REFLEKSI KASUS MELANOMA MALIGNA

Disusun untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Madya SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSD dr. Soebandi Jember

Oleh: Aries Rahman Hakim, S. Ked NIM 082011101017

SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSD dr.Soebandi Jember Fakultas Kedokteran Universitas Jember 2012

1

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..............................................................................................i DAFTAR ISI...........................................................................................................ii BAB 1. TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................1 1.1 1.2 Kulit 1 1.2.1 Definisi........................................................................................7 1.2.2 Epidemiologi...............................................................................7 1.2.3 Faktor Resiko.............................................................................9 1.2.4 Patofisiologi..............................................................................12 1.2.5 Manifestasi klinis.....................................................................13 1.2.6 Klasifikasi.................................................................................21 1.2.7 Diagnosis...................................................................................25 1.2.8 Penatalaksanaan......................................................................31 1.2.9 Pencegahan...............................................................................34 1.2.10 Deteksi dini...............................................................................35 1.2.11 Differential diagnosa................................................................36 1.2.12 Komplikasi................................................................................36 1.2.13 Prognosis...................................................................................37 DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................39 Melanoma Maligna................................................................................................7

2

BAB 1. TINJAUAN PUSTAKA

1.1

Kulit Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh,

merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Demikian pula kulit bervariasi mengenai lembut tipis dan tebalnya. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat. Pembagian kilit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu lapisan epidermis, lapisan dermis dan lapisan subkutis (hipodermis). Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan adanya sel dan jaringan lemak. Fungsi Utama kulit adalah Proteksi, Absorbsi, Ekskresi, Persepsi, Pengaturan Keratinisasi. EPIDERMIS Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu. Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) : 1. Stratum Korneum: Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti. Suhu tubuh (termoregulasi), pembentukan vitamin D, dan

3

Stratum Basale (Stratum Germinativum). 4 . hal ini tergantung letak. Sel Pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell. Melanosit menghasilkan pigmen coklat melanin yang jumlahnya menentukan berbagai corak warna coklat di kulit berbagai ras. melaksanakan fungsi protektif. Sel-sel yang berbentuk kolumnar b. Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu: a. Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Selain ditentukan secara herediter. Stratum Lusidum: Berupa garis translusen. 4. Terdapat sel Langerhans. 3. kandungan melanin juga dapat ditingkatkan secara singkat oleh pajanan berkas sinar ultraviolet dari matahari. Stratum Spinosum. biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. 5. usia dan faktor lain. dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. merupakan sel berwarna muda dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap. dan mengandung butir pigmen (melanosomes). Stratum Granulosum: Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril.2. yaitu menyerap berkas sinar ultraviolet yang berbahaya. Terdapat sel Langerhans. Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan. Tidak tampak pada kulit tipis. Melanin tambahan ini menyebabkan timbulnya warna coklat.

suplai nutrisi. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis. tebal terdiri dari jaringan ikat padat. Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan bertambahnya usia. yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm.. pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans). Dermis juga mengandung beberapa derivat epidermis yaitu folikel rambut. kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Dermis terdiri dari dua lapisan : • • Lapisan papiler. sintesis vitamin D dan sitokin. DERMIS Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai “True Skin”. menahan shearing forces dan respon inflamasi. Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis. organisasi sel.Fungsi Epidermis : Proteksi barier. kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Tebalnya bervariasi. Lapisan retikuler. mechanical strength. 5 . Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput. tipis mengandung jaringan ikat jarang. pembelahan dan mobilisasi sel.. Fungsi Dermis : struktur penunjang. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal. Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah.

Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi. Anatomi Kulit SUBKUTIS Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber. Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar. Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis melalui membran epidermis.Gambar 1. cadangan kalori. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. VASKULARISASI KULIT Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. 6 . isolasi panas. tiap papilla dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena.

Gambar 2.2 Melanoma Maligna 1. maka melanoma seringkali berwarna coklat atau hitam.1. melanoma menduduki urutan ke 6 laki-laki dan urutan ke 7 perempuan di Amerika.1 Definisi Melanoma maligna atau biasa juga disebut sebagai melanoma adalah keganasan yang terjadi pada melanosit.500. resiko terkena melanoma maligna adalah 1:1.350 pada wanita.0 Melanoma merupakan salah satu kanker yang insidensnya terus meningkat. dengan insiden tertinggi terjadi di Australia dan Selandia Baru. Lifetime risk of Developing Invasive Melanoma (US) 7 . Sebagai kanker kulit yang paling ganas. traktus GI. dan oral dan membran mukus genitalia. Diperkirakan jumlah kasus baru Melanoma maligna di Amerika pada tahun 2008 sebesar 62. leptomeninges.2 Epidemiologi Insiden melanoma maligna itu sendiri berbeda-beda di tiap negara.4950 kasus terjadi pada laki-laki dan 27. Karena sebagian besar sel melanoma masih menghasilakn melanin. dengan 34. telinga. yang biasanya berlokasi di kulit tetapi juga ditemukan di mata.480 kasus. sekarang ini resiko meningkat menjadi 1:74. .2. 1. sel penghasil melanin. Pada tahun 1930an di Amerika.2. peada penemuan kasus kanker yang baru terdiagnosis.

dan mengenai 1 diantara 78 perempuan. Insidens dan Mortality Melanoma Pada laki-laki. melanoma mengenai 1 dari 53 orang di Amerika Serikat. The annual incidence of invasive cutaneous melanoma melaporkan bahwa terjadi peningkatan insidens pada perempuan Caucasian di Amerika Serikat pada usia 15-39 antara tahun 1980-2004 sebesar 50% dibandingkan ras lainnya.Selain itu. perbandingan antara 8 . Gambar 3. Sedangkan di Dunia.

2:1. memilki sebuah faktor resiko atau bahkan beberapa. bisa juga saat remaja. Sedangkan pada mereka yang memiliki 9 . baik melanoma maupun non melanoma. Nevus displastik sedikit seperti nevus normal biasa. Resiko melanoma sekitar 6% sampai dengan 10% pada mereka yang memiliki nevus displastik. Salah satu tipe nevus yang dapat berubah menjadi melanoma yaitu dysplastic nevus atau tahi lalat atipik. Namun. meningkat seiring dengan peningkatan usia. Usia juga menentukan epidemiologi dari melanoma. namun juga terlihat seperti melanoma. Nevus tersebut dapat timbul sejak lahir atau saat masa kanak-kanak. Namun. Dikatakan bahwa insiden kanker kulit. bukan berarti bahwa orang tersebut akan terkena suatu penyakit tersebut. Identifikasi faktor resiko terhadap melanoma maligna adalah penting untuk usaha pencegahan dan deteksi dini yang dilakukan.laki-laki dan perempuan yang terkena melanoma yaitu 0. Namun. Faktor resiko melanoma maligna diantaranya yaitu: a) Tahi lalat (Nevus) Tahi lalat atau dalam bahasa kedokterannya disebut juga sebagai nevus merupakan salah satu tumor jinak pada melanosit.3 Faktor Resiko Yang dimaksud sebagai faktor resiko adalah segala sesuatu yang meningkatkan kesempatan seseorang mendapat suatu penyakit. Emedicine. tergantung pada usia. jumlah nevus displastik dan faktor-faktor lainnya.com menyatakan bahwa diagnosis melanoma ditegakkan rata-rata pada usia 53 tahun. Jika seseorang memiliki seorang anggota keluarga yang mempunyai displastik nevus maka sekitar 50% kemungkinan nevus tersebut akan berkembang.2. dalam hal ini adalah melanoma. faktor keluarga. kematian akibat melanoma lebih banyak terjadi pada laki-laki dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan yaitu 1. Nevus displastik ini seringkali merupakan faktor keluarga. faktor usia tersebut tidaklah mutlak karena insiden melanoma tergantung juga pada faktor-faktor lainnya.97:1. termasuk didalamnya yaitu kanker. 1.

Emedicine menyatakan bahwa seorang Hispanik dan Afrika Amerika. individu yang memiliki nevus yang dianggap dysplasia nevi apabila memenuhi 2 kriteria yaitu : a. hanya saja tempat predileksi yang berbeda. Dua dari kriteria berikut : warna yang bervariasi. kakak. melanoma lebih sering ditemukan di daerah akral. c) Fenotip Fenotip yaitu ekspresi gen pada diri seseorang.nevus melanotik sejak lahir. Pada studi case-control . seperti ayah. Hal ini disebabkan karena efek protektif oleh pigmen kulit. seperti pada pasien-pasien transplantasi. warna mata hijau atau biru. 10 . berbintik-bintik. akan meningkatkan resiko terkena melanoma. asimetris atau batas yang tidak jelas. Diameter sekurang-kurangnya 5mm dengan tekstur yang datar (baik seluruhnya maupun sebagian). jumlahnya yang banyak (lebih dari 100 buah) dan adanya tahi lalat yang sangat besar dengan diameter >20 cm pada orang dewasa menambah faktor resiko. Dan yang dimaksud dalam hal ini yaitu ekspresi gen seseorang terhadap kulit yang terang. Namun bukan berarti orang kulit hitam terbebas sama sekali dari resiko melanoma. resiko berkembangnya melanoma yaitu sekitar 6%. ibu. Sekitar 10% seseorang dengan melanoma memiliki sejarah keluarga yang menderita penyakit yang sama. rambut merah atau pirang. adek atau anak. dan lain sebagainya. d) Supresi Sistem Imun Orang yang telah diterapi dengan obat-obatan imun supresor. b) Faktor Keluarga Resiko akan menjadi lebih besar pada mereka yang memiliki keluarga yang didiagnosa melanoma pada hubungan keluarga primer. Resiko terhadap orang kulit putih 20 kali lebih tinggi bila dibanding dengan seorang Afrika Amerika. b. Adanya tahi lalat yang berubah.

h) Riwayat Terkena Melanoma Orang yang pernah terkena melanoma akan memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena melanoma kembali atau residif. Hal ini dikaitkan juga dengan faktor lingkungan. yaitu tinggal dilokasi dekat dengan garis ekuator.e) Pajanan Terhadap Radiasi Sinar UV yang Berlebihan Sumber utama Radiasi Sinar UV adalah matahari.. 11 . orang yang memiliki kebiasaan rekreasi outdoor atau orang yang memiliki pekerjaan yang mengharuskannya terpajan sinar matahari lebih banyak. terdapat pada orang-orang pada usia lebih dari 50 tahun. Orang dengan pajanan sinar ultraviolet yang berlebihan memiliki resiko yang lebih besar dibandingkan dengan yang tidak. dll. Sedangkan sumber yang lain yaitu pada lampu-lampu yang biasanya dipakai di salon-salon kecantikan untuk menggelapkan kulit. f) Usia Sekitar setengah dari kejadian melanoma. petani. seperti pelaut. Seseorang dengan Xeroderma Pigmentosum memiliki resiko tinggi terhadap kanker kulit. Hal ini dikarenakan adanya defek tersebut menyebabkan kemampuan orang tersebut untuk memperbaiki DNA yang rusak karena terpajan sinar Ultraviolet menurun atau tidak ada sama sekali. meskipun jumlah total dosis sinar ultraviolet sama. pajanan terhadap sinar ultraviolet yang intermitten namun sangat kuat lebih sering memiliki korelasi yang kuat dengan terjadinya melanoma jika dibandingkan dengan pajanan kronik namun dalam level rendah. baik melanoma maupun nonmelanoma. g) Xeroderma Pigmentosum Xeroderma pigmentosum merupakan penyakit yang diturunkan sebagai hasil dari defek pada enzim yang memperbaiki kerusakan pada DNA dan jarang ditemukan. Namun.

Faktor Resiko Melanoma 1.) Perkembangan dari melanoma adalah multifaktor. Diperkirakan terjadinya perubahan melanosit normal menjadi sel melanoma (melanomagenesis) melibatkan proses rumit yang secara progresif mengakibatkan mutasi genetik melalui percepatan terhadap proliferasi. diferensiasi dan kematian serta pengaruh efek karsinogenik radiasi ultraviolet. dimana banyak hal yang berhubungan dengan perkembangan dan pertumbuhannya.2. termasuk eksposur sinar matahari berlebih. walaupun dipercaya bahwa lebih dari 60% kasus adalah arise de novo ( tidak tumbuh dari lesi pigmen yang telah ada. Primary cutaneous melanoma dapat timbul dalam bentuk prekursor. dan tampaknya berhubungan dengan faktor resiko yang multipel pula. moles yang tumbuh. riwayat 12 . kongeenital. yakni nevi mealnotik ( Tipe umum.4 Patofisiologi Patofisiologi terjadinya melanoma maligna belum diketahui dengan jelas. atipikal/displastik).Tabel 1.

mole yang berubah-ubah dan tidak sembuh. melanoma maligna ada 4 macam tipe. Dapat terjadi pada semua umur namun lebih sering pada usia 30-50 tahun.5 Manifestasi Klinis Secara Klinis. Pada dermis terlihat sarang – sarang tumor yang padat dan dengan melanosit berbentuk epiteloid yang besar serta berkromatin yang atipik. Lokasi pada wanita di tungkai bawah. pada umumnya sel – sel tersebut tidak tampak pleomorfik.2. Diameter pada umumnya lebih dari 6mm. di dalam sel – sel tersebut 13 . Gambar 4. dan yang terpenting usia yang lanjut. Superficial Spreading Melanoma Gambaran histologis Superficial Spreading Melanoma. pada epidermis didapatkan melanosit berbentuk epiteloid. Area di sekitar lesi dapat menjadi gatal. yaitu sekitar 70% dari kasus yang didiagnosa sebagai melanoma. yaitu: a) Superficial Spreading Melanoma Merupakan tipe melanoma yang sering terjadi di Amerika Serikat. batasnya tidak tegas. sering pada wanita dibanding pria dan merupakan penyebab kematian akibat kanker tertinggi pada dewasa muda. Kadang-kadang pigmentasi lesi berkurang sebagai reaksi imun seseorang untuk menghancurkannya. dan terdapat area inflamasi pada lesi. sedangkan laki-laki di badan dan leher. Pada stadium awal. dapat tersusun sendiri – sendiri atau berkelompok. Tipe ini berkembang sangat cepat. tipe ini bisa berupa bintik yang datar yang kemudian pigmentasi dari lesi mungkin menjadi lebih gelap atau mungkin abu-abu. 1.keluarga akan melanoma.

Melanoma ini bermanifestasi sebagai papul coklat kemerahan atau biru hingga kehitaman. Fase perkembangannya tidak dapat dilihat dengan mudah. timbul lesi satelit. Gambar 5. Tempat predileksinya adalah tungkai dan tubuh.terdapat butir – butir kromatin. Sebanyak 15%-30% kasus melanoma yang terdiagnosa sebagai melanoma merupakan nodular melanoma. dan sulit di identifikasi dengan deteksi ABCDE. atau nodul berbentuk kubah. Secara klinik bisa berbentuk amelanotik atau tidak berpigmen. namun lebih sering pada individu berusia 60 tahun ke atas.. Pertumbuhannya sangat cepat dan berlangsung dalam waktu mingguan sampai bulanan. 14 . Dapat terjadi pada semua umur. kadang – kadang dapat di temukan melanosit berbentuk kumparan dan sel – sel radang. atau setengah bola (dome shaped) atau polopoid dan aksofitik yang dapat timbul dengan ulserasi dan berdarah dengan trauma minor. Histologi Superficial Spreading Melanoma b) Nodular Melanoma Merupakan tipe melanoma yang paling agresif.

Nodular melanoma Gambaran histologis Nodular melanoma pada epidermis didapatkan melanosit berbentuk epiteloid.Gambar 6. leher dan lengan. Karena mudah sekali terjadi salah diagnosa maka tipe ini dapat tidak terdeteksi selama bertahun-tahun dan cukup berbahaya. dan kumparan atau campuran. Terjadi pada kulit yang rusak akibat terpapar sinar matahari pada usia pertengahan dan lebih tua. khususnya pada wajah. Melanoma tipe ini pada tahap dini terdiagnosa sebagai bercak akibat umur atau terpapar matahari. 15 . Histologi Nodular Melanoma c) Lentigo Maligna Melanoma Sebanyak 4-10 % kasus melanoma merupakan tipe Lentigo Maligna melanoma. dapat ditemukan pada daerah dermo – epidermal. Gambar 7. pembuluh darah dan subcutis. Gambaran dermis terlihat sel – sel melanoma menginvasi ke lapisan retikuler dermis. Pertumbuhan tipe ini sangat lambat yaitu sekitar 5-20 tahun.

Histologi Lentigo melanoma 16 . dapat menjadi nodul biru kehitaman invasive agak hiperkeratonik. Lentigo melanoma Pada epidermis di dapatkan Melanositik atipik sepanjang membrane basalis.Pada tahap in situ lesinya luas (>3cm) dan telah ada selama bertahuntahun. Pada permukaan dijumpai bercak-bercak warna gelap (warna biru) tersebar tidak teratur. berbentuk pleomorfik dengan inti yang atipik. Karakteristik invasinya ke kulit berupa macula hiperpigmentasi coklat tua sampai hitam atau timbul nodul yang biru kehitaman. Sel – sel yang di jumpai berbentuk kumparan. Sedangkan pada dermisnya terdapat Infiltrasi limfosit dan makrofag yang mengandung melanin. Gambar 8. Gambar 9.

Melanoma subungual bisa terlihat sebagai diskolorasi difus dari kuku atau pita longitudinal berpigmen di dasar kuku. tumit. nodul. atau dibawah kuku. Sering disebut sebagai ”hidden melanoma” karena lesi ini terdapat pada daerah yang sukar untuk dilihat atau sering diabaikan. 17 . ibu jari tangan. Gambar 10. ulcerasi.. Tampak adanya gambaran proliferasi melanosit atipikal sepanjang lapisan basal. Pada permukaan timbul papul. telapak kaki. . Melanoma ini memiliki bentukan yang sama dengan benign junctional melanotic nevus. Acral Lentigous Melanoma Gambaran yang paling khas paling baik di lihat pada daerah macula berpigmen. kadang-kadang lesi tidak mengandung pigmen. yaitu terdapat pada telapak tangan. Pigmen akan berkembang dari arah proksimal menuju ke arah laterla kuku yang disebut sebagai tanda Hutchinson.d) Acral Lentigineous Melanoma Tipe ini paling sering menyerang kulit hitam dan Asia yaitu sebanyak 2972% dari kasus melanoma dan karena sering terlambat terdiagnosis maka prognosisnya buruk. sebuah tanda yang khusus untuk melanoma akral.

Variasinya yaitu Desmoplastic/ neurotropic melanoma. 18 . Kunci penyembuhan melanoma maligna adalah penemuan dini. Tipe ini tidak berpigmen dan secara klinis tampak pink atau gambaran kemerahan. sehingga diagnosa melanoma harus ditingkatkan bila penderita melaporkan adanya lesi berpigmen baru atau adanya tahi lalat yang berubah. Melanoma amelanotik Sangat sulit membedakan bentuk dini karsinoma sel basal. malignant blue nevus. Gambar 12. Histologi Acral lentiginous melanoma Selain 4 tipe tersebut terdapat juga salah satu tipe yaitu Non pigmentasi hanya sebanyak <5% dari jumlah kasus melanoma di Amerika Serikat. karsinoma sel skuamosa maupun melanoma maligna.Gambar 11. Diagnosa pasti keganasan di tentukan dengan pemeriksaan patologi anatomi.. mucosal (lentigenous melanoma).

Envolving) Berguna dalam mendiagnosa melanoma maligna serta untuk meningkatkan kewaspadaan individu terhadap penyakit keganasan ini. juga bisa tampak merah. Nevus yang berlokasi di: • • • • Telapak tangan/kaki Bawah kuku Belakang telinga Vulva ABCDE sistem ( Asymmetry. Nevus yang berubah: • Membesar • Warna bertambah hitam • Timbul satelitosis • Terasa gatal • Mudah berdarah • Timbul ulkus • Rambutnya rontok b. biru atau putih. Border.Kapan memikirkan suatu Nevus mungkin menjadi ganas: a. Colour. Asymmetry Jika kita melipat lesi menjadi dua. maka tiap-tiap bagian tidak sesuai Border Batasnya tidak tegas atau kabur Color Ciri melanoma tidak memiliki satu warna yang solid melainkan campuran yang terdiri dari coklat kekuningan. coklat dan hitam. Diameter. 19 .

warna. tingginya atau cirri-ciri lain atau ada gejala baru seperti mudah berdarah. Perbedaan Atypical Nevus dan Melanoma 20 .Diameter Meskipun melanoma biasanya lebih besar dari 6 mm. ketika dilakukan pemeriksaan mereka bisa lebih kecil dari seharusnya . gatal dan berkrusta harus dicurigai keganasan Gambar 13. Sehingga harus diperhatikan perubahan tahi lalat dibanding yang lainnya atau berubah menjadi gatal atau berdarah ketika diameternya lebih kecil dari 6 mm Evolving Setiap perubahan dalam ukuran. bentuk. Benign Malignant simetris asimetris Borders are even Borders are uneven One shade Two or more shades Smaller than 1/4 inch Larger than 1/4 Gambar 14. The ABCDE’s of Melanoma Gambar berikut menunjukkan tahi lalat atypical yang normal dan melanoma.

Klasifikasi oleh The American joint Comitee on Cancer (AJCC) merupakan klasifikasi yang paling banyak dan paling sering dipakai. Adanya klasifikasi ini. merupakan standar petugas kesehatan dalam melihat sel-sel kanker tersebut sehingga dapat memberikan penatalaksanaan yang tepat. Deskripsi klasifikasi tersebut meliputi ukuran. sebagai keterangan tentang ketebalan tumor. 21 . dan apakah tumor tersebut telah menyebar ke organ lain.1. dan memiliki klasifikasi T. dan M sebagai keterangan ada tidaknya metastase.2. Keterangan lebih jelas pada tabel berikut.6 Klasifikasi Klasifikasi melanoma merupakan salah satu proses yang digunakan untuk mengetahui seberapa jauh sel-sel kanker tersebut telah bermetastase. klasifikasi N. sebagi keterangan keterlibatan kelenjar limfe.

01-4 mm without ulceration 2. no ulceration of primary In-transit met(s)* and/or satellite lesion(s) without metastatic lymph nodes Single macroscopic regional node. or intransit met(s)/satellite lesion(s) and metastatic nodes Survival Rate. Klasifikasi Melanoma dari AJCC-TNM 22 . % 0 IA IB Tis N0 M0 T1a N0 M0 T1b N0 M0 T2a N0 M0 100 >95 89-91 IIA T2b N0 M0 T3a N0 M0 77-79 IIB T3b N0 M0 T4a N0 M0 63-67 IIC IIIA T4b N0 M0 T1-4a N1a M0 T1-4a N2a M0 45 63-69 IIIB T1-4bN1a M0 T1-4bN2a M0 T1-4a N1b M0 T1-4a N2b M0 T1-4a/b N2c M0 46-53 30-50 24-29 IIIC T1-4b N2a M0 T1-4b N2b M0 Any T N3 M0 IV Any T any N M1a Any T any N M1b Any T any N M1c Distant skin.01-2 mm with ulceration 2. ulcerated primary 2-3 macroscopic metastatic regional nodes. subcutaneous.01-2 mm without ulceration 1. ulcerated primary 2-3 microscopic regional nodes. ulcerated primary 4 or more metastatic nodes. matted nodes/gross extracapsular extension. nonulcerated primary 2-3 macroscopic regional nodes. nonulcerated primary Single regional nodal macrometastasis.5-Year Stage TNM Classification Histologic/Clinical Features Intraepithelial/in situ melanoma ≤1 mm without ulceration and level II/III ≤1 mm with ulceration or level IV/V 1. nonulcerated primary 2-3 microscopic positive regional nodes. or nodal mets with normal LDH levels Lung mets with normal LDH All other visceral mets with normal LDH or any distant mets with elevated LDH 7-19 Tabel 2. nonulcerated primary Single regional nodal micrometastasis.01-4 mm with ulceration >4 mm without ulceration >4 mm with ulceration Single regional nodal micrometastasis.

Stage Melanoma 23 .Stage 0 Melanoma Stage 1 Melanoma Stage II Melanoma Stage IV Melanoma Stage III Melanoma Gambar 15. .

Representatif skematik klasifikasi melanoma maligna menurut Breslow dan Clark 24 . Tingkat IV : Invasi sel melanoma sampai dengan lapisan retikularis dermis.76 mm : Kedalaman (ketebalan) tumor 0.76-1.Klasifikasi menurut kedalaman (ketebalan) Tumor menurut Breslow: Golongan I Golongan II : Kedalaman (ketebalan) tumor <0. Tingkat III : Sel melanoma mengisi papila dermis dan meluas sampai taut dermis papiler dan retikuler. Gambar 16. Tingkat I : sel melanoma terletak di atas membrane basalis epidermis (melanoma in situ/ intra epidermal) Tingkat II : invasi sel melanoma samapi dengan lapisan papilaris dermis (dermis superfisial). tetapi tidak mengisi papila dermis.5 mm Klasifikasi yang lain yaitu klasifikasi tingkat invasi menurut Clark.5 mm Golongan III : Kedalaman (ketebalan) tumor >1. Tingkat V : Invasi sel melanoma sampai dengan jaringan subkutan.

Sedangkan National Comprehensive Cancer Network menggunakan klasifikasi yang merupakan variasi dari sistem TNM. hati. atau jika dalam klasifikasi Clark. otak. 1. tapi masih belum ada penyebaran jauh. Perubahan sifat dari nevus merupakan keluhan umum yang paling sering ditemukan pada pasien dengan melanoma. Dalam klasifikasi menurut Clark tingkat I. Tingkat ini masih terlokalisasi di kulit dan belum ditemukan penyebaran pada kelenjar limfe atau organ lain yang jauh. seperti ke paru-paru. dan hal ini merupakan peringatan awal melanoma. Perubahan tersebut diantaranya 25 . dll. dan riwayat perjalanan keluhan umum tersebut. lebih dari 4 mm. yang berarti hanya melibatkan lapisan epidermis dan belum menyebar ke dermis. . Anamnesa Dari anamnesa yang dilakukan. Atau melanoma telah menyebar ke kelenjar limfe terdekat. diharapkan diketahui informasi tentang keluhan umum pasien. melanoma memiliki ketebalan antara 1-4 mm atau menurut klasifikasi Clark sesuai dengan tingkat IV dengan ketebalan berapapun. Dalam klasifikasi Clark. riwayat penyakit terdahulu. 1. sesuai dengan tingkat II atau III. dan pemeriksaan fisik terhadap lesi yang dicurigai.2. Identifikasi klinik dimulai dengan riwayat penyakit sekarang pasien.7 Diagnosis Diagnosis melanoma ditegakkan dengan identifikasi klinik dengan konfirmasi histologi. Stage III: melanoma sangat tebal. Stage 1: Satge I-II: melanoma memiliki ketebalan kurang dari 1 mm atau sekitar 1/25 inch. Stage 0: melanoma in situ. sesuai dengan tingkat V dan atau nodul melanoma ditemukan dalam 2 cm dari tumor utama. Stage IV: melanoma telah menyebar luas disamping ke regio sekitarnya.

Misalnya pada melanoma superfisial dan melanoma nodular yang biasanya berada di trunkus tubuh dan tungkai.Dari perjalanan penyakit tersebut juga ditanyakan awal mulanya lesi pada kulit tersebut muncul. yaitu dengan cara mendokumentasikan nevusnevus yang ada di seluruh tubuh. 2. seperti adanya perdarahan. tinggi atau batas yang asimetris pada suatu lesi berpigmen memberikan data 80% pada pasien saat melanoma ditegakkan. ulserasi dan nyeri pada lesi. Adanya pembengkakan atau biasa disebut dengan limfadenopati menunjukkan kemungkinan adanya penyebaran melanoma. perubahan akan lebih cepat terdeteksi dengan membandingkannya dengan dokumentasi terdahulu. sedangkan melanoma maligna bentuk lentigo lebih banyak muncul di telapak tangan. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang ini yaitu meliputi pemeriksaan laboratorium. dan kapan terjadi perubahan pada lesi tersebut. 3. Pemeriksaan ditempat tubuh yang lain dapat dilakukan jika terdapat kecurigaan atau untuk evaluasi dari pemeriksaan yang lalu pada individu dengan faktor resiko. evaluasi terhadap seluruh tubuh sudah dilakukan. palpasi dan bila perlu inspeksi dengan bantuan kaca pembesar. Pemeriksaan terhadap kelenjar limfe yang berada dekat dengan lesi juga perlu dilakukan. . Pada anamnesa tersebut juga ditanyakan tentang adanya faktor-faktor resiko pada pasien.. warna dan tekstur dari nevus tersangka dan mencari adanya perdarahan atau ulserasi. Dengan demikian. khir- 26 . Pemeriksaan fisik Yang perlu dilakukan saat pemeriksaan fisik ini yaitu memperhatikan lebih detail dengan inspeksi. Pemeriksaan di tempat yang menjadi predileksi pada macammacam bentuk klinis melanoma juga perlu dilakukan. telapak kaki dan dibawah kuku. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ukuran. Tentang tanda dan gejala melanoma. gatal.peningkatan dalam hal diameter. bentuk. Di luar negeri. pemeriksaan histopatologi dan pemeriksaan radiologi.

Pada beberapa penelitian lain melibatkan analisis dengan bantuan komputer dan klinikal digitalisasi yang kemudian dibandingkan dengan database. 27 .akhir ini di luar negeri juga dikembangkan pemeriksaan dengan epiluminescence microscopy. radiografi thorak dan radiografi yang lain (MRI. Kadar LDH yang tinggi dalam darah merupakan suatu kemungkinan adanya metastase melanoma pada hati. Adanya peningkatan LDH ini juga dihubungkan dengan lebih buruknya kemungkinan untuk hidup pada kelompok tersebut. Gambar 17. baik yang belum bermetastase maupun yang telah bermetastase. a. PET. Pemeriksaan Laboratorium Tak ada pemeriksaan tertentu yang khusus untuk melanoma. CT Scan. Selain LDH. Pemeriksaan LDH akan bermakna pada melanoma stage IB/III atau dengan pemeriksaan berkala setiap 3-12 bulan. Perbandingan gambaran klinik (A) dan dengan menggunakan epiluminescence microscopy (B) Namun data terakhir melaporkan bahwa pemeriksaan laboratorium. Scanning Tulang) tidak terlalu bermanfaat untuk melanoma stage I/II (melanoma kutaneus) tanpa tanda-tanda dan gejala-gejala metastase. kadar serum S-100 mungkin juga berguna sebagai penanda tumor pada pasien dengan melanoma yang telah bermetastase. lesi yang berpigmen tersebut diperiksa secara in situ dengan minyak emersi dengan menggunakan dermatoskop. Dengan tehnik ini. tetapi kadangkala tingginya angka LDH (Lactaet Dehydrogenase) dianggap membantu.

tetapi dapat juga berupa gambaran efusi pleura. dan pelipatan paha.b. Sedangkan radiografi dengan MRI merupakan pemeriksaan yang paling baik untuk melihat adanya metastase melanoma pada otak dan medula spinalis. Pada 28 . Ultrasound of lymph node Pemeriksaan X-ray pada thorak dilakukan dengan memperhatikan kemungkinan adanya metastase melanoma ke paru-paru. tidak memakan waktu yang lama. pemeriksaan ini menggunakan frekuensi gelombang suara untuk menghasilkan gambaran spesifik dari bagian tubuh. Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit. tidak menimbulkan bahaya radiasi dan aman digunakan pada kehamilan. axilla. Sebagian besar untuk memeriksa kelenjar limfe di leher. CT-Scan mungkin dapat mendeteksi adanya metastase melanoma pada paru-paru atau pada hati dengan adanya gambaran pembesaran pada kelenjar limfe. PET (Positron Emission Tomography) dilakukan untuk menambah informasi dari hasil CT Scan dan MRI yang dilakukan. Gambar 18. Pemeriksaan Radiografi Ultrasound Scan. Hasil metastase tersebut dapat berupa gambaran tumor pada paru-paru. Kadang digunakan pada biopsy kelenjar limfe agar semakin akurat (Ultrasound guided fine needle aspiration). yang seringkali harus dibedakan dengan tumor paru primer.

Gambar19. MRI. USG dan Scan tulang memiliki hasil yang rendah pada pasien asmtomatik dengan melanoma kutaneus primer (Stage I dan II menurut AJCC) dan umumnya tidak diindikasikan. Pada tehnik ini. punch biopsy dan incisional and excisional biopsies. Biopsi secara eksisi merupakan pilihan cara biopsi yang direkomendasikan untuk pemeriksaan melanoma maligna. Prinsip cara kerja PET yaitu dengan adanya sifat sel kanker yang menyerap lebih banyak glukosa karena metabolismenya yang tinggi. digunakan semacam glukosa yang mengandung atom radioaktif.pemeriksaan ini. Pemeriksaan Histopatologi Kriteria standar untuk diagnosa melanoma maligna adalah dengan pemeriksaan histopatologi dengan cara biopsi dari lesi kulit tersangka. yaitu shave biopsy. PET. PET Scan Whole Body staging for Melanoma Tetapi penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini menyatakan bahwa pemeriksaan radiologi seperti CT Scan. Macam-macam tehnik biopsi itu sendiri ada 3 macam. tumor diambil secara keseluruhan untuk kemudian sebagian sampel digunakan untuk pemeriksaan histologi. 29 . c.

dan untuk melihat respon host terhadap tumor itu sendiri. adanya mitosis. Superficial Spreading melanoma memiliki fase pertumbuhan secara radial atau fase in situ yang digambarkan dengan peningkatan jumlah melanosit intraepitel yang bersifat (1) atipik dan besar. dengan dominasi 30 . Lentigo melanoma dan acral lentiginous melanoma memiliki gambaran yang mirip. Excision Biopsy Hasil yang dapat ditemukan pada pemeriksaan histologi ini bergantung pada jenis melanoma. biopsi lebih mendalam diperlukan untuk memperkecil terjadinya misdiagnosa. (4) kurang memiliki potensi biologi sel untuk bermetastasis.Biopsi secara eksisi dengan batas yang kecil dari batas tumor dipilih untuk memastikan informasi tentang ketebalan tumor. adanya regresi. tahap invasi tumor secara antomis. (2) tersusun tidak teratur di dermal-epidermal junction. adanya ulserasi. Gambar20. adanya invasi terhadap pembuluh limfe dan pembuluh darah. (3) adanya migrasi ke atas (pagetoid). Pada umumnya batas kulit yang diambil yaitu sekitar 1-3 mm sekitar lesi untuk memperakurat diagnosis dan histologic mikrostaging. Kecuali pada melanoma jenis lentigo.

Pembedahan ini. Pembedahan Pembedahan merupakan terapi utama dari melanoma maligna.pertumbuhan secara in situ pad dermal-epidermal juntion dan dengan tendensi yang kecil untuk pertumbuhan sel secara pagetoid.8 Penatalaksanaan a. Semakin tebal tumor dapat diasosiasikan dengan potensi metastase yang lebih tinggi dengan prognosa yang lebih jelek. dilakukan dengan cara eksisi luas dan dalam dengan pinggir sayatan yang direkomendasikan sesuai tabel berikut: Management of Melanoma Patients 31 . Ketebalan tumor.2. yang hampir 100% efektif pada masa-masa awal tumor. 1. merupakan determinan prognosis terpenting dan diukur secara vertikal dalam milimeter dari atas lapisan granular hingga titik terdalam tumor.

Penatalaksanaan melanoma dengan eksisi berdasar ketebalan tumor Termasuk dalam penatalaksanaan pembedahan melanoma maligna ini adalah Elective Lymphonode dissection (ELND). Sedangkan pada penelitian lain yang dilakukan oleh The International Group Melanoma Surgical trial menunjukkan adanya perbaikan survival rate pada pasien dengan usia kurang dari 60 tahun dengan ketebalan tumor antara 1-4 mm. Pada pembedahan ini. Gambar 21. Hal ini disebabkan karena sebanyak 40% kasus pada pasien melanoma dengan ketebalan 1-4 mm memiliki kelainan limfe yang tidak tampak dan sebanyak 10% kasus dengan metastase jauh. yaitu deseksi kelenjar limfonodi tanpa dilakukan biopsi sebelumnya. Diseksi ini dilakukan untuk tumor dengan kedalaman 1-4 mm dan tidak pada melanoma stage I. hampir 70% kasus dengan metastase jauh dan 60% memiliki kelainan limfe yang tersembunyi. angka metastasis sekitar 48% pada penderita yang dilakukan ELND. Adanya diseksi ini dikatakan dapat mengidentifikasi mereka yang mempunyai resiko tinggi metastase dan mereka yang mungkin mendapatkan keuntungan dengan diseksi lengkap kelenjar limfe atau dengan terapi adjuvan. Sentinel Lymph Node Dissection merupakan bentuk penatalaksanaan pembedahan yang lain. Pada penelitian yang dilakukan WHO. Namun pada kenyataannya tindakan tersebut tidak memperbaiki survival rate dan hingga sekarang masih dalam perdebatan. Sedangkan pasien dengan lesi lebih besar dari 4 mm. Sentinel node theory 32 . diseksi dilakukan pada kelenjar limfe yang merupakan tempat utama melanoma untuk drainase.Tabel 3.

Pemetaan lymfatik dan sentinel node biopsy merupakan solusi efektif untuk dilakukannya lymphadenectomy pada pasien dengan melanoma yang tipis dan secara klinis kelenjar tidak teraba. Pasien yang memiliki melanoma dengan tebal lebih dari 4 mm atau metastase ke limfonodi dengan pemberian terapi adjuvant dapat meningkatkan angka ketahanan hidup. IFN γ dilaporkan tidak efektif pada fase I atau II dari melanoma yang bermetastase. b. sehingga oleh Food and Drug Administration (FDA) mengajurkan IFN sebagai terapi tambahan setelah eksisi pada pasien dengan resiko recurrent. Kelenjar getah bening diangkat dan dilakukan frozen section. Pada penelitian Reintgen menemukan bahwa sel melanoma maligna menjalar lebih teratur dan jelas dibandingkan dengan tumor padat lainnya. Pada eksplorasi kelenjar getah bening akan ditemukan saluran-saluran getah bening yang berwarna biru. namun potensi IFN γ yang merupakan mediator pembunuh alami 33 . jika positif mengandung metastasis sel tumor baru akan diseksi. yang menuju kesuatu kelenjar yang berwarna biru pula. Cara ini dipermudah dengan menggunakan lymphoscintigraphy dengan penyuntikan Technitiun (TC99m) ke dalam tumor 1 hari sebelum operasi. Dengan alat pelacak isotop akan dapat ditentukan tempat insisi kulit di daerah kelenjar getah bening regional tumor tersebut. Teknik ini dikembangkan pada awal tahun 1990an dengan pemberian zat warna patent blue V atau isosulfan blue secara intradermal diats tumor saat dilakukan eksisi luas. lebih dari 80% kelenjar ini dapat ditemukan. Studi di berbagai center kesehatan menunjukkan pemberian interferon alpha 2b (IFN) menambah lamanya ketahanan hidup dan ketahanan terhadap terjadinya rekurensi Melanoma. maka terapi medikamentosa diberikan sebagai terapi tambahan dan penatalaksanaan pada pasien melanoma stadium lanjut. Terapi Adjuvant Karena pengobatan definitive dari melanoma kulit adalah dengan pembedahan.. Pada penelitian dari 612 pasien pada stage I/II tidak didapatkan angka recurrent sebesar 60%. Jika pada sentinel node ini tidak ditemukan metastasis maka kelenjar lain juga diasumsikan tidak mengandung metastasis.

pada penelitian yang dilakukan National Cancer Institute (NCI) terapi ini menunjukkan kesuksesan.2. Dalam kepustakaan lain disebutkan juga adanya terapi radiasi pada melanoma yang merupakan terapi paliatif.9 Pencegahan Pada prinsipnya. Sehingga pencegahan dapat dilakukan dengan jalan: 34 . Terapi ini dapat mengurangi recurence lokal tetapi tidak memperbaiki prolong survival. imunoterapi sendiri dan gen terapi. vinblastin. dengan respon lengkap sebesar 4-6%. dan DTIC Temozolomide merupakan obat baru yang mekanisme kerjanya mirip DTIC. yaitu merupakan kombinasi terapi antara kemoterapi dan imunoterapi. Cisplastin. Interleukin-2 (IL-2) pada penelitian terakhir. tetapi bisa diberikan per oral. Radioimunoterapi pada metastase melanoma masih dalam penelitian. Melphalan juga dapat diberikan pada melanoma dengan prosedur tertentu. sebuah pengaktivasi makrofag. pencegahan dilakukan dengan cara menghindari pajanan sinar matahari secara intens. Terapi ini dengan memberikan auotologous lymphocytes yang kemudian mengkode T cell receptors (TCRs) pada lymphosit pasien. Radioterapi sering digunakan setelah pembedahan pada pasien dengan lokal atau regional melanoma atau untuk pasien dengan unresectable dengan metastasis jauh. Terapi-terapi adjuvan yang lainnya diantaranya yaitu dengan biokemoterapi.Limfosit T sitotoksik. kemudian telah terbentuk manipulasi lymphosit yang melekat pada molekul di permukaan sel melanoma yangf kemudian membunuh sel melanoma tersebut. 1. baik diberikan sendiri maupun kombinasi bersama Carmustine (BCNU) dan Cisplastin. dn HLA klas II ekspresi antigen. Terapi adjuvan lain selain IFN yaitu Kemoterapi dengan macamnya yaitu: • • • • Dacarbazine (DTIC). merupakan hal yang tak dapat diabaikan. dalam dosis tinggi baik diberikan sendiri maupun dengan kombinasi bersama sel lymphokine activated killer menghasilkan respon pada pasien sebesar 15% sampai 20%.

a. serta menggunakan kacamata hitam untuk perlindungan mata. Menghindari sumber-sumber sinar UV lainnya. seperti tempat tidur yang digunakan untuk mencoklatkan kulit di salon-salon kecantikan. Membatasi pajanan sinar Ultraviolet terhadap kulit. Pasien harus berkonsultasi secepatnya pada dokter umum atau dokter spesialis jika menemukan adanya perubahan yang signifikan pada lesi-lesi tertentu di tubuh mereka. namun bila telah dilakukan berkali-kali maka akan semakin terlatih dan hal itu berarti waktu yang digunakan akan semakin pendek. Pemeriksaan ini. Tujuan utama dari deteksi dini ini adalah untuk mengenali melanoma maligna sedini mungkin ketika masih datar dan dapat disembuhkan. Petugas Kesehatan (Dokter. Perawat) Baik deteksi dini yang dilakukan oleh diri sendiri dan petugas kesehatan. 1. yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah tanda dan gejala melanoma tersebut 35 .2. Hal ini bisa dilakukan dengan jalan mencari tempat yang teduh jika berada di luar gedung. memakai baju panjang untuk mengurangi banyaknya kulit yang terpajan matahari. dan menggunakan lotion sunscreen dengan SPF 15 atau lebih pada kulit yang terpajan sinar matahari.10 Deteksi Dini Melanoma Sama seperti halnya deteksi kanker payudara. maka pertolongan keluarga atau teman dekat sangat membantu. 2. Untuk lokasi-lokasi tertentu yang sulit dilakuakn evaluasi sendiri. Oleh Diri Sendiri (Self Examination) Dilakukan dengan pemeriksaan rutin terhadap diri sendiri. pemeriksaan ini mungkin akan memakan waktu yang lama dan terlihat merepotkan. Saat pertama kali dilakukan. 1. harus dilakukan langkah demi langkah seperti yang akan ditunjukkan dalam gambar berikut dan dilakukan dalam keadaan tidak mengenakan baju. deteksi dini melanoma maligna juga dapat dilakukan baik oleh diri sendiri dan juga oleh petugas kesehatan. b.

1. pada limfonodi. Envolving). atau pada: • • • Kulit yang jauh dari lesi primer Limfonodi yang jauh Organ-organ dalam 36 .yang dapat dilakukan dengan mengevaluasi ABCDE sistem ( Asymmetry.12 Komplikasi 1. Metastasis dapat terjadi pada local (di dalam atau sekitar lesi primer).2. Border.2.11 Diferential Diagnosa 1. Colour. Diameter.

diasosiasikan dengan angka ketahan hidup antara 63-89% bergantung pada ulserasi dan ketebalan dari tumor primer. tergantung pada jumlah kelenjar limfe yang telah terkena. 1. dengan angka ketahanan hidup median hanya 6-9 bulan dan 5 tahun sebesar 7-19%.13 Prognosis Prognosis melanoma tidak ditentukan oleh satu macam faktor saja. Stage IV • Prognosis untuk melanoma yang telah bermetastase jauh sangatlah buruk. dan 45% dengan adanya ulserasi primer. Pada Cutaneus Melanoma stage I dan II: • Bila ketebalan tumor ≤ 1mm diasosiasikan dengan angka ketahanan hidup antara 91-95% tergantung ada tidaknya ulserasi secara histologi dan klasifikasi Clark lebih besar dari tingkat III. Umumnya. Metastasis dapat berlangsung cepat secara hematogen maupun limfogen. dan adanya ulserasi pada tumor primer. 3.• • Tulang CNS. • • Stage III • Metastase pada kelenjar limfe regional diasosiasikan dengan angka ketahanan hidup 5 tahun sebesar 13-69%. Ulkus mudah berdarah. • Ketebalan tumor 1-4 mm. 2. 37 . metastase pada jaringan lunak. kelnjar.2. (2) ada tidaknya ulserasi secara histologi. tergantung pada tempat yang terkena metastase. Adanya ulserasi akan menurunkan angka ketahanan hidup pada setiap tingkat tumor. dan (3) adanya metastase pada kelenjar limfe. dan paru-paru memiliki Tebal tumor >4 mm memiliki angka ketahanan hidup 67% tanpa ulserasi. secara mikroskopik maupun makroskopik. namun multifaktor dan utamanya bergantung pada: (1) ketebalan tumor.

The American Joint Committee of Cancer melaporkan dalam journalnya yang berjudul: Final version of the American Joint Committee on Cancer Staging System for cutaneous melanoma bahwa terdapat perbedaan prognostic yang signifikan di pada tiap grup dari masingmasing stage melanoma. Gambar 22. Pada tahun 2002. seperti yang terlihat pada gambar 22. and distant metastases (stage IV) were compared.prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan adanya metastase ke organ-organ dalam. seperti hati. Fifteen-year survival curves for the melanoma staging system in which localized melanoma (stages I and II). 38 . regional metastases (stage III).

com/article/280245overview. EGC: Jakarta. Hamzah M. Jakarta:FKUI. Sjamsuhidajat. h.Dermatitis eritroskuamosa. Djuanda A. Winston. W Tan. 3. 1994. Buku Ajar Bedah. Edisi 5. EGC. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.229-241 2. Edisi 2. http://emedicine. (diakses tanggal 16-1-2012) 39 .medscape. 2005. Wim de Jong dan R.. Aisah S.DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Ajar Ilmu Bedah. Sabiston. medscape. Jakarta 4. David. Edisi 2.2007. 2011. Dalam Djuanda A..C.