain. jasa atau keduanya untuk memperoleh laba. adanya keterkaitan langsung antara jumlah nominal yang dibayar dengan balas jasa yang diterima. Berkaitan dengan otonomi daerah. Hal ini biasanya dilakukan untuk membiayai suatu proyek besar dan memakan waktu lama seperti pembangunan rumah sakit. Inti dari kegiatan ini adalah mengakibatkan penambahan jumlah uang yang beredar dimasyarakat. jalan tol dan sebagainya. Pinjaman merupakan penarikan dana masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah dengan janji untuk membayar kembali pada masa mendatang.126 1. mekanisme pinjaman oleh pemerintah terhadap dana masyarakat dapat juga digunakan untuk mengurangi jumlah uang beredar. 6. tarif parkir dan sebagainya. seperti tarif jalan tol. Dana hibah (grant/sumbangan yang tidak perlu dikembalikan) negara lain dapat juga dianggap sebagai donations. Donations adalah kontribusi sukarela kepada pemerintah dari masyarakat atau oraganisasi-organisasi kemasyarakatan. User Charges atau retribusi dipungut apabila dimungkinkan untuk dikenakan kepada masyarakat yang menggunakan jasa-jasa tertentu. Untuk mendorong iklim investasi yang positif. 4. korban peperangan dan sebagainya. Kebijakan yang serupa seperti kegiatan melepas cadangan uang yang ditahan oleh bank sentral dapat juga dikategorikan sebagai Government Induced Inflation. Penggalangan dana tersebut biasa dilakukan melalui himbauan-himbauan yang dapat menggugah kerelaan masyarakat. dana hibah tidak dapat diharapkan sebagai alternatif penerimaan andalan. Adanya tambahan jumlah uang beredar yang tidak diikuti tambahan jumlah produksi. 3. Untuk keperluan pinjaman. Akan tetapi. Dasar-dasar Keuangan Publik .

tetapi juga dapat difungsikan sebagai regulator (pengatur). Untuk mengoptimalkan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. Pembahasan selanjutnya akan memaparkan bahwa apapun kebijakan yang diambil. pemerintah dapat mengurangi perannya sedemikian rupa dengan cara melepas sahamnya kepada publik. Prinsip kepastian (certainty) 3. perusahaan-perusahaan yang dimiliki negara lebih berkonsentrasi pada sektor-sektor ekonomi yang belum mampu dibiayai swasta. prinsip keadilan yang memuaskan semua pihak tidak akan pernah tercapai. kebijakan perpajakan harus berlandaskan pada prinsip-prinsip yang relevan. Hal ini berakibat kurangnya tingkat produktivitas masyarakat pada sektor-sektor ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa. Pajak diharapkan dapat menjadi alat distribusi pendapatan secara lebih fair dan mengurangi kesenjangan pendapatan. Jumlah nominal pajak yang dibayarkan oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah harus lebih kecil dari golongan masyarakat yang lebih tinggi. kebijakan ini sering disalahgunakan oleh sebagian masyarakat dengan kultur tertentu yang senang berangan-angan dan ingin merubah status sosialnya secara cepat. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika dirasakan bahwa sektor swasta telah mampu mengembangkan sektor ekonomi tertentu. Atau masyarakat diharapkan lebih berniat untuk menyumbang kepada pemerintah dibanding berharap memenangkan hadiah. Kebijakan perpajakan harus dibuat sesederhana mungkin dan diformulasikan menggunakan kata-kata yang meminimalkan adanya penafsiran ganda. Prinsip keadilan (equity) 2. Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsipprinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1. Lottery adalah kegiatan penggalangan dana yang bertujuan untuk membiayai kegiatan tertentu dengan diiming-imingi hadiah bagi yang membeli surat undian. Secara teori. Hal ini juga perlu ditunjang dengan adanya kecukupan proses sosialisasi dengan memasukkan unsur-unsur kemajemukan masyarakat. Pada akhirnya. Prinsip ekonomi (economy) Prinsip keadilan menekankan bahwa beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan relatif masyarakat. Prinsip kenyamanan (convenience) 4.127 perusahaan-perusahaan milik negara sebisa mungkin bersaing secara kompetitif dalam iklim pasar yang sehat. Pada prakteknya. Prinsip kepastian dimaksudkan agar pada pelaksanaan pemungutan pajak tidak terjadi distorsi berupa kesalahan yang disengaja (penyelewengan) atau yang tidak disengaja akibat kekurangpahaman. Prinsip-Prinsip Pajak Pada awal bab digambarkan bahwa pajak tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana masyarakat untuk membiayai pengeluaran publik. surat undian harus dijual secara murah sehingga tidak menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak menang.

Sehingga tujuan penggunaan pajak untuk pembiayaan pengeluaran publik lebih mudah tercapai. Untuk itu perlu diidentifikasi pos-pos penerimaan dan pengeluaran dalam siklus perekonomian. Pajak atas pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. Pada hakekatnya siklus penerimaan dan pengeluaran dalam perekonomian pada umumnya adalah seperti gambar berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . Upaya-upaya penarikan pajak harus disertai dengan kegiatan yang meminimalkan biaya pemungutan atau biaya-biaya lain yang dapat mengurangi penerimaan bersih negara. Sebaliknya. Prinsip ekonomi menegaskan pentingnya perbandingan antara biaya dan hasil yang efisien.128 Prinsip kenyamanan menggarisbawahi pentingnya menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi wajib pajak agar dengan sukarela bersedia memenuhi kewajiban-kewajibannya. Biaya pemungutan juga tidak layak dibebankan kepada wajib pajak. Kenyamanan wajib pajak dapat diberikan dengan bentuk layanan prima. Siklus Arus Pajak Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. Prosedur pembayaran pajak atau menjadi wajib pajak harus dibuat semudah mungkin. Kepada mereka yang patuh diberikan penghargaan yang setimpal. Mereka sedapat mungkin tidak dikenakan biayabiaya lain diluar kewajiban pajak murni. pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pola pengeluaran rumah tangga serta perusahaan. sebisa mungkin dihindarkan adanya unsur-unsur menekan atau kekerasan. Dengan kata lain.

Tarif Pajak Titik-titik pembebanan dalam siklus pajak adalah segala sesuatu yang dapat dikenakan pajak atau biasa disebut objek pajak. Jika dilihat dari sudut pandangan dasar penentuan tarif pajak. Sebagian pengeluaran perusahaan akan disisihkan untuk biaya penyusutan (9). Jumlah pendapatan rumah tangga yang dikonsumsi kemudian akan mengalir ke pasar barang konsumsi. Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan golongan masyarakat yang diperoleh dari penghasilan upah atau gaji sebagai karyawan dan pendapatan jasa modal. Sedangkan jumlah pajak yang dipungut dihitung dengan mempergunakan tarif pajak. Adapun total penerimaan dari kedua pasar tersebut disebut penerimaan kotor perusahaan (7). Jumlah biaya gaji yang dibayarkan perusahaan akan menjadi pendapatan gaji (13) bagi rumah tangga. diasumsikan akan menjadi investasi seluruhnya. berapapun jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. Progressive tax rate 3. Sedangkan sisa keuntungan yang tidak dibagi (15) akan menjadi tabungan perusahaan (16). Total penerimaan perusahaan tersebut selanjutnya sebagian akan digunakan sebagai pengeluaran perusahaan (8). Regressive tax rate Proportional (flat) tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu. dan sebagian lagi dibayarkan perusahaan sebagai biaya gaji karyawan (11) sedangkan sisanya adalah keuntungan perusahaan (12). Proportional (flat) tax rate 2. jumlah pengenaan tarif pajaknya sama. Dengan kata lain. Jumlah nominal konsumsi masyarakat akan sama dengan jumlah penerimaan kotor perusahaan dari pasar barang konsumsi (4) sedangkan jumlah investasi akan sama dengan jumlah penerimaan kotor dari pasar barang modal (6). jika pendapatan yang diterima Dasar-dasar Keuangan Publik . secara umum terbagi atas tiga bentuk yaitu: 1. Termasuk dalam keuntungan perusahaan adalah pendapatan jasa modal (14) yang dibayarkan kepada rumah tangga seperti bunga. sedangkan seluruh tabungan masyarakat diasumsikan mengalir menjadi bagian dari investasi (5) yang pada akhirnya mengalir ke pasar barang modal. Sedangkan golongan masyarakat lainnya yang memiliki usaha yang menghasilkan produk dikategorikan sebagai perusahaan. Sebagai ilustrasi. Sedangkan tabungan perusahaan bersama-sama tabungan rumah tangga. Pendapatan rumah tangga ini kemudian akan mengalir dalam dua bentuk yaitu sebagian menjadi konsumsi rumah tangga (2) sebagai biaya pemenuhan kehidupan sehari-hari masyarakat dan sisanya menjadi tabungan rumah tangga (3).129 Gambar 11. deviden. dan sewa.1 Pos yang pertama adalah pendapatan rumah tangga (1).

Tabel dibawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak progessive diterapkan.0 9.000 300 10.0 Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak. Sebagai ilustrasi.000 300 15.000 100 10. Tabel 11.0 2. Dengan kata lain.000 100 10.0 3. jumlah pendapatan yang lebih besar yang diterima oleh wajib pajak.000 200 10. Dengan kata lain. Beberapa istilah yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain: • Pajak Perseorangan dan Pajak in Rem • Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung • Pembayaran Transfer Dasar-dasar Keuangan Publik .0 2.000 100 2.0 Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu. maka jumlah kenaikan pajaknya kurang dari 100%. maka secara otomatis jumlah pajak yang terhutang menjadi naik sebesar 100%.000 600 20. Tabel dibawah ini menggambarkan bagaimana tarif pajak regressive diterapkan.0 3. jumlah pajak yang terhutang menjadi naik melebihi 100%. Tabel 11.0 Istilah-istilah Dalam Perpajakan Pembahasan lebih lanjut mengenai perpajakan perlu dimulai dengan mengenal lebih jauh tentang definisi istilah yang sering muncul dalam dunia perpajakan. akan dikenakan tarif yang lebih besar pula. Sebagai ilustrasi.000 240 % 10.1: Pajak Proporsional Pendapatan Pajak Nominal % 1. jika kemampuan membayar seorang wajib pajak naik sebesar 100%. semakin menurun tarif yang dikenakan. Tabel 11.2: Pajak Progresif Pendapatan Pajak Nominal % 1.0 8.000 180 3. jika seorang wajib pajak mendapat kenaikan pendapatan sebesar 100%.3: Pajak Regresif Pendapatan Pajak Nominal 1.130 oleh wajib pajak naik sebesar 100%. peningkatan jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. Tabel dibawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak proportional diterapkan.

Hal yang sama juga berlaku ketika mengenakan pajak terhadap harta kekayaan. maka pajak perseorangan diterapkan dalam bentuk pajak pengeluaran perseorangan (personal expenditure tax) Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian. Siapapun yang melakukan aktivitas-aktivitas tertentu atau memiliki objek-objek pajak tertentu. Pajak pertambahan nilai dan cukai merupakan pajak tidak langsung. yang berkaitan dengan nilai kekayaan dari perseorangan atau perusahaan. Untuk menentukan kemampuan seseorang dalam membayar pajak atas pendapatan (personal income tax). Pajak in Rem dapat dikenakan atas rumah tangga atau badan usaha. 3. menurut Suparmoko adalah sebagai berikut: Kebaikan: 1. semua yang melakukan transaksi atau kejadian tertentu.131 Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan dimana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak. Pajak perseorangan dikenakan atas transaksi rumah tangga berupa pendapatan dan konsumsi. Aktivitas atau objek yang dikenakan pajak tidak terkait dengan karakteristik pihak-pihak yang melakukan transaksi atau pemiliknya. Pajak tidak langsung adalah pajak yang tidak dipungut secara berkala dan dapat beralih sampai dengan penanggung akhir beban tersebut. Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Dikarenakan kesederhanaan landasan aturan yang dipakai. penjualan. Pajak atas transaksi jual beli yang dikenakan terhadap perusahaan akan dapat diperlakukan juga terhadap semua rumah tangga yang melakukan transaksi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Beberapa kebaikan dan kekurangan dari pajak tidak langsung. atau pemilikan harta kekayaan. Pengertian dari pajak cukai adalah pajak tidak langsung yang diterapkan atas penjualan barang-barang manufaktur tertentu. Jumlah nilai yang diperoleh melalui pajak tidak langsung cenderung lebih mudah diprediksi. Pengenaan pajak dapat mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang besar kecilnya penghasilan yang diperoleh. Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak langsung. tidak diperlukan banyak perangkat yang bertujuan untuk mensosialisasikan aturan tersebut. Biaya-biaya yang ditimbulkan akibat adanya penerapan pajak tidak langsung relatif lebih murah dibanding pajak langsung. Maka hampir semua pajak in Rem. 2. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap rumah tangga ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala. Pajak tidak langsung cenderung lebih stabil digunakan sebagai sarana penerimaan negara dibanding pajak langsung. Sedangkan jika konsumsi juga akan dikenai pajak. Sifat pemungutan pajak ini cukup sederhana dan biasanya dikaitkan dengan adanya kejadian tertentu. wajib membayar pajaknya. diwajibkan melunasi pajak yang tertenggung. Tanpa pandang bulu. maka seluruh sumber pendapatan perseorangan harus digabung sebagai basis pembayar pajak.

Menurut studi yang pernah dilakukan. Kesederhanaan aturan juga memungkinkan dilakukannya penelusuran dan pengecekan jika terjadi kesalahan dengan cepat tanpa perlu menggunakan formula audit yang kompleks. Sebagai contoh. Sebagai contoh. Akibatnya. apabila kurva permintaan suatu barang adalah elastis sempurna maka seluruh beban pajak tidak langsung akan menjadi tanggungan produsen. Pembayaran transfer atau grant oleh pemerintah dapat dianggap sebagai arus pajak dengan arah yang berlawanan. Misalnya adalah tunjangan sosial dan subsidi pajak terhadap beberapa jenis usaha tertentu. Teknik pemungutannya yang sederhana tidak memerlukan kegiatan administrasi yang kompleks. pemerintah lebih mudah memperkirakan dampak dari setiap kebijakan perpajakan yang dikeluarkan. dalam kondisi seperti itu beban pajak tidak langsung tidak dapat dialihkan kepada konsumen. Kurangnya rasa berkeadilan antara golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Sedangkan untuk negara-negara maju. Seluruh aliran dana yang masuk kas negara akibat diterapkannya kebijakan perpajakan biasa disebut sebagai pajak positif. peranan kebijakan fiskal adalah sangat penting. tunjangan sosial dapat diterapkan untuk memenuhi prinsip keadilan perpajakan. 2. Sedangkan pembayaran transfer oleh pemerintah dapat dipandang sebagai pajak negatif. program pensiun kepada semua pegawai akan menguntungkan golongan pendapatan yang rendah karena mereka memperoleh manfaat dari program ini melebihi jumlah kontribusi yang dibayarkan melalui pajak penghasilan yang progresif. Karena dimungkinkannya terjadi penggeseran beban pajak kepada golongan wajib pajak lainnya. dapat dengan mudah diterapkan. Hal tersebut disubsidi silang oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah keatas. Dengan mudahnya dipahami.132 4. penanggung akhir dari beban pajak tidak langsung belum tentu sesuai dengan target awal. pajak langsung lebih banyak digunakan dalam instrumen fiskal di negara-negara tersebut. Hal ini tergantung dari tingkat elastisitas kurva permintaan dan penawaran untuk barang-barang terkena pajak tidak langsung. Hal ini terutama diakibatkan sulitnya melakukan administrasi yang baik dan teliti untuk menerapkan pajak langsung. Fungsi regulator yang dimiliki pemerintah dalam hal kebijakan perpajakan. Hal ini dikarenakan kedua golongan tersebut dibebani tarif pajak yang sama untuk setiap transaski atau kejadian tertentu. 5. Dengan kata lain. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pada beberapa negara. Kekurangan: 1. pajak yang diterima sebagian besar negara-negara berkembang lebih banyak dari kategori pajak tidak langsung.

Penerapan berdasarkan manfaat secara umum didasarkan karena setiap wajib pajak mempunyai preferensi terhadap jasa publik yang berbeda-beda. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi. Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. maka manfaat yang diperoleh wajib pajak atas terjadinya pengeluaran publik harus diketahui terlebih dahulu. Agar sistem perpajakan dengan prinsip manfaat bisa adil. tetapi tidak terlalu mempertimbangkan pembiayaan transfer serta tujuan redistributif. maka tidak ada rumusan umum yang berlaku bagi semua orang. maka harus diasumsikan bahwa ketika sistem tersebut mulai diberlakukan.133 B A B XIV PRINSIP KEADILAN PERPAJAKAN ada kenyataannya. Agar prinsip manfaat dapat dilaksanakan. Untuk itu perlu dibandingkan prinsip-prinsip yang menerangkan bagaimana konsep keadilan dapat dibakukan. prinsip manfaat memandang perekonomian sektor publik sebagai sektor yang melibatkan pengeluaran maupun penerimaan yang berkesinambungan. dimana setiap wajib pajak harus memberikan kontribusinya yang layak untuk membiayai kegiatan pemerintah. sulit sekali didapat suatu formula kebijakan perpajakan yang memenuhi seluruh aspek keadilan. Suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. Lebih lanjut pembahasan keadilan perpajakan dikaitkan dengan beberapa jenis pajak. Berdasarkan prinsip ini. Akan tetapi ada pola umum yang bisa dipelajari. P Prinsip Manfaat Setiap orang setuju bahwa sistem perpajakan harus adil. Setiap wajib pajak akan membayar sesuai hasil evaluasi individu. sistem pajak yang adil akan tergantung dari struktur pengeluaran publik. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendekatan pertama adalah prinsip manfaat (benefit principle). Prinsip manfaat cenderung mengalokasikan penerimaan pajak untuk membiayai jasa-jasa publik. tetapi kurang adil dari sisi yang lain. sudah terdapat distribusi yang tepat dalam perekonomian. Oleh karena itu.

Perekonomian memerlukan suatu jumlah penerimaan tertentu dan setiap wajib pajak diminta untuk membayar sesuai dengan kemampuannya. Menurut prinsip ini. penyediaan jasa-jasa publik oleh pemerintah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip yang sama seperti yang dilakukan oleh swasta. konsumsinya bersaing secara bebas. Prinsip Kemampuan Membayar Yang kedua adalah prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle). jumlah pajak yang dibayar ikut meningkat apabila seluruh tabungan tersebut dikonsumsikan. harus diketahui dulu bagaimana mengukur kemampuan tersebut. Pendekatan ini menyebabkan sisi pengeluaran publik menjadi tidak jelas. Dasar-dasar Keuangan Publik . pola konsumsi.134 Penerapan kebijakan fiskal berdasarkan prinsip manfaat didalam prakteknya. Dalam arti. Agar prinsip kemampuan membayar dapat diterapkan. Berkeadilan horizontal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang sama harus membayar dengan jumlah yang sama. Misalnya pembebanan bea (bea cukai dan bea masuk) serta pajak pengganti pembebanan seperti pajak BBM dan pajak kendaraan dalam rangka pembiayaan jalan raya. Ukuran kemampuan membayar mencerminkan kesejahteraan menyeluruh yang dapat diperoleh seseorang termasuk diantaranya adalah pendapatan. dan kekayaan. Dengan penetapan harga. sedangkan kebajikan harus diberi penghargaan. Hobbes berpendapat bahwa kewajiban membayar pajak harus dikaitkan dengan pendapatan yang dibelanjakan bukan yang ditabung. tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. pemborosan harus dikenakan pajak. Berkeadilan vertikal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih besar harus membayar pajak dengan jumlah yang lebih besar pula. Pendekatan kemampuan membayar lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi. Kemampuan membayar seseorang meningkat jika pendapatan meningkat. Mekanisme pasar dapat diterapkan untuk mendapatkan posisi tawar menawar yang efisien. Adapun perbandingan dari metode pengenaan pajak terhadap pendapatan dan konsumsi dari prinsip kemampuan membayar tercermin dari table berikut. lebih banyak ditetapkan pada penyediaan jasa-jasa publik berdasarkan prinsip manfaat yang khusus. Dalam halnya pengenaan pajak melalui pembebanan langsung terhadap pengguna. Manfaat hanya dapat diperoleh apabila pemakai dapat membayar misalnya biaya penggunaan sarana transportasi dan penyediaan fasilitas bandar udara. Dan apabila tabungan masyarakat memperoleh bunga. Keuntungan penyediaan jasa publik model ini adalah dapat meringankan beban keuangan pemerintah. sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. Prinsip ini dianggap lebih berkeadilan secara horizontal dan vertikal. Pendapat lain mengatakan bahwa tabungan adalah konsumsi yang ditunda.

Sebaliknya kekayaan individu bisa menambah pendapatan pemiliknya sebagai pendapatan barang-barang modal. Bagian pendapatan itu ditabung dan tidak pernah dikonsumsi. yang pada akhirnya menjadi kekayaan individu. kekayaan individu dan warisan bisa dikenakan pajak. pajak dapat dikategorikan sebagai pajak penghasilan. dimungkinkan adanya bagian pendapatan yang tidak pernah kena pajak. ditabung atau dikonsumsi. Ilustrasi pajak atas konsumsi terlihat lebih adil. Keadaan ini menyebabkan orang cenderung untuk mengurangi tabungan.9 10 11 Nilai Sekarang (PV) 10 10. Apabila pajak atas konsumsi yang dipilih. Ilustrasi pada pajak penghasilan menggambarkan apabila seluruh pendapatan setelah dikurangi pajak dikonsumsi habis.1 0 99 • Konsumsi 0 0 0 0 • Tabungan Total Pajak 10 10. Apabila kekayaan individu dapat diwariskan kepada individu lain tanpa dikenakan pajak.9 0 11 • Pajak 0 98. jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak mempunyai nilai sekarang yang sama. maka tidak akan ada tambahan pendapatan pada periode II (berikutnya) dari tabungan gaji periode I. Hal ini disebabkan tanpa melihat kapan pendapatan akan dikonsumsi. Sedangkan tambahan pajak akan dikenakan terhadap bagian gaji yang ditabung yang mendapat bunga. maka pendapatan tersebut selamanya bisa tidak dikonsumsi dan tidak kena pajak. Atas dasar ini.135 Tabel 12. Walaupun pada umumnya perpajakan lebih didasarkan atas penghasilan yang dimiliki masyarakat. Atau dengan kata lain. pajak penjualan (barang dan jasa) dan pajak kekayaan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Inflasi/Bunga = 10% Pengenaan pajak yang didasarkan atas diterimanya pendapatan (termasuk pendapatan dari bunga tabungan) akan menyebabkan total pajak yang dibayar oleh wajib pajak menjadi lebih besar berbanding lurus dengan besarnya jumlah pendapatan yang ditabung. Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Untuk keperluan analisis. jumlah total pajak yang dibayar memiliki nilai sekarang yang sama (asumsi nilai bunga sama dengan inflasi).82 10 10 Pajak = 10%.1: Perbandingan Pajak Penghasilan dan Pajak Konsumsi Pajak penghasilan Pajak Konsumsi Periode I 100 100 100 100 • Gaji 10 10 10 0 • Pajak 90 0 90 0 • Konsumsi 0 90 0 100 • Tabungan Periode II 0 9 0 10 • Bunga 0 0.

Walaupun pada pelaksanaannya banyak menimbulkan perbedaan-perbedaan. terbatasnya volume pendapatan masyarakat yang dapat dikenakan pajak. tidak dipungkiri jika orang kaya ikut menikmati sebagian keuntungan dari adanya belanja negara. masyarakat golongan ekonomi rendah harus dikenakan pajak yang ringan atau dibebaskan dari kewajiban pajak seluruhnya. Perlu juga prinsip keadilan pajak dilihat secara geografis dimana orang-orang yang tinggal pada daerah tertentu harus dikenakan pajak yang lebih tinggi. Menurut konsep ini. keadilan perpajakan mengimplikasikan proses redistribusi kekayaan masyarakat dimana orang kaya membayar lebih banyak dari orang yang lebih miskin (dimensi vertikal). Juga dapat dikatakan tidak adil jika sumber pendapatan tertentu dikenakan pajak tinggi. Disamping keadilan pajak secara dimensi vertikal. sementara sumber tersebut memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Tidak jarang para pelaku ekonomi yang kuat menyuarakan keluhan-keluhannya terhadap kebijakan pajak baru yang dapat menggangu kegiatan bisnisnya. perlu juga diperhatikan secara horizontal dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar. Prinsip ini dianut oleh semua negara dalam rangka memenuhi tuntutan keadilan dalam hukum. Dalam prakteknya. Prinsip keadilan pajak dapat juga dilihat dari sisi yakni penerimaan dan pengeluaran. Lebih lanjut keadilan pajak juga harus memperhitungkan besarnya jumlah tanggungan dalam keluarga. dibawah umur. Ketidakakuratan mengakibatkan ketidakadilan karena adanya pajak yang lebih atau kurang bayar. ketakutan akan efek negatif pajak terhadap produksi dan investasi nasional. Kebijakan pajak dianggap adil jika faktor-faktor seperti lanjut usia. serta pengaruh kekuatan orang-orang kaya terhadap kebijakan politik nasional. Sekali lagi pada negara-negara yang relatif maju dalam perekonomian cenderung dapat mempercayai dokumen-dokumen yang membuktikan adanya hak atas pengecualian pajak.136 Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. Hambatan utama dari kebijakan pajak adalah keadaan ekonomi dan politik suatu negara. Secara konsep. dan cacat dikecualikan dari subjek kena pajak. Sulitnya menerapkan metode assesment yang baik juga muncul dalam hal menentukan subjek pajak yang dikecualikan. pajak terhadap seorang petani harus lebih rendah dari hasil pertanian yang dimilikinya. Hal ini juga dipengaruhi oleh metode assesment dan akurasi penghitungan pajak terhutang. Sebagai ilustrasi. Distribusi pembebanan pajak yang adil dipengaruhi oleh cakupan faktorfaktor siapa yang membayar dan jenis pendapatannya serta tarif pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . Beberapa argumen menyimpulkan keadilan pajak jika misalnya kenaikan pajak dikompensasikan dengan penyediaan pendidikan dan transportasi umum yang murah. kemiskinan. Struktur pajak yang progresif cenderung lebih mudah dicapai pada struktur perekonomian yang mapan.

Pengeluaran-pengeluaran tersebut diperlukan untuk mendapatkan penghasilan dan tidak menambah kekayaan wajib pajak sehingga layak dikeluarkan dari jumlah pendapatan kena pajak. Penghasilan tersebut merupakan daya beli individu atas barang dan jasa selama satu tahun yang dapat dikonsumsikan atau disimpan untuk keperluan mendatang. Pada beberapa kasus.137 Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak individu dan pajak badan. pajak penghasilan biasanya dihitung atas jumlah penghasilan selama satu tahun. Biaya pelatihan juga diperdebatkan sebagai pengeluaran yang dapat mengurangi pendapatan kena pajak. pendapatan adalah seluruh penerimaan selama periode pajak. dan kenaikan nilai kekayaan. I = C + ΔNW I C ΔNW = Pendapatan tahunan (annual income) = Konsumsi tahunan (annual consumption) = Perubahan kekayaan bersih setahun (annual change in net worth) Metode untuk mengukur pendapatan baik berdasarkan sumbernya atau penggunaannya harus ditentukan sebelum pajak penghasilan di jalankan. Untuk itu perlu dihitung pendapatan yang real jika dimasukkan unsur inflasi sebagai penyeimbang. dan tabungan. Kebanyakan sistem akuntansi menggunakan sisi sumber sebagai alat ukurnya. iuran serikat pekerja. Sebagai pajak individu. Jika dari sisi pengeluaran. ada item-item pengeluaran yang erat kaitannya dengan kegiatan memperoleh pendapatan seperti peralatan kerja. Berdasarkan sumbernya. dan transportasi dari/menuju tempat kerja. Pendapatan jenis ini sering terjadi pada usaha-usaha kecil yang memproduksi barang atau jasa. Sebagai pajak badan adalah pengenaan pajak atas keuntungan badan usaha yang dapat diterima para pemegang saham sesuai proporsi nilai saham yang dimilikinya. keuntungan jasa. Beberapa ahli menyarankan untuk memasukkan unsur tambahan kenaikan kekayaan sebagai bagian pendapatan kena pajak. sumbangan. Pengukuran relatif lebih mudah jika kekayaan yang dimiliki berupa saham dan obligasi. pakaian kerja. Pendapatan masyarakat dapat diukur berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya. Berdasarkan dimensi waktu. pajak penghasilan dikenakan kepada orang perorang yang memiliki penghasilan tanpa melihat umur atau jumlah yang diterimanya. wajib pajak dimungkinkan menerima pendapatan selain uang tunai. Adakalanya. Kesulitan muncul pada saat menghitung berapa nilai tambahan kekayaan yang timbul akibat adanya transaksi non moneter ini (income in kind). Sedangkan berdasarkan penggunaannya berupa pembelian barang dan jasa. tunjangan dari pemerintah atau swasta. beban pajak. biaya penitipan anak. seorang wajib pajak memperoleh suatu produk atau menerima jasa yang dihasilkan sendiri sehingga tanpa harus mengeluarkan Dasar-dasar Keuangan Publik .

maka pada pajak penjualan tambahan kekayaan tersebut (yang biasanya dari tabungan) dikeluarkan dari basis pajak. Kedua adalah kebijakan pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi untuk setiap tambahan pendapatan. Seperti pada ilustrasi awal bab. Secara umum.138 sejumlah uang. Kesemua itu dapat dikategorikan sebagai pendapatan yang tidak tercermin dalam gaji yang tertera (nonpecuniary returns). Kompensasi dari adanya kebijakan ini adalah rumitnya pelaksanaan peraturan dalam praktek. Wajib pajak cenderung mempermainkan tempo pengakuan suatu pendapatan untuk menghindari pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. seharusnya hal-hal yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga juga ikut diperhitungkan. Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip umum yang ingin dicapai dalam pajak penjualan adalah bahwa jumlah pendapatan masyarakat yang ditabung seharusnya tidak perlu dikenakan pajak. Sedangkan kesetaraan kemampuan ekonomi bisa diejawantahkan sebagai kesamaan tingkat pendapatan. kerumitan cenderung mendorong keengganan dan penyelewengan wajib pajak. Supaya lebih adil. biaya pendidikan yang bervariasi sangat mempengaruhi pola pengeluaran rumah tangga. Akan tetapi. Jika dalam pajak penghasilan seluruh konsumsi dan tambahan kekayaan wajib pajak dikenakan pajak. biaya kesehatan. Pertama adalah kebijakan pendapatan tidak kena pajak. pengenaan pajak harus sesuai dengan kesetaraan kemampuan ekonomi masyarakatnya. Kegiatan tersebut jelas menambah kekayaan bersih wajib pajak. perumusan rancangan kebijakan fiskal lebih memerlukan perhatian khusus. Banyak pendapat yang kurang setuju jika keadilan secara vertikal dilambangkan dengan tarif pajak progresif. perbedaan pendapat dalam hal kebijakan yang berkeadilan lebih kompleks lagi pada pajak penghasilan. tapi biasanya luput dari pengenaan pajak. Pada akhirnya. Untuk menghindari Dasar-dasar Keuangan Publik . ada semacam penundaan pajak penghasilan sampai terjadi konsumsi atas bagian penghasilan tersebut. dimana seorang wajib pajak misalnya menerima pinjaman kendaraan yang dapat digunakan untuk keperluan pribadi atau tunjangan makan yang diberikan tidak dalam bentuk uang. Basis yang menyeluruh terhadap kajian pajak penjualan dapat diturunkan dari basis pajak penghasilan. Hal ini dipercaya dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan tabungannya disamping kegiatan administrasi perpajakannya yang cenderung lebih mudah. Atau kesetaraan ini hanya diukur dari jumlah pendapatan yang diterima saja. Hal-hal seperti jumlah anggota keluarga. Adapun alasan yang mendasari dapat dilihat dari dua kebijakan yang biasa berkaitan dengan pajak progresif. konsep keadilan dalam perpajakan masih dapat diperdebatkan. Sama sekali mengabaikan potensi perbedaan pengeluaran dari masing-masing rumah tangga. Secara horizontal. Contoh lain adalah fringe benefit. Baik prinsip keadilan secara horizontal maupun secara vertikal.

pinjaman tidak dikenakan pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam pajak penjualan. capital gain harus memperhitungkan tingkat inflasi sebelum menentukan jumlah kena pajak. Makin besar pendapatan golongan masyarakat. Seorang wajib pajak dapat memiliki kekayaan melalui kegiatan menabung. Mengembalikan jumlah pajak penjualan yang dibayar kepada masyarakat dengan standar penghasilan tertentu.139 akumulasi pendapatan yang tidak kena pajak akibat wajib pajak meninggal dunia. Sedangkan pada pajak penghasilan. Banyak pendapat yang setuju jika pajak kekayaan diterapkan. 2. Perbedaan menarik pajak penjualan dengan pajak penghasilan adalah pada dana yang tersedia berupa pinjaman. selisih lebih kekayaan wajib pajak secara moneter akibat adanya inflasi tidak membuat kemampuan membayarnya meningkat sebagai akibat wajib pajak tersebut harus membelanjakan penghasilannya dengan harga yang telah terinflasi. warisan dikenai pajak seketika setelah wajib pajak diumumkan meninggal dunia. Mengurangi atau mengeliminasi pengenaan pajak yang lebih banyak dikonsumsi oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. tidak memperoleh hibah/hadiah atau warisan tidak akan pernah disebut kaya. 3. Untuk menghindari hal tersebut. sulit sekali mengukur berapa jumlah tambahan pendapatan dari kegiatan sewa tersebut. dapat ditempuh oleh pemerintah seperti: 1. golongan masyarakat ini cenderung untuk mengkonsumsi seluruh pendapatan yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan banyak wajib pajak yang berpenghasilan rendah memiliki sejumlah kekayaan yang mana mereka memungut sewa atas pemanfaatan kekayaan tersebut oleh orang lain. memperoleh hibah atau mewarisi kekayaan keluarganya. Jika hal ini terjadi. Mengenakan tarif pajak yang lebih tinggi untuk beberapa jenis produk yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. Dibandingkan dengan pajak penghasilan. Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan Kekayaan adalah akumulasi dari tabungan dan investasi suatu negara. Pengenaan pajak penjualan lebih dirasakan dampaknya oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. makin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Hal ini disebabkan. beberapa langkah. Pajak penjualan sama sekali tidak dipengaruhi inflasi. Seorang wajib pajak yang tidak mampu menabung. Sedangkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi memiliki kesempatan untuk menabung sebagian pendapatannya. Memperbanyak item aktivitas penjualan kena pajak yang hanya mungkin dilakukan oleh golongan masyarakat berpenghasilan tinggi. hanya porsi penghasilan yang dibelanjakan lah yang kena pajak. Hal ini dikarenakan. seperti dijelaskan oleh Ulbrich. 4. Justru bunga yang timbul akibat adanya pinjaman dapat mengurangi dasar penghasilan yang dikenai pajak. pinjaman yang dikonsumsikan tetap dikenai pajak. Pada pajak penjualan.

Dalam dunia usaha. seorang penilai independen ditunjuk untuk mengestimasikan nilai. nilai bersih kekayaan harus dikurangi dulu dengan jumlah total hutang supaya tidak terjadi penghitungan ganda. konsumen. Aplikasi pengenaan pajak terhadap kekayaan akan lebih mudah diterapkan jika pemilik dan pengguna kekayaan tersebut adalah sama. penanggung akhir dari adanya pengenaan pajak kekayaan makin sulit ditentukan karena melibatkan pemilik usaha. Problem distribusi pajak yang muncul akan lebih kompleks diprediksi keadilannya apabila kekayaan tersebut disewakan kepada pihak ketiga. Jika hasilnya dirasa memadai. Secara prinsip. Artinya. Tentu saja hal ini harus memperhitungkan tren kenaikan harga sewa sehingga dapat mencerminkan nilai pasar sesungguhnya. Cara lain yang dapat dipakai untuk mengukur nilai sebuah kekayaan adalah dengan menghitung nilai sekarang (present value) dari potensi pendapatan sewa selama masa manfaat kekayaan tersebut. Secara umum pada pajak kekayaan.140 Mengadministrasikan pajak kekayaan cenderung lebih sulit. Estimasi nilainya sering meleset dari nilai yang sesungguhnya. target pengenaan pajak kekayaan (kekayaan atas bendabenda seperti rumah dan mobil) adalah pemiliknya. pengenaan tarif didasarkan atas estimasi nilai yang dihasilkan. Pengukuran nilai kekayaan akan menjadi lebih sulit jika berupa kekayaan tak berwujud (intangible asset). para pegawai. dan pemilik kekayaan. Pajak kekayaan cenderung bersifat regresif. Hal ini terutama untuk kekayaan yang jarang diperjualbelikan. Dalam halnya kekayaan yang dimiliki dengan cara hutang. Dasar-dasar Keuangan Publik . pajak kekayaan lebih menguntungkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi karena nilai uang yang dikeluarkannya sebagai pajak jauh lebih rendah dengan nilai uang untuk pajak kekayaan yang dikeluarkan oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah.

Dengan mengurangi pengenaan pajak yang menimbulkan excess burden lebih besar dalam jumlah nominal yang sama. Hal ini mengakibatkan adanya keuntungan yang hilang akibat terdistorsinya keseimbangan harga pada kurva permintaan dan penawaran.141 B A B XV DAMPAK PERPAJAKAN TERHADAP PEREKONOMIAN istem perpajakan yang baik adalah sistem perpajakan yang memberikan pengaruh terbaik terhadap perekonomian negara. Efficiency Effect Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat diatas jumlah pajak yang seharusnya dibayar. Berkaitan dengan penerimaan negara. Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar pembeli dibanding jumlah yang diterima oleh penjual. Jika tujuan tersebut adalah mengoptimalkan tingkat produksi. kebijakan perpajakan yang dapat ditempuh dapat dengan mengenakan pajak tidak langsung. Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku-pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. Dengan kata lain. penurunan pendapatan penjual tidak diikuti dengan peningkatan kuantitas yang tersedia untuk dibeli. Untuk mengukurnya digunakan efficiency-loss ratio dengan persamaan sebagai berikut: W R = Excess Burden = Tax Revenue S Estimasi efficiency-loss ratio penting dilakukan untuk meminimalkan total excess burden pada sistem perpajakan nasional. Sebaliknya jika tujuan yang ingin dicapai adalah pemerataan penghasilan. tarif pajak dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah total penerimaan negara. pajak langsung yang progresif lebih tepat untuk diterapkan. Hal ini dimungkinkan karena pelaku ekonomi yang secara hukum berkewajiban membayar pajak kepada Dasar-dasar Keuangan Publik . terkadang total excess burden tidak sama dengan total penerimaan negara.

Apabila seluruh Tabungan (S) digunakan sebagai Investasi (S = I).1 Dasar-dasar Keuangan Publik . Kondisi ini menyebabkan kegairahan ekonomi dan kenaikan harga (inflasi). Dampak Pajak Terhadap Sistem Ekonomi Keseluruhan Secara umum. struktur perekonomian nasional (tanpa pajak) terdiri dari Pendapatan Nasional (Y). Hubungan dari ketiga unsur tersebut adalah Pendapatan Nasional sama dengan jumlah Konsumsi ditambah jumlah Tabungan (Y = C + S). penurunan harga (deflasi). Gambar 13. Statutory Incidence merujuk pada pelaku-pelaku ekonomi yang secara hukum terlibat dalam pendistribusian pembebanan pajak. maka tidak akan pernah terjadi inflasi atau deflasi. Yang sering terjadi justru jumlah Tabungan lebih rendah dari jumlah Investasi (S < I). Berkenaan dengan dimungkinkannya memindahkan beban pajak kepada pelaku ekonomi lain secara keseluruhan atau sebagian (distribusi pembebanan) maka pembahasan tax incidence dapat dibagi dalam dua konsep yakni statutory incidence dan economic incidence. Kadang-kadang yang muncul adalah jumlah Tabungan (S) lebih besar dari jumlah Investasi (I) atau dengan kata lain. jumlah Konsumsi (C) dan Tabungan (S). tidak semua tabungan digunakan untuk investasi (S > I) maka akan terjadi kelesuan ekonomi. dan pengangguran.142 pemerintah belum tentu menggunakan dana pribadi atau dengan kata lain dapat membebankan pajaknya kepada pelaku ekonomi yang lain. Sedangkan Economic Incidence lebih mengarah pada pengaruh pendistribusian pembebanan pajak pada tingkat ekulibrium harga.

menggeser kurva C+I keatas dengan menerapkan pajak atas tabungan. Seberapa jauh pengaruh pajak terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dipengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang-barang yang dihasilkan. Pergeseran yang dimaksud adalah dengan mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi. Dengan kata lain. tidak ada inflasi ataupun deflasi. perusahaan tidak dapat mengalihkan beban pajaknya pada harga barang. Pajak dapat menyebabkan orang menjadi kurang giat bekerja. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. Berkaitan dengan dimungkinkannya penerapan insentif pajak pada suatu daerah tertentu. Terhadap Usaha Kerja Sebagian besar penerimaan negara dari pajak di Indonesia adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas pendapatan para pegawai. Sebaliknya pada tingkat pendapatan 0Y2 (S>I) terdapat deflationary gap dimana harga-harga cenderung terus turun sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. Konsumen akan membayar seluruh beban pajak yang ditambahkan pada harga barang. pajak mempunyai pengaruh negatif terhadap kemauan usaha kerja. pegawai-pegawai tersebut mempunyai dua pilihan yaitu bekerja atau tidak bekerja (memanfaatkan waktu santai) akibat adanya pengenaan pajak penghasilan. dengan tingkat Konsumsi (C) dan tingkat Investasi (I). Secara mudah dikatakan. Sebagai contoh.143 Gambar menunjukkan hubungan antara tingkat Pendapatan Nasional (Y). Pada tingkat pendapatan 0Y1 (S<I) terdapat inflationary gap. Secara teoritis. Harga-harga cenderung terus naik sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. Perusahaan lain dapat saja berpindah lokasi industri dari suatu tempat yang mengenakan pajak yang tinggi ke tempat yang memberikan insentif pajak. pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktor-faktor produksi. Sebaliknya. Orang lebih memilih untuk mempunyai lebih banyak waktu santai. Sehingga disarankan untuk barang-barang yang memiliki elastisitas tinggi. perusahaan dapat saja mengurangi produksi barang-barang yang merupakan objek pajak dan meningkatkan produksi barang-barang lain yang masih belum merupakan kategori barang kena pajak. menimbulkan adanya beberapa alternatif pilihan yang dapat diambil oleh para pelaku ekonomi. Pada Dasar-dasar Keuangan Publik . menggeser kurva C+I kebawah dengan menerapkan pajak atas konsumsi. dikenakan pajak yang ringan. perekonomian dalam keadaan seimbang. Pada tingkat pendapatan nasional sebesar 0Y (S=I). Barang-barang yang tingkat permintaannya in-elastis sempurna tidak akan terpengaruh dengan adanya pengenaan pajak. Terhadap Komposisi Produksi Pajak dapat digunakan sebagai pendorong kepada pelaku ekonomi untuk melakukan aktivitas tertentu dengan memberikan insentif-insentif. jika elastisitas permintaan barang adalah sempurna.

Dengan kata lain. Dari kelompok-kelompok kaya inilah diharapkan sejumlah dana tabungan yang dapat digunakan untuk investasi. biasanya permintaannya terhadap penghasilan adalah tinggi. pajak tidak menimbulkan disinsentif untuk bekerja. dan melakukan investasi. pola konsumsi masyarakat cenderung lebih tinggi dari pola konsumsi masyarakat di negara-negara maju. Sehingga elastisitas penawaran usahanya adalah tinggi dimana dengan turunnya pendapatan. Tetapi pada kenyataannya. penciptaan lapangan kerja. Bagi sebagian orang. Menurut pengertian ini. keadaan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Sedangkan bagi mereka yang kurang peduli dengan gaya hidup mewah. Reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha. Mereka juga tidak begitu saja meningkatkan tabungan dan investasi apabila dikenakan tarif pajak rendah atau subsidi perpajakan lainnya. permintaannya terhadap penghasilan rendah sehingga elastisitas penawaran usaha dalam hubungannya dengan penghasilan adalah rendah juga. Masyarakat tidak begitu saja bekerja secara produktif dengan diterapkannya anggaran pendapatan dan belanja berimbang. semakin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. semakin tinggi pendapatan seseorang. masyarakat kelompok miskin tidak punya kemampuan tabungan dan investasi. Sehingga sulit didapatkan dana tabungan masyarakat. pengaruh pajak terhadap kemauan kerja individu memiliki sifat yang lebih kompleks. kebijakan perpajakan di Indonesia lebih banyak diterapkan untuk mengurangi kesenjangan pendapatan di masyarakat. Bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah.144 kenyataannya. menabung sebagian pendapatannya serta menginvestasikan nilai tabungannya. Kelemahan dari tarif pajak progresif adalah menekan pada kelompok-kelompok kaya pemilik modal sehingga mereka malas bekerja. pendapatan nasional yang dikenai pajak akan banyak mempengaruhi turunnya jumlah tabungan masyarakat bukan pada porsi pendapatan yang dikonsumsi yang diasumsikan tetap. Hal ini dilakukan dengan menerapkan tarif pajak progresif dan minimum pendapatan yang dapat dikenakan pajak. Berdasarkan kenyataan tersebut. Secara teori. dan distribusi pendapatan yang merata dan keseimbangan dalam neraca pembayaran internasional. Penarikan dana masyarakat secara sukarela dengan iming-iming bunga yang tinggi pada akhirnya juga ikut berpengaruh pada tingkat inflasi nasional. menabung. Juga tidak setiap kenaikan pajak akan memberi dampak negatif pada Tabungan masyarakat ataupun Investasi. Hal-hal tersebut menurut Daniel J Mitchell (2003) adalah prilaku-prilaku yang dapat meningkatkan kekayaan nasional. Untuk meningkatkan pendapatan nasional sesuai Dasar-dasar Keuangan Publik . Terhadap Distribusi Pendapatan Tujuan pembangunan suatu negara pada umumnya adalah peningkatan pendapatan per kapita nasional. justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. Kriteria Tarif Pajak Pertumbuhan ekonomi hanya akan terjadi apabila lebih banyak masyarakat yang bekerja.

Secara jangka panjang. 5. 6. 4. Beberapa opsi tarif pajak yang dipungut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya penurunan tarif pajak tidak merubah total pengeluaran.145 dengan karakteristik masyarakat disuatu negara. Beberapa kebijakan insentif pajak atau subsidi dapat berakibat hanya mengurangi jumlah penerimaan negara tanpa menghasilkan peningkatan kegiatan ekonomi secara signifikan. insentif pajak investasi dalam jangka pendek akan menarik minat pemodal masuk kedalam negeri. Jika keadaan prilaku masyarakat wajib pajak adalah produktif. studi membuktikan bahwa banyak pengeluaran publik yang justru berefek negatif terhadap Dasar-dasar Keuangan Publik . Mitchell (2003) memaparkan sembilan petunjuk kebijakan perpajakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sebagai berikut: 1. penurunan tarif pajak justru meningkatkan jumlah penerimaan negara. bukan pada penurunan tarif. 3. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya cenderung kurang peduli dengan pungutan pajak. Meskipun beberapa pos-pos belanja negara membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti penyediaan keamanan dan penegakkan hukum. Karena tarif pajak yang rendah dapat membuat masyarakat yang produktif semakin giat bekerja. Fokus pada pertumbuhan ekonomi. 2. Justru sebaliknya. para pengambil keputusan bidang pajak harus mengkonsentrasikan pada hal-hal yang berakibat positif terhadap prilaku bekerja. Untuk itu perlu diupayakan suatu kebijakan pelengkap yang dapat meng-offset selisih penurunan penerimaan negara tersebut. Untuk itu. 7. faktor produksi tersebut akan juga mendorong pertumbuhan ekonomi agregat menjadi lebih baik. menabung dan berinvestasi. sebaiknya kebijakan publik tidak mengedepankan motif yang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan jalan mendorong konsumsi. Efisiensi belanja negara penting dilakukan. Agar pelaksanaan kegiatan pemerintah tidak terganggu. Sehingga penurunan tarif pajak tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. pertumbuhan ekonmi sebagai faktor yang mendorong jumlah total konsumsi akibat meningkatnya jumlah daya beli masyarakat. dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tidak diakibatkan oleh peningkatan konsumsi. Beberapa negara telah membuktikan bahwa deregulasi perpajakan yang kecil pengaruhnya terhadap turunnya penerimaan negara justru dapat meningkatkan gairah investasi dunia usaha. Penurunan tarif pajak tidak perlu diterapkan seragam untuk seluruh wajib pajak. Kebijakan pajak yang bardampak positif pada jangka pendek biasanya berdampak positif pula pada jangka panjang. Sebagai contoh. harus diperhitungkan cara-cara yang dapat mengkompensasikan turunnya penerimaan negara akibat pengenaan tarif yang lebih rendah. Kebijakan yang baik menghasilkan penerimaan negara lebih banyak. Jumlah potensi tambahan konsumsi masyarakat akibat adanya penurunan tarif pajak kurang signifikan terhadap peningkatan kegiatan ekonomi dibandingkan dengan turunnya jumlah total penerimaan negara. pendapatan nasional.

Penerimaan pajak harus dirumuskan secara tepat. dikhawatirkan investor tidak akan mau menanamkan modalnya di dalam negeri. Penanggung akhir beban pajak harus menjadi pokok perhatian. 4. Walaupun dibeberapa negara penurunan tarif pajak justru dapat meningkatkan penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi. Invesatsi dan tabungan. 5. jumlah target penerimaan pajak tidak akan pernah tercapai. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh investasi yang produktif. Hal ini mengakibatkan multiplier efek yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tidak tercapai. kriteria yang bisa menentukan baik tidaknya sebuah kebijakan perpajakan dapat dilihat sebagai berikut: 1. 8. atau defisit dengan tingkat suku bunga. Sistem pajak harus menerapkan administrasi yang wajar dan mudah dipahami oleh wajib pajak. 7. Untuk itu perlu dikembangkan kebijakan pajak yang mendorong iklim investasi dan menabung. Kriteria Struktur Pajak yang Baik Kebijakan perpajakan akan memberi dampak yang signifikan jika disusun secara komprehensif. Biaya administrasi dan biaya-biaya pembayaran pajak lainnya harus dibuat serendah mungkin. sehingga bisa merefleksikan kemampuan membayar dari seluruh wajib pajak yang ada sehingga tidak terlalu besar atau terlalu kecil. 3. penurunan tarif bukanlah satu-satunya cara yang dapat diambil pemerintah. dikhawatirkan jumlahnya tidak dapat membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika jumlah yang ditetapkan terlalu besar. 6. Sedangkan tarif pajak adalah salah satu faktor yang mempengaruhi suku bunga. Distribusi beban pajak harus adil. Dana investasi terutama diambil dari tabungan masyarakat. dengan mempertimbangkan seluruh dampak yang dapat ditimbulkan pada level ekonomi makro. Tetapi pengaruhnya kurang signifikan dibanding pengaruh faktorfaktor lain seperti pasar modal. Defisit belanja negara dapat berpengaruh pada turunnya tingkat suku bunga.146 pertumbuhan ekonomi. keduanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Setiap orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuannya. 9. Pada akhirnya. Efisiensi belanja negara dapat dilakukan dengan merampingkan struktur pemerintahan. Inti dari sembilan petunjuk diatas adalah segala upaya kebijakan pajak seharusnya difokuskan pada pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberikan insentif pada aktivitas-aktivitas produktif nasional. Seperti dikutip dari Musgrave. Riset akademis yang dihasilkan menunjukkan bahwa tidak ada korelasi positif antara anggaran surplus. Sebaliknya jika terlalu kecil. Penerimaan/pendapatan harus ditentukan dengan tepat 2. Struktur pajak harus memudahkan penggunaan kebijakan fiskal untuk mencapai stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi. berimbang. Peraturan perpajakan harus mendukung kebijakan perekonomian dan mendorong pasar yang efisien.

Kemungkinan pergeseran titik equilibrium kurva permintaan dan penawaran harus terus diantisipasi dan terus diawasi dengan memasukkan unsurunsur spesifik para pelaku ekonomi setempat. Keadilan perpajakan pada intinya adalah. Rumusan-rumusan yang dipakai harus menghindari kesalahpahaman massal yang menyebabkan kekacauan pada proses administrasi. Segala biaya yang tidak berkaitan langsung dengan beban pajak sesungguhnya harus diminimalkan. Kecilnya kesenjangan bisa mendorong stabilisasi yang kondusif bagi perbaikan ekonomi nasional. Perlu dibuat aturan-aturan teknis yang simple dan dapat menghindarkan terjadinya salah sasaran. Simulasi terhadap bakal munculnya kekeliruan yang tidak diharapkan harus disiapkan secara matang. Simulasi tersebut bisa menggunakan beberapa skenario yang berbeda dan mengamati hasilnya. Harus dapat ditentukan pada awal permusan kebijakan bahwa implementasinya pada akhirnya akan meminimalkan gejolak ekonomi. Kebijakan perpajakan harus tetap mengindahkan konsep kestabilan ekonomi. Adanya kemungkinan peralihan beban pajak kepada penanggung akhir.147 yang bermanfaat untuk menciptakan value yang dapat merangsang perputaran gerak roda eknomi. Dengan demikian risiko biaya tinggi yang tidak terduga akibat penyelewengan peraturan oleh oknum pelaku ekonomi bisa dieliminasi. investor-investor terutama para pemodal asing sangat mengharapkan adanya kepastian iklim berusaha. perlu dilakukan pengkajian mendalam dengan melakukan simulasi yang menyeluruh untuk dapat memperoleh gambaran dampak pembebanan penanggung akhir terhadap stabilisasi ekonomi. Jika pajak diterapkan atas produk-produk tertentu. Hal ini untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pemilik modal dalam rangka menghitung proyeksi keuntungan investasi. Dengan kata lain. beban pajak harus terdistribusi sedemikian rupa sehingga target pencapaian penerimaan pajak bisa diimbangi dengan mengurangi kesenjangan pendapatan golongan masyarakat yang kaya dengan golongan masyarakat miskin. misalnya dengan adanya kegiatan sosialisasi yang memadai. Dasar-dasar Keuangan Publik . Ekonomi yang sering bergejolak biasanya tidak menguntungkan iklim investasi. Ekonomi yang terus tumbuh dan pasar yang efisien harus terus dijaga agar kemakmuran masyarakat tidak rusak akibat adanya penerapan kebijakan perpajakan. Segala kebijakan harus mengacu pada kesederhanaan. perlu dikaji serius mengenai elastisitas permintaan dan penawarannya dalam ekonomi pasar.

pajak-pajak yang berlaku di Indonesia yang dapat dikelompokkan sebagai pajak penghasilan adalah Pajak penghasilan (PPd). Inilah dasar pengenaan pajak yang akan Dasar-dasar Keuangan Publik .148 B A B XVI PAJAK PENGHASILAN WAJIB P AJAK PRIBADI ajak penghasilan pertama kali diberlakukan di Indonesia sebagai suatu sistem perpajakan integral yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. yaitu tahun 1991. sehingga sampai dengan sebelum reformasi perpajakan tahun 1983. tidak ada pungutan pajak yang berarti yang dapat dikumpulkan. Yang ada hanyalah kantor iuran negara yang menerima pembayaran pajak dari beberapa pedagang. Penghasilan total ini kemudian dikurangi dengan pengecualianpengecualian dan pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan yang akan dikenakan pajak. Undang-Undang ini mengalami perubahan dan perbaikan sebanyak tiga kali. Pertama kali diberlakukan dikenal dengan nama Pajak Penghasilan 1932 atau Inkomsten Belasting 1932. Setelah kedaulatan diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. Pada tahun 1944. pajak-pajak berdasarkan peraturan perpajakan Belanda ini disatukan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang berlaku sejak 1 Januari 1984. Selama masa revolusi. peraturan perpajakan Belanda dipergunakan kembali dengan melakukan penataan dan perluasan seperlunya. 1994 dan 2000. Pajak Perseroan (PPs) serta Pajak atas Bunga. Dividen dan Royalti (PBDR). peraturan pajak ini diubah dengan Ordonansi Perpajakan tahun 1944 yang digunakan oleh Pemerintah Kolonial Jepang untuk melakukan pungutan-pungutan terhadap hasil pertanian sebagai pajak. Setelah reformasi perpajakan tahun 1983. P Aturan Utama Prinsip dasar Pajak Penghasilan adalah bahwa penghasilan wajib pajak dari semua sumber harus digabungkan menjadi satu angka tunggal ukuran penghasilannya.

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Penerapan Tarip Pajak Pajak dihitung dengan menerapkan angka tarip pada skedul tarip pajak dengan angka Penghasilan Neto setelah dikurangi PTKP. Penghasilan neto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan PTKP. Skedul tarip ini ditetapkan berdasarkan Undang-Undang dalam bentuk tarip marjinal. PTKP yang berlaku saat penulisan buku ini adalah wajib pajak dan pasangannya (masing-masing Rp2. seperti pembebasan utang. keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. dividen. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun. Dari angka penghasilan ini. d. b. dan sebagainya. Beberapa penghasilan nonkas diabaikan (seperti imputed rent dan capital gain yang belum direalisasikan) dan beberapa penghasilan kas tertentu dikecualikan (seperti pembayaran asuransi dan pensiun). honorarium.880. Sejak tahun 1983 sampai Dasar-dasar Keuangan Publik . wajib pajak dapat mengurangkan biaya-biaya atau pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan neto. hadiah.000). Penghasilan Bruto. seperti gaji.000) ditambah tiga orang tanggungan (masing-masing Rp1.440.000.440. Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dilaporkan dalam penghasilan setelah dikurangkan dengan beberapa biaya dan penghasilan yang dikecualikan. Penghasilan lain-lain. Penghasilan dari semua sumber. alat ukur ini ternyata tidak sekomprehensif mungkin. sewa. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Penghasilan dari usaha dan pekerjaan bebas dimasukkan dalam penghasilan neto setelah dikurangkan biaya-biaya. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 mendefinisikan penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak. kecuali bila pasangannya tidak berpenghasilan maka PTKP-nya Rp1. Penghasilan dari modal. selain yang dikecualikan digabungkan untuk menentukan Penghasilan Bruto.149 dikalikan dengan tarip pajak untuk mendapatkan pajak yang menjadi beban bagi wajib pajak. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. c. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga. Penentuan Penghasilan Kena Pajak Konsep utama dalam perhitungan penghasilan kena pajak adalah penghasilan bruto dan penghasilan kena pajak. yang berlaku untuk tingkatan penghasilan yang naik secara berurutan. Walaupun penghasilan neto dimaksudkan untuk menjadi satu alat ukur yang komprehensif atas posisi penghasilan wajib pajak. Penghasilan dari usaha dan kegiatan. penghasilan dari praktik profesi dan sebagainya. Penghasilan ini akan meliputi: a. dan lain sebagainya. royalti.

Pemotongan Pajak (Withholding). pada waktu-waktu tertentu kelompok wajib pajak tertentu akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Batas waktu penyerahan SPT Tahunan adalah tiga bulan setelah Tahun Pajak berakhir. Sebagian besar pajak dipungut dengan cara dipotong oleh pihak yang melakukan pembayaran. sistem pemotongan pajak juga menimbulkan biaya tersendiri. dan setoran pajak penghasilan masa tahun berikutnya itu didasarkan pada informasi estimasi ini. Sistem Pemotongan Pajak juga memastikan ketaatan sepenuhnya karena pernyataan penghasilan tidak diberikan sepenuhnya hanya kepada wajib pajak. Oleh karena itu. Walaupun Direktorat Jenderal Pajak memeriksa aritmetika perhitungan pajaknya. Bersamaan dengan penyerahan SPT. Oleh karena itu. dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak. Prosedur Pembayaran Beberapa hal penting berkenaan dengan aspek prosedural utama pajak penghasilan Kewajiban menyerahkan SPT. harus mengembalikan kelebihan pemotongan ini kepada para wajib pajak tertentu tersebut. Kewajiban menyerahkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan diberlakukan kepada semua wajib pajak yang telah memiliki NPWP. pemeriksaan sampel secara acak digunakan untuk membuat wajib pajak tetap patuh pada peraturan perpajakan. pembayaran pajak dikaitkan dengan tingkat penghasilan tahun berjalan daripada tertinggal satu tahun. pada saat wajib pajak harus menyerahkan pembayaran terakhir untuk pajak-pajak yang terutang pada Tahun Pajak yang telah berakhir atau menagih pengembalian pajak. tarip pajak yang ditetapkan antara 15% sampai dengan 35%. Biaya untuk mengaudit semua SPT tersebut akan sangat besar. Responsifitas sangat penting bagi efektivitas kebijakan stabilisasi. Pemerintah. sejak tahun 1995 tarip pajak diturunkan antara 10% sampai dengan 30%. hanya wajib pajak yang tidak wajib memiliki NPWP tidak diwajibkan untuk menyerahkan SPT Tahunan. wajib pajak menyerahkan estimasi pajak penghasilan yang harus dibayar tahun berikutnya. Dengan cara ini. responsivitas pembayaran pajak terhadap perubahan dalam tingkat penghasilan pribadi sangat meningkat. Jika tarip pajak yang dipotong ditetapkan cukup tinggi untuk mendapatkan penerimaan pajak setinggi-tingginya. DJP tidak dapat mengaudit semua SPT yang diterima. Setiap wajib pajak bertanggung jawab untuk menyatakan penghasilan mereka dan menghitung besarnya pajak penghasilan yang terhutang. Audit. dalam hal ini sangat dibantu oleh fasilitas komputer yang dimilikinya. Pada saat yang sama.150 dengan 1994. SPT yang melaporkan hal-hal yang tidak biasa (misalnya biaya yang mengurangi penghasilan yang sangat besar atau sumber penghasilan yang tidak biasa dapat diaudit). kelebihan pemotongan pajak akan dialami oleh para wajib pajak tertentu sehingga para wajib pajak ini yang secara riil memberikan pinjaman bebas bunga kepada Pemerintah. Sistem dasar yang melandasi Pajak Penghasilan Indonesia adalah self assessment. Sistem ini memiliki banyak keunggulan. Wajib pajak tersebut adalah mereka yang mempunyai penghasilan neto lebih kecil dari PTKP atau yang memperoleh penghasilan hanya dari satu pemberi kerja.

Peraturan perpajakan mendefinisikan penghasilan yang akan dikenakan pajak sebagai penghasilan neto karena biaya-biaya yang terjadi dalam memperoleh penghasilan pada umumnya. Kerugian mengurangi Dasar-dasar Keuangan Publik . penerapan tarip yang progresif tidak dapat menghasilkan efek yang diharapkan yaitu mengadaptasi pajak pada kemampuan membayar wajib pajak. Tanpa pengglobalan ini. harus didefinisikan sebagai kenaikan total atas kekayaan seseorang. yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. Kita tidak perlu mempertimbangkan bagaimana penghasilan tersebut digunakan. sebagai indeks kapasitas kemampuan membayar pajak. baik yang terealisasi ataupun yang tidak terealisasi. maka penghasilan. cakupan auditnya terbatas. yang diharapkan ataupun yang tidak diharapkan. Pandangan pajak penghasilan ini banyak diterima oleh berbagai kalangan dewasa ini. Karena tambahan kemampuan ekonomis dirancang untuk mengukur konsumsi plus kenaikan dalam kekayaan bersih. Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Konsep penghasilan dasar yang menjadi penentuan kewajiban pajak penghasilan dalam praktiknya adalah penghasilan neto. seperti biaya jabatan dan iuran pensiun. konsep tambahan kemampuan ekonomis ini akan dianalisis secara mendalam apa implikasinya dalam praktik dan bagaimana konsep ini diterapkan secara memuaskan dalam perhitungan penghasilan neto. Akan tetapi. Walaupun begitu.151 diperiksa. Walaupun ada pengecualian-pengecualian tertentu. Bila kita memilih penghasilan sebagai basis pajak. walaupun tidak selalu. penghasilan dari semua sumber yang didefinisikan harus diperlakukan secara seragam dan digabungkan sebagai penghasilan global yang akan dikenakan tarip pajak. baik yang teratur ataupun yang fluktuatif. dikurangkan dari penghasilan. Penghasilan bruto versus penghasilan neto Penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto. perlakuan biaya bunga yang boleh dikurangkan dipertanyakan konsistensinya. pada umumnya penghasilan yang dapat dikenakan pajak telah dinyatakan dalam satuan penghasilan neto. yaitu penghasilan dan konsumsi. Peraturan perundang-undangan juga membolehkan wajib pajak mengurangkan biaya-biaya yang berkaitan dengan pekerjaan. misalnya dokter atau pengusaha retail. kerugian operasi harus dikurangkan dalam menentukan penghasilan neto dari kegiatan usaha. terutama berkaitan dengan perlakuan biaya-biaya permodalan lainnya. apakah akan diinvestasikan atau akan dikonsumsi. Seberapa baikkah penghasilan neto digunakan sebagai suatu ukuran kapasitas pajak? Dalam konsep basis pajak. Sekarang. Prinsip lain dalam mendefinisikan penghasilan neto adalah bahwa kerugian harus dapat diperlakukan sebagai pengurangan sepenuhnya. ada dua kandidat utama sebagai basis pajak untuk pajak pribadi. Semua tambahan kemampuan ekonomis (accretion) harus dimasukkan. Selain itu.

Pemerintah harus konsisten memperlakukan keduanya. Akan tetapi. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset yang tidak dijual. Pembayaran yang diterima dalam bentuk natura. Kenaikan dalam penghasilan uang yang sepadan dengan kenaikan harga-harga bukan merupakan kenaikan dalam penghasilan riil. upah. dalam situasi ini. Imputed Income Beberapa orang memiliki aset yang memberikan penghasilan kas. Pandangan ini menjadi penting ketika tingkat inflasi sangat tinggi. Hal ini dinilai sebagai ketidakkonsistenan penerapan konsep penghasilan ini. yang lainnya memiliki barang-barang konsumsi jangka panjang yang memberikan imputed income. oleh karenanya harus didefinisikan dalam satuan riil. Pada beberapa negara maju. Walaupun peraturan perundang-undangan tidak memberikan fasilitas pengembalian pajak. beberapa ahli perpajakan secara tradisional membedakan antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal. Oleh karenanya. para wajib pajak dapat memperlakukannya untuk mengurangi kewajiban pajak beberapa tahun yang akan datang. Capital Income versus Labor Income Berdasarkan konsep tambahan kemampuan ekonomis. Penghasilan neto. ada kredit pajak bagi wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan tetapi wajib pajak yang hanya memperoleh penghasilan atas modal tidak memperoleh kredit pajak ini. contohnya adalah rumah yang ditinggali pemiliknya.152 kekayaan bersih sebagaimana keuntungan meningkatkannya. Karena kenaikan kemampuan (accretion) didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan bersih dan konsumsi. Pemilik mendapatkan imputed rent yang sama dengan penghasilan yang ia dapatkan apabila ia menyewakan rumahnya. kewajiban pajak dalam satuan riil sama dengan nol. Direalisasikan ataupun tidak adalah pilihan portofolio bagi investor dan tidak boleh mempengaruhi penghasilan yang diukur untuk keperluan perpajakan. nilai dari konsumsi yang imputed tersebut harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Hal inilah yang menjadi bagian dari topik kontroversial untuk memajaki capital gains. sumber penghasilan bukanlah suatu permasalahan. Pengabaian ini menyebabkan ketidakadilan perlakuan pajak bagi pemilik rumah dan penyewa. Penghasilan Riil versus Penghasilan Nominal Penghasilan adalah alat ukur kemampuan membayar. yang menekankan bahwa penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. seperti makanan yang diperoleh dari tanaman dari lahan pribadi. yang condong pada konsep penghasilan kas. Dengan demikian. layanan kendaraan kantor atau Dasar-dasar Keuangan Publik . tidak memperhitungkan imputed income. Penghasilan yang Terakumulasi versus Penghasilan yang Terealisasi Sesuai dengan definisi penghasilan sebagai ukuran peningkatan penghasilan. maka tidak menjadi perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji.

yang juga menyatakan nilai dari output yang diproduksi oleh faktor-faktor tersebut. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura. harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Juga. Hal ini menjadi penting karena pembayaran dalam bentuk natura. bukannya penggunaan. mencuci dan memelihara anak) merupakan penghasilan imputed bagi rumah tangga. Permasalahan yang lebih membingungkan lagi adalah waktu santai (tidak bekerja). perlakuan pajak seharusnya tidak mengikuti aturan dalam perhitungan pendapatan nasional. dengan demikian harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. pendapatan nasional adalah jumlah dari pendapatan faktor selama satu periode. penghasilan kena pajak seseorang tidak harus sama dengan bagiannya dalam pendapatan nasional dan juga total penghasilan kena pajak dala suatu negara harus sama dengan total pendapatan nasional. juga tidak dikenakan pajak penghasilan. Akan tetapi. juga tidak diperhitungkan dalam penghasilan neto. Warisan dan Hibah Transfer pribadi. Transfer yang diterima dari pemerintah atau sumber-sumber swasta (seperti donasi dan hibah) bukan merupakan komponen penghasilan dalam istilah pendapatan nasional.153 keuntungan-keuntungan dari tunjangan-tunjangan natura. penerapan imputed income menjadi tidak mungkin apabila dilakukan terlalu jauh. karena konsep penghasilan berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis. walaupun seharusnya diperhitungkan dalam konsep penhasilan. Akan tetapi. implementasi dari aturan ini tidak akan mungkin bisa dilakukan. menjadi pengganti penghasilan kas untuk menghindari pajak penghasilan. Pemilihan basis pajak merupakan permasalahan keadilan pajak. Akan tetapi. apakah transfer seperti ini harus dikurangkan dari basis penghasilan pajak pemberi? Tidak selalu. seperti juga tambahan kemampuan ekonomis dari sumber-sumber lain. jasa rumah tangga yang dilakukan sendiri (seperti memasak. Dan juga. Contohnya. secara konseptual. Dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion). Oleh karenanya. dalam bentuk santai. tidak ada keharusan bahwa basis pajak agregat sama dengan penghasilan total yang didefinisikan dalam pendapatan nasional. Penghasilan versus Transfer Dari sudut pandang ekonom. ini adalah bukti (seperti yang dinyatakan oleh logika ekonomi) bahwa ia menilai tidak bekerja tersebut sama dengan penghasilan ekuivalen yang hilang karena tidak bekerja. Jika seseorang memutuskan untuk santai (tidak bekerja). Transfer seperti ini tidak dikurangkan dari penghasilan oleh pemberi dan juga tidak dilaporkan sebagai penghasilan oleh penerima. memasukkan penghasilan ini ke dalam penghasilan neto memunculkan permasalahan serius dalam hal pengukuran dan hal-hal lain yang harus diperhitungkan ketika memberlakukan pajak penghasilan atas dasar rumah tangga. dalam bentuk berbagai tunjangan-tunjangan natura seperti kendaraan kantor. Jika hal ini dilakukan. perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima. seperti warisan dan hibah. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Beberapa tambahan kemampuan ekonomis. Praktek Definisi Penghasilan: Pengecualian Analisis terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan menunjukkan banyaknya penyimpangan dari prinsip tambahan kemampuan ekonomis. 2. tidak dimasukkan. Keadilan vertikal dipengaruhi karena prinsip progresivitas tidak berlaku pada penerapan pajak final.154 Penghasilan Teratur versus Penghasilan Tidak Teratur Seringkali dimunculkan argumen bahwa penghasilan yang tidak teratur dan tidak diharapkan harus dimasukkan dalam penghasilan yang dikenakan pajak. sebelum tahun 2000. sedangkan beberapa lainnya dikecualikan dari penghasilan neto. Penghasilan jasa konstruksi dan jasa konsultan. Demikian pula pada transaksi-transaksi yang menguntungkan. debat yang terjadi berkisar (1) apakah laba yang direalisasikan harus diperlakukan sebagai penghasilan biasa. Dasar-dasar Keuangan Publik . Walaupun demikian. Penghasilan yang diperoleh dari hak atas tanah dan bangunan. posisi ini seringkali tanpa alasan yang kuat. Pada transaksi-transaksi ini. pajak langsung dibayarkan dengan sistem pemotongan dan tidak dapat dikreditkan dalam perhitungan Pajak Penghasilan akhir. Capital gain Berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap capital gain. wajib pajak sudah diharuskan membayar pajak. dan (2) apakah laba yang tidak direalisasikan harus juga dipajaki. Penghasilan-penghasilan yang dikenakan pajak final Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak. 3. tarip pajaknya proporsional seberapapun besarnya penghasilan (keuntungan) yang didapat. seperti imputed income. penghasilan yang tidak teratur dan penghasilan yang teratur sama pengaruhnya bagi kemampuan wajib pajak. Akan tetapi. 4. Beberapa penghasilan yang dikenakan pajak final adalah: 1. Oleh karena itu. Keadilan horizontal dilanggar karena perlakuan ini menghasilkan perbedaan dalam kewajiban pajak pada tingkatan penghasilan tertentu. karena pada transaksi tertentu seperti transaksi penjualan saham di bursa efek. pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarip pajak final. Bagaimanapun juga. walaupun belum ada penghasilan karena belum tentu transaksi tersebut memberikan untung. tarip pajak yang progresif cenderung diskriminatif terhadap penghasilan yang fluktuatif. tidak ada alasan untuk membedakannya. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek. Permasalahan ini dapat dikurangi dengan menerapkan aturan meratakan penghasilan. Penghasilan dari hadiah undian Perlakuan atas pajak final ini sebenarnya melanggar prinsip keadilan pajak.

bila dibandingkan jika capital gain tersebut diterima sebagai pendapatan tetap. kesulitan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan perataan yang tepat. laba yang belum terealisasikan tidak dipajaki.) Dasar-dasar Keuangan Publik . Penghasilan didapatkan dari keduanya dan tidak ada dasar yang membedakan keduanya. Walaupun demikian. pembedaan apakah sudah terealisasi dan belum terealisasi bukan merupakan hal yang utama. Laba yang sudah direalisasikan tetapi tidak dikonsumsi perlakuannya sama dengan laba yang belum direalisasikan.000. laba yang belum direalisasikan akan dikecualikan dan laba yang direalisasikan akan dimasukkan hanya jika dikonsumsi. Walaupun tidak ada konsumsi. Apakah laba telah terealisasi tidak ada relevansinya dengan apakah ada peningkatan kemampuan ekonomis. misalnya menjualnya untuk dikonsumsi atau diinvestasikan dalam bentuk aset lainnya. Penundaan pengenaan pajak setelah realisasi memberikan perlakuan yang menguntungkan kepada jenis penghasilan yang belum direalisasikan. tidak peduli akan digunakan untuk apa. baik terealisasi (berubah menjadi kas) ataupun tidak. Jika Tuan Amir memiliki portofolio saham PT Telkom yang nilainya naik Rp100. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip tambahan kemampuan ekonomis. Pajak untuk transaksi-transaksi ini bersifat final dan dikenakan atas nilai transaksi. baik keadilan horizontal maupun keadilan vertikal.000. hal ini tidak relevan dengan definisi basis dari pajak penghasilan. keputusan untuk merealisasikan dalam bentuk kas atau tidak adalah keputusan manajemen portofolio dan bukan adanya tambahan penghasilan.155 Perlakuan atas laba yang direalisasikan. dan walaupun berdasarkan pajak konsumsi. simpulan ini telah menjadi bahan perdebatan yang berkelanjutan dalam bentuk argumentasi-argumentasi berikut: a. Perlakuan ini jelas-jelas melanggar prinsip keadilan pajak. bukannya atas labanya. Bahwa realisasi dalam bentuk kas memungkinkan. Memang ada masalah khusus bahwa capital gain sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga harus membayar lebih banyak dalam sistem tarip pajak yang progresif. penghasilan sebagai suatu indeks dari kemampuan membayar wajib pajak harus diukur sebagai tambahan kekayaan. Perlakuan terhadap laba yang belum direalisasikan. Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena pemiliknya dihalangi untuk melakukan konsumsi. Peraturan perpajakan memberikan perbedaan perlakuan pada beberapa capital gain. Berdasarkan prinsip ini. (Berdasarkan suatu pajak konsumsi. Karena penghasilan neto dinyatakan dalam bentuk penghasilan kas dan hanya memasukkan penghasilan kas saja. Semua tambahan harus dimasukkan. Prinsipnya adalah semua penghasilan harus dipajaki. kekayaannya telah bertambah sebanyak jumlah ini yang dapat diubahnya menjadi kas bila ia memutuskannya. yaitu capital gain dari penjualan saham di bursa efek dan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. Tidak ada dasar yang kuat berdasarkan prinsip keadilan untuk membedakan perlakuan pajak terhadap laba yang direalisasikan terhadap penghasilan dari usaha. Faktanya dia tetap memiliki dalam bentuk portofolio saham menunjukkan preferensinya untuk tetap terus memegangnya bila dibandingkan dengan alternatif lainnya.

Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini sering disebut dengan realisasi konstruktif yang akan mengurangi kebutuhan penilaian aset hanya pada satu tanggal tertentu sehingga lebih mudah dikelola. Akan tetapi. d. Pemajakan atas laba yang belum direalisasikan mengharuskan wajib pajak membayar pajak walaupun ia tidak memiliki uang kas untuk membayarnya. telah ada usulan untuk mengenakan pajak pada saat kematian atau pemindahan aset ini (misalnya melalui pemberian) seolah-olah telah terealisasi pada saat itu. Jika pendekatan tambahan kemampuan ekonomis diikuti. Permasalahan penerapan. adalah beralasan bagi pemerintah untuk meminta wajib pajak melikuidasi sebagian asetnya untuk membayar pajak bila diperlukan. mereka tidak membukukan pendapatan mereka sampai nakhoda kapal telah kembali ke pelabuhan dan menyerahkan uang hasil dagangan. Akan tetapi. Oleh karena itu.156 b. Walaupun permasalahan pengenaan pajaknya telah jelas secara prinsip. Pandangan ini. Untuk situasisituasi di mana likuidasi parsial tidak memungkinkan (misalnya bisnis keluarga). Pengenaan pajak secara tahunan atas laba yang belum direalisasikan tidak memungkinkan karena ketidakpraktisan dalam melakukan penilaian aset secara tahunan. yang banyak mendapatkan dukungan-dukungan hukum pada tahap-tahap awal diskusi pajak penghasilan. pemerintah dapat memberikan waktu yang cukup untuk itu. apakah ada cara yang layak untuk memajakinya? Pengenaan pajak sepenuhnya atas laba yang sudah direalisasikan dapat dilaksanakan tanpa kesulitan-kesulitan teknis yang muncul. seperti sekuritas yang diperdagangkan. sulit digunakan untuk meyakinkan para ekonom. tetapi hal ini bukan halangan yang luar biasa. laba yang sudah ataupun yang belum direalisasikan harus dimasukkan dalam penghasilan kena pajak dan digabungkan dengan penghasilan dari sumber-sumber lainnya. misalnya setiap lima tahun. Prinsip akuntansi yang hati-hati hanya mengakui pendapatan setelah ada realisasi. Pada awal munculnya pembukuan oleh para saudagar Venesia. sedangkan penghasilan diperoleh karena nilai aset meningkat. dapat dinilai dan dikenakan pajak secara periodik. Pemisahan adalah pilihan investasi. Pengukuran atas laba yang belum direalisasikan memang sulit. Pandangan ini tepat. Selain itu juga. untuk aset lainnya (seperti lukisan dan tanah pertanian) sulit untuk dinilai. pengenaan pajak atas capital gain harus juga disesuaikan dengan inflasi. Untuk suatu penghasilan yang akan diterima. Beberapa aset. tetapi apakah hal itu jadi persoalan? Sebagaimana halnya hutang-hutang lainnya yang jatuh tempo. c. misalnya untuk pemegang saham PT Telkom yang dapat menjual sahamnya sewaktu-waktu. Suatu pendekatan yang konsisten mengharuskan bahwa pengenaan pajak pada semua laba ini harus diikuti dengan pemberian pengurangan untuk kerugian-kerugian. ketidakadilan yang timbul karena likuidasi paksa dapat dihindari. Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena ketiadaan realisasi membuat kita tidak mengetahui keberadaannya. Dengan membolehkan perataan dan menyebarkan pembayaran pada beberapa periode. akan tetapi situasinya jauh lebih sulit untuk laba yang belum direalisasikan. penghasilan tersebut harus dapat dipisahkan dari aset yang menghasilkannya. situasi bisnis telah berubah dan analogi seperti ini tidak tepat lagi.

aturan ini sama saja memberikan kepada pembayar Tabungan Hari Tua suatu pinjaman bebas bunga dan penerapan tarip pajak yang lebih rendah di kemudian hari ketika tabungan ini diambil oleh penabung. Tabungan ini semakin beralasan untuk dimasukkan ke dalam basis pajak apabila dipandang sebagai skema redistribusi. Bila penghasilan-penghasilan lain dipajaki secara reguler. Alternatif yang dilakukan saat ini. Apabila prinsip penghasilan global diikuti. Pajak penghasilan atas gaji/upah juga tidak dikurangkan dan menjadi bagian dari penghasilan umum dan diperlakukan sama seperti pajak-pajak lainnya. tanpa memandang penggunaannya. membolehkan pembayaran-pembayaran ini sebagai pengurang atas penghasilan dan mengenakan pajak sepenuhnya pada saat uang pensiun/tabungan dibayarkan kembali. Peraturan perundang-undangan pajak penghasilan membolehkan pembayaran Tabungan Hari Tua kepada PT Taspen tidak dimasukkan sebagai penghasilan kena pajak. Tabungan Hari Tua dan Rencana Pensiun Tabungan Hari Tua adalah kegiatan memisahkan penghasilan tahun berjalan untuk penggunaan di masa depan. yang nilainya dapat sangat substansial terutama bagi para wajib pajak muda yang mampu menunda untuk periode waktu yang sangat panjang. Dasar-dasar Keuangan Publik . Perlakuan yang tepat tentu saja dengan memperlakukan iuran Tabungan sebagaimana bentuk tambahan kemampuan lainnya dan dikenakan pajak sebagaimana mestinya. semua penghasilan harus dikenakan pajak. Penundaan pajak sama dengan memperoleh pinjaman bebas bunga. dan ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. Iuran ini tidak dikenakan pajak apabila penghasilan penerima berada di bawah PTKP. Sebagaimana disebutkan di muka. Iuran Pensiun. bukannya asuransi. Kedua. Tabungan Hari Tua. Pertama. yang memungkinkan wajib pajak untuk memperoleh penghasilan atas aset tersebut sementara waktu. cara ini masih memberikan beberapa keuntungan bagi capital gain. memunculkan ketidakadilan terhadap para penabung lainnya karena dua keuntungan bagi pembayar iuran pensiun/tabungan. Iuran yang tidak dikenakan pajak penghasilan adalah iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. pajak atas laba yang belum direalisasikan ditunda sampai kematian. Hal ini berlaku baik iuran pensiun itu dipotong dari penghasilan para pegawai maupun dibayarkan atau ditanggung oleh perusahaan. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan. penghasilan pembayar iuran pensiun di masa depan akan lebih kecil sehingga penghasilan yang ditunda pengenaannya ini pada akhirnya terkena tarip pajak yang lebih rendah. Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan. penundaan pembayaran pajak sama saja dengan memperoleh pinjaman bebas bunga.157 Walaupun realisasi konstruktif dapat memindahkan laba yang belum direalisasikan ke dalam basis pajak. sebagaimana yang berlaku pada penghasilan dari sumber-sumber lainnya. dengan menyetorkan sejumlah uang kepada lembaga dana pensiun atau sejenisnya.

Asuransi Jiwa. Penghasilan yang sama tidak berarti kemampuan yang sama untuk membayar jika para wajib pajak berada pada posisi yang berbeda-beda. Pada umumnya wajib pajak yang berpenghasilan tinggi akan memilih pengurangan khusus karena akan memberikan jumlah pengurangan yang lebih besar daripada pengurangan standar. Aspek Keadilan. Pembayaran premi asuransi jiwa tidak boleh digunakan untuk mengurangi penghasilan yang akan dikenakan pajak. Akan tetapi kemudian. Sementara itu. Asuransi jiwa tertentu memiliki komponen tabungan (investasi) yang karena perlakuan ini bunga yang diperoleh atas tabungan ini terhindar dari pengenaan pajak. pengurangan standar fungsinya menjadi hibrida antara pengganti pengurangan khusus dan memberikan tambahan pengurangan yang tidak berkaitan dengan ukuran rumah tangga. Pembayaran premi kepada perusahaan asuransi jiwa dan pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi jiwa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Untuk asuransi jiwa yang tidak memiliki komponen investasi. Praktik Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Peraturan pajak penghasilan di Indonesia hanya membolehkan satu jenis pengurangan terhadap penghasilan neto yang disebut Pengurangan Standar atau Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Pendekatan ini menjadi dasar utama keberatan akan adanya pengurangan-pengurangan. Di Amerika Serikat. Dukungan untuk pengurangan khusus Prinsip pengenaan pajak atas penghasilan mengharuskan basis pajak yang komprehensif. pembayaran asuransinya tidak dikenakan pajak penghasilan. yakni memasukkan semua tambahan kemampuan. Pengurangan standar pada mulanya diberlakukan untuk memudahkan ketaatan dan administrasi.158 Pengenaan pajaknya ditunda sampai uang pensiun diterima oleh para pegawai selama masa pensiun. pengurangan standar ini ditujukan untuk menjadi subtitusi dari pengurangan khusus. angka pengurangan standar ini telah dinaikkan jauh melebihi angka pengurangan khusus yang disubtitusikan. sehingga memudahkan penghitungan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. seperti tagihan biaya pengobatan yang besar. Para wajib pajak dengan tagihan-tagihan darurat yang berat. apakah akan menggunakan pengurangan standar atau pengurangan khusus (itemized deduction). tetapi beberapa pengeluaran mungkin layak diberikan. Peraturan pajak penghasilan di Amerika Serikat memberikan pilihan bagi wajib pajak. Perlakuan premi asuransi telah sesuai dengan konsep tambahan kemampuan tetapi perlakuan atas pembayaran asuransinya tidak sesuai. Hal ini tidak saja disebabkan oleh ukuran rumah tangga tetapi juga oleh beberapa hal lainnya. perlakuannya sudah tepat yaitu pembayarannya dikecualikan dari pengenaan pajak tanpa memperbolehkan pengurangan atas premi yang dibayarkan. dapat dikatakan memiliki kemampuan Dasar-dasar Keuangan Publik . Oleh karena itu.

Pertanyaannya adalah apakah aktivitas yang perlu didukung itu membutuhkan subsidi. pengurangan ini tidak saja mendapat dukungan tetapi juga mampu mendorong terciptanya basis pajak yang lebih adil. pengurangan bertindak sebagai hibah tandingan yang disediakan oleh pemerintah di mana biaya pelaksanaan aktivitas-aktivitas tertentu oleh wajib pajak menjadi berkurang. keuntungan yang didapatkan dapat jauh melebihi kerugiannya pada aspek keadilan pajak. apakah subsidi ini harus diberikan dalam bentuk pengurangan pajak. Jika subsidi dibutuhkan. sehingga mendorong wajib pajak untuk membelanjakan lebih banyak pada aktivitas-aktivitas ini. Jika dirancang dengan baik. setelah pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan. yang seharusnya identik dengan konsep teoritis tentang tambahan kemampuan ekonomis. situasi seperti ini menjadi sangat penting terutama bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Dalam hal ini. banyak bukti menunjukkan bahwa kerugian atau penyusutan pendapatan atau pengeluaran pajak yang telah terjadi jumlahnya cukup besar. Walaupun penentuan kerugian basis pajak karena suatu hal tertentu masih diperdebatkan. Pengurangan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang mulia seperti sumbangan sosial atau untuk mendorong konsumsi atas hal-hal yang menimbulkan manfaat-manfaat eksternal. Istilah penyusutan pengeluaran pajak digunakan karena kegagalan memperoleh penerimaan pajak karena lubanglubang dalam basis penghasilan kena pajak pada dasarnya adalah sama dengan memperoleh penerimaan pajak sepenuhnya kemudian melakukan pengeluaran sehingga wajib pajak tetap pada posisi yang sama.159 untuk membayar yang lebih kecil dibandingkan dengan para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi tagihan-tagihan darurat tersebut. Preferensi Pajak Kita telah mempelajari bagaimana definisi perundang-undangan dari penghasilan kena pajak. Jika aktivitas tertentu layak didukung dan jika pengurangan pajak adalah cara terbaik untuk melakukannya. baik bagi Dasar-dasar Keuangan Publik . Aspek Insentif. Keberadaan preferensi pajak tidak menjadi masalah besar apabila basis yang berkurang karena pengecualian dan pajak final merupakan proporsi yang tetap dari basis pajak sepenuhnya bagi seluruh wajib pajak. Tidak ada aturan alam yang tidak membolehkan pajak penghasilan digunakan tujuan-tujuan selain perolehan penghasilan. pada kenyataannya insiden preferensi sangat bervariasi. aturan yang membebaskan pajak atas bunga pinjaman rumah sama dengan mengenakan pajak sepenuh pada pemilik rumah dan kemudian secara bersamaan melakukan pengeluaran subsidi kepada mereka. Perbedaan-perbedaan yang substansial timbul yang seringkali menyebabkan penghasilan kena pajak jumlahnya di bawah dari yang ditentukan oleh konsep tambahan kemampuan. Akan tetapi. Oleh karena itu. Prinsip ini dapat dinyatakan dengan memberikan pengurangan atas penghasilan untuk biaya pengobatan. Dalam hal ini. Misalnya. preferensi pajak dapat dinetralisasi dengan pengenaan tarip pajak yang progresif. Pertimbangan yang sama juga dapat diberlakukan bagi para wajib pajak yang cacat karena mereka membutuhkan biaya hidup yang lebih banyak.

Penghasilan yang dikenakan pajak harus didefinisikan sebagai penghasilan kena pajak dikurangi dengan PTKP. Ketidakadilan pajak secara horizontal terjadi karena wajib pajak dengan penghasilan sama tidak mendapat manfaat yang sama karena perbedaan aturan. Kedua aturan ini memang sejalan dengan konsep yang benar tentang laba bersih sebagai basis pajak. Contohnya. kerugian dapat digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak dan bunga dapat dikurangkan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak. keduanya ternyata dapat dipakai untuk menghindari pajak dengan membentuk tax shelter. bagaimana aturan pajak menciptakan preferensi pajak bagi golongan-golongan wajib pajak dengan penghasilan tertentu. tetapi juga yang lebih penting adalah seberapa sedikit wajib pajak yang berpenghasilan rendah harus membayar pajak Berapa besarnya penghasilan minimal yang tidak dikenakan pajak? Pada umumnya. firma tersebut dapat meminjam dalam jumlah yang banyak dengan jaminan harta real estatenya.160 wajib pajak rata-rata pada berbagai tingkatan penghasilan maupun wajib pajak tertentu pada satu tingkatan pajak penghasilan. Untuk di Indonesia. kehilangan penerimaan dari aturan pajak terhadap terhadap capital gain lebih dinikmati oleh wajib pajak berpenghasilan tinggi. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Wajib pajak yang menerima penghasilan dalam bentuk natura membayar lebih sedikit daripada pegawai yang menerima seluruh penghasilannya dalam bentuk kas. Dengan investasi modal yang kecil. Bila dikombinasikan. semua sependapat bahwa ada sejumlah pertama penghasilan tertentu yang tidak boleh dikenakan pajak. investor dapat menghapuskan kerugian yang besar tersebut pada penghasilan mereka sehingga mengurangi pajak yang dibayarkan. Cara penghindaran pajak yang paling utama adalah adanya tax shelter yang timbul dari kerugian usaha. sehingga menimbulkan adanya ketidakadilan secara vertikal dan horizontal. kita harus menggunakan tingkat Dasar-dasar Keuangan Publik . suatu firma dibentuk untuk investasi di dunia real estate. Perlakuan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Permasalahan keadilan pajak secara vertikal tidak hanya seberapa besar wajib pajak berpenghasilan tinggi dipajaki. Permasalahan-Permasalahan Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Beberapa permasalahan penghindaran pajak timbul berkaitan dengan berbagai jenis penghasilan modal. Misalnya. Dengan melakukan investasi pada firma tersebut. di Amerika Serikat. penelitian tentang hal ini ada. Ketidakadilan pajak secara vertikal dapat terjadi karena manfaat-manfaat pengeluaran pajak hanya dinikmati oleh kelompok wajib pajak dengan penghasilan tertentu. Dalam menentukan jumlah PTKP ini. Pembayaran bunga akan mengakibatkan kerugian yang besar pada periodeperiode awal beroperasinya firma tersebut sebelum firma tersebut memperoleh penghasilan yang cukup besar.

Karena tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga. jumlah PTKP maksimal adalah Rp7. telah muncul pemikiran-pemikiran dan praktik-praktik berkaitan dengan tarip pajak negatif.800. Praktik ini dapat dilakukan dengan memberikan kredit pajak pada para wajib pajak berpenghasilan rendah. Ditambah dengan faktor ini maka jumlah PTKP maksimal adalah Rp10.000.440. Pertama. Titik awal beban pajak bergantung pada berbagai faktor. PTKP memperhitungkan ukuran keluarga dengan asumsi implisit bahwa tambahan tanggungan tidak menciptakan skala ekonomis. masing-masing sebesar Rp1. jumlah maksimal tanggungan adalah tiga orang karena adanya tujuan tambahan untuk mendukung program keluarga kecil. tetapi bergerak dari tarip negatif pada penghasilan nol (wajib pajak pada tingkatan penghasilan ini mendapatkan subsidi dari pemerintah) bergerak ke angka nol (titik impas) dan menjadi tarip positif pada angka di atas titik impas ini. Signifikansi utama dari pemberian PTKP berkaitan erat dengan pola tingkat pajak efektif pada para wajib pajak dengan penghasilan menengah ke bawah. Hal ini menimbulkan permasalahan ketidakadilan pajak karena aturan pajak telah terdistorsi untuk memenuhi tujuantujuan nonfiskal. Berdasarkan faktor ini. tetapi juga mendominasi kenaikan tarip pajak efektif atau pola progresivitas pada skala penghasilan menengah ke bawah. Kredit Pajak bagi Wajib Pajak berpenghasilan Rendah Pada negara maju.000.440. Struktur tarip pajak tidak lagi selalu positif. jumlah PTKP turun secara relatif terhadap penghasilan neto. Batas bebas pajak tersebut tidak hanya penting dalam menentukan batas bawah untuk kewajiban pajak. Tarip pajak efektif (yang didefinisikan sebagai rasio pajak terhadap penghasilan neto) pada tingkat penghasilan neto yang rendah jumlahnya sangat kecil karena porsi terbesar dari penghasilan neto adalah PTKP. sehingga tarip pajak efektif naik.161 penghasilan yang rendah yang membuat wajib pajak diklasifikasikan sebagai miskin. ada PTKP bagi anggota keluarga yang memiliki penghasilan untuk wajib pajak yang bersangkutan dan pasangannya.000. Ketidakadilan didapatkan oleh wajib pajak yang karena sesuatu dan lain hal harus memiliki jumlah tanggungan lebih dari tiga orang. adanya PTKP sebesar Rp1.200. aturan hukum di negara maju menyediakan kredit pajak bagi keluarga yang memiliki anak dan pasangannya juga bekerja. Berikutnya. Kita dapat mengatakan bahwa PTKP adalah penghasilan yang dikenakan tarip pajak sebesar nol persen dan merupakan bagian integral dari struktur tarip pajak. Di Indonesia. Untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Prinsip progresifitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarip pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin. Kredit Pajak untuk Biaya Mengasuh Anak Sejalan dengan perkembangan tentang hak-hak wanita dan perlakuan yang adil terhadap penghasilan keluarga. pasangannya dan setiap tanggungan (maksimal tiga tanggungan). sehingga beban pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga.000 per wajib pajak. Ketika penghasilan neto naik.

Mengukur Tingkat Progresivitas Perbedaan antara pajak-pajak progresif. tidak cukup apabila kewajiban pajak meningkat ketika tingkat penghasilan meningkat. semakin progresif pajak penghasilan. Suatu pajak dikatakan progresif bila rasio pajak terhadap penghasilan naik ketika skala penghasilan meningkat.Untuk suatu pajak penghasilan dikatakan progresif. (Y0 − T0 ) Y1 − Y0 Dasar-dasar Keuangan Publik . Beberapa ukuran dapat dipakai. mereka harus menyediakan dana untuk menyewa pengasuh untuk anak-anak mereka. Rumusnya: • Rasio persentase perubahan penghasilan setelah pajak terhadap persentase perubahan penghasilan sebelum pajak Rumusnya: (Y1 − T1 ) − (Y0 − T0 ) Y0 . T1 Rumusnya: • − T0 Y1 Y0 Y1 − Y0 T1 − T0 Y0 . T0 Y1 − Y0 Rasio persentase perubahan kewajiban pajak terhadap perubahan penghasilan. semakin cepat kenaikan rasio pajak terhadap pendapatan nasional. Pembedaan ini sangat jelas. proporsional dan regresif dapat digambarkan dengan mudah. tetapi situasinya lebih rumit bila kita ingin mengukur derajat progresivitas atau regresivitas. Peningkatan kewajiban pajak yang lebih rendah daripada peningkatan penghasilan membuat pajak menjadi regresif. yaitu: • Rasio perubahan tarip efektif terhadap perubahan penghasilan.162 keluarga seperti ini. Pajak dikatakan progresif apabila tarip pajak cenderung meningkat pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. Seberapa progresifkah pajak penghasilan Indonesia dan perubahan-perubahan apa yang telah dilakukan dalam pola progresivitasnya? Arti Progresivitas Tarip Pajak Pada saat membahas penghasilan neto. tarip pajak yang dikenakan meningkat seiring dengan peningkatan penghasilan neto. dan regresif bila tarip pajak turun pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. dan regresif bila rasionya turun. Tidak ada cara tunggal yang tepat mengukur tingkat progresivitas. proporsional apabila tarip pajak konstan pada semua tingkat penghasilan. Pola Progresivitas Tarip Pajak Pajak penghasilan secara tradisional telah dipandang sebagai suatu instrumen pajak yang progresif. proporsional bila rasionya konstan. Selain itu.

kemudian progresivitas kewajiban pajak dan yang terakhir adalah progresivitas penghasilan residu. Progresivitas pada semua indikator cenderung menurun seiring dengan kenaikan skala penghasilan setelah tingkatan penghasilan tertentu. banyak pihak yang mengusulkan perubahan pada seluruh tarip untuk menjaga kenetralan kenaikan dan penurunan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Apakah yang dimaksud dengan kenetralan dalam hal ini? Misalkan pajak akan dinaikkan. merupakan ukuran kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi tarip pajak efektif terhadap penghasilan. Nilai dari koefisien ini adalah nol untuk pajak proporsional dan positif untuk pajak progresif. perlu ditetapkan apa ukuran yang akan digunakan. Koefisien ini mengukur kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi kewajiban pajak terhadap penghasilan pada bagan logaritme-ganda. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat yang berpenghasilan rendah tentu saja akan sangat berkeinginan untuk menginterpretasikan netralitas dalam bentuk yang paling diinginkan adalah progresivitas tarip rata-rata. Ukuran ketiga atau progresivitas penghasilan residu mencatat elastisitas dari penghasilan setelah pajak Ukuran ini menunjukkan kemiringan kurva yang diperoleh dengan menggambar penghasilan sebelum dan sesudah pajak pada bagan logaritme. Tarip-tarip pajak dinaikkan pada persentase yang semakin besar pada tariptarip yang lebih tinggi. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat berpenghasilan tinggi akan cenderung mengambil posisi yang berlawanan. Jika progresivitas tarip pajak rata-rata ditetapkan konstan. semua tarip pajak dinaikkan sebesar persentase kenaikan yang sama. Ketika tarip-tarip pajak dinaikkan atau diturunkan. Ukuran kedua. Kurva tarip efektif cenderung berkurang kemiringannya dan progresivitas cenderung menurun seiring dengan meningkatnya skala penghasilan. Untuk menghindari kebingungan dalam membandingkan progresivitas pada jangkauan penghasilan tertentu yang berbeda atau untuk struktur pajak yang berbeda. konsep teoritis dapat menimbulkan implikasi politis. Proporsionalitas ditunjukkan dengan nilai koefisien sama dengan satu dan progresivitas ditunjukkan dengan nilai koefisien di atas satu. semua hutang pajak harus dinaikkan dengan persentase yang sama. Dengan demikian.163 Ukuran pertama. yang juga disebut sebagai progresivitas kewajiban pajak. Hal ini menjadi sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi terhadap progresivitas ketika tarip-tarip pajak berubah. tarip-tarip pajak akan dinaikkan pada persentase yang semakin kecil pada tarip-tarip yang lebih tinggi. Koefisiennya juga satu untuk pajak proporsional tetapi progresivitas sekarang ditunjukkan dengan angka koefisien yang kurang dari satu. Yang lebih menarik lagi adalah urutan preferensi tersebut akan terbalik bila yang diperjuangkan adalah pengurangan pajak. yang juga disebut sebagai progresivitas tarip rata-rata (average-rate progression). Jika progresivitas kewajiban pajak ditetapkan konstan. Jika progresivitas penghasilan residu ditetapkan konstan. mencatat elastisitas kewajiban pajak terhadap penghasilan.

pengembalian dari biaya perolehan aktiva berkurang dalam nilai riil dan penyesuaian inflasi juga diperlukan dalam hal ini. kewajiban pajak naik lebih cepat daripada kenaikan harga. Penghasilan yang berbasis tambahan kemampuan yang didefinisikan dalam nilai riil harus membolehkan kreditur mengakui kerugian dan juga mengharuskan debitur mengakui keuntungan. Ketika harga-harga naik. Akibatnya. Capital gain yang sudah terealisasi. Untuk kedua alasan inilah. Karena pajak di Indonesia tidak terlindung dari pengaruh inflasi. tingkat penghasilan riil yang mulai dikenakan pajak semakin turun.164 Penyesuaian Terhadap Inflasi Permasalahan inflasi tidak hanya berkaitan dengan angka nominal PTKP dan tarip pajak. Oleh karena itu. tetapi beberapa tahun sekali. peraturan pajak di Indonesia hanya menyesuaikan PTKP. Solusi atas permasalahan ini dalam perundang-undangan pajak hanyalah parsial dalam bentuk penggunaan metode penyusutan dipercepat Pilihan Unit Kena Pajak Perlakuan yang tepat untuk unit kena pajak berdasarkan pajak penghasilan progresif adalah suatu hal yang kontroversial yang sampai saat ini belum ada solusi yang memadai. Dalam hal ini kewajiban pajak naik dalam nilai riil. nilai riil dari PTKP menjadi turun. Permasalahan selanjutnya yang ditimbulkan oleh inflasi adalah berkenaan dengan depresiasi. nilai riil dari PTKP cenderung turun. sehingga tingkat tarip pajak yang berlaku untuk tingkat penghasilan riil tertentu akan naik. Berkaitan dengan pengaruh inflasi. diperlukan penyesuaian terhadap inflasi. Selain itu. PTKP dan tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak Ketika harga-harga naik. sebagian dikenakan pajak final dan sebagian lagi dikenakan pajak reguler. ketika harga-harga naik. wajib pajak di Indonesia mengalami kenaikan kewajiban pajak dalam nilai riil. tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak tertentu tidak pernah disesuaikan. nilai riil dari tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak turun. yang tentu saja merupakan keuntungan bagi debitur. Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah mengurangi penghasilan bunga kena pajak sesuai dengan tingkat inflasi. bukannya laba dalam nilai nominal. permasalahan ini disebabkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Penghasilan Modal Beberapa permasalahan lanjutan muncul berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap penghasilan modal. Itupun tidak dilakukan setiap tahun. Sementara itu. Dengan demikian. Permasalahan yang sama juga muncul berkenaan dengan kerugian yang dialami kreditur dalam nilai riil hutang nominal yang mereka berikan kepada debitur. tetapi juga dalam cara yang rumit berkaitan dengan perlakuan terhadap penghasilan modal. Perlakuan yang sama terhadap capital gain seharusnya hanya akan memajaki laba dalam nilai riil. Di Indonesia.

jumlah pajak (yang dinyatakan dalam persentase terhadap penghasilan) untuk unit-unit dengan jumlah anggota yang sama harus naik seiring dengan kenaikan penghasilan unit. Pendekatan Unit Keluarga Kita mulai pembahasan dengan suatu hipotesis yang sering diterapkan dalam kebanyakan diskusi pajak penghasilan. aturan perpajakan membolehkan tambahan PTKP sesuai dengan ukuran keluarga. pengeluaran-pengeluaran konsumsi lainnya (misalnya kursi untuk santai) lebih mahal apabila untuk pasangan. 3. Dengan pengenaan pajak progresif. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Perbedaan seperti ini (pada jumlah yang layak) tidak boleh dipandang sebagai pajak yang diskriminatif terhadap seorang bujangan. Kemudian. Oleh karena itu. Penggabungan Penghasilan. Walaupun beberapa jenis pengeluaran konsumsi (misalnya penerangan di ruang tamu) dikonsumsi dalam jumlah yang sama baik oleh satu orang atau dua orang. Aturan 3 mengikuti secara langsung prinsip progresivitas dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Prinsip. Di antara unit-unit yang berpenghasilan sama. baik hanya satu orang dari pasangan yang menikah tersebut yang memiliki penghasilan ataupun keduaduanya memiliki penghasilan. Aturan 1 tidak perlu penjelasan lebih lanjut karena aturan ini secara sederhana mewakili persyaratan bahwa hal yang sama harus diperlakukan sama juga. bahwa unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar harus diarahkan kepada unit keluarga. perlakuan yang adil adalah apabila pajak yang dikenakan kepada seorang bujangan tersebut lebih tinggi daripada pajak yang dikenakan kepada pasangan suami-istri dengan tingkat penghasilan yang sama. Unit-unit dengan penghasilan yang sama dan jumlah anggota yang sama harus membayar pajak yang sama jumlahnya. walaupun dibatasi hanya sampai tiga tanggungan. Instrumen yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan di atas meliputi penerapan PTKP dan penggunaan struktur tarip pajak untuk berbagai jenis Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Sistem Dasar-dasar Keuangan Publik . Sistem yang mengikuti aturan-aturan keadilan ini tidak akan mempengaruhi keputusan pernikahan. Aturan 2 menunjukkan proposisi bahwa seorang bujangan dengan penghasilan Rp30 juta memiliki posisi (kemampuan) lebih baik daripada pasangan dengan total penghasilan keduanya juga sama dengan Rp30 juta. keadilan mengharuskan ketaatan akan tiga aturan berikut: 1. Ada hal yang perlu dipertegas bahwa aturan ini tidak membedakan kemampuan untuk membayar dalam konteks unit keluarga apakah penghasilan diperoleh oleh satu anggota atau lebih.165 adanya kecenderungan sosioekonomis yaitu meningkatnya partisipasi wanita dalam angkatan kerja. 2. Pembahasan masalah ini ditinjau dari pandangan pengenaan pajak berdasarkan kemampuan untuk membayar. kita akan mempertimbangkan suatu alternatif lainnya yang mendefinisikan unit kena pajak dalam bentuk individu yang memperoleh penghasilan. unit yang jumlah anggotanya lebih kecil harus membayar pajak lebih banyak dan unit yang jumlah anggotanya lebih besar harus membayar pajak lebih sedikit.

artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak. kewajiban pajak gabungan pasangan suami istri bergantung pada bagaimana penghasilan terdistribusi di antara mereka. Karena wajib pajak dengan penghasilan yang tinggi mengeluarkan biaya untuk anak yang lebih besar. menjaga anak-anak. Dalam hal ini. Jika biaya dari setiap tambahan anak diukur dalam satuan pengeluaran standar (misalnya pengeluaran rata-rata).000 untuk setiap tanggungan. Asumsikan bahwa A dan C penghasilannya sama dan bahwa B memiliki potensi penghasilan yang sama dengan D. Pertanyaan terakhir dalam pajak penghasilan adalah bagaimana pengaturan tentang pasangan yang tidak bekerja dan hanya tinggal di rumah untuk mengurus rumah. Pasangan yang tidak Bekerja. Bila dibandingkan dengan unit keluarga. pendekatan Eropa ini memberikan perlakuan yang lebih menguntungkan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah.440. baik ketika penghasilan masih dilaporkan sendiri maupun penghasilan digabungkan. Pendekatan Alternatif: Unit Peroleh Penghasilan Pendekatan alternatif untuk mengatasi permasalahan di atas yang diikuti oleh beberapa negara Eropa adalah mengabaikan unit keluarga dan menggunakan individu sebagai unit yang dikenakan pajak. Penggabungan penghasilan ini tidak mengurangi jumlah PTKP yang dapat dikurangkan dari penghasilan. tidak menimbulkan perbedaan. Struktur tarip yang digunakan. jumlah tanggungan tentu saja menjadi pertimbangan utama.166 pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. atau menganggur. baik proporsional. Peraturan pajak di Indonesia menggunakan cara ini dengan memberikan pengurangan atas penghasilan netto sebesar Rp1. Cara lain dari perlakuan pajak terhadap tanggungan adalah PTKP. Suatu keluarga besar dengan penghasilan neto tertentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih redah daripada keluarga kecil dengan penghasilan neto yang sama. Padahal berdasarkan aturan opsi yang sama (bekerja dan tidak bekerja) Dasar-dasar Keuangan Publik . Pertanyaan kedua berkenaan dengan apakah pengurangan tersebut diberikan dalam bentuk pengurang atas penghasilan atau kredit pajak. progresif ataupun regresif. Pertanyaan pertama akan menyangkut masalah bagaimana memperlakukan anak-anak yang tinggal jauh dari orang tua dan yang memiliki penghasilan. Dalam proses mengukur kemampuan untuk membayar dari suatu unit keluarga. pendekatan kredit pajak lebih tepat digunakan. tetapi jika biayanya diukur dalam berapa banyak pengeluaran akan dilakukan. Misalkan ada sepasang suami istri A dan B di mana A memiliki penghasilan dan B tidak dan bandingkan dengan pasangan lain C dan D yang keduanya memiliki penghasilan. tapi dengan jumlah maksimal tiga tanggungan. pendekatan pengurang atas penghasilan lebih tepat digunakan. Dalam peraturan perpajakan sekarang ini keluarga C dan D membayar pajak lebih besar daripada keluarga A dan B. sudah selayaknya memberikan manfaat pajak yang lebih besar pula. Pengurangan untuk Tanggungan. Pertanyaannya adalah siapa yang menjadi tanggungan dan bagaimana pengurangan diberikan.

167 keduanya harus membayar pajak dalam jumlah yang sama. Dasar-dasar Keuangan Publik . imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan pajak. secara prinsip. Secara prinsip. prosedur yang sama juga harus diberlakukan kepada bujangan yang tidak bekerja. Selain itu. yang harus dimasukkan sebagai tambahan kemampuan. seperti simpulan kita pada pembahasan tentang imputed income di muka.

Pengeluaran untuk penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya. yang akan menghasilkan laba bersih untuk dikenakan pajak. Sumber penghasilan dari Dasar-dasar Keuangan Publik . Setiap industri memiliki kerumitan tersendiri sehingga sangat sulit untuk merancang suatu perlakuan pajak yang seragam untuk berbagai industri yang berbeda tersebut. Pada dasarnya semua pengeluaran dapat dibebankan sebagai biaya apabila mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. Permasalahan ini diantaranya penentuan pengeluaran-pengeluaran apa yang dapat dibebankan sebagai biaya dan kapan pembebanan tersebut dapat dilakukan. Demikian juga pengeluaran yang melebihi batas kewajaran karena adanya hubungan istimewa tidak boleh dibebankan sebagai biaya. pajak penghasilan tidak boleh dikenakan kepada badan. Jika basis pajak yang tepat dinyatakan dalam bentuk konsumsi. Dengan adanya kerumitan hukum dari perseroan dan hubungan di antara mereka maka suatu pajak penghasilan badan yang adil bukanlah pajak yang sederhana Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Peranan pajak penghasilan badan dalam suatu sistem pajak yang baik tampak jelas. menagih dan memelihara penghasilan bruto yang menjadi objek pajak. menambah kerumitan dalam merancang pajak penghasilan badan yang adil dan efisien. P Beberapa permasalahan penghasilan yang dikecualikan yang muncul pada wajib pajak pribadi juga muncul pada wajib pajak badan. ditambah dengan masalah-masalah lain yang khusus ada pada pengenaan pajak penghasilan kepada wajib pajak badan. Penghasilan kotor dari perseroan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka menjalankan usaha.168 B A B XVII PAJAK PENGHASILAN WAJIB P AJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan rinsip dasar penentuan penghasilan kena pajak cukup sederhana.

Dalam hal ini.118. sebab semua penghasilan (termasuk yang Dasar-dasar Keuangan Publik .000.825. sistem pajak sekarang memberikan tambahan beban pajak dan beban pajak atas penghasilan yang bersumber dari perusahaan lebih besar bagi pemegang saham kecil yang pajak penghasilan pribadinya sebenarnya lebih kecil. Pada kenyataannya. jumlahnya menjadi Rp4.793.500.25% (atau sebesar Rp2. tanpa memperdulikan dari mana sumbernya.000. pajak tambahan sebagai persentase dari total penghasilan akan lebih besar bagi A daripada bagi B. Bila mengenakan pajak pada laba. Bila tidak ada pajak penghasilan badan.000. pajak penghasilan yang dibayarkan pada penghasilan yang didistribusikan (dividen) sejumlah Rp10. Baginya. Berikutnya. yang kemudian akan membayar pajak atasnya sebesar Rp1. pengenaan pajak pada tingkatan perusahaan dapat dipandang sebagai alat untuk mengintegrasikan sumber penghasilan dari perusahaan ke dalam pajak penghasilan pribadi.618. Pajaknya berdasarkan sistem integrasi hanya akan sebesar Rp1. Pandangan lain yang berkembang adalah mengintegrasikan penghasilan perusahaan ke dalam pajak penghasilan individu.000 ditambah Rp1. Pandangan Integrasi Para penganut posisi integrasi memandang permasalahan perpajakan pada tingkatan perusahaan hanyalah sebagai satu cara memasukkan semua penghasilan yang bersumber dari perusahaan ke dalam basis pajak penghasilan pribadi. atau pajak terhadap perusahaan dapat dipandang sebagai pajak absolut terhadap penghasilan bersumber dari perusahaan. Dalam hal ini. di atas jumlah kelebihan bagi wajib pajak A. seorang wajib pajak A yang membayar pajak penghasilan pribadi pada tarip pajak 25%.500. pajak gabungan sama dengan Rp2.250.175. Dengan demikian. dan berikutnya pada tingkatan pribadi sebagai dividen dalam perhitungan pajak penghasilan pribadi.401.825.750. ada kelebihan pajak sebesar Rp2. Walaupun demikian. sehingga ada kelebihan pajak sebesar Rp2. Proposisi dasarnya adalah pada akhirnya pajak harus menjadi beban pribadi dan bahwa konsep pajak yang adil hanya dapat dibebankan kepada pribadi. dividen yang diterima mungkin merupakan bagian penghasilan terbesar bagi A daripada bagi B. atau sebesar Rp3.000 didistribusikan sebagai dividen kepada A. Pandangan ini juga yang digunakan oleh Peraturan Pajak Penghasilan di Indonesia. Bagiannya pada laba perusahaan adalah Rp10.000. pajak tambahan ini tidak adil bila ditinjau dari sudut pandang penganut integrasi. yang dikenakan pajak dengan tarip efektif sebesar 28. sebesar Rp7. Sisanya. maka laba tersebut ketika didistribusikan dipajaki dua kali. Misalkan.000). Badan (dalam hal ini perusahaan) dikenakan pajak dan tidak dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan pribadi atas penghasilan dividen.169 perusahaan hanya dapat dipajaki apabila didistribusikan dan dibelanjakan oleh penerima. Pengenaan pajak kepada badan juga tetap dipertanyakan walaupun konteksnya adalah pendekatan berbasis penghasilan.250. mereka berpendapat bahwa penghasilan harus dipajaki secara keseluruhan dalam konsep penghasilan global.901. Apabila kedua pajak ini digabungkan.000.076. Selain itu. seorang wajib pajak B.750.000 hanya akan sebesar Rp2. pertama pada tingkatan perusahaan dalam bentuk pajak penghasilan badan.750. yang membayar pajak penghasilan pribadi pada tarip pajak 15%. Dengan tidak mengintegrasikan penghasilan.250.

alat-alat pajak dapat berguna pada situasisituasi tertentu untuk tujuan-tujuan peraturan perundang-undangan tersebut. sebab paling tidak sebagian dari laba perusahaan setelah pajak ditanamkan kembali pada operasi perusahaan. harus ada sumber pungutan pajak penghasilan pribadi untuk penghasilan yang bersumber dari perusahaan. sehingga membutuhkan kebijakan pengaturan pada tingkatan perusahaan daripada pada tingkatan pemegang saham. Dengan tidak memperhitungkan laba yang ditahan pada penghasilan pemegang saham (seperti yang seharusnya ada pada sistem terintegrasi). Apakah laba setelah pajak yang diperoleh akan dibagikan atau ditahan tidaklah relevan dalam konteks ini. Konsep kapasitas membayar yang digunakan dalam pendapat ini lebih berkaitan dengan efek ekonomi dari pajak bukannya kemampuan untuk membayar yang digunakan dalam konteks keadilan pajak. pelaku yang kekuatan besar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan sosial. yang dengan tepat telah dikenakan pajak yang terpisah dan absolut. Ilustrasi sebelumnya ini mengasumsikan bahwa laba setelah pajak didistribusikan sebagai dividen. Perusahaan memang bertindak sebagai unit-unit pengambilan keputusan. Selain itu. Perusahaan adalah entitas legal yang memiliki keberadaan sendiri. seluruh pajak harus dibebankan pada orang. Walaupun penggeseran terjadi.170 diperoleh dari sumber perusahaan) harus dipajaki dengan tarip yang sama. Oleh karena itu. dalam konteks pendekatan kemampuan ekonomis pada pajak penghasilan. Akan tetapi. sebagai entitas yang terpisah. permasalahannya akan berbeda apabila mengusulkan pengenaan pajak pada perusahaan karena lembaga ini memiliki kemampuan membayar pajak sendiri dan oleh karenanya harus dikenakan pajak terpisah. Pandangan absolut atau klasik tentang pajak ini sangat rasional. pajak penghasilan badan telah memenuhi fungsinya untuk mencakup laba yang ditahan. Dalam kenyataanya tidak harus seperti ini. Tidak ada alasan mengapa para pemegang saham harus membayar pajak tambahan atau diberikan perlakuan khusus. Pandangan absolutmendasarkan pada asumsi bahwa pajak dikenakan atas laba dan tidak digeserkan kepada para pelanggan atau pekerja. harus dipajaki sebagai bagian dari penghasilan mereka. Laba perusahaan merupakan bagian penghasilan para pemegang saham dan. dioperasikan oleh profesional manajemen yang tidak begitu dikendalikan oleh pemegang saham secara individu. Perseroan yang dimiliki publik secara luas – merupakan wajib pajak besar yang menjadi sumber terbesar penerimaan pajak negara – bukan hanya merupakan instrumen untuk penghasilan pribadi. niat dari para penganut absolutisme untuk membebankan Dasar-dasar Keuangan Publik .) Pada akhirnya. hanya tidak begitu jelas kaitannya dengan keinginan para pemegang saham. Pada pajak penghasilan badan. perusahaan juga mempunyai kapasitas membayar pajak tersendiri. (Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan ini adalah kemampuan untuk membayar pajak tanpa mengalami kebangkrutan atau mengganggu operasinya. Pandangan Absolut Para penganut pandangan yang berlawanan menyatakan bahwa pendekatan integrasi memandang perusahaan secara tidak realistis.

dua pertanyaan lanjutan muncul. pajak tersebut tidak akan seperti yang diberlakukan sekarang. Pertimbangan Manfaat. Walaupun demikian. menjadi pajak penjualan atau pajak atas upah yang inferior dan arbiter. Pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . jumlah pegawai akan menunjukkan input untuk pengeluaran untuk sekolah umum. sejumlah pertimbangan lain dapat mendukung keberadaan pajak tersebut. Karena sebagian besar layanan publik yang memberikan manfaat kepada bisnis diberikan pada tingkatan pemerintah daerah. Bentuk pajak perusahaan yang tepat bergantung pada tujuan kebijakan tertentu yang akan dicapai. maka pajak tersebut bukan merupakan urusan pemerintah pusat. Pertama berkaitan dengan tingkatan mana pajak tersebut harus dikenakan. tetapi juga oleh berbagai bentuk organisasi lainnya. biaya-biaya ini hanyalah faktor yang minor dan sulit untuk mendukung pengenaan suatu pajak. tanpa landasan rasional dalam suatu struktur pajak yang adil (Pajak ini dikatakan inferior karena tarip implisit dari pajak penjualan atau upah akan bervariasi secara arbiter dengan rasio [marjin] laba atas penjualan atau rasio laba atas upah dari beberapa perusahaan). Perusahaan dapat diminta untuk membayar pajak atas manfaat. dalam kasus ini. dan lain-lain. Langkah yang paling rasional adalah menerapkan pajak umum atas kegiatan bisnis daripada menerapkannya dengan menggunakan pajak penghasilan badan saja. tidak hanya dinikmati oleh perusahaan. Jika ukuran umum yang digunakan.171 pajak tambahan pada penghasilan yang bersumber dari perusahaan tetap tidak tepat. bukannya sesuai dengan jumlah laba yang dihasilkan. total biaya yang dikeluarkan pada daerah operasi lebih tepat digunakan sebagai ukuran keseluruhan. Walaupun ada beberapa biaya pemerintah yang dikeluarkan dalam kaitannya dengan perusahaan secara khusus. transportasi akan menunjukkan layanan jalan raya. tentu saja sangat berharga bagi perusahaan tetapi institusi dengan kewajiban terbatas seperti itu tidak membebani biaya kepada masyarakat dan oleh karenanya tidak layak dikenakan pajak atas manfaat. Kasus berbeda untuk pengenaan pajak perusahaan secara absolut dapat dilakukan apabila pajak dipandang sebagai instrumen pengendali berkaitan dengan tingkah laku perusahaan. Alasan-Alasan Lain Mengenakan Pajak kepada Perseroan Walaupun tidak ada argumentasi sah untuk mengenakan pajak atas badan secara absolut berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. Pemerintah menyediakan berbagai layanan yang memberi manfaat kepada perusahaan dengan cara mengurangi biaya. Sebagian dari layanan ini. membantu transaksi-transaksi keuangan. bukannya untuk membebani manfaat yang tidak menimbulkan biaya. memperluas pasar. Hal melakukan kegiatan berdasarkan kewajiban terbatas. Tujuan dari pajak atas manfaat adalah mengalokasikan biaya layanan publik yang diberikan. dengan nilai tambah (termasuk laba dan biaya-biaya faktor lainnya) sebagai kemungkinan kedua. dan sebagainya. Apabila penerapan pajak atas manfaat dipandang tepat. kekayaan akan lebih tepat menunjukkan nilai layanan pemadam kebakaran. Oleh karena itu. Tujuan-tujuan Peraturan Perundang-Undangan. Pajaknya akan bervariasi sesuai dengan jumlah layanan yang diberikan.

dalam rangka mendukung berfungsinya pasar modal atau meningkatkan pengeluaran konsumsi. tetapi pendekatan pajak dapat digunakan. tabungan perusahaan perlu didukung dan distribusi dividen perlu dibatasi. dan pajak atas kelebihan laba merupakan alat-alat yang berguna dalam kaitannya dengan situasi ini. Alasan progresivitas tentu saja bukanlah kemampuan untuk membayar seperti pada pajak penghasilan pribadi. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas dividen yang dibayarkan dan mengecualikan laba yang ditahan. Pengendalian ini tentu saja tidak akan menggunakan pajak umum atas laba. atau. Perusahaan-perusahaan besar dapat dimiliki oleh investor-investor kecil dan perusahaan-perusahaan kecil dapat dimiliki oleh investor-investor kaya. yang tidak akan efektif untuk mengoreksi tingkat laku monopolistik. Jika ada keinginan untuk membatasi ukuran absolut atau besarnya perusahaan (yang tidak sama dengan membatasi monopoli atau pangsa pasar). Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas laba yang tidak dibagi dan mengecualikan laba yang dibayar sebagai dividen.172 1. Dasar-dasar Keuangan Publik . suatu tingkat pengembalian standar dapat digunakan. sehingga memunculkan masalah yang sulit dalam hal menentukan tarip berapa yang cocok untuk setiap industri. Pengendalian ini memerlukan suatu pajak yang lebih kompleks. dalam hal ini disparitas risiko dapat terlewatkan. pajak atas kelebihan laba sulit diadministrasikan karena kelebihan laba tidak mudah didefinisikan. Pembatasan atas upah dalam kondisi seperti ini tidak dapat diterapkan secara efektif tanpa juga membatasi laba. 3. Kelebihan laba tersebut harus diukur dengan membandingkannya dengan periode dasar. Alternatif kebijakan lain. Pengendalian terhadap monopoli telah dilakukan dengan menggunakan alat peraturan perundang-undangan. Pengendalian ini membutuhkan pajak bisnis yang progresif. 4. Suatu situasi lain yang berbeda di mana pajak atas kelebihan laba secara selektif dapat dikenakan karena krisis tertentu. seperti krisis harga minyak dan pelepasan kendali atas harga minyak. Sebagai stimulus bagi formasi modal dan pertumbuhan. Suatu pajak atas kelebihan laba dapat dikenakan pada periode-periode krisis (seperti perang) ketika diperlukan pengendalian langsung atas upah dan harga. Walaupun ukuran yang besar tidak diinginkan. Walaupun kelihatannya baik secara prinsip. distribusi dividen perlu didukung sedangkan menahan laba perlu dihindari. tetapi akan muncul ketidakadilan karena perbedaan posisi awal. itu bukan alasan memberikan penalti kepada perusahaan besar yang menguntungkan. Progresivitas akan digunakan untuk memberlakukan diskriminasi terhadap perusahaan besar dan membatasi apa yang dianggap sebagai akibat-akibat sosial yang tidak diinginkan dari perusahaan-perusahaan besar. yang berkaitan dengan tingkat pembatasan monopolistik. suatu pajak dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini. yang memunculkan pengenaan pajak atas laba tak terduga dari kenaikan harga minyak. Pertanyaan berikutnya adalah apakah pajak tersebut sebaiknya dikenakan pada laba dan bukannya ukuran aset atau penjualan. 2.

000. pemegang saham akan melaporkan jumlah kotornya sebesar Rp10. misalnya 20 persen.000. Secara keseluruhan. Alatalat seperti penyusutan dipercepat dan kredit pajak investasi dapat digunakan untuk tujuan ini dan juga dapat diterapkan secara siklus atau pada saat-saat tertentu. pajak perusahaan dapat digunakan untuk memberikan insentif atau disinsentif investasi.000. dan hanya membayar sisanya sebesar Rp500.000.500. Hal ini dapat dicapai baik dengan menggunakan metode partnership atau melalui pengenaan pajak sepenuhnya atas capital gain.000.000. Pada saat yang sama.000. ia dapat mengkreditkan Rp2.000. tetapi bentuk pajak yang diperlukan bukanlah pajak atas laba. perusahaan akan memberitahukan kepada para pemegang saham berapa jumlah yang tidak dibagi yang menjadi bagian mereka dan ditambahkan ke dalam ekuitas mereka dan kemudian pemegang saham akan memasukkan jumlah ini ke dalam perhitungan laba kena pajak mereka. Apakah penyesuaianpenyesuaian yang diperlukan dalam struktur pajak untuk mencapai tujuan ini? Integrasi Penuh Untuk menjamin integrasi sepenuhnya. Sebagaimana perusahaan bertindak sebagai pemotong dan pemungut pajak untuk pajak penghasilan pribadi atas upah dan gaji karyawannya. Karena ia telah dipotong sebesar Rp2.500. perusahaan juga dapat bertindak sebagai pemotong dan pemungut pajak untuk penghasilan laba dari pemegang sahamnya. sehingga pemegang saham mendapatkan sisanya sebesar Rp8.000. Bila laba tidak dibagi.000 dalam penghasilan kena pajaknya. banyak pendapat yang menyatakan bahwa perusahaan adalah alat untuk mencari penghasilan bagi pemegang saham dan oleh karenanya sumber penghasilan dari perusahaan diintegrasikan ke dalam pajak penghasilan pribadi. Integrasi Pajak Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Metode Partnership. Misalkan bahwa seorang pemegang saham menerima bagian laba sebesar Rp10. Solusi ini memasukkan laba total kepada penghasilan pemegang saham dan mengenakan pajaknya dengan pajak penghasilan pribadi. dan telah diberitahukan kepadanya. Terakhir. yang berbeda dari tabungan perusahaan. Perusahaan memotong dan memungut pajak. pajaknya akan sebesar Rp2. ia berhak mendapatkan Dasar-dasar Keuangan Publik .173 5. pemberlakuan skema pemotongan pajak (withholding) juga diperlukan terhadap penghasilan laba ini.000.000. Seberapa besar bagian laba tersebut akan didistribusikan sebagai dividen. penyesuaian harus mengintegrasikan perlakuan pajak baik untuk laba yang ditahan maupun distribusi dividen. Seorang pemegang saham yang dikenakan pajak marjinal sebesar 15% akan memunculkan beban pajak sebesar Rp1. Jika pajak marjinalnya 25%. pembahasan di atas menunjukkan bahwa instrumen pajak dapat menjadi alat yang berguna dalam mengendalikan tingkah laku perusahaan dalam banyak hal.000 yang dipotong oleh sumber penghasilan. Atas jumlah pajak ini.

Oleh karena itu. Manajemen. tidak akan memberikan respons atas suatu kredit pajak yang manfaatnya diserahkan kepada para pemegang saham. Hal ini daat dilakukan dengan cara membolehkan pemegang saham menambahkan basisnya (menambahkan ke harga pokok investasi saham mereka) dengan jumlah yang sama dengan bagian mereka atas laba yang tidak dibagi. Karena pajaknya dikenakan ketika laba diperoleh. kesulitan-kesulitan lain akan muncul berkenaan dengan kebijakan-kebijakan pemberian insentif. tidak praktis untuk perusahaan besar dan dimiliki publik secara luas. Ada juga argumentasi yang menyatakan bahwa pendekatan partnership. Akan tetapi. Prosedur ini tampaknya cukup adil. Ada pendapat bahwa wajib pajak tidak diharuskan membayar pajak atas penghasilan yang tidak mereka terima. seperti kredit pajak atas investasi. sulit untuk mengalokasikan bagian laba diantara mereka. yang umumnya membuat keputusan investasi. untuk tujuan pajak. Karena para pemegang saham bertransaksi saham secara cepat di pasar modal. walaupun memungkinkan untuk perseroan kecil dan perseroan non-publik. tetapi para pemegang saham dapat meningkatkan rasio yang dibayarkan sebagai dividen untuk mendapatkan kas yang dibutuhkan.000. terutang apabila tarip pajak marjinal yang dikenakan kepada pemegang saham melebihi tarip potongan. Dengan melaporkan penghasilan laba pada jumlah kotornya ini. Pendekatan ini tidak memungkinkan untuk perusahaan yang bukan perseroan publik yang sahamnya tidak diperdagangkan. dapat dibayar dengan menjual sebagian saham. Keberatan ini sama dengan yang dikemukakan dalam pembahasan pajak atas laba yang belum direalisasikan. Selain itu. Dengan penjelasan lain. perlu dicatat bahwa integrasi dengan menggunakan metode partnership tidak akan menghilangkan permasalahan-permasalahan dalam penentuan laba kena pajak perusahaan. sebagian besar bagian dari pajak akan dibayar pada sumber pemotongan. Integrasi dengan metode partnership tidak menyederhanakan administrasi pajak bahkan menambah kerumitan atasnya. adalah tidak adil bila memasukkan laba yang ditahan ke dalam penghasilan kena pajak pribadi. sehingga tidak menimbulkan permasalahan likuiditas pada pemegang saham. beberapa kesulitas dengan metode ini perlu dikemukakan. Bagaimanapun juga. dan proses penyerahan itu sendiri memunculkan kesulitan-kesulitan teknis. Satu hal penting. Sisanya. capital gain yang menunjukkan kenaikan nilai kepemilikan yang ditimbulkan dari menahan laba harus dikecualikan dari pajak atas capital gain. tetapi tidak begitu meyakinkan. pemegang saham akan membayar pajak sesuai dengan tarip pajak marjinalnya. permasalahanpermasalahan ini terbukti bukan sesuatu yang tidak dapat diselesaikan bila usaha integrasi yang serius dijalankan. pemegang saham diperlakukan seolah-olah mereka adalah partner dalam suatu bisnis nonperusahaan.174 pengembalian pajak sebesar Rp500. Akan tetapi. dan cara ini yang diusulkan sebagai prosedur standar oleh para ahli pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . Penentuan laba kena pajak ini sama pentingnya seperti dalam pajak perusahaan absolut.

Integrasi Parsial Bila integrasi sepenuhnya telah didiskusikan selama beberapa tahun. sehingga menguntungkan wajib pajak yang berpenghasilan besar. Jika tidak ada integrasi sepenuhnya. Cara ini dipandang sebagai mendekati perlakuan yang terintegrasi untuk laba yang tidak dibagi. Hutang versus Modal Saham Bunga yang dibayar oleh perusahaan atas dana yang diperolehnya dengan berutang dikurangkan dari penghasilan kena pajak ketika memperhitungkan pajak penghasilan badan. Sejak tahun 1986. hal ini memunculkan insentif bagi pemberi dana untuk meminjamkan daripada melakukan investasi ekuitas. Jika dana diperoleh dari hutang. Dalam pendekatan ini. Cara ini tidak memerlukan penentuan laba kena pajak untuk perusahaan. pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. Misalnya. Penggunaan integrasi sepenuhnya akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak. atau Dasar-dasar Keuangan Publik . Distorsi yang sama muncul pada sisi manajemen yang lebih memilih pendanaan hutang. keringanan ini diberikan dalam bentuk pengecualian dan bukannya kredit pajak. netralitas dapat dikembalikan dengan cara (1) tidak membolehkan pengurangan biaya bunga pada pajak penghasilan badan tetapi akan memperluas cakupan pajak berganda. Berikut ini beberapa contoh atas permasalahan-permasalahan pajak tersebut. lebih rumit daripada keuangan pada rumah tangga. seperti juga pembayaran gaji dan upah. pendapatan dividen maksimal sebesar $200 dikecualikan dari penghasilan kena pajak. di AS sebelum tahun 1986. pengenaan pajak secara periodik dapat digabungkna dengan pajak atas pemindahan aset. beberapa praktik di negara maju telah memunculkan sampai tingkatan tertentu suatu integrasi parsial. bunga yang dibayarkan dapat dikurangkan dari laba kena pajak. sedangkan laba atas modal ekuitas tidak boleh dikurangkan. sedangkan bagian yang tidak dibagikan akan muncul sebagai capital gain. Bagian yang didistribusikan akan muncul dalam penghasilan pemegang saham sebagai dividen. Dengan ketiadaan integrasi. Aspek-Aspek Khusus Definisi Basis Pajak Permasalahan-permasalahan pada keuangan perusahaan. Bila meminjamkan. Bila menanam modal.175 Metode Capital gain. Dengan ketiadaan pajak pada tingkatan perusahaan. Perlu diingat. demikian juga permasalahan pada desain pajaknya. dikombinasikan dengan penghapusan pajak atas laba. Cara lainnya untuk mencapai integrasi sepenuhnya adalah dengan mengenakan pajak sepenuhnya atas semua capital gain (termasuk yang belum direalisasikan). insentif investasi seperti kredit pajak atas investasi harus diberikan pada tingkatan pemegang saham atau diberikan langsung sebagai subsidi kepada perusahaan. manfaatnya bagi penerima dividen akan meningkat sejalan dengan tarip pajak marjinalnya. cara ini tidak pernah dipandang sebagai cara yang realistis. distribusi dividen mengalami pajak berganda. pengecualian dividen ini ditiadakan dan tarip pajak atas perusahaan disesuaikan ke tingkat tarip pajak untuk pajak penghasilan pribadi. tetapi pajak berganda tetap berlaku bagi dividen. Akan tetapi. Akibatnya.

176 (2) membolehkan pengurangan bunga yang diperhitungkan atas modal ekuitas dalam pajak penghasilan badan sehingga mengurangi cakupan pajak berganda. dan akan lebih besar bila biaya modal dikurangkan lebih cepat. Akan tetapi.000 diberikan kepada manajer perusahaan. perusahaan telah membantu pengawainya mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka. semua biaya usaha harus dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Oleh karena itu. bila sebuah mobil senilai Rp200. Pengurangan biaya modal memunculkan penghematan pajak bagi investor. Jangka waktu periode di mana investasi dapat diperoleh kembali atau penyusutan dibebankan pada umumnya telah ditetapkan sesuai Dasar-dasar Keuangan Publik . Ketika biaya entertainment dapat dikurangkan dari penghasilan. sedangkan tunjangan kendaraan tidak. Pada kenyataaanya. nilai tunai dari pajak dan juga pengurangan atas penghasilan tidak hanya bergantung pada tarip pajak tetapi juga pada kapan pengurangan penyusutan diperbolehkan. Pembayaran dalam bentuk Natura dan Biaya Entertainment Pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment merupakan topik yang banyak dibahas. karena sangat mengandalkan sumber pendanaan internal. Jadi. biaya dari perusahaan akan sama dengan apabila gajinya dinaikkan dengan jumlah yang sama. Selain itu. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi. Faktor-faktor ini melibatkn jangka waktu penyusutan dibebankan dan kecepatan hasilnya dalam interval ini. dengan membayar dalam bentuk natura daripada dalam bentuk kas. Lama Masa Manfaat. Kapan waktu perolehan kembali biaya modal sangat penting karena nilai tunai dari kewajiban pajak berkurang ketika penyusutan dibebankan. Cara penghindaran pajak penghasilan pribadi ini dapat ditutup baik dengan cara memasukkan pembayaran dalam bentuk natura ke dalam pajak penghasilan pribadi atau melarang pengurangan biaya-biaya tersebut pada pajak penghasilan badan. Cara yang dilakukan sekarang ini adalah jalan tengah dengan membatasi pengurangan atas pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment. Aturan Penyusutan dan Waktu Penyusutan Apakah dalam bentuk pajak perusahaan absolut atau integrasi berbentuk partnership. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode. Dalam hal pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah. biaya untuk pengeluaran tersebut berkurang sebanyak 30 persen dan aktivitasnya sulit dikategorikan untuk didukung dengan subsidi publik. Dalam hal investasi modal.000. Permasalahan penyusutan adalah salah satu permasalahan yang paling sulit dan paling penting Karena pajak perusahaan adalah pajak atas laba bersih. modal ekuitas pada perusahaan selalu meningkat. dengan sedikit bukti bahwa adanya perlakuan pajak yang buruk tersebut memiliki pengaruh. Peraturan perundang-undangan harus menentukan pada tarip berapa para investor diperbolehkan untuk memperoleh kembali biaya investasi mereka. laba kena pajak harus didedinisikan dan berbagai kesulitan harus dihadapi dalam proses definisi ini. kenaikan gaji akan menambah kewajiban pajaknya.

nilai tunai dari penyusutan yang paling tinggi apabila menggunakan metode penyusutan saldo menurun daripada engan menggunakan metode garis lurus.000 boleh dikurangkan.000. untuk suatu aset yang bernilai Rp100.000.000 akan dikurangkan pada tahun pertama. Ada satu metode lagi yang tidak diperbolehkan berdasarkan peraturan perundangundangan saat ini. di mana bagian yang dikurangkan pada setiap tahun sama rasio dari sisa tahun terhadap jumlah angka tahun selama masa manfaat aset.177 dengan masa manfaat dari aset bersangkutan. Bila kita membandingkan antara metode saldo menurun dengan metode jumlah angka tahun. Metode Penyusutan. Bangunan harus disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus di mana jumlah yang sama sebesar C/n harus dihapuskan setiap tahun. sebesar Rp20. dan seterusnya. Peralatan disusutkan dengan menggunakan metode saldo menurun.000. Rp16. setiap tahun sejumlah Rp10.000 = Rp16. beban untuk tahun kedua adalah 9/55 dari Rp100.000.000 dan masa manfaat selama 10 tahun. Metode penyusutan yang diperbolehkan untuk dipakai hanya dua metode yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun (declining balance method). Dengan demikian. dan seterusnya. Jadi. Dasar-dasar Keuangan Publik . dan perbedaan semakin besar dengan semakin lamanya masa manfaat.000 = Rp18. Seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.363.111.111. Simpulan yang sama juga berlaku apabila kita membandingkan metode jumlah angka tahun dengan metode garis lurus. Beban penyusutan tahun pertama adalah 10/55 dari Rp100. Jadi.000.000.000.636. yaitu metode jumlah angka tahun (sum-of-years-digits method). metode saldo menurun lebih menguntungkan pada aset-aset berumur pendek dan metode jumlah angka tahun lebih menguntungkan pada aset-aset yang berumur panjang. Peraturan perpajakan telah menetapkan patokan umur yang sejalan dengan praktik bisnis yang sehat. untuk suatu aset dengan harga perolehan Rp100. dengan C sama dengan nilai perolehan aset dan n adalah umur aset. jumlah angka tahunnya sama dengan 10 + 9 + 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 55.000 dengan masa umur selama 10 tahun. dengan persentase sebesar dua kali tarip garis lurus dikurangkan pada tahun dan persentase yang sama ini kemudian diterapkan pada jumlah yang belum disusutkan setiap tahunnya.000 akan dikurangkan pada tahun kedua.

539 20. Hasilnya demikian karena nilai tunai dari penghematan pajak akan semakin tinggi ketika penghematan pajak tersebut semakin cepat terealisasi. Sudah terbukti bahwa penyusutan yang cepat menguntungkan investor.697 31.680 44. Netralitas Metode Penyusutan Ekonomis.055 64.811 75.460 40.716 59.528 44.515 79.614 70.787 78.750 87. semakin rendah tarip efektif pajaknya.099 54.661 32. percepatan ini ekuivalen dengan pinjaman tanpa bunga. Jika komponen negatif ini menjadi semakin besar seperti yang ditunjukkan pada tabel di ataas.469 68. Harga Perolehan Aset = Rp100. Bagaimana mengoreksi tarip penyusutan yang akan memperlakukan semua investasi secara netral? Bila hanya melihat satu investasi saja.534 81.000) Jumlah Angka Tahun (IV) 87.935 DISKONTO 10 PERSEN 79. terutama yang menginvestasikan pada asetaset yang berumur panjang. Ketika mempertimbangkan suatu investasi.997 67. pajaknya akan semakin turun. Mempercepat penyusutan (baik dengan cara memperendek periode penyusutan atau membolehkan menyusutkan jumlah yang besar pada awal-awal masa guna aset) akan mengurangi tarip efektif pajak dengan menunda tanggal jatuh tempo dari kewajiban pajak.100 64. Dari sudut pandang investor. Semakin cepat tingkat penyusutannya.178 Nilai Tunai Penyusutan (dalam Rupiah.439 Masa Manfaat (I) 5 10 20 50 5 10 20 50 Garis Lurus Saldo Menurun (II) (III) DISKONTO 6 PERSEN 86. Pemerintah akan mengalami kerugian dari semakin cepatnya penyusutan yang diperoleh oleh wajib pajak dan oleh karenanya beban yang sama – yang didefinisikan sebagai Dasar-dasar Keuangan Publik . hal ini tidaklah sulit. Nilai tunai dari pajak dapat dipandang sama dengan nilai tunai dari pajak kotor (sebelum dikurangi dengan penyusutan yang diperbolehkan) dikurangi dengan nilai tunai dari penghematan pajak karena penyusutan. dengan nilai tunai dari penghematan bunganya sama dengan nilai tunai dari penghematan pajak yang dihasilkan. semakin cepat penyusutan dilakukan.806 28. investor akan menimbang nilai tunai dari arus laba bersihnya terhadap biaya perolehan dari aset. Nilai tunai ini sama dengan nilai tunai dari arus laba sebelum pajak dikurangi dengan nilai tunai dari pembayaran pajaknya.663 51.829 Metode Penyusutan Ekonomis versus Metode Penyusutan Dipercepat Tarif efektif dari pajak bergantung pada tarip nominal (sekarang 30 persen untuk perusahaan) dan tingkat penyusutan yang diperbolehkan.756 80.

Dalam hal penyusutan pajak sama dengan penyusutan ekonomis. yang adalah biaya modal atau penyusutan ekonomis yang harus dibebankan bersama-sama dengan biaya lain dalam menghitung laba bersih. cara yang terbaik yang dapat dilakukan adalah memakai masa guna seperti yang biasa dipakai dalam praktik bisnis dand Dasar-dasar Keuangan Publik . Suatu tarip pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarip pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. Bila dijumlahkan. Akan tetapi. Jika penyusutan diperbolehkan dengan tarip percepatan. Jika semua investasai sama. yang ditimbulkan dari semakin memburuknya kondisi aset dan penurunan nilai karena keusangan. Dengan demikian. pengenaan pajak akan mengurangi nilai dari arus laba bersih sebesar persentase tarip pajak yang berlaku. Oleh karenanya. baik dalam hal keadilan (investor dengan penghasilan yang sama harus membayar pajak yang sama besar). tidak akan menjadi masalah kombinasi mana yang dipilih yang memberikan kepada pemerintah arus pendapatan yang tertentu. ada alasan kuat untuk menggunakan penyusutan ekonomis. Oleh karena itu. Pola penyusutan seperti apa yang diperlukan untuk memastikan definisi penghasilan yang adil dan netral? Aset yang disusutkan. yang timbul dari penggunaan aset. walaupun prinsipnya jelas. nilai tunai yang menjadi nilai aset tersebut. Peralatan modal modern tidak aus secara seragam dan juga menjadi usang sebelum sempat digunakan sepenuhnya. sehingga mengenakan pajak pada arus laba bersih yang sebenarnya ketika diterima setiap tahun. Pertama adalah arus penghasilan positif berupa laba. padahal investasi-investasi ini harus diperlakukan sama. dapat dipandang sebagai menghasilkan dua arus penghasilan. investasi yang lebih lama akan mendapat keuntungan terbanyak dan juga mendapat manfaat dari tarip pajak efektif yang lebih rendah.179 nilai tunai dari pajak – dapat diberlakukan dengan berbagai kombinasi tarip pajak dan tarip penyusutan. Aset dengan nilai tunai arus laba bersih yang sama harus mendapat beban yang sama yang didefinisikan sebagai nilai tunai pajak. Hal sebaliknya akan terjadi bila tarip penyusutan yang diperbolehkan lebih rendah daripada tarip ekonomis. Tingkat keusangan akan berbeda dan tidak dapat diprediksi. penerapannya tidak mudah. maupun dalam hal netralitas (pajak tidak boleh mendistorsi pola investasi). penurunan dalam nilai berjalan sama dengan nilai kapitalisasi dari penurunan arus penghasilan. pilihan-pilihan investasi akan terdistorsi dan lebih banyak modal akan mengalir ke arah tersebut. aset tersebut memberikan arus laba bersih positif. Tarip efektifnya akan sama dengan tarip nominal atau tarip yang berlaku dan tarip ini independen terhadap umur aset dan karenanya tidak akan mendistorsi pilihan investasi di antara mereka. Nilai berjalan dari aset pada setiap waktu sama dengan nilai kapitalisasi dari arus penghasilan di masa depan yang dihasilkannya. Yang lainnya adalah arus penghasilan negatif. Kesulitan akan muncul karena investasi berbeda dalam jangka waktu dan keuntungan sehingga menghasilkan pendapatan yang berbeda dalam berbagai kebijakan. Oleh karena itu. seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Hal tersebut akan sesuai ketika penyusutan dibebankan sejalan dengan pengurangan nilai aset.

di mana rb adalah tingkat pengembalian sebelum pajak dan ra adalah tingkat pengembalian setelah pajak. tampaklah jelas bahwa tingkat tarip nominal dan perubahannya bukanlah indikator yang cukup atas tingkat tarip efektif. Untuk investasi yang berkelanjutan.180 dengan asumsi bahwa masa guna yang dipercepat merupakan masa guna sebenarnya dan jejak waktu dari arus penghasilannya. Tarip efektif ditentukan dengan cara menghitung (rb – ra) / rb. yaitu bila percepatan dilakukan sampai titik ekstrem dan biaya investasi dibebankan ketika terjadi? Seorang investor yang melakukan investasi tunggal mungkin tidak akan dapat memanfaatkan penghapusan segera tersebut. di mana pemerintah kehilangan pendapatan pada tahun-tahun awal dan mendapatkan kembali pendapatan tersebut pada tahun-tahun terakhir. Pembebanan Sekaligus Biaya gaji dan pembelian bahan dikurangkan ketika terjadi investasi. yang dilakukan sekali dan kemudian selesai. Biaya-biaya ini langsung dibebankan pada biaya investasi. Untuk investasi seperti itu. Dasar-dasar Keuangan Publik . Kewajiban pajaknya berkurang pada tahun-tahun awal dan bertambah pada tahun-tahun akhir. Tarip Pajak yang Efektif. Ada juga kasus di mana suatu perusahaan terusmenerus meningkatkan aset-asetnya yang dapat disusutkan. Misalkan bahwa suatu aset diganti ketika semakin usang sedemikian rupa sehingga dasar yang akan disusutkan tidak berubah. Apa yang akan terjadi bila hal yang sama juga dilakukan terhadap pengeluaran modal. Berdasarkan diskusi sebelumnya. Labanya (ekuivalen dengan pinjaman bebas bunga) timbul dari penangguhan pajak sekali. Misalkan suatu perusahaan memiliki penghasilan dari investasi lain yang dapat digunakan untuk pembebanan tersebut. kerugian pendapatan pemerintah akan berakhir tetapi tidak ada perolehan kembali kerugian awal selama reinvestasi terus-menerus berlangsung. tarip efektif sama dengan persentase pengurangan dalam pengembalian modal karena pajak. Investor tersebut mungkin tidak dapat merealisasikan penghematan pajak (tax savings) sampai diperoleh pendapatan (laba) yang cukup di mana penyusutan akan dibebankan. Perolehan kembali baru terjadi setelah reinvestasi berakhir. kita membahas pengaruh dari penyusutan yang dipercepat terhadap tingkat pengembalian bersih dari investasi tunggal. investor tidak perlu membayar pajak dan pemerintah tidak memperoleh pendapatan pajak. Semua pembayaran dapat dihindari dan tanpa terjadi perolehan kembali. Dalam diskusi sebelumnya. Investasi Tunggal versus Investasi Berkelanjutan. perusahaan seperti ini dapat menunda pembayaran pajak selamanya. Tarip ini bergantung pada tarip pajak yang berlaku dan tarip penyusutan. Dengan demikian. Jika penyusutannya cukup cepat dan ekspansinya cukup tajam. Wajib pajak mendapat keuntungan dari penundaan (dan kerugian bagi Pemerintah) dan nilai sepanjang tahun-tahun awal dan kemudian akan rata. Pada tahun-tahun awal. kejadiannya tidak sama. penyusutan yang dipercepat tidak mengurangi jumlah total pajak yang akan dibayarkan.

membebankan tambahan Rp30 juta sebagai penyusutan. bila diukur dalam nilai riil. Untuk menghilangkan permasalahan ini dan untuk mengatasi permasalahan inflasi dengan benar. Kita harus membayar suatu pajak dengan tarip 30 persen penghasilan kita dari Rp142. Penyesuaian terhadap Inflasi Dengan harga yang selalu naik. = Rp142.302 x Rp100 juta . dua solusi tersedia: (1) basis penyusutan dapat diindeks untuk naik sesuai dengan biaya penggantian. penghasilan kena pajak terlalu besar. Suatu sistem yang membolehkan sebagian dari pajak dibiayakan dan menyusutkan sisanya sesuai dengan penyusutan secara ekonomis akan netral antara investasi jangka pendek dan jangka panjang. menimbulkan kenaikan tarif efektif pajak yang tersembunyi.857 juta dalam investasi pada A. . perolehan kembali investasi dengan berdasarkan harga perolehan tidak akan memberikan penghematan pajak yang cukup untuk menjaga modal perusahaan dalam nilai riilnya. Investasi yang dikualifikasikan untuk kredit pajak tersebut adalah semua aset yang dapat disusutkan kecuali gedung. Kemudian kita membebankan kerugian ini pada laba dari aset B. Pendekatan ini sering disebut sebagai cadangan awal (initial allowance) yang merupakan cara yang netral dalam memberikan insentif investasi. dan seterusnya. misalkan kita menginvestasikan uang Rp100 juta pada aset A dan segera membebankannya sebagai penyusutan sebesar Rp100 juta. seorang investor yang membeli aset dengan harga Rp100 juta dapat memperolehnya pada biaya perolehan bersih sebesar Rp90 juta. hanya sepertiga dari pajak yang akan dihapuskan. Dengan tarip pajak 30%.30 x Rp100 juta + 0. suatu kredit pajak diperbolehkan atas sebagian (pada tahun 1985 sebesar 10%) dari biaya investasi yang dikualifikasikan. Kebijakan yang dilaksanakan tidak akan sejauh ini.857 juta. mendapatkan penghematan pajak sebesar Rp9 juta. Kita kemudian menambahkan sejumlah ini ke dalam investasi anda pada A. pada dua dekade sebelum reformasi pajak tahun 1986. Penyusutan segera dengan reinvestasi secara kontinyu dari penghematan pajak yang didapat membatalkan pajak. Akibatnya. (2) seluruh penyusutan dapat dilakukan pada tahun pertama sehingga menghilangkan pengaruh inflasi. kita menderita kerugian sebesar Rp100 juta. . penghematan pajaknya akan sebesar Rp30 juta. Bila kegiatan serial ini diulangi terus-menerus. Karena kita belum mendapatkan penghasilan dari A. Pertama kali diperkenalkan tahun 1964. sehingga mengurangi kewajiban pajak dari penghasilan aset B. kredit pajak investasi (investment tax credit) merupakan alat insentif yang utama. membuat posisi kita sama dengan menginvestasikan Rp100 juta tanpa pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik .181 Untuk mengetahui mekanisme ini. Hal ini sangat relevan terutama dalam periode inflasi tinggi. Jadi. Aturan hukum biasanya hanya membolehkan sebagian (misalnya sepertiga) dari biaya investasi yang dapat diperoleh kembali dengan penyusutan segera. kita akan berakhir dengan investasi pada A sebesar Rp100 juta + 0. Investment Tax Credit Di Amerika Serikat. . Dalam hal ini.

tetapi mekanismenya berbeda. termasuk tingkat pengembalian dari pemegang saham perusahaan. dapat diperbandingkan? Kredit investasi sama dengan penyusutan dipercepat dalam hal keduanya dapat digunakan untuk mengurangi pajak. atau aturan harga lainnya yang berubah. masalahnya akan cukup sederhana. Untuk suatu investasi tertentu dengan lama masa manfaat tertentu. Jika tarip pajak perseroan berbeda antar industri. Bedanya dengan penyusutan dipercepat. Demikian juga. kredit investasi tidak hanya merupakan alat penunda pajak. Hal ini tidak dapat dilaksanakan dalam dunia nyata karena pajak diterapkan pada semua perseroan dengan tarip efektif yang sama. Akan tetapi. bagian laba perusahaan dalam nilai tambah pada sektor perusahaan. Beberapa struktur industri sering terjadi apa yang disebut administered pricing. Para pebisnis sering memiliki pandangan berbeda dan memandang pajak sebagai biaya yang harus dipindahkan. jika perusahaan berada dalam situasi monopoli. bila pasar tenaga kerja tidak sempurna. Hasilnya bergantung pada struktur dan tingkah laku pasar yang ada. pajak yang tinggi dapat dicerminkan dalam permintaan yang lebih terbatas dalam perundingan dengan manajemen dan oleh karenanya dapat dipindahkan bebannya kepada tenaga kerja. yang penjualan bukannya laba yang dimaksimalkan. Pandangan ekonomis adalah pandangan yang tepat bila diasumsikan bahwa semua pasar beroperasi untuk memaksimalkan laba. kredit investasi dan penyusutan dipercepat. sesuai dengan model kompetitif.182 Bagaimana kedua alat insentif. Hal yang sama juga berlaku pada pasar tenaga kerja yang terorganisir. dimungkinkan untuk merancang penyusutan yang dipercepat dan provisi kredit yang menghasilkan nilai tunai yang sama kepada investor. Pemindahan beban dengan cara penyesuaian administered pricing (dibedakan dengan pemindahan beban karena perpindahan faktor dan perubahan pasokan faktor dalam pasar yang kompetitif) tidak dapat dianggap tidak ada. Aset yang berumur lebih pendek dapat diganti lebih sering sehingga dapat dimungkinkan untuk mendapatkan kredit pajak lebih sering lagi. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajak dengan harga yang lebih tinggi. kedua pendekatan itu berbeda diantara berbagai investasi. Ada banyak usaha pada tahun-tahun terakhir untuk memberikan bukti tentang ini. pembandingan antara tingkat pengembalian dari investasi pada perseroan dan non-perseroan sulit dilakukan karena ketidaktersediaan data pada usaha-usaha non-perseroan. Siapa Yang Menanggung Beban Pajak? Sebagian besar ekonom memandang beban pajak penghasilan badan jatuh kepada modal. Kemungkinan yang tersisa adalah mempelajari pengalaman sektor perusahaan dan bagaimana berbagai komponen dalam sektor perusahaan menanggapi pajak. sedangkan kredit pajak memberikan keuntungan bagi aset berumur pendek. Beberapa pandangan dapat diperoleh dari memeriksa perubahan-perubahan harga yang terjadi dan membandingkan posisi-posisi relatif beberapa sektor sebelum dan sesudah perubahan pajak. dan marjin laba perusahaan. Penyusutan dipercepat lebih tepat untuk investasi jangka panjang. Demikian juga. Akan tetapi. Pendekatan Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi juga alat yang memberi hak untuk pengurangan pajak. yaitu penentuan harga bukan berdasarkan mekanisme pasar.

Satu jenis penelitian menggunakan model bahwa tingkat pengembalian perusahaan adalah suatu fungsi dari berbagai variabel yang telah ditentukan sebelumnya. Beberapa studi lainnya mengindikasikan hasil yang sebaliknya. yang terpenting adalah tarip pajak efektif bukannya tarip pajak nominal. seperti tingkat permintaan konsumen. para analis berharap menggunakan koefisien regresi dari variabel ini untuk mengukur pengaruh perubahan tarip pada tingkat pengembalian. utilisasi kapasitas. Pada kenyataannya. Tidak ada hubungan positif antara ukuran usaha perusahaan dan laba bersih pemiliknya. Pajak Penghasilan Badan Untuk Usaha Kecil Dan Menengah Haruskah tarip pajak bagi UKM berbeda? Alasan pengenaan tarip pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perusahaan. akan tetapi masalah ini masih kontroversial. Pendekatan lain untuk mengukur adanya pemindahan beban pajak adalah dengan menggunakan pendekatan ekonometrika. seperti menahan ukuran bisnis sehingga tidak terlalu besar atau mendukung usaha-usaha kecil. Jika tujuan menahan ukuran bisnis yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Teknik ekonometrik yang lebih baik dikombinasikan dengan penggunaan data yang kurang agregatif mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik. tingkat inflasi. kredit investasi.183 inipun tidak dapat menghasilkan pandangan yang cukup jelas karena perubahan tarip pajak tidak berlangsung secara sering. Hasil penelitian di Amerika Serikat tentang perubahan tarip pajak dalam rangka menguji adanya pemindahan beban pajak menunjukkan hasil yang berbeda-beda dan konsisten dengan kedua hipotesa pemindahan dan nonpemindahan. Jika tarip pajak akan ditetapkan progresif maka harus didasarkan pada alasan-alasan lain. Banyak perusahaan kecil dimiliki oleh individu-individu berpenghasilan tinggi dan sebagian besar dividen yang dibayarkan oleh perusahaan diterima oleh individuindividu dengan penghasilan menengah. kondisi ekonomi dan faktorfaktor lain. sehingga mengarahkan kepada hipotesa pemindahan beban pajak. Tarip pajak efektif ini bergantung pada aturan penyusutan. dan tarip pajak perusahaan. tarip pajak itu sendiri merupakan konsep yang kompleks. Hal ini terjadi karena banyaknya faktor-faktor non-pajak yang mempengaruhi hasil penelitian sehingga penelitian tidak dapat menunjukkan siapa sebenarnya yang menanggung beban pajak. pengeluaran publik. Beberapa studi mengindikasikan adanya pemindahan beban pajak yang cukup tinggi. Perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk membayar seperti halnya yang dimiliki individu dan beban pajak pada akhirnya ditanggung oleh individual. yang dirancang untuk mengisolasi pengaruh pajak penghasilan perseroan. Dengan memasukkan tarip pajak perusahaan. Berbagai studi telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. Analisis ekonometrik tidak mampu secara bulat memisahkan pengaruh pajak dari beberapa perubahan yang terjadi secara bersamaan dalam pengeluaran publik. Dan juga. dan berbagai faktor yang tidak dapat dinilai dengan jelas.

suatu penerapan integrasi yang sempurna. Hal ini dapat dihindari dengan membuat aturan pajak berbeda untuk wajib pajak pribadi. ada aturan khusus bahwa usaha-usaha kecil sampai dengan ukuran aset atau ukuran penjualan tertentu boleh dipajaki sebagai suatu partnership. Walaupun tarip awal yang rendah ini dapat digunakan oleh wajib pajak pribadi untuk mengurangi pajaknya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Penggunaan tarip awal yang rendah tidak banyak manfaatnya bagi usaha-usaha besar. Akan tetapi tujuan ini pun dapat dipertanyakan.184 ditetapkan. Perusahaan kecil ini dipandang sebagai mekanisme melewatkan beban pajak. Pemerintah dapat pula memberikan bantuan kepada UKM dengan mengenakan tarip awal pajak yang rendah. Walaupun demikian. keringanan pajak untuk usaha-usaha kecil selalu menjadi perbincangan politik yang penting. Posisi ini dapat dipandang benar untuk mengurangi kemampuan perusahaan-perusahaan besar untuk beroperasi pada pasar-pasar modal yang tidak sempurna dan mendapat manfaat dari praktikpraktik monopolis. karena pada umumnya perusahaan-perusahaan ukuran menengah dan besar lebih efisien daripada usaha kecil. walaupun sedikit sekali bukti bahwa ukuran usaha yang besar diperlukan untuk mencapai efisiensi. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memberikan penalti kepada suatu perusahaan holding yang memiliki banyak anak perusahaan. Untuk menghilangkan penerapan pajak berganda bagi usaha kecil berbentuk perusahaan. Bantuan kepada UKM Pilihan partnership. pajak yang progresif dapat diberlakukan tetapi diterapkan pada ukuran usaha (ukuran aset) dan bukannya tingkat laba. Selain itu. Tarip awal yang rendah. ada pandangan yang selalu ada bahwa memelihara usaha-usaha kecil yang diinginkan secara sosial walaupun tidak efisien. Permasalahan lain yang dapat muncul adalah aturan ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan besar dengan memecahnya menjadi unit-unit kecil dengan melakukan spin off.

pajak penjualan inferior baik dalam hal keadilan vertikal maupun keadilan horizontal. Oleh karena itu. P Hal yang paling penting adalah pajak penjualan berbeda dari pajak penghasilan dalam hal pajak ini merupakan pajak in rem bukannya pajak pribadi. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1984. yang telah Dasar-dasar Keuangan Publik . Bila pajak penghasilan dikenakan pada sisi penjual dari faktor-faktor produksi (misalnya.185 B A B XVIII PAJAK ATAS KONSUMSI ajak penjualan mirip dengan pajak penghasilan karena dikenakan pada arus yang diciptakan oleh produksi output. atas penghasilan yang diterima oleh rumah tangga) maka pajak penjualan dikenakan pada sisi penjual dari transaksi produksi (misalnya atas penjualan yang dilakukan perusahaan). Proses penggantian Pajak Penjualan menjadi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) merupakan salah satu rangkaian perombakan sistem perpajakan nasional sebagai Reformasi Perpajakan tahun 1983 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 April 1985. Oleh karenanya. Bila pajak penghasilan didasarkan pada sisi sumber pada rumah tangga maka pajak penjualan didasarkan pada sisi penggunaan. pengurangan. Pajak penjualan atas barang konsumsi dapat dipandang ekuivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga. dan tarip progresif. semua penggunaan dikenakan kecuali untuk menabung. dalam pajak penjualan tidak membolehkan situasi-situasi pribadi konsumen sebagaimana halnya dalam pajak penghasilan individu dengan aturanaturan pengecualian. Dalam pajak umum atas barang-barang konsumsi. Jenis Pajak Atas Konsumsi Di Indonesia Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Pajak atas konsumsi yang pertama kali berlaku di Indonesia adalah Pajak Penjualan (PPn) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1951. dengan angka penjualan diukur dalam ukuran unit produk atau penerimaan kotor.

cakupan dan saat pengenaannya. Jenis barang yang tidak dikenakan PPN adalah: . misalnya pajak atas bahan bakar minyak. dan surat-surat berharga. jasa keuangan. Pajak per Unit versus Pajak atas Nilai (Ad Valorem) Pembedaan lebih lanjut dalam pajak penjualan adalah pajak yang dikenakan berdasarkan unit produk dan pajak yang dikenakan atas nilai produk. . Bahasan-Bahasan Dalam Pajak Atas Konsumsi Pajak penjualan. jasa pelayanan sosial. Pada prinsipnya. seperti jasa pelayanan kesehatan. jasa pengiriman surat dengan perangko. Tidak semua konsumsi barang dan jasa dikenakan pajak. cukai tembakau dan cukai minuman keras. terdiri dari beberapa jenis. Jasa-jasa yang tidak dikenakan PPN cukup banyak. Khusus untuk PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. gula. termasuk definisi basis pajak. Cukai merupakan hak atas pemerintah pusat. Selain itu. tetapi hanya dikenakan pada barang-barang tertentu seperti tembakau. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. Pajak Hotel. bentuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Pajak Hiburan. seperti pajak penjualan. untuk konsumsi barang-barang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri. rumah makan. Di antara dua basis ini.Uang. . cukai adalah pajak atas konsumsi. Pajak Konsumsi di Daerah Jenis pajak konsumsi lainnya diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarip pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. jasa keagamaan. Pajak Restoran. Pajakpajak ini diantaranya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. .Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. Cukai Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barangbarang tertentu. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barang-barang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri (di dalam Daerah Pabean). seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk.Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. bensin dan minuman keras. restoran. warung dan sejenisnya.Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. Pajak Reklame dan Pajak Parkir.186 mengalami perubahan-perubahan yang terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2000. emas batangan. jasa pendidikan dan lain-lain.

Basis GNP versus Basis Penghasilan atau Konsumsi. Pada umumnya.187 ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit. Akibatnya. suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sejalan dengan pergerakannya sepanjang tahapan produksi. Dalam pajak jenis ini. penjualan biji besi dikenakan pajak ketika biji besi tersebut berpindah dari tambang ke pabrik baja. pajak penjualan yang dikenakan di berbagai negara berbasiskan konsumsi. Dengan demikian. atau sepertiga hasil dari pajak penghasilan. kemudian penjualan besi baja dikenakan pajak ketika besi baja berpindah dari pabrik baja ke pabrik produksi lembaran baja. Ruang Lingkup Cakupan Pajak Penjualan Umum Pajak-pajak penjualan umum dapat berbeda dalam cakupan pengenaannya. perusahaan-perusahaan akan bergabung dengan para pemasok mereka. pajak berdasarkan perputaran menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produk-produk yang harus melalui banyak tahapan produksi dan distribusi. basis pajaknya akan berjumlah beberapa kali lipat dari GNP dan hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarip pajak yang rendah. dan seterusnya sampai pajak terakhir dikenakan pada penjualan mobil eceran. sehingga mendorong timbulnya integrasi vertikal yang pada gilirannya akan mengurangi kompetisi. Memasukkan seluruh transaksi akan tidak menimbulkan permasalahan bila setiap produk melalui jumlah transaksi yang sama sehingga persentase total kewajiban pajak berdasarkan perputaran terhadap nilai pada penjualan akhir akan sama. Prosedur seperti ini mempunyai daya tarik karena kemampuannya menghasilkan pajak yang besar dengan penerapan tarip yang kecil. Dalam kenyataannya. Atas dasar inilah. basis ini akan Dasar-dasar Keuangan Publik . pilihan basis pajak yang tersisa adalah GNP (Pendapatan Nasional) atau konsumsi. seperti yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya. Apakah pajak-pajak tersebut mencakup semua transaksi ataukah basisnya sama dengan GNP ataukah hanya konsumsi saja yang dapat dimasukkan? Inferioritas Basis Transaksi. penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar Rp46 trilyun. Dengan GNP Indonesia yang diperkirakan sebesar sebesar Rp1180 trilyun misalnya. penjualan lembaran baja dikenakan pajak ketika lembaran baja berpindah dari pabrik produksi lembaran baja ke pabrik mobil. Dengan demikian. Misalnya. untuk menghindari pajak. setiap produk tidak melalui jumlah transaksi yang sama. pajak berdasarkan perputaran dipandang sebagai bentuk pajak yang inferior. Bahkan beberapa negara Eropa telah menggantikan bentuk pajak ini dengan pajak pertambahan nilai yang menunjukkan inferioritas pajak atas perputaran ini. Selain itu. Dengan pertimbangan bahwa pengenaan ganda seperti yang dibahas dalam basis transaksi harus dihindari. Pajak berdasarkan perputaran (turnover tax) yang dikenakan pada jumlah total seluruh transaksi adalah pajak yang paling tidak diinginkan untuk diterapkan. Pajak penjualan jenis GNP akan mengenakan pajak penjualan atas barangbarang konsumsi dan barang-barang produksi.

Pengenaan tarip yang berbeda untuk menghilangkan perbedaan ini akan sangat sulit dan merupakan cara yang tidak seefisien dan seefektif pengenaan pajak pada tingkatan penjualan eceran. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. jasa kesehatan dan lain-lain. Bila menggunakan pajak yang dikenakan satu kali. tetapi dalam jumlah netonya. Pajak seperti ini akan memiliki basis yang sama dengan pajak penghasilan dan dapat diselenggarakan dengan menggunakan pajak pertambahan nilai jenis penghasilan. Jika pajaknya bersifat umum. satu-satunya basis yang tersisa sebagai kandidat basis pajak adalah basis konsumsi. pajak ini akan memberikan perlakuan diskriminatif yang mengecualikan penghasilan yang ditabung (tidak dikonsumsikan) yang dalam pajak penghasilan tidak dikecualikan. Pengenaan pajak ad valorem dengan tarip yang sama pada tingkatan produksi menghasilkan tarip ekuivalen yang tidak sama dengan pengenaan pada tingkatan penjualan eceran. Dalam hal keadilan. dalam hal ini penghasilan sebelum perhitungan penyusutan. konsumsi makanan rumah. pilihan pengenaan pajak biasanya antara saat selesai produksi atau saat dijual secara eceran kepada konsumen. pengenaan pada saat penjualan eceran lebih baik karena memungkinkan pengenaap tarip ad valorem yang seragam. Pajak jenis ini memiliki kelemahan dalam hal keadilan dan efisiensi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pajak penjualan umum atau eceran bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif.170 trilyun. Saat Produksi versus Saat Penjualan Eceran. pemilihan tahap pengenaan lebih merupakan masalah administratif dalam rangka efisiensi penerapan pajak atas basis yang dipilih. Karena basis penghasilan telah digunakan dalam pajak pribadi dengan pengenaan pajak penghasilan.188 sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan kotor. Basis inilah yang paling banyak digunakan dalam pajak penjualan. Kelemahan ini akan hilang bila pajak hanya dikenakan pada basis yang sama dengan Pendapatan Nasional atau GNP dikurangi dengan pajak-pajak tidak langsung dan penyusutan. karena rasio harga eceran terhadap harga produksi berbeda-beda untuk berbagai produk. pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber harus dikenakan pajak sepenuhnya. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. Dalam hal efisiensi. Tahap Pengenaan Keputusan mengenai tahap pengenaan melibatkan pilihan tahapan mana yang terbaik bagi pengenaan pajak satu kali dan pilihan mengenakan pajak satu kali atau beberapa kali. pajak penjualan yang komprehensif sebesar 10% akan menghasilkan pendapatan negara sebesar Rp117 trilyun. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). Bilamana penetapan cakupan pajak merupakan hal yang substantif dalam menentukan jenis pajak yang akan diberlakukan. Pajak Konsumsi Komprehensif versus Pajak Konsumsi Tertentu.

Pemilihan keduanya lebih didasarkan pada kemudahan administrasi. misalnya mobil murah atau televisi. kita akan mulai dengan peternak yang menjual kulit hewan kepada penyamak. identifikasi produk tidak memungkinkan. jawaban atas pertanyaan tahapan pengenaan akan lebih tidak jelas lagi. Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena jumlah titik penagihan pajak yang lebih sedikit. nilai produk dibagi dalam potonganpotongan (nilai tambah pada setiap tahapan) di mana pajak dikenakan pada tahapan-tahapan sepanjang proses produksi. Penggunaan pendekatan beberapa tahapan dalam konteks pertambahan nilai harus dibedakan dengan yang sebelumnya dibahas dalam diskusi tentang pajak atas perputaran Pajak Pertambahan Nilai Menurut sudut pandang ekonom. Selain itu. Dengan cara kedua. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah pajak harus dikumpulkan dalam satu kali pengenaan dan pada titik penjualan final atau apakah dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. Dengan menelusuri ke berbagai tahapan produksi. Walaupun demikian. lebih permanen. Karakteristik-karakteristik ini memperbaiki kualitas untuk tujuan perhitungan pajak. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran. karena pengenaan pajak secara selektif pada tingkatan eceran akan sangat sulit. Di negara-negara berkembang. badan-badan usaha produksi cenderung lebih besar. pajak pertambahan nilai yang diselenggarakan dengan benar akan ekuivalen dengan penerapan pajak dalam satu tahapan. Dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah).189 Jika pajak akan dikenakan secara selektif. pajak ini hanyalah pajak penjualan yang diadministrasikan dengan cara berbeda. hanya cara penagihannya yang berbeda. Saat Penjualan Eceran versus Pertambahan Nilai. akan lebih menguntungkan mengenakan pajak pada tahapan ini. pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan karena cara ini akan mengurangi jumlah pembayar pajak yang harus ditagih pajaknya sehingga mempermudah administrasi. walaupun hal ini menimblkan dampak yang berbeda pada tingkatan penjualan eceran. penyamak menjual kulit bahan sepatu kepada produsen Dasar-dasar Keuangan Publik . Walaupun ada perbedaan dalam teknik. misalnya sepatu. basis nilai tambah dari pajak penjualan jenis konsumsi sama dengan basis penjualan eceran. Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan sifat dari produk final pada tahapan penjualan eceran. pandangan umum lebih condong kepada pengenaan pada tahapan penjualan eceran untuk diterapkan pada pajak penjualan umum dan tidak begitu sering digunakan pada pajak-pajak penjualan selektif. Nilai akhir sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Mari kita lihat suatu produk. Pajak pertambahan nilai bentuk pajak yang baru seperti pajak pengeluaran. Jika produknya diidentifikasi pada tahapan produksi.

hanya pendekatan nilai tambah yang layak digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto). Jadi. Pada setiap tahapan. Pajak ini akan dibayarkan oleh penjual ketika produk dijual kepada pembeli terakhir. baik oleh konsumen rumah tangga. Pajak pertambahan nilai jenis penghasilan berbeda dari jenis konsumsi dalam hal jenis penghasilan Dasar-dasar Keuangan Publik . bunga. Pendekatan nilai tambah ini. NNP. Jenis Penghasilan. dan konsumsi. dengan nilai atau harga final dari produk tersebut sama dengan jumlah kenaikan atau pertambahan nilai pada seluruh tahapan. (Catatan: Pajak ini tidak dapat dikenakan sebagai pajak atas total nilai bersih dari barang pada saat penjualan terakhir dilakukan karena prosedur ini mengharuskan pencatatan biayabiaya penyusutan yang dibebankan oleh semua produsen sepanjang lini produksi. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Jenis GNP. pajak. oleh suatu perusahaan untuk menambah persediaan barangnya. mengenakan pajak kepada setiap penjual dengan tarip 5 persen dari nilai tambah. Pajak tersebut akan diberlakukan baik pada barang konsumsi maupun barang modal. seperti yang telah dibahas sebelumnya. yang sama dengan GNP dikurangi cadangan untuk konsumsi modal atau penyusutan. nilai barang meningkat dan harga jual juga meningkat sejalan dengan peningkatan nilai tersebut. dengan nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi nilai bersih dari barang setengah jadi dan penyusutan. yang akhirnya akan menjual sepatu tersebut kepada konsumen. Hasil yang sama dapat diperoleh dengan menerapkan pajak penghasilan umum karena basis suatu pajak produk neto dan pajak penghasilan pada dasarnya sama. produsen sepatu menjual sepatu kepada distributor utama. juga dapat digunakan untuk menyelenggarakan pajak penjualan pada produk neto.190 sepatu. Basis pajak pada setiap tahapan akan sama dengan penyusutan. yaitu GNP. Jenis Pajak Pertambahan Nilai Ada tiga jenis pajak pertambahan nilai sesuai dengan basis GNP. pajak dengan tarip 5% yang mencakup semua barang tersebut akan menghasilkan Rp58. Setiap kenaikan harga menunjukkan tambahan nilai pada setiap tahapan. Jumlah yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan nilai tambah. Dengan GNP sebesar Rp1. Suatu pajak yang dikenakan pada pertambahan nilai akan identik basisnya dengan suatu pajak yang dikenakan pada nilai final dari produk tersebut. pajak ini ekuivalen dengan pajak penjualan yang diterapkan pada barang konsumsi dan barang modal. laba dan biaya-biaya.170 trilyun. atau oleh suatu perusahaan untuk pembelian barang-barang modal. Pajak seperti ini dapat dikenakan dalam bentuk beberapa tahapan dengan mengenakan pajak pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. Pajak ini akan merupakan bentuk yang paling komprehensif dari pajak pertambahan nilai dan dapat disebut sebagai pajak pertambahan nilai jenis GNP. Anggaplah tujuannya adalah mengenakan pajak pada NNP. tetapi hanya jenis konsumsi yang dapat diterapkan secara praktis. yaitu penerimaan kotor dikurangi dengan biaya pembelian barang setengah jadi dari produsen sebelumnya dalam lini produksi.5 trilyun pendapatan pajak bagi negara. menjadi subyek pajak penjualan umum. distributor utama menjual sepatu kepada toko eceran. Anggaplah bahwa semua barang dan jasa final yang diproduksi dan dijual dalam suatu periode.

NNP atau Pendapatan Nasional PERUSAHAAN B C Ekonomi 120 120 70 145 100 315 151 151 221 265 100 100 20 120 80 120 15 215 90 45 16 151 270 165 51 - - 100 100 120 100 120 195 180 95 6 90 106 321 370 321 - - - 221 100 321 51 270 (Tabel ini menunjukkan perhitungan ketiga basis dengan menggunakan metode yang disebut metode pengurangan.1: Ilustrasi Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai A Pendapatan 01. Basis GNP Perhitungan Pendapatan Nasional 13.191 membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan sedangkan jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. Penjualan produk setengah jadi 03. Basis GNP dihitung dengan cara menambahkan pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07). GNP 16. Penjualan barang modal 04. Pembelian produk setengah jadi 07. Basis konsumsi ditentukan dengan menambahkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pajak seperti ini akan sama dengan pajak penjualan eceran umum atas barang konsumsi. dsb. Basis penghasilan (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 07) 12. bunga. perhitungan dengan metode penambahan adalah dengan cara menambahkan semua pembayaran kepada berbagai faktor yang dinyatakan pada baris 05. 06. Untuk basis penghasilan. Ilustrasi Perhitungan PPN untuk setiap Jenis Tabel 18. Minus Penyusutan 17. Jumlah total Biaya Modal 09. yang tersisa hanyalah nilai dari output barang konsumsi saja. dengan perbedaan hanya pada prosedur administrasi saja. Upah. Penjualan barang konsumsi 02. Jumlah total Biaya 05. Konsumsi 14. Plus Investasi 15. Dengan membolehkan setiap perusahaan untuk mengurangkan pengeluaran modalnya. yaitu pembelian barang-barang modal. Basis konsumsi (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 09) 11. Pembelian barang-barang modal Basis-basis pajak 10. Basis untuk pajak pertambahan nilai jenis ini didefinisikan sebagai pendapatan bruto perusahaan dikurang nilai dari seluruh pembelian produk-produk setengah jadi (bahan mentah dan barang dalam proses) dan juga pengeluaran modalnya atas pabrik dan peralatan-perakatan. Jenis Konsumsi. Alternatif lainnya yang dapat digunakan adalah metode penambahan. laba. Penyusutan 08.

Simpulan Kita telah melihat bahwa pajak pertambahan nilai jenis konsumsi memiliki basis yang sama dengan pajak penjualan eceran dengan cakupan yang sama. dikenal dengan nama metode perhitungan. seperti yang ditunjukkan pada baris 10. Dasar-dasar Keuangan Publik . mengapa harus ada perbedaan pendapat yang cukup tajam mengenai mana di antara kedua pajak ini yang lebih baik? Satu perbedaan berkaitan dengan persoalan politik dari kedua pajak ini. dihitung untuk setiap perusahaan dengan cara penjualan dikurangi dengan biaya barang-barang setengah jadi dan penyusutan (baris 06 dan 07). Bila demikian. metode faktur memiliki elemen ketaatan karena setiap pembeli akan meminta salinan dari bukti setor tersebut. kita akan menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang setengah jadi dan barang modal. Penjumlahan basis-basis pada setiap perusahaan ini menghasilkan basis-basis untuk seluruh ekonomi. Metode Penagihan Bila kita melihat jenis konsumsi dari pajak pertambahan nilai. Selain pertimbangan politis. Bila perhitungan pajak telah selesai.) Basis konsumsi. akan sama dengan penjualan total (baris 04) dikurangi pembelian barang-barang setengah jadi (baris 06). yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung tersebut. seperti yang ditunjukkan pada kolom terakhir. Jadi metode penambahan langsung menghasilkan angka pada pajak pertambahan nilai jenis penghasilan tetapi agak membingungkan pada pajak pertambahan nilai jenis konsumsi. seperti yang ditunjukkan pada baris 11. yang mungkin saja menjadi atau tidak menjadi masalah. Jika pajak bruto pengecer disajikan sebagai bagian terpisah dari harga-harga bagi para konsumen. Pendukung pajak pertambahan nilai merasa bahwa pajak ini tampak berbeda sehingga tidak terkontaminasi reputasi buruk dari pajak penjualan eceran. dihitung untuk setiap perusahaan dengan mendapatkan angka penjualannya dan dikurangi dengan pembelian barang-barang setengah jadi dan barang-barang modal (baris 06 dan 09). dan GNP yang ditentukan dalam perhitungan pendapatan nasional. Basis penghasilan. Jumlah total basis-basis ini sama dengan nilai dari konsumsi. seperti yang ditunjukkan pada baris 12. Pertama. ada dua cara untuk menagihnya.192 pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07) kemudian dikurangi dengan pembelian barang modal (baris 09). pendapatan nasional. metode faktur. Metode ini cocok di negara yang ketaatan pajaknya rendah. Basis GNP. Dengan membuat aturan bahwa kredit pajaknya bergantung pada penyajian bukti setor pajak yang dilakukan oleh para pemasok. ada beberapa perbedaan teknis dalam implementasi yang cukup penting. Kedua. yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarip pajak terhadap total penjualan dan mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah yang sama dengan pajak yang telah dibayarkan oleh para pemasok yang barang-barang setengah jadi dan barang-barang modalnya dibeli oleh perusahaan. konsumen akan menyadari adanya pajak pada kedua pendekatan ini.

Cukai Pada diskusi kita sebelumnya tentang tax incidence dari pajak penjualan. dengan menggunakan metode faktur. karena hanya dikenakan pada barang-barang tertentu. seperti minuman beralkohol dan rokok. Cukai umumnya dikenakan kepada barang-barang konsumsi massal yang dipandang kurang baik untuk dikonsumsi. Dalam pajak pertambahan nilai. sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. cukai memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal. tetapi di negara berkembang di mana usaha ritelnya umumnya usaha kecil. Karena tidak dibebankan secara pribadi. yaitu berdasarkan pola pengeluaran konsumsi atas produk yang dipajaki. pengecualian barang-barang modal dapat dilakukan dengan lebih efektif daripada dalam pajak penjualan eceran karena sulitnya menelusuri penggunaan barang-barang yang dibeli dari para pengecer. cukai akan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak yang lebih umum. tetapi hal ini belum menjadi kebijakan yang telah diterapkan. Bila dilihat dari keadilan horizontal. mengapa cukai tetap digunakan? Pertanyaan ini dijawab dengan mempertimbangkan jenis barang yang dikenakan cukai. cukai bersifat diskriminatif di antara konsumen dengan penghasilan yang sama tetapi dengan preferensi yang berbeda. hal ini mudah dilakukan.193 Dalam pajak penjualan eceran. Hal yang sama tidak berlaku untuk pajak penjualan dan cukai. Dan juga. seperti rokok dan minuman beralkohol. pajak-pajak ini tidak memberikan aturan mengenai kemampuan untuk membayar. Beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan seharihari cenderung regresif. suatu pajak penjualan umum akan adil bila indeks keadilan dinyatakan dalam bentuk konsumsi tetapi akan tidak adil bila indeksnya dinyatakan dalam bentuk penghasilan. Pajak Penjualan Umum Pajak penjualan umum dalam bentuk pajak penjualan eceran atas barang-barang konsumsi pada dasarnya sama dengan pajak umum bertarip tetap atas pengeluaran konsumen. sehingga memudahkan administrasi karena para pengecer dapat diakses secara efektif. Di negara maju yang usaha ritelnya sudah mapan. Dengan keterbatasan-keterbatasan seperti ini. jumlah pembayar pajak lebih rendah daripada dalam pajak pertambahan nilai. Distribusi Beban Pajak Pajak penghasilan memiliki peringkat yang tinggi dalam hal keadilan karena dikenakan sebagai suatu pajak pribadi yang berusaha mencapai kemampuan membayar dari wajib pajak. Selain itu. pajak penjualan eceran tidak akan efektif. Keluarga-keluarga dengan penghasilan yang sama mungkin saja Dasar-dasar Keuangan Publik . Cukai juga dikenakan dalam rangka meminimalkan dead weight loss. Karena sebagian besar cukai dikenakan atas barang-barang konsumsi masal. bebannya cenderung regresif. pajak pertambahan nilai memiliki elemen ketaatan yang tidak dimiliki dalam pajak penjualan eceran. Selain itu. kita menyimpulkan bahwa distribusi beban pajak berdasarkan kelompok penghasilan didominasi dari sisi penggunaan. Oleh karena itu.

karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun (menabung dalam persentase atas penghasilan naik) sejalan dengan kenaikan penghasilan. Perbedaan progresivitas di antara kedua jenis pajak ini muncul karena pajak penghasilan telah dikembangkan dalam kerangka pajak pribadi. sehingga melanggar keadilan horizontal dalam bentuk penghasilan. semua yang telah dikemukakan sebelumnya tentang keinginan untuk suatu definisi global dari basis pajak penghasilan berlaku juga. Penggunaan suatu jenis pajak pribadi dari pajak pengeluaran akan menghilangkan perbedaan ini dan membuat pemajakan atas konsumsi menjadi bersifat pribadi dan progresif. pendukung pajak penghasilan cenderung berasal dari pendukung progresivitas pajak. dalam perkembangan historis. Pola ini kurang regresif bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup dan bukannya tahunan. tidak ada dasar logika yang tepat pada kedua basis pajak yang mengharuskan keduanya sama. Penentuan Konsumsi Kena Pajak Apabila konsumsi digunakan sebagai indeks atas kemampuan untuk membayar. Bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup. Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi Walaupun telah mengecualikan beberapa produk konsumsi massal. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang Dasar-dasar Keuangan Publik .194 memiliki tingkat konsumsi (menabung) yang berbeda karena faktor usia atau faktor-faktor lainnya. sedangkan pendukung pajak penjualan cenderung berasal dari penentang progresivitas pajak. Analogi dengan pajak penghasilan. suatu pajak penjualan umum akan proporsional berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. Pajak seperti ini pernah dicobakan di India dan Sri Lanka. Berikut ini pembahasan teknis apabila pajak ini diterapkan. pajak penjualan dipandang sebagai pajak yang progresif dan pajak penjualan dipandang sebagai pajak regresif. pendekatan tradisional atas pajak konsumsi baik melalui cara selektif (cukai) maupun pajak penjualan umum (PPN bila di Indonesia) tetap bersifat regresif karena pengeluaran konsumsi dalam persentase penghasilan cenderung menurun sejalan dengan peningkatan penghasilan. Perlu dicatat pula bahwa sifat regresif dari pajak penjualan telah dimodifikasi dengan mengecualikan beberapa produk konsumsi massal. Pajak ini merupakan ide yang baru dan menarik dan telah banyak mendapatkan dukungan dari para akademisi di dunia perpajakan. seperti makanan. Akan tetapi. Dengan demikian. penghindaran atas pajak penjualan hanya dapat dilakukan dengan melalui warisan. Semua konsumsi harus dimasukkan ke dalam basis pajak dan kewajiban pajak para wajib pajak tidak dipengaruhi oleh pola tertentu dari pengeluaran konsumsi mereka. sedangkan pajak konsumsi telah ditetapkan sebagai kerangka dalam pendekatan nonpribadi atau in rem dari pajak penjualan. tetapi pengenaan pajak ini dalam situasi modern belum pernah ada.Oleh karena itu. wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak. Bila dipandang dari keadilan vertikal. Keluarga-keluarga seperti itu akan membayar jumlah pajak yang berbeda.

– investasi bersih (biaya pembelian aset-aset dikurangi hasil dari aset-aset yang dijual) 4. pembelian barang-barang konsumsi jangka panjang (seperti mobil). Kemungkinan yang lain adalah dimulai dari penghasilan dan mengurangkannya dengan jumlah tambahan tabungan. Konsumsi dalam cara ini akan diperoleh dari perubahan dalam saldo bank dan uang dan arus penerimaan dan pembayaran-pembayaran nonkonsumsi selama tahun berjalan. disesuaikan dengan mengecualikan capital gain tetapi memasukkan imputed rent dari rumah-rumah yang dihuni pemiliknya dan juga warisan dan hadiah yang diterima.195 diperbolehkan. tetapi belum diketahui bagaimana konsumsi kena pajak dapat ditentukan dalam kenyataannya. Dan juga. Untuk mendapatkan angka konsumsi. Dilema dalam memperlakukan capital gain yang belum direalisasikan akan tidak ada. + tambahan pinjaman bersih (pinjaman baru dikurangi pembayaran pinjaman atau memberikan pinjaman) 3. Cara yang paling baik dan yang paling mungkin untuk menentukan konsumsi tahunan wajib pajak adalah dengan menggunakan cara berikut Saldo bank dan uang pada awal tahun 1. Konsep penerimaan yang digunakan dalam skedul perhitungan di atas sama dengan penghasilan yang didefinisikan dalam pajak penghasilan. pendekatan ini lebih sederhana daripada yang dipakai dalam pajak penghasilan. dan menerapkan tarip pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. Permasalahan sulit dari akuntansi penyusutan juga akan hilang. Penyesuaian terhadap inflasi hanya diperlukan untuk indeks tarip-tarip pajak. yang diperoleh dengan menahan laba. Perhitungan dengan menambahkan pengeluaran rupiah untuk konsumsi individu bukan merupakan pendekatan yang mungkin. Hal ini akan menjadi tugas yang sangat berat. + penerimaan uang 2. Ide ini tampaknya sederhana. dengan membolehkan penggunaan tarip merata untuk menghindari ketidakadilan. jumlah tambahan tabungan harus didefinisikan sebagai tabungan neto (tambahan tabungan dikurangi penarikan tabungan). akan diperlakukan sebagai konsumsi tahun berjalan. dan capital gain yang belum direalisasikan. Dividen akan muncul sebagai penerimaan. atau penambahan atas kekayaan bersih. Jika aset dijual. hasil yang diterima akan masuk ke dalam basis pajak kecuali dikurangi dengan pembelian aset-aset lain atau kenaikan dalam saldo-saldo aset. bukan hal yang relevan sampai realisasi terjadi dan hasilnya disalurkan ke dalam konsumsi. – saldo bank dan uang pada akhir tahun 5. SPT harus digunakan untuk membuat wajib pajak menyatakan jumlah-jumlah tersebut (dengan dirinci) seperti pelaporan penghasilan dalam pajak penghasilan. = konsumsi untuk tahun berjalan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Walaupun konsumsi rumah akan dimasukkan dengan cara memasukkan komponen imputed rent. tidak ada kebutuhan untuk menentukan laba perusahaan. Dalam beberapa hal.

196
karena permasalahan yang lebih mengganggu berupa perubahan nilai-nilai nominal tidak akan muncul. Akan tetapi, pajak pengeluaran akan memunculkan kesulitan-kesulitan baru. Untuk alasan-alasan administratif dan lainnya, metode pemotongan pajak harus tetap diberlakukan, tetapi cara ini akan sangat sulit dalam pajak pengeluaran daripada dalam pajak penghasilan. Karena pemotongan pajak harus dilakukan terhadap penghasilan, suatu rasio yang ditetapkan sebelumnya dari penghasilan terhadap konsumsi harus diterapkan. Selain itu, pemotongan pajak dalam sistem tarip yang gradual mempersulit penerapan karena tarip pajak yang tepat bergantung pada apakah penerimaan tersebut akan dibelanjakan atau diinvestasikan kembali, suatu faktor yang sangat mengganggu dalam kasus penghasilan modal. Permasalahan lainnya adalah pentingnya mencatat secara lengkap saldosaldo kas pada awal tahun. Bila tidak dilakukan, konsumsi yang tidak dikenakan pajak akan dapat dilakukan oleh wajib pajak yang akan didanai nantinya dengan menarik lebih banyak uang dari bank. Untuk memastikan peminjaman dipertanggungjawabkan, pemberi pinjaman diharuskan untuk melaporkan informasi mengenai pinjaman-pinjaman yang diberikan. Dengan demikian, pengecekan silang akan lebih banyak dilakukan. Hal yang sama juga diperlakukan untuk penjualan-penjualan aset. Untuk tujuan ini, wajib pajak diharuskan untuk melaporkan neraca atau daftar harta mereka dalam SPT. Perlakuan atas Warisan dan Hibah Dalam konsep pajak pengeluaran wajib pajak pribadi, ada suatu permasalahan khusus timbul karena penghasilan tidak digunakan untuk konsumsi tetapi akan diwariskan atau dihibahkan. Berdasarkan filosofi tambahan kemampuan ekonomis, penerimaan suatu warisan/hibah akan dimasukkan ke dalam basis pajak penerima warisan/hibah. Akan tetapi, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, konsep penghasilan yang berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis memperlakukan secara diskriminatif terhadap konsumsi di masa depan. Pajak berdasarkan konsumsi, memberikan perlakuan yang sama dengan menerapkannya pada nilai tunai konsumsi sehingga beban pajak tidak dipengaruhi oleh faktor waktu. Tetap saja, perlakuan terhadap warisan/hibah masih menimbulkan tanda tanya. Seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya, penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. Cara terbaik untuk mengatasi penghindaran pajak ini adalah dengan memasukkan warisan/hibah sebagai basis pajak pengeluaran. Dengan demikian, basis pajak yang adil bukannya konsumsi saja tetapi semua penggunaan penghasilan, baik itu untuk konsumsi ataupun untuk diwariskan. Evaluasi Penggunaan pajak pengeluaran wajib pajak pribadi akan meningkatkan kualitas perpajakan konsumsi karena memungkinkan penerapan prinsip kemampuan Dasar-dasar Keuangan Publik

197
untuk membayar dan menghilangkan sifat regresif yang melekat pada pajak penjualan umum. Walaupun pajak pengeluaran berbasis konsumsi merupakan cara yang lebih baik, akan tetapi ada dua pertanyaan yang harus dijawab yaitu basis mana yang lebih baik (penghasilan atau konsumsi) dan bagaimana memperlakukan warisan/hibah. Dalam hal kegiatan menabung berupaya didukung dengan sistem pajak yang ada, pendekatan pajak pengeluaran lebih disukai daripada pemberlakuan pengecualian secara sepotong-potong dalam sistem pajak penghasilan. Penggantian pajak penghasilan dengan pajak pengeluaran akan menyederhanakan beberapa hal penting, terutama yang berkaitan dengan permasalahan inflasi. Akan tetapi, penggantian ini juga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru seperti masalah pemotongan pajak. Pajak pengeluaran juga tidak akan menghilangkan perlakuan-perlakuan khusus dan loophole yang selama ini ada pada pajak penghasilan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

198

B A B XIX
PAJAK ATAS KEKAYAAN
Alasan-Alasan Pengenaan Pajak Atas Kekayaan
rgumen atas pengenaan pajak kekayaan didasarkan pada kemanfaatannya dan kemampuan untuk membayar, akan tetapi kedua alasan ini tidak pernah dapat menjelaskan mengapa hanya pajak atas bumi dan bangunan saja yang diberlakukan. Pertimbangan manfaat mengarah pada pemberlakuan pajak bumi dan bangunan jenis in-rem sedangkan pertimbangan kemampuan untuk membayar mengarah pada pemberlakuan pajak kekayaan wajib pajak pribadi.

A

Alasan Manfaat Pajak atas Kekayaan Alasan pengenaan pajak kekayaan atas dasar manfaat adalah bahwa layananlayanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan dan oleh karenanya harus dibayarkan oleh pemiliknya. Dalam bentuknya yang paling umum, argumentasi dukungan ini dapat diturunkan dari teori Locke yang menyatakan bahwa negara adalah pelindung bumi dan bangunan, yang dinyatakan pada akhir abad ke-17. Salah satu dari fungsi dasar suatu negara, sebagaimana pendapat para ahli teori hukum alam, adalah pelindung kekayaan; dan oleh karenanya pemilik kekayaan membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut. Logikanya, basis pajaknya adalah seluruh kekayaan yang dimiliki oleh seseorang. Atau lebih tepat lagi, basis pajaknya akan didefinisikan sebagai kekayaan bersih, yaitu kekayaan wajib pajak dikurangi dengan kewajibannya. Demikian juga, berdasarkan konsep ini, pendapatan dari pajak harus dibatasi hanya sebesar biaya yang diperlukan untuk melaksanakan layanan perlindungan, seperti biaya penegakan hukum, administrasi perundang-undangan dan administrasi pengadilan. Walaupun berapa besarnya biaya tersebut masih dapat diperdebatkan, yang pasti tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai pendidikan, misalnya, tidak memiliki dasar yang rasional.

Dasar-dasar Keuangan Publik

199
Penerapan aturan kemanfaatan yang lebih spesifik lagi, terutama berkaitan pada tingkat lokal, mengharuskan pemilik kekayaan membayar untuk layananlayanan khusus yang meningkatkan nilai dari kekayaan. Pembangunan trotoar, misalnya, meningkatkan nilai gedung di belakang trotoar tersebut, demikian juga perlindungan khusus oleh polisi pada daerah-daerah tertentu. Dalam kasus-kasus tertentu, manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap kekayaan dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. Dalam kasus-kasus lain, manfaat yang dinikmati harus diperkirakan secara relatif terhadap nilai dari kekayaan. Hal ini mengindikasikan bahwa suatu pajak khusus dapat dikenakan untuk mendanai suatu layanan tertentu. Cara pengenaan seperti ini sangat tepat dikenakan pada tingkatan lokal untuk mendanai layanan-layanan khusus tadi. Alasan Kemampuan Membayar Pajak Dalam kaitannya dengan kemampuan untuk membayar pajak, asal mula dari pajak kekayaan harus dilihat dari konteks sejarahnya. Pada masa lalu, kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan indeks yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar. Sebagian besar pajak yang dipungut oleh negara diterima dalam bentuk barang, sehingga pendapatan uang seperti yang digunakan sekarang akan merupakan indeks yang menyesatkan. Akan tetapi, dalam kondisi modern di mana penghasilan sebagian besar diterima dalam bentuk uang, kekayaan lebih sulit diukur daripada penghasilan. Berdasarkan situasi ini, dapatkah pajak kekayaan dapat dibenarkan untuk alasan kemampuan untuk membayar? Berdasarkan diskusi sebelumnya, ada dua simpulan yang diambil. Penggunaan penghasilan sebagai indeks kesetaraan, tidak diperlukan lagi pajak kekayaan sebagai pelengkap apabila penghasilan tersebut didefinisikan sebagai secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. Akan tetapi dalam praktiknya tidak semua penghasilan dapat dicakup sehingga memunculkan kebutuhan akan pajak kekayaan. Juga dalam hal konsep pajak atas konsumsi, pajak tambahan atas kekayaan dapat dibenarkan karena alasan penumpukkan kekayaan. Oleh karena itu, jika kekayaan dipajaki karena kemampuan untuk membayar, yang diperlukan bukanlah pajak atas kekayaan tetapi pajak atas kekayaan besih wajib pajak pribadi. Alasan Pengendalian Sosial Pajak atas kekayaan dapat dibenarkan dengan alasan untuk pengendalian sosial. Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi, dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. Untuk tujuan ini, suatu pajak progresif atas kekayaan dan bukannya atas penghasilan adalah instrumen yang tepat. Sebagaimana berdasarkan pendekatan kemampuan untuk membayar, indikasinya adalah juga pajak pribadi dan definisi kekayaan secara global. Bedanya, basisnya lebih tepat didefinisikan sebagai kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan cakupan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

200

Pajak atas Tanah
Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari kekayaan telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. Karena pengembalian atas tanah adalah dalam bentuk rente ekonomis (yaitu suatu tingkat pengembalian dari suatu faktor produksi dalam penawaran yang tidak elastis), tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu excess burden. Pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif. Selain itu, kenaikan nilai tahan dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil, seperti yang dikemukakan oleh Henry George dalam bukunya Progress and Poverty. Struktur Dan Basis Pajak Atas Kekayaan Di Indonesia (Pajak Bumi Dan Bangunan) Jenis pajak atas kekayaan yang berlaku di Indonesia adalah pajak atas bumi (tanah) dan bangunan. Sebelum reformasi perpajakan tahun 1983, peraturan yang berkaitan dengan pajak atas tanah dan bangunan ini adalah Undang-Undang Nomor 11 PRp1959 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum adat, Ordonansi Verponding Indonesia 1923 dan Ordonansi Verponding 1928 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum Belanda (Barat), dan Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908 untuk pungutan-pungutan lain daerah atas tanah dan bangunan. Setelah reformasi pajak, dasar hukum yang mengatur pajak atas bumi dan bangunan adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1994. Basis Pajak, Tarip Nominal, Rasio Penilaian dan Tarip Efektif Yang menjadi objek PBB adalah bumi dan bangunan. Bumi mencakup permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya, yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan, meliputi jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan, jalan tol, kolam renang, pagar mewah, tempat olah raga, galangan kapal, dermaga, taman mewah, dan fasilitas lain yang memberikan manfaat. Beberapa objek pajak dikecualikan dari pengenaan pajak, yaitu: Objek pajak yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. Objek pajak yang digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenisnya dengan itu. Hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. Objek pajak yang digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. Objek pajak yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Dasar-dasar Keuangan Publik

-

-

201

Basis pajak untuk objek-objek pajak ini adalah harga pasar wajar atau harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Karena harga ini sulit didapat, yang sering dilakukan adalah menggunakan harga objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru atau nilai pengganti. Pada praktiknya, basis pajak ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap tiga tahun sekali, kecuali untuk daerah yang mengalami perkembangan pembangunan yang cepat, penetapannya dilakukan setiap tahun. Dari basis pajak ini tidak seluruhnya akan diterapkan PBB. Basis yang akan diterapkan pajak serendah-rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100%, bergantung pada jenis objek pajaknya. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 1998, hanya 40% dan 20% dari basis pajak saja yang akan dikenakan. Pada umumnya, pengenaan tarip pajak hanya akan dikenakan sebesar 20% dari basis pajak kecuali untuk objek-objek pajak tertentu, yaitu: Objek pajak perumahan yang WP-nya perseorangan dengan basis pajak sama dengan atau di atas Rp1 milyar, tidak berlaku untuk PNS, ABRI, Pensiunan Janda/Duda yang semata-mata dari gaji/uang pensiun. Objek pajak perkebunan yang luasnya sama dengan atau lebih dari 25 Ha yang dikuasai BUMN dan Badan Usaha Swasta. Objek pajak kehutanan, termasuk areal blok tebangan dalam kegiatan Pemegang HPH, Hak Pemungutan Hasil Hutan dan Pemegang Ijin Pemanfaatan Kayu.

-

Tarip pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah 0,5 persen yang merupakan tarip tunggal. Dengan demikian, tarip efektif PBB yang berlaku sekarang ini secara nasional adalah 1 persen dan 2 persen. Nilai Pasar versus Penghasilan sebagai Basis Penilaian Ada satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas kekayaan yaitu bagaimana mengukur nilai kekayaan. Apakah kekayaan tersebut diukur dengan nilai jualnya atau nilai sewanya dan apakah nilai yang digunakan adalah nilai aktual atau nilai potensialnya? Negara-negara tertentu, seperti Amerika Serikat dan Indonesia, menggunakan harga jual atau harga pasar sebagai nilai kekayaan, sedangkan negara-negara lain, seperti Inggris, menggunakan penghasilan sewa aktual yang diperoleh dari harta tersebut. Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi, perbedaan ini akan hilang karena harga jual dari kekayaan akan sama dengan nilai kapitalisasi dari penghasilan aktual yang juga akan sama dengan potensi penghasilannya. Dalam kenyataannya, hal ini tidak terjadi. Jika kekayaan kurang didayagunakan, pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan akan menyajikan nilainya terlalu rendah, suatu faktor yang sangat penting bagi negara-negara berkembang. Perbedaan lainnya antara pendekatan nilai pasar dan pendekatan penghasilan muncul dari perbedaan dalam risiko. Satu kekayaan dengan penghasilan tahunan sebesar Rp100 juta dapat memiliki nilai pasar sebesar Rp500 juta, sedangkan kekayaan lainnya dengan penghasilan yang sama dapat memiliki nilai pasar dua kali lipat. Penghasilan dikapitalisasi dengan

Dasar-dasar Keuangan Publik

Dalam praktiknya. Satu pandangan menyatakan bahwa pajak kekayaan merupakan pajak atas penghasilan modal. pengenaan pajak atas penyempurnaan tanah telah menghambat investasi seperti itu. berdasarkan jenis rumah dan lokasinya. Tanah versus Bangunan sebagai Komponen Basis Pajak kekayaan dikenakan atas nilai pasar suatu real estate tanpa membedakan apakah dikenakan pada komponen tanah atau komponen penyempurnaan tanah (bangunan). Pada negara-negara tertentu. Sejumlah besar pemilik rumah yang berpenghasilan rendah adalah orang-orang tua. seringkali tidak terjadi frekuensi penjualan rumah-rumah sejenis yang cukup untuk memberikan basis evaluasi nilai jual. telah dikembangkan prosedur yang canggih untuk melakukan evaluasi atas nilai jual dengan menggunakan persamaan regresi yang berisi sejumlah variabel. Distribusi Beban Pajak Kekayaan Beban atas pajak kekayaan merupakan hal yang kontroversial. Prosedur seperti ini memiliki keunggulan dalam hal memungkinkan dilakukannya penyesuaian atas nilai tanah dan bangunan lebih sering lagi. Karena penawaran atas tanah jumlahnya tetap. terutama investasi untuk rumah-rumah murah. Pada kota-kota besar negara maju. suatu hal yang sangat penting dalam periode inflasi. keuntungan yang timbul dari kenaikan nilai tanah karena pertumbuhan populasi dan pendapatan dapat dipandang sebagai laba yang tidak diinginkan secara sosial. dikenakan dalam pasar-pasar yang kompetitif. terpaksa digunakan.202 tingkat bunga yang berbeda karena adanya premi risiko yang harus dibebankan pada kekayaan yang pertama. Dalam sudut pandang ekonomi. Walaupun penilaian dengan menggunakan nilai jual lebih disukai. Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia tua dan keluarga dengan penghasilan rendah. Basis pengenaan pajak yang paling baik pada kondisi seperti ini adalah pendekatan nilai pasar karena memperhitungkan perbedaan tingkat risiko atas kekayaan-kekayaan tersebut. Kasus-kasus ini dapat terjadi dalam kondisi ekonomi yang melesu pada daerah-daerah bisnis yang menyebabkan kekayaankekayaan pada daerah ini memiliki tingkat hasil yang tinggi atas penghasilan bila dibandingkan secara relatif terhadap nilai pasarnya. Penilaian dengan perkiraan. Selain itu. yang mengaitkan nilai rumah terhadap berbagai karakteristik. pengenaan pajak terjadi sebaliknya. Circuit Breaker Pajak kekayaan atas rumah tinggal dipandang sebagai beban bagi penduduk yang berusia tua. pembendaan ini penting sekali karena berkaitan dengan pembebanan pajak. pengenaan pajak atas rente tanah atau mengenakan pajak atas nilai tanah (yang menunjukkan nilai kapitalisasi dari rentenya) telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif untuk menginvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan). Pandangan lain Dasar-dasar Keuangan Publik . yang disebut juga dengan circuit breaker.

Mereka tidak dapat mengurangi beban pajak dengan menjual aset yang dipajaki. Beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai dari kekayaan. Dengan asumsi pasar modal yang dan prosedur penilaian yang sempurna. Misalkan bahwa ada suatu pajak nasional atas semua barang modal. sehingga kejadian pajaknya progresif. Dalam jangka pendek. Hal ini juga berlaku pada bangunan dan tanah. sehingga mengurangi produktivitas tenaga kerja di masa depan. Jika hasil yang sama akan diperoleh dari pajak kekayaan pada tingkat pajak tp dan suatu pajak atas penghasilan aset tersebut pada tingkat pajak ty. Dengan pengecualian pada sisi terendah.203 membedakan berdasarkan jenis pengenaan dan menempatkan lebih banyak pembahasan pada konsekuensi-konsekuensi dari ketidaksempurnaan pasar. pajak seperti itu akan mengurangi tingkat pengembalian bersih dari modal dan diserap oleh penerima penghasilan modal. sehingga V = Y/i. Dengan menggunakan rumus umum. Beban pajak diterima oleh pemilik yang memiliki kekayaan pada saat pajak tersebut dinaikkan. Dalam suatu pasar di mana modal menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 10 persen. Bila PBB dikenakan secara Lokal. dan i adalah tingkat bunga pasar. Jika daerah dibebaskan untuk menentukan tarip atas pajak kekayaan. Hutang pajak berdasarkan pajak 5 persen atas nilai aset akan sebesar Rp5 juta. pengurangan dalam tingkat pengembalian bersih dari modal akan menekan persediaan modal. nilai dari suatu aset pada pasar modal yang sempurna ditentukan dengan persamaan Y = iV. Pajak Kekayaan sebagai Pajak atas Penghasilan Modal Bila Pajak Kekayaan dikenakan secara Nasional. jumlah ini sama dengan 50 persen. Penerima beban pajak dalam jangka pendek adalah pemilik dari kekayaan lokal yang dikenai beban pajak yang lebih tinggi. Dengan kejadian ditentukan terutama dari sisi sumber. di mana V adalah nilai aset. Dalam jangka panjang. Dengan demikian. Bila dinyatakan dalam suatu persentase atas penghasilan aset. yang juga karenanya akan mendapatkan tanggungan beban pajak. Pajak seperti ini dapat juga dipandang sebagai pajak atas penghasilan modal. maka kejadian pajak akan terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. maka tpY/i = ty atau tp = ity. kejadian pajak dari suatu pajak umum atas nilai aset modal yang dikenakan dengan tarip Rp5 juta per Rp100 juta nilai aset sama dengan kejadian pajak dari suatu pajak atas penghasilan dengan tarip 50 persen. Dasar-dasar Keuangan Publik . modal yang diinvestasikan pada daerah-daerah bertarip tinggi tidak dapat bergerak dan pemiliknya harus menanggung beban pajak yang tinggi. seperti yang berlaku di Amerika Serikat. suatu pajak sebesar 5 persen yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. Pajak sebesar 5 persen atas nilai aset (pajak kekayaan) adalah sama dengan pajak sebesar 50 persen atas penghasilan kekayaan (pajak penghasilan). Misalkan aset tersebut memiliki nilai Rp100 juta dan memperoleh penghasilan tahunan sebesar Rp10 juta. yang sesuai dengan tingkat bunga pasar yang sebesar 10 persen. distribusi beban pajak pada pajak umum atas penghasilan modal kembali berlaku. Y adalah penghasilan tahunan. penghasilan ini sebagai bagian dari total penghasilan akan meningkat besarnya sejalan dengan peningkatan.

sehingga suatu aset yang menghasilkan Rp10 juta per tahun memiliki nilai sebesar Rp100 juta. Tanah tidak dapat dipindahkan. yaitu pemilik aset sebelum pengenaan pajak tersebut. Modal yang diinvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan) tidak akan melekat selamanya. situasi seperti ini akan memunculkan pengaruh regresif. Jika tenaga kerja dapat berpindah dengan segera. Pergerakan ini akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain. tenaga kerja pada daerah berpajak rendah cenderung beruntung. Beban pajak jatuh pada pemilik aset mula-mula. Kerugiannya telah dikapitalisasikan dan tetap berada pada pemilik aslinya. Pemilik berikutnya yang membeli aset tersebut akan melakukannya hanya pada harga yang lebih rendah sehingga tidak dibebani oleh pajak tersebut. Bila tenaga kerja pada daerah berpajak tinggi cenderung merugi. sehingga pemilik asli dari tanah pada daerah-daerah berpajak tinggi akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan bagiannya dalam pajak.204 Untuk mengilustrasikan fakta ini. Pengeluaran pemeliharaan atas aset-aset tua akan berkurang dan investasi baru pada daerah berpajak tinggi akan menurun. Karena kepemilikan tanah lebih banyak pada wajib pajak berpenghasilan tinggi. pemilik tanah dan pemilik modal lainnya. Sejalan dengan penurunan persediaan modal pada daerah berpajak tinggi dan kenaikan persediaan modal pada daerah berpajak rendah. Demikian juga. pajak ini sama dengan pajak penghasilan sebesar 50 persen. Jika pemilik aset yang semula ingin menjual aset tersebut. Jika tenaga kerja tidak dapat berpindah. kita mengasumsikan kembali bahwa tingkat pengembalian atas modal sebelum pajak adalah 10 persen. modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. pajak akan dinyatakan dalam bentuk pengurangan upah. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Tidak ada perbedaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. ia harus menanggung kerugian pajak tersebut karena pembeli akan meminta suatu tingkat pengembalian sebesar 10 persen. Seperti situasi pada pajak perseroan. Sekarang asumsikan suatu daerah tempat aset tersebut mengenakan pajak kekayaan sebesar Rp5 juta untuk setiap Rp100 juta nilai aset. Dalam jangka panjang. Situasinya berbeda apabila yang dikenakan pajak adalah modal. beban pajaknya bersifat progresif. suatu pajak yang dikenakan pada modal dalam satu sektor ekonomi akan dibagi bebannya oleh semua pemilik modal. tenaga kerja tersebut harus dibayar sebesar apa yang ia terima di tempat lain dan perpindahan modal akan semakin besar. Karena tenaga kerja yang tidak terampil cenderung kurang mudah bergerak daripada tenaga kerja terampil. Dalam jangka panjang. bagian pajak yang menyatakan nilai dari tanah tidak berubah. yang bila dikapitalisasikan pada tingkat 10 persen akan menurunkan nilai aset menjadi sebesar Rp50 juta. Penghasilan neto berkurang menjadi Rp5 juta. sama dengan tingkat pengembalian investasi-investasi lain yang tersedia. Pengaruh ini adalah yang paling penting bila Dasar-dasar Keuangan Publik . tingkat pengembalian bruto atas modal pada daerah berpajak tinggi akan naik sedangkan tingkat pengembalian bruto atas modal pada daerah berpajak rendah akan turun. Seberapa besar perpindahan modal dari daerah yang berpajak tinggi bergantung pada mobilitas keluar dari tenaga kerja.

dan karenanya menimbulkan efek sebaliknya dari kenaikan tarip pajak kekayaan. mendorong pada peningkatan nilai kekayaan. Jika semua pajak kekayaan dikenakan dalam kesesuaian kuat dengan prinsip manfaat. demikian pula penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai dari kekayaan dan menarik modal masuk.205 dipandang dari perspektif suatu daerah khusus. manfaat-manfaat dari pengeluaran-pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi tidak kurang dari beban pajaknya sehingga pengaruh kombinasi pajak dan pengeluaran akan menyebabkan nilai perumahan menjadi turun. kedua pengaruh tadi akan saling menghilangkan dengan nilai kekayaan tidak bergantung pada tarip pajak. Jadi misalkan suatu kekayaan yang berada pada daerah A dimiliki oleh penduduk daerah B. Sekolah atau layanan-layanan lokal yang lebih baik akan membuat suatu kota atau daerah menjadi tempat yang lebih menarik untuk ditinggali dan menjadi lokasi bisnis. seperti PBB. Pajak nasional dan lokal yang akan menjadi perhatian suatu daerah lokal hanya bagian yang akan terbeban bagi penduduknya dan bukan bagian yang menjadi beban penduduk daerah lain. Pajak kekayaan. Sekarang. penduduk lokal tidak akan menikmati hal ini dalam jangka panjang ketika modal dapat berpindah ke luar. semakin kecil pendapatan yang diperoleh dan semakin besar juga kenaikan sewa dan penurunan penghasilan yang dialami oleh penduduk yang berpajak tinggi. tidak berpengaruh atau naik. sehingga menyatakan secara jelas pentingnya mempertimbangkan kedua aspek tersebut. beban jangka pendek akan berada pada individu luar tersebut sedangkan penduduk lokal menikmati free ride. Hal ini juga terjadi pada tingkatan internasional dalam hal perbedaan pajak antar negara. Tidak hanya penduduk lokal tidak mampu mengekspor beban pajak tersebut ketika ditagihkan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan demikian. Kebijakan pajak lokal akan melibatkan suatu pilihan yang sulit antara (1) laba yang diperoleh dari pemindahan beban pajak kepada pihak luar melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh orang asing dan (2) bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal asing. Akan tetapi. digunakan sebagai sumber pendapatan umum dan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi pajak. Semakin besar perpindahan modal. penduduk lokal merasakan bahwa sewa meningkat dan upah turun sedangkan pihak luar mengalami keuntungan. Walaupun demikian. Perbedaan Manfaat. tetapi mereka juga mengalami kerugian terhadap pihak luar karena modal makin sedikit tersedia untuk mereka. Sebagaimana kenaikan dalam tarip pajak kekayaan akan mengurangi nilai dari kekayaan dan mendorong perpindahan modal ke luar. Kenyataannya tidak demikian. penyelidikan empiris menunjukkan bahwa nilai kekayaan berkaitan dengan pengeluaran dan juga perbedaan pajak. Akibatnya. walaupun secara nasional tidak berpengaruh terhadap distribusi beban pajak. bergantung pada bagaimana pendapatan pajak diperoleh dan apa penggunaannya. Perbaikan ini akan meningkatkan permintaan akan rumah dan bangunan. Beban di Dalam versus Beban di Luar.

tetapi (dalam kasus perumahan yang ditinggali pemiliknya) juga dipandang sebagai barang konsumsi yang tahan lama. misalkan separuhnya. Bagian dari distribusi beban pajak ini kemudian akan menjadi regresif. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah daripada kombinasi ketiga pajak ini. Pajak dapat mengarah pada peningkatan batas atas sewa atau pelonggaran dari penentuan harga monopoli yang dibatasi sebelumnya. Sebagaimana masyarakat melihatnya. dengan mempertimbangkan tidak hanya pajak kekayaan. pajaknya akan bersifat regresif. Karena hal ini. yaitu pajak atas penghasilan modal? Kunci dari teka teki ini terletak pada fakta bahwa perumahan dapat dipandang sebagai pos investasi. Bagaimana pandangan pajak ini. Penjelasan di atas tidak berlaku untuk kekayaan yang disewakan. Pola-Pola Alternatif Bagian pajak yang dikenakan kepada tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. pajak ini dipandang sebagai pajak atas jasa-jasa konsumsi perumahan.206 Keadilan pengenaan PBB dan Pajak Penghasilan. mari kita bandingkan posisi mereka sebagai investor dalam jasa perumahan dengan posisi investor saham perusahaan. Karena keberatan utama atas pajak kekayaan berasal dari pemilik rumah. dapat direkonsiliasikan dengan interpretasi yang lebih awal. Karena pengeluaran perumahan akan menjadi bagian yang semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan. modal yang diinvestasikan pada rumah sewaan akan meminta tingkat penghasilan yang sama dengan modal-modal lain. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan badan. Karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis dan tanah tidak dapat dipindahkan. Jika pasarnya kompetitif. di mana pemiliknya hanya mempertimbangkan pilihan investasi. dipindahkan kepada konsumen. Sebagian dari pajak akan terserap dalam sewa-kepemilikan ini dan didistribusikan sejalan dengan konsumsi dan bukannya dibagi dengan semua penghasilan modal. Tingkat pajak kekayaan efektif cenderung akan tinggi pada lingkungan berpenghasilan rendah dan sebagian disebabkan oleh pengenaan Dasar-dasar Keuangan Publik . dengan distribusi bebannya sejalan dengan penghasilan modal. pemilik yang menempati akan bersedia menerima sewa imputed yang lebih rendah pada perumahan daripada pada investasi lainnya. tidak ada penghindaran atas pajak. yang merupakan pajak atas pengeluaran perumahan. Akan tetapi hasilnya akan berbeda bila pasar sewa tidak sempurna sebagaimana yang sering terjadi. kita dapat mengasumsikan suatu pasar yang tidak sempurna dan mempostulasikan bahwa sebagian dari pajak tersebut. Distribusi pembebanannya cenderung progresif. Hasil ini menunjukkan tambahan beban yang harus ditanggung oleh pemegang saham karena pajak penghasilan wajib pajak badan dan juga perlakuan yang lebih baik kepada pemilik rumah dalam kerangka pajak penghasilan wajib pajak pribadi. Walaupun investor pada jasa-jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi dalam kerangka pajak kekayaan. tetapi juga pajak penghasilan wajib pajak pribadi dan pajak penghasilan wajib pajak badan. Yang tersisa adalah pajak atas rumah tinggal. Dalam kasus ini.

Pajak atas kekayaan bersih. India dan beberapa negara Amerika Latin juga menggunakan pajak jenis ini. Untuk negara-negara lain. kekayaan bersih dari perusahaan harus diperhitungkan kepada pemiliknya. Pengalaman berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih Pajak atas kekayaan bersih diberlakukan pada beberapa negara. dan Swiss. sehingga dapat memberikan perlakuan yang sama pada semua komponen kekayaan bersih. Struktur dan Basis Pajak Basis Pajak. beberapa negara tidak membolehkan kewajiban tidak berkaitan dengan perolehan aset kena pajak.207 pajak pada tarip yang lebih tinggi di tengah-tengah kota pada lingkungan berpenghasilan rendah. seperti Belanda. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud dan dalam banyak kasus semua kewajiban hutang dapat dikurangkan. Jerman. Pajak Atas Kekayaan Bersih Dalam mendiskusikan alasan pengenaan pajak atas kekayaan dan kekayaan.5 persen). Sekarang kita bahas jenis pajak yang lain yang lebih menarik tetapi jarang digunakan. negara-negara Skandinavia. pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap untuk pajak pengeluaran. basisnya harus didefinisikan secara global. Aspek ini sangat penting pada negara-negara berkembang karena sulitnya mengenakan pajak atas penghasilan modal. Orang pribadi diberikan pengecualian dan tarip pajak dapat proporsional (umumnya 1 persen atau kurang) atau progresif ( berkisar sampai 2. Di kebanyakan negara. dikenakan sebagai pajak pusat. Negara yang menggunakan pajak ini umumnya menerapkannya sebagai tambahan atas pajak kekayaan. Sejalan dengan pandangan partnership dari pajak laba perusahaan. dengan pendapatan dari pajak atas kekayaan bersih hanya merupakan bagian kecil (di bawah 5 persen) dari total pendapatan pajak. pajak ini dikenakan hanya kepada individu. Sebagaimana dalam hal pajak penghasilan. kita membedakan antara argumentasi kemanfaatan yang menunjukkan perbedaan beban kepada pengguna dalam kekayaan yang dikenakan dengan basis in rem dan argumentasi kemampuan untuk membayar yang mengarahkan pada pajak atas kekayaan bersih yang dikenakan secara pribadi. prinsip keseragaman harus diterapkan baik kepada sisi Dasar-dasar Keuangan Publik . walaupun pada beberapa negara (seperti Jerman dan India) perseroan juga dipajaki. Oleh karena itu. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi dan juga badan. Akan tetapi. yaitu pajak atas kekayaan bersih. Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. Pajak kekayaan (PBB) – yang diterapkan kurang lebih secara seragam sebagai pajak in rem kepada semua bumi dan bangunan dalam suatu daerah tertentu – tidak mengikuti kedua pola ini. Tambahan beban pajak ini akan ditanggung pula oleh penyewa. kecuali di Swiss. Selain itu. Pajak ini merupakan salah satu komponen penting dalam struktur pajak karena pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap dari cakupan atas penghasilan modal yang tidak efektif dalam kerangka pajak penghasilan.

Misalnya hanya ada dua orang. Kesulitan yang sama juga terjadi pada hutanghutang yang dapat dikurangkan.000 10. dapat memunculkan elemen self enforcement.000 10. Akan tetapi.208 aset maupun sisi kewajiban pada neraca. aset yang menjadi subjek pajak kekayaan (terutama bila pengenaannya disamakan) dapat dinilai dengan cara itu. Bila dikaitkan dengan administrasi pajak penghasilan.000 60.000. yaitu A dan B. Perolehan aset harus dinyatakan untuk meminimalkan pajak pengeluaran.000. pernyataan ini akan menambah basis dari pajak atas kekayaan bersih. Jika kita menagih sebesar Rp15. ada juga permasalahan dalam penilaian aset.000 dari suatu pajak sebesar 10 persen atas semua harta berwujud. Demikian juga. Administrasi pajak atas kekayaan bersih mengharuskan adanya identifikasi atas aset kena pajak dan verifikasi atas hutang yang diklaim.000 A+B 150.000 dan B akan membayar sebesar Rp5. dan secara khusus dengan administrasi pajak pengeluaran. yang posisi kekayaannya adalah berikut: Tabel 19. Administrasi ini mengharuskan SPT yang melampirkan neraca tahunan yang berisi daftar harta dan kewajiban pembayar pajak. Asumsikan suatu keadaan di mana tidak ada hutang publik atau uang yang dikeluarkan pemerintah. perkiraan yang kasar (seperti biaya perolehan dikurangi dengan penyusutan) harus digunakan. Dengan demikian. Mengukur Kekayaan Bersih. Selain itu. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan semuanya dimasukkan. semua kewajiban hutang juga dikurangkan. pemerintah harus memastikan bahwa semua aset telah dinyatakan. Semua aset berwujud dan tak berwujud. yaitu sebesar Rp150. A akan membayar sebesar Rp10. Kesulitan-kesulitan yang melekat dalam penilaian saat ini atas semua aset telah didiskusikan dalam kaitannya dengan pajak atas penghasilan modal.000 Sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di atas. dapat dinilai berdasarkan harga penawaran di pasar. Untuk sisanya. kesulitan ini tidaklah sangat besar. Berkenaan dengan akuntansi untuk asset.000 50. Kesulitan dalam mengadministrasikan suatu pajak atas kekayaan bersih yang baik cukup besar. basis total untuk suatu pajak atas harta berwujud dan kekayaan bersih akan sama.000 90. seperti sekuritas yang diperdagangkan.000 150. sedangkan aset lain. Tidaklah mengherankan bila pajak atas kekayaan bersih lama kelamaan akan terdegenerasi menjadi pajak atas bumi dan bangunan saja. Peranan Harta tak Berwujud (Intangibles) Klaim kepada swasta. Semua instrumen hutang adalah antara orang pribadi.1: Basis Pajak A B Harta berwujud Hutang Piutang Kekayaan bersih 100. Jika kita mengumpulkan jumlah yang sama dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Di sini juga perkiraan juga harus dipergunakan.

Pada awalnya.2: Basis Pajak Modifikasi A Kekayaan bersih dari tabel sebelumnya Klaim terhadap pemerintah Kekayaan bersih 90. dan mendapatkan Rp9. pilihan diantara keduanya tidak ada permasalahan. Sebaliknya.000 80.209 menggunakan pajak atas kekayaan bersih.000 dan Rp5. apakah klaim itu dalam bentuk hutang publik atau uang yang didukung oleh kredit Bank Sentral.888 dari A dan Rp5. Jika suatu tarip proposional dikenakan. Sesuai dengan tabel di atas.000 20. Karena pajak pribadi mengharuskan adanya pengenaan pajak berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar.000 masing-masing.112 dari B.000 Dalam kasus ini. Untuk mendapatkan sejumlah pendapatan yang sama dengan pajak kekayaan. penagihan sebesar Rp15.000 B 60. keduanya berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarip progresif.000 160. pajak atas kekayaan bersih adalah bentuk yang paling baik dari pajak atas kekayaan. Akan tetapi. Pasar sekali lagi akan mengkompensasikan untuk pengurangan tingkat pengembalian bersih dari kekayaan. Klaim terhadap Pemerintah.000 A+B 150. Ketika pajak atas kekayaan dikenakan.000. kita dapat melihat bahwa distribusi beban dari suatu tarip progresif pada kekayaan (di mana basis A dua kali basis B) akan berbeda dengan yang dikenakan pada basis kekayaan bersih (di mana basis A hanya lebih besar 50 persen daripada basis B). Klaim seperti ini akan menambah kekayaan dari seseorang tanpa mengurangi kekayaan dari orang lainnya. dengan pembayaran sebesar Rp10. Pemberi pinjaman harus puas dengan suatu tingkat bunga yang lebih rendah. distribusi beban akan sama dengan yang terjadi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih. pasar akan menyesuaikan seperlunya. peminjam tidak akan bersedia membayar pada tingkat bunga yang sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya karena penghasilan neto mereka dari investasi pada kekayaan akan menurun. Misalnya tabel di atas dimodifikasi sebagai berikut: Tabel 19. yaitu sejalan dengan distribusi kekayaan.000 70.000 240.000 dan B akan membayar sebesar Rp6.2 persen. A akan membayar sebesar Rp9. Dasar-dasar Keuangan Publik . hal ini menyarankan bahwa A akan lebih menyukai pajak atas kekayaan bersih sedangkan B akan lebih menyukai pajak kekayaan. tetapi beban A akan tetap lebih tinggi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih daripada pajak atas kekayaan. Pada akhirnya. Klaim-klaim seperti ini dapat menjadi tambahan pada basis kekayaan bersih bagi seluruh kelompok secara keseluruhan. sehingga sebagian beban dipindahkan dari A ke B. Perbedaan lebih lanjut dapat terjadi jika kita mengasumsikan adanya klaim terhadap pemerintah. suatu tarip sebesar 10 persen.000 berdasarkan pajak atas kekayaan bersih tarip tetap akan mengharuskan pengenaan tarip sebesar 6.000 90.

yang tidak diantisipasikan atau diharapkan akan terjadi kembali. Dikenakan sekali dan selamanya. bea ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasisituasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan inflasi setelah perang. Hal ini menambah daya tarik pajak jenis ini sebagai instrumen pajak redistribusi. akan tetapi asumsi mendasar tentang aplikasinya yang unik dan tanpa antisipasi menyebabkan pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal. bea seperti itu berbeda dari bentuk pajak kekayaan lainnya karena tidak ada efek-efek mengganggu terhadap tingkah laku ekonomi.210 Bea Atas Modal Satu bentuk pajak kekayaan lainnya adalah bea atas modal. Jika sifatnya benar-benar satu kali dan selamanya. Dasar-dasar Keuangan Publik .

tidak ada perbedaan apakah pajak dikenakan atas warisan atau kepada penerima warisan. Sekilas pandang. Akan tetapi. Untuk alasan inilah pajak atas warisan secara potensial merupakan elemen yang penting dalam struktur pajak. Jika Dasar-dasar Keuangan Publik .211 B A B XX PAJAK ATAS WARISAN P ajak atas warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang tidak dikenakan setiap tahun tetapi dikenakan pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan. Walaupun basisnya dikembangkan secara substansial. suatu pengecualian dapat diberlakukan. Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. suatu pajak atas kekayaan dapat diberlakukan. Pajak atas warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun pada tingkatan lokal. Akan tetapi. Dalam hal ini. apabila tarip pajak yang dipakai tidak proporsional. Tujuan dan Jenis Pajak Beberapa hal berikut yang memunculkan pengenaan pajak atas warisan pada suatu masyarakat: 1. perbedaan pengenaan ini dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak. Orang pribadi dapat menggunakan harta mereka ketika mereka masih hidup tetapi hak kepemilikan mereka berakhir ketika meninggal. pajak atas warisan tidak akan menjadi sumber pendapatan utama suatu negara. pajak atas warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. Masyarakat mungkin ingin membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. Alasan-Alasan Pengenaan Pajak atas Warisan Pajak atas warisan dapat dikenakan dalam berbagai bentuk dan untuk berbagai alasan. Jika masyarakat ingin membolehkan warisan bebas sampai sejumlah tertentu.

Eugino Rignano. 3.212 masyarakat ingin menyita warisan yang melebihi suatu jumlah tertentu. Pajak atas warisan dapat digunakan untuk mengurangi ketidakadilan dalam distribusi kekayaan ini. suatu pajak atas warisan (yang taripnya dikaitkan dengan penghasilan dari ahli waris) dapat dipandang sebagai koreksi definisi penghasilan yang kurang baik. Masyarakat juga dapat mempunyai tujuan yang lebih umum mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil. Pajak pada saat kematian dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan daripada sebagai tambahan pajak atas transfer. 4. suatu pendekatan yang pertama kali disarankan oleh ekonom Italia. Suatu masyarakat mungkin ingin menetapkan batasan-batasan yang semakin meningkat atas hak seseorang untuk memindahkan kekayaannya pada generasi-generasi berikutnya. dengan kekayaan dari warisan merupakan sumber lebih dari separuh kekayaan dari priapria kaya dan merupakan sumber hampir seluruh kekayaan wanitawanita kaya. yaitu tanpa usahanya sendiri. Pajak atas warisan dapat dipandang sebagai suatu alternatif dari pajak atas penghasilan modal selama masa hidup penerimanya. dalam hal ini. Walaupun tujuannya berbeda. Dalam mencapai tujuan 1 dan 3 di atas. penerimaan dari suatu warisan selayaknya dimasukkan sebagai penghasilan bagi ahli waris. pilihan antara pendekatan pajak atas warisan atau pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai dengan merancang pajak tersebut. tingkatan tarip pajak atas warisan yang dapat diterapkan akan naik ketika kekayaan diwariskan secara berurutan. Hal yang sama juga dapat dinyatakan untuk pernanan dari pajak atas warisan (yang berkaitan dengan konsumsi dari pewaris) sebagai koreksi untuk definisi basis yang efektif dalam hal pajak pengeluaran yang tidak memasukkan warisan dalam basisnya. masyarakat dapat menerapkan pajak atas warisan (yang mengurangi hak pewaris membagikan hartanya) dan pajak kepada ahli waris yang dirancang untuk membatasi hak ahli waris untuk menerima dan/atau mengkompensasikan ketidaktercakupan warisan ke dalam penghasilan kena pajak. 5. pajak dapat diterapkan kepada ahli waris. Masyarakat juga dapat membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan. Hanya jika tarip pajaknya proporsional tidak ada perbedaan di antara keduanya. 2. Tradisi pewarisan merupakan satu faktor utama yang menimbulkan konsentrasi kekayaan. Dalam hal ketiadaan memasukkan hal tersebut. suatu tarip pajak 100 persen di atas batas tersebut dapat diberlakukan. Pilihan di antara tujuan-tujuan ini dan pemilihan pajak yang tepat merupakan permasalahan yang harus dibedakan dengan pertanyaan bagaimana transaksi-transaksi pada saat kematian Dasar-dasar Keuangan Publik . 6. Berdasarkan pendekatan tambahan kemampuan ekonomis dari pajak penghasilan. keduanya tidak harus mutually exclusice. Jika diinginkan untuk membolehkan beberapa perolehan harta melalui warisan tetapi membedakan antara perolehan-perolehan besar dan kecil. Pandangan ini dapat dinyatakan bahwa penggantian kepada pajak atas warisan dari pajak atas penghasilan modal yang progresif akan mengurangi pengaruh disinsentif pada menabung dan investasi. tarip progresif dapat diterapkan. Dalam hal ini. Oleh karena itu.

Kontribusi bagi Lembaga Sosial. Di Amerika Serikat. Harta yang diwariskan kepada pasangan yang masih hidup diperlakukan seolah-olah harta tersebut adalah harta bersama. Unit tersebut dapat dijual secara keseluruhan atau sebagian dari ekuitas dapat dipindahkan kepada pihak luar. Para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. Jadi. Pengurangan karena Status Pernikahan. aturan sampai seberapa jauh hubungan kekeluargaan menyebabkan pengecualian dari pengenaan pajak sangat bergantung pada peranan keluarga dalam kaitannya dengan hak untuk memindahkan harta setelah meninggal. walaupun sebelum kematian kepemilikannya terpisah. Apabila salah satu pasangan meninggal. hanya peningkatan harga dari saat kematian saja yang diperhitungkan. aset untuk tujuan pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal.213 (penerimaan suatu warisan atau memberikan warisan) harus diperlakukan dalam suatu pajak penghasilan atau pengeluaran. pembayaran pajak akan mengharuskan suatu likuidasi. warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup bebas dari pajak. Basis yang baru ini kemudian digunakan untuk tujuan pemajakan atas penghasilan modal pada saat penjualan aset tersebut oleh ahli waris. Salah satu keberatan yang dimunculkan adalah pajak atas warisan dapat membuat ahli waris harus melikuidasi perusahaan dengan persyaratan-persyaratan yang tidak menguntungkan dalam rangka membayar pajak tersebut. Bisnis Keluarga. terjadi juga pada pajak warisan. Sumbangan sosial juga penting dalam pajak atas warisan/hibah. Organisasi-organisasi yang didukung oleh sumbangan-sumbangan tidak kena pajak telah mencapai tujuan-tujuan yang berguna yang tidak dapat dicapai oleh anggaran negara. Walaupun demikian. Hal ini sesuai dengan pendekatan unit keluarga dalam pajak penghasilan. sosial dan politik yang sudah di luar pembahasan kebijakan pajak. Permasalahan-Permasalahan Khusus Capital gain. Peranan dari sumbangan sosial dalam pajak warisan. Permasalahan perlakuan terhadap unit keluarga yang muncul pada pajak penghasilan. bukannya sebesar harga perolehan aslinya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Walaupun demikian. melibatkan persoalanpersoalan budaya. Pada umumnya tidak ada batasan pengurangan atas sumbangan sosial dalam kerangka pajak atas warisan. yang tidak harus melibatkan pemecahan unit usaha. sebagaimana juga dalam pajak penghasilan. membuat peningkatan harga sebelum kematian tidak dipajaki. Konsekuensi yang mungkin sulit dicegah adalah gangguan atau pengurangan terhadap kendali keluarga atas bisnis sebagai akibat dari pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga. Keberatan ini sebenarnya bukan masalah besar karena dapat diatasi dengan aturan-aturan yang liberal untuk pembayaran yang dicicil atau ditunda. Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. akan tetapi pembebasan pajak ini mendorong timbulnya kendali privat yang tinggi dalam penggunaan dana yang sebenarnya dana publik.

214 B A B XXI ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA ATAS BARANG DAN JASA SOSIAL nalisis manfaat dan biaya (cost benefit analysis) adalah suatu cara untuk menentukan bobot dari berbagai alternatif proyek pemerintah. Tingkat diskonto juga harus ditentukan dengan benar guna membandingkan manfaat sekarang dan manfaat yang akan datang dari berbagai alternatif proyek. namun analisis manfaat dan biaya yang benar membutuhkan kombinasi dari keahlian ekonomi. Walau langkah-langkah diatas terlihat sederhana. Mengevaluasi dan mengkonversi manfaat dan biaya tersebut kedalam suatu nilai uang. 3. Dasar-dasar Keuangan Publik . Analisis ini akan menyajikan informasi yang berguna bagi pengambil keputusan dalam menentukan proyek yang akan dilaksanakan dari berbagai alternatif proyek yang diajukan. 2. Biaya pun harus diterapkan dengan benar. dan Mendiskontokan manfaat yang akan datang. Tujuan analisis ini adalah untuk meyakinkan pengambil keputusan bahwa proyek yang akan dilaksanakan adalah yang paling efisien dan memiliki marginal benefit yang lebih besar dari marginal cost nya. termasuk menghitung manfaat yang dikorbankan (opportunity cost) karena melepaskan alternatif proyek. A yaitu: 1. Ada tiga langkah pokok dalam melakukan analisis manfaat dan biaya Mengidentifikasi manfaat dan biaya dari setiap proyek yang diusulkan. Dalam mengukur manfaat. teknik. dan logika. Langkah tersebut bertujuan untuk mengetahui nilai sekarang (present value) dari manfaat proyek dibandingkan dengan anggaran biaya yang dibutuhkan untuk membiayai proyek tersebut. harus memperhitungkan pula seluruh dampak sampingan (externalities) yang timbul dari proyek tersebut.

Dalam menghitung manfaat. Dalam proyek peningkatan keselamatan kerja. Misalnya. Manfaat tidak langsung adalah manfaat yang diterima oleh pihak-pihak yang tidak terkait langsung dengan output proyek yang bersangkutan. maka kita telah melakukan penghitungan ganda karena hasil panen sudah tercermin dalam harga tanah. Sebagai contoh. bagaimana cara mengkuantifkan manfaat dari proyek pendidikan maupun proyek kesehatan? Dalam proyek pendidikan. disamping memasukkan unsur biaya langsung. Oleh karena itu bila kita memasukkan kenaikan harga tanah dan juga hasil panennya dalam menghitung manfaat. Mengevaluasi dan Mengkonversi Manfaat dan Biaya Setelah berhasil mengidentifikasi seluruh manfaat dan biaya yang timbul. Biayabiaya yang timbul akibat kesulitan air tersebut harus pula dimasukkan sebagai biaya dalam proyek pembangunan bendungan itu. hanya kenaikan riil pada output atau kesejahteraan saja yang perlu diperhitungkan. kita harus memperhitungkan pula biaya tidak langsung (externalities) yang timbul karena proyek tersebut. maka langkah selanjutnya adalah mengevaluasi serta mengkonversi manfaat dan biaya tersebut kedalam nilai uang tertentu. Manfaat dapat dibagi kedalam dua kategori yaitu. Selain itu. dalam suatu proyek irigasi yang bertujuan untuk meningkatkan areal persawahan maka yang menjadi manfaat langsung adalah seluruh hasil bersih yang diperoleh petani yang tinggal di areal yang dilalui oleh jaringan irigasi tersebut. orang akan memperhitungkan pula potensi lahan yang dapat dikembangkan. manfaat dapat mencakup kenaikan produksi sebagai akibat berkurangnya kecelakaan kerja. nilai tanah yang dilalui proyek irigasi diperkirakan akan bertambah mahal karena disamping harga tanah itu sendiri. Sebagai contoh. manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. perlu juga diperhatikan jangan sampai terjadi perhitungan ganda. suatu proyek pembangunan bendungan telah menyebabkan beberapa daerah menjadi kekurangan air. Manfaat langsung adalah manfaat yang diterima oleh pihak-pihak yang terkait langsung dengan output dari proyek yang bersangkutan. Pada proyek-proyek tertentu terdapat kendala dalam menghitung besarnya manfaat yang diperoleh.215 Mengidentifikasi Manfaat dan Biaya Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan proyek-proyek yang diusulkan beserta masing-masing outputnya. Selanjutnya. Contoh. kenaikan penghasilan yang dinikmati orang yang menerima proyek pendidikan dapat juga dimasukkan sebagai manfaat proyek tersebut. Dalam contoh irigasi diatas. Dalam menghitung biaya proyek. Dalam menilai output dari suatu proyek diperlukan estimasi mengenai permintaan dan surplus konsumen atas Dasar-dasar Keuangan Publik . yang menjadi manfaat tidak langsung adalah meningkatnya kesuburan tanah di daerah yang tidak dilewati jaringan irigasi secara langsung. mengidentifikasi biaya yang dibutuhkan serta manfaat yang dihasilkan selama umur ekonomis proyek tersebut.

Misalnya. kita sulit menentukan secara langsung manfaat proyek tersebut mengingat outputnya dinikmati oleh masyarakat secara kolektif.24 + (Rp. Kesulitan lain dapat pula timbul apabila input maupun output suatu proyek merupakan barang yang dapat dipasarkan namun harganya tidak sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya.05) = Rp. Sebagai contoh. Tingkat suku bunga.24 adalah present value dari Rp. semakin rendah present value dari X. disebut juga sosial rate of discount yang digunakan untuk menghitung present value dari penerimaan dimasa yang Dasar-dasar Keuangan Publik . present value (PV) dapat dihitung dengan rumus sbb: PV = dimana: X (1 + r )n X = adalah nilai uang masa yang akan datang r = tingkat suku bunga n = jangka waktu Semakin tinggi kita menerapkan tingkat suku bunga.216 output yang bersangkutan. Mendiskonto Manfaat yang akan datang Alasan kita melakukan diskonto karena nilai uang Rp 100 saat ini lebih tinggi dibanding nilai uang Rp 100 di masa yang akan datang. Diakhir tahun. kita memerlukan estimasi permintaan dan surplus konsumen terhadap komoditi padi untuk menghitung manfaat dari proyek tersebut. manfaat proyek dapat diestimasi dengan cara menghitung besarnya kenaikan penghasilan yang dinikmati oleh masyarakat yang menjadi obyek proyek kesehatan tersebut.24 sekarang kita akan mendapatkan Rp. listrik merupakan output proyek pembangkit listrik yang dapat dipasarkan. Oleh karena itu. 95. 95. Jika tingkat suku bunga bank sebesar 5% setahun. dalam menghitung manfaat proyek kita harus menurunkan harga output agar sesuai dengan kondisi harga pasar yang sebenarnya. 100 setahun yang akan datang.24 akan menjadi Rp. Misalnya. 95. uang sebesar Rp.24)(0. Nilai Rp.Secara umum. misalnya bahan bakar. Kesulitan baru timbul bila hasil proyek tidak bisa dijual atau merupakan benda yang tidak berwujud. Alternatifnya. r. 95. dalam proyek peningkatan kesehatan masyarakat. 100 satu tahun yang akan datang. dengan asumsi suku bunga perbankan positif. Cara yang sama juga dapat diterapkan untuk menghitung manfaat proyek pendidikan. maka hanya dengan menyimpan uang sebesar Rp. Bila harga input yang digunakan terlalu rendah karena input tersebut menerima subsidi. 100. namun karena pasokannya dimonopoli oleh PLN maka harga listrik yang diterapkan adalah harga monopolistik yang lebih tinggi dibanding dengan harga pasar persaingan sempurna. Demikian pula dengan faktor input. kita harus menaikkan harga bahan bakar tersebut dalam menghitung biaya yang dibutuhkan suatu proyek. 95. dalam proyek yang akan menghasilkan padi.

90 Rp. dan X2 pada tahun kedua. yang akan dipilih salah satunya untuk dilaksanakan.90.6 (1 + 0. Proyek B menghasilkan Rp. Tingkat Diskonto 0% 5% 10% Tabel 21. Seluruh tahap dalam menganalisis manfaat dan biaya adalah sama pentingnya bila hendak menghasilkan informasi yang akurat. 90 Rp. PV = X1 X2 + 1 (1 + r ) (1 + r ) 2 Pengaruh Tingkat Diskonto terhadap Present Value Mengapa memilih tingkat diskonto yang tepat merupakan hal yang penting? Pertama.82. Suatu analisis yang sudah menetapkan tingkat diskonto secara tepat namun salah dalam mengkalkulasi manfaat dan biayanya maka akan menghasilkan informasi yang menyesatkan.1: Tingkat Diskonto dan Peringkat Proyek Present value Present Value Proyek A Proyek B Rp.217 akan datang.100 = Rp. 100 pada tahun kedua.100 (1 + 0) 2 Rp. dan 10 %. 90 Rp.05)2 Rp. 90 pada saat itu juga. maka present value dari seluruh penerimaan tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: PV = ∑ Xi i i =1 (1 + i ) n Misalnya.7 (1 + 0. Bila suatu proyek menghasilkan penerimaan sebesar Xi per tahun selama beberapa tahun mendatang. present value seluruh penerimaan tersebut adalah. jika suatu proyek menghasilkan penerimaan sebesar X1 pada tahun pertama. penentuan tingkat diskonto akan berdampak pada peringkat proyek yang diajukan. 5 %.1)2 Dasar-dasar Keuangan Publik . Namun demikian. Berikut ini disajikan ilustrasi pengaruh tingkat diskonto yang berbeda dalam memilih suatu proyek. 0 pada tahun pertama dan Rp. karena dalam rangka mengevaluasi manfaat dan biaya secara akurat. Tingkat diskonto yang rendah cenderung menguntungkan proyek yang berjangka panjang dibanding proyek yang berjangka lebih pendek. present value dari dua proyek tersebut adalah sebagai berikut.100 = Rp.100 = Rp. Pada tingkat tingkat diskonto 0 %. Proyek A menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp. Diasumsikan ada 2 alternatif proyek.

Agar tidak timbul pemborosan. Bila dalam investasinya tersebut perusahaan harus membayar bunga sebesar 10 persen atas dana yang dipinjamnya. Penggunaan tingkat diskonto sosial sebagai tingkat diskonto dalam menganalisis suatu proyek adalah untuk meyakinkan bahwa tidak terjadi salah kalkulasi dalam menganalisis manfaat dan biaya proyek.1 terlihat bahwa present value Proyek B lebih besar daripada present value Proyek A pada tingkat diskonto 0 % dan 5 %. tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat suku bunga umum yang dipakai untuk menghitung bunga tabungan dan investasi oleh masyarakat. Sejauh ini. Tingkat diskonto yang lebih besar dari bunga tabungan berarti opportunity cost belanja pemerintah lebih besar dibanding kepuasan masyarakat yang hilang. Proyek A lebih menguntungkan dibanding Proyek B. Tingkat return yang diharapkan oleh penabung dan investor tidak selalu sama karena adanya distorsi dalam perekonomian (misalnya pajak). Namun pada tingkat diskonto 10 %. semakin besar tingkat diskonto yang digunakan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 21. jika perusahaan dikenakan pajak penghasilan sebesar 50 persen. maka keuntungan bersih perusahaan dari hasil investasinya hanya setengah dari keuntungan aktual yang diperoleh. Suatu proyek yang menghasilkan present value negatif akan dapat menjadi positif bila menggunakan tingkat diskonto yang lebih rendah. semakin kecil nilai manfaat yang diterima dimasa yang akan datang. Present value Proyek B bervariasi tergantung pada tingkat diskontonya. Alasan kedua perlunya ditentukan tingkat diskonto secara akurat adalah semakin besar tingkat diskonto yang digunakan maka akan semakin banyak proyek-proyek pemerintah yang akan ditolak pelaksanaannya. pajak. Sebagai contoh. maka dana tersebut harus dapat menghasilkan keuntungan lebih dari 20 persen supaya dapat menutup biaya bunga. Sebagai contoh. maka proyek pemerintah harus dapat menghasilkan manfaat yang sama atau lebih besar dari 10 persen agar ada aliran dana dari sektor swasta ke sektor publik.218 Present value Proyek A selalu Rp. Secara umum. Menentukan Tingkat diskonto Sosial (Social Rate of Discount) Tingkat diskonto sosial mencerminkan tingkat return yang dapat dihasilkan dari suatu dana jika dikelola pada sektor swasta atau masyarakat. Pada Tabel 8. Tingkat diskonto sosial merupakan opportunity cost dari dana tersebut bila digunakan untuk membiayai proyek-proyek pemerintah. Hal ini berarti pemerintah dituntut untuk lebih efisien agar dapat menerapkan tingkat diskonto yang lebih rendah. Tingkat diskonto sosial merupakan tingkat suku bunga dimana baik penabung maupun investor rela melepaskan dananya guna membiayai kegiatan atau proyek pemerintah. 90 karena langsung menghasilkan manfaat di awal proyek. dana tersebut tidak boleh digunakan oleh pemerintah jika ternyata alternatif penggunaannya di sektor swasta menghasilkan manfaat sosial yang lebih tinggi.1 Dasar-dasar Keuangan Publik . beserta keuntungan yang diharapkan. jika suku bunga tabungan adalah sebesar 10 persen.

Pada Tabel 8. Kurva S adalah supply dana yang siap diinvestasikan.2. dan dalam contoh ini diumpamakan sebesar 16 persen. hal ini digambarkan oleh pergeseran kurva D ke D’. kurva D adalah tingkat permintaan dana untuk investasi tanpa dipengaruhi pajak. Jika dana sebesar F2 ini hendak diinvestasikan ke proyek pemerintah.1 Pengaruh Pajak terhadap Tingkat Return S 20 = rg Return (persen) 16 E i = 10 = rn E’ D = keuntungan D’ = keuntungan setelah pajak 0 F2 F1 Dana tabungan dan investasi per tahun Pada Gambar 21. titik keseimbangan pasar akan terjadi pada titik E. akan sama dengan bunga yang dibayarkan kepada penabung. Semakin tinggi gross return. Setiap titik dalam kurva ini menunjukkan gross return yang diperoleh perusahaan atau investor untuk setiap dana yang diinvestasikannya. Penerimaan kotor (gross return) yang diperoleh perusahaan. semakin banyak dana yang disediakan oleh penabung. rg. Titik keseimbangan yang baru sekarang terletak di E’. Gross return sebesar 20 persen ini hanya akan menghasilkan penghasilan neto sebesar 10 persen (rn). gross return yang dikehendaki investor naik menjadi 20 persen (rg) karena harus membayar pajak. Pada kondisi tidak ada pajak. Semakin tinggi tingkat bunga. maka Dasar-dasar Keuangan Publik .1. semakin sedikit dana yang diminta oleh investor untuk diinvestasikan.219 Gambar 21. Dampak pengenaan pajak penghasilan ini adalah penerimaan bersih investor turun hingga setengahnya. Sekarang. Setiap titik dalam kurva S menggambarkan suku bunga yang harus dibayarkan kepada penabung agar mau menyimpan dananya untuk kepentingan investasi. diasumsikan investor dikenakan pajak penghasilan sebesar 50 persen sedangkan bunga tabungan tetap tidak dikenakan pajak. Akibat turunnya dana yang diinvestasikan dari F1 ke F2 per tahun.

NPV manfaat dan biaya yang sudah memasukkan unsur inflasi tersebut didiskonto dengan menggunakan nilai nominal tingkat bunga. maka investor akan menginginkan gross return yang lebih tinggi lagi. jika faktor risiko tidak diperhitungkan maka titik keseimbangan pasar akan terletak pada rate sebesar 10 persen.000 Net Benefit Proyek B . bila dana tersebut digunakan untuk konsumsi. Semakin tinggi faktor risiko suatu proyek.000 Net Benefit Proyek B . Namun. Hasil dari penyesuaian terhadap inflasi adalah sebagai berikut Tahun 0 1 2 Net Benefit Proyek A .000 500.1.000 1.1. Nominal tingkat bunga adalah tingkat bunga murni ditambah dengan tingkat inflasi.000.575. Dalam contoh diatas.500 Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika memasukkan faktor risiko dan inflasi dalam menghitung penghasilan neto.1.000. maka NPV nya dihitung dengan menggunakan tingkat suku bunga murni saja (yaitu nominal interest rate setelah dikurangi tingkat inflasi).000 1.1.000.220 tingkat diskonto yang digunakan adalah 20 persen. Contoh: Ada 2 proyek yang diajukan.000. Tahun 0 1 2 Net Benefit Proyek A .000 1. semakin tinggi pula gross return yang diharapkan dari proyek tersebut. bila manfaat dan biaya dihitung tanpa memperhitungkan inflasi. Kedua. kemudian tingkat inflasinya disesuaikan. Ada dua alternatif cara untuk mengatasi masalah inflasi ini. Pengaruh Inflasi Inflasi dapat menjadi masalah dalam analisis manfaat dan biaya karena ia mempengarungi net present value dari manfaat bersih suatu proyek. kita perhitungkan dahulu pengaruh tingkat inflasi terhadap net benefit yang diterima pada tahun ke-1 dan ke-2.000 Tingkat Inflasi pertahun adalah 5%. Manfaat bersih (net benefit) kedua proyek tersebut adalah sebagai berikut. Pertama. Dan. yang mempunyai jangka waktu selama 1 dan 2 tahun. manfaat dan biaya suatu proyek diperhitungkan dahulu.000 1. opportunity cost nya hanya 10 persen.500.000 525.000. dalam contoh diatas bisa lebih tinggi dari 20 persen. A dan B. Hal lain yang dapat mempengaruhi tingkat diskonto selain pajak adalah tingkat risiko.102. Nominal Tingkat Bunga adalah 15% Bila menggunakan cara pertama.

102.000 + = 369.565 (1 + 15%)0 (1 + 15%)1 − 1.000. yaitu memilih melaksanakan Proyek A karena ia menghasilkan NPV manfaat bersih yang paling besar.000 1.000 NPV ( B) = + + = 280. Tingkat suku bunga murni pada contoh ini adalah 10% (15% .000. yaitu: 1. Menentukan Peringkat Proyek Jika ada beberapa proyek yang diajukan.5%).500 NPV ( B) = + + = 290.221 Setelah itu.000. 2.000 1. Benefit-Cost ratio Dasar-dasar Keuangan Publik . maka proyek yang dipilih adalah proyek yang menghasilkan manfaat bersih yang paling besar.000 + = 363.000 500. Rumus yang digunakan untuk menghitung Net Benefit Criterion adalah Net _ Benefit _ Criterion :B − C = ∑ dimana: Bi = manfaat tahun ke-i Ci = biaya tahun ke-I r = tingkat diskonto ( Bi − Ci ) i i =1 (1 + r ) n Jika ada beberapa proyek yang menghasilkan manfaat bersih positif. Net Benefit Criterion (Net Present Value) Dengan kriteria ini. maka biasanya mereka akan diurut sesuai dengan besarnya NPV manfaat bersih yang dihasilkan oleh masingmasing proyek tersebut.000 525. NPV proyek A dan B dihitung dengan menggunakan nominal tingkat bunga sebagai tingkat diskonto nya.575. proyek yang menghasilkan manfaat bersih positif akan dipertimbangkan untuk dilaksanakan.500. NPV proyek A dan B dihitung dengan menggunakan tingkat suku bunga murni sebagai tingkat diskonto nya.636 (1 + 10%)0 (1 + 10%)1 − 1.000.000 1. perhitungan dengan cara kedua akan menghasilkan NPV sebagai berikut: − 1. Perhitungannya adalah sebagai berikut: − 1.170 (1 + 15%)0 (1 + 15%)1 (1 + 15%)2 NPV ( A) = Bila menggunakan cara kedua. Ada tiga kriteria dalam menentukan peringkat proyek.000 1.991 (1 + 10%)0 (1 + 10%)1 (1 + 10%)2 NPV ( A) = Perhitungan dengan cara pertama maupun kedua menghasilkan NPV yang hampir sama dan keputusan yang diambil pun sama.000. Maka.

000) 0 200.000 1.000 100. peringkat proyek tersebut dapat ditentukan sebagai berikut.000 (200.000 200.490 Dasar-dasar Keuangan Publik .000 250.000 1.000.119.222 Benefit-Cost ratio merupakan modifikasi dari Net Benefit Criterion. Analisis masing-masing proyek adalah sebagai berikut: Proyek A Net Benefit Criterion: NBC = (100. Arus Penerimaan dan Pengeluaran Proyek (dalam ribuan rupiah) Proyek A Proyek B Tahun Penerimaan Pengeluaran Net Benefit Penerimaan Pengeluaran Net Benefit 0 100. maka yang dipilih adalah proyek dengan rasio paling besar.000) 50.000 Bila tingkat suku bunga yang berlaku adalah 5% per tahun.000 200. Proyeksi penerimaan dan pengeluaran dari masing-masing proyek tersebut adalah sebagai berikut.000 1.900.550.000 250.000 4 1.350.000 (200.000 1 (200.900.550.350.900.000) 750.000 750.000 2 750. Bila ada beberapa proyek menghasilkan rasio diatas 1.000 200. Rumus yang digunakan untuk menghitung adalah B Benefit − Cost _ Ratio : = C dimana: Bi = manfaat tahun ke-i Ci = biaya tahun ke-I r = tingkat diskonto ∑ B (1 + r ) i n i ∑ C (1 + r ) i i =1 i =1 n i Pada kriteria Benefit-Cost Ratio.350.000 1.000.000 1.000 100. Ada dua usulan yang diajukan yaitu Proyek A dan Proyek B.000 250.000 1.000 2.350.000 0 (100.550.000 1.000 1. Contoh: Anggota DPRD suatu daerah sedang mempertimbangkan usulan pemda setempat untuk mengucurkan dana guna membiayai proyek pemanfaatan lahan kosong.000 1.000 3 750.000 2.000 1.000) 0 200.000 1.000.000 + + + + + 0 1 2 (1 + 5%) (1 + 5%) (1 + 5%) (1 + 5%)3 (1 + 5%)4 (1 + 5%)5 = 6.550.000) 1.000 5 1.900.000.000) (200. proyek yang dipilih adalah yang menghasilkan rasio lebih dari 1 (satu).000 200.

Bila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga pasar maka proyek layak dilaksanakan.05)1 (1.05)5 B / C _ Ratio = 100.05)0 (1..000 + . Proyek A memiliki peringkat diatas Proyek B.. Dasar-dasar Keuangan Publik .05)1 (1.05)5 B / C _ Ratio = 200.223 Benefit-Cost Ratio: + 50...05)5 7. Rumus untuk mencari IRR adalah sebagai berikut: IRR = ∑ i =1 n ( Bi − C i ) =0 (1 + r ) i IRR adalah tingkat suku bunga ( r ) yang diperlukan untuk menghasilkan NPV = 0.350..296.000 (1.000 (1.360. + 200.000 1.550.05)0 (1. maka proyek dengan IRR yang tertinggilah yang akan dilaksanakan. tingkat suku bunga pada kondisi proyek tersebut mencapai titik impas. + 1..000 + .464 = = 5.000 (1.000 + + + + + (1 + 5%)0 (1 + 5%)1 (1 + 5%)2 (1 + 5%)3 (1 + 5%)4 (1 + 5%)5 = 6.000 1. Di negara berkembang seperti di Indonesia.000 + . Ketiga metode analisis tersebut di atas hanya merupakan salah satu ukuran untuk dapat menolak atau menerima pelaksanaan proyek.005. 3.414 1.05)0 (1.05)1 (1.05)5 7.176.365.200 = = 6. Jika ada dua atau lebih proyek yang memiliki IRR diatas suku bunga pasar.382 0 Berdasarkan analisis Net Benefit Criterion dan Benefit-Cost Ratio.350.05)1 (1. sehingga DPRD sebaiknya memilih Proyek A untuk dilaksanakan. Dengan kata lain.350.000) 1.05)0 (1.000) (200.000 (1. + 1.710 0 Proyek B Net Benefit Criterion: NBC = (200.000 + 200.000 + 250.2 1. + 100.000 1. pemilihan proyek tidak hanya diukur dari manfaat dan biaya semata.082 Benefit-Cost Ratio: + 0 + .350. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return adalah tingkat suku bunga pada posisi apabila selisih antara present value manfaat dan present value biaya sama dengan nol (PV manfaat – PV biaya = 0).. dan bila IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga pasar maka proyek tersebut tidak layak dilaksanakan.900..

karena tujuan pemilihan proyek adalah memaksimalkan kemakmuran secara keseluruhan dan bukan memaksimalkan keuntungan per proyek saja.224 namun juga harus memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memberikan kesejahteraan menyeluruh secara nasional. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Pertumbuhan belanja publik sangat erat kaitannya dengan tuntutan kemajuan masyarakat dan dikehendakinya pertimbangan sosial yang diperankan oleh pemerintah dalam menjalankan kebijakannya.225 B A B XXII STRUKTUR BELANJA PUBLIK B ab ini berkaitan dengan struktur belanja publik dan permasalahan kebijakan dalam penyusunan program belanja. Belanja publik juga cenderung mengalami kenaikan porsinya. Faktor belanja barang dan jasa. Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa diantaranya adalah sebagai berikut: Pertumbuhan Pendapatan per Kapita Proporsi antara barang pribadi dan barang publik selalu berubah sesuai dengan kenaikan pendapatan per kapita. dan belanja transfer. Dasar-dasar Keuangan Publik . Implikasinya adalah bahwa kebijakan anggaran yang efisien menghendaki adanya peningkatan rasio pembelian pemerintah terhadap pendapatan nasional. Dari studi empiris telah dibuktikan bahwa belanja publik menunjukkan angka yang cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Kedua faktor ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain. Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Dalam memahami faktor penyebab pertumbuhan belanja publik. perlu dibedakan faktor antara belanja barang dan jasa. dan porsi barang publik selalu menunjukkan peningkatan. apabila dibandingkan dengan total pendapatan nasional. Kajian-kajian struktur belanja publik perlu mempertimbangkan kondisi objektif ini.

peningkatan per kapita seiring dengan perkembangan perekonomian yang berubah dari negara agraris (yang diasumsikan berpendapatan rendah) menjadi negara industri (yang diasumsikan berpendapatan tinggi). pendidikan dasar dan sanitasi . Jika teknologi berubah. Pengamatan bisa dilakukan juga pada belanja publik dalam penyediaan barang modal. Kebutuhan akan barang modal ini harus lebih besar pada awal pembangunan ekonomi. sehingga tidak mudah dilakukan oleh pihak swasta. Untuk barang publik.seperti keamanan.226 Biasanya. Permintaan barang publik akan semakin meningkat dengan meningkatnya pendapatan per kapita. kecenderungan seperti diatas mempunyai dua kemungkinan. tetapi pengembangan industri akan menimbulkan akibat sampingan. dan peran pemerintah akan semakin menurun dalam pengadaan barang modal. Dengan demikian. seperti polusi dan kemacetan kota. Barang publik yang merupakan kebutuhan dasar (bukan kemewahan) . maka pola konsumsi bagi perekonomian diharapkan akan meningkat pula. Barang modal tersebut mempunyai manfaat yang bersifat eksternal. bila pendapatan meningkat. dimana belanja modal diperlukan dalam jumlah yang besar yang memerlukan pengembalian jangka panjang. Kadang kecenderungannya meningkat. Ernst Engel seperti dikutip oleh Musgrave mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pengeluaran untuk barang-barang tertentu. pelabuhan dan instalasi listrik. dan kadang menurun. Selama pendapatan rata-rata meningkat. akan mengalami kecenderungan yang semakin meningkat. terdapat kecenderungan yang meningkat. seperti penyelidikan angkasa luar dan pangkalan perahu. pembangunan ekonomi menimbulkan kebutuhan khusus terhadap barang modal.mengalami kecenderungan menurun. Pada tahap awal. Akhirnya. investasi dalam sumber daya manusia dan biaya pendidikan akan mengalami peningkatan selama pendapatan meningkat seiring dengan laju pembangunan. Sedangkan kebutuhan lainnya. seperti pendidikan tinggi dan pelayanan kesehatan. Perubahan teknologi dapat meningkatkan atau menurunkan kepentingan penyediaan barang publik yang mempunyai manfaat eskternal besar sehingga harus disediakan oleh pemerintah. Pola pertumbuhan belanja publik untuk penyediaan barang modal kelihatannya terbalik. dapat disimpulkan bahwa tidak dapat diestimasikan secara tepat kecenderungan yang akan terjadi pada belanja publik untuk barang konsumsi dan barang modal yang diakibatkan pertumbuhan pendapatan per kapita. seperti jalan. Ditambah. barang-barang pelayanan umum yang merupakan barang mewah. yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan investasi pemerintah. Dasar-dasar Keuangan Publik . maka proses produksi juga berubah. apabila sektor swasta telah terbuka kesempatannya menanamkan modal dalam pengembangan industri. Perubahan Teknologi Perubahan teknologi mempunyai pengaruh penting dalam pertumbuhan porsi belanja publik.

Peningkatan populasi yang disertai dengan mobilitas populasi juga mendorong pertumbuhan kota baru yang tentunya menyebabkan kebutuhan peningkatan pelayanan umum.227 Sebagai contoh. Sejak tahun 1930-an. dan penyediaan jaminan hari tua. permintaan jalan raya bergerak sangat cepat. Perubahan Populasi Perubahan populasi terutama akan meningkatkan belanja pendidikan dan kesehatan. Biaya Relatif Selain perubahan-perubahan kuantitas seperti diuraikan diatas. Dengan meningkatnya industri mobil. penemuan mesin pembakaran mengakibatkan berkembangnya industri mobil. perbedaan respon terhadap inflasi bukanlah merupakan faktor utama. Urbanisasi Proses urbanisasi dapat menimbulkan permasalahan bagi pemerintah. karena sifatnya yang elastis. Kebutuhan pendidikan juga akan mendorong peningkatan permintaan perumahan. maka bisa diestimasikan bahwa porsi belanja publik akan meningkat. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya inflasi harga faktor produksi yang dibeli pemerintah lebih cepat dibanding dengan rasio deflasi dalam pendapatan nasional. sifat penyediaan barang dan jasa publik yang dapat mengubah komponen pendapatan nasional menjadi kurang apabila dibandingkan dengan perubahan teknologi. sehingga biaya penggantian akan meningkat. Contoh lain adalah perubahan teknologi persenjataan yang mengakibatkan meningkatnya pengeluaran militer. kecuali bila permintaan barang publik bersifat inelastis. Sebuah barang publik dapat disubstitusi dengan barang pribadi. kemacetan di perkotaan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan umum. bukan berarti porsi belanja publik dalam pendapatan nasional harus meningkat. Perubahan teknologi juga mempercepat barang menjadi usang. sehingga belanja sektor publik meningkat dibandingkan masa kereta kuda dan mesin uap yang digunakan untuk kereta api. porsi belanja keperluan sosial dalam pendapatan nasional meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan transfer. Sebagai contoh. Dalam jangka panjang. karena terjadi perubahan komposisi umur. yang pada akhirnya menyebabkan pertumbuhan anggaran. Perubahan teknologi di masa datang yang menyebabkan membengkaknya anggaran pemerintah adalah bidang teknologi angkasa luar merupakan faktor penting dalam porsi pengeluaran negara. Menurut Musgrave. tak kalah pentingnya adanya pengaruh perubahan biaya jasa publik terhadap pengeluaran publik. Hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan barang-barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. Meski pun biaya jasa publik menjadi lebih mahal. kecuali terbukti teknologi angkasa luar menjadi barang pribadi. Faktor Pengeluaran dari Transfer Porsi Pendapatan. Contohnya adalah Dasar-dasar Keuangan Publik .

jika tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. Sehingga. Tingkat pendapatan minimum ditentukan dalam pengertian rata-rata. Akan tetapi dalam kenyataannya. Secara teoritis. Tindakan pendistribusian kembali pendapatan tersebut dapat dipengaruhi dari dua arah.000 dan C adalah $40.000. Manfaat yang akan diperoleh A dan B masing-masing $70. sehingga memerlukan peningkatan dalam rasio pengeluaran publik untuk penduduk usia lanjut terhadap pendapatan nasional. Sistem ini ditujukan untuk menyeimbangkan besarnya distribusi pendapatan melalui transfer dari anggaran pengeluaran ke program pembelian pemerintah yang ditujukan bagi penyediaan barang dan jasa untuk kelompok berpenghasilan rendah. kebutuhan untuk pendistibusikan kembali pendapatan akan menurun jika pendapatan rata-rata meningkat. Namun demikian. Apabila terjadi penurunan pertumbuhan populasi dalam bentuk meningkatnya penduduk yang lanjut usia. Pertama.000 yang akan dibebankan dari general fund. dengan memperlunak konsep. sehingga A. peningkatan pendapatan rata-rata tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan. maka dikatakan bahwa proyek tersebut layak dibangun. dan hanya sedikit mengarah pada pemerataan. Penjelasan ini perlu dihubungkan dengan perubahan sosial dan politik. sehingga diusulkan agar konsep efisiensi diperlunak. Adanya perubahan ruang lingkup redistribusi pendapatan dapat timbul akibat faktor-faktor demografi. perubahan hanya terjadi pada tingkat yang tidak signifikan atau distribusi pendapatan tetap stabil. dan C harus membiayai masing-masing senilai $50.000. sehingga manfaat agregat adalah $180. efisiensi proyek tetap ada apabila orang-orang yang diuntungkan (A dan B) dapat menutupi kerugian Dasar-dasar Keuangan Publik .228 peningkatan asuransi hari tua. apakah ada tekanan politis untuk mendistribusikan pendapatan kembali atau tidak. diperlukan peningkatan penyediaan kebutuhan penduduk berusia lanjut. Misalkan suatu jalan akan dibangun dengan biaya $150. Pada kasus ini. prinsip Pareto Optimum dilanggar. B. Karena nilai manfaat lebih besar dari biayanya. jika tujuan pendistribusian kembali pendapatan adalah untuk menyesuaikan pendapatan keluarga. perubahan tersebut diikuti dengan pergeseran rasio penduduk pensiun ke usia kerja. penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut yang perlu dilakukan. proyek semacam itu sangat sulit dicapai. sehingga ruang lingkup pendistribusian kembali – yaitu transfer pendapatan sebagai suatu prosentase dari pendapatan nasional – akan tetap konstan. Program ini lebih merupakan alat untuk menyediakan jaminan hari tua dengan dasar pembiayaan swadaya. tingkat efisien semacam itu dapat dicapai. Namun demikian. Kedua. Efisiensi dan Keadilan dalam Belanja Publik Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain. meski pun C mengalami kerugian.000. jika terdapat ketimpangan pendapatan oleh karena peningkatan pendapatan per kapita. Kecuali.

Alternatif I akan memilih lokasi konstruksi di daerah yang upahnya tinggi. dimisalkan ada dua buah proyek yang dipertimbangkan. berupa penyediaan taman bermain di lingkungan masyarakat berpenghasilan tinggi dan Proyek II. dimisalkan. Hal ini menunjukkan kecocokan dengan konsep efisiensi yang lebih luas.229 pihak lain ( C ) dan dipandang masih lebih baik dibandingkan dengan tidak ada proyek. evaluasi sosial yang tercermin dari kesejahteraan sosial akan menyimpang dari evaluasi swasta dan proyek II akan dipandang lebih layak. Perlu diadakan persyaratan tambahan agar proyek tetap dikatakan efisien yaitu bahwa penggantian kerugian harus benar-benar dilaksanakan. Proyek I. Apabila nilai nominal proyek yang dijadikan dasar pertimbangan. Petimbangan distribusi dimulai dengan penentuan apakah apakah bobot distribusi dapat digunakan dalam menilai besarnya manfaat dan biaya. pihak C tidak menerima manfaat dan kerugiannya belum tentu akan diganti. Berdasarkan kriteria ini. Aspek Keadilan Dalam meninjau aspek keadilan dalam belanja publik. berupa penyediaan taman serupa untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. karena mereka mampu membayar lebih tinggi dan proyek I dianggap lebih layak. dalam bentuk transfer dari A dan B kepada C. Cara yang lebih tepat adalah dengan mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih dan kondisi ini menghasilkan proyek yang efisien menurut prinsip Pareto optimum. sehingga salah satu harus dikorbankan. Setiap rupiah yang dibelanjakan oleh masyarakat miskin dapat dinilai lebih tinggi. sehingga proyek II akan dipandang lebih layak. Akan tetapi. jika distribusi yang berlaku tidak optimal. Yang pertama. Jika kondisi yang berlaku adalah distribusi optimal. dimana kedua proyek mempunyai biaya dan tingkat penggunaan yang sama. sementara dana terbatas untuk satu proyek.000 dapat disahkan dan proyek dikatakan efisien. tetapi dengan biaya yang berbeda. Tetapi dalam kenyataan. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen juga akan optimal dipandang dari segi sosial. sementara alternatif II memilih lokasi yang tingkat upahnya Dasar-dasar Keuangan Publik . Problem utamanya adalah bahwa preferensi seseorang tidak mudah untuk diungkapkan dan mungkin saja proyek tersebut tidak efisien. Permasalahan timbul dalam menyusun peringkat manfaat kedua proyek tersebut. pertimbangan sosial dapat menyimpulkan sebaliknya. masyarakat berpenghasilan tinggi akan menerapkan nilai yang lebih tinggi dibanding masyarakat berpenghasilan rendah. Dimisalkan akan dibangun sebuah kapal laut. dimisalkan. Efisiensi proyek tergantung pada bagaimana mendefinisikan efisiensi tersebut. Tetapi. jumlah agregat manfaat bersih senilai $30. Kondisi yang sama juga muncul jika ada dua proyek yang menghasilkan jasa yang sama. pertimbangan mengenai distribusi dan fungsi obyektif dapat dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan proyek.

karena adanya dimensi waktu. Risiko perubahan perekonomian mempunyai implikasi perlunya pendiskontoan atas manfaat maupun biaya. Tetapi. berdasarkan asumsi bahwa dalam menerapkan tarip pajak. karena nilai manfaat bersih lebih tinggi. Klasifikasi Belanja Publik. analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek. Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. Dasar-dasar Keuangan Publik . Misalkan juga biaya modal. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan sebagai alat pengoreksi aspek distribusi. Risiko Perubahan Perekonomian Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. pemerintah bermaksud mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prinsip pengorbanan yang sama. Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah belanja operasi untuk organisasi eksekutif dan legislatif. Evaluasi proyek jangka panjang perlu mempertimbangkan dinamika perkembangan perekonomian yang berkaitan dengan harga relatif dan pengaruh distorsi harga. Dapat disimpulkan bahwa. Penjumlahan hasil tertimbang ini kemudian akan digunakan dalam analisis nilai manfaat yang diharapkan. bahan baku dan transportasi di lokasi I lebih rendah. Tanpa mempertimbangkan aspek distribusi. jika distribusi pendapatan tidak optimal. Hasil yang berisiko dapat diestimasikan dengan cara pembobotan berbagai hasil berdasarkan angka probabilitasnya. bila bobot distribusi pendapatan diperhitungkan. 1. 2. Akibatnya. dan belanja administrasi transfer antar unit pemerintah. proyek II akan lebih diutamakan. belanja riset dasar. sehingga total biaya di lokasi I akan lebih rendah. Kalsifikasi belanja publik dapat dikategorikan berdasar berbagai macam kriteria. lokasi I dianggap lebih layak. Atau bobot dapat diperoleh dari analisis pajak penghasilan. Salah satu kriteria yang sering digunakan untuk mengklasifikasikan belanja pemerintah adalah seperti diuraikan dalam Government Finance Statistics Manual. Fungsi obyektif dapat digunakan sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. Pengaruh penundaan satu tahun akan menyebabkan perubahan nilai sekarang atas perhitungan neto manfaat dan biaya. Belanja Pertahanan.230 rendah. dimana jumlah probabilitas adalah sama dengan satu. Klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah adalah sebagai berikut: Belanja jasa publik umum. karena memberikan manfaat kepada mereka yang berpenghasilan rendah. belanja transaksi hutang. belanja untuk jasa-jasa umum.

belanja energi dan bahan bakar. dan juga riset untuk perlindungan publik. 4. Belanja Pendidikan. Belanja yang termasuk disini diantaranya adalah belanja pengelolaan limbah dan polusi. jasa pengadilan. jasa penyiaran. Belanja kesehatan. belanja penerangan jalan. Belanja urusan ekonomi Belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja urusan ketenagakerjaan. dan lain-lain. 9. belanja jasa kebudayaan. jasa kepada pasien. 6. jasa rumah sakit umum. pertambangan. 3. Belanja perlindungan sosial. dan pendidikan tinggi. Belanja dalam kategori ini dibedakan dengan belanja pertahanan. Belanja dalam kategori ini diantaranya adalah pengembangan perumahan dan pemukiman. Dasar-dasar Keuangan Publik . budaya dan agama. 10. 7. jasa rumah tahanan dan penjara. 5. Belanja rekreasi. 8. Belanja kesehatan meliputi perlengkapan dan peralatan kesehatan. Pendidikan mencakup belanja pendidikan dasar. Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja perlindungan terhadap manusia lanjut usia (manula). belanja perlindungan anak dan keluarga. belanja komersial dan ekonomi. dan risetnya. termasuk belanja pendukung pendidikan lainnya. riset pertahanan dan sebagainya. termasuk risetnya. bantuan militer untuk asing. Diantara belanja yang termasuk dalam kategori ini adalah belanja jasa olahraga dan rekreasi. sistem penyediaan air bersih. dan dianatara contohnya adalah belanja jasa kepolisian.231 Belanja-belanja dalam kategori ini antara lain adalah belanja pertahanan militer dan sipil. Belanja perumahan dan public utilities. belanja kehutanan dan pertanian. belanja untuk mengatasi pengangguran. Belanja perlindungan umum. transportasi. dan belanja sosial lainnya. jasa pemadam kebakaran. proteksi keragaman hewani maupun tata kota. dan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya. Belanja perlindungan lingkungan. pendidikan menengah. jasa urusan keagamaan dan komunitas. komunikasi dan belanja untuk perindustrian lainnya.

untuk lebih fokus pada pembahasan materi.232 B A B XXIII KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM D alam bab ini akan dibahas lebih rinci berbagai jenis belanja serta masalahmasalah yang ditimbulkannya. akan tetapi sektor-sektor yang dibahas disini didasarkan pada klasifikasi Bank Dunia. 4. Pembahasan akan dimulai dari jenis belanja pertahanan nasional. pendekatan pengelompokan sektor diasumsikan mengacu pada laporan-laporan Bank Dunia. prioritas. 3. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan. pembangunan jalan raya. Perencanaan yang berhasil memerlukan penerjemahan tujuan dan kebijakan sektor kedalam kebutuhan sektor dan subsektor secara individual dan juga kedalam rincian yang lebih detail pada proyek-proyek Dasar-dasar Keuangan Publik . Membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. Memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara. Sehingga. Perlunya Analisis Sektor Banyak pendapat tentang pengelompokan pengeluaran publik kepada sektor. 2. belanja pendidikan dan perlindungan lingkungan berupa pembangunan taman rekreasi. dengan melihat pengalaman-pengalaman empiris di berbagai negara. dan hubungan antar sektor diantara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. Tujuan analisis sektor menyangkut beberapa tujuan: 1. Mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. Menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyekproyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan.

lapangan kerja. Suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subyektif. tapi orang lain dapat berpandangan bahwa kebijakan tersebut ofensif. Di Amerika Serikat. Ada beberapa cara atau metode yang dapat digunakan dalam analisis 1. Dalam dekade tersebut. operasi dan pemeliharaan. meskipun akhirnya dilampaui oleh pertumbuhan program sosial. 3. seperti kesediaan untuk menerima risiko konflik militer. Analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil. Analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu. laut. Masyarakat tidak dapat menyediakan sendiri keamanan bagi dirinya dan proteksi yang diberikan haruslah secara kolektif. Melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor. meski pun menjadi kebijakan yang sulit diperkirakan. Masalah lainnya adalah menyangkut keseimbangan antara angkatan darat. Belanja pertahanan dibagi menjadi belanja personil. dan perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro. Dasar-dasar Keuangan Publik . kebijakan upah dan tingkat bunga. ruang lingkup nasional. pembelian barang dan jasa. variabel-variabel kebijakan umum seperti nilai tukar. Pertahanan Nasional. Masalah utama dalam belanja pertahanan. tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat nasional. 2. Alasannya. penelitian dan pengembangan. juga melibatkan masalah-masalah kebijakan luar negeri. Terakhir. Yang paling penting. Belanja pertahanan selain menghadapi masalah yang kompleks dalam perencanaan. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. perencanaan pertahanan nasional harus menemukan keseimbangan antara senjata konvensional dan modern. regional atau internasional. Dengan demikian. Keputusan politik memegang peranan angat penting dalam menentukan pola kebijakan pertahanan ini. sektor. dan pemilihan sistem persenjataan tertentu. seseorang dapat saja memandang kebijakan tersebut defensif.233 tertentu. udara dan marinir. sehingga contoh penyediaan jasa pertahanan menjadi contoh klasik yang dapat dibahas. struktur pajak. belanja pertahanan nasional merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan anggaran. tetapi juga bisa mencegah konflik yang juga menimbulkan pengrusakan. belanja pertahanan menjadi faktor utama anggaran pemerintah dalam pembelian barang dan jasa dari swasta. sub sektor dan proyek. selama tahun 80-an. masalah kekuatan militer tidak hanya meningkatkan akibat pengrusakan.

Kelayakan proyek-proyek militer. mengingat peran Amerika dalam perang melawan terorisme sangat besar bahkan menjadi sponsor bagi program internasional ini. Industri pertahanan mencakup sektor manufaktur. Kebutuhan pertahanan nasional dan berbagai masalahnya memerlukan perancangan yang kesemuanya harus dipenuhi dengan seefisien mungkin. seperti Amerika Serikat. Dengan melihat anggaran pertahanan Amerika Serikat saat ini. seperti aerospace. Dampak terhadap industri Karena pertahanan merupakan kontributor utama dalam defisit anggaran pemerintah federal AS. pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal lainnya. Keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik menyangkut tiga hal Kerjasama yang rapi antara pemerintah federal. Dampak terhadap pertumbuhan produktivitas. dan pabrik persenjataan elektronik. Perdebatan yang muncul di Amerika Serikat tentang sistem persenjataan adalah apakah harus memodernisasi kekuatan strategis ataukah harus membangun kekuatan strategis baru. terserapnya bakat ilmiah oleh industri pertahanan akan menyebabkan industri swasta tersebut ke arah penurunan. ternyata mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibanding dengan negara dengan prosentase belanja pertahanan yang lebih besar.namun di lain pihak. Dari satu pihak. mulai land-based missiles. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pertumbuhan produktivitas jangka panjang akan tergantung pada peningkatan jumlah orang berbakat ilmiah dan kontribusi anggaran dalam peningkatan aktivitas ilmiah tersebut.seperti komputer . produktivitas yang ditimbulkan oleh sektor pertahanan akan dialihkan ke sektor swasta . Di lain pihak. Dampak pertama terjadi pada besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan. misalnya Jerman dan Jepang. Jalan Raya yaitu: 1. Bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan prosentase belanja pertahanan terhadap pendapatan nasionalnya kecil. sektor ini secara nyata juga mendukung kesempatan kerja di sektor swasta. sampai sekarang masih dipertentangkan oleh para ilmuwan. pabrik pembuatan kapal laut. mengingat risikonya yang sangat tinggi.234 Efektifitas biaya modernisasi kekuatan strategis. Terdapat pergeseran dari permintaan swasta untuk barang konsumsi dan perumahan kepada pembelian pemerintah untuk sektor pertahanan. dampaknya terhadap perkenomian negara layak dilakukan pembahasan. submarine-based missiles. 2. maupun Administrations Strategic Defensive Initiative (sering disebut perang bintang). Program riset dan pengembangan yang dilakukan untuk kepentingan pertahanan nasional berpengaruh besar terhadap perkembangan teknologi dan pertumbuhan produktivitas. sangat sulit memperkirakan apakah akan ada pembatasan persenjataan strategis dengan melakukan pemotongan anggaran. Jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar.

Sedangkan pada tingkat pemerintah lokal. Pembagian kerja dan pembiayaan ini menunjukkan perhatian yang besar dari pemerintah. Perkiraan pajak yang besar. penerimaan jalan raya diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor. Pengeluaran untuk jalan raya. meskipun pengendalian sistem pendidikan tetap berada di bawah pemerintah lokal. Pemerintah federal juga ikut membiayai pembangunan pendidikan.235 3. di Amerika Serikat. negara bagian. bagaimana proses pengajaran berlangsung. paling banyak dilakukan pada tingkat negara bagian. baik federal. Pembangunan jalan raya sebagian besar didanai oleh pemakai jalan. Sebagian yang lain dilakukan oleh pemerintah federal dengan mentransfer hampir seluruh penerimaannya melalui grant kepada tingkat pemerintah dibawahnya dan sebagian besar diterima oleh negara bagian. penerimaan berasal dari pajak bahan bakar. meskipun kontribusinya tidak sebesar pemerintah. Pendidikan Anggaran pendidikan. Permasalahan yang ada dalam kebijakan pendidikan menyangkut apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurikulum). dan apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta juga. Penerimaan dari tarip tol tidak terlalu siginifikan dibanding dengan sumber pendanaan lainnya. maupun pemerintah lokal lainnya. Pembiayaan melalui pungutan kepada pemakai. Untuk tingkat federal. jalan raya dibiayai dari general fund. karena pendidikan pada dasarnya tetap merupakan jasa publik yang harus disediakan oleh pemerintah. Pada tingkat negara bagian. Masalah-masalah kebijakan pendidikan. Hal ini telah mendapat dukungan undang-undang di negara bagian dan telah pula diakui oleh Mahkamah Agung bahwa setiap Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu penghasilan yang ditransfer dari Highway Trust Fund dalam bentuk grant antar pemerintahan. meskipun tidak terlalu besar. siapa yang berhak memperoleh pendidikan. yang salah satunya berasal dari pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal serta dari pembebanan khusus lainnya. Swasta ikut memberikan andil membiayai pendidikan juga. Kerjasama antar unit pemerintah. terutama untuk mendanai pendidikan tingkat tinggi. yang selanjutnya dipakai untuk membangun jalan negara bagian dan sebagian lainnya ditransfer ke pemerintah lokal dalam bentuk grant. di Amerika Serikat. Negara bagian pada umumnya mempunyai kebebasan yang cukup memadai dalam merancang struktur fiskal masing-masing dan dalam mengendalikan pemerintah lokal yang secara langsung bertanggungjawab dalam penyediaan pendidikan. Sedangkan pemerintah lokal bertanggungjawab terhadap jalan raya di daerahnya. termasuk jalan antar negara bagian. terutama dibiayai oleh pemerintah lokal dan negara bagian. Dana negara bagian yang disalurkan kepada pemerintah lokal dalam bentuk bantuan dan subsidi.

236
warganegara berhak atas perlakukan yang sama dalam bidang pendidikan. Namun demikian, tidak ada keharusan menurut konstitusi bahwa pendidikan harus sebanding di seluruh negara bagian. Pendidikan dasar dan menengah sebagian besar disediakan oleh pemerintah, melalui sekolah negeri. Pada tingkat ini, timbul perdebatan tentang perlunya monopoli pemerintah atas sekolah pada tingkatan itu. Hasil yang efisien akan dapat diperoleh jika terdapat persaingan yang sehat antara lembaga pendidikan negeri dan swasta. Penganjur pendidikan berpendapat bahwa pendidikan merupakan kepentingan umum sehingga harus disediakan oleh pemerintah, akan tetapi mereka juga setuju bahwa tidaklah berarti bahwa pendidikan harus disediakan oleh sekolah negeri. Konsumen pendidikan mengharapkan pemberian pendidikan yang sama atau paling tidak ada standar minimum. Masalah pokok yang juga timbul adalah berkaitan dengan tingkat pendidikan. Persaingan yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah swasta perlu didukung dengan kebijakan dalam menjamin persaingan yang sehat oleh pemerintah. Persoalan pendidikan bukanlah hanya persoalan fiskal saja, akan tetapi merupakan persoalan politik.

Fasilitas Rekreasi
Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda yakni manfaat bagi pemakai, manfaat bagi masyarakat di sekitarnya dan manfaat lain - seperti keindahan alam. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik yang bersifat barang akhir atau barang konsumsi, tidak seperti jalan raya yang bersifat barang antara. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat barang tersebut dapat dinikmati oleh publik. Pengukuran manfaat atas barang ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pengukuran cara pertama dengan menghitung pungutan kepada pemakai. Dengan cara ini, kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarip yang akan dibebankan kepada para pengguna yang kemudian dibandingkan dengan biaya proyek. Cara kedua adalah dengan melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi. Dari penghitungan tersebut, kurva permintaan dapat disimulasikan sehingga dapat dijadikan dasar pengukuran manfaat. Kemudian, ada cara ketiga dengan analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. Cara lain adalah dengan penghitungan manfaat yang dapat dilakukan dengan menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi keluar rumah. Sebagai alternatif, dapat dilakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai fasilitas ini dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana. Selain berbagai manfaat diatas, perlu juga dipertimbangkan manfaat dalam bentuk lain dari suatu fasilitas rekreasi. Sebagi contoh, proyek sumber daya Dasar-dasar Keuangan Publik

237
air dapat mempunyai manfaat ganda, selain untuk rekreasi juga dapat digunakan untuk konservasi sumber daya air. Contoh lain adalah sebuah bendungan dapat dinilai manfaatnya sebagai pembangkit tenaga listrik, pengendalian banjir, irigasi, selain ditujukan untuk rekreasi. Analisis pasar dapat digunakan dalam penilaian manfaat atas fasilitas rekreasi, meski pun bukan satu-satunya cara. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik sehingga penilaian dan pembobotan sosial atas fasilitas rekreasi harus lebih diutamakan, bukan penilaian seperti yang dilakukan dalam pengadaan fasilitas swasta. Dan, hal ini dapat dianggap sebagai subsidi untuk jenis jasa swasta. Tujuan non finansial tertentu, misalnya keindahan alam dan margasatwa, harus dipertimbangkan, meskipun tidak dapat diukur dengan mudah melalui pengujian pasar.

Dasar-dasar Keuangan Publik

238

B A B XXIV
KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL

T

erdapat berbagai macam bentuk tunjangan sosial yang dikelola pemerintah. Contoh yang diuraikan dalam bab ini merupakan contohcontoh tunjangan sosial utama yang umumnya terdapat di negara-negara maju. Sampai seberapa jauh mana tingkat tunjangan diberikan tergantung pada kemampuan finansial masing-masing negara.

Tunjangan kepada Penghasilan Rendah
Di Amerika Serikat, terdapat sejumlah program tunjangan yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Komponen-komponen utama program tersebut antara lain sebagai berikut: Medicaid. Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Fammilies with Dependent Children) yang sering disebut sebagai program kesejahteraan. Kriteria-kriteria tersebut antara lain adalah orang yang mempunyai pendapatan terbatas menurut kriteria SSA (Supplementary Security Income), serta semua orang yang berumur diatas 65 tahun. Bantuan diberikan dalam bentuk Medicare yaitu asuransi kesehatan yang preminya dibayar oleh pemerintah suatu negara. Program ini biasanya dirancang dan dikelola oleh negara bagian dengan berpedoman pada standar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Jaminan Penghasilan Tambahan. Tunjangan ini diberikan dalam bentuk pembayaran tunai kepada orang-orang yang penghasilannya atau aset seseorang kurang dari jumlah minimum yang ditetapkan. Program ini dikelola oleh pemerintah federal.

Dasar-dasar Keuangan Publik

239
Kupon Makanan. Rumah tangga (tidak terbatas umur) berhak memperoleh kupon makanan jika mempunyai aktiva atau berpenghasilan kotor yang kurang dari nilai yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Meskipun demikian, program ini diberikan melalui pemerintah lokal. Perumahan Murah. Program ini merupakan program pemerintah federal dimana subsidi perumahan diberikan dalam bentuk hipotik berbunga rendah bagi petani berpenghasilan rendah. Tunjangan Kesejahteraan. Program AFDC menetapkan bahwa pemerintah federal memberikan bantuan kepada setiap negara bagian – baik uang tunai maupun dalam bentuk lain – yang kemudian dipakai untuk menunjang keluarga yang mempunyai anak dibawah 18 tahun yang belum mandiri. Standar yang digunakan dapat berbeda antara satu negara bagian dengan negara bagian lain. Program kesejahteraan ini paling banyak menimbulkan perdebatan. Program ini dipandang sebagai program yang merendahkan martabat karena persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria. Tunjangan yang diberikan dinilai tidak memadai untuk standar kehidupan minimum yang layak. Selain itu, program ini dipandang tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat, karena tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat – sering disebut tarif pajak marjinal. Titik permasalahan telah berubah dari memberikan keringanan dalam ekonomi kepada kesejahteraan anak dalam keluarga yang berorang tua tunggal. Untuk mengatasi kritik ini, pola tunjangan alternatif mulai dipertimbangkan. Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. Dengan demikian alternatif ini akan menjamin tingkat minimum yang cukup sesuai ketersediaan dana sosial pemerintah. Namun demikian, kebijakan pemberian tunjangan alternatif ini dapat mengurangi jumlah bantuan yang dapat diberikan kepada golongan yang paling membutuhkan. Pola alternatif lain adalah bentuk pajak penghasilan negatif. Bantuan diberikan kepada orang-orang dengan pendapatan rendah atau yang tidak berpendapatan. Jika pendapatan kotor meningkat, maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif yang terhutang. Prinsip ini merupakan perluasan prinsip perpajakan progresif yang telah diterima umum dan berbagai cara untuk menggabungkan prinsip pajak negatif ke dalam struktur pajak positif telah dipertimbangkan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

240

Asuransi Sosial
Komponen-komponen utama dari asuransi sosial ini di Amerika Serikat meliputi sistem asuransi sosial OASI (Old Age and Survivors Insurance), HI (Health Insurance), dan DI (Disability Insurance). Asuransi Pensiun dan Cacat. Peraturan OASI menetapkan bahwa program ini mencakup semua pekerja berusia dibawah 65 tahun dan bekerja di bidang komersial serta industri - kecuali jalan kereta api dan karyawan pemerintahan yang mempunyai skema lain - berhak mendapatkan asuransi pensiun dan cacat yang preminya bersumber dari penerimaan pajak penghasilan upah dan gaji (payroll tax). Prinsipnya adalah menggabungkan kontribusi pemberi kerja dan karyawan. Asuransi Kesehatan. Setiap individu berhak atas jaminan sosial pensiun dan juga berhak atas Medicare pada usia 65 tahun. Tunjangan ini untuk memberikan perlindungan dasar terhadap biaya jasa rumah sakit, biaya rawat jalan, dan jasa perawatan kesehatan rumah. Perdebatan sekitar asuransi kesehatan ini menyangkut apakah asuransi hanya mencakup orang yang berusia lanjut atau harus diperluas kepada seluruh penduduk, dan kalau diperluas bagaimana bentuknya. Perdebatan muncul karena menyangkut pembiayaan yang sangat besar, pengaruhnya terhadap jasa medis yang diberikan, kebebasan memilih dokter, dan peranan asuransi swasta. Asuransi Pengangguran. Program ini dibiayai dari pajak upah dan gaji federal dan pajak tambahan dari negara bagian yang dibayarkan oleh pemberi kerja. Semua kontribusi dari pemerintah federal dan negara bagian dibayarkan kepada dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund.

Sistem Tunjangan Sosial Terkini.
Seiring dengan perkembangan pemikiran aspek keadilan, sistem tunjangan sosial juga mengalami perubahan. Sistem tunjangan dalam bentuk tunai dipandang oleh para ekonom dapat menimbulkan efek yang negatif bagi golongan penghasilan rendah dalam hal produktivitasnya, sehingga golongan penghasilan tinggi mempunyai preferensi memberikan kontribusinya dalam bentuk non tunuai. Salah satu perubahan yang substansial dari sistem kesejahteraan di Amerika Serikat berubah sejak diundangkannya Undang Undang Rekonsiliasi Kesempatan Kerja dan Tanggungjawab Personal tahun 1996. Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (disingkat TANF) yang pada intinya mengatur hal-hal dibawah ini. 1. Menurut aturan AFDC, setiap orang yang mempunyai pendapatan dibawah batasan tertentu dan memenuhi persyaratan tertentu diberikan bantuan manfaat tunai secara mutlak tanpa pandang bulu. TANF mengubah aturan bantuan tunai tersebut kecuali dalam hal bahwa

Dasar-dasar Keuangan Publik

241
bantuan secara tunai tersedia hanya temporer – tidak setiap saat berdasarkan ada tidaknya prgram tunjangan tunai tersebut. Secara umum, TANF mengatur bahwa individu tidak dijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. Setiap orang dewasa yang normal (tidak cacat) yang telah menerima pembayaran bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam suatu kegiatan yang ditujukan untuk membuat individu tersebut dapat menghidupi dirinya sendiri. Setiap negara bagian diberikan grant dari pemerintah federal untuk mendanai program kesejahteraan dimana jumlahnya adalah tetap, kemudian negara bagian tersebut melaksanakan prgram kesejahteraannya sepanjang tepat sasaran dalam batasan grant tersebut. Dengan demikian, struktur pemberian bantuan kesejahteraan negara bagian dikendalikan oleh pemerintah federal. Suatu negara bagian dapat menggunakan grant tersebut untuk membayar bantuan secara tunai, melaksanakan program pelatihan kerja, melaksanakan program pembatasan kehamilan, atau program lainnya yang sejenis.

2. 3.

4.

Dasar-dasar Keuangan Publik

Maroko. keuangan federal (federal finance). Pertama. Dan sebagaimana dikemukakan oleh Norregaard (1995).242 B A B XXV KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH D alam konteks desentralisasi fiskal. Jepang Amerika Serikat. akan selalu memunculkan pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship). India. Kanada Negara Berkembang Indonesia. terdapat perbedaan-perbedaan dalam interval luas dalam struktur kelembagaan dan hubungan keuangan pusat dan daerah. Tabel 25-1: Susunan Rak Desentralisasi Fiskal Kelompok Negara Federalisme Fiskal Keuangan Federal Negara Maju Perancis. Tunisia Pakistan. pemerintahan negara bagian (state) bukan merupakan pelaku otonom. baik itu negara federal maupun negara kesatuan (unitary). federalisme fiskal (fiscal federalism). Brasil. terdapat dua model hubungan fiskal antar pemerintahan yang berlaku saat ini (lihat Tabel 25-1). Kedua. Argentina. Perancis dan Inggris mencerminkan pola ini Dasar-dasar Keuangan Publik . apapun bentuk pemerintahan suatu negara. Bosnia Herzegovina Sumber: Bird dan Vaillancourt (1998) Menurut Bird dan Vaillancourt (1998). Afrika Selatan Negara Transisi Cina. Atau. Kolumbia. baik dalam negaranegara yang pada dasarnya berbentuk federal maupun negara yang berbentuk kesatuan. Konsep federalisme fiskal maksudnya adalah Pemerintahan Daerah Tingkat II (Kabupaten/Kota) merupakan kepanjangan tangan dari Pusat. di beberapa negara yang berbentuk federal. Vietnam Rusia.

Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat di Daerah. kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah bersifat “top down” dan berpola dekonsentrasi2 atau maksimalnya berpola delegasi3. batas-batas resmi.243 untuk kelompok negara-negara maju (Bennet. penyerahan fungsi. principal (Pemerintah Pusat) dapat secara sepihak menentukan dan mengubah baik tanggung jawab pengeluaran maupun pendapatan Pemerintah Daerah dan pengaturan hubungan keuangan antar pemerintahan dalam upaya mengatasi permasalahan-permasalahan informasi yang tidak simetri. fungsi. 1990). Contoh yang paling aktual adalah Amerika Serikat dan Kanada. model keuangan federal (federal finance) lebih cocok diterapkan untuk beberapa negara. Berbeda dengan model federalisme fiskal. serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan melalui sebuah undang-undang. 1994b serta Bird dan Chen. walaupun wewenang terakhir tetap pada pihak pemberi wewenang (sovereign-authority). Secara teoritis. wewenang.5 Di mana. serta perbedaan-perbedaan tujuan antara principal dan agent (Pemerintah Daerah). counties merupakan agen utama pemerintahan regional dari pemerintahan propinsi dan memiliki memiliki kewenangan (authority) independensi yang signifikan. Namun. atau townships (Kota). Pendelegasian wewenang ini biasanya diatur dengan ketentuan perundang-undangan. 1 Indonesia di sini maksudnya adalah sebelum keluarnya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. negara yang berbentuk federal. model hubungan fiskal yang terjadi adalah hubungan fiskal antara Pemerintah Federal (Pusat) dengan Pemerintah Negara Bagian/Propinsi (state) dan hubungan fiskal antara Pemerintah Negara Bagian/Propinsi (state) dengan Pemerintah Lokal (Kabupaten/Kota). di Amerika Serikat. Maroko dan Tunisia adalah untuk negara berkembang. biasanya akan dibelanjakan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan pedoman dan sektor-sektor yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. 1996). yaitu Lousiana). Menurut teori ini. 1996a). Dalam model keuangan federal. konsentrasi kekuasaan di pusat demikian tinggi. Di Amerika Serikat. Pihak yang menerima wewenang mempunyai keleluasaan (discretion) dalam penyelenggaraan pendelegasian tersebut. state dibagi ke dalam counties (wilayah kabupaten). terutama negara-negara yang memiliki keanekaragam dalam aspek geografis dan etnis (Bird. Dalam model federalisme fiskal. parishes (suatu wilayah pemerintahan gereja. pada umumnya menganut model keuangan federal. Di Amerika Serikat (yang berbentuk negara federal). serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. 2 3 4 5 Dasar-dasar Keuangan Publik . Implikasi dari hubungan fiskal model federalisme fiskal ini adalah berbagai bentuk transfer dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (Dati I dan Dati II) dalam rangka untuk menggalakkan otonomi regional dan untuk memperbaiki infrastruktur lokal. masing-masing pemerintahan memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. sementara Indonesia1. Dalam perspektif ini. dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory4. serta Cina dan Vietnam adalah contoh negara transisi (Bank Dunia. Delegasi adalah pelimpahan wewenang untuk tugas tertentu kepada organisasi yang berada di luar struktur birokrasi reguler yang dikontrol secara tidak langsung oleh Pemerintah Pusat.

1989). dibandingkan dengan Amerika Serikat. Disain fiskal antar pemerintahan juga memiliki implikasi penting atas] keadilan dan stabilitas makro ekonomi. Ini terbukti. maka dalam suatu sistem fiskal yang terdesentralisasi. Keputusan mengenai pengeluaran publik yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Bahkan. Pada negara yang berbentuk kesatuan (unitary). beberapa dewan sekolah (school board) di Amerika Serikat memiliki kekuasaan untuk mengenakan pajak (Davey. yaitu: (1) Efisiensi Alokasi Sumber Daya (Efficient Allocation of Resources) Desentralisasi akan meningkatkan efisiensi karena Pemerintah Daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan Pemerintah Pusat. Menurut Bank Dunia (1995b) negara-negara seperti Pakistan. Pemerintah Daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. dan Afrika Selatan adalah negara-negara berbentuk federal. model keuangan federal juga berlaku. Namun demikian. terdapat keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal. Menurut para ahli ekonomi. keadilan (equity). setiap individu dapat memilih untuk tinggal di sebuah komunitas atau masyarakat yang sesuai dengan preferensi mereka dalam rangka untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial. derajat desentralisasi fiskal di Indonesia lebih tinggi. Oleh karenanya.244 Bahkan. namun prakteknya sejauh ini masih sentralisasi fiskal dan federalisme fiskal. Argumentasi ekonomi tentang efisiensi berasal dari fakta bahwa Pemerintah Daerah dapat memenuhi berbagai kepentingan dan pendapat dari para penduduk dan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya (resources) secara lebih efisien dibandingkan Pemerintah Pusat. Argentina. 1983). tetapi pada prakteknya tidak selalu demikian. dan efisiensi (Musgrave dan Musgrave. Meski secara teoritis negara yang berbentuk federal akan menerapkan model keuangan federal. Sesungguhnya. Karena preferensi setiap individu terhadap barang publik berbeda. sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Dimensi Ekonomi dari Desentralisasi Fiskal Dimensi yang ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. aspek efisiensi tidaklah satu-satunya dimensi ekonomi untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. sesuai dengan argumen ini. Efisiensi Teori desentralisasi didasarkan pada asumsi bahwa Pemerintah Pusat hanya dapatmenyediakan barang dan jasa secara lintas wilayah secara konsisten. aspek efisiensi merupakan raison d'etre untuk desentralisasi fiskal. Indonesia secara tidak langsung telah menerapkan model keuangan federal. sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 25/1999.

Jerman. Masyarakat akan memilih untuk tinggal di lingkungan yang anggaran daerahnya memenuhi preferensi yang paling tinggi antara pelayanan publik dari Pemerintah Daerahnya dengan pajak yang dibayar oleh masyarakat. (2) Persaingan Antar Pemerintah Daerah (Competition Among Local Governments) Persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. maka tingkat pelayanan akan menurun. Atau. jika lebih banyak penerimaan daripada pengeluaran yang didesentralisasikan. 1997). Stabilitas Makro Ekonomi Penilitian empiris tentang desentralisasi dan pengelolaan makro ekonomi (macroeconomic governance) memberikan sedikit dukungan bahwa desentralisasi inheren dengan destabilisasi. maka mobilisasi dana Daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi dapat kembali muncul (Yu. yaitu meninggalkan wilayah tersebut atau tetap tinggal di wilayah tersebut dengan berusaha mengubah kebijakan pemerintah lokal melalui DPRD-nya (Hyman. atau pinjaman yang lebih besar. 1996). Austria. Pengalaman internasional memperlihatkan bahwa jika suatu negara mendesentralisasikan tanggung jawab pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan sumber-sumber yang tersedia. Tiebout menekankan bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyakarat lokal dengan Pemerintah Daerahnya. negara-negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi seperti Swiss. atau kedua-duanya. Suatu analogi argumen untuk menjelaskan hal ini dikemukakan oleh Tiebot (1956) yang kemudian dikenal sebagai "The Tiebout Model". Hipotesis tersebut memberikan petunjuk bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. dan Amerika Serikat memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah (Shah. Salah satu contoh terjelas adalah kasus-kasus di negara Federasi Rusia (Wallich. Ketika masyarakat tidak senang pada kebijakan pemerintah lokal dalam pembebanan pajak untuk pembiayaan barang publik bersifat lokal. Namun demikian. Sebaliknya.245 dibuat oleh Pemerintah daerah akan lebih responsif terhadap keinginan konstituennya dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh Pemerintah Pusat. Fakyanya. Dasar-dasar Keuangan Publik . 2002). khusus bagi negara-negara berkembang. 1994). Daerah akan menekan Pusat untuk mendapatkan tambahan kucuran dana yang lebih besar. Studi terkini mengenai hubungan antara desentralisasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi menemukan bahwa “sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkansistem fiskal yang tersentralisasi”. maka hanya ada dua pilihan bagi warga masyarakat. stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis dapat terwujud dengan diterapkannya desentralisasi fiskal.

246 Keadilan (Equity) Apek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. Untuk itu. ia akan menciptakan suatu insentif yang kuat bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan akan mendorong penduduk berpenghasilan tinggi untuk pindah kemana saja. Terdapat dua faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal: (1) basis pajak (taxes bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan daerah yang lain dan (2) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. redistribusi biasanya berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam konteks desentralisasi. isu redistribusi memiliki dua dimensi: keadilan horisontal (horizontal equity) dan keadilan lokal (within-locality equity). Pemerintah Daerah memerlukan dukungan dari Pemerintah Pusat. Untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ini. proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis. maka perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya (resources) yang lebih besar kepada Daerah yang lebih miskin. Sidik (2002) menyebutkan bahwa keberhasilan pelaksanaan desentralisasi akan sangat tergantung pada desain. Keadilan horizontal merujuk pada tingkat kapasitas Pemerintah Daerah (subnational governments) dalam memenuhi pelayanan publik. penyediaan resources yang lebih banyak kepada daerah miskin hanyalah satu aspek dari problem keadilan. Sementara itu. terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro. Namun demikian. Kedua. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil Pemerintah Daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi. yaitu pengambilan keputusan tentang manfaat dan biayanya harus transparan dan pihak-pihak yang terkait harus memiliki kesempatan untuk mempengaruhi keptusan-keputusan tersebut. itu berarti pajak bagi penduduk kaya dan subsidi bagi penduduk miskin. Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal Bird dan Vaillancourt (1998) mengisyaratkan ada dua prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi. Jika Pemerintah Daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif. Dengan kata lain. Pemerintah Daerah tidak dapat mengambil kebijakan redistribusi secara efektif. adalah alat yang biasa digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. Sebab. Bantuan pemerataan (equalization grant). Dalam merancang kebijakan redistribusi. biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat. Dalam definisi klasik. Pertama. seharusnya tidak perlu terjadi “ekspor pajak” dan tidak ada tambahan transfer dari level pemerintahan yang lain. dengan program redistribusi pendapatan. proses implementasi. Kesuksesan dalam kebijakan redistribusi juga memerlukan perhatian yang khusus terhadap keadilan dalam wilayah lokal setempat (within-locality equity).

Di samping itu. perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik.247 dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan. baik yang berasal dari local revenue. maupun transfer dari pemerintah pusat. Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya Pemerintah Pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi Daerah. pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. Sidik (2002) juga berpendapat untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi. maupun masyarakat secara keseluruhan. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi. kesiapan administrasi pemerintahan. maka Pemerintah Daerah harus didukung sumbersumber keuangan yang memadai. pinjaman. Dasar-dasar Keuangan Publik .

248

B A B XXVI
TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTEK
Pendahuluan
alam konteks desentralisasi fiskal, transfer dana dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Desentralisasi memang merupakan pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah. Sejalan dengan desentralisasi tersebut, aspek pembiayaannya juga ikut terdesentralisasi. Implikasinya, Daerah dituntut untuk dapat membiayai sendiri biaya pembangunannya.

D

Namun, ternyata banyak daerah di berbagai negara ini local government revenue) tidak cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran Daerah (lihat Tabel 26.1). Dari Tabel 26.1. terlihat bahwa, tidak ada satupun Pemerintah Daerah di berbagai negara yang disurvei memiliki pendapatan yang dapat membiayai seluruh pengeluarannya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

249
Tabel 26.1: Prosentase Pendapatan atas Pengeluaran Daerah Negara Kesatuan Albania Azerbaijan Belarusia Bulgaria Kroasia Republik Cekoslowakia Denmark Estonia Irlandia Kazakhstan Latvia Lithuania Mauritius Moldova Mongolia Norwegia Polandia Republik Slovakia Slovenia Inggris Negara Federal* Australia Austria Bolivia México Switzerland United States 1995 5.64% 73.97% 73.18% 57.27% 98.11% 72.26% 57.10% 65.95% 87.26% N/A 75.53% 73.82% 39.51% 72.74% 58.46% 60.96% 71.52% N/A 77.31% 27.47% 1996 6.85% 68.65% 70.63% 66.19% 93.62% 60.28% 57.50% 66.97% 84.64% N/A 77.93% 72.22% 39.91% 60.50% 56.92% 62.10% 66.49% 89.65% 82.83% 27.31% 199 7 3.69% 66.78% 77.73% 65.35% 93.83% 72.74% 58.55% 73.10% 84.29% 78.76% 73.82% 71.71% 40.68% 58.66% 60.10% 61.30% 66.21% 79.75% 81.88% 27.91% 1998 4.05% 58.30% 81.69% 61.08% 89.18% 75.80% 59.25% 72.04% 85.31% 71.68% 72.08% 80.65% 42.52% 62.49% 57.32% 59.71% 64.83% 73.69% 80.60% 29.33%

85.73% 82.74% 85.64% 97.37% 81.35% 62.43%

83.28% 85.31% 85.93% 97.72% 81.91% 63.51%

81.92% 87.28% 85.85% 99.98% 81.96% 64.32%

81.80% 83.89% 85.76% N/A 82.02% 64.51%

* Pemerintah Daerah di negara-negara federal adalah kelompok Pemerintah Daerah yang terendah tingkat pendapatannya. Catatan: Pendapatan Pemerintah Daerah tidak termasuk transfer antar pemerintahan (intergovernmental transfers) Sumber: International Monetary Fund. 1998. Government Finance Statistics Year Book 1998, Country Tables. Implikasi dari kondisi tersebut, transfer dana dari Pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang amat dominan bagi Pemerintah Daerah di banyak negara, terutama negara berkembang. Tidak terkecuali Indonesia. Sumber ini membiayai sekitar 85% dari pengeluaran pemerintah daerah di Afrika Selata, antara 67% sampai 95% pengeluaran negara bagian di Nigeria, 70% sampai 90% pengeluaran negara bagian yang miskin di Meksiko, 72% pengeluaran popinsi dan 86% pengeluaran Kabupaten/Kota pada dekade 1990-an di Indonesia (Simanjuntak, 2002).

Dasar-dasar Keuangan Publik

250

Tujuan Transfer
Pada dasarnya, transfer Pusat ke Daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants). Adapun tujuan dari transfer ini bermacam-macam yaitu pemerataan vertikal (vertical equalization), pemerataan horisontal (horizontal equalization), mengatasi persoalan efek pelayanan publik (correcting spatial externalities), mengarahkan prioritas (redirecting priorities), melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (experimenting with new ideas), stabilisasi, dan kewajiban untuk menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah. Vertical Equalization Transfer Di banyak negara, Pemerintah Pusat menguasai sebagian besar sumber-sumber penerimaan (pajak) utama negara yang bersangkutan. Sementara itu, Pemerintah Daerah hanya menguasai sebagian kecil sumber-sumber penerimaan negara, atau hanya berwenang untuk memungut pajak-pajak yang basis pajaknya bersifat lokal dan mobilitas yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaannya relatif kurang signifikan. Kondisi ini akhirnya menimbulkan ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pada era tahun 1960-an, Pemerintah Federal Amerika Serikat sangat memonopoli sumber-sumber penerimaan. Kondisi ini akhirnya bisa menimbulkan ketimpangan antara Pemerintah Federal, Pemerintah Negara Bagian (State), dan Pemerintahan Lokal. Kemudian, pada pertengahan era 1960-an hingga pertengahan 1980-an lahirlah kebijakan bagi hasil penerimaan umum (General Revenue Sharing/GRS). GRS untuk tingkat negara bagian diberlakukan secara tuntas pada tahun 1982 dan untuk tingkat lokal diberlakukan pada secara tuntas pada tahun 1986. Dengan demikian, tujuan dari vertical equalization transfer ini adalah untuk mengkoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

251

KOTAK 26.1: PRAKTEK VERTICAL EQUALIZATION DI INDONESIA Penerapan vertical equalization di Indonesia berlaku sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Latar belakang diberlakukannya formula vertical equalization ini didasari oleh suatu kondisi selama Orde Baru, dimana Pemerintah Pusat begitu dominan dalam menguasai sumber-sumber penerimaan negara yang berujung pada timbulnya ketimpangan fiskal secara vertikal antara Pemerintah Pusat dengan Daerah. Daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam, seperti Aceh dan Irian Jaya, terpaksa harus menjadi daerah miskin karena hasil dari sumber-sumber kekayaan alam mereka diangkut ke Pusat. Kondisi ini kemudian berubah dengan keluarnya Undang-undang Nomor 25/1999. Menurut Undang-undang No. 25/1999 ini, daerah penghasil penerimaan (baik itu pajak maupun sumber daya alam) mendapat porsi yang besar dalam bagi hasil penerimaan umum (general revenue sharing) yang lebih besar dibandingkan sebelum diberlakukannya Undang-undang No. 25/1999 (lihat Tabel 2.2. Dengan bagi hasil yang lebih besar ini, taxing power yang diterima Daerah menjadi lebih besar dan ketimpangan vertikal dapat dikurangi

.

Tabel 26.2. Proporsi Bagi Hasil Beberapa Penerimaan Negara Sebelum dan Sesudah UU No. 25/1999 (dalam %)
No Jenis Penerimaan Sebelum UU No. 25/1999 Pusat Dati I Dati II Pusat Sesudah UU No. 25/1999 Propinsi Kab /Kota 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. PBB BPHTB IHH PSDH/IHPH Land Rent/Iuran Tetap Royalty Pertambangan Umum Perikanan Minyak Gas Alam Dana Reboisasi PPh 10 20 55 55 20 20 100 100 100 100 100 16,2 16 30 30 16 16 64,8 64 15 15 64 64 20 20 20 20 20 85 70 60 80 16,2 16 16 16 16 16 3 6 8 64,8(+) 64(+) 64 32 64 32 6 12 40 12 Pemertaan Kab/Kota Lainnya + + 32 32 80 6 12 -

Sumber : Sidik 2002, berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999

Horizontal Equalization Transfer Keseimbangan antara kebutuhan pendapatan (revenue needs) dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan juga memiliki dimensi horisontal. Artinya, dengan tarif pajak yang sama seharusnya juga menghasilkan penerimaan yang sama di antara daerah. Pengalaman empirik di berbagai negara menunjukkan ternyata kemampuan Daerah untuk menghasilkan pendapatan sangat bervariasi, tergantung kondisi daerah bersangkutan yang memiliki kekayaan sumber daya alam atau tidak, ataupun daerah dengan intensitas kegiatan ekonomi yang tinggi atau rendah. Kondisi ini berimplikasi kepada besarnya basis pajak atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) di daerah-daerah bersangkutan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

252
Di sisi lain, daerah-daerah juga memiliki kebutuhan belanja yang sangat bervariasi. Terdapat daerah-daerah dengan penduduk miskin, penduduk lanjut usia, dan anak-anak serta remaja yang tinggi proporsinya. Ada pula daerah-daerah yang berbentuk kepulauan luas, dimana sarana-prasarana transportasi dan infrastruktur lainnya masih belum memadai. Sementara di lain pihak, ada daerahdaerah dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, namun memiliki sarana dan prasasarana yang telah lengkap. Ini mencerminkan tinggi rendahnya kebutuhan fiskal (fiscal need) dari daerah-daerah yang bersangkutan. Membandingkan kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal tersebut di atas, maka dapat dihitung kesenjangan atau celah fiskal (fiscal gap) dari masing-masing daerah yang seyogyanya ditutup oleh transfer dari Pemerintah Pusat. Dengan kata lain tujuan dari horizontal equalization transfer adalah untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh setiap daerah.

Dasar-dasar Keuangan Publik

253

KOTAK 26.2: PRAKTEK HORIZONTAL EQUALIZATION DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalizataion di Indonesia. Secara faktual, peran DAU dapat dijadikan counter atas pembagian dana bagian daerah yang didasarkan atas dasar penghasil daerah (by origin atau vertical equalization) yang cenderung menimbulkan ketimpangan antardaerah, karena daerah yang mempunyai potensi pajak dan SDA yang terbatas pada daerah-daerah tertentu. Sebagai horizontal equalization, DAU dirancang dengan sebuah formula yang digunakan untuk menghitung potensi penerimaan daerah atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) dan kebutuhan fiskal daerah (fiscal needs). Sehingga, melalui suatu formula ini, maka dapat dihitung celah fiskal (fiscal gap) yang akan ditutup dengan transfer DAU dari Pusat. Rumus Umum DAU 2001 adalah sebagai berikut: 1. DAU akan dialokasikan kepada Daerah dengan menggunakan bobot daerah. Bobot daerah harus dirumuskan dengan menggunakan suatu formula yang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan dan potensi potensi penerimaan. Besarnya DAU setelah formula paling tidak sama dengan besarnya bantuan Subsidi Daerah Otonom (SDO) dan Inpres tahun 2000. Oleh karenanya, dalam alokasi DAU 2001 terdapat faktor penyeimbang dan faktor lumsum. Faktor Penyeimbang adalah suatu mekanisme untuk mencegah penurunan kapasitas Pemerintah Daerah dalam membiayai kewajiban-kewajiban mereka. Faktor penyeimbang juga diarahkan untuk mengatasi permasalahan pendanaan akibat terjadinya transfer pegawai dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah yang tentunya membawa konsekuensi pada gaji dan biaya-biaya terkait lainnya. Faktor lumpsum intinya adalah suatu mekanisme untuk membagi habis total DAU yang sudah dianggarkan dalam APBN 925% dari penerimaan bersih domestik). Dalam prakteknya, terjadi selisih hitung antara total DAU yang dianggarkan dengan total faktor penyeimbang dan faktor formula. 3. Faktor formula. Formula DAU terdiri dari dua, yaitu potensi penerimaan dan kebutuhan fiskal. Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan potensi penerimaan adalah (a) PDRB sektor sumber daya alam (primer); (b) PDRB sektor industri dan jasa lainnya (non-primer); dan besarnya angkatan kreja (SDM). Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan kebutuhan daerah adalah (a) jumlah penduduk; (b) luas wilayah; (3) indeks harga bangunan; dan (4) jumlah penduduk miskin. 4. Penentuan Bobot dan Alokasi Daerah.

2.

Sumber: Brodjonegoro dan Pakpahan (2002)

Dasar-dasar Keuangan Publik

karena biayanya terlalu mahal. Dengan adanya subsidi ini. Sehingga. Pemerintah Pusat perlu memberikan semacam insentif ataupun menyerahkan sumber-sumber keuangan agar pelayananpelayanan publik demikian dapat dipenuhi oleh daerah. Misalnya. tidak bisa dibatasi manfaatnya hanya untuk masyarakat tertentu saja. pendidikan tinggi (universitas). jalan raya penghubung antar-daerah. dan rumah sakit daerah. tanpa adanya “imbalan” (dalam bentuk pendapatan) yang berarti dari proyek-proyek serupa di atas. yaitu sebesar perbedaan antara PB dan P1. total permintaan atas barang publik tersebut adalah DT dengan harga (biaya) sebesar P1. Namun. yang bagi Daerah bersangkutan akan sangat sulit untuk dapat mengadakannya. yaitu sebesar DA dan harganya (biayanya) pun relatif murah (PA) sehingga Daerah setempat dipastikan dapat mengadakannya. jika permintaan dari penduduk (resident demands) setempat yang diperhitungkan. maka Pemerintah Pusat memberikan transfer (subsidi). Oleh karena itu. untuk permintaan atas barang publik tertentu (misalnya. perguruan tinggi). yaitu sebesar DB dengan harga (biaya) sebesar PB. maka jumlah permintaannya akan sangat rendah. sistem pengendali polusi (udara dan air). Gambar 26-1: Koreksi “Spillovers” Melalui Transfer P MC P1 PB PA DA QB QT DB Q DT Berdasarkan Gambar 26-1. peminatnya juga berasal dari luar daerah (nonresident demands). maka Daerah Dasar-dasar Keuangan Publik . biasanya Pemerintah Daerah enggan untuk berinvestasi di sini. Namun. Agar penyediaan barang publik tersebut tetap dilakukan oleh Daerah bersangkutan. pemadam kebakaran.254 Correcting Spatial Externalities Beberapa jenis pelayanan publik di satu wilayah memiliki “efek menyebar” (atau eksternalities) ke wilayah-wilayah lainnya.

Namun kecermatan dalam mengkalkulasi amat diperlukan agar tindakan menaikkan/menurunkan dana transfer itu berakibat merusak atau bertentangan dengan tujuan stabilisasi. Transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants) adalah merupakan instrumen yang cocok untuk tujuan ini. Pemerintah Pusat berkeinginan mengedepankan pembangunan di sektor pendidikan secara murah dan terjangkau. Agar keinginan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat berjalan secara paralel. karena biayanya berada dalam jangkauan anggaran Daerah. sesungguhnya bantuan untuk tujuan uji coba program baru ini tidak lebih dari sebuah kompensasi atas kesediaan Daerah menjadi ajang uji coba suatu program baru dari Pusat. keinginan tersebut ternyata tidak sinkron dengan pola kebijakan Daerah. Redirecting Priorities Setiap level pemerintahan memiliki prioritas masing-masing di dalam penyediaan pelayanan publik kepada masyarakatnya.255 bersangkutan dapat menyediakan barang publik tersebut. Memenuhi Standar Pelayanan Minimum Daerah-daerah dengan sumber daya yang sedikit memerlukan subsidi agar dapat mencapai standar pelayanan minimum. seyogyanya Pemerintah Pusat memberikan transfer atau insentif kepada Daerah. Namun ternyata. Ini terkait dengan pemenuhan harapan para konstituen pemilih ketika pemilihan umum berlangsung. maka penerapan standar pelayanan minimum Dasar-dasar Keuangan Publik . bisa saja dana transfer ke daerah dikurangi manakala perekonomian sedang booming. Transfer Pemerintah Pusat kepada Daerah semacam ini akan membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh masing-masing level pemerintahan. akhirnya bertentangan dengan prioritas yang sedang dibangun oleh level pemerintahan lainya. Di saat lain. Stabilisasi Transfer dana dapat ditingkatkann oleh Pemerintah ketika aktivitas perekonomian sedang lesu. karena Daerah yang menjadi tempat uji coba tidak mau menanggung kerugian dan risiko manakala terjadi dampak negatif terhadap program baru tersebut. Experimenting with New Ideas Bantuan (grants) seperti ini berawal dari adanya keinginan Pemerintah Pusat untuk mengujicobakan suatu program baru di suatu Daerah sebelum program tersebut diberlakukan terhadap seluruh Daerah. Jika dikaitkan dengan postulat Musgrave (1983) yang menyatakan bahwa peran redistributif dari sektor publik akan dijalankan oleh Pemeirntah Pusat. Dengan demikian. Alasan perlunya bantuan dari Pusat kepada Daerah sehubungan dengan uji coba program baru tersebut. Dan seringkali prioritas yang dikembangkan oleh setiap level pemerintahan tersebut. Misalnya. Pemerintah Daerah ternyata menginginkan pembangunan di sektor kesehatan lebih mendapat prioritas karena pertimbangan kondisi masyarakat setempat.

3. Pemerintah daerah semestinya memiliki pendapatan (termasuk transfer) yang cukup untuk menjalankan segala kewajiban atau fungsi yang diembannya. Penerimaan yang memadai (revenue adequacy). Insentif. Formula tersebut seyogyanya dipakai untuk jangka menengah (misalnya 3-5 tahun). 1. Prinsip ini merupakan dasar desentralisasi fiskal di dunia. 5. Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Dari berbagai tujuan yang hendak dicapai dalam rangka transfer antar tingkat pemerintahan. Formula transfer mesti diumumkan sehingga dapat diakses masyarakat. berkebalikan dengan besarnya kapasitas fiskal daerah yang bersangkutan. baik sebaliknya menangkal praktik-praktik yang tidak efisien. Dengan demikian. Berikut adalah beberapa kriteria umum yang biasa digunakan di banyak negara di dunia. agar perencanaan jangka menengah dan panjang dapat dilakukan oleh Daerah. Hal yang lebih penting lagi adalah bahwa setiap daerah dapat memperkirakan berapa penerimaan totalnya (termasuk transfer). tidak Dasar-dasar Keuangan Publik . dapat kiranya sebagai acuan untuk mendesain sistem atau model transfer bagaimana yang akan diterapkan. bagi hasil (revenue sharing) berdasarkan formula. 6. Di samping itu juga formula yang dipakai seyogyanya relatif mudah untuk dipahami. Alokasi dana kepada Pemeirntah Daerah semestinya didasarkan pada faktor-faktor obyektif dimana unit-unit individual tidak memiliki kontrol atau dapat mempengaruhinya. Sederhana (simplicity). Keadilan (equity).256 di setiap daerah pun akan lebih bisa dijamin pelaksanaannya oleh Pemerintah Pusat. sebaliknya. Prinsip ini menekankan agar Pemerintah Daerah memiliki independensi dan fleksibilitas dalam menentukan prioritas-prioritas mereka. ataupun transfer yang bersifat umum (block grant) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang konsisten dengan tujuan tersebut. Pajakpajak dimana Daerah bisa ikut memungut di atas tingkat yang ditetapkan Pusat (piggyback). 4. Desain dari transfer ini harus sedemikian sehingga memberikan semacam insentif bagi daerah dengan manajemen fiskal yang baik. Transparan dan stabil. Besarnya dana transfer dari Pusat ke daerah seyogyanya berhubungan positif dengan kebutuhan fiskal daerah dan. 2. sehingga memudahkan penyusunan anggaran. Tidak boleh ada pembatasan yang sedemikian ketat sehingga sebagian besar keputusan di Daerah harus mengikuti atau mengacu kepada ketentuan Pusat. apakah negara tersebut berbentuk federal maupun negara kesatuan. Otonomi.

amat tergantung kepada kondisi atau keadaan di masing-masing negara. block grant dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. formula apa yang tepat untuk menjamin meratanya kemampuan fiskal (fiscal capacity) Daerah dalam menjalankan pelayanan publik minimum. Transfer tanpa syarat biasanya dibagikan berdasarkan suatu formula tertentu.257 perlu ada transfer khusus/spesifik untuk membiayai defisit anggaran Pemerintah Daerah. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan demikian. Namun. Jenis-Jenis Transfer Pengalaman empiris dari berbagai negara menunjukkan bahwa pemberian transfer oleh Pemerintah Pusat kepada Daerah dapat disertai dengan syarat-syarat tertentu atau tidak bersyarat sama sekali. spesific purpose grant). yaitu (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. sehingga setiap Daerah dapat melaksanakan urusan rumah tangganya sendiri pada tingkat yang layak. atau ada semacam kontrol terhadap belanja daerah. pada dasarnya jenisjenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar. Transfer Tanpa Syarat Pada umumnya transfer jenis ini ditujukan untuk menjamin adanya pemerataan dalam kemampuan fiskal antar daerah. categorial grant. Tujuan dari transfer ini adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal (horizontal equalization). Ciri utama dari transfer ini adalah Daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkan dana transfer ini sesuai dengan pertimbanganpertimbangannya sendiri atau sesuai dengan aturan apa yang menjadi prioritas daerahnya. general purpose grant.

6. yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 25/1999 ketentuan mengenai aturan alokasi DAU adalah sebagai berikut: 1. 5. DAU adalah dana yang berasal dari APBN. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). DAU untuk suatu Daerah Kabupaten/Kota tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh Daerah Kabupaten/Kota yang ditetapkan dalam APBN dengan porsi Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. 2. DAU untuk Daerah Propinsi dan untuk Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan masing-masing 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh persen) dari total DAU nasional. • potensi ekonomi Daerah. Penghitungan DAU berdasarkan rumus di atas dilakukan oleh Sekretariat Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN.3: PRAKTEK TRANSFER TANPA SYARAT DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan bentuk yang masuk dalam kategori transfer tanpa syarat (unconditional grant) untuk kasus di Indonesia. Menurut UU No. Porsi Daerah Kabupaten/Kota merupakan proporsi bobot Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua Daerah Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. 4. 3. DAU untuk suatu Daerah Propinsi tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh Daerah Propinsi yang ditetapkan dalam APBN. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi 6 Garis anggaran (budget line) adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang membutuhkan biaya (anggaran) yang sama besar. dengan porsi Daerah Propinsi yang bersangkutan. Porsi Daerah Propinsi merupakan proporsi bobot Daerah Propinsi yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua Daerah Propinsi di seluruh Indonesia.258 KOTAK 26. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Bobot Daerah ditetapkan berdasarkan: • kebutuhan wilayah otonomi Daerah. persentase Dana Alokasi Umum untuk Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota disesuaikan dengan perubahan tersebut. 8. Dasar-dasar Keuangan Publik . 9. Dalam hal terjadi perubahan kewenangan di antara Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. Penjelasan efek dari unconditional grant terhadap pembiayaan daerah. dapat dilihat pada Gambar 26-2. Garis AB adalah garis anggaran6 Daerah setempat (community budget line). 7.

Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan bentuk transfer lainnya. yaitu menjadi OK (untuk assested public goods) dan menjadi OH (untuk other public goods). Karena tidak ada batasan pada cara pembelanjaan fasilitas publik manapun. Sehingga. Dasar-dasar Keuangan Publik . dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. dengan unconditional grants memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang lebih baik bagi Daerah yang muncul dari kemungkinan untuk memilih yang lebih besar. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Namun. Ini mengingat. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Pada kondisi sebelum ada transfer. Gambar 2-2: Efek Unconditional Grant Terhadap Pembiayaan Daerah Other Public Goods i2 F i1 A H E E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods 7 Kurva indiferensi (indifference curve) adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi seorang konsumen. tingkat kepuasan masyarakat pun menjadi lebih besar. maka yang bertambah akibat adanya transfer adalah jumlah anggaran. Dengan demikian. Kurva i1i1. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve)7. jumlah barang yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. i2i2.259 barang yang tersedia. hal ini bisa juga menjadi suatu kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan maksud pemberian grants tersebut. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. bagi pemberi. Hal ini digambarkan dengan adanya pergeseran (shifting) budget line yang sejajar dari AB menjadi FG.

sebuah proyek pembangunan universitas membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. Jadi. Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). i2i2. Daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Hanya saja. Penjelasan efek dari open-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 26-3. Pemerintah Pusat dan Daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. Pemerintah Pusat dan Daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. Maka. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. Transfer dari Pemerintah Pusat dalam hal ini berfungsi untuk membantu mengatasi kekurangan dana tersebut. sedangkan barang A dibiarkan tetap. yaitu: Transfer pengimbang (matching grants). Untuk tujuan ini. Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh Pusat kepada Daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. Transfer ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. Kurva i1i1. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. yaitu misalnya Pusat 90% dan Daerah 10%. yaitu hanya menggeser kuantitas Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh Pusat. Misalnya. dana Daerah belum cukup untuk menjamin penyelenggaraan urusan tersebut dengan baik. kekurangan tersebut. Pada kondisi sebelum ada transfer.260 Transfer Dengan Syarat (Conditional Transfer) Transfer ini biasanya digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh Pemerintah Pusat namun kurang dianggap penting oleh Daerah. Transfer pengimbang ini juga dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis: 1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open-ended matching grants). Contohnya adalah proyek-proyek yang menimbulkan efek eksternalitas positif bagi daerahdaerah lain ataupun proyek-proyek dari Pemerintah Pusat yang sifatnya ujicoba atas suatu program atau ide baru (experimenting with new ideas). di sini Pemerintah Daerah telah mengalokasikan sejumlah dana dari pendapatan daerahnya untuk penyelenggaraan urusan tersebut. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Sementara itu. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Dengan demikian. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Transfer ini diperuntukkan apabila transfer tersebut dapat dan memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana yang terjadi. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Sama dengan kasus sebelumnya.

Hal ini sangat disukai oleh pemberi bantuan (Pemerintah Pusat). sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. Maka. yaitu dari OD menjadi OP. 2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants). jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. sebuah proyek pembangunan universitas awalnya membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. sementara Daerah yang miskin akan tetap miskin karena mereka tidak dapat membuat proyek kaya. daerah yang kaya akan mampu membuat proyek yang kaya pula dan menjadi semakin kaya. Daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. namun untuk barang A tetap. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh Pusat. dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Namun. Karena Pemerintah Pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. Akibatnya. Sehingga. dalam perjalanannya. kekurangan tersebut. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. sementara barang A tetap. estimasi biaya ternyata membengkak menjadi Rp110 miliar atau mengalami kekurangan Rp10 miliar lagi. Dengan demikian. Pada transfer ini terdapat batasan jumlah dana maksimum yang dapat digunakan. namun setelah besarnya biaya proyek melampaui jumlah tertentu. Sementara itu.261 barang B. karena sifat grant ini yang tidak terbatas. yang pembiayaannya bisa sebagian besar dari Pemerintah Pusat. Gambar 26-3: Efek Dari Open-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Efek negatif dari open-ended matching grants adalah grant yang diberikan oleh Pemerintah Pusat justru akan menyebabkan ketidakmerataan antardaerah. Misalnya. karena walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. pemberi bantuan dapat mencukupkan bantuannya.

Kurva i1i1. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. yaitu dari OD menjadi OP. dari proyek senilai Rp100 miliar. namun untuk barang A tetap. Pemerintah Pusat akan memberikan kontribusinya sebesar 90% dan Daerah 10%. slope-nya menjadi sejajar pada budget line awalnya. Dalam rencana awal. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). yaitu Rp100 miliar. yaitu Rp100 miliar. Implikasinya. Untuk tujuan ini. Jenis transfer ini dapat dipakai oleh Pemerintah Pusat untuk menjadi sarana menginternalisasikan Dasar-dasar Keuangan Publik . sementara barang A tetap. yaitu hanya menggeser kuantitas barang B. Implikasinya. Sehingga. Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E0. Dengan demikian. Dalam gambar terlihat bahwa rotasi pada budget line setelah batas tertentu. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia.262 sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. Transfer bukan pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh Pusat kepada Daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa Pemerintah Daerah sendiri telah/akan mengalokasikan dananya dengan jumlah besar atau kecil. dimana posisi E0 ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. terjadi kenaikan bahan baku sehingga budget seharusnya dinaikkan menjadi Rp110 miliar. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. Transfer bukan pengimbang (non-matching grants). Sama dengan kasus sebelumnya. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Pada kondisi sebelum ada transfer. Karena Pemerintah Pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. Pemerintah Pusat dan Daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. sedangkan barang A dibiarkan tetap. Dengan demikian. dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. Namun dalam perkembangannya. Penjelasan efek dari closed-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 26-4. i2i2. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. garis anggaran tidak jadi bergeser dari AB menjadi AM. tetapi dari AB menjadi AT yang berarti jumlah barang A yang dapat dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan perkiraan semula. dimana posisi permintaan (demand) barang barang B adalah tetap OD. terjadi titik keseimbangan baru dari E menjadi E1. Misalnya. Pemerintah Pusat dan Daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B.

Gambar 26-4: Efek Closed-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q T O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Pada kondisi sebelum ada transfer. Penjelasan efek dari non-matching grants terhadap pembiayaan daerah. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. Jadi. Kurva i1i1. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). namun karena pelaksanaannya menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. (eksternalitas) terutama kepada Daerah yang menghasilkan limpahan manfaat tersebut. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. kendati Pemerintah Daerah yang bersangkutan telah mengalokasikan pendapatan daerahnya (local revenue) untuk pembiayaan penyelenggaraan urusan itu. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. transfer diberikan oleh Pusat untuk mendorong Daerah agar tetap bersemangat dan mau mengalokasikan pendapatan daerahnya untuk pelaksanaan fungsi tersebut. dapat dilihat pada Gambar 26-5. i2i2. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis).263 limpahan manfaat. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Dengan adanya transfer dari Pusat ke Daerah untuk keperluan khusus tanpa diperlukannya dana pendamping. maka budget line dari barang Dasar-dasar Keuangan Publik . Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods).

namun tidak mengubah batas maksimum fasilitas publik lainnya (other public goods).264 publik yang dibantu (assested public goods) mengalami pergeseran (shifting). Gambar 26-5: Efek Non-Matching Grants Other Public Goods i2 i1 A H E F E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods Dasar-dasar Keuangan Publik .

Pertama. 25/1999. memungut opsen atas pajak penghasilan nasional. Sedangkan. Pemerintah Daerah mengenakan opsen atas pajak penjualan di tingkat negara bagian (state).265 B A B XXVII PERPAJAKAN DAERAH Pendahuluan P emerintah Daerah dapat memperoleh pendapatan dari dari perpajakan dengan tiga cara. sebagai suatu prosentase Dasar-dasar Keuangan Publik . dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). dalam hal pajak penghasilan atau alternatifnya. Menurut pengertian ini. Praktek seperti ini diterapkan di Swedia. Kemudian. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). sebagaimana telah dibahas sebelumnya. surchage di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh Pemerintah Pusat. misalnya. Kedua. pajak Pemerintah Pusat yang dibagikan adalah Pajak Penghasilan (PPh). menurut Undang-undang No. Pemerintah Daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen. Amerika Serikat. Davey (1983) mendefinisikan bahwa opsen adalah semacam pungutan pajak (precept) yang dipungut oleh propinsi (county) atau dewan desa (parish council) di Inggris di atas rate (pajak atas harta tetap. Dalam konteks Indonesia. beberapa panchayats (Pemerintah Kabupaten) di India menikmati opsen atas pajak tanah. pada umumnya membayar pungutan tambahan beserta pajak-pajaknya kepada Pemerintah Pusat. Di Amerika Serikat. precept Pemerintah Propinsi merupakan proporsi yang tinggi dari seluruh pungutan pungutan wajib wajib pajak. Pemerintah Daerah Swedia. sedangkan di daerahdaerah nonmetropolitan. semacam PBB) dewan kabupaten (district council). dan India. para Wajib Pajak di wilayah (daerah) mereka. Pemerintah Pusat membayarkan pendapatan opsen tersebut kepada Pemerintah Daerah. ialah melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh Pemerintah Pusat. Untuk lebih jelas memahami opsen. Opsen tersebut mungkin dipungut sebagai prosentase tambahan atas pendapatan kena pajak (PKP).

34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. Kriteria kedua. Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendadapat tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. Elastisitas merupakan kualitas suatu sumber pajak yang penting. Bagian ini hanya akan mendiskusikan mengenai pajak yang diperoleh oleh Pemerintah Daerah sendiri. yaitu dalam hubungan pembebanan pajak atas tingkat pendapatan yang berbeda-beda. Alasan pembatasan ini. Prinsip keadilan ini adalah bahwa beban pengeluaran Pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan. tetapi pendapatan yang dihasilkan tidak mampu melebihi biaya yang dikeluarkan untuk memungutnya. pajak daerah jenis ini diatur dalam UU No. Adapun variabel yang utama adalah dasar hukumnya (kewenangannya). Dalam hubungan ini. Dalam konteks di Indonesia. Kedua. pajak dapat dikatakan baik kalau pajak tersebut bersifat progresif. yakni prosentase pendapatan seseorang yang dibayarkan untuk pajak bertambah sesuai dengan tingkat pendapatannya. dan (ii) pembahasan mengenai opsen. elastisitas mempunyai dua dimensi. jika Dasar-dasar Keuangan Publik . Keempat kriteria tersebut adalah kecukupan dan elastisitas. misalnya. adalah pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh Pemerintah Daerah sendiri. penduduk. kemudahan untuk memungut pertumbuhan pajak tersebut. kemampuan administratif. kecukupan dan elastisitas. Pertama. Sedangkan elastis maksudnya adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran Pemerintah Daerah. penduduk di suatu daerah meningkat. Sedangkan. maka dengan sendirinya pajak juga harus meningkat. Dalam konteks ini. pertumbuhan potensi dari dasar pengenaan pajak itu sendiri. pajak dikatakan tidak baik. Suatu jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah mungkin ditetapkan berdasarkan ketentuan perundangan Pemerintah Pusat. Elastisitas juga dengan mudah dapat diukur dengan membandingkan hasil penerimaan selama beberapa tahun dengan perubahan dalam indeks harga. apabila harga-harga meningkat. adalah (i) tax revenue sharing telah dibahas pada bagian sebelumnya. pemerataan secara vertikal. kurang relevan dengan sistem perpajakan di Indonesia. atau PDRB. Pertama.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. dan pendapatan individu meningkat. dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis. Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah Menurut Davey (1983) terdapat empat kriteria mengenai pajak Daerah. Ketiga. pemerataan. Keadilan memiliki tiga dimensi.266 tambahan atas pajak yang sebenarnya dibayarkan kepada Pemerintah Pusat atau negara bagian. dan dapat diterma secara politik. karena Indonesia tidak menerapkan sistem opsen. adalah keadilan. Seringkali dijumpai Pemerintah Daerah mempunyai banyak jenis pajak. Kriteria pertama.

Dengan adanya kemauan politik seperti ini. menetapkan struktur tarif. administrasi pemungutan pajak harus sederhana. kriteria non-distorsi terhadap perekonomian merupakan alasan keluarnya UU No. Dengan adanya UU No. 34 Tahun 2000 ini diharapkan pajak daerah tidak menimbulkan beban tambahan bagi masyarakat.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut ditetapkan. Adapun ciri-ciri Dasar-dasar Keuangan Publik . dalam beberapa jenis pajak. seharusnya dikenakan pajak dalam jumlah yang sama. Semua orang pada dasarnya ingin menolak membayar pajak. Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah Untuk mempertahankan prinsip-prinsip pajak daerah tersebut di atas. Pada dasarnya setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan suatu beban baik bagi konsumen maupun produsen. mudah dihitung. pajak daerah juga harus memenuhi kriteria non-distorsi terhadap perekonomian. yakni persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak berkurang dengan adanya kenaikan pendapatan. Namun demikian. Dalam kondisi seperti ini. implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. Ketiga. Artinya. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. maka perpajakan daerah harus memiliki ciri-ciri tertentu. Seseorang seharusnya tidak dibebani pajak lebih berat hanya karena mereka tinggal di suatu daerah tertentu. Kriteria keempat. adalah keadilan geografis. sehingga akan merugikan masyarakat secara menyeluruh (dead-weight loss). Untuk menilai suatu pajak agar dapat memenuhi tuntutan keadilan dan pemerataan. maka diharapkan tidak ada penduduk yang yang kebal pajak. maka diharapkan pajak pun dapat secara politis diterima oleh masyarakat.267 pajak tersebut bersifat regresif. memungut pajak secara fisik. Bahkan. lebih tidak populer dibandingkan jenis pajak yang lain. Dengan konsep keadilan horisontal seperti ini. kemauan politik diperlukan dalam mengenakan pajak. Kriteria ketiga adalah kemampuan adimistratif. adalah adanya kesepakatan politik. Pembebanan pajak harus adil antarpenduduk di berbagai daerah. kalau diperbolehkan. sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. Kedua. Dalam konteks Indonesia. pemerataan secara horisontal. Tidak ada pajak yang populer. Maksudnya adalah seseorang yang memiliki jumlah pendapatan yang sama. maka dibutuhkan suatu administrasi yang baik dan fleksibel. maka pajaknya harus sama dengan pegawai kantor (swasta atau negeri) yang memiliki gaji sebesar Rp100 juta per tahun. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. Sidik (2002) menambahkan bahwa selain keempat kriteria yang ditetapkan Davey (1983) di atas. jangan sampai suatu pajak atau pungutan menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan. Petani yang memiliki pendapatan Rp100 juta per tahun. Dimana. yaitu dalam konteks hubungan pembebanan pajak berdasarkan sumber pendapatan.

2. 3. terutama kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah. Adapun fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). Dasar-dasar Keuangan Publik . Untuk alasan ini pajak komsumsi di banyak negara yang diserahkan kepada daerah hanya karena pertimbangan wilayah daerah yang cukup luas (seperti propinsi di Canada). yaitu: fungsi budgeter dan fungsi regulator. seharusnya diserahkan kepada Pemerintah Pusat.268 dimaksud. Fungsi budgeter yaitu bila pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. khususnya yang terjadi di banyak negara sedang berkembang. fungsi regulator yaitu bila pajak dipergunakan sebagai alat mengatur untuk mencapai tujuan. Pemerintah Daerah dalam melakukan pungutan pajak harus tetap “menempatkan” sesuai dengan fungsinya. Basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu “mobile”. basis pajak yang “mobile” merupakan persyaratan utama untuk mempertahankan di tingkat pemerintah yang lebih tinggi (Pusat/Propinsi). Sementara. Dalam konteks Indonesia. Untuk itu. artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. Pajak yang dimaksudkan untuk tujuan stabilisasi ekonomi dan cocok untuk tujuan distribusi pendapatan seharusnya tetap menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. Propinsi dan Kabupaten/Kota. misalnya: pajak minuman keras dimaksudkan agar rakyat menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras. adalah sebagai berikut: • pajak daerah secara ekonomis dapat dipungut. Dengan demikian. Menurut Teresa Ter-Minassian (1997). basis pajak yang tidak terlalu “mobile” akan mempermudah daerah untuk menetapkan tarip pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. beberapa kriteria dan pertimbangan yang diperlukan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat Pemerintahan Pusat. Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah. maka pemberian kewenangan untuk mengadakan pemungutan pajak selain mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan yang berlaku secara umum. juga harus mempertimbangkan ketepatan suatu pajak sebagai pajak daerah. • relatif stabil. • tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). Sebaliknya. yaitu: 1. kadang-kadang meningkat secara drastis dan adakalanya menurun secara tajam. seyogyanya. pajak ekspor dimaksudkan untuk mengekang pertumbuhan ekspor komoditi tertentu dalam rangka menghindari kelangkaan produk tersebut di dalam negeri. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi. Pajak daerah yang sangat “mobile” akan mendorong pembayar pajak merelokasi usahanya dari daerah yang beban pajaknya tinggi ke daerah yang beban pajaknya rendah.

Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan secukupnya pada semua tingkat pemerintahan. Pada tarif t*. Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. 6. Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data. Pemerintah Daerah cenderung untuk menggunakan tarif yang tinggi agar diperoleh total penerimaan pajak daerah yang maksimal. Model Leviathan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi. seperti identifikasi jumlah pembayar pajak. Model Leviathan Penggalian sumber-sumber keuangan daerah khususnya yang berasal dari pajak daerah pada dasarnya perlu memperhatikan 2 (dua) hal. yaitu : (i) dasar pengenaan pajak dan (ii) tarif pajak. dan hanya kegiatan ekonomi saja yang dipengaruhi oleh besaran pajak. penegakkan hukum (law-enforcement) dan komputerisasi. Hasil penerimaan. namun penyerahan kewenangan pemungutannya kepada daerah akan tepat sepanjang manfaatnya dapat dilokalisir bagi pembayar pajak lokal. Pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. Model Leviathan akan mencapai total penerimaan pajak maksimum (T*) pada tarif t*. tetapi dapat dicapai total penerimaan pajak maksimum. 7. 5. idealnya. Bentuk kurva (“Laffer”) yang berbentuk parabola menghadap sumbu Y (tarif pajak). Dengan asumsi bahwa biaya administrasi perpajakan dianggap tidak signifikan dan ceteris-paribus level pelayanan publik yang dibiayai dari penerimaan pajak. Hal ini tergantung pada respons wajib pajak. Formulasi model ini dikenal sebagai Model Leviathan. harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak terlalu berfluktuasi. Pada kondisi ini dikenal sebagai Revenue Maximizing Tax Rate. permintaan dan penawaran barang yang dikenakan tarif pajak lebih tinggi. 8. Pajak daerah seharusnya “visible”. menunjukkan bukanlah tarif tertinggi. karena akan memperlemah hubungan antar pembayar pajak dengan pelayanan yang diterima (pajak adalah fungsi dari pelayanan).269 4. tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga Dasar-dasar Keuangan Publik . dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi pembayar pajak daerah. Gambar 27-1 ini juga mengasumsikan bahwa penyesuaian wajib pajak terhadap pengenaan tarif pajak tertentu adalah independent terhadap jenis pajak dan tarif pajak lainnya. secara teoritis tidak selalu menghasilkan total penerimaan maksimum. Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain. objek dan subjek pajak dan besarnya pajak terutang dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah. menghasilkan Total Penerimaan Pajak Maksimum yang ditentukan oleh kemampuan wajib pajak untuk menghindari beban pajak baik legal maupun illegal dengan mengubah “economic behavior” dari wajib pajak. maka Gambar 27-1 di bawah ini menunjukkan hubungan antara tarif pajak proporsional atas basis pajak tertentu.

Seiring dengan keluarnya UU No. Sehingga pada waktu UU No. Selain itu.34 Tahun 2000.65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No.18 Tahun 1997 dianggap kurang memberikan peluang kepada daerah untuk mengadakan pungutan baru. 25/1999.34 Tahun 2000.18 Tahun 1997 diubag dengan UU No. pengaturan agar Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah harus mendapat pengesahan dari Pusat juga dianggap telah mengurangi otonomi daerah. Dalam UU No.34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya. Dengan diubahnya UU No. dalam perkembangannya. namun harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP).18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 22/1999 dan UU No. Namun. maka UU No. terutama sejak tahun 1997 dengan dikeluarkannya UU No. Model Leviathan ini dapat dikembangkan untuk menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak untuk mencapai Total Penerimaan Pajak Maksimal. yaitu PP No.66 Tahun 2001 tentang Retribusi Dasar-dasar Keuangan Publik .270 dan kuantitas barang terhadap pengenaan pajak sedemikian rupa.18 Tahun 1997 menjadi UU No. UU No. Gambar 27-1: Model Leviathan Tarif Pajak Daerah Kurva Laffer t* Total Penerimaan Pajak Daerah T* Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Pengaturan kewenangan pengenaan pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Indonesia telah diatur sejak lama. maka akan dicapai Total Penerimaan Maksimum. diharapkan pajak daerah dan retribusi daerah akan menjadi salah satu PAD yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Walaupun dalam UU tersebut sebenarnya memberikan kewenangan kepada daerah. 18 Tahun 1997 berlaku belum ada satupun daerah yang mengusulkan pungutan baru karena dianggap hal tersebut sulit dilakukan.

(iv) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3ABT & AP). Kriteria dimaksud (Pasal 2 ayat 4) adalah : a. serta kewenangan bidang pemerintahan tertentu. dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria yang ditetapkan dalam UU tersebut.271 Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh Propinsi dan jenis pajak yang dipungut oleh Kabupaten/Kota. Menjaga kelestarian lingkungan. b. berlaku definitif untuk Pajak Propinsi yang ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No. f. (iii) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). dalam pelaksanaannya Propinsi dapat tidak memungut jenis pajak yang telah ditetapkan tersebut jika dipandang hasilnya kurang memadai. Potensinya memadai. Jenis-Jenis Pajak Daerah Kabupaten Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota diberi kewenangan untuk memungut 7 (tujuh) jenis pajak (Pasal 2 ayat 2). Jenis pajak Kabupaten/Kota tidak bersifat limitatif. (vi) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C. yaitu : (i) Pajak Hotel. dan h. yaitu : (i) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (PKB & KAA). (iii) Pajak Hiburan. Jenis-Jenis Pajak Daerah Propinsi Pajak Propinsi ditetapkan sebanyak 4 (empat) jenis pajak. (iv) Pajak Reklame. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. g. Adanya pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh Propinsi terkait dengan kewenangan Propinsi sebagai daerah otonom yang terbatas yang hanya meliputi kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas daerah Kabupaten/Kota dan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan daerah Kabupaten/Kota. c. Berkaitan dengan besarnya tarif. 34 Tahun 2000. (ii) Pajak Restoran. (vii) Pajak Parkir.65 Tahun 2001. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. Bersifat pajak dan bukan retribusi. (v) Pajak Penerangan Jalan. Dasar-dasar Keuangan Publik . artinya Kabupaten/Kota diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. e. (ii) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB & KAA). Jenis Pajak Propinsi bersifat limitatif yang berarti Propinsi tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum. dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU. Objek pajak bukan merupakan objek pajak Propinsi dan/atau objek pajak Pusat. Namun demikian. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. d.

Bagian Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Daerah Propinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Daerah Kabupaten/Kota. c. Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota Besarnya tarif yang berlaku definitif untuk Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Bagian Desa ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Desa. Dalam hal hasil penerimaan pajak Kabupaten/Kota dalam suatu Propinsi terkonsentrasi pada sejumlah kecil Daerah Kabupaten/Kota. tarif jenis pajak ditetapkan paling tinggi sebesar: a. Disebutkan dalam UU No. Dalam hal objek pajak Kabupaten/Kota dalam satu Propinsi yang bersifat lintas Daerah Kabupaten/Kota. b. Penggunaan bagian Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan sepenuhnya oleh Daerah Kabupaten/Kota. 34/2000 Pasal 3 ayat (1). b. Hasil penerimaan pajak Kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10% (sepuluh persen) bagi Desa di wilayah Daerah Kabupaten yang bersangkutan. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 30% (tiga puluh persen). Dengan adanya pemisahan jenis pajak yang dipungut oleh Propinsi dan yang dipungut oleh Kabupaten/Kota diharapkan tidak adanya pengenaan pajak berganda. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen). Gubernur berwenang merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Daerah Kabupaten/Kota dalam Propinsi yang bersangkutan. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen).272 Ketentuan Mengenai Bagi Peruntukkannya (Pasal 2A) Hasil Pajak Propinsi dan Hasil penerimaan pajak Propinsi sebagian diperuntukkan bagi Daerah Kabupaten/Kota di wilayah Propinsi yang bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sedangkan ketentuan mengenai realokasi dilakukan oleh Gubernur atas dasar kesepakatan yang dicapai antar Daerah Kabupaten/Kota yang terkait dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. c. Gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Daerah Kabupaten/Kota yang terkait. Hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). namun tidak boleh lebih tinggi dari tarif maksimum yang telah ditentukan dalam UU tersebut. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen).

serta sifatnya bervariasi antar daerah. terutama hal ini disebabkan oleh: • Relatif rendahnya basis pajak dan retribusi daerah. Rendahnya basis pajak ini bagi sementara daerah berarti memperkecil kemampuan manuver keuangan daerah dalam menghadapi krisis ekonomi. Namun. Buoyancy adalah perbandingan persentase perubahan penerimaan pajak terhadap persentase perubahan pendapatan nasional. buoyancy adalah elastisitas penerimaan 9 Dasar-dasar Keuangan Publik . Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). diperkirakan daerah memiliki basis pungutan yang relatif rendah dan terbatas. Sebagian besar penerimaan daerah masih berasal dari bantuan Pusat. • Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. g. melihat kriteria pengadaan pajak baru sangat ketat. Pajak Parkir 20% (dua puluh persen). dan lebih mengandalkan kemampuan “negosiasi” daerah terhadap Pusat untuk memperoleh tambahan bantuan. Untuk mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi daerah. Pajak Reklame 25 % (dua puluh lima persen). Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen). RTI. Hal ini mengakibatkan bahwa pemungutan pajak cenderung dibebani olehbiaya pungut yang besar. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Keadaan inidiperlihatkan dalam suatu studi yang dilakukan oleh LPEM-UI bekerjasama dengan Clean Urban Project. Peranan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Mendukung Pembiayaan Daerah Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah. • Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). Permasalahan yang dihadapi oleh Daerah pada umumnya dalam kaitan penggalian sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah. banyaknya bantuan dan subsidi ini mengurangi “usaha” daerah dalam pemungutan PAD-nya.273 d. Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). k. j. LPEM Universitas Indonsia bekerjasama dengan Clean Urban Project. adalah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Dari segi upaya pemungutan pajak. Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). f. PAD masih tergolong memiliki tingkat buoyancy9 yang 8 Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia. tampaknya pungutan pajak dan retribusi daerah masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi. yang merupakan salah satu komponen dari PAD. i. Jakarta. Berdasarkan UU No. Dengan kata lain. 1999. khususnya kriteria pajak daerah tidak boleh tumpang tindih dengan Pajak Pusat dan Pajak Propinsi.34 Tahun 2000 daerah Kabupaten/Kota dimungkinkan untuk menetapkan jenis pajak dan retribusi baru. RTI8 bahwa banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD. h. e.

Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah. beberapa daerah lebih condong memenuhi target tersebut. walaupun dari sisi pertumbuhan ekonomi sebenarnya pemasukkan pajak dan retribusi daerah dapat melampaui target yang ditetapkan. 2002. Dasar-dasar Keuangan Publik .cit. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa distribusi kewenangan perpajakan antara daerah dan pusat sangat timpang. perpajakan terhadap PDB yang menunjukkan berapa persen perubahan penerimaan perpajakan apabila PDB berubah 1%. Salah satu sebabnya adalah diterapkan sistem “target” dalam pungutan daerah. 10 11 Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2001. peranan PAD dalam membiayai kebutuhan pengeluaran daerah sangat kecil dan bervariasi antar daerah yaitu kurang dari 10% hingga 50%.274 rendah. Hal ini mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat berarti bagi daerah. Sebagai akibatnya. • Tidak signifikannya peran PAD dalam anggaran daerah tidak lepas dari ‘sistem tax assignment’ di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada Pemerintah Pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial (yang tentunya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu). 8. yaitu jumlah penerimaan pajak yang dipungut oleh daerah hanya sebesar 3.11 Ketimpangan dalam penguasaaan sumbersumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia dari sisi revenue assignment masih terlalu ”sentralistis”. keadaan geografis (berdampak pada biaya yang relatif mahal). distribusi pajak antar daerah juga sangat timpang karena basis pajak antar daerah sangat bervariasi (ratio PAD tertinggi dengan terendah mencapai 600). Machfud Sidik. op. dan kemampuan masyarakat. pajak pertambahan nilai dan bea masuk. Variasi dalam penerimaan ini diperparah lagi dengan sistem bagi hasil (bagi hasil didasarkan pada daerah penghasil sehingga hanya menguntungkan daerah tertentu). sehingga mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat bervariasi. seperti: pajak penghasilan. hal. Selama ini. Peranan pajak dan retribusi daerah dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi juga terjadi karena adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah penduduk. Sebagian besar daerah Propinsi hanya dapat membiayai kebutuhan pengeluarannya kurang dari 10%10. Demikian pula.39% dari total penerimaan pajak (Pajak Pusat dan Pajak Daerah).

masalah kewenangan daerah untuk meminjam ini telah diatur. Pinjaman yang berasal dari masyarakat penghimpunan dana dapat melalui penerbitan Obligasi Daerah. Pemilihan jangka waktu akan sangat tergantung pada jenis proyek yang akan dibiayai. masyarakat.275 B A B XXVIII PINJAMAN DAERAH Pendahuluan injaman merupakan alternatif lain yang bisa dipilih untuk membiayai pembangunan daerah. dan kemampuan meminjam (ability to borrowing). dalam subbagian selanjutnya akan disajikan praktek pinjaman daerah di Indonesia. Dalam konstitusi di berbagai negara. lembaga keuangan bank. Pinjaman dalam negeri dapat berasal dari. Pada dasarnya kewenangan daerah Dasar-dasar Keuangan Publik . Pemerintah Pusat. Risiko yang terkandung dalam melakukan pinjaman. dan sumber lainnya seperti pinjaman dari daerah lain. jangka pendek dan jangka panjang. Banyaknya pihak yang dapat dijadikan sumber pinjaman membuat pembiayaan pembangunan dengan pinjaman mampu mengumpulkan dana yang cukup besar. terutama risiko dalam pembayaran bunga maupun pokok. Sumber pinjaman dapat berasal dari berbagai pihak. harus menjadi pertimbangan dalam melakukan pinjaman. metode dan sumber-sumber pinjaman. P Pada bagian ini akan dibahas mengenai tujuan dan batas-batas pinjaman. baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Walaupun kemungkinan nilai pinjaman yang mampu dikumpulkan cukup besar karena banyaknya sumber yang bisa digunakan. namun perlu diperhatikan adanya batas meminjam yang disesuaikan dengan kemampuan tiap-tiap daerah. lembaga keuangan bukan bank. Dan agar pembahasan ini lebih riil di lapangan. Pinjaman juga dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu. persyaratan-persyaratan pinjaman. Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Pemerintah Daerah dapat membiayai sebagian pengeluarannya dengan melakukan pinjaman.

untuk membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. Sementara itu. untuk membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. Cara leasing ini semakin dikenal untuk menghindari pembelian peralatan yang cepat menjadi usang sebagai akibat perubahan teknologi. untuk membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). Bentuk pinjaman yang umum berupa bank overdraft. biasanya diarahkan untuk membiayai prasarana publik yang reraltif cenderung lebih mengedepankan Dasar-dasar Keuangan Publik . untuk menutup kebutuhan dana (cash) jangka pendek. 3. Sebagai contoh. penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pembangunan prasarana dan penyediaan pelayanan umum. Praktek dan konsep yang secara luas dapat diterima adalah dana pinjaman untuk membiayai kegiatan investasi yang dapat “membiayai sendiri”. pembangunan British New Town Corporation dibiayai oleh Pemeirntah Pusat Inggris. Pinjaman dengan maksud untuk menutup kebutuhan dana jangka pendek adalah sangat umum dilakukan. Pada tahun 1975. Pemerintah Daerah juga mampu menyediakan pelayanan publik secara lebih baik. bahwa berbagai pinjaman dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Pengembalian pinjaman tersebut dari hasil penjualan rumah-rumah dan toko-toko yang dibangun oleh British. untuk membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah. biasanya sebagai suatu keharusan karena pola pengumupulan penerimaan daerah yang tidak seimbang. Manfaat dari pinjaman seperti ini adalah. akan tetapi Pemerintah Daerah seringkali mencari pinjaman langsung dari deposito jangka pendek dari masyarakat berupa short-term bills. selain mendapatkan sumber penerimaan bagi daerah. Kekurangan dana dari anggaran tahunan adalah hal yang umum terjadi untuk Pemerintah Pusat. Pemerintah Daerah di Italia meminjam 61% dari penerimaan kotor mereka untuk membiayai pengeluaran modal. dengan jangka waktu sampai tiga bulan. 4. proyek yang dibiayai tersebut dapat menghasilkan penerimaan (revenue) yang dapat digunakan untuk membayar kembali dana pinjaman. membayar hutang dan membiayai sebagaian besar dari biaya-biaya rutin (operating cost). Pembelian sebuah pabrik dan peralatan lainnya juga dapat dibiayai dengan pinjaman. Maksudnya adalah. 5. Pilihan lain adalah dengan cara pinjam sewa (leasing). Pemerintah negara bagian di Amerika Serikat juga mengadakan pinjaman melalui industrial aid bonds untuk menyediakan dana investasi perusahaan manufaktur perorangan. Tetapi jarang diperkenankan bagi Pemerintah Daerah.276 melakukan pinjaman adalah seperti yang dituliskan oleh Davey (1983). 2. Suatu cara penyelesaian yang umum untuk membeli peralatan dengan pinjaman adalah dengan membeda-bedakan perkiraan umur masingmasing peralatan. Praktek-praktek seperti ini antara lain sering diterapkan di negara-negara maju. Pemerintahan New York juga pernah melakukan pinjaman untuk membayar gaji pegawai dan uang pensiunan dan membayar hutang yang telah jatuh tempo.

8.12 3. Pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. yang biasanya pinjaman ini diberikan kepada Pemerintah Pusat negara yang bersangkutan melalui mekanisme pinjaman two step loan atau subsidary loan aggreement. Praktek ini diterapkan oleh India. sumber dana yang berasal 12 Mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan aggreement adalah pinjaman dari luar negeri ke Pemerintah Pusat. karena ada larangan dari Pemerintah Pusat bagi Pemerintah Daerah untuk meminjam di luar skema Pemerintah Pusat. pinjaman tersebut diteruskan ke Pemerintah Daerah. Oleh karenanya. misalnya dana pensiun. tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan atau investasi jangka panjang. seperti Bank Dunia (World Bank).6% pinjaman daerah berasal dari Pemerintah Pusat pada tahun 1979. hampir 100% pinjaman jangka panjang Pemerintah Daerah berasal dari Pemerintah Pusat. Dana untuk sewa beli peralatan (leasing). Pinjaman hipotek atas asset tetap. 7. sesungguhnya batasan-batasan atau teknik-teknik pembiayaan yang berlaku dalam dunia korporasi juga berlaku bagi Pemerintah Daerah. 2. yaitu: 1. Pertama. Bahkan. Pembahasan lebih lanjut untuk kasus di Indonesia ini akan di bahas secara khusus di subbagian berikutnya. adalah Pemerintah Pusat memberikan pinjaman kepada Pemerintah Daerah. karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan. dimana 71. Bank Asia Afrika dan bantuan bilateral. Bank Pembangunan Amerika Latin (untuk negara-negara di kawasan Amerika Latin).277 manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat dibandingkan dengan revenue yang dihasilkan. 6. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional. Obligasi Jangka Panjang (bond) 5. kemudian oleh Pemerintah Pusat. Dari pembahasan ini prinsip dasar yang harus dipegang ketika Pemerintah Daerah melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristik dari pinjaman itu sendiri. Dengan kata lain. Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). Pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing. Pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bank-bank komersial. Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Terdapat beberapa sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah. 9. Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB). sumber pinjaman untuk pembiayaan jenis ini biasanya berasal dari negara-negara donor dengan tingkat bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan bunga komersial. Kedua. di Indonesia. ada tiga cara yang paling sering digunakan oleh Pemerintah Daerah di berbagai negara. Pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas (umumnya dari Pemerintah Pusat). 4. Dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek. Pinjaman yang bersifat jangka pendek. Di antara sistem pinjaman tersebut di atas.

Biasanya. Namun. Ketiga. Komponen dalam setiap kali pembayaran tersebut adalah pokok pinjaman dan bunga pinjaman. tingkat bunga pun akan semakin tinggi. Di Indonesia. management fee dan commitment fee sekitar 0.278 dari pasar keuangan. Persyaratan tingkat bunga pinjaman yang bersumber dari pasar keuangan pasti didasarkan pada bunga pasar. (ii) cara pembayaran kembali. (iii) tingkat bunga. berupa management fee dan commitment fee yang besarnya sangat tergantung dari negosiasi antara kedua belah pihak. Yang terpenting adalah bahwa jangka waktu pinjaman bergantung pada sikap pasar serta suku bunga yang berlaku. Persyaratan keamanan pinjaman muncul karena pihak pemberi pinjaman biasanya menghendaki suatu keadaan aman terhadap kegagalan pembayaran Dasar-dasar Keuangan Publik . namun dalam prakteknya metode ini sering lebih merupakan usaha penyelematan terhadap utang kepada pihak luar (external debt). Persyaratan cara pembayaran kembali akan tergantung pada metode pembayaran yang dilakukan. dimana angsuran pinjaman dibayar secara tetap. misalnya pinjaman untuk masa 10 tahun. (iv) keamanan pinjaman. dengan maksud agar dapat meningkatkan kemampuan finansial Pemerintah Daerah. semakin lama suatu pinjaman.25% dari pinjaman yang belum ditarik. sehingga hutang pokok yang dibayarkan adalah kumulatif selama masa pinjaman. Pada umumnya. Sementara itu. Misalnya. Untuk tujuan capital investment. Akan tetapi. misalnya. pengalaman menunjukkan bahwa bila cara sinking fund dtelah diterapkan dan untuk memenuhi kewajibannya disanggupi dengan baik. dan (v) persetujuan dan penyidikan. dengan mengeluarkan obligasi (bonds) di pasar modal. Sebagai pilihan yang dapat dilakukan adalah dimana jangka waktu pinjaman dapat diturunkan sesuai penerimaan dari pajak dan retribusi untuk mengimbangi beban pinjaman tersebut. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional tersebut juga memberlakukan fee. Jangka waktu pinjaman sangat tergantung dengan tujuan penggunaan pinjaman. melalui bank-bank komersial. pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat atau lembaga keuanga internasional sering mencari turnover dana yang dipinjamkan secepat mungkin. Jika menggunakan metode anuitas berarti membayar beberapa kali angsuran dalam jumlah yang sama besarnya setiap kali pembayaran hingga masa pembayaran selesai. Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah (i) jangka waktu pinjaman. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional oleh suatu Pemerintah biasanya memberlakukan bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan bunga pasar. maka Pemerintah Daerah harus mendapatkan pinjaman dengan jangka waktu yang setidaknya sama dengan umur proyek. khusus untuk pinjaman jangka pendek untuk memenuhi cash flow Pemerintah Daerah. Metode pembayaran yang lain adalah menggunakan metode sinking fund. Jangka waktu pinjaman Pemerintah Daerah bisa saja berkisar antara 24 jam (overnight) hingga 40 tahun.

Dua ukuran yang sering digunakan untuk itu adalah Debt Service Ratio (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR). 2000): “ . dalam berbagai klausul pinjaman oleh Pemerintah Daerah. misalnya proyekproyek infrastruktur.. Dalam konteks di Indonesia. Keterbatasan keuangan Pemerintah Pusat yang berimplikasi pada dana perimbangan pusat dan daerah. semakin besar. Masyarakat yang menerima manfaat proyek di masa mendatang secara prinsip harus ikut menanggung beban biaya pengadaan proyek tersebut. 2001).. vis-a-vis the project socioeconomic benefits.. sedangkan pinjaman daerah yang berasal dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. Hal ini dilandasi dengan perkembangan tingkat urbanisasi yang lebih tinggi daripada kemampuan daerah menyediakan berbagai infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik. Prasyarat utama bagi diperbolehkannya daerah meminjam adalah dengan menerapkan “the golden rule guidelines” bagi pinjaman daerah (Magrassi.279 kembali. Sedangkan DCR pada prinsipnya merupakan angka Dasar-dasar Keuangan Publik . Proyek-proyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial selayaknya didanai oleh pembiayaan jangka panjang. Makanya. tidak jarang pemberi pinjaman meminta adanya jaminan dari Pemerintah Pusat atau dijamin dengan aset tertentu. pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). misalnya lembaga perwakilan daerah. Untuk menghindari risiko yang dapat terjadi atas penggunaan pinjaman daerah dalam pembiayaan hendaknya memperhatikan kaidah yang berlaku dalam memperkirakan kapasitas meminjam Pemerintah Daerah. Dari sisi teori fiskal.. local government should only use sub-national debt to finance capital projects that are anticipated to produce financial rate of returns that. biasanya tidak dapat dilakukan sebelum ada persetujuan dari lembaga yang berwenang.. Persyaratan persetujuan muncul karena suatu pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Kewenangan yang lebih besar kepada Daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah dan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan daerah. Penggunaan Pinjaman Dalam Pembiayaan Kebutuhan akan pinjaman daerah muncul akibat kecenderungan yang terjadi dimana peningkatan peran Pemerintah Daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah. karena Pemerintah Daerah harus memperhitungkan secara tepat nilai opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek-proyek yang akan dilaksanakannya sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi (Alisjahbana. Keterbatasan Pemerintah Daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah yang berasal dari daerahnya sendiri menjadi alasan penggunaan pinjaman dalam pembiayaan suatu daerah. DSR merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah yang pada prinsipnya digunakan Pemerintah Daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman. justify the debt service paid to lenders”. pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah baru dapat dijalankan jika DPRD setempat memberikan persetujuan.

Walaupun demikian. Pinjaman pada dasarnya dapat digunakan untuk pembiayaan defisit aliran kas jangka pendek. 25 Tahun 1999 menyebutkan bahwa daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari. perlunya persetujuan Pemerintah Pusat harus ada evaluasi yang menyeluruh tentang aspek-aspek dapat tidaknya usulan pinjaman untuk diproses lebih lanjut. sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. (a) sumber dalam negeri (b) sumber luar negeri. Pinjaman harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan mengangsur serta cara mengalokasikan pada pembangunan dan atau penyediaan layanan publik yang produktif. Dalam hal ini. tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. Undangundang No 25 Tahun 1999 Pasal 11 ayat 1 menyebutkan bahwa: "Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya". Istilah disisihkan dimaksudkan untuk mempertegas adanya rencana untuk membiayai proyek melalui dana pinjaman daerah. a. Sedangkan untuk pinjaman dari dalam negeri dapat secara langsung dilakukan bila disetujui oleh DPRD dengan prinsip pinjaman tersebut harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan daerah untuk membayar pinjamannya. pembelian peralatan dan kendaraan yang memiliki umur ekonomis jangka menengah. dan pembiayaan investasi jangka panjang yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. Pinjaman daerah sebaiknya bersifat jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat (Wiratmo. dan terutama tersedianya dana untuk pengembalian pinjaman secara aman. Pinjaman dari dalam negeri dapat bersumber dari (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2). Pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran arus kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang Dasar-dasar Keuangan Publik . 2001).280 perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan neto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. pinjaman harus didefinisikan sebagai sumber dana pelengkap untuk mempercepat proses pembangunan daerah. Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Ketentuan Dasar Pinjaman Daerah di Indonesia Undang-undang No. Pinjaman daerah yang berasal dari luar negeri harus melalui Pemerintah Pusat. pembiayaan defisit anggaran rutin tahunan. § Pemerintahan Pusat § Lembaga Keuangan Bank § Lembaga Keuangan Bukan Bank § Masyarakat § Sumber Lainnya Pinjaman daerah menurut PP No 107 Tahun 2000 adalah: semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang. Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya maka. pembiayaan investasi yang diharapkan dapat secara langsung menghasilkan pendapatan.

dan (4) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas Daerah. Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah Pada tahun 1999. Dasar-dasar Keuangan Publik . 22/1999 dan UU No. (2) Daerah melakukan pinjaman dari sumber luar negeri melalui Pemerintah Pusat. Namun.281 b. Hal yang sama juga berlaku untuk pinjaman bilateral. Salah satu hal penting yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU No. khususnya dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Pasal 11 UU No. Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 telah menyebabkan terjadi perubahan yang sangat mendasar mengenai pengaturan hubungan Pusat dan Daerah. (3) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset Daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. 22/1999 dan UU No. Pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB. baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri. 25/1999 menyebutkan bahwa: (1) Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya. 25/1999 adalah diperkenankannya Daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. yang dalam hal ini adalah Pemerintah Pusat. 25/1999 (lihat Tabel 28-1 ). Kondisi ini sangat berbeda dengan ketentuan mengenai pinjaman daerah sebelum UU No. World Bank. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. dimana negara lender hanya melakukan pinjaman dengan Pemerintah Pusat sebagai peminjam (Pakpahan. yang dalam banyak literatur disebut intergovernment fiscal relation yang dalam UU 25/1999 disebut perimbangan keuangan. 2004). dan lain-lain) mensyaratkan perpanjian pinjaman dilakukan oleh negara sebagai anggota. yang artinya Pemerintah Pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. yaitu UU No. Pemerintah RI memberlakukan dua undang-undang penting yang berkaitan dengan desentralisasi.

1994: § Minimum DSCR = 1 • DSCR minimal 2. yaitu PP 107/2000 tentang Pinjaman Daerah. sebagai pengawas RPD dan persetujuannya Batasan Pinjaman (Persyaratan) Batasan Pinjaman (Persyaratan) • 1982: Debt Service Coverage Ratio • Jumlah kumulatif pokok pinjaman (DSCR) < 15% yang wajib dibayar tidak melebihi 75% dari jumlah Penerimaan • Kepmendagri Nomor 96 Tahun Umum APBD tahun sebelumnya. Beberapa komponen kunci tentang pinjaman daerah yang ditetapkan oleh UU No.282 Tabel 28-1: Pinjaman Daerah Sebelum dan Setelah Kebijakan Desentralisasi SEBELUM DESENTRALISASI SETELAH DESENTRALISASI Legal Foundation UU No. 25/1999. berkenaan • Menteri Keuangan dengan persetujuan batas • DPRD maksimum pinjaman dan persetujuan pemberian. • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 jumlah belanja APBD tahun anggaran berjalan. 2000 UU No. 25/1999 PP 107/2000 Institutional Setting Persetujuan (Approval) Persetujuan (Approval) • Menteri Dalam Negeri.5 berdasarkan § Average DSCR > 1. 5/1974 Lebih jauh. • Menteri Keuangan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi/peraturan. 25/1999 dan PP 107/2000 adalah sebagai berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . dalam rangka mengimplementasikan Pasal 11 UU No. Sumber-Sumber Pinjaman • Pinjaman Luar Negeri Pemerintah • Sumber Dalam Negeri: § Pemerintah Pusat Pusat § Perbankan • Pinjaman Pemerintah Pusat melalui § Lembaga keuangan nonRDI bank • INPRES untuk pembangunan pasar § Sumber-sumber lain • IPEDA • Sumber-sumber lain (BPD dan • Sumber Luar Negeri § Bilateral sektor swasta) § Multilateral • Pemerintah Pusat melalui RPD Sumber: Alm & Mulyani.5 proyeksi penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu pinjaman.

25/1999 dan Pasal 4 & 5 PP 107/2000 Persyaratan Jangka Panjang (Long Term) Keterangan • Jumlah kumulatif pokok Pinjaman Daerah yang wajib dibayar tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah Penerimaan Umum APBD tahun sebelumnya. • Lembaga Keuangan Bank. Jangka Pendek (Short Term) • Daerah dapat melakukan Pinjaman Jangka Pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan Kas Daerah. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. • Jumlah maksimum Pinjaman Jangka Pendek adalah 1/6 (satu per enam) dari jumlah belanja APBD tahun anggaran yang berjalan. • Sumber lainnya. Debt Service Coverage Ratio (DSCR) paling sedikit 2. Luar Negeri • Bilateral • Multilateral Sumber: Pasal 11 UU No. 25/1999 dan Pasal 2 PP 107/2000 Jenis/Tipe Pinjaman Jangka Panjang (Long Term) Penggunaannya • Hanya dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset Daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. dan • Berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran Daerah tahunan selama jangka waktu pinjaman. • Masyarakat.283 Sumber Pinjaman Indonesia/Dalam Negeri Institusi tempat Meminjam • Pemerintah Pusat. Jangka Pendek (Short Term) Sumber: Pasal 6 & 7 PP 107/2000 Dasar-dasar Keuangan Publik .5 (dua setengah). • Lembaga Keuangan Bukan Bank. Sumber: Pasal 11 UU No.

studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk dilakukan evaluasi. • Apabila Pemerintah Pusat telah memberikan persetujuan. setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Pemerintah Pusat. Pemerintah Daerah mengadakan perundingan dengan calon pemberi pinjaman yang hasilnya dilaporkan untuk mendapatkan persetujuan Pemerintah Pusat. • Perjanjian Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri ditandatangani oleh Kepala Daerah dengan pemberi pinjaman luar negeri. • Daerah dapat melakukan Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. Sumber: Pasal 14 PP 107/2000 Larangan Penjaminan • Daerah dilarang melakukan perjanjian yang bersifat penjaminan terhadap pinjaman pihak lain yang mengakibatkan beban atas keuangan Daerah. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan. • Daerah mengajukan usulan pinjaman kepada Pemerintah Pusat disertai surat persetujuan DPRD. Sumber: Pasal 12 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Luar Negeri • Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui Pemerintah Pusat. • Perjanjian pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat ditandatangani oleh Menteri Keuangan dan Kepala Daerah. maka kewajiban tersebut diselesaikan sesuai perjanjian pinjaman. Sumber: Pasal 10 PP 107/2000 Dasar-dasar Keuangan Publik . • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat. • Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijadikan jaminan dalam memperoleh Pinjaman Daerah.284 Prosedur Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat • Untuk memperoleh pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat. Daerah mengajukan usulan kepada Menteri Keuangan disertai surat persetujuan DPRD. • Pemerintah Pusat melakukan evaluasi dari berbagai aspek untuk dapat tidaknya menyetujui usulan tersebut. • Pembayaran kembali Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri oleh Daerah. Sumber: Pasal 13 PP 107/2000 Pembayaran Kembali Pinjaman Daerah • Semua pembayaran yang menjadi kewajiban Daerah yang jatuh tempo atas Pinjaman Daerah merupakan prioritas dan dianggarkan dalam pengeluaran APBD. dilakukan dalam mata uang sesuai yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman luar negeri. maka Pemerintah Pusat memperhitungkan kewajiban tersebut dengan Dana Alokasi Umum (DAU) kepada Daerah.

Teori tersebut kemudian dikenal sebagai doktrin keunggulan komparatif. Daya saing suatu negara sudah ditentukan (given). Ekonom klasik menaruh perhatian terhadap perdagangan internasional. perusahaan multinasional dibangun dengan asumsi bahwa faktor produksi sangat mobil. Negara dengan kemampuan teknologi tinggi sebaiknya memproduksi barang seperti computer atau perangkat lunak. modal. T Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. Transaksi tersebut sudah dilakukan sejak jauh sebelum abad Masehi. negara dengan tenaga kerja murah akan lebih baik memproduksi barang bercirikan padat karya. teknologi tidak dipertimbangkan dalam teori tersebut. Jika ekonomi klasik mengasumsikan bahwa faktor produksi tidak mudah berpindah. skala ekonomi. tanah dan mesin tidak mudah berpindah (tidak mobil). Faktor lain seperti ketidakpastian. produk didesain di prancis. seperti tekstil dan sepatu. Kemudian kedua negara tersebut akan melakukan pertukaran: negara yang satu mengeksport tekstil dan mengimpor computer. Dengan cara semacam itu kemakmuran dunia akan semakin meningkat. tergantung sumberdaya yang dipunyai. bukannya barang yang terdiferensiasi. Perusahaan multinasional bisa memproduksi barang di Indonesia (karena tenaga kerja murah).285 B A B XXIX KOORDINASI PAJAK INTERNATIONAL Pendahuluan ransaksi internasional bukan merupakan hal yang baru. Juga teori tersebut mengasumsikan pertukaran barang komoditi. Sebagai contoh. Asumsi dalam teori tersebut adalah bahwa faktor produksi seperti tenaga kerja. kemudian memperoleh modal dari pasar keuangan eropa. Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya. sedangkan yang lainnya mengekspor computer dan mengimpor tekstil. kemudian barang jadi dijual ke Dasar-dasar Keuangan Publik . mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien. sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah.

dia akan dikenakan pajak lebih dari satu kali. A juga melakukan investasi di Indonesia dan menerima deviden yang dikenakan pajak oleh Indonesia. dan perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah tersebut. terdapat beberapa asas yang perlu diperhatikan yang diantaranya adalah: 1. sedangkan pusat perusahaan tersebut di Jepang. A. Gambaran mengenai perusahaan multinasional tersebut diatas menunjukkan fakta bahwa semakin hari akan semakin meningkat saling ketergantungan perekonomian dunia dan kondisi ini akan semakin mempengaruhi aspek internasional dalam hal keuangan publik. Keputusan ini tentunya akan diambil secara bersamasama dengan negara lain. Faktor produksi tidak dibatasi oleh batas-batas negara. Dalam hal penerapan koordinasi pajak internasional. tentunya Mr. A juga akan dikenakan pajak oleh pemerintah Amerika Serikat. Misalnya adalah Mr. Sejalan dengan kondisi tersebut suatu negara tentunya juga harus mengatur bagaimana pajak produk dan pajak penjualan dari negara bersangkutan akan diterapkan pada sistem ekspor impornya. akan membayar pajak sesuai dengan ketentuan Indonesia atas penghasilan yang diperolehnya di Indonesia. pembiayaan badan kerjasama internasional seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan NATO. dan ketimpangan distribusi pendapatan internasional akan mengarah kepada perlunya koordinasi fiskal internasional. Penyatuan perekonomian Eropa ke dalam pasar bersama. B. Perusahaan multinasional berusaha mengoptimalkan sumberdaya yang ada di dunia ini tidak terbatas pada batas-batas negara. Dalam kasus ini yang menjadi pertanyaan adalah. apakah keadilan horizontal (keadilan antar perorangan) yang mengharuskan bahwa pajak total yang dibayarnya (baik didalam maupun luar negeri) akan sama dengan pajak yang di bayar oleh Mr. yang dalam masa tertentu bekerja di Indonesia. Dalam kasus lain. seorang warga negara Amerika Serikat. tetapi sudah melintas batas-batas negara. 3. yang menerima pendapatan total yang sama tetapi seluruhnya berasal dari Amerika Serikat? Atau sudah cukupkah kiranya jika Amerika Serikat menganggap pajak yang di bayar ke negara lain sebagai pengurangan pendapatan dan menyamakan beban pajak sesuai dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Mr. makin meningkatnya peranan perusahaan multinasional. Setiap negara tentunya akan mengatur bagaimana negara tersebut akan menarik pajak terhadap pendapatan warga negaranya yang diperolehnya dari luar negeri dan pendapatan warga negara asing yang berasal dari dalam negeri. Keadilan antar perorangan Keadilan antar negara Efisiensi Keadilan Antar Perorangan Dalam prakteknya. 2. Koordinasi dan alokasi sumberdaya menjadi kunci pengelolaan perusahaan multinasional. jika seseorang menerima pendapatan yang berasal dari berbagai negara. Karena dia juga menerima pendapatan sebagai warga negara Amerika Serikat.286 Amerika Serikat.

Jadi. Hal ini juga menunjukkan bahwa sebagian beban pajak akan di geser keluar negeri. masalah keadilan berkaitan dengan kemungkinan untuk membebani warga asing melalui perubahan harga. harga ekspor akan naik dan konsumen di luar negeri akan membayar lebih mahal.287 pengenaan pajak di Amerika Serikat saja? Dalam kasus Mr. maka penggeseran beban semacam itu bisa dianggap sebagai hambatan bagi keadilan antar negara. Jika Mr. maka Mr C akan menanamkan lebih banyak modalnya di Vietnam. tentunya biaya ekspor akan naik. Konsekuensi dari kondisi tersebut di atas adalah bahwa pajak Indonesia yang di kenakan terhadap penghasilan atas modal Amerika Serikat yang ditanamkan di Indonesia tentunya akan mengurangi pengembalian (return) bagi Amerika Serikat. Jika negara tersebut mendominasi pasar ekspor. kerugian yang di derita Amerika Serikat hanya akan tergantung pada tarif pajak atas modal Amerika Serikat yang di kenakan di Indonesia. permasalahannya adalah bagaimana mengelola pengenaan pajak atas pendapatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika negara A mengenakan pajak atas ekspor. sehingga tidak akan merugikan bagi Amerika Serikat tetapi hanya merupakan transfer dari warga negara Amerika Serikat ke Departemen Keuangan Amerika Serikat. B keadilan diinterpretasikan dalam artian nasional. Keadilan Antar Negara Masalah keadilan yang lebih pelik akan kita temui dalam menentukan pembagian penerimaan pajak diantara ditjen pajak atau departemen keuangan di berbagai negara. Kondisi ini bisa disebut sebagai prinsip berbalasan. masalah ini akan timbul baik dalam hal pajak penghasilan maupun pajak produk. Berbeda halnya dengan pajak tambahan yang mungkin di kenakan oleh Amerika Serikat. jika Impor dikenakan pajak. seorang investor merasakan bahwa pajaknya akan lebih rendah apabila dia menanamkan modal di Vietnam dari pada di Indonesia. tetapi berapa tarif yang akan di kenakan masih menjadi persoalan. Sehubungan dengan pajak penghasilan. Oleh karena itu. Dengan demikian. sedangkan dalam kasus Mr. Dalam hal pajak produk. Jika kita menerima kriteria bahwa suatu negara harus membayar pajaknya sendiri. A. keadilan diinterpretasikan dalam artian internasional. Sejalan dengan itu. Efisiensi Perbedaan tarif pajak tentunya akan mempengaruhi lokasi dari kegiatan perekonomian dan cenderung menghambat penggunaan sumber daya yang paling efisien. secara umum disetujui bahwa negara dimana pendapatan itu dihasilkan (juga di sebut sebagai negara sumber) berhak menarik pajak atas pendapatan tersebut. Salah satu pandangan mengenai keadilan antar negara adalah bahwa negara sumber harus diperbolehkan menarik pajak atas pendapatan yang di peroleh investor asing dengan tarif sebesar yang di kenakan negara lain atas pendapatan warganya di negara tersebut.C. sebagian dari beban pajak akan digeser keluar negeri. pemasok luar negeri harus menjual produknya dengan harga yang lebih rendah. Meskipun dengan cara yang berbeda.

tergantung dari falsafah yang dianutnya. Pada umumnya. tanpa memperhatikan tempat domisili penerima pendapatan tersebut. Pajak Langsung /Capital Income (Direct) Taxation Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan. Dasar-dasar Keuangan Publik . untuk menentukan letak sumber penghasilan. Penentuan sumber penghasilan tergantung dari dua hal yang pokok. Kondisi ini akan mengakibatkan bahwa lokasi produksi tidak lagi di tentukan oleh keunggulan komparatif (atau biaya sumber daya relatif). yaitu: • Penghasilan dari usaha (active income) • Penghasilan dari modal (passive income). akan tercipta efisiensi alokasi sumber daya di seluruh dunia dalam integrasi perekonomi dunia. Di samping itu. Prinsip Prinsip Pajak Internasional Berbagai struktur sistem pajak nasional mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional dan konsekuensinya. baik itu warga negara ataupun bukan warga negara. setiap negara mempunyai definisi penduduk sendiri-sendiri. royalty dan penghasilan dari harta. bunga. Jadi. Syaratsyarat in tergantung pada undang-undang masing-masing negara. Prinsip pajak berdasarkan asas dari sumber pendapatan menyatakan bahwa seluruh pendapatan yang diperoleh di suatu negara akan dikenakan pajak. tetapi di modifikasi oleh perbedaan biaya pajak. misalnya dividen. Artinya. penduduk suatu negara tidak akan dikenakan pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di luar negeri dan warga negara asing akan dikenakan pajak sama dengan pendapatan penduduk yang diterima di negara tersebut. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni pajak langsung dan pajak tidak langsung. seseorang subjek pajak akan dianggap sebagai penduduk dalam negeri (resident taxpayer) apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Prinsip pajak berdasarkan asas domisili menyatakan bahwa penduduk akan dikenakan pajak di negara di mana ia berdomisili tanpa memperhatikan darimana sumber penghasilan yang diperolehnya baik pendapatan yang diperolehnya di dalam negeri maupun di luar negeri. yang berbeda dari negara lain. yang merupakan persyaratan bagi perdagangan yang efisien. Yang berkaitan erat dengan asas domisili ini adalah penentuan domisili bagi subjek pajak. yaitu (a) jenis penghasilan itu sendiri dan (b) penentuan sumber penghasilan berdasarkan undang-undang pajak dari suatu negara.288 dan investasi internasional sehingga tidak mengganggu efisiensi alokasi modal secara global. jenis-jenis penghasilan dibagi menjadi dua. Walaupun kemungkinan tidak ada satu negarapun yang secara ketat menerapkan prinsip prinsip pajak internasional. Bagi yang bukan merupakan penduduk tidak akan ditarik pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di negara tersebut.

Berkaitan dengan pengertian tersebut berikut illustrasi yang mungkin terjadi jika seseorang warga negara Amerika Serikat bekerja di Inggris. kondisi ini selaras dengan pandangan internasional mengenai keadilan antar perorangan. Nn. tetapi bisa menerapkan tarifnya sendiri terhadap penghasilan orang asing. karena hal itu merupakan pajak seharusnya akan dibayarnya seandainya pendapatan tersebut diperoleh di Amerika Serikat. D yang bekerja selama enam bulan di Inggris dan kemudian kembali ke Amerika Serikat. Demikian juga dengan pemberian kredit pajak oleh negara asal warga bersangkutan. Kondisi ini selaras dengan konsep keadilan antar negara yang menyatakan bahwa negara sumber pendapatan tidak boleh melakukan diskriminasi. baik barang atau jasa tersebut dibuat di dalam negeri ataupun barang import. Pemerintah di negara sumber pendapatan lazimnya akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Investor perorangan yang menerima pendapatan investasi dari luar negeri akan membayar pajak penghasilan perorangan atas pendapatan tersebut. Pengenaan Pajak Tehadap Pendapatan Atas Modal Pada umumnya terdapat beberapa ketentuan dalam memperlakukan pendapatan investasi asing. Menurut prinsip pajak sumber. Jadi barang barang impor akan dikenakan pajak sedangkan barang barang ekspor dibebaskan dari pajak. barang atau jasa yang dibeli oleh penduduk dikenakan pajak. Paling tidak itulah prosedurnya seandainya pajak yang dikenakan Inggris tidak melebihi pajak yang akan dikenakan Amerika Serikat atas pendapatan yang diperoleh di Inggris tersebut. meskipun menyebabkan menurunnya penerimaan negara bersangkutan.289 Pajak Komoditi (Pajak Tidak Langsung) Dengan menganalogikan pada pajak domisili dan pajak sumber pendapatan pada pajak langsung. pendapatan di Inggris juga akan diperhitungkan. 1. Guna menentukan pajak yang akan di bayarnya di Amerika Serikat. terdapat dua prinsip pajak tidak langsung yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni prinsip pajak tujuan dan prinsip pajak sumber. Koordinasi Atas Pajak penghasilan Dan Pajak Laba Pengenaan Pajak atas Pendapatan yang Diperoleh Setiap negara berhak untuk menarik pajak atas pendapatan warganya entah di manapun pendapatan itu di peroleh. akan membayar pajak Inggris Raya atas pendapatan yang diperolehnya di Inggris. tetapi pajak yang telah dibayar di Inggris akan dikreditkan terhadap kewajiban pajaknya di Amerika Serikat. Secara umum prinsipnya adalah memperbolehkan pengenaan pajak atas pendapatan di negara sumber sedangkan negara asal warga bersangkutan akan memberikan kredit pajak. tanpa memperhatikan sumber ataupun asal produksi. segala barang maupun jasa yang bertujuan untuk konsumsi akhir pada suatu negara akan dikenakan pajak. Menurut prinsip pajak tujuan.

Sesuai dengan konsep keadilan antar negara. Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan perbedaan apa pun bagi perusahaan induk jika pajak luar negeri tidak lebih kecil dari pajak yang akan dikenakan di dalam negeri. Jika dikaitkan dengan perusahaan multinasional. Karena kesulitan-kesulitan yang di hadapi Dasar-dasar Keuangan Publik 2. telah diupayakan berbagai aturan untuk menghambat penggeseran laba. 3. maka laba bisa di geser dari satu negara ke negara lain guna memanipulasi pajak agar diperoleh pajak yang terendah. laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit. . Jadi. Perusahaan yang mengoperasikan kantor cabang di luar negeri akan dikenakan pajak atas laba kantor cabang sesuai dengan peraturan pajak perseroan negara bersangkutan. misalnya sebesar 15 persen. misalnya: persyaratan agar harga ditentukan berdasarkan transaksi yang wajar dengan pihak ketiga atau transaksi tanpa hubungan istimewa (arm’s-length-basis). secara hukum merupakan satuan perusahaan terpisah. Pembagian Laba sebagai Dasar Pengenaan Pajak Dalam Lingkup Internasional Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa suatu negara berhak mengenakan pajak dari laba yang timbul di wilayah bersangkutan. Untuk pengenan pajak di negara asal. Kanada berhak menarik pajak perusahaan anak tersebut. Jika kondisi ini terjadi (biasanya pada negara–negara yang sedang berkembang. Tetapi dengan cara apakah laba ini benar-benar bisa dipisahkan dari laba perusahaan induknya di Amerika Serikat? Jika terjadi transaksi jual beli yang terjadi antara perusahan induk dan perusahaan anak. Kesulitan akan berlipat ganda apabila serangkaian perusahaan anak beroperasi di berbagai negara. Hal ini merupakan persoalan yang rumit. akan menyebabkan perlunya ditentukan berapa besar laba yang timbul pada setiap negara.290 mengenakan withholding tax. yang selanjutnya akan dikreditkan terhadap pajak yang akan dibayarkan di negara asal investor. Untuk mengantisipasi kondisi ini. Perusahaan anak yang didirikan di luar negeri (foreign incomporated subsidiary). dimana mungkin tarif pajak sangat rendah). perusahaan anak akan lebih condong untuk menginvestasikannya kembali labanya dinegara yang menerapkan tarif pajak yang rendah (yang disebut sebagai surga pajak). kelihatannya hal ini akan bertentangan dengan ketentuan mengenai pengkreditan yang mengganggap pajak perusahaan anak pada kenyataannya merupakan pajak perusahaan induk. Labanya akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing dan pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba perusahaan anak tersebut dikirimkan ke perusahan induk sebagai deviden. implementasi dari aturan ini. Penangguhan Pajak Ketentuan mengenai penangguhan pajak didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan anak diluar negeri benar-benar merupakan satuan usaha yang tepisah. Sebuah perusahaan Amerika Serikat mengoperasikan sebuah perusahaan anak di Kanada.

Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak mempengaruhi lokasi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. Jika pajak mempengaruhi harga. Baik A maupun B akan lebih makmur daripada jika tidak ada perdagangan. Hal ini akan semakin terasa jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Ini tidak akan mempengaruhi perdagangan karena harga relatif antara produksi dalam negeri dan impor tidak berubah. namun pelaksanaan pendekatan ini memerlukan pengaturan pajak internasional dan karena itu masih merupakan alternatif yang tak terjangkau. dan hal sebaliknya berlaku untuk B. konsumen akan mensubstitusikan kedua jenis barang itu satu sama lain dan lokasi produksi akan berbeda dari lokasi produksi untuk pajak yang netral. baik produksi domestik maupun impor.291 dalam menghitung laba yang terpisah bagi satuan satuan usaha yang terkait. yaitu jika pajak tersebut dalam bentuk bea masuk dan cukai. Misalkan negara A mengenakan pajak terhadap konsumsi atas semua X dan Y. negara A akan memperoleh pendapatan riil yang lebih tinggi daripada jika ia memproduksi semua Y yang dibutuhkannya. pertanyaan kini adalah apakah pajak bersangkutan mempengaruhi harga relatif antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. Penyesuaian ini bisa mempengaruhi tingkat perdagangan. tetapi lokasi untuk kedua produk itu (pada tingkat produksi yang baru) masih akan tetap sejalan dengan keunggulan komparatif. Perdagangan internasional yang berlangsung secara bebas didasarkan pada argumen dasar bahwa semua negara yang berdagang akan mendapat manfaat jika masing-masing berspesalisasi pada produk di mana ia memiliki keunggulan komparatif. negara A akan tetap memproduksi sebagian dari Y dan negara B memproduksi sebagian dari X yang dibutuhkannya. Meskipun cukup menarik. akibatnya konsumen akan menambah konsumsi X dan mengurangi konsumsi Y. karena biaya produksi semakin meningkat untuk jumlah yang makin besar. yang diproduksi di dalam negeri maupun yang diimpor. maka pajak produk mengarahkan perhatian kita pada pengaruhnya terhadap aliran produk. Negara asal tersebut bisa diperkirakan dengan suatu rumus yang memperhitungkan lokasi nilai tambah dan penjualan. Laba sebagai dasar pengenaan pajak (profits base) dari perusahaan multinasional dapat dialokasikan di antara negara negara tidak berdasarkan lokasi dari perusahaan anak tetapi berdasarkan negara asal laba yang diperoleh oleh group usaha tersebut secara keseluruhan. Koordinasi Pajak Produk Aspek Efisiensi Jika pajak penghasilan mempengaruhi aliran atau perpindahan modal. Pajak Konsumsi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika pajak itu hanya dikenakan terhadap Y. maka pernah disarankan suatu cara yang berbeda sama sekali. Dengan mengekspor X dan mengimpor Y. Akan tetapi. Anggaplah negara A mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan produk X sementara negara B mengimpor X dan mengekspor Y. Dalam menentukan apakah berbagai pajak yang ada berpengaruh atau tidak terhadap lokasi produksi.

Sekarang negara A memproduksi lebih banyak barang Y dan negara B memproduksi lebih banyak barang X dari pada sebelumnya. Artinya hal itu sejajar dengan pajak Dasar-dasar Keuangan Publik . kenaikan permintaan atas mata uang A dan penurunan permintaan atas mata uang B akan menyebabkan naiknya nilai mata uang A terhadap B. Akibatnya. harga barang di negara B akan naik sejalan dengan pajak tersebut. Eksportir B akan menambahkan pajak tersebut ke biaya (harga) produknya sehingga harga barang impor bagi konsumen A menjadi lebih tinggi sehingga impor akan dikurangi. Dengan menurunnya impor A atas barang Y. ekspor X dari A juga akan menurun sampai tercapai suatu titik ekuilibrium pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dan dengan pemberian produksi X dan Y yang kurang efisien di antara negara A dan B. Pajak ini akan menyebabkan perbedaan harga relatif antara produk domestik dan impor. misalnya atas produk Y yang diekspornya. Karena merasa bahwa harga produk dalam negeri telah naik jika dibandingkan dengan harga produk impor. dan dewasa ini telah banyak cara diupayakan untuk mengurangi perdagangan yang bersifat proteksionis. Sekali lagi konsumen A akan merasakan naiknya biaya (harga) Y dan akan mensubstitusinya dengan Y produksi dalam negeri. sehingga Y produksi dalam negeri akan mensubstitusi Y impor. Dengan menurunnya impor. nilai mata uang A terhadap B akan naik. Pajak Produksi Dalam mempermasalahkan pajak produksi atau pajak asal produk (origin taxes). Konsumen negara A akan merasakan hal sebaliknya. mata uang A terhadap mata uang B akan naik. Tindakan B akan membatalkan kenaikan harga barang impor Y di negara A sehingga tidak perlu mensubtitusinya dengan memproduksi Y di dalam negeri. Dengan dihapusnya pajak atas barang Y oleh negara B. kita bisa melihat bahwa distorsi atau penyimpangan bisa saja terjadi meskipun tidak ada upaya untuk mendiskriminasikan produk luar negeri. Jadi. pengenaan pajak produk hanya kepada barang Y saja di negara B menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan efek distorsi yang timbul akibat dikenakannya bea masuk atas barang Y di negara A. Karena itu. Ini akan menghambat keinginan konsumen B untuk menambah impor dan keinginan konsumen A untuk mengurangi impor. maka pajak atas barang Y telah berubah dari pajak produksi menjadi pajak konsumsi. Distorsi ini bisa dihindarkan seandainya barang B memberikan penghapusan pajak atas barang Y yang di ekspornya. Biaya impor bagi konsumen B menjadi naik dan karena itu impor dikurangi. Titik ekuilibrium yang baru akan dicapai pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dengan disertai perubahan distribusi lokasi produksi. konsumen negara B akan memperbesar impor. Jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Perbandingan harga antara ekspor dan impor tidak akan berubah dan nilai riil perdagangan tidak terpengaruh. Pajak atau bea semacam itu akan melemahkan perdagangan yang efisien. yaitu terhadap Y dikenakan bea masuk.292 Situasinya akan sangat jauh berbeda jika negara A mengenakan pajak hanya terhadap Y impor. Pertama-tama anggaplah bahwa harga negara B mengenakan pajak produksi umum misalnya cukai sebesar 10 persen terhadap barang X dan barang Y. Situasinya akan berbeda jika pajak produksi negara B dikenakan hanya pada satu jenis produk saja.

ketentuan kontribusi minimum. melainkan dengan hak penarikan (drawing rights) yang ditetapkan sesuai dengan kemungkinan diperlukan kredit-kredit IMF. Disini juga pajak berubah menjadi pajak konsumsi (yaitu pajak atas semua X yang di konsumsi di B) tanpa adanya distorsi atas lokasi produksi. Semua ini menyebabkan perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. Selanjutnya prinsip ini dimatangkan lagi dengan menambah sejumlah ketentuan seperti pembebasan beban bagi negara miskin. Makin banyak X diproduksi di A dan makin banyak Y diproduksi di B dari pada sebelumnya. jaringan narkotik. tetapi lagi-lagi lokasi produksi akan mengalami distorsi. sebagaimana halnya dengan pemerintah daerah. Konsumen B dalam hal ini akan melakukan subtitusi dengan X impor. dan pembatasan jumlah yang harus dikontribusikan oleh suatu negara. Jika jumlah anggota kelompok atau pesertanya kecil. terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. Khusus mengenai pertahanan. Organisasi-organisasi lain menerapkan pola yang berbeda. Distorsi dalam hal ini bisa dihindarkan jika B mengenakan bea masuk atas X untuk mengkompensasi pajak produksi X. dan penyesuain selanjutnya akan terjadi. Pada akhirnya. Ini akan menimbulkan pajak proporsional dalam kaitannya dengan GNP. Kedua macam pertimbangan di atas diperhitungkan dalam menentukan kontribusi bagi anggaran Perserikatan Bangsa-Bangsa. dengan bagian tertinggi (sekarang 25 persen) disumbangkan oleh Amerika Serikat. dan pasar bersama. Koordinasi Pengeluaran Diantara sejumlah negara. Jika tarif perkiraan (assesment rate) yang proposional digunakan. tidak mendistorsikan lokasi produksi sejauh dikenakan terhadap produk impor dan produk dalam negeri. Prosedur yang kiraDasar-dasar Keuangan Publik . Kontribusi bagi Dana Moneter Internasional (IMF) tidak ditentukan berdasarkan manfaat yang diperoleh. Jika perhitungan progresif digunakan.293 penjualan eceran atas produk Y di negara B yang seperti telah kita lihat. Jika anggotanya sangat banyak. akan timbul pertanyaan apakah kelompok tarif tersebut hanya dikaitkan dengan pendapatan perkapita dari penduduk di berbagai negara (dimana penduduk dianggap sebagai patokan dasar). tingkat perdagangan riil akan naik. Ceritanya juga akan sama jika B memajaki X. Prosedurnya pada dasarnya adalah: biaya total dibagi di antara negara anggota sesuai perbandingan kontribusi dasar atau GNP. kerja sama akan lebih menguntungkan sekutu yang kecil karena peningkatan pertahanan yang kecil sekalipun oleh sekutu yang besar akan merupakan tambahan perlindungan yang sangat besar bagi sekutu tersebut. pembagian beban biaya bisa dirundingkan dengan membandingkan manfaat yang akan diperoleh setiap pihak. terlepas dari pendapatan per kapita. setiap negara mungkin akan diharuskan untuk membayar dalam presentase GNP atau presentase pendapatan nasional yang sama. Pembagian beban biaya ditentukan melalui pemungutan suara setiap tahun dan direvisi berkali-kali. usaha pertahanan bersama seperti NATO. usaha bersama dalam memerangi penyakit. maka masalahnya akan mirip dengan masalah penentuan anggaran antar perorangan. Ini bisa saja menyangkut pembangunan jalan di perbatasan dua negara.

Amerika Serikat merupakan penanggung terbesar atas biaya NATO. menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja dinegara A. tidak ditentukan dengan suatu dasar perumusan yang tetapkan tetapi pada hakikatnya tergantung pada negosiasi. Dengan naiknya impor A. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. tetapi juga berlaku bagi negara dengan perdagangan luar negeri yang terkecil seperti Amerika Serikat. kebijakan suatu negara akan berpengaruh terhadap negara lain sehingga diperlukan kordinasi kebijakan untuk menampung kebutuhan kedua negara. biaya impornya menjadi tinggi sehingga membatasi atau memperkecil devisit perdagangan negara A dan ekspor negara B. Koordinasi khususnya diperlukan karena saling ketergantungan tidak hanya menyangkut perdagangnan tetapi juga aliran atau perpindahan modal. nilai mata uangnya akan turun. pengalihan permintaan ke Negara B ini tidak akan terjadi karena adanya penurunan nilai mata uang A. Hal yang sama berlaku juga untuk keadaan inflasi. dan hal itu juga turut memulihkan keaadan negara B karena ekspornya jadi meningkat. dengan kurs yang tetap. Suatu negara tidak mungkin lagi bertindak sendiri untuk mengendalikan persoalan yang dihadapinya. kebijakan inflasioner negara akan memperlemah (mendefisitkan) neraca perdagangannya dan menimbulkan besarnya permintaan ke negara B. akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara B yang menghadapi penurunan ekspor. Pengaruh kebijakan ekspansioner dari negara A terhadap perdagangan akan diperlemah jika kurs valuta asing bersifat fleksible. Kontribusi untuk NATO. Karena itu.294 kira sama diikuti dalam pemesanan modal saham Internasional Bank for Reconstruction and Development (IBRD). Hal ini khususnya berlaku untuk negara negara dengan perekonomian yang terkait erat seperti pasar bersama. kurs yang fleksibel akan mengurangi gejolak perdagangan. Dengan demikian kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan. Sekali lagi. pendapatannya naik dan begitu juga halnya dengan impornya. Penyesuaian kurs tidak berlangsung dalam sekejap dan perubahan kurs secara diskresioner dapat menjadi faktor pengganggu Dasar-dasar Keuangan Publik . Harus dicatat bahwa semua kontribusi ini relatif kecil jumlahnya sehingga pengecualian atau penyimpanan bagi negara tertentu tidak begitu berpengaruh. Jika A mengambil kebijakan ekspansionir. yang melibatkan jumlah yang besar. Pengaruh terhadap Perdagangan Dengan asumsi bahwa keadaan kurs valuta asing yang bersifat tetap. dengan kontribusi yang mungkin melebihi bagian yang seharusnya ditanggungnya seandainya hal itu ditentukan berdasarkan presentase GNP. Dengan kurs yang fleksibel. Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Dengan makin meningkatnya saling ketergantungan dunia. Karena itu. Akan tetapi gambaran ini telalu disederhanakan. maka nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. Kebocoran yang ditimbulkan impor akan memperkecil faktor pengganda (multiplier) dan karena itu kebijakan A menjadi kurang efektif.

entah itu kebijakan fiskal atau moneter. Pemahaman atas Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda) Tax Treaty atau perjanjian pajak berganda adalah merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka mengantisipasi pemajakan ganda dan berbagai usaha penghindaran pajak. Setiap tax treaty mempunyai prinsip prinsip dasar yang kurang lebih sama. Pasal-pasal ataupu ayat-ayat yang terdapat dalam sebuah tax treaty pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang mengungkapkan cakupan tax treaty. Jika surplus impor tersebut berupa investasi riil. Akan tetapi. Sebagai suatu perjanjian. Penentuan aspek perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan klausul-klausul yang terdapat dalam tax treaty yang bersangkutan sesuai dengan transaksi yang dihadapi. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. Perjanjian ini akan digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan aspek perpajakan yang timbul dari suatu transaksi diantara mereka. sebuah treaty adalah merupakan suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Peranan aliran modal menjadi penting jika kita mempertimbangkan pengaruh kebijakan stabilitasi terhadap pertumbuhan ekonomi. pasal-pasal dan ayatayat yang berkaitan dengan suatu aspek transaksi dan pihak tertentu. sehingga keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produtivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya. dan begitu juga sebaliknya. Dasar-dasar Keuangan Publik . bauran kebijakan stabilisasi akan menjadi masalah besar jika dikaitkan dengan aliran modal. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing. didalamnya selalu berisi klausul-klausul. bagian yang mengatur minimalisasi pengenaan pajak berganda. Banyak hal tergantung pada bagaimana bentuk dari surplus impor yang ditimbulkan tersebut. Aliran Modal Pengaruh kebijakan yang ekspansioner atau restriktif terhadap perdagangan bisa dikatakan sama. Pendapatan modal di masa mendatang akan dikirimkan keluar negeri. sebagai bagian dari konvensi internasional di mana setiap negara yang terlibat dalam suatu tax treaty menyusun perjanjiannya masing masing berdasarkan model-model perjanjian yang diakui secara internasional.295 pengendalian atas kurs itu sendiri merupakan alat kebijakan yang memerlukan kerja sama lebih lanjut. Oleh karena itu. Pada dasarnya terdapat dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun suatu treaty yaitu model OECD dan Model PBB. maka akan terjadi peningkatan modal di negara bersangkutan yang akan tercermin pada kenaikan produktivitas tenaga kerjanya.

badan usaha dan entitas lainnya yang berdasarkan treaty tersebut dianggap sebagai penduduk dari salah satu negara yang terikat perjanjian. Dalam ketentuan umumnya (general definitions). Dalam beberapa hal. domisili. Dalam pasal dan ayat ini akan diatur ketentuan tentang siapa saja yang merupakan orang pribadi. Cakupan Tax Treaty Personal Scope Tax treaty adalah persetujuan yang ditandatangani oleh dua negara. Jenis pajak yang diatur disini akan mengikuti ketentuan sesuai dengan tax treaty dan mengabaikan ketentuan internal yang berlaku di masing-masing negara. Oleh karena itu. national (negara atau kewarganegaraan). Kedua hal tersebut akan diatur dalam klausul lain yaitu dalam klausul tentang general definitions dan tentang residence. badan atau entitas lainnya yang dianggap sebagai penduduk dengan status kependudukan ganda (double residence). sehingga subyek pajak yang menjadi sasaran adalah mereka yang menjadi penduduk dari kedua negara tersebut (Rachmanto Surachmat. Atas pajak tidak langsung seperti Pajak Pertambahan Nilai atau pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah tidak diatur dalam tax treaty. ketentuan suatu tax treaty memiliki suatu kekuatan yang berada di atas sistem perundang undangan yang berlaku secara internal di dalam suatu negara. Biasanya disini definisi mengenai penduduk maupun perihal kependudukan ganda tidak diartikan lebih lanjut. Dengan kata lain. Definisi penduduk adalah setiap orang pribadi atau badan yang berdasarkan ketentuan internal suatu negara – seperti keberadaan. Residence Dalam kriteria ini akan diatur tentang dua hal yakni definisi penduduk (berkaitan dengan personal scope) serta tie breaker rule.296 bagian tentang pencegahan penghindaran pajak dan bagian yang mencakup halhal lainnya. tempat kedudukan manajemen atau sebab-sebab lain yang mempunyai karakteristik yang sama – dapat dikenai pajak di negara tersebut. termasuk di dalamnya orang pribadi. international traffic (lalu lintas internasional). pengertian personal scope akan berkaitan dengan pengertian-pengertian dalam kedua klausul tersebut. Aturan dalam tax treaty hanya diberlakukan untuk jenis pajak langsung seperti Pajak Penghasilan (PPh). diatur tentang definisi istilah-istilah umum yang berkaitan dengan definisi persons (orang atau badan). Tax Covered Klausul ini mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty yang bersangkutan. enterprise (badan usaha) dan lain lain. penduduk adalah Subjek Pajak dalam negeri suatu negara yang dikenai pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan lokal yang berlaku dinegara tersebut. Dengan kata lain. 2001). ketentuan personal scope mengatur tentang kepada siapa sajakah ketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. Undang-undang nasional dari banyak negara umumnya mengenakan Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu.

tetapi juga karena keberadaan secara teratur di negara tersebut. Di negara lainpun suatu pihak melakukan usaha. Hal ini bisa terjadi karena setiap negara pada dasarnya berhak mengatur definisi penduduk sesuai dengan versinya masing-masing. suatu usaha tidak hanya dilakukan di negara sendiri. adalah hal yang logis jika otoritas pajak di negara tersebut ingin mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima. BUT Aktivitas. Artinya. Time test ini disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara. Menyadari efek-efek negative tersebut. 2001). maka langkah kedua dan seterusnya tidak perlu digunakan lagi. BUT tipe ini merupakan tipe yang paling mudah diketahui keberadaannya. Tie breaker rule dibedakan menjadi dua yaitu yang diterapkan untuk orang pribadi dan yang diterapkan untuk selain orang pribadi. tentunya harus ada batasan-batasan ataupun aturan yang jelas hingga bisnis yang dilakukan yang sekaligus merupakan investasi di negara tersebut tetap saja berjalan dengan baik. Namun berkaitan dengan keinginan tersebut. Tie breaker rule untuk orang pribadi terdiri dari penentuan permanent home (tempat tinggal tetap). pabrik. Dalam prakteknya. Timbulnya BUT tipe ini ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. BUT timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung. Lamanya time test yang digunakan dapat berbeda beda antara satu tax treaty dengan tax treaty yang lain. Langkah-langah tersebut secara berurutan bersifat prioritas. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnnya). article residence selanjutnya mengatur langkah yang dapat digunakan untuk menghilangkan status kependudukan ganda yang sering disebut dengan tie breaker rule. Permanent Establishment Klausul ini mengatur tentang seberapa jauh jangkauan suatu negara dalam mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negara tersebut.297 pajak berdasarkan hubungannya dengan negara yang bersangkutan (Rachmanto Surachmat. national (kewarganegaraan) serta mutual agreement (perjanjian antar otoritas perpajakan). kantor perwakilan. artinya apabila dengan menggunakan ketentuan pertama masalah kependudukan ganda telah bisa dipecahkan. orang pribadi atau badan dapat dianggap sebagai penduduk dari dua negara berdasarkan asas world wide income yang dianut. Dalam klausul ini juga menegaskan bahwa orang pibadi atau badan tidak dapat langsung dianggap sebagai penduduk suatu negara hanya karena mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. Contoh contoh dari BUT dapat dikatagorikan menjadi empat macam yaitu: • • BUT Fasilitas Fisik. Dasar-dasar Keuangan Publik . Apabila usaha di negara lain itu ternyata berhasil. Sementara itu tie breaker rule untuk pihak selain orang pribadi hanya ada satu ketentuan yaitu tempat dimana manajemennya efektif berada. pengenaan pajak tidak hanya mendasarkan pada alasan tempat tinggal. habitual abode (tempat kebiasaan untuk tinggal). center of economic and social interests (pusat kepentingan ekonomi dan social). bengkel dan lain lain. Cerminan dari batas atau aturan tersebut adalah ketentuan tentang permanent establishment atau bentuk usaha tetap (BUT). Pada jaman sekarang.

BUT Keagenan. Dalam klausul ini juga ditentukan kondisi-kondisi dimana BUT dianggap tidak muncul seperti dalam hal suatu tempat yang hanya berfungsi untuk memajang barang-barang dagangan. sangat tergantung pada ada atau tidaknya BUT di suatu negara. Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati.298 • • BUT Asuransi. BUT tipe keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang memiliki wewenang untuk menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. Namun apabila penduduk suatu negara mendapatkan penghasilan di negara treaty partner melalui BUT-nya. Setelah kedua negara selesai meratifikasi. Minimalisasi Pemajakan Berganda Income from Immovable Property Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang berasal dari harta tak bergerak termasuk penghasilan yang bersumber dari pertanian atau sektor perhutanan. Bila kegiatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. Termination Klausul ini menjelaskan tentang saat berakhirnya sebuah tax treaty. maka negara treaty partner tersebut berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima melalui BUT itu. Didalamnya diatur bahwa negara tempat harta tak bergerak tersebut terletak juga dapat mengenakan pajak atas penghasilan dari harta tersebut. selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Entry Into Force Klausul ini menjelaskan tentang saat berlakunya sebuah tax treaty. Timbulnya BUT Asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan maka tax treaty pun dapat diberlakukan. Business Profits Klausul ini merupakan perluasan dari klausul permanent establishment yang mangatur tentang pengenaan pajak atas laba usaha milik penduduk suatu negara yang bersumber dari negara treaty partner (negara pasangan dalam tax treaty). Laba usaha milik penduduk suatu negara pada dasarnya hanya dapat dikenakan pajak di negara tersebut. tempat yang hanya dipergunakan untuk pembelian barang dagangan atau mengumpulkan informasi dan sebagainya. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. Penentuan dapat atau tidaknya negara treaty partner mengenakan pajak. Saat berlakunya tax treaty sangat bergantung dari selesainya tahap-tahap pembentukannya.

Dalam klausul ini dinyatakan bahwa negara tempat dividen berasal juga berhak mengenakan pajak atas dividen tersebut. maka laba usaha dari kegiatan itu hanya dikenai pajak di negara domisili (Rachmanto Surachmat. Selain memberikan definisi tentang bunga. Tak sedikit negara yang mengenakan pajak atas penghasilan berupa dividen ini. klausul ini juga mengatur bahwa negara tempat bunga berasal (treaty partner) juga dapat mengenakan pajak atas bunga tersebut. sebagaimana namanya. Tak berbeda dengan artikel dividen. Klausul dividen.299 usaha yang dilakukan penduduk negara domisili di negara sumber tidak melalui BUT. Alternatif kedua. Dividends Dividen merupakan penghasilan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu perusahaan. 2001) Shipping. memang merupakan aturan mengenai pengenaan pajak atas penghasilan yang berupa dividen. Inland Waterways Transport and Air Transport Klausul ini menjelaskan tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh perusahaan pelayaran (termasuk pengangkutan di sungai dan danau) dan perusahaan penerbangan yang beroperasi di jalur internasional. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika setiap negara mengenakan pajak atas laba yang diterimanya maka perusahaan pelayaran dan penerbangan tersebut tentunya akan menanggung beban pajak yang terlalu besar. Perusahaan yang bergerak di bidang ini bisa memperoleh penghasilan dari beberapa negara. Dalam artikel ini juga menyatakan tentang tarif pajak maksimal yang dapat dikenakan di negara asal dividen tersebut yang dibedakan menjadi dua yaitu tarif untuk dividen portofolio (saham dengan kepentingan semata mata investasi) dan untuk dividen dari penyertaan langsung ( saham dengan kepentingan control) Interets Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan bunga yang diterima dari negara treaty partner. Royalties Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan royalti yang diterima dari negara treaty partner. memberikan hak pemajakan kepada negara tempat di mana manajemen efektif berada. Dalam menghadapi permasalahan ini pada umumnya diatur dua alternatif pengenaan pajak. Indonesia pun mengenakan pajak atas dividen baik yang diterima oleh wajib pajak dalam negeri maupun wajib pajak luar negeri. Alternatif pertama. Tak berbeda dengan artikel dividend dan bunga. artikel royalti ini juga memberikan definisi royalti disamping mengatur bahwa negara tempat di mana royalti berasal dapat mengenakan pajak sesuai dengan tarif maksimal yang disepakati. artikel bunga pun mengatur tentang tarif maksimal pemotongan pajak untuk negara tempat dividen berasal. sama dengan alternatif pertama dengan pengecualian untuk penghasilan dari pengoperasian kapal laut yang hak pemajakannya diberikan kepada kedua negara sekaligus.

yaitu negara yang berhak mengenakan pajak atas business profit (negara tempat perusahaan berdomisili). • Penghasilan yang diterima oleh orang pribadi tersebut dibayarkan oleh pemberi kerja. Termasuk dalam pengertian harta dalam artikel ini adalah harta berupa perumahan dalam suatu kawasan real estate. Director’s Fees Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh direktur yang bekerja pada perusahaan yang berada di negara lain (merupakan penduduk di negara tersebut). Dependent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi sehubungan dengan pemberian jasa yang dilakukannya di negara lain dalam suatu hubungan kerja. Aturan ini pada dasarnya sejalan dengan aturan permanent establishment dan business profits namun secara khusus ditujukan untuk orang pribadi yang memberikan jasa-jasa profesional (seperti dokter. Rachmanto Surachmat (2001) memaparkan bahwa hak mengenakan pajak atas keuntungan karena pemindahtanganan harta yang digunakan untuk berusaha harus diberikan kepada negara yang sama. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa penghasilan Dasar-dasar Keuangan Publik . Ketentuan dalam tax treaty pada umumnya mengatur bahwa negara tempat harta tersebut terletak sebelum dipindahkan juga berhak untuk mengenakan pajak. Dalam bukunya. Hal ini diserahkan kepada undang undang pajak domestik masing-masing negara.. pengacara) untuk dan atas namanya sendiri di negara treaty partner. Karena itu.300 Capital Gains Klausul ini mengatur tentang penghasilan berupa keuntungan pemindahtanganan harta. Negara treaty partner tempat jasa tersebut dilakukan dapat mengenakan pajak sepanjang orang pribadi tersebut memiliki tempat tetap (fixed base) disana atau berada di negara treaty partner melebihi batas waktu yang disepakati bersama. Di sini diatur bahwa negara tempat orang pribadi tersebut bekerja dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterimanya. tanpa membedakan apakah keuntungan itu diperlakukan sebagai gain dari usaha. Independent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima orang pribadi yang bersumber dari negara treaty partner sebagai imbalan dari jasa-jasa professional yang diberikannya di negara tersebut. Namun untuk menganakan pajak tersebut. jasa yang diberikan oleh orang pribadi yang dimaksud di sini merupakan jasa yang dilakukan untuk dan atas nama pihak lain yang memiliki hubungan kerja dengannya. ada beberapa syarat kumulatif yang terlebih dahulu harus dipenuhi yaitu: • Orang pribadi yang bersangkutan berada di negara lain melebihi time test yang telah disepakati. Berbeda dari pemberian jasa oleh independent personal yang dilakukan untuk dan atas namanya sendiri. • Penghasilan tersebut tidak dibebankan kepada BUT. persetujuan penghindaran pajak berganda tidak memerlukan aturan khusus yang membedakan capital gain dari business profit.

Namun demikian. Sedangkan termasuk dalam olahragawan antara lain adalah pemain sepakbola. Menurut Rachmanto Surachmat (2001). Jika direktur tersebut melakukan tugas tugas manajerial misalnya. Pensions Klausul ini mengatur tentang penghasilan yang diterima oleh pensiunan swasta. Namun demikian. pemain tennis. Pada umumnya. maka aspek pemajakannya mengacu pada klausul dependent personal services. Pada prinsipnya. Termasuk dalam pengertian entertainer dalam artikel ini antara lain yaitu artis televisi. sebab seringkali penentuan di mana kegiatan pekerjaan dilakukan – dalam kedudukannya sebagai anggota dewan direksi – adalah sulit. Bila diperhatikan. apabila pegawai negeri atau pensiunan tersebut merupakan warga negara dari salah satu negara dan sudah Dasar-dasar Keuangan Publik . hal ini untuk menyederhanakan pengenaan pajaknya. Artists and Sportsmen Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh artis (entertainer) dan olahragawan (sportsmen) dari negara lain. Namun sebagian besar tax treaty mengatur bahwa penghasilan tersebut dikenai pajak di negara di mana yang bersangkutan menjadi penduduk pada saat pensiun Government Services Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri. prinsip ini berbeda dengan prinsip pemajakan atas penghasilan orang pribadi yang lain sebagaimana diatur dalam klausul dependent dan independent personal services yang menggunakan syarat jangka waktu keberadaan sebagai alat menentukan aspek pemajakan. penghasilan berupa pensiun dikenai pajak di negara tempat di mana pekerjaan itu dahulunya dilakukan. Prinsip ini juga berlaku meskipun penghasilan tersebut tidak langsung dibayarkan kepada sang artis/atlit (dibayarkan kepada pihak lain. apabila pekerjaan yang dilakukan tidak lagi murni sebagai seorang direktur maka pemajakan atas penghasilan tersebut tidak lagi mengikuti ketentuan dalam klausul ini. karena itu yang diberikan hak pemajakan adalah negara di mana pihak yang membayarkan gaji berkedudukan. pemain golf. Namun apabila direktur tersebut bekerja sebagai konsultan pada perusahaan. Prinsip pemajakan yang diatur dalam artikel ini adalah negara tempat penghasilan tersebut bersumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima oleh artis ataupun atlit. contohnya agen).301 yang diterima oleh direktur dalam kapasitasnya yang murni sebagai seorang direktur dapat dikenai pajak di negara domisili perusahaanya tanpa memandang jangka waktu keberadannya di sana. maka aspek pemajakannya dalam hal ini akan mengacu pada klausul independent personal services. Penentuan aspek pemajakannya disesuaikan dengan jenis kegiatan (pekerjaan) yang dilakukan oleh direktur tersebut. pemain catur atau pemain bridge. artis radio atau musisi. Fungsi sebagai direktur bisa saja dilakukan di negara dimana ia berdomisili. Hal yang sama juga berlaku atas penghasilan yang diterima oleh pensiunan pegawai negeri. hak pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri diberikan kepada negara di mana ia bekerja.

Exchange of Information Klausul ini mengatur tentang pertukaran informasi antar otoritas pajak di kedua negara yang terkait dalam suatu tax treaty.302 sejak awal menjadi penduduk di negara tersebut maka penghasilan yang diterimanya hanya dikenakan pajak di sana. Apabila terjadi transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa. Dengan adanya pertukaran informasi. Pencegahan Penghindaran Pajak Associated Enterprises Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa. Salah satu efek dari adanya harga yang tidak wajar itu adalah terjadinya pergeseran laba dari suatu negara kepada negara yang lainnya. akan ada kecenderungan di mana harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar. Harga yang wajar adalah harga yang terjadi antara dua pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Perlakuakn perpajakan yang sama ini mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama. kepada negara yang bersangkutan diberikan hak untuk mengadakan penyesuaian penyesuaian sehubungan dengan pergeseran laba tersebut. Suatu negara yang terikat tax treaty memiliki kewajiban untuk memberikan perlakuan perpajakan yang sama untuk warga negaranya. Perlakuan yang sama juga harus diberikan kepada mereka yang bukan merupakan warga negara dari kedua negara yang terikat perjanjian. Hal ini dipandang sebagai suatu usaha untuk menghindari pajak dari suatu negara. dapat dikatakan bahwa klausul ini merupakan salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. Ketentuan Lain Lain Non Discrimination Klausul ini mengatur tentang persamaan perlakuan perpajakan yang diberikan oleh suatu negara kepada warga negara dan kepada bukan warga negara. Secara khusus Rachmato Surachmat (2001) dalam bukunya menyatakan bahwa klausul ini adalah aturan dalam hukum internasional yang memberikan perlindungan dari diskriminasi. Mutual Agreement Procedure Klausul ini mengatur tentang prosedur yang digunakan oleh kedua negara untuk berkomunikasi dalam menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pembayar pajak dengan otoritas pajak mengenai perpajakan tertentu. Pertukaran informasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pertukaran informasi secara rutin dan pertukaran informasi berdasarkan permintaan. pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Klausul ini dapat dipandang sebagai semacam sarana bagi para pembayar pajak untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam kondisi demikian.

Tax Treaty Mengalahkan UU PPh Bisa disimpulkan bahwa tax treaty muncul karena dua sebab yang mendasar. yang dijadikan sebagai acuan pada saat pembuatannya. maka suatu pihak berhak untuk menerapkan suatu ketentuan tax treaty dengan negara dimana yang bersangkutan berkedudukan atau berdomisili. Dalam kesepakatan internasional. Menurut Rachmato Surachmat (2001). Ketentuan dalam klausul ini pun mengatur hal yang sama. Jadi. antara dua negara. Yang perlu diperhatikan adalah. maksud dari kalusul ini adalah untuk menjamin bahwa para diplomat. Pertama. Bukti dimaksud seringkali disebut Surat Keterangan Domisili (SKD) atau Certificate of Residence Taxpayer (CRT) yang diterbitkan oleh competent authority atau pejabat yang berwenang yang ditunjuk oleh suatu negara treaty partner. keinginan untuk menghindari pemajakan berganda yang bisa menimbulkan distorsi ekonomi. Jika tidak memiliki SKD/CRT. secara umum setiap tax treaty mengikuti prinsip prinsip dasar dari model model tax treaty yang ada seperti model OECD atau model PBB. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negara-negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. berdasarkan tax treaty. ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. maka pengenaan pajaknya kembali pada Undang Dasar-dasar Keuangan Publik . yang berakibat buruk bagi investasi. Member of Diplomatic Missions and Consular Posts Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan yang diberikan kepada anggota dari suatu misi diplomatik dan konsulat. Namun demikian perlu diingat bahwa mutual agreement procedure tidak mencakup seluruh klausul yang terdapat dalam sebuah tax treaty. negara tersebut tidak dapat mengenakan pajak atasnya. antara berbagai negara pada umumnya dan antara Indonesia dengan negara negara lain pada khususnya. setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat. Klausul-klausul yang dapat menikmati ketentuan dalam mutual agreement procedure antara lain adalah business profits. dalam tax treaty pada umumnya sudah disepakati bahwa setiap negara treaty partner berhak menentukan prosedur dan tata cara untuk membuktikan bahwa suatu pihak benar-benar berdomisili atau berkedudukan dan berstatus sebagai pembayar pajak di negara treaty partner. tax treaty juga dimaksudkan untuk mencegah usaha-usaha penghindaran pajak yang dapat berpengaruh terhadap penerimaan pajak suatu negara. otoritas perpajakanpun memiliki sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. Surat keterangan yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau instansi sejenis di negara treaty Partner juga bisa dipersamakan dengan SKD/CRT. Dengan memiliki SKD/CRT. meskipun anggota korps diplomatik atau konsulat mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara di mana mereka bertugas. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral. Memahami prinsip prinsip dasar tersebut akan memudahkan setiap pihak dalam memahami berbagai tax treaty yang ada. Melalui ketentuan dalam klausul ini. tidak memperoleh perlakuan yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan berdasarkan hukum internasional. Kedua.303 “curhat” tentang suatu perlakuan perpajakan yang tidak disetujuinya. related persons dan royalty. Namun demikian.

304 Undang yang berlaku di negara masing masing. Jika tidak. maka Wajib Pajak luar negeri tersebut hanya dapat menerapkan ketentuan tax treaty Indonesia – Inggris apabila memiliki SKD/CRT dari competent authority yang ditunjuk negara Inggris. maka penghasilan Wajib Pajak Luar Negeri yang bersumber dari Indonesia langsung dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 26% dari penghasilan bruto. jika Wajib Pajak luar negeri yang berkedudukan di Inggris. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh.

Thompson Learning. Oxford: Clarendon Press. Public Finance. dan T. Feldstein. London. Hettich. 2003. Debt and Taxes in The Theory of Public Finance. “Tinjauan Permasalahan serta Prakondisi yang Diperlukan Bagi Pengembangan Penggunaan Pinjaman Daerah di Indonesia”. (2003). A Contemporary Application of Theory to Policy. Ont. Tax Incidence. Manajemen Keuangan Internasional. “Tax Limits and The Logic of Constitutional Restriction. “A Comparative Perspective on Federal Finance” dalam K. Aronson. 6.G. 2002. Richard M. Courchence. Duanjie. International Centre for Tax Studies. USA. Lembaga Penerbit FE UI. Pakpahan. Edisi Ketujuh. NBER. Kadjatmiko. 2004.J. 2002. Massachusetts Avenue Cambridge. Geoffrey dan Buchanan. Brennan. David N. Brown. Batam. Discussion Paper No. Mamduh. University of Toronto (July). Richard M. Public Finance. Makalah pada sidang ISEI. Jakarta. dan Francois Vaillancourt. dkk. Martin. editor. 2002.Walter dan Winer. 1985. 2002. BPFE. 2001. 2004. Cambridge. Sijbren & Hans-Werner Sinn. Jakarta Hanafi. 1990. United States: South-Western. Pajak Internasional.: Queen’s University School of Public Policy.Working Paper 8829. Bambang dan Arlen T. Indonesia. Local Governments and Markets. 1983. United Kingdom: Cambridge University Press.M. Gunadi. Fullerton. L. “Transfer Antar Tingkat Pemerintahan (Intergovernmental Transfer)” dalam Machfud Sidik. Intermedia. Nurjaman. Financing Regional Government: International Practices and Their Relevance to the Third World. Cnossen. MIT Press. Arsjad. National Bereau of Economics Reserach. 1998.305 DAFTAR PUSTAKA Alisjahbana. (1984). Keuangan Negara. J. 1981. Richard. (1999). University of Birmingham: Institute of Local Government Studies. Richard M dan Chen. dalam “Democratic Choice and Taxation: A Theoritical and Empirical Analysis”. dkk. 1996. Gilbert. MA. 1994b. ”Evaluasi atas Alokasi DAU 2001 dan Permasalahannya” dalam Machfud Sidik. K.J. “Federal Finance and Fiscal Federalism: The Two Worlds of Canadian Public Finance”. D. 1992. Brodjonegoro. editor. Armida S.. Fiscal Decentralization in Developing Countries. Inc. Bunga Rampai Desentralisasi Dasar-dasar Keuangan Publik . Don dan Metcalf. The Future of Fiscal Federalism. Robert J. Bird. Dana Alokasi Umum. Public Finance and Public Policy in the New Century. M. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. dkk. Stanley. Bennet. Banting. Davey. 14 April. Decentralisation. Jogyakarta Hyman. McGraw Hill. James. Bird. Cambridge (Maret). Kingston. Cambridge University Press. Bird.

2002. Studi yang dilakukan oleh Sustainable Indonesian Growth Alliance (SIAGA) Project A Banking Industry Reform. Sadka Efraim. Tax Policy Handbook. 2004. Mitchell. USA. (15 April). McGraw Hill. 2002. “Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia”. Laporan Akhir Pengembangan Obligasi Daerah di Indonesia. Pakpahan. LPEM Universitas Indonesia bekerjasama dengan Clean Urban Project. John. 2002. 2004. Machfud. International Fiscal Policy Coordination and Competition: An Exposition. (1991). Arlen T.34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”. Washington. NBER. Rosen. Sidik. DC: International Monetary Fund. 2003. New York. Harvey S. Shome. Sidik. Sidik. Republik Indonesia. MA. Machfud. Musgrave. Makalah yang disampaikan Seminar Nasional Rencana Revisi Undang-Undang Otonomi Daerah Kerja sama Forum Rektor . dkk. United States: McGraw-Hill.306 Fiskal. Dana Alokasi Umum. Public Finance (Sixth Edition). “Undang-undang No. Departemen Keuangan RI. 1989. Marco. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Inter-American Development Bank. Departemen Keuangan RI. Inc. 4 April. Jakarta. 2000. Daniel J. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. “Undang-undang No. “Optimalisasi Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah”. Makalah yang disampaikan dalam Acara Orasi Ilmiah dengan Thema “Strategi Meningkatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Jakarta. editor. Magrassi. Jogjakarta dengan United States Agency for International Development (USAID). Massachusetts Avenue Cambridge. Razin. Musgrave. Nine Simple Guidelines for Pro-Growth Tax Policy. “Pinjaman Daerah Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah” dalam Machfud Sidik. “Intergovernmental Fiscal Relations” dalam P. Republik Indonesia. dkk. “Subnational Investment Needs and Financial Market Response”. International Edition. Richard A dan Peggy B. 1995. 2002. yang merupakan kerjasama Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. ”Implementasi UU Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah (Kebijakan Pemerintah Dalam Perimbangan Keuangan)”. Republik Indonesia. 2002.Fraksi Utusan Daerah MPR-RI. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Public Finance in Theory and Practice. Capitalism Magazine. Assaaf.25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusar dan Daerah”. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah”. Norregaard. RTI (1999).. “Undang-undang No. Machfud.

1996. DC. 2003. Tax Review. 2003. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Ulbrich. Dana Alokasi Umum. Surahmat. Washington. Zakaria. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda serta penerapannya di Indonesia. Konsep. dkk. Yogyakarta. Malang. Keuangan Negara: Dalam Teori dan Praktek (Edisi 4).(2001).307 Kemampuan Keuangan daerah Melalui Penggalian Potensi Daerah Dalam Rangka Otonomi Daerah” Acara Wisuda XXI STIA LAN Bandung Tahun Akademik 2001/2002. Departemen Keuangan RI. Bandung. Holley. Wiratmo. 1997. Sebuah Pengantar. Jaja. Fiska Sarana. Jakarta. Thompson Learning. Gramedia Pustaka Utama. A Guide to Budget Work for NGOs. United States: SouthWestern. 5/2004. “Fiscal Federalism in Theory and Practice”. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 15745-VN. The Center on Budget and Policy Priorities. Machfud. Suparmoko. Sidik. 2002. ”Transfer Pusat ke Daerah: Konsep dan Praktik di Beberapa Negara” Machfud Sidik. Drs. Makalah pada Worskhop Manajemen Strategik Penerimaan Daerah dan Keuangan Daerah.. dan Implementasi”. “Kebijakan Fiskal: Pemikiran. editor.Teresa. Indonesia. Ter-Minassian. 2001. Subiyantoro. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Jakarta. Washington DC (Desember). BPFE. Ph. 26-27 September. Robert A. World Bank. Heru dan Singgih Riphat. Washington. DC (Oktober). dkk. 10 April. 2001.. Volume I/No. The International Budget Project. “Vietnam: Fiscal Decentralization and the Delivery of Rural Services”. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda. Simandjuntak. 2004.A. Dasar-dasar Keuangan Publik . 2002. (2001). 1996a. M. Report No. International Monetary Fund. “Perencanaan Pembiayaan Daerah”. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.D. M. ---------. Rachmanto. Masykur. Public Finance in Theory and Practice.

Sedangkan beberapa hasil karya penulisan atau papernya. USA.1. Anggota Tim Penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN Departemen Keuangan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Beberapa penugasan yang pernah diterima antara lain. Cross Section Analysis” (1980). tahun 1984. antara lain sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan dan Kepala Badan Analisa Keuangan dan Moneter. 1 Januari 1947. Selain itu. dosen luar biasa pada Universitas Trisakti. Departemen Keuangan. Pengalaman mengajar yang pernah dilaksanakan antara lain. Jakarta. Saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. BPPK Vol. dilahirkan di Kudus. dan ” The Impact of Institutional Environment on Public Official Permormance: Does Instititional Environment Affect The Rate Of Corruption?” (bersama Andie Megantara. ”Pokok-pokok Pengembangan Pendidikan dan latihan Jarak Jauh di Departemen Keuangan (1994). Jakarta. Ketua Tim Koordinasi dan Monitoring Perhitungan APBN. dan STIE Indonesia. yaitu ” Energy Comsumption in USA. saat ini beliau masih aktif sebagai Anggota Dewan Penasehat ISEI Cabang Jakarta. menikah dan telah dikaruniai 1 putri dan 2 putra.308 BIOGRAFI PENYUSUN Noor Fuad. 1984).1 No. Gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Universitas Gadjah Mada. Anggota Dewan Komisaris PT Telkom dan Anggota Redaksi Jurnal Keuangan dan Moneter. tahun 1986. Beberapa jabatan penting di lingkungan Departemen Keuangan pernah dipercayakan kepadanya. sebagai dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. USA. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. Jurnal Keuangan Publik. Yogyakarta pada tahun 1972. Selanjutnya meneruskan ke program master bidang kebijakan ekonomi di University of Illinois at Urbana Champaign. Departemen Keuangan. kemudian melanjutkan pada undergraduate program bidang ekonomi di Boulder Colorado University. ”Services Account Balance of Payment” (1985). Anggota Dewan Komisaris PT Pelindo III dan Ketua Dewan Pengawas Rumah Sakit Persahabatan. Penasehat Tim Penyempurnaan Sistem Akuntansi. ”Pengaruh Eksternal Shock Negara Industri terhadap Negara Berkembang” (terjemahan. September 2003). sebagai Ketua Grup Kerja Tim Subsidi Impor Bulog.

Jakarta. “Memahami GASB Statement No 34”. antara lain sebagai Direktur Program Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Keuangan Terapan (LP2MKt). 29 Januari 1970. dan Ketua Tim Penyusun Buku Dasar-dasar Keuangan Publik. kemudian menyelesaikan program masternya pada bidang Manajemen Keuangan dari Universitas Gadjah Mada. Saat ini aktif memberikan pelatihan Manajemen Keuangan Daerah pada beberapa Pemerintah Daerah melalui Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan. sehingga sampai sekarang mendalami manajemen keuangan sektor publik. dosen pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Depok. Universitas Paramadina Mulya. Jepang tahun 2003. Pusdiklat Pegawai BPPK.1. juga aktif sebagai peneliti pada Research Institute in Political Economy and Local Government Empowerment. 30. September 2003). dan ”The Impact of Institutional Environment on Public Official Performance: Does Institutional Environment Affect the Rate of Corruption?” (bersama Noor Fuad. Selain aktif di bidang pengajaran. ”An Overview of the Indonesian Automotive Industry” (Journal of Economics and Business Administration No. Selain itu.1 No. dan “Konsep Dasar Akuntansi Dana”. Lexington. Bambang Widjajarso tercatat sebagai staf pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. STAN. Dilahirkan di Boyolali. ”The Impact of Institutional Environment on Public Official Corruption” (Journal of Economics and Business Administration No. lahir di Solo. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. dan Universitas Indonesia. tahun 1994. USA. Tangerang. tahun 1990 sedangkan program master pada bidang Business Administration diraih dari University of Kentucky. March 2002). “Prospek Akuntansi Pemerintah Indonesia”. tahun 1993. 13 Agustus 1961. Beberapa hasil tulisan atau paper yang pernah dibuat antara lain. Gelar Sarjana Hukum didapatkan dari Universitas Airlangga. Universitas Budi Luhur dan Universitas Al Azhar Indonesia. Sedangkan program doktoral bidang Manajemen diselesaikan di Nanzan University. sebagai tenaga ahli bidang sektor publik. Jurnal Keuangan Publik Vol. tahun 1996. Nagoya. Yogyakarta. Minatnya pada bidang keuangan publik dimulai sejak meniti karir sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Propinsi Bali dimana penugasan-penugasannya meliputi aspek penerimaan dan pengeluaran negara dari aktivitas pemerintah yang didanai APBN. hampir seluruh perjalanan karirnya diabdikan sebagai pengajar di berbagai institusi. 29. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. Makalah-makalah yang dihasilkan diantaranya “Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah”.309 Andie Megantara. Saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Kurikulum. khususnya untuk mata kuliah Seminar Akuntansi Sektor Publik. Berbagai penugasan lain di luar jabatan struktural banyak dipercayakan kepadanya. March 2003). Dasar-dasar Keuangan Publik . antara lain pada Diklat Pimpinan Tingkat III dan IV serta diklat-diklat lain di Pusdiklat Pegawai BPPK. Surabaya. Anggota Dewan Editor Jurnal Keuangan Publik BPPK. Gelar akuntan diperoleh dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). sedangkan gelar Master of Business Administration dan Master of Accountancy diperoleh pada tahun 2001 dari Weatherhead School of Management. Kegiatannya selain menjabat di BPPK antara lain aktif mengajar pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan beberapa diklat yang diselenggarakan di BPPK seperti Diklat Pimpinan Tingkat IV. membuat dirinya terpanggil untuk lebih mengembangkan potensi di bidang sistem informasi yang dikuasainya bagi kemajuan STAN dan BPPK. Saat ini disamping jabatan struktural yang disandangnya sebagai Kepala Sub Bidang Program pada Pusdiklat Pegawai BPPK Jakarta. Adi Budiarso. Australia. praktik perpajakan. Pendidikan program Diploma III dan IV diselesaikan di STAN sedangkan gelar Master of Commerce diraih dari University of New South Wales. lahir di Jakarta 31 Oktober 1971. Rahmadi Murwanto. juga aktif berkecimpung di bidang pengembangan kepemimpinan. lahir di Salatiga. Dasar-dasar Keuangan Publik . Gelar Akuntan diperolehnya setelah lulus dari program Diploma IV STAN tahun 1997. Di samping pekerjaan utama yang bersangkutan dengan pengembangan SDM Departemen Keuangan.310 Huriah Akbar Prabowo. investasi dan manajemen risiko. saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Perumusan Program pada Sekretariat Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. Departemen Keuangan. serta mengajar pada program Pascasarjana Universitas Atmajaya. Case Western University. perpajakan dan keuangan publik. USA. Sydney. sistem akuntabilitas instansi pemerintah. Kecintaannya kepada almamater. setelah sebelumnya menjadi asisten dosen dari tahun 1991 sampai dengan 1994. Sejak tahun 1997 telah menjadi staf pengajar pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara untuk beberapa mata kuliah di bidang Akuntansi dan Manajemen Keuangan. Jabatan lain yang dipegangnya adalah sebagai Direktur Program Lembaga Pengembangan Kepemimpinan Global Yayasan Artha Bhakti BPPK. juga aktif mengamati berbagai perkembangan dalam bidang regulasi akuntansi. Setelah menyelesaikan program diploma III Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 1991. mendapat penugasan sebagai Asisten Dosen STAN dan Verifikator pada Bagian Keuangan BPPK. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Diploma IV (Program dalam Bahasa Inggris) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan Diklat Pimpinan Tingkat IV BPPK. 1 September 1970. kemudian pada tahun 2001 berhasil menyelesaikan program Master of Accounting di University of Southern Californa. Sekarang menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan Pendidikan Akuntan. Pendidikan Diplomanya diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Tercatat pembangunan jaringan sistem informasi kepegawaian dan sistem kontrol awal database keuangan BPPK (early warning system) merupakan hasil rintisan bersama. menikah dan dikaruniai dua anak.

dilahirkan di Tuban. sedangkan gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Universitas Indonesia.311 Fajar Hasri Ramadhana. sebagai Dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Umar dan Ilyas. Mengajar bukan hal yang baru baginya sebab sejak lulus Diploma III STAN tahun 1993. Tidak heran. menikah dan telah dikaruniai 3 putra. aktivitas lainnya yang pernah dilakukan adalah sebagai peneliti di Badan Analisa Fiskal. Kegiatan lainnya antara lain sebagai Kontributor Ahli Majalah ”Warta Bisnis”. dilahirkan di Jakarta.. Jakarta. Pendidikan Diploma III diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Jakarta pada tahun 1999. Australia. Editor Pelaksana Jurnal Keuangan Publik BPPK. kemudian melanjutkan pendidikan pada program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MKPK) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. serta sebagai pembicara di berbagai seminar dan pelatihan tingkat lokal maupun nasional. Sejak November 2004 bekerja pada Kementerian BUMN sebagai Tenaga Ahli Menteri BUMN. Disamping hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi. Departemen Keuangan. Jakarta pada tahun 1995. Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan sejak September 1995. 25 Mei 1973. dan Universitas Al Azhar Indonesia. Gelar Sarjana Ekonomi di bidang akuntansi diperoleh dari Universitas Indonesia pada tahun 1997. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendidikan Diploma IV diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada tahun 2000. saat ini juga aktif mengajar antara lain. minat yang besar juga dicurahkan pada dunia komputer. menikah dan telah dikaruniai 1 putra dan 1 putri. Kemudian melanjutkan program master bidang finance di The University of Newcastle. Kegiatannya selain menjabat di BPPK. dan Anggota Tim Perumus Kebijakan Exit Strategy Pasca IMF (Tim Indonesia Bangkit 2001). pernah beberapa kali menjadi Asisten Dosen untuk mata kuliah tertentu. Kepala Divisi Riset Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan STAN. penulis di berbagai harian dan majalah nasional. 25 Maret 1974. lulus tahun 2002. Insyafiah. STIE Tri Bhakti – Bekasi. Sunarsip. pemandu acara talk show ekonomi di radio SMART FM. Sebelumnya pernah bertugas di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan dan Badan Analisa Fiskal. Disamping itu. Beberapa mata kuliah yang pernah diberikan antara lain Evaluasi Proyek dan Akuntansi Keuangan Lanjutan. hal yang sering dilakukan di waktu senggang bersama keluarga adalah bermain game bersama dua anaknya yang beranjak besar. adalah mengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Evaluasi Program pada Sekretariat BPPK. Di samping bekerja di Pusdiklat Pegawai. pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan Universitas Al Azhar Indonesia. Direktur bidang Kajian Ekonomi Center for Indonesian Reform (CIR). sedangkan gelar Master of Arts diraih dari University of Colorado pada tahun 2003. Anggota Komite Risiko dan Kepatuhan PT Bank BNI (Persero) Tbk.