BAB 1 KANKER RONGGA MULUT A.

Defenisi

Kanker adalah penyakit yang menyerang proses dasar kehidupan sel, mengubah genom sel (komplemen genetik total sel) dan menyebabkan penyebaran liar dan pertumbuhan sel-sel. Kanker adalah istilah umum untuk petumbuhan sel tidak normal (yaitu, tumbuh sangat cepat, tidak terkontrol, dan tidak berirama) yang dapat menyusup ke jaringan tubuh normal sehingga mempengaruhi fungsi tubuh. Kanker bukan merupakan penyakit menular. (mengenal seluk beluk kaker. 2008) Kanker merupakan penyakit atau kelainan pada tubuh sebagai akibat dari sel-sel tubuh yang tumbuh dan berkembang abnormal, di luar batas dan sangat liar.(kanker, pengenalan, pencegahan dan pengobatannya, 2007) Kanker didefinisikan sebagai pertumbuhan tidak terkontrol sel-sel yang menyerang dan menyebabkan kerusakan pada jaringan sekitarnya. Kanker mulut muncul akibat pertumbuhan atau luka pada mulut yang tidak hilang. Kanker mulut meliputi kanker bibir, lidah, pipi, dasar mulut, langit-langit lunak dan keras, sinus, dan faring (tenggorokan), dapat mengancam kehidupan jika tidak didiagnosis dan diobati dini. Ca rongga mulut adalah tumor ganas dalam rongga mulut yang tumbuh secara cepat dan menginvasi jaringan sekitar, berkembang sampai daerah endontel, dan dapat bermetastasis ke bagian tubuh yang lain dan sering asimtomatik pada tahap awal. B. Epidimiologi

Kira-kira kanker rongga mulut merupakan 5% dari semua keganasan yang terjadi pada kaum pria dan 2% pada kaum wanita (Lynch,1994). Telah dilaporkan bahwa kanker rongga mulut merupakan kanker utama di India khususnya di Kerala dimana insiden rata-rata dilaporkan paling tinggi, sekitar 20% dari seluruh kanker (Balaram dan Meenattoor,1996). Walaupun ada perkembangan dalam mendiagnosa dan terapi, keabnormalan dan kematian yang diakibatkan kanker mulut masih tinggi dan sudah lama merupakan masalah didunia. Beberapa alasan yang dikemukakan untuk ini adalah terutama karena kurangnya deteksi dini dan identifikasi pada kelompok resiko tinggi, serta kegagalan untuk mengontrol lesi primer dan metastase nodus limfe servikal (Lynch,1994; Balaram dan Meenattoor,1996). Hampir semua penderita kanker rongga mulut ditemukan dalam stadium yang sudah lanjut, yang biasanya sudah terdapat selama berbulan-bulan atau bahkan lebih lama (Lynch,1994). Akibatnya prognosa dari kanker rongga mulut relatif buruk, suatu kenyataan yang menyedihkan dimana seringkali prognosa ini diakibatkan oleh diagnosa dan perawatan yang terlambat C. Klasifikasi

Kanker mulut di klarifikasikan menjadi 4 tingkatan

1. yaitu radiks lingua = pangkal lidah. Mulut (oris) Mulut merupakan jalan masuk menuju system pencernaan dan berisis organ aksesori yang bersifat dalam proses awal pencernaan. Gigi Bagian gigi terdapat gigi (anterior) tugasnya memotong yang sangat kuat dan gigi osterior tugasnya menggiling. tidak berpermentasi ke kelenjar limpa 3. Lidah Indera pengecap terdiri dari kurang lebih 50 sel-sel epitel bebrapa diantaranya disebut sel sustentakular dan yang lainnya di sebut sel pengecap. gigi. tingkat 4 : tumor sudah berinspasif dan mungkin sudah ada mentastase ke hati atau paru-paru D. Perangsangan formasio retikularis dekat pusat batang otak untuk pengecapan dapat menimbulakan pergerakan mengunyah secara ritmis dan kontinu. Tingkat 2 : ukuran lesi antara 2 – 4 cm. dorsum lingua = punggung lidah. tidak berpermentasi ke kelenjar limpa 2. palatum dan mandibularis di sebelah belakang bersambung dengan faring. Lidah terdiri dari otot serat lintang dan dilapisi selaput lendir. Lidah berfungsi untuk menggerakan makan saat dikunyah atau ditelan. Tingkat 1 : ukuran lesi kurang dari 2 cm. apek lingua = ujung lidah. Kelenjar ludah Kelenjar ludah yaitu kelenjar yang memiliki duktus yaitu duktus duktus wartoni dan duktus stensoni. Kerja otot dapat di gerakkan 3 bagian. Secara umum terdiri dari 2 bagian yaitu : • • • Bagian luar (vestibula) yaitu ruang diantara gusi. Tingkat 3 : ukuran lesi lebih dari 4 cm. Dibagian pangkal lidah terdapat epiglottis berfungsi untuk menutup jalan nafas pada waktu menelan supaya makanan tidak masuk kejalan nafas. 1. Anatomi Fisiologi 1. Kelenjar ii mensekresikan saliva jedalan rongga oral di hasilkan di dalam rongga mulut dipersarafi oleh saraf tak sadar . Pada umumnya otot-otot pengunyah di persarafi oleh cabang motorik dari saraf cranial ke 5.1. mungkin teraba benjolan pada kenjar I satu sisi 4. terutama untuk sebagian besar buah dan syur-sayuran mentah karena zat ini mempunyai membrane selulosa yang tidak dapat dicerna diantara bagian-bagian zat nutrisi yang harus di uraikan. Dan proses mengunyah di control oleh nucleus dalam batang otak. bibir dan pipi Bagian rongga mulut ( bagian ) dalam yaitu rongga yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaaris. Mengunyah makanan bersifat penting untuk pencernaan semua makanan.

kurangnya penjaggan pada mulut sehingga mulut menjadi kotor. antara lain karsinogen kimia berupa rokok dan cara penggunaannya. tahap terakhir yaitu Progresi. Mengandung ptyalin dan amylase. meliputi kebersihan rongga mulut yang jelek. Faktor lokal. Etiologi Kanker rongga mulut memiliki penyebab yang multifaktorial dan suatu proses yang terdiri dari beberapa langkah yang melibatkan inisiasi. F. Karsinogenesisnya terbagi menjadi 3 tahap : 1.• • • Kelenjar parotis. sel yang terpancing tersebut membentuk klon melalui pembelahan(poliferasi). Faktor host. virus. gigi-gigi karies/akar gigi. etiologi kanker rongga mulut dapat dikelompokkan atas : 1. 3. Patofisiologi Sel kanker muncul setelah terjadi mutasi-mutasi pada sel normal yang disebabkan oleh zatzat karsinogenm tadi. Kelenjar subliingualis. 2. dan logam. bermuara di dasar raongga mulut. sehingga memudahkan lidah bergerak utnuk bericara 3. zat karsinogen dari asap rokok tersebut memicu terjadinya Karsinogenesis (transformasi sel normal menjadi sel kanker). disekresi kedalam saliva 5. Mempertahankan bagian mulut dan lidah agar tetap lembab. Fungsi saliva : 1. Faktor luar. Kelenjar submaksilaris terletak dibawah fongga mulut bagian belakang. gigi palsu. E. suatu enzyme yang dapat mengubah zat tepung menjadi maltose polisakarida 4. promosi dan perkembangan tumor : Secara garis besar. tembakau. Tahap kedua yaitu Promosi. virus. Sebagai zat anti bakteri dan anti body yang berfungsi untuk memberikan rongga oral dan membantu memelihara kesehatan oral serta mencegah kerusakan gigi. dukts wartoni. Memudahkan makan utnuk dikunyah oleh gigi dan dibentuk menjado bolus 2. 2. jenis kelamin. agen fisik. Seperti zat buangan seperti asam urat dan urea serta obat. dibawah selaput lendir. trauma yang kronik. nutrisi imunologi dan genetic. Kanker mulut biasa juga terjadi karena kekurangan vitamin C. meliputi usia. 3. letaknya dibawah depan dari telinga diantara proses mastoid kiri dan kanan mandibularis pada duktus stensoni. radiasu ionisasi. Tahap pertama merupakan Inisiaasi yatu kontak pertama sel normal dengan zat Karsinogen yang memancing sel normal tersebut menjadi ganas. . sel yang telah mengalami poliferasi mendapatkan satu atau lebih karakteristik neoplasma ganas. sinar matahari. iritasi kronis dari restorasi.

G.1993). Kanker rongga mulut dapat didiagnosis dengan melakukan biopsi. Pengerasan pada leher. 1. Biopsi merupakan pengambilan spesimen baik total maupun sebagian untuk pemeriksaan mikroskopis dan diagnosis. apakah dengan intervensi bedah. Sitologi mulut. Biopsi insisional dipilih apabila lesi permukaan besar (lebih dari 1 cm) dan biopsi eksisional yaitu insisi secara intoto dilakukan apabila lesi kecil.Karsinoma sel mukosa yang makroskopik bersifat tukak → lesi yang terus menetap → menginflamasi jaringan tulang terutama mandibula sampai endotel → bermetastasis ke bagian tubuh yang lain. I. peralatan yang digunakan. serta rasa sakit pada telinga. 4. atau eritroleukoplakia) di dalam mulut ataupun pada bibir. 2. Teknik biopsi memerlukan bagian dari lesi yang mewakili dan tepi jaringan yang normal. Kesulitan untuk menggunakan geligi tiruan. Luka pada bibir ataupun rongga mulut yang sulit sembuh. pemeriksaan sitologi mulut merupakan suatu pemeriksaan mikroskopik sel-sel yang dikerok/dikikis dari permukaan suatu lesi didalam mulut (Coleman dan Nelson. 5. Cara ini merupakan cara yang penting dan dapat dipercaya untuk menegakkan diagnosa defenitif dari lesi-lesi mulut yang dicurigai. 6. eritroplakia. Sitologi mulut merupakan suatu teknik yang sederhana dan efektif untuk mendeteksi dini lesi-lesi mulut yang mencurigakan. Dengan penulisan artikel ini diharapkan kita dapat mempelajari kembali gejala klinis kanker rongga mulut sehingga dapat dilakukan deteksi dini untuk mencegah penyebaran kanker yang berakhir dengan kematian. Sulit atau timbulnya rasa sakit pada waktu mengunyah. Bintik putih atau merah (leukoplakia. Secara defenisi. segera lakukan biopsi. dilakukan staging untuk mengetahui jenis terapi apa yang tepat diberikan pada pasien. Pemeriksaan Diagnostik 1. radioterapi. data klinis yang disertakan sampai pengirimannya ke bagian Patologi anatomi. Manifestasi klinis Gejala-gejala kanker rongga mulut antara lain adalah munculnya : 1. Selanjutnya. atau kemoterapi. Perdarahan pada rongga mulut. Biopsi Jika hasil pemeriksaan sitologi meragukan. prosedur kerja. seorang dokter gigi harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kapan pemeriksaan ini dilakukan dan kapan tidak dilakukan. Biopsi dapat dilakukan dengan cara insisional atau eksisional. Kehilangan gigi. H. Untuk aplikasi klinisnya. 3. Penatalaksanaan . 7.

1. Pencegahan Hindari kontak berlebihan dengan matahari. J. Terapi juga dilakukan post operasi untuk membunuh sisa-sisa sel kanker yang mungkin tertinggal didaerah tersebut. dan adannya lesi. Cantumkan pertanyaan yang berhubungan dengan rongga mulut.3 minggu. Kemoterapi Kemoterapi adalah terapi yang menggunakan obat anti kanker untuk membunuh sel kanker. pada bibir kurangi merokok atau mengunyah tembakau pertahankan oral hygiene dan perawatan gigi yang baik segera konsultasikan ke dokter bila ada lesi pada mulut yang tidak sembuh dalam waktu 2. pola makan o Perubahan kemampuan dalam menyesuaikan dengan beberapa jenis makanan. rasa tak nyaman yang di sebabkan oleh makanan tertentu. Pengkajian 1. Pemeriksaan fisik Inspeksi dan palpasi struktur internal maupun eksternal dari mulut dan tenggorok. Terapi Radiasi Terapi radiasi atau radioterapi jenis terapi kecil untuk pasien yang tidak di bedah.1. mis : hygiene gigi dan mulut. 2. 1. periksa terhadap kelembaban. 1. 1. lidah dan tenggorok. riwayat sakit tenggorok atau sputum mengandung darah yang baru di alami. BAB II ASUHAN KEPERAWATAN A. 4. Terapi dilakukan untuk membunuh sel kanker dan menyusutkan tumor. tekstur. lesi atau area teriritasi pada mulut. terutama makanan padat o Kajian kemampuan untuk menelan: o Aspirasi . simetri. warna. Riwayat kesehatan Kaji riwayat kesehatan pasien dan tetapkan kebutuhan akan penyuluhan dan pembelajaran serta gejala – gejala yang memerlukan evaluasi medis. 1. 3. Tindakan Bedah Terapi umum untuk kanker rongga mulut adalah bedah untuk mengangkat sel-sel kanker hingga jaringan mulut dan leher. periksa leher terhadap pembesaran nodus limfe.

Perubahan membaran mukosa oral yang berhubungan dengan kondisi patologis.o o o o o Tersedak Makanan masuk hidung Keluar air liur ketika menelan Komunikasi Verbal. mulut klien berbau dan selama sakit klien belum pernah gosok gigi . infeksi. atau trauma kimia atau mekanis 3. Takut atau cemas berhubungan dengan penyakit yang di deritanya 6. 3. 1) 2) 3) 4) Kaji tingkat nyeri Mempertahankan tirah baring selama fase aktif Beri perawatan orang tiak 2 jam Berikan obat analgetik sesuai anjuran jika perlu Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan dan memudahkan untuk intervensi selanjutnya Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi Untuk menghilangkan sakit tenggorokan dan mengontrol bernapas Obat analgatik bisa menurunkan persepsi nyeri 1. Perubahan membaran mukosa oral yang berhubungan dengan kondisi patologis. atau trauma kimia atau mekanis Karakteristik : Membran mukosa oral klien nampak kering di kulit dengan bibir klien. Diagnosa : nyeri b/d lesi oral Karakteristik : Mengatakan sakit pada daerah mulut dan/atau sakit pada saat menelan Hasil pasien : Nyeri berkurang Kriteria evaluasi : Ekspresi wajah dan tubuh lebih releks masukan oral meningkat Intervensi Rasional 1. 4. tergantung pada luasnya lapisan yang hilang atau rusak Diagnosa Keperawatan B. 1. Nyeri berhubungan dengan lesi oral 2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fisik pada penampilan dan pengobatannya 5. infeksi. kemampuan untuk berbicara bervariasi dari kesulitan yang ringan sampai kehilangan sekali kemampuan untuk bicara Penampilan wajah pasien. Perubahan nutrisi. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunologi. kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna nutrien yang tidak adekuat akibat kondisi oral atau gigi. Intervensi Keperawatan 1. efek radiasi kemoterapi C. 4. 2.

benang gigi. mudah dicerna seperti kentang. Berikan makanan melalui selang NGT sesuai dengan jadwal pemberiannya. nasi. Untuk merangsang nafsu makan pasien . Izinkan psaien untuk sendiri. menolak makanan per oral Hasil Pasien : Memperlihatkan/mendemonstrasikan masukan nutrisi adekuat Kriteria evaluasi : BB stabil. jika makanan per oral dimungkinkan 2. Konsultasi pada ahli diet untuk memilih makanan yang tepat jika masukan oral kurang dari 30% 4. Ahli diet ialah spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi kebutuhan nutrisi dan bersama merencanakan kebutuhan dan kondisi pasien 4. Berikan makanan sedikit tapi sering 5. Perawatan diri menumbuhkan kemandirian 3. Jika dimulai pemberian makanan per oral. sikat dengan sikat gigi. masukan makanan oral meningkat. bau mulut klien hilang PH oral klien Intervensi Rasional 1. Intervensi Rasional 1. Mulai program hygiene oral : gunakan pencuci mulut dan salin hangat. Telah kembali teknik menelan untuk meminimalkan aspirasi. berikan makanan yang lembut. Berat badan tiap minggu presentase makanan yang dikonsumsi setiap kali makan. Konsultasi dengan dokter jika batuk berlebihan pada sat makan per oral 1. Tambahan makanan melalui jalan alternatif diperlukan untuk memberikan nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan luka sampai makanan tier oral dapat dimulai. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d ketidak mampuan mencerna nutrien yang tidak adekuat akibat kondisi oral atau gigi. Untuk mengidentifikasi kemajuan-kemajuan atau penyimpangan dari sasaran yang diharapkan 2. ketika pasien sudah mampu makan per oral tanpa batuk 7. perhatikan perubahan pada integritas membran mukosa oral 2. larutan pelarut dan hidroge peroksida. Untuk mengurangi nyeri pada saat menelan.Hasil pasien : terjadi gangguan pada membran mukosa Kriteria evaluasi : Membran mukosa klien normal. pertahankan bibir lembab dengan pelumas bibir 1) Agar mengetahui PH gigi. dsb. Jika peranan per oral sudah mulai diperbolehkan. Ajarkan kepada pasien cara memberikan makanan sendiri melalui selang 3. Kaji orang mulut tiap hari. sehingga resiko terjadinya kerusakan membran mukosa serta penyakit oral yang lainnya dapat dicegah dengan program PH oral dengan benar 2) Agar melancarkan peredaran darah sehingga resiko terjadinya kerusakan membran mukosa serta penyakit oral yang lainnya dapat dicegah dengan program PH oral dengan benar 1. tunggu pasien selama makan. Karakteristik : Penurunan BB. Berikan obat atau muntah jika perlu 6.

mengungkapkan kurang mengerti. mengungkapkan mengerti tentang penyakitnya. dapat bertindak cepat ketika terjadi aspirasi. dapat menurunkan pasien berkontraksi sehingga dapat menelan dengan baik 7. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan keadaannya tentang hasil pemeriksaannya. Gangguan harga diri berhubungan dengan efek samping radiotherapy penampilan fisiknya. secara verbal menyadari terhadap apa yang diinginkan yaitu menyesuaikan diri terhadap perubahan fisiknya. Agar mengetahui efek dari terapi yang dilakukan. Pemberian pelayanan kesehatan yang komponen. Untuk mengontrol mual dan muntah 6. sehingga dapat diketahui kemungkinan resiko yang terjadi. Diagnosa : Gangguan rasa cemas b/d fisik pada penampilan dan pengobatannya Karakteristik : Mengungkapkan keluhan khusus. Makanan melalui selang NGT perlu dimulai 1. dan gelisah Hasil pasien : Ansietas berkurang Kriteria evaluasi : Mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka. . Kesulitan menelan dan batuk karena makan dan batuk karena per oral dapat mencetuskan ansietas. Izinkan pasien untuk mengetahui keadaan/status penyakitnya 2. 2. meminta informasi. Dorong diskusi tentang/pecahan masalah tentang efek kanker 1. Karakteristik : KLien nampak tidak percaya diri sering menarik diri dengan orang lain Hasil pasien : Gangguan harga diri teratasi Kriteria evaluasi : KLien tidak menarik diri dan kepercayaan diri klien kembali Intervensi Rasional 1. Kemauan berkomunikasi membantu mengembangkan rasa aman penting untuk fungsi andiron. Pengetahuan tentang apa yang diharapkan dari interaksi membantu menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien untuk memikirkan tujuan yang realistik 2. 3. Intervensi Rasional 1. melaporkan berkurangnya ansietas dan takut. 1. Jelaskan metode komunikasi yang dapat digunakan secara baik dan efektif.5. Dengan memberikan HE kanker diharapkan klien mengerti akan semua proses terapi yang dilakukan dan efeknya akan terjadi sehingga klien merasa lebih kuat dalam menjalani proses penyembuhannya 3. Tinjau ulang efek samping yang diantisipasi berkenaan dengan pengobatan tertentu 2.

Agar PH klien dapat diketahui sehingga dapat diambil tindakan yang akan dilakukan selanjutnya 2. 5. Mengalami penurunan rasa takut 6. Tidak terlihat perubahan pada integritas organ 3. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang diinginkan 4. Agar terhindar dari iritasi kulit sehingga tidak mengakibatkan infeksi kulit 4. Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping kanker 2. badan klien berbau Hasil pasien : Integritas kulit tetap terjaga Kriteria evaluasi : Kulit klien nampak bersih dan bau badan klien sudah tidak ada. Evaluasi 2. efek radiasi kemoterapi Karakteristik : Kulit klien nampak kotor. salep apapun kecuali diijinkan dokter 4. Intervensi Rasional 1. mampu menerima perubahan yang ada pada dirinya. Diagnosa : Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunologi. bedak. Hindarkan pakaian yang ketat pada area tersebut 5. Menunjukkan bukti membrane mukosa utuh 1. Mandikan dengan menggunakan air hangat dan sabun ringan 3. Agar tidak menimbulkan keringat berlebihan sehingga integritas kulit tidak terjadi 5. Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun. Sebagai acuan agar kita dapat mengetahui hal-hal yang terjadi dan dapat mengambil keputusan masalah tindakan pengobatan yang selanjutnya 1. klien tidak pernah mandi selama sakit.3. menunjukkan nilai-nilai lab yang normal. Ekspresi perasaan secara verbal membantu meningkatkan kesadaran akan realitas (kenyataan). . Bebas dari infeksi. Tinjau ulang efek samping dermatologis yang dicurigai pada kemoterapi 1. Mempunyai citra diri positif seperti. tidak demam. Agar melancarkan peredaran darah (vasodilatasi) penggunaan sabun agar bau badan klien tidak ada 3. D. Bebas dari nyeri dan ketidaknyamanan pada rongga oral 2. 4.

Pengkajian Pediatrik. 2002. D. Rosa. EGC. EGC. EGC. Jakarta. dkk. Ilmu Kesehatan Anak. Jan. Soedarto. 1985. 1999. Prabu. Penyakit – Penyakit Infeksi Umum. CV. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 2. Jakarta. 1993. Tambunan. EGC. Patologi Gastroenterologi. Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. Sacharin. Sagung. Prinsip Keperawatan Pediatrik. R. Jilid I. Jakarta. . Edisi 2 EGC. Jakarta. Infomedika. Tambayong. Penyakit – Penyakit Infeksi di Indonesia. 1994. Joyce. Jilid I. Jakarta.Daftar Pustaka Engel. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Ester. 2000. Suriadi. Widya Medika. Monica. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 1997. Jakarta. EGC. Perawatan Anak Sakit. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Asuhan Keperawatan Pada Anak. 2001. Gani W. Edisi I. Keperawatan Medikal Bedah . M. Jakarta. Jakarta. Pendekatan Sistem Gastrointestinal. Jakarta. B. 1996. 1996. Ngastiyah. Widya Medika. Jakarta. 1996.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful