P. 1
JURNAL SOSIOPUBLIKA

JURNAL SOSIOPUBLIKA

|Views: 283|Likes:
Published by kartikabangsa
ADMINISTRASI NEGARA
SOSIOLOGI
ADMINISTRASI NEGARA
SOSIOLOGI

More info:

Categories:Types, Research
Published by: kartikabangsa on Dec 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/25/2015

pdf

text

original

ISSN 1411-6227

JURNAL SOSIOPUBLIKA, adalah berkala ilmiah yang peduli pada kajian masalah-masalah sosiologi kemasyarakatan dan keindonesiaan serta dinamika administrasi publik (pelayanan publik) di negeri ini. Terbit dua kali setahun setiap bulan Oktober dan Maret, terbit perdana Oktober 2011. Berkala ilmiah ini diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPM) STISIP KARTIKA BANGSA, Yogyakarta. Redaksi jurnal SOSIOPUBLIKA dengan senang hati menanti kiriman karya ilmiah hasil penelitian terbaru maupun artikel ilmiah (gagasan orisinil) dari para akademisi serta praktisi Indonesia yang selaras dengan nafas jurnal SOSIOPUBLIKA di atas.

Tim Pengelola Penanggung jawab Dr. Mukti Fajar, S.H., M.Hum Ketua Penyunting Vibriza Juliswara, S.H., S. Sos Wakil Ketua Penyunting Dra. Herliyani Trikoriyanti Penyunting Pelaksana Mitra Bestari Dra. Sudaru Murti, M.Si Drs. Sutrisno Gunawan, M.M Dra. Endang Sudaryanti, M.PA Dra. Zulianti, M.A Keuangan Pemasaran Pengelola IT Desain Lay Out Alamat Redaksi
Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPM) STISIP KARTIKA BANGSA, Gedong Kuning, Jogjakarta, telpon. 0274, faksimile 0274.

Nuryanti Purwanto Sukmono Aji, S.Ag Djoko Supriyanto

II

ISSN 1411-6227 VOL. 1 NO. 1 OKTOBER 2011

DAFTAR ISI
PENGEMBANGAN PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENGUATAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN DESA (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) Herliyani Tri Koriyanti | Program Studi Ilmu Administrasi Negara STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta halaman 1-15

PERGESERAN PETANI SUBSISTEN MENUJU AGRICULTURAL INTREPRENEURSHIP ( Studi Pada Gapoktan Lestari Makmur, Desa Argorejo, Sedayu, Bantul ) Zulianti | Program Studi Sosiologi. STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta. halaman 16-28 DAMPAK KEBIJAKAN PASCA RELOKASI TERHADAP PEDAGANG DI PASAR KLITIKAN YOGYAKARTA Endang Tri. S | Program Studi Ilmu Administrasi Negara STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta. halaman 29-48 POTENSI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KAWASAN BENDUNGAN TINALAH DI KABUPATEN KULON PROGO Sudaru Murti | Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta. halaman 49-59

III

PERUBAHAN PEREKONOMIAN, STRATEGI SURVIVAL, DAN PENGARUH INDUSTRI KERAJINAN TOPENG KAYU TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI DESA PUTAT, GUNUNG KIDUL Vibriza Juliswara | Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta. halaman 60-76 PERAN WANITA DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT BERKEADILAN GENDER Farida Hanum | Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta. halaman 77-91 PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA. REFLEKSI KRITIS TERHADAP PERKEBANGAN PENDIDIKAN BERBASIS MDGs Dyah Ratih Sulistyastuti | Program Studi Administrasi Negara, STISIP Kartika Bangsa, Yogyakarta. halaman 92-116

IV

PENGANTAR REDAKSI
Jurnal Ilmiah “SOSIOPUBLIKA” yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Kartika Bangsa merupakan edisi perdana yang diharapkan mampu hadir lebih excellent dan bisa memenuhi hasrat ilmiah-intelektual para pembacanya, baik mahasiswa, dosen, para pecinta ilmu dan masyarakat luas pada umumnya. Edisi perdana ini mengetengahkan tema tentang “ Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat dan Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Kegiatan Publik. Pada edisi ini, dominan hadir dengan karya ilmiah yang berasal dari para dosen di STISIP Kartika Bangsa pada dua program studi yang ada yaitu Sosiologi dan Ilmu Administrasi Negara dengan penulis tamu Guru Besar FISE Universitas Negeri Yogyakarta . Tulisan pertama mengenai pengembangan sosial ekonomi masyarakat merupakan hasil penelitian dengan judul Pergeseran Petani Subsisten Menuju Agricultural Entrepreneurship ( Studi Pada Gapoktan Lestari Makmur, Desa Argorejo, Kec. Sedayu, Kab. Bantul ) yang ditulis oleh Zulianti, kemudian hasil penelitian dengan pendekatan evaluasi kebijakan publik dengan judul Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta yang disusun oleh Endang Tri. Sudaryanti, selanjutnya penelitian penggabungan pendekatan kebijakan dan kajian sosial untuk menilai Potensi Sosial Ekonomi Masyarakat Kawasan Bendungan Tinalah Di Kabupaten Kulon Progo yang disusun oleh Sudaru Murti. Guna melihat perubahan yang terjadi di masyarakat sebagai dampak dari pembangunan ekonomi dan industri dikaji dalam penelitian dengan judul Perubahan Perekonomian, Strategi Survival, dan Pengaruh Industri Kerajinan Topeng Kayu Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Putat Kabupaten Gunung Kidul yang disusun oleh Vibriza Juliswara. Sedangkan untuk kajian Wanita dalam jurnal ini terdapat penelitian dengan judul Pengembangan Partisipasi Perempuan dalam Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) oleh Herliyani Tri Koriyanti dan artikel dengan judul Peran Wanita Dalam Membangun Masyarakat Berkeadilan Gender yang ditulis oleh Farida Hanum. Pada bagian akhir jurnal ditutup dengan artikel yang ditulis oleh Dyah Ratih Sulistyastuti dengan judul Quavadis Pendidikan Dasar di Indonesia Refleksi Kritis terhadap Perkembangan Pendidikan Berbasis MDGs Demikianlah, gambaran singkat dari tulisan-tulisan yang hadir pada edisi ini. Guna mengetahui dan mengkaji lebih jauh, dipersilakan para pembaca untuk menyimak satu

V

per satu tulisan yang ada dalam edisi ini. Akhirnya, Penyunting Jurnal Ilmiah SOSIOPUBLIKA mengucapkan terima kasih atas bantuan banyak pihak sehingga edisi perdana ini bisa hadir di hadapan pembaca. Penyunting juga mohon maaf atas segala kekurangan edisi perdana ini. Sehingga, saran konstruktif senantiasa terbuka guna perbaikan pada edisi-edisi mendatang. Selamat Membaca !

Ketua Penyunting

VI

PEDOMAN PENULISAN
1. Artikel diketik di atas kertas A4, tidak bolak-balik, satu setengah spasi (1,5) kecuali untuk abstrak satu (1) spasi ; batas atas, bawah kiri dan kanan setiap halaman adalah 2,5 cm. Diberi nomor halaman mulai dari halaman judul. 2. Artikel penelitian harus diketik dengan komputer, memakai program Microsoft Word dengan huruf Times New Romans 12 pt. 3. Artikel yang disusun dalam Bahasa Inggris menggunakan American atau British style, tetapi bukan campuran keduanya. 4. Naskah harus mengikuti sistematika sebagai berikut : a. Judul artikel - Singkat, padat, dan menggambarkan isi artikel - Judul artikel ilmiah tidak harus sama dengan judul proposal penelitian - Judul ditulis dengan huruf besar dan bila perlu dapat dilengkapi dengan sub judul b. Nama dan lembaga/institusi penulis - Dituliskan nama-nama penulis/peneliti, tanpa gelar, dan dicantumkan instansinya - Dituliskan alamat korespondensi lengkap dengan nomor telepon dan email c. Abstrak - Abstrak harus ada dalam artikel ilmiah yang dikirimkan dan ditulis dalam Bahasa Inggris - Abstrak disusun dalam satu paragraf (huruf cetak miring), tidak lebih dari 200 kata - Isi mencakup latar belakang, tujuan penelitian, metode penelitian, hasil dan simpulan - Kata kunci yang menyertai abstrak tidak lebih dari 5 kata d. Pendahuluan - Pendahuluan sebaiknya terdiri tidak lebih dari 3 paragraf dan paragraf terakhir memuat pernyataan tujuan kegiatan - Isi pendahuluan mencakup latar belakang penelitian, kajian pustaka, kenapa penelitian ini perlu, analisis situasi saat ini, dan hasil yang diharapkan

VII

e. Metode Penelitian - Memuat secara rinci langkah-langkah pelaksanaan penelitian - Bagaimana cara pemilihan responden - Cara pengumpulan dan analisis data f. Hasil Penelitian dan Pembahasan - Tampilkan hasil dengan deskripsi yang jelas dan didukung oleh ilustrasi tabel, gambar, diagram dan sejenisnya yang mudah dipahami maknanya - Pembahasan harus bias mengungkapkan dan menjelaskan tentang hasil yang diperoleh terutama dengan memanfaatkan acuan - Hasil pembahasan telah dibandingkan dengan temuan penelitian sebelumnya yang sejenis - Implikasi dari temuan g. Simpulan dan Saran - Simpulan adalah jawaban atas hipotesis yang dilakukan - Hindari spekulasi dalam pengambilan simpulan - Simpulan mengandung sesuatu yang baru dalam bidang yang diteliti - Simpulan langsung terkait dengan masalah penelitian yang telah dirumuskan - Kalimat sedemikian rupa sehingga tidak mengulangi hasil h. Ucapan Terima Kasih - Ucapan terima kasih ditempatkan sebelum daftar pustaka - Ucapan terima kasih terutama kepada pemberi dana dengan nomor kontrak penelitian i. Daftar Pustaka - Acuan yang ada dalam daftar pustaka harus ada di dalam tubuh tulisan - Acuan pustaka relevan dengan masalah penelitian - Diupayakan acuan rujukan terbaru (10 tahun terakhir), khususnya yang berbasis jurnal atau sitasi artikel ilmiah yang telah ditulis penulis sendiri di jurnal yang terbit sebelumnya. - Sistematika penulisan acuan pustaka menggunakan pedoman yang baku. 5. Redaksi menerima kiriman artikel ulasan dengan ketentuan sebagai berikut :

VIII

a. Artikel belum pernah dipublikasikan oleh media cetak lain. b. Artikel berupa ulasan gagasan konseptual terbaru, kajian dan aplikasi teori serta ulasan buku. c. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris dan diketik 1,5 pada kertas kuarto atau A4, jumlah halaman 10-20 halaman di luar daftar pustaka dan tabel. d. Semua artikel ditulis dalam bentuk esai dan berisi : abstrak (50-75 kata) dalam Bahasa Inggris, jika artikel berbahasa Indonesia; kata kunci (3-5 kata) ; identitas penulis (tanpa gelar akademik) ; pendahuluan tanpa sub bab yang memuat latar belakang masalah, kajian pustaka, rumusan masalah dan tujuan penelitian, serta kerangka pemikiran teoritik; pembahasan; simpulan dan saran; serta daftar pustaka (pustaka yang ditulis adalah pustaka yang diacu) e. Daftar pustaka ditulis dengan tata cara diurutkan secara alphabetis dan kronologis. f. Naskah dikirim sebanyak dua eksemplar disertai file artikel tersebut dalam bentuk Compact Disk (CD) dengan menggunakan program Microsoft Word. Pengiriman harus disertai alamat lengkap dan nomor telepon/HP yang mudah dihubungi g. Kepastian pemuatan atau penolakan diberitahukan secara tertulis. Artikel yang tidak dimuat tidak dapat dikembalikan kecuali atas permintaan penulis.

1

PENGEMBANGAN PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENGUATAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN DESA (STUDI KASUS DI KABUPATEN SLEMAN PROVINSI DAERAH ISTIMEW A YOGYAKARTA)
Herliyani Tri Koriyanti | Program Studi Ilmu Administrasi Negara STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta, herliyani_triko@yahoo.com

ABSTRACT
Recognition and a deep understanding of individuals and groups who have been powerless under the political system (patriarchy) that apply. It is also important increase political awareness, political awareness so that they can use it to expresshis political stance in order to change political policies that impact on their lives. However, low participation and political representation of women contribute very significantly to the lack of attention to women’s empowerment. Strengthening women’s participation in village governance are both about society and as the spearhead of development. Village readiness increasingly demanded both in terms of formulating policies Village (Perdes form), village development plans that are tailored to the circumstances and in providing routine services to the community. Based on the findings in the field could be concluded that the participation of women in particular the planning and budgeting of development in the Village JogotirtoSleman Yogyakarta has been running well and producing qualitywomen who have contributed in the village of governance as well or are already applying the principles of good governance. Planning and budgeting is a step of acycle (cycle) development program. Recycling is structured per 5 years (the Village Development Plan) and elaborated per year (RKP Village and Village APB). Rural development programs that gender perspective is a deliberate effort for this process to always pay attention to the involvement of women, differences in the needs of women and men, and also accompanied by public awareness efforts regarding gender issues. Key word: Women’s Participation, village governance

A. PENDAHULUAN
Transisi demokrasi yang berlangsung di Indonesia saat ini, membangkitkan tuntutan yang lebih luas atas peningkatan kehidupan politik bagi setiap warganegara. Dalam kaitan ini terjadi tarik menarik dan proses negosiasi yang ketat antara ideologi politik dominan dan aspirasi yang berkembang. proses demokratisasi yang berlangsung saat ini dapat

2

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

menciptakan suatu iklim yang kondusif bagi kaum perempuan yang selama bertahuntahun dipinggirkan dalam arena politik. Oleh karena itu, membangun demokrasi yang partisipatif adalah tantangan utama pada masa transisi ini. Konsep ini mensyaratkan pengakuan dan pemahaman yang mendalam terhadap individu dan kelompok yang selama ini powerless di bawah sistem politik (patriarkhi) yang berlaku. Selain itu juga penting meningkatkan kesadaran politik, sehingga mampu menggunakan kesadaran politik itu untuk mengekspresikan sikap politiknya dalam rangka melakukan perubahan kebijakan politik yang berdampak pada kehidupannya. Namun rendahnya partisipasi dan representasi politik perempuan berkontribusi sangat signifikan terhadap kurangnya perhatian masyarakat terhadap pemberdayaan perempuan. Dalam perspektif gender, penerapan kebijakan quota keterwakilan perempuan sampai di tingkat pemerintahan dan politik pedesaan dianggap sangat penting, dikarenakan sejumlah pertimbangan sebagai berikut: Pertama, kebijakan quota keterwakilan perempuan yang selama ini hanya berlaku pada tingkat kabupaten/kota, propinsi dan nasional, pada kenyataannya hanya bisa dinikmati oleh perempuan di daerah perkotaan, karena perempuanlah yang memiliki kualitas, kesempatan dan jaringan politik. Padahal, secara materil, kepentingan kaum perempuan perkotaan belum tentu sejalan dengan kepentingan kaum perempuan pedesaan di Republik Indonesia. Dengan demikian, keberhasilan perempuan perkotaan menduduki kursi di parlemen belum dapat dikatakan representase kepentingan kaum perempuan pedesaan. Kedua, desa merupakan struktur basis negara, pemerintahan dan pembangunan yang berhadap-hadapan langsung dengan rakyat, dengan produk-produk kebijakan dan politik pembangunan “hampir selalu”, jika tidak dapat disebut “selalu” memposisikan rakyat pedesaan sebagai sasaran, terhadap kaum perempuan menempati jumlah yang sepadan dengan laki-laki. Dalam konteks ini, perluasan kebijakan quota keterwakilan perempuan sampai pada level pemerintahan dan politik pedesaan, secara langsung atau tidak langsung akan mengakomodir kepentingan politik dalam pembangunan sampai pada tingkat nasional. Sebab pendekatan perencanaan pembangunan saat itu telah bersifat bottom up, dimulai dari Musyawarah Pembangunan Desa (Musbangdes) Desa hingga Musyawarah Pembangunan Nasional (Musbangnas). Ketiga, demokrasi di tingkat desa cenderung bersifat langsung dan memiliki ketegasan pengakuan terhadap otoritas personal dan kelompok komunitas sosial sebagai subjek dengan kemungkinan distorsi pengelompokan kompetensi politik makro (eksternal) yang minimal. Dengan demikian, perluasan kebijakan quota keterwakilan perempuan sampai pada level pemerintahan dan politik pedesaan, dapat merupakan ruang pendi-

HERLIYANI TRI KORIYANTI | Pengembangan Partisipasi Perempuan dalam Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)

3

dikan dan pengkaderan politik kaum perempuan dalam rangka pemenuhan quota 30 % secara kuantitatif maupun kualitatif. Keempat, perluasan kebijakan quota keterwakilan perempuan sampai pada level pemerintahan dan politik pedesaan, juga merupakan sebuah pendekatan sosial untuk mengikis nilai-nilai budaya patriarkhi. Disebut demikian, karena di daerah pedesaan lah budaya patriarkhi masih sangat kental hegemoninya (Majalah Majemuk, Edisi VIII). Peningkatan kedudukan dan peranan perempuan Indonesia sudah diupayakan selama lebih dari dua dasa warsa, namun hasilnya belum maksimal sebagaimana diharapkan, sehingga masih terus dilanjutkan seperti diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJMN) 2004-2009. RPJMN ini pada pokoknya memberi arah, bahwa untuk memberdayakan perempuan diperlukan adanya lembaga yang mampu mengemban kebijakan nasional untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan jender, meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan serta melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan, kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Visi dan misi pembangunan pemberdayaan perempuan telah pula dirumuskan dengan mengakomodasikan aspirasi semua lapisan masyarakat yang berkembang, oleh karena isu gender saat ini menjadi tema penting dalam program pembangunan di bidang ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan dan hukum. Oleh karena itu pemahaman dan persepsi tentang gender secara benar dan kontekstual harus diperluas di berbagai struktur sosial masyarakat dimulai dari dalam keluarga dan tataran yang lebih luas lagi. Pemahaman tentang gender juga menjadi kebutuhan strategis di dalam pemerintah dalam mengarahkan pembangunan di berbagai bidang kehidupan (Katjasungkana, 2003) Namun sayang, sejauh ini kebijakan dan program yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia tidak banyak mengurangi ketimpangan dan kesenjangan gender antara perempuan dan laki-laki. Sebab pokoknya adalah karena kebijakan-kebijakan yang diterapkan pemerintah terhadap perempuan baik dari segi hukum, kelembagaan dan ideologinya sangat bias gender. Sehingga perubahan yang harus dilakukan cukup besar dan meliputi semua institusi demokratis yang diperlukan bagi pembentukan tata pemerintahan yang berpihak pada kepentingan kaum perempuan. Pemerintah yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan kaum perempuan. Proses perencanaan dan pembuatan kebijakan yang responsif gender untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender perlu didorong guna mencapai suatu nilai lebih dalam proses pembangunan terutama dalam pembentukan tata pemerintahan desa yang partisipatif berbasis gender. Partisipasi perempuan dalam penguatan tata kelola pemerintah desa yang baik berkaitan dengan masyarakat dan sebagai ujung tombak pembangunan. Desa semakin dituntut

4

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

kesiapannya baik dalam hal merumuskan kebijakan Desa (bentuk Perdes), merencanakan pembangunan desa yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta dalam memberikan pelayanan rutin kepada masyarakat. Demikian pula dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kreativitas dan inovasi masyarakat dalam mengelola dan menggali potensi yang ada sehingga dapat menghadirkan nilai tambah ekonomis bagi masyarakatnya. Dengan demikian, maka cepat atau lambat desa-desa tersebut diharapkan dapat menjelma menjadi desa-desa yang otonom, yakni masyarakat desa yang mampu memenuhi kepentingan dan kebutuhan yang dirasakannya. Pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik perlu melakukan perencanaan pembangunan yang responsif gender yaitu dengan perencanaan yang dibuat oleh seluruh lembaga pemerintah, organisasi profesi, masyarakat dan lainnya yang disusun dengan mempertimbangkan 4 aspek seperti: peran, akses, manfaat dan kontrol yang dilakukan secara setara antara perempuan dan laki-laki. Persoalan di atas terus menerus menjadi persoalan perempuan secara umum saat ini. Dari situasi problematis di atas, maka penelitian ini akan mengangkat pemasalahan sebagai berikut: “Apakah pengembangan partisipasi perempuan mampu mendorong penguatan tata kelola pemerintahan desa yang baik?”

B. METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada variabel tata kelola pemerintahan desa yang baik sebagai variabel terikat. Dua variabel yang lain yaitu variabel Good Governance pada tingkat lokal sebagai variabel bebas pertama, dan variabel partisipasi perempuan sebagai variabel bebas kedua. Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah kualitatif, dan jenis teknik analisis datanya adalah deskriptif. Dengan demikian, metode kualitatif dalam penelitian ini lebih bersifat analisis deskriptif, yang bertujuan untuk menemukan fenomena apa yang telah terjadi pada partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik. Data kuantitatif yang dapat dikumpulkan akan dianalisis secara deskriptif agar bisa mendukung penemuan-penemuan dari penelitian ini. Penelitian ini bermaksud mendapatkan gambaran nyata implementasi partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik. Untuk mengumpulkan data dan informasi digunakan teknik: (1) wawancara mendalam yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada informan yang biasanya menggunakan pedoman wawancara dengan maksud mendapatkan informasi secara lengkap, mendalam, dan komprehensif sesuai tujuan penelitian; (2) observasi,

HERLIYANI TRI KORIYANTI | Pengembangan Partisipasi Perempuan dalam Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)

5

penggunaan teknik observasi dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap fenomena yang tidak diperoleh melalui teknik wawancara; dan (3) studi dokumentasi, penggunaan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghimpun dan merekam data yang bersifat dokumentatif, seperti: fotofoto kegiatan, arsip-arsip penting, kebijakan, dan lainnya. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles, Huberman & Yin dalam Suprayogo & Tobroni, 2001: 192). Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan lapangan. Sedangkan penyajian data adalah kegiatan penyajian sekumpulan informasi dalam bentuk teks naratif yang dibantu dengan metrik, grafik, jaringan, tabel, dan bagan yang bertujuan mempertajam pemahaman peneliti terhadap informasi yang diperoleh. Dan penarikan kesimpulan adalah mencari arti, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi. Penarikan kesimpulan dilakukan secara cermat dengan melakukan verifikasi berupa tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan sehingga data-data yang ada teruji validitasnya. Informan dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling (sampling bertujuan), artinya informan dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa informan mengetahui secara baik pelaksanaan partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik Untuk itu, informan yang telah dipertimbangkan sesuai dan mengetahui secara baik pelaksanaan program. Data penelitian ini meliputi data sekunder yang meliputi produk dokumen regulasi dan pola pelaksanaan partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik serta data primer yang dikumpulkan dengan memakai metode wawancara mendalam (indepth interview) dengan Focus Group Discussion (FGD). Beberapa hal yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah menyangkut: Latar belakang partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik. Bentuk serta jenis partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik Mekanisme partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik Mekanisme partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik pertanggungjawaban serta pengawasan, baik dari pemerintah desa ke masyarakat atau pun ke pemerintah Kabupaten Mekanisme partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik dan proses demokrasi Kondisi desa setelah adanya partisipasi perempuan dalam pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik.

6

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Peran yang dapat dimasuki oleh kaum perempuan dalam mendorong pembentukan tata kelola pemerintahan desa yang baik. Partisipasi perempuan menjadi sebuah entry point yang bersifat strategis bagi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik. Salah satu bentuk partisipasi perempuan secara konkret adalah keterlibatan perempuan dalam perencanaan pembangunan. Perencanaan pembangunan di Indonesia mengacu pada konsep pembangunan yang menempatkan rakyat sebagai pusat (people-centered development), sehingga proses penyusunan perencanaan pembangunan telah bergeser dari paradigma top down planning menuju paradigma bottom up planning. Pendekatan pembangunan yang berorientasi pada pada people centered development, menempatkan masyarakat sebagai titik sentral pembangunan. Secara jelas pula bahwa pendekatan pembangunan yang bertumpu people centered development mengakui dan memberi ruang yang lebih luas bagi partisipasi publik atau masyarakat. Dengan demikian perempuan sebagai bagian dari masyarakat diberikan peluang seluas-luasnya untuk berpartisipasi dalam proses penyusunan perencanaan desa. Penelitian partisipasi perempuan ini mengambil sampel di Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman Provinsi DIY. Partisipasi perempuan telah menjadi sebuah kesadaran yang diyakini dapat membantu kaum perempuan untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan desa dalam koridor Good Governance. Berikut adalah hasil temuan focus group discussion yang dilakukan oleh para peneliti dengan para ibu-ibu tergabung dalam kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman Provinsi DIY, tentang Kriteria Tata Kelola Pemerintahan Desa yang Baik adalah pemerintahan yang: a. Siap melayani masyarakat yang baik dan ramah b. Siap melayani tepat waktu dan ketika masyarakat membutuhkan pelayanan, perangkat desa sebagai pemerintah selalu siap sedia melayani. c. Perempuan selalu dilibatkan dalam pemerintahan desa d. Kedisiplinan waktu. e. Pemerintah desa menentukan pungutan desa yang jelas, contohnya biaya pembuatan KTP harus jelas, transparan dan ditempelkan f. Perangkat desa/lurah harus siap sedia memberikan pelayanan 24 jam g. Perangkat desa satu kata dengan lembaga desa yang ada dan harus transparan menjalin kerjasama yang baik. h. Pemerintah desa dalam pengambilan keputusan harus melibatkan semua unsur lembaga yang ada di masyarakat dan juga dalam pelaksanaan keputusan tersebut.

HERLIYANI TRI KORIYANTI | Pengembangan Partisipasi Perempuan dalam Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)

7

i. Pelayanan masyarakat 24 jam j. Ketertiban dalam administrasi, dokumen dan data. Dari hasil poin-poin tersebut dapat disarikan bahwa perspektif perempuan terhadap bentuk good governance di desa sudah hampir mendekati makna good governance yang dikonsepkan oleh UNDP yaitu: Participation. Keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan secara langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat meyalurkan aspirasinya. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif. Rule of law. Adanya kerangka hokum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Transparancy. Dibangun atas dasar kebebasan memperoleh informasi yang berkaitan dengan kepentingan pubik secara langsung serta dapat diperoleh mereka yang membutuhkan. Responsiveness. Lembaga-lembaga public harus cepat dan tanggap dalam melayani stakeholders. Consensus orientation. Berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas. Equity. Setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan dan keadilan. Efficiency dan Effectivennes. Pengelolaan sumber daya publik dilakukan secara berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif). Accountability. Pertanggung jawaban kepada public atas setiap aktivitas yang dilakukan. Strategic vision. Penyelenggara pemerintahan dan masyarakat harus memiliki visi jauh ke depan. Bentuk-bentuk partisipasi yang dapat dilakukan oleh kaum perempuan dalam mendorong penguatan tata kelola pemerintahan desa yang baik Good governance yang menyediakan ruang partisipasi bagi perempuan telah mendorong tumbuh dan berkembangnya kehidupan demokrasi di desa, dalam bentuk peningkatan peran serta perempuan baik dalam proses penyelenggaraan pemerintahan maupun dalam

8

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

proses pembangunan di desa. Perempuan sebagai salah satu komponen penting dalam kehidupan masyarakat desa, mempunyai potensi sumber daya manusia yang dapat mendukung proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di desa. Peningkatan peran serta perempuan dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di desa sesuai dengan sumberdaya dan hak-hak sipil, politik, ekonomi, dan budaya yang dimilikinya, perlu dikelola dengan pola keterwakilan dan partisipasi perempuan dalam pemerintahan desa, lembaga kemasyarakatan, dan proses pembangunan desa. Pengaturan keterwakilan dan partisipasi perempuan dalam Pemerintahan Desa, Lembaga Kemasyarakatan Desa, dan Proses Pembangunan Desa didasarkan pada prinsip keseteraan dan partisipasi. Pengaturan keterwakilan dan partisipasi perempuan dalam Pemerintahan Desa, Lembaga Kemasyarakatan Desa, dan Proses Pembangunan Desa bertujuan meningkatkan peran serta perempuan dalam proses pengambilan kebijakan.Pembahasan tentang bentuk-bentuk partisipasi perempuan berdasar hasil temuan focus discussion group yang dilakukan oleh para peneliti dengan para ibu-ibu tergabung dalam kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman Provinsi DIY, persepsi penerapan prinsip Good Governance a. Keterlibatan perempuan dalam lembaga pemerintah desa b. Keterlibatan perempuan dalam BPD c. Keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan ditingkat desa. 30% keterlibatan perempuan dalam pemerintah desa sudah tercapai bahkan cenderung lebih. Dalam praktek otonomi daerah di era reformasi ini, partisipasi masyarakat dalam pembuatan kebijakan terutama kebijakan anggaran telah mengalami perubahan dari pola lama yang dominant “top down” serta sentralistis menjadi pola baru yang cenderung “botton up” serta desentralis. Model kebijakan anggaran dengan metode perencanaan penganggaran partisipasi menghendaki keterlibatan masyarakat secara aktif dengan asumsi bahwa rakyat yang lebih tau dan memahami akan kebutuhan-kebututuhan yang dirasakannya. Sehingga akan terjadi proses transformasi yang memberikan ruang bagi rakyat untuk menjawab dan memecahkan persoalan yang dialami sendiri. Mekanisme partisipasi bagi kaum perempuan dalam penguatan tata kelola pemerintahan desa yang baik Partisipasi perempuan secara utuh perlu dilihat sebagai pencapaian Good Governance berbasis gender. Kelompok PKK dianggap mewakili wadah partisipasi perempuan berbasis gender karena baik langsung maupun secara tidak langsung, karena PKK

HERLIYANI TRI KORIYANTI | Pengembangan Partisipasi Perempuan dalam Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)

9

berkepentingan dengan pembangunan desa yang memerlukan partisipasi para ibu-ibu anggota Pemberdayaan & Kesejahteraan Keluarga (PKK). Gerakan Pemberdayaan & Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah Gerakan Nasional yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat, dengan perempuan sebagai penggeraknya menuju terwujudnya keluarga bahagia, sejahtera, maju dan mandiri dengan tugas dan fungsi yang tertuang dalam 10 Program Pokok PKK yang meliputi: Penghayatan dan pengalaman Pancasila, Gotong royong, Pendidikan dan keterampilan, Pengembangan kehidupan berkoperasi, Pangan, Sandang, Perumahan dan Tata laksana Rumah tangga, Kesehatan, Kelestarian lingkungan hidup dan perencanaan sehat. Dalam konteks pembangunan, gerakan PKK telah berperan nyata dalam proses partisipasi pembangunan daerah. Relevansi PKK dengan pembangunan dan partisipasi perempuan adalah bahwa PKK adalah organisasi kemasyarakatan. Denyut nadi dan dinamika sosial, politik, ekonomi, serta sosial budaya masyarakat, dapat secara langsung dirasakan oleh para Kader PKK. Oleh karena itu, Kader PKK juga berfungsi sebagai agen pembangunan. PKK dan Pemerintahan Desa memiliki potensi menggerakkan peran serta atau partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan. PKK bukan hanya wadah bagi perempuan, organisasi ini melakukan pemberdayaan kesejahteraan keluarga yang juga menjadi tugas kaum lelaki. PKK mitra kerja pemerintahan daerah dan masih menjadi kelas masyarakat nomor dua dalam proses pembangunan atau belum optimal dilibatkan. Pembahasan tentang mekanisme good governance berdasar hasil temuan focus discussion group yang dilakukan oleh para peneliti dengan para ibu-ibu tergabung dalam kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY, persepsi penerapan prinsip Good Governance adalah: a. PKK ada program setelah gempa, 30% usulan dari wanita disalurkan dengan pembangunan dana desa, sudah ada koperasi simpan pinjam. b. Pengadaan alat-alat posyandu sudah terealisasi dengan baik, contohnya timbangan, tempat makan bayi, juga pemberian bantuan untuk anak-anak sekolah juga terealisasi dengan baik. c. Peraturan desa dibuat dengan melibatkan berbagai desa yang lain. d. Bantuan PKK mendapat 2 juta tiap tahunnya sama dengan desa-desa lainnya. Apabila dirujukkan dengan program kerja berbasis 10 program pokok PKK tersebut, terlihat bahwa kegiatan di PKK Desa Jogotirto sekalipun telah mengacu pada keisi-kisi 10 program pokok PKK, namun masih sangat terbatas dari aspek kegiatan dan juga minimnya anggaran yang dialokasikan.

10

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

Dalam tinjauan partisipasi perempuan dan penganggaran dapat dikatakan bahwa partisipasi perempuan dalam perencanaan anggaran publik sangat menentukan adanya dukungan politik masyarakat terhadap anggaran itu sendiri. Mekanisme partisipasi perempuan dalam penganggaran publik dapat dimulai dari tingkat desa atau kelurahan, kemudian di tingkat kecamatan dan seterusnya sampai pada tingkat kabupaten/kota, propinsi,bahkan nasional. Nama forum partisipasi juga beragam mulai dari musrenbangdes, musrenbangkel, musrenbang kecamatan, musrenbang kabupaten/kota dan seterusnya. Dari forum-forum sebagai mana disebutkan di atas, diharapkan aspirasi seluruh rakyat dapat terjaring sehingga keinginan rakyat bisa terhimpun secara maksimal. Mekanisme ini juga diharapkan bisa menjaring informasi pembangunan dari masyarakat secara optimal sehingga kegiatan-kegiatan pembangunan yang didanai dengan anggaran harus sesuai dan benar-benar menyentuh kebutuhan atau kepentingan masyarakat. PKK merupakan organisasi di desa berbasis perempuan, sehingga program yang dilakukan selalu terkait dengan pemerintahan dan pembangunan yang berhadap-hadapan langsung dengan kepentingan perempuan sebagai sasaran, terhadap kaum perempuan menempati jumlah yang sepadan dengan laki-laki. Konteks ini, refleksi program PKK menunjukkan suara perempuan sampai pada level pemerintahan dan politik pedesaan, secara langsung atau tidak langsung akan mengakomodir kepentingan perempuan dalam pembangunan desa melalui pendekatan perencanaan pembangunan Desa. Partisipasi yang dilakukan oleh kaum perempuan mendorong kualitas tata kelola pemerintahan desa Tata kelola yang baik dalam aspek ini dapat dilihat dari satu bentuk partisipasi perempuan dalam perencanaan dan penganggaran di desa melalui musrenbang. Sebagai forum musyawarah para pihak berkepentingan di tingkat desa dalam menyepakati rencana tahunan pembangunan, musrenbangdes menjadi media yang penting dalam menjaring aspirasi masyarakat. RPJM Desa adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun yang memuat strategi dan arah kebijakan pembangunan Desa, arah kebijakan keuangan Desa dan program prioritas kewilayahan, yang disertai dengan rencana kerja. RPJM Desa disusun untuk menjadi panduan atau pedoman bagi komunitas desa dan supradesa, dalam rangka mengelola potensi maupun persoalan di desa. Karena itu, RPJM Desa merupakan dokumen perencanaan yang terintegrasi dengan perencanaan pembangunan kabupaten/kota, (Pasal 63 ayat 1 PP No 72/2005). RPJM Desa dapat dimaknai sebagai dokumen “cetak biru” (blue print) desa selama rentang waktu lima (5) tahun. Dokumen “cetak biru” ini memuat arah dan orientasi pembangunan desa selama lima tahun. Secara konsepsional capaian pembangunan desa selama lima tahun

HERLIYANI TRI KORIYANTI | Pengembangan Partisipasi Perempuan dalam Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)

11

dituangkan ke dalam visi dan misi desa. RPJM Desa juga merumuskan permasalahan desa, strategi dan kebijakan yang hendak ditempuh. Pembahasan tentang partisipasi yang dilakukan oleh kaum perempuan mendorong kualitas tata kelola pemerintahan desa partisipasi yang dilakukan oleh kaum perempuan mendorong kualitas tata kelola pemerintahan desa berdasar hasil temuan focus discussion group yang dilakukan oleh para peneliti dengan para ibu-ibu tergabung dalam kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman Provinsi DIY, adalah: a. Lurah sudah membuat anggaran biaya sesuai kebutuhan b. Kegiatan PNPM mandiri untuk perempuan sebesar 30% dari dana c. Perempuan sangat dilibatkan dalam rehabilitasi pasca gempa, seperti posyandu, PAUD, kesehatan berhubungan dengan perempuan, ada kursus ketrampilan, kesehatan dan lain-lain d. Pelibatan dalam kegiatan dan perencanaan Alokasi Dana Desa. Dari penelusuran partisipasi perempuan dalam perencanaan pembangunan seperti Nampak dalam perencanaan RPJMD tersebut, optimalisasi pelibatan perempuan dalam Nampak telah berjalan dengan dibuktikan dari komposisi program yang direncanakan selama 2004-2010. Perencanaan dan penganggaran merupakan langkah dari suatu siklus (daur) program pembangunan. Daur ini disusun per 5 tahun (RPJM Desa) dan dijabarkan per tahun (RKP Desa dan APB Desa). Program pembangunan desa yang berperspektif jender merupakan suatu upaya sengaja agar proses ini selalu memperhatikan keterlibatan perempuan, perbedaan kebutuhan perempuan dan laki-laki, dan juga disertai upaya penyadaran masyarakat mengenai isu gender sehingga terjadi upaya-upaya mengubah ketimpangan gender seperti yang dipaparkan di atas. Salah satu aspek tujuan jangka panjang (strategis) program adalah mewujudkan kesetaraan gender. Anggaran adalah sumber daya publik dan penting untuk kita perhatikan apakah dialokasikan dengan prinsip-prinsip keberpihakan kepada masyarakat, terutama masyarakat marjinal seperti kelompok miskin dan perempuan. Anggaran yang menjadi dasar kepentingan kaum perempuan semestinya adalah anggaran yang responsif gender. Pengertian anggaran responsif gender adalah anggaran yang disusun berdasar strategi untuk mengintegrasikan isu gender ke dalam proses penganggaran, dan mewujudkan kesetaraan gender ke dalam komitmen anggaran. Anggaran responsif gender terdiri atas seperangkat alat/instrument dampak belanja dan penerimaan pemerintah terhadap gender. Perencanaan program ini, optimalisasi partisipasi perempuan untuk menitikberatkan

12

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

pada anggaran responsive gender dapat dilakukan dengan: a. Pertemuan dengan pemerintah desa yang dilakukan secara berkala. b. Membuka saluran kritik dan saran kepada pemerintah desa c. Public hearing desa dengan berbagai topik seputar pemerintahan dan pembangunan. d. Membentuk tim khusus di pemerintahan desa untuk menangani masalah peningkatan partsipasi masyarakat pembangunan maupun pemerintahan. e. Membentuk progam-progam kemitraan bersama masyarakat dengan fokus utama untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Berbagai upaya-upaya dapat dilakukan secara optimal guna meningkatkan partisipasi masyarakat, namun perlu disadari bahwa masih banyak kendala-kendala yang berpotensi menghambat implementasi progam partisipasi masyarakat antara lain. Kendala-kendala ini tidak mungkin dihindari, dan biasanya muncul dari dua pihak yang berkepentingan dengan partisipasi yakni pemerintah dan masyarakat. Di pihak pemerintah, kendalakendala yang timbul antara lain: a. Lemahnya komitmen politik para pengambil keputusan (decision maker) di desa untuk melibatkan perempuan b. Lemahnya dukungan SDM yang dapat diandalkan untuk mengimplementasikan strategi peningkatan partisipasi perempuan. c. Lemahnya dukungan anggaran, karena kegiatan peningkatan partisipasi perempuan seringkali hanya dilihat sebagai beban. Sedangkan kendala-kendala dari pihak masyarakat adalah: a. Budaya paternalisme yang dianut oleh masyarakat sehingga selalu menganggap pemerintah desa lebih tinggi dalam masyarakat sehingga tidak bisa dikritik secara terbuka dalam dialog dan sebagainya. b. Apatisme, karena jarang dilibatkan pembuatan kebijakan pemerintah sehingga mereka menjadi apatis. c. Hilangnya kepercayaan masyarakat (trust) kepada pemerintah desa karena trauma terhadap kesalahan atau kelalaian pemerintah pada masa lalu.

D. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Kelompok PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) Desa Jogotirto Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dianggap mewakili wadah partisipasi

HERLIYANI TRI KORIYANTI | Pengembangan Partisipasi Perempuan dalam Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)

13

perempuan berbasis gender karena baik langsung maupun secara tidak langsung PKK berkepentingan dengan pembangunan desa yang memerlukan partisipasi para ibu-ibu anggota PKK tersebut. Gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah Gerakan Nasional yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat, dengan perempuan sebagai penggeraknya menuju terwujudnya keluarga bahagia, sejahtera, maju dan mandiri dengan tugas dan fungsi yang tertuang dalam 10 Program Pokok PKK yang meliputi: Penghayatan dan pengalaman Pancasila, Gotong royong, Pendidikan dan keterampilan, Pengembangan kehidupan berkoperasi, Pangan, Sandang, Perumahan dan Tata laksana Rumah tangga, Kesehatan, Kelestarian lingkungan hidup dan perencanaan sehat. Berdasarkan hasil temuan di lapangan bisa disimpulkan bahwa partisipasi perempuan khususnya perencanaan dan penganggaran pembangunan di Desa Jogotirto Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah berjalan dengan baik dan menghasilkan kualitas perempuan yang mempunyai kontribusi dalam tata kelola pemerintahan Desa dengan baik atau sudah menerapkan prinsip Good Governance. Perencanaan dan penganggaran merupakan langkah dari suatu siklus (daur) program pembangunan. Daur ini disusun per 5 tahun (RPJM Desa) dan dijabarkan per tahun (RKP Desa dan APB Desa). Program pembangunan desa yang berperspektif gender merupakan suatu upaya sengaja agar proses ini selalu memperhatikan keterlibatan perempuan, perbedaan kebutuhan perempuan dan laki-laki, dan juga disertai upaya penyadaran masyarakat mengenai isu gender. Anggaran adalah sumber daya publik dan penting yang dialokasikan dengan prinsip-prinsip keberpihakan kepada masyarakat terutama masyarakat marjinal seperti kelompok miskin dan perempuan. Anggaran yang menjadi dasar kepentingan kaum perempuan semestinya adalah anggaran yang responsif gender. Anggaran responsif gender terdiri atas seperangkat alat/instrument dampak belanja dan penerimaan pemerintah terhadap gender. Dalam perencanaan program, optimalisasi partisipasi perempuan untuk menitikberatkan pada anggaran responsif gender dapat dilakukan dengan: - Pertemuan dengan pemerintah desa yang dilakukan secara berkala. - Membuka saluran kritik dan saran kepada pemerintah desa - Publik hearing desa dengan berbagai topik seputar pemerintahan dan pembangunan. - Membentuk tim khusus di pemerintahan desa untuk menangani masalah peningkatan partsipasi masyarakat pembangunan maupun pemerintahan. - Membentuk progam-progam kemitraan bersama masyarakat dengan fokus utama untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat.

14

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

Saran
1. Partisipasi perempuan termasuk anggota ibu-ibu PKK perlu terus ditingkatkan keterlibatannya dalam kegiatan perencanaan dan penganggaran pembangunan desa. 2. Perlu ada sinergi yang lebih tinggi lagi dalam pengambilan dan pelaksanaan keputusan antara pemerintah Desa dan lembaga-lembaga Desa yang ada di masyarakat termasuk PKK. 3. Diharapkan lebih transparan di dalam menentukan pungutan Desa yang kemudian diinformasikan kepada masyarakat secara terbuka.

E. DAFTAR PUSTAKA
Andi Faisal Bakti (ed.), Good Governance and Conflict Resolution in Indonesia: From Authoritarian Government to Civil Society (Jakarta: IAIN Jakarta Press, 2000). Arief Budiman (ed.), State and Civil Society in Indonesia (Clayton: Centre of Southeast Asian Studies, Monash University, 1990). Cernea, M Michael. 1983. Putting People First: Sociological Variables in Rural ment, Second Edition. Oxford University Press. Oxford Clark, David, 1996, Urban World/ Globlal City, Routledge, London. Cook, Sarah dan Steve Macaulay, 1996, Perfect Empowerment. Elex Media Computindo. Jakarta. Heizer, Noolen (t.t), A Women’s Agenda for the 21st Century: UNIFEM Commitment to the World’s Women. New York: UNIFEM. James Q. Wilson, 2000, “Bureaucracy: What Government Agencies Do and Why They Do It” dalam Ronald B. Cullen & Donald P. Cushman, Transitions to Competitive Government: Speed, Consensus, and Performance (Albany: State University of New York Press, 2000). Korten, David, C. 2002, Menuju Abad Ke-21, Tindakan Sukarela Dan Agenda Global, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia. Laporan Akhir: Studi Pengembangan Program Jangka Menengah Pemberdayaan Kelompok Pengembang Swadaya Masyarakat / KPSM Bidang Permukiman dan rasarana Wilayah Dalam Penanganan Masalah Kemiskinan Perkotaan, Pusbangranmas BPSDM Dep. Kimpraswil, Jakarta. 2004. Laporan Akhir: Studi Pengembangan Program Jangka Menengah Pemberdayaan Kelompok Pengembang Swadaya Masyarakat Bidang Kimpraswil dalam Penanganan Masalah Kemiskinan Perdesaan, Pusbangranmas BPSDM Dep. Kimpraswil, Jakarta. 2004, Moleong, L.J, 2000,Metodologi Penelitian Kualitatif, Cetakan Ke-13, Bandung: PT. Develop-

HERLIYANI TRI KORIYANTI | Pengembangan Partisipasi Perempuan dalam Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)

15

Neuman, L.W, 1997, Social Reseach Methodes: Qualitative & Quantitative Approach. Boston: Allyn Bacon. Payne, Malcolm, 1997, Modern Social Work Theory. Second edition London: Pranarka, A.M.W. & Moeljarto, Vindyandika, 1996, Pemberdayaan Empowerment). Remaja Rosdakarya. Soetrisno, Loekman. 1997,Kemiskinan, Perempuan, Pemberdayaan, Yogyakarta: Kanisius. Todaro, M.P. & S.C. Smith, 2003. Economic Development. Eight edition. AddisonWesley. United Nations Development Programme, Local Governance: Report of the United Nations Global Forum on Innovative Policies and Practices in LocalGovernance (Gothenburg: UNDP, 1996). United Nations Development Programme, UNDP and Governance for Sustainable Human Development (New York: UNDP policy paper, 2002). World Bank, “Governance and Development”, Washington D.C., 1992 sebagaimana dikutip oleh Francois Dreyfus, “What Kind of a Citizen for What Kind of State?” dalam Luc Rouben (ed.), Citizens and the New Governance: Beyond the New Public Management (Amsterdam: IOS Press, 1999).

16

PERGESERAN PETANI SUBSISTEN MENUJU AGRICULTURAL INTREPRENEURSHIP ( STUDI PADA GAPOKTAN LESTARI MAKMUR, DESA ARGOREJO, SEDAYU, BANTUL )
Zulianti | Program Studi Sosiologi. STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta. Email: zuliantikunden@yahoo.co.id

ABSTRACT
The tittle of the research is The transformation of subsistent farmers into agricultural entrepreneurship which is study on farmer association- Lestari Makmur in Argorejo village Sedayu district, Bantul regency. The questions of the research are what factors influence the transformation os subsistent farmers into agricultural entrepreneurship on farmer association – Lestari Makmur in Argorejo village, Sedayu district, Bantul regency. The purpose of this research is to find out what factors influence the transformation of subsistent farmer into agicultural entrepreneurship and the reasons why farmers prefer to be agricultural entrepreneurship. This research is descriptive analysis and the informants are 37 members aswellas coordinator of farmer association- Lestari Makmur. From the research, it can be concluded: Farmer association Lestari Makmur was subsistent farmers but now they become agricultural intrepreneurship. This transformation is because of rational chice for harves. The transformation of subsisten farmers into agricultural entrepreneurship, especially small round edible mushroom farming begins from the involvement of farmers to farmer association activities. This involvement will affect on the rational choice for farming activities which they have done because the activities done by farmer association especially small round edible mushroom is innovative for the development of farming activities. The rational choice is influenced by some factors, such as: profit and loss, risk, agent and social network which includes inner and outer network. Inner network means cooperation between coordinator and members while outer network as well as network with association of entrepreneur of small round edible mushroom. From the research, it shows that the farmers become that agricultural entrepreneurship on small round edible mushroom farming get more profit that those who become subsistant farmers. Besides, farmer can decide them selves the period of harvest. It happens because agricultural entrepreneurship enables farmers to choose kind of farming products as what market needs so that the harvest will be accessable to sell and have high value. Key word: transformation, subsistent farmers, agricultural entrepreneurship

A. PENDAHULUAN
Sektor pertanian di Indonesia sampai saat ini masih menjadi unggulan baik sebagai sumber pendapatan utama keluarga petani maupun sebagai lapangan kerja yang menye-

17

rap tenaga kerja paling banyak. Menurut data BPS tahun 2008, jumlah petani mencapai 44 persen dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 46,7 juta jiwa. Lebih dari separuhnya merupakan petani gurem dan buruh tani dengan kepemilikan lahan dibawah 0,5 hektar atau mencapai 38 juta keluarga tani. Jenis tanaman yang ditanam petani hanya terbatas pada jenis tanaman pokok seperti padi dan jagung. Minimnya luas tanah yang dimiliki petani Indonesia mengakibatkan tingkat pendapatan petani rendah. Upaya meningkatkan pendapatan petani terus dilakukan pemerintah dengan menggiatkan sektor pertanian sebagai sektor andalan yang diharapkan mampu memberikan kontibusi terhadap sektor lain yaitu menampung tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan. Sejak dicanangkannya Program Panca Usaha Tani oleh pemerintah Indonesia upaya peningkatan pendapatan petani terus didilakukan dengan membentuk kelompok tani serta gabungan kelompok tani yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Pertanian mengenai Pedoman Pembinaan Dan Pengembangan Kelompok Tani yang tertuang pada Peraturan Menteri Pertanian No. 93/Kpts/OT. 210/3/97, tanggal 18 Maret 1997. Dengan demikian peluang kelompok tani untuk mengembangkan jenis usaha tani yang sesuai dengan potensi wilayah setempat dan juga tuntutan pasar. Petani mempunyai kebebasan dan kemudahan dalam mengakses modal usaha. Kebebasan dalam pemilihan jenis usaha tani tersebut diatur oleh pemerintah dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Pertanian No 16 /Permentan /OT/140/2/2008 tanggal 11 Februari 2008 tentang pedoman Pengembangan Agribisnis Perdesaan. Peraturan Menteri Pertanian No: 16 /Permentan /OT/140/2/2008 tersebut memberikan payung hukum bagi kelompok tani dan gabungan kelompok tani dalam mengembangkan usaha tani. Pengembangan usaha tani pada jenis agribisnis dimasudkan sebagai upaya peningkatan nilai jual dari usaha tani yang dijalankan dengan mengikuti permintaan pasar serta memperhitungakan keuntungan atau disebut agricultural entrepreneurship. Dalam penelitian ini membahas rumusan masalah sebagai berikut: Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya pergeseran petani subsisten menuju agricultural entrepreneurship pada Gabungan Kelompok Tani Lestari Makmur di desa Argorejo, kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui Faktorfaktor apa saja yang menyebabkan terjadinya pergeseran petani subsisten menuju agricultural entrepreneurship pada Gabungan Kelompok Tani Lestari Makmur di desa Argorejo, kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, serta ingin mengetahui alasan petani memilih sebagai agricultural entrepreneurship. Petani subsisten menurut Wolf ( Rahardjo, 2004: 71) adalah petani yang usahanya

18

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

hanya untuk mempertahankan hidup. Hal ini sejalan dengan pendapat Clifton R Wharton dalam bukunya Rahardjo ( 2004: 70 ), Clifton mengatakan bahwa subsitensi secara umum diartikan sebagai cara hidup yang minimalis serta usaha yang dilakukan hanya untuk bertahan hidup. Dengan demikian petani subsisten adalah petani yang memproduksi hasil untuk mencukupi keperluan hidup diri dan keluarganya juga keperluan sosial serta biaya –biaya lain termasuk sewa tanah, penggati alat pertanian yang rusak. Disamping ciri tersebut pertanian tradisional dicirikan pula dengan luas tanah yang relatif kecil (pertanian gurem), produktivitasnya yang rendah, teknologi yang masih sederhana, terbatasnya modal usaha, dan cara pengelolaan belum profesional Petani dengan lahan sempit serta dengan orientasi bukan untuk komoditas oleh Eric Wolf dalam bukunya Rahardjo ( 2004: 73 ) disebut sebagai peasant. Petani peasant adalah petani yang mempunyai ciri-ciri: · Petani yang memiliki lahan sempit. · Petani yang hanya memproduksi untuk memenuhi kebutuhan sendiri. · Orientasi cenderung pedesaan dan tradisional. · Memiliki cara hidup yang minimalis atau subsisten. · Cara hidup petani yang minimalis atau subsisten inilah yang membedakan antara petani peasant dengan agricultural entrepreneurship. Pergeseran dari petani subsiten menuju agricultural entrepreneurship tidak lepas dari peran penguasa yaitu pemerintah yang memprakarsai perubahan.Wolf ( 1983:94). Pendapat Wolf tersebut diperkuat oleh A. Fatchan yang menyatakan bahwa pergeseran atau perubahan petani dari petani subsisten menuju agricultural entrepreneurship tidak terjadi dengan sendirinya akan tetapi dibawa oleh agen perubahan sosial baik bentukan dari pemerintah maupun lahir dan berkembang di masyarakat. (A. Fatchan, 2004: 31). Wujud dari peran pemerintah tersebut mulai terlihat dari Revolusi Pertanian dengan dilaksanakannya: · Pengolahan sepanjang tahun, dengan pengembangan rotasi jenis tanaman dan penggunaan pupuk modern. · Perbaikan mutu tanaman. · Didatangkannya tanaman yang baru, · Penggunaan mesin-mesin baru. Disamping Revolisi Hijau peran Pemertintah tampak dari adanya Peraturan Menteri Pertanian Peraturan Menteri Pertanian No. 93/Kpts/OT. 210/3/97, Tanggal 18 Maret

ZULIANTI | Pergeseran Petani Subsisten Menuju Agricultural Intrepreneurship (Studi Pada Gapoktan Lestari Makmur, Desa Argorejo, Sedayu, Bantul)

19

1997 mengenai pengembangan dan pembinaan kelompok tani dan Gapoktan ( Gabungan Kelompok Tani). Aktor atau agen yang bukan bentukan pemerintah bisa aktor individual maupun agen kolektif. Agen kolektif adalah kelompok tugas, gerakan sosial, asosiasi, tentara, pemerintah dan sebagainya. Sedangkan agen individual terbagi dalam beberapa tipe: · Terdiri dari orang biasa dengan kegiatan sehari-hari · Individu yang memiliki kualitas kepribadian yang khas dan bertindak mewakili orang lain atau kelompok atas nama mereka atau untuk kepentingan mereka. · Individu yang menduduki posisi luar biasa karena mendapat hak instimewa. (Sztompka, 2008 ; 225). Munculnya ide atau gagasan pada Gapoktan tidak lepas dari adannya realita yang mengharuskan menentukan pilihan secara rasional. Munculnya pilihan rasional disebabkan oleh beberapa hal yaitu Hasilnya dari pilahan tersebut dapat memenuhi harapan petani, memberikan manfaat serta ada kesempatan untuk mewujudkan. (Abdul Wahib Situmorang, 2007; 67 ). Dalam penentuan pilihan terdapat lima dasar alasan untuk yaitu: biaya memadai, manfaat besar, efisiensi tinggi, resiko kecil, mudah dilaksanakan ( Noeng Muhadjir 1983: 47 ). Petani akan menentukan pilihan- pilihan tanaman apabila hasil yang diperoleh oleh petani akan dapat meningkatkan kehidupan petani. Kondisi demikian akan ada manakala petani menentukan tanaman-tanaman yang mempunyai prospek pasar yang baik dalam arti banyak dibutuhkan masyarakat, mudah dalam menjual serta harga yang strabil, disamping itu memiliki resiko yang kecil. Pemilihan petani pada jenis pertanian yang mempunyai nilai ekonomis disamping dipengaruhi oleh adanya agen pembawa informasi serta agen perubahan maka tidak lepas dengan adanya pengaruh dari jaringan sosial. Bergesernya petani subsisten ke agricultural entrepreneurship maka diperlukan adanya jaringan yang kuat mengenai informasi sarana prasarana sampai dengan jaringan permodalan, jaringan penjualan hasil panen serta jaringan peluang pasar. (Agusyanto, 2007: 45). Petani kini bergeser pada agricultural entrepreneurship yang mulai berorientasi pada nilai ekonomis. Agricultural entrepreneurship mempunyai ciri khusus yang membedakan dengan petani subsisten yaitu pada agricultural entrepreneurship lebih berorientasi pada nilai wirausaha atau berorientasi pada keuntungan dan bisnis atau dalam tulisan ini disebut sebagai agricultural entrepreneurship. (E.P. Archeti dan S. Aass dalam Rahardjo 2004). Pendapat ini diperkuat oleh ketentuan dari Departemen Pertanian mengenai

20

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

kriteria agricultural entrepreneurship. yang mendefinisikan agricultural entrepreneurship sebagai suatu bentuk pengelolaan pertanian dengan mempertimbangkan pada keuntungan dan bisnis. Ketentuan Departemen Pertanian lebih lanjut memberi batasan bahwa agricultural entrepreneurship, sebagai pertanian yang tangguh dan efisien yang dikelola secara profesional dan memiliki keunggulan memenangkan persaingan di pasar domestik maupun di pasar global, dengan ciri-ciri sebagai berikut: Usahanya merupakan industri/perusahaan pertanian, Petaninya mampu mengambil keputusan-keputusan yang rasional dan inovatif, mempunyai organisasi dan asosiasi, mempunyai aturan mainnya. (Syarat pertanian modern Deptan diakses tanggal 8 September 2009 pada www.sinartani.com/.../hari-krida-pertanian-ke-39-tahun-2009)

B. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul. Gabungan Kelompok Tani Lestari Makmur pada saat ini sudah bukan sebagai petani subsisten murni tetapi sudah memperhitungkan keuntungan serta potensi pasar hasil pertanian. Informasi dan data pada penelitian ini diperoleh dari data sekunder maupun data primer. Data primer diperoleh dari informan. Informan pada penelitian ini adalah pengurus Gapoktan Lestari Makmur dan pengurus usaha tani jamur merang dan juga anggota Gapoktan Lestari Makmur. Jumlah informan pada penelitian ini sejumlah 37 orang,didasarkan pada kecukupan data yang diperlukan. (Bungin: 2008 ; 138). Proses analisa data pada penelitian ini adalah: Setelah semua hasil wawancara maupun pengamatan dipelajari kemudian dilakukan reduksi data atau mengklasifikasi data dan menyusun data tersebut secara sistematis agar mudah dikatagorikan. Setelah data dipilahkan sesuai dengan katagori kemudian manganalisa hubungan - hubungan yang terjadi serta fenomena yang terjadi pada Gapoktan Lestari Makmur. Langkah terakhir adalah membuat kesimpulan dari hasil penelitian. Disini peneliti memperoleh temuantemuan yang ada dilapangan yang kemudian temuan tersebut dipaparkan sebagai hasil penelitian.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Karakteristik Petani Desa Argorejo.
Petani Desa Argorejo terdiri dari dua kategori yaitu petani subsisten dan petani yang sudah berorientasi pada keuntungan atau sebagai agricultural entrepreneurship. Saat ini petani Desa Argorejo yang masih bertahan sebagai petani subsisten sebanyak 70 %. Petani desa Argorejo menyadari betul bahwa dengan menjadi petani subsisten mereka

ZULIANTI | Pergeseran Petani Subsisten Menuju Agricultural Intrepreneurship (Studi Pada Gapoktan Lestari Makmur, Desa Argorejo, Sedayu, Bantul)

21

tidak akan tercukupi kebutuhannya. Meskipun demikian mereka tetap bertahan sebagai petani subsisten. Ada beberapa faktor yang menyebabkan petani desa Argorejo masih mempertahankan posisinya sebagai petani subsisten yaitu: Luas lahan rata- rata petani desa Argorejo kurang dari 0,5 ha. Tidak mempunyai modal untuk mencoba usahatani baru. Petani takut gagal jika petani harus mencoba usahatani baru yang berorientasi pada kabutuhan pasar. Petani merasa lebih mudah menjual hasil panen.Petani merasa tidak terbebani pikiran- pikiranya dengan memikirkan bagaimana cara mereka mendapatkan benih, mencari pasar serta mengupayakan agar produksi tetap berjalan. Hingga saat ini petani subsisten yang sudah bergeser pada agricultural entrepreneurship mencapai 30 %. Pegeseran petani subsisten menuju agricultural entrepreneurship tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
PERKEMBANGAN JUMLAH ANGGOTA KELOMPOK USAHATANI JAMUR MERANG DAN ANGGOTA KWT SEDYO RAHAYU

Sumber: Data Gapoktan Lestari Makmur 2009

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa usahatani jamur merang yang pada awalnya hanya dikelola dan diikuti oleh 5 (lima) orang yaitu agen dari usahatani jamur merang ini meskipun pelan menunjukkan adanya perkembangan jumlah usahatani jamur merang. Hingga tahun kelima dari usahatani ini jumlah petani yang tergabung sudah mencapai 84 (delapan puluh empat) orang. Perkembangan jumlah petani pada usahatani jamur merang pada Gapoktan Lestari Makmur diikuti pula dengan perkembangan jumlah kumbung jamur yang dimiliki Gapoktan Lestari Makmur serta lokasi usahatani yang semakin meluas. Perkembangan jumlah kumbung jamur serta perluasan lahan usahatani jamur merang dapat dilihat pada tabel berikut: (Lihat Tabel di halaman 22)

2. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Pergeseran Petani Subsisten Menuju Agricultural Entrepreneurship
Bagi sebagian petani menyadari betul posisinya sebagai petani subsisten sangat tidak menguntungkan. Posisi yang tidak menguntungkan ini mendorong sebagian petani Desa

22

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

PERKEMBANGAN JUMLAH KUMBUNG JAMUR DAN LOKASI USAHATANI JAMUR MERANG

Sumber: Data Gapoktan Lestari Makmur 2009

Argorejo mencari jalan keluar agar mereka tidak terjepit posisinya sebagai petani subsisten. Ada dua faktor yang mempengaruhi pergeseran petani subsisten menuju agricultural entrepreneurship yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang melatar belakangi pilihan petani pada agricultural entrepreneurship adalah: penghasilan sebagai petani subsisten tidak dapat mencukupi kebutuhan kaluarga, harga pupuk mahal, kelangkaan pupuk, dengan menjadi petani subsisten mereka hanya menikmati hasil panen dalam waktu 3 ( tiga ) bulan sekali yaitu pada saat panen,hasil panen yang didapat oleh petani subsisten tidak lain merupakan hasil tabungan selama 3 ( tiga) bulan. Hal ini disebabkan karena hasil panen yang diperoleh jika dikalkulasikan dengan biaya perawatan yang dikeluarkan dan biaya modal penanaman kembali petani tidak mendapatkan keuntungan. Jenis usaha tani yang dikelola adalah jamur merang. Alasan yang mendasari pilihan petani Desa Argorejo disebabkan jamur merang mempunyai beberapa keunggulan yaitu 1. Harga jual jamur merang lebih mahal jika dibandingkan jamur kuping serta jamur tiram. Jamur merang pada saat wawancara dilakukan mencapai harga Rp.16.000,00/ kg panen, sedangkan jamur kuping serta jamur tiram hanya Rp. 6000,00/kg. 2. Musim panen dapat diatur sesuai keinginan kelompok. Usahatani jamur merang pada Gapoktan Lestari Makmur sudah mengatur mulai masa tanam di setiap kumbung. Masa tanam tersebut dibuat secara berurutan. Hal ini dimaksudkan agar masa panen dapat dilakukan secara terus menerus. 3. Biaya usahatani jamur merang lebih murah dilihat dari potensi bahan dasar usahatani jamur merang. Bahan-bahan dasar usahatani jamur merang dapat diperoleh dengan mudah di wilayah setempat seperti bambu sebagai rangka kumbung jamur dapat diperoleh di desa Argorejo, media yaitu jerami dapat dicukupi dari wilayah sekitar desa Argorejo. 4. Manfaat yang diperoleh dari usahatani jamur merang sangat tinggi. Dari sisi kesehatan

ZULIANTI | Pergeseran Petani Subsisten Menuju Agricultural Intrepreneurship (Studi Pada Gapoktan Lestari Makmur, Desa Argorejo, Sedayu, Bantul)

23

jamur merang bebas kolesterol saat ini menjadi pilihan bahan makanan yang dikonsumsi masyarakat. Di samping itu limbah dari jamur merang dapat digunakan sebagi pupuk organik. 5. Usahatani jamur merang memiliki resiko kegagalan panen yang relatif kecil dibandingkan usaha lain. Resiko kegagalan tersebut lebih dipengaruhi oleh suhu, Resiko kegagalan secara tradisional sudah dapat diatasi sehingga resiko kegagalan dapat ditekan seminim mungkin. Usahatani jamur merang merupakan jenis usahatani yang mudah dilaksanakan hal ini dapat diketahui pula dari hasil wawancara dengan informan penelitian bahwa sebelumnya mereka tidak tahu cara memelihara tanaman jamur merang tetapi petani dapat belajar pada kumbung jamur yang sudah ada, setelah mereka bisa mengelola tanaman jamur merang kemudian Gapoktan membuka lahan baru untuk kumbung jamur yang baru. Di samping itu usahatani jamur merang dapat ujicoba tanam dalam jumlah kecil. Hal ini terlihat dari jumlah kumbung jamur yang pada awalnya hanya berjumlah 2 ( dua) buah. Pertimbangan lain adalah usaha tani jamur merang mempunyai keberlanjutan usaha serta prospek yang sangat bagus. Hal ini terbukti dari makin meningkatnya jumlah permintaan yang ada di Gapoktan Lestari Makmur. Faktor eksternal yang mempengaruhi pergeseran petani subsisten menuju agricultural entrepreneuship adalah · Kebijakan pemerintah tentang peningkatan pendapatan petani yaitu dengan terwujudnya swasembada pangan serta ketahanan pangan. · Agen pembawa perubahan dalam hal ini adalah pengurus serta anggota Gapoktan Lestari Makmur. Peran agen sangat penting sebagai pembawa informasi serta pelopor dalam pergeseran menuju agricultural entrepreneurship. · Jaringan kerja yang meliputi jaringan kerja ke dalam kelompok. Jaringan kerjasama ke dalam kelompok kerja usaha jamur merang meliputi kerjasama antar bagian unit usaha jamur merang. Jaringan kerjasama keluar kelompok meliputi yang meliputi jaringan permodalam, pemasaran, pengadaan bibit, koordinasi harga jual dengan assosiasi pengusaha jamur DIY- Purworejo. · Jaringan permodalan dilakukan dengan kerjasama dengan Dipertahut Kabupaten Bantul, Bank Perkreditan Rakyat maupun Bank Pemerintah dalam hal ini adalah Bank Indonesia. Selengkapnya dapat dilihat pada table berikut: (Lihat Tabel di halaman 24)

24

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

PERMODALAN USAHATANI JAMUR MERANG PADA GAPOKTAN LESTARI MAKMUR

Sumber: Data Gapoktan Lestari Makmur 2009

Kerjasama dalam pemasaran hasil dilakukan kerjasama dengan rumah makan, perhotelan, agrowisata, pedagang pasar serta dengan assosiasi pengusaha jamur merang. Kerjasama dalam pengadaan bahan baku yaitu jerami dilakukan kerjasama dengan Gapoktan lain yang berada di wilayah Kabupaten Bantul, Muntilan, Prambanan, Magelang, Purworejo. Kerjasama dengan assosiasi pengusaha jamur merang meliputi: a. Informasi pasar dan jumlah hasil panen. Dimaksudkan menghindari resiko kerugian jika petani mengalami surplus panen. Informasi peluang pemasaran berfungsi untuk menjembatani penjualan hasil panen jika petani mengalami surplus panen,sehingga petani tidak mengalami kerugian. Koordinasi penjualan hasil panen dilakukan untuk pemerataan pemasaran hasil panen, sehingga tidak terjadi persaingan diantara petani jamur. b. Pengadaan bibit serta bahan baku. Assosiasi pengusaha jamur merang akan memberikan solusi jika terjadi kesulitan pengadaan bibit serta bahan baku.

c. Penetapan harga jual jamur merang.
Jamur merang pada saat ini menjadi pilihan konsumsi bagi masyarakat yang mengakibatkan harga jamur merang menduduki posisi yang tinggi dibanding jamur lain seperti jamur tiram dan jamur kuping, sehinga berpengaruh pada persaingan harga. Untuk menghindari persaingan harga tersebut assosiasi petani jamur menentukan harga jual jamur merang dan berlaku sama bagi seluruh anggota assosiasi.

ZULIANTI | Pergeseran Petani Subsisten Menuju Agricultural Intrepreneurship (Studi Pada Gapoktan Lestari Makmur, Desa Argorejo, Sedayu, Bantul)

25

Demplot jamur merang Desa Argorejo, Sedayu, Bantul

Jamur merang yang sudah siap dipanen

3. Pengelolaan Usahatani Jamur Merang Pada Gapoktan Lestari Makmur Menuju Hulu ke Hilir.
Usaha pengembangan jamur merang pada Gapoktan Lestari Makmur terus dilakukan. Pengembangan tersebut mulai dari perluasan lahan, perlusan pasar serta pengolahan hasil panen. Bentuk pengembangan ini dilakukan oleh KWT (Kelompok Wanita Tani) Sedyo Makmur. KWT Sedyo Rahayu dibentuk pada tahun 2006 beranggotakan 30 ( tigapuluh ) wanita tani dan diketuai oleh ibu Sumarja. Usaha yang dilakukan oleh KWT Sedyo Rahayu adalah usaha pengolahan hasil. Pembentukan KWT dilatar belakangi dengan semakin berkembangnya usahatani jamur merang serta prospek pasar usaha pengolahan hasil pertanian jamur yang semaikin baik. Pemasaran hasil produk olahan jamur merang KWT Sedyo Rahayu mempunyai pasar sendiri yaitu dilokasi Agro Wisata Argorejo yang merupakan obyek wisata kuliner jejamuran ini juga menyedikan sarana bagi pelatihan – pelatihan yang berupa tempat pelatihan dengan paket makan berupa menu makanan khas jamur. Jenis-jenis olahan yang dihasilkan oleh KWT Sedyo Makmur adalah botok jamur merang, rendang jamur merang, bakso jamur merang, serta tongseng jamur merang, mie ayam jamur.

26

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

Hasil jamur merang mie ayam jamur hasil olahan

Hasil olahan jamur merang: bakso jamur.

D. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Gapoktan Lestari Makmur yang berada di Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul mempunyai anggota dengan karakteristik yang beragam yaitu sebagai petani subsisten dan sebagai petani yang sudah mengembangkan agricultural entrepreneurship. Petani Argorejo yang masih bertahan sebagai petani subsisten sebanyak 70 % dengan kepemilikan lahan pertanian rata-rata seluas < 0,5 ha. Bertahannya petani Argorejo sebagai petani subsisten disebabakan oleh beberapa faktor yaitu tidak mempunyai modal untuk mencoba usahatani baru, takut gagal jika petani harus mencoba usahatani baru, lebih mudah menjual hasil panen, petani merasa tidak terbebani pikiran- pikiranya dengan memikirkan bagaimana cara mereka mendapatkan benih, mencari pasar serta

ZULIANTI | Pergeseran Petani Subsisten Menuju Agricultural Intrepreneurship (Studi Pada Gapoktan Lestari Makmur, Desa Argorejo, Sedayu, Bantul)

27

mengupayakan agar produksi tetap berjalan, sedangkan petani sudah menuju pada agricultural entrepreneurship sebanyak 30 % Bergesernya petani subsisten menuju agricultural entrepreneurship pada petani Desa Argorejo dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. 1. Faktor internal yang mempengaruhi pergeseran tersebut adalah adanya pilihan rasional petani. Munculnya pilihan rasional petani pada jenis usaha tani disebabkan karena pertimbangan keuntungan dan kerugian petani. Pendapatan petani subsisten yang diperoleh tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga, hasil panen hanya dapat dinikmati sesaat yaitu pada musim panen, serta masa petik hanya pada waktuwaktu tertentu, harga pupuk mahal, hasil panen yang didapat oleh petani subsisten tidak lain merupakan hasil tabungan selama 3 ( tiga) bulan. Disamping itu Peran aktif anggota Gapoktan pada kegiatan yang diselenggarakan Gapoktan akan mempercepat pergeseran petani subsisten menuju agricultural entrepreneurship. 2. Faktor eksternal yang mempengaruhi pergeseran petani subsisten menuju a g r i c u l tural entrepreneurship adalah: a. Kebijakan pemerintah yang berupa dalam upaya peningkatan pendapatan petani yaitu dengan terwujudnya swasembada pangan serta ketahanan pangan. b. Agen pembawa perubahan dalam hal ini adalah pengurus serta anggota Gapoktan Lestari Makmur. Peran agen sangat penting sebagai pembawa informasi serta pelopor dalam pergeseran menuju agricultural entrepreneurship. c. Jaringan kerja yang meliputi jaringan kerja kedalam kelompok. Jaringan kerjasama kedalam kelompok usaha maupun keluar kelompok yang meliputi jaringan permodalam, pemasaran, pengadaan bibit, harga jual. d. Permintaan pasar terhadap usaha tani jamur merang. Faktor pasar menentukan tingkat keuntungan petani. Permintaan terhadap jamur merang saat ini sangat tinggi mencapai 300 kg /hari dengan harga Rp. 16.000,00 / kg menjadi peluang bagi pengembangan usaha tani jamur merang.

Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dan analisis Pengurus Gapoktan harus lebih aktif lagi mengajak seluruh anggota untuk aktif pada kegiatan yang diselenggarakan Gapoktan agar usaha tani yang dilaksanakan khususnya usaha tani jamur merang dapat dilaksanakan mandiri mulai dari penyediaan bibit jamur, pemasaran serta pengolahan hasil sehingga efektif sebagai agricultural entrepreneurship. Penertiban administrasi dalam hal perkembangan usahatani, sehingga memudahkan

28

dalam pendataan dan evaluasi. Termasuk anggaran dasar dan anggaran rumah tangga usaha tani jamur merang yang disepakati oleh seluruh anggota dan pengurus pada assosiasi maupun kelompok usahatani jamur merang.

E. DAFTAR PUSTAKA
Agusyanto, Ruddy, 2007, Jaringan Sosial Dalam Organisasi, Rajawali Press, Bungin, Burhan, 2008, Penelitian Kualitatif, Kencana Prenada Media Gruop Fathchan A., 2004, Teori-teori Perubahan Sosial, Yayasan Kompusina Muhadjir Noeng, 1983,Kepemimpinan Adopsi Inovasi Untuk Pembangunan Masyarakat, Rake Press Sztompka,Piötr, 2008, Sosiologi Perubahan Sosial, Prenada Rahardjo, 2004, Pengantar Sosiologi Pedesaan Dan Pertanian, Gadjah Mada Press Redfield, Robert 1982, Masyarakat Petani dan Kebudayaan, Rajawali Press Redfield, Robert, 1963, The Little Community Peasant Sosiety And Culture, The U n i versity of Chicago Press. Situmorang, Abdul Wahib. 2007, Gerakan Sosial, Pustaka Pelajar. Tohir, Kaslan A,1992, Usaha Tani 2 Rineka Cipta Winardi,J, 2003, Entrepreneur dan Entrepreneurship, Kencana Preneda Media Group Wolf. Eric R, 1983, Petani, Rajawali Press Permentan no 237 tentang Pembinaan dan Pengembangan Kelompok Tani dan Gapoktan, diakses tangga 8 September 2009. Alamat situs www.deptan.go.id/bdd/admin/ file/SK-273-07. Syarat pertanian modern Deptan diakses tanggal 8 September 2009 pada www.sinartani.com/.../hari-krida-pertanian-ke-39-tahun-2009

29

DAMPAK KEBIJAKAN PASCA RELOKASI TERHADAP PEDAGANG DI PASAR KLITIKAN YOGYAKARTA
Endang Tri. S | Program Studi Ilmu Administrasi Negara STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta. Email: end_ts@yahoo.com

ABSTRACT
The research attempts to study the effects of relocation policy on informal traders in Asem Gede Street, Mangkubumi and South Square to Pakuncen Market by Municipality Government of Yogyakarta. The research aims at discovering the economic and social effects of the traders after the relocation. The research adopts descriptive survey approach on 226 traders. Data are collected through questionnaire, interview, observation, and documentation. The analysis on the effects is conducted through comparative method before and after the relocation. The research, which was conducted two years after the relocation, concludes that: first, relocation policy gives more symbolic effects than the substantive ones. This can be seen from the traders’ empowerment which has not given any improvement on traders’ ability and skill as expected. Second, relocation of traders has brought positive social effect in the form of changes in the organization of the traders toward a better direction. The organization of the traders through the market manager and KOMPAK provides security for the traders. Social effects also indicate some situations which are not expected by the traders, such as the loss of bond with the former customers, the small amounts of customer/slack condition, and the smaller amount of customers. Third, relocation has brought positive effect economically for the small part of traders that is the increase of their income. However, the common effect felt by the traders from Mangkubumi is the decrease of income. Several things to note from the research are (1) the regional arrangement policy by the municipality government, so that the trade area surrounding Pasar Pakuncen offers a variety of community’s needs. These needs include trade and recreation so that the area will attract more visits. This policy can give social and economic effects positively on the lives of the traders in Pasar Klithikan Pakuncen, (2) the empowerment to improve the ability and skill of the traders to perform more creative and varied business creations, (3) the traders reinforce themselves more through KOMPAK both from the financial sector and business. This is conducted by increasing the efforts of cooperation with other parties in promoting their trading business. Keywords: Relocation, Social and Economic Effect

A. PENDAHULUAN
Relokasi pedagang kaki lima merupakan salah satu kebijakan penataan pedagang yang diterapkan pemerintah karena pesatnya perkembangan pedagang tersebut pada ruang

30

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

perkotaan. Walaupun keberadaannya sering menimbulkan ekses negatif bagi lingkungan namun pada sisi lain PKL diakui sebagai penyelamat mengingat peluang pada aktifitas ini sangat menjanjikan bagi angkatan kerja. Terlepas dari potensi ekonomi kegiatan pedagang kaki lima (PKL), keberadaannya kerap dianggap ilegal karena menempati ruang publik dan tidak sesuai dengan visi kota yang sebagian besar menekankan aspek kebersihan, keindahan dan kerapihan kota. Kemunculan PKL di kota-kota besar negara dunia ketiga termasuk di Indonesia tidak lepas dari strategi pembangunan ekonomi yang dijalankan oleh negara. Percepatan industrialisasi yang berlangsung menyebabkan ketidak seimbangan struktural ekonomi antara desa dan kota. Kota menjadi menarik bagi pendatang khususnya dari wilayah pedesaan yang ingin mengadu nasib untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Kondisi tersebut mempercepat pula laju urbanisasi dari desa ke kota yang tanpa diimbangi dengan daya dukung sosial ekonomi di daerah perkotaan.
TABEL 1. PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2003-2005

Sumber: Data BPS Kota Yogyakarta pada Perwal no. 17 Tahun 2007 Tentang RPJMD 2007-20011

Pertumbuhan kota Yogyakarta sebagai kota jasa tampak dari pesatnya pembangunan hotel, apartemen, restoran, pusat hiburan, pusat pendidikan, dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan akan berbagai jenis jasa, seperti jasa pariwisata dan jasa pendidikan. Perkembangan aktivitas kota jasa ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi kaum urban untuk mendapatkan mata pencaharian dalam sektor perdagangan dan jasa. Dalam tahun 2005 tercatat bahwa sektor yang memberikan kontribusi paling tinggi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota Yogyakarta adalah sektor perdagangan dan restoran yaitu 25,52%, sedangkan sektor jasa-jasa/service berada pada urutan ke dua yaitu 21, 33%.1 Peningkatan sektor-sektor tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.12 yang menunjukkan peningkatan pada sektor keuangan, persewaan, jasa perusahaan, perdagangan dan jasa-jasa, masing-masing adalah 7, 50%, 6.24% dan 2.46%. Data tersebut

ENDANG TRI. S | Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta

31

menunjukkan pula bahwa sektor perdagangan telah menyerap usaha sebagaian besar penduduk kota Yogyakarta. Dalam sektor perdagangan dan jasa-jasa ini kaum migran hidup seperti pedagang kaki lima, pedagang asongan, buruh gendong, buruh cuci, tenaga angkut, tenaga bangunan dan sebagainya. Salah satu kebijakan pemkot Yogyakarta pada tahun 2007 adalah menata PKL yang berkembang pesat di perkotaan. Penataan dilaksanakan melalui Perwal no.45 tahun 2007 dengan merelokasi pedagang ke Pasar Klithikan Pakuncen. Tujuan Pemkot membangun Pasar Klithikan Pakuncen;3 pertama untuk memberdayakan pedagang, khususnya PKL Klithikan yang sebelumnya tersebar diberbagai lokasi, menjadi pedagang formal pada suatu tempat yang lebih representatif. Kedua mendukung Yogyakarta sebagai kota wisata khususnya dalam pengembangan wisata belanja. Keunikan jenis dagangan yang ditawarkan oleh pedagang di Pasar Klithikan Pakuncen akan menjadi ikon wisata baru di Kota Yogyakarta. Kebijakan pemkot untuk mendukung relokasi pedagang antara lain berupa; · Bantuan dana masa transisi selama 7 hari @ Rp 40.000 · Bantuan dana adaptasi selama 30 hari @ Rp 20.000 · Tidak dipungut retribusi selama 6 bulan · Fasilitas lapak untuk tempat dagang dengan ukuran 2m x 1,5 m/pedagang · Fasilitas bunker sebagai tempat penyimpanan barang · Bantuan promosi melalui media masa maupun elektronik, pemasangan iklan diluar ruangan, penyebaran brosur, penyelenggaraan pentas hiburan · Pembuatan petunjuk arah lokasi pasar yang ditempatkan di lokasi-lokasi strategis · Pemberian tanda bukti kepemilikan pedagang yang diberikan setelah 3 bulan menempati lokasi. · Pemberdayaan pada pedagang berupa, manajemen usaha, jamasan keris dan reparasi telpon genggam (hp) Kondisi Pengunjung Pasar Klithikan Pakuncen memberikan harapan ke depan bahwa pasar akan menjadi kehidupan yang baik bagi pedagang. Koordinator Pasar Klithikan Sigit Permono4 menyebutkan bahwa sepanjang bulan Oktoberober 2008 jumlah pengunjung mencapai 10.000 orang pada hari biasa dan melonjak hingga 12.000 pada akhir pekan. Adapun pendapatan retribusi harian dari total 719 pedagang adalah Rp345.000. Akan tetapi apakah meningkatnya kunjungan akan meningkatkankan pula pendapatan para pedagang pasca relokasi, hal ini masih menjadi suatu pertanyaan besar. Mendasarkan pada paparan di atas, rumusan penelitian yang diangkat adalah;

32

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

“Bagaimanakah Kebijakan relokasi pedagang oleh Pemkot Yogyakarta dan dampaknya secara sosial-ekonomi atas kebijakan relokasi terhadap pedagang yang berasal dari jalan Asem Gede, Mangkubumi dan Alun-alun Selatan, Yogyakarta pasca relokasi ke Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta?” Dalam pertanyaan penelitian yang lebih operasional akan dilihat sebagai berikut 1. Bagaimana pelaksanaan penataan pedagang yang diterapkan Pemkot Yogyakarta pada pedagang jalan Asem Gede, Mangkubumi dan Alun-alun Selatan ke Pasar Klithikan Pakuncen? 2. Apakah dampak sosial dan ekonomi pedagang pasca relokasi memberikan peningkatan kehidupan yang positip? Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penataan pedagang jalan Asem Gede, Mangkubumi dan Alun-alun selatan ke Pasar Klithikan Pakuncen oleh Pemkot Yogyakarta (2) mendeskripsikan dampak sosial dan ekonomi pedagang pasca relokasi ke Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta. Perkembangan sektor informal perkotaan merupakan manifestasi dari tidak sebandingnya pertumbuhan angkatan kerja dengan kesempatan kerja dan kurang mampunya sektor formal dalam menampung kelebihan tenaga kerja. Hart (1973)5 memformulasikan istilah sektor informal yang digambarkannya sebagai aktivitas kehidupan ekonomi di perkotaan sebagai bagian angkatan kerja yang tidak terorganisir, dan berada diluar pasar tenaga kerja yang terorganisir yakni sektor formal. Konsep sektor informal kemudian digunakan ILO sebagai penjelas proses kemiskinan di Dunia ketiga dalam hubungannya migrasi dan urbanisasi. Penelitian yang dilakukan Bromley (1979)6 mengkritik pandangan dualisme model ekonomi, ia melihat kompleksitas keberadaan sektor informal di perkotaan, di mana keduanya memiliki saling hubungan dan tidak berdiri sendiri-sendiri. ILO mendefinisikan ekonomi informal7 sebagai cara kerja dengan karakteristik a) mudah dimasuki, b) berhubungan dengan sumberdaya lokal, c) milik keluarga, d) aktifitas operasi kecil, e) tenaga kerja dengan kemampuan terbatas atau berdasar pengalaman, f) tidak dituntut kemampuan sebagaimana dalan sektor formal, g) tidak terorganisisir, dan merupakan unit usaha yang tanpa fasilitas. Hidayat (1978) 8 membuat ciri-ciri sektor informal sebagai berikut; Kegiatan usaha tidak terorganisir secara baik, karena timbulnya unit usaha tidak mempergunakan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia di sektor informal · Pada umumnya usahanya tidak mempunyai izin usaha

ENDANG TRI. S | Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta

33

· Pola kegiatan usahanya tidak beraturan baik dalam arti lokasi maupun jam kerja · Pada umumnya kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini · Unit usaha mudah keluar masuk dari sub sektor ke lain sub sektor · Teknologi yang dipergunakan bersifat tradisional · Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasi juga relatif kecil · Untuk menjalankan usaha tidak diperlukan pendidikan formal karena pendidikan yang diperlukan diperoleh dari pengalaman sambil verja · Pada umumnya unit usaha termasuk golongan yang mengerjakan sendiri usahanya dan kalau mengerjakan buruh berasal dari keluarga · Sumber dana modal usaha pada umumnya dari tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan yang tak resmi · Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsikan oleh golongan kota atau desa yang berpenghasilan rendah tetapi juga kadang-kadang yang berpenghasilan menengah. Kemudahan akses untuk masuk dalam aktifitas ekonomi informal tersebut menyebabkan sektor ini menjadi pilihan angkatan kerja yang tidak dapat terakses dalam kegiatan formal. Keberadaan ekonomi informal memberikan pula pemenuhan kebutuhan masyarakat disekitarnya. Kreatifitas yang dikembangkan sektor ini terutama dikonsumsi pula oleh golongan kota atau desa yang berpenghasilan rendah dan yang berpenghasilan menengah. Artinya keberadaan kegiatan sektor ini memberikan manfaat pada masyarakat di sekitarnya bahkan dapat mendukung perekonomian kota. Kebijakan relokasi 9 didesain untuk mengatur lingkungan yang pantas bagi beroperasinya sektor informal, dengan cara memindahkan sektor informal ke lokasi yang lain. Menempatkan sektor informal (PKL) menjadi bagian dalam tata ruang perkotaan yang terakses dalam pembangunan ekonomi. Evers dan Effendi dalam penelitiannya menjelaskan10 penataan sektor informal perlu melihat; · Akses pada pasar, ruang, infrastruktur dan kredit · Pemberian pelatihan dan ketrampilan · Deregulasi dan desentralisasi Relokasi pedagang sebagai suatu kebijakan publik, mengakibatkan perubahan terhadap para pedagang berupa hilangnya kemapanan yang telah diraih selama berusaha. Membuat pedagang harus beradaptasi dengan lingkungan baru untuk mengawali usahanya yang berbeda dari tempatnya semula. Dampak inilah yang menjadi fokus dalam penelitian.

34

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

Cadwick, Bahr, Albrecht11 mengartikan dampak sebagai perubahan dalam kondisi kependudukan, ekonomi, sosial yang dirasakan masayarakat yang sudah mapan atau sedang berkembang karena adanya suatu pembangunan (proyek). Dampak sosial dan ekonomi mengacu pada Murdock, Thomas dan Albrecht (1982) yang mengungkapkan dampak sosial-ekonomi suatu pembangunan adalah; Dampak ekonomi meliputi perubahan dalam kegiatan ekonomi, pekerjaan, pendapatan dan sebagainya. Dampak sosial, meliputi perubahan dalam organisasi masyarakat, persepsi masyarakat, gaya hidup dan kepuasan, dan pengaruh pembangunan untuk kelompok-kelompok tertentu, seperti kelompok orang tua, minoritas dan orangorang yang memperoleh pendapatan tetap.

B. METODE PENELITIAN
Metode penelitian dalam penelitian kebijakan relokasi ini menggunakan pendekatan survei deskriptif untuk mengeksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan social. Data kuantitatif dan data kualitatif dikumpulkan melalui angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket yang diberikan kepada 226 pedagang. Data kualitatif didapatkan melalui wawancara kepada; (1) pejabat pemkot Yogyakarta, yang berkenaan dengan Penataan kota, (2) pengelola pasar/lurah pasar yang bertanggung jawab dalam aktivitas pasar dan (3) pedagang sebagai pelaku usaha yang terkena relokasi. Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif. Analisis dampak menggunakan metode komparasi, membandingkan sebelum dan sesudah relokasi pedagang.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Dampak Sosial
Dampak social pasca relokasi pedagang terlihat pada Perubahan organisasi pedagang dan Persepsi pedagang. C.1.1 Perubahan organisasi pedagang Perubahan organisasi ini dilihat dari organisasi pedagang yang ada, ikatan pedagang dengan lokasi berdagangnya, ikatan dengan pelanggan, serta ikatan dengan pelanggan lain. C.1.1.1 Organisasi pedagang Perubahan pengorganisasian pedagang dalam kehidupan sosialnya tampak jelas pada adanya organisasi para pedagang. Dengan dijadikannya semua pedagang klithikan dari

ENDANG TRI. S | Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta

35

berbagai lokasi di Pasar Pakuncen, menjadikan hubungan di antara pedagang lebih tertata karena mereka terikat dalam satu organisasi. Permasalahan yang dihadapi pedagang pada awal relokasi di antaranya adalah menyatukan kepentingan pedagang, kelengkapan adminstrasi yang dipersyaratkan mulai dari pengundian tempat, mengurus Kartu Bukti Pedagang (KBP), penataan usaha pedagang yang terkait dengan pengelola maupun hubungan diantara pedagang sendiri. Permasalahan-permasalahan yang berkembang menuntut pedagang untuk memiliki wadah yang dapat mewakili aspirasi ataupun pemecahannya. Dengan adanya relokasi, pengorganisasian pedagang menjadi jelas karena para pedagang terdaftar sebagai pedagang di tempat yang resmi dan dikoordinir oleh pemerintah melalui pengelola pasar.
TABEL 1. PERUBAHAN PENGORGANISASIAN

Sumber: Olahan indikator variabel penelitian dan data empiris penelitian

C.1.1.2 Ikatan dengan pelanggan Relokasi juga memunculkan dampak sosial yang tidak diharapkan oleh pedagang, di antaranya adalah hilangnya interaksi pedagang dengan konsumen lama atau pelanggan. Relokasi pedagang tidak otomatis dapat merelokasi pelanggan karena keputusan pelanggan untuk datang ke lokasi penjualan barang klithikan biasanya didasarkan pada pertimbangan harga, tempat dan pelayanan. Aspek kualitas produk dan harga tidak terkena dampak relokasi, tetapi aspek tempat dan pelayanan sangat berpengaruh. Di lokasi lama, keberadaan pedagang dengan mudah dapat dijangkau oleh konsumen karena berada di dekat pusat-pusat kegiatan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. Relokasi pedagang juga berdampak terhadap perubahan status dari usaha informal menjadi formal. Perubahan dari usaha illegal menjadi legal, dari informal menjadi formal telah meningkatkan status sosial mereka ketika berhadapan dengan orang lain. Legalitas ini memberikan rasa aman bagi pedagang untuk menjalankan usahanya. Legalitas ini juga menghindarkan para pedagang dari tindakan premanisme.

36

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

Ikatan terhadap lokasi juga dilihat dari hubungan pedagang dan aktivitasnya dengan lokasi di sekitar Pakuncen. Hubungan pedagang dengan lokasi di sekitar pasar Pakuncen ditandai dengan interaksi pedagang dengan aktivitas di sekitar pasar Pakuncen. Relokasi menjadikan para pedagang harus membangun relasi baru dengan aktivitas di sekitar Pakuncen seperti harus membiasakan diri dengan sikap warga sekitar pasar terutama di depan, kiri dan kanan pasar. Aktivitas perdagangan klitikan di pasar Pakuncen kurang memiliki ikatan dengan aktivitas lain di sekitar pasar Pakuncen. Di sepanjang jalan dari utara dan dari selatan pasar Pakuncen tidak terdapat pusat-pusat kegiatan ekonomi yang dapat menarik kehadiran pengunjung untuk mampir ke pasar Pakuncen. Relasi antara pasar Klitikan dan berbagai aktivitas yang ada di sekitar Pakuncen menjadi salah satu sebab sebagian para pedagang merasa lebih menguntungkan berada di lokasi lama. Namun setelah berjalan dua tahun ini, sebagian pedagang telah merasakan adanya ikatan yang semakin kuat terhadap lokasi. Pedagang memiliki hubungan simbiosis mutualisme dengan pedagang lain terutama pedagang minuman, makanan dan kios kelontong di dalam pasar, adanya ikatan dengan lokasi parkir, dan ikatan dengan lokasi di sekitar pasar.12 Ikatan pedagang dengan pelanggan mengalami dinamika baru. Pedagang bertemu dengan pelanggan-pelanggan baru, demikian juga para pelanggan bertemu dengan pedagang lainnya. Sekarang, pelanggan dengan mudah dapat membandingkan harga barang yang ada di Yogyakarta karena untuk melihat dari satu tempat ke tempat lain sangat mudah karena hanya di satu lokasi. Pada sisi lain, para pedagang tidak leluasa memainkan harga karena pelanggan dapat dengan mudah berpindah ke pedagang lainnya khususnya untuk barang-barang klithikan. Hubungan dengan pelanggan mengalami hambatan setelah relokasi sehingga banyak pedagang yang merasa kehilangan pelanggan. Hambatan terjadi pula karena ruang usaha yang baru di pasar Pakuncen berada di blok yang tidak strategis. Pedagang yang kebetulan mendapat tempat usaha di tempat strategis di Pasar Pakuncen merasa diuntungkan karena lebih mudah didatangi pelanggan. Tetapi, pedagang yang mendapat ruang usaha di tempat tidak strategis di dalam pasar akan merasakan perubahan yang sangat drastis yaitu sulit untuk membangun kembali relasi dengan pelanggan lama. Sementara, konsumen baru juga tidak mudah didapatkan. C. 1.2.3 Mobilitas pedagang Mobilitas atau pergerakan pedagang dalam tulisan ini adalah mobilitas pedagang dalam hubungannya dengan keberadaan barang dagangan dan aktivitas lain guna memenuhi kebutuhan dirinya. Setelah relokasi, para pedagang tidak lagi membawa pulang barang dagangannya atau menitipkannya di suatu tempat. Menitipkan barang dagangan di suatu tempat tentu merepotkan karena harus mengangkut barang-barangnya menuju ke tempat

ENDANG TRI. S | Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta

37

penitipan atau di bawah pulang ke rumah. Dengan adanya ruang usaha di pasar Pakuncen, pedagang cukup menyimpan barang dagangannya ke dalam bungker penyimpanan barang yang telah disediakan oleh pihak pengelola. C.1.2.4 Ikatan dengan pedagang Untuk penyatuan kepentingan bersama muncul upaya pedagang untuk membuat satu wadah, yang dapat menyuarakan aspirasi ataupun kebutuhan pedagang. Para pedagang mengorganisir diri ke dalam wadah yaitu KOMPAK atau Komunitas Pedagang Klithikan Pakuncen berdiri pada 12 Juni 2008. Organisasi ini diharapkan dapat menjembatani kepentingan para pedagang dalam berhubungan dengan pihak pengelola pasar, pemerintah atau organisasi lainnya. Organisasi yang dapat memberikan solusi pada berbagai permasalahan khususnya dalam upaya membangun kawasan menjadi lebih baik yang menyangkut kelangsungan kehidupan seluruh pedagang. Serupa dengan hasil temuan studi Pena (1999)13 di Mexico City. Studi ini melihat dua fungsi utama dari organisasi pedagang jalanan, yaitu sebagai perunding atau pembuat kesepakatan dan sebagai pengelola aset sosial. Keberadaannya dalam satu ikatan, satu kesatuan yang kuat diharapkan akan dapat menggerakkan kontrol dan koordinasi komunitas. Agenda penting KOMPAK ke depan adalah hal-hal yang terkait dengan pembangunan kondisi pasar sebagai lingkungan yang dapat memberikan kehidupan dan kesejahteraan pada pedagang. Salah satu yang diwujudkan untuk mendukung terealisasinya kesejahteraan, anggota komunitas pasar mendirikan Koperasi pedagang yang saat ini14 sedang dalam proses menjadi badan hukum, menggantikan koperasi yang pernah didirikan tetapi tidak mampu berjalan atau mati. Tidak mudah untuk meyakinkan pada pedagang yang kondisinya memang belum stabil akan pentingnya keberadaan koperasi sebagai organisasi yang dapat mensejahterakan anggotanya sehingga Koperasi bentukan awal yang dimotori Disperindagkop tidak mendapat respons. Pengurus KOMPAK berupaya segera membangun koperasi kembali karena wadah ini akan sangat membantu kehidupan keuangan pedagang, selain dapat pula menjadi saluran berbagai dana atau bantuan bagi pedagang seperti bantuan UMKM yang pernah dijanjikan tidak dikucurkan dan tidak mungkin turun karena tidak ada wadahnya. C.1.2 Persepsi pedagang Dampak sosial kebijakan relokasi pedagang tampak pula dari persepsi pedagang pasca relokasi yang diukur dari persepsi pedagang terhadap lokasi, organisasi pedagang dan persepsinya terhadap tingkat pendapatan. Dibandingkan dengan sebelum relokasi dan setelah relokasi, tampak adanya dampak sosial yang memang diharapkan pedagang dan ada dampak yang tidak diharapkan pedagang.

38

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

C.1.2.1 Persepsi terhadap lokasi Fasilitas pasar Pakuncen secara keseluruhan sudah baik dan lengkap yaitu ada ruang usaha yang tetap, ada mushola, KM/WC, tempat parkir luas, tempat layanan kesehatan dan kantor pengelola. Kelengkapan fasilitas dan adanya pengelola pasar yang berada di lokasi menjadikan para pedagang lebih terlindungi karena pemerintah tidak hanya menarik retribusi tetapi ikut mengontrol langsung aktivitas pasar Pakuncen melalui pengelola pasar. Pada umumnya pedagang menyatakan senang dengan kelengkapan fasilitas dibandingkan dengan tempatnya yang lama.
TABEL 2. PERBEDAAN PERSEPSI SEBELUM DAN SESUDAH RELOKASI

Sumber: Olahan indikator variabel dan data empiris penelitian

C.1.2.2. Lokasi kurang ramai Persepsi pedagang tentang lokasi bahwa sebelum relokasi lebih ramai diakui oleh para pedagang. Meskipun ada yang mengaku lokasi baru lebih ramai, tetapi mayoritas pedagang mengaku lebih ramai di lokasi yang lama. Persepi yang berbeda-beda ini ada benarnya karena responden berasal dari lokasi yang berbeda-beda pula. Akan tetapi Pedagang merasa prospektif karena pembukaan ruang usaha di Pakuncen lebih diakui dilihat dari sisi legalitas usahanya. Lokasi baru yang berada pada kawasan berkembang, dengan kurangnya pilihan lain untuk berbagai komoditas membuat pengunjung kurang ramai dan menjadikan pedagang kurang berkembang. Lloyd menjelaskan melalui teori lokasi15 bahwa jangkauan/luas pasar dari setiap komoditas ada batasnya dan ada batas minimal dari luas pasarnya agar produsen bisa tetap bertahan hidup. Orang yang punya jarak berdekatan dengan produsen dapat memperoleh barang kebutuhannya tanpa harus mengeluarkan ongkos transportasi dibandingkan dengan keberadaan orang yang lebih jauh. Disisi lain luas

ENDANG TRI. S | Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta

39

pemasaran minimal sangat tergantung pada tingkat kepadatan penduduk pada wilayah asumsi. Makin tinggi kepadatan penduduk makin kecil wilayah pemasaran minimal, yang artinya dalam wilayah yang ramai pedagang tidak sulit untuk memasarkan barangbarangnya. C.1.2.3 Persepsi terhadap organisasi Keberadaan organisasi pedagang idealnya membantu pedagang dalam mencapai kepentingan-kepentingannya. Pada kenyataannya tidak selalu dapat berjalan dengan baik. Pedagang mempersepsikan KOMPAK sebagai sebuah paguyuban yang dapat memberikan perlindungan atau mediasi ketika terjadi masalah-masalah hukum. Pedagang belum berpikir ke arah pentingnya KOMPAK sebagai suatu wadah untuk memberdayakan para pedagang. C.1.2.4 Persepsi tentang layanan Persepsi tentang layanan meliputi fasilitas fisik dan non fisik yang berupa pemberdayaanpemberdayaan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan. Terkait dengan fasilitas fisik pada lokasi, seluruh responden (545 pedagang) menyatakan lebih baik dibanding pada tempat lama yang memang tak ada fasilitas seperti yang ada di lokasi baru karena pedagang hanya numpang di pinggir jalan atau toko. Memperoleh lokasi permanent memang memberikan keuntungan pada pedagang. Akan tetapi meskipun lokasi telah didistribusikan dengan cara yang cukup adil melalui pendaftaran dan pengundian16 bersama pedagang, namun rasa tidak puas tetap saja diungkapkan pedagang yang merasa mendapat lokasi kurang strategis dan kurang nyaman dengan luas lokasi usaha yang sempit. Adapun tentang pemberdayaan yang diadakan pemkot, pedagang menilai bahwa pelatihan yang dilaksanakan belum banyak bermanfaat bagi banyak pedagang dan pelatihan tidak dilaksanakan secara profesional. Kondisi ini sangat jauh dari aspirasi pedagang yang menginginkan kehidupannya akan lebih baik dengan adanya kesetaraan baik dalam pemikiran maupun pelaksanaan yang tercipta dalam budaya kerja yang membangun. Harrop dalam pengamatannya tentang kebijakan17 menunjukkan bahwa pembuatan kebijakan lebih banyak memberikan dampak simbolis daripada substantif. Dalam studi implementasi Pressman dan Wildavsky (1973)18 disebutkan bahwa dalam prakteknya pemerintah cenderung reaktif, bukan proaktif pemerintah lebih mungkin memberikan pertolongan pertama ketimbang menangani sebab-sebab fundamental. Pemberdayaan yang diberikan tanpa menangani hal-hal yang bersifat fundamental tidak akan mampu mentransformasikan nilai yang dimaksud untuk peningkatan kapasitas bagi pengembangan individu ataupun kelompok. Pemberdayaan bertujuan untuk

40

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

membentuk individu atau kelompok menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi19 kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat adalah merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan, serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik dan afektif, dan sumber daya lainnya yang bersifat fisik –material.

2 Dampak ekonomi
Dampak ekonomi dari kebijakan relokasi pedagang dapat dilihat dari adanya perubahan dalam kegiatan ekonomi, pekerjaan dan pendapatan pedagang. Kegiatan ekonomi dan pendapatan saling berkaitan. C.2.1 Perubahan Kegiatan Ekonomi Perubahan kegiatan ekonomi tampak dari waktu kegiatan dan jenis dagangan yang ditawarkan para pedagang, baik sebelum atau sesudah relokasi. Waktu aktivitas pedagang dapat lebih panjang yaitu mulai jam 05.00 dini hari sampai jam 23.00. Tidak semua pedagang menggunakan waktu untuk berada pada Pasar Pakuncen secara penuh. Pedagang berusaha untuk memanfaatkan waktu pada tempat lain yang dianggap cukup menjanjikan. C.2.2 Pekerjaan Perubahan kegiatan ekonomi ini berdampak pada aktivitas kerja para pedagang. Tidak sepanjang waktu digunakan oleh pedagang untuk menggelar dagangannya. Sebagian pedagang tidak hanya berdagang tetapi juga mempunyai profesi lain atau bahkan menggelar dagangannya di tempat lain. Beberapa pedagang bahkan menggelar dagangannya, kembali ke Alun-alun selatan, Malioboro, depan masjid Bantul. C.2.3 Pendapatan Mengenai pendapatan pedagang pasca relokasi terdapat beraneka jawaban, semua pedagang juga memberikan informasi bahwa pendapatannya meningkat pada saat hari libur atau hari besar dimana banyak pengunjung datang ke pasar sehingga dari kunjungan itu menaikkan omzet penjualan. Beberapa pedagang dari Asem Gede dan Alun-alun selatan, yang pada umumnya adalah pedagang klithikan telah mendapat kehidupan usahanya seperti semula sama dengan pada waktu di tempat lama, sebagian lainnya bahkan menyatakan kehidupannya lebih baik. Akan tetapi pedagang yang berasal dari Mangkubumi sangat merasakan perbedaan besar pendapatan pada dua lokasi tersebut yang artinya pendapatannya belum dapat kembali seperti semula. Lebih dari 60 persen

ENDANG TRI. S | Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta

41

pedagang menyatakan pendapatannya kurang dari tempat lama, mereka menyatakan baru separuh pendapatan yang diperoleh dibanding tempat lama. Pedagang umumnya mengakui pula bahwa mereka mendapatkan hasil lebih dari omset perhari pada saat liburan atau hari besar seperti Tahun baru, Natal Liburan sekolah yang terjadi pada bulan Juli, Agustus, Desember, Januari. Pedagang yang direlokasi dapat digolongkan sebagai; Pedagang klithikan, yang menjual barang-barang bekas, Pedagang barang bekas kuno dan reproduksinya dan Pedagang barang-barang baru. Pedagang barang –barang baru merupakan pedagang besar, memiliki jaringan yang cukup luas untuk mendapatkan barang ataupun memasarkannya. Kebanyakan pedagang jenis ini telah menjadikan ruang usahanya sebagai showroom bila ada peminat akan dapat segera dihubungkan dengan produsen secara langsung. 20 Pedagang Pakuncen jenis ini umumnya telah menjalin jaringan bisnis dengan industri skala menengah, kecil atau rumahan. Berbeda dengan pedagang yang bermodal kecil, dengan kondisi pasar tidak menentu mereka harus keluar dari pasar mencari tempat yang menguntungkan untuk memenuhi kebutuhan hariannya, karena tidak sedikit dari golongan ini yang merupakan pedagang subsisten. Tipologi pedagang yang berbeda dari segi permodalan dan jenis dagangannya tentu memerlukan perhatian yang berbeda dalam penanganannya. Selama ini Pemerintah kurang mempertimbangkan kebutuhan pedagang dalam mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan sesuai potensinya. Hal ini menjauh dari tujuan dan harapan ilmu kebijakan yang mempunyai peran sentral dalam memetakan konteks problem dan mengklarifikasi nilai-nilainya.21 Harus terbangun hubungan yang kondusif antara pemerintah dan pedagang agar kebijakan yang diterapkan tidak lagi dilihat dari segi output atau hasil tetapi sebagai partisipasi dan komunikasi; pedagang tidak dilihat sebagai konsumen tetapi sebagai pembentuk nilai dan institusi; pedagang dilihat sebagai produsen bersama.22 Hal tersebut penting dalam menciptakan kawasan baru yang menarik dan bernilai jual sekaligus mensejahterakan pedagang. Fenomena sektor informal (PKL) yang berkembang diperkotaan tidak seperti yang digambarkan Hart (1973). Teraksesnya pedagang dalam pasar formal dari adanya kebijakan relokasi mengaburkan pula dikotomi antara formal-informal. Jaringan perdagangan yang dikembangkan PKL dengan produsen ataupun pabrik menunjukkan bahwa kegiatan formal dan informal tidak otonom. Kedua sektor itu terus menerus berinteraksi, berbagai bagian dalam sebuah sektor mungkin didominasi atau diciptakan oleh bagian dari sektor lainnya sebagaimana dinyatakan Bromley (1979). Penelitian ini sebagaimana penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Firdausy (1995),

42

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

sampai dengan saat ini kebijakan dan program pemerintah belum dapat mengatasi berbagai masalah yang dialami sektor informal. Pelaksanaan kebijakan program sarat dengan berbagai keterlibatan aparat pembina. Penertiban dan pengendalian PKL lebih didasari pada adanya keterlibatan pemerintah dalam pelaksanaan proyek daripada semangat membangun sektor informal sebagai salah satu basis perekonomian rakyat.23 Upaya pembinaan sering tumpang tindih dan dilakukan sendiri-sendiri,24 Relokasi yang dilaksanakan pemkot Yogyakarta pada tiga tempat di atas paling tidak telah memberikan legalitas ruang pada para pedagang untuk tetap dapat berusaha bagi kehidupannya. Pembangunan selanjutnya masih mungkin untuk dapat terus diupayakan agar menjadi pasar unik dan tujuan wisata alternatif. Proses pencapaian tujuan ini barangkali masih terlalu awal untuk diberikan penilaian karena masih berjalan sekitar dua tahun pasca relokasi. Pembangunan kawasan Pakuncen sendiri yang merupakan area pendukung bagi wilayah inti akan terkait dengan proses pembangunan kota, yang membutuhkan waktu dan proses tidak sederhana. Antara lain bilamana area-area bagian kota tidak sama besarnya dan tidak mengalami pertumbuhan yang sama maka sistem regional sebagai suatu keseluruhan akan memperlihatkan ketidak seimbangan, dan satu atau dua daerah akan mendominasi daerah-daerah lainnya. Kaitan-kaitan yang berluas lingkup perekonomian meliputi pula jaringan-jaringan transportasi dan komunikasi, sistem jaringan tenaga kerja, tingkat migrasi dsb.

D. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Penelitian menyimpulkan pertama, kebijakan relokasi lebih banyak memberikan dampak simbolis daripada substantif hal mana terlihat dalam pemberdayaan pedagang yang dirasa belum memberikan peningkatan kemampuan dan ketrampilan sebagaimana diharapkan. Kedua, relokasi pedagang telah menimbulkan dampak sosial yang positif berupa perubahan pengorganisasian pedagang ke arah yang lebih baik. Pengorganisasian pedagang melalui pengelola pasar dan KOMPAK memberikan rasa aman bagi para pedagang. Dampak sosial juga memperlihatkan adanya keadaan yang tidak diharapkan oleh pedagang, di antaranya adalah hilangnya ikatan dengan pelanggan lama, sepinya kunjungan, pelanggan tidak sebanyak di lokasi lama. Ketiga, relokasi telah menimbulkan dampak positif secara ekonomi bagi sebagian kecil pedagang yaitu meningkatnya pendapatan, tetapi lebih banyak berdampak yang pada umumnya dirasakan adalah menurunkan tingkat pendapatan khususnya pedagang yang berasal dari Jalan Mangkubumi.

ENDANG TRI. S | Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta

43

Saran
Penelitian merekomendasikan upaya baik dari sisi pedagang dan dari sisi pemerintah (pemkot) 1. Upaya dari sisi Pedagang a. Untuk meminimalkan dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan, penting bagi pedagang untuk meningkatkan fungsi KOMPAK sebagai organisasi pemberdayaan bagi anggotanya dalam mencapai kesejahteraan pedagang dengan kegiatan-kegiatan yang dapat mendatangkan hasil bagi anggotanya. Pengurus KOMPAK sebaiknya lebih proaktif dalam memanfaatkan program-program pemberdayaan yang dicanangkan oleh pemerintah. Bentuk pemberdayaan yang dilakukan dapat berupa pelatihan dan bimbingan manajemen usaha, bantuan modal dengan cara menjalin kerjasama dengan bank, atau pemerintah. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut program-program dan unit kegiatan diharapkan dapat menyentuh dua aspek yakni aspek penguatan ekonomi dan aspek penguatan sosial-budaya yang dapat beriringan dalam mengupayakan mencapai tujuan menciptakan tingkat kesejahteraan pedagang menjadi semakin baik. Cara yang sebaiknya dijalankan adalah dengan mengadakan pelatihan-pelatihan usaha sesuai kebutuhan pedagang. Mengenai jenis keterampilan, model pelatihan dan sumber belajarnya sebaiknya diputuskan sendiri oleh KOMPAK. Kalaupun ada kerjasama program dengan pemerintah, sebaiknya tetap mengutamakan aspirasi atau kebutuhan pedagang agar program tetap berorientasi pada kepentingan pedagang. Mengupayakan pada anggota penguatan ekonomi dengan kemudahan mengakses modal, memberikan pinjaman kepada anggota dengan cara sederhana b. Para pedagang sebaiknya lebih proaktif dalam mengembangkan usahanya dengan cara menjadikan organisasi KOMPAK sebagai wadah untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Pedagang sebaiknya memiliki tanggung jawab kuat untuk memanfaatkan ruang usaha di Pakuncen lebih efisien lagi. Sikap proaktif ini sebaiknya ditunjukkan dengan memaksimalkan peran KOMPAK dalam menjawab setiap masalah yang dihadapi pedagang. Caranya adalah dengan selalu menjalin komunikasi dengan personel pengurus KOMPAK, baik pada saat pertemuan atau di luar pertemuan resmi. 2. Dari sisi pemerintah a. Pemerintah, sebaiknya terus mempromosikan pasar Pakuncen dengan mengadakan berbagai event di sekitar Pakuncen agar kawasan sekitarnya lebih dikenal oleh masyarakat. Pada saat liburan, baik liburan sekolah, libur kerja atau liburan

44

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

nasional, sebaiknya dimanfaatkan untuk menarik pengunjung dengan mengadakan event di lokasi Pasar Pakuncen. Tujuan event-event ini adalah memperkuat brand pasar Pakuncen sebagai pasar barang-barang klithikan atau barang antik yang ada di Kota Yogyakarta. b. Terkait pada tujuan pemkot dalam membangun Pasar sebagai salah satu wisata belanja dengan keunikan pedagang klithikan diantara pedagang lainnya. Pemerintah perlu lebih memberikan perhatian pada khususnya pedagang klithikan sebagai target utama untuk menciptakan keunikan pasar. Memberikan penguatan atas kelemahan-kelemahannya baik dari segi permodalan manajemen, keterbatasan komoditi, minimnya kerjasama usaha, kualitas sdm, keterbatasan mengakses kredit dengan memberikan kemampuan dan ketrampilan agar dapat lebih kreatif dalam memajukan usahanya. Mengingat Kota Yogyakarta memiliki sejarah kerajaan yang kaya nuansa abad lalu dengan benda-benda seninya, kekayaan tersebut merupakan suatu aset. Nuansa sejarah barang-barang bernilai tersebut dapat di peragakan pada keunikan pasar dengan gelaran reproduksinya. Ini akan merupakan benchmark pariwisata dengan nilai keunikan yang diciptakan. Pengembangan kreatifitas melalui potensi Yogyakarta dapat dibinakan pada pedagang klithikan yang sesungguhnya memang berpotensi untuk produktif. Melalui pemberdayaan ketrampilan dan penguatan modal akan mampu meningkatkan kewirausahaan pedagang. Pedagang meningkat dalam kreasinya dalam mengemas gelarannya secara menarik, meningkat ragam usaha dari kreatifitas yang terlembaga dan menyajikan baik produk maupun jasa menjadi lebih menarik. Pedagang akan lebih menguasai pemasarannya secara lebih aktif dan menarik, melayani pelanggannya dengan ramah dan santun yang mencirikan budaya daerah. Untuk hal ini kerjasama terpadu antara Pedagang, Pengelola yang terkait dengan Dinas Pariwisata dan Sektor Swasta segera direalisasikan. Kemasan barang yang menarik dan tertata akan mencitrakan potensi daerah, dan memberikan warna khas pada pengunjungnya.

ENDNOTES
1

5 Perwal Yogyakarta No. 17 Tahun 2007 Tentang RPJMD 2007-2011, Struktur Perekonomian Daerah Kota Yogyakarta tahun 2005, hal 11 Perwal Yogyakarta No. 17 Tahun 2007 Tentang RPJMD 2007-2011, Pertumbuhan Ekonomi Kota Yogyakarta tahun 2005, hal 12 Dinas Pengeloaan Pasar Kota Yogyakarta, Profil Pasar Tradisional Yogyakarta, loc.cit Kompas 25 November 2008, Peminat elektronik bekas meningkat; pedagang kesulitan

2

3 4

ENDANG TRI. S | Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta

45

5 6 7

cari stok barang www. akatiga.org/index.php/sumberreferensi/cut view/74-studi-literature.salinan. ibidem ILO dalam Studi literatur ekonomi Informal di Perkotaan, Akatiga, http/www.org/ index.php Hidayat dalam Effendi, Tajudin N, op.cit hal 91 Mc Gee dan Yeung, dalam Subarsono, 1998, Tiga model kebijakan pemerintah_untuk mengatasi sektor informal, yakni Kebijakan Relokasi, Kebijakan Struktural dan Kebijakan Edukatif. Kebijakan Sektor Informal di Perkotaan, JKAP vol 2 no.1 Dieters Evers, Hans dan Effendi ibid hal 40-43 Cadwick, B. Bahr, Howard, M. Albrecht, Stan L, 1992, Metode Penelitian Sosial; Andas, IKIP Press Malang, hal 361 Menurut Lurah Pasar, Pemerintah desa Pakuncen mendapatkan 21 ruang usaha yang dikelola oleh lembaga desa seperti PKK, Karang Taruna, Pemuda Pakuncen yang umumnya membuka kios makanan Usaha parkir yang menempati sisi kanan, dan depan dikelola oleh petugas yang berasal dari lingkungan pasar setempat, adapun sisi kiri pasar adalah petugas yang berasal dari lokasi lama yang turut relokasi.

8 9

10 11

12

13

Penna S (1999), Informal Markets: Street vendors in Mexico City’Habitat International’ 23(3)363-373 dalam Studi literature ekonomi informal, www. akatiga.org/ index.php/sumberreferensi/cut view/74-studi-literature.salinan.

14 15

Wawancara dengan Rahman ketua kompak Desember 2009 Lloyd menjelaskan tentang luas pasar dan batas minimal dari luas pasar, yang terkait dengan susunan dari besaran kota, jumlah kota dan distribusinya didalam satu wilayah, dalam Tarigan, 2005, Perencanaan Pembangunan Wilayah, Sinar Grafika offset, Jakarta, hal 79 Persiapan penempatan didaftar sebelumnya oleh Disperindagkop pada tanggal 1 sd 7 Okt, 2007 dan kemudian diundikan pembagian tempatnya pada tanggl 24 dan 25 Oktober 2007 Harrop dalam Wayne Parsons, 2006, Public policy; Pengantar Teori & Praktik Analisa Kebijakan, Kencana, Jakarta. Hal 615 Ibidem hal 615 Sulistiyani, Ambar T, 2004, Kemitraan dan Model-model Pemberdayaan, Gava Media, Yogyakarta, hal 80 Keterangan beberapa PKL menjelaskan bahwa pedagang ini umumnya tidak tergantung pada dinamika pasar informal seperti naiknya omset pada masa liburan

16

17

18 19

20

46

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

atau paceklik pada musim sepi. Dengan jaringan yang dimilikinya keberadaan mereka relative aman dan mampu bertahan terhadap dinamika PKL yang tidak dapat dikalkulasikan
21 22

Lasswell, ibidem hal 616 Lihat Denhard and Denhard, menganjurkan pada apa yang di sebutnya sebagai New Public Service (NPS) untuk memposisikan masyarakat sebagai warganegara yang posisinya jauh dari sekedar customer, tetapi sebagai owner yang kehendak-kehendaknya harus didengarkan dan ditaati oleh birokrasi publik.

23 24

Firdausy, Carunia Mulya, 1995, loc.cit Kuncoro, Mudrajad, 2009, Pembinaan UKM:Antara Mitos dan Realita……. Lembaga yang melakukan pembinaan seperti; 1. Pemerintah; Deperin, Depdikbud, Depnaker, Depsos, Depkeu, Bappenas, Depkop & PPK, Pemda, Pemda bersama Bappeda&Dinas Tata Kota 2. Lembaga Swasta dan Perorangan 3. LSM

E. DAFTAR PUSTAKA
Cadwick,B, Howard,M, Albrecht, Stan, L, 1992, Metode Penelitian; Andas, IKIP Press Semarang Dieter Evers, Hans dan Effendi, Tadjudin N, 1992, Trade and Informal Sector Policy in Central Java Darwin, Muhadjir M, Peran CSR dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), Modul Pelatihan disampaikan dalam Pelatihan Corporate Sosial Responsibility yang diselenggarakan sebagai kerjasama antara Magister Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada Denhard,Janet V, Denhard, Robert B, 2003, The New Public Service, M. E Sharpe, Inc, New York De Soto, Hernando, 1991, Pertumbuhan Ekonomi Bawah Tanah di Peru, dalam Politik Ekonomi Kaum Pinggiran, Jurnal Prisma, No V edisi Mei 1991 Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta, Profil Pasar Tradisionil Kota Yogyakarta2007 Dwiyanto,A, 2006, Good Governance, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta Effendi, Tadjudin N, 1995, Sumberdaya manusia Peluang Kerja dan Kemiskinan, Tiara Wacana Yogyakarta Erani, Ahmad, 2000, Industrialisasi Pinggiran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Feisal, Sanapiah, 1992, Format-format Penelitian Sosial; Dasar-dasar dan Aplikasi, C V Rajawali, Jakarta

ENDANG TRI. S | Dampak Kebijakan Pasca Relokasi Terhadap Pedagang Di Pasar Klitikan Yogyakarta

47

Finterbush dan Mosz; Evaluasi terhadap program yang diimplementasikan, dalam Subarsono AG, 2005, Kebijakan Publik, MAP,Universitas Gadjah Mada Firdausy, Carunia Mulya, 1995, ModelKebijakan dan Ppengembangan Sektor Informal Gilbert, A, Josef Gugler, 1996, Urbanisasi dan Kemiskinan Dunia Ketiga, PT Tiara Wacana, Yogyakarta Kuncoro, Mudrajad, 2009, Pembinaan UKM:Antara Mitos dan Realita Purwanto, Erwan A, 2005, Mencari Format Birokrasi untuk Pengembangan Usaha K e c i l dan Menengah (UKM) di Indonesia, dalam Birokrasi Publik untuk system P o l i t i k Semi- Parlementer, Gava Media Parsons Wayne, 2006, Public policy; Pengantar Teori dan Praktek Analisis Kebijakan, Kencana, Jakarta. Permadi, ss, Gilang, 2007, Pedagang Kaki Lima, Penerbit Yudistira Rozenberg dalam Winardi, 2004, Manajemen Perilaku Organisasi, Prana Media Jakarta Sugiyono,2005, Statistik untuk penelitian social, Alfabeta, Bandung Singarimbun, Effendi, Sofian, 1995, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta Tashakori,A. Teddlie, C, 1998, Mix Methodology; combining qualitative and quantitative approach, Sage Publication Inc. Winarno,Budi, 2005, Teori dan Proses Kebijakan Publik, Media Presindo, Yogyakarta Wirahadikusuma, Miftah; Sektor Informal sebagai bumper pada masyarakat dalam Jurnal Prisma, Politik Ekonomi Pinggiran, No V Mei 1991 Kapitalis,

Peraturan-peraturan:
Perda Kodya Daerah Tingkat II Yogyakarta Nomor 6 Tahun 1994, tentang RUTRK Perwal Yogyakarta No.40 Tahun 2009 Tentang Perubahan Perwal N0. 87 Tahun 2009 Tentang Pembentukan Susunan, Kedudukan dan Rincian Tugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) pada Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogyakarta Perwal Yogyakarta no. 17 tahun 2007 Tentang RPJMD 2007-2011, Struktur Perekonomi an Daerah Kota Yogyakarta Tahun 2005 ————————————————————— Pertumbuhan Ekonomi Yogyakarta Tahun 2005 Perda Kota Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2007 Tentang RPJPD Kota Yogyakarta Tahun 2005-2025, Ekonomi dan Sumberdaya alam

Media informasi:
Http://www.kompas.com/kompas cetak.php/read.xml/2008/05/16/01523732/ Sektor informal menjadi penyelamat

48

Sadiman,Budi,17Desember2008.www.inaplas.org/index.phrp?option=content&view=article&id=1426%3AKesenjangan kian tajam Kompas 25 November 2008, Peminat Elektronik bekas meningkat; pedagang kesulitan cari stock barang. w.w.w ekonomikerakyatan.ugm.ac.id/my web/mudrajad.htm www.akatiga.org/index.php/sumberreferensi/cutview/74-studiliterature.salinan. Penna, S (1999), Informal Markets: Street vendors in Mexico City’Habitat International’ 23(3)363373 ————————————————————, Hart, Keith, 1983, Dualisme model ekonomi Studi literatur ekonomi Informal di Perkotaan, ————————————————————, ILO, Studi literatur ekonomi Informal di Perkotaan

49

POTENSI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KA ASAN W BENDUNGAN TINALAH DI KABUPATEN KULON PROGO
Sudaru Murti | Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta. Email: Murtizagita @ yahoo.co.id

ABSTRACT
This study of the Reservoir Development Plan Study to determine the potential and the socioeconomic development impact for the communities affected by development regions and communities that benefit from the dam. Background that can be known; lack clean water sources and the low incomes who depend unproductive land and governance environment that is not economically valuable. The approach used; identification of the natural potential to be developed as well as the identification of potential man-made engineering which includes derivikasi development and human empowerment, improved access and preservation of the Public Service environment. The result: the rejection of the community because of socialization among Stokeholders sinerginitas less attention. Planning stages there is no guarantee of safety and profit / benefit obtained, how long the stages of development and compensation of the unknown, concerning the maintenance and operational phases of implementation have not been there. Recommendations are expected through the preparation of participatory decision-making. Keyword: Sinerginitas, socialization and participation.

A. PENDAHULUAN
Kabupaten Kulon Progo sebagai salah satu kabupaten di Provinsi DIY masih membutuhkan investasi berbagai infrastruktur sebagai salah satu derivasi pembangunan daerah dan nasional. Investasi infrastruktur ini harus dapat mendorong dan memungkinkan (driver dan enabler): (1) pengembangan wilayah; (2) pengembangan ekonomi masyarakat; (3) pengembangan modernitas antara perdesaan dan perkotaan dan (4) pengembangan status sosial masyarakat. Di sisi lain, investasi infrastruktur diharapkan dapat meningkatkan pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Infrastruktur strategis yang dibutuhkan Kulon Progo saat ini adalah masalah pengairan. Kondisi sumber daya air di Kulon Progo ditandai oleh rendahnya aksesibilitas, kualitas, ataupun cakupan pelayanan. Akibatnya, sarana dan prasarana belum dapat menjadi tulang punggung bagi pembangunan pertanian dalam rangka mendukung kebijakan ketahanan pangan. Pengembangan prasarana penampung air, seperti waduk, reservoir,

50

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

embung, dan situ, masih perlu ditingkatkan untuk berbagai kebutuhan, baik pertanian, perkebunan, pengendalian banjir, penyediaan air baku, pariwisata dan industri, serta pembangkit listrik tenaga air (PLTA) maupun industri terutama pada musim kering yang seringkali mengakibatkan terjadinya krisis air. Air irigasi di Kabupaten Kulon Progo mengandalkan sungai dan prasarana irigasi secara teknis sudah berumur tua. Air irigasi utama diambil dari intake Kalibawang dan intake Sapon yang terletak di Sungai Progo. Waduk Sermo memberikan suplesi air irigasi pada Jaringan Irigasi Kalibawang pada saat debit sungai Progo tidak mencukupi. Luas areal sawah pertanian yang dialiri irigasi dari Bendungan Sermo seluas 3.445 Ha. Jaringan Irigasi Kalibawang juga memberikan suplesi ke Sungai Serang dan bersama dengan Waduk Sermo membentuk Daerah Irigasi Kalibawang yang memiliki luasan 7.152 Ha. Jaringan Irigasi Sapon yang mengambil air irigasi dari Intake Sapon membentuk Daerah Irigasi Sapon yang memiliki luasan 2.150 Ha. Saat ini Jumlah bendungan/ DAM ada 55 unit dengan rincian 3 unit berstatus propinsi dan 52 unit berstatus kabupaten. Jaringan irigasi primer sepanjang 33,07 km, sekunder sepanjang 119,16 km dan tersier 200 km. Panjang saluran irigasi di Kabupaten Kulon Progo secara keseluruhan adalah 356,23 Km. Permasalahan kekurangan air bersih saat ini terjadi di tiga pedukuhan di Desa Margosari dan Pengasih yaitu pedukuhan Kalipetir Lor, Kalipetir Kidul dan Kalisoka, akibat dampak kemarau yang telah terjadi beberapa bulan terakhir. Hal ini menyebabkan persediaan air bersih bagi warga di tiga pedukuhan tersebut yang kebanyakan hanya mengandalkan sumur, habis sebelum datangnya musin penghujan. Prasarana dan sarana yang ada belum dapat memenuhi kebutuhan air bersih di ketiga dusun tersebut. Sumber air bersih yang selama ini digunakan yaitu, mata air Clereng dan Sermo yang belum dapat memenuhi kebutuhan air bersih di Kabupaten Kulon Progo. Waduk Sermo, meskipun dialiri dari 7 buah sungai yang ada, namun selalu kering kalau musim kemarau. Potensi sumber air permukaan di Kulon Progo salah satunya adalah Sungai Progo. Sungai Progo yang menyusuri perbatasan antara Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Sleman dan kabupaten Bantul merupakan penerima air utama untuk wilayah barat Kabupaten Kulon Progo. Panjang alur Sungai Progo ± 138,00 km merupakan sungai terpanjang di Kulon Progo. Area pelayanan sungai Progo dengan anak–anak sungainya secara keseluruhan adalah 761,67 Km2. Daerah Aliran Sungai Progo (DAS Progo) dengan anak-anak sungainya, memiliki daerah pengaliran seluas 8.894 hektar, dengan debit maksimum 381,90 m3/detik dan debit minimum 13,00 m3/detik. Sistem jaringan sungai Progo terdiri dari Sungai Progo dan 10 (sepuluh) anak sungai. Salah

SUDARU MURTI | Potensi Sosial Ekonomi Masyarakat Kawasan Bendungan Tinalah di Kabupaten Kulon Progo

51

satu anak Sungai Progo adalah Sungai Tinalah dengan hulu di daerah Samigaluh dekat perbatasan dengan Kabupaten Purworejo di Jawa Tengah. Panjang alur sungai ± 15,12 km bermuara di sungai Progo ± 5 km di utara Nanggulan. Area pelayanan sungai Tinalah meliputi wilayah Samigaluh di Kabupaten Kulon Progo. Debit air di Sungai Tinalah masih cukup besar dan diyakini mampu untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Kulon Progo wilayah utara. Kondisi topografi pegunungan dan curah hujan tahunan rata-rata 2.100 mm mendukung untuk membangun bendungan di Sungai Tinalah. Potensi dan dampak negatif pembangunan bendungan Tinalah bagi pengembangan wilayah, lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi masyarakat sekitar perlu dikaji melalui studi ini. Maksud penelitian ini mencari potensi-potensi Bendungan Tinalah bagi peningkatan pelayanan publik, pengembangan wilayah, peningkatan perekonomian dan pembangunan berkelanjutan. Kajian ini harus mampu memetakan dan melihat secara akademik interrelasi berbagai “infrastructure variables” berdasarkan dimensi teknis, ruang/ wilayah, sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan. Disamping itu, kajian ini harus mendapatkan analisis akademik yang objektif tentang potensi artifact penampungan air untuk pertanian, media untuk perikanan, obyek pariwisata, pembangkit energi serta kajian dalam mendapatkan gambaran yang jelas potensi “Bendungan Tinalah” terhadap kesejahteraan masyarakat dalam multi dimensi dan pembangunan berkelanjutan. Pada akhirnya mendorong peneliti merumuskan problema:”apakah” keberadaan “Bendungan Tinalah” Mampu meningkatkan pelayanan publik, Mampu meningkatan perekonomian masyarakat, Mampu mengembangkan wilayah dan Menjaga kelestarian lingkungan (sustainable infrastructure)

B. METODE PENELITIAN
Meskipun pembangunan bendungan seringkali membawa manfaat positif dan dampak negatif juga tidak dapat dihindari pembangunan yang tidak terencana baik, akan membawa perubahan atau bahkan penurunan kualitas lingkungan. Model potensi Bendungan Tinalah dijelaskan secara diagramatis melalui gambar: (lihat gambar di halaman 51) Pada gambar tersebut di atas dijelaskan pelbagai potensi baik potensi positif dan potensi negatif yang perlu diidentifikasi terdiri dari potensi dari alam (pa) dan potensi buatan hasil rekayasa manusia (pd). Identifikasi potensi bendungan meliputi potensi internal dalam lingkup keberadaan bendungan itu sendiri (X) dan potens-potensi yang mengikuti dalam lingkup eksternal bendungan (Yn...Km.Lm). Potensi-potensi tersebut

52

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

saling mempengaruhi secara dinasmis sehingga secara konseptual dapat dirumuskan melalui fungsi sebagai berikut ini.

Gambar 1 Pemodelan Potensi Bendungan Tinalah

Beberapa potensi yang dapat dibangkitkan, misalnya pertanian, pariwisata, penyediaan air baku, dan ketersediaan energi. Potensi-potensi tersebut untuk selanjutnya dapat diidentifikasi potensi-potensi lanjutan yang meliputi ketersediaan produksi pangan, konservasi lingkungan, penciptaan industri lokal, ketahanan bencana dan interaksi sosial. Bangkitan potensi Bendungan Tinalah dapat dijelaskan secara diagramatis melalui gambar 2.

Gambar 2. Model bangkitan Potensi Bendungan Tinalah

Selanjutnya potensi-potensi tersebut dapat diidentifikasi potensi-potensi turunanturunannya; sebagai berikut:

SUDARU MURTI | Potensi Sosial Ekonomi Masyarakat Kawasan Bendungan Tinalah di Kabupaten Kulon Progo

53

Gambar 3 Bangkitan Potensi-Potensi Lanjutan Bendungan Tinalah

Setelah potensi-potensi utama teridentifikasi selanjutnya disusun suatu matriks identifikasi detail bangkitan lanjutan. Untuk mendapatkan potensi pembangunan dan pengelolaan, melalui analisis trade off antara proyeksi positif dan resiko dengan menggunakan pemodelan. Hasil optimasi digunakan untuk merumuskan rekomendasi tahapan pembangunan dan pengelolaan, pembangkitan potensi-potensi positif dan upaya mitigasi pengurang resiko pembangunan bendungan

Gambar 4 Pendekatan Studi

Pendekatan studi ini menggunakan pendekatan studi-studi literatur, kegiatan focus group discussion (FGD), survey lokasi. Pendekatan studi literatur dilakukan untuk menelah

54

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

berbagai kemungkinan yang akan terjadi dan berbagai langkah dan tahapan dalam pembangunan bendungan secara umum berdasar pada penelitian atau study yang pernah dilakukan sebelumnya.Pendekatan studi selanjutnya adalah melaksanakan kegiatan FGD untuk mendapatkan masukan-masukan dari stakeholders terkait. Kegiatan survey lokasi dilakukan untuk mendapatkan data serta gambaran secara real pada lokasi yang akan dibangun bendungan.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembangunan bendungan Tinalah ke depan akan membawa perubahan positif maupun penurunan kualitas lingkungan yang membawa resiko yang dapat terjadi antara lain dapat dikelompokkan menjadi: Kategori 1: berlokasi di atas bendungan, termasuk kelompok masyarakat yang akan kemungkinan direlokasi. Kategori 2: melibatkan lokasi baru yang akan menerima pindahan/relokasi. Kategori 3: meliputi semua yang terpengaruh penghidupannya karena pembangunan bendungan, karena masalah-masalah sistem ekonomi, sosial, budaya, lingkungan,dan lain-lain Beberapa aspek yang dijadikan pertimbangan antara lain: a. Dampak lingkungan yang tidak dapat dikembalikan ke kondisi aslinya. b. social cost yang tidak dapat diterima c. Otoritas pemerintah yang tidak berstandar profesional untuk menanggapi isu lingkungan dan isu sosial. d. Peristiwa yang tidak terduga, seperti; pergantian kepemimpinan, organisasi. Keempat aspek tersebut di atas, mendorong adanya penolakan warga akan pembangunan bendungan yang dilatarbelakangi munculnya stress multidimensional akan isu resettlement dan perubahan pola hidup mereka. Stress multidimensional tersebut antara lain meliputi: a. Stress Fisiologis, Stress ini terkait dengan kesehatan fisik masyarakat, seperti gizi buruk, penyakit, atau tingkat kematian setelah resetlement. b. Stress Psikologis, Meliputi 2 aspek, yaitu: Sindrom kehilangan rumah tinggal (the grieving for a lost home syndrome) dan Kekuatiran terhadap masa depan (anxiety over the future) c. Stress Sosioculture, Terutama terkait dengan perubahan identitas budaya masyarakat dan komunal, yang berhubungan dengan aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan lainlain.

SUDARU MURTI | Potensi Sosial Ekonomi Masyarakat Kawasan Bendungan Tinalah di Kabupaten Kulon Progo

55

Berbagai permasalahan social ekonomi dan budaya, setiap tahapan analisis baik tahap pra konstruksi, kontruksi dan operasional dalam AMDAL; sesuai UU No.23/97 tentang pengelolaan Lingkungan hidup serta PP No.27/99 didukung SK Menneg KLH No. 299/11/1996 yang tidak bisa terpisahkan. Ada pun hasil penelitian lapangan, dapat di gambarkan rangkuman isu-isu pokok yang meliputi: a. Perubahan Mata Pencaharian Masyarakat b. Kesempatan kerja dan berusaha c. Perubahan Tingkat Pendapatan d. Perubahan Pola Kepemilikan dan Penguasaan SDA e. Konflik Sosial akan nilai pembebasan tanah f. Perubahan pola hidup dan kebiasaan g. Pelaksaan proses Pembayaran Ganti Rugi h. Nilai Ganti Rugi yang sulit dicapai kesepakatan. Sedangkan hasil kajian masyarakat terhadap rencana pembangunan bendungan Tinalah, melalui Forum Komunikasi Masyarakat Tinalah (FKMT) di wilayah Purwaharjo, Sidoharjo dan Gerboharjo yang dijadikan pembangunan bendungan melalui berbagai pertemuan dan kajian diskusi dengan hasil sebagai berikut: a. Penolakan terhadap rencana studi kelayakan, dikarenakan pemahaman pembangunan bendungan diperuntukkan bagi masyarakat daerah kota Yogyakarta dengan mengorbankan serta melenyapkan tiga desa yang tergenang. Juga kuatnya ikatan tanah dan kepemilikan sebagai penguatan solidaritas sosial dalam kebersamaan. b. Penolakan pembangunan bendungan yang dilatarbelakangi: aspek sejarah akan nilainilai perjuangan tidak dapat lagi ditapaktilasi, hilangnya modal sosial masyarakat, kearifan lokal, hilangnya pekerjaan dan lahan pertanian, kehilangan tempat tinggal, perubahan budaya dan tekanan psikologis sebagai masyarakat yang terpinggirkan. Alasan yang dipergunakan interaktif antara lingkungan hidup alami, lingkungan hidup sosial dan lingkungan hidup binaan perlu adanya sinerginitas. c. Perencanaan pembangunan bendungan hasil FGD dan indept interview yang melibatkan Sinerginitas antara para stakehoders meliputi: pemerintah pusat dan pemerintah daerah (propinsi dan kabupaten) dengan masyarakat‘pengguna dan terkena dampak pembangunan. Berbagai aspek yang perlu diperhatikan oleh perencana dan pelaksana pembangunan bendungan Tinalah, yaitu: a Tahap Pra konstruksi meliputi: Kegiatan Pembebasan lahan: mendorong mening-

56

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

katnya harga lahan, kecemburuan sosial, pemindahan penduduk, ganti rugi, hilangnya lahan pertanian, hilangnya matapencaharian berdampak pada berkurangnya pendapatan. Perubahan Sosial budaya: Interaksi social cenderung bersifat disasosiatif baik pada pola hubungan secara vertical ( Pemerintah dan masyarakat) maupun secara horizontal ( antar masyarakat pada tahapan ring terkena pembangunan) dalam bentuk konflik. Pemicu konflik berkaitan dengan mekanisme pembebasan lahan. Perbedaan sikap dalam proses pembangunan bendungan, memperlemah integrasi social dalam dua kelompok masyarakat pro dan kontra. Tampak terlihat pada kelompok masyarakat terrelokasi yang belum tentu cepat mapan tingkat ekonomi dibandingkan kelompok masyarakat yang dapat merasakan ada di lokasi pembangunan bendungan yang lebih baik, dengan mempertimbangkan nilai yang dikeluarkan untuk kompensasi hilangnya pendapatan(future value). b Tahap Kontruksi meliputi: Mobilisasi tenaga kerja: memperluas kesempatan kerja dan usaha, serta peningkatan pendapatan masyarakat di lingkungan pembangunan, Mitigasi social: integrasi antara pendatang dan penduduk local dengan meminimalkan segregasi budaya. c Tahap Pasca Konstruksi meliputi: Sebelum adanya proyek perlu mempertimbangkan net present value. Masyarakat tidak kehilangan produksi dan pendapatan di wilayah genangan selama 10 tahun, sehingga masyarakat tidak merasa dirugikan adanya proyek pembangunan bendungan. Dengan adanya proyek perlu menghitung manfaat bersih yang diperoleh dengan mengurangkan nilai manfaat adanya proyek pembangunan, didapatkan hasil bersih yang lebih tinggi per tahunnya selama 10 tahun. Usaha yang perlu dilakukan; melalui Strategi Pembangunan Sosial ( Sociological Insight) dengan pendekatan Public Decision Making Process. Sebab Kegiatan pembangunan bendungan biasanya tidak terintegrasi dengan kondisi social ekonomi budaya masyarakat setempat yang merupakan dimensi kekuasaan distributive. Kekuatan penyeimbang belum berfungsi, karena lemahnya fungsi control stakeholders dalam setiap kegiatan pembangunan. Kesepakatan kolektif stakeholders terhadap program pengelolaan sumberdaya alami khususnya lahan dengan lingkungan social tidak terganggu oleh kegiatan pembangunan bendungan.Oleh karena itu perlu dirumuskan suatu Strategi pembangunan Bendungan Tinalah yang berbasis pada terbatasnya sumberdaya alami dan budaya local secara berkelanjutan.Status dan peran stakeholders terhadap system social meliputi: a. Fungsi control pemerintah (Propinsi dan Kabupaten) terhadap Pembangunan

SUDARU MURTI | Potensi Sosial Ekonomi Masyarakat Kawasan Bendungan Tinalah di Kabupaten Kulon Progo

57

b. Peningkatan Partisipasi masyarakat di setiap proses pembangunan c. Terintegrasi setiap rencana pembangunan oleh pemerintah pusat dengan kebijakan yang ditetapkan pemda setempat dan kondisi social cultural masyarakat yang terkena dampak pembangunan d. Terciptanya suatu keepakatan kolektif diantara stakeholder terhadap tujuan bersama yang akan dilaksanakan.

D. SIMPULAN DAN SARAN
Pada uraian di atas sudah dikemukakan Strategi Pembangunan Bendungan Tinalah yang berbasis pada sumberdaya alami dan budaya local sebagai pendekatan dari public decision making proses. Strategi tersebut perlu diimplementasikan dalam bentuk program kegiatan. Program yang disarankan harus menjembatani penanganan permasalahan perencanaan pembangunan yang terintegrasi dan pengelolaan dampak sosial pembangunan bendungan Tinalah. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan program yang meliputi; Pemerintah, pelaksana proyek dan masyarakat terkena dampak maupun masyarakat penerima manfaat, serta unsur-unsur lembaga kemasyarakatan di desa seperti;BPD, Kelompok tani, Karang Taruna,dan PKK. LSM setempat baik yang pro maupun kontra diharapkan dapat menciptakan kondisi kondusif. Ketiga unsur ini membentuk suatu forum media komunikasi guna membahas setiap perencanaan pembangunan bendungan Tinalah yang akan dilaksanakan, dengan mencari alternative solusi pengelolaan lingkungan social.Dengan demikian gangguan keseimbangan hubungan social tidak mempengaruhi struktur social yang telah ada, namun memperkuat integrasi social melalui peningkatan solidaritas social sehingga struktur social yang ada akan semakin kuat dalam perkembangannya.. Ketegangan antar stakeholder dikarenakan masing-masing memiliki tujuan dalam menempatkan posisinya ( status role ) meliputi: a. Pihak pelaksana proyek masih terbatas orientasi target penyelesaian fisik, kurang memperhatikan kebutuhan dasar ( basic need) dan kebutuhan sosal ( social need) masyarakat terkena pembangunan bendungan. b. Pemerintah Daerah memberlakukan UU No. 32 tahun 2004 tentang kebijakan pembangunan bendungan untuk peningkatan PDRB setempat yang diharapkan dari peningkatan produksi pertanian, perikanan dan ketersediaan air baku bagi wilayah penerima manfaat. Mekanisme pelaksanaan belum menetapkan kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan, dan menimbulkan dampak social terhadap kehidupan petani

58

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

c. Masyarakat belum dilibatkan secara maksimal dalam pengambilan keputusan, penyusunan program pengelolaan lingkungan social masih lemah meliputi; perencanaan, implentasi dan monitoring. Akibatnya belum memahami hakekat dan tujuan pembangunan bendungan Tinalah. Dengan demikian gangguan solidaritas emosional pencapaian tujuan dengan mempertahankan pola yang bersifat laten ( latent pattern maintenance ). Adapun yang perlu diperhatikan, permasalahan sosial dalam pembangunan bendungan Tinalah di Kabupaten Kulon Progo, adanya penolakan warga masyarakat setempat, seiring dengan perubahan dinamika social; keberanian mengekspresikan sikap terhadap pembangunan lingkungan hidupnya.Betapa besar kerugian yang akan dirasakan, pada beberapa proyek besar yang mengalami hambatan, penundaan waktu pelaksanaan. Belum beban social cost yang harus ditanggung, muncul konflik baik vertical dan horizontal, serta gejala kearah disintegrasi bangsa. Pembangunan bendungan yang berkelanjutan, mensyaratkan dimasukkan aspek lingkungan di setiap kegiatan penyelenggaraan pembangunan.Pertimbangan teknis ekonomis, perlu memperhatikan pula pertimbangan social budaya ( Permen PU No. 69/PRT/1995 tentang pedomanan Teknis Amdal Proyek Bidang Pekerjaan Umum). Oleh karena perlu diadakan Rekayasa Sosial Pembangunan Bendungan yang memiliki keunggulan: Membantu pemilihan alternatif pengambilan keputusan, dari lingkungan sosial ekonomi budaya. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan sosial, Memberikan informasi akan manfaat dan meminimalkan dampak. Kelemahan yang dapat dirasakan: Membutuhkan komitmen kuat berbagai kepentingan, berkaitan dengan sifat penyelesaian proyek cepat, rekayasa sosial membutuhkan waktu lebih lama. Di samping itu membutuhkan peran kuat masyarakat yang berkesinambungan. Prinsip-prinsip Pendekatan Rekayasa sosial dalam pembangunan Bendungan meliputi: a. Pendekatan rekayasa social Berbasis Masyarakat: Menampung aspirasi, kepentingan, kemampuan dan kerjasama masyarakat. b. Pendekatan rekayasa social Berbasis sosial, budaya dan ekonomi masyarakat: Kemitraan antar kepentingan dengan memfasilitasi hubungan kerja yang terencana dan setara sesuai dengan kewenangan secara transparan dan bertanggungjawab melalui kesepakatan tertulis.

E. DAFTAR PUSTAKA
Ansel, Strauss dan Juliet Corbin, 2003, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, Penerbit

SUDARU MURTI | Potensi Sosial Ekonomi Masyarakat Kawasan Bendungan Tinalah di Kabupaten Kulon Progo

59

Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Baiquni, 2007, Strategi Penghidupan Di masa Krisis, Yogyakarta, Penerbit Ideas Media Cadwick,B, Howard,M, Albrecht, Stan, L, 1992, Metode Penelitian; Andas, IKIP Press Semarang Christine Arena, 2008, The High Purpose Company: Tren Terbaru Dalam Bisnis,PT Gramedia, Jakarta. Edward Goldsmith dan Nikholas Hildyard, 2009, Dampak Sosial dan Lingkungan Bendungan raksasa, PT Gramedia, Jakarta. David Chaney, 2009, Life Styles: Sebuah Pengantar Komprehensif, Yogyakarta dan Bandung,Jalasutra. Hadi Sudharto P.,2009, Aspek Sosial Amdal: Sejarah, teori dan metode,Gajah Mada Universitas Perss, Yogyakarta. Marimin, 2008, Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan, PT Grasindo, Jakarta Parsons Wayne, 2006, Public policy; Pengantar Teori dan Praktek Analisis Kebijakan, Kencana, Jakarta. Tajuddin N. Effendi, 1995, Dampak Pertumbuhan Kawasan Industri terhadap Peluang Kerja di Pedesaan, Tiara Wacana, Yogyakarta Thayer Scudder (2005) dalam The Future of Large Dams: Dealing with Social, Environmental, Institutional and Political Costs,

Peraturan-peraturan:
Undang-Undang No.23 tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan hidup Undang-undang No.32 tahun 2004 Tentang Kebijakan Pembangunan Bendungan Peraturan Pemerintah No.27 tahun 1999 SK Menneg KLH No.299/PRT/1995 Permen PU No. 69/PRT/1995 tentang pedomanan Teknis Amdal Proyek Bidang Pekerjaan Umum SK Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No.08 tahun 2000

60

PERUBAHAN PEREKONOMIAN, STRATEGI SURVIV DAN PENGARUH INDUSTRI KERAJINAN AL, TOPENG KAYU TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI DESA PUTAT, GUNUNG KIDUL
Vibriza Juliswara | Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta. Email: vbjuliswara@yahoo.com

ABSTRACT
Before the 1980’s, the livelihoods of village residents Putat principal is as farmers or farm laborers, they cultivate rice and pulses. But after growing craft wooden mask that is around the 1980’s, the livelihoods of farmers increased to a craftsman as wellas wooden masks (Home Industry). Putat village community economy began in the 1990s had started forward. Agricultural system that is applied to the village of Putat is a traditional agricultural system. In the period after the 1980’s in the Village Putat have been changes in the economy from an agricultural economy to industrial economy. Industry in question is a wooden mask industry. T h e factors that affect farmers abandon agricultural work are: a shrinking agricultural land, the pressure forces the owners of capital to small farmers, increasing population, want to find a pay or a better income, the impossibility of supporting the needs of families with land owned by a small (small holding), the difficulty of improving the social rise,government policies that encourage growth in rural industry, is more or less exposure to information, agriculture depends very same season, while the industry does not mask the wood. Continue the efforts of others, and continuing efforts of others. Wooden mask industry influence on social life and economic impact is felt for the villagers Putat. Growing industrial wood mask has brought many changes in the lives of villagers Putat. However, the development of an industry more positive than negative effect. Key word: changes in the economy from an agricultural to industrial, growth in rural industry, influence on social life and economic impact

A. PENDAHULUAN
Sampai saat ini, Indonesia masih merupakan negara pertanian, artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal itu dapat dibuktikan dari jumlah penduduk yang mengandalkan hidupnya bekerja pada sektor pertanian atau dari produk nasional yang berasal dari pertanian. Pekerjaan di luar sektor

61

pertanian, yang dikenal sebagai sektor informal itu, terbukti telah menjadi alternatif yang penting bagi masyarakat pedesaan di Jawa sejak dasawarsa 1910-an (Padmo, 2004: 38). Pentingnya usaha meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat desa didasarkan atas kenyataan bahwa peluang kerja untuk mendapatkan pekerjaan di pedesaan sangat kecil dan sektor industri (perkotaan) sulit diharapkan untuk dapat menyerap tenaga kerja dari desa {(Mubyarto dan Kartodirdjo, 1998) dalam Ravik Karsidi 2003}. Masyarakat pedesaan di Jawa biasanya digambarkan sebagai tempat yang harmonis dengan sifat saling menolong dan hubungan yang harmonis antar anggotanya. Kehidupan desa seperti ini mungkin terdapat di masa silam, karena sumber daya alam yang melimpah memungkinkan penduduknya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri secara perlahan dengan menggunakan fasilitas sumber daya yang telah tersedia cukup banyak di sekitarnya. Namun seiring berjalannya waktu, faktor-faktor internal seperti jumlah penduduk yang meningkat dan persediaan tanah yang terbatas di samping faktor-faktor eksternal seperti perubahan-perubahan dalam kebijakan kolonial dan penguasa tradisional mempengaruhi ciri khas kehidupan desa tersebut. Akibatnya terjadi perubahan dari pekerjaan-pekerjaan pertanian ke non pertanian {(Soegijanto Padmo dalam Linblad (1998: 169). Arthur Lewis (1986) mengatakan bahwa jika pertanian beroperasi dalam skala kecil, tanah pertanian makin lama makin kecil, dan kelebihan buruh tetap tinggal di pertanian. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya kesempatan kerja di bidang pertanian. Pekerjaan non pertanian di kalangan penduduk pribumi di daerah tersebut adalah industri rumah tangga dan Petty Trade (perdagangan kecil-kecilan). Tampaknya industri rumah tangga di antara keluarga-keluarga petani di Jawa tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga saja, tetapi juga sebagai sumber pendapatan tambahan. Menurut Hugo (1969) dalam Padmo (2004: 68) sektor non pertanian di pedesaan itu haruslah dilihat secara esensial sebagai bagian dari sistem involusi di dalam masarakat pedesaan. Kegiatan yang biasa dilakukan oleh petani sangat dipengaruhi oleh tersedianya bahan baku dan kemampuan dasar untuk menyerapnya. Industri pedesaan yang semula diusahakan sebagai pekerjaan sambilan dan sekedar untuk menambah pendapatan namun sekarang beberapa diantaranya menjadi usaha pokok keluarga terutama bagi petani miskin untuk memperoleh tambahan pendapatan. Di samping itu sektor pertanian masih merupakan sumber pendapatan yang penting bagi masyarakat pedesaan pada umumnya. Masa industri perkebunan pada dasawarsa 1920-an merupakan saat penting bagi perkembangan industri rumah tangga (Padmo, 2004: 69). R.Van Neil dalam Padmo (2004) mengatakan bahwa peralihan yang menentukan ke arah kerajinan seperti tekstil,

62

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

logam, anyaman (Plaiting), keranjang (Basketry), tampaknya telah muncul sebelum 1880 dibandingkan waktu sesudahnya. Sejarah telah mencatat bahwa industrialisasi di Indonesia pada akhirnya juga menggeser aktifitas ekonomi masyarakat, yang semula bertumpu kepada sektor pertanian untuk kemudian bersandar kepada sektor industri. Kebijakan pemerintah yang terus mendorong untuk mengembangkan sektor industri (termasuk industri kecil) ini telah menyebabkan kesempatan kerja di sektor industri kecil semakin lama juga semakin terbuka. Akan tetapi adanya kesadaran bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia bergulat di sektor pertanian dengan sumber daya ekonomi yang melimpah pula pada sektor ini, maka sejak awal telah diamati bahwa industrialisasi yang dilaksanakan di Indonesia harus melibatkan sektor pertanian dalam prosesnya. Dalam arti, bahwa industrialisasi yang dijalankan tersebut harus bertumpu dan berkaitan dengan sektor pertanian, sehingga jika sektor industri sudah tumbuh pesat tidak lantas mematikan sektor pertanian yang menjadi tumpuan hidup masyarakatnya (Yustika, 2000: 61) Perubahan-perubahan yang terjadi pada ciri-ciri bidang kehidupan masyarakat, pada keadaan kehidupan sebelum berdirinya industri dan sesudah berdirinya industri. Berdirinya sebuah industri di suatu wilayah akan mengakibatkan dampak yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Namun berdasarkan data yang diperoleh menurut Sindu Galba tersebut, tampak jelas bahwa akibat positif industri bagi masyarakat lebih besar dari pada akibat negatifnya. Hal ini bukan berarti bahwa akibat negatif boleh diabaikan begitu saja. Bagaimanapun juga akibat negatif ini harus diusahakan untuk diperkecil atau dihilangkan sama sekali. Dawam Rahardjo dalam Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja. Secara garis besar menguraikan bahwa sekalipun sektor pertanian tumbuh sangat cepat, namun kecepatannya itu juga merosotkan kedudukan sektor pertanian itu sendiri, yaitu membawa pergeseran dalam struktur kesempatan kerja. Selain itu, bagi negaranegara berkembang, sektor peranian masih tetap penting, sekalipun kedudukannya juga merosot pada tahap industrialisasi. Dengan merosotnya kedudukan sektor pertanian, baik ditinjau dari segi produksi, kesempatan kerja dan produktifitas relatif antar sektorsektor ekonomi dan proses industrialisasi, itu tidak berarti bahwa peranan sektor pertanian tidak lagi penting dan biasa diabaikan, lebih-lebih jika tanah dan usaha pertanian yang produktif cukup luas di suatu negara. Ketika pembangunan pertanian dan proses transformasi terjadi di negara-negara maju, lahan pertanian masih biasa diperluas dan perkembangan penduduk dapat dikendalikan. Sejalan dengan itu industrialisasi dilakukan pula, sehingga perkembangan penduduk dapat ditampung di

VIBRIZA JULISWARA | Perubahan Perekonomian, Strategi Survival, dan Pengaruh Industri Kerajinan Topeng Kayu Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Putat Kabupaten Gunung Kidul

63

sektor industri. (Dawam Rahardjo, 1984). Sediono M.P. Tjondronegoro dalam bukunya Keping-Keping Sosiologi dari Pedesaan, secara garis besar membahas tentang masyarakat desa dari sudut pandang sosiologi atau antropologi. Masyarakat pedesaan identik dengan masalah kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam masa krisis dewasa ini sekalipun yang paling terkena, merana dan perlu dibantu adalah pedesaan yang kekurangan tanah dan kepadatan penduduk yang tinggi. Ciri khas pertanian adalah kebutuhannya akan lahan yang berlimpah. Sebagian masyarakat kita masih beranggapan bahwa orang di pedesaan hidup tenang dan rukun, dengan semangat gotong-royong dan tolong- menolong yang mencerminkan kerukunan tadi. Dalam kenyataan gejala-gejala seperti itu tidak ditemukan lagi dalam masyarakat desa secara keseluruhan, tetapi di lingkungan dukuh atau Rukun Kampung yang lebih kecil. Masyarakat desa itu sendiri telah menunjukkan pelapisan dan perbedaan, bila bukan pertentangan kepentingan antar golongan, antara lain karena perbedaan kepemilikan tanah atau penguasaan modal lain. Diduga bahwa dengan bertambahnya penduduk dengan cepat membuat luasan tanah untuk bekerja di bidang pertanian semakin sempit. Berjuta-juta petani kecil yang menggarap tanah sepetak-dua petak saja, tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga mencari tambahan nafkah di luar bidang pertanian, umumnya pergi ke kota. Setelah pertanian sudah cukup jenuh dan tidak dapat menyerap tenaga kerja dengan lebih cepat lagi, kelebihan angkatan kerja mencari nafkah di luar sektor pertanian yaitu industri. Namun demikian sektor pertanian tetap penting sebagai sumber penghasilan untuk bisa bertahan, akan tetapi sektor pertanian tidak cukup menghasilkan laba untuk dapat menggerakkan sektor industri menengah sampai berat. Yang sudah jelas masyarakat kita dipersepsikan sedang mengalami perubahan dari masyarakat yang bercorak pertanian mengarah kepada masyarakat yang lebih industrial. (Sediono MP. Tjondronegoro, 1998). Yayuk Yuliati dan Mangku Purnomo dalam bukunya Sosiologi Pedesaan secara garis besar menjelaskan bahwa masyarakat desa berbeda dengan masyarakat kota. Adapun ciri-ciri masyarakat desa yaitu: Masyarakat desa cenderung ke arah agama atau religius trend ; Masyarakat desa akan lebih mementingkan kelompok atau kekeluargaan ; Meski ada ketergantungan akan tetapi banyak kebutuhan hidup masyarakatnya dapat dipenuhi sendiri ; Pada orang desa waktu sama pentingnya namun kehidupan tidak berjalan demikian cepat. Perubahan masyarakat pedesaan merupakan keadaan yang selalu berbeda dalam batas waktu tertentu. Perubahan menyangkut struktur, norma, dan berbagai aspek lain dalam masyarakat. Perubahan ini juga menyangkut kebiasaan ekonomi, perubahan tatanan politik serta perubahan pada adat kebiasaan. Perubahan sosial sendiri akan

64

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

melahirkan sebuah pembaharuan kepada berbagai kemapanan yang sebelumnya ada. Sistem mata pencaharian masyarakat pedesaan tidak lepas dari perkembangan kebudayaan masyarakatnya. Pergeseran dari model pertanian subsisten ke pertanian modern tentu berdampak pada sistem pencaharian masyarakat desa. Pergeseran dari pertanian ke sektor jasa dan perdagangan merupakan fenomena yang tidak terelakan dalam kehidupan desa. Demikian pula sering kita jumpai mata pencaharian di desa makin bervariasi sementara kultur dan tata nilai serta daya dukung lahan cenderung tetap. (Yayuk Yuliati dan Mangku Purnomo, 2002). Perubahan sistem ekonomi yaitu dari ekonomi pertanian ke ekonomi industri tentunya akan berpengaruh pula terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Dalam hal ini masyarakat Desa Putat, dimana pada awalnya mereka sebagian besar merupakan masyarakat yang bermatapencaharian sebagai petani yang kemudian berubah menjadi masyarakat industri, dalam hal ini adalah pengrajin topeng dari kayu. Bagaimanakah perubahan perekonomian dari ekonomi pertanian ke ekonomi industri di Desa Putat Kabupaten Gunung Kidul dan bagaimanakah pengaruh industri kerajinan topeng kayu terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat serta bagaimana strategi Survival Industri Topeng Kayu di Desa Putat ?

B. METODE PENELITIAN
Informasi dan data pada penelitian ini diperoleh dari data sekunder maupun data primer. Data primer diperoleh dari informan. Informan pada penelitian ini adalah pengrajin topeng kayu. Jumlah informan pada penelitian ini sejumlah 10 orang, didasarkan pada kecukupan data yang diperlukan.(Bungin: 2008 ; 138). Proses analisa data pada penelitian ini adalah: Setelah semua hasil wawancara maupun pengamatan dipelajari kemudian dilakukan reduksi data atau mengklasifikasi data dan menyusun data tersebut secara sistematis agar mudah dikatagorikan. Setelah data dipilahkan sesuai dengan katagori kemudian manganalisa hubungan - hubungan yang terjadi serta fenomena yang terjadi pada Gapoktan Lestari Makmur. Langkah terakhir adalah membuat kesimpulan dari hasil penelitian. Disini peneliti memperoleh temuan-temuan yang ada dilapangan yang kemudian temuan tersebut dipaparkan sebagai hasil penelitian.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Mengenai Pola Kehidupan Masyarakat di Desa Putat
Penduduk Desa Putat hidup sebagai petani atau buruh tani. Mereka bercocok tanam padi dan palawija. Namun dalam perkembangannya, mata pencaharian sebagai petani

VIBRIZA JULISWARA | Perubahan Perekonomian, Strategi Survival, dan Pengaruh Industri Kerajinan Topeng Kayu Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Putat Kabupaten Gunung Kidul

65

atau buruh tani berubah menjadi seorang pengrajin topeng kayu (Home Industry). Pada awalnya kerajinan topeng kayu hanyalah sebuah pekerjaan sampingan setelah bekerja di sawah. Namun karena hasil yang didapatkan lebih menguntungkan daripada hasil pertanian dan juga karena permintaan pasar yang meningkat, maka penduduk Desa Putat banyak yang beralih profesi dari petani ke pengrajin topeng kayu. Industri topeng kayu sendiri mulai berkembang pesat sekitar tahun ± 1980-an. Penduduk Desa Putat sendiri membedakan dua golongan sosial yaitu: (1) wong cilik (orang kecil), yang terdiri dari sebagian besar masyarakat petani (dalam hal ini buruh) dan mereka yang berpendapatan rendah (buruh industri topeng kayu), maupun buruh dalam pekerjaan lain di kota; (2) kaum priyayi dimana termasuk kaum pegawai, orangorang intelektual, orang-orang kaya. Orang kaya pada masa sistim ekonomi pertanian adalah mereka yang mempunyai lahan/sawah yang luas. Tetapi pada masa ekonomi industri, orang kaya yang dimaksud adalah orang yang mempunyai modal yang besar. Desa Putat saat ini terdapat industri kerjinan yang cukup berkembang, maka wajarlah bila penduduk pendatang relatif banyak berdatangan ke daerah tersebut, mereka datang sebagai buruh industri topeng kayu. Kebanyakan mereka berasal dari desa sekitar Desa Putat. Tampaknya perlu diketahui bahwa hadirnya penduduk pendatang ini tidak dimulai sejak dahulu, tetapi berdasarkan keterangan dari kepala desa mereka datang setelah berkembanganya industri kerajinan topeng kayu di Desa Putat. Dari para pendatang tersebut, mereka ada yang menetap (tinggal) di Desa Desa Putat dan ada juga yang nglaju (pagi berangkat, setelah sore pulang lagi ke desa asal).

2. Industri Kerajinan Topeng Kayu
Kerajinan batik kayu di Desa Putat berawal dari kebutuhan topeng kayu untuk lakonlakon dalam seni tari Topeng Panji yang berkembang di dusun ini sejak tahun 1960-an. Tari tersebut merupakan pengembangan dari seni pedalangan yang meng-hadirkan topeng sebagai media berkesenian. Pengrajin kerajinan ini giat membuat produk. Sunan Kalijaga merupakan pencipta topeng dari kayu yang kemudian dikenal sebagai topeng Panji itu, dengan cerita yang diambil dari pakem wayang Gedog. Selain dipergunakan untuk pementasan, Paguyuban Tari Topeng Panji yang pertama-tama memproduksi topeng kayu dengan karakter lakon- lakon klasik seperti Rama, Sinta, Panji, dan Hanoman juga menjualnya ke luar desa. Meskipun tidak langsung disukai pasar, lama-kelamaan penggemar topeng kayu bermotif batik semakin banyak. Selain bentuk topengnya khas, mirip dengan penggambaran tokoh wayang purwa yang matanya tertarik ke atas dengan hidung lancip, motif

66

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

batik yang mendasari pewarnaan topeng menambah nilai keindahan hasil kerajinan Di Desa Putat yang berjarak sekitar 30 arah tenggara Kota Yogyakarta ini, hampir semua warganya dapat menghasilkan kerajinan topeng batik kayu. Hal ini dapat dilihat dari salah satu tempat produksi kerajinan yang mengerjakan sekitar puluhan warga asli. Sebagai informasi, proses awal hingga akhir produksi dari kerajinan topeng batik kayu sepenuhnya dikerjakan oleh manusia. Proses memilih bahan baku, memahat hingga membatik atau mengukirnya adalah hasil keahlian tangan dari perajin yang kini semakin banyak dicari.

3. Perubahan Dari Ekonomi Pertanian Ke Ekonomi Industri
Sebagian besar masyarakat Desa Putat mengusahakan pertanian di lahan kering. Adapun tanaman yang ditanam adalah padi, palawija. Pekerjaan bersawah umumnya diawali dengan mengolah lahan dari membersihkan lahan sampai lahan siap untuk ditanami dan diakhiri dengan pemungutan hasilnya dengan peralatan yang sederhana seperti: parang, cangkul, pembajak sawah dengan tenaga hewan yaitu kerbau/sapi (weluku). Tetapi di era modernisasi ini, pembajak sawah tidak lagi menggunakan tenaga hewan tetapi menggunakan traktor, traktor di Desa Putat berjumlah 10 buah dengan status kepemilikan yaitu milik perorangan. Kegiatan seluruhnya dilakukan oleh tenaga manusia, baik tenaga laki-laki maupun tenaga wanita. Tanah pertanian yang dikerjakan seluruhnya bukan tanah pertanian yang baru, tetapi tanah yang sudah sejak lama dijadikan daerah pertanian. Karena sudah sering ditanami, ditambah dengan peralatan yang sederhana, maka hasil yang didapatkan kecil sehingga bersawah bagi masyarakat Desa Desa Putat tidak lagi dijadikan sebagai mata pencaharian pokok. Selain itu, pada musim kemarau, petani tidak dapat menanami sawah mereka. Dalam pertanian desa terdapat pembagian kerja yang jelas antara laki-laki dan wanita yang tampaknya lebih ditentukan oleh pemakaian alat kerja atau tidak. Penanaman umumnya dilakukan oleh wanita, selain itu mencabut bibit dari persemaian, mengikatnya dan membagi-bagikannya di sawah dan membikin garis batas jarak penanaman di sawah yang dilakukan oleh laki-laki. Pekerjaan menyiang rumput dengan tangan dilakukan oleh wanita, sedangkan sebelumnya pria menggemburkan tanah. Sampai sekitar tahun 1980an ada pekerjaan di sawah yang khusus dilakukan oleh wanita, ialah memanen padi (derep) dengan memakai ani-ani.

4. Proses Transformasi Ekonomi Pertanian ke Ekonomi Industri
Di Desa Putat, telah terjadi suatu perubahan (transformasi) dalam bidang pekerjaan

VIBRIZA JULISWARA | Perubahan Perekonomian, Strategi Survival, dan Pengaruh Industri Kerajinan Topeng Kayu Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Putat Kabupaten Gunung Kidul

67

yang tentunya akan berpengaruh pula terhadap perekonomian masyarakat desa tersebut. Adapun perubahan tersebut yaitu dari seorang petani ke pengrajin (topeng kayu). Sistem perekonomian juga akan mengalami perubahan yaitu dari sistem ekonomi pertanian dengan mayoritas penduduknya adalah petani ke ekonomi industri dalam hal ini industri kecil topeng kayu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi petani meninggalkan pekerjaan pertanian di Desa Putat yaitu: a) Lahan pertanian yang semakin menyempit Di Desa Putat, lahan yang diusahakan cenderung menyempit karena berubahnya fungsi lahan yaitu untuk kompleks perumahan. Dari faktor ini, dapat disimpulkan bahwa petani di Desa Putat mengalami pengurangan jumlah yaitu dengan jumlah lahan sawah yang berkurang juga. Selain itu juga dikarenakan semakin pesatnya perkembangan sektor non pertanian dalam hal ini industri topeng kayu yang hampir di setiap rumah penduduk memilikinya, sehingga banyak rumah tangga baru bahkan yang lama terserap di sektor ini. b) Desakan kekuatan pemilik modal terhadap petani kecil Terjadinya monopoli perusahaan multinasional dalam teknologi bibit yang menyebabkan petani tidak lagi dapat melakukan pengadaan sendiri, dan lebih lanjut harga bibit akan menjadi mahal, petani tergantung terhadap bibit tersebut, dan kemungkinan besar akan menyebabkan tergusurnya petani pergi ke perkotaan (urbanisasi) atau pindah pekerjaan lain, karena pekerjaan sebagai petani telah berubah menjadi mahal biaya produksinya. Di Desa Putat, petani banyak yang pindah pekerjaan yaitu sebagai pengrajin topeng kayu. Tetapi tidak semua petani di Desa Putat pindah sebagai pengrajin topeng kayu, masih ada yang bermata pencaharian murni sebagai petani dan ada pula yang kedua oleh tidak adanya kedua-duanya dijalaninya. Biasanya petani ini adalah petani yang kaya yang mampu bersaing. c) Meningkatnya jumlah penduduk Makin berkurangnya lahan dari penguasanya dikaitkan dengan pertambahan penduduk akan menyebabkan sistem pewarisan boleh dikatakan sama rata untuk setiap anak, akan menghasilkan penurunan luas tanah pertanian milik setiap keluarga, yang pada gilirannya akan mengakibatkan kemiskinan di kalangan petani d) Ingin mencari bayaran atau pendapatan yang lebih baik Masyarakat Desa Putat lebih menyukai bekerja sebagai pengrajin topeng kayu daripada sebagai petani. Hal ini dikarenakan upah yang diperoleh sebagai pengrajin topeng kayu lebih besar dari pada bekerja sebagai petani ataupun buruh tani. Untuk tenaga

68

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

kerja wanita biasanya mereka dibayar dengan sistem harian sebesar Rp. 5.000/hari, sedangkan untuk laki-laki menggunakan sistem borongan yang bisa mencapai Rp. 15.000/hari. Sedangkan jika sebagai buruh tani mereka mendapat upah Rp. 4.000/ hari untuk tenaga kerja wanita dan Rp. 7.000/hari untuk tenaga kerja laki-laki. Dari sini dapat dilihat bahwa perbedaan tersebut sangat besar. Selain itu, buruh industri topeng kayu maupun sebagai pengrajin topeng kayu sifatnya tetap dan tidak musiman seperti dalam pertanian. Jadi tidak ada musim paceklik karena setiap hari memperoleh uang terus. Selain itu tenaga kerja dalam bidang industri bersifat tetap, artinya menetap pada satu majikan. e) Ketidakmungkinan mensupport kebutuhan keluarga dengan tanah milik yang kecil (Small Holding) Dengan sawah yang tidak luas (Small Holding) masyarakat Desa Putat tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga yang besar. Keadaan ekonomi seperti ini dialami oleh Bapak Agus, Beliau bekerja sebagai pamong desa dan hanya mendapat tanah bengkok seluas tiga perempat hektar. Selain itu beliau tidak mempunyai tanah garapan yang lain. Keluarganya hanya mengandalkan tanah bengkok yang tidak terlalu luas untuk memenuhi semua kebutuhan hidup keluarganya. Beliau menyekolahkan tiga anaknya. Anak petama hanya lulusan sekolah dasar, anak kedua lulusan sekolah menengah, dan anak ketiga lulusan sarjana jurusan farmasi. Biaya hidup yang tidak kecil itu tidak mungkin bilamana hanya mengandalkan pada sawah bengkok tiga perempat itu. Atas dasar itu akhirnya keluarga Bapak Reli bekerja sampingan sebagai pengrajin topeng kayu dengan tenaga kerja keluarga dan satu orang tetangganya. f) Kesulitan meningkatkan kenaikan sosial Dengan berkembang pesatnya kerajinan topeng kayu di Desa Putat, masyarakat dapat meningkatkan kehidupan sosial dan ekonominya dengan cepat bila dibandingkan ketika topeng kayu belum berkembang pesat. Masyarakat Desa Putat dulu hanya mengandalkan hasil pertanian untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya, tetapi dengan berkembangnya kerajinan topeng kayu mereka mempunyai dua pekerjaan sekaligus yaitu sebagai petani dan sebagai pengrajin topeng kayu. g) Kebijaksanaan pemerintah yang mendorong pertumbuhan industri di pedesaan Tumbuhnya kegiatan industri rumah tangga dan industri kecil di pedesaan telah ikut memacu juga para petani untuk pindah lapangn kerja. Dengan telah membaiknya tingkat pendidikan di pedesaan, misalnya, ada kecenderungan bahwa mereka yang telah mengenyam pendidikan enggan bekerja di sektor pertanian. h) Sedikit atau banyaknya terpaan informasi

VIBRIZA JULISWARA | Perubahan Perekonomian, Strategi Survival, dan Pengaruh Industri Kerajinan Topeng Kayu Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Putat Kabupaten Gunung Kidul

69

Sedikit atau banyaknya terpaan informasi, baiki melalui media massa, kontak pribadi dengan para pemuka pendapat dan atau penyuluh dalam komunikasi tentang industrialisasi pedesaan (khususnya tentang industri kecil) akan ikut mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat di pedesaan tentang industri kecil pedesaan tersebut khususnya di sini industri topeng kayu Desa Putat dan menyumbangkan pengaruh pada terjadinya transformasi pekerjaan mereka di bidang pertanian ke industri topeng kayu. Menurut masyarakat Desa Putat, industri topeng kayu Desa Putat sering diliput oleh wartawan dari media massa dan kadangkala ditinjau oleh Dinas Perindustrian dari Kabupaten. i) Pertanian tergantung sekali pada musim, sedangkan industri topeng kayu tidak. Pertanian di Desa Putat sangat tergantung sekali pada musim hujan. Pada musim kemarau biasanya sawah tidak ditanami. Hal ini dikarenakan jika tidak hujan 3 bulan saja, air tidak mengalir dan petani tidak dapat mengairi sawahnya. Sedangkan sawah di Desa Putat tidak difasilitasi dengan sumur bor (sumur artetis). Jadi dapat disimpulkan bahwa sawah hanya bisa ditanami pada musim penghujan saja. Sedangkan untuk pembuatan topeng kayu tidak bergantung sekali pada musim. Kegiatan kerajinan topeng kayu biasanya tidak berjalan jika hujan deras, sedangkan jika hujan dirasa tidak terlalu deras (gerimis kecil) mereka akan tetap bekerja. Selain itu banyak masyarakat yang membuat topeng kayu di dalam rumah atau ada juga yang sudah membuat tempat khusus untuk membuat topeng kayu. j) Meneruskan usaha orang lain Mereka yang termasuk klasifikasi ini pada umumnya bukan berlatar belakang sebagai petani. Orang tua mereka sudah terlebih dahulu bekerja sebagai pengrajin topeng kayu, kemudian ada tuntutan untuk meneruskan usaha orang tua atau bahkan mengembangkannya. Sebagian yang lain di antara mereka ada yang berlatar belakang petani, tetapi sekaligus bekerja sambilan sebagai pengrajin atau buruh pengrajin topeng kayu. Umumnya orang tua mereka sebelumnya juga bekerja sebagai pengrajin sekaligus sebagai petani. Dengan adanya faktor-faktor pendorong yang telah dijelaskan di atas, masyarakat Desa Putat banyak yang berpindah pekerjaan dari petani ke pengrajin topeng kayu. Mereka tidak berpindah sepenuhnya karena mereka juga masih bekerja di bidang pertanian. namun ada yang sepenuhnya berpindah. Posisi pekerjaan kerajinan tersebut masih sebagai pekerjaan sambilan, karena hanya dengan bekerja itu saja tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, dan karena masih sedikitnya jumlah pesanan atau

70

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

daya jual yang masih rendah. Setelah jumlah pesanan meningkat dan menghasilkan pendapatan yang lebih baik dari pekerjaan pertanian, maka barulah masyarakat Desa Putat mempertimbangkan sebagai pekerjaan utama. Untuk menjadi seorang pengrajinpun mereka harus melaui proses sebagai buruh atau ikut bekerja pada pendahulunya terlebih dahulu, kemudian baru mencoba sendiri hingga kemudian lepas sama sekali dari pendahulunya tersebut. Lamanya proses tersebut dapat ditentukan dengan ukuran waktu, tetapi sangat tergantung pada kemampuan masing-masing pengrajin. Proses perpindahan dari petani ke pengrajin dapat dikatakan melalui bentuk-bentuk transisi yang cukup lama waktunya. Dengan banyaknya masyarakat yang berpindah pekerjaan, hal ini akan berdampak pada ekonomi masyarakat. Yaitu sebelum kerajinan topeng kayu berkembang pesat seperti sekarang ini, kebutuhan masyarakat terpenuhi oleh sektor pertanian. Sedangkan setelah kerajinan topeng kayu berkembang pesat, pemasukan ekonomi masyarakat berasal dari kerajinan topeng kayu dan juga pertanian. Sejak tahun 1995, 60% penghasilan masyarakat berasal dari topeng kayu, sedangkan 40% berasal dari pertanian. Dari sini dapat disimpulkan bahwa industri topeng kayu telah menggeser ekonomi pertanian di Desa Putat menjadi ekonomi industri. Ekonomi masyarakat Desa Putat sekarang cenderung sudah mapan dan tidak ada lagi masyarakat yang kekurangan.

5. Strategi Survival topeng kayu untuk mempertahankan eksistensinya dalam Industri kerajinan
Berbagai jenis kerajinan dari kayu meliputi topeng, wayang, patung dan aneka kerajinan kayu batik terdiri atas dakon naga, mangkok, almari mini, kotak tisu dan tempat HP. Jenis yang paling laris diminati adalah bentuk topeng untuk masyarakat Bali dan patung serta suvenir untuk pengiriman ke luar negeri. Sementara itu, Desa Putat memiliki 245 perajin yang tergabung dalam kelompok-kelompok perajin dan omset penjualan produk kerajinan ini mencapai Rp.180 juta perbulan. Model kerajinan tangan inipun tidak terbatas pada bentuk topeng klasik, tapi juga sudah bervariasi dengan bentuk kreasi lain. Model binatang seperti kura-kura, gajah, atau katak pun digemari pasar. Meskipun pengrajin barang kerajinan mampu berproduksi dalam jumlah ribuan, tapi satu hal yang pasti, semua produk kerajinan kayu dari Bobung dijamin merupakan hasil buatan tangan alias “hand made”, bukan produksi pabrikan. Guna mendukung sebagai desa kerajinan topeng kayu maka dihimpun grup kesenian tari topeng yang dimainkan warga desa sendiri. Tari Topeng ini merupakan jenis kesenian tradisional yang dilestarikan secara turun-temurun oleh warga Yogyakarta. Pembinaan

VIBRIZA JULISWARA | Perubahan Perekonomian, Strategi Survival, dan Pengaruh Industri Kerajinan Topeng Kayu Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Putat Kabupaten Gunung Kidul

71

sejumlah sanggar tari topeng dan karawitan, selain untuk melestarikan jenis tari ini, juga untuk kesiapan memberikan suguhan atraksi seni bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Putat. Apabila selama ini orang mengenal batik dengan kain sebagai medianya, membatik dengan media kayu tentulah menjadi hal yang cukup unik. Jika tertarik, para perajin di Desa Putat, Kecamatan Patuk, tak segan berbagi ilmu dan keterampilan membatik kayu kepada wisatawan yang berkunjung. Pengrajin kayu siap melakukannya. Bermula dari pertanian, kini sawah menjadi sambilan. Begitulah kehidupan penduduk saat ini. Setelah mengembangkan kerajinan topeng batik kayu sejak pertengahan tahun 1980-an, itu mulai memetik hasilnya. Kerajinan batik kayu tidak hanya dikenal di Indonesia, namun juga sudah mendunia. Pada dasarnya desain dan bahan baku kerajinan kayu Indonesia bersifat spesifik sehingga umumnya pesaing datang dari dalam negeri, bukan dari luar negeri, karena umumnya usaha kerajinan kayu tidak melaksanakan ekspor sendiri maka rantai pemasaran dapat di gambarkan sebagai berikut: a. Untuk pasar dalam negeri:

b. Untuk pasar luar negeri:

Khusus untuk pasar ekspor, biasanya margin keuntungan yang terbesar dinikmati oleh eksportir, importir dan pedagang perantara luar negeri. Membuat kerajinan topeng banyak menggunakan kayu pule yang terdapat di Gunung Kidul.Tetapi jika tidak ada, mengambil dari daerah Kaliurang, Purworejo dan Pacitan. Disamping itu bisa menggunakan kayu sengon atau terbelo. Tidak sembarang kayu pule bisa diambil. Kayu harus memiliki umur tua, proses membatik di kayu hampir sama dengan membatik di kain. Pasar lokal biasa dirambah meliputi kota Jogja, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Bali. Kalau export ke Jerman, Perancis,dan Belanda, tetapi yang membawa produser lain. Secara umum jenis produk kerajinan kayu terdiri dari 3 jenis, yaitu “art product” (Sebagian besar pengerjaan tangan/seni), “ mass product “ (sebagian besar pengerjaan mesin dan seni). Ketiga jenis pokok produk kerajinan kayu tersebut bentuk dan jenisnya

72

sangat variatif dengan jumlah yang relatif banyak. Jenis-jenis produk tersebut ada yang berbentuk binatang, bunga-bungaan, buah-buahan, ikan-ikanan, perabot rumah tangga, aksesoris, mainan anak dan jenis lainnya. Dari sisi fungsinya dapat di bedakan dua jenis yaitu untuk barang seni (pajangan) dan barang seni sekaligus fungsional seperti untuk perabotan rumah tangga. Desain produk kerajinan topeng kayu memerlukan inovasi dan kreativitas yang dinamis karena dari waktu ke waktu desain produk kerajinan kayu sangat cepat berubah sesuai dengan selera pasar khususnya dengan pasar orientasi ekspor. Desain kerajinan kayu dengan tujuan ekspor bisa berasal dari order importir atau atas kreatifitas seniman/pengrajin kayu lokal. Keterampilan Kerajinan topeng kayu memproduksi umumnya di peroleh secara turun temurun dari orang tua maupun tetangga di sekitarnya, tetapi keterampilan menciptakan desain baru hanya di miliki oleh orang/seniman tertentu. Sehingga keterampilan memproduksi dan finishing Kerajinan Kayu tidak perlu diragukan lagi, yang perlu di perhatikan adalah kemampuan menciptakan desain baru yang memenuhi selera konsumen. Kerjasama dengan Dewan Kerajinan serta Rumah desain perlu di kembangkan untuk menciptakan alternatif produk yang lebih baik dan mempunyai prospek pasar yang lebih menguntungkan, disamping itu perlu di informasikan kepada pengrajin topeng kayu tentang perlunya memperhatikan dan mendaftarkan hak paten desain baru.

6. Pengaruh Industri Topeng kayu Terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat DesaPutat
Pertumbuhan penduduk bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan kehidupan sosial ekonomi di suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi di suatu daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Letak geografis dan mata pencaharian penduduk berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan perekonomian daerah. Kehidupan perekonomian masyarakat Desa Putat hampir sama dengan daerah lain di pulau Jawa. Sistem ekonomi subsistensi merupakan ciri dominan bagi suatu daerah yang mayoritas penduduknya mengutamakan bidang pertanian sebagai mata pencaharian. Sebelum berkembangnya industri topeng kayu, mata pencaharian utama masyarakat Desa Putat adalah sebagai petani. Menurut Mubyarto, 1986 (dalam Yayuk Y dan Mangkupurnomo, 2002) berpendapat bahwa pertanian sebagai sarana pokok untuk memenuhi kebutuhan keluarganya melalui hasil produksi pertanian itu. Hal ini dapat dimaklumi bahwa sektor pertanian bagi masyarakat pedesaan masih menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi sekitar tahun 1980-an, yaitu setelah mulai berkembangnya industri

73

topeng kayu, mata pencaharian penduduk Desa Putat sedikit demi sedikit mulai beralih dari pertanian ke industri dan tidak jarang pula yang merangkap yaitu sebagai petani dan sebagai pengrajin. Selain pertanian, mata pencaharian yang lain sebelum berkembangnya industri topeng kayu yaitu memelihara ternak, bertukang, berdagang, dan pekerjaan sambilan lainnya. Setelah berkembangnya industri topeng kayu, terjadi perluasan lapangan pekerjaan yang lain di luar sektor pertanian. Bekerja sebagai petani yang semula mendominasi mata pencaharian di pedesaan kemudian muncul mata pencaharian baru seperti bakul pasar, pedagang, pengusaha industri topeng kayu, karyawan/buruh industri, pemasok bahan baku industri, distributor topeng kayu, dan lain-lain. Dengan berkembangnya industri tersebut, berpengaruh terhadap perluasan lapangan pekerjaan. Seiring dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, lahan-lahan pertanian terus mengalami penyempitan karena sebagian digunakan untuk areal pemukiman. Dengan adanya pertambahan penduduk ini tentu saja akan menyebabkan pertambahan angkatan kerja, sehingga kalau tidak tersedia kesempatan kerja yang memadai akan menyebabkan terjadinya pengangguran. Timbulnya masalah pengangguran dan kesempatan kerja yang semakin menyempit di sektor pertanian, maka jalan keluar terbaik adalah program industrialisasi (Rahardjo, 1986: 3). Dengan industrialisasi ini mereka yang tidak mempunyai pekerjaan penuh atau hanya secara musiman seperti pada sektor pertanian. Dengan terbukanya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, dapat mengurangi pengangguran dan juga meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Putat. Peningkatan pendapatan ini diakibatkan karena masyarakat mempunyai dua mata pencaharian pokok yaitu sebagai petani dan pengrajin topeng kayu. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat tentunya berpengaruh pula terhadap kesejahteraan masyarakat Desa Putat. Menurut Soesarsono (1996) dalam Karsidi (2003: 42) yang disebut hidup berkemampuan adalah hidup berkecukupan, sedangkan hidup berkecukupan secara umum dapat disebut juga “kaya”. Orang yang berkecukupan lebih cenderung tingkat konsumeritasnya tinggi. Pola konsumsi ini akan menunjukkan bagaimana keadaan rumah tinggal ada tidaknya barang berharga, bentuk rumah, jenis makanan, dinding perabotannya mahal ataukah tidak. Sebelum berkembangnya industri topeng kayu, keadaan bangunan rumah masih banyak yang semi permanen. Tetapi karena meningkatnya pendapatan masyarakat bentuk bangunan rumah sekarang lebih banyak yang permanen dengan model bangunan rumah yang modern. Ada juga penduduk yang mempunyai rumah lebih dari satu Selain itu, kesejahteraan masyarakat terlihat dari sarana transportasi yang memadai. Jalan desa yang dulunya belum beraspal sekarang sudah beraspal yang tentunya sangat mendukung dalam transportasi masyarakat Desa Putat. Sebelum tahun 1990-an, sarana

74

transportasi masyarakat Desa Putat sebagian besar adalah sepeda ontel. Untuk kendaraan bermotor maupun mobil masih jarang ditemukan. Alat pengangkut yang sering dipakai adalah gerobak. Seiring berkembangnya zaman dan juga pendapatan masyarakat yang meningkat menyebabkan alat transportasi mengalami kemajuan. Sepeda motor ataupun mobil sudah banyak dijumpai di Desa Putat. Pemenuhan akan kebutuhan barang mewah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Bahkan masyarakat biasapun sekarang sudah bisa membeli barang-barang tersebut. Padahal kita tahu bahwa barang mewah seperti barang elektronik pada zaman dahulu yaitu sekitar 30 tahun yang lalu, yang dapat membelinya hanyalah orang-orang lapisan atas yang mempunyai cukup uang untuk membelinya. Sebagai contoh yaitu harga radio, dahulu jika kita ingin membeli sebuah radio kita harus menjual satu kwintal padi kering, karena harga sebuah radio sama dengan harga satu kwintal padi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa betapa mahalnya harga barang-barang mewah seperti elektronik, mobil, dan lain-lain bagi masyarakat pedesaan. Tetapi sekarang barang-barang tersebut sudah banyak dimiliki oleh masyarakat Desa Putat.

D. SIMPULAN
Dari tulisan tentang transformasi perekonomian dari pertanian ke industri dengan studi kasus kehidupan sosial ekonomi masyarakat Desa Putat dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Sebelum tahun 1980-an, mata pencaharian pokok penduduk Desa Putat adalah sebagai petani atau buruh tani, mereka bercocok tanam padi dan palawija. Tetapi setelah berkembangnya kerajinan topeng kayu yaitu sekitar tahun 1980-an, mata pencaharian masyarakat bertambah menjadi seorang petani sekaligus sebagai pengrajin topeng kayu (Home Industry). Orang kaya pada masa sistem ekonomi pertanian adalah mereka yang mempunyai lahan/sawah yang luas. Tetapi pada masa ekonomi industri, orang kaya yang dimaksud adalah orang yang mempunyai modal yang besar. Perekonomian masyarakat Desa Putat mulai tahun 1990-an sudah mulai maju. Bangunan perumahan penduduk sudah banyak yang permanen. Tingkat pendidikan masyarakat juga sudah mulai meningkat. 2. Sistem pertanian yang diterapkan masyarakat Desa Putat adalah sistem pertanian tradisional. Dalam kurun waktu setelah tahun 1980-an di Desa Putat telah terjadi perubahan perekonomian yaitu dari ekonomi pertanian ke ekonomi industri. Industri yang dimaksud adalah industri topeng kayu dimana pekerjaan membuat topeng kayu pada awalnya merupakan pekerjaan sambilan masyarakat Desa Putat. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi petani meninggalkan pekerjaan pertanian di Desa Putat

75

yaitu: lahan pertanian yang semakin menyempit, desakan kekuatan pemilik modal terhadap petani kecil, meningkatnya jumlah penduduk, ingin mencari bayaran atau pendapatan yang lebih baik, ketidakmungkinan mensupport kebutuhan keluarga dengan tanah milik yang kecil (small holding),kesulitan meningkatkan kenaikan sosial, kebijaksanaan pemerintah yang mendorong pertumbuhan industri di pedesaan, sedikit atau banyaknya terpaan informasi, pertanian tergantung sekali sama musim, sedangkan industri topeng kayu tidak. Meneruskan usaha orang lain, dan meneruskan usaha orang lain. 3. Pengaruh industri topeng kayu terhadap kehidupan sosial ekonomi dan dampaknya sangat terasa bagi masyarakat Desa Putat. Berkembangnya industri topeng kayu telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat Desa Putat. Pengaruh perubahan tersebut ada yang bersifat positif yang tentunya akanmembangun masyarakat, tetapi ada juga yang berpengaruh negatif. Adapun pengaruh positif dari berkembangnya industri topeng kayu yaitu: memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat yang nantinya dapat mengurangi jumlah pengangguran, meningkatkan pendapatan masyarakat yang tentunya akan meningkatkan pula kesejahteraan masyarakat, menanggulangi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pembuangan limbah pabrik di kota-kota besar, mengurangi arus urbanisasi, melahirkan para pengusaha-pengusaha baru,meningkatkanpendidikan,dan melahirkan jiwa-jiwa yang disiplin yang mempunyai prinsip efektif dan efisien dalam segala kehidupannya. Selain pengaruh positif tersebut, ada juga pengaruh negatifnya yaitu: melahirkan mentalitas masyarakat yang lebih cenderung individualistis, materialistis, tercampurnya kebudayaan Jawa yang tradisional (masih asli) dengan kebudayaan modern. Selain itu juga terjadi pencemaran lingkungan yang disebabkan pembuangan limbah bahan baku yang sembarangan. Walaupun demikian, perkembangan sebuah industri lebih banyak berpengaruh positif daripadanegatifnya.

E. DAFTAR PUSTAKA
Galba, sindu dkk. 1989. Perubahan Pola Kehiupan Masyarakat Akibat Pertumbuhan Industri d Daerah Jambi. Jakarta: Depdikbud Karsidi, Ravik. 2003. Dari Petani Ke Pengrajin: Sebuah Studi Transformasi Pekerjaan. Surakarta: Transformasi Kartodirdjo, Suyatno. 1990. Industrialisasi dan Dampaknya Terhadap Masyarakat I n d o nesia. Jakarta: Depdikbud Magnis, frans dan Suseno. 2001. Etika Jawa (Sebuah Analisa Falsafati Tentang

76

Kebijaksanaan Hidup Jawa). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Padmo, Soegijanto. 2004. Bunga Rampai Sejarah Sosial-Ekonomi Indonesia.Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta Rahardjo, Dawam. 1984. Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja. Jakarta: UI Press Sajogyo dan P. Sajogyo. 1984. Sosiologi Pedesaan. Jilid 2. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada Soemardjan, Selo. 1981. Perubahan Sosial Di Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Suparjan dan Hempri Suyatno. 2003. Pengembangan Masyarakat (dari Pembangunan sampai Pemberdayaan). Yogyakarta: Aditya Media Tjondronegoro, Sediono M.P. 1998. Keping-Keping Sosiologi dari Pedesaan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Wertheim. 1999. Masyarakat Desa dalam Transisi (Studi Perubahan Sosial). Terjemahan Misbah Zulfa Ellizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana Yuliati, Yayuk dan Mangku Purnomo. 2002. Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Lappera Pustaka Utama Yustika, Ahmad Erani. 2000. Industrialisasi Pinggiran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

77

PERAN WANITA DALAM MEMBANGUN MASYARAKAT BERKEADILAN GENDER
Farida Hanum | Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta. Email: rastfourties@gmail.com

A. PENDAHULUAN
Pembagian kerja dan hak yang membedakan antara laki-laki dan perempuan dianggap sebagai akar ketimpangan gender dan sumber ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Awal penyebab wanita tersubordinasi dan termarjinalisasi. Perbedaan jenis kelamin ini telah mempengaruhi untuk memberi persepsi identitas peranan gender atau akibat gender. Dikaitkan dengan sifatnya, kita mengenal istilah feminim vs maskulin, sementara dikaitkan dengan perilaku masing-masing dalam konteks peranannya dalam keluarga, masyarakat dan bernegara menjadikan kita membedakan peranan gender sedemikian yakni laki-laki sebagai pencari nafkah, pemimpin keluarga dan masyarakat (peran publik) dan sementara wanita sebagai ibu rumah tangga, memelihara para anggota keluarga (peran domistik). Perbedaan gender ini sepanjang sejarah menimbulkan ketidakadilan gender. Peranan laki-laki dan perempuan yang berbeda dianggap menimbulkan ketidakadilan di pihak wanita. Peran itu dianggap sangat bias gender. Memberi porsi hak yang berlebihan pada pria untuk dapat lebih berkuasa dan mempimpin di masyarakat. Peran wanita lebih banyak berkaitan dengan kewajiban, pengikut dan tanggung jawab memelihara. Ia membuat wanita termarjinalisasi (terpinggirkan), subordinasi (bawahan) dan punya beban kerja lebih berat dan terdiskriminasi. Inilah yang dipermasalahkan terutama oleh kaum feminisme yang sangat giat menjelaskan gerak-gerakan perempuan untuk menuju kesetaraan gender.

B. PEMBAHASAN 1. Pengertian gender
Memahami pengertian gender, cukup banyak batasan yang diberikan oleh para penulis tentang masalah ini. Dannel dalam Sugiah (1999) mengartikan gender adalah perbedaanperbedaan (dikotomi) sifat perempuan dan laki-laki, yang berdasarkan biologis akan tetapi pada hubungan-hubungan sosial budaya antara laki-laki dan perempuan yang dipengaruhi oleh struktur mayarakatnya. Gender dapat pula diartikan sebagai konsep sosial yang membedakan (dalam arti memilih atau memisahkan) peran laki-laki dan perempuan Perbedaan fungsi ini tidak ditentukan karena di antara laki-laki dan perem-

78

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

puan terdapat perbedaan biologis atau kodrat, tetapi debedakan atau dipilah-pilah menurut kedudukannya, fungsi dan peran masing-masinh dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan (Trisakti H,2008). Adapun Fakih (1994) menyatakan gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial budaya. Sedangkan Sudrajat (1994) menyatakan bahwa gender sebagai kategori sosial (feminitas dan maskulitas) yang tercermin dalam perilaku, keyakinan dan organisasi sosial. Sifat yang melekat pada jenis kelamin ini sebenarnya dapat dipertukarkan karena itu hasil dari suatu konstruk sosial dan kultural. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggab kuat, rasional, tegar, perkasa. Perubahan ciri dari sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain. Sejarah perbedaan gender (gender differeces) antara manusia jenis laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu terbentuknya perbedaan-perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikontruksikan secara sosial dan kultural, melalui ajaran agama dan kebijakan negara. Melalui proses panjang, sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan, sebagai kodrat yang tak dapat terbantahkan. Maka terjadilah kerancuan di masyarakat secara luas, yaitu pemutar balikan makna tentang apa yang disebut seks dan gender. Apa yang sesungguhnya gender (karena pada dasarnya konstruksi sosial menganggap kodrat yang berarti ketentuan biologis atau ketentuan Tuhan) sebenarnya adalah hasil dari konstruksi budaya dengan proses yang lama. Misalnya sering diungkapkan bahwa mendidik anak, mengelola rumah tangga atau urusan domestik lainnya sering dianggap sebagai “kodrat wanita”, pada hal itu adalah peran gender perempuan yang sejak lama telah disosialisasikan turun temurun. Dikatakan sebagai peran gender dan bukan kodrat karena hal itu dapat dipertukarkan dengan para laki-laki untuk menjadi peran atau tanggung jawab mereka. Sampai saat ini pemahaman yang demikian masih tetap banyak dimiliki masyarakat kita.

2. Memahami Teori Gender
Memahami perbedaan antara perempuan dan laki-laki pada dasarnya berputar di sekitar tiga teori besar, yaitu: Teori Nurture, Nature dan Equilibrium (Sri Sundari.S, 2009). Teori Nurture menyatakan bahwa perbedaan perempuan dan laki-laki pada hakekatnya merupakan hasil konstruksi sosial budaya, sehingga menghasilkan peran dan tugas yang berbeda. Perbedaan tersebut menyebabkan perempuan selalu tertinggal

FARIDA HANUM | Peran Wanita dalam Membangun Masyarakat Berkeadilan Gender

79

dan terabaikan peran dan kontribusinya, baik dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adapun Teori Nature mengemukakan bahwa adanya perbedaan perempuan dan lakilaki adalah Kodrat, sehingga tidak dapat berubah dan bersifat universal. Dalam kehidupan sosial ada pembagian tugas (divison of labauor), begitu pula dalam kehidupan keluarga tidaklah mungkin sebuah kapal dikomandani oleh dua nahkoda. Jadi teori ini menerima adanya perbedaan peran, asal dilakukan secara demokratis dan dilandasi oleh kesepakatan (konsensus). Nampaknya pemahaman teori ini masih sangat melekat di masyarakat dan membuat kaum perempuan menerima keberadaannya di sektor domestik dan menjauhkan mereka dari peran-peran publik. Sedang Teori Equilibrium menekankan pada konsep kemitraan dan keharmonisan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu penerapan kesetaraan dan keadilan gender harus memperhatikan masalah kontekstual (yang ada pada tempat dan waktu tertentu) dan situasional (sesuai situasi dan kadaan), bukan berdasarkan perhitungan secara matematis (jumlah/quota) dan tidak bersifat universal.

3. Gender dan Kebijakan Negara
Politik pembangunan yang dipilih oleh pemerintah Orde Baru berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang mengedepankan stabilitas politik, untuk menjalankan dan mengamankan kebijakan tersebut, negara memobilisasi dan mengontrol rakyat termasuk perempuan untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi. Masyarakat dijauhkan dari partisipasi politik demi stabilitas politik. Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah semata-mata untuk mengawal suksesnya pertumbuhan ekonomi. Dampaknya kebijakankebijakan yang dibuat sering kali jauh dari rasa keadilan masyarakat. Dampak terburuk yang merasakan kebijakan tersebut adalah kaum perempuan. Mengapa demikian? Dalam masyarakat dan negara yang menganut budaya patriarki, budaya tersebut sangat mewarnai produk-produk hukum dan kebijakan yang dihasilkan oleh negara, aparat-aparatnya serta dalam pelaksanaan kebijakannya, sehingga produk-produknya tidak memperhatikan kepentingan perempuan dan bias gender. Meskipun pemerintah sudah meratifikasi konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW) dengan mengeluarkan UU NO. 7 tahun 1984 namum implementasinya sulit dikontrol. Kondisi tersebut diperparah dengan masih kuatnya budaya patriarki dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu, era reformasi yang dijalankan sejak tahun 1998 belum banyak memberikan perubahan yang signifikan terhadap permasalahan-permasalahan perempuan.

80

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

Hal ini disebabkan pemerintah kurang berperspektif gender dan kurang mempunyai keberpihakan terhadap perempuan. Namun dengan terus menerus didesakkan dan didengungkan wacana kesetaraan gender dalam berbagai kesempatan, akhirnya pemerintah mulai memperhatikan isu-isu yang berkaitan dengan keadilan gender dalam berbagai bidang. Walaupun belumlah memadai, sehingga para wanita harus merapatkan barisan, berpandangan sama dan terus berjuang agar keadilan gender benar-benar terdapat pada setiap kebijakan negara, di semua bidang kehidupan. Masyarakat luas dihimbau untuk ikut mempunyai kepedulian dengan kasus-kasus perempuan. Bahkan di tingkat daerah, dalam konsteks Otonomi Daerah perlu kontrol dari masyarakat terhadap pemerintah dan DPRD dalam membuat Perda-Perda yang tidak aspiratif terhadap kepentingan perempuan dan cenderung meminggirkan kaum perempuan. Wacana dan juga rancangan Perda mengenai pemberlakuan Syariat Islam di beberapa kabupaten sebagian besar sangat bias gender dan justru mempersempit ruang gerak perempuan dalam partisipasi publik serta terjebak dalam simbol-simbol semata bukan substansi pemberdayaan perempuan, perlu dikritisi kembali. Konstruksi sosial masyarakat yang menempatkan laki-laki lebih dominan telah membelenggu peran permpuan di tingkat publik, sehingga sangat jarang dijumpai perempuan ikut sebagai pengambil kebijakan, walaupun itu hanya di tingkat RT, RW, ataupun kelurahan apabila di tingkat yang lebih di atas. Perempuan umumnya hanya sebagai bagian dari pelaksanaan keputusan, yang kadang tidak jarang bagian peran itu perpanjangan peran di rumah tangga, misalnya seksi konsumsi. Struktur masyarakat yang memposisikan perempuan pada wilayah marjinal dan kurang konstruktif untuk membangun diri mereka dalam meraih posisi yang lebih tinggi, membuat perempuan sulit untuk tampil sebagai tokoh masyarakat. Oleh sebab itu perubahan harus dimulai dari sistem dan struktur yang ada di masyarakat tingkat bawah. Di tingkat RT, RW, keputusan-keputusan yang dibuat sebagian besar melibatkan kepala keluarga yang umumnya suami (laki-laki). Di acara pertemuaan para kepala keluarga inilah keputusan-keputusan yang berakitan dengan kepentingan warga diproses menjadi kebijakan. Oleh sebab itu, perempuan jarang sekali ikut terlibat di dalamnya. Karena perempuan itu dilibatkan maka masyarakat beranggapan bahwa hal itu bukan urusan perempuan tetapi urusan laki-laki, akibatnya perempuan terlupakan bahwa mereka juga berhak didengar pendapatnya di dalam pengambilan keputusan-keputusan tersebut. Oleh sebab itu mekanisme pengambilan keputusan yang demikian layak untuk dirubah ke arah yang lebih adil yang melibatkan perempuan, sebab partisipasi perempuan ditingkat yang paling dasar (RT, RW) di masyarakat, dapat menjadi pengalaman perempuan untuk

FARIDA HANUM | Peran Wanita dalam Membangun Masyarakat Berkeadilan Gender

81

aktif ditingkat yang lebih atas. Selain itu menurut beberapa penelitian (EF. Colin) kebijakan yang dibuat perempuan cenderung berfokus pada kesejahteraan rakyat, sayangnya realitas sosial yang saat ini berjalan di masyarakat menunjukkan minimnya keterlibatan perempuan dalam pembuatan kebijakan baik di tingkat bawah (lingkungan tempat tinggal) maupun di tingkat yang lebih tinggi (legislatif). Data Pemilu misalnya di tahun 1999 menunjjukan perempuan pemilih sebesar 52% namun keterwakilan mereka di legislatif hanya 2%. Hal inilah yang mendorong pejuang perempuan mendesakkan tuntutan representasi keterwakilan perempuan di parlemen sebesar 30% dan saat ini telah tercantum di UU Pemilu. Namun kenyataannya untuk memenuhi ketentuan jumlah tersebut masih cukup jauh, sebab sudah sejak lama imej berkembang bahwa dunia politik adalah ranah laki-laki bukan perempuan. Jarang sekali perempuan yang cerdas, memiliki sumber daya yang baik, ekonomi yang mapan mau memasuki ranah ini. Maka beberapa partai politik cukup kerepotan juga mencari kandidat partai atau calon legislatif yang berkualitas. Tampaknya kesenjangan gender ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sistem sosial dan politik nasional maupun internasional baik disadari ataupun tidak, selalu memunculkan suatu konstruksi dan pembagian kerja berdasarkan gender, yang kemudian mempengaruhi asumsi dasar teori-teori hukum sosial, budaya, dan politik. Ketika isu demokrasi mengglobal di tahun 1980-an. Ternyata sampai saat ini belum mampu menempatkan kesetaraan hak laki-laki dan perempuan khususnya di sektor publik dan politik. Bahkan di negara Amerika Serikat yang dikatakan sebagai negara yang sangat demokratis pun kesenjangan gender tetap ada. Menurut tulisan Elizabeth F. Colin tahun 1996 di AS disebut sebagai Tahun Kesenjangan gender (The Year of The Gender Gap). Hal ini dikarenakan dalam pemilihan presiden tahun tersebut, suara laki-laki terbagi secara seimbang kepada dua calok presiden saat itu, Bill Clinton dan Robert Dole. Di sisi lain, 60% perempuan memilih Clinton dan 40% memilih Dole. Jadi sebenarnya suara perempuan lah yang telah membuat Clinton menjadi Presiden AS untuk kedua kalinya. Banyak peneliti dari AS mempelajari proses pemilihan umum tahun 1996 tersebut dan mencoba untuk menjelaskan mengapa perempuan cenderung memberikan suaranya kepada Clinton daripada Dole. Hasil penelitian menunjukkan karena program-program Clinton banyak berpihak pada pentingnya pendidikan, kesehatan, kesejahteraan rakyat yang kurang mampu daripada program yang menunjukkan kekuasaan seperti persenjataan dan perang.

82

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

4. Peran Wanita dalam Membangun Masyarakat Saat Ini dan Ke Depan dalam Ranah Publik
Dari apa yang dikemukkan di atas dapat dikatakan bahwa wanita Indonesia sudah sejak lama berperan dalam pembangunan masyarakat, hanya saat ini dan ke depan paradigma partisipasi wanita dalam membangun negara dan masyarakat, dari peran yang hanya menjalankan kebijakan yang telah diarahkan negara ke peran “cerdas”, yaitu lebih cermat untuk memilah dan meneliti program mana yang perlu didukung dan program mana yang perlu dikritisi atau ditiadakan. Bila program pemerintah itu baik, wanita harus ikut berpartisipasi mendukungnya, namun kalau peran itu merugikan eksistensi wanita dan generasi penerus maka program itu harus dihapuskan, termasuk Perda-Perda yang menyudutkan keberadaan perempuan, baik mobilitas maupun karirnya. Jumlah perempuan sering disinyalir lebih banyak dari pria, terutama pada usia lanjut (terbukti wanita lanjut usia menjadi kepala keluarga), ini karena usia harapan hidup wanita lebih panjang dari pria. Hal ini merupakan kekuatan kaum wanita pada pemilu. Seperti kasus Presiden Clinton di atas, kasus Presiden SBY (tahun 2004, 2009) juga diduga sama. SBY lebih banyak dipilih kaum perempuan. Jadi sebenarnya para wanita memiliki pengaruh besar dalam mensukseskan para kandidat presiden ke depan. Maka momen ini harus digunakan para wanita mampu dengan cerdas memilih calonnya. Para wanita harus memilih calon-calon pemimpin yang memiliki program-program yang sensitif gender dan kesejahteraan. Seperti calon yang memperjuangkan pentingnya pendidikan, kesehatan, kesejahteraan hidup, ketahanan keluarga, perlindungan anak dan perempuan, rasa aman. Temuan EF. Colin (1996) sangat menarik, beliau mengungkapkan bahwa perempuan cenderung mempertimbangkan lebih matang ketika membuat keputusan. Perempuan lebih hati-hati ketika mereka disodori program-program umumnya mereka melilih tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan emosional. Program-program yang berorientasi pada perbaikan pendidikan, kesehatan, lapangan kerja lebih menjadi titik perhatian. Itulah sebabnya keterlibatan perempuan sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang berdampak luas bagi kehidupan masyarakat. Untuk itu perempuan harus ikut dalam struktur pengambilan keputusan di segala bidang dan tempat, khususnya di wilayahnya. Selain itu keterlibatan perempuan sebagai pembuat keputusan merupakan proses pendidikan politik dan kepemimpinan bagi mereka, agar mampu ikut berpartisipasi dalam bidang politik. Adanya DPD (Dewan Perwakilan Daerah) di setiap desa dapat menjadi bahan bagi perempuan menempa diri dalam dunia politik dan sosial kemasyarakatan. Melalui partisipasi aktif mereka di masyarakat,

FARIDA HANUM | Peran Wanita dalam Membangun Masyarakat Berkeadilan Gender

83

perempuan dapat meraih reputasi diri dan menjadi tokoh masyarakat yang selama ini menjadi dominasi kaum laki-laki. Untuk itu semua peluang yang ada harus diraih dan diberikan pada perempuan agar mereka dapat berpartisipasi di dalamnya. Dalam setiap pemilu seyogianya muncul wakil-wakil perempuan yang berkualitas, untuk ikut memperjuangkan kepentingan perempuan dan generasi penerus (anak). Diharapkan wanita-wanita yang lain mau mendukung mereka agar dalam tempat-tempat yang penting yang berkuasa membuat keputusan ada wakil perempuan yang berimbang. Wanita pun harus adil kalau wakilnya belum berkualitas jangan didorong maju tetapi diminta untuk meningkatkan SDM-nya, sebab bila yang belum berkualitas maju memegang kekuasaan maka mereka dapat merusak citra kemampuan perempuan. Sebaliknya, bila ada pria yang SDM-nya baik dan program-programnya banyak yang menguntungkan kaun perempuan dan generasi penerus (anak) maka mereka itu dapat menjadi pilihan. a. Dalam Rumah Tangga Peran perempuan sejak lama adalah menjadi pendidik keluarga. Peran ini sangat penting dan jangan diabaikan, namun alangkah baiknya bila peran ini dilaksanakan secara bersama-sama dengan suami. Agar suami terbiasa melaksanakan tugas-tugas domestik dan suami sedini mungkin dipersiapkan untuk setiap saat menggantikan pearn yang biasa dilakukan istri. Sehingga kalau ada hal yang tidak diinginkan terjadi pada istri atau suami, maka baik suami atau istri telah siap. Selama ini pembagian peran yang sangat tajam antara suami dan istri (suami sebagai pencari nafkah dan istri sebagai pengurus rumah tangga), tak jarang membuat salah satu pasangan yang ditinggalkan menjadi bingung dan kehilangan pegangan hidup. Oleh karena itu sudah saatnya kebiasaan yang demikian dirubah ke arah yang lebih seimbang. Suami dan Isteri harus mengetahui betapa pendidikan keluarga memiliki peran yang dominan dalam proses perkembangan anak. Keluarga yang berkeadilan gender akan mengasuh anak laki-laki dan perempuan dalam perlakuan yang sama, baik yang berkaitan dengan tugas-tugas, hak, perhatian dan harapan-harapan (aspirasi). Keterlibatan kedua orang tua dalam ranah domestik ini merupakan contoh langsung dan konkrit pada anak tentang kesetaraan gender. Dapat dikatakan dalam keluarga yang demikian kesetaraan gender sudah teraplikasikan, yang lambat laun terinternalisasi pada diri anak dan menjadi bagian kepribadian anak. Pendidikan keluarga sangat mempengaruhi proses pembentukan kepribadian seseorang. Dalam keluarga anak belajar moral, nilai dan cara-cara bertingkah laku yang dapat diterima masyarakat. Demikian juga bila ingin mendapatkan masyarakat yang

84

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

berkeadilan gender, maka tempat yang paling strategis membentuk kepribadian individu sejak awal adalah lembaga keluarga. Keluarga tempat bersemainya kasih sayang yang menjadi modal utama untuk terbentuknya kepekaan sosial, seperti: a. Hidup rukun bersama orang lain dalam masyarakat b. Kerjasama dan mampu berpartisipasi dalam masyarakat c. Memiliki rasa empati dan tenggang rasa d. Rasa hormat menghormati sesama e. Menanamkan prinsip keadilan dan kesetaraan bagi sesama f. Kehalusan budi pekerti/ sopan santun g. Cinta kedamaian dan tidak suka kekuasaan Seorang individu mengetahui dirinya baik atau buruk melalui orang lain (looking – glass self). Ada tiga tahap dalam menemukannya: 1) persepsi seseorang terhadap bagaimana penglihatan orang lain itu kepada orang lain; 2) persepsi orang tersebut terhadap penilaiaan orang lain kepada dirinya, pengertian, kesan orang lain terhadap dirinya, dan 3) perasaan orang tersebut tentang penilaiaan orang lain. Bila sejak kecil diperlakukan kasar dan mengalami kekerasan, maka “Dia akan terbiasa dengan kekerasan”, sebab dia melihat dari contoh nyata yang dilihatnya. Akan mempersepsikan bahwa orang di sekitarnya tidak menyukainya, secara reflek dia juga ingin melindungi dengan perbuatan yang sama (kebencian dan kekerasan). Sebaliknya bila dia diperlakukan dengan kasih dan cinta, dia akan menunjukkan perilaku yang sama. Bila sejak kecil pola asuhan orang tua menerapkan prinsip keadilan, kemandirian dan kebersamaan baik untuk anak laki-laki dan perempuan, tanpa perbedaan perlakuan, maka dalam kepribadian anak kelak akan tercermin pola tingkah laku tersebut. Dengan melihat penilaian orang lain padanya, anak dapat merasakan bagaimana dirinya dipandang oleh orang lain, yaitu: Apakah dia sayang ; Apakah dibenci ; Apakah dibanggakan ; Apakah dihina. Ini sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Sikap orang lain terhadap seseorang akan memberi gambaran kepada seseorang itu tentang dirinya. Bila anak mengalami kekerasan, maka dia akan menderita karena merasa ditolak. Bila anak dalam keluarga mengalami kekerasan, ketidakadilan, maka dia akan menderita karena merasa ditolak. Bila anak dalam keluarga mendapat kasih saying, kehangatan dan keadilan, maka dia merasa aman karena diterima. Ada beberapa hal yang penting diperhatikan dalam pendidikan keluarga: a. Menanamkan rasa percaya diri dan rasa cinta pada anak b. Berkaitan erat dengan pengalaman bagaimana anak dirawat / dipelihara. Bila dia

FARIDA HANUM | Peran Wanita dalam Membangun Masyarakat Berkeadilan Gender

85

dirawat dengan kasih sayang dan aman, dia akan dipercaya pada lingkungannya. c. Penting bagi anak di kemudian hari untuk: Membangun hubungan sosial kerjasama dengan orang lain, Menumbuhkan rasa percaya diri, Membangun citra positif diri, Mampu berbagi kasih sayang d. Belajar Bahasa, bahasa sebagai alat komunikasi dengan orang lain. Seseorang disenangi atau kurang disukai, banyak tergantung pada cara dia bertutur kata dan pilihan kata yang digunakan ’! berkaitan dengan tutur sapa. Bahasa pertama-tama diajarkan dalam keluarga, bila keluarga membiasakan menggunakan bahasa yang kasar, tajam dan menyakitkan, maka anak akan menjadi demikian karena proses pembiasaan, Bila keluarga membiasakan bertutur kata sopan, halus, berusaha menjelaskan dan menyenangkan, maka anak akan memiliki tutur kata yang sopan dan menyenangkan. Tutur kata halus, sopan dan menyenangkan menjauhkan diri dari tindak kekerasan dan kesombongan. Pemilihan kata-kata yang baik dan sopan perlu dilatih sejak kecil dimulai dari dalam keluarga, terutama dari keteladanan orang tua dan orang dewasa di sekitarnya. e. Belajar memahami peran, setiap orang memiliki peran. Anak dapat tahu tentang peranya dimulai dari keluarga, seperti: Ayah berperan apa? ; Mengapa harus dihormati? Ibu berperan apa? Mengapa harus dihormati? Adik, kakak, nenek, dan sebagainya. Setiap peran harus dilaksanakan sesuai dengan kedudukannya, biila menjadi orang tua harus bisa menjadi teladan, dan siap untuk diteladani. Setiap peran melekat hak dan kewajiban. Bagi orang dewasa, mereka harus dibimbing dan diberi tahu tentang hak dan kewajiban. Dalam proses penanaman peran ini seyogianya orang tua sebagai pendidik tidak membeda-bedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Agar kelak baik laki-laki dan perempuan dapat menjalankan perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat yang berkeadilan gender. Melalui pendidikan keluarga dapat ditanamkan rasa percaya diri dan rasa cinta, membiasakan berbahasa yang halus, sopan dan menyenangkan pada anak serta mampu membimbing dan mendidik anak sehingga tahu hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat. Selain itu anak dididik untuk mampu bersikap adil dan saling bekerja sama satu sama lain dalam kedudukan yang seimbang. Artinya anak laki-laki tidak merasa lebih tinggi kedudukannya dari anak perempuan, begitu pula sebaliknya. Bila di dalam keluarga orang tua sudah memperlakukan anak-anaknya secara berkeadilan gender, maka harapan ke depan akan terdapat generasi penerus yang lebih egaliter dan berkesetaraan gender.

86

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

b. Ranah Sumber Daya Manusia Perempuan Masalah yang serius bagi perempuan untuk dapat ikut berpartisipasi dalam membangun masyarakat adalah kualitas sumber daya perempuan. Cukup lama masalah pendidikan di Indonesia kurang memberi ruang dan waktu bagi perempuan untuk berpendidikan tinggi. Budaya patriarki yang lebih mendahulukan kaum laki-laki, menyebabkan sebagaian besar perempuan berpendidikan rendah. Tenaga kerja perempuan lebih pada struktur teknis (buruh) dengan upah kerja rendah, sebab tenaga kerja wanita itu umumnya berpendidikan rendah dan minim ketrampilan. Demikian pula rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan perempuan, membuat tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri selalu mendapat perlakuan yang kurang wajar. Kasus perkosaan dan penyiksaan TKW di luar negeri kerap menjadi berita yang mengharukan. Untuk dapat meningkatkan sumber daya perempuan maka sejak kecil perempuan seyogianya tidak dibedakan dengan laki-laki dalam memperoleh hak untuk berpendidikan. Bila ada satu kesempatan yang diperebutkan oleh dua orang, maka peluang itu akan diberikan pada yang paling berprestasi di antaranya, bukan ditentukan oleh jenis kelamin. Kondisi yang relatif adil ini harus dibudayakan dalam masyarakat. Perempuan melalui berbagai organisasi yang ada sangat penting untuk ikut memperjuangkan keadilan dan kesempatan kaumnya untuk memperoleh pendidikan, agar bidang pendidikan ini tidak bias gender. Sumber daya perempuan berpengaruh besar pada kesempatan mereka ikut dalam pengambilan keputusan baik di tingkat mikro maupun makro. Partisipasi perempuan dalam ikut pengambilan keputusan dapat dilakukan dari tingkat yang paling primer, keluarga, kemudian di lingkungan RT/RW, kelompok PKK, Darma Wanita, organisasi kemasyarakatan sampai jenjang yang tinggi seperti lembaga pemerintah, DPR, dan sebagainya. Itulah sebabnya perempuan diharapkan tetap memiliki semangat, motivasi untuk terus menerus mengasah diri dengan berbagai macam pengetahuan, baik formal maupun non formal. Prinsip pendidikan sepanjang hayat (long life education) harus disebarluaskan melalui sosialisasi ke semua pihak dengan menggunakan berbagai media yang dapat menjangkau masyarakat luas. Memiliki SDM yang tinggi tidak berarti harus menjadi wanita karir dan bekerja di luar rumah. Bekerja di luar rumah (berkarir) atau menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan hidup dari seorang wanita. Namun melalui pilihan-pilihannya tersebut, perempuan tetap dapat berperan untuk membangun masyarakat. Yang dimulai dari lingkungan keluarga. Lingkungan masyarakat sekitar, lingkungan kerja dan lingkungan

FARIDA HANUM | Peran Wanita dalam Membangun Masyarakat Berkeadilan Gender

87

organisasinya. Yang semuanya itu membutuhkan kecakapan dan pengetahuan yang memadai. Untuk dapat menjadi pemimpin di masyarakat perempuan harus memiliki sumber daya yang baik. Pemimpin formal di suatu instansi maupun pemimpin informal di suatu komunitas tetap memerlukan sumber daya yang baik, sebab diperlukan kemampuannya untuk mempimpin. Sebagaimana yang dikemukkan oleh Kimbal Young (Soerjono. S, 1983) bahwa kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atau kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu berdasarkan akseptasi/penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khususnya yang tepat bagi situasi khusus. Oleh sebab itu, dia memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus. Oleh sebab itu, menjadi pimpinan di manapun, seorang wanita harus memiliki kemampuan yang lebih dari yang dipimpinnya, maka untuk kepentingan tersebut, dia harus memiliki SDM yang berkualitas. Bila perempuan memiliki SDM yang berkualitas maka kedudukan wanita dalam politik tidak dapat di kesampingkan, karena memiliki kecerdasan yang sama dengan laki-laki, sehingga tidak ada alasan untuk tidak diperhitungkan. Kenyataan bahwa jumlah wanita yang duduk dalam badan-badan legislatif, eksekutif, dan pimpinan partai belum memadai, disebabkan oleh sistem pencalonan perempuan selalu dalam urut bawah. Begitu pula kenyataan menunjukkan bahwa banyak yang belum diisi kaum wanita. Maka ke depan harus lebih ditingkatkan pendidikan di kalangan wanita tentang pengetahuan kewarganegaraan dan perundang-undangan guna meningkatkan partisipasi wanita di bidang pembuatan perundang-undangan terutama yang berkaitan dengan eksistensi perempuan dan anak, serta mengusahakan perbaikan dalam bidang pencalonan anggota atau pimpinan wanita dalam badan eksekutif, legislatif, yudikatif. Dengan demikian dapat dikatakan setelah era reformasi, paradigma peran wanita dalam pembangunan mengalami perubahan ke arah kemandirian perempuan dan partisipasi aktifnya dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang ada di negara Indonesia. Hal ini dapat dilakukan melalui peran politiknya, peran sebagai pendidik generasi penerus, peran dalam mendapatkan dan mengimplementasikan sumber dayanya. c. Ranah Politik Perempuan 1. Solidaritas Memilih Calon Perempuan di Setiap Kesempatan. Terbatasnya jumlah perempuan yang ikut dalam pengambilan keputusan, membuat program-program yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat untuk berkehidupan yang layak, sering tidak menjadi prioritas. Hal ini dikarenakan kepentingan yang sangat

88

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

menyetuh hajat hidup dan kesejahteraan masyarakat, sejak lama sudah diberikan sebagai bagian dari tugas dan peran perempuan, oleh sebab itu sering terabaikan dari perhatian kaum laki-laki. Itulah sebabnya perempuan lebih sensitif dalam bidang tersebut. Selain itu di masyarakat ada kecenderungan pendapat bahwa perempuan tidak mampu memimpin dengan tegas, karena sifatnya yang emosional. Pada hal stigma dan label ini tidaklah benar. Oleh sebab itu kaum perempuan haruslah berpihak pada calon-calon perempuan dan percaya bahwa kemampuan para calon tersebut dapat terus diasah. Hal ini dapat dilakukan melalui bantuan dari para pemerhati perempuan dan para pakar yang sensitif gender, yang selalu dengan senang hati membantu para calon perempuan untuk dapat terus meningkatkan kemampuan mereka. Dalam kondisi minoritas ini para perempuan harus bahu membahu, agar keadilan gender di masyarakat lambat laun benarbenar terwujud. 2. Mendorong Perempuan Agar Berpartisipasi dalam Politik. Perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan satu bangsa. Tetapi sampai saat ini kaum perempuan belumlah mendapat kesempatan yang lebih baik dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk di bidang politik dan pemerintahan. Perempuan masih dianggap kurang mampu untuk berperan lebih banyak dalam membuat berbagai kebijakan yang lebih baik dalam penyelenggaraan pemerintahan. Menjelang pemilu 2009, terdapat kebijakan penting terkait dengan permasalahan kuota perempuan dalam panggung politik Indonesia. Salah satu kebijakan penting itu ialah Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum. UndangUndang Pemilu merupakan kebijakan inti mengenai isu representasi politik perempuan yang di dalamnya ditegaskan mengenai kouta perempuan di Parlemen. Setelah keluarnya kebijakan itu, perempuan diberi kesempatan untuk berperan lebih banyak di kancah politik. Kebijakan yang hanya berfokus pada angka melalui kuota keterlibatan perempuan tidak akan banyak berarti tanpa diperkuat dengan perluasan akses dan keterlibatan perempuan dalam politik. Ketiadaan penguatan tersebut dapat menggiring kebijakan kuota pada jebakan yang disebut oleh Carol Bacchi (dikutip ole Laila Kholid.A, 2008) sebagai “the politic of presence” atau “politik kehadiran”. Politik kehadiran dapat ditafsirkan sebagai kebijakan yang merasa cukup dengan kehadiran perempuan dalam lembaga politik tanpa secara serius menelusuri apakah kehadiran tersebut mampu berkontribusi bagi perubahan kebijakan yang lebih memihak kepada perempuan.

FARIDA HANUM | Peran Wanita dalam Membangun Masyarakat Berkeadilan Gender

89

Dalam perjalanan sejarah perpolitikan di Indonesia, jumlah perempuan dalam parlemen memang belum menunjukkan angka signifikan. Perempuan masih dalam posisi yang lemah baik secara kualitas maupun kuantitas. Pada Priode 1987 – 1992 dari 500 anggota parlemen terdapat 65 orang perempuan (13%), Priode 1992 – 1997 dari 500 anggota terdapat 62 0rang (12,5 %) perempuan, Priode 1997 – 1999 dari 500 anggota terdapat 54 orang (10,8%) anggota perempuan, Priode 1999 – 2004 dari 500 orang anggota DPR terdapat 45 orang (9%) perempuan dan pada Priode 2004 – 2009 dari 550 orang anggota DPR terdapat 62 orang (11,3%) anggota perempuan (Mukhamad Murdiono, 2010). Dapat dikatakan bahwa kebijakan kuota 30% untuk anggota perempuan masih sangat jauh dari kenyataan, sebab keberadaan perempuan di DPR tidak dapat lepas dari perjuangan para calon legislatif perempuan dalam memperoleh suara dari masyarakatnya. Perolehan suara tersebut tidak bisa lepas pula dari kiprah mereka sebelumnya di masyarakat, khususnya eksistensi mereka di Partai Politik. Oleh sebab itu sangatlah penting untuk mendorong sebanyak mungkin wanita yang memiliki sumber daya dan dana yang baik untuk mau berpartisipasi dalam ranah Politik. Imej bahwa politik adalah dunia atau bagiannya kaum laki-laki harus secepatnya dihapuskan karena tidak sesuai dengan kenyataan dan undang-undang yang berlaku. Para perempuan harus terus bertambah jumlahnya, untuk itu perlu terus disadarkan dan dibantu serta saling mendukung agar mau dan mampu berpartisipasi dalam ranah politik praktis.Bila kesadaran akan pentingnya peran perempuan dalam menciptakan masyarakat berkeadilan gender terus saja disosialisasikan, dikampanyekan dalam berbagai kesempatan yang ada, maka setahap demi setahap kondisi masyarakat akan berubah ke arah masyarakat yang berkeadilan gender.

C. SIMPULAN
Pembagian kerja dan hak yang membedakan antara laki-laki dan perempuan dianggap sebagai akar ketimpangan gender dan sumber ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Awal penyebab wanita tersubordinasi dan termarjinalisasi. Perbedaan jenis kelamin ini telah mempengaruhi untuk memberi persepsi identitas peranan gender atau akibat gender. Peranan laki-laki dan perempuan yang berbeda dianggap menimbulkan ketidakadilan di pihak wanita. Peran itu dianggap sangat bias gender. Memberi porsi hak yang berlebihan pada pria untuk dapat lebih berkuasa dan mempimpin di masyarakat. Peran wanita lebih banyak berkaitan dengan kewajiban, pengikut dan tanggung jawab memelihara. Ia membuat wanita termarjinalisasi (terping-

90

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

girkan), subordinasi (bawahan) dan punya beban kerja lebih berat dan terdiskriminasi. Inilah yang dipermasalahkan terutama oleh kaum feminis yang sangat giat menjelaskan gerakan-gerakan perempuan menuju kesetaraan gender. Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum. Undang-Undang Pemilu merupakan kebijakan inti mengenai isu representasi politik perempuan yang di dalamnya ditegaskan mengenai kuota perempuan di Parlemen. Setelah keluarnya kebijakan itu, perempuan diberi kesempatan untuk berperan lebih banyak di kancah politik. Kebijakan yang hanya berfokus pada angka melalui kuota keterlibatan perempuan tidak akan banyak berarti tanpa diperkuat dengan perluasan akses dan keterlibatan perempuan dalam politik. Dalam setiap pemilu seyogianya muncul wakil-wakil perempuan yang berkualitas, untuk ikut memperjuangkan kepentingan perempuan dan generasi penerus (anak). Diharapkan wanita-wanita yang lain mau mendukung mereka agar dalam tempat-tempat yang penting yang berkuasa membuat keputusan ada wakil perempuan yang berimbang. Wanita pun harus adil kalau wakilnya belum berkualitas jangan didorong maju tetapi diminta untuk meningkatkan SDM-nya, sebab bila yang belum berkualitas maju memegang kekuasaan maka mereka dapat merusak citra kemampuan perempuan. Sebaliknya, bila ada pria yang SDM-nya baik dan program-programnya banyak yang menguntungkan kaun perempuan dan generasi penerus (anak) maka mereka itu dapat menjadi pilihan. Untuk dapat menjadi pemimpin di masyarakat perempuan harus memiliki sumber daya yang baik. Pemimpin formal di suatu instansi maupun pemimpin informal di suatu komunitas tetap memerlukan sumber daya yang baik, sebab diperlukan kemampuannya untuk mempimpin. Sebagaimana yang dikemukkan oleh Kimbal Young (Soerjono. S, 1983) bahwa kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atau kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu berdasarkan akseptasi/penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus. Oleh sebab itu, dia perlu memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus. Oleh sebab itu, menjadi pimpinan di manapun, seorang wanita harus memiliki kemampuan yang lebih dari yang dipimpinnya. Maka untuk kepentingan tersebut, dia harus memiliki SDM yang berkualitas.

D. DAFTAR PUSTAKA
Alfirdaus, Laila Kholid, 2008. Kebijakan Setengah hati Kouta Perempuan dalam Partai Politik dan Parlemen” Journal Konstitusi: Membangun Konstitusi Indonesia,

FARIDA HANUM | Peran Wanita dalam Membangun Masyarakat Berkeadilan Gender

91

Membangun Budaya Sadar Konstitusi, Vol. 5 Nomor 2, November, ISSN 18297706. Jakarta: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Elizabeth, F. Collin. 1996. Tahun 1996: Sebagai Tahun Kesenjangan Jender (Gender Gap). Makalah Seminar Nasional Perempuan dan Proses Politik Demokrasi. Jayadiningrat. 1992. Ibuism and Priyayization: Path to Power. E. Locker Scholten dan A. Niehof. Indonesia Women in Focus. Leiden: KTTLV Press. Mukhamad Murdiono, 2010, Perempuan dalam Parlemen: Studi Analisis Kebijakan Kuota Perempuan dalam Pemilu Legislatif 2009 Di Kota Yogyakarta, Socia Jurnal ilmu sosial, FISE-UN Rabeka dalam Irwan Abdulah. 1997. Sankan Paran Jender. Pusat Penelitian Kependudukan UGM Sasongko, Sri Sundari, 2009, Modul Teori dan Konsep Gender 2, Jakarta BKKBN. Seorjono Soekanto. 1983. Pengantar Sosiologi. Jkarta: Penerbit UI TriSakti Handayani dan Sugiarti, 2008, Konsep dan Teori Penelitian Gender, UMM Press Malang.

92

PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA. REFLEKSI KRITIS TERHADAP PERKEBANGAN PENDIDIKAN BERBASIS MDGS
Dyah Ratih Sulistyastuti | Program Studi Administrasi Negara, STISIP Kartika Bangsa, Yogyakarta. Email: dyah_ratih@yahoo.com

ABSTRACT
HDI ranking and the MDGs achievement Indonesia is stil low due to various social realities like poverty. And the role of the state is not optimal in the administration of public services, especially in education and health.The goal of human developmentis much more important is to make the quality of human and fairly prosperous. This paper will discuss the second aspect of the Millennium Development goals of education. The second goal is to have a target in 2015, all children, both men and women wherever they are located must have completed basic education. Popular language in the MDGs is the Education for All (EFA). Why does the fulfillment of educational services to all citizens is a priority asembodied in the MDGs? This is because education is a basic right of every citizen. Education is one of the basic needs for all people because educated people can realize at least three things. First, it can free itself from ignorance and backwardness.Second, is able to participate in the political process to achieve a democratic society and third, have the ability to free themselves from poverty. With the characters that the MDGs is an approach based on fundamental rights of citizens who are direct attacks as well as measurable. Then the MDGs is seen as an approach that has advantages in overcoming the problem of poverty and poor quality of the community. Key word: Education for All, Millennium Development goals of education, basic education

A. PENDAHULUAN
Diskusi mengenai ukuran keberhasilan pembangunan manusia terus diperdebatkan dan tidak ada habisnya. Berbagai indikator telah dirumuskan untuk menentukan strategi pembangunan manusia, terutama di negara-negara berkembang. Selanjutnya muncul pertanyaan: bagaimana pembangunan manusia yang ideal? Agaknya sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut karena pembangunan manusia amatlah kompleks. Selain kompleks, pembangunan manusia tentu juga harus disesuaikan dengan konteks yang ada di setiap negara. Oleh sebab itu, lembaga-lembaga internasional di bawah PBB seperti UNDP menyepakati Human Development Index sebagai salah satu indikator pembangunan manusia1. Posisi Indonesia dalam Human Development Index (HDI) tahun 2009 berada pada urutan 111 dari 182 negara2, dengan nilai indeks sebesar 0,734. Meskipun HDI

93

pada 2009 naik tipis menjadi 0,734 dari 0,728 pada 2007. Akan tetapi rangking HDI Indonesia ini jauh di bawah beberapa negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura yang berada pada urutan ke-23 (0,944), Malaysia ke-66 (0,829), Thailand ke-86 (0,783), Filipina ke–105 (0,751) dan Brunei Darrusalam ke-30 (0,920). HDI ini adalah salah satu ukuran pencapaian MDGs maka sebenarnya status Indonesia masih sangat memprihatinkan. Bahkan, menurut Laporan “A Future Within Reach” maupun Laporan MDGs Asia-Pasifik tahun 2006, Indonesia termasuk dalam kategori terbawah bersama Banglades, Laos, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Papua Nugini dan Filipina3. Rangking HDI serta pencapain MDGs Indonesia yang masih rendah terkait dengan berbagai realita sosial seperti kemiskinan. Serta peranan negara yang belum optimal dalam penyelenggaraan pelayanan publik terutama di bidang pendidikan dan kesehatan. Oleh sebab itu kinerja HDI yang mencerminkan pembangunan manusia bukan sekedar penurunan angka kemiskinan. Secara umum, memang angka kemiskinan di Indonesia telah mengalami penurunan. Pada tahun 2007, penduduk miskin sebesar 16,58%, sedangkan tahun 2009 persentase penduduk miskin hanya 14,15%. Artinya Indonesia telah mampu menekan angka kemiskinan sebesar 2,43% dalam 2 tahun. Akan tetapi tujuan pembangunan manusia tentu bukan sekedar penurunan angka kemiskinan. Tujuan pembangunan manusia yang jauh lebih penting adalah menjadikan manusia yang berkualitas dan sejahtera secara adil. Maka penurunan angka kemiskinan yang telah dicapai tentu memunculkan pertanyaan: “Apakah informasi tentang penurunkan angka kemiskinan tersebut cukup meyakinkan bahwa kesejahteraan akan meningkat?”. Untuk itu, sebaiknya kita melakukan terus kajian secara lebih detail mengenai hal-hal dibalik informasi angka kemiskinan. Tabel 1 menyajikan informasi garis kemiskinan yang digunakan oleh pemerintah Indonesia.
TABEL 1 GARIS KEMISKINAN, JUMLAH DAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN MENURUT DAERAH, 2008-2009

Sumber: Statistik Indonesia 2009 (181).

Apabila kita mencermati kriteria garis kemiskinan pada Tabel 1 di atas maka “Apakah

94

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

garis kemiskinan yang digunakan cukup realistis untuk mencapai kesejahteraan masyarakat?”. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2009 garis kemiskinan yang ditetapkan adalah 200.262, artinya penduduk yang berkonsumsi di atas 200.262 setiap bulannya termasuk dalam kategori penduduk yang tidak miskin. Dengan menggunakan kriteria garis kemiskinan sebesar 166.697 pada tahun 2007 dan pada tahun 2009 sebesar 200.262, pemerintah memang telah mampu menurunkan angka kemiskinan sebesar 2,43%. Namun seberapa jauh kemampuan masyarakat untuk mengakses pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan dengan standar biaya hidup tersebut? Kenyataan bahwa kesejahteraan tidak secara langsung akan dicapai dengan penurunan angka kemiskinan ini didukung oleh fakta bahwa masih besarnya persentase penduduk dengan pengeluaran di bawah Rp. 500.000 sebulan seperti terlihat pada Tabel
TABEL 2 PERSENTASE PENDUDUK MENURUT PROPINSI DAN GOLONGAN PENGELUARAN PERKAPITA SEBULAN TAHUN 2006

Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2006: 157-159.

Sebenarnya banyak aspek yang dapat dieksplorasi dari data kemiskinan serta persentase penduduk berdasarkan tingkat pengeluaran. Tetapi tulisan ini akan mendiskusikan secara khusus pada permasalahan pendidikan dasar di Indonesia dengan latar belakang realita kemiskinan yang masih terjadi. Pencapaian pendidikan dasar bagi semua warga negara baik laki-laki maupun perempuan merupakan tujuan kedua pembangunan milenium (Millenium Development Goals - MDGs). Permasalahan pendidikan di Indonesia bukanlah hal yang baru. Sejak bangsa Indonesia melaksanakan pembangunan terencana melalui Pelita pada tahun 1969, berbagai permasalahan pendidikan mulai pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi masih tetap memiliki intensitas yang tinggi. Berbagai permasalahan tersebut antara lain belum tercapainya angka wajib belajar 100%, masih tingginya disparitas angka partisipasi sekolah, dan sebagainya. Oleh sebab itu, problema pendidikan merupakan salah satu hal yang urgent untuk diatasi. Mengingat pentingnya pendidikan bagi pembangunan kualitas manusia yang makin mendapat momentum dengan dirumuskannya Millennium Development Goals (MDGs). Tulisan ini dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama adalah fenomena kemiskiann di atas. Bagian kedua adalah review singkat mengenai kegagalan beberapa paradigma pembangunan dalam mengatasi persoalan kemiskinan, pendidikan dan kesehatan

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

95

masyarakat. Kemudian disajikan sebuah pendekatan baru dalam paradigma pembangunan manusia yang dikenal dengan sebutan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millennium Development Goals (MDGs). Berbeda dengan pendekatan pembangunan manusia yang terdahulu, MDGs didasarkan pada pemenuhan hak dasar manusia (right based approach) untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Penegasan MDGs sebagai right based approach tentu berkaitan dengan kondisi pembangunan di beberapa negara terutama negara berkembang yang masih memiliki problema ekonomi dan sosial yang cukup besar. Bagian ketiga menyajikan review singkat mengenai kebijakan pemerintah di bidang pendidikan serta hasil-hasilnya. Bagian keempat adalah analisis mengenai pencapaian pembangunan pendidikan di Indonesia terhadap pencapaian MDGs. Bagian terakhir berupa kesimpulan dan rekomendasi kebijakan.

B. PEMBAHASAN 1. Mengapa MDGs Penting?
Pencapaian pembangunan manusia yang masih rendah tidak bisa dilepaskan dari kegagalan beberapa paradigma pembangunan yang telah dianut oleh Bangsa Indonesia. Pada awal dekade bangsa Indonesia melaksanakan pembangunan, pendekatan pembangunan yang digunakan adalah production centered development. Pendekatan production centered development menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai fokus perhatian pembangunan dan melihat pertumbuhan ekonomi sebagai penentu keberhasilan pembangunan. Namun sayangnya pembangunan ekonomi tersebut tidak dibarengi dengan proses pemerataan. Proses pemerataan hasil-hasil pembangunan tidak terjadi akibat tidak terjadinya proses trickle down effect seperti yang diharapkan. Lalu muncul pertanyaan mendasar who gets, of what, how much yang menggugat pendekatan pembangunan production centered. Kegagalan production centered development ini kemudian memunculkan pendekatan baru yaitu paradigma kesejahteraan (welfare paradigm) yang menjanjikan peningkatan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial. Akan tetapi welfare paradigm mengandung dua kelemahan pokok. Pertama, program-program kesejahteraan yang didesain, dibiayai dan dikelola secara sentralistis ini memerlukan biaya yang amat mahal untuk dapat berhasil, lebih dari apa yang dapat ditanggung oleh birokrasi. Kedua, program-program kesejahteraan semacam ini terlalu menguntungkan pelaksanaannya pada manajemen birokrasi yang tidak lentur yaitu yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan sesuai yang dibutuhkan oleh rakyat. Kelemahan pada paradigma kesejahteraan (welfare paradigm) mengundang reaksi sejumlah pakar yang kemudian menjadikan dasar lahirnya

96

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

pendekatan baru yaitu people-centered development. Pendekatan people-centered development memprioritaskan pembangunan manusia, kesejahteraan, keadilan, dan keberlanjutan. (disarikan dari Tjokrowinoto, 2001: 118, 216-218). Sebenarnya pendekatan people-centered development telah merevisi pendekatanpendekatan pembangunan yang gagal. Di dalam people-centered development juga telah melibatkan partisipasi masyarakat. Di samping memberi peluang pada keterlibatan masyarakat, pendekatan ini juga telah membuat program-program penanggulangan kemiskinan secara langsung seperti program Inpres Desa Tertinggal (IDT). Akan tetapi pembangunan manusia pada pendekatan people-centered development belum dilaksanakan secara komprehensif untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang menjamin hakhak dasarnya. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah pendekatan baru dalam pembangunan manusia yang menjamin hak-hak dasarnya guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Delapan kesepakatan dalam Millennium Development Goals (MDGs) tersebut adalah: 1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan (eradicate extreme poverty and hunger). 2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua (achieve universal primary education) 3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (promote gender equality and empower women) 4. Menurunkan Angka Kematian anak (reduce child mortality). 5. Meningkatkan kesehatan Ibu (increase maternal health) 6. Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan penyakit lainnya (combat HIV/AIDS, malaria and other diseases) 7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup (ensure environment sustainability). 8. Membangun kemitraan global untuk pembangunan (develop a global partnership for development). Sejumlah persoalan di negara-negara berkembang, menjadikan sejumlah negara membuat deklarasi untuk saling membantu agar terwujud kesejahteraan masyarakat. Pada bulan September tahun 2000, perwakilan-perwakilan dari 189 negara menandatangani deklarasi yang disebut sebagai Millennium Declaration. Millennium Declaration ini mengandung 8 tujuan yang harus dicapai pada tahun 2015. Negara-negara yang membuat kesepakatan tersebut bukan saja negara maju tetapi juga negara-negara miskin dan berkembang. Delapan tujuan ini tergabung dalam kesepakatan bersama yang dinamakan sebagai Millennium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium (TPM). Mengapa MDGs dijadikan pendekatan baru dalam pembangunan manusia di negara-

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

97

negara berkembang? Ada empat alasan mengenai pentingnya MDGs4. Pertama, delapan tujuan pembangunan milenium yang telah disepakati oleh 189 negara itu didasarkan pada pemenuhan hak dasar warga negara atau right based approach. Kedua, bahwa MDGs merupakan strategi pembangunan yang bersifat direct attack. Ketiga, MDGs memuat delapan tujuan yang secara umum merupakan solusi untuk mengatasi persoalan secara lebih komprehensif. Keempat, MDGs memiliki target pencapaian secara tegas seperti yang tertuang dalam setiap tujuannya. Yang terpenting dalam MDGs adalah adanya jaminan tentang hak dasar warga negara yang harus dipenuhi oleh negara. Hak dasar, atau juga sering disebut asasi manusia (human right) bersifat universal, legal dan belaku sama bagi setiap warga negara. Hak dasar ini merupakan suatu konsep etika politik dengan gagasan pokok penghargaan dan penghormatan terhadap manusia dan kemanusiaan. Secara umum, hak asasi manusia (human right) yang diumumkan PBB tahun 1948 mengandung empat hak pokok. (1). Hak individual atau hak-hak yang dimiliki setiap orang. (2). Hak kolektif atau hak masyarakat yang hanya dapat dinikmati bersama orang lain, seperti hak akan perdamaian, hak akan pembangunan dan hak akan lingkungan hidup yang bersih. (3). Hak sipil dan politik, antara lain mernuat hak-hak yang telah ada dalam perundangan Indonesia seperti: hak atas penentuan nasib sendiri, hak memperoleh ganti rugi bagi mereka yang kebebasannya dilanggar; hak atas kehidupan, hak atas kebebasan berfikir, berkeyakinan dan beragama, hak yang sama bagi perempuan dan laki-laki untuk menikmati hak sipil dan politik, hak seorang untuk diberi tahu alasanalasan pada saat penangkapan, persamaan hak dan tanggung jawab antara suami-istri, hak atas kebebasan berekspresi. (4). Hak ekonomi, sosial dan budaya, antara lain mernuat hak untuk menikmati kebebasan dari rasa ketakutan dan kemiskinan; larangan atas diskriminasi ras, wama kulit, jenis kelamin, gender, dan agama, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan untuk menikmati hak ekonomi, sosial dan budaya; hak untuk mendapat pekerjaan; hak untuk memperoleh upah yang adil bagi buruh laki-laki dan perempuan; hak untuk membentuk serikat buruh; hak atas pendidikan: hak untuk bebas dari kelaparan. Kemudian prinsip human right ini diadopsi oleh beberapa institusi internasional yang bernaung dibawah PBB seperti UNDP, CARE, Save the Children, UNICEF, UNFPA, UNESCO dan SIDA, DFID untuk dijadikan dasar aktivitasnya. Secara lebih mendalam mengenai prinsip hak dasar warga negara atau human right based approach dalam pendekatan MDGs juga dibahas dalam “Achieving the MDGs with Equity: Nedd for Human Right Based Approach”5. Prinsip pemenuhan hak dasar bagi setiap warga negara ini memberikan implikasi bahwa negara bahkan dunia internasional mempunyai tanggung jawab yang mutlak terhadap pemenuhannya.

98

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

Seperti telah dikemukakan di atas bahwa tulisan ini akan mendiskusikan aspek kedua dari Tujuan Pembangunan Milenium yaitu bidang pendidikan. Tujuan kedua ini memiliki target pada tahun 2015, seluruh anak baik laki-laki maupun perempuan di mana saja mereka berada harus sudah menyelesaikan pendidikan dasar. Bahasa populernya dalam MDGs adalah Education for All (EFA). Mengapa pemenuhan pelayanan pendidikan kepada seluruh warga negara menjadi prioritas seperti diwujudkan di dalam MDGs? Hal ini karena pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara. Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan asasi bagi semua orang karena masyarakat yang berpendidikan setidaknya dapat mewujudkan tiga hal6. Pertama, dapat membebaskan dirinya dari kebodohan dan keterbelakangan. Kedua, mampu berpartisipasi dalam proses politik untuk mewujudkan masyarakat yang demokratis dan ketiga, memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Dengan karakter bahwa MDGs adalah pendekatan yang berdasarkan hak dasar warga negara yang bersifat direct attack serta terukur. Maka MDGs dipandang sebagai pendekatan yang memiliki keunggulan dalam mengatasi masalah kemiskinan dan rendahnya kualitas masyarakat.

2. Komitmen Pemerintah untuk Mewujudkan EFA ?
Pendidikan dasar bagi anak laki-laki dan perempuan adalah tujuan kedua dari Millennium Development Goals (MDGs). Targetnya adalah pada tahun 2015, seluruh anak baik laki-laki maupun perempuan di mana saja mereka berada harus sudah menyelesaikan pendidikan dasar. Sebagai negara yang ikut meratifikasi MDGs, Indonesia tentu saja tidak bisa mengabaikannya. Upaya untuk memajukan pendidikan ini bukan sekedar karena Indonesia ikut meratifikasi, namun pembangunan pendidikan sangat penting bagi kemajuan bangsa. Secara khusus Indonesia menargetkan Angka Partisipasi Sekolah sebesar 100% pada tingkat SD dan 96% tingkat SMP pada tahun 2009. Hal ini dipertegas pada UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap anak yang berumur 7 sampai 15 tahun harus menyelesaikan pendidikan dasar. UU No. 20/2003 ini memberikan implikasi bahwa pemerintah seharusnya menyediakan pelayanan pendidikan gratis bagi jenjang pendidikan dasar. Tujuan pemerintah seperti pada UU 20/2003 tersebut dituangkan dalam sebuah program yang popular dengan “Pendidikan untuk Semua (PUS) atau sering disebut Education for All (EFA)”. Program Pendidikan untuk Semua (PUS) ditujukan untuk: (i). Seluruh siswa dapat ditampung sampai tingkat pendidikan sekolah menengah pertama, (ii). Menjamin bahwa anak-anak dari keluarga miskin memiliki akses yang sama dan penuh terhadap sekolah yang menyediakan lingkungan belajar yang menarik dan pengajaran yang efektif, dan (iii).

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

99

Menyediakan pendidikan dengan mutu yang dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia Untuk dapat mewujudkan Tujuan Pembangunan Millenium bidang pendidikan tersebut tentu bukan perkara yang mudah untuk dilaksanakan. Diperlukan suatu langkahlangkah kongkrit dalam bentuk kebijakan-kebijakan, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut. Kebijakan-kebijakan tersebut tentu saja tidak hanya dibuat dan diimplementasikan oleh pemerintah pusat saja, akan tetapi juga perlu dukungan dari pemerintah daerah. Sebab, mengacu kepada Undang-Undang No. 22/1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32/2004 tentang otonomi daerah, pemerintah daerahlah yang memiliki tugas untuk menyelenggarakan urusan pelayanan pendidikan dasar (SD dan SLTP). Dengan demikian, upaya pemerintah untuk dapat mencapai Tujuan Pembangunan Millenium dalam bidang pendidikan harus juga melibatkan dukungan pemerintah daerah.
GRAFIK 1. PERSENTASE PENGELUARAN PUBLIK UNTUK BIDANG PENDIDIKAN

Sumber: Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007:34 (diolah)

Pemerintah telah banyak menerbitkan kebijakan dan program untuk menjamin pendidikan. Komitmen pemerintah untuk menjamin pendidikan ini sangatlah penting mengingat pendidikan merupakan kebutuhan utama untuk mewujudkan masyarakat sejahtera. Namun mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh pemerintah, maka program pendidikan dasar yang menjadi prioritas kewajiban pemerintah. Ada beberapa landasan hukum yang menyatakan akan pentingnya pendidikan dasar. UUD 1945 pasal 31 (termasuk juga pasal 31 dalam Perubahan keempat Undang-undang Dasar 1945) yang menyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas pendidikan dasar. Untuk mewujudkan tujuan itu, pemerintah memiliki komitmen terhadap anggaran yang tertuang pada pasal 31 ayat 4, yaitu anggaran pendidikan minimal harus 20% dari APBN dan APBD. Komitmen pemerintah mengenai pendidikan dasar ini dipertegas lagi dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), yaitu pada

100

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

pasal 17 dan pasal 34. Untuk memenuhi hak warga negaranya sekaligus mewujudkan masyarakat yang sejahtera, Pemerintah Indonesia makin meningkatkan perhatiannya pada bidang pendidikan. Hal ini cukup beralasan karena masyarakat dengan tingkat pendidikan yang baik maka akan memberikan kontribusi yang besar terhadap proses pembangunan. Perhatian Pemerintah Indonesia yang semakin serius telah terbukti pada upaya peningkatan anggaran pendidikan. Grafik 1 menunjukkan bahwa sejak tahun 2001, Indonesia telah mengalami peningkatan persentase pengeluaran publik untuk bidang pendidikan. Suatu kebanggaan dan penghargaan kepada pemerintah bahwa anggaran pendidikan makin mengalami kenaikan. Apabila pada tahun 2001, anggaran pendidikan masih sebesar 11,4% maka pada tahun 2007 anggaran untuk bidang pendidikan telah mencapai 17,6%. Bahkan pada tahun 2009 ini, pemerintah telah berkomitmen untuk menetapkan anggaran pendidikan sebesar 20%. Yang menjadi fokus perhatian kita tentunya bukan sekedar peningkatan anggaran. Setidaknya ada tiga aspek yang harus dicermati “apakah kenaikan anggaran memberikan kontribusi yang signifikan”. Pertama, bagaimana komposisi alokasi kenaikan anggaran tersebut, (lihat Tabel 3) ; Kedua, apakah kenaikan anggaran ini dapat mengatasi permasalahan biaya pendidikan terutama bagi golongan masyarakat miskin (lihat Tabel 6) ; Ketiga, seberapa besar kenaikan anggaran tersebut berdampak pada pencapaian Wajib Belajar 9 Tahun.
TABEL 3. KOMPOSISI PENGELUARAN PUBLIK UNTUK SEKTOR PENDIDIKAN BERDASARKAN TINGKAT PEMERINTAHAN, 2001-2004

Sumber: Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007, hal:35.

Tabel 3 menampilkan komposisi pengeluaran publik untuk sektor pendidikan berdasarkan tingkat pemerintahan di Indonesia. Pemerintah kabupaten/kota memang memiliki kontribusi yang paling besar dalam belanja publik untuk sektor pendidikan selama periode 2001-2004. Akan tetapi proporsi yang lebih besar belanja publik untuk bidang pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota bukan untuk pengeluaran pembangunan melainkan untuk belanja rutin yang berupa belanja

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

101

pemerintah untuk gaji pegawai. Rata-rata pengeluaran untuk pembangunan hanya berkisar 11-14%, sedangkan proporsi yang dialokasikan untuk belanja rutin/belanja pegawai rata-rata adalah sebesar 85%. Hal ini menunjukkan bahwa setelah Otonomi Daerah, pemerintah Kabupaten/Kota tidak memiliki kemampuan yang besar untuk meningkatkan pelayanan publik di bidang pendidikan. Sebagai konsekuensi hal tersebut maka dalam periode yang sama, tugas pembangunan sektor pendidikan masih menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan propinsi yaitu dengan proporsi di atas 50%. Dwiyanto et.al (2003), berdasarkan hasil penelitian Governance and Decentralization Survey (GDS), menemukan bahwa setelah implementasi undang-undang otonomi daerah ternyata tidak membawa perubahan yang signifikan pada pelayanan kesehatan dan pendidikan. Hal senada diungkapkan oleh Purwanto (2006: 6) Otonomi Daerah ternyata tidak membuat pelayanan pendidikan berubah menjadi lebih baik. Di beberapa daerah, sejak otonomi justru membuat pelayanan bidang pendidikan makin mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat. Sedikitnya perhatian yang diberikan oleh pemerintah daerah telah menjadi sebab meningkatnya angka putus sekolah. Lemahnya komitmen pemerintah daerah terhadap pelayanan pendidikan secara nyata terlihat dari banyaknya gedung-gedung sekolah dasar yang roboh dan tidak layak untuk dipakai. Selain itu, kurang sensitifnya perhatian pemerintah daerah terhadap kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan pendidikan telah menimbulkan beberapa kasus anak SD yang tidak mampu membayar SPP. Kondisi yang demikian ini mencerminkan bahwa biaya untuk pelayanan pendidikan masih dibebankan kepada masyarakat.
TABEL 4. PERKEMBANGAN ANGGARAN BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS), 2005-2009

Sumber: Depdiknas, http://www.diknas.go.id/headline.php?id=274

Untuk mengurangi beban masyarakat atas biaya pendidikan, sejak tahun 2001 hingga Juni 2005, pemerintah telah mengalokasikan sebagian dari penghematan subsidi BBM yang kemudian dialokasikan sebagai Dana Bantuan Khusus murid (BKM) bagi keluarga miskin. Namun selanjutnya periode Juli–Desember 2005, pemerintah menegaskan untuk melakukan perubahan penerima langsung dana tersebut, dari keluarga ke sekolah yang berupa Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Keseriusan pemerintah ini diwujudkan

102

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

bahwa besarnya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) makin meningkat dari tahun ke tahun. Tabel 4 menunjukkan bahwa selama jangka waktu 4 tahun (2005-2009), dana BOS meningkat sebesar 38,4%. Karena program BOS dibuat berdasar jumlah siswa yang terdaftar maka peningkatan anggaran tersebut berdampak pada peningkatan besarnya dana BOS per siswa seperti terlihat pada Tabel 5.
TABEL 5. DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) PER SISWA PER TAHUN

Sumber: Depdiknas, http://www.diknas.go.id/headline.php?id=274

Tujuan pemerintah menciptakan program BOS ini adalah agar semua anak terutama dari keluarga miskin dapat mencapai kelulusan pada tingkat pendidikan dasar. Sejak Juli 2005, pemerintah telah menyerahkan dana BOS ke seluruh sekolah SD dan SMP. Mekanisme alokasi bantuan ini telah banyak mengubah anggaran pendidikan dasar dan pendidikan menengah pertama. Perubahan ini menunjukkan bahwa Pemerintah Pusat kini mendanai bagian yang cukup besar untuk biaya operasional sekolah. Dana BOS yang disalurkan secara langsung kepada sekolah-sekolah dimaksudkan untuk menanggulangi biaya operasional sekolah. Sehingga sekolah pun diharapkan dapat menurunkan atau bahkan menghapuskan uang SPP (sumbangan pembinaan pendidikan). Sekolah harus memiliki nomor rekening bank yang akan digunakan untuk menyimpan dana tersebut untuk mencegah terjadinya kebocoran, serta untuk meningkatkan transparansi. Program BOS memang merupakan program unggulan pemerintah untuk mengatasi putus sekolah yang patut diapresiasi. Namun ada beberapa aspek yang penting untuk dicermati terutama “seberapa besar kontribusi BOS terhadap biaya pendidikan dasar”. Pertama, bantuan melalui program BOS yang sebesar Rp. 400.000 untuk SD/MI dan Rp 575.000 pada tahun 2009. Jika kita membuat perbandingan antara rata-rata penghasilan penduduk Indonesia dan rata-rata biaya pendidikan memang akan terlihat betapa mahalnya pendidikan di Indonesia. Berikut ini kutipan tabel mengenai rincian biaya pendidikan selama satu tahun yang dihimpun oleh Balitbang Depdiknas.

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

103

TABEL 6. BIAYA PENDIDIKAN SISWA PER TAHUN

Sumber: Balitbang Depdiknas dalam Ujiyati 2005:27

Dengan melihat data pada Tabel 6 di atas, maka rata-rata biaya pendidikan SD setiap bulannya adalah sebesar 150.000 dan biaya pendidikan SMP sebesar 183.000. Apabila dikaji berdasarkan penghasilan petani, buruh atau pekerja pabrik, biaya sekolah tersebut jelas sangat tinggi. Berdasarkan data UMP tahun 2005, rata-rata UMP di Indonesia sebesar Rp 460,892. Data ini dipertegas bahwa pada tahun 2006, penduduk Indonesia yang berpenghasilan dibawah Rp. 500.000 per bulan masih dominan yaitu diatas 50% (lihat Tabel2). Seandainya seorang yang termasuk dalam kategori berpenghasilan dibawah Rp. 500.000 memiliki dua orang maka penghasilannya jelas tidak dapat untuk membiayai sekolah hingga SMP. Bantuan operasional sekolah atau BOS yang diberikan pemerintah pusat hanya memberikan kontribusi15 persen terhadap biaya operasional sekolah7. Tentu saja dana BOS tidak bisa menggratiskan biaya pendidikan dasar. Kontribusi program BOS yang masih rendah juga ditemukan melalui penelitian yang dilakukan ICW. Berdasarkan riset Indonesia Corruption Watch pada 2006 di 10 kabupaten/kota di Indonesia, ternyata orang tua siswa pada level SD masih menanggung beban biaya pendidikan Rp 1,5 juta, yang terdiri atas biaya langsung dan tidak langsung8.( Meskipun pemerintah memiliki tujuan yang baik untuk kemajuan bangsa. Tetapi kenyataannya tujuan pemerintah ini tidak serta merta mudah terpenuhi. Hal ini bukan sekedar keterbatasan anggaran, tetapi tujuan pemerintah ini sepertinya membuat keputusan yang kontradiktif jika ditinjau pada PP No 10 Tahun 2005. Dalam PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, disebutkan bahwa pemerintah hanya menanggung biaya operasional sekolah seperti uang sekolah, gaji guru, dan sebagainya. Kedua, program BOS rentan dengan kebocoran dan korupsi. Banyak fakta yang menunjukkan betapa dana BOS rawan terhadap tindakan korupsi. Salah satu contoh di Kabupaten Purwakarta. Hasil penyelusuran Tempo, LPK Khoirunnisa yang berlokasi di wilayah Kecamatan Jatiluhur mengaku hanya menerima Rp 15 juta saja dari jumlah Rp 100 juta yang harus diterimanya. “Yang besarnya diambil oleh anggota Dewan dan perantara (calo proposal),” kata seorang pengurus LPK Khoirunnisa yang menolak

104

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

disebut namanya.( ( Ia mengaku menerima uang kontan dalam satu amplop saat mengambilnya di Bank Jabar pada medio September 2008, hanya Rp.40 juta. “Yang Rp.60 jutanya diambil anggota Dewan,” 9. Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Garut, Garut Goverment Watch (GGW) menemukan banyak penyelewengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), terutama untuk membayar pungutan-pungutan liar. Dana pungutan itu mengalir ke orang di Dinas Pendidikan Rp 1,5 juta, wartawan Rp 200 ribu, aparat penegak hukum Rp 500 ribu, orang Badan Pengawasan Daerah Rp 250 ribu, orang tim survei Rp 1 juta, serta orang dari Unit Pelayanan Teknis Daerah Rp 2 Juta10. Disamping itu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga menemukan potensi kerugian negara sebesar Rp 624 miliar pada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Pendidikan Lainnya (DPL) di 2.592 sekolah karena tak mencantumkan seluruh penerimaan BOS dan DPL dalam rencana anggaran dan pendapatan belanja sekolah11. Ketiga, dana BOS seharusnya bisa mengurangi beban siswa untuk membeli buku pelajaran dan biaya transportasi. Pada sebagian besar sekolah dana BOS tidak memberikan kontribusi untuk membebaskan siswa membeli buku pelajaran, seperti kutipan berikut. Sebaiknya dana BOS digunakan untuk menggratiskan buku paket dan beragam buku penunjang semacam LKS. Meski gratis, buku yang dibeli dari dana BOS itu tetap milik sekolah sehingga untuk tahun pelajaran yang akan datang, sekolah tetap bisa menggunakan buku paket dan LKS tersebut. Tahun pelajaran mendatang (misalnya ada dana BOS lagi), sekolah bisa beli buku dari penerbit lain. Sekolah akhirnya punya macammacam buku paket dan LKS gratis yang bisa digunakan siswanya12. Hal tidak kalah menarik untuk dicermati adalah “label” sekolah gaya baru. Di saat pemerintah mempopulerkan sekolah gratis, sepertinya pemerintah melegalkan sekolah memungut biaya tinggi dengan membuat “label” yaitu akselerasi dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Sebenarnya program pemerintah ini tidak salah karena memang untuk meningkatkan standar mutu pendidikan di Indonesia. Akan tetapi program tersebut di beberapa daerah justru memperkecil porsi sekolah reguler yang ada sekarang ini. Karena sebagian sekolah reguler berubah menjadi sekolah akselerasi maupun SBI. Yang menjadi persoalan adalah sekolah akselerasi maupun SBI ini menuntut biaya yang lebih mahal. Dengan demikian keberadaan sekolah akselerasi maupun SBI akan mempersempit peluang sekolah gratis.

3. Profil Pendidikan Dasar di Indonesia: sebuah refleksi
Menurut Global Monitoring Report (GMR)13 2008 yang dikeluarkan UNESCO, Indeks Pembangunan Pendidikan atau Education Development Index (EDI)14 Indonesia mengalami

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

105

penurunan. Pada GMR kali ini peringkat Indonesia turun dari posisi 58 menjadi 62, nilai total EDI yang diperoleh Indonesia juga mengalami penurunan sebesar 0,003 poin dari 0,938 menjadi 0,93515. Tabel 7 berikut ini menyajikan nilai EDI agar dapat mengamati perbandingan Education Development Index (EDI) beberapa negara Asia Tenggara.
TABEL 7. INDEKS PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NEGARA ASIA TENGGARA

Sumber: EFA Global Monitoring Report 2008 dalam Kompas 31 Desember 2007:14.

Sistem penilaian EDI membagi tiga kategori skor, yaitu kelompok negara dengan indeks pendidikan tinggi (0,950 keatas), sedang (0,800 - 0,950) dan rendah (dibawah 0,800). Dengan kriteria itu, menempatkan Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Myanmar dan Kamboja, berada di kelompok negara dengan kategori EDI sedang16. Posisi negara Indonesia yang berada pada kategori sedang ini terkait dengan beberapa realita. Realita-realita tersebut, yang akan diuraikan pada pembahasan berikut ini yang terdiri dari angka buta huruf di beberapa daerah, rendahnya rata-rata lama studi dan kesenjangan Angka Partsipasi Sekolah (APS).
TABEL 8. ANGKA MELEK HURUF MENURUT KELOMPOK UMUR, 2006 DAN 2007

Sumber: Indikator Kesejahteraan Rakyat, 2007:22

Apabila dilihat dari indikator angka melek huruf maka pembangunan pendidikan di Indonesia dapat dikatakan belum berhasil 100%. Hal ini dapat ditunjukkan bahwa pada tahun 2007, hanya 8,13% penduduk yang masih buta huruf. Pada tahun 2007

106

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

masih terjadi bias gender dalam hal kemampuan baca tulis ini. Indikator kedua untuk menilai keberhasilan pembangunan bidang pendidikan adalah angka partisipasi sekolah (APS )17.
TABEL 9. ANGKA PUTUS SEKOLAH MENURUT KELOMPOK UMUR, JENIS KELAMIN DAN DAERAH TEMPAT TINGGAL, 2006 DAN 2007

Sumber: Indikator Kesejahteraan Rakyat, 2007: 29

Angka putus sekolah terbesar dari kelompok umur 16-18 tahun dari murid laki-laki pada tahun 2006. Fenomena ini juga berdampak pada besarnya angka putus sekolah untuk laki dan perempuan pada kelompok umur tersebut. Kelompok umur yang memiliki angka putus sekolah terendah adalah 7 – 12 tahun. Sedangkan kelompok umur 13 – 15 tahun memiliki angka rata-rata putus sekolah sebesar 3,62% pada tahun 2007. Akan tetapi pada kelompuk umur pendidikan dasar yaitu 7 – 15 tahun menunjukkan kinerja yang baik karena trendnya adalah penurunan angka putus sekolah.
TABEL 10. ANGKA PARTISIPASI SEKOLAH (APS) MENURUT USIA SEKOLAH DAN JENIS KELAMIN, 2006-2007

Sumber: Indikator Kesejahteraan Rakyat, 2007: 26

APS merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. Pada tahun 2007, Indonesia telah mencapai APS sebesar 97,60% untuk penduduk usia 7-12 tahun baik laki-

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

107

laki maupun perempuan yang tinggal di desa dan kota. Tidak ada perbedaan mencolok pada APS untuk penduduk usia 7-12 tahun yang tinggal di kota maupun desa. Meskipun APS kelompok umu 7 – 12 tahun telah mencapai kinerja yang bagus. Akan tetapi untuk kelompok umur 13 – 15 masih belum mencapai kinerja yang optimal untuk mencapai kondisi EFA. Perbedaan APS yang besar menurut tipe daerah akan terlihat pada kelompok usia 13-15 tahun dan 16-18 tahun. Seperti APK/APS, APM juga merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. Tetapi, jika dibandingkan APK/APS, APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut.
TABEL 11. ANGKA PARTISIPASI MURNI (APM) MENURUT USIA SEKOLAH DAN JENIS KELAMIN, 2006-2007

Sumber: Indikator Kesejahteraan Rakyat, 2007: 27

Dari Tabel 9 dan 10 terlihat bahwa selisih antara APS dengan APM cukup besar untuk jenjang pendidikan SLTP dan SMU berdasarkan kelompok umur 13-15 dan 1618. Kelompok umur 13-15 tahun adalah kelompok anak bersekolah pada SLTP dan kelompok umur 16-18 tahun merupakan kelompok anak bersekolah pada SMU. Selisih tingkat APS pada kelompol umur 7-12 tahun dengan tingkat APM pada jenjang pendidikan SD hanya berkisar 3-5%. Sementara itu, selisih tingkat APS pada kelompok umur 13-15 tahun dengan tingkat APM pada jenjang pendidikan SLTP lebih besar yaitu berkisar 15-17%. Demikian pula selisih tingkat APS pada kelompok umur 16-18 tahun dengan tingkat APM pada jenjang pendidikan SMU juga tinggi. Hal ini memberikan indikasi bahwa proporsi siswa yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya adalah tinggi. Tingginya persentase penduduk yang tidak melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel tersebut menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah masih dibawah 9.

108

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

TABEL 12. RATA-RATA LAMA SEKOLAH MENURUT PROPINSI, TAHUN 2007 DAN 2008

Sumber: Indikator Kesejahteraan Rakyat, 2008

Kondisi seperti terlihat pada Tabel 11 ini tentu memunculkan keprihatinan yang serius akan keberhasilan pencapain program EFA di Indonesia. Keprihatinan ini setidaknya dilandasi atas dua poin penting. Pertama, secara umum Indonesia belum

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

109

mencapai keberhasilan program Wajib Belajar 9 tahun. Hal ini secara tegas dapat dilihat bahwa rata-rata lama studi nasional masih di bawah 9 tahun. Kedua, hanya ada satu propinsi yang berhasil dalam program Wajib Belajar 9 tahun, yaitu DKI Jakarta. Apabila dicermati secara lebih mendalam maka rendahnya angka rata-rata lama sekolah ini terkait status sosial ekonomi. Meskipun pemerintah telah mengucurkan program BOS, akan tetapi realitanya bahwa masyarakat masih memiliki kendala berkaitan dengan permasalahan biaya sekolah secara keseluruhan. Hal ini ditunjukkan pada Grafik 2 bahwa semakin tinggi jenjang sekolah justru semakin rendah APS dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
GRAFIK 2. PARTISIPASI SEKOLAH MENURUT GOLONGAN PENDAPATAN 2004

Sumber: http://kfm.depsos.go.id/mod.php?mod=userpage&page_id=6 Catatan: Q1= Quintile termiskin dan Q5 = Quintile terkaya

Pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu pada kelompok anak usia 7-12 tahun, Angka Partisipasi Sekolah (APS) hampir sama pada kelima kelompok berdasarkan golongan pendapatan tersebut. Kemudian pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Angka Partisipasi Sekolah (APS) mulai terjadi perbedaan antar golongan masyarakat menurut tingkat pendapatannya. Tetapi perbedaan pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak setajam seperti pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dari Grafik 2 tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan justru semakin rendah APSnya. Kenyataan ini didukung data yang disajikan pada Tabel 12 bahwa permasalah ekonomi masih mendominasi alas an untuk tidak melanjutkan sekolah.

110

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

TABEL 13. PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 7-18 TAHUN YANG TIDAK/BELUM PERNAH SEKOLAH/TIDAK BERSEKOLAH LAGI MENURUT ALASAN TIDAK MELANJUTKAN SEKOLAH, TIPE DAERAH DAN JENIS KELAMIN, TAHUN 2006.

Sumber: BPS, Susenas Modul tahun 2006 dalam Statisik Pendidikan, 2006 (61)

Sebesar 35,78% murid tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Di perdesaan, proporsi yang tidak melanjutkan sekolah karena alasan biaya lebih tinggi sekitar 3% dibandingkan di daerah perkotaan. Kemudian sebesar 23,56% mereka harus bekerja mencari nafkah. Proporsi penduduk laki-laki memang mendominasi tidak melanjutkan sekolah karena mereka harus bekerja. Faktor kedua adalah berkaitan dengan budaya yaitu menikah yaitu, sebesar 15,77%. Dan sebesar 7,07% mereka merasa bahwa sekolahnya sudah cukup. Disamping faktor ekonomi dan budaya, faktor kekurangan infrastruktur dan fasilitas sekolah masih sebesar 2,45%.

C. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, sebenarnya masih relatif besar “pekerjaan rumah” bangsa ini untuk membenahi strategi pembangunan pendidikan. Pekerjaan rumah yang utama adalah BOS tidak menyelesaikan persoalan biaya pendidikan yang membebani sebagian besar masyarakat. Dari data mengenai total biaya pendidikan seperti Tabel 6 menunjukkan bahwa kontribusi BOS hanya sekitar 22% untuk jenjang SD dan 25% untuk jenjang SLTP. Artinya political will pemerintah pada pembangunan pendidikan masih rendah dan membebankan bagian besar biaya pendidikan pada masyarakat. Hal ini tentu saja menyebabkan masih tingginya siswa yang tidak melanjutkan sekolah karena alasan biaya (lihat Tabel 12). Pekerjaan rumah yang kedua adalah seharusnya dengan BOS sekolah telah mampu menyediakan buku pelajaran gratis. “Bukankah tujuan pemerintah memformulasikan program BOS sebagai kompensasi atas kenaikan BBM, agar masyarakat yang daya belinya

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

111

turun tidak terbebani lagi tentang biaya pendidikan. Bahkan pemerintah kurang serius membuat kebijakan agar buku pelajaran tidak berganti setiap tahun yang akhirnya membebani masyarakat meskipun sudah ada BOS. Pekerjaan rumah ketiga adalah banyak terjadi penyimpangan dalam implementasi program BOS.

Saran
Kajian di atas membawa sejumlah rekomendasi sebagai berikut: 1. Kebijakan pemerintah tentang BOS memang suatu yang arus diapresiasi karena selama ini bidang pendidikan kurang mendapat perhatian. Akan tetapi setelah 4 tahun pelaksanaan BOS, sepertinya belum menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini terlihat beban orang tua terhadap biaya pendidikan masih relatif tinggi. Tingginya biaya pendidikan ini terutama disebabkan oleh buku pelajaran yang selalu berganti, disamping biaya transportasi. Oleh sebab itu kebijakan yang lebih solutif tentu diperlukan. a. Buku Pemerintah memang telah menerbitkan buku yang bisa diakses secara gratis melalui website: http://bse.depdiknas.go.id/. Upaya pemerintah untuk menyediakan buku gratis ini tentunya patut disambut dengan baik. Hanya saja masih ada beberapa aspek yang sepertinya terlupakan. Pertama, seberapa besar masyarakat yang telah “melek internet”. Kedua, seberapa besar masyarakat yang bisa menggunakan internet secara gratis atau dengan biaya yang sangat murah. Ketiga, jumlah sekolah yang telah ada fasilitas internetnya. Keempat, ketercukupan fasilitas internet tersebut terhadap jumlah siswa. Kelima, apakah buku yang diakses dari http://bse.depdiknas.go.id/ itu telah lengkap memenuhi kebutuhan siswa. Keenam, apakah pemerintah telah menerbitkan peraturan ataupun kebijakan agar sekolah lebih banyak memanfaatkan buku tersebut. Dengan mempertimbangkan berbagai permasalah di atas, pemerintah dituntut untuk memrumuskan kebijakan dan strategi yang lebih efektif dalam penyediaan buku pelajaran. - Program BOS yang telah diimplementasikan sejak tahun 2005, bisa dimanfaatkan sebagian untuk pengadaan perlengkapan pengadaan buku gratis, misalnya komputer dengan internet yang memadai bagis siswa. · Depdiknas harus memperbaiki, melengkapi dan meng-update buku-buku pelajaran yang disediakan di website:http://bse.depdiknas.go.id/ · Pemerintah menerbitkan kebijakan agar sekolah menggunakan buku yang tersedia di website: http://bse.depdiknas.go.id/ sebagai acuan utama. · Siswa bisa mencetak buku yang disediakan pemerintah melalhui fasilitas di sekolah

112

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

b. Subsidi terhadap biaya transportasi Biaya transportasi sekolah merupakan salah satu komponen yang memberatkan. Program BOS sepertinya tidak banyak memberi kontribusi terhadap keringanan biaya transportasi siswa. Bahkan untuk daerah-daerah terisolasi, sarana transportasi ke sekolah pun masih sangat sulit. Agar EFA tercapai maka pemerintah hendaknya serius merumuskan kebijakan mengenai subsidi untuk biaya transportasi sekolah ini. Hal ini sangat penting meningat bahwa perbedaan Angka Partisipasi Sekolah antara desa – kota masih cukup besar (lihat Tabel 9). Penulis menawarkan ide untuk hal tersebut, yaitu melalui bis sekolah dan system voucher. –Bis sekolah yang bersubsidi dapat diselenggarakan melalui Pemerintah Daerah. –Alternatif kedua adalah pemerintah memberikan voucher. Siswa berseragam dengan menunjukkan kartu pelajar bisa mendapatkan biaya yang lebih murah dengan voucher. Kemudian pihak operator angkutan umum bisa menukarkan voucher tersebut kepada pemerintah yang telah ditunjuk dengan sejumlah nilai tertentu. 2. Monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan BOS. Korupsi di dalam implementasi kebijakan telah menjadi problem klasik di Indonesia, tidak terkecuali dalam implementasi program BOS. Meskipun secara formal monitoring dan evaluasi telah dilakukan baik oleh eksternal auditor (BPK) dan internal auditor (BPKP dan inspektorat) namun demikian realitasnya mekanisme formal tersebut kurang efektif untuk menangkal dan mencegah korupsi. Kehadiran lembaga ekstraordinary seperti KPK memang cukup efektif untuk mencegah praktik korupsi dalam implementasi kebijakan (dengan bukti banyaknya kasus penyalahgunaan APBN dan ABPD) yang ditangani oleh KPK. Namun demikian dibanding dengan besarnya cakupan pekerjaan untuk mengawasi praktik-praktik korupsi yang ada, kemampuan KPK jelas sangat terbatas. Untuk itu cara yang paling efektif untuk mencegah berkembangnya kasus korupsi dalam implementasi dana BOS adalah dengan melibatkan masyarakat dan seluruh stakeholder yang terlibat di dalam implementasi program BOS untuk menjadi pengawas Pemda dan DPRD. Masyarakat, stakeholder, dan Civil Society Organizatons (CSOs) tersebut harus diposisikan sebagai kepanjangan tangan dari lembaga-lembaga yang memiliki tugas untuk memberantas korupsi. Maraknya pungutan yang dibebankan kepada masyarakat meskipun sudah ada program BOS juga sangat terkait dengan ketidakjelasan tentang rancangan program

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

113

BOS sebagai instrumen untuk mencapai tujuan Education for All. Generalisasi dalam rancangan program BOS tersebut membuat program tersebut sulit untuk diimplementasikan, terutama di sekolah-sekolah yang berusaha meningkatkan kualitas pengajarannya. Keterbatasan dana yang diterima oleh sekolah sering dijadikan legitimasi sekolah untuk melakukan pungutan mana kala suatu sekolah menetapkan suatu standar kualitas pengajaran yang jauh lebih tinggi dibanding dengan standar kualitas ‘minimal’ yang ingin dicapai oleh program BOS. Solusi kebijakan yang harus dilakukan adalah: Pemerintah tidak bisa membuat kebijakan yang bersifat umum untuk seluruh sekolah. Program BOS harus diimplementasikan dengan klasifikasi jenis dan kualitas yang bebeda-beda sehingga dapat menghindarkan diri dari pungutan.

ENDNOTES
1

Indeks ini pada 1990 dikembangkan oleh pemenang nobel yang berasal dari India, yaitu Amartya Sen serta Mahbub ul Haq seorang ekonom Pakistan dan dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University serta Lord Meghnad Desai dari London School of Economics. HDI adalah angka yang diolah berdasarkan tiga dimensi; yaitu panjang usia (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup (standard of living) suatu bangsa. Secara teknis ketiga dimensi ini dijabarkan menjadi beberapa indicator,yaitu kesehatan serta kependudukan, pendidikan, serta ekonomi. Indikator kesehatan menyangkut angka kematian bayi (infant mortality rate), angka kematian balita (under-five mortality rate), angka kematian ibu serta kualitas gizi. Indikator kependudukan menyangkut usia harapan hidup (life expectancy). Indikator pendidikan menyangkut angka melek huruf (literacy rate), anak yang berpendidikan sampai kelas lima SD (children reaching grade 5), angka partisipasi pendidikan (enrolment ratio). Adapun indikator ekonomi antara lain menyangkut indeks kemiskinan (poverty index).

2

http://www.antaranews.com/berita/1254746524/indeks-pembangunan-manusiaindonesia-naik-tipis http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/03/ln/3359249.htm Sulistyastuti (2007) Arowolo, 2007. op.cit. hal. 164 http://www.diknas.go.id/headline.php?id=261 http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/03/08/brk,2007030895047,id.html

3 4 5 6 7 8

114

SOSIOPOLITIKA Vol.1, No.1, Oktober 2011

9

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/02/17/brk,20090217160554,id.html http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2007/11/21/brk,20071121112043,id.html http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2009/04/21/ brk,20090421-171541,id.html http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/30/mur25.htm Global Monitoring Report (GMR) dikeluarkan oleh UNESCO setiap tahun yang berisi hasil pemonitoran reguler pendidikan dunia. Education Development Index (EDI) merupakan indeks komposit yang terdiri dari angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 athub keatas, angka partisipasi berdasarkan kesetaraan gender, dan angka bertahan siswa hingga kelas 5 sekolah dasar. Kompas (31 Desember 2007:14) Kompas, 31 Desember 2007:4. Angka Partisipasi Sekolah ini dibagi menjadi dua, yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Angka Partisipasi Kasar (APK), pada beberapa publikasi sering disebut Angka Partisipasi Sekolah (APS ) yaitu jumlah anak usia sekolah yang terdaftar di bangku sekolah atau tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) adalah anak usia sekolah menurut umur yang terdaftar di bangku sekolah.

10

11

12 13

14

15 16 17

DAFTAR PUSTAKA
Alston, Philip.2004, A Human Rights Perspective on the Millennium Development Goals, Contributed paper to the work of the Millennium Project Task Force on Poverty and Economic Development, New York. Arowolo, Oladele.Achieving the MDGs with Equity: Need for the Human Rights Based Approach, UNFPA (Contributed paper, at the Fifth African Population Conference: Arusha, Tanzania, 10-14 December, 2007) Soubbotina, Tatyana P. 2000. Beyond Economic Growth: An Introduction to Sustainable Development. World Bank Soekirman. 1991. Tiga Faktor Utama Penyebab Terjadinya Gizi Buruk, Pidato Pengukuhan Guru Besar IPB. Thomas, Vinod et.al. 2000. The Quality of Growth. World Bank. Tjokrowinoto, Moeljarto. 2001. Pembangunan: Dilema dan Tantangan, Pustaka Pelajar

DYAH RATIH SULISTYASTUTI | Pendidikan Dasar di Indonesia. Refleksi Kritis terhadap Perkebangan Pendidikan Berbasis MDGs

115

Yogyakarta. Sulistyastuti, Dyah Ratih, Pengarusutamaan MDGs dalam Pembangunan Kualitas Manusia, Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik (JKAP) vol. 11 No. 2, November 2007. Sulistyastuti, Dyah Ratih Pembangunan Pendidikan dan MDGs di Indonesia: sebuah refleksi kritis. Jurnal Kependudukan Indonesia Vo II No. 2 Tahun 2007. Ujiyanti, Tatak Prapti 2005. Reformasi Pendidikan Dasar di Indonesia. Policy A s sessment, The Indonesian Institute …., Indeks Pendidikan Indonesia Menurun, Kompas 31 Desember 2007 …….., 2006. Human Development Index. UNDP ……., 2006. Statistik Pendidikan, BPS ……., 2005. Statistik Kesejahteraan Rakyat, BPS. ………, 2007. Indikator Kesejahteraan Rakyat, BPS.

Website
Angka Partisipasi Sekolah menurut Golongan Pendapatan, 2004, http:// kfm.depsos.go.id/mod.php?mod=userpage&page_id=16 Beyond Economic Growth: An Introduction to Sustainable Development http:// www.worldbank.org/depweb/beyond/beyondco/beg_07.pdf Angka Partsisipasi Sekolah (APS) pada Berbagai Jenjang Pendidikan tahun 1995-2005, http://www.bps.go.id/sector/socwel/index.html World Bank, 2007. Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru, http://www.publicfinanceindonesia.org/pdf/PEREBAB4-SektorPendidikan.pdf Muchtar, Yanti (2003). Capaian MDGs untuk Goals Pendidikan, www.csis.or.id/ events_file/67/unreform03.ppt Hartiningsih, Maria (2007), Indonesia Mundur Soal MDGs. http://www.kompas.co.id/ kompas-cetak/0703/03/ln/3359249.htm http://www.unfpa.org/icpd/summary.htm#chapter11 http://www.unu.edu/unupress/sample-chapters/SpatialDisparities.pdf http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/30/mur25.htm http://www.diknas.go.id/headline.php?id=274 http://www.bps.go.id/releases/files/kemiskinan-01jul08.pdf. Perkembangan Anggaran Bantuan Operasional Sekolah, http://www.diknas.go.id/ headline.php?id=261 http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/03/08/brk,20070308-95047,id.-

116

html http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/02/17/brk,20090217-160554,id.html http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2007/11/21/brk,20071121-112043,id.html http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2009/04/21/brk,20090421-171541,id.html

117

DAFTAR PENULIS
1. Herliyani Tri Koriyanti, Pengembangan Partisipasi Perempuan dalam Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Desa (Studi Kasus di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) herliyani_triko@yahoo.com lulus S1 dari Prodi Ilmu Pemerintahan UGM dan kini sebagai dosen Program Studi Administrasi Negara di STISIP Kartika Bangsa, Yogyakarta 2. Zulianti, Pergeseran Petani Subsisten Menuju Agricultural Intrepreneurshi Studi Pada Gapoktan Lestari Makmur, Desa Argorejo, Kec. Sedayu, Kab. Bantul lulus S1 dari Prodi Sosiologi UGM dan Program Pascasarjana Sosiologi UGM sekarang dosen di Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa Yogyakarta zuliantikunden@yahoo.co.id 3. Endang Tri Sudarjanti Dampak Kebijakan Relokasi Terhadap Pedagang (Penelitian di Pasar Klithikan Yogyakarta pasca 2 tahun relokasi) end_ts@yahoo.co.id lulus S1 dari Prodi Administrasi Negara UGM dan S2 dari Magister Administrasi Publik UGM kini sebagai dosen Program Studi Administrasi Negara di STISIP Kartika Bangsa, Yogyakarta 4. Sudaru Murti, Survey: Potensi Sosek Bendungan Tinalah Di Kabupaten KulonProgo murtizagita@yahoo.co.id, S1 dari Prodi Sosiologi UGM dan S2 dari Program Pascasarjana UGM Prodi Sosiologi sekarang sebagai DPK Kopertis Wilayah V di Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa, Yogyakarta 5. Vibriza Juliswara, Perubahan Perekonomian, Strategi Survival, dan Pengaruh Industri Kerajinan Topeng Kayu Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Di Desa Putat Kabupaten Gunung Kidul vbjuliswara@yahoo.com, S1 dari Prodi Sosiologi UGM dan Fakultas Hukum UII Yogyakarta, sekarang S2 di Prodi Sosiologi Pascasarjana UGM, kini sebagai DPK Kopertis Wilayah V di Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa, Yogyakarta 6. Prof. Dr. Farida Hanum, M.Si. Peran Wanita Dalam Membangun Masyarakat Berkeadilan Gender, rastfourties@gmail.com S1 Sosiologi UGM, MSi dari Pascasarjana

118

UGM dan Doktor dari UGM serta sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta, sekarang menjabat Ketua Redaksi Humaniora Lemlit UNY dan Ketua Komisi Pengembangan senat UNY 7. Dyah Ratih Sulistyastuti, Quovadis Basic Education in Indonesia: Critical Reflection on the Education Development Performance to Achieve MDGs in Various Regions dyah_ratih@yahoo.com S1 dari Program Administrasi Negara UGM, kemudian S2 Administrasi Negara dari Program Pascasarjana UGM sekarang dosen pada Program Studi Administrasi Negara STISIP Kartika Bangsa, Yogyakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->