P. 1
Makalah Pemikiran Filosofis Tentang Dasar Dan Tujuan Pendis

Makalah Pemikiran Filosofis Tentang Dasar Dan Tujuan Pendis

4.46

|Views: 7,235|Likes:
Published by Moh. Mujib

More info:

Published by: Moh. Mujib on Feb 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

01/09/2013

PEMIKIRAN FILOSOFIS TENTANG DASAR DAN TUJUAN

PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : Mugi - Mujib Zun@ri - Achmad Muhsin
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi
muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk
jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh-suburkann hubbungan harmonis setiap
pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta. Dengan demikian, pendidikan
Islam itu berupaya untuk mengembangkan individu sepenuhnya, maka sudah
sewaqjarnyalah untuk dapat memahami hakikat pendidikan Islam itu bertolak dari
pemahaman terhadap konsep manusia menurut Islam.
Al-Qur’an meletakkan kedudukan manusia sebagai Khalifah allah di bumi
(Al-Baqarah: 30). Esensi makna khalifah adalah orang yang diberi amanah oleh Allah
untuk memimpin alam. Dalam hal ini manusia bertugas untuk memelihara dan
memanfaatkan alam guna mendatangkan kemaslahatan bagi manusia.
Agar manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah secara
maksimal, maka sudah semestinyalah manusia itu memiliki potensi yang
menopangnya untuk terwujudnya jabatan khalifah tersebut. Potensi tersebut meliputi
potensi jasmani dan rohani.
Potensi jasmani adalah : meliputi seluruh organ jasmaniah yang berwujud
nyata. Sedangkan potensi rohaniah bersifat spiritual, yang menurut Hasan
Langgulung terdiri dari fitrah, roh, kemauan bebas, dan akal. Sedangkan asy-
Syaibani, menyatakan bahwa manusia itu memiliki potensi yang meliputi badan, akal,
dan roh. Ketiga-tiganya persis segittiga yang sama panjang sisi-sisinya. Selanjutnya,
Zakiah Daradjat mengemukakann bahwa potensi spiritual manusia meliputi dimensi :
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
1
akidah, akal, akhlak, perasaaan (hati), keindahan, dan dimensi social. Selain dari itu
al-Qur’an menjelaskan juga tentang potensi rohaniah lainnya, yakni al-Qalb, ‘Aqlu
An Ruh, an-Nafs. Dengan bermodalkan potensi—potensi yang dimilikinya itulah
manusia merealisasi fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi yang bertugas untuk
memakmurkannya.
Di sisi lain, di samping manusia berfungsi sebagai khalifah, juga bertugas
untuk mengabdi kepada Allah (Az-Zariyat 56). Dengan demikian manusia itu
mempunya fungsi ganda, sebagai khalifah dan sekaligus sebagai ‘abd. Fungsi sebagai
khalifah tertuju kepada pemegang amanah Allah untuk penguasaan, pemanfaatan,
pemeliharaan, dan pelestarian alam raya yang berujung kepada pemakmurannya.
Fungsi ‘abd bertujuan kepada penghambaan diri semata-mata hanya kepada Allah.
Untuk terciptanya kedua fungsi tersebut yang terintegrasi dalam diri pribadi
muslim, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat
mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai.
Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir (ultimat aim) pendidikan
Islam, maka diperlukan konsep pendidikan yang komprehensif yang dapat
mengantarkan pribadi muslim kepada tujuan akhir pendidikan yang ingin dicapai.
Agar peserta didik dapat mencapai tujuan akhir (ultimate aim) pendidikan
Islam, maka suatu permasalahan pokok yang sangat perlu mendapat perhatian adalah
penyusunan rancangan program pendidikan yang dijabarkan dalam kurikulum.
Pengertian kurikulum dalam tulisan ini adalah segala kegiatan dan pengalaman
pendidikan yang dirancang dan diselenggarrakannya oleh lembaga pendidikan bagi
peserta didiknya, baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud untuk
mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
2
Berpedoman ruang lingkup pendidikan Islam yang ingin dicapai, maka
kurikulum pendidikan Islam itu berorientasi kepada tiga hal, yaitu :
o Tercapainya tujuan hablum minallah (hubungan dengan Allah).
o Tercapainya tujuan hablum minannas (hubungan dengan manusia).
o Tercapainya tujuan hablum minal’alam (hubungan dengan alam).
Para ahli pendidikan Islam seperti al-Abrasyi, an-Nahlawi, al-Jamali, as-
Syaibani, al-Ainani, masing-masing mereka tersebut telahh memerinci tujuan akhir
pendidikan Islam yang pada prinsipnya tetap berorientasi kepada ketiga komponen di
atas.
1
Bertitik tolak dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat yang
sesungguhnya dari pendidikan Islam itu, adalah pendidikan yang memperhatikan
pengembangan seluruh aspek-aspek manusia dalam suatu kesatuan yang utuh tanpa
kompartementalisasi, tanpa terjadinya dikhotomi. Pemisahan antara pendidikan
agama dan pendidikan umum, seperti yang pernah dilakukan oleh sebagian umat
Islam, tentulah tidak sesuai dengan konsep pendidikan.
2

Pokok bahasan dalam makalah yang berjudul “Pemikiran Filosofis Tentang
Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam” adalah penulis susun dalam kisi-kisi dan
rumusan masalah sebagai berikut :
o Bagaimana Pengertian, Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam ?
o Bagaimana Pijakan Dalil Naqli tentang Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam ?
o Apakah Manfaat Kejelasan Dasar dan Tujuan dalam Pemikiran Pendidikan
Islam ?
1
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, (Jakarta :
Pranada Media, 2004), hal. 155-156
2
Ibid, hal. 157
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
3
o Bagaimanakah Rumusan Pemikir Muslim tentang Dasar dan Tujuan Pendidikan
Islam ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PEMIKIRAN FILOSOFIS TENTANG DASAR DAN TUJUAN
PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian, Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Untuk memahami definisi pendidikan Islam, diperlukan pembahasan
terhadap tiga istilah dalam bahasa arab, yakni : Al-Tarbiyah, Al-Ta’lim, dan
Al-Ta’dib.
Ketiga istilah di atas, merupakan istilah bahasa Arab yang memiliki
konotasi (pengertian) masing-masing. Menurut Yusuf Amir Faisal bahwa
istilah al-Tarbiyah dan al-Ta’dib memiliki pengertian lebih dalam dibanding
dengan istilah al-Ta’lim.
3
Menurutnya al-Ta’lim berarti hanya pengajaran
(penyampaian pengetahuan) sedangkan al-Tarbiyah dan al-Ta’dib
mengandung makna pembinaan, pimpinan dan pemeliharaan.
Tetapi, Abdul Fatah Jalal mempunyai pendapat lain bahwa istilah al-
Ta’lim justru memiliki pengertian yang jauh lebih luas dan lebih dalam
daripada istilah al-Tarbiyah. Istilah al-Ta’lim tentunya lebih mengena jika
diartikan pendidikan.
4
3
Yusuf Amir Faisal, “Beberapa Langkah Pemula Menuju Pembaharuan Pendidikan Tinggi
Islam”(Jakarta: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, 1995), hal. 108.
4
Abdul Fatah Jalal, Min Usul al-Tarbiyah Fi al-Islam (1988), hal. 25-39
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
4
Dalam menunjukkan terbatasnya pengertian al-Tarbiyah, ia menyataka
bahwa di dalam al-Qur’an hanya ada dua tempat yang menggunakan kata
tarbiyah, yaitu :
` `
Artinya : “…….dan ucapkanlah : “YaRabbi, kasihanilah mereka berdua,
sebagaimana (kasihnya) mereka berdua mendidik aku waktu kecil” (QSS. Al-
Isra’ : 24).
Ayat lainnya adalah :
· ´ . ´ ´ ´
(
Artinya : “Fir’au menjawab : Bukankah kami telah mendidik di dalam
(keluarga) kami, waktu kamu masih anak-anak dan kamu tinggal bersama
kami beberapa tahun dari umurmu (QS. Asy-Syua’raa : 18).
Kedua ayat di atas mengisyaratkan bahwa istilah al-Tarbiyah lebih
merujuk pada pendidikan dan pemeliharaan pada masa anak-anak di dalam
keluarga. Jika ingin digunakan, berarti istilah itu merujuk pada pendidikan
ibtidaiyyah (SD).
Mengenai istilah al-Ta’lim, ia merujuk pada konsep “ilmu”, yang
banyak diisyaratkan dalam al-Qur’an. Karena itu, untuk memperkokoh
argumentasinya ia mengangkat kisah diutusnya Adam As ke bumi yang
sebelumnya dibekali ilmu. Sebagaimana firman Allah :
` ( ` ·
Artinya : “…….Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian
ketahui”. (Q.S. al-Baqarah : 30)
` `
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
5
Artinya : “Allah mengajarkan kepada Adam seluruh nama-nama benda …..
(Q.S. al-Baqarah : 31).
´ . ´ ` ´ ( `

Artinya : “Mereka (para malaikat menjawab : “Maha suci Engkau, tidak ada
yang kami ketahui selain daripada apa yang Engkau ajarkan kepada kami.
(Q.S. al-Baqarah : 32).
· ' `
´ · ´ ` ± ´
` ` ´ `
( . · ( ± ·
` ± ` ` ´
` i ´ ± (
± ´
Artinya : Allah berfirman : “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka
nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka
nama-nama benda itu, Allah berfirman : Bukankah sudah Ku katakan kepada
kalian bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan
mengetahui apa yang kalian perlihatkan dan apa yang kalian sembunyikan?”
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat : ”Bersujudlah
kalian kepada Adam, maka mereka bersusuj kecuali iblis. Ia enggan dan
takabbur, dan adalah ia termasuk golongan yang kafir (Q.S. al-Baqarah : 33-
34).
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
6
Ilmu yang diterima Adam As dan segala potensi yang diciptakan Allah
padanya telah menjadi sebab diutamakannya Adam As atas para malaikat, dan
diperintahkannya mereka supa bersujud kepada Adam As dengan dijadikan
umat manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Dengan demikian, menurut konsep pendidikan Islam kata ta’lim lebih
luas jangkauannya dan lebih umum daripada kata tarbiyah. Apalagi jika dikaji
dengan ayat lain dimana selain berhubungan dengan ilmu, kata ta’lim juga
berhubungan dengan ”hikmah”. Kata al-Hikmah dala ilmu, amal dan
perkataan. Bahkan Nabi sendiri diutus untuk menjadi muallim (guru).
Dalam sebuah ayat al-Qur’an ditegaskan :
` ´ ´ ( `
± ` ´ ´ `
` ± ´ ´ ' ± ` (
´ ± · ` ·
Artinya : ”Sebagaimana kami telah mengutus kalian Rasul diantara kalian
yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian dan mensucikan kalian dan
mengajarkan kepada kalian al-Kitab dan al-Hikmah serta mengajarkan
kalian apa yang belum kalian ketahui” (Q.S. Al-Baqarah : 151).
2. Dasar Pendidikan Islam
Pendidikan pada dasarnya merupakan proses pengembangan diri dan
kehidupan manusia secara utuh dan menyeluruh dalam berbagai bidang
kehidupan sesuai dengan keberadaan manusia. Pendidikan juga dinyatakan
sebagai dasar usaha yang sengaja dan terencana untuk merealisasikan ide-ide
itu menjadi kenyataan dalam perbuatan, tindakan, dan tingkah laku
kepribadian.
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
7
Dalam mewujudkan pendidikan, terdapat tiga dimensi permasalahan
utama yang swering dihadapi yakni, masalah landasan pendidikan
(fundamental problem of education), masalah struktur lembaga pendidikan
(structure problem of education), dan masalah operasional pendidikan
(operational problem of education). Adapun masalah landasan pendidikan
merupakan keseluruhan masalah yang mendasari segenap praktik pendidikan
yang kita lakukan dan laksanakan dan mendasari segenap lembaga
pendidikan.
5
Konsep pendidikan Islam didasari kepada sesuatu acuan bahwa Islam
sebagai agama, system. Pendidikan menurut Islam merupakan upaya
mendidkkan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi
way of life (pandangan dan sikap hidup seseorang). Oleh karena itu
pendidikan Islam dapat berwujud segenap kegiatan yang dilakukan seseorang
atau suatu lembaga untuk membantu seseorang atau suatu lembaga untuk
membantu seseorang atau sekelompok peserta didik dalam menanamkan
dan/atau menumbuh-kembangkan ajaran Islam dan nilai-nilainya.
Dasar utama pendidikan Islam adalah wahyu yang secara tekstual
berupa al-Qur’an dan al-Hadits. Dengan sifat kebenarannya yang mutlak, al-
Qur’an dan al-Hadits merupakan sumber motivasi sekaligus sumber materi.
Sebagai sumber motivasi, keduanya mengarah pada usaha kependidikan.
Penetapan arah dan tujuan pendidikan secara ideal harus bertolak darinya.
Sementara itu, sebagai sumber materi, keduanya mengandung ajaran yang
universal. Apa yang menjadi kandungan pendidikan harus merupakan
pengejawantahan prinsip-prinsip ajarannya baik tentang Tuhan, manusia, dan
alam sekitar dengan segala nilainya.
Secara lebih praktis, dasar pendidikan Islam adalah ijtihad, yakni
pendayagunaan akal fikiran scara optimal dan sitematis dalam merumuskan
konsep kependidikan yang lebih operasional. Perumusan konsep-konsep itu
5
Jamaluddin Idris, Kompilasi Pemikiran Pendidikan (Yogyakarta : Suluh Press, 2005), hal. 148
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
8
harus tetap bertolak dari al-Qur’an dan al-Hadits. Dengan dasar ijtihad ini
pendidikan Islam diharapkan berlangsung secara dinamis dan efektif.
Dalam hal ini, Syed Sajjad Husain dan Syed Ali Ashrif
mengemukanan dua kategori sumber pendidikan Islam sebagai berikut :
6
o Allah mengajarkan bahwa manusia tidak bisa dengan sendirinya mendapat
tuntunan menuju Ilahi dan kehidupan tidak dapat dilangsungkan secara
semestinya tanpa adanya ketentuan-ketentuan yang mantap dan tidak
dapat dirubah-rubah yang datangnya dari Allah, Maha Bijaksana dan
Maha Tahu, pengetahuan-Nya mengatasi segalanya.
o Akal manusia beserta sarana-sarananya terkait secara terus-menerus
dengan alam raya fisis pada tingkat pengamatan, perenungan, percobaan
dan penerapan. Manusia bebas untuk bertindak semaunya dengan syarat
bahwa dia tetap patuh pada al-Qur’an dan sunnah.
3. Tujuan Pendidikan Islam
Usaha kependidikan Islam pada hakikatnya ditujukan untuk
menciptakan pertumbuhan yang seimbang dari seluruh kepribadian Muslim
melalui latihan jiwa, akal, diri yang rasional, perasaan dan indera-indera
jasmaniah. Oleh karena itu, pendidikan harus mendukung pertumbuhan
manusia dalam semua aspeknya : spiritual, intelektual, imajinatif, fisik,
alamiah, linguistic, baik secara individual maupun kolektif. Dan juga harus
mendorong semua aspek ini menuju kebaikan dan pencapaian kesempurnaan.
Dengan begitu, tujuan akhir pendidikan Islam adalah merealisasikan
kepasrahan secara penuh pada Allah dalam tingkat individu, komunitas dan
masyarakat.
7
Hal demikian sesuai dengan firman Allah yang menyatakan :
6
Jamali Syahrodi, Membedah Nalar Pendidikan Islam Pengantar ke Arah Ilmu Pendidikan Islam,
(Yogyakarta : Pustaka Rihlah, 2005), hal. 53.
7
Jamali Syahrodi, Membedah Nalar Pendidikan Islam...................., hal. 54.
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
9
( ` ' . ´
( ( ( ´ (

Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka beribadah kepada-Ku. Aku jtidak menghenaki rizki sedikitpun dari
mereka dan Aku tidak menghaendaki supaya mereka memberi Aku makan.
Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha pemberi Rizki Yang Mempunyai
Kekuatan lagi Sangat Kokoh (Q.S. Adz-Dzaariyat : 56-57).
Konsep “ibadah” (penyembuhan) yang dirujukkan pada ayat di atas
ditafsirkan dengan pengertian patuh kepada Allah sekaligus melaksanakan
segala yang diajarkan-Nya. Menurut Sayyid Qutb semua kegiatan manusia
sebagai khalifah merupakan ibadah. Penyelesaian tugas manusia yang
merupakan tujuan akhir pendidikan Islam dapat dicapai melalui kepatuhan
kepada Allah. Adanya kenyataan bahwa al-Qur’an menyebut Nabi-Nabi
dengan hamba-hamba Allah mempunyai implikasi bahwa penyelesaian tugas
manusia itu tidak dapat dipisahkan dari subyeknya sendiri yaitu kepada
Allah.
8
Dengan demikian, secara sederhana tujuan pendidikan Islam adalah
terbentuknya pribad muslim yang mampu memikul tanggung jawab agama,
bangsa dan negaranya.
Dalam dunia pendidikan umum, perumusan tujuan dan obyek
merupakan masalah yang sangat serius. Sejak manusia hal itu sudah menjadi
bahan kajian yang tidak pernah selesai. Permasalahannya barangkali terletak
pada kaitannya dengan perkembangan situasi dan kondisi.
8
Abdul Rahman Saleh Abdullah, Educational Theory, a Quranic Qutlook, a doctoral thesis, University
of Edinburg, 1982, hal. 116.
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
10
Sebagai contoh, pada zaman kuno tujuan dan sasaran system
pendidikan Spartan adalah kekuatan fisik, keberanian militer, ketahanan,
disiplin, kepatuhan dan semangat nasionalisme. Sedang di Athena, pendidikan
ditujukan untuk kepandaian membujuk, berargumentasi dan sukses dalam
kehidupan. Masih banyak versi lain mengenai tujuan pendidikan pada zaman
klasik, termasuk yang dikemukakan oleh para filosof seperti Plato, Aristotele,
dan lain-lain.
Dalam literature pendidikan, terdapat banyak istilah yang merujuk
pada tujuan pendidikan, antara lain dalam Bahasa Inggris dikenal istilah
“aims”, “goals”, “objectives” dan “purpose”. Sementara dalam Bahasa Arab
dikenal istilah “Ghayat”, “Ahdaf”, dan “Maqashid”. Masing-masing istilah
itu, meskipun secara umum berarti tujuan, memiliki pengertian-pengertian
khusus sehingga dalam penggunaannya memiliki proporsi sendiri-sendiri.
Variasi istilah di atas pada dasarnya mencerminkan bahwa tujuan yang
dirumuskan dalam bidang pendidikan harus bersifat dinamis. Penetapan
tujuan secara umum harus diperinci secara tegas dengan penetapan tujuan-
tujuan khusus, baik dalam tingkat institusional (Tujuan Institusional) maupun
operasional (Tujuan Instruksional).
Untuk merumuskan tujuan pendidikan Islam secara konsisten (ajeg)
dalam berbagai tingkatan hendaknya memperhatikan lima karakteristik, yaitu :
9
Pertama, keharmonisan antara kebutuhan individu dan komunitas. Satu sama
lain tidak boleh saling mengabaikan. Pendidikan Islam ditujukan untuk
membina kepribadian manusia seutuhnya sehingga ia dapat beradaptasi dalam
kehidupan masyarakat yang sarat dengan berbagai ide.
Kedua, Keseimbangan antara realitas (kenyataan) dan idealitass (keinginan).
Manusia hidup dengan sejumlah ide yang diharapkan dapat terwujud guna
9
Abdul Rahman Salih Abdullah, Educational Theory, a Quranic Qutlook, a doctoral thesis, University
of Edinburg,1982, hal. 129-134.
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
11
membentuk kesempurnaan dirinya. Tetapi, juga tidak bisa disangkal bahwa ia
pun hidup bersama kenyataan yang berkembang baik yang menyangkut sosial,
politik, ekonomi maupun budaya. Tujuan pendidikan Islam harus mampu
menjembatani kesenjangan antara idealitas dan realitas. Dalam Islam
“berpanjang angan-angan”(Thul al-‘Aml) itu dilarang. Tetapi, Islam juga
mencela sikap pragmatis, hedonistik, mencari kesenangan sesaat. Dalam Islam
dikembangkan sikap tawasuth (tidak ekstrim), sikap tasamuh (toleran) dan
sikap tawazun (seimbang).
Ketiga, teratur dan tidak labil. Penetapan tujuan pendidikan Islam harus
bersifat pasti sehingga tidak terpengaruh secara mendasar oleh perubahan
waktu. Bentuknya boleh berubah sesuai dengan azaz efektifitas dan
efisiensial. Tetapi, esensinya harus mencerminkan semangat keislaman yang
sejati dan tidak bisa berubah. Ini untuk menegaskan prinsip universalitas
Islam, sekaligus fleksibilitasnya.
Keempat, berorientasi pada kehidupan dunia dan akherat. Jamil saliba
menyatakan bahwa banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang
menunjukkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memperoleh
kebahagiaan di dunia dan di akherat.
Kelima, diwujudkan (dirumuskan) ke dalam bentuk tingkah laku yang dapat
diteliti. Dalam Islam memang niat merupakan hal yang vital dan merupakan
aspek yang tersembunyi. Namun, dalam kerangka pendidikan hendaknya
diusahakan bentuk-bentuk perilaku yang menncerminkan kemuliaan niat.
Meskipun demikian, usaha itu tidak boleh berlebihan sehingga menjurus pada
sikap riya.
Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam secara umum adalah
terciptanya kepasrahan yang total kepada Allah dengan segala manifestasinya
yang selaras dengann ajaran Islam. Tujuan umum bisa melahirkan tujuan-
tujuan khusus yang disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi.
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
12
Islam memang ajaran yang mendatangkan kemaslahatan di manapun dan
kapanpun.
10
B. Pijakan Dalil Naqli tentang Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan akhir pendidikan Islam adalah sebagaimana firman Allah SWT
( · · ·
` (
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati
melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
( ` ' . ´
Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku”.
C. Manfaat Kejelasan Dasar dan Tujuan dalam Pemikiran Pendidikan Islam
Ada beberapa hal yang menjadi dasar dalam mewujudkan pendidikan
Islam, yakni tujuan, isi, pendidik, dan peserta didik sebagai sasaran dalam
mengimplementasikan pendidikan Islam itu sendiri.
Pendidikan Islam bertujuan untuk membimbing perkembangan peserta
didik secara optimal agar menjadi pengabdi kepada Allah SWT yang setia. (QS.
Adz Dzaariyaat:51; Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping
Allah, ……). Maka aktivitas pendidikan Islam diarahkan kepada upaya
membimbing manusia agar dapat menempatkan diri dan berperan sebagai
individu yang taat dalam menjalankan ajaran Agama Allah.
10
Jamali Syahrodi, Membedah Nalar Pendidikan Islam.................................., hal. 56-57.
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
13
Pendidikan Islam juga mempunyai tujuan yang diarahkan untuk
membentuk sikap taqwa. Dalam hal ini pendidikan merupakan upaya
membimbing dan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal agar
dapat menjadi hamba Allah yang taqwa. Ciri taqwa ini adalah beriman kepada
Allah, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rizeki anugerah Allah, beriman
kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab samawi sebelum Al-Qur’an, serta keyakinan
kehidupan akhirat (QS. Al-Baqarah:3-4; (yaitu) mereka yang beriman kepada
yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami
anugerahkan kepada mereka; Da mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an)
yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang diturunkan sebelummu,
serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.
Disamping itu pendidikan Islam juga bertujuan untuk membentuk manusia
sebagai pribadi yang bermoral, sehingga pendidikan dititikberatka pada upaya
pengenalan terhadap nilai-nilai yang baik dan kemudia mengintergrasikannya,
serta mengaplikasikannya nilai tersebut dalam prilaku. Atas dasar prinsip ini,
manusia merupakan makhluk yang dalam segala bentuk aktivitasnya adalah
makhluk yang terikat kepada nila-nilai moral, yang sumbernya adalah wahyu
ilahi. Kesadaran akan adanya nilai-nilai moral yang wajib dipatuhi dan diterapkan
dalam kehidupannya, karena dirinya merupakan sosok pribadi penyandang nilai-
nilai itu.
Selanjutnya pendidikan Islam juga diarahkan kepada upaya membimbing
dan mengembangkan potensi peserta didik agar dapat berperan secara harmonis
dan serasi dalam kehidupan bermasyarakat (QS. Al-Hujarat; Wahai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal).
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
14
Landasan pendidikan Islam menurut Syahmina Zaini, mengacu kepada
potensi yang ada pada diri manusia. Potensi laten dalam konsep pendidikan Islam
disebut Fitrah, yang berarti kuatan asli yang terpendam di dalam diri manusia
yang dibawanya sejak lahir
11
, yang akan menjadi pendorong serta penentu bagi
kepribadiannya, serta yang dijadikan alat untuk pengabdian dan ma’rifatullah.
Jadi bimbingan terhadap pengembangan fitrah, harus menuju arah yang jelas.
Berdasarkan potensi fitrah penciptaannya, maka perkembangan manusia
meliputi seluruh aspek yang dibutuhkan oleh manusia meliputi seluruh aspek
yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya baik dalam statusnya sebagai
makhluk bertuhan, makhluk individu, makhluk social, makhluk bermoral,
makhluk berperadaban dan sebagainya. Aspek perkembangan ini merupakan
potensi yang mendukung pengembangan manusia menjadi sosok manusia
seutuhnya, secara optimal dan berimbang, agar mampu menjalankan amanat
dalam statusnya selaku hamba Allah maupun khalifah-Nya. Dengan demikian
perkembangan manusia baru akan menjadi sempurna (insane kamil) bial
pengembangan potensi dirinya yang mencakup keseluruhan aspek perkembangan
itu dilakukan secara total dan maksimal.
D. Rumusan Pemikir Muslim tentang Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Menurut Imam Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan insan
Paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. Menurut Imam Ghazali pula manusia
dapat mencapai kesemurnaan apabila mau berusaha mencari ilmu dan selanjutnya
mengamalkan fadilah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Fadilah ini
selanjutnya dapat membawanya untuk dekat keapa Allah dan akhirnya
membahagiakannya hidup di dunia dan di akhirat. Dalam hal ini, beliau berrkata :
“Apabila saudara memperhatikan ilmu pengetahuan, niscaya saudara akan
melihat suatu kelezatan padanya, sehingga merasa perlu mempelajarinya dan
niscaya saudara akan mendapatkan bahwa ilmu itu sebagai sarana menuju ke
11
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 32
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
15
kampong akhirat beserta kebahagiaannya dan sebagai media untuk bertaqarrub
kepada Allah Swt., yang tidak dapat diraihnya jika tidak dengan ilmu tersebut.
Martabat yang paling tinggi yang menjadi hak bagi manusia adalah kebahagiaan
yang abadi. Dan sesuatu yang paling utama ialah sesuatu yang mengantar kepada
kebahagiaan itu. Kebahagiaan tidak dapat dicapai tanpa melalui ilmu dan cara
mengamalkannya. Pangkal kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah ilmu
pengetahuan karena mencari ilmu termasuk amal utama”.
12
Dengan demikian
tujuan pendidikan Islam adalah membina Insan Paripurna yang taqarrub kepada
Allah, bahagia di dunia dan akhirat. Tidak dapat dilupakan pula orang yang
mengikuti pendidikan akan memperoleh kelezatan ilmu yang dipelajarinya dan
kelezatan ini pula dapat mengantarkannya kepada pembentukan Insan Paripurna.
Moh. Athiyah Al Abrasyi mengemukakan tentang tujuan pendidikan
dalam satu hal yaitu fadilah/keutamaan. Para ahli pendidikan Islam telah sepakat
bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak
didik dengan segala macam ilmu yang mereka ketahui, te4tapi mendidik akhlak
dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadilah (keutamaan), membiasakan mereka
dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan
yang suci seluruhnya, ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok dan utama dalam
pendidikan Islam adalah mendidik budi pekeerti dan pendidikan jiwa. Dan beliau
juga mengutip pendapat Al-Ghazali : Tujuan dari pendidikan ialah mendekatkan
diri kepada Allah, bukan pangkat dan bermegah-megahan dan janganlah
hendaknya seorang pelajar itu belajar untuk mencari pangkat, harta, menipu orang
bodoh atau bermegah-megah dengan kawan.
13
Menurut Dr. Omar al Taumy, bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
pembinaan pribadi muslim yang berpadu pada perkembangan dari segi spiritual,
jasmani, emosi, intelektual dan social. Lebih jelas lagi dikatakan, bahwa tujuan
12
Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Islam Versi Al Ghazali, alih bahasa Fathurrahman May
dan Syamsudin Asyrafi, PT Al-Ma’arif, Bandung, 1986, hal. 25-26.
13
Mohammad Athiyah al-Abrasy, At-Tarbiyah al-Islamiyah (terjemahan H. Bustami A. Gani & Djohar
Bachry, LIS), Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1979), hal. 1-2.
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
16
pendidikan Islam adalah pembinaan warga negara muslim yang baik, yang
percaya kepada Tuhan dan agamanya, sehat jasmani, berimbang dalam motivasi-
motivasi, emosi dan keinginan-keinginannya, sesuai dengan dirinya dan orang
lain, bersenjatakan ilmu dan pengetahuan, memiliki alat-alatnya yang asasi, luas
pengetahuan, dan sadar akan masalah-masalah masyarakat bangsa dan zamannya,
halus perasaan seninya dan sanggup merasakan keindahan dalam segala bentuk
dan coraknya, sanggup menggunakan masa luangnya dengan bijaksana dan
berfaedah, mengetahui hak dan kewajiban-kewajibannya, memikul tanggung
jawab terhadap diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan seluruhnya
dengan kesadaran, dengan keikhlasan dan kebolehan, bersedia memikul tanggung
jawab yang berkorban untuk meneguhkan dan memperkuatnya.
14
Abdul Fatah Jalal dalam bukunya yang berjudul Min Usulit Tarbiyah Fil
Islam yang dialihbahasakan Herry Noer Ali mengelompokkan tujuan pendidikan
Islam ke dalam tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum yaitu menjadikan
manusia sebagai abdi atau hamba Allah Swat., yang senantiasa mengagungkan
dan membesarkan asama Allah Swt., dengan meneladani Rasulullah Saw,
menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, suka mempelajari segala yang bermanfaat
baginya dalam merealisasikan tujuan yang telah digariskan oleh Allah Swt.
Ringkasnya, tujuan umum pendidikan Islam adalah membina peserta didik agar
menjadi hamba yang suka beribadah kepada Allah. Ibadah di sini tidak hanya
terbatgas pada menunaikan shalat, puasa di bulan Ramadlan, mengeluarkan zakat
dan beribadah haji setelah mengucapkan syahadat tauhid dan syahadat Rasul,
tetapi mencakup segala amal, pikiran atau perasaan manusia, selama semua
dihadapkan kepada Allah Swt. Ibadah adalah jalan hidup yang mencakup seluruh
aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan,
perbuatan, perasaan bahkan bagian apapun dari perilakunya dalam mengabdikan
diri kepada Allah Swt.
15
14
Muhammad Zen, Materi Filsafat Pendidikan Islam, 1985, hal. 26-27
15
Abdul Fatah Jalal, Azas-azas…………………., hal. 119-122
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
17
Sedangkan tujuan khusus pendidikan Islam yang pertama-tama adalah
mampu melaksanakan rukun Islam yang diperintahkan oleh Allah Swt., kepada
muslimin. Mereka diharuskan mempelajarinya untuk meningkatkan ibadahnya.
Ulama telah bersepakat bahwa mempelajari agama itu wajib hukumnya bagi
setiap muslimin dan muslimat. Demikian juga berusaha mencari rejeki
merupakan infak kepada keluarga dan termasuk ibadah.
Sebagaimana pendapat di atas, Udin Sarifuddin Winataputra dan Rustana
Ardiwinata menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam identik dengan tujuan
hidup manusia. Disamping itu beliau menyitir pendapat M. Natsir yang
mengatakan bahwa menyembah Allah itu melengkapi semua ketaatan dan
ketundukan kepada semua perintah Illahi, yang membawa kepada kebesaran
dunia dan kemenangan akhirat, serta menjauhkan diri dari segala larangan-
larangan yang menghalang kemenangan tercapainya kemenangan dunia dan
akhirat.
BAB III
K E S I M P U L A N
Pendidikan Islam merupakan konsep pendidikan yang komprehensif,
berpandangan bahwa membentuk peserta didik menjadi manusia berkualitas baik
secara moral, personal maupun social tidak cukup hanya dengan mengembangkan
dimensi kecerdasannya (IQ) saja, melainkan harus juga disertai dengan
pengembangan emosionalnya yang muthmainnah dan kecerdasan spiritual (SQ).
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa, kecerdasan yang dapat menyembuh dan
membangun diri secara utuh, karena ia dibagian diri yang dalam yaitu hati nurani
(fitrah). Allah menciptakan manusia berdasrkan fitrah yaitu nilai ketauhidan yaitu
agama yang lurus (Lihat Q.S, Ar Rum:30). Dasar inilah yang menjadi pola dasar
pendidikan Islam. Inilah konsep pendidikan yang tepat dalam upaya membangun
manusia dan masyarakat berkualitas, integritas, dinamis, kreatif dan mampu
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
18
menghadapi perkembangan kemajuan dan perubahan kea rah konfigurasi kehidupan
yang harmonis dan bermartabat sebagai makhluk tuhan, makhluk hidup sesame
manusia dan makhluk alam semesta dan membangun budaya terbaik bagi kehidupan.
Semoga makalah ini diharapkan mampu memberi kontribusi positif dan
sekaligus inspirasi dalam memahami, membangun dan mengembangkan pendidikan
Islam khususnya bagi para pendidik di lembaga pendidikan Islam.
Semoga Bermanfaat
BIBLIOGRAPY
Abdullah, Abdul Rahman Salih, Educational Theory, a Quranic Qutlook, a doctoral
thesis, University of Edinburg,1982
al-Abrasy, Mohammad Athiyah, At-Tarbiyah al-Islamiyah (terjemahan H. Bustami A.
Gani & Djohar Bachry, LIS), Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta :
Bulan Bintang, 1979)
Daulay, Haidar Putra, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di
Indonesia, (Jakarta : Pranada Media, 2004).
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
19
Faisal,Yusuf Amir, “Beberapa Langkah Pemula Menuju Pembaharuan Pendidikan
Tinggi Islam”(Jakarta: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, 1995)
Fathiyah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan Islam Versi Al Ghazali, alih bahasa
Fathurrahman May dan Syamsudin Asyrafi, PT Al-Ma’arif, Bandung, 1986
Ihsan, Hamdani dan A. Fuad Ihasan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka
Setia, 1998).
Jalal, Abdul Fatah, Min Usul al-Tarbiyah Fi al-Islam (1988)
Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001)
Jamali Syahrodi, Membedah Nalar Pendidikan Islam Pengantar ke Arah Ilmu
Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Pustaka Rihlah, 2005)
Jamaluddin Idris, Kompilasi Pemikiran Pendidikan, (Yogyakarta : Suluh Press, 2005)
Zen, Muhammad, Materi Filsafat Pendidikan Islam, (1985).
Seminar Kelas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam Stainta Oleh Mugi_Mujib_Muhisin@2009
20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->