Asuhan Kebidanan dengan INVERSIO UTERI

Disusun Oleh: TIYA ARISMA (2010.1216)

AKADEMI KEBIDANAN SITI KHODIJAH MUHAMMADIYAH

SEPANJANG – SIDOARJO Jl. Raya rame Pilang No.04 Wonoayu Sidoarjo

2011 – 2012
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Segala puji syukur kami panjatkan Kehadirat Allah SWT. Tuhan Seru Sekalian Alam. Kepada-Nya saya memohon dan kepada-Nya kami meminta pertolongan dan Alhamdulillah

atas rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “INVERSIO UTERI” tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan bayak terima kasih yang sedalamdalamnya kepada Ibu Djauharoh, SST selaku dosen mata kuliah pathologi persalinan yang telah membimbing dan menuntun kami dengan penuh kesabaran, ketabahan dan seikhlsan, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Saya menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, namun skami sudah berupaya untuk menampilkan yang terbaik. Maka dari itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan pembuatan makalah. Semoga makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya, AMIN……..!!!!!!!!!! Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Sidoarjo, Mei 2012

Penyusun

LANDASAN TEORI “INVERSIO UTERI”
PENDAHULUAN

Di negara-negara miskin dan sedang berkembang, kematian maternal merupakan masalah besar namun sejumlah kematian yang cukup besar tidak dilaporkan dan tidak tercatat dalam statistik resmi. Tingkat kematian maternal di negara-negara maju berkisar antara 5 – 10 per 100.000 kelahiran penduduk, sedangkan di Indonesia diperkirakan sekitar 450 per 100.000 kelahiran hidup . Penyebab kematian maternal cukup kompleks, salah satunya adalah terjadinya perdarahan post partum . Perdarahan post partum adalah sebab penting kematian ibu, ¼ dari kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan (perdarahan post partum, plasenta previa, solutio plasenta, kehamilan ektopik, abortus dan ruptur uteri) disebabkan oleh perdarahan post partum. Yang termasuk etiologi perdarahan post partum adalah atonia uteri, retensio plasenta, trauma jalan lahir, inversio uteri, ruptur uteri dan gangguan sistem pembekuan darah. Inversio uteri merupakan suatu keadaan kegawatdaruratan obstetrik yang jarang terjadi (1 per 2000 – 12.000 kelahiran), namun umumnya kelainan tersebut menyebabkan keadaan gawat dengan angka kematian yang tinggi (15 – 70%), biasanya yang terjadi adalah syok yang berat.

PEMBAHASAN
1. DEFINISI

Inversio Uteri adalah keadaan dimana fundus uteri masuk ke dalam kavum uteri, dapat secara mendadak atau terjadi perlahan. (Ilmu Kebidanan Penyakit kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan,Prof.dr.Ida Bagus M,SpOG)

Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam kavum uteri. (Obstetri Fisiologi & Obstetri Patologi,dr. Delfi Lutan Sp.OG)

Inversio Uteri adalah suatu keadaan dimana bagian atas uterus (fundus uteri ) memasuki kavum uteri sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri, bahkan ke dalam vagina atau keluar vagina dengan dinding endometriumnya sebelah luar.(Ilmu Kandungan,Sarwono Prawiroharjo)

Inversio Uteri adalah suatu keadaan dimana badan rahim berbalik, menonjol melalui serviks (leher rahim) ke dalam atau ke luar vagina. (Obstetri Patologi ,UNPAD

lebih dari 24 jam dan sampai 30 hari postpartum • Kronis . Peristiwa ini jarang sekali ditemukan. Inversio uteri ringan Fundus uteri terbalik menonjol dalam kavum uteri. namun belum keluar dari ruang rongga rahim. Inversio uteri merupakan keadaan dimana bagian atas uterus memasuki kavum uteri.dr. KLASIFIKASI Inversio uteri dibagi atas : 1.SpOG) .dalam waktu 24 jam setelah melahirkan • Subacutely .Sarwono Prawiroharjo)  Presentasi Inversi uterus mungkin hadir : • Akut .(Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.Prof. (Ilmu Kebidanan Penyakit kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan.lebih dari 30 hari setelah melahirkan 2.Ida Bagus M. 3. terjadi tiba-tiba dalam kala III/ segera setelah plasenta keluar. 2. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol kedalam kavum uteri. Inversio uteri berat Uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian sudah keluar vagina. Inversio uteri sedang Fundus uteri terbalik dan sudah masuk dalam vagina.

Ada pula beberapa pendapat membagi inversio uteri menjadi .

PATOFISIOLOGI Uterus dikatakan mengalami inversi jika bagian dalam menjadi di luar saat melahirkan plasenta. 3. Inversio inkomplit Yaitu jika hanya fundus uteri menekuk ke dalam dan tidak keluar ostium uteri atau serviks uteri 2. lingkaran konstriksi sekitar uterus yang terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi darah. Inversio komplit Seluruh uterus terbalik keluar. Dengan adanya persalinan yang sulit.Sarwono Prawiroharjo) Gambar 1 Reposisi Inversio Uteri (a) Inversio uteri berat/ komplit. menyebabkan kelemahan pada ligamentum- . Inversio local Fundus uteri menonjol sedikit ke dalam cavum uteri 4. (c) Restitusi uterus 3. Dengan berjalannya waktu. Inversio parsial Tonjolan fundus uteri terbatas hanya pada cavum uteri 5.1. Inversio total Tonjolan telah mencapai vagina atau keluar vagina (Ilmu Kandungan. menonjol keluar serviks uteri. Reposisi sebaiknya segera dilakukan. (b) Reposisi uterus melalui servik.

Inversio Uteri dapat terjadi pada kasus pertolongan persalinan kala III aktif. oleh karena trauma obstetri atau lainnya.ligamentum. otot-otot dan fasia dasar panggul karena peningkatan tekanan intra abdominaldan faktor usia. Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ini adalah merupakan komplikasi kala III persalinan yang sangat ekstrem. uretrokel. karena suatu hemia dari kavum dauglasi yang isinya usus halus atau sigmoid dan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan. Dapat terjadi REKTOKEL. Karena serviks terletak diluar vagina akan menggeser celana dalam dan menjadi ulkus dekubiltus (borok). Dapat terjadi ENTEROKEL. khususnya bila dilakukan tarikan talipusat terkendali pada saat masih belum ada kontraksi uterus dan keadaan ini termasuk klasifikasi tindakan iatrogenic. Dapat menjadi SISTOKEL karena kendornya fasia dinding depan vagina (mis : trauma obstetrik) sehingga kandung kemih terdorong ke belakang dan dinding depan vagian terdorong kebelakang. Dapat terjadi URETROKEL. Gambar 2. fasia endopelvik. Oleh karena servik mendapatkan pasokan darah yang sangat banyak maka inversio uteri yang total dapat menyebabkan renjatan vasovagal dan memicu terjadinya perdarahan pasca persalinan yang masif akibat atonia uteri yang menyertainya. Prolaps uteri sering diikuti prolaps vagina. rektokel. Akibat traksi talipusat dengan plasenta yang berimplantasi dibagian fundus uteri dan dilakukan dengan tenaga berlebihan dan diluar kontraksi uterus akan menyebabkan inversio uteri . karena uretra ikut dalam penurunan tersebut. Inversio Uteri terjadi dalam beberapa tingkatan. Sistokel. karena kelemahan fasia di dinding belakang vagina. enterokel dan kolpokel disebut prolaps vagina. tetapi prolaps vagina dapat berdiri sendiri. mulai dari bentuk ekstrem berupa terbaliknya terus sehingga bagian dalam fundus uteri keluar melalui servik dan berada diluar seluruhnya ke dalam kavum uteri. sehingga rektum turun ke depan dan menyebabkan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan.

akreta)  Menarik terlalu keras pada tali pusar untuk mempercepat pelepasan plasenta. kanalis servikalis yang longgar) » tekanan intra abdominal yang tinggi (misalnya mengejan dan batuk) . Berbagai faktor etiologi telah dikaitkan dengan inversi uterus. terutama jika plasenta melekat pada fundus. ETIOLOGI Faktor yang memudahkan terjadinya inversion uteri adalah:     Uterus yang lembek Lemah Tipis dindingnya. walaupun mungkin tidak ada penyebab yang jelas. apalagi bila ada perlekatan plasenta pada dinding rahim. Di identifikasi faktor etiologi meliputi:  Tali pusat yang pendek  Traksi yang berlebihan pada tali pusat  Tekanan pada fundus yang berlebihan  Sisa plasenta dan abnormal perlekatan plasenta (inkreta. perkreta.  Endometritis kronis  Kelahiran setelah sebelumnya operasi caesar . Adanya kekuatan yang menarik fundus kebawah Penyebab inversio uteri adalah: Secara spontan: » grandemultipara » atonia uteri » kelemahan alat kandungan (tonus otot rahim yang lemah. Karena tindakan: » perasat Crede yang berlebihan » tarikan tali pusat » manual plasenta yang dipaksakan.4. » atau Karna tindakan atraksi pada tali pusat yang berlebihan yang belum lepas dari dinding rahim.

» Pada pemeriksaan dalam  bila masih inkomplit. Kadangkadang tampak seperti sebuah tumor yang merah di luar vulva. Rasa nyeri yang hebat tersebut disebabkan karena fundus uteri menarik adneksa serta ligamentum infundibulopelvikum dan ligamentum rotundum kanan dan kiri ke dalam terowongan inversio sehingga terjadi tarikan yang kuat pada peritoneum parietal.  Perdarahan yang banyak akibat dari plasenta yang masih melekat pada uterus. Diagnosis tidak sukar dibuat jika mengetahui kemungkinan terjadinya inversio uteri. Pada . » Pemeriksaan luar pada palpasi abdomen fundus uteri sama sekali tidak teraba atau teraba lekukan pada fundus seperti kawah. 4. GEJALA KLINIS Gejala-gejala inversio uteri pada permulaan tidak selalu jelas yang dijumpai pada kala III persalinan atau post partum. DIAGNOSA Penegakan diagnosis sangat penting dan mungkin menyelamatkan nyawa ibu. Cepat atau tenaga His yang panjang  Sebelumnya rahim inversi  Obat tertentu seperti magnesium sulfat (sebagai relaksan otot selama persalinan)  Unicornuate rahim  Kelainan bawaan atau kelemahan rahim. apabila kelainan itu sejak awalnya timbul dengan cepat maka :  rasa nyeri yang hebat dan dapat menimbulkan syok. Akan tetapi. hal ini ialah fundus uteri yang terbalik. di atas simfisis teraba kosong dan dalam vagina teraba tumor lunak. hal ini dapat juga berakibat syok . maka pada daerah simfisis uterus teraba fundus uteri cekung ke dalam  bila sudah komplit. 6. atau kavum uteri sudah tidak ada (terbalik) .

Bila plasenta masih melekat. dan infeksi. Adanya perdarahan yang tidak normal dan perdarahannya banyak bergumpal. PENATALAKSANAAN 1. Bila baru terjadi maka. dan fundus uteri tidak ditemukan pada tempat yang lazim pada kala III atau setelah persalinan selesai. Bila telah terjadi maka terapinya : 90% kasus inversio uteri disertai dengan perdarahan yang masif dan “life-threatening”. • • Segera lakukan tindakan resusitasi. . perdarahan. • • Bila terjadi syok atau perdarahan.penderita dengan syok. Untuk memperkecil kemungkinan terjadinya renjatan vasovagal dan perdarahan maka harus segera dilakukan tindakan reposisi secepat mungkin. jangan dilepas oleh karena tindakan ini akan memicu perdarahan hebat . 2. Tekanan darah ibu menurun (hipotensi). 7. pemeriksaan dalam dapat menunjukkan tumor yang lunak di atas serviks uteri atau dalam vagina. Ibu menunjukkan tanda-tanda syok (kehilangan darah) dan kesakitan Di vulva tampak endometrium terbalik dengan atau tanpa plasenta yang masih melekat. nekrosis. maka prognosis cukup baik akan tetapi bila kejadian cukup lama maka jepitan serviks yang mengecil akan membuat uterus mengalami iskemia. jangan terlalu mendorong rahim atau melakukan perasat Crede berulang-ulang dan hati-hatilah dalam menarik tali pusat serta melakukan pengeluaran plasenta dengan tajam. gejala ini diatasi dulu dengan infus intravena cairan elektrolit dan tranfusi darah. sehingga diagnosis inversio uteri dapat dibuat. Pencegahan : hati-hati dalam memimpin persalinan.  Pemeriksaan penunjang (seperti USG atau MRI) dapat digunakan dalam beberapa kasus untuk memperkuat diagnosis. Diagnose juga bisa ditegakkan apabila pemeriksa menemukan beberapa tanda inversi uterus yang mencakup:        Uterus menonjol dari vagina. Fundus tidak tampaknya berada dalam posisi yang tepat ketika dokter palpasi (meraba) perut ibu.

• Bila reposisi per vaginam gagal. maka dilakukan reposisi melalui laparotomi. tangan dalam boleh dikeluarkan perlahan agar inversio uteri tidak berulang. tangan dalam harus tetap didalam dan menekan fundus uteri. . dorong uterus kembali kedalam vagina. • Sebagai tehnik alternatif : dengan menggunakan 3 – 4 jari yang diletakkan pada bagian tengah fundus dilakukan dorongan kearah umbilikus sampai uterus kembali keposisi normal. Berikan oksitosin atau Suntikkan intravena 0.• Lakukan tindakan resusitasi dengan cara : Tangan seluruhnya dimasukkan ke vagina sedang jari tengah dimasukkan ke dalam cavum uteri melalui serviks uteri yang mungkin sudah mulai menciut. • Salah satu tehnik reposisi lain yaitu dengan menempatkan jari tangan pada fornix posterior.2 mg ergomitrin kemudian dan jika dianggap masih perlu. Rangkaian tindakan ini dapat dilihat pada gambar 1 diatas. telapak tangan menekan korpus perlahan-lahan tapi terus menerus kearah atas agak kedepan sampai korpus uteri melewati serviks dan inversion. dilakukan tamponade uterovaginal dan setelah terjadi kontraksi. dorong fundus kearah umbilikus dan memungkinkan ligamentum uterus menarik uterus kembali ke posisi semula . • Setelah reposisi berhasil.

berikan infus oksitoksin 20 unit dalam 500 ml IV (Nacl 0. Berikan oksitosin dan setelah terjadi kontraksi. Lakukan perawatan pasca bedah jika dilakukan koreksi kombinasi abdominal vaginal . berikan infus sampai dengan 60 tetes permenit. Jika kontraksi uterus kurang baik. Jika inversi sudah diperbaiki.2 mg atau prestaglandin 2. Sefazolin 1 gr IV dan metranidazol 500 mg IV 3. berikan ergometrin 0. Ampisilin 2 gr IV dan metronidazol 500mg IV b.9 % atau Ringer Lactat) 10 tetes/menit : a. PERAWATAN PASCA TINDAKAN 1. tangan dalam boleh dikeluarkan perlahan agar inversio uteri tidak berulang. b. Jika dicurigai terjadi perdarahan.Gambar 3 : Reposisi melalui laparotomi  Setelah reposisi berhasil. tangan dalam harus tetap didalam dan menekan fundus uteri. Berikan Antibiotika proflaksis dosis tunggal : a.

Berikan analgesik jika perlu . Gestamin 5 mg/kg berat badan IV setiap 24 jam c. Jika ada tanda infeksi berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam 48 jam : a.4. Metranidazol 500mg IV setiap 8 jam 5. Ampisilin 2 gr IV tiap 6 jam b.

. KOMPLIKASI Komplikasi meliputi endomyometritis .8. kerusakan usus atau pelengkap rahim.

makin lambat keadaan ini di ketahui dan di obati makin buruk prognosanya dan jika dikelola dengan benar maka akan membawa prognosa yang baik pula. PROGNOSIS Prognosis inversi uteri di pengaruhi oleh kecepatan penanganan. PENUTUP Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini. kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.9. tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya. .

Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 6. Lutan.Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.2003. Wiknjosastro. Padjajaran.Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi & Obstetri Patologi. H. Manuaba. H. Wiknjosastro.Ilmu Kebidanan Penyakit kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan.Jakarta : EGC 5. Saifuddin. 2006. Prof.Delfi.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo 3. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo . Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.Ilmu Kebidanan. DAFTAR PUSTAKA 1.dr. Jakarta : EGC 2.SpOG.Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.dr.Obstetri Patologi Edisi 2.Ilmu Kandungan.2001.1998.1997.Universitas.Ida Bagus.Jakarta : EGC 4.Abdul B..1998.

plasenta previa. solution plaentae. Perdarahan postpartum sangat mempengaruhi morbiditas nifas karena anemia mengurangkan daya tahan tubuh. 1. 2. atau sisa plasenta yang tertinggal. Perdarahan pasca persalinan sekunder sering diakibatkan oleh infeksi. Penyebab utama perdarahan pasca persalinan primer adalah atonia uteri. sisa plasenta. Penderita tanpa disadari dapat kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat bila pendarahan tersebut sedikit dalam waktu yang lama. kehamilan ektopik. inversio uteri dan laserasi jalan lahir . ¼ dari kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan ( perdarahan postpartum. atau Perdarahan Postpartum Primer. Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40%-60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia. atau Perdarahan Pasca Persalinan Segera). ekstrimitas dingin. atau Late PPH). Perdarahan postpartum adalah sebab penting kematian ibu . abortus dan ruptura uteri ) disebabkan oleh perdarahan postpartum. GEJALA KLINIS Gejala klinis berupa pendarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayi lahir. . Terbanyak dalam 2 jam pertama. sisa plasenta. penyusutan rahim yang tidak baik. retensio plasenta. Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau Perdarahan Persalinan Sekunder atau Perdarahan Pasca Persalinan Lambat. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitu penderita pucat. yaitu : 1. Perdarahan pasca persalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama. PENGERTIAN Pendarahan pasca persalinan (post partum) adalah pendarahan pervaginam 500 ml atau lebih sesudah anak lahir. Pendarahan pasca persalinan dapat disebabkan oleh atonia uteri. robekan jalan lahir dan inversio uteri. denyut nadi cepat dan kecil. dan lainlain. Perdarahan pascapersalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan postpartum diklasifikasikan menjadi 2. Perdarahan Pasca Persalinan Dini (Early Postpartum Haemorrhage. tekanan darah rendah. retensio plasenta.pendarahan post partum primer PERDARAHAN POST PARTUM PRIMER PERDARAHAN POST PARTUM PRIMER PERDARAHAN KALA IV 1.

seharusnya kematian akibat perdarahan pascapersalinan dapat dicegah. perlu diusahakan untuk melahirkan plasenta segera. Memeriksa plasenta dan ketuban apakah lengkap atau tidak. Tetapi kematian tidak data terlalu dihindarkan. Atau dapat berupa perdarahan yang menetes perlahan-lahan tetapi terus menerus yang juga bahaya karena kita tidak menyangka akhirnya perdarahan berjumlah banyak. terutama apabila penderita masuk rumah sakit dalam keadaan syok karena sudah kehilangan banyak darah. vagina. sedangkan pada perdarahan karena perlukaan jalan lahir. adalah penting sekali pada setiap ibu yang bersalin dilakukan pengukuran kadar darah secara rutin. nadi. Inspekulo: untuk melihat robekan pada serviks.Plasenta suksenturiata 4. uterus berkontraksi dengan baik. serta pengawasan tekanan darah. DIAGNOSIS PERDARAHAN PASCAPERSALINAN Diagnosis biasanya tidak sulit. Karena itu. terutama apabila timbul perdarahan banyak dalam waktu pendek. Pemeriksaan Laboratorium periksa darah yaitu Hb. Diagnosis perdarahan pascapersalinan dilakukan dengan : 1. Palpasi uterus: bagaimana kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri 2. dapat timbul syok.1. Pada perdarahan karena atonia uteri. Apabila terjadi perdarahan pascapersalinan dan plasenta belum lahir. tanpa disadari pasien telah kehilangan banyak darah sebelum ia tampak pucat. Nadi serta pernafasan menjadi lebih cepat dan tekanan darah menurun. perlu diperiksa lebih lanjut tentang adanya dan dimana letaknya perlukaan jalan lahir. Dalam hal uterus berkontaraksi dengan baik.Robekan rahim . dan periksa juga kontraksi uterus perdarahan selama 1 jam . uterus membesar dan lembek pada palpasi. perdarahan post partum merupakan sebab utama kematian dalam persalinan.Sisa plasenta atau selaput ketuban . Karena persalinan di Indonesia sebagian besar terjadi di luar rumah sakit. dan varises yang pecah 5. pernafasan ibu. dll Perdarahan pascapersalinan ada kalanya merupakan perdarahan yang hebat dan menakutkan hingga dalam waktu singkat ibu dapat jatuh kedalam keadaan syok. Lakukan eksplorasi cavum uteri untuk mencari: . Gejala-gejala baru tampak pada kehilangan darah 20%. Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari volume total tanpa mengalami gejalagejala klinik. Jika plasenta sudah lahir. perlu dibedakan antara perdarahan akibat atonia uteri atau perdarahan karena perlukaan jalan lahir. 3. dengan fasilitas yang baik untuk melakukan transfusi darah. Jika perdarahan berlangsung terus. ibu menjadi lemas dan juga jatuh dalam presyok dan syok. COT (Clot Observation Test). Diagnosis perdarahan pascapersalinan dipermudah apabila pada tiap-tiap persalinan setelah anak lahir secara rutin diukur pengeluaran darah dalam kala III dan satu jam sesudahnya. Pada persalinan di rumah sakit. Tetapi bila perdarahan sedikit dalam jangka waktu lama.

Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai angka kejadian perdarahan pascapersalinan lebih tinggi. Perdarahan pascapersalinan dan paritas Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahan pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. fungsi reproduksi mengalami penurunan sehingga kemungkinan terjadinya perdarahan pascapersalinan menjadi lebih besar. Perdarahan pascapersalinan meningkat kembali setelah usia 30-35tahun. . Perdarahan pascapersalinan yang mengakibatkan kematian maternal pada wanita hamil yang melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5 kali lebih tinggi daripada perdarahan pascapersalinan yang terjadi pada usia 20-29 tahun. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERDARAHAN PASCAPERSALINAN 1. Perdarahan pascapersalinan dan usia ibu Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. 3. Pada paritas yang rendah (paritas satu). sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pascapersalinan terutama perdarahan akan lebih besar. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna. ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktor penyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi selama kehamilan.1. persalinan dan nifas. Hal ini dikarenakan pada multigravida.  Perdarahan pascapersalinan dan gravida Ibu-ibu yang dengan kehamilan lebih dari 1 kali atau yang termasuk multigravida mempunyai risiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pascapersalinan dibandingkan dengan ibu-ibu yang termasuk golongan primigravida (hamil pertama kali).

Akibat dari atonia uteri ini adalah terjadinya pendarahan. Faktor-faktor predisposisi atonia uteri antara lain : . Perdarahan pascapersalinan dan kadar hemoglobin Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilai hemoglobin dibawah nilai normal. ETIOLOGI Perdarahan pascapersalinan antara lain dapat disebabkan oleh: 1. persalinan dan nifas sehingga angka morbiditas dan mortalitas ibu serta anak dapat diturunkan. Perdarahan pascapersalinan dan Antenatal Care Tujuan umum antenatal care adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu serta anak selama dalam kehamilan. Ketidakmampuan miometrium untuk berkontraksi ini akan menyebabkan terjadinya pendarahan pasca persalinan. Dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%. dan jika hal ini terus dibiarkan tanpa adanya penanganan yang tepat dan akurat akan mengakibatkan turunnya kadar hemoglobin dibawah nilai normal 1. melebar. 1. Setelah partus. Atonia uteri merupakan penyebab tersering dari pendarahan pasca persalinan. Atonia uteri Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh. Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakan bagian yang terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan pendarahan pasca persalinan.4. lembek dan tidak mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. Sekitar 50-60% pendarahan pasca persalinan disebabkan oleh atonia uteri. Masing-masing serabut mempunyai dua buah lengkungan sehingga tiap-tiap dua buah serabut kira-kira berbentuk angka delapan. jika otot berkontraksi akan menjepit pembuluh darah. Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darah yang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau lepas keseluruhan. Miometrum lapisan tengah tersusun sebagai anyaman dan ditembus oeh pembuluh darah. Pemeriksaan antenatal yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi terutama perdarahan yang selalu mungkin terjadi setelah persalinan yang mengakibatkan kematian maternal dapat diturunkan. dengan adanya susunan otot seperti tersebut diatas. Perdarahan pascapersalinan mengakibatkan hilangnya darah sebanyak 500 ml atau lebih. Hal ini disebabkan karena dengan adanya antenatal care tanda-tanda dini perdarahan yang berlebihan dapat dideteksi dan ditanggulangi dengan cepat.

Riwayat PPH sebelumnya atau riwayat plasenta manual 8.1. tampon diangkat 24 jam kemudian. Grandemultipara 2. 2). Tekanan tampon pada dinding uterus menghalangi pengeluaran darah dari sinussinus yang terbuka. bekas operasi) 4. Tangan kanan diletakkan pada perut penderita dengan memegang fundus uteri dengan telapak tangan dan dengan ibu jari di depan serta jari-jari lain dibelakang uterus. Tindakan ini sekarang oleh banyak dokter tidak dilakukan lagi karena umumnya dengan dengan usaha-usaha tersebut di atas pendarahan yang disebabkan oleh atonia uteri sudah dapat diatasi. bergumpal dan pada palpasi didapatkan fundus uteri setinggi pusat atau lebih dengan kontraksi yang lembek. selain itu tekanan tersebut menimbulkan rangsangan pada miometrium untuk berkontraksi. hamil ganda. Uterus yang terlalu regang (hidramnion. 1 ampul Ergometrin I. Penggunaan oksitosin yang berlebihan dalam persalinan (induksi partus) 7. anak sangat besar (BB > 4000 gram) 3. Gambar 1. Masase uterus + pemberian utero tonika (infus oksitosin 10 IU s/d 100 IU dalam 500 ml Dextrose 5%.Partus precipitatus . dengan memijit-mijit dan mendorong-dorong uterus sebelum plasenta terlepas DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan bila setelah bayi dan plasenta lahir ternyata perdarahan masih aktif dan banyak. . Tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam vagina dan sambil membuat kepalan diletakkan pada forniks anterior vagina. Penanganan atonia uteri yaitu : 1).Pimpinan kala III yang salah.Hipertensi dalam kehamilan (Gestosis) . Plasenta previa dan solutio plasenta (perdarahan antepartum) 5. Tampon utero-vaginal secara lege artis. Kompresi bimanual 3). mioma uteri. Partus lama (exhausted mother) .Infeksi uterus . tangan kanan melaksanakan massage pada uterus dan sekalian menekannya terhadap tangan kiri.Anemi berat 6. yang dapat diulang 4 jam kemudian. suntikan prostaglandin. Kompresi bimanuil Jika tindakan poin satu tidak memberikan hasil yang diharapkan dalam waktu yang singkat. Lagi pula dikhawatirkan bahwa pemberian tamponade yang dilakukan dengan teknik yang tidak sempurna tidak menghindarkan pendarahan dalam uterus dibelakang tampon. Sekarang korpus uteri terpegang dengan antara 2 tangan.V. perlu dilakukan kompresi bimanual pada pada uterus. Kelainan uterus (uterus bicornis.

Setelah persalinan buatan atau kalau ada perdarahan walaupun kontraksi uterus baik dan darah yang keluar berwarna merah muda harus dilakukan pemeriksaan dengan speculum. Robekan jalan lahir Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan pascapersalinan. terjadi robekan vagina pada batas antara bagian teratas dengan bagian yang lebih bawah dan yang . maka robekan tersebut hendaknya dijahit. jika tarikan ini melampaui kekuatan jaringan.1. terlebih apabila kepala janin harus diputar. 1. baiknya fundus uteri ditekan ke bawah hingga cerviks dekat dengan vulva. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun plasenta sudah lahir lengkap dan uterus sudah berkontraksi baik. Robekan serviks Persalinan selalu mengakibatkan robekan serviks. Kemudian kedua bibir serviks dijepit dengan klem dan ditarik ke bawah. tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi dengan cunam. 2. sehingga tarikan ke atas langsung ditampung oleh vagina. sehingga serviks seorang multipara berbeda dari yang belum pernah melahirkan pervaginam. Kolpaporeksis Kolpaporeksis adalah robekan melintang atau miring pada bagian atas vagina. Mungkin ditemukan setelah persalinan biasa. Robekan serviks yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah uterus. khususnya robekan serviks uteri. Robekan terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan spekulum. Dalam melakukan jahitan robekan serviks ini yang penting bukan jahitan lukanya tapi pengikatan dari cabang – cabang arteria uterine. Jika terdapat robekan yang berdarah atau robekan yang lebih besar dari 1 cm. Hal ini terjadi apabila pada persalinan yang disproporsi sefalopelvik terjadi regangan segmen bawah uterus dengan servik uteri tidak terjepit antara kepala janin dengan tulang panggul. Perdarahan pascapersalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan serviks atau vagina. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. perlu dipikirkan perlukaan jalan lahir. Untuk memudahkan penjahitan. Perlukaan vagina Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering dijumpai.

2. Robekan perineum Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. ketika terjadi perdarahan yang berlangsung lama yang menyertai kontraksi uterus yang kuat. Jika kandung kemih luka.terfiksasi pada jaringan sekitarnya. Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptik . sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa. atau karena robekan serviks menjalar ke tempat-tempat tersebut. puborectalis kanan dan kiri serta hubungannya di garis tengah. Fistula dapat terjadi mendadak karena perlukaan pada vagina yang menembus kandung kemih atau rektum. misalnya oleh perforator atau alat untuk dekapitasi. Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengan dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat. Kolpaporeksis juga bisa timbul apabila pada tindakan pervaginam dengan memasukkan tangan penolong ke dalam uterus terjadi kesalahan. Fistula Fistula akibat pembedahan vaginal makin lama makin jarang karena tindakan vaginal yang sulit untuk melahirkan anak banyak diganti dengan seksio sesarea. Perdarahan pada traktus genetalia sebaiknya dicurigai. 1. Fistula dapat berupa fistula vesikovaginalis atau rektovaginalis. dimana fundus uteri tidak ditahan oleh tangan luar untuk mencegah uterus naik ke atas. Spintcher ani externus dan kadang-kadang dinding depan rektum. urin segera keluar melalui vagina. Kejadian ini melemahkan diafragma pelvis dan menimbulkan predisposisi untuk terjadinya prolapsus uteri PENATALAKSANAAN : 1. dapat pula terjadi kerusakan dan peregangan m. Tingkatan robekan pada perineum:    Tingkat 1: hanya kulit perineum dan mukosa vagina yang robek Tingkat 2: dinding belakang vagina dan jaringan ikat yang menghubungkan otot-otot diafragma urogenitalis pada garis tengah terluka. kepala janin melewati pintu panggul bawah dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika. Tingkat 3: robekan total m. Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarahan. Pada persalinan yang sulit.

Mukosa vagina dan kulit perineum dijahit secara sub mukosa dan sub kutikuler. Setelah dilakukan masase atau pemberian uterootonika langsung uterus mengeras tapi perdarahan tidak berkurang. 2. Jepit kedua spingter ani dengan klem dan jahit dengan benang no 2/0. setelah masase atau pemberian uterotonika. Berikan antibiotika profilaksis (ampisilin 2g dan metronidazol 1g per oral).2/0(dexon/vicryl) hingga ke spingter ani. 5. kontraksi yang lemah tersebut menjadi kuat. Khusus pada rutura perineum komplit ( hingga anus dan sebagian rektum) dilakuakan penjahitan lapis demi lapis dengan bantua busi pada rektum. Retensio plasenta Keadaan dimana plasenta belum lahir dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan jahitan dan simpul submukosa menggunakan benang poliglikolik no. 1. Perdarahan terjadi beberapa menit setelah anak lahir 3. Lanjutkan penjahitan ke lapisan otot perineum dan sub mukosa dengan benang yang sama (atau kromik 2/0) secara jelujur. pasang busi rektum hingga ujung robekan. Perbedaan perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan robekan jalan lahir adalah : Atonia Uteri 1. sebagai berikut:    Setelah prosedur aseptik-antiseptik. 3. Robekan jalan lahir 1. lemah dan membesar ( fundus uteri masih tinggi) 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta: . Lakukan penjahitan luka mulai dari bagian yang paling distal terhadap operator.3. Bila kontraksi lemah. Kontraksi uterus kuat. Terapi penuh antibiotika hanya diberikan apabila luka tampak kotor atau dibubuhi ramuan tradisional atau terdapat tanda-tanda infeksi yang jelas. Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap 4. Perdarahan terjadi langsung setelah anak lahir. keras dan mengecil. Kontraksi uterus lembek.

Kesalahan manajemen kala tiga persalinan. Tekanan darah turun 2. Kapan melahirkan ? 2. 3. Menurut tingkat perlekatannya : 1. Kulit dingin dan lembab 3. seperti manipulasi dari uterus yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik. Apakah plasenta sudah dilahirkan? 5. Berapa banyak perdarahan? 4. Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembuus serosa atau peritoneum dinding rahim. Plasenta sudah lepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atoni uteri atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim ( akibat kesalahan penanganan kala III ) yang akan menghalangi plasenta keluar ( plasenta inkarserata) Diagnosis retensio plasenta 1. Kapan mulai mengalami perdarahan? 3. Lihat dan Raba (Lihat tanda-tanda syok) 1. yaitu anomali dari uterus atau serviks. Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai ke serosa. Kelainan dari placenta dan sifat perlekatan placenta pada uterus. Denyut nadi lemah dan cepat Segera setelah terlihat perdarahan: . serta pembentukan constriction ring. Tanya dan dengar : 1. pemberian uterotonik yang tidak tepat waktu dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta. 2. serta pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus. Kelainan dari uterus sendiri. 3. 5. kontraksi yang tetanik dari uterus.1. 4. 2. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih dalam. Plasenta adhesive : plasenta yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam. Apakah ibu sudah diberi obat? 2. kelemahan dan tidak efektifnya kontraksi uterus. Penyebab retensio plasenta : 4. Plasenta inkerta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua endometrium sampai ke miometrium.

Inversio Uteri Inversio uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam kavum uteri. maka tangan tersebut dipindahkan ke pinggir plasenta dan mencari bagian plasenta yang sudah lepas untuk menentukan bidang pelepasan yang tepat. oleh karena itu harus dilakukan tindakan pencegahan perdarahan postpartum. Sebaiknya pelepasan plasenta manual dilakukan dalam narkosis. Kemudian dengan sisi tangan kanan sebelah kelingking ( ulner ). Setelah seluruh plasenta terlepas. apakah servik dan vagina robek? 3. Uterus dikatakan mengalami inverse jika bagian dalam menjadi diluar saat melahirkan plasenta. Sekarang tangan kiri menahan fundus untuk mencegah kolporeksis. sebaiknya juga dipasang infus NaCl 0. lingkaran konstriksi sekitar uterus yang terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi darah. Lokasi plasenta pada dinding depan rahim juga sedikit lebih sukar dilepaskan daripada lokasi di dinding belakang. 4. segera lakukan kompresi bimanual uterus dan dapat disuntikkan Ergometrin 0. tangan dalam ini menyusuri tali pusat agar tidak terjadi salah jalan. 3. sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol ke dalam kavum uteri. 4. dapat diregangkan oleh asisten.1. Setelah disinfektan tangan dan vulva termasuk daerah seputarnynya. plasenta dipegang dan dengan perlahan-lahan ditarik keluar. Pada kasus retensio plasenta. 2. Setelah plasenta dilahirkan dan diperiksa bahwa plasenta lengkap.9% sebelu tindakkan dilakukan. akan tetapi kasus inversio uteri ini jarang sekali ditemukan. karena relaksasi otot memudahkan pelaksanaannya tertutama bila retensi telah lama. Kesulitan yang mungkin dijumpai pada waktu pelepasan plasenta secara manual adalah adanya lingkaran kontriksi yang hanya dapat dilalui dengan dilatasi oleh tangan dalam secara perlahan-lahan dan dalam nakrosis yang dalam. Tangan kanan dengan posisi obstetrik menuju ostium uteri dan terus ke lokasi plasenta. Lihat jalan lahir. Inversio uteri terjadi tiba-tiba dalam kala III atau segera setelah plasenta keluar. . Pada inversio uteri bagian atas uterus memasuki kavum uteri.2 mg IM atau IV sampai kontraksi uterus baik. Setelah tangan dalam sampai ke plasenta. Reposisi sebaiknya segera dilakukan dengan berjalannya waktu. Inversio uteri dapat menyebabkan pendarahan pasca persalinan segera. resiko atonia uteri tinggi. Lihat plasenta (bila sudah lahir) secara teliti untuk memastikan bahwa tidak ada bagian yang tertinggal Penanganan Retensio Plasenta dengan plasenta manual 1. plasenta dilepaskan pada bidang antara bagian plasenta yang sudah terlepas dan dinding rahim dengan gerakan yang sejajar dengan dinding rahim. Ada kalanya plasenta tidak dapat dilepaskan secara manual seperti halnya pada plasenta akreta. Raba uterus untuk memastikan uterus keras dan berkontraksi 2. Supaya tali pusat mudah diraba. labia dibeberkan dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan dimasukkan secara obstetrik ke dalam vagina. dalam hal ini tindakan dihentikan.

3. Faktor – faktor yang memudahkan terjadinya inversion uteri : 1. Inversio uteri ringan : fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavumuteri namun belum keluar dari ruang rongga rahim. dapat menyebabkan masuknya fundus ke dalam kavum uteri yang merupakan permulaan inversio uteri. lemah. 3. grande multipara atoni uteri kelemahan alat kandungan tekanan intra abdominal yang tinggi ( mengejan dan batuk ). Tindakan yang dapat menyebabkan inversio uteri adalah perasat Crede pada korpus uteri yang tidak berkontraksi baik dan tarikan pada tali pusat dengan plasenta yang belum lepas dari dinding uterus. Reposisi secepat mungkin memberi harapan yang terbaik untuk keselamatan penderita. perdarahan. 2. Walaupun inversio uteri kadang-kadang bisa terjadi tanpa gejala dengan penderita tetap dalam keadaan baik. Selanjutnya jarang sekali mioma submukosum ditemukan pada persalinan cukup bulan atau hampir cukup bulan. 2. Uterus yang lembek. pemeriksaan dalam dapat menunjukkan tumor yang lnak di atas serviks atau dalam vagina sehingga diagnosis inversio uteri dapat dibuat. Inversio uteri sedang : terbalik dan sudah masuk ke dalam vagina. tipis dindingnya. 2. Penyebab inversion uteri . Pada mioma uteri submukosum yang lahir dalam vagina terdapat pula tumor yang serupa. Pada wanita dengan atonia uteri kenaikan tekanan intraabdominal dengan mendadak karena batuk atau meneran. Pada penderita dengan syok. sedang konsistensi mioma lebih keras daripada korpus uteri setelah persalinan. Pemeriksaan dalam : . Dijumpai pada kala III atau postpartum dengan gejala nyeri yang hebat. Tarikan tali pusat yang berlebihan. Gejala klinis inversion uteri : 1. perdarahan yang banyak sampai syok. 4. Inversio uteri berat : uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian sudah keluar vagina. namun umumnya kelainan tersebut menyebabkan keadaan gawat dengan angka kematian tinggi (15-70%). akan tetapi fundus uteri ditemukan dalam bentuk dan pada tempat biasa. Pembagian inversion uteri : 1. Apalagi bila plasenta masih melekat dan sebagian sudah ada yang terlepas dan dapat terjadi stranguasi dan nekrosis. 1.Inversio uteri bisa terjadi spontan atau sebagai akibat tindakan. dan fundus uteri tidak ditemukan pada tempat yang lazim pada kala III atau setelah persalinan selesai. 2.

Apalagi bila plasenta masih melekat dan sebagian sudah ada yang terlepas dan dapat terjadi strangulasi dan nekrosis. keadaan umum. Dextran-L. 2. 1. diperiksa kadar fisik. – Bila komplit. Penanganan inversio uteri : 1. Dijumpai pada kala III atau post partum dengan gejala nyeri yang hebat. kadar Hb. Walaupun demikian. – Bila tidak berhasil maka lakukan tindakan operatif secara per abdominal (operasi Haultein) atau per vaginam (operasi menurut Spinelli). 2. jangan terlalu mendorong rahim atau melakukan perasat Crede berulang-ulang dan hati-hatilah dalam menarik tali pusat serta melakukan pengeluaran plasenta dengan tajam. kalau perlu oksigen. Bila komplit. plasma ekspander. Bila telah terjadi maka terapinya : – Bila ada perdarahan atau syok. Pemeriksaan dalam : – Bila masih inkomplit maka pada daerah simfisis uterus teraba fundus uteri cekung ke dalam. – Kavum uteri sudah tidak ada (terbalik). namun sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan "antenatal care" yang baik. – Segera itu segera lakukan reposisi kalau perlu dalam narkosa. Kavum uteri sudah tidak ada. Di rumah sakit. Bila masih inkomplit aka pada daerah simfisis uterus teraba fundus uteri cekung ke dalam. terapi terbaik adalah pencegahan. diatas simfisis uterus teraba kosong dan dalam vagina teraba tumor lunak. 2. – Di luar rumah sakit dapat dibantu dengan melakukan reposisi ringan yaitu dengan tamponade vaginal lalu berikan antibiotik untuk mencegah infeksi. golongan darah. perdarahan yang banyak sampai syok. 3. Pencegahan : hati-hati dalam memimpin persalinan. PENANGANAN PERDARAHAN PASCAPERSALINAN Penanganan perdarahan pasca persalinan pada prinsipnya adalah hentikan perdarahan. transfusi darah. berikan infus dan transfusi darah serta perbaiki keadaan umum. cegah/atasi syok. dan sebagainya). Mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus kasus yang disangka akan terjadi perdarahan adalah penting. . dan bila mungkin tersedia donor darah. Diagnosis dan gejala klinis inversio uteri : 1. Tindakan pencegahan tidak saja dilakukan sewaktu bersalin.1. ganti darah yang hilang dengan diberi infus cairan (larutan garam fisiologis. Ibu-ibu yang mempunyai predisposisi atau riwayat perdarahan post partum sangat dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit. di atas simfisis uterus teraba kosong dan dalam vagina teraba tumor lunak.

hendaknya diberikan 0. Sepuluh satuan oksitosin diberikan intramuskular segera setelah anak lahir untuk mempercepat pelepasan plasenta. harus diobati karena perdarahan dalam batas batas normal dapat membahayakan penderita yang sudah menderita anemia. yaitu menghentikan perdarahan secepat mungkin dan mengatasi akibat perdarahan. perlu ditentukan apakah disini dihadapi perdarahan karena atonia uteri atau karena perlukaan jalan lahir. 2.2 mg ergometrin. . Anemia dalam kehamilan. plasenta dapat dikeluarkan dengan segera tanpa banyak perdarahan. kematian janin dalam uterus. TFU 1 jari diatas pusat. 2 jam setelah plasenta lahir. Pada perdarahan yang disebabkan oleh atonia uteri. Dalam kala III. Sesudah plasenta lahir. dengan segera dilakukan massage uterus dan suntikan 0. tidak ada kontraksi. Tetapi apabila plasenta sudah lahir. dipersiapkan keperluan untuk infus dan obat-obatan penguat rahim. intramuskular. DATA OBYEKTIF Keadaan umum lemah. Penggunaan oksitosin sangat penting untuk mencegah perdarahan pascapersalinan.2 mg ergometrin intravena. dan pengeluaran darah dari vagina ± 600 cc.Sambil mengawasi persalianan. respirasi 30 x/menit dan suhu 360 C. ibu mengeluh pusing dan mengantuk. nadi 100 x/menit. dengan tekanan pada fundus uteri. CONTOH KASUS 1. Kadang-kadang pemberian ergometrin setelah bahu depan bayi lahir pada presentasi kepala menyebabkan plasenta terlepas segera setelah bayi seluruhnya lahir. dan solutio plasenta. tekanan darah 90/60 mmHg. Kadar fibrinogen perlu diperiksa pada perdarahan banyak.00 wita. Namun salah satu kerugian dari pemberian ergometrin setelah bahu bayi lahir adalah terjadinya jepitan (trapping) terhadap bayi kedua pada persalinan gameli yang tidak diketahui sebelumnya. kesadaran ibu samnolen. ekstremitas teraba dingin serta warna kuku tampak pucat. ada dua hal yang harus segera dilakukan. Apabila sebelumnya penderita sudah pernah mengalami perdarahan post partum. Pada perdarahan yang timbul setelah anak lahir. persalinan harus berlangsung di rumah sakit. Ibu tampak pucat. uterus jangan dipijat dan didorong kebawah sebelum plasenta lepas dari dindingnya. DATA SUBYEKTIF Ibu "TP" umur 26 tahun bersalin pada pukul 10. kandung kemih kosong.

pertahankan KBI selama 1-2 menit. Lakukan penatalaksanaan atonia uteri 5. 6. Informasikan hasil pemeriksaan bahwa ibu mengalami atonia uteri atau uterus tidak dapat berkontraksi dengan baik 2.3. 2. pasang infuse RL + 20 IU oksitosin (grojog). 7. Pastikan kembali kandung kemih dalam keadaan kosong. lakukan kompresi bimanual eksterna atau KBE yang dilakukan oleh asisten atau keluarga.m. sehingga memudahkan uterus berkontraksi 3.html . ASSESMENT P3003 P Spt B 2 jam post partum dengan atonia uteri Resiko terjadi syok hemoragik PERENCANAAN 1. keluarkan tangansecara hati-hati dan lakukan pengawasan kala IV. sumber : http://pejeng-asmara. 8.2 mg i. lakukan rujukan sambil melakukan KBE.com/2011/12/perdarahan-postpartum-primer. Evaluasi atau bersihkan bekuan darah atau selaput ketuban 6. Lakukan kompresi bimanual interna atau KBI 1. Bila uterus tidak berkontraksi. Bila uterus tidak berkontraksi. 5. kemudian keluarkan tangan (KBI) secara hati-hati dan suntikkan methyl ergometrin 0. Bila uterus berkontraksi. Lakukan masase uterus 4. lakukan pengawasan kala IV. lakukan lagi KBI. 4. Bila uterus berkontraksi.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful