P. 1
PENGERTIAN KETAHANAN NASIONAL

PENGERTIAN KETAHANAN NASIONAL

|Views: 9|Likes:
Published by M Abdi Abdul Afis

More info:

Published by: M Abdi Abdul Afis on Dec 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2013

pdf

text

original

PENGERTIAN KETAHANAN NASIONAL Kehidupan bangsa Indonesia dalam Negara Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila tidak bebas

dari aneka ragam ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan . Itu ada yang datang dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri, sebab tidak semua pihak setuju dengan apa yang hendak dituju negara kita. Sejak bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya melalui Dwi Tunggal Sukarno – Hatta, kita tidak pernah bebas dari ancaman , tantangan, hambatan dan gangguan. Setelah tahun 1966, ketika kita berhasil mengakhiri pemberontakan Gestapu/PKI , boleh dikatakan bahwa ancaman tidak ada lagi. Sebab yang kita maksudkan dengan ancaman adalah satu kondisi yang dapat menyebabkan berakhirnya kelangsungan hidup Negara Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. Namun meskipun ancaman sudah tidak kita alami lagi, tantangan, hambatan dan gangguan tetap ada dan bahkan meningkat. Bangsa Indonesia, berdasarkan pengalamannya, telah menetapkan satu cara untuk mengatasi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan itu. Cara itu adalah Ketahanan Nasional . Yang kita maksudkan dengan Ketahanan Nasional adalah kondisi dinamis bangsa berisikan keuletan dan ketangguhan yang membentuk kekuatan nasional yang dapat mengatasi setiap ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, yang secara langsung atau tidak langsung membahayakan kelangsungan hidup bangsa serta pencapaian tujuan nasional. Dengan cara Ketahanan Nasional kita telah berhasil mengatasi semua ancaman di masa lampau sehingga Republik Indonesia selamat dari segala ujian itu. Dan di masa depan Ketahanan Nasional harus selalu kita pelihara agar dapat mencegah timbulnya ancaman baru. Meskipun begitu tantangan-tantangan baru terus timbul dan harus kita atasi. Ketahanan Nasional mempunyai aspek utama, yaitu Kesejahteraan dan Keamanan. Kesejahteraan dan Keamanan adalah dua aspek dari Ketahanan Nasional yang dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Sebab itu, mengusahakan terwujudnya Ketahanan Nasional hakikatnya merupakan satu proses membentuk Kesejahteraan dan Keamanan buat negara dan bangsa. Ada kalanya bangsa berada dalam tingkat perjuangan yang memerlukan titik berat pada Kesejahteraan, sedangkan pada tingkat perjuangan lain mungkin juga titik berat harus pada Keamanan . Namun sekalipun titik berat diletakkan pada salah satu aspek, aspek yang lain tidak boleh hilang sama sekali. Sebab seperti dalam ilmu hitung apabila kita kalikan satu angka dengan nol, hasilnya menjadi nol pula. Jadi kalau salah satu aspek sama sekali tidak diperhatikan, Ketahanan Nasional akan sama dengan nol atau tidak ada Ketahanan Nasional. Paling baik adalah kalau kita dapat membentuk kondisi harmonis antara Kesejahteraan dan Keamanan, meskipun hal itu tidak mudah tercapai. Ketahanan Nasional hanya dapat terwujud kalau meliputi seluruh segi kehidupan bangsa yang biasanya kita namakan aspek sosial kehidupan, meliputi Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Hankam. Juga meliputi aspek alam , yaitu Geografi, Penduduk dan Kekayaan Alam. Di lingkungan Lembaga Ketahanan Nasional seluruh segi kehidupan bangsa itu dinamakan Asta

Gatra, terdiri dari Panca Gatra (Sosial) dan Tri Gatra (Alam). Seluruhnya itu harus selalu diusahakan untuk memberikan perannya dalam perwujudan Kesejahteraan dan Keamanan. KEMISKINAN MERUPAKAN KELEMAHAN Adalah satu kenyataan bahwa kemiskinan masih terdapat dalam jumlah besar di Indonesia. Meskipun jumlah rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan sudah dapat kita kurangi secara mencolok, yaitu dari sekitar 70 persen pada tahun 1970 menjadi sekitar 15 persen pada tahun 1993, namun itu masih meliputi tidak kurang dari 27 juta orang. Satu jumlah yang sama dengan jumlah penduduk satu negara ukuran menengah seperti Canada (28 juta) dan jauh di atas penduduk Malaysia (19 juta). Padahal rakyat Indonesia yang hidup sedikit di luar garis kemiskinan juga masih tergolong miskin sekali. Maka dengan begitu jumlah penduduk Indonesia yang masih hidup miskin banyak sekali. Kondisi penduduk demikian tidak mendukung adanya Ketahanan Nasional yang kuat, malahan melemahkannya. Seperti telah diuraikan, Ketahanan Nasional terdiri dari Kesejahteraan dan Keamanan yang dapat dibedakan tetapi tidak dipisahkan. Kalau masih banyak sekali penduduk Indonesia miskin, sekalipun ada kecenderungan akan membaik, maka Kesejahteraan pada waktu ini belum tinggi. Karena itu juga Keamanan belum dalam kondisi yang cukup baik. Oleh karena itu Kemiskinan merupakan tantangan yang harus dapat diatasi secepat mungkin untuk dapat mewujudkan Ketahanan Nasional yang tangguh. Kemiskinan itu dapat dilihat secara absolut dan relatif. Dilihat secara absolut kita mempunyai tingkat kemiskinan sebagaimana diindikasikan oleh penghasilan per capita yang sekarang sebesar 730 dollar AS atau sekitar Rp 1.500.000 per tahun. Pada umumnya penghasilan yang dinilai memadai adalah kalau sudah di atas 2.000 dollar AS atau sekitar Rp 4.500.000 per tahun. Jadi keadaan kita secara absolut baru sepertiga yang dinilai normal. Padahal angka Rp 1.500.000 per capita / tahun itu jauh dari gambaran keadaan penghasilan penduduk yang sebenarnya. Sebab ada yang segolongan kecil yang kaya sekali dengan penghasilan per capita mungkin tidak kalah dari penduduk di negara maju, jadi lebih dari 20.000 dollar AS atau Rp 45 juta setahun. Sedangkan mayoritas penduduk di bawah Rp 1.500.000, bahkan mungkin sekali di bawah Rp 1.000.000 per tahun. Secara relatif kondisi penghasilan bangsa Indonesia masih amat parah juga, karena harus dibandingkan dengan penghasilan per capita bangsa-bangsa yang lain, khususnya yang tinggal sekitar kita. Kita adalah bangsa termiskin di lingkungan ASEAN menurut laporan World Bank Atlas 1995. Singapore adalah terkaya dengan $ 19.310, Malaysia $ 3.160, Thailand $ 2.040, Filipina $ 830, sedangkan Brunei Darussalam menurut majalah Asia Week 10 Februari 1995 $ 18.500. Maka jelas sekali bahwa kita baik secara absolut maupun relatif masih tergolong bangsa yang miskin, apalagi kalau melihat penghasilan mayoritas penduduk yang di bawah Rp 1.000.000 atau $ 500. Meskipun sekitar 5 persen penduduk Indonesia tidak kalah hidupnya dari rata-rata penduduk Singapore. Akan tetapi kita tidak boleh berkecil hati. Sebab kalau kita bandingkan penghasilan per capita sekarang dengan tahun 1969 ketika kita mulai dengan Pembangunan Nasional, yaitu hanya sebesar $ 80 saja, maka nampak bahwa keadaan kita sekarang sudah sembilan kali lipat. Bahkan

mayoritas yang masih di bawah $ 500 sudah meningkat sekurang-kurangnya tiga kali lipat. Itu menunjukkan bahwa Pembangunan Nasional kita berhasil, tidak hanya untuk yang golongan kecil saja, tetapi juga untuk mayoritas penduduk. Itu berarti bahwa bangsa Indonesia mempunyai kekuatan untuk tumbuh. Dan perkiraan yang diberikan oleh Presiden Soeharto bahwa pada akhir PJP Kedua kita sudah mencapai penghasilan per capita di atas $ 2.000 bukan hal yang mustahil. Namun itu masih dua puluh lima tahun lagi, sedangkan sekarang bangsa kita masih diliputi kemiskinan. Dan karena kemiskinan yang masih sangat luas itu timbul banyak kelemahan dalam Ketahanan Nasional kita. Kalau orang itu miskin dan ia mempunyai keluarga yang menjadi tanggung jawabnya, maka seluruh keluarga itu hidup dalam kemiskinan. Itu membawa akibat yang bersifat material dan mental. Keluarga itu secara material kurang dapat menyediakan makanan yang cukup, apalagi yang sehat dan cukup bergizi. Buat mereka yang penting adalah asalkan setiap hari dapat makan dan perut tidak terlalu keroncongan. Akibat dari kurang makan makanan bergizi kesehatan menjadi rawan, tenaga bekerja tidak besar karena kurang mampu mengeluarkan energi dan kemampuan berpikir menjadi lemah karena otak kurang mendapat peredaran darah. Kalau ada anggota keluarga yang masih sekolah, maka sukar dapat belajar dengan baik. Kalau sudah bekerja, maka kurang dapat bekerja dengan produktivitas tinggi. Dan mudah terserang penyakit yang membuat kehidupan makin sengsara karena kurang mampu membeli obat. Dengan begitu harapan hidup menjadi tidak terlalu panjang. Ada orang yang sanggup mengatasi kekurangan material itu dengan sikap mental yang kuat sekali. Sekalipun kurang makan yang bergizi tetapi masih sanggup mengeluarkan energi cukup untuk menghasilkan tenaga fisik yang memadai. Juga masih dapat membuat dirinya mampu berpikir secara tajam. Ini semua adalah hasil dari pemusatan pikiran dan perasaan yang dapat dicapai orang, apabila ia mampu menyatukan diri dengan Tuhan Yang Maha Kuasa melalui kontemplasi. Itu berarti bahwa orang itu dapat menggunakan kekuatan mentalnya untuk menguasai seluruh kehidupannya, termasuk kehidupan materialnya. Buat orang seperti itu kemiskinan tidak harus berarti kelemahan. Akan tetapi orang yang sanggup berbuat demikian biasanya terbatas jumlahnya. Mayoritas rakyat Indonesia termasuk manusia yang mentalnya sama perannya dalam kehidupannya dengan peran kondisi materialnya. Jadi kalau keadaan materialnya miskin, itu juga mempengaruhi kondisi mentalnya. Orang itu menjadi acuh tak acuh dan tidak mempunyai perhatian terhadap hal-hal di luar masalah kehidupannya secara langsung. Ia menjadi mudah dipengaruhi oleh pihak lain yang dapat memberikan sesuatu kepadanya dan akibatnya ia kurang mempunyai pendirian sendiri. Kemauan dan keuletan mentalnya lemah dan mudah menyerah terhadap kesulitan. Tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu yang menunjukkan kekuatan. Tidak ada keinginan untuk mengubah kehidupannya sehingga dapat keluar dari kemiskinan. Kalau mempunyai satu pekerjaan , sama sekali tidak ada niat untuk menghasilkan pekerjaan yang bermutu tinggi. Jadi tidak ada padanya pengertian efisiensi dan efektivitas, melainkan asal jadi. Atau orang itu menjadi a-sosial dan melawan masyarakat. Bentuk umum adalah melakukan tindakan kriminal untuk membalas keburukan kehidupan yang harus ia alami, seakan-akan

masyarakatlah yang menjadi sebab kondisinya yang buruk itu. Maka dalam masyarakat yang miskin kita justru akan menemukan tingkat kriminalitas yang tinggi. Makin buruk kondisi materialnya makin lemah pula kondisi mentalnya. Keadaan demikian jelas sekali tidak menunjang Ketahanan Nasional, sebab Ketahanan Nasional baru terwujud dalam kondisi dinamis satu bangsa yang berisikan keuletan dan ketangguhan. Sedangkan kemiskinan menghasilkan masyarakat yang sikapnya acuh tak acuh, kalau bekerja asal jadi saja, di sekolah tidak ada kemampuan untuk belajar banyak. Biasanya masyarakat demikian rawan terhadap berbagai pengaruh negatif dari pihak lain yang mampu memberikan sesuatu yang sedikit saja untuk kehidupan orang yang miskin. Juga tingginya kriminalitas melemahkan Ketahanan Nasional. Syukur sekali bahwa kondisi masyarakat Indonesia tidak berada pada kondisi kemiskinan yang ekstrim, sehingga kondisi material serta mentalnya tidak separah gambaran di atas. Akan tetapi di beberapa bagian Tanah Air kita kondisi kemiskinan cukup mengkhawatirkan, yaitu daerah di mana jumlah rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan merupakan mayoritas penduduk. Juga secara umum sikap dan pandangan masyarakat terhadap kehidupan bukan atau belum pandangan yang berniat menghasilkan keunggulan. Umumnya orang melihat kehidupan baru pada tingkat mediokritas (mediocrity), artinya kalau berbuat sesuatu hal cukup menghasilkan apa adanya dan tidak mengejar prestasi tinggi. Memang masyarakat mungkin menunjukkan keuletan seperti yang kita lihat dalam Perang Kemerdekaan. Akan tetapi keuletan itu hanya bersifat passif, yaitu sanggup mengalami penderitaan berjangka panjang. Itu satu hal yang tentu penting juga. Akan tetapi Ketahanan Nasional memerlukan tidak hanya keuletan passif, melainkan juga keuletan aktif. Yaitu keuletan untuk melakukan satu usaha guna membawa kemajuan dalam waktu yang panjang sambil menghadapi dan mengatasi berbagai rintangan. Dalam hal ketangguhan , masyarakat Indonesia masih amat lemah. Itu dapat dilihat dari lebarnya kesenjangan antara yang dikatakan dengan yang diperbuat. Hal itu disebabkan karena manusia Indonesia pada umumnya belum sanggup mengeluarkan energi yang memadai. Akibatnya daya tindak dan kemampuan berbuatnya masih lemah. Padahal Ketahanan Nasional memerlukan ketangguhan di samping keuletan. Apabila dilihat dalam hubungan negara dan bangsa , maka kemiskinan mengakibatkan banyak hal yang kurang menunjang Ketahanan Nasional yang tangguh. Karena rakyat masih termasuk miskin, maka pemerintah tidak dapat mengadakan penarikan pajak yang luas. Akibatnya adalah bahwa penerimaan pemerintah relatif rendah apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang begitu banyak. Karena keuangan pemerintah tidak banyak, maka berbagai usaha yang harus dibiayai pemerintah juga terbatas sifatnya. Itu kita lihat dalam penyusunan ABRI yang seharusnya merupakan satu kekuatan hankam yang seimbang di darat, laut dan udara, mengingat kondisi geografis Indonesia. Akan tetapi karena membangun Angkatan Laut dan Angkatan Udara yang besar cukup mahal, demikian pula untuk membentuk kekuatan militer darat yang modern dan mobil, maka yang ada hanyalah kekuatan territorial yang besar. Sedangkan Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Darat yang mobil amat terbatas kekuatannya. Juga belum dapat disusun kemampuan Kepolisian yang sesuai dengan tuntutan meningkatnya

kriminalitas. Penyelenggaraan pendidikan nasional amat dirintangi oleh kondisi guru yang kurang bermutu, karena pemerintah belum dapat mengadakan pendidikan guru yang bermutu dan juga belum dapat memberikan kehidupan guru yang memadai dengan gaji yang wajar. Pemerintah juga belum dapat menggaji pegawai sipil dan anggota ABRI sesuai dengan mereka yang bekerja di dunia swasta, karena keuangan pemerintah terbatas. Jadi banyak sekali yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk membuat negara kita kuat, belum dapat dilakukan karena penerimaan pemerintah memang sangat terbatas. Sedangkan penerimaan terbatas itu terutama disebabkan oleh kemiskinan yang masih luas. Dengan fungsi pemerintah yang menghadapi berbagai keterbatasan itu tidak mungkin dihasilkan Kesejahteraan dan Keamanan yang bermutu. Berarti Ketahanan Nasional pun tidak tinggi . Maka kita melihat bahwa sebagai akibat Kemiskinan , Ketahanan Nasional Indonesia masih belum sekuat yang kita inginkan. Memang dalam masyarakat kita ada orang-orang yang kuat karakternya dan menunjukkan keuletan serta ketangguhan yang tinggi. Mereka tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi kemiskinan yang meliputi masyarakat. Akan tetapi itu tidak cukup untuk membuat Ketahanan Nasional tinggi, karena mayoritas penduduk belum demikian gambarannya. Oleh sebab itu untuk kepentingan Ketahanan Nasional harus ada usaha mengatasi kemiskinan, baik dalam arti absolut maupun relatif. Kesejahteraan nasional harus tinggi dan dengan begitu memungkinkan pula menciptakan Keamanan yang tinggi pula. MENGATASI KEMISKINAN AMAT PERLU Untuk keluar dari kondisi Kemiskinan seluruh bangsa harus berjuang dan bersatu. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa Menjadi Kaya adalah sesuatu yang Mulia dan harus dikejar dengan sekuat tenaga, selama itu dilakukan dengan cara yang halal dan tidak bertentangan dengan hukum serta norma agama. Dan itu tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945 dan semua agama yang ada di Indonesia. Sebaliknya justru Pancasila, UUD 1945 dan semua agama yang ada di Indonesia membenarkan manusia menjadi kaya dan bahwa menjadi kaya adalah sesuatu yang mulia. Memang pernah ada pandangan dalam masyarakat Indonesia bahwa mengusahakan kehidupan yang kaya adalah berdosa. Seakan-akan ajaran agama , termasuk agama Islam, tidak membenarkan orang mengusahakan kekayaan. Sebetulnya pandangan demikian adalah akibat dari usaha pihak penjajah dan pihak lain yang tidak mau melihat rakyat Indonesia maju, khususnya dalam kehidupan ekonominya. Pada waktu itu setiap usaha rakyat ditekan oleh penjajah dengan bantuan pihak lain yang berkepentingan, sehingga akhirnya kewirausahaan rakyat Indonesia dekat kepada kemusnahan. Sebab penjajah takut kalau rakyat Indonesia yang jumlahnya begitu besar ( pada tahun 1942 ketika Hindia Belanda runtuh penduduk Indonesia sudah sekitar 60 juta orang, padahal seluruh penduduk Belanda hanya sekitar 10 juta orang dan yang ada di Indonesia tidak lebih dari 2 juta orang), dapat membentuk kekuatan ekonomi, maka penjajahan Belanda dapat tersingkir oleh kekuatan bangsa Indonesia. Itu sebabnya dalam sistem ekonomi penjajahan, Belanda menempatkan golongan Asia Non-Pribumi sebagai lapisan antara Belanda yang berada di lapisan puncak dan penduduk pribumi sebagai lapisan bawah. Jadi secara struktural bangsa Indonesia memang sengaja dimiskinkan oleh penjajah. Di samping itu sikap budaya (terutama di Jawa) yang menganggap kegiatan berusaha itu rendah, juga cukup berpengaruh.

Karena keadaan itu berlangsung cukup lama , yaitu sekurang-kurangnya seratus tahun, maka ketika bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan belum sekali gus rakyat pribumi dapat keluar dari kondisi struktural yang mengekang itu. Baru setelah kita melakukan Pembangunan Nasional yang kita mulai pada tahun 1969, terjadi proses likuidasi kemiskinan struktural itu. Akan tetapi proses itu tidak berjalan cepat karena memang tidak mudah untuk sekali gus membiasakan rakyat yang sudah bertahun-tahun hidup dalam kondisi kemiskinan berubah mempunyai pandangan dinamis dalam memperbaiki kehidupannya. Sebagian besar rakyat masih cenderung menunggu pemberian dari pihak lain, khususnya pemerintah, ketimbang berusaha keras meningkatkan penghasilannya. Itu masih sisa-sisa kemiskinan struktural yang kita gambarkan sebelumnya, yaitu bahwa orang yang terlalu miskin itu menjadi apathis dan acuh tak acuh. Maka usaha untuk menghilangkan kemiskinan tidak cukup hanya dengan memberikan modal atau kesempatan kepada pihak miskin. Bersamaan dengan pemberian kesempatan usaha serta modal harus pula ditingkatkan kondisi mentalnya. Harus ditumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri, bahwa ia dapat menjalankan usaha yang menghasilkan penghasilan melebihi dari pada sebelumnya dan kemudian harus ditumbuhkan hasrat untuk membangun kehidupan yang sejahtera dan jauh lebih baik ketimbang sekarang. Peningkatan kondisi mental itu harus dilakukan melalui pendidikan umum kepada rakyat yang memberikan pengertian dan pandangan yang lebih luas tentang kehidupan. Melalui pendidikan umum ditumbuhkan pandangan bahwa kegiatan berusaha tidak lebih rendah dari pada kegiatan yang lain. Bahkan perlu disadarkan bahwa untuk mengatasi kondisi miskin, manusia harus mampu berusaha dan bekerja dengan keras. Perlu pula ditumbuhkan sikap berdisiplin agar dalam kegiatannya berusaha ia tahu menaati peraturan dan menetapi waktu. Diberikan pelajaran berhitung agar orang itu dapat menghitung segala penerimaan dan pengeluaran serta dibiasakan hidup hemat dan menjauhi pemborosan. Selain itu pendidikan agama yang baik adalah amat penting apabila tidak hanya membicarakan ritual belaka, melainkan juga segala makna dan nilai di belakang ritual. Pendidikan agama harus mengajarkan bahwa Tuhan adalah Maha Murah dan Maha Adil, yang berarti bahwa barang siapa berusaha dan berikhtiar dengan sekuat tenaga juga akan memperoleh ganjaran yang setimpal dari Tuhan. Perlu dibangun sikap rakyat bahwa Tuhan tidak melarang orang menjadi kaya, asalkan memperolehnya atau mengusahakannya dengan jalan yang khalal serta menggunakan kekayaannya untuk kepentingan orang banyak, khususnya yang masih kekurangan. Penting sekali ditumbuhkan pengertian bahwa Tuhan tidak akan memperbaiki keadaan satu umat apabila umat itu sendiri tidak berusaha memperbaiki nasibnya. Sikap demikian akan menghasilkan keuletan aktif dalam kehidupan yang diperlukan untuk dapat membangun penghasilan lebih tinggi. Selain itu pendidikan perlu mengajarkan agar orang hidup hemat dan jujur dan selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebaliknya harus diciptakan kebiasaan untuk tidak bersikap boros, baik boros dalam penggunaan barang maupun dalam waktu. Itu semua akan menghasilkan sikap hidup yang saksama dalam segala aspek . Langkah demi langkah akan tercipta sikap untuk mengejar kualitas dalam segala pekerjaan dan bahkan keunggulan dalam prestasi. Kalau itu tercapai maka sudah mulai ada ketangguhan hidup.

Akan tetapi memang tidak cukup hanya ada sikap dan perilaku rakyat yang kondusif untuk berusaha. Perlu juga uluran tangan berupa pemberian peluang bagi mereka agar sikap serta perilaku itu dapat menghasilkan kegiatan produktif. Untuk itu diperlukan modal dan kesempatan usaha. Itu tidak dapat datang dengan sendirinya, terutama dalam dunia yang makin maju ini. Mereka yang sudah maju tidak ingin memperoleh persaingan dari pihak lain yang muncul kemudian. Jadi akan selalu berusaha agar jangan ada pihak lain yang masuk dalam dunia usaha. Oleh sebab itu perlu ada kebijaksanaan dan tindakan pemerintah yang membantu tumbuhnya pengusaha baru. Dilihat dari sudut Ketahanan Nasional diperlukan sekali terwujudnya lapisan pengusaha kecil dan menengah yang besar jumlahnya dan tinggi mutunya. Tidak cukup satu negara hanya mempunyai lapisan pengusaha besar yang kuat. Sebab lapisan pengusaha kecil dan menengah justru merupakan inti kekuatan ekonomi satu bangsa dan bukan pengusaha besar. Terbukti dari pengalaman bangsa lain yang sudah maju ekonominya, bahwa pengusaha kecil dan menengah menciptakan kesempatan kerja jauh lebih banyak ketimbang usaha besar. Buat Indonesia yang setiap tahun harus menampung angkatan kerja baru sekitar 2 juta orang, penciptaan kesempatan kerja itu amat penting. Selain itu usaha kecil dan menengah juga merupakan pertahanan terpenting untuk menghadapi masuknya barang dari luar. Lapisan usaha kecil dan menengah itu dapat disamakan satu pertahanan territorial dalam bidang ekonomi nasional. Karena itu usaha rakyat bersama pemerintah untuk membangun usaha kecil dan menengah dalam jumlah besar serta bermutu tinggi mempunyai dua manfaat sekali gus. Di satu pihak akan sangat dikurangi tingkat kemiskinan dan dihilangkan kesenjangan lebar antara pihak kaya dan mayoritas masyarakat yang miskin. Di pihak lain diwujudkan sarana untuk menghadapi masalah penyediaan kesempatan kerja serta pertahanan terhadap dominasi produksi luar negeri. Melihat kondisi masyarakat kita sekarang, hal itu dapat dimulai dengan memperbaiki kondisi dan kemampuan apa yang dinamakan pengusaha informal , yaitu para pedagang kaki lima, pedagang asongan dan semacam itu. Sebenarnya mereka itu sudah mempunyai sikap usaha yang dibuktikan oleh tekadnya berdagang. Akan tetapi mereka berada di luar usaha formal, karena kemampuan dan kondisinya. Dalam kondisi dan situasi itu mereka sering kali malahan mendapat perlakuan kurang baik dan kurang tepat dari pihak berkuasa, karena pihak berkuasa hanya melihat kegiatan mereka dari segi peraturan belaka. Dengan menggusur mereka dari tempat usaha mereka sebetulnya pihak berkuasa menghilangkan satu potensi penting yang ada pada rakyat kita. Oleh sebab itu sebaiknya pengusaha informal diubah menjadi pengusaha formal, yaitu membentuk lapisan pengusaha kecil. Untuk itu perlu diberikan pendidikan agar mereka mengerti caranya berusaha yang teratur. Dengan begitu mereka akan beralih dari usaha informal menjadi pengusaha formal, yaitu pengusaha yang diakui pemerintah. Selain pendidikan mereka kemudian perlu diberi kemampuan lebih besar, berupa modal dan peluang usaha. Yang terpenting adalah bahwa mereka ada peluang memasarkan hasil usaha mereka. Jadi mungkin perlu dibangun koperasi meliputi pengusaha dengan kegiatan yang sama. Mereka diberi tempat yang baik tetapi tidak mahal dan mudah dikunjungi oleh pembeli. Ini perlu ditegaskan karena sering kali kita melihat bahwa pemerintah daerah membangun tempat penjualan atau pasar yang justru mematikan kemungkinan memperoleh pembeli. Ini terjadi kalau tempat penjualan atau pasar itu

terletak di bagian kota yang secara tradisional tidak didatangi pembeli. Dengan begitu para pengusaha baru itu tidak akan mungkin dapat bersaing dengan para pedagang lama, Mereka kemudian akan meninggalkan tempat penjualan yang telah ditetapkan dan kembali menjadi pedagang informal. Di luar kota besar dan juga di desa-desa pun perlu dihidupkan usahawan kecil dan menengah yang melakukan aneka ragam kegiatan produktif. Karena di tempat-tempat itu umumnya belum ada pengusaha informal, maka masih perlu dihidupkan semangat usaha di kalangan rakyat. Untuk itu berbagai organisasi kemasyarakatan dapat dimanfaatkan, seperti pesantren, Karang Taruna, dan sebagainya. Dalam kegiatan organisasi itu diadakan pendidikan usahawan sehingga nanti ada peserta organisasi itu yang berminat membuka usahanya sendiri. Orang-orang itu nanti juga perlu mendapat bantuan usaha sampai mampu berdiri sendiri. Kalau kita sudah berhasil membangun lapisan usaha kecil dan menengah, sekalipun masih belum banyak jumlahnya dan belum betul-betul bermutu, maka perlu disusun satu jaringan komunikasi atau network yang menghubungkan para usahawan itu. Dalam jaringan itu perlu ada pihak yang berfungsi membantu kepada pihak yang baru mulai atau yang masih lemah usahanya. Jadi pada tahap permulaan pemerintah mengusahakan agar ada pengusaha yang sudah mapan bersedia menjadi pihak pemberi bantuan. Bantuan yang diperlukan adalah nasehat dan informasi, seperti informasi bagaimana pengusaha baru dapat memperoleh kredit tambahan, bagaimana memperbaiki teknik dan teknologi produksi atau bagaimana mencari pasar bagi hasil produksinya. Sebab itu harus ada pengusaha yang sudah mapan dan berpengalaman sebagai pihak pemberi bantuan. Pemerintah tidak dapat menjalankan fungsi itu, karena orang pemerintah tidak mempunyai pengalaman usaha. Tetapi pemerintah diperlukan untuk mengajak pengusaha mapan ikut aktif dalam penyusunan jaringan komunikasi itu. Tanpa ajakan pemerintah pengusaha mapan tidak akan mau turut dalam pembentukan jaringan itu. Kalau jaringan komunikasi itu makin mampu menjalankan fungsinya dan pengusaha kecil dan menengah makin banyak dan bermutu, maka dari mereka sendiri akan timbul orang-orang yang menjadi pihak pemberi bantuan kepada pengusaha yang baru mulai. Terwujudnya jaringan komunikasi itu juga mempunyai manfaat bagi Ketahanan Nasional. Sebab melalui jaringan itu akan selalu diketahui apabila ada unsur-unsur yang sifatnya mengganggu kehidupan masyarakat dan bangsa. Dengan begitu wilayah nasional kita, baik di daratan maupun di lautan, akan selalu memperoleh pengawasan yang saksama apabila kita makin banyak mempunyai nelayan di laut dan pengusaha di darat. Sekali gus itu akan memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pengusaha-pengusaha baru, karena mereka tidak merasa khawatir memasuki satu kehidupan yang serba tidak diketahui. Orang yang mau menjadi pengusaha baru selalu dapat mendatangi pengusaha lama dan minta nasehat dan petunjuknya. Dengan begitu jumlah usahawan kecil akan terus bertambah banyak. Kemudian dari usahawan kecil itu akan tumbuh usahawan menengah yang makin banyak pula dan makin tinggi mutunya. Akan terwujud keadaan masyarakat yang makin teratur dan tinggi penghasilannya, tetapi sekali gus juga satu masyarakat yang makin ulet dan tangguh. Melalui proses itu kemiskinan akan makin hilang dari masyarakat Indonesia. Dan yang akan terbentuk adalah satu masyarakat yang terutama terdiri dari golongan menengah. Kondisi demikian merupakan keadaan yang paling baik bagi terwujudnya Ketahanan Nasional yang

andal. Sebab dampaknya akan terasa di segala aspek kehidupan bangsa, baik dalam ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan hankam. Ideologi Pancasila akan lebih mantap sebagai pedoman kehidupan karena orang melihat dan merasakan kemajuan dalam kehidupan yang menganut Pancasila. Kondisi politik akan lebih mantap, karena masyarakat yang baik penghasilannya cenderung lebih baik menjalankan sistem demokrasi Pancasila. Ekonomi nasional akan menjadi lebih kuat, baik secara absolut dengan penghasilan per capita lebih tinggi maupun secara relatif dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Keadaan sosial pun makin baik, pengangguran akan jauh berkurang dan orang miskin makin habis. Kondisi kehidupan beragama akan lebih bermutu karena masyarakat akan mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mencurahkan perhatian kepada ibadah, asalkan juga selalu memperhatikan iman dan takwa. Hankam akan lebih tangguh karena masyarakat yang lebih kaya juga akan mampu membina kekuatan hankam, termasuk kepolisian, yang lebih mampu menjalankan fungsinya. Yang penting sekarang adalah bahwa kita menunjukkan perbuatan menuju ke sasaran itu secara kongkrit dan tidak hanya berbicara saja. Sebab sudah jauh waktunya untuk menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->