DAFTAR ISI

Prakata Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN Definisi Keuangan Publik Alasan Mempelajari Keuangan Publik Pentingnya Sektor Publik Karakteristik Kebijakan Publik Ruang Lingkup Keuangan Publik Pendekatan Analisis Kriteria yang Digunakan untuk Mengevaluasi kebijakan Politik BARANG PUBLIK DAN EKSTERNALITAS Identifikasi Barang Publik Karakteristik Barang Publik Perbedaan antara Barang Publilk dan Barang Pribadi Permintaan Barang Publik Tingkat Output yang Efisien Free Rider Problem Eksternalitas PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga Penentuan Harga Barang Publik Implementasi Penentuan Harga dalam Produk Pertanian Fungsi Penawaran dan Tanggapan Sektor Pertanian Kebijakan Harga Positif Kebijakan Harga Negatif Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi Utama Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi Alokasi Fungsi Distribusi Fungsi Stabilisasi Koordinasi Fungsi Anggaran FUNGSI ALOKASI Latar Belakang Adanya Fungsi Alokasi Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar iii v 1 1 1 2 4 5 6 7 9 9 10 10 12 13 13 14 16 16 17 18 19 20 21 21 23 23 24 26 26 27 28 29 30 30 31

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V

v

Penyediaan Barang Publik Efisiensi Penyediaan Barang Publik oleh Pemerintah BAB VI FUNGSI DISTRIBUSI Konsep Keadilan Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Distribusi sebagai Suatu Kebijakan Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Redistribusi FUNGSI STABILISASI Kebijakan Stabilisasi Kebijakan Moneter Kebijakan Fiskal Stabilisasi Anggaran SISTEM PILIHAN PUBLIK Konsep Keseimbangan Politis (Political Equilibrum) Pemilihan dan Pemungutan Suara (Election and Voting) Memberikan Suara atau Abstain (Vote or not to vote) Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas (Majority Rule) Fenomena Cycling Penyebab Cycling Metode Pemungutan Suara KONSEP ANGGARAN Balance budget Jenis-Jenis Anggaran Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) Siklus Anggaran Masalah Umum Anggaran KEBIJAKAN STABILISASI Model-model Pengganda dengan Investasi Tetap Pengeluaran publik Pajak Lump-Sum Peranan Tunjangan Sosial (transfer) Sistem dengan Pajak Penghasilan Kenaikan Anggaran Berimbang Jenis-Jenis Inflasi Keseimbangan menurut Paham Ricardo PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Unsur-Unsur Pembangunan Kebijakan Struktur Perpajakan Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Pengembangan Struktur Perpajakan Pajak Penghasilan Perorangan Pajak Penghasilan Perusahaan

34 39 43 44 46 46 47 47 50 50 50 51 51 52 52 53 54 56 62 63 65 69 70 70 73 75 78 80 80 83 83 84 84 85 86 89 91 91 93 93 95 95 96

BAB VII

BAB VIII

BAB IX

BAB X

BAB XI

vi

Pajak Tanah Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Pajak dan Bea atas Komoditas Insentif Perpajakan Insentif Domestik Insentif bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Insentif bagi Modal Asing Insentif Ekspor Kebijakan Pengeluaran Bantuan Internasional dan Redistribusi BAB XII HUTANG PUBLIK Pertumbuhan Hutang Pemerintah Struktur Hutang Pemerintah Hutang Publik sebagai Bagian dari Struktur Likuiditas Ekonomi Pendanaan Kembali vs Pelunasan Hutang Beban Pajak dari Pelunasan Hutang Pengalihan Beban melalui Hutang Luar Negeri Peminjaman oleh Pemerintah Daerah Manajemen Hutang Struktur Jangka Waktu dari Suku Bunga Teori Struktur Jangka Waktu Dampak Inflasi Struktur Jangka Waktu dan Manajemen Hutang yang Efektif Hutang Pemerintah Lokal DASAR-DASAR PERPAJAKAN Penerimaan Pajak Penerimaan Non Pajak Prinsip-Prinsip Pajak Siklus Arus Pajak Tarif Pajak Istilah-istilah dalam Perpajakan PRINSIP KEADILAN PERPAJAKAN Prinsip Manfaat Prinsip Kemampuan Membayar Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan DAMPAK PERPAJAKAN TERHADAP PEREKONOMIAN Efficiency Effect Dampak Pajak Kriteria Tarif Pajak Kriteria Struktur Pajak yang Baik

97 97 98 98 99 100 101 102 102 103 106 106 106 110 110 111 115 116 117 117 118 118 119 121 124 124 124 126 127 128 129 132 132 133 134 136 137 138 140 140 141 143 145

BAB XIII

BAB XIV

BAB XV

vii

BAB XVI

PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Aturan Utama Penentuan Penghasilan Kena Pajak Penerapan Tarif Pajak Prosedur Pembayaran Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Praktek Definisi Penghasilan : Pengecualian Praktek Definisi Penghasilan : Pengurangan atas Penghasilan Neto Preferensi Pajak Permasalahan-Permasalahan Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Perlakuan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Pola Progresivitas Tarif Pajak Penyesuaian Terhadap Inflasi Pilihan Unit Kena Pajak PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Integrasi Pajak Aspek-Apek Khusus Definisi Basis Pajak Aturan Penyusutan dan Waktu Penyusutan Metode Penyusutan Ekonomis vs Metode Penyusutan Dipercepat Pembebanan Sekaligus Penyesuaian Terhadap Inflasi Investment Tax Credit Siapa yang Menanggung Beban Pajak? Pajak Penghasilan Badan untuk Usaha Kecil dan Menengah PAJAK ATAS KONSUMSI Jenis Pajak atas Konsumsi di Indonesia Bahasan-bahasan dalam Pajak atas Konsumsi Tahap Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Nilai Akhir Sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Jenis Pajak Pertambahan Nilai Distribusi Beban Pajak Cukai Pajak Penjualan Umum Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi PAJAK ATAS KEKAYAAN Alasan-alasan Pengenaan Pajak atas Kekayaan Pajak atas Tanah Distribusi Beban Pajak Kekayaan Pajak Kekayaan sebagai pajak atas Penghasilan Modal Pola-Pola Alternatif

147 147 148 148 149 150 153 157 158 159 159 161 163 163 167 167 167 172 174 175 177 179 180 180 181 182 184 184 185 187 188 189 189 192 192 192 193 197 197 199 201 202 205

BAB XVII

BAB XVIII

BAB XIX

viii

Pajak atas Kekayaan Bersih Pengalaman Berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih Struktur dan Basis Pajak Peranan Harta tak Berwujud (Intangibles) Bea atas Modal BAB XX PAJAK ATAS WARISAN Alasan-alasan Pengenaan pajak atas Warisan Tujuan dan Jenis Pajak Permasalahan-Permasalahan Khusus ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA ATAS BARANG DAN JASA SOSIAL Mengidentifikasai Manfaat dan Biaya Mengevaluasi dan Mengkonversi Manfaat dan Biaya Mendiskonto Manfaat yang Akan Datang Pengaruh Tingkat Diskonto terhadap Present Value Menentukan Tingkat Diskonto Sosial (Social Rate of Discount) Pengaruh Inflasi Menentukan Peringkat Proyek STRUKTUR BELANJA PUBLIK Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Faktor Belanja Barang dan Jasa Faktor Pengeluaran dari Transfer Porsi Pendapatan Klasifikasi Belanja Publik KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Perlunya Analisis Sektor Pertahanan Nasional Jalan Raya Pendidikan Fasilitas Rekreasi KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Tunjangan Kepada Penghasilan Rendah Asuransi Sosial Sistem Tunjangan Sosial Terkini KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dimensi Ekonomi dan Desentralisasi Fiskal Efisiensi Stabilitas Makro Ekonomi Keadilan (Equity) Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal

206 206 206 207 209 210 210 210 212 213 214 214 215 216 217 219 220 224 224 224 226 229 231 231 232 233 234 235 237 237 239 239 241 243 243 244 245 245

BAB XXI

BAB XXII

BAB XXIII

BAB XXIV

BAB XXV

ix

BAB XXVI

TRANSFER PUSAT KE DAERAH : TEORI DAN PRAKTIK Pendahuluan Tujuan Transfer Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Jenis-Jenis Transfer

247 247 249 255 256 264 264 265 266 269 271 271 272 274 274 274 276 277 278 279 280 284 284 287 288 290 292 293 294 295 301 301 304 307

BAB XXVII PERPAJAKAN DAERAH Pendahuluan Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Ketentuan Mengenai Bagi Hasil Pajak Propinsi dan Peruntukannya Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Pembiayaan Daerah BAB XXVIII PINJAMAN DAERAH Pendahuluan Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Penggunaan Pinjaman dalam Pembiayaan Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah BAB XXIX KOORDINASI PAJAK INTERNASIONAL Pendahuluan Prinsip-Prinsip Pajak Internasional Koordinasi atas Pajak Penghasilan dan Pajak Laba Koordinasi Pajak Produk Koordinasi Pengeluaran Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Pemahaman atas Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda) Cakupan Tax Treaty Pencegahan Penghindaran Pajak Ketentuan Lain-Lain

Daftar Pustaka Biografi Penyusun

x

dan stabilitas ekonomi.bukan pada pajak tunggal merupakan hal-hal yang dibahas didalamnya. Keuangan publik mempelajari proses pengambilan keputusan oleh pemerintah. dan antisipasi akibat finansial maupun ekonomi atas suatu keputusan publik. Apabila para pemilih wakil rakyat memonitor aktivitas para wakilnya. Yang termasuk pemerintah disini adalah seluruh unit pemerintah dan institusi atau organisasi pemegang otoritas publik lainnya yang dikendalikan dan didanai oleh pemerintah. Dalam keuangan publik. penting untuk mengembangkan model-model ekonomi yang membantu menjelaskan arti alokasi sumber daya yang efisien atau optimal. sebagai contoh. uraian-uraian mengapa pertahanan nasional harus dikelola oleh negara sedangkan makanan diserahkan kepada swasta dan mengapa suatu negara menggunakan komposisi berbagai jenis pajak . ditribusi pendapatan. arti keadilan. karena setiap keputusan mempunyai pengaruh pada ekonomi dan keuangan rumah tangga dan swasta. maka para wakil rakyat ini akan bekerja lebih keras dan berusaha Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan demikian. fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah dan menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya.1 B A B I PENDAHULUAN Definisi Keuangan Publik K euangan publik adalah bagian ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah. Alasan Mempelajari Keuangan Publik Keuangan publik erat kaitannya dalam proses pengambilan keputusan berdasar asas demokrasi. Keuangan publik juga menganalisis pengeluaran publik untuk membantu kita dalam memahami mengapa jasa tertentu harus disediakan oleh negara dan mengapa pemerintah menggantungkannya pada jenis-jenis pajak tertentu. Keuangan publik menjelaskan belanja publik dan teknik-teknik yang digunakan oleh pemerintah untuk membiayai belanja tersebut. Sehingga.

Kemudian. peran pemerintah timbul untuk mengatur dan mengelola aspek-aspek kepentingan publik dan karakteristik umum dari aktivitas tersebut adalah bahwa kegiatan tersebut tidak ditujukan untuk memperoleh Dasar-dasar Keuangan Publik . maka mereka akan memberi pengawasan yang lebih pada aktivitas pemerintah. Kebijakan publik dianggap penting dalam hal mempengaruhi kegiatan ekonomi nasional. dikehendaki adanya kebebasan individu yang mutlak dan tidak membenarkan pengaturan ekonomi oleh pemerintah. Salah satu perhatian pokok pengeluaran rumah tangga ada pada makanan. kepentingan dan perhatian publik akan meningkat. dan apakah uang tersebut digunakan dengan bijaksana? Secara normal. kecuali dalam hal-hal yang tidak dapat diatur sendiri oleh para individu. Seiring dengan itu. mereka akan merasa sukarela pada saat pemerintah mengambil sebagian pendapatan mereka. semakin tinggi pendapatan rumah tangga maka semakin besar proporsi pajak yang harus dibayarkan.dan mengetahui karakteristik khusus yang melekat pada sektor publik. Pertanyaan-pertanyaan lain akan timbul berkaitan dengan mengapa pemerintah memerlukan anggaran sebanyak itu. Sistem perpajakan haruslah diarahkan pada kepuasan dari sudut pandang para individu tersebut. karena sektor publik dan sektor swasta merupakan kesatuan integral dalam sistem perekonomian. pembayar pajak akan memberikan otoritas lebih kepada pemerintah untuk mengelola dan mengendalikan sejumlah sumber daya keuangannya. transportasi. perumahan. Penting bagi kita untuk mengamati aktivitas organisasi pemerintah . lebih dari dua puluh persen pendapatan nasional (GNP) berasal dari belanja pemerintah.yang tidak ditujukan untuk mencari laba tetapi memaksimalkan jasa pelayanan kepada masyarakat . Pada situasi ini. Jumlah yang sangat besar nilainya ini merupakan alasan yang kuat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu masalah keuangan publik. Dalam sistem perekonomian kapitalis. digunakan untuk apa uang-uang itu. Dalam situasi ini. apabila pembayar pajak merasa terpuaskan. pakaian.2 meyakinkan para pemilih bahwa kontribusi mereka atas pembayaran-pembayaran pajak akan menyebabkan pencapaian kondisi yang lebih baik. apakah hasil penerimaan pajak (terutama pajak penghasilan) dari rumah tangga seperti yang tercantum dalam anggaran negara memang relevan dengan aktivitas-aktivitas sektor publik ini. melalui kebijakan moneter dan penganggaran. Pentingnya Sektor publik Di Amerika Serikat. prosentase belanja publik tersebut lebih besar. muncul pertanyaan apakah pengeluaran-pengeluaran untuk masing-masing jenis tersebut dilakukan dengan bijaksana. Karena. karena para individu ini menaruh perhatian pada aktivitas belanja publik setelah mereka membayar pajak. Bagi individu yang merasa tidak puas dengan beban pajak yang menjadi tanggungan mereka. Sektor publik telah mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. sedangkan di negara-negara Eropa Barat. kesehatan dan rekreasi. Kemudian.

Bahwa individu akan lebih percaya diri apabila mengerjakan sesuatu untuk kepentingannya sendiri. sehingga harus disediakan oleh pemerintah. dibutuhkan dalam memelihara perdamaian dan melindungi masyarakat terhadap serangan yang datang dari luar maupun dari dalam. 2. walaupun harus membatasi kebebasan individu. Adanya distribusi pendapatan yang tidak merata antar pelaku ekonomi pasar. 3. Adanya sifat monopoli dalam bidang usaha tertentu yang menyebabkan pemerintah harus campur tangan agar monopoli tidak merugikan para pelaku ekonomi. tipikalnya dalam penyediaan pertahanan nasional. Pemerintah semakin diperlukan dalam melakukan kegiatankegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. 5. Adanya perbedaan biaya pribadi dan biaya sosial. sehingga pemerintah hanya bergerak dalam area yang menyangkut kepentingan publik atau umum. John Stuart Mill menyampaikan alasan-alasan tentang perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah sebagai berikut: 1. tidak ada lagi paham ekstrim seperti itu sehingga negara kapitalis pun memandang perlu adanya peranan pemerintah dalam perekonomian. sehingga pemerintah secara nyata diperlukan dalam pengelolaan biaya dan manfaat sosial karena swasta tidak ada keinginan mengelolanya. Bahwa pemerintah haruslah bersifat inferior dalam melakukan kegiatan industri dan perdagangan. Adanya barang publik (akan didefinisikan dan dibahas dalam bab mendatang) yang tidak dapat disediakan oleh mekanisme pasar. 6. Adanya inflasi atau deflasi yang tidak dapat diselesaikan secara otomatis oleh mekanisme pasar. Dalam perkembangannya. Dasar-dasar Keuangan Publik . fungsi sektor publik berbeda dengan fungsi rumah tangga dan perusahaan dalam perekonomian. 3. Peran tersebut dapat dilihat dalam aliran sirkuler seperti dibawah ini. manfaat pribadi dan manfaat sosial.3 keuntungan. Diantara kelemahan-kelemahan mekanisme pasar tersebut adalah sebagai berikut: 1. 4. Pemerintah dapat melakukan tiga kegiatan publik utama. Bahwa campur tangan pemerintah. Adanya risiko yang sangat besar yang tidak mungkin dikelola oleh swasta. Akan tetapi. karena usaha seperti itu dapat dijalankan oleh sektor swasta. keadilan sosial dan pekerjaan umum. 2.

adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi.4 Gambar 1. Dasar-dasar Keuangan Publik . ada sejumlah kriteria dimana komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen. Sektor publik (anggaran pemerintah) memberi kontribusi pada pasar faktor produksi dan pasar produk sehingga merupakan bagian integral dari sistem pembentukan harga. perlu diperhatikan bagaimana sektor swasta akan bereaksi. Arus barang pribadi dan barang publik tidak dibiayai oleh penjualan tapi melalui perpajakan atau melalui pinjaman. Peranan sektor publik dalam perhitungan GNP (Gross National Product) atau pendapatan nasional adalah bahwa pemerintah memberi kontribusi terhadap GNP melalui pembelian barang dan jasa. atau diproduksi oleh swasta untuk dijual kepada pemerintah. dan tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. Itulah sebabnya dalam merancang suatu kebijakan fiskal. Karakteristik Kebijakan publik Dalam menilai pentingnya sektor publik. karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi.1 Dari gambar terlihat bahwa akan terdapat hubungan yang erat antara arus sektor swasta (rumah tangga dan perusahaan) dan sektor pemerintah. Barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah dapat saja diproduksi oleh pemerintah.

keseimbangan publik yang dicapai melalui proses pemilihan umum. Ruang Lingkup Keuangan Publik Ruang lingkup Keuangan Publik dapat digambarkan dalam bagan berikut ini. Pertukaran barang dan jasa tertentu dalam mekanisme pasar perlu ada proteksi dari pemerintah untuk melindungi pelaku pasar. Setelah itu. Rincian karakteristik tersebut adalah sebagai berikut: 1. stabilitas harga dan tingkat pertumbuhan ekonomi. perlunya pencapaian kondisi stabil dalam eknomi dimana peran pemerintah sangat dominan. Peraturan pemerintah diperlukan untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi bila terdapat kondisi persaingan yang tidak efisien. Untuk mencapai efisiensi pasar . dan sebagainya. Hasil pemilihan umum ini akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Perlunya peran sosial yang dilakukan oleh pemerintah dalam distribusi pendapatan dan kesejahteraan dalam mekanisme pasar. 5. Keuangan Publik juga mencoba memberi gambaran tentang pilihan publik yang menyangkut aspek institusi publik. adanya mekanisme pasar yang perlu diintervensi pemerintah karena berbagai alasan.kondisi dimana produksi barang sama dengan keinginan pasar . 3. Hal ini menyangkut kondisi-kondisi adanya eksternalitas yang perlu dikendalikan pemerintah. melalui anggaran. Timbulnya masalah eksternalitas (akan dibahas lebih lanjut pada bab mendatang) perlu dipecahkan oleh pemerintah. adanya barang publik yang perlu disediakan oleh pemerintah.5 Dengan demikian karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. 4. subsidi dan pajak. mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar. 6. 2. Kebijakan publik diperlukan untuk menjamin kesempatan kerja.mensyaratkan adanya informasi yang lengkap mengenai pasar baik bagi produsen maupun konsumen dan peraturan pemerintah diperlukan untuk menjamin persyaratan kelengkapan informasi itu. Bahasan Keuangan Publik dimulai dari keadaan dan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian.

pemerintah perlu memberikan stimulus pada perekonomian melalui kebijakan belanjanya yang mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. dalam keuangan publik. ruang lingkup Keuangan Publik akan menyangkut ketiga bidang utama sebagai berikut: 1. 2. Kemudian. Secara tipikal. bahasan keuangan publik biasanya juga menyangkut kegiatan analisis hubungan antara kebijakan pemerintah dengan perekonomian yang dikelola oleh rumah tangga dan swasta. Yang terakhir. distribusi pendapatan. bagaimana kualitas kebijakan fiskal. kesehatan dan pertahanan. dimana belanja tersebut dapat didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pemerintah. Bahasan yang meliputi kegiatan memperoleh pendapatan.6 menghasilkan keputusan diantaranya menyangkut penyediaan barang dan jasa publik . dan juga alokasi dan distribusi sumber daya. Segala kegiatan yang berhubungan dengan alokasi sumber daya. Contohcontoh belanja pemerintah tersebut meliputi pendidikan. dengan keterbatasanketerbatasan yang ada. Dengan demikian. Pendekatan Analisis Dalam melakukan analisis kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan anggaran pemerintah. Fokus buku ini akan meliputi kegiatan penerimaan dan pengeluaran dari anggaran pemerintah dan hal-hal yang berkaitan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara. Salah satu titik penting sisi belanja tersbut juga akan mencakup efek pengganda (multiplier) yang diperankan oleh pemerintah. pemerintah dapat melakukan usaha-usaha memperoleh sumber pendanaan lainya melalui hutang. kegiatan yang mencakup belanja publik dan kegiatan pembiayaan sering disebut sebagai struktur fiskal (fiscal structure). dimana bahasan tersebut akan dihubungkan dengan aspek efisiensi penyediaan jasa tersebut. sumber-sumber tersebut akan dihubungkan dengan aspek keadilan dan distribusi pendapatan. Permasalahan keuangan pemerintah itu sendiri. misalnya. Untuk menutup kekurangannya. termasuk kebijakan publik. dapat dipakai beberapa pendekatan analisis sebagai berikut: Pendekatan Normatif. 3. Keuangan Publik kemudian akan membahas aspek belanja publik yang merupakan aktivitas utama pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. bahasan Keuangan Publik akan mencakup masalah-masalah kreasi memperoleh pendapatan yang dilakukan oleh pemerintah. dan bagaimana agar Dasar-dasar Keuangan Publik . Sumber pendapatan pemerintah dapat mencakup pajak dan non pajak. Analisis hubungan sektor publik dan sektor swasta. dan. Pendekatan ini mencakup kriteria yang perlu ditetapkan untuk menilai kebijakan anggaran. dan aspek stabilisasi. Aspek pembiayaan merupakan area pembahasan Keuangan Publik berikutnya.

apakah wajar bagi keluarga tanpa anak harus membayar pajak pendidikan? Dasar-dasar Keuangan Publik . historis. apakah wajar menutup perusahaan yang menyebabkan polusi udara dibandingkan dengan kesempatan kerja yang disediakan oleh usaha tersebut? Apakah wajar menutup bisnis penebangan hutan untuk menyelamatkan habitat burung hantu? Atau. berdasar bukti empiris. karena erat kaitannya dengan aspek politik dan harus mempertimbangkan aspek pemerataan dan keadilan. Jadi. Pendekatan ini menggunakan alat eksperimen berdasar suatu estimasi untuk melihat perubahan perilaku. 1. analisis dihubungkan dengan kondisi efisien perilaku rumah tangga dan perusahaan. Equity & Fairness (Keadilan dan kewajaran) Suatu kebijakan publik dapat diuji dengan berbagai pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan kewajaran dalam persepsi sosial dan seberapa fair suatu kebijakan publik terhadap isu hak kepemilikan? Sebagai contoh. Pendekatan ini dilakukan dengan membahas hal-hal yang berhubungan dengan estimasi. mekanisme pasar yang kompetitif mengarah pada hasil yang efisien. Implementasi kebijakan sektor publik mempunyai derajat kesulitan lebih tinggi. dalam kondisi tertentu. Dengan menggunakan welfare economics.7 prestasi dapat ditingkatkan. Pendekatan ini menggunakan alat indifference curve untuk menyatakan preferensi individu yang kemudian dihubungkan dengan preferensi bermuatan sosial untuk mendapatkan kondisi efisiensi Pareto. Analisis ini menilai mengapa kebijakan fiskal pemerintah mencakup aspek ekonomi. bagaimana tekanan pihak-pihak yang berkepentingan dan bagaimana preferensi fiskal. Pendekatan Positif. politik dan sosial. menyatakan suatu masyarakat dapat mencapai efisiensi Pareto tersebut dengan membuat kesepakatan (dengan melibatkan intervensi pemerintah) atas donasi individuindividu dan kemudian memberi kebebasan pada masyarakat untuk melakukan pertukaran satu sama lain. dan bagaimana proses politik. dan. pertama. Teori dasar dari welfare economics menyatakan bahwa. kedua. Jadi. pendekatan normatif ini akan mengarah pada bagaimana seharusnya suatu kebijakan publik ditetapkan. Pendekatan ini menggunakan model-model ekonometrik untuk melihat pengaruh dari suatu kebijakan dalam perilaku ekonomi yang diobservasi dan juga menggunakan analisis regresi untuk memprediksi pengaruh kebijakan setelah parameternya dapat diketahui dari model ekonometrik tersebut. Kriteria yang Digunakan untuk Mengevaluasi Kebijakan Publik Beberapa kriteria dibawah ini dapat digunakan untuk melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik. pendekatan positif ini akan mengarah pada kebijakan publik apa yang harus diambil.

ekonom menekankan efisiensi dan keadilan sebagai kriteria melakukan evaluasi atas kebijakan publik. Dasar-dasar Keuangan Publik .8 2. Freedom of choice (Kebebasan Individu) Dalam asas demokrasi. Sebagai contoh. 6. Paternalism (Sistem Paternal) Kebijakan publik dapat dievaluasi dari asumsi bahwa pemerintah adalah pihak yang paling mengetahui permasalahan penduduk suatu negara dan pemerintah bebas menentukan kebijakan apa saja. welfare economics telah dipertimbangkan sebagai cara pemberian insentif untuk mengoreksi kebijakan berdasar keadilan sosial. Akan tetapi. Sehingga salah satu indikator keberhasilan kebijakan publik adalah apakah kebijakan pemerintah dapat mendorong kebebasan individu dalam bertransaksi ekonomi. 3. tetapi hal ini mungkin tidak efisien. kebebasan individu dalam perekonomian memungkinkan pertukaran sukarela atau mempromosikan proses pengambilan keputusan sukarela yang didasarkan atas pertimbangan dagang yang bebas biaya transfer antar pihak yang bertransaksi.perlu diintervensi pemerintah? Trade Off Secara umum. mungkin ada konflik yang substansial antara beberapa kriteria tersebut. Economic Efficiency (Efisiensi Ekonomi) Kebijakan publik dapat dianalisis dari sudut Pareto Efficiency yaitu alokasi sumber daya dari kondisi yang tidak mungkin – melalui perubahan alokasi – sehingga mencapai kondisi dimana seseorang atau beberapa orang mengalami kepuasan lebih baik tanpa menyebabkan pihak lain terbebani. orang tidak akan menabung dalam jumlah yang cukup untuk pensiun sehingga pemerintah harus mengalokasikan penerimaan pajak agar penduduk usia lanjut dapat memperoleh manfaat. Stabilization (Stabilisasi) Kebijakan publik dapat dianalisis dengan menilai apakah kebijakan yang diambil pemerintah mampu meningkatkan pengeluaran agregat? Atau apakah ekonomi sektor swasta . kebijakan upah minimum mungkin mendorong keadilan. Contoh. Kemudian. Suatu kebijakan publik dapat dievaluasi dengan pertanyaan apakah pilihan kebijakan tidak akan mengorbankan tujuan lainnya atau apakah manfaat agregat dapat melampaui beban agregat.yang dapat memberi pekerjaan pada setiap orang . 5. 4.

Karakteristik masing-masing jenis akan dibahas kemudian. mobil Makanan. dapat ditunjukkan bahwa dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability. Dasar-dasar Keuangan Publik .9 B A B II BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS Identifikasi Barang Publik D alam mengklasifikasi barang publik dan barang pribadi. terutama sifat-sifat dasar yang dipertimbangkan dalam pembahasan aspek keuangan publik. pakaian Jasa personal lain Barang Publik: Pertahanan Danau & sungai Lampu Jalan Excludability Rendah Barang dengan eksternalitas: Pendidikan. sebagai berikut. kita dapat menggunakan gambar dengan sumbu horizontal berupa tingkat excludability dan sumbu verikal berupa tingkat rivalry. barang pribadi. suatu barang dapat dikelompokkan kedalam empat kategori yaitu barang publik. Rivalry rendah Barang Publik Lokal: Perpustakaan Taman Rekreasi Area parkir Excludability Tinggi Barang Pribadi: Rumah. Pengangkut sampah Jalan lokal Rivalry Tinggi Dari gambar diatas. barang publik lokal (sering disebut congestible goods) dan barang dengan eksternalitas.

Dengan lain perkataan.10 Karakteristik Barang Publik Secara umum. orang tersebut tetap dapat memperoleh barang tersebut. tapi mungkin disediakan oleh swasta kemudian pemerintah melakukan pembelian atas barang tersebut. Penyediaan barang publik yang dilakukan oleh pemerintah tidak berarti bahwa produksinya harus dilakukan oleh sektor publik. Non rival consumption mengandung maksud bahwa sejumlah orang dapat mengkonsumsi secara bersama-sama terhadap barang tersebut atau. Karakteristik barang publik seperti diatas tidaklah absolut. Sifat lain dari barang publik yang lain adalah bahwa barang publik tidak disediakan secara eksklusif oleh pihak swasta. tapi mungkin tidak memenuhi kriteria yang lain. Contoh barang publik dengan sifat ini adalah jalan raya dan pertahanan nasional dimana konsumsi terhadap barang tersebut oleh seseorang tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk ikut mengkonsumsinya. suatu barang publik mempunyai sifat-sifat berikut: 1. Walaupun setiap orang mengkonsumsi jumlah yang sama atas barang publik. Perbedaan antara Barang Publik dan Barang Pribadi Barang publik adalah barang-barang yang mempunyai dua sifat pokok yaitu non rival consumption dan non exclusion. Konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi penawaran barang publik tersebut untuk dikonsumsi oleh orang lain. Sifat barang publik seperti ini disebut non rival consumption. sedangkan pertukaran barang publik selain dapat Dasar-dasar Keuangan Publik . Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik. Sifat barang publik seperti ini disebut non exclusion. Sedangkan non exclusion mengandung arti bahwa orang tidak dapat membatasi manfaat atas barang tersebut pada orang-orang yang sanggup membayar saja. tidak ada persyaratan bahwa konsumsi ini dinilai atau dihargai oleh semua orang. 2. setiap anggota masyarakat tidak dapat dibatasi/dilarang untuk mengkonsumsi barang publik atau kegiatan pembatasan tersebut sangat sulit untuk dilakukan. konsumsi yang dilakukan atas barang tidak akan mengurangi jumlah yang tersedia bagi orang lain. apakah seseorang itu mau membayar atau tidak (free rider) dalam mengkonsumsi barang. 3. Suatu komoditas dapat saja memenuhi satu kriteria dari barang publik. Walaupun penyedia barang menginginkan. pada tingkat tertentu. tetapi tergantung pada kondisi pasar dan teknologi. Pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak menghasilkan eksternalitas. atau suatu barang dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama. Beberapa barang tertentu yang secara konvensional tidak dipandang sebagai komoditas pribadi dapat saja mempunyai karakteristik sebagai barang publik.

sedangkan kebutuhan barang publik dirasakan secara bersama-sama oleh para individu dalam masyarakat. Konsumsi atas alat anti pencemaran udara tadi oleh beberapa individu adalah tidak saling bersaing (non rival). Kedua sifat barang tadi akan menimbulkan permasalahan bagaimana konsumen berperilaku dan bagaimana kedua jenis barang tadi harus disediakan. Manfaat yang dihasilkan oleh barang publik tidak terbatas pada konsumen tertentu saja yang membeli barang itu. maka barang tersebut tidak tersedia bagi orang lain. Untuk memperjelas karakteristik diatas. Suatu pasar menyediakan Dasar-dasar Keuangan Publik . sedangkan suatu barang publik tidak dapat dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang terpisah yang dapat dikonsumsi habis. Sedangkan contoh barang publik adalah alat untuk mengurangi pencemaran udara. Perbedaan karena kegagalan mekanisme pasar Kebutuhan barang pribadi dirasakan secara perorangan. manfaat yang dihasilkan akan tersedia bagi semua orang yang bernafas. Suatu unit barang pribadi hanya dapat dinikmati oleh konsumen tertentu dan setelah itu tidak tersedia bagi orang lain. tidak mungkin membagi temperatur yang telah diberi pendingin udara kepada orangorang dalam ruangan tersebut. Jika alat tersebut berfungsi dan terjadi peningkatan kualitas udara. Di lain pihak. dipastikan akan mengurangi porsi orang lain. Mekanisme ini didasarkan pada pertukaran dan pertukaran hanya terjadi jika terdapat hak eksklusif bagi pihak yang membelinya. Konsumsi orang satu dengan orang lainnya berada dalam hubungan yang saling bersaingan (rival). karena apabila roti tadi dikonsumsi oleh seseorang. penghuni ruang ini dapat mengkonsumsi sejumlah roti dan udara sejuk dari alat pendingin ruangan. Penambahan orang dalam ruangan. sampai batas tertentu. Perbedaan lain adalah bahwa biaya marjinal untuk distribusi barang publik kepada konsumen adalah nihil. dimisalkan ada sekelompok orang yang berada di satu ruangan tertentu. Mekanisme pasar secara tepat dapat menggambarkan penyediaan barang pribadi. akan tetapi juga bagi konsumen lainnya. Jadi. Jumlah roti yang tersedia akan dikonsumsi dengan porsi yang sama oleh orang-orang yang berada di ruangan itu. Tidak mungkin orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang berbeda satu sama lain. satuan kuantitas barang publik dapat dinikmati bersamasama secara kolektif oleh sekelompok orang. Contoh barang pribadi adalah roti. Semua orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang sama. tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi atas udara sejuk tersebut. karena keikutsertaan orang lain untuk memanfaatkan alat tidak mengurangi manfaat bagi yang lainnya. Contoh barang publik yang menghasilkan manfaat eksternal adalah pertahanan nasional dan contoh barang publik yang menghasilkan beban adalah penyediaan mesin atau peralatan yang menyebabkan adanya polusi udara. Sejumlah roti mempunyai karakteristik sebagai barang pribadi sedangkan tingkat suhu seperti uraian diatas mempunyai karakteristik sebagai barang publik bagi orang-orang yang menghuni ruangan. dan bila seseorang akan mengkonsumsi lebih dari porsinya. Hal ini merupakan efek dari sifat non rival consumption.11 menghasilkan manfaat eksternal juga dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Setiap hari.

kecuali ada jaminan konsumen lain juga melakukan hal yang sama. Hanya pihak yang bersedia membayar barang itulah yang dapat memperoleh manfaat atas barang. sementara individu lain Dasar-dasar Keuangan Publik . Konsumen tidak mempunyai hak suara secara perorangan untuk menyatakan bagaimana nilai pelayanan yang nyata bagi mereka. dengan pertimbangan bahwa orang lain juga menikmati barang yang sama. Manfaat yang dirasakan oleh satu pihak akan sama dengan manfaat yang dirasakan pihak lain. Konsumen juga tidak bersedia untuk melakukan pembayaran atas barang publik tadi. Untuk barang publik (murni). Kesulitan yang sama adalah bagaimana manfaat ini dapat dinilai oleh konsumen. Dalam kondisi ini. Pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. Satu orang tidak dapat secara ekslusif memanfaatkan barang publik. Permintaan Barang Publik Kurva permintaan barang publik harus diinterpretasikan secara berbeda dengan kurva permintaan barang pribadi. Tingkat efisiensi proses pemilihan dan kebersamaan pilihan masyarakat akan menentukan tingkatan pencapaian pemecahan yang efisien. Para pembeli barang publik tidak akan dapat menyesuaikan tingkat konsumsinya sehingga seorang individu mengkonsumsi satu unit. mereka tidak dapat menyatakan kepada pemerintah berapa nilai pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. Konsumen akan dapat memilih sebagai free rider (dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut) atas apa yang disediakan oleh pemerintah. Dari sudut pandang konsumen.12 sistem dimana produsen akan akan memproduksi barang jika konsumen membutuhkan barang itu. dan berapa konsumen harus membayar. Hubungan antara produsen dan konsumen menjadi tidak ada dan pemerintah lah yang harus bersedia memproduksi barang publik. karena apabila orang tersebut mengkonsumsi. Mereka merasa berkepentingan untuk memilih apa yang akan memberi manfaat bagi mereka. cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. sehingga pembayaran hanya oleh satu konsumen tidak signifikan. Perbedaan karena penyediaan barang publik Permasalahan yang ada adalah bagaimana pemerintah harus menentukan berapa banyak barang publik tersebut perlu diadakan. Kesulitan terjadi dalam menentukan jenis dan kualitas barang publik. karena transaksi pemanfaatan barang dianalogikan suatu tender terbuka dan setiap orang boleh mengikuti tender sehingga tidak ada yang dirugikan. pada saat yang sama orang atau pihak lain dapat mengkonsumsi barang publik tersebut secara bersama-sama. Hasil pemungutan suara akan menggantikan pilihan melalui mekanisme pasar. pasar menjadi efisien. Lain halnya dengan penyediaan barang publik dimana tidak terjadi mekanisme pasar yang efisien. Pada tahap ini. seluruh konsumen harus mengkonsumsi sejumlah kuantitas yang sama atas barang. Persediaan barang publik tidak banyak dipengaruhi oleh kontribusi individu. Dengan demikian. Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar. proses politik akan menggantikan mekanisme pasar.

Jadi. Tingkat Output yang Efisien Efisiensi dalam pasar barang pribadi mensyaratkan bahwa seluruh aktivitas ekonomi dilaksanakan sampai pada titik dimana manfaat sosial marjinal (marginal social benefit) sama dengan biaya sosial marjinal (marginal social cost). karena setiap anggota kelompok dengan mudah dapat mengidentifikasi manfaat barang tersebut. tetapi jumlah maksimum seseorang bersedia membayar per unit barang publik. Prinsip ini dapat juga berlaku untuk penerapan teori barang publik. Sebagai contoh. karena sifatnya yang non exclusion. Sebagai contoh. ada tiga orang hidup bersama dalam sebuah komunitas yang kecil dan mempunyai keinginan yang sama untuk mengadakan satuan pengamanan (satpam). Sayangnya.13 dapat mengkonsumsi dua unit. Harga sewa satpam merupakan jumlah maksimal yang individu bersedia membayar dan kuantitas proteksi keamanan dapat diukur dari jumlah satpam yang disewa untuk tujuan itu. dan merupakan cerminan dari barang publik yang dapat dikonsumsi oleh ketiga orang tersebut. barang publik tidak dapat dihargai seperti itu. sekelompok orang yang menghuni sebuah apartemen yang mewah mempunyai kepentingan yang sama dalam memperbaiki jalan akses atau mengadakan proteksi keamanan. Penyediaan barang publik oleh orang itu akan memberi manfaat kepada si penyedia dan juga kepada orang-orang di sekitarnya. Para konsumen tidak dapat menyesuaikan jumlah yang dibeli sampai harga barang publik sama dengan manfaat marjinalnya atau sampai dengan transaksi pengadaan barang publik tersebut terjadi (kondisi equilibrium). sumbu vertikal bukanlah harga pasar. sebagai fungsi dari jumlah barang yang secara nyata tersedia. Gabungan seluruh manfaat yang dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya memberikan manfaat sosial marjinal atas tambahan unit yang disediakan. Bila digambarkan dalam grafik. Kuantitas yang efisien per periode waktu berhubungan dengan titik dimana output meningkat sedemikian rupa sehingga jumlah manfaat marjinal konsumen sama dengan biaya sosial marjinal atas barang. Dimisalkan ada seseorang berkeinginan memproduksi atau membeli suatu barang (publik) untuk kepentingan pribadinya. Dalam kelompok kecil. Free Rider Problem Sebuah sistem yang mensyaratkan kontribusi secara sukarela untuk penyediaan dan pembiayaan barang publik dapat berjalan apabila komunitas publik terdiri hanya beberapa individu. manfaat sosial marjinal adalah jumlah manfaat marjinal yang dinikmati oleh seluruh konsumen tersebut. masing-masing orang kenal satu sama lain dan apabila mempunyai gagasan penyediaan suatu barang akan mudah mencapai kompromi. Dengan demikian. akan secara mudah mencapai kompromi untuk menyediakan barang Dasar-dasar Keuangan Publik . yakni sumbu horizontalnya berupa jumlah unit barang. manfaat sosial marjinalnya akan melebihi manfaat yang diterima oleh orang yang menyediakan barang tadi.

Dasar-dasar Keuangan Publik . Eksternalitas dapat dihasilkan dari kegiatan produksi maupun konsumsi. Suatu pabrik mungkin menyebabkan eksternalitas kepada lingkungannya dengan aroma yang tidak sedap. akan ada orang-orang yang mengambil manfaat barang publik tanpa memberikan kontribusi apa pun terhadap biaya penyediaan barang tersebut. Contoh ektrenalitas negatif ini adalah kepadatan jalan dan taman yang tidak dirawat dan dikelola secara baik. Problem muncul jika free rider berjumlah banyak dan akhirnya penyediaan barang publik. Manfaat yang dinikmati atau biaya yang menjadi beban pihak ketiga ini tidak dipertimbangkan oleh baik pembeli maupun penjual dari barang atau jasa yang bersangkutan. keinginan warga sekitar untuk membebaskan diri dari bau tak sedap akan menimbulkan beban bagi perusahaan. Eksternalitas produksi dan konsumsi dapat merupakan sesuatu yang negatif. Tetapi. tidak dapat menikmati kenyamanan menggunakan jalan tadi. selain pembeli dan penjual. Perhatian ekonom tertuju pada distribusi manfaat dan beban sedemikian rupa sehingga menggerakkan produksi pada tingkat dimana biaya marjinal sama dengan manfaat marjinal. Eksternalitas Eksternalitas didefinisikan sebagai biaya atau manfaat dari transaksi pasar yang tidak tercermin dalam harga. Salah satu karakteristik penting dari eksternalitas adalah sifat reciprocal. Eksternalitas muncul pada saat pihak ketiga. Semua anggota kelompok tersebut. Apabila kondisi itu terjadi. jika jumlah orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan bertambah dan informasi tentang selera dan kemampuan ekonomi kurang. Mereka mengetahui secara persis bahwa barang publik yang akan dibeli atau diadakan tidak mungkin hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membayar saja. tidak jadi dilakukan. Orang ini disebut free rider. dalam transaksi penyediaan dan atau pertukuaran barang publik. namun di lain pihak. Di sisi lain. karena tidak seorang pun dalam kelompok besar tersebut secara akurat memperoleh informasi tentang manfaat nyata pengadaan barang publik. karena karakteristik dasarnya. ada keterikatan moral antar mereka. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan berbagai cara.14 publik tersebut dengan mendanai secara bersama-sama. Eksternalitas ini muncul. mempengaruhi produksi atau konsumsi suatu barang. sepertinya akan sulit menggambarkan preferensi kelompok tersebut. Beban ini tetap akan timbul tidak tergantung apakah bau tak sedap akan berkurang atau tidak. seseorang akan secara sukarela memberikan kontribusi untuk penyediaan barang publik tersebut. Pertanyaannya adalah siapa yang harus menanggung beban tersebut. pada akhirnya. akan terdapat orang-orang yang enggan memberikan kontribusi biaya. Di satu pihak. Selain proses mencapai kesepakatannya tidak rumit. biasanya. misalnya perbaikan jalan akses ke apartemen.

Orang-orang yang berpendidikan akan lebih produktif. peraturan mengharuskan produsen untuk memperhatikan keamanan pekerjanya. Dasar-dasar Keuangan Publik . tenaga kerja. Pendidikan untuk anak. modal dan input lain . misalnya. karena mereka tidak mempertimbangkan biaya-biaya sosial. yang merupakan ciri-ciri masayarakat terdidik. dan bahaya lain – termasuk biaya sosial – pasar tidak akan memperhitungkan biaya tersebut dalam menentukan harga equilibrium. Dengan cara yang sama. Dengan demikian. Masih banyak kasus lain yang dapat dijadikan contoh untuk eksternalitas postif. mengurangi emisi gas buang. tidak hanya memberi manfaat bagi anak-anak dan keluarganya. ketika sampah lingkungan kita diangkut secara teratur. manfaat tidak hanya dinikmati oleh warga sekitar. dan nilai properti kita akan mengalami peningkatan. sementara polusi air yang diakibatkan oleh limbah pabrik merupakan contoh eksternalitas produksi. akan tetapi juga dinikmati oleh orang-orang yang lewat di perumahan tersebut. Tanpa intervensi pihak lain.dalam kurva biaya marjinal. yang dibayar oleh para warga dalam kompleks tersebut. Apabila biaya-biaya kepada pihak lain timbul karena proses produksi menimbulkan kebisingan. akan tetapi juga bagi masyarakat. biaya sosial harus ditambahkan dalam biaya produksi biaya material. kita dapat berjalan dalam kondisi aman di malam hari. dan akan memiliki selera yang lebih mapan dalam barang dan jasa. Banyak teknik dapat digunakan dalam proses internalisasi ekstrnalitas tersebut. Perokok pasif – orang yang ikut menghirup asap rokok meskipun dia tidak merokok – merupakan contoh eksternalitas konsumsi. Ketika barang diproduksi dan dijual atau dikonsumsi. Ketika sebuah keluarga memperbaiki rumah dan lingkungan sekitar dengan indah. Keduanya merupakan eksternalitas negatif. produsen dan konsumen akan mempertimbangkan harga yang terlalu rendah. Ketika lampu penerangan jalan ada di seberang blok rumah kita. Proses menambahkan biaya sosial kedalam biaya produksi dan nantinya tercermin dalam biaya pasar tersebut sering disebut sebagai proses internalisasi eksternalitas (internalizing externalities). Misalnya.15 Eksternalitas Positif Beberapa kasus eksternalitas positif dicontoh berikut ini. lebih berperilaku positif. polusi. mengurangi kebisingan dalam metode produksinya. risiko kesehatan kita akan berkurang. Eksternalitas Negatif Beberapa kasus eksternalitas negatif dapat dijadikan contoh berikut ini. kurva biaya marjinal hanya menggambarkan biaya yang nyata timbul untuk memproduksi barang tersebut.

akan tetapi pemerintah menyediakan jasa publik kepada masyarakat tanpa harus membayar. Dalam kasus ini. bukan berarti bahwa penyediaan jasa publik ini tanpa menimbulkan biaya. S Pertanyaan mendasar tentang mengapa pemerintah terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab.16 B A B III PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga ecara umum. Pemerintah terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik ini karena kegagalan mekanisme pasar. Ini tidak berarti bahwa setiap tindakan pemerintah pasti berhasil mengatasi problem ini. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jasa ini disediakan secara seragam kepada seluruh pengguna di seluruh daerah dan seluruh masayarakat dapat memanfaatkan jasa ini. Sebagai contoh. mereka hanya akan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh secara pribadi. Dalam menentukan seberapa banyak suatu barang harus dibeli oleh individu-individu. kepastian tersedianya jasa (misal jasa rumah sakit dan pos). Sebuah proses politik digunakan dalam menentukan jumlah yang harus disediakan dan distribusi biaya kepada para individu. sehingga kesempatan bahwa barang tersebut tersedia di pasar akan sangat kecil. pemerintah juga akan terlibat dalam penyediaan barang pribadi untuk memproteksi masyarakat dari penipuan (misalnya kebenaran iklan). pemerintah akan melibatkan diri untuk menjamin bahwa manfaat eksternal harus juga dipertimbangkan dalam mengambil keputusan jumlah yang akan dikonsumsi oleh individu. jasa pertahanan nasional tidak dijual kepada para individu dimana individu harus membayar bila memanfaatkannya. dengan keterlibatan dalam penentuan harga barang publik. Semua keterlibatan pemerintah ini ditujukan untuk mencapai penentuan harga yang efisien. maupun keseragaman kualitas jasa (misal pendidikan). adalah ingin meningkatkan baik efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. Namun demikian. Dengan analogi yang sama. pemerintah tidak menjual jasanya kepada masyarakat. Harapan pemerintah.

keputusan pemerintah ini menimbulkan akibat Dasar-dasar Keuangan Publik . Pertanyaan akan timbul. dalam meminimalkan biaya ekonomi guna mencapai sasaran-sasaran yang diinginkan. Dengan demikian. Akan selalu ada tujuantujuan ekonomi dan non-ekonomi yang dapat diikuti pemerintah melalui campur tangan. dimana p adalah price atau harga. Diberikan secara gratis kepada para konsumennya. Dapat dijual dengan harga pasar. Sebagai contoh. Masing-masing keputusan akan mempunyai konsekuensi. termasuk memperbaiki arus informasi atau mengurangi unsur-unsur monopoli dan batasan-batasan dalam masuknya perusahaan-perusahaan baru dalam pasar. apakah hukum ekonomi tersebut berlaku juga untuk barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah? Pada dasarnya. atau p = MC = MR. Penentuan Harga Barang Publik Tergantung pada masing-masing tujuannya. pemerintah mempunyai banyak pilihan berkaitan dengan keputusan penyediaan barang atau jasanya: 1. Itulah sebabnya. Dengan kata lain. apabila konsumen akan memaksimalkan kepuasannya. konsumen akan membeli barang-barang sampai tercapai kondisi equilibrium tersebut. pada tingkat equilibrium.17 Tujuan kebijakan harga oleh pemerintah mencakup tindakan-tindakan yang diperlukan agar pasar bekerja lebih baik. 3. Konsekuensinya. contoh tersebut menggambarkan kondisi yang tidak efisien bagi penyediaan barang dan jasa oleh pemerintah. cara ini menimbulkan biaya yang sangat tinggi yang harus ditanggung oleh pemerintah. sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai yang merupakan kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen. Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. pemerintah seringkali menetapkan harga dibawah tingkat harga yang sebenarnya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen barang tersebut. MC adalah marginal cost atau biaya marjinal dan MR adalah marginal revenue atau pendapatan marjinal. Sehingga. Dalam mekanisme pasar barang pribadi yang bersifat persaingan sempurna. berlaku hukum bahwa harga sama dengan biaya marginal (marginal cost) dan sama dengan pendapatan marjinal (marginal revenue) bagi produsen. tugas pemerintah adalah menyediakan barang untuk kepentingan orang banyak dengan harga murah. Dalam perekonomian. untuk menentukan tingkat keseimbangan. Dijual dengan tingkat harga tertentu yang berbeda dengan harga pasar. 2. pemerintah akan ditekan oleh kekuatan politik untuk tidak mengambil keuntungan dari barang atau jasa yang dihasilkannya. meskipun keputusan memberikan secara gratis kepada masyarakat akan memaksimalkan penggunaan barang atau jasa oleh masyarakat.

situasi penyediaan public utilities tersebut diatas tidak berlaku untuk seluruh barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah. konsumen tidak terlalu dibebankan tingkat harga yang terlalu tinggi. seperti air minum dan listrik. Kajian-kajian harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yang tepat sasaran. pupuk kimia dan obat pembasmi hama. Pemerintah akan menetapkan jumlah keuntungan maksimum. Produk-produk pertanian merupakan barang primer. Pemerintah hanya menutup biaya totalnya yang mengakibatkan perusahaanperusahaan pemerintah penyedia barang public utilities akan tetap dapat berjalan tanpa mengalami kerugian. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. selain menghasilkan barang dan jasa sebanyak mungkin untuk mencukupi kebutuhan rakyat banyak. pendidikan dan kesehatan. Contoh yang dapat digunakan adalah penyediaan public utilities oleh pemerintah. sedangkan pemerintah berkewajiban membatasi keuntungan yang harus diperoleh oleh perusahaan-perusahaan tersebut. kebijakan publik dapat difungsikan. Pendekatan yang dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan kebijakan harga positif. Sektor pertanian juga mempunyai kaitan yang erat dengan kebutuhan jasa angkutan. Maka. sehingga pemerintah dapat menetapkan harga tertinggi. Dalam menentukan harga atas produk pertanian. Produk pertanian mempunyai posisi strategis dan erat kaitannya dengan produk non pertanian. perusahaan juga diijinkan memperoleh keuntungan dalam jumlah tertentu. Akan tetapi. pemerintah akan mengarahkan perusahaan pada kondisi bahwa. Pada kondisi ini. kemudian konsumen akan membayar jumlah diatas nilai yang ditetapkan sebelumnya pada saat zero profit. Perusahaan yang mengelola public utilities yang harus menjual produksinya tanpa memperoleh keuntungan sama sekali akan menghadapi permasalahan dalam ekspansi atau melakukan perluasan usaha. Penentuan harga dengan metode seperti inilah yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik oleh pemerintah. seperti alat-alat pertanian.18 ketidakefisienan atau terjadi pemborosan apabila dipandang dari ilmu ekonomi. seperti bahan makanan atau bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Implementasi Penentuan Harga dalam Produk Pertanian. karena konsumen menilai barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah terlalu mudah diperoleh. artinya perusahaan penghasil public utilities diwajibkan menyediakan barang dan jasa publik. mengingat tugas pemerintah dalam penyediaan brang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pemerintah tidak diharapkan untuk memperoleh keuntungan dari penyediaan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak itu. artinya kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi produsen masih dapat melakukan perluasan usaha untuk menambah investasinya.

F. Namun. X. Tentang jumlah barang yang ditawarkan akan tergantung dari tingkat elastisitas penawaran. penyesuaian produksi akan mengikuti pola Cobweb theorem (sarang laba-laba) seperti digambarkan grafik sebagai berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . Apabila jumlah produk pertanian ada di gudang. peningkatan harga segera mendorong peningkatan penawaran produk tersebut. (hal-hal lain tetap atau ceteris paribus). Dengan mengubah harga. X dan T. Dalam menggambarkan hukum penawaran. Hukum penawaran menyatakan bahwa jumlah yang ditawarkan akan meningkat apabila harga barang tersebut semakin tinggi. pemerintah akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. Secara matematis. F. maka yang dinyatakan tetap (ceteris paribus) adala S. T ) Dimana: Qa Pa S F X T = = = = = = jumlah barang A yang ditawarkan harga barang A jumlah input yang tersedia keadaan alam pajak atau subsidi atau keduanya tingkat teknologi. apabila peningkatan penawaran membutuhkan tenggang waktu. yang berarti apabila barang yang ditawarkan harganya naik. fungsi penawaran dapat dinyatakan dengan: Q a = f ( P a.19 peningkatan produksi. Sehingga. dan sebaliknya. S. Fungsi Penawaran dan Tanggapan Sektor Pertanian Fungsi penawaran menunjukkan hubungan antara jumlah barang yang ditawarkan dan berbagai tingkat harga dari barang tersebut. atau kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurang peningkatan produksi. kurva penawaran merupakan garis miring dari bawah keatas. maka jumlah yang ditawarkan akan meningkat.

Kebijakan Harga Positif Dari analisis diatas menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sumber kapital bagi pembangunan. harga akan terkoreksi menjadi P a4. Syaratnya adalah apabila produsen cukup responsif terhadap insentif harga. Karena terjadi peningkatan produksi di periode 2.20 Gambar 3. petani akan terdorong memproduksi sebesar Q a3 di akhir periode tanam berikutnya.1 D merupakan kurva permintaan dan S kurva penawaran. Akan terjadi pergerakan sepanjang waktu ke arah titik perpotongan antara kurva D dan kurva S. Hubungan tersebut mengakibatkan tingkat harga akan cenderung mencapai equlibrium pada perpotongan kurva penawaran dan kurva permintaan. Dengan memberikan jaminan harga yang tinggi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pada tingkat harga tersebut. Peningkatan produksi pertanian secara total karena adanya perbaikan harga relatif komoditi pertanian dalam perbandingannya dengan harga komoditi sektor non pertanian. karena fungdi permintaan tetap. Dengan tingkat harga itu. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian dan kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian. maka harga pasar akan turun menjadi P a2. petani akan terdorong menanam atas dasar harga tersebut dan akan menghasilkan Q a1 pada akhir periode tanam. produsen akan terdorong untuk mengurangi produksinya dan harga akan meningkat menjadi P a3. Tetapi. 2. para petani akan terdorong untuk meningkatkan produksi pangan. Perubahan komposisi produksi pertanian karena perubahan harga relatif masing-masing komoditi pertanian secara individu. Ada tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga yang dapat dianalisis sebagai berikut: 1. Apabila pada periode tertentu harga pasar setinggi P a1.

Peningkatan produksi pertanian yang dapat dipasarkan sebagai respon terhadap kenaikan harga komoditi pertanian (marketable surplus). maka produksi pertanian secara total dapat menurun. Berdasarkan hasil studi. kebijakan ini membuat biaya produksi sektor industri dan jasa lain akan tinggi juga. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. jelas terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input. tenaga kerja dan kapital. sedangkan tanaman komersial memiliki elastisitas penawaran yang tinggi. tetapi juga ditujukan untuk ketersediaan pasar maka respon yang diharapkan. Dengan demikian. karena hasil pertanian merupakan kebutuhan primer masyarakat (seperti makanan). akan tetapi untuk tanggapan kedua dan ketiga justru sangat inelastis atau bahkan turun dengan adanya kenaikan harga. Dari uraian diatas. harus diserap dari produksi komoditi lain. untuk mencegah agar produksi pertanian tidak merosot. artinya prosentase peningkatan produksi sama dengan prosentase peningkatan pemasaran. peningkatan produksi merupakan bentuk perubahan luas areal tanam. Tetapi. baik untuk produksi pertanian secara keseluruhan maupun untuk marketable surplus. Kebijakan Harga Negatif Kebijakan harga yang positif diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi pertanian. Perkecualian dapat terjadi. jika tanaman tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan sekunder. Namun demikian. Di lain Dasar-dasar Keuangan Publik . para petani tidak terlalu dirugikan dengan meningkatnya produksi pertanian. karena produktivitas berkaitan erat dengan kondisi musim maupun faktor lain. Hasil studi mengenai tanggapan produksi di negara berkembang menunjukkan bahwa tanggapan pertama tersebut dapat bersifat sangat elastis untuk jenis komoditi tertentu. akan menunjukkan positif. elastisitas penawaran komoditi yang dipasarkan akan sama dengan elastisitas produksi/output. Namun apabila faktor produksi. tetapi akan menghambat perkembangan ekonomi secara keseluruhan. program bantuan harga membuat harga pangan dan produk pertanian mahal dan hasilnya dinikmati para petani. untuk memungkinkan menekan tingkat upah di sektor itu. Simpulan umum menyatakan bahwa tanaman yang merupakan kebutuhan sekunder masyarakat cenderung memiliki elastisitas penawaran yang rendah.21 3. dan pertumbuhan sektor lain tidak terhambat. Di satu pihak. Banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan mesyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif agar sektor industri dan jasa mampu berkembang. maka pemerintah mengenalkan program subsidi input dibarengi dengan penyuluhan pertanian yang intensif. Misalnya setiap tanaman ditujukan untuk tujuan komersial. seperti tanah. sehingga akan menghambat perkembangan produksi sektor industri dan jasa. bukan dalam hal peningkatan produktivitas. Sektor ini menghendaki adanya harga pangan yang murah.

sedangkan harga maksimum ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. seperti jalan. menjadi berkurang. Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah dengan menentukan harga patokan berupa harga dasar (floor) dan harga maksimum (ceiling). Cara ini. juga merupakan alternatif yang menjamin ketenangan masyarakat. kebijakan ini juga diarahkan agar swasta dapat berkembang dengan sendirinya akibat dukungan harga pangan yang murah. Meskipun dengan menyisihkan anggaran ini mengakibatkan investasi di bidang lain. Cara subsidi yang terakhir ini menyebabkan pemerintah harus menyisihkan sebagian anggarannya untuk membiayai subsidi. Kebijakan penyangga dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut: Gambar 3. program subsidi input lewat harga faktor produksi pertanian yang murah akan mendorong produksi pertanian sehingga harga pangan akan murah dan dapat mendorong perkembangan ekonomi lebih lanjut. para konsumen mengharapkan harga pangan. para produsen selalu menginginkan agar hasil produksinya dapat terjual dengan harga yang layak. secara politis. Harga dasar ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. jembatan. Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy). pelabuhan dan lainnya.2 Dasar-dasar Keuangan Publik .22 pihak. Di satu pihak. dan produk pertanian khususnya. dan di lain pihak. Pemerintah berkewajiban melindungi kedua kepentingan tersebut agar konsumen dan produsen tidak menderita. Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) Dalam merumuskan kebijakan harga barang dan jasa publik umumnya. khususnya. pemerintah menghadapi dilema kepentingan. murah.

Berhasil atau tidaknya kebijakan penentuan harga ini tergantung pada tersedianya dana untuk operasi (sering disebut operasi pasar). pemerintah turut membeli hasil panen. atau sebaliknya. keadaan keseimbangan tercapai pada harga P ao dan Q ao. sehingga kurva permintaan pasar bergeser kekanan menjadi D1 sampai memotong kurva penawaran S 1 tepat pada harga dasar P a2. maka pemerintah dapat mencegah naiknya harga komoditi dengan turut menjual produk pertanian ke pasar. Kemudian. Keadaan sebaliknya dapat pula terjadi. maka pemerintah dapat saja tidak mampu melindungi produsen. Harga dapat saja bergerak lebih rendah dari P a2. Untuk melindungi konsumen. Untuk mencegah supaya harga turun tidak terlalu drastis. Dasar-dasar Keuangan Publik . bila terjadi paceklik. seperti kebijakan moneter. Dengan demikian. misalnya bergeser dari S o menjadi S 1. bila penawaran bertambah. kebijakan penentuan harga perlu dukungan kebijakan lain.23 Pada awalnya. kurva penawaran bergeser ke kanan. misal pada saat panen. sedangkan harga cenderung merosot terus (dalam keadaan over supply). dan harga cenderung menjadi turun. Apabila dana operasi terbatas.

Suatu kebijakan publik. misalnya pengenaan pajak dan pengeluaran publik. dapat secara simultan diarahkan kepada tiga tujuan tadi. P 1. Yang dimaksud dengan fungsi stabilisasi dalam kebijakan publik adalah penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja. Fungsi stabilisasi. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi. Permasalahan utama adalah bagaimana merancang kebijakan anggaran sehingga tujuan yang Dasar-dasar Keuangan Publik . fungsi pemerintah dapat dikelompokkan sebagai berikut. Dengan melihat berbagai kelemahan mekanisme pasar. 3.24 B A B IV FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi Utama emerintah sangat diperlukan dalam perekonomian dan berfungsi dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan standar kehidupan penduduk pada tingkat yang layak. Fungsi Alokasi. Yang dimaksud dengan fungsi distribusi dalam kebijakan publik adalah penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan. Yang dimaksud fungsi alokasi dalam kebijakan publik adalah fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. Fungsi Distribusi. 2.

2. Ada dua argumen perlunya intervensi pemerintah yaitu kegagalan pasar dan penekanan pada aspek keadilan. Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Dalam situasi tertentu. Tugas membentuk dan memelihara institusi publik agar memberi manfaat yang tinggi dan pekerjaan publik yang karena sifatnya profit yang diperoleh institusi tersebut tidak pernah mencapai tingkat pembayaran kembali dari individu yang menyediakan dan. Pedoman aktivitas pemerintah yang dipromosikan oleh Milton Friedman adalah bahwa keterlibatan pemerintah harus dapat membuat dan memaksa aturan-aturan umum yang mengatur perilaku para individu dan apabila pemerintah memutuskan untuk campur tangan dalam aktivitas individu. Ada beberapa barang publik yang bersifat non-rival dan non-excludable. 4. baik secara langsung atau tidak langsung. bukan bertransaksi dengan pengguna. Hal ini menyebabkan kegagalan pasar dimana negara dapat saja mencoba turut campur mengatasi permasalahan ini. 1. hanya berperan sebagai last resort. dengan demikian. 3. Pada saat pemerintah memproduksi barang atau jasa. Konsumsi atau produksi barang/jasa publik mungkin menghasilkan suatu akibat eksternal positif atau negatif kepada masyarakat yang tidak Dasar-dasar Keuangan Publik . mengatur dan menyediakan barang atau jasa yang gratis. Aktivitas pemerintah. Kegagalan pasar. Tugas mempertemukan biaya yang diperlukan untuk mendukung peraturan-peraturan. Tugas memproteksi setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan dan dominasi yang dilakukan oleh anggota lain dalam masyarakat.25 berbeda-beda tersebut dapat dicapai secara lebih terpadu. seperti pertahanan nasional dan penerangan jalan. pemerintah harus membebankan secara pro rata kepada pengguna. suatu masyarakat dapat saja memilih alokasi yang tidak efisien atas dasar kesetaraan atau kriteria lainnya. dalam mendanai. Namun demikian. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas. bukan mengendalikan/mengatur sumber daya tersebut. 2. Tugas memproteksi suatu kelompok masyarakat dari pelanggaran dan invasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lainnya. Dalam the Wealth of Nations. Adam Smith mencatat empat fungsi ‘pengoreksi’ dari pemerintah: 1. tidak dapat diharapkan bahwa pekerjaan-pekerjaan tersebut akan disediakan dalam kuantitas yang tepat. seharusnya. Milton Friedman juga menyarankan pemerintah supaya membeli sumber daya yang digunakannya dalam pasar. mekanisme pasar mengarah pada alokasi sumber daya yang efisien yang timbul pada saat tidak seorang pun dapat dipuaskan lebih baik tanpa menyebabkan orang lain menderita kerugian (sering disebut efisiensi Pareto). keterlibatan tersebut harus mempunyai tingkat yang minimal. yang membuat tidak mungkin membebankan biaya penyediannya kepada para pengguna. misalnya tanpa mengelola aktivitas (swasta tersebut).

tambang dan lain-lain. Dasar-dasar Keuangan Publik . perlindungan hak asasi. Informasi yang tidak simetris dan tidak sempurna mungkin mengarah pada penilaian yang salah atas barang dan jasa publik. peran pemerintah terdiri dari: Peran penyedia (Provider Role). saat sekarang dalam pertanyaan berkaitan dengan teknologi masa kini. pasar akan memproduksi barang publik tersebut melebihi atau kekurangan. secara nasional dan global. tidak semua fungsi mensyaratkan kehadiran negara sebagai penyedia barang atau jasa publik. Monopoli yang alami dalam sektor tertentu seperti energi. 4. Tiga dimensi pokok dari kemiskinan yang tidak dimiliki secara eksklusif oleh sektor publik. mempromosikan tambahan kepada anggota masyarakat (erat hubungannya kepada produsen dan pekerja swasta). 5. Tidak bisa bergeraknya sumber daya yang produktif. 5. kredit). Akhirnya. pemberdayaan dan proteksiperlu difasilitasi oleh pemerintah. 4. Peranan sektor swasta dan kebutuhan kemitraan dalam kesempatan. dan dengan demikian menyebabkan penawaran dan permintaan yang tidak tepat. Aspek keadilan 1. pembangunan lebih cepat. 3. Sektor swasta dapat berperan aktif dalam menciptakan kesempatan ekonomi (penciptaan lapangan kerja. Tugas ini berhubungan dengan penyediaan kesempatan. Tanpa intervensi pemerintah. Kepedulian secara luas atas kebutuhan mengatasi kemiskinan secara lebih serius harus menjadi perhatian oleh pemerintah.26 tercermin dalam harga barang. Namun demikian. terutama tenaga kerja. pemberdayaan dan proteksi. dan kurangnya kemiskinan. Data empiris di seluruh dunia secara umum menyarankan bahwa peningkatan keadilan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. dimana beberapa diantaranya difasilitasi oleh peraturan dan penciptaan ruang gerak yang tepat. Negara harus menyediakan barang publik untuk menjamin stabilitas ekonomi makro. keadilan. 2. Penekanan pada aspek keadilan bukan berarti bahwa hanya negara yang harus atau dapat memberikan kontribusi menekan kemiskinan. 3. dan memberikan kontribusi untuk mengurangi ketidakadilan melalui aktivitas yang berhubungan dengan pemerintah dan partisipasinya dalam sektor swasta (rumah sakit umum dan sekolah yang dananya dari swasta) Dengan demikian. tergantung pada apakah eksternalitas ini baik atau buruk. 6. penyelesaian konflik. lingkungan yang bersih. dapat membantu mencegah pencapaian alokasi sumber daya yang efisien. Ketidakadilan sering menghasilkan ketidakamanan dan kejahatan. eksternalitas negatif yang mempengaruhi pertumbuhan dan keadilan sosial. kegagalan pasar juga berhubungan dengan permasalahan dari seleksi yang tidak menguntungkan dan bahaya moral ketika pembeli atau penjual bertindak secara eksklusif atas dasar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. dan stabilitas nasional.

Sering. pembangunan infrastruktur dasar dan perlindungan dari risiko dan kerugian (misalnya asuransi). sehingga sejumlah produktivitas hilang bila ditransfer dari kondisi yang relatif baik kepada kondisi yang baik. Dalam kasus ini. Alasan-alasan adalah seperti diuraikan dibawah ini. kebijakan dalam upah minimum akan menyebabkan penerimaan upah lebih tinggi kepada pekerja. hubungan antara produsen dan konsumen yang terjadi dalam mekanisme pasar tidak ada dan pemerintah Dasar-dasar Keuangan Publik . namun tidak efisien. Fungsi Alokasi. Dilihat dari fungsi alokasi. para ekonom mengatakan bahwa kebijakan ini tidak dalam kondisi pareto optimal. Kebijakan publik menggunakan sumber daya yang mempunyai nilai yang lebih tinggi kepada masyarakat bila digunakan dalam sektor swasta. Mungkin ada opprtunity cost dalam hubungannya dengan efisiensi dalam merubah distribusi pendapatan. secara langsung dan tidak langsung. pekerja atau konsumen? Dan siapa juga yang menerima tanggung jawab akibat adanya pajak penjualan? Konsumen atau pekerja? Beberapa kebijakan secara aktual menggeser ditribusi pendapatan antara generasi sekarang dan generasi mendatang. Pada masa sekarang. Sebagai contoh. Pertanyaannya adalah siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung beban dari suatu kebijakan distribusi tertentu. Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Tingkat konsumsi dan produksi barang dan jasa publik oleh masyarakat dapat dirubah oleh kebijakan publik. tetapi kesempatan kerja total mungkin turun karena kebijakan ini. suatu barang publik – yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi – tidak dapat disediakan melalui sistem pasar yang melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individu. Diakui secara luas bahwa baik negara maupun sektor swasta tidak dapat berfungsi secara tepat tanpa berfungsinya kedua sektor tersebut secara bersamaan. Inilah yang dimaksud dengan true incidence dari kebijakan. mekanisme pasar berfungsi. yakni memindahkan alokasi pasar dari hak kekayaan. Isu ini disebut internerational transfer. 1. Kebijakan publik dapat mempengaruhi distribusi pendapatan nyata. Siapa yang menanggung beban atas akibat diterapkannya kebijakan pajak penghasilan badan? Apakah kepada pengusaha. lebih banyak kebutuhan negara dalam perannya sebagai regulator dari mekanisme pasar dan sebagai fasilitator dari lingkungan kelembagaan dan pengaturan yang kondusif atas pembangunan sektor swasta. Pemerintah dapat menjadi mitra swasta dalam penyedia peraturan. Akibat kegagalan mekanisme pasar. Hukum ekonomi mengatakan biaya yang naik didasarkan pada fakta bahwa sumber daya cenderung mengarah pada kondisi yang spesifik.27 Peran Kemitraan (Partnership Role).

Apabila hukum ekonomi pasar diberlakukan. Para ekonom sepakat bahwa dibutuhkan penyesuaian untuk menentukan batas minimum kelompok berpenghasilan rendah.28 lah yang harus bersedia memproduksi barang publik. fungsi distribusi memainkan peranan penting dalam kebijakan pajak dan transfer. 2. Distribusi Optimal. Lebih khusus. Dasar-dasar Keuangan Publik . dan inilah yang selanjutnya diperhitungkan dalam merancang kebijakan distribusi. Barang pribadi dapat diproduksi dan dijual kepada pembeli swasta baik oleh swasta maupun oleh perusahaan pemerintah. tetapi kriteria ini digunakan untuk menilai tingkat efisiensi pasar. penggunaan sumber daya yang efisien ditentukan oleh nilai penetapan harga faktor produksi yang kompetitif dan distribusi pendapatan keluarga ditentukan oleh proses pasar. terutama dalam distribusi pendapatan modal. Distribusi yang adil mempunyai pengertian yang sangat dalam yang menyangkut perimbangan sosial dan pertimbangan nilai. seperti misalnya pelayanan yang diberikan oleh pemerintah. dan hanya jika. pernyataan yang telah diterima secara luas adalah orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuan mereka membayar. barang publik dengan cara yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan swasta dan dijual kepada pemerintah atau dapat juga diproduksi secara langsung oleh pemerintah. Dalam ilmu ekonomi kesejahteraan modern berlaku prinsip bahwa suatu kondisi ekonomi disebut efisien jika. Kriteria ini tidak sama artinya dengan suatu tindakan pendistribusian kembali atas sumber daya yang ada kepada konsumen. Pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. Fungsi Distribusi Dilihat dari fungsi distribusi. distribusi pendapatan dan kekayaan akan tergantung pada ketersediaan sumber daya alam dan kepemilikan kekayaan. Pemerintah harus menjamin bahwa proses politik dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik dapat terjadi secara efisien. peningkatan kesejahteraan seseorang tidak akan merugikan orang lain. (Pareto Optimum). Akibat kegagalan mekanisme pasar yang lain adalah bahwa proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Namun hal ini dipandang sebagai suatu tingkat ketidakadilan yang besar. Sedangkan. Faktor yang Menentukan Fungsi Distribusi Tanpa adanya intervensi kebijakan. Masalah-masalah yang timbul dalam fungsi alokasi adalah berapa banyak barang publik yang harus disediakan oleh pemerintah dan jenis maupun kualitas barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. fungsi distribusi mempunyai sifat yang lebih sulit dipecahkan dibanding fungsi alokasi dan merupakan permasalahan utama dalam penentuan kebijakan publik. Dengan menyimpulkan berbagai kriteria. Proses penyesuaian ini akan menimbulkan inefisiensi dan merupakan biaya. Permasalahannya terletak pada aspek pemerataan dan keadilan.

aspek pemerataan membahas pencegahan kemiskinan dan penentuan batas minimum kelompok berpenghasilan rendah. besarnya pendapatan yang tersedia tidak dapat dipisahkan dengan cara mendistribusikan pendapatan tersebut. pengangguran dan inflasi. perekonomian cenderung mengalami fluktuasi. Secara lebih detail. Pertama. Permintaan agregat merupakan akumulasi dari pengeluaran individu dan perusahaan. neraca pembayaran yang sehat. Pemecahan optimal menghendaki suatu kombinasi yang kompleks antara pajak dan subsidi. tingkat stabilitas harga. Tingkat kesempatan kerja dan tingkat harga tergantung dari tingkat permintaan agregat dan output kapasitas berdasar harga yang berlaku. Kombinasi antara pajak atas barang mewah dengan subsidi terhadap barang tidak mewah. fungsi stabilisasi dirancang untuk mencapai tingkat kesempatan kerja. Tanpa kebijakan stabilisasi pemerintah. Fokus perhatian distribusi terletak pada aspek posisi pendapatan relatif yakni pemerataan secara keseluruhan. Fungsi Stabilisasi Akhirnya dilihat dari fungsi stabilisasi. 2. 3. Skema pemindahan pajak yang menggabungkan pajak progresif. Dasar-dasar Keuangan Publik . hampir tidak mungkin membandingkan tingkat utilitas masing-masing individu atas pendapatannya. Sedangkan keputusan pengeluaran dipengaruhi oleh pendapatan. perlu diperhitungkan bobot atau biaya efisiensi. dan kedua. Meskipun demikian. faktor-faktor penyebab ketidakpastian dapat dialihkan dari suatu negara ke negara lain. Perlunya Kebijakan Stabilisasi. yaitu pengenaan jenis pajak dimana rasio pajak terhadap penghasilan naik dengan naiknya pendapatan. yaitu biaya yang timbul akibat pilihan terhadap perilaku konsumen atau produsen.29 Sedangkan kaidah pemerataan mempunyai dua masalah. Pajak penghasilan progresif yang digunakan untuk membiayai pelayanan umum. Instrumen Fiskal Alternatif peralatan fiskal dalam fungsi distribusi adalah: 1. karena adanya saling sifat salain ketergantuangan antar negara. Simpulan umum berkaitan dengan pemerataan adalah bahwa kebijakan distribusi akan mencakup biaya efisiensi yang harus diperhitungkan. Konsekuensi pilihan instrumen fiskal akan menunjukkan bahwa setiap perubahan harus diselesaikan dengan biaya efisiensi yang minimum dan timbulnya suatu kebutuhan untuk menyeimbangkan konflik antara tujuan pemerataan dan tujuan efisiensi. dan pertumbuhan ekonomi. Dalam mempertimbangkan instrumen kebijakan.

Koordinasi Fungsi Anggaran. Instrumen moneter tidak dibahas secara detail pada buku ini. Instrumen Fiskal. Instrumen Kebijakan Stabilisasi. suatu kebijakan selalu berupaya meminimumkan konflik antar masingmasing tujuan. Meskipun mekanisme pasar berfungsi. akan tetapi mengurangi permintaan apabila terjadi tingkat pengeluaran melebihi output sehingga dapat menyebabkan inflasi. mempunyai beberapa tujuan: 1. Sebaliknya. kebijakan pasar terbuka dan pengendalian kredit selektif. bila kebijakan peredaran uang diperketat. 3. Namun demikian. dan Kebijakan yang lebih ekspasioner diperlukan dengan menaikkan pengeluaran publik atau dengan menurunkan pajak (tujuan stabilisasi) Suatu kebijakan publik tertentu mungkin tidak dapat memenuhi tiga tujuan sekaligus. para ekonom berpendapat bahwa jumlah uang beredar harus diawasi oleh sistem bank sentral dan disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi. sehingga dimungkinkan akan ada banyak pengecualian. secara simultan.30 kesejahteraan. karena pendapatan yang dapat diterima (disposable income) para wajib pajak lebih besar sehingga akan membelanjakan pendapatannya dengan lebih besar. Dasar-dasar Keuangan Publik . pinjaman akan mempertinggi bunga sehingga menghambat ekspansi pasar. 2. Kondisi stabil tidak ada dapat dicapai secara otomatis. 2. Yang dibutuhkan adalah meningkatkan permintaan agregat apabila ingin meningkatkan kesempatan kerja. Penurunan pungutan pajak dapat juga bersifat ekspansi. pengaruh ekspansioner akan tinggi karena defisit ditutup dari pinjaman. Peranan sektor publik yang penting terletak pada bagaimana defisit anggaran dibiayai. Komponen kebijakan moneter mencakup antara lain pembentukan cadangan wajib. penyediaan kredit dan pengharapan. sehingga kebijakan anggaran. Peningkatan anggaran belanja pemerintah yang bersifat ekspansi akan meningkatkan permintaan pemerintah dan kemudian menjalar ke sektor swasta. Instrumen Moneter. Kegiatan-kegiatan pemerintah dalam melaksanakan ketiga fungsi tersebut akan tercermin dalam kebijakan anggaran. Peningkatan pelayanan pemerintah perlu diikuti dengan kenaikan pajak (tujuan alokasi) Distribusi pendapatan ke kelompok rendah/tinggi perlu diikuti pengenaan pajak progresif atau sebaliknya (tujuan distribusi). 1. tingkat diskonto. Jika kebijakan moneter longgar.

Apabila seseorang membeli satu set pakaian. dapat dimisalkan bahwa kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang akan pakaian akan sangat berbeda dengan kebutuhan pakaian yang dirasakan oleh orang yang berbeda. sedangkan produsen akan menjual barang dengan harga yang setingi-tingginya. aplikasi dari prinsip hubungan permintaan dan penawaran seperti ini menjadi suatu pemecahan yang efisien. maka pakaian yang sama tidak akan tersedia untuk orang lain (konsumsi terhadap barang tersebut bersifat bersaing). sistem pasar tidak berlaku. Berbeda dengan kebutuhan seseorang terhadap. Namun untuk barang-barang publik (social goods). begitu pula manfaat yang dihasilkan dengan adanya jalan umum tersebut tersedia bagi banyak orang (tidak untuk satu konsumen). Akan banyak Dasar-dasar Keuangan Publik . Untuk barang seperti pakaian. U Sebagai ilustrasi. manfaat yang tersedia bagi orang lain tidak akan berkurang. misalnya.31 B A B V FUNGSI ALOKASI Latar Belakang adanya fungsi alokasi ntuk barang-barang pribadi (private goods). kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen. Kebutuhan atas barang ini dirasakan secara bersama-sama. Apabila seseorang mengambil manfaat dari adanya jalan umum tersebut. Dari ilustrasi tersebut dapat dipahami bahwa mekanisme pasar sangat cocok untuk menggambarkan penyediaan barang-barang pribadi. penggunaan atas jalan umum. Mekanisme pasar terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. sistem pasar terjadi melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individual secara suka rela dan sangat tepat untuk menggambarkan hubungan permintaan dan penawaran. Konsumen akan berusaha mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harga yang serendah-rendahnya. Mekanisme pasar akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu.

kriteria efisien dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya dimana semua pasar dalam kondisi persaingan sempurna. akan mengakibatkan konsumen kekurangan informasi atau dapat tersesatkan. sehubungan dengan pemenuhan kriteria efisien. pandangan ini merupakan gambaran paling ekstrim dari sistem pasar. Dasar-dasar Keuangan Publik . Tentu saja. baik jika dia membayar ataupun tidak. misalnya. Selain itu. dan hal ini berarti bahwa informasi yang dimiliki oleh kosumen dan produsen tidaklah sama. Konsumen biasanya tidak bersedia untuk membayar pemanfaatan atas barang publik. Berbeda halnya dengan barang publik. Harga atas suatu komoditi sudah ditetapkan atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar Dalam suatu sistem ekonomi pasar. Dalam hal ini hubungan antara produsen dan konsumen terputus dan pemerintah harus bersedia turut campur. Alasan kedua. Di sinilah kemudian terjadi alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar. terutama dalam hal persaingan. pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. Hal ini berarti tidak ada distorsi pasar yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. sistem ekonomi pasar dapat menjamin penggunaan sumber daya secara efisien dalam penyediaan barang pribadi. diasumsikan bahwa terdapat hak ekslusif terhadap semua sumber daya produktif yang tersedia di pasar dan tidak ada individu yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atas komoditi atau produk yang diperjualbelikan.32 keuntungan yang didapat . karena manfaat yang akan dirasakan oleh setiap orang akan sama saja.terutama oleh produsen . terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. masih banyak permasalahan lain yang tidak dapat dipecahkan oleh mekanisme pasar. Dalam kenyataannya banyak kesulitan yang terjadi. akan sangat tidak efisien untuk menghalangi seorang konsumen (yang tidak membayar) untuk ikut memanfaatkan barang publik. sehingga pasar dapat menjadi ajang persaingan yang tidak sempurna.apabila membatasi konsumen ikut dalam sistem pasar dengan syarat mereka mau membayar. Alasan pertama adalah bahwa pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. Karena pemanfaatan barang publik oleh seseorang tidak akan mengurangi manfaat yang dirasakan oleh orang lain. Di sini. Alasan ketiga terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik. Bila semua kondisi tersebut telah terpenuhi. misalnya terhadap sejumlah barang tertentu yang menjadi preferensi konsumen. Distorsi yang disebabkan oleh iklan. manfaat yang dirasakan masing-masing individu akan semakin tidak berarti apa-apa. Dalam keadaan demikian mekanisme pasar tentunya tidak berfungsi secara sempurna. Apalagi jika semakin banyak orang yang menggunakan barang tersebut. Akibatnya tidak ada pembayaran yang dilakukan secara sukarela.

mulai lampu jalan sampai dengan keamanan nasional. terdapat barangbarang yang mempunyai sifat tidak bersaing dengan kadar yang tinggi dan rendah. Misalnya konsumsi atas lampu jalan. jalan lokal. Sifat Tanpa Pengecualian Dimensi kedua dari barang publik adalah sifat tanpa pengecualian. Sebaliknya. Misalkan. jika biaya untuk mendapatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . A tidak memberi kontribusi dengan membayar pajak. Istilah barang publik digunakan untuk menggambarkan barang atau jasa apapun yang disediakan oleh pemerintah.1 Untuk barang publik seperti. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan untuk mencegah seseorang yang tidak memberikan kontribusi (tidak membayar) ikut mengkonsumsi barang publik. Kedua sifat tersebutlah yang kemudian akan mengakibatkan kegagalan pasar dalam memproduksi secara efisien. Dari berbagai macam barang publik. dibandingkan dengan orang yang tinggal lebih jauh dari wilayah lampu tersebut. bahwa sifat tidak bersaing bukan berarti bahwa manfaat yang diterima oleh setiap konsumen adalah sama. karena apabila pemerintah mencegah dengan cara tidak membangun jalan di sekitar rumahnya. Sifat Tidak Bersaing Sifat tidak bersaing berarti bahwa barang tersebut dapat dikonsumsi sebanyak-banyaknya oleh seseorang tanpa akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh orang lain. akan sulit bagi pemerintah untuk mencegah orang tersebut agar tidak menggunakan jalan umum.33 namun pasar gagal dalam memproduksinya. Semakin banyak orang dalam suatu wilayah. seseorang dapat terlindungi dari gelapnya malam. terdapat sifat tidak bersaing yang rendah dalam konsumsinya. Namun perlu dipahami. Rendah Jalan Lokal Pendidikan Pelayanan Kesehatan Udara bersih Keamanan Tinggi Lampu Jalan Gambar 5. tidak menutup kemungkinan sifat ini dihilangkan. orang yang tinggal disekitar wilayah lampu tersebut akan lebih merasakan manfaatnya. maka hal tersebut akan dapat merugikan orang-orang di sekitarnya yang membayar pajak. Namun. Efisiensi produksi pemerintah di sini akan menjadi fokus pembahasan. sifat tidak bersaingnya tinggi. Namun demikian. Para ekonom secara lebih spesifik menjabarkan istilah barang publik sebagai barang-barang yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) dan tanpa pengecualian (non excludability). tanpa mengurangi kebutuhan orang lain atas lampu yang sama. akan ada kemungkinan sifat bersaing dalam penggunaan barang publik tersebut. barang publik seperti lampu jalan dan keamanan. pelayanan kesehatan dan pendidikan. Barang publik.

Dengan catatan bahwa Qt merupakan penjumlahan dari Qa (barang yang dibeli oleh A) dan Qb (barang yang dibeli oleh B). Perpotongan antara kurva SS dan Dt menentukan titik ekuilibrium harga P1 dan titik ekuilibrium kuantitas Qt. Kurva Permintaan Atas Barang Pribadi P MC P1 Da Qa Qb Qt Dt Q Gambar 5. A dapat masuk ke dalam pasar sehingga kurva permintaan pasar Dt berbelok. yaitu A dan B. Kurva penawaran pasar SS memperlihatkan biaya marginal (MC) yang dapat dibebankan kepada A dan B secara bersama-sama untuk berbagai output dari barang pribadi. sama halnya dengan sifat tidak bersaing. Oleh karena itu. Dasar-dasar Keuangan Publik Db . Semua titik-titik dalam kurva permintaan pasar Dt merupakan gabungan dari titik-titik harga dan kuantitas yang diminta dalam kurva perimtaan A dan B. Kurva permintaan pasar (Dt) diperoleh dengan menambahkan secara horizontal kurva permintaan A (Da) dan kurva permintaan B (Db). Kurva permintaan pasar Dt berhimpitan dengan kurva permintaan Db.3. dan 5.2 Barang publik versus barang pribadi Gambar 5. Misalnya untuk tempat rekreasi.4 dibawah ini menguraikan tentang perbedaan antara barang publik dan barang pribadi dalam suatu masyarakat yang diasumsikan hanya terdiri dari dua kelompok individu. pemerintah mungkin saja menarik bayaran dari para pengunjung.3 mewakili barang pribadi yang mempunyai sifat bersaing dan pengecualian yang sangat tinggi. selanjutnya pada saat tingkat harga sudah cukup rendah. Gambar 5. selama tingkat harga masih cukup tinggi.3.34 kontribusi konsumen tidak lebih besar dari manfaatnya. terdapat garis spektrum yang menggambarkan tinggi rendahnya sifat tanpa pengecualian Rendah Tempat Parkir Tempat Rekreasi Perpustakaan Udara bersih Pendidikan Tinggi Jalan Lokal Gambar 5. selama biaya yang dikeluarkan untuk membayar staf penjaga tempat rekreasi tersebut tidak lebih besar dari pendapatan yang diterima.

Kurva Permintaan Atas Barang publik P MC P1 Pa Dt Db Pb Da Qb Qt Q Gambar 5. pakaian. dalam hal ini perbedaan terjadi bukan pada kuantitas yang dikonsumsi oleh masing-masing orang. Oleh karena itu.4 memperlihatkan pola yang sama namun untuk barang publik. sehingga barang yang dikonsumsi oleh A sama jumlahnya dengan barang yang dikonsumsi B. pendidikan.5 menunjukkan alternatif kombinasi antara barang publik dan barang pribadi. dengan asumsi seluruh sumber daya yang ada digunakan. Misalnya A sebagai warga kota Jakarta dapat menggunakan seluruh jalan kota maka demikian juga halnya dengan B.35 Gambar 5.4. seperti: jalan umum. seperti makanan. trade off dari penyediaan barang publik oleh pemerintah dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar dapat digambarkan dengan kurva kemungkinan produksi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Situasi yang berbeda terjadi di sini. Gambar 5. keamanan nasional dan lain-lain. karena barang publik mempunyai sifat tidak bersaing dan tanpa pengecualian. baik manfaat yang diterima A lebih besar maupun lebih kecil. Penyediaan Barang publik Ketika pemerintah melakukan fungsi penyediaan barang publik. meskipun A memiliki mobil sedangkan B tidak. Sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar. tapi lebih kepada perbedaan dari manfaat marjinal dari setiap konsumen atau harga yang dibayarkan oleh masing-masing konsumen. dan lain-lain. Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar.

5 Titik A dalam gambar menunjukkan bahwa MX1 unit adalah jumlah barang pribadi yang dikorbankan oleh masyarakat sehingga pemerintah dapat menyediakan barang publik sejumlah OG1. atau dengan kata lain meminta pengorbanan lebih besar dari MX1 ke MX2. pengorbanan dari pihak masyarakat terjadi dengan menurunnya kemampuan konsumsi atas barangbarang pribadi. Pengorbanan masyarakat merupakan harga sumber daya yang seharusnya digunakan untuk memproduksi barang pribadi digunakan oleh pemerintah untuk dapat menyediakan barang publik.36 Kurva Kemungkinan Produksi P Penyediaan Batang Publik per Tahun C B A G2 G1 O X2 X1 M Penyediaan Barang Pribadi per Tahun Gambar 5. Peningkatan jumlah barang publik yang tersedia di pasar dalam satu tahun dari OG1 ke OG2 (titik B) akan meminta penurunan dari jumlah barang pribadi di pasar dari OX1 ke OX2. Namun di sisi lain. Jika untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional tersebut pemerintah harus meningkatkan pajak penghasilan. penyediaan barang publik perlu adanya campur tangan pemerintah. maka kualitas keamanan yang disediakan pemerintah akan meningkat dan masyarakat akan merasa lebih aman. Sumber daya yang dikorbankan tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh masyarakat atau pajak yang diminta oleh pemerintah agar barang publik dapat tersedia. Penyediaan Barang Melalui Anggaran Sebagaimana telah diterangkan dalam bab sebelumnya. Masalah yang timbul kemudian adalah bahwa setiap individu seharusnya mau membayar atas setiap manfaat yang dia Dasar-dasar Keuangan Publik . jika diumpamakan peningkatan jumlah barang publik per tahun merupakan respon pemerintah atas peningkatan permintaan masyarakat terhadap keamanan nasional.

atau kecil pengaruhnya . Keterbatasan Jangkauan Manfaat atas Barang publik Pada dasarnya.masyarakat akan merasa enggan untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Pilihan para pemilih karena itu akan tergantung pada pengetahuan mereka sendiri serta kesadaran mereka bahwa orang lain juga menyumbang sesuai dengan rencana perpajakan yang dianut. Akan timbul masalah tentang jenis dan kualitas barang seperti apa yang harus disediakan oleh pemerintah. barang publik disediakan untuk semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. Para pemberi suara kemudian akan dihadapkan pada suatu pilihan diantara beberapa usulan pengeluaran publik berkaitan dengan sumbangan pajak mereka. karena biaya yang mereka keluarkan akan lebih besar dari manfaat yang akan mereka terima. masyarakat dalam sistem yang demokratis akan terhindar dari apatisme anggotanya dalam proses pengambilan keputusan politik. namun karena manfaat yang diterima dari barang publik dirasakan oleh banyak orang. Oleh karena itu. sering anggota masyarakat merasa bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk menyatakan tuntutan mereka seringkali lebih besar dari manfaatnya.37 terima. Proses ini dimulai dengan pemahaman dari anggota masyarakat tentang pentingnya memberikan suara mereka. Namun dalam prakteknya. Setiap orang akan dengan senang hati ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik – mulai dari sekedar memberikan suara. ketika pemerintah akan menetapkan jumlah uang yang harus disumbangkan untuk memperoleh barang publik. maka orang tidak bersedia untuk membayar manfaat barang. menyumbang bahkan sampai keluar dari pekerjaannya – jika mereka merasa bahwa ada akibat langsung dari kebijakan politik pemerintah kepada mereka. Agar dapat berfungsi sebagai mekanisme yang efisien dalam mengungkapkan preferensi. Sementara itu. ada barang publik Dasar-dasar Keuangan Publik . tidak cukup informasi yang disampaikan oleh masyarakat kepada pemerintah. Masalah lain yang timbul. Untuk ini. dilakukan proses pemungutan suara guna menetapkan keputusan perpajakan dan pengeluaran publik. Namun dalam prakteknya. Secara normatif. Akibatnya. maka proses pemungutan suara harus mengaitkan keputusan perpajakan (sebagai alat pendanaan) dengan keputusan pengeluaran atau belanja publik. diperlukan proses politik untuk mengungkapkan preferensi masyarakat kepada pemerintah tentang barang publik apa yang perlu disediakan dan melengkapinya dengan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan untuk membayar barang-barang publik tersebut. Pengungkapan preferensi masyarakat kepada pemerintah dilakukan melalui suatu proses pemungutan suara. apabila suatu usulan kebijakan tidak berpengaruh langsung . berkampanye. Dasar pemikiran tentang komunikasi efektif antara pemerintah dan masyarakat mengikuti logika kepentingan setiap individu dalam masyarakat. karena setiap keputusan pemerintah diambil mengikuti keputusan suara terbanyak.

Sebagai contoh. selama tidak ada tambahan biaya yang harus mereka keluarkan. tol. dalam suatu kelompok yang kecil. maka akan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali manfaat yang mereka dapatkan. atau retribusi pasar. Sebaliknya. Berpartisipasi atau tidak berpartisipasi akan menjadi sangat terlihat. yaitu barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah yaitu hanya pada waktu penggunaannya padat dan penggunanya mencapai jumlah tertentu. Hal ini disebabkan. kontribusi seseorang baik itu berupa waktu. harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan.1. tapi paling dekat dengan tempat tujuanya. Akan sangat mudah bagi pemerintah lokal untuk menarik kontribusi dari para pengguna barang publik yang disediakan seperti tiket masuk tempat rekreasi. Barang publik berskala lokal dalam garis kontinum. sehingga akan lebih memperkecil timbulnya masalah free rider. Melihat sifatnya tersebut. karcis parkir.. barang publik berskala nasional lebih tepat disediakan oleh pemerintah pusat. Dari berbagai macam barang publik jenis ini. dengan biaya tarip yang rendah. mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. bagi yang sedikit atau tidak memberikan berkontribusi.38 yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). Mereka akan terus menambah konsumsi mereka atas barang publik ini sampai manfaat yang mereka dapatkan maksimal.seperti yang terlihat pada gambar 5. yang dalam garis spektrum mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. maka sifat tidak bersaingnya akan menjadi tinggi. Bagi pengguna juga tidak akan merasa keberatan membayar untuk dapat menggunakan barang publik karena akan lebih jelas manfaat yang dapat mereka peroleh bila dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan. uang. dia akan berfikir dari pintu tol mana dia harus masuk dan di pintu tol mana dia harus keluar. maupun pemberian suara akan dapat menciptakan perubahan atas suatu keputusan. Dari sini dapat terlihat bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik ini sama dengan atau paling tidak mendekati nol. sementara barang publik berskala lokal lebih tepat disediakan oleh pemerintah lokal atau pemerintah daerah. dengan mempertimbangkan kondisi kemacetan (biaya oportunitas) di luar jalan tol. karena dari manapun dia masuk dan dimanapun dia keluar biaya yang harus dikeluarkan adalah sama. Selain itu dalam skala lokal akan lebih dimungkinkan untuk mengatasai permasalahan free rider. seorang pengguna jalan tol dalam kota akan masuk dari pintu terdekat dengan tempat dia berangkat dan keluar dari pintu terjauh. jika pemerintah lokal harus menarik kontribusi atas Dasar-dasar Keuangan Publik . ada yang disebut dengan istilah congestible goods. Barang publik berskala lokal adalah barang-barang yang diproduksi oleh pemerintah lokal. Artinya para pengguna seharusnya akan lebih termotivasi untuk menggunakan barang-barang ini sampai pada titik dimana manfaat marjinal yang mereka peroleh sama dengan atau mendekati nol. untuk setiap tambahan pintu tol yang dia lewati.2. Sehingga. Sementara di waktu yang lain ketika jumlah pengguna barang ini hanya sedikit. dan 5. Berbeda dengan pengguna jalan tol luar kota. Sebagai contoh.

dapat dikenakan tarif tinggi. pemerintah dapat menghilangkan biaya parkir. Sebegitu rendah permintaannya sehingga pemerintah lokal merasa tidak perlu ada penarikan atas pengguna barang publik tersebut. pada musim liburan dimana pengunjungnya sangat padat.39 pengguna barang publik ini. memperlihatkan bahwa tambahan permintaan atas congestible goods pada musim sepi jumlahnya sedikit (pergeseran dari titik O ke D1 sampai ke D2). para pengunjung dapat menikmati tempat rekreasi dengan biaya yang lebih rendah. Strategi lain dalam memperlakukan congestible goods adalah dengan menggunakan dua macam tarif. sehingga tidak perlu juga ada penjaga gerbang sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghapus biaya marjinal. Apabila dimungkinkan. pemerintah lokal tidak perlu menarik kontribusi dari pengguna barang publik ini.6. Hal ini diharapkan dapat menarik minat pengunjung untuk mau masuk ke tempat rekreasi tersebut. begitu juga biaya marginalnya yang tetap (jika dimungkinkan nol). Kurva Permintaan Congestible Goods P MC P1 O D1 D2 Q1 Gambar 5. D3 Q Dasar-dasar Keuangan Publik . sedangkan untuk hari kerja atau sekolah. sehingga biaya menempatkan penjaga gerbang akan tertutup dari pembayaran tiket masuk. Gambar 5. yaitu tarif tinggi pada musim padat dan tarif tinggi pada musim sepi. Misalnya pada tempat-tempat rekreasi. Di lokasi perkantoran misalnya. dimana pada hari-hari libur hampir tidak ada mobil yang datang berkunjung. maka biaya marjinalnya bisa akan lebih mahal dari manfaat marjinalnya.6.

Secara sederhana. atau besarnya sektor pemerintah dalam usaha untuk membantu seseorang atau kelompok tanpa merugikan orang atau kelompok lain. Jika perubahan itu masih dimungkinkan maka susunan terdahulu belumlah efisien dan peningkatan efisiensi dapat diperoleh dengan melakukan perubahan. Jika suatu teknologi memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan 8 unit barang Y. Jika A ingin memberikan satu unit barang X untuk dua barang Y. Artinya tingkat dimana A dan B berkeinginan untuk menukarkan unit terakhir barang X dengan barang Y haruslah sama. maka jelas bahwa teknologi pertama yang akan terpilih. sampai tercapai tingkat substitusi marjinal yang sama. Efisiensi menghendaki bahwa dengan menggunakan teknologi terbaik. jumlah tertentu barang X harus diproduksi sedemikian rupa sehingga memungkinkan diproduksinya Y sebanyak-banyaknya pada saat yang sama dan demikian pula sebaliknya. Jika kondisi-kondisi di atas terpenuhi seluruhnya. sedangkan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi adalah 3X untuk 1Y. Kaidah efisiensi mengarah pada terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu agar tercapai pemecahan alokasi yang efisien. sedangkan teknologi lain memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan hanya 5 unit barang Y. Efisiensi Pareto didefinisikan sebagai suatu pengaturan ekonomi tertentu adalah efisien jika di sana tidak dapat dilakukan pengaturan kembali yang akan menyebabkan seseorang menjadi lebih baik tanpa memperburuk posisi orang lain. sedangkan B mau menukarkan tiga unit barang Y untuk satu unit barang X. 3. maka akan lebih diinginkan untuk meningkatkan output barang X dan mengurangi barang Y sampai kedua tingkat tersebut menjadi sama. Jadi tidaklah mungkin dalam keadaan ini untuk mengubah metode produksi. alokasi sumber daya akan menjadi efisien. maka menurut pengertian Pareto. kombinasi barang yang diproduksi. kita akan mempertimbangkan suatu perekonomian dengan hanya ada dua konsumen. maka hal ini akan menguntungkan keduanya bila melakukan pertukaran. Kondisi-kondisi berikut harus terpenuhi: 1. Tingkat substitusi marjinal dalam mengkonsumsi barang X dan Y harus sama baik bagi konsumen A maupun B.40 Efisiensi Penyediaan Barang publik oleh Pemerintah Seorang ekonom Italia mengusulkan konsep efisiensi yang dikenal dengan istilah Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency). Tingkat substitusi marjinal barang X untuk barang Y dalam konsumsi haruslah sama dengan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. Jadi jika tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi adalah 3X dan 2Y. Tingkat transformasi marjinal dapat didefinisikan sebagai suatu tambahan unit barang X yang dapat diproduksi bila produksi barang Y dikurangi satu unit. 2. dimana A akan dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang Y sedangkan B dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang X. yaitu A dan B serta dua macam barang yaitu X dan Y. Dasar-dasar Keuangan Publik .

sehingga keduanya akan berada pada titik yang berbeda pada sumbu vertikal. Sumbu XY pada gambar bagian tengah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu A.41 Alokasi yang Efisien Melalui Mekanisme Pasar Sekarang kita mempertimbangkan suatu kondisi dimana baik barang publik maupun barang pribadi diproduksi.7 dibawah ini. konsumen akan mengalokasikan anggaran belanjanya diantara barang-barang tersebut sedemikian rupa sehingga menyamakan tingkat substitusi marjinal mereka dengan rasio harga barang (memenuhi kondisi 2). Pemecahan masalah efisiensi kembali perlu untuk ditemukan. penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar. oleh karenanya harus disediakan oleh pemerintah. Penjual dalam upayanya untuk memaksimalkan manfaat akan menyamakan biaya marjinal dengan penerimaan marjinal yang dalam keadaan bersaing juga akan menyamakan biaya marjinal dengan harga atau pendapatan rata-rata (memenuhi kondisi 3). Karena sifat barang publik yang tidak bersaing dan tanpa pengecualian. sehingga kedua individu tersebut (A dan B) akan berada pada titik yang sama pada sumbu horizontal. Ini adalah kelebihan dari the invisible hands sebagaimana yang dikemukakan pertama kali oleh Adam Smith. Pemecahan masalah efisiensi sangat dimudahkan dengan menggunakan mekanisme pasar. setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumber-sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. Artinya. tetapi jumlah konsumsinya berbeda. sebagaimana pertama kali pernah dikembangkan oleh Samuelson. kita dapat melihat bahwa mekanisme pasar menjamin terlaksananya penggunaan sumber daya yang efisien. Bagi barang pribadi yang tersedia melalui mekanisme pasar dimana produsen akan memproduksi barang-baranng yang paling diinginkan oleh konsumen (preferensi konsumen jelas ternyatakan). produsen akan memaksimalkan keuntungan dengan menggunakan metode biaya sekecil mungkin (memenuhi kondisi 1). tergantung pada selera dan pendapatan mereka. karena disini konsumen didorong untuk menyatakan preferensi mereka. Namun kembali kepada masalah bahwa tidak semua barang bisa disediakan melalui mekanisme pasar. sehingga produsen termotivasi untuk memproduksi apa yang diinginkan oleh konsumen. maka dapat diasumsikan bahwa jumlah barang yang dikonsumsi dari setiap individu adalah sama.3 dimana kondisi seluruh sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. ditunjukkan melalui beberapa langkah sebagai berikut. dan sumbu XY pada gambar bagian bawah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu B. Dari sini. Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi mereka dapat mengkonsumsi barang pribadi dengan jumlah yang berbeda. Selanjutnya. kita akan melihat bahwa kurva kemungkinan produksi pada sumbu XY paling atas sekali lagi mencatat kombinasi barang pribadi dan barang publik yang dapat diproduksi dengan menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia. Alokasi yang Efisien Atas Barang publik Seperti diperlihatkan dalam gambar 5. Selanjutnya. Harga yang sama dibayar oleh semua konsumen. jika kita perhatikan dalam gambar 5.

menunjukkan bahwa jika A berada pada titik G maka B akan berada pada titik H pada gambar di bagian bawah. jika A berada pada titik G pada gambar di bagian tengah. Untuk A misalnya dinyatakan oleh kurva indiferen ia2 pada gambar bagian tengah. Dari gambar bagian atas. Z dan K. dan V. berdasarkan alasan yang sama akan menempatkan B pada titik L. misalnya ke kurva ia3. semua titik sepanjang ia2 akan sama baiknya. Jika A berada pada kurva indeferen ia1 pemecahan terbaik adalah membiarkan A dan B pada titik P dan L. Karena FG dikonsumsi oleh A maka jumlah yang tersisa bagi B sama FE-FG = FH. dimana ULK bersinggungan dengan kurva indeferen ib4 dari B pada gambar bagian bawah.42 Akan tetapi. kita akan menemukan posisi baru bagi B pada gambar di bagian bawah (dihubungkan dengan ULK) dan satu hasil optimal baru (dihubungkan kepada L). diketahui bahwa kombinasi output yang paling efisien meliputi barang publik sebanyak OF dan barang pribadi sebanyak FE. Selanjutnya kita akan melihat pada tingkat kesejahteraan terbaik untuk A dan B. dimana output total barang publik (yang paling efisien) sejumlah ON. Dengan cara ini. Jika utilitas A berubah lagi. sedangkan total output barang pribadi sebanyak NM akan dibagi antara A dan B sehingga A menerima sebanyak NP dan B menerima sebanyak NL. kesejahteraan A akan menjadi maksimal apabila A mendapatkan suatu titik yang akan dapat membuat B menjadi lebih baik. Hal ini akan terjadi pada titik L. maka B akan berpindah ke kiri sepanjang ULK. Semua ini adalah efisien menurut pemikiran Pareto dan memenuhi kondisi kesamaan di antara tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi dan tingkat transformasi marjinal di alam produksi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai ilustrasi. Dalam setiap kasus. artinya A mengkonsumsi barang publik sebanyak OF dan barang pribadi sebanyak FG. Inilah kurva tertinggi yang dapat dicapai oleh B. Kemudian jika A bergerak sepanjang ia2 ke titik P. maka kita dapat mengulangi prosedur yang sama untuk B. Bagi A. sehingga menempatkan B pada titik H pada gambar bagian bawah. Jika A bergerak sepanjang ia2 dari tititk W ke kiri. kita akan memperoleh serangkaian pemecahan yang berkaitan dengan berbagai tingkat kesejahteraan untuk A dan B. T. titik-titik ini akan berhubungan dengan kondisi bahwa jumlah barang X yang dikonsumsi oleh A dan B harus sama dengan output total barang X.

43 Jumlah Total Barang Pribadi M E Y O N F Q Konsumsi A atas barang pribadi T Jumlah Total Barang publik J ia3 P G W ia2 ia1 R N F U Konsumsi B atas barang pribadi Konsumsi A atas barang publik ZL K ib1 N F U ib3 ib2 Gambar 5.7 Konsumsi B atas barang publik Dasar-dasar Keuangan Publik .

Agar alokasi sumber daya menjadi efisien maka jumlah faktor produksi yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga nilainya sama dengan nilai biaya marjinal. namun demikian penekanan teori peranan produksi lebih pada pengalokasian yang efisien. tanpa memperhatikan masalah distribusi akhir dari hasil penjualan produksi tersebut di pasar. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pertanyaannya kemudian adalah apakah ada distribusi yang adil atau merata? Bagaimana keadaan distribusi yang adil dan merata itu yang dimaksud diatas?. masalah distribusi pendapatan terhadap individu maupun keluarga harus dibahas lebih lanjut. teori efisiensi alokasi faktor produksi ini bukan teori fungsi distribusi.44 B A B VI FUNGSI DISTRIBUSI S eperti telah dibahas dalam bab sebelumnya. istilah keadilan berada dalam suatu area yang sangat berlawanan. alokasi faktor produksi dapat dikatakan efisien apabila dasar penetapan harga faktor produksi juga efisien. terdapat dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal yaitu masalah penggunaan sumber daya yang efisien dan masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil. Walaupun demikian. Dalam pembahasan terdahulu penekanan lebih pada efisiensi. Dalam ilmu ekonomi. Ketika istilah efisiensi berada dalam suatu area yang dapat dikatakan mendekati nilai obyektif. Oleh karenanya. tenaga kerja dan modal. teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Sedangkan. yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah. penekanan utama dari teori fungsi distribusi adalah pada bagaimana pendistribusian hasil produksi kepada individu-individu atau keluarga-keluarga. Teori ini memainkan peranan yang sangat penting dalam analisis ekonomi. yaitu tentang bagaimana pengalokasian sumber daya diantara berbagai kebutuhan produksi yang saling bersaing guna mencapai suatu tingkat hasil (utilitas atau kepuasan) tertentu. Sebagai contoh. Istilah keadilan lebih dekat pada nilai normatif daripada obyektif.

tidak perduli kaya atau miskin. bukan dalam ukuran rupiahnya namun lebih pada utilitasnya. Permasalahannya adalah bahwa dalam suatu perekonomian. akan terasa sangat logis jika standar adil dalam pengorbanan dipenuhi melalui sistem yang menjamin bahwa kontribusi si miskin harus lebih kecil dari kontribusi si kaya. Selanjutnya. pengukuran menggunakan konsep keadilan horizontal sulit ditemukan. dan kondisi kesehatan seseorang. Dalam konsep ini. Dasar pengukuran dapat berupa pendapatannya. Dalam konsep ini. keadilan berarti memperlakukan setiap orang berbeda disesuaikan dengan kondisinya masing-masing. pemerintah akan menyediakan sejumlah barang publik yang sama pula. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar. masih dalam konteks ideal. bukan hanya pendapatan dalam satu tahun. Konsep Keadilan Vertikal Konsep kedua dalam mengukur keadilan adalah konsep keadilan vertikal. disumsikan bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang sama untuk menikmati pendapatan. atau paling tidak kapasitasnya berada dalam suatu interval tertentu. hal lain yang mungkin perlu dimasukkan kedalam pertimbangan adalah masalah kekayaan. fungsi pendistribusian oleh pemerintah dapat mencakup proses penarikan dana (melalui pajak) dari si kaya dan mentransfernya kepada si miskin baik itu dalam bentuk uang ataupun jasa. si miskin dan si kaya. kekayaannya. Pendapatan sendiri harus mencakup masalah seluruh pendapatan seumur hidup seseorang. Oleh karena itu. sebagian besar pendistribusian yang dilakukan pemerintah tidak menguntungkan bagi si miskin. atau kondisi-kondisi khusus lainnya seperti ketidakmampuan (cacat). dari setiap orang akan ditarik pajak dengan jumlah yang sama. Contoh konkrit dari konsep ini dapat ditemukan pada tiket masuk suatu tempat rekreasi yang tidak membedakan bagi setiap orang. jumlah anggota keluarga. Jadi. melalui konsep ini. Konsep Keadilan Horizontal Salah satu jawaban atas dilema dalam mendefinisikan dan mengukur keadilan adalah konsep keadilan horizontal. Selain itu. Namun pada kenyataannya. Jadi. Sehingga apabila ada dua kelompok ekstrim dalam masyarakat. Oleh karena itu. tua atau muda. setiap orang dianggap sama. Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik. sistem perpajakan dan belanja publik harus dapat menjamin terciptanya suatu pengorbanan yang adil dari setiap warga negara.45 Konsep Keadilan Idealnya. tidak hanya sekedar persoalan pendapatan. umur. cacat atau normal dan sebagainya. secara umum. melainkan tetap lebih memihak kepada si kaya. jumlah pajak yang ditarik dari Dasar-dasar Keuangan Publik . Apakah ada suatu cara untuk mendefinisikan keadilan? Pertanyaan ini telah memicu munculnya beberapa pemikiran terbaik dari para ekonom dalan kurun waktu dua abad terakhir ini.

001. Prinsip kompensasi sebagian dapat terlihat dalam kebijakan perdagangan. Namun Dasar-dasar Keuangan Publik . Keadilan diterjemahkan sebagai optimalisasi pareto yang menyatakan bahwa tidak mungkin merubah kondisi seseorang menjadi lebih baik. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan adalah prinsip kompensasi yang menawarkan suatu pedoman kasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan prinsip bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau sejahtera. tanpa menyebabkan kondisi orang lain sebaliknya (lebih buruk). Salah satu kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang.00 lebih rendah kemampuan membayar pajaknya dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai pendapatan Rp 50. Selanjutnya.46 setiap orang tidaklah sama. dan subsidi perumahan dan kesehatan bagi rakyat miskin. sehingga pajak penghasilan menetapkan tarif yang berbeda.000. Menyadari hal ini. Ketidakmampuan untuk membandingkan utilitas dari setiap orang. seperti pembebasan atau pengurangan biaya sekolah. para ekonom mencari beberapa kriteria untuk pengambilan keputusan dimana kondisi Pareto optimal tidak mungkin dapat dicapai. Jadi dalam konsep ini akan tercipta peraturan atau kebijakan yang mau tidak mau akan terdapat pihak yang menang dan kalah. Prinsip Kompensasi Terakhir. Apakah seseorang yang mempunyai pendapatan dua kali pendapatan orang yang lain berarti bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan membayar dua kali juga atau tidak. Kategori rakyat miskin adalah mereka yang memiliki pendapatan rata-rata – berdasarkan uji rata-rata – di bawah tingkat pendapatan tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. konsep ketiga dalam upaya menginterpretasikan keadilan jatuh pada konsep prinsip kompensasi. menyebabkan suatu keputusan atau perubahan kebijakan sangat sulit untuk dibuat tanpa mengakibatkan adanya pihak-pihak yang diuntungkan dan pihakpihak yang dirugikan. Contoh penurunan secara bertahap terhadap hambatan perdagangan internasional akan memberikan keuntungan bagi para konsumen dan eksportir di atas beban para tenaga kerja dan produsen importir dalam industri yang bersaing. Apakah seseorang yang mempunyai jumlah pendapatan Rp 50. Tarif pajak progresif . Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika harus dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak.000.yang akan dibahas lebih lanjut di bagian mendatang merupakan salah satu contoh konkrit dari konsep keadilan vertikal. namun disesuaikan dengan kondisi mereka.-.000. dimana harus menetapkan batas suatu jumlah pendapatan sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah tersebut mempunyai kemampuan membayar pajak lebih rendah atau lebih tinggi. Konsep keadilan vertikal juga tercermin dalam metode pengujian rata-rata yang digunakan bagi banyak program pemerintah. Kriteria ini akan memandu pengambil keputusan untuk memilih keputusan terbaik kedua setelah Pareto optimal.

maka tetap saja akan ada pihak-pihak yang diuntungkan sebagai pemenang dan pihak-pihak yang dirugikan sebagai yang kalah. tingkat harga sama dengan nilai dari faktor produk marjinal. tingkat pendapatan dari berbagai macam pekerjaan mungkin berbeda sejalan dengan pertimbangan status dibandingkan dengan produk marjinal. distribusi pendapatan ditentukan oleh penjualan faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal. Distribusi Sebagai Suatu Kebijakan Jika sebelumnya. oleh karenanya harga-harga tersebut bergantung langsung pada sejumlah variabel seperti faktor penawaran. dan preferensi pelanggan. yang merupakan pengaruh dari tingkat upah yang dapat dicapai oleh seseorang. Distribusi pendapatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor tersebut di atas. Dari distribusi pendapatan tenaga kerja dan modal terkait dengan investasi pendidikan. kesejahteraan publik ini akan lebih menguntungkan. Selain bergantung pada penurunan dari faktor-faktor produksi tersebut. hubungan keluarga. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan prosentase dari pendapatan yang diperoleh dengan prosentase rumah tangga yang menghasilkan. meskipun tidak secara langsung. kebijakan mengenai anti trust atau anti monopoli sebenarnya dirancang untuk mengefisienkan pasar. menunjukkan tingkat ketidakadilan yang sangat menyolok. kali ini pembahasan akan di fokuskan pada distribusi sebagai hasil dari suatu kebijakan. pembahasan distribusi lebih terfokus sebagai hasil dari perekonomian pasar. tingkat pengembalian lebih ditentukan oleh pasar persaingan tidak sempurna dimana faktor-faktor institusi seperti. Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Oleh sebab itu. Begitu pula dengan kesempatan seseorang memperoleh pekerjaan akan lebih bergantung pada hubungan kekeluargaan dibandingkan dengan kemampuan produktifitasnya. 1991). Distribusi pendapatan tenaga kerja berkaitan dengan distribusi kemampuan sekaligus keinginan tenaga kerja yang bersangkutan untuk memperoleh pendapatannya. masih memainkan peran yang penting. Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Dalam ekonomi pasar. pola perkawinan. Seandainya hambatan perdagangan tetap dipertahankan sehingga tetap ada dinding yang membatasi suatu negara dalam bertransaksi dengan negara lain. Dasar-dasar Keuangan Publik . Misalnya. status sosial. Namun sebaliknya. dalam banyak kasus. sebagaimana telah ditentukan oleh warisan. Sedangkan distribusi pendapatan modal mencakup distribusi kesejahteraan.47 kebijakan ini tetap diinginkan karena secara total. Dalam persaingan sempurna. ras dan lain-lain. distribusi pendapatan juga bergantung pada faktor harga. tetap mempunyai dampak distribusional. struktur gaji. teknologi. dan akhirnya pola pernikahan juga menjadi faktor terpenting dalam pendistribusian pendapatan. pola hidup dan simpanan semasa hidup. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan meningkatnya ketidakadilan dalam pendistribusian pendapatan (Musgrave.

Misalnya saja. Namun sayangnya. namun kebijakan penarikan pajak berdasarkan pada prinsip keadilan horizontal baru akan diterapkan jika memang kondisi ini sudah tercapai. hal ini bisa mempengaruhi bagian dari pendapatan nasional yang tersedia untuk redistribusi dan juga bisa menimbulkan biaya yang tentunya harus dipikul. Selanjutnya. berbagai pendekatan dalam setiap konsep keadilan tidak perlu diterapkan secara murni. prinsip keadilan yang dianut menginginkan tidak ada satu anggota masyarakat pun yang miskin. Jika diperhatikan. semestinya para ekonom yang berurusan dengan kebijakan umum pemerintah tidak boleh melepaskan pemikiran mereka dari masalah keadilan dalam distribusi pendapatan. Oleh karena itu. perancangan kebijakan publik seharusnya juga mempertimbangkan masalah distribusi. karena masalah distribusi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kebijakan ekonomi secara dominan terhadap politik ekonomi. Namun karena belum ada alasan atau nilai-nilai yang terpilih sebagai dasar dalam menetapkan struktur masyarakat yang baik. tetapi dalam perpaduan satu sama lain. maka masalah distribusi akan menjadi lebih sederhana. pendapatan riil dari konsumen yang menggunakan produk tersebut juga akan ikut terpengaruh. maka masalah ini tetap belum terpecahkan. hasil dari kebijakan ini dapat dilihat melalui respon dari setiap pihak yang dirugikan atau diuntungkan dari proses tersebut . Selain itu. Dasar-dasar Keuangan Publik . Redistribusi Sebelumnya pembahasan lebih berfokus pada pertanyaan dasar mengenai apa yang merupakan distribusi yang adil dan merata. Pertanyaannya sekarang adalah perlu tidaknya untuk mempertimbangkan atau bahkan menanggulangi masalah redistribusi.48 namun secara tidak langsung akan mempengaruhi pendapatan modal dan tenaga kerja pada industri yang terkait dengan kebijakan tersebut. Pada gilirannya.akan mempengaruhi kesejahteraan berbagai kelompok masyarakat dari segi ekonomi dan tentunya pola distribusi. Hal ini bisa dicapai melalui kebijakan redistribusi yang ditetapkan melalui proses anggaran. Tetapi. sampai saat ini analis ekonomi belum dapat menetapkan standar distribusi mana yang sebenarnya menjadi patokan.seperti pembangunan jalan yang tujuannya untuk menyediakan barang publik kepada masyarakat . Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Seandainya asumsi-asumsi yang mendasari berbagai konsep keadilan dapat digali kemudian konsekuensinya dapat diamati sehingga dapat dipilih satu konsep tertentu untuk diterapkan. yaitu sampai sejauh mana dan dengan cara bagaimana mengubah keadaan distribusi yang ditentukan oleh pasar dan lembaga publik yang ada saat ini. yaitu apa yang seharusnya menjadi kriteria bagi distribusi yang adil dan wajar. Contoh lain adalah kebijakan program investasi pemerintah .

atau apakah harus lebih terpusat pada keadilan atas kesempatan atau keadilan atas hasil. Pertanyaan berikutnya bagi pemerintah adalah apakah perhatian mereka terkait dengan konsep redistribusi. Menyamakan Kepentingan Pembayar Pajak dan Penerima Pajak Pembayar pajak – dalam kasus kebijakan redistribusi oleh pemerintah – mungkin mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda dengan para penerima pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . Rasanya hampir mustahil.49 Sebagian orang akan menolak adanya kebijakan redistribusi jika hal tersebut merupakan kebijakan wajib dari pemerintah. Namun. ajari seseorang memancing. maka dia dapat makan seumur hidupnya”. seperti penggalangan dana di mesjid. Dalam keadilan atas hasil. Keadilan ini lebih bersifat filosofi dalam hubungannya dengan sistem pasar. Secara umum. maka dia dapat makan untuk satu hari. gereja. maka campur tangan pemerintah tidak lagi dibutuhkan. Tetapi apakah mungkin cukup menggantungkan keputusan redistribusi ini kepada individu atau kelompok sosial saja. terutama dalam bentuk pembebasan uang sekolah dan wajib belajar. Dalam masyarakat yang besar. Didalam masyarakat yang kecil pun. terlebih dalam kelompok masyarakat yang besar. dan melakukan lobi politik untuk mempengaruhi pemerintah dengan berbagai cara. karena akan sangat mudah bagi setiap orang untuk menghindar dari membayar suatu sumbangan sukarela (menjadi free rider). Jika kegiatan sukarelawan ini cukup untuk membuat perubahan yang dapat diterima. hal sebaliknya sering kali terjadi jika redistribusi didanai melalui kontribusi sukarela. keadilan atas hasil sebagai suatu strategi anti kemiskinan telah semakin menurun popularitasnya di banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada. orang dapat tetap menghindar dari menyumbang secara sukarela. apakah menjamin bahwa perubahan yang terjadi akan optimal bagi masyarakat. Kedua kelompok ini akan memberikan suaranya. Sementara itu di pihak penerima pajak – katakanlah rakyat miskin – lebih tertarik untuk memperhatikan keadilan atas hasil dan memiliki fleksibilitas dalam menggunakan sumber-sumber dana yang mereka dapatkan. Secara umum. dimana terjadi penurunan atas tingkat kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat. keadilan atas kesempatan mewakili bentuk utama dari redistribusi. Keadilan atas kesempatan dapat berupa penyediaan pendidikan. meskipun hal tersebut akan lebih terlihat. para pembayar pajak akan lebih tertarik untuk mendapatkan keadilan atas kesempatan dan memastikan apakah dana yang telah mereka keluarkan dibelanjakan dengan seharusnya. Perbedaan filosofi dari dua pendekatan keadilan redistribusi ini tercermin dalam pribahasa ”Berikan seseorang ikan. penekanannya lebih pada penurunan kesenjangan pendapatan dan penghapusan kemiskinan dengan cepat daripada menekankan pada berinvestasi pada orang miskin. Hal ini dapat meredistribusi posisi pendapatan atau kekayaan yang telah ditentukan oleh kekuatan pasar. pelayanan kesehatan atau jasa lainnya yang dapat membantu masyarakat untuk berkembang atau paling tidak tetap berproduksi. organisasi nir laba dan sumbangan sosial individu.

Hubungan antara pendapatan. Hal ini diakibatkan oleh bekerjanya pengaruh perbedaan yang berlaku pada baik pihak pembayar pajak maupun pihak penerima pajak. Bagi pemerintah. masalah serupa juga akan timbul.1. Besarnya Bagian untuk Redistribusi Isu penting lainnya dalam masalah redistribusi yang efisien adalah penetapan bagian yang harus di redistribusikan. Hal ini dapat diperlihatkan dalam hubungan antara penawaran tenaga kerja dengan masalah tabungan. waktu senggang dan pajak dapat dilihat pada grafik 6. Waktu Senggang dan Pajak A2 X1 X2 A3 X3 Grafik 6. Pendapatan A1 Pendapatan. Seandainya diberikan dalam bentuk uang. sehingga tingkat produktivitas masyarakat menurun. pihak pendana akan memasukkan preferensi mereka kepada pihak penerima. Ketika redistribusi ditetapkan sehingga akan menurunkan tingkat pendapatan. dimana keduanya harus dipertimbangkan. pakaian. sehingga membatasi fleksibilitas penggunaan dana tersebut. investasi dan pertumbuhan ekonomi. karena akan lebih memberikan fleksibilitas kepada mereka untuk menggunakan dana tersebut. Di sisi lain pembayar pajak lebih memilih memberikan dananya dalam bentuk barang seperti. Redistribusi yang telah dibahas sejauh ini mencakup masalah biaya dan manfaat. Para penerima akan lebih memilih untuk menerima uang tunai. dan makanan.1 Y2 Y1 Y3 Waktu Senggang Dasar-dasar Keuangan Publik .50 Isu kedua yang seringkali dipandang berbeda dari pihak pembayar dan penerima pajak adalah bentuk redistribusi. maka pada tingkat tertentu sebagian besar masyarakat akan mengurangi usaha mereka dalam mencari pendapatan atau dengan kata lain mereka akan memperbanyak waktu santai mereka. cara yang termudah adalah dengan memberikan jasa pelayanan langsung seperti pelayanan kesehatan dan program pendidikan. kebijakan untuk melakukan redistribusi dapat mengakibatkan bagian yang tersedia untuk didistribusikan justru menjadi lebih kecil. Pertama-tama.

Namun. tingkat diskonto. suatu mekanisme pasar dijamin dapat diandalkan untuk menentukan alokasi sumber daya yang efisien di antara barang pribadi.51 B A B VII FUNGSI STABILISASI Kebijakan Stabilisasi i era globalisasi ekonomi yang semakin luas. tetapi juga menimbulkan reaksi dalam permintaan kredit di pasar yang akan cenderung menimbulkan fluktuasi. baik dalam hal stabilisasi jangka pendek maupun pertumbuhan jangka panjang. fungsi pemerintah sebagai pengatur (regulator) semakin dirasakan kebutuhannya. sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. tingkat stabilitas harga yang pantas. keberadaan Bank Sentral sebagai pengawas jumlah uang beredar perlu menyesuaikan jumlah uang beredar dengan kebutuhan ekonomi. kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. sehingga tidak hanya akan menghasilkan jumlah uang beredar yang tidak sesuai. Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. Pada intinya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sistem perbankan. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. Dalam hubungannya dengan persaingan yang terjadi pada ekonomi pasar. akan berjalan tidak teratur. fungsi pengatur tersebut dapat berupa beberapa kebijakan baik sebagai pemicu maupun sebagai penghambat persaingan. Oleh karena itu. jika tidak diawasi. D Kebijakan Moneter Jika berfungsi dengan baik. neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. para ekonom setuju bahwa mekanisme pasar tidak dapat dengan sendirinya mengatur jumlah uang yang beredar secara tepat.

kebijakan defisit anggaran pemerintah juga dapat memainkan peranan yang tidak kalah penting. maka pinjaman tambahan akan mempertinggi suku bunga sehingga cenderung menghambat transaksi pasar. Sebagai ilustrasi. yaitu kebijakan yang benar-benar adil dalam rangka mencapai tujuan yang beraneka ragam tersebut. Kebijakan ini. tanpa harus dihubungkan dengan kontribusinya. Masyarakat seharusnya bersedia membayar apa yang dianggap sebagai distribusi yang adil. pada awalnya. karena akan meningkatkan total permintaan agregat. seperti ideologi. Dalam suatu negara demokrasi. Kemudian. dari sudut pandang ekonomi. tujuan politik adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi seluruh warga negaranya. suatu kebijakan fiskal mempengaruhi secara langsung tingkat permintaan barang dan jasa. yang pada gilirannya nanti akan dipertanyakan oleh masyarakat tentang cara pendistribusiannya. Proses politik tentunya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain faktor ekonomi. Hasil dari proses tersebut tergantung dari hasil pemungutan suara atau dari tingkah laku para politisi yang bermain di dalam pemerintahan tersebut. karena dua masalah ini sulit diselesaikan secara simultan. Dalam proses pemungutan suara akan ada pihak-pihak yang mendukung dan menolak terhadap perubahan atas model pelayanan pemerintah. suatu kebijakan menambah pengeluaran publik jelas merupakan jenis kebijakan yang bersifat ekspansi. tergantung pada bagaimana defisit itu dibiayai. Idealnya. misalnya masyarakat menginginkan peningkatan atas pelayanan pemerintah.52 Kebijakan Fiskal Sementara itu. Namun demikian. Sejalan dengan itu. Dasar-dasar Keuangan Publik . Di sisi lain. wajib pajak selayaknya melihat manfaat yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. karena para wajib pajak akan mempunyai disposible income yang lebih besar sehingga diharapkan akan membelanjakan jumlah pendapatan yang lebih besar pula. tetapi jika peredaran uang diperketat. kedua isu tersebut seharusnya dipisahkan. Akhirnya. Kebijakan menurunkan pajak dapat dilakukan dalam upaya pemerintah untuk memperbesar total belanja pemerintah. berkaitan dengan perubahan kebijakan perpajakan. Proses politik didasarkan pada peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang suatu negara. kita dapat mengambil simpulan bahwa penentuan anggaran lebih condong sebagai proses politik ketimbang proses pasar. Pembiayaan defisit akan lebih besar jika defisit tersebut ditutupi dengan pinjaman. dalam masalah pembiayaan kegiatan pemerintah. tetapi dalam prakteknya hal ini saling tumpang tindih sehingga mempersulit penyusunan kebijakan yang efisien. akan menaikkan tingkat permintaan sektor pemerintah dan kemudian akan diikuti oleh sektor swasta. Hal ini bisa diwujudkan dengan meningkatkan penerimaan dari sektor pajak. Stabilisasi Anggaran Kebijakan anggaran semestinya melibatkan beberapa tujuan yang berbeda. warga negara mempunyai kesempatan untuk memberikan suaranya dalam memutuskan suatu masalah.

budaya. keputusan politis ditetapkan melalui suatu proses politik yang melibatkan masyarakat. Masyarakat dapat menyumbangkan suara mereka untuk menentukan kebijakan apa yang hendak dilaksanakan atau menyumbangkan suara kepada orang yang mewakili kebijakan tersebut.53 B A B VIII SISTEM PILIHAN PUBLIK P ernahkah anda berpikir bahwa segala keputusan yang dibuat oleh pemerintah. Di negara demokratis. dikeluarkan setelah melalui suatu proses politik? Hal-hal mulai dari peningkatan taraf hidup. dari sudut pandang ekonomi. Penyediaan suatu barang publik memerlukan kesepakatan mengenai jumlah yang akan disediakan dan anggaran yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang tersebut. tujuan politik tersebut adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi masyarakat. Proses politik yang ada didalam sistem tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti. Misalnya. bila masyarakat menginginkan anggaran pendidikan yang lebih tinggi maka mereka dapat melakukan voting untuk meloloskan kebijakan itu atau memilih untuk mendukung orang yang pro dengan kebijakan anggaran pendidikan yang lebih tinggi tersebut. Teori pilihan publik mempelajari bagaimana suatu keputusan yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak dibuat melalui suatu sistem politik. Namun demikian. pembangunan jalan raya. Dasar-dasar Keuangan Publik . sampai dengan penentuan pajak dan subsidi ditetapkan dalam suatu keputusan politis. dan ideologi. Seringkali keputusan untuk menentukan jumlah serta dana yang diperlukan ini dibuat dengan cara melakukan pemungutan suara (voting). Teori pilihan publik mempelajari bagaimana proses politik digunakan untuk menentukan besarnya barang dan jasa yang akan disediakan oleh pemerintah. ekonomi. pusat maupun daerah. Konsep Keseimbangan Politis (Political Equilibrium) Suatu keputusan publik dibuat setelah melalui interaksi politis antara beberapa orang menurut aturan yang disepakati bersama.

Kondisinya akan berbeda jika barang dan jasa publik tersebut sebagian atau seluruhnya dibiayai dari sumbangan atau retribusi dari masyarakat. Dasar-dasar Keuangan Publik . Kenaikan maupun penurunan diluar titik ini akan menurunkan tingkat kepuasan individu. Bagi seorang voter. Pada titik ini. masyarakat yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut harus tunduk dengan keputusan yang sudah dibuat. jumlah barang yang disediakan memberikan kepuasan maksimal bagi setiap individu. Pemilihan dan Pemungutan Suara (Election and Voting) Pilihan publik dilaksanakan secara formal melalui suatu pemilihan umum dimana setiap individu memiliki satu suara. Keputusan rasional yang paling diinginkan dari suatu proses politik untuk menentukan jumlah barang publik yang disediakan akan tercapai pada titik dimana porsi pajak per individu sama persis dengan manfaat marginal dari barang publik tersebut. Individu diasumsikan akan menetapkan pilihan jika hal itu dapat membuat kehidupan mereka lebih baik. masyarakat dapat mengajukan keberatan bila kebijakan tersebut bertentangan dengan kehendak masyarakat. Pada kasus ini. maka akan mengurangi dukungan penduduk terhadap kebijakan publik tersebut. Jika kenaikan biaya tidak diiringi dengan kenaikan manfaat. Biaya untuk menyediakan barang publik mempengaruhi besarnya pajak yang harus dibayar oleh penduduk untuk memproduksi barang tersebut. Pada kampanye inilah penduduk mendapatkan gambaran mengenai biaya dan manfaat yang dapat diperoleh dari barang publik tersebut. Analisis ekonomi terhadap proses politik mengasumsikan bahwa individu menilai kebutuhannya terhadap barang publik seperti layaknya mereka menilai kebutuhan atas barang dan jasa lainnya.54 Pada kondisi dimana barang dan jasa publik di supply oleh pemerintah dengan dana dari pajak. Keseimbangan politis (political equilibrium) adalah persetujuan mengenai jumlah barang publik yang akan disediakan. pada kondisi dimana aturan dalam mengambil keputusan kolektif dan besarnya pajak sudah terbentuk. porsi pajak tersebut merupakan harga per unit dari barang yang disediakan oleh pemerintah. perdebatan maupun kampanye yang dilakukan sebelum dikeluarkannya keputusan itulah yang dapat mempengaruhi masyarakat dalam memberikan suaranya. maka Σti untuk seluruh voter harus sama dengan average cost dari barang tersebut. Porsi pajak (tax shares) adalah bagian biaya yang dibebankan ke masyarakat. informasi mengenai besarnya biaya yang diperlukan untuk memproduksi barang publik susah diperoleh. Besarnya porsi pajak adalah sama dengan biaya per unit dari barang publik yang akan disediakan oleh pemerintah. Adanya kenaikan biaya produksi barang publik akan menaikkan pula besarnya pajak yang harus dibayar oleh penduduk. Jumlah dari seluruh porsi pajak harus sama dengan biaya rata-rata (average cost) dari barang publik tersebut untuk menghindari anggaran surplus ataupun defisit. Akhirnya. Jika ti melambangkan porsi pajak barang publik bagi voter i. Pada kenyataannya.

untuk mencapai titik keseimbangan politis. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi. Usulan untuk meningkatkan output yang ditolak pada tingkat pajak tertentu. marginal benefit bagi individu i sama dengan porsi pajaknya. Z. Memberikan suara atau abstain (Vote or not to vote) Keputusan seseorang untuk memberikan suaranya tergantung pada untung rugi yang akan ia terima sebagai akibat keputusannya tersebut dan juga kemungkinan (probabillitas) suaranya akan memberikan keuntungan bagi dirinya. Setiap individu akan bertindak seolah-olah barang publik tersebut bisa dibeli di pasar bebas dengan harga ti dan akan mendukung kebijakan yang berkaitan dengannya sepanjang manfaat yang mereka terima melebihi biaya (pajak) yang harus mereka keluarkan. penentuan hasil pemilihan umum akan tergantung pada besarnya alokasi pajak yang dibebankan pada setiap pemilih. Setiap penambahan output barang publik dari titik 0 sampai dengan titik Q* akan membuat kondisi individu i lebih baik. Titik equilibrium juga dapat dipengaruhi oleh distribusi manfaat (benefit). keputusan yang paling diinginkan tersebut terletak pada titik Z.55 Pada Gambar 8. Gambar 8. Namun. ada dua hal yang perlu dipertimbangkan yaitu porsi pajak (ti) dan distribusi benefit (MBi). Suatu usulan yang pernah ditolak masih mungkin akan diterima bila distribusi manfaatnya dirubah sehingga sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemilih. dimana jumlah barang publik yang diproduksi adalah sebesar Q* dan porsi pajak sebesar ti. Pada titik Z ini.1: Keputusan yang Paling Diinginkan dari Proses Politis ti Pajak Z Pajak per unit output MBi 0 Q* Pada kondisi dimana aturan main pilihan umum sudah ada.1. penambahan yang dilakukan diatas titik Q* akan membuat kondisi i lebih buruk karena pajak yang ia bayar melebihi marginal benefit yang ia terima. masih mungkin untuk diajukan kembali bila menerapkan tingkat pajak yang berbeda dari yang sebelumnya karena perubahan tingkat pajak akan mempengaruhi titik Z. yaitu keputusan yang paling diinginkan.

maka tujuan diadakannya negara demokrasi tidak tercapai karena semua penduduk tidak ada yang memberikan suaranya. majalah. Ini membuktikan bahwa ada motivasi lain yang mendorong mereka untuk datang ketempat pemilihan seperti kebanggaan sebagai warga negara atau rasa kebersamaan antar sesama pemilih. sebelum seseorang memberikan suaranya ia harus mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seperti surat kabar. Jika setiap penduduk berpikiran seperti diatas. di beberapa negara-negara yang tidak mewajibkan penduduknya untuk memilih. atau tempat pemungutannya terlalu jauh sehingga orang tidak bisa hadir. Pada negara bagian yang anggota legislatifnya mayoritas dikuasai oleh satu partai. Alasan mereka enggan untuk ikut memilih adalah karena anggapan bahwa suara mereka akan jatuh ke orang yang sama. hal ini juga menjadi alasan seseorang untuk tidak ikut memberikan suaranya. Mereka beranggapan bahwa probabilitas suaranya akan mempengaruhi hasil pemilihan sangat kecil (bahkan mendekati nol) bila jumlah peserta pemilunya sedemikian besar. orang-orang yang ”golput” ini akan mengikuti saja arus keinginan (free riders) dari orang-orang yang ikut pemilihan. tingkat partisipasi masyarakat untuk ikut pemilu lebih rendah dibanding dengan negara bagian lain yang tidak dikuasai oleh satu partai. Jika mereka memiliki informasi yang memadai. Di Amerika Serikat telah ditemukan beberapa fakta bahwa tingkat partisipasi warga negara terhadap pemilu terkait pada mayoritas partai tertentu. dimana apapun pilihan masyarakat. pilihan mereka mungkin saja berbeda dari yang sebelumnya. Hal lain yang juga menjadi kendala adalah informasi.56 Namun demikian. dan sebagainya untuk meyakinkan bahwa suaranya nanti ditujukan pada pilihan yang tepat. Hal ini cukup merepotkan bagi sebagian orang. Kenyataannya. partisipasi masyarakat untuk datang ke tempat pemilihan sangat tinggi. Ketika seseorang menentukan pilihan berdasarkan informasi yang tidak memadai atau Dasar-dasar Keuangan Publik . internet. Namun demikian. sedangkan manfaatnya belum jelas. Dampaknya. Beberapa hal yang menyebabkan orang enggan untuk memberikan suaranya adalah kendala waktu dan tempat. Kadangkala. hasil suatu pemilihan tidak tergantung pada orang-orang yang tidak memilih (di Indonesia biasa disebut golongan putih atau golput). pemilu dijadikan kewajiban bagi penduduk yang telah memenuhi syarat dengan maksud untuk menghindari free rider. Namun demikian. Kadang pemungutan suara dilakukan pada waktu yang tidak tepat. ada beberapa pemilih yang menentukan pilihannya berdasarkan informasi yang terbatas. yang menjadi presiden dengan mudah dapat diperkirakan. Informasi juga merupakan alasan seseorang untuk memberikan suaranya. Karena pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk ikut pemilihan sudah jelas. Kondisi ini mirip ketika Indonesia hanya mengakui tiga partai peserta pemilu pada masa orde baru. alasan seseorang untuk memberikan suaranya tidak melulu didasari atas untung rugi semata namun bisa juga didasari atas kewajibannya sebagai seorang warga negara. Ada juga orang yang percaya bahwa suara mereka terlalu kecil dan tidak mungkin akan mempengaruhi hasil pemilihan. Di negara demokrasi.

Cost. seandainya jumlah pemilih hanya 9.57 salah. Distribusi manfaat ke setiap pemilih Jika salah satu dari kelima faktor diatas berubah. 4. Pilihan A akan menang jika minimal ada 6 orang (10/2 +1) yang memilih A. maka yang paling banyak mengumpulkan suara adalah pemenangnya. yang akan ditentukan melalui pemungutan suara yang diikuti oleh 10 pemilih. maka titik equilibriumnya pun akan berubah sesuai dengan faktor perubahannya. Untuk dapat menetapkan pilihan dengan benar. Bila jumlah pemilihnya ganjil. Gambar 8. minimal. Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suatu pemilihan umum dalam menghasilkan keputusan tentang kebijakan publik adalah: 1. Dalam contoh diatas. Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas (Majority Rule) Dalam melakukan pemungutan suara dikenal aturan simple majority rule. Biaya marjinal dan biaya rata-rata dari barang publik Informasi yang tersedia mengenai untung rugi yang terkait dengan kebijakan tersebut Distribusi pajak ke setiap pemilih. 2. 5. 3. setengah plus satu dari seluruh peserta pemilihan.2: Keseimbangan Politis dalam Aturan Mayoritas 350 E MB = AC Marginal Benfit. seseorang harus mempunyai informasi yang lengkap mengenai konsekuensi dari setiap pilihan yang diambilnya. yaitu pemenang pemungutan suara akan diperoleh bila mampu mengumpulkan. maka sangat mungkin hasil yang ia capai tidak berbeda dibandingkan jika ia menjadi ”golput”. yaitu bagaimana kriteria untuk menerima atau menolak kebijakan publik. A atau B. Aturan main dari pemilu itu sendiri. dan Pajak (rupiah) Σ MB 50 MBA MBB MBC MBM MBF 4 5 MBG 6 7 t 0 1 2 3 Jumlah satpam per minggu Dasar-dasar Keuangan Publik . Misalkan ada dua pilihan. maka pemenangnya adalah yang mampu mengumpulkan 5 suara.

marginal benefit ketujuh orang tersebut berbeda-beda seperti yang ditunjukkan pada kurva A. Tabel 8. Karena keamanan lingkungan merupakan barang publik. Diantara mereka telah ada kesepakatan bahwa keamanan lingkungan adalah barang publik yang harus disediakan dan didanai oleh mereka sendiri. ketujuh warga tersebut akan melakukan voting untuk persetujuan atas setiap penambahan satu orang satpam yang akan mereka pekerjakan. Pada pemungutan suara yang kedua untuk menambah jumlah satpam menjadi 2 orang. B. A tidak setuju terhadap usulan tersebut karena baginya jumlah iuran yang dibayarkan melebihi manfaat Dasar-dasar Keuangan Publik . dan H dalam Gambar 8. Misalkan sekarang ada tujuh orang warga yang sedang berembuk untuk menentukan berapa orang satpam yang diperlukan untuk mengawasi wilayah tempat tinggal mereka. Ada tujuh alternatif keputusan yang akan diambil yaitu memperkerjakan 1 satpam. Dengan demikian pajak (t dalam hal ini adalah iuran) yang harus ditanggung oleh masingmasing warga untuk membiayai seorang satpam adalah Rp50 ribu per minggu (Rp350 ribu/7). M. F. ketujuh warga tersebut harus menentukan kesepakatan tentang berapa orang satpam yang dibutuhkan untuk menjaga lingkungan mereka. maka setiap warga akan menikmati keamanan dalam porsi yang sama. kemudian dari 2 menjadi 3 satpam. Dalam contoh diatas. Hal ini telah sesuai dengan rumus AC/n = Rp50 ribu. 5 satpam. A menghendaki hanya seorang satpam saja yang dibutuhkan.1 menunjukkan hasil pemungutan suara untuk setiap penambahan seorang satpam yang akan dipekerjakan. namun jika disetujui kurang dari setengah maka akan dibatalkan. Umpamakan gaji seorang satpam adalah Rp350 ribu per minggu sehingga average cost dan marginal cost dari barang publik ini adalah sama. Hasil Pemungutan Suara menurut Aturan Mayoritas Sekarang. C. yaitu Rp350 ribu. Asumsikan ada n orang yang tinggal dalam satu komunitas dimana Average Cost (AC) dan beban pajak untuk setiap barang publik sudah ditetapkan. Pada pemungutan pertama kali. Pemungutan suara dimulai dengan penambahan dari 0 satpam menjadi 1 satpam. Namun demikian. 4 satpam. dimana masing-masing individu dapat mengkonsumsi barang sesuai yang diinginkannya tanpa memperdulikan individu yang lain.58 Berikut ini akan penulis berikan contoh penerapan simple majority rule dalam keuangan publik. kemudian dari 1 menjadi 2 satpam. Hal ini berbeda dengan barang pribadi. Setiap orang akan mendapat beban pajak yang sama besarnya yaitu sebesar AC/n untuk setiap unit barang publik yang dikonsumsi. G.1. Asumsikan dalam setiap pemungutan suara tidak ada yang abstain. atau 7 satpam. dan seterusnya. 2 satpam. semua warga setuju untuk memperkerjakan seorang satpam karena marginal benefit yang diterima setiap warga berada diatas iuran yang harus dibayar. dan seterusnya hingga H yang menghendaki 7 orang. Ketentuannya. Hasil dari pemungutan suara mereka tercantum dalam Tabel 10.2. 3 satpam. B menghendaki 2 orang. bila penambahan seorang satpam disetujui oleh lebih dari setengah warga yang ikut memilih maka penambahan tersebut akan dilaksanakan. 6 satpam.

Tiga warga (A. maka hasil pemungutan suaranya akan selalu dimenangkan oleh warga yang pro dengan jumlah 4 orang satpam. dan H memiliki keputusan ideal lebih dari 4 orang satpam. Besarnya iuran yang harus ditanggung tiap warga adalah Rp200 ribu per minggu. Dengan demikian. Ketika usulan penambahan jumlah satpam dari 4 menjadi 5 orang diajukan. ada 2 orang yang tidak setuju atas penambahan jumlah satpam menjadi 3 orang. Hal ini karena jumlah 4 orang satpam adalah keputusan politis yang paling diinginkan (ideal) melalui sistem Aturan Mayoritas. Sedangkan keputusan ideal bagi seluruh warga berkisar dari 1 orang sampai 7 orang satpam. M. Ketika melakukan pemungutan yang ketiga. yaitu A dan B. Tabel 8. Namun. G. jika diajukan pilihan 4 orang satpam atau 2 orang satpam. F. maka dengan memperhatikan kurva marginal benefit masing-masing warga.1: Hasil Pemungutan Suara Penambahan jumlah satpam per minggu 1 A B Warga C M F G H Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju 2 setuju setuju setuju setuju setuju setuju setuju 3 4 5 6 7 Setuju tdk setuju Tdk setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Tdk setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Tdk setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Setuju Setuju tdk setuju tdk setuju tdk setuju Setuju Setuju Setuju Tolak tdk setuju tdk setuju setuju setuju tolak tdk setuju Setuju Tolak Keputusan Setuju Pemilih Menengah (Median Voter) Pemilih menengah adalah pemilih yang keputusan ideal dirinya merupakan median dari keputusan ideal seluruh pemilih yang ikut voting. Dasar-dasar Keuangan Publik . maka penambahan satpam tersebut akhirnya disetujui. Jika jumlah 4 orang satpam ini dibandingkan dengan jumlah yang lain. Ingat. dan H akan memilih 4 satpam. dan C) memiliki keputusan ideal yang kurang dari 4 orang satpam sedangkan F. B. B dan C akan memilih 2 satpam sedangkan M. yang keputusan ideal baginya adalah 4 orang satpam sesuai kurva marginal benefitnya. adalah pemilih menengah. Namun karena 6 warga lainnya setuju. Sebagai bukti. Pada contoh di atas. hanya 3 warga saja yang menyetujuinya sehingga usulan tersebut ditolak. G. lagi-lagi usulan ini disetujui karena didukung oleh 5 warga lainnya.59 yang ia terima. dalam voting A. titik keseimbangan politis tentang jumlah satpam yang akhirnya dipekerjakan untuk mengawasi lingkungan mereka adalah 4 orang per minggu. apabila memperkerjakan 2 orang satpam maka iuran masing-masing warga menjadi Rp100 ribu per minggu (Rp700 ribu / 7).

Pada kasus ekstrem ini. Jika keputusan untuk memproduksi barang/jasa memerlukan kesepakatan bulat atau mendekati bulat dari semua warga. maka keputusan yang dihasilkan melalui voting adalah keputusan bulat dimana semua warga menyetujui usulan yang diajukan. dalam memilih instistusi politis. dan sebagainya. Pada contoh kita. Warga yang keputusan idealnya berbeda dengan keputusan ideal pemilih menengah akan mengkonsumi lebih banyak ataupun lebih sedikit dari yang sesungguhnya mereka inginkan jika mereka dapat menyewa tenaga satpam sendiri-sendiri. untuk mencapai keputusan yang bulat diperlukan political transaction cost yang cukup besar. Political transaction cost adalah seluruh pengorbanan. keputusan ideal bagi pemilih menengah akan selalu sama dengan titik keseimbangan politis bila aturan mayoritas diterapkan. agar ke-6 warga lainnya setuju memperkerjakan 4 orang satpam maka iuran yang harus A. Political Externalities adalah potensi kesejahteraan yang hilang yang dialami oleh voter yang keinginan idealnya berbeda dengan hasil keputusan voting. Di lain pihak. Dengan demikian. usaha. jika ada lebih dari dua kemungkinan keputusan yang dihasilkan dalam suatu pemungutan suara. masyarakat harus membandingkan antara political externalities dengan political transaction cost nya. Pada kasus ekstrem dimana semua warga memiliki kurva marginal benefit yang sama. atau membelinya secara langsung melalui mekanisme pasar. semua orang setuju atau tidak setuju. yang diperlukan untuk mencapai suatu kesepakatan. Dalam hal ini A dan H adalah yang paling kecewa. dan C bayarkan harus lebih kecil dari Rp200 ribu per minggu.60 Jika marginal benefit dari barang publik bagi seluruh warga didalam contoh berubah. Jadi. Jika keputusan voting dihasilkan dari suara yang bulat. political externalities dialami oleh keenam warga selain M. dan H disesuaikan sesuai dengan marginal benefit masing-masing warga. warga yang keinginannya untuk memperkerjakan satpam semakin kecil atau semakin besar dari dari 4 orang maka akan makin kecewa dengan hasil keputusan yang dibuat. sedangkan bagi F. Dalam contoh diatas. maka political externalities nya akan kecil. G. semua warga adalah pemilih menengah. Dasar-dasar Keuangan Publik . F. Kekecewaan paling tinggi dialami oleh orang yang keputusan ideal bagi dirinya terletak paling jauh dari keputusan ideal si pemilih menengah. baik waktu. Hal yang sama juga akan terjadi bila masing-masing warga kenakan jumlah iuran yang tidak sama. Hal ini adalah faktor yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah sebelum memutuskan untuk mengadakan/ memproduksi sendiri barang/jasa. maka akan semakin tinggi tingkat kekecewaan terhadap keputusan yang dihasilkan dengan cara aturan mayoritas. C. sedangkan C dan F mungkin tidak terlalu kecewa. maka tidak terdapat political externalities. Semakian jauh jarak perbedaan antara keputusan ideal pemilih menengah dengan keputusan ideal warga lainnya. dan H harus lebih besar dari Rp200 ribu per minggu. G. B. Pihak-pihak lain selain pemilih menengah akan tetap menerima hasil keputusan voting tersebut meskipun diantara mereka ada yang kecewa. Political externalities akan hilang jika iuran bagi A. B. Oleh karena itu. maka hanya pemilih menengah saja yang keputusan idealnya sama dengan keputusan hasil voting dengan menggunakan Aturan Mayoritas.

2. Setiap penambahan maupun pengurangan frekuensi festival akan membuat net benefit yang diterimanya semakin kecil. political equilibrium yang dihasilkan adalah unik. kemudian dilakukan voting. dan C) yang hendak menentukan banyaknya penyelenggaraan festival dalam setahun. sehingga yang meraih 2 suara itulah yang menang. 2 kali festival per tahun. Faktor yang dapat mempengaruhi antara lain adalah urutan dalam melakukan pemungutan suara. Warga A dikenakan iuran Rp100 ribu per festival. Ada tiga alternatif yang diajukan oleh warga. B. memuat informasi mengenai urutan preferensi setiap warga atas alternatif yang diajukan. Pemenang voting ditentukan dengan aturan mayoritas sederhana. A adalah orang yang suka pesta. Pilihan utama B jatuh pada 1 kali festival. Jika tidak mendapatkan yang paling sedikit. ada tiga warga (A. C adalah orang moderat yang pilihan utamanya jatuh pada 2-festival. maka ia lebih memilih yang paling banyak daripada yang moderat. Semakin jarang festival dilakukan.61 Masalah Pemungutan Suara dengan Aturan Mayoritas Pada contoh kita di atas. Misalkan. maka pilihan utamanya jatuh pada 3-festival. maka warga yang memilih 4 satpam akan selalu menjadi mayoritas. Pada kasus tertentu. artinya hanya ada satu yaitu 4 orang satpam per minggu. warga B dikenakan Rp75 ribu per festival. penulis coba memberikan contoh kasus dimana tidak terdapat political equilibrium yang unik. dan 3 kali festival per tahun. political equilibrium dengan menggunakan aturan mayoritas dapat lebih dari satu. Tabel 8. dan C dikenakan Rp25 ribu per festival. Tabel 8. B adalah orang yang ekstrem.2: Urutan Preferensi Pilihan 1 Pilihan 2 (utama) 3-festival 2-festival 1-festival 3-festival 2-festival 1-festival Warga A B C Pilihan 3 1-festival 2-festival 3-festival Dasar-dasar Keuangan Publik . Agar lebih jelas. yaitu: 1 kali festival per tahun. semakin kecil ia menerima net benefit. Jika ini terjadi maka penentuan keputusan yang menang dipengaruhi oleh faktor lain diluar dari manfaat dan biaya yang sudah dihitung sebelumnya. sedangkan pilihan keduanya adalah 3-festival. Setiap penyelenggaraan festival memakan biaya sebesar 200 ribu rupiah. Bila jumlah 4 orang satpam dibandingkan dengan jumlah yang lain.

Grafik C menunjukkan bahwa C menikmati net benefit tertinggi jika hanya 2 kali saja diadakan festival per tahun. A dan C disebut memiliki preferensi tunggal (single-peak preferences) karena hanya mempunyai satu titik optimal atas preferensi yang paling diinginkan.3 menunjukkan grafik preferensi masing-masing warga atas frekuensi festival yang ditawarkan.62 Gambar 8. Grafik A menunjukkan konsistensi warga A pada net benefit yang semakin besar jika makin sering diadakan festival. Namun demikian.3: Preferensi terhadap penyelenggaraan festival Single peak * Net benefit A * * Festival 2 1 3 * Net benefit B ** Multiple peaks Single peak * Net benefit B * * Festival 2 * 1 Festival 2 3 1 3 Single peak * Net benefit C * * 1 Festival 2 3 Gambar 8. Penambahan maupun pengurangan frekuensi festival membuatnya menerima net benefit yang makin kecil. sekali penyelenggaraan festival masih lebih baik dibanding dengan tiga kali festival per tahun. Titik optimal A adalah pada 1 kali festival dan titik optimal C adalah pada 2 kali Dasar-dasar Keuangan Publik .

Jika tidak mendapatkan titik optimal tersebut. 1festival menang karena B dan C mendukungnya. Jika B ditawarkan 2 kali festival maka net benefit yang ia terima menjadi lebih rendah. Dalam 3 kali pemilihan. opini yang timbul di masyarakat AS adalah jika ingin perang melawan Vietnam maka harus dengan menggunakan kekuatan penuh. 1-festival dibandingkan dengan 2-festival. Hasilnya 2-festival menang karena didukung oleh A dan C.63 festival. kemudian 1festival mengalahkan 3-festival. maka net benefit mereka akan semakin rendah. Pada pemilihan ini 3-festival menang karena hanya C yang menolaknya. Pemilihan berikutnya dilakukan untuk membandingkan antara 3-festival dan 1-festival. bila perlu menggunakan senjata nuklir agar kemenangan cepat diraih. maka lebih baik AS tidak perlu mengirimkan tentaranya ke Vietnam karena hanya akan mengorbankan tentara saja. ketika ada 3 pilihan yaitu. Fenomena ini disebut dengan cycling. Fenomena Cycling Pemilihan berpasangan (pair-wise elections) adalah pemilihan yang membandingkan 2 alternatif diantara 3 atau lebih alternatif yang tersedia. Pada pemilihan pertama. jika alternatif yang ditawarkan berlanjut pada arah yang sama. Karena hanya ada 3 warga yang mengikuti pemilihan (A. 1) perang dengan full power.3: Hasil Pemungutan Suara dengan Pemilihan Berpasangan (Pair-Wise) Dasar-dasar Keuangan Publik . dan terakhir 2. Berikut ini akan kita lakukan pair-wise elections untuk setiap alternatif yang tersedia yaitu 1 kali. 2-festival mengalahkan 1-festival. maka net benefit B menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. voting dengan aturan mayoritas sederhana akan menemui jalan buntu karena setiap alternatif mempunyai kesempatan untuk menang. Hal ini terlihat pada garis yang menurun pada Grafik B di atas. ia akan mendapatkan net benefit yang lebih baik. bila kemudian diajukan lagi 3 kali festival yang paling sering. Kali ini. kemudian 3. Tabel 8. B. Jadi. Titik optimal tertinggi B adalah pada sekali festival saja. 2 kali. Pada grafik B. dan C). atau 3) tidak perang. Setiap alternatif mempunyai kesempatan untuk menang tergantung dengan siapa ia dibandingkan. Contoh nyata dimana preferensi jamak pernah muncul adalah ketika Amerika melakukan perang melawan Vietnam. Jika militer AS tidak diperkenankan menggunakan kekuatan penuhnya. maka urutan preferensi di masyarakat adalah nomor 1. B disebut memiliki preferensi jamak (multiple-peaked preferences) karena ketika tidak mendapatkan preferensi optimalnya maka ia menerima net benefit yang lebih rendah. Kemudian. Hasil dari pair-wise elections tercantum dalam tabel 10. maka alternatif yang meraih 2 suara akan menang. Namun. Dengan cara seperti ini. 2) perang dengan kekuatan sedang. pemilihan terakhir dilakukan untuk membandingkan antara 2-festival dan 3-festival. arah alternatif frekuensi yang ditawarkan adalah mulai dari yang paling jarang (1 kali) hingga yang paling sering (3 kali). Dilain pihak. Tetapi. tetapi akhirnya 3-festival dapat mengalahkan 2festival.3. dan 3 kali festival. dengan kata lain tidak ada perang. Ketika itu.

Kali ini. disebabkan oleh adanya preferensi jamak (multiple-peaked preferences).4. maka aturan mayoritas akan mampu menghasilkan political equilibrium untuk setiap isu yang dibahas.4 dan Gambar 8. warga B diganti dengan warga B’ yang memiliki preferensi tunggal.4: Urutan Pilihan Berbagai Alternatif Pilihan 1 Pilihan 2 (utama) 3-festival 2-festival 1-festival 2-festival 2-festival 1-festival Warga A B C Pilihan 3 1-festival 3-festival 3-festival Dasar-dasar Keuangan Publik . Asumsikan B’ membayar iuran yang besarnya sama dengan B. Titik equilibrium tersebut akan terletak pada median dari semua voter. Tabel 8.64 Pemilihan I 1-festival A B C Total suara Hasil : 2-festival menang X 1 suara Pemilihan II 3-festival X 1 suara Pemilihan III 2-festival X 1 suara 2-festival X X 2 suara 1-festival X X 2 suara A B C Total suara Hasil : 1-festival menang A B C Total suara Hasil: 3-festival menang 3-festival X X 2 suara Penyebab Cycling Cycling dan tidak adanya political equilibrium dengan menggunakan pairwise election dalam aturan mayoritas. akan penulis tunjukkan contoh dimana political equilibrium dapat terwujud jika tidak ada warga yang memiliki preferensi jamak. Dengan masih menggunakan contoh sebelumnya. Urutan pilihan terhadap berbagai alternatif dan grafik net benefit dengan masuknya warga B’ adalah seperti tercantum pada Tabel 8. Jika semua voter memiliki preferensi tunggal.

Walaupun 1-festival dapat mengalahkan 3festival pada Pemilihan II. dengan tidak adanya preferensi jamak maka kali ini dimenangkan oleh 2-festival karena didukung oleh B’ dan C. Sekarang. sedangkan B’ kali ini memiliki preferensi tunggal. Dengan tidak adanya preferensi jamak maka hanya satu political equilibrium yang muncul yaitu milik median voter. kini semua warga memiliki preferensi tunggal dan setiap ada perubahan keputusan diluar preferensi utama akan mengakibatkan menurunnya net benefit yang mereka terima. Hasil Pemilihan I dan Pemilihan II berturut-turut masih sama dengan yang sebelumnya. mari kita lakukan pair-wise election kembali dengan kondisi seperti di atas. Dengan hasil ini maka 2-festival akan menjadi political equilibrium karena dapat mengalahkan dua alternatif lainnya yaitu 1-festival dan 3-festival.65 Gambar 8. Dengan kondisi ini. Median puncak terletak pada 2festival per tahun dan karena C memiliki preferensi utama pada titik ini maka ia adalah pemilih median.4: Net Benefit Berbagai Alternatif titik puncak voter C titik puncak voter B’ * * Net benefit * titik puncak voter C * * * * * 0 1 2 3 Jumlah festival per tahun Pada Gambar 8. yaitu dimenangkan oleh 2-festival dan 1-festival. Pada Pemilihan III. Dasar-dasar Keuangan Publik . B akan menerima net benefit tertinggi jika festival diselenggarakan hanya satu kali saja per tahun. namun 1-festival akan kalah dalam pemilihan jika dibandingkan dengan 2-festival. Hasil pairwise election tanpa adanya preferensi jamak tercantum pada Tabel 8.5. A dan C masih memiliki preferensi yang sama seperti yang sebelumnya.4 di atas.

Minority Rule Dengan metode Minority Rule. Contoh. Dengan metode ini. kandidat atau suatu keputusan dapat dimenangkan walaupun hanya didukung kurang dari setengah peserta yang melakukan voting. risiko munculnya ketidakpuasan akan lebih tinggi dibanding dengan menggunakan majority rule. dengan menggunakan simple majority rule jika ada 100 orang yang mengikuti voting. maka diperlukan N/N suara yang mendukung keputusan tersebut. Sistem ini dilakukan pada negara yang berbentuk kerajaan atau pada negara yang dipimpin oleh seorang diktator. Pada kasus ini. maka kandidat yang mengumpulkan 51% suara adalah pemenangnya. Dengan metode simple majority rule.66 Tabel 8. Jika dibutuhkan keputusan yang bulat. Dasar-dasar Keuangan Publik . kandidat yang mampu mengumpulkan ( N/2 + 1 ) / N suara adalah pemenangnya. Ketika setiap keputusan selalu dibuat oleh kelompok minoritas maka hal ini disebut oligarki. Hal yang paling ekstrem dari minority rule adalah ketika suatu keputusan dibuat oleh satu orang saja. Bila yang dibutuhkan adalah keputusan bulat.5: Pair-Wise Election tanpa ada Preferensi Jamak Pemilihan I 1-festival 2-festival A X B’ X C X Total suara 1 suara 2 suara Hasil : 2-festival menang Pemilihan II 3-festival 1-festival A X B’ X C X Total suara 1 suara 2 suara Hasil : 1-festival menang Pemilihan III 2-festival 3-festival A X B’ X C X Total suara 2 suara 1 suara Hasil: 2-festival menang Metode Pemungutan Suara Simple Majority Rule Misalkan jumlah masyarakat yang mengikuti voting adalah N. maka kandidat tersebut harus mampu mengumpulkan 100% suara agar bisa jadi pemenangnya.

3. pemilih diberikan sejumlah point (misalkan 10) untuk kemudian dibagi-bagikan ke masing-masing alternatif menurut tingkat kepentingan yang mereka rasakan. Dengan menggunakan metode plurality rule. alternatif 3 (36%) adalah minoritas jika dibanding dengan alternatif 1 plus alternatif 2 (64%). dan 3) yang hendak dipilih salah satunya melalui voting. C. dan 2. Bila kita perhatikan.67 mungkin tidak akan pernah diadakan pemungutan suara. dimungkinkan suara minoritas untuk menjadi pemenangnya. 32% suara memilih 2. dan D. Point Voting Pada metode point voting. Dengan metode majority rule maka tidak ada pemenangnya. alternatif II kurang penting. hal yang sama dilakukan oleh B. dengan plurality rule pemenangnya ditentukan oleh alternatif yang memperoleh porsi suara paling besar. maka kondisi diatas dapat ditentukan pemenangnya yaitu alternatif 3 karena memperoleh porsi suara yang terbanyak (36%) jika dibanding dengan 2 lainnya. Jadi. Bila 32% suara memilih 1. Contoh. perhatikan tabel berikut ini. A dan D sama-sama menganggap alternatif I penting. karena keputusan ditentukan sepenuhnya oleh satu orang saja. Ia mendistribusikan point ke masingmasing alternatif tersebut sebesar 5. A menganggap alternatif I paling penting. Pada metode plurality rule. yang jadi pemenangnya adalah alternatif I karena memperoleh point paling banyak. Plurality Voting Metode Plurality Rule umum dilakukan bila sekurang-kurangnya ada 3 alternatif yang hendak diputuskan. ada tiga alternatif (1. namun D memberikan seluruh point nya ke alternatif I tanpa membagi kepada alternatif lainnya. Akibatnya. Pada contoh di atas. dan alternatif III tidak penting.Sebagai contoh. 2. Metode ini mempunyai efek samping yaitu dapat menimbulkan transaksi jual-beli point antar sesama voter. Alternatif I II III A 5 3 2 Tabel 8.6: Point Voting B C 2 5 2 5 6 0 D 10 0 0 Total 22 10 8 Misalkan setiap pemilih memperoleh 10 point untuk dibagikan ke masingmasing alternatif. perlu dilakukan pemilihan ulang yang tentunya akan menambah biaya dan memakan waktu. dan 36% suara memilih 3 maka tidak ada alternatif yang memperoleh suara diatas 50%. Dengan metode ini. Salah satu kelemahan dari Majority Rule adalah bila lebih dari 2 alternatif untuk diputuskan maka terdapat kemungkinan dimana tidak ada alternatif yang memperoleh suara mayoritas. Namun demikian dampak positifnya adalah setiap voter diberi kesempatan untuk memberikan preferensinya ke masing-masing Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini dapat memicu ketidak stabilan karena keputusan tidak didukung oleh suara mayoritas.

dan C yang memilih kandidat I sebagai peringkat pertama. 4 suara diberikan kepada kandidat III. Ada 38 voter yang memberikan peringkat pertama pada kandidat I. IV) yang akan dicari pemenangnya melalui pemungutan suara yang diikuti oleh 10. maka suara A akan dialihkan ke kandidat II karena ia berada pada urutan 2.38%. Setiap voter diminta untuk memberikan suara dalam bentuk peringkat untuk masing-masing kandidat. Menurut hasil pemilihan pertama ini. dan IV. belum ada kandidat yang mencapai suara mayoritas karena kandidat I baru mengumpulkan 0. peringkat 3 untuk kandidat II. dan 1 suara diberikan kepada kandidat IV Dasar-dasar Keuangan Publik . Ada 4 kandidat ( I s. kemudian membagikan porsi suaranya ke 3 kandidat lainnya berdasarkan peringkat.94% dan kandidat IV mengumpulkan 1. 4. Voter yang lainnya juga diminta untuk melakukan hal yang sama sehingga dicapai hasil seperti pada tabel dibawah ini.). 4. misalkan didapat hasil sebagai berikut. 33 suara diberikan kepada kandidat II.73% Setelah pemungutan suara. Seandainya pada pemungutan suara I ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50% suara maka otomatis dialah pemenangnya dan tidak perlu ada instant runoff. D lebih tinggi preferensinya terhadap alternatif ini dibanding oleh A. yaitu kandidat I. III. maka dilakukan proses runoff yang pertama. dan 173 voter yang memberikan peringkat pertama pada kandidat IV.895 4. Suara B dialihkan ke kandidat IV dan suara C juga dialihkan ke kandidat IV. peringkat 2 untuk kandidat I. C. Misal. Walaupun sama-sama menganggap alternatif I penting. Sebagai contoh.894 173 %tase 0. dst. Instant Runoff Voting Instant runoff voting merupakan penyempurnaan dari majority rule dan plurality rule. dan peringkat terakhir untuk kandidat IV.38% 48. Untuk lebih jelasnya penulis berikan contoh sebagai berikut. kandidat II mengumpulkan 48.d.73%. Karena belum ada kandidat yang memperoleh mayoritas.894 voter memberikan peringkat pertama pada kandidat III. kandidat III mengumpulkan 48. Hal yang harus dilakukan adalah menyingkirkan kandidat yang memperoleh suara paling kecil.68 alternatif. kita akan melihat bagaimana mereka menyusun peringkat untuk kandidat II. Setelah dilakukan proses runoff terhadap 38 suara yang memilih kandidat I.95%. Kandidat I II III IV A 1 2 3 4 B 1 3 4 2 Tabel 8.000 voter (A.895 voter memberikan peringkat pertama pada kandidat II. voter D memberi peringkat 1 untuk kandidat III. Dari 38 orang yang memilih kandidat I.95% 48. setiap kandidat dihitung perolehan peringkat pertamanya.94% 1.7: Pemungutan suara I C D E 1 2 4 3 3 1 4 4 2 2 1 3 … … … … … Total 38 4. mari kita perhatikan preferensi A. Karena kandidat I tersisih. B. B.

Suara ini kemudian ditambahkan pada jumlah sebelumnya sehingga diperoleh hasil sebagai berikut.928 + 17 4 … 4.898 174 %tase 49.895 + 33 4 … 4.894 + 4 1 … 173 + 1 Total 4.98% 1. Dasar-dasar Keuangan Publik .69 berdasarkan peringkat 2 yang mereka masukkan. masih belum terdapat kandidat yang memperoleh suara mayoritas.95%) dan kandidat III memperoleh 5.55% Berdasarkan hasil runoff pertama.28% 48. Misalkan. Kandidat II III IV A 2 3 4 B 3 4 2 C 3 4 2 Tabel 8. Kandidat II III A 2 3 B 3 4 C 3 4 Tabel 8.74% Setelah dilakukan runoff pertama. suara D akan dialihkan ke kandidat II karena memiliki urutan berikutnya setelah kandidat IV.928 4. Berdasarkan tabel di atas.55%). Hasil runoff pertama bisa dilihat pada tabel berikut ini. ketiga dan seterusnya hingga diperoleh kandidat yang memperoleh suara mayoritas.055 suara (50. kandidat IV akan tersingkir karena memperoleh porsi suara paling kecil. Proses pembagiannya sama seperti yang dilakukan pada runoff pertama.45% 50.9: Runoff Kedua D … perhitungan 3 … 4.945 5. Oleh karena itu perlu dilakukan runoff kedua.8: Runoff Pertama D … perhitungan 3 … 4. kandidat II menerima limpahan 17 suara dan kandidat III menerima 157 suara.898 + 157 Total 4. 174 suara dari kandidat IV yang tersingkir akan didistribusikan ke kandidat II dan III pada runoff kedua. Hasil proses runoff kedua dapat dilihat pada tabel berikut. Sebagai contoh. 174 suara yang memilih kandidat IV kemudian didistribusikan ke kandidat yang tersisa berdasarkan preferensi yang diberikan oleh masingmasing voter. Dengan hasil ini maka kandidat III menjadi pemenangnya karena mampu mengumpulkan suara diatas 50%.945 suara (49.055 %tase 49. kandidat II memperoleh 4.

Agar tidak terjadi tambahan inflasi akibat adanya hutang. seluruh nilai hutang dipergunakan untuk kegiatan pembelian barang-barang impor. Pengeluaran publik seperti pembayaran pokok hutang akan diikuti dengan pengurangan liabilitas publik sehingga tidak mengurangi kekayaan neto Dasar-dasar Keuangan Publik .70 B A B IX KONSEP ANGGARAN ika proses pilihan publik telah selesai. maka pemerintahan yang baru akan dinilai kinerjanya oleh masyarakat melalui paket-paket kebijakan politik. Seluruh pengeluaran rutin dalam sistem ini diusahakan untuk ditutup dari penerimaan dalam negeri. penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. Sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. Tujuan utama dari diterapkannya sistem ini pada awal orde baru menurut Seda (2004) dimaksudkan mengurangi hyper-inflation yang mencapai 650% akibat adanya kegiatan pencetakan uang terus menerus untuk menutupi defisit anggaran. seperti penerimaan kembali anggaran pengeluaran yang tidak terpakai. Selanjutnya secara terus menerus diusahakan agar penerimaan dalam negeri dapat lebih tinggi dari pengeluaran rutin sehingga tercipta tabungan pemerintah yang dapat digunakan sebagai bagian belanja pembangunan. Pada masa orde baru. termasuk kebijakan fiskal. Yang pertama. J Didalam konsep anggaran perlu dibedakan antara penerimaan versus pendapatan. Dalam beberapa periode lanjut Seda (2004). anggaran di Indonesia menganut sistem anggaran berimbang. Sistem ini berlaku sampai dengan tahun 1999. Sedangkan pinjaman luar negeri digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Berikutnya. pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. Pada sistem ini pinjaman luar negeri dimasukkan sebagai unsur penerimaan negara. Setelah itu diberlakukan balance budget yang mengakui adanya budget surplus dan budget deficit (dibahas pada subbab berikut). sosial dan ekonominya. sistem tersebut cukup efektif mengendalikan inflasi. contoh penerimaan pajak. Karena ada beberapa aktivitas yang mengakibatkan aliran dana masuk yang tidak menambah kekayaan neto negara. dan pengeluaran versus belanja. Sistem ini kemudian dikenal sebagai APBN Berimbang dan Dinamis. Kebijakan fiskal suatu negara secara keseluruhan terangkum dalam laporan anggaran tahunannya yang di Indonesia dikenal sebagai Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).

Jenis-jenis Anggaran Jenis-jenis anggaran meliputi: a. Dalam anggaran. Dari pengelompokan barang-barang inilah maka digunakan istilah obyek atau lineitems. Jika rencana pengeluaran melebihi anggaran penerimaan. Anggaran belanja line-item (line-item budgeting) Jenis anggaran belanja yang hanya membuat daftar barang-barang atau obyekobyek. sedangkan off-budget mengalami surplus. Selanjutnya. Bila obyek yang ada dalam line-item budget cukup banyak. on-budget.71 negara. yaitu obyek-obyek atau itemitem apa yang akan dibeli dengan uang yang dianggarkan itu. maka perlu dibuat pengelompokan ataupun penggolongan. Contoh dari off-budget adalah alokasi dana yang diperuntukkan bagi program pensiun dan tunjangan hari tua. Pengolongan barang tersebut misalnya: jasa-jasa kontrak. Anggaran memuat perkiraan dari pengeluaran uang. maka timbul budget deficit sebaliknya jika penerimaan diproyeksikan dapat lebiih tinggi dari rencana pengeluaraan maka disebut budget surplus. misalnya pembayaran bunga hutang. Setiap anggaran belanja menguraikan berbagai fakta yang khusus (spesifik) tentang apaapa yang direncanakan untuk dilakukan oleh unit organisasi yang menyusun anggaran belanja tersebut pada periode waktu yang akan datang. perlengkapan dan material serta peralatan. disebut anggaran oyek pengeluaran atau anggaran belanja line-item. dipaparkan adanya rencana pengeluaran yang didasarkan pada ekspektasi pendapatan. Balance budget Seluruh rencana pengeluaran dan penerimaan pemerintah biasanya melalui prosedur pembahasan oleh lembaga legislatif untuk disahkan setiap tahun. tergantung pada kriteria unit atau organisasi yang bersangkutan. Oleh karena itu harus disebutkan secara khusus atau spesifik. maka anggaran yang dihasilkan disebut unified-budget. Belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. disebabkan setiap instansi atau Departemen mempunyai kebutuhan barang yang berbeda. Apabila anggaran disusun dengan mengkonsolidasikan antara on-budget dan off-budget. Pengeluaran tersebut harus jelas maksud dan tujuannya. Contoh line-item budget adalah sebagai berikut. Rencana pengeluaran sebaiknya mengindikasikan juga urutan skala prioritas serta ekspektasi kualitas dan kuantitas layanan. dikenal sebagai off-budget. hal ini adalah sesuatu hal yang masih sangat umum. Apabila dikatakan untuk membeli barang. Pada umumnya on-budget mengalami deficit. anggaran adalah suatu rencana keuangan yang merupakan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan dimasa yang akan datang. Namun ada sebagian kecil anggaran yang dibiayai dengan dedicated fund tidak dibahas oleh lembaga legislatif setiap tahunnya. Jenis Pengeluaran Jumlah Dasar-dasar Keuangan Publik .

Pembiayaan Proyek Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX • Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran line-item ialah mudah mengawasi penggunaanya. suatu anggaran belanja yang disusun sesuai dengan tujuan. Bunga Obl.01 01. dan Program PELAYANAN UMUM PEMERINTAHAN LEMBAGA EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF. Dengan kata lain. atau misi. disebut anggaran berprogram (a program budget). Setiap barang atau kelompok barang dibuat daftarnya disertai angka nilai rupiah. Angaran belanja berprogram (a program budgeting) Suatu anggaran yang berorientasi kepada maksud dan tujuan untuk apa uang dibelanjakan. karena perkiraan kebutuhan untuk masa mendatang tidak dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang lebih luas. Di samping itu. kegiatan. terdapat perbedaan pengelompokan barang-barang antara unit atau organisasi yang satu dengan unit atau organisasi barang yang diperlukan setiap organisasi tersebut dan tidak didasarkan atas perencanaan yang menyeluruh dan berkesinambungan. Pembiayaan Rupiah 1. kadang-kadang diperlukan sebagai pengganti program-program. Dengan demikian orang yang bertanggung jawab dalam membelanjakan uang itu mudah diperiksa melalui keharusan mengikuti pengeluaran sebagaimana yang telah direncanakan. Sedangkan kelemahan sistem anggaran line-items adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan. Belanja Barang III. Subsidi Daerah Otonom IV. Contoh dari anggaran berprogram yang digunakan dalam menyusun APBN Indonesia Tahun 2005 adalah sebagai berikut. Restrukturisasi Perbankan II. Belanja Pegawai II. DAN LUAR NEGERI PENYELENGGARAAN PIMPINAN Jumlah XXX XXX XXX Dasar-dasar Keuangan Publik . fungsi-fungsi dan kegiatankegiatan pengeluarannya disebut anggaran berprogram (a program budget). Bunga Kredit Program 2. Anggaran berprogram mengelompokan pengeluarannya ke dalam program-program. Kode 01 01. sehingga dari catatan tersebut dapat dilihat secara tepat. apakah anggaran belanja itu dipatuhi dengan baik atau tidak.01 01 Nama Fungsi.72 • Pengeluaran Rutin I. b. karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyek-obyek di mana uang itu dibelanjakan. KEUANGAN DAN FISKAL. Sub Fungsi. Penggunaan kata fungsi. Pembayaran Bunga & cicilan Hutang Pengeluaran Pembangunan I.

anggaran belanja sistem hanya mencantumkan X rupiah untuk belanja yang satu dan Y rupiah untuk belanja yang lain. c. yang tidak jelas obyek-obyeknya. karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. disebabkan tidak hanya sekedar mendaftar barang-barang dan jasa-jasa yang akan dibelanjakan. tetapi penyusunan dana itu disesuaikan dengan program-programnya. Anggaran belanja berbasis kinerja (performance budget) dibangun atas anggaran berprogram. 2) Lebih informatif. yang merupakan bagian program yang lebih luas. Hal ini disebabkan karena dalam anggaran berprogram. Dengan demikian anggaran berprogram yang mempunyai perincian line-item dikaitkan dengan tujuan dari pada program. dibandingkan dengan anggaran line-item (line-item budget). Dasar-dasar Keuangan Publik . sekalipun ia dianggap fungsi yang lebih penting. Anggaran berbasis kinerja (performance budgeting).73 KENEGARAAN DAN PEMERINTAHAN PENYELENGGARAAN PIMPINAN DEPARTEMEN/ LEMBAGA PEMBINAAN PRODUK LEGISLATIF Dst. XXX XXX Dst. Dengan demikian tak cukup kita menggunakan suatu anggaran yang hanya menyebutkan daftar barang-barang yang akan dibelanjakan. Sekalipun demikian dapat disebut anggaran berprogram. Dengan anggaran berprogram. sebab dari arti ketertiban umum itu dapat pula untuk pembangunan prasarana fisik (kantor) yang mewah bagi kepentingan ketertiban umum yang menyimpan dari tujuan yang diharapkan. Kemudian. Salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram dalam segi pengawasan dan tingkat keluwesan (flexibility) adalah dengan cara mengkombinasikan sifat anggaran berprogram dengan sifat anggaran berdasarkan anggaran line-item. kita juga dapat menetapkan tingkat prioritas untuk membedakan bahwa program yang satu lebih penting dari program yang lain.01 03 Dst. Anggaran belanja berbasis kinerja ini hanya menambahkan keterangan berapa banyak jenis pelayanan yang akan disediakan untuk melaksanakan suatu tujuan. Sedangkan kelemahan anggaran berprogram ialah kurang mengandung arti pengawasan didalamnya. kita dapat mengetahui tujuan serta maksud membelanjakan uang tersebut. Oleh karena itu akan terdapat program yang mendapat dana jauh lebih sedikit dari yang lain. Misalnya X rupiah untuk kepentingan ketertiban umum. 01. sebab suatu program terdiri atas unsur-unsur program.01 02 01. Kelebihan sistem anggaran berprogram adalah: 1) Memungkinkan kita membuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. bukan perincian yang sempit sifatnya.

Namun dalam prakteknya.000. obyek-obyek pengeluaran (seperti persediaan dan bahan). Kedua. yang merupakan landasan untuk penilaian kegiatan. dapat dijelaskan melalui konsep-konsep sebagai berikut: Tujuan Sebagaimana telah diuraikan bahwa suatu anggaran belanja yang berencana (planning budget) disusun dengan penentuan tujuan-tujuan.Panjang jalan yang dibuat: 10 kilometer .Biaya pembebasan per kilometer: Rp50. zero-based budgeting menggunakan paket-paket anggaran.000.74 Ada dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja.000 600. Zero-based budgeting Tidak seperti kebanyakan proses pengganggaran yang jumlah dan rincian kegiatannya didasarkan atas anggaran tahun sebelumnya seperti dinaikkan atau sama. Contoh anggaran belanja berbasis kinerja adalah sebagai berikut. anggaran berprogram (program budget).000. langkah selanjutnya adalah menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar. Konsep ini banyak didukung oleh para pemerhati anggaran yang tidak menginginkan adanya pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu oleh pemerintah.000 Jumlah Sub Total Total Biaya peningkatan prasarana jalan Jumlah Rp 500. pertama. Program: Peningkatan prasarana jalan Kegiatan I: Pembebasan tanah Ukuran hasil: . artinya berapa banyak suatu hasil yang dapat dibuat dengan biaya itu. Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) PPBS dimaksudkan sebagai usaha memperbaiki sistem penyusunan anggaran belanja pemerintah yang telah diuraikan diatas.000. Jelasnya unit ukuran yang digunakan harus menguraikan secara nyata (konkrit) apa yang akan dikerjakan. karena orang ingin mengetahui mengapa suatu kegiatan dilaksanakan. Konsep tujuan sangat penting dalam sistem ini. dan data-data hasil kerja.000 d. Dengan demikian anggaran berbasis kinerja adalah anggaran pelaksanaan yang mencakup kombinasi antara anggaran belanja line-item (line-item budget).000. Disamping itu Dasar-dasar Keuangan Publik .000 Jumlah Sub Total Kegiatan II: Pembangunan jalan Ukuran hasil: . harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis. Dalam membicarakan teori PPBS.000 Rp Rp 100. yaitu.Biaya per kilometer: Rp10. konsep penganggaran ini sulit dilaksanakan sehingga tidak banyak digunakan. Seluruh program kegiatan pemerintah harus dijustifikasi setiap tahun dengan tidak mendasarkan atas kemiripan kegiatan yang telah selenggarakan tahun sebelumnya.Panjang lahan yang dibebaskan: 10 kilometer .

Ukuran efektivitas biaya menunjukkan jumlah hasil-hasil yang dapat dicapai dengan mengeluarkan sejumlah rupiah tertentu. yang dikelompokkan menurut tujuannya. Pandangan yang paling umum mengenai hasil dari suatu institusi ialah konsep output yang universal. Yang dimaksud dengan biaya kesempatan ialah hilangnya kesempatan untuk membelanjakan uang atau waktu atau sumber-sumber lain untuk suatu alternatif tujuan. Pengukuran biaya dan manfaat kegiatan pemerintah. akan tetapi yang dimaksud disini ialah setiap penyelesaian kerja yang nyata dari seorang karyawan pemerintah adalah hasil (output) pemerintah. bahwa dalam menghitung biaya produksi sesuatu produk (manfaat). kita harus melihat secara menyeluruh biaya-biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan secara nyata. Hal ini dapat juga berupa sejumlah formulir pajak yang diproses sampai kepada pembangkit listrik yang menghasilkan sejumlah kilowatt listrik bagi kepentingan masyarakat. Adapun kelebihan penentuan tujuan. Pendekatan sistem anggaran ini adalah mengaitkatkan satu sama lain segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi. yaitu semua manfaat dan semua biaya yang harus diperhitungkan. Landasan berpikirnya adalah. Analisis menghitung hubungan antara besarnya input (biaya) dan besarnya output (hasil-hasil yang dicapai) disebut input output analysis. Misalnya kegiatan menghadiri rapat akan menghilangkan kesempatan untuk melakukan pekerjaan lain yang memperoleh hasil. Konsep output yang universal beranggapan bahwa setiap penyelesaian kerja yang nyata dari suatu karyawan pemerintah dapat dipandang sebagai output. Output. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hasil ialah barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan untuk disalurkan keluar pemerintah. ditunjukkan hubungan antara cita-cita atau tujuan pemerintah dengan kegiatan pemerintah. 2) Berguna dalam menilai keputusan-keputusan alokasi sumber. disamping mengukur biaya-biaya maupun manfaat menurut nilai sekarang. Oleh karena itu PPBS menghendaki agar dalam pengambilan keputusan yang rasional memasukkan biaya kesempatan (opportunity cost) sebagai bagian dari biaya-biaya yang relevan terhadap output. dimana manfaat-manfaat yang dinyatakan dalam nilai uang dibagi dengan biayaDasar-dasar Keuangan Publik . dibuat juga suatu perbandingan manfaat dan biaya. 3) Berguna bagi tujuan akhir dari kegiatan-kegiatan sesuatu pemerintahan. Konsep biaya sebagaimana digunakan dalam PPBS adalah bersifat komprehensif (lengkap). ialah: 1) Berguna untuk mengukur efisiensi dan produktivitas dalam pengertian manajemen. Akan tetapi efektivitas biaya (cost effectiveness) harus dipertimbangkan pula terhadap hasil-hasil dari sudut manfaat biaya (cost-benefits). Untuk itu. Sekalipun belum ada kesepakatan mengenai definisi hasil (output).75 dalam sistem anggaran belanja.

Jika perbandingan itu lebih besar dari satu (>1) maka simpulannya adalah bahwa proyek tersebut layak. maka simpulannya adalah bahwa proyek itu tidak layak. PPBS menitikberatkan pada pertimbangan rasional yang didasarkan atas data dan informasi. Objektivitas yang selengkap-lengkapnya barang kali tidak mungkin diperoleh. defisit/surplus. Penyusunan anggaran negara merupakan rangkaian aktifitas yang melibatkan banyak pihak. sehingga asumsi itu bersifat rasional dan objektif. Istilah APBN yang dipakai di Indonesia secara formal mengacu pada anggaran pendapatan dan belanja pemerintah pusat. transparan. tidak termasuk anggaran pendapatan dan pelanja pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan milik negara. karena manfaatnya melebihi biayanya.76 biaya. Siklus Anggaran Kebijakan fiskal pemerintah suatu negara secara ringkas tercermin dalam anggarannya. Sebelum dibahas oleh lembaga legislatif. Rancangan ini memuat asumsi umum yang mendasari penyusunan anggaran seperti perkiraan penerimaan. termasuk lembaga legislatif. akan tetapi kecenderungan untuk menutupi atau menyembunyikan data kunci harus dapat dihindarkan. karena biayanya lebih besar dari pada manfaatnya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Mekanisme analisis data dan informasi harus jelas. dan pembiayaan defisit. Peran lembaga legislatif dalam proses penyusunan anggaran menyebabkan proses penyusunan menjadi lebih demokratis. dan proyek. dan kebijaksanaan pemerintah. pengeluaran. transfer. data aktual dan proyeksi perekonomian. Umpamanya : manfaat Biaya = Rp50 juta Rp25 juta = 2 = 2 (>1) 1 Sebaliknya seandainya rasio itu adalah kurang dari satu (<1). Umpamanya : manfaat Biaya = Rp25 juta = Rp50 juta = 1 (<1) 2 Analisis yang terbuka dan jelas Analisis yang terbuka dan jelas merupakan asumsi yang merupakan unsur-unsur kunci dan merupakan prasyarat pokok bagi keberhasilan PPBS. obyektif. yang di Indonesia disebut APBN. dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu juga dimuat perkiraan terperinci pengeluaran dan penerimaan departemen/lembaga. dan informasi terkait lainnya. pemerintah berkewajiban menyusun dan mengajukan rancangan anggaran. Hal ini disebabkan karena hasil analisis itu mungkin diuji oleh analis-analis lain dan mungkin diulangi lagi dengan menggunakan susunan asumsi yang berbeda. Hal ini berarti bahwa semua asumsi yang dipergunakan sebagai dasar pertimbangan harus dibuat dan didukung oleh data atau informasi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran (budget execution). Ada tiga cara dalam menyusun anggaran yaitu: 1. Anggota dewan dapat mengundang pihak esksekutif pada waktu pembahasannya. Penyusunan Anggaran Pada umumnya proses formulasi anggaran dilakukan oleh eksekutif yang khusus menangani anggaran negara. Pengesahan Anggaran (budget enactment). atau memilih untuk mendengarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Secara umum siklus anggaran terbagi atas empat tahap yaitu: 1.77 Proses perjalanan suatu Anggaran yang dimulai dari penyusunan hingga pertanggungjawaban disebut dengan siklus anggaran. Pada kebanyakan negara. penyusunan anggaran dimulai dari unit organisasi yang paling bawah kemudian diteruskan secara berjenjang ke unit organisasi yang lebih tinggi. Bottom – Up (dari bawah ke atas) Pada cara ini. 4. unit organisasi yang paling bawah harus memperhitungkan besar kecilnya kegiatan yang akan dilakukan. 3. Kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya sering dijadikan landasan penyusunan anggaran tahun berikutnya. Campuran Cara ini merupakan gabungan dari 2 cara di atas. 2. Unit organisasi yang telah ditetapkan batas anggarannya tidak boleh melakukan pengeluaran melebihi dari batas tersebut 3. serta mendistribusikannya sesuai urutan prioritas kegiatan dan tersedianya dana. Pemerintah dapat saja melakukan perubahan drastis terhadap beberapa pengeluaran jika dipandang perlu dipilih sebagai reaksi atas perubahan indikatorindikator perekonomian. Dalam mengajukan usulan. Top – Down (dari atas ke bawah) Cara ini merupakan kebalikan dari cara bottom – up. anggaran disusun untuk masa satu tahun. 2. inflasi dan karakteristik makro ekonomi lainnya seperti harga minyak mentah dunia. tergantung kompleksitas struktur pemerintahan yang dilayani. Lembaga tersebut biasanya dibawah naungan Departmen Keuangan yang bertugas mengkoordinasikan dan mengorganisasikan usulan anggaran pembiayaan dan pengeluaran dari instansiinstansi terkait. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran (budget auditing and assessment). Namun hal ini tidak mencerminkan bahwa seluruh kegiatan harus dibiayai secara bertahap. Pada cara ini. Penyusunan Anggaran (budget formulation). Proses penyusunan dapat memakan waktu hingga beberapa bulan. unit organisasi yang paling tinggi menetapkan batas tertinggi (plafond) anggaran yang dapat dibelanjakan oleh unit organisasi yang lebih rendah. Beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran antara lain: ekspektasi pertumbuhan ekonomi. Pengesahan Anggaran Proses ini dimulai ditandai dengan pengajuan usulan anggaran oleh eksekutif untuk dibahas di lembaga legislatif.

yaitu pengawasan yang dilakukan oleh unit inspeksi yang betugas melakukan pengawasan di lingkungan departemen yang bersangkutan. Kemungkinan dari adanya perbedaan yang signifikan adalah adanya penyelewengan kekuasaan oleh lembaga eksekutif. Hal ini biasa terjadi dikarenakan adanya kemungkinan anggota legislatif yang ditunjuk dalam komisi pembahasan anggaran tidak menguasai kerangka kerja anggaran. Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi dalam 2 bagian yaitu: 1. Dalam hal tersebut. memonitor efektifitas alokasi anggaran ke departemen-departemen lainnya. beberapa negara memungkinkan anggota dewan menyusun anggarannya sendiri atau memutuskan untuk menggunakan anggaran tahun sebelumnya. Pengawasan melekat (waskat). Faktor politik juga dapat ikut berperan dalam proses pembahasannya. Atau departemen-departemen dibuat lebih independen dalam realisasi belanja publik. Tetapi pertanyaan harus diajukan oleh tim pengawas manakala terjadi perbedaan yang signifikan tetapi tanpa dasar alasan yang dapat diterima. Pengawasan fungsional (wasnal) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh institusi. Proses pembahasan selesai setelah usulan anggaran diundangkan atau diamandemen. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Bisa juga disebabkan oleh tidak efisiennya mekanisme dan kekakuan pelaksanaan teknis realisasi anggaran di lapangan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sedangkan untuk penerimaan publik diharapkan dapat melebihi atau minimal sama dengan anggaran yang telah disetujui. Instansi dan departemen terkait. melakukan belanja publik terbatas maksimal sebesar tertera pada anggaran. Pengawasan intern. Untuk mengefektifkan pelaksaaan anggaran. anggaran tidak dijalankan sama persis dengan jumlah yang disetujui. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran Proses berikutnya adalah pelaksanaan anggaran yang telah disetujui dewan. Kesemua itu tidak mempengaruhi dibutuhkannya legalisasi usulan anggaran oleh dewan legislatif. Menurut subyeknya. Prosedur pengawasan eksekusi anggaran dapat berbeda di tiap negara. Pengawasan ekstern. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. Beberapa deviasi menyebabkan beberapa pos pengeluaran tidak terealisasi sebagaimana tertera dalam anggaran. 2. 2. Anggota dewan berhak menolak usulan anggaran yang diajukan pemerintah. Sedangkan tugas Departemen Keuangan hanya memonitor melalui laporan yang sampaikan oleh departemen-departemen. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar departemen.78 opini publik untuk kemudian diambil keputusan. dibutuhkan kegiatan pengawasan. Menteri Keuangan secara terpusat dapat menerapkan kontrol ketat terhadap prosedur aliran dana keluar. dan memberi persetujuan terhadap pengeluaranpengeluaran yang besar. Pada prakteknya.

Untuk mencapai hasil yang diharapkan. Pengawasan selama kegiatan dilaksanakan. Menurut caranya. kombinasi konflik antara manajemen dan politik perlu diakomodasi secara memadai. pihak eksekutif harus dapat melaporkan pelaksanaan kebijakan fiskalnya secara lengkap. yang disebut sebagai post audit. atau dari masyarakat.79 3. maupun pemeriksaan. Pengawasan sebelum kegiatan dimulai. aparat pengawasan fungsional. Tapi lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara. 3. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. sidak. problem anggaran yang dihadapi meliputi penentuan asumsi-asumsi ekonomi dan indikator fiskal. yang disebut sebagai pengawasan represif. yang disebut sebagai pengawasan preventif 2. Sedangkan pada pelaksanaan dan pemeriksaan lebih mengarah pada isu-isu manajemen dan akuntansi. Negara-negara Dasar-dasar Keuangan Publik . Menurut waktunya. Pengawasan masyarakat. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Siklus terakhir dari anggaran adalah pemeriksaan dan pertanggungjawaban atas efektifitas anggaran khususnya penggunaan pendapatan publik. Manajemen anggaran modern lebih menekankan pada perlunya sosialisasi dan distribusi informasi mengenai anggaran publik agar lebih dapat ditingkatkan efektifitas dan efisiensi prosesnya. Agar proses pemeriksaan atas pertanggungjawaban dapat dengan mudah dilakukan. Pengawasan langsung. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. aparat pengawasan legislatif. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat yang disampaikan secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah. Pada umumnya negara berkembang. Problem pada fase penyusunan dan pembahasan lebih banyak akibat adanya campur tangan politik. Jika dimungkinkan. Masalah Umum Anggaran Setiap siklus anggaran memiliki problem tersendiri. Pengawasan legislatif (wasleg) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Legislatif. BPK merupakan lembaga tinggi negara yang melakukan pengawasan terhadap pemerintah. 2. Pengawasan tidak langsung. yaitu pengawasan yang dilakukan on the spot melalui inspeksi. Di Indonesia. yaitu pengawasan yang dilakukan berdasarkan laporan dari pejabat yang bersangkutan. Laporan ini harus diaudit secara reguler oleh badan independen semacam Auditor General (di Indonesia disebut BPK) yang memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan yang akurat dan tepat waktu. 4. Pengawasan setelah kegiatan dilaksanakan. Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif tidak dimaksudkan untuk menekan pihak eksekutif atau sekedar mencari-cari kesalahan pejabat publik.

menghadapi kerentanan tehadap fluktuasi perdagangan dunia. Dasar-dasar Keuangan Publik . Beberapa permasalahan mungkin diakibatkan oleh faktorfaktor diluar kontrol. koordinasi pembangunan terencana dalam jangka panjang serta berkesinambungan.80 tersebut seperti halnya Indonesia. Hal tersebut dapat juga disebabkan oleh lembaga-lembaga legislatif dan pemeriksa yang tidak independen atau tidak mempunyai kapasitas sebagaimana mestinya. akan tetapi banyak juga ketidakefisienan yang disebabkan oleh praktek penyusunan anggaran yang tidak fair. menentukan jumlah ideal penyerapan pendapatan publik melalui pajak. Sebagian anggaran mengalami kebocoran atau penggunaan yang tidak selaras dengan pembangunan perekonomian berkesinambungan.

kebijakan anggaran juga mempengaruhi tingkat distribusi output total dengan membaginya di antara konsumsi dan tabungan (yang membentuk modal) yang selanjutnya mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. khususnya pengeluaran publik. hal ini ditentukan dalam suatu sistem Model-Model Pengganda dengan Investasi yang Tetap Mari kita mulai dengan model yang paling sederhana di mana konsumsi merupakan fungsi dari pendapatan. akan menjadi alat yang cukup efektif untuk mempengaruhi perilaku tersebut. Anggaran. seperti telah dibahas pada Bab VII. anggaran akan sangat dikaitkan dengan perilaku perekonomian secara makro dan. Perubahan tingkat permintaan agregat pada akhirnya menentukan kesempatan kerja dan tingkat harga. Mau tidak mau. Lebih jauh lagi. Saling keterkaitan inilah yang akan kita simak pada bab ini. Investasi akan dianggap sebagai variabel endogen (variabel yang dipengaruhi oleh pendapatan). Dasar-dasar Keuangan Publik . pada gilirannya. mempengaruhi tingkat permintaan agregat. Sementara jumlah atau tingkat investasi dianggap tetap. pertama-tama tanpa anggaran dan kemudian dengan anggaran. Kebijakan fiskal itu sendiri kemudian dapat digunakan untuk mempengaruhi tingkat investasi. Kebijakan fiskal terhadap tingkat permintaan agregrat dalam keadaan dimana terdapat tingkat pengangguran yang tinggi diharapkan lebih berpengaruh terhadap perubahan output riil dibanding pada penyesuaian tingkat harga. Dengan mempertimbangkan bahwa dalam suatu sistem tingkat investasi adalah sesuatu yang given (tidak dapat dipengaruhi) dan apabila tidak ada suatu pemerintahan.81 B A B X KEBIJAKAN STABILISASI T opik ini membicarakan lebih jauh mengenai fungsi utama ketiga dari kebijakan anggaran yang. Penentuan Pendapatan Tanpa Anggaran Sekarang kita akan menyimak bagaimana tingkat pendapatan ekuilibrium ditentukan. stabilisasi ekonomi. maka pendapatan ekuilibrium ditentukan pada tingkat dimana tabungan masyarakat sama dengan investasi.

Untuk menjaga tingkat ekuilibrium. Di pihak lain. C adalah fungsi konsumsi ymg menunjukkan bahwa pengeluaran untuk konsumsi akan meningkat sejalan dengan pertambahan pendapatan. jika tingkat output atau pendapatan berada di bawah A. Nantinya pengeluaran tersebut akan menjadi pendapatan pada periode berikutnya. nilai uang meningkat dan tingkat harga menurun. kita akan memperoleh garis pengeluaran total Y=C+I. yakni I. Dengan demikian. C+I terletak di atas garis 450). Gambar 10-1 Penentuan Pendapatan tanpa Sektor Publik Perpotongan terjadi dimana pendapatan adalah A. pendapatan) melebihi tingkat A. pengeluaran harus sama dengan pendapatan sehingga tabungan (atau pendapatan dikurangi konsumsi) harus tertutupi oleh investasi. Pengeluaran untuk investasi. pengeluaran total tidak akan memadai untuk membeli jumlah output tersebut (yakni garis C+I terletak di bawah garis 450). pendapatan ekuilibrium tercapai pada perpotongan garis pengeluaran total (atau C+I) dengan garis 450. Dengan demikian output serta pendapatan pada akhirnya akan menurun sampai ke A. Jika jumlah output (atau dengan kata lain. nilai uang menurun dan tingkat harga meningkat Dasar-dasar Keuangan Publik .82 Penentuan pendapatan dalam bentuknya yang paling sederhana diperlihatkan pada Gambar 10-1 di mana pendapatan diletakan pada sumbu horizontal dan pengeluaran pada sumbu vertikal. dianggap konstan dan independen terhadap tingkat pendapatan. Pendapatan ekuilibrium tercapai apabila pendapatan yang diterima pada suatu periode sama dengan jumlah pengeluaran. pengeluaran total akan melampaui tingkat output periode berjalan (yakni. Dengan menambahkan I ke C secara vertikal.

Artinya pengeluaran publik tersebut menaikkan output dari A Dasar-dasar Keuangan Publik . maka penggandanya adalah 5. persamaan (1) menunjukkan bahwa pendapatan total sama dengan jumlah konsumsi dan investasi. Jika c=0. persamaan (3) diperoleh dengan mensubstitusi persamaan (2) ke dalam persamaan (1). dan jika a=$50 milyar dan I=$100 milyar. sementara persamaan (2) menggambarkan fungsi konsumsi.2 Penentuan Pendapatan dengan Pengeluaran Publik Pengeluaran publik Pertama-tama kita masukkan unsur pengeluaran publik G ke dalam sistem kita. Konstanta a adalah perpotongan garis C pada Gambar 10-1 dengan sumbu vertikal. Gambar 10. Pada Tabel 10-1.8. Penentuan Pendapatan dengan Anggaran Sekarang kita masukkan pengeluaran dan penerimaan publik ke dalam sistem tersebut guna melihat bagaimana tingkat pendapatan dipengaruhi oleh berbagai kebijakan anggaran. dan jumlah konstanta-konstanta (a+I) adalah jumlah yang digandakan (multiplicand). Seperti terlihat pada Gambar 10-2. Pecahan 1/(1-c) adalah apa yang disebut sebagai pengganda (multiplier). sedangkan kecenderungan marjinal untuk mengkonsumsi c menunjukkan kemiringannya. Dengan demikian diperoleh garis pengeluaran total Y=C+I+G.83 sehingga akhirnya menggeser tingkat output dan pendapatan meningkat sampai ke A. maka pendapatan Y=$750 milyar [($50+$100)*5].

8. kenaikan G sebesat $1 milyar akan menaikkan pendapatan ekuilibrium sebesar $5 milyar. sedangkan persamaan (6) menghasilkan formula pendapatan yang baru. seperti diperlihatkan juga pada persamaan (4) sampai (7) dari Tabel 10-1. Dengan menambahkan I dan C. Konsumsi menurun sebesar pajak yang dikenakan. C'+I. Perpotongan garis pengeluaran yang baru. Pengeluaran publik G akan menjadi bagian dari konstanta yang digandakan. masuknya pengeluaran publik bisa digunakan untuk menaikkan pendapatan. kita mendapatkan C+I dan tingkat pendapatan sebesar A. Persamaan (4) dan (5) menyatakan kembali persamaan dasar.84 menjadi B. Jika pendapatan nasional masih berada di bawah tingkat pendapatan pada kesempatan kerja penuh. Konsumen yang menerima pendapatan A setelah membayar pajak akan mempunyai pendapatan Dasar-dasar Keuangan Publik . pengeluaran publik bisa digunakan untuk mencapai tingkat pendapatan yang lebih tinggi. fungsi konsumsi merosot dari C ke C’. Dengan demikian. dengan garis 450 menjadi lebih rendah dan pendapatan menurun dari A ke D. Jika C=0. tanpa memperdulikan pendapatan. Persamaan (7) yang diperoleh dengan menyajikan persamaan (6) dalam bentuk diferensial. Sekarang apabila terhadap penerimaan dikenakan pajak. yakni pajak dalam suatu jumlah yang tetap. menunjukkan kenaikan pendapatan yang ditimbulkan. Gambar 10-3 Penentuan Pendapatan dengan Pajak Lump-Sum Pajak Lump-Sum Selanjutnya mari kita perhatikan peranan pengenaan pajak dalam bentuk lumpsum.

Akan tetapi disinipun perubahan pendapatan yang ditimbulkannya lebih kecil daripada yang ditimbulkan oleh kenaikan G. di mana C adalah fungsi konsumsi sebelum penurunan pajak dan C” setelah penurunan pajak. yang menunjukkan bahwa kenaikan R akan bersifat ekspansioner (memperbesar pendapatan). Karena itu. Sistem dengan Pajak Penghasilan. kenaikan pendapatan akibat turunnya pajak untuk setiap dollar lebih rumit dibanding kenaikan pendapatan akibat tambahan pengeluaran publik. Pengenaan pajak semacam ini tidak menggeser fungsi konsumsi secara paralel.85 disposabel sebesar D. Agar pendapatan meningkat maka diperlukan penurunan tarif pajak t seperti yang diperlihatkan pada Gambar 10-4. Persamaan (11) diperoleh dengan mengubah persamaan (10) ke dalam bentuk diferensial dan melakukan pemecahan untuk ΔT. pengaruh kenaikan pajak terhadap penurunan tingkat pendapatan tidak sebesar penurunan yang diakibatkan oleh berkurangnya pengeluaran publik. tetapi bergerak ke bawah dengan tetap berpusat pada titik potong dengan sumbu vertikal yang sama. Pada persamaan (9). atau pendapatan setelah pajak. yang tentunya berbeda dari dari pembelian pemerintah (G). Sekarang kita harus beralih ke kasus yang lebih realistis dimana penerimaan pemerintah berasal dari pajak penghasilan bukan dari pajak lump-sum. Dalam tabel 10-1 terlihat. kita melihat kaitan pajak dengan pendapatan. kemiringan fungsi konsumsilah dan bukan titik perpotongannya yang menurun. dapat dianggap sebagai pajak negatif dalam analisis ini. tetapi mengurangi jumlah yang digandakan. Pengaruh pungutan pajak lump-sum diperlihatkan pada persamaan (8) sampai (11) dari Tabel 10-1. Karena penambahan pendapatan akibat pengurangan pajak dalam konsumsi hanya sebesar c*ΔT saja. dimana pendapatan menurun A ke E. Pajak bertambah sejalan dengan bertambahnya pendapatan. Dengan demikian. sebagaimana halnya dengan pajak lump-sum. Dasar-dasar Keuangan Publik . Persamaan tersebut menunjukkan konsumsi sebelum pengenaan pajak sekaligus dengan penurunan pendapatan disposabel karena adanya pajak. Sisanya tercermin dalam kenaikan tabungan. Peranan Tunjangan Sosial (transfer) Tunjangan pemerintah atau pembayaran transfer (tranfer payments). pajak dimasukkan ke fungsi konsumsi sementara kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi c merupakan pendapatan disposabel. Pada persamaan (10) kita melihat bagaimana pajak memperkecil jumlah yang digandakan. yaitu sebagian dari kenaikan pendapatan disposabel yang berasal dari tunjangan akan tercemin dalam kenaikan tabungan dan bukan dalam konsumsi. Alasannya sama. Dengan alasan yang sama. tunjangan atau R dapat disubstitusikan terhadap I pada persamaan (11) tetapi dengan tanda yang terbalik. Fungsi konsumsi ditentukan melalui C'=a+c(Y-T). Pajak lump-sum tidak mempengaruhi faktor pengganda. Dengan demikian baik perubahan pajak maupun perubahan pengeluaran publik bisa digunakan untuk menyesuaikan tingkat pengeluaran yang tentunya juga mempengaruhi tingkat pendapatan serta kesempatan kerja.

8. Pengganda dalam anggaran berimbang sama dengan 1.27 milyar.3 akan menurunkan pengganda dari 5 menjadi 2. karena pengenaan pajak penghasilan dalam hal ini menurunkan kecenderungan marjinal untuk mengkonsumsi pendapatan sebelum pajak. Kenaikan berimbang dalam pelaksanaan anggaran mempunyai efek ekspansioner.27. kita perlu mempertimbangkan perubahan anggaran berimbang seperti ΔG=ΔT. hal ini memperkecil faktor pengganda. naik pulalah penerimaan pajak. Karena itu bisa meniadakan seluruh efek ekspansioner yang ditimbulkan oleh kenaikan G. tetapi hanya satu banding satu. Dasar-dasar Keuangan Publik . Efek pengganda yang melipatgandakan pendapatan tidak berlaku. Dengan naiknya pendapatan. sekiranya c=0. Penambahan G sebesar $1 milyar hanya akan menaikkan Y sebesar $2. Artinya tingkat penerimaan publik bertambah sebesar kenaikan pengeluaran publik. Kiranya hal ini cukup masuk akal karena T=tY. tarif pajak t=0. sehingga memperkecil pendapatan disposabel C. Karena itu pengaruh pajak penghasilan dapat menghambat keefektifan dari kenaikan pengeluaran publik. Dengan kata lain.86 Gambar 10-4 Pengaruh Pajak Penghasilan Proses ini diperlihatkan pada persamaan (12) sampai (18) dari Tabel 10-1. Kenaikan Anggaran Berimbang Setelah menyadari bahwa kenaikan pengeluaran adalah bersifat ekspansioner sementara kenaikan pajak bersifat restriktif (menurunkan pendapatan). Perhatikan bahwa cara memperhitungkan pajak ke dalam fungsi konsumsi pada persamaan (13) berbeda dengan cara memperhitungkan pajak lump-sum pada persamaan (9). Jadi.

87 Tabel 10-1: Penentuan Pendapatan dan Faktor Pengganda Fiskal (Investasi = Konstan) Sistem tanpa sektor publik Y C Y = = = C+I a + cY (a + I) 1–c C+I+G a + cY (a + I + G) 1–c ΔG 1–c C+I a + c ( Y – T) (a + I .t)Y (a + I) 1 – c(1-t) (1) (2) (3) Sistem dengan pembelian pemerintah Y = C = Y = ΔY Sistem dengan pajak lump-sum = (4) (5) (6) (7) Y C Y ΔY = = = = (8) (9) (10) (11) Sistem dengan pajak penghasilan Y C Y = = = (12) (13) (14) Sistem dengan pembelian pemerintah dan pajak penghasilan Y = C+I+G C = a + c (1 . Tetapi mungkin bukan demikian halnya.cT) 1–c c*ΔT 1–c C+I a + c (1 . Kenaikan pengeluaran agregat mungkin akan tercermin pada kenaikan harga dan bukan pada kenaikan output.t)Y Y = a + I + G) 1 – c(1-t) ΔY = ΔG 1 – c(1-t) (15) (16) (17) (18) Jenis-Jenis lnflasi Sejauh ini kita mengasumsikan bahwa tingkat harga konstan sehingga dampak kebijakan angaran terhadap tingkat permintaan agregat tercermin pada perubahan output dan kesempatan kerja. Pembangunan yang mengatasi pengangguran besarbesaran dan penggunaan modal yang sangat rendah tidaklah mampu untuk Dasar-dasar Keuangan Publik .

Mari kita ubah model tersebut ke dalam bentuk yang dinamis dan kita identifikasi periode pada saat mana pengeluaran dilakukan atau pendapatan diperoleh. Dalam keadaan demikian kebijakan stabilisasi diperlukan untuk mengatasi inflasi tersebut. Permintaan agregat meningkat dan akibatnya terjadilah inflasi. Di sini kita melihat bahwa kebijakan yang salah bisa menjadi penyebab inflasi. sehingga akan menimbulkan inflasi yang berkelanjutan. dan diasumsikan bahwa konsumsi sama dengan pendapatan disposable. Untuk memahami bagaimana inflasi tersebut berlangsung kita bisa menyimak kembali model penentuan pendapatan yang paling sederhana di mana kita hanya memperhitungkan konsumsi dan pengeluaran publik.Pull Inflation) Inflasi yang timbul karena meningkatnya pemintaan bisa disorot dari dua sektor. Dan sekali lagi pemerintah melalui instrumen kebijakan fiskal harus mengambil sikap apakah akan membiarkan atau menekan kenaikan harga-harga tersebut. misalnya berupa kenaikan investasi atau pergeseran fungsi konsumsi ke arah atas. Inflasi yang Ditimbulkan Sektor Swasta Proses yang sama juga bisa terjadi jika pihak swasta mengakibatkan perubahan pemintaan.88 menyediakan output yang dibutuhkan secara cepat. seluruh kenaikan pengeluaran menyebabkan penurunan nilai uang yang tercermin pada kenaikan harga. akan mendorong kenaikan harga dan selanjutnya mengakibatkan kenaikan upah. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pada kondisi perekonomian berada dalam kesempatan kerja penuh. • lnflasi yang Diakibatkan Anggaran Pertama-tama mari kita bayangkan suatu keadaan di mana kebijakan anggaran bisa menjadi penyebab inflasi. Kenaikan biaya secara tiba-tiba ini. yaitu sektor anggaran pemerintah dan sektor swasta. Karena itu diperlukan kebijakan fiskal yang cermat untuk menghindarkan inflasi sambil menanggulangi pengangguran. Kedua aspek ini akan kita pertimbangkan kemudian. lnflasi Akibat Permintaan (Demand . Anggaplah perekonomian berada pada tingkat tanpa pengangguran sedangkan pengeluaran publik akan ditingkatkan tanpa menaikkan pajak. • lnflasi yang Diakibatkan Biaya (Cost-Push Inflation) Sekarang kita akan beralih pada suatu situasi di mana gejolak awal diakibatkan oleh kenaikan biaya secara tiba-tiba oleh faktor luar. dan dalam keadaan demikian kenaikan tingkat pengeluaran cenderung tercermin pada kenaikan harga. Kita akan memulainya dengan situasi ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh dengan anggaran yang berimbang. jika disokong oleh perluasan permintaan. Selanjutnya kita mengasumsikan bahwa pemerintah menaikkan pengeluaran publik tanpa menaikkan pungutan pajak. dengan kata lain pengeluaran tambahan tersebut dibiayai dengan anggaran yang defisit. seperti kenaikan harga minyak. inflasi bisa juga timbul karena hal-hal lain di luar kebijakan stabilisasi. Di pihak lain.

semua pelaku ekonomi akan mengharapkan harga untuk naik pada tingkat yang sama. Kebijakan akan dapat mempengaruhi sistem dalam nilai riil hanya jika tindakan tersebut tidak dapat duga dan karena itu itu tidak diantisipasi oleh pelaku perekonomian. termasuk tingkat kesempatan kerja. Hal ini tidak efektif. Anggaplah semua pelaku ekonomi memperlihatkan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan ekspansioner. Meskipun demikian. sedangkan kebijakan yang bersifat acak belum tentu merupakan suatu tindakan yang tepat. jumlah upah dinaikkan berkat desakan tertentu dari serikat pekerja sedangkan produsen belum mengantisipasi kenaikan biaya ini atau karena itu belum menaikkan harga. Pengangguran memang akan ada. perekonomian akan bergerak ke arah ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh. semua perubahan yang diharapkan langsung disesuaikan terhadap ekuilibrium dan sistem itu tidak mungkin berubah dari keadaan tersebut kecuali jika terjadi perubahan mendadak yang tidak diharapkan atau bersifat acak.sama halnya dengan ilustrasi terdahulu mengenai tingkat inflasi yang mengarah ke keadaan ekuilibrium pada kesempatan kerja penuh. Perdebatan mengenai efektivitas kebijakan fiskal dibanding kebijakan moneter telah menumbuhkan pengakuan bahwa kedua alat tersebut bisa efektif dan harus dipadukan dalam proporsi yang tepat. Jika pemerintah mengumumkan tekadnya untuk menaikkan pengeluaran publik pada tingkat tertentu. Anggaplah misalnya. Pemikiran ini didasarkan pada asumsi (1) bahwa perubahan kebijakan diantisipasikan dan (2) bahwa antisipasi tersebut mendorong dilakukannya penyesuaian sesegera mungkin tanpa adanya kesenjangan dalam sistem Dasar-dasar Keuangan Publik . Dapatkah ini ditanggulangi dengan kebijakan yang ekspansioner? Jawabnya tergantung pada apa yang terjadi dengan pengharapan. Sebagai reaksi. Hasilnya. Teorema tentang Ketidakefektitan Kebijakan Jika harga-harga dan upah secara menyeluruh bersifat fleksibel.89 Pengharapan yang Rasional Banyak alasan mengapa pelaksanaan kebijakan stabilisasi merupakan tugas yang pelik. nilai riil dari biaya pekerja tidak akan berubah. yaitu bagi mereka yang sedang mencari kerja dan sedang pindah kerja. Dalam perekonomian semacam itu. tetapi pada tingkat yang wajar. Di sini tidak diperlukan kebijakan tertentu untuk mempertahankan kesempatan kerja penuh. mereka berasumsi semua harga dan upah akan naik. Nilai riil dari biaya pekerja meningkat dan pada akhirnya terjadilah pengangguran. Harga dan upah akan bergerak bersama-sama sehingga nilai riil dari semua faktor pendapatan tidak berubah . analisis makro sampai saat ini cenderung mengarah pada suatu konsensus tentang bagaimana kebijakan harus dilaksanakan dalam keadaan yang serba sulit tersebut. misalnya dengan menaikkan jumlah pengeluaran publik untuk mendorong kenaikan harga. Variabel-variabel riil lainnya dari sistem tersebut. tidak akan terpengaruh oleh kebijakan tersebut. Tetapi kebijakan yang dianggap layak cenderung merupakan hal yang dapat di pekirakan sebelumnya.

juga dilandasi oleh asumsi yang tidak realistik. Pendekatan dengan pengharapan yang rasional mempertanyakan apakah memang demikian kenyataannya? Individu yang rasional. keseimbangan menurut Paham Ricardo ini (Ricardian Equivalence). Efek crowding out terhadap investasi (dengan mengasumsikan jumlah uang yang beredar konstan) mengurangi efek ekspansioner dari pembiayaan dengan anggaran defisit. kebijakan stabilisasi. Dasar-dasar Keuangan Publik . bauran kebijakan yang semestinya. tindakan ekspansioner bisa mendorong kenaikan pemintaan melebihi kenaikan biaya sehingga memperbesar kesempatan kerja. Hampir tak bisa dibayangkan bahwa para konsumen akan mengantisipasikan konsekuensi masa mendatang dari pembiayaan dari pinjaman yang dilaksanakan saat ini. begitu juga halnya dengan. Karena ketidaksempumaan kita untuk memperkirakan masa mendatang dan dengan adanya keterpakuan dan ketidakluwesan. Karena itu. Karena itu. jika berada dalam posisi yang sama pada kedua kasus tersebut. yang mengabadikan nama seorang ekonom klasik yang terkenal yaitu Bapak David Ricardo. tidak perlu rasanya mempersoalkan metode mana yang dipilih. Tentu saja antisipasi mengenai pembahasan kebijakan serta kredibilitas dari pengumuman mengenai kebijakan yang diambil akan mempercepat tercapainya hasil yang diharapkan kebijakan tersebut dan memperbesar keefektifannya. akan bereaksi dengan cara yang sama tanpa memperdulikan apa pun metode pembiayaan yang dipilih. Dalam dunia nyata. maka teorema ini tidak bisa dianggap sebagai suatu penilaian yang realistis atas keampuhan dari kebijakan. Lebih jauh lagi. Jika antisipasi itu tidak sempurna atau jika kesenjangan terjadi. Pada kedua kasus tersebut terjadi pengurangan nilai bersih dalam jumlah yamg sama. Nilai sekarang itu sama dengan jumlah yang harus dibayar sekarang jika kenaikan anggaran dibiayai dengan pajak. tetapi tetap lebih besar jika dibanding dengan pembiayaan melalui pajak. jika dihadapkan pada penambahan anggaran yang dibiayai secara defisit.yaitu bahwa konsumen yang rasional. pembiayan dengan pajak atau pinjaman mempunyai efek ekonomi yang seimbang . Dia akan menghitung nilai sekarang dari kenaikan pajak masa mendatang tersebut. meskipun sukar. Dampak penurunan bukanlah merupakan masalah. Pada pembahasan sebelumnya kita telah melihat bahwa kedua kebijakan itu berbeda. Kenaikan pengeluaran publik lebih ekspansioner jika dibiayai dengan pinjaman daripada dengan pajak. Pemberi pinjaman dan pembayar pajak bukanlah orang ymg sama. Keseimbangan Menurut Paham Ricardo Dalil kedua mengenai pengharapan yang rasional dilandaskan pada pilihan antara pembiayaan dengan pajak atau pembiayaan dengan pinjaman. nilai dari hutang di masa mendatang mungkin juga menurun karena inflasi. undang-undang pajak masa mendatang dan distribusi beban mereka tidaklah pasti. Tetapi. menyadari bahwa pada masa mendatang pajak pasti dinaikkan guna membayar beban bunga dan tambahan hutang. namun bisa efektif. dan tambahan pembayaran bunga mungkin juga akan dibiayai dengan pinjaman lain.90 perekonomian. Karena itu teorema yang menyatakan ketidakmungkinan di atas akan tergantung pada validitas empiris dari asumsi (1) dan (2).

91 Semua faktor ini menunjukkan bahwa mustahil kiranya setiap orang akan memberikan reaksi yang sama bagi pembiayaan dengan pajak dan pembiayaan dengan pinjaman sehingga tidak ada pengenaan efek kebijakan terhadap tingkat permintaan agregat atau terhadap pembagian output di antara konsumsi dan investasi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh nyata. bukan tingkat tabungan yang tinggi seperti yang dihipotesiskan oleh pengharapan yang rasional. defisit besar-besaran pada tahun 1980-an di AS justru disertai oleh tingkat tabungan perorangan yang rendah.

Karena itulah masalah-masalah pembiayaan pembangunan perlu dibicarakan secara khusus dan terpisah. tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab dan akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah. Sejumlah kesulitan yang mengganggu kemajuan ekonomi suatu negara harus dipecahkan oleh sektor publik. namun masalah kelembagaan dan sosial yang dihadapi oleh suatu negara dapat memperpelik dan membatasi tugas kewenangan dalam menetapkan kebijakan anggaran dan stabilisasi. sektor publik memegang peranan penting terhadap semua unsur pembangunan ini. tidak cukup hanya dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan. Untuk mencapai pertumbuhan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Gambaran semacam itu yang terdapat baik pada negara berpendapatan tinggi maupun rendah. Besarnya Sektor publik dan Pendapatan per Kapita Sebagaimana telah di ulas pada bagian terdahulu mengenai perkembangan sektor publik di negara-negara maju. Pembentukan Modal Pembangunan Persyaratan fundamental untuk pembangunan ekonomi adalah tingkat pengadaan modal pembangunan yang seimbang dengan pertambahan penduduk. masih banyak persyaratan lain yang diperlukan. sektor publik cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. Unsur-Unsur Pembangunan Persyaratan yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi di negaranegara berpendapatan rendah termasuk dalam rangka kelanjutan pertumbuhan perekonomiannya sama halnya seperti persyaratan yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di negara yang relatif sudah maju. Dalam hal ini. Namun di luar itu.92 B A B XI PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN K euangan publik memainkan peranan penting dalam perekonomian negara.

sangatlah penting karena hal itu menjadi kerangka persiapan bagi investasi manufaktur pada tahap berikutnya. sebagaimana halnya dengan investor domestik. prioritas akan selalu berubah. Untuk sementara waktu kita akan mengabaikan perencanaan masalah investasi dan memusatkan perhatian pada dari mana kita akan memperoleh sumber daya tambahan untuk investasi tersebut. Jika sumber daya yang terbengkalai tidak bisa dimanfaatkan atau jika sumber daya tambahan tidak dapat diperoleh dari luar negeri. tak bisa dipungkiri bahwa salah satu masalah besar adalah bagaimana mengalihkan sebagian konsumsi periode berjalan untuk digunakan sebagai sumber daya pembangunan. sumber modal pembangunan semacam ini mempunyai keterbatasan tersendiri dan penyediaan lapangan kerja bagi para pengangguran mungkin akan memerlukan investasi pendukung tertentu. Sampai pada tingkat tertentu. demikian juga dengan bauran investasi yang optimum. pembentukan modal pembangunan meliputi investasi pada sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (training) seperti halnya investasi dalam bentuk fisik. Pada perekonomian yang dikendalikan secara terpusat di mana badan usaha milik negara memegang dominasi. Lebih jauh lagi. pemerintah hanya perlu berperan sebagai pengorganisasi bagi pemanfaatan sumber daya. Hal ini akan mencakup ketentuan mengenai peningkatan investasi domestik yang sebagian besar dibiayai dengan pajak. Tetapi dilain pihak. banyak negara berpendapatan rendah mempunyai sedemikian banyak tenaga kerja yang terbengkalai dan lapangan kerja bagi mereka bisa tersedia hanya dengan usaha pembangunan yang sangat sederhana seperti pembangunan drainase. Para investor swasta dari luar negeri. Dalam kondisi seperti ini. dan walau bagaimanapun juga bantuan tersebut tidak akan diperoleh tanpa adanya usaha pendukung dari negara bersangkutan. pengalihan ini dapat dilakukan dengan menahan sebagian hasil pengembalian (returns) yang dibayar kepada faktor produksi sehingga pembayaran lebih kecil Dasar-dasar Keuangan Publik . Selanjutnya. entah itu oleh pemerintah (di negara-negara sosialis) atau oleh swasta (dalam perekonomian pasar bebas). Pada tahap-tahap awal pembangunan. Bisa saja hal itu berupa investasi di sektor publik dan swasta. Lebih jauh lagi. Kemungkinan lain adalah dengan mengusahakan sumber daya investasi dari luar negeri dalam bentuk pinjaman dan bantuan pemerintah atau sebagai investasi swasta.93 Pembentukan modal tersebut harus didefinisikan secara luas sehingga mencakup semua pengeluaran yang sifatnya menaikkan produktivitas. Terdapat berbagai cara penggunaan sumber daya untuk meningkatkan produktivitas. irigasi. mobilisasi sumber daya yang terbengkalai pasti masih memungkinkan. Akan tetapi. dan bendungan. maka konsumsi periode berjalan harus dikurangi agar sumber daya bagi investasi tersedia. dan perpaduan berbagai cara tersebut harus ditentukan dalam proses perencanaan pengeluaran dan sumber daya. Misalnya. jalan. memerlukan investasi yang memadai dalam bentuk infrastruktur dan bantuan pemerintah baru akan diberikan jika telah ada rencana pembangunan yang dirumuskan dengan baik. khususnya investasi pemerintah dalam bentuk infrastruktur. semua itu tentunya tidak akan mencukupi.

Kebijakan Struktur Perpajakan Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Walaupun merupakan suatu hal yang esensial untuk mengetahui berapa tingkat penerimaan pajak yang diperlukan guna menjamin tingkat pertumbuhan tertentu. yaitu berkisar dari 8 sampai 18 persen.94 dari hasil produk marjinal. tetapi tidak terlihat adanya suatu hubungan yang mencolok di dalam kelompok tersebut. dan di beberapa negara sampai 8 persen. Jika demikian. Tabungan swasta secara sukarela. tetapi hal itu tidak bisa dianggap sebagai variabel dependen di dalam sistem tersebut yang berubah secara otomatis sesuai dengan pengenaan pajak yang diperlukan. Di negara-negara Amerika Latin rasio umumnya adalah sekitar 14 persen. Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP. Di samping itu pemerintah juga bisa berperan dalam penyediaan dan pembentukan lembaga keuangan yang cocok guna menarik tabungan rumah tangga dan menggunakannya secara produktif. Rasio pada negara-negara di Asia dan Afrika dengan pendapatan per kapita yang serupa cenderung lebih tinggi. kenaikan tingkat tabungan bisa terjadi secara sukarela di sektor swasta. Dalam hal ini. jika keadaan cukup mendukung. pembentukan modal dari hasil internal pasti akan berasal dari tabungan pemerintah atau swasta. bagaimana kita dapat menilai kemampuan membayar pajak dari suatu negara dan bagaimana kelancaran pembayaran pajak dapat diukur? Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa besarnya sektor publik di negaranegara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita. perpajakan akan sangat berperan untuk memberikan insentif bagi tabungan atau disinsentif bagi konsumsi barang-barang mewah. khususnya pada tahap awal pembangunan. Rasio penerimaan pajak terhadap GNP di negara terbelakang cenderung sangat rendah. Sementara rasio semacam itu di negara-negara maju adalah 40 persen atau lebih. Usaha terakhir ini sangat penting bagi para penabung kecil karena bagi mereka umumnya tidak tersedia sarana penabungan perorangan selain daripada meminjamkannya dengan risiko tinggi atau dengan menukarnya dengan barang berharga seperti logam mulia. tidak mungkin akan cukup. meskipun bermanfaat dan penting. Tabungan perusahaan juga dapat dirangsang melalui sistem penarikan pajak laba usaha yang mendorong ditahannya dan diinvestasikannya kembali laba usaha. namun kelayakan tingkat pengenaan pajak itu sendiri merupakan faktor penting yang harus diperhitungkan dalam menentukan target pertumbuhan. Pada kenyataannya persentase sektor publik jauh lebih kecil pada negara-negara berpendapatan rendah sebagai suatu kelompok. Di sinilah diperlukan suatu usaha pemerintah untuk menjaga stabilitas moneter sehingga kebiasaan menabung tidak diredupkan oleh inflasi yang tak berkesudahan. Dalam kadar tertentu. Tetapi pada perekonomian yang didesentralisir. Pola yang sama juga akan kita jumpai sehubungan dengan rasio penerimaan pajak terhadap GNP. kebijakan perpajakan harus dipertimbangkan secara bersama-sama dengan aspek-aspek lain dari kebijakan pembangunan. Dalam kondisi ini.

dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. Dengan demikian. ukuran komparatif atas upaya perpajakan dapat diperoleh dengan membandingkan rasio aktual dari penerimaam terhadap GNP pada suatu negara tertentu dengan rasio yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Di pihak lain. Tetapi asumsi ini tidak berlaku jika distribusi pendapatan sangat timpang yang mana akan mengakibatkan besarnya konsumsi barang-barang mewah. demikian juga halnya dengan penetapan kuota pajak bagi para petugas pajak. dan benarkah rasio yang rendah itu pada kenyataannya menandakan upaya perpajakan yang rendah? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita mengartikan upaya perpajakan itu. Negara berpendapatan rendah menghadapi keterbatasan dalam mentransfer sumber daya untuk digunakan pemerintah. Sekiranya dana pemerintah tidak dimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan hidup yang samasama mendasar (misalnya program kesehatan) maka penggunaan dana tersebut akan menimbulkan beban berat yang tidak sepatutnya. Karena alasan ini dan alasan-alasan lainnya. Meskipun demikian. Keadaan ini sangat perlu diperhatikan sebagai sumber penerimaan yang potensial. Pengenaan pajak tanah yang efektif sukar dilaksanakan jika hasil pangannya dikonsumsi sendiri. Penarikan pajak laba tidaklah layak sebelum praktek akuntansi mencapai standar minimal. semua pendapatan pribadi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. sandang. Lembaga pemberi pinjaman internasional mungkin saja mensyaratkan agar bantuan yang diberikan dibarengi dengan upaya perpajakan yang sepadan dengan negara penerima bantuan. dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. maka penilaian yang realistis atas upaya perpajakan (tax effort) harus memperhitungkan penanganan pajak (tax handles) yang tersedia untuk itu. dan hal ini sulit tercapai jika perusahaan-perusahaan yang ada berukuran kecil dan tidak stabil. adanya penanganan pajak akan selalu berkaitan dengan struktur perekonomian suatu negara. Terlepas dari tingkat dan distribusi pendapatan. pengenaan pajak sangat sederhana pada perekonomiam yang sangat terbuka di mana impor dan ekspor berlangsung melalui pelabuhan-pelabuhan utama dan terbuka bagi petugas fiskus. Pemberian jasa pungut pajak (tax farming). Dengan demikian. kelayakan pengenaan pajak tergantung juga pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. dan papan. Akhirnya. hanya bisa diandalkan untuk sementara waktu saja. Pajak produk tidak bisa dikenakan pada tingkat pengecer jika perusahaan pengecer kecil dan tidak permanen. pengelolaan pajak penghasilan akan jauh lebih sulit jika semua lapangan kerja terdapat pada perusahaan-perusahaan kecil. Pada tingkat pendapatan per kapita yang sangat rendah. dengan cara-cara semacam ini pun tidak akan tercipta struktur perpajakan yang mapan dan adil. sektor pertanian belum terukur dengan nilai mata uang. yaitu sistem di mana kepada para pemungut pajak diberikan persentase tertentu sebagai insentif.95 Mengapa upaya perpajakan (tax effort) di negara-negara berkembang sedemikian rendah. Dengan demikian lembaga itu mungkin akan menuntut agar pada negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi terdapat rasio penerimaan pajak yang tinggi guna menunjukkan keselarasannya dengan upaya perpajakan. dan survai pertanahan belum memadai untuk menghasilkan penilaian yang semestinya. seperti pangan.

Di satu sisi hal ini akan mencerminkan tingkat pembebasan pajak yang ditetapkan relatif tinggi jika dikaitkan dengan pendapatan rata-rata. pajak penghasilan usaha sering kali lebih mirip dengan pajak penjualan daripada dengan pajak laba sebagaimana kita temukan di negara-negara maju dan sebagainya. Selain itu terdapat fenomena menarik yang menyatakan bahwa pajak yang sering diklasifikasikan sebagai pajak penghasilan di negara miskin sering kali jauh berbeda dari pajak penghasilan perorangan di negara maju.96 seharusnya diperoleh. Kontribusi pajak penghasilan perorangan di negara-negara Amerika Latin lazimnya berkisar 20 persen dan karena itu merupakan bagian yang besar dari penerimaan pemerintah. Pemungutan pajak penghasilan atas modal bahkan lebih sukar lagi. khususnya di sektor pertanian. dan sejumlah ciri struktur perpajakan yang lazim ditemukan dalam kaitannya dengan pendapatan per kapita dapat diamati. Perbedaan juga akan timbul sebagai akibat tahap-tahap pembangunan ekonomi. Peranan pajak upah juga makin penting dengan naiknya pendapatan per kapita. Karyawan perusahaan kecil dan sebagian besar masyarakat yang mengelola usaha sendiri. pada umumnya masih di luar jangkauan pajak penghasilan. Dengan naiknya pendapatan per kapita. tetapi hal itu juga merupakan akibat dari upaya pengelolaan yang tidak aktif. Meskipun demikian. dan kelompok perusahaan domestik besar yang jumlahnya sangat kecil. Pajak Penghasilan Perorangan Pajak penghasilan perorangan tidak mungkin dan tidak dapat diharapkan untuk menduduki posisi sentral dalam struktur perpajakan pada Negara sedang berkembang dan begitu juga umumnya di negara-negara maju. Penggunaan sistem pemungutan pajak oleh orang lain (witholding) bisa mempercepat pemungutan pajak dan hal itu sangat baik. pajak penghasilan harus ditata dengan baik sejak dini dan ditingkatkan selama berlangsungnya pembangunan. Penghitungan pajak oleh para petugas sering kali didasarkan pada negoisasi dan bukan ditetapkan secara objektif. Sejalan dengan itu. tetapi penerapannya sangat terbatas pada jenis upah dan gaji tertentu saja sehingga lebih Dasar-dasar Keuangan Publik . Prinsip penghitungan pajak sendiri (self assessment) seperti diterapkan di Indonesia tidak berjalan lancar. perusahaan asing. dengan melihat respon pada umumnya terhadap penanganan yang tersedia. peranan pajak penghasilan pun makin meningkat relatif terhadap bea demikian juga terhadap pajak penjualan dan produksi domestik. Pajak akan berperan besar terhadap perdagangan luar negeri (terutama bea) dan pajak atas produksi dan penjualan domestik untuk negara-negara berpendapatan rendah. dan pembayaran akhir sangat banyak yang terlambat. Pajak ini bersifat elastis terhadap pertumbuhan GNP dan karena itu bisa menjadi sumber penerimaan yang cukup besar untuk pembiayaan pembangunan. Pengembangan Struktur Perpajakan Masalah perencanaan dan pengelolaan perpajakan akan berbeda-beda sesuai dengan struktur perekonomian suatu negara dan sikap masyarakat terhadap perpajakan.

Keterlambatan pembayaran pajak atas pendapatan modal merupakan keuntungan besar khususnya jika hukumannya tidak sebanding dengan suku bunga dan nilai hutang pajak tersebut semakin menurun akibat inflasi. pajak atas keuntungan modal bagi real estate. Masalah keuntungan modal. pengaruh inflasi terhadap perpajakan dinetralisir. misalnya telah dialami Cili dan Brasil selama bertahun-tahun. Metode ini. namun bisa dikatakan bahwa pendapatan kena pajak akan benar-benar dicapai bila peraturan perpajakan dijalankan secara ketat.97 mudah dilaksanakan. Banyak negara menggunakan taksiran dan bukan pendekatan langsung guna menentukan laba. yaitu bangunan dan tanah. diharuskannya perusahaan dan bank menyampaikan informasi tentang pembayaran bunga dan pembayaran deviden. metode lain harus digunakan. yang mana akan mengubah bentuk pajak laba menjadi Dasar-dasar Keuangan Publik . Tidak ada satu obat mujarab untuk mengatasi kesulitan ini kecuali dengan menerapkan wajib pungut pajak. pengurangan keterlambatan penafsiran. Guna menghadapinya. entah itu berupa pajak laba perseroan atau pajak persekutuan dan perusahaan perseorangan yang dikenakan menurut pajak penghasilan perorangan. Meskipun tidak tersedia estimasi yang andal. Hal itu. sehingga hubungan antara tarif marjinal dan pendapatan riil dipertahankan konstan. Bila akuntansi perusahaan belum begitu maju sehingga belum bisa mengukur laba dengan cukup akurat. dan hukuman yang lebih tinggi bagi pembayaran yang tertunda semuanya bermanfaat Namun semua itu tidak akan mencukupi kecuali jika badan pengadilan mendukung penuh penegakan peraturan perpajakan. yang digunakan secara luas di negara-negara Asia. komputerisasi dan penanganan terpusat atas surat pemberitahuan pajak. Inilah prasyarat utama yang kerap kali sukar untuk dipenuhi oleh negara-negara berkembang dalam konteks budaya dan politik. badan perpajakan bisa menaikkan tingkat pembebasan dan kelompok tarif secara otomatis setiap tahunnya sejalan dengan naiknya harga-harga. penjatahan jumlah wajib pajak bagi setiap petugas (khususnya wajib pajak berpendapatan tinggi). Caranya adalah dengan menaksir marjin laba atas penjualan di mana terdapat marjin yang beragam untuk berbagai industri. pengelolaan pajak penghasilan diperparah oleh masalah inflasi. Lebih jauh lagi. Pajak Penghasilan Perusahaan Masalah yang pelik akan timbul dalam pengenaan pajak penghasilan perusahaan. terutama dalam kaitannya dengan tanah dan bangunan. Tidak jarang negara-negara berkembang menghadapi inflasi puluhan bahkan ratusan persen per tahun. Akibatnya. tetapi peredaran inflasi secara melekat melalui pajak penghasilan progresif akan melemah. sangat penting bagi negara-negara berkembang di mana urbanisasi yang pesat akan menaikan nilai tanah sebagaimana dialami Amerika Serikat pada akhir abad sembilan belas sesuai dengan pengamatan Henry George dan juga terjadi di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya. dikelola sebagai suatu jenis pajak tersendiri. Karena itu.

Lebih jauh lagi. ketiga dasar tersebut akan memberikan nilai yang sangat berbeda. Proses perbaikannya harus bertahap dan tidak bisa bergerak lebih cepat dari perbaikan metode akuntansi. Pajak penghasilan jarang diterapkan secara efektif ke sektor pertanian sehingga pendapatan dari tanah sering kali merupakan gabungan dari pajak penghasilan dan pajak atas tanah. dan pendapatan aktual akan sama dengan pendapatan potensial. luasnya lahan atau jumlah ternak bisa digunakan sebagai dasar taksiran. pajak kekayaan atas harta benda bersih jarang ditemukan dalam struktur perpajakan di Negara sedang berkembang. Di luar semua ini. Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Disamping penerimaan dari tanah. Ini juga merupakan praktek yang bisa ditemukan pada tradisi perpajakan Eropa. Dalam kenyataan.98 semacam pajak penjualan. Dengan demikian. pembayar pajak yang setia perlu diberi penghargaan. Pajak Tanah Satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas tanah adalah apakah pajak tersebut harus dikenakan atas nilai tanah. atas pendapatan aktual. Tanah sering kali tidak dimanfatkan secara penuh dan ditahan untuk tujuan spekulatif atau ditahan sesuai dengan adat istiadat setempat. sedangkan di negaranegara Asia sistem hukum kebendaan yang sangat berbeda bisa diterapkan. Di negara-negara Amerika Latin. Para pembaharu pajak sering menyepelekan perbaikan teknik penaksiran pajak terhadap perbaikan teknis dalam pemajakan perseroan. hukum Eropa daratan lebih berperan daripada tradisi common law (hukum Inggris). Ada baiknya jika hal tersebut di atas dikenakan pajak progresif atas tempat hunian. dan praktek yang cocok bagi suatu negara seperti Amerika Serikat mungkin tidak dapat diterapkan di Negara sedang berkembang dengan mengingat tradisi dan tingkat pembangunannya saat ini. Dalam keadaan lain. ketiga dasar tersebut akan bisa saling dipertukarkan karena nilai tanah akan sama dengan nilai pendapatannya yang dikapitalisasi. Meskipun pajak semacam ini Dasar-dasar Keuangan Publik . Serentak dengan itu. sementara yang bandel diberi hukuman. yang mengabungkan pajak atas sejumlah rumah dalam satu dasar pengenaan pajak guna melengkapi sistem penarikan pajak komoditas atas konsumsi barang-barang mewah di samping terhadap perumahan. Dalam hal pertanian. Hal ini terjadi karena kewajiban pajak menjadi fungsi dari penjualan dan marjin tersebut merupakan taksiran dan bukan aktual. Pasar atas tanah mungkin tidak tersedia dan nilai jualnya saat ini tidak bisa diperoleh. laba taksiran didasarkan pada patokan tertentu seperti luasnya lantai atau ruang kerja dan lokasi pada wilayah perkotaan. padahal hal terakhir ini tidak begitu penting bagi negara yang sedang berkembang. atau atas pendapatan potensial yang bisa dihasilkan tanah tersebut jika dimanfaatkan secara penuh. Dalam sistem persaingan sempurna. yang meliputi tidak hanya penyewaan atas tanah tersebut tetapi juga peningkatan nilai atas tanah. khususnya sehubungan dengan pendapatan profesional. penarikan pajak atas real estate dan pertokoan juga menjadi dasar pengenaan pajak yang penting. khususnya selama berlangsungnya urbanisasi. misalnya. bentuk hukum dari badan-badan usaha sering kali berbeda. tidak demikian halnya.

Kebijakan perpajakan harus memperhatikan bahwa kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi Dasar-dasar Keuangan Publik . Jika hal ini terjadi akan merupakan kebijakan yang buruk. Dengan demikian. Pendekatan terbaik mungkin adalah dengan menggunakan tarif yang cukup seragam sambil tetap memasukkan unsur bea impor barang mewah di dalam sistem pengenaan cukai domestik. sering kali mengenakan bea impor yang lebih tinggi atas barang mewah. Cukai domestik juga perlu untuk dikoordinasikan dengan bea impor. karena banyaknya harta tak berwujud yang tidak termasuk dalam dasar pengenaan pajak. praktek ini akan memperburuk distorsi harga. Dalam situasi di mana. Pajak dan Bea atas Komoditas Pengenaan pajak komoditas harus ditentukan berdasarkan kelayakan administratif sehingga tergantung pada struktur perekonomian negara tertentu. Aspek kebijakan bea masuk lainnya yang perlu ditinjau secara kritis adalah praktek pembebasan cukai atas barang modal yang digunakan di dalam negeri. biaya modal cenderung dinilai terlalu rendah. Penggunaan metode faktur mungkin akan membuat para wajib pajak lebih taat. pengenaan pajak produk dengan tarif yang berbedabeda cenderung lebih sukar jika diterapkan dengan pendekatan nilai tambah. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitannya dengan pengenaan bea cukai atas produk domestik. Insentif Perpajakan Tujuan pemerintah yang berupa pertumbuhan ekonomi dan pemerataan paling bisa dicapai dengan berpedoman pada pajak kosumsi progresif. Jika pemerintah ingin menggunakan bea masuk sebagai proteksi atas industri itu harus dipilih sesuai dengan potensi pembangunan sehingga pengembangan itu bukan merupakan akibat sampingan dari pengenaan pajak barang mewah. Karena adanya kemungkinan timbulnya konflik antara pajak penghasilan progresif dengan insentif untuk inventasi maka tidak mengherankan bahwa telah diupayakan berbagai cara untuk meminimumkan pengaruh masalah justifikasi sampai dimana pemerataan dan pertumbuhan didahulukan terhadap satu sama lain. bea masuk sering menjadi pelindung bagi produk barang mewah pengganti di dalam negeri. Di pihak lain. Disamping itu pendekatan keadilan menuntut agar pendekatan ini dipadukan dengan penarikan pajak atas pendapatan modal dengan tarif progresif. penerimaan pemerintah yang hilang tidak akan besar meskipun tingkat pengecer tidak terjangkau. Jika suatu produk dengan nilai kena pajak yang sangat besar dihasilkan pada perusahaan yang relatif besar. tergantung mana yang paling jitu dalam keadaan tertentu. Kombinasi dari berbagai metode bisa diterapkan.99 pada akhirnya akan lebih kecil dari pada pajak bumi dan bangunan. Karena ingin membebani konsumsi barang mewah dengan lebih berat. Jadi bukan merupakan kehilangan total seperti pada pajak penjualan eceran. maka pengenaan cukai atas produsen akan merupakan pendekatan yang paling sederhana dan gamblang. namun jenis pajak ini penting guna melengkapi pajak penghasilan. Dengan pajak yang dikenakan secara berjenjang seperti halnya pajak pertambahan nilai. karena berbagai alasan.

maka sebaiknya insentif dirancang seefisien mungkin. Daftar Skala Prioritas Meskipun keefektifan investasi umum di ragukan. sehingga banyak pengamat sampai sampai terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. dan karena ini tidak bisa dielakkan. Insentif Domestik Dalam menangani masalah insentif. Bagi perusahaan lama yang mengadakan investasi lama dan baru. ada baiknya kita membedakan antara insentif domestik dan masalah insentif yang berkaitan dengan modal asing. Dengan alasan alasan ini insentif pajak bagi investasi pada umumnya merupakan pemborosan dan tidak adil. Lebih jauh lagi. Apapun masalahnya. insentif investasi umum tidak bisa efektif guna menaikkan tingkat investasi menyeluruh kecuali jika peningkatan tabungan juga mendapat perhatian. dimana selama jangka waktu itu pajak atas laba di bebaskan. Insentif domestik bisa dikaitkan dengan investasi pada umumnya. Tentu saja masalahnya adalah bagaimana mencapai suatu jumlah tabungan tertentu tanpa mengurangi tabungan di sektor lain. teristimewa jika diperkirakan bahwa subsidi semacam itu tidak akan di perlukan di masa mendatang. beberapa kelonggaran bagi pertumbuhan mungkin layak asalkan hal itu dilaksanakan dengan cara terbaik. Dapat diduga Dasar-dasar Keuangan Publik . Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan. Selain itu di beberapa negara sering kali diberikan pembebasan pajak (tax holiday) untuk jangka waktu tertentu misalnya selama lima atau tujuh tahun. Masalah utama di sini adalah bagaimana memilih industri yang akan diberi perlakuan istimewa tersebut. Ini bisa tercapai dengan mendorong perusahaan untuk menahan laba atau dengan memberikan kredit pajak bagi tabungan atas pendapatan perorangan. tidaklah bijaksana jika pemerintah mengadakan komitmen jangka panjang untuk mensubsidi pajak.100 tidak akan memperparah pemerataan. Tekanan politik agar diberikan insentif pajak akan tetap ada. Insentif Umum Intensif investasi umum bisa berupa kredit pajak atas investasi atau penyusutan yang dipercepat seperti lazim digunakan dinegara-negara maju. masalah ini bisa diatasi dengan pendekatan kredit investasi atau bantuan investasi. penolakan total tidak bisa diterima. Lebih jauh lagi. Namun meskipun demikian. bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. Metode ini merupakan insentif bagi investasi yang memberikan laba yang tinggi pada tahap awal dan hal ini bertentangan dengan kebutuhan akan investasi yang stabil dan bersifat jangka panjang. atau dibatasi pada industri atau wilayah tertentu. namun insentif yang dibatasi pada sektor atau industri tertentu kiranya bisa lebih efektif dalam mengalokasikan modal data ekspor industri tersebut. Insentif bisa dirancang untuk menggalakkan ekspor dan memperkuat neraca pembayaran.

Insentif Bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Penggunaan bentuk investasi yang insentif modal didorong oleh distorsi harga yang menyebabkan biaya buruh terlalu tinggi dan biaya modal menjadi rendah. Insentif Regional Insentif selektif lainnya dapat kita temukan dalam kebijakan regional. dan dalam kesempatan lain lagi kita akan melihat bahwa insentif diberikan untuk mempertahankan pasar bagi perusahaan negara. dan pasar modal yang tidak sempurna bisa mengacaukan investasi meskipun tanpa eksternalitas. subsidi upah akan lebih efektif. Guna mengembalikannya ke keseimbangan semula. Jawabannya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. atau mungkin juga tenaga kerja ingin dipertahankan di suatu daerah tertentu karena terlalu banyaknya perpindahan penduduk ke kota atau karena alasan non ekonomis yang menghendaki pemerataan tingkat pembangunan daerah. Masalahnya adalah apakah insentif itu lebih baik diberikan dengan mensubsidi investasi atau mensubsidi perusahaan pekerja di wilayah bersangkutan. Namun keadaan negara negara berkembang bisa menuntut lain. subsidi upah bisa diberikan entah secara langsung atau tidak melalui kredit atas daftar upah yang pada prinsipnya mirip dengan kredit investasi. yaitu apakah peningkatan produksi atau nilai tambah didaerah tersebut. khususnya jika terdapat banyak penganggur atau penganggur tak kentara di sektor pertanian yang dapat di tarik kesektor industri apabila biaya upah berkurang. Tenaga kerja mungkin tidak bisa berpindah secara luwes. Untuk tujuan terakhir ini. Seiring daftar skala prioritas sedemikian luas sehingga hampir tidak ada yang patut di pilih. Tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembangunan mengandung dampak eksternal (external economies) yang tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan investasi swasta. apakah itu untuk tenaga kerja atau modal dan umumnya diharapkan agar kebijakan pajak bersifat netral. Karena itu investasi semacam itu perlu dikoreksi. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal itu sangat sukar untuk dilaksankan. Hal itu juga mungkin tepat untuk menanggulangi Dasar-dasar Keuangan Publik .101 bahwa industri yang akan dipilih adalah industri yang memainkan peranan strategis dalam pembangunan dan yang tidak akan berkembang jika tidak mendapat bantuan khusus. atau apakah peningkatan upah atau standar hidup masyarakatnya. yang seharusnya tidak mendapat prioritas utama. dan pengenaan pajak atas laba yang tidak efektif. biaya modal yang rendah disebabkan oleh kurs valuta yang menguntungkan. Meskipun pada prinsipnya insentif yang selektif itu baik. seperti pabrik baja. Seperti telah kita ketengahkan sebelumya. namun penerapannya secara efisien sukar untuk dilaksanakan. Sedangkan dipihak lain. Bisa juga pajak atas laba diperingan dengan syarat peralatan yang digunakan harus padat tenaga kerja. Karena itu. insentif khusus bisa diberikan demi pembangunan daerah tersebut. pembebasan bea masuk. pemilihan industri tertentu selalu di barengi dengan teknan politik dari kelompok tertentu. kebijakan pajak bisa mempengaruhi keputusan lokasi investasi. Biaya buruh yang tinggi umumnya disebabkan oleh peraturan upah minimum dan berbagai tuntutan serikat pekerja. Cara-cara semacam itu mungkin akan tepat dalam kaitannya dengan insentif regional di mana tujuannya adalah untuk menaikkan tingkat pendapatan di daerah terbelakang.

Akan tetapi. Karena itu. penundaan pajak akan menjadi sangat penting. Keuntungan tersebut adalah berupa kenaikan penghasilan faktor-faktor produksi domestik akibat adanya modal asing. Karena itu. kerugian ini harus dikompensasi oleh keuntungan yang diperoleh akibat pelipatgandaan modal tersebut agar insentif pajak tersebut bisa diterima. negara asal modal akan memberikan kredit atas laba yang direpatriasi sebesar pajak yang dikenakan di negara tujuan meskipun tidak ada pajak yang dibayar menurut kesepakatan insentif tersebut. Insentif bagi modal domestik hanyalah melibatkan transfer dari pemerintah ke investor. tetapi keringanan pajak yang diberikan kepada investor asing akan mengurangi jatah keseluruhan negara atas laba yang dihasilkan modal asing tersebut. insentif pajak harus dikaitkan dengan nilai tambah domestik sebagai akibat adanya modal asing. Tidak ada manfaatnya bagi suatu negara untuk menerima modal asing lengkap dengan sumber dayanya dan hanya meminjam lokasi pada negara tersebut. pendekatan ini tidak menggairahkan reinvestasi. cukup beralasan untuk mempertahankan penundaan atas investasi di suatu negara yang sedang berkembang dan meniadakannya untuk investasi di negara maju. Dengan pendekatan ini. maka penarikan pajak atas laba secara umum bagi investasi domestik harus dipertimbangkan. Perancangan insentif mungkin akan bisa mengarahkan investasi tersebut pada sektor yang menguntungkan negara bersangkutan. maka pajak yang lebih rendah di negara tersebut hanya akan menjadi transfer ke negara lain tanpa adanya manfaat bagi investor yang mengirimkan labanya ke negara asalnya. peranan insentif pajak bagi modal asing berbeda dari insentif pajak bagi modal domestik. Persoalan terakhir yang timbul dalam kaitannya dengan persaingan di antara negara sedang berkembang untuk memperebutkan modal asing adalah jika Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal itu tidak hanya berfungsi sebagai penarik modal ke suatu negara yang menawarkan insentif pajak tetapi juga mendorong terlaksananya reinvestasi di negara tersebut. suatu negara membutuhkan kerja sama dari negara asal investor asing agar insentif yang efektif bisa diberikan. Karena itu. Jika negara sumber modal tersebut menarik pajak penghasilan yang diperoleh dari luar negeri dengan tarifnya sendiri sambil tetap memberikan kredit pajak luar negeri. dan menghambat investasi yang hanya ingin mengeruk keuntungan sesaat. Apapun masalahnya.102 pengangguran akibat berjubelnya perpindahan penduduk ke kota. Cara lain untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama (tax-sparing arrangement). Insentif bagi Modal Asing Dari sudut pandang nasional. Dalam hal ini. dan karena tekanan politik akan menuntut agar insentif tersebut diberlakukan secara umum bagi investasi domestik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa insentif tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga mendorong dilakukannya reinvestasi dan operasi permanen. Cara lain untuk mendorong investasi yang padat kerja adalah dengan memberikan insentif pajak bagi pekerjaan gilir kerja (shift) malam.

Pengeksporan kembali atas barang yang diimpor atau barang dalam transito tidak memberikan nilai tambah domestik. pengunaan analsis biaya-manfaat sangat penting. karena investasi pemerintah lazimnya dimaksudkan untuk penyediaan barang–barang antara yang nilainya bisa diukur dengan melihat pengaruhnya terhadap harga–harga barang yang disediakan oleh swasta. Karena itu tidak mengherankan jika pengembangan investasi pemerintah memainkan fungsi utama dalam perancangan rencana pembangunan di negara sedang berkembang. Lebih jauh lagi. Negara-negara berpendapatan rendah menghabiskan banyak pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan sementara tunjangan sosial kurang diperhatikan. tetapi dengan nilai tambah domestik. Besarnya tunjangan sosial di negara-negara kaya mencerminkan sistem jaminan sosial yang lebih baik. insentif semacam itu tidak harus dikaitkan dengan total penjualan di luar negeri atau laba yang dihasilkannya. Hal ini juga dilandasi oleh kenyataan bahwa tipe investasi yang diperlukan pada tahaptahap awal pembangunan sering kali memerlukan jumlah besar seperti untuk pembangunan sistem transportasi atau pembukaan suatu daerah yang terbelakang. Suatu ukuran yang tidak bisa diperoleh jika pengeluaran publik digunakan untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Negara–negara berkembang bisa dihantui oleh pemborosan sumber daya. Dalam konteks ini. maka negara sedang berkembang sebagai suatu kelompok akan dirugikan. Di satu pihak analisis biaya–manfaaat akan lebih mudah diterapkan di negara berkembang dari pada negara maju. namun evaluasi proyek yang efisien merupakan suatu tugas yang sukar. Peranan strategis dari investasi pemerintah dalam pembangunan ekonomi sebagian dilandasi oleh belum berkembangnya pasar modal swasta dan sebagian karena kurangnya bakat entrepreneurial (kewiraswastaan) masyarakat. seperti lazimnya kita hadapi. Jadi manfaat dari proyek transportasi atau irigasi dapat di nilai berdasarkan penurunan biaya produk yang di timbulkannya dipasar. Hanya nilai tambah domestiklah yang menambah hasil perdagangan luar negeri bagi suatu negara. banyak pengeluaran untuk pendidikan juga mencerminkan tingginya biaya pendidikan di negara-negara ini. Insentif Ekspor Insentif pajak untuk ekspor merupakan kebijakan umum guna membantu pengembangan pasar luar negeri dan memperkuat neraca pembayaran. Agar efektif. Dalam kadar tertentu. Kebijakan Pengeluaran Peranan kebijakan pengeluaran dalam pembangunan ekonomi kurang disorot bila dibandingkan dengan kebijakan perpajakan. Untuk mengatasi hal semacam itu diperlukan semacam kerja sama antar negara sedang berkembang. investasi semacam ini menghasilkan manfaat eksternal sehingga penyediannya sebaiknya dilakukan oleh pemerintah. Salah satu peran utama pasar bersama antar negara sedang berkembang adalah untuk menghindarkan hal semacam itu. dan data pembanding lebih sukar diperoleh.103 suatu negara mengalahkan yang lain dengan menawarkan insentif yang lebih besar.

Sekali lagi. Tetapi di pihak lain. Dengan memperhitungkan adanya manfaat eksternal tarif sosial tersebut harus di tetapkan lebih rendah dari pada tarif yang berlaku sehingga menunjukkan tingkat diskonto yang lebih tinggi bagi penyediaan modal dan lebih mendukung pengadaan proyek–proyek jangka panjang. Kenyataan ini cenderung diabaikan dalam pengambilan keputusan tabungan perorangan. pemerintah mungkin akan merasa lebih praktis untuk menentukan tingkat konsumsi minimum yang secara politis dapat di terima untuk lima atau sepuluh tahun mendatang dan kemudian menghitung tingkat diskonto dari konsumsi minimum tersebut. Sejumlah studi telah memperlihatkan betapa besarnya manfaat investasi di bidang pendidikan bagi negara–negara berkembang. utilitas marjinal dari konsumsi itu akan lebih kecil karena pendapatan sudah lebih tinggi. Program pendidikan penting bukan hanya dalam kaitannya dengan kebijakan pertumbuhan tetapi juga dengan pendistribusian hasil-hasil pembangunan diantara lapisan masyarakat dan keberbagai sektor perekonomian. maka penggunaan tarif sosial kiranya tidak bisa dielakkan. Karena harga pasar mungkin tidak mencerminkan biaya sosial yang benar–benar terjadi. Jika modal dinilai terlalu rendah sementara tenaga kerja dinilai terlalu tinggi penggunaan harga pasar akan menimbulkan distorsi yang mengarah kepada teknologi yang sangat padat modal sebagaimana telah kita simak sebelumnya. Di suatu sisi. namun di masa mendatang setelah keuntungan dari penundaan konsumsi itu diperoleh. tetapi pemerintah harus memperhitungkannya.104 menghasilkan barang jadi untuk konsumsi. Dasar-dasar Keuangan Publik . jumlah biaya lebih sulit untuk di tentukan. Di sisi lain. akan kita jumpai bahwa biaya konsumsi sangat tinggi pada tingkat pendapatan yang rendah. Jika kita melihat dari sisi yang berlawanan. Faktor lain yang juga penting adalah penentuan tarif/tingkat diskonto yang semestinya karena pasar modal swasta yang belum berkembang sepenuhnya. Investasi dalam sumber daya manusia perlu mendapat perhatian khusus dalam konteks pembangunan. Yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa investasi bagi pendidikan dirancang guna menghasilkan pekerja terampil sesuai dengan kebutuhan negara bersangkutan. Tetapi di sini sebagaimana halnya dalam penentuan tingkat diskonto lainnya. Bantuan Internasional dan Redistribusi Pertimbangan kemanusiaan atau politis yang menyangkut distribusi pendapatan di suatu negara tidak bisa dibatasi hanya pada lingkup negara itu saja. pelaksanaan evaluasinya di negara sedang berkembang lebih sulit. Kesulitan–kesulitan itu akan makin rumit dalam konteks pembangunan yang dinamis dimana hargaharga relatif yang berlaku pada saat proyek dimulai mungkin akan sangat berbeda dari harga–harga yang berlaku setelah proyek berfungsi. Dalam konteks pembangunan lazimnya. taksiran yang lebih kasar mungkin akan di gunakan. manfaat langsung yang tersedia akan di sertai dengan manfaat tidak langsung atau manfaat eksternal yang lebih sukar untuk diperkirakan. kemungkinan ini menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dan evaluasi atas setiap proyek dalam konteks rencana pembangunan yang menyeluruh. maka untuk itu harus di gunakan harga bayangan (shadow price).

lebih masuk akal bahwa pendapatan per kapita di negara maju akan naik lebih cepat ketimbang di negara miskin. Di tingkat internasional. Atau mungkin juga pada suatu saat hal itu dilaksanakan berupa redistribusi dari tingkat pendapatan dunia pada saat itu. Jika seseorang di suatu negara memperoleh pendapatan sebesar rata-rata di antara berbagai negara tersebut. Masalah Besarnya Transfer Dalam menangani distribusi pada taraf internasional. Dalam kondisi ini. maka akan lebih mengena lagi pada tingkat internasional di mana skala Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga mirip dengan pajak penghasilan negatif yang diterapkan pada redistribusi domestik. Pendekatan ini telah dilaksanakan secara cukup besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir. tetapi jika keduanya tidak tumpang tindih. atau juga ketimpangan distribusi diantara masyarakat seluruh dunia tanpa memandang batas negara. khususnya di negara maju. Jika ketimpangan di dalam negara-negara masih diperhitungkan lagi. Jika sudut pandang ini mengena pada redistribusi yang bersifat nasional. Tidak ada gunanya jika redistribusi ke negara berpenghasilan rendah pada akhirnya hanya akan menambah kekayaan segelintir masyarakat kaya di negara tersebut. Ketimpangan di dalam negeri diperparah dengan ketimpangan pendapatan rata-rata di antara berbagai negara. sementara 20 persen terkaya menerima 60 persen. sehingga situasi tersebut akan semakin parah seperti halnya distribusi pendapatan domestik. Lebih jauh lagi.105 Kelihatannya aspek–aspek dari distribusi internasional akan menjadi unsur yang makin penting dalam politik dunia masa mendatang. Bantuan Pembangunan Dari penjelasan terdahulu terlihat dengan jelas bahwa kebijakan redistribusi tidaklah sederhana dan pengaruhnya pertumbuhan ekonomi. Jadi. sekali lagi masalahnya mirip dengan masalah antara negara bagian di suatu negara berserikat. Dalam kadar tertentu kedua masalah itu bertumpang tindih karena kebanyakan masyarakat miskin pada kenyataannya merupakan penduduk dari negara berpendapatan rendah. mustahil kiranya untuk meratakan ketimpangan ini. yang menjadi persoalan mungkin adalah perbedaan pendapatan rata-rata di negara-negara. Tingkat ketimpangan ini jauh lebih besar daripada ketimpangan di suatu negara. Tetapi meskipun hal itu penting. Meskipun pendekatan ini tidak bisa diharapkan dalam waktu dekat. namun mungkin saja pada suatu saat nanti hal itu akan menjadi suatu pemikiran pokok. Upaya itu bisa dilaksanakan dalam bentuk bantuan internasional yang di rancang untuk menaikkan tingkat pertumbuhan negara-negara berkembang. masalah distribusi di tingkat internasional lebih sukar untuk di tangani dari pada lingkup suatu negara. kesenjangan lebih besar dan masalah organisasi lebih pelik karena tidak ada pemerintah pusat yang harus menanganinya dan upaya mengatasi ketimpangan tersebut harus melalui transfer antar negara. masalah mendasar adalah redistribusi di antara anggota masyarakat. Ketimpangan distribusi pendapatan di antara masyarakat dunia merupakan masalah yang sangat pelik. maka bisa diperkirakan bahwa 40 persen termiskin dari penduduk dunia menerima 3 persen dari pendapatan seluruh dunia. harus ditelaah dengan seksama. maka rasio tersebut berubah menjadi 2 dan 70 persen.

Dasar-dasar Keuangan Publik . Tetapi di pihak lain sebagai konsumen mereka akan diuntungkan karena harga barang-barang impor menjadi turun. Para pemasok modal dari negara kaya tetap mendapat keuntungan karena memperoleh hasil pengembalian yang lebih besar dari investasinya di negara-negara miskin. Ini bisa dilakukan dengan memberikan preferensi dan penghapusan pembatasan perdagangan. perbaikan distribusi pendapatan dunia dapat dicapai meskipun dengan memperbesar ketimpangan (kendatipun hanya dalam taraf yang lebih kecil) di negara maju. akan terjadi redistribusi pendapatan dari pekerja negara kaya (yang akan beroperasi dengan modal yang cukup besar) kepada pekerja di negara miskin yang produktivitasnya akan meningkat bersamaan dengan naiknya keuntungan modal pekerja.106 penyesuaian potensial yang harus dicapai melalui distribusi sangat besar. pekerja di negara maju juga dirugikan karena mereka kurang leluasa untuk berpindah jika dibandingkan dengan faktor modal. Kontribusi penting kedua bagi pembangunan ekonomi adalah dengan membuka pasar negara-negara maju lebih lebar bagi ekspor negara-negara berkembang. Perbaikan besar atas kemelaratan masyarakat hanya dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas pekerja-pekerja di negara miskin. Dengan demikian. Tak ada manfaatnya jika kontribusi negara-negara maju terlalu dipaksakan sehingga kemampuan ekonominya untuk mempertahankan kesinambungan bantuan menjadi terganggu. Karena itu sindrome orang kaya baru akan tetap menggejala dan hal ini merupakan hambatan. Akan tetapi. Salah satu upaya penting untuk ini adalah dengan menata kembali aliran modal dari negara kaya ke negara miskin dengan penerapan itu. output dunia akan meningkat karena modal akan dimanfaatkan secara efisien di negara di mana keuntungan modal pekerja sangat rendah. Akan tetapi. baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. kebijakan-kebijakan semacam ini tidak menjamin bahwa negara-negara berkembang akan mampu secara independen untuk mempertahankan pertumbuhan yang telah mereka capai. di samping menambah keahlian juga menghambat pengembangan kewiraswastaan domestik dan menciptakan ketergantungan politis. Dalam hal ini. Juga dipermasalahkan bahwa masuknya tenaga manajemen asing yang menyertai masuknya modal asing.

prakiraan pertumbuhan ini. Tetapi meningkatnya rasio pembayaran bunga terhadap GNP. bahkan dengan asumsi yang paling pesimistik. tetapi juga terhadap konsekuensi akumulasi hutang di masa depan dan bebannya terhadap gcnerasi mendatang. Dasar-dasar Keuangan Publik . Namun dengan menaikkan tingkat pembayaran bunga dan anggaran cenderung mengganggu program publik lainnya. Bank komersial. Sesuai dengan sifat hutang publik. didanakan kembali. akan bersifat moderat dan tidak eksplosif. Pertumbuhan hutang publik sudah lama menjadi isu yang hangat dalam perdebatan mengenai kebijakan fiskal. Inflasi dapat berlaku sebagai bentuk penyangkalan hutang yang tersembunyi. surat berharga yang jatuh tempo. Kritik-kritik terhadap pembiayaan defisit tidak hanya ditujukan pada pengaruh inflasionernya. P Pertumbuhan hutang pemerintah harus dilihat dalam kaitannya dengan GNP. Namun demikian. tetapi ini bukan faktor utama karena faktanya adalah bahwa sebagian besar hutang pemerintah jatuh tempo dalam jangka sangat pendek. Struktur Hutang pemerintah Setelah menelaah pertumbuhan dan struktur hutang pemerintah. Sepertiga dari hutang yang beredar jatuh tempo kurang dari satu tahun. Lebih dari 70 persen hutang pemerintah berbentuk surat berharga yang mudah dipasarkan. Kekhawatiran bahwa hutang yang beredar tidak dapat dibayar kembali pada saat jatuh tempo tidak beralasan. perusahaan asuransi dan lembaga tabungan merupakan penanam utama hutang pemerintah. menimbulkan beban karena perpajakan diperlukan untuk membiayai pembayaran bunga dan mengakibatkan timbulnya deadweight loss. Kegiatan hutang pemerintah meliputi peminjaman dari instansi dalam bentuk kredit hipotik. kita beralih pada implikasi ekonomi dari hutang yang beredar.107 B A B XII HUTANG PUBLIK Pertumbuhan Hutang Pemerintah ertumbuhan hutang pemerintah dan implikasinya terhadap perekononian sejak lama menjadi isu perdebatan yang hangat. bukan dilunasi. khususnya dalam keadaan meningkatnya defisit dewasa ini.

Pinjaman juga mendistribusikan beban pembayaran kepada para wajib pajak secara lebih adil daripada meletakkan semua beban pada mereka yang hidup pada saat fasilitas diperoleh atau dibangun. surat berharga yang dapat dipasarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . Pinjaman jangka panjang untuk pembiayaan modal mengalokasikan biaya perolehan tanah. 3. tidak menjadi masalah. bangunan dan fasilitas-fasilitas selama masa ekonomis proyek permodalan. apakah hutang itu ditanam oleh lembaga masyarakat atau pun oleh instansi pemerintah. Tetapi yang menjadi masalah adalah hutang publik yang memegang sebagai bagian dari struktur likuiditas ekonomi. Hutang yang Ditanam Swasta Dalam beberapa aspek hutang publik (khususnya pembiayaan pembayaran bunga melalui pajak). tingkat bunga adalah berbeda antara dua jenis dasar hutang pemerintah: obligasi umum pemerintah dan obligasi penerimaan. dan kepentingan darurat. Beberapa faktor akan menentukan tingkat bunga yang harus dibayar oleh pemerintah atas obligasi yang diterbitkannya. dan hanya hutang publik yang ditanam swasta yang menimbulkan masalah bagi manajemen. Komposisi Hutang Berdasarkan Jenis Penerbitnya. Municipal Bond Obligasi yang bunganya dibebaskan dari pajak dari institusi penerbitnya. Permodalan sektor publik paling sering diperoleh melalui bursa dengan penerbitan obligasi. pinjaman jangka pendek sering dimanfaatkan untuk mengkoreksi pendapatan.108 Tujuan Hutang Pemerintah Tiga tujuan utama Pemerintah pusat dan daerah berhutang adalah: Pembiayaan modal. sebagai suatu jalan untuk berhutang. Obligasi Umum (General Obligation Bonds) Dijamin penuh oleh pemerintah yang menerbitkan 2. Hutang publik sebagai menunjukkan persentase dari aktiva lancar (hutang publik dan jumlah uang beredar). yang diterima tidak merata. Rating ini dibuat berdasarkan pada catatan kinerja pelunasan hutang masa lalu. dan semua hal yang terkait dengan kemampuan untuk membayarnya. cadangannya. Pada tingkat lokal. taxbase-nya. Tetapi pertimbangan utama adalah evaluasi dari penyedia jasa rating obligasi yang menilai potensi pemerintah untuk membayar pokok dan bunganya pada tanggal jatuh temponya. Obligasi Pendapatan (Revenue Bonds) Pendapatan dari penjualan jasa dijaminkan untuk pembayaran hutang. terhadap pengeluaran permintaan. Beberapa jenis obligasi pemerintah: (Holley Ulbrich) 1. kebutuhan jangka pendek. praktek kebijakan fiskal. dimana lebih seperti arus sepanjang tahun. Sebagai tambahan. Pinjaman darurat digunakan untuk menanggulangi bencana alam dan kontijensi yang tidak terprediksikan sebelumnya. Komposisi hutang Pemerintahan menurut jenis penerbitnya dibagi menjadi: 1.

obligasi sebagai sumber pembiayaan utama menjadi makin kurang penting. Sedangkan penanaman Bank Sentral berbentuk surat berharga yang dapat dipasarkan dan diperoleh melalui proses pembelian pasar terbuka. Hal ini dilakukan dalam bentuk surat berharga khusus. Pengandalan pada jangka pendek selama periode inflasi memungkinkan Departemen Keuangan guna menghindarkan komitmen jangka panjang untuk meminjam pada tingkat bunga nominal yang tinggi dengan harapan inflasi akan dapat dicek dan tingkat bunga akan turun di masa depan. 80 persen ditahan secara domestik. dengan pembayaran modal dilakukan pada nilai pari pada tanggal jatuh tempo. Siapa yang Menanam Hutang? Pembagian hutang menurut jenis penanamnya menjadi penting karena mempengaruhi struktur likuiditas dan posisi pasar modal. Tagihan dijual dengan diskonto dan tidak berbunga. Dengan tersedianya. Surat berharga yang tidak dapat dipasarkan ditawarkan kepada berbagai kelompok investor dan hanya dapat ditahan oleh pembeli pertama. Surat berharga yang dapat dipasarkan (berjumlah sekitar tiga perempat dari total). Yang paling penting adalah Trust Fund. 95 persen dari penanaman domestik adalah dari investor swasta. surat berharga yang tidak dapat dipasarkan. yang menahan kewajiban dalam tahun-tahun di mana peneriman pajak masa berjalan melebihi pembayaran tunjangan. Karena sifat publik. Wesel dan obligasi mempunyai kupon pembayaran tahunan dan dapat ditebus dengan nilai pari pada tanggal jatuh tempo. Surat berharga yang dapat dipasarkan diperdagangkan dan tersedia bagi setiap pembeli. 14 persen oleh pribadi (sebagian besar dalam bentuk obligasi tabungan). Namun kebanyakan hutang masih terpusat pada jangka pendek. dimana peningkatan nilai sampai jatuh tempo merupakan pengembalian investor. dan 8 persen oleh perusahaan asuransi. sarana investasi baru yang lebih menarik. tetapi surat berharga khusus juga disediakan untuk pemerintah daerah dan pemerintah luar negeri. Wesel berkisar dari 1 sampai 10 tahun dan obligasi untuk periode yang lebih panjang. meliputi tagihan. dengan jatuh tempo di atas 10 tahun. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagian besar penanaman swasta adalah pada lembaga tabungan dan dana trust perseroan. Kecuali hutang yang ditahan pada negara-negara maju. penanaman itu sebenamya merupakan bagian dari dasar moneter (monetary base) ketimbang bagian dari hutang pemerintah kepada publik. Tagihan diterbitkan sebagian besar dengan jatuh tempo dua belas bulan.109 2. Surat berharga ini dirancang terutama bagi berbagai dana trust lokal. tetapi jatuh tempo itu bisa saja tiga bulan. Perbedaan utama dari ketiga jenis hutang itu terletak pada jatuh temponya. yang menyerap lebih dari 50 persen. dan 20 persen ditanam luar negeri. wesel dan obligasi. 18 persen ditahan oleh bank komersial. Penerbitan yang tak dapat dipasarkan ditahan oleh individu dalam bentuk obligasi tabungan (savings bond). Struktur Jatuh Tempo Instrumen hutang diterbitkan untuk berlaku selama periode waktu tertentu.

seperti yang disepakati oleh kebanyakan pengamat. Menteri Keuangan meminta kenaikan pagu pinjaman. tidak temasuk yang diterbitkan kepada instansi pemerintah. lebih cepat mendapatkan pengembalian pada surat berharga jangka pendek. bisa menentukan penambahan hutang melalui peraturan pajak dan pengelurannya. Konggres mengesahkan penerbitan terbatas obligasi Tresury di atas hasil pagu. Departemen Keuangan memilih tidak melakukan hal itu.110 Pada saat yang sama. Pagu hutang. Pembatasan Hutang Pertumbuhan hutang ditentukan oleh peraturan pajak dan pengeluaran yang mendasarinya serta tingkat surplus dan defisit yang dihasilkannya. karena ini akan mengganggu ketentuan legislatif. lembaga legislatif dapat menetapkan batas hutang eksplisit yang tak boleh dilewati oleh Departemen Keuangan. Hutang lnstansi dan Pinjaman yang diberikan oleh Pemerintah Di samping pinjaman langsung Departemen Keuangan. Pagu sebagian besar tetap tidak efektif sampai paruh kedua tahun 1960-an ketika limit jangka panjang di pasar naik di atas tingkat ini. Pemberian pinjaman. seperti penarikan hutang. Karena instansiinstansi ini menggunakan dana. namun dengan demikian likuiditas struktur klaim meningkat. dan 1988 adalah sebesar $150.000 milyar. investor merasa tak yakin mengenai masa depan (inflasi dapat memburuk) dan lebih suka untuk mencegah komitmen jangka panjang. alasan utama pemberian pinjaman oleh pemerintah adalah menyediakan dana bagi peminjam yang tidak mampu meminjam dari tempat lain tetapi yang pantas mendapat Dasar-dasar Keuangan Publik . Jadi. legislatif di USA memberlakukan pagu bunga 4 1/4 persen pada surat berharga yang lebih lama dari lima tahun. Dalam pagu modal yang sempuma. Pagu Bunga Menjelang akhir Perang Dunia I. Tetapi hasil kedua transaksi itu bisa sangat berbeda dalam pasar yang tidak sempurna. Sesudah menentukan defisit atau surplus dan perubahan tingkat bunga dengan cara ini. Sesudah Departemen Keuangan meminta berkali-kali. pinjaman yang diberikan oleh pemerintah (yang dibedakan dari pengeluaran) memasuki arena sebagai instrumen kebijakan penganggaran tambahan. Meskipun pagu ini dapat dielakkan dengan penjualan obligasi bertarif kupon 4 1/4. Batas ini diperluas oleh Legislatif empat kali. Jadi ini bukan merupakan faktor yang berarti dalam membatasi penggunaan surat berharga jangka panjang. Sebenarnya. Apabila operasi masa berjalan memerlukan kenaikan pinjaman pemerintah di atas pagunya. mengurangi posisi hutang bersih pemerintah. merupakan suatu anakhronisme karena setiap saat legislatif. pemerintah dapat terlibat dalam penjanjian dan pensponsoran pinjaman oleh berbagai institusi yang pada gilirannya meminjamkannya kembali pada peminjam swasta. Penerima pinjaman pemerintah mungkin tidak mampu mendapatkan kredit dari tempat lain. persen pada bunga di bawah pari. Jadi tidak ada obligasi jangka panjang yang dapat dijual sesudah tahun 1965 manakala hasil pasar melebihi pagu. pemberian tambahan pinjaman $100 dengan jatuh tempo sepuluh tahun akan sama dengan pelunasan penerbitan hutang $100 dengan jatuh tempo ymg sama dengan asumsi pendapatan pajak yang sama digunakan urituk membiayai masing-masing transaksi itu.

111
pinjaman karena alasan kebijakan publik. Jadi hal itu digunakan umum sebagai alat untuk alokasi, bukan sebagai kebijakan stabilisasi. Dengan demikian, masalah ini penting dalam konteks negara berkembang di mana investasi yang ditunjang pemerintah merupakan segi yang penting dari kebijakan pembangunan.

Hutang Publik sebagai Bagian dari Struktur Likuiditas Ekonomi
Sifat hutang yang berjangka waktu sangat pendek telah membuatnya makin likuid dan merupakan pengganti uang yang lebih dekat. Hutang publik merupakan media investasi yang penting bagi lembaga keuangan, khususnya bank, perusahaan asuransi dan pasar uang. Setelah meninjau pertumbuhan dan status hutang pemerintah, sekarang kita dapat beralih pada implikasi ekonominya. Masalahnya adalah bagaimana hutang yang beredar mempengaruhi berfungsinya ekonomi, yaitu bagaimana konsekuensi dari kebijakan masa lalu (yakni, defisit yang telah ditambahkan pada hutang) terhadap kondisi ekonomi di depan. Pengaruh ekonomi dari hutang yang beredar oleh karenanya harus dibedakan dengan dampak masa kini dari pembiayaan defisit yang melibatkan penciptaan hutang. Apakah akumulasi hutang yang berkelanjutan tidak akan mengarah pada kebangkrutan fiskal? Pendanaan Kembali versus Pelunasan Hutang Dengan makin membengkaknya hutang, apakah ada kemungkinan untuk membayarnya kembali? Pertanyaan yang menguatirkan ini tidaklah tepat: cepat atau lambat, hutang rumah tangga memang harus dibayar kembali, karena tindakan rumah tangga merupakan kegiatan yang terbatas. Sebaliknya hutang publik tidak perlu dibayar kembali, karena anggaran dan perekonomian merupakan kegiatan yang berkesinambungan. Apabila suatu penerbitan hutang jatuh tempo, hal itu harus dilunasi; tetapi dana yang diperlukan diperoleh dengan menerbitkan obligasi baru. Hutang itu didanakan kembali (refunded). Dengan hutang yang sebagian besar berjangka pendek, volume pendanaan kembali tabungan sekarang dengan pembayaran obligasi jatuh tempo dan penggantian melalui penerbitan obligasi kembali merupakan operasi mingguan. Sekalipun operasi penerbitan kembali obligasi secara tradisional melibatkan prosedur yang sangat rumit, yang memerlukan taksiran yang tepat atas hasil (yield) yang diinginkan masyarakat, teknik-teknik yang dikembangkan dalam tahun-tahun terakhir ini telah banyak disederhanakan. Penerbitan baru sekarang dijual melalui sistem lelang, dengan penawaran tertutup diterima dari dealer dan kemudian didasarkan pada sistem datang pertama, dilayani pertama. Meningkatnya pengandalan pada hutang jangka pendek, yang dijual pada diskonto dan bukan dengan suatu kupon, telah memperlancar perkembangan ini. Guna mempercepat proses ini, Bank Sentral bekerja erat dengan Pejabat Bendahara (Departemen Keuangan) dan bertindak sebagai instansinya. Singkatnya, operasi pendanaan kembali merupakan masalah manajemen dan apakah kita dapat membayar kembali hutang merupakan pertanyaan yang salah arah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana jasa bunga akan mempengaruhi perekonomian dan bagaimana hutang yang beredar masuk ke dalam struktur ekononomi.

Dasar-dasar Keuangan Publik

112
Beban Pajak dari Pelunasan Hutang Untuk melunasi hutang, bunga harus dibayar. Pajak yang dikenakan untuk membiayai pembayaran ini menimbulkan beban bagi perekononian. Beban ini tidak terlihat karena sumber daya ditarik dari perekonomian. Dengan asumsi kita membicarakan hutang yang ditahan secara domestik, kita berhutang kepada diri kita sendiri dan pembayaran bunga hanyalah pemindahan dana dari satu kantong ke kantong yang lain. Namun demikian, pajak yang harus dikenakan untuk membiayai transfer ini membawa kerugian yang berat, seperti juga pajak laimya, dan ini menimbulkan beban bagi perekonomian. Beratnya pengaruh tersebut cenderung muncul bila rasio penerimaan pajak (yang diperlukan untuk melunasi hutang) pada GNP meningkat. Jelaslah hal itu menjadi begitu besar sehingga menimbulkan masalah beban dan hambatan yang serius, suatu faktor yang terlupakan dalam proposisi kita berhutang kepada diri kita sendiri. Akumulasi hutang selama perang mungkin begitu drastis, sehingga menyebabkan kekacauan fiskal dan penyangkalan hutang dalam periode sesudah perang. Peristiwa ini terjadi di negara-negara Eropa sesudah kedua perang dunia. Untunglah hanya ada sedikit kemungkinan bahwa bencana seperti itu akan terjadi dalam keadaan damai. Untuk memastikan, perluasan hutang yang terus menerus digabungkan dengan GNP yang konstan akan mengakibatkan suatu rasio hutang terhadap GNP yang tak terbatas. Tetapi GNP juga mengalami peningkatan dan dapat diperlibatkan bahwa rasio defisit pada GNP digabungkan tingkat pertumbuhan GNP yang konstan, akan mengakibatkan, rasio hutang pada GNP dan rasio bunga pada GNP yang mendekati konstan. Dengan melihat pada dekade yang akan datang, marilah kita andaikan bahwa GNP meningkat pada tingkat tahunan 5 persen (3 persen untuk inflasi dan 2 persen untuk pertumbuhan riil.) Selain itu, defisit tahunan kita andaikan sama dengan 4 persen dari GNP. Dengan asumsi yang agak pesimistik ini, rasio hutang terhadap GNP akan naik dari 51 persen menjadi 64 persen dalam 10 tahun, sedangkan rasio pembayaran bunga pada GNP akan meningkat dari 4,1 ke 5,1, Tingkat yang sepadan sesudah periode lima puluh tahun, masing-masing akan menjadi 8,1 dan 6,5 persen. Tampak bahwa prospek pertumbuhan hutang, sekalipun menurut asumsi sangat defisit, tidak langsung mengasumsikan proporsi yang eksplosif. Bahaya yang melekat dalam melanjutkan defisit yang besar tidak terletak pada pengaruhnya terhadap besarnya hutang, seperti dalam dampak langsung pada bauran fiskalmoneter sehingga berarti pada tingkat tabungan dan pertumbuhan. Penyangkalan Hutang melalui lnflasi? Secara nominal nilai pari dari hutang yang beredar bersifat tetap, tetapi inflasi akan mengurangi nilainya dalam satuan riil. Contoh, nilai pari hutang yang beredar di USA dalam tahun 1970 adalah $370 milyar. Tetapi antara tahun 1970 s.d. 1982, harga-harga naik dengan 150 persen atau pada tingkat majemuk tahunan 8 persen. Jadi nilai hutang ini dalam satuan dollar tahun 1970 turun menjadi $148 milyar, atau 40 persen dari saat itu. Apakah ini berarti bahwa inflasi menghasilkan penyangkalan (repudiation) hutang tersembunyi sebesar 60 persen? Jawabannya tergantung pada jangka waktu saat hutang diterbitkan. Bila diasumsikan seorang investor yang membeli obligasi pemerintah berjangka tiga Dasar-dasar Keuangan Publik

113
tahun dalam tabun 1970. Hasil pada saat itu adalah 7 persen, sehingga obligasi itu dapat ditebus pada $100 dalam tahun 1982 dan peneriman per tahun sampai terjual $100 adalah $7. Kemudian bila diasumsikan tingkat pengembalian modal yang sebenarnya adalah 3 persen, sehingga investor kita mengharapkan tingkat inflasi sebesar 4 persen. Pada tingkat inflasi ini hasil nominal 7 persen akan menghasilkan tingkat pengembalian 3 persen. Tetapi ternyata tingkat inflasi selama tiga tahun adalah 8 persen. Jika si investor telah mengetahui hal ini, ia akan meminta hasil sebesar 11 persen, yakni suatu obligasi yang terjual pada nilai pari yang seharusnya mempunyai pembayaran kupon sebesar $11 per tahun. Tingkat inflasi yang lebih tinggi dari yang diantisipasikan memberikan tingkat pengembalian riil (real rate of return) kepada investor sebesar -1 persen (7 persen dikurangi 8 persen). Kerugian investor ini dicerminkan oleh keuntungan yang diterima pembayar pajak, yang beruntung dalam melunasi hutang (bunga dan pembayaran kembali pada jatuh tempo) dengan dollar yang lebih murah. Pada tahun 1982, hasil (yields) telah meningkat menjadi 13 persen dan disusul dengan meningkatnya perkiraan inflasi. Sejak itu jumlahnya menurun menjadi sekitar 8 persen, bersama dengan penurunan dalam tingkat inflasi menjadi di bawah 4 persen. Dengan demikian, apakah penyangkalan hutang melalui inflasi akan terjadi, tergantung pada seberapa tepat inflasi dintisipasi pada waktu hutang diterbitkan dan bagaimana antisipasi ini dicerminkan dalam tingkat bunga nominal yang lebih tinggi. Pada gilirannya hal ini tergantung pada jatuh tempo hutang. Jika hutang ditanam dalam bentuk klaim jangka pendek, katakanlah tagihan tiga bulan, tingkat hasilnya akan sesuai dengan tingkat bunga yang berlaku dalam pasar uang hingga akan cenderung menceminkan tingkat inflasi. Situasinya berbeda jika hutang tersebut bersifat jangka panjang dan terjadi tingkat inflasi yang tinggi yang tidak diperhitungkan kctika menetapkan syarat-syarat pada waktu hutang diterbitkan. Karena hutang paling banyak diterbitkan dalam bentuk surat berharga jangka pendek, maka penyangkalan hutang melalui inflasi tidak lagi menjadi isu utama.

Apakah Pembiayaan melalui Hutang akan Membebani Generasi Mendatang?
Pembahasan yang berhati-hati dilakukan terhadap pertanyaan apakah pembiayaan melalui hutang akan menimbulkan beban bagi generasi mendatang. Pengalihan beban kepada generasi mendatang adalah layak, sebagai suatu keadilan antar generasi, untuk pembiayaan atas pengeluaran modal publik. Terdapat berbagai mekanisme pengalihan beban, di antaranya termasuk a) pembentukan modal yang berkurang, b) pengalihan melalui tumpang tindih generasi, dan c) pengalihan beban dari hutang luar negeri. Lebih lanjut, pengandalan pada sumber daya luar tidak harus melibatkan penyerapan hutang luar negeri, tetapi dapat mengambil bentuk arus modal masuk dan surplus impor yang berkaitan. Menimbang bahwa ketakutan terhadap kebangkrutan fiskal adalah tidak realistik, timbul pertanyaan apakah pembelanjaan dengan hutang tidak akan membebani generasi mendatang?

Dasar-dasar Keuangan Publik

114
Bagaimana pengalihan (transfer) beban itu terjadi dan apa pengaruhnya pada ekuitas fiskal? Pengalihan Beban melalui Pembentukan Modal yang Berkurang Jika sumber daya sepenuhnya dimanfaatkan, kenaikan dalam jasa publik akan memindahkan sumber daya dari sektor swasta ke sektor publik, sehingga sumber daya yang tersedia untuk produksi barang-barang swasta akan berkurang. Dalam pengertian pelepasan sumber daya, beban tersebut haruslah dipikul oleh generasi sekarang. Tetapi tidak demikian halnya jika pemindahan beban dipandang dalam artian konsumsi masa berjalan (current consumption). Mekanisme pertama dari pengalihan beban diberikan melalui pembentukan modal yang berkurang. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme ini bekerja, kita kembali ke kerangka sistem klasik dimana investasi menyesuaikan dirinya sendiri secara otomatis terhadap tingkat tabungan yang akan datang, pada tingkat pendapatan full-employment. Dalam sistem tersebut, setiap pengalihan sumber daya dari sektor swasta ke sektor publik mengakibatkan sumber daya sektor sawsta berkurang. Dalam pengertian sempit ini, beban dari pengeluaran sekarang harus dipikul oleh generasi sekarang. Tetapi sumber daya yang ditarik dari sektor swasta mungkin berasal dari konsumsi atau pembentukan modal. Dalam kasus pertama, kesejahteraan dari generasi sekarang, yang diukur dengan konsumsinya dikurangi, dan pendapatan generasi mendatang tidak dipengaruhi. Dalam kasus kedua, kesejahteran konsumsi dari generasi sekarang tidak diganggu sementara generasi mendatang akan mewarisi stok modal yang lebih kecil dan menikmati pendapatan yang lebih rendah. Dalam pengertian ini, generasi mendatang akan dibebani. Jika kita selanjutnya mengasumsikan bahwa pembelanjaan dengan pajak berasal dari konsumsi, sedangkan pembelanjaan dari pinjaman berasal dari tabungan (sehingga menurut asumsi sistem klasik; berasal dari investasi maka selanjutnya pembelanjaan dengan pinjaman akan membebani generasi masa depan. Mengikuti prinsip bahwa jasa publik harus dibiayai atas dasar manfaat, sifat pengeluaran, yang harus dibiayai menjadi sangat panting. Dalam hal pengeluaran modal, manfaat akan terbawa ke masa depan sehingga pengalihan beban diperlukan sebagai suatu keseimbangan antar generasi. Seperti yang dinyatakan sebelumnya, ini merupakan penalaran untuk membagi anggaran menjadi komponen masa berjalan dan komponen modal, dengan yang pertama dibiayai oleh pajak dan yang terakhir oleh pinjaman. Beberapa kualifikasi dari argumen yang berlaku perlu dikemukakan; 1. Tergantung pada jenis pajak yang digunakan, pembiayaan dengan pajak sebagian dapat berasal dari tabungan. Demikian pula, pembiayan dengan pinjaman sebagian dapat berasal dari konsumsi. Tidak perlu semua transfer menaikkan konsumsi. Oleh sebab itu, defisit hanya memberikan suatu taksiran kasar mengenai penarikan sumber daya dari pembentukan modal swasta.

Dasar-dasar Keuangan Publik

115
2. Pendekatan harapan yang rasional (the rational expectation approach), seperti yang dikemukakan pada Bab X, mempertanyakan apakah tanggapan setiap individu terhadap pembiayaan melalui pajak dan pinjaman akan berbeda. Ketika generasi sekarang (sebagai individu yang rasional) meminjam kepada pemerintah, mereka diasumsikan dapat mengantisipasikan pajak masa depan (yang terhutang oleh pewarisnya) yang harus dipenuhi untuk melunasi hutang itu. Oleh karena itu, pembiayaan dengan pinjaman akan membuat keaadaan generasi pertama seperti pada pembiayaan dengan pajak. Tetapi apakah kekayaan bersih wajib pajak berkurang sedangkan pemberi pinjaman dikompensasikan ketika menerima obligasi pemerintah? Jawabannya adalah tidak, atau begitulah menurut pandangan aliran harapan rasional. Karena keuntungan ini akan dibatalkan oleh adanya asumsi kewajiban pajak masa depan. Jadi kekayaan bersih sektor swasta akan berkurang oleh pengeluaran publik, apapun metode pembiayaan (pajak atau hutang) yang digunakan. Berdasarkan argumen 'Ricardan Equivalence' ini, tidak dapat lagi dikemukakan bahwa pembiayaan melalui pinjaman akan mengakibatkan pengalihan beban sedangkan pembiayaan melalui pajak tidak seperti yang dinyatakan sebelumnya, hal ini merupakan asumsi yang hampir tidak realistis. Penalaran kita didasarkan atas asumsi sistem klasik yang terlaksana baik, di mana tingkat pemintaan agregat tidak dipengaruhi oleh pilihan antara pembiayaan melalui pajak dan melalui pinjaman. Jika asumsi ini tidak berlaku, pilihan antara pembiayaan melalui pajak dan melalui pinjaman seperti halnya bauran kebijakan fiskal-moneter mungkin harus ditentukan untuk memberikan tingkat permintaan agregat yang tepat, bukan mengakomodasikan pertimbangan keseimbangan antar generasi. Pertimbangan ini khususnya penting pada tingkat nasional, yang memikul tanggung jawab terhadap kebijakan stabilisasi; dan kurang penting pada tingkat lokal. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, pada tingkat lokal lebih sesuai menggunakan anggaran modal. Pengalihan Beban Melalui Tumpang Tindih Generasi Bila tidak ada tumpang tindih generasi (generation overlap), pembentukan modal swasta yang berkurang merupakan satu-satunya mekanisme di mana pinjaman domestik dapat dialihkan kepada generasi masa depan. Tetapi tidak demikian halnya jika terdapat dua generasi yang tumpang tindih dalam suatu waktu. Andaikan bahwa generasi 1 hidup dari tahun satu sampai tahun lima puluh, sedangkan generasi 2 hidup dari tahun dua puluh lima sampai tahun tujuh puluh lima. Juga andaikan bahwa semua pajak berasal dari konsumsi. Sekarang generasi 1, dalam tahun satu, dikenakan pajak sebesar $200.000 untuk memikul biaya gedung pemerintah ymg memiliki kegunaan selama lima puluh tahun. Hal itu dilakukan dengan mengorbankan konsumsi generasi tersebut dalam jumlah yang sama. Akan tetapi terdapat pula kemungkinan dalam tahun dua puluh lima sampai lima puluh untuk memungut pajak sebesar $100.000 dari generasi 2 guna membayar generasi 1, jadi melibatkan pengalihan konsumsi swasta dari generasi 2 ke generasi 1. Dengan cara ini generasi 1, sekalipun pada awalnya memikul keseluruhan beban tembut, namun kemudian dapat mengalihkan sebagian dari

3.

Dasar-dasar Keuangan Publik

116
beban itu ke generasi 2. Untuk maksud memastikan kembali, generasi 1 dapat diberi janji pembayaran kembali dalam bentuk obligasi, yang akan ditebus kemudian dengan pajak yang dikenakan pada generasi 2. Transfer antar generasi yang tumpang tindih seperti itu dapat berfungsi, sekalipun tidak ada pengaruh pada pembentukan modal sektor swasta. Kebalikan dari kasus ini, generasi 1 dapat memberi hadiah kepada generasi 2 dan menanggung semua beban tanpa menghasilkan generasi 2 untuk membayar hutang di masa mendatang. Hal ini persis sama dengan mekmisme yang diterapkan ketika pensiun hari tua diberlakukan dan yang pensiun pertama kali diberi tunjangan tanpa harus memberi sumbangan. Pengalihan Beban Melalui Hutang Luar Negeri Setelah membahas peranan pinjaman domestik, sekarang kita beralih pada pinjaman dari sumber-sumber luar. Mekanisme pengalihan beban melalui pinjaman luar negeri berbeda dalam beberapa hal. Perbedaan pertama adalah bahwa sekarang tidak ada keharusan bagi generasi 1 untuk mengurangi pengeluarannya. Pengeluaran sektor swasta tetap tidak berubah karena sumber daya tambahan yang diperlukan diperoleh dari luar negeri melalui surplus impor. Pembiayaan melalui pinjaman sekarang menimbulkan beban pada generasi 2 bukan dalam bentuk pembentukan modal yang berkurang, tetapi dengan membebani mereka dengan kewajiban untuk melunasi hutang kepada luar negeri. Pajak sekarang dipakai untuk membayar bunga kepada pihak luat negeri, bukan kepada pemegang hutang domestik. Generasi 2 tidak lagi berhutang kepada dirinya sendiri. Beban hutang luar negeri ini menggantikan kerugian pendapatan modal yang harus ditanggung oleh generasi 2, bila pembiayaan dilakukan melalui pinjaman domestik dan berakibat pengurangan dalam pembentukan modal. Sekarang bandingkanlah tiga sumber pembiayaan: (1) pajak, (2) pinjaman domestik dan (3) pinjaman luar negeri. Asumsikan bahwa metode I diambil dari konsumsi dan 2 diambil dari pembentukan modal, maka metode I akan membebani gcnerasi sekarang sedangkan metode 2 dan 3 akan membebani masa depan. Sekalipun metode 2 dan 3 sama dalam hal ini (dalam masalah beban), tetapi pilihan diantara keduanya tidak berarti harus persis sama. Jawabanya tergantung pada biaya pinjaman di dalam negeri dan di luar negeri. Jika biayanya sama (jika pengembalian pada modal domestik sama dengan tingkat bunga di luar), beban yang ditanggung generasi 2 akan sama dalam kedua kasus tersebut. Tetapi jika biaya domestik lebih tinggi, pinjaman luar mungkin akan lebih disukai. Pengandalan pada sumber daya luar negeri tidak harus melibatkan penempatan langsung hutang di luar negeri, tetapi dapat mengambil bentuk yang tidak langsung. Hasil yang sama bisa diperoleh jika hutangnya ditempatkan secara domestik, yaitu dengan menaikkan tingkat bunga yang menyebabkan arus masuk modal dan sekali lagi merupakan surplus impor. Jika disalurkan pada konsumsi, generasi 1 sekali lagi lepas dari beban sedangkan generasi 2 membayar pelunasan hutang pada dirinya sendiri, tetapi mereka harus membagi sebagian pendapatan nasional dengan pemilik luar negerinya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

dengan setiap generasi membayar untuk bagian manfaatnya sendiri. Sekali lagi. Bila pengeluaran itu akan dibiayai dari pajak. kenaikan sementara yang tajam dalam tarif pajak mungkin diperlukan. keadilan antar generasi terjamin. Untuk melaksanakan pemajakan berdasarkan manfaat. Karena usia kegunaan fasilitas itu akan berlangsung selama tiga puluh tahun. Pembagian beban itu tidak hanya terjadi di antara kelompok umur. cara yang paling adil adalah menyebarkan beban itu di antara generasigenerasi berikutnya dari warga kota yang akan memanfaatkan fasilitas tersebut. Lagipula. Kenaikan ini dengan sendirinya tidak diinginkan. dan yang lebih penting adalah bahwa tidak adil menimpakan semua beban kepada mereka yang membayar pajak dalam tahun tersebut. Andaikan suatu kotapraja bermaksud membangun gedung sekolah. karena hal ini akan mengakibatkan penurunan tingkat pembentukan modal swasta. Dalam proses itu. tidak demikian halnya dengan pinjaman luar negeri. yaitu topik.117 Peminjaman oleh Pemerintah Daerah Masalah keadilan antar generasi muncul paling serius pada tingkat lokal. Tetapi tidak ada keuntungan yang diperoleh dalam pencapaian tujuan ini jika pembentukan modal publik dibiayai dengan pinjaman. Meskipun mekanisme pengalihan beban dapat digunakan untuk menyebarkan biaya investasi publik. warga kota dan penerima manfaat akan dipajaki setiap tahun sesuai dengan bagian manfaat yang diterimanya dalam masa berjalan. biaya awal ditutup dengan pinjaman yang biasanya diperoleh dari pasar luar. Pengeluaran ini dengan demikian menyebabkan kenaikan tajam dalam total pengeluaran kotapraja. tetapi juga di antara kelompok-kelompok warga kota yang berubah dengan berubahnya populasi jurisdiksi akibat migrasi ke dalam dan migrasi ke luar. Dalam tahun-tahun berikutnya. karena wajib pajak merasa lebih mudah untuk membayar tarif pajak yang kurang lebih stabil. hutang diamortisasi dan dibayar kembali pada saat fasilitas itu digunakan. namun hal itu tidak dapat digunakan untuk menyebarkan biaya program pembangunan dalam arti luas. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sayangnya. karena tujuan pokok program terebut mensyaratkan bahwa pembentukan modal secara total (publik atau swasta) harus naik. generasi mendatang. yang akan kita bahas nanti pada saat membicarakan pembiayaan pembangunan. karena pada tingkat inilah sejumlah besar pengeluaran investasi publik dilakukan dan dibiayai. oleh karenanya memberikan suatu pola pembagian beban yang seimbang. Sebuah kotapraja yang membiayai bangunan sekolahnya dengan meminjam dan mengamortisasikan hutang itu selama usia kegunaan aktiva itu. Pengalihan Beban dalam Pembiayaan Pembangunan Pembahasan sebelumnya memberi implikasi yang kurang menyenangkan terhadap pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. mekanisme pengalihan beban pembiayaan dari pinjaman intern dengan demikian tidak dapat ditempatkan dalam situasi di mana seharusnya sangat tepat. Prinsip pemajakan berdasar kaidah manfaat ditempatkan dalam mengalokasikan beban di antara generasi-generasi. Akan tetapi. yang akan mempunyai usia kegunaan selama tiga puluh tahun.

makin besar volume kegiatan pendanaan kembali tahunan. yaitu dalam jatuh tempo jangka panjang.118 Manajemen Hutang Struktur jangka waktu dari suku bunga dan kriteria untuk bauran jatuh tempo hutang yang optimal perlu ditelaah. Dalam melaksanakan kegiatan ini. tetapi marilah kita lihat bagaimana penerapannya. tergantung pada apakah suku bunga itu diperkirakan akan naik atau turun. maka surat berharga yang harus dipilih adalah surat berharga yang menyerap biaya paling rendah bagi investor. Manajemen hutang didasarkan pada asumsi bahwa surat berharga yang jatuh tempo selalu dapat dilunasi. juga berlaku terhadap pinjaman. manajemen hutang melibatkan kegiatan pelunasan tahunan yang besar. Pola ini terbalik selama tahun-tahun depresi 1930an di mana laju suku bunga menurun tajam dan suku bunga jangka pendek berada di bawah suku Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi dapat ditarik oleh pemerintah asalkan dibayarkan pada harga pasar. harus diambil keputusan mengenai jenis instrumen hutang apa yang akan diterbitkan. Apabila suatu surat berharga jatuh tempo. Masalah utamanya adalah pilihan jatuh tempo. Seperti yang dikemukakan sebelumnya. Apakah suku bunga jangka panjang berada di atas atau di bawah suku bunga jangka pendek. Struktur Jangka Waktu dari Suku Bunga Jika kita melihat ke belakang pada sejarah suku bunga sepanjang-abad ini. Bila dipertimbangkan lebih cermat. Meskipun tingkat keseluruhan hutang dapat dinaikkan pada beberapa periode dan diturunkan pada periode lainnya (tergantung pada apakah kebijakan stabilisasi menghendaki defisit atau surplus). tetapi ini tidak berkaitan khusus untuk menentukan struktur jatuh tempo. Pandangan modern terhadap hutang nasional dan posisi pemerintah nasional dalam pasar hutang sangat berbeda. suku bunga jangka pendek teeryata selalu mendekati atau di atas suku bunga jangka panjang. seperti halnya pembiayaan kenaikan total hutang. Karena biaya untuk meminjam cenderung berbeda sesuai dengan jatuh tempo hutang. Secara tradisional dinyatakan bahwa hutang publik harus didanai (funded) dengan baik. Pilihan terhadap struktur jatuh tempo dapat dipandang sebagai suatu cara untuk membeli likuiditas pada biaya yang paling rendah. Jika demikian halnya. tidak dapat diperkirakan bahwa akumulasi hutang masa lain dapat dilunasi. yakni mereka akan meminjam dari pemberi pinjaman yang berbiaya paling rendah. pedoman dasar apa yang dipakai untuk memilih jatuh tempo yang akan ditawarkan Departemen Keuangan? Salah satu jawaban yang mungkin adalah memilih struktur jangka waktu dari hutang untuk meminimalkan biaya bunga. ini tampaknya suatu aturan yang terlalu sederhana. Prinsip ekonomi yang mengatakan bahwa pemerintah akan membeli pensil dari pemasok yang paling murah. hal itu akan didanakan kembali ke dalam surat berharga lain. Jadi hutang Inggris selama abad sembilan belas sebagian besar berbentuk konsol atau surat berharga berkesinambungan (perpetual securities) yang tidak mempunyai tanggal jatuh tempo tetap. Makin pendek rata-rata hutang yang beredar. Ketentuan ini akan melindungi pemerintah terhadap kontinjensi bahwa kreditor akan menuntut uangnya kembali pada waktu yang tidak tepat.

tingkat ymg rendah ini dipertahankan. Akibatnya. Kebijakan masa perang ini berlanjut sampai awal tahun lima puluhan. pemberi pinjaman (atau peminta surat hutang) akan ragu-ragu untuk mengikat dirinya untuk periode waktu yang lama. Kebijakan Bank Sentral dengan demikian menggunakan ketentuan tagihan saja di mana semua kegiatan pasar terbuka dan dijalankan dalam Treasury Bills. karena Bank Sentral harus selalu siap membeli obligasi di pasar terbuka. Pada saat yang sama. Harga surat hutang jangka pendek meningkat dan hasilnya menurun. akibat naiknya harga-harga. apabila diperlukan untuk menjaga harga obligasi agar tidak turun dan menjaga hasil obligasi agar tidak naik. pemintaan akan surat hutang jangka pendek meningkat relatif terhadap penawarannya. Jadi pemintaan akan surat hutang beralih dari jangka panjang ke jangka pendek. timbul untuk menceminkan tingkat jangka pendek masa depan yang diperkirakan. sedangkan laju inflasi yang diperkirakan adalah 6 persen. Teori Struktur jangka Waktu Para ekonom telah mencoba untuk menjelaskan istilah struktur suku bunga berdasarkan tingkat pengharapan. Dampak lnflasi Akhimya. Jadi. Hal sebaliknya akan timbul bila diperkirakan akan terjadi penurunan tingkat bunga. jika suku bunga atau pengembalian riil dalam keadaan tanpa inflasi adalah 3 persen. seperti yang berlaku dalam argumen. Akibatnya. di pihak lain senang meminjam sebelum biaya-biaya naik. Metode yang dipertahankan oleh Departemen Keuangan ini diserang oleh Sistem Bank Sentral. Tingkat jangka panjang. harga surat hutang jangka panjang menurun dan hasilnya meningkat. Sesudah transisi secara bertahap. maka suku bunga nominal akan cenderung menjadi 3+6. dengan tingkat jangka pendek dan jangka panjang bergerak mendekat satu sama lain dan tingkat jangka pendek kadang-kadang di atas tingkat jangka panjang. Dalam suatu situasi di mana diperkirakan tidak ada perubahan dalam suku bunga. atau 9 persen. kurva hasil akan miring ke atas. Selama periode perang. Peminjam (atau penawar surat hutang). sama seperti Dasar-dasar Keuangan Publik .119 bunga jangka panjang. Tambahan 6 persen diperlukan untuk mempertahankm daya beli obligasi sekalipun keuntungan bersih dalam bentuk neto hanyalah 3 persen. pemintaan surat hutang jangka panjang turun relatif terhadap penawarannya. pasaran surat berharga kembali ke pola suku bunga yang lebih tinggi. Inflasi akan menaikkan suku bunga karena pemberi pinjaman ingin melindungi diri mereka terhadap kerugian nilai riil klaim mereka. Hal ini mengharuskan penyempurnaan jumlah besar hutang oleh bank-bank komersial dan kenaikan yang sepadan dalam jumlah uang beredar. bagaimanakah mekanisme masuknya inflasi ke dalam struktur suku bunga? Dampak inflasi terhadap suku bunga umum mudah kita lihat. Akibatnya. Jadi. tidak ada alasan bahwa tingkat jangka pendek dan jangka panjang akan berbeda. Jadi. penawaran surat hutang beralih dari pasar jangka pendek ke pasar jangka panjang. Penyesuaian inflasioner ini diperhitungkan untuk kenaikan tajam dalam suku bunga umum. sesuai dengan teori ini. karena mereka berharap mendapatkan jangka waktu yang lebih menguntungkan di waktu berikutnya. sehingga memungkinkan pembiayaan hutang perang pada biaya yang lebih rendah. Kebijakan ini terbukti tidak sesuai dengan penerapan pembatasan moneter.

yang membutuhkan penaksiran tajam terhadap prospek pasar untuk jangka waktu yang cukup panjang. Struktur Jangka Waktu dan Manajemen Hutang yang Efektif Sekarang kita dapat mempertimbangkan kembali implikasi struktur jangka waktu dari suku bunga untuk majemen hutang dan mempertanyakan apakah biaya bunga dapat diperkecil dengan menjual surat berharga yang. Biaya bunga hutang yang telah dibuat harus dibayar untuk periode penuh meskipun tingkatnya bisa turun. Jika para pengelola hutang berharap suku bunga akan naik. kriteria biaya bunga minimum tidak memberikan pedoman yang mencukupi. Hubungan antara inflasi dan jangka waktu suku bunga kurang jelas. dengan menerbitkan obligasi yang berjangka lebih panjang dan nilai pelunasan dari surat berharga tersebut diindeks pada tingkat harga. Yang menjadi masalah pokok adalah arah perubahan suku bunga yang diharapkan oleh Departemen Keuangan. dapat ditempatkan pada biaya jatuh tempo ymg paling rendah. Andaikan bahwa Departemen Keuangan dapat meminjam untuk jangka waktu satu tahun pada 5 persen dan dua puluh tahun pada 7 persen. tetapi dengan pembayaran kupon tahunan yang bervariasi mengikuti tingkat inflasi. sehingga struktur jangka waktu tidak akan dipengaruhi. Namun bagaimanapun juga. Pilihan yang pertama belum tentu baik karena tingkat bunga bisa juga turun sebelum dua puluh tahun berakhir. katakanlah 4 persen. dan investor mengharapkan laju ini dapat dipertahankan. pemerintah pusat dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Atau andaikan Departemen Keuangan dapat meminjam untuk 20 tahun pada 5 persen dan untuk satu tahun pada 7 persen. Atau terhadap obligasi tersebut ditetapkan nilai pari yang tetap. Ini tidak berarti bahwa mengambil surat berharga satu tahun akan lebih baik. suatu harapan bahwa inflasi akan menurun akan ccnderung menurunkan suku bunga nominal masa depan. Dengan demikian manajemen hutang merupakan suatu seni yang tinggi. Hanya jika laju inflasi yang diperkirakan berubah. jika mereka memperkirakan suku bunga akan turun. karena pada akhir tahun peluang untuk meminjam pada 7 persen mungkin akan lenyap jika tingkat bunga naik. beban tambahan inflasi juga akan tetap pada 4 persen. Telah beberapa kali diusulkan agar Departemen Keuangan dan wajib pajak dapat dilindungi terhadap perubahan yang tak terduga dalam laju inflasi. Jawabnya jelas tidak. sehingga menyebabkan penurunan dalam tingkat jangka panjang relatif terhadap tingkat jangka pendek. tidak ada lagi jalan keluar lain. Jadi.120 perkiraan penurunan inflasi yang diperhitungkan untuk perkiraan penuruan suku bunga. Demikian pula sebaliknya untuk kenaikan yang diperkirakan dalam tingkat inflasi. Hal yang penting adalah sekali suatu komitmen telah dibuat. dan keuntungan dari suku bunga yang rendah akan terus diakrualkan sekalipun tingkatnya mungkin naik. maka struktur jangka waktu akan dipengaruhi. Selama inflasi bergerak pada laju yang konstan. bila diukur dengan hasil saat ini. pilihannya adalah pada jangka pendek. Tetapi seandainya pun perubahan tingkat yang diperkirakan telah diperhitungkan. pilihan yang tepat adalah meminjam untuk jangka panjang.

Konsekuensinya. Perpanjangan hutang pada saat pengembalian cenderung untuk menjadi restriktif. Jadi prinsip meminimisasikan biaya bunga harus dinilai kembali karena adanya pembelian likuiditas pada jangka yang lebih murah. Dalam hal apapun. atau jenis penerbitan yang akan ditarik bila surplus digunakan untuk pengurangan hutang. sejauh bersangkutan dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . mereka menginginkan syarat yang lebih menguntungkan pada surat berharga jangka panjang dan bisa menerima syarat yang kurang menguntungkan pada surat berharga jangka pendek. manajemen hutang dapat digunakan untuk mendukung dampak ekspansioner dan restriktif dari kebijakan stabilisas saat ini. Perpanjangan akan menaikkan suku bunga jangka panjang relatif dibanding jangka pendek. Dipandang dari sudut ini. Namun itu bukanlah pemecahan yang memuaskan. yang menimbulkan kenaikan tingkat pemintaan agregat dan inflasi yang berlebihan. Timbul pertanyaan apakah satu dollar dari hutang jangka pendek bermanfaat mengurangi likuiditas seperti satu dollar dari hutang jangka panjamg. tetap ada pertanyaan mengenai apa yang merupakan bauran jatuh tempo yang baik. karena mengganti hutang dengan uang akan menaikkan likuiditas dalam jumlah besar. karena sama sekali tidak akan melibatkan biaya bunga. Mereka selalu dapat mengganti hutang publik dengan uang. tujuan menerbitkan surat hutang dan bukan uang (atau mengganti hutang jatuh tempo yang beredar dengan hutang baru dan bukan menguangkannya) adalah membeli likuiditas. Pengaruh restriktif dari kenaikan suku bunga jangka panjang pada investasi swasta akan melebihi pengaruh ekspansioner dari penurunan suku bunga jangka pendek. Hutang jangka pendek cenderung lebih mirip uang. Jika hutang jangka panjang membuat penanamnya kurang likuid. Pertimbangan serupa yang diterapkan pada pendanaan kembali (atau swapping hutang) juga berlaku dalam hal memilih jenis penerbitan surat berharga untuk membiayai defisit. baik langsung melalui pencetakan uang ataupun dengan meminjam dari bank sentral. Penggantian hutang dengan uang jelas merupakan cara yang paling murah untuk menangani masalah tersebut. dan sebaliknya mempersingkat hutang cenderung untuk menjadi ekspansioner. jadi perpanjangan hutang akan bersifat restriktif. Para investor yang ingin menahan persediaan surat berharga jangka panjang dan jangka pendek pada rentang hasil tertentu. Para investor harus diyakinkan untuk memiliki surat hutang dan bukan uang. yang tidak selaras dengan tujuan kebijakan stabilisasi. yang mungkin merupakan faktor penentu dalam menentukan kebijakan manajemen hutang. sekarang harus menahan lebih banyak surat berharga jangka panjang dan lebih sedikit jangka pendek. mungkin beralasan bagi Departemen Keuangan untuk menerbitkan surat berharga seperti itu. dan cara melakukan hal ini adalah dengan membayar mereka. karena pengeluaran modal biasanya didasarkan pada pembelanjaan jangka panjang.121 pengendaliannya atas penciptaan uang dapat mengatur laju suku bunga di pasar. Di samping penyesuaian jangka pendek. tujuan kebijakan jangka pendek. bukan perkiraan perubahan tingkat jangka panjang dan implikasinya pada biaya bunga. Untuk melakukan hal ini. sekalipun biaya bunga agak lebih tinggi.

Pada sisi penawaran dalam pasar dana. Akibatnya. Pertimbangan untuk meminjam pada tingkat pemerintah lokal dengan demikian sangat besar dibandingkan dengan tingkat pusat. Suatu hutang pada ukuran tenentu. Pada sisi pemintaan. dengan membebaskan pajak pusat untuk pembayaran bunga atas hutang tersebut. tergantung pada posisi fiskal dari juridiksi dan peringkat kreditnya. Hutang pemerintah lokal sekarang melebihi $500 milyar dan telah naik dengan jumlah tahunan rata-rata sekitar $15 milyar selama dekade lalu. Biaya peminjaman untuk pemerintah lokal dikurangi. seperti yangg dikemukakan sebelumnya. kesempatan untuk meminjam oleh pemerintah lokal terjadi terutama ketika sejumlah besar pengeluaran modal harus dibiayai. Hutang Pemerintah Lokal Akhimya. Hutang ini sebagian besar berjangka panjang dan mengmbil berbagai bentuk. sebagian besar akan tergantung pada besamya stok uang. Jika kita perhatikan kembali pembahasan dalam pemerintah lokal. temasuk obligasi umum dan obligasi pendapatan khusus. seperti perusaahaan listrik dan air minum yang dikelola Dasar-dasar Keuangan Publik . Dampak likuiditas pada sektor swasta dari kombinasi hutang yang lebih panjang serta persediaan uang yang lebih besar. dan biaya peminjaman banyak bevariasi. Peningkatan penggunaan yang meragukan atas pinjaman pemerintah lokal dilakukan dalam bentuk obligasi pendapatan. yang pada hakikatnya berlaku untuk membiayai industri swasta di bawah payung kebebasan pajak. Bila tidak ada penalaran yang lebih baik. dan lebih mirip investor swasta yang berupaya mengamankan dana di pasar. Persentase kenaikannya agak di bawah hutang pemerintah dan GNP. akan dipilih oleh seseorang dengan hampir semuanya jangka pendek atau hampir semuanya jangka panjang. memerlukan volume kegiatan pendanaan kembali yang lebih kecil. tetapi ini hampir bukan merupakan pertimbangan yang menentukan. suatu hutang ymg terlalu panjang dapat menimbulkan kekakuan dalam struktur keuangan dan kurang dapat memberikan likuiditas yang diperlukan. kita bahas secara singkat mengenai pasar bagi hutang pemerintah lokal. akan membuat perkonomian berada dalam posisi yang lebih likuid hingga cenderung untuk menaikkan kemungkinan perubahannya. jika hal itu tidak efisien. katakanlah lima belas tahun. Masalah manajemen hutang untuk pemerintah lokal berbeda dengan tingkat pusat. Yang terbaik dapat dilakukan adalah mendapatkan dana pada syarat yang menguntungkan yang tersedia. jika jangka pendek. Hutang jangka panjang. hal ini. Yang terakhir dikeluarkan oleh instansi tertentu atau perusahaan umum. Dalam situasi apapun. lebih bijaksana apabila pengeluaran tersebut dibiayai dari pinjaman dan bukan dari pajak. tugas kebijakan stabilisasi menjadi lebih sulit. Pasar untuk hutang pemerintah lokal sangat terstratifikasi. Perbedaan ini berlaku baik mtuk sisi permintaan maupun untuk sisi penawaran. di mana kebijakan stabilisasi merupakan penentu utama.122 hutang yang beredar. Di pihak lain. karena hasil (yields) tergantung pada peringkat kredit dari jurisdiksi. pemerintah lokal tidak memiliki kendali atas kondisi pasar uang tempat mereka harus meminjam. mungkin serupa dengan dampak kombinasi hutang jangka pendek dengan persediaan uang (jumlah uang beredar) yang lebih kecil. orang akan mempunyai pandangan bahwa struktur jatuh tempo yang seimbang sampai.

Pertama. dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh subsidi langsung dari pemerintah pusat pada biaya yang sama. keuntungan ini banyak dikurangi pada tahun 1986 melalui pemotongan tarif pajak marjinal. misalnya jalan raya dan bangunan sekolah. terdapat pertanyaan selanjutnya tentang apakah dukungan umum untuk pembayaran bunga pada tingkat negara bagianlokal tersebut diperlukan. dan laba perusahaan itu digadaikan untuk membiayai pelunasan hutang. Karena alasan ini. jawaban pertanyaan tersebut negatif. mungkin lebih dapat Dasar-dasar Keuangan Publik . membayar pajak lebih sedikit daripada mcreka yang mendapat penghasilan sama dari sumber lain. alasan pokok terhadap dukungan bunga umum tampaknya meragukan. peminjaman ncgara bagian dan lokal merupakan aspek tambahan dari federalisme fiskal. Seorang investor yang tarif pajak marginalnya 28 persen akan bersedia (dengan asumsi hal lain tetap sama) mensubstitusikan obligasi kotapraja yang menghasilkan 4 persen untuk obligasi perusahaan yang menghasilkan 5. Keuntungan pajak ini akan mengalihkan dana ke pasar yang bebas pajak. atau subdivisi lain.6 persen. Terlepas dari pertanyaan tentang cara bagaimana dukungan pembayaran bunga yang paling baik dapat diberikan. Lebih lanjut. Terlepas dari masalah politik dan sejarah konstitusional (dilihat dari pembahasan sebelumnya bahwa instrumentalitas pemerintah lokal harus dibebaskan dari perpajakan pusat). Tetapi bentuk bantuan khusus ini memperoleh kritik karena dua alasan. Tampaknya. baik berdasarkan dampak pelimpahan (spillover effects) atau pun pertimbangan manfaat. Biaya penyediaan dana bagi berbagai juridiksi peminjamaman merupakan faktor penting bagi ketentuan pelayanan lokal dan negara bagian yang melibatkan pengeluaran modal yang besar.123 oleh negara bagian. Seperfi telah dibahas sebelumnya. kotapraja. bantuan ini mempengaruhi segi keadilan dari struktur pajak penghasilan. pertanyaan yang timbul kemudian adalah apakah pengeluaran modal (capital expenditure) sebagai suatu kelompok lebih dipilih dibanding pengeluaran masa berjalan (current expenditure) hingga bermanfaat memberikan subsidi khusus. akan lebih baik jika bantuan tersebut diberikan dcngan cara yang tidak melibatkan preferemi pajak. Dengan demikian. kebijakan publik memberikan dukungan secara umum terhadap pinjaman pemerintah lokal dengan membebaskm pajak penghasilan bunga surat berharga menurut pajak penghasilan. sehingga mcngurangi biaya peminjaman pemerintah lokal dan negara bagian. negara bagian maupun lokal. nilai pembebasan pajak meningkat menurut tarif kelompok sehingga mengganggu keadilan vertikal. Karena pinjaman pemerintah lokal digunakan untuk pengeluran modal. Pembebasan Pajak versus Subsidi Bunga Langsung Seperti yang telah kita bahas sebelumnya. pembebasan pajak hanya menghasilkan keuntungan tabungan bunga yang lebih kecil terhadap pemerintah lokal. seperti halnya hibah menurut kategori tertentu. Penerima penghasilan tinggi yang menerima bunga bebas pajak. Pengeluaran seperti itu sangat penting baik dari sudut pandang nasional. Dipandang dari sudut ini. maka dukungan seperti itu maka sama saja dengan menggunakan hibah untuk keperluan pengeluaaran modal. Selain itu. Dukungan terhadap pinjaman negara bagian dan lokal atas dasar lebih selektif.

dan hal itu akan mengurangi biaya pinjaman bagi kotapraja kecil dengan cara menyebarkan risiko. Obligasi seperti itu diterbitkan oleh jurisdiksi pemerintah lokal. Dasar-dasar Keuangan Publik . pengurangan dalam biaya pendanaan melalui pembebasan pajak pusat diteruskan pada kesatuan yang pada hakikatnya merupakan perusahaan swasta. Dengan perkataan lain. Tetapi kebijakan seperti itu tidak dapat dipertahankan dari sudut pandang nasional.124 dibenarkan Dalam hubungan ini. dan berbagai pembatasan telah diterapkan. suatu bank dapat berfungsi sebagai alat dalam mengatasi ketidakmenentuan yang sekarang berlaku dari sistem peringkat kredit. hal itu dipandang sebagai sarana untuk menarik perusahaan ke daerahnya. pembentukan lembaga perantara keuangan (financial intermediaries) yang meminjam untuk dirinya sendiri di pasar dan kemudian meminjamkan kembali kepada kotapraja lebih bisa dipertimbangkan. Jadi. dan hasilnya digunakan untuk membangun fasilitas industri yang pada gilirannya disewakan kepada perusahaan-perusahaan swasta. perlu diperhatikan pula pertumbuhm pendapatan obligasi industri selama dekade terakhir. Obligasi Pendapatan industri Akhimya. Di pihak lain. Akhir-akhir ini praktek seperti itu juga telah diperluas dengan memberikan dana hipotik. hal itu juga akan menimbulkan pembiasan politik pada dana yang tersedia. Dan sudut pandang kotapraja tertentu. Jadi. institusi tersebut dapat bermanfaat dalam menstabilisasikan fluktuasi siklus pada biaya pinjaman dan dalam memodifikasi dampak perubahan kebijakan moneter terhadap sektor pasar modal ini.

pajak juga dapat difungsikan sebagai alat pengaturan dan pengawasan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sektor swasta (fungsi regulator). Di Indonesia. pajak adalah wajib. Untuk itu. A Penerimaan Pajak Pajak adalah pungutan yang ditarik dari masyarakat tanpa mengakibatkan timbulnya kewajiban bagi pemerintah terhadap pihak pembayar. Penerimaan Non Pajak Disamping pajak. Kewajiban pajak menurut undang-undang dapat dipaksakan. Disamping sebagai sumber penerimaan negara (fungsi budget). masyarakat harus dihimbau secara sukarela menyerahkan sebagian pendapatannya untuk kepentingan penyediaan barang-barang dan jasa-jasa publik. sumber penerimaan pajak adalah yang terbesar. Sedangkan pada fungsi regulator. Pengumpulan pendapatan dari masyarakat dapat dikategorikan sebagai penerimaan pajak dan penerimaan non pajak. Dengan sistem perpajakan. pajak dimaksudkan untuk mengumpulkan dana yang akan digunakan bagi pembiayaan kegiatan rutin operasional pemerintah mengatur negara. pemerintah dapat menggunakan sumber-sumber non pajak yang mampu menggalang dana bagi keperluan pembiayaan pengeluaran publik. Mekanisme perpajakan juga dapat diterapkan untuk mendorong atau mengurangi jumlah pendapatan yang dikonsumsikan. Jenis-jenis penerimaan tersebut antara lain: Dasar-dasar Keuangan Publik . kebijakan perpajakan dimaksudkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan dengan cara mengatur pola produksi dan konsumsi barang-barang ekonomi. Pada fungsi budget. pemerintah dapat mendorong investasi yang menghasilkan barang-barang produksi tertentu atau sebaliknya. Sedangkan terhadap pelanggar peraturan perpajakan dapat dikenai hukuman yang berlaku. Menurut sifatnya.125 B A B XIII DASAR-DASAR PERPAJAKAN ktivitas pemerintah memerlukan realokasi sumber-sumber daya dari sektor swasta.

Hal ini biasanya dilakukan untuk membiayai suatu proyek besar dan memakan waktu lama seperti pembangunan rumah sakit. menurut kaidah ekonomi akan menyebabkan kenaikan harga pasar barang dan jasa. kebijakan utang oleh pemerintah diaplikasikan dengan menerbitkan Surat Utang Negara (SUN). Dana hibah (grant/sumbangan yang tidak perlu dikembalikan) negara lain dapat juga dianggap sebagai donations. tarif parkir dan sebagainya. Pinjaman merupakan penarikan dana masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah dengan janji untuk membayar kembali pada masa mendatang. Adanya tambahan jumlah uang beredar yang tidak diikuti tambahan jumlah produksi. Debt Finance Government Induced Inflation Donations User Charges Government Enterprise Lottery Debt Finance adalah penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pengeluaran publik. Donations adalah kontribusi sukarela kepada pemerintah dari masyarakat atau oraganisasi-organisasi kemasyarakatan. seperti tarif jalan tol. dewasa ini fungsi perusahaan negara terutama bukan untuk mencari laba tetapi lebih pada pemicu pertumbuhan ekonomi. karena sulitnya memprediksi. 4. Penggalangan dana tersebut biasa dilakukan melalui himbauan-himbauan yang dapat menggugah kerelaan masyarakat. Berkaitan dengan otonomi daerah. Dewasa ini. dewasa ini banyak sekali jenis-jenis retribusi yang diatur dengan Peraturan Daerah yang dimaksudkan untuk menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan kata lain. tarif pintu masuk tempat-tempat rekreasi. Di Indonesia. User Charges atau retribusi dipungut apabila dimungkinkan untuk dikenakan kepada masyarakat yang menggunakan jasa-jasa tertentu. 3. Akan tetapi. korban peperangan dan sebagainya. dana hibah tidak dapat diharapkan sebagai alternatif penerimaan andalan.126 1. 2. Government Enterprise adalah perusahaan yang dimiliki pemerintah yang memproduksi dan menjual barang. 6. Sebagian laba yang dihasilkan perusahaan-perusahaan negara dapat dijadikan sebagai tambahan penerimaan pemerintah. pemerintah akan membayarkan sejumlah bunga selama pinjaman tersebut belum dilunasi. Misalnya penggalangan dana kemanusiaan untuk korban bencana alam. Government Induced Inflation dilakukan dengan cara mencetak uang baru untuk membiayai pengeluaran publik. Pada kebanyakan negara maju. Inti dari kegiatan ini adalah mengakibatkan penambahan jumlah uang yang beredar dimasyarakat. Untuk keperluan pinjaman. 5. Dasar-dasar Keuangan Publik . jasa atau keduanya untuk memperoleh laba. mekanisme pinjaman oleh pemerintah terhadap dana masyarakat dapat juga digunakan untuk mengurangi jumlah uang beredar. jalan tol dan sebagainya. Untuk mendorong iklim investasi yang positif. adanya keterkaitan langsung antara jumlah nominal yang dibayar dengan balas jasa yang diterima. Kebijakan yang serupa seperti kegiatan melepas cadangan uang yang ditahan oleh bank sentral dapat juga dikategorikan sebagai Government Induced Inflation.

Pajak diharapkan dapat menjadi alat distribusi pendapatan secara lebih fair dan mengurangi kesenjangan pendapatan.127 perusahaan-perusahaan milik negara sebisa mungkin bersaing secara kompetitif dalam iklim pasar yang sehat. surat undian harus dijual secara murah sehingga tidak menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak menang. Atau masyarakat diharapkan lebih berniat untuk menyumbang kepada pemerintah dibanding berharap memenangkan hadiah. Lottery adalah kegiatan penggalangan dana yang bertujuan untuk membiayai kegiatan tertentu dengan diiming-imingi hadiah bagi yang membeli surat undian. pemerintah dapat mengurangi perannya sedemikian rupa dengan cara melepas sahamnya kepada publik. Hal ini juga perlu ditunjang dengan adanya kecukupan proses sosialisasi dengan memasukkan unsur-unsur kemajemukan masyarakat. kebijakan ini sering disalahgunakan oleh sebagian masyarakat dengan kultur tertentu yang senang berangan-angan dan ingin merubah status sosialnya secara cepat. Jumlah nominal pajak yang dibayarkan oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah harus lebih kecil dari golongan masyarakat yang lebih tinggi. Jika dirasakan bahwa sektor swasta telah mampu mengembangkan sektor ekonomi tertentu. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. Pembahasan selanjutnya akan memaparkan bahwa apapun kebijakan yang diambil. Prinsip kenyamanan (convenience) 4. Hal ini berakibat kurangnya tingkat produktivitas masyarakat pada sektor-sektor ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa. perusahaan-perusahaan yang dimiliki negara lebih berkonsentrasi pada sektor-sektor ekonomi yang belum mampu dibiayai swasta. Pada akhirnya. Prinsip keadilan (equity) 2. Pada prakteknya. tetapi juga dapat difungsikan sebagai regulator (pengatur). Secara teori. Prinsip ekonomi (economy) Prinsip keadilan menekankan bahwa beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan relatif masyarakat. Prinsip kepastian (certainty) 3. Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsipprinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1. Kebijakan perpajakan harus dibuat sesederhana mungkin dan diformulasikan menggunakan kata-kata yang meminimalkan adanya penafsiran ganda. Prinsip kepastian dimaksudkan agar pada pelaksanaan pemungutan pajak tidak terjadi distorsi berupa kesalahan yang disengaja (penyelewengan) atau yang tidak disengaja akibat kekurangpahaman. prinsip keadilan yang memuaskan semua pihak tidak akan pernah tercapai. Prinsip-Prinsip Pajak Pada awal bab digambarkan bahwa pajak tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana masyarakat untuk membiayai pengeluaran publik. Dasar-dasar Keuangan Publik . kebijakan perpajakan harus berlandaskan pada prinsip-prinsip yang relevan.

Mereka sedapat mungkin tidak dikenakan biayabiaya lain diluar kewajiban pajak murni. Kenyamanan wajib pajak dapat diberikan dengan bentuk layanan prima. Prinsip ekonomi menegaskan pentingnya perbandingan antara biaya dan hasil yang efisien. Biaya pemungutan juga tidak layak dibebankan kepada wajib pajak. sebisa mungkin dihindarkan adanya unsur-unsur menekan atau kekerasan. Sehingga tujuan penggunaan pajak untuk pembiayaan pengeluaran publik lebih mudah tercapai.128 Prinsip kenyamanan menggarisbawahi pentingnya menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi wajib pajak agar dengan sukarela bersedia memenuhi kewajiban-kewajibannya. Untuk itu perlu diidentifikasi pos-pos penerimaan dan pengeluaran dalam siklus perekonomian. Upaya-upaya penarikan pajak harus disertai dengan kegiatan yang meminimalkan biaya pemungutan atau biaya-biaya lain yang dapat mengurangi penerimaan bersih negara. Dengan kata lain. Pada hakekatnya siklus penerimaan dan pengeluaran dalam perekonomian pada umumnya adalah seperti gambar berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . Kepada mereka yang patuh diberikan penghargaan yang setimpal. Sebaliknya. pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pola pengeluaran rumah tangga serta perusahaan. Siklus Arus Pajak Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. Pajak atas pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. Prosedur pembayaran pajak atau menjadi wajib pajak harus dibuat semudah mungkin.

Total penerimaan perusahaan tersebut selanjutnya sebagian akan digunakan sebagai pengeluaran perusahaan (8). dan sewa. Adapun total penerimaan dari kedua pasar tersebut disebut penerimaan kotor perusahaan (7). Termasuk dalam keuntungan perusahaan adalah pendapatan jasa modal (14) yang dibayarkan kepada rumah tangga seperti bunga. dan sebagian lagi dibayarkan perusahaan sebagai biaya gaji karyawan (11) sedangkan sisanya adalah keuntungan perusahaan (12). Sedangkan jumlah pajak yang dipungut dihitung dengan mempergunakan tarif pajak. secara umum terbagi atas tiga bentuk yaitu: 1.1 Pos yang pertama adalah pendapatan rumah tangga (1). sedangkan seluruh tabungan masyarakat diasumsikan mengalir menjadi bagian dari investasi (5) yang pada akhirnya mengalir ke pasar barang modal. Regressive tax rate Proportional (flat) tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu.129 Gambar 11. Sedangkan golongan masyarakat lainnya yang memiliki usaha yang menghasilkan produk dikategorikan sebagai perusahaan. Sebagian pengeluaran perusahaan akan disisihkan untuk biaya penyusutan (9). Tarif Pajak Titik-titik pembebanan dalam siklus pajak adalah segala sesuatu yang dapat dikenakan pajak atau biasa disebut objek pajak. Sebagai ilustrasi. Pendapatan rumah tangga ini kemudian akan mengalir dalam dua bentuk yaitu sebagian menjadi konsumsi rumah tangga (2) sebagai biaya pemenuhan kehidupan sehari-hari masyarakat dan sisanya menjadi tabungan rumah tangga (3). deviden. Sedangkan sisa keuntungan yang tidak dibagi (15) akan menjadi tabungan perusahaan (16). Jumlah nominal konsumsi masyarakat akan sama dengan jumlah penerimaan kotor perusahaan dari pasar barang konsumsi (4) sedangkan jumlah investasi akan sama dengan jumlah penerimaan kotor dari pasar barang modal (6). diasumsikan akan menjadi investasi seluruhnya. Sedangkan tabungan perusahaan bersama-sama tabungan rumah tangga. Jika dilihat dari sudut pandangan dasar penentuan tarif pajak. Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan golongan masyarakat yang diperoleh dari penghasilan upah atau gaji sebagai karyawan dan pendapatan jasa modal. Progressive tax rate 3. Jumlah biaya gaji yang dibayarkan perusahaan akan menjadi pendapatan gaji (13) bagi rumah tangga. berapapun jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. Proportional (flat) tax rate 2. jumlah pengenaan tarif pajaknya sama. Jumlah pendapatan rumah tangga yang dikonsumsi kemudian akan mengalir ke pasar barang konsumsi. Dengan kata lain. jika pendapatan yang diterima Dasar-dasar Keuangan Publik .

Tabel 11.2: Pajak Progresif Pendapatan Pajak Nominal % 1.000 300 15.000 600 20. Dengan kata lain. akan dikenakan tarif yang lebih besar pula. Tabel 11.0 3. jumlah pendapatan yang lebih besar yang diterima oleh wajib pajak. maka secara otomatis jumlah pajak yang terhutang menjadi naik sebesar 100%. Dengan kata lain. Tabel 11.0 9.0 Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak. maka jumlah kenaikan pajaknya kurang dari 100%.000 100 10.0 8. jumlah pajak yang terhutang menjadi naik melebihi 100%.1: Pajak Proporsional Pendapatan Pajak Nominal % 1.000 200 10.0 2. Tabel dibawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak proportional diterapkan.000 100 10.130 oleh wajib pajak naik sebesar 100%.000 100 2.000 240 % 10. semakin menurun tarif yang dikenakan. Sebagai ilustrasi. Beberapa istilah yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain: • Pajak Perseorangan dan Pajak in Rem • Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung • Pembayaran Transfer Dasar-dasar Keuangan Publik . Tabel dibawah ini menggambarkan bagaimana tarif pajak regressive diterapkan. Sebagai ilustrasi. jika seorang wajib pajak mendapat kenaikan pendapatan sebesar 100%. Tabel dibawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak progessive diterapkan.000 300 10.3: Pajak Regresif Pendapatan Pajak Nominal 1. jika kemampuan membayar seorang wajib pajak naik sebesar 100%.0 Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu.0 2.000 180 3.0 Istilah-istilah Dalam Perpajakan Pembahasan lebih lanjut mengenai perpajakan perlu dimulai dengan mengenal lebih jauh tentang definisi istilah yang sering muncul dalam dunia perpajakan.0 3. peningkatan jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak.

penjualan. Pengenaan pajak dapat mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang besar kecilnya penghasilan yang diperoleh. Aktivitas atau objek yang dikenakan pajak tidak terkait dengan karakteristik pihak-pihak yang melakukan transaksi atau pemiliknya. Pajak perseorangan dikenakan atas transaksi rumah tangga berupa pendapatan dan konsumsi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Biaya-biaya yang ditimbulkan akibat adanya penerapan pajak tidak langsung relatif lebih murah dibanding pajak langsung. Untuk menentukan kemampuan seseorang dalam membayar pajak atas pendapatan (personal income tax). Siapapun yang melakukan aktivitas-aktivitas tertentu atau memiliki objek-objek pajak tertentu. Pajak pertambahan nilai dan cukai merupakan pajak tidak langsung.131 Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan dimana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak. wajib membayar pajaknya. Beberapa kebaikan dan kekurangan dari pajak tidak langsung. Sedangkan jika konsumsi juga akan dikenai pajak. 2. Pajak tidak langsung adalah pajak yang tidak dipungut secara berkala dan dapat beralih sampai dengan penanggung akhir beban tersebut. Hal yang sama juga berlaku ketika mengenakan pajak terhadap harta kekayaan. Pajak atas transaksi jual beli yang dikenakan terhadap perusahaan akan dapat diperlakukan juga terhadap semua rumah tangga yang melakukan transaksi. atau pemilikan harta kekayaan. Maka hampir semua pajak in Rem. Tanpa pandang bulu. Pengertian dari pajak cukai adalah pajak tidak langsung yang diterapkan atas penjualan barang-barang manufaktur tertentu. Sifat pemungutan pajak ini cukup sederhana dan biasanya dikaitkan dengan adanya kejadian tertentu. Dikarenakan kesederhanaan landasan aturan yang dipakai. 3. tidak diperlukan banyak perangkat yang bertujuan untuk mensosialisasikan aturan tersebut. Jumlah nilai yang diperoleh melalui pajak tidak langsung cenderung lebih mudah diprediksi. maka seluruh sumber pendapatan perseorangan harus digabung sebagai basis pembayar pajak. Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak langsung. Pajak tidak langsung cenderung lebih stabil digunakan sebagai sarana penerimaan negara dibanding pajak langsung. maka pajak perseorangan diterapkan dalam bentuk pajak pengeluaran perseorangan (personal expenditure tax) Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian. Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap rumah tangga ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala. diwajibkan melunasi pajak yang tertenggung. semua yang melakukan transaksi atau kejadian tertentu. Pajak in Rem dapat dikenakan atas rumah tangga atau badan usaha. yang berkaitan dengan nilai kekayaan dari perseorangan atau perusahaan. menurut Suparmoko adalah sebagai berikut: Kebaikan: 1.

Sedangkan untuk negara-negara maju. Kurangnya rasa berkeadilan antara golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi dengan masyarakat berpenghasilan rendah. program pensiun kepada semua pegawai akan menguntungkan golongan pendapatan yang rendah karena mereka memperoleh manfaat dari program ini melebihi jumlah kontribusi yang dibayarkan melalui pajak penghasilan yang progresif. Sebagai contoh. Hal ini tergantung dari tingkat elastisitas kurva permintaan dan penawaran untuk barang-barang terkena pajak tidak langsung. Dengan mudahnya dipahami. Fungsi regulator yang dimiliki pemerintah dalam hal kebijakan perpajakan. Misalnya adalah tunjangan sosial dan subsidi pajak terhadap beberapa jenis usaha tertentu. Hal ini dikarenakan kedua golongan tersebut dibebani tarif pajak yang sama untuk setiap transaski atau kejadian tertentu. Kesederhanaan aturan juga memungkinkan dilakukannya penelusuran dan pengecekan jika terjadi kesalahan dengan cepat tanpa perlu menggunakan formula audit yang kompleks. Dasar-dasar Keuangan Publik . Teknik pemungutannya yang sederhana tidak memerlukan kegiatan administrasi yang kompleks. dalam kondisi seperti itu beban pajak tidak langsung tidak dapat dialihkan kepada konsumen. dapat dengan mudah diterapkan. Sebagai contoh. apabila kurva permintaan suatu barang adalah elastis sempurna maka seluruh beban pajak tidak langsung akan menjadi tanggungan produsen. Dengan kata lain. penanggung akhir dari beban pajak tidak langsung belum tentu sesuai dengan target awal. peranan kebijakan fiskal adalah sangat penting. pemerintah lebih mudah memperkirakan dampak dari setiap kebijakan perpajakan yang dikeluarkan. Seluruh aliran dana yang masuk kas negara akibat diterapkannya kebijakan perpajakan biasa disebut sebagai pajak positif. tunjangan sosial dapat diterapkan untuk memenuhi prinsip keadilan perpajakan. 5. Akibatnya. Hal ini terutama diakibatkan sulitnya melakukan administrasi yang baik dan teliti untuk menerapkan pajak langsung.132 4. Hal tersebut disubsidi silang oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah keatas. Sedangkan pembayaran transfer oleh pemerintah dapat dipandang sebagai pajak negatif. Kekurangan: 1. Pembayaran transfer atau grant oleh pemerintah dapat dianggap sebagai arus pajak dengan arah yang berlawanan. Pada beberapa negara. pajak yang diterima sebagian besar negara-negara berkembang lebih banyak dari kategori pajak tidak langsung. 2. pajak langsung lebih banyak digunakan dalam instrumen fiskal di negara-negara tersebut. Menurut studi yang pernah dilakukan. Karena dimungkinkannya terjadi penggeseran beban pajak kepada golongan wajib pajak lainnya.

Penerapan berdasarkan manfaat secara umum didasarkan karena setiap wajib pajak mempunyai preferensi terhadap jasa publik yang berbeda-beda. dimana setiap wajib pajak harus memberikan kontribusinya yang layak untuk membiayai kegiatan pemerintah. Dasar-dasar Keuangan Publik .133 B A B XIV PRINSIP KEADILAN PERPAJAKAN ada kenyataannya. P Prinsip Manfaat Setiap orang setuju bahwa sistem perpajakan harus adil. sulit sekali didapat suatu formula kebijakan perpajakan yang memenuhi seluruh aspek keadilan. Suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. Oleh karena itu. Akan tetapi ada pola umum yang bisa dipelajari. Lebih lanjut pembahasan keadilan perpajakan dikaitkan dengan beberapa jenis pajak. Setiap wajib pajak akan membayar sesuai hasil evaluasi individu. Agar prinsip manfaat dapat dilaksanakan. Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi. maka tidak ada rumusan umum yang berlaku bagi semua orang. Berdasarkan prinsip ini. sudah terdapat distribusi yang tepat dalam perekonomian. Pendekatan pertama adalah prinsip manfaat (benefit principle). maka harus diasumsikan bahwa ketika sistem tersebut mulai diberlakukan. tetapi tidak terlalu mempertimbangkan pembiayaan transfer serta tujuan redistributif. Untuk itu perlu dibandingkan prinsip-prinsip yang menerangkan bagaimana konsep keadilan dapat dibakukan. sistem pajak yang adil akan tergantung dari struktur pengeluaran publik. Agar sistem perpajakan dengan prinsip manfaat bisa adil. Prinsip manfaat cenderung mengalokasikan penerimaan pajak untuk membiayai jasa-jasa publik. prinsip manfaat memandang perekonomian sektor publik sebagai sektor yang melibatkan pengeluaran maupun penerimaan yang berkesinambungan. maka manfaat yang diperoleh wajib pajak atas terjadinya pengeluaran publik harus diketahui terlebih dahulu. tetapi kurang adil dari sisi yang lain.

Berkeadilan vertikal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih besar harus membayar pajak dengan jumlah yang lebih besar pula. Pendekatan kemampuan membayar lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi. Berkeadilan horizontal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang sama harus membayar dengan jumlah yang sama. pemborosan harus dikenakan pajak. lebih banyak ditetapkan pada penyediaan jasa-jasa publik berdasarkan prinsip manfaat yang khusus. Ukuran kemampuan membayar mencerminkan kesejahteraan menyeluruh yang dapat diperoleh seseorang termasuk diantaranya adalah pendapatan. dan kekayaan. pola konsumsi. jumlah pajak yang dibayar ikut meningkat apabila seluruh tabungan tersebut dikonsumsikan. Agar prinsip kemampuan membayar dapat diterapkan. Dalam arti. Dan apabila tabungan masyarakat memperoleh bunga. Menurut prinsip ini. Misalnya pembebanan bea (bea cukai dan bea masuk) serta pajak pengganti pembebanan seperti pajak BBM dan pajak kendaraan dalam rangka pembiayaan jalan raya. Prinsip Kemampuan Membayar Yang kedua adalah prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle). sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. Keuntungan penyediaan jasa publik model ini adalah dapat meringankan beban keuangan pemerintah. harus diketahui dulu bagaimana mengukur kemampuan tersebut. Pendekatan ini menyebabkan sisi pengeluaran publik menjadi tidak jelas. konsumsinya bersaing secara bebas.134 Penerapan kebijakan fiskal berdasarkan prinsip manfaat didalam prakteknya. Perekonomian memerlukan suatu jumlah penerimaan tertentu dan setiap wajib pajak diminta untuk membayar sesuai dengan kemampuannya. sedangkan kebajikan harus diberi penghargaan. Manfaat hanya dapat diperoleh apabila pemakai dapat membayar misalnya biaya penggunaan sarana transportasi dan penyediaan fasilitas bandar udara. Dasar-dasar Keuangan Publik . penyediaan jasa-jasa publik oleh pemerintah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip yang sama seperti yang dilakukan oleh swasta. Adapun perbandingan dari metode pengenaan pajak terhadap pendapatan dan konsumsi dari prinsip kemampuan membayar tercermin dari table berikut. Mekanisme pasar dapat diterapkan untuk mendapatkan posisi tawar menawar yang efisien. Hobbes berpendapat bahwa kewajiban membayar pajak harus dikaitkan dengan pendapatan yang dibelanjakan bukan yang ditabung. Dalam halnya pengenaan pajak melalui pembebanan langsung terhadap pengguna. Prinsip ini dianggap lebih berkeadilan secara horizontal dan vertikal. Kemampuan membayar seseorang meningkat jika pendapatan meningkat. Pendapat lain mengatakan bahwa tabungan adalah konsumsi yang ditunda. tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. Dengan penetapan harga.

jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak mempunyai nilai sekarang yang sama. Bagian pendapatan itu ditabung dan tidak pernah dikonsumsi. pajak penjualan (barang dan jasa) dan pajak kekayaan. Apabila kekayaan individu dapat diwariskan kepada individu lain tanpa dikenakan pajak. Apabila pajak atas konsumsi yang dipilih.1: Perbandingan Pajak Penghasilan dan Pajak Konsumsi Pajak penghasilan Pajak Konsumsi Periode I 100 100 100 100 • Gaji 10 10 10 0 • Pajak 90 0 90 0 • Konsumsi 0 90 0 100 • Tabungan Periode II 0 9 0 10 • Bunga 0 0. ditabung atau dikonsumsi. jumlah total pajak yang dibayar memiliki nilai sekarang yang sama (asumsi nilai bunga sama dengan inflasi). Ilustrasi pajak atas konsumsi terlihat lebih adil. kekayaan individu dan warisan bisa dikenakan pajak.1 0 99 • Konsumsi 0 0 0 0 • Tabungan Total Pajak 10 10.9 0 11 • Pajak 0 98. Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Untuk keperluan analisis. Walaupun pada umumnya perpajakan lebih didasarkan atas penghasilan yang dimiliki masyarakat. Atau dengan kata lain.9 10 11 Nilai Sekarang (PV) 10 10. pajak dapat dikategorikan sebagai pajak penghasilan. Sedangkan tambahan pajak akan dikenakan terhadap bagian gaji yang ditabung yang mendapat bunga. Sebaliknya kekayaan individu bisa menambah pendapatan pemiliknya sebagai pendapatan barang-barang modal. dimungkinkan adanya bagian pendapatan yang tidak pernah kena pajak. Atas dasar ini.135 Tabel 12. Dasar-dasar Keuangan Publik . maka tidak akan ada tambahan pendapatan pada periode II (berikutnya) dari tabungan gaji periode I. Ilustrasi pada pajak penghasilan menggambarkan apabila seluruh pendapatan setelah dikurangi pajak dikonsumsi habis.82 10 10 Pajak = 10%. maka pendapatan tersebut selamanya bisa tidak dikonsumsi dan tidak kena pajak. Inflasi/Bunga = 10% Pengenaan pajak yang didasarkan atas diterimanya pendapatan (termasuk pendapatan dari bunga tabungan) akan menyebabkan total pajak yang dibayar oleh wajib pajak menjadi lebih besar berbanding lurus dengan besarnya jumlah pendapatan yang ditabung. Keadaan ini menyebabkan orang cenderung untuk mengurangi tabungan. yang pada akhirnya menjadi kekayaan individu. Hal ini disebabkan tanpa melihat kapan pendapatan akan dikonsumsi.

dan cacat dikecualikan dari subjek kena pajak. masyarakat golongan ekonomi rendah harus dikenakan pajak yang ringan atau dibebaskan dari kewajiban pajak seluruhnya. sementara sumber tersebut memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Prinsip keadilan pajak dapat juga dilihat dari sisi yakni penerimaan dan pengeluaran. perlu juga diperhatikan secara horizontal dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar. Sekali lagi pada negara-negara yang relatif maju dalam perekonomian cenderung dapat mempercayai dokumen-dokumen yang membuktikan adanya hak atas pengecualian pajak. terbatasnya volume pendapatan masyarakat yang dapat dikenakan pajak. Dasar-dasar Keuangan Publik . Walaupun pada pelaksanaannya banyak menimbulkan perbedaan-perbedaan. Struktur pajak yang progresif cenderung lebih mudah dicapai pada struktur perekonomian yang mapan. Hal ini juga dipengaruhi oleh metode assesment dan akurasi penghitungan pajak terhutang. Hambatan utama dari kebijakan pajak adalah keadaan ekonomi dan politik suatu negara. kemiskinan. ketakutan akan efek negatif pajak terhadap produksi dan investasi nasional. Secara konsep. Ketidakakuratan mengakibatkan ketidakadilan karena adanya pajak yang lebih atau kurang bayar. Disamping keadilan pajak secara dimensi vertikal. Perlu juga prinsip keadilan pajak dilihat secara geografis dimana orang-orang yang tinggal pada daerah tertentu harus dikenakan pajak yang lebih tinggi. Menurut konsep ini. Kebijakan pajak dianggap adil jika faktor-faktor seperti lanjut usia. Sebagai ilustrasi. Sulitnya menerapkan metode assesment yang baik juga muncul dalam hal menentukan subjek pajak yang dikecualikan. Dalam prakteknya. Lebih lanjut keadilan pajak juga harus memperhitungkan besarnya jumlah tanggungan dalam keluarga. Tidak jarang para pelaku ekonomi yang kuat menyuarakan keluhan-keluhannya terhadap kebijakan pajak baru yang dapat menggangu kegiatan bisnisnya. Beberapa argumen menyimpulkan keadilan pajak jika misalnya kenaikan pajak dikompensasikan dengan penyediaan pendidikan dan transportasi umum yang murah. pajak terhadap seorang petani harus lebih rendah dari hasil pertanian yang dimilikinya. Juga dapat dikatakan tidak adil jika sumber pendapatan tertentu dikenakan pajak tinggi. keadilan perpajakan mengimplikasikan proses redistribusi kekayaan masyarakat dimana orang kaya membayar lebih banyak dari orang yang lebih miskin (dimensi vertikal). Distribusi pembebanan pajak yang adil dipengaruhi oleh cakupan faktorfaktor siapa yang membayar dan jenis pendapatannya serta tarif pajak. tidak dipungkiri jika orang kaya ikut menikmati sebagian keuntungan dari adanya belanja negara.136 Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. dibawah umur. Prinsip ini dianut oleh semua negara dalam rangka memenuhi tuntutan keadilan dalam hukum. serta pengaruh kekuatan orang-orang kaya terhadap kebijakan politik nasional.

Untuk itu perlu dihitung pendapatan yang real jika dimasukkan unsur inflasi sebagai penyeimbang. dan tabungan. dan transportasi dari/menuju tempat kerja. beban pajak. Biaya pelatihan juga diperdebatkan sebagai pengeluaran yang dapat mengurangi pendapatan kena pajak. Kebanyakan sistem akuntansi menggunakan sisi sumber sebagai alat ukurnya. Adakalanya. Pengukuran relatif lebih mudah jika kekayaan yang dimiliki berupa saham dan obligasi. Berdasarkan dimensi waktu. seorang wajib pajak memperoleh suatu produk atau menerima jasa yang dihasilkan sendiri sehingga tanpa harus mengeluarkan Dasar-dasar Keuangan Publik . iuran serikat pekerja. Sedangkan berdasarkan penggunaannya berupa pembelian barang dan jasa. I = C + ΔNW I C ΔNW = Pendapatan tahunan (annual income) = Konsumsi tahunan (annual consumption) = Perubahan kekayaan bersih setahun (annual change in net worth) Metode untuk mengukur pendapatan baik berdasarkan sumbernya atau penggunaannya harus ditentukan sebelum pajak penghasilan di jalankan. Berdasarkan sumbernya. Pada beberapa kasus.137 Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak individu dan pajak badan. biaya penitipan anak. keuntungan jasa. Pendapatan jenis ini sering terjadi pada usaha-usaha kecil yang memproduksi barang atau jasa. Penghasilan tersebut merupakan daya beli individu atas barang dan jasa selama satu tahun yang dapat dikonsumsikan atau disimpan untuk keperluan mendatang. Beberapa ahli menyarankan untuk memasukkan unsur tambahan kenaikan kekayaan sebagai bagian pendapatan kena pajak. wajib pajak dimungkinkan menerima pendapatan selain uang tunai. tunjangan dari pemerintah atau swasta. pakaian kerja. pajak penghasilan biasanya dihitung atas jumlah penghasilan selama satu tahun. pajak penghasilan dikenakan kepada orang perorang yang memiliki penghasilan tanpa melihat umur atau jumlah yang diterimanya. sumbangan. Kesulitan muncul pada saat menghitung berapa nilai tambahan kekayaan yang timbul akibat adanya transaksi non moneter ini (income in kind). Sebagai pajak individu. dan kenaikan nilai kekayaan. Pengeluaran-pengeluaran tersebut diperlukan untuk mendapatkan penghasilan dan tidak menambah kekayaan wajib pajak sehingga layak dikeluarkan dari jumlah pendapatan kena pajak. pendapatan adalah seluruh penerimaan selama periode pajak. Jika dari sisi pengeluaran. Pendapatan masyarakat dapat diukur berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya. ada item-item pengeluaran yang erat kaitannya dengan kegiatan memperoleh pendapatan seperti peralatan kerja. Sebagai pajak badan adalah pengenaan pajak atas keuntungan badan usaha yang dapat diterima para pemegang saham sesuai proporsi nilai saham yang dimilikinya.

Basis yang menyeluruh terhadap kajian pajak penjualan dapat diturunkan dari basis pajak penghasilan. pengenaan pajak harus sesuai dengan kesetaraan kemampuan ekonomi masyarakatnya. perumusan rancangan kebijakan fiskal lebih memerlukan perhatian khusus. Contoh lain adalah fringe benefit. Secara horizontal. Sama sekali mengabaikan potensi perbedaan pengeluaran dari masing-masing rumah tangga. Kedua adalah kebijakan pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi untuk setiap tambahan pendapatan. Supaya lebih adil. konsep keadilan dalam perpajakan masih dapat diperdebatkan. Pertama adalah kebijakan pendapatan tidak kena pajak. Seperti pada ilustrasi awal bab. kerumitan cenderung mendorong keengganan dan penyelewengan wajib pajak. Kegiatan tersebut jelas menambah kekayaan bersih wajib pajak. Sedangkan kesetaraan kemampuan ekonomi bisa diejawantahkan sebagai kesamaan tingkat pendapatan. biaya pendidikan yang bervariasi sangat mempengaruhi pola pengeluaran rumah tangga. Hal-hal seperti jumlah anggota keluarga.138 sejumlah uang. Secara umum. Hal ini dipercaya dapat mendorong masyarakat untuk meningkatkan tabungannya disamping kegiatan administrasi perpajakannya yang cenderung lebih mudah. Pada akhirnya. biaya kesehatan. ada semacam penundaan pajak penghasilan sampai terjadi konsumsi atas bagian penghasilan tersebut. perbedaan pendapat dalam hal kebijakan yang berkeadilan lebih kompleks lagi pada pajak penghasilan. dimana seorang wajib pajak misalnya menerima pinjaman kendaraan yang dapat digunakan untuk keperluan pribadi atau tunjangan makan yang diberikan tidak dalam bentuk uang. Adapun alasan yang mendasari dapat dilihat dari dua kebijakan yang biasa berkaitan dengan pajak progresif. Atau kesetaraan ini hanya diukur dari jumlah pendapatan yang diterima saja. maka pada pajak penjualan tambahan kekayaan tersebut (yang biasanya dari tabungan) dikeluarkan dari basis pajak. Akan tetapi. Wajib pajak cenderung mempermainkan tempo pengakuan suatu pendapatan untuk menghindari pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. tapi biasanya luput dari pengenaan pajak. Jika dalam pajak penghasilan seluruh konsumsi dan tambahan kekayaan wajib pajak dikenakan pajak. Baik prinsip keadilan secara horizontal maupun secara vertikal. seharusnya hal-hal yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga juga ikut diperhitungkan. Kesemua itu dapat dikategorikan sebagai pendapatan yang tidak tercermin dalam gaji yang tertera (nonpecuniary returns). Untuk menghindari Dasar-dasar Keuangan Publik . Kompensasi dari adanya kebijakan ini adalah rumitnya pelaksanaan peraturan dalam praktek. Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip umum yang ingin dicapai dalam pajak penjualan adalah bahwa jumlah pendapatan masyarakat yang ditabung seharusnya tidak perlu dikenakan pajak. Banyak pendapat yang kurang setuju jika keadilan secara vertikal dilambangkan dengan tarif pajak progresif.

Mengenakan tarif pajak yang lebih tinggi untuk beberapa jenis produk yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. beberapa langkah. Mengembalikan jumlah pajak penjualan yang dibayar kepada masyarakat dengan standar penghasilan tertentu. Perbedaan menarik pajak penjualan dengan pajak penghasilan adalah pada dana yang tersedia berupa pinjaman. Makin besar pendapatan golongan masyarakat. Pada pajak penjualan. 4. Banyak pendapat yang setuju jika pajak kekayaan diterapkan. Dalam pajak penjualan. selisih lebih kekayaan wajib pajak secara moneter akibat adanya inflasi tidak membuat kemampuan membayarnya meningkat sebagai akibat wajib pajak tersebut harus membelanjakan penghasilannya dengan harga yang telah terinflasi. sulit sekali mengukur berapa jumlah tambahan pendapatan dari kegiatan sewa tersebut. Untuk menghindari hal tersebut. memperoleh hibah atau mewarisi kekayaan keluarganya. Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan Kekayaan adalah akumulasi dari tabungan dan investasi suatu negara. pinjaman tidak dikenakan pajak. Pengenaan pajak penjualan lebih dirasakan dampaknya oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. seperti dijelaskan oleh Ulbrich. Sedangkan pada pajak penghasilan. Seorang wajib pajak dapat memiliki kekayaan melalui kegiatan menabung. tidak memperoleh hibah/hadiah atau warisan tidak akan pernah disebut kaya.139 akumulasi pendapatan yang tidak kena pajak akibat wajib pajak meninggal dunia. Hal ini dikarenakan. Memperbanyak item aktivitas penjualan kena pajak yang hanya mungkin dilakukan oleh golongan masyarakat berpenghasilan tinggi. makin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. pinjaman yang dikonsumsikan tetap dikenai pajak. 3. Mengurangi atau mengeliminasi pengenaan pajak yang lebih banyak dikonsumsi oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. hanya porsi penghasilan yang dibelanjakan lah yang kena pajak. Sedangkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi memiliki kesempatan untuk menabung sebagian pendapatannya. Jika hal ini terjadi. golongan masyarakat ini cenderung untuk mengkonsumsi seluruh pendapatan yang dimilikinya. warisan dikenai pajak seketika setelah wajib pajak diumumkan meninggal dunia. Pajak penjualan sama sekali tidak dipengaruhi inflasi. 2. Hal ini dikarenakan banyak wajib pajak yang berpenghasilan rendah memiliki sejumlah kekayaan yang mana mereka memungut sewa atas pemanfaatan kekayaan tersebut oleh orang lain. Justru bunga yang timbul akibat adanya pinjaman dapat mengurangi dasar penghasilan yang dikenai pajak. Hal ini disebabkan. dapat ditempuh oleh pemerintah seperti: 1. Dibandingkan dengan pajak penghasilan. Seorang wajib pajak yang tidak mampu menabung. Dasar-dasar Keuangan Publik . capital gain harus memperhitungkan tingkat inflasi sebelum menentukan jumlah kena pajak.

konsumen. Dalam halnya kekayaan yang dimiliki dengan cara hutang. seorang penilai independen ditunjuk untuk mengestimasikan nilai. Hal ini terutama untuk kekayaan yang jarang diperjualbelikan. Pengukuran nilai kekayaan akan menjadi lebih sulit jika berupa kekayaan tak berwujud (intangible asset). Aplikasi pengenaan pajak terhadap kekayaan akan lebih mudah diterapkan jika pemilik dan pengguna kekayaan tersebut adalah sama. Problem distribusi pajak yang muncul akan lebih kompleks diprediksi keadilannya apabila kekayaan tersebut disewakan kepada pihak ketiga. target pengenaan pajak kekayaan (kekayaan atas bendabenda seperti rumah dan mobil) adalah pemiliknya. pajak kekayaan lebih menguntungkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi karena nilai uang yang dikeluarkannya sebagai pajak jauh lebih rendah dengan nilai uang untuk pajak kekayaan yang dikeluarkan oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Pajak kekayaan cenderung bersifat regresif. para pegawai. Tentu saja hal ini harus memperhitungkan tren kenaikan harga sewa sehingga dapat mencerminkan nilai pasar sesungguhnya.140 Mengadministrasikan pajak kekayaan cenderung lebih sulit. dan pemilik kekayaan. Artinya. Dasar-dasar Keuangan Publik . pengenaan tarif didasarkan atas estimasi nilai yang dihasilkan. Estimasi nilainya sering meleset dari nilai yang sesungguhnya. penanggung akhir dari adanya pengenaan pajak kekayaan makin sulit ditentukan karena melibatkan pemilik usaha. Jika hasilnya dirasa memadai. Secara prinsip. Cara lain yang dapat dipakai untuk mengukur nilai sebuah kekayaan adalah dengan menghitung nilai sekarang (present value) dari potensi pendapatan sewa selama masa manfaat kekayaan tersebut. Dalam dunia usaha. nilai bersih kekayaan harus dikurangi dulu dengan jumlah total hutang supaya tidak terjadi penghitungan ganda. Secara umum pada pajak kekayaan.

pajak langsung yang progresif lebih tepat untuk diterapkan. Hal ini dimungkinkan karena pelaku ekonomi yang secara hukum berkewajiban membayar pajak kepada Dasar-dasar Keuangan Publik . Untuk mengukurnya digunakan efficiency-loss ratio dengan persamaan sebagai berikut: W R = Excess Burden = Tax Revenue S Estimasi efficiency-loss ratio penting dilakukan untuk meminimalkan total excess burden pada sistem perpajakan nasional. Dengan kata lain. Sebaliknya jika tujuan yang ingin dicapai adalah pemerataan penghasilan. kebijakan perpajakan yang dapat ditempuh dapat dengan mengenakan pajak tidak langsung. Efficiency Effect Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat diatas jumlah pajak yang seharusnya dibayar. Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar pembeli dibanding jumlah yang diterima oleh penjual. terkadang total excess burden tidak sama dengan total penerimaan negara. penurunan pendapatan penjual tidak diikuti dengan peningkatan kuantitas yang tersedia untuk dibeli. Berkaitan dengan penerimaan negara.141 B A B XV DAMPAK PERPAJAKAN TERHADAP PEREKONOMIAN istem perpajakan yang baik adalah sistem perpajakan yang memberikan pengaruh terbaik terhadap perekonomian negara. tarif pajak dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah total penerimaan negara. Jika tujuan tersebut adalah mengoptimalkan tingkat produksi. Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku-pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. Dengan mengurangi pengenaan pajak yang menimbulkan excess burden lebih besar dalam jumlah nominal yang sama. Hal ini mengakibatkan adanya keuntungan yang hilang akibat terdistorsinya keseimbangan harga pada kurva permintaan dan penawaran.

tidak semua tabungan digunakan untuk investasi (S > I) maka akan terjadi kelesuan ekonomi. Sedangkan Economic Incidence lebih mengarah pada pengaruh pendistribusian pembebanan pajak pada tingkat ekulibrium harga. Hubungan dari ketiga unsur tersebut adalah Pendapatan Nasional sama dengan jumlah Konsumsi ditambah jumlah Tabungan (Y = C + S). struktur perekonomian nasional (tanpa pajak) terdiri dari Pendapatan Nasional (Y). Gambar 13. jumlah Konsumsi (C) dan Tabungan (S). Dampak Pajak Terhadap Sistem Ekonomi Keseluruhan Secara umum. Yang sering terjadi justru jumlah Tabungan lebih rendah dari jumlah Investasi (S < I). dan pengangguran. penurunan harga (deflasi).1 Dasar-dasar Keuangan Publik . Kondisi ini menyebabkan kegairahan ekonomi dan kenaikan harga (inflasi). maka tidak akan pernah terjadi inflasi atau deflasi. Apabila seluruh Tabungan (S) digunakan sebagai Investasi (S = I).142 pemerintah belum tentu menggunakan dana pribadi atau dengan kata lain dapat membebankan pajaknya kepada pelaku ekonomi yang lain. Statutory Incidence merujuk pada pelaku-pelaku ekonomi yang secara hukum terlibat dalam pendistribusian pembebanan pajak. Kadang-kadang yang muncul adalah jumlah Tabungan (S) lebih besar dari jumlah Investasi (I) atau dengan kata lain. Berkenaan dengan dimungkinkannya memindahkan beban pajak kepada pelaku ekonomi lain secara keseluruhan atau sebagian (distribusi pembebanan) maka pembahasan tax incidence dapat dibagi dalam dua konsep yakni statutory incidence dan economic incidence.

Seberapa jauh pengaruh pajak terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dipengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang-barang yang dihasilkan. perusahaan tidak dapat mengalihkan beban pajaknya pada harga barang. Orang lebih memilih untuk mempunyai lebih banyak waktu santai. tidak ada inflasi ataupun deflasi. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. perekonomian dalam keadaan seimbang. menimbulkan adanya beberapa alternatif pilihan yang dapat diambil oleh para pelaku ekonomi. perusahaan dapat saja mengurangi produksi barang-barang yang merupakan objek pajak dan meningkatkan produksi barang-barang lain yang masih belum merupakan kategori barang kena pajak. Terhadap Usaha Kerja Sebagian besar penerimaan negara dari pajak di Indonesia adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas pendapatan para pegawai. Dengan kata lain. menggeser kurva C+I kebawah dengan menerapkan pajak atas konsumsi. Perusahaan lain dapat saja berpindah lokasi industri dari suatu tempat yang mengenakan pajak yang tinggi ke tempat yang memberikan insentif pajak. Secara teoritis.143 Gambar menunjukkan hubungan antara tingkat Pendapatan Nasional (Y). Konsumen akan membayar seluruh beban pajak yang ditambahkan pada harga barang. Pergeseran yang dimaksud adalah dengan mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi. Pada kondisi ini instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. Pada Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebaliknya pada tingkat pendapatan 0Y2 (S>I) terdapat deflationary gap dimana harga-harga cenderung terus turun sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. Barang-barang yang tingkat permintaannya in-elastis sempurna tidak akan terpengaruh dengan adanya pengenaan pajak. Sebaliknya. Pada tingkat pendapatan nasional sebesar 0Y (S=I). Pajak dapat menyebabkan orang menjadi kurang giat bekerja. pajak mempunyai pengaruh negatif terhadap kemauan usaha kerja. Harga-harga cenderung terus naik sampai tidak ada lagi perbedaan antara Tabungan dan Investasi. Secara mudah dikatakan. dikenakan pajak yang ringan. pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktor-faktor produksi. Sebagai contoh. Terhadap Komposisi Produksi Pajak dapat digunakan sebagai pendorong kepada pelaku ekonomi untuk melakukan aktivitas tertentu dengan memberikan insentif-insentif. Pada tingkat pendapatan 0Y1 (S<I) terdapat inflationary gap. Berkaitan dengan dimungkinkannya penerapan insentif pajak pada suatu daerah tertentu. pegawai-pegawai tersebut mempunyai dua pilihan yaitu bekerja atau tidak bekerja (memanfaatkan waktu santai) akibat adanya pengenaan pajak penghasilan. dengan tingkat Konsumsi (C) dan tingkat Investasi (I). jika elastisitas permintaan barang adalah sempurna. menggeser kurva C+I keatas dengan menerapkan pajak atas tabungan. Sehingga disarankan untuk barang-barang yang memiliki elastisitas tinggi.

Sehingga sulit didapatkan dana tabungan masyarakat. justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. Sehingga elastisitas penawaran usahanya adalah tinggi dimana dengan turunnya pendapatan. Terhadap Distribusi Pendapatan Tujuan pembangunan suatu negara pada umumnya adalah peningkatan pendapatan per kapita nasional. pola konsumsi masyarakat cenderung lebih tinggi dari pola konsumsi masyarakat di negara-negara maju. pengaruh pajak terhadap kemauan kerja individu memiliki sifat yang lebih kompleks. penciptaan lapangan kerja. kebijakan perpajakan di Indonesia lebih banyak diterapkan untuk mengurangi kesenjangan pendapatan di masyarakat. permintaannya terhadap penghasilan rendah sehingga elastisitas penawaran usaha dalam hubungannya dengan penghasilan adalah rendah juga. Hal ini dilakukan dengan menerapkan tarif pajak progresif dan minimum pendapatan yang dapat dikenakan pajak. Untuk meningkatkan pendapatan nasional sesuai Dasar-dasar Keuangan Publik . Reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha. Tetapi pada kenyataannya. Kriteria Tarif Pajak Pertumbuhan ekonomi hanya akan terjadi apabila lebih banyak masyarakat yang bekerja. Hal-hal tersebut menurut Daniel J Mitchell (2003) adalah prilaku-prilaku yang dapat meningkatkan kekayaan nasional. dan distribusi pendapatan yang merata dan keseimbangan dalam neraca pembayaran internasional. Mereka juga tidak begitu saja meningkatkan tabungan dan investasi apabila dikenakan tarif pajak rendah atau subsidi perpajakan lainnya. keadaan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Sedangkan bagi mereka yang kurang peduli dengan gaya hidup mewah. Penarikan dana masyarakat secara sukarela dengan iming-iming bunga yang tinggi pada akhirnya juga ikut berpengaruh pada tingkat inflasi nasional. Dengan kata lain. pendapatan nasional yang dikenai pajak akan banyak mempengaruhi turunnya jumlah tabungan masyarakat bukan pada porsi pendapatan yang dikonsumsi yang diasumsikan tetap. Masyarakat tidak begitu saja bekerja secara produktif dengan diterapkannya anggaran pendapatan dan belanja berimbang. Bagi sebagian orang. masyarakat kelompok miskin tidak punya kemampuan tabungan dan investasi. menabung. Dari kelompok-kelompok kaya inilah diharapkan sejumlah dana tabungan yang dapat digunakan untuk investasi. semakin tinggi pendapatan seseorang. semakin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah.144 kenyataannya. Secara teori. Berdasarkan kenyataan tersebut. Kelemahan dari tarif pajak progresif adalah menekan pada kelompok-kelompok kaya pemilik modal sehingga mereka malas bekerja. Juga tidak setiap kenaikan pajak akan memberi dampak negatif pada Tabungan masyarakat ataupun Investasi. biasanya permintaannya terhadap penghasilan adalah tinggi. dan melakukan investasi. menabung sebagian pendapatannya serta menginvestasikan nilai tabungannya. pajak tidak menimbulkan disinsentif untuk bekerja. Menurut pengertian ini.

Pada akhirnya penurunan tarif pajak tidak merubah total pengeluaran. Untuk itu. pertumbuhan ekonmi sebagai faktor yang mendorong jumlah total konsumsi akibat meningkatnya jumlah daya beli masyarakat. Jika keadaan prilaku masyarakat wajib pajak adalah produktif. Kebijakan pajak yang bardampak positif pada jangka pendek biasanya berdampak positif pula pada jangka panjang. Meskipun beberapa pos-pos belanja negara membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti penyediaan keamanan dan penegakkan hukum. Mitchell (2003) memaparkan sembilan petunjuk kebijakan perpajakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sebagai berikut: 1. Beberapa negara telah membuktikan bahwa deregulasi perpajakan yang kecil pengaruhnya terhadap turunnya penerimaan negara justru dapat meningkatkan gairah investasi dunia usaha. faktor produksi tersebut akan juga mendorong pertumbuhan ekonomi agregat menjadi lebih baik. Pertumbuhan ekonomi tidak diakibatkan oleh peningkatan konsumsi. sebaiknya kebijakan publik tidak mengedepankan motif yang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan jalan mendorong konsumsi. Justru sebaliknya. pendapatan nasional. Beberapa opsi tarif pajak yang dipungut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Beberapa kebijakan insentif pajak atau subsidi dapat berakibat hanya mengurangi jumlah penerimaan negara tanpa menghasilkan peningkatan kegiatan ekonomi secara signifikan. studi membuktikan bahwa banyak pengeluaran publik yang justru berefek negatif terhadap Dasar-dasar Keuangan Publik . Sebagai contoh. Penurunan tarif pajak tidak perlu diterapkan seragam untuk seluruh wajib pajak. 3. 2. insentif pajak investasi dalam jangka pendek akan menarik minat pemodal masuk kedalam negeri. menabung dan berinvestasi. Agar pelaksanaan kegiatan pemerintah tidak terganggu. penurunan tarif pajak justru meningkatkan jumlah penerimaan negara. 5. para pengambil keputusan bidang pajak harus mengkonsentrasikan pada hal-hal yang berakibat positif terhadap prilaku bekerja. Secara jangka panjang.145 dengan karakteristik masyarakat disuatu negara. Fokus pada pertumbuhan ekonomi. Kebijakan yang baik menghasilkan penerimaan negara lebih banyak. 6. Jumlah potensi tambahan konsumsi masyarakat akibat adanya penurunan tarif pajak kurang signifikan terhadap peningkatan kegiatan ekonomi dibandingkan dengan turunnya jumlah total penerimaan negara. Sehingga penurunan tarif pajak tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 4. Karena tarif pajak yang rendah dapat membuat masyarakat yang produktif semakin giat bekerja. Untuk itu perlu diupayakan suatu kebijakan pelengkap yang dapat meng-offset selisih penurunan penerimaan negara tersebut. Efisiensi belanja negara penting dilakukan. 7. harus diperhitungkan cara-cara yang dapat mengkompensasikan turunnya penerimaan negara akibat pengenaan tarif yang lebih rendah. bukan pada penurunan tarif. dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya cenderung kurang peduli dengan pungutan pajak.

7. dengan mempertimbangkan seluruh dampak yang dapat ditimbulkan pada level ekonomi makro. Penerimaan/pendapatan harus ditentukan dengan tepat 2. 3. jumlah target penerimaan pajak tidak akan pernah tercapai. 9. Untuk itu perlu dikembangkan kebijakan pajak yang mendorong iklim investasi dan menabung. penurunan tarif bukanlah satu-satunya cara yang dapat diambil pemerintah. keduanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Tetapi pengaruhnya kurang signifikan dibanding pengaruh faktorfaktor lain seperti pasar modal. kriteria yang bisa menentukan baik tidaknya sebuah kebijakan perpajakan dapat dilihat sebagai berikut: 1. Walaupun dibeberapa negara penurunan tarif pajak justru dapat meningkatkan penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi. 4. Peraturan perpajakan harus mendukung kebijakan perekonomian dan mendorong pasar yang efisien. 8. Inti dari sembilan petunjuk diatas adalah segala upaya kebijakan pajak seharusnya difokuskan pada pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberikan insentif pada aktivitas-aktivitas produktif nasional. 5. Seperti dikutip dari Musgrave. Dana investasi terutama diambil dari tabungan masyarakat. Setiap orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuannya. Distribusi beban pajak harus adil. atau defisit dengan tingkat suku bunga. berimbang. dikhawatirkan investor tidak akan mau menanamkan modalnya di dalam negeri. 6. Invesatsi dan tabungan. Riset akademis yang dihasilkan menunjukkan bahwa tidak ada korelasi positif antara anggaran surplus. Efisiensi belanja negara dapat dilakukan dengan merampingkan struktur pemerintahan. Struktur pajak harus memudahkan penggunaan kebijakan fiskal untuk mencapai stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengakibatkan multiplier efek yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tidak tercapai. Penerimaan pajak harus dirumuskan secara tepat. Penanggung akhir beban pajak harus menjadi pokok perhatian. Sebaliknya jika terlalu kecil. sehingga bisa merefleksikan kemampuan membayar dari seluruh wajib pajak yang ada sehingga tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Sedangkan tarif pajak adalah salah satu faktor yang mempengaruhi suku bunga. Sistem pajak harus menerapkan administrasi yang wajar dan mudah dipahami oleh wajib pajak. dikhawatirkan jumlahnya tidak dapat membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah Dasar-dasar Keuangan Publik . Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh investasi yang produktif. Pada akhirnya. Defisit belanja negara dapat berpengaruh pada turunnya tingkat suku bunga. Jika jumlah yang ditetapkan terlalu besar.146 pertumbuhan ekonomi. Kriteria Struktur Pajak yang Baik Kebijakan perpajakan akan memberi dampak yang signifikan jika disusun secara komprehensif. Biaya administrasi dan biaya-biaya pembayaran pajak lainnya harus dibuat serendah mungkin.

Simulasi terhadap bakal munculnya kekeliruan yang tidak diharapkan harus disiapkan secara matang. Segala biaya yang tidak berkaitan langsung dengan beban pajak sesungguhnya harus diminimalkan. Kemungkinan pergeseran titik equilibrium kurva permintaan dan penawaran harus terus diantisipasi dan terus diawasi dengan memasukkan unsurunsur spesifik para pelaku ekonomi setempat. Hal ini untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pemilik modal dalam rangka menghitung proyeksi keuntungan investasi. Perlu dibuat aturan-aturan teknis yang simple dan dapat menghindarkan terjadinya salah sasaran. Simulasi tersebut bisa menggunakan beberapa skenario yang berbeda dan mengamati hasilnya. Rumusan-rumusan yang dipakai harus menghindari kesalahpahaman massal yang menyebabkan kekacauan pada proses administrasi. Keadilan perpajakan pada intinya adalah. Kebijakan perpajakan harus tetap mengindahkan konsep kestabilan ekonomi. Adanya kemungkinan peralihan beban pajak kepada penanggung akhir. Jika pajak diterapkan atas produk-produk tertentu. Segala kebijakan harus mengacu pada kesederhanaan. Kecilnya kesenjangan bisa mendorong stabilisasi yang kondusif bagi perbaikan ekonomi nasional. Dengan kata lain. Ekonomi yang terus tumbuh dan pasar yang efisien harus terus dijaga agar kemakmuran masyarakat tidak rusak akibat adanya penerapan kebijakan perpajakan. perlu dilakukan pengkajian mendalam dengan melakukan simulasi yang menyeluruh untuk dapat memperoleh gambaran dampak pembebanan penanggung akhir terhadap stabilisasi ekonomi.147 yang bermanfaat untuk menciptakan value yang dapat merangsang perputaran gerak roda eknomi. Ekonomi yang sering bergejolak biasanya tidak menguntungkan iklim investasi. Dengan demikian risiko biaya tinggi yang tidak terduga akibat penyelewengan peraturan oleh oknum pelaku ekonomi bisa dieliminasi. misalnya dengan adanya kegiatan sosialisasi yang memadai. investor-investor terutama para pemodal asing sangat mengharapkan adanya kepastian iklim berusaha. Dasar-dasar Keuangan Publik . beban pajak harus terdistribusi sedemikian rupa sehingga target pencapaian penerimaan pajak bisa diimbangi dengan mengurangi kesenjangan pendapatan golongan masyarakat yang kaya dengan golongan masyarakat miskin. perlu dikaji serius mengenai elastisitas permintaan dan penawarannya dalam ekonomi pasar. Harus dapat ditentukan pada awal permusan kebijakan bahwa implementasinya pada akhirnya akan meminimalkan gejolak ekonomi.

tidak ada pungutan pajak yang berarti yang dapat dikumpulkan. 1994 dan 2000. Setelah kedaulatan diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. Pertama kali diberlakukan dikenal dengan nama Pajak Penghasilan 1932 atau Inkomsten Belasting 1932. pajak-pajak yang berlaku di Indonesia yang dapat dikelompokkan sebagai pajak penghasilan adalah Pajak penghasilan (PPd). Inilah dasar pengenaan pajak yang akan Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga sampai dengan sebelum reformasi perpajakan tahun 1983.148 B A B XVI PAJAK PENGHASILAN WAJIB P AJAK PRIBADI ajak penghasilan pertama kali diberlakukan di Indonesia sebagai suatu sistem perpajakan integral yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. P Aturan Utama Prinsip dasar Pajak Penghasilan adalah bahwa penghasilan wajib pajak dari semua sumber harus digabungkan menjadi satu angka tunggal ukuran penghasilannya. peraturan perpajakan Belanda dipergunakan kembali dengan melakukan penataan dan perluasan seperlunya. Selama masa revolusi. Penghasilan total ini kemudian dikurangi dengan pengecualianpengecualian dan pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan yang akan dikenakan pajak. Setelah reformasi perpajakan tahun 1983. Dividen dan Royalti (PBDR). Pada tahun 1944. peraturan pajak ini diubah dengan Ordonansi Perpajakan tahun 1944 yang digunakan oleh Pemerintah Kolonial Jepang untuk melakukan pungutan-pungutan terhadap hasil pertanian sebagai pajak. pajak-pajak berdasarkan peraturan perpajakan Belanda ini disatukan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang berlaku sejak 1 Januari 1984. Yang ada hanyalah kantor iuran negara yang menerima pembayaran pajak dari beberapa pedagang. Pajak Perseroan (PPs) serta Pajak atas Bunga. yaitu tahun 1991. Undang-Undang ini mengalami perubahan dan perbaikan sebanyak tiga kali.

dan lain sebagainya.440. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). dividen. Penghasilan dari usaha dan kegiatan. hadiah. baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. kecuali bila pasangannya tidak berpenghasilan maka PTKP-nya Rp1. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun.000. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 mendefinisikan penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak. PTKP yang berlaku saat penulisan buku ini adalah wajib pajak dan pasangannya (masing-masing Rp2. Penerapan Tarip Pajak Pajak dihitung dengan menerapkan angka tarip pada skedul tarip pajak dengan angka Penghasilan Neto setelah dikurangi PTKP. seperti pembebasan utang. Penghasilan Bruto. dan sebagainya.000). b. Penentuan Penghasilan Kena Pajak Konsep utama dalam perhitungan penghasilan kena pajak adalah penghasilan bruto dan penghasilan kena pajak. yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga. selain yang dikecualikan digabungkan untuk menentukan Penghasilan Bruto. yang berlaku untuk tingkatan penghasilan yang naik secara berurutan. c. wajib pajak dapat mengurangkan biaya-biaya atau pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan neto.440. sewa. Dari angka penghasilan ini. Skedul tarip ini ditetapkan berdasarkan Undang-Undang dalam bentuk tarip marjinal.880. Penghasilan lain-lain. Beberapa penghasilan nonkas diabaikan (seperti imputed rent dan capital gain yang belum direalisasikan) dan beberapa penghasilan kas tertentu dikecualikan (seperti pembayaran asuransi dan pensiun).000) ditambah tiga orang tanggungan (masing-masing Rp1. honorarium. Penghasilan neto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan PTKP. Penghasilan dari modal. royalti. keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. Sejak tahun 1983 sampai Dasar-dasar Keuangan Publik . Penghasilan dari usaha dan pekerjaan bebas dimasukkan dalam penghasilan neto setelah dikurangkan biaya-biaya. penghasilan dari praktik profesi dan sebagainya. Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dilaporkan dalam penghasilan setelah dikurangkan dengan beberapa biaya dan penghasilan yang dikecualikan. Walaupun penghasilan neto dimaksudkan untuk menjadi satu alat ukur yang komprehensif atas posisi penghasilan wajib pajak.149 dikalikan dengan tarip pajak untuk mendapatkan pajak yang menjadi beban bagi wajib pajak. d. Penghasilan ini akan meliputi: a. Penghasilan dari semua sumber. alat ukur ini ternyata tidak sekomprehensif mungkin. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. seperti gaji.

Bersamaan dengan penyerahan SPT. sistem pemotongan pajak juga menimbulkan biaya tersendiri. SPT yang melaporkan hal-hal yang tidak biasa (misalnya biaya yang mengurangi penghasilan yang sangat besar atau sumber penghasilan yang tidak biasa dapat diaudit). pada saat wajib pajak harus menyerahkan pembayaran terakhir untuk pajak-pajak yang terutang pada Tahun Pajak yang telah berakhir atau menagih pengembalian pajak. Responsifitas sangat penting bagi efektivitas kebijakan stabilisasi. Kewajiban menyerahkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan diberlakukan kepada semua wajib pajak yang telah memiliki NPWP. Biaya untuk mengaudit semua SPT tersebut akan sangat besar. tarip pajak yang ditetapkan antara 15% sampai dengan 35%. Wajib pajak tersebut adalah mereka yang mempunyai penghasilan neto lebih kecil dari PTKP atau yang memperoleh penghasilan hanya dari satu pemberi kerja.150 dengan 1994. harus mengembalikan kelebihan pemotongan ini kepada para wajib pajak tertentu tersebut. Sistem dasar yang melandasi Pajak Penghasilan Indonesia adalah self assessment. Pemerintah. hanya wajib pajak yang tidak wajib memiliki NPWP tidak diwajibkan untuk menyerahkan SPT Tahunan. Batas waktu penyerahan SPT Tahunan adalah tiga bulan setelah Tahun Pajak berakhir. sejak tahun 1995 tarip pajak diturunkan antara 10% sampai dengan 30%. Sebagian besar pajak dipungut dengan cara dipotong oleh pihak yang melakukan pembayaran. DJP tidak dapat mengaudit semua SPT yang diterima. Oleh karena itu. dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak. Sistem ini memiliki banyak keunggulan. Prosedur Pembayaran Beberapa hal penting berkenaan dengan aspek prosedural utama pajak penghasilan Kewajiban menyerahkan SPT. pemeriksaan sampel secara acak digunakan untuk membuat wajib pajak tetap patuh pada peraturan perpajakan. pembayaran pajak dikaitkan dengan tingkat penghasilan tahun berjalan daripada tertinggal satu tahun. Walaupun Direktorat Jenderal Pajak memeriksa aritmetika perhitungan pajaknya. responsivitas pembayaran pajak terhadap perubahan dalam tingkat penghasilan pribadi sangat meningkat. kelebihan pemotongan pajak akan dialami oleh para wajib pajak tertentu sehingga para wajib pajak ini yang secara riil memberikan pinjaman bebas bunga kepada Pemerintah. pada waktu-waktu tertentu kelompok wajib pajak tertentu akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Oleh karena itu. Setiap wajib pajak bertanggung jawab untuk menyatakan penghasilan mereka dan menghitung besarnya pajak penghasilan yang terhutang. dan setoran pajak penghasilan masa tahun berikutnya itu didasarkan pada informasi estimasi ini. dalam hal ini sangat dibantu oleh fasilitas komputer yang dimilikinya. wajib pajak menyerahkan estimasi pajak penghasilan yang harus dibayar tahun berikutnya. Dengan cara ini. Sistem Pemotongan Pajak juga memastikan ketaatan sepenuhnya karena pernyataan penghasilan tidak diberikan sepenuhnya hanya kepada wajib pajak. Pada saat yang sama. Jika tarip pajak yang dipotong ditetapkan cukup tinggi untuk mendapatkan penerimaan pajak setinggi-tingginya. Pemotongan Pajak (Withholding). Audit.

pada umumnya penghasilan yang dapat dikenakan pajak telah dinyatakan dalam satuan penghasilan neto. Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Konsep penghasilan dasar yang menjadi penentuan kewajiban pajak penghasilan dalam praktiknya adalah penghasilan neto. Karena tambahan kemampuan ekonomis dirancang untuk mengukur konsumsi plus kenaikan dalam kekayaan bersih. sebagai indeks kapasitas kemampuan membayar pajak. Penghasilan bruto versus penghasilan neto Penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto. Sekarang. yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. kerugian operasi harus dikurangkan dalam menentukan penghasilan neto dari kegiatan usaha. walaupun tidak selalu. Kerugian mengurangi Dasar-dasar Keuangan Publik . Semua tambahan kemampuan ekonomis (accretion) harus dimasukkan. Akan tetapi. dikurangkan dari penghasilan. Walaupun ada pengecualian-pengecualian tertentu. perlakuan biaya bunga yang boleh dikurangkan dipertanyakan konsistensinya. Peraturan perpajakan mendefinisikan penghasilan yang akan dikenakan pajak sebagai penghasilan neto karena biaya-biaya yang terjadi dalam memperoleh penghasilan pada umumnya. Kita tidak perlu mempertimbangkan bagaimana penghasilan tersebut digunakan. Selain itu.151 diperiksa. konsep tambahan kemampuan ekonomis ini akan dianalisis secara mendalam apa implikasinya dalam praktik dan bagaimana konsep ini diterapkan secara memuaskan dalam perhitungan penghasilan neto. Walaupun begitu. apakah akan diinvestasikan atau akan dikonsumsi. ada dua kandidat utama sebagai basis pajak untuk pajak pribadi. penghasilan dari semua sumber yang didefinisikan harus diperlakukan secara seragam dan digabungkan sebagai penghasilan global yang akan dikenakan tarip pajak. baik yang terealisasi ataupun yang tidak terealisasi. yang diharapkan ataupun yang tidak diharapkan. seperti biaya jabatan dan iuran pensiun. Bila kita memilih penghasilan sebagai basis pajak. cakupan auditnya terbatas. Tanpa pengglobalan ini. penerapan tarip yang progresif tidak dapat menghasilkan efek yang diharapkan yaitu mengadaptasi pajak pada kemampuan membayar wajib pajak. misalnya dokter atau pengusaha retail. yaitu penghasilan dan konsumsi. Seberapa baikkah penghasilan neto digunakan sebagai suatu ukuran kapasitas pajak? Dalam konsep basis pajak. maka penghasilan. Prinsip lain dalam mendefinisikan penghasilan neto adalah bahwa kerugian harus dapat diperlakukan sebagai pengurangan sepenuhnya. baik yang teratur ataupun yang fluktuatif. Pandangan pajak penghasilan ini banyak diterima oleh berbagai kalangan dewasa ini. harus didefinisikan sebagai kenaikan total atas kekayaan seseorang. Peraturan perundang-undangan juga membolehkan wajib pajak mengurangkan biaya-biaya yang berkaitan dengan pekerjaan. terutama berkaitan dengan perlakuan biaya-biaya permodalan lainnya.

yang condong pada konsep penghasilan kas. Capital Income versus Labor Income Berdasarkan konsep tambahan kemampuan ekonomis.152 kekayaan bersih sebagaimana keuntungan meningkatkannya. Pada beberapa negara maju. Penghasilan yang Terakumulasi versus Penghasilan yang Terealisasi Sesuai dengan definisi penghasilan sebagai ukuran peningkatan penghasilan. Dengan demikian. Imputed Income Beberapa orang memiliki aset yang memberikan penghasilan kas. tidak memperhitungkan imputed income. Karena kenaikan kemampuan (accretion) didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan bersih dan konsumsi. Pembayaran yang diterima dalam bentuk natura. para wajib pajak dapat memperlakukannya untuk mengurangi kewajiban pajak beberapa tahun yang akan datang. Hal ini dinilai sebagai ketidakkonsistenan penerapan konsep penghasilan ini. ada kredit pajak bagi wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan tetapi wajib pajak yang hanya memperoleh penghasilan atas modal tidak memperoleh kredit pajak ini. Pandangan ini menjadi penting ketika tingkat inflasi sangat tinggi. upah. seperti makanan yang diperoleh dari tanaman dari lahan pribadi. sumber penghasilan bukanlah suatu permasalahan. yang menekankan bahwa penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. contohnya adalah rumah yang ditinggali pemiliknya. kewajiban pajak dalam satuan riil sama dengan nol. Oleh karenanya. Pemilik mendapatkan imputed rent yang sama dengan penghasilan yang ia dapatkan apabila ia menyewakan rumahnya. Kenaikan dalam penghasilan uang yang sepadan dengan kenaikan harga-harga bukan merupakan kenaikan dalam penghasilan riil. dalam situasi ini. layanan kendaraan kantor atau Dasar-dasar Keuangan Publik . oleh karenanya harus didefinisikan dalam satuan riil. Walaupun peraturan perundang-undangan tidak memberikan fasilitas pengembalian pajak. Pemerintah harus konsisten memperlakukan keduanya. Akan tetapi. yang lainnya memiliki barang-barang konsumsi jangka panjang yang memberikan imputed income. beberapa ahli perpajakan secara tradisional membedakan antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal. Penghasilan Riil versus Penghasilan Nominal Penghasilan adalah alat ukur kemampuan membayar. nilai dari konsumsi yang imputed tersebut harus dimasukkan ke dalam basis pajak. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset yang tidak dijual. Direalisasikan ataupun tidak adalah pilihan portofolio bagi investor dan tidak boleh mempengaruhi penghasilan yang diukur untuk keperluan perpajakan. Pengabaian ini menyebabkan ketidakadilan perlakuan pajak bagi pemilik rumah dan penyewa. Penghasilan neto. maka tidak menjadi perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji. Hal inilah yang menjadi bagian dari topik kontroversial untuk memajaki capital gains.

Warisan dan Hibah Transfer pribadi.153 keuntungan-keuntungan dari tunjangan-tunjangan natura. Hal ini menjadi penting karena pembayaran dalam bentuk natura. dalam bentuk berbagai tunjangan-tunjangan natura seperti kendaraan kantor. seperti juga tambahan kemampuan ekonomis dari sumber-sumber lain. penghasilan kena pajak seseorang tidak harus sama dengan bagiannya dalam pendapatan nasional dan juga total penghasilan kena pajak dala suatu negara harus sama dengan total pendapatan nasional. dalam bentuk santai. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura. tidak ada keharusan bahwa basis pajak agregat sama dengan penghasilan total yang didefinisikan dalam pendapatan nasional. yang juga menyatakan nilai dari output yang diproduksi oleh faktor-faktor tersebut. Permasalahan yang lebih membingungkan lagi adalah waktu santai (tidak bekerja). walaupun seharusnya diperhitungkan dalam konsep penhasilan. implementasi dari aturan ini tidak akan mungkin bisa dilakukan. harus dimasukkan ke dalam basis pajak. karena konsep penghasilan berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis. pendapatan nasional adalah jumlah dari pendapatan faktor selama satu periode. Dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion). Juga. perlakuan pajak seharusnya tidak mengikuti aturan dalam perhitungan pendapatan nasional. Dasar-dasar Keuangan Publik . secara konseptual. Jika hal ini dilakukan. Oleh karenanya. Jika seseorang memutuskan untuk santai (tidak bekerja). Akan tetapi. perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima. juga tidak diperhitungkan dalam penghasilan neto. juga tidak dikenakan pajak penghasilan. bukannya penggunaan. Akan tetapi. jasa rumah tangga yang dilakukan sendiri (seperti memasak. apakah transfer seperti ini harus dikurangkan dari basis penghasilan pajak pemberi? Tidak selalu. Akan tetapi. Transfer yang diterima dari pemerintah atau sumber-sumber swasta (seperti donasi dan hibah) bukan merupakan komponen penghasilan dalam istilah pendapatan nasional. mencuci dan memelihara anak) merupakan penghasilan imputed bagi rumah tangga. penerapan imputed income menjadi tidak mungkin apabila dilakukan terlalu jauh. Penghasilan versus Transfer Dari sudut pandang ekonom. menjadi pengganti penghasilan kas untuk menghindari pajak penghasilan. Transfer seperti ini tidak dikurangkan dari penghasilan oleh pemberi dan juga tidak dilaporkan sebagai penghasilan oleh penerima. Contohnya. Pemilihan basis pajak merupakan permasalahan keadilan pajak. ini adalah bukti (seperti yang dinyatakan oleh logika ekonomi) bahwa ia menilai tidak bekerja tersebut sama dengan penghasilan ekuivalen yang hilang karena tidak bekerja. memasukkan penghasilan ini ke dalam penghasilan neto memunculkan permasalahan serius dalam hal pengukuran dan hal-hal lain yang harus diperhitungkan ketika memberlakukan pajak penghasilan atas dasar rumah tangga. seperti warisan dan hibah. dengan demikian harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. Dan juga.

Praktek Definisi Penghasilan: Pengecualian Analisis terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan menunjukkan banyaknya penyimpangan dari prinsip tambahan kemampuan ekonomis. Beberapa penghasilan yang dikenakan pajak final adalah: 1. debat yang terjadi berkisar (1) apakah laba yang direalisasikan harus diperlakukan sebagai penghasilan biasa. Keadilan horizontal dilanggar karena perlakuan ini menghasilkan perbedaan dalam kewajiban pajak pada tingkatan penghasilan tertentu. tidak ada alasan untuk membedakannya. posisi ini seringkali tanpa alasan yang kuat. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek. walaupun belum ada penghasilan karena belum tentu transaksi tersebut memberikan untung. tarip pajaknya proporsional seberapapun besarnya penghasilan (keuntungan) yang didapat. Penghasilan-penghasilan yang dikenakan pajak final Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak. sebelum tahun 2000. karena pada transaksi tertentu seperti transaksi penjualan saham di bursa efek. Demikian pula pada transaksi-transaksi yang menguntungkan. 3. Permasalahan ini dapat dikurangi dengan menerapkan aturan meratakan penghasilan. Penghasilan dari hadiah undian Perlakuan atas pajak final ini sebenarnya melanggar prinsip keadilan pajak. Beberapa tambahan kemampuan ekonomis. Penghasilan jasa konstruksi dan jasa konsultan. 2. wajib pajak sudah diharuskan membayar pajak. 4. dan (2) apakah laba yang tidak direalisasikan harus juga dipajaki. sedangkan beberapa lainnya dikecualikan dari penghasilan neto. pajak langsung dibayarkan dengan sistem pemotongan dan tidak dapat dikreditkan dalam perhitungan Pajak Penghasilan akhir. Akan tetapi. pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarip pajak final. tidak dimasukkan. Bagaimanapun juga. Dasar-dasar Keuangan Publik . Oleh karena itu. penghasilan yang tidak teratur dan penghasilan yang teratur sama pengaruhnya bagi kemampuan wajib pajak. Pada transaksi-transaksi ini. Capital gain Berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap capital gain. Walaupun demikian. Keadilan vertikal dipengaruhi karena prinsip progresivitas tidak berlaku pada penerapan pajak final.154 Penghasilan Teratur versus Penghasilan Tidak Teratur Seringkali dimunculkan argumen bahwa penghasilan yang tidak teratur dan tidak diharapkan harus dimasukkan dalam penghasilan yang dikenakan pajak. tarip pajak yang progresif cenderung diskriminatif terhadap penghasilan yang fluktuatif. seperti imputed income. Penghasilan yang diperoleh dari hak atas tanah dan bangunan.

Memang ada masalah khusus bahwa capital gain sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga harus membayar lebih banyak dalam sistem tarip pajak yang progresif. Walaupun demikian. dan walaupun berdasarkan pajak konsumsi. keputusan untuk merealisasikan dalam bentuk kas atau tidak adalah keputusan manajemen portofolio dan bukan adanya tambahan penghasilan. Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena pemiliknya dihalangi untuk melakukan konsumsi. Pajak untuk transaksi-transaksi ini bersifat final dan dikenakan atas nilai transaksi. Semua tambahan harus dimasukkan. Prinsipnya adalah semua penghasilan harus dipajaki. bila dibandingkan jika capital gain tersebut diterima sebagai pendapatan tetap. Perlakuan ini jelas-jelas melanggar prinsip keadilan pajak. Jika Tuan Amir memiliki portofolio saham PT Telkom yang nilainya naik Rp100. (Berdasarkan suatu pajak konsumsi. Berdasarkan prinsip ini.155 Perlakuan atas laba yang direalisasikan. Penundaan pengenaan pajak setelah realisasi memberikan perlakuan yang menguntungkan kepada jenis penghasilan yang belum direalisasikan. Peraturan perpajakan memberikan perbedaan perlakuan pada beberapa capital gain. laba yang belum terealisasikan tidak dipajaki. Tidak ada dasar yang kuat berdasarkan prinsip keadilan untuk membedakan perlakuan pajak terhadap laba yang direalisasikan terhadap penghasilan dari usaha. tidak peduli akan digunakan untuk apa. misalnya menjualnya untuk dikonsumsi atau diinvestasikan dalam bentuk aset lainnya. hal ini tidak relevan dengan definisi basis dari pajak penghasilan. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip tambahan kemampuan ekonomis. yaitu capital gain dari penjualan saham di bursa efek dan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. Penghasilan didapatkan dari keduanya dan tidak ada dasar yang membedakan keduanya. laba yang belum direalisasikan akan dikecualikan dan laba yang direalisasikan akan dimasukkan hanya jika dikonsumsi.000. Walaupun tidak ada konsumsi. kekayaannya telah bertambah sebanyak jumlah ini yang dapat diubahnya menjadi kas bila ia memutuskannya. kesulitan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan perataan yang tepat.) Dasar-dasar Keuangan Publik . bukannya atas labanya. pembedaan apakah sudah terealisasi dan belum terealisasi bukan merupakan hal yang utama. baik keadilan horizontal maupun keadilan vertikal. Perlakuan terhadap laba yang belum direalisasikan. Faktanya dia tetap memiliki dalam bentuk portofolio saham menunjukkan preferensinya untuk tetap terus memegangnya bila dibandingkan dengan alternatif lainnya. Bahwa realisasi dalam bentuk kas memungkinkan. simpulan ini telah menjadi bahan perdebatan yang berkelanjutan dalam bentuk argumentasi-argumentasi berikut: a. Apakah laba telah terealisasi tidak ada relevansinya dengan apakah ada peningkatan kemampuan ekonomis.000. Karena penghasilan neto dinyatakan dalam bentuk penghasilan kas dan hanya memasukkan penghasilan kas saja. penghasilan sebagai suatu indeks dari kemampuan membayar wajib pajak harus diukur sebagai tambahan kekayaan. Laba yang sudah direalisasikan tetapi tidak dikonsumsi perlakuannya sama dengan laba yang belum direalisasikan. baik terealisasi (berubah menjadi kas) ataupun tidak.

laba yang sudah ataupun yang belum direalisasikan harus dimasukkan dalam penghasilan kena pajak dan digabungkan dengan penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Akan tetapi. mereka tidak membukukan pendapatan mereka sampai nakhoda kapal telah kembali ke pelabuhan dan menyerahkan uang hasil dagangan. pengenaan pajak atas capital gain harus juga disesuaikan dengan inflasi.156 b. adalah beralasan bagi pemerintah untuk meminta wajib pajak melikuidasi sebagian asetnya untuk membayar pajak bila diperlukan. Dengan membolehkan perataan dan menyebarkan pembayaran pada beberapa periode. Oleh karena itu. Selain itu juga. tetapi hal ini bukan halangan yang luar biasa. situasi bisnis telah berubah dan analogi seperti ini tidak tepat lagi. Permasalahan penerapan. akan tetapi situasinya jauh lebih sulit untuk laba yang belum direalisasikan. Pandangan ini tepat. d. tetapi apakah hal itu jadi persoalan? Sebagaimana halnya hutang-hutang lainnya yang jatuh tempo. telah ada usulan untuk mengenakan pajak pada saat kematian atau pemindahan aset ini (misalnya melalui pemberian) seolah-olah telah terealisasi pada saat itu. Pemisahan adalah pilihan investasi. apakah ada cara yang layak untuk memajakinya? Pengenaan pajak sepenuhnya atas laba yang sudah direalisasikan dapat dilaksanakan tanpa kesulitan-kesulitan teknis yang muncul. ketidakadilan yang timbul karena likuidasi paksa dapat dihindari. misalnya setiap lima tahun. misalnya untuk pemegang saham PT Telkom yang dapat menjual sahamnya sewaktu-waktu. dapat dinilai dan dikenakan pajak secara periodik. Pada awal munculnya pembukuan oleh para saudagar Venesia. Suatu pendekatan yang konsisten mengharuskan bahwa pengenaan pajak pada semua laba ini harus diikuti dengan pemberian pengurangan untuk kerugian-kerugian. penghasilan tersebut harus dapat dipisahkan dari aset yang menghasilkannya. Jika pendekatan tambahan kemampuan ekonomis diikuti. Untuk suatu penghasilan yang akan diterima. Pengukuran atas laba yang belum direalisasikan memang sulit. Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena ketiadaan realisasi membuat kita tidak mengetahui keberadaannya. Pengenaan pajak secara tahunan atas laba yang belum direalisasikan tidak memungkinkan karena ketidakpraktisan dalam melakukan penilaian aset secara tahunan. yang banyak mendapatkan dukungan-dukungan hukum pada tahap-tahap awal diskusi pajak penghasilan. Pandangan ini. Pemajakan atas laba yang belum direalisasikan mengharuskan wajib pajak membayar pajak walaupun ia tidak memiliki uang kas untuk membayarnya. Prinsip akuntansi yang hati-hati hanya mengakui pendapatan setelah ada realisasi. c. Walaupun permasalahan pengenaan pajaknya telah jelas secara prinsip. seperti sekuritas yang diperdagangkan. untuk aset lainnya (seperti lukisan dan tanah pertanian) sulit untuk dinilai. Akan tetapi. sedangkan penghasilan diperoleh karena nilai aset meningkat. pemerintah dapat memberikan waktu yang cukup untuk itu. Dasar-dasar Keuangan Publik . Untuk situasisituasi di mana likuidasi parsial tidak memungkinkan (misalnya bisnis keluarga). sulit digunakan untuk meyakinkan para ekonom. Hal ini sering disebut dengan realisasi konstruktif yang akan mengurangi kebutuhan penilaian aset hanya pada satu tanggal tertentu sehingga lebih mudah dikelola. Beberapa aset.

penundaan pembayaran pajak sama saja dengan memperoleh pinjaman bebas bunga. cara ini masih memberikan beberapa keuntungan bagi capital gain. bukannya asuransi. membolehkan pembayaran-pembayaran ini sebagai pengurang atas penghasilan dan mengenakan pajak sepenuhnya pada saat uang pensiun/tabungan dibayarkan kembali. Tabungan Hari Tua dan Rencana Pensiun Tabungan Hari Tua adalah kegiatan memisahkan penghasilan tahun berjalan untuk penggunaan di masa depan. Iuran Pensiun. Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan. Pertama. Sebagaimana disebutkan di muka.157 Walaupun realisasi konstruktif dapat memindahkan laba yang belum direalisasikan ke dalam basis pajak. Pajak penghasilan atas gaji/upah juga tidak dikurangkan dan menjadi bagian dari penghasilan umum dan diperlakukan sama seperti pajak-pajak lainnya. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan. yang nilainya dapat sangat substansial terutama bagi para wajib pajak muda yang mampu menunda untuk periode waktu yang sangat panjang. aturan ini sama saja memberikan kepada pembayar Tabungan Hari Tua suatu pinjaman bebas bunga dan penerapan tarip pajak yang lebih rendah di kemudian hari ketika tabungan ini diambil oleh penabung. sebagaimana yang berlaku pada penghasilan dari sumber-sumber lainnya. penghasilan pembayar iuran pensiun di masa depan akan lebih kecil sehingga penghasilan yang ditunda pengenaannya ini pada akhirnya terkena tarip pajak yang lebih rendah. Iuran yang tidak dikenakan pajak penghasilan adalah iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. tanpa memandang penggunaannya. Tabungan ini semakin beralasan untuk dimasukkan ke dalam basis pajak apabila dipandang sebagai skema redistribusi. dan ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. Dasar-dasar Keuangan Publik . Penundaan pajak sama dengan memperoleh pinjaman bebas bunga. Peraturan perundang-undangan pajak penghasilan membolehkan pembayaran Tabungan Hari Tua kepada PT Taspen tidak dimasukkan sebagai penghasilan kena pajak. Alternatif yang dilakukan saat ini. pajak atas laba yang belum direalisasikan ditunda sampai kematian. memunculkan ketidakadilan terhadap para penabung lainnya karena dua keuntungan bagi pembayar iuran pensiun/tabungan. Hal ini berlaku baik iuran pensiun itu dipotong dari penghasilan para pegawai maupun dibayarkan atau ditanggung oleh perusahaan. Kedua. Apabila prinsip penghasilan global diikuti. Iuran ini tidak dikenakan pajak apabila penghasilan penerima berada di bawah PTKP. Tabungan Hari Tua. yang memungkinkan wajib pajak untuk memperoleh penghasilan atas aset tersebut sementara waktu. dengan menyetorkan sejumlah uang kepada lembaga dana pensiun atau sejenisnya. semua penghasilan harus dikenakan pajak. Perlakuan yang tepat tentu saja dengan memperlakukan iuran Tabungan sebagaimana bentuk tambahan kemampuan lainnya dan dikenakan pajak sebagaimana mestinya. Bila penghasilan-penghasilan lain dipajaki secara reguler.

apakah akan menggunakan pengurangan standar atau pengurangan khusus (itemized deduction). Para wajib pajak dengan tagihan-tagihan darurat yang berat. Hal ini tidak saja disebabkan oleh ukuran rumah tangga tetapi juga oleh beberapa hal lainnya. Akan tetapi kemudian. Praktik Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Peraturan pajak penghasilan di Indonesia hanya membolehkan satu jenis pengurangan terhadap penghasilan neto yang disebut Pengurangan Standar atau Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Di Amerika Serikat. angka pengurangan standar ini telah dinaikkan jauh melebihi angka pengurangan khusus yang disubtitusikan. tetapi beberapa pengeluaran mungkin layak diberikan. perlakuannya sudah tepat yaitu pembayarannya dikecualikan dari pengenaan pajak tanpa memperbolehkan pengurangan atas premi yang dibayarkan. Oleh karena itu. Asuransi Jiwa. Pembayaran premi asuransi jiwa tidak boleh digunakan untuk mengurangi penghasilan yang akan dikenakan pajak. pengurangan standar ini ditujukan untuk menjadi subtitusi dari pengurangan khusus. Untuk asuransi jiwa yang tidak memiliki komponen investasi. seperti tagihan biaya pengobatan yang besar. Pengurangan standar pada mulanya diberlakukan untuk memudahkan ketaatan dan administrasi. Asuransi jiwa tertentu memiliki komponen tabungan (investasi) yang karena perlakuan ini bunga yang diperoleh atas tabungan ini terhindar dari pengenaan pajak. Penghasilan yang sama tidak berarti kemampuan yang sama untuk membayar jika para wajib pajak berada pada posisi yang berbeda-beda. Perlakuan premi asuransi telah sesuai dengan konsep tambahan kemampuan tetapi perlakuan atas pembayaran asuransinya tidak sesuai. Pembayaran premi kepada perusahaan asuransi jiwa dan pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi jiwa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Aspek Keadilan. yakni memasukkan semua tambahan kemampuan. dapat dikatakan memiliki kemampuan Dasar-dasar Keuangan Publik . pengurangan standar fungsinya menjadi hibrida antara pengganti pengurangan khusus dan memberikan tambahan pengurangan yang tidak berkaitan dengan ukuran rumah tangga. sehingga memudahkan penghitungan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. pembayaran asuransinya tidak dikenakan pajak penghasilan. Pada umumnya wajib pajak yang berpenghasilan tinggi akan memilih pengurangan khusus karena akan memberikan jumlah pengurangan yang lebih besar daripada pengurangan standar. Sementara itu.158 Pengenaan pajaknya ditunda sampai uang pensiun diterima oleh para pegawai selama masa pensiun. Pendekatan ini menjadi dasar utama keberatan akan adanya pengurangan-pengurangan. Peraturan pajak penghasilan di Amerika Serikat memberikan pilihan bagi wajib pajak. Dukungan untuk pengurangan khusus Prinsip pengenaan pajak atas penghasilan mengharuskan basis pajak yang komprehensif.

aturan yang membebaskan pajak atas bunga pinjaman rumah sama dengan mengenakan pajak sepenuh pada pemilik rumah dan kemudian secara bersamaan melakukan pengeluaran subsidi kepada mereka. Pertimbangan yang sama juga dapat diberlakukan bagi para wajib pajak yang cacat karena mereka membutuhkan biaya hidup yang lebih banyak. Akan tetapi. Pertanyaannya adalah apakah aktivitas yang perlu didukung itu membutuhkan subsidi. sehingga mendorong wajib pajak untuk membelanjakan lebih banyak pada aktivitas-aktivitas ini. baik bagi Dasar-dasar Keuangan Publik . Preferensi Pajak Kita telah mempelajari bagaimana definisi perundang-undangan dari penghasilan kena pajak. yang seharusnya identik dengan konsep teoritis tentang tambahan kemampuan ekonomis.159 untuk membayar yang lebih kecil dibandingkan dengan para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi tagihan-tagihan darurat tersebut. Prinsip ini dapat dinyatakan dengan memberikan pengurangan atas penghasilan untuk biaya pengobatan. keuntungan yang didapatkan dapat jauh melebihi kerugiannya pada aspek keadilan pajak. setelah pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan. apakah subsidi ini harus diberikan dalam bentuk pengurangan pajak. situasi seperti ini menjadi sangat penting terutama bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Perbedaan-perbedaan yang substansial timbul yang seringkali menyebabkan penghasilan kena pajak jumlahnya di bawah dari yang ditentukan oleh konsep tambahan kemampuan. pengurangan bertindak sebagai hibah tandingan yang disediakan oleh pemerintah di mana biaya pelaksanaan aktivitas-aktivitas tertentu oleh wajib pajak menjadi berkurang. Jika aktivitas tertentu layak didukung dan jika pengurangan pajak adalah cara terbaik untuk melakukannya. Aspek Insentif. Istilah penyusutan pengeluaran pajak digunakan karena kegagalan memperoleh penerimaan pajak karena lubanglubang dalam basis penghasilan kena pajak pada dasarnya adalah sama dengan memperoleh penerimaan pajak sepenuhnya kemudian melakukan pengeluaran sehingga wajib pajak tetap pada posisi yang sama. Walaupun penentuan kerugian basis pajak karena suatu hal tertentu masih diperdebatkan. preferensi pajak dapat dinetralisasi dengan pengenaan tarip pajak yang progresif. Misalnya. Jika dirancang dengan baik. Tidak ada aturan alam yang tidak membolehkan pajak penghasilan digunakan tujuan-tujuan selain perolehan penghasilan. Jika subsidi dibutuhkan. pengurangan ini tidak saja mendapat dukungan tetapi juga mampu mendorong terciptanya basis pajak yang lebih adil. Oleh karena itu. Dalam hal ini. banyak bukti menunjukkan bahwa kerugian atau penyusutan pendapatan atau pengeluaran pajak yang telah terjadi jumlahnya cukup besar. Keberadaan preferensi pajak tidak menjadi masalah besar apabila basis yang berkurang karena pengecualian dan pajak final merupakan proporsi yang tetap dari basis pajak sepenuhnya bagi seluruh wajib pajak. pada kenyataannya insiden preferensi sangat bervariasi. Dalam hal ini. Pengurangan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang mulia seperti sumbangan sosial atau untuk mendorong konsumsi atas hal-hal yang menimbulkan manfaat-manfaat eksternal.

sehingga menimbulkan adanya ketidakadilan secara vertikal dan horizontal. kehilangan penerimaan dari aturan pajak terhadap terhadap capital gain lebih dinikmati oleh wajib pajak berpenghasilan tinggi. Dengan melakukan investasi pada firma tersebut. kerugian dapat digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak dan bunga dapat dikurangkan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak. firma tersebut dapat meminjam dalam jumlah yang banyak dengan jaminan harta real estatenya. Ketidakadilan pajak secara vertikal dapat terjadi karena manfaat-manfaat pengeluaran pajak hanya dinikmati oleh kelompok wajib pajak dengan penghasilan tertentu. Pembayaran bunga akan mengakibatkan kerugian yang besar pada periodeperiode awal beroperasinya firma tersebut sebelum firma tersebut memperoleh penghasilan yang cukup besar. investor dapat menghapuskan kerugian yang besar tersebut pada penghasilan mereka sehingga mengurangi pajak yang dibayarkan. di Amerika Serikat. bagaimana aturan pajak menciptakan preferensi pajak bagi golongan-golongan wajib pajak dengan penghasilan tertentu. Contohnya. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Kedua aturan ini memang sejalan dengan konsep yang benar tentang laba bersih sebagai basis pajak. semua sependapat bahwa ada sejumlah pertama penghasilan tertentu yang tidak boleh dikenakan pajak. Penghasilan yang dikenakan pajak harus didefinisikan sebagai penghasilan kena pajak dikurangi dengan PTKP. suatu firma dibentuk untuk investasi di dunia real estate. kita harus menggunakan tingkat Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam menentukan jumlah PTKP ini. Untuk di Indonesia. Bila dikombinasikan. penelitian tentang hal ini ada.160 wajib pajak rata-rata pada berbagai tingkatan penghasilan maupun wajib pajak tertentu pada satu tingkatan pajak penghasilan. Misalnya. tetapi juga yang lebih penting adalah seberapa sedikit wajib pajak yang berpenghasilan rendah harus membayar pajak Berapa besarnya penghasilan minimal yang tidak dikenakan pajak? Pada umumnya. keduanya ternyata dapat dipakai untuk menghindari pajak dengan membentuk tax shelter. Cara penghindaran pajak yang paling utama adalah adanya tax shelter yang timbul dari kerugian usaha. Dengan investasi modal yang kecil. Permasalahan-Permasalahan Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Beberapa permasalahan penghindaran pajak timbul berkaitan dengan berbagai jenis penghasilan modal. Ketidakadilan pajak secara horizontal terjadi karena wajib pajak dengan penghasilan sama tidak mendapat manfaat yang sama karena perbedaan aturan. Perlakuan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Permasalahan keadilan pajak secara vertikal tidak hanya seberapa besar wajib pajak berpenghasilan tinggi dipajaki. Wajib pajak yang menerima penghasilan dalam bentuk natura membayar lebih sedikit daripada pegawai yang menerima seluruh penghasilannya dalam bentuk kas.

Ketika penghasilan neto naik. Di Indonesia. Struktur tarip pajak tidak lagi selalu positif. Pertama. Karena tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga. Tarip pajak efektif (yang didefinisikan sebagai rasio pajak terhadap penghasilan neto) pada tingkat penghasilan neto yang rendah jumlahnya sangat kecil karena porsi terbesar dari penghasilan neto adalah PTKP. ada PTKP bagi anggota keluarga yang memiliki penghasilan untuk wajib pajak yang bersangkutan dan pasangannya. Kredit Pajak bagi Wajib Pajak berpenghasilan Rendah Pada negara maju. Hal ini menimbulkan permasalahan ketidakadilan pajak karena aturan pajak telah terdistorsi untuk memenuhi tujuantujuan nonfiskal. Kredit Pajak untuk Biaya Mengasuh Anak Sejalan dengan perkembangan tentang hak-hak wanita dan perlakuan yang adil terhadap penghasilan keluarga.000 per wajib pajak. Ketidakadilan didapatkan oleh wajib pajak yang karena sesuatu dan lain hal harus memiliki jumlah tanggungan lebih dari tiga orang. sehingga beban pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga.440.000. sehingga tarip pajak efektif naik. adanya PTKP sebesar Rp1. jumlah PTKP maksimal adalah Rp7. masing-masing sebesar Rp1.161 penghasilan yang rendah yang membuat wajib pajak diklasifikasikan sebagai miskin. Ditambah dengan faktor ini maka jumlah PTKP maksimal adalah Rp10. jumlah maksimal tanggungan adalah tiga orang karena adanya tujuan tambahan untuk mendukung program keluarga kecil.000. Titik awal beban pajak bergantung pada berbagai faktor.800. telah muncul pemikiran-pemikiran dan praktik-praktik berkaitan dengan tarip pajak negatif. PTKP memperhitungkan ukuran keluarga dengan asumsi implisit bahwa tambahan tanggungan tidak menciptakan skala ekonomis. Berdasarkan faktor ini. tetapi bergerak dari tarip negatif pada penghasilan nol (wajib pajak pada tingkatan penghasilan ini mendapatkan subsidi dari pemerintah) bergerak ke angka nol (titik impas) dan menjadi tarip positif pada angka di atas titik impas ini. tetapi juga mendominasi kenaikan tarip pajak efektif atau pola progresivitas pada skala penghasilan menengah ke bawah.000. Batas bebas pajak tersebut tidak hanya penting dalam menentukan batas bawah untuk kewajiban pajak.200. Berikutnya. Prinsip progresifitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarip pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin.440. Praktik ini dapat dilakukan dengan memberikan kredit pajak pada para wajib pajak berpenghasilan rendah. Signifikansi utama dari pemberian PTKP berkaitan erat dengan pola tingkat pajak efektif pada para wajib pajak dengan penghasilan menengah ke bawah. Kita dapat mengatakan bahwa PTKP adalah penghasilan yang dikenakan tarip pajak sebesar nol persen dan merupakan bagian integral dari struktur tarip pajak. pasangannya dan setiap tanggungan (maksimal tiga tanggungan). Untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . aturan hukum di negara maju menyediakan kredit pajak bagi keluarga yang memiliki anak dan pasangannya juga bekerja. jumlah PTKP turun secara relatif terhadap penghasilan neto.

mereka harus menyediakan dana untuk menyewa pengasuh untuk anak-anak mereka. tarip pajak yang dikenakan meningkat seiring dengan peningkatan penghasilan neto. Selain itu. Peningkatan kewajiban pajak yang lebih rendah daripada peningkatan penghasilan membuat pajak menjadi regresif. tetapi situasinya lebih rumit bila kita ingin mengukur derajat progresivitas atau regresivitas. Pajak dikatakan progresif apabila tarip pajak cenderung meningkat pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. Rumusnya: • Rasio persentase perubahan penghasilan setelah pajak terhadap persentase perubahan penghasilan sebelum pajak Rumusnya: (Y1 − T1 ) − (Y0 − T0 ) Y0 . Seberapa progresifkah pajak penghasilan Indonesia dan perubahan-perubahan apa yang telah dilakukan dalam pola progresivitasnya? Arti Progresivitas Tarip Pajak Pada saat membahas penghasilan neto. Pembedaan ini sangat jelas.162 keluarga seperti ini.Untuk suatu pajak penghasilan dikatakan progresif. yaitu: • Rasio perubahan tarip efektif terhadap perubahan penghasilan. T0 Y1 − Y0 Rasio persentase perubahan kewajiban pajak terhadap perubahan penghasilan. proporsional dan regresif dapat digambarkan dengan mudah. Suatu pajak dikatakan progresif bila rasio pajak terhadap penghasilan naik ketika skala penghasilan meningkat. T1 Rumusnya: • − T0 Y1 Y0 Y1 − Y0 T1 − T0 Y0 . proporsional apabila tarip pajak konstan pada semua tingkat penghasilan. Mengukur Tingkat Progresivitas Perbedaan antara pajak-pajak progresif. Pola Progresivitas Tarip Pajak Pajak penghasilan secara tradisional telah dipandang sebagai suatu instrumen pajak yang progresif. dan regresif bila rasionya turun. dan regresif bila tarip pajak turun pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. proporsional bila rasionya konstan. Tidak ada cara tunggal yang tepat mengukur tingkat progresivitas. tidak cukup apabila kewajiban pajak meningkat ketika tingkat penghasilan meningkat. Beberapa ukuran dapat dipakai. semakin cepat kenaikan rasio pajak terhadap pendapatan nasional. semakin progresif pajak penghasilan. (Y0 − T0 ) Y1 − Y0 Dasar-dasar Keuangan Publik .

Jika progresivitas kewajiban pajak ditetapkan konstan. yang juga disebut sebagai progresivitas tarip rata-rata (average-rate progression). merupakan ukuran kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi tarip pajak efektif terhadap penghasilan. Dengan demikian. Hal ini menjadi sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi terhadap progresivitas ketika tarip-tarip pajak berubah. Dasar-dasar Keuangan Publik . Apakah yang dimaksud dengan kenetralan dalam hal ini? Misalkan pajak akan dinaikkan. banyak pihak yang mengusulkan perubahan pada seluruh tarip untuk menjaga kenetralan kenaikan dan penurunan.163 Ukuran pertama. kemudian progresivitas kewajiban pajak dan yang terakhir adalah progresivitas penghasilan residu. Ketika tarip-tarip pajak dinaikkan atau diturunkan. Nilai dari koefisien ini adalah nol untuk pajak proporsional dan positif untuk pajak progresif. Proporsionalitas ditunjukkan dengan nilai koefisien sama dengan satu dan progresivitas ditunjukkan dengan nilai koefisien di atas satu. Progresivitas pada semua indikator cenderung menurun seiring dengan kenaikan skala penghasilan setelah tingkatan penghasilan tertentu. semua hutang pajak harus dinaikkan dengan persentase yang sama. Kurva tarip efektif cenderung berkurang kemiringannya dan progresivitas cenderung menurun seiring dengan meningkatnya skala penghasilan. Ukuran kedua. semua tarip pajak dinaikkan sebesar persentase kenaikan yang sama. tarip-tarip pajak akan dinaikkan pada persentase yang semakin kecil pada tarip-tarip yang lebih tinggi. Ukuran ketiga atau progresivitas penghasilan residu mencatat elastisitas dari penghasilan setelah pajak Ukuran ini menunjukkan kemiringan kurva yang diperoleh dengan menggambar penghasilan sebelum dan sesudah pajak pada bagan logaritme. konsep teoritis dapat menimbulkan implikasi politis. perlu ditetapkan apa ukuran yang akan digunakan. Jika progresivitas penghasilan residu ditetapkan konstan. mencatat elastisitas kewajiban pajak terhadap penghasilan. yang juga disebut sebagai progresivitas kewajiban pajak. Koefisiennya juga satu untuk pajak proporsional tetapi progresivitas sekarang ditunjukkan dengan angka koefisien yang kurang dari satu. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat berpenghasilan tinggi akan cenderung mengambil posisi yang berlawanan. Untuk menghindari kebingungan dalam membandingkan progresivitas pada jangkauan penghasilan tertentu yang berbeda atau untuk struktur pajak yang berbeda. Jika progresivitas tarip pajak rata-rata ditetapkan konstan. Yang lebih menarik lagi adalah urutan preferensi tersebut akan terbalik bila yang diperjuangkan adalah pengurangan pajak. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat yang berpenghasilan rendah tentu saja akan sangat berkeinginan untuk menginterpretasikan netralitas dalam bentuk yang paling diinginkan adalah progresivitas tarip rata-rata. Tarip-tarip pajak dinaikkan pada persentase yang semakin besar pada tariptarip yang lebih tinggi. Koefisien ini mengukur kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi kewajiban pajak terhadap penghasilan pada bagan logaritme-ganda.

diperlukan penyesuaian terhadap inflasi. sebagian dikenakan pajak final dan sebagian lagi dikenakan pajak reguler. Permasalahan yang sama juga muncul berkenaan dengan kerugian yang dialami kreditur dalam nilai riil hutang nominal yang mereka berikan kepada debitur. Sementara itu. bukannya laba dalam nilai nominal. tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak tertentu tidak pernah disesuaikan. Ketika harga-harga naik. Perlakuan yang sama terhadap capital gain seharusnya hanya akan memajaki laba dalam nilai riil. nilai riil dari PTKP cenderung turun. Penghasilan yang berbasis tambahan kemampuan yang didefinisikan dalam nilai riil harus membolehkan kreditur mengakui kerugian dan juga mengharuskan debitur mengakui keuntungan. nilai riil dari PTKP menjadi turun. Berkaitan dengan pengaruh inflasi. wajib pajak di Indonesia mengalami kenaikan kewajiban pajak dalam nilai riil.164 Penyesuaian Terhadap Inflasi Permasalahan inflasi tidak hanya berkaitan dengan angka nominal PTKP dan tarip pajak. Akibatnya. Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah mengurangi penghasilan bunga kena pajak sesuai dengan tingkat inflasi. kewajiban pajak naik lebih cepat daripada kenaikan harga. Penghasilan Modal Beberapa permasalahan lanjutan muncul berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap penghasilan modal. yang tentu saja merupakan keuntungan bagi debitur. sehingga tingkat tarip pajak yang berlaku untuk tingkat penghasilan riil tertentu akan naik. tetapi juga dalam cara yang rumit berkaitan dengan perlakuan terhadap penghasilan modal. peraturan pajak di Indonesia hanya menyesuaikan PTKP. Solusi atas permasalahan ini dalam perundang-undangan pajak hanyalah parsial dalam bentuk penggunaan metode penyusutan dipercepat Pilihan Unit Kena Pajak Perlakuan yang tepat untuk unit kena pajak berdasarkan pajak penghasilan progresif adalah suatu hal yang kontroversial yang sampai saat ini belum ada solusi yang memadai. Permasalahan selanjutnya yang ditimbulkan oleh inflasi adalah berkenaan dengan depresiasi. Itupun tidak dilakukan setiap tahun. nilai riil dari tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak turun. tetapi beberapa tahun sekali. permasalahan ini disebabkan Dasar-dasar Keuangan Publik . tingkat penghasilan riil yang mulai dikenakan pajak semakin turun. Oleh karena itu. Dalam hal ini kewajiban pajak naik dalam nilai riil. ketika harga-harga naik. Capital gain yang sudah terealisasi. Selain itu. Dengan demikian. Untuk kedua alasan inilah. pengembalian dari biaya perolehan aktiva berkurang dalam nilai riil dan penyesuaian inflasi juga diperlukan dalam hal ini. Karena pajak di Indonesia tidak terlindung dari pengaruh inflasi. PTKP dan tingkat penghasilan yang dikenakan tarip pajak Ketika harga-harga naik. Di Indonesia.

Pembahasan masalah ini ditinjau dari pandangan pengenaan pajak berdasarkan kemampuan untuk membayar. Aturan 3 mengikuti secara langsung prinsip progresivitas dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut. jumlah pajak (yang dinyatakan dalam persentase terhadap penghasilan) untuk unit-unit dengan jumlah anggota yang sama harus naik seiring dengan kenaikan penghasilan unit. 3. Dengan pengenaan pajak progresif. Ada hal yang perlu dipertegas bahwa aturan ini tidak membedakan kemampuan untuk membayar dalam konteks unit keluarga apakah penghasilan diperoleh oleh satu anggota atau lebih. Oleh karena itu. aturan perpajakan membolehkan tambahan PTKP sesuai dengan ukuran keluarga. Penggabungan Penghasilan. Aturan 1 tidak perlu penjelasan lebih lanjut karena aturan ini secara sederhana mewakili persyaratan bahwa hal yang sama harus diperlakukan sama juga. keadilan mengharuskan ketaatan akan tiga aturan berikut: 1. 2. Walaupun beberapa jenis pengeluaran konsumsi (misalnya penerangan di ruang tamu) dikonsumsi dalam jumlah yang sama baik oleh satu orang atau dua orang. Aturan 2 menunjukkan proposisi bahwa seorang bujangan dengan penghasilan Rp30 juta memiliki posisi (kemampuan) lebih baik daripada pasangan dengan total penghasilan keduanya juga sama dengan Rp30 juta. Perbedaan seperti ini (pada jumlah yang layak) tidak boleh dipandang sebagai pajak yang diskriminatif terhadap seorang bujangan. Sistem yang mengikuti aturan-aturan keadilan ini tidak akan mempengaruhi keputusan pernikahan. perlakuan yang adil adalah apabila pajak yang dikenakan kepada seorang bujangan tersebut lebih tinggi daripada pajak yang dikenakan kepada pasangan suami-istri dengan tingkat penghasilan yang sama. kita akan mempertimbangkan suatu alternatif lainnya yang mendefinisikan unit kena pajak dalam bentuk individu yang memperoleh penghasilan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Instrumen yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan di atas meliputi penerapan PTKP dan penggunaan struktur tarip pajak untuk berbagai jenis Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Sistem Dasar-dasar Keuangan Publik . bahwa unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar harus diarahkan kepada unit keluarga. Kemudian. unit yang jumlah anggotanya lebih kecil harus membayar pajak lebih banyak dan unit yang jumlah anggotanya lebih besar harus membayar pajak lebih sedikit.165 adanya kecenderungan sosioekonomis yaitu meningkatnya partisipasi wanita dalam angkatan kerja. Di antara unit-unit yang berpenghasilan sama. Pendekatan Unit Keluarga Kita mulai pembahasan dengan suatu hipotesis yang sering diterapkan dalam kebanyakan diskusi pajak penghasilan. Prinsip. walaupun dibatasi hanya sampai tiga tanggungan. Unit-unit dengan penghasilan yang sama dan jumlah anggota yang sama harus membayar pajak yang sama jumlahnya. baik hanya satu orang dari pasangan yang menikah tersebut yang memiliki penghasilan ataupun keduaduanya memiliki penghasilan. pengeluaran-pengeluaran konsumsi lainnya (misalnya kursi untuk santai) lebih mahal apabila untuk pasangan.

Dalam hal ini. Pasangan yang tidak Bekerja. pendekatan Eropa ini memberikan perlakuan yang lebih menguntungkan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah.440. Bila dibandingkan dengan unit keluarga. Dalam peraturan perpajakan sekarang ini keluarga C dan D membayar pajak lebih besar daripada keluarga A dan B. pendekatan kredit pajak lebih tepat digunakan. Pertanyaan kedua berkenaan dengan apakah pengurangan tersebut diberikan dalam bentuk pengurang atas penghasilan atau kredit pajak. menjaga anak-anak. tetapi jika biayanya diukur dalam berapa banyak pengeluaran akan dilakukan. Pengurangan untuk Tanggungan. Struktur tarip yang digunakan.166 pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. tidak menimbulkan perbedaan. Karena wajib pajak dengan penghasilan yang tinggi mengeluarkan biaya untuk anak yang lebih besar. Pertanyaan terakhir dalam pajak penghasilan adalah bagaimana pengaturan tentang pasangan yang tidak bekerja dan hanya tinggal di rumah untuk mengurus rumah. kewajiban pajak gabungan pasangan suami istri bergantung pada bagaimana penghasilan terdistribusi di antara mereka. tapi dengan jumlah maksimal tiga tanggungan.000 untuk setiap tanggungan. sudah selayaknya memberikan manfaat pajak yang lebih besar pula. atau menganggur. Jika biaya dari setiap tambahan anak diukur dalam satuan pengeluaran standar (misalnya pengeluaran rata-rata). progresif ataupun regresif. Penggabungan penghasilan ini tidak mengurangi jumlah PTKP yang dapat dikurangkan dari penghasilan. Asumsikan bahwa A dan C penghasilannya sama dan bahwa B memiliki potensi penghasilan yang sama dengan D. Pertanyaan pertama akan menyangkut masalah bagaimana memperlakukan anak-anak yang tinggal jauh dari orang tua dan yang memiliki penghasilan. jumlah tanggungan tentu saja menjadi pertimbangan utama. baik proporsional. pendekatan pengurang atas penghasilan lebih tepat digunakan. Peraturan pajak di Indonesia menggunakan cara ini dengan memberikan pengurangan atas penghasilan netto sebesar Rp1. Suatu keluarga besar dengan penghasilan neto tertentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih redah daripada keluarga kecil dengan penghasilan neto yang sama. Padahal berdasarkan aturan opsi yang sama (bekerja dan tidak bekerja) Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendekatan Alternatif: Unit Peroleh Penghasilan Pendekatan alternatif untuk mengatasi permasalahan di atas yang diikuti oleh beberapa negara Eropa adalah mengabaikan unit keluarga dan menggunakan individu sebagai unit yang dikenakan pajak. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak. Misalkan ada sepasang suami istri A dan B di mana A memiliki penghasilan dan B tidak dan bandingkan dengan pasangan lain C dan D yang keduanya memiliki penghasilan. Dalam proses mengukur kemampuan untuk membayar dari suatu unit keluarga. baik ketika penghasilan masih dilaporkan sendiri maupun penghasilan digabungkan. Pertanyaannya adalah siapa yang menjadi tanggungan dan bagaimana pengurangan diberikan. Cara lain dari perlakuan pajak terhadap tanggungan adalah PTKP.

prosedur yang sama juga harus diberlakukan kepada bujangan yang tidak bekerja. Secara prinsip. Dasar-dasar Keuangan Publik . imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan pajak. secara prinsip.167 keduanya harus membayar pajak dalam jumlah yang sama. yang harus dimasukkan sebagai tambahan kemampuan. seperti simpulan kita pada pembahasan tentang imputed income di muka. Selain itu.

yang akan menghasilkan laba bersih untuk dikenakan pajak. pajak penghasilan tidak boleh dikenakan kepada badan.168 B A B XVII PAJAK PENGHASILAN WAJIB P AJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan rinsip dasar penentuan penghasilan kena pajak cukup sederhana. Sumber penghasilan dari Dasar-dasar Keuangan Publik . P Beberapa permasalahan penghasilan yang dikecualikan yang muncul pada wajib pajak pribadi juga muncul pada wajib pajak badan. Permasalahan ini diantaranya penentuan pengeluaran-pengeluaran apa yang dapat dibebankan sebagai biaya dan kapan pembebanan tersebut dapat dilakukan. ditambah dengan masalah-masalah lain yang khusus ada pada pengenaan pajak penghasilan kepada wajib pajak badan. menambah kerumitan dalam merancang pajak penghasilan badan yang adil dan efisien. Pada dasarnya semua pengeluaran dapat dibebankan sebagai biaya apabila mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. Penghasilan kotor dari perseroan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka menjalankan usaha. menagih dan memelihara penghasilan bruto yang menjadi objek pajak. Demikian juga pengeluaran yang melebihi batas kewajaran karena adanya hubungan istimewa tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Pengeluaran untuk penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya. Setiap industri memiliki kerumitan tersendiri sehingga sangat sulit untuk merancang suatu perlakuan pajak yang seragam untuk berbagai industri yang berbeda tersebut. Jika basis pajak yang tepat dinyatakan dalam bentuk konsumsi. Dengan adanya kerumitan hukum dari perseroan dan hubungan di antara mereka maka suatu pajak penghasilan badan yang adil bukanlah pajak yang sederhana Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Peranan pajak penghasilan badan dalam suatu sistem pajak yang baik tampak jelas.

Dengan tidak mengintegrasikan penghasilan. Pandangan ini juga yang digunakan oleh Peraturan Pajak Penghasilan di Indonesia. sehingga ada kelebihan pajak sebesar Rp2. Bagiannya pada laba perusahaan adalah Rp10. pajak tambahan sebagai persentase dari total penghasilan akan lebih besar bagi A daripada bagi B. Bila tidak ada pajak penghasilan badan. seorang wajib pajak A yang membayar pajak penghasilan pribadi pada tarip pajak 25%.175. Badan (dalam hal ini perusahaan) dikenakan pajak dan tidak dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan pribadi atas penghasilan dividen. mereka berpendapat bahwa penghasilan harus dipajaki secara keseluruhan dalam konsep penghasilan global.000. yang dikenakan pajak dengan tarip efektif sebesar 28. sebab semua penghasilan (termasuk yang Dasar-dasar Keuangan Publik .825. Pandangan Integrasi Para penganut posisi integrasi memandang permasalahan perpajakan pada tingkatan perusahaan hanyalah sebagai satu cara memasukkan semua penghasilan yang bersumber dari perusahaan ke dalam basis pajak penghasilan pribadi.901.825. tanpa memperdulikan dari mana sumbernya.000. Dalam hal ini.000. yang membayar pajak penghasilan pribadi pada tarip pajak 15%.401. pajak gabungan sama dengan Rp2. pengenaan pajak pada tingkatan perusahaan dapat dipandang sebagai alat untuk mengintegrasikan sumber penghasilan dari perusahaan ke dalam pajak penghasilan pribadi. di atas jumlah kelebihan bagi wajib pajak A.000.000 didistribusikan sebagai dividen kepada A. Sisanya.118. Pengenaan pajak kepada badan juga tetap dipertanyakan walaupun konteksnya adalah pendekatan berbasis penghasilan.250. Pandangan lain yang berkembang adalah mengintegrasikan penghasilan perusahaan ke dalam pajak penghasilan individu.000 ditambah Rp1. Selain itu.500. sebesar Rp7.618. sistem pajak sekarang memberikan tambahan beban pajak dan beban pajak atas penghasilan yang bersumber dari perusahaan lebih besar bagi pemegang saham kecil yang pajak penghasilan pribadinya sebenarnya lebih kecil.500. Walaupun demikian.169 perusahaan hanya dapat dipajaki apabila didistribusikan dan dibelanjakan oleh penerima. dividen yang diterima mungkin merupakan bagian penghasilan terbesar bagi A daripada bagi B.25% (atau sebesar Rp2. Proposisi dasarnya adalah pada akhirnya pajak harus menjadi beban pribadi dan bahwa konsep pajak yang adil hanya dapat dibebankan kepada pribadi. pertama pada tingkatan perusahaan dalam bentuk pajak penghasilan badan.250.750.000). dan berikutnya pada tingkatan pribadi sebagai dividen dalam perhitungan pajak penghasilan pribadi.750. Pajaknya berdasarkan sistem integrasi hanya akan sebesar Rp1. Bila mengenakan pajak pada laba.076. Apabila kedua pajak ini digabungkan. Berikutnya. jumlahnya menjadi Rp4.793.000.750. seorang wajib pajak B. pajak penghasilan yang dibayarkan pada penghasilan yang didistribusikan (dividen) sejumlah Rp10. Misalkan. atau pajak terhadap perusahaan dapat dipandang sebagai pajak absolut terhadap penghasilan bersumber dari perusahaan. pajak tambahan ini tidak adil bila ditinjau dari sudut pandang penganut integrasi. Pada kenyataannya. Baginya. ada kelebihan pajak sebesar Rp2.000 hanya akan sebesar Rp2.250. maka laba tersebut ketika didistribusikan dipajaki dua kali. Dengan demikian. Dalam hal ini. atau sebesar Rp3. yang kemudian akan membayar pajak atasnya sebesar Rp1.

yang dengan tepat telah dikenakan pajak yang terpisah dan absolut. Selain itu. Pada pajak penghasilan badan.170 diperoleh dari sumber perusahaan) harus dipajaki dengan tarip yang sama. Pandangan absolut atau klasik tentang pajak ini sangat rasional. Perseroan yang dimiliki publik secara luas – merupakan wajib pajak besar yang menjadi sumber terbesar penerimaan pajak negara – bukan hanya merupakan instrumen untuk penghasilan pribadi.) Pada akhirnya. dioperasikan oleh profesional manajemen yang tidak begitu dikendalikan oleh pemegang saham secara individu. Dalam kenyataanya tidak harus seperti ini. Apakah laba setelah pajak yang diperoleh akan dibagikan atau ditahan tidaklah relevan dalam konteks ini. Dengan tidak memperhitungkan laba yang ditahan pada penghasilan pemegang saham (seperti yang seharusnya ada pada sistem terintegrasi). Pandangan absolutmendasarkan pada asumsi bahwa pajak dikenakan atas laba dan tidak digeserkan kepada para pelanggan atau pekerja. harus ada sumber pungutan pajak penghasilan pribadi untuk penghasilan yang bersumber dari perusahaan. pelaku yang kekuatan besar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan sosial. Ilustrasi sebelumnya ini mengasumsikan bahwa laba setelah pajak didistribusikan sebagai dividen. sehingga membutuhkan kebijakan pengaturan pada tingkatan perusahaan daripada pada tingkatan pemegang saham. Perusahaan memang bertindak sebagai unit-unit pengambilan keputusan. pajak penghasilan badan telah memenuhi fungsinya untuk mencakup laba yang ditahan. harus dipajaki sebagai bagian dari penghasilan mereka. Walaupun penggeseran terjadi. sebab paling tidak sebagian dari laba perusahaan setelah pajak ditanamkan kembali pada operasi perusahaan. Akan tetapi. permasalahannya akan berbeda apabila mengusulkan pengenaan pajak pada perusahaan karena lembaga ini memiliki kemampuan membayar pajak sendiri dan oleh karenanya harus dikenakan pajak terpisah. niat dari para penganut absolutisme untuk membebankan Dasar-dasar Keuangan Publik . Perusahaan adalah entitas legal yang memiliki keberadaan sendiri. Konsep kapasitas membayar yang digunakan dalam pendapat ini lebih berkaitan dengan efek ekonomi dari pajak bukannya kemampuan untuk membayar yang digunakan dalam konteks keadilan pajak. Tidak ada alasan mengapa para pemegang saham harus membayar pajak tambahan atau diberikan perlakuan khusus. dalam konteks pendekatan kemampuan ekonomis pada pajak penghasilan. hanya tidak begitu jelas kaitannya dengan keinginan para pemegang saham. Pandangan Absolut Para penganut pandangan yang berlawanan menyatakan bahwa pendekatan integrasi memandang perusahaan secara tidak realistis. alat-alat pajak dapat berguna pada situasisituasi tertentu untuk tujuan-tujuan peraturan perundang-undangan tersebut. sebagai entitas yang terpisah. perusahaan juga mempunyai kapasitas membayar pajak tersendiri. (Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan ini adalah kemampuan untuk membayar pajak tanpa mengalami kebangkrutan atau mengganggu operasinya. seluruh pajak harus dibebankan pada orang. Oleh karena itu. Laba perusahaan merupakan bagian penghasilan para pemegang saham dan.

bukannya untuk membebani manfaat yang tidak menimbulkan biaya. Hal melakukan kegiatan berdasarkan kewajiban terbatas. Karena sebagian besar layanan publik yang memberikan manfaat kepada bisnis diberikan pada tingkatan pemerintah daerah. Walaupun demikian. dengan nilai tambah (termasuk laba dan biaya-biaya faktor lainnya) sebagai kemungkinan kedua. Kasus berbeda untuk pengenaan pajak perusahaan secara absolut dapat dilakukan apabila pajak dipandang sebagai instrumen pengendali berkaitan dengan tingkah laku perusahaan. dan sebagainya. transportasi akan menunjukkan layanan jalan raya. memperluas pasar. tanpa landasan rasional dalam suatu struktur pajak yang adil (Pajak ini dikatakan inferior karena tarip implisit dari pajak penjualan atau upah akan bervariasi secara arbiter dengan rasio [marjin] laba atas penjualan atau rasio laba atas upah dari beberapa perusahaan). biaya-biaya ini hanyalah faktor yang minor dan sulit untuk mendukung pengenaan suatu pajak. jumlah pegawai akan menunjukkan input untuk pengeluaran untuk sekolah umum. Perusahaan dapat diminta untuk membayar pajak atas manfaat. membantu transaksi-transaksi keuangan. Pertimbangan Manfaat. kekayaan akan lebih tepat menunjukkan nilai layanan pemadam kebakaran. Pajak. Pemerintah menyediakan berbagai layanan yang memberi manfaat kepada perusahaan dengan cara mengurangi biaya. dua pertanyaan lanjutan muncul. Pertama berkaitan dengan tingkatan mana pajak tersebut harus dikenakan. bukannya sesuai dengan jumlah laba yang dihasilkan. pajak tersebut tidak akan seperti yang diberlakukan sekarang. Bentuk pajak perusahaan yang tepat bergantung pada tujuan kebijakan tertentu yang akan dicapai. Alasan-Alasan Lain Mengenakan Pajak kepada Perseroan Walaupun tidak ada argumentasi sah untuk mengenakan pajak atas badan secara absolut berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. Apabila penerapan pajak atas manfaat dipandang tepat. tetapi juga oleh berbagai bentuk organisasi lainnya. maka pajak tersebut bukan merupakan urusan pemerintah pusat. Jika ukuran umum yang digunakan. dalam kasus ini. Pajaknya akan bervariasi sesuai dengan jumlah layanan yang diberikan. Tujuan-tujuan Peraturan Perundang-Undangan. Tujuan dari pajak atas manfaat adalah mengalokasikan biaya layanan publik yang diberikan. dan lain-lain. tidak hanya dinikmati oleh perusahaan. menjadi pajak penjualan atau pajak atas upah yang inferior dan arbiter. Langkah yang paling rasional adalah menerapkan pajak umum atas kegiatan bisnis daripada menerapkannya dengan menggunakan pajak penghasilan badan saja. sejumlah pertimbangan lain dapat mendukung keberadaan pajak tersebut.171 pajak tambahan pada penghasilan yang bersumber dari perusahaan tetap tidak tepat. tentu saja sangat berharga bagi perusahaan tetapi institusi dengan kewajiban terbatas seperti itu tidak membebani biaya kepada masyarakat dan oleh karenanya tidak layak dikenakan pajak atas manfaat. Walaupun ada beberapa biaya pemerintah yang dikeluarkan dalam kaitannya dengan perusahaan secara khusus. Sebagian dari layanan ini. total biaya yang dikeluarkan pada daerah operasi lebih tepat digunakan sebagai ukuran keseluruhan. Oleh karena itu. Dasar-dasar Keuangan Publik .

tabungan perusahaan perlu didukung dan distribusi dividen perlu dibatasi.172 1. tetapi akan muncul ketidakadilan karena perbedaan posisi awal. 4. Pengendalian ini membutuhkan pajak bisnis yang progresif. Progresivitas akan digunakan untuk memberlakukan diskriminasi terhadap perusahaan besar dan membatasi apa yang dianggap sebagai akibat-akibat sosial yang tidak diinginkan dari perusahaan-perusahaan besar. Kelebihan laba tersebut harus diukur dengan membandingkannya dengan periode dasar. suatu tingkat pengembalian standar dapat digunakan. Suatu pajak atas kelebihan laba dapat dikenakan pada periode-periode krisis (seperti perang) ketika diperlukan pengendalian langsung atas upah dan harga. Pembatasan atas upah dalam kondisi seperti ini tidak dapat diterapkan secara efektif tanpa juga membatasi laba. suatu pajak dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini. sehingga memunculkan masalah yang sulit dalam hal menentukan tarip berapa yang cocok untuk setiap industri. Alasan progresivitas tentu saja bukanlah kemampuan untuk membayar seperti pada pajak penghasilan pribadi. 2. distribusi dividen perlu didukung sedangkan menahan laba perlu dihindari. yang memunculkan pengenaan pajak atas laba tak terduga dari kenaikan harga minyak. dalam hal ini disparitas risiko dapat terlewatkan. Sebagai stimulus bagi formasi modal dan pertumbuhan. yang berkaitan dengan tingkat pembatasan monopolistik. itu bukan alasan memberikan penalti kepada perusahaan besar yang menguntungkan. 3. dalam rangka mendukung berfungsinya pasar modal atau meningkatkan pengeluaran konsumsi. Pengendalian ini tentu saja tidak akan menggunakan pajak umum atas laba. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas laba yang tidak dibagi dan mengecualikan laba yang dibayar sebagai dividen. seperti krisis harga minyak dan pelepasan kendali atas harga minyak. pajak atas kelebihan laba sulit diadministrasikan karena kelebihan laba tidak mudah didefinisikan. atau. Perusahaan-perusahaan besar dapat dimiliki oleh investor-investor kecil dan perusahaan-perusahaan kecil dapat dimiliki oleh investor-investor kaya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pengendalian terhadap monopoli telah dilakukan dengan menggunakan alat peraturan perundang-undangan. tetapi pendekatan pajak dapat digunakan. dan pajak atas kelebihan laba merupakan alat-alat yang berguna dalam kaitannya dengan situasi ini. Walaupun ukuran yang besar tidak diinginkan. Suatu situasi lain yang berbeda di mana pajak atas kelebihan laba secara selektif dapat dikenakan karena krisis tertentu. Pengendalian ini memerlukan suatu pajak yang lebih kompleks. Alternatif kebijakan lain. yang tidak akan efektif untuk mengoreksi tingkat laku monopolistik. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas dividen yang dibayarkan dan mengecualikan laba yang ditahan. Pertanyaan berikutnya adalah apakah pajak tersebut sebaiknya dikenakan pada laba dan bukannya ukuran aset atau penjualan. Walaupun kelihatannya baik secara prinsip. Jika ada keinginan untuk membatasi ukuran absolut atau besarnya perusahaan (yang tidak sama dengan membatasi monopoli atau pangsa pasar).

Misalkan bahwa seorang pemegang saham menerima bagian laba sebesar Rp10.000.000.500. Sebagaimana perusahaan bertindak sebagai pemotong dan pemungut pajak untuk pajak penghasilan pribadi atas upah dan gaji karyawannya. sehingga pemegang saham mendapatkan sisanya sebesar Rp8. Integrasi Pajak Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Metode Partnership. ia dapat mengkreditkan Rp2. Karena ia telah dipotong sebesar Rp2. dan hanya membayar sisanya sebesar Rp500. pembahasan di atas menunjukkan bahwa instrumen pajak dapat menjadi alat yang berguna dalam mengendalikan tingkah laku perusahaan dalam banyak hal. Jika pajak marjinalnya 25%.000. Bila laba tidak dibagi. Hal ini dapat dicapai baik dengan menggunakan metode partnership atau melalui pengenaan pajak sepenuhnya atas capital gain. Alatalat seperti penyusutan dipercepat dan kredit pajak investasi dapat digunakan untuk tujuan ini dan juga dapat diterapkan secara siklus atau pada saat-saat tertentu. yang berbeda dari tabungan perusahaan. Secara keseluruhan. banyak pendapat yang menyatakan bahwa perusahaan adalah alat untuk mencari penghasilan bagi pemegang saham dan oleh karenanya sumber penghasilan dari perusahaan diintegrasikan ke dalam pajak penghasilan pribadi. pemegang saham akan melaporkan jumlah kotornya sebesar Rp10.000 dalam penghasilan kena pajaknya. Terakhir.000.000. ia berhak mendapatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . dan telah diberitahukan kepadanya.000.000.000.000. penyesuaian harus mengintegrasikan perlakuan pajak baik untuk laba yang ditahan maupun distribusi dividen. pajak perusahaan dapat digunakan untuk memberikan insentif atau disinsentif investasi.000 yang dipotong oleh sumber penghasilan. tetapi bentuk pajak yang diperlukan bukanlah pajak atas laba. misalnya 20 persen. Seorang pemegang saham yang dikenakan pajak marjinal sebesar 15% akan memunculkan beban pajak sebesar Rp1. Perusahaan memotong dan memungut pajak. perusahaan akan memberitahukan kepada para pemegang saham berapa jumlah yang tidak dibagi yang menjadi bagian mereka dan ditambahkan ke dalam ekuitas mereka dan kemudian pemegang saham akan memasukkan jumlah ini ke dalam perhitungan laba kena pajak mereka. Atas jumlah pajak ini. Pada saat yang sama.000. Seberapa besar bagian laba tersebut akan didistribusikan sebagai dividen. Solusi ini memasukkan laba total kepada penghasilan pemegang saham dan mengenakan pajaknya dengan pajak penghasilan pribadi. pemberlakuan skema pemotongan pajak (withholding) juga diperlukan terhadap penghasilan laba ini. perusahaan juga dapat bertindak sebagai pemotong dan pemungut pajak untuk penghasilan laba dari pemegang sahamnya. Apakah penyesuaianpenyesuaian yang diperlukan dalam struktur pajak untuk mencapai tujuan ini? Integrasi Penuh Untuk menjamin integrasi sepenuhnya.173 5.500.000. pajaknya akan sebesar Rp2.

kesulitan-kesulitan lain akan muncul berkenaan dengan kebijakan-kebijakan pemberian insentif. Hal ini daat dilakukan dengan cara membolehkan pemegang saham menambahkan basisnya (menambahkan ke harga pokok investasi saham mereka) dengan jumlah yang sama dengan bagian mereka atas laba yang tidak dibagi. pemegang saham akan membayar pajak sesuai dengan tarip pajak marjinalnya. tidak praktis untuk perusahaan besar dan dimiliki publik secara luas. capital gain yang menunjukkan kenaikan nilai kepemilikan yang ditimbulkan dari menahan laba harus dikecualikan dari pajak atas capital gain. Satu hal penting. walaupun memungkinkan untuk perseroan kecil dan perseroan non-publik. Manajemen. Dengan melaporkan penghasilan laba pada jumlah kotornya ini. tetapi para pemegang saham dapat meningkatkan rasio yang dibayarkan sebagai dividen untuk mendapatkan kas yang dibutuhkan. Akan tetapi. tidak akan memberikan respons atas suatu kredit pajak yang manfaatnya diserahkan kepada para pemegang saham. Karena pajaknya dikenakan ketika laba diperoleh. sulit untuk mengalokasikan bagian laba diantara mereka. dan cara ini yang diusulkan sebagai prosedur standar oleh para ahli pajak. Dengan penjelasan lain. tetapi tidak begitu meyakinkan. untuk tujuan pajak. yang umumnya membuat keputusan investasi. Prosedur ini tampaknya cukup adil. Pendekatan ini tidak memungkinkan untuk perusahaan yang bukan perseroan publik yang sahamnya tidak diperdagangkan. Karena para pemegang saham bertransaksi saham secara cepat di pasar modal. sebagian besar bagian dari pajak akan dibayar pada sumber pemotongan. Ada pendapat bahwa wajib pajak tidak diharuskan membayar pajak atas penghasilan yang tidak mereka terima. perlu dicatat bahwa integrasi dengan menggunakan metode partnership tidak akan menghilangkan permasalahan-permasalahan dalam penentuan laba kena pajak perusahaan. Integrasi dengan metode partnership tidak menyederhanakan administrasi pajak bahkan menambah kerumitan atasnya. beberapa kesulitas dengan metode ini perlu dikemukakan. Dasar-dasar Keuangan Publik . terutang apabila tarip pajak marjinal yang dikenakan kepada pemegang saham melebihi tarip potongan. Selain itu. Akan tetapi. dan proses penyerahan itu sendiri memunculkan kesulitan-kesulitan teknis. Keberatan ini sama dengan yang dikemukakan dalam pembahasan pajak atas laba yang belum direalisasikan.000. adalah tidak adil bila memasukkan laba yang ditahan ke dalam penghasilan kena pajak pribadi. Sisanya. pemegang saham diperlakukan seolah-olah mereka adalah partner dalam suatu bisnis nonperusahaan. Bagaimanapun juga. seperti kredit pajak atas investasi. dapat dibayar dengan menjual sebagian saham. Penentuan laba kena pajak ini sama pentingnya seperti dalam pajak perusahaan absolut.174 pengembalian pajak sebesar Rp500. Oleh karena itu. sehingga tidak menimbulkan permasalahan likuiditas pada pemegang saham. Ada juga argumentasi yang menyatakan bahwa pendekatan partnership. permasalahanpermasalahan ini terbukti bukan sesuatu yang tidak dapat diselesaikan bila usaha integrasi yang serius dijalankan.

sehingga menguntungkan wajib pajak yang berpenghasilan besar. dikombinasikan dengan penghapusan pajak atas laba.175 Metode Capital gain. hal ini memunculkan insentif bagi pemberi dana untuk meminjamkan daripada melakukan investasi ekuitas. Aspek-Aspek Khusus Definisi Basis Pajak Permasalahan-permasalahan pada keuangan perusahaan. Perlu diingat. Bila menanam modal. tetapi pajak berganda tetap berlaku bagi dividen. insentif investasi seperti kredit pajak atas investasi harus diberikan pada tingkatan pemegang saham atau diberikan langsung sebagai subsidi kepada perusahaan. netralitas dapat dikembalikan dengan cara (1) tidak membolehkan pengurangan biaya bunga pada pajak penghasilan badan tetapi akan memperluas cakupan pajak berganda. demikian juga permasalahan pada desain pajaknya. Cara ini tidak memerlukan penentuan laba kena pajak untuk perusahaan. Dengan ketiadaan pajak pada tingkatan perusahaan. Cara ini dipandang sebagai mendekati perlakuan yang terintegrasi untuk laba yang tidak dibagi. Bila meminjamkan. distribusi dividen mengalami pajak berganda. Bagian yang didistribusikan akan muncul dalam penghasilan pemegang saham sebagai dividen. Penggunaan integrasi sepenuhnya akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak. Dengan ketiadaan integrasi. manfaatnya bagi penerima dividen akan meningkat sejalan dengan tarip pajak marjinalnya. Sejak tahun 1986. beberapa praktik di negara maju telah memunculkan sampai tingkatan tertentu suatu integrasi parsial. Integrasi Parsial Bila integrasi sepenuhnya telah didiskusikan selama beberapa tahun. sedangkan bagian yang tidak dibagikan akan muncul sebagai capital gain. lebih rumit daripada keuangan pada rumah tangga. Akan tetapi. Jika tidak ada integrasi sepenuhnya. seperti juga pembayaran gaji dan upah. Hutang versus Modal Saham Bunga yang dibayar oleh perusahaan atas dana yang diperolehnya dengan berutang dikurangkan dari penghasilan kena pajak ketika memperhitungkan pajak penghasilan badan. Berikut ini beberapa contoh atas permasalahan-permasalahan pajak tersebut. Akibatnya. pendapatan dividen maksimal sebesar $200 dikecualikan dari penghasilan kena pajak. Dalam pendekatan ini. Misalnya. cara ini tidak pernah dipandang sebagai cara yang realistis. Distorsi yang sama muncul pada sisi manajemen yang lebih memilih pendanaan hutang. atau Dasar-dasar Keuangan Publik . Cara lainnya untuk mencapai integrasi sepenuhnya adalah dengan mengenakan pajak sepenuhnya atas semua capital gain (termasuk yang belum direalisasikan). bunga yang dibayarkan dapat dikurangkan dari laba kena pajak. keringanan ini diberikan dalam bentuk pengecualian dan bukannya kredit pajak. pengenaan pajak secara periodik dapat digabungkna dengan pajak atas pemindahan aset. pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi. sedangkan laba atas modal ekuitas tidak boleh dikurangkan. Jika dana diperoleh dari hutang. pengecualian dividen ini ditiadakan dan tarip pajak atas perusahaan disesuaikan ke tingkat tarip pajak untuk pajak penghasilan pribadi. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. di AS sebelum tahun 1986.

Cara penghindaran pajak penghasilan pribadi ini dapat ditutup baik dengan cara memasukkan pembayaran dalam bentuk natura ke dalam pajak penghasilan pribadi atau melarang pengurangan biaya-biaya tersebut pada pajak penghasilan badan. nilai tunai dari pajak dan juga pengurangan atas penghasilan tidak hanya bergantung pada tarip pajak tetapi juga pada kapan pengurangan penyusutan diperbolehkan.000 diberikan kepada manajer perusahaan. Pengurangan biaya modal memunculkan penghematan pajak bagi investor. Peraturan perundang-undangan harus menentukan pada tarip berapa para investor diperbolehkan untuk memperoleh kembali biaya investasi mereka. Dalam hal investasi modal. kenaikan gaji akan menambah kewajiban pajaknya. Oleh karena itu. perusahaan telah membantu pengawainya mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka. biaya untuk pengeluaran tersebut berkurang sebanyak 30 persen dan aktivitasnya sulit dikategorikan untuk didukung dengan subsidi publik. Kapan waktu perolehan kembali biaya modal sangat penting karena nilai tunai dari kewajiban pajak berkurang ketika penyusutan dibebankan. bila sebuah mobil senilai Rp200. dengan membayar dalam bentuk natura daripada dalam bentuk kas. Pembayaran dalam bentuk Natura dan Biaya Entertainment Pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment merupakan topik yang banyak dibahas. modal ekuitas pada perusahaan selalu meningkat. Aturan Penyusutan dan Waktu Penyusutan Apakah dalam bentuk pajak perusahaan absolut atau integrasi berbentuk partnership. semua biaya usaha harus dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Cara yang dilakukan sekarang ini adalah jalan tengah dengan membatasi pengurangan atas pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi. laba kena pajak harus didedinisikan dan berbagai kesulitan harus dihadapi dalam proses definisi ini. dan akan lebih besar bila biaya modal dikurangkan lebih cepat. dengan sedikit bukti bahwa adanya perlakuan pajak yang buruk tersebut memiliki pengaruh. Ketika biaya entertainment dapat dikurangkan dari penghasilan. Lama Masa Manfaat. Jadi. Pada kenyataaanya. sedangkan tunjangan kendaraan tidak.176 (2) membolehkan pengurangan bunga yang diperhitungkan atas modal ekuitas dalam pajak penghasilan badan sehingga mengurangi cakupan pajak berganda. Faktor-faktor ini melibatkn jangka waktu penyusutan dibebankan dan kecepatan hasilnya dalam interval ini. Permasalahan penyusutan adalah salah satu permasalahan yang paling sulit dan paling penting Karena pajak perusahaan adalah pajak atas laba bersih. biaya dari perusahaan akan sama dengan apabila gajinya dinaikkan dengan jumlah yang sama. Jangka waktu periode di mana investasi dapat diperoleh kembali atau penyusutan dibebankan pada umumnya telah ditetapkan sesuai Dasar-dasar Keuangan Publik . Selain itu. Akan tetapi.000. Dalam hal pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode. karena sangat mengandalkan sumber pendanaan internal.

setiap tahun sejumlah Rp10. Dasar-dasar Keuangan Publik . sebesar Rp20. Jadi. dan perbedaan semakin besar dengan semakin lamanya masa manfaat.000. Metode penyusutan yang diperbolehkan untuk dipakai hanya dua metode yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun (declining balance method). metode saldo menurun lebih menguntungkan pada aset-aset berumur pendek dan metode jumlah angka tahun lebih menguntungkan pada aset-aset yang berumur panjang.000 = Rp16. Ada satu metode lagi yang tidak diperbolehkan berdasarkan peraturan perundangundangan saat ini.000 dan masa manfaat selama 10 tahun. yaitu metode jumlah angka tahun (sum-of-years-digits method). dengan C sama dengan nilai perolehan aset dan n adalah umur aset. Rp16.177 dengan masa manfaat dari aset bersangkutan. untuk suatu aset yang bernilai Rp100.000.000 akan dikurangkan pada tahun kedua.000 = Rp18. Peraturan perpajakan telah menetapkan patokan umur yang sejalan dengan praktik bisnis yang sehat.363. dengan persentase sebesar dua kali tarip garis lurus dikurangkan pada tahun dan persentase yang sama ini kemudian diterapkan pada jumlah yang belum disusutkan setiap tahunnya. di mana bagian yang dikurangkan pada setiap tahun sama rasio dari sisa tahun terhadap jumlah angka tahun selama masa manfaat aset.000 boleh dikurangkan. Dengan demikian.000. beban untuk tahun kedua adalah 9/55 dari Rp100. dan seterusnya.111. untuk suatu aset dengan harga perolehan Rp100. Jadi. Beban penyusutan tahun pertama adalah 10/55 dari Rp100.000 dengan masa umur selama 10 tahun. nilai tunai dari penyusutan yang paling tinggi apabila menggunakan metode penyusutan saldo menurun daripada engan menggunakan metode garis lurus. Bangunan harus disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus di mana jumlah yang sama sebesar C/n harus dihapuskan setiap tahun.111.000.000.000. jumlah angka tahunnya sama dengan 10 + 9 + 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 55.000 akan dikurangkan pada tahun pertama.636. Peralatan disusutkan dengan menggunakan metode saldo menurun. Bila kita membandingkan antara metode saldo menurun dengan metode jumlah angka tahun. Seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini. Metode Penyusutan. dan seterusnya. Simpulan yang sama juga berlaku apabila kita membandingkan metode jumlah angka tahun dengan metode garis lurus.000.

Mempercepat penyusutan (baik dengan cara memperendek periode penyusutan atau membolehkan menyusutkan jumlah yang besar pada awal-awal masa guna aset) akan mengurangi tarip efektif pajak dengan menunda tanggal jatuh tempo dari kewajiban pajak.661 32. Ketika mempertimbangkan suatu investasi.515 79. Jika komponen negatif ini menjadi semakin besar seperti yang ditunjukkan pada tabel di ataas.680 44. Netralitas Metode Penyusutan Ekonomis. dengan nilai tunai dari penghematan bunganya sama dengan nilai tunai dari penghematan pajak yang dihasilkan. Hasilnya demikian karena nilai tunai dari penghematan pajak akan semakin tinggi ketika penghematan pajak tersebut semakin cepat terealisasi.178 Nilai Tunai Penyusutan (dalam Rupiah.806 28.534 81.811 75.000) Jumlah Angka Tahun (IV) 87.935 DISKONTO 10 PERSEN 79.539 20.829 Metode Penyusutan Ekonomis versus Metode Penyusutan Dipercepat Tarif efektif dari pajak bergantung pada tarip nominal (sekarang 30 persen untuk perusahaan) dan tingkat penyusutan yang diperbolehkan. Sudah terbukti bahwa penyusutan yang cepat menguntungkan investor.697 31. terutama yang menginvestasikan pada asetaset yang berumur panjang.614 70.460 40. hal ini tidaklah sulit.663 51.055 64.099 54.469 68. Harga Perolehan Aset = Rp100. Nilai tunai dari pajak dapat dipandang sama dengan nilai tunai dari pajak kotor (sebelum dikurangi dengan penyusutan yang diperbolehkan) dikurangi dengan nilai tunai dari penghematan pajak karena penyusutan.750 87. pajaknya akan semakin turun.756 80. Bagaimana mengoreksi tarip penyusutan yang akan memperlakukan semua investasi secara netral? Bila hanya melihat satu investasi saja.997 67. Dari sudut pandang investor.716 59. investor akan menimbang nilai tunai dari arus laba bersihnya terhadap biaya perolehan dari aset. percepatan ini ekuivalen dengan pinjaman tanpa bunga. Nilai tunai ini sama dengan nilai tunai dari arus laba sebelum pajak dikurangi dengan nilai tunai dari pembayaran pajaknya.100 64. Pemerintah akan mengalami kerugian dari semakin cepatnya penyusutan yang diperoleh oleh wajib pajak dan oleh karenanya beban yang sama – yang didefinisikan sebagai Dasar-dasar Keuangan Publik .528 44. semakin rendah tarip efektif pajaknya.439 Masa Manfaat (I) 5 10 20 50 5 10 20 50 Garis Lurus Saldo Menurun (II) (III) DISKONTO 6 PERSEN 86.787 78. semakin cepat penyusutan dilakukan. Semakin cepat tingkat penyusutannya.

179 nilai tunai dari pajak – dapat diberlakukan dengan berbagai kombinasi tarip pajak dan tarip penyusutan. Aset dengan nilai tunai arus laba bersih yang sama harus mendapat beban yang sama yang didefinisikan sebagai nilai tunai pajak. pilihan-pilihan investasi akan terdistorsi dan lebih banyak modal akan mengalir ke arah tersebut. walaupun prinsipnya jelas. Oleh karenanya. Kesulitan akan muncul karena investasi berbeda dalam jangka waktu dan keuntungan sehingga menghasilkan pendapatan yang berbeda dalam berbagai kebijakan. penurunan dalam nilai berjalan sama dengan nilai kapitalisasi dari penurunan arus penghasilan. aset tersebut memberikan arus laba bersih positif. nilai tunai yang menjadi nilai aset tersebut. Oleh karena itu. Yang lainnya adalah arus penghasilan negatif. ada alasan kuat untuk menggunakan penyusutan ekonomis. Pola penyusutan seperti apa yang diperlukan untuk memastikan definisi penghasilan yang adil dan netral? Aset yang disusutkan. yang timbul dari penggunaan aset. Tarip efektifnya akan sama dengan tarip nominal atau tarip yang berlaku dan tarip ini independen terhadap umur aset dan karenanya tidak akan mendistorsi pilihan investasi di antara mereka. penerapannya tidak mudah. padahal investasi-investasi ini harus diperlakukan sama. cara yang terbaik yang dapat dilakukan adalah memakai masa guna seperti yang biasa dipakai dalam praktik bisnis dand Dasar-dasar Keuangan Publik . Oleh karena itu. seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Hal tersebut akan sesuai ketika penyusutan dibebankan sejalan dengan pengurangan nilai aset. Dalam hal penyusutan pajak sama dengan penyusutan ekonomis. Nilai berjalan dari aset pada setiap waktu sama dengan nilai kapitalisasi dari arus penghasilan di masa depan yang dihasilkannya. Hal sebaliknya akan terjadi bila tarip penyusutan yang diperbolehkan lebih rendah daripada tarip ekonomis. dapat dipandang sebagai menghasilkan dua arus penghasilan. Akan tetapi. Suatu tarip pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarip pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. Bila dijumlahkan. yang ditimbulkan dari semakin memburuknya kondisi aset dan penurunan nilai karena keusangan. Jika penyusutan diperbolehkan dengan tarip percepatan. baik dalam hal keadilan (investor dengan penghasilan yang sama harus membayar pajak yang sama besar). tidak akan menjadi masalah kombinasi mana yang dipilih yang memberikan kepada pemerintah arus pendapatan yang tertentu. Pertama adalah arus penghasilan positif berupa laba. pengenaan pajak akan mengurangi nilai dari arus laba bersih sebesar persentase tarip pajak yang berlaku. maupun dalam hal netralitas (pajak tidak boleh mendistorsi pola investasi). yang adalah biaya modal atau penyusutan ekonomis yang harus dibebankan bersama-sama dengan biaya lain dalam menghitung laba bersih. sehingga mengenakan pajak pada arus laba bersih yang sebenarnya ketika diterima setiap tahun. investasi yang lebih lama akan mendapat keuntungan terbanyak dan juga mendapat manfaat dari tarip pajak efektif yang lebih rendah. Peralatan modal modern tidak aus secara seragam dan juga menjadi usang sebelum sempat digunakan sepenuhnya. Jika semua investasai sama. Dengan demikian. Tingkat keusangan akan berbeda dan tidak dapat diprediksi.

Dasar-dasar Keuangan Publik . Misalkan bahwa suatu aset diganti ketika semakin usang sedemikian rupa sehingga dasar yang akan disusutkan tidak berubah. kejadiannya tidak sama. Tarip efektif ditentukan dengan cara menghitung (rb – ra) / rb. Wajib pajak mendapat keuntungan dari penundaan (dan kerugian bagi Pemerintah) dan nilai sepanjang tahun-tahun awal dan kemudian akan rata. Dengan demikian. Ada juga kasus di mana suatu perusahaan terusmenerus meningkatkan aset-asetnya yang dapat disusutkan. Jika penyusutannya cukup cepat dan ekspansinya cukup tajam. tarip efektif sama dengan persentase pengurangan dalam pengembalian modal karena pajak. kita membahas pengaruh dari penyusutan yang dipercepat terhadap tingkat pengembalian bersih dari investasi tunggal. Investor tersebut mungkin tidak dapat merealisasikan penghematan pajak (tax savings) sampai diperoleh pendapatan (laba) yang cukup di mana penyusutan akan dibebankan. kerugian pendapatan pemerintah akan berakhir tetapi tidak ada perolehan kembali kerugian awal selama reinvestasi terus-menerus berlangsung. Pada tahun-tahun awal. Untuk investasi yang berkelanjutan. di mana rb adalah tingkat pengembalian sebelum pajak dan ra adalah tingkat pengembalian setelah pajak.180 dengan asumsi bahwa masa guna yang dipercepat merupakan masa guna sebenarnya dan jejak waktu dari arus penghasilannya. Untuk investasi seperti itu. Kewajiban pajaknya berkurang pada tahun-tahun awal dan bertambah pada tahun-tahun akhir. Pembebanan Sekaligus Biaya gaji dan pembelian bahan dikurangkan ketika terjadi investasi. tampaklah jelas bahwa tingkat tarip nominal dan perubahannya bukanlah indikator yang cukup atas tingkat tarip efektif. Biaya-biaya ini langsung dibebankan pada biaya investasi. Apa yang akan terjadi bila hal yang sama juga dilakukan terhadap pengeluaran modal. di mana pemerintah kehilangan pendapatan pada tahun-tahun awal dan mendapatkan kembali pendapatan tersebut pada tahun-tahun terakhir. yang dilakukan sekali dan kemudian selesai. Berdasarkan diskusi sebelumnya. Labanya (ekuivalen dengan pinjaman bebas bunga) timbul dari penangguhan pajak sekali. Tarip ini bergantung pada tarip pajak yang berlaku dan tarip penyusutan. Tarip Pajak yang Efektif. Misalkan suatu perusahaan memiliki penghasilan dari investasi lain yang dapat digunakan untuk pembebanan tersebut. Dalam diskusi sebelumnya. perusahaan seperti ini dapat menunda pembayaran pajak selamanya. penyusutan yang dipercepat tidak mengurangi jumlah total pajak yang akan dibayarkan. Semua pembayaran dapat dihindari dan tanpa terjadi perolehan kembali. Investasi Tunggal versus Investasi Berkelanjutan. investor tidak perlu membayar pajak dan pemerintah tidak memperoleh pendapatan pajak. yaitu bila percepatan dilakukan sampai titik ekstrem dan biaya investasi dibebankan ketika terjadi? Seorang investor yang melakukan investasi tunggal mungkin tidak akan dapat memanfaatkan penghapusan segera tersebut. Perolehan kembali baru terjadi setelah reinvestasi berakhir.

Investment Tax Credit Di Amerika Serikat. Kita harus membayar suatu pajak dengan tarip 30 persen penghasilan kita dari Rp142. misalkan kita menginvestasikan uang Rp100 juta pada aset A dan segera membebankannya sebagai penyusutan sebesar Rp100 juta. (2) seluruh penyusutan dapat dilakukan pada tahun pertama sehingga menghilangkan pengaruh inflasi. Bila kegiatan serial ini diulangi terus-menerus. . Akibatnya.857 juta. Hal ini sangat relevan terutama dalam periode inflasi tinggi. kita menderita kerugian sebesar Rp100 juta. membuat posisi kita sama dengan menginvestasikan Rp100 juta tanpa pajak. Aturan hukum biasanya hanya membolehkan sebagian (misalnya sepertiga) dari biaya investasi yang dapat diperoleh kembali dengan penyusutan segera. dan seterusnya. Untuk menghilangkan permasalahan ini dan untuk mengatasi permasalahan inflasi dengan benar.30 x Rp100 juta + 0. membebankan tambahan Rp30 juta sebagai penyusutan. pada dua dekade sebelum reformasi pajak tahun 1986. Investasi yang dikualifikasikan untuk kredit pajak tersebut adalah semua aset yang dapat disusutkan kecuali gedung. penghasilan kena pajak terlalu besar. dua solusi tersedia: (1) basis penyusutan dapat diindeks untuk naik sesuai dengan biaya penggantian. kredit pajak investasi (investment tax credit) merupakan alat insentif yang utama.857 juta dalam investasi pada A. Kita kemudian menambahkan sejumlah ini ke dalam investasi anda pada A. Pertama kali diperkenalkan tahun 1964. Dalam hal ini. mendapatkan penghematan pajak sebesar Rp9 juta. . Dengan tarip pajak 30%. Penyesuaian terhadap Inflasi Dengan harga yang selalu naik. = Rp142.302 x Rp100 juta . hanya sepertiga dari pajak yang akan dihapuskan. Karena kita belum mendapatkan penghasilan dari A. penghematan pajaknya akan sebesar Rp30 juta. seorang investor yang membeli aset dengan harga Rp100 juta dapat memperolehnya pada biaya perolehan bersih sebesar Rp90 juta. perolehan kembali investasi dengan berdasarkan harga perolehan tidak akan memberikan penghematan pajak yang cukup untuk menjaga modal perusahaan dalam nilai riilnya. Pendekatan ini sering disebut sebagai cadangan awal (initial allowance) yang merupakan cara yang netral dalam memberikan insentif investasi.181 Untuk mengetahui mekanisme ini. suatu kredit pajak diperbolehkan atas sebagian (pada tahun 1985 sebesar 10%) dari biaya investasi yang dikualifikasikan. menimbulkan kenaikan tarif efektif pajak yang tersembunyi. Suatu sistem yang membolehkan sebagian dari pajak dibiayakan dan menyusutkan sisanya sesuai dengan penyusutan secara ekonomis akan netral antara investasi jangka pendek dan jangka panjang. sehingga mengurangi kewajiban pajak dari penghasilan aset B. Penyusutan segera dengan reinvestasi secara kontinyu dari penghematan pajak yang didapat membatalkan pajak. kita akan berakhir dengan investasi pada A sebesar Rp100 juta + 0. Jadi. bila diukur dalam nilai riil. Dasar-dasar Keuangan Publik . Kebijakan yang dilaksanakan tidak akan sejauh ini. Kemudian kita membebankan kerugian ini pada laba dari aset B. .

Bedanya dengan penyusutan dipercepat. Ada banyak usaha pada tahun-tahun terakhir untuk memberikan bukti tentang ini. kredit investasi tidak hanya merupakan alat penunda pajak. jika perusahaan berada dalam situasi monopoli. Untuk suatu investasi tertentu dengan lama masa manfaat tertentu. Pandangan ekonomis adalah pandangan yang tepat bila diasumsikan bahwa semua pasar beroperasi untuk memaksimalkan laba. Demikian juga. masalahnya akan cukup sederhana. Para pebisnis sering memiliki pandangan berbeda dan memandang pajak sebagai biaya yang harus dipindahkan. Akan tetapi. dapat diperbandingkan? Kredit investasi sama dengan penyusutan dipercepat dalam hal keduanya dapat digunakan untuk mengurangi pajak. Beberapa struktur industri sering terjadi apa yang disebut administered pricing. yaitu penentuan harga bukan berdasarkan mekanisme pasar.182 Bagaimana kedua alat insentif. kredit investasi dan penyusutan dipercepat. pembandingan antara tingkat pengembalian dari investasi pada perseroan dan non-perseroan sulit dilakukan karena ketidaktersediaan data pada usaha-usaha non-perseroan. sesuai dengan model kompetitif. termasuk tingkat pengembalian dari pemegang saham perusahaan. Siapa Yang Menanggung Beban Pajak? Sebagian besar ekonom memandang beban pajak penghasilan badan jatuh kepada modal. Pemindahan beban dengan cara penyesuaian administered pricing (dibedakan dengan pemindahan beban karena perpindahan faktor dan perubahan pasokan faktor dalam pasar yang kompetitif) tidak dapat dianggap tidak ada. atau aturan harga lainnya yang berubah. Penyusutan dipercepat lebih tepat untuk investasi jangka panjang. Pendekatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal yang sama juga berlaku pada pasar tenaga kerja yang terorganisir. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajak dengan harga yang lebih tinggi. tetapi juga alat yang memberi hak untuk pengurangan pajak. sedangkan kredit pajak memberikan keuntungan bagi aset berumur pendek. Demikian juga. yang penjualan bukannya laba yang dimaksimalkan. dan marjin laba perusahaan. Beberapa pandangan dapat diperoleh dari memeriksa perubahan-perubahan harga yang terjadi dan membandingkan posisi-posisi relatif beberapa sektor sebelum dan sesudah perubahan pajak. dimungkinkan untuk merancang penyusutan yang dipercepat dan provisi kredit yang menghasilkan nilai tunai yang sama kepada investor. bagian laba perusahaan dalam nilai tambah pada sektor perusahaan. Hasilnya bergantung pada struktur dan tingkah laku pasar yang ada. kedua pendekatan itu berbeda diantara berbagai investasi. tetapi mekanismenya berbeda. Jika tarip pajak perseroan berbeda antar industri. Hal ini tidak dapat dilaksanakan dalam dunia nyata karena pajak diterapkan pada semua perseroan dengan tarip efektif yang sama. pajak yang tinggi dapat dicerminkan dalam permintaan yang lebih terbatas dalam perundingan dengan manajemen dan oleh karenanya dapat dipindahkan bebannya kepada tenaga kerja. Kemungkinan yang tersisa adalah mempelajari pengalaman sektor perusahaan dan bagaimana berbagai komponen dalam sektor perusahaan menanggapi pajak. bila pasar tenaga kerja tidak sempurna. Akan tetapi. Aset yang berumur lebih pendek dapat diganti lebih sering sehingga dapat dimungkinkan untuk mendapatkan kredit pajak lebih sering lagi.

Pajak Penghasilan Badan Untuk Usaha Kecil Dan Menengah Haruskah tarip pajak bagi UKM berbeda? Alasan pengenaan tarip pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perusahaan.183 inipun tidak dapat menghasilkan pandangan yang cukup jelas karena perubahan tarip pajak tidak berlangsung secara sering. Hasil penelitian di Amerika Serikat tentang perubahan tarip pajak dalam rangka menguji adanya pemindahan beban pajak menunjukkan hasil yang berbeda-beda dan konsisten dengan kedua hipotesa pemindahan dan nonpemindahan. tingkat inflasi. para analis berharap menggunakan koefisien regresi dari variabel ini untuk mengukur pengaruh perubahan tarip pada tingkat pengembalian. tarip pajak itu sendiri merupakan konsep yang kompleks. sehingga mengarahkan kepada hipotesa pemindahan beban pajak. Teknik ekonometrik yang lebih baik dikombinasikan dengan penggunaan data yang kurang agregatif mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik. Analisis ekonometrik tidak mampu secara bulat memisahkan pengaruh pajak dari beberapa perubahan yang terjadi secara bersamaan dalam pengeluaran publik. Satu jenis penelitian menggunakan model bahwa tingkat pengembalian perusahaan adalah suatu fungsi dari berbagai variabel yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan memasukkan tarip pajak perusahaan. utilisasi kapasitas. seperti tingkat permintaan konsumen. Pendekatan lain untuk mengukur adanya pemindahan beban pajak adalah dengan menggunakan pendekatan ekonometrika. kredit investasi. Tidak ada hubungan positif antara ukuran usaha perusahaan dan laba bersih pemiliknya. akan tetapi masalah ini masih kontroversial. Banyak perusahaan kecil dimiliki oleh individu-individu berpenghasilan tinggi dan sebagian besar dividen yang dibayarkan oleh perusahaan diterima oleh individuindividu dengan penghasilan menengah. dan tarip pajak perusahaan. dan berbagai faktor yang tidak dapat dinilai dengan jelas. kondisi ekonomi dan faktorfaktor lain. Tarip pajak efektif ini bergantung pada aturan penyusutan. Jika tarip pajak akan ditetapkan progresif maka harus didasarkan pada alasan-alasan lain. yang terpenting adalah tarip pajak efektif bukannya tarip pajak nominal. Dan juga. Beberapa studi lainnya mengindikasikan hasil yang sebaliknya. Beberapa studi mengindikasikan adanya pemindahan beban pajak yang cukup tinggi. pengeluaran publik. Pada kenyataannya. Perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk membayar seperti halnya yang dimiliki individu dan beban pajak pada akhirnya ditanggung oleh individual. Hal ini terjadi karena banyaknya faktor-faktor non-pajak yang mempengaruhi hasil penelitian sehingga penelitian tidak dapat menunjukkan siapa sebenarnya yang menanggung beban pajak. Berbagai studi telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. Jika tujuan menahan ukuran bisnis yang Dasar-dasar Keuangan Publik . yang dirancang untuk mengisolasi pengaruh pajak penghasilan perseroan. seperti menahan ukuran bisnis sehingga tidak terlalu besar atau mendukung usaha-usaha kecil.

suatu penerapan integrasi yang sempurna. Posisi ini dapat dipandang benar untuk mengurangi kemampuan perusahaan-perusahaan besar untuk beroperasi pada pasar-pasar modal yang tidak sempurna dan mendapat manfaat dari praktikpraktik monopolis. Penggunaan tarip awal yang rendah tidak banyak manfaatnya bagi usaha-usaha besar. ada aturan khusus bahwa usaha-usaha kecil sampai dengan ukuran aset atau ukuran penjualan tertentu boleh dipajaki sebagai suatu partnership. keringanan pajak untuk usaha-usaha kecil selalu menjadi perbincangan politik yang penting. Bantuan kepada UKM Pilihan partnership. pajak yang progresif dapat diberlakukan tetapi diterapkan pada ukuran usaha (ukuran aset) dan bukannya tingkat laba.184 ditetapkan. Permasalahan lain yang dapat muncul adalah aturan ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan besar dengan memecahnya menjadi unit-unit kecil dengan melakukan spin off. Walaupun tarip awal yang rendah ini dapat digunakan oleh wajib pajak pribadi untuk mengurangi pajaknya. Perusahaan kecil ini dipandang sebagai mekanisme melewatkan beban pajak. Pemerintah dapat pula memberikan bantuan kepada UKM dengan mengenakan tarip awal pajak yang rendah. Selain itu. walaupun sedikit sekali bukti bahwa ukuran usaha yang besar diperlukan untuk mencapai efisiensi. karena pada umumnya perusahaan-perusahaan ukuran menengah dan besar lebih efisien daripada usaha kecil. Akan tetapi tujuan ini pun dapat dipertanyakan. Untuk menghilangkan penerapan pajak berganda bagi usaha kecil berbentuk perusahaan. Walaupun demikian. ada pandangan yang selalu ada bahwa memelihara usaha-usaha kecil yang diinginkan secara sosial walaupun tidak efisien. Dasar-dasar Keuangan Publik . Permasalahan ini dapat diatasi dengan memberikan penalti kepada suatu perusahaan holding yang memiliki banyak anak perusahaan. Tarip awal yang rendah. Hal ini dapat dihindari dengan membuat aturan pajak berbeda untuk wajib pajak pribadi.

pajak penjualan inferior baik dalam hal keadilan vertikal maupun keadilan horizontal. Oleh karenanya. atas penghasilan yang diterima oleh rumah tangga) maka pajak penjualan dikenakan pada sisi penjual dari transaksi produksi (misalnya atas penjualan yang dilakukan perusahaan). dengan angka penjualan diukur dalam ukuran unit produk atau penerimaan kotor. dan tarip progresif. pengurangan. Bila pajak penghasilan didasarkan pada sisi sumber pada rumah tangga maka pajak penjualan didasarkan pada sisi penggunaan. Oleh karena itu. dalam pajak penjualan tidak membolehkan situasi-situasi pribadi konsumen sebagaimana halnya dalam pajak penghasilan individu dengan aturanaturan pengecualian. Dalam pajak umum atas barang-barang konsumsi. Bila pajak penghasilan dikenakan pada sisi penjual dari faktor-faktor produksi (misalnya. Pajak penjualan atas barang konsumsi dapat dipandang ekuivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga. P Hal yang paling penting adalah pajak penjualan berbeda dari pajak penghasilan dalam hal pajak ini merupakan pajak in rem bukannya pajak pribadi.185 B A B XVIII PAJAK ATAS KONSUMSI ajak penjualan mirip dengan pajak penghasilan karena dikenakan pada arus yang diciptakan oleh produksi output. semua penggunaan dikenakan kecuali untuk menabung. Jenis Pajak Atas Konsumsi Di Indonesia Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Pajak atas konsumsi yang pertama kali berlaku di Indonesia adalah Pajak Penjualan (PPn) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1951. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1984. Proses penggantian Pajak Penjualan menjadi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) merupakan salah satu rangkaian perombakan sistem perpajakan nasional sebagai Reformasi Perpajakan tahun 1983 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 April 1985. yang telah Dasar-dasar Keuangan Publik .

Pajak per Unit versus Pajak atas Nilai (Ad Valorem) Pembedaan lebih lanjut dalam pajak penjualan adalah pajak yang dikenakan berdasarkan unit produk dan pajak yang dikenakan atas nilai produk.Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. jasa keagamaan. Pajak Hiburan. Pajak Reklame dan Pajak Parkir. bentuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Pada prinsipnya. Pajak Restoran.Uang. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barang-barang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri (di dalam Daerah Pabean). Pajak Hotel. rumah makan. . cakupan dan saat pengenaannya. jasa pelayanan sosial. misalnya pajak atas bahan bakar minyak. restoran. Cukai merupakan hak atas pemerintah pusat.Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. Selain itu. Pajak Konsumsi di Daerah Jenis pajak konsumsi lainnya diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarip pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. cukai tembakau dan cukai minuman keras. Di antara dua basis ini. emas batangan. tetapi hanya dikenakan pada barang-barang tertentu seperti tembakau. cukai adalah pajak atas konsumsi. Tidak semua konsumsi barang dan jasa dikenakan pajak. termasuk definisi basis pajak. terdiri dari beberapa jenis. PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. seperti jasa pelayanan kesehatan. jasa pengiriman surat dengan perangko. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. Jenis barang yang tidak dikenakan PPN adalah: . jasa pendidikan dan lain-lain. seperti pajak penjualan. dan surat-surat berharga. . untuk konsumsi barang-barang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri. gula.186 mengalami perubahan-perubahan yang terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2000.Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. Khusus untuk PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. bensin dan minuman keras. Pajakpajak ini diantaranya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Bahasan-Bahasan Dalam Pajak Atas Konsumsi Pajak penjualan. Jasa-jasa yang tidak dikenakan PPN cukup banyak. Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk. warung dan sejenisnya. . jasa keuangan. Cukai Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barangbarang tertentu.

basis ini akan Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga mendorong timbulnya integrasi vertikal yang pada gilirannya akan mengurangi kompetisi. atau sepertiga hasil dari pajak penghasilan. Pada umumnya. pajak berdasarkan perputaran menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produk-produk yang harus melalui banyak tahapan produksi dan distribusi. kemudian penjualan besi baja dikenakan pajak ketika besi baja berpindah dari pabrik baja ke pabrik produksi lembaran baja. Ruang Lingkup Cakupan Pajak Penjualan Umum Pajak-pajak penjualan umum dapat berbeda dalam cakupan pengenaannya.187 ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit. basis pajaknya akan berjumlah beberapa kali lipat dari GNP dan hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarip pajak yang rendah. Dengan demikian. Pajak penjualan jenis GNP akan mengenakan pajak penjualan atas barangbarang konsumsi dan barang-barang produksi. untuk menghindari pajak. Misalnya. Prosedur seperti ini mempunyai daya tarik karena kemampuannya menghasilkan pajak yang besar dengan penerapan tarip yang kecil. Dengan demikian. penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar Rp46 trilyun. pilihan basis pajak yang tersisa adalah GNP (Pendapatan Nasional) atau konsumsi. pajak berdasarkan perputaran dipandang sebagai bentuk pajak yang inferior. penjualan biji besi dikenakan pajak ketika biji besi tersebut berpindah dari tambang ke pabrik baja. Bahkan beberapa negara Eropa telah menggantikan bentuk pajak ini dengan pajak pertambahan nilai yang menunjukkan inferioritas pajak atas perputaran ini. Pajak berdasarkan perputaran (turnover tax) yang dikenakan pada jumlah total seluruh transaksi adalah pajak yang paling tidak diinginkan untuk diterapkan. Dengan pertimbangan bahwa pengenaan ganda seperti yang dibahas dalam basis transaksi harus dihindari. Dengan GNP Indonesia yang diperkirakan sebesar sebesar Rp1180 trilyun misalnya. perusahaan-perusahaan akan bergabung dengan para pemasok mereka. Dalam pajak jenis ini. suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sejalan dengan pergerakannya sepanjang tahapan produksi. Basis GNP versus Basis Penghasilan atau Konsumsi. setiap produk tidak melalui jumlah transaksi yang sama. Atas dasar inilah. Apakah pajak-pajak tersebut mencakup semua transaksi ataukah basisnya sama dengan GNP ataukah hanya konsumsi saja yang dapat dimasukkan? Inferioritas Basis Transaksi. pajak penjualan yang dikenakan di berbagai negara berbasiskan konsumsi. Selain itu. penjualan lembaran baja dikenakan pajak ketika lembaran baja berpindah dari pabrik produksi lembaran baja ke pabrik mobil. dan seterusnya sampai pajak terakhir dikenakan pada penjualan mobil eceran. Akibatnya. Memasukkan seluruh transaksi akan tidak menimbulkan permasalahan bila setiap produk melalui jumlah transaksi yang sama sehingga persentase total kewajiban pajak berdasarkan perputaran terhadap nilai pada penjualan akhir akan sama. seperti yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya. Dalam kenyataannya.

pajak penjualan yang komprehensif sebesar 10% akan menghasilkan pendapatan negara sebesar Rp117 trilyun. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). pemilihan tahap pengenaan lebih merupakan masalah administratif dalam rangka efisiensi penerapan pajak atas basis yang dipilih. Kelemahan ini akan hilang bila pajak hanya dikenakan pada basis yang sama dengan Pendapatan Nasional atau GNP dikurangi dengan pajak-pajak tidak langsung dan penyusutan. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. Pengenaan pajak ad valorem dengan tarip yang sama pada tingkatan produksi menghasilkan tarip ekuivalen yang tidak sama dengan pengenaan pada tingkatan penjualan eceran. Pajak seperti ini akan memiliki basis yang sama dengan pajak penghasilan dan dapat diselenggarakan dengan menggunakan pajak pertambahan nilai jenis penghasilan. karena rasio harga eceran terhadap harga produksi berbeda-beda untuk berbagai produk. pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber harus dikenakan pajak sepenuhnya. Bila menggunakan pajak yang dikenakan satu kali. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. Pengenaan tarip yang berbeda untuk menghilangkan perbedaan ini akan sangat sulit dan merupakan cara yang tidak seefisien dan seefektif pengenaan pajak pada tingkatan penjualan eceran. dalam hal ini penghasilan sebelum perhitungan penyusutan.170 trilyun. Dasar-dasar Keuangan Publik . Basis inilah yang paling banyak digunakan dalam pajak penjualan. pilihan pengenaan pajak biasanya antara saat selesai produksi atau saat dijual secara eceran kepada konsumen. Pajak Konsumsi Komprehensif versus Pajak Konsumsi Tertentu. Karena basis penghasilan telah digunakan dalam pajak pribadi dengan pengenaan pajak penghasilan. pajak ini akan memberikan perlakuan diskriminatif yang mengecualikan penghasilan yang ditabung (tidak dikonsumsikan) yang dalam pajak penghasilan tidak dikecualikan. konsumsi makanan rumah. Pajak jenis ini memiliki kelemahan dalam hal keadilan dan efisiensi. Bilamana penetapan cakupan pajak merupakan hal yang substantif dalam menentukan jenis pajak yang akan diberlakukan. pengenaan pada saat penjualan eceran lebih baik karena memungkinkan pengenaap tarip ad valorem yang seragam. Jika pajaknya bersifat umum. Tahap Pengenaan Keputusan mengenai tahap pengenaan melibatkan pilihan tahapan mana yang terbaik bagi pengenaan pajak satu kali dan pilihan mengenakan pajak satu kali atau beberapa kali. Dalam hal efisiensi. Saat Produksi versus Saat Penjualan Eceran. Pajak penjualan umum atau eceran bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif. satu-satunya basis yang tersisa sebagai kandidat basis pajak adalah basis konsumsi. Dalam hal keadilan. tetapi dalam jumlah netonya. jasa kesehatan dan lain-lain.188 sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan kotor.

Walaupun demikian. akan lebih menguntungkan mengenakan pajak pada tahapan ini. walaupun hal ini menimblkan dampak yang berbeda pada tingkatan penjualan eceran. penyamak menjual kulit bahan sepatu kepada produsen Dasar-dasar Keuangan Publik . Penggunaan pendekatan beberapa tahapan dalam konteks pertambahan nilai harus dibedakan dengan yang sebelumnya dibahas dalam diskusi tentang pajak atas perputaran Pajak Pertambahan Nilai Menurut sudut pandang ekonom. misalnya sepatu. badan-badan usaha produksi cenderung lebih besar. Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena jumlah titik penagihan pajak yang lebih sedikit. Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan sifat dari produk final pada tahapan penjualan eceran. Walaupun ada perbedaan dalam teknik. Jika produknya diidentifikasi pada tahapan produksi. nilai produk dibagi dalam potonganpotongan (nilai tambah pada setiap tahapan) di mana pajak dikenakan pada tahapan-tahapan sepanjang proses produksi. lebih permanen. Pemilihan keduanya lebih didasarkan pada kemudahan administrasi. Nilai akhir sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Mari kita lihat suatu produk. pajak pertambahan nilai yang diselenggarakan dengan benar akan ekuivalen dengan penerapan pajak dalam satu tahapan. jawaban atas pertanyaan tahapan pengenaan akan lebih tidak jelas lagi. Karakteristik-karakteristik ini memperbaiki kualitas untuk tujuan perhitungan pajak. basis nilai tambah dari pajak penjualan jenis konsumsi sama dengan basis penjualan eceran. Pajak pertambahan nilai bentuk pajak yang baru seperti pajak pengeluaran. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran.189 Jika pajak akan dikenakan secara selektif. Dengan menelusuri ke berbagai tahapan produksi. kita akan mulai dengan peternak yang menjual kulit hewan kepada penyamak. Selain itu. pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan karena cara ini akan mengurangi jumlah pembayar pajak yang harus ditagih pajaknya sehingga mempermudah administrasi. Pertanyaan lebih lanjut adalah apakah pajak harus dikumpulkan dalam satu kali pengenaan dan pada titik penjualan final atau apakah dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. identifikasi produk tidak memungkinkan. misalnya mobil murah atau televisi. karena pengenaan pajak secara selektif pada tingkatan eceran akan sangat sulit. Dengan cara kedua. pandangan umum lebih condong kepada pengenaan pada tahapan penjualan eceran untuk diterapkan pada pajak penjualan umum dan tidak begitu sering digunakan pada pajak-pajak penjualan selektif. Di negara-negara berkembang. pajak ini hanyalah pajak penjualan yang diadministrasikan dengan cara berbeda. Dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah). Saat Penjualan Eceran versus Pertambahan Nilai. hanya cara penagihannya yang berbeda.

Pajak tersebut akan diberlakukan baik pada barang konsumsi maupun barang modal. yang sama dengan GNP dikurangi cadangan untuk konsumsi modal atau penyusutan. Suatu pajak yang dikenakan pada pertambahan nilai akan identik basisnya dengan suatu pajak yang dikenakan pada nilai final dari produk tersebut. tetapi hanya jenis konsumsi yang dapat diterapkan secara praktis. bunga. seperti yang telah dibahas sebelumnya. Pajak ini akan dibayarkan oleh penjual ketika produk dijual kepada pembeli terakhir. menjadi subyek pajak penjualan umum. oleh suatu perusahaan untuk menambah persediaan barangnya. Pajak seperti ini dapat dikenakan dalam bentuk beberapa tahapan dengan mengenakan pajak pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. Hasil yang sama dapat diperoleh dengan menerapkan pajak penghasilan umum karena basis suatu pajak produk neto dan pajak penghasilan pada dasarnya sama. baik oleh konsumen rumah tangga. Jenis Pajak Pertambahan Nilai Ada tiga jenis pajak pertambahan nilai sesuai dengan basis GNP. dengan nilai atau harga final dari produk tersebut sama dengan jumlah kenaikan atau pertambahan nilai pada seluruh tahapan. Anggaplah tujuannya adalah mengenakan pajak pada NNP. laba dan biaya-biaya. Anggaplah bahwa semua barang dan jasa final yang diproduksi dan dijual dalam suatu periode. NNP. Jumlah yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan nilai tambah. Jadi. Basis pajak pada setiap tahapan akan sama dengan penyusutan. Dengan GNP sebesar Rp1. atau oleh suatu perusahaan untuk pembelian barang-barang modal. yaitu penerimaan kotor dikurangi dengan biaya pembelian barang setengah jadi dari produsen sebelumnya dalam lini produksi. hanya pendekatan nilai tambah yang layak digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto). pajak dengan tarip 5% yang mencakup semua barang tersebut akan menghasilkan Rp58. Jenis Penghasilan. Pajak ini akan merupakan bentuk yang paling komprehensif dari pajak pertambahan nilai dan dapat disebut sebagai pajak pertambahan nilai jenis GNP.5 trilyun pendapatan pajak bagi negara. juga dapat digunakan untuk menyelenggarakan pajak penjualan pada produk neto. (Catatan: Pajak ini tidak dapat dikenakan sebagai pajak atas total nilai bersih dari barang pada saat penjualan terakhir dilakukan karena prosedur ini mengharuskan pencatatan biayabiaya penyusutan yang dibebankan oleh semua produsen sepanjang lini produksi. yang akhirnya akan menjual sepatu tersebut kepada konsumen. Setiap kenaikan harga menunjukkan tambahan nilai pada setiap tahapan. pajak. pajak ini ekuivalen dengan pajak penjualan yang diterapkan pada barang konsumsi dan barang modal. distributor utama menjual sepatu kepada toko eceran.170 trilyun. dan konsumsi. produsen sepatu menjual sepatu kepada distributor utama. mengenakan pajak kepada setiap penjual dengan tarip 5 persen dari nilai tambah. yaitu GNP. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Pajak pertambahan nilai jenis penghasilan berbeda dari jenis konsumsi dalam hal jenis penghasilan Dasar-dasar Keuangan Publik . nilai barang meningkat dan harga jual juga meningkat sejalan dengan peningkatan nilai tersebut. Jenis GNP. Pada setiap tahapan. dengan nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi nilai bersih dari barang setengah jadi dan penyusutan.190 sepatu. Pendekatan nilai tambah ini.

Jumlah total Biaya 05. Penjualan barang konsumsi 02. laba. Minus Penyusutan 17. Pembelian produk setengah jadi 07. 06. Penjualan barang modal 04. Penyusutan 08. Konsumsi 14. Basis untuk pajak pertambahan nilai jenis ini didefinisikan sebagai pendapatan bruto perusahaan dikurang nilai dari seluruh pembelian produk-produk setengah jadi (bahan mentah dan barang dalam proses) dan juga pengeluaran modalnya atas pabrik dan peralatan-perakatan. Alternatif lainnya yang dapat digunakan adalah metode penambahan.1: Ilustrasi Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai A Pendapatan 01. dsb. perhitungan dengan metode penambahan adalah dengan cara menambahkan semua pembayaran kepada berbagai faktor yang dinyatakan pada baris 05. NNP atau Pendapatan Nasional PERUSAHAAN B C Ekonomi 120 120 70 145 100 315 151 151 221 265 100 100 20 120 80 120 15 215 90 45 16 151 270 165 51 - - 100 100 120 100 120 195 180 95 6 90 106 321 370 321 - - - 221 100 321 51 270 (Tabel ini menunjukkan perhitungan ketiga basis dengan menggunakan metode yang disebut metode pengurangan. Pajak seperti ini akan sama dengan pajak penjualan eceran umum atas barang konsumsi. Basis penghasilan (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 07) 12. Penjualan produk setengah jadi 03. bunga. Basis GNP dihitung dengan cara menambahkan pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07). Jenis Konsumsi. GNP 16. Dengan membolehkan setiap perusahaan untuk mengurangkan pengeluaran modalnya. yaitu pembelian barang-barang modal. Basis konsumsi ditentukan dengan menambahkan Dasar-dasar Keuangan Publik .191 membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan sedangkan jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. Plus Investasi 15. dengan perbedaan hanya pada prosedur administrasi saja. Upah. Basis konsumsi (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 09) 11. Pembelian barang-barang modal Basis-basis pajak 10. Basis GNP Perhitungan Pendapatan Nasional 13. Ilustrasi Perhitungan PPN untuk setiap Jenis Tabel 18. yang tersisa hanyalah nilai dari output barang konsumsi saja. Jumlah total Biaya Modal 09. Untuk basis penghasilan.

yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung tersebut. Penjumlahan basis-basis pada setiap perusahaan ini menghasilkan basis-basis untuk seluruh ekonomi. Basis penghasilan. dihitung untuk setiap perusahaan dengan cara penjualan dikurangi dengan biaya barang-barang setengah jadi dan penyusutan (baris 06 dan 07). Selain pertimbangan politis. seperti yang ditunjukkan pada baris 10. ada beberapa perbedaan teknis dalam implementasi yang cukup penting. Dengan membuat aturan bahwa kredit pajaknya bergantung pada penyajian bukti setor pajak yang dilakukan oleh para pemasok. Simpulan Kita telah melihat bahwa pajak pertambahan nilai jenis konsumsi memiliki basis yang sama dengan pajak penjualan eceran dengan cakupan yang sama. Metode Penagihan Bila kita melihat jenis konsumsi dari pajak pertambahan nilai. yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarip pajak terhadap total penjualan dan mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah yang sama dengan pajak yang telah dibayarkan oleh para pemasok yang barang-barang setengah jadi dan barang-barang modalnya dibeli oleh perusahaan. dikenal dengan nama metode perhitungan. Bila demikian. Metode ini cocok di negara yang ketaatan pajaknya rendah. Basis GNP.192 pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07) kemudian dikurangi dengan pembelian barang modal (baris 09). Pendukung pajak pertambahan nilai merasa bahwa pajak ini tampak berbeda sehingga tidak terkontaminasi reputasi buruk dari pajak penjualan eceran.) Basis konsumsi. kita akan menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang setengah jadi dan barang modal. Kedua. ada dua cara untuk menagihnya. metode faktur memiliki elemen ketaatan karena setiap pembeli akan meminta salinan dari bukti setor tersebut. Pertama. dan GNP yang ditentukan dalam perhitungan pendapatan nasional. konsumen akan menyadari adanya pajak pada kedua pendekatan ini. seperti yang ditunjukkan pada baris 11. Dasar-dasar Keuangan Publik . Jumlah total basis-basis ini sama dengan nilai dari konsumsi. seperti yang ditunjukkan pada kolom terakhir. yang mungkin saja menjadi atau tidak menjadi masalah. Jika pajak bruto pengecer disajikan sebagai bagian terpisah dari harga-harga bagi para konsumen. metode faktur. pendapatan nasional. akan sama dengan penjualan total (baris 04) dikurangi pembelian barang-barang setengah jadi (baris 06). seperti yang ditunjukkan pada baris 12. mengapa harus ada perbedaan pendapat yang cukup tajam mengenai mana di antara kedua pajak ini yang lebih baik? Satu perbedaan berkaitan dengan persoalan politik dari kedua pajak ini. Jadi metode penambahan langsung menghasilkan angka pada pajak pertambahan nilai jenis penghasilan tetapi agak membingungkan pada pajak pertambahan nilai jenis konsumsi. dihitung untuk setiap perusahaan dengan mendapatkan angka penjualannya dan dikurangi dengan pembelian barang-barang setengah jadi dan barang-barang modal (baris 06 dan 09). Bila perhitungan pajak telah selesai.

sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. Di negara maju yang usaha ritelnya sudah mapan. Selain itu. Cukai umumnya dikenakan kepada barang-barang konsumsi massal yang dipandang kurang baik untuk dikonsumsi. Dalam pajak pertambahan nilai. hal ini mudah dilakukan. Hal yang sama tidak berlaku untuk pajak penjualan dan cukai. tetapi di negara berkembang di mana usaha ritelnya umumnya usaha kecil. Dan juga. Keluarga-keluarga dengan penghasilan yang sama mungkin saja Dasar-dasar Keuangan Publik . Selain itu. dengan menggunakan metode faktur. Distribusi Beban Pajak Pajak penghasilan memiliki peringkat yang tinggi dalam hal keadilan karena dikenakan sebagai suatu pajak pribadi yang berusaha mencapai kemampuan membayar dari wajib pajak. Pajak Penjualan Umum Pajak penjualan umum dalam bentuk pajak penjualan eceran atas barang-barang konsumsi pada dasarnya sama dengan pajak umum bertarip tetap atas pengeluaran konsumen. cukai memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal. bebannya cenderung regresif. jumlah pembayar pajak lebih rendah daripada dalam pajak pertambahan nilai. pajak pertambahan nilai memiliki elemen ketaatan yang tidak dimiliki dalam pajak penjualan eceran.193 Dalam pajak penjualan eceran. cukai bersifat diskriminatif di antara konsumen dengan penghasilan yang sama tetapi dengan preferensi yang berbeda. Bila dilihat dari keadilan horizontal. Oleh karena itu. suatu pajak penjualan umum akan adil bila indeks keadilan dinyatakan dalam bentuk konsumsi tetapi akan tidak adil bila indeksnya dinyatakan dalam bentuk penghasilan. yaitu berdasarkan pola pengeluaran konsumsi atas produk yang dipajaki. mengapa cukai tetap digunakan? Pertanyaan ini dijawab dengan mempertimbangkan jenis barang yang dikenakan cukai. kita menyimpulkan bahwa distribusi beban pajak berdasarkan kelompok penghasilan didominasi dari sisi penggunaan. Karena sebagian besar cukai dikenakan atas barang-barang konsumsi masal. pajak-pajak ini tidak memberikan aturan mengenai kemampuan untuk membayar. karena hanya dikenakan pada barang-barang tertentu. pajak penjualan eceran tidak akan efektif. Cukai juga dikenakan dalam rangka meminimalkan dead weight loss. seperti rokok dan minuman beralkohol. seperti minuman beralkohol dan rokok. Cukai Pada diskusi kita sebelumnya tentang tax incidence dari pajak penjualan. pengecualian barang-barang modal dapat dilakukan dengan lebih efektif daripada dalam pajak penjualan eceran karena sulitnya menelusuri penggunaan barang-barang yang dibeli dari para pengecer. Beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan seharihari cenderung regresif. tetapi hal ini belum menjadi kebijakan yang telah diterapkan. sehingga memudahkan administrasi karena para pengecer dapat diakses secara efektif. cukai akan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak yang lebih umum. Karena tidak dibebankan secara pribadi. Dengan keterbatasan-keterbatasan seperti ini.

Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi Walaupun telah mengecualikan beberapa produk konsumsi massal. sedangkan pajak konsumsi telah ditetapkan sebagai kerangka dalam pendekatan nonpribadi atau in rem dari pajak penjualan. suatu pajak penjualan umum akan proporsional berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Penentuan Konsumsi Kena Pajak Apabila konsumsi digunakan sebagai indeks atas kemampuan untuk membayar. penghindaran atas pajak penjualan hanya dapat dilakukan dengan melalui warisan. semua yang telah dikemukakan sebelumnya tentang keinginan untuk suatu definisi global dari basis pajak penghasilan berlaku juga. Pola ini kurang regresif bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup dan bukannya tahunan.Oleh karena itu. Penggunaan suatu jenis pajak pribadi dari pajak pengeluaran akan menghilangkan perbedaan ini dan membuat pemajakan atas konsumsi menjadi bersifat pribadi dan progresif. pendukung pajak penghasilan cenderung berasal dari pendukung progresivitas pajak. sehingga melanggar keadilan horizontal dalam bentuk penghasilan. Perbedaan progresivitas di antara kedua jenis pajak ini muncul karena pajak penghasilan telah dikembangkan dalam kerangka pajak pribadi. Pajak ini merupakan ide yang baru dan menarik dan telah banyak mendapatkan dukungan dari para akademisi di dunia perpajakan. Semua konsumsi harus dimasukkan ke dalam basis pajak dan kewajiban pajak para wajib pajak tidak dipengaruhi oleh pola tertentu dari pengeluaran konsumsi mereka. Dengan demikian. Pajak seperti ini pernah dicobakan di India dan Sri Lanka. Perlu dicatat pula bahwa sifat regresif dari pajak penjualan telah dimodifikasi dengan mengecualikan beberapa produk konsumsi massal.194 memiliki tingkat konsumsi (menabung) yang berbeda karena faktor usia atau faktor-faktor lainnya. tidak ada dasar logika yang tepat pada kedua basis pajak yang mengharuskan keduanya sama. Keluarga-keluarga seperti itu akan membayar jumlah pajak yang berbeda. tetapi pengenaan pajak ini dalam situasi modern belum pernah ada. Analogi dengan pajak penghasilan. pajak penjualan dipandang sebagai pajak yang progresif dan pajak penjualan dipandang sebagai pajak regresif. Akan tetapi. karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun (menabung dalam persentase atas penghasilan naik) sejalan dengan kenaikan penghasilan. seperti makanan. Berikut ini pembahasan teknis apabila pajak ini diterapkan. Bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup. Bila dipandang dari keadilan vertikal. dalam perkembangan historis. sedangkan pendukung pajak penjualan cenderung berasal dari penentang progresivitas pajak. wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak. pendekatan tradisional atas pajak konsumsi baik melalui cara selektif (cukai) maupun pajak penjualan umum (PPN bila di Indonesia) tetap bersifat regresif karena pengeluaran konsumsi dalam persentase penghasilan cenderung menurun sejalan dengan peningkatan penghasilan.

Konsep penerimaan yang digunakan dalam skedul perhitungan di atas sama dengan penghasilan yang didefinisikan dalam pajak penghasilan. – saldo bank dan uang pada akhir tahun 5. atau penambahan atas kekayaan bersih. Penyesuaian terhadap inflasi hanya diperlukan untuk indeks tarip-tarip pajak. Perhitungan dengan menambahkan pengeluaran rupiah untuk konsumsi individu bukan merupakan pendekatan yang mungkin. Konsumsi dalam cara ini akan diperoleh dari perubahan dalam saldo bank dan uang dan arus penerimaan dan pembayaran-pembayaran nonkonsumsi selama tahun berjalan. + tambahan pinjaman bersih (pinjaman baru dikurangi pembayaran pinjaman atau memberikan pinjaman) 3. dan menerapkan tarip pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. dengan membolehkan penggunaan tarip merata untuk menghindari ketidakadilan. Dalam beberapa hal. Walaupun konsumsi rumah akan dimasukkan dengan cara memasukkan komponen imputed rent. tetapi belum diketahui bagaimana konsumsi kena pajak dapat ditentukan dalam kenyataannya. tidak ada kebutuhan untuk menentukan laba perusahaan. Dilema dalam memperlakukan capital gain yang belum direalisasikan akan tidak ada. – investasi bersih (biaya pembelian aset-aset dikurangi hasil dari aset-aset yang dijual) 4. bukan hal yang relevan sampai realisasi terjadi dan hasilnya disalurkan ke dalam konsumsi. Ide ini tampaknya sederhana. Hal ini akan menjadi tugas yang sangat berat. akan diperlakukan sebagai konsumsi tahun berjalan. Dasar-dasar Keuangan Publik . pendekatan ini lebih sederhana daripada yang dipakai dalam pajak penghasilan. SPT harus digunakan untuk membuat wajib pajak menyatakan jumlah-jumlah tersebut (dengan dirinci) seperti pelaporan penghasilan dalam pajak penghasilan. dan capital gain yang belum direalisasikan. disesuaikan dengan mengecualikan capital gain tetapi memasukkan imputed rent dari rumah-rumah yang dihuni pemiliknya dan juga warisan dan hadiah yang diterima. = konsumsi untuk tahun berjalan. pembelian barang-barang konsumsi jangka panjang (seperti mobil). Untuk mendapatkan angka konsumsi. jumlah tambahan tabungan harus didefinisikan sebagai tabungan neto (tambahan tabungan dikurangi penarikan tabungan). Dan juga. Kemungkinan yang lain adalah dimulai dari penghasilan dan mengurangkannya dengan jumlah tambahan tabungan. Dividen akan muncul sebagai penerimaan. Permasalahan sulit dari akuntansi penyusutan juga akan hilang. Cara yang paling baik dan yang paling mungkin untuk menentukan konsumsi tahunan wajib pajak adalah dengan menggunakan cara berikut Saldo bank dan uang pada awal tahun 1. hasil yang diterima akan masuk ke dalam basis pajak kecuali dikurangi dengan pembelian aset-aset lain atau kenaikan dalam saldo-saldo aset.195 diperbolehkan. yang diperoleh dengan menahan laba. Jika aset dijual. + penerimaan uang 2.

196
karena permasalahan yang lebih mengganggu berupa perubahan nilai-nilai nominal tidak akan muncul. Akan tetapi, pajak pengeluaran akan memunculkan kesulitan-kesulitan baru. Untuk alasan-alasan administratif dan lainnya, metode pemotongan pajak harus tetap diberlakukan, tetapi cara ini akan sangat sulit dalam pajak pengeluaran daripada dalam pajak penghasilan. Karena pemotongan pajak harus dilakukan terhadap penghasilan, suatu rasio yang ditetapkan sebelumnya dari penghasilan terhadap konsumsi harus diterapkan. Selain itu, pemotongan pajak dalam sistem tarip yang gradual mempersulit penerapan karena tarip pajak yang tepat bergantung pada apakah penerimaan tersebut akan dibelanjakan atau diinvestasikan kembali, suatu faktor yang sangat mengganggu dalam kasus penghasilan modal. Permasalahan lainnya adalah pentingnya mencatat secara lengkap saldosaldo kas pada awal tahun. Bila tidak dilakukan, konsumsi yang tidak dikenakan pajak akan dapat dilakukan oleh wajib pajak yang akan didanai nantinya dengan menarik lebih banyak uang dari bank. Untuk memastikan peminjaman dipertanggungjawabkan, pemberi pinjaman diharuskan untuk melaporkan informasi mengenai pinjaman-pinjaman yang diberikan. Dengan demikian, pengecekan silang akan lebih banyak dilakukan. Hal yang sama juga diperlakukan untuk penjualan-penjualan aset. Untuk tujuan ini, wajib pajak diharuskan untuk melaporkan neraca atau daftar harta mereka dalam SPT. Perlakuan atas Warisan dan Hibah Dalam konsep pajak pengeluaran wajib pajak pribadi, ada suatu permasalahan khusus timbul karena penghasilan tidak digunakan untuk konsumsi tetapi akan diwariskan atau dihibahkan. Berdasarkan filosofi tambahan kemampuan ekonomis, penerimaan suatu warisan/hibah akan dimasukkan ke dalam basis pajak penerima warisan/hibah. Akan tetapi, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, konsep penghasilan yang berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis memperlakukan secara diskriminatif terhadap konsumsi di masa depan. Pajak berdasarkan konsumsi, memberikan perlakuan yang sama dengan menerapkannya pada nilai tunai konsumsi sehingga beban pajak tidak dipengaruhi oleh faktor waktu. Tetap saja, perlakuan terhadap warisan/hibah masih menimbulkan tanda tanya. Seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya, penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. Cara terbaik untuk mengatasi penghindaran pajak ini adalah dengan memasukkan warisan/hibah sebagai basis pajak pengeluaran. Dengan demikian, basis pajak yang adil bukannya konsumsi saja tetapi semua penggunaan penghasilan, baik itu untuk konsumsi ataupun untuk diwariskan. Evaluasi Penggunaan pajak pengeluaran wajib pajak pribadi akan meningkatkan kualitas perpajakan konsumsi karena memungkinkan penerapan prinsip kemampuan Dasar-dasar Keuangan Publik

197
untuk membayar dan menghilangkan sifat regresif yang melekat pada pajak penjualan umum. Walaupun pajak pengeluaran berbasis konsumsi merupakan cara yang lebih baik, akan tetapi ada dua pertanyaan yang harus dijawab yaitu basis mana yang lebih baik (penghasilan atau konsumsi) dan bagaimana memperlakukan warisan/hibah. Dalam hal kegiatan menabung berupaya didukung dengan sistem pajak yang ada, pendekatan pajak pengeluaran lebih disukai daripada pemberlakuan pengecualian secara sepotong-potong dalam sistem pajak penghasilan. Penggantian pajak penghasilan dengan pajak pengeluaran akan menyederhanakan beberapa hal penting, terutama yang berkaitan dengan permasalahan inflasi. Akan tetapi, penggantian ini juga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru seperti masalah pemotongan pajak. Pajak pengeluaran juga tidak akan menghilangkan perlakuan-perlakuan khusus dan loophole yang selama ini ada pada pajak penghasilan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

198

B A B XIX
PAJAK ATAS KEKAYAAN
Alasan-Alasan Pengenaan Pajak Atas Kekayaan
rgumen atas pengenaan pajak kekayaan didasarkan pada kemanfaatannya dan kemampuan untuk membayar, akan tetapi kedua alasan ini tidak pernah dapat menjelaskan mengapa hanya pajak atas bumi dan bangunan saja yang diberlakukan. Pertimbangan manfaat mengarah pada pemberlakuan pajak bumi dan bangunan jenis in-rem sedangkan pertimbangan kemampuan untuk membayar mengarah pada pemberlakuan pajak kekayaan wajib pajak pribadi.

A

Alasan Manfaat Pajak atas Kekayaan Alasan pengenaan pajak kekayaan atas dasar manfaat adalah bahwa layananlayanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan dan oleh karenanya harus dibayarkan oleh pemiliknya. Dalam bentuknya yang paling umum, argumentasi dukungan ini dapat diturunkan dari teori Locke yang menyatakan bahwa negara adalah pelindung bumi dan bangunan, yang dinyatakan pada akhir abad ke-17. Salah satu dari fungsi dasar suatu negara, sebagaimana pendapat para ahli teori hukum alam, adalah pelindung kekayaan; dan oleh karenanya pemilik kekayaan membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut. Logikanya, basis pajaknya adalah seluruh kekayaan yang dimiliki oleh seseorang. Atau lebih tepat lagi, basis pajaknya akan didefinisikan sebagai kekayaan bersih, yaitu kekayaan wajib pajak dikurangi dengan kewajibannya. Demikian juga, berdasarkan konsep ini, pendapatan dari pajak harus dibatasi hanya sebesar biaya yang diperlukan untuk melaksanakan layanan perlindungan, seperti biaya penegakan hukum, administrasi perundang-undangan dan administrasi pengadilan. Walaupun berapa besarnya biaya tersebut masih dapat diperdebatkan, yang pasti tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai pendidikan, misalnya, tidak memiliki dasar yang rasional.

Dasar-dasar Keuangan Publik

199
Penerapan aturan kemanfaatan yang lebih spesifik lagi, terutama berkaitan pada tingkat lokal, mengharuskan pemilik kekayaan membayar untuk layananlayanan khusus yang meningkatkan nilai dari kekayaan. Pembangunan trotoar, misalnya, meningkatkan nilai gedung di belakang trotoar tersebut, demikian juga perlindungan khusus oleh polisi pada daerah-daerah tertentu. Dalam kasus-kasus tertentu, manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap kekayaan dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. Dalam kasus-kasus lain, manfaat yang dinikmati harus diperkirakan secara relatif terhadap nilai dari kekayaan. Hal ini mengindikasikan bahwa suatu pajak khusus dapat dikenakan untuk mendanai suatu layanan tertentu. Cara pengenaan seperti ini sangat tepat dikenakan pada tingkatan lokal untuk mendanai layanan-layanan khusus tadi. Alasan Kemampuan Membayar Pajak Dalam kaitannya dengan kemampuan untuk membayar pajak, asal mula dari pajak kekayaan harus dilihat dari konteks sejarahnya. Pada masa lalu, kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan indeks yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar. Sebagian besar pajak yang dipungut oleh negara diterima dalam bentuk barang, sehingga pendapatan uang seperti yang digunakan sekarang akan merupakan indeks yang menyesatkan. Akan tetapi, dalam kondisi modern di mana penghasilan sebagian besar diterima dalam bentuk uang, kekayaan lebih sulit diukur daripada penghasilan. Berdasarkan situasi ini, dapatkah pajak kekayaan dapat dibenarkan untuk alasan kemampuan untuk membayar? Berdasarkan diskusi sebelumnya, ada dua simpulan yang diambil. Penggunaan penghasilan sebagai indeks kesetaraan, tidak diperlukan lagi pajak kekayaan sebagai pelengkap apabila penghasilan tersebut didefinisikan sebagai secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. Akan tetapi dalam praktiknya tidak semua penghasilan dapat dicakup sehingga memunculkan kebutuhan akan pajak kekayaan. Juga dalam hal konsep pajak atas konsumsi, pajak tambahan atas kekayaan dapat dibenarkan karena alasan penumpukkan kekayaan. Oleh karena itu, jika kekayaan dipajaki karena kemampuan untuk membayar, yang diperlukan bukanlah pajak atas kekayaan tetapi pajak atas kekayaan besih wajib pajak pribadi. Alasan Pengendalian Sosial Pajak atas kekayaan dapat dibenarkan dengan alasan untuk pengendalian sosial. Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi, dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. Untuk tujuan ini, suatu pajak progresif atas kekayaan dan bukannya atas penghasilan adalah instrumen yang tepat. Sebagaimana berdasarkan pendekatan kemampuan untuk membayar, indikasinya adalah juga pajak pribadi dan definisi kekayaan secara global. Bedanya, basisnya lebih tepat didefinisikan sebagai kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan cakupan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

200

Pajak atas Tanah
Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari kekayaan telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. Karena pengembalian atas tanah adalah dalam bentuk rente ekonomis (yaitu suatu tingkat pengembalian dari suatu faktor produksi dalam penawaran yang tidak elastis), tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu excess burden. Pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif. Selain itu, kenaikan nilai tahan dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil, seperti yang dikemukakan oleh Henry George dalam bukunya Progress and Poverty. Struktur Dan Basis Pajak Atas Kekayaan Di Indonesia (Pajak Bumi Dan Bangunan) Jenis pajak atas kekayaan yang berlaku di Indonesia adalah pajak atas bumi (tanah) dan bangunan. Sebelum reformasi perpajakan tahun 1983, peraturan yang berkaitan dengan pajak atas tanah dan bangunan ini adalah Undang-Undang Nomor 11 PRp1959 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum adat, Ordonansi Verponding Indonesia 1923 dan Ordonansi Verponding 1928 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum Belanda (Barat), dan Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908 untuk pungutan-pungutan lain daerah atas tanah dan bangunan. Setelah reformasi pajak, dasar hukum yang mengatur pajak atas bumi dan bangunan adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1994. Basis Pajak, Tarip Nominal, Rasio Penilaian dan Tarip Efektif Yang menjadi objek PBB adalah bumi dan bangunan. Bumi mencakup permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya, yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan, meliputi jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan, jalan tol, kolam renang, pagar mewah, tempat olah raga, galangan kapal, dermaga, taman mewah, dan fasilitas lain yang memberikan manfaat. Beberapa objek pajak dikecualikan dari pengenaan pajak, yaitu: Objek pajak yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional, yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. Objek pajak yang digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenisnya dengan itu. Hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. Objek pajak yang digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. Objek pajak yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. Dasar-dasar Keuangan Publik

-

-

201

Basis pajak untuk objek-objek pajak ini adalah harga pasar wajar atau harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Karena harga ini sulit didapat, yang sering dilakukan adalah menggunakan harga objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru atau nilai pengganti. Pada praktiknya, basis pajak ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap tiga tahun sekali, kecuali untuk daerah yang mengalami perkembangan pembangunan yang cepat, penetapannya dilakukan setiap tahun. Dari basis pajak ini tidak seluruhnya akan diterapkan PBB. Basis yang akan diterapkan pajak serendah-rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100%, bergantung pada jenis objek pajaknya. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 1998, hanya 40% dan 20% dari basis pajak saja yang akan dikenakan. Pada umumnya, pengenaan tarip pajak hanya akan dikenakan sebesar 20% dari basis pajak kecuali untuk objek-objek pajak tertentu, yaitu: Objek pajak perumahan yang WP-nya perseorangan dengan basis pajak sama dengan atau di atas Rp1 milyar, tidak berlaku untuk PNS, ABRI, Pensiunan Janda/Duda yang semata-mata dari gaji/uang pensiun. Objek pajak perkebunan yang luasnya sama dengan atau lebih dari 25 Ha yang dikuasai BUMN dan Badan Usaha Swasta. Objek pajak kehutanan, termasuk areal blok tebangan dalam kegiatan Pemegang HPH, Hak Pemungutan Hasil Hutan dan Pemegang Ijin Pemanfaatan Kayu.

-

Tarip pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah 0,5 persen yang merupakan tarip tunggal. Dengan demikian, tarip efektif PBB yang berlaku sekarang ini secara nasional adalah 1 persen dan 2 persen. Nilai Pasar versus Penghasilan sebagai Basis Penilaian Ada satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas kekayaan yaitu bagaimana mengukur nilai kekayaan. Apakah kekayaan tersebut diukur dengan nilai jualnya atau nilai sewanya dan apakah nilai yang digunakan adalah nilai aktual atau nilai potensialnya? Negara-negara tertentu, seperti Amerika Serikat dan Indonesia, menggunakan harga jual atau harga pasar sebagai nilai kekayaan, sedangkan negara-negara lain, seperti Inggris, menggunakan penghasilan sewa aktual yang diperoleh dari harta tersebut. Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi, perbedaan ini akan hilang karena harga jual dari kekayaan akan sama dengan nilai kapitalisasi dari penghasilan aktual yang juga akan sama dengan potensi penghasilannya. Dalam kenyataannya, hal ini tidak terjadi. Jika kekayaan kurang didayagunakan, pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan akan menyajikan nilainya terlalu rendah, suatu faktor yang sangat penting bagi negara-negara berkembang. Perbedaan lainnya antara pendekatan nilai pasar dan pendekatan penghasilan muncul dari perbedaan dalam risiko. Satu kekayaan dengan penghasilan tahunan sebesar Rp100 juta dapat memiliki nilai pasar sebesar Rp500 juta, sedangkan kekayaan lainnya dengan penghasilan yang sama dapat memiliki nilai pasar dua kali lipat. Penghasilan dikapitalisasi dengan

Dasar-dasar Keuangan Publik

202 tingkat bunga yang berbeda karena adanya premi risiko yang harus dibebankan pada kekayaan yang pertama. Dalam praktiknya. Pada negara-negara tertentu. Pada kota-kota besar negara maju. Selain itu. telah dikembangkan prosedur yang canggih untuk melakukan evaluasi atas nilai jual dengan menggunakan persamaan regresi yang berisi sejumlah variabel. Circuit Breaker Pajak kekayaan atas rumah tinggal dipandang sebagai beban bagi penduduk yang berusia tua. Tanah versus Bangunan sebagai Komponen Basis Pajak kekayaan dikenakan atas nilai pasar suatu real estate tanpa membedakan apakah dikenakan pada komponen tanah atau komponen penyempurnaan tanah (bangunan). Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia tua dan keluarga dengan penghasilan rendah. seringkali tidak terjadi frekuensi penjualan rumah-rumah sejenis yang cukup untuk memberikan basis evaluasi nilai jual. yang mengaitkan nilai rumah terhadap berbagai karakteristik. pembendaan ini penting sekali karena berkaitan dengan pembebanan pajak. Satu pandangan menyatakan bahwa pajak kekayaan merupakan pajak atas penghasilan modal. Prosedur seperti ini memiliki keunggulan dalam hal memungkinkan dilakukannya penyesuaian atas nilai tanah dan bangunan lebih sering lagi. yang disebut juga dengan circuit breaker. suatu hal yang sangat penting dalam periode inflasi. pengenaan pajak atas penyempurnaan tanah telah menghambat investasi seperti itu. Dalam sudut pandang ekonomi. dikenakan dalam pasar-pasar yang kompetitif. berdasarkan jenis rumah dan lokasinya. terpaksa digunakan. Sejumlah besar pemilik rumah yang berpenghasilan rendah adalah orang-orang tua. pengenaan pajak terjadi sebaliknya. Karena penawaran atas tanah jumlahnya tetap. Distribusi Beban Pajak Kekayaan Beban atas pajak kekayaan merupakan hal yang kontroversial. Pandangan lain Dasar-dasar Keuangan Publik . Basis pengenaan pajak yang paling baik pada kondisi seperti ini adalah pendekatan nilai pasar karena memperhitungkan perbedaan tingkat risiko atas kekayaan-kekayaan tersebut. Penilaian dengan perkiraan. keuntungan yang timbul dari kenaikan nilai tanah karena pertumbuhan populasi dan pendapatan dapat dipandang sebagai laba yang tidak diinginkan secara sosial. Walaupun penilaian dengan menggunakan nilai jual lebih disukai. Kasus-kasus ini dapat terjadi dalam kondisi ekonomi yang melesu pada daerah-daerah bisnis yang menyebabkan kekayaankekayaan pada daerah ini memiliki tingkat hasil yang tinggi atas penghasilan bila dibandingkan secara relatif terhadap nilai pasarnya. pengenaan pajak atas rente tanah atau mengenakan pajak atas nilai tanah (yang menunjukkan nilai kapitalisasi dari rentenya) telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif untuk menginvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan). terutama investasi untuk rumah-rumah murah.

dan i adalah tingkat bunga pasar. pajak seperti itu akan mengurangi tingkat pengembalian bersih dari modal dan diserap oleh penerima penghasilan modal. Dengan asumsi pasar modal yang dan prosedur penilaian yang sempurna. kejadian pajak dari suatu pajak umum atas nilai aset modal yang dikenakan dengan tarip Rp5 juta per Rp100 juta nilai aset sama dengan kejadian pajak dari suatu pajak atas penghasilan dengan tarip 50 persen. Pajak sebesar 5 persen atas nilai aset (pajak kekayaan) adalah sama dengan pajak sebesar 50 persen atas penghasilan kekayaan (pajak penghasilan). Dalam jangka pendek. Hutang pajak berdasarkan pajak 5 persen atas nilai aset akan sebesar Rp5 juta. Jika hasil yang sama akan diperoleh dari pajak kekayaan pada tingkat pajak tp dan suatu pajak atas penghasilan aset tersebut pada tingkat pajak ty. Misalkan aset tersebut memiliki nilai Rp100 juta dan memperoleh penghasilan tahunan sebesar Rp10 juta. sehingga mengurangi produktivitas tenaga kerja di masa depan. Dalam suatu pasar di mana modal menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 10 persen. sehingga V = Y/i. maka tpY/i = ty atau tp = ity. seperti yang berlaku di Amerika Serikat.203 membedakan berdasarkan jenis pengenaan dan menempatkan lebih banyak pembahasan pada konsekuensi-konsekuensi dari ketidaksempurnaan pasar. distribusi beban pajak pada pajak umum atas penghasilan modal kembali berlaku. Dengan demikian. Dengan menggunakan rumus umum. di mana V adalah nilai aset. Dalam jangka panjang. Dengan pengecualian pada sisi terendah. yang sesuai dengan tingkat bunga pasar yang sebesar 10 persen. Penerima beban pajak dalam jangka pendek adalah pemilik dari kekayaan lokal yang dikenai beban pajak yang lebih tinggi. Beban pajak diterima oleh pemilik yang memiliki kekayaan pada saat pajak tersebut dinaikkan. maka kejadian pajak akan terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Bila dinyatakan dalam suatu persentase atas penghasilan aset. modal yang diinvestasikan pada daerah-daerah bertarip tinggi tidak dapat bergerak dan pemiliknya harus menanggung beban pajak yang tinggi. Y adalah penghasilan tahunan. sehingga kejadian pajaknya progresif. Hal ini juga berlaku pada bangunan dan tanah. pengurangan dalam tingkat pengembalian bersih dari modal akan menekan persediaan modal. yang juga karenanya akan mendapatkan tanggungan beban pajak. suatu pajak sebesar 5 persen yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. Jika daerah dibebaskan untuk menentukan tarip atas pajak kekayaan. nilai dari suatu aset pada pasar modal yang sempurna ditentukan dengan persamaan Y = iV. penghasilan ini sebagai bagian dari total penghasilan akan meningkat besarnya sejalan dengan peningkatan. Dasar-dasar Keuangan Publik . Mereka tidak dapat mengurangi beban pajak dengan menjual aset yang dipajaki. Bila PBB dikenakan secara Lokal. Dengan kejadian ditentukan terutama dari sisi sumber. Misalkan bahwa ada suatu pajak nasional atas semua barang modal. Pajak Kekayaan sebagai Pajak atas Penghasilan Modal Bila Pajak Kekayaan dikenakan secara Nasional. Pajak seperti ini dapat juga dipandang sebagai pajak atas penghasilan modal. jumlah ini sama dengan 50 persen. Beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai dari kekayaan.

pajak ini sama dengan pajak penghasilan sebesar 50 persen. tenaga kerja tersebut harus dibayar sebesar apa yang ia terima di tempat lain dan perpindahan modal akan semakin besar. Beban pajak jatuh pada pemilik aset mula-mula. tenaga kerja pada daerah berpajak rendah cenderung beruntung. pemilik tanah dan pemilik modal lainnya. Bila tenaga kerja pada daerah berpajak tinggi cenderung merugi. pajak akan dinyatakan dalam bentuk pengurangan upah. Pengaruh ini adalah yang paling penting bila Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga pemilik asli dari tanah pada daerah-daerah berpajak tinggi akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan bagiannya dalam pajak. suatu pajak yang dikenakan pada modal dalam satu sektor ekonomi akan dibagi bebannya oleh semua pemilik modal. Tidak ada perbedaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. Dalam jangka panjang. tingkat pengembalian bruto atas modal pada daerah berpajak tinggi akan naik sedangkan tingkat pengembalian bruto atas modal pada daerah berpajak rendah akan turun.204 Untuk mengilustrasikan fakta ini. Karena kepemilikan tanah lebih banyak pada wajib pajak berpenghasilan tinggi. Jika tenaga kerja dapat berpindah dengan segera. Dalam jangka panjang. Jika pemilik aset yang semula ingin menjual aset tersebut. Tanah tidak dapat dipindahkan. Sejalan dengan penurunan persediaan modal pada daerah berpajak tinggi dan kenaikan persediaan modal pada daerah berpajak rendah. Modal yang diinvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan) tidak akan melekat selamanya. Pengeluaran pemeliharaan atas aset-aset tua akan berkurang dan investasi baru pada daerah berpajak tinggi akan menurun. ia harus menanggung kerugian pajak tersebut karena pembeli akan meminta suatu tingkat pengembalian sebesar 10 persen. Kerugiannya telah dikapitalisasikan dan tetap berada pada pemilik aslinya. Pergerakan ini akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain. bagian pajak yang menyatakan nilai dari tanah tidak berubah. Seperti situasi pada pajak perseroan. beban pajaknya bersifat progresif. situasi seperti ini akan memunculkan pengaruh regresif. kita mengasumsikan kembali bahwa tingkat pengembalian atas modal sebelum pajak adalah 10 persen. Demikian juga. Situasinya berbeda apabila yang dikenakan pajak adalah modal. Sekarang asumsikan suatu daerah tempat aset tersebut mengenakan pajak kekayaan sebesar Rp5 juta untuk setiap Rp100 juta nilai aset. sama dengan tingkat pengembalian investasi-investasi lain yang tersedia. Pemilik berikutnya yang membeli aset tersebut akan melakukannya hanya pada harga yang lebih rendah sehingga tidak dibebani oleh pajak tersebut. sehingga suatu aset yang menghasilkan Rp10 juta per tahun memiliki nilai sebesar Rp100 juta. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Karena tenaga kerja yang tidak terampil cenderung kurang mudah bergerak daripada tenaga kerja terampil. yang bila dikapitalisasikan pada tingkat 10 persen akan menurunkan nilai aset menjadi sebesar Rp50 juta. yaitu pemilik aset sebelum pengenaan pajak tersebut. Penghasilan neto berkurang menjadi Rp5 juta. Jika tenaga kerja tidak dapat berpindah. Seberapa besar perpindahan modal dari daerah yang berpajak tinggi bergantung pada mobilitas keluar dari tenaga kerja.

Beban di Dalam versus Beban di Luar. Dengan demikian. Sebagaimana kenaikan dalam tarip pajak kekayaan akan mengurangi nilai dari kekayaan dan mendorong perpindahan modal ke luar. Pajak nasional dan lokal yang akan menjadi perhatian suatu daerah lokal hanya bagian yang akan terbeban bagi penduduknya dan bukan bagian yang menjadi beban penduduk daerah lain. penyelidikan empiris menunjukkan bahwa nilai kekayaan berkaitan dengan pengeluaran dan juga perbedaan pajak. Semakin besar perpindahan modal. Akan tetapi. tidak berpengaruh atau naik. bergantung pada bagaimana pendapatan pajak diperoleh dan apa penggunaannya. penduduk lokal tidak akan menikmati hal ini dalam jangka panjang ketika modal dapat berpindah ke luar. Tidak hanya penduduk lokal tidak mampu mengekspor beban pajak tersebut ketika ditagihkan. Kenyataannya tidak demikian. Jadi misalkan suatu kekayaan yang berada pada daerah A dimiliki oleh penduduk daerah B. sehingga menyatakan secara jelas pentingnya mempertimbangkan kedua aspek tersebut. beban jangka pendek akan berada pada individu luar tersebut sedangkan penduduk lokal menikmati free ride. Walaupun demikian. Akibatnya. Jika semua pajak kekayaan dikenakan dalam kesesuaian kuat dengan prinsip manfaat. semakin kecil pendapatan yang diperoleh dan semakin besar juga kenaikan sewa dan penurunan penghasilan yang dialami oleh penduduk yang berpajak tinggi. Sekarang. seperti PBB.205 dipandang dari perspektif suatu daerah khusus. manfaat-manfaat dari pengeluaran-pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi tidak kurang dari beban pajaknya sehingga pengaruh kombinasi pajak dan pengeluaran akan menyebabkan nilai perumahan menjadi turun. Perbedaan Manfaat. Hal ini juga terjadi pada tingkatan internasional dalam hal perbedaan pajak antar negara. Kebijakan pajak lokal akan melibatkan suatu pilihan yang sulit antara (1) laba yang diperoleh dari pemindahan beban pajak kepada pihak luar melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh orang asing dan (2) bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal asing. demikian pula penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai dari kekayaan dan menarik modal masuk. dan karenanya menimbulkan efek sebaliknya dari kenaikan tarip pajak kekayaan. Sekolah atau layanan-layanan lokal yang lebih baik akan membuat suatu kota atau daerah menjadi tempat yang lebih menarik untuk ditinggali dan menjadi lokasi bisnis. tetapi mereka juga mengalami kerugian terhadap pihak luar karena modal makin sedikit tersedia untuk mereka. penduduk lokal merasakan bahwa sewa meningkat dan upah turun sedangkan pihak luar mengalami keuntungan. Dasar-dasar Keuangan Publik . kedua pengaruh tadi akan saling menghilangkan dengan nilai kekayaan tidak bergantung pada tarip pajak. Perbaikan ini akan meningkatkan permintaan akan rumah dan bangunan. Pajak kekayaan. walaupun secara nasional tidak berpengaruh terhadap distribusi beban pajak. digunakan sebagai sumber pendapatan umum dan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi pajak. mendorong pada peningkatan nilai kekayaan.

dengan distribusi bebannya sejalan dengan penghasilan modal. Akan tetapi hasilnya akan berbeda bila pasar sewa tidak sempurna sebagaimana yang sering terjadi. tetapi (dalam kasus perumahan yang ditinggali pemiliknya) juga dipandang sebagai barang konsumsi yang tahan lama. Hasil ini menunjukkan tambahan beban yang harus ditanggung oleh pemegang saham karena pajak penghasilan wajib pajak badan dan juga perlakuan yang lebih baik kepada pemilik rumah dalam kerangka pajak penghasilan wajib pajak pribadi. Bagaimana pandangan pajak ini. dipindahkan kepada konsumen. Karena pengeluaran perumahan akan menjadi bagian yang semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan. Bagian dari distribusi beban pajak ini kemudian akan menjadi regresif. Dalam kasus ini. Pajak dapat mengarah pada peningkatan batas atas sewa atau pelonggaran dari penentuan harga monopoli yang dibatasi sebelumnya. misalkan separuhnya. tidak ada penghindaran atas pajak. yang merupakan pajak atas pengeluaran perumahan. pajaknya akan bersifat regresif. yaitu pajak atas penghasilan modal? Kunci dari teka teki ini terletak pada fakta bahwa perumahan dapat dipandang sebagai pos investasi. modal yang diinvestasikan pada rumah sewaan akan meminta tingkat penghasilan yang sama dengan modal-modal lain. Sebagian dari pajak akan terserap dalam sewa-kepemilikan ini dan didistribusikan sejalan dengan konsumsi dan bukannya dibagi dengan semua penghasilan modal. Walaupun investor pada jasa-jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi dalam kerangka pajak kekayaan. pajak ini dipandang sebagai pajak atas jasa-jasa konsumsi perumahan. Tingkat pajak kekayaan efektif cenderung akan tinggi pada lingkungan berpenghasilan rendah dan sebagian disebabkan oleh pengenaan Dasar-dasar Keuangan Publik . di mana pemiliknya hanya mempertimbangkan pilihan investasi. dapat direkonsiliasikan dengan interpretasi yang lebih awal. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan badan. kita dapat mengasumsikan suatu pasar yang tidak sempurna dan mempostulasikan bahwa sebagian dari pajak tersebut. pemilik yang menempati akan bersedia menerima sewa imputed yang lebih rendah pada perumahan daripada pada investasi lainnya. tetapi juga pajak penghasilan wajib pajak pribadi dan pajak penghasilan wajib pajak badan. mari kita bandingkan posisi mereka sebagai investor dalam jasa perumahan dengan posisi investor saham perusahaan.206 Keadilan pengenaan PBB dan Pajak Penghasilan. Karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis dan tanah tidak dapat dipindahkan. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah daripada kombinasi ketiga pajak ini. Penjelasan di atas tidak berlaku untuk kekayaan yang disewakan. Karena hal ini. Sebagaimana masyarakat melihatnya. Karena keberatan utama atas pajak kekayaan berasal dari pemilik rumah. Yang tersisa adalah pajak atas rumah tinggal. Jika pasarnya kompetitif. Pola-Pola Alternatif Bagian pajak yang dikenakan kepada tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. Distribusi pembebanannya cenderung progresif. dengan mempertimbangkan tidak hanya pajak kekayaan.

beberapa negara tidak membolehkan kewajiban tidak berkaitan dengan perolehan aset kena pajak.5 persen). India dan beberapa negara Amerika Latin juga menggunakan pajak jenis ini. Negara yang menggunakan pajak ini umumnya menerapkannya sebagai tambahan atas pajak kekayaan. Pajak Atas Kekayaan Bersih Dalam mendiskusikan alasan pengenaan pajak atas kekayaan dan kekayaan.207 pajak pada tarip yang lebih tinggi di tengah-tengah kota pada lingkungan berpenghasilan rendah. Sejalan dengan pandangan partnership dari pajak laba perusahaan. walaupun pada beberapa negara (seperti Jerman dan India) perseroan juga dipajaki. Pajak atas kekayaan bersih. Aspek ini sangat penting pada negara-negara berkembang karena sulitnya mengenakan pajak atas penghasilan modal. yaitu pajak atas kekayaan bersih. Oleh karena itu. dengan pendapatan dari pajak atas kekayaan bersih hanya merupakan bagian kecil (di bawah 5 persen) dari total pendapatan pajak. Orang pribadi diberikan pengecualian dan tarip pajak dapat proporsional (umumnya 1 persen atau kurang) atau progresif ( berkisar sampai 2. negara-negara Skandinavia. Untuk negara-negara lain. kekayaan bersih dari perusahaan harus diperhitungkan kepada pemiliknya. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi dan juga badan. Pajak ini merupakan salah satu komponen penting dalam struktur pajak karena pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap dari cakupan atas penghasilan modal yang tidak efektif dalam kerangka pajak penghasilan. Akan tetapi. pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap untuk pajak pengeluaran. Sebagaimana dalam hal pajak penghasilan. kita membedakan antara argumentasi kemanfaatan yang menunjukkan perbedaan beban kepada pengguna dalam kekayaan yang dikenakan dengan basis in rem dan argumentasi kemampuan untuk membayar yang mengarahkan pada pajak atas kekayaan bersih yang dikenakan secara pribadi. sehingga dapat memberikan perlakuan yang sama pada semua komponen kekayaan bersih. Pajak kekayaan (PBB) – yang diterapkan kurang lebih secara seragam sebagai pajak in rem kepada semua bumi dan bangunan dalam suatu daerah tertentu – tidak mengikuti kedua pola ini. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud dan dalam banyak kasus semua kewajiban hutang dapat dikurangkan. dikenakan sebagai pajak pusat. seperti Belanda. kecuali di Swiss. basisnya harus didefinisikan secara global. dan Swiss. prinsip keseragaman harus diterapkan baik kepada sisi Dasar-dasar Keuangan Publik . Pengalaman berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih Pajak atas kekayaan bersih diberlakukan pada beberapa negara. Tambahan beban pajak ini akan ditanggung pula oleh penyewa. Struktur dan Basis Pajak Basis Pajak. Selain itu. Sekarang kita bahas jenis pajak yang lain yang lebih menarik tetapi jarang digunakan. Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. Jerman. Di kebanyakan negara. pajak ini dikenakan hanya kepada individu.

yaitu sebesar Rp150.208 aset maupun sisi kewajiban pada neraca. ada juga permasalahan dalam penilaian aset.000 10. dan secara khusus dengan administrasi pajak pengeluaran. Demikian juga. basis total untuk suatu pajak atas harta berwujud dan kekayaan bersih akan sama. Akan tetapi. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan semuanya dimasukkan. Jika kita menagih sebesar Rp15. Perolehan aset harus dinyatakan untuk meminimalkan pajak pengeluaran.000. Di sini juga perkiraan juga harus dipergunakan.000 150. yaitu A dan B. aset yang menjadi subjek pajak kekayaan (terutama bila pengenaannya disamakan) dapat dinilai dengan cara itu. Asumsikan suatu keadaan di mana tidak ada hutang publik atau uang yang dikeluarkan pemerintah. dapat memunculkan elemen self enforcement. sedangkan aset lain. Tidaklah mengherankan bila pajak atas kekayaan bersih lama kelamaan akan terdegenerasi menjadi pajak atas bumi dan bangunan saja.000 dan B akan membayar sebesar Rp5. seperti sekuritas yang diperdagangkan. dapat dinilai berdasarkan harga penawaran di pasar. yang posisi kekayaannya adalah berikut: Tabel 19.000 Sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di atas. Jika kita mengumpulkan jumlah yang sama dengan Dasar-dasar Keuangan Publik .000 60. A akan membayar sebesar Rp10. Semua instrumen hutang adalah antara orang pribadi. Semua aset berwujud dan tak berwujud. pernyataan ini akan menambah basis dari pajak atas kekayaan bersih. pemerintah harus memastikan bahwa semua aset telah dinyatakan. kesulitan ini tidaklah sangat besar.000 50. Berkenaan dengan akuntansi untuk asset.000 90. Mengukur Kekayaan Bersih. Kesulitan dalam mengadministrasikan suatu pajak atas kekayaan bersih yang baik cukup besar.000 dari suatu pajak sebesar 10 persen atas semua harta berwujud. perkiraan yang kasar (seperti biaya perolehan dikurangi dengan penyusutan) harus digunakan. Kesulitan yang sama juga terjadi pada hutanghutang yang dapat dikurangkan.000 10. Administrasi pajak atas kekayaan bersih mengharuskan adanya identifikasi atas aset kena pajak dan verifikasi atas hutang yang diklaim.000 A+B 150. Misalnya hanya ada dua orang. Selain itu.000. Bila dikaitkan dengan administrasi pajak penghasilan. Peranan Harta tak Berwujud (Intangibles) Klaim kepada swasta. semua kewajiban hutang juga dikurangkan. Kesulitan-kesulitan yang melekat dalam penilaian saat ini atas semua aset telah didiskusikan dalam kaitannya dengan pajak atas penghasilan modal. Dengan demikian.1: Basis Pajak A B Harta berwujud Hutang Piutang Kekayaan bersih 100. Untuk sisanya. Administrasi ini mengharuskan SPT yang melampirkan neraca tahunan yang berisi daftar harta dan kewajiban pembayar pajak.

000 dan B akan membayar sebesar Rp6.000 20. Klaim terhadap Pemerintah. pasar akan menyesuaikan seperlunya. sehingga sebagian beban dipindahkan dari A ke B. Klaim seperti ini akan menambah kekayaan dari seseorang tanpa mengurangi kekayaan dari orang lainnya.000 Dalam kasus ini. Jika suatu tarip proposional dikenakan. Pasar sekali lagi akan mengkompensasikan untuk pengurangan tingkat pengembalian bersih dari kekayaan. Ketika pajak atas kekayaan dikenakan. Sesuai dengan tabel di atas. hal ini menyarankan bahwa A akan lebih menyukai pajak atas kekayaan bersih sedangkan B akan lebih menyukai pajak kekayaan. distribusi beban akan sama dengan yang terjadi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih.000 masing-masing. Perbedaan lebih lanjut dapat terjadi jika kita mengasumsikan adanya klaim terhadap pemerintah. apakah klaim itu dalam bentuk hutang publik atau uang yang didukung oleh kredit Bank Sentral. suatu tarip sebesar 10 persen.2 persen. Misalnya tabel di atas dimodifikasi sebagai berikut: Tabel 19. peminjam tidak akan bersedia membayar pada tingkat bunga yang sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya karena penghasilan neto mereka dari investasi pada kekayaan akan menurun. Dasar-dasar Keuangan Publik . Untuk mendapatkan sejumlah pendapatan yang sama dengan pajak kekayaan. tetapi beban A akan tetap lebih tinggi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih daripada pajak atas kekayaan.209 menggunakan pajak atas kekayaan bersih. dan mendapatkan Rp9.000 A+B 150. dengan pembayaran sebesar Rp10.000 80. Akan tetapi. keduanya berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarip progresif.000.000 240.000 B 60. Karena pajak pribadi mengharuskan adanya pengenaan pajak berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar.000 70.888 dari A dan Rp5. kita dapat melihat bahwa distribusi beban dari suatu tarip progresif pada kekayaan (di mana basis A dua kali basis B) akan berbeda dengan yang dikenakan pada basis kekayaan bersih (di mana basis A hanya lebih besar 50 persen daripada basis B). A akan membayar sebesar Rp9.000 160. Pada akhirnya. Klaim-klaim seperti ini dapat menjadi tambahan pada basis kekayaan bersih bagi seluruh kelompok secara keseluruhan. Sebaliknya. yaitu sejalan dengan distribusi kekayaan. penagihan sebesar Rp15. pajak atas kekayaan bersih adalah bentuk yang paling baik dari pajak atas kekayaan. pilihan diantara keduanya tidak ada permasalahan. Pada awalnya.000 dan Rp5.000 90.000 berdasarkan pajak atas kekayaan bersih tarip tetap akan mengharuskan pengenaan tarip sebesar 6.112 dari B. Pemberi pinjaman harus puas dengan suatu tingkat bunga yang lebih rendah.2: Basis Pajak Modifikasi A Kekayaan bersih dari tabel sebelumnya Klaim terhadap pemerintah Kekayaan bersih 90.

Dikenakan sekali dan selamanya.210 Bea Atas Modal Satu bentuk pajak kekayaan lainnya adalah bea atas modal. bea ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasisituasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan inflasi setelah perang. Jika sifatnya benar-benar satu kali dan selamanya. akan tetapi asumsi mendasar tentang aplikasinya yang unik dan tanpa antisipasi menyebabkan pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal. Hal ini menambah daya tarik pajak jenis ini sebagai instrumen pajak redistribusi. bea seperti itu berbeda dari bentuk pajak kekayaan lainnya karena tidak ada efek-efek mengganggu terhadap tingkah laku ekonomi. Dasar-dasar Keuangan Publik . yang tidak diantisipasikan atau diharapkan akan terjadi kembali.

suatu pajak atas kekayaan dapat diberlakukan. apabila tarip pajak yang dipakai tidak proporsional. Alasan-Alasan Pengenaan Pajak atas Warisan Pajak atas warisan dapat dikenakan dalam berbagai bentuk dan untuk berbagai alasan. pajak atas warisan tidak akan menjadi sumber pendapatan utama suatu negara. pajak atas warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. perbedaan pengenaan ini dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak. suatu pengecualian dapat diberlakukan. Jika Dasar-dasar Keuangan Publik . Untuk alasan inilah pajak atas warisan secara potensial merupakan elemen yang penting dalam struktur pajak. Walaupun basisnya dikembangkan secara substansial. Orang pribadi dapat menggunakan harta mereka ketika mereka masih hidup tetapi hak kepemilikan mereka berakhir ketika meninggal. Akan tetapi. Sekilas pandang. Pajak atas warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun pada tingkatan lokal. Jika masyarakat ingin membolehkan warisan bebas sampai sejumlah tertentu. Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. tidak ada perbedaan apakah pajak dikenakan atas warisan atau kepada penerima warisan. Masyarakat mungkin ingin membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. Dalam hal ini. Tujuan dan Jenis Pajak Beberapa hal berikut yang memunculkan pengenaan pajak atas warisan pada suatu masyarakat: 1.211 B A B XX PAJAK ATAS WARISAN P ajak atas warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang tidak dikenakan setiap tahun tetapi dikenakan pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan. Akan tetapi.

4. suatu pendekatan yang pertama kali disarankan oleh ekonom Italia. Masyarakat juga dapat membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan.212 masyarakat ingin menyita warisan yang melebihi suatu jumlah tertentu. suatu tarip pajak 100 persen di atas batas tersebut dapat diberlakukan. Tradisi pewarisan merupakan satu faktor utama yang menimbulkan konsentrasi kekayaan. Hanya jika tarip pajaknya proporsional tidak ada perbedaan di antara keduanya. penerimaan dari suatu warisan selayaknya dimasukkan sebagai penghasilan bagi ahli waris. yaitu tanpa usahanya sendiri. pajak dapat diterapkan kepada ahli waris. 2. Jika diinginkan untuk membolehkan beberapa perolehan harta melalui warisan tetapi membedakan antara perolehan-perolehan besar dan kecil. Dalam mencapai tujuan 1 dan 3 di atas. Pilihan di antara tujuan-tujuan ini dan pemilihan pajak yang tepat merupakan permasalahan yang harus dibedakan dengan pertanyaan bagaimana transaksi-transaksi pada saat kematian Dasar-dasar Keuangan Publik . Pandangan ini dapat dinyatakan bahwa penggantian kepada pajak atas warisan dari pajak atas penghasilan modal yang progresif akan mengurangi pengaruh disinsentif pada menabung dan investasi. Pajak pada saat kematian dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan daripada sebagai tambahan pajak atas transfer. Walaupun tujuannya berbeda. tingkatan tarip pajak atas warisan yang dapat diterapkan akan naik ketika kekayaan diwariskan secara berurutan. masyarakat dapat menerapkan pajak atas warisan (yang mengurangi hak pewaris membagikan hartanya) dan pajak kepada ahli waris yang dirancang untuk membatasi hak ahli waris untuk menerima dan/atau mengkompensasikan ketidaktercakupan warisan ke dalam penghasilan kena pajak. Pajak atas warisan dapat digunakan untuk mengurangi ketidakadilan dalam distribusi kekayaan ini. 3. keduanya tidak harus mutually exclusice. Dalam hal ketiadaan memasukkan hal tersebut. Berdasarkan pendekatan tambahan kemampuan ekonomis dari pajak penghasilan. dengan kekayaan dari warisan merupakan sumber lebih dari separuh kekayaan dari priapria kaya dan merupakan sumber hampir seluruh kekayaan wanitawanita kaya. suatu pajak atas warisan (yang taripnya dikaitkan dengan penghasilan dari ahli waris) dapat dipandang sebagai koreksi definisi penghasilan yang kurang baik. pilihan antara pendekatan pajak atas warisan atau pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai dengan merancang pajak tersebut. tarip progresif dapat diterapkan. 6. Hal yang sama juga dapat dinyatakan untuk pernanan dari pajak atas warisan (yang berkaitan dengan konsumsi dari pewaris) sebagai koreksi untuk definisi basis yang efektif dalam hal pajak pengeluaran yang tidak memasukkan warisan dalam basisnya. Eugino Rignano. Pajak atas warisan dapat dipandang sebagai suatu alternatif dari pajak atas penghasilan modal selama masa hidup penerimanya. Masyarakat juga dapat mempunyai tujuan yang lebih umum mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil. Oleh karena itu. dalam hal ini. 5. Suatu masyarakat mungkin ingin menetapkan batasan-batasan yang semakin meningkat atas hak seseorang untuk memindahkan kekayaannya pada generasi-generasi berikutnya. Dalam hal ini.

Sumbangan sosial juga penting dalam pajak atas warisan/hibah. Kontribusi bagi Lembaga Sosial. Konsekuensi yang mungkin sulit dicegah adalah gangguan atau pengurangan terhadap kendali keluarga atas bisnis sebagai akibat dari pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga. sebagaimana juga dalam pajak penghasilan. Bisnis Keluarga. bukannya sebesar harga perolehan aslinya. membuat peningkatan harga sebelum kematian tidak dipajaki. hanya peningkatan harga dari saat kematian saja yang diperhitungkan.213 (penerimaan suatu warisan atau memberikan warisan) harus diperlakukan dalam suatu pajak penghasilan atau pengeluaran. terjadi juga pada pajak warisan. Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. Organisasi-organisasi yang didukung oleh sumbangan-sumbangan tidak kena pajak telah mencapai tujuan-tujuan yang berguna yang tidak dapat dicapai oleh anggaran negara. Apabila salah satu pasangan meninggal. aturan sampai seberapa jauh hubungan kekeluargaan menyebabkan pengecualian dari pengenaan pajak sangat bergantung pada peranan keluarga dalam kaitannya dengan hak untuk memindahkan harta setelah meninggal. Keberatan ini sebenarnya bukan masalah besar karena dapat diatasi dengan aturan-aturan yang liberal untuk pembayaran yang dicicil atau ditunda. Jadi. Salah satu keberatan yang dimunculkan adalah pajak atas warisan dapat membuat ahli waris harus melikuidasi perusahaan dengan persyaratan-persyaratan yang tidak menguntungkan dalam rangka membayar pajak tersebut. Para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. Walaupun demikian. Peranan dari sumbangan sosial dalam pajak warisan. Unit tersebut dapat dijual secara keseluruhan atau sebagian dari ekuitas dapat dipindahkan kepada pihak luar. akan tetapi pembebasan pajak ini mendorong timbulnya kendali privat yang tinggi dalam penggunaan dana yang sebenarnya dana publik. Pengurangan karena Status Pernikahan. Walaupun demikian. aset untuk tujuan pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal. warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup bebas dari pajak. Basis yang baru ini kemudian digunakan untuk tujuan pemajakan atas penghasilan modal pada saat penjualan aset tersebut oleh ahli waris. Di Amerika Serikat. Dasar-dasar Keuangan Publik . Hal ini sesuai dengan pendekatan unit keluarga dalam pajak penghasilan. melibatkan persoalanpersoalan budaya. Permasalahan-Permasalahan Khusus Capital gain. pembayaran pajak akan mengharuskan suatu likuidasi. Pada umumnya tidak ada batasan pengurangan atas sumbangan sosial dalam kerangka pajak atas warisan. Harta yang diwariskan kepada pasangan yang masih hidup diperlakukan seolah-olah harta tersebut adalah harta bersama. Permasalahan perlakuan terhadap unit keluarga yang muncul pada pajak penghasilan. sosial dan politik yang sudah di luar pembahasan kebijakan pajak. walaupun sebelum kematian kepemilikannya terpisah. yang tidak harus melibatkan pemecahan unit usaha.

Dasar-dasar Keuangan Publik . 2. Analisis ini akan menyajikan informasi yang berguna bagi pengambil keputusan dalam menentukan proyek yang akan dilaksanakan dari berbagai alternatif proyek yang diajukan. termasuk menghitung manfaat yang dikorbankan (opportunity cost) karena melepaskan alternatif proyek. Langkah tersebut bertujuan untuk mengetahui nilai sekarang (present value) dari manfaat proyek dibandingkan dengan anggaran biaya yang dibutuhkan untuk membiayai proyek tersebut. Walau langkah-langkah diatas terlihat sederhana. Tujuan analisis ini adalah untuk meyakinkan pengambil keputusan bahwa proyek yang akan dilaksanakan adalah yang paling efisien dan memiliki marginal benefit yang lebih besar dari marginal cost nya. harus memperhitungkan pula seluruh dampak sampingan (externalities) yang timbul dari proyek tersebut. Ada tiga langkah pokok dalam melakukan analisis manfaat dan biaya Mengidentifikasi manfaat dan biaya dari setiap proyek yang diusulkan. 3. Tingkat diskonto juga harus ditentukan dengan benar guna membandingkan manfaat sekarang dan manfaat yang akan datang dari berbagai alternatif proyek. dan Mendiskontokan manfaat yang akan datang. teknik.214 B A B XXI ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA ATAS BARANG DAN JASA SOSIAL nalisis manfaat dan biaya (cost benefit analysis) adalah suatu cara untuk menentukan bobot dari berbagai alternatif proyek pemerintah. Biaya pun harus diterapkan dengan benar. A yaitu: 1. dan logika. namun analisis manfaat dan biaya yang benar membutuhkan kombinasi dari keahlian ekonomi. Mengevaluasi dan mengkonversi manfaat dan biaya tersebut kedalam suatu nilai uang. Dalam mengukur manfaat.

perlu juga diperhatikan jangan sampai terjadi perhitungan ganda. Selain itu. suatu proyek pembangunan bendungan telah menyebabkan beberapa daerah menjadi kekurangan air. Pada proyek-proyek tertentu terdapat kendala dalam menghitung besarnya manfaat yang diperoleh. maka langkah selanjutnya adalah mengevaluasi serta mengkonversi manfaat dan biaya tersebut kedalam nilai uang tertentu. kenaikan penghasilan yang dinikmati orang yang menerima proyek pendidikan dapat juga dimasukkan sebagai manfaat proyek tersebut. manfaat dapat mencakup kenaikan produksi sebagai akibat berkurangnya kecelakaan kerja. Manfaat langsung adalah manfaat yang diterima oleh pihak-pihak yang terkait langsung dengan output dari proyek yang bersangkutan. Dalam menilai output dari suatu proyek diperlukan estimasi mengenai permintaan dan surplus konsumen atas Dasar-dasar Keuangan Publik . Manfaat dapat dibagi kedalam dua kategori yaitu. Dalam proyek peningkatan keselamatan kerja. Dalam menghitung biaya proyek. Mengevaluasi dan Mengkonversi Manfaat dan Biaya Setelah berhasil mengidentifikasi seluruh manfaat dan biaya yang timbul. Dalam contoh irigasi diatas. bagaimana cara mengkuantifkan manfaat dari proyek pendidikan maupun proyek kesehatan? Dalam proyek pendidikan. orang akan memperhitungkan pula potensi lahan yang dapat dikembangkan. mengidentifikasi biaya yang dibutuhkan serta manfaat yang dihasilkan selama umur ekonomis proyek tersebut. Manfaat tidak langsung adalah manfaat yang diterima oleh pihak-pihak yang tidak terkait langsung dengan output proyek yang bersangkutan. nilai tanah yang dilalui proyek irigasi diperkirakan akan bertambah mahal karena disamping harga tanah itu sendiri. Sebagai contoh. Biayabiaya yang timbul akibat kesulitan air tersebut harus pula dimasukkan sebagai biaya dalam proyek pembangunan bendungan itu. Selanjutnya. hanya kenaikan riil pada output atau kesejahteraan saja yang perlu diperhitungkan. kita harus memperhitungkan pula biaya tidak langsung (externalities) yang timbul karena proyek tersebut. Contoh. manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. Sebagai contoh. dalam suatu proyek irigasi yang bertujuan untuk meningkatkan areal persawahan maka yang menjadi manfaat langsung adalah seluruh hasil bersih yang diperoleh petani yang tinggal di areal yang dilalui oleh jaringan irigasi tersebut. disamping memasukkan unsur biaya langsung. Oleh karena itu bila kita memasukkan kenaikan harga tanah dan juga hasil panennya dalam menghitung manfaat. Dalam menghitung manfaat. Misalnya. yang menjadi manfaat tidak langsung adalah meningkatnya kesuburan tanah di daerah yang tidak dilewati jaringan irigasi secara langsung. maka kita telah melakukan penghitungan ganda karena hasil panen sudah tercermin dalam harga tanah.215 Mengidentifikasi Manfaat dan Biaya Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan proyek-proyek yang diusulkan beserta masing-masing outputnya.

kita sulit menentukan secara langsung manfaat proyek tersebut mengingat outputnya dinikmati oleh masyarakat secara kolektif. dalam proyek peningkatan kesehatan masyarakat. Jika tingkat suku bunga bank sebesar 5% setahun. Oleh karena itu.24 sekarang kita akan mendapatkan Rp.24 akan menjadi Rp. dengan asumsi suku bunga perbankan positif. disebut juga sosial rate of discount yang digunakan untuk menghitung present value dari penerimaan dimasa yang Dasar-dasar Keuangan Publik . Nilai Rp. kita harus menaikkan harga bahan bakar tersebut dalam menghitung biaya yang dibutuhkan suatu proyek. Tingkat suku bunga. semakin rendah present value dari X. dalam menghitung manfaat proyek kita harus menurunkan harga output agar sesuai dengan kondisi harga pasar yang sebenarnya. 95. 95.24)(0. namun karena pasokannya dimonopoli oleh PLN maka harga listrik yang diterapkan adalah harga monopolistik yang lebih tinggi dibanding dengan harga pasar persaingan sempurna. Diakhir tahun. Alternatifnya. Kesulitan baru timbul bila hasil proyek tidak bisa dijual atau merupakan benda yang tidak berwujud. 95. Misalnya. 100. Cara yang sama juga dapat diterapkan untuk menghitung manfaat proyek pendidikan. 100 satu tahun yang akan datang. 95. Demikian pula dengan faktor input. Mendiskonto Manfaat yang akan datang Alasan kita melakukan diskonto karena nilai uang Rp 100 saat ini lebih tinggi dibanding nilai uang Rp 100 di masa yang akan datang. Misalnya.24 adalah present value dari Rp. 100 setahun yang akan datang. r. present value (PV) dapat dihitung dengan rumus sbb: PV = dimana: X (1 + r )n X = adalah nilai uang masa yang akan datang r = tingkat suku bunga n = jangka waktu Semakin tinggi kita menerapkan tingkat suku bunga.05) = Rp. 95. listrik merupakan output proyek pembangkit listrik yang dapat dipasarkan. Kesulitan lain dapat pula timbul apabila input maupun output suatu proyek merupakan barang yang dapat dipasarkan namun harganya tidak sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya.216 output yang bersangkutan. dalam proyek yang akan menghasilkan padi. misalnya bahan bakar. Sebagai contoh. manfaat proyek dapat diestimasi dengan cara menghitung besarnya kenaikan penghasilan yang dinikmati oleh masyarakat yang menjadi obyek proyek kesehatan tersebut. uang sebesar Rp. maka hanya dengan menyimpan uang sebesar Rp.Secara umum. kita memerlukan estimasi permintaan dan surplus konsumen terhadap komoditi padi untuk menghitung manfaat dari proyek tersebut.24 + (Rp. Bila harga input yang digunakan terlalu rendah karena input tersebut menerima subsidi.

Tingkat Diskonto 0% 5% 10% Tabel 21.90. Seluruh tahap dalam menganalisis manfaat dan biaya adalah sama pentingnya bila hendak menghasilkan informasi yang akurat. Namun demikian. PV = X1 X2 + 1 (1 + r ) (1 + r ) 2 Pengaruh Tingkat Diskonto terhadap Present Value Mengapa memilih tingkat diskonto yang tepat merupakan hal yang penting? Pertama.100 = Rp. Proyek B menghasilkan Rp. 90 Rp. jika suatu proyek menghasilkan penerimaan sebesar X1 pada tahun pertama. penentuan tingkat diskonto akan berdampak pada peringkat proyek yang diajukan. Diasumsikan ada 2 alternatif proyek. yang akan dipilih salah satunya untuk dilaksanakan. maka present value dari seluruh penerimaan tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: PV = ∑ Xi i i =1 (1 + i ) n Misalnya.100 (1 + 0) 2 Rp.82. 5 %. 90 pada saat itu juga. 90 Rp. 100 pada tahun kedua.7 (1 + 0. Tingkat diskonto yang rendah cenderung menguntungkan proyek yang berjangka panjang dibanding proyek yang berjangka lebih pendek.217 akan datang.100 = Rp. Bila suatu proyek menghasilkan penerimaan sebesar Xi per tahun selama beberapa tahun mendatang. Berikut ini disajikan ilustrasi pengaruh tingkat diskonto yang berbeda dalam memilih suatu proyek. Suatu analisis yang sudah menetapkan tingkat diskonto secara tepat namun salah dalam mengkalkulasi manfaat dan biayanya maka akan menghasilkan informasi yang menyesatkan.1)2 Dasar-dasar Keuangan Publik .6 (1 + 0. 0 pada tahun pertama dan Rp.1: Tingkat Diskonto dan Peringkat Proyek Present value Present Value Proyek A Proyek B Rp.100 = Rp. present value dari dua proyek tersebut adalah sebagai berikut. dan 10 %. dan X2 pada tahun kedua. 90 Rp. Pada tingkat tingkat diskonto 0 %.05)2 Rp. Proyek A menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp. karena dalam rangka mengevaluasi manfaat dan biaya secara akurat. present value seluruh penerimaan tersebut adalah.

Alasan kedua perlunya ditentukan tingkat diskonto secara akurat adalah semakin besar tingkat diskonto yang digunakan maka akan semakin banyak proyek-proyek pemerintah yang akan ditolak pelaksanaannya. Sebagai contoh. pajak. Hal ini berarti pemerintah dituntut untuk lebih efisien agar dapat menerapkan tingkat diskonto yang lebih rendah. maka keuntungan bersih perusahaan dari hasil investasinya hanya setengah dari keuntungan aktual yang diperoleh. Namun pada tingkat diskonto 10 %. Sejauh ini. Tingkat diskonto sosial merupakan tingkat suku bunga dimana baik penabung maupun investor rela melepaskan dananya guna membiayai kegiatan atau proyek pemerintah. jika perusahaan dikenakan pajak penghasilan sebesar 50 persen. Tingkat diskonto sosial merupakan opportunity cost dari dana tersebut bila digunakan untuk membiayai proyek-proyek pemerintah. Sebagai contoh. Tingkat diskonto yang lebih besar dari bunga tabungan berarti opportunity cost belanja pemerintah lebih besar dibanding kepuasan masyarakat yang hilang. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 21. Present value Proyek B bervariasi tergantung pada tingkat diskontonya. Agar tidak timbul pemborosan. Suatu proyek yang menghasilkan present value negatif akan dapat menjadi positif bila menggunakan tingkat diskonto yang lebih rendah. Penggunaan tingkat diskonto sosial sebagai tingkat diskonto dalam menganalisis suatu proyek adalah untuk meyakinkan bahwa tidak terjadi salah kalkulasi dalam menganalisis manfaat dan biaya proyek. 90 karena langsung menghasilkan manfaat di awal proyek. Pada Tabel 8. jika suku bunga tabungan adalah sebesar 10 persen. Menentukan Tingkat diskonto Sosial (Social Rate of Discount) Tingkat diskonto sosial mencerminkan tingkat return yang dapat dihasilkan dari suatu dana jika dikelola pada sektor swasta atau masyarakat. maka dana tersebut harus dapat menghasilkan keuntungan lebih dari 20 persen supaya dapat menutup biaya bunga. Proyek A lebih menguntungkan dibanding Proyek B. semakin kecil nilai manfaat yang diterima dimasa yang akan datang.1 terlihat bahwa present value Proyek B lebih besar daripada present value Proyek A pada tingkat diskonto 0 % dan 5 %. maka proyek pemerintah harus dapat menghasilkan manfaat yang sama atau lebih besar dari 10 persen agar ada aliran dana dari sektor swasta ke sektor publik. dana tersebut tidak boleh digunakan oleh pemerintah jika ternyata alternatif penggunaannya di sektor swasta menghasilkan manfaat sosial yang lebih tinggi. tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat suku bunga umum yang dipakai untuk menghitung bunga tabungan dan investasi oleh masyarakat.1 Dasar-dasar Keuangan Publik . semakin besar tingkat diskonto yang digunakan. Bila dalam investasinya tersebut perusahaan harus membayar bunga sebesar 10 persen atas dana yang dipinjamnya.218 Present value Proyek A selalu Rp. Tingkat return yang diharapkan oleh penabung dan investor tidak selalu sama karena adanya distorsi dalam perekonomian (misalnya pajak). beserta keuntungan yang diharapkan. Secara umum.

2. semakin banyak dana yang disediakan oleh penabung. Kurva S adalah supply dana yang siap diinvestasikan. titik keseimbangan pasar akan terjadi pada titik E. Setiap titik dalam kurva ini menunjukkan gross return yang diperoleh perusahaan atau investor untuk setiap dana yang diinvestasikannya.1 Pengaruh Pajak terhadap Tingkat Return S 20 = rg Return (persen) 16 E i = 10 = rn E’ D = keuntungan D’ = keuntungan setelah pajak 0 F2 F1 Dana tabungan dan investasi per tahun Pada Gambar 21. Jika dana sebesar F2 ini hendak diinvestasikan ke proyek pemerintah. Sekarang.219 Gambar 21.1. akan sama dengan bunga yang dibayarkan kepada penabung. maka Dasar-dasar Keuangan Publik . Pada Tabel 8. hal ini digambarkan oleh pergeseran kurva D ke D’. Gross return sebesar 20 persen ini hanya akan menghasilkan penghasilan neto sebesar 10 persen (rn). Titik keseimbangan yang baru sekarang terletak di E’. semakin sedikit dana yang diminta oleh investor untuk diinvestasikan. dan dalam contoh ini diumpamakan sebesar 16 persen. Semakin tinggi gross return. Pada kondisi tidak ada pajak. diasumsikan investor dikenakan pajak penghasilan sebesar 50 persen sedangkan bunga tabungan tetap tidak dikenakan pajak. Dampak pengenaan pajak penghasilan ini adalah penerimaan bersih investor turun hingga setengahnya. rg. gross return yang dikehendaki investor naik menjadi 20 persen (rg) karena harus membayar pajak. Penerimaan kotor (gross return) yang diperoleh perusahaan. Setiap titik dalam kurva S menggambarkan suku bunga yang harus dibayarkan kepada penabung agar mau menyimpan dananya untuk kepentingan investasi. kurva D adalah tingkat permintaan dana untuk investasi tanpa dipengaruhi pajak. Akibat turunnya dana yang diinvestasikan dari F1 ke F2 per tahun. Semakin tinggi tingkat bunga.

000 1. Namun.000. Jika memasukkan faktor risiko dan inflasi dalam menghitung penghasilan neto. dalam contoh diatas bisa lebih tinggi dari 20 persen. Pertama. Semakin tinggi faktor risiko suatu proyek. Contoh: Ada 2 proyek yang diajukan. Tahun 0 1 2 Net Benefit Proyek A . Pengaruh Inflasi Inflasi dapat menjadi masalah dalam analisis manfaat dan biaya karena ia mempengarungi net present value dari manfaat bersih suatu proyek.000 Tingkat Inflasi pertahun adalah 5%. Hal lain yang dapat mempengaruhi tingkat diskonto selain pajak adalah tingkat risiko. Ada dua alternatif cara untuk mengatasi masalah inflasi ini. opportunity cost nya hanya 10 persen. maka investor akan menginginkan gross return yang lebih tinggi lagi. maka NPV nya dihitung dengan menggunakan tingkat suku bunga murni saja (yaitu nominal interest rate setelah dikurangi tingkat inflasi). kemudian tingkat inflasinya disesuaikan. Kedua.102.000.1.000. Hasil dari penyesuaian terhadap inflasi adalah sebagai berikut Tahun 0 1 2 Net Benefit Proyek A .575.1. kita perhitungkan dahulu pengaruh tingkat inflasi terhadap net benefit yang diterima pada tahun ke-1 dan ke-2.000 Net Benefit Proyek B .000 500. jika faktor risiko tidak diperhitungkan maka titik keseimbangan pasar akan terletak pada rate sebesar 10 persen. A dan B. semakin tinggi pula gross return yang diharapkan dari proyek tersebut.000.000.1.000 525.000 1.000 1. manfaat dan biaya suatu proyek diperhitungkan dahulu.220 tingkat diskonto yang digunakan adalah 20 persen. Nominal Tingkat Bunga adalah 15% Bila menggunakan cara pertama. bila dana tersebut digunakan untuk konsumsi. bila manfaat dan biaya dihitung tanpa memperhitungkan inflasi. NPV manfaat dan biaya yang sudah memasukkan unsur inflasi tersebut didiskonto dengan menggunakan nilai nominal tingkat bunga. Nominal tingkat bunga adalah tingkat bunga murni ditambah dengan tingkat inflasi.000 Net Benefit Proyek B . Dalam contoh diatas. Dan. Manfaat bersih (net benefit) kedua proyek tersebut adalah sebagai berikut.500.000 1. yang mempunyai jangka waktu selama 1 dan 2 tahun.500 Dasar-dasar Keuangan Publik .1.

yaitu: 1. Rumus yang digunakan untuk menghitung Net Benefit Criterion adalah Net _ Benefit _ Criterion :B − C = ∑ dimana: Bi = manfaat tahun ke-i Ci = biaya tahun ke-I r = tingkat diskonto ( Bi − Ci ) i i =1 (1 + r ) n Jika ada beberapa proyek yang menghasilkan manfaat bersih positif. perhitungan dengan cara kedua akan menghasilkan NPV sebagai berikut: − 1. Ada tiga kriteria dalam menentukan peringkat proyek. Menentukan Peringkat Proyek Jika ada beberapa proyek yang diajukan.565 (1 + 15%)0 (1 + 15%)1 − 1.000.000 1.000 500.170 (1 + 15%)0 (1 + 15%)1 (1 + 15%)2 NPV ( A) = Bila menggunakan cara kedua.000.221 Setelah itu.5%). Maka. NPV proyek A dan B dihitung dengan menggunakan tingkat suku bunga murni sebagai tingkat diskonto nya. NPV proyek A dan B dihitung dengan menggunakan nominal tingkat bunga sebagai tingkat diskonto nya. 2.991 (1 + 10%)0 (1 + 10%)1 (1 + 10%)2 NPV ( A) = Perhitungan dengan cara pertama maupun kedua menghasilkan NPV yang hampir sama dan keputusan yang diambil pun sama. Perhitungannya adalah sebagai berikut: − 1. proyek yang menghasilkan manfaat bersih positif akan dipertimbangkan untuk dilaksanakan. Tingkat suku bunga murni pada contoh ini adalah 10% (15% . maka proyek yang dipilih adalah proyek yang menghasilkan manfaat bersih yang paling besar.000. Net Benefit Criterion (Net Present Value) Dengan kriteria ini.102. Benefit-Cost ratio Dasar-dasar Keuangan Publik .000 + = 363. maka biasanya mereka akan diurut sesuai dengan besarnya NPV manfaat bersih yang dihasilkan oleh masingmasing proyek tersebut.000 1.500.000 525.636 (1 + 10%)0 (1 + 10%)1 − 1.000.000 + = 369.000 1.000 NPV ( B) = + + = 280.000.575. yaitu memilih melaksanakan Proyek A karena ia menghasilkan NPV manfaat bersih yang paling besar.500 NPV ( B) = + + = 290.000 1.

000 1.000) 0 200.000 Bila tingkat suku bunga yang berlaku adalah 5% per tahun.000 1.000) 0 200.000 2.000.490 Dasar-dasar Keuangan Publik .900. peringkat proyek tersebut dapat ditentukan sebagai berikut.000 (200.550.000 1.000 1.900.000 750.000 100.350.000 2.000 0 (100.000 2 750. Rumus yang digunakan untuk menghitung adalah B Benefit − Cost _ Ratio : = C dimana: Bi = manfaat tahun ke-i Ci = biaya tahun ke-I r = tingkat diskonto ∑ B (1 + r ) i n i ∑ C (1 + r ) i i =1 i =1 n i Pada kriteria Benefit-Cost Ratio.000 1.000) 750.000 200.000 250. Contoh: Anggota DPRD suatu daerah sedang mempertimbangkan usulan pemda setempat untuk mengucurkan dana guna membiayai proyek pemanfaatan lahan kosong. Proyeksi penerimaan dan pengeluaran dari masing-masing proyek tersebut adalah sebagai berikut.000 4 1.000.000 3 750.000 250. Analisis masing-masing proyek adalah sebagai berikut: Proyek A Net Benefit Criterion: NBC = (100.000 250.000.550.000 1. proyek yang dipilih adalah yang menghasilkan rasio lebih dari 1 (satu).550.000 1.000 200.550.222 Benefit-Cost ratio merupakan modifikasi dari Net Benefit Criterion. maka yang dipilih adalah proyek dengan rasio paling besar.900.000 200.000) 1. Ada dua usulan yang diajukan yaitu Proyek A dan Proyek B.000.000 100.350.000 1.000 1.000) (200.000) 50.119. Arus Penerimaan dan Pengeluaran Proyek (dalam ribuan rupiah) Proyek A Proyek B Tahun Penerimaan Pengeluaran Net Benefit Penerimaan Pengeluaran Net Benefit 0 100.000 200.000 1.000 1.000 5 1. Bila ada beberapa proyek menghasilkan rasio diatas 1.000 + + + + + 0 1 2 (1 + 5%) (1 + 5%) (1 + 5%) (1 + 5%)3 (1 + 5%)4 (1 + 5%)5 = 6.000 (200.900.000 1 (200.350.350.

05)1 (1.05)5 B / C _ Ratio = 100. + 200.000 + 250.. Rumus untuk mencari IRR adalah sebagai berikut: IRR = ∑ i =1 n ( Bi − C i ) =0 (1 + r ) i IRR adalah tingkat suku bunga ( r ) yang diperlukan untuk menghasilkan NPV = 0..000 + 200.365. Dengan kata lain.05)5 B / C _ Ratio = 200.05)0 (1.350.200 = = 6.2 1. Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return adalah tingkat suku bunga pada posisi apabila selisih antara present value manfaat dan present value biaya sama dengan nol (PV manfaat – PV biaya = 0).350.000 1.414 1.000 (1. tingkat suku bunga pada kondisi proyek tersebut mencapai titik impas.05)5 7.05)1 (1.710 0 Proyek B Net Benefit Criterion: NBC = (200.900. + 1.000) (200.350.000 1.05)5 7.000 (1. pemilihan proyek tidak hanya diukur dari manfaat dan biaya semata.000 + .000 + . + 1.005.05)0 (1.000 (1.176. + 100. Bila IRR lebih besar dari tingkat suku bunga pasar maka proyek layak dilaksanakan..550.360.05)0 (1..000) 1...223 Benefit-Cost Ratio: + 50..05)0 (1.296. 3.000 + . maka proyek dengan IRR yang tertinggilah yang akan dilaksanakan.05)1 (1.382 0 Berdasarkan analisis Net Benefit Criterion dan Benefit-Cost Ratio. Dasar-dasar Keuangan Publik .000 + + + + + (1 + 5%)0 (1 + 5%)1 (1 + 5%)2 (1 + 5%)3 (1 + 5%)4 (1 + 5%)5 = 6.05)1 (1. Di negara berkembang seperti di Indonesia. Jika ada dua atau lebih proyek yang memiliki IRR diatas suku bunga pasar.464 = = 5. Ketiga metode analisis tersebut di atas hanya merupakan salah satu ukuran untuk dapat menolak atau menerima pelaksanaan proyek. Proyek A memiliki peringkat diatas Proyek B.350. sehingga DPRD sebaiknya memilih Proyek A untuk dilaksanakan.000 (1.000 1..082 Benefit-Cost Ratio: + 0 + . dan bila IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga pasar maka proyek tersebut tidak layak dilaksanakan.

224 namun juga harus memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memberikan kesejahteraan menyeluruh secara nasional. karena tujuan pemilihan proyek adalah memaksimalkan kemakmuran secara keseluruhan dan bukan memaksimalkan keuntungan per proyek saja. Dasar-dasar Keuangan Publik .

Dasar-dasar Keuangan Publik . Pertumbuhan belanja publik sangat erat kaitannya dengan tuntutan kemajuan masyarakat dan dikehendakinya pertimbangan sosial yang diperankan oleh pemerintah dalam menjalankan kebijakannya. apabila dibandingkan dengan total pendapatan nasional. Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Dalam memahami faktor penyebab pertumbuhan belanja publik.225 B A B XXII STRUKTUR BELANJA PUBLIK B ab ini berkaitan dengan struktur belanja publik dan permasalahan kebijakan dalam penyusunan program belanja. Belanja publik juga cenderung mengalami kenaikan porsinya. dan belanja transfer. dan porsi barang publik selalu menunjukkan peningkatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa diantaranya adalah sebagai berikut: Pertumbuhan Pendapatan per Kapita Proporsi antara barang pribadi dan barang publik selalu berubah sesuai dengan kenaikan pendapatan per kapita. Kedua faktor ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain. Kajian-kajian struktur belanja publik perlu mempertimbangkan kondisi objektif ini. Dari studi empiris telah dibuktikan bahwa belanja publik menunjukkan angka yang cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Faktor belanja barang dan jasa. Implikasinya adalah bahwa kebijakan anggaran yang efisien menghendaki adanya peningkatan rasio pembelian pemerintah terhadap pendapatan nasional. perlu dibedakan faktor antara belanja barang dan jasa.

Untuk barang publik. terdapat kecenderungan yang meningkat. Kebutuhan akan barang modal ini harus lebih besar pada awal pembangunan ekonomi. yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan investasi pemerintah. kecenderungan seperti diatas mempunyai dua kemungkinan. pendidikan dasar dan sanitasi . Pada tahap awal. pelabuhan dan instalasi listrik. Ernst Engel seperti dikutip oleh Musgrave mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pengeluaran untuk barang-barang tertentu. Akhirnya. seperti polusi dan kemacetan kota. Sedangkan kebutuhan lainnya. Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga tidak mudah dilakukan oleh pihak swasta. Dengan demikian. seperti pendidikan tinggi dan pelayanan kesehatan. Selama pendapatan rata-rata meningkat. Pola pertumbuhan belanja publik untuk penyediaan barang modal kelihatannya terbalik. Ditambah. pembangunan ekonomi menimbulkan kebutuhan khusus terhadap barang modal. peningkatan per kapita seiring dengan perkembangan perekonomian yang berubah dari negara agraris (yang diasumsikan berpendapatan rendah) menjadi negara industri (yang diasumsikan berpendapatan tinggi). maka pola konsumsi bagi perekonomian diharapkan akan meningkat pula. Barang modal tersebut mempunyai manfaat yang bersifat eksternal. Barang publik yang merupakan kebutuhan dasar (bukan kemewahan) . seperti penyelidikan angkasa luar dan pangkalan perahu. seperti jalan.mengalami kecenderungan menurun. dapat disimpulkan bahwa tidak dapat diestimasikan secara tepat kecenderungan yang akan terjadi pada belanja publik untuk barang konsumsi dan barang modal yang diakibatkan pertumbuhan pendapatan per kapita. investasi dalam sumber daya manusia dan biaya pendidikan akan mengalami peningkatan selama pendapatan meningkat seiring dengan laju pembangunan. barang-barang pelayanan umum yang merupakan barang mewah.seperti keamanan. maka proses produksi juga berubah. bila pendapatan meningkat. Perubahan teknologi dapat meningkatkan atau menurunkan kepentingan penyediaan barang publik yang mempunyai manfaat eskternal besar sehingga harus disediakan oleh pemerintah. Pengamatan bisa dilakukan juga pada belanja publik dalam penyediaan barang modal. Kadang kecenderungannya meningkat. dan peran pemerintah akan semakin menurun dalam pengadaan barang modal. akan mengalami kecenderungan yang semakin meningkat. tetapi pengembangan industri akan menimbulkan akibat sampingan. Permintaan barang publik akan semakin meningkat dengan meningkatnya pendapatan per kapita.226 Biasanya. dan kadang menurun. dimana belanja modal diperlukan dalam jumlah yang besar yang memerlukan pengembalian jangka panjang. Jika teknologi berubah. Perubahan Teknologi Perubahan teknologi mempunyai pengaruh penting dalam pertumbuhan porsi belanja publik. apabila sektor swasta telah terbuka kesempatannya menanamkan modal dalam pengembangan industri.

Perubahan Populasi Perubahan populasi terutama akan meningkatkan belanja pendidikan dan kesehatan. karena terjadi perubahan komposisi umur. penemuan mesin pembakaran mengakibatkan berkembangnya industri mobil. Dengan meningkatnya industri mobil. Sejak tahun 1930-an. tak kalah pentingnya adanya pengaruh perubahan biaya jasa publik terhadap pengeluaran publik. Sebuah barang publik dapat disubstitusi dengan barang pribadi. Biaya Relatif Selain perubahan-perubahan kuantitas seperti diuraikan diatas. permintaan jalan raya bergerak sangat cepat. porsi belanja keperluan sosial dalam pendapatan nasional meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan transfer. sifat penyediaan barang dan jasa publik yang dapat mengubah komponen pendapatan nasional menjadi kurang apabila dibandingkan dengan perubahan teknologi. sehingga belanja sektor publik meningkat dibandingkan masa kereta kuda dan mesin uap yang digunakan untuk kereta api. kecuali terbukti teknologi angkasa luar menjadi barang pribadi. perbedaan respon terhadap inflasi bukanlah merupakan faktor utama. Perubahan teknologi di masa datang yang menyebabkan membengkaknya anggaran pemerintah adalah bidang teknologi angkasa luar merupakan faktor penting dalam porsi pengeluaran negara. Hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan barang-barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. maka bisa diestimasikan bahwa porsi belanja publik akan meningkat. Menurut Musgrave. sehingga biaya penggantian akan meningkat. Faktor Pengeluaran dari Transfer Porsi Pendapatan. dan penyediaan jaminan hari tua. Meski pun biaya jasa publik menjadi lebih mahal. Kebutuhan pendidikan juga akan mendorong peningkatan permintaan perumahan.227 Sebagai contoh. Urbanisasi Proses urbanisasi dapat menimbulkan permasalahan bagi pemerintah. Dalam jangka panjang. Sebagai contoh. bukan berarti porsi belanja publik dalam pendapatan nasional harus meningkat. Contoh lain adalah perubahan teknologi persenjataan yang mengakibatkan meningkatnya pengeluaran militer. yang pada akhirnya menyebabkan pertumbuhan anggaran. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya inflasi harga faktor produksi yang dibeli pemerintah lebih cepat dibanding dengan rasio deflasi dalam pendapatan nasional. Peningkatan populasi yang disertai dengan mobilitas populasi juga mendorong pertumbuhan kota baru yang tentunya menyebabkan kebutuhan peningkatan pelayanan umum. karena sifatnya yang elastis. Contohnya adalah Dasar-dasar Keuangan Publik . kecuali bila permintaan barang publik bersifat inelastis. kemacetan di perkotaan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan umum. Perubahan teknologi juga mempercepat barang menjadi usang.

diperlukan peningkatan penyediaan kebutuhan penduduk berusia lanjut.228 peningkatan asuransi hari tua. Kecuali. Sistem ini ditujukan untuk menyeimbangkan besarnya distribusi pendapatan melalui transfer dari anggaran pengeluaran ke program pembelian pemerintah yang ditujukan bagi penyediaan barang dan jasa untuk kelompok berpenghasilan rendah. Namun demikian. Apabila terjadi penurunan pertumbuhan populasi dalam bentuk meningkatnya penduduk yang lanjut usia. Pada kasus ini. Program ini lebih merupakan alat untuk menyediakan jaminan hari tua dengan dasar pembiayaan swadaya. peningkatan pendapatan rata-rata tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan. perubahan hanya terjadi pada tingkat yang tidak signifikan atau distribusi pendapatan tetap stabil. dan hanya sedikit mengarah pada pemerataan. Akan tetapi dalam kenyataannya. dan C harus membiayai masing-masing senilai $50.000. Tindakan pendistribusian kembali pendapatan tersebut dapat dipengaruhi dari dua arah. Adanya perubahan ruang lingkup redistribusi pendapatan dapat timbul akibat faktor-faktor demografi.000. proyek semacam itu sangat sulit dicapai. Misalkan suatu jalan akan dibangun dengan biaya $150.000. Manfaat yang akan diperoleh A dan B masing-masing $70. dengan memperlunak konsep. prinsip Pareto Optimum dilanggar. sehingga memerlukan peningkatan dalam rasio pengeluaran publik untuk penduduk usia lanjut terhadap pendapatan nasional. jika terdapat ketimpangan pendapatan oleh karena peningkatan pendapatan per kapita. kebutuhan untuk pendistibusikan kembali pendapatan akan menurun jika pendapatan rata-rata meningkat. Namun demikian. jika tujuan pendistribusian kembali pendapatan adalah untuk menyesuaikan pendapatan keluarga. sehingga A. efisiensi proyek tetap ada apabila orang-orang yang diuntungkan (A dan B) dapat menutupi kerugian Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga diusulkan agar konsep efisiensi diperlunak. Tingkat pendapatan minimum ditentukan dalam pengertian rata-rata. Karena nilai manfaat lebih besar dari biayanya.000 dan C adalah $40. Kedua. penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut yang perlu dilakukan. tingkat efisien semacam itu dapat dicapai. Pertama. sehingga ruang lingkup pendistribusian kembali – yaitu transfer pendapatan sebagai suatu prosentase dari pendapatan nasional – akan tetap konstan. sehingga manfaat agregat adalah $180. Secara teoritis. Efisiensi dan Keadilan dalam Belanja Publik Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain. Penjelasan ini perlu dihubungkan dengan perubahan sosial dan politik. Sehingga.000 yang akan dibebankan dari general fund. jika tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. apakah ada tekanan politis untuk mendistribusikan pendapatan kembali atau tidak. meski pun C mengalami kerugian. maka dikatakan bahwa proyek tersebut layak dibangun. B. perubahan tersebut diikuti dengan pergeseran rasio penduduk pensiun ke usia kerja.

jika distribusi yang berlaku tidak optimal.229 pihak lain ( C ) dan dipandang masih lebih baik dibandingkan dengan tidak ada proyek. evaluasi sosial yang tercermin dari kesejahteraan sosial akan menyimpang dari evaluasi swasta dan proyek II akan dipandang lebih layak. Tetapi dalam kenyataan. Perlu diadakan persyaratan tambahan agar proyek tetap dikatakan efisien yaitu bahwa penggantian kerugian harus benar-benar dilaksanakan. Berdasarkan kriteria ini. Akan tetapi. masyarakat berpenghasilan tinggi akan menerapkan nilai yang lebih tinggi dibanding masyarakat berpenghasilan rendah. berupa penyediaan taman serupa untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. pihak C tidak menerima manfaat dan kerugiannya belum tentu akan diganti. sementara dana terbatas untuk satu proyek. sementara alternatif II memilih lokasi yang tingkat upahnya Dasar-dasar Keuangan Publik . sehingga proyek II akan dipandang lebih layak. Aspek Keadilan Dalam meninjau aspek keadilan dalam belanja publik. Hal ini menunjukkan kecocokan dengan konsep efisiensi yang lebih luas. sehingga salah satu harus dikorbankan. Permasalahan timbul dalam menyusun peringkat manfaat kedua proyek tersebut. dimisalkan. Petimbangan distribusi dimulai dengan penentuan apakah apakah bobot distribusi dapat digunakan dalam menilai besarnya manfaat dan biaya. Cara yang lebih tepat adalah dengan mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih dan kondisi ini menghasilkan proyek yang efisien menurut prinsip Pareto optimum.000 dapat disahkan dan proyek dikatakan efisien. pertimbangan mengenai distribusi dan fungsi obyektif dapat dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan proyek. Jika kondisi yang berlaku adalah distribusi optimal. Apabila nilai nominal proyek yang dijadikan dasar pertimbangan. Tetapi. Proyek I. pertimbangan sosial dapat menyimpulkan sebaliknya. Setiap rupiah yang dibelanjakan oleh masyarakat miskin dapat dinilai lebih tinggi. Efisiensi proyek tergantung pada bagaimana mendefinisikan efisiensi tersebut. dimana kedua proyek mempunyai biaya dan tingkat penggunaan yang sama. dalam bentuk transfer dari A dan B kepada C. Alternatif I akan memilih lokasi konstruksi di daerah yang upahnya tinggi. tetapi dengan biaya yang berbeda. karena mereka mampu membayar lebih tinggi dan proyek I dianggap lebih layak. Yang pertama. jumlah agregat manfaat bersih senilai $30. dimisalkan. Kondisi yang sama juga muncul jika ada dua proyek yang menghasilkan jasa yang sama. dimisalkan ada dua buah proyek yang dipertimbangkan. Dimisalkan akan dibangun sebuah kapal laut. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen juga akan optimal dipandang dari segi sosial. berupa penyediaan taman bermain di lingkungan masyarakat berpenghasilan tinggi dan Proyek II. Problem utamanya adalah bahwa preferensi seseorang tidak mudah untuk diungkapkan dan mungkin saja proyek tersebut tidak efisien.

Misalkan juga biaya modal. 1. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan sebagai alat pengoreksi aspek distribusi. belanja transaksi hutang. Akibatnya. pemerintah bermaksud mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prinsip pengorbanan yang sama. 2. Evaluasi proyek jangka panjang perlu mempertimbangkan dinamika perkembangan perekonomian yang berkaitan dengan harga relatif dan pengaruh distorsi harga. lokasi I dianggap lebih layak. proyek II akan lebih diutamakan. analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek. bahan baku dan transportasi di lokasi I lebih rendah. sehingga total biaya di lokasi I akan lebih rendah. Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. Penjumlahan hasil tertimbang ini kemudian akan digunakan dalam analisis nilai manfaat yang diharapkan. bila bobot distribusi pendapatan diperhitungkan. belanja untuk jasa-jasa umum. karena memberikan manfaat kepada mereka yang berpenghasilan rendah.230 rendah. Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah belanja operasi untuk organisasi eksekutif dan legislatif. Risiko Perubahan Perekonomian Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. Klasifikasi Belanja Publik. Fungsi obyektif dapat digunakan sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. dan belanja administrasi transfer antar unit pemerintah. Tanpa mempertimbangkan aspek distribusi. Hasil yang berisiko dapat diestimasikan dengan cara pembobotan berbagai hasil berdasarkan angka probabilitasnya. Atau bobot dapat diperoleh dari analisis pajak penghasilan. Salah satu kriteria yang sering digunakan untuk mengklasifikasikan belanja pemerintah adalah seperti diuraikan dalam Government Finance Statistics Manual. karena adanya dimensi waktu. Risiko perubahan perekonomian mempunyai implikasi perlunya pendiskontoan atas manfaat maupun biaya. Dasar-dasar Keuangan Publik . Klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah adalah sebagai berikut: Belanja jasa publik umum. jika distribusi pendapatan tidak optimal. belanja riset dasar. Pengaruh penundaan satu tahun akan menyebabkan perubahan nilai sekarang atas perhitungan neto manfaat dan biaya. Kalsifikasi belanja publik dapat dikategorikan berdasar berbagai macam kriteria. karena nilai manfaat bersih lebih tinggi. dimana jumlah probabilitas adalah sama dengan satu. Dapat disimpulkan bahwa. berdasarkan asumsi bahwa dalam menerapkan tarip pajak. Tetapi. Belanja Pertahanan.

budaya dan agama. 4. riset pertahanan dan sebagainya. Belanja perlindungan sosial. Dasar-dasar Keuangan Publik . komunikasi dan belanja untuk perindustrian lainnya. transportasi. Belanja perumahan dan public utilities. Belanja Pendidikan. proteksi keragaman hewani maupun tata kota. jasa rumah sakit umum. belanja penerangan jalan. Belanja perlindungan lingkungan. jasa kepada pasien. dan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya. Pendidikan mencakup belanja pendidikan dasar. 10. Belanja kesehatan meliputi perlengkapan dan peralatan kesehatan. belanja kehutanan dan pertanian. sistem penyediaan air bersih. dan belanja sosial lainnya. 3. Belanja urusan ekonomi Belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja urusan ketenagakerjaan. jasa pengadilan. belanja jasa kebudayaan. pertambangan. dan juga riset untuk perlindungan publik. Belanja dalam kategori ini diantaranya adalah pengembangan perumahan dan pemukiman. 8. belanja perlindungan anak dan keluarga. Belanja yang termasuk disini diantaranya adalah belanja pengelolaan limbah dan polusi. dan lain-lain. belanja komersial dan ekonomi. Belanja dalam kategori ini dibedakan dengan belanja pertahanan. 7. termasuk belanja pendukung pendidikan lainnya. dan pendidikan tinggi. Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja perlindungan terhadap manusia lanjut usia (manula). belanja untuk mengatasi pengangguran. Belanja kesehatan. 5. termasuk risetnya. dan risetnya. jasa penyiaran. jasa pemadam kebakaran. Belanja perlindungan umum. 6. jasa rumah tahanan dan penjara.231 Belanja-belanja dalam kategori ini antara lain adalah belanja pertahanan militer dan sipil. belanja energi dan bahan bakar. Belanja rekreasi. 9. pendidikan menengah. jasa urusan keagamaan dan komunitas. dan dianatara contohnya adalah belanja jasa kepolisian. bantuan militer untuk asing. Diantara belanja yang termasuk dalam kategori ini adalah belanja jasa olahraga dan rekreasi.

232 B A B XXIII KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM D alam bab ini akan dibahas lebih rinci berbagai jenis belanja serta masalahmasalah yang ditimbulkannya. Perencanaan yang berhasil memerlukan penerjemahan tujuan dan kebijakan sektor kedalam kebutuhan sektor dan subsektor secara individual dan juga kedalam rincian yang lebih detail pada proyek-proyek Dasar-dasar Keuangan Publik . Menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyekproyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan. Perlunya Analisis Sektor Banyak pendapat tentang pengelompokan pengeluaran publik kepada sektor. Memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara. untuk lebih fokus pada pembahasan materi. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan. Sehingga. Membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. dan hubungan antar sektor diantara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. prioritas. pendekatan pengelompokan sektor diasumsikan mengacu pada laporan-laporan Bank Dunia. 3. Pembahasan akan dimulai dari jenis belanja pertahanan nasional. Tujuan analisis sektor menyangkut beberapa tujuan: 1. akan tetapi sektor-sektor yang dibahas disini didasarkan pada klasifikasi Bank Dunia. 4. 2. pembangunan jalan raya. Mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. belanja pendidikan dan perlindungan lingkungan berupa pembangunan taman rekreasi. dengan melihat pengalaman-pengalaman empiris di berbagai negara.

tetapi juga bisa mencegah konflik yang juga menimbulkan pengrusakan. masalah kekuatan militer tidak hanya meningkatkan akibat pengrusakan. 2. seseorang dapat saja memandang kebijakan tersebut defensif. belanja pertahanan nasional merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan anggaran. udara dan marinir. Suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subyektif. kebijakan upah dan tingkat bunga. Terakhir. Masyarakat tidak dapat menyediakan sendiri keamanan bagi dirinya dan proteksi yang diberikan haruslah secara kolektif. dan perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro. lapangan kerja. sehingga contoh penyediaan jasa pertahanan menjadi contoh klasik yang dapat dibahas. Dengan demikian. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. sektor. Masalah utama dalam belanja pertahanan. ruang lingkup nasional. Belanja pertahanan selain menghadapi masalah yang kompleks dalam perencanaan. seperti kesediaan untuk menerima risiko konflik militer. Alasannya. operasi dan pemeliharaan. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu. 3. meski pun menjadi kebijakan yang sulit diperkirakan. selama tahun 80-an. Melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor. Belanja pertahanan dibagi menjadi belanja personil. tapi orang lain dapat berpandangan bahwa kebijakan tersebut ofensif. Pertahanan Nasional. meskipun akhirnya dilampaui oleh pertumbuhan program sosial. Analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. Yang paling penting. Analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil. tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat nasional. laut. Ada beberapa cara atau metode yang dapat digunakan dalam analisis 1. dan pemilihan sistem persenjataan tertentu. Masalah lainnya adalah menyangkut keseimbangan antara angkatan darat. Keputusan politik memegang peranan angat penting dalam menentukan pola kebijakan pertahanan ini. Dalam dekade tersebut.233 tertentu. variabel-variabel kebijakan umum seperti nilai tukar. penelitian dan pengembangan. regional atau internasional. juga melibatkan masalah-masalah kebijakan luar negeri. belanja pertahanan menjadi faktor utama anggaran pemerintah dalam pembelian barang dan jasa dari swasta. pembelian barang dan jasa. Dasar-dasar Keuangan Publik . sub sektor dan proyek. Di Amerika Serikat. struktur pajak. perencanaan pertahanan nasional harus menemukan keseimbangan antara senjata konvensional dan modern.

terserapnya bakat ilmiah oleh industri pertahanan akan menyebabkan industri swasta tersebut ke arah penurunan.namun di lain pihak. Dengan melihat anggaran pertahanan Amerika Serikat saat ini. Di lain pihak. Terdapat pergeseran dari permintaan swasta untuk barang konsumsi dan perumahan kepada pembelian pemerintah untuk sektor pertahanan. pabrik pembuatan kapal laut.234 Efektifitas biaya modernisasi kekuatan strategis. maupun Administrations Strategic Defensive Initiative (sering disebut perang bintang). dampaknya terhadap perkenomian negara layak dilakukan pembahasan. Kebutuhan pertahanan nasional dan berbagai masalahnya memerlukan perancangan yang kesemuanya harus dipenuhi dengan seefisien mungkin. Jalan Raya yaitu: 1. Keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik menyangkut tiga hal Kerjasama yang rapi antara pemerintah federal. pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal lainnya. Bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan prosentase belanja pertahanan terhadap pendapatan nasionalnya kecil. seperti aerospace. Program riset dan pengembangan yang dilakukan untuk kepentingan pertahanan nasional berpengaruh besar terhadap perkembangan teknologi dan pertumbuhan produktivitas. Kelayakan proyek-proyek militer. sampai sekarang masih dipertentangkan oleh para ilmuwan. sangat sulit memperkirakan apakah akan ada pembatasan persenjataan strategis dengan melakukan pemotongan anggaran. mengingat peran Amerika dalam perang melawan terorisme sangat besar bahkan menjadi sponsor bagi program internasional ini. misalnya Jerman dan Jepang. Pertumbuhan produktivitas jangka panjang akan tergantung pada peningkatan jumlah orang berbakat ilmiah dan kontribusi anggaran dalam peningkatan aktivitas ilmiah tersebut. Dampak terhadap industri Karena pertahanan merupakan kontributor utama dalam defisit anggaran pemerintah federal AS. Dari satu pihak.seperti komputer . mulai land-based missiles. produktivitas yang ditimbulkan oleh sektor pertahanan akan dialihkan ke sektor swasta . Dampak terhadap pertumbuhan produktivitas. Perdebatan yang muncul di Amerika Serikat tentang sistem persenjataan adalah apakah harus memodernisasi kekuatan strategis ataukah harus membangun kekuatan strategis baru. Dasar-dasar Keuangan Publik . dan pabrik persenjataan elektronik. 2. Dampak pertama terjadi pada besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan. sektor ini secara nyata juga mendukung kesempatan kerja di sektor swasta. ternyata mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibanding dengan negara dengan prosentase belanja pertahanan yang lebih besar. submarine-based missiles. seperti Amerika Serikat. Jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. mengingat risikonya yang sangat tinggi. Industri pertahanan mencakup sektor manufaktur.

Pembangunan jalan raya sebagian besar didanai oleh pemakai jalan. meskipun pengendalian sistem pendidikan tetap berada di bawah pemerintah lokal. meskipun tidak terlalu besar. penerimaan berasal dari pajak bahan bakar. Sebagian yang lain dilakukan oleh pemerintah federal dengan mentransfer hampir seluruh penerimaannya melalui grant kepada tingkat pemerintah dibawahnya dan sebagian besar diterima oleh negara bagian. jalan raya dibiayai dari general fund. Masalah-masalah kebijakan pendidikan. Pengeluaran untuk jalan raya.235 3. maupun pemerintah lokal lainnya. di Amerika Serikat. meskipun kontribusinya tidak sebesar pemerintah. Dana negara bagian yang disalurkan kepada pemerintah lokal dalam bentuk bantuan dan subsidi. yang selanjutnya dipakai untuk membangun jalan negara bagian dan sebagian lainnya ditransfer ke pemerintah lokal dalam bentuk grant. Perkiraan pajak yang besar. di Amerika Serikat. Untuk tingkat federal. yaitu penghasilan yang ditransfer dari Highway Trust Fund dalam bentuk grant antar pemerintahan. Penerimaan dari tarip tol tidak terlalu siginifikan dibanding dengan sumber pendanaan lainnya. Sedangkan pemerintah lokal bertanggungjawab terhadap jalan raya di daerahnya. Kerjasama antar unit pemerintah. penerimaan jalan raya diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor. Pemerintah federal juga ikut membiayai pembangunan pendidikan. baik federal. terutama untuk mendanai pendidikan tingkat tinggi. negara bagian. termasuk jalan antar negara bagian. siapa yang berhak memperoleh pendidikan. dan apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta juga. bagaimana proses pengajaran berlangsung. Negara bagian pada umumnya mempunyai kebebasan yang cukup memadai dalam merancang struktur fiskal masing-masing dan dalam mengendalikan pemerintah lokal yang secara langsung bertanggungjawab dalam penyediaan pendidikan. karena pendidikan pada dasarnya tetap merupakan jasa publik yang harus disediakan oleh pemerintah. Hal ini telah mendapat dukungan undang-undang di negara bagian dan telah pula diakui oleh Mahkamah Agung bahwa setiap Dasar-dasar Keuangan Publik . Swasta ikut memberikan andil membiayai pendidikan juga. Pembagian kerja dan pembiayaan ini menunjukkan perhatian yang besar dari pemerintah. terutama dibiayai oleh pemerintah lokal dan negara bagian. Pendidikan Anggaran pendidikan. Pembiayaan melalui pungutan kepada pemakai. Pada tingkat negara bagian. yang salah satunya berasal dari pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal serta dari pembebanan khusus lainnya. Sedangkan pada tingkat pemerintah lokal. Permasalahan yang ada dalam kebijakan pendidikan menyangkut apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurikulum). paling banyak dilakukan pada tingkat negara bagian.

236
warganegara berhak atas perlakukan yang sama dalam bidang pendidikan. Namun demikian, tidak ada keharusan menurut konstitusi bahwa pendidikan harus sebanding di seluruh negara bagian. Pendidikan dasar dan menengah sebagian besar disediakan oleh pemerintah, melalui sekolah negeri. Pada tingkat ini, timbul perdebatan tentang perlunya monopoli pemerintah atas sekolah pada tingkatan itu. Hasil yang efisien akan dapat diperoleh jika terdapat persaingan yang sehat antara lembaga pendidikan negeri dan swasta. Penganjur pendidikan berpendapat bahwa pendidikan merupakan kepentingan umum sehingga harus disediakan oleh pemerintah, akan tetapi mereka juga setuju bahwa tidaklah berarti bahwa pendidikan harus disediakan oleh sekolah negeri. Konsumen pendidikan mengharapkan pemberian pendidikan yang sama atau paling tidak ada standar minimum. Masalah pokok yang juga timbul adalah berkaitan dengan tingkat pendidikan. Persaingan yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah swasta perlu didukung dengan kebijakan dalam menjamin persaingan yang sehat oleh pemerintah. Persoalan pendidikan bukanlah hanya persoalan fiskal saja, akan tetapi merupakan persoalan politik.

Fasilitas Rekreasi
Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda yakni manfaat bagi pemakai, manfaat bagi masyarakat di sekitarnya dan manfaat lain - seperti keindahan alam. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik yang bersifat barang akhir atau barang konsumsi, tidak seperti jalan raya yang bersifat barang antara. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat barang tersebut dapat dinikmati oleh publik. Pengukuran manfaat atas barang ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pengukuran cara pertama dengan menghitung pungutan kepada pemakai. Dengan cara ini, kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarip yang akan dibebankan kepada para pengguna yang kemudian dibandingkan dengan biaya proyek. Cara kedua adalah dengan melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi. Dari penghitungan tersebut, kurva permintaan dapat disimulasikan sehingga dapat dijadikan dasar pengukuran manfaat. Kemudian, ada cara ketiga dengan analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. Cara lain adalah dengan penghitungan manfaat yang dapat dilakukan dengan menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi keluar rumah. Sebagai alternatif, dapat dilakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai fasilitas ini dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana. Selain berbagai manfaat diatas, perlu juga dipertimbangkan manfaat dalam bentuk lain dari suatu fasilitas rekreasi. Sebagi contoh, proyek sumber daya Dasar-dasar Keuangan Publik

237
air dapat mempunyai manfaat ganda, selain untuk rekreasi juga dapat digunakan untuk konservasi sumber daya air. Contoh lain adalah sebuah bendungan dapat dinilai manfaatnya sebagai pembangkit tenaga listrik, pengendalian banjir, irigasi, selain ditujukan untuk rekreasi. Analisis pasar dapat digunakan dalam penilaian manfaat atas fasilitas rekreasi, meski pun bukan satu-satunya cara. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik sehingga penilaian dan pembobotan sosial atas fasilitas rekreasi harus lebih diutamakan, bukan penilaian seperti yang dilakukan dalam pengadaan fasilitas swasta. Dan, hal ini dapat dianggap sebagai subsidi untuk jenis jasa swasta. Tujuan non finansial tertentu, misalnya keindahan alam dan margasatwa, harus dipertimbangkan, meskipun tidak dapat diukur dengan mudah melalui pengujian pasar.

Dasar-dasar Keuangan Publik

238

B A B XXIV
KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL

T

erdapat berbagai macam bentuk tunjangan sosial yang dikelola pemerintah. Contoh yang diuraikan dalam bab ini merupakan contohcontoh tunjangan sosial utama yang umumnya terdapat di negara-negara maju. Sampai seberapa jauh mana tingkat tunjangan diberikan tergantung pada kemampuan finansial masing-masing negara.

Tunjangan kepada Penghasilan Rendah
Di Amerika Serikat, terdapat sejumlah program tunjangan yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Komponen-komponen utama program tersebut antara lain sebagai berikut: Medicaid. Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Fammilies with Dependent Children) yang sering disebut sebagai program kesejahteraan. Kriteria-kriteria tersebut antara lain adalah orang yang mempunyai pendapatan terbatas menurut kriteria SSA (Supplementary Security Income), serta semua orang yang berumur diatas 65 tahun. Bantuan diberikan dalam bentuk Medicare yaitu asuransi kesehatan yang preminya dibayar oleh pemerintah suatu negara. Program ini biasanya dirancang dan dikelola oleh negara bagian dengan berpedoman pada standar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Jaminan Penghasilan Tambahan. Tunjangan ini diberikan dalam bentuk pembayaran tunai kepada orang-orang yang penghasilannya atau aset seseorang kurang dari jumlah minimum yang ditetapkan. Program ini dikelola oleh pemerintah federal.

Dasar-dasar Keuangan Publik

239
Kupon Makanan. Rumah tangga (tidak terbatas umur) berhak memperoleh kupon makanan jika mempunyai aktiva atau berpenghasilan kotor yang kurang dari nilai yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Meskipun demikian, program ini diberikan melalui pemerintah lokal. Perumahan Murah. Program ini merupakan program pemerintah federal dimana subsidi perumahan diberikan dalam bentuk hipotik berbunga rendah bagi petani berpenghasilan rendah. Tunjangan Kesejahteraan. Program AFDC menetapkan bahwa pemerintah federal memberikan bantuan kepada setiap negara bagian – baik uang tunai maupun dalam bentuk lain – yang kemudian dipakai untuk menunjang keluarga yang mempunyai anak dibawah 18 tahun yang belum mandiri. Standar yang digunakan dapat berbeda antara satu negara bagian dengan negara bagian lain. Program kesejahteraan ini paling banyak menimbulkan perdebatan. Program ini dipandang sebagai program yang merendahkan martabat karena persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria. Tunjangan yang diberikan dinilai tidak memadai untuk standar kehidupan minimum yang layak. Selain itu, program ini dipandang tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat, karena tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat – sering disebut tarif pajak marjinal. Titik permasalahan telah berubah dari memberikan keringanan dalam ekonomi kepada kesejahteraan anak dalam keluarga yang berorang tua tunggal. Untuk mengatasi kritik ini, pola tunjangan alternatif mulai dipertimbangkan. Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. Dengan demikian alternatif ini akan menjamin tingkat minimum yang cukup sesuai ketersediaan dana sosial pemerintah. Namun demikian, kebijakan pemberian tunjangan alternatif ini dapat mengurangi jumlah bantuan yang dapat diberikan kepada golongan yang paling membutuhkan. Pola alternatif lain adalah bentuk pajak penghasilan negatif. Bantuan diberikan kepada orang-orang dengan pendapatan rendah atau yang tidak berpendapatan. Jika pendapatan kotor meningkat, maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif yang terhutang. Prinsip ini merupakan perluasan prinsip perpajakan progresif yang telah diterima umum dan berbagai cara untuk menggabungkan prinsip pajak negatif ke dalam struktur pajak positif telah dipertimbangkan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

240

Asuransi Sosial
Komponen-komponen utama dari asuransi sosial ini di Amerika Serikat meliputi sistem asuransi sosial OASI (Old Age and Survivors Insurance), HI (Health Insurance), dan DI (Disability Insurance). Asuransi Pensiun dan Cacat. Peraturan OASI menetapkan bahwa program ini mencakup semua pekerja berusia dibawah 65 tahun dan bekerja di bidang komersial serta industri - kecuali jalan kereta api dan karyawan pemerintahan yang mempunyai skema lain - berhak mendapatkan asuransi pensiun dan cacat yang preminya bersumber dari penerimaan pajak penghasilan upah dan gaji (payroll tax). Prinsipnya adalah menggabungkan kontribusi pemberi kerja dan karyawan. Asuransi Kesehatan. Setiap individu berhak atas jaminan sosial pensiun dan juga berhak atas Medicare pada usia 65 tahun. Tunjangan ini untuk memberikan perlindungan dasar terhadap biaya jasa rumah sakit, biaya rawat jalan, dan jasa perawatan kesehatan rumah. Perdebatan sekitar asuransi kesehatan ini menyangkut apakah asuransi hanya mencakup orang yang berusia lanjut atau harus diperluas kepada seluruh penduduk, dan kalau diperluas bagaimana bentuknya. Perdebatan muncul karena menyangkut pembiayaan yang sangat besar, pengaruhnya terhadap jasa medis yang diberikan, kebebasan memilih dokter, dan peranan asuransi swasta. Asuransi Pengangguran. Program ini dibiayai dari pajak upah dan gaji federal dan pajak tambahan dari negara bagian yang dibayarkan oleh pemberi kerja. Semua kontribusi dari pemerintah federal dan negara bagian dibayarkan kepada dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund.

Sistem Tunjangan Sosial Terkini.
Seiring dengan perkembangan pemikiran aspek keadilan, sistem tunjangan sosial juga mengalami perubahan. Sistem tunjangan dalam bentuk tunai dipandang oleh para ekonom dapat menimbulkan efek yang negatif bagi golongan penghasilan rendah dalam hal produktivitasnya, sehingga golongan penghasilan tinggi mempunyai preferensi memberikan kontribusinya dalam bentuk non tunuai. Salah satu perubahan yang substansial dari sistem kesejahteraan di Amerika Serikat berubah sejak diundangkannya Undang Undang Rekonsiliasi Kesempatan Kerja dan Tanggungjawab Personal tahun 1996. Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (disingkat TANF) yang pada intinya mengatur hal-hal dibawah ini. 1. Menurut aturan AFDC, setiap orang yang mempunyai pendapatan dibawah batasan tertentu dan memenuhi persyaratan tertentu diberikan bantuan manfaat tunai secara mutlak tanpa pandang bulu. TANF mengubah aturan bantuan tunai tersebut kecuali dalam hal bahwa

Dasar-dasar Keuangan Publik

241
bantuan secara tunai tersedia hanya temporer – tidak setiap saat berdasarkan ada tidaknya prgram tunjangan tunai tersebut. Secara umum, TANF mengatur bahwa individu tidak dijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. Setiap orang dewasa yang normal (tidak cacat) yang telah menerima pembayaran bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam suatu kegiatan yang ditujukan untuk membuat individu tersebut dapat menghidupi dirinya sendiri. Setiap negara bagian diberikan grant dari pemerintah federal untuk mendanai program kesejahteraan dimana jumlahnya adalah tetap, kemudian negara bagian tersebut melaksanakan prgram kesejahteraannya sepanjang tepat sasaran dalam batasan grant tersebut. Dengan demikian, struktur pemberian bantuan kesejahteraan negara bagian dikendalikan oleh pemerintah federal. Suatu negara bagian dapat menggunakan grant tersebut untuk membayar bantuan secara tunai, melaksanakan program pelatihan kerja, melaksanakan program pembatasan kehamilan, atau program lainnya yang sejenis.

2. 3.

4.

Dasar-dasar Keuangan Publik

federalisme fiskal (fiscal federalism). Bosnia Herzegovina Sumber: Bird dan Vaillancourt (1998) Menurut Bird dan Vaillancourt (1998). Perancis dan Inggris mencerminkan pola ini Dasar-dasar Keuangan Publik . di beberapa negara yang berbentuk federal. Brasil. Afrika Selatan Negara Transisi Cina. Kanada Negara Berkembang Indonesia. Dan sebagaimana dikemukakan oleh Norregaard (1995). Kedua. baik dalam negaranegara yang pada dasarnya berbentuk federal maupun negara yang berbentuk kesatuan. apapun bentuk pemerintahan suatu negara. terdapat dua model hubungan fiskal antar pemerintahan yang berlaku saat ini (lihat Tabel 25-1). Jepang Amerika Serikat. akan selalu memunculkan pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship). Konsep federalisme fiskal maksudnya adalah Pemerintahan Daerah Tingkat II (Kabupaten/Kota) merupakan kepanjangan tangan dari Pusat. Pertama. baik itu negara federal maupun negara kesatuan (unitary). Argentina. Tunisia Pakistan. pemerintahan negara bagian (state) bukan merupakan pelaku otonom. Atau. Kolumbia. terdapat perbedaan-perbedaan dalam interval luas dalam struktur kelembagaan dan hubungan keuangan pusat dan daerah.242 B A B XXV KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH D alam konteks desentralisasi fiskal. Vietnam Rusia. Tabel 25-1: Susunan Rak Desentralisasi Fiskal Kelompok Negara Federalisme Fiskal Keuangan Federal Negara Maju Perancis. keuangan federal (federal finance). India. Maroko.

model keuangan federal (federal finance) lebih cocok diterapkan untuk beberapa negara. serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. masing-masing pemerintahan memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. di Amerika Serikat. principal (Pemerintah Pusat) dapat secara sepihak menentukan dan mengubah baik tanggung jawab pengeluaran maupun pendapatan Pemerintah Daerah dan pengaturan hubungan keuangan antar pemerintahan dalam upaya mengatasi permasalahan-permasalahan informasi yang tidak simetri. Berbeda dengan model federalisme fiskal. Delegasi adalah pelimpahan wewenang untuk tugas tertentu kepada organisasi yang berada di luar struktur birokrasi reguler yang dikontrol secara tidak langsung oleh Pemerintah Pusat. pada umumnya menganut model keuangan federal. batas-batas resmi. Di Amerika Serikat (yang berbentuk negara federal). wewenang. parishes (suatu wilayah pemerintahan gereja. kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah bersifat “top down” dan berpola dekonsentrasi2 atau maksimalnya berpola delegasi3. state dibagi ke dalam counties (wilayah kabupaten). Maroko dan Tunisia adalah untuk negara berkembang. serta Cina dan Vietnam adalah contoh negara transisi (Bank Dunia. konsentrasi kekuasaan di pusat demikian tinggi. Dalam model federalisme fiskal. yaitu Lousiana). 1996). negara yang berbentuk federal. serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan melalui sebuah undang-undang. model hubungan fiskal yang terjadi adalah hubungan fiskal antara Pemerintah Federal (Pusat) dengan Pemerintah Negara Bagian/Propinsi (state) dan hubungan fiskal antara Pemerintah Negara Bagian/Propinsi (state) dengan Pemerintah Lokal (Kabupaten/Kota). 1 Indonesia di sini maksudnya adalah sebelum keluarnya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Menurut teori ini. serta perbedaan-perbedaan tujuan antara principal dan agent (Pemerintah Daerah).5 Di mana. counties merupakan agen utama pemerintahan regional dari pemerintahan propinsi dan memiliki memiliki kewenangan (authority) independensi yang signifikan.243 untuk kelompok negara-negara maju (Bennet. Di Amerika Serikat. 1996a). sementara Indonesia1. 1990). dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory4. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat di Daerah. Pihak yang menerima wewenang mempunyai keleluasaan (discretion) dalam penyelenggaraan pendelegasian tersebut. Dalam perspektif ini. Namun. terutama negara-negara yang memiliki keanekaragam dalam aspek geografis dan etnis (Bird. 1994b serta Bird dan Chen. Contoh yang paling aktual adalah Amerika Serikat dan Kanada. fungsi. Dalam model keuangan federal. 2 3 4 5 Dasar-dasar Keuangan Publik . Secara teoritis. penyerahan fungsi. Pendelegasian wewenang ini biasanya diatur dengan ketentuan perundang-undangan. atau townships (Kota). Implikasi dari hubungan fiskal model federalisme fiskal ini adalah berbagai bentuk transfer dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (Dati I dan Dati II) dalam rangka untuk menggalakkan otonomi regional dan untuk memperbaiki infrastruktur lokal. walaupun wewenang terakhir tetap pada pihak pemberi wewenang (sovereign-authority). biasanya akan dibelanjakan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan pedoman dan sektor-sektor yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

model keuangan federal juga berlaku. sesuai dengan argumen ini. Oleh karenanya. maka dalam suatu sistem fiskal yang terdesentralisasi.244 Bahkan. Argentina. setiap individu dapat memilih untuk tinggal di sebuah komunitas atau masyarakat yang sesuai dengan preferensi mereka dalam rangka untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial. sebagaimana diatur oleh Undang-undang Nomor 25/1999. Karena preferensi setiap individu terhadap barang publik berbeda. Namun demikian. Indonesia secara tidak langsung telah menerapkan model keuangan federal. Pemerintah Daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. Efisiensi Teori desentralisasi didasarkan pada asumsi bahwa Pemerintah Pusat hanya dapatmenyediakan barang dan jasa secara lintas wilayah secara konsisten. Keputusan mengenai pengeluaran publik yang Dasar-dasar Keuangan Publik . keadilan (equity). terdapat keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal. dan efisiensi (Musgrave dan Musgrave. Disain fiskal antar pemerintahan juga memiliki implikasi penting atas] keadilan dan stabilitas makro ekonomi. beberapa dewan sekolah (school board) di Amerika Serikat memiliki kekuasaan untuk mengenakan pajak (Davey. Argumentasi ekonomi tentang efisiensi berasal dari fakta bahwa Pemerintah Daerah dapat memenuhi berbagai kepentingan dan pendapat dari para penduduk dan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya (resources) secara lebih efisien dibandingkan Pemerintah Pusat. Meski secara teoritis negara yang berbentuk federal akan menerapkan model keuangan federal. Pada negara yang berbentuk kesatuan (unitary). 1983). Dimensi Ekonomi dari Desentralisasi Fiskal Dimensi yang ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. Menurut Bank Dunia (1995b) negara-negara seperti Pakistan. Ini terbukti. aspek efisiensi merupakan raison d'etre untuk desentralisasi fiskal. tetapi pada prakteknya tidak selalu demikian. aspek efisiensi tidaklah satu-satunya dimensi ekonomi untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. Bahkan. namun prakteknya sejauh ini masih sentralisasi fiskal dan federalisme fiskal. dan Afrika Selatan adalah negara-negara berbentuk federal. sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. dibandingkan dengan Amerika Serikat. 1989). Sesungguhnya. Menurut para ahli ekonomi. derajat desentralisasi fiskal di Indonesia lebih tinggi. yaitu: (1) Efisiensi Alokasi Sumber Daya (Efficient Allocation of Resources) Desentralisasi akan meningkatkan efisiensi karena Pemerintah Daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan Pemerintah Pusat.

maka tingkat pelayanan akan menurun. Salah satu contoh terjelas adalah kasus-kasus di negara Federasi Rusia (Wallich. Sebaliknya. Namun demikian. negara-negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi seperti Swiss. 2002). Fakyanya. dan Amerika Serikat memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah (Shah. maka hanya ada dua pilihan bagi warga masyarakat. khusus bagi negara-negara berkembang. Austria. Suatu analogi argumen untuk menjelaskan hal ini dikemukakan oleh Tiebot (1956) yang kemudian dikenal sebagai "The Tiebout Model". (2) Persaingan Antar Pemerintah Daerah (Competition Among Local Governments) Persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. 1997). Masyarakat akan memilih untuk tinggal di lingkungan yang anggaran daerahnya memenuhi preferensi yang paling tinggi antara pelayanan publik dari Pemerintah Daerahnya dengan pajak yang dibayar oleh masyarakat. maka mobilisasi dana Daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi dapat kembali muncul (Yu. Jerman. Hipotesis tersebut memberikan petunjuk bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. 1994). jika lebih banyak penerimaan daripada pengeluaran yang didesentralisasikan.245 dibuat oleh Pemerintah daerah akan lebih responsif terhadap keinginan konstituennya dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh Pemerintah Pusat. Atau. Ketika masyarakat tidak senang pada kebijakan pemerintah lokal dalam pembebanan pajak untuk pembiayaan barang publik bersifat lokal. atau kedua-duanya. 1996). Stabilitas Makro Ekonomi Penilitian empiris tentang desentralisasi dan pengelolaan makro ekonomi (macroeconomic governance) memberikan sedikit dukungan bahwa desentralisasi inheren dengan destabilisasi. Daerah akan menekan Pusat untuk mendapatkan tambahan kucuran dana yang lebih besar. stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis dapat terwujud dengan diterapkannya desentralisasi fiskal. Studi terkini mengenai hubungan antara desentralisasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi menemukan bahwa “sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkansistem fiskal yang tersentralisasi”. yaitu meninggalkan wilayah tersebut atau tetap tinggal di wilayah tersebut dengan berusaha mengubah kebijakan pemerintah lokal melalui DPRD-nya (Hyman. Dasar-dasar Keuangan Publik . Tiebout menekankan bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyakarat lokal dengan Pemerintah Daerahnya. atau pinjaman yang lebih besar. Pengalaman internasional memperlihatkan bahwa jika suatu negara mendesentralisasikan tanggung jawab pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan sumber-sumber yang tersedia.

Dalam konteks desentralisasi. proses implementasi. Untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ini. penyediaan resources yang lebih banyak kepada daerah miskin hanyalah satu aspek dari problem keadilan. biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat. terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro. redistribusi biasanya berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan. Bantuan pemerataan (equalization grant). yaitu pengambilan keputusan tentang manfaat dan biayanya harus transparan dan pihak-pihak yang terkait harus memiliki kesempatan untuk mempengaruhi keptusan-keputusan tersebut. ia akan menciptakan suatu insentif yang kuat bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan akan mendorong penduduk berpenghasilan tinggi untuk pindah kemana saja. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil Pemerintah Daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi. itu berarti pajak bagi penduduk kaya dan subsidi bagi penduduk miskin. proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis. adalah alat yang biasa digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. Sebab. Pemerintah Daerah memerlukan dukungan dari Pemerintah Pusat. maka perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya (resources) yang lebih besar kepada Daerah yang lebih miskin. seharusnya tidak perlu terjadi “ekspor pajak” dan tidak ada tambahan transfer dari level pemerintahan yang lain. Untuk itu. Terdapat dua faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal: (1) basis pajak (taxes bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan daerah yang lain dan (2) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. Kedua. Dalam definisi klasik. Namun demikian. Dengan kata lain. Kesuksesan dalam kebijakan redistribusi juga memerlukan perhatian yang khusus terhadap keadilan dalam wilayah lokal setempat (within-locality equity). Sidik (2002) menyebutkan bahwa keberhasilan pelaksanaan desentralisasi akan sangat tergantung pada desain. Keadilan horizontal merujuk pada tingkat kapasitas Pemerintah Daerah (subnational governments) dalam memenuhi pelayanan publik. Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal Bird dan Vaillancourt (1998) mengisyaratkan ada dua prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi. dengan program redistribusi pendapatan.246 Keadilan (Equity) Apek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. Dalam merancang kebijakan redistribusi. Dasar-dasar Keuangan Publik . Sementara itu. Pemerintah Daerah tidak dapat mengambil kebijakan redistribusi secara efektif. Pertama. Jika Pemerintah Daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif. isu redistribusi memiliki dua dimensi: keadilan horisontal (horizontal equity) dan keadilan lokal (within-locality equity).

maka Pemerintah Daerah harus didukung sumbersumber keuangan yang memadai. pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. maupun transfer dari pemerintah pusat. Di samping itu. Sidik (2002) juga berpendapat untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi. baik yang berasal dari local revenue. Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan dengan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya Pemerintah Pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi Daerah. maupun masyarakat secara keseluruhan. pinjaman. Dasar-dasar Keuangan Publik .247 dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan. perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik. kesiapan administrasi pemerintahan. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi.

248

B A B XXVI
TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTEK
Pendahuluan
alam konteks desentralisasi fiskal, transfer dana dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Desentralisasi memang merupakan pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah. Sejalan dengan desentralisasi tersebut, aspek pembiayaannya juga ikut terdesentralisasi. Implikasinya, Daerah dituntut untuk dapat membiayai sendiri biaya pembangunannya.

D

Namun, ternyata banyak daerah di berbagai negara ini local government revenue) tidak cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran Daerah (lihat Tabel 26.1). Dari Tabel 26.1. terlihat bahwa, tidak ada satupun Pemerintah Daerah di berbagai negara yang disurvei memiliki pendapatan yang dapat membiayai seluruh pengeluarannya.

Dasar-dasar Keuangan Publik

249
Tabel 26.1: Prosentase Pendapatan atas Pengeluaran Daerah Negara Kesatuan Albania Azerbaijan Belarusia Bulgaria Kroasia Republik Cekoslowakia Denmark Estonia Irlandia Kazakhstan Latvia Lithuania Mauritius Moldova Mongolia Norwegia Polandia Republik Slovakia Slovenia Inggris Negara Federal* Australia Austria Bolivia México Switzerland United States 1995 5.64% 73.97% 73.18% 57.27% 98.11% 72.26% 57.10% 65.95% 87.26% N/A 75.53% 73.82% 39.51% 72.74% 58.46% 60.96% 71.52% N/A 77.31% 27.47% 1996 6.85% 68.65% 70.63% 66.19% 93.62% 60.28% 57.50% 66.97% 84.64% N/A 77.93% 72.22% 39.91% 60.50% 56.92% 62.10% 66.49% 89.65% 82.83% 27.31% 199 7 3.69% 66.78% 77.73% 65.35% 93.83% 72.74% 58.55% 73.10% 84.29% 78.76% 73.82% 71.71% 40.68% 58.66% 60.10% 61.30% 66.21% 79.75% 81.88% 27.91% 1998 4.05% 58.30% 81.69% 61.08% 89.18% 75.80% 59.25% 72.04% 85.31% 71.68% 72.08% 80.65% 42.52% 62.49% 57.32% 59.71% 64.83% 73.69% 80.60% 29.33%

85.73% 82.74% 85.64% 97.37% 81.35% 62.43%

83.28% 85.31% 85.93% 97.72% 81.91% 63.51%

81.92% 87.28% 85.85% 99.98% 81.96% 64.32%

81.80% 83.89% 85.76% N/A 82.02% 64.51%

* Pemerintah Daerah di negara-negara federal adalah kelompok Pemerintah Daerah yang terendah tingkat pendapatannya. Catatan: Pendapatan Pemerintah Daerah tidak termasuk transfer antar pemerintahan (intergovernmental transfers) Sumber: International Monetary Fund. 1998. Government Finance Statistics Year Book 1998, Country Tables. Implikasi dari kondisi tersebut, transfer dana dari Pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang amat dominan bagi Pemerintah Daerah di banyak negara, terutama negara berkembang. Tidak terkecuali Indonesia. Sumber ini membiayai sekitar 85% dari pengeluaran pemerintah daerah di Afrika Selata, antara 67% sampai 95% pengeluaran negara bagian di Nigeria, 70% sampai 90% pengeluaran negara bagian yang miskin di Meksiko, 72% pengeluaran popinsi dan 86% pengeluaran Kabupaten/Kota pada dekade 1990-an di Indonesia (Simanjuntak, 2002).

Dasar-dasar Keuangan Publik

250

Tujuan Transfer
Pada dasarnya, transfer Pusat ke Daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants). Adapun tujuan dari transfer ini bermacam-macam yaitu pemerataan vertikal (vertical equalization), pemerataan horisontal (horizontal equalization), mengatasi persoalan efek pelayanan publik (correcting spatial externalities), mengarahkan prioritas (redirecting priorities), melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (experimenting with new ideas), stabilisasi, dan kewajiban untuk menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah. Vertical Equalization Transfer Di banyak negara, Pemerintah Pusat menguasai sebagian besar sumber-sumber penerimaan (pajak) utama negara yang bersangkutan. Sementara itu, Pemerintah Daerah hanya menguasai sebagian kecil sumber-sumber penerimaan negara, atau hanya berwenang untuk memungut pajak-pajak yang basis pajaknya bersifat lokal dan mobilitas yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaannya relatif kurang signifikan. Kondisi ini akhirnya menimbulkan ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pada era tahun 1960-an, Pemerintah Federal Amerika Serikat sangat memonopoli sumber-sumber penerimaan. Kondisi ini akhirnya bisa menimbulkan ketimpangan antara Pemerintah Federal, Pemerintah Negara Bagian (State), dan Pemerintahan Lokal. Kemudian, pada pertengahan era 1960-an hingga pertengahan 1980-an lahirlah kebijakan bagi hasil penerimaan umum (General Revenue Sharing/GRS). GRS untuk tingkat negara bagian diberlakukan secara tuntas pada tahun 1982 dan untuk tingkat lokal diberlakukan pada secara tuntas pada tahun 1986. Dengan demikian, tujuan dari vertical equalization transfer ini adalah untuk mengkoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

251

KOTAK 26.1: PRAKTEK VERTICAL EQUALIZATION DI INDONESIA Penerapan vertical equalization di Indonesia berlaku sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Latar belakang diberlakukannya formula vertical equalization ini didasari oleh suatu kondisi selama Orde Baru, dimana Pemerintah Pusat begitu dominan dalam menguasai sumber-sumber penerimaan negara yang berujung pada timbulnya ketimpangan fiskal secara vertikal antara Pemerintah Pusat dengan Daerah. Daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam, seperti Aceh dan Irian Jaya, terpaksa harus menjadi daerah miskin karena hasil dari sumber-sumber kekayaan alam mereka diangkut ke Pusat. Kondisi ini kemudian berubah dengan keluarnya Undang-undang Nomor 25/1999. Menurut Undang-undang No. 25/1999 ini, daerah penghasil penerimaan (baik itu pajak maupun sumber daya alam) mendapat porsi yang besar dalam bagi hasil penerimaan umum (general revenue sharing) yang lebih besar dibandingkan sebelum diberlakukannya Undang-undang No. 25/1999 (lihat Tabel 2.2. Dengan bagi hasil yang lebih besar ini, taxing power yang diterima Daerah menjadi lebih besar dan ketimpangan vertikal dapat dikurangi

.

Tabel 26.2. Proporsi Bagi Hasil Beberapa Penerimaan Negara Sebelum dan Sesudah UU No. 25/1999 (dalam %)
No Jenis Penerimaan Sebelum UU No. 25/1999 Pusat Dati I Dati II Pusat Sesudah UU No. 25/1999 Propinsi Kab /Kota 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. PBB BPHTB IHH PSDH/IHPH Land Rent/Iuran Tetap Royalty Pertambangan Umum Perikanan Minyak Gas Alam Dana Reboisasi PPh 10 20 55 55 20 20 100 100 100 100 100 16,2 16 30 30 16 16 64,8 64 15 15 64 64 20 20 20 20 20 85 70 60 80 16,2 16 16 16 16 16 3 6 8 64,8(+) 64(+) 64 32 64 32 6 12 40 12 Pemertaan Kab/Kota Lainnya + + 32 32 80 6 12 -

Sumber : Sidik 2002, berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999

Horizontal Equalization Transfer Keseimbangan antara kebutuhan pendapatan (revenue needs) dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan juga memiliki dimensi horisontal. Artinya, dengan tarif pajak yang sama seharusnya juga menghasilkan penerimaan yang sama di antara daerah. Pengalaman empirik di berbagai negara menunjukkan ternyata kemampuan Daerah untuk menghasilkan pendapatan sangat bervariasi, tergantung kondisi daerah bersangkutan yang memiliki kekayaan sumber daya alam atau tidak, ataupun daerah dengan intensitas kegiatan ekonomi yang tinggi atau rendah. Kondisi ini berimplikasi kepada besarnya basis pajak atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) di daerah-daerah bersangkutan.

Dasar-dasar Keuangan Publik

252
Di sisi lain, daerah-daerah juga memiliki kebutuhan belanja yang sangat bervariasi. Terdapat daerah-daerah dengan penduduk miskin, penduduk lanjut usia, dan anak-anak serta remaja yang tinggi proporsinya. Ada pula daerah-daerah yang berbentuk kepulauan luas, dimana sarana-prasarana transportasi dan infrastruktur lainnya masih belum memadai. Sementara di lain pihak, ada daerahdaerah dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, namun memiliki sarana dan prasasarana yang telah lengkap. Ini mencerminkan tinggi rendahnya kebutuhan fiskal (fiscal need) dari daerah-daerah yang bersangkutan. Membandingkan kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal tersebut di atas, maka dapat dihitung kesenjangan atau celah fiskal (fiscal gap) dari masing-masing daerah yang seyogyanya ditutup oleh transfer dari Pemerintah Pusat. Dengan kata lain tujuan dari horizontal equalization transfer adalah untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh setiap daerah.

Dasar-dasar Keuangan Publik

253

KOTAK 26.2: PRAKTEK HORIZONTAL EQUALIZATION DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalizataion di Indonesia. Secara faktual, peran DAU dapat dijadikan counter atas pembagian dana bagian daerah yang didasarkan atas dasar penghasil daerah (by origin atau vertical equalization) yang cenderung menimbulkan ketimpangan antardaerah, karena daerah yang mempunyai potensi pajak dan SDA yang terbatas pada daerah-daerah tertentu. Sebagai horizontal equalization, DAU dirancang dengan sebuah formula yang digunakan untuk menghitung potensi penerimaan daerah atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) dan kebutuhan fiskal daerah (fiscal needs). Sehingga, melalui suatu formula ini, maka dapat dihitung celah fiskal (fiscal gap) yang akan ditutup dengan transfer DAU dari Pusat. Rumus Umum DAU 2001 adalah sebagai berikut: 1. DAU akan dialokasikan kepada Daerah dengan menggunakan bobot daerah. Bobot daerah harus dirumuskan dengan menggunakan suatu formula yang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan dan potensi potensi penerimaan. Besarnya DAU setelah formula paling tidak sama dengan besarnya bantuan Subsidi Daerah Otonom (SDO) dan Inpres tahun 2000. Oleh karenanya, dalam alokasi DAU 2001 terdapat faktor penyeimbang dan faktor lumsum. Faktor Penyeimbang adalah suatu mekanisme untuk mencegah penurunan kapasitas Pemerintah Daerah dalam membiayai kewajiban-kewajiban mereka. Faktor penyeimbang juga diarahkan untuk mengatasi permasalahan pendanaan akibat terjadinya transfer pegawai dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah yang tentunya membawa konsekuensi pada gaji dan biaya-biaya terkait lainnya. Faktor lumpsum intinya adalah suatu mekanisme untuk membagi habis total DAU yang sudah dianggarkan dalam APBN 925% dari penerimaan bersih domestik). Dalam prakteknya, terjadi selisih hitung antara total DAU yang dianggarkan dengan total faktor penyeimbang dan faktor formula. 3. Faktor formula. Formula DAU terdiri dari dua, yaitu potensi penerimaan dan kebutuhan fiskal. Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan potensi penerimaan adalah (a) PDRB sektor sumber daya alam (primer); (b) PDRB sektor industri dan jasa lainnya (non-primer); dan besarnya angkatan kreja (SDM). Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan kebutuhan daerah adalah (a) jumlah penduduk; (b) luas wilayah; (3) indeks harga bangunan; dan (4) jumlah penduduk miskin. 4. Penentuan Bobot dan Alokasi Daerah.

2.

Sumber: Brodjonegoro dan Pakpahan (2002)

Dasar-dasar Keuangan Publik

Misalnya. karena biayanya terlalu mahal. maka Daerah Dasar-dasar Keuangan Publik . perguruan tinggi). tidak bisa dibatasi manfaatnya hanya untuk masyarakat tertentu saja. tanpa adanya “imbalan” (dalam bentuk pendapatan) yang berarti dari proyek-proyek serupa di atas. Agar penyediaan barang publik tersebut tetap dilakukan oleh Daerah bersangkutan. Namun. maka jumlah permintaannya akan sangat rendah. yaitu sebesar DB dengan harga (biaya) sebesar PB. yaitu sebesar perbedaan antara PB dan P1. yaitu sebesar DA dan harganya (biayanya) pun relatif murah (PA) sehingga Daerah setempat dipastikan dapat mengadakannya. Sehingga. yang bagi Daerah bersangkutan akan sangat sulit untuk dapat mengadakannya. peminatnya juga berasal dari luar daerah (nonresident demands). Gambar 26-1: Koreksi “Spillovers” Melalui Transfer P MC P1 PB PA DA QB QT DB Q DT Berdasarkan Gambar 26-1. Pemerintah Pusat perlu memberikan semacam insentif ataupun menyerahkan sumber-sumber keuangan agar pelayananpelayanan publik demikian dapat dipenuhi oleh daerah. jika permintaan dari penduduk (resident demands) setempat yang diperhitungkan. Namun. untuk permintaan atas barang publik tertentu (misalnya. dan rumah sakit daerah. total permintaan atas barang publik tersebut adalah DT dengan harga (biaya) sebesar P1. pemadam kebakaran. Dengan adanya subsidi ini. sistem pengendali polusi (udara dan air). jalan raya penghubung antar-daerah. Oleh karena itu. biasanya Pemerintah Daerah enggan untuk berinvestasi di sini. maka Pemerintah Pusat memberikan transfer (subsidi).254 Correcting Spatial Externalities Beberapa jenis pelayanan publik di satu wilayah memiliki “efek menyebar” (atau eksternalities) ke wilayah-wilayah lainnya. pendidikan tinggi (universitas).

karena biayanya berada dalam jangkauan anggaran Daerah. Memenuhi Standar Pelayanan Minimum Daerah-daerah dengan sumber daya yang sedikit memerlukan subsidi agar dapat mencapai standar pelayanan minimum. Agar keinginan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dapat berjalan secara paralel. Namun ternyata. akhirnya bertentangan dengan prioritas yang sedang dibangun oleh level pemerintahan lainya. bisa saja dana transfer ke daerah dikurangi manakala perekonomian sedang booming. Pemerintah Daerah ternyata menginginkan pembangunan di sektor kesehatan lebih mendapat prioritas karena pertimbangan kondisi masyarakat setempat. Pemerintah Pusat berkeinginan mengedepankan pembangunan di sektor pendidikan secara murah dan terjangkau. Transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants) adalah merupakan instrumen yang cocok untuk tujuan ini. Experimenting with New Ideas Bantuan (grants) seperti ini berawal dari adanya keinginan Pemerintah Pusat untuk mengujicobakan suatu program baru di suatu Daerah sebelum program tersebut diberlakukan terhadap seluruh Daerah. Di saat lain. keinginan tersebut ternyata tidak sinkron dengan pola kebijakan Daerah. Dengan demikian. maka penerapan standar pelayanan minimum Dasar-dasar Keuangan Publik . Transfer Pemerintah Pusat kepada Daerah semacam ini akan membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh masing-masing level pemerintahan. Dan seringkali prioritas yang dikembangkan oleh setiap level pemerintahan tersebut. Redirecting Priorities Setiap level pemerintahan memiliki prioritas masing-masing di dalam penyediaan pelayanan publik kepada masyarakatnya. karena Daerah yang menjadi tempat uji coba tidak mau menanggung kerugian dan risiko manakala terjadi dampak negatif terhadap program baru tersebut. Alasan perlunya bantuan dari Pusat kepada Daerah sehubungan dengan uji coba program baru tersebut. Stabilisasi Transfer dana dapat ditingkatkann oleh Pemerintah ketika aktivitas perekonomian sedang lesu. Ini terkait dengan pemenuhan harapan para konstituen pemilih ketika pemilihan umum berlangsung. seyogyanya Pemerintah Pusat memberikan transfer atau insentif kepada Daerah. Misalnya. Jika dikaitkan dengan postulat Musgrave (1983) yang menyatakan bahwa peran redistributif dari sektor publik akan dijalankan oleh Pemeirntah Pusat. sesungguhnya bantuan untuk tujuan uji coba program baru ini tidak lebih dari sebuah kompensasi atas kesediaan Daerah menjadi ajang uji coba suatu program baru dari Pusat. Namun kecermatan dalam mengkalkulasi amat diperlukan agar tindakan menaikkan/menurunkan dana transfer itu berakibat merusak atau bertentangan dengan tujuan stabilisasi.255 bersangkutan dapat menyediakan barang publik tersebut.

bagi hasil (revenue sharing) berdasarkan formula. 5. apakah negara tersebut berbentuk federal maupun negara kesatuan. Dengan demikian.256 di setiap daerah pun akan lebih bisa dijamin pelaksanaannya oleh Pemerintah Pusat. Otonomi. 4. Sederhana (simplicity). Keadilan (equity). sebaliknya. tidak Dasar-dasar Keuangan Publik . ataupun transfer yang bersifat umum (block grant) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang konsisten dengan tujuan tersebut. Pajakpajak dimana Daerah bisa ikut memungut di atas tingkat yang ditetapkan Pusat (piggyback). 6. Alokasi dana kepada Pemeirntah Daerah semestinya didasarkan pada faktor-faktor obyektif dimana unit-unit individual tidak memiliki kontrol atau dapat mempengaruhinya. Formula tersebut seyogyanya dipakai untuk jangka menengah (misalnya 3-5 tahun). 2. Penerimaan yang memadai (revenue adequacy). agar perencanaan jangka menengah dan panjang dapat dilakukan oleh Daerah. berkebalikan dengan besarnya kapasitas fiskal daerah yang bersangkutan. Prinsip ini merupakan dasar desentralisasi fiskal di dunia. Berikut adalah beberapa kriteria umum yang biasa digunakan di banyak negara di dunia. 3. Insentif. Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Dari berbagai tujuan yang hendak dicapai dalam rangka transfer antar tingkat pemerintahan. Desain dari transfer ini harus sedemikian sehingga memberikan semacam insentif bagi daerah dengan manajemen fiskal yang baik. dapat kiranya sebagai acuan untuk mendesain sistem atau model transfer bagaimana yang akan diterapkan. Transparan dan stabil. Besarnya dana transfer dari Pusat ke daerah seyogyanya berhubungan positif dengan kebutuhan fiskal daerah dan. baik sebaliknya menangkal praktik-praktik yang tidak efisien. Di samping itu juga formula yang dipakai seyogyanya relatif mudah untuk dipahami. Tidak boleh ada pembatasan yang sedemikian ketat sehingga sebagian besar keputusan di Daerah harus mengikuti atau mengacu kepada ketentuan Pusat. sehingga memudahkan penyusunan anggaran. Pemerintah daerah semestinya memiliki pendapatan (termasuk transfer) yang cukup untuk menjalankan segala kewajiban atau fungsi yang diembannya. Hal yang lebih penting lagi adalah bahwa setiap daerah dapat memperkirakan berapa penerimaan totalnya (termasuk transfer). 1. Prinsip ini menekankan agar Pemerintah Daerah memiliki independensi dan fleksibilitas dalam menentukan prioritas-prioritas mereka. Formula transfer mesti diumumkan sehingga dapat diakses masyarakat.

Dasar-dasar Keuangan Publik . pada dasarnya jenisjenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar. block grant dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. Jenis-Jenis Transfer Pengalaman empiris dari berbagai negara menunjukkan bahwa pemberian transfer oleh Pemerintah Pusat kepada Daerah dapat disertai dengan syarat-syarat tertentu atau tidak bersyarat sama sekali. general purpose grant. amat tergantung kepada kondisi atau keadaan di masing-masing negara. Dengan demikian. atau ada semacam kontrol terhadap belanja daerah.257 perlu ada transfer khusus/spesifik untuk membiayai defisit anggaran Pemerintah Daerah. Transfer tanpa syarat biasanya dibagikan berdasarkan suatu formula tertentu. Tujuan dari transfer ini adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal (horizontal equalization). Ciri utama dari transfer ini adalah Daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkan dana transfer ini sesuai dengan pertimbanganpertimbangannya sendiri atau sesuai dengan aturan apa yang menjadi prioritas daerahnya. Transfer Tanpa Syarat Pada umumnya transfer jenis ini ditujukan untuk menjamin adanya pemerataan dalam kemampuan fiskal antar daerah. sehingga setiap Daerah dapat melaksanakan urusan rumah tangganya sendiri pada tingkat yang layak. formula apa yang tepat untuk menjamin meratanya kemampuan fiskal (fiscal capacity) Daerah dalam menjalankan pelayanan publik minimum. Namun. categorial grant. yaitu (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. spesific purpose grant).

DAU untuk suatu Daerah Propinsi tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh Daerah Propinsi yang ditetapkan dalam APBN. DAU untuk suatu Daerah Kabupaten/Kota tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh Daerah Kabupaten/Kota yang ditetapkan dalam APBN dengan porsi Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. • potensi ekonomi Daerah. Penghitungan DAU berdasarkan rumus di atas dilakukan oleh Sekretariat Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 6. dengan porsi Daerah Propinsi yang bersangkutan. 4.258 KOTAK 26. 25/1999 ketentuan mengenai aturan alokasi DAU adalah sebagai berikut: 1. 2. Porsi Daerah Kabupaten/Kota merupakan proporsi bobot Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua Daerah Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. 3. 8.3: PRAKTEK TRANSFER TANPA SYARAT DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan bentuk yang masuk dalam kategori transfer tanpa syarat (unconditional grant) untuk kasus di Indonesia. Bobot Daerah ditetapkan berdasarkan: • kebutuhan wilayah otonomi Daerah. DAU adalah dana yang berasal dari APBN. Dasar-dasar Keuangan Publik . persentase Dana Alokasi Umum untuk Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota disesuaikan dengan perubahan tersebut. DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari Penerimaan Dalam Negeri yang ditetapkan dalam APBN. 7. 9. Penjelasan efek dari unconditional grant terhadap pembiayaan daerah. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Dalam hal terjadi perubahan kewenangan di antara Daerah Propinsi dan Daerah Kabupaten/Kota. Porsi Daerah Propinsi merupakan proporsi bobot Daerah Propinsi yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua Daerah Propinsi di seluruh Indonesia. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi 6 Garis anggaran (budget line) adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang membutuhkan biaya (anggaran) yang sama besar. DAU untuk Daerah Propinsi dan untuk Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan masing-masing 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh persen) dari total DAU nasional. Garis AB adalah garis anggaran6 Daerah setempat (community budget line). Menurut UU No. yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-Daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 5. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). dapat dilihat pada Gambar 26-2.

Pada kondisi sebelum ada transfer. i2i2. Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan bentuk transfer lainnya. Karena tidak ada batasan pada cara pembelanjaan fasilitas publik manapun. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Hal ini digambarkan dengan adanya pergeseran (shifting) budget line yang sejajar dari AB menjadi FG. Sehingga. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Dasar-dasar Keuangan Publik . tingkat kepuasan masyarakat pun menjadi lebih besar.259 barang yang tersedia. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. Gambar 2-2: Efek Unconditional Grant Terhadap Pembiayaan Daerah Other Public Goods i2 F i1 A H E E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods 7 Kurva indiferensi (indifference curve) adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi seorang konsumen. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. yaitu menjadi OK (untuk assested public goods) dan menjadi OH (untuk other public goods). Kurva i1i1. jumlah barang yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. Namun. bagi pemberi. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve)7. dengan unconditional grants memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang lebih baik bagi Daerah yang muncul dari kemungkinan untuk memilih yang lebih besar. Ini mengingat. maka yang bertambah akibat adanya transfer adalah jumlah anggaran. hal ini bisa juga menjadi suatu kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan maksud pemberian grants tersebut. Dengan demikian.

Penjelasan efek dari open-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 26-3. Daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. sebuah proyek pembangunan universitas membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. Pemerintah Pusat dan Daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. Dengan demikian. Transfer ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Pada kondisi sebelum ada transfer. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Transfer dari Pemerintah Pusat dalam hal ini berfungsi untuk membantu mengatasi kekurangan dana tersebut. Pemerintah Pusat dan Daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. Hanya saja. sedangkan barang A dibiarkan tetap. di sini Pemerintah Daerah telah mengalokasikan sejumlah dana dari pendapatan daerahnya untuk penyelenggaraan urusan tersebut. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Sama dengan kasus sebelumnya. Sementara itu. Kurva i1i1. Jadi. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Misalnya. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh Pusat. Transfer ini diperuntukkan apabila transfer tersebut dapat dan memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana yang terjadi. Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). kekurangan tersebut. yaitu misalnya Pusat 90% dan Daerah 10%. yaitu hanya menggeser kuantitas Dasar-dasar Keuangan Publik . Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh Pusat kepada Daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. Transfer pengimbang ini juga dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis: 1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open-ended matching grants). kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. Contohnya adalah proyek-proyek yang menimbulkan efek eksternalitas positif bagi daerahdaerah lain ataupun proyek-proyek dari Pemerintah Pusat yang sifatnya ujicoba atas suatu program atau ide baru (experimenting with new ideas). i2i2.260 Transfer Dengan Syarat (Conditional Transfer) Transfer ini biasanya digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh Pemerintah Pusat namun kurang dianggap penting oleh Daerah. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). yaitu: Transfer pengimbang (matching grants). dana Daerah belum cukup untuk menjamin penyelenggaraan urusan tersebut dengan baik. Untuk tujuan ini. Maka.

karena sifat grant ini yang tidak terbatas. namun setelah besarnya biaya proyek melampaui jumlah tertentu. yang pembiayaannya bisa sebagian besar dari Pemerintah Pusat. kekurangan tersebut. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. karena walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. Sehingga. Gambar 26-3: Efek Dari Open-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Efek negatif dari open-ended matching grants adalah grant yang diberikan oleh Pemerintah Pusat justru akan menyebabkan ketidakmerataan antardaerah. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . Daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. sementara Daerah yang miskin akan tetap miskin karena mereka tidak dapat membuat proyek kaya. Dengan demikian. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. Hal ini sangat disukai oleh pemberi bantuan (Pemerintah Pusat).261 barang B. Pada transfer ini terdapat batasan jumlah dana maksimum yang dapat digunakan. estimasi biaya ternyata membengkak menjadi Rp110 miliar atau mengalami kekurangan Rp10 miliar lagi. daerah yang kaya akan mampu membuat proyek yang kaya pula dan menjadi semakin kaya. yaitu dari OD menjadi OP. Namun. Karena Pemerintah Pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh Pusat. pemberi bantuan dapat mencukupkan bantuannya. Akibatnya. sebuah proyek pembangunan universitas awalnya membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. namun untuk barang A tetap. Misalnya. Sementara itu. sementara barang A tetap. 2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants). dalam perjalanannya. Maka.

dimana posisi permintaan (demand) barang barang B adalah tetap OD. Implikasinya. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. yaitu hanya menggeser kuantitas barang B. Untuk tujuan ini. Namun dalam perkembangannya. Pemerintah Pusat dan Daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. yaitu Rp100 miliar. Sehingga. i2i2. terjadi titik keseimbangan baru dari E menjadi E1. garis anggaran tidak jadi bergeser dari AB menjadi AM. namun untuk barang A tetap. dari proyek senilai Rp100 miliar. Jenis transfer ini dapat dipakai oleh Pemerintah Pusat untuk menjadi sarana menginternalisasikan Dasar-dasar Keuangan Publik . Penjelasan efek dari closed-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 26-4. Pemerintah Pusat akan memberikan kontribusinya sebesar 90% dan Daerah 10%.262 sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E0. Pemerintah Pusat dan Daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. Dengan demikian. slope-nya menjadi sejajar pada budget line awalnya. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Karena Pemerintah Pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. yaitu Rp100 miliar. Implikasinya. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Dalam rencana awal. Transfer bukan pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh Pusat kepada Daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa Pemerintah Daerah sendiri telah/akan mengalokasikan dananya dengan jumlah besar atau kecil. yaitu dari OD menjadi OP. Pada kondisi sebelum ada transfer. Transfer bukan pengimbang (non-matching grants). yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Sama dengan kasus sebelumnya. Dengan demikian. Dalam gambar terlihat bahwa rotasi pada budget line setelah batas tertentu. sedangkan barang A dibiarkan tetap. Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line). jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. tetapi dari AB menjadi AT yang berarti jumlah barang A yang dapat dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan perkiraan semula. Kurva i1i1. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. sementara barang A tetap. terjadi kenaikan bahan baku sehingga budget seharusnya dinaikkan menjadi Rp110 miliar. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. dimana posisi E0 ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. Misalnya.

Kurva i1i1. dapat dilihat pada Gambar 26-5. i2i2.263 limpahan manfaat. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. kendati Pemerintah Daerah yang bersangkutan telah mengalokasikan pendapatan daerahnya (local revenue) untuk pembiayaan penyelenggaraan urusan itu. (eksternalitas) terutama kepada Daerah yang menghasilkan limpahan manfaat tersebut. Gambar 26-4: Efek Closed-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q T O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Pada kondisi sebelum ada transfer. Dengan adanya transfer dari Pusat ke Daerah untuk keperluan khusus tanpa diperlukannya dana pendamping. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Jadi. transfer diberikan oleh Pusat untuk mendorong Daerah agar tetap bersemangat dan mau mengalokasikan pendapatan daerahnya untuk pelaksanaan fungsi tersebut. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). maka budget line dari barang Dasar-dasar Keuangan Publik . yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). namun karena pelaksanaannya menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. Penjelasan efek dari non-matching grants terhadap pembiayaan daerah. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Garis AB adalah garis anggaran Daerah setempat (community budget line).

Gambar 26-5: Efek Non-Matching Grants Other Public Goods i2 i1 A H E F E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods Dasar-dasar Keuangan Publik . namun tidak mengubah batas maksimum fasilitas publik lainnya (other public goods).264 publik yang dibantu (assested public goods) mengalami pergeseran (shifting).

Pemerintah Daerah Swedia. Dalam konteks Indonesia. pajak Pemerintah Pusat yang dibagikan adalah Pajak Penghasilan (PPh). menurut Undang-undang No. Opsen tersebut mungkin dipungut sebagai prosentase tambahan atas pendapatan kena pajak (PKP). Pertama. Menurut pengertian ini. dalam hal pajak penghasilan atau alternatifnya. dan India. Kedua. pada umumnya membayar pungutan tambahan beserta pajak-pajaknya kepada Pemerintah Pusat. Pemerintah Daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen. 25/1999. Untuk lebih jelas memahami opsen.265 B A B XXVII PERPAJAKAN DAERAH Pendahuluan P emerintah Daerah dapat memperoleh pendapatan dari dari perpajakan dengan tiga cara. beberapa panchayats (Pemerintah Kabupaten) di India menikmati opsen atas pajak tanah. semacam PBB) dewan kabupaten (district council). Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). surchage di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh Pemerintah Pusat. Pemerintah Pusat membayarkan pendapatan opsen tersebut kepada Pemerintah Daerah. Amerika Serikat. sebagaimana telah dibahas sebelumnya. memungut opsen atas pajak penghasilan nasional. ialah melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh Pemerintah Pusat. para Wajib Pajak di wilayah (daerah) mereka. dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Sedangkan. Davey (1983) mendefinisikan bahwa opsen adalah semacam pungutan pajak (precept) yang dipungut oleh propinsi (county) atau dewan desa (parish council) di Inggris di atas rate (pajak atas harta tetap. Kemudian. Pemerintah Daerah mengenakan opsen atas pajak penjualan di tingkat negara bagian (state). sedangkan di daerahdaerah nonmetropolitan. Di Amerika Serikat. sebagai suatu prosentase Dasar-dasar Keuangan Publik . misalnya. Praktek seperti ini diterapkan di Swedia. precept Pemerintah Propinsi merupakan proporsi yang tinggi dari seluruh pungutan pungutan wajib wajib pajak.

34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. dan dapat diterma secara politik. Prinsip keadilan ini adalah bahwa beban pengeluaran Pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan. Bagian ini hanya akan mendiskusikan mengenai pajak yang diperoleh oleh Pemerintah Daerah sendiri. Dalam konteks di Indonesia. Kedua. adalah keadilan. Seringkali dijumpai Pemerintah Daerah mempunyai banyak jenis pajak. Elastisitas merupakan kualitas suatu sumber pajak yang penting. Suatu jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah mungkin ditetapkan berdasarkan ketentuan perundangan Pemerintah Pusat. adalah (i) tax revenue sharing telah dibahas pada bagian sebelumnya. Dalam hubungan ini. atau PDRB. Adapun variabel yang utama adalah dasar hukumnya (kewenangannya). karena Indonesia tidak menerapkan sistem opsen. misalnya. jika Dasar-dasar Keuangan Publik . Pertama. kemudahan untuk memungut pertumbuhan pajak tersebut. Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah Menurut Davey (1983) terdapat empat kriteria mengenai pajak Daerah. Dalam konteks ini. pajak dikatakan tidak baik. Keadilan memiliki tiga dimensi.266 tambahan atas pajak yang sebenarnya dibayarkan kepada Pemerintah Pusat atau negara bagian. Kriteria pertama. Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendadapat tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis. pemerataan secara vertikal. tetapi pendapatan yang dihasilkan tidak mampu melebihi biaya yang dikeluarkan untuk memungutnya. Sedangkan. yakni prosentase pendapatan seseorang yang dibayarkan untuk pajak bertambah sesuai dengan tingkat pendapatannya. pemerataan. kurang relevan dengan sistem perpajakan di Indonesia. Pertama. apabila harga-harga meningkat. Kriteria kedua. Ketiga. kemampuan administratif. elastisitas mempunyai dua dimensi. Elastisitas juga dengan mudah dapat diukur dengan membandingkan hasil penerimaan selama beberapa tahun dengan perubahan dalam indeks harga. penduduk di suatu daerah meningkat. pertumbuhan potensi dari dasar pengenaan pajak itu sendiri.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. kecukupan dan elastisitas. dan pendapatan individu meningkat. Sedangkan elastis maksudnya adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran Pemerintah Daerah. maka dengan sendirinya pajak juga harus meningkat. pajak dapat dikatakan baik kalau pajak tersebut bersifat progresif. pajak daerah jenis ini diatur dalam UU No. Alasan pembatasan ini. Keempat kriteria tersebut adalah kecukupan dan elastisitas. yaitu dalam hubungan pembebanan pajak atas tingkat pendapatan yang berbeda-beda. dan (ii) pembahasan mengenai opsen. adalah pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh Pemerintah Daerah sendiri. penduduk.

Adapun ciri-ciri Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan konsep keadilan horisontal seperti ini. maka dibutuhkan suatu administrasi yang baik dan fleksibel. lebih tidak populer dibandingkan jenis pajak yang lain. adalah keadilan geografis. Dengan adanya kemauan politik seperti ini. Dimana. yaitu dalam konteks hubungan pembebanan pajak berdasarkan sumber pendapatan. administrasi pemungutan pajak harus sederhana. sehingga akan merugikan masyarakat secara menyeluruh (dead-weight loss). menetapkan struktur tarif. Namun demikian. yakni persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak berkurang dengan adanya kenaikan pendapatan. kriteria non-distorsi terhadap perekonomian merupakan alasan keluarnya UU No. memungut pajak secara fisik.267 pajak tersebut bersifat regresif. Artinya. Sidik (2002) menambahkan bahwa selain keempat kriteria yang ditetapkan Davey (1983) di atas. kemauan politik diperlukan dalam mengenakan pajak. kalau diperbolehkan. implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. adalah adanya kesepakatan politik. Semua orang pada dasarnya ingin menolak membayar pajak. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut ditetapkan. maka diharapkan pajak pun dapat secara politis diterima oleh masyarakat. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. maka perpajakan daerah harus memiliki ciri-ciri tertentu.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. dalam beberapa jenis pajak. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. Kriteria ketiga adalah kemampuan adimistratif. Untuk menilai suatu pajak agar dapat memenuhi tuntutan keadilan dan pemerataan. maka diharapkan tidak ada penduduk yang yang kebal pajak. Dalam konteks Indonesia. Bahkan. Dalam kondisi seperti ini. maka pajaknya harus sama dengan pegawai kantor (swasta atau negeri) yang memiliki gaji sebesar Rp100 juta per tahun. pajak daerah juga harus memenuhi kriteria non-distorsi terhadap perekonomian. Dengan adanya UU No. Pada dasarnya setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan suatu beban baik bagi konsumen maupun produsen. Seseorang seharusnya tidak dibebani pajak lebih berat hanya karena mereka tinggal di suatu daerah tertentu. Tidak ada pajak yang populer. Petani yang memiliki pendapatan Rp100 juta per tahun. Maksudnya adalah seseorang yang memiliki jumlah pendapatan yang sama. Kriteria keempat. Ketiga. sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. mudah dihitung. Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah Untuk mempertahankan prinsip-prinsip pajak daerah tersebut di atas. Pembebanan pajak harus adil antarpenduduk di berbagai daerah. 34 Tahun 2000 ini diharapkan pajak daerah tidak menimbulkan beban tambahan bagi masyarakat. seharusnya dikenakan pajak dalam jumlah yang sama. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. jangan sampai suatu pajak atau pungutan menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan. Kedua. pemerataan secara horisontal.

yaitu: fungsi budgeter dan fungsi regulator. Pemerintah Daerah dalam melakukan pungutan pajak harus tetap “menempatkan” sesuai dengan fungsinya. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. • relatif stabil. Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah. • tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). beberapa kriteria dan pertimbangan yang diperlukan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat Pemerintahan Pusat. 3. fungsi regulator yaitu bila pajak dipergunakan sebagai alat mengatur untuk mencapai tujuan. terutama kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah. Basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu “mobile”. Untuk itu. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi. Sementara. seharusnya diserahkan kepada Pemerintah Pusat. basis pajak yang “mobile” merupakan persyaratan utama untuk mempertahankan di tingkat pemerintah yang lebih tinggi (Pusat/Propinsi). basis pajak yang tidak terlalu “mobile” akan mempermudah daerah untuk menetapkan tarip pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. Untuk alasan ini pajak komsumsi di banyak negara yang diserahkan kepada daerah hanya karena pertimbangan wilayah daerah yang cukup luas (seperti propinsi di Canada). Pajak daerah yang sangat “mobile” akan mendorong pembayar pajak merelokasi usahanya dari daerah yang beban pajaknya tinggi ke daerah yang beban pajaknya rendah.268 dimaksud. Menurut Teresa Ter-Minassian (1997). adalah sebagai berikut: • pajak daerah secara ekonomis dapat dipungut. yaitu: 1. Dalam konteks Indonesia. Adapun fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). pajak ekspor dimaksudkan untuk mengekang pertumbuhan ekspor komoditi tertentu dalam rangka menghindari kelangkaan produk tersebut di dalam negeri. Fungsi budgeter yaitu bila pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. Sebaliknya. Propinsi dan Kabupaten/Kota. Dengan demikian. 2. khususnya yang terjadi di banyak negara sedang berkembang. artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. Pajak yang dimaksudkan untuk tujuan stabilisasi ekonomi dan cocok untuk tujuan distribusi pendapatan seharusnya tetap menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. kadang-kadang meningkat secara drastis dan adakalanya menurun secara tajam. seyogyanya. maka pemberian kewenangan untuk mengadakan pemungutan pajak selain mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan yang berlaku secara umum. Dasar-dasar Keuangan Publik . juga harus mempertimbangkan ketepatan suatu pajak sebagai pajak daerah. misalnya: pajak minuman keras dimaksudkan agar rakyat menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras.

permintaan dan penawaran barang yang dikenakan tarif pajak lebih tinggi. karena akan memperlemah hubungan antar pembayar pajak dengan pelayanan yang diterima (pajak adalah fungsi dari pelayanan). 6. Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi pembayar pajak daerah. harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak terlalu berfluktuasi. idealnya. maka Gambar 27-1 di bawah ini menunjukkan hubungan antara tarif pajak proporsional atas basis pajak tertentu. Gambar 27-1 ini juga mengasumsikan bahwa penyesuaian wajib pajak terhadap pengenaan tarif pajak tertentu adalah independent terhadap jenis pajak dan tarif pajak lainnya. namun penyerahan kewenangan pemungutannya kepada daerah akan tepat sepanjang manfaatnya dapat dilokalisir bagi pembayar pajak lokal. tetapi dapat dicapai total penerimaan pajak maksimum. Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data. Formulasi model ini dikenal sebagai Model Leviathan. Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain. yaitu : (i) dasar pengenaan pajak dan (ii) tarif pajak. seperti identifikasi jumlah pembayar pajak. Model Leviathan akan mencapai total penerimaan pajak maksimum (T*) pada tarif t*.269 4. Pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. Dengan asumsi bahwa biaya administrasi perpajakan dianggap tidak signifikan dan ceteris-paribus level pelayanan publik yang dibiayai dari penerimaan pajak. Pada kondisi ini dikenal sebagai Revenue Maximizing Tax Rate. Hal ini tergantung pada respons wajib pajak. dan hanya kegiatan ekonomi saja yang dipengaruhi oleh besaran pajak. Model Leviathan Penggalian sumber-sumber keuangan daerah khususnya yang berasal dari pajak daerah pada dasarnya perlu memperhatikan 2 (dua) hal. penegakkan hukum (law-enforcement) dan komputerisasi. secara teoritis tidak selalu menghasilkan total penerimaan maksimum. Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan secukupnya pada semua tingkat pemerintahan. Hasil penerimaan. Pemerintah Daerah cenderung untuk menggunakan tarif yang tinggi agar diperoleh total penerimaan pajak daerah yang maksimal. Pada tarif t*. tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga Dasar-dasar Keuangan Publik . Model Leviathan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi. 5. Bentuk kurva (“Laffer”) yang berbentuk parabola menghadap sumbu Y (tarif pajak). menunjukkan bukanlah tarif tertinggi. Pajak daerah seharusnya “visible”. objek dan subjek pajak dan besarnya pajak terutang dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah. 8. 7. menghasilkan Total Penerimaan Pajak Maksimum yang ditentukan oleh kemampuan wajib pajak untuk menghindari beban pajak baik legal maupun illegal dengan mengubah “economic behavior” dari wajib pajak.

Sehingga pada waktu UU No.18 Tahun 1997 diubag dengan UU No. maka akan dicapai Total Penerimaan Maksimum.34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya. Seiring dengan keluarnya UU No.18 Tahun 1997 dianggap kurang memberikan peluang kepada daerah untuk mengadakan pungutan baru. Selain itu.270 dan kuantitas barang terhadap pengenaan pajak sedemikian rupa. 25/1999. yaitu PP No. diharapkan pajak daerah dan retribusi daerah akan menjadi salah satu PAD yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. terutama sejak tahun 1997 dengan dikeluarkannya UU No. pengaturan agar Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah harus mendapat pengesahan dari Pusat juga dianggap telah mengurangi otonomi daerah. Dengan diubahnya UU No.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 18 Tahun 1997 berlaku belum ada satupun daerah yang mengusulkan pungutan baru karena dianggap hal tersebut sulit dilakukan.66 Tahun 2001 tentang Retribusi Dasar-dasar Keuangan Publik .34 Tahun 2000. Namun. UU No. namun harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP). Dalam UU No. Model Leviathan ini dapat dikembangkan untuk menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak untuk mencapai Total Penerimaan Pajak Maksimal.65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No. 22/1999 dan UU No. Walaupun dalam UU tersebut sebenarnya memberikan kewenangan kepada daerah. Gambar 27-1: Model Leviathan Tarif Pajak Daerah Kurva Laffer t* Total Penerimaan Pajak Daerah T* Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Pengaturan kewenangan pengenaan pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Indonesia telah diatur sejak lama. dalam perkembangannya.18 Tahun 1997 menjadi UU No.34 Tahun 2000. maka UU No.

34 Tahun 2000. dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria yang ditetapkan dalam UU tersebut. f. Kriteria dimaksud (Pasal 2 ayat 4) adalah : a. Jenis-Jenis Pajak Daerah Kabupaten Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota diberi kewenangan untuk memungut 7 (tujuh) jenis pajak (Pasal 2 ayat 2).65 Tahun 2001. Jenis-Jenis Pajak Daerah Propinsi Pajak Propinsi ditetapkan sebanyak 4 (empat) jenis pajak. dalam pelaksanaannya Propinsi dapat tidak memungut jenis pajak yang telah ditetapkan tersebut jika dipandang hasilnya kurang memadai. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Objek pajak bukan merupakan objek pajak Propinsi dan/atau objek pajak Pusat. c. Namun demikian. Jenis pajak Kabupaten/Kota tidak bersifat limitatif. Menjaga kelestarian lingkungan. g. artinya Kabupaten/Kota diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. (iv) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3ABT & AP). berlaku definitif untuk Pajak Propinsi yang ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No. Berkaitan dengan besarnya tarif. b. Potensinya memadai. (ii) Pajak Restoran. (vi) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C. (ii) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB & KAA). dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU. yaitu : (i) Pajak Hotel. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum. dan h. serta kewenangan bidang pemerintahan tertentu.271 Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh Propinsi dan jenis pajak yang dipungut oleh Kabupaten/Kota. (vii) Pajak Parkir. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. d. Adanya pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh Propinsi terkait dengan kewenangan Propinsi sebagai daerah otonom yang terbatas yang hanya meliputi kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas daerah Kabupaten/Kota dan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan daerah Kabupaten/Kota. (v) Pajak Penerangan Jalan. (iii) Pajak Hiburan. e. yaitu : (i) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (PKB & KAA). Bersifat pajak dan bukan retribusi. Jenis Pajak Propinsi bersifat limitatif yang berarti Propinsi tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan. (iv) Pajak Reklame. (iii) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Dasar-dasar Keuangan Publik . Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat.

namun tidak boleh lebih tinggi dari tarif maksimum yang telah ditentukan dalam UU tersebut. Gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Daerah Kabupaten/Kota yang terkait. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen). Bagian Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Daerah Propinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Daerah Kabupaten/Kota. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dengan adanya pemisahan jenis pajak yang dipungut oleh Propinsi dan yang dipungut oleh Kabupaten/Kota diharapkan tidak adanya pengenaan pajak berganda. Bagian Desa ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar Desa. Gubernur berwenang merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada Daerah Kabupaten/Kota dalam Propinsi yang bersangkutan. tarif jenis pajak ditetapkan paling tinggi sebesar: a. Hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). Penggunaan bagian Daerah Kabupaten/Kota ditetapkan sepenuhnya oleh Daerah Kabupaten/Kota. b. Dalam hal hasil penerimaan pajak Kabupaten/Kota dalam suatu Propinsi terkonsentrasi pada sejumlah kecil Daerah Kabupaten/Kota.272 Ketentuan Mengenai Bagi Peruntukkannya (Pasal 2A) Hasil Pajak Propinsi dan Hasil penerimaan pajak Propinsi sebagian diperuntukkan bagi Daerah Kabupaten/Kota di wilayah Propinsi yang bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut: a. c. Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 30% (tiga puluh persen). Disebutkan dalam UU No. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen). 34/2000 Pasal 3 ayat (1). b. Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota Besarnya tarif yang berlaku definitif untuk Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Hasil penerimaan pajak Kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10% (sepuluh persen) bagi Desa di wilayah Daerah Kabupaten yang bersangkutan. Sedangkan ketentuan mengenai realokasi dilakukan oleh Gubernur atas dasar kesepakatan yang dicapai antar Daerah Kabupaten/Kota yang terkait dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. c. Dalam hal objek pajak Kabupaten/Kota dalam satu Propinsi yang bersifat lintas Daerah Kabupaten/Kota. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen).

Namun. Pajak Reklame 25 % (dua puluh lima persen). tampaknya pungutan pajak dan retribusi daerah masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi. k. g. Keadaan inidiperlihatkan dalam suatu studi yang dilakukan oleh LPEM-UI bekerjasama dengan Clean Urban Project. serta sifatnya bervariasi antar daerah. Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). melihat kriteria pengadaan pajak baru sangat ketat. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. 1999. Berdasarkan UU No. khususnya kriteria pajak daerah tidak boleh tumpang tindih dengan Pajak Pusat dan Pajak Propinsi.273 d. buoyancy adalah elastisitas penerimaan 9 Dasar-dasar Keuangan Publik . Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen).34 Tahun 2000 daerah Kabupaten/Kota dimungkinkan untuk menetapkan jenis pajak dan retribusi baru. banyaknya bantuan dan subsidi ini mengurangi “usaha” daerah dalam pemungutan PAD-nya. Dari segi upaya pemungutan pajak. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). h. dan lebih mengandalkan kemampuan “negosiasi” daerah terhadap Pusat untuk memperoleh tambahan bantuan. Jakarta. Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). e. LPEM Universitas Indonsia bekerjasama dengan Clean Urban Project. • Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. Permasalahan yang dihadapi oleh Daerah pada umumnya dalam kaitan penggalian sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah. Rendahnya basis pajak ini bagi sementara daerah berarti memperkecil kemampuan manuver keuangan daerah dalam menghadapi krisis ekonomi. RTI8 bahwa banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD. Peranan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Mendukung Pembiayaan Daerah Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah. PAD masih tergolong memiliki tingkat buoyancy9 yang 8 Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia. Untuk mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi daerah. terutama hal ini disebabkan oleh: • Relatif rendahnya basis pajak dan retribusi daerah. Hal ini mengakibatkan bahwa pemungutan pajak cenderung dibebani olehbiaya pungut yang besar. i. yang merupakan salah satu komponen dari PAD. Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). f. Buoyancy adalah perbandingan persentase perubahan penerimaan pajak terhadap persentase perubahan pendapatan nasional. Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). Dengan kata lain. adalah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. RTI. j. diperkirakan daerah memiliki basis pungutan yang relatif rendah dan terbatas. • Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. Pajak Parkir 20% (dua puluh persen). Sebagian besar penerimaan daerah masih berasal dari bantuan Pusat.

hal. walaupun dari sisi pertumbuhan ekonomi sebenarnya pemasukkan pajak dan retribusi daerah dapat melampaui target yang ditetapkan. Demikian pula. beberapa daerah lebih condong memenuhi target tersebut. yaitu jumlah penerimaan pajak yang dipungut oleh daerah hanya sebesar 3. Salah satu sebabnya adalah diterapkan sistem “target” dalam pungutan daerah. Peranan pajak dan retribusi daerah dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi juga terjadi karena adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah penduduk. op.cit. Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah.11 Ketimpangan dalam penguasaaan sumbersumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia dari sisi revenue assignment masih terlalu ”sentralistis”.274 rendah. 8. seperti: pajak penghasilan. Dasar-dasar Keuangan Publik . perpajakan terhadap PDB yang menunjukkan berapa persen perubahan penerimaan perpajakan apabila PDB berubah 1%. pajak pertambahan nilai dan bea masuk. Variasi dalam penerimaan ini diperparah lagi dengan sistem bagi hasil (bagi hasil didasarkan pada daerah penghasil sehingga hanya menguntungkan daerah tertentu). Sebagai akibatnya. Hal ini mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat berarti bagi daerah. 2002. keadaan geografis (berdampak pada biaya yang relatif mahal). Sebagian besar daerah Propinsi hanya dapat membiayai kebutuhan pengeluarannya kurang dari 10%10. Machfud Sidik. dan kemampuan masyarakat. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa distribusi kewenangan perpajakan antara daerah dan pusat sangat timpang. peranan PAD dalam membiayai kebutuhan pengeluaran daerah sangat kecil dan bervariasi antar daerah yaitu kurang dari 10% hingga 50%. sehingga mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat bervariasi. distribusi pajak antar daerah juga sangat timpang karena basis pajak antar daerah sangat bervariasi (ratio PAD tertinggi dengan terendah mencapai 600). 10 11 Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2001. Selama ini.39% dari total penerimaan pajak (Pajak Pusat dan Pajak Daerah). • Tidak signifikannya peran PAD dalam anggaran daerah tidak lepas dari ‘sistem tax assignment’ di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada Pemerintah Pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial (yang tentunya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu).

lembaga keuangan bank. Pinjaman juga dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu. masyarakat. Sumber pinjaman dapat berasal dari berbagai pihak. persyaratan-persyaratan pinjaman. masalah kewenangan daerah untuk meminjam ini telah diatur. terutama risiko dalam pembayaran bunga maupun pokok. Pemerintah Pusat. jangka pendek dan jangka panjang. dalam subbagian selanjutnya akan disajikan praktek pinjaman daerah di Indonesia. dan sumber lainnya seperti pinjaman dari daerah lain. Banyaknya pihak yang dapat dijadikan sumber pinjaman membuat pembiayaan pembangunan dengan pinjaman mampu mengumpulkan dana yang cukup besar. harus menjadi pertimbangan dalam melakukan pinjaman. baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Pinjaman yang berasal dari masyarakat penghimpunan dana dapat melalui penerbitan Obligasi Daerah. Pada dasarnya kewenangan daerah Dasar-dasar Keuangan Publik . Pinjaman dalam negeri dapat berasal dari. Pemilihan jangka waktu akan sangat tergantung pada jenis proyek yang akan dibiayai. dan kemampuan meminjam (ability to borrowing). lembaga keuangan bukan bank. namun perlu diperhatikan adanya batas meminjam yang disesuaikan dengan kemampuan tiap-tiap daerah. metode dan sumber-sumber pinjaman. Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Pemerintah Daerah dapat membiayai sebagian pengeluarannya dengan melakukan pinjaman. Walaupun kemungkinan nilai pinjaman yang mampu dikumpulkan cukup besar karena banyaknya sumber yang bisa digunakan. Dalam konstitusi di berbagai negara.275 B A B XXVIII PINJAMAN DAERAH Pendahuluan injaman merupakan alternatif lain yang bisa dipilih untuk membiayai pembangunan daerah. Risiko yang terkandung dalam melakukan pinjaman. P Pada bagian ini akan dibahas mengenai tujuan dan batas-batas pinjaman. Dan agar pembahasan ini lebih riil di lapangan.

Kekurangan dana dari anggaran tahunan adalah hal yang umum terjadi untuk Pemerintah Pusat. akan tetapi Pemerintah Daerah seringkali mencari pinjaman langsung dari deposito jangka pendek dari masyarakat berupa short-term bills. untuk membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah. Pembelian sebuah pabrik dan peralatan lainnya juga dapat dibiayai dengan pinjaman. dengan jangka waktu sampai tiga bulan. Pilihan lain adalah dengan cara pinjam sewa (leasing). untuk menutup kebutuhan dana (cash) jangka pendek. 4. penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pembangunan prasarana dan penyediaan pelayanan umum. membayar hutang dan membiayai sebagaian besar dari biaya-biaya rutin (operating cost). untuk membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. biasanya diarahkan untuk membiayai prasarana publik yang reraltif cenderung lebih mengedepankan Dasar-dasar Keuangan Publik . untuk membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). biasanya sebagai suatu keharusan karena pola pengumupulan penerimaan daerah yang tidak seimbang. Pemerintah Daerah juga mampu menyediakan pelayanan publik secara lebih baik. Pengembalian pinjaman tersebut dari hasil penjualan rumah-rumah dan toko-toko yang dibangun oleh British. Pada tahun 1975. Pemerintah Daerah di Italia meminjam 61% dari penerimaan kotor mereka untuk membiayai pengeluaran modal.276 melakukan pinjaman adalah seperti yang dituliskan oleh Davey (1983). Pinjaman dengan maksud untuk menutup kebutuhan dana jangka pendek adalah sangat umum dilakukan. bahwa berbagai pinjaman dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Tetapi jarang diperkenankan bagi Pemerintah Daerah. Pemerintahan New York juga pernah melakukan pinjaman untuk membayar gaji pegawai dan uang pensiunan dan membayar hutang yang telah jatuh tempo. Bentuk pinjaman yang umum berupa bank overdraft. Sementara itu. selain mendapatkan sumber penerimaan bagi daerah. pembangunan British New Town Corporation dibiayai oleh Pemeirntah Pusat Inggris. Sebagai contoh. Pemerintah negara bagian di Amerika Serikat juga mengadakan pinjaman melalui industrial aid bonds untuk menyediakan dana investasi perusahaan manufaktur perorangan. 2. Suatu cara penyelesaian yang umum untuk membeli peralatan dengan pinjaman adalah dengan membeda-bedakan perkiraan umur masingmasing peralatan. Praktek-praktek seperti ini antara lain sering diterapkan di negara-negara maju. untuk membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. 3. Maksudnya adalah. Praktek dan konsep yang secara luas dapat diterima adalah dana pinjaman untuk membiayai kegiatan investasi yang dapat “membiayai sendiri”. Cara leasing ini semakin dikenal untuk menghindari pembelian peralatan yang cepat menjadi usang sebagai akibat perubahan teknologi. proyek yang dibiayai tersebut dapat menghasilkan penerimaan (revenue) yang dapat digunakan untuk membayar kembali dana pinjaman. 5. Manfaat dari pinjaman seperti ini adalah.

Pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing. Pinjaman hipotek atas asset tetap. 8. seperti Bank Dunia (World Bank). Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB).277 manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat dibandingkan dengan revenue yang dihasilkan. Di antara sistem pinjaman tersebut di atas. Pinjaman yang bersifat jangka pendek. Bahkan. 6. sumber pinjaman untuk pembiayaan jenis ini biasanya berasal dari negara-negara donor dengan tingkat bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan bunga komersial. Dari pembahasan ini prinsip dasar yang harus dipegang ketika Pemerintah Daerah melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristik dari pinjaman itu sendiri. Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB).6% pinjaman daerah berasal dari Pemerintah Pusat pada tahun 1979.12 3. Bank Asia Afrika dan bantuan bilateral. sesungguhnya batasan-batasan atau teknik-teknik pembiayaan yang berlaku dalam dunia korporasi juga berlaku bagi Pemerintah Daerah. sumber dana yang berasal 12 Mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan aggreement adalah pinjaman dari luar negeri ke Pemerintah Pusat. kemudian oleh Pemerintah Pusat. Pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. 9. Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Terdapat beberapa sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah. 4. yang biasanya pinjaman ini diberikan kepada Pemerintah Pusat negara yang bersangkutan melalui mekanisme pinjaman two step loan atau subsidary loan aggreement. karena ada larangan dari Pemerintah Pusat bagi Pemerintah Daerah untuk meminjam di luar skema Pemerintah Pusat. Dengan kata lain. Dana untuk sewa beli peralatan (leasing). Oleh karenanya. Pembahasan lebih lanjut untuk kasus di Indonesia ini akan di bahas secara khusus di subbagian berikutnya. pinjaman tersebut diteruskan ke Pemerintah Daerah. ada tiga cara yang paling sering digunakan oleh Pemerintah Daerah di berbagai negara. Obligasi Jangka Panjang (bond) 5. Pertama. 2. adalah Pemerintah Pusat memberikan pinjaman kepada Pemerintah Daerah. misalnya dana pensiun. karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan. Kedua. Bank Pembangunan Amerika Latin (untuk negara-negara di kawasan Amerika Latin). Dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek. 7. Dasar-dasar Keuangan Publik . Praktek ini diterapkan oleh India. di Indonesia. hampir 100% pinjaman jangka panjang Pemerintah Daerah berasal dari Pemerintah Pusat. Pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bank-bank komersial. dimana 71. Pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional. tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan atau investasi jangka panjang. yaitu: 1. Pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas (umumnya dari Pemerintah Pusat).

khusus untuk pinjaman jangka pendek untuk memenuhi cash flow Pemerintah Daerah. Akan tetapi. misalnya pinjaman untuk masa 10 tahun. Persyaratan tingkat bunga pinjaman yang bersumber dari pasar keuangan pasti didasarkan pada bunga pasar. berupa management fee dan commitment fee yang besarnya sangat tergantung dari negosiasi antara kedua belah pihak. Ketiga. Namun. sehingga hutang pokok yang dibayarkan adalah kumulatif selama masa pinjaman. maka Pemerintah Daerah harus mendapatkan pinjaman dengan jangka waktu yang setidaknya sama dengan umur proyek. Pada umumnya. dengan mengeluarkan obligasi (bonds) di pasar modal. Di Indonesia. Persyaratan keamanan pinjaman muncul karena pihak pemberi pinjaman biasanya menghendaki suatu keadaan aman terhadap kegagalan pembayaran Dasar-dasar Keuangan Publik .25% dari pinjaman yang belum ditarik. dengan maksud agar dapat meningkatkan kemampuan finansial Pemerintah Daerah. tingkat bunga pun akan semakin tinggi. Jangka waktu pinjaman Pemerintah Daerah bisa saja berkisar antara 24 jam (overnight) hingga 40 tahun. Misalnya. Sebagai pilihan yang dapat dilakukan adalah dimana jangka waktu pinjaman dapat diturunkan sesuai penerimaan dari pajak dan retribusi untuk mengimbangi beban pinjaman tersebut. melalui bank-bank komersial. Biasanya.278 dari pasar keuangan. (iii) tingkat bunga. (iv) keamanan pinjaman. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional oleh suatu Pemerintah biasanya memberlakukan bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan bunga pasar. Persyaratan cara pembayaran kembali akan tergantung pada metode pembayaran yang dilakukan. Sementara itu. dimana angsuran pinjaman dibayar secara tetap. Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah (i) jangka waktu pinjaman. Yang terpenting adalah bahwa jangka waktu pinjaman bergantung pada sikap pasar serta suku bunga yang berlaku. Untuk tujuan capital investment. misalnya. semakin lama suatu pinjaman. Komponen dalam setiap kali pembayaran tersebut adalah pokok pinjaman dan bunga pinjaman. pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat atau lembaga keuanga internasional sering mencari turnover dana yang dipinjamkan secepat mungkin. namun dalam prakteknya metode ini sering lebih merupakan usaha penyelematan terhadap utang kepada pihak luar (external debt). pinjaman dari lembaga-lembaga internasional tersebut juga memberlakukan fee. pengalaman menunjukkan bahwa bila cara sinking fund dtelah diterapkan dan untuk memenuhi kewajibannya disanggupi dengan baik. management fee dan commitment fee sekitar 0. Jangka waktu pinjaman sangat tergantung dengan tujuan penggunaan pinjaman. dan (v) persetujuan dan penyidikan. Jika menggunakan metode anuitas berarti membayar beberapa kali angsuran dalam jumlah yang sama besarnya setiap kali pembayaran hingga masa pembayaran selesai. Metode pembayaran yang lain adalah menggunakan metode sinking fund. (ii) cara pembayaran kembali.

Hal ini dilandasi dengan perkembangan tingkat urbanisasi yang lebih tinggi daripada kemampuan daerah menyediakan berbagai infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik. karena Pemerintah Daerah harus memperhitungkan secara tepat nilai opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek-proyek yang akan dilaksanakannya sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi (Alisjahbana. justify the debt service paid to lenders”. Persyaratan persetujuan muncul karena suatu pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Kewenangan yang lebih besar kepada Daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah dan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan daerah.... Keterbatasan Pemerintah Daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah yang berasal dari daerahnya sendiri menjadi alasan penggunaan pinjaman dalam pembiayaan suatu daerah. Proyek-proyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial selayaknya didanai oleh pembiayaan jangka panjang. vis-a-vis the project socioeconomic benefits.279 kembali. semakin besar. Masyarakat yang menerima manfaat proyek di masa mendatang secara prinsip harus ikut menanggung beban biaya pengadaan proyek tersebut. 2001). Sedangkan DCR pada prinsipnya merupakan angka Dasar-dasar Keuangan Publik . dalam berbagai klausul pinjaman oleh Pemerintah Daerah. local government should only use sub-national debt to finance capital projects that are anticipated to produce financial rate of returns that. Dua ukuran yang sering digunakan untuk itu adalah Debt Service Ratio (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR). sedangkan pinjaman daerah yang berasal dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. Penggunaan Pinjaman Dalam Pembiayaan Kebutuhan akan pinjaman daerah muncul akibat kecenderungan yang terjadi dimana peningkatan peran Pemerintah Daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah. Dari sisi teori fiskal. pinjaman yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah baru dapat dijalankan jika DPRD setempat memberikan persetujuan.. tidak jarang pemberi pinjaman meminta adanya jaminan dari Pemerintah Pusat atau dijamin dengan aset tertentu. pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). Keterbatasan keuangan Pemerintah Pusat yang berimplikasi pada dana perimbangan pusat dan daerah.. Dalam konteks di Indonesia. Makanya. Untuk menghindari risiko yang dapat terjadi atas penggunaan pinjaman daerah dalam pembiayaan hendaknya memperhatikan kaidah yang berlaku dalam memperkirakan kapasitas meminjam Pemerintah Daerah. 2000): “ . misalnya proyekproyek infrastruktur. misalnya lembaga perwakilan daerah. DSR merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah yang pada prinsipnya digunakan Pemerintah Daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman. biasanya tidak dapat dilakukan sebelum ada persetujuan dari lembaga yang berwenang. Prasyarat utama bagi diperbolehkannya daerah meminjam adalah dengan menerapkan “the golden rule guidelines” bagi pinjaman daerah (Magrassi.

280 perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan neto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. pembiayaan investasi yang diharapkan dapat secara langsung menghasilkan pendapatan. 25 Tahun 1999 menyebutkan bahwa daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari. 2001). Sedangkan untuk pinjaman dari dalam negeri dapat secara langsung dilakukan bila disetujui oleh DPRD dengan prinsip pinjaman tersebut harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan daerah untuk membayar pinjamannya. Pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran arus kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang Dasar-dasar Keuangan Publik . Pinjaman daerah yang berasal dari luar negeri harus melalui Pemerintah Pusat. tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. Walaupun demikian. dan pembiayaan investasi jangka panjang yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. a. perlunya persetujuan Pemerintah Pusat harus ada evaluasi yang menyeluruh tentang aspek-aspek dapat tidaknya usulan pinjaman untuk diproses lebih lanjut. Undangundang No 25 Tahun 1999 Pasal 11 ayat 1 menyebutkan bahwa: "Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya". Pinjaman dari dalam negeri dapat bersumber dari (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2). Pinjaman harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan mengangsur serta cara mengalokasikan pada pembangunan dan atau penyediaan layanan publik yang produktif. § Pemerintahan Pusat § Lembaga Keuangan Bank § Lembaga Keuangan Bukan Bank § Masyarakat § Sumber Lainnya Pinjaman daerah menurut PP No 107 Tahun 2000 adalah: semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang. Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya maka. (a) sumber dalam negeri (b) sumber luar negeri. pinjaman harus didefinisikan sebagai sumber dana pelengkap untuk mempercepat proses pembangunan daerah. pembiayaan defisit anggaran rutin tahunan. pembelian peralatan dan kendaraan yang memiliki umur ekonomis jangka menengah. Istilah disisihkan dimaksudkan untuk mempertegas adanya rencana untuk membiayai proyek melalui dana pinjaman daerah. Dalam hal ini. dan terutama tersedianya dana untuk pengembalian pinjaman secara aman. Pinjaman daerah sebaiknya bersifat jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat (Wiratmo. Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Ketentuan Dasar Pinjaman Daerah di Indonesia Undang-undang No. sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Pinjaman pada dasarnya dapat digunakan untuk pembiayaan defisit aliran kas jangka pendek.

22/1999 dan UU No. Hal yang sama juga berlaku untuk pinjaman bilateral. World Bank. yang dalam hal ini adalah Pemerintah Pusat. (2) Daerah melakukan pinjaman dari sumber luar negeri melalui Pemerintah Pusat. Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah Pada tahun 1999.281 b. yaitu UU No. dan lain-lain) mensyaratkan perpanjian pinjaman dilakukan oleh negara sebagai anggota. 25/1999 adalah diperkenankannya Daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. yang dalam banyak literatur disebut intergovernment fiscal relation yang dalam UU 25/1999 disebut perimbangan keuangan. Namun. yang artinya Pemerintah Pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kondisi ini sangat berbeda dengan ketentuan mengenai pinjaman daerah sebelum UU No. Salah satu hal penting yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU No. dimana negara lender hanya melakukan pinjaman dengan Pemerintah Pusat sebagai peminjam (Pakpahan. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. khususnya dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. dan (4) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas Daerah. (3) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset Daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. Pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali. 25/1999 (lihat Tabel 28-1 ). Pemerintah RI memberlakukan dua undang-undang penting yang berkaitan dengan desentralisasi. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25/1999 menyebutkan bahwa: (1) Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya. Dasar-dasar Keuangan Publik . 2004). Pasal 11 UU No. Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 telah menyebabkan terjadi perubahan yang sangat mendasar mengenai pengaturan hubungan Pusat dan Daerah. 22/1999 dan UU No.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi/peraturan. Beberapa komponen kunci tentang pinjaman daerah yang ditetapkan oleh UU No.5 proyeksi penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu pinjaman. sebagai pengawas RPD dan persetujuannya Batasan Pinjaman (Persyaratan) Batasan Pinjaman (Persyaratan) • 1982: Debt Service Coverage Ratio • Jumlah kumulatif pokok pinjaman (DSCR) < 15% yang wajib dibayar tidak melebihi 75% dari jumlah Penerimaan • Kepmendagri Nomor 96 Tahun Umum APBD tahun sebelumnya. yaitu PP 107/2000 tentang Pinjaman Daerah. Sumber-Sumber Pinjaman • Pinjaman Luar Negeri Pemerintah • Sumber Dalam Negeri: § Pemerintah Pusat Pusat § Perbankan • Pinjaman Pemerintah Pusat melalui § Lembaga keuangan nonRDI bank • INPRES untuk pembangunan pasar § Sumber-sumber lain • IPEDA • Sumber-sumber lain (BPD dan • Sumber Luar Negeri § Bilateral sektor swasta) § Multilateral • Pemerintah Pusat melalui RPD Sumber: Alm & Mulyani. • Menteri Keuangan. 25/1999 PP 107/2000 Institutional Setting Persetujuan (Approval) Persetujuan (Approval) • Menteri Dalam Negeri. • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 jumlah belanja APBD tahun anggaran berjalan. 2000 UU No. 1994: § Minimum DSCR = 1 • DSCR minimal 2. 5/1974 Lebih jauh. 25/1999.5 berdasarkan § Average DSCR > 1.282 Tabel 28-1: Pinjaman Daerah Sebelum dan Setelah Kebijakan Desentralisasi SEBELUM DESENTRALISASI SETELAH DESENTRALISASI Legal Foundation UU No. dalam rangka mengimplementasikan Pasal 11 UU No. 25/1999 dan PP 107/2000 adalah sebagai berikut: Dasar-dasar Keuangan Publik . berkenaan • Menteri Keuangan dengan persetujuan batas • DPRD maksimum pinjaman dan persetujuan pemberian.

Jangka Pendek (Short Term) Sumber: Pasal 6 & 7 PP 107/2000 Dasar-dasar Keuangan Publik . • Jumlah maksimum Pinjaman Jangka Pendek adalah 1/6 (satu per enam) dari jumlah belanja APBD tahun anggaran yang berjalan. Luar Negeri • Bilateral • Multilateral Sumber: Pasal 11 UU No. Sumber: Pasal 11 UU No. Jangka Pendek (Short Term) • Daerah dapat melakukan Pinjaman Jangka Pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan Kas Daerah. Debt Service Coverage Ratio (DSCR) paling sedikit 2.283 Sumber Pinjaman Indonesia/Dalam Negeri Institusi tempat Meminjam • Pemerintah Pusat. 25/1999 dan Pasal 2 PP 107/2000 Jenis/Tipe Pinjaman Jangka Panjang (Long Term) Penggunaannya • Hanya dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset Daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. • Lembaga Keuangan Bank. dan • Berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran Daerah tahunan selama jangka waktu pinjaman. 25/1999 dan Pasal 4 & 5 PP 107/2000 Persyaratan Jangka Panjang (Long Term) Keterangan • Jumlah kumulatif pokok Pinjaman Daerah yang wajib dibayar tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah Penerimaan Umum APBD tahun sebelumnya.5 (dua setengah). • Lembaga Keuangan Bukan Bank. • Masyarakat. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. • Sumber lainnya.

Daerah mengajukan usulan kepada Menteri Keuangan disertai surat persetujuan DPRD.284 Prosedur Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat • Untuk memperoleh pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat. Sumber: Pasal 14 PP 107/2000 Larangan Penjaminan • Daerah dilarang melakukan perjanjian yang bersifat penjaminan terhadap pinjaman pihak lain yang mengakibatkan beban atas keuangan Daerah. • Pembayaran kembali Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri oleh Daerah. Sumber: Pasal 10 PP 107/2000 Dasar-dasar Keuangan Publik . • Daerah mengajukan usulan pinjaman kepada Pemerintah Pusat disertai surat persetujuan DPRD. Sumber: Pasal 12 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Luar Negeri • Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui Pemerintah Pusat. • Perjanjian pinjaman yang bersumber dari Pemerintah Pusat ditandatangani oleh Menteri Keuangan dan Kepala Daerah. setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Pemerintah Pusat. maka Pemerintah Pusat memperhitungkan kewajiban tersebut dengan Dana Alokasi Umum (DAU) kepada Daerah. maka kewajiban tersebut diselesaikan sesuai perjanjian pinjaman. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. Pemerintah Daerah mengadakan perundingan dengan calon pemberi pinjaman yang hasilnya dilaporkan untuk mendapatkan persetujuan Pemerintah Pusat. • Apabila Pemerintah Pusat telah memberikan persetujuan. • Pemerintah Pusat melakukan evaluasi dari berbagai aspek untuk dapat tidaknya menyetujui usulan tersebut. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk dilakukan evaluasi. • Daerah dapat melakukan Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. Sumber: Pasal 13 PP 107/2000 Pembayaran Kembali Pinjaman Daerah • Semua pembayaran yang menjadi kewajiban Daerah yang jatuh tempo atas Pinjaman Daerah merupakan prioritas dan dianggarkan dalam pengeluaran APBD. dilakukan dalam mata uang sesuai yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman luar negeri. • Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijadikan jaminan dalam memperoleh Pinjaman Daerah. • Perjanjian Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri ditandatangani oleh Kepala Daerah dengan pemberi pinjaman luar negeri.

kemudian barang jadi dijual ke Dasar-dasar Keuangan Publik . Kemudian kedua negara tersebut akan melakukan pertukaran: negara yang satu mengeksport tekstil dan mengimpor computer. Negara dengan kemampuan teknologi tinggi sebaiknya memproduksi barang seperti computer atau perangkat lunak. Ekonom klasik menaruh perhatian terhadap perdagangan internasional. bukannya barang yang terdiferensiasi. Dengan cara semacam itu kemakmuran dunia akan semakin meningkat. kemudian memperoleh modal dari pasar keuangan eropa. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai doktrin keunggulan komparatif.285 B A B XXIX KOORDINASI PAJAK INTERNATIONAL Pendahuluan ransaksi internasional bukan merupakan hal yang baru. Transaksi tersebut sudah dilakukan sejak jauh sebelum abad Masehi. seperti tekstil dan sepatu. teknologi tidak dipertimbangkan dalam teori tersebut. tergantung sumberdaya yang dipunyai. Daya saing suatu negara sudah ditentukan (given). mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien. produk didesain di prancis. Sebagai contoh. T Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. tanah dan mesin tidak mudah berpindah (tidak mobil). modal. Juga teori tersebut mengasumsikan pertukaran barang komoditi. sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah. Asumsi dalam teori tersebut adalah bahwa faktor produksi seperti tenaga kerja. Faktor lain seperti ketidakpastian. skala ekonomi. Jika ekonomi klasik mengasumsikan bahwa faktor produksi tidak mudah berpindah. sedangkan yang lainnya mengekspor computer dan mengimpor tekstil. Perusahaan multinasional bisa memproduksi barang di Indonesia (karena tenaga kerja murah). negara dengan tenaga kerja murah akan lebih baik memproduksi barang bercirikan padat karya. Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya. perusahaan multinasional dibangun dengan asumsi bahwa faktor produksi sangat mobil.

Dalam kasus ini yang menjadi pertanyaan adalah. A. apakah keadilan horizontal (keadilan antar perorangan) yang mengharuskan bahwa pajak total yang dibayarnya (baik didalam maupun luar negeri) akan sama dengan pajak yang di bayar oleh Mr. Gambaran mengenai perusahaan multinasional tersebut diatas menunjukkan fakta bahwa semakin hari akan semakin meningkat saling ketergantungan perekonomian dunia dan kondisi ini akan semakin mempengaruhi aspek internasional dalam hal keuangan publik. dia akan dikenakan pajak lebih dari satu kali. Keputusan ini tentunya akan diambil secara bersamasama dengan negara lain. yang dalam masa tertentu bekerja di Indonesia. Karena dia juga menerima pendapatan sebagai warga negara Amerika Serikat. Koordinasi dan alokasi sumberdaya menjadi kunci pengelolaan perusahaan multinasional. Setiap negara tentunya akan mengatur bagaimana negara tersebut akan menarik pajak terhadap pendapatan warga negaranya yang diperolehnya dari luar negeri dan pendapatan warga negara asing yang berasal dari dalam negeri. seorang warga negara Amerika Serikat. A juga melakukan investasi di Indonesia dan menerima deviden yang dikenakan pajak oleh Indonesia. pembiayaan badan kerjasama internasional seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan NATO. A juga akan dikenakan pajak oleh pemerintah Amerika Serikat. Sejalan dengan kondisi tersebut suatu negara tentunya juga harus mengatur bagaimana pajak produk dan pajak penjualan dari negara bersangkutan akan diterapkan pada sistem ekspor impornya. Dalam hal penerapan koordinasi pajak internasional. tetapi sudah melintas batas-batas negara. Dalam kasus lain. terdapat beberapa asas yang perlu diperhatikan yang diantaranya adalah: 1. dan ketimpangan distribusi pendapatan internasional akan mengarah kepada perlunya koordinasi fiskal internasional. Keadilan antar perorangan Keadilan antar negara Efisiensi Keadilan Antar Perorangan Dalam prakteknya. akan membayar pajak sesuai dengan ketentuan Indonesia atas penghasilan yang diperolehnya di Indonesia. yang menerima pendapatan total yang sama tetapi seluruhnya berasal dari Amerika Serikat? Atau sudah cukupkah kiranya jika Amerika Serikat menganggap pajak yang di bayar ke negara lain sebagai pengurangan pendapatan dan menyamakan beban pajak sesuai dengan Dasar-dasar Keuangan Publik . tentunya Mr. makin meningkatnya peranan perusahaan multinasional.286 Amerika Serikat. B. 3. Misalnya adalah Mr. 2. Penyatuan perekonomian Eropa ke dalam pasar bersama. Mr. dan perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah tersebut. sedangkan pusat perusahaan tersebut di Jepang. jika seseorang menerima pendapatan yang berasal dari berbagai negara. Faktor produksi tidak dibatasi oleh batas-batas negara. Perusahaan multinasional berusaha mengoptimalkan sumberdaya yang ada di dunia ini tidak terbatas pada batas-batas negara.

harga ekspor akan naik dan konsumen di luar negeri akan membayar lebih mahal. sehingga tidak akan merugikan bagi Amerika Serikat tetapi hanya merupakan transfer dari warga negara Amerika Serikat ke Departemen Keuangan Amerika Serikat. Hal ini juga menunjukkan bahwa sebagian beban pajak akan di geser keluar negeri. jika Impor dikenakan pajak. sedangkan dalam kasus Mr. masalah ini akan timbul baik dalam hal pajak penghasilan maupun pajak produk.C. tetapi berapa tarif yang akan di kenakan masih menjadi persoalan. Konsekuensi dari kondisi tersebut di atas adalah bahwa pajak Indonesia yang di kenakan terhadap penghasilan atas modal Amerika Serikat yang ditanamkan di Indonesia tentunya akan mengurangi pengembalian (return) bagi Amerika Serikat. pemasok luar negeri harus menjual produknya dengan harga yang lebih rendah. Sejalan dengan itu. Jika Mr. Jadi. Oleh karena itu. Sehubungan dengan pajak penghasilan. secara umum disetujui bahwa negara dimana pendapatan itu dihasilkan (juga di sebut sebagai negara sumber) berhak menarik pajak atas pendapatan tersebut. maka Mr C akan menanamkan lebih banyak modalnya di Vietnam. keadilan diinterpretasikan dalam artian internasional. A. seorang investor merasakan bahwa pajaknya akan lebih rendah apabila dia menanamkan modal di Vietnam dari pada di Indonesia. tentunya biaya ekspor akan naik.287 pengenaan pajak di Amerika Serikat saja? Dalam kasus Mr. Kondisi ini bisa disebut sebagai prinsip berbalasan. kerugian yang di derita Amerika Serikat hanya akan tergantung pada tarif pajak atas modal Amerika Serikat yang di kenakan di Indonesia. B keadilan diinterpretasikan dalam artian nasional. Salah satu pandangan mengenai keadilan antar negara adalah bahwa negara sumber harus diperbolehkan menarik pajak atas pendapatan yang di peroleh investor asing dengan tarif sebesar yang di kenakan negara lain atas pendapatan warganya di negara tersebut. Berbeda halnya dengan pajak tambahan yang mungkin di kenakan oleh Amerika Serikat. masalah keadilan berkaitan dengan kemungkinan untuk membebani warga asing melalui perubahan harga. Efisiensi Perbedaan tarif pajak tentunya akan mempengaruhi lokasi dari kegiatan perekonomian dan cenderung menghambat penggunaan sumber daya yang paling efisien. sebagian dari beban pajak akan digeser keluar negeri. Meskipun dengan cara yang berbeda. Jika negara tersebut mendominasi pasar ekspor. Keadilan Antar Negara Masalah keadilan yang lebih pelik akan kita temui dalam menentukan pembagian penerimaan pajak diantara ditjen pajak atau departemen keuangan di berbagai negara. Dengan demikian. permasalahannya adalah bagaimana mengelola pengenaan pajak atas pendapatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam hal pajak produk. Jika kita menerima kriteria bahwa suatu negara harus membayar pajaknya sendiri. maka penggeseran beban semacam itu bisa dianggap sebagai hambatan bagi keadilan antar negara. Jika negara A mengenakan pajak atas ekspor.

seseorang subjek pajak akan dianggap sebagai penduduk dalam negeri (resident taxpayer) apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. Pada umumnya. Jadi. Bagi yang bukan merupakan penduduk tidak akan ditarik pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di negara tersebut. Pajak Langsung /Capital Income (Direct) Taxation Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan. yaitu (a) jenis penghasilan itu sendiri dan (b) penentuan sumber penghasilan berdasarkan undang-undang pajak dari suatu negara. untuk menentukan letak sumber penghasilan. Dasar-dasar Keuangan Publik . tergantung dari falsafah yang dianutnya. tanpa memperhatikan tempat domisili penerima pendapatan tersebut. Di samping itu. yaitu: • Penghasilan dari usaha (active income) • Penghasilan dari modal (passive income). Prinsip Prinsip Pajak Internasional Berbagai struktur sistem pajak nasional mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional dan konsekuensinya. Artinya. royalty dan penghasilan dari harta. baik itu warga negara ataupun bukan warga negara. jenis-jenis penghasilan dibagi menjadi dua. akan tercipta efisiensi alokasi sumber daya di seluruh dunia dalam integrasi perekonomi dunia. penduduk suatu negara tidak akan dikenakan pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di luar negeri dan warga negara asing akan dikenakan pajak sama dengan pendapatan penduduk yang diterima di negara tersebut. bunga. Walaupun kemungkinan tidak ada satu negarapun yang secara ketat menerapkan prinsip prinsip pajak internasional. Penentuan sumber penghasilan tergantung dari dua hal yang pokok. Prinsip pajak berdasarkan asas domisili menyatakan bahwa penduduk akan dikenakan pajak di negara di mana ia berdomisili tanpa memperhatikan darimana sumber penghasilan yang diperolehnya baik pendapatan yang diperolehnya di dalam negeri maupun di luar negeri.288 dan investasi internasional sehingga tidak mengganggu efisiensi alokasi modal secara global. misalnya dividen. Prinsip pajak berdasarkan asas dari sumber pendapatan menyatakan bahwa seluruh pendapatan yang diperoleh di suatu negara akan dikenakan pajak. yang merupakan persyaratan bagi perdagangan yang efisien. yang berbeda dari negara lain. Yang berkaitan erat dengan asas domisili ini adalah penentuan domisili bagi subjek pajak. tetapi di modifikasi oleh perbedaan biaya pajak. Kondisi ini akan mengakibatkan bahwa lokasi produksi tidak lagi di tentukan oleh keunggulan komparatif (atau biaya sumber daya relatif). setiap negara mempunyai definisi penduduk sendiri-sendiri. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni pajak langsung dan pajak tidak langsung. Syaratsyarat in tergantung pada undang-undang masing-masing negara.

segala barang maupun jasa yang bertujuan untuk konsumsi akhir pada suatu negara akan dikenakan pajak. 1. D yang bekerja selama enam bulan di Inggris dan kemudian kembali ke Amerika Serikat.289 Pajak Komoditi (Pajak Tidak Langsung) Dengan menganalogikan pada pajak domisili dan pajak sumber pendapatan pada pajak langsung. terdapat dua prinsip pajak tidak langsung yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni prinsip pajak tujuan dan prinsip pajak sumber. Pemerintah di negara sumber pendapatan lazimnya akan Dasar-dasar Keuangan Publik . Nn. Guna menentukan pajak yang akan di bayarnya di Amerika Serikat. meskipun menyebabkan menurunnya penerimaan negara bersangkutan. kondisi ini selaras dengan pandangan internasional mengenai keadilan antar perorangan. tanpa memperhatikan sumber ataupun asal produksi. Demikian juga dengan pemberian kredit pajak oleh negara asal warga bersangkutan. Menurut prinsip pajak tujuan. Pengenaan Pajak Tehadap Pendapatan Atas Modal Pada umumnya terdapat beberapa ketentuan dalam memperlakukan pendapatan investasi asing. Koordinasi Atas Pajak penghasilan Dan Pajak Laba Pengenaan Pajak atas Pendapatan yang Diperoleh Setiap negara berhak untuk menarik pajak atas pendapatan warganya entah di manapun pendapatan itu di peroleh. pendapatan di Inggris juga akan diperhitungkan. tetapi bisa menerapkan tarifnya sendiri terhadap penghasilan orang asing. Secara umum prinsipnya adalah memperbolehkan pengenaan pajak atas pendapatan di negara sumber sedangkan negara asal warga bersangkutan akan memberikan kredit pajak. barang atau jasa yang dibeli oleh penduduk dikenakan pajak. akan membayar pajak Inggris Raya atas pendapatan yang diperolehnya di Inggris. karena hal itu merupakan pajak seharusnya akan dibayarnya seandainya pendapatan tersebut diperoleh di Amerika Serikat. Kondisi ini selaras dengan konsep keadilan antar negara yang menyatakan bahwa negara sumber pendapatan tidak boleh melakukan diskriminasi. Investor perorangan yang menerima pendapatan investasi dari luar negeri akan membayar pajak penghasilan perorangan atas pendapatan tersebut. Berkaitan dengan pengertian tersebut berikut illustrasi yang mungkin terjadi jika seseorang warga negara Amerika Serikat bekerja di Inggris. Jadi barang barang impor akan dikenakan pajak sedangkan barang barang ekspor dibebaskan dari pajak. baik barang atau jasa tersebut dibuat di dalam negeri ataupun barang import. Paling tidak itulah prosedurnya seandainya pajak yang dikenakan Inggris tidak melebihi pajak yang akan dikenakan Amerika Serikat atas pendapatan yang diperoleh di Inggris tersebut. Menurut prinsip pajak sumber. tetapi pajak yang telah dibayar di Inggris akan dikreditkan terhadap kewajiban pajaknya di Amerika Serikat.

laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit. Untuk mengantisipasi kondisi ini. misalnya: persyaratan agar harga ditentukan berdasarkan transaksi yang wajar dengan pihak ketiga atau transaksi tanpa hubungan istimewa (arm’s-length-basis). akan menyebabkan perlunya ditentukan berapa besar laba yang timbul pada setiap negara. Jika dikaitkan dengan perusahaan multinasional. Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan perbedaan apa pun bagi perusahaan induk jika pajak luar negeri tidak lebih kecil dari pajak yang akan dikenakan di dalam negeri. Kesulitan akan berlipat ganda apabila serangkaian perusahaan anak beroperasi di berbagai negara. implementasi dari aturan ini. Penangguhan Pajak Ketentuan mengenai penangguhan pajak didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan anak diluar negeri benar-benar merupakan satuan usaha yang tepisah. telah diupayakan berbagai aturan untuk menghambat penggeseran laba. Untuk pengenan pajak di negara asal. Labanya akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing dan pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba perusahaan anak tersebut dikirimkan ke perusahan induk sebagai deviden. Sesuai dengan konsep keadilan antar negara. Kanada berhak menarik pajak perusahaan anak tersebut. Jika kondisi ini terjadi (biasanya pada negara–negara yang sedang berkembang. Sebuah perusahaan Amerika Serikat mengoperasikan sebuah perusahaan anak di Kanada. 3. Karena kesulitan-kesulitan yang di hadapi Dasar-dasar Keuangan Publik 2. Perusahaan anak yang didirikan di luar negeri (foreign incomporated subsidiary). maka laba bisa di geser dari satu negara ke negara lain guna memanipulasi pajak agar diperoleh pajak yang terendah. dimana mungkin tarif pajak sangat rendah). perusahaan anak akan lebih condong untuk menginvestasikannya kembali labanya dinegara yang menerapkan tarif pajak yang rendah (yang disebut sebagai surga pajak). Perusahaan yang mengoperasikan kantor cabang di luar negeri akan dikenakan pajak atas laba kantor cabang sesuai dengan peraturan pajak perseroan negara bersangkutan.290 mengenakan withholding tax. Jadi. Hal ini merupakan persoalan yang rumit. secara hukum merupakan satuan perusahaan terpisah. . Tetapi dengan cara apakah laba ini benar-benar bisa dipisahkan dari laba perusahaan induknya di Amerika Serikat? Jika terjadi transaksi jual beli yang terjadi antara perusahan induk dan perusahaan anak. misalnya sebesar 15 persen. Pembagian Laba sebagai Dasar Pengenaan Pajak Dalam Lingkup Internasional Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa suatu negara berhak mengenakan pajak dari laba yang timbul di wilayah bersangkutan. yang selanjutnya akan dikreditkan terhadap pajak yang akan dibayarkan di negara asal investor. kelihatannya hal ini akan bertentangan dengan ketentuan mengenai pengkreditan yang mengganggap pajak perusahaan anak pada kenyataannya merupakan pajak perusahaan induk.

Dasar-dasar Keuangan Publik . tetapi lokasi untuk kedua produk itu (pada tingkat produksi yang baru) masih akan tetap sejalan dengan keunggulan komparatif. Akan tetapi. namun pelaksanaan pendekatan ini memerlukan pengaturan pajak internasional dan karena itu masih merupakan alternatif yang tak terjangkau.291 dalam menghitung laba yang terpisah bagi satuan satuan usaha yang terkait. Dalam menentukan apakah berbagai pajak yang ada berpengaruh atau tidak terhadap lokasi produksi. Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak mempengaruhi lokasi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. karena biaya produksi semakin meningkat untuk jumlah yang makin besar. Misalkan negara A mengenakan pajak terhadap konsumsi atas semua X dan Y. maka pajak produk mengarahkan perhatian kita pada pengaruhnya terhadap aliran produk. baik produksi domestik maupun impor. Dengan mengekspor X dan mengimpor Y. yang diproduksi di dalam negeri maupun yang diimpor. Jika pajak itu hanya dikenakan terhadap Y. Meskipun cukup menarik. dan hal sebaliknya berlaku untuk B. Pajak Konsumsi. negara A akan memperoleh pendapatan riil yang lebih tinggi daripada jika ia memproduksi semua Y yang dibutuhkannya. konsumen akan mensubstitusikan kedua jenis barang itu satu sama lain dan lokasi produksi akan berbeda dari lokasi produksi untuk pajak yang netral. Koordinasi Pajak Produk Aspek Efisiensi Jika pajak penghasilan mempengaruhi aliran atau perpindahan modal. maka pernah disarankan suatu cara yang berbeda sama sekali. Penyesuaian ini bisa mempengaruhi tingkat perdagangan. Baik A maupun B akan lebih makmur daripada jika tidak ada perdagangan. pertanyaan kini adalah apakah pajak bersangkutan mempengaruhi harga relatif antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. Anggaplah negara A mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan produk X sementara negara B mengimpor X dan mengekspor Y. akibatnya konsumen akan menambah konsumsi X dan mengurangi konsumsi Y. Jika pajak mempengaruhi harga. Hal ini akan semakin terasa jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Laba sebagai dasar pengenaan pajak (profits base) dari perusahaan multinasional dapat dialokasikan di antara negara negara tidak berdasarkan lokasi dari perusahaan anak tetapi berdasarkan negara asal laba yang diperoleh oleh group usaha tersebut secara keseluruhan. Ini tidak akan mempengaruhi perdagangan karena harga relatif antara produksi dalam negeri dan impor tidak berubah. negara A akan tetap memproduksi sebagian dari Y dan negara B memproduksi sebagian dari X yang dibutuhkannya. yaitu jika pajak tersebut dalam bentuk bea masuk dan cukai. Perdagangan internasional yang berlangsung secara bebas didasarkan pada argumen dasar bahwa semua negara yang berdagang akan mendapat manfaat jika masing-masing berspesalisasi pada produk di mana ia memiliki keunggulan komparatif. Negara asal tersebut bisa diperkirakan dengan suatu rumus yang memperhitungkan lokasi nilai tambah dan penjualan.

pengenaan pajak produk hanya kepada barang Y saja di negara B menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan efek distorsi yang timbul akibat dikenakannya bea masuk atas barang Y di negara A. Dengan dihapusnya pajak atas barang Y oleh negara B. sehingga Y produksi dalam negeri akan mensubstitusi Y impor. Eksportir B akan menambahkan pajak tersebut ke biaya (harga) produknya sehingga harga barang impor bagi konsumen A menjadi lebih tinggi sehingga impor akan dikurangi. ekspor X dari A juga akan menurun sampai tercapai suatu titik ekuilibrium pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dan dengan pemberian produksi X dan Y yang kurang efisien di antara negara A dan B. Tindakan B akan membatalkan kenaikan harga barang impor Y di negara A sehingga tidak perlu mensubtitusinya dengan memproduksi Y di dalam negeri. mata uang A terhadap mata uang B akan naik. Pajak Produksi Dalam mempermasalahkan pajak produksi atau pajak asal produk (origin taxes). Ini akan menghambat keinginan konsumen B untuk menambah impor dan keinginan konsumen A untuk mengurangi impor. Pertama-tama anggaplah bahwa harga negara B mengenakan pajak produksi umum misalnya cukai sebesar 10 persen terhadap barang X dan barang Y. kenaikan permintaan atas mata uang A dan penurunan permintaan atas mata uang B akan menyebabkan naiknya nilai mata uang A terhadap B. Akibatnya. Artinya hal itu sejajar dengan pajak Dasar-dasar Keuangan Publik . misalnya atas produk Y yang diekspornya. Sekarang negara A memproduksi lebih banyak barang Y dan negara B memproduksi lebih banyak barang X dari pada sebelumnya. Sekali lagi konsumen A akan merasakan naiknya biaya (harga) Y dan akan mensubstitusinya dengan Y produksi dalam negeri. Konsumen negara A akan merasakan hal sebaliknya. Pajak ini akan menyebabkan perbedaan harga relatif antara produk domestik dan impor.292 Situasinya akan sangat jauh berbeda jika negara A mengenakan pajak hanya terhadap Y impor. harga barang di negara B akan naik sejalan dengan pajak tersebut. Pajak atau bea semacam itu akan melemahkan perdagangan yang efisien. Titik ekuilibrium yang baru akan dicapai pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dengan disertai perubahan distribusi lokasi produksi. Jadi. nilai mata uang A terhadap B akan naik. Jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. maka pajak atas barang Y telah berubah dari pajak produksi menjadi pajak konsumsi. Karena itu. konsumen negara B akan memperbesar impor. kita bisa melihat bahwa distorsi atau penyimpangan bisa saja terjadi meskipun tidak ada upaya untuk mendiskriminasikan produk luar negeri. Biaya impor bagi konsumen B menjadi naik dan karena itu impor dikurangi. Karena merasa bahwa harga produk dalam negeri telah naik jika dibandingkan dengan harga produk impor. Situasinya akan berbeda jika pajak produksi negara B dikenakan hanya pada satu jenis produk saja. dan dewasa ini telah banyak cara diupayakan untuk mengurangi perdagangan yang bersifat proteksionis. yaitu terhadap Y dikenakan bea masuk. Dengan menurunnya impor A atas barang Y. Distorsi ini bisa dihindarkan seandainya barang B memberikan penghapusan pajak atas barang Y yang di ekspornya. Dengan menurunnya impor. Perbandingan harga antara ekspor dan impor tidak akan berubah dan nilai riil perdagangan tidak terpengaruh.

Jika tarif perkiraan (assesment rate) yang proposional digunakan. sebagaimana halnya dengan pemerintah daerah. Selanjutnya prinsip ini dimatangkan lagi dengan menambah sejumlah ketentuan seperti pembebasan beban bagi negara miskin. tingkat perdagangan riil akan naik. maka masalahnya akan mirip dengan masalah penentuan anggaran antar perorangan. Prosedurnya pada dasarnya adalah: biaya total dibagi di antara negara anggota sesuai perbandingan kontribusi dasar atau GNP. Ini akan menimbulkan pajak proporsional dalam kaitannya dengan GNP. dan pasar bersama. tidak mendistorsikan lokasi produksi sejauh dikenakan terhadap produk impor dan produk dalam negeri. akan timbul pertanyaan apakah kelompok tarif tersebut hanya dikaitkan dengan pendapatan perkapita dari penduduk di berbagai negara (dimana penduduk dianggap sebagai patokan dasar). Ceritanya juga akan sama jika B memajaki X. usaha bersama dalam memerangi penyakit. usaha pertahanan bersama seperti NATO. Konsumen B dalam hal ini akan melakukan subtitusi dengan X impor. jaringan narkotik. Disini juga pajak berubah menjadi pajak konsumsi (yaitu pajak atas semua X yang di konsumsi di B) tanpa adanya distorsi atas lokasi produksi. Kontribusi bagi Dana Moneter Internasional (IMF) tidak ditentukan berdasarkan manfaat yang diperoleh. Koordinasi Pengeluaran Diantara sejumlah negara. Jika jumlah anggota kelompok atau pesertanya kecil. Organisasi-organisasi lain menerapkan pola yang berbeda. terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. Pembagian beban biaya ditentukan melalui pemungutan suara setiap tahun dan direvisi berkali-kali. kerja sama akan lebih menguntungkan sekutu yang kecil karena peningkatan pertahanan yang kecil sekalipun oleh sekutu yang besar akan merupakan tambahan perlindungan yang sangat besar bagi sekutu tersebut. Ini bisa saja menyangkut pembangunan jalan di perbatasan dua negara. melainkan dengan hak penarikan (drawing rights) yang ditetapkan sesuai dengan kemungkinan diperlukan kredit-kredit IMF. Khusus mengenai pertahanan. Prosedur yang kiraDasar-dasar Keuangan Publik . ketentuan kontribusi minimum.293 penjualan eceran atas produk Y di negara B yang seperti telah kita lihat. Pada akhirnya. dengan bagian tertinggi (sekarang 25 persen) disumbangkan oleh Amerika Serikat. Jika anggotanya sangat banyak. dan penyesuain selanjutnya akan terjadi. terlepas dari pendapatan per kapita. Distorsi dalam hal ini bisa dihindarkan jika B mengenakan bea masuk atas X untuk mengkompensasi pajak produksi X. Makin banyak X diproduksi di A dan makin banyak Y diproduksi di B dari pada sebelumnya. tetapi lagi-lagi lokasi produksi akan mengalami distorsi. setiap negara mungkin akan diharuskan untuk membayar dalam presentase GNP atau presentase pendapatan nasional yang sama. Semua ini menyebabkan perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. pembagian beban biaya bisa dirundingkan dengan membandingkan manfaat yang akan diperoleh setiap pihak. Kedua macam pertimbangan di atas diperhitungkan dalam menentukan kontribusi bagi anggaran Perserikatan Bangsa-Bangsa. Jika perhitungan progresif digunakan. dan pembatasan jumlah yang harus dikontribusikan oleh suatu negara.

kurs yang fleksibel akan mengurangi gejolak perdagangan. yang melibatkan jumlah yang besar. kebijakan inflasioner negara akan memperlemah (mendefisitkan) neraca perdagangannya dan menimbulkan besarnya permintaan ke negara B.294 kira sama diikuti dalam pemesanan modal saham Internasional Bank for Reconstruction and Development (IBRD). Hal yang sama berlaku juga untuk keadaan inflasi. pendapatannya naik dan begitu juga halnya dengan impornya. Akan tetapi gambaran ini telalu disederhanakan. Karena itu. Karena itu. Pengaruh terhadap Perdagangan Dengan asumsi bahwa keadaan kurs valuta asing yang bersifat tetap. Hal ini khususnya berlaku untuk negara negara dengan perekonomian yang terkait erat seperti pasar bersama. Kontribusi untuk NATO. Pengaruh kebijakan ekspansioner dari negara A terhadap perdagangan akan diperlemah jika kurs valuta asing bersifat fleksible. menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja dinegara A. maka nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. Koordinasi khususnya diperlukan karena saling ketergantungan tidak hanya menyangkut perdagangnan tetapi juga aliran atau perpindahan modal. Penyesuaian kurs tidak berlangsung dalam sekejap dan perubahan kurs secara diskresioner dapat menjadi faktor pengganggu Dasar-dasar Keuangan Publik . Amerika Serikat merupakan penanggung terbesar atas biaya NATO. biaya impornya menjadi tinggi sehingga membatasi atau memperkecil devisit perdagangan negara A dan ekspor negara B. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. Dengan demikian kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan. tidak ditentukan dengan suatu dasar perumusan yang tetapkan tetapi pada hakikatnya tergantung pada negosiasi. akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara B yang menghadapi penurunan ekspor. kebijakan suatu negara akan berpengaruh terhadap negara lain sehingga diperlukan kordinasi kebijakan untuk menampung kebutuhan kedua negara. dan hal itu juga turut memulihkan keaadan negara B karena ekspornya jadi meningkat. tetapi juga berlaku bagi negara dengan perdagangan luar negeri yang terkecil seperti Amerika Serikat. Koordinasi Kebijakan Stabilisasi Dengan makin meningkatnya saling ketergantungan dunia. Sekali lagi. Suatu negara tidak mungkin lagi bertindak sendiri untuk mengendalikan persoalan yang dihadapinya. dengan kurs yang tetap. dengan kontribusi yang mungkin melebihi bagian yang seharusnya ditanggungnya seandainya hal itu ditentukan berdasarkan presentase GNP. Harus dicatat bahwa semua kontribusi ini relatif kecil jumlahnya sehingga pengecualian atau penyimpanan bagi negara tertentu tidak begitu berpengaruh. Dengan naiknya impor A. Kebocoran yang ditimbulkan impor akan memperkecil faktor pengganda (multiplier) dan karena itu kebijakan A menjadi kurang efektif. pengalihan permintaan ke Negara B ini tidak akan terjadi karena adanya penurunan nilai mata uang A. Dengan kurs yang fleksibel. Jika A mengambil kebijakan ekspansionir. nilai mata uangnya akan turun.

295 pengendalian atas kurs itu sendiri merupakan alat kebijakan yang memerlukan kerja sama lebih lanjut. Pada dasarnya terdapat dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun suatu treaty yaitu model OECD dan Model PBB. sebuah treaty adalah merupakan suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing. Sebagai suatu perjanjian. Akan tetapi. maka akan terjadi peningkatan modal di negara bersangkutan yang akan tercermin pada kenaikan produktivitas tenaga kerjanya. Pasal-pasal ataupu ayat-ayat yang terdapat dalam sebuah tax treaty pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang mengungkapkan cakupan tax treaty. bauran kebijakan stabilisasi akan menjadi masalah besar jika dikaitkan dengan aliran modal. Perjanjian ini akan digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan aspek perpajakan yang timbul dari suatu transaksi diantara mereka. Banyak hal tergantung pada bagaimana bentuk dari surplus impor yang ditimbulkan tersebut. entah itu kebijakan fiskal atau moneter. Peranan aliran modal menjadi penting jika kita mempertimbangkan pengaruh kebijakan stabilitasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Aliran Modal Pengaruh kebijakan yang ekspansioner atau restriktif terhadap perdagangan bisa dikatakan sama. didalamnya selalu berisi klausul-klausul. dan begitu juga sebaliknya. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. bagian yang mengatur minimalisasi pengenaan pajak berganda. Setiap tax treaty mempunyai prinsip prinsip dasar yang kurang lebih sama. Penentuan aspek perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan klausul-klausul yang terdapat dalam tax treaty yang bersangkutan sesuai dengan transaksi yang dihadapi. sehingga keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produtivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya. Jika surplus impor tersebut berupa investasi riil. Oleh karena itu. pasal-pasal dan ayatayat yang berkaitan dengan suatu aspek transaksi dan pihak tertentu. Pemahaman atas Tax Treaty (Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda) Tax Treaty atau perjanjian pajak berganda adalah merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka mengantisipasi pemajakan ganda dan berbagai usaha penghindaran pajak. sebagai bagian dari konvensi internasional di mana setiap negara yang terlibat dalam suatu tax treaty menyusun perjanjiannya masing masing berdasarkan model-model perjanjian yang diakui secara internasional. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pendapatan modal di masa mendatang akan dikirimkan keluar negeri.

296 bagian tentang pencegahan penghindaran pajak dan bagian yang mencakup halhal lainnya. Aturan dalam tax treaty hanya diberlakukan untuk jenis pajak langsung seperti Pajak Penghasilan (PPh). Tax Covered Klausul ini mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty yang bersangkutan. yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu. Undang-undang nasional dari banyak negara umumnya mengenakan Dasar-dasar Keuangan Publik . pengertian personal scope akan berkaitan dengan pengertian-pengertian dalam kedua klausul tersebut. Biasanya disini definisi mengenai penduduk maupun perihal kependudukan ganda tidak diartikan lebih lanjut. termasuk di dalamnya orang pribadi. Jenis pajak yang diatur disini akan mengikuti ketentuan sesuai dengan tax treaty dan mengabaikan ketentuan internal yang berlaku di masing-masing negara. ketentuan personal scope mengatur tentang kepada siapa sajakah ketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. Residence Dalam kriteria ini akan diatur tentang dua hal yakni definisi penduduk (berkaitan dengan personal scope) serta tie breaker rule. national (negara atau kewarganegaraan). Dalam beberapa hal. Dengan kata lain. diatur tentang definisi istilah-istilah umum yang berkaitan dengan definisi persons (orang atau badan). Dalam pasal dan ayat ini akan diatur ketentuan tentang siapa saja yang merupakan orang pribadi. Dalam ketentuan umumnya (general definitions). sehingga subyek pajak yang menjadi sasaran adalah mereka yang menjadi penduduk dari kedua negara tersebut (Rachmanto Surachmat. Cakupan Tax Treaty Personal Scope Tax treaty adalah persetujuan yang ditandatangani oleh dua negara. badan usaha dan entitas lainnya yang berdasarkan treaty tersebut dianggap sebagai penduduk dari salah satu negara yang terikat perjanjian. Definisi penduduk adalah setiap orang pribadi atau badan yang berdasarkan ketentuan internal suatu negara – seperti keberadaan. Oleh karena itu. penduduk adalah Subjek Pajak dalam negeri suatu negara yang dikenai pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan lokal yang berlaku dinegara tersebut. Kedua hal tersebut akan diatur dalam klausul lain yaitu dalam klausul tentang general definitions dan tentang residence. badan atau entitas lainnya yang dianggap sebagai penduduk dengan status kependudukan ganda (double residence). tempat kedudukan manajemen atau sebab-sebab lain yang mempunyai karakteristik yang sama – dapat dikenai pajak di negara tersebut. Dengan kata lain. enterprise (badan usaha) dan lain lain. 2001). Atas pajak tidak langsung seperti Pajak Pertambahan Nilai atau pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah tidak diatur dalam tax treaty. international traffic (lalu lintas internasional). ketentuan suatu tax treaty memiliki suatu kekuatan yang berada di atas sistem perundang undangan yang berlaku secara internal di dalam suatu negara. domisili.

artinya apabila dengan menggunakan ketentuan pertama masalah kependudukan ganda telah bisa dipecahkan. Apabila usaha di negara lain itu ternyata berhasil. maka langkah kedua dan seterusnya tidak perlu digunakan lagi. kantor perwakilan. Di negara lainpun suatu pihak melakukan usaha. pengenaan pajak tidak hanya mendasarkan pada alasan tempat tinggal. national (kewarganegaraan) serta mutual agreement (perjanjian antar otoritas perpajakan). BUT Aktivitas. BUT timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung. orang pribadi atau badan dapat dianggap sebagai penduduk dari dua negara berdasarkan asas world wide income yang dianut. Dasar-dasar Keuangan Publik . adalah hal yang logis jika otoritas pajak di negara tersebut ingin mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima. Hal ini bisa terjadi karena setiap negara pada dasarnya berhak mengatur definisi penduduk sesuai dengan versinya masing-masing. tentunya harus ada batasan-batasan ataupun aturan yang jelas hingga bisnis yang dilakukan yang sekaligus merupakan investasi di negara tersebut tetap saja berjalan dengan baik. Dalam prakteknya. center of economic and social interests (pusat kepentingan ekonomi dan social). Timbulnya BUT tipe ini ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. Dalam klausul ini juga menegaskan bahwa orang pibadi atau badan tidak dapat langsung dianggap sebagai penduduk suatu negara hanya karena mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. Menyadari efek-efek negative tersebut. habitual abode (tempat kebiasaan untuk tinggal). Pada jaman sekarang. article residence selanjutnya mengatur langkah yang dapat digunakan untuk menghilangkan status kependudukan ganda yang sering disebut dengan tie breaker rule. 2001). Namun berkaitan dengan keinginan tersebut. Lamanya time test yang digunakan dapat berbeda beda antara satu tax treaty dengan tax treaty yang lain. Cerminan dari batas atau aturan tersebut adalah ketentuan tentang permanent establishment atau bentuk usaha tetap (BUT). tetapi juga karena keberadaan secara teratur di negara tersebut.297 pajak berdasarkan hubungannya dengan negara yang bersangkutan (Rachmanto Surachmat. Permanent Establishment Klausul ini mengatur tentang seberapa jauh jangkauan suatu negara dalam mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. BUT tipe ini merupakan tipe yang paling mudah diketahui keberadaannya. pabrik. Time test ini disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara. suatu usaha tidak hanya dilakukan di negara sendiri. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnnya). Artinya. Tie breaker rule untuk orang pribadi terdiri dari penentuan permanent home (tempat tinggal tetap). Tie breaker rule dibedakan menjadi dua yaitu yang diterapkan untuk orang pribadi dan yang diterapkan untuk selain orang pribadi. Contoh contoh dari BUT dapat dikatagorikan menjadi empat macam yaitu: • • BUT Fasilitas Fisik. bengkel dan lain lain. Langkah-langah tersebut secara berurutan bersifat prioritas. Sementara itu tie breaker rule untuk pihak selain orang pribadi hanya ada satu ketentuan yaitu tempat dimana manajemennya efektif berada.

BUT tipe keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang memiliki wewenang untuk menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. Penentuan dapat atau tidaknya negara treaty partner mengenakan pajak. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan maka tax treaty pun dapat diberlakukan. Bila kegiatan Dasar-dasar Keuangan Publik . Laba usaha milik penduduk suatu negara pada dasarnya hanya dapat dikenakan pajak di negara tersebut. Entry Into Force Klausul ini menjelaskan tentang saat berlakunya sebuah tax treaty. tempat yang hanya dipergunakan untuk pembelian barang dagangan atau mengumpulkan informasi dan sebagainya. maka negara treaty partner tersebut berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima melalui BUT itu. Setelah kedua negara selesai meratifikasi.298 • • BUT Asuransi. sangat tergantung pada ada atau tidaknya BUT di suatu negara. Dalam klausul ini juga ditentukan kondisi-kondisi dimana BUT dianggap tidak muncul seperti dalam hal suatu tempat yang hanya berfungsi untuk memajang barang-barang dagangan. Namun apabila penduduk suatu negara mendapatkan penghasilan di negara treaty partner melalui BUT-nya. Minimalisasi Pemajakan Berganda Income from Immovable Property Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang berasal dari harta tak bergerak termasuk penghasilan yang bersumber dari pertanian atau sektor perhutanan. Timbulnya BUT Asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain. Didalamnya diatur bahwa negara tempat harta tak bergerak tersebut terletak juga dapat mengenakan pajak atas penghasilan dari harta tersebut. Saat berlakunya tax treaty sangat bergantung dari selesainya tahap-tahap pembentukannya. selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati. Termination Klausul ini menjelaskan tentang saat berakhirnya sebuah tax treaty. Business Profits Klausul ini merupakan perluasan dari klausul permanent establishment yang mangatur tentang pengenaan pajak atas laba usaha milik penduduk suatu negara yang bersumber dari negara treaty partner (negara pasangan dalam tax treaty). BUT Keagenan.

klausul ini juga mengatur bahwa negara tempat bunga berasal (treaty partner) juga dapat mengenakan pajak atas bunga tersebut. Perusahaan yang bergerak di bidang ini bisa memperoleh penghasilan dari beberapa negara. Tak berbeda dengan artikel dividen. Alternatif kedua. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa negara tempat dividen berasal juga berhak mengenakan pajak atas dividen tersebut. Jika setiap negara mengenakan pajak atas laba yang diterimanya maka perusahaan pelayaran dan penerbangan tersebut tentunya akan menanggung beban pajak yang terlalu besar. sebagaimana namanya. Dividends Dividen merupakan penghasilan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu perusahaan. Klausul dividen. Indonesia pun mengenakan pajak atas dividen baik yang diterima oleh wajib pajak dalam negeri maupun wajib pajak luar negeri. memberikan hak pemajakan kepada negara tempat di mana manajemen efektif berada. Dasar-dasar Keuangan Publik . Dalam artikel ini juga menyatakan tentang tarif pajak maksimal yang dapat dikenakan di negara asal dividen tersebut yang dibedakan menjadi dua yaitu tarif untuk dividen portofolio (saham dengan kepentingan semata mata investasi) dan untuk dividen dari penyertaan langsung ( saham dengan kepentingan control) Interets Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan bunga yang diterima dari negara treaty partner. maka laba usaha dari kegiatan itu hanya dikenai pajak di negara domisili (Rachmanto Surachmat.299 usaha yang dilakukan penduduk negara domisili di negara sumber tidak melalui BUT. Inland Waterways Transport and Air Transport Klausul ini menjelaskan tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh perusahaan pelayaran (termasuk pengangkutan di sungai dan danau) dan perusahaan penerbangan yang beroperasi di jalur internasional. memang merupakan aturan mengenai pengenaan pajak atas penghasilan yang berupa dividen. Dalam menghadapi permasalahan ini pada umumnya diatur dua alternatif pengenaan pajak. artikel bunga pun mengatur tentang tarif maksimal pemotongan pajak untuk negara tempat dividen berasal. Selain memberikan definisi tentang bunga. Royalties Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan royalti yang diterima dari negara treaty partner. sama dengan alternatif pertama dengan pengecualian untuk penghasilan dari pengoperasian kapal laut yang hak pemajakannya diberikan kepada kedua negara sekaligus. artikel royalti ini juga memberikan definisi royalti disamping mengatur bahwa negara tempat di mana royalti berasal dapat mengenakan pajak sesuai dengan tarif maksimal yang disepakati. Alternatif pertama. Tak sedikit negara yang mengenakan pajak atas penghasilan berupa dividen ini. 2001) Shipping. Tak berbeda dengan artikel dividend dan bunga.

Karena itu. Negara treaty partner tempat jasa tersebut dilakukan dapat mengenakan pajak sepanjang orang pribadi tersebut memiliki tempat tetap (fixed base) disana atau berada di negara treaty partner melebihi batas waktu yang disepakati bersama. persetujuan penghindaran pajak berganda tidak memerlukan aturan khusus yang membedakan capital gain dari business profit. • Penghasilan yang diterima oleh orang pribadi tersebut dibayarkan oleh pemberi kerja. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa penghasilan Dasar-dasar Keuangan Publik . Berbeda dari pemberian jasa oleh independent personal yang dilakukan untuk dan atas namanya sendiri. Rachmanto Surachmat (2001) memaparkan bahwa hak mengenakan pajak atas keuntungan karena pemindahtanganan harta yang digunakan untuk berusaha harus diberikan kepada negara yang sama.300 Capital Gains Klausul ini mengatur tentang penghasilan berupa keuntungan pemindahtanganan harta. Director’s Fees Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh direktur yang bekerja pada perusahaan yang berada di negara lain (merupakan penduduk di negara tersebut). ada beberapa syarat kumulatif yang terlebih dahulu harus dipenuhi yaitu: • Orang pribadi yang bersangkutan berada di negara lain melebihi time test yang telah disepakati. Dalam bukunya. yaitu negara yang berhak mengenakan pajak atas business profit (negara tempat perusahaan berdomisili). Termasuk dalam pengertian harta dalam artikel ini adalah harta berupa perumahan dalam suatu kawasan real estate. Namun untuk menganakan pajak tersebut. tanpa membedakan apakah keuntungan itu diperlakukan sebagai gain dari usaha. jasa yang diberikan oleh orang pribadi yang dimaksud di sini merupakan jasa yang dilakukan untuk dan atas nama pihak lain yang memiliki hubungan kerja dengannya.. Di sini diatur bahwa negara tempat orang pribadi tersebut bekerja dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterimanya. Dependent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi sehubungan dengan pemberian jasa yang dilakukannya di negara lain dalam suatu hubungan kerja. Hal ini diserahkan kepada undang undang pajak domestik masing-masing negara. pengacara) untuk dan atas namanya sendiri di negara treaty partner. Independent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima orang pribadi yang bersumber dari negara treaty partner sebagai imbalan dari jasa-jasa professional yang diberikannya di negara tersebut. Aturan ini pada dasarnya sejalan dengan aturan permanent establishment dan business profits namun secara khusus ditujukan untuk orang pribadi yang memberikan jasa-jasa profesional (seperti dokter. Ketentuan dalam tax treaty pada umumnya mengatur bahwa negara tempat harta tersebut terletak sebelum dipindahkan juga berhak untuk mengenakan pajak. • Penghasilan tersebut tidak dibebankan kepada BUT.

apabila pekerjaan yang dilakukan tidak lagi murni sebagai seorang direktur maka pemajakan atas penghasilan tersebut tidak lagi mengikuti ketentuan dalam klausul ini. pemain golf.301 yang diterima oleh direktur dalam kapasitasnya yang murni sebagai seorang direktur dapat dikenai pajak di negara domisili perusahaanya tanpa memandang jangka waktu keberadannya di sana. Sedangkan termasuk dalam olahragawan antara lain adalah pemain sepakbola. maka aspek pemajakannya mengacu pada klausul dependent personal services. Namun apabila direktur tersebut bekerja sebagai konsultan pada perusahaan. Namun sebagian besar tax treaty mengatur bahwa penghasilan tersebut dikenai pajak di negara di mana yang bersangkutan menjadi penduduk pada saat pensiun Government Services Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri. Termasuk dalam pengertian entertainer dalam artikel ini antara lain yaitu artis televisi. penghasilan berupa pensiun dikenai pajak di negara tempat di mana pekerjaan itu dahulunya dilakukan. Namun demikian. Namun demikian. Hal yang sama juga berlaku atas penghasilan yang diterima oleh pensiunan pegawai negeri. pemain catur atau pemain bridge. Prinsip pemajakan yang diatur dalam artikel ini adalah negara tempat penghasilan tersebut bersumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima oleh artis ataupun atlit. contohnya agen). Prinsip ini juga berlaku meskipun penghasilan tersebut tidak langsung dibayarkan kepada sang artis/atlit (dibayarkan kepada pihak lain. Jika direktur tersebut melakukan tugas tugas manajerial misalnya. maka aspek pemajakannya dalam hal ini akan mengacu pada klausul independent personal services. Fungsi sebagai direktur bisa saja dilakukan di negara dimana ia berdomisili. karena itu yang diberikan hak pemajakan adalah negara di mana pihak yang membayarkan gaji berkedudukan. Pensions Klausul ini mengatur tentang penghasilan yang diterima oleh pensiunan swasta. prinsip ini berbeda dengan prinsip pemajakan atas penghasilan orang pribadi yang lain sebagaimana diatur dalam klausul dependent dan independent personal services yang menggunakan syarat jangka waktu keberadaan sebagai alat menentukan aspek pemajakan. Pada umumnya. sebab seringkali penentuan di mana kegiatan pekerjaan dilakukan – dalam kedudukannya sebagai anggota dewan direksi – adalah sulit. Pada prinsipnya. hal ini untuk menyederhanakan pengenaan pajaknya. Artists and Sportsmen Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh artis (entertainer) dan olahragawan (sportsmen) dari negara lain. hak pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri diberikan kepada negara di mana ia bekerja. apabila pegawai negeri atau pensiunan tersebut merupakan warga negara dari salah satu negara dan sudah Dasar-dasar Keuangan Publik . Menurut Rachmanto Surachmat (2001). Penentuan aspek pemajakannya disesuaikan dengan jenis kegiatan (pekerjaan) yang dilakukan oleh direktur tersebut. pemain tennis. artis radio atau musisi. Bila diperhatikan.

Dalam kondisi demikian. Ketentuan Lain Lain Non Discrimination Klausul ini mengatur tentang persamaan perlakuan perpajakan yang diberikan oleh suatu negara kepada warga negara dan kepada bukan warga negara. Exchange of Information Klausul ini mengatur tentang pertukaran informasi antar otoritas pajak di kedua negara yang terkait dalam suatu tax treaty. Pertukaran informasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pertukaran informasi secara rutin dan pertukaran informasi berdasarkan permintaan. Dengan adanya pertukaran informasi. Suatu negara yang terikat tax treaty memiliki kewajiban untuk memberikan perlakuan perpajakan yang sama untuk warga negaranya. Apabila terjadi transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa. akan ada kecenderungan di mana harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar. Hal ini dipandang sebagai suatu usaha untuk menghindari pajak dari suatu negara. Pencegahan Penghindaran Pajak Associated Enterprises Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa. kepada negara yang bersangkutan diberikan hak untuk mengadakan penyesuaian penyesuaian sehubungan dengan pergeseran laba tersebut. Salah satu efek dari adanya harga yang tidak wajar itu adalah terjadinya pergeseran laba dari suatu negara kepada negara yang lainnya. Harga yang wajar adalah harga yang terjadi antara dua pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Klausul ini dapat dipandang sebagai semacam sarana bagi para pembayar pajak untuk Dasar-dasar Keuangan Publik . Perlakuakn perpajakan yang sama ini mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama. Perlakuan yang sama juga harus diberikan kepada mereka yang bukan merupakan warga negara dari kedua negara yang terikat perjanjian. Mutual Agreement Procedure Klausul ini mengatur tentang prosedur yang digunakan oleh kedua negara untuk berkomunikasi dalam menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pembayar pajak dengan otoritas pajak mengenai perpajakan tertentu. dapat dikatakan bahwa klausul ini merupakan salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Secara khusus Rachmato Surachmat (2001) dalam bukunya menyatakan bahwa klausul ini adalah aturan dalam hukum internasional yang memberikan perlindungan dari diskriminasi.302 sejak awal menjadi penduduk di negara tersebut maka penghasilan yang diterimanya hanya dikenakan pajak di sana.

Namun demikian. antara dua negara. tax treaty juga dimaksudkan untuk mencegah usaha-usaha penghindaran pajak yang dapat berpengaruh terhadap penerimaan pajak suatu negara. Pertama. Bukti dimaksud seringkali disebut Surat Keterangan Domisili (SKD) atau Certificate of Residence Taxpayer (CRT) yang diterbitkan oleh competent authority atau pejabat yang berwenang yang ditunjuk oleh suatu negara treaty partner. Ketentuan dalam klausul ini pun mengatur hal yang sama. meskipun anggota korps diplomatik atau konsulat mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara di mana mereka bertugas. Klausul-klausul yang dapat menikmati ketentuan dalam mutual agreement procedure antara lain adalah business profits. Tax Treaty Mengalahkan UU PPh Bisa disimpulkan bahwa tax treaty muncul karena dua sebab yang mendasar. ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. Memahami prinsip prinsip dasar tersebut akan memudahkan setiap pihak dalam memahami berbagai tax treaty yang ada. Dalam kesepakatan internasional. keinginan untuk menghindari pemajakan berganda yang bisa menimbulkan distorsi ekonomi. yang berakibat buruk bagi investasi. tidak memperoleh perlakuan yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan berdasarkan hukum internasional. antara berbagai negara pada umumnya dan antara Indonesia dengan negara negara lain pada khususnya. negara tersebut tidak dapat mengenakan pajak atasnya.303 “curhat” tentang suatu perlakuan perpajakan yang tidak disetujuinya. Namun demikian perlu diingat bahwa mutual agreement procedure tidak mencakup seluruh klausul yang terdapat dalam sebuah tax treaty. berdasarkan tax treaty. Menurut Rachmato Surachmat (2001). related persons dan royalty. dalam tax treaty pada umumnya sudah disepakati bahwa setiap negara treaty partner berhak menentukan prosedur dan tata cara untuk membuktikan bahwa suatu pihak benar-benar berdomisili atau berkedudukan dan berstatus sebagai pembayar pajak di negara treaty partner. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral. Kedua. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negara-negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. secara umum setiap tax treaty mengikuti prinsip prinsip dasar dari model model tax treaty yang ada seperti model OECD atau model PBB. Yang perlu diperhatikan adalah. Dengan memiliki SKD/CRT. yang dijadikan sebagai acuan pada saat pembuatannya. maksud dari kalusul ini adalah untuk menjamin bahwa para diplomat. tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. maka pengenaan pajaknya kembali pada Undang Dasar-dasar Keuangan Publik . Surat keterangan yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau instansi sejenis di negara treaty Partner juga bisa dipersamakan dengan SKD/CRT. Member of Diplomatic Missions and Consular Posts Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan yang diberikan kepada anggota dari suatu misi diplomatik dan konsulat. Jika tidak memiliki SKD/CRT. otoritas perpajakanpun memiliki sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. Melalui ketentuan dalam klausul ini. maka suatu pihak berhak untuk menerapkan suatu ketentuan tax treaty dengan negara dimana yang bersangkutan berkedudukan atau berdomisili. setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat. Jadi.

jika Wajib Pajak luar negeri yang berkedudukan di Inggris. Jika tidak. Sebagai contoh. maka Wajib Pajak luar negeri tersebut hanya dapat menerapkan ketentuan tax treaty Indonesia – Inggris apabila memiliki SKD/CRT dari competent authority yang ditunjuk negara Inggris. maka penghasilan Wajib Pajak Luar Negeri yang bersumber dari Indonesia langsung dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 26% dari penghasilan bruto.304 Undang yang berlaku di negara masing masing. Dasar-dasar Keuangan Publik .

dalam “Democratic Choice and Taxation: A Theoritical and Empirical Analysis”. Intermedia. Batam.J. Bunga Rampai Desentralisasi Dasar-dasar Keuangan Publik . Manajemen Keuangan Internasional. 1985. 2002. Courchence. Pakpahan. 2004. MIT Press. Richard M. dkk. Local Governments and Markets. NBER.305 DAFTAR PUSTAKA Alisjahbana. Nurjaman. University of Birmingham: Institute of Local Government Studies. 1998. dan Francois Vaillancourt. Makalah pada sidang ISEI. United States: South-Western. Oxford: Clarendon Press.Working Paper 8829. James. BPFE. The Future of Fiscal Federalism. M. National Bereau of Economics Reserach. Tax Incidence. 2002. Arsjad. A Contemporary Application of Theory to Policy. Public Finance and Public Policy in the New Century. Hettich. MA. Cambridge University Press. Martin. Jogyakarta Hyman. 1990. Decentralisation. editor. Massachusetts Avenue Cambridge. editor. Armida S. Debt and Taxes in The Theory of Public Finance. Cnossen. Kingston. Gilbert.J. Dana Alokasi Umum. Kadjatmiko. Fiscal Decentralization in Developing Countries. Don dan Metcalf. “Tinjauan Permasalahan serta Prakondisi yang Diperlukan Bagi Pengembangan Penggunaan Pinjaman Daerah di Indonesia”. Brennan. Bird. 14 April. 6. Lembaga Penerbit FE UI. ”Evaluasi atas Alokasi DAU 2001 dan Permasalahannya” dalam Machfud Sidik. Discussion Paper No. Cambridge. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Richard. dkk. Financing Regional Government: International Practices and Their Relevance to the Third World. McGraw Hill. Gunadi. Edisi Ketujuh. Keuangan Negara. (2003). 1992. Brown. Davey. 2002. Ont.G. J. Aronson. University of Toronto (July). Bambang dan Arlen T. Jakarta Hanafi. Thompson Learning. Indonesia. 2001. “A Comparative Perspective on Federal Finance” dalam K. Robert J. Bird. Stanley. Richard M dan Chen. Geoffrey dan Buchanan. “Transfer Antar Tingkat Pemerintahan (Intergovernmental Transfer)” dalam Machfud Sidik. 1994b.: Queen’s University School of Public Policy. (1999). United Kingdom: Cambridge University Press. Banting. Bennet. International Centre for Tax Studies. London.Walter dan Winer.M. Bird. Inc. 2004. Richard M. D. 1981. Sijbren & Hans-Werner Sinn. David N. “Tax Limits and The Logic of Constitutional Restriction. 2002. “Federal Finance and Fiscal Federalism: The Two Worlds of Canadian Public Finance”. Pajak Internasional. K. (1984). Public Finance. Duanjie.. Cambridge (Maret). Mamduh. dkk. USA. 2003. 1983. Brodjonegoro. dan T. Feldstein. Public Finance. Fullerton. 1996. L. Jakarta.

United States: McGraw-Hill. (1991). New York.34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”. McGraw Hill. Sidik. 2004. John. USA. Musgrave. Harvey S. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. International Edition. Assaaf. International Fiscal Policy Coordination and Competition: An Exposition.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah”. Musgrave. dkk. 2002. “Undang-undang No. Arlen T. Marco. Daniel J. Jogjakarta dengan United States Agency for International Development (USAID). ”Implementasi UU Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah (Kebijakan Pemerintah Dalam Perimbangan Keuangan)”. Sidik. yang merupakan kerjasama Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Republik Indonesia..306 Fiskal. Razin. 2004. Sidik. MA.25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusar dan Daerah”. 1989. Sadka Efraim. Shome. editor. dkk. Makalah yang disampaikan dalam Acara Orasi Ilmiah dengan Thema “Strategi Meningkatkan Dasar-dasar Keuangan Publik . 4 April. Mitchell. Public Finance in Theory and Practice. NBER. Makalah yang disampaikan Seminar Nasional Rencana Revisi Undang-Undang Otonomi Daerah Kerja sama Forum Rektor . Inter-American Development Bank. Nine Simple Guidelines for Pro-Growth Tax Policy. “Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia”. Capitalism Magazine. DC: International Monetary Fund. Machfud. 2000. 2002. (15 April). Machfud. Magrassi. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 2002. Norregaard. 2002. Jakarta. Pakpahan. 2002. Washington. “Undang-undang No. Republik Indonesia. Inc. 2003. Massachusetts Avenue Cambridge. “Subnational Investment Needs and Financial Market Response”. Public Finance (Sixth Edition). RTI (1999). “Optimalisasi Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah”. Richard A dan Peggy B. Studi yang dilakukan oleh Sustainable Indonesian Growth Alliance (SIAGA) Project A Banking Industry Reform.Fraksi Utusan Daerah MPR-RI. Machfud. Laporan Akhir Pengembangan Obligasi Daerah di Indonesia. Jakarta. 1995. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Departemen Keuangan RI. LPEM Universitas Indonesia bekerjasama dengan Clean Urban Project. Dana Alokasi Umum. Tax Policy Handbook. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. “Undang-undang No. Republik Indonesia. “Pinjaman Daerah Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah” dalam Machfud Sidik. “Intergovernmental Fiscal Relations” dalam P. Rosen. Departemen Keuangan RI.

Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. 15745-VN. 1996a. Indonesia. Dasar-dasar Keuangan Publik . Suparmoko. Malang. 2003. United States: SouthWestern. ---------. “Vietnam: Fiscal Decentralization and the Delivery of Rural Services”. A Guide to Budget Work for NGOs. dan Implementasi”. Surahmat. Konsep. Heru dan Singgih Riphat. Jaja. 10 April. 2003. Makalah pada Worskhop Manajemen Strategik Penerimaan Daerah dan Keuangan Daerah. M. The International Budget Project. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda. Ph. Washington DC (Desember). Zakaria. Report No. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Thompson Learning. ”Transfer Pusat ke Daerah: Konsep dan Praktik di Beberapa Negara” Machfud Sidik. Tax Review. World Bank. 2001. Holley.D. Public Finance in Theory and Practice. “Kebijakan Fiskal: Pemikiran.Teresa. Wiratmo. dkk. 2001. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Rachmanto. DC (Oktober). BPFE. Jakarta. Jakarta.307 Kemampuan Keuangan daerah Melalui Penggalian Potensi Daerah Dalam Rangka Otonomi Daerah” Acara Wisuda XXI STIA LAN Bandung Tahun Akademik 2001/2002. Drs.A. Simandjuntak. Dana Alokasi Umum. 26-27 September. Keuangan Negara: Dalam Teori dan Praktek (Edisi 4). 2004. 2002. “Fiscal Federalism in Theory and Practice”. Machfud. International Monetary Fund. Gramedia Pustaka Utama. dkk. Departemen Keuangan RI. Ulbrich. Subiyantoro. M.(2001). Bandung. 1997. Ter-Minassian. Yogyakarta. “Perencanaan Pembiayaan Daerah”. Sidik. Washington. Robert A. Washington. Volume I/No. 1996. Masykur.. DC. 2002. Fiska Sarana. 5/2004. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.. The Center on Budget and Policy Priorities. (2001). Sebuah Pengantar. editor. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda serta penerapannya di Indonesia.

USA. Yogyakarta pada tahun 1972. 1 Januari 1947. sebagai Ketua Grup Kerja Tim Subsidi Impor Bulog. sebagai dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. USA. Anggota Dewan Komisaris PT Pelindo III dan Ketua Dewan Pengawas Rumah Sakit Persahabatan. dan ” The Impact of Institutional Environment on Public Official Permormance: Does Instititional Environment Affect The Rate Of Corruption?” (bersama Andie Megantara. antara lain sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan dan Kepala Badan Analisa Keuangan dan Moneter. Penasehat Tim Penyempurnaan Sistem Akuntansi. 1984). Selanjutnya meneruskan ke program master bidang kebijakan ekonomi di University of Illinois at Urbana Champaign. Departemen Keuangan. Beberapa penugasan yang pernah diterima antara lain. tahun 1984. Beberapa jabatan penting di lingkungan Departemen Keuangan pernah dipercayakan kepadanya. September 2003). tahun 1986. kemudian melanjutkan pada undergraduate program bidang ekonomi di Boulder Colorado University. ”Services Account Balance of Payment” (1985). Pengalaman mengajar yang pernah dilaksanakan antara lain. Dasar-dasar Keuangan Publik . ”Pengaruh Eksternal Shock Negara Industri terhadap Negara Berkembang” (terjemahan. Jakarta. Gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Universitas Gadjah Mada. Cross Section Analysis” (1980). Anggota Tim Penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN Departemen Keuangan. Jurnal Keuangan Publik.1 No. saat ini beliau masih aktif sebagai Anggota Dewan Penasehat ISEI Cabang Jakarta. Jakarta. ”Pokok-pokok Pengembangan Pendidikan dan latihan Jarak Jauh di Departemen Keuangan (1994). BPPK Vol. menikah dan telah dikaruniai 1 putri dan 2 putra. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. Anggota Dewan Komisaris PT Telkom dan Anggota Redaksi Jurnal Keuangan dan Moneter. Sedangkan beberapa hasil karya penulisan atau papernya. Departemen Keuangan.1. Ketua Tim Koordinasi dan Monitoring Perhitungan APBN. Selain itu. dosen luar biasa pada Universitas Trisakti. dan STIE Indonesia. dilahirkan di Kudus.308 BIOGRAFI PENYUSUN Noor Fuad. Saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. yaitu ” Energy Comsumption in USA.

13 Agustus 1961. “Memahami GASB Statement No 34”. Universitas Budi Luhur dan Universitas Al Azhar Indonesia. antara lain pada Diklat Pimpinan Tingkat III dan IV serta diklat-diklat lain di Pusdiklat Pegawai BPPK. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. tahun 1993. Anggota Dewan Editor Jurnal Keuangan Publik BPPK. Gelar Sarjana Hukum didapatkan dari Universitas Airlangga. ”An Overview of the Indonesian Automotive Industry” (Journal of Economics and Business Administration No. dan ”The Impact of Institutional Environment on Public Official Performance: Does Institutional Environment Affect the Rate of Corruption?” (bersama Noor Fuad. Lexington. Dasar-dasar Keuangan Publik . Pusdiklat Pegawai BPPK. tahun 1994. dosen pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. tahun 1990 sedangkan program master pada bidang Business Administration diraih dari University of Kentucky. Nagoya. Surabaya. Bambang Widjajarso tercatat sebagai staf pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Universitas Paramadina Mulya. ”The Impact of Institutional Environment on Public Official Corruption” (Journal of Economics and Business Administration No. sehingga sampai sekarang mendalami manajemen keuangan sektor publik. March 2002). STAN. kemudian menyelesaikan program masternya pada bidang Manajemen Keuangan dari Universitas Gadjah Mada. dan “Konsep Dasar Akuntansi Dana”. Jurnal Keuangan Publik Vol.309 Andie Megantara. Selain aktif di bidang pengajaran. USA. lahir di Solo. Berbagai penugasan lain di luar jabatan struktural banyak dipercayakan kepadanya. dan Ketua Tim Penyusun Buku Dasar-dasar Keuangan Publik. Gelar akuntan diperoleh dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sedangkan program doktoral bidang Manajemen diselesaikan di Nanzan University. Minatnya pada bidang keuangan publik dimulai sejak meniti karir sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Propinsi Bali dimana penugasan-penugasannya meliputi aspek penerimaan dan pengeluaran negara dari aktivitas pemerintah yang didanai APBN. Dilahirkan di Boyolali. Depok. “Prospek Akuntansi Pemerintah Indonesia”. Buku hasil karyanya yang lain berjudul “Manual Statistik Keuangan Pemerintah”. Saat ini aktif memberikan pelatihan Manajemen Keuangan Daerah pada beberapa Pemerintah Daerah melalui Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan. Saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Kurikulum. tahun 1996. March 2003). Selain itu. Jepang tahun 2003.1. sebagai tenaga ahli bidang sektor publik. hampir seluruh perjalanan karirnya diabdikan sebagai pengajar di berbagai institusi. 30. antara lain sebagai Direktur Program Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Keuangan Terapan (LP2MKt). Beberapa hasil tulisan atau paper yang pernah dibuat antara lain. 29. September 2003). Jakarta. dan Universitas Indonesia. khususnya untuk mata kuliah Seminar Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta. 29 Januari 1970. juga aktif sebagai peneliti pada Research Institute in Political Economy and Local Government Empowerment. Makalah-makalah yang dihasilkan diantaranya “Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah”. Tangerang.1 No.

Pendidikan Diplomanya diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sejak tahun 1997 telah menjadi staf pengajar pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara untuk beberapa mata kuliah di bidang Akuntansi dan Manajemen Keuangan. Saat ini disamping jabatan struktural yang disandangnya sebagai Kepala Sub Bidang Program pada Pusdiklat Pegawai BPPK Jakarta.310 Huriah Akbar Prabowo. USA. Australia. Sekarang menjabat sebagai Kepala Sub Bidang Pengembangan Pendidikan Akuntan. Gelar Akuntan diperolehnya setelah lulus dari program Diploma IV STAN tahun 1997. Kecintaannya kepada almamater. Pendidikan program Diploma III dan IV diselesaikan di STAN sedangkan gelar Master of Commerce diraih dari University of New South Wales. lahir di Jakarta 31 Oktober 1971. 1 September 1970. Kegiatannya selain menjabat di BPPK antara lain aktif mengajar pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan beberapa diklat yang diselenggarakan di BPPK seperti Diklat Pimpinan Tingkat IV. sistem akuntabilitas instansi pemerintah. Sydney. kemudian pada tahun 2001 berhasil menyelesaikan program Master of Accounting di University of Southern Californa. Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Jabatan lain yang dipegangnya adalah sebagai Direktur Program Lembaga Pengembangan Kepemimpinan Global Yayasan Artha Bhakti BPPK. Rahmadi Murwanto. membuat dirinya terpanggil untuk lebih mengembangkan potensi di bidang sistem informasi yang dikuasainya bagi kemajuan STAN dan BPPK. Setelah menyelesaikan program diploma III Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 1991. Tercatat pembangunan jaringan sistem informasi kepegawaian dan sistem kontrol awal database keuangan BPPK (early warning system) merupakan hasil rintisan bersama. Dasar-dasar Keuangan Publik . juga aktif mengamati berbagai perkembangan dalam bidang regulasi akuntansi. Departemen Keuangan. mendapat penugasan sebagai Asisten Dosen STAN dan Verifikator pada Bagian Keuangan BPPK. perpajakan dan keuangan publik. lahir di Salatiga. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). juga aktif berkecimpung di bidang pengembangan kepemimpinan. setelah sebelumnya menjadi asisten dosen dari tahun 1991 sampai dengan 1994. saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Perumusan Program pada Sekretariat Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan. investasi dan manajemen risiko. menikah dan dikaruniai dua anak. serta mengajar pada program Pascasarjana Universitas Atmajaya. Case Western University. Di samping pekerjaan utama yang bersangkutan dengan pengembangan SDM Departemen Keuangan. Adi Budiarso. praktik perpajakan. sedangkan gelar Master of Business Administration dan Master of Accountancy diperoleh pada tahun 2001 dari Weatherhead School of Management. Diploma IV (Program dalam Bahasa Inggris) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan Diklat Pimpinan Tingkat IV BPPK.

Sunarsip. sedangkan gelar Sarjana Ekonomi diperoleh dari Universitas Indonesia. Sebelumnya pernah bertugas di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan dan Badan Analisa Fiskal.. Mengajar bukan hal yang baru baginya sebab sejak lulus Diploma III STAN tahun 1993. pernah beberapa kali menjadi Asisten Dosen untuk mata kuliah tertentu. STIE Tri Bhakti – Bekasi. pemandu acara talk show ekonomi di radio SMART FM. sebagai Dosen Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. adalah mengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Australia. Departemen Keuangan. Dasar-dasar Keuangan Publik . minat yang besar juga dicurahkan pada dunia komputer. Umar dan Ilyas. Jakarta pada tahun 1999. Disamping itu. hal yang sering dilakukan di waktu senggang bersama keluarga adalah bermain game bersama dua anaknya yang beranjak besar. Kemudian melanjutkan program master bidang finance di The University of Newcastle. Kepala Divisi Riset Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan STAN. Insyafiah. Gelar Sarjana Ekonomi di bidang akuntansi diperoleh dari Universitas Indonesia pada tahun 1997. Di samping bekerja di Pusdiklat Pegawai. Direktur bidang Kajian Ekonomi Center for Indonesian Reform (CIR). penulis di berbagai harian dan majalah nasional. dan Anggota Tim Perumus Kebijakan Exit Strategy Pasca IMF (Tim Indonesia Bangkit 2001). Sejak November 2004 bekerja pada Kementerian BUMN sebagai Tenaga Ahli Menteri BUMN. kemudian melanjutkan pendidikan pada program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MKPK) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kegiatannya selain menjabat di BPPK. Editor Pelaksana Jurnal Keuangan Publik BPPK. Pendidikan Diploma III diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Jakarta pada tahun 1995. saat ini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Evaluasi Program pada Sekretariat BPPK. sedangkan gelar Master of Arts diraih dari University of Colorado pada tahun 2003. lulus tahun 2002. Disamping hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi. dilahirkan di Jakarta. serta sebagai pembicara di berbagai seminar dan pelatihan tingkat lokal maupun nasional. pengajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan Universitas Al Azhar Indonesia. saat ini juga aktif mengajar antara lain. Jakarta. Kegiatan lainnya antara lain sebagai Kontributor Ahli Majalah ”Warta Bisnis”. 25 Mei 1973. dilahirkan di Tuban. aktivitas lainnya yang pernah dilakukan adalah sebagai peneliti di Badan Analisa Fiskal. 25 Maret 1974. dan Universitas Al Azhar Indonesia. Tidak heran. menikah dan telah dikaruniai 3 putra. Beberapa mata kuliah yang pernah diberikan antara lain Evaluasi Proyek dan Akuntansi Keuangan Lanjutan. Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan sejak September 1995. Pendidikan Diploma IV diselesaikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada tahun 2000. Anggota Komite Risiko dan Kepatuhan PT Bank BNI (Persero) Tbk.311 Fajar Hasri Ramadhana. menikah dan telah dikaruniai 1 putra dan 1 putri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful