P. 1
pengertian fatwa

pengertian fatwa

|Views: 71|Likes:
Published by Dani Liverpudlian
pengertian fatwa
pengertian fatwa

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Dani Liverpudlian on Dec 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2012

pdf

text

original

Pengertian Fatwa Secara bahasa fatwa berarti petuah, nasihat, jawaban pertanyaan hukum.

MenurutEnsiklopedi Islam, fatwa dapat didefinisikan sebagai pendapat mengenai suatu hukum dalam Islam yang merupakan tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa dan tidak mempunyai daya ikat. Disebutkan dalam Ensiklopedi Islam bahwa si peminta fatwa baik perorangan, lembaga maupun masyarakat luas tidak harus mengikuti isi fatwa atau hukum yang diberikan kepadanya. Hal itu, disebabkan fatwa seorang mufti atau ulama di suatu tempat bisa saja berbeda dari fatwa ulama lain di tempat yang sama. Fatwa biasanya cenderung dinamis, karena merupakan tanggapan terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat peminta fatwa. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis, tetapi minimal fatwa itu responsif. Tindakan memberi fatwa disebut futya atau ifta, suatu istilah yang merujuk pada profesi pemberi nasihat. Orang yang memberi fatwa disebut mufti atau ulama, sedangkan yang meminta fatwa disebut mustafti. Peminta fatwa bisa perseorangan, lembaga ataupun siapa saja yang membutuhkannya. Futya pada dasarnya adalah profesi independen, namun dibanyak negara Muslim menjadi terkait dengan otoritas kenegaraan dalam berbagai cara. Dalam sejarah Islam, dari abad pertama hingga ketujuh Hijriyah, negaralah yang mengangkat ulama bermutu sebagai mufti. Namun, pada masa-masa selanjutnya, pos-pos resmi futya diciptakan, sehingga mufti menjadi jabatan kenegaraan yang hierarkis, namun tetap dalam fungsi keagamaan. Untuk dapat melaksanakan profesi futya ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama, beragama Islam. Kedua, memiliki integritas pribadi ('adil), ketiga ahli ijtihad (mujtahid) atau memiliki sesanggupan untuk memecahkan masalah melalui penalaran pribadi. Berbeda dengan seorang hakim, seorang mufti bisa saja wanita, orang buta, atau orang bisu, kecuali untuk jabatan kenegaraan. Keperluan terhadap fatwa sudah terasa sejak awal perkembangan Islam. Dengan meningkatnya jumlah pemeluk Islam, maka setiap persoalan yang muncul memerlukan jawaban. Untuk menjawab persoalan tersebut diperlukan bantuan dari orang-orang yang kompeten di bidang tersebut. Dalam masalah agama, yang berkompeten untuk itu adalah para mufti atau para mujtahid. Pada mulanya praktik fatwa yang diberikan secara lepas dan belum ada upaya untuk membukukan isi fatwa ulama-ulama tersebut. Fatwa pertama kali dikumpulkan dan sebuh kitab pada abad ke-12 M. Mazhab Hanafi memiliki sejumlah kitab fatwa sepertiaz-Zakhirat al-Burhaniyah, kumpulan fatwa Burhanuddin bin Maza (wafat 570 H/1174). Inilah kitab kumpulan fatwa pertama. Mazhab Maliki memiliki kitab kumpulan fatwa bertajuk al-Mi'yar alMagrib yang berisi fatwa-fatwa al-Wasyarisi (wafat 914 H/1508 M). Mazhab Hanbali juga memiliki sejumlah kitab fatwa, yang paling terkenal adalah Majmu al-Fatawa. Di Indonesia juga ada sejumlah buku kumpulan fatwa, seperti Tanya Jawab Agama dan Kata Berjawab yang diterbitkan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, selain itu ada juga Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia,

Dari definisi tersebut. Perbedaan tersebut antara lain terlihat dari sisi definisi. Kaitan Fatwa dan Ijtihad Meskipun fatwa dan hasil ijtihad keduanya sama – sama terkait dengan hokum syara’. dan Ijma’. Jika fatwa hanya sebatas penjelasan hokum syara’. sedangkan qadhi adalah “aparat” untuk melaksanakan putusan itu (Lihat. Karena sangat pentingnya dengan keberadaan fatwa dalam Islam. niscaya pekerjaan akan terlantar. Al Majmu’ 1/47. wajib bagi penguasa untuk memperhatikan sarana-sarana penting guna mempersiapkan para mufti dalam rangka menciptakan kemaslahatan bagi masyarakat. Ia juga harus memiliki . Sunnah. klasifikasi dan kedudukannya. maka seorang mufti berkewajiban memberikan fatwa untuk menjelaskan perkara tersebut. sekaligus melarang bagi mereka yang tidak mempunyai keahlian dalam berfatwa. memahami dalil-dalil sam’iyyah yang digunakan untuk membangun kaedah-kaedah hukum. apalagi digugurkan. tanpa mengurangi dan menambahnya. maka ijtihad adalah proses menggali hokum syara’ dari dalil-dalil yang bersifat dzanniy dengan mencurahkan segenap tenaga dan kemampuan. Seorang mujtahid harus memahami alQuran. Kasyaf Al Qana’ 4/177). kemudian jika masyarakat luas belum dapat memahami hasil ijtihad itu secara sempurna. yakni hingga mencapai taraf kemampuan berijtihad. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara hasil ijtihad dan fatwa adalah: Seorang mujtahid berijtihad untuk menggali hukum syara’ atas sesuatu yang tidak secara jelas disebutkan status hukumnya dari Al Quran maupun As Sunnah. sampai-sampai beberapa ulama berpendapat diharamkan tinggal di sebuah tempat yang tidak terdapat seorang mufti yang bisa dijadikan tempat bertanya tentang persoalan agama (Lihat Kitab Al Bahr Ar Ra’iq 6/260. 240]. Seseorang layak melakukan ijtihad jika: Pertama. hingga dirinya tidak mungkin lagi melakukan usaha lebih dari itu. hal. Kedudukan Fatwa Karena fatwa merupakan penjelasan hukum syara’ atas persoalan tertentu yang tidak semua orang dapat memahaminya. Sunnah. Kedudukan fatwa dalam Islam sangatlah penting dan tidak bisa dengan mudah diabaikan. dan roda kehidupan akan terhenti…”[Mafaahim al-Islaamiyyah. I’lam Al Muwaqqi’in 4/214.serta Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama. yang menerjemahkan keputusan hukum. maka syarat untuk berijtihad dan berfatwa pun berbeda. dan Ijma’. 55). Maka dari itu. Al Ahkam Al Sulthoniyah. tetapi keduanya memiliki perbedaan mendasar. Al Furu’ 4/119. Berikut pendapat para ulama mengenai pentingnya fatwa: Fatwa merupakan perkara yang sangat urgen bagi manusia. Karena kedudukannya yang berbeda. Kitab Ihkam fi Tamyizi Al Fatawa min Al Ahkam. (Lihat Al Majmu’ 1/ 69. Yang dimaksud dengan dalil sam’iyyah adalah al-Quran. juz 1. Jika mereka diharuskan memiliki kemampuan itu. 30). maka kedudukan fatwa menjadi sangat penting (selama masyarakat belum memiliki kemampuan untuk berijtihad). Imam Al Qarafi sendiri menyatakan bahwa mufti dihadapan Allah ibarat kedudukan eoarang penerjemah di hadapan hakim. dikarenakan tidak semua orang mampu menggali hukum-hukum syariat. Al Faqih wa Al Mutafaqqih 2/55.

Sedangkan menurut Imam Syaukaniy—yang disebutkan dalam Kitab Fath al-Qadiir—seorang mufti haruslah orang yang shaleh. Misalnya hukum . mengkompromikan. seorang mujtahid atau mufti harus memiliki kemampuan bahasa yang mencakup kemampuan untuk memahami makna suatu lafadz. hal. niscaya Allah akan mengajari kalian”. menimbang. fatwa termasuk urusan agama. Fatwa Pada Masa Rasulullah SAW Pada masa hidupnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada kesulitan.[TQS Al-Baqarah (2): 282] [Durrur al-Hukkaam fi Syarh Majallat al-Ahkaam. Telah disebutkan di dalam al-Quran al-Kariim. Semua hukum yang dibutuhkan masyarakat diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. dan berpegang teguh kepada tali ketakwaan. Sebab. Metode Penetapan Fatwa Karena fatwa merupakan penjelasan hukum syara’. atau kemampuan untuk memahami arah makna yang ditunjukkan oleh suatu lafadz. Kemampuan untuk memahami dalildalil sam’iyyah dan menimbang dalil-dalil tersebut merupakan syarat pokok bagi seorang mujtahid. Oleh karena itu. juz 13.kemampuan untuk memahami. inayah Allah swt dalam persoalan-persoalan syariat hanya akan tercapai dengan mentaati Allah swt. dalalahnya. makna balaghahnya. Ketentuan ini didasarkan pada kenyataan bahwa. Penetapan atau penolakan terhadap fatwa tidak boleh dilakukan berdasarakan asas manfaat atau nafsu seperti dalam kasus fatwa MUI terkait golput dan keharaman rokok. Beliau langsung menyampaikannya kepada orang banyak. Syarat kedua ini mengharuskan seseorang yang hendak berijtihad memiliki kemampuan dalam memahami seluk beluk bahasa Arab. ”Wattaquu al-Allah wa yu’allimukum al-Allah”[Bertaqwalah kalian kepada Allah. memahami arah penunjukkan dari suatu lafadz (makna yang ditunjukkan lafadz) yang sejalan dengan lisannya orang Arab dan para ahli balaghah. Penetapan fatwa harus didasarkan pada prinsip-prinsip ijtihad. serta pertentangan makna yang dikandung suatu lafadz serta mana makna yang lebih kuat –setelah dikomparasikan dengan riwayat tsiqqah dan perkataan ahli bahasa.[5] Kedua. ia harus memahami semua hal yang berkaitan dengan kata tersebut dari sisi kebahasaan. dan tidak boleh mengamalkan fatwa dari mufti-mufti fasiq yang tidak boleh mengeluarkan fatwa. Seorang mujtahid tidak cukup hanya mengerti dan menghafal arti sebuah kata berdasarkan pedoman kamus. 162]. Akan tetapi. maka fatwa tidak dapat ditetapkan secara sembarangan. serta hukum syariat yang paling sesuai dengan realitas tersebut. Sedangkan fahmu al-waaqi’ al-haaditsah adalah upaya mengkaji dan meneliti realitas yang hendak dihukumi agar substansi persoalannya bisa diketahui. serta mentarjih dalil-dalil tersebut jika terjadi pertentangan. pengkhianatan orang fasiq terhadap agama telah tampak dengan jelas. Fahmu al-nash adalah upaya memahami dalil-dalil syariat hingga diketahui dilalah alhukm(penunjukkan hukum) yang terkandung di dalam dalil tersebut. dan selalu menyelaraskan dengan pendapat-pendapat yang terpilih. Sesungguhnya. yakni ”fahm al-nash” (memahami nash) dan fahm alwaaqi’ al-haaditsah” (memahami realitas yang terjadi). sedangkan pendapat orang fasiq dalam urusan agama tidak boleh diterima (ghairu al-maqbuul).

Kalau dalam perintah itu belum terang maka ummat bertanya kepada Nabi. berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah berfirman. yakni bagaimana caranya shalat itu. ّ ِ ِ ّ َ ِ َ ُ ِ ْ َ ّ َ ُ َ َ َ ِ َ ْ َّ َ َ ْ َ ْ َ ْ ّ َِ َ ّ ّ ِ َ ْ َِ َ ِ ُ َ ْ َّ ُ ُ ّ َ ّ َ َ ‫يا أيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك ۖ وإن لم تفعل فما بلغت رسالته ۚ وال يعصمك من الناس ۗ إن‬ ُ َ ِ ِ َ ْ َ ْ َْ ِ ْ َ َ ّ ‫ا َ ل يهدي القوم الكافرين‬ ‫ل‬ Artinya : "Hai Rasul. karena tugas Nabi selain menyampaikan wahyu kepada ummat. (QS An Nahl : 44). apa rukunnva." (QS Al-Maidah : 67). dan yang langsung dari Nabi dinamakan hadits-hadits Nabi atau Sunnah Rasul. Hadits-hadits semuanya disimpan dalam dada dan dihafal di luar kepala oleh para sahabat Nabi yang mendengarnya. Dan dalam ayat lain disebutkan: Inilah maksud firman Allah : Artinya : “Keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. juga menjelaskan maksud wahyu itu. agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan". Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu. kata beliau : َ ِِ ّ َ َ َُْ َ َ َّ ‫وَأقيموا الصلة وآتوا الزكاة واركعوا مع الراكعين‬ ُ َ ََ ّ ُ َِ Artinya : “Dan dirikanlah shalat. apakah macamnya harta yang mesti dizakatkan. sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Kalau umpamanya ada ummat bertanya kepada Nabi dalam hukum sesuatu yang tidak/belum diturunkan wahyunya. Jadi tugas Rasulullah ialah menyampaikan wahyu dan menjelaskan isi dan maksudnya. Nabi berfatwa. Yang wahyu dinamakan al-Quran. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kesemuanya itu dan menerangkan dengan sejelas-jelasnya apa maksud Allah dengan wahyu-Nya itu. langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau sesudah menerima lantas membacakan wahyu itu kepada para sahabat yang hadir ketika itu. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia . kepada siapa harus diberikan. apa syaratnya dan pula perintah itu wajibkah atau sekedar anjuran. karena takut akan campur aduk dengan wahyu. maka Nabi menjawab. boleh jadi dengan menunggu wahyu atau beliau saja menerangkan tanpa wahyu yang dengan perantaraan Malaikat Jibril. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an. Yang wahyu pada waktu itu dituliskan. berapa banyaknya harta yang wajib dizakatkan. tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' “ Pada ayat ini Allah menyuruh shalat dan mengeluarkankan zakat. Tuhan memerintahkan dengan wahyu perantaraan Malaikat Jibril.shalat membayar zakat. tetapi hadits-hadits tidak boleh dituliskan. ummat menerima. Contohnya: ‫بالبينات والزبر ۗ وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون‬ ُ ّ َ َ َ ْ ُ َّ ََ ْ ِ ْ َِ َ ّ ُ َ ِ ّ ِ َ ّ َ ُ ِ َ ْ ّ َ ْ َِ َ ْ َ ََ ِ ُ ّ َ ِ َ ّ َ ْ ِ . Begitu juga zakat.

Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa'at bagi manusia. أن رجل سأل رسول ال صلى ال عليه وسلم عن ماءالبحْر. begini: َ ُ َ َ َ ِ َ ْ ِ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ ‫َن أبى هريرة رضي ال عنه. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.‫ويسألونك عن المحيض ۖ قل هو أذى فاعتزلوا النسا َ في المحيض ول تقربوه ّ ن حتى يطهرن ۖ فإذا‬ َ ِ َ َ ْ ُ ْ َ ّٰ َ ُ ُ َ ْ َ َ َۖ ِ ِ َ ْ ِ ‫َ َ َُْ َ َ َ ِ ْ َ ِ ِ ُ ْ ُ َ َ ً َ ْ َ ُِ ّ َ ء‬ َ ِ ّ ‫َط ّ ْ َ َ ْ ُ ُ ّ ِ ْ َ ْ ُ َ َ َ ُ ُ ّ ِ ّ ّ ُ ِ ّ ّ ّ ِ َ َ ُ ِ ّ ْ ُ َط‬ ‫ت َهرن فأتوهن من حيث أمركم ال ۚ إن ال يحب التوابين ويحب المت َهرين‬ َ ُ 1. sebagai tersebut dalam kitab hadits. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh. Pertanyaan yang pertama dijawab dengan wahyu dan yang kedua dijawab dengan hadits. Nabi menjawab dengan wahyu Ilahi. Demikianlah bahwa hukum-hukum pada masa Nabi tidaklah mendapatkan kesulitan karena apa saja boleh ditanyakan kepada beliau. (Riwayat Muslim. 2. (QS AI Baqarah :222). Seorang bertanya kepada Nabi tentang air laut.فقال ه هو‬ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ ََ ً ُ َ ّ َ ُ ْ َ ُ َ ِ َ َ َ ْ َ ُ ِ َ ْ ‫ع‬ ُ َُْ َ ّ ِ ْ ُ ُ َ ُ ْ ُ ‫ط‬ ‫ال ّهورماؤه الحل ميتته‬ Artinya : "Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya seorang lakiIaki bertanya kepada Rasulullah tentang air laut. maka Nabi menjawab : "Air laut itu membersihkan (boleh dipakai untuk berwudhu'). dan janganlah kamu mendekati mereka. 211)." . Demikian pula mereka bertanya tentang apa yang harus mereka nafkahkan. (QS Al Baqarah : 219). dalam Sahih Muslim juz Xll hal. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. 1. Fatwa Pada Masa Sahabat . Ikannya yang mati pun boleh dimakan" . Sekumpulan orang bertanya kepada Nabi tentang hukum meminum minuman keras dan berjudi. begini َ َ َُْ َ َ َ ِ ِ ْ ّ ِ ُ َ ْ َ َ ُ ُ ْ َِ ِ ّ ِ ُ ِ َ َ َ ٌ ِ َ ٌ ْ ِ َ ِ ِ ْ ُ ِ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ َُ َ ‫يسْألونك عن الخمر والميسر ۖ قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما ۗ ويسألونك‬ َ ُ ّ َ َ َ ْ ُ َّ َ ِ َ ْ ُ ُ َ ّ ُ ّ َ ُ َ ِ َ َ َ ْ َ ْ ِ ُ َ ُ ِ ُ َ َ ‫ماذا ينفقون قل العفو ۗكذ ‌ٰلك يبين ال لكم اليات لعلكم تتفكرون‬ ُ ‌ Artinya : "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi.SahihTirmidzi juz I halaman 88). Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". begini: Artinya : "Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. maka Nabi menjawab dengan wahyu Ilahi. Apakah benar-benar tidak boleh mendekati mereka? Hat ini diterangkan Nabi pula dengan ucapan beliau. begini: َ َ ّ ّ ِ ‫ِ ْ َ ُ ْ ُ ّ َ ْء‬ ‫إصنعواكل شي ٍإلالنكاح‬ Artinya : "Buatlah apa saja kecuali bersetubuh". tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa'atnya". apakah boleh dipakai buat berwudhu' atau tidak. sebelum mereka suci Apabila mereka telah suci. Beliau menjawab pertanyaan itu dengan tidak menunggu wahyu. maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Kemudian ayat ini menimbulkan soal lagi karena dalam ayat tersebut disebutkan : 'Janganlah kamu mendekati mereka"." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir". Sekumpulan orang bertanya kepada Nabi tentang hukum bersetubuh dengan isteri ketika mereka membawa bulan (haidh). (Hadits Tirmidzi .

Sementara dasar argumentasi yang mengharuskan ijtihad sahabat merupakan bagian dari hukum Islam adalah bersandar pada apa yang pernah terjadi ketika Rasulullah SAW mengutus Muadz bin Jabal menjadi Qadhi di negeri Yaman (lihat AW. maka para ulama membangun fatwa yang bersandar pada as Sunnah. berkeawjiban menegakkan hukum tas’ri pada zamannya masing-masing. maka para sahabat dan ahli fatwa mencari ketetapan hukumnya melalui al Qur’an. maka mereka menerapkan hukum tersebut. lalu Ijma yang bersandar pada al Qur’an. menyebarluaskan dikalangan umat Islam tentang hal-hal yang mereka hafal dari ayat-ayat al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.baik dengan ijtihad ataupun qiyas dengan pertimbangan utuk kemaslahatan umat manusia. Kemudian.Jika ternyata tidak ditemukan keterangan dalam al Qur’an. Khalaf simpulkan berupa. Alur pemecahan masalahnya adalah ketika terjadi suatu permasalahan baru atau persengketaan. Kehidupan bermasyarakat yang semakin dinamis. memingkinkan timbulnya permasalahanpermasalahan baru yang harus dipecahkan. maka para ulama melakukan ijtihad untuk menyelesaikannya.49. Sementara karakteristik tasyri pada zaman sahabat yang bisa dilihat adalah. Kewajiban tersebut. Sedangkan dalam pandangan Khudari Bik. 2002). Sementara yang memegang kendali fatwa dan qadha dalam berbagai permasalahan penting adalah para khalifah. Qiyas atau Ra’yu (pendapat). 2002). Argumentasi kenapa setiap permasalah harus di ambil pemecahannya dalam al Qur’an dan hadits nabi. sehingga kaum Muslim dapat terhindar dari pertikaian tentang sumber utama bagi masyarakat Islam yang sebelumnya mereka terpecah kepada beberapa kelompok.Kemudian sunnah pada zaman ini. Khalaf. hadits Rasulullah SAW. Tidak terbatas pada apa yang pernah terjadi pada masa Rasul. sunnah dan qiyas (Khudari Bik.Sepeninggalnya Rasulullah SAW. sebagaimana AW. al Qur’an telah di bukukan dan mushaf telah disentralisasikan. fiqih pada zaman ini sejalan dan serasi dengan segala permasalahan yang muncul kala itu. nabi telah mewariskan dua sumber hukum Islam yang dapat dijadikan rujukan dalam pemecahan segala permasalahan yang ada. apabila mereka menemukan pemecahannya dalam al Qur’an. 5. Jika memang tidak didapati keterangan yang spesifik tentang permasalahan yang muncul. memfatwakan kepada masyarakat tentang peristiwa-peristiwa hukum dan urusan peradilan yang belum terdapat ketetapan hukumnya (Abdul Wahab Khalaf. Pada zaman ini. tidak terkontaminasi dengan kebohongan dan penyimpangan . yaitu al Qur’an dan Sunnah nabi. untuk itu para ulama baik dikalangan sahabat dan tokoh Islam lainnya. 59. dan Ijtihad Sahabat. itu berdasar pada keterangan dalam QS. sumber pengambilan hukum pada masa sahabat dapt di ambil dari. kemudian as Sunnah. Adapun sumber dan metode penetapan hukum pada masa sahabat dapat disarikan dari al Qur’an. al Qur’an sebagai landasan utama. penjelasan kepada umat Islam tentang persoalanpersoalan yang membutuhkan penjelasan dan interpretasi dari teks-teks al Qur’an dan as Sunnah. Lalu. 259).An Nisa. masih terjaga kemurniannya.

kecuali salah satu pihak (istri). Di ceritakan dalam riwayat yang dikemukan al Baghawi dalam kitabnya “Masahih as-Sunnah”. 75. 2009). muncul satu sumber baru bagi perundangundangan silam yaitu Ijma’ dan itu sering terjadi karena memang sudah dilakukan dan semua asbabnya memadai. Abu Bakar dikenal sebagai orang yang jujur dan disegani. Garis hukum ini ditentukan oleh Umar berdasarkan kepentingan para wanita karena di zamannya banyak pria yang dengan mudajh menjatuhkan talak tiga sekaligus kepada istrinya untuk dapat dicerai dan kawin dengan yang lainnya. Umar merupakan sahabat yang mempunyai karakter pemberani dan tegas dalam menentukan persoalan. ia merupakan salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. di anggap sebagai talak yang tidak mungkin rujuk sebagai suami istri. ia memgang kekuasaan tasyri mengenai problem yang belum ada ketetapan hukumnya menurut nash dalam suatu lembaga tasyri yang dibentuk dan di hadiri oleh para sahabat. Kemudian para sahabat tidak mewariskan fiqih yang tertulis. Pemerinyahan Umar bin Khattab berlangsung selama sepuluh tahun (634-644 M). namun mereka hanya mewariskan fatwa dan hokum yang tersimpan dalam dada para sahabat dan disampaikan dengan cara penghikayatan (Rasyad Hasan Khalil. beliau juga banyak melahirkan keputusan atau ketetapan-ketetapan hukum mengenai permasalahan yang muncul pada zamannya. Beberapa keputusan dan ketetapan hukum yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab di antaranya mengenai talak tiga yang di ucapkan sekaligus di suatu tempat pada suatu ketika. kawin terlebih dahulu dengan orang lain. karena kedeketannya dengan Rasul itulah. Kalau beliau mendapat ketetapan hukumnya dalam al Qur’an. kemudian berkata “telah dihadapkan kepadaku suatu permasalahan. . apakah di antara kalian ada yang mengetahui bahwa nabi telah menetapkan hukumnya perihal masalah seperti ini?. maka beliau mencari ketetapan hukumnya dalam al Qur’an.Adakalanya sekelompok sahabat berkumpul dan menyebutkan bahwa nabi SAW pernah menetapkan hukumnya.Umar menetapkan garis hukum demikian. Jika tidak ditemukan dalam al Qur’an beliau menetapkan ketetapan hukumnya menurut ketetapan Rasulullah SAW dalam sunnah. ia menuturkan “Abu Bakar. maka beliau memutuskan perkara meraka dengan ketetapan menurut al Qur’an. Kemudian Abu Bakar berkata: “segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara kita orang yang menghafal sunnah nabi kita”. kemudian jika mendapat kesulitan beliau berkonsultasi dengan sesame sahabat. untuk mendidik suami supaya tidak menyalahgunakan wewenang yang berada dalam tangannya. Selanjutnya pada masa khalifah sahabat Umar bin Khatab.karena zaman yang begitu dekat dengan Rasulullah dan para penukilnya adalah para sahabat Rasul. ia mempunyai pengertian yang dalam tentang jiwa keislaman di banding dengan sahabat yang lain. kalau dihadapkan suatu kasus perselisihan kepadanya. Selain itu pada zaman ini. Hal ini pada zaman sahabat Abu Bakar sebagai khalifah di anggap sebagai talak satu. Pada awal kekhalifahan sahabat Abu Bakar as Shidiq.

Berdasarkan pertimbangan keadaan (darurat) dan kemaslahatan masyarakat. dan para muallaf pada zamannya telah cukup kuat untuk mempertahankan keimanannya. ancaman terhadap pencuri yan disebutkan dalam al Qur’an tidak diberlakukan pada zaman kepemimpinan khalifah Umar. Karena itu. Perbedaan cara mengungkapkan itu. Standarisasi al Qur’an dilakukannya karena pada masa pemerintahannya. terjadi perbedaan ungkapan dan ucapan tentang ayat-ayat al Qur’an yang disebarkan melalui hafalan. Di sana timbul bibit-bibit perpecahan yang serius dalam tubuh umat Islam yang bermuara pada perang saudara yang kemudian menimbulkan kelompokkelompok.Dalam masalah zakat. menimbulkan perbedaan arti. 2009). bagi orang yang mencuri di ancam hukuman potongan tangan. dikalangan pemeluk agama Islam. 175. Dalam hal hukum potong tangan yang dijelaskan al Qur’an surah al Maidah.5.Akan tetapi khalifah Umar melarang perkawinan yang demikian. menyalurkan naskan al Qur’an ke dalam Mushaf untuk dijadikan standar dalam penulisan dan bacaan al Qur’an di wilayah kekuasan Islam pada waktu itu. Pada zaman ke khalifahan sahabat Ali bin Abi Thalib (656-662 M). Umar bin khattab menganggap bahwa pada zamannya. Kemudian dalam al Qur’an surah al Maidah. Ali tidak banyak mengambangkan hukum Islam. dengan alasan pemberian zakat pada muallaf diberikan karena mereka memerlukan perhatian dan bantuan dari ummat Islam yang kuat dalam memeluk Islam. Islam telah kuat kedudukannya dalam msyarakat. Pada masa Umar.terdapat ketentuan yang membolehkan pria Muslim menikahi wanita ahli kitab (wanita Yahudi dan Nasrani). dikarenakan Negara tidak stabil. kelompok Ahlussunah Wal Jama’ah dan Syi’ah.Panitia tersebut bekerja secara disiplin. untuk melindungi wanita Muslim dan keamanan rahasia Negara (Mohammad Daud Ali. al Qur’an menegaskan bahwa golongan yang berhak menerima zakat salah satunya adalah para muallaf (orang yang baru masuk Islam). teerjadi kelaparan dalam masyarakat semenanjung Arabia. . Selanjutnya masuk ke dalam masa ke khalifahan Utsman bin Affan yang berlangsung dari tahun 644-656 M. saat berita ini sampai kepada Usman.Maka pada masa Umar. maka dalam keadaan masyarakat yan ditimpa kelaparan tersebut. wilayah Islam telah sangat luas dan di diami oleh berbagai suku dengan bahasa dan dialek yang berbeda. 38. Di antaranya dua kelompok besar yakni. produk hukum yang dibangunnya dapat juga dilihat dari jasa-jasa besarnya yang paling penting yaitu tindakannya telah membuat al Qur’an standar (kodifikasi al Qur’an). ia lalu membentuk penitia yang di ketuai Zaid bin Tsabit untuk menyalin al Qur’an yang telah dihimpun pada masa khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh Hafsah (janda nabi Muhammad SAW). para muallaf tidak lagi di beri zakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->