P. 1
Makalah Pneumonia

Makalah Pneumonia

|Views: 333|Likes:
Published by Rahmah Martiyasih
Tugas IBD Kesmas UNSOED 2012
Tugas IBD Kesmas UNSOED 2012

More info:

Published by: Rahmah Martiyasih on Dec 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah kesehatan merupakan tantangan besar bagi dunia, sehingga masalah kesehatan termuat dalam 10 masalah yang dihadapi dunia di abad 21 ini. Lebih spesifiknya mengenai ancaman pandemi dan penyakit menular. Di Indonesia sendiri banyak factor yang menjadi masalah kesehatan masyarakat, diantaranya masalah perilaku kesehatan, lingkungan, genetik dan pelayanan kesehatan. Perilaku kesehatan bila mengacu pada penelitian Hendrik L. Blum di Amerika Serikat memiliki urutan kedua faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat setelah faktor lingkungan. Di Indonesia justru factor perilaku kesehatanlah yang diduga menjadi factor utama masalah kesehatan yang merupakan akibat dari masih rendahnya pengetahuan kesehatan dan faktor kemiskinan. Kondisi tersebut mungkin terkait tingkat pendidikan yang mempengaruhi pengetahuan masyarakat untuk berperilaku sehat. Karena terbentuknya perilaku diawali dengan pengetahuan tentang objek yang kemudian menimbulkan respon terhadap objek tersebut. Perilaku kesehatan sangat mempengaruhi perilaku hidup bersih dan sehat yang sedang menjadi prioritas utama pemerintah. Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum sadar bahkan belum peduli terhadap kondisi kesehatan lingkungan dan diri sendiri. Akibatnya banyak masalah kesehatan yang bermunculan. Apalagi di daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau oleh petugas kesehatan. Lingkungan yang tidak teratur dan minimnya tenaga kesehatan dapat memicu
1|Analisis Penyakit Pneumonia di Suku Baduy Dalam

terjadinya penyebaran penyakit yang mewabah atau di sebut kejadian luar biasa. Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa. Menurut aturan itu, suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur: • Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal • Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu) • Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

2|Analisis Penyakit Pneumonia di Suku Baduy Dalam

BAB II PERMASALAHAN
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka

kematiannya tinggi. Di Negara maju seperti Amerika dan Kanada dan Negara Negara Eropa saja penyakit ini cukup meresahkan. Di Amerika Serikat tercatat dua juta sampai tiga juta kasus pneumonia per tahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000 orang. Indonesia sendiri pada tahun 2011 tercatat sebagai Negara dengan berdasarkan World Pneumonia Day (WPD).

Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Peneliti Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI mengungkap, pneumonia saat ini menjadi penyebab utama kematian pada balita. "Di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian terbaru, sekitar 33 persen dari 1.200 anak sehat yang dilakukan pengambilan apusan, mengandung kuman s pneumonia di nasofaringnya," kata Sri Rezeki Hadinegoro di Jakarta, Senin (1/10). Di dunia, setiap tahunnya terjadi 156 juta kasus pneumonia baru di seluruh dunia, dan penyakit tersebut telah merenggut nyawa 1,5 juta anak usia di bawah lima tahun. Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Kasus pneumonia ditemukan paling banyak meyerang anak balita. Menurut laporan WHO, sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia taiap tahun akibat pneumonia. Bahkan UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai kematian tertinggi anak balita, melebihi penyakit-penyakit lain seperti campak, malaria serta AIDS.
3|Analisis Penyakit Pneumonia di Suku Baduy Dalam

Menurut profil data kesehatan Indonesia tahun 2011 pneumonia menempati peringkat 10 dalam daftar 10 besar penyakit rawat inap 2010 dengan jumlah kasus 9.340 untuk laki-laki dan 7.971 untuk perempuan. Dengan presentasi masing masing 53,59% dan 46,05%. Jumlah pasien keluar 17.311, dan pasien meninggal 1.315 orang. Masih menurut Profil Data Kesehatan Indonesia tahun 2011 yang di keluarkan Kementrian Kesehatan Indonesia, Jumlah kasus pneumonia pada balita menurut kelompok umur tahun 2011 tercatat sebanyak 157.249 kasus yang

menyerang anak usia dibawah 1 tahun, 301.217 kasus menyerang anak usia 1-4 tahun untuk pneumonia biasa dan 10.770 kasus usia dibawah 1 tahun dan 10.797 kasus usia 1-4 tahun untuk pneumonia berat. Dengan jumlah keseluruhan kasus 168.019 untuk usia dibawah 1 tahun dan 312.014 kasus pada anak usia 1-4 tahun yang tersebar di 33 provinsi. Tercatat 480.033 kasus pneumonia muncul di Indonesia, dengan Case Fatality Rate sebanyak 0,21% untuk anak usia dibawah 1 tahun,dan 0,08% untuk anak usia 1-4 tahun yang tersebar di 33 provinsi. Jika di urutakan menurut banyaknya kasus, Jawa Barat menempati posisi pertama dengan 168.146 kasus, disusul Jawa Timur sebanyak 73.786 kasus, DKI Jakarta sebanyak 40.296 di urutan ketiga, NTB sebanyak 32.669 kasus di urutan ke-empat, dank elima di tempati Jawa Tengah sebanyak 18.477 kasus. Berdasarkan Case Fatality Rate, Banten menduduki poisisi pertama dengan 115 orang meninggal, disusul NTB dengan 78 orang, Jawa Barat 76 orang, Sumatera Selatan 64 orang, dan Sumatera Utara 56 orang. Dilihat dari data, pneumonia merupakan penyakit penyebab kematian yang utama. Sayangnya, penyebab kematian utama pada balita ini termasuk dalam kelompok pembunuh yang terlupakan karena kurangnya edukasi dan tingkat

4|Analisis Penyakit Pneumonia di Suku Baduy Dalam

kesadaran yang rendah dari masyarakat. Contoh kasus pneumonia yang isunya termasuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa terjadi di Baduy, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kasus ini terjadi sekitar bulan Januari – Maret 2011. Dalam rentang 1,5 bulan terakhir, ada empat anak meninggal di Kampung Cibeo karena radang paru-paru (bronkopneumonia). Selain itu, 13 anak di Baduy Dalam yang menderita bronkopneumonia dan 27 anak lainnya yang menderita batuk disertai demam dan sesak nafas. Rentang umur anak-anak Baduy Dalam yang menderita radang paruparu adalah 1 sampai 11 tahun. Perut anak-anak itu buncit, tulang rusuknya tampak, dan nafasnya tersenggal-senggal. Dalam masalah pneumonia ini, ada beberapa point yang memerlukan penjabaran, yaitu:
1. Pneumonia 2. Masyarakat Baduy 3. Analisis Pneumonia di Suku Baduy

5|Analisis Penyakit Pneumonia di Suku Baduy Dalam

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Pneumonia 3.1.1 Pengertian Pneumonia

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) biasanya disebabkan oleh masuknya kuman bakteri, yang ditandai oleh gejala klinis batuk, demam tinggi dan disertai adanya napas cepat ataupun tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA (P2ISPA) semua bentuk pneumonia baik pneumonia maupun

bronchopneumonia disebut pneumonia (Depkes RI, 2002). Pneumonia merupakan penyakit batuk pilek disertai napas sesak atau napas cepat. Napas sesak ditandai dengan dinding dada bawah tertarik ke dalam, sedangkan napas cepat diketahui dengan menghitung tarikan napas dalam satu menit. Untuk balita umur 2 tahun sampai 5 tahun tarikan napasnya 40 kali atau lebih dalam satu menit, balita umur 2 bulan sampai 2 tahun tarikan napasnya 50 kali atau lebih per menit, dan umur kurang dari 2 bulan tarikan napasnya 60 kali atau lebih per menit (Depkes, 1991).

3.1.2

Penyebab Pneumonia

Sebagian besar penyebab Pneumonia adalah mikroorganisme (virus, bakteri). Dan sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin, atau sejenisnya) dan masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung ke dalam saluran pernapasan (aspirasi).

6|Analisis Penyakit Pneumonia di Suku Baduy Dalam

Berbagai

penyebab

Pneumonia

tersebut

dikelompokkan

berdasarkan

golongan umur, berat ringannya penyakit dan penyulit yang menyertainya (komplikasi). Mikroorganisme tersering sebagai penyebab Pneumonia adalah virus, terutama Respiratory Syncial Virus (RSV) yang mencapai 40%. Sedangkan golongan bakteri yang ikut berperan terutama Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae type b (Hib). Awalnya, mikroorganisme masuk melalui percikan ludah (droplet), kemudian terjadi penyebaran mikroorganisme dari saluran napas bagian atas ke jaringan (parenkim) paru dan sebagian kecil karena penyebaran melalui aliran darah (Setiowulan, 2000). Sedangkan dari sudut pandang sosial penyebab pneumonia menurut Depkes RI (2004) antara lain: a. Status gizi bayi Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck. 2000 : 1). Klasifikasi status gizi pada bayi berdasarkan Kartu Menuju Sehat adalah: 1) Gizi Lebih 2) Gizi Baik 3) Gizi kurang 4) Gizi buruk

7|Analisis Penyakit Pneumonia di Suku Baduy Dalam

b. Riwayat persalinan Riwayat persalinan yang mempengaruhi terjadinya pneumonia adalah ketuban pecah dini dan persalinan preterm (Setiowulan.2000).

c. Kondisi sosial ekonomi orang tua Kemampuan orang tua dalam menyediakan lingkungan tumbuh yang sehat pada bayi juga sangat mempengaruhi terhadap terjadinya pneumonia. Klasifikasi kesejahteraan keluarga adalah : 1) Keluarga sejahtera yaitu keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras. dan seimbang antar anggota, serta antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungannya 2) Keluarga sejahtera I yaitu keluarga yang kondisi ekonominya baru bisa memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya. 3) Keluarga pra sejahtera yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, belum mampu melaksanakan ibadah berdasarkan agamanya masing-masing, memenuhi kebutuhan makan minimal dua kali sehari, pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja, sekolah, dan bepergian, memiliki rumah yang bagian lantainya bukan dari tanah, dan belum mampu untuk berobat di sarana kesehatan modern (BKKBN, 2002). d. Lingkungan tumbuh bayi

8|Analisis Penyakit Pneumonia di Suku Baduy Dalam

Lingkunngan tumbuh bayi yang mempengaruhi terhadap terjadinya pneumonia adalah kondisi sirkulasi udara dirumah, adanya pencemaran udara di sekitar rumah dan lingkungan perumahan yang padat (www.infokes.com, 2006).

e. Konsumsi ASI Jumlah konsumsi ASI bayi akan sangat mempengaruhi imunitas bayi, bayi yang diberi ASI secara eksklusif akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI secara eksklusif.

3.1.3

Klasifikasi Pneumonia

Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi pneumonia sebagai berikut: a. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing). b. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat c. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia (Rasmailah, 2004).

3.1.4

Tanda dan Gejala Klinis Pneumonia

Tanda-tanda Pneumonia sangat bervariasi, tergantung golongan umur, mikroorganisme penyebab, kekebalan tubuh (imunologis) dan berat ringannya penyakit. Pada umumnya, diawali dengan panas, batuk, pilek, suara serak, nyeri tenggorokan. Selanjutnya panas makin tinggi, batuk makin hebat, pernapasan cepat
9|Analisis Penyakit Pneumonia di Suku Baduy Dalam

(takipnea), tarikan otot rusuk (retraksi), sesak napas dan penderita menjadi kebiruan (sianosis). Adakalanya disertai tanda lain seperti nyeri kepala, nyeri perut dan muntah (pada anak di atas 5 tahun). Pada bayi (usia di bawah 1 tahun) tanda-tanda pnemonia tidak spesifik, tidak selalu ditemukan demam dan batuk.

Selain tanda-tanda di atas, WHO telah menggunakan penghitungan frekuensi napas per menit berdasarkan golongan umur sebagai salah satu pedoman untuk memudahkan diagnosa Pneumonia, terutama di institusi pelayanan kesehatan dasar (Setiowulan, 2000).

Tabel 2.1. Pedoman Perhitungan Frekuensi Napas (WHO) Umur Anak 0 – 2 Bulan 2-12 Bulan Napas Normal 30-50 per menit 25-40 per menit Takipnea (Napas cepat) sama atau > 60 x per menit sama atau > 50 x per menit

3.1.5

Cara Penularan Penyakit Pneumonia

Pada umumnya penyakit pneumonia ditularkan melalui percikan ludah, kontak langsung lewat mulut atau kontak tidak langsung melalui peralatan yang terkontaminasi oleh discharge saluran pernafasan (Chin, 2000). Menurut Himawan yang dikutip oleh Putri (2006), cara penyebaran infeksi penyakit pneumonia ada dua, yaitu : a. Melalui Aerosol (mikroorganisme yang melayang di udara) yang keluar pada saat batuk dan bersin. b. Melalui kontak langsung dari benda yang telah tercemar mikroorganisme penyebab (hand to hand transmission).

10 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

Dari beberapa penelitian klinik, laboratorium dan penelitian lapangan, diperoleh kesimpulan bahwa sebenarnya kontak hand to hand merupakan modus terbesar bila dibandingkan dengan cara penularan aerosol.

3.2

Masyarakat Baduy Suku Baduy merupakan satu-satunya kelompok masyarakat yang hidup di

daerah dengan kondisi geografis yang sangat sulit, kondisi ini yang menyebabkan orang menyebut dengan suku yang terisolir. Letak masyarakat Baduy berada di Kecamatan Leuwidamar dan termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Cisimeut. Suku Baduy terdiri atas Baduy-Luar dan Baduy-Dalam, dengan pola kehidupan yang cukup berbeda. Untuk mencapai BaduyDalam harus melewati masyarakatan Baduy-Luar yang ditempuh dengan berjalan kaki dan kondisi jalan yang berbukit serta licin. Jarak tempuh untuk mencapai Baduy Dalam sekitar 5 – 6 jam melalui pintu masuk dari Kampung Ciboleger wilayah Puskesmas Cisimeut. Sedangkan jika pintu masuk melalui Kampung Cijahe wilayah Puskesmas Cirinten dapat ditempuh kurang lebih 2-3 Jam. Wilayah yang termasuk Baduy-Dalam terdiri atas 3 (tiga) Kampung yaitu Kampung Cikatawarna, Kampung Cikeusik dan Kampung Cibeo. Letak ketiga Kampung ini cukup jauh yang ditemuh melalui berjalan kaki sekitar 1 jam perjalanan. Kehidupan sehari-hari Baduy-Dalam sebagai mata pencaharian adalah dengan berhuma dengan lokasi paling jauh 10 Km dari tempat tinggal. sedangkan pola waktu yang digunakan untuk ke Huma adalah jam 04.00 – 17.00 WIB, sehingga waktu berkumpulnya masyarakat Baduy-Dalam adalah malah hari. Keputusan adat yang ada di lingkungan masyarakat baduy terletak ditangan PUUN (Pemimpin) yang keberadaannya tidak pernah keluar rumah dan sulit untuk

11 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

ditemui. Sedangkan kesehariannya masyarakat Baduy Dalam dipimpin oleh JARO (Kepala Kampung). Salah satu gambaran kehidupan masyarakat Baduy-Dalam di Kampung Cibeo adalah: Jumlah Rumah yang ada sebanyak 96 rumah Setiap rumah dihuni oleh 1 -3 Kepala Keluarga Jumlah penduduk sebanyak 510 jiwa Jenis ternak yang dipelihara adalah ayam, kucing dan anjing (digunakan untuk menjaga huma.

3.3

Hasil Analisis Pneumonia di Suku Baduy 3.3.1 Hasil Penyelidiakn dan Penanganan Suspek KLB Pneumonia

Berdasarkan Laporan Verifikasi Rumor Suspek KLB Pneumonia di Suku Baduy Dalam Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak tanggal 1516 Maret 2012, yang dilakukan atas kerjasama Kementrian Kesehatan Jakarta, Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Dinas Kesehetan Kabupaten Lebak dan Puskesmas Cisimet maka diperoleh beberapa data, antara lain: a. Distribusi Penyakit Hasil Penyelidikan KLB

Dalam penyelidikan dan penanganan KLB pneumonia di Baduy-Dalam dan Baduy-Luar dilakukan pengobatan penderita secara total covered, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui jenis penyakit yang beredar di lingkungan masyarakat Baduy. Penggalian informasi untuk mencari factor-faktor esensial yang berpengaruh pada perjalanan penyakit ini dilakukan melalui pendekatan tidak langsung. Komunikasi dengan masyarakat Baduy-Dalam cukup baik dengan menggunakan

12 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

bahasa Indonesia. Pengamatan lingkungan tempat tinggal juga dilakukan untuk mendukung analisis perjalanan penyakit yang menyerang masyarakat Baduy-Dalam. Jumlah masyarakat Baduy yang mengalami keluhan penyakit sebanyak 99 penderita dengan jenis penyakit yang bervariasi. Keluhan yang terbanyak adalah batuk bukan pneumonia sebanyak 64 penderita sedangkan masyarakat yang mengalami pneumonia sebanyak 21 penderita dengan rincian pneumonia ringan 14 dan pneumonia berat 7 penderita. Untuk melihat distribusi masyarakat Baduy yang mengalami keluhan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Distribusi Penyakit menurut Hasil Pemeriksaan pada Masyarakat Baduy - Kabupaten Lebak Tanggal 15 - 16 Maret 2012
70 60 50 40 30 20 10 0 11 7 2 2 2 64

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

1

b.

Proporsi Penderita Penyakit Pneumonia

Pengelompokan penderita pneumonia di masyarakat Baduy terbagi menjadi 4 (empat) macam, yaitu pneumonia dan Helminthialis (5%), Pneumona dan Tonsilitis

13 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

(10%), pneumonia (52%) dan pneumonia berat (33%). Gambaran tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Proporsi Penderita Pneumonia pada Masyarakat Baduy - Kabupaten Lebak Tanggal 15 - 16 Maret 2012
Pneumonia Pneumonia, Tonsilitis Pneumonia berat Pneumonia, Helminthialis

10%

5%

52% 33%

c.

Distribusi Penderita Pneumonia menurut Waktu

Berdasarkan hasil penyelidikan di lapangan, waktu timbulnya gejala pertama (onset time) setiap penderita sangat sulit ditentukan hal ini dikarenakan semua penderita pneumonia yang ditemukan mempunyai riwayat pertama kali keluhan sekitar 1 (satu) bulan sebelumnya. Sehingga variable waktu yan dapat digambarkan adalah kisaran waktu berdasarkan penemuan kasus. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

14 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

Distribusi Kasus Pneumonia menurut Waktu Penemuan pada Masyarakat Baduy - Kabupaten Lebak Tanggal Peb - Maret 2012
15

Jumlah

10 5 0 Total 28/02/2012 14 3/3/2012 4 13/03/2012 2 15/03/2012 1

d.

Distribusi Penderita Pneumonia menurut Tempat

Sebaran kasus pneumonia yang ditemukan pada saat penyelidikan di lapangan, kasus lebih banyak ditemukan di Kampung Cibeo dengan jumlah kasus 19 penderita dan 4 penderita meninggal sedangkan di Kampung Cisadane hanya menemukan 2 penderita dan 1 penderita meninggal.

15 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

Sedangkan angka kematian kasus pneumonia paling tinggi terdapat di Kampung Cisadane (50%) dibandingkan dengan Kampung Cibeo (21,1%)

e.

Distribusi Penderita Pneumonia menurut Orang

Berdasarkan kelompok umur, penderita pneumonia paling banyak menyerang kelompok Balita yaitu 38% dan juga ditemukan penderita pneumonia pada kelompok bayi sebesar 19%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pola penularan penyakit berada dilingkungan tempat tinggal dan kondisi rumah tinggal. Sebaran kasus tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

16 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

Sedangkan angka kematian penderita pneumonia lebih besar pada kelompok usia balita (CFR = 50%)

3.3.2

Hambatan / Kendala

a. Kendala Geografis, Secara geografis kawasan ini termasuk kawasan yang susah dilewati oleh kendaraan roda 2 sekalipun, karena lokasi terletak di perbukitan dan lembah yang tidak terawat dengan baik. b. Kendala Adat Istiadat, Tingkat kepatuhan masyarakat terhadap adat setempat masih sangat kuat, beberapa solusi sulit di berikan karena ada anggapan bertentangan dengan adat setempat. Pengaruh Jaro/ puun di wilayah ini sangat besar c. Sosial, Hubungan sosial ke masyarakat di sekitar kampung masih kurang, karena masing-masing mempunyai kesibukan pada siang hari ke Huma (ladang) dan baru pada malam hari ada di rumah d. Pendidikan, Hampir keseluruhan masyarakat di badiuy dalam tidak mengenyam pendidikan termasuk anak keturunan mereka
17 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

e. Sulitnya sarana komunikasi dan transformasi i alih teknologi seperti telpon,radio, TV, koran dan lain-lain

3.3.3

Faktor Resiko

1. Lingkungan a. Kondisi Rumah tidak memenuhi criteria Rumah Sehat seperti:  Penerangan dan ventilasi udara sangat kurang (tidak ada jendela, pintu hanya satu, dapur di dalam rumah)  Penghuni Rumah yang padat, setiap rumah di huni oleh 1 – 3 KK

b. Lingkungan sekitar kurang bersih, hewan peliharaan (ayam) tidak dikandangkan 2. Pelayanan Kesehatan   Kepercayaan terhadap petugas kesehatan masih kurang Masyarakat lebih percaya kepada dukun

3. Perilaku dan Budaya  Budaya masyarakat masih belum menerima upaya pencegahan terhadap penyakit seperti imunisasi khususnya yang menggunakan jarum suntik, karena melanggar adat  Kesadaran masyarakat untuk berobat ke tempat pelayanan kesehatan saat sakit masih rendah  Jika ada masyarakat yang sakit dan mendapatkan obat, maka pemantauan obat diminum sesuai aturan sangat sulit  Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sangat buruk seperti Mandi tidak pakai sabun, tidak sikat gigi, Baju tidak diganti dan Kaki tidak pakai alas
18 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

Tidak ada Fasilitas MCK dan sumber air yang dgunakan dari air sungai.

4. Pola makan  Konsumsi makanan yang mengadung zat gizi sangat kurang (konsumsi makanan keseharian hanya dengan nasi, garam, ikan asin kadang sayur dari hasil bumi yang ada.  Keberadaan hewan peliharaan (ayam) bukan milik perorangan tetapi milik bersama yang digunakan untuk acara adat seperti acara KALAWU setiap tahun 2 kali 5. Sosio Ekonomi  Masyarakat tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap.

3.3.4

Pencegahan Pneumonia dan Potensinya di Suku Baduy

Mengingat Pneumonia adalah penyakit beresiko tinggi yang tanda awalnya sangat mirip dengan Flu, alangkah baiknya para orang tua tetap waspada dengan memperhatikan tips berikut :

a. Menghindarkan bayi (anak) dari paparan asap rokok, polusi udara dan tempat keramaian yang berpotensi penularan. b. Menghindarkan bayi (anak) dari kontak dengan penderita ISPA. c. Membiasakan pemberian ASI. d. Segera berobat jika mendapati anak kita mengalami panas, batuk, pilek. Terlebih jika disertai suara serak, sesak napas dan adanya tarikan pada otot diantara rusuk (retraksi).

19 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

e. Periksakan kembali jika dalam 2 hari belum menampakkan perbaikan. Dan segera ke RS jika kondisi anak memburuk. f. Imunisasi Hib (untuk memberikan kekebalan terhadap Haemophilus influenzae, vaksin Pneumokokal Heptavalen (mencegah IPD= invasive pneumococcal diseases) dan vaksinasi influenzae pada anak resiko tinggi, terutama usia 6-23 bulan. Sayang vaksin ini belum dapat dinikmati oleh semua anak karena harganya yang cukup mahal. g. Menyediakan rumah sehat bagi bayi yang memenuhi persyaratan : Memiliki luas ventilasi sebesar 12 – 20% dari luas lantai. Tempat masuknya cahaya yang berupa jendela, pintu atau kaca sebesar 20%. h. Terletak jauh dari sumber-sumber pencemaran, misalnya pabrik, tempat pembakaran dan tempat penampungan sampah sementara maupun akhir (Menkes, 1999). Potensi yang menjadi Peluang mayarakat baduy untuk terbebas dari pneumonia dan meningkatkan derajat kesehatan. a. Masyarakat Baduy Dalam sudah mempunyai persepsi positif terhadap pengunjung khususnya kepada tenaga kesehatan b. Adanya sedikit perubahan perilaku hidup bersih seperti : c. Sudah adanya bak kayu untuk penanpungan air d. Sudah adanya MCK darurat walaupun digunakan hanya untuk tamu e. Baduy Dalam sudah dijadikan daerah wisata yang sering didatangi pengunjung f. Adanya peran PUUN dan JARO yang dapat memberikan pengaruh positif pada masyarakat

20 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

g. Adanya masyarakat setempat yang peduli dengan kesehatan seperti :  Kader yang dipercaya untuk memberikan pengobatan seperti ayah mursid  Adanya petugas kesehatan senior yang sangat dipercaya oleh masyarakat Baduy Dalam seperti Mantri Rasidi dan Bidan Ros.

21 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

BAB IV KESIMPULAN

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) biasanya disebabkan oleh masuknya kuman bakteri, yang ditandai oleh gejala klinis batuk, demam tinggi dan disertai adanya napas cepat ataupun tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Sebagian besar penyebab Pneumonia adalah mikroorganisme (virus, bakteri). Sedangkan dari sudut pandang sosial penyebab pneumonia antara lain: konsumsi ASI, lingkungan tumbuh bayi, kondisi sosial ekonomi orang tua, riwayat persalinan, dan status gizi bayi Pneumonia diklasifikasikan menjadi pneumonia berat, pneumonia, dan bukan pneumonia. Pada umumnya pneumonia termasuk kedalam penyakit menular yang ditularkan melalui udara. Sumber penularan adalah penderita pneumonia yang menyebarkan kuman ke udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk droplet. Inhalasi merupakan cara terpenting masuknya kuman penyebab pneumonia kedalam saluran pernapasan yaitu bersama udara yang dihirup, di samping itu terdapat juga cara penularan langsung yaitu melalui percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan berbicara kepada orang di sekitar penderita, transmisi langsung dapat juga melalui ciuman, memegang dan menggunakan benda yang telah terkena sekresi saluran pernapasan penderita. Mengenai rumor KLB Pneumonia yang terjadi di Suku Baduy Dalam Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, berdasarkan hasil verifikasi rumor yang telah dilakukan atas kerjasama Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, dan Puskesmas Cisimeut bahwa keadaan ini dinyatakan sebagai KLB pneumonia karena kasus
22 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

mengelompok secara kluster dan adanya kasus kematian yang signifikan di walayah Baduy Dalam, khususnya kampong Cibeo dan Kampung Cisadane (Baduy Luar). Jumlah total masyarakat Baduy yang mengalami keluhan sakit adalah sebanyak 99 penderita dengan diagnosis Batuk, pilek, pneumonia, gastritis, myalgia dll. Sedangkan gambaran klinis penderita yang menunjukan gejala klinis penyakit Pneumonia, adalah sebanyak 21 penderita dan 5 meninggal (CFR=23%) . Proporsi kasus menurut kelompok umur paling tinggi menyerang kelompok usia Balita (1-4 tahun) yaitu 38% dengan angka kematian (CFR) sebesar 50%. Distribusi KLB pneumonia ini lebih banyak menyerang pada Kampung Cibeo yaitu 19 kasus dan 4 meninggal (CFR=21,1%) sedangkan Kampung Cisadane kasusnya 2 dan 1 meninggal (CFR=50%) Peningkatan Kasus pneumonia di masyarakat Baduy cenderung dipengaruhi oleh faktor resiko yang sangat signifikan, tetapi masih ada potensi-potensi yang dijadikan peluang untuk peningkatan status kesehatan.

23 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

DAFTAR PUSTAKA
Beck, Mary. 2000. Ilmu Gizi dan Diet. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica Beritasatu, 2012. http://www.beritasatu.com/features/75173-pneumonia-pembunuhbalita-nomor-satu.html. Diakses 10 Oktober 2012, pukul 20.00 WIB BKKBN, 2002. Buku Saku Pelayanan Kontrasepsi IUD. Sumatera Utara Depkes R.I., (2002) Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut Untuk Penanggulangan Pneumonia Pada Balita, Ditjen PPM-PLP. Jakarta. Depkes R.I., 1999, Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010, Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia Indonesia, Kementrian Kesehatan, Sekretariat Jenderal, 2012. Profil Data Kesehatan Tahun 2011. Jakarta : Kementerian Kesehatan Institutional Repository, USU. 2011. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17591/4/Chapter%20II.pdf. diakses 20 Oktober 2012 pukul 21.45 WIB Mansjoer, Arif. Suprohaita. Wardhani, Wahyu Ika. Setiowulan, Wiwiek. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : Media Aesculapius. Rasmailah. 2004. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya. Fakultas Kesehatan Masyrakat Universitas Sumatera Utara.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17591/4/Chapter%20II.pdf. Yulianti, Iin, 2010. http://iyinrisa.blogspot.com/2010/12/kejadian-luar-biasa-

klb.html diakses 14 Oktober 2012 pukul 21.30 WIB Dinas Kesehatan Provinsi Banten. 2012. Laporan Verifikasi Rumor Suspek Klb Pneumonia Di Suku Baduy Dalam Desa Kanekes Kec. Leuwidamar Kab. Lebak. http://www.dinkes.bantenprov.go.id/berita-147-verifikasi-rumor-

suspek-klb-pneumonia-di-suku-baduy-dalam--desa-kanekes-kec.-leuwidamarkab.-lebak--.html. Diakses 05 Oktober 2012 pukul 20.00 WIB

24 | A n a l i s i s P e n y a k i t P n e u m o n i a d i S u k u B a d u y D a l a m

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->