P. 1
macam-macam tauhid

macam-macam tauhid

|Views: 256|Likes:
Published by rianazhari
tauhid rububyah ,uluhiyah, dan asma wa sifat
tauhid rububyah ,uluhiyah, dan asma wa sifat

More info:

Categories:Types, Research
Published by: rianazhari on Dec 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/15/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULULAN A. LATAR BELAKANG Tauhid (‫ ,)ﺗﻮﺣﯿـــــﺪ‬adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah.

Tauhid menurut (salafi) dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat sahadatyang telah diikrarkan oleh seorang muslim. a. Tauhid rububiyaah Tauhid Rububiyah ini membahas tentang allah sbagai arabbu, yaitu esa penciptaan, pemeliharaan,dan pengaturan semua mahlunya. Sebagai firman Allah yang menjelaskan siapakah yang memberi rezeki pada manusia? b. Tauhid uluhiyah Tauhid ini membahas tentang ke-esaan Allah dalam dzat-nya tidak terdiri dari beberapa unsur atau oknum, tidak sebagai mana dalam yahudi dan masehi, dia (Allah sebagai dzat yang wajib d sembah dan d puji dengan ikhlas, semua pengabdian hambahnya semata-mata untuknya seperti berdo’a nahr (kurban), raja’(harap), khauf (takut), tawakal (berserah diri) dan lain-lain. c. Tauhid asma wa sifat Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma'ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma'ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah. B. TUJUAN 1. Mahasiswa dapat mengetahui tentang jenis-jenis tauhid 2. Mahasiswa setiidaknya dapat memhami bagaimana cara menerapkan ilmu tauhid dalam kehidupan. C. RUMUSAN PENULISAN Dalam pembuatan makalah ini kami menngunakan metode penuulisan yang telah di tetapkan oleh Dosen Pembimbing.

1

D. RUMUSAN MASLAH 1. Apa pengertian tauhid ? 2. Sebutkan Jenis-jenis tauhis dan pengertiannya ? 3. Sebutkan pendapat para ulama tentang jenis-jenis tauhid ?

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Tauhid Tauhid (‫ ,)ﺗﻮﺣﯿـــــﺪ‬adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Tauhid menurut (salafi) dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat sahadatyang telah diikrarkan oleh seorang muslim.

B. Tauhid Rububiyah Tauhid Rububiyah adalah meng-esakan Allah dalam penciptaan, pemberian rezeki, pemeliharaan alam semesta, penghancuran alam semesta, pencabutan nyawa,dan

pembangkitan manusia. itulah tauhid rububiyah. beriman bahwa Allah satu-satunya pencipta satu-satunya pemberi rezeki, tidak ada yang dapat memberi madhorot dan manfaat kecualihanya Allah.

Tauhid Rububiyah ini membahas tentang allah sbagai arabbu, yaitu esa penciptaan, pemeliharaan,dan pengaturan semua mahlunya. Sebagai firman Allah yang menjelaskan siapakah yang memberi rezeki pada manusia? Dalam surat yunus 31 :

Artinya :
Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"

3

Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabbi yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran (surat Az Zumar ayat 62) :

Artinya : "Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu". Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui dan meyakini jenis tauhid ini a. Sikap jahilliyah dalam tauhid rububiyah Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhantuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu? b. Penyimpangan tauhid rububiyah Penyimpangan dalam tauhid rububiyyah yaitu dengan meyakini adanya yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta ini selainAllah Azza wa Jalla dalam hal yang hanya dimampui oleh Allah Azza wa Jalla. Seperti keyakinan bahwa penguasa dan pengatur Laut Selatan adalah Nyi Roro Kidul. Ini suatu keyakinan yang bathil. Barangsiapa meyakini bahwa penguasa dan pengatur
4

laut selatan adalah Nyi Roro Kidul maka dia telah berbuat syirik (menyekutukan Allah Azza wa Jalla) dalam Rububiyyah-Nya. Karena hanya Allah-lah Yang Menguasai dan Mengatur alam semesta ini. Begitu juga barangsiapa meyakini bahwa yang mengatur padi-padian adalah Dewi Sri, berarti ia telah syirik dalam hal Rububiyyah-Nya, karena hanya Allah-lah Yang Maha Menciptakan dan Mengatur alam semesta ini. Meyakini bahwa benda tertentu bisa memberi perlindungan dan pertolongan terhadap dirinya seperti jimat, keris, cincin, batu, pohon, dan lain-lain. Serta keyakinan bahwa sebagian para wali bisa memberi rizki, dan bisa pula memberi barokah, juga termasuk kesyirikan dalam Rububiyyah-Nya. c. Pendapat para ulama  Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.”
 Al-Imam

‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari rahimahullah berkata : Seorang hamba harus meyakini Rububiyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan atheis yang tidak menetapkan adanya pencipta.

C. Tauhid Uluhiyah/Ibadah Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dgn perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yg disyariatkan seperti doa nazar kurban raja’ takut tawakal raghbah rahbah dan inabah . Jenis tauhid inilah yg merupakan inti dakwah para rasul mulai rasul yg pertama hingga yg terakhir. Tauhid ini membahas tentang ke-esaan Allah dalam dzat-nya tidak terdiri dari beberapa unsur atau oknum, tidak sebagai mana dalam yahudi dan masehi, dia (Allah sebagai dzat yang wajib d sembah dan d puji dengan ikhlas, semua pengabdian hambahnya semata-mata untuknya seperti berdo’a nahr (kurban), raja’(harap), khauf (takut), tawakal (berserah diri) dan lain-lain.sebagaimana dinyatakan dalam firman Allh swt surat al-ikhlas ayat 1- 4:

5

Artinya :
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa{1}, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu{2}, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan{3}, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia{4}".

Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya. Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyahNya. Mengesakan Allah dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti salat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Allah semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah mengenai perkataan mereka itu “Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shaad: 5). Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Allah semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Allah dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

a. Dalil Tauhid uluhiyah Allah berfirman di dalam Al Qur’an:

6

Artinya : “Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan sabda beliau: “Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Allah berfirman:

‫ﻳ َ ﺎ أَﻳَـﱡﻬﺎ اﻟﻨﱠﺎس اﻋﺒ ُ ُﺪواَ رﺑﱠ ُﻢ ِي َﺧﻠَﻘ ُﻢَ واﻟﱠﺬﻳﻦِﻣﻦَﺒ ْ ﻠِ ُﻢ ﻟََﻌﻠﱠ ُﻢ‬ ‫ﻜ اﻟﱠﺬ َ ﻜ ِ َ ْ ﻗـ ﻜ ﻜ‬ ْ ْ ْ ُ ْ ُ (21)‫ﺘـُﻮنَﺗـ‬ َ ‫ﱠﻘ‬
Artinya “Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21) b. Penjelasan dalil. Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu ) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.”(HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu )

7

c. Contoh penyimpangan tauhid ululiyah Penyimpangan dalam tauhid jenis ini yaitu dengan memalingkan ibadah kepada selain Allah Azza wa Jalla seperti berdoa kepada kuburan atau ahli kubur, meminta pertolongan kepada jin, meminta barokah kepada orang tertentu, menyandarkan nasibnya (bertawakkal) kepada benda tertentu, seperti batu, jimat, cincin, keris, dan semacamnya. Karena do’a dan tawakkal termasuk ibadah, maka harus ditujukan hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata. (Mereka mengakui Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhan mereka, namun mereka masih menyembah, beribadah atau meminta pertolongan kepada makhluk-makhluk dan benda-benda lain. Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang. d. Pendapat para ulama  Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.”  Al-Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari rahimahullah berkata : Seorang hamba harus meyakini Wahdaniyyah-Nya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan jalannya orang-orang musyrik yang mengakui sang Pencipta namun menyekutukan-Nya dengan beribadah kepada selain-Nya.:

8

D. Tauhid Asma wa Sifat Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma'ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma'ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah. Kata “asma” adalah bentuk jama dari kata “ismun”, yang artinya ‘nama’. “Asma Allah” berarti ‘nama-nama Allah’. Asma’ul husna berarti nama-nama yang baik dan terpuji. Sehingga istilah “asma’ul husna” bagi Allah maksudnya adalah nama-nama yang indah, baik dan terpuji yang menjadi milik Allah. Misalnya: Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Ghafur, dan lain-lain. Sedangkan kata “sifat” dalam bahasa Arab berbeda dengan “sifat” dalam bahasa indonesia. Kata “sifat” dalam bahasa arab mencakup segala informasi yang melekat pada suatu yang wujud. Sehingga “sifat bagi benda” dalam bahasa arab mencakup sifat benda itu sendiri, seperti besar kecilnya, tinggi rendahnya, warnanya, keelokannya, dan lain-lain. Juga mencakup apa yang dilakukannya, apa saja yang dimilikinya, keadaan, gerakan, dan informasi lainnya yang ada pada benda tersebut. Dengan demikian, kata “sifat Allah” mencakup perbuatannya, kekuasaannya, apa saja yang ada pada Dzat Allah, dan segala informasi tentang Allah. Karena itu, sering kita dengar ungkapan ulama, bahwa diantara sifat Allah adalah Allah memiliki tangan yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Allah memiliki kaki yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, Allah turun ke langit dunia, Allah bersemayam di Arsy, Allah tertawa, Allah murka, Allah berbicara, dan lain-lain. Dan sekali lagi, sifat Allah tidak hanya berhubungan dengan kemurahan-Nya, keindahan-Nya, keagungan-Nya, dan lain-lain. Allah swt berfirman surat Al-a’raaf ayat180 :

Artinya : Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari
9

kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan (Q.S Al-a’raf 180)

a. Pendapat para ulama
 Al-Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari

rahimahullah berkata : Meyakini bahwa Dia bersifat dengan sifatsifat yang Dia harus bersifat dengannya, berupa sifat Ilmu, Qudrah, Hikmah, dan semua sifat yang Dia menyifati diri-Nya dalam kitabNya.” b. Penyimpangan tauhid asma wa sifat - Tidak meyakini bahwa Allah Azza wa Jalla mempunyai sifat-sifat yang sempurna tersebut. Padahal telah disebutkan dalam Al-Qur’an atau dalam hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang shahih. - Menyerupakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla dengan sifat-sifat makhluk-Nya. Padahal Allah Azza wa Jalla telah berfiman (artinya): “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Asy Syura: 11]. - Menyelewengkan atau menta’wil makna Al-Asma’ul Husna, yang berujung pada peniadaan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. - Menentukan cara dari sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, yang bermuara pada penyerupaan dengan makhluk-Nya. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

10

BAB III KESIMPULAN Dari materi di atas dapat kami simpulkan tauhid adalah konsep

dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Tauhid menurut (salafi) dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari

kalimat sahadatyang telah diikrarkan oleh seorang muslim. a. Tauhid rububiyah Tauhid Rububiyah adalah meng-esakan Allah dalam penciptaan, pemberian rezeki, pemeliharaan alam semesta, penghancuran alam semesta, pencabutan nyawa, dan pembangkitan manusia. itulah tauhid rububiyah. beriman bahwa Allah satu-satunya pencipta, satu-satunya pemberi rezeki, tidak ada yang dapat memberi madhorot dan manfaat kecuali hanya Allah. b. Tauhid uluhiyah Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dgn perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yg disyariatkan seperti doa nazar kurban raja’ takut tawakal raghbah rahbah dan inabah . Jenis tauhid inilah yg merupakan inti dakwah para rasul mulai rasul yg pertama hingga yg terakhir. c. Tauhid asma wa sifat

Kata “asma” adalah bentuk jama dari kata “ismun”, yang artinya ‘nama’. “Asma Allah” berarti ‘nama-nama Allah’. Asma’ul husna berarti nama-nama yang baik dan terpuji. Sehingga istilah “asma’ul husna” bagi Allah maksudnya adalah nama-nama yang indah, baik dan terpuji yang menjadi milik Allah. Misalnya: Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Ghafur, dan lain-lain. Sedangkan kata “sifat” dalam bahasa Arab berbeda dengan “sifat” dalam bahasa indonesia. Kata “sifat” dalam bahasa arab mencakup segala informasi yang melekat pada suatu yang wujud. Sehingga “sifat bagi benda” dalam bahasa arab mencakup sifat benda itu sendiri, seperti besar kecilnya, tinggi rendahnya,
11

warnanya, keelokannya, dan lain-lain. Juga mencakup apa yang dilakukannya, apa saja yang dimilikinya, keadaan, gerakan, dan informasi lainnya yang ada pada benda tersebut. a. Tauhid rububiyah  Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.”
 Al-Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari

rahimahullah berkata : Seorang hamba harus meyakini RububiyyahNya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan atheis yang tidak menetapkan adanya pencipta. b. Tauhid uluhiyah  Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah.”  Al-Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari rahimahullah berkata : Seorang hamba harus meyakini WahdaniyyahNya, yang dengan itu dia menjadi berbeda dengan jalannya orangorang musyrik yang mengakui sang Pencipta namun menyekutukan-c.a dengan beribadah kepada selain-Nya.: c. Tauhid asma wa sifat
 Al-Imam ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah Al-’Ukbari

rahimahullah berkata : Meyakini bahwa Dia bersifat dengan sifatsifat yang Dia harus bersifat dengannya, berupa sifat Ilmu, Qudrah, Hikmah, dan semua sifat yang Dia menyifati diri-Nya dalam kitabNya.”

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->