SUMBER HUKUM AJARAN AGAMA ISLAM

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Masalah

Dalam penetapan hukum dalam agama Islam harus dilandasi dengan landasan atau alasan yang disebut dengan sumber hukum, sumber hokum yang dimaksud yaitu Al Quran dan As sunnah. Namun terkadang timbul permasalahan baru yang timbul akibat perkembangan zaman, oleh karena itu dibutuhkan sesuatu yang dapat dijadikan landasan untuk menetapkan hukum perkara tersebut. Dengan didasari oleh hadits Nabi, para ulama berijtihad dan menyusun sistematika istinbat hukum. Akan tetapi dalam perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat dalam kitab-kitab ushul fikih kontemporer, istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak dibedakan. Maka dalam makalah inikami akan berusaha membahasnya dan akan kami sertakan sumber hukum utama yaitu Al Quran. 2. Pembahasan Makalah

Mengingat banyaknya permasalahan dalam ilmu Ushul Al Fikih, penulis membatasi pembahasan ini hanya pada Pengertian sumber dan dalil serta membahas salah satu sumber hukum yaitu Al Quran. 3. Metode Penulisan

Dalam pembuatan makalah ini, penulis menggunakan metode kepustakaan ( literature ) yang berhubungan dengan permasalahan.

Abdul Wahab Khallaf menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan dalil hukum ( menurut istilah ) ialah “ segala sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk dengan menggunakan pikiran yang benar untuk menetapkan hukum syara yang bersifat amali. Oleh karena itu. Sementara itu. Pengertian Dalil Dalam kajian ushul fikih. Pengertian Sumber dan Dalil 1. Ibnu al Subki dalam kitab Matn Jam’i al Jawami’ menyebutkan pula bahwa yang dimaksud dengan dalil hukum ialah “ apa saja yang dapat dipergunakan untuk sampai kepada yang dikehendaki. para ulama ushul mengartikan dalil secara etimologis yaitu “ sesuatu yang dapat memberi petunjuk kepada apa yang dikehendaki ”. penetapan hukum syara harus didukung oleh pertimbangan yang tepat dan cermat dengan menggunakan dalil yang jelas. .2 BAB II PEMBAHASAN A. Dari pengertian yang telah dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa pada dasarnya yang disebut dengan dalil hukum ialah segala sesuatu yang dapat dijadikan alasan atau pijakan yang dapat dipergunakan dalam usaha menemukan dan menetapkan hokum syara atas dasar pertimbangan yang benar dan tepat. yaitu hukum syara dengan berpijak pada pemikiran yang benar ”. dalam istinbat hukum persoalan yang paling mendasar yang harus diperhatikan adalah menyangkut apa yang menjadi dalil yang dapat dipergunakan dalam menetapkan hukum syara dari sesuatu persoalan yang dihadapi. Abdul Wahab Khallaf menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dalil ( menurut bahasa ) ialah “ sesuatu yang memberi petunjuk kepada sesuatu yang dirasakan / dipahami baik yang sifatnya baik maupun yang tidak baik”. Adapun secara terminologis para ulama ushul berbeda dalam mendefinisikan dalil hukum. Tentu saja. baik secara qat’i maupun secara zhani”.

istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak dibedakan. Keduanya merupakan istilah teknis yang yang dipakai oleh para ulama ushul untuk menyatakan segala sesuatu yang dijadikan alasan atau dasar dalam istinbat hukum dan dalam prakteknya mencakup Al Quran. As sunnah dan dalil-dalil atau sumber-sumber hukum lainnya. Dikalangan ulama ushul masalah dalil hukum ini menjadi perhatian utama atau dipandang merupakan suatu hal yang sangat penting ketika mereka berhadapan dengan persoalan-persoalan yang akan ditetapkan hukumnya. masadir al tasyri atau yang diartikan sumber hukum. Mereka menyatakan bahwa apa yang disebut dengan dalil hukum adalah mencakup dalil-dalil lain yang dipergunakan dalam istinbat hukum selain Al Quran dan As sunnah. Sedangkan dalil atau yang diistilahkan dengan adillat al ahkam. ada sebutan lain di kalangan ulama ushul seperti istilah masadir al ahkam.3 2. ushul al ahkam. masadir al syariah. Jika dilihat dari segi keberadaannya. Pengertian Sumber Terhadap dalil hukum. asas al tasyri dan adillat al syariah mengacu kepada pengertian sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk sebagai alasan dalam menetapkan hukum syara. Dalam konteks ini Al Quran dan As sunnah adalah merupakan sumber hukum dan sekaligus menjadi dalil hukum. Akan tetapi. Keberadaan dalil sebagai pijakan yang mendasari suatu ketetapan hukum mutlak harus diperhatikan dan tidak bisa diabaikan. kecuali hanya sebagai dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri. yaitu : . dalam perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat dalam kitab ushul fikih kontemporer. Istilah-istilah ini jelas mengandung makna tempat pengambilan atau rujukan utama serta merupakan asal sesuatu. maka dalil dapat dibedakan kepada dua macam. sedangkan selain dari keduanya seperti al ijma. al qiyas dan lain-lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber. Dengan demikian setiap ketetapan hukum tidak akan mempunyai kekuatan hujjah tanpa didasari oleh pijakan dalil sebagai pendukung ketetapan tersebut.

Istihsan. Qiyas. “ Bagaimana engkau memutuskan suatu perkara jika diajukan orang kepada engkau ? ” Mu’az menjawab. Adapun dalil-dalil yang dikelompokkan kepada kategori terakhir ini meliputi Ijma. Perbedaan ini muncul ketika ulama ushul tidak menemukan dalil atau alasan yang mendasari suatu hukum dari Nash. kemudian Rasulullah membenarkannya. namun dalil-dalil tersebut keberadaannya menimbulkan perdebatan di kalangan ulama mazhab ushul. maka mereka menggunakan ra’yu mereka masing-masing dengan rumusan tersendiri. Dalil-dalil hukum yang dikategorikan kepada bagian ini adalah Al Quran dan As sunnah atau disebut pula dengan dalil naqli. “ Saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebihlebihan ”. jawab Mu’az. Dan Rasulullah bertanya kembali. ” jika tidak engkau temukan dalam Kitab Allah ?”. Mashalih Mursalah. Istishab. Al Adillah Al Ahkam Al Manshushah atau dalil-dalil hukum yang keberadaannya secara tekstual terdapat dalam nash. Nabi bertanya kepada Mu’az Bin Jabal. Mu’az menjawab. Nabi bertanya kembali. “ Saya akan putuskan dengan sunnah Rasulullah ”. Ijma dan Qiyas hamper seluruh mazhab mempergunakannya. “ saya akan putuskan dengan Kitab Allah ”. 2. Atas dasar ini para ulama ushul di berbagai mazhab menyusun dan berpijak pada sistematika istinbat yang mereka susun masing-masing secara berurutan dengan menempatkan dalil-dalil ra’yu setelah Al Quran dan As sunnah Hal ini diyakini termotivasi oleh hadits yang berisi dialog antara Nabi Muhammad SAW dengan Dalil-dalil ini dirumuskan melalui ijtihad dengan menggunakan penalaran ra’yu dan disebut . Mu’az Bin Jabal ketika akan dikirim ke Yaman. Syarun Man Qablana dan Qaul Shahabi. Al Adillah Al Ahkam ghoirul Manshushah atau dalil-dalil hukum yang secara tekstual tidak disebutkan oleh nash Al Quran dan As sunnah. ” Jika tidak engkau temukan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah ?”. pula dengan dalil aqli. Urf.4 1.

Al Quran a. Pengertian Al Quran Sebagaimana telah disinggung sebelum ini tentang sumber dalil dalam hukum Islam. Menjadi ibadah bagi siapa yang membacanya. Oleh karena itu hukum-hukum yang terkandung di dalam Al Quran merupakan aturan-aturan yang wajib diikuti oleh manusia Banyak ayat-ayat yang menerangkan bahwa Al Quran itu benar-benar datang dari Allah. baik melalui tulisan atau bacaan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan terpelihara dari perubahan dan pergantian . diantaranya dalam surah An Nisa ayat 10 yang artinya. dimulai dengan surah Al Fatihah dan di akhiri dengan surah An Naas yang disampaikan kepada kita secara mutawatir. “ Sesungguhnya telah kami turunkan kepada engkau ( Muhammad ) kitab Al Quran dengan membawa kebenaran ”. namun yang dimaksud dengan Al Quran dalam uraian ini adalah ” Kalamullah yang diturunkan melalui perantara ruhul amin kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa arab. dan masih banyak lagi ayat-ayat Al Quran yang menerangkan bahwa Al Quran itu benarbenar datang dari Allah. Sumber Hukum Islam 1. agar menjadi hujjah bagi Rasul bahwa ia adalah utusan Allah dan agar menjadi pelajaran bagi orang yang mengikuti petunjuknya. “ Dan telah kami turunkan kepada engkau ( Muhammad ) kitab Al Quran untuk menjelaskan segala sesuatu dan ia merupakan petunjuk. sepanjang masa. surah An Nahl ayat 89. rahmat serta pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri ”. Al Quran yang berasal dari kata qara’a yang dapat diartikan dengan membaca.5 B. . Sebagaimana telah disebutkan bahwa sedikitpun tidak ada keraguan atas kebenaran dan kepastian isi Al Quran itu. maka Al Quran merupakan sumber utama dalam pembinaan hukum Islam. ia ditulis di atas lembaran mushaf. dengan kata lain Al Quran itu benarbenar datang dari Allah.

Di Madinah atau yang disebut ayat madaniyah. tumbuh-tumbuhan. perdagangan. 2. hal-hal mengenai keluarga. udara. b. banyaknya sekitar 2/3 seluruh ayat-ayat Al Quran. yaitu : 1. Ayat-ayatnya panjang. seperti yang termaktub dalam surah Al Isra ayat 88. air dan sebagainya. pemerintahan. perintah. Di Mekkah atau yang disebut ayat makkiyah. berisikan peraturan yang mengatur hubungan sesama manusia mengenai larangan. . anjuran. hukum-hukum dan syari’at-syari’at. akhlaq. masyarakat. Mu’jizat Al Quran Al Quran memiliki mu’jizat-mu’jizat yang membuktikan bahwa ia benar-benar dating dari Allah SWT. Selain pada kata-katanya Al Quran juga memiliki Menurut Mana’ Qattan di dalam buku Mabahits Fi Ulumil Quran menyebutkan bahwa Al Quran memilki mu’jizat pada 4 bidang mujizat pada artinya yang membuka segala hijab tentang hakikat manusiawi. Pada lafadz dan susunan kata. Ayat-ayatnya pendek. Pada zaman Rasulullah Syair sangat trend pada saat itu maka Al Quran turun dengan kata-kata dan susunan kalimat yang maha puitis. pada umumnya berisikan tentang kepercayaan atau ketuhanan. hubungan manusia dengan hewan. mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya.6 Ditinjau dari sudut tempatnya. 2. Pada keterangannya. Yunus ayat 38 dan Al Baqarah ayat 23. Al Quran turun di dua tempat yaitu : 1. Hud ayat 13-14. sehingga Al Quran memastikan bahwa tak ada seorangpun yang dapat membuat satu surah sekalipun semisal Al Quran.

Hal ini dilandasi oleh ayat Al Quran di dalam surah An Nisa ayat 5.326 ayat. Pada umumnya isi Al Quran dibagi 2 macam. ibadat dan muamalat. 4. baik masa sekarang maupun yang akan datang. Peraturan yang ada di dalam Al Quran bebas dari kesalahan karena ia berasal dari Tuhan Yang Maha Tahu atas segala ciptaanNya. 6. 144 surah. Fungsi Al Quran Al Quran pertama kali turun di Gua Hira ( surah Al Alaq ayat 1-5 ) dan terakhir kali turun surah al Maidah ayat 3. 3.345 huruf. agar tercipta kemaslahatan dan keselamatan harus berpedoman dan berwawasan Al Quran. Pada ilmu pengetahuan. Secara garis besar hukum dalam Al Quran ada 3 macam. Sumber pokok dan utama dari segala sumber-sumber hukum yang ada. 2. Penuntun manusia dalam merumuskan semua hukum. Al Quran berfungsi sebagai : 1.7 3. Di dalam terdapat sangat banyak pengetahuan baik hal yang zahir maupun yang gaib. Adapun isi pokok Al Quran ada 3 macam : . c. Petunjuk yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia dengan penuh rahmat kepada kebahagiaan umat manusia baik didunia maupun diakhirat dan sebagai ilmu pengetahuan. 324. akhlaq dan syari’ah. Al Quran terdiri dari 30 juz. yaitu aqidah. Pada penetapan hukum.

. d. Yang kedua mutasyabih yaitu ayat yang tidak jelas artinya sehingga terbuka kemungkinan adanya berbagai penafsiran dan pemahaman yang disebabkan oleh adanya kata yang memiliki dua arti / maksud. Larangan contohnya firman Allah dalam surah Al An’am ayat 151 yang artinya. muamalat ( hukum pergaulan dalam masyarakat atau hukum private. Allah berfirman yang artinya. Yang pertama muhkam yaitu ayat-ayat yang terang artinya.”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat ”. hari kiamat dan kepada qadha dan qadar. jinayat ( hukum pidana ). yaitu syahadat. Kehujjahan Al Quran Al quran dari segi penjelasannya ada 2 macam. ” Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan hak ”. malaikat. rasul-rasul. Munakahat ( perkawinan ). 2. yang berarti keharusan untuk mengerjakan atau meninggalkan. Rukun Iman. Ibarat Al Quran dalam menetapkan dan menjelaskan hukum yang berupa perintah dan larangan ada beberapa model : a. jelas maksudnya dan tidak mengandung keraguan / pemahaman lain selain pemahaman yang terdapat pada lafaznya. shalat.8 1. 3. ath’imah ( makanan dan minuman ) dan jihad ( hukum peperangan ). atau karena penggunaan nama-nama dan kiasan-kiasan. yaitu percaya kepada Allah. Rukun Islam. Suruhan. aqdiyah ( hukum mengenai mendirikan pengadilan). khalifah ( hukum pemerintahan ). zakat dan haji. Kitab Allah. puasa. Keharusan seperti perintah shalat.

Sedangkan ayat . Pada umumnya bersifat perintah. Sunnah hammiyah yaitu sesuatu yang telah dikerjakan tapi tidak sampai dikerjakan. zakat dan haji. .ayat mutsyabihat adalah ayat – ayat yang memerlukan penjelasan lebih lanjut walaupun dalam bunyinya sudah jelas mempunyai arti.9 b. seperti ayat mengenai gejala alam yang terjadi setiap hari. perbuatan dan penetapan pengakuan. As-sunah atau Hadits Sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Rasul SAW. Hadits berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat Al Quran yang kurang jelas atau sebagai penentu beberapa hukum yang tidak terdapat pada AlQur’an. Sunnah qauliyah yaitu semua perkataan Rasulullah saw b. baik berupa perkataan. shaum. seperti penegakan shalat. As-sunnah dibagi menjadi 4 macam yaitu : a. pahala dan dosa serta pujian dan celaan. Ibarat. Sumber Pelengkap Ar-Ra’yu (Ijtihad) Secara garis besar ayat-ayat Al-qur’an dibedakan atas ayat Muhkamat dan ayat mutsyabihat. 3. c. 2. Ijtihad berasal dari kata ijtihada yang artinya mencurahkan tenaga dan fikiran atau bekerja semaksimal mungkin. Ayat muhkamat adalah ayat –ayat yang sudah jelas maksudnya dan hukum yang dikandungnya tidak memerlukan penafsiran. contohnya seperti isteri yang ditalak harus menjalankan masa iddah. Sunnah taqririyah yaitu penetapan dan pengakuan Nabi terhadap pernyataan dan pengakuan Nabi ataupun perbuatan orang lain d. Janji baik dan buruk. Sunnah fi’liyah yaitu semua perbuatan Rasulullah saw c.

perkara yang perlu dilakukan demi 5. . yaitu suatu proses perpindahan dari suatu qiyas kepada qiyas lainnya yang lebih kuat atau mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk mencegah kemadharatan atau dapat diartikan pola penetapan hukum suatu perkara yang menurut logika dapat dibenarkan. 4. kemaslahatan manusia yaitu perkara .10 Disini penulis akan menguraikan beberapa macam bentuk ijtihad antara lain : 1. tentang hukum suatu perkara dengan cara musyawarah 2. Urf yaitu. 6. Istishab yaitu. yaitu kebulatan pendapat ahli ijtihad umat Nabi Muhammad SAW sesudah beliau wafat pada suatu masa. yaitu tindakan memutuskan perkara yang mudah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat. Maslahat mursalah. yaitu mengukur sesuatu dengan yang lain dan menyamakannya. Ijma’. sesuatu hal yang dilakukan terus-menerus (adat ) baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Sududz Dzariah. 3. Qiyas. 7. melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah ditetapkan dimasa lalu hingga dalil yang mengubah kedudukan hukum tersebut. Istihsan.

. agar menjadi hujjah bagi Rasul bahwa ia adalah utusan Allah dan agar menjadi pelajaran bagi orang yang mengikuti petunjuknya. Menjadi ibadah bagi siapa yang membacanya. Akan tetapi dalam perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat dalam kitab-kitab ushul fikih kontemporer. Secara terminologis dalil hukum ialah segala sesuatu yang dapat dijadikan alasan atau pijakan yang dapat dipergunakan dalam usaha menemukan dan meneapkan hukum syara atas dasar pertimbangan yang benar dan tepat. Al Quran merupakan sumber utama dalam pembinaan hukum Islam.” kalamullah yang diturunkan berperantakan ruhul amin kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa arab.11 BAB III PENUTUP 1. yang disampaikan kepada kita secara mutawatir. Kesimpulan Dalil secara etimologis adalah “ sesuatu yang dapat memberi petunjuk kepada apa yang dikehendak i”. istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak dibedakan. namun yang dimaksud dengan Al Quran dalam uraian ini ialah . ia ditulis di atas lembaran mushaf. Al Quran yang berasal dari kata qara’a yang dapat diartikan dengan membaca. dimulai dengan surah Al Fatihah dan di akhiri dengan surah An Naas. Mereka menyatakan bahwa apa yang disebut dengan dalil hukum adalah mencakup dalil-dalil lain yang dipergunakan dalam istinbat hukum selain Al Quran dan As sunnah. baik melalui tulisan atau bacaan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan terpelihara dari perubahan serta pergantian.

Bandung : Pustaka setia. Fiqih Ushul Fiqih. Abdul Wahab. Jakarta : PT. 1991. sulaiman. 1995. Muhammad Syah. Kairo : Maktabah Da’wah Islamiyah. 2001. Fi Ulumil ushul Fiqih. Syafi’i.Raja Grafindo Persada. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Filsafat Hukum Islam : Jakarta : Bumi Aksara. Khallaf. Bakry Nazar..12 2. Saran Saran penulis. Ismail. 2003. 1972. Jakart. 6 Maret 2012 Penulis ( Sugiarto ) . Jambi : Sinar Grafika. Fiqh dan Ushul Fiqh. marilah kita jadikan Al-qur’an dan As sunnah sebagai landasan hidup kita didunia sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam memahami ajaran Islam. Karim. Sumber Hukum Islam.

oleh karena itu dibutuhkan sesuatu yang dapat dijadikan pijakan untuk menetapkan hukum perkara tersebut. sumber hukum yang dimaksud yaitu Al Quran dan as sunnah. Metode Penulisan Dalam pembuatan makalah ini. Akan tetapi. baik secara qat‟i maupun secara zhani”.Sumber Hukum Ajaran Agama Islam BAB I PENDAHULUAN 1. penulis membatasi masalah hanya pada permasalahan: Pengertian sumber dan dalil serta membahas salah satu sumber hukum yaituAl Quran. Pengertian Sumber dan Dalil 1. para ulama ushul mengartikan dalil secara etimologis dengan “sesuatu yang dapat memberi petunjuk kepada apa yang dikehendaki”. para ulama berijtihad dan menyusun sistematika istinbat hukum. istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak dibedakan. Dengan didasari oleh hadits Nabi. Latar Belakang Masalah Dalam penetapan hukum dalam agama Islam harus dilandasi dengan pijakan atau alasan yang disebut dengan sumber hukum. menurut istilahyang dimaksud dengan dalil hukum ialah “segala sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk dengan menggunakan pikiran yang benar untuk menetapkan hukum syara yang bersifat amali. Ibnu al Subki dalam kitab Matn Jam‟i al Jawami‟ menyebutkan pula bahwa yang dimaksud dengan dalil hukum . BAB II PEMBAHASAN A. Maka dalam makalah inikami akan berusaha membahasnya dan akan kami sertakan sumber hukum utama yaitu Al Quran. menurut bahasa yang dimaksud dengan dalil ialah “sesuatu yang meberi patunjuk kepada sesuatu yang dirasakan atau yang dipahami baik sifatnya hal yang baik maupun yang tidak baik”. 3. Sementara itu. Pembahasan Makalah Berdasarkan banyaknya permasalahan dalam ilmu Ushul Al Fikih. Adapun secara terminologis para ulama ushul berbeda dalam mendefinisikan dalil hukum. Pengertian Dalil Dalam kajian ushul fikih. dalam perkembangan perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat dalam kitab-kitab ushul fikih kontemporer. Namun adakalanya timbul permasalahan-permasalahan baru yang timbul akibat berkembangnya jaman. penulis menggunakan metode literatur atau kepustakaan yang berhubungan dengan permasalahan. 2. Abdul Wahab Khallaf menjelaskan bahwa. Abdul Wahab Khallaf menyebutkan.

Dengan demikian setiap ketetapan hukum tidak akan mempunyai kekuatan hujjah tanpa didasari oleh pijakan dalil sebagai pendukung ketetapan tersebut. Jika dilihat dari segi keberadaannya.ah mengacu kepada pengertian sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk sebagai alasan dalam menetapkan hukjum syara. al qiyas dan lain-lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber. Dari pengertian yang telah dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa pada dasarnya yang disebut dengan dalil hukum ialah segala sesuatu yang dapat dijadikan alasan atau pijakan yang dapat dipergunakan dalam usaha menemukan dan meneapkan hukum syara atas dasar pertimbangan yang benar dan tepat. Dalil-dalil hukum yang dikategorikan kepada bagian ini adalahAl Quran dan as sunnah atau disebut pula dengan dalil naqli. masadir al syariah. Tentu saja. Dalam konteks ini Al Quran dan as sunnah adalah merupakan sumber hukum dan sekaligus menjadi dalil hukum. ada sebutan lain di kalangan ulama ushul seperti istilah masadir al ahkam. Keberadaan dalil sebagai pijakan yang mendasari suatu ketetapan hukum mutlak harus diperhatikan dan tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu.ialah “apa saja yang dapat dipergunakan untuk sampai kepada yang dikehendaki. penetapan hukum syara harus didukung oleh pertimbangan yang tepat dan cermat dengan menggunakan dalil yang jelas. dalam perkembangan perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat dalam kitab-kitab ushul fikih kontemporer. asas al tasyri dan adillat al syari. as sunnah dan dalil-dalil atau sumber-sumber hukum lainnya. ushul al ahkam. . kecuali hanya sebagai dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri. dikalangan ulama ushul masalah dalil hukum ini terjadi perhatian utama atau dipandang merupakan sesuatu hal yang sangat penting ketika mereka berhadapan dengan persoalan-persoalan yang akan ditetapkan hukumnya. sedangkan selain dari keduanya seperti al ijma. maka dalil dapat dibedakan kepada dua macam. yaitu: 1. Sedangkan dalil atauyang diistilahkan dengan adillat al ahkam. 2. Sebab. Akan tetapi. Al Adillah Al Ahkam Al Manshushah atau dalil-dalil hukum yang keberadaannya secara tekstual terdapat dalam nash. Oleh karena itu.Pengertian Sumber Terhadap dalil hukum. istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak dibedakan. masadir al tasyri atauyang diartikan sumber hukum. keduanya merupakan istilah teknis yang yang dipakai oleh para ulama ushul untuk menyatakan segala sesuatu yang dijadikan alasan atau dasar dalam istinbat hukum dan dalam prakteknya mencakup Al Quran. dalam istinbat hukum persoalan yang paling mendasar yang harus diperhatikan adalah menyangkut apa yang menjadi dalil yang dapat dipergunakan dalam menetapkan hukum syara dari sesuatu persoalan yang dihadapi. Istilah-istilah ini jelas mengandung makna tempat pengambilan atau rujukan utama serta merupakan asal sesuatu. yaitu hukum syara dengan berpijak pada pemikiran yang benar”. Mereka menyatakan bahwa apayang disebut dengan dalil hukum adalah mencakup dalil-dalil lain yang dipergunakan dalam istinbat hukum selain Al Quran dan as sunnah.

“Saya akan putuskan dengan sunnah Rasulullah”. “Bagaimana engkau memutuskan suatu perkara jika diajukan orang kepada engkau?”Mu‟az menjawab. Dan terpelihara dari perubahan dan pergantian . Atas dasar ini para ulama ushul di berbagai mazhab menyusun dan berpijak pada sistematika istinbat yang mereka susun masing-masing secara berurutan dengan menempatkan dalil-dalil ra‟yu setelah Al Quran dan as sunnah B. Perbedaan ini muncul karena ketika ulama ushul tidak menemukan dalil atau alasan yang mendasari suatu hukum dari Nash. Pengertian Al Quran Sebagaimana telah disinggung sebelum ini tentang sumber dalil dalam hukum Islam. Mu‟az menjawab. Menjadi ibadah bagi siapa yang membacanya. Hal ini diyakini termotivasi oleh hadits yang berisi dialog antara Nabi saw dengan Mu‟az Bin Jabal ketika akan dikirim ke Yaman Nabi bertanya kepada Mu‟az Bin Jabal. Kemudian Rasulullah membenarkannya. dengan kata lain Al Quran itu benar-benar datang dari Allah. Urf. Syarun Man Qablana dan Qaul Shahabi. maka mereka menggunakan ra‟yu mereka masing-masing dengan rumusan tersendiri. Istihsan. Qiyas. Dalil-dalil ini dirumuskan melalui ijtihad dengan menggunakan penalaran ra‟yu dan disebut pula dengan dalil aqli. Ijma dan Qiyas hampir seluruh mazhab mempergunakannya. “Saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebih-lebihan”. Mashalih Mursalah.”kalamullah yang diturunkan berperantakan ruhul amin kepada Nabi Muhammad saw dalam bahasa arab. Al Adillah Al Ahkam ghoirul Manshushah atau dalil-dalil hukum yang scara tekstual tidak disebutkan oleh nash Al Quran dan as sunnah. Al Quran a. agar menjadi hujjah bagi Rasul bahwa ia adalah utusan Allah dan agar menjadi pelajaran bagi orang yang mengikuti petunjuknya. ”jika tidak engkau dalam Kitab Allah?”. Dan Rasulullah bertanya kembali. Sumber Hukum Islam 1. jawab Mu‟az. Al Quran yang berasal dari kata qara‟a yang dapat diartikan dengan membaca. Nabi bertanya kembali. maka Al Quran merupakan sumber utama dalam pembinaan hukum Islam. “saya akan putuskan dengan Kitab Allah”. sedangkan dalil-dalil yang keberadaannya menimbulkan perdebatan di kalangan ulama mazhab ushul.2. Adapun dalil-dalil yang dikelompokkan kepada kategori terakhir ini meliputi Ijma. ia ditulis di atas lembaran mushaf. Istishab. dimulai dengan surah Al Fatihah dan di akhiri dengan surah An Naas. Oleh karena itu hukum-hukum yang terkandung di dalam Al Quran merupakan aturan-aturan yang wajib diikuti oleh manusia sepanjang masa. baik melalui tulisan atau bacaan dari satu generai ke generasi berikutnya.”Jika tidak engkau temukan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah?”. Yang disampaikan kepada kita secara mutawatir. namun yang dimaksud dengan Al Qura dalam uraian ini ialah. Sebagaimana telah disebutkan bahwa sedikitpun tidak ada keraguan atas kebenaran dan kepastian isi Al Quran itu. Banyak ayat-ayat yang .

al quran berfungsi sebagai: 1. Di dalam terdapat sangat banyak pengetahuan baik hal yang zahir maupun yang gaib. c. 324. udara. Pada keterangannya. selain pada kata-katanya Al Quran juga memiliki mujizat pada artinya yang membuka segala hijab tentang hakikat manusiawi.345 huruf . sehingga Al Quran memastikan bahwa tak ada seorangpun yang dapat membuat satu surah sekalipun semisal Al Quran. 2. halhal mengenai keluarga. ayat-ayatnya pendek dan ditujukan kepada seluruh ummat. b. masyarakat. c. berisikan peraturan yang mengatur hubungan sesama manusia mengenai larangan. pemerintahan. perdagangan. akhlaq. Yunus ayat 38 dan Al Baqarah ayat 23. Di Mekkah atau yang disebut ayat makkiyah. air dan sebagainya. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Quran yang menerangkan bahwa Al Quran itu benar-benar datang dari Allah. Pada ilmu pengetahuan. Di Madinah atau yang disebut ayat madaniyah. Al Quran terdiri dari 30 juz. Al Quran turun di dua tempat yaitu: 1. rahmat serta pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. Pada umumnya berisikan soal-soal kepercayaan atau ketuhanan. d. Ayat-ayatnya panjang. Pada zaman Rasulullah Syair sangat trend pada saat itu maka Al Quran turun dengan kata-kata dan susunan kalimat yang maha puitis. Seperti yang termaktub dalam surah Al Isra ayat 88. Banyaknya sekitar 2/3 seluruh ayat-ayat Al Quran.326 ayat. baik masa sekarang maupun yang akan datang. Mu‟jizat Al Quran Al Quran memiliki mu‟jizat-mu‟jizat yang membuktikan bahwa ia benar-benar datang dari Allah SWT. Peraturan yang ada di dalam Al Quran bebas dari kesalahan karena ia berasal dari Tuhan Yang Maha Tahu atas segala ciptaanNya. Surah An Nahl ayat 89. Ditinjau dari sudut tempatnya. Pada lafadz dan susunan kata. Dalam surah An Nisa ayat 10 yang artinya. hubungan manusia dengan hewan. Hal ini dilandasi oleh ayat Al Quran di dalam surah An Nisa ayat 5. Sumber pokok dan utama dari segala sumber-sumber hukum yang ada. anjuran. Hud ayat 13-14. b. “Sesungguhnya telah kami turunkan kepada engkau (Muhammad) kitab Al Quran dengan membawa kebenaran”. “Dan telah kami turunkan kepada engkau (Muhammad) kitab Al Quran untuk menjelaskan segala sesuatu dan ia merupakan petunjuk. Menurut Mana‟ Qattan di dalam buku Mabahits Fi Ulumil Quran menyebutkan bahwa Al Quran memilki mujizat pada 4 bidang yaitu: a. Pada penetapan hukum. 6.menerangkan bahwa Al Quran itu benar-benar datang dari Allah. Fungsi Al Quran Al Quran pertama kali turun di Gua Hira surah Al Alaq ayat 1-5 dan terakhir kali turun surah al Maidah ayat 3. . 144 surah. mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. suruhan. tumbuhtumbuhan. hukum-hukum dan syari‟at-syari‟at.

baik berupa perkataan. Secara garis besar hukum dalam Al Quran ada 3 macam. yaitu aqidah. malaikat. Kitab Allah. khalifah ( okum pemerintahan). Keharusan seperti perintah shalat. 3. b. ath‟imah (makanan dan minuman)dan jihad ( okum peperangan). pahala dan dosa serta pujian dan celaan. Sunnah qauliyah yaitu semua perkataan Rasulullah saw b. As-sunah atau Hadits Sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Rasul SAW. Hadits berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat alqur‟an yang kurang jelas atau sebagai penentu beberapa hukum yang tidak terdapat pada Al-Qur‟an. Rukun Islam. jelas maksudnya dan tidak mengandung keraguan atau pemahaman lain selain pemahaman yang terdapat pada lafaznya. contohnya seprti istri yang ditalak harus menjalankan masa iddah. Pada umumnya isi Al Quran dibagi 2 macam.”Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan hak”. perbuatan dan penetapan pengakuan. Ibarat Al Quran dalam menetapkan dan menjelaskan hukum yang berupa perintah dan larangan ada beberapa model : a. puasa zakat dan haji. yaitu percaya kepada Allah. 3. yaitu syahadt. 2. Rukun Iman. agar tercipta kemaslahatan dan keselamatan harus berpedoman dan berwawasan Al Quran. jinayat ( okum pidana). Kehujjahan Al Quran Al quran dari segi penjelasannya ada 2 macam. Sunnah fi‟liyah yaitu semua perbuatan Rasulullah saw . Ibarat. muamalat ( okum pergaulkan dalam masyarakat atau okum private). yang pertama muhkam yaitu ayat-ayat yang teran artinya. Allah berfirman yang artinya. Yang kedua mutasyabih yaitu ayat yang tidak jelas artinya sehingga terbuka kemungkinan adanya berbagai penafsiran dan pemahaman yang disebabkan oleh adanya kata yang memiliki dua arti/maksud. Munakahat (perkawinan).”Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat”. rasul-rasul.2. d. Penuntun manusia dalam merumuskan semua hukum. Janji baik dan buruk. ibadat dan muamalat. As-sunnah dibagi menjadi 4 macam yaitu : a. „aqdiyah ( okum mengenai mendirikan pengadilan). hari kiamat dan kepada qadha dan qadar. akhlaq dan syari‟ah. Larangan contohnya firman Allah dalam surah Al An‟am ayat 151 yang artinya. c. Petunjuk yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia dengan penuh rahmat kepada kebahagiaan umat manusia baik didunia maupun diakhirat dan sebagai ilmu pengetahuan. Dan isi pokok Al Quran ad 3 macam : 1. atau karena penggunaan nama-nama dan kiasan-kiasan. 2. salat. Suruhan. yang berarti keharusan untuk mengerjakan atau meninggalkan.

shaum. Maslahat mursalah. yaitu mengukur sesuatu dengan yang lain dan menyamakannya 3. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang memerlukan penjelasan lebih lanjut walaupun dalam bunyinya sudah jelas mempunyai arti. BAB III PENUTUP 1. Ayat muhkamat adalah ayat –ayat yang sudah jelas maksudnya dan hukum yang dikandungnya tidak memerlukan penafsiran. seperti penegakan shalat. Pada umumnya bersifat perintah. Akan tetapi. dalam perkembangan perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat dalam kitab-kitab ushul fikih kontemporer. Disini penulis akan menguraikan beberapa macam bentuk ijtihad antara lain : 1. zakat dan haji. Ijma‟. tentang hukum suatu perkara dengan cara musyawarah 2. Qiyas. Mereka menyatakan bahwa apa yang disebut denagan dalil hukum adalah mencakup dalil-dalil lain yang dipergunakan dalam istinbat hukum selain Al Quran dan as sunnah . Secara terminologis dalil hukum ialah segala sesuatu yang dapat dijadikan alasan atau pijakan yang dapat dipergunakan dalam usaha menemukan dan meneapkan hukum syara atas dasar pertimbangan yang benar dan tepat. Sududz Dzariah yaitu tindakan memutuskan perkara yang mudah menjadi makruh atau haram demi kepentingan umat 6. istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak dibedakan. yaitu sesuatu hal yang dilakukan terus-menerus (adat ) baik berupa perkataan ataupun perbuatan. 3. Sumber Pelengkap Ar-Ra‟yu (Ijtihad) Secara garis besar ayat-ayat Al-qur‟an dibedakan atas ayat Muhkamat dan ayat mutsyabihat. seperti ayat mengenai gejala alam yang terjadi setiap hari.c. Istihsan. yaitu perkara-perkara yang perl dilakukan demi kemaslahatan manusia 5. Ijtihad berasal dari kata ijtihada yang artinya mencurahkan tenaga dan fikiran atau bekerja semaksimal mungkin. Urf. Sunnah taqririyah yaitu penetapan dan pengakuan Nabi terhadap pernyataan dan pengakuan Nabi ataupun perbuatan orang lain d. Kesimpulan Dalil secara etimologis dengan “sesuatu yang dapat memberi petunjuk kepada apa yang dikehendaki”. Istishab yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah ditetapkan dimasa lalu hingga dalil yang mengubah kedudukan hukum tersebut 7. yaitu kebulatan pendapat ahli ijtihad umat Nabi Muhammad saw sesudah beliau wafat pada suatu masa. yaitu suatu peroses perpindahan dari suatu qiyas kepada qiyas lainnya yang lebih kuat atau mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk mencegah kemadharatan atau dapat diartikan pola penetapan hukum suatu perkara yang menurut logika dapat dibenarkan 4. Sunnah hammiyah yaitu sesuatu yang telah dikerjakan tapi tidak sampai dikerjakan.

t. dimulai dengan surah Al Fatihah dan di akhiri dengan surah An Naas. sulaiman.Muqaranah Mazahib Fil Ushul. Bandung : Pustaka setia. Ismail. Manna‟. Riyadh : Mansyuratul „Asril Hadi .Raja Grafindo Persada. Bakry Nazar. Sumber Hukum Islam. 1972. Jambi : Sinar Grafika. Romli. Abdurachman.Al Quran merupakan sumber utama dalam pembinaan hukum Islam. 1995. baik melalui tulisan atau bacaan dari satu generai ke generasi berikutnya. Fathurrahman. Jakarta : PT. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. Saran Saran yang ingin penulis sampaikan hendaklah kita jadikan Al-qur‟an dan As-sunah sebagai landasan hidup kita didunia. Indonesia: Maktabah Dar Ihya Al Kitab Al Arabiyah.”kalamullah yang diturunkan berperantakan ruhul amin kepada Nabi Muhammad saw dalam bahasa arab. Yang disampaikan kepada kita secara mutawatir. Dan terpelihara dari perubahan dan pergantian. agar menjadi hujjah bagi Rasul bahwa ia adalah utusan Allah dan agar menjadi pelajaran bagi orang yang mengikuti petunjuknya.. Al Quran yang berasal dari kata qara‟a yang dapat diartikan dengan membaca. t. Kairo : Maktabah Da‟wah Islamiyah. Filsafat Hukum Islam : Jakarta : Bumi Aksara. Syafi‟i. dari segala apa yang kita perbuat agar tidak terjadi penyimpangan dalam memahami ajaran Islam. DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Fiqih Ushul Fiqih.Juz I dan II. 1999 . Asmuni. 2001. 1985. 1991. Abdul Wahab. Filsafat Hukum Islam. Menjadi ibadah bagi siapa yang membacanya. ibn. Khallaf. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. Filsafat Hukum Islam. 1973 . Matn jam‟i Al Jawa‟I . 1997. Muhammad Syah. namun yang dimaksud dengan Al Qura dalam uraian ini ialah. Karim. Jakarta : Gaya Media Pratama Qattan. Al subki. Fiqh dan Ushul Fiqh. ia ditulis di atas lembaran mushaf. 2003. Mabahits Fi Ulumil Qur‟an. 2. Djamil. Fi Ulumil ushul Fiqih.