KONSEP DASAR PENELITIAN NATURALISTIK

BAB I. PENDAHULUAN
Dalam penelitian kualitatif yang bersifat holistik, jumlah teori yang harus dimiliki peneliti kualitatif jauh lebih banyak di bandingkan penelitian kuantitatif karena harus disesuaikan dengan fenomena yang berkembang dilapangan. Peneliti kualitatif akan lebih profesional kalau menguasai semua teori sehingga wawasannya lebih luas, dan dapat menjadi instrumen penelitian yang baik. Teori bagi peneliti kualitatif akan berfungsi sebagai bekal untuk bisa memahami konteks sosial secara lebih luas dan mendalam. Walaupun peneliti kualitatif dituntut untuk menguasai teori yang luas dan mendalam, namun dalam melaksanakan penelitian, peneliti kualitatif harus mampu melepaskan teori yang dimiliki tersebut dan tidak digunakan sebagai panduan dalam menyusun instrument dan sebagai panduan dalam menyusun panduan untuk wawancara, dan observasi. Munculnya penelitian kualitatif adalah karena reaksi dari tradisi yang terkait dengan positivisme dan postpositivisme yang berupaya melakukan kajian budaya dan interpretatif sifatnya. Berbagai jenis metode dan pendekatan dalam penelitian kualitatif, tingkat perkembangan dan kematangan masing-masing metode ditentukan juga oleh bidang keilmuan yang memiliki sejarah perkembangannya. Setiap uraian mengenai penelitian kualitatif harus bekerja didalam bidang historis yang kompleks. Penelitian kualitatif mempunyai pengertian yang berbeda-beda untuk setiap momen, meskipun demikian definisi secara umum : penelitian kualitatif merupakan suatu metode berganda dalam fokus, yang melibatkan suatu pendekatan interpretatif dan wajar terhadap setiap pokok permasalahannya. Ini berarti penelitian kualitatif bekerja dalam setting yang alami, yang berupaya untuk memahami, member tafsiran pada fenomena yang dilihat dari arti yang diberikan orang-orang kepadanya. Penelitian kualitatif melibatkan penggunaan dan pengumpulan berbagai bahan empiris, seperti studi kasus, pengalaman pribadi, instropeksi, riwayat hidup, wawancara, pengamatan, teks sejarah, interaksional dan visual: yang benggambarkan momen rutin dan problematis, serta maknanya dalam kehidupan individual dan kolektif. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Pengertian Penelitian Kualitatif, Penelitian Naturalistik, Kapan Menggunakan Penelitian Kualitatif, Karakteristik Penelitian Naturalistik, Proses Inkuiri Naturalistik, dan beberapa Contoh Penelitian Kualitatif.

BAB II. KONSEP DASAR PENELITIAN KUALITATIF
A. Pengertian Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Tylor dalam Moleong, 1993:3).[1]
Sementara itu Kirk dam Miller mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya. Fraenkel dan Wallen menyatakan bahwa penelitian yang mengkaji kualitas hubungan, kegiatan, situasi, atau material disebut penelitian kualitatif, dengan penekanan kuat pada deskripsi menyeluruh dalam menggambarkan rincian segala sesuatu yang terjadi pada suatu kegiatan atau situasi tertentu.

Sedangkan menurut Strauss dan Corbin (1990) penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang prosedur penemuan yang dilakukan tidak menggunakan prosedur statistik atau kuantifikasi. Dalam hal ini penelitian kualitatif adalah penelitian tentang kehidupan

terutama peneliti sendiri. Penelitian Naturalistik Istilah lain yang sering digunakan dengan makna penelitian kualitatif adalah penelitian naturalistic. oleh karena ciri yang menonjol dari penelitian kualitatif adalah cara mengamati dan pengumpulan data yang dilakukan dalam latar/seting alamiah. perilaku.[7] Tujuan penelitian naturalistik adalah untuk mengetahui aktualitas. Landasan teori yang dituliskan dalam proposal penelitian lebih berfungsi untuk menunjukkan seberapa jauh peneliti memiliki teori dan memahami permasalahan yang diteliti walaupun permasalahan tersebut masih bersifat sementara. dan juga tentang fungsi organisasi.[5] Peneliti kualitatif dituntut mampu mengorganisasikan semua teori yang dibaca. sebab. untuk merumuskan kesimpulan umum. dilihat dari kualitas. Tidak ada pola baku tentang format desain penelitian kualitatif.[4] Penelitian kualitatif bersifat induktif. cerita. Para peneliti naturalistik meyakini bahwa untuk memahami gejala sosial yang paling tepat adalah apabila mereka mampu memperoleh fakta pendukung yang sumbernya berasal dari persepsi dan ungkapan dari para pelaku itu sendiri. hukum.[2] Konsep penelitian kualitatif sebenarnya menunjuk dan menekankan pada proses. Peneliti kualitatif justru dituntut untuk melakukan “grounded research”. sehingga sulit untuk dirumuskan format desain yang baku. artinya tanpa memanipulasi subjek yang diteliti (sebagaimana adanya. sehingga masing-masing orang bisa memiliki model desain sendiri sesuai seleranya. Mereka mencoba menjawab pertanyaan yang menekankan bagaimana pengalaman sosial diciptakan dan diberi arti. Penelitian ini bermaksud menemukan kebenaran berupa generalisasi yang dapat diterima akal sehat (common sense) manusia. dan (3) umumnya penelitian kualitatif berangkat dari kasus atau fenomena tertentu. yaitu menemukan teori berdasarkan data yang diperoleh dilapangan. intensitas atau frekuensi. agama dan sebagainya. realitas sosial dan persepsi manusia melalui pengakuan mereka yang mungkin tidak dapat diungkap melalui penonjolan pengukuran formal atau pertanyaan penelitian yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Generalisasi itu terbatas dalam konteksnya dengan masalah dan lingkungan sumber datanya. maka penelitian naturalistik dianggap tepat untuk memecahkan . jumlah. yakni manusia dan segala sesuatu yang dipengaruhi manusia. dan berarti tidak diteliti secara ketat atau terukur ( jika memang dapat diukur). Karena berorientasi pada proses.seseorang. Dilihat dari segi orientasinya. sehingga sulit untuk dirumuskan format yang baku. hubungan yang intim antara peneliti dengan yang diteliti dan kendala situasional yang membentuk penyelidikan.[3] Objek penelitian kualitatif adalah seluruh bidang/aspek kehidupan manusia. Guba (1985) mempergunakan nama Naturalistic Inquiry (inkuiri naturalistik). mungkin berkenaan dengan aspek/bidang kehidupannya yang disebut ekonomi. gerakan sosial atau hubungan timbal balik. Penelitian kualitatif menekankan sifat realita yang dibangun secara sosial. kebudayaan. administrasi. B. (1) instrumen utama penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri.[6] Penelitian kualitatif memiliki model desain yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Objek itu diungkapkan kondisinya sebagaimana adanya atau dalam keadaan sewajarnya (natural setting). karena penelitian ini tidak mempersoalkan sampel dan populasi sebagaimana penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif menekan bahwa sifat peneliti itu penuh dengan nilai (value-laden). Oleh karena itu landasan teori yang dikemukakan bukan merupakan harga mati. tetapi bersifat sementara. natur). penelitian naturalistik berorientasi pada proses. karena bertolak dari data yang bersifat individual/khusus. (2) proses penelitian kualitatif bersifat siklus.

Atas dasar itu. karena pikirannya telah terfokus untuk memperhatikan hanya pada fokus khusus. seorang peneliti kualiatif tidak mesti memaksakan diri untuk menemukan “teori” dari kancah. Penelitian bermaksud membuat deskripsi dari gejala-gejala yang diamati untuk digunakan dalam menghasilkan suatu teori. Kapan Menggunakan Penelitian Kualitatif Kapan waktu yang paling tepat melakukan perancangan kerangka konseptual dalam penelitian kualitatif? Ini menjadi diskusi yang tidak berujung di kalangan ahli kualitatif. Yang diingini adalah deskripsi latar (setting) yang kompleks dan interaksi dari peserta. Jika dilakukan dari awal. Yang diinginkan dicari adalah pandangan-pandangan dan defenisi dari variable-variabel yang berasal dari masyarakat (subjek yang diteliti). Ahli antropologi dan fenomenologi berpendapat. Yang dicari/diteliti adalah apa latar belakang atau hakikat perilaku yang diamati. Diskusi yang tidak pernah selesai ini menjadi faktor munculnya berbagai pola perancangan kerangka konseptual di kalangan peneliti kualitatif. perilaku siswa dalam sekolah. di mana dalam kegiatan tersebut pengungkapan fenomena lebih bersifat ganda dan non linier. seperti: perubahan perilaku manusia dalam pembangunan. . Usaha-usaha penelitian bertujuan untuk mengidentifikasikan serta mengumpulkan tipe-tipe informasi baru. dan karena itu harus dihentikan sampai pada penemuan formulasi-formulasi konseptual dan tema-tema budaya. Jadi. 6.[8] C.[9] Berikut ini disajikan beberapa tipe informasi yang membedakan dan dapat dipertimbangkan oleh para peneliti di waktu memutuskan apakah suatu pendekatan naturalistik tepat dipergunakan atau tidak. Tidak semua penelitian harus menghasilkan teori. fenomena-fenomena. informasi. Akhirnya.permasalahan penelitian yang berkaitan dengan kegiatan manusia. 2. dan pelaku-pelaku yang paling bermakna tidak akan dapat diramalkan sebelum penelitian lapangan. 3. Penelitian berfokus pada hal-hal yang dalam dan rinci pada sejumlah hal-hal yang terbatas. sebab tema-tema yang memuat keterangan deskriptif itu dapat disusun secara sistematis ke dalam bentuk konsepsi konsepsi dekriptif yang kaya dengan definisi. 1. bahkan ia dapat saja merancang sebuah penelitian yang hanya sampai pada penemuan tema-tema untuk disusun ke dalam pengetahuan deskriptif yang bersifat informatif. Modifikasi rumusan semakin minimal. 4. sekaligus isi data dapat terus semakin diperbanyak. peran dokter dan pasien dalam proses penyembuhan. Sebagian dari hasil penelitian itu tidak dimungkinkan untuk dilajutkan ke perumusan teori. pada saat itu peneliti sudah dapat mempublikasikan hasil penelitiannya. Sebab. perumusan teori dimulai dengan mereduksi jumlah kategori-kategori sekaligus memperbaiki rumusan dan integrasinya. kerangka konseptual seharusnya muncul secara empiris di lapangan sewaktu penelitian berjalan. Hal ini merupakan pengebirian karakter penelitian kualitatif. Atribut teori yang tersusun dari hasil penafsiran/pemaknaan dilengkapi terus dengan data baru. 5. Penelitian yang sampai pada penemuan tema-tema seperti itu juga cukup penting. Jika hal itu sudah tercapai dan peneliti telah merasa yakin akan hasilnya. dapat mengakibatkan pengumpulan data serampangan dan bisa jadi menghadirkan data yang melimpah-ruah. mungkin sekali membuat ketidakbebasan bagi peneliti untuk menemukan fenomena yang asli. Tetapi jika kerangka konseptual dirancang belakangan. latar. dirumuskan kembali dalam arti diperluas cakupannya sekaligus dipersempit kategorinya. realitas sosial itu cukup kompleks. dan atau abstraksi dari gejala-gejala sosial. karena itu peta-peta konseptual yang konvensional akan menjadi kendala.

seperti kuesioner dan se-macamnya. H.B. Karakteristik Penelitian Naturalistik Penelitian Kualitatif Naturalistik memiliki karakteristik tersendiri sehingga dapat membedakan dengan jenis penelitian yang lain. maka akan paling tepat bila dikaji dalam konteksnya yang natural. maka perlu diperhatikan hal berikut ini : a. sangat dipengaruhi oleh bias si peneliti.[11] Penggunaan metode kualitatif penting diperhatikan. . Di samping itu. Peneliti kualitatif lebih memberikan perhatian pada proses daripada hasil.[10] Sebagai tambahan terhadap tipe-tipe informasi di atas ada pula hal-hal lain yang harus diperhatikan oleh peneliti dalam menentukan pendekatan penelitian mana yang akan dipakainya. Jika variable-variabel yang diidentifikasikan untuk pengkajian. maka inkuiri naturalistic adalah metode yang tepat. 1. Inkuiri naturalistic akan berguna apabila tidak ada hipotesis yang jelas dan dapat diuji serta variable yang paling relevan bagi hipotesis itu. lebih-lebih untuk menghadapi nilai lokal yang berbeda. 2. 2. Yang ingin dihasilakan adalah deskripsi dan kesimpulan yang kaya konteks. 5. sehingga tidak ada jaminan bahwa peneliti lain tidak akan menghasilkan kesimpulan yang sama sekali bertentangan dengan kesimpulan peneliti pertama. 8. Realitas itu memiliki nuansa ganda yang sukar dipahami tanpa memperkaya yang terekspresikan dengan yang tak terkatakan. c. 4. Sutopo mengemukakan tiga belas karakteristik penelitian naturalistik sebagai berikut : Konteks natural Suatu fenomena hanya dapat ditangkap dan dipahami maknanya dalam keseluruhan dan tidak dapat dilepaskan dari konteksnya.7. Manusia sebagai instrumennya Dalam hal ini si peneliti sendiri atau orang lain sebagai instrumen pengumpul data. Metode kualitatif dianggap cenderung menghasilkan banyak informasi rinci dari jumlah setting yang kecil. Berfokus pada interaksi-interaksi dari orang-orang yang diteliti dan proses-proses yang mereka pakai.Nana Sudjana dan Ibrahim. 3. Peneliti kualitatif cenderung menganalisis datanya secara induktif. antara lain agar tidak terlalu banyak masalah perbedaan persepsi. instrumen manusia mampu menangkap makna. Metode kualitatif 1. Riset Kualitatif hanya semata-mata merupakan rakitan anekdot dan kesan pribadi. Kelebihan manusia sebagai instrumen adalah karena ma-nusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai ragam realitas yang tidak dapat dikerjakan oleh instrumen selain manusia. 4. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Inkuiri naturalistik tepat digunakan apabila literatur dan pengalaman peneliti tidak cukup mendeskripsikan konteks sesuatu yang akan diteliti.[13] Sedangkan Bogdan dan Biklen. Pemanfaatan pengetahuan yang tak terkatakan Sifat naturalistik memungkinkan kita mengangkat hal-hal yang tak terkatakan untuk memperkaya hal-hal yang terekspresikan. Hasil riset kualitatif dianggap sulit diterapkan secara luas (generalisasi). Diantaranya adalah sebagai berikut : a. Guba (dalam Moleong. Beberapa karakteristik tersebut menurutBogdan dan Biklen (1995: 27-30) adalah: Penelitian kualitatif memiliki setting (latar) alamiah sebagai sumber data langsung dan peneliti merupakan instrumen kunci. b. Riset Kualitatif dianggap kurang dapat direproduksi. 3. artinya riset tersebut sangat bersifat pribadi bagi peneliti. c. b. interaksinya sarat nilai. “Makna” merupakan perhatian utama bagi pendekatan kualitatif.[12] D.

sehingga hal-hal yang dicari tampil menonjol dan pada akhirnya dapat mudah dicari maknanya. 11. Penafsiran idiografik Penelitian naturalistik mengarah ke penafsiran data (termasuk penarikan kesimpulan) secara idiografik (dalam arti keberlakuannya bersifat khusus). yang menekan kemungkinan munculnya kasus menyimpang. menentukan kriteria inklusi dan ekslusi bagi informal baru. ketentuan lokasi studi. Hasil yang disepakati Penelitian naturalistik cenderung menyepakatkan makna dan tafsir atas data yang diperoleh dengan sumbernya. 5. karena dengan modus laporan studi kasus deskripsi realitas ganda yang tampil dari interaksi peneliti dengan responden dapat terhindar dari “bias”. Penentuan fokus memiliki tujuan menentukan keterikatan studi. karena realitas itu ganda dan berbeda. Aplikasinya tentatif Penelitian naturalistik cenderung lebih menyukai aplikasi tentatif daripada aplikasi meluas atas hasil temuannya.Penelitian naturalistik lebih memilih metode kualitatif daripada kuantitatif. dan karena banyak sistem nilai yang terkait serta inter-aksinya tak terduga. 9. karena penafsiran yang berbeda nampaknya lebih memberi makna untuk realitas yang berbeda konteksnya. 10. Metode kualitatif juga lebih mengungkap hubungan wajar antara peneliti dengan responden. 3. Alasan lain. bukan ke nomothetik(dalam arti mencari hukum keberlakuan yang sifatnya umum). Fokus membantu peneliti membuat keputusan untuk membuang atau menyimpan infornasi yang diperolehnya. Grounded theory Penelitian naturalistik lebih mengarahkan penyusunan teori (yang lebih mendasar) diangkat dari empiri. 12. 4. Pengambilan sampel secara “purposive” Penelitian naturalistik menghindari pengambilan sampel secara acak. Desain penelitian bersifat sementara Penelitian naturalistik cenderung memilih penyusunan desain sementara dari pada mengkonstruksinya secara apriori. 5. Maksudnya peneliti perlu mencari kepastiannya pada penduduk yang tinggal dalam konteks-nya. halhal yang dicari dapat dipilih pada kasus-kasus ekstrim. 8.[14] 1. karena peneliti sulit mempolakan lebih dahulu apa yang ada di lapangan. Analisis datanya secara induktif Penelitian naturalistik lebih menyukai analisis induktif daripada deduktif. karena lebih mampu mengungkap realitas ganda. juga karena interaksi antara peneliti dengan respondennya bersifat khusus dan tak dapat diduplikasikan. Modus laporan studi kasus Penelitian naturalistik lebih menyukai modus laporan studi kasus daripada modus lain. Ikatan konteks terfokus Penelitian naturalistik menghendaki ditetapkannya batas atas dasar fokus. Dengan pengambilan secara “purposive”. 13. 7. karena dengan cara tersebut konteksnya akan lebih mudah dideskripsikan. karena responden lebih memahami konteksnya dari pada si peneliti. 2. bukan dibangun secara apriori. dan karena metode kualitatif lebih sensitif dan adaptif terhadap berbagai pengaruh timbal balik. 6. Sementara itu menurut Nasution ciri-ciri metode kualitatif adalah : Sumber data adalah situasi yang wajar atau natural setting peneliti sebagai instrumen penelitian Sangat deskriptif Mementingkan proses maupun produk Mencari makna Mengutamakan data langsung . karena realitas ganda sulit dikerangkakan.

Menurut perkembangannya. 10. Struktur sosial menunjuk pada definisi bersama yang dimiliki individu yang berhubungan dengan bentuk-bentuk yang cocok dan menghubungkan satu sama lain. Dengan kata lain paradigma merupakan suatu cara memahami realita.[15] E. 13.6. Triangulasi (pengecekan data/informasi dari sumber lain) Menonjolkan rincian kontekstual Subyek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti Mengutamakan perspektif emik (menurut pandangan responden) Verifikasi (menggunakan kasus yang bertentangan untuk memperoleh hasil yang lebih dipercaya) Sampling yang purposive Menggunakan audit trial (melacak laporan/informasi sesuai dengan data yang terkumpul) Partisipsi tanpa mengganggu Mengadakan analisis sejak awal penelitian Data dikumpulkan dalam bentuk kata-kata atau gambar ketimbang Desain penelitian tampil dalam proses penelitian Dengan memperhatikan karakteristik penelitian kualitatif yang dikemukakan para ahli sebagaimana dikemukakan di atas. Inkuiri Naturalistik digolongkan ke dalam pendekatan/penelitian kualitatif untuk membedakannya dari penelitian kuantitatif. Hanya saja perhatian para ahli secara intens barulah pada dekade terakhir ini. paradigma mikro dan pemberdayaan. 7. Perbedaan lainnya terletak pada paradigma yang dipergunakan dalam melihat realita atau sesuatu yang menjadi obyek studi.[16] Lincoln dan Guba (1985:39). Paradigma naturalistik disebut juga paradigma definisi sosial. Proses Inkuiri Naturalistik Menurut Guba inkuiri naturalistik merupakan pendekatan yang berorientasi pada penemuan yang meminimalisir manipulasi peneliti atas obyek penelitian/studi . nampaknya lebih bersifat saling melengkapi dan menambah. 12. paradigma nonpositivistik. atau pandangan terhdap sesuatu. 16. peranan/pengaruh dari nilai-nilai (yang dianut peneliti) dan variabel-variabel lainnya yang serupa itu. 14. Tindakan-tindakan individu . 9. 11. artinya tanpa memanipulasi subyek yang diteliti (sebagaimana adanya natur). Dalam penelitian. hubungan antara orang yang mencoba mengetahui sesuatu (peneliti) dan hal yang mereka coba ketahui (yang diteliti). keempat istilah tersebut pada umumnya memiliki pengertian yang yang sama dan merupakan rumpun paradigma penelitian kualitatif. Kendatipun menggunakan istilah yang beragam. 15. 8. Sedangkan paradigma definisi sosial (social defenition) menekankan hakikat kenyataan sosial yang didasarkan pada definisi subyektif dan penilaiannya. pendekatan ini bukanlah hal baru. hal ini mencakup keyakinan terhadap sifat dasar dari realitas (yang diamati). Paragidma itu sendiri tidak lain adalah representasi konseptualisasi tentang sesuatu. Secara sederhana inkuiri naturalistik dapat didefinisikan sebagai inkuiri yang dilakukan dalam latar/setting alamiah dengan menggunakan metode yang alamiah pula (Aliasar 1998: 4). lebih suka menggunakan istilah Naturalistik Inquiry oleh karena ciri yang menonjol dari penelitian ini adalah cara pengamatan dan pengumpulan datanya dilakukan dalam latar/ setting alamiah. Dengan variasi semacam ini maka akan lebih mempermudah/memperjelas pemahaman tentang penelitian kualitatif.

Geertz tentang adu ayam di Bali : “Deep Play : Notes on the Balinese cockfight”. Secara harfiah etnografi berarti penggambaran penghidupan suatu masyarakat atau suku bangsa. Sebuah karya etnografis harus merupakan sebuah gambaran yang dibuat oleh seorang antropolog mengenai cara hidup sekelompok orang yang berinteraksi sesamanya. Jadi sumber perilaku sosial itu seperti dikatakan Suprayogo dan Tobroni (2001: 101). analisisnya akan menjadi lebih sempit dan seterusnya. Kids and Conflicts : Ethnography of Junior High School” 3. suatu catatan mengenai data yang dikumpulkan. proses naturalistik itu menurut keluwesan dan keterbukaan terhadap informasi baru yang akan digunakan dalam menyempitkan fokus. yaitu : 1. Siklus penelitian naturalistik mulai dengan seleksi suatu proyek penelitian. Dengan kata lain. Beberapa Contoh Penelitian Kualitatif Setelah mempelajari dan mengetahui latar belakang serta ciri-ciri penelitian kualitatif. Sherlock dan kawan-kawan. karena pertanyaanpertanyaan akan makin terfokus juga setiap kali melalui siklus itu. Laporan penelitian Janet Davis yang berjudul “Teachers. Bagi penganut paradigma ini. yaitu tentang kedudukan Etnografi dalam Antropologi. Etnografi sebagai suatu metode atau pendekatan merupakan cara antropolog melakukan penelitian tentang kebudayaan suatu masyarakat. Sebelum memulai pembahasan materi tersebut di atas ada beberapa catatan pendahuluan yang perlu diberikan. yang berjudul “The Next Generalitation : An Ethnography of Education in an Urban Neighbourhood”. tidak hanya berasal dari luar individu yang semata-mata mengikuti hukum kausalitas. Daftar isi karya Oghu. Proses ini diulangi beberapa kali atau sering kali. maka untuk dapat merasakan dan memahami penelitian naturalistik. serta analisis dari data itu. Berikut ini akan beberapa hasil kajian penelitian kualitatif. data yang dikumpulkan lebih terpesialisasikan. 2. namun bersumber pula dari dalam diri subyek (inner perspective of human behavior) dan makna pengalaman individu (the meaning of an individual’s experience of the world). Artikel C. tergantung pada ruang lingkup yang makin menyempit dari pertanyaanpertanyaan yang diajukan. sebelum dapat ditulis suatu laporan. tetapi sebenarnya dalam antropologi arti etnografi dibatasi pada karya-karya deskripsi tentang suatu . melainkan juga keseluruhan makna kultural yang simbolik termasuk tindakan yang tidak kasat mata. Jadi. Kadang-kadang kata etnografi dipakai secara bergantian dengan etnologi. realitas dalam paradigma ini ditentukan sendiri oleh subyek yang diteliti. Siklus itu kemudian dilanjutkan dengan mengalikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan proyek itu.[18] F.serta pola-pola interaksinya dibimbing oleh definisi bersama dan dikonstruksikan melalui proses interaksi. dengan memerlukan relatif hanya sedikit pengulangan dari siklusnya. maka lebih banyak pengulangan dari sklus itu yang akan diperlukan. Atau. jika digunakan suatu ruang lingkup yang lebih terfokus. realitas sosial yang menjadi obyek penelitian tidak mesti bersifat perilaku sosial yang kasat mata saja. suatu pengkajian naturalistik dapat dilakukan dengan hanya suatu fokus deskriptif. Jumlah frekuensi melalui siklus itu yang diperlukan biasanya tidak diketahui ketika pengkajian dimulai. Jadi. pengumpulan data untuk menanggulangi pertanyaan-pertanyaan itu.[17] Inkuiri naturalistik menggunakan suatu proses siklus dan bukan linier. Dilihat sebagai suatu proses maka etnografi merupakan ilmu tentang penggambaran kebudayaan suatu masyarakat. Untuk itu ada tiga bahan bacaan yang dapat dibaca dan dihayati para pembelajar.

pada hakikatnya mencerminkan empat langkah berurutan dari suatu penjelasan ilmiah (Sceantific explanation).[20] . Dalam melakukan penelitiannya Janet melakukan pendekatan etnosemantik. Dari pembicaraan dengan siswa terlihat bahwa guru merupakan topic diskusi dan bahan tertawaan. maka deskripsi etnografinya akan memberikan “insiders point of view”. siswanya berjumlah 700 orang yang terdiri dari orang kulit putih dan orang kulit hitam. dan cara-cara menyakiti guru. Description. cara guru mencari kesalahan siswa. Spradley dan Mc Curdy menggambarkan hubungan etnografi dengan etnologi dan antropologi budaya. jumlah guru 40 orang. Untuk itu. Untuk memelihara ketertiban. walaupun dia sendiri tidak pernah memancing tentang itu. serta data tentang latar belakang siswi. Pada bagian pertama laporan Janet menggambarkan letak dan keadaan sekolah. hal-hal yang dapat menimbulkan kesulitan pada siswa. Dia mulai dengan mendengarkan konsep-konsep yang dipakai oleh siswa-siswa perempuan ini ketika mereka memaparkan pengalaman-pengalaman mereka di sekolah. Janet mempelajari “kebudayaan” siswa perempuan kelas 8. Pendekatan ini menggunakan konsep kebudayaan yang bersifat mentalistik. Janet menggunakan tiga orang siswi. Dalam rangka perbaikaan pendidikan di sekolah negeri. Dalam laporannya Janet mengungkapkan kompleksitas makna-makna yang membentuk kompleksitas interaksi antara guru-guru dan siswa. seperti : jenis guru. Pandangan-pandangan siswi menjadi sumber informasi mengenai kehidupan di sekolah tersebut. Janet ingin mengetahui pandangan siswa mengenai sekolah mereka. Sekolah itu terletak di bagian tengah Barat Amerika Serikat. guru membalas dengan mencari-cari kesalahan. kebudayaan yang merupakan apa-apa yang ada dalam fikiran manusia. Selanjutnya dengan melakukan percakapan dengan mereka tentang kehidupan sekolah. Kata-kata harus begini atau begitu dipakai secara luas. Mula-mula dipakai tape recorder. siswa dan konflik di sebuah SMP di Amerika Serikat. Janet dapat menangkap berbagai kategori budaya dari masyarakat sekolah tersebut. Namun dalam antropologi ada dua jenis deskripsi yaitu “thick description” dan “thin description”. Tingkat yang atas dibangun berdasarkan informasi yang disediakan oleh tingkat bawah. classification. Interview dilakukan seperti mengobrol saja. Reaksi siswa adalah tindakan yang tidak menyenangkan. laporan penelitian Janet. Kebudayaan berfungsi sebagai serangkaian rencana untuk mengatur tingkah laku. Sebagai informan tetap. Teachers. Berdasarkan konsep kebudayaan yang dipakai ini. Siswa melihat guru-guru sebagai orang yang memaksa mereka melakukan berbagai hal dan mereka bereaksi dengan menyakiti atau menjadi kesayangan guru-guru.[19] Di bawah ini merupakan salah satu contoh penelitian kualitatif dalam bentuk “thick description”. dan mereka sering membawa teman-teman. tetapi belakangan hanya buku catatan saja. Siswi-siswi inilah yang memberikan “insiders view”. Metode penjelasan ilmiah yang dipakai oleh para antropolog ini telah dikembangkan pula dalam penelitian pendidikan. Kids and Conlict : Ethnography of Junior High School oleh Janet Davis Dari judul yang diketahui bahwa isinya menyangkut guru. comparison dan explanation. Dari hasil wawancaranya dia dapat menangkap bahwa ada konflik di sekolah.kebudayaan sedangkan etnologi mempunyai arti yang lebih berorientasi teoritis tentang hubungan-hubungan dan makna-makna perilaku sosial yang ada dalam sejumlah masyarakat.

seperti: perubahan perilaku manusia dalam pembangunan. . peneliti kualitatif cenderung menganalisis datanya secara induktif dan “Makna” merupakan perhatian utama bagi pendekatan kualitatif. maka penelitian naturalistik dianggap tepat untuk memecahkan permasalahan penelitian yang berkaitan dengan kegiatan manusia. data yang dikumpulkan lebih terpesialisasikan. Inkuiri Naturalistik digolongkan ke dalam pendekatan/penelitian kualitatif untuk membedakannya dari penelitian kuantitatif. dengan memerlukan relatif hanya sedikit pengulangan dari siklusnya. Karena berorientasi pada proses. perilaku siswa dalam sekolah. dirumuskan kembali dalam arti diperluas cakupannya sekaligus dipersempit kategorinya. atau pandangan terhdap sesuatu. Menurut Bogdan dan Biklen ada beberapa karakteristik pnelitian naturalistic. Perumusan teori dimulai dengan mereduksi jumlah kategori-kategori sekaligus memperbaiki rumusan dan integrasinya. Modifikasi rumusan semakin minimal. karena pertanyaan-pertanyaan akan makin terfokus juga setiap kali melalui siklus itu. Perbedaan lainnya terletak pada paradigma yang dipergunakan dalam melihat realita atau sesuatu yang menjadi obyek studi. Atau. peran dokter dan pasien dalam proses penyembuhan. di mana dalam kegiatan tersebut pengungkapan fenomena lebih bersifat ganda dan non linier. Paragidma itu sendiri tidak lain adalah representasi konseptualisasi tentang sesuatu. sebelum dapat ditulis suatu laporan. Penelitian naturalistik berorientasi pada proses. PENUTUP Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Tylor dalam Moleong. peneliti kualitatif lebih memberikan perhatian pada proses daripada hasil. Suatu pengkajian naturalistik dapat dilakukan dengan hanya suatu fokus deskriptif. Jika hal itu sudah tercapai dan peneliti telah merasa yakin akan hasilnya. sekaligus isi data dapat terus semakin diperbanyak. 1993:3). jika digunakan suatu ruang lingkup yang lebih terfokus. yakni penelitian kualitatif bersifat deskriptif.BAB III. Atribut teori yang tersusun dari hasil penafsiran/pemaknaan dilengkapi terus dengan data baru. Dengan kata lain paradigma merupakan suatu cara memahami realita. analisisnya akan menjadi lebih sempit dan seterusnya. maka lebih banyak pengulangan dari sklus itu yang akan diperlukan. pada saat itu peneliti sudah dapat mempublikasikan hasil penelitiannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful