P. 1
BULAN ISLAM

BULAN ISLAM

|Views: 6|Likes:
Published by shindrummer
BULAN ISLAM
BULAN ISLAM

More info:

Published by: shindrummer on Dec 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2014

pdf

text

original

BULAN – BULAN DALAM ISLAM oleh Anggit Tinarbuka AW Sistem penanggalan yang ada dan digunakan saat ini

tidaklah hanya penanggalan masehi yang umum digunakan saat ini. Jika memperhatikan di beberapa kalender pasti ditemui juga penanggalan lainnya yang terdapat perbedaan tahun dan harinya. Ada penanggalan Hijriah bagi umat Muslim, penanggalan Jawa, Budha dengan tahun baru waisaknya, Tionghoa dengan imleknya dan Hindu dengan tahun baru sakanya. Diantara sistem penanggalan tadi terdapat perbedaan tahun menurut perhitungan masing-masing. Dengan menggunakan tahun masehi sebagai acuannya: Masehi – Hijriah berbeda 579 tahun (2010 Masehi dan 1431 Hijriah) Masehi – Jawa berbeda 67 tahun (2010 M dan 1943 kalender jawa) Masehi – Tionghoa berbeda 551 tahun (2010 M dan 2561) Masehi – Hindu berbeda 78 tahun (2010 M dan 1932 tahun saka) Disamping itu terdapat perbedaan penggunaan hari pula. Masehi (Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday), Jawa (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing) yang masingmasing memiliki arti tentunya dan Hijriah (Ahad, Itsnain, Tsalatsa’, Raba’a, Khamiis, Jum’ah, Sabtu). Untuk nama bulan, kalender masehi menggunakan penamaan yang sudah ada sebelumnya dari penanggalan romawi dan kalender gregorian. Dan bagi kalender hijriah, akan dibahas dengan sederhana. Bagi umat muslim semestinya mengetahui pula nama-nama bulan tersebut seperti yang pernah diajarkan saat kita kecil dulu saat mengaji tentunya. Hehe Terdapat sedikit penjelasan dari nama-nama dan keutamaan bulan-bulan Hijriah. Mungkin beberapa telah lupa, jadi mari mengingatnya kembali.. ^^ Penetapan kalender hijriah menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya (seperti penetapan bulan puasa) dan dilakukan pada kekhalifahan Umar bin Khattab r.a., dengan menetapkan peristiwa hijrahnya Nabi ke Madinah. Penetapan 12 bulan ini seperti yang difirmankan dalam Al Qur’an. “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS At Taubah (9): 36)

Muharam al-Haram ( Muharram –

)

Bulan ini mengambil perkataan “Haram” yang bermaksud terlarang. Ini disebabkan budaya atau tradisi Arab mengharamkan peperangan pada bulan ini. Bulan muharram termasuk dalam empat bulan yang diharamkan dalam Islam serta dianjurkan bagi umat Islam untuk memperbanyak amalanamalan apapun di bulan-bulan tersebut. Bulan muharram merupakan bulan awal tahun Hijriah serta karena terdapat beberapa keutamaan dalam beramal di bulan ini, umat Islam tentu bergembira menyambut bulan ini. Hari Asyura yaitu hari kesepuluh bulan Muharram dan disunnahkan untuk berpuasa pada hari itu. Berdasarkan sabda nabi saat beliau ditanya “Puasa apakah yang paling utama sesudah puasa Ramadhan?” Nabi menjawab,”Puasa pada bulan Allah yang kalian namakan bulan Muharram.” (HR Muslim) “Puasa hari Asyura dapat menghapus dosa tahun lalu.” (HR Muslim) Terdapat banyak penjelasan mengenai bulan muharram, tetapi mungkin akan dijelaskan pada tema tersendiri. ^^ Safar (‫) ﻑﺼ‬ Bulan ini berarti tiupan angin atau kosong. Bulan ini menunjukkan masyarakat Arab meninggalkan rumah mereka , melakukan perjalanan atau berperang. Rabiul awal ( ‫)ﻝﻭﻷﺍ ﻊﻴﺑ‬ Bulan pertama musim bunga saat bulan tersebut dinamakan. Disebut juga sebagai masa kembalinya kaum yang merantau (shafar) dari perang atau perjalanan. Pada bulan ini pula Nabi Muhammad dilahirkan di dunia dan dikenal dengan maulid nabi. Rabiul akhir ( ‫)ﻲﻧﺎﺜﻟﺍ ﻊﻴﺑ ’/ﺮﻴﺧﻷﺍ ﻊﻴﺑ‬ Bulan kedua musim bunga. Jumadil awal (‫)ﻝﻭﻷﺍ ﺪﺍﻤﺟ‬ Bulan pertama musim panas. Jumada berarti kering. Jumadil akhir (‫)ﻲﻧﺎﺜﻟﺍ ﺪﺍﻤﺟ/ ﻴﺧﻷﺍ ﺪﺍﻤﺟ‬ Bulan kedua musim panas. Jamada, juga berarti lebih sejuk karena musim kering telah berakhir. Rajab ( ‫)ﺏﺠ‬ Berarti mulia. Dikenali sebagai Rajab al Fard. Fard berarti keseorangan / kesendirian; karena tiga bulan suci yang lain berada jauh dan berturutan dibandingkan bulan Rajab yang berada ditengah. Merupakan empat dari bulan yang diharamkan dalam Islam. Bulan Rajab dianggap sebagai bulan persiapan menjelang bulan Ramadhan. Puasa pada bulan Rajab dimaksudkan untuk persiapan agar pada bulan Ramadhan kita siap dan berada dalam kondisi yang suci. Nabi muhammad pada bulan ini dan bulan Sya’ban menggiatkan ibadah dan puasanya. Begitu rindunya dengan bulan Ramadhan, terdapat amalan doa yang sering diucapkan pada bulan Rajab dan Sya’ban dengan harapan dapat bertemu dengan bulan Ramadhan. “Allahumma bariklana fii rajaba wa sya‟bana wa balighna Ramadhana.” “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya‟ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.” (HR Ahmad dan Thabrani)

Sungguh indah Sya’ban (‫)ﻦﺍﺒﻌﺷ‬ Bulan ini berarti berkelompok. Masyarakat Arab dahulu sering berkelompok untuk mencari nafkah.. Dianjurkan lebih memperbanyak amalan-amalan dibulan ini karena mendekati bulan puasa. Nabi juga menggiatkan puasanya pada bulan ini. Dari Aisyah r.a. “Saya tidak melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain dalam bulan Ramadhan, dan saya tidak melihat beliau dalam bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak daripada bulan Sya‟ban.” (HR Bukhari dan Muslim) Di akhir bulan ini, umat muslim akan sangat sibuk untuk menyiapkan ibadah puasa mereka dengan memperbanyak aktifitas ibadah sunnah dan perhitungan awal puasa. Ramadhan ( ‫)ﻦﺍﻀ‬ Diambil dari kata “ramda”, yang bermaksud batu panas. Menceritakan ketika nama bulan tersebut diberikan, ketika keadaan amat panas. Dengan menetapkan awal bulan Ramadhan dengan rukyah atau hisab, maka umat Islam yang telah baligh diwajibkan untuk berpuasa pada bulan ini. Bulan ini begitu agung karena segala amalan kita akan dilipat gandakan tidak seperti pada bulan-bulan lainnya. “Jika kalian melihat bulan (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan berbukalah (berhari raya), karena melihat bulan (hilal Syawal).” (Muttafaq „alaih) “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orangorang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah (2) : 183) Puasa merupakan ibadah yang ditujukan dan dibalas langsung oleh Allah karena upaya bersusah payah mengalahkan hawa nafsu dan menyucikan diri karena Allah. Pada bulan ini para setan akan dibelenggu danpara hambaNya akan diberikan ampunan, rahmat dan pembebasan dari api neraka. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), niscaya kan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq „alaih)

Syawal (‫)ﺷﻮﻝﺍ‬ Berarti kebahagiaan. Merupakan bulan peningkatan setelah kita sebulan penuh berpuasa. Bulan ini umat muslim juga bergembira dengan merayakan hari raya Idul Fitri, hari raya kemenangan karena telah dikembalikan dalam keadaan fitri / suci kembali. Idul Fitri atau sering disebut lebaran, umat muslim bergembira dengan saling bermaaf-maafan dengan kerabat dan bersilaturahmi bersama. Bagi yang tidak mampupun merasakan senangnya lebaran dengan zakat fitrah yang diterimanya. Pada bulan syawal terdapat puasa sunnah juga yang memiliki ganjaran yang sangat besar. “Barangsiapa puasa dalam bulan Ramadhan, kemudian ia puasa pula enam hari dalam bulan Syawal, adalah seperti puasa sepanjang masa.” (HR Muslim) Mari ucap subhanallah ^^

Zulkaedah (‫)ﺓﺪﻌﻘﻟﺍ ﻭﺫ‬ Diambil daripada perkataan “qa’ada” berarti untuk duduk, waktu istirahat bagi kaum lelaki Arab. Umat muslim mulai menghentikan aktivitas perniagaan mereka untuk duduk dan bersiap menunaikan ibadah Haji. Inilah bulan suci ketiga yang diharamkan dalam Islam. Rasulullah aw. Bersabda: “Puasalah pada bulan-bulan haram (mulya).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad) Zulhijjah (‫)ﺓﺠﺤﻟﺍ ﻭﺫ‬ Ini adalah bulan suci terakhir dalam setahun dan ibadah haji dilaksanakan. Bulan ini mengambil kata “haji” sebagai nama bagi bulan haji ini. Sedangkan bagi umat muslim yang tidak menunaikannya, akan merayakan hari raya Idul Adha (Asyik hari raya lagi).. Hari raya Idul Adha diperingati dengan ibadah puasa sunnah pada hari Arafah (tanggal 9 zulhijjah) sebelumnya. Dan hari raya idul Adha jatuh pada hari ke-10. Seperti yang kita ketahui, Idul Adha merupakan lebaran kurban dimana umat muslim salat hari raya dan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk mengingat terhadap kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail a.s dalam Al Qur’an. “Puasa pada hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang berlalu dan tahun yang akan datang.” (HR Muslim) Telah sampai kita di akhir tahun. Penjelasan di atas disajikan dengan singkat dan sederhana agar kita mengingat hal-hal dasar dalam Islam. Jadi lihatlah di bulan apakah sekarang ini? Supaya bisa mempersiapkan keutamaan di tiap bulannya.

PENGERTIAN JZK Berawal dari postingan saya tentang manfaat, keutamaan dan kekuatan do’a, di akhir postingan tersebut saya menuliskan kalimat “Jazakumullah khairan katsiran. Wa jazakumullah ahsanal jaza“. Kalimat itu saya cantumkan sebagai ungkapan rasa terima kasih saya kepada teman-teman yang telah ikut mensupport untuk ikut mendoakan ibu saya yang sedang sakit waktu itu dan semoga Allah SWT akan membalas kebaikan mereka semua dengan balasan yang lebih baik lagi. Rupanya kalimat itu banyak dicari oleh para netter di search engine, terutama arti atau maknanya. Dan banyak netter yang kesasar ke postingan manfaat, keutamaan dan kekuatan do’a, dan di sana belum saya jelaskan makna dan artinya dan mungkin banyak yang kecewa karena apa yang mereka cari tidak ditemukan walau saya tidak bermaksud begitu. Oleh karenanya di kesempatan ini saya ingin menjelaskan arti dari tulisanJazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza. Jazaa = semoga memberi/menambah/membalas, ka = engkau (lelaki tunggal), Allah = Allah. Jazakallah ( ) artinya “semoga Allah akan memberi/menambah/membalasmu”, ini digunakan sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikan seseorang dan sekaligus sebagai sebuah do’a semoga Allah akan membalas kebaikannya (tunggal / kamu). Jazaa = semoga memberi/menambah/membalas, kum = kalian (jamak), Allah = Allah. Jazakumullah ( ) artinya “semoga Allah akan memberi/menambah/membalas kalian”, ini digunakan sebagai ungkapan terima kasih atas kebaikan seseorang/sekelompok orang, dan sekaligus sebagai sebuah do’a semoga Allah akan membalas kebaikan mereka (jamak/orang banyak). Penggunaan hanya dengan kalimat Jazakallah atau Jazakumullah menurut saya masih kurang lengkap (kurang tepat) walaupun makna dan maksudnya sudah bisa dipahami sebagai ungkapan terima kasih dan sekaligus sebagai sebuah do’a semoga Allah akan membalas kebaikanya/mereka. Untuk lengkapnya setelah Jazakallah atau Jazakumullahharus ada penyebutan dalam hal apa Allah akan membalasnya. Jadi setelah Jazakallahatau Jazakumullah perlu ada kalimat berikutnya sebagai penjelasan yakni kalimat Khairan Katsiran ( ).

Khairan artinya kebaikan, sedangkan Katsiran artinya banyak, jadi Khairan Katsiranartinya kebaikan yang banyak. Sedangkan Ahsanal Jaza artinya balasan yang terbaik. Jadi arti dari “Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza” ( ) adalah semoga Allah SWT akan membalas kalian dengan kebaikan yang

banyak dan semoga Allah SWT akan membalas kalian dengan balasan yang terbaik. Hadit berikut ini mungkin bisa sedikit menjelaskan tentang dasar dari penggunaan istilah tersebut di atas. Dari Usamah bin Zaid r.a bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

‫م‬

‫ه‬

‫إ‬

‫ا ه ف قال م‬

‫ا في‬

‫فق‬

Artinya “Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan “jazaakallahu khaeron (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi). Catatan : Mohon dikoreksi jika penjelasan saya tentang arti dari kalimat “Jazakumullah Khairan Katsiran Wa Jazakumullah Ahsanal Jaza” masih kurang pas atau kurang tepat.

Syarat, Rukun dan Wajib Haji
A. Syarat Wajib Haji Syarat wajib haji adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sehingga dia diwajibkan untuk melaksanakan haji, dan barang siapa yang tidak memenuhi salah satu dari syarat-syarat tersebut, maka dia belum wajib menunaikan haji. Adapun syarat wajib haji adalah sebagai berikut : 1. Islam 2. Berakal 3. Baligh 4. Merdeka 5. Mampu B. Rukun Haji Yang dimaksud rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji, dan jika tidak dikerjakan hajinya tidak sah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut : 1. Ihram Ihram, yaitu pernyataan mulai mengerjakan ibadah haji atau umroh dengan memakai pakaian ihram disertai niat haji atau umroh di miqat. 2. Wukuf Wukuf di Arafah, yaitu berdiam diri, dzikir dan berdo'a di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. 3. Tawaf Ifadah Tawaf Ifadah, yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah. 4. Sa'i Sa'i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali, dilakukan sesudah Tawaf Ifadah. 5. Tahallul Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut setelah melaksanakan Sa'i. 6. Tertib Tertib, yaitu mengerjakan kegiatan sesuai dengan urutan dan tidak ada yang tertinggal. C. Wajib Haji Wajib Haji adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, jika salah satu dari wajib haji ini ditinggalkan, maka hajinya tetap sah, namun harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah : 1. Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram.

2. Mabit (bermalam) di Muzdalifah, pada tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina). 3. Melontar Jumrah Aqabah, pada tanggal 10 Zulhijah yaitu dengan cara melontarkan tujuh butir kerikil berturut-turut dengan mengangkat tangan pada setiap melempar kerikil sambil berucap, “Allahu Akbar, Allahummaj „alhu hajjan mabruran wa zanban magfura(n)”. Setiap kerikil harus mengenai ke dalam jumrah jurang besar tempat jumrah. 4. Mabit di Mina, pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah). 5. Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah, pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah). 6. Tawaf Wada', yaitu melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah. 7. Meninggalkan perbuatan yang dilarang saat ihram.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->