P. 1
Laporan Praktikum Kimia Dasar 1

Laporan Praktikum Kimia Dasar 1

|Views: 2,474|Likes:
Published by Istin Nana Robi'ah

More info:

Published by: Istin Nana Robi'ah on Dec 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2013

pdf

text

original

ACARA I PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum : Untuk mempelajari teknik pemisahan dan pemurnian suatu zat dari campurannya. 2. Waktu Praktikum 3. Tempat Praktikum : Jumat, 5 Oktober 2012 : Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI Kebanyakan materi yang terdapat di bumi ini tidak murni, tetapi berupa

campuran dari berbagai komponen. Contohnya, tanah terdiri dari berbagai senyawa dan unsur baik dalam wujud padat, cair dan gas. Untuk memperoleh zat murni kita harus memisahkannya dari campurannya. Campuran dapat dipisahkan memlalui peristiwa fisika atau kimia, satu komponen atau lebih direaksikan dengan zat lain sehingga dapat dipisahkan. Cara atau teknik pemisahan campuran pada jenis, wujud dan sifat komponen yang terkandung di dalamnya. Jika komponen berwujud padat dan cair, misalnya pasir dan air, dapat dipisahkan dengan saringan. Saringan bermacam-macam, mulai dari porinya yang besar sampai yang sangat halus, contohnya kertas saring dan selaput semipermeabel. Kertas saring dipakai untuk memisahkan endapan atau padatan dari pelarutnya. Campuran homogen, seperti alkohol dalam air, tidak dapat dipisahkan dengan saringan, karena partikelnya lolos dalam pori-pori kertas saring da selaput semipermeabel. Campyran seperti itu dapat dipisahkan dengan cara fisika yaitu destilasi, rekristalisasi, ekstraksi dan kromaografi (Syukri, 1999:15). Destilasi adalah suatu teknik pemisahan suatu zat dari campurannya berdasarkan titik didih. Destilasi ada dua macam, yaitu destilasi sederhana dan destilasi bertingkat. Destilasi sederhana merupakan proses penguapan yang diikuti pengembunan. Destilasi dilakukan untuk memisahkan suatu cairan dari campurannya apabila komponen lain tidak ikut menguap (titik didih komponen lain jauh lebih tinggi). Misalnya pengolahan air tawar dan air laut. Sementara destilasi bertingkat merupakan proses destilasi berulangulang yang terjadi pada kolom fraksionasi. Kolom fraksionasi terdiri atas beberapa plat yang lebih tinggi lebih banyak mengandung cairan yang mudah menguap, sedangkan
1

cairan yang tidak mudah menguap lebih banyak dalam kondensat. Contoh destilasi bertingkat adalah pemisahan campuran alkohol-air, pemurnian minyak bumi dan lain-lain (Syarifudin, 2008:10). Rekristalisasi merupakan teknik pemisahan berdasarkan perbedaan titik beku komponen. Perbedaan itu harus cukup besar dan sebaiknya kompnen yang akan dipisah berwujud padat dan yang lainnya cair pada suhu kamar. Contohnya garam dapat dipisahkan dari air karena garam berupa padatan. Air garam bila dipanaskan perlahan dalam bejana terbuka, maka air akan menguap sedikit demi sedikt. Pemanasan dihentikan saat larutan tepat jenuh. Jika dibiarkan akhirnya terbentuk kristal gara secara perlahan. Setelah pengkristalan sempurna, garam dapat dipisahkan dengan menyaring (Syukri, 1999:16). Selain itu terdapat pula teknik pemisahan dan pemurnian yaitu dekantasi, filtrasi, sublimasi, ekstraksi, adsorbsi dan koagulasi. Dekantasi adalah proses pemisahan padatan dari cairan. Padatan dibiarkan turun dari dasar labu, kemudian cairannya dituangkan dengan hati-hati agar padatan tidak terganggu. Filtrasi adalah proses pemisahan padatan dari cairan dengan menggunakan bahan perpori yang hanya dapat dilalui oleh cairan. Sublimasi merupakan teknik pemisahan dan pemurnian suatu zat dari campurannya dengan jalan memanaskan campuran sehingga dihasilkan sublimat (kumpulan materi pada tempat tertentu yang terbentuk dari fasa padat ke fasa gas dan kembali lagi ke fasa padat. Ekstraksi merupakan pemisahan campuran dengan cara ekstraksi berdasakan perbedaan kelarutan komponen dalam pelarut yang berbeda. Koagulasi adalah proses pengendapan koloid. Dan adsorbsi adalah kemampuan zat untuk menyerap gas, cairan atau zat terlarut pada permukaannya (Budiman, 2005 : 21). Dalam proses pemanasan dapat ditambahkan batu didih (boiling chips). Batu didih merupakan benda yang kecil, bentuknya tidak rata dan berpori yang biasanya dimasukkan ke dalam cairan yang dipanaskan. Biasanya batu didih terbuat dari bahan silika, kalsium, karbonat, porselen maupun karbon. Batu didih sederhana biasa dibuat dari pecahan-pecahan kaca, keramik maupun batu kapur, selama bahan tersebut tidak biasa larut dalam cairan yang dipanaskan. Fungsi penambahan batu didih ada 2 yaitu : untuk meratakan panas sehingga panas menjadi homogen pada seluruh bagian larutan dan untuk menghindari titik lewat didih. Pori-pori dalam batu didih akan memnbantu penangkapan udara pada larutan dan melepaskannya ke permukaan larutan. Tanpa batu didih, maka larutan yang dipanaskan akan menjadi superheated pada bagian tertentu, lalu tiba-tiba
2

akan mengeluarkan uap panas yang bisa menimbulkan letupan atau ledakan. Batu didih tidak boleh dimasukkan pada saat larutan akan mencapai titik didihnya. Jika batu didih dimasukkan pada larutan yang sudah hampir mendidih, maka akan terbentuk uap panas dalam jumlah yang besar secara tiba-tiba. Hal ini bisa menyebabkan ledakan atau kebakaran. Jadi, batu didih harus dimasukkan ke dalam cairan sebelum cairan itu mulai dipanaskan. Jika batu didih akan dimsukkan di tengah-tengah pemanasan, maka suhu cairan harus diturunkan terlebih dahulu. Sebaiknya batu didih tidak dipergunakan secara berulang-ulang karena pori-pori dalam batu didih bisa tersumbat zat pengotor (Khasani, 1990:11).

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM 1. Alat-alat Praktikum a. Alat destilasi biasa b. Cawan Penguap c. Gelas kimia 100 ml d. Gelas kimia 200 ml e. Hot plate f. Labu erlenmeyer g. Penjepit h. Pipet tetes i. Saptula j. Tabung reaksi k. Gelas ukur l. Termometer 2. Bahan-bahan Praktikum a. Alkohol (C2H5OH)(aq) b. Aquades (H2O)(aq) c. Batu didih d. Bubuk kapur (CaCO3)(s) e. Garam dapur kotor (NaCl)(s) f. Iodium (I2)(s) g. Kloroform (CHCl3)(aq) h. Tembaga sulfat (CuSO4)(s)
3

i. Tissue

D. PROSDUR PERCOBAAN 1. Filtrasi (penyaringan) dan sentrifugasi (proses pengendapan) bubuk kapur (CaCO3) a. Dimasukkan 3 sendok bubuk kapur (CaCO3) ke dalam gelas kimia (tempat untuk melarutkan zat yang tidak membutuhkan ketelitian yang tinggi) yang berisi aquades (H2O) ± 25 ml, diaduk. b. Sebagian isi dituang kedalam 2 tabung sentrifugasi (tabung yang digunakan dalam pemutaran) atau tabung reaksi, masing-masing 5 ml. c. Dipisahkan sentrat (hasil sentrifugasi) dari endapan dengan cara dekantasi (proses pengendapan). d. Bagian isi lainnya (15 ml) dalam gelas kimia disaring dengan menggunakan kertas saring dan filtrat (hasil saringan) ditampung. e. Dibandingkan filtrat (hasil saringan) dan sentratnya (hasil sentrifugasi). 2. Rekristalisasi (teknik pemisahan berdasarkan titik beku komponen) garam dapur kotor (NaCl) a. Dilarutkan garam dapur (NaCl) dengan aquades (H2O) sedikit mungkin. b. Larutan garam disaring dan filtratnya (hasil saringan) diuapkan dengan gelas kimia sampai kering dan membentuk kristal NaCl baru. c. Setelah mengkristal, pemanasan dihentikan. d. Dibandingkan garam (NaCl) sebelum dan sesudah proses. 3. Rekristalisasi (teknik pemisahan berdasarkan titik beku komponen) CuSO4 atau tembaga (II) sulfat a. Dilarutkan 1 gram tembaga (II) sulfat (CuSO4) ke dalam sedikit aquades (H2O). b. Ditambahkan batu didih 3 butir dan diuapkan hingga membentuk kristal baru. c. Dibandingkan CuSO4 sebelum dan sesudah proses. 4. Ekstraksi Iodium (I2) a. Dimasukkan beberapa butir iodium (I2) ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml aquades (H2O), dikocok dan diperhatikan warnanya. b. Larutan disimpan di lemari asam dan ditetesi beberapa tetes CHCl3 (kloroform).
4

lalu disentrifugasi (diendapkan).

c. Larutan dikocok dengan cara membenturkan dasar tabung dengan telapak tangan. d. Diamati perubahan yang terjadi. 5. Destilasi (pemisahan menggunakan perbedaan titik didih) C2H5OH 96% a. Dilarutkan 10 ml alkohol (C2H5OH) dengan 5 ml aquades (H2O) ke dalam gelas kimia. b. Hasil campuran larutan kemudian dipindahkan ke labu alas bundar. c. Dipasang set alat destilasi biasa kemudian larutan didestilasi sampai suhu ruangan pada labu alas bundar di bawah 90ºC. d. Hasil destilat ditampung pada gelas erlenmeyer dan diukur volumenya.

E. HASIL PENGAMATAN No. 1. Prosedur Filtrasi dan Sentrifugasi Bubuk kapur (CaCO3) 3 sendok + H2O 25 ml  Larutan CaCO3+Aquades yang Hasil Pengamatan

difiltrasi menghasilkan filrat yag jernih (bening).  Larutan 5 ml campuran dari setelah menghasilkan

CaCO3+Aquades disentrifugasi endapan dan sentrat.

 Sehingga perbedaan antara hasil filtrasi (filtrat) dengan hasil

sentrifugasi (sentrat) adalah filtrat lebih jernih dan sentrat lebih keruh. 2. Rekristalisasi Garam Dapur Kotor  Dicampur NaCl + H2O  Larutan difiltrasi  Dipanaskan dengan hot plate.  Garam dapur yang kotor setelah difitrasi dan diuapkan

menghasilkan kristal-kristal garam baru yang lebih bersih.

3.

Rekristalisasi CuSO4  Dicampur 1 gr CuSO4 + H2O  Warna CuSO4 + H2O = biru muda
5

 Dimasukkan batu didih  Dipanaskan dengan hot plate

dan menghasilkan letupan yang merata saat dipanaskan dan warna yang lebih tua dari semula.

4.

Ekstraksi Iodium  Beberapa butir I2 + H2O 5 ml  Dikocok warna.  Dimasukkan dalam lemari asam.  Ditetesi CHCl3  Dikocok dan perhatikan perubahannya. dan perhatikan  Warna I2 + H2O = kekunigan kusam.  Setelah ditetesi kloroform warna menjadi lebih kuning kusam, dan di dasarnya terbentuk endapan gel berwarna ungu seperti minyak.

5.

Destilasi alcohol 96 %  Dicampurkan C2H5OH 10 ml + H2O 5 ml.  Dipindahkan ke labu alas bundar.  Pasang set alat destilasi.  Panaskan di atas soxhlet.  Mengamati komponen yang ada pada alat destilasi biasa

F. ANALISIS DATA 1. Gambar set alat destilasi biasa

6

Keterangan gambar beserta fungsinya : 1. Termometer 2. Air keluar 3. Labu alas bundar 4. Kondensor liebig 5. Air dingin masuk 6. Panas 7. Destilat 8. Air dingin 2. Perhitungan Diketahui : a. Volume destilasi= 13 ml b. Volume aquades=5 ml c. Volume etanol= 15 ml d. Konsentrasi alkohol=96 %= konsentrasi etanol 96 %

Penyelesaian : a. Vetanol murni Vetanol murni = Vetanol mula-mula x % etanol = 15 ml x 96 % = 14,4 ml

b. % alkohol dalam campuran % alkohol dalam campuran = Vetanol murni x 100% Vcampuran = 14,4 ml x 100% 19,4 ml = 74,22 %

c. % volume destilasi

= Vdestilasi Vetanol murni =90,27 %

x 100%

7

G. PEMBAHASAN Pada praktikum acara 1 yaitu pemisahan dan pemurnian ini, dilakukan beberapa percobaan untuk memisahkan suatu zat dari campurannya. Beberapa cara pemisahanyang digunakan pada praktikum ini adalah filtrasi (penyaringan), sentrifugasi, rekristalisasi, ekstraksi dan destilasi. Pada percobaan pertama yaitu proses filtrasi dan sentrifugasi pada larutan kapur (CaCO3). Untuk memisahkan campuran ini digunakan dua cara yaitu filtrasi dan sentrifugasi, yang kemudian hasil sentrat dan filtratnya dibandingkan. Hasil yang diperoleh adalah filtrat air kapur yaitu cairan yang jernih dan bening sedangkan sentrat air kapur cair yang sedikit keruh. Ini menunjukkan tingkat kejernihan dengan menggunakan filtrasi dan sentrifugasi adalah berbeda. Jika dibandingkan maka filtrat air kapur lebih jernih dibandingkan dengan sentrat air kapur. Ini terjadi karena filtrasi menggunakan keras saring sehingga endapan-endapan kapur dapat tertahan pada kertas saring yang terbuat dari bahan berpori dan teksturnya kasar. Sedangkan dengan proses sentrifugasi, sentrat yang dihasilkan dengan pemutaran dan pemisahan partikel menurut massa molar yang paling besar ke bawah, sehingga molekul yang lebih ringan berada lebih dekat ke permukaan dan menghasilkan sentrat air kapur yang sedikit keruh. Pada percobaan kedua yaitu proses pelarutan garam dapur kotor dan ditimbangkan kemudian dicampurkan dengan aquades dihasilkan garam yang awalnya kotor berwarna keabuan berubah menjadi kristal garam yang lebih bersih dan lebih halus dari sebelumnya. Hal ini disebabkan karena adanya proses filtrasi sebelum garam diuapkan. Pada saat filtrasi butir-butir pengotornya akan tertinggal pada kertas saring yang berpori sehingga garam yang dihasilkan lebih bersih dan jernih serta butiran-butirannya kecil dan halus. Pada percobaan ketiga yaitu rekristalisasi CuSO4. Larutan aquades yang dicampurkan dengan padatan CuSO4 yang berwarna biru kemudian dipanaskan dan ditambahkan batu didih dihasilkan padatan CuSO4 yang awalnya berwarna biru tua berubah menjadi lebih muda yaitu warna biru muda. Hal ini disebabkan karena pada saat pemanasan CuSO4 memudar akibat kandungan air bertambah. Tembaga (Cu) termasuk unsur golongan transisi yang memiliki sifat khas yaitu membentuk senyawa berwarna baik dalam bentuk padatan maupun larutan sehingga padatan CuSO4 yang berada di dalam aquades tetap berwana biru meski berubah menjadi lebih muda. Zat yang berwarna apabila zat itu menyerap sebagai warna dan perpaduan warna yang dipantulkan bukan warna yang diserap dan kandungan air tertentu. Pada percobaan dicelupkan batu didih yang berfungsi
8

untuk meratakan panas sehingga panas menjadi homogen pada seluruh bagian larutan dan utuk menghindari titik lewat didih. Pori-pori dalam batu didih akan membantu penangkapan udara pada larutan dan melepasnya ke permukaan larutan dan ini akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil pada batu didih. Tanpa batu didih maka larutan yang dipanaskan akan menjadi superheated pada bagian tertentu, lalu tibatiba akan mengeluarkan uap panas yang bisa menimbulkan letupan atau ledakan. Pada percobaan ke empat yaitu ekstraksi iodium (I2) yang padat berwarna kecoklatan, yang dimasukkan ke dalam aquades dihasilkan Iodium ditambahkan kloroform (CHCl3) yang menghasilkan cairannya menjadi berwarna kekuningan (kusam), setelah dicampurkan dengan 1 ml kloroform warna berubah menjadi lebih pekat (kuning tua kecoklatan) didasarnya yaitu suatu minyak warna ungu tua dengan cairan di atasnya berwarna kuning pekat. Iodium tidak dapat larut di dalam aquades karena Iodium merupakan salah satu unsur halogen yang molekulnya bersifat nonpolar sehingga Iodium tidak reaktif dan sukar larut dalam air karena air bersifat polar. Namun unsur halogen akan larut dalam pelarut nonpolar tidak beroksigen seperti koroform (CHCl3). Sehingga setelah ditetesi kloroform terbentuk endapan gel berwarna ungu kepekatan. Terbentuknya endapan tergantung kelarutan zat di dalam pelarut, semakin rendah maka semakin rendah dan mudah pencapaian larutan jenuhnya. Pada percobaan kelima yaitu percobaan yang terakhir adalah destilasi biasa, namun di dalam percobaan yang ke lima ini kita hanya memahami ala-alat destilasi atau komponen dan fingsinya yaitu jika menggunakan alat destilasi biasa maka hasilnya adalah cairan yang lebih bening dan jernih. Proses kerja destilasi menggunakan perbedaan titik didih dua laruta atau lebih. Jika campuran dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dahulu. Dengan mengatur suhu secara cermat, kita dapat menguapkan dan kemudian mengembunkan komponen dari komponen secara bertahap. Dan pengembunan terjadi dengan mengalirkan uap ke tabung pendingin. Titik didih etanol adalah 78 sedangkan aquades 100 .

H. PENUTUP Berdasarkan percobaapercobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemisahkan dan pemurnian suatu zat dari campurannya dapat dilakukan dengan cara filtrasi, sentrifugasi, rekristalisasi dan destilasi. Filtrasi adalah teknik pemisahan biasa dengan menggunakan kertas saring. Teknik pemisahan rekristalisasi berdasarkan
9

perbedaan titik beku komponen. Sedangkan teknik pemisahan destilasi berdasarkan perbedaan titik didih.

10

DAFTAR PUSTAKA Anwar, Budiman. 2005. Kimia. Bandung : Yrama Widya.

Imam Khasani, Soemanto. 1990. Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia. Jakarta : Gramedia.

Syarifudin. 2008. Kimia. Tangerang : Scientific Press.

Syukri. 1999. Kimia Dasar I. Bandung : ITB.

11

ACARA II REAKSI-REAKSI KIMIA
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum : 1. Untuk mengenal berbagai reaksi kimia. 2. Untuk menentukan stoikiometri reaksi. 2. Waktu Praktikum : Jumat, 12 Oktober 2012

3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI Reaksi kimia adalah suatu reaksi antar senyawa kimia atau unsur kimia yang melibatkan perubahan struktur dari molekul, yang umumnya berkaitan dengan pembentukan dan pemutusan ikatan kimia. Dalam suatu reaksi kimia terjadi proses ikatan imia, di mana atom zat mula-mula (edukte) bereaksi menghasilkan hasil (produk). Berlangsungnya proses ini dapat memerlukan energi (reaksi endotermal) atau melepaskan energi (reaksi eksotermal) (Raif, 2010:2). Suatu reaksi kimia adalah proses dimana ikatan atom di dalam molekul-molekul zat yang bereaksi dipecahkan, diikuti oleh penyusunan kembali dari atom-atom tersebut dalam kombinasi molekul yang baru. Dengan kata lain, timbul zat kimia baru dan lama hilang, tetapi atom-atomnya tetap sama (Djojodihardjo, 1987 : 103). Reaksi kimia menggabungkan unsur-unsur menjadi senyawa, penguraian senyawa menghasilkan unsur-unsurnya dan transportasi mengubah senyawa yang ada menjadi senyawa baru. Oleh karena atom tidak dapat dimusnahkan dalam reaksi kimia, maka jumlah atom (atau mol atom) dan setiap unsur sebelum dan sesudah reaksi selalu sama. Kekuatan materi dalam perubahan kimia ini terlihat dari persamaan kimia yang balans untuk proses reaksi tersebut. Berdasarkan kesetaraan reaksi, ada reaksi stoikiometri dan pereaksi pembatas (Oktoby, 1998:42). Salah satu pentingnya persamaan reaksi adalah dalam merencanakan percobaan yang mana persamaan reaksi memungkinkan kita menetapkan hubungan kuantutatif yang terjadi antara peraksi dan hasil reaksi. Persamaan reaksi harus seimbang berarti reaksi harus mengikuti huku konservasi dimana jumlah setiap macam atom dikedua sisi anak panah harus sama (Brady, 1999:83).
12

Bidang kimia yang mempelajari aspek kuanitatif unsur dalam suatu senyawa atau reaksi disebut stoikiometri (bahasa Yunani: stoichcion: unsur, metiazn: mengukur). Dengan kata lain, stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitaif zat yang terlibat dalam reaksi (Syukri, 1999:23). Stoikiometri berarti mengukur unsur-unsur. Pengertian unsur-unsur dalam hal ini adalah partikel-partikel atom, ion, molekul atau elektron yang terdapat dalam unsur atau senyawa yang terlibat dalam reaksi kimia. Stoikiometri menyangkut cara untuk menimbang dan menghitung spesi-spesi kimia atau dengan kata lain stoikiometri adalah bagian tentang hubungan-hubungan kuantitatif dalam reaksi kimia (Achmad, 1991:1). Persamaan kimia terdiri dari pereaksi yang ditulis di sebelah kiri, kemudian anak panah yang menunjukkan arah reaksi dan terakhir produk yang ditulis sebelah kanan, dengan catatan banyanya unsur di sebelah kiri dan kanan harus sama. Untuk kebanyakan unsur kimianya biasanya ditulis lambangnya saja. Sebagai cntoh natrium: Na, Li (Besi Fe), Hg dan Ag. Tetapi ada tujuh unsur berupa molekul diatomik yang sudah kita kenal yaitu H2, N2,O2F2, Cl2, Br2, dan I2. Ketiga unsur tersebut harus ditulis berupa molekul diatomik. Tetapi kadang-kadang usnur tersebut tidak dalam bentuk molekul diatomik sehingga penulisannya sesuai dengan sruktur molekulnya (Prasetiawan, 2008:37).

C. ALAT DAN BAHAN 1. Alat-alat Praktikum a. Gelas kimia 100 ml b. Gelas kimia 250 ml c. Gelas ukur 25 ml d. Gelas ukur 50 ml e. Pipet tetes f. Rak tabung reaksi g. Spatula h. Tabung reaksi i. Termometer 2. Bahan-bahan Praktikum a. Aquades (H2O)(aq) b. Larutan Aluminium Sulfat AI2 (SO4) 0,1 M c. Larutan Amonium hidroksida (NH4(OH)) 1 M
13

d. Larutan Asam asetat (CH3COOH) 0,05 e. Larutan Asam Klorida (HCI) 0,05 M f. Larutan Klorida (HCl) 1 M g. Larutan indikator Fenolftalein (PP) h. Larutan Kalium Kromat (K2CrO4) 0,1 M i. Larutan Kalium di kromat (K2Cr2O7) 0,1 M j. Larutan Natrium Hidroksida (NaOH) 2 M k. Larutan Natrium Hidroksida (NaOH) 0,05 M l. Larutan Natrium Hidroksida (NaOH) 1 M m. Larutan Tembaga Sulfat (CuSO4) 1 M

D. PROSEDUR PENELITIAN 1. Reaksi Kimia a. Ke dalam 2 buah tabung reaksi, dimasukkan masing-masing 10 tetes larutan HCL 1 M kedalam tabung pertama dan larutan CH3COOH 0,1 M. Ditambahkan masingmasing 1 tets larutan indikator PP. Diamati perubahan yang terjadi. b. Ke dalam 2 tabung reaski lain dimasukkan larutan NaOH 1 M masing-masing 10 tetes. Ditambhkan pada keduanya 1 tetes larutan indikatr. c. Dicampurkan kedua asam (tabung a) dengan basa (tabung b).diamati perubahan yang terjadi. d. Dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi amsing-masing 10 tets larutan kalium kromat, K2CrO4 0,1 M. Ke dalam tabung pertama ditambahkan larutan HCl 1 M. Dikook dan diamati. Ke dalam tabung lainnya ditambahkan larutan NaOH 1 M. Disimpan dan dibandingkan dengan percobaan e. e. Dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi masing-masing 10 tetes larutan kalium dikromat K2CrO7 1 M. Kemudian diperlukan seperti percobaan (d) di atas. Dibandingkan dengan larutan (d) dan (e). f. Dimasukkan 10 tetes larutan Al2(SO4)3 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan dengan larutan NaOH 1 M tetes demi tetes dan perhatikan apa yang terjadi. g. Dimasukkan 10 tetes laruta Al2(SO4)3 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan lagi dengan NH4OH 1 M setetes demi tetes dan diamati. Dibandingkan dengan alrutan pada percobaan (f).
14

2. Variasi Kontinu a. Stoikiometri Sistem CuSO4 – NaOH 1. Ke dalam 4 tabung reaksi kimia dimasukkan berturut-turut 5,10,15 dan 20 ml larutan NaOH 2 M. Kemudian diukur suhu awalnya masing-masing. 2. Ke dalam 4 buah gelas kimia dimasukkan berturut-turut 5,10,15 dan 20 ml larutan CuSO4 1 M. Kemudia diukur suhu awalnya. 3. Larutan NaOH 2 M pada gelas kimia (a) dicampurkan dengan larutan CuSO4 1 M pada gelas (b), 20 ml NaOH dicampurkan dengan 5 ml CuSO4 1 M. 15 ml NaOH dicampurkan dengan 10 ml CuSO4 1 M. 10 ml NaOH dicampurkan dengan 15 CuSO4 1 M. 5 ml NaOH diampurkan dengan 20 ml CuSO4 1 M, kemudian diukur suhu campuran masing-masing. b. Stoikiometri Asam – Basa    Ke dalam 7 buah tabung reaksi dimasukkan berturut-turut 0,1,2,3,4,5 dan 6 ml larutan NaOH 1 M, kemudian diukur suhu awalnya. Ke dalam 7 buah tabung reaksi lain diamsukkan 0,1,2,3,4,5 dan 6 ml larutan HCl 1 M, kemudian diukur suhunya. Larutan NaOH 1 M pada tabung (a) dicampurkan dengan larutan HCl 1 M pada tabung (b). 0 mL NaOH diampurkan dengan 6 mL HCl 1 M. 1 ml NaOH dicampurkan dengan 5 ml HCl 1 M. 2 mL NaOH diampurkan dengan 4 mL HCl 1 M. 3 mL NaOH diampurkan dengan 3 mL HCl 1 M. 4 mL NaOH diampurkan dengan 2 mL HCl 1 M. 5 mL NaOH diampurkan dengan 1 mL HCl 1 M. 6 mL NaOH diampurkan dengan 0 mL HCl 1 M. Masing-masing campuran diuur suhunya. E. HASIL PENGAMATAN No. 1. Prosedur Reaksi-reaksi kimia a. - 10 tetes HCl 0,05 M + 1 tetes pp. - 10 tetes CH3COOH 0,05 M + 1 tetes pp. b. - 10 tetes NaOH 0,05 M + 1 tetes pp. - 10 tetes NaOH 0,05 M + 1  Warna awal NaOH= merah muda keunguan  NaOH + 1 tetes pp = ungu
15

Hasil Pengamatan  Warna awal HCl bening.  HCl 0,05 M + 1 tetes pp = bening

tetes pp. c. - (10 tetes HCl 0,05 M + 1 tetes pp) + (10 tetes NaOH 0,05 M + 1 tetes pp). - (10 tetes CH3COOH 0,05 M + 1 tetes pp) + 10 tetes NaOH 0,05 M + 1 tetes pp). d. - 10 tetes K2CrO4 0,1 M + HCl 1M - 10 tetes K2CrO4 0,1 M + NaOH 1 M  Mula-mula= orange  K2CrO4 0,1 M + HCl 1 M=orange  K2CrO4 0,1 M + NaOH=Kuning e. - 10 tetes K2Cr2O7 0,1 M + HCl 1M - 10 tetes K2Cr2O7 0,1 M + NaOH 1 M  Tetes 1=keruh  Tetes ke-2= sampai ke-3 makin keruh  Tetas ke-4= benar-benar keruh dan pekat f. 10 tetes Al2(SO4)3 0,1 M + tetes demi tetes NaOH 1 M  Tetes ke-5= kembali bening seperti semula  Larutan sedikit keruh dan semakin keruh  Mula-mula= kuning  K2CrO4 0,1 M + HCl 1 M=orange  K2CrO4 0,1 M + NaOH=Kuning terang  Warna keunguan campuran= merah muda

g. 10 tetes Al2(SO4)3 0,1 M + 5 tetes NH4OH 1 M + tetes demi tetes NH4OH 1 M 2. Stoikiometri NaOH a. - CuSO4 1 M 5 ml (diukur suhu). - NaOH 1 M 20 ml (diukur suhu) - kedua larutan dicampur. system CuSO4 Suhu awal NaOH 20 ml, 10 ml, 5 ml dan 15 ml 2 M =31 (bening)  Suhu awal CuSO4 20 ml, 10 ml, 5 ml dan 15 ml 1 M= 31ºC (bening)  Warna campuran = biru pekat, keruh, terdapat 32ºC).  Suhu awal CuSO4 = 32ºC (biru muda)
16

endapan

(suhu

campuran

b. - CuSO4 1 M 15 ml (diukur suhu). - NaOH 1 M 10 ml (diukur suhu) - kedua larutan dicampur.

 Suhu awal NaOH = 31ºC (bening)  Warna campuran = biru kehijauan, terdapat endapan, agak kental (suhu campuran 32ºC).  Suhu awal CuSO4 = 33ºC (biru muda)  Suhu awal NaOH = 31ºC (bening)  Warna campuran = biru muda, terdapat endapan (suhu campuran 31ºC).  Suhu awal CuSO4 = 32,5ºC (biru muda)  Suhu awal NaOH = 31ºC (bening)  Warna campuran = biru tua, terdapat

c. - CuSO4 1 M 20 ml (diukur suhu). - NaOH 1 M 5 ml (diukur suhu) - kedua larutan dicampur.

d. - CuSO4 1 M 10 ml (diukur suhu). - NaOH 1 M 15 ml (diukur suhu) - kedua larutan dicampur.

endapan, keruh (suhu campuran 32ºC).

3.

Stoikiometri asam-basa a. Dimasukkan dalam tabung reaksi 6 ml HCl 1 M (diukur suhu). b. Dimasukkan dalam tabung reaksi 6 ml NaOH 1 M (diukur suhu). c. - HCl 1 M 5 ml (diukur suhu). - NaOH 1 M 1 ml (diukur suhu) - kedua larutan dicampur. d. - HCl 1 M 4 ml (diukur suhu). - NaOH 1 M 2 ml (diukur suhu) - kedua larutan dicampur.  Suhu awal HCl = 30ºC (bening)  Suhu awal NaOH = 29ºC (bening)  Suhu campuran = 31ºC (bening)
17

 Suhu awal HCl = 28ºC (bening)

 Suhu awal NaOH = 30ºC (bening)

 Suhu awal HCl = 29ºC (bening)  Suhu awal NaOH = 28ºC (bening)  Suhu campuran = 30ºC (bening)

e. - HCl 1 M 3 ml (diukur suhu). - NaOH 1 M 3 ml (diukur suhu) - kedua larutan dicampur. f. - HCl 1 M 2 ml (diukur suhu). - NaOH 1 M 4 ml (diukur suhu) - kedua larutan dicampur. g. - HCl 1 M 1 ml (diukur suhu). - NaOH 1 M 5 ml (diukur suhu) - kedua larutan dicampur.  Suhu awal HCl = 31ºC (bening)  Suhu awal NaOH = 29ºC (bening)  Suhu campuran = 28ºC (bening)  Suhu awal HCl = 29ºC (bening)  Suhu awal NaOH = 29ºC (bening)  Suhu campuran = 30ºC (bening)  Suhu awal HCl = 28ºC (bening)  Suhu awal NaOH = 29ºC (bening)  Suhu campuran = 31ºC (bening)

F. ANALISIS DATA 1. Reaksi-Reaksi Kimia a. Reaksi Kimia 1) HCl (aq) + NaOH (aq)  NaCl (s) + H2O (l) 2) CH3COOH(aq)+ NaOH (aq)  CH3COONa (s) + H2O (l) 3) K2CrO4 (aq) + 2 HCl (aq)  2 KCl (aq) + H2CrO4 (aq) 4) K2CrO4 (aq) + 2 NaOH (aq)  Na2CrO4 (aq) + 2 KOH (aq) 5) K2Cr2O7 (aq) + 2 HCl (aq)  2 KCl (aq) + H2Cr2O7 (aq) 6) K2Cr2O7 (aq) + 2 NaOH (aq)  2 KOH (aq) + Na2Cr2O7 (aq) 7) Al2(SO4)3 (aq) + 6 NH4OH (aq)  3 (NH4)2SO4 (aq) + 2 Al(OH)3 (s) 8) Al2(SO4)3 (aq) + 6 NaOH (aq)  3 Na2SO4 (aq) + 2 Al(OH)3 (s) 2. Variasi Kontinu a. Stoikiometri Sistem CuSO4 – NaOH o Perhitungan mol larutan CuSO4 1 M Untuk 5 mL CuSO4 1 M
18

Mol CuSO4

=M.V =1.5 = 5 mmol

-

Untuk 15 mL CuSO4 1 M Mol CuSO4 =M.V = 1 . 15 = 15 mmol

-

Untuk 20 mL CuSO4 1 M Mol CuSO4 =M.V = 1 . 20 = 20 mmol

-

Untuk mL 10 mL CuSO4 1 M Mol CuSO4 =M.V = 1 . 10 = 10 mmol

o Perhitungan mol larutan NaOH 1 M Untuk 20 mL larutan NaOH 2 M Mol NaOH =M.V = 2 M . 20ml = 40 mmol Untuk 10 mL larutan NaOH 2 M Mol NaOH =M.V = 2 M . 10 ml = 20 mmol Untuk 5 mL larutan NaOH 2 M Mol NaOH =M.V = 2 M . 5ml = 10 mmol Untuk 15 larutan NaOH 2 M Mol NaOH =M.V = 2M . 15 ml = 30 mmol
19

o Perhitungan

Larutan ( )

a. Mencari suhu mula-mula (Tm)

= 310C 

= 310C 

= 310C 

= 310C b. Mencari ΔT
ΔT ΔT1 = Ta(Suhu Akhir)-Tm(Suhu mula-mula) =Ta-Tm = 320C-310C

=1 0C
ΔT2 = Ta-Tm =330C-310C

=20C
ΔT3 = Ta-Tm =320C-310C

=10C
ΔT4 = Ta-Tm =330C-310C

=20C
20

c. Tabel Stoikiometri Sistem CuSO4 – NaOH
V CuSO4 5 mL 15 mL 20 mL 10 mL T NaOH 310C 310C 310C 310C T CuSO4 310C 310C 310C 310C mmol NaOH 40 mmol 20 mmol 10 mmol 30 mmol mmol CuSO4 5 mmol 15 mmol 20 mmol 10 mmol

V NaOH

TM

TA

ΔT

20 mL 10 mL 5 mL 15 mL

310C 310C 310C 310C

320C 330C 320C 330C

10C 20C 10C 20C

d. Grafik hubungan antara ΔT dengan mmol CuSO4 dan NaOH

ΔT 0C
2.5 2 1.5 1 0.5 0 5 10 15 30 mmol

CuSO4 NaOH

40

30

20

10

-

Persamaan reaksi:  CuSO4 (aq) +2 NaOH (aq)  Na2SO4 (aq) + Cu(OH)2 (aq)

-

Perbandingan Titik puncak tertinggi grafik di atas menunjukkan perbandingan a. Titik puncak mmol CuSO4 (aq) berada pada 2oC (ΔT) b. Titik puncak mmol NaOH berada pada 2oC (ΔT) a. Perbandingan ΔT = CuSO4 : NaOH = 2oC : 2oC =1:1
21

b. Perbandingan mmol CuSO4 : NaOH CuSO4 : NaOH =10 : 30
=1 : 3

CuSO4 : NaOH =15 : 20
=3 : 4

b. Stoikiometri Asam – Basa 1. Perhitungan mol larutan HCl 1 M  Untuk 6 mL HCl 1 M Mol HCl = M . V = 1M . 6ml = 6 mmol  Untuk 5 mL HCl 1 M Mol HCl = M . V = 1M . 5ml = 5 mmol  Untuk 4 mL HCl 1 M Mol HCl = M . V = 1M . 4ml = 4 mmol  Untuk 3 mL HCl 1 M Mol HCl = M . V = 1M . 3ml = 3 mmol  Untuk 2 mL HCl 1 M Mol HCl = M . V = 1M . 2ml = 2 mmol  Untuk 1 mL HCl 1 M Mol HCl = M . V = 1M . 1ml = 1 mmol  Untuk 0 mL HCl 1 M Mol HCl = M . V = 1M . 0
22

= 0 mmol 2. Perhitungan mol larutan NaOH 2 M a. Untuk 0 mL NaOH 2 M Mol HCl = M . V = 2M . 0 = 0 mmol b. Untuk 1 mL NaOH 2 M Mol HCl = M . V = 2M . 1ml = 2 mmol c. Untuk 2 mL NaOH 2 M Mol HCl = M . V = 2M . 2ml = 4 mmol d. Untuk 3 mL NaOH 2 M Mol HCl = M . V = 2M . 3ml = 6 mmol e. Untuk 4 mL NaOH 2 M Mol HCl = M . V = 2M . 4ml = 8 mmol f. Untuk 5 mL NaOH 2 M Mol HCl = M . V = 2M . 5ml = 10 mmol g. Untuk 6 mL NaOH 2 M Mol HCl = M . V = 2M . 6ml = 12 mmol 3. Perhitungan ΔT Larutan (oC) a. Mencari Suhu Mula-mula (TM)

23

= 30,50C

= 310C

= 31,50C

= 31,50C

= 31,50C

= 310C

= 310C b. Mencari ΔT ΔT= Ta (suhu akhir) – Tm (suhu mula-mula) ΔT1 = TA – TM
24

= 30,50C – 30,50C = 00C ΔT2 = TA – TM = 340C – 310C = 30 C ΔT3 = TA – TM = 360C – 31,50C = 5,50C ΔT4 = TA – TM = 350C – 31,50C = 4,50C ΔT5 = TA – TM = 340C – 31,50C = 3,50C ΔT6 = TA – TM = 33,50C – 310C = 2,50C ΔT7 = TA – TM = 310C – 310C = 00C c. Tabel Stoikiometri Asam – Basa V NaOH
0 mL 1 mL 2 mL 3 mL 4 mL 5 mL 6 mL

V HCl
6 mL 5 mL 4 mL 3 mL 2 mL 1 mL 0 mL

T NaOH
310C 320C 320C 310C 310C 310C

T HCl
30,50C 310C 310C 310C 320C 310C -

TM
30,50C 310C 31,50C 31,50C 31,50C 310C 310C

TA
30,50C 340C 360C 330C 340C 33,50C 310C

ΔT
00C 30C 5,50C 4,50C 3,50C 2,50C 00C

mmol NaOH
0 mmol 2 mmol 4 mmol 6 mmol 8 mmol 10mmol 12 mmol

mmol HCl
6 mmol 5 mmol 4 mmol 3 mmol 2 mmol 1 mmol 0 mmol

25

d. Grafik hubungan ΔT dengan jumlah mol reaksi

ΔT
6 5 4 3 2 1 0 0 2 4 6 8 10 12

mmol
6 5 4 3 2 1 0 HCl NaOH

-

Persamaan reaksi:  NaOH (aq) + HCl (aq)  NaCl (s) + H2O (s)

-

Perbandingan koordinat NaOH : 5,5 : 5,5 1:1 = HCl mmol NaOH : mmol HCl =4:4 =1:1

G. PEMBAHASAN Pada praktikum ini dilakukan 2 macam percobaan yaitu percobaan untuk megetahui berbagai reaksi kimia dan percobaaan untuk dapat menentukan stoikiometri reaksi. Pada percobaan pertama dan kedua dilakuka penetesan indikator PP untuk mengetahui larutan tersebut bersifat asam atau basa. Pada percobaan pertama yaitu

larutan HCl 0,05 M 10 tetes dicmpurkan dengan 1 tetes indikator PP menghasilkan laruta yang tetap bening dan jernih. Larutan ini berubah sedikit keruh. Larutan ini berwarna bening disebabkan oleh HCl adalah asam kuat atau dengan berwarna bening maka kita tahu bahwa HCl adalah asaam kuat. Larutan tersebut memiliki sifat asam kuat sebagai hasil interaksi dari komponen penyusunnya.

26

Pada percobaan kedua CH3COOH 0,05 M juga dicampurkan dengan indikator PP menghasilkan larutan tetap bening seperti sebelum dicampurkan dengan indikator PP. Ini menunjukkan bahwa CH3COOH merupakan asam dan lebih tepatnya merupakan asam lemah. Selanjutnya diperoleh hasil campuran NaOH dengan indikatornya, larutan menjadi berwarna ungu (sedikit merah muda). Hal ini dikarenakan NaOH merupakan basa kuat sehingga menghasilkan warna yang pekat. Pada percobaan ketiga yaitu larutan pada percobaan pertama dengan percobaan kedua dicampurkan menghasilkan larutan HCL yang dicampurkan dengan NaOH berwarna lebih bening dari sebelumya. Hal ini disebabkan HCL merupakan asam kuat dan NaOH adalah basa kuat sehingga apabila dicampurkan menghasilkan senyawa yang bersifat netral, karena kedua larutan tersebut terionisasi secara sempurna. Sedangkan larutan CH3COOH yang dicampurkan dengan NaOH menghasilkan warna ungu, ini disebabkan larutan CH3COOH merupakan asam lemah dan NaOH adalah basa kuat yang apabila keduanya dicampurkan maka akan menghasilkn larutan yang terionisasi sebagian. Pada percobaan keempat pencampuran larutan HCl dengan K2CrO4 yang berwarna orange dan percobaan selanjutnya NaOH dengan K2CrO4 yang berwarna kuning. Hal ini disebabkan HCl merupakan asam kuat dan NaOH merupakan basa kuat yang dicampurkan dengan K2CrO4 terionisasi sebagian. Pada percobaan larutan HCl 1 M dicampurkan dengan K2Cr2O7 1 M dan NaOH 1 M dengan K2Cr2O7 menghasilkan warna orange dan kuning lebih muda daripada percobaan sebelumnya. Ini disebabkan oleh HCl asam kuat dan NaOH basa kuat yang bila dicampurkan dengan K2Cr2O7 maka akan terionisasi sebagian. Pada percobaan pencampuran NaOH dengan Al2(SO4)3 menghasilkan warna yang semakin keruh pada tetesan keempat dan pada tetesan kelima kembali berwarna bening. Sedangkan pencampuran Al2(SO4)3 dengan NH4OH warnanya menjadi keruh tetapi tidak terdapat endapan sedangkan pada pencampuran NaOH dengan Al2(SO4)3 terdapat endapan. Ada tidaknya endapan membuktikan bahwa larutan tersebut memiliki logam Al. Percobaan variasi kontinu ada 2 percobaan yaitu percobaan variasi kontinu stoikiometri sistem CuSO4-NaOH dan percobaan variasi kontinu stoikiometri asam basa. Percobaan variasi kontinu stoikiometri sistem CuSO4-NaOH, pada percobaan pertama dapat diamati suhu awal NaOH 20 ml, 10 ml, 5 ml dan 15 ml. Dengan suhu awal CuSO4 5 ml, 15 ml, 20 ml dan 10 ml menghasilkan suhu awal yang sama yaitu 31 dengan NaOH berwarna bening dengan CuSO4 berwarna biru muda, ini karena memang
27

warna dari NaOH bening dan CuSO4 berwarna biru muda. Pada pencampuran NaOH dengan CuSO4 dengan campurannya berjumlah 25 ml. Dengan volume NaOH 25 ml, makin banyak volume NaOH maka semakin pekat larutan yang dihasilkan. Pencampuran 15 ml CuSO4 1 M dengan 10 ml NaOH 2 M, menghasilkan warna biru kehijauan terdapat endapan dan kental serta pencampuran 20 ml CuSO4 1 M dengan 5 ml NaOH 2 M menghasilkan warna biru muda dan terdapat endapan. Pada percobaan 10 ml CuSO4 1 M dengan 15 ml Naoh 2 M menghasilkan warna biru tua dan keruh. Endapan yang dihasilkan berasal dari larutan CuSO4. Semakin banyak volume CuSO4 maka semakin banyak dan tampak endapan yang terbentuk serta warnanya semakin pekat. Pada percobaan variasi kontinu stoikiometri asam basa menggunakan larutan HCl dan NaOH. HCl merupakan asam kuat dan NaOH merupakan basa kuat. Jika direaksikan maka akan menghasilkan garam dan air sehingga terjadi netralisasi dimana pH larutan yang terbentuk adalah 7. Larutan di atas terionisasi sempurna dan membentuk kesetimbangan dengan persamaan yaitu: HCl + NaOH NaCl + H2O

Perbedaan suhu yang tidak tetap yag dihasilkan dipengaruhi oleh suhu ruangan dan kesalahan praktikan dalam pembacaan suhu pada termometer. Pada grafik CuSO 4 dengan NaOH dengan perbandingan titik puncak 1:1 yang menunjukkan (suhu) pada

umumnya dapat dilihat memiliki perbedaan yang tidak begitu mencolok meskipun pada perhitungan dapat diamati berbeda. Pada grafik stoikiometri asam basa suhu mula-mula hampir sama dan ketika dicampurkan hasilnya adalah suhunya meningkat. Ini dikarenakan perbedaan volume dan mmol yang terbentuk.

H. KESIMPULAN a. Pada percobaan diamati berbagai reaksi-reaksi kimia yaitu reaksi penetralan asambasa, reaksi redoks, reaksi sintesis, reaksi metatesis dan didapatkan berbagai perubahan wujud, suhu, warna dan peubahan lainnya. b. Stoikiometri reaksi dapat ditentukan denagn cara variasi kontinu. Hubungan perubahan suhu dan masing-masing pereaksi dalam sistem untuk meramalkan stoikiometri reaksi.

28

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia dan M.S. Terpantau. 1991. Stoikimetri Energetika Kimia. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.

Brady,C. 2005. Kimia Elektro. Bandung: Pakar Raya.

Djojo, Hariyono. 1987. Termodinamika Teknik. Jakarta : PT. Gramedia.

Oxtoby, David W,H,P,dkk.2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Edisi Ke-4 Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Prasetiawan, Widi. 2008. Kimia Dasar 1. Jakarta: Cerdas Pustaka Publisher.

Raif, Agus. 2010. Reaksi Kimia. Jakarta: Universitas Mercu Buana.

Syukri, S. 1999. Kimia. Dasar 1. Bandung: ITB.

29

ACARA III TERMOKIMIA

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum : a. Untuk mempelajari perubahan energi pada reaksi kimia. b. Untuk mengukur perubahan kalor dengan percobaan sederhana. 2. Waktu Praktikum : Jum’at, 19 Oktober 2012

3. Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI Pada proses eksotermis yang terjadi antara suatu oksida logam dan suatu logam murni aktif. Logam semakin reaktif mengurangi oksida logam, pengoksidasian dan pelepasan sejumlah energi dari zat sepanjang reaksi. Panas mempunyai peranan penting dalam kimia. beberapa reaksi kimia seperti pembakaran minyak atau gas alam dalam tungku atau reaksi besi (III) oksida dengan aluminium dalam proses termit, mengeluarkan banyak panas. Pegukuran dan prediksi pengaruh panas terhadap dua istilah yan penting, yaitu system dan lingkungan. Ketika suatu benda menyerap panas, maka temperaturnya naik. Kapasitas panas (Cp) denda didefinisikan sebagai “jumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan temperaturnya dengan satu satuan temperatur pada tekanan konstan. Rumus kapasitas panas adalah perbandingan dari panas yang diserap q, menghasilkan perubahan temperatur .

Kapasitas panas = Cp = Kapasitas panas selalu bernilai positif, karena q dan kedua-duanya selalu

bermuatan positif atau kedua-duanya selalu bermatan negatif (Prasetiawan, 2009:88). Panas dan kerja, keduanya adalah bentuk perpindahan energy ke dalam atau keluar system; maka dapat dibayangkan sebagai energy dalam keadaan singgah. Jika perubahan energy disebabkan kontak mekanik system dengan lingkungannya, maka kerja dilakukan : jika perubahan itu disebabkan oleh kontak kalor (menyebabkan perubahan suhu), maka kalor dipindahkan. Dalam banyak proses, kalor dan keduanya menembus batas system, dan perubahan energy dalam system adalah jumlah dari kedua kontribusi itu. Pernyataan ini disebut hukum pertama termodinamika, yang mempunyai rumus matematika : E=q+w
30

Suatu system dapat dibayangkan mengandung kerja atau kalor, sebab kerja dan kalor keduanya mengacu bukan pada keadaan system, tetapi pada proses yang mengubah suatu keadaan kedalam lainnya. Perubahan keadaan yang sama dari system dapat dilakukan dengan memindahkan kalor ke system tanpa melakukan kerja sehingga : E = q + w. karena q dan w tergantung pada proses tertentu atau (lintasan) yang menghubungkan keadaan, maka mereka bukanlah fungsi keadaan (Oxtoby, 2001: 197). Perubahan energi dalam reaksi kimia selalu dapat dibuat sebagai kalor. Jadi, lebih tepat apabila istilah disebut kalor reaksi. Alat yang dipakai untuk mengukur kalor reaksi disebut kalorimeter. Ada beberapa macam bentuk alat ini, yaitu kalorimeter volumekonstan dan kalorimeter tekanan-konstan. Kalorimeter volume-konstan biasanya digunakan untuk mengukur kalor pembakaran dengan menempatkan senyawa yang massanya diketahui ke dalam wadah baja yang diisi dengan oksigen pada tekanan 30 atm. Sementara itu peralatan yang lebih sederhana dibandingkan kalorimeter volume-konstan adalah kalorimeter tekanan-konstan yang digunakan untuk menentukan perubahan kalor untuk reaksi selain pembakaran. Kalorimeter tekanan-konstan yang terbuat dari dua cangkir kopi styrofoam. Cangkir luar membantu menyekat campuran reaksi dari lingkungan. Dua macam larutan yang diketahui volumenya yang mengandung reaktan pada suhu yang sama dicampurkan secara hati-hati dalam kalorimeter. Kalor yang dihasilkan atau diserap oleh reaksi dapat ditentukan dengan mengukur perubahan suhu. Peralatan ini mengukur pengaruh kalor pada berbagai reaksi seperti penetralan asam-basa, kalor pelarutan dan kalor pengenceran. Karena tekanannya konstan, perubahan kalor untuk proses (qreaksi) sama dengan perubahan entalpi (H) seperti dalam kalorimeter volumekonstan, kita memperlakukan kalorimeter sebagai sistem terisolasi. Lebih jauh lagi, dalam perhitungan kita mengabaikan kapasitas kalor yang kecil dari cangkir kopi. Dalam prinsip kerja kalorimeter dikenal pula istilah tetapan kalorimeter, yaitu jumlah kalori yang diserap oleh kalorimeter untuk menaikkan suhunya sebesar satu derajat. Harga dari tetapan kalorimeter dapat diperoleh dengan membagi jumlah kalor yang diserap kalorimeter dibagi dengan perubahan suhu pada kalorimeter (Chang, 2004 : 173). Ditinjau dari jenisnya, terdapat empat jenis kalor, yaitu kalor pembentukan, kalor penguraian, kalor penetralan dan kalor reaksi. Kalor pembentukan ialah kalor yang menyertai pembentukan satu mol senyawa langsung dari unsur-unsurnya. Kalor penguraian (kebalikan kalor pembentukan) adalah kalor yang menyertai penguraian satu mol senyawa langsung menjadi unsur-unsurnya. Kalor penetralan yaitu kalor yang menyertai suatu
31

reaksi dengan koefisien yang paling sederhana. Kalor reaksi dapat ditentukan dengan percobaan laboratorium atau dengan perhitungan.dengan perhitungan ada tiga cara yaitu berdasarkan hukum Hess, data kalor pembentukan standar dan data energi ikatan (Syukri, 1999 : 85). Menurut G.H Hess panas reaksi (panas yang timbul atau yang diserap) dari suatu reaksi kimia hanya tergantung pada keadaan awal dan akhir dari reaksi. Tidak bergantung pada bagaimana reaksi tersebut berlangsung. Hal ini berarti bila suatu reaksi dapat berjalan bertingkat, maka panas reaksinya sama besar. Apakah reaksi itu berjalan secara langsung atau bertingkat. Dengan kata lain, bila suatu reaksi berjalan bertingkat atau langsung, maka panas reaksinya sama. Hukum Hess ini sangat berguna, karena dengan menerapkan hukum Hess kita dapat menentukan besarnya perubahan entalpi reaksi-reaksi yang secara langsung sukar untuk ditentukan. Sebagai contoh jika zat A dapat berubah langsung menjadi zat C, tetapi zat A juga dapat berubah menjadi zat B kemudian zat C, maka panas reaksi yang terjadi akan sama. Jadi dengan menggunakan hukum Hess kita dapat menentukan besarnya perubahan entalpi yang sukar dilakukan dengan eksperimen (Aminah, 1988 : 113). Jika reaksi kimia terjadi pada tekanan konstan, panas diserap dengan perubahan entalpi sistem. Hal ini disebut entalpi reaksi dari proses entalpi reaksi mungkin positif atau negatif. Jika reaksi kimia meningkatkan panas, sistem kehilangan panas, dan panas tersebut hilang pada tekanan konstan adalah berkurangnya dalam entalpi (AH < 0). Reaksi seperti itu dengan ΔH negatif adalah eksotermik. Dalam reaksi endotermik, panas diserap oleh reaksi dari lingkungan membuat Qp dan ΔH positif, hukum Hess dapat digunakan untuk menentukan perubahan entalpi, hukum Hess berbunyi : jika dua atau lebih persamaan kimia bergabung dengan penambahan atau pengurnagan untuk memberikan persamaan kimia baru, kemudian penambahan atau pengurangan perubahan entalpinya, dalam operasi paralel memberikan perubahan entalpi untuk reaksi yang digambarkan oleh persamaan baru (Prasetiawan, 2009 : 84).

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM 1. Alat-Alat Praktikum a. Buret 50 ml b. Corong c. Gelas Arloji d. Gelas Kimia 250 ml
32

e. Gelas Ukur 50 ml f. Gelas Ukur 100 ml g. Kalorimeter h. Pipet Tetes i. Sendok j. Termometer k. Statif l. stopwatch m. Timbangan Analitik n. Tissue 2. Bahan-Bahan Praktikum a. Aquades (H2O) b. Etanol 96% (C2H5OH) c. Larutan Asam Klorida (HCl) 2 M d. Larutan Natrium Hidroksida (NaOH) 2,05 M e. Larutan Tembaga (II) Sulfat (CuSO4) 0,5 M f. Padatan Seng (Zn)

D. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Penentuan Tetapan Kalorimeter a. Dimasukkan 40 ml air kedalam kalorimeter dengan buret, catat suhunya. b. Dipanaskan 40 ml air dalam gelas kimia ± 25-30 derajat di suhu kamar, catat suhunya. c. Dicampurkan air panas kedalam kalorimeter, aduk selama 10 menit selang 1 menit setelah pencampuran. 2. Penentuan Kalor reaksi zn (S) + CuSO4(aq) a. Dimasukkan 20 cm3 larutan 0.5 M CuSO4 kedalam kalorimeter. b. Catat suhu selama 2 menit dengan selang waktu ½ menit. c. Timbang dengan teliti 3-3.10 gr padatan zn (Ar Zn= 65.5). d. Dimasukkan padatan zn kedalam larutan CuSO4 atau kalorimeter. e. Catat suhu selang waktu 1 menit setelah pencampuran selama 10 menit. 3. Penentuan kalor pelarutan etanol dalam air a. Dimasukkan 18 cm3 air kedalam kalorimeter dengan menggunakan gelas ukur.
33

b. Diukur suhu air dalam kalorimeter selama 2 menit dengan selang waktu ½ menit. c. Diukur suhu 50 ml etanol dalam buret, dimasukkan dengan tepat 29 cm3 etanol ke dalam gelas kimia menggunakan buret. d. Dikocok campuran dalam kalorimeter, dicatat suhu selama 4 menit dengan selang waktu ½ menit. 4. Penentuan kalor penetralan Hcl dan NaOH a. Dimasukkan 20 cm3 HCl 2 M ke dalam kalorimeter. Suhu HCl . b. Diiukur 20 cm3 NaOH 2.05 M, dicatat suhu (atur sedemikian rupa hingga suhunya sama dengan suhu HCl). c. Dicampurkan basa ini kedalam kalorimeter dan catat suhu campurkan selama 5 menit dengan selang waktu ½ menit.

E. HASIL PENGAMATAN No 1.  Prosedur Percobaan Penentuan Tetapan Kalorimeter Dimasukkan 40 ml aquades ke dalam kalorimeter dengan gelas ukur, kemudian dicatat suhunya.  Dipanaskan 40 ml aquades dalam gelas kimia ± 20◦C di atas suhu kamar, dicatat suhunya.  Dicampurkan aquades yang sudah dipanaskan ke dalam kalorimeter, dikocok atau diaduk, kemudian diamati suhunya selama 10 menit dengan selang waktu 1 menit setelah pencampuran. 2. Penentuan CuSO4(aq)   Dimasukkan 20 ml larutan CuSO4 0,5 M ke dalam kalorimeter. Dicatat suhu selama 2 menit dengan selang waktu ½ menit. kalor reaksi Zn(s) + T CuSO4 T1 = 31◦C T2 = 31◦C T3 = 31◦C T4 = 31◦C Berat Zn = 3,00gr
34

Hasil Pengamatan Tair dingin = 30◦C Tair panas = 45◦C T1 = 40◦C T2 = 39,5◦C T3 = 39◦C T4 = 38◦C T5 = 37◦C T6 = 36,5◦C T7 = 36,5◦C T8 = 36◦C T9 = 35◦C T10=34◦C

  

Ditimbang dengan teliti 3-3,10 gram padatan Zn (Ar Zn = 65,5). Dimasukkan padatan Zn ke dalam larutan CuSO4 di dalam kalorimeter. Dicatat suhu selama 10 menit selang waktu 1 menit setelah pencampuran.

T CuSO4+Zn T1 = 35◦C T2 = 39◦C T3 = 41◦C T4 = 42◦C T5 = 41◦C T6 = 40◦C T7 = 39◦C T8 = 38◦C T9 = 37◦C T10= 37◦C Warna awal CuSO4 adalah biru. Setelah dicampurkan dengan padatan Zn warna larutan berubah menjadi hitam pekat. TA aquades = 30◦C T1 = 29,5◦C T2 = 29,5◦C T3 = 30◦C T4 = 30◦C Tetanol = 31◦C Taquades+etanol T1 =33,5◦C T2 =33◦C T3 =33◦C T4 =33◦C T5 =33◦C T6 =33◦C T7 =33◦C T8 =33◦C  TA aquades = 30◦C T1 = 29,5◦C
35

3.

Penentuan kalor pelarutan etanol dalam air a. Dimasukkan 18 ml aquades ke dalam kalorimeter menggunakan

gelas ukur. Diukur suhu aquades dalam

kalorimeter selama 2 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

Diukur suhu etanol dalam buret, dimasukkan dengan tepat 29 ml etanol ke dalam kalorimeter. Dikocok campuran dalam

kalorimeter, dicatat suhu selama 4 menit dengan selang waktu 1/2 menit. b. Dimasukkan 27 ml aquades ke dalam kalorimeter menggunakan

gelas ukur. Diukur suhu aquades dalam

T2 = 29,5◦C T3 = 29,5◦C T4 = 29,5◦C  Tetanol = 31◦C Taquades+etanol : T1 =34,5◦C T2 =34,5◦C dalam T3 =34,5◦C T4 =34,5◦C T5 =34◦C T6 =34◦C T7 =33,5◦C T8 =33,5◦C  TA aquades = 30◦C T1 = 31◦C T2 = 31◦C T3 = 31◦C T4 = 31◦C Tetanol = 31◦C  Taquades+etanol T1 =34◦C T2 =34◦C T3 =34◦C T4 =34◦C T5 =34◦C T6 =34◦C T7 =34◦C T8 =34◦C  TA aquades = 30◦C T1 = 29,5◦C T2 = 29,4◦C T3 = 29,4◦C T4 = 29,5◦C
36

kalorimeter selama 2 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

Diukur suhu etanol dalam buret, dimasukkan dengan tepat 19,3 ml etanol ke dalam kalorimeter.  Dikocok campuran

kalorimeter, dicatat suhu selama 4 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

c. Dimasukkan 36 ml aquades ke dalam kalorimeter menggunakan

gelas ukur. Diukur suhu aquades dalam kalorimeter selama 2 menit dengan selang waktu 1/2 menit. Diukur suhu etanol dalam buret, dimasukkan dengan tepat 14,5 ml etanol Dikocok ke dalam campuran kalorimeter. dalam

kalorimeter, dicatat suhu selama 4 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

d. Dimasukkan 36 ml aquades ke dalam kalorimeter menggunakan

gelas ukur. Diukur suhu aquades dalam kalorimeter selama 2 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

Diukur suhu etanol dalam buret, dimasukkan dengan tepat 11,6 ml etanol ke dalam kalorimeter. Dikocok campuran dalam

 Tetanol = 31◦C Taquades+etanol T1 =34◦C T2 =34◦C T3 =33,5◦C T4 =33,5◦C T5 =33,5◦C T6 =33,5◦C T7 =33◦C T8 =33◦C  TA aquades = 30◦C T1 = 30,5◦C T2 = 30,5◦C T3 = 30,5◦C T4 = 30,5◦C  Tetanol = 31◦C Taquades+etanol T1 =34◦C T2 =33◦C T3 =33◦C T4 =33◦C T5 =33◦C T6 =33◦C T7 =33◦C T8 =33◦C  TA aquades = 30◦C T1 = 30◦C T2 = 30◦C T3 = 30◦C T4 = 30◦C  Tetanol = 31◦C Taquades+etanol T1 =33◦C
37

kalorimeter, dicatat suhu selama 4 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

e. Dimasukkan 36 ml aquades ke dalam kalorimeter menggunakan

gelas ukur. Diukur suhu aquades dalam kalorimeter selama 2 menit dengan selang waktu 1/2 menit. Diukur suhu etanol dalam buret, dimasukkan dengan tepat 5,8 ml etanol ke dalam kalorimeter. Dikocok campuran dalam

kalorimeter, dicatat suhu selama 4 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

f. Dimasukkan 45 ml aquades ke dalam gelas Diukur suhu aquades kalorimeter menggunakan ukur. dalam

kalorimeter selama 2 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

Diukur suhu etanol dalam buret, dimasukkan dengan tepat 4,8 ml

etanol ke dalam kalorimeter. Dikocok campuran dalam

T2 =33◦C T3 =33◦C T4 =33◦C T5 =33◦C T6 =32◦C T7 =32◦C T8 =32◦C T HCl = 29◦C T NaOH = 30◦C T HCl+NaOH : T1 = 37◦C T2 = 40◦C T3 = 41◦C T4 = 42,5◦C T5 = 43◦C T6 = 43◦C T7 = 44◦C T8 = 44◦C T9 = 44,5◦C T10= 45◦C

kalorimeter, dicatat suhu selama 4 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

4.

Penentuan kalor penetralan HCl dan NaOH  Dimasukkan 20 ml HCl 2 M ke dalam  kalorimeter. Dicatat

kedudukan termometer. Diukur 20 ml NaOH 2,05 M, dicatat suhunya (diatur sedemikian rupa sehingga suhunya sama dengan suhunya HCl).  Dicampur HCl dan NaOH ke dalam kalorimeter dan dicatat suhunya selama 5 menit dengan selang waktu 1/2 menit.

F. ANALISIS DATA - Persamaan Reaksi a. H2O (l) → H2(q) + ½ O2(q) b. Zn (s) + CuSO4(aq) → ZnSO4(aq) + Cu(S) c. C2H5OH(l) + H2O(l) → C2H4 (aq) + 2H2O(l) d. HCl(aq) + NaOH (aq) → NaCl (aq) + H2O(l) Perhitungan 1. Penentuan Tetapan Kalorimeter -T0 = Suhu awal air dingin -Tt = Suhu awal air panas T1 = 400C = 313 K
38

: 300C = 303 K : 450C = 318 K

-TR = Suhu akhir campuran / Suhu Rata-rata

T2 = 39,50C = 312,5 K T3 = 390C = 312 K T4 = 380C = 311 K T5 = 370C = 310 K T6 = 36,50C = 309,5 K T7 = 36,50C = 309,5 K T8 = 360C = 309 K T9 = 350C = 308 K T10 = 340C = 307 K - TR = = = =310,15 K  Suhu yang diserap Kalorimeter ( = – = 318 K – 303 K = 15 K  Kenaikan Suhu Air Dingin ( = – = 310,15 K – 303 K = 7,15 K  Penurunan Suhu Aquades Panas ( = = 310,15 – 318 = -7,85 K (reaksi eksoterm) Diketahui :
aquades =

1 gr/cm3

Vaquades = 40 ml maquades = .V = 1 gr/cm3 . 40 ml = 40 gr caquades = 4,2 J/g.K  Kalor yang diserap aquades dingin (q1 )
39

q1

=m.c. = 40 gram . 4,2 J/g.K . 7,15 k =1201,2 J

 Kalor yang diserap aquades panas (q2 ) q2 =m.c. = 40 gram . 4,2 J/g.K . (-7,85) K = -1318,8 J  Kalor yang diserap kalorimeter (q3 ) q3 = = 1318,8 J – 1201,2 J = 117,6 Joule  Tetapan kalorimeter ( K ) K = = = 7,84 J/K

40

 Grafik (pencampuran aquades panas / dingin) perubahan suhu terhadap waktu.

penentuan tetapan kalorimeter
41

40

39

38

37

SUHU (K)

36

35

34

33

32

31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 SELANG WAKTU PENCAMPURAN (MENIT)

41

2. Penentuan Kalor Reaksi Zn(s) + CuSO4(aq
̇

+

S
̇

̇

+
̇

 Suhu Rata-rata CuSO4 (Ta) T1 = 31 T2 = 31 T3 = 31 T4 = 31 Ta = = = = 307 K  Suhu Rata–rata Campuran T1 = 350C T2 = 390C T3 = 410C T4 = 420C T5 = 410C T6 = 40 C T7 = 490C T8 = 380C T9 = 370C T10= 370C Tb = = = = 312 K  = – = 312 K – 304 K =8K  Kalor yang diserap kalorimeter ( q4 ) q4 =k.
42
0

= 304 K = 304 K = 304 K = 304 K

= 308 K = 312 K = 314 K = 317 K = 314 K = 313 K = 312 K = 311 K = 310 K = 310 K

= 22,4 J/K . 8 K = 62,72 Joule

 n Zn=
= = 0,04 mol  n CuSO4 = M .V = 0,5 M . 0,02 L = 0,01 mol

Zn(s) Mula-mula Bereaksi Setimbang : 0,04 : 0,01 : 0,03

+

CuSO4(aq) 0,01 0,01 0

ZnSO4(aq) 0,01 0,01

+

Cu(s) 0,01 0,01

 massa ZnSO4 = n ZnSO4 Setimbang x Mr ZnSO4
= 0,01 x 161,5 = 1,616 gram  Kalor yang diserap larutan (q5) = m ZnSO4 . c. T = 1,616 gram . 3,52 J/g.K . 8 K = 45,3376 Joule  Kalor yang dihasilkan reaksi (q6) q6 = = 62,72 J + 45,33 J = 108,05 joule  Entalpi reaksi ( = = = 2701,25 J/mol 3. Penentuan kalor pelarutan etanol dalam aquades 1. 18 aquades + 29 etanol  Suhu rata-rata aquades T1 = 29,5 = 302,5 K
43
r)

T2 = 29,5 T3 = 30 T4 = 30 TAquades = = =

= 302,5 K = 303 K = 303 K

= 302,75 K  Suhu Etanol =  = = = 302,875 K  uhu Rata-rata campuran ( T1 = 33,5 T2 = 33 T3 = 33 T4 = 33 T5 = 33 T6 = 33 T7 = 33 T8 = 33 = = = 306,06 K  = = 306,06 K – 302,87 K = 3,19 K  Kalor yang diserap aquades (q7)
Aquades

+ 273 = 303 K

)

= 306,5 K = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K

=1 gr/cm3 = 18 ml = 4,2 J/g.K
44

Vaquades caquades

maquades

= .V = 1 gr/cm3 . 18 ml = 18 gram

q7 = m. c. = 18 gram . 4,2 J/g.K . 3,19 K = 245,7Joule  Kalor yang diserap etanol (q8)
etanol

=0,793 gr/cm3

Vetanol = 29 ml Cetanol = 1,92 J/g.K Metanol = . V = 0,793 gr/cm3 . 29 ml = 22,997 gram q8 = m. c. = 22,997 gram . 1,92 J/g.K . 3,19 K =140,87 Joule  Kalor yang diserap calorimeter (q9) q9 = k . =22,4 J/K . 3,19 K = 25,0096 Joule  Kalor yang dihasilkan pada pelarutan ( q10 = = 245,7 J + 140,87 J + 25,0096 J = 411,57 Joule  Entalpi ( ) )

Massa etanol = 23 gram Mr etanol n etanol = 46 = = = 0,5 mol = =
45

= 823,15 J/mol 2. 27 aquades + 19,3 etanol  Suhu Rata-rata aquades (Taquades) T1 = 29,5 T2 = 29,5 T3 = 29,5 T4 = 29,5 TAquades = = = = 302,5 K  Suhu etanol (C2H5OH) TEtanol = 300 C = 303 K ∆Tm = = = 302,5 K = 302,5 K = 302,5 K = 302,5 K

Taquades  Tetanol 2

302,5K  303K 2

=302,75 K  Suhu Rata-rata campuran (∆TA) T1 = 34,5 T2 = 34,5 T3 = 34,5 T4 = 34,5 T5 = 34 T6 = 34 T7 = 33,5 T8 = 33,5 ∆TA = = = 307,5 K = 307,5 K = 307,5 K = 307,5 K = 307 K = 307 K = 306,5 K = 306,5 K
T1  T2  T3  T4  T5  T6  T7  T8 8

307,5K  307,5K  307,5K  307,5K  307K  307K  306,5K  306,5K 8
46

=

2457K 8

= 307,125 K ∆ = ∆T4 - ∆Tm = 307,125 K – 302,75 K = 4,375 K  Kalor yang di serap air ( )
Aquades=

1 gr/cm3

Vaquades= 27 ml caquades = 4,2 J/g.K maquades = . V = 1 gr/cm3 . 27 ml = 27 gram q11 = m. c. = 27 gram . 4,2 J/g.K . 4,375 K =496,125 Joule  Kalor yang di serap etanol ( )
etanol

= 0,793 gr/cm3

Vetanol = 19,3 ml Cetanol = 1,92 J/g.K metanol = P. V = 0,793 gr/cm3 . 19,3 ml = 15,3 gram q8 = m. c. = 15,30 gram . 1,92 J/g.K . 4,375 K = 128,56 Joule  Kalor yang di serap kolorimeter (q9) q9= k . ∆ = 7,84 J/K. 4,375 J = 34,3 Joule  Kalor yang di hasilkan pada pelarutan ( q10 = = 496,125,6 J + 128,56 J + 34,3 J
47

)

= 658,985joule  Entalpi ( H1) Massa etanol = 15,3 gram Mr etanol n etanol = 46 = = = 0,33 mol ∆ =
=

= 1996,92 J/mol 3. 36 cm 3 aquades + 14, 5 cm 3 etanol  Suhu Rata-rata Aquades T1 = 31 T2 = 31 T3 = 31 T4 = 31 Taquades= = = = 304 K = 304 K = 304 K = 304 K
T1  T2  T3  T 4 4

304K  304K  304K  304K 4

1216 4

= 304 K  Suhu etanol = 30  = = = 303,5 K  Suhu Rata-rata Campuran ( TA)
48

= 303 K =

Taquades Tetanol 2

T1 = 34 T2 = 34 T 3 = 34 T 4 = 34 T 5 = 34 T 6 = 34 T 7 = 34 T 8 = 34 ∆TA = =

= 307 K = 307 K = 307 K = 307 K = 307 K = 307 K = 307 K = 307 K
T1  T2  T3  T4  T5  T6  T7  T8 8

307K  307K  307K  307K  307K  307K  307K  307K 8

= 307 K  ∆T2 = ∆TA - ∆Tm = 307 K – 303,5 K = 3,5 K  Kalor yang di serap aquades ( )
Aquades=

1 gr/cm3

Vaquades = 36 ml caquades = 4,2 J/g.K maquades = . V = 1 gr/cm3 . 36 ml = 36 gram q7 = m. c. ∆T2 = 36 gram . 4,2 J/g.K . 3,5 K =529,2 Joule  Karol yang di serap etanol ( )
etanol

= 0,793 gr/cm3

Vetanol = 14,5 ml Cetanol = 1,92 J/g.K metanol = . V = 0,793 gr/cm3 . 14,5 ml
49

= 11,4985 gram q8 = m. c. = 11,49 gram . 1,92 J/g.K . 3,5 K = 77,21 Joule  Kalor yang di serap kolorimeter ( ) q9 = k . ∆ = 7,84 J/K. 3,5 J = 27,44 Joule  Kalor yang di hasilkan pada pelarutan ( q10 = = 529,2 J + 72,21 J + 27,44 J = 628,85 joule  Entalpi ( H1) Massa etanol = 11,49 gram Mr etanol n etanol = 46 = = = 0,24 mol ∆H1 = = = 2620,20 J/mol 4. 36 cm3 aquades + 11, 6 cm3 etanol T1 = 29,5 T2 = 29,4 T3 = 29,4 T4 = 29,5 Taquades = = = = 302,5 K = 302,4 K = 302,4 K = 302,5 K
T1  T2  T3  T 4 4

)

302,5K  302,4 K  302,4 K  302,5K 4

1209,8K 4
50

= 302,45 K  Suhu etanol = 3 C = 303 K = = = = 302,725 K  Suhu Rata-rata Campuran ( TA) T1 = 34 T2 = 34 T3 = 33,5 T4 = 33,5 T5 = 33,5 T6 = 33,5 T7 = 33 T8 = 33 ∆TA = = = = 307 K = 307 K = 306,5 K = 306,5 K = 306,5 K = 306,5 K = 306 K = 306 K
T1  T2  T3  T4  T5  T6  T7  T8 8
K K

307K  307K  306,5K  306,5K  306,5K  306,5K  306K  306K 8
2452K 8

= 306,5 K ∆ = ∆TA - ∆Tm = 306,5 K – 302,725 K = 3,775 K  Kalor yang di serap aquades ( )
Aquades=

1 gr/cm3

Vaquades = 36 ml caquades = 4,2 J/g.K maquades = . V = 1 gr/cm3 . 36 ml
51

= 36 gram q7 = m. c. = 36 gram . 4,2 J/g.K . 3,775K = 570,7Joule  Kalor yang di serap etanol ( )
etanol

= 0,793 gr/cm3

Vetanol = 11,6 ml Cetanol = 1,92 J/g.K metanol = . V = 0,793 gr/cm3 . 11,6 ml = 9,19 gram q8 = m. c. = 9,19 gram . 1,92 J/g.K .3,775 K = 66,67 Joule  Kalor yang di serap kolorimeter ( ) q9= k . ∆ = 7,84 . 3,775J = 2,596 Joule  Kalor yang di hasilkan pada pelarutan ( q10 = = 570,78 J + 66,67 J + 29,596 J = 667,046 joule  Entalpi ( H1) Massa etanol = 9,19 gram Mr etanol n etanol = 46 = = = 0,19 mol ∆ = = = 3510,76 J/mol )

52

5. 36 cm3 aquades + 5,8 cm3 etanol T1 = 30,5 T2 = T3 = 30,5 T4 = 30,5 Taquades = = = 303,5 K = 303,5 K = 303,5 K = 303,5 K
T1  T2  T3  T 4 4

303,5K  303,5K  303,5K  303,5K 4

= 303,5 K  Suhu etanol =3 = =
K K

C = 303 K

= 303,25 K  Suhu rata-rata Campuran ( TA) T1 = 34 T2 = 33 T 3 = 33 T 4 = 33 T 5 = 33 T 6 = 33 T 7 = 33 T 8 = 33 ∆TA = = = = 307 K = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K
T1  T2  T3  T4  T5  T6  T7  T8 8

307K  306K  306K  306K  306K  306K  306K  306K 8 2449K 8
= ∆TA - ∆Tm

= 306,125 K ∆ = 306,125 K – 303,25 K
53

= 2,875 K  Kalor yang di serap aquades ( )
Aquades=

1 gr/cm3

Vaquades = 36 ml caquades = 4,2 J/g.K maquades = . V = 1 gr/cm3 . 36 ml = 36 gram q7 = m. c. = 36 gram . 4,2 J/g.K . 2,875 K = 434,7 Joule  Kalor yang di serap etanol ( )
etanol

= 0,793 gr/cm3

Vetanol = 5,8 ml Cetanol = 1,92 J/g.K metanol = . V = 0,793 gr/cm3 . 5,8 ml = 4,59 gram q8 = m. c. = 4,59 gram . 1,92 J/g.K . 2,875 K = 25,38Joule  Kalor yang di serap kolorimeter ( ) q9= k . ∆ = 7,84 . 2,875 J = 22,54 Joule  Kalor yang di hasilkan pada pelarutan ( q10 = = 434,7 J + 25,38 J + 22,54 J = 482,62 Joule  Entalpi ( H1) Massa etanol = 4,59 gram Mr etanol n etanol = 46 =
54

)

= = 0,1 mol ∆ = = = 5362,44 J/mol 6. 45 cm3 aquades + 4.8 cm3 etanol T1 = 30 T2 = 30 T3 = 30 T4 = 30 Taquades = 303 K = 303 K = 303 K = 303 K = =
T1  T2  T3  T 4 4

303K  303K  303K  303K 4

= 303 K  Suhu etanol =3 = = = = 303 K  Suhu Rata-rata Campuran ( TA) T1 = 33 T2 = 33 T 3 = 33 T 4 = 33 T 5 = 33 T 6 = 32 T 7 = 32 T 8 = 32 = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K = 306 K = 305 K = 305 K = 305 K
K K

C = 303 K

55

∆TA

= =

T1  T2  T3  T4  T5  T6  T7  T8 8

306K  306K  306K  306K  306K  305K  305K  305K 8

= 305,625 K  ∆ = ∆TA - ∆Tm = 305,625 K – 303 K = 2,625 K  Kalor yang di serap aquades ( )
Aquades=

1 gr/cm3

Vaquades= 45 ml caquades = 4,2 J/g.K maquades = . V = 1 gr/cm3 . 45 ml = 45 gram q7 = m. c. = 45 gram . 4,2 J/g.K . 2,625 K = 496,125 Joule  Karol yang di serap etanol ( )
etanol

= 0,793 gr/cm3

Vetanol = 4,8 ml Cetanol = 1,92 J/g.K metanol = . V = 0,793 gr/cm3 . 4,8 ml = 3,8 gram q8 = m. c. = 3,8 gram . 1,92 J/g.K . 2,625K = 19,152 Joule  Kalor yang di serap kolorimeter ( ) =k.∆ = 7,84 . 2,625 J = 20,58 Joule  Kalor yang di hasilkan pada pelarutan ( )
56

q10 = = 496,125 J + 19,152 J + 20,58 J = 535,857 joule  Entalpi ( H1) Massa etanol = 3,8 gram Mr etanol n etanol = 46 = = = 0,08 mol ∆ = = = 6698,21J/mol  Tabel perbandingan mol air : mol etanol dan H

Volume cm³ No. Air 1 2 3 4 5 6 18 27 36 36 36 45 Etanol 29 19,3 14,5 11,6 5,8 4,8

Massa (Gram)

ΔTm (K) 302,25

ΔTa (K) 306,06

ΔT2 (K) 3,19 4,375 3,5 3,77 2,875 2,625

ΔH (J/MOL) 823,15 1996,92 2620,20 3510,76 5362,44 6698,21

Mol Air Mol Etanol 2 5 8 10 20 30

Air 18 27 36 36 36 45

Etanol 23 15,3 11,5 9,2 4,6 3,8

302,75 307,125 303,5 302,75 307 306,05

303,25 306,125 303 305,625

57

 Grafik entalpi pelarutan etanol terhadap mol air/mol etanol

penentuan kalor pelarutan dalam air
8000

7000

6000

5000

n air : n etanol

4000

3000

2000

1000

0 2 5 8 10 20 ∆H (J/mol) 30

58

4.Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH  Suhu awal 20 ml HCl = 29  Suhu awal 20 ml NaOH = 30  T1 = = = = 302,5K  Suhu campuran (T2) T1 = 370C T2 = 400C T3 = 410C T4 = 420C T5 = 430C T6 = 43 C T7 = 440C T8 = 440C
0

= 302 K = 303 K

THcl

TNaOH

= 310 K = 313 K = 314 K = 316 K = 316 K = 316 K = 317 K = 317 K

T9 = 44,50C = 317,5 K T10 = 450C = 318 K T2= = =
K K K 3 K 31 K 31 K 31 K 31 K 31 k 3 K 31 K

=315,45K  ΔT3 = T2 – T1 = 315,45 K – 302,5 K = 12,95 K  Kalor yang diserap larutan (q11) Plarutan= 1,03 gr/cm3 Vlarutan= VHCl + VNaOH = 20 ml + 20 ml
59

= 40 ml Clarutan= 3,96 J/g.K Mlarutan= P. V = 1,03 gr/cm3 . 40 ml = 41,2 gram q11 = m. c. = 41,2 gram . 3,96 J/g.K . 12,95K = 2112,81 Joule  Kalor yang di serap kolorimeter ( =k.∆ = 7,84 . 12,95 J = 101,528 Joule  Kalor yang di hasilkan reaksi ( q13 = = 2112,81 J + 101,528 J = 2214,338 Joule  Kalor penetralan ( Hn) M HCl= 2 M V HCl= 20 ml=0,02 liter n NaCl= 2 x 0,02= 0,04 ΔHn = = = 55.358,25 J/mol ) )

60

61

 Grafik perubahan suhu campuran penetralan HCl dengan NaOH terhadap waktu

Kalor penetralan HCl dan NaOH
46

44

42

SUHU (K)

40

38

36

34 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 SELANG WAKTU PENCAMPURAN (menit)

62

G. PEMBAHASAN Pada praktikum ini bertujuan untuk mempelajari perubahan energi pada reaksi dan untuk mengukur perubahan kalor dengan percobaan yang sederhana. Pada percobaan pertama yaitu penentuan tetapan kalorimeter. Pada percobaan ini dicampurkan aquades dingin dengan aquades panas. Hasilnya adalah campuran aquades dingin dan aquades panas temperaturnya semakin menurun. Hal ini disebabkan karena adanya kalor yag diserap oleh aquades dingin terhadap aquades panas dan ada kalor yang dilepaskan oleh aquades panas di dalam kalorimeter, sehingga kalor yang dilepaskan aquades aqades panas dan kalor yang diserap aquades dingin adalah sama. Hal ini sesuai dengan Hukum Termodinamika I yang menyatakan “energi dalam sistem tersekat adalah tetap (asas kekekalan energi)”. Berlaku juga asas Black karena jika dua benda yang suhunya berbeda dicampur amka benda yang lebih panas melepas kalor kepada benda yang lebih dingin dan sebuah benda untuk menurunkann akan melepas kalor yang sama dengan banyaknya kalor yang dibutuhkan benda tersebut untuk menaikkan suhunya sebesar itu juga. Mengenai tetapan kalorimeter yang akan diperoleh melalui percobaan ini tidak langsung dapat diukur, yang langsung dapat diukur adalah temperaturnya, dari temperatur ini kemudian dapat dipeoleh tetapan kalorimeter dengan membuat perbandingan antara kalor yang diterima atau dierap dan perubahan suhu yang diserap kalorimeter. Pada percobaan ini diperoleh hasil tetapan kalorimeter 7,84 J/K. Pada percobaan kedua yaitu penentuan kalor reaksi Zn(s) + CuSO4 di mana persamaan reaksinya sebagai berikut: Zn(s) + CuSO4 ZnSO4 dengan pengamatan suhunya selama 10 menit dengan selang waktu 1 menit, suhunya mengalami perubahan yang berupa penuruanan dan peningkatan suhu. Suhu campuran pada saat T1 sampai T4 mengalamai peningkatansuhu selanjutnya dari T5 sampai T10 mengalami penurunan suhu. Kenaikan suhu atau peningkatan suhu dapat dapat dikatakan bahwa reaksi merupakan reaksi eksoterm yaitu reaksi yang melepas energi. Energi yang dilepas itulah yang menyebabkan kenaikan suhu akan tetapi mengalami penuruanan suhu dari T5 sampai T10 yang menandakan reaksi tersebut merupakan reaksi endterm sehingga menandakan reaksi tersebut merupakan reaksi endoterm sehingga kalor reaksi dari reaksi tersebut adalah jumlah kalor yang diserap kalorimeter ditambah jumlah kalor lautan. Maka jumlah kalor reaksi adalah 108,05 Joule sehingga merupakan reaksi endoterm. Warna larutan CuSO4 awal yakini biru setelah diaduk atau dikocok dengan
63

penambahan Zn, warna larutan berubah menjadi abu. Disebabkan oleh posisi Cu dalam deret volta di bagian yang berada di sebelah kiri dapat mereduksi bagian yang beraa di sebelah kanan, sehingga dapat dikataka bagian kiri sebagaian oksidasi (pereduksi dan bagain kanan sebagai reduksi pengoksidasi). Berdasarkan penjabaran tersebut maka Zn mampu mereduksi Cu. Karen esuai dengan teori. Berdasarkan percobaan ini juga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara perbandingan mol air dan etanol, semakin besar, maka semakin besar pula perbandingan mol air dan mol etanol. Pada percobaan ini juga terdapat yang menurun, hal ini dapat disebabkan karena pengaruh suhu atau ketidakpastian dalam meliat hasil pengamatan. Dapat dilihat bahwa jika volume air diperbear dan volume etanol diperkecil maka nilai diperbesar maka nilai akan besar dan jika vlume air diperkecil dan volume etanol akan kecil. Jadi, apanila etanol dilarutka dalam air yang reaksi semain besar (tak terhingga) maka

vlumenya tak terhingga (sangan besar), maka dapat dikatakan dala keadaan maksimum.

Pada percobaan terakhir yaitu penentuan kalor penetralan HCl dan NaOH. Percobaan ini menggunakan hasil NaOH (Basa kuat) yang direaksikan denngan HCl (asam kuat). Reaksinya adalah: NaOH (aq) + HCl (aq) NaCl(aq)

Penetralan adalah reaksi antar asam dan basa yang menghasilkan garam dan air ayng bersifat netral. Jika basa kuat dan asam kuat direaksikan maka akan terbentuk garam (NaCl) yang bersifat netral, tidak bersifat asam atau basa. Suhu campurannya meningkatkan karena pada saat itu mengalami perubahan reaksi pada permukaan luar kalorimeter suhu hangat, disebabkan kalor mengalir dari sistem ke lingkungan yang

disebut reaksi eksoterm.

H. KESIMPULAN Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. Perubahan energi pada reaksi reaksi kimia terdapat dua jenis reaksi yang dapat terjadi, yaitu reaksi eksoterm, reaksi yang melepas kalor sistem ke lingkungan dan reaksi endoterm, reaksi yang menyerap kalor dari lingkungan ke sistem. 2. Untuk mengukur perubahan kalor reaksi dapat dilakukan berdasarkan hukum Hess, data kalor pembentukan dan data energi ikatan.

64

DAFTAR PUSTAKA

Aminah, Siti. 1998. Ilmu Kimia Dasar. Mataram: Universitas Mataram.

Chang, Rymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga.

Oxtoby. 2001. Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga.

Prasetiawan, Widi. 2009. Kimia Dasar 1. Jakarta: Cerdas Pustaka.

Syukri. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung. ITB.

65

ACARA IV PENENTUAN MASSA ATOM RELATIF Mg
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum : Untuk menentukan massa atom relatif dari logam Magnesium (Mg). 2. Waktu Praktikum 3. Tempat Praktikum : Jumat, 2 November 2012 : Laboratorium Kimia Dasar I, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI Massa suatu atom terkait erat dengan jumlah elktron, proton dan neutron yang dimiliki atom tersebut. Pengetahuan tentang massa atom sangat penting untuk melakukan pekerjaan di laboratorium. Namun atom adalah partikel yang sangat kecil, bahkan butir debu terkecil yang dapat menentukan massa satu atom relatif terhadap atom lainnya. Langkah pertama adalah memberikan nilai pada massa dari suatu atom unsur tersebut agar kemudian dapat digunakan sebagai suatu standar (Chang, 2004 : 58). Massa atom relatif dengan lambang Ar adalah istilah modern sebagai pengganti istilah berat atom. Pada permulaan abad ke 19 hidrogen digunakan sebagai unsur standar. Dalton menekankan bahwa massa atom relatif adalah sifat yang paling utama suatu unsur. Hidrogen adalah unsur yang mempunyai atom yang paling ringan dan massanya ditentukan sebesar satu satuan. Demikian pula jika hidrogen bersenyawa dengan suatu unsur dan hidrogen digunakan sebagai dasar skala. Menurut definisi lama Massa atao relatif = Massa satu atom unsur Massa satu atom hidrogen Valensi suatu unsur adalah jumlah atom hidrogen yang bereaksi atau yang dapat diganti dengan satu atom unsur itu. Sejak Dalton dan Berzzellius berusaha untuk menentukan rumus suatu zat agar dapat menghitung massa atom relatif ditemukan suatu besaran yang dikenal dengan massa ekivalen. Kemudian pada tahun 1961 ditetapkan bahwa massa atom relatif suatu unsur adalah harga rata-rata massa atom relatif isotop-isotop menurut kelimpahannya berdasarkan atas nuklida karbon-12 yang mempunyai massa 12 tepat (Hiskia, 2001 : 14).
66

Ada tiga cara penentuan massa atom relatif yaitu dengan hukum Dulong dan Petit, analisis Cannizzaro dan spektroskopi massa. Pada tahun 1819 Piere Dulong dan Alexis Petit menyelidiki kalor jenis beberapa unsur logam. Ternyata atom yang berat mempunyai kalor jenis lebih kecil, karena makin berat suatu atom makin besar energi yang diperlukan untuk menggerakkannya. Untuk itu, Dulong dan Petit menyatakan bahwa hasil kali antara kalor jenis dan massa atom relatif adalah sekitar enam. Hukum ini dipakai untuk mengoreksi massa atom unsur yang telah atau belum diketahui. Kemudian pada tahun 1858 ditemukan metode Cannizzaro. Teori ini mengatakan bahwa massa molekul relatif suatu gas kira-kira dua kali rapat uapnya. Selain itu, penentuan massa atom relatif dapat ditentukan dengan metode spektroskopi massa. Penetuan Ar dapat ditentukan melalui dua data yaitu kelimpahan isotop dan massa isotop relatif (Syukri, 1999 : 34). Dengan menggunakan massa atom, kita dapat menghitung massa (dalam gr) dari satu atom karbon C-12. Persamaan dari kesamaan tersebut adalah :

Sebagai contoh yaitu Tembaga adalah logam yang telah dikenal sejak zaman dahulu yang digunakan antara lain untuk kabel listrik dan uang logam. Dua isotop stabilnya, (69,09 %) dan Cu

Cu (30,91), mempunyai massa atom masing – masing 62,93 sma dan

64,9278 sma. Hitung massa atom rata-rata dari tembaga. Persentase – persentase dalam tanda kurung menunjukan kelipatan relatif. Dari contoh tersebut, bisa dijelaskan bahwa tiap isotop memberi kontribusi terhadap massa atom tembaga tergantung dari kelimpahan alaminya. Maka dari itu, tahap pertama adalah mengubah persentase ke bentuk desimal. Jadi 69.09 persen menjadi 0,6909 dan 30,91 persen menjadi 0,3091. Kemudian , kita hitung massa atom rata – rata sebagai berikut. (0,6909) (62,93 sma) + (0,3091) (64,9278 sma) = 63,55 sma (Sukmariah, 1990 : 24).

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM 1. Alat – alat Praktikum a. Krus b. Penjepit c. Pipet tetes d. Tanur
67

e. Timbangan analitik 2. Bahan – bahan Praktikum a. Aquades (H2O)(aq) b. Kertas lakmus c. Logam Magnesium (Mg)(s)

D. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Krus kosong ditimbang 1 mg dengan timbangan analitik.

2. Logam Mg ditimbang kemudian dimasukkan kedalam krus. 3. Kemudian dimasukkan kedalam tanur dan dipanaskan sampai suhu 800 4. Setelah logam Mg yang di dalam krus tersebut memutih, laluu keluarkan dan diberi beberapa tetes air (gas/uap yang mengepul diperiksa dengan kertas lakmus). 5. Lihat perubaha yang terjadi pada kertas lakmus. 6. Krus dipijarkan , didinginkan dan ditimbang kembali. 7. Dihitung Massa atom relatif Mg dengan rumus sebagai berikut: 2x xa

E. HASIL PENGAMATAN NO 1 PROSEDUR PERCOBAAN Krus kosong ditimbang dengan neraca analitik 2 Mg ditimbang 0,1 gr kemudian dimasukkan Mg ke dalam krus dan ditimbang dengan neraca analitik 3 Krus dan Logam Mg dipanaskan di dalam tanur sampai Logam Mg memutih Logam Mg yang dipanaskan pada suhu 8000C menjadi bubuk berwarna putih Berat Mg=13,5 gram HASIL PENGAMATAN Berat krus=13,5 gram

4

Dikeluarkan jika menjadi putih, logam Mg ditetesi dengan air dan tangkap uap dengan kertas lakmus, lihat perubahan warna

Lakmus merah menjadi biru

5

Dipijarkan dalam keadaan off tanurnya
68

selama beberapa menit 6 Lalu didinginkan kemudian ditimbang Berat krus dan Mg = 13,61 gram

F. ANALISIS DATA 1. Persamaan reaksi a. Mg(S) + ½ O2(g) b. 3Mg(S) + N2(g) c. Mg3N2(aq) + 6H2O(l) d. Mg(OH)2(aq) 2. Perhitungan a. Massa krus kosong = 13,5 gram b. Massa logam Mg = 0,09 gram= (a) c. Massa krus kosong+ massa Mg = 13,5 gram + 0,09 gram = 13,59 gram d. Massa (krus kosong+Mg) setelah dipanaskan = 13,61 gram e. Massa MgO = Massa (krus kosong+Mg) setelah dipanaskan - Massa krus kosong = 13,61 gram - 13,5 gram =0,11 gram f. Massa atom relatif (Ar) Mg = 2 x =2x =2x = = 72 gram/mol x 0,09

MgO(S) Mg3N2(aq) 3Mg(OH)2(aq)+2NH3(aq) MgO(S)+H2O(l)

xa x Mg awal

G. PEMBAHASAN Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan massa atom relatif (Ar) dari logam magnesium (Mg). Banyak cara dalam penentuan massa atom relatif (Ar) yaitu dengan penentuan dengan teliti massa zat yang bereaksi, enentuan dengan teliti kerapatan gas dan dengan cara spektrometri, penentuan massa atom relatif dengan metode spektrometri massa yang diperlukan dua data yaitu kelipatan isotop dan massa isotop relatif.

69

Penentuan massa atom relatif dari logam magnesium pada percobaan ditentukan dengan cara penentuan secara teliti massa zat-zat yang bereaksi. Secara teori massa atom relatif Mg adalah 24,305. Namun pada hasil praktikum terdapat nilai atau hasil yang berbeda. Proses reaksi yang pertama yaitu Mg bereaksi dengan O2 dan N2 membentuk reaksi: Mg(s) + 1/2O2 3Mg(s) + N2 MgO2(s) Mg2N2(aq)

Pada pembakaran ini, logam Magnesium berubah menjadi putih kemudian diberi tetes air kemudian diperiksa menggunakan kertas lakmus dan menghasilkan warna yang semula merah, kertas lakmusnya berubah menjadi biru. Hal ini menunjukkan basa. Dengan bereaksinya Mg2N2 dengan air akan membentuk Mg(OH) dan amonia, dan amonia yang menyebabkan timbulnya bau yang pekat. Pada percobaan selanjutnya dilakukan pemijaran terhadap MgO, sehingga magnesium akan terpisah dengan H2O. Reaksinya: Mg(OH)2(aq) MgO(s) + H2O

Setelah dilakukan pemijaran massa megnesium bertambah 0,02 gram. Ini dikarenakan oleh magnesium telah mengandung O2. Dari analisis data diperoleh Ar Mg adalah 72, ini sangat jauh beda selisihnya dengan massa atom relatif (Ar) Mg secara teori. Ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu ketidaktepatan dalam menghitung massa Mg, kurang teliti dan karena timbanagn analitik yang mengalami error sehingga menggunakan perkiraan. Magnesium kuarang dapat bereaksi dengan H2O karena Mg merupakan golongan alkali tanah sehingga ketika bereaksi dengan air sangat lambat dan kesalahan yang terjadi bisa disebabkan oleh pembakaran magnesium yang kurang sempurna.

H. PENUTUP Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di atas adalah untuk menentukan massa atom relatif Mg dapat mengguankan rumus 2 x adalah 72 gram/mol. x a, sehingga Ar Mg yang dihasilka

70

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga.

Hiskia, Ahmad. 2001. Stoikimetri Energetika Kimia. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.

Sukmariah.1990. Kimia Dasar Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Syukri. 1999. Kimia Dasar I. Bandung : ITB.

71

ACARA IV PENENTUAN TETAPAN GAS DAN VOLUME MOLAR OKSIGEN
A. PELAKSANAAN PRKATIKUM 1. Tujuan Praktikum : Untuk mempelajari cara penentuan tetapan gas dan volume molar oksigen juga untuk mempelajari hukum-hukum gas seperti, hukum boyle, charles, gay lusac, dalton, tentang tekanan parsial dan hukum Avogadro. 2. Waktu Praktikum 3. Tempat Praktikum : Jumat, 2 November 2012 : Laboratorium Kimia Dasar I, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI Sifat fisis zat mempengaruhi oleh wujudnya, yaitu padat, cair atau gas. Diantara ketiga wujud ini, sifat gas lebih sederhana dibandingkan wujud lainnya. Terdapat empat variabel penting yang mempengaruhi sifat-sifat fisis gas yakni suhu, tekanan, volume dan jumlah gas. Gas memiliki karakteristik sebagai berikut : bentuk dan volumenya mengikuti wadahnya , dapat dimanfaatkan , kecepatan paling rendah , dan dapat bercampur secara sempurna dalam satu wadah (Purwoko, 2006 : 136 Gas terdiri atas molekul yang bergerak menurut jalan-jalan yang lurus ke segala arah, dengan kecepatan yang sangat tinggi. Molekul gas ini selalu bertumbukan dengan molekul yang lain atau dengan dinding bejana. Tumbuhan terhadap dinding. Beja ini yang menyebabkan adanya tekanan. Volume dari molekul gas sangat kecil bila dibandingkan dengan volume yang ditempat oleh gas tersebut, sehingga sebenarnya banyak ruang kosong antara molekulnya. Hal ini menyebabkan gas mempunyai rapat yang lebih kecil daripada cairan atau zat padat, sehingga menyebabkan gas bersifat kompresibel atau mudah ditekan, dalam pembicaraan tentang gas, semua gas dibagi menjadi dua jenis : a. Gas ideal yaitu gas yang mengikuti secara sempurna. Hukum-hukum gas (Boyle, gay lussac, dsb) b. Gas non ideal atau nyata yaitu gas yang hanya mengikuti hukum-hukum gas pada tekanan rendah. Gas ideal sebenarnya tidak ada, jadi hanya merupakan gas hipotesis. Semua gas sebenarnya tidak nyata. Pada gas ideal dianggap, bahwa molekul tidak tarik menarik dan
72

volume molekulnya dapat diabaikan terhadap volume gas itu sendiri atau ruang yang ditempati. Sifat ideal ini hanya didekati oleh gas berartom satu pada tekanan rendah dan pada temperatur yang relatif tinggi. Bila digunakan harga STP (1 atm 00C atau 273 k) dan kita ambil 1 mol gas, maka volume gasnya dapat diukur yang kita sebut volume molar pada STP, karena merupakan voluem dari 1 mol gas pada tekanan 1 atm dan o 0C. bila kita lakukan hal ini untuk berbagai gas terlihat harganya berbeda-beda karena memang gas nyata bukan “gas ideal”. Dari berbagai pengukuran volume rata-rata ditempat oleh satu mol gas pada STP = 24 L. maka harganya ini diambil untuk volume molar dari gas ideal dengan menggunakan harga-harga tersebut, dapat dihitung dengan R. R= = Konstanta R angkanya dapat berbeda tergantung dari satuan yang digunakan dalam menyatakan tekanan dan volume (Brady, 1999 : 483). Hukum – hukum yang berkaitan dengan gas meliputi : 1. Hukum Boyle Boyle mengatakanbahwa jika suhu dijaga konstan maka volume (v) sampel gas berkurang seiring dengan bertambahnya tekanan luar,yakni tekanan atmosfer plus tekanan akibat penambahan air raksa. Pernyataan Hukum Boyle volume gas pada suhu tetap berbanding terbalik secara proporsional dengan tekanannya. Hasil tekanan dan volume suatu gas pada suhu tetap adalah konstan. 2. Hukum Charles dan Gay Lussac Jeagues Charless dan Gay Lussac mengamati bahwa tekanan tetap suatugas akan mengembang bila dipanaskan dan sebaliknya menyusut bila didinginkan. Hukum Charless dan Gay Lussac berbunyi “volume suatu gas pada tekanan tetap proporsional dengan suhu absolutnya”. 3. Hukum Avogadro Berdasarkan hasil penyelidikan Boyle,Charless dan Gay Lussac Amedeo Avogadro mennagjukan hipotesis bahwa “pada suhu dan tekanan yang sama,semua gas mengandung jumlah molekul (atom) yang sama.”oersamaan umum gas : empat kuantitas (variabel) yang secara lengkap sejumlah tertentu gas:M,V,T dan P. Banyaknya yang ada juga dapat dinyatakan dalam banyaknya mol (n) sebagai ganti massanya. Volume suatu gas sebanding langsung dengan banyaknya mol yang ada. Jumlah mol n pada temperatur yang mutlak berbanding
73

terbalik dengan P.

Gabungannya dalam

satu

pernyataan dari

hukum

Boyle,Charless,Gay Lussac dan Avogadro ini disebut hukum gas ideal,secara matematis (Pudjaatmaka, 1998 : 263) : P.V = n.R.T Campuran gas : misalnya suatu campuran menempatisebuah wadah pada suhu tertentu. Kita dapat definisikan tekanan parsial sebuah gas seolah-olah tekanan gas ditimbulkan sendiri jika ia berada dalam wadah itu. Hukum Dalton kemungkinan

menyatakan bahwa tekanan total adalah jumlah tekanan parsial setiap gas. Hukum ini berlaku pada kondisi yang sama seperti hukum gas ideal itu sendiri dengan pendekatan tekanan sedang,tetapi cermat jika tekananya diturunkan (Oxtoby, 2001:106). Koefisian reaksi menyatakan perbandingan mol-mol dari zat-zat yang ada dalam reaksi. Dalam hal reaksi gas,koefisien reaksi juga menyatakan perbandingan volume gas yang terlibat reaksi awal pada P,T yang sama (menurut Hukum Gay-Lussac). Hubungan antara volume gas standar dengan jumlah mol. Hubungan volume molar gas menunjukkan volume 1 mol gas pada keadaan standar ( Wahyuni, 2003 : 23).

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM 1. Alat-alat Praktikum a. Bunsen b. Dongkrak c. Gelas erlenmeyer 250 ml d. Gelas ukur 250 ml e. Gelas arloji f. Klem g. Labu alas bundar 500 ml h. Pipa i. Selang j. Spatula k. Statif l. Tabung reaksi m. termometer n. Timbangan analitik

74

2. Bahan-bahan Praktikum a. Aquades b. KClO3 (s)(Kalium klorat) c. MnO2 (s)(Mangan Oksida)

D. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Ditimbang satu tabung reaksi yang bersih dan kering. 2. Dimasukkan 1,2 gr KClO3/MnO2 ke dalam tabung reaksi tersebut,kemudian timbang lagi dengan teliti. 3. Diisi labu alas bundar dengan air dan dimasukkan sedikit air kedalam labu erlenmeyer. 4. Diisikan air kedalam labu ukur dengan gelas ukur dan erlenmeyer dengan cara ditiup dari ujung pipa yang dihubungkan dengan tabung reaksi. 5. Dikeluarkan gelembung udara yang terdapat diantara labu ukur dan erlenmeyer dengan cara menaikkan atau menurunkan labu ukur atau erlenmeyer. 6. Dijepit tabung reaksi dengan klem yang akan menghubungkan labu ukur dan labu erlenmeyer. 7. Dipasang tabung reaksi. 8. Dongkrak dibuka dan di naikturunkan erlenmeyer hingga permukaan air dalam labu ukur dan erlenmeyer sama tingginya. Jepit lagiselang dengan klem. 9. Dipindahkan erlenmeyer dengan hati2 sehingga air tidak menetes. 10. Dibersihkan erlenmeyer dan diletakkan hati-hati pipa dalm bejana erlenmeyer. 11. Dipanaskan tabung reaksi dengan hati-hati sehingga oksigen mengalir kedalam labu ukur. Dipanaskan kikra-kira 5 menit sehingga semua KClO3 terurai. 12. Jika oksigen tidak terurai lagi,dipindahkan pembakar dan biarkan sampai semua alat mencapai suhu kamar. 13. Jika telah dingin,selang dijepit dan dipindahkan erlenmeyer. 14. Diukur suhu gas dalam labu ukur dengan termometer dengan hati-hati dan termometer jangan sampai terkena air. 15. Diukur volume air dalam erlenmeyer dengan gelas ukur. 16. Dicatat kedudukan termometer dan KClO3/MnO2 yang sudah dipanaskan,ditimbang kembali dan dicatat.

75

E. HASIL PENGAMATAN NO 1 PROSEDUR PERCOBAAN Tabung reaksi kosong ditimbang dengan neraca analitik 2 KClO3 dan MnO3 ditimbang HASIL PENGAMATAN Berat tabung reaksi =7,87 gram Tabung + KClO3 + MnO2 =9,06 gram 3 Dimasukkan air ke dalam labu alas bundar dan gelas erlenmeyer 4 Dipasang set alat penentuan volume molar,

dihubungkan selang dengan labu alas bundar, selang dengan gelas Erlenmeyer dipasangkn klem,ditiup sampai tidak ada gelembung . 5 Dihubungkan selang dengan tabung reaksi yang di dalamnya MnO3 dan KClO3. 5 7 Dipanaskan dengan Bunsen selama 5 menit Klem dibuka, biarkan air mengalir sampai berhenti mengalir 8 Diukur volume air dalam labu ukur dengan gelas ukur 9 Tabung reaksi ditimbang kembali KclO3 + MNO3 (setelah dipanaskan) = 8,83 gram Volume air = 55 ml T=32

F. ANALISIS DATA 1. Gambar Alat Praktikum

76

Keterangan : A. Labu alas bundar B. Gelas erlenmeyer C. Klem D. Dngkrak E. Bunsen F. Penjepit labu alas bundar G. Statif H. Termometer I. Tabung reaksi J. Selang penghubung erlenmeyer K. Selang L. Aquades M. KClO3 dan MnO2 2. Persamaan Reaksi: 2 KClO3(s) 3. Perhitungan a. Tetapan Gas Diketahui: − − −

Mno2

2KCl(s) + 3O2(g)

Massa tabung reaksi kosong = 7,87 gram Massa KClO3 + MnO2 = 1,19 gram Massa tabung reaksi + (KClO3 + MnO2) = 9,06 gram Voleume H2O = 55 mL Massa tabung reaksi + (KClO3 + MnO2) setelah dipanaskan = 8,83 gram

− − −

T O2 = 32

= 305 K

Massa O2 = (massa tabung kosong + massa KClO3 + MnO2) – (massa tabung + KClO3 + MnO2 setelah dipanaskan) = 9,06-8,83 =0,23 gram

Mol O2 = =
77

= 0,007 mol

a. Penentuan tetapan gas O2 (R) Diketahui : a = 1,360 L2 atm/mol2 b = 0,0318 L/mol Persamaan Van Der Waals ( R ) =
( )

nRT

= (1atm + = = = 0,025 L atm/mol K

b. Penentuan volume molar O2 P.V = n.R.T V= = = 0,053375 L

c. Persentase O2 dalam KClO3 Mol O2 = 0,007 mol Massa O2 = 0,23 gram Reaksi: 2 KClO3(s)
Mno2

2KCl(s) + 3O2(g) = = = 0,0047 mol

Mol KClO3

Massa KClO3 = n x Mr = 0,0047 x 123,5
78

= 0,58045 gram

Persentase O2 dalam KClO3 % O2 = = = 39,65 %

G. PEMBAHASAN Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan tetapan gas dan volume molar oksigendengan percobaan yang sederhana yakni dengan pendesakan air oleh gas yang terbetuk pada saat reaksi berlangsung. Percobaan ini dilakukan pemanasan KClO3 dan MnO2 dimana MnO2 sebagai katalis yang dapat mempercepat reaksi. Saat gelembung gas air dimasukan ke air, penguapan air menambah tekanan pada agas, akibatnya air yang ada di albu alas bundar akan terdesak dan akan mengalir menuju gelas erlenmeyer. Ketika KClO3 + MnO2 dipanaskan mengalami massa yang berkurang, ini disebabkan karena kandungan O2 yang ada di dalamnya teruarai sehingga dari penimbangan dihasilkan massa O2 yaitu 0,23 gram. Berdasarkan perhitungan R yaitu 0,025 atm.L/mol.K, berbeda dengan R yang sudah ditetapkan yaitu 0,082 L.atm/mol.K. Perbedaan atau selisih ini disebabkan oleh ketidaktelitian pada saat praktikum yaitu kesalahan dalam pengukuran atau pada perhitungan pada saat itu. Volume molar O2 sesuai perhitungan adalah 0,053 L sedangkan pada standar STP adalah 22,4 L, perbedaan nilai ini adalah disebabkan oleh adanya kekeliruan ketika menggunakan perkiraan waktu, ataupun perhitungan yang lainnya sehingga data yang dihasilkan tidak begitu mendekati nilai standar, disebabkan juga oleh proses pembakaran KClO3 + MnO2 yang sempat terhambat karena alat pemanas padam (bunsen).

H. KESIMPULAN Berdasarkan percobaan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk menentukan volume molar O2 dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan gas ideal pada suhu dan tekanan standar. Sedangkan tetapan gas dapat diketahui dengan menggunakan persamaan Van der Walls yaitu:
79

(

) ( )

Gas dalam ruang tertutup memiliki tekanan tertentu dan mengisi semua ruang tertutup. Penentuan tetapan R dan volume molar menggunakan penerapan hukum-hukum gas, sehingga didapatkan tetapan R sebesar 0,025 atm.L/mol.K. Volume molar oksigen didapatkan sebesar 0,053 L dengan persentassi oksigen dalam KClO3 sebesar 39,65 %.

80

DAFTAR PUSTAKA
Brady, james E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta : Binarupa Aksara.

Oxtoby,David W,H,P,dkk.2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Edisi Ke-4 Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Purwoko, Agus Abh. 2006. Kimia Dasar 1. NTB : Mataram University Press.

Pudjaatmaka, A. H.1998. Ilmu-Ilmu untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

Wahyuni, Sri. 2003. Kimia Master . Jakarta : Erlangga.

81

ACARA V KESETIMBANGAN
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM 1. Tujuan Praktikum 2. Waktu Praktikum 3. Tempat Praktikum : Mempelajari kesetimbangan kompleks besi (III)-tiosianat. : Jum’at, 9 November 2012 : Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI Banyak reaksi-reaksi kimia yang berjalan tidak sempurna artinya reaksi-reaksi tersebut berjalan sampai pada suatu titik dan akhirnya berhenti dengan meninggalkan zatzat yang tidak bereaksi. Pada temperatur, tekanan dan konsentrasi tertentu, titik pada saat reaksi tersebut berhenti sama. Hubungan antara konsentrasi peraksi dan hasil reaksi tetap. Pada saat ini reaksi dalam keadaan setimbang. Pada saat setimbang, kecepatan reaksi ke kanan sama dengan kecepatan reaksi ke kiri. Kesetimbangan disini merupakan kesetimbangan dinamis, bukan kesetimbangan statis. Jadi sebenarnya reaksi masih ada tetapi karena kecepatannya sama, seakan-akan reaksi berhenti. A+B C+D

Atas dasar ini dapat dianggap hampir semua reaksi berhenti pada kesetimbangan. Untuk reaksi sempurna, kesetimbangan sangat berat disebelah kanan. Untuk reaksi yang sangat berat di sebelah kanan. Untuk reaksi yang tidak berjalan, kesetimbangan sangat berat disebelah kiri. Kesetimbangan dibagi menjadi homogen dan heterogen. Homogen bila kesetimbangan terdapat pada satu fase (gas, cairan tunggal, fase padat tunggal). Heterogen bila kesetimbangan terdapat dalam lebih dari satu fase (gas, padat, gas cairan, padat cairan atau padat-padat) (Sukardjo, 1997:220). Kesetimbangan kimia dalah proses dinamis ketika reaksi kedepan dan reaksi balik terjadi pada laju yang sama tetapi pada arah yang berlawanan. Konsentrasi pada setiap zat tinggal tetap pada suhu konstan. Banyak reaksi kimia tidak sampai berakhir, dan mencapai satu titik ketika konsentrasi zat-zat bereaksi dan produk tidak lagi berubah dengan berubahnya waktu. Molekul-molekul tetap berubah dari pereaksi menjadi produk dan dari produk menjadi preaksi, tetapi tanpa perubahan netto konsentrasinya (Stephen,2002 : 96).
82

Kebanyakan reaksi kimia berlangsung secara reversible (dua arah). Ketika reaksi itu baru mulai, proses reversible hanya berlangsung kearah pembentukan produk, namun ketika molekul produk telah terbentuk maka proses sebaiknya yaitu pembentukan molekul reaktan dari molekul produk mulai berjalan. Kesetimbangan kimia tercapai bila kecepatan reaksi tekanan (molekul produk) telah sama dengan kecepatan reaksi ke kiri (pembentukan molekul reaktan) dan konsentrasi reaktan maupun konsentrasi produk tidak berubah-rubah lagi (konstan). Jadi, kesetimbangan kimia merupakan proses yang dinamis (Purwoko, 2006 : 169). Tetapan kesetimbangan Kp dan tetapan kesetimbangan Kc diberi harga dalam konsentrasi-konsentrasi yang dinyatakan dalam mol per liter. Untuk suatu sistem kesetimbangan yang melibatkan gas, pengukuran biasanya dilakukan terhadap tekanan bukan konsentrasi. Dalam hal ini tetapan kesetimbangan dapat dihitung dari tekanan parsial gas-gas. Tetapan yang dihitung dengan cara ini disebut Kp. Untuk sistem kesetimbangan : 2H2O(g) Kp dinyatakan sebagai : Kp = Tekanan total sama dengan jumlah tekanan parsial : P = pH2O + pH2 + pO2 Dari persamaan hukum gas ideal nampak bahwa tekanan parsial suatu gas berbanding lurus dengan konsentrasi c dalam mol per liter : pV = nRT c= = 2H2(g) + O2(g)

Jadi, secara numeris Kp dan Kc saling berhubungan. Untuk persamaan kesetimbangan umum, wA + xB Kc = Kp ( Atau Kp = Kc (RT) n Dengan n = (y + z) – (w + x). Jumlah molekul produk gas dikurangi dengan jumlah molekul pereaksi gas dalam persamaan kesetimbangan. Jika jumlah molekul pereaksi gas sama dengan jumlah molekul produk gas, n = 0 maka Kp = Kc (Keenan, 1999 : 560). Adapun kesetimbangan dibagi menjadi dua yaitu kesetimbangan homogen dan kesetimbangan heterogen. Kesetimbangan homogen adalah kesetimbangan yang hanya
83

yC + zD hubungan antara Kp dan Kc dinyatakan oleh : ) n

melibatkan

satu

fase

yang

sama,sedangkan

kesetimbangan

heterogen

adalah

kesetimbangan yang meliputi dua fase atau lebih. Sebagai contoh kesetimbangan 2C(s) + O2(g) 2CO(g) meliputi fase gas dan padatan. Dalam sistem ini terdiri atas suatu campuran oksigen dan karbon monoksida. Persamaan ini menyaqtakan bahwa suatu sistem mengandung CO(g) , O2(g) ,dan C(s) dalam kesetimbangan yang tak menghiraukan berapa banyak C(s) berada . Aturan yang mudah bahwa untuk kesetimbangan heterogen padatan,dimana padatan murni dan cairan-cairan murni di abaikan dari pengertian aksi massa(Firman,2007:146). Dalam suatu sistem kesetimbangan, suatu katalis menaikkan kecepatan reaksi maju dan reaksi balik dengan sama kuatnya. Suatu katalis tidak mengubah kuantitas relatif yang ada dalam kesetimbangan nilai tetapan kesetimbangan tidaklah berubah. Katalis memang mengubah waktu yang diperlukan untuk mencapai kesetimbangan. Reaksi yang memerlukan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk mencapai kesetimbangan, dapat mencapainya dalam beberapa menit dengan hadirnya katalis. Lagi pula, reaksi yang berlangsung dengan laju yang sesuai hanya pada temperatur yang sangat tinggi, dapat berjalan dengan cepat pada temperatur yang jauh lebih rendah bila digunakan katalis. Ini terutama penting jika temperatur tinggi mengurangi rendeman dari produk-produk yang diinginkan (Keenan,1984:593).

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM 1. Alat – Alat Praktikum : a. Gelas kimia 200 ml b. Labu ukur 25 ml c. Pipet gondok 5 ml d. Pipet gndok 10 ml e. Pipet tetes f. Rubber bulb g. Spatula h. Tabung Reaksi i. Tissue j. Kertas label 2. Bahan – Bahan Praktikum : a. Aquades (H2O)(l)
84

b. Butiran Na2HPO4 (Natrium hidropospat) c. Larutan Fe(NO3)3 0,2 M (Besi (III) nitrat) d. Larutan KSCN 0,002 M (Kalium tiosanat) e. Larutan KSCN pekat (Kalium tiosanat)

D. PROSEDUR PERCOBAAN 1. Kesetimbangan besi (III )- tiosianat a. 10 ml KSCN 0,002 M dimasukkan kedalam gelas kimia dan ditambahkan 2 tetes Fe(NO3)3 0,2 M kemudian diaduk. b. Larutan tersebut dibagi kedalam 4 tabung reaksi. c. Tabung pertama digunakan sebagai larutan pembanding. d. Kedalam tabung reaksi kedua ditambahkan 1 tetes KSCN pekat. e. Kedalam tabung reaksi ketiga ditambahkan 3 tetes Fe(NO3)3 0,2 M f. Kedalam tabung reaksi keempat ditambahkan beberapa butir Na2HPO4. g. Semua pristiwa yang terjadi dicatat. 2. Kesetimbangan besi (III )- tiosianat yang semakin encer a. Disediakan 5 tabung reaksi yang bersih dan diberi nomor. Kedalam lima tabung reaksi ini dimasukkan masing-masing 5 ml KSCN 0,002 M. kedalam tabung reaksi pertama tambahkan 5 ml larutan Fe(NO3)3 0,2 M. tabung ini digunakan sebagi tabung standar. b. Diukur 10 ml Fe(NO3)3 0,2 M dan ditambahkan air hingga volumenya menjadi 25 ml. diukur 5 ml dari larutan ini dan dimasukkan kedalam tabung reaksi kedua (hitung konsentrasi larutan). Selebihnya disimpan untuk pengerjaan berikutnya. c. Diukur 10 ml Fe(NO3)3, sisa larutan diatas, ditambahkan air hingga volumenya tepat menjadi 25 ml dan dimasukkan kedalam tabung reaksi ketiga. d. Pada tabung berikutnya dilakukan pengerjaan yang sama sampai tabung kelima. e. Dibandingkan warna larutan pada tabung kedua dengan tabung standar (tabung 1), untuk menghitung konsentrasi FESCN2+. Jika intensitas warna tidak sama, dikeluarkan larutan dari tabung standar setetes demi setetes sampai kedua tabung tersebut menunjukkan intensitas warna yang samadan diukur tinggi larutan dalam masing-masing tabung sampai cm. selanjutnya dengan cara yang sama, disamakan intensitas warna larutan pada tabung 3, 4 dan 5 bandingkan dengan tabung 1.

85

E. HASIL PENGAMATAN No. 1. Prosedur Percobaan Kesetimbangan besi (III)- Tiosianat a. Dimasukkan 10 ml KSCN 0,002M ke dalam suatu bejana gelas. Kemudian ditambahkan dengan 2 tetes larutan Fe(NO3)3 0,2M. b. Larutan ini kemudian dibagi ke dalam 4 tabung reaksi. c. Tabung reaksi pertama digunakan sebagai pembanding. d. Ditambahkan 1 tetes KSCN pekat ke dalam tabung reaksi kedua. e. Ditambahkan 3 tetes Fe(NO3)3 0,2M ke dalam tabung reaksi ketiga. f. Ditambahkan 1 butir Na2HPO4 ke dalam tabung reaksi keempat. g. Semua peristiwa yang terjadi dicatat dalam tabel hasil percobaan. Hasil Pengamatan Tabung I berwarna merah bata Tabung ke II yang ditetesi KSCN pekat berwarna lebih pekat daripada tabung I Tabung ke III berwarna merah bata tetapi lebih pekat dari tabung I dan II Sedangkan tabung ke IV jernih dan ada endapan di dasar tabung

Kesetimbangan besi (III)- Tiosianat yang semakin encer a. Disediakan 5 tabung reaksi , 1. Tabung reaksi pertama yang menjadi standar berwarna merah kehitamhitaman

kemudian diberi nomer. Kedalam tabung reaksi ini dimasukkan masingmasing 5 ml KSCN 0,002M.

Kemudian 5 ml larutan Fe(NO3)3 0,2M ditambahkan kedalam tabung reaksi pertama. Tabung reaksi ini digunakan sebagai standar. b. Diukur 10 ml Fe(NO3)3 0,2M dan ditambahkan aquades hingga 2. Tabung reaksi kedua, warnya juga merah kehitam-hitaman tapi tidak
86

volumenya menjadi 25 ml. diukur 5

ml dari larutan ini dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi kedua (dihitung konsentrasi larutan ini). Selebihnya disimpan berikutnya. c. Didalam 10 ml larutan Fe(NO3)3 0,2M sisa diatas, ditambahkan aquades untuk pengerjaan

sepekat tabung standar 3. Tabung reaksi berwarna merah marun (merah kehitam-hitaman tapi lebih cerah dari tabung 2)

4. Tabung reaksi keempat warna larutannya merah marun, lebih muda dari tabung ke 3

hingga volumenya tepat menjadi 25 ml ( dihitung konsentrasi larutan ini ). Diukur 5 ml larutan ini dan

dimasukkan ke tabung reaksi ketiga. d. Dilakukan pengerjaan yang sama sampai dengan tabung kelima. e. Dibandingkan warna larutan pada tabung kedua dengan tabung standar (tabung 1) , untuk menghitung konsentrasi FeSCN2+. Jika intensitas warna tidak sama, dikeluarkan larutan dari tabung standar setetes demi setetes , sampai kedua tabung tersebut menunjukkan intensitas warna yang sama dan diukur tinggi larutan dalam masing-masing tabung sampai cm (larutan yang dikeluarkan tadi 0,95:0,71:0,42:0,042 5. Tabung reaksi ke lima warnanya merah darah Perbandingan warna= T1:T2:T3:T4

dimasukkan ke dalam tempat yang bersih agar dapat digunakan kembali). Selanjutnya dengan cara yang sama , disamakan intensitas warna larutan pada tabung 3, 4 dan 5 , dibandingkan semua dengan tabung pertama. F. ANALISIS DATA 1. Percobaan pertama Diasumsikan bahwa:
87

a. Fe (NO3)3 dan KSCN dalam bentuk ion b. Pada tabung 1 dianggap berbebtuk FeSCN2+ Fe+(aq) + SCNJika : − − − − Tabung I (standar) : warna merah Tabung ini digunakan sebagai tabung standar yang dibandingkan dengan : Tabung II + KSCN pekat : warna larutan merah darah (lebih pekat dari tabung I) Tabung III + Fe (NO3)3: warna larutan hitam pekat (warna lebih pekat dari tabung I dan tabung II) Tabung IV + Na2HPO4: warna larutan bening dan terdapat endapan FeSCN2+(aq) + Na2HPO4(s) 2. Percobaan kedua  Perbandingan tinggi tabung T1 = = = 0,95 T2 = = = 0,71 T3 = = = 0,42 T4 = = = 0,04  Perhitungan konsentrasi [ FeSCN2+] = T konsentrasi standar FePO4(aq) + HSCN(aq) + 2Na+(aq) FeSCN2+

Persamaan reaksi pada tabung IV

88

n Fe2+ = M

V 0,005 L

= 0,2 M n SCN- = M

= 0,001 mol V 0,005 L + SCN-(aq) 0,00001 mol 0,00001 mol 0,00001 mol 0,00001 mol FeSCN2+.(aq)

= 0,002 M = 0,00001 mol Fe3+(aq) Mula-mula Bereaksi Setimbang 0,001 mol 0,00001 mol 0,00099 mmol

[ FeSCN2+]0 = = = = 0,001 M [ FeSCN2+]1 = T1 = 0,95
2+

[ FeSCN2+]0 0,001 M [ FeSCN2+]0 0,001 M [ FeSCN2+]0 0,001 M [ FeSCN2+]0 0,001 M

= 0,00095 M [ FeSCN ]2 = T2 = 0,71 [ FeSCN2+]3 = T3 = 0,42 [ FeSCN2+]4 = T4 = 0,04

= 0,00071 M

= 0,00042 M

= 0,00004 M  Perhitungan Konsentrasi Fe3+ mula – mula Pengenceran I M1 V1 = M2 V2

M2 =

89

= = 0,08 M Pengenceran II M2 V2 = M3 M3 = = = 0,032 M Pengenceran III M3 V3 = M4 M4 = = = 0,0128 M Pengenceran IV M4 V4 = M5 M5 = = = 0,00512 M  Perhitungan konsentrasi Fe3+ setimbang [Fe3+] = [Fe3+] mula – mula - [ FeSCN2+] setimbang [Fe3+]stb 1 = 0,08 M – 0,00095 M = 0,07905 M = 0,079 M [Fe ]stb 2 [Fe3+]stb 3 [Fe3+]stb 4
3+

V3

V4

V5

= 0,032 M - 0,00071 M = 0,03129 M = 0,0128M - 0,00004M = 0,01238 M = 0,00512 M - 0,00004 M = 0,005038 M = 0,005 M

 Perhitungan konsentrasi SCN- setimbang
90

[SCN-]mula – mula = 0,002 M [SCN-]stb = [SCN-]mula – mula - [ FeSCN2+] setimbang [SCN-]stb 1 = 0,002 M – 0,00095 M = 0,00105 M [SCN-]stb2 = 0,002 M – 0,00071 M = 0,00129 M [SCN ]stb3 = 0,002 M – 0,00042 M = 0,00158 M [SCN-]stb4 = 0,002 M – 0,00004 M = 0,00196 M  Ka = [Fe3+] [ FeSCN2+] [SCN-] Ka1 Ka2 Ka3 Ka4 = 0,079 x 0,00095 x 0,001 = 75,05 x 10-9 M = 0,03129 x 0,00071 x 0,00129 = 28,65 10-9 M = 0,01238 x 0,00004 x 0,00158 = 8,21 10-9 M = 0,005 x 0,00004 x 0,00196 = 0,392. 10-9 M
-

 Kb =

Kb1

= = 7,5 10-2 M

Kb2

= = 1,72 10-2 M

Kb3

= = 0,36 10-2 M

Kb4

= = 1,02 10-2 M
91

 Kc =

Kc1

= = 12,02 M

Kc2

= = 17,58 M

Kc3

= = 21,47 M

Kc4

= = 4,08 M

 Tabel Analog
No. [Fe3+] 1 2 3 4

[SCN-] M M M M M M M M

[FeSCN2+] M M M M

Ka 7,5.10-9 M 28,65.10-9M 8,21. 10-9M

Kb 7,5. 10-2M 1,72. 10-2M 0,36. 10-2M

Kc 12,02 M 17,58 M 21,47 M 4,08 M

0,392. 10-9M 1,02. 10-4M

G. PEMBAHASAN Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari reaksi-reaksi kesetimbangan kompleks besi (III)-tiosianat. Pada percobaan pertama dimana tabung 1 dijadikan sebagai pembanding atau standar bagi tabung lainnya. Diperoleh data bahwa setelah larutan besi nitrat direaksikan dengan larutan ion tiosianat menghasilkan larutan yang berwarna hitam pekat. Reaksi yang terbentuk adalah: Fe+(aq) + SCN- (aq) FeSCN2+(aq)

Perubahan warna ini terjadi karena adanya perubahan konsentrasi larutan. Seperti yang diketahui bersama bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesetimbangan kimia
92

yaitu perubahan konsentrasi, perubahan tekanan, perubahan volume dan perubahan suhu. Sedangkan katalis hanya berfungsi sebagau suatu zat yang mempercepat tercapainya keadaan setimbang. Jika dilakukan pada sistem tertutup sehingga dapat dikatakan katalis tidak mempengaruhi terhadap pergeseran kesetimbangan. Untuk tabung kedua ketika larutan awal ditambah (KSCN pekat) maka kesetimbangan akan bergeser ke arah produk. Pada tabung ketiga, larutan awal ditambah dengan larutan Fe(NO3) 0,2 M, warna laruta yang semula merah berubah menjadi hitam pekat dan lebih pekat daripada tabung 1 maupun tabung 2. Hal ii dikarenakan larutan atau zat yang ditambahkan pada tiap-tiap tabung berbeda konsentrasinya. Pada tabung keempat. Larutan awal ditambah dengan beberapa butir N2HPO4, hasilnya adalah warna yang semula merah menjadi bening dan terdapat endapan. Adanya endapan pada larutan tersebut terjadi karena adanyaunsur logam pada larutan FeSCN, sedangkan warna berubah menjadi bening karena adanya reaksi antara FeSCN3+ dengan NaHPO4, dimana Fe3+ akan berikatan dengan ion PO43membentuk FePO4. Kemudian ion SCN- akan diikat oleh H+ dan membentuk HSCN, sedangkan Na+ tidak berikatan dengan senyawa lain. Reaksi yang terbentuk adalah: FeSCN2+(aq) + Na2HPO4(s) FePO4(aq) + HSCN(aq) + 2Na+(aq) Fe3+ berikatan dengan PO43- membentuk FePO4 yang sukar larut. Penambahan PO43- sama dengan mengurangi Fe3+ , sehingga intensitas warna larutan berkurang. Pada percobaan kedua yaitu kesetimbangan besi (III) tiosianat ayng semakin encer. Dari tabung 1-5 terjadi pengurangan kepekatan atau intensitas warna. Hal ini disebabkan karena adanya penambahan volume aquades dari tabung 1-5. Pada saat perbandingan dan penyetaraan intensitas tabung standar (tabung 1) dengan tabung 2,3,4 dan 5 dengan cara mengurangi volume pada tabung pertama setetes demi setetes sehingga didapat persamaan warna. Hal ini membuktikan bahwa volume berpengaruh pada kesetimbangan. Dalam penyeragaman warna ini juga tidak dapat diamati dari samping tabung karena dengan cara ini akan menghalangi mata dalam mengamati warna pada tabung yaitu cahaya yang masuk ke dalam tabung akan di biaskan terlebih dahulu ke tabung reaksi lalu dibiaskan menuju mata sehingga larutan terlihat lebih pekat. Oleh karea itu dalam mengamati warna sebaiknya dari atas tabung agar cahaya yang dipantulkan ke dalam tabung akan langsung dibiaskan ke mata. Untuk menentukan kesetimbangan dalam suatu sistem dapat diketahui dengan mengitung konstanta kesetimbangan. Secara teoritis seharusnya nilai dari suat kesetimbangan adalah konstan. Namun dari hasil analisis data diperoleh nilai Ka, Kb dan Kc yang berbeda-beda atau menunjukkan nilai yang tidak konstan. Ini disebabkan oleh
93

kurang teliti dalam menyamakan atau menyetaraan warna pada tabung I dengan tabung 2,3,4 dan 5, sehigga mempengaruhi juga dalam mengukur volumenya kurang teliti.

H. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat ditarik adalah kesetimbangan kimia dipengaruhi oleh konsentrasi dan volume zat yang ditambahkan pada saat pencampuran dan pengenceran. Perubahan konsentrasi dapat ditandai dengan perubahan warna larutan. Jika konsentrasi pereaksi ditambahkan maka kesetimbangan akan bergeser ke arah produk. Pengaruh konsentarsi pada kesetimbangan akan lebih kuat dibandingkan pengaruh volume. Diperoleh juga nilai ketetapan kesetimbangan yang tidak konstan dikarenakan oleh ketidaktelitian dalam menyetarakan warna sehingga dalam mengukur volume juga berpengaruh.

94

DAFTAR PUSTAKA Firman, H. 2007. Penelitian Pendidikan Kimia. Bandung: Jurusan Kimia FMIPA UPI.

Keenan, W. Charles. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

Keenan, W. Charles. 1999. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

Purwoko, Agus Abh. 2006. Kimia Dasar 1. NTB : Mataram University Press.

Stephen, Bresnick. 2002. Istilah Kimia Umum. Jakarta: Erlangga.

Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Yogyakarta: Rineka Cipta.

95

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->