P. 1
Pendekatan Sistem

Pendekatan Sistem

|Views: 367|Likes:
Published by Tri Munzilawati

More info:

Published by: Tri Munzilawati on Dec 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2014

pdf

text

original

PENDEKATAN SISTEM A. Sifat Dasar Sistem 1.

Pengantar Dari uraian yang telah disajikan, telah diketahui bahwa ada sifat dasar tertentu yang mencirikan sesuatu sistem sebagai sebuah entitas. Sifat-sifat tersebut melekat secara umum pada semua sisitem yang ada. Sifat-sifat dalam sistem itu penting untuk dijadikan landasan dalam memahami bidang teori sistem yang sedang berkembang dapat diterapkan terhadap organisasi dan manajemen pada umumnya. 2. Perilaku yang Memiliki Tujuan Salah satu sifat pokok semua sistem adalah orientasi objektifnya dan perilaku yang memiliki tujuan. Pada umumnya, dapat dikatakan bahwa tujuan suatu sistem adalah menciptakan nilai dengan jalan mengombinasi dan memanfaatkan sumber daya dengan cara tertentu. Contoh : a. Mobil Sumber Daya yang Digunakan b. Bensin atau solar c. Minyak pelumas d. Air e. Manusia Pangan dan air Contoh : a. Mobil Tujuan Sistem yang d. Kenyamanan e. Status f. Penggunaan dalam bidang bisnis f. Sandang g. Buku h. Nilai yang diciptakan daya dengan tersebut

bantuan

sumber

mencerminkan tujuan sisitem yang bersanagkutan.

Bersangkutan b. Transportasi c. Bepergian secara ekonomis Catatan :

1

Masing-masing sistem memiliki tujuan berganda yang masing-masing mungkin memiliki prioritas lebih tinggi dibandingkan dengan tujuan lain. 3. Pengertian “Wholism” (Kadang-kadang “Holism”) Hal yang bersifat sentral bagi konsep wholism, yaitu teori yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mendeterminasi merupakan keseluruhan yang tidak dapat diurai adalah ide bahwa keseluruhan melebihi jumlah dari bagian-bagiannya. Ide tersebut juga merupakan landasan sinergi, atau tindakan yang terkombinasi. Contoh untuk menjelaskan konsep wholism adalah : a. Sebuah mobil, melebihi suatu kumpulan logam, karet, dan bagian-bagian serta komponen-komponen plastik; b. Seorang manusia melebihi suatu kombinasi tulang, otot, syaraf, dan sebagainya; c. Sebuah organisasi bisnis melebihi suatu bauran sumber daya manusia dan sumber daya fisik; d. Sebuah tim sepak bola melebihi sebelas orang pemain bola; e. Sebuah perkumpulan mahasiswa, melebihi satu kelompok mahasisiwa. Dari contoh-contoh yang disajikan dapat ditarik kesimpulan bahwa sinergi berkaitan dengan kemampuan bagian-bagian untuk mencapai suatu tujuan atau sasaran umum bersama, untuk keseluruhan. Dalam pengertian wholism, terkandung pula makna adanya suboptimasi sasaran individual dalam rangka mengoptmalkan pencapaian sasaran sistem yang bersangkutan secara keseluruhan. 4. Soal keterbukaan Interksi dengan lingkungan merupakan sebuah filsafat dasar dari semua sistem terbuka. Andaikata ada sisitem tertutup riil, berarti mereka gagal berinteraksi dengan lingkungan mereka dalam satu atau lain cara. Sistem riil, sebagai sistem terbuka dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga memengaruhi lingkungan. Lingkungan merupakan sumber penyuplai sumber daya yang digunakan oleh sistem terbuka, dan sebagai pemakai nilai yang diciptakan oleh sisem tersebut. Sistem terbuka juga menunjukkan ciri yang disebut equifinality, yang berarti yang berarti bahwa suatu keadaan final sistem tertentu dapat dicapai dari berbagai macam kondisi awal yang
2

berbeda, dan sebaliknya. Konsep equifinality menimbulkan implikasi penting bagi manajemen sistem keorganisasian. Artinya, bahwa dimunculkan kebutuhan akan pendekatan manajemen. 5. Persoalan Transportasi Seperti sudah dinyatakan sebelumnya, suatu sistem menciptakan nilai melalui jalan memenfaatkan dan mengonversi atau mentransformasi sumber daya menjadi output guna merealisasi tujuan-tujuannya. Contoh berikut lebih menjelaskan apa yang dimaksud. 6. Persoalan Antarketerkaitan Konsep antarketerkaitan berhubungan dengan interaksi internal dan interdependensi berbagai bagian dari sesuatu sistem, beserta interaksi sistem yang bersangkutan dengan lingkungan. Konsep tingkatan juga penting bagi suatu sistem keorganisasian. Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa sebuah perusahaan bisnis besar secara tipikal dibagi dalam berbagai macam divisi, yang dibagi lagi dalam berbagai departemen, dan sebagainya. Pembagian tingkatan secara tradisional demikian, memusatkan perhatian pada antarketerkaitan vertiakal dari berbagai bagian sesuatu organisasi, sedangkan sifat transformasi input-output memusatkan perhatian pada antarketerkaitan horizontal dari berbagai kesatuan fungsional yang ada. 7. Persoalan Mekanisme Pengawasan Mengingat sifat terbuka suatu sistem dan keterkaitan antarbagian-bagiannya, setiap sisitem harus responsif terhadap lingkungan dan kebutuhan internalnya. Dengan perkataan lain, setiap sistem harus dapat mengatur dirinya sendiri sewaktu berkembang melalui siklus kehidupan. Kebanyakan sistem nyata menunjukkan ciriciri “lingkaran tertutup” (close loop) yang memungkinkan mereka bertahan dan mengatur diri mereka sendiri. Untuk kebanyakan sistem terbuka yang beroperasi dalam lingkungan-lingkungan yang kompleks, keadaan keseimbangan yang terusmenerus mengalami perubahan, kadang disebut sebagai “keseimbangan dinamik”.
3

situasional multidimensional

terhadap

pemecahan

problem dan

pengambilan keputusan. Inilah intisari pandangan sistem yang dihubungkan dengan

Upaya mempertahankan kondisi keseimbangan tersebut mengharuskan sistem yang bersangkutan mengevaluasi kondisi-kondisi yang berubah dan menyesuaikan diri melalui proses umpan balik (feedback) dan penyesuaian (adaptation) dengan jalan memanfaatkan tipe mekanisme tertentu.

B. PERSOALAN MODEL DALAM PENDEKATAN SISTEMIK 1. Model dan Konstruksi model Ilmu ekonomi modern, seperti halnya sejumlah disiplin sosial lainnya merupakan sebuah ilmu empiris. Sebagai ilmu empiris, ia berkaitan dengan dunia nyata. Seperti halnya ilmu-ilmu lainnya, ia harus pula mengembangkan teori-teori tentang dunia kompleks kehidupan. Akan tetapi, teori-teori demikian agar dapat bermanfaat, harus berlandaskan fakta dan hubungan yang divalidasi tentang dunia yang sedang dianalisis. Dunia nyata teramat kompleks karena terdapat jutaan konsumen, jutaan perusahaan, ratusan ribu produk. Maka, dalam menghadapi kompleksitas yang demikian hebatnya, kita perlu mencari cara tertentu untuk meyederhanakan sesuatu yang kita hadapi dan dipelajari untuk menjadi proporsi yang dapat kita cerna. Jadi, tugas pertama adalah melaksanakan simplifikasi atau penyederhanaan. 2. Penggunaan Model yang Disederhanakan: Teori Dalam rangka melakukan tindakan simplifikasi, seorang ahli ekonomi seperti halnya pula para ilmuwan lainnya, mengawali kegiatannya dengan mengembangkan sebuah kerangka dasar analitis atau model tentang realitas yang sedang dipelajari olehnya. Model-model yang disimplifikasi tersebut seringkali disebut dengan istilah teori. Jelas bahwa tidak ada pretensi sama sekali bahwa model tersebut merupakan deskripsi akurat tentang perekonomian nyata. Andaikata model-model tersebut menjadi deskripsi yang akurat tentang perekonomian nyata, tujuan pokok mereka akan terbengkalai karena orang akan kembali pada hal-hal yang terlampau detail. Perlu diingat bahwa pada dasarnya, model merupakan abstraksi yang disimplifikasi tentang elemen dasar realitas, terhadap hal yang akan diterapkan.

4

Sebuah model dapat kita nyatakan sebagai sebuah diagram yang disederhanakan yang menunjukkan elemen-elemen dasar dalam suatu situasi tertentu, dan interaksiinteraksi pokok yang terjasi antara elemen-elemen tersebut. Makin kuat tervalidasinya hubngan tersebut melalui observasi empiris pada banyak kasus, makin yakin kita dalam menggunakan model kita. Ada model-model yang teramat simpel yang memberikan pelukisan secara samarsamar Very Ketchy, tetapi ada pula model-model yang sangat kompleks. Sebuah model ekonomi dapat kita sajikan dalam berbagai macm bentuk misalnya dalam bentuk :

a. Verbal (dalam bentuk kata-kata) b. Diagram; c. Matematis. 3. Validitas Model Upaya mengonstruksi model merupakan sebuah upaya yang cukup pelik. Seringkali kita mengalami kesulitan dalam mengetahui apakah sesuatu model yang berhasil kita konstruksi akan memiliki validitas (valid). Pengujian suatu model dan hasilnya bergantung pada umpan balik informasi, baik sebelum maupun sesudah dilaksanakan implementasi model. Hal tersebut merupakan bagian dari evaluasi yang berkelanjutan, dan siklus penilaian kembali yang bersifat inheren dengan analisis sistem. Validitas suatu model harus diverifikasi agar berguna dalam proses pengambilan keputusan. Setiap model perlu didasarkan atas suatu deskripsi akurat tentang, dan berdasarkan sejumlah asumsi yang valid sehubungan dengan situasi riil yang diwakili olehnya. Dalam kasus tertentu, validasi tersebut dapat dicapai secara eksperimental dengan menggunakan uji akurat. Akhirnya model yang bersangkutan diuji dengan menerapkannya dalam praktik nyata kemudian hasilnya dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya. Apabila dalam pengalaman sebelumnya tidak tersedia, harus digunakan orang penilaian tepat pada periode percobaan sampai cukup banyak
5

pengalaman yang diperoleh. Jadi, validitas suatu model mungkin tidak membatasi kegunaannya, tetapi sudah pasti membatasi manfaatnya. Model analog mewakili sebuah system (atau objek penelitian), dengan jalan memanfaatkann sekelompok sifat yang berbeda dibandingkan dengan apa yang dimiliki system orisinal. Contohnya, pada computer analog merupakan representasi fisikal (mekanis atau elektrik) dari variabel-variabel yang ada pada sesuatu problem. Warna-warna yang berbeda pada sebuah peta mungkin mewakili air, padang pasir, kontinen-kontinen dan sebagainya. Sebuah peta jalan merupakan sebuah model analog, yang menunjukkann jalan, kota,dan hubungan antara mereka. Model grafis, model skematik, dan model analog lebih mudah dimanipulasi, dan bersifat lebih umum dibandingkan dengan model fisikal. Model matematis atau simbolik bersifat tepat, sangat abstrak dengan sifat yang lebih umum daripada spesifik, dan dapat dimanipulasi dengan jalan memanfaatkan hokum-hukum matematis. Model matematis, misalnya, untuk sebuah garis lurus, adalah Y = a + bX ; a dan b masing-masing merupakan intercept dan slope garis yang bersangkutan. c. Klasifikasi Berdasarkan Ciri-ciri Perilaku klasifikasi model ketiga dikembangkan oleh J.W.Forrester, dimana klasifikasinya didasarkan atas ciri-ciri perilaku khusus, bermanfaat untuk memahami sifat dan peranan model dalam mewakili perilaku manajemen dan perilaku ekonomi organisasi. Hal yang menarik dari klasifikasi ini adalah kategori model statis versus model dinamis dan model linier, versus model nonlinier. Model statis tidak memperhatikan dampak dari perubahan-perubahan yang terjadi selama perencanaan dimana model tersebut independen dipandang dari sudut waktu. Dalam model statis hanya diperlukan keputusan untuk jangka waktu tertentu. Model dinamis dicirikan oleh fakta bahwa dalam situasi tertentu, bukan hanya sebuah keputusan, melainkan suatu seri (sekuens) keputusan harus diambil oleh manajer organisasi yang bersangkutan.

6

Pada umumnya model dinamis menganggap bahwa waktu sebagai salah satu variabel, dan diakuinya dampak perubahan yang ditimbulkan oleh waktu. Inti dari model ini adalah adanya konsep tahapan. Model linier dicirikan oleh fakta atau asumsi bahwa masing-masing komponen yang ada dalam model yang bersangkutan, menunjukkan perilaku linier. Model nonlinier dicirikan oleh fakta atau asumsi bahwa sebuah atau lebih banyak komponen model yang bersangkutan menunjukkan perilaku nonlinier.

d. Klasifikasi Berdasarkan Tingkatan Kepastian Pada tingkatan ini, model dapat diklasifikasikan pada tingkat kepastian yang diasumsi, diantaranya :
1) Model deterministik, adalah model yang mengasumsi adanya kondisi-kondisi kepastian

sempurna dan pengetahuan sempurna. Hal ini mengandung maksud bahwa setiap keputusan atau strategi menyebabkan timbulnya hasil atau dampak tertentu yang diketahui. Contoh dari model ini adalah model linear programming, model transportasi, dan model penugasan. 2) Model probabilistic, adalah model yang menangani situasi berupa dampak atau hasil dari tindakan manajerial yang tidak dapat diprediksi dengan kepastian. Hal ini berarti bahwa setiap keputusan atau strategi, dapat mencapai lebih dari satu macam hasil. Yang berhubungan dengan model ini adalah model-model simulasi. e. Klasifikasi Berdasarkan Bentuk (Struktur) bentuk berhubungan dengan struktur problem, yakni cara yang dengan apa berbagi komponen problem yang bersangkutan berhubungan satu sama lain. Isi berhubungan dengan situasi yang diwakili oleh problem yang bersangkutan menurut desainnya. Beberapa model yang diklasifikasikan berdasarkan bentuk adalah sebagai berikut.
1) Model alokasi, yaitu model yang berkaitan dengan problem mengalokasi sumber daya

langka yang langka, antara kegiatan-kegiatan yang saling bersaingan. Alokasi dilakukan berdasarkan sebuah kriterium keputusan, seperti maksimal laba, atau minimal biaya.

7

Model linier programming, model transportasi dengan struktur khusus, dan model penugasan adalah contoh model alokasi.
2) Model persediaan (inventory models), yaitu model yang berhubungan dengan kelompok

problem “Apabila sesuatu yang disimpan untuk menghadapi masa yang akan datang”.
3) Model antrian (queuing models), yaitu model yang didesain untuk memecahkan

kelompok problem sejumlah pelanggan tiba untuk mendapatkan pelayanan pada sejumlah tempat fasilitas pelayanan.
4) Model pengganti (replacement models), yaitu model yang digunakan untuk memecahkan

kelompok problem peralatan tertentu, atau onderdil tertentu harus diganti karena faktor using atau kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik.
5) Model kompetitif (competitive models), yaitu model yang membantu menganalisis situasi

dua macam/lebih komponen rasional terlibat dalam memilih strategi, dalam rangka mengoptimalkan suatu patokan efektivitas. Model ini termasuk dalam kategori teori permainan (game theory). f. Klasifikasi Berdasarkan Prosedur atau Solusi Dapat dikatakan bahwa pada umumnya solusi terhadap model matematis dapat dicapai dengan jalan menggunakan dua macam tipe prosedur, yakni : 1) Prosedur analitis, dua macam kategori dapat diidentifikasi. Pada kategori pertama, kita memiliki solusi umum dalam bentuk abstrak (solusi dispesifikasikan melalui symbolsimbol) dan dapat dipergunakan secara langsung untuk memecahkan problem spesifik tertentu dimana kita dapat mencapai strategi optimal dengan cara noniteraktif. Pada kategori kedua, kita memiliki suatu metodologi umum (dinamakan juga algoritme yang merupakan sebuah prosedur selangkah demi selangkah guna memecahkan problem tertentu), diterapkan (secara induktif) guna memecahkan problem spesifik tertentu. Prosedur ini bersifat iteratif (berangka). Pasda kasus iteratif, problem spesifik yang bersangkutan, tidak dipecahkan secara langsung. Justru metodologi umum (algoritme) yang bersangkutan diterapkan guna menghasilkan sebuah solusi numerik tertentu, dan berdasarkan percobaan berturut-turut (iterasi), diperoleh solusi yang lebih “baik” sampai kita mengidentifikasi solusi optimal.

8

2) Prosedur simulasi, solusi tidak dicapai secara deduktif. Justru, orang melakukan eksperimen dengan model yang bersangkutan, dengan jalan memasukkan ke dalam model tersebut dengan nilai-nilai spesifik dari variabel yang dapat dikendalikan berdasarkan kondisi-kondisi yang diasumsi, kemudian diobservasi dampaknya atas variabel kriteria. Jadi, tergantung pada prosedur solusi yang digunakan, dimana kita dapat mengklasifikasi model dalam kategori : a. Model analitis, memiliki suatu struktur matematis yang terspesifikasi dan dapat dipecahkan dengan bantuan teknik analitis atau matematis b. Model simulasi merupakan model di mana orang melakukan eksperimentasi (dengan computer atau manual) terhadap sebuah struktur matematis dari sebuah system kehidupan nyata, dalam menerangkan dan mengevaluasi perilaku system tersebut, melalui waktu riil, berdasarkan aneka macam asumsi. Tabel dari Paul Loomba berikut merupakan intisari klasifikasi model-model. Tabel 5.1. Klasifikasi Model • • • • • • Kriterium Klasifikasi Tujuan Tingkat Abstraksi Ciri-ciri Perilaku Spesifik Tingkat Kepastian Bentuk atau Struktur Prosedur atau Metode Solusi • • • • • • Kategori Model Model : Deskriptif, Eksplanatoris, Prediktif, Preskriptif Model : Fisikal, Grafis, Skematik, analog, Matematis Model : Statis, Dinamis, Linier, NonLinier Model : Deterministik, Probabilistik, Kepastian, Risiko, Ketidakpastian Model : Alokasi, Persediaan, Antrian, Penggantian, Kompetitif Model : Analitis, Simulasi

F. KONSTRUKSI MODEL MATEMATIS 1. Pengantar Dalam menilai model, David Miller dan Martin Starr berpendapat bahwa “…Kita tidak dapat mengatakan bahwa yang telah ditemukan suatu cara yang baru saja sama
9

sekali yang dinamakan konstruksi model. Lebih tepatnya dikatakan bahwa ialah tersebut mencirikan. Hal yang baru adalah tekanannya dan apa yang menjadi hasilnya. Penggunaan istilah tersebut menyebabkan adanya upaya untuk memperhatikan model menjadi eksplisit, dan memusatkan perhatian pada relevansinya” (Miller, Starr, 1969). Dalam kasus konstruksi matematis, jelas kiranya bahwa perkembangan komputer digital elektronik modern telah merangsang perhatian orang dalam konstruksi model untuk memecahkan problem-problem kompleks. Alat komputer telah memungkinkan orang mengkonstruksi model yang lebih canggih dibandingkan dengan peralatan matematis dan statistic yang tersedia sebelumnya. Ada dua tipe model matematis yang digunakan untuk melukiskan problem, yakni :

a. Model normatif Model normatif memiliki tipe kriteria tertentu untuk memilih antara berbagai macam situasi deskriptif (alternatif) problem yang bersangkutan. Cirinya adalah bagaimana pemilihan dilakukann guna mencapai alternatif optimal yang berkaitan dengan kriteria sasaran yang ada. model normatif juga merupakan model eksplanatoris (model tersebut mencakup variabel-variabel keputusan/dikendalikan). Model ini bermanfaat untuk kegiatan pengawasan , dan ada hubungannya kausal antara produksi dan model persediaan. b. Model deskriptif Model ini tidak memiliki kriteria sasaran dan pada umumnya dikonstruksi untuk memahami problem yang dihadapi, sebelum dikonstruksi sebuah model normatif. Model deskriptif tidak memiliki model eksplanatoris sama halnya dengan model normatif. Model deskriptif bermanfaat untuk kegiatan prediksi, yaitu hubungan kausal tidak perlu dipahami secara mendalam, seperti halnya pada model preskriptif. 2. Model Umum
10

Model umum menghubungkan variabel-variabel yang dapat dikendalikan, atau variabel-variabel input keputusan (strategi) dan variabel-variabel input yang tidak dapat dikendalikan dengan pengukur efektivitas output. Dari model tersebut orang mengkonstruksi model keputusan manajerial yang digunakan untuk mencapai solusi optimal untuk berbagai macam tipe situasi problem yang dapat dibuat modelnya secara matematis. Untuk mengkonstruksi model keputusan manajerial spesifik, biasanya mencakup suatu proses tiga langkah : a. Mengidentifikasi variabel-variabel yang dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan; b. Merumuskan struktur matematis model yang bersangkutan; c. Menspesifikasi pengukuran efektivitas. C. TUJUAN MODEL 1. Pengantar 2. Klasifikasi Model a. Pengantar Kita dapat menetapkan macam-macam klasifikasi model, tergantung pada tujuan atau kriteria klasifikasi yang akan digunakan. Sebelumnya, kita telah mengenal klasifikasi berdasarkan tujuan, yang terdiri dari empat macam kategori yakni : 1) Model deskriptif; 2) Model eksplanatoris; 3) Model prediktif; 4) Model preskriptif. b. Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Abstraksi Suatu model tiga dimensional yang mirip dengan hal yang riil, tetapi yang ukurannya diperkecil (misalnya sebuah pesawat terbang mainan) atau yang diskalakan (misalnya sebuah model plastik jantung manusia) dapat kita namakan sebuah model fisik atau ikonik. Model fisik mudah diobservasi, dibentuk (dibangun) dan diterangkan, tetapi sulit dimanipulasi, dan tidak terlalu bermanfaat untuk melakukan prediksi. Sebuah peta organisasi merupakan sebuah model
11

grafis (tipe blok) yang melukiskan sistem yang diintensi atau hubungan otoritastanggung jawab keorganisasian. Sebuah peta proses arus yang menunjukkan apa yang terjadi (misalnya pengoperasian, penyimpanan, keterlambatan/gangguan, inspeksi, dan sebagainya), pada tahapan yang berbeda-beda dalam pemprosesan lengkap suatu produk dapat kita namakan sebuah model skematik. Model skematik sangat bermanfaat bagi kita karena memberikan gambaran visual tentang sistem yang sedang dipelajari. D. Perlunya Pendekatan Sistem Pendekatan system merupakan pendekatan terpadu yang memandang suatu persoalan sebagai suatu system, dimana sifat masalahnya kompleks dan mungkin pula bersifat antar disiplin.Pendekatan ini berdasarkan pada teori system.Sebagai teori dibakukan oleh Ludwig von Bertalanffy 1940 an dengan nama General Sistem Teori dengan tiga cirinya, yaitu: 1. Merupakan pendekatan yang bersifat umum. 2. Bersifat intern_disiplin. 3. Dan cenderung deskriptif daripada prespektif. Pendekatan system dalam manajemen dirancang untuk memanfaatkan analisis ilmiah didalam organisasi yang kompleks dengan maksud: a. Mengembangkan dan mengelola system operasi. b. Mendesain system informasi dalam proses pengambilan keputusan. Pendekatan sistem muncul dengan alasan: 1. Meningkatnya kompleksitas masalah organisasi yang disebabkan oleh faktor-faktor revolusi teknologi, penelitian dan pengembangan perubahan produk dan ledakan informasi. 2. Kemajuan dalam manajemen. 3. Kebutuhan akan metode baru untuk mengatasi permasalahan yang rumit.
12

4. Permasalahan yang dihadapi sanagat rumit dan tidak terstruktur. 5. Sistem masyarakat terasa semakin rumit. 6. Memahami akan system makain terasa penting untuk mampu mengendalikan atau mengantisipasi perubahan yang terjadi. 7. Pendekatan system berkembang semakin luas dan semakin penting. 8. Dalam masyarakat industri, system sudah mendominasi kehidupan kita semua, baik dalam bentuk system ekonomi dan sebagainya. Langkah-langkah dalam pendekatan sistem menurut aliran analisis sistem adalah sebagai berikut: 1. Mendefinisikan masalah. 2. Pengumpulan data untuk memperjelas masalah.
3. Identifikasi alternatif solusi. 4. Evaluasi alternatif. 5. Pemilihan alternatif terbaik.

6. Implementasi solusi dan tindak lanjut untuk menjamin agar solusi yang dipilih benarbenar efektif. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memecahkan masalah dengan pendekatan sistem adalah: 1. Melihat masalah sebagai suatu sistem. 2. Mengenali sistem lingkungan. 3. Identifikasi subsistem yang ada pada sistem. 4. Analisis bagian sistem secara berurutan. a. Evaluasi tujuan. b. Membandingkan keluaran dengan tujuan. c. Mengevaluasi manajemen. d. Mengevaluasi sistem pengolah informasi. e. Mengevaluasi sumber daya. f. Mengevaluasi proses transformasi.
13

E. Prinsip-prinsip yang Mempeengaruhi Sisitem a. Prinsip Holistik Prinsip holistik adalah menentukan faktor pembentuk sistem secara keseluruhan , sebagai contoh: 1. Manusia melebihi kombinasi dari kerangka otot, syaraf, dan sebagainya. 2. Organisasi bisnis melebihi campuran manusia dan sumber-sumber fisik. 3. Tim sepak bola melebihi sebelas pemain. Seorang bernama A.Angyal 1969 mengemukakan perbedaan antara sesuatu keseluruhan dan representasinya melalui sebuah sistem.Istilah suatu keseluruhan (a whole) dibatasi hingga to designate the concrete organized object sedangkan organization itself, the way of arrangement of part dinamakan sistem.Karl R.Popper 1977 menggunakan kata rasionalisme untuk menunjukkan secara garis bessar suatu sikap yang berusaha memecahakn sebanyak mungkin masalah dengan bersandar pada akal, yaitu pikiran jernih dan pengalaman yang lebih, dari pada bersandar pada perasaan dan nafsu. b. Prinsip Teleologik Prinsip teleologik berusaha untuk memfungsionalisasikan elemen dan atributatribut sistem.Teleologik berasal dari kata Yunani teleos yang berarti tujuan dan logos berarti kata atau pikiran.Dalam teori ini yang terpenting adalah tujuan dan akibat.Prinsip teleologis mengikatkan dirinya pada konteks masalah, sebab suatu sistem bisa saja memiliki elemen yang tetap, tetapi bila tujuannya berbeda maka atribut yang ditinjau juga berbeda. c. Prinsip Dialektika Prinsip dialektika menyangkut prinsip-prinsip umum mengenai gerakan atau kecenderungan dan perkembangan sistem.Prinsip dialektika menuntut adanya
14

pengembangan asumsi-asumsi tentang sistem pada masa yang akan datang.Martin Landau 1972 mengetengahkan konsep perkembangan sistem seiring berjalannya atau berubahnya waktu, yaitu sebagai berikut: 1. Suatu sistem cenderung untuk terspesialisasi. 2. Suatu sistem cenderung ke sentralisasi. 3. Sistem yang hidup cenderung membentuk hirarki. F. Kemampuan Pendukung dalam Pendekatan Sistem Penerapan pendekatan sistem memerlukan dukungan kemampuan sebagai berikut: 1. Pengetahuan dasar atas fakta. 2. Pengetahuan atas prinsip-prinsip . 3. Kemampuan melakukan analisis. 4. Kemampuan melakukan evaluasi. Kemampuan-kemampuan diatas, meskipun sanagt penting belum memadai dan belum disertai dengan adanya kualitas sebagai berikut: 1. Kreativitas. 2. Imajinasi. 3. Kepekaan pada realita. 4. Kualitas helikopter. G. Metode Pendekatan Sistem Pendekatan sistem merupakan jawaban untuk mengenali keadaan yang kompleks dan mungkin memerlukan pengetahuan yang interdisiplin.Pendekatan sistem mencoba untuk mengenali apa yang tidak dari elemen-elemen sistem persoalan, sebab hanya elemenelemen terpenting yang memiliki kontribusi yang signifikan terhadap tujuan sistemlah yang diperhatikan.Meredith, Wong, Woodhead dan Wortman 1985 mengemukakan metode yang dapat dipakai dalam melakukan pendekatan sistem dan dianggap mampu mengakomodasikan kedua syarat tersebut, yaitu pendekatan kotak hitam, pendekatan teori status, pendekatan integrasi komponen, dan pendekatan proses keputusan.

15

a. Pendekatan Kotak Hitam Pendekatan kotak hitam digunakan bilamana tidak ada atau sedikit sekali yang diketahui, atau hanya diketahui sebagian atau diabaika, mengenai kaitan atau komposisi intern dari suatu sistem.Contoh masalah kotak hitam adalah sebagai berikut: 1. Persoalan analisis. 2. Persoalan sintesa. 3. Persoalan instrumentasi. 4. Persoalan pengendalian. 5. Persoalan estimasi keadaan. 6. Persoalan estimasi parameter. b. Pendekatan Teori Status Pendekatan ini lebih menyederhanakan kerja dan respons intern sistem kedalam bentuk seperangkat indikator sistem yang konsisten.Pendekatan teori ini dimulai dengan pengembangan seperangkat variabel-variabel yang dapat mewakili sistem.Secara umum, gambaran vektor status dari suatu sistem akan melibatkan bermacam variabel status atau variable yang memantau atau yang diperlukan untuk berbagai kepentingan dalam pendekatan teori sistem.Ilustrasi dari berbagai kelompok variabel status yang mungkin relevan dengan teori sistem diberikan dalam daftar berikut: 1. Karakteristik sistem yang berkaitan dengan jumlah komponen struktur sistem. 2. Variabel yang menerangkan konfigurasi sistem saat ini, komponen yang saat beroperasi lokasi spesial dan relatif. 3. Variabel yang menerangkan konfigurasi sistem masa lalu. 4. Parameter masukan saat ini. 5. Variabel yang menerangkan masukan sistem masa lalu. 6. Variabel yang menunjukkan seperangkat status sistem berikutnya yang mungkin saat ini.
16

7. Variabel yang menunjukkan sejarah masa lalu dari status sistem berikutnya yang mungkin ditambah dengan sejarah status yang secara aktual dicapai. 8. Variabel-variabel dengan tujuan khusus atau variabel peringkat terpadu.

c. Pendekatan Integrasi Komponen Pendekatan ini berusaha menetapkan respons sistem dalam bentuk perilaku komponen yang diketahui dan kaitan-kaitan komponen ini yang secara spesifik dikenali akan ditentukan. Masalah pendekatan ini yang mendasar adalah meramalkan perilaku dan respons sistem dalam bentuk masukan pengetahuan total tentang sifat komponen dan sifat konfigurasinya. Perkiraan perubahan inkremental(marginal) dalam perilaku dan respons sistem akibat adanya perubahan tertentu pada perlilaku dan hubungan komponen. Desain dimulai dengan memilih komponen yang progresif untuk mencapai sasaran sistem secara keseluruhan yang diinginkan,juga mencakup masalah penetapan konfigurasi sistem yang dikehendaki serta jumlah komponen yang dihasilkan sebelum desain komponen secara parsial. Pendekatan ini diterapkan pada situasi yang menyangkut tindakan berurutan(sequantial), proses kerja dan lain-lain.

d. Pendekatan Proses Keputusan Keputusan dapat dipandang sebagai pemilihan alternatif yang disukai,atau serangkaian tindakan,diantara alternatif yang diketahui dan tersedia bagi pengambil keputusan . pengambil keputusan dapat mengambil keputusan,bilamana keinginan akan hasil tertentu dievaluasi dengan cara tertentu berdasarkan satu atau lebih kriteria. Jika laternatif, hasil dan kriteria terlupakan pada suatu titik keputusan tertentu dalam proses keputusan,maka tidak akan diperoleh keputusan yang valid.

17

Proses keputusan haruslah meliputi hanya hubungan logis dan kendalanya saja bila batasan ini ada, dan mengingatkan pengambil keputusan akan perlunya memasukkan preferensi,kriteria, dan lain-lain yang bersifat subyektif. Terdapat banyak metode dalam pendekatan ini, antara lain pohon keputusan,analisis keputusan dengan banyak kriteria,analisis proses hirarki dan lain-lain. H. Diagram Sistem Diagram menyajikan koneksi-koneksi,hubungan-hubungan dan tatanan yang penting dalam suatu sistem, yang mencirikan suatu bagian untuk mewakili keseluruhan,nilai-nilai relatif, kondisi asal dan perkembangannya,kronologi perubahan,dan distribusi. Berdasarkan pengertian itu,kita dapat membedakan dua jenis diagram,yakni: 1. Diagram yang menunjukkan relasi sebagai suatu bagian(parsial) dari keseluruhan 2. Diagram lainnya yang menunjukkan kerangka acuan. Tipe pertama,terdiri dari apa yang kita sebut dengan diagram sistem,memiliki elemen-elemen dan hubungan yang paling sedikit dapat digambarkan dengan sebuah diagram tipe jaringan, di mana simpul mewakili elemen dan garis mewakili hubungan. Diagram sistem dapat dibagi menjdai dua kelompok,yakni penyajian suatu situasi yang terstruktur dengan baik dan situasi yang tidak terstruktur. Diagram yang termasuk dalam kelompok pertama adalah skematik,dalam arti hubungan dengan mengembangkan atau memformalkan konsepsi. Diagram sistem “keras” termasuk dalam kelompok ini diagram sistem keras berupaya menjelaskan keberadaan konvensidala pembuatan diagram untuk menunjukkan suatu sistem yang dimaksud. Diagram sistem lunak termasuk dalam kelompok kedua, yang kerap berhadapan dengan situasi yang kompleks. Graf Teori graf pertama kali diperkenalkan oleh Leonard Euler,seorang pakar matematika asal Swiss pada tahun 1736 untuk menggambarkan suatu persoalan jembatan
18

Konigsberg. Graf kemudian banyak digunakan dalam bentuk permainan atau tekateki. Biasanya graf dipakai untuk menunjukkan hubungan obyek diskret dalam suaatu himpunan dengan aturan tertentu,misalnya anggota himpunan kota-kota di Jawa Barat yang disinggahi oleh seorang salesman. Disini aturannya adalah “disinggahi” atau “dilalui”. Secara formal suatu graf terdiri dari himpunan sejumlah obyek yang terhingga,obyek dinotasikan dengan simpul dan dinyatakan dengan N, dan suatu himpunan ganda E yang merupakan himpunan pasangan unsur-unsur dari N yang disebut dengan sisi atau bsusr. Dengan demikian suatu graf G dapat dituliskan sebagai G=(N,E), dimana N adalah himpunan simpul, dan E adalah himpunan sisi yang merupakan himpunan bagian dari NxN. Bila suatu sisi e =E, dan e=(x,y) dengan x,y= N, maka dikatakan e menghubungkan x dan y, atau dengan pernyataan lain, x dan y bertemu pada sisi e. Jika hubungan ditunjukkan sebagai suatu garis panah yang menyatakan arah pengaruh,maka jaringan ini diistilahkan sebagai diagraf. Tetapi bila ada beberapa sisi atau hubungan anta dua variabel atau simpul, maka disebut multigraf atau grafganda. Suatu graf ganda dapat mewakili tingkat kerumitan yang diperlukan daalm identifkasi suatu sistem. Memang agak sulit untuk membubuhkan tanda pada hubungan langsung suatu sisi. Tanda positif berati bahwa jika suatu variabel sasaran dinaikkan atau diturunkan, maka variabel sasaran itu akan mengalami kenaikan (penurunan) juga. Hunungan semacam ini disebut hubungan menghambat(inhibiting). Kedua sifat tersebut disebut sisi berarah,yakni bahwa sisi(p,q), tidak sama dengan hubungan sisi(q,p). Tetapi bial suatu sisi (p,q)=(q,p) maka sisi tak berarah atau graf saja. Pada suatu graf,suatu simpul p = N dikatakan bersebelahan dengan simpul q= N,bila ada e=(p,q) = E,dengan pernyataan lain,bahwa p dikatakan bersebelahan dengan q,bila ada sisi yang menghubungkan p dan q dalam E. Suatu luf dalam diagraf dapat diidentifikasikan dengan mengikuti aliran logis seluruh jaringan dan menemukan satu/lebih sisi yang kembali pada titik awalnya,atau dapat
19

ditulis e=(p,p). Lup dapat diklasifikasikan menjadi positif dan negatif. Lup positif bersifat tumbuh dan berkembang,sedangkan lup negatif bersifat stabil. Untuk model stabil perlu adanya beberapa lup negatif untuk mengimbangi pertumbuhan lup positif. Diagram pengaruh (sebab akibat) adalah salah satu jenis diagraf yang digunakan dalam metode sistem dinamis untuk sistem-sistem ekonomi sosial. Perbedaan penting antara diagraf dan diagram pengaruh adalah atuyran logis simbol dari perilaku elemen.

Penggambaran sistem dinamis untuk menunjukkan interaksi umpan balik elemenelemen sistem dilakukan dengan menggunakan dua jenis diagram,yakni diagram kausal dan diagram aliran laju (rate) dan tingkat(level). Elemen-elemen sistem dihubungkan dengan garis-garis panah yang dilengkapi dengan tanda hubungan yang terjadi. Dua jenis hubungan yang mungkin terjadi adalah hubungan postif maupun negatif

Suatu lup umpan balik dikatakn berniali posiitf jika jumlah hubungan negatifnya adalah genap, dan negatif jika jumlah hubungan negatifnya adalah ganjil. Hubungan-hubungan sebab akibat ini baru akan terlihat dalam diagarm kausal. Diagram ini tidak menggambarkan proses akumulasi dan jenis aliran(material/informasi) yang terjadi. Setelah diagram kausal terbentuk maka kemudian dilakukan penentuan aliran rate dan level. Ada dua jenis variabel utama yang digunakan dalam pendekatan sistem dinamsi yaitu variabel level dan rate. Level adalah variabel yang menyatakan keadaan sistem pada suatu waktu, dan berfungsi mengakumulasikan hasil tiap tindakan. Rate menyatakan suatu tindakan atau kebijaksanaan,yang menggambarkan “laju perubahan” suatu level. Diagram rate dan level mengandung simbol-simbol yang saling berhubungan
20

yang menyatakan interaksi umpan balik elemen sistem,proses akumulasi dan jenis aliran terjadi. variabel, khusus. Ada empat variabel yang disimbolkan dalam diagram aliran,yaitu: 1. Variabel Level Levels(tingkat),suatu besaran fisik yang bisa diukur secara lansung. Variabel ini menyatakan proses akumulasi di dalam lup umpan balik. Simbolnya dibuat berupa empat persegi panjang. 2. Variabel Rate Rate atau laju adalah laju tumbuh yang mempengaruhi tingkat. Variabel ini menyatakan aliran yang menyebabkan penambahan dan pengurangan nilai suatu level. Simbolnya adalah berupa katup. 3. Variabel Tambahan (Auxiliary) Berfungsi untuk menyederhanakan hubungan informasi antara variabel level dengan rate. Variabel tambahan masih merupakan bagian dari variabel rate. Variabel-variabel tambahan yang mempengaruhi persamaan-persamaan laju tumbuh dinyatakan dengan lingkaran. 4. Variabel Eksogen(Exogenous) Variabel yang berasal dari luar sistem yang mempengaruhi sistem yang diamati. Simbolnya adalah lingkaran ganda.ada dua jenis aliran atau arus utama yang digambarkan sebab dalam diagram aliran rate dan level,yaitu aliran material(barang,manusia,uang,dan sebagainya) dan aliran informasi(hubungan akibat). Aliran material sebagai garis lurus,sedang aliran informasi Semua simbol itu dapat dikategorikan menjadi lima yaitu simbol parameter/konstanta, sumber dan endapan,dan simbol fungsi aliran,

21

digabarkan sebagai garis putus-putus. Aliran informasi tidak mempengaruhi isi variabel yang bersangkutan. Titik awal aliran informasi digambarkan sebagai suatu lingkaran kecil. Konstanta adalah suatu besaran yang tidak berubah nilainya selama waktu simulasi. Konstanta dapat berfungsi sebagai parameter dengan mengubah-ubah nilai-nilainya sesuai percobaan simulasi. Simbolnya adalah berupa garis pendek dengan titik awal informasi di tengahnya. Jarak waktu diungkapkan dengan segiempat-segiempat kecil. Sumber (sources) dan endapan (sinks) menyatakan suatu di luar sistem yang sifatnya tidak terbatas atau tidak pernah habis. Tujuan dan asal aliran yang tidak mempengaruhi sistem digambarkan menuju suatu endapan atau datang dari suatu sumber. Simbol awan mengungkapkan sumber atau endapan yang tidak penting bagi tingkah laku model sistem dinamis. Fungsi-fungsi khusus digunakan untuk membantu menjalankan proses yang terjadi pada sistem nyata yang diamati melalui model. Beberapa diantaranya adalah fungsi delay,tabel,logika,matematik dan fungsi uji masukan. Diagram blok suatu sistem adalah suatu penyajian bergambar dari fungsi yang dilakukan oleh tiap komponen atau elemen dan aliran sinyalnya. Diagram bok biasanya mewakili variabel dan hubungan yang terkuantifikasi dan selalu digambarkan untuk menyatakan suatu set persamaan.diagram semacam ini melukiskan hubungan timbal balik yang ada diantara berbagai komponen. Dalam suatu diagram blok semua variabel sistem saling berhubungan dengan blok fungsional. Blok fungsional /biasa disebut blok saja adalah suatu simbol operasi matematik pada sinyal masukan blok yang menghasilkan keluaran. Fungsi alih dari suatu komponen biasanya ditulis di dalamm blok, yang dihubungkan dengan anak panah untuk menunjukkan arah aliran sinyal. Sinyal hanya dapat mengalir pada arah yang menunjukkan oleh anak parah sehingga dimensi sinyal keluaran
22

dari blok sama dengan dimensi sinyal masukan dikalikan dengan dimensi fungsi alih dalam blok. Diagram blok suatu sistem tidak unik,dpat digambarkan dengan beberapa diagram blok yang berbeda,tergantung pada titik pandang analis. Keuntungan utama diagram blok dibandingkan dengan penyajian matematika yang abstrak belaka adalah: 1. Aliran sinyal dapat diusut atau ditelusuri dengan mudah melalui diagram set persamaan. 2. Lup positif dan negatif dapat dengan mudah diidentifikasi 3. Sifat model dapat dengan mudah dinilai,yakni apakah nonlinier.linear dan sebagainya. 4. Mudah untuk membentuk diagram blok keseluruhan sistem hanya dengan enghubungkan blok-blok komponen sesuai dengan aliran sinyal dan memungkinkan perhitungan kontribusi tiap komponen pada performansi keseluruhan sistem. Perlu dperhatiakan bahwa suatu diagram blok secara umum digunakan sebagai draf yang terkuantifikasikan,yakni diagraf parametrik dengan hubungan kuantitatif yang eksplisit. Diagram blok juga dapat digunaka dalam situasi dengan ide yang kontroversial atau bidang dengan pengetahuan yang lemah. Diagram blok sering dipakai untuk menyajikan sistem kontrol secara grafis. Walaupun demikian,untuk sistem yang sangat kompleks,proses penggambaran dan penyederhanaan (penciutan) memerlukan waktu yang cukup lama,membosankan,dan kadang-kadang sulit dilakukan. Cara lain untuk menentukan hubungan besaran-besaran antar variabel telah dikembangkan oleh S.J Mason (Ogata,1970) yang berlandaskan pada gambaran sistem dengan ruasruas garis. Keuntungan cara jalur jalan,yang disebut cara grafik aliran
23

sinyal,adalah tersedianya rumus penguatan grafik alir yang disebut rumus penguatan Mason, yang memberikan hubungan antara variabel-variabel sistem tanpa perlu melaksanakan penciutan dan manipulasi pada grafik alir. Grafik aliran sinyal terdiri dari suatu jaringan cabang-cabang berarah yang menghubungkan simpul-simpul. Tiap simpul menyatakan suatu variabel sistem, dan tiap cabang yang menghubungkan dua buah simpul berfungsi sebagai pengali sinyal. Sinyal hanya mengalir pada satu arah. Arah aliran sinyal ditunjukkan dengan anak panah yang ditempatkan pada cabag tersebut,sementara faktor pengali ditunjukkan pada sepanjang cabang tersebut. Grafik aliran sinyal menggambarkan aliran sinyal dari suatu titik pada sistem ke titik yang lain dan memberikan hubungan antara sinyal-sinyal tersebut. Informasi pada grafik aliran sinyal pada dasarnya hampir sama dengan diagram blok.biasanya dalam teknik kontrol automatik,grafik aliran sinyal digunakan untuk menggambarkan seperangkat persamaan diferensial simultan. Untuk menggunakan metode grafik aliran sinyal pada sistem kontrol, pertama kali harus mengubah persamaan diferensial menjadi persamaan aljabar dalam s dengan transformasi Laplace. Diagram Sistem Lunak Checkland(1979) mengemukakan bahwa suatu diagram yang mencoba

menggambarkan situasi lunak (soft),biasanya menyangkut sistem aktivitas manusia,misalnya,garis panah dengan jenis yang sama biasanya menggambarkan “adalah bagian dari”. Kemudian ia menyatakan bahwa tidak dipungkiri bahwa pembuat dan pengguna model dapat memahami diagram yang dibuatnya. Sayangnya diagram tersebut tidak dapat dibaca oleh oranglain,karena sifatnya yang tidak umum. Checkland kemudian mengajukan penggunaan suatu set simbol dan aturan untuk mengembangkan diagram sistem lunak yang diharapkan mampu menggambarkan bagian terpenting dari sistem dan merupakan struktur awal proses konseptualisasi sistem.

24

Ide diagram berasal dari pengertian kalimat-kalimat yang dapat diuraikan atau dipecah lagi menjadi ungkapan-ungkapan dimana ungkapan atau kalimat itu menghubungkan elemen-elemen sistem. Beberapa ungkapan tersebut merupakan awal,akhir atau irisan/bagian dalam dari satu atau lebih kalimat.

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->