Pengertian Fatwa Secara bahasa fatwa berarti petuah, nasihat, jawaban pertanyaan hukum.

MenurutEnsiklopedi Islam, fatwa dapat didefinisikan sebagai pendapat mengenai suatu hukum dalam Islam yang merupakan tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa dan tidak mempunyai daya ikat. Disebutkan dalam Ensiklopedi Islam bahwa si peminta fatwa baik perorangan, lembaga maupun masyarakat luas tidak harus mengikuti isi fatwa atau hukum yang diberikan kepadanya. Hal itu, disebabkan fatwa seorang mufti atau ulama di suatu tempat bisa saja berbeda dari fatwa ulama lain di tempat yang sama. Fatwa biasanya cenderung dinamis, karena merupakan tanggapan terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat peminta fatwa. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis, tetapi minimal fatwa itu responsif. Tindakan memberi fatwa disebut futya atau ifta, suatu istilah yang merujuk pada profesi pemberi nasihat. Orang yang memberi fatwa disebut mufti atau ulama, sedangkan yang meminta fatwa disebut mustafti. Peminta fatwa bisa perseorangan, lembaga ataupun siapa saja yang membutuhkannya. Futya pada dasarnya adalah profesi independen, namun dibanyak negara Muslim menjadi terkait dengan otoritas kenegaraan dalam berbagai cara. Dalam sejarah Islam, dari abad pertama hingga ketujuh Hijriyah, negaralah yang mengangkat ulama bermutu sebagai mufti. Namun, pada masa-masa selanjutnya, pos-pos resmi futya diciptakan, sehingga mufti menjadi jabatan kenegaraan yang hierarkis, namun tetap dalam fungsi keagamaan. Untuk dapat melaksanakan profesi futya ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama, beragama Islam. Kedua, memiliki integritas pribadi ('adil), ketiga ahli ijtihad (mujtahid) atau memiliki sesanggupan untuk memecahkan masalah melalui penalaran pribadi. Berbeda dengan seorang hakim, seorang mufti bisa saja wanita, orang buta, atau orang bisu, kecuali untuk jabatan kenegaraan. Keperluan terhadap fatwa sudah terasa sejak awal perkembangan Islam. Dengan meningkatnya jumlah pemeluk Islam, maka setiap persoalan yang muncul memerlukan jawaban. Untuk menjawab persoalan tersebut diperlukan bantuan dari orang-orang yang kompeten di bidang tersebut. Dalam masalah agama, yang berkompeten untuk itu adalah para mufti atau para mujtahid. Pada mulanya praktik fatwa yang diberikan secara lepas dan belum ada upaya untuk membukukan isi fatwa ulama-ulama tersebut. Fatwa pertama kali dikumpulkan dan sebuh kitab pada abad ke-12 M. Mazhab Hanafi memiliki sejumlah kitab fatwa sepertiaz-Zakhirat al-Burhaniyah, kumpulan fatwa Burhanuddin bin Maza (wafat 570 H/1174). Inilah kitab kumpulan fatwa pertama. Mazhab Maliki memiliki kitab kumpulan fatwa bertajuk al-Mi'yar alMagrib yang berisi fatwa-fatwa al-Wasyarisi (wafat 914 H/1508 M). Mazhab Hanbali juga memiliki sejumlah kitab fatwa, yang paling terkenal adalah Majmu al-Fatawa. Di Indonesia juga ada sejumlah buku kumpulan fatwa, seperti Tanya Jawab Agama dan Kata Berjawab yang diterbitkan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, selain itu ada juga Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia,

(Lihat Al Majmu’ 1/ 69. Kaitan Fatwa dan Ijtihad Meskipun fatwa dan hasil ijtihad keduanya sama – sama terkait dengan hokum syara’. maka ijtihad adalah proses menggali hokum syara’ dari dalil-dalil yang bersifat dzanniy dengan mencurahkan segenap tenaga dan kemampuan. tanpa mengurangi dan menambahnya. maka syarat untuk berijtihad dan berfatwa pun berbeda. kemudian jika masyarakat luas belum dapat memahami hasil ijtihad itu secara sempurna. Al Majmu’ 1/47. 240]. Al Ahkam Al Sulthoniyah. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara hasil ijtihad dan fatwa adalah: Seorang mujtahid berijtihad untuk menggali hukum syara’ atas sesuatu yang tidak secara jelas disebutkan status hukumnya dari Al Quran maupun As Sunnah. dan roda kehidupan akan terhenti…”[Mafaahim al-Islaamiyyah. dikarenakan tidak semua orang mampu menggali hukum-hukum syariat. apalagi digugurkan. hal. dan Ijma’. Berikut pendapat para ulama mengenai pentingnya fatwa: Fatwa merupakan perkara yang sangat urgen bagi manusia. Sunnah. Kitab Ihkam fi Tamyizi Al Fatawa min Al Ahkam. juz 1. klasifikasi dan kedudukannya. Kasyaf Al Qana’ 4/177). Seorang mujtahid harus memahami alQuran. niscaya pekerjaan akan terlantar. Kedudukan Fatwa Karena fatwa merupakan penjelasan hukum syara’ atas persoalan tertentu yang tidak semua orang dapat memahaminya. Al Faqih wa Al Mutafaqqih 2/55. dan Ijma’. Al Furu’ 4/119. Karena sangat pentingnya dengan keberadaan fatwa dalam Islam. Sunnah. hingga dirinya tidak mungkin lagi melakukan usaha lebih dari itu. Jika mereka diharuskan memiliki kemampuan itu. Yang dimaksud dengan dalil sam’iyyah adalah al-Quran. Karena kedudukannya yang berbeda. memahami dalil-dalil sam’iyyah yang digunakan untuk membangun kaedah-kaedah hukum. wajib bagi penguasa untuk memperhatikan sarana-sarana penting guna mempersiapkan para mufti dalam rangka menciptakan kemaslahatan bagi masyarakat. maka kedudukan fatwa menjadi sangat penting (selama masyarakat belum memiliki kemampuan untuk berijtihad). Ia juga harus memiliki . Jika fatwa hanya sebatas penjelasan hokum syara’. sampai-sampai beberapa ulama berpendapat diharamkan tinggal di sebuah tempat yang tidak terdapat seorang mufti yang bisa dijadikan tempat bertanya tentang persoalan agama (Lihat Kitab Al Bahr Ar Ra’iq 6/260. sedangkan qadhi adalah “aparat” untuk melaksanakan putusan itu (Lihat. I’lam Al Muwaqqi’in 4/214. yakni hingga mencapai taraf kemampuan berijtihad. Kedudukan fatwa dalam Islam sangatlah penting dan tidak bisa dengan mudah diabaikan. 55). sekaligus melarang bagi mereka yang tidak mempunyai keahlian dalam berfatwa. tetapi keduanya memiliki perbedaan mendasar. Perbedaan tersebut antara lain terlihat dari sisi definisi. yang menerjemahkan keputusan hukum.serta Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama. Imam Al Qarafi sendiri menyatakan bahwa mufti dihadapan Allah ibarat kedudukan eoarang penerjemah di hadapan hakim. Dari definisi tersebut. maka seorang mufti berkewajiban memberikan fatwa untuk menjelaskan perkara tersebut. Seseorang layak melakukan ijtihad jika: Pertama. 30). Maka dari itu.

dan berpegang teguh kepada tali ketakwaan. serta mentarjih dalil-dalil tersebut jika terjadi pertentangan. Beliau langsung menyampaikannya kepada orang banyak. atau kemampuan untuk memahami arah makna yang ditunjukkan oleh suatu lafadz. menimbang. sedangkan pendapat orang fasiq dalam urusan agama tidak boleh diterima (ghairu al-maqbuul). fatwa termasuk urusan agama.[TQS Al-Baqarah (2): 282] [Durrur al-Hukkaam fi Syarh Majallat al-Ahkaam. Akan tetapi. dan tidak boleh mengamalkan fatwa dari mufti-mufti fasiq yang tidak boleh mengeluarkan fatwa. Penetapan fatwa harus didasarkan pada prinsip-prinsip ijtihad. makna balaghahnya. inayah Allah swt dalam persoalan-persoalan syariat hanya akan tercapai dengan mentaati Allah swt. Sedangkan menurut Imam Syaukaniy—yang disebutkan dalam Kitab Fath al-Qadiir—seorang mufti haruslah orang yang shaleh. Syarat kedua ini mengharuskan seseorang yang hendak berijtihad memiliki kemampuan dalam memahami seluk beluk bahasa Arab. seorang mujtahid atau mufti harus memiliki kemampuan bahasa yang mencakup kemampuan untuk memahami makna suatu lafadz. Seorang mujtahid tidak cukup hanya mengerti dan menghafal arti sebuah kata berdasarkan pedoman kamus. serta pertentangan makna yang dikandung suatu lafadz serta mana makna yang lebih kuat –setelah dikomparasikan dengan riwayat tsiqqah dan perkataan ahli bahasa. ”Wattaquu al-Allah wa yu’allimukum al-Allah”[Bertaqwalah kalian kepada Allah. Oleh karena itu. Sebab. Sedangkan fahmu al-waaqi’ al-haaditsah adalah upaya mengkaji dan meneliti realitas yang hendak dihukumi agar substansi persoalannya bisa diketahui. Semua hukum yang dibutuhkan masyarakat diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Telah disebutkan di dalam al-Quran al-Kariim. Misalnya hukum . Ketentuan ini didasarkan pada kenyataan bahwa. dan selalu menyelaraskan dengan pendapat-pendapat yang terpilih.kemampuan untuk memahami. mengkompromikan. 162]. Fatwa Pada Masa Rasulullah SAW Pada masa hidupnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada kesulitan. Kemampuan untuk memahami dalildalil sam’iyyah dan menimbang dalil-dalil tersebut merupakan syarat pokok bagi seorang mujtahid. pengkhianatan orang fasiq terhadap agama telah tampak dengan jelas. dalalahnya. niscaya Allah akan mengajari kalian”. Fahmu al-nash adalah upaya memahami dalil-dalil syariat hingga diketahui dilalah alhukm(penunjukkan hukum) yang terkandung di dalam dalil tersebut. maka fatwa tidak dapat ditetapkan secara sembarangan. memahami arah penunjukkan dari suatu lafadz (makna yang ditunjukkan lafadz) yang sejalan dengan lisannya orang Arab dan para ahli balaghah. Penetapan atau penolakan terhadap fatwa tidak boleh dilakukan berdasarakan asas manfaat atau nafsu seperti dalam kasus fatwa MUI terkait golput dan keharaman rokok. Metode Penetapan Fatwa Karena fatwa merupakan penjelasan hukum syara’. juz 13. serta hukum syariat yang paling sesuai dengan realitas tersebut. yakni ”fahm al-nash” (memahami nash) dan fahm alwaaqi’ al-haaditsah” (memahami realitas yang terjadi). ia harus memahami semua hal yang berkaitan dengan kata tersebut dari sisi kebahasaan.[5] Kedua. hal. Sesungguhnya.

dan yang langsung dari Nabi dinamakan hadits-hadits Nabi atau Sunnah Rasul. kata beliau : َ ِِ ّ َ َ َُْ َ َ َّ ‫وَأقيموا الصلة وآتوا الزكاة واركعوا مع الراكعين‬ ُ َ ََ ّ ُ َِ Artinya : “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. Contohnya: ‫بالبينات والزبر ۗ وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون‬ ُ ّ َ َ َ ْ ُ َّ ََ ْ ِ ْ َِ َ ّ ُ َ ِ ّ ِ َ ّ َ ُ ِ َ ْ ّ َ ْ َِ َ ْ َ ََ ِ ُ ّ َ ِ َ ّ َ ْ ِ . ّ ِ ِ ّ َ ِ َ ُ ِ ْ َ ّ َ ُ َ َ َ ِ َ ْ َّ َ َ ْ َ ْ َ ْ ّ َِ َ ّ ّ ِ َ ْ َِ َ ِ ُ َ ْ َّ ُ ُ ّ َ ّ َ َ ‫يا أيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك ۖ وإن لم تفعل فما بلغت رسالته ۚ وال يعصمك من الناس ۗ إن‬ ُ َ ِ ِ َ ْ َ ْ َْ ِ ْ َ َ ّ ‫ا َ ل يهدي القوم الكافرين‬ ‫ل‬ Artinya : "Hai Rasul. berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Kalau umpamanya ada ummat bertanya kepada Nabi dalam hukum sesuatu yang tidak/belum diturunkan wahyunya. Yang wahyu dinamakan al-Quran. yakni bagaimana caranya shalat itu. apa rukunnva. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an.shalat membayar zakat. Hadits-hadits semuanya disimpan dalam dada dan dihafal di luar kepala oleh para sahabat Nabi yang mendengarnya. karena tugas Nabi selain menyampaikan wahyu kepada ummat. sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. berapa banyaknya harta yang wajib dizakatkan. (QS An Nahl : 44). Jadi tugas Rasulullah ialah menyampaikan wahyu dan menjelaskan isi dan maksudnya. Dan dalam ayat lain disebutkan: Inilah maksud firman Allah : Artinya : “Keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. tetapi hadits-hadits tidak boleh dituliskan. juga menjelaskan maksud wahyu itu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kesemuanya itu dan menerangkan dengan sejelas-jelasnya apa maksud Allah dengan wahyu-Nya itu. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia . Tuhan memerintahkan dengan wahyu perantaraan Malaikat Jibril. Allah berfirman. maka Nabi menjawab. agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan". boleh jadi dengan menunggu wahyu atau beliau saja menerangkan tanpa wahyu yang dengan perantaraan Malaikat Jibril. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu. tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku' “ Pada ayat ini Allah menyuruh shalat dan mengeluarkankan zakat. apa syaratnya dan pula perintah itu wajibkah atau sekedar anjuran. apakah macamnya harta yang mesti dizakatkan. Kalau dalam perintah itu belum terang maka ummat bertanya kepada Nabi. karena takut akan campur aduk dengan wahyu. Yang wahyu pada waktu itu dituliskan." (QS Al-Maidah : 67). langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau sesudah menerima lantas membacakan wahyu itu kepada para sahabat yang hadir ketika itu. ummat menerima. Nabi berfatwa. Begitu juga zakat. kepada siapa harus diberikan.

SahihTirmidzi juz I halaman 88)." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir". Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa'at bagi manusia. Demikian pula mereka bertanya tentang apa yang harus mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan. maka Nabi menjawab : "Air laut itu membersihkan (boleh dipakai untuk berwudhu'). Fatwa Pada Masa Sahabat . Pertanyaan yang pertama dijawab dengan wahyu dan yang kedua dijawab dengan hadits. begini: َ َ ّ ّ ِ ‫ِ ْ َ ُ ْ ُ ّ َ ْء‬ ‫إصنعواكل شي ٍإلالنكاح‬ Artinya : "Buatlah apa saja kecuali bersetubuh". begini: َ ُ َ َ َ ِ َ ْ ِ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ ‫َن أبى هريرة رضي ال عنه. (Riwayat Muslim. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh. Kemudian ayat ini menimbulkan soal lagi karena dalam ayat tersebut disebutkan : 'Janganlah kamu mendekati mereka". tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa'atnya". Demikianlah bahwa hukum-hukum pada masa Nabi tidaklah mendapatkan kesulitan karena apa saja boleh ditanyakan kepada beliau. 211). 2.فقال ه هو‬ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ ََ ً ُ َ ّ َ ُ ْ َ ُ َ ِ َ َ َ ْ َ ُ ِ َ ْ ‫ع‬ ُ َُْ َ ّ ِ ْ ُ ُ َ ُ ْ ُ ‫ط‬ ‫ال ّهورماؤه الحل ميتته‬ Artinya : "Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya seorang lakiIaki bertanya kepada Rasulullah tentang air laut. Ikannya yang mati pun boleh dimakan" . dalam Sahih Muslim juz Xll hal. Seorang bertanya kepada Nabi tentang air laut. Apakah benar-benar tidak boleh mendekati mereka? Hat ini diterangkan Nabi pula dengan ucapan beliau. (QS Al Baqarah : 219). maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". apakah boleh dipakai buat berwudhu' atau tidak. Beliau menjawab pertanyaan itu dengan tidak menunggu wahyu. (Hadits Tirmidzi . sebelum mereka suci Apabila mereka telah suci. Sekumpulan orang bertanya kepada Nabi tentang hukum meminum minuman keras dan berjudi.‫ويسألونك عن المحيض ۖ قل هو أذى فاعتزلوا النسا َ في المحيض ول تقربوه ّ ن حتى يطهرن ۖ فإذا‬ َ ِ َ َ ْ ُ ْ َ ّٰ َ ُ ُ َ ْ َ َ َۖ ِ ِ َ ْ ِ ‫َ َ َُْ َ َ َ ِ ْ َ ِ ِ ُ ْ ُ َ َ ً َ ْ َ ُِ ّ َ ء‬ َ ِ ّ ‫َط ّ ْ َ َ ْ ُ ُ ّ ِ ْ َ ْ ُ َ َ َ ُ ُ ّ ِ ّ ّ ُ ِ ّ ّ ّ ِ َ َ ُ ِ ّ ْ ُ َط‬ ‫ت َهرن فأتوهن من حيث أمركم ال ۚ إن ال يحب التوابين ويحب المت َهرين‬ َ ُ 1. sebagai tersebut dalam kitab hadits. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. begini: Artinya : "Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. أن رجل سأل رسول ال صلى ال عليه وسلم عن ماءالبحْر. maka Nabi menjawab dengan wahyu Ilahi. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Sekumpulan orang bertanya kepada Nabi tentang hukum bersetubuh dengan isteri ketika mereka membawa bulan (haidh). 1." . (QS AI Baqarah :222). begini َ َ َُْ َ َ َ ِ ِ ْ ّ ِ ُ َ ْ َ َ ُ ُ ْ َِ ِ ّ ِ ُ ِ َ َ َ ٌ ِ َ ٌ ْ ِ َ ِ ِ ْ ُ ِ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ َ ْ ِ َ َ َ َُ َ ‫يسْألونك عن الخمر والميسر ۖ قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما ۗ ويسألونك‬ َ ُ ّ َ َ َ ْ ُ َّ َ ِ َ ْ ُ ُ َ ّ ُ ّ َ ُ َ ِ َ َ َ ْ َ ْ ِ ُ َ ُ ِ ُ َ َ ‫ماذا ينفقون قل العفو ۗكذ ‌ٰلك يبين ال لكم اليات لعلكم تتفكرون‬ ُ ‌ Artinya : "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Nabi menjawab dengan wahyu Ilahi. dan janganlah kamu mendekati mereka.

Qiyas atau Ra’yu (pendapat). Kemudian. Kehidupan bermasyarakat yang semakin dinamis. yaitu al Qur’an dan Sunnah nabi. berkeawjiban menegakkan hukum tas’ri pada zamannya masing-masing. Pada zaman ini. maka para ulama melakukan ijtihad untuk menyelesaikannya. Khalaf. Khalaf simpulkan berupa. Lalu. fiqih pada zaman ini sejalan dan serasi dengan segala permasalahan yang muncul kala itu. al Qur’an telah di bukukan dan mushaf telah disentralisasikan. memfatwakan kepada masyarakat tentang peristiwa-peristiwa hukum dan urusan peradilan yang belum terdapat ketetapan hukumnya (Abdul Wahab Khalaf. memingkinkan timbulnya permasalahanpermasalahan baru yang harus dipecahkan. 59. 5. Tidak terbatas pada apa yang pernah terjadi pada masa Rasul. penjelasan kepada umat Islam tentang persoalanpersoalan yang membutuhkan penjelasan dan interpretasi dari teks-teks al Qur’an dan as Sunnah. hadits Rasulullah SAW. Sementara karakteristik tasyri pada zaman sahabat yang bisa dilihat adalah. Sementara dasar argumentasi yang mengharuskan ijtihad sahabat merupakan bagian dari hukum Islam adalah bersandar pada apa yang pernah terjadi ketika Rasulullah SAW mengutus Muadz bin Jabal menjadi Qadhi di negeri Yaman (lihat AW. sebagaimana AW. dan Ijtihad Sahabat. 2002). tidak terkontaminasi dengan kebohongan dan penyimpangan . menyebarluaskan dikalangan umat Islam tentang hal-hal yang mereka hafal dari ayat-ayat al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. maka para sahabat dan ahli fatwa mencari ketetapan hukumnya melalui al Qur’an.Kemudian sunnah pada zaman ini. apabila mereka menemukan pemecahannya dalam al Qur’an. Kewajiban tersebut.49.An Nisa. masih terjaga kemurniannya. untuk itu para ulama baik dikalangan sahabat dan tokoh Islam lainnya. Jika memang tidak didapati keterangan yang spesifik tentang permasalahan yang muncul.Sepeninggalnya Rasulullah SAW. Adapun sumber dan metode penetapan hukum pada masa sahabat dapat disarikan dari al Qur’an. nabi telah mewariskan dua sumber hukum Islam yang dapat dijadikan rujukan dalam pemecahan segala permasalahan yang ada. maka mereka menerapkan hukum tersebut. maka para ulama membangun fatwa yang bersandar pada as Sunnah. Argumentasi kenapa setiap permasalah harus di ambil pemecahannya dalam al Qur’an dan hadits nabi. sumber pengambilan hukum pada masa sahabat dapt di ambil dari. lalu Ijma yang bersandar pada al Qur’an. sunnah dan qiyas (Khudari Bik.baik dengan ijtihad ataupun qiyas dengan pertimbangan utuk kemaslahatan umat manusia. itu berdasar pada keterangan dalam QS. al Qur’an sebagai landasan utama. 259). kemudian as Sunnah. Sementara yang memegang kendali fatwa dan qadha dalam berbagai permasalahan penting adalah para khalifah. sehingga kaum Muslim dapat terhindar dari pertikaian tentang sumber utama bagi masyarakat Islam yang sebelumnya mereka terpecah kepada beberapa kelompok. 2002).Jika ternyata tidak ditemukan keterangan dalam al Qur’an. Sedangkan dalam pandangan Khudari Bik. Alur pemecahan masalahnya adalah ketika terjadi suatu permasalahan baru atau persengketaan.

kemudian berkata “telah dihadapkan kepadaku suatu permasalahan. . Di ceritakan dalam riwayat yang dikemukan al Baghawi dalam kitabnya “Masahih as-Sunnah”. di anggap sebagai talak yang tidak mungkin rujuk sebagai suami istri.Umar menetapkan garis hukum demikian. namun mereka hanya mewariskan fatwa dan hokum yang tersimpan dalam dada para sahabat dan disampaikan dengan cara penghikayatan (Rasyad Hasan Khalil. Kalau beliau mendapat ketetapan hukumnya dalam al Qur’an. kecuali salah satu pihak (istri). maka beliau memutuskan perkara meraka dengan ketetapan menurut al Qur’an. Kemudian Abu Bakar berkata: “segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di antara kita orang yang menghafal sunnah nabi kita”. Selain itu pada zaman ini. Pada awal kekhalifahan sahabat Abu Bakar as Shidiq. Beberapa keputusan dan ketetapan hukum yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab di antaranya mengenai talak tiga yang di ucapkan sekaligus di suatu tempat pada suatu ketika. ia mempunyai pengertian yang dalam tentang jiwa keislaman di banding dengan sahabat yang lain. untuk mendidik suami supaya tidak menyalahgunakan wewenang yang berada dalam tangannya. Umar merupakan sahabat yang mempunyai karakter pemberani dan tegas dalam menentukan persoalan. maka beliau mencari ketetapan hukumnya dalam al Qur’an. 2009). Hal ini pada zaman sahabat Abu Bakar sebagai khalifah di anggap sebagai talak satu. Garis hukum ini ditentukan oleh Umar berdasarkan kepentingan para wanita karena di zamannya banyak pria yang dengan mudajh menjatuhkan talak tiga sekaligus kepada istrinya untuk dapat dicerai dan kawin dengan yang lainnya. Pemerinyahan Umar bin Khattab berlangsung selama sepuluh tahun (634-644 M). karena kedeketannya dengan Rasul itulah. beliau juga banyak melahirkan keputusan atau ketetapan-ketetapan hukum mengenai permasalahan yang muncul pada zamannya. Selanjutnya pada masa khalifah sahabat Umar bin Khatab. Jika tidak ditemukan dalam al Qur’an beliau menetapkan ketetapan hukumnya menurut ketetapan Rasulullah SAW dalam sunnah.karena zaman yang begitu dekat dengan Rasulullah dan para penukilnya adalah para sahabat Rasul. Kemudian para sahabat tidak mewariskan fiqih yang tertulis. muncul satu sumber baru bagi perundangundangan silam yaitu Ijma’ dan itu sering terjadi karena memang sudah dilakukan dan semua asbabnya memadai. ia memgang kekuasaan tasyri mengenai problem yang belum ada ketetapan hukumnya menurut nash dalam suatu lembaga tasyri yang dibentuk dan di hadiri oleh para sahabat. ia menuturkan “Abu Bakar. Abu Bakar dikenal sebagai orang yang jujur dan disegani. kalau dihadapkan suatu kasus perselisihan kepadanya. kemudian jika mendapat kesulitan beliau berkonsultasi dengan sesame sahabat.Adakalanya sekelompok sahabat berkumpul dan menyebutkan bahwa nabi SAW pernah menetapkan hukumnya. kawin terlebih dahulu dengan orang lain. apakah di antara kalian ada yang mengetahui bahwa nabi telah menetapkan hukumnya perihal masalah seperti ini?. ia merupakan salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. 75.

2009). Dalam hal hukum potong tangan yang dijelaskan al Qur’an surah al Maidah. Selanjutnya masuk ke dalam masa ke khalifahan Utsman bin Affan yang berlangsung dari tahun 644-656 M. dan para muallaf pada zamannya telah cukup kuat untuk mempertahankan keimanannya. Ali tidak banyak mengambangkan hukum Islam. 38.terdapat ketentuan yang membolehkan pria Muslim menikahi wanita ahli kitab (wanita Yahudi dan Nasrani).5.Akan tetapi khalifah Umar melarang perkawinan yang demikian. produk hukum yang dibangunnya dapat juga dilihat dari jasa-jasa besarnya yang paling penting yaitu tindakannya telah membuat al Qur’an standar (kodifikasi al Qur’an). untuk melindungi wanita Muslim dan keamanan rahasia Negara (Mohammad Daud Ali. Perbedaan cara mengungkapkan itu. Di antaranya dua kelompok besar yakni. dikalangan pemeluk agama Islam. Standarisasi al Qur’an dilakukannya karena pada masa pemerintahannya. 175.Dalam masalah zakat. Berdasarkan pertimbangan keadaan (darurat) dan kemaslahatan masyarakat. para muallaf tidak lagi di beri zakat. Karena itu. Pada zaman ke khalifahan sahabat Ali bin Abi Thalib (656-662 M). maka dalam keadaan masyarakat yan ditimpa kelaparan tersebut. terjadi perbedaan ungkapan dan ucapan tentang ayat-ayat al Qur’an yang disebarkan melalui hafalan. Kemudian dalam al Qur’an surah al Maidah. Di sana timbul bibit-bibit perpecahan yang serius dalam tubuh umat Islam yang bermuara pada perang saudara yang kemudian menimbulkan kelompokkelompok. ancaman terhadap pencuri yan disebutkan dalam al Qur’an tidak diberlakukan pada zaman kepemimpinan khalifah Umar. bagi orang yang mencuri di ancam hukuman potongan tangan. menimbulkan perbedaan arti. al Qur’an menegaskan bahwa golongan yang berhak menerima zakat salah satunya adalah para muallaf (orang yang baru masuk Islam). wilayah Islam telah sangat luas dan di diami oleh berbagai suku dengan bahasa dan dialek yang berbeda. . teerjadi kelaparan dalam masyarakat semenanjung Arabia. saat berita ini sampai kepada Usman.Maka pada masa Umar. Pada masa Umar. Islam telah kuat kedudukannya dalam msyarakat. Umar bin khattab menganggap bahwa pada zamannya.Panitia tersebut bekerja secara disiplin. menyalurkan naskan al Qur’an ke dalam Mushaf untuk dijadikan standar dalam penulisan dan bacaan al Qur’an di wilayah kekuasan Islam pada waktu itu. ia lalu membentuk penitia yang di ketuai Zaid bin Tsabit untuk menyalin al Qur’an yang telah dihimpun pada masa khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh Hafsah (janda nabi Muhammad SAW). dengan alasan pemberian zakat pada muallaf diberikan karena mereka memerlukan perhatian dan bantuan dari ummat Islam yang kuat dalam memeluk Islam. dikarenakan Negara tidak stabil. kelompok Ahlussunah Wal Jama’ah dan Syi’ah.