Review Jurnal Reading ‘Filariasis : pengobatan baru dan peluang baru untuk limfatik filariasis dan onkoserkiasis’

Pendahuluan Infeksi nematode filarial pada manusia menjangkit lebih dari 150 juta orang di daerah torpis. Jumlah infeksi dari ochocerca volvulus diperkirakan lebih dari 37 juta kasus, semetara kasus limfatik filariasis (infeksi yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti, brugia malayi atau brugia timori) diperkirakan berjumal 120 juta kasus. Data terakhir pada 31 desember 2006, total populasi yang beresiko untuk terjangkin limfatik filariasis diperkirakan mencapai 1.254 juta orang di 83 negar endemik. Sejak tahun 1997 The World Health Assembly (WHA) menyatakan bahwa pemberantasan onkoserkiasis dan limfatik filariasis menjadi maslak keseahatan masyarakat yang utama. Pengobatan untuk onkoserkiasis dan limfatik filariasis selama dua dekade terakhir ini, mengacu pada program Mass Drug Administration (MDA). Obat-obatan yang digunakan antara lain diethylcarbamazine (DEC), ivermectin (IVM), dan albendazole (ALB). obat obat ini bersifat mikrofilarisdal, karena membunuh larva I, dan stadium microfilaria. Penelitian tentang pengobatan baru untuk limfatik filariasis dan onkoserkiasis yakni, kemoterapi dengan doksisiklin, target dari obat ini adalah endosymbionts wobachia yang banyak terjadi pada kasus filariasis. Obat ini mempunyai efikasi yang lebih baik dalam melawan parasit, dan bersifat mikrofilariasidal pada onkoserkiasis dan limfatik filariasis dan juga mengurangi penyakit limfatik.

Metode penelitian & hasil Metode penelitian : Eksperimental Post Test Only Percobaan manusia pertama kali dilakukan pada pasien onkoserkiasis yang diberikan terapi dengan dosis 100 mg doksisikrlin perhari selama 6 minggu, diikuti dengan pemberian IVM 4 bulan setelahnya. Pengamatan pertama menunjukkan adanya deplesi Wolbachia (berhubungan dengan pengurungan kadar vascular endothelianl growth factors (VEGFs) pada proses limfangiogenesis) pada penderita filariasis, Pasien dibagi dalam tiga kelompok besar yang diberikan doksisiklin, kelompok pertama merupakan pasien dengan onkoserkiasis yang diperlakukan dengan intervensi dan waktu pengobatan yang berbeda (100mg/6minggu, 200mg/4minggu, 200mg/6minggu, 100mg/5minggu), kelompok kedua merupakan pasien dengan limfatik filariasis (bancroftian

200mg/6minggu. Keuntungan dari pemberian doksisiklin. Kesimpulan Penggunaan regimen doksisiklin belum bisa menggantikan regimen dalam program MDA. karena dari pembiayaan yang cukup mahal dan cara pemberian obat yang tidak sesederhana program MDA. pasien tidak perlu minum banyak jenis obat dan efek mikrofilariasidal yang kuat serta efek samping dari obat yang sedikit. mempunyai efek sterilisasi cacing betina dan perbaikan klinis penyakit. Achim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok pertama dosis 200mg/6minggu mempunyai efek mikrofilarisidal yang paling tinggi (62%). Pembahasan Doksisiklin mampuu memperkecil diameter pembuluh limfe skrotum yang merupakan tanda untuk limfangiogenesi yang diakibatkan oleh cacing filarial. 200mg/4minggu. pada kelompok ketiga dosis 100mg/6minggu mempunyai efek sterilisasi cacing betina. mempunyai efek sterilisasi cacing betina. kelompok ketiga merupakan pasien dengan limfatik filariasis (brugian filariasis) yang diberikan dosis 100 mg/6minggu. yang merupakan tanda dari angiogenesis maupun limfangiogenesis. dan perbaikan klinis penyakit. 200mg/3minggu). Filariasis : New Drugs and New Opportunities for Lymphatic Filariasis and Onchocerciasis.filariasis) (200mg/8minggu. Kerugian dari pemberian doksisiklin adalah menimbulkan nyeri dan pembentukan abses akibat dari kematian cacing yang terlalu cepat. . Daftar Pustaka Hoerauf. Pasien yang telah diberikan doksisiklin selama beberapa bulan ditemukan adana ya penururnan kadar VEGFs plasma. Current Opinion In Infectios Diseases 21:673-681. 2008. pada kelompok kedua dosis 200mg/6minggu mempunyai efek mikrofilarisidal yang paling tinggi (92%).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful