P. 1
Rekonstruksi Sejarah Al Qur'an

Rekonstruksi Sejarah Al Qur'an

|Views: 257|Likes:
Published by Tedi Trikoni
Taufik Adnan Amal, Dosen ulumul qur'an Universitas Islam Negeri Alaudin Makasar
Taufik Adnan Amal, Dosen ulumul qur'an Universitas Islam Negeri Alaudin Makasar

More info:

Published by: Tedi Trikoni on Dec 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2014

pdf

text

original

REKONSTRUKSI

SEJARAH
AL-QURAN

PENULIS: TAUFIK ADNAN AMAL

PENYUNTING: SAMSU RIZAL PANGGABEAN

EDISI DIGITAL

DESAIN COVER: NUR KHOLIS AL-ADIB
LAY-OUT DAN REDESAIN COVER: PRIYANTO

REDAKSI: ANICK HT

JAKARTA 2011

II / TAUFIK ADNAN AMAL

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN / III

PENGANTAR

Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Secara umum, produk ulama serta cendekiawan lainnya di bidang
al-Quran sementara ini terkonsentrasi pada tafsir dan ilmu-
ilmu al-Quran. Dalam perkembangannya, karya di bidang tafsir
melahirkan bentuk serta gaya baru penulisan. Ada yang menulis
tafsir secara konvensional yang dikenal dengan metode tahlîlî.
Ada juga yang menulis tafsir berdasarkan tema-tema besar dalam
al-Quran yang lebih populer dengan sebutan metode mawdlû‘î.
Bahkan belakangan ini, muncul sebuah karya tafsir yang mengkaji
al-Quran berdasarkan kronologi turunnya ayat, seperti al-Tafsîr al-
Hadîts karya ‘Izzat Darwazah.
Di bidang ‘Ulûm al-Qur’ãn pun demikian. Produk-produk
tersebut diawali dengan kodifikasi hadits-hadits di seputar al-Quran
dan kemudian secara khusus ditandai dengan munculnya karya
khusus dalam bagian-bagian tertentu dari ‘Ulûm al-Qur’ãn seperti
al-Nãsikh wa al-Mansûkh (Abu Ubaid al-Qasim bin Salam/w. 224
H.), Asbãb al-Nuzûl (Ali bin al-Madini/w. 234 H.), Masykal al-
Qur’ãn (Ibn Qutaibah/w. 276 H.), dan sebagainya.
Materi Tãrîkh al-Qur’ãn atau Sejarah al-Qur’ãn sebagaimana
yang menjadi fokus dalam buku ini, merupakan bagian dari ‘Ulûm
al-Qur’ãn. Secara konvensional, sejarah al-Quran biasanya dikaji
di bawah judul Jam‘ al-Qur’ãn, atau Rasm al-Qur’ãn, atau Kitãbah
al-Qur’ãn, atau Tashhîf al-Qur’ãn dan berbagai istilah lainnya.
Namun demikian beberapa ulama telah menulis materi sejarah

IV / TAUFIK ADNAN AMAL

al-Quran secara khusus dalam buku tersendiri, seperti al-Anbari
(al-Mashãhif ), al-Sijistani (Kitãb al-Mashãhif ), al-Abyari (Tãrîkh
al-Qur’ãn), al-Zanjani (Tãrîkh al-Qur’ãn) dan sebagainya yang juga
banyak menjadi rujukan dalam buku ini. Bahkan, kita juga tidak
bisa melupakan karya-karya para orientalis/islami di bidang ini
yang dirintis oleh Noeldeke, Jeffery dan Bell.
Di Indonesia sendiri, kajian-kajian tentang al-Quran dipelopori
oleh Abdul Rauf Singkel-Aceh ketika menulis tafsir al-Quran pada
pertengahan abad XVII, meskipun ada yang berkata bahwa karya
Abdur Rauf Singkel ini lebih mirip sebagai terjemahan Tafsîr al-
Baidlãwî. Upaya rintisan ini kemudian diikuti oleh Munawar Chalil
(Tafsir al-Qur’ãn Hidayatur Rahman), A. Hassan Bandung (al-
Furqãn, 1928), Mahmud Yunus (Tafsir Qur’ãn Indonesia, 1935),
Hamka (Tafsir al-Azhar ), Zainuddin Hamid (Tafsir al-Qur’ãn, 1959),
Iskandar Idris (Hibarna), dan Kasim Bakry (Tafsir al-Qur’ãnul
Hakim, 1960). Dalam bahasa-bahasa daerah, upaya-upaya ini
dilanjutkan oleh Kemajuan Islam Yogyakarta (Qur’ãn Kejawen dan
Qur’ãn Sundawiyah), Bisyri Musthafa Rembang (al-’Ibrîz, 1960),
R. Muhammad Adnan (Al-Qur’ãn Suci Basa Jawi, 1969) dan Bakri
Syahid (al-Hudã, 1972). Upaya-upaya ini bahkan ditindaklanjuti
secara resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Proyek
penerjemahan al-Quran dikukuhkan oleh MPR dan dimasukkan
dalam Pola I Pembangunan Semesta Berencana. Menteri Agama
yang ditunjuk sebagai pelaksana bahkan telah membentuk lembaga
yang pertama kali diketuai oleh Soenarjo. Terjemahan-terjemahan
tersebut yang dicetak dalam jutaan eksemplar, telah mengalami
perkembangan yang akhirnya, atas usul Musyawarah Kerja Ulama
al-Quran ke XV (23-25 Maret 1989), disempurnakan oleh Pusat
Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama bersama Lajnah
Pentashih Mushaf al-Quran. Sebentar lagi, tepatnya pada Ramadhan
1422 H ini, kita akan menyaksikan hasil kreativitas beberapa alumni
al-Azhar Cairo yang menerjemahkan Tafsîr al-Muntakhab, sebuah
tafsir pilihan di Mesir dewasa ini.

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN / V

Upaya-upaya tersebut di atas, serta tuntutan masyarakat
pencinta al-Quran, mengundang para cendekia untuk menulis dan
menerjemahkan berbagai karya di seputar al-Quran. Kepustakaan-
kepustakaan tersebut telah terisi dengan karya-karya Hasbi Ash-
Shiddiqi (Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur‘ãn, 1980), beberapa
text book perguruan tinggi, terjemahan karya Manna’ al-Qaththan,
serta beberapa karya penulis sendiri. Khusus dalam wacana sejarah
al-Quran, beberapa karya dan terjemahan telah muncul seperti
Adnan Lubis (Tãrîkh al-Qur’ãn, 1941), Abu Bakar Aceh (Sejarah
al-Qur’ãn, 1986), Mustofa (Sejarah Al-Qur’ãn, 1994) dan sebagainya.
Bahkan, Tãrîkh al-Qur’ãn karya al-Zanjani (Wawasan Baru Tãrîkh
al-Qur’ãn, 1986) dan Al-Abyari (Sejarah Al-Qur’ãn, 1993) telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

* * * * *

Tanpa argumentasi-argumentasi teologis, siapa pun harus
mengalah dan mengakui bahwa al-Quran telah membuktikan diri
sebagai sesuatu yang mampu menciptakan peradaban dan tradisi
menulis yang sangat tinggi. Dari al-Quran, berbagai produk dan
karya telah memenuhi jutaan rak di berbagai perpustakaan. Semua
ini muncul karena adanya kebenaran dan keyakinan bahwa al-
Quran adalah kalam Allah serta menjadi kitab suci umat Islam.
Harus diakui, sampai saat ini masih ada yang gigih dan terus
mengkaji berbagai hal tentang sejarah al-Quran. Ada yang
dimotivasi oleh keinginan untuk membuktikan kebenaran al-
Quran, ada juga yang berangkat dari persepsi tentang misteri yang
masih menghantui sejarah al-Quran. Betapa tidak, al-Quran yang
diyakini sebagai kalam Allah yang ahistoris dan sangat transenden,
akhirnya harus “terintervensi” oleh upaya-upaya manusia yang tidak
bisa lepas dari persoalan-persoalan teologi, politik, sosial dan
budaya. Mayoritas umat Islam misalnya meyakini bahwa susunan

VI / TAUFIK ADNAN AMAL

ayat dan surat seperti sekarang ini bersifat tawqîfî. Namun, hampir
tidak bisa ditemukan berbagai riwayat yang mengatakan bahwa
ayat sekian ditempatkan setelah ayat ini dan sebagainya. Sekiranya
ada, maka al-Quran membutuhkan sekian ribu riwayat Nabi atau
sahabat tentang susunan al-Quran, mengingat ayat-ayat tersebut
diturunkan secara terpisah dalam 23 tahun. Karya-karya sedetail
al-Burhãn (al-Zarkasyi) dan al-Itqãn/al-Tahbîr (al-Suyuthi) juga tidak
menukil riwayat-riwayat tersebut. Kita hanya bisa menemukan
sebuah riwayat yang isinya secara tekstual mengatakan,: “letakkan
ayat ini pada tempat ini” dan sebagainya. Karya-karya tentang asbãb
al-nuzûl juga tidak mampu menukil berbagai riwayat semua ayat
al-Quran. Kasarnya, ada sejarah yang hilang untuk menjelaskan
beberapa ayat atau susunan ayat al-Quran dari surat al-Fãtihah
sampai surat al-Nãs. Hal ini lebih diperkuat dengan adanya susunan
yang berbeda pada mushaf-mushaf sahabat besar. Artinya, masih
diperlukan upaya-upaya serius untuk “mengakhiri” berbagai hal
yang menyelimuti sejarah al-Quran.
Karya Sdr. Taufik Adnan Amal ini tidak lepas dari upaya-
upaya tersebut. Salah satu keistimewaannya, yang bisa saja menjadi
sisi kontroversialnya, adalah banyaknya kutipan dari karya-karya
Noeldeke, Jeffery, Bell serta lainnya, walaupun tidak diimbangi
dengan karya-karya spesialis al-Quran dari kalangan Islam, sehingga
kemudian menimbulkan perbedaan persepsi. Namun demikian,
kita berterima kasih kepada Saudara Taufik yang telah memberikan
kontribusinya dalam lebih memperkaya khazanah al-Quran.
Tanggapan dan kritik dalam bentuk buku atau tulisan akan jauh
lebih bermanfaat dari pada reaksi yang lebih mengandalkan emosi.

Cairo, Summer 2001

M. Quraish Shihab

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN / VII

PEDOMAN TRANSLITERASI
ARAB-LATIN

=

a `

kh p

sy ©

g Á

n

H

b a

d t

sh -

f Æ

w

L

t c

dz z

dl ±

q Â

h

P

ts e

r {

th µ

k Ð

T

j g

z ¡

zh ¹

l Ë

y

\

h l

s ¥

c

½

m Ì

h/t

Vokalisasi:

a. Vokal Pendek

b. Vokal Panjang

a

ã

i

î

u

û

Catatan: Transliterasi Arab-Latin di atas tidak diterapkan secara
ketat dalam penulisan nama orang.

VIII / TAUFIK ADNAN AMAL

DAFTAR ISI

Pengantar Prof. Dr. M. Quraish Shihab III
Pedoman Transliterasi Arab-Latin VII

Pendahuluan

1

Bagian Pertama: Asal-usul dan Pewahyuan al-Quran

Bab 1 : Latar Kesejarahan 11
Bab 2 : Asal-usul al-Quran 54
Bab 3 : Kronologi Pewahyuan al-Quran 96

Bagian Kedua : Pengumpulan al-Quran

Bab 4 : Pengumpulan Pertama al-Quran 145
Bab 5 : Beberapa Mushaf Pra-utsmani 182
Bab 6 : Kodifikasi Utsman ibn Affan 227
Bab 7 : Otentisitas dan Integritas Mushaf
Utsmani 260

Bagian Ketiga : Stabilisasi Teks dan Bacaan al-Quran

Bab 8

: Penyempurnaan Ortografi al-Quran 303
Bab 9 : Unifikasi Bacaan al-Quran 338

Penutup 375

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN / IX

Lampiran-lampiran:

Lampiran 1 : Kaum Muslimin dan al-Quran 386
Lampiran 2 : Kesarjanaan Barat dan al-Quran 422

Kepustakaan

449

Indeks

459

REKONSTRUKSI SEJARAH AL-QURAN / 1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->