P. 1
wawancara

wawancara

|Views: 71|Likes:
Published by Dedison Asanab

More info:

Published by: Dedison Asanab on Dec 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2013

pdf

text

original

Tips Beasiswa: Menghadapi Wawancara

This entry was posted on July 30, 2010, in Australia, Books, Contemplations, Geodesi UGM, Leadership, Renungan, Scholarship, Tips. Bookmark the permalink. 19 Comments

Beberapa jam terakhir, saya dihubungi beberapa orang terkait seleksi beasiswa Australian Leadership Awards (ALA). Rupanya pengumuman seleksi tahap pertama sudah keluar dan beberapa orang telah dinyatakan lolos ke tahap wawancara. Sebenarnya saya sudah pernah menulis tips wawancara ALA di blog ini tetapi rupanya masih ada yang kurang. Saya akan tambahkan di posting kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Sebelum lanjut, Anda mungkin bertanya-tanya, apa kualifikasi saya sehingga berani menuliskan tips wawancara ini. Jawaban saya sederhana, saya tidak memiliki kualifikasi resmi. Yang saya tuliskan adalah pengalaman pribadi ketika diwawancarai tiga tahun lalu ditambah hasil bacaan dan ngobrol dengan teman. Seleksi ALA sangatlah kompetitif. Hanya kandidat luar biasa yang dipanggil untuk wawancara. Oleh karena itu, bersenang hati dan bersyukurlah karena panggilan wawancara itu adalah bentuk lain dari sebuah pengakuan. Kalau ada pengakuan yang patut membuat seseorang senang, maka pengakuan dari ALA adalah salah satunya. Anda telah menyisihkan ratusan atau mungkin ribuan orang hebat lainnya untuk bisa diwawancarai. Hal pertama yang harus Anda ingat adalah bahwa mewawancara ini sama sekali bukan untuk menghakimi atau menguji Anda, apalagi mencari-cari kelemahan Anda. Sama sekali tidak. Mereka sudah tahu kemampuan dan potensi Anda, makanya Anda dipanggil wawancara. Yang ingin mereka lakukan hanyalah berbicara dalam suasana yang lebih akrab, dari hati ke hati untuk mengkonfirmasi bahwa dugaan mereka terhadap Anda tidaklah salah. Itu saja. Artinya, Anda tidak perlu menjadi orang lain, jadilah diri sendiri, seperti apa yang pernah Anda tulis di berkas lamaran terdahulu. Meski demikian, persiapan tetaplah diperlukan. Saya termasuk orang yang tidak bisa tampil tanpa persiapan, terutama ketika berbicara dengan orang lain dalam suasana yang resmi. Ketika akan presentasi saya selalu persiapan dan bahkan latihan. Ketika akan berdiskusi dengan supervisor, saya mencoba menghafalkan satu atau dua kalimat penting. Ketika akan bertemu pejabat, saya menyiapkan ‘talking points’. Setiap kali mau presentasi di forum

internasional, saya belum berhenti berlatih sampai saya bisa melakukan presentasi dalam waktu yang ditetapkan. Saya berlatih dengan stop watch. Bagi saya, bersiap-siap tidak ada salahnya, dan selalu lebih bagus dibandingkan tidak bersiap-siap. Pernah melakukan presentasi di berbagai benua tentu akan membuat seseorang lebih tenang dalam melakukan presentasi tetapi bukan berarti sudah tidak memerlukan persiapan lagi. Wawancara juga demikian. Saat wawancara ALA tiga tahun lalu, saya menyempatkan diri mengunjungi hotel tempat wawancara sehari sebelumnya. Saya mengukur waktu tempuh dengan taksi dari tempat saya menginap. Saya harus pastikan, saya tahu persis tempatnya, tidak hanya sekedar mengira-ngira. Sehari sebelumnya saya juga cek kembali kemeja, celana kain, sepatu dan kaos kaki, dasi dan semua perangkat pakaian. Yang terutama, saya siapkan kembali berkas-berkas yg akan dibawa. Semua salinan berkas lamaran saya siapkan, termasuk publikasi (paper, buku) yang akan dijadikan bukti saat bercerita tentang kiprah akademik saya.

Saya sempatkan mengingat-ingat kembali apa yang saya tuliskan di berkas lamaran terdahulu. Semuanya mudah karena apa yg saya tulis adalah kebenaran. Saya tidak perlu merekayasa apapun sehingga tidak perlu menghafalkan apapun. Jika ditanya soal kiprah, semuanya ada dalam ingatan saya. Meskipun persiapan harus matang, sekali lagi harus diingat bahwa Anda akan melakukan obrolan santai dengan dua atau tiga orang yang pada dasarnya sudah mengakui kehebatan Anda. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Anda akan menghadapi tiga orang yang santun, professional dan sangat menghargai orang lain. Anda adalah kolega sejajar, bukan pesakitan yang akan diinterogasi.

Coba bayangkan, Ada akan bertemu dengan seseorang yang ingin meminta bantuan Anda untuk mengerjakan sesuatu. Orang tersebut menjanjikan imbalan yang sangat menarik jika Anda berhasil menyelesaikan pekerjaan itu. Orang ini sudah mendengar kepiawaian Anda sehingga menaruh rasa hormat sejak awal. Dalam situasi demikian, saya bayangkan Anda akan berada di atas angin karena Anda akan bisa menjawab segala hal yang ingin diketahui orang itu. Tentu tidak ada hal yg tidak Anda ketahui tentang diri sendiri kan? Anda bisa menjelaskan dengan mudah pekerjaan serupa yang sudah berhasil ditangangi, Anda juga bisa sedikit menambah ‘bunga-bunga’ karena pada dasarnya orang yang Anda hadapi bukanlah ahli di bidang yang Anda bicarakan, meskipun memiliki pemahaman yang cukup. Orang pintar menyebut kelompok orang seperti ini sebagai ‘non-expert but intelligent audience’. Singkat kata, anda tampil percaya diri. Sementara itu, Anda pun tetap sopan kepada orang itu dan berusaha tampil prima karena Anda tetap mengharapkan akan mendapatkan pekerjaan itu. Begitulah kurang lebih situasinya ketika Anda wawancara beasiswa ALA. Saat masuk ruangan, tersenyumlah yang wajar sambil mengangguk sopan. Jika memungkinkankan, dekati pewawancara dan bersalaman sambil menatap matanya lekat saat mengucapkan salam “Hi, I am Andi, how are you doing?” Bayangkanlah Anda bertemu dengan calon kolega atau partner bisnis. Anda ingin tampil percaya diri, santun, dan hangat. Jangan lupa ucapkan “nice to meet you” atau “welcome to Indonesia” jika Anda tahu mereka tidak tinggal di Jakarta. Pengalaman saya tiga tahun lalu sangat positif. Pewawancaranya ramah dan hangat. Saya merasa tidak canggung menambahkan sedikit kelakar “it might be a bit too hot for you in Jakarta. You have just passed winter in Australia, right?!”. Intinya, ini adalah pertemuan orangorang berkedudukan setara, saling menghormati dan menghargai. Di ruangan itu, tidak ada pemberi sedekah dan penerima berkah. Kedua belah pihak setara. Saat dipersilakan duduk, duduklah dengan rileks tanpa menjadi sembrono. Tegakkan posisi badan, sebaiknya tidak bersandar jika sandaran kursinya miring. Namun jika sandaran kursinya tegak, silakan sedikit bersandar agar tidak terlihat tegang. Ucapkan terima kasih sambil tetap menebar senyum wajar. Secara bergantian tatap ketiga pewawancara Anda. Umumnya mereka akan memulai dengan mengucapkan terima kasih dan menjelaskan maksud dan proses wawancara tersebut. Sampaikan terima kasih atau sekedar mengangguk dengan mantap. Saya pribadi biasanya menempatkan kedua tangan di atas pangkuan, bukan di atas meja, dengan jarijari terjalin satu sama lain. Saya ingatkan kembali, Anda sedang ngobrol hal penting dengan kolega Anda. Anda tidak sedang diuji. Kondisikan bahwa Anda adalah seorang yang ahli sesuatu, dan kolega Anda ini juga ahli sesuatu yg tidak persis sama dengan keahlian Anda. Kenyataannya memang demikian. Pewawancara ini biasanya adalah profesional AusAID dan atau diplomat kedutaan Australia untuk Indonesia di Jakarta. Tentu saja sangat mungkin mereka tidak tahu persis bidang yang akan Anda pelajari. Meski demikian, mereka tentulah orang yang cerdas dan intelek. Bukankah sangat menyenangkan berbicara dengan orang yang pintar dan baik hati dengan keahlian yang bebeda dengan Anda? Dengan kemampuan yang dimiliki, Anda bisa memberikan sesuatu dalam percakapan dan sekaligus bisa mendapatkan banyak hal dari lawan bicara. Singkatnya, Anda bisa saling mengisi dengan pewawancara. Demikianlah suasana wawancara beasiswa ALA. Tidak ada yang perlu dirisaukan.

Detil pertanyaan yang muncul saat wawancara ALA sudah pernah saya tuliskan di blog ini. Silakan lihat lagi untuk mengingatkan. Saat ditanya sesuatu, jawablah dengan tepat dan kembangkan sedikit jika Anda mengetahui aspek lain yang terkait. Pengembangan ini bisa membawa pewawancara mengikuti interest Anda sehingga selanjutnya jadi lebih mudah. Bagaimana jika ada pertanyaan yang benar-benar tidak Anda ketahui jawabannya? Jangan panik, kejujuran adalah yang utama. Katakan saja Anda tidak tahu. Anda misalnya bisa mengatakan ”I am sure this is a really relevant question. Unfortunately, I have no idea about it. I might have missed that, to be honest. However, I will be grateful if you kindly give me some clues.” Setelah diberi sedikit petunjuk, Anda mungkin punya gambaran lebih jelas. Jika tetap kabur, Anda katakan saja terus terang. “I am really sorry, but it does not ring a bell to me.” Jika Anda kreatif, Anda pasti bisa sedikit ngeles, misalnya. “Honestly, I don’t know about that one but I have some knowledge about other related aspect which I can explain, if you don’t mind.” Tunggu reaksinya. Kemungkinan Anda akan dipersilahkan jika menunjukkan kesungguhan dan wajah yang meyakinkan. Jika Anda memang dipanggil wawancara dan semua berkas lamaran Anda siapkan sendiri dengan sungguh-sungguh, Anda tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam wawancara. Jikapun ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan baik, jumlahnya pasti sangat minimal. Yang jelas, Anda tidak akan mengatakan “I am sorry, I don’t know that” pada pertanyaan pertama. Jika tragedi ini terjadi, saya sarankan untuk mengingat lagi seberapa banyak bantuan yang Anda terima ketika mengisi formulir. Dalam menjawab pertanyaan, akan sangat bagus jika Anda berhasil menunjukkan kesan bahwa Anda paham betul persoalan itu. Misalnya, Anda bisa mengutip angka statistik yang kebetulan Anda ketahui, atau menyebut nama orang atau negara atau kota secara spesifik ketika menjelaskan. Tentu lebih baik lagi jika Anda bisa menunjukkan hasil studi Anda yang terkait pertanyaan atau studi dosen Anda atau jurnal yang pernah dibaca terkait topik yang dibicarakan. ”An article by Schofield published ini Journal X offers a good insight concerning the issue” atau Anda bisa mengatakan ”my observation on traditional traders in Malang revealed that…” atau ”Coincidently, I have published an article concerning this issue” Anda tidak harus tahu sangat detil semua hal, tetapi menyisipkan satu atau dua informasi detil akan membawa kesan yang positif. Jangankan dalam wawancara, dalam obrolan atau komunikasi biasa saja, seseorang akan terkesan jika Anda bisa mengutip informasi kecil dengan rinci/detil. Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang mengirimkan email pada saya. Orang ini mengutip kalimat yang pernah saya tulis di blog sekitar 3 tahun lalu, untuk mengingatkan saya pada satu hal. Saya sangat terkesan dengan email tersebut. Jika saya bicara soal materi wawancara, saya bisa saja tidak berhenti menulis karena sangat banyak kemungkinannya. Satu hal yang pasti, wawancara ini bukanlah ujian benar dan salah. Yang mewawancarai Anda bukan penjahat, mereka adalah kolega yang menaruh hormat pada Anda dan menganggap Anda setara. Anda pun semestinya memperlakukan mereka demikian. Orang yang percaya diri akan tampil sopan dan penuh rasa hormat tanpa menjadi mengemis dan menghamba. Selamat berjuang, Kawan!

Share this:

• • • • • •

Email Facebook Twitter3 More

Like this:
Like Be the first to like this post.

19 thoughts on “Tips Beasiswa: Menghadapi Wawancara”
1.

Ridzwan Abdi says: July 31, 2010 at 6:38 am Dear Mas Andi, Terima kasih banyak atas kedermawanan Anda membagi pengetahuan yang sangat mencerahkan ini, yang tiba pada saat banyak kawan membutuhkannya. Semoga karena kedermawanan hati ini, karir mas Andi akan melesat cepat ke arah yang dicita-citakan. Dan di alam berikutnya, mendapatkan tempat yang khusus di sisi-Nya. Mohon doanya juga mas untuk perjuangan kami selanjutnya. Reply
o

Andi Arsana says: August 5, 2010 at 11:11 pm Sama-sama Mas Rizwan… Good luck! Reply

2.

Benaiah Soenarto says: August 2, 2010 at 5:32 pm Great advise,

I really surprised get this topic from your blog. You are very helpful person. Thanks Mas Made. Cheers, Ben. Reply
3.

benaiahsoenarto says: August 9, 2010 at 10:39 am Dear Mas Andi, I just did the interview, your tips were help me a lot. Thanks for your kind help. I hope I could meet you in person someday. Cheers, Reply
o

Andi Arsana says: August 12, 2010 at 8:30 pm Ben, Good luck! Reply

4.

Sekti Widihartanto says: August 18, 2010 at 11:38 am Halo Mas Andi, Apa kabar, Mas Andi? Mudah-mudahan masih ingat saya. Jadi ingat pengalaman setahun lalu… (Antara lain) berkat tips dari Mas Andi, saya bisa mengikuti jejak beliau.

salam, Sekti Reply
o

Andi Arsana says: August 18, 2010 at 10:36 pm Good luck Mas Sekti.. kapan2 saya tengokin ke Canberra Reply

5. Pingback: Tips Beasiswa: Tes IELTS dan Wawancara ADS « a madeandi's life 6.

pendi setyawan says: December 28, 2010 at 8:27 pm sangat menginspirasi sekali..dan terimaksih banyak atas keterbukaan bli… kalau tidak keberatan mohon permintaan pertemanan saya di FB di app.. saya mahasiswa semester 7 dan sangat tertarik untuk apply beasiswa keluar Negeri..dan saya yakin ilmu yang bli tulis di blog ini sangat berguna bagi saya dan rekan2 lain untuk apply beasiswa LN.. sekali lagi terimakasih Reply
o

Andi Arsana says: December 28, 2010 at 11:58 pm Thanks Mas Pendi.. sudah saya approve. Reply

7.

Shintya said says: January 2, 2011 at 12:03 pm

kak andi trimakasaih atas tips”nya… aku ada interview dlm wktu dekat ini.. aku sudah tahu bagaimana sikap saya nanti saat diinterview.. thank zomuch kak.. ^-^ Reply
8.

Bayu says: June 24, 2011 at 6:37 am Membaca Blog anda, selalu menemukan hal baru,,, Thanks Reply
o

Andi Arsana says: July 1, 2011 at 12:14 am Thanks Bayu Reply

9.

Castro says: July 23, 2011 at 2:05 pm Terima kasih atas saran dan tips. Karena anda sudah pernah diwawancara sehingga membagikan kepada kami. Semoga hari Senin, 25 July 2011 akan di wawancara juga untuk beasiswa ADS semoga ini menjadi pedoman bagi saya. Sayang adalah orang sedikit gugup dalam wawancara resmi semoga rasa gugup tidak akan muncul hari Hnya itu. Terima Kasih Cas. Reply
o

Andi Arsana says:

July 23, 2011 at 8:42 pm Good luck Reply
10.

Castro says: August 16, 2011 at 9:44 am Terima kasih atas saran kak Andi atas tips-tipsnya. Waktu saya di wawancara saya lebih tenang dan percaya diri hanya saja beberapa materi yang sudah saya konsep tidak sempat saya dibicarakan tetapi saya sangat lakukan dengan baik dengan menjawab semua pertanyaan dari interviewer. Sementara kita tunggu hasilnya saja. Appreciate atas tips-tips kak Andi. Semoga anda selalu sehat. Castro. Reply
o

Andi Arsana says: August 17, 2011 at 5:00 pm Mantap! Reply

11.

astrinovip says: September 5, 2011 at 11:39 pm mas andi salam kenal. saya astri. lusa saya akan menghadapi wawancara beasiswa. bkn dr beasiwa asing tapi dari tanoto, kebetulan saya searching tips beasiswa, dan membaca postingan anda.. saya amat senang membacanya. smoga daya dapat melaluinya dengan baik dan mendapat hasil yang terbaik. trimakasih mas andi Reply

o

Andi Arsana says: October 1, 2011 at 9:42 pm Semoga berjalan lancar dan berhasil

Tips Beasiswa: Tes IELTS dan Wawancara ADS
This entry was posted on December 28, 2010, in Australia, Geodesi UGM, Leadership, Scholarship, Tips. Bookmark the permalink. 56 Comments

http://www.businesspundit.com/ Saya masih berstatus sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta di Jakarta ketika saya mendapat panggilan dari AusAID perihal wawancara Australian Development Scholarship (ADS) di bulan November 2002 silam. Dalam panggilan itu, ada sepucuk surat dengan berbagai lampiran jadwal ujian wawancara dan ujian IELTS serta satu buku panduan yang cukup tebal. Saya masih ingat, warnanya merah bata. Bagi banyak orang di Indonesia, surat ini adalah berkah luar biasa, telah ditunggu berbulan-bulan dalam ketegangan. Ada teman yang berkelakar beberapa tahun setelahnya bahwa jika mendapat surat dengan amplop besar dari AusAID artinya lolos wawancara. Jika amplopnya kecil, artinya hanya berisi surat permohonan maaf alias penolakan. November 2002, saya memang mendapat amplop besar dan tebal. Januari 2003, saya mulai bekerja secara resmi di Teknik Geodesi UGM dengan mengantongi sebuah undangan ujian ADS. Saya memang mengurus lamaran ADS ketika masih kerja di Astra Jakarta, meskipun di saat yang sama saya sudah diterima sebagai dosen di Teknik Geodesi UGM. Setelah menerima surat itu saya tahu jadwal wawancaranya adalah akhir Januari 2003 dengan dua kompoen ujian utama yaitu wawancara dan ujian Bahasa Inggris IELTS. Karena suatu alasan saya tidak sempat membaca buku panduan dengan seksama. Akibatnya, saya tidak tahu persis tatacara ujian IELTS yang memang belum pernah saya ikuti. Dugaan saya ketika itu, model tesnya tidak jauh berbeda dengan TOEFL. Singat kata waktu ujianpun tiba. Pagi sebelum jadwal ujian dimulai, saya telah ada di Balairung UGM di Jogja tempat tes berlangsung hari itu. Saya mengenakan kemeja lengan panjang, celana hitam dan sepatu kulit. Saya masih ingat, warna kemejanya biru kotak-kotak kecil. Sepatu saya semir mengkilat walaupun tidak bisa glamor karena sepatunya memang bukan kelas mahal. Singkatnya, saya tampil baik karena saya yakin penampilan yang baik dan wajar itu selalu aman dan rendah risiko.

Saya duduk di satu meja kecil, berhadapan dengan seorang peserta lainnya ketika ujian Listening dimulai. Terbiasa dengan TOEFL, sayapun menunggu kalimat penting pertanda tes dimulai “Question number one”. Cukup lama saya tunggu kalimat itu saat terdengar dua orang bercakapcakap dalam bahasa Inggris logat British, tetapi kalimat ‘kunci’ itu tidak kunjung terdengar. Setelah beberapa lama, percakapan berhenti dan semua orang terdiam, sayapun terdiam, masih menunggu kalimat “Question number one”. Saya mulai resah karena kalimat itu tidak terdengar sementara waktu terus berjalan. Saya merasakan ketegangan di sekeliling saya, semua orang nampak bekerja dengan tekun. Saya bertanya-tanya dalam hati, ‘apa yang mereka kerjakan karena soalnya pun belum dibacakan?’ Saya menjadi sedikit khwatir jangan-jangan saya salah mengerti apa yang terjadi. Di tengah kegelisahan itu, tiba-tiba terdengar instruksi untuk beranjak pada kelompok soal berikutnya. Saya terkejut bukan kepalang dan baru sadar bahwa saya harus menjawab pertanyaan isian secara mandiri, tanpa perlu mendengar instruksi “Question number one”. Pelajaran moral penting: biasakan membaca buku petunjuk sebelum memulai sebuah ujian. Ternyata IELTS memang berbeda dengan TOEFL, peserta harus segera menjawab pertanyaan ketika dialog berlangsung tanpa ada instruksi khusus dari narator. Kejadian ini membuat saya gugup dan menjawab beberapa pertanyaan pertama dengan ngawur karena dialognya sudah terlewati. Saya hanya menjawab sesuai dengan ingatan seadanya, sementara soal berikut siap menunggu. Meskipun tergagap-gagap dan gugup, saya toh bisa melewati tes tersebut. Jangan tanyakan hasilnya, itu bukan lagi menjadi kendali saya. Namun mengingat ‘kekonyolan’ saya di ujian Listening, rasanya tidak perlu terkejut jika hasilnya tidak menggembirakan. Benar saja, dua minggu kemudian saya ketahui nilai Listening saya kurang dari 6. Syukur nilai total bisa 6,5. Berbekal dari kejadian itulah, setiap kali diminta memberi tips untuk ujian IELTS, saya selalu menegaskan bahwa ‘adalah sangat penting untuk mengetahui model soal IELTS’. Seorang peserta ujian harus tahu persis (di luar kepala) struktur ujian, jumlah soal, jenis soal, waktu yang disediakan, dan sebagainya. Jangan pernah tes sebelum tahu persis semua ketentuan administratif itu. Setelah itu tahu, kemampuan Bahasa Inggris tentu saja penting untuk mendapatkan nilai yang baik. Dengan persiapan yang mengenaskan itu, saya menyelesaikan tes lain yaitu Reading, Writing dan Speaking. Reading tidak terlalu istimewa karena tesnya sama saja dengan model tes lain. Yang jelas ada bacaan dan ada pertanyaan terkait bacaan. Tidak ada hal-hal khusus. Bagian Writing cukup istimewa karena itu adalah kali pertama saya diuji menulis Bahasa Inggris. Ujian TOEFL sebelumnya yang saya ikuti tidak berisi tes menulis. Meski demikian, saya hanya menggunakan naluri umum saja saat menyelesaikan dua soal di Part 1 dan Part 2. Belakangan, setelah saya belajar IELTS dari sumber yang benar (buku, guru, internet) saya baru tahu bahwa Part 1 dan Part 2 di soal Writing itu bisa diselesaikan dengan strategi tertentu. Dengan belajar yang benar, segala sesuatu memang terasa lebih mudah dan sistematis. Agak berbeda dengan teman-teman lain ketika itu, Speaking adalah bagian yang paling tidak saya risaukan. Saya hanya datang saja dan ngobrol dengan pewawancara tanpa merasa sedang dites. Intinya, saya menjawab saja apa adanya sesuai dengan pertanyaan yang disampaikan. Saya juga terbantu karena bule yang menguji Speaking waktu itu tinggal di Bali sehingga ada banyak hal yang membuat percakapan lebih hangat. Yang sedikit terasa sulit tentu saja ketika ditanya

pendapat soal isu tertentu. Karena tidak ada beban, saya jawab saja seadanya sesuai keyakinan saya. Intinya saya menganggap itu percapakan biasa saja, bukan sebuah ujian serius. Saya membayangkan sedang ngobrol dengan seseorang yang baru saja saya jumpai. Sayapun tidak bertarget harus bisa menjawab semua pertanyaan dengan sempurna. Mengapa harus sempurna karena itu adalah percapakan biasa saja antara dua orang yang baru kenal? Kira-kira demikian rupanya perasaan saya ketika itu. Meski demikian, saya juga tahu bahwa setiap orang akan bisa menilai secara naluri apakah orang yang diajaknya bicara itu antusias atau tidak, menunjukkan respek atau tidak. Meski tidak harus bisa menjawab semua pertanyaan dengan sempurna, setidaknya saya berusaha dengan sungguh-sungguh memberikan respek atas pertanyaannya dan menjawab dengan segenap kemampuan saya. Jika ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab sempurna, saya hanya meminta maaf saja, tidak bisa mengelaborasi lebih dari itu. Singkat kata, ujian IELTS pun selesai. Beberapa hari kemudian saya mengikuti ujian lanjutan berupa wawancara. Kali ini wawancara lebih terkait pada persiapan saya bersekolah di Australia, bukan tetang Bahasa Inggris. Saya masih ingat, saya berhadapan dengan dua orang ketika itu. Satu orang adalah Profesor dari University of Canberra dan satu lagi adalah Dr. Kopong dari Universitas Nusa Cendana di Kupang yang merupakan alumni AusAID senior. Seperti halnya ketika menghadapi IELTS, saya tidak melakukan persiapan secara khusus tetapi setidaknya mengumpulkan informasi terkait universitas yang saya tuju yaitu UNSW di Sydney. Saya juga memantapkan kembali pemahaman saya terhadap bidang yang akan saya tekuni saat kuliah nanti yaitu geodesi atau surveying. Terus terang, saya tidak melakukan persiapan khusus karena menduga bahwa pewawancara saya tidak akan tahu banyak soal ilmu saya karena memang tidak populer. Saya cukup yakin bisa menguasai keadaan. Professor dari Canberra yang banyak bertanya, sementara Dr. Kopong menyimak dengan seksama. Saya merasa sangat rilex ketika itu, meskipun tetap menghadapi wawancara itu dengan serius dan sungguh-sungguh. Ketika ditanya soal riset, saya menyebutkan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang terkait pengelolaan peta dan informasi berbasis komputer. Di luar dugaan saya, Profesor dari Canberra itu pernah terlibat suatu proyek yang melibatkan SIG meskipun beliau adalah ilmuwan sosial. Hal ini mempermudah percakapan saya karena tidak perlu susahsudah menjelaskan konsep dasar SIG. Meski demikian sang professor tetap saja adalah orang awam terkait SIG sehingga saya bisa di atas angin dalam percakapan, terutama ketika berbicara hal-hal detil. Saya sangat menikmati bercakap-cakap dengan orang intelek yang tidak menguasai bidang saya secara rinci. Percakapan bisa sangat produktif. Hal-hal teknis yang ditanyakan ketika itu adalah seberapa siap saya belajar di Australia dengan lingkungan sosial dan akademik baru. Terkait ini, kebetulan saya sudah bertanya sekilas ke beberapa senior yang pernah sekolah di Australia sehingga saya punya sedikit pengetahuan. Saya sampaikan bahwa saya sudah berusaha mencari informasi dan memaparkan pemahaman saya itu semampu saya. Saya sampaikan bahwa situasi akademik di Australia memang berbeda dan memerlukan kemandirian yang lebih tinggi (seperti yang disampaikan senior saya). Untuk itu saya sudah bersiap dan akan berusaha maksimal. Ketika ditanya soal peran saya di Indonesia, saya hanya mengatakan bahwa saya akan kembali ke UGM dan menjadi pengajar dan peneliti. Saya sampaikan juga pengalaman saya yang pernah bekerja di Unilever dan Astra dan akhirnya memilih UGM karena idealisme tersendiri. Ini saya jadikan suatu bukti kesungguan saya untuk

bergelut di dunia pendidikan. Terkait ini saya juga pernah menulis dalam sebuah email kepada seorang kawan: “Saya sarankan untuk menguasai benar-benar topik yang diajukan (proposal riset). Namun begitu, bukan tidak mungkin pewawancara adalah mereka yang tidak mengerti bidang Anda. Maka dari itu, berhasil mengaitkan topik sulit itu dengan isu populer tentu sangat bagus. Gunakan bahasa yang sederhana ketika menjelaskan topik riset. Intinya, kalau kita menguasainya, kita akan lebih mudah menyampaikan satu analogi atau pengandaian yang dimengerti orang awam. Pewawancara kita adalah (umumnya) orang awam dalam bidang riset kita, kecuali hal istimewa terjadi.” Saya juga memperhatikan sopan santun saat wawancara. Maka dari itu, beberapa tahun kemudian, ketika ada kawan yang bertanya pada saya soal tips wawancara, saya menjawab seperti ini: “Saya selalu yakin bahka attitude adalah sesuatu yang common sense. Sopan santun misalnya, meskipun dalam detailnya berbeda di satu kawasan dengan kawasan lainnya, memiliki komponen-komponen yang universal. Saya kira kalau kita memang memiliki sikap ini, tidak sulit untuk menampilkan diri sebagai orang yang simpatik dan menarik.” Saya juga menambahkan: “Duduk yang baik di depan pewawancara, saya yakini adalah yang tegak, punggung tidak nyandar di kursi, sekaligus lengan juga tidak bertumpu di meja. Posisi yang baik adalah tegak, kepalan tangan boleh ada di meja. Menyimak pertanyaan dengan baik dilakukan dengan menatap mata penanya, memainkan air muka dan mengangguk seperlunya menunjukkan pengertian. Saat berbicara pun demikian, tatap mata orang yang mewawancarai, gunakan senyum seperlunya atau berubah serius ketika berbicara hal penting. Gerakan mata dan alis adalah bahasa yang sangat penting untuk menyampaikan pesan secara utuh. Gerakan tangan yang elegan juga membantu.” Belajar dari pengalaman, saya selalu menasihatkan bahwa persiapan lain yang penting adalah membaca website universitas yg kita tuju dan mempelajari kehidupan di Australia secaara umum. Seorang kandidat perlu memahami kehidupan akademik di Australia dan bedanya dengan Indonesia, serta yang terpenting bagaimana kesiapan kita untuk menghadapinya. Seorang kawan lain memiliki pengalaman yang agak berbeda. Kebetulan waktu itu Australia memiliki perdana mentri baru yaitu Kevin Rudd. Dia diajak ngobrol soal perdana mentri baru itu dan pandangannya terkait prospek hubungan Australia-Indonesia di bawah kepemimpinan Kevin Rudd. Pertanyaan begini cukup umum jika kandidat berasal dari bidang sosial. Meski demikian, bukan tidak mungkin pertanyaan serupa ditanyakan kepada seorang surveyor atau insinyur, jika percakapan sebelumnya terkait hal-hal seperti ini. Oleh karena itu, akan selalu lebih baik jika kandidat juga memiliki pengetahuan yang cukup baik terkait hal-hal umum di Indonesia dan Australia, terutama isu-isu yang mempengaruhi kedua negara. Jika diminta memberikan tips wawancara, satu buku mungkin tidak cukup karena sifatnya sangat relatif dan subyektif. Apa yang bagus berdasarkan pengalaman saya mungkin saya tidak berlaku

bagi orang lain. Pertanyaan yang disampaikan kepada satu kandidat sangat mungkin berbeda dengan kandidat lainnya. Pewawancara yang berbeda juga tentu memiliki gaya yang berbeda. Ini juga sangat mempengarui jenis pertanyaan ketika proses seleksi sedang berlangsung. Informasi yang ada di posting ini akan lebih lengkap jika disandingkan dengan beberapa posting lain yang saya tulis terkait seleksi ALA dan posting khusus seputar Tips Wawancara. Akhirnya, kepada para pejuang, saya ucapkan selamat berjuang. Setelah usaha dikerahkan dengan segenap upaya maka ijinkan doa memeluk mimpi-mimpi itu sehingga menjelma menjadi kenyataan.

Perjuangan Mendapatkan Beasiswa ADS (Bagian III)

Aku kembali ke ‘konsultan’ku, milis beasiswa, untuk mencari ‘tips menghadapi wawancara beasiswa ADS’. Beruntunglah di sebuah link aku menemukan semua informasi yang kucari, termasuk bocoran pertanyaan oleh para pewawancara! Tiap tips dan skenario jawaban aku catat baik-baik. Tidak hanya milis, aku juga meminta bantuan suami, rekan kerja, dan seorang teman baik yang untuk membantu memikirkan jawaban yang tepat untuk ragam pertanyaan dalam wawancara nanti. Disamping itu aku masih harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian IELTS sebagai persyaratan kelulusan beasiswa ADS pada tahap ini. Berbekal bahan-bahan IELTS terbaru dari seorang teman yang pulang dari Inggris dan bahan yang kudapatkan dari internet, aku semakin giat berlatih setiap hari terutama soal Writing dan Speaking. Dua hari sebelum berangkat ke Padang, tiba-tiba aku menghubungi seorang kenalan yang pernah mendapatkan beasiswa ADS untuk mengambil master di University of Queensland. Allah memang Maha Besar! Tanpa kuminta, si kenalan bercerita dengan detil mengenai pengalamannya, trik dan strategi yang digunakannya. Iapun sempat memberikan sebuah tips menarik yang tampaknya menjadi kunci keberhasilan dalam ujian wawancara seorang temannya yang mendapatkan beasiswa PhD. Tips tersebut sungguh menarik. Intinya hanya mempermudah kita dalam menyampaikan informasi pada pewawancara lewat alat bantu sederhana. Pada saat wawancara, sering kali kita mengalami kesulitan untuk menerangkan berbagai hal karena keterbatasan kemampuan, waktu dan peralatan. Teman kenalanku tadi menggunakan diagram sederhana berbentuk flow chart atau mind map, diketik di MS Word, untuk membantunya menerangkan rencana riset, sinergi antara riset dengan program ADS, sampai rencana karir. Beliau juga membawa beberapa folder transparan berisi prestasi-prestasi kerja, fotokopi artikel ilmiah yang pernah diterbitkan hingga

tulisan mengenai beliau dalam koran lokal. Semua itu tidak hanya tercantum dalam Curriculum Vitae saja dan terlihat abstrak, tetapi divisualisasikan dalam bentuk diagram dan berbagai bukti fisik. Subhanallah, satu strategi lagi dari Allah lewat temanku ini! Aku merasa seperti akan menghadapi sebuah ujian penting yang akan menentukan arah hidupku. Dalam mencapai suatu target, biasanya aku suka berusaha seoptimal mungkin sehingga tidak ada celah lain yang belum pernah kusentuh, seperti yang disebut orang sini sebagai “I’ve done my homework”. So, aku kerjakan ‘pekerjaan rumah’ku habis-habisan, lalu berserah menunggu hasilnya. Pada hari H, aku dan teman sepakat bertemu di tempat wawancara. Beberapa orang pelamar dari berbagai kota di Sumatera juga telah tiba di sana. Dari papan pengumuman, aku melihat nama ‘saingan’ku untuk mendapatkan beasiswa PhD yang berasal dari Universitas Andalas. Beliau memiliki skor TOEFL sangat tinggi, serta mengambil bidang ekonomi yang sering diprioritaskan oleh ADS. Biarpun suasana menjelang wawancara cukup santai, aku sempat ditegur oleh pewawancara saat memberikan briefing untuk tidak terlalu kuatir and just relax. Menurut mereka, untuk sampai pada tahap inipun kami sudah luar biasa, karena bisa masuk menjadi bagian dari 600 pelamar yang lulus persyaratan admistrasi. Pukul 10 pagi, wawancarapun dimulai. Tiap orang sesuai dengan nomor urut dipanggil ke dalam sebuah ruangan kantor untuk diwawancara. Sedang peserta lain menunggu dengan sabar di ruangan lain. Semakin lama suasana di tempat itu semakin ‘meriah’. Seseorang yang tampaknya sudah sering mengikuti wawancara ini dengan suara keras dan cepat berusaha menyampaikan berbagai tips bagi orang-orang di sekeliling beliau. Tadinya aku ikut mendengar pembicaraan mereka. Tapi, lama-lama kepalaku malah jadi pusing dan deg-degan mendengar berbagai tips yang disampaikan. Kulihat Yessy beranjak ke luar ruangan dan duduk diam-diam di sebuah kursi. Aku ikut keluar dan duduk bersamanya sambil memandangi jalanan sibuk di depan sana. “Kita harus bisa mengendalikan pikiran, bukan pikiran yang mengendalikan kita”, kudengar Yessy berkata pelan. Wah, betul juga ni, pikirku dalam hati. Jangan sampai aku menjadi gelisah karena berbagai pikiran negatif, harus akunya yang bisa mengendalikan pikiranku supaya tetap tenang. So, akhirnya kamipun duduk diam bersama, berdoa dalam hati sambil sesekali membaca catatan kecil yang ada di tangan kami. (Bersambung)

ips MENGHADAPI Wawancara kerja agar diterima
Posted by: ndunk2 on: 21 Maret 2010
• •

In: -PEKERJAAN- | TIPS & TRIK MELAMAR PEKERJAAN Comment!

Dalam beberapa kesempatan berbicara tentang dunia kerja kepada para pelajar dan mahasiswa, saya sering mendapat pertanyaan, “Bagaimana caranya menghadapi wawancara kerja?” Jika pada kesempatan sebelumnya saya telah membahas secara khusus tentang bagaimana membuat CV yang baik, maka kali ini saya akan bercerita bagaimana menghadapi wawancara kerja. Inti dari wawancara adalah untuk memastikan apakah seorang kandidat sesuai dengan hasil tes sebelumnya dan dengan CV yang dituliskan. Wawancara juga berguna untuk bertemu langsung secara fisik dengan seorang kandidat serta mengetahui sikap dan cara berpikirnya. Wawancara bisa membuat interviewer semakin yakin Anda adalah orang yang tepat dan sebaliknya bisa pula menjadi ragu karena kualitas diri Anda tidak sesuai dengan CV atau hasil tes sebelumnya.

Persiapan
Persiapan yang baik adalah kunci keberhasilan. Faktanya, banyak orang tidak memiliki persiapan khusus ketika akan menghadapi wawancara kerja. Ingat, dalam proses seleksi, wawancara merupakan tahapan akhir untuk memastikan apakah seorang kandidat layak atau tidak. Dengan melakukan persiapan yang baik, maka peluang untuk diterima akan menjadi lebih besar. Apa saja yang harus dipersiapkan ketika menghadapi wawancara kerja? Daftar berikut mudahmudahan bisa membantu Anda:

Pelajari kembali CV Anda dan fokuskan pada bagian-bagian yang relevan dengan pekerjaan yang dituju. Persiapan ini akan memudahkan kelancaran Anda dalam menjawab terkait apa-apa yang telah Anda tuliskan di dalam CV. Pelajari perusahaan yang akan Anda masuki. Cari tahu dari teman, tetangga, website atau sumber-sumber lainnya. Apa saja produknya? Apa visi dan misi perusahaan tersebut? Karyawan seperti apa yang mereka harapkan? Memiliki informasi yang banyak tentang perusahaan yang akan dimasuki akan membantu kita untuk antusias dalam wawancara, sekaligus memiliki minat yang kuat untuk bekerja. Pastikan waktu, tempat, dan siapa yang harus dihubungi untuk proses wawancara. Rencanakan keberangkatan Anda agar tiba tepat waktu. Jangan sampai hilang kesempatan hanya gara-gara datang terlambat. Latih beberapa pertanyaan sulit dan bagaimana Anda akan menjawabnya. Ini akan menghemat waktu dan Anda tidak perlu berpikir terlalu lama ketika perekrut menyampaikan pertanyaannya.

Menghadapi Wawancara
Akhirnya tibalah saat ketika Anda dipanggil dan memasuki ruang wawancara. Ini adalah saatsaat mendebarkan bagi seorang pencari kerja apalagi jika belum memiliki pengalaman diwawancarai sebelumnya. Dalam menghadapi wawancara, tunjukkan rasa percaya diri namun tetap santun. Ingat Anda mungkin membutuhkan pekerjaan tersebut, tapi jangan lupa perusahaan juga membutuhkan Anda. Jangan minder sekaligus jangan takabur. Di awal wawancara, biasanya Anda akan diminta memperkenalkan diri. Manfaatkan kesempatan ini dengan baik. Ceritakan siapa diri Anda, latar belakang pendidikan dan pekerjaan sebelumnya serta mengapa Anda melamar pekerjaan tersebut. Jangan terlalu singkat karena perekrut sebenarnya ingin mendengarkan Anda. Tapi jangan pula terlalu panjang sehingga perekrut menjadi bosan. Perhatikan bahasa tubuh interviewer apakah dia sudah merasa cukup dengan jawaban Anda atau belum. Untuk bagian perkenalan, ada baiknya telah Anda latih sehingga sudah dapat ditentukan apa yang mau diceritakan dan apa yang tidak. Wawancara adalah proses komunikasi dua arah. Interviewer bertanya dan Anda menjawab. Dalam setiap komunikasi kedua belah pihak harus saling menghargai. Jadi dengarkan baik-baik pertanyaan yang diajukan. Pahami terlebih dahulu maksud pertanyaan interviewer sebelum Anda mulai menjawab. Jika Anda merasa kurang jelas dengan pertanyaannya, jangan ragu-ragu untuk bertanya atau melakukan konfirmasi. Hal ini penting dan interviewer biasanya akan senang hati mengulang pertanyaannya. Jangan menjadi orang sok pintar yang menjawab meskipun pertanyaannya sendiri belum jelas. Bagaimana jika Anda tidak mengetahui jawaban atas sebuah pertanyaan? Ada orang yang memaksakan menjawab dan berputar-putar ke sana kemari dalam usahanya memberikan jawaban. Ini adalah cara yang keliru. Interviewer akan memandang Anda sebagai orang yang memaksakan diri padahal tidak tau. Gunakan cara yang lebih elegan. Jika Anda benar-benar tidak tau jawaban sebuah pertanyaan yang sulit, maka Anda bisa memberikan sedikit penjelasan tentang apa yang Anda ketahui dan mengakui untuk bagian tertentu yang ditanyakan Anda belum mengetahui jawabannya saat ini. Interviewer akan lebih menghargai pernyataan jujur ketimbang jawaban yang dipaksakan.

Apa Yang Ingin Diketahui Oleh Interviewer?
Pada dasarnya interviewer ingin menggali dari seorang kandidat untuk memastikan apakah orang tersebut cocok dengan pekerjaan yang ditawarkan atau tidak. Karenanya interviewer akan bertanya, melakukan konfirmasi, ataupun meminta penjelasan atas apa-apa yang pernah Anda lakukan sebelumnya. Sekaligus interviewer juga mungkin bertanya atas pandangan Anda terhadap suatu hal.

Dalam banyak wawancara, Anda akan ditanyakan tentang apa yang pernah dilakukan di masa lalu. Hal ini berguna sebagai prediksi atas kemampuan dan kinerja Anda di masa mendatang. Karenanya Anda harus menceritakan apa yang pernah Anda lakukan, bagaimana prosesnya, apa yang dipelajari dari keberhasilan atau kegagalan. Gunakan kalimat aktif yang menjelaskan apa yang Anda telah lakukan dan hasil yang diperoleh. Jangan menjelaskan apa yang akan Anda lakukan di masa yang akan datang karena bagi interviewer hal tersebut tidak relevan. Hal paling penting Anda kuasai adalah apa yang telah dipelajari dari pengalaman kerja sebelumnya dan bagaimana Anda memanfaatkan pengalaman tersebut. Anda juga perlu mengingat prestasi khusus yang telah diperoleh di masa lalu. Tidak hanya itu, kuasai hal-hal tertentu baik berupa tantangan terberat, kegagalan, maupun pencapaian dari setiap pengalaman sebelumnya. Dengan cara ini interviewer akan mendapatkan informasi berharga dari Anda.

Menghadapi Pertanyaan Sulit
Adakalanya interviewer mengajukan pertanyaan sulit yang tidak Anda duga. Sebenarnya pertanyaan sulit tersebut masih bisa diduga jika Anda telah melakukan persiapan. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang perlu Anda renungkan dan cari jawabannya sebelum hadir dalam sebuah wawancara kerja. Pertanyaan ini mungkin ditanyakan oleh seorang interviewer dan dengan persiapan yang baik Anda bisa memberikan jawaban yang mengesankan. Ingat, pertanyaan ini kadang tidak mudah dan Anda perlu menggali jauh ke dalam diri Anda sendiri untuk menemukan jawabannya:
• • • • • • • •

Mengapa Anda memilih melamar pada pekerjaan ini? Apa yang Anda sukai dan tidak sukai dari pekerjaan Anda sebelumnya? Mengapa Anda meninggalkan pekerjaan yang dimiliki sekarang? Kesuksesan seperti apa yang Anda bayangkan dalam 5 tahun ke depan? Apa kelebihan diri Anda sehingga layak diterima di perusahaan ini dibandingkan kandidat lainnya? Apa kelemahan terbesar diri Anda? Bagaimana Anda mengatasinya? Apa yang Anda cari dari pekerjaan yang dilamar sekarang? Persoalan apa yang pernah Anda hadapi di pekerjaan sebelumnya? Bagaimana Anda menyelesaikan persoalan tersebut?

Penutup
Demikianlah sekelumit yang dapat saya ceritakan untuk menghadapi wawancara kerja. Dalam pengalaman melakukan wawancara, saya sering menemukan kandidat yang sebenarnya baik secara akademis, skill, dan pengalaman namun tidak bisa menjelaskan dengan baik hal-hal tersebut dalam proses wawancara. Ada kalanya interviewer masih bisa membaca potensi dalam diri seorang pelamar yang seperti itu dan menerimanya. Namun tak jarang potensi tadi tertutupi dan interviewer lebih memilih kandidat lain yang meyakinkan. Selamat menghadapi wawancara kerja. Semoga sukses buat Anda.

from : http://www.muhammadnoer.com/2009/05/interview-wawancara/

Suka

Be the first to like this post.

Tips MENGHADAPI Wawancara kerja agar diterima
Posted by: ndunk2 on: 21 Maret 2010
• •

In: -PEKERJAAN- | TIPS & TRIK MELAMAR PEKERJAAN Comment!

Dalam beberapa kesempatan berbicara tentang dunia kerja kepada para pelajar dan mahasiswa, saya sering mendapat pertanyaan, “Bagaimana caranya menghadapi wawancara kerja?” Jika pada kesempatan sebelumnya saya telah membahas secara khusus tentang bagaimana membuat CV yang baik, maka kali ini saya akan bercerita bagaimana menghadapi wawancara kerja. Inti dari wawancara adalah untuk memastikan apakah seorang kandidat sesuai dengan hasil tes sebelumnya dan dengan CV yang dituliskan. Wawancara juga berguna untuk bertemu langsung secara fisik dengan seorang kandidat serta mengetahui sikap dan cara berpikirnya. Wawancara bisa membuat interviewer semakin yakin Anda adalah orang yang tepat dan sebaliknya bisa pula menjadi ragu karena kualitas diri Anda tidak sesuai dengan CV atau hasil tes sebelumnya.

Persiapan
Persiapan yang baik adalah kunci keberhasilan. Faktanya, banyak orang tidak memiliki persiapan khusus ketika akan menghadapi wawancara kerja. Ingat, dalam proses seleksi, wawancara merupakan tahapan akhir untuk memastikan apakah seorang kandidat layak atau tidak. Dengan melakukan persiapan yang baik, maka peluang untuk diterima akan menjadi lebih besar. Apa saja yang harus dipersiapkan ketika menghadapi wawancara kerja? Daftar berikut mudahmudahan bisa membantu Anda:

Pelajari kembali CV Anda dan fokuskan pada bagian-bagian yang relevan dengan pekerjaan yang dituju. Persiapan ini akan memudahkan kelancaran Anda dalam menjawab terkait apa-apa yang telah Anda tuliskan di dalam CV. Pelajari perusahaan yang akan Anda masuki. Cari tahu dari teman, tetangga, website atau sumber-sumber lainnya. Apa saja produknya? Apa visi dan misi perusahaan tersebut? Karyawan seperti apa yang mereka harapkan? Memiliki informasi yang banyak tentang perusahaan yang akan dimasuki akan membantu kita untuk antusias dalam wawancara, sekaligus memiliki minat yang kuat untuk bekerja.

Pastikan waktu, tempat, dan siapa yang harus dihubungi untuk proses wawancara. Rencanakan keberangkatan Anda agar tiba tepat waktu. Jangan sampai hilang kesempatan hanya gara-gara datang terlambat. Latih beberapa pertanyaan sulit dan bagaimana Anda akan menjawabnya. Ini akan menghemat waktu dan Anda tidak perlu berpikir terlalu lama ketika perekrut menyampaikan pertanyaannya.

Menghadapi Wawancara
Akhirnya tibalah saat ketika Anda dipanggil dan memasuki ruang wawancara. Ini adalah saatsaat mendebarkan bagi seorang pencari kerja apalagi jika belum memiliki pengalaman diwawancarai sebelumnya. Dalam menghadapi wawancara, tunjukkan rasa percaya diri namun tetap santun. Ingat Anda mungkin membutuhkan pekerjaan tersebut, tapi jangan lupa perusahaan juga membutuhkan Anda. Jangan minder sekaligus jangan takabur. Di awal wawancara, biasanya Anda akan diminta memperkenalkan diri. Manfaatkan kesempatan ini dengan baik. Ceritakan siapa diri Anda, latar belakang pendidikan dan pekerjaan sebelumnya serta mengapa Anda melamar pekerjaan tersebut. Jangan terlalu singkat karena perekrut sebenarnya ingin mendengarkan Anda. Tapi jangan pula terlalu panjang sehingga perekrut menjadi bosan. Perhatikan bahasa tubuh interviewer apakah dia sudah merasa cukup dengan jawaban Anda atau belum. Untuk bagian perkenalan, ada baiknya telah Anda latih sehingga sudah dapat ditentukan apa yang mau diceritakan dan apa yang tidak. Wawancara adalah proses komunikasi dua arah. Interviewer bertanya dan Anda menjawab. Dalam setiap komunikasi kedua belah pihak harus saling menghargai. Jadi dengarkan baik-baik pertanyaan yang diajukan. Pahami terlebih dahulu maksud pertanyaan interviewer sebelum Anda mulai menjawab. Jika Anda merasa kurang jelas dengan pertanyaannya, jangan ragu-ragu untuk bertanya atau melakukan konfirmasi. Hal ini penting dan interviewer biasanya akan senang hati mengulang pertanyaannya. Jangan menjadi orang sok pintar yang menjawab meskipun pertanyaannya sendiri belum jelas. Bagaimana jika Anda tidak mengetahui jawaban atas sebuah pertanyaan? Ada orang yang memaksakan menjawab dan berputar-putar ke sana kemari dalam usahanya memberikan jawaban. Ini adalah cara yang keliru. Interviewer akan memandang Anda sebagai orang yang memaksakan diri padahal tidak tau. Gunakan cara yang lebih elegan. Jika Anda benar-benar tidak tau jawaban sebuah pertanyaan yang sulit, maka Anda bisa memberikan sedikit penjelasan tentang apa yang Anda ketahui dan mengakui untuk bagian tertentu yang ditanyakan Anda belum mengetahui jawabannya saat ini. Interviewer akan lebih menghargai pernyataan jujur ketimbang jawaban yang dipaksakan.

Apa Yang Ingin Diketahui Oleh Interviewer?

Pada dasarnya interviewer ingin menggali dari seorang kandidat untuk memastikan apakah orang tersebut cocok dengan pekerjaan yang ditawarkan atau tidak. Karenanya interviewer akan bertanya, melakukan konfirmasi, ataupun meminta penjelasan atas apa-apa yang pernah Anda lakukan sebelumnya. Sekaligus interviewer juga mungkin bertanya atas pandangan Anda terhadap suatu hal. Dalam banyak wawancara, Anda akan ditanyakan tentang apa yang pernah dilakukan di masa lalu. Hal ini berguna sebagai prediksi atas kemampuan dan kinerja Anda di masa mendatang. Karenanya Anda harus menceritakan apa yang pernah Anda lakukan, bagaimana prosesnya, apa yang dipelajari dari keberhasilan atau kegagalan. Gunakan kalimat aktif yang menjelaskan apa yang Anda telah lakukan dan hasil yang diperoleh. Jangan menjelaskan apa yang akan Anda lakukan di masa yang akan datang karena bagi interviewer hal tersebut tidak relevan. Hal paling penting Anda kuasai adalah apa yang telah dipelajari dari pengalaman kerja sebelumnya dan bagaimana Anda memanfaatkan pengalaman tersebut. Anda juga perlu mengingat prestasi khusus yang telah diperoleh di masa lalu. Tidak hanya itu, kuasai hal-hal tertentu baik berupa tantangan terberat, kegagalan, maupun pencapaian dari setiap pengalaman sebelumnya. Dengan cara ini interviewer akan mendapatkan informasi berharga dari Anda.

Menghadapi Pertanyaan Sulit
Adakalanya interviewer mengajukan pertanyaan sulit yang tidak Anda duga. Sebenarnya pertanyaan sulit tersebut masih bisa diduga jika Anda telah melakukan persiapan. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang perlu Anda renungkan dan cari jawabannya sebelum hadir dalam sebuah wawancara kerja. Pertanyaan ini mungkin ditanyakan oleh seorang interviewer dan dengan persiapan yang baik Anda bisa memberikan jawaban yang mengesankan. Ingat, pertanyaan ini kadang tidak mudah dan Anda perlu menggali jauh ke dalam diri Anda sendiri untuk menemukan jawabannya:
• • • • • • • •

Mengapa Anda memilih melamar pada pekerjaan ini? Apa yang Anda sukai dan tidak sukai dari pekerjaan Anda sebelumnya? Mengapa Anda meninggalkan pekerjaan yang dimiliki sekarang? Kesuksesan seperti apa yang Anda bayangkan dalam 5 tahun ke depan? Apa kelebihan diri Anda sehingga layak diterima di perusahaan ini dibandingkan kandidat lainnya? Apa kelemahan terbesar diri Anda? Bagaimana Anda mengatasinya? Apa yang Anda cari dari pekerjaan yang dilamar sekarang? Persoalan apa yang pernah Anda hadapi di pekerjaan sebelumnya? Bagaimana Anda menyelesaikan persoalan tersebut?

Penutup
Demikianlah sekelumit yang dapat saya ceritakan untuk menghadapi wawancara kerja. Dalam pengalaman melakukan wawancara, saya sering menemukan kandidat yang sebenarnya baik

secara akademis, skill, dan pengalaman namun tidak bisa menjelaskan dengan baik hal-hal tersebut dalam proses wawancara. Ada kalanya interviewer masih bisa membaca potensi dalam diri seorang pelamar yang seperti itu dan menerimanya. Namun tak jarang potensi tadi tertutupi dan interviewer lebih memilih kandidat lain yang meyakinkan. Selamat menghadapi wawancara kerja. Semoga sukses buat Anda.
from : http://www.muhammadnoer.com/2009/05/interview-wawancara/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->