P. 1
Konsep Dasar Penelitian Naturalistik

Konsep Dasar Penelitian Naturalistik

|Views: 397|Likes:
Published by TAMILSELVY

More info:

Published by: TAMILSELVY on Dec 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2015

pdf

text

original

KONSEP DASAR PENELITIAN NATURALISTIK

BAB I. PENDAHULUAN
Dalam penelitian kualitatif yang bersifat holistik, jumlah teori yang harus dimiliki peneliti kualitatif jauh lebih banyak di bandingkan penelitian kuantitatif karena harus disesuaikan dengan fenomena yang berkembang dilapangan. Peneliti kualitatif akan lebih profesional kalau menguasai semua teori sehingga wawasannya lebih luas, dan dapat menjadi instrumen penelitian yang baik. Teori bagi peneliti kualitatif akan berfungsi sebagai bekal untuk bisa memahami konteks sosial secara lebih luas dan mendalam. Walaupun peneliti kualitatif dituntut untuk menguasai teori yang luas dan mendalam, namun dalam melaksanakan penelitian, peneliti kualitatif harus mampu melepaskan teori yang dimiliki tersebut dan tidak digunakan sebagai panduan dalam menyusun instrument dan sebagai panduan dalam menyusun panduan untuk wawancara, dan observasi. Munculnya penelitian kualitatif adalah karena reaksi dari tradisi yang terkait dengan positivisme dan postpositivisme yang berupaya melakukan kajian budaya dan interpretatif sifatnya. Berbagai jenis metode dan pendekatan dalam penelitian kualitatif, tingkat perkembangan dan kematangan masing-masing metode ditentukan juga oleh bidang keilmuan yang memiliki sejarah perkembangannya. Setiap uraian mengenai penelitian kualitatif harus bekerja didalam bidang historis yang kompleks. Penelitian kualitatif mempunyai pengertian yang berbeda-beda untuk setiap momen, meskipun demikian definisi secara umum : penelitian kualitatif merupakan suatu metode berganda dalam fokus, yang melibatkan suatu pendekatan interpretatif dan wajar terhadap setiap pokok permasalahannya. Ini berarti penelitian kualitatif bekerja dalam setting yang alami, yang berupaya untuk memahami, member tafsiran pada fenomena yang dilihat dari arti yang diberikan orang-orang kepadanya. Penelitian kualitatif melibatkan penggunaan dan pengumpulan berbagai bahan empiris, seperti studi kasus, pengalaman pribadi, instropeksi, riwayat hidup, wawancara, pengamatan, teks sejarah, interaksional dan visual: yang benggambarkan momen rutin dan problematis, serta maknanya dalam kehidupan individual dan kolektif. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Pengertian Penelitian Kualitatif, Penelitian Naturalistik, Kapan Menggunakan Penelitian Kualitatif, Karakteristik Penelitian Naturalistik, Proses Inkuiri Naturalistik, dan beberapa Contoh Penelitian Kualitatif.

BAB II. KONSEP DASAR PENELITIAN KUALITATIF
A. Pengertian Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Tylor dalam Moleong, 1993:3).[1]
Sementara itu Kirk dam Miller mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya. Fraenkel dan Wallen menyatakan bahwa penelitian yang mengkaji kualitas hubungan, kegiatan, situasi, atau material disebut penelitian kualitatif, dengan penekanan kuat pada deskripsi menyeluruh dalam menggambarkan rincian segala sesuatu yang terjadi pada suatu kegiatan atau situasi tertentu.

Sedangkan menurut Strauss dan Corbin (1990) penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang prosedur penemuan yang dilakukan tidak menggunakan prosedur statistik atau kuantifikasi. Dalam hal ini penelitian kualitatif adalah penelitian tentang kehidupan

gerakan sosial atau hubungan timbal balik. Karena berorientasi pada proses. yaitu menemukan teori berdasarkan data yang diperoleh dilapangan. penelitian naturalistik berorientasi pada proses. dan (3) umumnya penelitian kualitatif berangkat dari kasus atau fenomena tertentu. perilaku. Penelitian ini bermaksud menemukan kebenaran berupa generalisasi yang dapat diterima akal sehat (common sense) manusia. dan berarti tidak diteliti secara ketat atau terukur ( jika memang dapat diukur). (2) proses penelitian kualitatif bersifat siklus. tetapi bersifat sementara. cerita. mungkin berkenaan dengan aspek/bidang kehidupannya yang disebut ekonomi. intensitas atau frekuensi. yakni manusia dan segala sesuatu yang dipengaruhi manusia.seseorang.[7] Tujuan penelitian naturalistik adalah untuk mengetahui aktualitas. Landasan teori yang dituliskan dalam proposal penelitian lebih berfungsi untuk menunjukkan seberapa jauh peneliti memiliki teori dan memahami permasalahan yang diteliti walaupun permasalahan tersebut masih bersifat sementara.[3] Objek penelitian kualitatif adalah seluruh bidang/aspek kehidupan manusia. maka penelitian naturalistik dianggap tepat untuk memecahkan . karena bertolak dari data yang bersifat individual/khusus. oleh karena ciri yang menonjol dari penelitian kualitatif adalah cara mengamati dan pengumpulan data yang dilakukan dalam latar/seting alamiah. Guba (1985) mempergunakan nama Naturalistic Inquiry (inkuiri naturalistik). agama dan sebagainya.[2] Konsep penelitian kualitatif sebenarnya menunjuk dan menekankan pada proses. Penelitian Naturalistik Istilah lain yang sering digunakan dengan makna penelitian kualitatif adalah penelitian naturalistic. dilihat dari kualitas. artinya tanpa memanipulasi subjek yang diteliti (sebagaimana adanya. Generalisasi itu terbatas dalam konteksnya dengan masalah dan lingkungan sumber datanya. Objek itu diungkapkan kondisinya sebagaimana adanya atau dalam keadaan sewajarnya (natural setting). sehingga sulit untuk dirumuskan format yang baku. hukum. jumlah. realitas sosial dan persepsi manusia melalui pengakuan mereka yang mungkin tidak dapat diungkap melalui penonjolan pengukuran formal atau pertanyaan penelitian yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. administrasi.[5] Peneliti kualitatif dituntut mampu mengorganisasikan semua teori yang dibaca. sebab. Dilihat dari segi orientasinya. Mereka mencoba menjawab pertanyaan yang menekankan bagaimana pengalaman sosial diciptakan dan diberi arti. dan juga tentang fungsi organisasi. Penelitian kualitatif menekankan sifat realita yang dibangun secara sosial.[4] Penelitian kualitatif bersifat induktif. natur). Oleh karena itu landasan teori yang dikemukakan bukan merupakan harga mati. Para peneliti naturalistik meyakini bahwa untuk memahami gejala sosial yang paling tepat adalah apabila mereka mampu memperoleh fakta pendukung yang sumbernya berasal dari persepsi dan ungkapan dari para pelaku itu sendiri. karena penelitian ini tidak mempersoalkan sampel dan populasi sebagaimana penelitian kuantitatif. kebudayaan. B. sehingga sulit untuk dirumuskan format desain yang baku. (1) instrumen utama penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri. sehingga masing-masing orang bisa memiliki model desain sendiri sesuai seleranya. Tidak ada pola baku tentang format desain penelitian kualitatif.[6] Penelitian kualitatif memiliki model desain yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Peneliti kualitatif justru dituntut untuk melakukan “grounded research”. hubungan yang intim antara peneliti dengan yang diteliti dan kendala situasional yang membentuk penyelidikan. terutama peneliti sendiri. Penelitian kualitatif menekan bahwa sifat peneliti itu penuh dengan nilai (value-laden). untuk merumuskan kesimpulan umum.

Atas dasar itu. dan karena itu harus dihentikan sampai pada penemuan formulasi-formulasi konseptual dan tema-tema budaya. informasi. seperti: perubahan perilaku manusia dalam pembangunan.permasalahan penelitian yang berkaitan dengan kegiatan manusia. Sebab. Hal ini merupakan pengebirian karakter penelitian kualitatif. Ahli antropologi dan fenomenologi berpendapat. dapat mengakibatkan pengumpulan data serampangan dan bisa jadi menghadirkan data yang melimpah-ruah. bahkan ia dapat saja merancang sebuah penelitian yang hanya sampai pada penemuan tema-tema untuk disusun ke dalam pengetahuan deskriptif yang bersifat informatif. Jika dilakukan dari awal. Sebagian dari hasil penelitian itu tidak dimungkinkan untuk dilajutkan ke perumusan teori. perilaku siswa dalam sekolah. realitas sosial itu cukup kompleks. 4. Kapan Menggunakan Penelitian Kualitatif Kapan waktu yang paling tepat melakukan perancangan kerangka konseptual dalam penelitian kualitatif? Ini menjadi diskusi yang tidak berujung di kalangan ahli kualitatif. sekaligus isi data dapat terus semakin diperbanyak. karena itu peta-peta konseptual yang konvensional akan menjadi kendala. dan atau abstraksi dari gejala-gejala sosial. Diskusi yang tidak pernah selesai ini menjadi faktor munculnya berbagai pola perancangan kerangka konseptual di kalangan peneliti kualitatif. Jika hal itu sudah tercapai dan peneliti telah merasa yakin akan hasilnya. dirumuskan kembali dalam arti diperluas cakupannya sekaligus dipersempit kategorinya. pada saat itu peneliti sudah dapat mempublikasikan hasil penelitiannya. fenomena-fenomena. 5. Penelitian berfokus pada hal-hal yang dalam dan rinci pada sejumlah hal-hal yang terbatas. 2. Penelitian yang sampai pada penemuan tema-tema seperti itu juga cukup penting. latar. seorang peneliti kualiatif tidak mesti memaksakan diri untuk menemukan “teori” dari kancah. perumusan teori dimulai dengan mereduksi jumlah kategori-kategori sekaligus memperbaiki rumusan dan integrasinya. kerangka konseptual seharusnya muncul secara empiris di lapangan sewaktu penelitian berjalan. . mungkin sekali membuat ketidakbebasan bagi peneliti untuk menemukan fenomena yang asli. Penelitian bermaksud membuat deskripsi dari gejala-gejala yang diamati untuk digunakan dalam menghasilkan suatu teori. sebab tema-tema yang memuat keterangan deskriptif itu dapat disusun secara sistematis ke dalam bentuk konsepsi konsepsi dekriptif yang kaya dengan definisi. peran dokter dan pasien dalam proses penyembuhan. Yang diinginkan dicari adalah pandangan-pandangan dan defenisi dari variable-variabel yang berasal dari masyarakat (subjek yang diteliti). 3. Modifikasi rumusan semakin minimal. 6. Tetapi jika kerangka konseptual dirancang belakangan. Tidak semua penelitian harus menghasilkan teori. Usaha-usaha penelitian bertujuan untuk mengidentifikasikan serta mengumpulkan tipe-tipe informasi baru. Yang dicari/diteliti adalah apa latar belakang atau hakikat perilaku yang diamati.[8] C. karena pikirannya telah terfokus untuk memperhatikan hanya pada fokus khusus. Yang diingini adalah deskripsi latar (setting) yang kompleks dan interaksi dari peserta. Akhirnya.[9] Berikut ini disajikan beberapa tipe informasi yang membedakan dan dapat dipertimbangkan oleh para peneliti di waktu memutuskan apakah suatu pendekatan naturalistik tepat dipergunakan atau tidak. Atribut teori yang tersusun dari hasil penafsiran/pemaknaan dilengkapi terus dengan data baru. 1. dan pelaku-pelaku yang paling bermakna tidak akan dapat diramalkan sebelum penelitian lapangan. Jadi. di mana dalam kegiatan tersebut pengungkapan fenomena lebih bersifat ganda dan non linier.

artinya riset tersebut sangat bersifat pribadi bagi peneliti. Beberapa karakteristik tersebut menurutBogdan dan Biklen (1995: 27-30) adalah: Penelitian kualitatif memiliki setting (latar) alamiah sebagai sumber data langsung dan peneliti merupakan instrumen kunci. Yang ingin dihasilakan adalah deskripsi dan kesimpulan yang kaya konteks. interaksinya sarat nilai. Di samping itu. Inkuiri naturalistik tepat digunakan apabila literatur dan pengalaman peneliti tidak cukup mendeskripsikan konteks sesuatu yang akan diteliti. Karakteristik Penelitian Naturalistik Penelitian Kualitatif Naturalistik memiliki karakteristik tersendiri sehingga dapat membedakan dengan jenis penelitian yang lain. 3.Nana Sudjana dan Ibrahim. Manusia sebagai instrumennya Dalam hal ini si peneliti sendiri atau orang lain sebagai instrumen pengumpul data. Pemanfaatan pengetahuan yang tak terkatakan Sifat naturalistik memungkinkan kita mengangkat hal-hal yang tak terkatakan untuk memperkaya hal-hal yang terekspresikan. maka perlu diperhatikan hal berikut ini : a. 4. c. 1.B. maka inkuiri naturalistic adalah metode yang tepat. Riset Kualitatif dianggap kurang dapat direproduksi. H. Realitas itu memiliki nuansa ganda yang sukar dipahami tanpa memperkaya yang terekspresikan dengan yang tak terkatakan. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Inkuiri naturalistic akan berguna apabila tidak ada hipotesis yang jelas dan dapat diuji serta variable yang paling relevan bagi hipotesis itu. Hasil riset kualitatif dianggap sulit diterapkan secara luas (generalisasi).7. c.[12] D. antara lain agar tidak terlalu banyak masalah perbedaan persepsi. Guba (dalam Moleong. Peneliti kualitatif lebih memberikan perhatian pada proses daripada hasil. maka akan paling tepat bila dikaji dalam konteksnya yang natural. b. Jika variable-variabel yang diidentifikasikan untuk pengkajian. Diantaranya adalah sebagai berikut : a. Berfokus pada interaksi-interaksi dari orang-orang yang diteliti dan proses-proses yang mereka pakai. . Riset Kualitatif hanya semata-mata merupakan rakitan anekdot dan kesan pribadi. Metode kualitatif dianggap cenderung menghasilkan banyak informasi rinci dari jumlah setting yang kecil. 2. Kelebihan manusia sebagai instrumen adalah karena ma-nusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai ragam realitas yang tidak dapat dikerjakan oleh instrumen selain manusia. 3. b. 5. “Makna” merupakan perhatian utama bagi pendekatan kualitatif.[13] Sedangkan Bogdan dan Biklen. instrumen manusia mampu menangkap makna. lebih-lebih untuk menghadapi nilai lokal yang berbeda. seperti kuesioner dan se-macamnya. Peneliti kualitatif cenderung menganalisis datanya secara induktif. sehingga tidak ada jaminan bahwa peneliti lain tidak akan menghasilkan kesimpulan yang sama sekali bertentangan dengan kesimpulan peneliti pertama. Metode kualitatif 1. 2. 8.[11] Penggunaan metode kualitatif penting diperhatikan. Sutopo mengemukakan tiga belas karakteristik penelitian naturalistik sebagai berikut : Konteks natural Suatu fenomena hanya dapat ditangkap dan dipahami maknanya dalam keseluruhan dan tidak dapat dilepaskan dari konteksnya. sangat dipengaruhi oleh bias si peneliti. 4.[10] Sebagai tambahan terhadap tipe-tipe informasi di atas ada pula hal-hal lain yang harus diperhatikan oleh peneliti dalam menentukan pendekatan penelitian mana yang akan dipakainya.

9. Desain penelitian bersifat sementara Penelitian naturalistik cenderung memilih penyusunan desain sementara dari pada mengkonstruksinya secara apriori. 7. 11. Alasan lain. karena responden lebih memahami konteksnya dari pada si peneliti. karena penafsiran yang berbeda nampaknya lebih memberi makna untuk realitas yang berbeda konteksnya. Aplikasinya tentatif Penelitian naturalistik cenderung lebih menyukai aplikasi tentatif daripada aplikasi meluas atas hasil temuannya. Penafsiran idiografik Penelitian naturalistik mengarah ke penafsiran data (termasuk penarikan kesimpulan) secara idiografik (dalam arti keberlakuannya bersifat khusus).[14] 1. 10. karena realitas itu ganda dan berbeda. Sementara itu menurut Nasution ciri-ciri metode kualitatif adalah : Sumber data adalah situasi yang wajar atau natural setting peneliti sebagai instrumen penelitian Sangat deskriptif Mementingkan proses maupun produk Mencari makna Mengutamakan data langsung . Metode kualitatif juga lebih mengungkap hubungan wajar antara peneliti dengan responden. sehingga hal-hal yang dicari tampil menonjol dan pada akhirnya dapat mudah dicari maknanya. 13. Ikatan konteks terfokus Penelitian naturalistik menghendaki ditetapkannya batas atas dasar fokus. 3. 5. 5. dan karena banyak sistem nilai yang terkait serta inter-aksinya tak terduga. menentukan kriteria inklusi dan ekslusi bagi informal baru. 4. karena realitas ganda sulit dikerangkakan. Pengambilan sampel secara “purposive” Penelitian naturalistik menghindari pengambilan sampel secara acak. Penentuan fokus memiliki tujuan menentukan keterikatan studi. karena peneliti sulit mempolakan lebih dahulu apa yang ada di lapangan. 2. bukan ke nomothetik(dalam arti mencari hukum keberlakuan yang sifatnya umum). Analisis datanya secara induktif Penelitian naturalistik lebih menyukai analisis induktif daripada deduktif. Maksudnya peneliti perlu mencari kepastiannya pada penduduk yang tinggal dalam konteks-nya. 8. bukan dibangun secara apriori.Penelitian naturalistik lebih memilih metode kualitatif daripada kuantitatif. Fokus membantu peneliti membuat keputusan untuk membuang atau menyimpan infornasi yang diperolehnya. halhal yang dicari dapat dipilih pada kasus-kasus ekstrim. Dengan pengambilan secara “purposive”. ketentuan lokasi studi. karena lebih mampu mengungkap realitas ganda. Modus laporan studi kasus Penelitian naturalistik lebih menyukai modus laporan studi kasus daripada modus lain. yang menekan kemungkinan munculnya kasus menyimpang. Grounded theory Penelitian naturalistik lebih mengarahkan penyusunan teori (yang lebih mendasar) diangkat dari empiri. dan karena metode kualitatif lebih sensitif dan adaptif terhadap berbagai pengaruh timbal balik. 12. juga karena interaksi antara peneliti dengan respondennya bersifat khusus dan tak dapat diduplikasikan. 6. karena dengan modus laporan studi kasus deskripsi realitas ganda yang tampil dari interaksi peneliti dengan responden dapat terhindar dari “bias”. Hasil yang disepakati Penelitian naturalistik cenderung menyepakatkan makna dan tafsir atas data yang diperoleh dengan sumbernya. karena dengan cara tersebut konteksnya akan lebih mudah dideskripsikan.

14. hubungan antara orang yang mencoba mengetahui sesuatu (peneliti) dan hal yang mereka coba ketahui (yang diteliti). keempat istilah tersebut pada umumnya memiliki pengertian yang yang sama dan merupakan rumpun paradigma penelitian kualitatif. paradigma mikro dan pemberdayaan. 15. lebih suka menggunakan istilah Naturalistik Inquiry oleh karena ciri yang menonjol dari penelitian ini adalah cara pengamatan dan pengumpulan datanya dilakukan dalam latar/ setting alamiah. Struktur sosial menunjuk pada definisi bersama yang dimiliki individu yang berhubungan dengan bentuk-bentuk yang cocok dan menghubungkan satu sama lain. 12. hal ini mencakup keyakinan terhadap sifat dasar dari realitas (yang diamati). Proses Inkuiri Naturalistik Menurut Guba inkuiri naturalistik merupakan pendekatan yang berorientasi pada penemuan yang meminimalisir manipulasi peneliti atas obyek penelitian/studi . Secara sederhana inkuiri naturalistik dapat didefinisikan sebagai inkuiri yang dilakukan dalam latar/setting alamiah dengan menggunakan metode yang alamiah pula (Aliasar 1998: 4). Inkuiri Naturalistik digolongkan ke dalam pendekatan/penelitian kualitatif untuk membedakannya dari penelitian kuantitatif. 13. 8. 16. 10. Dengan variasi semacam ini maka akan lebih mempermudah/memperjelas pemahaman tentang penelitian kualitatif. 7. artinya tanpa memanipulasi subyek yang diteliti (sebagaimana adanya natur). Triangulasi (pengecekan data/informasi dari sumber lain) Menonjolkan rincian kontekstual Subyek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti Mengutamakan perspektif emik (menurut pandangan responden) Verifikasi (menggunakan kasus yang bertentangan untuk memperoleh hasil yang lebih dipercaya) Sampling yang purposive Menggunakan audit trial (melacak laporan/informasi sesuai dengan data yang terkumpul) Partisipsi tanpa mengganggu Mengadakan analisis sejak awal penelitian Data dikumpulkan dalam bentuk kata-kata atau gambar ketimbang Desain penelitian tampil dalam proses penelitian Dengan memperhatikan karakteristik penelitian kualitatif yang dikemukakan para ahli sebagaimana dikemukakan di atas. Paragidma itu sendiri tidak lain adalah representasi konseptualisasi tentang sesuatu.[16] Lincoln dan Guba (1985:39). Paradigma naturalistik disebut juga paradigma definisi sosial.[15] E. Dengan kata lain paradigma merupakan suatu cara memahami realita. Hanya saja perhatian para ahli secara intens barulah pada dekade terakhir ini. peranan/pengaruh dari nilai-nilai (yang dianut peneliti) dan variabel-variabel lainnya yang serupa itu. 11. atau pandangan terhdap sesuatu. pendekatan ini bukanlah hal baru. Kendatipun menggunakan istilah yang beragam. nampaknya lebih bersifat saling melengkapi dan menambah. Sedangkan paradigma definisi sosial (social defenition) menekankan hakikat kenyataan sosial yang didasarkan pada definisi subyektif dan penilaiannya.6. Tindakan-tindakan individu . Perbedaan lainnya terletak pada paradigma yang dipergunakan dalam melihat realita atau sesuatu yang menjadi obyek studi. 9. paradigma nonpositivistik. Menurut perkembangannya. Dalam penelitian.

Sebelum memulai pembahasan materi tersebut di atas ada beberapa catatan pendahuluan yang perlu diberikan. Atau. proses naturalistik itu menurut keluwesan dan keterbukaan terhadap informasi baru yang akan digunakan dalam menyempitkan fokus. melainkan juga keseluruhan makna kultural yang simbolik termasuk tindakan yang tidak kasat mata. karena pertanyaanpertanyaan akan makin terfokus juga setiap kali melalui siklus itu. Bagi penganut paradigma ini. maka lebih banyak pengulangan dari sklus itu yang akan diperlukan. suatu catatan mengenai data yang dikumpulkan. Daftar isi karya Oghu. maka untuk dapat merasakan dan memahami penelitian naturalistik. Sebuah karya etnografis harus merupakan sebuah gambaran yang dibuat oleh seorang antropolog mengenai cara hidup sekelompok orang yang berinteraksi sesamanya. yaitu : 1. Kids and Conflicts : Ethnography of Junior High School” 3. tergantung pada ruang lingkup yang makin menyempit dari pertanyaanpertanyaan yang diajukan. Siklus penelitian naturalistik mulai dengan seleksi suatu proyek penelitian.serta pola-pola interaksinya dibimbing oleh definisi bersama dan dikonstruksikan melalui proses interaksi. Geertz tentang adu ayam di Bali : “Deep Play : Notes on the Balinese cockfight”. dengan memerlukan relatif hanya sedikit pengulangan dari siklusnya.[17] Inkuiri naturalistik menggunakan suatu proses siklus dan bukan linier. Laporan penelitian Janet Davis yang berjudul “Teachers. pengumpulan data untuk menanggulangi pertanyaan-pertanyaan itu. Untuk itu ada tiga bahan bacaan yang dapat dibaca dan dihayati para pembelajar. 2. Dilihat sebagai suatu proses maka etnografi merupakan ilmu tentang penggambaran kebudayaan suatu masyarakat. Beberapa Contoh Penelitian Kualitatif Setelah mempelajari dan mengetahui latar belakang serta ciri-ciri penelitian kualitatif. Etnografi sebagai suatu metode atau pendekatan merupakan cara antropolog melakukan penelitian tentang kebudayaan suatu masyarakat. Artikel C. yang berjudul “The Next Generalitation : An Ethnography of Education in an Urban Neighbourhood”. Jadi. serta analisis dari data itu. Jadi. Kadang-kadang kata etnografi dipakai secara bergantian dengan etnologi. realitas dalam paradigma ini ditentukan sendiri oleh subyek yang diteliti. analisisnya akan menjadi lebih sempit dan seterusnya. jika digunakan suatu ruang lingkup yang lebih terfokus. realitas sosial yang menjadi obyek penelitian tidak mesti bersifat perilaku sosial yang kasat mata saja. yaitu tentang kedudukan Etnografi dalam Antropologi. suatu pengkajian naturalistik dapat dilakukan dengan hanya suatu fokus deskriptif. Proses ini diulangi beberapa kali atau sering kali. Dengan kata lain. Jadi sumber perilaku sosial itu seperti dikatakan Suprayogo dan Tobroni (2001: 101). data yang dikumpulkan lebih terpesialisasikan.[18] F. Siklus itu kemudian dilanjutkan dengan mengalikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan proyek itu. sebelum dapat ditulis suatu laporan. tetapi sebenarnya dalam antropologi arti etnografi dibatasi pada karya-karya deskripsi tentang suatu . Secara harfiah etnografi berarti penggambaran penghidupan suatu masyarakat atau suku bangsa. namun bersumber pula dari dalam diri subyek (inner perspective of human behavior) dan makna pengalaman individu (the meaning of an individual’s experience of the world). tidak hanya berasal dari luar individu yang semata-mata mengikuti hukum kausalitas. Berikut ini akan beberapa hasil kajian penelitian kualitatif. Jumlah frekuensi melalui siklus itu yang diperlukan biasanya tidak diketahui ketika pengkajian dimulai. Sherlock dan kawan-kawan.

Teachers.kebudayaan sedangkan etnologi mempunyai arti yang lebih berorientasi teoritis tentang hubungan-hubungan dan makna-makna perilaku sosial yang ada dalam sejumlah masyarakat. laporan penelitian Janet. Janet menggunakan tiga orang siswi. Dia mulai dengan mendengarkan konsep-konsep yang dipakai oleh siswa-siswa perempuan ini ketika mereka memaparkan pengalaman-pengalaman mereka di sekolah. jumlah guru 40 orang. Pada bagian pertama laporan Janet menggambarkan letak dan keadaan sekolah. Selanjutnya dengan melakukan percakapan dengan mereka tentang kehidupan sekolah. guru membalas dengan mencari-cari kesalahan. Reaksi siswa adalah tindakan yang tidak menyenangkan. Siswa melihat guru-guru sebagai orang yang memaksa mereka melakukan berbagai hal dan mereka bereaksi dengan menyakiti atau menjadi kesayangan guru-guru. Dari pembicaraan dengan siswa terlihat bahwa guru merupakan topic diskusi dan bahan tertawaan. Pandangan-pandangan siswi menjadi sumber informasi mengenai kehidupan di sekolah tersebut. Dari hasil wawancaranya dia dapat menangkap bahwa ada konflik di sekolah. Interview dilakukan seperti mengobrol saja. Description. kebudayaan yang merupakan apa-apa yang ada dalam fikiran manusia.[19] Di bawah ini merupakan salah satu contoh penelitian kualitatif dalam bentuk “thick description”. Dalam rangka perbaikaan pendidikan di sekolah negeri. classification. Mula-mula dipakai tape recorder. Siswi-siswi inilah yang memberikan “insiders view”. Dalam melakukan penelitiannya Janet melakukan pendekatan etnosemantik. hal-hal yang dapat menimbulkan kesulitan pada siswa. Kebudayaan berfungsi sebagai serangkaian rencana untuk mengatur tingkah laku. Pendekatan ini menggunakan konsep kebudayaan yang bersifat mentalistik. Untuk itu. Spradley dan Mc Curdy menggambarkan hubungan etnografi dengan etnologi dan antropologi budaya. siswanya berjumlah 700 orang yang terdiri dari orang kulit putih dan orang kulit hitam. seperti : jenis guru. walaupun dia sendiri tidak pernah memancing tentang itu. Metode penjelasan ilmiah yang dipakai oleh para antropolog ini telah dikembangkan pula dalam penelitian pendidikan. serta data tentang latar belakang siswi. Kata-kata harus begini atau begitu dipakai secara luas. dan cara-cara menyakiti guru. Janet ingin mengetahui pandangan siswa mengenai sekolah mereka. Janet dapat menangkap berbagai kategori budaya dari masyarakat sekolah tersebut. comparison dan explanation. Untuk memelihara ketertiban. tetapi belakangan hanya buku catatan saja. Kids and Conlict : Ethnography of Junior High School oleh Janet Davis Dari judul yang diketahui bahwa isinya menyangkut guru. Namun dalam antropologi ada dua jenis deskripsi yaitu “thick description” dan “thin description”. Sekolah itu terletak di bagian tengah Barat Amerika Serikat. cara guru mencari kesalahan siswa. Tingkat yang atas dibangun berdasarkan informasi yang disediakan oleh tingkat bawah. pada hakikatnya mencerminkan empat langkah berurutan dari suatu penjelasan ilmiah (Sceantific explanation). Berdasarkan konsep kebudayaan yang dipakai ini. siswa dan konflik di sebuah SMP di Amerika Serikat. Dalam laporannya Janet mengungkapkan kompleksitas makna-makna yang membentuk kompleksitas interaksi antara guru-guru dan siswa.[20] . Janet mempelajari “kebudayaan” siswa perempuan kelas 8. dan mereka sering membawa teman-teman. Sebagai informan tetap. maka deskripsi etnografinya akan memberikan “insiders point of view”.

Atau. Jika hal itu sudah tercapai dan peneliti telah merasa yakin akan hasilnya. Perbedaan lainnya terletak pada paradigma yang dipergunakan dalam melihat realita atau sesuatu yang menjadi obyek studi. PENUTUP Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Tylor dalam Moleong. maka penelitian naturalistik dianggap tepat untuk memecahkan permasalahan penelitian yang berkaitan dengan kegiatan manusia. Dengan kata lain paradigma merupakan suatu cara memahami realita. peneliti kualitatif cenderung menganalisis datanya secara induktif dan “Makna” merupakan perhatian utama bagi pendekatan kualitatif. maka lebih banyak pengulangan dari sklus itu yang akan diperlukan. peran dokter dan pasien dalam proses penyembuhan. seperti: perubahan perilaku manusia dalam pembangunan. . Perumusan teori dimulai dengan mereduksi jumlah kategori-kategori sekaligus memperbaiki rumusan dan integrasinya. Karena berorientasi pada proses. atau pandangan terhdap sesuatu. jika digunakan suatu ruang lingkup yang lebih terfokus. yakni penelitian kualitatif bersifat deskriptif. karena pertanyaan-pertanyaan akan makin terfokus juga setiap kali melalui siklus itu. Penelitian naturalistik berorientasi pada proses. Modifikasi rumusan semakin minimal. peneliti kualitatif lebih memberikan perhatian pada proses daripada hasil. data yang dikumpulkan lebih terpesialisasikan. pada saat itu peneliti sudah dapat mempublikasikan hasil penelitiannya. Menurut Bogdan dan Biklen ada beberapa karakteristik pnelitian naturalistic. dengan memerlukan relatif hanya sedikit pengulangan dari siklusnya. sekaligus isi data dapat terus semakin diperbanyak. perilaku siswa dalam sekolah. Inkuiri Naturalistik digolongkan ke dalam pendekatan/penelitian kualitatif untuk membedakannya dari penelitian kuantitatif. Suatu pengkajian naturalistik dapat dilakukan dengan hanya suatu fokus deskriptif. analisisnya akan menjadi lebih sempit dan seterusnya. 1993:3).BAB III. Paragidma itu sendiri tidak lain adalah representasi konseptualisasi tentang sesuatu. sebelum dapat ditulis suatu laporan. Atribut teori yang tersusun dari hasil penafsiran/pemaknaan dilengkapi terus dengan data baru. dirumuskan kembali dalam arti diperluas cakupannya sekaligus dipersempit kategorinya. di mana dalam kegiatan tersebut pengungkapan fenomena lebih bersifat ganda dan non linier.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->