Pemerintahan Dalam Sistem Demokrasi di Era Reformasi

Ketika Abraham Lincoln menyampaikan pidatonya yang sangat terkenal di Gettysburg pada tahun 1863, ia secara sederhana menggambarkan demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (government of the people, by the people and for the people). Tetapi kalu di teliti lebih mendalam, inti dari demokrasi adalah pemerintahan “oleh rakyat”. Mengapa demikian? Karena semua pemerintahan, apapun bentuknya, pasti berasal dari rakyat. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang memerintah yang bukan dari rakyat. Dan, karena sebuah pemerintahan otoriter bisa juga berbuat untuk kepentingan rakyat (biasanya disebut benevolent authoritarian regime), maka pemerintah dari rakyat dan pemerintah untuk rakyat tidak murni merefleksikan demokrasi. Hanya pemerintahan oleh rakyat yang murni mencerminkan demokrasi. Sesungguhnya, semua bentuk pemerintahan memiliki satu sifat yang sama, yaitu kewenangan untuk membuat hukum atau peraturan, serta kekuasaan untuk memaksa semua pihak agar menaati hukum dan peraturan itu. Beda antara sistem yang demokratis dan yang tidak demokratis terletak pada kenyataan bahwa di dalam sistem yang demokratis, kewenangan dan kekuasaan semacam itu dibangun dan dipelihara berdasarkan kesepakatan dari rakyat, sementara didalam sistem yang tidak demokratis, rakyatlah yang memiliki kedaulatan. Dari itu semua kita kembali pada sistem pemerintahan di Indonesia. Secara umum sistem diartikan sebagai hubungan fungsional antara bagian dalam keseluruhan. Bagian-bagian itu saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Hubungan itu semikian erat menimbulkan ketergantungan satu sama lain. Sementara arti pemerintahan adalah perbuatan, cara atau hal urusan memerintah yang dilakukan oleh pemerintah. MenurutE.Utecht, istilah pemerintahan meliputi : 1. Pemerintah sebagai gabungan dari semua badan kenegaraan atau alat perlemngkapan negara yang berkuasa atau memerintah dalam arti luas yang meliputi badan yang membuat peraturan (legislatif), badan yang menjalankan peraturan (eksekutif), dan badan yang mengadili pelanggaran peraturan (yudikatif). 2. Pemerintah sebagai badan kenegaraan tertinggi yang berkuasa memerintah di wilayah suatu negara (kepala negara). 3. Pemerintah sebagai badan eksekutif, yang berati bahwa kepala pemerintahan bersama mentrimentrinya. Sebagai contoh di Indonesia yaitu presiden yang dibantu oleh para mentri. Sistem pemerintahan di Indonesia yaitu Presidensial, yang sebelumnya pernah menerapkan sistem Parlementer, yaitu ketika dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tanggal 14 November 1945 yang dilanjutkan dengan berlakunya Konstitusi RIS 1945 dan UUDS 1950. Beberapa kelebihan dari sistem parlementer yang pernah diterapkan di Indonesia, antara lain kuatnya lembaga legislatif dalam mengawasi (mengontrol) kebijakan pemerintah sehingga pemerintah tidak berani melakukan tindakan yang menyimpang dari kekuatan yang telah di tetapkan; sistem parlementer mendorong timbulnya partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi rakyat yang dapat menumbuhkembangkan kehidupan politik yang demokratis. Adapun kelemahan dari sistem parlementer yang berlaku di Indonesia antara lain sering terjadinya pergantian kabinet yang berakibat program pemerintah tidak

misalnya. Dalam pengertian ini. Itulah sebabnya maka pemerintahan pada tingkat pertama adalah ruling. Prinsip tentang hak-hak dasar warga negara ini sudah berlaku di inggris sejak tahun 1215. namun sistem jalan terus. Sejalan dengan pemisahan kekuasaan. yang juga berati nasib rakyat. Dari sini kemudian muncul beberapa pergolakan atau pemberontakan yang dikenal dengan gerakan separatis ataupun ekstremis. demokrasi juga menjadikan hukum sebagai landasan peyelenggaraan pemerintahan. biasanya diidentikan dengan negara hukum. saling mengawai dan saling tergantung satu sama lain. setiap orang berhak memperoleh perlakuan yang adil berdasarkan hukum yang berlaku. Hanya dengan memperkuat sistem. dan memutuskan apakah hukum telah dilanggar dalam kasus tertentu. di asumsikan bahwa pada dasarnya berkenaan dengan urusan membuat hukum. dan kebijaksanaan sang penguasa itulah yang menjadi acuan Plato ketika ia mempersyaratkan bahwa penguasa seyogyanya adalah juga seorang filosof (the Philosopher King). Jadi. Ini kemudian yang memberi inspirasi tentang perlunya melakukan pemisahan kekuasaan atas kekuasaan-kekuasaan legislative. Maksud dari pemisahan itu adalah untuk menghindari menumpuknya kekuasaan pada satu tangan. menjelaskan hukum. Singkatnya. pemerintah bukan swaja harus menjadikan dirinya sebagai hukum yang bicara. sangat tergantung pada kualitas kepribadian dan kemampuan sang penguasa Konteks Pemerintahan Demokrasi Pemisahan kekuasaan. sebagaimana termuat dalam Magna Carta. bukan kepada sistem yang solid. Baik buruknya pemerintahan. Pemerintahan sebagai seni pengelolaan kekuasaan sudah hadir sejak awal kehidupan manusia. Dari sini sudah jelas bahwa kepemimpinan merupakan inti dari wujud pemerintahan di awal kelahirannya. kecendekiaan. dalam konteks ruling ini. dan penonjolan wibawa pribadi pemimpin merupakan modal awal dari pemerintahan itu sendiri. Juga. Jadi. maka negara demokrasi. tetapi juga menjamin dan memelihara indepndensi lembaga-lembaga peradilan. . akan sangat riskan karena tidak akan mampu menjamin stabilitas dan kontinuitas kehidupan pemerintahan. melalui mana kekuasaan dikelola sepenuhnya atau sebagian besar berdasarkan petunjuk dan pengarahan sang ruler. Ini yang dimaksud dengan sistem. Itulah sebabnya. penguasa bisa datang dan pergi. eksekutif dan judikatif. Pandangan tentang pemerintahan yang berdasarkan kepada wibawa. pemerintah tidak dapat mengambil hak milik orang-seseorang tanpa kewenangan hukum yang jelas dan pembayaran kompensasi yang wajar. dan tidak seorang pun dapat dipenjara kecuali ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan. menggantungkan nasib pemerintahan. sehingga kemungkinan bagi terjadinya penyalahgunaan dan kesewenang-wenangn kekuasaan dapat dihindari. kelangsungan pemerintahan yang bebas dari kemungkinan diselewengkan dapat diupayakan. tidak seorangpun dapat ditahan untuk dipriksa oleh polisi kecuali dicurigai telah melanggar hukum (dengan bukti-bukti awal yang cukup). kepada kekuasaan orang-seorang. Kekuasaan pemerintah harus disusun dan dibagi ke dalam struktur-struktur kelembagaan dan kewenangan yang saling membatasi. Dengan memisahkan itu tiga cabang kekuasaan itu diharapkan adanya saling ketergantungan dan saling control dalam keseimbangan kekuasaan di antara mereka (checks and balances).dapat terselesaikan sehingga memicu ketidak puasan rakyat.

Madison. ia pasti akan mampu menampilkan pemerintahan yang lebih baik dari pada otoritarianisme. Menurut mereka. Mengapa? Karena demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat. Didalam kenyataan. Untuk yang terakhir ini.” Hayek juga mengatakan bahwa demokrasi bukanlah merupakan tujuan dalam dirinya sendiri. yaitu kesamaan hak bagi setiap warga negara untuk bergiat di bidang ekonomi dan memperoleh pelayanan dari negara didalam memajukan kehidupan ekonominya. I am not a democrat. mandiri. demokrasi bermakna adanya kesempatan bagi rakyat untuk menerima atau menolak orang-orang yang akan memerintah mereka. Maka. melainkan sebagai alat untuk menjamin tercapainyatujuan politik yang lebih tinggi. adalah perjuangan yang terus menerus. misalnya. betapapun tidak sempurnanya hasil yang dapat dicapai dari upaya demokratisasi. Secara teoritik. upaya mewujudkan pemerintahan yang demokrasi. Kebebasan berpolitik. akan tercermin melalui keleluasaan setiap orang untuk mengambil bagian dalam kegiatan politik apapun sepanjang tidak melanggar hukum dan tidak melecehkan etika kehidupan berbangsa.Persoalannya adalah demokrasi tidak akan terbentuk dengan sendirinya hanya karena ia baik. Penerapan atas prinsip-prinsip dan asumsi-asumsi diatas tentu saja tidak akan pernah sempurna. tetapi pada saat yang sama mencegah terjadinya kesewenag-wenangan sang pemimpin setelah duduk dalam kekuasaan. serta mengakui dan melandaskan diri pada nilai kesederajatan dan kebebasan. kesederajatan diartikan sebagai kesamaan hak dari setiap pribadi untuk menikmati kehidupan dan mengajar kebahagiaan. Tetapi ini tidak penting. Ini berkenaan dengan kesederajatan hukum (legal equality). Sikap senada juga dikemukakan oleh Hayek: ” if democracy means unrestricted will of majority. yaitu kesamaan hak dari setiap warga negara untuk memilih dan dipilih. Mill sangat kahwatir terhadap kemungkinan tergelincirnya demokrasi kedalam perangkap majority rule yamg tak terkendali (supermasi mayoritas) karena hal ini dapat mengancam ke bebasan. batas-batas dari penerapan atas dua nilai dasar demokrasi ini senantiasa menjadi topik perdebatan. Secara spesifik. idialisme demokrasi tidak akan pernah terwujud secara sempurna. mayoritas yang tidak menghargai hak-hak kebebasan minoritas justru merupakan ancaman terhadap eksistensi demokrasi. Demokrasi itu sendiri pada hakekatnya adalah sebuah idealisme tentang sistem pemerintahan yang memberi harga tertinggi kepada harkat manusia sebagai mahluk yang rasional. kreatif dank arena itu dewasa. demokrasi juga bisa dilihat sebagai sistem yang membuka peluang luas bagi berlangsungnya arrangement kelembagaan untuk memperoleh pemimpin yang legitimate. menghargai supermasi hukum. memiliki mekanisme untuk mencegah kesewenag-wenagan. dan kesederajatan ekonomi (economic equality). de Tocqueville dan J. Yang penting adalah pilihan untuk mengambil jalan itu. Menurut Schumpeter.Adapun tentang kesedrajatan dan kebebasan. yaitu jaminan perlakuan yang sama kepada setiap warganegara dihadapan hukum. dapat dikatakan bahwa banyak penganjur demokrasi berpendapat bahwa keberasilan demokratisasi juga harus diukur dari sejauh mana sistem ekonomi yang berlaku mampu menjembatani kesenjangan tingkat kesejahtraan antara warganegara yang kaya dan miskin. kesederajatan politik (political equality). Ia adalah sebuah mekanisme untuk menyeleksi pemimpin. Ia bukan sesuatu yang dapat terwujud .S. Karena. Pendekatan kearah demokrasi bagaikan sebuah perjalanan menuju horizon yang tak terbatas. yakni keadilan yang tegak diatas fondasi kebebasan dan kesederajatan. keputusan untuk secara konsisten mengupayakan perwujudan dari sistem pemerintahan yang demokratisitu.

presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum 1955. Fase ketiga. tanggal 21 Mei 1998 sampai dengan sekarang. kemudian Melalui Penetapan Preiden No. Kelebihan pelaksanaan sistem presidensial pada fase kedua ini. Fase kedua.secara alamiah. Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Begitu kuatnya kepercayaan MPRS terhadap presiden sehingga Pidato Presiden pada tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul ”Penemuan Kembali Revolusi Kita” (Manifesto Politik Republik Indonesia) dijadikan sebagai GBHN yang bersifat tetap. Kedudukan presiden sebagai Dewan Pertimbangan Agung ini sangat tidak logis karena tugas Dewan Pertimbangan Agung menurut UUD1945 ialah memberikan nasehat atau pertimbangan kepada presiden. tanggal 18 Agustus 1945 sampai dengan 14 November 1945. 2. Pengangkatan Ir. Pimpinan lembaga-lembaga negara dijadikan mentri-mentri dan presiden sendiri menjadi ketua Dewan Pertimbangan Agung. Demokrasi memerlukan upaya yang konsisten dari semua pihak. 5. pemerintah banyak melakukan penyimpangan1. seperti berikut ini.3 tahun 1960. Sementara kelemahannya belum berasil melaksanakan pembangunan ekonomi sehingga tingkat kehidupan ekonomi masyarakat sangat rendah. Fase keempat. . Melalui penetapan presiden No. 4. III/MPRS/1996 telah mengangkat Ir. Untuk mendapatkan gambaran mengenai kelebihan dan kelemahan pelaksanaan sistem pemerintahan presidensial. Pelaksanaannya dapat dibagi menjadi empat fase yaitu sebagi berikut. penyimpangan terhadap UUD 1945. Pada fase kedua pemerintahan dipegang oleh Preiden Soekarno. yang dikuatkan dengan Ketetapan MPRS RI No. Fase pertama. Keberanian pemerintah mengambil langkahlangkah politik untuk mempertahankan Irian Jaya menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan prestasi bagi pemerintah. Presiden mengeluarkan produk legislatif dalam bentuk Penetapan Presiden yang semstinya harus dalam bentuk undang-undang. 4 tahun 1960 membentuk DPR Gotong Royong (DPR-RG). situasi kehidupan masih dapat dikuasai dan terkendali. Melalui Ketetapan MPRS RI No. dengan alasan bahwa pada fase-fase tersebut mempunyai rentang waktu yang cukup lama bila dibandingkan dengan fase pertama yang hanya empat bulan. ketiga dan keempat. yakni walaupun saat itu terjadi krisis politik. tanggal 5 Juli 1959 sampai dengan tahun 1968. tahun 1968 sampi dengan 21 Mei 1998. kita memfokuskan diri pada pelaksanaan fase kedua. I/MPRS/1960 Hak budget tidak berjalan karena setelah tahun 1960 RUU APBN tidak lagi diajukan kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan. 6. berdasarkan keyakinan bahwa ia merupakan idialisme yang layak diwujudkan. Soekarno sebagai presiden seumur hidup merupakan 3. Demokrasi adalah produk dari peradapan. pemerintah dan masyarakat. Pemerintahan Presidensial di Indonesia pada Sistem Demokrasi Sistem pemerintahan presidensial yang diterapkan di Indonesia didasarkan pada ketentuan UUD 1945. Dalam bidang politik pada fase kedua ini.

Beberapa hal yang perlu di perhatikan dan diperbaiki pada fase ini. Langkah-langkah konstitusional yang dilakukan antara lain. ekonomi. 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah serta UU No. Sejak menjabat sebagai Presiden mulai Ketetapan MPRS RI No. tingkat pendapatan tinggi hanya dinikmati oleh sekelompok orang tertentu. misalnya pidato kenegaraan presiden setiap awal tahun (penyampaian RAPBN) dan pidato kenegaraan presiden menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus (penyampaian pelaksanaan pembangunan) Langkah-langkah pembangunan yang dilakukan. III/MPRS/1966 (tentang pengangkatan preiden seumur hidup) dan Penetapan Presiden (Panpres) dalam pengangkatan pejabat negara. terpadu dan berkesinambungan melalui GBHN yang ditetapkan oleh MPR setiap lima tahun sekali. yaitu penduduk miskin umumnya masih terkonsentrasi di daerah pedesaan.penyimpangan Pasal 7 UUD1945 bahwa ” Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesuasah itu dapat dipilih kembali. bidang politik. (Presiden Soekarno. UU No. X/MPRS/1966 2. 5 tahun 1973 tentang BPK. kita dapat melihat pada pelaksanaan di bidang ekonomi. 1. mempertahankan wilayah Irian Jaya sebagai wilayah Indonesia) Pada fase ketiga. terarah. UU No. Menghapus peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan jiwa UUD 1945. 3 Tahun 1973 tentang DPA. UU No. Beberapa kelebihan pada fase ini ialah bahwa pemerintahan telah melakukan langkah-langkah konstitusional dan pembangunan di segala bidang. 3. dana pembangunan kurang terealisasiyang sesuai dengan kebutuhan masyarakatkarena banyak dana yang digelembungkan (mark-up). seperti ketetapan MPRS RI No. pemerintahan dipegang oleh Preiden Soehart. 14 Tahun 1970 tentang pokok-pokok kekuasaan kehakiman. sosial budaya. tetapi pemerintahannya mempunyai prestasi penting yaitu. Pembentukan kelembagaan negara melaui undag-undang. Pengukuhan Surat Printah Sebelas Maret (Supersemar) dengan ketetapan MPRS RI No. pertahanan dan keamanan secara berencana. 3 tahun 1975 tentang partai politik dan golongan karya. Sebuah pelajaran berharga bagi bansga Indonesia agar selalu berusaha sekuat tenaga maupun berdiri diatas kaki sendiri) . Meskipun banyak terjadi penyimpangan terhadap UUD 1945. 4. Mengadakan konvensio untuk melengkapi hukum dasar negara yang baru. terjadinya krisis moniter yang berkelanjutandengan krisis ekonomi dan krisis kepercayaan yang cukup parahsehingga mengakibatkan Indonesia terjerumus dalam perangkap utang (debt trap) ratusan meliar dolar Amerika Serikat dan terjadinya pemutusan hubungan kerja buruh maupun karyawan secara besar-besaran. yaitu mencanagkan pelaksanaan pembangunan lima tahun (yang dikenal dengan Pelita) yang meliputu. (Presiden Soeharto menandatangani bantuan IMF. Pada penghujung masa Orde Baru Indonesia terperangkap pada hutang yang membengkak akibat krisis moniter.XLIV/MPRS/1968 beliau memegang pemerintahan sejak 1968 sampai dengan Mei 1998. misalnya UU No.

Menumbuhkan pemerintahan yang bersih sebagai pelayanan masyarakat dan bertindak berdasarkan undang-undang dalam rangka lebih meningkatkan kredibilitas pemerintah di mata rakyat.Dalam bidang sosial budaya. Melaksanakan pemilihan umum yang langsung. d. Meletakan dasar-dasar kerangka agenda reformasi pembangunan agama dan sosial-budaya dalam usaha mewujudkan masyarakat madani. umum. rekatnya budaya feodalisme yang didasarkan pada rasa ketakutan kepada atasan ( bisa dikenal dengan budaya ABS atau ”Asal Bapak Senag”) Dalam bidang politik. dan program organisasi sosial politik serta organisasi kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan pancasila. Mewujudkan stabilitas keamnan dan ketertiban masyarakat. d. sosial. lembaga politik dan lembaga kemasyarakatan.Disamping itu pengaruh budaya paternalistik dan budaya neofeodalistiknya mengakibatkan proses partisipasinya dan budaya politik dalam sistem budaya politik nasional tidak berjalan sebagaimana mestinya. ekonomi dan budaya) dan berlanjut kepada krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. politik. jujur dan adil. c. kolusi dan nepotisme. a. a. c. Untuk itu perlu koreksi terhadap wacana pembangunan Orde Baru sebagai dasar pijakan dan sasaran reformasi. b. Menegakan kedaulatan rakyat dengan memberdayakanperanan pengawasan oleh lembaga negara. berbangsa dan bernegara melalui perluasan dan peningkatan partisipasi politik rakyat secara tertib untuk menciptakan stabilitas nasional. misalnya pemerintah menerapkan keberpihakan kepada salah satu kekuatan politik. Menegakan hukum berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta hak asasi manusia menuju terciptanya ketertibaan umum dan perbaikan sikap mental. Menghormati keberagaman asas atau ciri. banyaknya perjudia yang merusak kehidupan sosial serta moral masyarakat. X/MPR/1998 ialah sebagai berikut. Bidang Politik Agenda yang harus dilaksanakan untuk penaggulangan krisis di bidang politik antara lain sebagai berikut. Pembuatan undang-undangpolitik yang sesuai dan mendukung proses demokratisasi b. Mewujudkan kedaulatan rakyat dalam seluruh sendi kehidupan bermasyarakat. Pada fase keempat ditandai oleh lengsernya pemerintahan Orde Baru yang di pimpin oleh Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 sebagai akibat dari krisis moniter yang berkembang menjadi krisis multidimensi (krisis seluruh aspek kehudupan yakni. aspirasi. . 1. a. bebas rahasia. b. misalnya merebaknya praktik korupsi. Tujuan reformasi pembangunan sebagaimana yang tercantum dalam BAB III Ketetapan MPR RI No. Situasi tersebut mengharuskanbangsa Indonesia untuk mengkaji ulang ketetapan dan langkah-langkah pembangunan nasionalnya selama ini. Mengatasi krisis ekonomi dalam waktu sesingkat-singkatnya terutama untuk menghasilkan stabilitas moneter yang tanggap terhadap pengaruh global dan pemulihan aktivitas usaha nasional. Pelaksanaan reformasi di bidang politik yang ditujukan pada usaha penegakan kedaulatan rakyat ialah dengan agenda.

Peningkatan kulitas keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa b. rahasia. dan c. a. d. Mewujudkan nilai tukar rupiah yang stabil dan wajar melalui pemilihan dan penetapan sistem nilai tukar untuk mengendalikan fluktuasi kurs. Adanya Undag-Undang Partai Politik yang dapat mendorong kehidupan berdemokrasi. Agenda yang harus dilaksanakan untuk reformasi di bidanmg ekonomi yaitu. b. Membuat perekonomian lebih efisien dan kompetitif dengan menghilangkan praktik monopoli maupun monopsoni d. dan d. a. jujur dan adil. bebas. e. dan e. c. Adanya perubahan atau penyempurnaan terhadap pasal-pasal UUD 1945 untuk disesuaikan dengan perkembaqngan jaman. Membenahi lembaga-lembaga keuangan. terutama sektor perbankan c. Bidang Ekonomi Agenda yang harus dijalankan untuk penaggulangan krisis di bidang ekonomi antara lain sebagai berikut. Melaksanakan deregulasi ketetapan-ketetapan yang menghambat investasi. antara lain sebagai berikut. Perubahan atau penyempurnaan terhadap UUD 1945 itu sering dikenal sebagai amandemen UUD 1945. 2. distribusi dan perdagangan 3. Pengadaan dan peningkatan sarna dan prasarana ibadah c.c. Peningkatan akhlak mulia budi luhur dilaksanakan melalui pendidikan budi pekerti di sekolah Agenda reformasi tidak hanya berati pada sebuah wacana belaka namun ternyata ada tidak lanjut yang kongkrit. Menyesuaikan implementasi dwifungsi ABRI dengan paradigma baru peran ABRI dalam kehidupan bermasyarakat. Melaksanakan kebijakan penyelamatan pelajar dan mahasiswa dari ancaman putus sekolah. Melakukan restrukturisasi dan penyehatan perbankan sesuai dengan Undang-Undag Perbankan. sosial dan budaya antara lain sebagai berikut. . legislatif dan yudikatif. Menyediakan kebutuhan sembilan bahan pokok dan obat-obatan yang cukup serta yang terjangkau oleh rakyat. umum. Mewujudkan kebijakan ekonomi mikro dan makro yang transparan b. Meningkatkan keterbukaan pemerintah dalam pengelolaan usaha untuk menghilangkan KKN dan praktik-praktik ekonomi yang merugikan negara dan rakyat. mengendalikan suku bangsa dan menekan laju inflasi. Menciptakan mekanisme penyelesaian utang-utang swasta untuk mengembalikan citra dan kepercayaan luar negeri terhadap kredibilitas usaha nasional. b. Sosial dan Budaya Agenda yang harus dilaksanakan berkaitan dengan penaggulangan krisis dalam kehidupan keagamaan. Pembagian secara tegas wewenag kekuasaan antara eksekutif. produksi. dan e. Adanya Undang-Undang Pemilihan Umum yang lebih demokratis untuk memilih anggota legislatif dan memilih presiden serta wakil presiden secara langsung. a. a. Melaksanakan program jaring pengaman sosial dengan sasaran khususnya di bidang pangan dan kesehatan d. Bidang Agama. berbangsa dan bernegara.

atau tidak boleh bertentangan dengan. yakni korupsi. Efektifitas pemerintah tidak lagi tergantung semata-mata kepada kapasitas pribadi seseorang penguasa. Kalau pelanggaran atas kesepakatan etis akan dihaapkan pada hukum sosial.Apa yang telah dilakukan oleh pemerintahan reformasi. Pada saat semua kesepakatan etis yang dicapai dimasa lampau dikonversi kedalam konstitusi dan menjadi hukum positif apalagi penegakan hukum sudah menjadi agenda utama dari sebuah pemerintahan. kepribadian seorang pemimpin mendominasi hampir seluruh interaksi kekuasaan. Dalam jangka pendek selama pemerintahan reformasi ini telah terjadi beberapakali pergantian presiden karena kehidupan politik negara kita belum cukup mantap. tetapi lebih kepada sistem administrasi yang baku dan absah. Pengawasan atas tingkat ketaatan kepada konstitusi dan hukum sudah menjadi tanggung jawab bersama. Dalam situasi ruling. Untuk itu diharapkan dalam ferormasi ini segala bidang yang tidak dapat dijalankan dapat di gerakan dengan upaya-upaya yang dilakukan. pemimpin mendiktekan nilai-nilai. maka baiklah pemerintahan itu. Sebaliknya. secara jujur harus diakui telah menunjukan adanya perubahan-perubahan yang berati walaupun masih terdapat kekurangankekurangan yang perlu dibenahi. Demikian pula sebaliknya. kolusi. Didalam konteks negara hukum itu. pemerintahan sebagai a ruling process yang ditandai oleh ketrgantungan pemerintah dan masyarakat kepada kapasitas kepemimpinan seseorang. Pertama. Disamping itu. telah berubah menjadi hukum yang ”harus” di taati. ia juga dapat menjadi sumber bencana dan malapetaka. keinginan pemimpin. Seluruh pengambilan keputusan dalam proses pemerintahan ditentukan oleh. Sejumlah nilai yang pada mulanya disepakati secara etis. maka pelanggaran atas hukum sudah merupakan tindak pidana. Bahkan disinyalir (diduga) praktik-praktik KKN tersebut menjadi semakin parah. yaitu. dan nepotisme belum kunjung sembuh. pemerintah dan masyarakat. Tingkat pertumbuhan ekonomi berjalan sangat lambat sehingga upaya untuk meningkatkan dan mengentaskan masyarakat miskin masih terasa berat. karena keduanya memang merupakan milik bersama. Disini prosedur. konsensus-konsensus etis yang dibangun dalam proses governing itu dituangkan kedalam aturan-aturan hukum yang mengikat. Dalam pemerintahan terdapat tiga paradigma pemerintahan yang dapat difungsikan dalam hal tersebut di era reformasi. pemimpin . Bahkan hukumpun diformulasikan secara sepihak dan karena itu mengabdi kepada kepentingan kekuasaan. tetapi sudah menjadi proses administering. Berdasarkan ulasan diatas dapat kita gambarkan tiga pandangan terhadap pemerintahan. Dalam proses ini. Kalau pemimpin pemerintah adalah seseorang yang baik. maka negara hukum sudah memukan bentuk yang difinitif. Ia adalah pembawa kemakmuran dan kebahagiaan. pemerintah tidak lagi terbatas sebagai proses governing. yang ketaatan atasnya diharapkan lahir secara sukarela. Artinya. juga tidak kepada kemampuan para pemimpin untuk membangun konsesus-konsesus. dan aturan main untuk pengambilan keputusan dibidang pemerintahan sudah dengan sendirinya menjadi acuan bagi semua pihak. tetapi juga di tingkat bawah (daerah). Kualitas pemerintah tergantung mutlak pada kualitas si pemimpin. persyaratan. penyakit kronis yang melanda bangsa Indonesia. Pandangan Terhadap Pemerintahan di Era Reformasi Dalam perkembangan lebih lanjut. yang tidak hanya di tingkat pusat.

yang di tandai oleh praktek pemerintahan yang berdasarkan pada konsensus-konsensus etis antara pemimpin dengan masyarakat. melalui mana seluruh interaksi kekuasaan dikendalikan oleh suatu sistem administrasi yang bekerja secara tertib dan teratur. Kalau kita menerima ketiga konsep itu sebagai nilai atau norma yang berdiri sendiri dan penghayatan atas masing-masing nilai itu bersifat bulat. Kalau sistem ini sudah terbangun. maka proses governing merupakan awal dari kelahiran pemerintahan yang demokratis. Jika dikaitkan dengan demokrasi. dan proses administering merupakan wujud yang lebih menjamin kelangsungan pemerintahan yang demokratis itu. pemerintah sebagai a governing process. setiap pemerintahn memiliki karakter yang membaurkan lebih dari satu sifat dasar dari tiga pandangan yang dikemukakan tadi diatas. Contohnya yang paling kongkrit bagi masyarakat moderen adalah kasus Jerman sebelum dan sesudah naiknya Hitler sebagai Kanselir. maka pergeseran dari ruling ke governing ke administering seyogyanya dilihat sebagai isyarat kemajuan. Kedua. masalah kepribadian pemimpin tidak lagi menjadi faktor determinan. yang di tandai oleh terbangunnya suatu sistem hukum yang kuat dan komperensif. Siapa pun yang masuk ke dalam posisi kepemimpinan akan dipaksa oleh sistem yang berlaku untuk tunduk pada aturan main dan nilai-nilai yang sudah baku. Kedaulatan rakyat sebagai sebuah konsep dasar tentang kekuasaan telah menemukan bentuknya di sini. proses ruling uni terlihat baik dalam sistem kerajaan absolut (zaman kuno) maupun sistem diktatorial/ authoritarian (zaman moderen). Dalam kenyataan. . Suatu praktek pemerintahan yang semula sudah lebih dekat kepada proses governing bisa saja mundur kembali ke proses ruling. walaupun sistem hukum yang ada belum lengkap. Dalam proses ini.memiliki keleluasaan untuk tunduk kepada nilai-nilai dan hukum yang berlaku atau melanggarnya jika tindakan itu dipandang lebih menguntungkan kekuasaannya. Pemerintahan dijalankan berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang terbentuk melalui diskusi dan diskursus (wacana) yang berlangsung dalam ruang publik (public sphere). kekurangan itu ditutupi oleh tradisi membuat konsesus tadi. Aparatur dan warga negara yang secara aktif menaati aturan-aturan hukum itu berperan sebagai pengawas atas kejujuran dan konsistensi proses kepemimpinan yang berlaku. Ketiga. Dalam konteks historis. pemerintahan sebagai an administering process. Ketiganya ini merupakan tahapan-tahapan dalam pembangunan sebuah pemerintahan. Pemisahan atas ketiga konsep ini hanya untuk menggambarkan bahwa nilai-nilai yang melekat dan menyertai proses pemerintahan berubah berdasarkan dinamika masyarakat di mana pemerintah itu mengambil tempat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful