P. 1
ALIRAN ilmu kalam

ALIRAN ilmu kalam

|Views: 83|Likes:
Published by Fauzy Nurcholis

More info:

Published by: Fauzy Nurcholis on Dec 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2013

pdf

text

original

ALIRAN ASY ‘ARIYAH DAN MATURIDIYAH

1.

PERKEMBANGAN ALIRAN AL-ASY’ARIAH

A. Aliran Asy’Ariah Kaum Asy‟Ariah adalah aliran sinkretis yang berusaha mengambil sikap tengah-tengah antara dua kutub akal dan naql, antara kaum salaf dan mu‟tazilah. Titik tengah yang sebenarnya, selamanya, tidak jelas dan tak terbataskan. Asy‟ariyah adalah aliran kalam yang dinisbatkan kepada Abu Mansur al-Maturidi yang berpijak kepada Abu al Hasan yang berdasarkan pengakuan secara teoritis pertama berdasarkan naqli atau wahyu yang terdiri dari Al Qur`an dan Al Hadits Al Mutawatir, dan kedua berdasarkan akal. Tujuan dari gerakan Asy‟ariyah sama dengan aliran maturidiyah adalah sebagai reaksi terhadap aliran mu‟tazilah yang dianggap tidak sesuai dengan kaidah yang benar menurut akal dan syara. Kaum asy‟ ariah benar-benar banyak mengambil pendapat mu‟tazilah, yang kemudian diramu dengan pendapat-pendapat kaum salaf. Sebagai contoh, bias dikatakan bahwa mu‟tazilah dan kaum asy‟ ariah walaupun diantara mereka ada unsure permusuhan pada abad kelima hijriyah bertemu dalam arti tertentu. Misalnya, imam al-haramain mengambil walaupun terkadang dari mu‟tazilah teori al-ahwal. Al-qhadi abd al-jabbar mengambil teori sifat-sifat Allah, dari orang-orang asy‟ ariah, dan nyaris meneguhkan teori ini seperti kaum asy‟ariah sendiri. ( Madkour, 1995:63) B. Sejarah Munculnya Aliran Asy’ariyah Gerakan al- asy‟ariah mulai pada abad ke-4 H. aliran ini terlibat dalam konflik dengan kelompok-kelompok lain, khususnya Mu‟tazilah. Dalam konflik keras ini, al Baqillani memberikan andil besar, ia dinggap sebagai pendiri kedua bagi aliran al- asy‟ariah. Permusuhan ini mencapai puncaknya pada abad ke-5 H atas perakarsa al-Kundari ( 456 H ), yang membela Mu‟tazilah. Ia mengobarkan fitnah yang berlansun selama 10 tahun dan menyebabkan imam alHaramain pindah ke Hijaz. Kemudian kaum asy‟ariah berhasil meraih kesuksesan kembali pada tahun 484 H. pendapat-pendapat mereka pada abad ke-6 H kira-kira menjadi mazhabsatu-satunya dan akidah yang resmibagi daulah sunni.(Madkour, 1995:65) C. Metode Asy’ariah

Mazhab asy‟ariah bertumpuh pada Al-Qura‟an dan Al-Sunnah. Mereka amat teguh memenggangi Al-Ma‟sur. Al-Asy‟ari mengatakan: “pendapat yang kami ketengahkan dan aqidah yang kami pegangi adalah sikap berpegang teguh kepada kitab Allah, sunnah nabinya SAW dan apa yang diriwayatkan oleh sahabat, tabi‟in dan imam-imam hadis. Kami mendukung semua itu, kami mendukung pendapat Ahmad Bin Hambal, semoga Allah mencerahkan wajahnya, mengangkat derajatnya dan meneguhkan kedudukannya. Sebaliknya kami menjauhi orang-orang yang menyalahi pendapatnya” (Madkour, 1995:66) Asy‟ariah memasukkan semua penyebab horizontal ke dalam penyebab vertical, yakni kehendak Tuhan. Dengan demikian cara menyederhanakan alam semesta menjadi sejumlah atom yang bergerak dalam waktu dan ruang yang diskontinu di dunia, disini berarti tidak ada sesuatupun yang memiliki sifat-sifat khusus. Tidak mengherankan bila kemudian Asy‟ariah menjadi bertentangan dengan filsafat islam, yang mencoba mengenalkan penyebab segala sesuatu akhirnya mengarah pada Penyebab Tertinggi. ( Nasr, 1996, 14 ) D. Teori ketuhanan Pemaparan ini akan menjelaskan bagaimana kaum asy‟ariah memegangi benar pendapat guru mereka, disamping mengungkapkan berbagai aspek yang mereka usahaakan untuk ditonjolkan. Kita tidakakan pernah bisa mengulas semua kaum asy ariah disepanjang fase sejarah mereka. Untuk itu kita cukup menjelaskan tokoh-tokoh besar mereka, juga orang-orng yang memepunyai andil besar dalam menyebarluaskan danmemperkuat mazhab ini. a. Abu al Hasan al Asy`ary dan Mu`tazilah Pada mulanya, selama hampir 40 tahun, beliau menjadi penganut Mu`tazilah yangsetia mengikuti gurunya seorang tokoh Mu`tazilah yang juga ayah tirinya. Dengan hidayah Allah setelah beliau banyak merenungkan ayat-ayat Al Qur`an danhadits-hadits Rasulullah, beliau mulai meragukan terhadap ajaran Mu`tazilah. Apalagi setelah dialog yang terkenal dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawaboleh Abu `Ali al Jubba`i dan setelah mimpi beliau bertemu dengan Rasulullah, beliausecara tegas keluar dari Mu`tazilah. Inti ajaran faham Mu`tazilah adalah dasar keyakinan harus bersumber kepada suatuyang qath`i dan sesuatu yang qath`i harus sesuatu yang masuk akal (rasional). Itulahsebabnya maka kaum Mu`tazilah menolak ajaran Al-Qur`an apalagi as Sunnah yangtidak sesuai dengan akal (yang tidak rasional). Sebagaimana penolakan mereka terhadapmu`jizat para nabi, adanya

malaikat, jin dan tidak percaya adanya takdir. Merekaberpendapat bahwa sunnatullah tidak mungkin dapat berubah, sesuai dengan firmanAllah:“Tidak akan ada perubahan dalam sunnatullah” (Al Ahzab:62; lihat jugaFathir:43 dan Al Fath:23). Itulah sebabnya mereka tidak percaya adanya mu`jizat, yang dianggapnya tidakrasional. Menurut mereka bila benar ada mu`jizat berarti Allah telah melangar sunnah-Nya sendiri.Sudah tentu pendapat seperti ini bertentangan dengan apa yang dikajinya darial Qur`an dan as Sunnah. Bukankah Allah menyatakan bahwa:“(Allah) melakukan segala apa yang Dia kehendaki” (Hud : 107). Untuk kehidupan manusia Allah telah memberikan hukum yang dinamakansunnatullah dan bersifat tetap. Tetapi bagi Allah berlaku hukum pengecualian, karenasifat-Nya sebagai Pencipta yang Maha Kuasa. Allah adalah Penguasa mutlak. Hukumyang berlaku bagi manusia jelas berbeda dengan hukum yang berlaku bagi Allah.Bukankah Allah dalam mencipta segala sesuatu tidak melalui hukum sunnatullah yangberlaku bagi kehidupan manusia ? Allah telah menciptakan sesuatu yang tidak adamenjadi ada, menciptakan dari suatu benda mati menjadi benda hidup. Adakah yangdilakukan Allah dapat dinilai secara rasional ?Salah satu dialog beliau dengan Abu Ali Al Jubba`i yang terkenal adalah mengenai,apakah perbuatan Allah dapat diketahui hikmahnya atau di ta`lilkan atau tidak. FahamMu`tazilah berpendapat bahwa perbuatan Allah dapat dita`lilkan dan diuraikanhikmahnya. Sedangkan menurut pendapat Ahlus Sunnah tidak. Berikut ini dialog antaraAbu Al Hasan dengan Abu Ali al Jubba`i: A :“Bagaimana kedudukan orang mukmin dan orang kafir menurut tuan?” B :“Orang mukmin mendapat tingkat tinggi di dalam surga karena imannya danorang kafir masuk ke dalam neraka”. A :“Bagaimana dengan anak kecil?” B :“Anak kecil tidak akan masuk neraka”. A :“Dapatkah anak kecil mendapatkan tingkat yang tinggi seperti orang mukmin?” B :“Tidak, karena tidak pernah berbuat baik”. A :“Kalau demikian anak kecil itu akan memprotes Allah kenapa ia tidak diberi umur panjang untuk berbuat kebaikan”. B :“Allah akan menjawab, kalau Aku biarkan engkau hidup, engkau akan berbuat kejahatan atau kekafiran sehingga engkau tidak akan selamat”.

A :“Kalau demikian, orang kafir pun akan protes ketika masuk neraka, mengapa Allah tidak mematikannya sewaktu kecil agar selamat dari neraka”.

Abu Ali Al Jubba`i tidak dapat menjawab lagi, ternyata akal tidak dapat diandalkan.Abu al Hasan Al Asy`ary dalam meninjau masalah ini selalu berdasar kepada sunnahRasulullah. Itulah sebabnya maka madzhab yang dicetuskannya lebih dikenal denganAhlus Sunnah wal Jama`ah.

b. Abu al Hasan al Asy`ary Pencetus Faham Asy`ariyah

Karena pengaruh yang cukup dalam dari faham Mu`tazilah, pada mulanyacetusan pendapat Abu Al-Hasan sedikit banyak dipengaruhi oleh Ilmu Kalam. Keadaanseperti ini sangat dimaklumi karena tantangan yang beliau hadapi adalah kelompok yangselalu berhujjah kepada rasio, maka usaha beliau untuk koreksi terhadap Mu`tazilah jugaberusaha dengan memberikan jawaban yang rasional. Setidak-tidaknya beliau berusahamenjelaskan dalil-dalil dari Al Qur`an atau As Sunnah secara rasional. Hal ini dapatdilihat ketika beliau membahas tentang sifat Allah dalam beberapa hal beliau masihmenta`wilkan sebagiannya. Beliau menyampaikan pendapatnya tentang adanya sifatAllah yang wajib menurut akal. Pada mulanya manhaj Abul Hasan Al Asy`ary dalam bidang aqidah menurutpengakuan secara teoritis pertama berdasarkan naqli atau wahyu yang terdiri dari AlQur`an dan Al Hadits Al Mutawatir, dan kedua berdasarkan akal. Namun dalamprakteknya lebih mendahulukan akal daripada naql. Misalnya dalam menetapkan duapuluh sifat wajib bagi Allah, diawali dengan menetapkan hanya tiga sifat wajib,kemudian berkembang dalam menyimpulkan menjadi lima sifat, tujuh sifat, dua belassifat atau dan akhirnya dua puluh sifat atau yang lebih dikenal dengan Dua puluh SifatAllah (7 sifat hakiki, 13 sifat majazi). Penetapan sifat hakiki dan majazi adalahberdasarkan rasio.Penetapan tujuh sifat hakiki tersebut karena bila Allah tidak memilikinya berartimeniadakan Allah. Ketujuh sifat hakiki tersebut adalah hayyun bihayatin, alimun biilmin, qadirun bi qudratin, sami`un bi sam`in, basyirun bi basharin, mutakallimun bikalamin dan muridun bi iradatin. Sedangkan mengenai tiga belas sifat majazi biladikatakan sebagai sifat hakiki berarti tasybih atau menyamakan Allah dengan makhluk.Ketika ditanyakan:

“Bagaimana menetapkan sifat hakiki tersebut, sedangkan sifatitu secara lafziah sama dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh makhluk?” Jawabannya:“Sifat-sifat tersebut dari segi lafaz sama dengan makhluk, namun bagi Allah SWTmempunyai arti `maha` sesuai dengan kedudukan Allah yang Maha Kuasa”. Hal inilahyang menjadi bahan pertentangan dikemudian hari.

c.

Abu Al Hasan Al Asy`ary kembali ke Salaf

Setelah banyak berdialog dengan seorang bernama Al Barbahari(wafat 329 H), Abul Hasan Al Asy`ary menyadari kekeliruannya dalam pemahamanaqidah terutama dalam menetapkan sifat-sifat Allah dan hal lain tentang ghaibiyat.Empat tahun sebelum beliau wafat beliau mulai menulis buku Al Ibanah fi Ushul Al-Diyanah merupakan buku terakhir beliau sebagai pernyataan kembali kepada fahamIslam sesuai dengan tununan salaf. Namun buku ini tidak sempat terbahas secara luas dikalangan umat Islam yang telah terpengaruh oleh pemikiran beliau sebelumnya.Untuk mengenal lebih jauh tentang kaidah pemikiran beliau di bidang aqidah sesudah beliau kembali ke metode pemikiran salaf yang kemudian lebih dikenal denganSalafu Ahli As Sunnah wa Al Jama`ah, beliau merumuskannya dalam tiga kaidahsebagai berikut: a) Memberikan kebebasan mutlak kepada akal sama sekali tidak dapat memberikanpembelaan terhadap agama. Mendudukkan akal seperti ini sama saja denganmerubah aqidah. Bagaimana mungkin aqidah mengenai Allah dapat tegak jika akalbertentangan dengan wahyu. b) Manusia harus beriman bahwa dalam urusan agama ada hukum yang bersifat taufiqi,artinya akal harus menerima ketentuan wahyu. Tanpa adanya hukum yang bersifattaufiqi maka tidak ada nilai keimanan. c) Jika terjadi pertentangan antara wahyu dan akal maka wahyu wajib didahulukan danakal berjalan dibelakang wahyu. Dan sama sekali tidak boleh mensejajarkan akaldengan wahyu apalagi mendahulukan akal atas wahyu.Adapun manhaj Abul Hasan dalam memahami ayat (tafsir) adalah sebagai berikut:  Menafsirkan ayat dengan ayat.  Menafsirkan ayat dengan hadits  Menafsirkan ayat dengan ijma‟. d) Menafsirkan ayat dengan makna zahir tanpa menta`wilkan kacuali ada dalil.

e) Menjelaskan bahwa Allah menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, untuk itu dalammemahami Al Quran harus berpegang pada kaidah-kaidah bahasa Arab. f) Menafsirkan ayat dengan berpedoman kepada asbabun-nuzul dari ayat tersebut

g) Menjelaskan bahwa isi ayat Al Quran ada yang umum dan ada yang khusus, keduaduanyaharus ditempatkan pada kedudukannya masing-masing. (www.hanya-untuk-semua.blogspot.com: Selasa, 05 Oktober 2010) E. Tokoh Asy’ariah

a. Muhammad Ibn al-Thayyib Ibn Muhammad Abu Bakr al-Baqillani. Ia adalah tokoh Asy‟ariyah yang mendapat ajaran-ajaran Al-Asy‟ari dari dua murid AlAsy‟ari, yaitu Ibn Mujahid dan Abu Al-Hasan Al-Bahili.. beliau wafat di Bagdad pada tahun 1013 Masehi. Ajaran-ajaran yang disampaikannya tidak selalu selaras dengan ajaran Al-Asy‟ari, misalnya bahwa sifat Allah itu bukan sifat melainkan hal. Selanjutanya ia juga tidak sepaham dengan Al-Asy‟ari mengenai perbuatan manusia. Menurut Al-Asy‟ari perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan seluruhnya, sedangkan menurut Al-Baqillani, manusia mempunyai sumbangan yang efektif dalam perwujudan perbuatannya. Yang diwujudkan Tuhan ialah gerak yang terdapat dalam diri manusia, adapun bentuk atau sifat dari gerak itu dihasilkan oleh manusia itu sendiri. Pernyataan-pernyataannya mengarah pada extrim, dalam mengikuti suatu pendapat dan dalam memberikan dukungan dan pembelaan, sebab premis rasional tidak pernah disebutkandalam al-Qur‟anmaupun sunnah, ruang geraknya luas dan pintunya terbuka lebar. Metodeyang ditempuhnya juga banyak. Boleh saja seseorang sampai kepada bukti-bukti dariberbagai penalaran akal dan menghasilkan berbagai konklusi melalui berbagai

eksperimenyang tidaklah buruk selama tidak bertentangan dengan konklusi yang dicapainya danpemikiran yang dihasilkannya. b. Abd al-Malik al-Juwaini

Beliau lahir di Khurasan tahun 419 Hijriyah dan wafat pada tahun 478 Hijriyah. Namanyaaslinya tidak begitu dikenal malah ia terkenal dengan nama Iman Al-Haramain.

Hampir sama dengan Al-Baqillani, ajaran-ajaran yang disampaikannya banyak yangbertentangan dengan ajaran Al-Asy‟ari. Misalnya Tangan Tuhan diartikan (ta’wil) kekuasaanTuhan, mata Tuhan diartikan penglihatan Tuhan dan wajah Tuhan diartikan Wujud Tuhan,sedangkan mengenai Tuhan duduk diatas takhta kerajaan diartikan Tuhan berkuasa dan MahaTinggi.Mengenai soal perbuatan manusia, ia mempunyai pendapat yang lebih jauh dari AlBaqillani.Daya yang ada pada manusia itu mempunyai efek, tetapi efeknya serupa dengan efek yangterdapat antara sebab dan musabab. Wujud perbuatan manusia tergantung pada daya yang adapada manusia, wujud daya itu bergantung pada sebab yang lain dan wujud sebab itu bergantung pula pada sebab yang lain dan demikianlah seterusnya hingga sampai pada sebabdari segala sebab yaitu Tuhan.

c.

Abu Hamid al-Ghazali

Beliau adalah murid dari Abd al-Malik al-Juwaini yang lahir pada tahu 1058-1111 Masehi.Paham teologi yang dianutnya tidak jauh berbeda dengan paham-paham Al-Asy‟ari. Diamengakui bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat qadim yang tidak identik dengan dzat Tuhandan mempunyai wujud diluar dzat. Juga Al-Qur‟an bersifat qadim dan tidak diciptakan.Mengenai perbuatan manusia ia juga berpendapat bahwa Tuhanlah yang menciptakan dayadan perbuatan. Dan daya untuk berbuat lebih menyerupai impotensi.Selanjutnya ia-pun menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat, sebab setiap yang mempunyaiwujud dapat dilihat. Selanjutnya ajaran yang disampaikannya adalah penolakan tentangpaham keadilan yang diajarkan oleh Mu‟tazilah. Tuhan tidak berkewajiban menjagakemashlahatan (al-salah wa alashlah) manusia, tidak wajib memberi upah atau ganjarankepada manusia atas perbuatanperbuatannya, bahkan Tuhan boleh memberi beban yangtidak mungkin dikerjakan

manusia.(www.hanya-untuk-semua.blogspot.com: Selasa, 05 Oktober 2010)

F. Doktrin- Doktrin aliran Asy’ariah a) Wujud dan Sifat Tuhan Para ulama ilmu Kalam, baik Asy‟ariyah maupun Mu‟tazilah, dan para filosof, dalam pembahasan penting ini menyepakati urgensi akal dalammenetapkan keberadaan Tuhan serta

menumbuhkan keyakinan kepada-Nya.Berbeda dengan ahl al Dzahir, para Mutakalimin menyerahkan segala kemampuanlogika mereka dalam menetapkan kebenaran tuhan sebagaimana yang diinginkandzahir teks agama. Dari sini, jelas tampak adanya keterlibatan manusia atausetidaknya aspek kemanusiaan- dalam berbagai kajian ketuhanan (Teologi). Asy‟ariyah, dengan gaya ortodoksnya, mencoba menempatkan dirinyasebagai penengah (moderasi) diantara dua aliran; yaitu Salafiyah danMu‟tazilah.Namun, kajian teologis Asy‟ariyah –dengan didukung oleh silogismeAristotelian atau logika formal-deduktif ditambah dengan mengadopsi secaradistorsif teori-teori filsafat natural (tabhi‟at)- malah pada akhirnya tidakmenampilkan kajian teologis yang empiris-metodologis. Bahayanya lagi,argumen-argumen Asy‟ariyah dapat saja mengalami eskalasi sehingga mencapaitingkat „ilhad‟ (pengingkaran akan wujud Tuhan) dan tajsim (antropomorfisme).Dapat kita temukan dalam alur pemikiran Asy‟ariyahadanya kesan „keterpaksaan‟ dalam menggunakan teori-teori filsafat alam (naturalphilosophy) seperti teori al huduts (kebaharuan alam), al Imkan (probabilitas) danJauhar fard (subtansi tunggal).Teori al huduts menetapkan premis-premis logis bahwa alam itu hadis(baru;tidak qadim) karena alam itu selalu berubah. Semua yang hadis pasti berasaldari muhdis (pembaru;pelaku al hudus) dan muhdis tersebut harus qadim, sebabkalau tidak , maka akan terjadi daur atau tasalsul (kausalitas tanpa akhir). Sedangdalam doktrin teologinya, daur dan tasalsul itu mustahil. Selanjutnya, Asy‟ariyahlangsung menetapkan bahwa yang qadim itu adalah Tuhan.Sedangkan teori al imkan mengatakan, alam itu bersifat mumkin, yaitumungkin terjadi mungkin tidak. Segala sesuatu yang mungkin membutuhkan „illatmurajjih yang menyebabkan adanya sesuatu itu dan „illat tersebut harus berakhirpada zat yang wajib al wujub (wajib ada). Sebab kalau tidak, akan terjadi tasalsul,dan tasalsul itu mustahil. Maka langsung ditetapkan bahwa wajib al wujub ituadalah Tuhan. Lain lagi dengan teori Jauhar al fard Asy‟ariyah menetapkanbahwa segala sesuatu itu terdiri dari bagian-bagian atau ajzaa‟, dan bagian-bagianini akan sampai kepada bagian yang terkecil (substansi akhir) yang tidak dapatterbagi bagi lagi, karena selanjutnya dinamakan Jauhar al fard (substansi tunggal).Karena semua jauhar tidak terlepas dari „aradl (sifat yang hadits), makakonklusinya semua jauhar adalah hadits. Anehnya, beranjak dari premis-premisfisikal di atas, Asyariyah mengadakan lompatan kepada kesimpulan metafisikal.Dalam artian, Asy‟ariyah berusaha menemukan dalil dari hal-hal yang naturaluntuk membuktikan sesuatu yang natural.Metodologi ini jelas bertentangan dengan metodi empirisme ilmiah.Meskipun logika idealektik yang berusaha dibangun oleh Asy‟ariyah masihmengadung

nilai- nilai empirik, tapi argumen-argumennya tetap sajamembingungkan. Bagaimana mungkin Asy‟ariyah membuktikan bahwa alam ituhadits, sementara gerakan dan siklus yang merupakan sifat tetap alam telahberlangsung tanpa permulaan. Pada hakikatnya alam adalah qadim, dalampengertian bahwa Tuhan menciptakan alam tanpa permulaan dan tanpa bahandasar, dan jarak antara keberadaan Tuhan dan keberadaan alam tidak mungkindiukur dengan waktu. Dengan kata lain, tidak ada rentang waktu antara Tuhandengan alam walau sedetik pun. Dan posisi Tuhan tidak lain adalah „illat atausebab keberadaan alam. Tanpa Tuhan alam tidak akan pernah ada.Asy‟ariyah dalam logikanya mengambil kaidah “kunci” yaitu kemustahilandaur dan tasalsul. Apa alas an Asy‟ariyah menetapkan kaidah seperti itu? Padahakikatnya, daur dan tasalsul itu hal yang wajar dan merupakan tabiat alam.Tuhan telah menciptakan siklus dan hubungan kausalitas (sebab akibat) sehinggamanusia sanggup mengolah dan memproses daur ulang alam ini dengan ilmupengetahuannya. Teori kemustahilan ini hanya berakibat terhambatnya ilmupengetahuan dan menjadikan manusia pasif dalam hidupnya.Hubungan hadits-muhdits oleh Asy‟ariyah diidentikan dangan hubunganmashnu‟ dan shani‟nya (pembuat dan yang dibuat). Katanya alam ini adalahbuatan Tuhan,sebagaimana kursi adalah buatan tukang. Konsekuensi darikeyakinan tersebut membawa akal manusia sehingga mengibaratkan Tuhansebagai person (al Syakhsy) dan pada gilirannya menimbulkan penafsiran materilterhadap hal-hal ghaib. Seiring dengan itu pula, penafsiran fenomena alam dengankaidah hadits-muhdits sama halnya merampas esensi alam tersendiri. Denganmemahami hadits sebagai “sesuatu yang pada awalnya tidak ada kemudiandiadakan” menjadikan ketidakadaan sebagai standar keberadaan.Ini menyebabkan alam kehilangan esensinya dan memaksakanketergantungannya kepada “sesuatu yang lain” di luar dirinya. Akhirnya, realitadan subtansi alam ini akan hilang dan yang tinggal bertahan dalam wujud nyataadalah alam metafisik yang pada hakikatnya tidak nyata. Secara sosio-psikologis,pengaruhnya pun berlanjut pada manusia, dimana menusia adalah unsur danbagian utama di alam ini. Dengan hilangnya esensi alam, maka manusia punkehilangan esensinya dan manjadi wujud hampa tanpa arti.Secara psikologis, argumen tentang huduts-nya alam cukup membahayakanesistensi manusia tatkala kita menerima hipotesa imajinatif tersebut, yaitu bahwaalam itu diadakan dari tidak ada oleh sang muhdits, hal itu mengisyaratkan bahwamanusia pada dasarnya lemah dan tidak mampu melakukan perubahan danpembaruan dalam kehidupannya di alam ini. Sebab secara logis, segala bentukperubahan, besar maupun kecil, semuanya disandarkan pada kekuatan dankemampuan sang muhdits, yaitu zat selain

manusia. Memang betul, manusia tidakmenciptakan dirinya juga tidak mampu menciptakan alam walau seekor nyamukpun. Tapi, apakah itu dimaksudkan agar manusia melemahkan dirinya danmenggantungkan dirinya pada sesuatu kakuatan lain di luar dirinya dan di luaralam ini. Sebenarnya, argument-argumen distorsif tersebut berangkat darilandasan keimanan subyektif semata tidak dari tinjauan obyektif ilmiah.. Sesuatu argumen lagi yang tidak kalah membingungkan, yaitu deskripsiAsy‟ariyah tentang pembagian sesuatu pada bagian-bagian tertentu dan berakhirpada jauhar fard. Perlu dipertanyakan “bagaimana Asy‟ariyah menetapkan danmembuktikan adanya sesuatu yang disebutnya jauhar fard? Apakah jauhar fard tersebut pada kenyataannya memang ada, atau hanya hipotesa imajinatif (alwahm) semata yang ditujukan untuk mengunggulkan eksistensi sang muhdits?Pada hakikatnya ilmu pengetahuan membuktikan bahwa alam itu tidak dapatdibagi-bagi kepada jauhar sebagaimana anggapan Asy‟ariyah. Alam itu tidakdapat dibagi dan diurai dalam bentuk unsur-unsur dan penguraian ini dapatberlangsung terus menerus tanpa berhenti. Kondisi ini sangat mendukungperkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan ilmiah. Jelasnyaargumen Asy‟ariyah tentang adanya jauhar fard tidak lebih dari hipotesa imajinatifakal yang tidak faktual. Perlu diketahui, bahwa makna wujud itu sendiri ada tiga;pertama, wujud sesuatu itu dapat dipahami bila sesuatu itu dapat diketahui. Jadi,standar wujud sesuatu adalah adanya kemungkian pengetahuan terhadapnya.Teologi yang dipelopori oleh asy‟ari dan di kembangkan oleh al-Ghazali itutelah mempengaruhi banyak agama di dunia, khususnya yang bersentuhanlangsung dengan Islam,yaitu yahudi dan Kresten, sebegitu rupa. Sehingga banyakagama Yahudi seperti yang ada pada sekarang ini adalah adalah bahwa agamayahudi yang dalam bidang teologi telah mengalami “pengislaman”,.Di zaman Modern yang pengetahuan semakin melimpah ruah ini, ternyatateologi Asy‟ari masih relefan dalam buku Nur Khalis Madjid, Willian Craig,seorang tokoh ahli Filsafat Modern dari Berkeley, California, Ilmu pengetahuanmutahir, khususnya teori-teori tentang asal kejadian alam raya seperti teoriledakan besar dalam Astronomi Modern sangat menujang argumen-argumen Ilmukalam yang di kembangkan oleh asy‟ariyah.

b. Keadilan Manusia dan Perilaku Manusia Diantara tema-tema sentral teologi Asy‟ariyah, topik keadilan Tuhan (al„Adl)- dalam hal ini adalah standar nilai kebaikan dan keburukan- menempatideretan yang paling penting. Topik

ini, disamping merupakan pembahasan yangcukup luas dan sangat berkaitan dengan segi-segi fundamental dalam bangunanideologi Islam, juga sangat mempengaruhi corak perilaku umat penganutnya. Padaawal kemunculannya, konsep ini hanya merupakan respons terhadap teologiMu‟tazilah yang ekstrem-rasionalistik. Dan pada perkembangan selanjutnya,konsep keadilan Asy‟ariyah ini tidak dapat terhindar dari pengaruh-pengaruhJabariyah (Fatalisme).Asy‟ariyah mencoba menampilkan pemikirannya tentang keadilan denganberanjak dari konsep kemutlakan iradah (keinginan) Tuhan. Mereka beranggapanbahwa Tuhan telah menciptakan kebaikan (al khair) dan keburukan (al syarr) sertasekaligus „menghendaki‟ keberadaan keduanya sebagai dualisme nilai yang dianutmanusia. Kemudian, dari sisi lain mereka menegaskan bahwa kebaikan dankeburukan itu merupakan sesuatu yang relatif- dalam artian, tidak ada sesuatuyang pada hakikatnya baik dan buruk- dan selanjutnya mengembalikan kedua nilaitersebut kepada kemutlakan syara‟ sebagai standar utama. Segala yang diakui dandilegitimasi oleh syara‟ sebagai kebaikan, maka hal itu pastilah baik. Dandemikian pula sebaliknya, bahwa keburukan hanyalah yang diakui oleh syara‟sebagai keburukan. Namun kalau demikian halnya, bagaimana mungkinAsy‟ariyah mengakui adanya nilai baik danburuk dari satu sisi dan mengingkarikeberadaannya dari sisi lain?Sesungguhnya, argumentasi Asy‟ariyah yang demikian itu hanya ditujukanuntuk menolak pendapat Mu‟tazilah (ahlal „adl) yang menempatkan akal sebagaisatu-satunya standar nilai baik dan buruk. Dengan sangat responsif,

merekamenegaskan bahwa syara lah satu-satunya sumber nilai yang berwenangmenentukan segalanya, dan dengan sendirinya menafikan fungsi akal dalammenilai suatu perbuatan. Dengan kata lain, sebelum syara‟ diturunkan, akalmanusia tidak mampu mengetahui bahwa kejujuran adalah baik dan bohong ituadalah buruk. Bahwa seandainya Tuhan memerintahkan manusia untuk berbohongatau setidaknya melegitimasi kebohongan tersebut, maka tentunya hukum punakan berubah, sesuatu yang awalnya buruk berubah nilai menjadi baik. Atauseandainya Tuhan melarang manusia untuk berlaku jujur maka kejujuran akanberubah menjadi perbuatan tercela.Untuk membuktian kebenaran pendapatnya, Asy‟ariyah beralasan bahwa akalmanusia sangat relatif dalam menilai sesuatu dan sangat dipengaruhi oleh unsure subyektivitas serta kepentingan pribadi. Maka tanpa keterlibatan otoritas syara‟,nilai kebaikan dan keburukan akan sangat relatif. Secara global Asy‟ariyahmengakui relativitas akal manusia pada perbedaanperbedaan yang ada dalamberbagai adat dan aturan konvensional antar komunitas tertentu. Di samping itu,kenisbian nilai moral merupakan dasar utama adanya perbedaan yang

menyolokdalam berbagai ajaran agama.Sekilas nampak kebenaran argumentasi diatas. Tapi sebaliknya argument tersebut cukup keliru, sebab pendapat yang mengatakan tentang kenisbian nilaimoral tidak mutlak benar. Para ahli telah mengakui adanya prinsip-prinsip moraldasar yang selamanya sejalan dengan ketetapan-ketetapan syariat dan hokum konvensional. Prinsip-prinsip dasar ini tidak mengalami perubahan sepanjangkehidupan manusia. Dan manusia hanya berbeda dan berselisih sekitar hal-halyang parsial dan tidak prinsipil. Nilai dasar akan berubah jika dipengaruhi ataudituntut oleh kondisi tertentu, yang pada hakikatnya bersifat temporal.Kewenangan syara‟ dan pengosongan nilai yang dilakukan Asy‟ariyah padasetiap perbuatan manusia dapat menyebabkan kekacauan dan pertikaian antarindividu yang memperjuangkan kepentingan tertentu. Pihak- pihak penguasa tentusaja dapat mempolitisir dan melegitimasi ketetapan syara‟ untuk kepentingankepentinganpribadinya atau kepentingan golongan tertentu. Dan di sisi lain, pihakyang lebih lemah terpaksa harus mengakui „kebenaran‟ yang diperbuat oleh pihakpenguasa. Sebaga imana yang telah disebutkan diatas, teologi Asy;ariyah adalahteologi moderasi atau penengah antar dua ekstermitas. Dalam konteks ini,Asy‟ariyah menampilkan teori Kasb sebagai „pelarian‟ dari kekuatiran merekadari otoritas akal manusia dari satu sisi dan sifat fatalisme dari sisi lain.(www.hanya-untuk-

semua.blogspot.com: Selasa, 05 Oktober 2010)

2. PERKEMBANGAN ALIRAN MATURIDIYAH

A. Aliran Maturidiyah Al- Maturidiyah adalah salah satu sekte ahl al-sunnah wal al-jama‟ah, yang tampil bersama dengan Asy‟ariyah. Maturidiyah adalah aliran kalam yang dinisbatkan kepada Abu Mansur al-Maturidi yang berpijak kepada penggunaan argumentasi dan dalil aqli kalami dalam membantah penyelisihnya seperti Mu‟tazilah, Jahmiyah dan lain-lain untuk menetapkan hakikat agama dan akidah Islamiyyah. Maturidiyah dan asy‟ariah dilahirkan oleh kondisi social dan pemikiran yang sama. Kedua aliran ini dating untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang menyerukan untuk menyelamatkan diri dari ekstrimitas kaum rasionalis dimana yang berada dibarisan paling depan adalah Mu‟tazilah, maupun ekstrimitas kaum tekstualis dimana yang

berdada dibarisan paling depan adalah kaum Hanabilah ( para pengikut Imam Ibnu Hambal ).(Madkour, 1995:81 )

B. Sejarah Munculnya Aliran Maturidiyah

Berdirinya aliran ini kembali kepada Abu Mansur al-Maturidi, dia adalah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi al-Samarqandi. Maturidi adalahnisbat kepada Maturid, sebuah tempat di Samarkand, di daerah inilah Abu Mansur lahir,tahun kelahirannya samar, tidak diketahui dengan pasti. Ahli sejarah yang menyebutkanbiografinya tidak menjelaskan kehidupannya, bagaimana dia tumbuh dan dari siapa diabelajar, yang diketahui dari gurugurunya adalah Nashir atau Nushair bin Yahya al-Balakhi, dari orang ini Abu Mansur belajar fikih madzhab Hanafi dan ilmu kalam.Abu Mansur memiliki kedudukan tinggi di kalangan para pengikut Maturidiyahsehingga mereka menjulukinya dengan “Imam al-Huda dan Imam alMutakallimin”. Abu Mansur hidup satu masa dengan Abul Hasan al-Asy‟ari meskipun tidak adaketerangan sejarah bahwa keduanya pernah bertemu atau saling membaca buku yanglain, hanya saja dalam beberapa hasil pemikiran kedua orang ini bertemu, tentu denganpemikiran Abu Musa yang lama sebelum dia rujuk kepada pemikiran salaf shalih. Abu Mansur wafat di Samarkand pada tahun 333 H dan dimakamkan di sana. Diameninggalkan beberapa karya tulis diantarnya, Ta’wilat Ahlus Sunnah atau Ta’wilat alQur`an, dalam bukunya ini Abu Mansur mengangkat ayat-ayat al-Qur`an khususnyaayat-ayat sifat dan mentakwilkannya dengan takwil Jahmiyah. Di antara bukunya yanglain adalah Kitab Tauhid, kitab ini tentang ilmu kalam, di dalamnya dia menetapkanpendapat-pendapatnya yang berkaitan dengan masalah-masalah i’tiqadiyah, dan yang diamaksud dengan tauhid dalam kitabnya ini adalah tauhid Khaliqiyah dan Rububiyahditambah dengan sedikit tauhid Asma’ wa Sifat akan tetapi dengan manhaj Jahmiyahdengan mengingkari banyak sifat-sifat Allah dengan alasan mensucikan dan meniadakantasybih dari Allah, hal ini tidak sejalan dengan manhaj yang shahih yaitu manhaj salafshalih.

C. Tokoh Maturidiyah

Setelah Abu Mansur wafat, pemikiran-pemikirannya diwarisi dan diperjuangkanoleh murid-muridnya dan orang-orang yang terpengaruh oleh pemikirannya, di tanganmereka ini Maturidiyah membentuk diri sabagai aliran kalamiyah yang muncul pertamakali di Samarkand. Murid-murid Abu Mansur mulai menyebarkan pemikiran-pemikiransyaikh dan imam mereka, mereka menulis buku-buku demi itu, hasilnya pemikiranpemikiran Maturidiyah laku di negeri tersebut, hal ini karena mereka terbantu oleh kesamaan dalam madzhab fikih yaitu madzhab Hanafi. Salah satu murid Abu Mansur adalah Abul Qasim Ishaq bin Muhammad bin IsmailalHakim al-Samarqandi, wafat tahun 342 H, dia dikenal dengan al-Hakim karena hikmahnya yang banyak dan nasihat-nasihatnya. Ada seorang murid lagi yaitu Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa al-Bazdawi, wafat tahun 390 H, selanjutnya orang ini memiliki seorang cucu yang menjadi salah satu pembawa pemikiran-pemikiran Maturidiyah, dia adalah Abul Yasar alBazdawi Muhammad bin Muhammad bin al- Husain bin Abdul Karim yang berjuluk al-Qadhi ash-Shadr, Syaikh madzhab Hanafi di Bazdawah pada masanya. Abul Yasar ini belajar dari bapaknya yang belajar dari kakeknya Abdul Karim salahseorang murid Abu Mansur, di samping dia membaca kitab-kitab ahli filsafat seperti al-Kindi dan lainnya, dia juga mempelajari bukubuku Mu‟tazilah seperti al-Jubba‟i, an-Nazham dan lain-lain. Dia juga mempelajari buku-buku Abu Musa al-Asy‟ari dan bukubuku Abu Mansur seperti at-Ta’wilat dan at-Tauhid. Untuk buku yang terakhir ini dia memandang pembahasannya bertele-tele dan menyulitkan serta penyusunannya yang tidak sistematis oleh karena itu dia mengulang penyusunan dan pemaparannya agar lebih muda untuk dikaji, hal ini dia tuangkan dalam bukunya Ushuluddin dengan beberapa penambahan darinya. Abul Yasar wafat di Bukhara tahun 493 H dengan meninggalkan banyak murid, salah satunya adalah Najmuddin Umar bin Muhammad an-Nasafi, peletak sebuah buku dalam akidah yang terkenal dengan al-Aqidah an-Nasafiyah. Najmuddin Umar an-Nasafi, bisa dikatakan, dia adalah pelopor Maturidiyah dalambidang karya tulis karena dia banyak menuangkan dasar-dasar akidah Maturidiyah dalambuku-bukunya yang berjumlah besar, dia adalah Abu Hafsh Najmuddin Umar bin Muhammad bin Ahmad bin Ismail al-Hanafi an-Nasafi, nisbat kepada Nasaf, sebuah kota di antara Jaihun dan Samarkand. Najmuddin adalah julukannya. Najmuddin Umar an-Nasafi lahir di Nasaf pada tahun 462 H, dia terkenal dengan syaikh-syaikhnya yang berjumlah besar mencapai lima ratus orang, di antara mereka adalah Abul Yasar al-Bazdawi dan Abdullah bin Ali bin Isa an-Nasafi, sebagaimana dia memiliki murid dalam jumlah besar pula, tidak hanya itu dia juga memiliki karya tulis juga dalam jumlah besar

yang menjadi buku induk dalam menetapkan pemikiranpemikiran Maturidiyah. Di antara bukubukunya adalah Majma’ al-Ulum, at-Taisir fiTafsir al-Qur`an, an-Najah fi Syarh Kitab Akhbar ash-Shihah, buku ini adalah syarah dari shahih al-Bukhari, dan sebuah buku dalam akidah yaitu al-Aqidah an-Nasafiyah, buku ini adalah ringkasan dari buku at-Tabshirah karya Abu Muin anNasafi, buku ini adalah salah satu buku terpenting dalam akidah Maturidiyah. Najmuddin Umar an- Nasafi wafat di Samarkand pada malam Kamis, 12 Jumadil Ula 537 H. Setelah masa Najmuddin Umar an-Nasafi, Maturidiyah mengalami kemajuan dan perkembangan yang berarti, hal ini karena mereka mampu meraih simpati para Sultan Daulah Utsmaniyah yang berpusat di Turki, dan akhirnya para sultan tersebut menjadi pendukung Maturidiyah sehingga pengaruh Maturidiyah menyebar ke negeri-negeri yang dijangkau oleh kekuasaan Daulah Utsmaniyah. Di masa ini muncul al-Kamal bin al- Hammam penulis alMuyasarah fi al-Aqa’id al-Munjiyah fi al-Akhirah yang pada saat ini masih dijadikan sebagai buku wajib di sebagian universitas. Di masa kini pemikiran Maturidiyah banyak dianut di beberapa negeri kaummuslimin khususnya di Turki, Afghanistan dan sekitarnya, Pakistan dan India. Di duanegara yang terakhir ini ada beberapa madrasah yang mengusung pemikiran-pemikiranMaturidiyah, salah satunya adalah madrasah Kautsariyah yang dinisbatkan kepadasyaikh Muhammad Zahid al-Kautsari alJarkasi al-Hanafi al-Maturidi, wafat tahun 1371H. Madrasah ini berciri khas mencela dan menyerang para imam Islam, menurut merekapara imam Islam tersebut adalah mujassimah dan musyabbihah yakni orang-orang yangmenjasadkan dan menyerupakan Allah dengan

makhlukNya, hanya karena para imamtersebut menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh al-Qur`an dansunnah sesuai dengan pamahaman salaf umat, mereka mengkategorikan buku-buku paraimam Islam seperti at-Tauhid, al-Ibanah, asy-Syariah,as-Sifat, al-Uluw dan buku paraimam sunnah lainya sebagai buku-buku watsaniyah (berhalawiyah). Madarasah ini jugagetol berdakwah kepada bid’ah-bid’ah syirkiyah seperti mengagungagungkan kuburdan penghuninya dengan kedok bertawasul.(www.hanya-untuk-

semua.blogspot.com: Selasa, 05 Oktober 2010)

D. Doktrin- Doktrin Teologi Maturidiah

a) Akal dan Wahyu Al-Maturidi dalam pemikiran teologinya berdasarkan pada Al-Qur‟an danakal, akal banyak digunakan diantaranya karena dipengaruhi oleh Mazhab ImamAbu Hanifah. Menurut AlMaturidi, mengetahui Tuhan dan kewajibanmengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Hal tersebut sesuai dengan ayatayatAl-Qur‟an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akalnya untukmemperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadapAllah melalui pengamatandan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaan-Nya. Jika akal tidakmemiliki kemampuan tersebut, maka tentunya Allah tidak akan memerintahkanmanusia untuk melakukannya. Dan orang yang tidak mau menggunakan akaluntuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti ia telahmeninggalkan kewajiban yang diperintahkan oleh ayat-ayat tersebut Namun akal,menurut Al-Maturidi tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban yang lain.Dalam masalah amalan baik dan buruk, beliau berpendapat bahwa penentubaik dan buruknya sesuatu itu terletak pada sesuatu itu sendiri, sedangkan perintahatau larangan syari‟ah hanyalah mengikuti kemampuan akal mengenai baik danburuknya sesuatu, walau ia mengakui bahwa akal terkadang tidak mampumelakukannya. Dalam kondisi ini, wahyu dijadikan sebagai pembimbing.AlMaturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaituAkal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu, Akal dengansendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu, Akal tidak mengetahuikebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk wahyu.Tentang mengetahui kebaikan dan keburukan Maturidiyah memilikikesamaan dengan Mu‟tazilah, namun tentang kewajiban melakukan kebaikan danmeninggalkan keburukan Maturidiyah berpendapat bahwa ketentuan itu harusdidasarkan pada wahyu.

b) Perbuatan Manusia Perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, karena segala sesuatu dalam wujudini adalah ciptaan-Nya. Mengenai perbuatan manusia, kebijaksanaan dan keadilankehendak Allah mengharuskan manusia untuk memiliki kemampuan untukberbuat (ikhtiar) agar kewajiban yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan.Dalam hal ini Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar manusia dengan qudratAllah sebagai pencipta perbuatan manusia. Allah mencipta daya (kasb) dalam setiap diri manusia dan manusia bebas memakainya, dengan demikian tidak adapertentangan sama sekali antara qudrat Allah dan ikhtiar manusia.Dalam masalah pemakaian daya ini Al-Maturidi memakai faham Imam AbuHanifah, yaitu adanya Masyiah (kehendak) dan

ridha (kerelaan). Kebebasanmanusia dalam melakukan perbuatan baik atau buruk tetap berada dalamkehendak Allah, tetapi ia dapat memilih yang diridhai-Nya atau yang tidakdiridhai-Nya. Manusia berbuat baik atas kehendak dan kerelaan Allah, danManusia berbuat baik atas kehendak dan kerelaan Allah, dan berbuat buruk pundengan kehendak Allah, tetapi tidak dengan kerelaanNya. c) Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan Penjelasan di atas menerangkan bahwa Allah memiliki kehendak dalamsesuatu yang baik atau buruk. Tetapi, pernyataan ini tidak berarti bahwa AllahAllah berbuat sekehendak dan sewenang-wenang. Hal ini karena qudrat tidaksewenag-wenang (absolute), tetapi perbuatan dan kehendak-Nya itu berlangsungsesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya sendiri.

d) Sifat Tuhan Tuhan mempunyai sifat-sifat, seperti sama, bashar, kalam, dan sebagainya.Al-Maturidi berpendapat bahwa sifat itu tidak dikatakan sebagai esensi-Nya danbukan pula lain dari esensiNya. Sifat-sifat Tuhan itu mulzamah (adabersama/inheren) dzat tanpa terpisah (innaha lam takun ain adz-dzat wa la hiyaghairuhu). Sifat tidak berwujud tersendiri dari dzat, sehingga berbilangnya sifattidak akan membawa kepada bilangannya yang qadim (taadud alqadama).Tampaknya faham tentang makna sifat Tuhan ini cenderung mendekati fahamMu‟tazilah, perbedaannya terletak pada pengakuan terhadap adanya sifat Tuhan.

e) Melihat Tuhan Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan, hal inidiberitakan dalam Al-Qur‟an: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Al-Qiyamah: 22-23) Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Tuhan kelak di akhirat dapat dilihatdengan mata, karena Tuhan mempunyai wujud walaupun ia immaterial. Namunmelihat Tuhan, kelak di akhirat tidak dalam bentuknya, karena keadaan di sanabeda dengan dunia.

f) Kalam Tuhan

Al-Maturidi membedakan antara kalam (baca:sabda) yang tersusun denganhuruf dan bersuara denagn kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau maknaabstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah, sedangkan kalam yangtersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadits). Kalam nafsi tidak dapat kitaketahui hakikatnya dari bagaimana Allah bersifat dengannya, kecuali dengansuatu perantara.Maturidiyah menerima pendapat Mu‟tazilah mengenai Al-qur‟an sebagaimakhluk Allah, tapi Al-Maturidi lebih suka menyebutnya hadits sebagai penggantimakhluk untuk sebutan Al-Qur‟an.

g) Perbuatan Tuhan Semua yang terjadi atas kehendak-Nya, dan tidak ada yang memaksa ataumembatasi kehendak Tuhan, kecuali karena da hikmah dan keadilan yangditentukan oleh kehendak-Nya sendiri. Setiap perbuatan-Nya yang bersifatmencipta atau kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia tidak lepasdari hikmah dan keadilan yang dikehendaki-Nya. Kewajibankewajiban tersebutantara Tuhan tidak akan membebankan kewajiban di luar kemampuan manusia, karenahal tersebut tidak sesuai dengan keadilan, dan manusia diberikan kebebasan olehAllah dalam kemampuan dan perbuatannya, Hukuman atau ancaman dan janjiterjadi karena merupakan tuntutan keadilan yang sudah ditetapkan-Nya.

h) Pengutusan Rasul Pengutusan Rasul berfungsi sebagai sumber informasi, tanpa mengikutiajaran wahyu yang disampaikan oleh rasul berarti manusia telah membebankansesuatu yang berada di luar kemampuan akalnya. Pandangan ini tidak jauh denganpandangan Mu‟tazilah, yaitu bahwa pengutusan rasul kepada umat adalahkewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik bahkan terbaik dalamhidupnya.

i) Pelaku Dosa Besar (Murtakib Al-Kabir) Al-Maturidi berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak kekaldi dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. Hal ini karena Tuhan telahmenjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai denganperbuatannya. Kekal di dalam neraka adalah balasan untuk orang musyrik.Menurut Al-Maturidi, iman itu cukup dengan tashdiq dan iqrar,

sedangkanamal adalah penyempurnaan iman. Oleh karena itu amal tidak menambah ataumengurangi esensi iman, hanya menambah atau mengurangi sifatnya.

j) Iman Dalam masalah iman, aliran Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwaiman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semata iqrar bi al-lisan. Al-Qur‟an: “Orang-orang Arab Badui itu berkata: „Kami telah beriman‟. Katakanlah:„Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itubelum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; SesungguhnyaAllah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang‟."(Al-Hujurat: 14) Ayat tersebut difahami sebagai penegasan bahwa iman tidak hanya iqrar bial-lisan, tanpa diimani oleh qalbu. Lebih lanjut Al-Maturidi mendasarkanpendapatnya pada surat Al-Baqarah ayat 260 : “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlahkepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allahberfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku telahmeyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allahberfirman: "(Kalau demikian)ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allahberfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagianbagianitu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamudengan segera." dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi MahaBijaksana.” Dalam ayat tersebut, bukan berarti bahwa Nabi Ibrahim belum beriman,tetapi beliau menginginkan agar keimanannya menjadi keimanan ma‟rifah.Ma‟rifah didapat melalui penalaran akal. Adapun pengertian iman menurutgolongan Bukhara, adalah tashdiq bi al-qalb dan iqrar bi al-lisan, yaitu meyakinidan membenarkan dalam hati tentang keesaan Allah dan rasul-rasul yang diutus-Nya dengan membawa risalah serta mengakui segala pokok ajaran islam secaraverbal.

E. Golongan-Golongan Teologi Maturidiyah

a) Golongan Samarkand

Yang menjadi golongan ini adalah pengikut-pengikut Al-Maturidi sendiri. Golonganini cenderung ke arah faham Asy‟ariyah, sebagaimana pendapatnya tentang sifat-sifatTuhan. Dalam hal perbuatan manusia, maturidi sependapat dengan Mu‟tazilah, bahwamanusialah yang sebenarnya mewujudkan perbuatannya. Al-Maturidi berpendapat bahwaTuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu.

b) Golongan Bukhara Golongan ini dipimpin oleh Abu Al-Yusr Muhammad Al-Bazdawi. Dia

merupakanpengikut Maturidi yang penting dan penerus yang baik dalam pemikirannya. Nenek Al-Bazdawi menjadi salah satu murid Maturidi. Jadi yang dimaksud dengan golonganBukhara adalah pengikut-pengikut Al-Bazdawi dalam aliran Al-Maturidiyah.Walaupun sebagai pengikut aliran Al-Maturidiyah, AL-Bazdawi selalu sefaham denganMaturidi. Ajaran teologinya banyak dianut oleh umat islam yang bermazhab Hanafi. Danhingga saat ini pemikiran-pemikiran AlMaturidiyah masih hidup dan berkembang dikalangan umat islam. (www.hanya-untuksemua.blogspot.com: Selasa, 05 Oktober 2010)

REFERENSI Madkour, Ibrahim.1995.Alliran dan Teori Filsafat Islam.Jakarta:Bumi Aksara. Nasr, Seyyed Hossein.1995.Intelektual Islam.Yogyakarta:Pustaka Belajar

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->