P. 1
Apendicitis Pp (2)

Apendicitis Pp (2)

|Views: 27|Likes:

More info:

Published by: ILham Parker Syazuri on Dec 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/07/2013

pdf

text

original

BY I L H A M

Angka kejadian apendisitis cukup tinggi di dunia. Di Amerika Serikat saja terdapat 70.000 kasus kejadian apendisitis setiap tahunnya. Kejadian apendisitis di Amerika Serikat memiliki insiden 1-2 kasus per 10.000 anak per tahunnya antara kelahiran sampai anak tersebut berumur 4 tahun. Kejadian Apendisitis meningkat menjadi 25 kasus per 10.000 anak per tahunnya antara umur 10 dan umur 17 tahun di Amerika Serikat. Apabila dirataratakan, maka didapatkan kejadian apendisitis 1,1 kasus per 1000 orang per tahun nya di Amerika Serikat.

Kejadian apendisitis ini dapat terjadi di seluruh kelompok umur. Diagnosa apendisitis pada kelompok usia muda biasanya sangat sulit dilakukan mengingat penderita usia muda sulit melukiskan perasaan sakit yang dialaminya, sehingga kejadian apendisitis pada usia muda lebih sering diketahui setelah terjadi perforasi. Berdasarkan jenis kelamin, angka kejadian apendisitis pada pria 1,4 kali lebih besar dari pada kelompok wanita.

Appendicitis adalah peradangan yang terjadi di usus buntu yang biasanya disebabkan oleh sumbatan, tapi dapat juga disebabkan oleh infeksi. (Didik Gunawan©2010). Appendicitis adalah peradangan pada umbai cacing, insiden terjadi pada Pria lebih cenderung terkena appendiksitis dibanding wanita. Appendiksitis lebih sering menyerang pada usia 10 sampai 30 tahun.

Appendicitis mengacu pada radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior kiri sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darahdan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi ( Wilson & Goldman, 1989 )

   

Faktor Sumbatan Faktor Bakteri Faktor Diet Hambatan aliran lendir ke secum ( usus )

     

Rasa sakit diepigastrium atau daerah periumbilikus kemudian menjalar ke bagian perut bawah Rasa sakit hilang timbul Mual, muntah Diare atau konstipasi Tungkai kanan tidak dapat diluruskan Lemah dan lesu

   

Suhu tubuh meningkat Nyeri tekan titik MC.Burney Bising usus meningkat, perut kembung Suhu meningkat, nadi cepat

a. 

Pemeriksaan Fisik Dengan pengamatan: akan tampak adanya pembengkakan rongga perut dimana perut tampak mengencang (distensi). Perabaan : Didaerah perut kanan bawah, sering kali bila di tekan akan terasa nyeri dan bila tekanan di lepas juga akan terasa nyeri ( Blumberg Sign ), ini merupakan kunci utama diagnosis appendiksitis.

Pada pemeriksaan dubur dan vagina menimbulkan rasa nyeri. Pada suhu dubur (rectal) lebih tinggi dari pada ketiak ( axilla ). Dengan tindakan: tungkai kanan dan paha di tekuk kuat / tungkai di angkat tinggitinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah.

b. Pemeriksaan Laboratorium

Pada pemeriksaan laboratorium darah, ditemukan peningkatan sel darah putih ( Leukosit ) ± 10.000 – 18.000/mm³. Jika terjadi peningkatan lebih dari itu, maka kemungkinan appendiks sudah mengalami pecah ( Perforasi ).

c. Pemeriksaan Radiologi

Foto polos perut: akan tampak adanya fekalit ( feses yang keras ). Ultrasonografii (USG) CT Scan: dapat terlihat jelas gambaran appendiks.

Diet tinggi serat ( sayuran & buah ): dapat membantu melancarkan aliran pergerakan makanan dalam saluran cerna sehingga tidak tertumpuk lama dan mengeras.  Minum air putih minimal 8 gelas perhari.  Tidak menunda buang air besar.  Pemberian obat cacing setiap 6 bulan.  Menjaga kebersihan makanan agar tidak banyak mengandung parasit.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->