P. 1
Farmakologi Analgetik

Farmakologi Analgetik

|Views: 856|Likes:

More info:

Published by: Mr. Prof. Yan Hendrika on Dec 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2014

pdf

text

original

Percobaan 3

ANALGETIK
I. Tujuan

1. Mengenal berbagai cara untuk mengevaluasi secara eksperimental efek analgesik suatu obat 2. Memahami dasar-dasar perbedaan daya analgesik berbagai analgetika 3. Mamapu memberi pandangan yang kritis mengenal kesesuaian khasiat yang di anjurkan bentuk untuk sediaan-sediaan farmasi analgetik

II.

Tinjauan pustaka

Analgetik adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Kesadaran akan perasaan sakit terdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian otak besar dan reaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini. Obat penghalang nyeri (analgetik) mempengaruhi proses pertama dengan mempertinggi ambang kesadaran akan perasaan sakit, sedangkan narkotik menekan reaksi-reaksi psychis yang diakibatkan oleh rangsangan sakit.

Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala, yang fungsinya adalah melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan di dalam tubuh, seperti peradangan (rematik, encok), infeksiinfeksi kuman atau kejang-kejang otot. Penyebab rasa nyeri adalah rangsanganrangsangan mekanis, fisik, atau kimiawi yang dapat menimbulkan kerusakankerusakan pada jaringan dan melepaskan zat-zat tertentu yang disebut mediatormediator nyeri yang letaknya pada ujung-ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir, atau jaringan-jaringan (organ-organ) lain. Dari tempat ini rangsangan dialirkan melalui saraf-saraf sensoris ke Sistem Saraf Pusat (SSP) melalui sumsum tulang belakang ke thalamus dan kemudian ke pusat nyeri di dalam otak besar, dimana rangsangan dirasakan sebagai nyeri.

Mediator-mediator nyeri yang terpenting adalah histamine, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, dan prostaglandin-prostagladin, serta ion-ion kalium. Berdasarkan proses terjadinya nyeri, maka rasa nyeri dapat dilawan dengan beberapa cara, yaitu a) Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri perifer, oleh analgetika perifer atau anestetika lokal. b) Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anestetika local. c) Blokade dari pusat nyeri dalam Sistem Saraf Pusat dengan analgetika sentral (narkotika) atau anestetika umum.

Pada pengobatan rasa nyeri dengan analgetika, faktor-faktor psikis turut berperan, misalnya kesabaran individu dan daya menerima nyeri dari si pasien. Secara umum analgetika dibagi dalam dua golongan, yaitu analgeti non-narkotinik atau analgesik non-opioid atau integumental analgesic (misalnya asetosal dan parasetamol) dan analgetika narkotik atau analgesik opioid atau visceral analgesic (misalnya morfin).  Analgetika Narkotik

Zat-zat ini memiliki daya menghalangi nyeri yang kuat sekali dengan tingkat kerja yang terletak di Sistem Saraf Pusat. Umumnya mengurangi kesadaran (sifat meredakan dan menidurkan) dan menimbulkan perasaan nyaman (euforia). Dapat mengakibatkan toleransi dan kebiasaan (habituasi) serta ketergantungan psikis dan fisik (ketagihan adiksi) dengan gejala-gejala abstinensia bila pengobatan dihentikan. Karena bahaya adiksi ini, maka kebanyakan analgetika sentral seperti narkotika dimasukkan dalam Undang-Undang Narkotika dan penggunaannya diawasi dengan ketat oleh Dirjen POM.

Secara kimiawi, obat-obat ini dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut: Alkaloid candu alamiah dan sintesis morfin dan kodein, heroin, hidromorfon, hidrokodon, dan dionin. Pengganti-pengganti morfin yang terdiri dari : a) Petidin dan turunannya, fentanil dan sufentanil

b) Metadon dan turunannya:dekstromoramida, bezitramida, piritramida, dan d-ptopoksifen c) Fenantren dan turunannya levorfenol termasuk pula pentazosin.

Antagonis-antagonis morfin adalah zat-zat yang dapat melawan efek-efek samping dari analgetik narkotik tanpa mengurangi kerja analgesiknya dan terutama digunakan pada overdosis atau intoksiaksi dengan obat-obat ini. Zat-zat ini sendiri juga berkhasiat sebagai analgetik, tetapi tidak dapat digunakan dalam terapi, karena dia sendiri menimbulkan efek-efek samping yang mirip dengan mrfin, antara lain depresi pernafasan dan reaksi-reaksi psikotis. Yang sering digunakan adalah nalorfin dan nalokson.

Efek-efek samping dari morfin dan analgetika sentral lainnya pada dosis biasa adalah gangguan-gangguan lambung, usus (mual, muntah, obstipasi), juga efek-efek pusat lainnya seperti kegelisahan, sedasi, rasa kantuk, dan perubahan suasana jiwa dengan euforia. Pada dosis yang lebih tinggi terjadi efek-efek yang lebih berbahaya yaitu depresi pernafasan, tekanan darah turun, dan sirkulasi darah terganggu. Akhirnya dapat terjadi koma dan pernafasan terhenti.

Efek morfin terhadap Sistem Saraf Pusat berupa analgesia dan narkosis. Analgesia oleh morfin dan opioid lain sudah timbul sebelum penderita tidur dan seringkali analgesia terjadi tanpa disertai tidur. Morfin dosis kecil (15-20 mg) menimbulkan euforia pada penderita yang sedang menderita nyeri, sedih dan gelisah. Sebaliknya, dosis yang sama pada orang normal seringkali menimbulkan disforia berupa perasaan kuatir atau takut disertai dengan mual, dan muntah. Morfin juga menimbulkan rasa kantuk, tidak dapat berkonsentrasi, sukar berfikir, apatis, aktivitas motorik berkurang, ketajaman penglihatan berkurang, ektremitas tersa berat, badan terasa panas, muka gatal dan mulut terasa kering, depresi nafas dan miosis. Rasa lapar hilang dan dapat muntah yang tidak selalu disertai rasa mual. Dalam lingkungan yang tenang orang yang diberikan dosis terapi (15-20 mg) morfin akan tertidur cepat dan nyenyak disertai mimpi, nafas lambat dan miosis.

Antara nyeri dan efek analgetik (juga efek depresi nafas) morfin dan opioid lain terdapat antagonisme, artinya nyeri merupakan antagonis faalan bagi efek analgetik dan efek depresi nafas morfin. Bila nyeri sudah dialami beberapa waktu sebelum pemberian morfin,

efek analgetik obat ini tidak begitu besar. Sebaliknya bila stimulus nyeri ditimbulkan setelah efek analgetik mencapai maksimum, dosis morfin yang diperlukan untuk meniadakan nyeri itu jauh lebih kecil. Penderita yang sedang mengalami nyeri hebat dan memerlukan mofin dengan dosis besar untuk menghilangkan rasa nyerinya, dapat tahan terhadap depresi nafas morfin. Tetapi bila nyeri itu tiba-tiba hilang, maka kemungkinan besar timbul gejala depresi nafas oleh morfin.  Analgetika Perifer (non-narkotik)

Obat obat ini dinamakan juga analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi SistemSaraf Pusat, tidak menurunkan kesadaran atau mengakibatkan ketagihan. Semua analgetika perifer juga memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu badan pada keadaan demam, maka disebut juga analgetik antipiretik. Khasiatnya berdasarkan rangsangannya terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor dan disertai keluarnya banyak keringat.

Penggolongan analgetika perifer secara kimiawi adalah sebagai berikut: salisilat-salisilat, Na-salisilat, asetosal, salisilamida, dan benirilat Derivat-derivat p-aminofenol:fenasetin dan parasetamol Derivat-derivat pirozolon:antipirin,aminofenazon, dipiron, fenilbutazon Dan turunan-turunannya Derivat-derivat antranilat: glafenin, asam mefenamat, dan asam nifluminat.

Efek-efek samping yang biasanya muncul adalah gangguan-gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal dan juga reaksi-reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau pada dosis besar, maka sebaiknya janganlah menggunakan analgetika ini secara terus-menerus.  Analgetika-Antipiretik

Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Sedangkan antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu

tubuh yang tingi. Jadi, analgetik-antipiretik dalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Sebagai mediator nyeri, antara lain adalah sebagai berikut: 1. Histamin 2. Serotonin 3. Plasmokinin (antara lain Bradikinin) 4. Prostaglandin 5. Ion Kalium

Analgetik diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang mekanis, kimia, dan fisis yang melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri). Rasa nyeri tersebut terjadi akibat terlepasnya mediatormediator nyeri (misalnya bradikinin, prostaglandin) dari jaringan yang rusak yang kemudian merangsang reseptor nyeri di ujung saraf perifer ataupun ditempat lain. Dari tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di korteks serebri oleh saraf sensoris melalui sumsum tulang belakang dan thalamus.

III.

Bahan dan Alat

Hewan percobaan Obat yang digunakan

: Mencit jantan 6 ekor : Lar.Benzokuinon 0,02% dalam etanol 10% atau asam asetat 0.1%, Lar. Asetosal 1%, Lar. Antalgin 1%, NaCl 0,9%

Dosis yang diberikan Rute pemberian obat Alat yang di perlukan

: Asetosal 100mg/Kgbb, antalgin 100mg/Kg : Oral : Seperangkat alat siegmund, stopwatch, alat suntik 1 ml, timbang mencit, sonde oral

IV.

Cara Kerja

Metode Siegmud 1. Hewan yang digunakan adalah mencit yang menunjukkan geliat secara berulang dalam waktu 10 menit dan paling sedikit 1 geliat dalam 5 menit, setelah penyutikan interaperitoneal 0,2 Lar. Benzokuinon 0,02% atau asam asetat 10%. 2. Beri tanda dan timbang bobot tiap hewan. 3. Kelompokkan dalam 3 kelompok, masing-masing terdiri dari 2ekor. 4. Masing-masing kelompok berikan obatnya secara oral I. II. III. NaCl 0,9%10 ml/Kgbb Asetosal 100mg/Kgbb Antalgin 100mg/Kgbb

Setelah 30 menit pada semua mencit suntikkan secara intraperitoneal 0,2 Lar. Benzokuinon atau asam asetat. 5. Letakkan hewan dalam alat uji siegmund 6. Amati dan catat jumlah gelitannya yang ditunjukkan tiap mencit selama 1 jam tiap 5 menit. 7. Evaluasi data yang diperoleh, nyatakan lama kerja masing-masing obat yang diuji.

V.

Hasil

kelp 1 2 3 4 5 6 Kontrol

10’ 8 4 27 31 4 6 17

20’ 1 40 16 45 8 11 15

30’ 3 24 18 28 23 14 6

40’ 14 22 11 32 26 15 83

50’ 4 20 11 22 8 10 51

60’ 4 17 19 17 6 2 30

Kelompok 2: Bobot mencit= 25 g Dosis manusia Asam mefenamat 200 mg/ 70 Kg

Dosis untuk mencit D = 200mg/70Kg x 0,0026 = 0,52mg/20bb

VAO = D x bb C = 0,52mg/20bb x 25 g 5mg/ml = 0,754 = 0,15 ml 5

Rumus umum : % proteksi =

100% -

jumlah geliatan Jumlah pada kontrol

x 100%

 Proteksi kelompok 2 - Geliatan 10 menit

% proteksi = 100% = 76,47%

4 17

x 100%

-

Geliatan 20 menit % proteksi = 100% = -166,67%

40 x100% 15

-

Geliatan 30 menit % proteksi= 100% = -300%

24 x100% 6

-

Geliatan 40 menit % proteksi= 100% = 73,49%

22 x100% 83

-

Geliatan 50 menit

20 x100% % proteksi= 100% - 51
= 60,78 %

-

Geliatan 60 menit % proteksi= 100% = 43,33%

17 x100% 30

100.00% 50.00% 0.00% -50.00% 10 20 30 40 50 60

% Proteksi

-100.00% -150.00% -200.00% -250.00% -300.00% -350.00% Waktu (menit) Series1

VI.

PEMBAHASAN

Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi atau menghalau rasa sakit atau nyeri. Tujuan dari percobaan kali ini adalah mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan daya analgetika dari obat asam mefenamat, asetosal dan antalgin menggunakan metode rangsang kimia. Percobaan ini dilakukan terhadap hewan percobaan, yaitu mencit (Mus muscullus). Metode rangsang kimia digunakan berdasar atas rangsang nyeri yang ditimbulkan oleh zat-zat kimia yang digunakan untuk penetapan daya analgetika.

Percobaan menggunakan metode siegmund yang ditujukan untuk melihat respon mencit terhadap asam asetat yang dapat menimbulkan respon menggeliat dari mencit ketika menahan nyeri pada perut. Langkah pertama yang dilakukan adalah pemberian obat-obat analgetik pada tiap mencit. Setelah 5 menit mencit disuntik secara intraperitoneal dengan larutan induksi asam asetat 1 %. Pemberian dilakukan secara intraperitoneal karena untuk mencegah penguraian asam asetat saat melewati jaringan fisiologik pada organ tertentu. Dan laruran asam asetat dikhawatirkan dapat merusak jaringan tubuh jika diberikan melalui rute lain, misalnya per oral, karena sifat kerongkongan cenderung bersifat tidak tahan terhadap pengaruh asam.

Larutan asam asetat diberikan setelah 30 menit karena diketahui bahwa obat yang telah diberikan sebelumnya sudah mengalami fase absorbsi untuk meredakan rasa nyeri. Selama beberapa menit kemudian, setelah diberi larutan asam asetat 1 % mencit menggeliat dengan ditandai perut kejang dan kaki ditarik ke belakang. Jumlah geliat mencit dihitung setiap 10 menit. Pengamatan yang dilakukan agak rumit karena praktikan sulit membedakan antara geliatan yang diakibatkan oleh rasa nyeri dari obat atau karena mencit merasa kesakitan akibat penyuntikan intraperitoneal pada perut mencit. Dari percobaan didapati hasil yang menyimpang dari referensi. Hal ini bisa dilihat dari hasilnya. Untuk 10 menit pertama pada mencit kontrol terjadi 17 geliatan dan pada mencit kelompok kami terjadi 4 kali geliatan. Pada 10 menit pertama ini tidak terjadi geliatan. Untuk 10 menit berikutnya pada mencit kontrol terjadi 15 geliatan tapi pada mencit kelompok kami terjadi 40 geliatan. Untuk 10 menit ketiga pada mencit kontrol terjadi 6 geliatan sedangkan pada mencit kami terjadi 24 geliatan. Pada menit 40 terjadi 83 kali gelitan pada mencit kontrol dan 22 kali gelitan pada mencit kelompok kami. untuk menit 50 terjadi

51 geliatan pada mencit kontrol dan 20 geliatan pada mencit kelompok kami. pada menit ke 60 terjadi 30 geliatan pada kontrol dan 17 geliatan pada mencit kelompok kami. Dari data tersebut pada menit ke 20 dan 30 terjadi penyimpangan karena jumlah geliatan pada mencit kelompok kami lebih banyak dari pada mencit kontrol. Seharusnya menurut referensi jumlah geliatan mencit percobaan harus lebih sedikit dari pada mencit kontrol. Hasil ini menyebabkan %proteksi yang didapat bisa minus. Penyimpangan ini karena beberapa faktor, antara lain faktor obat yang belum bereaksi penuh ataupun belum mencapai puncaknya sehingga rasa nyeri tersebut terasa pad mencit, atau juga penyuntikan yang salah atau kurang tepat sehingga volume obat yang disuntikan tidak tepat. Dapat juga dikarenakan faktor fisiologis dari mencit, mengingat hewan

percobaan ini telah mengalami beberapa kali percobaan sehingga dapat terjadi kemungkinan hewan percobaan yang stress dan juga kelelahan karena mengingat mencit sebelumnya telah dipuasakan terlebih dahulu. Penyimpangan pengambilan data juga dapat terjadi karena pengamatan praktikan yang kurang seksama sehingga ada data geliat mencit yang mungkin terlewat tidak diamati. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi hasil dan perhitungan yang dibuat.

VII. -

Kesimpulan

Analgetik adalah obat yang berkhasiat untuk meredakan rasa nyeri. Metode siegmuid adalah metode yang digunakan pada praktikum kali ini. Pada menit 20 dan 30 reaksi ibuprofen sebagai analgetik belum tercapai karena pada menit tersebut mencit masih merasakan nyeri yang ditandai dengan banyaknya jumlah geliatan.

-

Jenis obat, waktu, dan dosis obat berbeda-beda dan mempengaruhi persen proteksi dari mencit tersebut.

-

Analgetik yang paling baik meredam rasa nyeri sampai yang kurang efektif berdasarkan hasil yg didapat adalah asam mefenamat,antalgin kemudian asetosal. Daya analgetik dari Asam mefenamat 340%, antalgin 80% dan asetosal 80%.

-

Semakin sedikit geliatan mencit yang didapat dari pada geliatan pada kontrol maka efektifitas analgesik tersebut semakin baik.

VIII. DAFTAR PUSTAKA

Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2002. Farmakologi Dan Terapi Edisi 4. Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Muhtadi, A, Anas Subarnas, Sri Adi Sumiwi, Rini Hendriani, Ellin Febrina, Gofarana Wilar . 2011. Penuntun Praktikum Farmakologi. Jatinangor: Laboratorium Farmakologi, Fakultas Farmasi UNPAD. Mutchler, Ernst. 1991. Dinamika Obat. Edisi Kelima. Bandung: Penerbit ITB.

http://thepiratebay.se/torrent/7656514/Windows_8_Pro_EN-US_x86.iso

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->