BUDAYA POLITIK JAWA

Yahya Muhaimin dalam tulisannya “Persoalan Budaya Politik Indonesia” mengutarakan tentang sikap-sikap masyarakat Jawa terkait dengan pelaksanaan politik di Indonesia. Adapun sikap-sikap itu antara lain: 1. Konsep “Halus” Masyarakat Jawa cendrung untuk menghindarkan diri atau cendrung untuk tidak berada pada situasi konflik dengan pihak lain dan bersamaan dengan itu mereka juga cendrung selalu mudah tersinggung. Ciri-ciri ini berkaitan erat dengan konsep “halus” (alus) dalam konteks Jawa, yang secara unik bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan kata subtle, smooth, refined, sensitive, polite dan civilized. Konsep ini telah ditanamkan secara intensif dalam masyarakat Jawa sejak masa kanak-kanak. Ia bertujuan membentuk pola “tindak-tanduk yang wajar”, yang perwujudannya berupa pengekangan emosi dan pembatasan antusiasme serta ambisi. Menyakiti dan menyinggung orang lain dipandang sebagai tindakan kasar, rough, crude, vulgar, coarse, insensitive, impolite dan uncivilized (ora njawa). Nilai-nilai semacam ini menyebabkan orang Jawa kelihatan cendrung mempunyai konsepsi tentang “diri” yang dualistis. Sebagai manifestasi tingkah laku yang halus, kita mengenal dua konsep yang bertautan, yaitu “malu” dan “segan”. Yang pertama berkonotasi dari perasaan discomfort sampai ke perasaan insulted atau rendah diri karena merasa berbuat salah. Yang kedua, “segan”, mirip dengan yang pertama tapi tanpa perasaan bersalah. Rasa segan (sungkan). Ini merupakan perpaduan antara malu dan rasa hormat kepada “atasan” atau pihak lain yang setara namun belum dikenalnya dengan baik. Dari tema-tema kultural seperti di atas, kita dapat memahami mengapa orang Jawa mempunyai kesulitan untuk berlaku terus terang. Ini terjadi karena ia ingin selalu menyeimbangkan penampilan lahiriah dengan suasana batinnya sedemikian rupa sehingga dianggap tidak kasar dan tidak menganggap keterbukaan (keterusterangan) sebagai suatu yang terpuji kalau menyinggung pihak lain. Untuk itu seorang lawan bicara (counterpart) mesti memiliki sensitivitas tertentu karena ketiadaan sensitivitas akan sering mengakibatkan suatu hasil yang jauh dari yang dimaksudkan. 2. Menjunjung Tinggi Ketenangan Sikap Sikap ini merupakan refleksi tingkah laku yang halus dan sopan. Pola ini merupakan pencerminan kehalusan jiwa yang diwujudkan dengan pengendalian diri dan pengekangan diri. Kewibawaan ini bisa tercapai dengan bersikap tenang di muka umum, yaitu dengan memusatkan kekuatan diri. Ini berarti bahwa pribadi yang berwibawa adalah pribadi yang tenang, tidak banyak tingkah dan karenanya tidak akan selalu mulai melakukan manufer. Sebagai seorang yang berwibawa, dalam tingkat pertama, ia merasa tidak akan membutuhkan orang lain, sebaliknya orang lain yang selalu membutuhkannya. Karena itu, ia akan selalu merasa perlu membuat jarak dengan orang lain. Karakteristik inilah yang merupakan pola kultural bahwa tindakan dan tingkah laku akan mengakibatkan resiko tertentu yang tidak baik bila tindakan tersebut tidak didasarkan pada ketenangan jiwa atau didasarkan pada pamrih, ketidaktulusan dan penuh emosi. Pola ini mengindikasikan bahwa masyarakat Jawa menganggap orang yang berwibawa tidak perlu berarti orang yang aktif atau orang yang memecahkan berbagai persoalan rutin sehari-hari atau orang orang yang terlibat dalam pembuatan keputusan sehari-hari, bukan a man of action. Orang yang berwibawa adalah orang memiliki status tertentu sehingga merupakan objek loyalitas dan kepatuhan pada orang lain. Bertalian dengan pola ini, terdapat suatu kecendrungan pada orang Jawa agar kelihatan lebih penting menghargai simbol daripada subtansi dan menghargai status daripada fungsi seseorang.

disebabkan oleh warisan kultural masyarakat pemerintahan tani tradisional yang bersifat sentralistik (Muhaimin. maka kesetiaan dan ketaatan akan timbul secara otomatis dari mereka yang berada di sekelilingnya. Sedemikian jauh sifat pengabaian itu sehingga sering sampai pada titik “tidak ambil pusing”. Dari kualitas kultural yang tergambar secara singkat di atas. selalu berusaha bersikap dan berlaku halus serta bertindak tidak terus terang. Semua kecendrungan sosio-kultural ini memperkental sistem patron-klien yang sangat canggih dalam masyarakat. Konsep Kebersamaan Dalam kebudayaan Jawa. sebab kekayaan merupakan sumber status. terdapat suatu kecendrungan yang amat kuat bahwa dalam masyarakat terdapat watak ketergantungan yang kuat pada atasan serta ketaatan yang berlebihan pada kekuasaan. Implikasi dimensi yang sangat luas ini ialah kaburnya hak dan kewajiban serta tanggung jawab seseorang. sebab dilandasi pamrih. tapi sepanjang kekuasaan itu dirasakan juga oleh orang lain. Bila orang lain bisa menikmati kekayaan itu. 53-58) . Di samping itu. jabatan dan sebagainya. harta merupakan sumber kekuasaan. Pihak yang secara intrinsik mempunyai hak juga cendrung membiarkan orang lain ikut menikmatinya. kita dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya hubungan-hubungan sosial merupakan basis dan sumber hubungan politik. Yahya. Karena itu. ia cendrung mengabaikan peringatan (kritik) tersebut sebab orang lain atau anggota masyarakat selain dia dirasakannya tidak dimintai pertanggunjawaban. yakni. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam tradisi ini kekayaan tidak secara otomatis membawa kewibawaan atau kekuasaan. tidak dinikmati bersama-sama.Letak status yang sentral ini mendapatkan penjabaran yang cukup unik dalam kaitannya dengan kekuasaan. Pada titik inilah masyarakat Jawa kelihatan kontradiktif. yang menurut banyak orang. misalnya ilmu pengetahuan. Bahkan seluruh anggota masyarakat diinginkan agar sama-sama mengemban tanggung jawab. bila kekayaan itu tidak dibagi-bagikan. maka secara tidak begitu sadar ia seringkali bersikap agar pihak lain juga bersama-sama memikul tanggung jawab itu. Dalam konteks ini. kebersamaan ini secara operasional tidak sekedar diaktualisasikan dalam aspek-aspek yang materialistis. maka orang tersebut cendrung ingin membagi kewajiban itu pada orang lain. 3. keputusan-keputusan dalam setiap aspek diambil untuk menjaga harmoni dalam masyarakat yang dipimpin para “orang bijak” tersebut. pada satu segi. orang lain akan cendrung berusaha menikmati hak tersebut. maka dalam kerangka ini. tapi juga dalam aspek-aspek yang non materialistis atau yang menyangkut dimensi moral. Hal yang demikian berlaku pula pada sumber-sumber status yang lain. Dalam hubungan sosial politik masyarakat Jawa bersifat sangat personal. sebab status yang dipandang sebagai kewibawaan politik dijunjung begitu tinggi. Dengan demikian. Dengan sistem seperti ini. padahal mereka telah ikut menikmati haknya tadi. Kekayaan seperti akan bersifat destruktif. tetapi pada segi lain sering bersikap “tidak ambil pusing” (tebal muka) terhadap kritik yang langsung sekalipun serta bersikap “menolak” secara terus terang. Jika seseorang mempunyai hak atas sesuatu. takkala suatu pihak dituntut untuk mempertanggungjawabkan kewajibannya. kalau seseorang memiliki kewajiban atau tanggung jawab. Implikasi selanjutnya ialah adanya kecendrungan bahwa takkala diperingatkan (dikritik) agar bertanggung jawab.

Jawa Banyumasan Sing radha unik saka jinis-jinis kesenian dhaerah Banyumasan iki yaiku anane pengaruh gaya Sundha neng jinis-jinis keseniane. Selain pengaruh India. yen saka Jawa Wetan jinis-jinis keseniane umum tumbuh saka kabudayaan rakyat. Kesenian tradhisional Jawa. Jinis kesenian sing misuwur saka Jawa Wetan yaiku reog lan ludruk. gamelan Jawa lan liyane. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. utamane Jawa Tengah lan Yogyakarta umume tumbuh saka lingkungan kraton. uga saiki berkembang jinis-jinis kesenian sing luwih modern sing dikembangake ISI Yogyakarta lan ISI Surakarta. yang juga dijumpai di Bali memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa Kesenian Jawa Langsung menyang: pandhu arah. Jawa Wetan Kesenian sing urip neng Jawa Wetan iku tumbuh saka saling pengaruh antara budaya Jawa kuna lan budaya Madura. Jawa Tengah lan Yogyakarta Saka Jawa Tengah lan Yogyakarta sing paling berkembang yaiku jinis-jinis kesenian tari Jawa sing dikembangke neng lingkungan kraton. Khusus bidang seni rupa malah dikembangake secara khusus neng ISI Yogyakarta malah wis dibentuk dadi Fakultas khusus seni rupa. Musik gamelan. pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula. Jinis kesenian sing misuwur saka dhaerah Banyumasan iki yaiku lengger lan calung Banyumasan. yaitu pementasan wayang. Seliyane iku uga tumbuh jinis-jinis kesenian sing modern/anyar utamane sing dikembangake Institut Seni Indonesia Yogyakarta lan Institut Seni Indonesia Surakarta. wayang. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa.Seni Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha. Kesenian anyar • • • • Keroncong Kethoprak Campursari Kenthongan . pados Peradaban saking pulo Jawa iku akeh ngelairke jenis kesenian-kesenian utamane kesenian tradhisional antarane: tari Jawa.

Makanan adat jawa Nasi kuning nasi Oncom Nasi Kucing Nasi Tumpeng .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful