P. 1
Makalah Tipologi Kepemimpinan Kependidikan Islam

Makalah Tipologi Kepemimpinan Kependidikan Islam

4.47

|Views: 11,183|Likes:
Published by Moh. Mujib

More info:

Published by: Moh. Mujib on Feb 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2013

TIPOLOGI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM

Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam hal pendahuluan kita fokuskan dulu pada kepemimpinan secara umum (Global), karena model-model kepemimpinan adalah sebuah anak cabang dari teori kepemimpinan itu sendiri. Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktifitas anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. Berdasarkan definisi diatas kepemimpinan memiliki beberapa implikasi, antara lain: o Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain yaitu para karyawan atau bawahan, para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. o Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang dengan kekuasaannya mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Kekuasaan itu dapat bersumber dari: Hadiah, hukuman, otoritas dan charisma. o Pemimpin harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri, sikap bertanggung jawab yang tulus, pengetahuan, keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan, kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain dalam membangun organisasi. Kepemimpinan sering disamakan dengan managemen, kedua konsep tersebut berbeda. Perbedaan antara pemimpin dan manager dinyatakan secara jelas oleh Bennis dan Nannus (1995). Pemimpin berfokus pada mengerjakan yang benar, sedangkan manager memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat. Kepemimpinan memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat, sedangkan managemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin. Dari pemaparan kepemimpinan diatas mungkinlah jelas tentang kepemimpinan, namun tentang tipe-tipe masih belum karena suatu tipe adalah suatu penelitian yang setiap saat bisa digugurkan antara satu tipe dengan tipe yang lain, karena sebuah tipe dalam kepemimpinan bersifat dinamis, dan mungkin hal inilah yang akan kita bahas dan menjadi pokok suatu permasalahan antara satu tipe dengan tipe yang lain, dan kita juga akan membahas tentang tipe terbaru (sekarang) yang dianggap lebih efektif dari model-model kepemimpinan sebelumnya. B. Rumusan Masalah

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

1

Pokok bahasan dalam makalah yang berjudul “Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam” adalah sebagai berikut : 1. Apakah hakekat pemimpin ? 2. Apa saja Tipe-Tipe Kepemimpinan itu ? 3. Apakah Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam pendidikan Islam ? C. Tujuan Penulisan Makalah Sesuai dengan permasalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penulisan ini diarahkan untuk : 1. Untuk mengetahui hakikat pemimpin 2. Untuk mengetahui tipe-tipe kepemimpinan 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam pendidikan Islam. D. Sistematika Penulisan Sebagai langkah akhir dalam penulisan makalah ini, maka klasifikasi sistematika penulisannya sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang masalah, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II : Dibahas tentang tinjauan hakikat pemimpin, , tipe-tipe kepemimpinan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan dalam manajemen pendidikan.. Bab III : Merupakan bab terakhir dalam penulisan makalah ini yang berisikan tentang kesimpulan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TIPOLOGI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Hakikat Pemimpin Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.1 Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang
1

Nanang Fattah, Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996) hal. 88

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

2

harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal. B. Tipe-Tipe Kepemimpinan Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya, hal sebagaimana menurut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu : 1. Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan. 2. Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan. 3. TIpe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksiinstruksinya harus ditaati. 4. Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan. 5. Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya. 6. Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung.2 Selanjutnya menurut Kurt Lewin yang dikutif oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu :
2

Maman Ukas, Konsep Pemimpin,(Bandung : Ossa Promo, 1999,) hal. 261-262.

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

3

1. Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja kerang, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati. 2. Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan. 3. Laissezfaire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.3 Berdasarkan dari pendapat tersebut di atas, bahwa pada kenyataannya tipe kepemimpinan yang otokratis, demokratis, dan laissezfaire, banyak diterapkan oleh para pemimpinnya di dalam berbagai macama organisasi, yang salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Dengan melihat hal tersebut, maka pemimpin di bidang pendidikan diharapkan memiliki tipe kepemimpinan yang sesuai dengan harapan atau tujuan, baik itu harapan dari bawahan, atau dari atasan yang lebih tinggi, posisinya, yang pada akhirnya gaya atau tipe kepemimpinan yang dipakai oleh para pemimpin, terutama dalam bidang pendidikan benar-benar mencerminkan sebagai seorang pemimpinan yang profesional. C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Pemimpin dalam Pendidikan Islam Dalam melaksanakan aktivitasnya bahwa pemimpin dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor tersebut sebagaimana dikemukakan oleh H. Jodeph Reitz (1981) yang dikutip Nanang Fattah, sebagai berikut : 1. Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan. 2. Harapan dan perilaku atasan. 3. Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan. 4. Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin. 5. Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan.
3

Maman Ukas, Konsep Pemimpin,(Bandung : Ossa Promo, 1999), hal. 262-263.

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

4

6. Harapan dan perilaku rekan.4 Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa kesuksesan pemimpin dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh factor-faktor yang dapat menunjang untuk berhasilnya suatu kepemimpinan, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apabila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dengan bawahan, di samping dipengaruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti motivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan social dengan sikap-sikap hubungan manusiawi. Selanjutnya peranan seorang pemimpin sebagaimana dikemukakan oleh M. Ngalim Purwanto yang dikutip oleh Nanang Fatah, sebagai berikut : 1. Sebagai pelaksana (executive) 2. Sebagai perencana (planner) 3. Sebagai seorangahli (expert) 4. Sebagai mewakili kelompok dalam tindakannya ke luar (external group representative) 5. Sebagai mengawasi hubungan antar anggota-anggota kelompok (controller of internal relationship) 6. Bertindak sebagai pemberi gambaran/pujian atau hukuman (purveyor of rewards and punishments) 7. Bentindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and mediator) 8. Merupakan bagian dari kelompok (exemplar) 9. Merupakan lambing dari pada kelompok (symbol of the group) 10. Pemegang tanggung jawab para anggota kelompoknya (surrogate for individual responsibility) 11. Sebagai pencipta/memiliki cita-cita (ideologist) 12. Bertindak sebagai seorang aya (father figure) 13. Sebagai kambing hitam (scape goat).5 Berdasarkan dari peranan pemimpin tersebut, jelaslah bahwa dalam suatu kepemimpinan harus memiliki peranan-peranan yang dimaksud, di samping itu juga bahwa pemimpin memiliki tugas yang embannya, sebagaimana menurut M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut : 1. Menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok dan keinginan kelompoknya. 2. Dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai. 3. Meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan.6 Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanaknya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana seseorang mengarahkan,
4 5

Nanag Fattah, Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996) hal. 102.. Nanag Fattah, Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996) hal. 102.. 6 M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Remaja Rosda Karya, 1987) hal. 38-39.

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

5

membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaanperasaan atau tingkah laku orang lain. Untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpian yang profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.

BAB III K E S I M P U LA N
Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. BIBLIOGRAPY Maman Ukas, Konsep Pemimpin,(Bandung : Ossa Promo, 1999) hal. 253. Nanang Fattah, Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996) hal. 88. Maman Ukas, Konsep Pemimpin,(Bandung : Ossa Promo, 1999,) hal. 261-262. Maman Ukas, Konsep Pemimpin,(Bandung : Ossa Promo, 1999), hal. 262-263. Nanag Fattah, Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996) hal. 102.. M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Remaja Rosda Karya, 1987) hal. M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Jakarta : Remaja Rosda Karya, 1987) hal. 38-39.

Definisi Kepemimpinan Ada baiknya apabila kita awali pemahaman kita mengenai kepemimpinan ini dengan mengeksplorasi ulang secara singkat pengertian, perbedaan, dan saling hubungan antara pemimpin dan manajer, serta antara kepemimpinan dan manajemen. Pertama, mengenai pemimpin dan manajer. Beberapa buku tentang kepemimpinan mengemukakan bahwa perbedaan antara pemimpin dan manajer tampak dari kompetensi atau pun perannya masing-masing; yaitu: pemimpin adalah orang yang dapat menentukan secara benar apa yang harus dikerjakan; sedangkan manajer adalah orang yang dapat mengerjakan secara benar semua

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

6

tugas dan tanggung jawab yang ditentukan. Leaders are people who do the right thing; sedangkan managers are people who do the things right (lihat antara lain Warren Bennis, 2000; p.6). Sementara itu, Zales Nick (1977) membedakan antara managers dan leaders sebagai berikiut. Leaders “think about goals in a way that creates images and expetations about the direction a bussiness should take. Leaders influence changes in the way people think about what is desireable, prosible or necessary”; sedangkan managers, on the other hand tend to view work as a means of achieving goals based on the action taken by workers”. Dalam membandingkan antara pemimpin dan manajer, Robert Heller meng-identifikasi perbedaan-perbedaan berikut. Pemimpin mempunyai karakteristik “administer, originite, develop, inspire trust, think long terms, ask what and why, watch the horizon, challenge status quo, are their own people, do the right thing”; sedangkan manajer mempunyai karakteristik “implement, copy, maintain, control, think short term, ask how and whwn, watch bottom line, accept status quo, are good soldiers, do the things right” (Robert Heller, 1999). Tokoh lain, Trompenaars dan Hampden-Turner (2001; p.2) secara atraktif membedakan keduanya dengan ungkapan “The main difference between managers and leaders is that some managers cannot sleep because they have not met their objectives, while some leaders cannot sleep because they various objectives appears to be inconflict and they cannot reconcile them”; dan dengan penuh humor menambahkan “It goes without saying that when objectives clash and impede one another, they will be difficult to attain, and no one will sleep”. Kedua, mengenai kepemimpinan dan manajemen. Kepemimpinan dan manajemen adalah 2 (dua) konsep yang berbeda namun saling melengkapi, bukan mengganti. Persamaannya terletak pada pencapaian keberhasilan atau sukses organisasi. Sedangkan perbedaannya terletak pada fungsi dan aktivitasnya. Kepemimpinan berkaitan dengan penanggulangan perubahan; sedangkan manajemen berkaitan dengan penganggulangan kompleksitas (Kotter, 1991). Beranjak dari rumusan pemimpin di atas secara sederhana dapat dikemukakan bahwa kepemimpinan pada dasarnya berarti kemampuan untuk memimpin; kemampuan untuk menentukan secara benar apa yang harus dikerjakan. Menurut Gibson (1998), kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, yang dilakukan melalui hubungan interpersonal dan proses komunikasi untuk mencapai tujuan. Newstrom & Davis (1999) berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses mengatur dan membantu orang lain agar bekerja dengan benar untuk mencapai tujuan. Sedangkan Stogdill (1999) berpendapat bahwa kepemimpinan juga merupakan proses mempengaruhi kegiatan kelompok, dengan maksud untuk mencapaia tujuan dan prestasi kerja. Oleh karena itu, kepemimpinan dapat dipandang dari pengaruh interpersonal dengan memanfaatkan situasi dan pengarahan melalui suatu proses komunikasi ke arah tercapainya tujuan khusus atau tujuan lainnya (Tanenbaum, Weschler & Massarik, 1981). Pernyataan ini mengandung makna bahwa kepemimpinan terdiri dari dua hal yakni proses dan properti. Proses dari kepemimpinan adalah penggunaan pengaruh secara tidak memaksa, untuk

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

7

mengarahkan dan mengkoordinasikan kegiatan dari para anggota yang diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi. Properti dimaksudkan, bahwa kepemimpinan memiliki sekelompok kualitas dan atau karakteristik dari atribut-atribut yang dirasakan serta mampu mempengaruhi keberhasilan pegawai (Vroom & Jago, 1988). Secara praktis, kepemimpinan dirumuskan sebagai suatu seni memobilisasi orang-orang lain (bawahan dan pihak lain) pada suatu upaya untuk mencapai aspirasi dan tujuan organisasi. John Adair pada 1988, (dalam Karol Kennedy, 1998) mengemukakan perbedaan keduanya secara ekstrim dengan menyatakan bahwa “Leadership is about a sense of direction. The word lead comes from Anglo-Saxon word, common to north European languages, which means a road, a way, the path of a ship at sea. It’s knowing the next step is……Sedangkan “Managing is a different image. It’s from the Latin manus, a hand. It’s handling a sword, a ship, a horse. It tends to be closely linked with the idea of machines. Managing had its origins in the 19th century with engineers and accountants coming in to run entrepreneurial outfits. They tended to think of them as systems”. Adair mendefinisikan kepemimpinan dalam tiga konsep “Task, Team, and Individual” dalam lingkaran saling terkait, sehingga merupakan satu kesatuan konsep ACL (Action-Centered Leadership); dan menyatakan “… leadership is about teamwork, creating teams. Teams tend to have leaders, leaders tend to create teams”. Adair berkeyakinan bahwa working groups atau teams akan memberikan tiga kontribusi pada pemenuhan kebutuhan bersama, berupa “the need to accomplish a common task, the need to be maintained as acohesive social unit or team, and the sum of the groups’s individual needs”; serta mengidentifikasi enam fungsi kepemimpinan berikut : [1] Planning (seeking all available information; defining groups tasks or goals; making a workable plan); [2] Initiating (briefing the group; allocating tasks; setting groups standards); [3] Controlling (maintaining groups standard; ensuring progress towards objectives; ‘prodding’ action sand decisions); [4] Supporting (expressing acceptance of individual contributions; encouraging and disciplining; creating team spirit; relieving tension with humour; reconciling disagreements); [5] Informing (clarifying task and plan; keeping group informed; receiving information from the group; summarizing ideas and suggestions); dan [6] Evaluating (checking feasibility of ideas; testing consequencies; evaluating group perfomance; helping group to evaluate itself). Dalam pada itu Zwell (2000) mengidentifikasi sekurangnya 15 fungsi yang secara umum dilakukan oleh pemimpin, yaitu : modeling the corporate culture, developing the corporate philosophy, establishing and maintaining atandards, understanding the business, determining strategic direction, managing change, being agood follower : aligning with superior, inspiring and motivating, establishing elignment, establishing focus, holding ultimate responsibility, dealing with authority issues, determining successors, managing ambiguity, and optimizing orgaizational structure and process. Dibalik fungsi-fungsi tersebut terdapat tugas dan peran kepemimpinan. Dalam hubungan itu, pada tahun 1990 John P. Kotter pada satu pihak mengidentifikasi tiga tugas prinsipil kepemimpinan, yaitu (1) Establishing

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

8

direction, developing a vision and strategies for the future of the business; (2) Aligning people - getting others to ‘understand, accept and line up in the chosen direction’, dan (3) Motivating and inspiring people by appealing to very basic but often untapped human needs, value and emotions. Pada lain pihak, ia pun mendefinisikan empat peran manajemen berikut, (1) Planning and budgeting, setting short-to medium-term targets; (2) Establishing steps to reach them and allocating resources; (3) Organizing and staffing, establishing an organizational structure to accomplish the plan, staffing the jobs; communicating the plan, delegating responsibility and establishing systems to monitor implementatio; dan (4) Controlling and problem solving, monitoring results, identifying problems and organizing to solve them (lihat Karol Kennedy, 1998; p. 117). Dari sini kita dapat mencatat kesamaan antara fungsi kepemimpinan Adair dengan peran manajemen dari Kotter. Tipologi Kepemimpinan Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997). Tipe Otokratis. Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi; Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi; Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat; Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya; Dalam tindakan pengge-rakkannya sering memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum. Tipe Militeristis. Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan; Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya; Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan; Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan; Sukar menerima kritikan dari bawahannya; Menggemari upacaraupacara untuk berbagai keadaan. Tipe Paternalistis. Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa; bersikap terlalu melindungi (overly protective); jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

9

Tipe Karismatik. Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”. Tipe Demokratis. Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia; selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya; selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin. Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis. BAB II KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH A.Kepemimpinan 1. Pengertian Kepemimpinan Pakar kepemimpinan ini mendefiniskan kepemimpinan secara luas, bahwa kepemimpinan merupakan proses pemimpin mempengaruhi pengikut untuk : 1Menginterpretasikan keadaan (lingkungan organisasi). 2Pemilihan tujuan organisasi 3Pengorganisasian kerja dan memotivasi pengikut untuk tujuan organisasi.

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

10

4Mengorganisir dukungan dan kerjasama orang dari luar organisasi. 5Definisi kepemimpinan tersebut di atas menggambarkan kepemimpinan dalam suatu organisasi. Menurut Burns, kepemimpinan adalah pemimpin membujuk pengikut untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan merefleksikan nilai-nilai, motivasi, keinginan, kebutuhan, aspirasi yang digarapkan oleh pemimpin dan pengikut. Kepemimpinan, menurut Harsey Paul adalah “aktivitas mempengaruhi orangorang untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela”. Sedangkan M. Ngalim Purwanto berpendapat, bahwa kepemimpinan sebagai “tindakan/perbuatan perseorangan dan kelompok yang menyebabkan banyak orang, seseorang maupun kelompok maju ke arah tujuan-tujuan tertentu.” Pendapat senada dikemukakan oleh Hasyimi Ali, bahwa kepemimpinan adalah “Suatu seni atau proses mempengaruhi kelompok orang sehingga mereka mau bekerja dengan sungguh-sunguh untuk meraih tujuan kelompok”. Beberapa pendapat di atas, tampak memiliki dasar tindakan yang sama, yaitu adanya upaya mempengaruhi, sehingga kepemimpinan merupakan suatu aktivitas mempengaruhi orang atau kelompok untuk mau bekerja sama dengan kesadaran, rasa suka rela, tanpa paksaan, dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan bersama. Pengertian kepemimpinan juga dikemukakan oleh Prof. Dr. Hadari Nawawi, yaitu “ Kepemimpinan adalah proses pengarahan, membimbing, mempengaruhi, atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakan dan tingkah laku orang lain. Kepemimpinan adalah tindakan di atara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan. Baik seorang maupun kelompok bergerak ke arah tujuan tertentu”. Sementara itu, menurut Soewarno Handayaningrat, kepemimpinan adalah “seni untuk mengkoordinasikan dan memberikan dorongan terhadap individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan”. Istilah kepemimpinan merupakan istilah umum yang tidak hanya dikaitkan dengan suatu organisasi. Kepemimpinan selalu muncul jika ada upaya mempengaruhi seorang individu atau kelompok orang baik dalam hubungannya dengan organisasi ataupun tidak. Misalnya, kepemimpinan terjadi ketika seorang kyai mempengaruhi anggota masyarakat lainnya untuk mengikuti keluarga berencana, hidup hemat dan membersihkan lingkungan tempat tinggalnya agar mereka dapat hidup sejahtera. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka yang tersirat dari kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi serta mengawasi orang atau kelompok, kemudian mengambil keputusan atau melakukan tindakan demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan. 2. Kepemimpinan, Manajemen dan Administrasi Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa kepemimpinan sebagai proses pemimpin menciptakan visi, mempengaruhi sikap, perilaku, pendapat, nilai-nilai, norma dan sebagainya dari pengikut untuk merealisasikan visi. Disini jelaslah, bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses bukan

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

11

sesuatu yang terjadi seketika. Istilah proses dapat dijelaskan dalam pengertian konsep sistem kepemimpinan yang terjadi dari masukan, proses dan keluaran kepemimpinan. Sebagaimana pada tabel berikut : Tabel 1: Sistem Kepemimpinan MASUKAN Pemimpin Pengikut Visi Kekuasaan Teknik mempengaruhi Sumber -sumber Situasi dan sebagainya Pengertian pemimpin, manajer, administrator dan istilah kepemimpinan berbeda.Stephen P. Robbins yang dikutip Wirawan berpendapat, bahwa manajemen sebagai "The process of getting activites completed efficiently with and through other people (manajemen merupakan suatu proses menyelesaikan ativitas secara efiseien dengan atau melalui orang lain). Definisi manajemen berbeda dengan definisi kepemimpinan di atas. 3. Tipe-tipe kepemimpinan Tipe tipe kepemimpinan menurut Sondang P. Siagian, adalah sebagai berikut : a) b) c) d) e) Tipe pemimpin yang otokratis Tipe pemimpin yang militeristik Tipe pemimpin yang pateranlistik Tipe pemimpin yang kharismatik Tipe pemimpin yang demoktaris. a) Tipe pemimpin yang Otokratis Tipe pemimpin yang otokrasi ialah seorang pemimpin yang : 1. 2. 3. 4. 5. 6. menganggap organisasi sebagai milik pribadi. Mengidentifikasi tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Menganggap bawahan sebagai alat semata. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat Terlalu bergantung pada kekuatan formalnya. Dalam tindakan penggerakannya sering menggunakan pendekatan yang sering mengandung paksaan dan bersifat menghukum. PROSES KELUARAN Interaksi antara pemimpin Pengikut terpengaruh dan pengikut Pemimpin dan pengikut Pengikut saling mempengaruhi terpenagruh Pemimpin dan pengikut Visi/tujuan tercapai berupaya merealisir visi Proses pengikut pemberdayaan Visi/tujuan tidak tercapai Perubahan terjadi Tidak terjadi perubahan tidak

Proses perubahan Proses manajemen konflik

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

12

b) Tipe pemimpin yang Militeristik Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristik berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristik yang memiliki sifat-sifat : Dalam menggerakkan bawahannya sistim perintah yang lebih sering dipergunakan. 1. Dalam menggerakan bawahan sering bergantung pada pangkat dan jabatan. 2. Senang pada formalitas yang berlebihan. 3. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan 4. Sukar menerima kritikan dari bawahannya. 5. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan. c) Tipe pemimpin yang paternalistik Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalisitik ialah seseorang yang memiliki sifat-sifat: 1.Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa. 2.Bersikap terlalu melindungi 3.Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif 4.Jarang memberikan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya. 5.Jarang memberikan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. 6.Sering bersikap maha tahu. d) Tipe pemimpin yang kharismatik Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang kharismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib, kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk kharisma. e) Tipe pemimpin yang demokratis Seorang pemimpin yang bertipe demokratis ialah seseorang yang memiliki sifat-sifat : 1. Dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia. 2. Membedakan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi, senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. 3. Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan team work dalam usaha mencapai tujuan. 4. Dengan rela memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan untuk kemudian dibandingkan dan diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama. 5. Selalu berusaha menjadikan bawahannya lebih sukses dari padanya. Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

13

pemimpin. B.Kepemimpinan Kepala Sekolah 1. Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pemimpin selalu ada dalam setiap organisasi. Kehadiran seorang pemimpin memberi corak tersendiri bagi organisasi yang dipimpinnya. Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan sering ditentukan oleh pemimpinannya, karena pemimpin adalah pemegang kendali organisasi. Kepala sekolah pada dasarnya adalah pemimpin. Ia adalah pemimpin bagi guru, pegawai non guru dan anak didik. Ini membawa implikasi bahwa kehadiran dirinya di sekolah merupakan figur yang menjadi panutan sekaligus penentu keberhasilan sekolah. Setiap pemimpin termasuk kepala sekolah memiliki tugas utama membawa orang-orang yang dipimpinnya ke arah tujuan yang telah ditetapkan. Tugas utama ini berada dalam proses kepemimpinan. Dalam usaha mencapai tujuan, kepemimpinan seorang pemimpin sangat vital. Kepemimpinan berfungsi sebagai daya penggerak bagi seluruh sumber daya, baik manusia maupun materiil, sehingga tanpa kepemimpinan tujuan yang ingin dicapai tidak akan pernah terwujud. Di lingkungan sekolah, kepala sekolah memiliki kepemimpinan kembar, yaitu kepemimpinan formal dan informal. Sebagai pemimpin formal, pengaruh yang diberikan kepada orang-orang yang dipimpinnya bersifat formal. Artinya ia menggerakkan dan mengarahkan guru, pegawai non guru serta anak didik dalam suasana kedinasan. Kepala sekolah dapat menjadi pemimpin informal karena pengalamannya yang lebih banyak dibandingkan guru. Kelebihan kepala sekolah tidak terbatas pada pengalamannya saja tetapi juga kelebihan di bidang ketrampilan dan pengetahuan tentang mengajar yang efektif. Dengan kelebihannya itu ia menjadi orang yang paling tepat dimintai bantuan oleh guru. Kepala sekolah menjalankan kepemimpinannya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu kepala sekolah diharapkan mampu memancing motivasi, menggerakkan dan mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan pendidikan menentukan keberhasilan sekolah mencapai tujuannya. Keberhasilan kepemimpinan sekolah akan membawa kepeberhasilan pula dalam pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Ini mengandung pengertian bahwa kepala sekolah memegang kunci keberhasilan sekolah. Pada umumnya, keberhasilan tujuan pendidikan di sekolah tidak terlepas dari peranan kepala sekolah. Peranan kepala sekolah, menurut M. Ngalim Purwanto, yaitu : a). Sebagai Eksekutif, yaitu seorang pemimpin tidak boleh memakakan kehendaknya sendiri terhadap kelompoknya. Ia harus berusaha menjalankan/memahami kehendak dan kebutuhan kelompoknya juga program atau rencana yang telah ditetapkan bersama.

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

14

b). Sebagai Perencana, yaitu seorang pemimpin yang baik harus pandai membuat dan menyusun rencana, sehingga segala sesuatu yang diperbuat terlebih dahulu telah diperhitungkan secara matang dan baik. c). Sebagai Ahli, yaitu harus ahli dengan tugas jabatan kepemimpinan yang dipegangnya. d). Sebagai pencipta/Memiliki cita-cita, yaitu seorang pimpinan hendaknya mempunyai suatu konsep yang baik dan realistis, sehingga dalam menjalankan kepemimpinannya mempunyai garis yang jelas dan tegas menuju arah yang telah ditentukan atau yang dicita-citakan. Sedangkan menurut Subagio Atmodiwiro dan Soeranto Totosiswanto, peranan kepala sekolah meliputi: Peranan kepala sekolah sebagai pemimpin, administrator, manajer, supervisor dan penghubung masyarakat”. Dan dalam melakukan perannya, kepala sekolah bertugas sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Menyusun perencanaan Mengorganisasikan kegiatan Mengkoordinasikan kegiatan Melaksanakan pengawasan Melakukan evaluasi terhadap kegiatan Menentukan kebijakan Mengadakan rapat Mengambil keputusan Mengatur proses belajar mengajar Mengatur administrasi kantor, siswa, pegawai, perlengkapan dan keuangan. 11) Mengatur organisasi 12) Mengatur proses belajar mengajar 13) Mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan dunia usaha. Peranan kepala sekolah dapat pula dilengkapi, sebagaimana pendapat M. Ngalim Purwanto., yaitu : 1. Menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompoknya dan keinginan kelompoknya. 2. Dari keinginan-keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai. 3. Meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan hayalan. 4. Menentukan jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai/mewujdukan kehendak-kehendak tersebut 4Kompetensi (kemampuan) kepemimpinan Seorang pimpinan pada umumnya tidak akan mengerjakan sendiri tindakan yang bersifat operasional, ia akan menggerakkan orang-

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

15

orang (bawahannya) untuk melaksanakan keputusannya sesuai dengan kebijaksanaan yang teah ditetapkan. Pelaksanaan pekerjaan tersebut akan diberikan kepada orang-orang tertentu sesuai dengan tingkat ketrampilan yang dimiliki. Soebagio Atmodiwiro san Soeranto Totosiswanto. mengemukakan kemampuan kepemimpinan yang dikutip dari Redding dan Casey, yaitu : 1)Pengambilan keputusan 2)Mengatur dan membagi tugas 3)Menguasai substansi 4)Pemberian pengarahan 5)Menguasai penggunaan sarana dan prasarana penunjang kegiatan 6)Kemampuan memberikan dorongan 7)Kemampuan memberikan penghargaan dan hukuman yang tepat 8)Kemampuan mengawasi, memonitor, dan menilai pelaksanaan kegiatan 9)Kemampuan memberikan bimbingan dan supervisi 10)Kemampuan mengadajan tindakan koreksi, perbaikan dan remidial Kepemimpinan adalah suatu proses dinamis. Hubungan pimpinan dan bawahan adalah bersifat timbal balik dan berkembang melalui traksaksi antar pribadi, personifikasi kepemimpinan menekankan keahlian teknis di samping kharisma. Para pemimpin muncul karena mereka dapat membentuk dan mengubah situasi, dan dengan demikian membuat sesuatu sistem menjadi makna bersama yang memberikan dasar untuk suatu tindakan organisasi. Dengan adanya kenyataan bahwa fungsi dan peran seorang pemimpin tidak hanya mempunyai kemampuan saja tetapi juga memenuhi persyaratan-persyaratan yang lebih tinggi dari bawahannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Soebagio, bahwa efektifitas seorang pemimpin banyak kemungkinan didukung oleh persyaratan-persyaratan sebagai berikut : 1)Memiliki kecerdasan yang cukup tinggi 2)Memiliki kemampuan berbicara 3)Memiliki percaya diri 4)Memiliki inisiatif 5)Memiliki motivasi berprestasi, dan 6)Memiliki ambisi. Selain itu seorang pemimpin harus mempunyai sifat-sifat umum dalam bermacam-macam situasi, seperti dapat merasakan dengan tepat dan mengerti tingkah laku anggota kelompok dan peka terhadap kebutuhankebutuhannya, dapat menyesuaikan tingkah lakunya untuk mengadakan perubahan sesuai dengan kebutuhan dan situasi kelompok. 2. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kompetensi Guru Dalam proses belajar mengajar, tugas guru tidak hanya terbatas sebagai penyampai ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), akan tetapi lebih dari itu ia juga bertanggung jawab atas keseluruhan kepribadian siswa ia harus mempu menciptakan kegiatan sedemikian rupa, sehingga dalam

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

16

menunaikan tugas khususnya dalam kegiatan proses belajar secara aktif dan dinamis. Guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya peningkatan mutu pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya peningkatan pendidikan selalu bermuara pada faktor guru. Hal ini menunjukkan betapa siginikasinya peran dan tugas guru terhadap pendidikan. Peranan guru dalam kegiatan pembelajaran amat dominan untuk pencapaian tujuan pengajaran. Karena itu guru harus mempersiapkan diri, baik dari aspek fisik maupun non fisik, seperti intelektual, moral dan sebagainya. Guru haruslah mampu mengembangkan diri seiring dengan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsekuensi logis dari semua itu ialah bahwa guru berupaya agar selalu mengembangan diri dengan berbagai cara, seperti membaca berbagai buku rujukan, menulis atau melanjutkan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dalam situasi demikian, maka peranan kepemimpinan kepala sekolah amat penting, yaitu dalam upaya meningkatkan kompetensi guru, membangkitkan semangat, membuat mereka agar tertarik dan lebih menyadari tentang tugas serta tanggung jawabnya. Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah perlu bekerjasama yang baik dengan para pegawainya dan guru-guru agar tugas-tugas pendidikan dilaksanakan sesuai dengan tujuan penddikan, sehingga produktifitas pendidikan meningkat, baik kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu)nya. Peningkatan produktivitas diperlukan inisiatif dan keratifitas bawahan, yaitu guru dan pegawai lainnya untuk memudahkan tugas mereka. Berdasarkan uraian di atas Kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh baik terhadap kompetensi guru dalam pengembangan diri ke arah yang lebih profesional dalam bidang yang ia geluti. Gaya atau Tipe Kepemimpinan Dalam kepemimpinan ada 3 unsur yang saling berkaitan yaitu adanya unsure manusia, unsure sarana, dan unsure tujuan. Cara atau teknik seorang dalam menjalankan suatu kepemimpinan dikatakan sebagai gaya kepemimpinan seseorang. Adapun gaya-gaya kepemimpinan yang pokok ada 3, yaitu menurut lewin : o Gaya kepemimpinan Otokratis (Ngalim P, 48) o Gaya kepemimpinan Laissez Faire (Ngalim P, 49) o Gaya kepemimpinan Demokratis (Ngalim P, 50) Menurut Sondang P. Siagian sebagaimana dikutip oleh M. Ngalim Purwanto, bahwa gaya kepemimpinan dibagi 5 berikut ciri-cirinya : (Ngalim P, 50-52) o Otokratis (Ngalim P, 50) o Milliterisme (Ngalim P, 51)

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

17

o Paternalistik (Ngalim P, 51) o Karismatis (Ngalim P, 51) o Demokratis (Ngalim P, 52) Adapun gaya kepemimpinan menurut Bartest : o Tipe Institusional o Tipe Dominan o Tipe Persuasif

Tipologi Kepemimpinan Pendidikan Islam@Moh. Mujib Zunun @lmisr@2008

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->