P. 1
SISTEM Pemerintahan Era Reformasi II

SISTEM Pemerintahan Era Reformasi II

|Views: 179|Likes:
Published by Hanifah Herlini

More info:

Published by: Hanifah Herlini on Dec 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2015

pdf

text

original

Pemerintahan Dalam Sistem Demokrasi di Era Reformasi

Ketika Abraham Lincoln menyampaikan pidatonya yang sangat terkenal di Gettysburg pada tahun 1863, ia secara sederhana menggambarkan demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (government of the people, by the people and for the people). Tetapi kalu di teliti lebih mendalam, inti dari demokrasi adalah pemerintahan “oleh rakyat”. Mengapa demikian? Karena semua pemerintahan, apapun bentuknya, pasti berasal dari rakyat. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang memerintah yang bukan dari rakyat. Dan, karena sebuah pemerintahan otoriter bisa juga berbuat untuk kepentingan rakyat (biasanya disebut benevolent authoritarian regime), maka pemerintah dari rakyat dan pemerintah untuk rakyat tidak murni merefleksikan demokrasi. Hanya pemerintahan oleh rakyat yang murni mencerminkan demokrasi. Sesungguhnya, semua bentuk pemerintahan memiliki satu sifat yang sama, yaitu kewenangan untuk membuat hukum atau peraturan, serta kekuasaan untuk memaksa semua pihak agar menaati hukum dan peraturan itu. Beda antara sistem yang demokratis dan yang tidak demokratis terletak pada kenyataan bahwa di dalam sistem yang demokratis, kewenangan dan kekuasaan semacam itu dibangun dan dipelihara berdasarkan kesepakatan dari rakyat, sementara didalam sistem yang tidak demokratis, rakyatlah yang memiliki kedaulatan. Dari itu semua kita kembali pada sistem pemerintahan di Indonesia. Secara umum sistem diartikan sebagai hubungan fungsional antara bagian dalam keseluruhan. Bagian-bagian itu saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Hubungan itu semikian erat menimbulkan ketergantungan satu sama lain. Sementara arti pemerintahan adalah perbuatan, cara atau hal urusan memerintah yang dilakukan oleh pemerintah. MenurutE.Utecht, istilah pemerintahan meliputi : 1. Pemerintah sebagai gabungan dari semua badan kenegaraan atau alat perlemngkapan negara yang berkuasa atau memerintah dalam arti luas yang meliputi badan yang membuat peraturan (legislatif), badan yang menjalankan peraturan (eksekutif), dan badan yang mengadili pelanggaran peraturan (yudikatif). 2. Pemerintah sebagai badan kenegaraan tertinggi yang berkuasa memerintah di wilayah suatu negara (kepala negara). 3. Pemerintah sebagai badan eksekutif, yang berati bahwa kepala pemerintahan bersama mentrimentrinya. Sebagai contoh di Indonesia yaitu presiden yang dibantu oleh para mentri. Sistem pemerintahan di Indonesia yaitu Presidensial, yang sebelumnya pernah menerapkan sistem Parlementer, yaitu ketika dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tanggal 14 November 1945 yang dilanjutkan dengan berlakunya Konstitusi RIS 1945 dan UUDS 1950. Beberapa kelebihan dari sistem parlementer yang pernah diterapkan di Indonesia, antara lain kuatnya lembaga legislatif dalam mengawasi (mengontrol) kebijakan pemerintah sehingga pemerintah tidak berani melakukan tindakan yang menyimpang dari kekuatan yang telah di tetapkan; sistem parlementer mendorong timbulnya partai politik sebagai wadah penyalur aspirasi rakyat yang dapat menumbuhkembangkan kehidupan politik yang demokratis. Adapun kelemahan dari sistem parlementer yang berlaku di Indonesia antara lain sering terjadinya pergantian kabinet yang berakibat program pemerintah tidak

Hanya dengan memperkuat sistem. Ini kemudian yang memberi inspirasi tentang perlunya melakukan pemisahan kekuasaan atas kekuasaan-kekuasaan legislative.dapat terselesaikan sehingga memicu ketidak puasan rakyat. dan kebijaksanaan sang penguasa itulah yang menjadi acuan Plato ketika ia mempersyaratkan bahwa penguasa seyogyanya adalah juga seorang filosof (the Philosopher King). tidak seorangpun dapat ditahan untuk dipriksa oleh polisi kecuali dicurigai telah melanggar hukum (dengan bukti-bukti awal yang cukup). kecendekiaan. Kekuasaan pemerintah harus disusun dan dibagi ke dalam struktur-struktur kelembagaan dan kewenangan yang saling membatasi. menggantungkan nasib pemerintahan. kelangsungan pemerintahan yang bebas dari kemungkinan diselewengkan dapat diupayakan. dan tidak seorang pun dapat dipenjara kecuali ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Baik buruknya pemerintahan. bukan kepada sistem yang solid. Ini yang dimaksud dengan sistem. tetapi juga menjamin dan memelihara indepndensi lembaga-lembaga peradilan. dalam konteks ruling ini. sebagaimana termuat dalam Magna Carta. Jadi. Prinsip tentang hak-hak dasar warga negara ini sudah berlaku di inggris sejak tahun 1215. Pemerintahan sebagai seni pengelolaan kekuasaan sudah hadir sejak awal kehidupan manusia. pemerintah bukan swaja harus menjadikan dirinya sebagai hukum yang bicara. Pandangan tentang pemerintahan yang berdasarkan kepada wibawa. demokrasi juga menjadikan hukum sebagai landasan peyelenggaraan pemerintahan. Dari sini kemudian muncul beberapa pergolakan atau pemberontakan yang dikenal dengan gerakan separatis ataupun ekstremis. eksekutif dan judikatif. maka negara demokrasi. saling mengawai dan saling tergantung satu sama lain. Jadi. Itulah sebabnya maka pemerintahan pada tingkat pertama adalah ruling. di asumsikan bahwa pada dasarnya berkenaan dengan urusan membuat hukum. akan sangat riskan karena tidak akan mampu menjamin stabilitas dan kontinuitas kehidupan pemerintahan. sangat tergantung pada kualitas kepribadian dan kemampuan sang penguasa Konteks Pemerintahan Demokrasi Pemisahan kekuasaan. dan penonjolan wibawa pribadi pemimpin merupakan modal awal dari pemerintahan itu sendiri. menjelaskan hukum. Juga. Maksud dari pemisahan itu adalah untuk menghindari menumpuknya kekuasaan pada satu tangan. yang juga berati nasib rakyat. Itulah sebabnya. namun sistem jalan terus. kepada kekuasaan orang-seorang. dan memutuskan apakah hukum telah dilanggar dalam kasus tertentu. sehingga kemungkinan bagi terjadinya penyalahgunaan dan kesewenang-wenangn kekuasaan dapat dihindari. pemerintah tidak dapat mengambil hak milik orang-seseorang tanpa kewenangan hukum yang jelas dan pembayaran kompensasi yang wajar. penguasa bisa datang dan pergi. Dengan memisahkan itu tiga cabang kekuasaan itu diharapkan adanya saling ketergantungan dan saling control dalam keseimbangan kekuasaan di antara mereka (checks and balances). Dari sini sudah jelas bahwa kepemimpinan merupakan inti dari wujud pemerintahan di awal kelahirannya. Sejalan dengan pemisahan kekuasaan. Singkatnya. misalnya. setiap orang berhak memperoleh perlakuan yang adil berdasarkan hukum yang berlaku. melalui mana kekuasaan dikelola sepenuhnya atau sebagian besar berdasarkan petunjuk dan pengarahan sang ruler. Dalam pengertian ini. . biasanya diidentikan dengan negara hukum.

menghargai supermasi hukum. Menurut Schumpeter. upaya mewujudkan pemerintahan yang demokrasi. adalah perjuangan yang terus menerus. Secara spesifik. demokrasi bermakna adanya kesempatan bagi rakyat untuk menerima atau menolak orang-orang yang akan memerintah mereka. Ia adalah sebuah mekanisme untuk menyeleksi pemimpin. I am not a democrat. batas-batas dari penerapan atas dua nilai dasar demokrasi ini senantiasa menjadi topik perdebatan. Demokrasi itu sendiri pada hakekatnya adalah sebuah idealisme tentang sistem pemerintahan yang memberi harga tertinggi kepada harkat manusia sebagai mahluk yang rasional. yaitu kesamaan hak dari setiap warga negara untuk memilih dan dipilih. ia pasti akan mampu menampilkan pemerintahan yang lebih baik dari pada otoritarianisme. Maka. mayoritas yang tidak menghargai hak-hak kebebasan minoritas justru merupakan ancaman terhadap eksistensi demokrasi. mandiri. kesederajatan politik (political equality). Untuk yang terakhir ini. Ini berkenaan dengan kesederajatan hukum (legal equality). yakni keadilan yang tegak diatas fondasi kebebasan dan kesederajatan. idialisme demokrasi tidak akan pernah terwujud secara sempurna. Tetapi ini tidak penting. Penerapan atas prinsip-prinsip dan asumsi-asumsi diatas tentu saja tidak akan pernah sempurna. melainkan sebagai alat untuk menjamin tercapainyatujuan politik yang lebih tinggi. akan tercermin melalui keleluasaan setiap orang untuk mengambil bagian dalam kegiatan politik apapun sepanjang tidak melanggar hukum dan tidak melecehkan etika kehidupan berbangsa. de Tocqueville dan J.S. keputusan untuk secara konsisten mengupayakan perwujudan dari sistem pemerintahan yang demokratisitu. yaitu kesamaan hak bagi setiap warga negara untuk bergiat di bidang ekonomi dan memperoleh pelayanan dari negara didalam memajukan kehidupan ekonominya. kreatif dank arena itu dewasa. Secara teoritik. Menurut mereka. dan kesederajatan ekonomi (economic equality). Sikap senada juga dikemukakan oleh Hayek: ” if democracy means unrestricted will of majority. yaitu jaminan perlakuan yang sama kepada setiap warganegara dihadapan hukum. Yang penting adalah pilihan untuk mengambil jalan itu. demokrasi juga bisa dilihat sebagai sistem yang membuka peluang luas bagi berlangsungnya arrangement kelembagaan untuk memperoleh pemimpin yang legitimate. serta mengakui dan melandaskan diri pada nilai kesederajatan dan kebebasan. Mengapa? Karena demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat.” Hayek juga mengatakan bahwa demokrasi bukanlah merupakan tujuan dalam dirinya sendiri. Karena. memiliki mekanisme untuk mencegah kesewenag-wenagan. Ia bukan sesuatu yang dapat terwujud . Mill sangat kahwatir terhadap kemungkinan tergelincirnya demokrasi kedalam perangkap majority rule yamg tak terkendali (supermasi mayoritas) karena hal ini dapat mengancam ke bebasan.Adapun tentang kesedrajatan dan kebebasan.Persoalannya adalah demokrasi tidak akan terbentuk dengan sendirinya hanya karena ia baik. Didalam kenyataan. tetapi pada saat yang sama mencegah terjadinya kesewenag-wenangan sang pemimpin setelah duduk dalam kekuasaan. Kebebasan berpolitik. Madison. misalnya. kesederajatan diartikan sebagai kesamaan hak dari setiap pribadi untuk menikmati kehidupan dan mengajar kebahagiaan. dapat dikatakan bahwa banyak penganjur demokrasi berpendapat bahwa keberasilan demokratisasi juga harus diukur dari sejauh mana sistem ekonomi yang berlaku mampu menjembatani kesenjangan tingkat kesejahtraan antara warganegara yang kaya dan miskin. Pendekatan kearah demokrasi bagaikan sebuah perjalanan menuju horizon yang tak terbatas. betapapun tidak sempurnanya hasil yang dapat dicapai dari upaya demokratisasi.

pemerintah banyak melakukan penyimpangan1. ketiga dan keempat. tanggal 18 Agustus 1945 sampai dengan 14 November 1945. Fase pertama. . Keberanian pemerintah mengambil langkahlangkah politik untuk mempertahankan Irian Jaya menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan prestasi bagi pemerintah. Pengangkatan Ir. 4. tanggal 5 Juli 1959 sampai dengan tahun 1968. Sementara kelemahannya belum berasil melaksanakan pembangunan ekonomi sehingga tingkat kehidupan ekonomi masyarakat sangat rendah. Kelebihan pelaksanaan sistem presidensial pada fase kedua ini. Soekarno sebagai presiden seumur hidup merupakan 3. I/MPRS/1960 Hak budget tidak berjalan karena setelah tahun 1960 RUU APBN tidak lagi diajukan kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan. Demokrasi memerlukan upaya yang konsisten dari semua pihak. tanggal 21 Mei 1998 sampai dengan sekarang. Dalam bidang politik pada fase kedua ini. Begitu kuatnya kepercayaan MPRS terhadap presiden sehingga Pidato Presiden pada tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul ”Penemuan Kembali Revolusi Kita” (Manifesto Politik Republik Indonesia) dijadikan sebagai GBHN yang bersifat tetap. Pada fase kedua pemerintahan dipegang oleh Preiden Soekarno. kemudian Melalui Penetapan Preiden No. 6. Fase keempat. Kedudukan presiden sebagai Dewan Pertimbangan Agung ini sangat tidak logis karena tugas Dewan Pertimbangan Agung menurut UUD1945 ialah memberikan nasehat atau pertimbangan kepada presiden. tahun 1968 sampi dengan 21 Mei 1998. berdasarkan keyakinan bahwa ia merupakan idialisme yang layak diwujudkan.secara alamiah. situasi kehidupan masih dapat dikuasai dan terkendali. yakni walaupun saat itu terjadi krisis politik. yang dikuatkan dengan Ketetapan MPRS RI No. Untuk mendapatkan gambaran mengenai kelebihan dan kelemahan pelaksanaan sistem pemerintahan presidensial. Melalui penetapan presiden No. seperti berikut ini. Melalui Ketetapan MPRS RI No.3 tahun 1960. 2. 4 tahun 1960 membentuk DPR Gotong Royong (DPR-RG). III/MPRS/1996 telah mengangkat Ir. Pimpinan lembaga-lembaga negara dijadikan mentri-mentri dan presiden sendiri menjadi ketua Dewan Pertimbangan Agung. pemerintah dan masyarakat. kita memfokuskan diri pada pelaksanaan fase kedua. dengan alasan bahwa pada fase-fase tersebut mempunyai rentang waktu yang cukup lama bila dibandingkan dengan fase pertama yang hanya empat bulan. Presiden mengeluarkan produk legislatif dalam bentuk Penetapan Presiden yang semstinya harus dalam bentuk undang-undang. penyimpangan terhadap UUD 1945. Pelaksanaannya dapat dibagi menjadi empat fase yaitu sebagi berikut. Soekarno sebagai presiden seumur hidup. presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum 1955. Fase kedua. Demokrasi adalah produk dari peradapan. Fase ketiga. Pemerintahan Presidensial di Indonesia pada Sistem Demokrasi Sistem pemerintahan presidensial yang diterapkan di Indonesia didasarkan pada ketentuan UUD 1945. 5.

Beberapa kelebihan pada fase ini ialah bahwa pemerintahan telah melakukan langkah-langkah konstitusional dan pembangunan di segala bidang. tingkat pendapatan tinggi hanya dinikmati oleh sekelompok orang tertentu. 1. UU No. UU No. 4. (Presiden Soekarno. 3. 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah serta UU No. Meskipun banyak terjadi penyimpangan terhadap UUD 1945. dana pembangunan kurang terealisasiyang sesuai dengan kebutuhan masyarakatkarena banyak dana yang digelembungkan (mark-up). misalnya pidato kenegaraan presiden setiap awal tahun (penyampaian RAPBN) dan pidato kenegaraan presiden menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus (penyampaian pelaksanaan pembangunan) Langkah-langkah pembangunan yang dilakukan. yaitu penduduk miskin umumnya masih terkonsentrasi di daerah pedesaan. seperti ketetapan MPRS RI No. 3 Tahun 1973 tentang DPA. 14 Tahun 1970 tentang pokok-pokok kekuasaan kehakiman. terpadu dan berkesinambungan melalui GBHN yang ditetapkan oleh MPR setiap lima tahun sekali. Sejak menjabat sebagai Presiden mulai Ketetapan MPRS RI No. III/MPRS/1966 (tentang pengangkatan preiden seumur hidup) dan Penetapan Presiden (Panpres) dalam pengangkatan pejabat negara. Pembentukan kelembagaan negara melaui undag-undang. Sebuah pelajaran berharga bagi bansga Indonesia agar selalu berusaha sekuat tenaga maupun berdiri diatas kaki sendiri) . UU No. Mengadakan konvensio untuk melengkapi hukum dasar negara yang baru. sosial budaya. Pada penghujung masa Orde Baru Indonesia terperangkap pada hutang yang membengkak akibat krisis moniter. pertahanan dan keamanan secara berencana. (Presiden Soeharto menandatangani bantuan IMF. ekonomi.XLIV/MPRS/1968 beliau memegang pemerintahan sejak 1968 sampai dengan Mei 1998. bidang politik. yaitu mencanagkan pelaksanaan pembangunan lima tahun (yang dikenal dengan Pelita) yang meliputu. kita dapat melihat pada pelaksanaan di bidang ekonomi. Langkah-langkah konstitusional yang dilakukan antara lain. Menghapus peraturan perundang-undangan yang tidak sesuai dengan jiwa UUD 1945. X/MPRS/1966 2. terjadinya krisis moniter yang berkelanjutandengan krisis ekonomi dan krisis kepercayaan yang cukup parahsehingga mengakibatkan Indonesia terjerumus dalam perangkap utang (debt trap) ratusan meliar dolar Amerika Serikat dan terjadinya pemutusan hubungan kerja buruh maupun karyawan secara besar-besaran. 3 tahun 1975 tentang partai politik dan golongan karya. misalnya UU No. Beberapa hal yang perlu di perhatikan dan diperbaiki pada fase ini.penyimpangan Pasal 7 UUD1945 bahwa ” Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesuasah itu dapat dipilih kembali. Pengukuhan Surat Printah Sebelas Maret (Supersemar) dengan ketetapan MPRS RI No. tetapi pemerintahannya mempunyai prestasi penting yaitu. terarah. pemerintahan dipegang oleh Preiden Soehart. mempertahankan wilayah Irian Jaya sebagai wilayah Indonesia) Pada fase ketiga. 5 tahun 1973 tentang BPK.

Bidang Politik Agenda yang harus dilaksanakan untuk penaggulangan krisis di bidang politik antara lain sebagai berikut. d. lembaga politik dan lembaga kemasyarakatan. a. 1. b. Menegakan kedaulatan rakyat dengan memberdayakanperanan pengawasan oleh lembaga negara. bebas rahasia. Meletakan dasar-dasar kerangka agenda reformasi pembangunan agama dan sosial-budaya dalam usaha mewujudkan masyarakat madani. c. politik. kolusi dan nepotisme. b. banyaknya perjudia yang merusak kehidupan sosial serta moral masyarakat. Menegakan hukum berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta hak asasi manusia menuju terciptanya ketertibaan umum dan perbaikan sikap mental. d. misalnya merebaknya praktik korupsi.Disamping itu pengaruh budaya paternalistik dan budaya neofeodalistiknya mengakibatkan proses partisipasinya dan budaya politik dalam sistem budaya politik nasional tidak berjalan sebagaimana mestinya. misalnya pemerintah menerapkan keberpihakan kepada salah satu kekuatan politik. berbangsa dan bernegara melalui perluasan dan peningkatan partisipasi politik rakyat secara tertib untuk menciptakan stabilitas nasional. Mewujudkan stabilitas keamnan dan ketertiban masyarakat. X/MPR/1998 ialah sebagai berikut. c. Tujuan reformasi pembangunan sebagaimana yang tercantum dalam BAB III Ketetapan MPR RI No. Untuk itu perlu koreksi terhadap wacana pembangunan Orde Baru sebagai dasar pijakan dan sasaran reformasi. . Pelaksanaan reformasi di bidang politik yang ditujukan pada usaha penegakan kedaulatan rakyat ialah dengan agenda. rekatnya budaya feodalisme yang didasarkan pada rasa ketakutan kepada atasan ( bisa dikenal dengan budaya ABS atau ”Asal Bapak Senag”) Dalam bidang politik. Situasi tersebut mengharuskanbangsa Indonesia untuk mengkaji ulang ketetapan dan langkah-langkah pembangunan nasionalnya selama ini. Mewujudkan kedaulatan rakyat dalam seluruh sendi kehidupan bermasyarakat. Mengatasi krisis ekonomi dalam waktu sesingkat-singkatnya terutama untuk menghasilkan stabilitas moneter yang tanggap terhadap pengaruh global dan pemulihan aktivitas usaha nasional. a. dan program organisasi sosial politik serta organisasi kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan pancasila. Melaksanakan pemilihan umum yang langsung. Pembuatan undang-undangpolitik yang sesuai dan mendukung proses demokratisasi b. sosial. Menghormati keberagaman asas atau ciri. Pada fase keempat ditandai oleh lengsernya pemerintahan Orde Baru yang di pimpin oleh Presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 sebagai akibat dari krisis moniter yang berkembang menjadi krisis multidimensi (krisis seluruh aspek kehudupan yakni. ekonomi dan budaya) dan berlanjut kepada krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. umum. aspirasi. Menumbuhkan pemerintahan yang bersih sebagai pelayanan masyarakat dan bertindak berdasarkan undang-undang dalam rangka lebih meningkatkan kredibilitas pemerintah di mata rakyat. jujur dan adil.Dalam bidang sosial budaya. a.

Melaksanakan program jaring pengaman sosial dengan sasaran khususnya di bidang pangan dan kesehatan d. berbangsa dan bernegara.c. terutama sektor perbankan c. c. Melaksanakan deregulasi ketetapan-ketetapan yang menghambat investasi. Bidang Ekonomi Agenda yang harus dijalankan untuk penaggulangan krisis di bidang ekonomi antara lain sebagai berikut. e. b. Meningkatkan keterbukaan pemerintah dalam pengelolaan usaha untuk menghilangkan KKN dan praktik-praktik ekonomi yang merugikan negara dan rakyat. Adanya perubahan atau penyempurnaan terhadap pasal-pasal UUD 1945 untuk disesuaikan dengan perkembaqngan jaman. produksi. antara lain sebagai berikut. sosial dan budaya antara lain sebagai berikut. Adanya Undag-Undang Partai Politik yang dapat mendorong kehidupan berdemokrasi. Perubahan atau penyempurnaan terhadap UUD 1945 itu sering dikenal sebagai amandemen UUD 1945. Adanya Undang-Undang Pemilihan Umum yang lebih demokratis untuk memilih anggota legislatif dan memilih presiden serta wakil presiden secara langsung. Membenahi lembaga-lembaga keuangan. Sosial dan Budaya Agenda yang harus dilaksanakan berkaitan dengan penaggulangan krisis dalam kehidupan keagamaan. Melakukan restrukturisasi dan penyehatan perbankan sesuai dengan Undang-Undag Perbankan. mengendalikan suku bangsa dan menekan laju inflasi. Mewujudkan kebijakan ekonomi mikro dan makro yang transparan b. b. Menyediakan kebutuhan sembilan bahan pokok dan obat-obatan yang cukup serta yang terjangkau oleh rakyat. distribusi dan perdagangan 3. rahasia. bebas. a. Menciptakan mekanisme penyelesaian utang-utang swasta untuk mengembalikan citra dan kepercayaan luar negeri terhadap kredibilitas usaha nasional. . Agenda yang harus dilaksanakan untuk reformasi di bidanmg ekonomi yaitu. a. Pembagian secara tegas wewenag kekuasaan antara eksekutif. Peningkatan kulitas keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa b. Melaksanakan kebijakan penyelamatan pelajar dan mahasiswa dari ancaman putus sekolah. dan e. jujur dan adil. umum. dan d. dan e. Menyesuaikan implementasi dwifungsi ABRI dengan paradigma baru peran ABRI dalam kehidupan bermasyarakat. d. Membuat perekonomian lebih efisien dan kompetitif dengan menghilangkan praktik monopoli maupun monopsoni d. legislatif dan yudikatif. dan c. 2. Bidang Agama. a. Peningkatan akhlak mulia budi luhur dilaksanakan melalui pendidikan budi pekerti di sekolah Agenda reformasi tidak hanya berati pada sebuah wacana belaka namun ternyata ada tidak lanjut yang kongkrit. Pengadaan dan peningkatan sarna dan prasarana ibadah c. Mewujudkan nilai tukar rupiah yang stabil dan wajar melalui pemilihan dan penetapan sistem nilai tukar untuk mengendalikan fluktuasi kurs. a.

tetapi juga di tingkat bawah (daerah). pemimpin mendiktekan nilai-nilai. Disini prosedur. Kalau pemimpin pemerintah adalah seseorang yang baik. Efektifitas pemerintah tidak lagi tergantung semata-mata kepada kapasitas pribadi seseorang penguasa. Kualitas pemerintah tergantung mutlak pada kualitas si pemimpin. Bahkan hukumpun diformulasikan secara sepihak dan karena itu mengabdi kepada kepentingan kekuasaan. pemerintahan sebagai a ruling process yang ditandai oleh ketrgantungan pemerintah dan masyarakat kepada kapasitas kepemimpinan seseorang. ia juga dapat menjadi sumber bencana dan malapetaka. Demikian pula sebaliknya. maka baiklah pemerintahan itu. Pandangan Terhadap Pemerintahan di Era Reformasi Dalam perkembangan lebih lanjut. Untuk itu diharapkan dalam ferormasi ini segala bidang yang tidak dapat dijalankan dapat di gerakan dengan upaya-upaya yang dilakukan. dan aturan main untuk pengambilan keputusan dibidang pemerintahan sudah dengan sendirinya menjadi acuan bagi semua pihak. Berdasarkan ulasan diatas dapat kita gambarkan tiga pandangan terhadap pemerintahan. penyakit kronis yang melanda bangsa Indonesia. kolusi. Tingkat pertumbuhan ekonomi berjalan sangat lambat sehingga upaya untuk meningkatkan dan mengentaskan masyarakat miskin masih terasa berat. Seluruh pengambilan keputusan dalam proses pemerintahan ditentukan oleh. telah berubah menjadi hukum yang ”harus” di taati. Disamping itu. konsensus-konsensus etis yang dibangun dalam proses governing itu dituangkan kedalam aturan-aturan hukum yang mengikat. tetapi sudah menjadi proses administering. persyaratan. Pertama. pemerintah tidak lagi terbatas sebagai proses governing. atau tidak boleh bertentangan dengan. secara jujur harus diakui telah menunjukan adanya perubahan-perubahan yang berati walaupun masih terdapat kekurangankekurangan yang perlu dibenahi. Sejumlah nilai yang pada mulanya disepakati secara etis. Dalam jangka pendek selama pemerintahan reformasi ini telah terjadi beberapakali pergantian presiden karena kehidupan politik negara kita belum cukup mantap. Dalam proses ini. yang tidak hanya di tingkat pusat. karena keduanya memang merupakan milik bersama. Sebaliknya. maka negara hukum sudah memukan bentuk yang difinitif. Pada saat semua kesepakatan etis yang dicapai dimasa lampau dikonversi kedalam konstitusi dan menjadi hukum positif apalagi penegakan hukum sudah menjadi agenda utama dari sebuah pemerintahan. Dalam situasi ruling. tetapi lebih kepada sistem administrasi yang baku dan absah. juga tidak kepada kemampuan para pemimpin untuk membangun konsesus-konsesus. Pengawasan atas tingkat ketaatan kepada konstitusi dan hukum sudah menjadi tanggung jawab bersama. maka pelanggaran atas hukum sudah merupakan tindak pidana. Artinya. dan nepotisme belum kunjung sembuh. Dalam pemerintahan terdapat tiga paradigma pemerintahan yang dapat difungsikan dalam hal tersebut di era reformasi. yaitu. pemimpin . pemerintah dan masyarakat. yang ketaatan atasnya diharapkan lahir secara sukarela. Bahkan disinyalir (diduga) praktik-praktik KKN tersebut menjadi semakin parah. Ia adalah pembawa kemakmuran dan kebahagiaan. yakni korupsi.Apa yang telah dilakukan oleh pemerintahan reformasi. Didalam konteks negara hukum itu. kepribadian seorang pemimpin mendominasi hampir seluruh interaksi kekuasaan. Kalau pelanggaran atas kesepakatan etis akan dihaapkan pada hukum sosial. keinginan pemimpin.

Aparatur dan warga negara yang secara aktif menaati aturan-aturan hukum itu berperan sebagai pengawas atas kejujuran dan konsistensi proses kepemimpinan yang berlaku. yang di tandai oleh terbangunnya suatu sistem hukum yang kuat dan komperensif. pemerintah sebagai a governing process. Suatu praktek pemerintahan yang semula sudah lebih dekat kepada proses governing bisa saja mundur kembali ke proses ruling. kekurangan itu ditutupi oleh tradisi membuat konsesus tadi. melalui mana seluruh interaksi kekuasaan dikendalikan oleh suatu sistem administrasi yang bekerja secara tertib dan teratur. yang di tandai oleh praktek pemerintahan yang berdasarkan pada konsensus-konsensus etis antara pemimpin dengan masyarakat. dan proses administering merupakan wujud yang lebih menjamin kelangsungan pemerintahan yang demokratis itu. Kalau kita menerima ketiga konsep itu sebagai nilai atau norma yang berdiri sendiri dan penghayatan atas masing-masing nilai itu bersifat bulat. Contohnya yang paling kongkrit bagi masyarakat moderen adalah kasus Jerman sebelum dan sesudah naiknya Hitler sebagai Kanselir. Kalau sistem ini sudah terbangun.memiliki keleluasaan untuk tunduk kepada nilai-nilai dan hukum yang berlaku atau melanggarnya jika tindakan itu dipandang lebih menguntungkan kekuasaannya. maka pergeseran dari ruling ke governing ke administering seyogyanya dilihat sebagai isyarat kemajuan. masalah kepribadian pemimpin tidak lagi menjadi faktor determinan. Jika dikaitkan dengan demokrasi. maka proses governing merupakan awal dari kelahiran pemerintahan yang demokratis. setiap pemerintahn memiliki karakter yang membaurkan lebih dari satu sifat dasar dari tiga pandangan yang dikemukakan tadi diatas. Pemerintahan dijalankan berdasarkan kesepakatan-kesepakatan yang terbentuk melalui diskusi dan diskursus (wacana) yang berlangsung dalam ruang publik (public sphere). Ketiganya ini merupakan tahapan-tahapan dalam pembangunan sebuah pemerintahan. walaupun sistem hukum yang ada belum lengkap. Dalam konteks historis. proses ruling uni terlihat baik dalam sistem kerajaan absolut (zaman kuno) maupun sistem diktatorial/ authoritarian (zaman moderen). Kedua. pemerintahan sebagai an administering process. . Siapa pun yang masuk ke dalam posisi kepemimpinan akan dipaksa oleh sistem yang berlaku untuk tunduk pada aturan main dan nilai-nilai yang sudah baku. Ketiga. Dalam proses ini. Dalam kenyataan. Pemisahan atas ketiga konsep ini hanya untuk menggambarkan bahwa nilai-nilai yang melekat dan menyertai proses pemerintahan berubah berdasarkan dinamika masyarakat di mana pemerintah itu mengambil tempat. Kedaulatan rakyat sebagai sebuah konsep dasar tentang kekuasaan telah menemukan bentuknya di sini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->