P. 1
Salmonella i III

Salmonella i III

|Views: 127|Likes:
Published by Satya Nugraha

More info:

Published by: Satya Nugraha on Dec 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2013

pdf

text

original

BAB II DASAR TEORI

2.1 TELUR • Kandungan Gizi Telur Telur merupakan salah satu bahan pangan yang paling lengkap gizinya. Selain itu, bahan pangan ini juga bersifat serba guna karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. komposisinya terdiri dari 11% kulit telur, 58% putih telur, dan 31% kuning telur. kandungan gizi terdiri dari protein 6,3 garam, karbohidrat 0,6 gram, lemak 5 gram vitamin dan mineral di dalam 50 gram telur (Sudaryani, 2003). • Klasifikasi Dan Kualitas Telur Ada banyak dasar untuk menentukan kualitas telur ayam, dasar inilah yang disebut dengan grading. Pada awalnya grading banyak berdasarkan ukuran telur saja, tetapi dalam perkembangannya telah menggunakan ukuran yang bervariasi lagi seperti berat dan mutu telur ( Salmi, 2006 ). Berdasarkan beratnya, grading telur umumnya mengahasilkan telur degan sebutan telur jumbo, telur ekstra besar, medium, kecil dan peewee. Sementara itu grading telur berdasarkan kualitas akan menghasilkan telur dengan mutu AA. mutu A, mutu B dan mutu C ( Salmi, 2006 ). • Faktor – Faktor Yang Menentukan Kualitas Telur Kualitas sebutir telur tergantung pada kualitas isi telur dan kulit telur. Selain itu berat telur juga menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan kualitas telur. Secara khusus faktor-faktor yang menentukan kualitas telur antara lain : 1. Kualitas Telur Sebelah Luar Kualitas telur sebelah luar ditentukan oleh kondisi kulit telurnya. Berikut ini beberapa indikator yang dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kualitas telur sebelah luar : 2. Kebersihan Kulit Telur Kualitas telur semakin baik jika telur dalam keadaan bersih dan tidak ada kotoran sedikitpun. 3. Kondisi Kulit Telur Kondisi kulit telur dapat dilihat dari tekstur dan kehalusannya. Kualitas telur akan semakin baik jika tekstur kulitnya halus dan tidak retak.
1

4. Warna Kulit Telur Warna kulit telur ayam ada 2 (dua), yaitu putih dan coklat. perbedaan warna kulit tersebut disebabkan adanya pigmen Cephoryrin yang terdapat pada permukaan kulit telur yang berwarna coklat. Kulit telur yang berwarna coklat relatif lebih tebal dibandingkan dengan yang berwarna putih. Tebal kulit telur yang berwarna coklat rata-rata 0,51 mm, sedangkan tebal kulit yang berwarna putih rata-rata 0,44 mm. Oleh karenanya kualitas telur yang berwarna coklat lebih baik dibandingkan telur yang berwarna putih. Dalam penyimpanan, telur yang berkulit coklat lebih awet dibandingkan telur yang berwarna putih. 5. Bentuk Telur Bentuk telur yang baik adalah proporsional, tidak berbenjol-benjol, tidak terlalu lonjong dan juga tidak terlalu bulat. 6. Berat Telur Pada umumnya, telur yang lebih berat harganya lebih mahal. Di Indonesia, ketentuan di atas belum berlaku sebab ada kecendrungan konsumen Indonesia justru lebih menyukai telur dengan jumlah butiran yang lebih banyak dalam setiap kilogramnya. 7. Kualitas telur sebelah dalam (isi telur) Untuk menentukan kualitas isi telur dapat dilihat dari bagian telur sebelah dalam. Beberapa faktor yang menentukan kualitas isi telur diantaranya adalah (Salmi, 2006). 8. Ruang udara Telur yang segar memiliki ruang udara yang lebih kecil dibandingkan telur yang sudah lama. 9. Kuning Telur Telur yang segar memiliki kuning telur yang tidak cacat, bersih, dan tidak terdapat pembuluh darah. Selain itu, di dalam kuning telur terdapat bercak daging atau darah. 10. Putih Telur Putih telur dari telur yang segar adalah tebal dan diikat kuat oleh kaalaza. Untuk telur kualitas AA, putih telur harus bebas dari titik daging atau darah. • Kerusakan Telur Telur utuh sekalipun dapat mengalami kerusakan, baik kerusakan fisik maupun kerusakan yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroba. Mikroba dapat
2

masuk ke dalam telur melalui pori-pori yang terdapat pada kulit telur, baik melalui air, udara, maupun kotoran ayam. Mikroba perusak yang dapat mendekomposisi bahan pangan ini antara lain Pseudomonas, Aloaligenes Escherichia dan Salmonella. Pseudomonas dapat menyebabkan green rot, yaitu kerusakan telur yang ditandai dengan isi telur menjadi encer, kadang-kadang dijumpai warna kehijauan, kuning telur tertutup oleh lapisan berwarna merah jambu keputihputihan, putih telur kadang-kadang menjadi hitam, serta telur berbau busuk dan rasanya agak asam (Rachmawan, 2001). Bakteri ini juga menyebabkan kerusakan telur yang disebut red rot yang ditandai dengan timbulnya warna merah pada kuning telur, putih telur menjadi encer dan berwarna keabu-abuan mendekati merah. Aloaligenes dan Escherichiamenyebabkan black rot, yaitu telur menjadi sangat busuk, isinya berwarna coklat kehijauan, encer dan berair, serta kuning telur berwarna hitam (Rachmawan 2001). Salah satu mikroba yang sering mengkontaminasi telur adalah Salmonella (Coufal et al. 2003, Lu et al. 2003) KontaminasiSalmonella di dalam telur, terutama oleh Salmonella pullorum, dapat dimulai dari ovari, dimana bakteri ini masuk ke dalam ovum atau kuning telur pada waktu ovulasi (Hartoko 2009). Kontaminasi Salmonella yang lebih sering terjadi pada telur adalah penetrasi dari kotoran unggas melalui kulit telur ketika proses bertelur. Jika telur kemudian tidak disimpan pada suhu rendah, bakteri ini dapat tumbuh dan berkembang biak di dalam membran kulit, dan akan mengkontaminasi isi telur sewaktu telur dipecahkan untuk diolah. Endotoksin yang merupakan bagian lipopolisakarida yang terdapat pada dinding sel bakteri tersebut diduga merupakan penyebab dari timbulnya gejala demam pada penderita salmonellosis dan demam tifus. Penyimpanan pada suhu kamar dapat menyebabkan telur mengalami penurunan berat, pembesaran kantung udara di dalam telur, dan pengenceran putih dan kuning telur. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya bau busuk karena pertumbuhan bakteri pembusuk, timbulnya bintik-bintik berwarna karena pertumbuhan bakteri pembentuk warna (bintik-bintik hijau, hitam, dan merah), dan bulukan yang disebabkan oleh kapang. Pencucian telur dengan air tidak menjamin telur menjadi lebih awet, karena jika air pencuci yang digunakan tidak bersih dan tercemar oleh bakteri, maka akan mempercepat terjadinya kebusukan pada telur. Oleh karena itu dianjurkan untuk mencuci telur yang tercemar oleh kotoran ayam menggunakan air bersih yang hangat dan segera dikeringkan. Telur utuh yang disimpan dalam keadaan bersih dan kering dapat bertahan dalam kondisi baik selama 3-4 minggu. Setelah batas jangka waktu tersebut maka akan muncul tanda-tanda kerusakan secara signifikan. Produk olahan telur seperti tepung telur mudah dirusak oleh mikroba yang tahan kekeringan seperti mikrokoki, spora bakteri, dan kapang. Pada umumnya, kandungan air yang sedikit pada produk olahan telur akan mengurangi pertumbuhan mikroorganisme. Kandungan protein tinggi pada tepung telur terutama mudah dimanfaatkan mikroba proteolitik sepertiPseudomonas dan Proteus. Munculnya
3

2. panjang rata-rata 2 . Bakteri ini fakultatif anaerob yang dapat tumbuh pada temperatur dengan kisaran 5–45°C dengan suhu optimum 35– 37°C. Salmonella merupakan bakteri yang sensitif panas dimana tidak tahan pada suhu lebih dari 70 oC. Gambar 1 Bakteri Salmonella Genus Salmonella masuk dalam anggota family Enterobacteriaceae.1oC selama 15 menit dapat menghancurkan Salmonella pada susu. Salmonella merupakan bakteri motil (kecuali Salmonella Pullorum dan Salmonella Gallinarum) dan memiliki banyak flagela.5 µm dengan lebar 0.4. katalase positif. 4 . Salmonella merupakan bakteri motil yang menggunakan flagella peritrichous dalam pergerakannya. bentuk bacillus. ahli patologi Amerika. Pasteurisasi pada suhu 71. namun Salmonella dinamai dari Daniel Edward Salmon. oksidase negatif dan mefermentasi glukosa dan manitol untuk memproduksi asam atau asam dan gas.2 Salmonella Salmonella pertama kali ditemukan bakterium tahun 1885 pada tubuh babi oleh Theobald Smith (yang terkenal akan hasilnya pada anafilaksis). tidak berspora. sukrosa atau salicin. Bentuk Salmonella berupa rantai filamen panjang ketika berada pada temparatur ekstrim yaitu 4-8°C atau pada suhu 45°C dengan kondisi pH 4.5 µm. Bakteri ini dapat tumbuh pada pH rendah dan umumnya sensitif pada konsentrasi garam tinggi. Secara umum Salmonella tidak mampu memfermentasikan laktosa. Bakteri ini dapat bertahan pada kondisi dehidrasi dalam kurun waktu yang sama pada feses dan makanan untuk konsumsi hewan dan manusia.8 – 1.4 atau 9.penyakit akibat adanya Pseudomonas bervariasi tergantung jenis dan toksik yang dihasilkannya. Bakteri ini bergram negatif.

Kolonisasi intestinal akibat Salmonella dalam tubuh unggas dapat meningkatkan risiko kontamninasi selama pemotongan. Enteritidis yang tinggi.Ternak merupakan sumber utama untuk foodborne salmonellosis pada manusia. Salmonella diklasifikasikan dalam group sesuai dengan klasifikasi berdasarkan pada antigen badan somatik O (ohne) dan antigen flagel H (hauch). Kontaminasi vertikal dikenal juga sebagai kontaminasi transovarial (transovarial contaminated). Kontaminasi Salmonella enteritidis pada telur diketahui dengan dua mekanisme yaitu melalui induk yang terinfeksi oleh Salmonella enteritidis atau secara vertikal dan secara horizontal. Hal ini didasarkan atas sifat-sifat biokimianya sehingga Salmonella enteritidis merupakan subspesies enteritica. telur yang disimpan dalam temperatur kamar dapat mengandung konsentrasi S. berasal dari induk ayam yang terinfeksi. Salmonella enteritica Serovar Enteritidis (Salmonella Enteritidis) Salmonella enteritidis adalah salah satu serovar atau serotipe dari subspesies Salmonella enteritica dan termasuk dalam anggota famili Enterobacteriaceae. Transmisi melalui transovari yang menyebabkan bakteri bisa mencapai bagian dalam telur sebelum pembentukan cangkang telur dalam oviduk. Teori penularan vertikal menyebutkan bahwa Salmonella enteritidis pada telur ayam. Salmonellosis pada 5 . Telur juga merupakan resevoir untuk Salmonella khusunya S. katak. hal ini karena di peternakan. dapat mencapai 1011 sel per telur. dan manusia. dalam tubuh unggas terjadi kolonisasi pada usus unggas dan secara cepat menyebar ke unggas lain. hewan peternakan. seranga. Sebagai hasilnya. 2.Gambar 2 Bentuk dan warna koloni Salmonella 1. Enteritidis sebagai organisme yang dapat berkoloni pada ovarium ayam. Sumber dan Transmisi Salmonella terdapat pada usus unggas. reptil. Genus ini mempunyai struktur antigen yang tidak stabil dan dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu dan bakteri ini pada suatu saat dapat membentuk variasi secara tiba-tiba.

manusia yang umumnya bersifat foodborne dapat diperoleh melalui konsumsi makanan asal hewan seperti daging. Pengobatan yang diberikan meliputi: 6 . dimana Salmonella memperbanyak diri dan kemudian keluar menuju lamina propria melalui membrane sel basal. usia pasien dan coomobidities penyakit lain yang diderita pasien seperti diabetess. dll). Kemampuan Salmonella untuk masuk ke sel non-phago-cytic merupakan sifat penting untuk patogenisitasnya. Diagnosa salmonella pada manusia juga dibuat dengan kultur feces. Setelah multiflikasi di makrofag. Endosit Salmonella melewati sel-sel epitel dalam vakuola membran yang terikat. Salmonella enteritidis tahan terhadap asam lambung. sifat/cirri ini dikaitkan dengan resisten terhadap fagositosis. 3. es krim juga dapat mengakibatkan kejadian outbreak bahkan baru-baru ini juga dilaporkan kasus outbreak akibat mengkonsumsi mentega. dan ketika kita membutuhkan tipe fase dan profil plasmid. Salmonella dilepaskan untuk mengalir kedalam aliran darah dan kemudian disebarkan keseluruh tubuh. Sementara pada penyakit sistemik prosesnya dimulai dengan serotip yang dapat beradaptasi dengan inang lebih invasif dan menyebabkan penyakit sistemik pada inang. Salmonella melakukan penetrasi terhadap epithelium usus dan terbawa oleh lymphatic ke limfonodus mensenterika. 4. Uji serologis dapat dilakukan dengan menggunakan ELISA dan PCR. transmisi manusia ke manusia juga dapat terjadi. Pada penyakit enteritik dapat digambarkan prosesnya dimulai masuknya salmonella kedalam tubuh inang. Pengobatan Penggobatan gastroenteritis yang disebabkan oleh Salmonella enteritidis tergantung dari berat ringannya gejala yang ditimbulkan. Hal ini mampu membunuh makrofag yang kemudian mengeluarkan bakteri dalam jumlah banyak kedalam darah yang menyebabkan septicaemia. menempel pada sel epitel ileum melalui mannose-resistant fimbriae. susu. Screening test juga dapat digunakan untuk membantu diagnosa awal Salmonella enteritidis. Transmisi dapat terjadi antara hewan ke manusia. daging ayam dan telur. agen dapat diisolasi dari darah selama minggu pertama dan feses pada minggu kedua dan ketiga. Diagnosa Pada manusia diagnosa klinis yang disebabkan oleh salmonella dikonfirmasi dengan isolasi agen. Mereka ditelan oleh sel dalam proses yang dikenal sebagai receptor mediated endocytosis. Produk peternakan termasuk keju. Hal ini menyebabkan sel inflamasi mengeluarkan prostaglandin yang mengaktifkan adenylate cyclase memproduksi cairan yang disekresikan kedalam lumen usus. Pada kasus septikemia. Salmonella dibersihkan dari darah oleh makrofag tetapi kembali memperbanyak diri. serologis.

pasien usia lanjut. Salmonella enteritidis dapat menginfeksi telur yang berasal dari induk ayam yang sehat dimana kontaminasi terjadi sebelum kulit telur terbentuk. Enteritidis. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan ayam yang sedang bertelur dan diinfeksi dengan S.Kondisi menurun ssecara signifikan .Terapi intravena bila kondisi muntah/ atau dehidrasi yang parah. letak infeksi biasanya di putih telur dekat membran kuning telur.• Menghindari dehidrasi Terapi oral : jika muntah dan dehidrasi tidak berat.Dilakukan terhadap pasien ussia lanjut dan bayi di bawah 6 bulan . Diberikan pada kondisi yang parah. atau terjadi lemahnya tingkat kesadaran serta memiliki penyakit lain. hal ini ternyata mengakibatkan telur-telur yang dihasilkan tersebut terinfeksi dengan strain Salmonella enteritidis yang sama. hindari minuman dengan kadar gula yang tinggi karena dapat memperparah diare dan dehidrasi. termasuk mengkonsumsi telur mentah atau tidak dimasak menghubungkan kejadian outbreak dengan telur yang dikonsumsi dengan mengambil sampel dan mengisolasi Salmonella enteritidis yang sama pada telur yang dicurigai sebagai penyebab outbreak. • Rawat inap. idealnya diterapi dengan larutan elektrolit yang seimbang.Pasien dengan dehidrasi yang parah dan muntah terus menerus . • Pengobatan gejala klinis yang muncul Pemberian paracetamol atau ibuprofen untuk pengobatan nyeri dan demam Anti emetic (anti muntah) diberikan bila disertai muntah. Jumlah kejadian outbreak Salmonella enteritidis pernah dilaporkan. jumlahnya sedikit dan sering. direkomendasikan untuk : . Hasil survei yang pernah dilakukan 7 . serta pasien yang menunjukkan gganggguan usus yang parah. Keberadaan Salmonella enteritidis Banyak kejadian antara Salmonella enteritidis pada telur yang berasal dari peternakan.Terjadi penurunan kesadaran E. namun tidak dianjurkan untuk anak – anak. Terapi nasogastrik di rumah sakit dapat dilakukan untuk menghindari terapi melalui intravena. anak – anak berusia kurang dari 2 bulan. • Pemberian antibiotik Tidak dianjurkan secara rutin karena cinderung meningkatkan efek samping. Anti diare diberikan untuk mengobati diare yang disebabkan bakterimia. dapat mengobati diare ringan hingga sedang.

Kemampuan replikasi intrasel. dengan jumlah bakteri yang relatif kecil sudah dapat mengakibatkan penyakit. diakibatkan oleh infeksi dari saluran reproduksi induk ayam bagian bawah dan/ atau kontaminasi feses dari induk ayam saat pengeraman. Setelah bakteri dicerna. Lapisan lipopolisakarida yang lengkap. tidak hanya meningkatkan resiko terjadinya kontaminasi pada isi telur. Kemungkinan perbanyakan toksin. kuning dan putih telur. B. penyimpanan pada suhu tinggi dan kerusakan kerabang telur. Enteritidis dari telur. memasuki epitel usus dan terjadi proliferasi epitel dan folikel limfoid. Kontaminasi ini difasilitasi dengan kondisi kerabang-kerabang telur yang lembab. Patogenesis Patogenesis ini sangat tergantung dari faktor virulensi bakteri yaitu: • • • • Kemampuan invasi sel. S. Enteritidis di kerabang.membuktikan adanya S. tetapi juga meningkatkan resiko terjadinya kontaminasi silang 8 . Pada wanita hami dan individu dengan gangguan sistem imun. dendritic dan sel epitel (Bhunia 2008). Rute penularan Salmonella enteritidis pada telur dapat terjadi melalui beberapa kemungkinan yaitu : • • • • • Transovarial Translokasi dari peritoneum ke kantung kuning telur atau oviduct Penetrasi kulit oleh organisme pada telur melalui kloaka Pencucian telur Penanganan makanan Kemungkinan kontaminasi S. Kontaminasi pada kerabang telur. hati. bahkan wanita hamil dan orang-orang dengan sistem imun yang lemah memiliki risiko timbulnya penyakit ini yang lebih serius. Enteritidis juga di organ usus buntu. organisme tersebut berkoloni di ileum dan kolon. indung telur dan saluran indung telur. Cara Penularan Semua jenis Salmonella merupakan patogen fakultatif intraseluler dan dianggap sangat patogenik dan dapat menyerang macrophages. ginjal. Tahap selanjutnya yaitu menginduksi membran enterosit yang terganggu dan menstimulasi pinositosis organisme. Pada populasi dewasa dan anak-anak yang berisiko untuk terinfeksi S. Enteritidis pada kerabang telur ayam secara horizontal. A.

dimana salmonella bersarang pada tonsil. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menjelaskan secara lengkap patogenesis salmonellosis pada ternak. Enteritidis juga ditemukan di organ usus buntu. enteritidis pada induk petelur belum dimengerti dengan jelas karena sangat komplek . S. Faktor-fator tersebut diantaranya yaitu kualitas kerabang telur. Penularan infeksi S. khususnya selama penyimpanan dan kelembaban pada temperatur tinggi . banyaknya pori-pori pada kerabang telur. Berdasarkan laporan EFSA. ruangan hangat dan dingin. usus dan limfonodus.8% ditemukan di Negara Belgia. selanjutnya menembus mukosa masuk ke dalam sistem pertahanan limfatik dan dapat mencapai saluran darah sehingga dapat menyebabkan bakteremia atau abses . Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan ayam yang sedang bertelur dan diinfeksi dengan S.9% pada limfonodus. Enteritidis diantara telur-telur ayam. indung telur dan saluran indung telur. Kehadiaran Salmonella dalam box telur. kontaminasi salmonella pada karkas sebayak 18. berasal dari induk ayam yang terinfeksi. letak infeksi biasanya di putih telur dekat membran kuning telur. Selanjutnya. Survei tentang keberadaan S. 10. ternyata mengakibatkan telur-telur tersebut terinfeksi dengan strain S. enteritidis secara vertikal pada ayam betina Infeksi S. ginjal. babi dapat berperan sebagai. Teori penularan vertikal menyebutkan bahwa S. Babi yang berperan sebagai carrier tidak mengeluarkan bakteri pada sekretanya. Bakteri tersebut dapat bertahan hidup dalam makrofag yang terdapat dalam saluran pencernaan. Beberapa faktor yang diketahui dapat mempengaruhi penetrasi S. Infeksi S. Di Belgia dan sebelas negara di Eropa kontaminasi salmonella ditemukan 13. truk peternakan. enteritidis pada induk petelur diawali dengan tertelannya bakteri melalui pakan atau air minum. Bakteri kemudian akan menembus dinding usus sehingga menimbulkan reaksi inflamasi . Sejumlah penelitian menunjukkan adanya penetrasi dan multiplikasi S. Penetrasi pada isi telur meningkat dengan lamanya kontak dengan bahan-bahan yang terkontaminasi. Lebih lanjut. Sifat carrier ini bersifat permanen. bakteri tersebut akan menyebar ke organ lain seperti organ reproduksi ovarium dan oviduk .3% babi yang dipotong di Eropa ditemukan terinfeksi salmonella pada limfonodus dan 8. enteritidis dapat menginfeksi telur yang berasal dari induk ayam yang sehat dimana kontaminasi terjadi sebelum kulit telur terbentuk. hati. Setiap tahapan pemotongan merupakan critical point terjadinya kontaminasi Salmonella.pada telur disekitarnya dan produk-produk berbahan telur lainnya. Enteritidis di tubuh ayam petelur ditemukan S. C. kelembaban dan tekanan uap. Enteritidis dalam telur. lingkungan peternakan dapat menyebabkan kontaminasi. 9 .3% kontaminasi ditemukan pada karkas. temperatur. Prancis dan Inggris. Enteritidis. Infeksi pada babi diperoleh melalui pakan yang terkontaminasi (oral intake). Irlandia. Setelah sembuh. Enteritidis yang sama. dan sangat potensial sebagai sumber penularan kepada hewan lain termasuk manusia. bakteri tersebut masuk dan memperbanyak diri dalam saluran pencernaan maupun peritoneum. Enteritidis pada telur ayam.

Tingkat prevalensi kontaminasi pada daging beku di UK sebesar 80% sedangkan di USA sebesar 50% pada daging ayam mentah. enteritidis. E. penyimpanan di dapur-dapur. Penularan secara horizontal ini juga disebut kontaminasi eksternal pada telur. 1994) . Anak ayam tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi dara atau induk dewasa yang dapat menyebabkan kontaminasi telur selanjutnya. enteritidis pada produk daging ayam Kontaminasi pada ternak unggas dapat terjadi sebelum disembelih yaitu akibat kontaminasi horizontal eksternal pada telur-telur saat pengeraman telur ayam pedaging sehingga akan dihasilkan daging ayam yang terkontaminasi oleh S. bakteri akan mengadakan penetrasi ke dalam telur dan mencemari bagian dalam telur (kuning telur dan albumin) melalui pori-pori kerabang telur yang tidak tertutup oleh cuticle (kulit ari atau selaput luar kerabang telur) . enteritidis. Membran atau selaput bagian luar dan dalam pada permukaan kerabang juga berperan penting sebagai barrier perlindungan telur. stres dan molting pada induk ayam dapat meningkatkan keparahan infeksi Salmonella yang ditularkan melalui penularan horizontal. beberapa faktor predisposisi seperti adanya mikotoksin.4 x 103 CFU/gram makanan (COOPER. enteritidis secara horizontal pada ayam dan manusia S. perubahan komposisi pakan yang diberikan. Penularan infeksi S. D. Selaput bagian dalam lebih banyak berperan karena tersusun oleh protein dan mengandung sangat banyak lysozyme yang dapat mencegah infeksi bakteria. Cuticle ini berperan sebagai selaput yang menghalangi penetrasi bakteri ke dalam telur dengan cara menurunkan permeabilitas kerabang telur sehingga pori-pori kerabang menjadi tertutup . enteritidis yang telah memperbanyak diri dalam saluran pencernaan selanjutnya akan diekskresikan melalui feses dan dapat menyebabkan penularan bakteri tersebut secara horizontal ke dalam telur dengan cara menempel pada permukaan kerabang telur. juga berpotensi sebagai sumber kontaminasi silang terhadap makanan lain . 10 . COOPER mengemukakan bahwa proses produksi di rumah pemotongan ayam tidak dapat menjamin produk akhir produksi tersebut bebas S. selama penyembelihan dan selama atau setelah pengolahan. Pada beberapa kejadian mungkin tidak diketahui dan tidak dilaporkan. Tingkat kontaminasi S. Enteritidis secara vertikal (infeksi transovarial) ke telur-telur ayam yang dihasilkan sehingga anak-anak ayam yang ditetaskan dapat bertindak sebagai pembawa atau karier S. Pertumbuhan S.Infeksi S. Daging ayam yang tercemar S. pemanasan saat memasak yang kurang sempurna sehingga bakteri tersebut masih dapat hidup. enteritidis. enteritidis pada daging ayam segar tampaknya rendah yaitu 17 CFU/100 gram kulit ayam dan maksimum 1. enteritidis pada ovarium induk ayam petelur dapat menyebabkan penularan S. Kontaminasi S. Namun kontaminasi silang ini sulit dideteksi . Selanjutnya. saat transportasi. enteritidis selain sebagai penyebab foodborne disease karena dikonsumsi. enteritidis pada daging ayam diduga juga dapat terjadi pada saat disimpan di pengecer.

Enteritidis dapat terjadi dengan mengkonsumsi sedikitnya 1 sampai 10 sel dapat menyebabkan penyakit salmonellosis yang mampu melakukan penentrasi pada epitel di usus halus. Kontaminasi S. sakit perut. S. enteritidis juga dapat ditemukan di tanah. Semakin tinggi jumlah Salmonella di dalam makanan. burung-burung liar. faktor utama kontaminasi silang terjadi pada saat menyiapkan. Enteritidis pada manusia yang menyebabkan salmonellosis. enteritidis pada makanan secara tidak langsung dapat diperantarai oleh vektor mekanik dan biologik seperti rodensia. dan semakin cepat pula waktu inkubasinya sampai menimbulkan gejala infeksi. tanpa atau dengan gejala 11 . kumbang. Infeksi bakteri ini pada hewan dan manusia dapat mengakibatkan penyakit dengan gangguan pada bagian saluran pencernaan atau gastroenteritis dan penyakit akibat infeksi Salmonella atau salmonellosis. parasit maupun manusia . rasa dari makanan tersebut. bau. packaging atmosphere. kutu. kayu. enteritidis di peternakan . Habitat utamanya berada dalam saluran pencernaan hewan dan manusia tapi dapat ditemukan pada spesies unggas dan dengan mudah dapat ditularkan ke manusia melalui telur atau daging ayam yang terkontaminasi. F. Kontaminasi terjadi melalui kontak langsung dengan daging ayam atau perkakas dapur yang tercemar S. hotel.Pada umumnya. mengolah dan memasak makanan di dapur . telur ayam utuh yang tidak disimpan dalam refrigerator baik selama di pedagang eceran bahkan di rumah tangga dan rumah makan atau usaha katering mampu menjadi sumber kontaminasi makanan. G. Enteritidis merupakan salah satu emerging foodborne zoonotic pathogens. air. Hal ini dapat terjadi pada telur-telur ayam yang telah dibekukan atau dikeringkan. Terjadinya kontaminasi silang juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti water availability (Aw). Salmonella ini dapat tumbuh pada jaringan sehingga menyebabkan kerusakan epitel usus. rumah sakit atau pengusaha katering. Kerusakan Yang Ditimbulkan Terhadap Kesehatan Manusia Infeksi S. semakin besar timbulnya gejala infeksi pada orang yang mengkonsumsi makan tersebut. Data menyebutkan bahwa lebih dari 44% outbreak salmonellosis yang terjadi di seluruh dunia melibatkan konsumsi telur ayam dan cara pengolahan atau proses memasak telur ayam yang kurang sempurna seperti telur yang dimasak setengah matang atau dikonsumsi masih mentah. kecoa. Kerusakan Yang Ditimbulkan Terhadap Makanan Keberadaan Salmonella dalam makanan dalam jumlah yang tinggi tidak menimbulkan perubahan dalam hal warna. udara. Keberadaan S. feses dan tanaman seperti buah-buahan dan sayuran. debu. pH. kompetitif dengan mikroflora lain dalam usus dan waktu penyimpanan. Gejala yang ditimbulkan berupa diare. Banyak laporan hasil penelitian menyebutkan telur ayam sebagai sumber infeksi S. enteritidis atau tangan yang tidak dicuci bersih. Kontaminasi silang ini sering ditemukan di dapur-dapur rumah makan. lalat. Pupuk dilaporkan dapat sebagai sarana kontaminasi S.

non . menurunkan tekanan darah. Pada wanita hami dan individu dengan gangguan sistem imun. Enteritidis dari telur. Salmonella pada manusia dapat menyebabkan 12 . Di Amerika dan Eropa dilaporkan bahwa kasus atau wabah karena infeksi S. dan akibatnya memicu serangkaian efek biologis: demam. Perlekatan dan invasi tersebut di bawah regulasi genetik dan melibatkan gen ganda pada kromosom plasmid. Antara tahun 1985-1991 dilaporkan bahwa 82% telur kualitas A tercemar S.CHO (Chinese Hamster Ovarium) sel. gastroenteritis. bakteri ini menginduksi respon inflamasi yang dapat menyebabkan ulserasi dan peningkatan sitokin sehingga menghambat sintesis protein. IL-6. Invasi Salmonella tergantung dari pengaturan sel sitoskeleton dan kemungkinan melibatkan peningkatan fosfat inositol dan kalsium sel. dan merupakan sumber infeksi utama pada manusia yang mengkonsumsi daging babi. Ada beberapa bentuk salmonellosis yang terjadi pada manusia yaitu gastroenteritis. Setelah menginvasi epitel usus. seperti IL-1. Namun. dan itu mengikat gangliosides. demam enterik. enteritidis berkaitan dengan konsumsi telur dan produknya yang dimasak kurang sempurna (mentah atau setengah matang). Gastroenteritis merupakan infeksi pada colon yang biasanya terjadi selama 18-48 jam setelah masuknya salomenlla dalam tubuh manusia. Strain-strain Salmonella mengeluarkan satu atau lebih substansi enterotoksin yang menstimulasi sekresi usus. namun peran toksin tersebut pada patogenesis S. Yang kedua adalah cytotoxin. enteritidis (Baharudin 2010). komponen dari lipopolisakarida dinding sel. leukositosis. TNF2. Invasi mukosa usus diikuti aktivasi adenylate cyclase dan peningkatan keseimbangan sekresi siklik AMP (c-AMP). Salmonella memiliki kemampuan untuk memproduksi sedikitnya tiga jenis zat toxin. septikemia dan infeksi fokal. yang menghambat sintesis protein pada eukariota mengarah pada pemanjangan sel kultur jaringan .lipopolysaccharidic komponen dari membran luar. Mekanisme tersebut belum diketahui secara pasti. bahkan wanita hamil dan orang-orang dengan sistem imun yang lemah memiliki risiko timbulnya penyakit ini yang lebih serius. dengan jumlah bakteri yang relatif kecil sudah dapat mengakibatkan penyakit. demam enteric dan septicaemia. invasi pada mukosa menyebabkan sel epitel mensintesis dan melepaskan berbagai sitokin proinflamasi. dan mengintensifkan sekresi cair.demam. IL8. meningkatkan tingkat monofosfat adenosin intraseluler siklik (cAMP). Hal ini membangkitkan respon inflamasi akut dan juga meningkatkan terjadinya kerusakan usus karena reaksi inflamasi usus. mengaktifkan makrofag dan limfosit. Gastroenteritis dicirikan dengan diare. Salmonella merupakan salah satu bakteri pathogen terpenting di Eropa. Mekanisme tersebut juga belum diketahui dengan pasti. kemungkinaan adanya keterlibatan produksi lokal dari prostaglandin atau komponen lain dari prostaglandin akibat reaksi inflamasi. lipid A. Endotoksin. Pada populasi dewasa dan anak-anak yang berisiko untuk terinfeksi S. demam dan sakit perut. Sebuah enterotoksin termolabil adalah salah satunya. Penyakit biasanya tidak hanya pada orang dewasa tapi juga pada anak kecil dan usia lanjut. Enteritidis masih belum pasti.

hewan tersebut harus benarbenar berasal dari peternakan yang bebas salmonellosis. Gejala utama pada manusia berupa sakit perut. Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung selama 2-3 hari. cephalalgia. dan malaise (tidak enak). sakit perut. Adapun pedoman labelisasi disebutkan dalam SK Dirjen No. kedinginan an diare. susu dan produknya (es krim. mual. importir/eksportir/ distributor. faintness. Penanganan yang higienis terhadap ternak dan produk olahannya dari berbagai pihak sangat berguna untuk meningkatkan keamanan pangan asal ternak terhadap kontaminasi S. dan mengantuk. terutama ternak unggas . susu dan telur . sakit kepala. muntah dan diare. Labelisasi bersifat wajib bagi unit usaha yang telah memiliki sertifikasi .infeksi intestinal yang dikarakteristikkan dengan periode inkubasi 6-72 jam setelah masuknya makanan yang terkontaminasi dan dmemam mendadak. muntah. kelemahan otot. labelisasi produk pangan asal hewan. Sumber utama infeksi pada manusia adalah telur. Dalam pelaksanaan operasionalnya meliputi beberapa kegiatan yaitu pemberian sertifikat bebas Salmonella pada Unit Usaha Pangan Asal Hewan. Carrier dapat menyebarkan salmonella selama beberapa minggu. Pemerintah juga perlu memeriksa pabrik-pabrik makanan ternak. produk telur dan daging unggas. daging sapi. 28/1997. gelisah. Beberapa kebijakan pemerintah terhadap pengamanan pangan asal ternak atau hewan meliputi pengawasan dan pembinaan keamanan terhadap daging. Daging babi. Peternakan ayam petelur juga harus bebas dari Salmonella sehingga jika akan memasukkan hewan barn sebagai pengganti. enteritidis merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah. Pemerintah dan produsen/swasta harus bekerja sama untuk merancang aturan. demam. H. keju). rumah potong unggas atau tempat pemotongan daging. salmonella enteritidis juga dapat ditemukan pada babi. enteritidis. Sertifikat tersebut diberikan kepada perusahaanperusahaan penghasil bibit ternak. mialgia. Sistem HACCP merupakan sistem jaminan mutu yang mendasarkan pada kesadaran dan perhatian bahwa bahaya dapat timbul pada berbagai titik atau tahapan 13 . standar (dan implementasinya) yang berhubungan dengan upaya mengendalikan Salmonella dalam rantai proses di industri perunggasan. Selain ditemukan pada unggas dan produknya. Pemberian atau pencantuman label pada kemasan daging merupakan tanda telah dilakukannya pemeriksaan kesehatan daging lokal maupun impor. Studi yang dilakukan di China menunjukkan adanya Salmonella enteritidis pada daging yang dijual di pasar. Cara Penanggulangannya Pengendalian infeksi S enteritidis pada ayam Pengawasan bahan pangan asal hewan terhadap kontaminasi S. produsen maupun konsumen. penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP). Gejala-gejalanya terdiri dari mual. Umumnya penderita salmonellosis akan kembali pulih setelah dua sampai empat jam. Sertifikat bebas Salmonella merupakan sertifikasi kelayakan dari cara produksi di suatu usaha pangan asal hewan. program monitoring dan surveilan cemaran mikroba serta pengembangan sistem jaringan kerja pengawas kesmavet. Gejala-gejala ini biasanya diikuti dengan kelemahan.

dapat menggunakan air hangat suhu 65. serta fumigasi penetasan telur ayam untuk mengurangi keberadaan bakteri patogen dalam pengeraman di peternakan . Cara pengawasan residu dan cemaran mikroba meliputi pemantauan (monitoring) di seluruh mata rantai produksi. enteritidis dan S. Yang terdapat dalam satu Grup yaitu Grup D. Program monitoring dan surveilans residu dan cemaran mikroba termasuk Salmonella bertujuan untuk memperoleh gambaran tingkat kandungan residu dan cemaran mikroba pada bahan pangan asal hewan yang beredar di Indonesia serta memberi perlindungan pada masyarakat konsumen melalui bahan pangan asal hewan yang tidak mengandung cemaran mikroba atau residu yang dapat membahayakan kesehatan konsumen . Diadakan rotasi tempat penggembalaan . enteritidis . Vaksinasi terhadap S. Pengawasan Salmonella di peternakan melibatkan pentingnya sanitasi dan higienik terhadap kandang. Bakteri S. Iingkungan dan kandang. pullorum termasuk dalam Grup D yang memiliki kesamaan struktur antigen somatik yaitu 01. yang sebelumnya telur ayam dicuci dengan bersih. Enteritidis di Indonesia tidak direkomendasikan. pertumbuhan S. Penanganan yang baik dan benar terhadap bahan pangan asal ternak (daging dan telur) bermanfaat untuk mencegah terjadinya kontaminasi S. S.12. Pengembangan Sistem Jaringan Kerja Pengawas Kesmavet merupakan pengawasan penanganan kesehatan daging. proses penyembelihan. enteritidis dalam telur. pelayuan daging. higiene sanitasi lingkungan peternakan atau tempat pemerahan susu atau KUD. Dinas Daerah dan Laboratorium. peredaran dan pengolahan . Penanganan daging dilakukan dengan membungkusnya dalam kantong plastik sebelum disimpan dalam refrigerator dan meletakkan daging pada suhu kamar sebelum diolah atau dimasak seminimal mungkin. karena antibodi yang terbentuk pascavaksinasi dapat "mengacaukan" pemeriksaan uji Pullorum yang rutin dilakukan akibat adanya reaksi silang antara Salmonella spp. pemeriksaan antemortem.5 °C selama 3 menit atau dengan larutan deterjen pada suhu 45°C. Pengawasan penanganan kesehatan susu meliputi kesehatan ternak. Usaha ini dilakukan untuk mencegah penularan Salmonella secara horizon. akan tetapi dapat dilakukan pengendalian pencegahan bahaya-bahaya tersebut. pengangkutan . Menyediakan pakan dan air minum yang bebas Salmonella. Pengawasan penanganan kesehatan daging berupa masa pemulihan kondisi hewan. Penyimpanan telur dalam suhu rendah sangat penting untuk mencegah pertumbuhan kontaminan S.produksi. susu dan telur.9. rodentia dan serangga) di sekitar peternakan . Pemberantasan vektor (burung-burung liar. pengamatan (surveillance) terhadap suatu masalah residu dalam bahan pangan asal hewan dan dampaknya pada kesehatan manusia dan pemeriksaan (inspection) residu dan cemaran mikroba pada bahan pangan asal hewan di laboratorium penguji yang berwenang. pengemasan. enteritidis terlihat lambat tetapi 14 . pengangkutan. Disarankan untuk menyimpan telur ayam dalam refrigerator sampai akan digunakan. pemeriksaan postmortem. Pada temperatur 10 °C. Adapun kelembagaan yang terlibat adalah Pemerintah Pusat. penanganan dan penyimpanan . enteritidis tidak dapat tumbuh dan berkembang dalam kuning telur yang telah diinokulasi apabila disimpan pada suhu 4°C dan 8°C. peralatan maupun lingkungan peternakan. Sedangkan pengawasan penanganan kesehatan telur adalah kegiatan pengawasan terhadap kesehatan unggas.

Pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap bahaya akibat infeksi Salmonella perlu ditingkatkan. Salmonella pada kerabang telur dapat dibunuh dengan merebus telur pada temperatur 100° C. tentang memasak yang benar. mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang daging dan telur mentah. Pada tahun 1992 GAST dan BEARD melaporkan bahwa jumlah S. menghindari restoran yang menyediakan makanan dari telur-telur mentah yang tidak dimasak dengan matang dan tidak dipasteurisasi. praktek-praktek pendinginan untuk pangan asal hewan dan tentang tentang higiene personal dan lingkungan. Pemanasan merupakan cara yang paling banyak dilakukan untuk membunuh Salmonella. Maka penanganan makanan yang tepat termasuk 15 . enteritidis pada bahan pangan asal ternak antara lain dengan menghindari makan telur mentah (minuman yang dicampur dengan telur atau jamu. enteritidis masih dapat ditemukan pada kuning telur yang direbus atau dikeringkan selama 4 menit. Kontaminasi dihindari secara memasak dengan sempurna semua produk ternak seperti daging. menggunakan alat-alat memasak yang telah dicuci bersih. Pemanasan yang direkomendasikan untuk membunuh Salmonella di dalam makanan umumnya adalah selama paling sedikit 12 menit pada suhu 66°C atau 78-83 menit pada suhu 60°C. Tindakan pengendalian penting lainnya adalah pendidikan mengenai penanganan makanan yang tepat. S. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi kontaminasi S. Higiene personal seperti tindakan mencuci tangan dalam penanganan makanan dan juga sebelum mengkonsumsi makanan menjadi hal penting. telur dan produk olahannya. Perlakuan lain yang dapat membunuh Salmonella adalah dengan asam asetat. Terhadap wabah yang terjadi di restoran di Minnesota menunjukan bahwa pekerja restoran yang menyajikan makanan menjadi media penyebaran Salmonella enteritidis kepada pengunjung restoran.bakteri tersebut akan tumbuh relatif cepat dalam waktu yang pendek apabila disimpan pada temperatur 12°C. Prinsip pencegahan dan pengendalian Salmonella enteritidis berbasis pada perlindungan manusia dari infeksi dan mengurangi prevalensinya pada hewan. Bakteri Salmonella akan mati dalam pemanasan 60°C selama beberapa menit dalam larutan telur namun temperatur tersebut tidak membunuh bakteri dalam telur ayam karena panas tersebut lambat menembus masuk ke dalam isi telur ayam yang mengandung masa yang kental . pemanasan dengan oven microwave. radiasi ultraviolet. H202. baik pada perusahaan maupun rumah tangga. tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa cara tersebut menghasilkan putih telur yang matang tetapi sebagian kuning telur masih setengah matang/lunak sehingga tidak membunuh bakteri dalam kuning telur . Inspeksi daging dan unggas serta pengawasan pasteurisasi susu dan produksi telur menjadi hal penting dalam perlindungan terhadap konsumen. radiasi ionisasi. bahan dalam pembuatan es krim) atau telur setengah matang. enteritidis pada telur-telur yang terkontaminasi secara alam meningkat apabila disimpan pada suhu 25°C selama 7 hari namun tingkat kontaminasi tidak berubah apabila disimpan pada suhu 7 °C selama 7 hari . apabila terdapat telur-telur yang retak dan kotor karena feses sebaiknya dibuang dan tidak dianjurkan menyimpan telur-telur pada temperatur yang panas (40-140)°C selama lebih dari 2 jam. tetapi bakteri tersebut tidak dapat diisolasi dari telur ayam terinfeksi yang direbus atau dikeringkan selama 8 menit.

ENTERITIDIS PADA TERNAK DAN PRODUKNYA 16 . menggunakan alat-alat memasak yang telah dicuci bersih. akan memudahkan timbulnya penyakit. Diperkirakan 100 sel S. Memasak secara sempurna telur dan produk olahannya. menghindari restoran yang menyediakan makanan dari telur-telur mentah yang tidak dimasak dengan matang dan tidak dipasteurisasi. DETEKSI S. control bakteri pada pangan. Telur ayam akan aman bila disimpan dalam pendingin (refrigerator) tersendiri dan dimasak serta dikonsumsi segera. Peningkatan jumlah kasus manusia akibat infeksi salmonella yang penularannya melalui telur tidak membuat strategi hanya dilakukan pada penghasil telur/ayam tetapi juga peningkatan rekomendasi untuk konsumen dalam menangani dan memakan telur dan produknya.higiene personal didalamnya menjadi hal penting dalam pencegahan penyebaran Salmonella enteritidis. imunisasi/vaksinasi dan manajemen pengelolaan ternak yang tepat dan peternakan unggas. apabila terdapat telur-telur yang retak dan kotor karena feses sebaiknya dibuang dan tidak dianjurkan menyimpan telur-telur pada temperatur yang panas (40-140oC) selama lebih dari 2 jam. Pengetahuan dan keperdulian masyarakat terhadap bahaya infeksi Salmonella perlu ditingkatkan. dan lysozyme (E1105). Ide untuk diping atau mencuci telur dengan disinfektan telah lama diketahui. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi kontaminasi S. susu dan bahan olahan lainnya akan aman bila diolah dengan baik. nisin (E234). sampai saat akan digunakan. sehingga telur sebaiknya disimpan pada pendingin. potassium benzoate (E213). Banyak disifektan yang direkomendasikan karena telah banyak diuji baik dalam jumlah maupun bahan yang aman digunakan. Enteritidis akan mati karena pemanasan paling sedikit selama 12 menit pada suhu 66 oC atau 77-83 menit pada suhu 60 oC. Penelitian yang dilakukan oleh Oliveira et al. Enteritidis pada 100 gram telur. Beberapa campuran kimia digunakan sebagai bahan aditif untuk pengawetan seperti potassium sorbate (E202). mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang telur mentah. hasil ternak. Pada hewan tindakan yang dapat dilakukan meliputi eliminasi carriers. Penyimpanan telur pada pendingin secara baik dapat mencegah perbanyakan bakteri tersebut pada telur. E242). dimethyl dicarbonate (DMDC. Pemasakan juga akan mengurangi jumlah bakteri yang ada pada telur. Penelitian menunjukkan bahwa pembersihan secara intensif dan penggunaan desinfektan dapat mengurangi keberadaan bakteri tersebut. Selain itu beberapa bahan aditif bersifat suplemen seperti disodium EDTA (E385) dan triethyl citrate (E1505) yang digunakan sebagai bahan pengawet dan juga menghambat perubahan warna pada telur. Enteritidis pada pangan asal hewan antara lain dengan menghindari makan telur mentah (minuman yang dicampur dengan telur atau jamu.   7. namun putih telur dan kuning telur yang belum matang. akan berisiko lebih besar menimbulkan infeksi dibandingkan dengan telur yang telah matang karena S. bahan pembuatan es krim) atau telur setengah matang. Telur seperti juga daging.

Selain itu diperlukan banyak bahan media. metode hibridisasi asam nukleat maupun polymerase chain reaction (PCR). hasil pemeriksaan yang lebih tepat. metode immunodifusi. gejala klinis atau kelainan pascamati dan pemeriksaan laboratorium dengan cara mengadakan isolasi dan identifikasi S. enteritidis baik secara biokimia maupun serotiping . Akhir-akhir ini telah banyak dikembangkan beberapa metode deteksi cepat terhadap Salmonella seperti enzymelinked immunosorbent assays (ELISA). Isolai dan identifikasi Salmonella dalam bahan pangan dengan menggunakan metode konvensional yaitu pemupukan pada media penyubur dan selektif. Pemeriksaan sampel yang berupa bahan makanan yang diberikan. lebih sensitif dan lebih spesifik dibandingkan dengan metode. biaya dan tenaga . alat.1 WAKTU DAN TEMPAT PRAKTIKUM 17 . air minum. perlu dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya Salmonella. Beberapa keunggulan metode deteksi cepat tersebut adalah waktu pemeriksaan yang lebih cepat. dan bahan lain seperti sampel muntahan.Deteksi salmonellosis dilakukan berdasarkan pada sejarah penyakit. BAB III METODE 3. memerlukan waktu selama 7 hari untuk hasil positif sedangkan apabila hasil negatif diperlukan waktu sekitar 3-4 hari. feses atau darah.

SIM. Selasa. Pukul 11. SIM dan Gula-gula 2. 3. Pengamatan preparat yang telah Laboratorium Bakteriologi Poltekkes Denpasar Rabu. Pukul 11. Pukul 09.00 wita -selesai 18 . Pukul 11.00 – selesai. dan Media Gulagula. 14 November 2012. Pukul 14. Senin. 13 November 2012. TSI.PRAKTIKUM KE 1 KEGIATAN PRAKTIKUM Pembuatan Media SCB. 5 November 2012.00 wita sampai dengan selesai. 19 November 2012. Pengamatan koloni pada media TSI.00 wita – selesai. Mac Conkey.00 wita – selesai 5 Laboratorium Bakteriologi Poltekkes Denpasar Senin. 2 Preparasi sampel dan inokulasi pada media SCB 3 Pengamatan hasil inokulasi pada media SCB serta inokulasi pada media SSA dan Mac Conkey 4 Pengamatan hasil pada media SSA dan Mac Conkey Inokulasi hasil positif pada media SSA dan Mac Co key ke dalam media TSI. Simon Citrate. 12 November 2012. SIM. Pembuatan Preparat koloni yang tumbuh pada media TSI dan Simon Citrate dengan pengecatan gram. 1. TEMPAT PRAKTIKUM Laboratorium Bakteriologi Poltekkes Denpasar Laboratorium Bakteriologi Poltekkes Denpasar Laboratorium Bakteriologi Poltekkes Denpasar WAKTU PRAKTIKUM Senin.

Erlenmeyer 500 ml 12. TSI. Incubator 6. Erlenmeyer 250 ml 8. Simon Citrate. Batang pengaduk 6.Tabung reaksi 18. ALAT a. 3. Gelas Ukur 250 ml 4.2 ALAT DAN BAHAN 1. Api Bunsen 2. Bola hisap 10.Kompor listrik 11.Autoclave 15. Gelas beaker 50 ml 2. Kapas lemak 4.Rak tabung reaksi 21. SSA dan Mac Conkey 1. Preparasi Sampel dan Inokulasi ke Dalam Media SCB. Pipet Ukur 10 ml 9.Botol semprot b.Plate 7.Benang Pulung 17.Tabung durham 19. Neraca Analitik 5. Pembuatan Media SCB.Kapas lemak 20. Rak tabung reaksi 5. Gelas beaker 19 .Kertas koran 14.dibuat.Api bunsen 16. Spatel 3. Label 7.Aluminium foil 13. 1. Spatel 8. Alat tulis 3. SIM.

20 .

Kertas lensa. Inokulasi ke Media SIM. Pinset 3. yang akan . TSI. Tabung reaksi f. Api bunsen 2. Ose lancip 3. Mikroskop binokuler 2. Api bunsen 4. Ose 2. Media gula-gula. 3. Preparat diperiksa. Tabung reaksi e. Objek glass berukuran 1 × 2 cm 5. Label 7. Ose bulat 3. Pengamatan preparat 1. Pipet tetes 8. Tissue 4. Label 4. 1. Simon Citrate. Rak tabung reaksi 4. Api bunsen 2. Pembuatan Preparat 1. Inokulasi ke Media SSA dan Mac Conkey 1. Rak pewarnaan 6. Inkubator d.c.

Oil emersi 6 3.2. BAHAN 1 2 3 Telur Busuk Aquades Bubuk Media : • Bubuk media Selenite Cistine Broth (SCB) Bubuk media Bubuk media Tripel Sugar Iron Bubuk media Bubuk media Simmon Citrate Agar • • • • 4 Reagen pewarnaan gram : • • • • Carbon gentian Violet ( gram I ) Lugol ( gram III ) Alkohol 96 % ( gram III ) Fuchsin ( Gram IV ) 5 Air garam fisiologis. .3 LANGKAH KERJA 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

a. 2. Ditimbang bubuk SCB sebanyak 15 gram dengan neraca analitik. 3. 5. b. . 6. Simon Citrate. lalu diberi label pada erlenmeyer dan plate yang akan digunakan. Dituangkan media ke dalam plate. 4. 1. Yang masing-masing dibuat dengan volume yang tepat dan prosedur yang tepat dan aseptik untuk menghindari adanya kontaminasi. Media Mac Conkey Agar (MCA) 1. 3. 5. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan (semua alat dan aquades yang digunakan harus disterililasi terlebih dahulu). sambil diaduk. lalu diberi label pada Ditimbang bubuk MCA sebanyak 15 gram dengan neraca analitik. Disiapkan media yang akan digunakan di dalam proses inokulasi sampel yang akan kita periksa. 2. menit. SIM. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan.2. sampai media larut sempurna. Media Selenite Cystine Agar 1. Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 400 ml di dalam erlenmeyer Ditutup erlenmeyer dengan kapas berlemak lalu dipanaskan Dibiarkan media hingga suhu ±40 o C. SSA dan Mac Conkey . media yang dibuat adalah media SCB. Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 400 ml di dalam erlenmeyer Ditutup erlenmeyer dengan kapas berlemak lalu dipanaskan Media disterilisasi dengan autoclave pada suhu 1210C selama 15 Dibiarkan media hingga suhu ±40 o C. 4. sampai media larut sempurna. Media siap digunakan. sambil diaduk. 7. TSI. erlenmeyer dan plate yang akan digunakan.

4. sambil diaduk hingga homogen. lalu dipanaskan dengan kompor listrik hingga media larut sempurna. Media siap digunakan. lalu diberi label Ditimbang bubuk media SIM sebanyak 1. 6. Dipersiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 5. 7. Ditimbang bubuk media TSI sebanyak 3. Media TSI 1. d. Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 50 ml di dalam erlenmeyer sambil diaduk hingga homogen. Media siap digunakan. 3. c.25 g dengan neraca analitik. 8. Media disterilisasi dengan autoclave pada suhu 121 0C selama 15 menit. lalu dipanaskan dengan kompor Dipipet media SIM dengan pipet ukur sebanyak 5 ml lalu erlenmeyer dan tabung reaksi yang akan digunakan. Dipipet media TSI dengan pipet ukur sebanyak 5 ml lalu dimasukkan kedalam tabung reaksi. 2. dibiarkan hingga memadat. lalu diberi label erlenmeyer dan tabung reaksi yang akan digunakan.6. 3. listrik hingga media larut sempurna. Media SIM 1. dimasukkan kedalam tabung reaksi. . Dituangkan media ke dalam plate. Media diletakkan pada posisi slant. Ditutup dengan kapas berlemak.5 g dengan neraca Dilarutkan dengan aquadest sebanyak 50 ml di dalam erlenmeyer Ditutup dengan kapas berlemak. 4. 5. 7. Dipersiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. analitik.

. ukuran dan sifat koloni bakterinya. d. Simon Citrate. 4. Dan diinkubasi dalam suhu 37 0 C selama 1 × 24 jam. dan media gula . Setelah diincubasi selama 24 jam pada suhu 37 o C koloni yang tumbuh pada media SSA dan MCA diamati dengan teliti bentuk. kemudian dihomogenkan. Keesokan harinya media SCB diamati dan sampel pada media tersebut Lalu diinokulasikan ke dalam media SSA dan MCA dengan mengunakan ose bulat. Semua alat dan bahan yang diperlukan disiapkan b. dengan cara menuangkan secukupnya kuning telur ke dalam media tersebut. 7. menit.6. Dilakukan preparasi sampel yang akan diperiksa. SIM. 6. 5. Kemudian kuning telur tersebut di inokulasikan ke dalam media SCB. Kemudian koloni yang tumbuh pada media ini diinokulasikan pada media TSI. Jadi telur terlebih dahulu dipisahkan dari putihnya. Prosedur penanaman ke media TSI adalah a. koloni diambil dengan menggunakan ose yang berbentuk seperti jarum pilih koloni yang single (tersendiri tidak bergerombol) dan ambil pada bagian tepinya.gula mengetahui motilitas dan aktivitas fermentasi bakteri. Kemudian didinginkan sebentar. 3. Sebelum ose digunakan untuk mengambil koloni sebaiknya ose difiksasi terlebih dahulu dengan api bunsen hingga memijar. Diambil satu plate yang berisi koloni yang akan ditanam pada media TSI. hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui ciri koloni tersebut sehingga kita dapat mengetahui apakah benar bakteri yang tumbuh tersebut merupaka salmonella. diinkubasi dalam suhu 37 0 C selama 1 × 24 jam. pada praktikum ini digunakan sampel telur ayam busuk hanya pada bagian kuning telurnya. Api bunsen dinyalakan c. 7. Media disterilisasi dengan autoclave pada suhu 121 0C selama 15 Media siap digunakan.

lalu tarik ose dan setelah sampai pada bagian slant. g. Kemudian didinginkan sebentar. d. Segera tutup kembali media Simon citrate. Sebelum ose digunakan untuk mengambil koloni sebaiknya ose difiksasi terlebih dahulu dengan api bunsen hingga memijar. Kemudian ose difiksasi kembali. f. e. h. kira –kira kedalamamnya ¾ . f. koloni diambil dengan menggunakan ose yang berbentuk seperti jarum pilih koloni yang single (tersendiri tidak bergerombol) dan ambil pada bagian tepinya. kemudian ose digoreskan pada bagian slant tersebut. Prosedur penanaman ke media Simon Citrate adalah a. setelah sebelumnya ujung tabungnya di fiksasi. Api bunsen dinyalakan c. Lalu media TSI ini diinkubasi dalam suhu 37 o C selama 24 jam.e. setelah sebelumnya ujung tabungnya di fiksasi. g. Gambar cara mengambil koloni dari media SSA adalah 8. Segera tutup kembali media TSI. Setelah ose agak dingin koloni diambil dan langsung ditusukkan pada media TSI. lalu tarik ose dan setelah sampai pada bagian slant. kemudian ose digoreskan pada bagian slant tersebut. Setelah ose agak dingin koloni diambil dan langsung ditusukkan pada media TSI. Diambil satu plate yang berisi koloni yang akan ditanam pada media Simon citrate. Semua alat dan bahan yang diperlukan disiapkan b. kira –kira kedalamamnya ¾ . Lalu media Simon Citrate ini diinkubasi dalam suhu 37 o C selama 24 jam. . Kemudian ose difiksasi kembali.

Semua alat dan bahan yang diperlukan disiapkan. g. Kemudian ose difiksasi kembali. setelah sebelumnya ujung tabungnya di fiksasi. Ini hanya untuk satu jenis pengujian terhadap satu koloni. lalu kaca preparat diberi label lalu difiksasi. Prosedur pembuatan preparat adalah a. Diambil kaca preparat. Diambil satu plate yang berisi koloni yang akan ditanam pada media SIM. Api bunsen dinyalakan. Sebelum ose digunakan untuk mengambil koloni sebaiknya ose difiksasi terlebih dahulu dengan api bunsen hingga memijar. Kemudian didinginkan sebentar. Setelah ose agak dingin. Pembuatan sediaan : 1. kira –kira kedalamamnya ¾ . lalu ose ditarik searah dengan bekas tusukan tadi. b. Dan media TSI diinkubasi dalam suhu 37 o C selama 24 jam. 10. e. c. Prosedur penanaman ke media SIM adalah a. d. . f. Koloni yang akan ditanam ke media SIM ini sama dengan koloni yang tadi ditanam pada media TSI. koloni diambil dengan menggunakan ose yang berbentuk seperti jarum pilih koloni yang single (tersendiri tidak bergerombol) dan ambil pada bagian tepinya. Segera tutup kembali media TSI.9. koloni diambil dan langsung ditusukkan pada media SIM.

Diletakkan pada posisi miring dan dikeringkan pada suhu kamar.  Untuk koloni. Pewarnaan : 1. lalu dibilas dengan air mengalir. Fiksasi : Fiksasi dilakukan dengan cara mengelilingi kaca preparat pada api bunsen sebanyak tiga kali. Ditetesi cat gram III pada kaca preparat. ditunggu hingga 1/2 menit.2. lalu dibilas pada air mengalir 2. 6. 5. 4. c. diambil satu ose NaCl atau aquades dan satu ose koloni kuman lalu dicampurkan pada kaca preparat. 4. 3. ditunggu hingga 1 menit. Diambil ose lalu dipanaskan delam api bunsen. lali dibilas pada air mengalir. diambil satu ose suspensi kuman. Ditetesi cat gram IVpada kaca preparat. lalu dibuka :  Untuk suspensi. . ditunggu hingga 1 menit. b. Lalu suspensi atau kuman yang tadi telah diambil dihapuskan pada kaca praparat. Mulut tabung dipanaskan dan ditutup kembali. Ditetesi cat gram I pada kaca preparat. 3. ditunggu hingga 1/2 . Tutup tabung yang berisi sampel.1 menit. Fiksasi dilakukan sebelum preparat diberi hapusan dan setelah preparat selesai diberi hapusan. Ditetesi cat gram II pada kaca preparat. lalu dibilas dengan air mengalir.

5.5.pelan hingga menemukan lapang pandang. terangkan denagn memperbesar lampu. Pembacaan preparat : 1. 3. Makrometer dinaikkan full ke atas. 2. Lalu diturunkan pelan . 7. lalu diturunkan pelan. Mikrometer diatur. 12. . 6.pelan hingga menemukan polygon (segi banyak dengan sisi biru-biru tajam). Diafrahma ditutup. Dikeringkan dengam cara dianginkan lalu kaca preparat diletakkan pada rak preparat. 14. 10. 15. jika kurang terang. d. Slide ditaruh pada meja mikroskop. 4. Lensa objektif diatur ke posisi 10×. Diteteskan oil emersi dengan mencari celah diantara lensa objektif. Kondensor dinaikkan. Lensa objektif diputar ke perbesaran 100×. Setelah mendapatkan lapang pandang fokus mata kanan dan mata kiri diatur dengan mengatur cincin diopter pada lensa okuler. 11. Mikroskop disiapkan di atas meja yang rata dan kokoh. 8. Identifikasi bakteri gram yng ditemukan :  Bakteri gram positif berwarna unggu atau violet. 9. Posisi duduk ( ergonomi) diatur yang baik agar tidak mengganggu pengamatan. Tombol on/off pada mikroskop dihidupkan untuk memulai langkah selanjutnya. 13. Setelah itu diafrahma dibuka seluas lapang pandang.

Moats WA. DAFTAR PUSTAKA http://mikolenzu. American Society for Microbiology 71(12): 6734-6741. J. 2003.id/roostitabalia/wp-content/uploads/mikropangan03. Riley LW. Killoran PB. Carey JB. 2008.wordpress.unpad. . 2003. Lu S. Kerusakan Bahan Pangan oleh Mikroorganisme [terhubung berkala]http://blogs. 2009. Bakteri gram negatif berwarna merah.blogspot. 1980. J.pdf [10 Oktober 2009]. Knape KD.html Balia RL. App & Envi Microbiol 40 (4): 710-714. Telur [terhubung berkala] http://hartoko. Association of Salmonella enterica Serovar Enteritidis YafD withResistance to Chicken Egg Albumen. Evaluation of a Method of Ultraviolet Light Sanitation of Broiler Hatching Eggs. Coufal CD.com/2012/09/salmonella-sp. J.com/gizi/pengetahuan-bahanpangan-hewani/telur/ [10 Oktober 2009]. Chavez C.ac. Classification of Bacteria from Commercial Egg Washers and Washed and Unwashed Eggs. Poultry Science 82:754–759 Hartoko.

id/pub/…/penanganan_telur_dan_daging_unggas.Rachmawan O.pdf [9 Oktober 2009] . Penanganan Telur dan Daging Unggas [terhubung berkala] bos.uns. 2001.fkip.ac.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->