P. 1
Uji Kelayakan Benih / Biji

Uji Kelayakan Benih / Biji

|Views: 682|Likes:
Published by Ajeng Widy
Uji kelayakan benih jagung, gabah, kacang hijau, kacang tanah, dan kedelai
Uji kelayakan benih jagung, gabah, kacang hijau, kacang tanah, dan kedelai

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Ajeng Widy on Dec 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2014

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PANEN DAN PASCA PANEN

UJI KELAYAKAN BENIH/BIJI

Oleh: NAMA NIM KELAS NILAI : AJENG WIDYANINGRUM : 111510501111 : BEASISWA UNGGULAN (BU) :

LABORATORIUM HAMA TUMBUHAN JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2012

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Benih sebagai salah satu bahan dasar dalam budidaya tanaman memegang peranan yang sangat penting baik dalam memperbanyak tanaman maupun dalam mendapatkan produk hasil tanamannya. Namun banyaknya spesies/varietas tanaman yang beraneka ragam ada kecenderungan benih akan tercampur antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk menjamin penggunaan benih yang benarbenar murni, bersih, dan tidak tercampur dengan bahan lainnya, salah satunya adalah dengan melakukan pengujian kemurnian benih.Kemurnian benih merupakan persentase dari berat benih murni yang terdapat dalam suatu contoh benih. Keberadaan benih juga sangat penting dalam meningkatkan plasma nutfah untuk kepentingan pemuliaan tanaman. Benih merupakan bahan tanam yang berasal dari pembiakan secara generatif atau juga disebut sebagai hasil dari persilangan. Dalam proses budidaya, benih merupakan faktor utama dalam produksi, tanpa benih proses budidaya tidak akan berjalan. Proses budidaya tanaman akan dapat menghasilkan tanaman yang berkualitas bila dalam proses budidaya tersebut menggunakan benih yang berkualitas dan sehat. Benih yang sehat memiliki arti bahwa benih tersebut bebas dari kontaminasi mikroba yang merugikan dimana nantinya dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan benih. Banyaknya jenis penyakit tanaman penting yang merugikan berasal dari benih yang telah terinfeksi sebelumnya yang menjadi sumber infeksi di lahan pertanaman. Benih yang terinfeksi patogen dapat merupakan sumber patogen penting di lahan pertanaman. Penularan penyakit dari benih ke kecambah menyebabkan terjadinya infeksi primer dan merupakan sumber infeksi untuk tanaman sekitarnya. Patogen yang terbawa benih mempunyai arti penting jika ia berhasil menular ke tanaman yang berasal dari benih itu sendiri atau ke tanaman sekitarnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka penggunaan benih berkualitas baik yang tidak mengandung patogen yang

merugikan merupakan salah satu cara yang sangat dianjurkan. Langkah ini juga termasuk ke dalam langkah awal pengendalian organisme pengganggu tumbuhan. Banyak patogen yang terbawa oleh benih bersifat fatogenetik. Penyakit yang ditimbulkan oleh patogen tersebut dapat menyerang benih, kecambah, tanaman muda maupun tanaman dewasa. Dari berbagai jenis patogen terbawa benih, patogen dari golongan fungi telah dilaporkan mencapai jumlah kasus yang paling banyak. Patogen dapat terbawa benih dengan berbagai cara yaitu pada permukaan benih, di dalam jaringan, dan bersama benih dimana tidak terjadi hunbungan erat antara propagul dan permukaan benih. Untuk mendapatkan benih yang bebas kontaminasi patogen maka perlu dilakukan pengujian kesehatan benih. Pentingnya uji kesehatan benih dilakukan karena penyakit yang disebabkan oleh keberadaan patogen pada benih dapat mengganggu perkecambahan dan pertumbuhan benih dengan demikian merugikan kualitas dan kuantitas hasil. Benih dapat menjadi pengantar baik hama maupun penyakit ke daerah lain dimana hama dan penyakit itu tidak ada sebelumnya. Pengujian kesehatan benih akan mendeteksi dan dapat mengurangi kontaminasi patogen pada benih tersebut sehingga dapat mengurangi resiko penurunan hasil produksi tanaman.

1.2 Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui patogen yang menyerang beberapa biji-bijian pangan dengan beberapa metode yang ada.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Dalam budidaya tanaman, benih merupakan salah satu faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan. Walaupun program perbenihan nasional telah berjalan sekitar 30 tahun, tetapi ketersediaan benih bersertifikat belum mencukupi kebutuhan potensialnya. Salah satu faktor masih rendahnya tingkat ketersediaan benih bermutu (bersertifikat) adalah tingkat kesadaran masyarakat, dalam hal ini petani, untuk menggunakan benih yang berkualitas tinggi atau bersertifikat masih sangat kurang. Pada umumnya, petani memilih benih non sertifikat karena harga benih non sertifikat lebih murah daripada yang bersertifikat. Benih tersebut tentu saja tidak terjamin kualitasnya. Benih non sertifikat banyak dijual di toko benih atau penangkar di daerah - daerah. Kualitas benih non sertifikat dapat diketahui dengan pengujian laboratorium. Tugas dan fungsi BPSB adalah melaksanakan analisis benih di laboratorium dan melakukan pengawasan pemasaran benih (Maiwanto, 2003). Dalam konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana teknologi yang maju. Beberapa keuntungan dari penggunaan benih bermutu, antara lain : a. Menghemat penggunaan benih persatuan luas b. Respon terhadap pemupukan dan pengaruh perlakuan agronomis lainnya c. Produktivitas tinggi karena potensi hasil yang tinggi d. Mutu hasil akan terjamin baik melalui pasca panen yang baik e. Memiliki daya tahan terhadap hama dan penyakit, umur dan sifat-sifat lainnya jelas f. Waktu panennya lebih mudah ditentukan karena masaknya serentak. (Cipta, 1992) Pengujian kesehatan benih bertujuan untuk mengetahui status kesehatan dari suatu kelompok benih. Pengujian ini perlu dilakukan karena banyak mikroorganisme terbawa benih yang bersifat patogenik. Patogen yang terbawa oleh benih dapat berupa cendawan, bakteri, virus, dan nematode (ISTA,2010).

Pengujian benih dalam kondisi lapang biasanya kurang memuaskan karena hasilnya tidak dapat diulang dengan konsisten. Karena itu, pengujian dilaboratorium dilaksanakan dengan mengendalikan faktor lingkungan agar mencapai perkecambahan yang teratur, cepat, lengkap bagi kebanyakan contoh benih. Kondisi yang terkendali telah distandarisasi untuk memungkinkan hasil pengujian yang dapat diulang sedekat mungkin kesamaannya. Terdapat bermacam-macam metode uji perkecambahan benih, setiap metode memiliki kekhususan tersendiri sehubungan dengan jenis benih diuji, jenis alat perkecambahan yang digunakan, dan jenis parameter viabilitas benih dinilai. Perkecambahan pada dasarnya adalah pertumbuhan embrio atau bibit tanaman, sebelum berkecambah tanaman relatif kecil dan dorman.

Perkecambahan ditandai dengan munculnya radicle dan plumule. Biasanya radicle keluar dari kulit benih, terus ke bawah dan membentuk sistem akar. Plumule muncul ke atas dan membentuk sistem tajuk. Pada tahap ini proses respirasi mulai terjadi. Cadangan makanan yang tidak dapat dilarutkan diubah agar dapat dilarutkan, hormon auxin terbentuk pada endosperm dan kotiledon. Hormon tersebut dipindah ke jaringan meristem dan digunakan untuk pembentukan sel baru dan membebaskan energi kinetik (Edmond et al.dalam Tim Penyusun Udayana , 1975 ). Cendawan yang terbawa benih dapat menimbulkan penyakit pada tanaman sebelum benih berkecambah, pada waktu tanaman masih muda atau menjelang berbunga atau berbuah. Selain dapat menyebabkan penyakit pada tanaman itu sendiri, cendawan dapat pula menjadi sumber infeksi untuk tanaman lain. Cendawan dapat mempertahankan diri di lapang misalnya pada sisa tanaman dan gulma. Pada keadaan ini cendawan akan menjadi sumber inokulum. Meskipun saat penanaman menggunakan benih yang sehat, tetap terserang penyakit. Cendawan terbawa benih dapat bertahan lama di lapang (Sutopo, 2002.). Faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan dibagi menjadi factor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik , daya tumbuh dan vigor , kondisi kulit dan kadar air benih awal. Faktor eksternal

antara lain kemasan benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpan (Copeland dan Donald, l985). Menurut (Soemardi. R. 1992), masalah yang dihadapi dalam penyimpanan benih makin kompleks sejalan dengan meningkatnya kadar air benih. Penyimpanan benih yang berkadar air tinggi dapat menimbulkan resiko terserang cendawan. Benih adalah bersifat higroskopis, sehingga benih akan mengalami kemundurannya tergantung dari tingginya faktor-faktor kelembaban relatif udara dan suhu lingkungan dimana benih disimpan.

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan tempat Praktikum teknologi panen dan pasca panen bagian hama penyakit tumbuhan dengan acara uji kelayakan benih dan biji ini dilaksanakan pada hari kamis tanggal 7 Desember 2012 dari pukul 15.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB di laboratorium hama penyakit tumbuhan jurusan hama penyakit tumbuhan fakultas pertanian Universitas Negeri Jember.

3.2 Alat dan bahan 3.2.1 Alat a. Cawan petri b. Timbangan c. Erlenmeyer d. Pipet volume e. Pemanas spiritus f. Inkubator g. Kertas saring h. Mikroskop i. Kaca benda j. Kaca penutup k. Kawat nikrom

3.2.2 Bahan a. Bahan – bahan untuk uji = biji padi 100 gram, biji kedelai 100 gram, biji kacang tanah 100 gram, biji kacang hijau 100 gram, biji jagung 100 gram. b. Larutan buret c. Larutan erlenmeyer h. NA (metode agar) i. Larutan alkohol h. Larutan aquades

3.3 Cara kerja 1. Menimbang biji padi 100 gram, biji kedelai 100 gram, biji kacang tanah 100 gram, biji kacang hijau 100 gram, biji jagung 100 gram. 2. Menghitung jumlah biji kacang hijau dalam berat 100 gram dan memisahkan dan mensortasi yang bernas, yang cacat dan juga kotoran yang ada pada biji. 3. Menghitung berat atau menimbang biji yang cacat dan bernas serta kotoran yang ada pada biji tersebut dengan menggunakan timbangan. 4. Mengambil dua kali 30 sampel biji yang bagus untuk kemudian dilakukan inkubasi di dalam inkubator dengan menggunakan dua perlakuan yaitu perlakuan NA (metode agar) untuk mengetahui keberadaan bakteri dan juga metode menggunakan kertas saring basah untuk mengetahui koloni jamur dan juga adanya perkecambahan pada biji. 5. Memasukkan kedua perlakuan tersebut ke dalam cawan petri yang sudah di sterilkan dan memasukkan ke dalam mesin inkubator. 6. Melakukan pengamatan setelah 1 hari di inkubasi dengan melihat perubahan pada metode NA (metode agar) di dalam cawan petri sudah terlihat tanda – tanda adanya bakteri atau tidak. Tanda tersebut dapat dilihat dari preparat cawan petri yang sudah berkoloni dan juga adanya cairan – cairan yang biasanya menjadi penanda adanya bakteri maupun tidak. Bakteri tidak dapat dilihat dengan mikroskop dengan perbesaran 10 kali sehingga hanya melihat kepada preparat yang sudah terjadi adanya koloni. 7. Melakukan pengamatan setelah 2 hari di inkubasi dengan melihat perubahan pada metode pemberian kertas saring basah di dalam cawan petri sudah

terlihat adanya koloni jamur atau tidak serta melihat pertumbuhan perkecambahan pada biji. 8. Melihat adanya koloni jamur dengan menggunakan mikroskop yaitu dengan membersihkan kaca benda dan kaca penutup dengan alkohol dan larutan aquades, mensterilkan kawat nikrom dan juga kawan petri yang berisi preparat dengan memanaskan dengan menggunakan larutan bunsen yang dibakar. 9. Mengambil contoh koloni jamur di dalam preparat dengan menggunakan kawat nikrom yang sudah di sterilkan dan menaruhnya di atas kaca benda, kemudian

memberi 1 tetes larutan erlenmeyer ditutup dengan kaca penutup kemudian dipanaskan sebentar di atas larutan bunsen yang dibakar. 10. Mengamati preparat dalam kaca benda di dalam mikroskop dan melihat ada maupun tidak nya jamur beserta morfologi jamur dari segi warnanya. 11. Mengamati preparat dalam cawan petri terhadap adanya perkecambahan maupun tidak dan kemudian menghitung presentase tumbuhnya

perkecambahan pada biji kacang hijau. 12. Mencatat semua hasil pengamatan di dalam tabel.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Data Pengamatan Pemeriksaan Biji Kering

4.1.2 Data Pengamatan Pemeriksaan secara Inkubasi

No 1 2 3 4 5

Bahan Gabah Jagung K. hijau K.Tanah Kedelai

Bentuk Koloni Bulat Bulat Bulat Bulat Bulat

Warna Koloni Putih Putih Putih Putih Putih

Uji Gram Gram negatif Gram Positif Gram Positif Gram negatif Gram Positif

Persentase 1. Gabah 4. Kacang Hijau

Perkecambahan : 53 Terserang = 2. Kedelai

Perkecambahan : 30 Terserang = 5. Jagung

Perkecambahan : Terserang = 1 3. Kacang tanah

Perkecambahan : 27 Terserang = 30

Perkecambahan : Terserang = 15 4.2 Pembahasan 4.2.1 Kelayakan Benih Dalam membuat bahan tanam, benih harus diberi perlakuan tertentu agar dapat layak dijadikan sebgai bahan tanam. Benih yang layak (benih unggul) dicirikan sebagai berikut:

a. Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul. b. Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat. c. Kulit benih mengkilap, tidak keriput dan cacat. d. Murni atau tidak tercampur dengan varietas lain. e. Kadar air benih berkisar 9-12 %. Agar mendapatkan benih yang layak seperti ciri-ciri tersebut yang telah dijelaksan maka diperlukan suatu pengujian kelayakan benih sebelum ditanam. Pengujian benih merupakan suatu kegiatan yang sangat penting untuk dilakukan dalam penanganan benih sebelum panen, yang mana pengujian ini merupakan salah satu tahapan agar benih yang akan ditanam layak untuk dijadikan bahan tanam dan dapat diketahui kemurnian benih itu sendiri. Pengujian benih

dilakukan untuk mengetahui mutu atau kualitas dari benih. Keterangan yang diperoleh dari hasil pengujian benih ini sangat bermanfaat bagi pengguna benih sebagai informasi yang dapat dipercaya tentang materi benih sebagai bahan dasar dalam produksi tanaman, dan bagi produsen benih dapat digunakan sebagai jaminan kualitas benih yang diproduksi. Selain itu, kemurnian benih perlu untuk diuji sebab suatu penyakit yang terdapat dalam benih akan dapat mengganggu perkecambahan benih dan selanjutnya akan dapat menurunkan hasil produksi baik secara kualitas maupun kuantitas. Sehingga jika kita sebelumnya telah mengatehui benih tersebut terserang penyakit atau petogen pengganggu lainnya dapat kita pilih mana benih yang sehat dan tidak sehat. Uji kelayakan benih ini dimaksudkan agar : 1. Mengetahui ada atau tidaknya inokulum patogenik yang terdapat dalam benih, dan selanjutnya diharapkan dapat menentukan kondisi dari benih tersebut. kesehatan dari benih itu sendiri merupakan faktor penentu nilai lapangan dari benih tersebut. 2. Dapat mengetahui dan mempelajari penyebab terjadinya benih yang abnormal. Hal ini dilihat dari kecambah dalam uji daya kecambah. Untuk mengetahui daya berkecambah suatu benih dengan menghitung persentase perkecambahan tersebut yaitu: Daya berkecambah = Jumlah benih normal x 100% Jumlah total benih

Agar hasil persentase perkecambahan yang didapat dengan metode uji daya kecambah dilabolatorium mempunyai korelasi positif dengan kenyatan nantinya dilapangan makan perlu diperhatikan faktor – faktor berikut ini : 1. Kondisi lingkungan dilabolaotrium harus mengunutngkan bagi

perkecambahan benih dan terstandarisasi. 2. Pengamatan dan penilaian baru dilakukian pada saat kecambah mencapi suatu fase perkembangan, dimana dapat dibedakan antara kecambah normal dan kecambah abnormal. 3. Pertumbuhan dan perkembangan kecambah harus sedemikian sehingga dapat dinilai mempunyai kemampuan tumbuh menjadai tanaman normal dan kuat pada keadaan yang mengunguntungkan dilapangan. 4. Lama pengujian harus dalam jangka waktu yang telah ditentunkan. Tingkat kesehatan berkaitan dengan ada tidaknya serangan dan tingkat serangan hama dan penyakit. Serangan hama dari penyakit dapat terjadi sejak benih masih berada di lapang sampai di ruang penyimpanan. Mutu benih yang terserang hama dan atau penyakit akan menurun. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama dapat secara langsung, yakni benih dimakan atau struktur, terutama embrio, rusak (sehingga benih tidak mampu berkecambah secara normal). Dapat pula benih rusak secara tidak langsung, yakni hama sebagai pembawa penyakit. Adapun kerusakan yang ditimbulkan penyakit, selain menimbulkan lingkungan penyimpanan yang tidak optimum, cendawan umumnya menghasilkan produk beracun seperti aflatoksin yang akan meracuni benih sehingga akan menurunkan aktivitas enzim tatkala benih dikembahkan. Tingkat kerusakan benih pada umumnya dapat diidentifikasi dari laju kemunduran mutu benih. Hal ini dapat diperkecil dengan melakukan penanganan dan pengolahan, penyimpanan, serta pendistribusian benih secara baik. Pengemasan dan penyimpanan benih hendaknya mampu menjaga tingkat kadar air benih dan mutu benih dari pengaruhpengaruh lingkungan luar (kelembaban udara, suhu ruangan, dan hama serta penyakit). Kadar air benih sangat penting

untuk dipertahankan karena peningkatan 1% nilai kadar air akan mampu menurunkan daya simpan benih menjadi setengahnya. Kadar air dapat dipertahankan dengan kemasan yang kedap udara luar, seperti plastik polietilin, atau benih disimpan dalam ruangan yang kering, misalnya di atas para-para dapur. Pendistribusian benih tidak sampai merusak kemasan benih. Apabila kemasannya rusak, kadar air benih akan berubah dan memungkinkan tercampurnya antara satu kelompok benih (dari satu kemasan) dengan kelompok benih lain (dari kemasan aslinnya).

Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain : 1. Tingkat Kemasakan Benih Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio sempurna. Pada umumnya sewaktu kadar air biji menurun dengan cepat sekitar 20 persen, maka benih tersebut juga telah mencapai masak fisiologos atau masak fungsional dan pada saat itu benih mencapat berat kering maksimum, daya tumbuh maksimum (vigor) dan daya kecambah maksimum (viabilitas) atau dengan kata lain benih mempunyai mutu tinggi. 2. Ukuran Benih Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibanding dengan yang kecil pada jenis sama. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan. 3. Dormansi Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang telah memenuhi syaratnya bagi suatu perkecambahan atau dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih sehat namun gagal berkecambah pada kondisi yang baik seperti kelembaban yang cukup, suhu dan cahaya yang sesuai. 4. Penghambat Perkecambahan

Penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih, adanya larutan dengan nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik atau menghambat laju respirasi. Adapun perbedaan antara bakteri gram positif dan bakteri gram negatif, yaitu :. No. 1. 2. Aspek Perbedaan Struktur dinding Sel Bakteri Gram Positif Bakteri Gram Negatif Tipis (10-15 nm) Berlapis tiga Kandungan lipid tinggi (11-22 %) Peptidoglikan merupakan lapisan kaku sebelah dalam Komponen utama merupakan kurang lebih 50 % berat kering Tanpa asam teikoat Kurang resisten Pertmbuhan kurang dihambat misalnya oelh Kristal violet Relatif sederhana Kurang resisten

3. 4.

5. 6.

a. Tebal (15-80 nm) a. b. Berlapis Tunggal b. Komposisi Dinding Sel a. Kandungan lipid a. rendah (1-4 %) b. Peptidoglikan b. merupakan lapisan tunggal c. Komponen utama c. merupakan > 50 % berat kering sel bakteri d. Mengandung asam teikoat d. Kerentanan terhadap Lebih rentan penisilin Pengaruh zat warna Pertmbuhan dihambat dasar terhadap dengan nyata misalnya pertumbuhan oelh Kristal violet Persyaratan nutrisi Relatif rumit pada beberapa spesies Resistensi terhadap Lebih resisten gangguan fisik

4.2.2 Pembahasan Data Dalam praktikum kali ini digunakan metode pengamatan secara visual terhadap benih kering. Pengujian ini dilakukan secara cepat untuk mendapatkan informasi awal tentang kesehatan benih. Kekurangan metode ini yaitu hanya mendeteksi cendawan yang ada di permukaan benih atau tercampur bersama benih serta kondisi fisik benih. Metode ini digunakan untuk mendeteksi cendawan yang menyebabkan gejala khas pada benih misalnya disklorisasi atau perubahan warna pada kulit

benih, perubahan ukuran, dan bentuk benih. Sebagai tambahan metode ini berguna untuk mengetahui adanya serangan/infestasi serangga benih atau kerusakan benih atau melihat adanya perlakuan benih dengan pestisida. Metode ini berkaitan langsung dengan kegiatan analisis kemurnian benih (purity), yaitu apakah benih tercampur dengan benda-benda dan benih lainnya dalam proses pemberian sertifikasi benih. Dalam praktikum kali ini praktikan juga menggunakan metode inkubasi dalam menguji kelayakan benih. Prinsip metode ini adalah memberikan kondisi tumbuh yang optimal bagi patogen terbawa benih, baik yang ada pada permukaan maupun yang ada di dalam jaringan benih. Dengan cara tersebut maka patogen terbawa benih, terutama cendawan dapat terdeteksi dengan mengamati karakteristik pertumbuhan dan struktur cendawan. Metode inkubasi ini meliputi 2 metode, yaitu: 1) Metode Media Kertas (Blotter test) Pemeriksaan cendawan dengan metode ini paling banyak digunakan karena mudah dilaksanakan dengan biaya relatif murah dan hampir semua jenis cendawan yang terbawa benih dapat diuji. 2) Metode Media Agar (NA) Dalam metode media agar inokulum terbawa benih dideteksi berdasarkan karakteristik koloni pada media agar yang berkembang dari benih. Secara umum prinsipnya sama dengan prinsip dari pengujian dengan media kertas.Kelebihan menggunakan media agar, yaitu memberikan informasi relatif lebih cepat dan cukup menggambarkan status kesehatan benih dibandingkan dengan metode kertas, karena ketersediaan nutrisi pada media agar memungkinkan cendawan tumbuh dan berkembang lebih baik dan lebih cepat sehingga memudahkan dalam pengamatan. Biasanya cendawan akan membentuk koloni yang khas pada media agar.

A. Benih Kacang Tanah Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, uji kelayakan benih kacang tanah dengan metode pemeriksaan biji yaitu menimbang benih seberat 100 gram

dan memisahkan biji yang bernas, cacat, dan kotoran. Dari masing-masing benih tersebut dihitung berapa jumlah benih bernas dan yang cacat, serta kotoran. Kemudian benih-benih tersebut diletakkan ke petridish dengan kriteria benih yang utuh. Dari hal tersebut, didapatkan hasil bahwa benih kacang tanah jumlah benihnya yaitu 291, terdapat kotoran sebanyak 0 gram, benih yang rusak dengan berat 18,8 gram dengan jumlah 85 benih, sedangkan yang bernas dengan berat 80,7 gram dengan jumlah 206 benih. Warna jamur yang terlihat adalah jamur hitam sebanyak 13 biji. Benih ini memliki persentase perkecambahan sebesar 70,8%. Pengujian benih jagung dengan metode inkubasi yaitu dengan media kertas dan NA. Pada media kertas tidak ada kecambah yang tumbuh dan terdapat 15 benih yang terserang jamur Aspergilus flavus. Adanya jamur yang tumbuh pada media kertas dapat dipengaruhi oleh faktor kelembaban kertas pada petridish tersebut sehingga menyebabkan cendawan atau jamur tersebut dapat berkembang pda media tersebut. Mikrobiologi Aspergillus flavus yaitu: hifa bersepta dan berhialin, serta umumnya fertil. Miselium bercabang. Konidiofor berdinding halus dan tebal, bersepta, membengkak membawa sterigma dimana tumbuhnya konidia, tidak berwarna, panjang dapat mencapai 300 µm, dan berakhir dalam suatu gelembung yang berbentuk kubah yang berdiameter 20-30 µm. Konidia membentuk rantai yang berwarna hijau, coklat, atau hitam, halus yang kemudian dengan sempurna menjadi kasar, agak bulat dengan diameter 2-3.5 µm. Deskripsi morfologi biakan (koloni) Koloni berwarna putih menjadi biru kehijauan, hitam atau coklat pada biakan yang sudah dewasa. Aspergillus fumigatus memiliki peranan yang merugikan, spesies ini hidup di paru-paru yang dapat menyebabkan penyakit Aspergilosis paru-paru pada hewan dan manusia. Pada metode NA kecambah ada yang tumbuh tapi hanya 1 benih dari 3 benih yang diamati, selain itu terdapat bakteri dengan bentuk bulat dan berwarna putih. Pada uji gram, benih ini termasuk dalam gram negatif. Gram negatif tersebut menunjukkan bahwa benih ini tersebut kurang resisten apabila di tanam.

B. Benih Kacang Hijau Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, uji kelayakan benih kacang hijau dengan metode pemeriksaan biji yaitu menimbang kacang hijau seberat 100 gram dan memisahkan biji yang bernas, cacat, dan kotoran. Dari masing-masing benih tersebut dihitung berapa jumlah benih bernas dan yang cacat, serta kotoran. Kemudian benih-benih tersebut diletakkan ke petridish dengan kriteria benih yang utuh. Dari hal tersebut, didapatkan hasil bahwa benih kacang hijau jumlah benihnya yaitu1547, terdapat kotoran sebanyak 4,7 gram, benih yang rusak dengan berat 9,5gram dengan jumlah 148 benih, sedangkan yang bernas dengan berat 67,4 gram dengan jumlah 1120 benih. Warna jamur yang terlihat adalah jamur hitam sebanyak 53 biji dan benih yang terserang jamur putih sebanyak 226 biji. Prosentasi daya kecambahnya 72%. Pada metode inkubasi menggunakan kertas semua benih berkecambah dengan baik. Pada metode ini juga tidak terdapat jamur yang menyerang. Sedangkan pada metode NA hanya terdapat 1 benih saja yang berkecambah dari 3 benih yang diamati. Bakteri yang ada berbentuk bulat dan berwarna putih. Pada uji gram, bakteri tersebut menunjukkan gram negatif yang artinya benih ini tersebut kurang resisten apabila di tanam.

C. Benih Jagung Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, uji kelayakan benih jagung dengan metode pemeriksaan biji yaitu menimbang benih jagung seberat 100 gram dan memisahkan biji yang bernas, cacat, dan kotoran. Dari masing-masing benih tersebut dihitung berapa jumlah benih bernas dan yang cacat, serta kotoran. Kemudian benih-benih tersebut diletakkan ke petridish dengan kriteria benih yang utuh. Dari hal tersebut, didapatkan hasil bahwa benih jagung jumlah benihnya yaitu 596, terdapat kotoran sebanyak 0,8 gram, benih yang rusak dengan berat 46,8 gram dengan jumlah 255 benih, sedangkan yang bernas dengan berat 59,35 gram dengan jumlah 341 benih. Warna jamur yang terlihat adalah jamur hitam sebanyak 25 biji dan benih yang terserang jamur putih sebanyak 160 biji. Benih jagung ini memliki persentase perkecambahan sebesar 57%

Pengujian benih jagung dengan metode inkubasi yaitu dengan media kertas dan NA. Pada media kertas jumlah kecambah yang tumbuh adalah 27 benih berkecambah dari 30 benih yang diamati. Pada media kertas diketahui terdapat jamur. Selain itu terdapat jamur Aspergilus flavus. Terdapat 30 benih yang diamati terserang jamur tersebut.Adanya jamur yang tumbuh pada media kertas dapat dipengaruhi oleh faktor kelembaban kertas pada petridish tersebut sehingga menyebabkan cendawan atau jamur tersebut dapat berkembang pda media tersebut. Dari hasil yang didapat, sesuai dengan (Zaki, 2011) bahwa pada metode inkubasi cara media kertas ini akan dapat lebih mudah dan hampir semua jenis cendawan yang terbawa oleh benih dapat diuji. Sedangkan pada media Na tidak ada cendawan. Hal ini berlainan dengan literature (Zaki, 2011) yang menyatakan bahwa kelebihan menggunakan media agar, yaitu memberikan informasi relatif lebih cepat dan cukup menggambarkan status kesehatan benih dibandingkan dengan metode kertas, karena ketersediaan nutrisi pada media agar memungkinkan cendawan tumbuh dan berkembang lebih baik dan lebih cepat sehingga memudahkan dalam pengamatan. Biasanya cendawan akan membentuk koloni yang khas pada media agar. Mikrobiologi Aspergillus flavus yaitu: hifa bersepta dan berhialin, serta umumnya fertil. Miselium bercabang. Konidiofor berdinding halus dan tebal, bersepta, membengkak membawa sterigma dimana tumbuhnya konidia, tidak berwarna, panjang dapat mencapai 300 µm, dan berakhir dalam suatu gelembung yang berbentuk kubah yang berdiameter 20-30 µm. Konidia membentuk rantai yang berwarna hijau, coklat, atau hitam, halus yang kemudian dengan sempurna menjadi kasar, agak bulat dengan diameter 2-3.5 µm. Deskripsi morfologi biakan (koloni) Koloni berwarna putih menjadi biru kehijauan, hitam atau coklat pada biakan yang sudah dewasa. Aspergillus fumigatus memiliki peranan yang merugikan, spesies ini hidup di paru-paru yang dapat menyebabkan penyakit Aspergilosis paru-paru pada hewan dan manusia. Pada metode NA kecambah ada yang tumbuh tapi hanya 2 benih dari 3 benih yang diamati, selain itu terdapat bakteri dengan bentuk bulat dan berwarna putih. Pada uji gram, benih jagung termasuk dalam gram negatif. Gram negatif

tersebut menunjukkan bahwa benih jagung tersebut kurang resisten apabila di tanam.

D.Benih Kedelai Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, uji kelayakan benih kedelai dengan metode pemeriksaan biji yaitu menimbang benih seberat 100 gram dan memisahkan biji yang bernas, cacat, dan kotoran. Dari masing-masing benih tersebut dihitung berapa jumlah benih bernas dan yang cacat, serta kotoran. Kemudian benih-benih tersebut diletakkan ke petridish dengan kriteria benih yang utuh. Dari hal tersebut, didapatkan hasil bahwa benih kedelai jumlah benihnya yaitu 674, terdapat kotoran sebanyak 3,77 gram, benih yang rusak dengan berat 4,43 gram dengan jumlah 100 benih, sedangkan yang bernas dengan berat 92,8 gram dengan jumlah 574 benih. Warna jamur yang terlihat adalah jamur hitam sebanyak 5 biji dan jamur hijau sebanyak 18 biji. Benih ini memliki persentase perkecambahan sebesar 85%. Pengujian benih jagung dengan metode inkubasi yaitu dengan media kertas dan NA. Pada media kertas tidak ada kecambah yang tumbuh dan terdapat 1 benih yang terserang jamur Rhizopus oryzae. Adanya jamur yang tumbuh pada media kertas dapat dipengaruhi oleh faktor kelembaban kertas pada petridish tersebut sehingga menyebabkan cendawan atau jamur tersebut dapat berkembang pda media tersebut. Menurut Gandjar dkk (1991), koloni R. oryzae berwarna keputihan menjadi abu-abu kecoklatan dengan bertambahnya usia biakan. Tinggi koloni mencapai kurang lebih 10 mm. Stolon berdinding halus atau agak kasar dan hampir hialin hingga berwarna coklat kekuningan. Rhizoid berwarna kecoklatan, bercabang berlawanan arah dengan sporangiofor, atau sporangiofor dapat muncul langsung dari stolon tanpa adanya rhizoid. Sporangiofor dapat tunggal atau berkelompok hingga 5, kadang-kadang membentuk struktur seperti percabangan garpu, berdinding halus, memiliki panjang 150-2000 µm dan berdiameter 6-14 µm. Sporangia berbentuk bulat hingga semibulat, dinding berduri, berwarna coklat gelap hingga coklat kehitaman, dan berdiameter 50-200 µm. Kolumela berbentuk ovoid atau bulat, berdiameter 30-120µm, dan berdinding

halus atau agak kasar. Sporangiospora berbentuk bulat, ovoid, atau tidak teratur, seringkali berbentuk poligonal, bergaris-garis pada permukaannya, dan memiliki panjang sekitar 4-10µm, Klamidospora berbentuk bulat, berdiameter 10-35 µm, atau berbentuk elipsatau silindris dan berukuran (8-13)x(16-24) µm. Spesies ini memiliki suhu pertumbuhan optimum 35oC, minimum 5-7oC, dan maksimum 35o sampai 440o. Pada metode NA kecambah tidak ada yang tumbuh dari 3 benih yang diamati, selain itu terdapat bakteri dengan bentuk bulat dan berwarna putih. Pada uji gram, benih ini termasuk dalam gram negatif. Gram negatif tersebut

menunjukkan bahwa benih ini tersebut kurang resisten apabila di tanam.

E. Benih Padi (Gabah) Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, uji kelayakan benih padi dengan metode pemeriksaan biji yaitu menimbang kacang hijau seberat 100 gram dan memisahkan biji yang bernas, cacat, dan kotoran. Dari masing-masing benih tersebut dihitung berapa jumlah benih bernas dan yang cacat, serta kotoran. Kemudian benih-benih tersebut diletakkan ke petridish dengan kriteria benih yang utuh. Dari hal tersebut, didapatkan hasil bahwa benih padi jumlah benihnya yaitu 4036, terdapat kotoran sebanyak 0,2 gram, benih yang rusak dengan berat 7 gram dengan jumlah 334 benih, sedangkan yang bernas dengan berat 92,8 gram dengan jumlah 3702 benih. Warna jamur yang terlihat adalah jamur hitam sebanyak 258 biji dan benih yang terserang jamur hijau sebanyak 29 biji. Prosentasi daya kecambahnya 91,72 %. Pada metode inkubasi menggunakan kertas hampir semua benih berkecambah dengan baik. Pada metode ini juga tidak terdapat jamur yang menyerang. Sedangkan pada metode NA hanya tidak terdapat benih yang

berkecambah dari 3 benih yang diamati. Bakteri yang ada berbentuk bulat dan berwarna putih. Pada uji gram, bakteri tersebut menunjukkan gram negatif yang artinya benih ini tersebut kurang resisten apabila di tanam.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesinpulan 1. Benih merupakan organisme hidup bersifat equilibrium/seimbang dengan keadaan lingkungannya, sehingga benih sangat mudah menyerap uap air sampai akhirnya kandungan air benih seimbang dengan sekitarnya. 2. Benih bermutu mencakup mutu genetis, yaitu penampilan benih murni dari varietas tertentu yang menunjukkan identitas genetis dari tanaman induknya, mutu fisiologis yaitu kemampuan daya hidup (viabilitas) benih yang mencakup daya kecambah dan kekuatan tumbuh benih dan mutu fisik benih. 3. Benih yang diuji tersebut merupakan benih yang rusak sehingga tergolong biji yang berkualitas jelek karena sebagian besar berpotensi terserang penyakit. 4. Metode pengujian kesehatan benih yang digunakan tergantung pada jenis benih, jenis patogen yang mungkin terbawa benih dan tujuan pengujian. Penentuan metode tersebut dimaksudkan agar deteksi dan identifikasi patogen terbawa benih dapat dilakukan dengan mudah dan akurat. Hal tersebut berarti pengujian untuk pengujian suatu contoh benih dapat digunakan lebih dari satu metode pengujian kesehatan benih. 5. Pada uji gram, bakteri pada benih yang diamati menunjukkan gram negatif yang artinya benih ini tersebut kurang resisten apabila di tanam.

5.2 Saran Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam perhitungan benih sebab hal ini akan mempengaruhi akurasi data yang diperoleh

DAFTAR PUSTAKA

Copeland. L.O. dan M.B. Mc. Donald. 1985. Principles of Seed Science and Technology. Burgess Publishing Company. New York. 369 p. ISTA. 2010. International Rules for Seed Testing Edition 2010. ISTA Co.Switzerland. Tim Penyusun. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Jurusan Budidaya, Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar. Maiwanto, 2003. Hubungan Antara Kandungan Lignin Kulit Benih dengan Permeabilitas dan Daya Hantar Listrik Rendeman Benih Kedelai. Jurnal Alta Agrosia 6(2) Mas`ud.S., M. Yasin., D. Baco., S. Saenong. 1996. Pengaruh Kadar Air Awal Biji Sorgum Terhadap Perkembangan Kumbang Bubuk Sitophilus zeamais. Badan Litbang Pertanian. Balitjas Maros.P.35-44. Soemardi. R. 1992. Mempertahankan Mutu Benih Kedelai dalam Sistem Penyimpanan Tingkat Petani. Dalam Prosiding Lokakarya Penelitian Komoditas dan Studi Khusus. (Ed). Departemen Pertanian. 373-387 p. Sutopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. Universitas Brawijaya. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Zaki, I, F. 2011. Petunjuk Teknis Pengujian Kesehatan Benih (Cendawan). Http://Ditjenbun.Deptan.Go.Id/. Diakses Pada Tanggal 12 Desember 2012.

LAMPIRAN

Benih jagung dengan metode inkubasi

Benih kedelai dengan metode inkubasi

Benih kacang tanah dengan metode inkubasi

Benih kacang hijau dengan metode inkubasi

Benih gabah dengan metode inkubasi

Benih jagung dengan metode kertas

Benih kedelai dengan metode kertas

Benih gabah dengan metode kertas

Benih kacang tanah dengan metode kertas

Benih kacang hijau dengan metode kertas

Aspergilus flavus pada Kacang Tanah (perbesaran 10x)

Aspergilus flavus pada jagung (perbesaran 10x)

Rhizopus oryzae pada kedelai (perbesaran 10x)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->