LAPORAN PENDAHULUAN TUBERKULOSIS PARU (TBC

)

Disusun oleh Uswatun Hasanah 08.600.055

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA 2012

LAPORAN PENDAHULUAN TUBERCULOSIS PARU

A. Definisi Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.(Price dan Wilson, 2005). Tuberkulosis Paru (TB Paru) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru. ( Smeltzer, 2001). Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh

Mycobakterium Tuberculosa yang merupakan bakteri batang tahan asam, dapat merupakan organisme patogen atau saprofit (Sylvia Anderson, 1995). Tuberkulosis adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru (Bruner dan Suddart. 2002). Tuberkulosis adalah contoh lain infeksi saluran nafas bawah. Penyakit ini disebabkan oleh mikrooganisme Mycobacterium tuberculosis (Elizabeth J. Corwn, 2001). Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobakterium tuberkulosa gejala yang sangat bervariasi (FKUI, 2001). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi pada saluran nafas bawah yang menular disebabkan mycobakterium tuberkulosa yaitu bakteri batang tahan asam baik bersifat patogen atau saprofit dan terutama menyerang parenkim paru.

B. Etiologi Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberkulosis tipe humanus, sejenis kuman yang yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/mm dan tebal 0,3-0,6/mm. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam (asam alkkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat bertahan hidup pada udara kering maupun dingin (dapat tahan bertaun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman

bersifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit lagi dan menjadikan tuberculosis menjadi aktif lagi. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. (Amin, 2007) Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif kembali. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Basil mikrobakterium tersebut masuk kedalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli, maka terjadilah infeksi primer (ghon) selanjutnya menyebar kekelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks (ranke). keduanya dinamakan tuberkulosis primer, yang dalam perjalanannya sebagian besar akan mengalami penyembuhan. Tuberkulosis paru primer, peradangan terjadi sebelum tubuh mempunyai kekebalan spesifik terhadap basil mikobakterium. Tuberkulosis yang kebanyakan didapatkan pada usia 1-3 tahun. Sedangkan yang disebut tuberkulosis post primer (reinfection) adalah peradangan jaringan paru oleh karena terjadi penularan ulang yang mana di dalam tubuh terbentuk kekebalan spesifik terhadap basil tersebut. Faktor predisposisi penyebab penyakit tuberkulosis antara lain ( Elizabeth J powh 2001) 1). Mereka yang kontak dekat dengan seorang yang mempunyai TB aktif 2). Individu imunosupresif (termasuk lansia, pasien kanker, individu dalam terapi kartikoteroid atau terinfeksi HIV) 3). Pengguna obat-obat IV dan alkoholik 4). Individu tanpa perawatan yang adekuat

mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah minggu-mimggu atau berbulan-bulan peradangan bermula. Amerika Latin Karibia) 7). Individu yang tinggal di institusi (Institusi psikiatrik. keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuuh darah yang pecah. Keadaan ini sangat terpengaruh oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberkolosis masuk. Individu yang tinggal di daerah kumuh 9).keluhan yang terbanyak: 1. . Tetapi kadang-kadang pana badan dapat mencapai 40-410 Celsius. penjara) 8).tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus. penyimpanan gizi. Batuk/batuk berdarah gejala ini bayak ditemukan. Demam Biasanya subfebril menyerupai demam influenza.5). Petugas kesehatan C.batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Begitulah seterusnya hilang timbul demam influenza ini .kebanyakan batuk darah pada tuberkulusis terjadi pada kavitas. by pass gatrektomi. 6).sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradagan menjadi produktif(menghasilkal sputum). GGK. Individu dengan gangguan medis seperti : DM. Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama. Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar .batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus.tetapi kemudian dapat timbul kembali.sehingga pasien merasa tidak pernah terbeba dari serangan demam influenza. Manifestasi Klinis Keluhan yang diraskan pasien pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau malah banyak ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam pemeriksaan kesehatan . Imigran dari negara dengan TB yang tinggi (Asia Tenggara. 2.

1 Terpajan TB Tidak ada bukti infeksi 2 Ada infeksi TB Tidak timbul penyakit Riwayat terpajan Reaksi tes kulit tuberkulin negative Reaksi tes kulit tuberculin positif Pemeriksaan bakteri negative (bila dilakukan) Tidak ada bukti klinis.badan makin kurus (berat badan turun). Reaksi negative.  Takikardia (Amin. 2005).nyeri dada timbul bila infiltrasinya radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis . 2007) D. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi ilang timbul secara tidak teratur. nyeri dada gejala ini agak jarang ditemukan. keringat malam. Klasifikasi Adapun klasifikasi TB paru berdasarkan petogenesisnya yaitu: Kelas 0 Tipe Tidak ada pejanan TB. sakit kepala. dll. gejala malaise sering ditemukan berupa anaoreksia tidak ada nafsu makan. aktif secara klinis Biakan M. 5.terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya. Tidak terinfeksi Keterangan Tidak ada riwayat terpajan.3. Selain itu juga terjadi kselitan tidur pada malam hari (Price. bakteriologik atau radiografik Tb aktif 3 TB.yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru dan takipneu. tuberkulosis (bila terhadap tes tuberculin . 4. Malaise dan kelelahan Penyakit tuberculosis bersifat radang menahun.sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut. sesak bernafas pada penyakit ringan (baru tumbuh)belum dirasakan sesak nafas.

dilakukan). rsdiografik penyakit 4 TB. tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet. Leukosit polimorfonuklear tampak didaerah tersebut dan memfagosit . Patofisiologi Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibersinkan atau dibatukkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara.reaksi tes kulit tuberkulin positif dan tidak ada bukti klinis atau radiografik penyakit sekarang 5 Tersangka TB Diagnosa ditunda (Price. Setelah berada diruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus atas paruparu atau dibagian atas lobus bawah. bakteriologik. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukurannya kurang dari 5 mikromilimeter. Gumpalan basil yang besar cendrung tertahan dihidung dan cabang bronkus dan tidak menyebabkan penyakit ( Dannenberg 1981 ). Sekarang terdapat bukti klinis. Tuberculosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat akan menempel pada jalan nafas atau paruparu. Sel efektornya adalah makrofag sedangkan limfosit (biasanya sel T ) adalah imunoresponsifnya. Raspon ini desebut sebagai reaksi hipersensitifitas (lambat). 2005) E. melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limposit dan limfokinnya. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam. basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai unit yang terdiri dari 1-3 basil. Tidak aktif secara klinis Riwayat episode TB atau Ditemukan radiografi yang abnormal atau tidak berubah. Tipe imunitas seperti ini basanya lokal.

kadang dapat menimbulkan lesi pada oragan lain. Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi kapsul yang terlepas. Keadaan ini dapat dengan tanpa gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan brokus sehingge menjadi peradangan aktif. Proses ini dapat terulang lagi kebagian paru lain atau terbawa kebagian laring. Pneumonia seluler akan sembuh dengan sendirinya. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil. Sesudah hari-hari pertama leukosit akan digantikan oleh makrofag . telinga tengah atau usus. Daerah yang terjadi nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast menimbulkan respon yang berbeda. sehingga tidak ada sisa atau proses akan berjalan terus dan bakteri akan terus difagosit atau berkembang biak didalam sel. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limposit. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut fibrosa.Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel. Respon lain yang dapat terjadi didaerah nekrosis adalah pencairan dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Lesi primer paru dinamakn fokus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon.bakteria namun tidak membunuh organisme ini. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional. Reaksi ini butuh waktu 10-20 hari. Jenis . Bila peradangan mereda lumen brokus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapt dekat dengan perbatasan bronkus rongga. Nekrosis pada bagian sentral menimbulkan gambangan seperti keju yang biasa disebut nekrosis kaseosa. Materi tuberkel yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk kedalan percabangan trakeobronkhial.

cara penularan. agar dapat diketahui secara dini. obat yang diberikan dengan jenis : . * Isoniazid 400 mg. * Pas 10 mg. Penatalaksanaan secara medik Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian : 1. Menggunakan isoniazid (INH) 3.penyeban ini disebut limfohematogen yang biasabya sembuh sendiri. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS. Penatalaksanaan keperawatan diantaranya dapat dilakukan dengan cara: a. Preventif 1. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC 2.Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme yang masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar keorgan-organ lainnya. 4. Vaksinasi BCG 2. Penyebaran hematogen biasanya merupakan fenomena akut yang dapat menyebabkan tuberkulosis milier. 2. 2. tetapi setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi. faktor resiko 3. Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab. Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 – 3 bulan. Jangka pendek. Jangka panjang Tata cara pengobatan : setiap 2 x seminggu. selama 13 – 18 bulan. Terapi TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja. * Ethambutol 1000 mg. cara pencegahan. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat. F. b. Promotif 1. Penatalaksanaan 1. Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC. * Streptomisin injeksi 750 mg.

2. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat : * Rifampicin. Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian. berat ringannya penyakit. * Ethambutol. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa. Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan.* INH. mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. . Pirasinamid. Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat. hasil pemeriksaan bakteriologik. * Ethambutol. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut. * Pyridoxin (B6). Streptomisin dan Etambutol. INH. * Rifampicin. * Isoniazid (INH). Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB. hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. 3. dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin. Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Sedangkan jenis obat tambahan adalah Kanamisin. derivat Rifampisin/INH. Dengan fase selama 2 x seminggu. Kuinolon. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu: 1.

4.5% pasien. oleh karena itu pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting dilakukan selama pengobatan. hentikan OAT dan pengobatan sesuai dengan pedoman TB pada keadaan khusus. mual. tidak nafsu makan. Efek samping yang terjadi dapat ringan atau berat. kesemutan. Efek ini dapat dikurangi dengan pemberian piridoksin dengan dosis 100 mg perhari atau dengan vitamin B kompleks. 2. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari. Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan  Efek samping yang berat tetapi jarang terjadi ialah : . muntah kadang-kadang diare. menggigil dan nyeri tulang. bila efek samping ringan dan dapat diatasi dengan obat simtomatik maka pemberian OAT dapat dilanjutkan. 5. Bila terjadi hepatitis imbas obat atau ikterik. Pada keadaan tersebut pengobatan dapat diteruskan. Sindrom perut berupa sakit perut.  Efek samping berat dapat berupa hepatitis imbas obat yang dapat timbul pada kurang lebih 0. Efek Samping OAT : Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek samping. rasa terbakar di kaki dan nyeri otot. Rifampisin  Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan simtomatik ialah : Sindrom flu berupa demam.  Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup.3. Kelainan lain ialah menyerupai defisiensi piridoksin (syndrom pellagra). Pencatatan dan pelaporan yang baku. Isoniazid (INH)  Efek samping ringan dapat berupa tanda-tanda keracunan pada syaraf tepi. Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping.adapun efek samping OAT antara lain yaitu: 1.

Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolisme obat dan tidak berbahaya. syok dan gagal ginjal. Nyeri sendi juga dapat terjadi (beri aspirin) dan kadang-kadang dapat menyebabkan serangan arthritis Gout. Streptomisin Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran.Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak napas . Etambutol Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya ketajaman. Risiko tersebut akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi ekskresi ginjal. Bila salah satu dari gejala ini terjadi. Kadang-kadang terjadi reaksi demam. buta warna untuk warna merah dan hijau. 3. air mata. Risiko efek samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan dosis yang digunakan dan umur pasien. Meskipun demikian keracunan okuler tersebut tergantung pada dosis yang dipakai. hal ini kemungkinan disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam urat. mual.Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni. Sebaiknya etambutol tidak diberikan pada anak karena risiko kerusakan okuler sulit untuk dideteksi 5. rifampisin harus segera dihentikan dan jangan diberikan lagi walaupun gejalanya telah menghilang . air liur.Purpura. anemia hemolitik yang akut. bila terjadi hal tersebut OAT harus distop dulu dan penatalaksanaan sesuai pedoman TB pada keadaan khusus . jarang sekali terjadi bila dosisnya 15-25 mg/kg BB perhari atau 30 mg/kg BB yang diberikan 3 kali seminggu. kemerahan dan reaksi kulit yang lain. Gangguan penglihatan akan kembali normal dalam beberapa minggu setelah obat dihentikan..Hepatitis imbas obat atau ikterik. 4. Gejala efek samping yang . keringat. Pirazinamid Efek samping utama ialah hepatitis imbas obat (penatalaksanaan sesuai pedoman TB pada keadaan khusus). Hal ini harus diberitahukan kepada pasien agar dimengerti dan tidak perlu khawatir.

muntah dan eritema pada kulit.terlihat ialah telinga mendenging (tinitus). Jika pengobatan diteruskan maka kerusakan alat keseimbangan makin parah dan menetap (kehilangan keseimbangan dan tuli).25gr. Bila reaksi ini mengganggu maka dosis dapat dikurangi 0. pusing dan kehilangan keseimbangan. (http://www.com/konsensus/tb/tb.klikpdpi. Keadaan ini dapat dipulihkan bila obat segera dihentikan atau dosisnya dikurangi 0. Reaksi hipersensitiviti kadang terjadi berupa demam yang timbul tibatiba disertai sakit kepala. Efek samping sementara dan ringan (jarang terjadi) seperti kesemutan sekitar mulut dan telinga yang mendenging dapat terjadi segera setelah suntikan.25gr. Streptomisin dapat menembus barrier plasenta sehingga tidak boleh diberikan pada wanita hamil sebab dapat merusak syaraf pendengaran janin.pdf) .

Identitas klien: selain nama klien.  Biasanya pada keluarga yang kurang mampu.Tidak bersemangat dan putus harapan.  Lingkungan: Lingkungan kurang sehat (polusi. lingkungan dalam rumah lembab. . axilla dan sub mandibula. sejak kecil anggita keluarga tidak dibiasakan imunisasi. jumlah anggota keluarga banyak. menarik diri. untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak. asal kota dan daerah.   Riwayat keluarga. 3.H. Keluhan: penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit. ventilasi rumah yang kurang sehingga pertukaran udara kurang. limbah). pemukiman yang padat. Riwayat penyakit dahulu 5. daerah di dalam rumah lembab. Pola fungsi kesehatan. Merasa dikucilkan dan tidak dapat berkomunikasi dengan bebas. jumlah anggota keluarga yang banyak. Riwayat sosial ekonomi dan lingkungan. jumlah keluarga. 1) Pola persepsi sehat dan penatalaksanaan kesehatan. Riwayat penyakit sekarang: Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempattempat kelenjar seperti: leher. Kurang menerapkan PHBS yang baik. ventilasi minim menybabkan pertukaran udara kurang. rumah kumuh. KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1) PENGKAJIAN 1. 2. Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi. Aspek psikososial. 4. Biasanya keluarga ada yang mempunyai penyakit yang sama. jendela jarang dibuka sehingga sinar matahari tidak dapat masuk. tidak cukup sinar matahari. inguinal.

sering berkeringat pada malam hari. mual. kulit kering dan kehilangan lemak sub kutan. Doenges. Anoreksia. nyeri tulang umum. tidak enak diperut. E. pasif.2) Pola nutrisi . kadang pemarah. sulit dan sakit menelan. 2000) 8) Pola peran – hubungan Penderita dengan TB paru akan mengalami gangguan dalam hal hubungan dan peran yang dikarenakan adanya isolasi untuk menghindari penularan terhadap anggota keluarga yang lain.  Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan dan kelelahan . mudah lelah.metabolik. 5) Pola tidur dan istirahat sulit tidur. tachicardia. (Marilyn. selain itu Ketakutan dan kecemasan akan muncul pada penderita TB paru dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang pernyakitnya yang akhirnya membuat kondisi penderita menjadi perasaan tak berbedanya dan tak ada harapan. nyeri tekan pada kuadran kiri atas dan splenomegali. rasa. turgor kulit jelek. (Marilyn. Doenges. 4) Pola aktifitas – latihan Pola aktivitas pada pasien TB Paru mengalami penurunan karena sesak nafas. 6) Pola kognitif – perceptual Kadang terdapat nyeri tekan pada nodul limfa. E. 3) Pola eliminasi Perubahan karakteristik feses dan urine. jika melakukan aktifitas berat timbul sesak nafas (nafas pendek). 1999). sedangkan dalam hal daya panca indera (perciuman. BB turun. nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan hepatomegali. penglihatan dan pendengaran) jarang ditemukan adanya gangguan 7) Pola persepsi diri Pasien tidak percaya diri. perabaan. frekwensi tidur berkurang dari biasanya.

Batuk produktif. Sesak nafas. malaise. Bila terdapat kavitas yang cukup besar. auskultasi memberikan suara napas yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali. tidur tidak nyenyak  Pernapasan Gejala : batuk berdarah. Bila mengenai pleura. 2000) Pemeriksaan Fisik  Inspeksi Konjungtiva mata pucat karena anemia. badan kurus/ berat badan menurun. Bila mengenai pleura. kasar dan nyaring. bila terdapat kavitas yang cukup besar.  Auskultasi Terdengar suara napas bronchial. Akan didapatkan suara napas tambahan berupa rhonci basah. Bila mengenai pleura. paru yang sakit terlihat agak tertinggal dalam pernapasan. Takipnea  Cardiovaskuler Gejala : takikardia (Doengoes.  Palpasi . suara napas menjadi vesikuler melemah. perkusi memberikan suara pekak.  Perkusi Terdengar suara redup terutama pada apeks paru. Tetapi bila infiltrasi ini diliputi oleh penebalan pleura. perkusi memberikan suara hipersonar dan timpani. gangguan tidur pada malam hari Tanda : pasien meringis.Tanda : Kesulitan tidur pada malam atau demam malam hari dan berkeringat pada malam hari  Makanan/cairan Gejala : Kehilangan nafsu makan Tanda : Penurunan BB  Nyeri/kenyamanan Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk. auskultasi memberikan suara amforik.

Tes kulit (Mantoux. Biopsi jarum pada jaringan paru : Positif untuk granuloma TB. Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi. terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradcrmal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. tergantung lokasi. berat dan sisa kerusakan paru. Radiologi  Foto thorax : Infiltrasi lesi awal pada area paru atas simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan perubahan menunjukan lebih luas TB dapat termasuk rongga akan fibrosa.       Anemia bila penyakit berjalan menahun Leukosit ringan dengan predominasi limfosit LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai tersebut kembali normal pada tahap penyembuhan. b. adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda. potongan Vollmer) : Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar. Pemeriksaan Laboratorium    Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) : Positif untuk basil asam-cepat.badan teraba hangat (demam) Pemeriksaan Diagnostik a. GDA : mungkin abnormal. contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas. Perubahan mengindikasikan .

Benjolan/pembesaran kelenjar pada leher (servikal). axilla. Kadang terjadi abses. penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura). Data Subyektif              Pasien mengeluh panas Batuk/batuk berdarah Sesak bernafas Nyeri dada Malaise dan kelelahan Data Obyektif Ronchi basah. Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis.TB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. inguinal dan sub mandibula. kasar dan nyaring. efusi pleura atau empisema. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. peningkatan ruang mati. c. Gambaran radiologi lain yang sering menyertai TBC adalah penebalan pleura. Pemeriksaan fungsi paru Penurunan kualitas vital. .   Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB. peningkatan rasio udara residu: kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis. Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) Pembesaran kelenjar biasanya multipel. Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberi suara limforik. kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural.

pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan. anoreksia. sekret yang kental. 3. terbatasnya pengetahuan/kognitif 3) Rencana Tindakan Dx 1 Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan adanya infeksi kuman tuberkulosis. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif. dispnea. informasi yang tidak akurat. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. 4. . edema bronchial.Klien menunjukkan teknik untuk melakukan perubahan pola hidup dalam melakkan lingkungan yangnyaman. upaya batuk buruk. Tujuan: Tujuan: Tidak terjadi penyebaran infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3x 24 jam. atelektasis. kerusakan membran alveolar kapiler. batuk menetap. adanya produksi sputum. 6. Kurang pengetahuan tentang kondisi. batuk yang sering. edema trakeal/faringeal. 5. 8. Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan adanya infeksi kuman tuberkulosis 2. penurunan kemampuan finansial. kelemahan. 7. Gangguan keseimbangan nutrisi.2) Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul 1.Klien mengidentifikasi interfensi untuk mencegah resiko penyebaran infeksi . Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru. pengobatan. Kriteria Hasil : .

bicara. 7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat. Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran/ terjadinya infeksi. Untuk mengetahui keadaan umum klien karena reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut. kanker. kaji pembuangan tisu sekali pakai dan teknik mencuci tangan yang tepat. sahabat karib. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk. 3. Dorong untukmengulangi demonstrasi. . menghindari meludahsembarangan. contoh tahanan bawah gunakan obat penekan imun adanya dibetes militus. Identifikasi orang lain yang beresiko. 8. 4.meludah. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang tuberkolusis. 5. contoh masker/ isolasi pernafasan. Anjurkan pasien untuk batuk/ bersin dan mengeluarkan dahak pada tisu. Untuk Membantu pasien menyadari/ menerima perlunya mematuhi program pengobatan untukmencegah penyakit pengaktifan berrulang. Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien an membuang stigma sosial sehubungandengan penyakit menular. bersin. contoh anggota rumah. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara. tertawa ataupun menyanyi. Observasi TTV (suhu tubuh). Perilaku yang diperlukan untuk melakukan pencegahan penyebaran infeksi.. dan tetangga. kalium. dan Pemahaman bagaimana disebarkan kesadarankemungkinan tranmisi membantu pasien / orang terdekat untuk mengambil langkah mencegah infeksike orang lain 2. Pengetahuan tentang faktor ini membantu pasien untuk mengubah pola hidup dan menghindarimenurunkan insiden eksaserbasi.TB yang diderita klien berkurang/ sembuhIntervensi Intervensi 1. 6.

Adanya anoreksia dan malnutrisi sebelumnya merendahkan tahanan terhadap proses infeksi danmengganggu penyembuhan. Dx 2 Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah. Dorong memilih/ mencerna makanan seimbang. Kolaborasi dengan dokter tentang pengobatan dan terapi. tetapi pada adanya rongga/ penyakitluas sedang. diharapkan bersihan jalan napas pasien efektif dengan kriteria hasil : pasien melaporkan sesak berkurang pernafasan teratur ekspandi dinding dada simetris ronchi tidak ada sputum berkurang atau tidak ada frekuensi nafas normal (16-24)x/menit Intervensi Mandiri 1) Auskultasi suara nafas.Periode singkat berakhir 2-3 hari setelah kemoterapi awal. pengembangan dada. Untuk mempercepat penyembuhan infeksi. perhatikan bunyi nafas abnormal Untuk mengidentifikasi kelainan pernafasan berhubungan dengan obstruksi jalan napas 2) Monitor usaha pernafasan. Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x30 menit. kelemahan. resiko penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan. 10. berikan sering makanan kecil dan makanan besardalam jumlah yang tepat. 9. atau lidah jatuh ke belakang Merupakan indikasi dari kerusakan jaringan otak 4) Pantau tanda-tanda vital terutama frekuensi pernapasan . dan keteraturan Untuk menentukan intervensi yang tepat dan mengidentifikasi derajat kelainan pernafasan 3) Observasi produksi sputum. muntahan. upaya batuk buruk. edema trakeal/faringeal.

antibiotik. Berikan obat sesuai indikasi misalnya bronkodilator. mukolitik. atau steroid Membantu membebaskan jalan napas secara kimiawi Dx 3 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan kerusakan membran alveolar kapiler. Berikan O2 sesuai indikasi Memenuhi kebutuhan O2 b.Untuk mengetahui keadaan umum pasien 5) Berikan posisi semifowler jika tidak ada kontraindikasi Meningkatkan ekspansi paru optimal 6) Ajarkan klien napas dalam dan batuk efektif jika dalam keadaan sadar Batuk efektif akan membantu dalam pengeluaran secret sehingga jalan nafas klien kembali efektif 7) Berikan klien air putih hangat sesuai kebutuhan jika tidak ada kontraindikasi Untuk meningkatkan rasa nyaman pasien dan membantu pengeluaran sekret 8) Lakukan fisioterapi dada sesuai indikasi Fisioterapi dada terdiri dari postural drainase. perkusi dan fibrasi yang dapat membantu dalam pengeluaran sekret klien sehingga jalan nafas klien kembali efektif 9) Lakukan suction bila perlu Membantu dalam pengeluaran sekret klien sehingga jalan nafas klien kembali efektif secara mekanik 10) Lakukan pemasangan selang orofaringeal sesuai indikasi Membantu membebaskan jalan napas Kolaborasi a. Tujuan: Setelah diberikan askep selama 2x30 menit diharapkan pertukaran gas kembali efektif dengan kriteria :  Pasien melaporkan keluhan sesak berkurang .

cyanosis. Sianosis cuping hidung. Intubasi dan ventilasi mekanis dilakukan pada kondisi insufisiensi respirasi berat. 4. perubahan dalam tingkat kesadaran. Mengobservasi warna kulit. napas bibir. ketidak mampuan berbicara / berbincang Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan atau kronisnya proses penyakit 2. Sianosis kuku menggambarkan vasokontriksi/respon tubuh terhadap demam. membran mukosa dan kuku. Mencegah kelelahan dan mengurangi komsumsi oksigen untuk memfasilitasi resolusi infeksi. Menyiapkan untuk dilakukan tindakan keperawatan kritis jika diindikasikan Shock dan oedema paru-paru merupakan penyebab yang sering menyebabkan kematian memerlukan intervensi medis secepatnya. serta dispnea berat dan kelemahan. Kolaborasi 1) Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan.    Pasien melaporkan tidak letih atau lemas Napas teratur Tanda vital stabil Hasil AGD dalam batas normal (PCO2 : 35-45 mmHg. membran mukosa. PO2 : 95100 mmH Intervensi : Mandiri 1. serta mencatat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis pusat (circumoral). Mengobservasi kondisi yang memburuk. Mengkaji frekuensi dan kedalaman pernafasan. Mencatat adanya hipotensi.pucat. dan kulit sekitar mulut dapat mengindikasikan adanya hipoksemia sistemik 3. Catat penggunaan otot aksesori. misalnya: nasal kanul dan masker .

Pemberian terapi oksigen untuk menjaga PaO2 diatas 60 mmHg. dengan kriteria hasil:  Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilai laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. . riwayat mual/rnuntah atau diare. pulse oximetry. Untuk memantau perubahan proses penyakit dan memfasilitasi perubahan Dx 4 Gangguan keseimbangan nutrisi. timbang berat badan. 3. adanya bising usus. integritas mukosa mulut. meningkatkan intake diet pasien. Kaji ulang pola diet pasien yang disukai/tidak disukai. Monitor intake dan output secara periodik. Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik. kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah dan intake tidak adekuat. oksigen yang diberikan sesuai dengan toleransi dengan pasien 2) Memonitor ABGs.  Melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat. Catat status nutrisi pasien: turgor kulit. Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan. Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat 2. Intervensi: Mandiri 1. Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi adekuat. kemampuan menelan.

Catat adanya anoreksia. Anjurkan bedrest. dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. dan albumin). 7. Nilai rendah menunjukkan malnutrisi dan perubahan program terapi. mual. Awasi pemeriksaan laboratorium. dengan KH:   Menyatakan nyeri berkurang atau terkontrol Pasien tampak rileks Intervensi: Mandiri 1. Nyeri merupakan respon subjekstif yang dapat diukur . konstan . Memaksimalkan intake nutrisi dan menurunkan iritasi gaster. batuk menetap Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan rasa nyeridapat berkurang atau terkontrol. Kolaborasi: 1. (BUN. Anjurkan makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. volume. Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan. Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet. mis tajam. Selidiki perubahan karakter /lokasi/intensitas nyeri. 5. konsistensi Buang Air Besar (BAB).4. Membantu menghemat energi khusus saat demam terjadi peningkatan metabolik. 6. 2. Dx 5 Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru. Awasi frekuensi. Memberikan bantuan dalarn perencaaan diet dengan nutrisi adekuat unruk kebutuhan metabolik dan diet. muntah. ditusuk. protein serum. Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi. Mengurangi rasa tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan yang dapat merangsang muntah. Observasi karakteristik nyeri.

Pantau TTV Perubahan frekuensi jantung TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri. 5. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan hipertermi dapat diatasi. Kloaborasi 1. Kulit tidak merah. Pernafasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan membran mukosa.5-37. RR dalam batas normal : 16-20x/menit. perubahan posisi. potensial ketidaknyamanan umum. Tawarkan pembersihan mulut dengan sering. Tekanan darah dalam batas normal : 120/110-90/70 mmHg. Berikan tindakan nyaman mis. meningkatkan kenyamanan Dx 6 Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif. Suhu dalam rentang normal : 36. 3. dengan kriteria hasil : Pasien melaporkan panas badannya turun.2. 4. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. Kolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai indikasi Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif. Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk. pijatan punggung. musik tenang.70C. relaksasi/latihan nafas Tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesik. . Nadi dalam batas normal : 60-100 x/menit. khususnya bila alasan untuk perubahan tanda vital telah terlihat.

Untuk menanggulangi terjadinya syok hipovolemi 2) Kolaborasi pemberian obat antipiretik Untuk menurunkan suhu tubuh yang bekerja langsung di hipotalamus Dx 7 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.Intervensi : Mandiri 1) Pantau TTV Untuk mengetahui keadaan umum pasien 2) Observasi suhu kulit dan catat keluhan demam Untuk mengetahui peningkatan suhu tubuh pasien 3) Berikan masukan cairan sesuai kebutuhan perhari. dan tanda vital dalam rentan normal. Intervensi: 1. peningkatan kelemahan atau kelelahan. Untuk menanggulangi terjadinya syok hipovolemi 4) Berikan kompres air biasa/hangat Untuk menurunkan suhu tubuh Kolaborasi 1) Kolaborasi pemberian cairan IV. kelemahan berlebihan. kecuali ada kontraindikasi. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien memudahkan pemilihan intervensi . Catat laporan dispnea. Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan pasien diharapkan mampu melakukan aktivitas dalam batas yang ditoleransi dengan kriteria hasil:  Melaporkan atau menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan adanya dispnea.

dengan kriteria hasil: Menyatakan pengobatan. informasi yang tidak akurat.  Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang pemahaman proses penyakit/prognosisdan kebutuhan luberkulosis paru. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. menghemat energy untuk penyembuhan. 4.  Menerima perawatan kesehatan adekuat. Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.2. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic.  Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. meningkatkan istirahat 3. pengobatan. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat. Dx 8 Kurang pengetahuan tentang kondisi. Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi. terbatasnya pengetahuan/kognitif Tujuan: Setelah diberikan tindakan keperawatan tingkat pengetahuan pasien meningkat. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. . Menurunkan stress dan rangsanagn berlebihan. pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan. tidur di kursi atau menunduk ke depan meja atau bantal. 5.

Jelaskan tentang efek samping obat: mulut kering. 7. lingkungan belajar. fibrosis. peningkatan tekanan darah. empisema. pertambangan. bronkiektasis. 2. 8. Anjurkan pasien untuk tidak minurn alkohol jika sedang terapi INH. sakit kepala. pneumotorak. tindakan dan perlunya terapi dalam jangka waktu lama. Kaji ulang kemampuan belajar pasien misalnya: perhatian. 5. gangguan penglihatan. 4. Meningkatkan partisipasi pasien mematuhi aturan terapi dan mencegah putus obat. kelelahan. tingkat partisipasi.. Mencegah keraguan terhadap pengobatan sehingga mampu menjalani terapi. Kebiasaan minurn alkohol berkaitan dengan terjadinya hepatitis 6. frekuensi. empierna. Review tentang cara penularan Tuberkulosis dan resiko kambuh lagi. Jelaskan penatalaksanaan obat: dosis. Keberhasilan tergantung pada kemarnpuan pasien.Intervensi 1. efusi pleura. Efek samping etambutol: menurunkan visus. kurang mampu melihat warna hijau. 3. Debu silikon beresiko keracunan silikon yang mengganggu fungsi paru/bronkus. media. Rujuk perneriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol. tingkat pengetahuan. Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan/ kambuh kembali. Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Komplikasi Tuberkulosis: formasi abses. konstipasi. Informasi tertulis dapat membantu mengingatkan pasien. . Berikan gambaran tentang pekerjaan yang berisiko terhadap penyakitnya misalnya: bekerja di pengecoran logam. pengecatan. orang dipercaya. Ulangi penyuluhan tentang interaksi obat Tuberkulosis dengan obat lain. Berikan Informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan misalnya: jadwal minum obat.

Tuberkulosis laring. 4) Evaluasi Dx 1 : Bersihan jalan nafas pasien kembali efektif Dx 2 : pertukaran gas pasien efektif Dx 3 : Nutrisi terpenuhi/ adekuat Dx 4 : Nyeri berkurang atau hilang Dx 5 : Suhu tubuh pasien kembali normal Dx 6 : Klien dapat beraktivitas tanpa kelelahan Dx 7 : Klien tahu dan mengerti tentang penyakit serta pengobatannya .hernoptisis. dan penularan kuman. Instestinal. u1serasi Gastro. fistula bronkopleural.

scribd.A. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Kusma .com /doc/52033675/ Doengoes. Diakses tanggal 30 Oktober 2012 jam 10. Tuberkulosis Pedoman diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia.id/ Anonim. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.15 dari http://www. 1996. Arif.go. Laporan Pendahuluan Pada Pasien Dengan Tuberkulosis Paru. Bandung Dewi. Jakarta: FKUI. diakses tanggal 30 Oktober 2012 jam 10. 2007.DAFTAR PUSTAKA Anonim.pdf 2002 Barbara. .Jakarta:Prima Medika Price. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta : EGC Sudoyo dkk. Jakarta : EGC Smeltzer.jatengprov.klikpdpi. Ed. 3.2005. Perawatan Medikal Bedah (suatu pendekatan proses keperawatan). C.2001. 1999. Editor : Budi Sentosa. Asuhan Keperawatan Tb Paru.S. 2012. Jakarta:Media Aeculapius Nanda.15 dari http://www. Mansjoer. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. diakses tanggal 30 Oktober 2012 jam 09. 2000. 2005. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth.03 dari http://akperpemprov. 2011. Marylinn E..com/ konsensus/tb/tb. EGC: Jakarta.Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda definisi dan Klasifikasi 2005-2006. S. Edisi 8. C.L. 2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful