P. 1
Laporan Pendahuluan Pneumonia

Laporan Pendahuluan Pneumonia

|Views: 1,699|Likes:

More info:

Published by: Sri Kuspartianingsih on Dec 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2014

pdf

text

original

1.

Pengertian Pneumonia atau radang paru-paru ialah inflamasi paru-paru yang disebabkan oleh bakteria, virus atau fungi. Ia juga dikenali sebagai pneumonitis, bronchopneumonia dan community-acquired pneumonia (Mansjoer, 2000). Menurut Price (2005) pneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat (Dahlan, 2007). Jadi pneumonia adalah peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh bakteri, virus atau fungi yang menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. Berdasarkan tempat letak anatomisnya, pneumonia dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu (Price, 2005): a. Pneumonia lobaris Seluruh lobus mengalami konsolidasi, eksudat terutama terdapat intra alveolar. Pneumococcus dan Klebsiella merupakan organism penyebab tersering. b. Pneumonia nekrotisasi Disebabkan oleh jamur dan infeksi tuberkel. Granuloma dapat mengalami nekrosis kaseosa dan membentuk kavitas. c. Pneumonia lobular/bronkopneumonia Adanya penyebaran daerah infeksi yang bebercak dengan diameter sekitar 3 sampai 4 cm yang mengelilingi. Staphylococcus dan Streptococcus adalah penyebab infeksi tersering. d. Pneumona interstitial Adanya peradangan interstitial yang disertai penimbunan infiltrate dalam dinding alveolus, walaupun rongga alveolar bebas dari eksudat dan tidak ada konsolidasi. disebabkan oleh virus atau mikoplasma. Menurut Depkes RI (2002) klasifikasi pneumonia menurut program P2 ISPA antara lain : a. Pneumonia sangat berat Ditandai dengan sianosis sentral dan tidak dapat minum, harus dirawat di rumah sakit.

b. Pneumonia berat

tanpa sianosis dan dapat minum. c. di rawat rumah sakit dan diberi antibiotic. Bahan kimia biasanya karena mencerna kerosin atau inhalasi gas menyebabkan pneumonitis kimiawi. d. tidak perlu dirawat. 2. tidak perlu antibiotik. 2001) etiologi pneumonia. Pneumonia atipikal Penyebab paling sering : Mycoplasma penumoniae menyebabkan pneumonia mikoplasma Jenis lain : Legionella pneumophila menyebakan penyakit legionnaires Mycoplasma penumoniae menyebabkan pneumonia mikoplasma Virus influenza tipe A. Pneumonia sedang Ditandai dengan tidak ada penarikan dinding dada dan pernafasan cepat. Pneumonia juga disebabkan oleh terapi radiasi (terapi radisasi untuk kanker payudara/paru) biasanya 6 minggu atau lebih setelah pengobatan selesai ini menyebabkan pneumonia radiasi. Bukan pneumonia Hanya batuk tanpa tanda dan gejala seperti di atas. Pneumonia bakterial Penyebab yang paling sering: Streptoccocus pneumonia Jenis yan lain : Staphiloccocus aureus menyebakan pneumonia stapilokokus Klebsiella pnemoniae menyebabkan pneumonia klebsiella Pseudomonas aerugilnosa menyebabkan pneumonia pseudomonas Haemophilus influenzae menyebabkan haemophilus influenza b. Karena aspirasi/inhalasi (kandungan lambung) terjadi ketika refleks jalan nafas protektif hilang seperti yang .Ditandai dengan penarikan dinding dada. tidak perlu dirawat. meliputi : a. Etiologi Menurut (Smeltzer and Bare. C menyebakan pneumonia virus Penumocyctis carini menyebakan pneumonia pnemosistis carinii (PCP) Aspergillus fumigates menyebakan pneumonia fungi Cipittaci menyebabkan pneumonia klamidia (pneumonia TWAR) Mycobacterium tuberculosis menyebabkan tuberculosis c. cukup diberi antibiotik oral. B.

Paru menjadi berat. disertai kongesti vena. alkohol. Pneumonia bakterialis menimbulkan respon imun dan peradangan yang paling mencolok. orang-orang dengan gangguan penyakit pernapasan. 3. reaksi inflamasi akan terjadi dan mengakibatkan ektravasasi cairan serosa ke dalam alveoli. bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak organ paru-paru.terjadi pada pasien yang tidak sadar akibat obat-obatan. Proses pneumonia mempengaruhi ventilasi. Ditemukan akumulasi yang masif dalam ruang alveolar. maka pneumokokus menimbulkan respon yang khas terdiri dari empat tahap yang berurutan (Price. usia lanjut. edematosa dan berwarna merah. dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. stroke. Bakteri pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia (Sipahutar. sedang terinfeksi virus atau menurun kekebalan tubuhnya . Kerusakan jaringan paru setelah kolonisasi suatu mikroorganisme paru banyak disebabkan oleh reaksi imun dan peradangan yang dilakukan oleh pejamu. 2. henti jantung atau pada keadaan selang nasogastrik tidak berfungsi yang menyebabkan kandungan lambung mengalir di sekitar selang yang menyebabkan aspirasi tersembunyi. sebagian jaringan dari lobus paru-paru. Setelah agen penyebab mencapai alveoli. . Adanya eksudat tersebut memberikan media bagi pertumbuhan bakteri. ataupun seluruh lobus. dan malnutrisi. adalah yang paling berisiko. Selain itu. Dari jaringan paru-paru. infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru kanan. 2007). eksudat yang kaya protein keluar masuk ke dalam alveolar melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor. Patofisiologi Pneumonia yang dipicu oleh bakteri bisa menyerang siapa saja. toksin-toksin yang dikeluarkan oleh bakteri pada pneumonia bakterialis dapat secara langsung merusak sel-sel system pernapasan bawah. misalnya karena penyakit. Membran kapiler alveoli menjadi tersumbat sehingga menghambat aliran oksigen ke dalam perialveolar kapiler di bagian paru yang terkena dan akhirnya terjadi hipoksemia (Engram 1998). Pecandu alcohol. Pada saat pertahanan tubuh menurun. Kongesti (24 jam pertama) : Merupakan stadium pertama. Sebenarnya bakteri pneumonia itu ada dan hidup normal pada tenggorokan yang sehat. 2005) : 1. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : Terjadi pada stadium kedua. Setelah mencapai alveoli. Jika terjadi infeksi. dari anak sampai usia lanjut. pasien pasca operasi. yang berakhir setelah beberapa hari.

malaise. Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak dada tertinggal di daerah efusi. Paru-paru tampak kelabu coklat dan padat karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang. keluhan gastrointestinal. disertai menggigil. c. nyeri abdomen (kadang terjadi bila iritasi mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan bawah). cuping hidung. batuk. Manifestasi Klinik Manifestasi klinik pneumonia menurut Mansjoer (2000): a. Pathway (terlampir) 4. dan ronkhi. nyeri dada karena iritasi pleura. dan sianosis. 2000). yaitu: a. Sedangkan menurut (Price. Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas). sesak napas. kaku kuduk/meningismus (iritasi meningen tanpa inflamasi). suara napas melemah. Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk. Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam. takipneu. disertai konsistensi mirip hati yang masih segar dan bergranula (hepatisasi = seperti hepar). d. perkusi pekak. 4. merintih. Anak yang lebih besar lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. b. (Underwood. fremitus melemah. gelisah. ekspektorasi sputum.2006). . Pleura yang menutupi diselimuti eksudat fibrinosa. perkusi pekak. suara napas melemah. Hepatisasi kelabu (3-8 hari) : Pada stadium ketiga menunjukkan akumulasi fibrin yang berlanjut disertai penghancuran sel darah putih dan sel darah merah. padat tanpa mengandung udara. eksudat mengalami lisis dan direabsorbsi oleh makrofag dan pencernaan kotoran inflamasi. dengan mempertahankan arsitektur dinding alveolus di bawahnya. iritabel. Resolusi (8-11 hari) : Pada stadium keempat ini. paru-paru tampak berwarna kemerahan.bersama-sama dengan limfosit dan magkrofag. nyeri pleuritik. sakit kepala. Banyak sel darah merah juga dikeluarkan dari kapiler yang meregang. Pneumonia bacterial Tanda dan gejala awitan pneumonia pneumococus bersifat mendadak. anoreksia. 3. demam. friction rub. fremitus melemah. sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula. dan sputum yang berwarna seperti karat.

Pneumonia virus Tanda dan gejala sama seperti gejala influenza. demam. sakit kepala.Ronki basah dan gesekan pleura dapat terdengar diatas jaringan yang terserang. penggunaan otot-otot aksesoris pernafasan b. Penatalaksanaan Medis Menurut Misnadiarly (2008) penatalaksanaan untuk pneumonia bergantung pada penyebab. nadi cepat. pernafasan cuping hidung. dan status hidrasi jika sesak tidak terlalu berat dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip Jika sekresi lender berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit Antibiotik sesuai hasil biakan atau diberikan untuk kasus pneumonia community base: Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian kloramfenikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian Untuk kasus pneumonia hospital base: . faringitis. Komplikasi Menurut Betz dan Sowden (2002) komplikasi yang sering terjadi menyertai pneumonia adalah: abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang. yaitu demam. sakit kepala. Pneumonia aspirasi Tanda dan gejala adalah produksi sputum berbau busuk. Pneumonia mikoplasma Tanda dan gejala adalah nadi meningkat. dan bersambungan (bounding) c. + KCl 10 mEq/500 ml cairan Jumlah cairan sesuai berat badan.Sefatoksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian . batuk kering.Amikasin 10 – 15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian 6. tanda infeksi sekunder d. sesuai yang ditentukan oleh pemeriksaan sputum mencakup: Oksigen 1 – 2 L/menit IVFD dekstrose 10% : NaCl 0. nyeri otot dan kelemahan. hipoksemia. kenaikkan suhu. takikardi. efusi pleural adalah terjadi pengumpulan cairan di rongga pleura. .9% = 3:1. 5. dispneu berat. demam.

Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.sianosis. Monitor laju 1.d. PH artery abnormal. Monitor peningkatan kelainan saluran pada dan Intervensi Rasional pertukaran gas b. meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak. memebran mukosa kering. dehidrasi dan penyakit ditandai dengan peningkatan suhu tubuh diatas normal. Untuk mengetahui apabila adanya 3. 8. Diagnosa Keperawatan a.d. pneumonia interstitial menahun. Gangguan Setelah dilakukan NIC label Respiratory Monitoring 1. kehilangan cairan keluarga aktif ditandai dengan penurunan turgor kulit.dan gelisah (rewel) b. 7. Gangguan pertukaran gas b.sianosis. PH artery adekuat abnormal. Rencana Keperawatan No Diagnosa Tujuan kreteria hasil 1. gagal nafas. tindakan perubahan membran keperawatan aveolar-kapiler selama 4x 24 jam ditandai dengan Gas diharapkan Darah Arteri pertukaran gas dengan ritme dari nafas abnormal.dan gelisah Respiratory status (rewel) normal (skla 5) . Monitor suara pasien 2.d.n afas kreteria hasil : nafas tambahan seperti snoring cuping NOC label  RR hidung. c. Kekurangan volume cairan b.- empiema adalah efusi pleura yang berisi nanah. Untuk mengetahui status pernapasan 2. perubahan membran aveolar-kapiler ditandai dengan Gas Darah Arteri abnormal. atelektasis adalah (pengembangan paru yang tidak sempurna) terjadi karena obstruksi bronkus oleh penumukan sekresi - rusaknya jalan nafas.nafas cuping hidung.d. dan kulit terasa hangat. dan peningkatan suhu tubuh. Hipertermia b.

memastikan kebutuhan oksigen 10. Memeberikan terapi sesuai kebutuhan 9. Mengatasi terjadinya defisit O2 9. Monitor oksigen aliran oksigen 7. Untuk memantau adanya sekret saluran pernafasan pasien 6. dan kekurangan oksigen 5. Utuk memantau 4. Ritme respiratory normal (skala 5)  Kedalaman nafas normal (skala 5)  Akumulasi sputum tidak ada (skala 5) Respiratory status :Gas exchange  Tekanan parsial karbondioksid a pada darah arteri normal (skala 5)  pH arteri kelelahan pernapasan 3. Untuk mengencerkan dan mempermudah nebulizer sesuai kebutuhan Oxigen therapy 7. Monitor kerusakan kulit sesuai klien yang untuk . Untuk mempermudah jalan napas 8. Monitor peningatan kegelisahan. Bersihkan skresi mulut hidung sekret dari keluar saluran normal (skala 5)  Tidak terjadi sianosis (skala 5) pernapasan dan trakea sesuai kebutuhan 8. Berikan perawatan terapi pada napas klien 6. Monitor sekresi dari sistem keadaan pasien 4. Untuk memantau mengurangi fisik dan kecemasan dari pasien 5.

Anjurkan penggunaan selimut untuk menyesuaikan perubahan suhu tubuh. normal 4. 3. hangat hipertermi. Hipertermia dehidrasi penyakit b. Setelah dilakukan NIC : Vital Signs dan tindakan ditandai keperawatan Monitoring 1. 4. Identifikasi darah. kemungkinan penyebab perubahan tanda vital. suhu. . 6. Untuk menghindari terjadinya dehidrasi. Agar dapat nadi. dengan peningkatan selama 4x 24 jam suhu tubuh diatas diharapkan normal. NIC : Temperatur Regulation 5. Untuk memantau adanya peningkatan suhu pasien.50C) dengan skala 5. TTV rentang (tekanan dalam kelembapan. dalam normal suhu pasien batas pasien (tekanan darah. 5. mengontrol perubahan TTV pasien. Monitor TTV 1. mencegah terjadinya iritasi pada kulit dengan selang oksigen 2. dan tanda gejala nadi. (36.d.3. Monitor laporkan dan kriteria hasil : NOC : Vital Signs . dan kulit tubuh terasa hangat. Kaji kulit. Untuk mengetahui adanya dan tanda gejala 37.dari gesekan 10. Untuk mengetahui kondisi umum pasien. pernapasan).Suhu dalam normal tubuh batas hipertermi. pernapasan) dengan skala 5. tubuh dengan 2. warna suhu. dan 2. Untuk membuat tubuh merasa nyaman.

Monitoring status hidrasi (kelembaban membrane mukosa. Untuk memastikan jumlah cairan mengetahui status pasien hidrasi memebran cairan mukosa kering.Identifikasi factor risiko factor risiko ketidakseimbang an cairan dan ketidakseimbang an cairan mencegah secara dini tersebut factor (hipertermi. suhu kriteria hasil : Noc label: Hydrasi: Turgor kembali normal (skala 5) Membrane mukosa tampak lembab (skala 5) Intake cairan yang adekuat (skala 5) kulit secara tepat 2.Atur catatan yang masuk dan keluar intake dan output 3.6. yang nadi adekuat) 2.Beri cairan yang sesuai 4. Untuk menurunkan panas badan. dan terpenuhi peningkatan tubuh. nutrisi cairan 7. b. NIC : Fever Treatment 7. Kekurangan volume Setelah dilakukan NIC label: Fluid 1. 3. Untuk cairan kehilangan keluarga ditandai penurunan kulit.d. . tindakan cairan keperawatan aktif selama 4x 24 jam dengan diharapkan turgor kebutuhan volume pasien dengan management 1. Anjurkan pemberian kompres hangat. Untuk cairan akurat secara memenuhi kebutuhan cairan pasien 3. Untuk mengetahui Fluid monitoring: 4. Anjurkan asupan dan adekuat.

pasien. respon pasien terhadap terapi.- Tidak terdapat diare (skala 5) infeksi. Untuk memastikan dengan 10. Antipiretik diberikan dengan kewaspadaan. dan diare) muntah 5. rute. karena antipiretik dapat mengakibatkan atau tempat IV selama pemberian Diarrhea managemenet: 8. Ketahui penyebab diare penurunan suhu dan demikian mengganggu evalusasi kurva suhu 6. terjadi awal 5. Hipotensi yang terjadi dini pada perjalanan penyakit dapat mengindikasikan hipoksia bakterimia.Monitoring tekanan Fluid balance: Nadi normal (skala 5) Intake dan nadi dan RR Kurva tubuh memberikan indeks suhu output cairan seimbang dalam sehari(skala 5) IV teraphy: 6.Monitoring tetesan dan (benar dosis. frekuensi) 7. Monitoring tanda dan gejala diare 9. Komplikasi letal dapat selama darah.Lakukan 5 benar pemberian terapi infuse obat. Evaluasi terapi diberikan . periode pengobatan antimikroba.

Ketidakefektifan Setelah dilakukan NIC label : Family Involvement 1. Monitoring kulit dan pasien mengethui adanya iritasi perianal 9. Untuk untuk mengetahui apa factor penyebab dari diare 10. Untuk memastikan pemberian terapi gastrointestinal 11.d. untuk regimen terapeutik tindakan keluarga b. 8. Untuk dan ulserasi mengetahui efek obat terhadap gastrointestinal 11. Untuk frekuensi dan mengetahui tanda dan gejala diare konsistensi feses 12. Instruksikan keluarga memantau untuk diberikan secara tepat warna.mengenai pengobatan terhadap secara benar efek 7. keperawatan . Untuk mengetahui adanya dan iritasi perlukaan pada kulit pasien 4. volume. Untuk mengetahui perubahan penyakit pasien 12.

pemberian informasi yang benar 5. Indentifikasi kemampuan keterlibatan keluarga dalam perawatan mengetahui seberapa tingkat pengetahuan keluarga klien 2.konflik ditandai keputusan selama 4x 24 jam dengan diharapkan regimen terapeutik Promotion 1. Ajak keluarga pasien ikut anggota dan untuk dalam keluarga dalam perawatan akan menambah motifasi klien perencanaan perawatan mencakup hasil yang diharapkan dan dari tindakan rencana 4. keterlibatan jauh ketidakefektifan aktifitas untuk kluaraga keluarga efektif memenuhi NOC label : Family participation  Partisipasi pada rencana perawatan (skala 5)  Partisipasi pada penyediaan perawatan  Evaluasi dari efektifitas dari perawatan in tujuan kesehatan pasien 2. Identifikasi harapan keluarga terhadap pasien professtional care 3. untuk mengetahui tingkat kepedulian keluarga terhadap pasien 3. berikan informasi krusial pada keluarga keluarga bertujuan untuk mengurangi kepada keperawatann 4. Identifikasi mekanisme koping digunakan oleh keluarga . mengetahui mekanisme koping keluarga berkaitan dengan pemberian yang asuhan keperawatan 5.

selama mengetahui tentang pentingnya menjaga perkembangan anak anaknya Monitor stimulus (contohnya . teciptanya hubungan yang terapeutik dan ssaling mendukung dengan keluarga bertujuan untuk mempermudah perawat Ssediakan keluarga dengan akurat.anak tersenyum Care dan (skala 5) refleks 1. agar keluarga kebutuhan anggota keluarga transisi perkembangan mental) Meregulasi 4. informasi yang berkenaan dengan kondisi. Ciptakan hubungan terapeutik mendukung dengan keluarga menggenggam (skala 5) menampilkan ketertarikan dalam rangsang (skala 5) menampilkan 2. agar keluarga dalam dan perkembangan nutrisi adekuat.d : 2 month Developmental 1. suara ketertarikan dalam rangsangan visual (skala 5) Berinteraksi gembira dengan mengetahui apa saja yang perlu dilakukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan kelancaran dan dengan terutama tenaga (skala 5) functioning (kekuatan system untuk dari 3. prematuritas yang tidak . keluarga mencapai Family Iinformasikan keluarga tentang pentingnya perkembangan dan persoalan tumbuh kembang anak 3. pengobatan dan kebutuhan anak actual pemberian intervensi 2.pasien tentang kecemasan keluarga terhadap pasien kondisi pasien Resiko keterlambatan Child development NIC Label : b.

Sediakan stimulasi menggunakan rekaman music instrumental dan lain-lainnya sebagaimana mestinya .Pemberian ASI sangan dalam pembentukan anti body anak 9. kegaduhan).menyediakan tempat nyaman yang untuk yang nyaman di area yang tenang untuk menyusui 6. Dukung keinginan ibu 7. Pertimbangkan partisipasi keluarga dalam menyusui 8.kebiasaan anggota keluarga (skala 5) cahaya. lembut yang lemah ketika ibu menyusui 6.stimulus yang berlebihan akan dapat mengganggu perkembangan anak sebagaimana mestinya 5.Partisipasi keluarga penting dalam menyusui 8. Sediakan tempat duduk 5. Gunakan gerakan lambat.Meningkatkan stimulasi perkembangan si anak penting untuk menyusui 9.Memberikan sentuhan lembut yang untuk menggendong. lingkungan anak dan kurani 4. menyusui dan mnciptakan kenyaman anak bagi merawat anak 7.

1995. 2006. EGC. Keperawatan Medikal Bedah. (2000). L.Jakarta : EGC Dahlan. Edisi 3. 2007. Mansjoer. Jakarta: Depkes RI Barbara Engram (1998). A 2002. Arief dkk. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC Prize.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Lynda Juall. Orang Dewasa. Marilynn. Diagnostik keperawatan. Betz.. Media Aesculapius FKUI Jakarta Misnadiarly. C. & Sowden. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah Jilid I. Jakarta Doenges. Jakarta. Pneumonia Atipik & Pneumonia Atypik Mycobacterium. Nanda. 2011. RGC. Depkes RI. Rencana Asuhan Keperawatan.Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis. L. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC . Carpenito. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia Tahun 2007. E. 2008. Jakarta. dkk (2000). Infeksi Pada Parenkim Paru: Patofisiologi Konsep Klinis dan Proses-proses Penyakit volume 2 edisi 6. Buku saku keperawatan pediatri. Jakarta. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 2 edisi 4. Sylvia dan Wilson Lorraine. Jakarta. Peneribit Buku Kedokteran EGC. Zul. (2000). Edisi 8. Bare Brenda G & Smeltzer Suzan C. Pedoman penanggulangan P2 ISPA. Kapita Selekta Kedokteran. 2008. EGC. Vol. Depkes RI 2002. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak. Usia Lanjut. 1. Jakarta: Pustaka Obor Populer.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->