PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM) MANDIRI - PERKOTAAN

Diterbitkan Oleh: Direktorat Jenderal Cipta Karya - Kementerian Pekerjaan Umum

.

KATA PENGANTAR .

9 Juta orang pemanfaat (penduduk miskin). Pada tahun 2008 keberlanjutan pelaksanaan P2KP diperluas lagi menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan). Program ini sangat strategis karena menyiapkan landasan kemandirian masyarakan berupa lembaga kepemimpinan masyarakat yang representative.838 KSM. dengan mengalokasikan tambahan dana yang cukup signifikan pada tahun anggaran 2008 yang mencakup 8.P rogram Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dilaksanakan sejak tahun 1999 sebagai suatu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan.000 relawan-relawan dari masyarakat setempat. mengakar dan kondusif bagi perkembangan modal sosial (Social Capital) masyarakat di masa mendatang serta menyiapkan program masyarakat jangka menengah dalam penanggulangan kemiskinan yang menjadi pengikat dalam kemitraan masyarakat dengan pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat.405 BKM/LKM yang tersebar di 1. Sejak pelaksanaan P2KP-1 hingga pelaksanaan P2KP-3 saat ini telah terbentuk sekitar 6. telah memunculkan lebih dari 600 ribuan relawan dari masyarakat setempat.153 kecamatan di 268 kota/kabupaten.PERKOTAAN . telah memunculkan lebih dari 291. Saat ini pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan telah membangun kelembagaan masyarakat lebih dari 11 ribu BKM/LKM yang tersebar di sekitar 1. serta telah mencakup 18. Kegiatan ini diharapkan juga dapat mendukung kesepakatan global pada awal tahun 2000 mengenai Millenium Development Goals (MDGs). melalui 860 ribu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).813 Kelurahan di 995 kecamatan tersebar pada 245 kota/kabupaten. serta lebih dari 22 Juta orang pemanfaat (penduduk miskin).125 kecamatan di 235 kota/kabupaten. sehingga sejak tahun 2007 P2KP yang merupakan bagian dari PNPM Mandiri telah melakukan penyempurnaan pedoman pelaksanaanya yang lebih fokus pada upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan percepatan pencapaian target sasaran MDGs. ii PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . dengan menerbitkan buku Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan. melalui 243.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN iii . P Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum PNPM MANDIRI . Jakarta.DAfTAR ISI Melalui buku pedoman pelaksanaan edisi September 2012 yang merupakan revisi dari edisi sebelumnya. September 2012 Budi Yuwono. diharapkan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan dapat dilaksanakan oleh seluruh pelaku secara efektif dan optimal untuk mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan jumlah orang miskin di Indonesia dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia sesuai amanat UUD’45.

2. 3.3. 3. 1.1.3.4. Pendahuluan | 6 Kerangka Pemikiran | 7 Prinsip.PERKOTAAN . 3.2. 3. GAMBARAN UMUM PROGRAM | 5 1. 2. 3. 3.8. KOMPONEN PROGRAM | 19 Pendampingan untuk Masyarakat | 20 Pendampingan untuk Pemdan dan Pemangku Kepentingan | 29 BAB III.2.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR | i DAFTAR ISI | v DAFTAR ISTILAH & SINGKATAN | IX PERIHAL PEDOMAN | 1 BAB I. 3.4. 1.1. 1. PELAKSANAAN PROGRAM | 33 Pelaksanaan di Tataran Masyarakat | 34 Pelaksanaan di Tataran Pemerintah Kota/Kabupaten | 47 Indikator Keberhasilan | 51 Rencana Tindak Tata Kepemerintahan yang baik & Pengamanan | 53 Penyelengaraan Audit dan Pemantauan | 58 Sanksi | 61 Pengaduan dan Penyelesaian Konflik | 62 Kebijakan Pengamanan | 67 iv PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . 1.6.1.7.5. Pendekatan dan Dasar Hukum | 11 Tujuan | 13 Sasaran | 13 Strategi | 16 BAB II. 1. 3.5.6.2.

4. Tabel 2.1.2.4. MANAJEMEN PROGRAM | 71 Struktur Organisasi Pelaksanaan | 72 Tata Peran Pelaku | 74 Kelompok Sasaran |15 Ketentuan Sifat Penggunaan Dana BLM | 24 Kriteria Kinerja Pinjaman Bergulir | 28 Alur pelaksanaan PJM Pronangkis | 45 Indikator Keberhasilan PNPM Mandiri Perkotaan | 51 DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Diagram 1.1 Bagan 4.BAB IV.1 Gambar 1. Tabel 2.2.2. Gambar 1. Gambar 1.1 Gambar 3.1. Bagan 3.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN v . Tabel 2.3.1.1 DAFTAR GAMBAR DAN BAGAN Gambar 1.1 Pandangan PNPM MP Tentang Akar Penyebab Kemiskinan | 8 Penanganan Akar Kemiskinan Oleh masyarakat Melalui PNPM MP | 10 Strategi Transformasi Sosial Masyarakat PNPM MP | 17 Strategi Penguatan Kemandirian Pemda | 18 Siklus Tingkat Masyarakat | 35 Tahapan Siklus Pendampingan TIngkat Kota/kabupaten | 47 Mekanisme Penanganan Pengaduan | 66 Stuktur Organisasi Pengelolaan PNPM MP | 73 Keterkaitan antara Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) dengan PAD dan Pedoman-Pedoman dalam PNPM Mandiri Perkotaan | 4 LAMPIRAN-LAMPIRAN | 89 PNPM MANDIRI . 4.2. Tabel 3.3. Gambar 3.

DAFTAR ISTILAH & SINGKATAN A Advisory AD/ART AF AMDAL APBD APBN : Penasehat dan perancang program dibawah Kementerian Pekerjaan Umum : Anggaran Dasar/Anggran Rumah Tangga : Additional Financing : Analisis Mengenai Dampak Lingkungan : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara B Bangda : Pembangunan Daerah Bappeda Kab/Kota: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota Bappeda Prop : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BGAP : Better Governance Action Plan BI : Bank Indonesia BKM : Badan Keswadayaan Masyarakat BLM : Bantuan Langsung Masyarakat BOP : Biaya Operasional BPD : Badan Perwakilan Desa BPKP : Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan BPS : Badan Pusat Statistik C CBD CSS Comprehensive DED DIPA DKT Dokumen SPK-D DPPHLN DPRD DPT : Community Based Development : Community Self Survey : Menyeluruh : Detailed Design : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran : Diskusi Kelompok Terarah : Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah : Direktorat Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah : Diskusi Partisipatif Terpadu D vi PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN .

PERKOTAAN vii .E F EA Fasilitator FGD FKA-BKM FMR : Executing Agency/Penyelenggara Program : Tenaga Pendamping Masyarakat sebagai Agen Perubahan : Focussed Group Discussion / Diskusi Kelompok terarah : Forum Komunikasi Antar BKM Tingkat Kota/Kabupaten : Financial Management Report : Garis Besar Pokok Pengajaran : Government of Indonesia : Akar rumput. KMW : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara : Komite Penanggulangan kemiskinan Daerah : Kelompok Swadaya Masyarakat : Kredit Usaha Rakyat : Lembaga Keswadayaan Masyarakat : Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa : Lembaga Pemberdayaan Masyarakat : Lembaga Swadaya Masyarakat | PEDOMAN PELAKSANAAN G GBPP GoI Grassroot IBRD IDB ICB IPM KBK KBP KDP Kemen PU KE KMP KMW Korkot KPPN KPK-D KSM KUR K L LKM LKMD LPM LSM PNPM MANDIRI . masyarakat terkecil : International Bank for Reconstruction Development (World Bank) : Islamic Development Bank : International Competitive Bidding : Indeks Pembangunan Manusia : Komunitas Belajar Kelurahan : Komunitas Belajar Perkotaan : Kecamatan Development Program : Kementerian Pekerjaaan Umum : Konsultan Evaluasi : Konsultan Manajemen Pusat : Konsultan Manajemen Wilayah : Koordinator Kota.

M MDGs MoU Musrenbang : Millennium Development Goals : Memorandum of Understanding : Musyawarah Rencana Pembangunan : Neighbourhood Development : No Objection Letter : Oversight Consultant : Operations and Maintenance : Penguatan Peran Gender : Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan : Project Appraisal Document : Pinjaman Bergulir : Penataan Bangunan dan Lingkungan : Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi : Program Jangka Menengah : Penanggung Jawab Operasional Kegiatan : Pembinaan Kesejahteraan Keluarga : Program Management Unit : Penataan Lingkungan Permukinan Berbasis Komunitas : Peningkatan Penghidupan Masyarakat berbasis Komunitas : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan : Potensi Desa : Petunjuk Operasional Kegiatan : Project Operational Manual : Pejabat Pembuat Komitmen : Pendataan Program Perlindungan Sosial : Penanganan Pengaduan Masyarakat : Program Penanggulangan Kemiskinan : Participatory Rural Appraisal : Pemetaan Swadaya : Pekerjaan Umum : Rencana Anggaran Biaya : Rapat Koordinasi : Warga setempat yang peduli membantu warga miskin di wilayahnya tanpa pamrih : Rencana Kerja N ND NOL OC O&M P P2G P2KP PAD PB PBL PDMDKE PJM PJOK PKK PMU PLPBK PPMK PNPM Mandiri PNPM MP PODES POK POM PPK PPLS PPM PRONANGKIS PRA PS PU R RAB Rakor Relawan Renja viii PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN .

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN ix .Renstra Renta RK RKPD RKM RPD RPJM RPJMD RPJP-D RTBL RT/RW RTRW RWT SA SATKER-P2KP SE-DJP SIM SKPD SNVT SOP SP2D SPM SPP SPPB SPPP SWK SWOT : Rencana Strategi : Rencana Tahunan : Refleksi Kemiskinan : Rencana Kerja Pemerintah Daerah : Rembug Kesiapan Masyarakat : Rencana Penggunaan Dana : Rencana Pembangunan Jangka Menengah : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah : Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan : Rukun Tetangga/Rukun Warga : Rencana Tata Ruang Wilayah : Rembug Warga Tahunan : Special Account (Rekening Khusus) : Satuan Kerja Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan : Surat Edaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Kementerrian Keuangan : Sistem Informasi Manajemen : Satuan Kerja Perangkat Daerah : Satuan Kerja Non Vertikal di tingkat Propinsi : Standard Operational Procedures : Surat Perintah Pencairan Dana : Surat Perintah Membayar : Surat Permintaan Pembayaran : Surat Perjanjian Penyaluran Bantuan : Surat Pernyataan Penyelesaian Pekerjaan : Satuan Wilayah Kerja : Strength-Weakness-Opportunity-Treatment : Technical Assistance : Tim Pengarah dan Kelompok Kerja Antar Departemen Terkait di Tingkat Nasional : Tim Koordinasi Pelaksanaan P2KP (tingkat Propinsi dan Kota/Kabupaten) : Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten/Kota : Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Propins : Membangun kepercayaan kepada seluruh pihak : Usaha Kecil Menengah : Unit Pengelola yang dibentuk BKM : Unit Pengelola Keuangan S T TA TIM INTERDEPT TKPP TKPK-Kab/Kota TKPK-Propinsi Trust Building U UKM UP UPK PNPM MANDIRI .

UPL UPS UPP : Unit Pengelola Lingkungan : Unit Pengelola Sosial : Urban Poverty Project (P2KP) : World Bank W WB x PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN .

PERIHAL PEDOMAN PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 1 .

MENGAPA DIPERLUKAN PEDOMAN?
Alasan mengapa pedoman sangat dibutuhkan adalah sebagai berikut: • Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM MP) adalah program nasional dengan cakupan wilayah kerja yang sangat luas di, seluruh wilayah Indonesia. • Melibatkan banyak pihak dengan berbagai latar belakang, posisi dan peran dalam program yang beragam, seperti perangkat pemerintah, pusat dan daerah, penerima manfaat, penyandang dana dan sebagainya, sehingga diperlukan persamaan visi, misi dan pemahaman terhadap mekanisme pelaksanaan program. • Memudahkan untuk dilakukan penilaian atas keberhasilan atau kegagalan program secara nasional karena menggunakan mekanisme dan tolok ukur yang sama.

SIAPA PENGGUNA PEDOMAN?
Secara umum Pedoman ini diperuntukkan untuk para pelaku pelaksana PNPM Mandiri Perkotaan utamanya Fasilitator dan pengurus BKM/LKM. Secara rinci pengguna pedoman dan manfaat masing-masing dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Siapa pengguna Buku Panduan
Warga masyarakat dan Kelompok-Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM-KSM) • Organisasi masyarakat (Badan • Keswadayaan Masyarakat • / Lembaga Keswadayaan • Masyarakat (BKM/LKM) dan Unit Pengelola (UP) Proyek (pimpinan dan staf) • • • • • • •

Untuk apa
Memahami berbagai peluang yang ditawarkan PNPM Mandiri Perkotaan Memahami berbagai aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan Membangun kontrol sosial Memberikan pelayanan yang lebih baik kepada warga dan KSM Membangun transparansi dan akuntabilitas Acuan operasional organisasi

Memahami secara menyeluruh program PNPM Mandiri Perkotaan di tingkat masyarakat dan pemda Panduan kerja pengendalian mutu pelaksanaan program Menyusun strategi dan rencana kerja pelaksanaan program Memantau dan evaluasi kemajuan program Acuan untuk melakukan perbaikan dan/atau perubahan Buku Pedoman

Konsultan Pelaksana

2

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

Siapa pengguna Buku Panduan
• • Fasilitator • • •

Untuk apa
Menyusun rencana kerja pelaksanaan proyek di kelurahan/desa Panduan kerja pendampingan masyarakat dan para pemangku kepentingan tingkat kelurahan/desa Pengendalian mutu pekerjaan Memahami secara menyeluruh program PNPM Mandiri Perkotaan Masukan kebijakan dalam rangka integrasi dan koordinasi serta mengembangkan kebijakan penanggulangan kemiskinan lebih lanjut Memahami secara menyeluruh program PNPM Mandiri Perkotaan Menciptakan kesinambungan program Membangun jaringan kerjasama di tingkat pelaksanaan Acuan koordinasi Melakukan kontrol sosial Melakukan advokasi Membangun sinergi Membangun jaringan kelembagaan Memahami secara menyeluruh program PNPM Mandiri Perkotaan Acuan pengembangan kebijakan

Pemerintah

Pemerintah Daerah (propinsi, kota/kabupaten)

• • • • • • • • • •

Para Pemeduli

Anggota Legislatif

BAGAIMANA SISTEMATIKA BUKU PEDOMAN?
Buku Pedoman PNPM Mandiri Perkotaan ini tidak berdiri sendiri tetapi terdiri dari empat kelompok besar buku pedoman sebagai berikut : 1. Pedoman Nasional PNPM Mandiri adalah pedoman yang berlaku nasional untuk seluruh program PNPM di Indonesia. Pedoman yang diterbitkan oleh Menko Kesra ini merupakan induk berbagai buku pedoman untuk PNPM Mandiri Perkotaan, PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Inti lainnya dan PNPM Penguatan.

Di bawah ini adalah pedoman yang diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum: 2. Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan adalah pedoman yang berlaku untuk seluruh pelaku program yang memuat tentang konsep, kebijakan, ketentuan umum, strategi pelaksanaan dan kelengkapan lainnya sesuai dengan kebutuhan program.

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

3

3.

Pedoman Teknis PNPM Mandiri Perkotaan adalah pedoman yang berisi tata cara pelaksanaan teknis kegiatan. Petunjuk Teknis PNPM Mandiri Perkotaan adalah petunjuk rinci bagi pelaku untuk melaksanakan kegiatan.

4.

Diagram 1.1. Keterkaitan antara Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) dengan PAD dan Pedoman-Pedoman dalam PNPM Mandiri Perkotaan

4

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

I GAMBARAN UMUM PROGRAM PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 5 .

PERKOTAAN . selanjutnya disebut PNPM MP berorientasi untuk membangun pondasi masyarakat berdaya dengan sejumlah kegiatan intervensi pada perubahan sikap/ perilaku/cara pandang masyarakat yang bertumpu pada nilai-nilai universal. prinsip dan pendekatan yang ditetapkan dalam PNPM Mandiri juga menjadi tujuan. Sebagai bagian dari PNPM Mandiri maka tujuan.153 kecamatan di 268 kota/kabupaten. PNPM Mandiri Perkotaan. mengakar dan kondusif bagi perkembangan modal sosial (social capital) masyarakat di masa mendatang serta menyiapkan “program masyarakat jangka menengah dalam penanggulangan kemiskinan” yang menjadi pengikat dalam kemitraan masyarakat dengan pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat. telah memunculkan lebih dari 600 ribuan relawan dari masyarakat setempat. PNPM MP melakukan intervensi di lokasi padat. masyarakat dan kelompok peduli setempat dengan berbagai pihak (channelling program) untuk mengakses berbagai peluang dan sumber daya yang dibutuhkan masyarakat. oleh sebab itu mulai tahun 2007. prinsip dan pendekatan PNPM Mandiri Perkotaan1 . Pada tahap berikutnya berorientasi untuk membangun transformasi menuju masyarakat mandiri yang dilakukan melalui sejumlah intervensi pembelajaran kemitraan dan sinergi antara pemerintah. kumuh dan termiskin dengan melakukan kegiatan khusus. Tahun 2008 secara penuh P2KP menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM MP). Program ini sangat strategis karena menyiapkan landasan kemandirian masyarakat berupa “lembaga kepemimpinan masyarakat” yang representatif. Saat ini pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan telah membangun kelembagaan masyarakat lebih dari 11 ribu BKM/LKM yang tersebar di sekitar 1. Mempertimbangkan perkembangan positif P2KP tersebut.1. mulai tahun 2007 telah dirintis untuk mengadopsi P2KP menjadi bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Selanjutanya pada tahap akhir dari transformasi kondisi sosial menuju masyarakat madani.1. PENDAHULUAN Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dilaksanakan sejak tahun 1999 sebagai suatu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan. PNPM Mandiri P2KP diarahkan untuk mendukung upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan pencapaian sasaran Millennium Development Goals (MDGs) sehingga tercapai pengurangan penduduk miskin sebesar 50% di tahun 2015. Selanjutnya dalam pedoman ini istilah kelembagaan masyarakat menjadi Badan Kelembagaan Masyarakat/Lembaga Keswadayaan Masyarakat (BKM/LKM). Diharapkan melalui kegiatan tersebut dapat mendorong peningkatan kemampuan masyarakat dalam 1 Buku Pedoman Umum PNPM Mandiri bab I dan II 6 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . melalui 860 ribu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). begitu juga nama generic lembaga kepemimpinan masyarakat berubah dari BKM menjadi LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat). serta lebih dari 22 Juta orang pemanfaat (penduduk miskin).

keswadayaan dll).PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 7 . KERANGKA PEMIKIRAN 1. mengandalkan bantuan pihak luar untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi. kepedulian. Lemahnya modal sosial pada gilirannya juga mendorong pergeseran perilaku masyarakat yang semakin jauh dari semangat kemandirian. Lembaga kepemimpinan semacam ini pada umumnya memang tidak mengakar. yang pada gilirannya mendorong sikap masa bodoh. Akar Penyebab Kemiskinan Berbagai program kemiskinan terdahulu yang bersifat parsial. Mereka kurang memiliki komitmen dan kepedulian pada masyarakat di wilayahnya. Kondisi ini justeru akan memperdalam krisis kepercayaan masyarakat terhadap berbagai lembaga kepemimpinan masyarakat yang ada di wilayahnya. yakni terutama PNPM MANDIRI . tidak peduli.mengembangkan kualitas lingkungan permukiman yang berkelanjutan. Kondisi modal sosial masyarakat yang melemah serta memudar tersebut salah satunya disebabkan oleh keputusan. serta memudarnya orientasi moral dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat. kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalannya secara bersama. tidak transparan dan tidak tanggung gugat. misalnya salah sasaran. terciptanya benih-benih fragmentasi sosial.2. kebijakan dan tindakan yang tidak adil ini banyak terjadi di mana lembaga kepemimpinan masyarakat yang ada belum berdaya. Pengurusnya tidak dipilih secara benar dan banyak menjadi perpanjangan tangan pihak-pihak tertentu sehingga lebih berorientasi pada kepentingan pihak luar. dan melemahkan modal sosial yang ada di masyarakat (gotong royong. musyawarah. Keputusan. tidak percaya diri. sektoral dan santunan dalam kenyataannya sering justeru menghasilkan kondisi yang kurang menguntungkan. karena dikelola oleh orang-orang yang tidak berdaya yang tidak mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam kebijakankebijakan yang diputuskannya.2.1. Akibatnya menimbulkan kecurigaan. Kondisi kelembagaan pimpinan masyarakat yang tidak mengakar dan tidak dapat dipercaya tersebut pada umumnya tumbuh subur dalam situasi di mana masyarakat secara umum memang belum berdaya. Ketidakberdayaan masyarakat dalam menyikapi dan menghadapi situasi yang ada di lingkungannya. ketidakpedulian dan skeptisme di masyarakat. tidak mandiri. kebijakan dan tindakan dari pengelola program kemiskinan dan pemimpinpemimpin masyarakat yang selama ini cenderung tidak adil. terutama masyarakat miskin. Dalam perjalanan pelaksanaan program dimungkinkan terjadi perubahan kebijakan PNPM MP sebagai perbaikan dan penyempurnaan program dari hasil pembelajaran dan evaluasi tahuntahun sebelumnya dan akan diatur secara khusus dalam bentuk suplemen dan pedoman teknis. 1. parsial atau bahkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

1. sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.2. keadilan dan kejujuran. Dari paparan di atas.2.keikhlasan. Penanganan Akar Penyebab Kemiskinan Pemahaman mengenai akar penyebab persoalan kemiskinan seperti di atas telah menyadarkan berbagai pihak bahwa pendekatan dan cara yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu diperbaiki. PNPM MP sebagai kelanjutan P2KP memahami bahwa kemiskinan adalah akibat dan akar penyebab kemiskinan yang sebenarnya adalah kondisi masyarakat. yaitu ke arah perubahan perilaku/sikap dan cara pandang masyarakat utamanya para pemimpin untuk senantiasa mengambil keputusan dan bertindak berlandaskan pada nilai-nilai luhur universal. utamanya para pimpinan yang belum berdaya sehingga tidak mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan. di bawah ini: Gambar 1.1. cukup jelas menunjukkan bahwa kemiskinan akan tumbuh subur dalam situasi di mana perilaku/sikap dan cara pandang (paradigma) masyarakat yang belum berdaya. Pandangan PNPM-MP tentang Akar Penyebab Kemiskinan 1. 8 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . prinsip-prinsip kemasyarakatan dan pilar-pilar pembangunan berkelanjutan.PERKOTAAN .

bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya. karena upaya-upaya membangun kepedulian. tanpa pamrih dan jujur serta mau berkorban untuk kepentingan masyarakat miskin.Perubahan perilaku/sikap dan cara pandang masyarakat ini merupakan pondasi yang kokoh untuk terbangunnya lembaga kepemimpinan masyarakat yang mandiri. ikhlas. Tentu saja hal ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah. prinsip-prinsip kemasyarakatan dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai landasan yang kokoh untuk membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Dalam hal ini. Proses pembelajaran di tingkat masyarakat ini berlangsung selama masa Program maupun pasca Program oleh masyarakat sendiri dengan membangun dan melembagakan Komunitas Belajar Kelurahan/desa (KBK). kerelawanan. PNPM MP meyakini bahwa pendekatan yang lebih efektif untuk mewujudkan proses perubahan perilaku masyarakat adalah melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat dan penguatan peran pemerintah daerah dalam mengapresiasi dan mendukung kemandirian masyarakatnya. Proses pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan terus menerus untuk menumbuhkembangkan kesadaran kritis masyarakat terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 9 . Penguatan lembaga masyarakat yang dimaksud PNPM MP terutama dititikberatkan pada upaya penguatan pelakunya untuk mampu menjadi pelaku nilai dan pada gilirannya PNPM MANDIRI .2. agar mampu bertindak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia luhur yang mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari sehingga pada giliran dapat dibangun kepemimpinan moral yang mandiri.3. komitmen tersebut pada dasarnya terkait erat dengan proses perubahan perilaku masyarakat. 1. NPM Memfasilitasi Masyarakat serta Pemerintah Daerah Untuk Mampu P Menangani Akar Penyebab Kemiskinan Secara Mandiri dan Berkelanjutan Gambaran lembaga masyarakat seperti dimaksud di atas hanya akan dicapai apabila orang-orang yang diberi amanat sebagai pemimpin masyarakat merupakan kumpulan dari orang-orang yang peduli. melalui pemberdayaan para pelakunya. Kemandirian lembaga masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka membangun lembaga masyarakat yang benar-benar mampu menjadi wadah perjuangan kaum miskin. yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik di tingkat lokal agar lebih berorientasi ke masyarakat miskin dan mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. memiliki komitmen kuat.

PERKOTAAN . penguatan peran dan fungsi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPK-D) agar mampu menyusun Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPK-D) dan melembagakan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP). yang pada gilirannya diharapkan dapat tercipta lingkungan perkotaan dengan perumahan yang lebih layak huni di dalam permukiman yang lebih responsif dan dengan sistem sosial masyarakat yang lebih mandiri melaksanakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. dilakukan melalui. sebagai nilai-nilai utama yang melandasi aktivitas penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat setempat.mampu menjadi motor penggerak dalam ‘melembagakan’ dan ‘membudayakan’ kembali nilai-nilai luhur universal kemanusiaan (gerakan moral).2.2. prinsip-prinsip kemasyarakatan (gerakan tata kepemerintahan yang baik) serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (gerakan Tridaya). Gambar 1. 10 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Penanganan Akar Kemiskinan oleh Masyarakat melalui PNPM-MP Sedangkan penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam rangka mengedepankan peran dan tanggungjawab pemerintah daerah. pelibatan intensif Pemerintah kota/kabupaten pada pelaksanaan siklus kegiatan PNPM MP. Melalui lembaga kepemimpinan masyarakat tersebut diharapkan tidak ada lagi kelompok masyarakat yang masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Gambaran tentang cara pandang PNPM MP dalam memfasilitasi upaya penanggulangan akar persoalan kemiskinan oleh masyarakat dapat dilihat pada Gambar 1.

Kolaborasi. masyarakat terlibat secara aktif pada setiap proses pengambilan keputusan pembangunan dan secara gotong royong menjalankan pembangunan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 11 . PENDEKATAN DAN DASAR HUKUM Secara umum prinsip. Kesetaraan dan keadilan gender. Transparansi dan Akuntabel. j.3. Bertumpu pada pembangunan manusia. masyarakat memiliki kewenangan secara mandiri dan partisipatif untuk menentukan dan mengelola kegiatan pembangunan secara swakelola. b. e. g. maupun administratif. Partisipasi. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggunggugatkan baik secara moral. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk pengentasan kemiskinan dengan mendayagunakan secara optimal berbagai sumberdaya yang terbatas. teknis. Prioritas. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil manfaat kegiatan pembangunan. pendekatan dan dasar hukum PNPM-Mandiri Perkotaan menganut yang sudah ditetapkan dalam Pedoman Umum PNPM Mandiri sebagai berikut : 1. Keberlanjutan. PNPM MANDIRI . PRINSIP. Setiap pengambilan keputusan pembangunan dilakukan secara musyarawah dan mufakat dengan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat miskin.1. legal. Otonomi. Pelaksanaan PNPM senantiasa bertumpu pada peningkatan harkat dan martabat manusia seutuhnya. Dalam pelaksanaan PNPM. k. f. d. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergi antar pemangku kepentingan dalam penanggulangan kemiskinan.1. i. h. c. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan dilimpahkan kepada pemerintah daerah atau masyarakat sesuai dengan kapasitasnya.3. Demokratis. Prinsip a. Desentralisasi. Berorientasi pada masyarakat miskin. Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak hanya saat ini tapi juga di masa depan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

dan keberlanjutan. 1.l.3. Memposisikan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.PERKOTAAN . c. kemandirian. mudah dipahami.3. Semua aturan. b. Sederhana. 1. e. Di tataran kecamatan inilah rencana pembangunan yang direncanakan oleh SKPD (Satuan Kerja Pembangunan Daerah) bertemu dengan perencanaan dari masyarakat dalam Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) Kecamatan sehingga dapat digalang perencanaan pembangunan yang menyeluruh. Dengan demikian PNPM MP akan menekankan pemanfaatan Musrenbang Kecamatan sebagai mekanisme harmonisasi kegiatan berbagai program yang ada sehingga peranan Forum BKM/LKM tingkat kecamatan menjadi sangat vital. Pendekatan Penanggulangan kemiskinan membutuhkan penanganan yang menyeluruh dalam skala perwilayahan yang memadai yang memungkinkan terjadinya keterpaduan antara pendekatan sektoral. perwilayahan dan partisipatif yang dalam hal ini dipilih kecamatan sebagai lokus program yang mampu mempertemukan perencanaan dari tingkat Pemerintah kota/kabupaten dan dari tingkat masyarakat. Bersadarkan pemikiran tersebut di atas maka pendekatan atau upaya-upaya rasional dalam mencapai tujuan program dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan program adalah pembangunan yang berbasis masyarakat dengan: a. Menggunakan kecamatan sebagai lokus program.2. Menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan karakteristik sosial dan geografis. Dasar Hukum Yang menjadi dasar hukum PNPM MP sebagaimana menjadi dasar hukum PNPM Mandiri adalah Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan.3. terpadu dan selaras waktu. 12 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan PNPM harus sederhana. Melalui proses pemberdayaan yang terdiri atas pembelajaran. Mengutamakan nilai-nilai universal dan budaya lokal dalam proses pembangunan partisipatif. dan mudah dikelola oleh masyarakat. d. fleksibel.

serasi. Terwujudnya pendampingan teknis dan kontribusi pendanaan sesuai dengan Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah (IFKD) dari pemerintah kota/kabupaten dalam PNPM MP serta terwujudnya peningkatan kualitas lingkungan. Memperkuat dan melembagakan BKM/LKM yang dipercaya. berjati diri dan berkelanjutan. e. f. Terbangunnya forum BKM/LKM tingkat kecamatan dan kota/kabupaten untuk mengawal terwujudnya harmonisasi berbagai program daerah.1. d. Relawan dan Relawan khusus (spesialisasi berdasarkan minat) sebagai penggerak proses pembangunan partisipatif di wilayahnya dan forum pemantauan b. Terwujudnya kemitraan program antara BKM/LKM dengan berbagai pemangku kepentingan. Secara khusus tujuan PNPM MP yaitu ”Membantu masyarakat miskin perkotaan di kelurahan/ desa peserta program mendapatkan manfaat dari peningkatan kondisi lingkungan dan tata kepemerintahan yang baik. Terwujudnya pemanfaatan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). h.5.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 13 . representatif. TUJUAN Tujuan umum PNPM telah ditetapkan di Pedoman Umum PNPM yaitu ”Meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri”. aspiratif.1. SASARAN 1. Tersedianya Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis) di tingkat kelurahan/desa sebagai wadah untuk mewujudkan sinergi berbagai program penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan sesuai dengan aspirasi serta kebutuhan masyarakat dalam rangka pengembangan lingkungan permukiman yang sehat. peduli dan mampu melaksanakan rangkaian kegiatan PNPM MP di wilayahnya secara mandiri dan berkelanjutan sesuai substansi pedoman pelaksanaan PNPM MP. termasuk sumber dana lain. dan bertanggung jawab untuk mendorong tumbuh dan kembangnya partisipasi serta kemandirian masyarakat.5. Meningkatnya kapasitas pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk bermitra dengan BKM/LKM dalam penyediaan pelayanan bagi masyarakat miskin. c. g. Sasaran Program a. PNPM MANDIRI . yang tepat sasaran.” 1. Masyarakat yang sadar.4. transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kriteria lokasi dan alokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan tertuang pada penjelasan surat penetapan lokasi dan alokasi BLM PNPM Mandiri yang dikeluarkan oleh Menkokesra.2.3. 1.5.5. Lokasi Sasaran Lokasi sasaran PNPM MP. Untuk lokasi dan alokasi penanganan wilayah khusus. pengelolaan resiko bencana dan pengembangan tata penghidupan masyarakat.i. Kelompok Sasaran Yang menjadi kelompok sasaran dalam PNPM MP dapat dilihat pada Tabel 1. Pengelola program akan menerbitkan daftar rincian lokasi dan alokasi dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan secara terpisah dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pedoman pelaksanaan ini.PERKOTAAN .1. dan Meningkatnya kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah dalam penataan lingkungan pemukiman yang lebih komprehensif. yakni lokasi yang ditetapkan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) sebagai lokasi yang akan menerima stimulan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). kriteria lokasi dan alokasi dijabarkan secara tersendiri dalam pedoman tata cara seleksi lokasi dan alokasi kegiatan terkait. Kelompok Sasaran di halaman berikut: 14 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . 1. partisipatif untuk memastikan pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan berdasarkan PJM Pronangkis.

  Pendampingan   Kelompk  peduli   penanggulangan  kemiskinan.  laki-­‐laki   dan  perempuan.4 Penerima Manfaat Dana BLM PNPM MP Penerima manfaat langsung dari dana BLM yang disediakan melalui PNPM MP adalah keluarga miskin yang diidentifikasi masyarakat sendiri2 dan disepakati serta ditetapkan bersama oleh masyarakat kelurahan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 15 PNPM masyarakat   sendiri   dan   disepakati   serta   ditetapkan  bersama  oleh  masyarakat  kelurahan.  laki-­‐ laki  dan  perempuan.  yang  terinci   dalam  lembar  PS  2  terkini   yang  telah  disepakati   warga.  kota/kabupaten.     Bantuan  Dana  BLM     Dana  BLM  diprioritaskan   kepada  warga  miskin.   • Kelompok  masyarakat   miskin  yang  ditetapkan   dalam  PJM  Pronangkis.  s/d   kelurahan/desa  yang  terkait   Bantuan  Teknik/   dengan  pelaksanaan  PNPM   MP.5.1.                     Tabel  1. melalui proses musyawarah warga.  melalui  proses  musyawarah  warga.4   Penerima  Manfaat  Dana  BLM  PNPM  MP     Data keluarga miskin yang diidentifikasi masyarakat sendiri dikenal sebagai daftar PS-2   Penerima  manfaat  langsung  dari  dana  BLM  yang  disediakan  melalui  PNPM  MP  adalah   2 keluarga   miskin   yang   diidentifikasi   MANDIRI .   1.   Kota/Kabupaten     Uraian  Kelompok   Sasaran   Para  Pemangku   Kepentingan     terkait                           Perangkat  pemerintahan   propinsi. refleksi kemiskinan dan pemetaan swadaya berorientasi Indeks Pembangunan Manusia dan Tujuan Pembangunan Global (IPM-MDGs).terutama   masyarakat  miskin.  Kelompok  Sasaran   Tabel 1.   refleksi   kemiskinan   dan   pemetaan   swadaya   berorientasi   Indeks   Pembangunan   2 .  dengan   syarat  sbb:         • Warga  miskin  terdaftar   dalam  data  Pemetaan   Swadaya  .5.       -­‐   Bantuan  Dana  BLM     -­‐           Pemerintah   Propinsi. Kelompok Sasaran Uraian  Kelompok   Bantuan  Teknik/   Sasaran   Pendampingan   Masyarakat   § Masyarakat  warga   kelurahan/desa  peserta   PNPM  MP.1.   1.   dan/atau  kelompok   masyarakat  miskin.

Kegiatan ini merupakan aplikasi dari pronangkis serta menumbuhkembangkan segenap lapisan masyarakat untuk peduli dan melakukan pengawasan sosial secara obyektif sehingga menjamin pelaksanaan kegiatan yang berpihak pada masyarakat miskin. agar masalah kemiskinan dapat ditangani secara efektif. salah satu bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah kegiatan penyiapan masyarakat seperti: Rembug Kesiapan Masyarakat. masyarakat. dan kelompok peduli. Proses pembangunan kolaborasi dan sinergi dalam upaya penanggulangan kemiskinan antara pemerintah pusat. Mendorong proses transformasi sosial dari masyarakat tidak berdaya/miskin menuju masyarakat berdaya. pemerintah daerah. Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah penyusunan rencana program masyarakat secara partisipatif berbasis “kebutuhan” bukan “keinginan”. mandiri dan berkelanjutan. Strategi Transformasi Sosial Masyarakat Agar terwujud tujuan yang hendak dicapai oleh PNPM MP. Refleksi Kemiskinan dan Pemetaan Swadaya.1. 16 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah kegiatan Penanggulangan Kemiskinan Terpadu yang menekankan pada proses pembelajaran kemitraan antara pemerintah pusat. Penguatan lembaga masyarakat melalui pendekatan pembangunan bertumpu pada kelompok. Dokumen perencanaan masyarakat ini secara generik dikenal dengan dokumen Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulanan Kemiskinan (PJM Pronangkis). Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini kegiatan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Tridaya. mengakar dan dipercaya dengan nama generik Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM). STRATEGI 1. pemerintah daerah.masyarakat dan kelompok peduli setempat. maka strategi yang dilaksanakan di tingkat masyarakat adalah : a. Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah pembentukan dan pembangunan lembaga masyarakat yang representatif. . Mendorong proses transformasi sosial dari masyarakat berdaya menuju masyarakat mandiri.PERKOTAAN . • • • b.6. Penguatan akuntabilitas masyarakat. proses ini setidaknya terdiri dari dua hal : • Pembelajaran kemitraan antar pemangku kepentingan strategis. Pembelajaran penerapan konsep TRIDAYA dalam penanggulangan kemiskinan. Proses ini setidaknya melalui empat hal : • Internalisasi nilai dan prinsip universal.

• Penguatan jaringan antar pelaku pembangunan.3. Untuk mewujudkan hasil yang ingin dicapai di dalam penguatan kemandirian pemda. Mendorong proses transformasi sosial dari masyarakat mandiri menuju masyarakat madani. maka dapat dijalin kerja sama dan dukungan sumber daya bagi penanggulangan kemiskinan. Strategi Penguatan Kemandirian Pemerintahan Kabupaten / Kota Sejalan dengan upaya intervensi di tingkat masyakarat. Bentuk kegiatan pada tahap ini adalah program-program khusus yang lebih komprehensif sekaligus melembagakan tata kelola kepemerintahan yang baik salah satunya adalah program penataan lingkungan permukiman berbasis komunitas. PNPM MP melakukan upaya penguatan kemandirian di tingkat pemda yang bertujuan agar pemda mampu secara mandiri mengelola program penanggulangan kemiskinan di wilayahnya. c. Intervensi untuk mampu mewujudkan transformasi sosial dari kondisi masyarakat mandiri menuju masyarakat madani lebih dititikberatkan pada proses penyiapan landasan yang kokoh melalui penciptaan situasi dan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembangnya masyarakat madani. strategi yang akan dilaksanakan adalah. Strategi Tranformasi Sosial Masyarakat PNPM MP 2. Gambra 1. Dengan membangunan kepedulian dan jaringan sumber daya serta mendorong keterlibatan aktif dari para pelaku pembangunan lain.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 17 . Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah kegiatan kemitraan program. PNPM MANDIRI .

PERKOTAAN . Strategi Penguatan Kemandirian Pemda 18 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .Gambar 1.4.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 19 .II KOMPONEN PROGRAM PNPM MANDIRI .

analisis. UPL dan panitia kerja lainnya yang dibentuk secara khusus. sosialisasi. dsb • Memfasilitasi BKM/LKM agar mampu bermitra dengan pemerintah dan pemerintah daerah dalam melaksanakan berbagai program penanggulangan kemiskinan. PENDAMPINGAN UNTUK MASYARAKAT Pendampingan untuk masyarakat diwujudkan dalam bentuk bantuan teknis dan bantuan stimulan dana BLM. Secara rinci jenis kegiatan pendampingan mencakup: • Pertemuan-pertemuan/musyawarah/diskusi. Bantuan Teknis Bantuan teknis ini diwujudkan dalam bentuk penugasan konsultan dan fasilitator beserta dukungan dana operasional untuk mendampingi dan memberdayakan masyarakat agar mampu melaksanakan PNPM MP dan mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan kemiskinan berbasis komunitas di tingkat kelurahan/desa. masyarakat dan pemerintah daerah termasuk pemangku kepentingan daerah sebagai berikut. fasilitasi dan advokasi oleh Tim Konsultan di tingkat kota/kabupaten dan dan tim fasilitator di tingkat masyarakat antara lain untuk: • Membangun BKM/LKM agar mampu mengorganisasikan masyarakat dalam penangulangan kemiskinan. • Mengorganisasikan dan mendukung KSM/Pokja dalam mengajukan proposal kepada BKM/LKM untuk memanfaatkan berbagai sumber daya program dan melaksanakan program yang tercantum dalam PJM Pronangkis. termasuk penyediaan bahan dan media belajar. Secara rinci pendampingan tersebut dilakukan melalui serangkaian kegiatan pelatihan. • Mendukung terbangunnya Forum BKM/LKM. 2. dan sebagainya di tingkat komunitas kelurahan/desa dan kecamatan baik yang bersifat pengambilan keputusan maupun untuk penyebarluasan informasi (sosialisasi).1. termasuk identifikasi calon penerima bantuan. 2. • Pelatihan dan bimbingan.1.Komponen Program PNPM MP pada dasarnya memberikan bantuan kepada dua kelompok sasaran utama. • Memfasilitasi penyusunan PJM Pronangkis di setiap kelurahan/desa dengan proses yang transparan dan partisipatif dan menyelaraskan PJM Pronangkis dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah. UPS.PERKOTAAN . dan meningkatkan kapasitas UPK. 20 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . • Survei swadaya.1.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 21 . • Pemanfaatan dana BLM harus sesuai PJM Pronangkis.• • pembuatan peta tapak dan penulisan laporan. PNPM MANDIRI . di mana masyarakat dapat menyusun usulan kegiatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan. • BLM dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tanggap darurat bencana apabila pada tahun yang berjalan terjadi bencana. lingkungan fisik. 2. Dana BLM ini adalah dana publik yang disalurkan melalui BKM/LKM dan pengelolaannya dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggunggugatkan. Pembelajaran dititikberatkan pada upaya memberi kesempatan masyarakat belajar menangani berbagai persoalan yang ada secara utuh dari pengembangan gagasan. • Penerima manfaat langsung dana BLM adalah warga miskin yang tercantum dalam daftar PS-2. termasuk kontribusi dana BLM dari berbagai sumber pendanaan. Bantuan Dana Ketentuan Umum Dana BLM adalah sebagai berikut: • Dana BLM bersifat stimulan dan sebagai alat belajar. Dana BLM bersifat stimulan untuk memberi peluang kepada masyarakat agar dapat secara nyata belajar melaksanakan dan mengelola kegiatan penanggulangan kemiskinan yang sudah direncanakan dan tercantum dalam PJM Pronangkis. Nilai alokasi dana BLM tiap kelurahan/desa harus diinformasikan secara luas dan terbuka kepada seluruh warga kelurahan/ desa. perencanaan pemecahan persoalan sampai pelaksanaan. melainkan juga kebutuhan yang berkaitan dengan pengembangan modal sosial. Pembelajaran berorientasi tujuan jangka panjang dan menumbuhkan kesadaran kritis bahwa kebutuhan untuk penanggulangan kemiskinan tidak hanya kebutuhan modal dana semata. • Perencanaan. pelaksanaan. misalnya pemerintah kota/kabupaten.1. disusun rencana tahunan (Renta) dan rencana kegiatan lain yang bersifat teknis sesuai kebutuhan masyarakat miskin dan disepakati warga. pengawasan dan evaluasi dana BLM harus terbuka dan dapat dipertanggunggugatkan. serta ekonomi. identifikasi persoalan.2. Kerja kelompok penyusunan program pembangunan untuk kurun waktu 3 tahun dan rencana tahunan dengan rencana investasi tahun pertama penangulangan kemiskinan Pengawasan dan evaluasi pelaksanaan rencana investasi tahunan untuk penanggulangan kemiskinan. Penggunaan dana BLM mengacu pada rencana tersebut yang menganut menu bebas (open menu). • Pengelola dana BLM adalah BKM/LKM. masyarakat ataupun dana-dana lain yang dikelola BKM/LKM. Berdasarkan PJM Pronangkis.

22 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . • BKM/LKM memiliki Anggaran Dasar dan pendiriannya dicatatkan ke Notaris. prosentase kemiskinan dan kemampuan pemerintah kota/kabupaten dalam mengalokasikan Dana Daerah untuk Urusan Bersama (DDUB). pengelolaan resiko bencana. Penetapan lokasi dan alokasi BLM ini ditetapkan oleh TNP2K dan Pokja Pengendali PNPM Mandiri. Prinsip-Prinsip Pencairan dan Pemanfaatan Dana BLM Prinsip Pencairan : • BKM/LKM telah terbentuk secara sah dengan minimum 30% pemilih dewasa di tingkat basis. dsb. dan monitoring pemanfaatan dana BLM harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Tata cara pelaksanaan termasuk penetapan lokasi diatur oleh PMU. dsb. b.• • Proses pengambilan keputusan dalam penyusunan.PERKOTAAN . rencana pengembangan potensi KSM unggulan. laki-laki dan perempuan. • BKM/LKM di lokasi lanjutan telah melaksanakan Rembug Warga Tahunan (RWT). misalnya rencana penataan lingkungan permukiman. pelaksanaan. peningkatan partisipasi perempuan. dana BLM dapat digunakan secara cukup luwes melalui pembelajaran aspek Tridaya3 dan kesepakatan serta kearifan warga sehingga hasilnya dapat memberikan manfaat kepada warga miskin. Prinsip Pemanfaatan : • Usulan kegiatan/program tercantum dalam PJM dan Renta Pronangkis dan atau rencana pemanfaatan dana BLM sesuai kegiatan terkait. a. pengelolaan resiko bencana. terutama masyarakat miskin. • Memiliki kinerja pembukuan sekretariat minimum memadai. BLM yang dialokasikan untuk seluruh lokasi PNPM MP setiap tahun anggaran yang besarannya ditetapkan berdasarkan jumlah penduduk. Dana BLM dibagi ke dalam kategori sebagai berikut: a. Biaya operasional bagi BKM/LKM dialokasikan berdasarkan bagian tertentu sesuai dengan jenis BLM. demikian pula tata cara penggunaan Biaya Operasional bagi LKM/ BKM dan/atau Unit Pengelola (UP) diuraikan dalam pedoman tersebut. 3 Penjelasan lebih lanjut mengenai konsep TRIDAYA dapat dilihat pada lampiran 1. BLM yang dialokasi untuk kegiatan khusus seperti antara lain penangangan kawasan permukiman miskin di perkotaan melalui pendekatan Tridaya pengembangan penghidupan masyarakat. Berdasarkan PJM Pronangkis tersebut. • BKM/LKM memiliki rekening bank dengan minimal 3 spesimen.

c. Hasil audit tahun sebelumnya minimal Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion). Swasta. Kegiatan Skala Kecil. Pengelolaan pendanaan di tingkat masyarakat dari berbagai sumber pendanaan di atas harus mengikuti aturan yang ditetapkan oleh PNPM MP. penyertaan modal. Proposal layak dan diverifikasi oleh fasilitator.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 23 . Panitia bertanggung jawab ke BKM/LKM melalui UPL. yaitu kegiatan pembangunan yang sudah ditemukan/ dikenali pada saat PS (Pemetaan Swadaya). Penggunaan Dana BLM Kegiatan yang layak didanai dana BLM secara garis besar dapat dibedakan atas dua jenis kegiatan sebagai berikut: 1) Kegiatan Skala Besar. yaitu kegiatan yang diusulkan oleh KSM yang secara 2) PNPM MANDIRI . APBD. Sumber Pendanaan Sumber pendanaan untuk PNPM Mandiri Perkotaan dapat berasal dari : a. dengan kata lain diperlakukan seperti BLM. Kegiatan tersebut memiliki skala besar (kawasan. melalui dana : APBN. BUMN. seperti dana sosial atau dana lainnya. Masyarakat. dan lain-lain. Pemerintah. b. melalui dana swadaya. Sumber dana yang berasal dari luar program PNPM MP sejauh tidak diatur secara khusus.• • • • • Terbentuk KSM/Panitia. dialokasikan dalam Renta/rencana teknis lainnya sebagai rencana investasi. maka dana tahap sebelumnya telah dimanfaatkan dan dipertanggungjawabkan secara teknis dan administrasi. c. Kelompok peduli lainnya. dan dapat dilaksanakan oleh Panitia yang dibentuk oleh BKM/ LKM dan dikoordinasi oleh UPL. kelurahan/desa dan/atau antar kelurahan/desa). Jika ada tahapan pencairan dan pemanfaatan dana BLM. b. BUMD. Tidak ada kasus penyalahgunaan dana yang belum diselesaikan Pencairan dan pemanfaatan dana BLM secara rinci diuraikan di pedoman teknis Pendampingan Pencairan Dana BLM. d. maka berlaku aturan PNPM MP. tercantum dalam PJM Pronangkis.

1.Misalnya pembangunan 20 jamban komunal. namun lokasinya belum ditentukan.                     BLM  untuk   Infrastruktur  skala   rumah  tangga  dapat   berbentuk  hibah  atau   pinjaman  sesuai   kesepakatan  warga.   Komponen   • Kegiatan  yang   • Pelatihan  KSM  bagi   Sosial   berorientasi  pada   warga  miskin  yang   penciptaan   tercantum  dalam  PS-­‐2   lapangan  kerja  bagi   untuk  peningkatan   warga  miskin  (PS-­‐2)   keterampilan.   • Seluruh  ketentuan    Komponen   Sebagai  dana  stimulan   dan  diharapkan  dapat   menggerakan   pertisipasi  warga  non   miskin  untuk  turut   membantu  dalam   kegiatan  sosial.  keahlian   dan  organisasi. Sifat investasi kecil dan dilaksanakan oleh KSM yang bersangkutan.   dsb   • Kualitas  konstruksi   harus  memenuhi   standar  PU.  gotong   kriteria  yang   royong. KSM yang membutuhkan dapat mengusulkan pembangunan jamban tersebut.  dipilih  warga  miskin   atau  RW  atau   yang  paling   Dusun.PERKOTAAN menjadi  kegiatan   sifatnya  berkelanjutan   yang  berkelanjutan   seperti  program   peningkatan  gizi  balita.   • Kegiatan  yang   • Kegiatan  sosial  yang   diusulkan  mampu   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .   disepakati.  integritas.indikatif sudah direncanakan dalam PJM Pronangkis.  dst)   membutuhkan   § Menumbuhkan   infrastruktur  dengan   modal  sosial.         . Secara singkat ketentuan penggunaan dana BLM dapat diilustrasikan seperti berikut ini:   Tabel 2.   bersifat  lintas   • Berdasarkan  daftar  PS-­‐ wilayah  (lintas  RT   2.   miskin  (PS-­‐2)       § Diutamakan   Infrastruktur  bagi  Rumah   kegiatan  yang   Tangga  Miskin   mempunyai  skala   • Warga  miskin  yang   kelurahan  dan  atau   terdaftar  dalam  PS-­‐2.           24 Rambu-­‐rambu  untuk   kegiatan  pemanfaatan   Kegiatan   BLM       Infrastruktur  Komunal  bagi   Komponen   § Merupakan     masyarakat  miskin   Lingkungan   investasi       infrastruktur  yang   diidentifikasi   • Prioritas  untuk  wilayah   masyarakat  dalam   dengan  konsentrasi   PJM  Pronangkis   penduduk  miskin  yang   § Kegiatan  yang   tinggi   secara  langsung   • Bersedia  membentuk   memberikan   tim  dan  menyepakati   dampak/manfaat   aturan  bersama   baik  untuk   pengelolaan  dan   kolektif/komunal   pemeliharaan   maupun   • Kualitas  konstruksi   kemanfaatan  untuk   harus  memenuhi   Rumah  Tangga   standar  PU. Ketentuan dan Sifat Penggunaan Dana BLM Sifat  Kemanfaatan   Kegiatan   Status  Pemanfaatan   Dana  BLM   BLM  untuk   Infrastruktur  skala   komunal  merupakan   dana  stimulan  hibah.

  • Kegiatan  dilakukan   Kegiatan  sosial  yang   diusulkan  mampu   Sifat  Kemanfaatan   Status  Pemanfaatan   kegiatan  pemanfaatan   dalam  kelompok  dengan     sifatnya  berkelanjutan   menjadi  kegiatan   Kegiatan   Dana  BLM   BLM     usaha  sejenis     seperti  program   yang  berkelanjutan   kegiatan  sosial  ini   wajib  belajar  gizi  balita.   dan  diharapkan  dapat   warga  miskin  yang   berorientasi   menurut     tercantum  dalam  PS-­‐2   menggerakan   penciptaan   kesepakatan  warga   Rambu-­‐rambu  sosial:   pertisipasi  warga  non   untuk  peningkatan   lapangan  kerja  bagi   dan  tertuang  dPS-­‐2)   • Dana  dan  atau  keahlian   keterampilan.  dll.   Kegiatan  yang   harus  sesuai  pada   kewirausahaan.   dan  organisasi.   dsb   Sifat  Kemanfaatan   Kegiatan   •    Komponen       • Kegiatan   • Komponen   Ekonomi     • Komponen   Ekonomi     • • • kesepakatan  warga.   • Rambu-­‐rambu  untuk   Kualitas  konstruksi   Status  Pemanfaatan   kegiatan  pemanfaatan   harus  memenuhi   Dana  BLM   standar  BLM     PU.   pendapatan  keluarga   Kegiatan  yang   miskin.     peningkatan   9  tahun.   program  penuntasan   sistem  bagi  hasil  s ll.   egiatan   miskin  untuk  turut   warga  miskin  ( alam   kebijakan  LKM   membantu  dalam   harus  berkelanjutan.  integritas.   dalam   menurut     kesepakatan  BKM/LKM   kesepakatan  warga   Rambu-­‐rambu  sosial:   dengan  masyarakat   dan  tertuang  dalam   • Diprioritaskan  bagi   Dana  dan  atau  kegiatan   kebijakan  LKM   harus  berkelanjutan.   peserta  yang  memiliki   • rencana  pengembangan   Kegiatan  dilakukan   dalam  kelompok   usaha  yang  jelas   dengan   usaha  sejenis   • Diprioritaskan  bagi   • kegiatan  yang   Dapat  dikembangkan   sistem  bagi  hasil  sesuai   berkelanjutan  dan   kesepakatan  dampak   memberikan  BKM/LKM   dengan  m ekonomi.       mampu  mendukung     PNPM MANDIRI .   langsung   memiliki  akses  ke   kapasitas   bermanfaat     bagi  peningkatan   sumber  pinjaman   lainnya.  asyarakat    • Diprioritaskan  bagi   Kegiatan  yang   • peserta  yang  memiliki   Usaha  ekonomi   • Sebagai  pinjaman   rencana  pengembangan   diberikan  kepada   produktif  (definisi  di   kepada  KSM  dan   usaha  yang  jelas   warga  miskin  untuk   petunjuk  teknis)   harus  dikembalikan   • Pengembangan  ekonomi   kegiatan  yang   kepada  UPK   • Diprioritaskan  bagi   kegiatan  yang   menghasilkan   • Sebagai   lokal   berkelanjutan  dan  odal   pendapatan  dan   pendampingan   • Pengembangan  m memberikan  dampak   yang  biasanya  tidak   untuk  peningkatan   ekonomi  keluarga.  yang   ekonomi.  dipilih  warga  miskin       yang  paling   membutuhkan   infrastruktur  dengan   kriteria  yang   disepakati.   Kegiatan  yang   Rambu-­‐rambu  untuk   kegiatan  sosial.   yang   Kegiatan   • pendapatan  keluarga   Usaha  ekonomi   • Sebagai  pinjaman   Kegiatan  ykepada   diberikan   ang   produktif   kepada  KSM  dan   miskin.  yang   untuk  peningkatan   Setiap  UPK  wajib   memiliki  akses  ke   kapasitas   membuat  rencana   bermanfaat  langsung   sumber  pinjaman   keuangan   bagi  peningkatan   lainnya.    Komponen   Komponen     Sosial     Kegiatan   mempunyai  skala   kelurahan  dan  atau   bersifat  lintas   wilayah  (lintas  RT   atau  RW  atau   Dusun.  desuai   .  gotong   royong.  dst)   § Menumbuhkan   modal  sosial.   • Dapat  dikembangkan   Seluruh  ketentuan   harus  spelaksanaan   esuai   kewirausahaan.       (definisi  di   mampu  mendukung   warga  miskin  untuk   petunjuk  teknis)   harus  dikembalikan     tumbuhnya   kegiatan  yang   kepada  UPK   •   Pengembangan  ekonomi   ekonomi  dan  usaha   Rambu-­‐rambu  untuk   menghasilkan   • Sebagai   lokal   kecil   pendapatan  dan   kesinambungan  PDB:     pendampingan   • Pengembangan  modal   yang  biasanya  tidak   • ekonomi  keluarga.   • Berdasarkan  daftar  PS-­‐   2.   • Warga  miskin  yang     terdaftar  dalam  PS-­‐2.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 25 tumbuhnya     ekonomi  dan  usaha   Rambu-­‐rambu  untuk   .   kegiatan  sosial  ini   wajib  belajar  9 t agi   Sebagai  dana  stimulan   • Pelatihan  KSM    bahun.

• Dapat  dikembangkan   sistem  bagi  hasil  sesuai   kesepakatan  BKM/LKM   dengan  masyarakat   • Diprioritaskan  bagi   peserta  yang  memiliki   rencana  pengembangan   usaha  yang  jelas   • Diprioritaskan  bagi   kegiatan  yang     berkelanjutan  dan   Rambu-­‐rambu  untuk   memberikan  dampak    Komponen   Sifat  Kemanfaatan   Status  Pemanfaatan   kegiatan   ekonomi.  pemanfaatan   Kegiatan   Kegiatan   Dana  BLM   BLM         wajib  belajar  9  t Komponen   • kegiatan  sosial  ini   Kegiatan  yang   • Usaha  ekonomi  ahun,   • Sebagai  pinjaman     harus  sesuai   kewirausahaan,  dll.   Ekonomi     diberikan  kepada   produktif  (definisi  di   kepada  KSM  dan   menurut   warga  miskin  untuk     petunjuk  teknis)   harus  dikembalikan   kesepakatan  warga   • Pengembangan  ekonomi   Rambu-­‐rambu  sosial:   kegiatan  yang   kepada  UPK   dan  tertuang  dalam   • Dana  dan  atau  kegiatan   • Sebagai   menghasilkan   lokal   kebijakan  LKM   pendapatan  dan   pendampingan   • harus  berkelanjutan.   Pengembangan  modal   yang  biasanya  tidak   • Kegiatan  dilakukan   yang   untuk  peningkatan   ekonomi  keluarga,   memiliki  akses  ke   dalam  kelompok  dengan   kapasitas   bermanfaat  langsung   sumber  pinjaman   usaha  sejenis   bagi  peningkatan   lainnya.   • Dapat  dikembangkan   pendapatan  keluarga   • Kegiatan  yang   sistem  b  agi  hasil  sesuai   miskin.     mampu  mendukung   kesepakatan  BKM/LKM     tumbuhnya   dengan  masyarakat       ekonomi  dan  usaha   Rambu-­‐rambu  untuk   • Diprioritaskan  bagi   kecil   kesinambungan  Pemiliki   peserta  yang  m DB:     Rambu-­‐rambu  untuk   • rencana  pengembangan   Setiap  UPK  wajib    Komponen   Sifat  Kemanfaatan   Status  Pemanfaatan   kegiatan  pemanfaatan   usaha  yang  jencana   membuat  r elas   Kegiatan   Kegiatan   Dana  BLM   BLM     keuangan   • Diprioritaskan    bagi   tahunan.(excel   kegiatan  yang   pintar)     • berkelanjutan  dan   untuk   Bunga  mencukupi   biaya-­‐biaya   dampak   memberikan  UPK,  bunga   minimal   ekonomi.  1,5%   • Pinjaman  awal     maksimum  Rp  1 Komponen   • Kegiatan  yang   • Usaha  ekonomi    juta  per   • Sebagai  pinjaman   anggota  K definisi   Ekonomi     diberikan  kepada   produktif  (SM.     di   kepada  KSM  dan   • petunjuk  teknis)  anggota   Masing-­‐masing   warga  miskin  untuk   harus  dikembalikan   KSM  bisa  meminjam   kegiatan  yang   kepada  UPK   • Pengembangan  ekonomi   maksimal  4x.   menghasilkan   • Sebagai   lokal   • Pinjaman  selanjutnya   pendapatan  dan   pendampingan   • Pengembangan  modal   maksimal  Rp  3  juta.   yang  biasanya  tidak   untuk  peningkatan   ekonomi  keluarga,  yang   • bermanfaat  SM  yang   Tabungan  K langsung   memiliki  akses  ke   kapasitas   dititipkan  di  UPK  tidak   sumber  pinjaman   bagi  peningkatan   dapat  digunakan  untuk   lainnya.   pendapatan  keluarga   perguliran.   • Kegiatan  yang   miskin.         mampu  mendukung   •  Menu  tambahan  bisa   tumbuhnya    diberlakukan  untuk  UPK   yang  memiliki  PAR   ekonomi  dan  usaha   Rambu-­‐rambu  untuk   memuaskan  selama   kecil   kesinambungan  PDB:     • satu  tahun  berturut-­‐ Setiap  UPK  wajib   turut.     rencana   membuat   • Dapat  dikembangkan   keuangan   sistem  bagi  hasil  sesuai   kesepakatan  BKM/LKM   dengan  masyarakat           PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN yang  memiliki  keterkaitan  antara   Kegiatan  TRIDAYA  terpadu  adalah  kegiatan   26 kegiatan  lingkungan,  sosial  dan  ekonomi.  Kegiatan  TRIDAYA  terpadu  tersebut   harus  menjadi  prioritas  dalam  pemanfaatan  dana  BLM.  

Kegiatan TRIDAYA terpadu adalah kegiatan yang memiliki keterkaitan antara kegiatan lingkungan, sosial dan ekonomi. Kegiatan TRIDAYA terpadu tersebut harus menjadi prioritas dalam pemanfaatan dana BLM. Kegiatan TRIDAYA terpadu diharapkan memberikan dampak optimal terhadap penanggulangan kemiskinan. Contohnya kegiatan sosial berupa pelatihan keterampilan yang ditindaklanjuti dengan kegiatan ekonomi produktif dengan mendapatkan pinjaman bergulir; pembangunan fasilitas umum yang ditindaklanjuti dengan kegiatan ekonomi yang memanfaatkan fasilitas tersebut; hasil kegiatan ekonomi yang kemudian bisa dilanjutkan ke kegiatan sosial dan infrastruktur, dan sebagainya. Bagi BKM/LKM yang akan melaksanakan kegiatan ekonomi dalam bentuk Pinjaman Bergulir (PB) harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : a) Untuk kelurahan/desa baru, apabila masyarakat telah menyepakati dan menetapkan sebagian dana BLM dialokasikan untuk kegiatan PB sesuai ketentuan PNPM MP, maka pengelolaannya harus dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan pinjaman bergulir yang berorientasi pada masyarakat miskin. Artinya tidak semata-mata berorientasi pada pemupukan dana, namun juga harus mempertimbangkan aspek pelayanan dan kemanfaatannya bagi masyarakat miskin. Sejalan dengan prioritas pada kegiatan dan kemanfaatan kolektif, maksimum dana BLM yang dapat dialokasikan untuk PB sebesar maksimal 30% lokasi baru dan 20% lokasi lama; dari total pagu BLM. Penyempurnaan tata cara dan kelembagaan dengan membentuk dewan pengawas keuangan yang akan diatur lebih lanjut dalam pedoman teknis; Untuk kelurahan/desa lanjutan, maksimum 20% BLM dapat ditambahkan untuk PB bila kinerja pinjaman bergulir mencapai kriteria memuaskan (pinjaman yang beresiko < 10%), serta bersedia melakukan perbaikan kelembagaan dengan membentuk dewan pengawas keuangan yang akan diatur lebih lanjut dalam pedoman teknis. Lihat Tabel 2.2. Kriteria Kinerja Pinjaman Bergulir; Untuk BKM/LKM dengan kinerja pinjaman bersiko (PAR) memuaskan > 6 bulan berturut-turut, maka dapat mengusulkan penambahan BLM untuk PB > 20% sesuai kebutuhan masyarakat; KSM pinjaman bergulir disyaratkan memiliki kegiatan bersama untuk menggalang tabungan kelompok secara aktif minimal 3 bulan sebelum perguliran pinjaman; Bila kinerja Pinjaman berisiko (PAR) mencapai kriteria di bawah minimum, hanya boleh menggulirkan pinjaman kepada KSM lama yang pembayarannya lancar.

b)

c)

d) e)

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

27

diatur   lebih   lanjut   dalam   pedoman   teknis.   Lihat   Tabel   2.2.   Kriteria   Kinerja   Pinjaman  Bergulir;   c) Untuk   BKM/LKM   dengan   kinerja   pinjaman   bersiko   (PAR)   memuaskan   >   6   bulan   berturut-­‐turut,   maka   dapat   mengusulkan   penambahan   BLM   untuk   PB   >   20%  sesuai  kebutuhan  masyarakat;   d) KSM   pinjaman   bergulir   disyaratkan   memiliki   kegiatan   bersama   untuk   menggalang   tabungan   kelompok   secara   aktif   minimal   3   bulan   sebelum   perguliran  pinjaman;   e) Bila   kinerja   Pinjaman   berisiko   (PAR)   mencapai   kriteria   di   bawah   minimum,   hanya  boleh  menggulirkan  pinjaman  kepada  KSM  lama  yang  pembayarannya   UPK diwajibkan melakukan penagihan terhadap pinjaman bermasalah dan lancar.  UPK  diwajibkan  melakukan  penagihan  terhadap  pinjaman  bermasalah   dan   dapat   menggulirkan   pinjaman   kepada   KSM   baru   apabila   telah   berhasil   dapat menggulirkan pinjaman kepada KSM baru apabila telah berhasil menagih menagih  kembali  60%  dari  jumlah  p bermasalah (tunggakan). kembali 60% dari jumlah pinjamaninjaman  bermasalah  (tunggakan)._.       Tabel  2.2.  Kriteria  Kinerja  Pinjaman  Bergulir     Pinjaman   Beresiko  Portfolio   at  Risk  (PAR)      
Indikator   Penghitungan   Memuaskan   Minimum   Penundaan  

Saldo  pinjaman  menunggak   tunggakan  ≥  3  bulan  /  total   saldo  pinjaman  

<10%  

10%  ≤    PAR  <   20%  

  >20%  

Prinsip dasar capaian kinerja pinjaman bergulir adalah sebagai hasil upaya dan kinerja pengelola maupun kemanfaatan penerima dana bergulir, khususnya masyarakat. Capaian kinerja dana pinjaman bergulir yang disebabkan faktor-faktor penyimpangan nilai-nilai luhur yang melandasi keberadaan PNPM MP adalah tidak dibenarkan sama sekali. d. Larangan Penggunaan BLM PNPM MP melarang dana BLM digunakankan untuk hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan upaya penanggulangan kemiskinan, menimbulkan dampak keresahan sosial dan kerusakan lingkungan, berorientasi pada kepentingan individu atau kelompok tertentu dan bertentangan dengan norma-norma sosial, hukum serta peraturan yang berlaku. Secara umum beberapa kegiatan yang tidak boleh dibiayai dengan dana BLM, adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan yang berkaitan dengan politik praktis (kampanye, demonstrasi, dll); 2) Kegiatan militer atau semi-militer (pembelian senjata dan sejenisnya); 3) Deposito atau yang berkaitan dengan usaha memupuk bunga bank; 4) Kegiatan yang memanfaatkan BLM sebagai jaminan atau agunan atau garansi, baik yang berhubungan dengan lembaga keuangan dan perbankan maupun pihak ketiga lainnya; 5) Pembebasan lahan; 6) Pembangunan rumah ibadah; 7) Pembangunan gedung kantor pemerintah atau kantor LKM; 8) Kegiatan-kegiatan yang berdampak negatif terhadap lingkungan, penduduk asli dan kelestarian budaya lokal dan lain-lain yang dilarang dalam pengamanan / safeguard; dan 9) Kegiatan yang bertentangan dengan hukum, nilai agama, tata susila dan kemanusiaan serta tidak sejalan dengan visi, misi, tujuan dan nilai-nilai universal.

28

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

2.2.

PENDAMPINGAN UNTUK PEMERINTAH DAERAH DAN PEMANGKU KEPENTINGAN

Pendampingan ini diwujudkan dalam bentuk bantuan teknik kepada Pemerintah Kota/ Kabupaten dan para pemangku kepentingan setempat melalui penugasan konsultan (OC/ KMW, korkot/asisten korkot, tenaga ahli, dsb) untuk melaksanakan program ini dan melakukan pengembangan kapasitas bagi Pemerintah Kota/Kabupaten (propinsi/kabupaten-kota) dan pemangku kepentingan setempat sehingga pada saatnya pemerintah daerah dengan dukungan berbagai pihak mampu mengelola program penanggulangan kemiskinan berbasis masyarakat di wilayahnya masing-masing. Dengan kata lain pendampingan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas Pemda dan Pemangku Kepentingan lainnya sebagai mitra masyarakat dalam pelaksanaan PNPM MP dan mensinergikan berbagai kegiatan penanggulangan kemiskinan di tingkat kelurahan/desa dan masyarakat. Secara rinci pendampingan tersebut dilakukan melalui serangkaian kegiatan pelatihan, sosialisasi, fasilitasi dan advokasi oleh Tim Konsultan di tingkat kota/kabupaten antara lain untuk: • Meningkatkan pemahaman para perangkat pemerintah termasuk pimpinan daerah dan para pemangku kepentingan setempat tentang penanggulangan kemiskinan berbasis masyarakat • Mengembangkan dan melembagakan pemandu pelatihan dari unsur pemda melalui TOT khusus Perangkat Pemda serta penguatan kapasitas Komunitas Belajar Perkotaan dan Tim Koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah (TPKP-D). • Meningkatkan kapasitas pemerintah kota/kabupaten untuk bekerja sama dengan BKM dan Forum BKM dan meningkatkan kesetaraan peran perempuan dan laki-laki, termasuk peningkatan kualitas partisipasi perempuan dan laki-laki dalam menyuarakan aspirasi masyarakat, pengambilan keputusan di sektor publik, serta pelaksanaan siklus program PNPM MP (perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi). • Memfasilitasi penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD); • Memfasilitasi penyiapan rencana untuk pelaksanaan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD); • Memfasilitasi Pemkot/Pemkab dan Pemangku Kepentingan agar mampu mendorong kemitraan dan integrasi PJM Pronangkis dengan rencana pembangunan daerah; • Membangun tata kepemerintahan yang baik dengan Pemkot/Pemkab sebagai pelaku kuncinya. • Peningkatan Kapasitas Pengelolaan dan Pengendalian Sistem Informasi Manajemen (SIM) PNPM Mandiri Perkotaan.

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

29

Peningkatan kapasitas SIM berbasis website di tingkat pemkot/kab ini bertujuan agar pemkot/kab dapat mengelola, mengendalikan serta memantau seluruh perkembangan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya secara transparan dan akuntabel. Untuk meningkatkan peran pemkot/kab dalam membangun SIM ini perlu disiapkan sumber daya yang secara khusus menangani SIM oleh pemkot/kab, sebagai tahap awal OC/KMW akan mengawal secara intensif sampai SIM PNPM Mandiri Perkoataan bisa operasional di tingkat pemkot/kab. Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (PPM). Pemkot/kab harus membangun media pengaduan masyarakat untuk menampung berbagai keluhan masyarakat. Tujuannya agar terbangun kontrol sosial warga dalam memonitor seluruh pelaksanaan kegiatan sehingga segala bentuk penyimpangan dapat dikurangi serta diantisipasi lebih dini oleh pemkot/kab dan masyarakat itu sendiri. Pengembangan PPM ini tidak cukup hanya dibangun/dikembangkan di kota/kabupaten, akan tetapi yang lebih strategis adalah mengembangkan PPM sampai ke tingkat masyarakat kelurahan yang dimotori oleh LKM.

Peningkatan kapasitas pemerintah provinsi/kota/kabupaten dan para pemangku kepentingan tersebut diatas pada dasarnya merupakan kegiatan yang berorientasi pada upaya membangun tata kepemerintahan daerah yang baik, khususnya dalam menanggulangi kemiskinan dan mewujudkan pembangunan keberlanjutan yang berbasis nilai-nilai serta prinsip-prinsip universal. Untuk itu bentuk-bentuk bantuan teknik untuk pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan setempat mencakup: • Fasilitasi pertemuan-pertemuan/musyawarah di tingkat daerah, baik yg bersifat reorientasi pemikiran, pendalaman pemahaman (workshop) maupun penyebarluasan informasi (sosialisasi); • Pelatihan dasar, perencanaan partisipatif dan bimbingan, termasuk penyediaan bahan dan media belajar; • Penyediaan media-media sosialisasi; • Kunjungan lapangan baik dalam rangka pendalaman pemahaman maupun penggalian aspirasi masyarakat; • Pengorganisasian monitoring, fasilitasi, supervisi dan evaluasi bersama, dll. Titik berat pelaksanaan bantuan teknis di tingkat Pemerintah Kota/Kabupaten adalah membangun kesadaran kritis perangkat pemda dan kelompok peduli untuk mencapai sinergi antara masyarakat, pemerintah dan kelompok peduli serta reformasi kebijakan, program dan penganggaran yang berorientasi pada masyarakat miskin.

30

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

Dalam pendampingan konsultan kepada Masyarakat, Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan, PNPM MP secara aktif mensosialisasikan pentingnya kesetaraan peran perempuan dan laki-laki, termasuk peningkatan kualitas partisipasi perempuan dan laki-laki dalam menyuarakan aspirasi pembangunan, pengambilan keputusan di sektor publik, serta pelaksanaan siklus program (perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi). Salah satu kegiatan penguatan kualitas partisipasi perempuan di tingkat masyarakat yang dilakukan antara lain melalui: pertemuan khusus perempuan dalam setiap kegiatan siklus kegiatan masyarakat; pelibatan perempuan dalam berbagai kegiatan, misalnya mendukung perempuan sebagai anggota kelompok pinjaman dana bergulir, melakukan pelatihan tentang kesadaran gender bagi masyarakat dan pemda, baik perempuan maupun laki-laki; dsb. Strategi pengarusutamaan gender tersaji pada lampiran 4.

Agar pendampingan kepada Masyarakat, Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan dapat berjalan dengan baik, Tim fasilitator, Tim Korkot dan Tenaga ahli OC/KMW berkewajiban menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsisten pakta integritas pendamping PNPM MP, sebagai berikut : • Pendamping memfasilitasi Masyarakat, Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan agar mampu mengambil keputusan secara rasional dan bertanggungjawab; • Pendamping tidak memberi janji-janji atau iming-iming kepada Masyarakat, Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan, termasuk informasi yang tidak sesuai pedoman dan kebijakan program; • Proses perencanaan, penetapan dan pelaksanaan program penangulangan kemiskinan di tingkat masyarakat harus dilakukan oleh masyarakat sendiri, Pendamping memfasilitasi agar proses kegiatan sesuai dengan nilai, prinsip dan ketentuan PNPM MP; • Pendamping tidak diperkenankan menerima dan/atau meminta uang, komisi, hadiah, atau imbalan apapun dari pemerintah/masyarakat; • Pendamping tidak boleh melakukan potongan dana; • Pendamping bertanggungjawab terhadap penyelesaian persoalan yang ada di wilayah dampingannya, termasuk kemungkinan munculnya penyimpangan dan penyalahgunaan yang terjadi, sebagai konsekuensi logis tanggungjawab pendamping mengawal nilai, prinsip dan ketentuan PNPM MP. • Pendamping berkewajiban menyelesaikan persoalan penyimpangan dana yang terjadi di masyarakat dengan mengutamakan mekanisme penyelesaian oleh masyarakat hingga proses hukum sesuai ketentuan

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

31

32 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN .

III PELAKSANAAN PROGRAM PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 33 .

kemasyarakatan dan pembangunan berkelanjutan. Gambaran umum mengenai tahapan pelaksanaan kegiatan PNPM MP di tingkat masyarakat dapat dilihat pada garis besar siklus kegiatan di halaman berikut ini: 34 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . kepedulian. Pada tahapan awal pelaksanaan program di lokasi baru. Oleh sebab itu. keputusan dan ikhtiar dari masyarakat benarbenar berbasis pada nilai-nilai luhur dan kebutuhan nyata masyarakat.PERKOTAAN . serta pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat melalui KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) dari stimulan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Pemerintah kota/kabupaten. hanyalah sebagai pendamping pembelajaran agar prakarsa. refleksi perkara kritis (RPK). serta kesesuaian dengan kebutuhan nyata masyarakat. Pengorginsasian Masyarakat (BKM/LKM).3. Tahapan pelaksanaan kegiatan ini mencakup serangkaian kegiatan yang berorientasi pada siklus rembug kesiapan masyarakat (RKM). penyusunan rencana program (PJM Pronangkis) dan Rencana Tahunan (Renta). berkewajiban melakukan proses pembelajaran masyarakat agar mereka mampu melakukan tahapan kegiatan PNPM MP di wilayahnya atas dasar kesadaran kritis terhadap alasan mengapa dan untuk apa suatu kegiatan itu harus dilakukan. yakni dengan mendorong masyarakat agar mampu meningkatkan kepedulian dan kesatuan serta solidaritas sosial untuk bahu-membahu dan bersatu-padu menanggulangi kemiskinan di wilayahnya secara mandiri dan berkelanjutan. siklus pelaksanaan program PNPM MP adalah siklus kegiatan yang dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat di kelurahan/desa setempat.1. konsultan dll). Pada tahapan berikutnya. motivasi. dll). Peran pendampingan pihak luar (fasilitator. komitmen. dengan bertumpu pada nilai universal kemanusiaan. PELAKSANAAN DI TATARAN MASYARAKAT Proses pemberdayaan masyarakat dititikberatkan pada memulihkan dan melembagakan kembali modal sosial yang dimiliki masyarakat. para pendamping (fasilitator. korkot. pemetaan swadaya (PS). siklus pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sepenuhnya dan dilembagakan oleh masyarakat sendiri dipimpin oleh BKM/LKM secara bertahap dengan difasilitasi pendamping yang dititik beratkan pada menjaga koridor-koridor kesesuaian dengan nilai luhur seperti antara lain transparansi dan akuntabilitas.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 35 . TKPP & PJOK MEMBANGUN RELAWAN KOTA ANALISA AKEMISKINAN PARTISIPATIF PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH MUSRENBANG KECAMATAN DAN KOTA LOKAKARYA ORIENTASI TK KOTA / KAB PEMBENTUKAN / REVITALISASI / PENGUATAN TKPKD PENGUATAN KELEMBAGAAN PENYUSUSUNAN STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN PENYUSUNAN PROGRAM KEMISKINAN BERORIENTASI PADA MDGs RENSTRA SKPD MEMBANGUN KOMITMEN SIKLUS KOTA DAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KETERANGAN : KEGIATAN INTERVENSI PNPM MANDIRI PERKOTAAN KEGIATAN INTERVENSI PEMDA/REGULER DENGAN INTERVENSI PNPM MANDIRI PERKOTAAN KEGIATAN SIKLUS REGULER PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Secara garis besar.04 .PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM 2 TAHAP PERENCANAAN 3 MEMBANGUN KSM TAHAP PELAKSANAAN 06 . padat dan miskin. akan tetapi yang membedakan adalah tingkat kedalaman dari masing-masing kegiatan siklus serta adanya ke3 4 khusus-an yang terkait dengan program-program khusus seperti program untuk penanggulangan bencana atau program untuk penguatan partisipasi perempuan dan penangtanan kawasan kumuh.1. PEMANTAUAN & EVALUASI Gambar 3. sebagaimana dijelaskan pada5 bab 3.PENGORGANISASIAN MASYARAKAT SIKLUS MASYARAKAT PNPM MANDIRI PERKOTAAN 03 .REFLEKSI PERKARA KRITIS 1 TAHAP PERSIAPAN 01 . “Siklus 2 Pelaksanaan SMD dengan SML pada dasarnya sama sebagaimana gambar diatas. LOBBY KELOMPOK STRATEGIS MEMBANGUN KBP ANALISA AWAL REFLEKSI KEMISKINAN PENILAIAN CAPAIAN MDGs & PEMETANAAN KEMISKINAN MEMBANGUN KBP PELAATIHAN DASAR TKPKD.1 bahwa PNPM MP dilaksanakan sub REVIEW dilokasi PNPM MP-Dasar selanjutnya dinamakan “Siklus Masyarakat tingkat Dasar (SMD)” dan PNPM MP-Lanjutan selanjutnya dinamakan SIKLUS KOTA Masyarakat tingkat Lanjut (SML)”.SOSIALISASI.PEMETAAN SWADAYA 05 . langkah-langkah dan tujuan dari siklus masyarakat untuk Siklus Masyarakat PNPM MANDIRI PERKOTAAN Dasar dan Siklus Masyarakat Lanjutan dijelaskan pada matriks di halaman berikut ini: SIKLUS PENDAMPING TINGKAT KOTA / KABUPATEN PNPM MANDIRI .PELAKSANAAN KEGIATAN. Siklus Tingkat Masyarakat 1 APBD Dalam pelaksanaanya. SOSMAP & RKM 4 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 07.PENCAIRAN DANA 02 .

 yaitu  kemiskinan   dan  miskin.PERKOTAAN .  refleksi   kemiskinan  yg  hrs   bahwa  ada  masalah   kawasan  padat   ditanggulangi  bersama   bersama.  dll   kemiskinan  secara   terorganisasi   • Membangun  niat  bersama   utk  menanggulangi   berbagai  permasalahan   kemiskinan  secara   terorganisasi   4   Pemetaan   • Menghasilkan  relawan  yg   • Menghasilkan  relawan   Swadaya  (PS)   mampu  menganalisis   mampu  memfasilitasi  dan   36 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .     sama   sebagaimana   gambar   diatas. TAHAP  PERSIAPAN     Tujuan   1   Sosialisasi  &   • Mendapatkan  gambaran   • Mendapatkan  gambaran   No   Pemetaan  Siklus   Tahapan   Sosial   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   dinamika  sosial   dinamika  sosial   Dasar   Lanjutan   masyarakat   masyarakat   • Penyebarluasan  informasi   • Penyebarluasan  informasi   ttg  akan  adanya  program   ttg  akan  adanya  program   PNPM  MP  di  kel/desa   tambahan/khusus   tersebut     2   Rembug   • Membangun  komitmen   • Pembaharuan  komitmen   Kesiapan   masyarakat  untuk   masyarakat  untuk   Masyarakat   menerima/menolak   penanggulangan   (RKM)   PNPM  MP  dgn  segala   kemiskinan   konsekwensinya       • Menggalang  relawan   • Menggalang  relawan-­‐ yang  sesuai  kriteria   relawan  khusus  yang   • Menghasilkan  relawan   sesuai  dengan  kebutuhan   yang  mampu   dan  minat   memfasilitasi  &   • Menghasilkan  relawan   mengawal  PNPM  MP   (nilai-­‐nilai)   khusus  yang  mampu   memfasilitasi     B   TAHAP  PERENCANAAN   3   Refleksi  Perkara   • Menghasilkan  relawan   • Menghasilkan  relawan   Kritis  (misalnya   yang  mampu   yang  mampu  memfasilitasi   refleksi   memfasilitasi  Refleksi   berbagai  proses  FGD   kemiskinan  /RK.   akan   tetapi   yang   membedakan   adalah   tingkat   kedalaman   dari   masing-­‐masing   kegiatan   siklus   serta   adanya   ke-­‐khusus-­‐an   yang   terkait   dengan   program-­‐program   khusus   seperti   program   untuk   penanggulangan   bencana   atau   program   untuk   penguatan   partisipasi   perempuan   dan   penangtanan   kawasan  kumuh.  yaitu   gender.  dll     kesadaran  bahwa  ada   kemiskinan  dan   • Menumbuhkan  kesadaran   masalah  bersama.   refleksi  bencana.  padat  dan  miskin.   • Menumbuhkan   refleksi  kemiskinan  &   refleksi   perempuan.   Kemiskinan   seperti  refleksi  bencana.  dsb)   • Menemukan  akar   dan  pembangunan  yg  hrs   ditanggulangi  bersama   penyebab  kemiskinan   • Menemukan  akar   • Membangun  niat   penyebab  kemiskinan.   langkah-­‐langkah   dan   tujuan   dari   siklus   masyarakat   untuk   Siklus   Masyarakat  Dasar  dan  Siklus  Masyarakat  Lanjutan  dijelaskan  pada  matriks  bawah  ini:   Tujuan   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   Dasar   Lanjutan   No     Tahapan  Siklus         A.   menanggulangi   persoalan  bencana.     Secara   garis   besar.   bersama  utk   kesenjangan  gender.

  untuk   lingkungan.   kemiskinan.  lingkungan.  nilai-­‐nilai)   berbuat/menyelesaikan   masyarakat   persoalan   kelurahan/desa   • Menghasilkan  data-­‐data   dan  informasi  lingkungan   • Membangun  motivasi   untuk   (tabel  &  peta-­‐peta   berbuat/menyelesaikan   tematik)   persoalan   • Menghasilkan   pemutakhiran  data  dan     prioritasi  pembangunan   5   Pengorganisasian   • Menghasilkan  kriteria   • Menghasilkan  lembaga   Masyarakat   kepemimpinan  moral   masyarakat  yang   (BKM/LKM)   berkinerja  baik.         Tujuan   No   Tahapan  Siklus   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   Dasar   Lanjutan   masalah  dan  potensi   melaksanakan  Pemetaan   masyarakat   Swadaya  lanjutan   khususnya  potensi   • Membangun  kesadaran   lingkungan  yang  dapat   akan  realita  persoalan   dimanfaatkan  untuk   dan  potensi  (sosial.   orang-­‐orang  baik  dan   • Menghasilkan  unit-­‐unit   tulus   pelaksana  yang  handal   • Terbentuknya  lembaga   sesuai  kebutuhan   kepemimpinan  yang     representatif  dan   mengakar   6   Penyusunan   • Menghasilan   • Menghasilan   Rencana   relawan/BKM/LKM  yang   relawan/BKM/LKM  yang   Program  (Jangka   mampu  melaksanakan   mampu  melaksanakan   Menengah  &   penyusunan  rencana   penyusunan  rencana   Rencana   program   program  yang  lebih   Tahunan)   komprehensif   • Tersusunnya  program   pembangunan  kelurahan   • Tersusunnya  program   jangka  menengah  yang   pembangunan  kelurahan   berorientasi  pada   jangka  menengah  yang   penanggulangan   berorientasi  pada   kemiskinan     penanggulangan   kemiskinan  dan  penataan   PNPM MANDIRI .  kreatif  dan   • Tata  cara  menemukan   inovatif.   nilai-­‐nilai)  masyarakat   kelurahan/desa   • Membangun  kesadaran   akan  realita  persoalan  dan   • Membangun  motivasi   potensi  (sosial.  ekonomi.   penanggulangan   ekonomi.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 37 .

  seluruh  pihak  (masyarakat.   program  secara  berkala   • Melembaganya   dan  mandiri.         No   7   C.   10   Tujuan   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   Dasar   Lanjutan   lingkungan  permukiman   yang  lebih  baik     Pemasaran   • Terlaksananya  pemasaran   • Terlembaganya     Program   sosial  tentang  rencana   pemasaran  sosial  tentang   program  kepada  seluruh   rencana  program  kepada   pihak  (masyarakat.  para  pemangku   kepentingan)     TAHAP  PELAKSANAAN   Pelaksanaan   • Menghasilan  relawan   • Menghasilan  relawan   Kegiatan   melaksanakan   melaksanakan   pengorganisasian  KSM   pengorganisasian  KSM   • Terbentuknya  KSM   • KSM  sebagai  satuan  unit   sebagai  satuan  unit  sosial   sosial  yang  yang   yang  saling  tolong  dalam   berorientasi  pada   mengembangkan  diri   penanggulangan   masing-­‐masing   kemiskinan  dan  penataan   anggotanya   lingkungan  permukiman   yang  lebih  baik     • Terbentuknya  KSM   • KSM  ekonomi  yang  sudah   ekonomi  yang  sudah   memiliki  kegiatan   memiliki  kegiatan  bersama   bersama   dan  kerjasama  dengan   berbagai  pihak   Penerima   • Penerima  manfaat  adalah   • Penerima  manfaat  adalah   Manfaat   warga  miskin  yang  dalam   warga  miskin  yang  dalam   data  Pemetaan  Swadaya  .   8   9   D.   yang  terinci  dalam  lembar   yang  terinci  dalam  lembar   PS  2  terkini  yang  telah   PS  2  terkini  yang  telah   disepakati  warga.   gugat.PERKOTAAN .       pengendalian  sosial.  pemerintah   pemangku  kepentingan)     daerah.   pemerintah  daerah.   • Meningkatnya  kualitas     Tahapan  Siklus   38 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .   • Terbangunnya  kepedulian   • Melembaganya  proses   masyarakat  untuk   pemantauan  dan   memantau  kemajuan   partisipasi  masyarakat.  para   pemerintah.   data  Pemetaan  Swadaya  .   disepakati  warga.       PEMANTAUAN  DAN  EVALUASI   Pemantauan   • Terbangunnya   • Melembaganya   keterbukaan  dan   keterbukaan  dan  tanggung   tanggung  gugat.

  • Diketahuinya  kesesuaian   • Diketahuinya  kesesuaian   dengan  pedoman. Pengorganisasian Masyarakat dan Pembentukan BKM/LKM   3. pencairan di   tataran   masyarakat.   dan   pengelolaan  empat hal tersebut : penting yang harus di perhatikan.   • Diketahuinya  kesesuaian   • Diketahuinya  kesesuaian   dengan  tujuan  program.  baik  persoalan  yang   dihadapi.     Tahapan siklus iklus  masyarakat  dilaksanakan  menerus  melembaga. berikut ini penjelasan mengenai keuangan   masyarakat   merupakan  hal  penting  yang  harus  di  perhatikan.  siklus  masyarkat  secara  rinci  dapat  dilihat  pada   Berkaitan dengan kegiatan khusus.   Berkaitan  dengan  kegiatan  khusus.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 39 . Pedoman Teknis P2G dan Teknis  P4  dan  Pedoman  Teknis  lainnya.   peraturan  dan  nilai-­‐nilai   peraturan  dan  nilai-­‐nilai   setempat.     Kegiatan secara ecara  umum  di  tingkat  masyarakat  untuk  pelaksanaan  siklus  tahun  ke  1.   pencairan   dana   BLM. untuk  menyadarkan  masyarakat  akan  kondisi  yang  dihadapinya.   dengan  tujuan  program.   Pengorganisasian  Masyarakat  dan  Pembentukan  BKM/LKM   a) Pengertian a)   Pengertian     Pengorganisasian masyarakat dalam tautan PNPM MP adalah upaya terstruktur Pengorganisasian   masyarakat   dalam   tautan   PNPM   MP   adalah   upaya   terstruktur   baik untuk menyadarkan masyarakat akan kondisi yang dihadapinya.   hal PJM Pronangkis.   • Dilakukannya  tindak   • Dilakukannya  tindak  lanjut   lanjut  hasil  evaluasi.         No   Tahapan  Siklus   11   Evaluasi   Tujuan   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   Dasar   Lanjutan   dan  kuantitas  partisipasi   masyarakat. masyarakat dilaksanakan menerus agar agar  melembaga. Pedoman Teknis PRB-BM.2. Perihal siklus masyarakat secara rinci dapat dilihat pada buku Pedoman pada tersaji   pada   lampiran   3.1.  Pedoman  Teknis  PMPK.   hasil  evaluasi.3   Kegiatan  s umum di tingkat masyarakat untuk pelaksanaan siklus tahun ke 1. Pedoman Teknis PPMK.1.   Perihal   siklus   masyarakat   secara   rinci   dapat   dilihat   pada  buku  Pedoman  Teknis  Perencanaan  Partisipatif.   setempat.   Tahapan  s       Mengingat di dalam siklus di tataran masyarakat.   Pedoman Teknis lainnya.   Teknis Perencanaan Partisipatif.   dengan  pedoman. penyusunan Mengingat   di   dalam   siklus   dana BLM.   per  tahap  evaluasi. siklus masyarkat secara rinci dapat dilihat pada Pedoman Pedoman  Teknis  PLPBK. 3 dan 4 tersajidan   4  lampiran 3. 2.1. kegiatan pembangunan BKM/LKM.  Pedoman   Teknis PLPBK. dan pengelolaan keuangan masyarakatBKM/LKM.  laki-­‐laki  dan   perempuan.   • Terbangunnya   pengendalian  sosial.   kegiatan   pembangunan   merupakan penyusunan   PJM   Pronangkis.  Pedoman  Teknis  PRB-­‐BM.1.  potensi  dan  peluang  yang  dimiliki.  berikut  ini  penjelasan  mengenai  empat  hal   tersebut  :   3.   • Diketahuinya  kualitas   • Diketahuinya  kualitas   proses  dan  hasil  program   proses  dan  hasil  program   per  tahap  evaluasi.  Oleh  sebab  itu  proses  pengorganisasian   PNPM MANDIRI .

Bukan lembaga yang dibentuk secara otomatis karena perundangundangan atau peraturan pemerintah (baik pusat maupun daerah) sebagai alat kelengkapan lembaga pemerintah. b) Ketentuan Umum BKM/LKM Berangkat dari pemikiran tersebut diatas maka konsep lembaga kepemimpinan yang dipilih adalah berbentuk dewan sehingga tidak ada kekuasaan individu. tetapi dapat juga dengan memampukan atau memfungsikan lembaga masyarakat yang telah ada. Kebutuhan adanya lembaga pimpinan seperti BKM/LKM tidak berarti secara otomatis harus membentuk lembaga baru.persoalan yang dihadapi. sejauh lembaga-lembaga tersebut dapat memenuhi kriteria sbb: a. Oleh sebab itu proses pengorganisasian masyarakat sebenarnya sudah dimulai pada saat RK (Refleksi Kemiskinan) dimana warga berkumpul mengenali dan merumuskan ciri kemiskinan. Pimpinan ini juga harus dijaga untuk tidak jatuh dalam nafsu berkuasa yang bersifat otoriter tetapi tetap menjamin proses demokrasi dalam proses pengambilan keputusan disemua tataran. Lembaga kepemimpinan inilah yang kemudian diharapkan mampu memimpin masyarakat dalam gerakan penangulangan kemiskinan secara terorganisasi. Situasi ini membangun semangat untuk kerja. Untuk memimpin gerakan penanggulangan kemiskinan inilah diperlukan pimpinan yang dapat diterima oleh semua pihak yang tidak parsial. tetapi lembaga yang prakarsa pembentukan maupun pengelolaannya ditentukan oleh masyarakat. b. Berkedudukan sebagai lembaga kepimpinan kolektif dan oleh karenanya juga berperan sebagai representasi warga yang berhimpun dalam suatu himpunan masyarakat warga setempat yang bersifat organisasi anggota 40 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN . Kekuasaan/kewenangan dan legitimasinya bersumber dari warga masyarakat setempat c. potensi dan peluang yang dimiliki. tidak mewakili golongan/kelompok tertentu dan juga tidak mewakili wilayah tertentu jadi persifat impartial. mengapa terjadi kemiskinan di kelurahan/desa mereka dan kemiskinan bukan hanya persoalan kaum miskin sehingga terbangun pemahaman bahwa kemiskinan adalah urusan bersama dan musuh bersama. Jadi pengorganisasian masyarakat dalam PNPM MP ini tidak diartikan sebagai membentuk wadah organisasi tetapi lebih merupakan kesepakatan bersama untuk bersatu sebagai sesama masyarakat warga di suatu kelurahan/desa untuk bersama-sama menangulangi kemiskinan sebagai sebuah gerakan moral.

jabatan dan kriteria-kriteria lain yang tidak langsung terkait dengan nilai-nilai kepribadian manusia merupakan nilai tambahan saja. transparan. militer. tanpa pencalonan. pengalaman. status. e. f. dan inklusif Bekerja secara kolektif. Mampu mempertahankan sifat independen dan otonom terhadap institusi pemerintah. Dibentuk secara partisipatif. i. jujur. Faktor pendidikan. usaha dan keluarga. dsb. rahasia. PNPM MANDIRI . demokratis dan partisipatif.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 41 . h. dapat dipercaya masyarakat. atau bertumpu pada anggota.d. seperti antara lain. artinya keputusan tertinggi ada di tangan anggota Melakukan proses pengambilan keputusan secara kolektif. berfungsi dan berakar di seluruh lapisan masyarakat setempat (inklusif dan imparsial). politik. demokratis. demokratis dan akuntabel. Kriteria keanggotaan BKM/LKM pada dasarnya merupakan perwujudan dari nilai-nilai kemanusiaan. agama. g. keterampilan. Diterima. partisipatif. dan tanpa kampanye maupun rekayasa dari siapapun. tertulis. ikhlas. adil. Mekanisme pemilihan anggota BKM/LKM melalui proses pemilihan secara langsung oleh warga masyarakat. j.

  keterampilan.   perlunya  dibentuk   lembaga  baru   sebagai  BKM/LKM   2   Siapa  yg  berhak   Semua   penduduk   dewasa   melalui   proses   refleksi   menentukan   kepemimpinan  untuk  kemudian  menetapkan  kriteria  yang   kriteria  anggota   didasarkan  pada  nilai-­‐nilai  luhur  hakiki   BKM/LKM   3   Berapa  jumlah   9  s/d  13  orang  dan  harus  ganjil   anggota  BKM/LKM   4   Siapa  yang  berhak   Semua   penduduk   dewasa   yg   memenuhi   kriteria   yang   dipilih   disepakati   5   Siapa  yang  berhak   Semua  penduduk  dewasa. misi. Mengorganisasi masyarakat untuk bersama-sama merumuskan visi.  militer.   dukuh/dusun.PERKOTAAN .   jabatan   dan   kriteria-­‐kriteria   lain   yang   tidak   langsung   terkait   dengan   nilai-­‐nilai   kepribadian   manusia  merupakan  nilai  tambahan  saja.  bukan  perwakilan  keluarga  (KK)   memilih   6   Bagaimana  cara   § Karena  kriterianya  nilai  maka  pemilihan  didasarkan  pada   pemilihannya   rekam  jejak   § Oleh  sebab  itu  pemilihan  secara  berjenjang   § Pemilihan   utusan   dimulai   dari   komunitas   basis   (RT. Mampu   mempertahankan   sifat   independen   dan   otonom   terhadap   institusi   pemerintah.     j.   dsb). dan rencana program peningkatan kesejahteraan masyarakat tahunan.  transparan. Bekerja  secara  kolektif.  demokratis.  demokratis  dan  akuntabel.  partisipatif.  dan  inklusif   i.   Faktor   pendidikan. 42 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .     h.  politik.  usaha  dan  keluarga. rencana strategis.   dsb.   c)   Pemilihan Anggota BKM/LKM c)   Pemilihan  Anggota  BKM/LKM       Pokok-­‐pokok   Uraian  Ketentuan   BKM/LKM   1   Siapa  yang  berhak   Musyawarah   warga   estela   melalui   proses   refleksi   menentukan   kelembagaan  yang  ada.     ikhlas.  dsb     d)   Tugas  Pokok  BKM/LKM   d) • Tugas Pokok BKM/LKM • Merumuskan dan menetapkan kebijakan serta aturan main (termasuk sanksi) secara demokratis dan partisipatif mengenai hal-hal yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat warga kelurahan/desa setempat termasuk penggunaan Dana BLM. Dibentuk  secara  partisipatif.  agama.   pengalaman.   status.   dimana   rekam   jejak   tiap   pelaku   dikenali   § Tanpa  pencalonan   § Tanpa  kampanye   § Pemilihan  tertutup  (Secret  Ballot)   § Utusan  yang  terpilih  di  tingkat  RT  kemudian  dipilih  ulang   untuk  menetapkan  utusan  tingkat  RW  (bila  jml  RT  terlalu   banyak)   atau   langsung   dipilih   di   tingkat   kelurahan/desa   (bila  jml  RT  kecil)   § Tidak   ada   perwakilan   karena   anggota   BKM/LKM   dipilih   sebagai   representasi   nilai   bukan   wakil   golongan/kelompok/wilayah.

khususnya masyarakat miskin laki-laki dan perempuan di wilayahnya. Mengawal penerapan nilai-nilai hakiki. dikoordinasikan dan diintegrasikan dengan program serta kebijakan pemerintah kelurahan/desa. PNPM MANDIRI .• • • • • • • • • • • • Memonitor. dan pelaksanaan program yang dilakukan oleh unit-unit Satuan Pelaksana (Satlak) berbagai program sektoral. kecamatan dan Kota/Kabupaten. untuk dapat dikomunikasikan. mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan keputusan-keputusan yang telah diambil BKM/LKM termasuk penggunaan dana-dana bantuan program pemberdayaan yang diterima. Memonitor. sirkulasi laporan kegiatan dan keuangan bulanan/triwulanan serta rapat-rapat terbuka. pemetaan swadaya atau penilaian kebutuhan. keputusan. pengambilan keputusan. Mengkoordinasi pengelolaan program-program yang diterima masyarakat. melalui proses pengambilan keputusan serta hasil keputusan yang adil dan demokratis. melalui berbagai media seperti papan pengumuman. Membangun tranparansi masyarakat khususnya dan pihak luar pada umumnya. dalam setiap keputusan maupun pelaksanaan kegiatan pembangunan serta pembangunan lainnya di kelurahan/ desa masing-masing. kegiatan dan keuangan yang di bawah kendali BKM/LKM. mengawasi dan memberi masukan untuk berbagai kebijakan maupun program pemerintah lokal yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat miskin maupun pembangunan di kelurahan/desa nya. Menghidupkan serta menumbuhkembangkan kembali nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat. perencanaan. pelaksanaan. Memfasilitasi aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam perumusan kebutuhan dan usulan program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan wilayah kelurahan/perdesaan setempat.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 43 . Melaksanakan Rembug Warga Tahunan dengan dihadiri masyarakat luas dan memberikan pertanggungjawaban atas segala keputusan dan kebijakan yang diambil BKM/LKM kepada masyarakat. Menjamin dan mendorong peran aktif berbagai unsur masyarakat. pada setiap tahapan dan proses pengambilan keputusan serta pelaksanaan kegiatan pembangunan kelurahan/desa dengan bertumpu pada kondisi budaya masyarakat setempat (kearifan lokal). Mendorong berlangsungnya proses pembangunan partisipatif sejak tahap penggalian ide dan aspirasi. pemeliharaan hingga monitoring dan evaluasi. Membuka akses dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap kebijakan. dsb. Membangun akuntabilitas kepada masyarakat dengan mengauditkan diri melalui auditor independen serta menyebarluaskan hasil auditnya kepada seluruh lapisan masyarakat.

Secara tegas perencanaan partisipatif dalam PNPM MP adalah perpaduan antara perencanaan dari atas yang pada dasarnya merupakan keputusan kaum elit dan perencanaan dari bawah yang lebih mewakili aspirasi masyarakat umum disemua tataran atau sering juga diartikan sebagai perpaduan antara perencanaan makro dan mikro.2.1. PJM Pronangkis harus disusun secara partisipatif oleh TPP (Tim Perencana Partisipatif) yang dibentuk oleh BKM/LKM terdiri dari unsur BKM/LKM. kegiatan pinjaman bergulir yang nantinya menjadi landasan untuk dikembangkan menjadi kredit mikro. atau kegiatan sosial untuk membantu warga yang benar-benar tidak mampu. Perencanaan Partisipatif dan Penyusunan PJM Perencanaan partisipatif dalam PNPM MP ini diartikan sebagai alternatif ketiga dari perencanaan dari atas (top down) dan perencanaan dari bawah (bottom up). meskipun demikian kegiatan sosial ini harus sudah direncanakan keberlanjutannya.PERKOTAAN . 3.Perihal Lembaga Keswadayaan Masyarakat secara rinci dan detail dapat dilihat pada Buku Petunjuk Teknis Kelembagaan Masyarakat. atau kegiatan pembangunan prasarana skala kecil yang dapat diusulkan oleh kelompok masyarakat dan termasuk dalam sektor prasarana yang memang diprioritaskan. 44 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . sedangkan titik temu antara perencanaan masyarakat dgn pemerintah diharapkan terjadi di tingkat kecamatan dimana PJM Pronangkis yang merupakan aspirasi masyarakat bertemu dengan perencanaan makro dari SKPD. PJM dapat terdiri dari investasi pembangunan prasarana yang telah diidentifikasi dari awal survei yang pelaksanaannya dapat dilakukan langsung oleh BKM/LKM dengan membentuk panitia pembangunan. Renta ini juga harus dilakukan secara partisipatif. proses pelaksanaan PJM Pronangkis secara terus menerus disempurnakan untuk mempermudah proses penyelarasan dan pengintegrasian antara perencanaan masyarakat dengan perencanaan reguler pemerintah (perencanaan mikro dan makro). PJM Pronangkis adalah suatu hasil dari proses perencanaan partisipatif dengan perspektif waktu 3 tahun dari suatu program penangulangan kemiskinan di suatu kelurahan/desa. Dalam kerangka keberlanjutan program serta sinergi program antara perencanaan dari bawah (bottom up) dengan perencanaan dari atas (top down). relawan. Di tataran masyarakat maka BKM/LKM akan merepresentasikan titik temu tersebut. warga peduli dan secara interaktif dilakukan konsultasi kepada pemerintah setempat dan masyarakat luas (publik) melalui berbagai media. PJM Pronangkis ini kemudian dijabarkan menjadi Renta (rencana tahunan) yang merupakan rencana investasi tahunan dalam upaya penangulangan kemiskinan suatu kelurahan/desa.

TK.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 45 . MASALAH POTENSI DAN KEBUTUHAN PRIORITAS KEBUTUHAN MASYARAKAT PENYUSUNAN DRAFT DOKUMEN PJM PRONANGKIS OLEH TIM INTI PP PENYUSUNAN DRAFT DOKUMEN PJM PRONANGKIS OLEH TIM INTI PP Sosialisasi Draft PJM oleh Tim PP 3. DLL) Dok./DESA . Untuk itu maka BKM/LKM harus dapat mengelola dana tersebut secara benar.3. Renstra SKPD INTEGRASI DAN KORDINASI PROGRAM TK. Pelatihan sejenis diberikan kepada Panitia-Panitia Pembangunan sebelum mereka melaksanakan kegiatan yang telah disetujui.TK.Alur pelaksanaan PJM Pronangkis secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut : Alur pelaksanaan PJM Pronangkis secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut : MUSRENBANG . transparan dan akuntabel. Pengelolaan Keuangan Masyarakat BKM/LKM sebagai penerima dana BLM harus dapat menunjukkan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya telah digunakan secara benar dan dipertanggungjawabkan secara terbuka dan benar juga. Kebijakan Pemda Dok. KEL. Pembukuan. KECAMATAN ./DESA (Keterpaduan PJM Pronangkis dengan RPJMD Ke) TIM PERENCANAAN PARTISIPATIF SERANGKAIAN KORDINASI DAN KOMUNIKASI DENGAN SKPD 2 TERKAIT DENGAN SWASTA TENTANG SOSIALISASI PEMAHAMAN PERENCANAAN STRATEGIS MASING-MASING SKPD DAN SWASTA LOKAKARYA PERENCANAAN PARTSIPATIF KELURAHAN/DESA LOKAKARYA PERENCANAAN PARTSIPATIF KELURAHAN/DESA SERANGKAIAN KORDINASI DAN KOMUNIKASI DENGAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAH. MISI. KELURAHAN TENTANG VISI. RTBL. khususnya dalam masalah administrasi keuangan.1. maka OC/KMW melalui Tim Fasilitator dan Relawan masyarakat akan membantu pihak BKM/LKM dalam memproses penatabukuan BKM/LKM. maka OC/KMW memberikan pelatihan tentang penatabukuan kepada BKM/LKM dan Unit-Unit Pengelola. Dalam rangka mempersiapkan tertib administrasi BKM/LKM. Pada saat pelaksanaan PNPM MP. KOTA/KAB CHANNELING PROGRAM SERANGKAIAN KORDINASI DAN KOMUNIKASI DENGAN PEMKOT/ KAB TENTANG SOSIALISASI PEMAHAMAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAN RENCANA MAKRO PEMKOT/KAB (RTRW. RPJP-D. PNPM MANDIRI . Pemetaan Swadaya Dok. Dengan demikian maka semua transaksi keuangan harus dicatat dengan benar agar dapat disusun suatu Laporan Keuangan Bulanan (Untuk dana BOP bila diperlukan dapat dilakukan pencatatan khusus/terpisah dalam buku BOP). KEL. merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk menunjukkan kinerja pengelolaan keuangan BKM/LKM.TK.

laporan tersebut juga dapat dipakai sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada UPK/BKM/LKM yang telah memberikan pinjaman kepada KSM. KSM-KSM dan Para Pihak terkait dalam memproses penatabukuan sehingga siap diaudit. Penatabukuan ini akan dijadikan bahan pelaporan kepada anggota BKM/LKM pada pertemuan bulanan. Tiap kelompok (KSM) wajib membukukan kegiatannya maupun keuangannya dengan cara yang cukup sederhana yang akan di siapkan oleh OC/KMW.PERKOTAAN . sekaligus menjadi alat pantau secara dini terhadap kedisiplinan pengembalian pinjaman anggota. Disamping itu. Perihal pengelolaan keuangan masyarakat secara rinci dan detail dapat dilihat pada Buku Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan. OC/KMW melalui koordinator kota dan stafnya juga akan membantu Panitia-Panitia Pembangunan.sehingga sesudah akhir tahun buku pihak BKM/LKM sudah siap dalam menerima audit yang akan dilakukan oleh akuntan independen. Tim Fasilitator beserta Relawan masyarakat membantu proses pembukuan ini dalam kapasitas sebagai pendamping. Dengan kata lain. fasilitator beserta Relawan masyarakat harus membantu KSM yang didampinginya agar pengurus KSM tersebut pada masa berikutnya mampu mengerjakannya secara mandiri. 46 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

PELAKSANAAN DI TATARAN PEMERINTAH KOTA/KABUPATEN Siklus pendampingan tingkat kota . pengarusutamaan penanggulangan kemiskinan dalam RPJMD dan program-program SKPD dan didukung oleh anggaran untuk pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan. sehingga penguatan metodologi yang didorong oleh program menjadi bagian dari siklus perencanaan regular untuk tahun-tahun selanjutnya.PEMETAAN KEMISKINAN 5 4 REVIEW APBD RKPD PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PELATIHAN DASAR TKPKD. penyusunan strategi penanggulangan kemiskinan. TKPP & PJOK MEMBANGUN RELAWAN KOTA ANALISA KEMISKINAN PARTISIPATIF SIKLUS KOTA MUSRENBANG KECAMATAN DAN KOTA PENYUSUNAN PROGRAM KEMISKINAN BERORIENTASI PADA MDGs RENSTRA SKPD LOKAKARYA ORIENTASI TK KOTA / KAB PEMBENTUKAN / REVITALISASI / PENGUATAN TKPKD PENGUATAN KELEMBAGAAN PENYUSUNAN STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN MEMBANGUN KOMITMEN SIKLUS KOTA DAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KETERANGAN : KEGIATAN INTERVENSI PNPM MANDIRI PERKOTAAN KEGIATAN INTERVENSI PEMDA/REGULER DENGAN INTERVENSI PNPM MANDIRI PERKOTAAN KEGIATAN SIKLUS REGULER PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Pelaksanaan pendampingan siklus disesuaikan dengan waktu pelaksanaan perencanaan dan penganggaran regular. Jika metodologi yang sudah diperkenalkan ini dilakukan secara menerus oleh Pemerintah kota/kabupaten.2. Rangkaian kegiatan siklus Kota terutama ditujukan sebagai pengarusutamaan penanggulangan kemiskinan mulai dari identifikasi persoalan kemiskinan.3.PENILAIAN CAPAIAN MDGs .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 47 . perbaikan data-data warga miskin. diharapkan dapat terus berlanjut dalam sebuah siklus yang terus berulang dan dimasukkan menjadi bagian dari mekanisme perencanaan pembangunan daerah. Tahapan Siklus Pendampingan Tingkat Kota/Kabupaten LOBBY KELOMPOK STRATEGIS MEMBANGUN KBP 1 2 3 .2. langkah-langkah dan tujuan dari siklus kota dijelaskan pada matriks bawah ini : PNPM MANDIRI . Rangkaian kegiatan tersebut. Secara garis besar. maka keberlanjutan penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi keniscayaan. merupakan rangkaian kegiatan intervensi PNPM MP yang ditujukan untuk memperkuat proses perencanaan pembangunan daerah yang berpihak pada masyarakat miskin.ANALISA AWAL REFLEKSI KEMISKINAN . Gambar 3.

PERKOTAAN tingkat  Kota/Kabupaten   kemiskinan   dan   capaian   MDGs   di   tingkat   kota/kabupaten.   kota/kab   .                     Tahapan  Siklus   Tujuan  Utama   Membangun  Komitmen   Silaturahmi   dan   Lobby   • Memperkenalkan  gambaran  umum  program   kepada  kelompok  strategis       kepada   Pemda   dan   pemangku   kepentingan   tingkat  kabupaten/kota   • Pemda   dan   seluruh   pemangku   kepentingan   mendukung  penuh  terhadap  program   2   Pelatihan  untuk  Pemda   • Merubah   paradigma   para   pelaku   mengenai   dan  Pemangku   pendekatan   pembangunan   partisipatif   Kepentingan  di  tingkat   berbasis   pemberdayaan   masyarakat.     No   A   1   .  program  dan  anggaran  pro  poor.   • Mendorong   pemerintah   berperan   aktif   dalam   kegiatan   penanggulangan   kemiskinan   dan   berkomitmen   mengalokasikan   dana   penanggulangan   kemiskinan   secara   terus   menerus   B   Penguatan  Kelembagaan   1   Pembentukan/Revitalisasi   • Mendorong   terbentuknya/revitalisasi   TKPKD   TKPKD   sesuai   Peraturan   Menteri   Dalam   Negeri   no   42   tahun   2010   tentang   Tim   Koordinasi   Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah.   • Mendorong   TKPKD   menjalankan   peran   dan   fungsi   sesuai   dengan   perundang  –  undangan   dan  memiliki  program  kerja  sehingga  TKPKD   mampu  menjadi  motor  penggerak  kebijakan   –  kebijakan.       2   Membangun  Relawan   • Mengajak   orang-­‐orang   peduli   untuk   terlibat   Kota/Kabupaten   dalam   kegiatan   penanggulangan   kemiskinan   dan   menjadi   pelopor   perubahan   di   tingkat   kota/kabupaten   3   Membangun  Komunitas   • KBP   dapat   mempengaruhi   kebijakan-­‐ No   Belajar  Perkotaan   Tahapan  Siklus   Tujuan  Utama   kebijakan     dan   tindakan   –   tindakan     yang   A   Membangun  Komitmen   dilahirkan   oleh   lembaga   /   organisasinya   masing-­‐masing   C   Siklus  Kota  :  Perencanaan  dan  Penganggaran  Pro  Poor   Analisa  Awal  Kemiskinan   • Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan   48 1   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .     3   Lokakarya  Orientasi  dan   • Memperkenalkan   program   yang   dilakukan   Sosialisasi  tingkat   pada   awal   program   kepada   para   pemangku   kota/kab   kepentingan.penyebab  kemiskinan   • Pemda   dapat   melakukan   pelatihan   secara   mandiri  dapat  bekerjasama  dengan  lembaga   pelatihan   dari   luar   atau   diklat   yang   mereka   miliki.

    • Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan   tingkat  Kota/Kabupaten   • kemiskinan   dan   capaian   MDGs   di   tingkat   Membangun   kesadaran   pelaku   kota/kabupaten.     pembangunan   di   kota/kabupaten   untuk   menjadi   bagian   dari   pemecahan   masalah   • Membangun   kesadaran   pelaku   kemiskinan   dengan   berpartisipasi   aktif   pembangunan   di   kota/kabupaten   untuk   dalam   bagian   dari   pemecahan   masalah   menjadi  upaya   –   upaya   penanggulangan   kemiskinan.   kemiskinan     dengan   berpartisipasi   aktif     dalam   upaya   –   upaya   penanggulangan   • kemiskinan.     penyusunan  Dokumen   melaksanakan   • Menghasilan  relawan  kota  yg  mampu   melaksanakan  penyusunan  Dokumen   PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 49 .     • Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan   • kemiskinan   dan   capaian   MDGs   di   tingkat   Membangun   kesadaran   pelaku   kota/kabupaten.     (pemerintah   dan   masyarakat   peduli)   mengenai     permasalahan   dan   akar   masalah   • Membangun   kesadaran   pelaku   kemiskinan.     pembangunan   akan   pentingnya   pengumpulan   penggunaan   • Membangun   dan   kesadaran   data   yang   pelaku   sama  untuk  penanggulangan  kemiskinan   pembangunan   akan   pentingnya   • pengumpulan  kesadaran   kritis   para   pelaku   Membangun   dan   penggunaan   data   yang   sama  untuk  penanggulangan  kota/kabupaten   pembangunan   di   tingkat   kemiskinan   (pemerintah   dan   masyarakat   pelaku   • Membangun   kesadaran   kritis   para   peduli)   mengenai     permasalahan   dan   akar   masalah   pembangunan   di   tingkat   kota/kabupaten   kemiskinan.     Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan     kemiskinan   dan   capaian   MDGs   di   tingkat   kota/kabupaten.   kemiskinan     dengan   berpartisipasi   aktif   dalam   upaya   –   upaya   yg  mampu   • Menghasilan  relawan  kota   penanggulangan   kemiskinan.     pembangunan   akan   pentingnya   pengumpulan   penggunaan   • Membangun   dan   kesadaran   data   yang   pelaku   sama  untuk  penanggulangan  kemiskinan   pembangunan   akan   pentingnya   pengumpulan  kesadaran   kritis   para   pelaku   dan   penggunaan   data   yang   • Membangun   sama  untuk  penanggulangan  kota/kabupaten   pembangunan   di   tingkat   kemiskinan   (pemerintah   dan   masyarakat   pelaku   • Membangun   kesadaran   kritis   para   peduli)   mengenai     permasalahan   dan   akar   masalah   pembangunan   di   tingkat   kota/kabupaten   kemiskinan.     pembangunan   di   kota/kabupaten   untuk   2   2   Analisa  kemiskinan   Partisipatif   Analisa  kemiskinan   Partisipatif   3   3   Penyusunan  Strategi   Penanggulangan   Penyusunan  Strategi   Penanggulangan   menjadi   bagian   dari   pemecahan   masalah   • Membangun   kesadaran   pelaku   kemiskinan   dengan   berpartisipasi   aktif   pembangunan   di   kota/kabupaten   untuk   dalam   bagian   dari   pemecahan   masalah   menjadi  upaya   –   upaya   penanggulangan   kemiskinan.     (pemerintah   dan   masyarakat   peduli)   • mengenai     permasalahan   dan   akar   masalah   Membangun   kesadaran   pelaku   kemiskinan.                 No   A   No   A   C   1   C   1   Tahapan  Siklus   Tujuan  Utama   Membangun  Komitmen   Tahapan  Siklus   Tujuan  Utama   masing-­‐masing   Membangun  Komitmen   Siklus  Kota  :  Perencanaan  dan  Penganggaran  Pro  Poor   Analisa  Awal  Kemiskinan   • masing-­‐masing   Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan   tingkat   ota  :  Perencanaan   Siklus  KKota/Kabupaten   dan  kemiskinan   dan  ro  Poor   MDGs   di   tingkat   Penganggaran  P capaian   Analisa  Awal  Kemiskinan   kota/kabupaten.

    para  pemangku   Memberikan  laporan  kepada   Review  Partisipatif   kepentingan   l an  masyarakat  t ara  pemangku   5   • Memberikan  daporan  kepada  pentang  hasil     yang  dicapai   ari  sebuah  kebijakan/program   kepentingan  dan  masyarakat  tentang  hasil     • yang  dicapai  dari  sebuah  kebijakan/program   Melihat  pencapaian   (output/outcome/impact)  program  mampu   • Melihat  pencapaian   mengatasi  masalah  pembangunan  yang  ingin   (output/outcome/impact)  program  mampu   dipecahkan   mengatasi  masalah  pembangunan  yang  ingin   • dipecahkan   Menilai  efisiensi  dari  keluaran  dan  hasil   dibandingkan  masukan/input   • Menilai  efisiensi  dari  keluaran  dan  hasil   • dibandingkan  masukan/input  an  dampak   Menilai  efektifitas  dari  hasil  d terhadap  sasaran  program  sdan   • Menilai  efektifitas  dari  hasil  erta  dampak   • terhadap  sasaran  dampak)  serta  uatu   Menilai  manfaat  (program   dari  s program.     Review  Partisipatif   5   • Pronangkis  Kelurahan/desa.                          3.   Perihal  siklus  tingkat  kota  secara  rinci  dan  detail  dapat  dilihat  pada  Buku  Pedoman   Perihal siklus tingkat kota Pendampingan  tingkat  dapat dilihat pada Buku Pedoman Teknis   secara rinci dan detail Kota.  Indikator  Keberhasilan     3.  berorientasi   penanggulangan  PKD  ke  dalam  program  dan   termuat  dalam  S kemiskinan  yang  sudah   pada  MDGs   termuat  dalam  ebih  bke  dalam  program  dan   kegiatan  yang  l SPKD   isa  diukur  dan   kegiatan  yang  lebih  bisa  diukur  dan   dilaksanakan     • dilaksanakan  enstra  dan  program  SKPD   Mendorong  r   • Mendorong  renstra  dan  program  SKPD   memuat  isu  –  isu  kemiskinan  dan  MDGs   • memuat  isu  –  rogram  –  program  SMDGs   Mendorong  p isu  kemiskinan  dan  KPD  yang   • Mendorong  program  –  program  SKPD  yang   diusulkan  dalam  musrenbang  kecamatan   diusulkan  dalam  musrenbang  kecamatan   berdasarkan  kepada  kebutuhan  nyata   berdasarkan  kepada  kebutuhan  nyata   masyaarakat  sehingga  tidak  akan  berbeda   masyaarakat  uehingga  tsluan  warga  yang   jauh  dengan   ssulan  –  u idak  akan  berbeda   jauh  dengan  usulan  –  Dsluan  warga  yang   termuat  dalam  RPJM   ues  maupun  PJM   termuat  dalam  RPJM  Des  maupun  PJM   Pronangkis  Kelurahan/desa.3.   Teknis Siklus Kota No   A   No   A   Tahapan  Siklus   Membangun  Komitmen   Tahapan  Siklus   Kemiskinan  Daerah   Membangun  Komitmen   Kemiskinan  Daerah   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .   Perihal  siklus  tingkat  kota  secara  rinci  dan  detail  dapat  dilihat  pada  Buku  Pedoman   Teknis  Pendampingan  tingkat  Kota.  berorientasi   • Menurunkan  pengarusutamaan   sudah   4   Penyusunan  Program   penanggulangan  kemiskinan  yang   pada  MDGs   Kemiskinan.PERKOTAAN .   • Menilai  manfaat  (dampak)  dari  suatu   program.3.  Indikator  Keberhasilan     50 Tujuan  Utama   Tujuan  Utama   Strategi  Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah   • Strategi  Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah   Tersusunnya  Dokumen  Strategi   Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah  yang   • Tersusunnya  Dokumen  Strategi   pro-­‐poor  bugeting  dan  pro-­‐poor  program   Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah  yang   secara  partisipatif   dan  pro-­‐poor  program   pro-­‐poor  bugeting  dan  komprehensif   4   Penyusunan  Program   • secara  partisipatif  dan  komprehensif   Menurunkan  pengarusutamaan   Kemiskinan.

  peningkatan  kondisi   lingkungan  dan  tata   § Tingkat  kepuasan  pemanfaat  terhadap                                                                                                                                                                                                   kepemerintahan   perbaikan  pelayanan  dan  tata   yang  baik   kepemerintahan  setempat  mencapai  80%     Hasil  Antara   Komponen  1:   a. Selain itu Indikator Keberhasilan PNPM Mandiri Perkotaan juga didasarkan pada Project Appraisal Document (PAD).PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 51 Tinggi   Komponen  2:     Komponen  2:     Komponen  2:     .   Indikator  Hasil   Kegunaan  Pemantauan  Hasil   Komponen  1:   Komponen  1:   § Min. konsultan.  15%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Tinggi  dan  20%   untuk  Pemkot/Kab  PNPM MANDIRI Sangat   dengan  IFKD  . Indikator Keberhasilan PNPM MP menjadi rujukan bagi semua pihak dalam menilai capaian dampak maupun hasil program.3. Masyarakat  yang   terorganisasi   dengan   kebutuhan  yang   meningkat  untuk   menyuarakan   pendapatnya         b.  30%  penduduk  dewasa  mengikuti   sosialisasi  perlu  diperbaiki. lembaga donor serta para pihak lainnya. Pemerintah   kota/kab   menyediakan   pelayanan  yang   lebih  baik  untuk   masyarakat   miskin.   § BKM/LKM  terbentuk  di  minimum  90%   kelurahan/desa. masyarakat.   menyediakan  dana  pendukung:  5%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  rendah.3. pemerintah pusat dan daerah. baik Kementerian Pekerjaan Umum sebagai Executing Agency.  80%  Pemerintah  Kota/kab.  di  80%   manfaat  dari   kelurahan/desa.  40%  tingkat  kehadiran  perempuan   diperbaiki     dalam  pertemuan2  perencanaan  dan   § Menetapkan  bilamana  proses   pengambilan  keputusan     pemilihan  BKM/LKM  dan   § Min.     § Min.  10%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Sedang.  90%  dari  kelurahan/desa  telah   menyelesaikan  PJM  Pronangkis  dan  telah  di   ratifikasi  dalam  musyawarah  warga. Tabel  3.1. INDIKATOR KEBERHASILAN Indikator Keberhasilan Program PNPM Mandiri Perkotaan mengacu pada Indikator Keberhasilan PNPM Mandiri sebagaimana ditetapkan dalam Pedoman Umum PNPM Mandiri yang diterbitkan Kantor Menko Kesra.   kelurahan/desa   § Prasarana  lebih  murah  20%  dibandingkan   peserta  program   dengan  yang  dibangun  dengan  pola  tidak   mendapatkan   bertumpu  pada  masyarakat.  40%  tingkat  kehadiran  kaum  miskin  dan   § Menilai  apakah  rancangan   rentan  dalam  pertemuan2  perencanaan  dan   pembentukan  BKM/LKM  dan   pengambilan  keputusan     PJM  Pronangkis  perlu   § Min.   § Min.   pemilihan  BKM/LKM  ditingkat  RT/komunitas   basis.  Indikator  Keberhasilan  PNPM  MP   Tujuan  Akhir   Indikator  Dampak   Kegunaan  dari  Informasi   Dampak   Menetapkan  apakah  PNPM  MP   memberikan  dampak   kesejahteraan  sosial  dan   ekonomi  sesuai  dengan  yang   diharapkan   § Peningkatan  angka  pengeluaran  keluarga   Membantu   atau  perbaikan  akses  ke  pelayanan  ekonomi   masyarakat  miskin   dan  sosial  di  80%  kelurahan/desa  pada   perkotaan  di   tahun  2012.

 90%  dari  kelurahan/desa  telah   menyelesaikan  PJM  Pronangkis  dan  telah  di   ratifikasi  dalam  musyawarah  warga.   ekonomi  sesuai  dengan  yang   peserta  program   § Prasarana  lebih  murah  20%  dibandingkan   diharapkan   mendapatkan   dengan  yang  dibangun  dengan  pola  tidak   manfaat  dari   bertumpu  pada  masyarakat.  di  80%   peningkatan  kondisi   kelurahan/desa.   lingkungan  dan  tata   § Tingkat  kepuasan  pemanfaat  terhadap                                                                                                                                                                                                                                             kepemerintahan   perbaikan  pelayanan  dan  tata   yang  baik   kepemerintahan  setempat  mencapai  80%     Hasil  Antara   Komponen  1:   a.   ekonomi  dan  sosial  yang  diselesaikan  di  80%   kelurahan/desa   § Min  70%  dari  prasarana  yang  dinilai  memiliki   kwalitas  baik   § Min  90%  kelurahan/desa  dengan  program   dana  bergulir  memiliki  pinjaman  beresiko   (LAR)  ≥  3  bulan  <  10%   § Min  90%  kelurahan/desa  dengan  program   dana  bergulir  memiliki  rasio  pendapatan  dan   biaya  >  125%   § Min  90%  kelurahan/desa  dengan  program   dana  bergulir  dengan  tingkat  pengembalian   modal  tahunan  >  10%   § Min  30%  anggota  KSM  adalah  perempuan       Kegunaan  Pemantauan  Hasil   Komponen  1:   § Menilai  apakah  rancangan   pembentukan  BKM/LKM  dan   PJM  Pronangkis  perlu   diperbaiki     § Menetapkan  bilamana  proses   pemilihan  BKM/LKM  dan   sosialisasi  perlu  diperbaiki.  40%  tingkat  kehadiran  perempuan   dalam  pertemuan2  perencanaan  dan   pengambilan  keputusan     § Min.   52 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .   Komponen  2:     BKM/LKM   menyediakan   pelayanan  yang   lebih  baik  utk   masyarakat  miskin   Komponen  2:     Menentukan  apakah   dibutuhkan  tambahan  bantuan   teknik  di  bidang  tertentu.Membantu   § Peningkatan  angka  pengeluaran  keluarga   Menetapkan  apakah  PNPM  MP   masyarakat  miskin   atau  perbaikan  akses  ke  pelayanan  ekonomi   memberikan  dampak   perkotaan  di   dan  sosial  di  80%  kelurahan/desa  pada   kesejahteraan  sosial  dan   kelurahan/desa   tahun  2012.       Komponen  3:   Komponen  3:   § 90%  OC/KMW  menyediakan  data  secara   Konsultan   akurat  dan  tepat  waktu  melalui  SIM   menyediakan   bantuan  teknik  dan   § 70%  BKM/LKM  telah  menyelesaikan  audit   keuangan  tahunan     dukungan  dalam   pelaksanaan  proyek     Komponen  3:   § Menilai  apakah  bantuan   teknik  dan  dukungan   pelaksanaan  perlu   diperbaiki/ditingkatkan   § Menyediakan  data  yang   akurat  tepat  waktu  untuk   pengambilan  keputusan  di   tingkat  manajemen.  10%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Sedang.   § Min.                      Adapun  rincian  target  capaian  dari  masing-­‐masing  indikator  terdapat  pada  Lampiran  3. Pemerintah   kota/kab   menyediakan   pelayanan  yang   lebih  baik  untuk   masyarakat   miskin.   § BKM/LKM  terbentuk  di  minimum  90%   kelurahan/desa.     § Min.PERKOTAAN .  30%  penduduk  dewasa  mengikuti   pemilihan  BKM/LKM  ditingkat  RT/komunitas   basis.   menyediakan  dana  pendukung:  5%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  rendah.   Indikator  Hasil   Komponen  1:   § Min.  80%  Pemerintah  Kota/kab. Masyarakat  yang   terorganisasi   dengan   kebutuhan  yang   meningkat  untuk   menyuarakan   pendapatnya         b.  15%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Tinggi  dan  20%   untuk  Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Sangat   Tinggi   Komponen  2:     § Jumlah  dari  setiap  kegiatan  prasarana.  40%  tingkat  kehadiran  kaum  miskin  dan   rentan  dalam  pertemuan2  perencanaan  dan   pengambilan  keputusan     § Min.

• Laporan triwulanan kepada Forum Relawan b) Akuntabilitas Selain wajib menerapkan prinsip transparansi dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan kegiatan serta keuangan. informasi kegiatan pembangunan. PJM dan Renta Pronangkis. KSM dgn anggota KSM yang memperoleh pinjaman beserta besarnya pinjaman dan perkembangan angsuran. perangkat pemerintah. serta informasi-informasi lain terkait dengan penangulangan kemiskinan di kelurahan/ desa tsb.4. dengan muatan/isi yang bervariasi sesuai perkembangan dll. Jenis papan informasi yang diperlukan adalah papan informasi kegiatan program. juga wajib dilaksanakan berdasarkan prinsip PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 53 . kegiatan sosial. perkembangan organisasi dan kegiatan BKM/LKM/UP-UP.1. Oleh sebab itu BKM/LKM wajib menyebarluaskan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan. RENCANA TINDAK TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK DAN PENGAMANAN 3.4. Artinya tidak berubah masih tetap mempertahankan nilai-nilai yang menyebabkan mereka dipilih dan tidak menyimpangkan kepercayaan yang diberikan kepada mereka.3. • Penyebarluasan melalui surat kepada KSM-KSM dan masyarakat • Pembuatan dan penyebarluasan media warga. • Pertemuan-pertemuan rutin dengan KSM. dll • Melakukan audit tahunan BKM/LKM dan hasilnya disebar luaskan ke masyarakat melalui rapat tahunan pertanggung jawaban BKM/LKM (lihat akuntabilitas) • BKM/LKM. yang dalam hal ini adalah BKM/LKM untuk menunjukkan kepada warga bahwa anggota BKM/LKM masih tetap seperti saat dipilih. yang berisi informasi BKM/LKM dan informasi KSM. unsur masyarakat dan atau pemantau independen yang dapat dilakukan setiap saat serta audit independen yang dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun. Penerapan Di Tataran Kelurahan/Masyarakat a) Transparansi Pada dasarnya transparansi ini merupakan kewajiban yang dipercaya. laporan keuangan. UP-UP serta pelaku PNPM MP di tingkat kelurahan/desa harus bersifat terbuka memberikan informasi dan data-data yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pemeriksaan oleh OC/KMW. minimal di 5 lokasi. dengan cara: • Penempelan melalui papan-papan informasi di tempat-tempat yang strategis. leaflet atau buletin. dengan ukuran dan bentuk yang mudah dilihat dan dibaca oleh semua warga. panitia dan masyarakat.

Maksimal dua minggu setelah pelaksanaan konsultasi publik. bertanya dan atau menggugat pertanggunganjawaban para pengambil keputusan. KSM. Hasil rapat bulanan tersebut disampaikan BKM/LKM kepada KSM. AD/ART. Oleh sebab itu unit pengambilan keputusan seperti BKM/LKM harus melaksanakan proses pengambilan keputusan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. tanpa terkecuali. Pronangkis. masyarakat dan pemerintah kelurahan/desa. misalnya Pedoman PNPM MP. Rapat bertujuan selain membahas berbagai masalah dan perkembangan yang ada. Pencairan dana BLM. dsb Untuk tataran masyarakat antara lain dapat dilakukan sebagai berikut : c) Konsultasi Publik Dalam hal BKM/LKM mengambil keputusan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak (misalnya. termasuk ditataran masyarakat. BKM/LKM mengadakan rapat evaluasi keputusan untuk ditetapkan sebagai keputusan yang mengikat atau disempurnakan terlebih dahulu sebelum ditetapkan.akuntabilitas. Peta Kemiskinan. juga membahas rencana BKM/LKM untuk bulan berikutnya. dan Forum Relawan (sbg unsure masyarakat) untuk menyampaikan perkembangan kegiatan.PERKOTAAN . Keppres. KSM penerima manfaat dll). e) Rapat Bulanan Anggota BKM/LKM Anggota BKM/LKM berkewajiban menyelenggarakan pertemuaan rutin anggota-angota BKM/LKM sekurang-kurangnya satu bulan sekali. membahas permasalahan serta merencanakan kegiatan triwulan berikutnya. 54 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . d) Rapat Koordinasi Triwulan BKM/LKM dengan Masyarakat Anggota-anggota BKM/LKM wajib mengadakan pertemuan koordinasi triwulanan atau sesuai ketentuan AD/ART dengan mengundang seluruh gugus tugas (UP-UP). Akuntabilitas ini pada dasarnya dapat diterapkan dengan memberikan akses kepada semua pihak yang berkepentingan untuk melakukan audit. berdasarkan masukan masyarakat yang telah diterima. Penerapan prinsip akuntabilitas harus ditaati secara konsisten oleh semua pelaku PNPM MP. maka keputusan yang ditetapkan oleh BKM/LKM harus dikonsultasikan ke masyarakat melalui penyebarluasan dan penempelan keputusan tersebut di tempat-tempat strategis.

keberadaan KBK juga sebagai embrio dan pondasi untuk mendorong keberlanjutan PNPM MP oleh masyarakat secara mandiri. dapat menerima atau menolak pertanggungjawaban anggota BKM/LKM tersebut serta menetapkan untuk memperpanjang atau mengganti anggota BKM/LKM. sehingga kontrol sosial masyarakat tetap terbangun dan BKM/LKM serta UP-UP tetap berorientasi pada perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin maupun pembangunan kelurahan/desa di wilayahnya. pemerintah kelurahan/desa dan kelompok peduli terkait perlu menyelenggarakan rembug para-pihak di tingkat kelurahan/desa yang dilaksanakan untuk mengambil keputusan mengenai program perbaikan pelayanan public (good governance) h) Komunitas Belajar Kelurahan/desa BKM/LKM. Rapat tahunan BKM/LKM tersebut disamping sebagai pertanggung jawaban kegiatan dan keuangan kepada masyarakat (termasuk penyampaian hasil audit) juga dapat sekaligus untuk melakukan penyegaran anggota BKM/LKM. Pada akhirnya. mengkoordinir relawan-relawan setempat. RTW sekaligus mengesahkan hasil-hasil review partisipatif dan mengesahkan rencana program tahun berikutnya. perangkat pemerintah kelurahan/desa dan kelompok peduli setempat. melalui UPS. maka BKM/LKM wajib melakukan audit tahunan termasuk semua unit-unitnya (UP-UP). dalam forum kajian reflektif yang disebut dengan Komunitas Belajar Kelurahan/desa (KBK). Audit ini harus dilakukan oleh auditor PNPM MANDIRI . i) Audit dan Pemeriksaan Dalam rangka pelaksanaan akuntabilitas ini. Masyarakat.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 55 . melalui utusan-utusan yang dipilih langsung dari setiap RT/RW. apabila dibutuhkan dan sesuai dengan AD/ART BKM/LKM. yang terdiri dari orang-orang peduli dan ikhlas. g) Rembug Para-Pihak Terkait di Tingkat Kelurahan/desa BKM/LKM.f) Rapat Tahunan Warga BKM/LKM wajib menyelenggarakan Rapat Tahunan BKM/LKM yang dilaksanakan minimal satu tahun sekali. Fungsi utama KBK adalah turut membantu masyarakat setempat dalam rangka menjaga dan melembagakan penerapan nilai-nilai serta prinsip-prinsip universal.

semua informasi yang berkaitan dengan kegiatan dan keuangan dana bantuan PNPM MP harus dipublikasikan dan disebarluaskan kepada masyarakat luas serta pihak-pihak lainnya secara terbuka melalui papan-papan informasi dan bulletin di tingkat kelurahan/desa. BKM/LKM dengan semua unitnya harus terbuka terhadap berbagai pemeriksaan. Dalam hal ini. langkah-langkah untuk pengungkapan pembayaran konsultan akan diperkuat. daerah dan masyarakat . BGAP akan dimasukkan dalam Pedoman Pelaksanaan. Sebagian besar strategi utama telah memuaskan dilaksanakan. Disamping itu.4. penipuan dan nepotisme. pengambilan keputusan. baik di tingkat proyek. kebijakan. Ringkasan BGAP tersebut tersaji pada lampiran 4. termasuk penyebarluasan catatan pembayaran kepada operator utama proyek. pemerintah maupun masyarakat.PERKOTAAN . PNPM MP juga berupaya mendorong masyarakat luas untuk memahami hak mereka atas segala informasi yang berkaitan dengan pengelolaan 56 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Awalnya BGAP (Better Governance Action Plan) diadopsi di bawah PNPM MP-III. Penerapan Di Tataran Penyelenggara “Rencana Aksi Tata Kepemerintahan yang Lebih Baik “ ini adalah hasil dari upaya kerjasama antara Bank Dunia dan Pemerintah untuk memetakan risiko korupsi dan mengidentifikasi langkah-langkah yang spesifik untuk mengurangi risiko tersebut. a) Penyelenggaraan Transparansi dan Akuntabilitas Transparansi Transparansi dalam pelaksanaan PNPM MP pada dasarnya dapat diterapkan dengan membuka akses kepada semua pihak yang berkepentingan ataupun membutuhkan informasi-informasi mengenai PNPM MP. • Penanggulangan kolusi. dan • sanksi dan penyelesaian. unsur utama dari BGAP meliputi: • Meningkatkan keterbukaan dan transparansi. Di sisi lain. perkembangan kegiatan dan keuangan. Selain itu. dan berbagai media yang dimungkinkan cetakan dan elektronik termasuk situs-web. baik dari manajemen Program.2. konsep. dan diajarkan untuk semua fasilitator dan dipublikasikan di website. akan tetap diadopsi dalam proyek ini.indipenden dan hasilnya disebarluaskan kesemua pihak terkait sesuai ketentuan. • Mekanisme penanganan pengaduan. • Pengawasan oleh masyarakat. 3. serta informasi-informasi lainnya dari para pelaku PNPM MP. Karena BGAP yang diterapkan untuk PNPM MP-III tetap relevan.

antara lain sebagai berikut: Di tataran penyelenggara proyek Untuk menjaga agar transparansi pengelolaan proyek ini dapat selalu dijaga. Transparansi dalam pelaksanaan PNPM MP ini harus dilakukan di semua tataran. antara lain. khususnya penanggung jawab anggaran PNPM MP. maka pemerintah kota/kabupaten.kegiatan serta dana bantuan PNPM MP oleh para pelaku-pelaku PNPM MP. (3) menghindarkan salah informasi dan salah persepsi. seperti antara lain. • PMU/Satker wajib mengembangkan dan mengelola situs jaringan internet (Website) yang dapat dengan mudah diakses oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap proyek PNPM MP dan masyarakat untuk mendapatkan gambaran terkini dari perkembangan PNPM MP. dan • PMU/Satker juga wajib menyelenggarakan audit proyek baik dari segi finansial dan manajemen yang hasilnya dilaporkan ke semua pihak terkait. (2) membangun kesadaran masyarakat untuk melakukan kontrol sosial. harus melakukan hal-hal sebagai berikut : • Secara periodik wajib mendiseminasikan proyek PNPM MP ini secara luas melalui berbagai media masa seperti antara lain. serta (5) agar pelaksanaan PNPM MP dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan. mengenai apa saja yang disediakan proyek ke masyarakat dan Pemerintah kota/ kabupaten serta sejauh mana pencapaian proyek. (4) membangun kepercayaan semua pihak (trust building) terhadap pelaksanaan PNPM MP secara keseluruhan. (1) mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan-penyimpangan melalui proses pengendalian diri dan membudayakan integritas para pelaku untuk selalu akuntabel akan apa yang diamatkan kepada mereka. radio. Di tataran daerah Untuk menjaga transparansi pengelolaan proyek di daerah. radio. televisi daerah dan koran mengenai apa saja yang ditawarkan oleh proyek ke masyarakat dan sejauh mana pencapaian proyek serta penggunaan Dana BLM. televisi dan koran.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 57 . baik dari segi finansial maupun PNPM MANDIRI . • Kepada penanggung jawab Dana BLM harus dilakukan audit menjelang akhir tahun anggaran oleh indipenden auditor. Penerapan transparansi lebih ditekankan kepada para pelaku yang menerima amat untuk melaksanakan PNPM MP secara konsisten dengan maksud. melalui berbagai media masa. prinsip dan nilai PNPM MP. maka di tataran penyelenggara harus dilakukan hal-hal sebagai berikut: • Secara periodik PMU/Satker wajib mendiseminasikan proyek PNPM MP secara luas.

dan Menjamin pelaksanaan pemeriksaan pengelolaan keuangan proyek yang dilakukan oleh BPKP maupun auditor independen kepada pelaku-pelaku PNPM MP di wilayahnya masing-masing. Disamping itu PMU harus memastikan bahwa berbagai informasi yang harus sampai ke masyarakat luas juga disebar luaskan melalui situs jaringan internet (web site) yang secara periodik (tiap bulan) diperbaharui. Audit dilakukan sekali setiap tahun terhadap KSM. 3. serta kantor-kantor bank pemerintah yang ditunjuk sebagai penyalur dana. Dengan demikian harus disusun secara periodik ada kegiatan menyebar luaskan informasi perkembangan PNPM di nasional maupun di daerah baik di koran. a) Audit oleh Instansi Pemerintah untuk Seluruh Pelaku Sebagaimana semua proyek/program pemerintah lainnya. maka PNPM MP juga akan diaudit oleh BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan). melalui jajaran konsultan sampai dengan fasilitator di lapangan. 58 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .5. yang hasilnya dilaporkan ke semua pihak terkait.4. para konsultan pelaksana.1. 3.PERKOTAAN . radio. BKM/LKM/UP. Jenis audit dalam pelaksanaan PNPM MP. Di tataran masyarakat (Lihat Bagian 3. PENYELENGGARAAN AUDIT DAN PEMANTAUAN Selain pantauan partisipatif yang dilakukan sendiri oleh para pelaku di semua tingkatan.1.• manajemen.5. Untuk PMU melalui KMP (Konsultan Manajemen Pusat) mengkonsolidasikan berbagai informasi yang diperlukan. maupun televisi. Artinya bahwa pemerintah (proyek PNPM MP) mempercayakan pelaksanaan audit kepada BPKP. akan dilakukan pula audit dan pemantauan oleh pihak-pihak yang tidak terlibat secara langsung dalam proses pendampingan. PJOK. di atas dalam buku pedoman ini) Akuntabilitas Di tataran proyek dan daerah akuntabilitas ini dapat dibangun dengan meningkatkan tranparansi melalui berbagai media baik media cetak maupun elektronik. Lembaga-lembaga pemeriksa akan mengkoordinasikan kegiatan ini untuk menghindari duplikasi antar mereka.

setiap tahun semua lembaga yang langsung terkait sebagai pelaksana lapangan PNPM MP. BKM/LKM. Audit BPKP terhadap BKM/LKM selama masa proyek PNPM MP lebih dititikberatkan pada aspek substantif. dan keuangan. administrasi pembukuan. dan PNPM MANDIRI . konsultan pelaksana. Ketentuan pokok mengenai audit independen adalah sebagai berikut: 1) BKM/LKM melalui musyawarah anggota menyewa auditor independen untuk melakukan audit di lembaga masing-masing dan pihak mitra kerja masingmasing. UPS dan UPK) difokuskan pada audit administrasi pembukuan dan keuangan. • bersedia mengikuti briefing atau pengarahan dari OC/KMW tentang model kelembagaan “BKM/LKM”. KSM. Sedangkan audit terhadap UP-UP (UPL. baik untuk aspek keuangan maupun untuk aspek manajemen. yang dikelola oleh masing-masing UP. b) Audit Independen untuk Pelaksana Kegiatan PNPM MP Masyarakat perlu menyadari pentingnya penilaian pihak luar untuk membuktikan telah dijalankannya prinsip transparansi dan akuntabilitas. sistem pembukuan PNPM MP. Biaya audit wajib dialokasikan oleh BKM/LKM sendiri sebagai bagian biaya operasional pelaksanaan (BOP). sedangkan bagi KSM dan BKM/LKM/UP. UPS dan UPK) difokuskan pada audit kegiatan. Untuk itu. • bukan warga kelurahan/desa di mana BKM/LKM yang akan diaudit berada. dan Para-pihak terkait harus mengauditkan diri kepada auditor independen. yang dikelola oleh masing-masing UP. BKM/LKM/UP. para konsultan pelaksana. Laporan pemeriksaan BPKP harus selesai pada setiap akhir bulan Maret bagi pengeluaran yang terjadi pada tahun fiskal sebelumnya. Audit oleh auditor independen terhadap BKM/LKM selama masa proyek PNPM MP lebih dititikberatkan pada aspek penyerapan dan penyaluran dana BLM tahap 1 hingga tahap 2. titik berat pemeriksaan adalah pada ada atau tidaknya penyimpangan. lebih pada pendidikan dan pembelajaran masyarakat tentang penatabukuan yang sehat. Sedangkan audit BPKP terhadap UP-UP (UPL. dan bank. 2) Auditor independen harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: • Akuntan Publik yang terdaftar di Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). dan bank yang ditunjuk harus mendokumentasikan catatan-catatan kegiatannya selama tiga tahun dan menyerahkannya kepada auditor independen bila diminta.Bagi instansi pemerintah pelaksana PNPM MP.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 59 .

2. Meskipun demikian.5. 60 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Monitoring Independen oleh Tim Khusus Pemerintah atau perwakilan Bank Dunia dapat membentuk tim khusus di luar yang telah ada untuk melakukan monitoring independen atas pelaksanaan PNPM MP. masyarakat kelurahan/desa yang peduli pada PNPM MP dan memiliki komitmen terhadap penanggulangan kemiskinan dapat membentuk Kelompok pemantau independen PNPM MP atau sejenisnya. Kelompok pemantau independen tetap tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan sanksi ataupun kebijakan terhadap BKM/LKM.3. lulus pengujian yang dilakukan oleh OC/KMW (pengujian hanya dilakukan atas: kesediaan mengikuti pengarahan dan melakukan audit sesuai isi pengarahan. Inisiatif masyarakat untuk mengawasi pelaksanaan PNPM MP harus diakomodasi oleh BKM/ LKM dengan memberikan kemudahan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan mereka. 3. Audit independen harus dilakukan setiap tahun selambat-lambatnya satu bulan setelah tutup tahun buku. atau kepada unit pengaduan masyarakat (UPM) yang ada. dan berijasah minimal S-1 akuntansi). terutama untuk memeriksa apakah proses pelembagaan di masyarakat dan proses pendampingan yang dilakukan instansi pemerintah pelaksana PNPM MP dan para konsultan pelaksana telah dilakukan sebagaimana mestinya. 3. Tim khusus ini dapat dibentuk sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu baik keberadaan maupun jadwal pemeriksaannya kepada para pelaku.PERKOTAAN . Kelompok pemantau independen dapat menyampaikan informasi temuannya kepada rembug-rembug warga kelurahan/desa atau instansi yang berwenang menangani hal tersebut. harus dibangun mekanisme pengendalian sosial (social control). Untuk itu. calon auditor benar-benar bukan warga kelurahan/desa di mana BKM/LKM yang akan diaudit berada. Untuk menyiapkan BKM/LKM (termasuk UP-UP-nya) mengikuti berbagai macam audit tersebut.• cakupan audit (biaya pengarahan ditanggung oleh auditor). penyebarlausan salinan hasil audit kepada masyarakat dan dimasukkan ke dalam laporan tahunan dan laporan pertanggungjawaban BKM/LKM.5. Kelompok Pemantau Independen PNPM MP Disamping audit resmi tersebut. 3) Hasil audit diumumkan oleh BKM/LKM dan para pihak terkait kepada masyarakat baik dengan cara ditempelkan di papan pengumuman.

. konsultan.terutama audit manajemen dan audit pendanaan. 3. a) Penetapan dan penerapan sanksi oleh Pemerintah Pemerintah dapat menetapkan dan menerapkan sanksi dalam bentuk : • Sanksi hukum yang dapat dikenakan pada perangkat pemerintah. terhadap upaya dan/atau penyalahgunaan dana. Pengertian Sanksi adalah pemberlakuan hukuman terhadap pelanggaran ketentuan dan/atau aturan yang telah ditetapkan dalam Pedoman PNPM maupun aturan yang ditetapkan masyarakat. di wilayah kerja masingmasing. b) Penerapan sanksi oleh masyarakat Sanksi yang diterapkan masyarakat dapat bersifat formal. penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok tertentu.6.1. artinya merupakan keputusan/ hasil rembug warga atau bersifat non-formal dalam bentuk sanksi social. serta • Sanksi pembatalan/pencabutan dana. pengurus BKM/LKM/UP dan warga masyarakat. yaitu suatu bentuk sanksi dengan dibatalkan/tidak dialokasikannya dana BLM pada tahap atau tahun berikutnya. 3. Mekanisme penetapan dan penerapan sanksi yang lazim dilakukan melalui : PNPM MANDIRI . OC/KMW perlu terlebih dahulu mengadakan verifikasi manajemen dan pembukuan kepada semua BKM/LKM. Sehingga warga masyarakat miskin yang seharusnya merasakan manfaat program tidak dirugikan dan program dapat berjalan dengan baik serta berkelanjutan. Penetapan dan Penerapan Sanksi Penerapan sanksi merupakan konsekuensi logis dari penegakan prinsip akuntabilitas yang bertujuan untuk menghukum yang salah dan menyebarkan kebajikan dengan menumbuhkan rasa tanggungjawab dari berbagai pihak terkait dalam melaksanakan PNPM MP. SANKSI 3.2. tindak korupsi. Ketentuan mengenai pembatalan dana dimaksud dapat dibaca pada ketentuan umum penggunaan dana BLM. Verifikasi dilakukan oleh tenaga ahli OC/KMW untuk mengecek kesiapan BKM/LKM dalam menerima audit independen.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 61 .6. sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.6. sebagaimana tercantum pada AD/ART BKM/LKM.

• Musyawarah kelompok Selain mekanisme rembug warga. dsb . Sanksi yang ditetapkan dan diterapkan pada umumnya adalah bersifat sanksi sosial misalnya pengucilan dari kelompok. Mekanisme rembug warga kelurahan/desa diawali dengan rembug warga tingkat RT/RW. pengadu dapat menyampaikan pengaduan baik pada PPM (Pengelolaan Pengaduan Masyarakat) tempat keberadaan pengadu maupun kepada PPM yang ada di seluruh tingkat. tertulis. 1) Prinsip Penanganan Pengaduan Sistem penanganan pengaduan di PNPM MP didasarkan prinsip sebagai berikut : a) Kemudahan. baik ke pelaku PNPM MP. telepon. keluhan ataupun ketidakpuasan terhadap implementasi PNPM MP. Pangaduan dari siapapun dan darimanapun harus mudah untuk disampaikan. Penanganan Pengaduan Pengaduan pada dasarnya merupakan aspirasi. dengan mengunakan media-media yang diinginkan. 62 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . 3. Melalui rembug warga ini dapat ditetapkan sanksi sosial dan atau sanksi hukum yaitu dengan menyerahkan oknum yang melakukan penyimpangan ke pihak yang berwajib.7. Media pengaduan dapat berupa lisan.1. rembug warga tingkat dusun dan akhirnya rembug warga tingkat kelurahan/desa.7. SMS. Dalam hal masyarakat melihat terjadi penyimpangan prinsip serta nilai universal oleh anggota BKM/LKM dan/atau terdapat keputusan BKM/LKM yang ditolak oleh sebagian besar warga. sering kali juga dilakukan musyawarah kelompok untuk membahas persoalan di tingkat kelompok. Untuk itu. media massa dll. maka masyarakat kelurahan/desa berhak untuk membubarkan sebagian atau keseluruhan anggota BKM/LKM serta memilih penggantinya melalui mekanisme Rembug Warga Kelurahan/desa.PERKOTAAN . yang relatif melibatkan banyak orang. Pengaduan dapat disampaikan dalam bentuk lisan maupun tertulis. dan/atau BKM/LKM dianggap tidak lagi mencerminkan kriteria sebagai pimpinan kolektif organisasi masyarakat warga.• Rembug Warga Kelurahan/desa Rembug warga merupakan mekanisme yang lazim digunakan dalam menetapkan sanksi dan penerapannya. PENGADUAN DAN PENYELESAIAN KONFLIK 3.

yang masing-masing bekerja secara independen dalam suatu jejaring pengaduan masyarakat. maka secepat mungkin sampaikan kepada PPM di tingkat yang lebih tinggi. pelaku PNPM MP maupun keberadaan PPM sendiri. pusat. b) Cepat. maka pengaduan harus segera disampaikan pada PPM di tingkat yang lebih tinggi. Untuk itu. Tepat dan Tanggap. Apabila PPM tingkat kelurahan/desa tidak mampu untuk menangani. Hal ini dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap pelaksanaan PNPM MP (atau kegiatan pembangunan lainnya). Demikian seterusnya. Untuk itu penanganan pengaduan haruslah tuntas dan memberikan jawaban yang tepat atas persoalan/masalah yang diadukan Manajemen Pengaduan Pembentukan Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (PPM) KMP wajib membangun dan memfasilitasi jaringan Pengelolaan pengaduan masyarakat (PPM) di semua wilayah kerja. KMP wajib bekerjasama dengan semua pihak peduli termasuk para pemangku kepentingan (stakeholders). daerah dan masyarakat/ komunitas. Demikian juga keberadaan PPM di seluruh tingkatan harus diketahui oleh masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan. Di samping itu apabila pengaduan dapat diselesaikan di PPM bersangkutan. Untuk itu mekanisme dan prosedur penanganan pengaduan harus jelas dan dapat diimplementasikan di seluruh tingkatan. Pengaduan sedapat mungkin dapat diselesaikan di setiap tingkat PPM asal pengadu. apabila pengaduan tersebut tidak dapat dikelola di PPM bersangkutan karena keterbatasan otoritas penanganan di tingkat PPM bersangkutan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 63 .web-site dan media lain yang dapat dipergunakan. Penyampaian informasi kemajuan/status penanganan pengaduan kepada: pengadu atau pihak lain yang berkepentingan sangat penting dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar penangan pengaduan dapat ditangani dengan cepat. dapat menjadi media pembelajaran dan pemberdayaan bagi seluruh pihak di level bersangkutan. tepat dan menguntungkan semua pihak. c) PPM di tingkat yang lebih tinggi harus segera menangani pengaduan yang berasal dari PPM di bawahnya dan segera menyampaikan informasi penanganan serta hasil pengaduan kepada pengadu dan pihak lain yang berkepentingan. Namun demikian. baik pemerintah d) 2) a) PNPM MANDIRI .

dan lainnya. telepon bebas pulsa.PERKOTAAN . berbagai cara lain yang juga dapat dipakai untuk penyelesaian pengaduan adalah melalui arbitrase dan hukum. sebagai bagian dari partisipasi masyarakat dalam mengawal pembangunan. Penyampaian dapat dilakukan dengan berbagai cara: lisan. surat/kotak pos. baik itu sengketa horisontal maupun vertikal. kode etik. Untuk memudahkan penyampaian pengaduan. Sebagai contoh jenis pengaduan dapat dikelompokkan dalam kategori: penyimpangan dana. Pencatatan pengaduan dan keluhan pada tiap UPM (Unit Pengaduan Masyarakat) harus dilakukan pada saat penerimaan. Walaupun pada tiap tingkatan pelaku program dikembangkan unit pengaduan. sehingga diperlukan campur tangan pihak ketiga. b) Penyampaian dan Penerimaan Pengaduan serta Keluhan Pengaduan dan keluhan dapat berasal dari perorangan atau kelompok masyarakat. maka pengaduan dapat disampaikan ke unit pengaduan masyarakat (UPM) terdekat. Artinya penyelesaian pengaduan juga mengacu pada proses penyelesaian sengketa. Sebetulnya yang paling baik adalah penyelesaian sengketa dengan cara musyawarah dan mufakat. email dan sebagainya. hal ini untuk menjamin kesinambungan program setelah Program selesai. force majeur. dalam rangka membangun simpul-simpul jaringan pengaduan masyarakat di tiap wilayah kerja PNPM MP (pusat. Namun kenyataannya upaya penyelesaian sengketa dengan cara ini tidak selalu terjadi dengan mudah. intervensi negatif. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pelaporan dan penanganan penyelesaian pengaduan. Penyelesaian Secara Hukum Proses penyelesaian secara hukum untuk pengaduan tentang ketidakpuasan maupun sengketa antara masyarakat dengan pelaku Program. perubahan kebijakan. c) Penyelesaian Pengaduan Pada dasarnya adanya pengaduan dari masyarakat menandakan ketidakpuasan dan sengketa antara masyarakat dengan pelaku Program. akan tetapi yang paling strategis adalah memusatkan pengelolaan pengaduan di tingkat masyarakat atau BKM/LKM. Untuk itu. dapat dilakukan dalam hal: d) 64 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . sms. fax. daerah dan masyarakat). Simpul-simpul jaringan tersebut diharapkan akan membentuk PPM-PPM dan akan tetap berfungsi secara berkelanjutan. baik itu sengketa horisontal maupun vertikal. Untuk memudahkan penanganan perlu dikembangkan klasifikasi masalah yang bersifat standar dan terkait dengan Sistem Informasi Manajemen (SIM).maupun non-pemerintah.

Pada dasarnya penanganan pengaduan dilakukan melalui proses investigasi. Terdapat indikasi kuat bahwa persoalan atau peristiwa tersebut berkaitan dengan pelanggaran hukum (pidana maupun perdata).1. rekomendasi dan informasi. Untuk PNPM MP. Secara diagramatis mekanisme penanganan pengaduan tersebut diatas dapat dilihat pada Bagan 3.• • Sengketa tidak dapat didamaikan melalui mekanisme penanganan pengaduan yang disiapkan di PNPM MP. di halaman berikut: PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 65 . UPM membuat rekomendasi kepada pihak yang berwenang menangani masalahnya. Selanjutnya dari hasil konfirmasi. maka BKM/LKM adalah lembaga yang paling banyak mendapatkan rekomendasi untuk menyelesaikan masalahnya. Hasil investigasi yang dilakukan oleh UPM (Unit Pengelola Pengaduan Masyarakat) harus dikonfirmasikan kepada pihak terkait yang tepat. konfirmasi.

/ Desa PPM LKM Dapat Diselesai kan ? Ya MASYARAKAT. KEL. Web. Derajat Masalah 2 KORKOT PPM Kab/ Kota FKA LKM Camat PJOK / TIM FASILITATOR Tidak LKM FASILITATOR / RELAWAN Derajat Masalah 1 Lurah/Kades Kantor Kel. PT. Telepon.1. LSM. SMS PO. KEL. PPM Provinsi Ya OC/KMW Derajat Masalah 3 Tidak Dapat Diselesai kan ? Ya TKPP Kota/Kab.BOX 2222 JKPMT TIM KOORDINASI NASIONAL Koordinasi Penyelesaian KMP Derajat Masalah 4 Dapat Diselesai kan ? PEMDA Prov.PERKOTAAN . PEDULI Garis Penyelesaian Garis Pengaduan Garis Distribusi Penyelesaian 66 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .           Bagan  3.    Mekanisme  Penanganan  Pengaduan   Satker PNPM Mandiri PerkotaanRESPEK Tidak Dapat Diselesai kan ? Ya Tidak E-mail. PROFESI.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 67 . Penanganan Konflik Beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan konflik antara dua pihak atau lebih. P2KP AF. Program ini merupakan perluasan dari P2KP. • Selesaikan konflik melalui pengakhiran kekerasan dan pertengkaran. konflik terbuka ataukah konflik permukaan.2. serta • Transformasikan konflik melalui investigasi mendalam secara partisipatif untuk menyelesaikan akar konflik. perbaikan perumahan. drainase dan sanitasi.8. fasilitas air. Konflik laten merupakan konflik tersembunyi yang perlu diidentifikasi sejak awal.3. yang membutuhkan pendekatan berbeda dalam penanganannya. jalan lokal. c. Identifikasi jenis konflik. 3.8. Identifikasi akar persoalan dari konflik yang terjadi. dll) saat ini sedang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat.1. dengan cara mentransformasi kekuatan negatif menjadi kekuatan-kekuatan positif. Proyek ini akan menggunakan kebijakan perlindungan yang telah diadopsi oleh proyek P2KP dan PNPM Perkotaan I dan Pendanaan Tambahan (AF). yang dapat dikategorikan sebagai berikut: • Cegah terjadinya konflik sejak dini agar terhindar dari munculnya konflik yang lebih luas dan keras. apakah konflik laten. dengan cara mengembangkan tindakan serta perilaku positif yang melibatkan semua pihak atau pelaku. Langkah-langkah pengamanan sejauh PNPM MANDIRI . dengan sebagian besar kecil skala sub-proyek (yaitu toilet umum. Pendahuluan 1. Telah dilaksanakan untuk P2KP-1. Formulasikan rencana tindak penanganan konflik. PNPM Perkotaan dan kegiatan Additional Financing (AF) dari kelurahan/desa yang sebelumnya ke kelurahan/ desa baru. dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut: a. Sehubungan dengan isu lingkungan.8. sedangkan untuk kegiatan P2KP (P2KP-2. KEBIJAKAN PENGAMANAN 3. • Kelola konflik melalui pengurangan atau penghindaran kekerasan maupun tindakan yang menjurus kekerasan. proyek ini tetap sebagai Kategori B. Perihal pengaduan masyarakat dan pengelolaan konflik secara rinci dan detail dapat dilihat pada Buku Pedoman Teknis Pengelolaan Pengaduan Masyarakat. dan P2KP-3) dan PNPM Perkotaan I dan AF berada di bawah pelaksanaan. b.

terutama di wilayah Perkotaan. Oleh karena program ini relatif kecil. Namun demikian. Kerangka Kebijakan Pembebasan Lahan dan Permukiman kembali Sebagai sebuah program. PNPM MP akan mendukung sejumlah bantuan skala kecil (subproyek). Program ini akan mengadopsi Pedoman Lingkungan. PNPM MP berharap dapat menyediakan pembangunan infrastruktur (pagu untuk satu sub-proyek yang diusulkan KSM paling tinggi sebesar Rp. Umumnya dampak lingkungan terjadi dari manajemen pembangunan di lokasi miskin selama konstruksi berlangsung. meninjau serta menerapkan prosedur penandaan sesuai tingkat risiko yg mungkin terjadi untuk menjamin setiap masalah lingkungan yang terjadi dapat diatasi dan ditandai. kegiatan ekonomi produktif dan program sosial yang berkelanjutan. dan akan terus diperbarui untuk mengakomodasi pelajaran berkaitan masalah pengamanan. dalam hal ini PNPM MP akan melembagakan mekanisme pemeriksaan. Uraian lengkap tentang prosedur pengelolaan lingkungan dapat dilihat pada Lampiran 5. maka diharapkan tidak ada dampak yang signifikan.PERKOTAAN . 100 juta ). Berikut ini rangkuman pengalaman di P2KP-2 dan P2KP3 berkaitan dengan isu-isu kebijakan upaya perlindungan. terutama masyarakat miskin.2. PNPM MP akan membiayai usulan kegiatan masyarakat yang ada dalam PJM Pronangkis kelurahan/desa seperti sarana prasarana dasar lingkungan.8. PNPM MP berinvestasi pada sejumlah besar sub-proyek di area miskin di perkotaan.3. Annex A 3. 3.2. Melalui komponen dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Prosedur pengelolaan lingkungan yang resmi digunakan di Indonesia secara umum sama dengan prosedur yang diterapkan oleh Bank Dunia dalam pendekatan PNPM MP.8. terutama untuk skala kecil sub-proyek investasi 3. 68 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Pembebasan Tanah dan Kerangka Pemukiman Kembali serta Kerangka Masyarakat Adat yang telah diadopsi oleh P2KP dan PNPM Perkotaan I dan AF yang masing-masing disajikan pada Lampiran 5 Kerangka kerja ini telah diuraikan dalam pedoman pelaksanaan dan pedoman teknis. Pengelolaan Lingkungan Sebagai program yang sangat terdesentralisasi. Oleh sebab itu program ini oleh Bank Dunia ini diberi katagori B untuk klasifikasi lingkungan hidup. ini telah memadai untuk mengurangi masalah pengamanan. Melalui BLM. Tidak diperkenankan untuk membuat suatu kegiatan yang skalanya besar dan kegiatan yang dampaknya tidak dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Hal ini untuk menjamin bahwa mereka diperlakukan secara adil dengan memberikan kompensasi yang wajar sesuai kesepakatan/harga pasar. K bijakan untuk Perlakuan Penduduk Asli atau Masyarakat Rentan e Terisolasi Desain PNPM MP disusun sedemikian rupa untuk menjamin partisipasi dan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat dalam pengambilan keputusan tingkat lokal termasuk dalam hal pemanfaatan sumber daya yang tersedia. PNPM MP merupakan sebuah program yang berbasis pada kebutuhan dan prakarsa masyarakat. Dari seluruh kegiatan yang akan diusulkan diperkirakan tidak ada kegiatan masyarakat (sub-proyek) yang mempunyai dampak penting dalam hal pembebasan lahan dan/atau pemukiman kembali.4.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 69 . PNPM MP memberikan kebijakan melalui prosedur dan pedoman mengenai penyepakatan kompensasi kepada orang-orang yang terkena dampak kegiatan. PNPM MANDIRI . Melalui pendekatan perencanaan partisipatif dan pengambilan keputusan oleh masyarakat diharapkan dapat menjamin bahwa orang-orang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat betul-betul terlibat dalam proses-proses pengambilan keputusan. tidak dapat dihindari bahwa fasilitator akan berhadapan langsung dengan penduduk asli setempat. Menghindarkan atau meminimalkan potensi pengaruh atau dampak PNPM MP yang merugikan bagi penduduk asli. adalah sebagai berikut : a. Untuk setiap kegiatan masyarakat yang berpotensi melaksanakan pembebasan lahan. Tujuan dari perlakuan khusus bagi penduduk asli. Kerangka kebijakan untuk pembebasan lahan dan pemukiman kembali tersebut secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 5. Dalam pelaksanaan pendampingan masyarakat. dan b. Oleh karena itu jumlah penduduk yang terkena dampak dari kegiatan pemberdayaan masyarakat ini tidak dapat diidentifikasi sebelumnya. Annex B 3. Penduduk asli sebagai kelompok khusus patut diterapkan pendekatan yang berbeda dan didukung secara khusus.program sosial maupun kegiatan ekonomi produktif. Menjamin bahwa penduduk asli memperoleh manfaat dari keberadaan program. Identifikasi terhadap jumlah penduduk yang terkena dampak dari kegiatan masyarakat hanya dapat dijelaskan pada saat proposal kegiatan sudah diperiksa BKM/LKM untuk usulan penggunaan dana BLM.8.

Annex C 70 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .Uraian lengkap tentang pedoman perlakuan penduduk asli atau Masyarakat rentan terisolasi dapat dilihat pada Lampiran 5.PERKOTAAN .

IV MANAJEMEN PROGRAM PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 71 .

PERKOTAAN .4. STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANAAN PNPM MP merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari PNPM Mandiri Nasional oleh sebab itu pengelolaan program ini juga merupakan bagian dari pengelolaan program nasional PNPM Mandiri yang telah diatur dalam Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri yang diterbitkan oleh Pokja Pengendali PNPM Mandiri. Di tingkat kelurahan/desa. tiap rata-rata 9 kelurahan/desa akan didampingi oleh Tim Fasilitator. warga masyarakat didorong untuk memilih para relawan (sekurang-kurangnya 25 orang/kelurahan/desa). Untuk pelaksanaan lapangan. PMU melalui Satker mengontrak Konsultan Manajemen Pusat (KMP) yang akan bertindak atas nama PMU sesuai dengan kewenangan yang diberikan PMU.1. Untuk menyelenggarakan program PNPM MP ini maka Kementerian Pekerjaan Umum sebagai lembaga penyelenggara (executing agency) menugasi Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk menyelenggarakan PNPM MP. Disamping itu di tiap kelurahan/desa. terutama warga miskin dan kelompok masyarakat rentan lainnya. Tim Fasilitator ini akan dikontrak oleh SNVT PBL Provinsi yang dalam kerjanya bertanggung jawab langsung kepada Korkot. 72 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Begitu juga untuk di tiap kota dan kabupaten akan dipimpin oleh seorang Korkot (Koordinator Kota) yang berkantor di kota/kabupaten bersangkutan dibantu beberapa tenaga ahli sesuai kebutuhan. untuk melakukan manajemen proyek secara menyeluruh termasuk manajemen konsultan (OC/ KMW) yang akan bertugas di tiap wilayah kerja. Direktorat Jenderal Cipta Karya kemudian membentuk Unit Manajemen Proyek atau lebih dikenal sebagai PMU (Project Management Unit) yang dipimpin oleh Direktur Penataan Banguanan dan Lingkungan dan mendapat mandat penuh serta bertanggungjawab langsung kepada Dirjen Cipta Karya dalam melaksanakan kegiatan kegiatan PNPM MP. Para relawan ini melalui suatu pelatihan secara khusus oleh OC/KMW akan menjadi Kader Masyarakat PNPM MP yang akan berperan sebagai agen pembangunan dan bekerja bersama warga sebagai relawan untuk meningkatkan kesejahteraan warga di kelurahan/desa masing-masing. Organisasi penyelenggaraan yang diuraikan di sini adalah khusus organisasi penyelenggaraan PNPM MP saja yang secara struktur organisasi berada di bawah kendali Pokja Pengendali PNPM Mandiri Nasional. Di tiap wilayah kerja tersebut akan ditangani oleh satu Konsultan Manajemen Wilayah yang berkantor di wilayah bersangkutan dan dipimpin oleh seorang Team Leader.

1 Struktur Organisasi Pengelolaan PNPM Mandiri Perkotaan PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 73 .1. di bawah ini: Bagan 4.Secara rinci hubungan kerja antar unsur pelaksana proyek dari tingkat Pusat sampai dengan tingkat masyarakat dapat dilihat pada Bagan 4.

kelompok ahli. dan selalu beorientasi pada pengembangan masyarakat dengan mengedepankan prakarsa masyarakat.2. (b) mendorong “pelembagaan” mekanisme yang menjamin terwujudnya komunikasi. telah dibentuk Unit Manajemen Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (PMU P2KP) sesuai Keputusan Menteri Pekerjaan Umum nomor 358/KPTS/M/2008 tanggal 10 Juni 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Manajemen Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (PMU P2KP) 74 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . koordinasi dan keterpaduan antara pemerintah dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat. dunia usaha. (c) melakukan audit untuk semua pelaku PNPM MP dan menjadi wasit Perangkat pemerintah khususnya pemerintah daerah didorong untuk mampu mengalihkan peran dari pelaksana menjadi pemampu. khususnya masyarakat miskin.PERKOTAAN . TATA PERAN PELAKU 1) Pemerintah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat dirancang sebagai gerakan bersama yang terpadu dalam penanggulangan kemiskinan melalui proses pemberdayaan masyarakat. dan masyarakat luas. Secara umum.4. Untuk melaksanakan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) agar dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan dan terciptanya sinergi dengan program lainnya untuk mengoptimalkan hasil yang dicapai dalam rangka keberlanjutan program sekaligus mendukung pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM MP). Semua pihak diharapkan dapat menjalankan peran dan tanggung jawabnya dengan baik dalam memampukan masyarakat sebagai pelaku utama PNPM. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan berbagai pihak antara lain pemerintah. dari peran birokrasi menjadi fasilitator atau pendamping warga. Secara khusus perangkat pemerintah dituntut agar mampu berperan sebagai katalis pembangunan untuk mendorong terjadinya proses transformasi dan bukan transplantasi. partisipasi dan peran aktif pemerintah yang diharapkan dalam pelaksanaan PNPM adalah : (a) menumbuhkan iklim yang mendukung untuk upaya pemberdayaan masyarakat. Tingkat Nasional Penanggung jawab pengelolaan program tingkat nasional PNPM MP adalah Kementerian Pekerjaan Umum yang bertindak sebagai lembaga penyelenggara program (executing agency).

Melaksanakan kegiatan diseminasi dan sosialisasi. b. c. Asisten Perencanaan dan Pemrograman mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana pelaksanaan. Melakukan monitoring dan supervisi pelaksanaan kegiatan lapangan KMP. Melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan tugas KMP. OC/KMW dan KE. Melakukan kajian dan evaluasi atas pemanfaatan dana PNPM MP. c. e. pembinaan teknis. dan KE. Menyusun rekomendasi untuk sinkronisasi PNPM MP dengan programprogram lainnya. monitoring dan pembinaan teknis PNPM MP. SNVT PNPM MP berperan membantu pelaksanaan tugas PMU-PNPM MP dalam pelaksanaan PNPM MP. Asisten PMU-PNPM MP a. Melakukan koordinasi dengan Satuan Kerja terkait dalam upaya mencapai sasaran. Melaksanakan kegiatan PNPM MP sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dalam dalam NPLN termasuk penyelesaian aplikasi dana pinjaman PNPM MP. Menyampaikan informasi yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan PNPM MP. PMU PNPM MP mempunyai fungsi : a.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 75 . Pemprop dan Pemerintah Kab/Kota. b. c) PNPM MANDIRI . jadwal pelaksanaan dan administrasi yang ditetapkan. OC/KMW. f. dan sinkronisasi program PNPM MP dengan instansi terkait serta menyusun strategi keberlanjutan program PNPM MP. b) SNVT PNPM MP SNVT PNPM MP adalah Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan. pengendalian. Memimpin & mengkoordinasikan seluruh personil PMU P2KP. e. Untuk melaksanakan tugas tersebut. d. Mengadakan kerjasama dengan instansi-instansi terkait dalam lingkungan Pemerintah Pusat. d. Melakukan penanganan pengaduan dari pihak manapun yang berkaiatan dengan PNPM MP. Tanggung jawab dan tugas pokok SNVT PNPM MP adalah: a.a) Unit Manajemen Program P2KP (PMU-P2KP) Unit Manajemen Program P2KP (PMU P2KP/PNPM MP) adalah sebuah unit kerja yang bertanggungjawab atas keberhasilan pelaksanaan Program PNPM MP dengan tugas pokok melaksanakan koordinasi.

serta penyiapan tindak turun tangan yang diperlukan. Pelaporan dan Informasi mempunyai tugas untuk melakukan pengumpulan serta pengolahan data. pelaporan dan informasi dalam rangka pelaksanaan PNPM MP. Mengelola tata pelaporan pelaksanaan PNPM MP.b. Mempertanggungjawabkan seluruh pengeluaran dana sesuai ketentuan yang berlaku. d. Melaksanakan kegiatan teknis dan administratif untuk pelaksanaan PNPM MP sesuai arah kebijakan PMU. Tugas Kepala SNVT PBL Propinsi adalah : a. c. c. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dikoordinasikan langsung oleh Gubernur setempat melalui Bapeda Propinsi dengan menunjuk Tim Koordinasi Pelaksanaan PNPM yang anggotanya terdiri dari pejabat instansi terkait di daerah di bawah koordinasi TKPKD Propinsi.PERKOTAAN . b. d. Memberikan laporan secara berkala kepada Menteri PU melalui Direktur PBL yang ditembuskan kepada Bappeda Propinsi/Kepala Dinas PU serta kepada para pemangku kepentingan lainnya apabila diminta. Asisten Pengembangan Kemitraan mempunyai tugas untuk melakukan koordinasi dan fasilitasi pengembangan kemitraan Lembaga Komunitas dengan berbagai pihak dalam rangka peningkatan akses kepada berbagai sumberdaya untuk masyarakat miskin. Asisten Data. e. Sebagai pelaksana ditunjuk Dinas Pekerjaan Umum/Bidang Ke-Cipta Karya-an di bawah kendali/ koordinasi Satker Non Vertikal Tertentu (SNVT) PBL tingkat propinsi. Tingkat Kota/Kabupaten Di tingkat Kota/kabupaten dikoordinasikan langsung oleh Walikota/Bupati setempat melalui Bapeda Kota/kabupaten dengan menunjuk Tim Koordinasi Pelaksanaan PNPM (TKPP) yang anggotanya terdiri dari pejabat instansi terkait di daerah di bawah koordinasi TKPKD Kota/kabupaten. TKPKD Kota/Kabupaten dalam PNPM MP berperan mengkoordinasikan TKPP dari berbagai program penanggulangan kemiskinan. Bersama dengan OC/KMW dan TKPKD menindak lanjuti berbagai pengaduan terkait PNPM MP sampai proses hukum/ke tangan penegak hukum dengan tetap mengutamakan penyelesaian secara kekeluargaan. Asisten Pengendalian Pelaksanan mempunyai tugas untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PNPM MP mengacu kepada rencana kegiatan yang telah ditetapkan. 76 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

Memfasilitasi berlangsungnya koordinasi dan konsolidasi dalam pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. f. dan (2) Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK) dengan peran dan tugas masing-masing unsur adalah sebagai berikut: PNPM MANDIRI . PJOK dan perangkat desa/kelurahan di wilayah kerjanya. Melakukan pemantauan pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. b. c. Bersama Korkot dan Para Pemangku Kepentingan lainnya menindaklanjuti berbagai pengaduan terkait dengan PNPM MP di wilayah kerjanya sampai ke proses hukum/ke tangan penegak hukum dengan tetap mengutamakan penyelesaikan secara kekeluargaan. Menyalurkan dan mengadministrasikan dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 77 . Memfasilitasi berlangsungnya koordinasi dan konsolidasi dalam pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala. PJOK dan perangkat kecamatan di wilayah kerjanya. Memberikan laporan secara berkala kepada Menteri PU melalui SNVT PBL Propinsi yang ditembuskan kepada Bappeda Kab-Kota/Kepala Dinas PU serta para pemangku kepentingan lainnya apabila diminta Di tingkat Kota/kabupaten. Melakukan pemantauan pemanfaatan dana yang disalurkan. d. Ditjen Cipta Karya cq Direktorat PBL Propinsi mengangkat Koordinator Kota P2KP/PNPM MP yang dibantu beberapa asisten korkot di bidang manajemen keuangan. Melakukan sosialisasi program PNPM MP kepada camat. teknik/infrastruktur. Sebagai pelaksana administratif ditingkat Kota/kabupaten berdasarkan keputusan Menteri Pekerjaan Umum ditunjuk Satker Non Vertikal Tertentu (SNVT) Kota/kabupaten yang mempunyai tugas : a. b. d. c. unsur utama pelaksanaan PNPM MP adalah (1) Camat dan perangkatnya. Melakukan sosialisasi program PNPM MP kepada camat. e. Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala.Tim Koordinasi Pelaksanaan PNPM mempunyai tugas : a. manajemen data dan penataan ruang untuk pengendalian pelaksanaan kegiatan dibawah koordinasi Team Leader OC/KMW. Tingkat Kecamatan Di tingkat kecamatan.

Laporan bulanan dibuat rangkap tiga untuk diserahkan sebelum tanggal 15 setiap bulan kepada bupati/walikota.1) Camat Peran pokok Camat adalah memberikan dukungan dan jaminan atas kelancaran pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. Memfasilitasi berlangsungnya integrasi antara rencana program masyarakat dan program daerah lainnya dalam Musrenbang Kecamatan. PJOK adalah perangkat kecamatan yang diangkat oleh Kepala Satker PBL atas usulan walikota/ bupati untuk pengendalian kegiatan di tingkat kelurahan/desa dan berperan sebagai penanggung jawab administrasi pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. Memantau pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya sesuai dengan pentahapan yang sudah ditentukan. hasil- 78 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . KSM. Membuat laporan bulanan pelaksanaan tugas setiap bulan. b. 2) Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK) Di tingkat kecamatan ditunjuk PJOK (Penanggung Jawab Operasional Kegiatan). f. serta g. c. Berita Acara tersebut memuat pelaksanaan tugas.PERKOTAAN . Jika terjadi pergantian PJOK antar waktu. b. memproses SPPB ke bank pembayar dan lain-lain. Membuat laporan pertanggungjawaban pada akhir masa jabatannya dan menyerahkannya kepada Walikota/Bupati paling lambat satu bulan setelah masa tugasnya sebagai PJOK berakhir. Melakukan pemantauan pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya dan menerima serta memverifikasi laporan para lurah/kades. Melaksanakan administrasi program berupa penandatanganan SPPB. Tugas pokok PJOK adalah sebagai berikut: a. Melakukan sosialisasi program PNPM MP kepada lurah dan perangkat kelurahan/ desa di wilayah kerjanya. Laporan tersebut dikirim juga sebagai tembusan kepada Camat dan Lurah/Kades di wilayah kerjanya. Berkoordinasi dengan PJOK dan Tim Fasilitator dalam penyelesaian persoalan. Mendorong dan mendukung tumbuhnya forum BKM/LKM tingkat kecamatan. maka PJOK sebelumnya harus membuat Berita Acara Serah Terima Pekerjaan kepada PJOK penggantinya. c. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Forum BKM/LKM di tingkat kecamatan/kota/kabupaten. Memfasilitasi berlangsungnya koordinasi dan konsolidasi dalam pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. e. d. dengan rincian tugas sebagai berikut: a. dan kelompok peduli lainnya untuk meningkatkan keberhasilan PNPM MP di wilayah kerjanya. konflik dan penanganan pengaduan mengenai pelaksanaan PNPM MP di wilayahnya. d.

serta ketentuan PNPM MP). Memfasilitasi dan mendukung penyusunan Program Jangka Menengah Penanggulangan Kemiskinan dan rencana tahunannya oleh masyarakat PNPM MANDIRI . Memfasilitasi pelaksanaan pemetaan swadaya (Community Self Survey) dalam rangka pemetaan kemiskinan dan potensi sumberdaya masyarakat yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat. e. dan relawan masyarakat dalam upaya penyebarluasan informasi dan pelaksanaan PNPM MP.e.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 79 . Memfasilitasi proses pembentukan BKM/LKM. c. hasil monitoring dan evaluasi serta dilengkapi dengan uraian dan penjelasan penggunaan dana BOP-PJOK Melakukan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan PNPM MP dengan OC/KMW dan Tim Fasilitator untuk bersama-sama menangani penyelesaian permasalahan dan pengaduan mengenai pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya Melakukan pemeriksaan terhadap penggunaan dana yang telah disalurkan kepada masyarakat (BKM/LKM/KSM/Panitia/dsb) sesuai dengan usulan yang disetujui Fasilitator Tingkat Kelurahan/desa Di tingkat kelurahan/desa. b. Untuk Itu Lurah/ Kepala Desa dapat mengerahkan perangkat kelurahan/desa atau desa sesuai dengan fungsi masing-masing. hasil kegiatan. (3) BKM/LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat). Secara rinci tugas dan tanggung jawab Lurah/Kepala Desa dalam pelaksanaan PNPM MP adalah sebagai berikut: a. f. (Bentuk-bentuk dukungan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. unsur utama pelaksanaan PNPM MP adalah (1) Lurah/Kades dan perangkatnya. d. Memfasilitasi terselenggaranya pertemuan pengurus RT/RW dan masyarakat dengan OC/KMW/Tim Fasilitator. (4) KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) dengan peran dan tugas masingmasing unsur adalah sbb: 1) Lurah atau Kepala Desa Secara umum peran utama Kepala Kelurahan dan Kepala Desa adalah memberikan dukungan dan jaminan agar pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga tujuan yang diharapkan melalui PNPM MP dapat tercapai dengan baik. (2) Relawan masyarakat. Membantu sosialisasi tingkat kelurahan/desa dan Rembug Kesiapan Masyarakat yang menyatakan kesiapan seluruh masyarakat untuk mendukung dan melaksanakan PNPM MP.

dan Berkoordinasi dengan Tim Fasilitator. i. Pelopor perubahan b. peduli dan memiliki komitmen kuat pada kemajuan masyarakat di wilayahnya. seperti transparansi. pembentukan BKM/LKM. Mitra kerja BKM/LKM.PERKOTAAN .f. Memberi laporan bulanan kegiatan PNPM MP di wilayahnya kepada Camat. sehingga secara rinci relawan diharapkan menjadi pelopor dalam siklus program. jujur. oleh sebab itu para Relawan akan membentuk 80 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . demokrasi. h. kejujuran. PNPM MP mendorong masyarakat di lokasi sasaran agar membuka kesempatan seluas mungkin bagi warga yang ikhlas. Pengawalan nilai-nilai luhur. memfasilitasi penyelesaian persoalan dan konflik serta penanganan pengaduan yang muncul dalam pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. relawan masyarakat dan BKM/ LKM. Pengerak masyarakat dalam menjalani seluruh proses PNPM MP yang memang direncanakan sebagai uapaya pemberdayaan masyarakat atau peningkatkan kapasitas. perencanaan partisipatif. ikhlas. pemetaan swadaya. g. Dengan demikian peran utama para relawan adalah : a. refleksi kemiskinan. Memfasilitasi koordinasi dan sinkronisasi kegiatan yang terkait dengan penanggulangan kemiskinan termasuk peninjauan lapangan oleh berbagai pihak berkepentingan. Memfasilitasi PJM Pronangkis sebagai program kelurahan/desa untuk dibahas didalam Musrenbang kelurahan/desa. adil. dsb oleh sebab itu setelah BKM/LKM terbentuk tim relawan ini harus berfungsi sebagai pengawas partisipatif terhadap keseluruhan proses sehingga terbangun kontrol sosial yang melembaga. Masyarakat Kelurahan/desa 1) Relawan Masyarakat Relawan masyarakat adalah pelopor-pelopor pengerak dari masyarakat yang mengabdi tanpa pamrih. yang diorganisasikan oleh lembaga kepemimpinan masyarakat setempat (BKM/LKM). d. pengorganisasian KSM. peduli dan memiliki komitmen untuk membantu masyarakat dalam melaksanakan seluruh tahapan kegiatan program agar bermanfaat bagi masyarakat miskin serta seluruh masyarakat di wilayahnya. dsb c.

transparan. d. kota/ kabupaten sebagai mitra kerja Pemerintah Daerah dan wahana untuk menyuarakan aspirasi masyarakat warga yang diwakilinya. f. BKM/LKM ini bertanggungjawab menjamin keterlibatan semua lapisan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang kondusif untuk pengembangan keswadayaan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan khususnya dan pembangunan masyarakat kelurahan/desa pada umumnya. 3) KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) Disamping BKM/LKM di lokasi yang telah menjalani P2KP/PNPM P2KP juga sudah terbentuk KSM atau Kelompok Swadaya Masyarakat adalah nama jenerik untuk kelompok warga masyarakat pemanfaat dana BLM PNPM MP. Mempromosikan dan menegakkan nilai-nilai luhur (jujur. dsb) dalam setiap keputusan yang diambil dan kegiatan pembangunan yg dilaksanakan. c. b. maka di lokasi tersebut sudah terbentuk BKM/LKM sebagai “dewan amanah” atau “pimpinan kolektif” himpunan masyarakat warga setempat (kelurahan/desa). e. adil. Oleh sebab itu peran utama BKM/LKM adalah : a.Forum Relawan dan berhak mendapat informasi perkembangan kegiatan penangulangan kemiskinan yang dipimpin oleh BKM/LKM. Menumbuhkan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin agar mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. yang sehari-hari dikelola oleh UPK. KSM ini diorganisasikan oleh tim relawan dan dibantu oleh tim fasilitator terdiri dari warga kelurahan/desa yang memiliki ikatan kebersamaan (common bond) dan PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 81 . Sebagai dewan pengambilan keputusan untuk hal-hal yang menyangkut pelaksanaan PNPM MP pada khususnya dan penanggulangan kemiskinan pada umumnya di tingkat komunitas. Untuk itu secara rutin (tiap bulan) harus ada pertemuan antara Forum Relawan dan BKM/LKM 2) BKM/LKM (Badan Keswadayaan Masyarakat/Lembaga Keswadayaan Masyarakat) Dilokasi-lokasi dimana P2KP dan PNPM telah bekerja. Menetapkan kebijakan dan mengawasi proses pemanfaatan dana bantuan langsung masyarakat (BLM). demokratis. Mengorganisasikan warga secara partisipatif untuk merumuskan rencana jangka menengah (3 tahun) penanggulangan kemiskinan (PJM Pronangkis) dan diajukan ke PJOK untuk mencairkan dana BLM. Mengembangkan jaringan BKM/LKM di tingkat kecamatan.

Oleh sebab itu tugas pokok KSM adalah: a. KMP bertugas pula membangun dan mengembangkan sistem informasi manajemen (SIM) PNPM MP. d. Mengelola dana yang diperolehnya untuk mendanai kegiatan pembangunan yg diusulkan. membangun dgn mutu. Oleh sebab itu. e. Menerapkan nilai-nilai luhur dalam pelaksanaan pembangunan yang ditekuninya (transparansi. Lebih dari itu. Mencatat dan membuat laporan kegiatan dan keuangan kegiatan pembangunan yg diusulkan. KMP melakukan perencanaan. Konsultan Pelaksana 1) Konsultan Manajemen Pusat (KMP) Konsultan Manajemen Pusat (KMP) berkedudukan di pusat dengan tugas utama melaksanakan tugas-tugas PMU dalam pelaksanaan PNPM MP utamanya dalam pengendalian mutu yang menyangkut substansi. KMP juga bertugas membangun dan mengembangkan sistem penanganan permasalahan dan penanggulangan konflik secara berjenjang. dimulai dari tingkat kelembagaan lokal/BKM/LKM sampai ke tingkat yang lebih tinggi seperti OC/KMW dan KMP. b.berjuang untuk mencapai tujuan bersama. 82 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . c. koordinasi. Secara aktif menjadi bagian dari kendali sosial (control social) pelaksanaan penangulangan kemiskinan di wilayahnya. monitoring (pengendalian) dan supervisi (pengawasan). Menyusun usulan kegiatan pembangunan terkait dgn penangulangan kemiskinan. KSM ini bukan hanya sekedar pemanfaat pasif melainkan sekaligus sebagai pelaksana kegiatan terkait dgn penangulangan kemiskinan yang diusulkan untuk didanai oleh BKM/LKM melalui berbagai dana yg mampu digalang. termasuk menjamin kelancaran dan keakuratan entry data sejak dari tingkat kelurahan/ desa hingga tingkat pusat. Untuk melaksanakan tugasnya KMP dibantu oleh beberapa tenaga ahli sesuai kebutuhan. pelaporan dan melakukan tindakan penanggulangan terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan PNPM MP. demokrasi. Secara umum tugas KMP meliputi perencanaan. supervisi dan monitoring (pengendalian) terhadap tugas yang dilaksanakan oleh seluruh OC/KMW sehingga kualitas kinerjanya terjamin. KMP bertanggungjawab kepada PMU mengenai keseluruhan pelaksanaan PNPM MP. dsb).PERKOTAAN . koordinasi.

Pelatihan. sosialisasi dan kampanye nasional PNPM MP serta kegiatan lainnya. 2. b. Dalam melaksanakan tugasnya OC/KMW bertanggungjawab langsung dan berada di bawah koordinasi serta kendali Konsultan Manajemen Pusat (KMP). f. pelaksanaan koordinasi. Perencanaan. dengan mendukung dan sebagian terlibat pada proses lokakarya orientasi. 2) Konsultan Manajemen Wilayah (OC/KMW) Tugas utama OC/KMW adalah mendukung seluruh kebutuhan para tenaga alhi OC/KMW dalam melakukan perencanaan. Monitoring. Jumlah OC/KMW pada pelaksanaan PNPM_MP ini sebanyak 9 OC/KMW untuk menangani pelaksanaan PNPM MP di seluruh nusantara. mengembangkan strategi pelatihan dan menjaga kualitas pelatihan yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam jajaran konsultan. g. c. khususnya strategi pelaksanaan PNPM MP. monitoring. Pengorganisasian. setelah dikonsultasikan dan mendapat persetujuan KMP. Secara khusus OC/KMW juga diberi tanggung jawab tambahan untuk melakukan monitoring dan penguatan jajaran dibawahnya seperti para Korkot. PNPM MANDIRI . mengembangkan strategi sosialisasi yang efektif. d. Supervisi. mengawasi pelaksanaan kegiatan oleh OC/KMW. supervisi.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 83 . terhadap strategi pelaksanaan PNPM MP di lingkup satuan wilayah kerjanya. adalah sbb: a. mengkoordinasikan antara perangkat pemerintah dan pelaku PNPM MP lainnya. Team Leader OC/KMW akan berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan kegiatan PNPM MP di wilayah kerja masing-masing. terutama mendayagunakan OC/KMW dan perangkatnya. dan pelaporan seluruh kegiatan pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. Koordinasi. Perencanaan. yang kemudian disosialisasikan kepada instansi pemerintah daerah setempat dan masyarakat.Dengan demikian ruang lingkup kegiatan KMP. Orientasi dan Persiapan untuk Tingkat Pusat dan Daerah. persiapan. Sosialisasi dan Disseminasi. Asiten Korkot dan para Fasilitator. Lingkup kegiatan OC/KMW adalah sebagai berikut : 1. seluruh kegiatan dan menyusun serta mengelola SIM PNPM MP e.

lembaga komunitas dan masyarakat lokasi sasaran. BKM/LKM. penanganan pengaduan serta mendukung kelancaran pelaksanaan PNPM MP. dalam rangka membangun kemitraan serta networking yang saling menguntungkan di antara mereka. termasuk dinas pemerintah kota/kabupaten. UPK dan KSM di satuan wilayah kerjanya. c) Memfasilitasi. mengkoordinasi dan mendukung pembentukan Forum BKM/LKM tingkat kota/kabupaten dan menghubungkan dengan stakeholders lainnya. g) Menumbuhkembangkan dan melembagakan kembali nilai-nilai dan prinsip PNPM MP sebagai bagian organik proses pembangunan lokal. h) Menjamin berfungsinya SIM PNPM MP melalui pengelolaan dan penyediaan input data yang akurat. Pelaksanaan a) Sebagai pelaksana lapangan proyek PNPM MP di wilayah kerja masing-masing. khususnya dalam penanggulangan kemiskinan. Fasilitator. Koordinasi. e) Membangun dan mengembangkan kapasitas pemerintah lokal dan stakeholders lainnya untuk bekerja lebih efektif dengan masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan. terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan PNPM MP di satuan wilayah kerjanya dengan membuat laporan yang didasarkan pada data SIM sebagaimana sistem yang telah ada dan disempurnakan oleh KMP. kelompok-kelompok masyarakat serta kekuatan-kekuatan sosial yang ada termasuk di dalamnya perangkat pemerintah kota/kabupaten agar memahami esensi dan substansi “PNPM MP”. Supervisi. terhadap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh Senior Fasilitator. Monitoring. b) Menjamin realisasi pemberdayaan masyarakat dilakukan secara tepat melalui manajemen dan fasilitasi yang benar serta tepat oleh team fasilitator. d) Mengkondisikan masyarakat. 4.PERKOTAAN . 84 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . 5. i) Berkoordinasi dengan pemerintah propinsi dan kota/kabupaten dalam rangka menyelesaikan berbagai masalah dan konflik yang ada. kepada seluruh pihak terkait di wilayah kerja masing-masing yaitu instansi pemerintah daerah. f) Mendorong dan mengembangkan terbentuknya kelompok independen yang berfungsi sebagai sosial kontrol bagi proyek PNPM MP khususnya dan proyek-proyek lainnya yang disponsori pemerintah pada umumnya. sehingga dapat memberikan dukungan maupun kontrol yang memadai. LSM lokal.3.

Prinsip dan Nilai PNPM MP. b) Menjaga kegiatan program (proyek) dari terjadinya salah sasaran dan salah penanganan c) Mencatat semua kemajuan program di lapangan sesuai dengan format SIM yang disediakan d) Melaporkan kemajuan pelaksanaan kegiatan program kepada OC/KMW melalui Korkot sebagai input SIM. Rincian tugas-tugas tim fasilitator sebagai pelaksana proyek dari tugas-tugas OC/ KMW di tingkat masyarakat adalah sebagai berikut : a) Melaksanakan program PNPM MP sesuai dengan aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Pedoman Pelaksanaan PNPM MP.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 85 . Pedoman Teknis dan Prosedur Operasi Baku. Rincian tugas-tugas tim fasilitator sebagai pendampingan masyarakat adalah sebagai berikut : a. membangun kesadaran kritis masyarakat agar mampu mengidentifikasikan persoalan kemiskinannya dan perlunya menanggulangi persoalan PNPM MANDIRI . Tujuan. melakukan intervensi dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan membantu masyarakat merumuskan serta melaksanakan kegiatan penanggulangan kemiskinan. • Bersama Relawan. Para fasilitator ini akan bekerja dalam satu Tim dan dipimpin oleh seorang fasilitator senior. • Menyebarluaskan Visi. Strategi.3) Tim Fasilitator Tugas utama Tim fasilitator adalah melaksanakan tugas OC/KMW di tingkat komunitas/masyarakat : a) sebagai pelaksana proyek termasuk mencatat setiap perkembangan proyek dan melaporkannya ke OC/KMW sebagai masukan untuk data SIM (Sistem Informasi Manajemen) b) sebagai pendamping masyarakat termasuk mensosialisasikan masyarakat tentang PNPM MP. Misi. Melaksanakan kegiatan-kegiatan sosialisasi Termasuk didalamnya adalah: • Menyebarluaskan informasi mengenai PNPM MP sebagai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan dalam penanggulangan kemiskinan kepada seluruh lapisan masyarakat dimana mereka bertugas. melalui serangkaian FGD.

• Memperkuat dan mengembangkan kapasitas KSM sebagai kelompok dinamik. Training dilaksanakan dalam bentuk kelas maupun praktek dalam kelompok Melaksanakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat Termasuk didalamnya adalah: • Membimbing relawan dan warga masyarakat untuk menemukenali berbagai persoalan penyebab kemiskinan baik di tingkat kelurahan/desa dan skala masyarakat (KSM) • Pengorganisasian Masyarakat. Termasuk diantaranya pelatihan dasar dan lanjutan dalam bentuk training kelas.PERKOTAAN . 86 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . membantu KSM menyusun proposal usaha. • Memperkuat dan mengembangkan kapasitas BKM/LKM sebagai dewan pimpinan kolektif terpilih kelurahan/desa. memfasilitasi proses penilaian organisasi masyarakat yang ada dan/atau membentuk baru organisasi masyarakat sebagai BKM/LKM. Dalam hal ini difokuskan pada training dasar serta pendampingan dan on the job training intensif.• • • kemiskinan secara terorganisasi dan sistematis. Demikian pula halnya dalam c. Mendorong peran serta dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat umumnya dan masyarakat miskin khususnya. BKM/LKM harus merupakan dewan pimpinan kolektif terpilih yang dibentuk secara partisipatif dan demokratis. Termasuk diantaranya membangun tim. Membangkitkan dan menumbuh-berkembangkan kesadaran masyarakat untuk melakukan kontrol sosial pelaksanaan PNPM MP di kelurahan/desanya. dan pengelolaan keuangan secara sederhana. praktek atau on the job training dan latihan serta pendampingan intensif. Melaksanakan kegiatan-kegiatan pelatihan (training) Termasuk didalamnya adalah: • Memperkuat dan mengembangkan kapasitas relawan sebagai agen pembangunan masyarakat. mengenali peluang usaha atau mengembangkan usaha yang ada. Bersama Relawan/Kader Masyarakat. di seluruh kegiatan PNPM MP. Memfasilitasi pembangunan dan pengembangan capital sosial (nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan) sebagai kondisi yang dibutuhkan bagi upaya penanggulangan kemiskinan. sesuai kesepakatan bersama masyarakat. b.

serta menyiapkan mereka agar mampu memformulasikannya dalam bentuk proposal yang layak. dan sebagainya. Advokasi. termasuk sistem audit.• • • • • pembentukan Unit Pengelola Keuangan (UPK) dan gugus tugas BKM/LKM lainnya. Memfasilitasi Penyusunan PJM Pronangkis (perencanaan partisipatif dalam penanggulangan kemiskinan). tata buku. Bersama dengan relawan. mediasi dan membangun jalinan kemitraan strategis (networking) antar semua pelaku yang bermanfaat bagi masyarakat dan pihak lainnya PNPM MANDIRI . memfasilitasi KSM untuk mengidentifikasi peluang usaha. Bersama dengan relawan/kader masyarakat. transparansi. Memfasilitasi dan membimbing masyarakat secara intensif agar masyarakat mengikuti ketentuan Pedoman PNPM MP dalam seluruh tahapan kegiatan pelaksanaan PNPM MP. kebutuhan pembangunan infrastruktur dan pelayanan lingkungan dasar. memfasilitasi BKM/LKM untuk mengkoordinasi pelaksanaan perencanaan partisipatif dengan masyarakat untuk menyusun Rencana Program Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis).PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 87 . Memperkenalkan berbagai inovasi sederhana dalam manajemen organisasi dan lembaga kredit mikro. Termasuk dalam fasilitasi pengorganisasian masyarakat adalah pembentukan KSM-KSM dalam rangka menggalang potensi masyarakat serta memanfaatkan peluang yang ditawarkan PNPM MP. proses pengambilan keputusan yang demokratis.

PERKOTAAN .88 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

LAMPIRAN-LAMPIRAN PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 89 .

yang harus layak. dalam pengambilan keputusan maupun pelaksanaan kegiatan yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak. terutama kelompok masyarakat yang rentan (vulnerable groups) dan marjinal yang selama ini tidak memiliki peluang/akses dalam program/kegiatan setempat. bersifat adil intra generasi dan inter generasi. Pengembangan masyarakat juga berarti upaya meningkatkan potensi segenap unsur masyarakat. maupun pemerintah). serasi dan produktif. ditumbuhkembangkan dan dilestarikan oleh semua pelaku PNPMMP (baik masyarakat. ekonomi dan lingkungan yang tercakup dalam konsep Tridaya. tiap langkah kegiatan P2KP harus selalu berorientasi pada upaya membangun solidaritas sosial dan keswadayaan masyarakat sehingga dapat tercipta masyarakat efektif secara sosial sebagai pondasi yang kokoh dalam upaya menanggulangi kemiskinan secara mandiri dan berkelanjutan. Oleh sebab itu prinsip-prinsip universal pembangunan berkelanjutan harus merupakan prinsip keseimbangan pembangunan. terjangkau. terutama kepentingan masyarakat miskin. Termasuk didalamnya adalah penyediaan prasarana dan sarana dasar perumahan yang kondusif dalam membangun solidaritas sosial dan meningkatkan kesejahteraan penduduknya. konsultan. Jadi prinsip-pinsip pembangunan berkelanjutan yang harus dijunjung tinggi. aman. maka upaya-upaya kearah peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat miskin dan atau penganggur perlu mendapat porsi khusus termasuk upaya untuk mengembangkan peluang usaha dan akses kesumberdaya kunci untuk peningkatan pendapatan. maka didorong agar keputusan dan pelaksanaan kegiatan tersebut berorientasi pada upaya perlindungan/pemeliharaan lingkungan baik lingkungan alami maupun buatan termasuk perumahan dan permukiman. 1) Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection).LAMPIRAN 1 KONSEP DASAR TRIDAYA Pada dasarnya pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang tidak menimbulkan persoalan baru. teratur.PERKOTAAN . 2) 3) 90 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . sehat. Pengembangan Ekonomi (Economic Development). dengan tetap memperhatikan dampak lingkungan fisik dan sosial. yang dalam kasus PNPM Mandiri Perkotaan diterjemahkan sebagai sosial. dalam melaksanakan PNPM-MP adalah melalui penerapan konsep Tridaya sebagai berikut. Pengembangan Masyarakat (Social Development). dalam upaya menyerasikan kesejahteraan material.

. daya sosial agar tercipta masyarakat efektif secara sosial. maupun pelaku-pelaku lainnya.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 91 . Oleh karena itu. mandiri dan merdeka berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. yang   universal. yaitu daya pembangunan agar tercipta masyarakat yang peduli dengan pembangunan perumahan dan permukiman yang berorietasi pada kelestarian lingkungan. yaitu pemberdayaan manusia seutuhnya agar mampu membangkitkan ketiga daya yang telah dimiliki manusia secara integratif. sehingga pada akhirnya masyarakat (kumpulan-kumpulan individu yang memiliki kesadaran kritis) mampu membangun dan menumbuhkembangkan keberdayaan masyarakat dalam bidang pembangunan lingkungan. dan daya ekonomi agar tercipta masyarakat produktif secara ekonomi. Pemberdayaan Sejati Membangkitkan daya lingkungan agar tercipta masyarakat pembangunan Membangkitkan daya ekonomi agar tercipta masyarakat yg produktif PNPM MANDIRI . Perubahan perilaku individu inilah yang menjadi pilar bagi perubahan perilaku kolektif.. sosial dan ekonomi. Perubahan perilaku individu dari pelaksana. dengan memberdayakan individu-individu tersebut diharapkan dapat Diyakini bahwa pelaksanaan PNPM MP sebagian besar akan sangat ditentukan oleh individumembangun kesadaran kritis dan perubahan perilaku yang positif. Gambaran umum mengenai implementasi prinsip-prinsip universal pembangunan berkelanjutan melalui TRIDAYA ini dapat dilihat pada Gambar 1. sosial dan ekonomi. maupun pelaku-pelaku lainnya. dengan individu inilah yang menjadi pilar bagi perubahan perilaku kolektif. Oleh karena itu.menumbuhkembangkan keberdayaan masyarakat dalam bidang pembangunan lingkungan. pemanfaat.Prinsip-prinsip universal pembangunan berkelanjutan tersebut pada hakekatnya merupakan pemberdayaan sejati yang terintegrasi.3 sebagai berikut: Gambar I. Konsep TRIDAYA Membangkitkan daya sosial agar tercipta masyarakat effektif   Manusia Diyakini bahwa pelaksanaan PNPM MP sebagian besar akan sangat ditentukan oleh individu-individu dari pelaksana. sehingga pada memberdayakan individu-individu tersebut diharapkanyang memiliki kesadaran kritis) kritis dan akhirnya masyarakat (kumpulan-kumpulan individu dapat membangun kesadaran mampu membangun dan mandiri dan merdeka berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan perubahan perilaku yang positif.1. pemanfaat.

Lampiran 2. menyediakan Dana Daerah (APBD) sesuai yang disyaratkan 1 Indikator Komponen 2: Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. social. ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. ekonomi dan sosial yang diselesaikan setiap tahun Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. Pemerintah Kota/kab. Indikator Kinerja PNPM Mandiri Perkotaan Satuan Th1 (2012) Th1 (2013) Th3 (2014) Frekwensi Sumber Target kumulatif Pengumpulan Data 92 % kelurahan 80% kelurahan Akhir pelaksanaan program (2014) Akhir pelaksanaan program (2014) Tahunan MIS dan Uji petik MIS MIS dan Survey Survey Konsultan evaluasi % pemanfaat ≥ 80% KMP/KMW/ Konsultan evaluasi % kelurahan 80% kelurahan ≥ 90% ≥ 90% ≥ 90% Bulanan 80% kelurahan 80% kelurahan KMP/KMW/ Konsultan evaluasi KMP/KMW % pengaduan 2 40 40 40 4 6 Bulanan Bulanan MIS MIS KMP/KMW KMP/KMW Pemanfaat (dalam Juta Orang ) % pemanfaat perempuan ≥ 40% ≥ 40% Target kumulatif ≥ 40% Tiga Bulanan MIS KMP/KMW Pengumpulan Data % Satuan masyarakat miskin % perempuan Penanggungjawab Tujuan : Untuk memastikan masyarakat miskin di kelurahan peserta PNPM Perkotaan memperoleh manfaat dari perbaikan tata kepemerintahan lokal dan kondisi kehidupannya INDIKATOR HASIL SETINGKAT TUJUAN (OUTCOME) Indikator 1: Peningkatan akses masyarakat miskin terhadap palayanan infrastruktur. dan ekonomi di kelurahan Indikator 2: Tingkat kepuasan pemanfaat terhadap perbaikan pelayanan dan tata kepemerintahan setempat Indikator 3: Infrastruktur yang dibangun lebih murah 20% dibandingkan dengan yang dibangun dengan pola tidak bertumpu pada masyarakat Indikator 4: Minimum 90% pengaduan terselesaikan PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur.PERKOTAAN Th1 (2012) ≥ 40% ≥ 30% ≥ 75% Th1 (2013) ≥ 40% ≥ 30% ≥ 80% Th3 (2014) ≥ 40% ≥ 30% ≥ 80% Frekwensi Tiga Bulanan Tiga Bulanan Tahunan Sumber MIS MIS MIS Penanggungjawab KMP/KMW KMP/KMW KMP/KMW % penduduk dewasa % pemerintah daerah % kelurahan Pemanfaat : Total pemanfaat Persentase pemanfaat perempuan INDIKATOR HASIL Indikator Komponen 1: Penguatan Kapasitas Masyarakat dan Pemerintah Daerah Tingkat kehadiran kaum miskin dan rentan dalam pertemuan2 perencanaan dan pengambilan keputusan Tingkat kehadiran perempuan dalam pertemuan2 perencanaan dan pengambilan keputusan Penduduk dewasa mengikuti pemilihan LKM ditingkat RT/komunitas basis. ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% Tahunan MIS KMP/KMW .

ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% kelurahan Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur.PERKOTAAN LKM telah menyelesaikan audit keuangan tahunan 2 | PEDOMAN PELAKSANAAN 93 . Pemerintah Kota/kab. ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% kelurahan ≥ 70% ≥ 35% ≥ 40% ≥ 50% Tiga Bulanan MIS ≥ 70% ≥ 70% Tahunan MIS KMP/KMW KMP/KMW Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur.Satuan Th1 (2012) perempuan ≥ 30% ≥ 75% ≥ 80% ≥ 80% Tahunan MIS KMP/KMW % penduduk dewasa % pemerintah daerah % kelurahan Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% kelurahan Tahunan MIS KMP/KMW ≥ 30% ≥ 30% Tiga Bulanan MIS KMP/KMW Th1 (2013) Th3 (2014) Frekwensi Sumber Penanggungjawab Target kumulatif Pengumpulan Data dan pengambilan keputusan Penduduk dewasa mengikuti pemilihan LKM ditingkat RT/komunitas basis. menyediakan Dana Daerah (APBD) sesuai yang disyaratkan Indikator Komponen 2: Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. ekonomi dan sosial yang diselesaikan setiap tahun Infrastruktur yang dibangun memiliki kualitas baik Kelurahan dengan program dana bergulir memiliki pinjaman beresiko ≥ 90 hari sebesar < 10% % kegiatan infrastruktur % kelurahan Indikator Komponen 3: Bantuan Teknis % propinsi % LKM ≥ 80% ≥ 90% Tahunan ≥ 80% ≥ 90% ≥ 90% Tahunan Laporan/MIS MIS KMP/KMW KMP/KMW Konsultan propinsi menyediakan data secara akurat dan tepat waktu melalui SIM (Sistem Informasi Manajemen) PNPM MANDIRI .

dll). motivasi. dengan bertumpu pada nilai universal kemanusiaan. Pada tahapan awal pelaksanaan program di lokasi baru.PERKOTAAN . berkewajiban melakukan proses pembelajaran masyarakat agar mereka mampu melakukan tahapan kegiatan PNPM MP di wilayahnya atas dasar kesadaran kritis terhadap substansi mengapa dan untuk apa suatu kegiatan itu harus dilakukan. keputusan dan ikhtiar dari masyarakat berbasis pada nilai2 luhur dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu. jadi harus tetap berjalan saat lembaga kepemimpinan masyarakat telah terbentuk sesuai dengan aturan yang telah ditentukan di Pedoman Pelaksanaan PNPM MP dengan nama jenerik BKM/LKM § Tiap Siklus berlaku untuk masa kerja satu tahun kalender dari Januari s/d Desember § Tiap Desember tahun berjalan BKM/LKM harus sudah melakukan RWT (Rembug Warga Tahunan) sebagai rapat pertangungjawaban tahunan kepemimpinan BKM/ LKM dan pengesahan Renta (Rencana Tahunan) tahun berikutnya. § Pada bulan Januari tahun berikutnya maka Renta yang telah disahkan dalam RWT 94 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . hanyalah sebagai pendamping pembelajaran agar inisiatif. siklus pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sepenuhnya dan dilembagakan oleh masyarakat sendiri secara berkala dengan difasilitasi pendamping yang dititik beratkan pada menjaga koridor-koridor kesesuaian dengan nilai luhur. komitmen. prakarsa. para pendamping (fasilitator. pemda. 1. transparansi dan akuntabilitas. yakni dengan mendorong masyarakat agar mampu meningkatkan kepedulian dan kesatuan serta solidaritas sosial untuk bahu-membahu dan bersatu-padu menanggulangi masalah kemiskinan di wilayahnya secara mandiri dan berkelanjutan. KEGIATAN DI TINGKAT MASYARAKAT 2. Peran pendampingan pihak luar (fasilitator.1. MAKNA SIKLUS KEGIATAN DI MASYARAKAT Substansi dasar proses pemberdayaan masyarakat dititikberatkan pada memulihkan dan melembagakan kembali kapital sosial yang dimiliki masyarakat. konsultan dll). Prinsip Dasar Siklus Kegiatan di Masyarakat Beberapa prinsip dasar yang harus dianut dalam melaksanakan siklus di tingkat kelurahan. siklus pelaksanaan PNPM MP adalah siklus kegiatan yang dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat di desa/kelurahan setempat.2. korkot. kepedulian. kemasyarakatan dan pembangunan berkelanjutan.LAMPIRAN 3. Pada tahapan berikutnya. sebagai berikut : § Siklus ini adalah siklusnya masyarakat.

prinsip-prinsip universal kemasyarakatan.1 Siklus 1 (Januari s/d Desember tahun pertama) Inti kegiatan PNPM MP di masyarakat kelurahan/desa adalah proses menumbuhkembangkan kemandirian dan keberlanjutan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dari. pemetaan swadaya (PS) berorientasi IPM-MDGs. serta pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat melalui KSM (kelompok swadaya masyarakat) dengan stimulan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Tahapan pelaksanaan kegiatan ini mencakup serangkaian kegiatan yang berorientasi pada siklus rembug kesiapan masyarakat dan kerelawanan (RKM). pembentukan Lembaga Keswadayaan Masyarakat (BKM/LKM). oleh dan untuk masyarakt.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 95 . yaitu: Siklus 1 : dimana tahun pertama PNPM MP mulai diperkenalkan di suatu kelurahan Siklus 2 : dimana tahun kedua PNPM MP bekerja di kelurahan yang sama Siklus 3 : dimana tahun ketiga PNPM MP bekerja di kelurahan yang sama Pada tahun ke 4 akan dilakukan Siklus 1 seperti pada tahun pertama karena pada tahun ke 3 masa bakti anggota BKM/LKM telah berakhir dan PJM Pronangkis juga telah berakhir 2. serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). melalui proses pembelajaran dan pelembagaan nilai-nilai universal kemanusiaan (value based development). PNPM MANDIRI . perencanaan partisipatif menyusun Program Jangka Menengah Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis) berorientasi kinerja peningkatan IPMMDGs dan rencana tahunannya (Renta).3 GARIS BESAR SIKLUS PNPM MP Siklus PNPM MP disusun untuk 3 tahun kalender yang berulang lagi pada tahun ke empat dengan siklus 1 2. refleksi kemiskinan (RK).diajukan dalam Musrenbang Kelurahan untuk diintegrasikan atau diadopsi dalam RPJMDes § Masa bakti anggota BKM/LKM ditetapkan 3 tahun § PJM Pronangkis ditetapkan untuk masa 3 tahun Berdasarkan prinsip tersebut di atas maka siklus pelaksanaan PNPM MP di kelurahan dapat dibedakan menjadi 3 Siklus tahunan berdasarkan urutan PNPM MP masuk ke kelurahan tersebut.3.

PEMETAAN SWADAYA (PS) 5. nilai-nilai) masyarakat kelurahan • Membangun motivasi untuk berbuat/menyelesaikan persoalan • Menghasilkan relawan yg mampu memfasilitasi dan melaksanakan FGD Kelembagaan & Kepemimpinan • Menghasilkan relawan yg mampu menganalisis tata kelembagaan setempat • Masyarakat memahami kriteria kelembagaan yang dapat berperan sebagai BKM/LKM • Masyarakat menyadari kebutuhan lembaga yg dipimpin oleh orang-orang yang menerapkan nilai-nilai universal kemanusiaan • Masyarakat mampu merumuskan kriteria pemimpin masyarakat 2 REMBUG KESIAPAN MASYARAKAT (RKM) 3. langkah-langkah Siklus 1 (untuk tahun pertama) adalah seperti tersebut di bawah ini NO 1 TAHAPAN SIKLUS SOSIALISASI AWAL TUJUAN • Mendapatkan gambaran dinamika sosial masyarakat • Mendapatkan gambaran dinamika sosial masyarakat • Penyebarluas-an informasi ttg akan adanya program PNPM MP di kel/desa tersebut • Meminta izin kpd kepala kel/desa untuk melaksanakan proses siklus PNPM MP • Mengumumkan penerimaan relawan • Membangun komitmen masyarakat untuk menerima/menolak PNPM MP dgn segala konsekwensinya • Mendapatkan relawan yang sesuai kriteria • Menghasilkan relawan yang mampu memfasilitasi & mengawal PNPM MP (nilainilai) • Menghasilkan relawan yang mampu memfasilitasi Refleksi Kemiskinan • Menumbuhkan kesadaran bahwa ada masalah bersama. ekonomi. yaitu kemiskinan yg hrs ditanggulangi bersama • Menemukan akar penyebab kemiskinan • Membangun niat bersama utk menanggulangi kemiskinan secara terorganisasi • Menghasilkan relawan mampu memfasilitasi dan melaksanakan Pemetaan Swadaya • Menghasilkan relawan yg mampu menganalisis masalah dan potensi masyarakat • Membangun kesadaran akan realita persoalan dan potensi (sosial.PERKOTAAN   3   .Gambaran umum mengenai tahapan pelaksanaan kegiatan PNPM MP di tingkat masyarakat pada tahun pertama atau Siklus 1 dapat dilihat pada siklus kegiatan di bawah ini. Diagram Siklus 1 (Januari s/d Desember tahun pertama) PS BKM/LKM Pencairan  BLM   PJM/ RENTA Pemanfaatan  BLM   RK SOS AWAL/ PEMETAAN SOSIAL RKM KSM Secara matriks. lingkungan. REFLEKSI KEMISKINAN (RK) 4. PEMBENTUKAN BKM/LKM 96 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 97 . ekonomi. nilai-nilai) masyarakat kelurahan · Membangun motivasi untuk berbuat/menyelesaikan persoalan 4. REFLEKSI KEMISKINAN (RK) · Menghasilkan relawan yang mampu memfasilitasi Refleksi Kemiskinan · Menumbuhkan kesadaran bahwa ada masalah bersama.Secara matriks. langkah-langkah Siklus 1 (untuk tahun pertama) adalah seperti tersebut di bawah ini NO 1 TAHAPAN SIKLUS SOSIALISASI AWAL TUJUAN · Mendapatkan gambaran dinamika sosial masyarakat · Mendapatkan gambaran dinamika sosial masyarakat · Penyebarluas-an informasi ttg akan adanya program PNPM MP di kel/desa tersebut · Meminta izin kpd kepala kel/desa untuk melaksanakan proses siklus PNPM MP · Mengumumkan penerimaan relawan 2 REMBUG KESIAPAN MASYARAKAT (RKM) · Membangun komitmen masyarakat untuk menerima/menolak PNPM MP dgn segala konsekwensinya · Mendapatkan relawan yang sesuai kriteria · Menghasilkan relawan yang mampu memfasilitasi & mengawal PNPM MP (nilai-nilai) 3. lingkungan. yaitu kemiskinan yg hrs ditanggulangi bersama · Menemukan akar penyebab kemiskinan · Membangun niat bersama utk menanggulangi kemiskinan secara terorganisasi · Menghasilkan relawan mampu memfasilitasi dan melaksanakan Pemetaan Swadaya · Menghasilkan relawan yg mampu menganalisis masalah dan potensi masyarakat · Membangun kesadaran akan realita persoalan dan potensi (sosial. PEMETAAN SWADAYA (PS) PNPM MANDIRI .

PERKOTAAN . dan kinerja keuangan BKM/LKM. capaian Rencana Tahunan. yang kemudian disampaikan dalam Rembug Warga Tahunan (RWT). PENGORGANISASIAN KSM (pengorganisasian KSM ini dpt juga dilakukan sth PS) Menghasilan relawan melaksanakan pengorganisasian KSM Terbentuknya KSM sebagai satuan unit sosial yang saling tolong dalam mengembangkan diri masing-masing anggotanya 2. Menghasilan panitia yg mampu melaksanakan pembentukan BKM/LKM · Penyusunan draft AD/ART · Kesepakatan aturan main pembentukan BKM/LKM & kriteria utusan/anggota BKM/LKM Memilih utusan RT berdasarkan kriteria nilai luhur (Bila jml RT banyak dpt dilakukan pemilihan saringan di RW) Membangun lembaga kepemimpinan masyarakat yang diisi oleh orang-orang baik.NO 5. TAHAPAN SIKLUS PEMBENTUKAN BKM/LKM TUJUAN · Menghasilkan relawan yg mampu memfasilitasi dan melaksanakan FGD Kelembagaan & Kepemimpinan · Menghasilkan relawan yg mampu menganalisis tata kelembagaan setempat · Masyarakat memahami kriteria kelembagaan yang dapat berperan sebagai BKM/LKM · Masyarakat menyadari kebutuhan lembaga yg dipimpin oleh orang-orang yang menerapkan nilai-nilai universal kemanusiaan · Masyarakat mampu merumuskan kriteria pemimpin masyarakat · Membentuk Panitia Pendirian BKM/LKM . murni dan benar 6. Adapun peninjauan ulang tersebut minimum meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) Penilaian terhadap kinerja kelembagaan BKM/LKM Mengingat anggota BKM/LKM memiliki masa bakti 3 tahun maka pada tahun kedua 98 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . PENYUSUNAN PJM Menghasilan relawan/BKM/LKM yg mampu melaksanakan penyusunan / RENTA PRONANG.3.2 Siklus 2 (Januari s/d Desember tahun kedua) Siklus 2 ini diawali dengan serangkaian kegiatan meninjau-ulang kinerja kelembagaan BKM/LKM.Pronangkis KIS Tersusunnya program kegiatan penanggulang-an kemiskinan (tiga tahunan & tahunan) 7.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 99 . Kegiatan infrastruktur yang diprioritaskan dalam Renta adalah kegiatan yang secara langsung memberikan dampak/manfaat secara kolektif bagi masyarakat dan diutamakan kegiatan yang bersifat lintas wilayah (lintas RT atau RW. kelengkapan struktur organisasi BKM/LKM. partisipasi dan realisasi kontribusi masyarakat § Status penyelesaian pertanggungjawaban KSM/panitia dalam melaksanakan kegiatan infrastruktur. agenda pertemuan rutin. serta kesesuaian dengan Renta atau arah PJM § Penerapan transparansi.ini yang dinilai adalah kinerja BKM/LKM yang mencakup : § Penilaian kinerja BKM/LKM sesuai digariskan dalam AD/ART BKM/LKM. manfaat terhadap KK miskin. dan keterlibatan relawan § Penerapan transparansi. akuntabilitas dan demokrasi § Penilaian capaian target indikator kinerja pelaksanaan PNPMM Perkotaan sesuai digariskan dalam pedoman 2) Penilaian terhadap capaian Renta § Apakah semua usulan yang di Renta sdh dilaksanakan semua. § Bila belum mengapa dan berapa yang masih harus diluncurkan di tahun berikutnya § Mutu produk yang dihasilkan (fisik maupun non fisik). dst). dan ekonomi § Disusun Renta tahun berikutnya dengan memperhatikan capaian tahun berjalan. termasuk keaktifan anggota. sosial. yang memberikan lingkup kemanfaatan lebih luas bagi masyarakat kelurahan 3) Penilaian kinerja keuangan BKM/LKM § Penilaian kinerja keuangan Sekretariat BKM/LKM. sesuai indikator kinerja yang digariskan dalam SOP pengukuran kinerja pembukuan BKM/LKM § Penilaian kinerja UPK (Unit Pengelola Keuangan) sebagai pengelola dana bergulir sesuai dengan indikator kinerja yang digariskan dalam SOP pengukuran kinerja pembukuan UPK § Besarnya dana yang dapat digalang BKM/LKM dari berbagai sumber § Penilaian kesesuaian pemanfaatan dana dengan prosedur yang sudah ditentukan. akuntabilitas dan demokrasi dalam pengelolaan dana § Pelaksanaan audit keuangan BKM/LKM Setelah peninjauan ulang ketiga hal tersebut maka dapat dibuatan rencana kerja untuk perbaikan sehingga diperoleh : PNPM MANDIRI .

1) Rencana perbaikan kinerja BKM/LKM dan bila diperlukan melakukan penggantian terhadap anggota yang non aktif dengan menggunakan daftar warga terpilih sebagai anggota BKM/LKM pada waktu pemilihan anggota BKM/LKM pada 2 tahun yang lalu. Setelah melakukan ini maka BKM/LKM berhak mendapat tambahan BLM. 100 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN . 2) Renta tahun berikutnya dengan memperhitungkan capaian Renta tahun berjalan untuk nantinya diajukan dalam Musrenbang tingkat Kelurahan dilanjutkan ke Musrenbang Kecamatan 3) Laporan keuangan yang telah disetujui oleh Askot MK Ketiga hal tersebut diatas harus menjadi bagian utama dalam dokumen pertanggungjawaban atau LPJ BKM/LKM yang dimusyawarahkan dalam Rembug Warga Tahunan di bulan Desember tiap tahun.

3 2. dan dan KEUANGAN KEUANGAN KSM KSM Tambahan BLM Tahun ke-3 Tambahan BLM Tahun ke-3 PNPM MANDIRI .3 Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Pada dasarnya Siklus 3 adalah sama dengan Siklus 2 karena BKM/LKM juga masih pada kurun masa Siklus 3 PJM juga masih berlaku meskin tidak BKM/LKM juga masih Pada dasarnyabakti dan adalah sama dengan Siklus 2 karena menutup kemungkinan Pada dasarnya Siklus dan PJM juga masih Siklus 2 karena tidak menutup pada kurun masa bakti3 adalah sama dengan berlaku meskin BKM/LKM juga masih untuk revisi pada kurun masa bakti dan kemungkinan untuk revisi PJM juga masih berlaku meskin tidak menutup kemungkinan untuk revisi Diagram Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Diagram Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Diagram Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Musrenbang Desa/Kel. KINERJA KINERJA BKM/LKM.3.3.3 Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) REVIEW RENTA. KEUANGAN dan KSM KSM Tambahan BLM Tahun ke-2 Tambahan BLM Tahun ke-2 2. REVIEW KINERJA RENTA. Kec dan Kab/Kota           Musrenbang Desa/Kel.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 101 .             PJM/ PJM/ RENTA RENTA PJM sebagai input bagi RPJM bagi RPJM Des/Renstra Des/Renstra Kel Kel dan Renta sebagai dan Renta sebagai input bagi RKP input bagi RKP Desa atau Renja Desa atau Renja KelKel PJM sebagai input Pencairan &   Pemanfaatan BLM Pencairan &   Pemanfaatan BLM REVIEW REVIEW RENTA.3. KINERJA dan BKM/LKM. Kec dan Kab/Kota Kec dan Kab/Kota Musrenbang Desa/Kel. PJM   Kec dan Kab/Kota sebagai input bagi RPJM     PJM/ RENTA PJM/ RENTA Pencairan & Pemanfaatan BLM Pencairan & Pemanfaatan BLM Des/Renstra Kel PJM sebagai input bagi RPJM dan Renta sebagai Des/Renstra Kel input bagi RKP dan Renta sebagai Desa atau Renja input bagi RKP Kel Desa atau Renja Kel KEUANGAN 2. RENTA. BKM/LKM. BKM/LKM.Diagram Siklus 2 (Januari s/d Desember tahun kedua) Diagram Siklus 2 (Januari s/d Desember tahun kedua) Musrenbang Diagram Siklus 2 (Januari s/d Desember tahun kedua) Desa/Kel.

PJM juga sdh selesai pada Siklus 3.4 Siklus 4 (Januari s/d Desember tahun keempat) 2.PERKOTAAN .4 Siklus 4 (Januari s/d Desember tahun keempat) BKM/LKM sudah selesai masa baktinya pada Siklus 3.3. BKM/LKM sudah selesai4masa baktinya pada Siklus 3.2. Siklus juga sdh selesai pada maka pada Siklus dimulai dengan putaran awal PJM 1 Siklus 3. maka pada Siklus 4 dimulai dengan putaran awal Siklus 1 Diagram Siklus 4 (Januari s/d Desember tahun keempat) Diagram Siklus 4 (Januari s/d Desember tahun keempat) Musrenbang Desa/Ke.3. Kec dan Kab/Kota PS BKM/LKM   RK PJM/ RENTA PJM sebagai input bagi RPJM Des/Renstra Kel dan Renta sebagai input bagi RKP Desa atau Renja Kel REFLEKSI 3 TH PNPM MP DI KELURAHAN   Pencairan  dana  (hasil  sinergi   program/  channeling)   KSM 102 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

Review BKM/LKM sesuai AD/ART Review kinerjakinerja BKM/LKM sesuai AD/ART 4.3. Skenario Pelaksanaan Jan Feb Mar Apr Mei Tahun  ke-­‐1 Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des RKM.Kel/Ds : MusrenbangKesiapan Masyarakat RKM : Rembug Kelurahan/Desa Msrb. Untuk tahun Review Renta Tahun ke-2 & Penyusunan Renta Tahun 3.  RWT Audit  Independen Msrb.  RK. Review Keuangan BKM/LKM melalui penilaian kinerja Sekretariat dan UPK serta Audit Review Keuangan BKM/LKM melalui penilaian kinerja Sekretariat dan UPK serta Audit Keterangan : RWT : Rembug Warga Tahunan Msrb. Skenario Pelaksanaan Skenario   Pelaksanaan Intervensi  Program Siklus  Masyarakat Proses  Musrenbang Skenario   Pelaksanaan Intervensi  Program Siklus  Masyarakat Proses  Musrenbang Skenario   Pelaksanaan Intervensi  Program Siklus  Masyarakat Proses  Musrenbang 4. ment).5.Kec : Musrenbang Kecamatan RWT : Rembug Warga Tahunan Msrb. melalui proses kemanusiaan (value based development). Agenda Review Partisipatif : Agenda Review : Review Untuk tahun ke-2Partisipatif : Renta Tahun ke-1 & Penyusunan Renta Tahun ke-2 1.  BKM/LKM. Untuk tahun ke-2 : Review Renta Tahun ke-1 & Penyusunan Renta Tahun ke-2 Untuk tahun ke-3 :ke-3 : Review Renta Tahunke-2 &Penyusunan Renta Tahun ke-3 ke-3 2.Kec : MusrenbangKemiskinan RK : Refleksi Kecamatan Msrb.  Kel/ds.  PS. 2. prinsip-prinsip universal kemasyarakatan (good governance). 3.  KSM).  RWT Audit  Independen Msrb.  Kec. prinsip-prinsip pembelajaran dan pelembagaan nilai-nilai universal kemanusiaan (value based develop(good governance).  PJM.Kel/Ds Keterangan : : Musrenbang Kelurahan/Desa Msrb.  Kec. Dengan demikian.  BKM/LKM.  KSM.  Kel/ds.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 103 . oleh dan untukuniversal kemasyarakatan masyarakt.5.Kab/Kota : Musrenbang Kabupaten/Kota Msrb. dapat disimpulkan bahwa Inti kegiatan PNPM MPkemandirian dan di masyarakat kelukelurahan/desa adalah proses menumbuhkembangkan keberlanjutan upaya-upaya penanggulangan kemandirian dan oleh dan untuk rahan/desa adalah proses menumbuhkembangkankemiskinan dari. melalui proses pembelajaran dan pelembagaan nilai-nilai universal ya-upaya penanggulangan kemiskinan dari. serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).4. 4. serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).Kab/Kota : Musrenbang Kabupaten/Kota RKM : Rembug Kesiapan Masyarakat RK : Refleksi Kemiskinan PS : Pemetaan Swadaya BKM/LKM : Badan Keswadayaan Masyarakat/ Lembaga Keswadayaan Masyarakat PS : Pemetaan Swadaya PJM : Perencanaan Jangka Menengah BKM/LKM: Rencana Keswadayaan Masyarakat/ : Badan Tahunan Renta Lembaga Keswadayaan Masyarakat BLM : Bantuan Langsung Masyarakat PJM : Perencanaan Jangka Menengah Renta : Rencana Tahunan BLM : Bantuan Langsung Masyarakat   Dengan demikian. dapat disimpulkan bahwa Inti kegiatan PNPM MP di masyarakat PNPM MANDIRI .  Kab/Kt Tahun  ke-­‐4 Jun Jul Pra-­‐Musrenbang Jan Feb Mar Apr Mei Ags Sep Okt Nop Des Pencairan  dan  Pemanfaatan  BLM Audit  BPKP  dan  Inspektorat  Kab/Kota Refleksi  3  th  PNPM  MP  di  Kel/desa  (Perencanaan  Partisipatif.  BLM RWT Pra-­‐Musrenbang Tahun  ke-­‐2  dan  Tahun  ke-­‐3 Mei Jun Jul Ags Jan Feb Mar Apr Sep Okt Nop Des Pencairan  dan  Pemanfaatan  BLM Audit  BPKP  dan  Inspektorat  Kab/Kota Review  Partisipatif. keberlanjutan upamasyarakt.  Kab/Kt Pra-­‐Musrenbang 1.3.

1. Hal ini juga penting untuk menyediakan layanan yang merespon tidak hanya untuk maPartisipasi perempuan dalam proses pembangunan masyarakat merupakan faktor kunci syarakat luas. No 1 Di bawah ini adalah implementasi dari strategi kemajuan dalam PNPM MP: :MP: : Di bawah ini adalah implementasi dari strategi kemajuan dalam PNPM Kegiatan Sosialisasi dan diseminasi di tiap tingkatan (level nasional sampai kelurahan/desa) • • • Langkah-langkah untuk Memastikan Pengarusutamaan Gender dan Kesetaraan Menjelaskan dan membahas betapa pentingnya partisipasi perempuan adalah untuk pengurangan kemiskinan Jelaskan tujuan gender dari proyek dalam strategi kemiskinannya Ahli strategi komunikasi bertanggung jawab untuk menentukan cara terbaik untuk memastikan bahwa perempuan di semua tingkatan menerima informasi yang sama dengan pria. 2. PNPM MP-I. perempuan harus mendapatkan prioritas Diharapkan minimal sepertiga dari konsultan dan fasilitator per provinsi adalah perempuan Cuti hamil akan sesuai dengan hukum yang berlaku pada waktu sekarang. poster. kabupaten/kota sampai tingkat Lurah/Kades Memberikan tambahan materi pelatihan pada kegiatan pelatihan penguatan pemda maupun TOT Pemda Iklan untuk semua staf proyek baru harus menyatakan bahwa 'perempuan sangat dianjurkan untuk mengirim lamaran' Jika ada kedua kandidat memenuhi syarat pria dan wanita untuk posisi.LAMPIRAN 4 STRATEGI UNTUK MEMASTIKAN KESETARAAN DAN PENGARUSUTAMAAN GENDER PNPM MP 2012-2014 1. Strategi ini telah diperbarui untuk PNPM MP-III untuk pengarusutamaan dan memiliki kebutuhan tersebut. menggunakan apapun media dan bahasa yang sesuai. Lampiran 4 : Strategi untuk Memastikan Kesetaraan dan Pengarusutamaan Gender Partisipasi perempuan dalam proses pembangunan masyarakat merupakan faktor kunci PNPM MP 2012-2014 dalam membangun organisasi yang benar-benar mewakili semua orang di masyarakat.PERKOTAAN 1 . 2. Strategi dantelah diperbarui untuk PNPM MP-III untuk pengarusutamaan gender agar lebih sistematis dan kesetaraan. tetapi organisasi yang spesifik bahwa perempuan mungkin memiliki dalam membangun juga untuk kebutuhanbenar-benar mewakili semua orang di masyarakat. identifikasi perempuan. selebaran Evaluasi cepat berkala oleh fasilitator harus mengidentifikasi efektivitas bahan yang digunakan dan juga mengidentifikasi mereka yang tidak menerima informasi dalam kelurahan sehingga inisiatif baru dapat diperkenalkan Membahas perlunya Pengarusutamaan Utama Gender dan Anggaran yang Responsif Gender dalam setiap kegiatan sosialisasi maupun lokakarya di tingkat propinsi. misalnya. Dalam kontrak konsultan dan fasilitator harus dijelaskan ketentuan tambahan biaya untuk penyediaan imbalan bersalin yang harus dimasukkan dalam biaya sosial dari kontrak tersebut. Strategi gender menyediakan layanan yang untuk UPP 3 dan PNPM kebutuhan Hal ini juga penting untuk berikut ini dikembangkan merespon tidak hanya untuk masyarakat luas. Semua kontrak harus mencakup cuti hamil bagi perempuan Sertakan isu-isu yang berkaitan dengan gender (teknik pertemuan. • 2 Penguatan Kapasitas untuk Pemerintah Daerah • • 3 Konsultan dan Fasilitator • • • • 4 5 Pelatihan Konsultan dan Fasilitator Pedoman/brosur Sederhana tentang • • • • 104 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . waktu. radio. drama. tetapi juga untuk kebutuhan spesifik bahwa perempuan mungkin MP-I. dll) Mengidentifikasi cara-cara khusus dan dapat diterima lokal untuk (a) memastikan perempuan dapat berpartisipasi dalam semua aspek program. issue budaya lokal yang spesifik. fasilitas. Strategi gender berikut ini dikembangkan untuk UPP 3 gender agar lebih sistematis ini kesetaraan.tersebut. Sedikitnya 30% dari fasilitator dipilih harus perempuan.

• Sedikitnya 30% dari fasilitator dipilih harus perempuan. imbalan bersalin yang harus dimasukkan dalam biaya sosial dari kontrak tersebut. Evaluasi isu-isu yang oleh fasilitator harus mengidentifikasi efektivitas fasilitas. poster. 2. identifikasi perempuan. drama. Strategi ini telah kontrak konsultan dan PNPM MP-IIIdijelaskan pengarusutamaan biaya untuk penyediaan gender agar lebih sistematis dan kesetaraan. menggunakan apapun media dan bahasa informasi • Sedikitnya 30% dari relawan masyarakat terpilih harus perempuan yang sesuai. Gunakan metode partisipatif untuk monitoring di tingkat kelurahan/desa PNPM MANDIRI . Seleksi UPK • Dalam kontrak konsultan dan fasilitatoryang memenuhi syarat.1. Di bawah ini adalah implementasi dari strategi kemajuan dalam PNPM MP: : • Semua kontrak harus mencakup cuti hamil bagi perempuan Langkah-langkah untuk Memastikan Pelatihan Konsultan dan • Sertakan isu-isu yang berkaitan dengan gender (teknik pertemuan. Sederhana tentang memastikan perempuan Format Monitoring dan • Pastikan format untuk monitoring dan evaluasi mengumpulkan informasi Evaluasi tentang partisipasi perempuan dalam semua aspek proyek. identifikasi perempuan. dll) Diskusi Kelompok • Mengadakan diskusidalam kelurahan sehinggauntuk perempuan (terpisah menerima informasi kelompok terarah khusus inisiatif baru dapat Terarah/FGD khusus dari laki-laki) diperkenalkan pada identifikasi Penguatan Kapasitas • Pastikan bahwa pendekatan gender sensitif / metode yang digunakan yang • Membahas perlunya Pengarusutamaan Utama Gender dan Anggaran kemiskinan dan analisis untuk Pemerintah Daerah sesuai dengan kondisi lokal (tempat. Menentukan prioritas • Pastikan KSM perempuan yang diusulkan dapat perempuanpertemuan (yaitu • Semua kontrak harus mencakup cuti hamil bagi datang ke proposal dalam Pelatihan Konsultan dan • perhatikan masalah tempat dan waktu pertemuan untuk pertemuan. Strategi genderdengan hukum yang berlaku pada waktu UPP 3 dan Dalam diperbarui untuk fasilitator harus untuk ketentuan tambahan PNPM MP-I. selebaran Pelatihan Relawan •• Sertakan cepat berkalaberkaitan dengan gender (teknik pertemuan. kunci dalam proses kandidat memenuhi syarat pria merupakan faktor perempuan yang benar-benar dalam membangun organisasi harus mendapatkan prioritasmewakili semua orang di • Diharapkan minimal sepertiga dari konsultan dan merespon tidak masyarakat. waktu. waktu. tetapi juga untuk kebutuhan spesifik bahwa perempuan mungkin • Cuti hamil akan sesuai berikut ini dikembangkan untuk sekarang. termasuk rapat. Memastikan bahwa perempuan menyusun sendiri proposal KSM (dengan KSM bantuan dari komunitas kader / fasilitator jika diperlukan) • Sedikitnya 30% dari fasilitator dipilih harus perempuan. misalnya. dll untuk meningkatkan kinerja jika diperlukan1 • Membuat data terpilah laki-laki dan perempuan dalam SIM • Strategi untuk menjamin transparansi harus memastikan bahwa perempuan memiliki akses yang mudah ke sumber informasi dan bahwa mereka memahami tanggung jawab mereka untuk memantau penggunaan dana. teknik fasilitasi. Sertakan isu-isu yang berkaitan dengan gender (teknik memungkinkan pertemuan 'rembug perempuan dapat berpartisipasi mengingatidentifikasi perempuan. Rembug/Rapat dalam sampai kelurahan/desa) •• Sedikitnya 30% dari peserta harus perempuan menentukan cara terbaik Ahli strategi komunikasi bertanggung jawab untuk pemilihan relawan • Memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dalam pemilihan untuk memastikan bahwa perempuan di semua tingkatan menerima 1 masyarakat relawan yang sama dengan pria. Hal ini juga penting untuk menyediakan layanan yangfasilitator per provinsihanya adalah perempuan untuk masyarakat luas. issue budaya lokal yang Gender dan Kesetaraan Sosialisasi dan • Mengidentifikasi cara-cara khusus untuk Memastikan untuk (a) membahas betapa pentingnya partisipasi Pedoman/brosur • Menjelaskan danLangkah-langkahdan dapat diterima lokal perempuan Kegiatan diseminasi tentang adalah untuk perempuan dapat berpartisipasi dalam semua aspek program. dll) Fasilitator fasilitas.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 105 . dll) Responsif Gender dalam setiap kegiatan sosialisasi maupun lokakarya di kelembagaan lokal tingkat propinsi. kondisi lokal mereka) warga' • Berikan prioritas untuk proposal perempuan jika mereka memenuhi kriteria Pedoman/brosur • Mengidentifikasi cara-cara khusus dan dapat diterima lokal untuk (a) menurut tim verifikasi dapat berpartisipasi dalam semua aspek program. issue budaya lokal yang spesifik. waktu. dll) Fasilitator fasilitas. kabupaten/kota sampai tingkat Lurah/Kades Peserta seleksi untuk • Coba dan memastikan selama pelatihan pada kegiatan pelatihan penguatan • Memberikan tambahan materi sosialisasi bahwa 50% peserta adalah Pemetaan Swadaya dan perempuan pemda maupun TOT Pemda pelatihan perencanaan • Iklan untuk semua stafdari anggota Surveymenyatakan bahwa 'perempuan Konsultan dan Fasilitator • Setidaknya sepertiga proyek baru harus Swadaya harus perempuan partisipatif sangat dianjurkan untuk mengirim lamaran' Mengembangkan • Mencobakedua kandidat memenuhi syarat pria dan wanita untuk posisi. perempuan Jika ada dua kandidat pria dan wanita harus dijelaskan ketentuan tambahan harus untuk penyediaan imbalan bersalin yang harus dimasukkan dalam biaya mendapatkan prioritas Penyusunan Proposal • biaya sosial dari kontrak tersebut. issue budaya lokal yangmengidentifikasi mereka yang tidak bahan yang digunakan dan juga spesifik. memiliki kebutuhan tersebut. pengurangan kemiskinan Sederhana di tiap memastikan Pengarusutamaan Gender dan Kesetaraan Gender (level nasional dan (b) untuk menyebarluaskan informasi strategi kemiskinannya tingkatan • Jelaskan tujuan gender dari proyek dalam kepada perempuan. Kegiatan Pengarusutamaan spesifik. radio. • Jika ada dan memastikan bahwa 40% dari peserta pertemuan adalah Lembaga Masyarakat perempuan harus mendapatkan prioritas perempuan (BKM/LKM) proses dari • Diharapkan minimal sepertiga dari konsultan dan fasilitator per provinsi • Pastikan melalui sosialisasi bahwa masyarakat menyadari bahwa RT / RW / Dusun sampai perempuan memiliki adalah perempuan kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota tingkat kelurahan/desa BKM • Cuti hamil akan sesuai dengan hukum yang berlaku pada waktu sekarang. 4 No 1 5 No 6 7 8 2 9 3 10 11 12 13 4 5 14 Partisipasi perempuan • Jika ada keduapembangunan masyarakatdan wanita untuk posisi. perempuan penerima manfaat. waktu.

Tindakan yang dilakukan merupakan tambahan persyaratan dari sistem kontrol standar yang digunakan oleh Bank. dan hasil implementasi per Oktober 2011. Kunci elemen BGAP yang BGAP ini terdiri dari lima elemen utama berikut. BGAP menginginkan: • mengidentifikasi risiko korupsi (pemetaan korupsi). Bank dan Kementerian Pekerjaan Umum (Instansi Pelaksana PNPM MP) telah mengidentifikasi sumber resiko korupsi di 15 daerah. Untuk mencapai tujuan ini.PERKOTAAN . dalam menanggapi pelajaran selama pelaksanaan program dan beradaptasi dengan risiko baru jika hal ini harus muncul.LAMPIRAN 5. pertemuan publik. Pemetaan korupsi. 4. Identifikasi Risiko Korupsi (Pemetaan Korupsi) 2.: • Meningkatkan keterbukaan dan transparansi. Perlu dicatat bahwa BGAP diharapkan dapat berubah seiring waktu. Tujuan keseluruhan dari BGAP PNPM MP adalah untuk meminimalkan resiko korupsi untuk seluruh program. Mengurangi korupsi dimulai dengan mengidentifikasi sumber risiko korupsi. dan • Sanksi dan penyelesaian. Untuk penyusunan BGAP. Sejak tahun 2003. dan • melaksanakan suatu rencana aksi untuk mengurangi risiko korupsi. yang diadopsi pada tahun 2008. • Pengawasan oleh masyarakat. dan mengidentifikasi langkah-langkah untuk mengurangi risiko ini. papan pengumuman dan sarana lainnya. penipuan dan nepotisme. Informasi ini mencakup: • (Diperbaharui) rencana pengadaan tahunan dan jadwal. 106 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . dan membuat informasi relevan yang tersedia melalui website PNPM MP. Pendahuluan. Rencana Aksi Pemerintahan yang Lebih Baik (BGAP) telah menjadi bagian dari desain Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan proyek-proyek perkotaan serta pedesaan pendahulunya. Pemetaan korupsi akan dilakukan secara periodik. • Penanggulangan kolusi. BGAP telah mengadopsi ketentuan terbaru Bank tentang keterbukaan. • Mekanisme penanganan pengaduan. Lampiran ini merangkum fitur kunci dari BGAP PNPM MP. Elemen 1: ketentuan peningkatan keterbukaan dan transparansi. untuk mengidentifikasi risiko baru dan menggabungkan inovasi dan pelajaran selama pelaksanaan PNPM MP. Pelaksanaan Rencana Aksi 3. RENCANA AKSI TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG LEBIH BAIK PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2012-2014 1.

dan evaluator (secara ad-hoc). penipuan dan nepotisme. • Tambahan audit dan prosedur pengadaan. yang terdiri dari wakil dari berbagai elemen masyarakat termasuk LSM dan Perguruan Tinggi setempat. dan kutipan (setelah pemenang diumumkan). dan dis- 6. sebagai penyedia pelatihan. seperti pengawasan tambahan oleh tenaga ahli pengadaan dan manajemen keuangan. PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 107 . Laporan Audit. Tingkat partisipasi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat adalah sangat penting untuk keberhasilan PNPM MP. Permintaan Proposal. Korkot mengembangkan komunitas belajar. • Evaluasi periodik oleh konsultan evaluasi yang disewa oleh PNPM MP. tetapi juga untuk mempertahankan akuntabilitas tingkat tinggi dan pemerintahan yang baik. termasuk yang ditangani di pengadilan untuk menyelesaikan laporan pengaduan. Berdasarkan pengalaman dalam proyek-proyek UPP sebelumnya. dengan menyediakan narasumber untuk pengembangan PJM Pronangkis. tidak hanya untuk meningkatkan kualitas kegiatan yang dilaksanakan dengan dukungan dana dari program ini. proposal. BGAP ini telah dikembangkan untuk meningkatkan tata kelola kegiatan proyek baik di tingkat pusat (dengan Kementerian Pekerjaan Umum sebagai Instansi Pelaksana) dan tingkat masyarakat (di mana pelaksanaan subproyek terjadi). pendekatan ini telah terbukti tidak efektif di beberapa daerah di mana masyarakat telah diperas oleh “wartawan”. Di tempat lain. Karena PNPM MP langsung melibatkan kelompok masyarakat dalam pemantauan hasil subproyek. dan evaluasi kualitas barang dan jasa yang dibiayai oleh dana BLM kelurahan. Risiko tindakan mitigasi meliputi: • Kegiatan pengadaan diiklankan secara baik dan transparan.• • • • • Dokumen Pelelangan. sebagai kapasitas sangat bervariasi antara daerah. Pengaduan. pendekatan yang berbeda diperlukan untuk memobilisasi masyarakat dalam program ini. Di banyak kota. media lokal secara efektif yang menyediakan pengawasan. BGAP memerlukan PMU untuk mengungkapkan kepada semua peserta tender ringkasan hasil evaluasi penawaran. Elemen 2: pengawasan oleh masyarakat. penipuan dan nepotisme PNPM MP dirancang untuk mengurangi kolusi. 5. LSM dan organisasi masyarakat sipil lainnya yang terlibat dalam program melalui partisipasi dalam lokakarya regional. Elemen 3: Penanggulangan kolusi. Selain itu. dan Tindakan yang dilakukan oleh PMU dan lembaga lainnya. Rancangan program ini didasarkan pada pemikiran bahwa pengawasan oleh masyarakat adalah dimungkinkan untuk mengurangi risiko korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Proyek ini akan membantu PMU untuk mengembangkan sistem yang lebih transparan untuk pemeriksaan invoice. dll Elemen 5: sanksi dan penyelesaian. Kapasitas untuk menyelesaikan keluhan perlu ditingkatkan dengan melibatkan pemerintah daerah. tren dalam penegakan hukum. Selain itu. sebagaimana diamanatkan oleh hukum Indonesia (dalam hal intra-masyarakat. tambahan verifikator. Elemen 4: penanganan pengaduan. Sistem ini banyak digunakan untuk pengendalian manajemen. secara profesional dan tepat waktu. yang dipublikasikan di website PNPM MP. yang mungkin termasuk penggunaan ICT. penipuan kolusi dan nepotisme. atau langsung ke fasilitator atau pejabat pemerintah daerah.eminasi hasil evaluasi kepada pihak teknis terkait. masalah yang mungkin dalam bidang program ini. 7. Namun. • Daerah yang perlu penguatan berhubungan dengan “pemeriksaan invoice” konsultan oleh PMU. 23 kasus telah dibawa ke kantor polisi dan jaksa. Pengalaman dengan proyek-proyek pem- 8. • Analisis laporan SIM untuk kasus kolusi. sistem telah penuh dengan lebih dari 60. kasus akan dilaporkan dan dibahas sebagai pertemuan masyarakat sebelum diajukan kepada hukum penegak hukum).PERKOTAAN . PNPM MP telah menempatkan sistem keluhan komprehensif penanganan di tempat yang memungkinkan warga untuk menyampaikan pengaduan atau pertanyaan ke unit manajemen program melalui telepon. Data-data perusahaan harus sistematis untuk memungkinkan prioritas. email.000 keluhan selama beberapa tahun terakhir. termasuk informasi mengenai tindak lanjut dan sanksi diterapkan. seperti kinerja konsultan dan fasilitator. Juga. 108 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . SMS. penipuan dan nepotisme ke kantor Jaksa Agung. Sistem saat ini telah berhasil dalam menerima banyak keluhan (sekitar 50/ hari). PMU perlu meningkatkan kapasitas untuk meninjau dan menganalisis data ini untuk mengidentifikasi tren risiko. serta melalui tekanan publik. peningkatan prosedur. PNPM MP dirancang untuk mendorong resolusi pengaduan lokal melalui jalur formal. dan meningkatkan secara acak vendor checking. dan tanpa resiko pembalasan untuk “whistleblower”. dan • Pelaporan langsung dari kasus kolusi. Dari 1. Setiap keluhan.071 kasus dana disalahgunakan. penipuan dan nepotisme sebagai bagian dari Laporan Tata Kelola dua tahunan untuk mengidentifikasi tren dalam penipuan dan korupsi dan risiko baru mungkin untuk tujuan Proyek. email biasa. Sebuah unit penanganan pengaduan di Instansi Pelaksana meneliti dan berusaha untuk menyelesaikan setiap keluhan. peningkatan kapasitas dari verifikator.

LSM. yang terbebani dan lambat (ini terutama keuntungan bagi kasus yang lebih kecil dari korupsi). Tabel.dengan ketentuan bahwa sanksi ini sudah wajar dan sesuai (program secara tegas TIDAK mendukung main hakim sendiri atau bentuk-bentuk ekstrimisme).bangunan berbasis masyarakat lainnya telah menunjukkan bahwa resiko korupsi dapat dikurangi secara efektif dengan menggunakan sanksi berbasis masyarakat (atau ancaman menggunakan sanksi tersebut).1 di bawah ini menunjukkan status implementasi BGAP dan pelajaran. yang juga dapat diterapkan. atau perusahaan swasta berpartisipasi dalam program ini dapat diajukan kepada polisi dan kantor kejaksaan agung untuk penuntutan jika ada bukti yang cukup tersedia. BKM dapat (sementara atau seterusnya) ditunda akses ke dana PNPM dalam kasus di mana diduga ada penyalahgunaan besar dana. Ini berarti bahwa setiap pejabat pemerintah. pemerintah kota dapat perkecualian dari partisipasi dalam PNPM MP jika ada bukti bahwa penyalahgunaan dana adalah sistemik dalam beberapa kelurahan di Kabupaten / kota.Keuntungan utama dari pengenaan sanksi berbasis masyarakat adalah bahwa dapat lebih mudah dan efektif diterapkan sebagai lawan hukum formal. sehingga PNPM MP mendorong masyarakat untuk menjatuhkan sanksi terhadap warga negara yang dipercayakan kepada mereka memiliki wewenang yang disalahgunakan .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 109 . dan hukuman tambahan (seperti denda dan daftar hitam/black list) dapat dikenakan sesuai peraturan antara Bank dengan dan Pemerintah Indonesia. Harus ditekankan bahwa BGAP menganggap sanksi berbasis masyarakat sebagai pelengkap .sanksi formal. Tabel ini akan diperbarui dari waktu ke waktu. PNPM MANDIRI . Demikian pula. kolusi dan nepotisme akan mengakibatkan pemutusan kontrak itu. anggota masyarakat.dan bukan sebagai pengganti . Pada skala yang lebih besar. sebagian besar strategi telah diimplementasikan dengan berbagai tingkat efektivitas. Semua kontrak yang dibiayai oleh PNPM MP mengandung klausul yang menyatakan bahwa setiap bukti korupsi. Status dan Hasil Pelaksanaan BGAP (per Oktober 2011) 9. Secara keseluruhan. Pemerintah telah menyebarluaskan BGAP ke fasilitator dan memberikan pelatihan pada pelaksanaannya.

Tanggapan laporan audit di upload di 'web-site ‘ PNPM MP . Rencana pengadaan untuk 2014-2015 akan dimuat di website proyek (www. terutama yang terkait dengan temuan penyalahgunaan dana. dan papan • Pembukuan laporan pengumuman. setelah pemenang diberitahu. antara lain: • melalui partisipasi dalam lokakarya regional. Sama seperti di atas. Selesai di GPN. Menginformasikan rencana pengadaan tahunan dan jadwal (dan update mereka). LSM kredibel terlibat. termasuk • Min 5 Papan informasi untuk informasi perlu dibuat agar rapat-rapat umum tersedia di setiap kelurahan. Menginformasikan kepada semua peserta tender dari ringkasan evaluasi dan perbandingan penawaran.org) Tidak ada masalah dengan jenis keterbukaan yang sampai saat inil dan tindakan penanganan umumnya telah diterima sebagai bagian dari elemen transparansi program. bulanan BKM harus diumumkan di papan pengumuman. Sebagian. Pengawasan oleh Masyarakat Sipil Libatkan LSM dan organisasi masyarakat sipil lainnya dalam berbagai cara.PERKOTAAN 110 .Panitia tender telah mengirimkan surat kepada semua peserta tender. Hal ini berguna untuk tujuan tindak lanjut.Tabel 1: Kemajuan dalam Rencana Aksi Tata Kelola yang lebih baik dari PNPM MP Rencana Aksi Kemajuan PNPM Perkotaan Pembelajaran Peningkatan Membuat informasi • Berbagai pertemuan telah Menyediakan informasi di papan Ketentuan penting tersedia dilakukan untuk pengumuman tanpa pendidikan yang keterbukaan & bagi masyarakat menyebarkan informasi layak kepada masyarakat tidak Transparansi dengan berbagai proyek di tingkat kelurahan. laporan Audit tahunan proyek diupload di website BPKP. p2kp. Belum • sebagai nara sumber kunci untuk pengembangan   4   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . sepenuhnya efektif. LSM telah terlibat sebagai peserta dalam berbagai lokakarya PNPM MP di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten.Permintaan cara. proposal. untuk dokumen penawaran dan permintaan proposal. dan kutipan. lebih efektif. karena banyak LSM tidak memiliki kapasitas untuk keterlibatan. penawaran. Menginformasikan hasil laporan audit Sebagian.

Lebih dari 1000 fasilitator FM telah dimobilisasi. Namun. Membentuk sebuah komite di tingkat pusat untuk secara teratur mengevaluasi kinerja konsultan yang dipekerjakan dalam proyek ini.PJM Pronnagkis. Laporan kasus kolusi. sebagaimana diamanatkan oleh hukum Indonesia. Untuk kasus yang kecil terbukti menjadi sulit dan tidak tepat ditindaklanjuti karena prioritas kurang disediakan. Tenaga Ahli manajemen keuangan ditempatkan di NMC dan tingkat OC.PERKOTAAN 5   | PEDOMAN PELAKSANAAN 111 . • sebagai evaluator sewaktu-waktu. Dilakukan di mana hal itu terjadi Ini efektif dalam banyak kasus. meskipun demikian tenaga ahli dengan pengalaman internasional tetap dibutuhkan. Tenaga Ahli pengadaan ditugaskan di tingkat nasional. Komite ini akan mengedarkan hasilnya kepada pihak teknis terkait. Mobilisasi tenaga ahli FM telah meningkatkan kualitas pengawasan proyek. tetapi terutama kepada polisi. di beberapa daerah kapasitas tenaga ahli FM rendah dan tambahan pelatihan khusus akan diperlukan. Dilakukan sesuai kebutuhan. penyalahgunaan dana dan nepotisme langsung ke kantor Jaksa Agung. Laporan terbuka dalam rembug warga sebelum diajukan kepada kantor jaksa agung dalam hal intramasyarakat. Penyalahgunaan Dana & Nepotisme Menetapkan tenaga ahli pengadaan dan manajemen keuangan untuk setiap wilayah. dan Belum • sebagai penyedia Dilakukan secara parsial pelatihan dalam bidang keterampilan tertentu. Hasil terbaik telah terjadi ketika perwakilan pemerintah daerah juga membantu dalam proses resolusi. Pelaporan ke polisi telah menjadi lebih tepat untuk kasus-kasus kecil di tingkat masyarakat. Dilanjutkan dengan perekrutan tenaga ahli pengadaan telah dibantu Pemerintah. namun keterlibatan pejabat pemerintah daerah mutlak diperlukan. Penanggulangan Kolusi.   PNPM MANDIRI . penyalahgunaan Komite belum dibentuk.

org Berikut adalah alamat untuk penanganan pengaduan: • SMS: +62 817 148 048. Dana BLM Kelurahan di dua kabupaten dan kelurahan telah banyak ditahan terkait dengan penyalahgunaan dana. dan sanksi yang diterapkan. Hal ini hanya berlaku untuk beberapa kelurahan 6     112 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Namun. dll) sesuai dengan peraturan Bank dan Pemerintah. NMC baru akan diberlakukan untuk proyek ini. dan mekanisme berbasis SMS.Semua informasi tentang proyek tersebut harus meliputi SMS untuk pengaduan. dan memberikan pesan yang kuat ke industri. sistem peringatan dini perlu dikembangkan untuk mengatasi masalah diawal. Penyebaran informasi harus terus menerus dan ketat. • Alamat email: ppm@pnpm- Karena proyek ini dibiayai dari berbagai sumber. Publikasikan melalui web-site database pengaduan. Daftar hitam telah membantu dalam menciptakan kesadaran perilaku etis. Pada tingkat OC. sementara berguna sampai batas tertentu. seperti efek untuk manajemen proyek dengan tidak adanya konsultan. dengan hukuman tambahan berpotensi dikenakan (seperti denda. tindak lanjut. termasuk kemungkinan peningkatan dalam kebocoran dengan tidak adanya pengawasan yang tepat. tidak akan bertahan sangat lama. tindak lanjut.pnpm-perkotaan. Alamat ini akan diposting ke papan kelurahan itu. Khusus poster untuk penanganan pengaduan. kolusi dan nepotisme. Sampai saat ini tidak ada tindakan dari program PNPM terkait perusahaan yang telah ditetapkan oleh INT tersebut. Memutus kontrak pengadaan bila terbukti korupsi. menanggapi keputusan daftar hitam harus mencakup penilaian hati-hati dan langkah-langkah mitigasi untuk meminimalkan efek negatif dari daftar hitam untuk pelaksanaan proyek. Pada tingkat OC struktur yang ada dapat dipertahankan. dan sanksi yang diterapkan melalui web-site telah tersedia di : www.org Sanksi & penyelesaian INT telah menetapkan daftar hitam beberapa perusahaan di Indonesia yang mengirimkan faktur fiktif dan isu F & C lain. Unit khusus untuk penanganan pengaduan telah ditunjuk untuk memfasilitasi penanganganan pengaduan. Menginformasikan alamat mail pengaduan. Kecualikan seluruh kota (s) dari partisipasi dalam Tidak ada kasus sejauh ini. daftar hitam. Pendekatan ini efektif. pnpm-perkotaan. Ini akan memungkinkan mereka untuk lebih mengakses informasi dari semua program. kolusi dan nepotisme. Namun. Database pengaduan. itu akan lebih baik jika konsultan dikontrak secara individual oleh PMU bukan NMC.org • Pengaduan Online: www. Menetapkan unit khusus untuk penanganan pengaduan di NMC dan OC untuk menyelidiki dan memfasilitasi penyelesaian pengaduan dan masalah. Peran SIM sangat penting dalam pengertian ini. penanganan pengaduan difasilitasi oleh ahli penanganan pengaduan dan didukung oleh tim Korkot dan TA Monev.Mekanisme Penanganan Pengaduan dana. Pada 2010-2011. Permintaan untuk informasi perlu ditingkatkan dan presentasi dapat ditingkatkan dengan penyajian yang dapat disesuaikan degan kebutuhan. Suspend penarikan dana dari rekening proyek khusus untuk BKMs dalam kasus di mana diduga terjadi penyalahgunaan besar dana. NMC sebelumnya dalam PNPM III telah ditetapkan “daftar hitam” karena praktek penipuan dalam proyek lain.PERKOTAAN . perkotaan.

Perlu dimasukkan ke maksimum. Keputusan evaluasi konsultan. lebih disukai” sehingga tidak • Taksiran anggaran untuk masinglebih disukai” sehingga tidak • Taksiran anggaran untuk masingada konsultan lain masing paket kontrak akan ada konsultan lain masing paket kontrak akan 7   7   PNPM MANDIRI .8 milyard rupiah dengan signifikan tinggi diberikan diatas 1.org (dalam Bahasa). • Penundaan proses evaluasi • Rencana Pengadaan. Sub Lampiran 1. • Kriteria evaluasi untuk penetapan • Kriteria evaluasi untuk penetapan daftar pendek harus seobyektif daftar pendek harus seobyektif mungkin dengan menggunakan mungkin dengan menggunakan ukuran kuantitatif yang jelas serta ukuran kuantitatif yang jelas serta menghilangkan unsur subyektifitas menghilangkan unsur subyektifitas Kapasitas Pimpro dan Kapasitas Pimpro dan Panitia Tender/ Panitia Tender/ Evaluasi Evaluasi MEDIUM MEDIUM (Pusat) (Pusat) Evaluasi Proposal Evaluasi Proposal MEDIUM MEDIUM • Penasehat pengadaan yang dibiayai • Penasehat pengadaan yang dibiayai oleh proyek untuk mengawasi proses oleh proyek untuk mengawasi proses pengadaan pengadaan • Pengembangan kapasitas untuk • Pengembangan kapasitas untuk semua pelaku yang terlibat dalam semua pelaku yang terlibat dalam pengadaan. Artikel telah diupload dalam Artikel telah diupload dalam proyek web-situs proyek web-situs www. proposal yang tidak beralasan. Bahasa). Matriks Pemetaan Korupsi Sub Lampiran 1. Menyebarkan Menyebarkan informasi tentang informasi tentang penanganan kasus penanganan kasus yang berhasil. dana tersebar luas. alasan yang tidak terkait pengadaan apapun. Matriks Pemetaan Korupsi Bidang Pemetaan Bidang Pemetaan Korupsi Korupsi PENGADAAN PENGADAAN Penyiapan Short List // Penyiapan Short List daftar pendek daftar pendek Tingkat Tingkat Resiko Resiko MEDIUM MEDIUM Peluang Korupsi Peluang Korupsi Aksi Mitigasi Aksi Mitigasi Manipulasi proses penetapan Manipulasi proses penetapan daftar pendek untuk daftar pendek untuk mengeluarkan perusahan yg mengeluarkan perusahan yg dapat menjadi saingan degan dapat menjadi saingan degan calon yang sebenarnya sudah calon yang sebenarnya sudah dipilih/ memasukkan dipilih/ memasukkan perusahaan yang tidak akan perusahaan yang tidak akan menawar lebih rendah menawar lebih rendah Penilaian yang tidak Penilaian yang tidak independen dalam proses independen dalam proses evaluasi konsultan. pembinaan operator proyek. Perlu dimasukkan ke dalam bahan pelatihan dan untuk dalam bahan pelatihan dan untuk pembinaan operator proyek.org (dalam www. lain. sesuai dengan Keppres 80/2003. dikembalikan. • Skor teknis yang cukup • Prosedur untuk kontrak konsultan • Skor teknis yang cukup • Prosedur untuk kontrak konsultan signifikan tinggi diberikan diatas 1. kepada konsultan “yang pagu anggaran akan diikuti. Kesepakatan Legal. Meng-upload berguna tapi tidak Meng-upload berguna tapi tidak cukup untuk mendapatkan efek cukup untuk mendapatkan efek maksimum. termasuk sertifikasi staf pengadaan. penanganan keluhan. alasan yang tidak terkait dengan kapasitas • Bank akan menyatakan pengadaan dengan kapasitas • Bank akan menyatakan pengadaan konsultan dalam yang tidak sesuai (misprocurement) konsultan dalam yang tidak sesuai (misprocurement) melaksanakan jasa untuk perpanjangan validitas melaksanakan jasa untuk perpanjangan validitas tersebut.fase berikutnya jika fase berikutnya jika penyalahgunaan penyalahgunaan dana tersebar luas. dengan jangka • Penundaan proses evaluasi • Rencana Pengadaan.PERKOTAAN     | PEDOMAN PELAKSANAAN 113 .p2kp. dimana yang berhasil. dimana terjadi pembelajaran terjadi pembelajaran dan dana dapat dan dana dapat dikembalikan. dan akan ditetapkan sebagai dasar untuk • Proposal ditolak karena ditetapkan sebagai dasar untuk • Proposal ditolak karena pengadaan apapun.p2kp. dan akan konsultan (tertentu). . dengan jangka yang akan menguntungkan waktu yang jelas. proposal yang tidak beralasan. akan diikat dalam konsultan (tertentu). tersebut.8 milyard rupiah dengan kepada konsultan “yang pagu anggaran akan diikuti. Kesepakatan Legal. akan diikat dalam yang akan menguntungkan waktu yang jelas. termasuk sertifikasi staf sesuai dengan Keppres 80/2003. • Pengembangan pedoman proyek • Pengembangan pedoman proyek untuk merampingkan semua untuk merampingkan semua prosedur dan mekanisme sanksi // prosedur dan mekanisme sanksi penanganan keluhan. Keputusan cenderung bias terhadap cenderung bias terhadap konsultan sesuai “yang konsultan sesuai “yang diinstruksikan” oleh pejabat diinstruksikan” oleh pejabat yang lebih tinggi atau pihak yang lebih tinggi atau pihak lain..

• Memberlakukan sistem ganjaran dan hukuman seperti dirumuskan dalam Keppres 80/2003. termasuk untuk satu sub-proyek MEDIUM • Risiko penggelembungan (mark–up) anggaran untuk memberikan kesmpatan manipulasi tender. dan pengumuman rencana pengadaan pada ranah publik. Kualitas pelayanan yang diberikan MEDIUM • • • • Keterlibatan pengawasan masyarakat madani dan konsultan pengawas (sebagai contoh: KMP dalam kasus KMW. • Peningkatan kapasitas pejabat yang 8   Pengawasan terhadap barang masuk MEDIUM • Perencanaan pengadaan. penanganan keluhan. • Penajaman mekanisme penanganan keluhan. dan kualitas Pengadaan secara umum MEDIUM   114 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . dan pejabat mungkin mengambil keuntungan melalui perbedaan tersebut. Tagihan yang berlebihan/ganda Aksi Mitigasi didasarkan pada pengalaman aktual yang ditentukan melalui survei ekstensif paket yang sejenis yang dilaksanakan pada P2KP 1 dan 2.PERKOTAAN . Perubahan siginifikan staf kunci konsultan pada tahap awal penugasan Secara sengaja melakukan pengawasan yang longgar terhadap kontrak dan mendapatkan uang balik dari konsultan.8 milyard rupiah.Bidang Pemetaan Korupsi Tingkat Resiko Peluang Korupsi mengalahkan proposal mereka tanpa memperdulikan harga yang dapat menghasilkan harga yang tinggi. • Pemeriksaan lapangan • Tagihan ongkos penerbangan harus disertai tiket dan boarding pass • Lebih sering melakukan pemeriksaan lapangan • Mengunakan kelompok penerima sebagai utk verifikasi • Menayangkan tagihan konsultan di web PNPM • Peninjauan wajib oleh Bank terhadap perencanaan pengadaan. dan KE dalam kasus KMP) dalam pemeriksaan jasa yang telah diberikan. • Peningkatan keterbukaan informasi. Untuk kontrak konsultan diatas 1. termasuk nilai kontrak. Informasi palsu yang diberikan oleh konsultan dan tidak diuji oleh tim panitia. panitia mungkin meamanipulasi nilai penawaran akhir dengan bekerjasama dengan penawar Pelayanan yang diberikan lebih rendah kualitasnya daripada yang ditentukan dalam KAK (TOR). • Risiko meminta uang dan praktik kolusi untuk “memberikan” kontrak kepada konsultan “yang lebih disukai”. • Penentuan Pemenang Kontrak MEDIUM • • Keamanan proposal biaya melalui pihak lain yang dipercaya • Mewajibkan pengumuman pemenang kontrak. dan sanksi seperti dirumuskan dalam Keppres 80/2003. • Keterlibatan kelompok masyarakat dalam pemantauan kualitas hasil (deliverable) konsultan.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 115 . dan meninjau rekening UPK berkenaan dengan penggunaan dana. • Kriteria dan indikator kinerja Pimpinan Proyek. • Memperketat pengawasan oleh Bank. staf perencana. Staf PMU. staf pengadaan. • Peningkatan sistem pengendalian (internal dan eksternal) termasuk keterlibatan profesional anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang pengadaan. termasuk merekrut konsultan. staf keuangan dan monev (monitoring dan evaluasi).. Publikasi Laporan Audit MEDIUM Risiko ketidaktersediaan informasi mengenai kemajuan dan hasil pelaksanaan proyek (termasuk penyalahgunaan. BKM/LKM juga akan melaksanakan pertemuan tahunan dengan masyarakat umum untuk mempertanggungjawabkan 9   PENGELOLAAN PROGRAM Daftar final staf PMU Satker dan PPK dengan kriteria (i) pengalaman menangani proyek yang didanai donor.Bidang Pemetaan Korupsi Tingkat Resiko Peluang Korupsi pelayanan yang lebih rendah. dan (ii) sejarah pengelolaan proyek atau pelatihan bendaharawan yang diikuti MEDIUM • Risiko kapasitas staf PMU. • Ketentuan Pengelolaan Proyek Pemerintah. Tidak adanya pengalaman setempat dapat menyebabkan kasus penyalahgunaan dalam masyarakat. • Disain proyek mencakup pengawasan dan supervisi untuk menekan risiko tersebut. Satker dan PPK disepakati oleh Bank telah dimasukan dalam PMM dan akan digunakan sebagai dasar peninjauan kinerja tahunan staf yang relevan. Satker dan PPK. • Pelatihan tahunan yang disepakati oleh Bank mengenai staf PMU. jika ada). Aksi Mitigasi terlibat dalam pengambilan keputusan tentang pengadaan. • Pengembangan pedoman proyek. • BKM/LKM akan bertemu secara reguler untuk membuat keputusan kolektif mengenai isu strategis. dan semua tanggapan formal pemerintah. Bendaharawan. Mekanisme Akuntabilitas Lokal MEDIUM   PNPM MANDIRI . Kebendaharaan dan pelatihan pedoman pelaksanaan untuk staf PMU. praktik kolusi dan nepotisme. Satker dan PPK. • Ketentuan pedoman pelaksanaan sebagai pedoman bagi pelaksanaan proyek. Instansi pelaksana akan mengumumkan segera setelah menerima laporan akhir audit yang disusun sesuai dengan kesepakatan pinjaman/kredit. Satker dan PPK yang tidak memadai.

seperti surat kabar dan program radio. • Sosialisasi akan dilaksanakan melalui pertemuan (musyawarah. masing-masing BKM/LKM harus dikunjungi sekurang-kurangnya dua kali per tahun oleh KMP/KMW.dll) pada tingkat kelurahan/desa/desa. PARTISIPASI MASYARAKAT Diseminasi secara terbatas informasi mengenai program RENDAH Informasi dibatasi pada peredarannya atau diberikan hanya pada kelompok tertentu sehingga proposal yang tidak layak mungkin terjadi. Sosialisasi tersebut juga mencakup kampanye melalui media massa. Strategi sosialisasi dipicu untuk membuat masyarakat sadar mengenai tujuan proyek dan peraturannya. kota/kabupaten dan provinsi. Mereka juga perlu menandatangani dan membuat “pernyataan representasi” secara teratur. KMW pada tingkatan yang lebih tinggi akan memeriksa secara acak pernyataan fasilitator dan juga akan diminta menandatangani dan membuat pernyataan yang sama. kecamatan. lokakarya. dan bagaimana membuat masing-masing bertanggungjawab terhadap tindakan 10   116   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .Bidang Pemetaan Korupsi Tingkat Resiko Peluang Korupsi Aksi Mitigasi kegiatannya sepanjang tahun tersebut. Mekanisme untuk memeriksa dan menerapkan sanksi akan dikembangkan untuk mereka yang membuat pernyataan yang salah (sanksi mungkin mencakup pemisahan pekerjaan).PERKOTAAN . fasilitator diminta untuk memeriksa secara teratur pembukuan BKM/LKM dan UPK. • Untuk meningkatkan kualitas supervisi konsultan di bawah proyek tersebut. • Keuangan BKM/LKM akan diaudit setiap tahun oleh akuntan setempat. Hasil audit akan dilaporkan kepada masyarakat pada rapat pertanggungjawaban akhir tahun BKM/LKM. Idealnya. Ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa para pelaku mengetahui peran dan tanggung jawab mereka. dan focus group discussions. yang menegaskan bahwa mereka memeriksa pembukuan tersebut dan menganggapnya memuaskan.

Aksi Mitigasi mereka. dengan penarikan pertama 20% berdasarkan penyelesaian pekerjaan yang memuaskan sesuai PJM Pronangkis .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 117 . Bila penerima manfaat memenuhi persyaratan yang ditentukan. maka seharusnya akan lebih sulit bagi pejabat untuk mengambil keuntungan. persyaratan penarikan dana kepada BKM/LKM terkait dengan kinerja bukannya input. status keuangan bulanan BKM/LKM. • Proses pemilihan anggota BKM/LKM akan dilaksanakan melalui proses pemilihan yang transparan dan adil. ukuran dan kriteria untuk merumuskan hibah. Untuk Hibah Kelurahan/desa/desa. yakni rekening BKM/LKM/BKM. Berita acara. mengikuti permintaan dari PJOK (setelah verifikasi oleh Konsultan Manajemen Wilayah).Bidang Pemetaan Korupsi Pemilihan anggota BKM/LKM Tingkat Resiko RENDAH Peluang Korupsi Proses pemilihan anggota BKM/LKM yang tidak transparan sehingga menyebabkan rendahnya integritas. dan kondisi untuk penarikan semua disederhanakan dan dirumuskan di depan untuk menjamin bahwa para pelaku dapat memahaminya dengan mudah. dana dikirim dari Rekening Khusus dalam beberapa hari. • Semua informasi keuangan yang dibuat tersedia untuk publik dan ditampilkan di kelurahan/desa/desa. Meminta bagian untuk pejabat pemerintah. • KSM diminta untuk menyusun dan mengajukan laporan mengenai kemajuan dan penggunaan dana proyek ke BKM/LKM. Karena masyarakat mengetahui berapa banyak mereka harus terima. • Prosedur. dan penarikan ketiga 30% berdasarkan indikator keberlanjutan BKM/LKM. penarikan kedua 50% berdasarkan indikator penggunaan dana dan pengelolaan keuangan yang memuaskan. dengan partisipasi siginifikan dari anggota masyarakat • Dana PNPM MP ditujukan langsung kepada masyarakat. kriteria eligibilitas untuk penerima manfaat. dan nama dan nilai proposal yang didanai ditempelkan pada papan 11   Penyaluran dana MEDIUM Pelaksanaan investasi sub proyek MEDIUM Penyalahgunaan dana oleh BKM/LKM dan KSM   PNPM MANDIRI .

  12   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Untuk pembelian di atas Rp 15 juta. • Keuangan BKM/LKM akan diaudit setiap tahun oleh akuntan setempat. Hasil audit akan dilaporkan kepada masyarakat pada rapat pertanggungjawaban akhir tahun BKM/LKM. Untuk pembelian yang lebih kecil.Bidang Pemetaan Korupsi Tingkat Resiko Peluang Korupsi Aksi Mitigasi pengumuman yang diletakkan di sekitar kelurahan/desa/desa. Kebebasan pelaku dibatasi dengan menetapkan aturan bahwa semua transaksi keuangan memerlukan sekurang-kurangnya tiga tanda tangan dari anggota BKM/LKM terpilih. proyek meminta BKM/LKM untuk melaksanakan penawaran terbatas dimana penawaran harus diumumkan kepada publik. pembelian harus dilaksanakan oleh dua orang yang akan meminta penawaran dari pemasok lokal.PERKOTAAN 118 .

toilet umum (8%). sedangkan untuk kegiatan P2KP (P2KP-2. PNPM MP dan kegiatan Additional Financing (AF) dari kelurahan yang sebelumnya ke kelurahan baru.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 119 .7. Perkara Lingkungan 4. Kegiatan ini terdiri dari jalan dan perbaikan jembatan tersier (50%). Langkah-langkah pengamanan sejauh ini telah memadai untuk mengurangi masalah pengamanan. kegiatan drainase (18%). proyek ini tetap sebagai Kategori B. Berikut ini rangkuman pengalaman di P2KP-2 dan P2KP-3 berkaitan dengan isu-isu kebijakan upaya perlindungan. P2KP AF. drainase dan sanitasi. dengan total biaya sebesar US $ 297. fasilitas air. Pembebasan Tanah dan Kerangka Pemukiman Kembali serta Kerangka Masyarakat Adat yang telah diadopsi oleh PNPM MP III yg terus menerus dikembangkan dari yang digunakan oleh PNPM PerkotaanPNPM MP I dan II yang masing-masing disajikan pada Lampiran 10A. Kerangka kerja Pengamanan ini telah diuraikan dalam pedoman pelaksanaan dan pedoman teknis. perbaikan perumahan.000. dengan sebagian besar kecil skala sub-proyek (yaitu toilet umum. Ukuran kecil dan sifat kegiatan ini berarti bahwa tidak ada dampak lingkungan yang merugikan.5%) dan pasokan air (5%). jalan lokal. KERANGKA KEBIJAKAN PENGAMANAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN-3 Pendahuluan 1. Program ini merupakan perluasan dari P2KP. Sehubungan dengan isu lingkungan. 2. dan prosedur operasi standar untuk mitigasi lingkungan (seperti per PNPM MP-1) terbukti memadai 5. PNPM MANDIRI . terutama untuk skala kecil sub-proyek investasi.000.LAMPIRAN 6. Proyek ini akan menggunakan kebijakan perlindungan yang telah diadopsi oleh proyek P2KP dan PNPM MP I dan Pendanaan Tambahan (AF). P2KP / PNPM MP telah membiayai sekitar 336.95 juta).140 sub-proyek infrastruktur. 3. menunjukkan ukuran rata-rata proyek US $ 880 (Rp. Telah dilaksanakan untuk P2KP-1. dan akan terus diperbarui untuk mengakomodasi pelajaran terkait masalah pengamanan. 10B dan 10C. kegiatan sanitasi (1. dll) saat ini sedang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat. dan P2KP-3) dan PNPM MP I dan AF berada di bawah pelaksanaan. Program ini akan mengadopsi Pedoman Lingkungan. Tabel 1 di bawah memberikan rincian untuk sub-proyek di UPP2 dan UPP3.

230 3. sejarah. atau perubahan fisik lingkungan.413.299 24. keagamaan.621 meter meter units units units 82.490. obyek-obyek alam dan pemandangan yang memiliki nilai arkeologi.691.692 1 2 3 4 5 6 5. atau pinggiran dari obyek-obyek warisan budaya.672 28.523 13.189. 120 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Sumber Daya Budaya Fisik penting sebagai sumber informasi ilmiah dan sejarah. paleontologi.191 23.697.441 8.356.059.900. arsitektur.037 2. Cagar Budaya mungkin terletak di lingkungan perkotaan dan mungkin di luar atau di dalam wilayah komunitas Internasional.980.125.529. estetika atau nilai budaya yang signifikan.919 173.141.840.036.071.788 2.485.923.913.PERKOTAAN . dan iii) kegiatan yang direncanakan untuk mendukung manajemen atau konservasi Sumber Daya Budaya Fisik. sebagai asset untuk pengembangan ekonomi dan pembangunan social dan sebagai bagian integral dari ciri budaya masyarakat mau kehidupan praktis Kebijakan Sumber Daya Budaya Fisik berlaku untuk : i) kegiatan yang melibatkan penggalian yang cukup besar. ii) kegiatan yang terletak didalam. Dalam kasus dimana seluruhan Sumber Daya 7.914 141.Badan Keswadayan Masyarakat Lembaga Keswadayaan Masyarakat . penghancuran dan pemindahan tanah.240 109.499.548.978.143 Sumber MIS. banjir. November 2011 Sumber Daya Budaya Fisik 6. Sumber Daya Budaya Fisik disini diartikan sebagai obyek budaya yang bergerak dan tidak bergerak seperti tempat. 8.256 32.533.585 19.205. struktur atau kumpulan struktur.Tabel 1 : Kegiatan Sub Proyek di P2KP Jumlah BKM yang melakukan kegiatan 2430 1765 1455 1575 541 756 8522 No Jenis Kegiatan Perbaikan Jalan Lingkungan Drainase Air Bersih MCK Umum Limbah Padat Others TOTAL Volume Unit Biaya (Rp) Swadaya Masyarakat 98.892 15.656 23. Bila kegiatan proyek memungkinkan menimbulkan dampak negatif terhadap Sumber Daya Budaya Fisik maka BKM/LKM .sebagai pelaku kunci harus mencari langkah-langkah yang tepat untuk menghindari hal tersebut terjadi atau menangulangi dampak tersebut sebagai bagian dari penyiapan atau peninjauan kembagi PJM Pronangkis dan atau RPPRPLP (Rencana Penataan PermukimanRencana Penataan Lingkungan Permukiman) dari program khusus di tingkat kelurahan.141.745.274.

10. termasuk konserfasi budaya dalam proyek ini. Oleh sebab rata-rata subproyek yang mendapat kontribusi lahan sukarela sangat kecil (US$485.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 121 . KMW/OC dan Fasilitator harus memastikan bahwa kontribusi sukarela dari tanah diputuskan melalui proses konsultatif dengan pemilik lahan dan penerima manfaat tanpa tekanan dan didokumentasikan dengan baik. KMWKMW/OC dan BKM/ LKM harus meninjau kembali dan memverifikasi dokumentasi tersebut. Hal ini akan dilakukan selama proses penyiapan PJM dan Rencana Penataan PermukimanRencana Penataan Lingkungan Permukiman.-) PNPM MANDIRI . Dengan demikian usulan sub proyek menuntut identifikasi tiap kegiatan yang akan dilakukan dan pengelompokan usulan subproyek sesuai dengan tindakan mitigasi yang layak. Sepertinya hampir tidak mungkin subproyek yang diusulkan akan memberikan dampak negatif kepada Sumber Daya Budaya Fisik. Lebih lanjut dokumentasi dari proses konsultatif dan informasi pendukung akan termasuk dalam usulan sub proyek. kontribusi sukarela dari masyarakat mencakup dana tunai dan tenaga kerja. termasuk penyiapan pengelolaan peluang pendanaan and setiap langkah yang dibutuhkan untuk memperkuat kemampuan kelembagaan serta sistem monitoring untuk melacak kemajuan kegiatan tersebut.Budaya Fisik yang ada hancur. direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat. Karena pembangunan di wilayah lindung adalah salah satu daftar negatif tidak ada pembangunan baru atau perluasan yang akan didukung di wilayah lindung. Pembebasan Lahan Sukarela dan Permukiman Kembali yang Dipaksakan 11. Sebagai proyek yang berbasis masyarakat dan proyek partisipatif maka subproyek diusulkan. Rencana tersebut akan termasuk dalam PJM dan RPPRPLP (Rencana Penataan PermukimanRencana Penataan Lingkungan Permukiman). Sifat partisipatif yang tinggi dari proyek akan menjamin bahwa komunitas/masyarakat dapat mengidentifikasi kalau sub proyek yang diusulkan akan memberikan dampak pada Sumber Daya Budaya Fisik dan memastikan bahwa dampak tersebut bukan dampak yang buruk terhadap Sumber Daya Budaya Fisik. tindakan ini dapat mencakup perlindungan seluruh tapak atau penangulangan selektif termasuk penyelamatan dan dokumentasi 9. Sebagai bagian integral dari proses penyusunan PJM dan RPPRPLP (Rencana Penataan PermukimanRencana Penataan Lingkungan Permukiman) BKM/LKM harus mengenbangkan rencana pengelolaan Sumber Daya Budaya Fisik yang mencakup langkahlangkah untuk menghindari atau menangulangi dampak negative yang terjadi terhadap Sumber Daya Budaya Fisik. disamping lahan. Hampir semua kebutuhan tanah untuk kegiatan subproyek adalah kontribusi sukarela dari masyarakat.

pedoman pelaksanaan dan pedoman teknis dari PNPM MP III yang masih berjalan dan selalu dipadukan dengan OP/BP 4. Sulawesi Selatan. Keputusan kontribusi lahan diambil berdasarkan proses konsultatif partisipatif yang intensif antar warga masyarakat selama persiapan subproyek.PERKOTAAN . Kalimantan Timur. Seperti P2KP dan PNPM MP semua lahan yang dibutuhkan untuk membangun subproyek infra adalah kontribusi sukarela dari para pemanfaat. utamanya untuk pelurusan jalan. Untuk perbaikan drainasi/kanal pada umumnya lahan dibutuhkan untuk memperluas atau pelebaran saluran. Oleh sebab proyek ini akan tetap membiayai sub rpoyek infrastruktur skala kecil. 12. Praktek-praktek semacam ini akan tetap dilanjutkan dalam proyek ini. pengalaman P2KP dan PNPM Perkotaan PNPM MP menunjukkan bahwa bahwa tanah dibutuhkan untuk tiap subproyek (termasuk untuk pilot penataan permukiman) pada umumnya kecil. NTT. Gorontalo. Baik dalam PNPM MP-1 dan AF. dimana penduduk asli adalah termasuk dari penerima manfaat atau mungkin atau tidak terkena dampak subproyek hanya akan diketahui dalam proses pelaksanaan subproyek. Proyek ini akan mengadopsi IPPF yang telah diperbaharui. Mengingat study tersebut disiapkan menggunakan berbagai pemahaman tentang karakteristik penduduk asli dan informasi lama dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Jadi sejauh ini belum ada pengaduan terkait dengan lahan. Sulawesi Tengah. Meskipun berbeda per subproyek. Irian Jaya Barat). jaringan air minum dan fasilitas sanitasi. Skreening awal dilakukan menace IP Study (2010) yang disiapkan Bank Dunia menunjukan bahwa penduduk asli ada di 11 desa di 8 Propinsi di luar Jawa (Aceh.kontribusi lahan suka rela per subproyek juga sangat kecil.10 tentang Penduduk Asli 122 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Sampai saat ini tidak ada penduduk setempat yang terlibat atau terpengaruh didalam P2KP-2 dan P2KP-3. Kalimantan Selatan. maka tidak ada jumlah yang cukup signifikan dilihat sebagai investasi tanah oleh masyarakat.P 4. Pengamatan lapangan mengusulkan bahwa untuk MCK umum lahan yang dibutuhkan 30m2. keberadaan penduduk asli seperti dirumuskan di O. Mereka mungkin atau tidak terlibat atau terkena dampak proyek. seperti dalam kasus dimana teridentifikasi adanya potensi dampak lingkungan dan kebutuhan lahan. Kalau ada.10 di kelurahan di 8 provinsi harus diverifikasi dan konfirmasi ulang selama proses pelaksanaan proyek. Penduduk Asli atau Masyarakat Rentan Terisolasi 13.

dan c. Sebagai sebuah proyek yang sangat desentralisasi. harus dilengkapi dengan suatu perencanaan pengelolaan dampak lingkungan untuk mengurangi dampak negatifnya. serta menghindari kawasan lindung yang telah ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. plafon rendah untuk kegiatan individu. signifikan atau dampak ireversibel.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 123 . b. Hal ini diharapkan dapat memberikan kredit mikro untuk kegiatan yang menghasilkan pendapatan. Proyek telah diklasifikasikan sebagai Bank environmental kategori B. PNPM MANDIRI . Usulan yang diajukan sedapat mungkin menghindari atau mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Dampak lingkungan akan datang sebagian besar dari site manajemen yang buruk selama kegiatan proyek konstruksi. untuk meninjau. Usulan tersebut harus mengacu pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail Tata Ruang (RTDR). pengumpulan sampah melalui handcarts) menunjukkan bahwa tidak satupun dari investasi ini memiliki skala besar .050). Usulan yang membawa dampak negatif terhadap lingkungan.ANNEX A: PEDOMAN LINGKUNGAN UNTUK PNPM MP INDONESIA: PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERKOTAAN-3 Pendahuluan 1. air bersih untuk rumah tangga individu. melalui hibah kelurahan. drainase tersier. PNPM MP akan mendukung sejumlah besar investasi proyek kecil di wilayah perkotaan. dan “red-flag” prosedur untuk memastikan bahwa masalah yang dikoreksi. dikombinasikan dengan jenis kegiatan diharapkan akan dibiayai (jalan / jembatan perbaikan. 2. karena itu. Lampiran ini menguraikan prosedur penyaringan lingkungan dan pedoman untuk mengidentifikasi. rumah tangga yang baik akan sangat dipromosikan. kecuali jika usulan kegiatan tersebut untuk mengembangkan kawasan lindung. Prinsip-prinsip dasar dalam penilaian kelayakan lingkungan adalah sebagai berikut: a. dan keuangan infrastruktur skala kecil dan layanan lainnya (plafon untuk sub-proyek individu per kelompok adalah Rp 50 juta atau US $ 5. Prosedur lingkungan di Indonesia meninjau umumnya konsisten dengan Bank dan akan membentuk kerangka pendekatan PNPM MP untuk pengelolaan lingkungan Prinsip Dasar 3. Usulan tersebut harus telah mengkaji alternatif desain lainnya yang tepat untuk memperkecil dampak negatifnya.

Pada pemeriksaan awal. tipe proyek. Namun. spesifikasi untuk pengurukan dan revegetasi daerah terganggu untuk mencegah erosi. Mereka yang membutuhkan manajemen lingkungan dan rencana pemantauan (UKL dan UPL) didasarkan pada studi terbatas tetapi site-specific. dll ). d. gangguan tanah atau air atau pembuangan polutan yang terlibat. Diharapkan bahwa beberapa sub-proyek dapat jatuh dalam kategori ini. 124 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Setiap proposal kegiatan program (proyek/sub-proyek) akan diperiksa dengan kriteria pemeriksaan lingkungan Pemerintah Indonesia untuk memastikan tidak ada sub-proyek/ proyek yang membutuhkan pemeriksaan lingkungan secara penuh. b. Kementerian Pekerjaan Umum telah menetapkan kriteria untuk menentukan kebutuhan untuk UKL / UPL (lihat di bawah).Kriteria Pemeriksanaan Lingkungan 3. sensitifitas dan potensi dampak terhadap alam dan lingkungan hidup akan diidentifikasi untuk menentukan proposal tersebut masuk dalam yang mana dari 4 kategori berikut ini: a. Proyek/subproyek semacam ini tidak akan didanai oleh PNPM MP. Mereka yang tidak memerlukan studi lingkungan. c. kebisingan dan lalu lintas di lokasi konstruksi. Dirjen Pemukiman memiliki pedoman SOP untuk beberapa jenis proyek (termasuk langkah-langkah untuk mengendalikan debu. di mana praktek yang baik generik akan melindungi lingkungan secara memadai. dan prosedur untuk mengendalikan dampak negatif pada stasiun mentransfer limbah padat. di mana konstruksi tidak. Diharapkan bahwa beberapa sub-proyek dapat jatuh dalam kategori ini.. Diharapkan bahwa tidak ada proposal yang diajukan di bawah baik PAPG atau hibah kelurahan akan jatuh di bawah kriteria ini. skala. ini akan berlaku untuk sub-proyek yang akan dibiayai bawah NUS KBG. lokasi.PERKOTAAN . Mereka yang prosedur operasi standar (SOP) cukup. Proposal yang membutuhkan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) secara menyeluruh yang untuk itu Kantor Menteri Negara Lingkungan telah menetapkan kriterianya (lihat Tabel 1).

kota sedang c.17/ KPTS/M/2003 untuk UKL/UPL (Mengenai Keputusan Jenis Kegiatan di Bidang Pekerjaan Umum yang membutuhkan UPL and UKL). atau ha Km. atau ha Km Km. dan PERMENLH-13/2010 mengenai UKL-UPL dan SPKPPL.Tabel 1.<10 5-<30 >/= 10 (jika pembebasan tanah) >/= 500 >/= 20 >/= 60 Liter/ Detik Km Ha 250 10 500 50 -<250 10 – 2 100-<500 UNIT ANDAL > UKL/UPL Sumber: PERMENLH-11/2006 untuk ANDAL (Mengenai Jenis Kegiatan Usaha yang Membutuhkan ANDAL)). atau ha 5 10 30 1-<5 atau 2 – <5 3-<10 atau 5 . kota kecil (desa) Perbaikan kampong Kota besar Kota sedang Upgrading Ha Ha Ha 5 200 >/= 1 >/= 2 >/= 1 Km Km Km 5 10 1-< 5 3-< 10 5-<15 ha atau ton ha atau ton 10 atau 1000 5 atau 5000 1000 < 10 atau < 10000 < 5 atau < 5000 < 1000 Ha Ha Ha 2 500 3 < 2 ha < 500 <3 M M Km.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 125 . PNPM MANDIRI . kota besar b. kota kecil Pelebaran (kota besar) Jembatan Jembatan di kota besar Jembatan di kota kecil Limbah Cair dan Sanitasi IPLT (Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu Sistem Perpipaan Air Limbah IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) Persampahan Timbunan (sanitary landfill)/TPA TPA (Tempat Pembuangan Akhir) – didaerah pasang surut Transfer station Drainase & Pengendalian Banjir a. KEPMEN PU. Kriteria Pemeriksaan Lingkungan (berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia) SEKTOR/PROYEK Penyediaan Air Bersih Pengambilan Air Baku Transmisi (kota besar) Distribusi (kota besar) Jalan Kota Pembangunan baru : a. kota besar b. kota sedang c.

A sbes. daerah konservasi laut/sungai. wilayah sekitar danau dan bendungan. Tidak ada subproyek yang akan didanai yang menggunakan. P estisida. peninggalan budaya. area hutan bakau sepanjang pantai. taman hutan. Tidak ada kegiatan yang menggunakan asbes yang akan didanai. PERMENLH-11/2006 mengenai Jenis-Jenis Aktivitas yang Membutuhkan ANDAL. menyebutkan bahwa setiap usaha atau kegiatan yang berlokasi di wilayah yang dilindungi atau yang memungkinkan akan merubah tujuan atau peruntukan wilayah yang dilindungi diharuskan menyiapkan ANDAL (lihat di atas). area yang rentan terhadap kerusakan alam. area gambut. korosif atau eksplosif atau menghasilkan buangan B3. taman wisata alam. Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup RI No.PERKOTAAN . area konsevasi alam. Hal ini juga meliputi: wilayah perlindungan hutan. menyimpan. tepi pantai. substansi yang dapat menipiskan ozon. Pemeriksaan khusus akan diterapkan pada kasus-kasus berikut ini (daftar negatif) : · · Perikanan: standar dari Dinas Perikanan akan diterapkan untuk semua proposal subproyek perikanan. Tidak ada kegiatan yang menghasilkan emisi atau limbah polutan yang akan didanai kecuali jika: (a) operasinya dalam skala kecil. T idak ada pemukiman baru atau perluasan permukiman akan didukung di kawasan lindung dalam proyek. menghasilkan.4. S ubproyek yang menghasilkan limbah atau emisi cair atau gas. daerah tangkapan air. proposal untuk pendanaan PNPM MP di bawah dapat digunakan oleh warga yang ada dengan menggunakan standar UPP 2 dan UPP 3 prosedur dan sesuai dengan lokal peraturan tentang pengelolaan lahan yang didefinisikan oleh rencana pengelolaan kawasan lindung. Material dan buangan berbahaya. tembakau atau produk tembakau: Subproyek yang menggunakan atau menghasilkan material-material ini tidak akan didanai. Dimana permukiman sudah ada. bantaran sungai. atau memindahkan material berbahaya (beracun. wilayah penelitian ilmu pengetahuan. taman nasional. dan jika itu adalah kebijakan pemerintah lokal untuk memungkinkan penyelesaian untuk tetap. daerah sekitar mata air. Penebangan: subproyek yang melibatkan kegiatan penebangan atau pembelian peralatan penebangan tidak akan didanai Pembangunan area yang dilindungi. Langkahlangkah mitigasi khusus untuk menangani isu asbes yang ada saat ini dalam setiap subproyek yang diajukan (seperti renovasi bangunan sekolah yang mungkin sudah menggunakan asbes) akan diterapkan. · · · · · · 126 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . (b) Bapedalda mengkaji desainnya dan mensertifikasi bahwa operasi tersebut mengikuti standar pengendalian polusi air dan udara yang dapat diterapkan.

jalan kota. toilet umum. sebelum kemudian di nilai oleh LKM. Semua proposal akan dinilai oleh staf proyek untuk kelayakannya. Hal ini termasuk penyaringan khusus untuk semua subproyek yang melibatkan perubahan tanah dan air (seperti reklamasi. yg menjadi bagian dari Pedoman Operasional Umum ini.· Tidak ada pembangunan jalan atau rehabilitasi apapun akan diizinkan di dalam delimited atau kawasan lindung yang diusulkan. PNPM MANDIRI . LKM dengan bantuan fasilitator harus memastikan tindakan pengurangan dampak lingkungan dilakukan. Tenaga ahli proyek secara teliti akan menyaring proposal terkait dgn dampak lingkungan berdasarkan pada pedoman diatas. TPS.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 127 . ditandatangani oleh para anggota kelompok. Tenaga ahli KMW/OC dan KMP akan merangkum semua perkembangan. irigasi). 5. Pemilihan proposal yang menggunakan dana BLM oleh LKM akan dilakukan dalam suatu pertemuan yang diumumkan sebelumnya dan terbuka untuk umum Pelaporan 7. Format standar akan mencakup hal-hal tersebut diatas yang tidak dapat dibiayai sebagai bagian dari daftar negatif. Spesifikasi desain termasuk pertimbangan pengelolaan lingkungan untuk penyediaan air bersih. Setiap KSM harus menyiapkan proposal subproyek dalam format standar yang disediakan oleh fasilitator. Fasilitator dan KMW/OC akan mengumpulkan dan meninjau laporan lingkungan dan menandai dgn bendera pada laporan tigabulanan mereka. memonitor dan mengukur dampak lingkungan dari program sebagai bagian dari evaluasi kinerja program. Proposal-proposal tersebut mencakup uraian tentang kegiatan yang diusulkan dan harus memenuhi semua aturan pengelolaan dampak lingkungan yg disyaratkan (termasuk pembebasan tanah/aset dan dampak terhadap masyarakat/penduduk asli). Mengingat kegiatan semacam ini kemungkinan dibiayai melalui ”Paket/PAPG” maka harus dimungkinan SOP daerah diberlakukan. kegiatan ekonomi yang memberikan dampak lingkungan harus dijamin memenuhi persyaratan/ standar yang ditetapkan. pasar dan jembatan akan diterapkan untuk PNPM MP dalam bentuk Prosedur Operasi Standar (SOP). Pedoman akan mencakup matriks dari kemungkinan dampak lingkungan yang negatif dan langkah-langkah untuk menangulanginya. persyaratan teknik dan kesesuaiannya dengan berbagai aturan yang berlaku. Proses Pemeriksanaan Lingkungan 6.

Pengamatan di beberapa sub-proyek di P2KP sebelumnya menunjukkan bahwa isu isu lingkungan terkait terutama terjadi karena pendampingan. sanitasi dan air bersih : 11. Proyek air bersih dan sanitasi proyek (MCK umum . jembatan. jembatan dan kegiatan drainase. Desain yang tidak benar (berkontribusi terhadap kecepatan aliran rendah dan tidak teratur. dan (b) pasokan toilet umum. PNPM MP perhatian untuk melestarikan lingkungan dan memastikan bahwa setiap efek negatif dari kegiatan PNPM MP dihindari atau setidaknya dikurangi. Dampak lingkungan utama yang langsung berhubungan dengan jalan. meskipun signifikansinya sebagian besar sebanding dengan skala. 9. Cuci dan Kakus) adalah dua sumber utama dari masalah kesehatan masyarakat. lereng tanggul rendah. atau metode konstruksi yang tidak benar yang meninggalkan tanah tidak perlu terkena. Semua kegiatan konstruksi akan memiliki beberapa dampak terhadap lingkungan.Mandi. Resiko lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan jalan tersier. pemantauan dan pengawasan oleh fasilitator dan KMW/OC selama tahap perencanaan dan pelaksanaan. Ada hubungan erat antara adanya kelebihan air (karena kurangnya drainase yang memadai / drainase yang tersumbat) dan penularan penyakit vector-borne air terkait. drainase : 10. Kegiatan pada musim hujan. masalah kesehatan (misalnya air terkait vector-borne disease) dapat muncul ketika ada kurangnya perencanaan untuk pengaturan drainase untuk menjaga sistem drainase terhubung baik dengan drainase bawah permukaan atau outlet drainase permukaan kanal.Review Pengalaman Terkini 8. jembatan dan kegiatan drainase adalah erosi. terutama dari gangguan tanah tidak stabil yang sensitif terhadap tanah longsor dan / atau dari perubahan dalam aliran air. pengalaman di bawah P2KP sebelumnya untuk dua kelompok kegiatan yang berkontribusi terhadap risiko lingkungan: (a) jalan tersier. Subproyek PNPM MP akan direncanakan dan dilaksanakan melalui proses partisipatif yang intensif di tingkat KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat / Kelompok Masyarakat) dan BKM (Badan Keswadayan Masyarakat / Dewan Pengawas Masyarakat). juga bisa menyebabkan erosi. sanitasi dan air bersih. Selain itu. Drainase yang tidak benar dari jalan di daerah curah hujan tinggi dapat merusak jalan dan memiliki dampak pada lahan yang berdekatan. dan akses air yang tidak terkontrol) dan kurangnya pemeliharaan adalah dua alasan utama mengapa struktur drainase sering dikaitkan dengan masalah kesehatan lingkungan b. Resiko lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan toilet umum.PERKOTAAN . a. Selain itu. Dalam P2KP sebelumnya. rembesan tinggi. ditemukan 128 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

atau kontaminasi air tanah oleh sistem limbah buruk dirancang atau dibangun kontrol). Untuk jenis penyimpangan lingkungan pada proyek-proyek masyarakat. Prinsip dasar yang melandasi pengendalian dampak lingkungan dalam PNPM MP adalah meminimumkan efek negatif dan memaksimumkan dampak positif dari setiap kegiatan konstruksi. saluran drainasi untuk jalan harus dipasang dengan gorong-gorong dilintasan masuk agar menjamin kelancaran aliran air. PNPM MANDIRI . Tes kualitas air harus diambil setelah penyediaan air pasokan lengkap. rembesan untuk latrine atau tanki septik harus berjarak sekurang-kurangnya 10 m dari sumber air bersih dan diletakkan di bawah aliran air dan penampungan air bersih tidak boleh dekat dengan semua sumber kontaminasi. Contoh. Pendekatan Pengendalian Dampak Lingkingan dalam PNPM MP 13.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 129 . BKM dan lurah/kades harus mendapatkan bantuan dari Dinas Kesehatan (badan kesehatan lokal) dalam mendapatkan pembacaan kualitas air dan menerapkan rekomendasi dari Dinas. Jenis proyek membawa kemungkinan kontaminasi meningkat (Misalnya. Ahli lingkungan di NMC harus selalu memutakhirkan daftar periksa kemungkinan persoalan lingkungan untuk menemukenali perkara lingkungan dan usulan mitigasinya. sampai saat ketentuan sebagian besar telah dibangun tanpa pembacaan kualitas air. 14. Setiap subproyek harus diperiksa oleh fasilitator teknik untuk menentukan berbagai tindakan yang harus dilakukan dalam rangka mencegah atau memperbaiki persoalan lingkungan. 12. meskipun penyediaan air pasokan adalah salah satu infrastruktur utama yang diusulkan oleh masyarakat. Masyarakat harus mempertimbangkan pembentukan tim operasional dan pemeliharaan proyek-proyek air atau sanitasi. Di akhir konstruksi daftar yang sama dicocokkan lagi dibandingkan dengan rencana aslinya.bahwa beberapa komunitas dibangun MCK tanpa septic tank atau dekat dengan sumber air. terutama untuk air bor / sumur. Pada pertengahan proses kontruksi daftar yang sama di cocokkan lagi disaat peluang untuk memperbaiki masih dapat dilakukan. kontaminasi sumber air dengan air permukaan yang masuk dari luar. Dalam proses perencanaan digunakan daftar periksa (checklist) kemungkinan/potensi persoalan lingkungan (lihat Tabel dibawah) yang kemudian harus ditindak lanjuti selama dan sesudah konstruksi oleh kelurahan/desa dan Tim Fasilitator. mitigasi yang diusulkan dan metode pencegahan pelatihan yang tepat (pada langkahlangkah teknis yang spesifik) dan pemantauan pengawasan insinyur lapangan. sebagaimana diperlukan. dan pemeliharaan fasilitas. Selanjutnya. terutama pada pemilihan lokasi untuk proyek air dan sanitasi. penggunaan kualitas air diuji dari sumur . disediakan standar teknik dalam pedoman. Untuk setiap subproyek.

pengisian dan drainasi lainnya · Ubah jalur untuk menghidari kemiringan yg curam · Bangun turap penyangga dinding tanah Jalan dan jembatan di lokasi yang rawan erosi · Gunakan tanaman untuk mencegah erosi dan dan longsor longsor pada kemiringan · Gunakan teknologi khusus seperti sistem pengeringan (drain) · Pemeliharaan harus membersihkan sumbatan secara berkala Saluran yg tersumbat karena kesalahan · Gunakan saluran dari beton atau tembokan. tanami permukaan yg rawan erosi secepat mungkin · Pilih jalur yang lebih aman dari gangguan · Lakukan pemeliharaan tepat waktu Terjadinya genangan air yang menjadi tempat Lakukan tindakan untuk mencegah dengan pertumbuhan nyamuk dan vektor penyakit perbaikan pertamanan. Berdasarkan pengalaman di P2KP sebelumnya.15. di bawah ini daftar masalah lingkungan dan langkah-langkah mitigasi untuk diterapkan dalam PNPM MP: Potensi Dampak Negatif Jalan. kesehatan · Gunakan kemiringan alami yg lebih tanah terhadap erosi Tindakan Mitigasi 130 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN . perencanaan dan pemeliharaan yg saluran tanah membutuhkan tempat lebih menyebabkan genangan air yg berdampak ke banyak pemeliharaan yg lebih intensif. Jembatan dan Saluran Drainasi · Batasi kegiatan memindahkan tanah hanya pada waktu musim kering/panas · Lindungi permukaan tanah yang rentan dengan jerami Erosi dari jalan yang sedang dilakukan cut and · Lindungi saluran drainasi dgn pembatas atau fills dan menyebabkan sedimentasi di saluran berm · Instalasi ruang sedimentasi.

Kakus Ventilasi kakus Bak air dgn kran air/sambungan air dan lubang pembuangan · Ada tempat untuk mencuci yg lebih tinggi · Ada kran air utk isi ember · Ada parit sekeliling lantai untuk membuang air ke saluran pembuangan Tangki septik yang tidak bagus strukturnya MCK yang tidak memenuhi syarat Saluran limbah manusia yg mengandung libah · Saluran libah manusia harus disalurkan ke patogen harus dilakukan pengolahan sebelum tempat pengolahan/tangki septik dibuang ke badan air yang ada · Tangki septik juga berfungsi sebagai pengolah PNPM MANDIRI . Sumur harus diletakkan hulu aliran · Bangun rembesan sejauh mungkin dari sumur · Bangun bak air yg diissi dari melalui pipa atau ember · Jaga agar kakus tetap bersih dan jauh dari sumur Sumur dalam kakus kontaminasi yang pasti rawan Pipa sanitasi dipermukaan tanah yang sangat · Tanam pipa sanitasi dari kakus ke tangki septik rawan thd sinar matahari. terinjak.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 131 . sumur terlalu dekat dgn tangki septik Tindakan Mitigasi · Cek arah aliran air tanah. Sanitasi dan Penyediaan air bersih Permukaan air sumur hampir sama dengan rembesan.Potensi Dampak Negatif Kakus Umum. dan · Buat lubang kontrol dan pipa udara utk tangki kenakalan manusia septik Tangki septik yang bagus paling tidak terdiri dari: · Ada lubang kontrol dgn penutup · Pipa masuk kotoran · Bilik yang terbagi dgn dinding pembatas · Pipa luapan disambung dgn rembesan · Pipa udara (ventilasi) · · · · Semua unsur utama MCK harus ada.

2. seluruh pendekatan proyek harus menjamin bahwa orang yang terkena proyek akan terlibat dalam proses pengambilan keputusan. ada tiga skema akuisisi lahan 132 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Pembelajaran dan Proses Pembebasan Lahan di P2KP-2. mereka diharapkan memiliki jumlah signifikan dari pembebasan lahan. Karakteristik Proyek 1. Subproyek tidak akan diidentifikasi terlebih dahulu. dan untuk membiayai infrastruktur skala kecil dan layanan lainnya (pembiayaan untuk sub-proyek individu adalah US $ 5. misalnya. Sejak perencanaan partisipatif dan pengambilan keputusan dari tingkat basis untuk proyek. waduk penyediaan air dan distribusi terkait.PERKOTAAN . II. Dua tabel di bawah ini menyajikan situasi akuisisi tanah di P2KP-2. terutama di daerah perkotaan. Ukuran rata-rata lahan yang diperoleh adalah sekitar 6 m2. Identifikasi jumlah orang yang terkena subproyek hanya dapat didefinisikan sekali proyek proposal yang dievaluasi oleh organisasi masyarakat (BKM) untuk hibah kelurahan. dan jalan setapak. sumur. Penyaringan ini akan men-drop sub proyek jika terjadi pemukiman kembali secara signifikan. Pembebasan lahan terbesar adalah 200 m2.050 atau Rp 50 juta). proyek ini diharapkan menyediakan untuk kegiatan kredit mikro yang menghasilkan pendapatan. PNPM MP akan mendukung sejumlah besar proyek investasi kecil.ANNEX B: KERANGKA KEBIJAKAN PEMBEBASAN LAHAN DAN PERMUKIMAN KEMBALI INDONESIA: PNPM MP-3 I. Subproyek yang memerlukan tanah sebagian besar toilet umum. Sebagai proyek yang sangat terdesentralisasi. yang melibatkan pemilik tanah 1-5. Tidak ada sub-proyek ini diharapkan memiliki dampak signifikan karena pembebasan lahan dan / atau pemukiman kembali. Untuk sub-proyek yang membutuhkan lahan. drainase. Dalam P2KP-2. Karena semua sub-proyek yang berskala kecil. 3. hanya 14% dari sub-proyek yang terlibat akuisisi tanah atau lahan yang dibutuhkan. Melalui komponen hibah kelurahan. PNPM MP juga sebuah proyek berbasis komunitas. P2KP-3 dan PNPM MP 4.

Data dari KMW/OCs dan pengawasan lapangan menunjukkan bahwa hanya sejumlah kecil sub-proyek telah memperoleh tanah melalui kompensasi uang tunai.4 Lainnya 12 80 3 20 0 0 0 0 15 0.9 4 0. 7.89 8 0.18 Note : *) Tidak termasuk OC 2.66 50 1.Ringkasan Tingkat Pembebasan Lahan di 13 KMW/OC/OC*) Skema Pembebasan Lahan Swadaya (%) Not clear**) (%) Individu (%) Lahan Desa (%) Total (%) 32.56 1757 59.35 287 9. 2.14 942 685 Sanitasi & Drainase Fasilitas Umum 504 56. 8.61 1152 39.78 Jalan & Jembatan 179 62.45 888 30. 9.23 1 0. 5.9.71 2951 100 53. data diatas meliputi 24 kelurahan. Pembebasan Lahan dalam kegiatan Infrastruktur Masyarakat yang dibiayai oleh P2KP-2 di Kota Makasar No 1. 3.51 Total 1641 55.06 15 5. **) Hal ini diyakini bahwa kategori ini terdiri terutama kontribusi tanah dari individu yang mendapatkan keuntungan dari investasi dari subproyek. 10. 14.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 133 .03 108 3.6 38. 6. PNPM MANDIRI . 4.84 45 2. Tipe Sub Proyek Drainase MCK Umum Jalan Setapak Jalan Lokal Air Bersih Pembuangan Sampah Sementara Jembatan Penerangan Umum Fasilitas Kesehatan Masyarakat Lainnya Jumlah Sub Proyek 35 13 (67 units) 18 25 12 (73 units) 18 (285 units) 11 (296 m) 9 (164 units) 2 11 (98 units) Jumlah yg telah Pembebsan Lahan 0 4 (30 units) 1 1 1 (10 units) 0 0 0 0 0 Sifat & Intensitas Pembeasan Lahan Skema Pembebasan Lahan 0 Rata-2 kurang dari Swadaya 20m2*) 103 m length NA 154 m length Swadaya Kurang dari 20 m2*) Swadaya 0 0 0 0 0 - Note: *) estimasi berdasarkan observasi lapangan P2KP 2 di Kota Makasar terdiri dari 26 Kelurahan.9 85 4.37 92 Perumahan 4 100 0 0 0 0 0 0 4 0.8 372 41.

PERKOTAAN . meskipun identifikasi jelas dalam laporan konsolidasi.5. yang melibatkan salah satu pemilik tanah dan sekitar 100 m2 tanah. Proses untuk mendapatkan tanah melalui kontribusi lahan adalah sebagai berikut: (a) KSM mengajukan proposal kepada BKM untuk diperiksa dan disetujui. Ini sekitar 56% dari sub-proyek yang membutuhkan tanah. Seperti disebutkan di atas. Kunjungan lapangan terbaru untuk kelurahan terpilih P2KP-3 menunjukkan bahwa hanya satu proyek yang diperoleh melalui kompensasi tanah. untuk kategori ini. Kunjungan lapangan ke kelurahan yang dipilih menunjukkan bahwa tidak ada dampak sosial negatif kepada anggota masyarakat sebagai hasil dari kontribusi lahan sukarela. yang telah terjadi dalam kasus-kasus sangat sedikit dalam proyek. P2KP-3. Skema kedua untuk pembebasan lahan adalah melalui kompensasi. Hal ini juga percaya bahwa 40% lainnya dari sub-proyek yang membutuhkan lahan juga mendapatkan tanah dari swadaya masyarakat secara sukarela. Tanah ini diperoleh melalui konsultasi penuh / negosiasi antara pemilik lahan dan penerima manfaat. Bahkan. Dana kompensasi adalah kontribusi dari penerima manfaat. 9. Dalam satu kasus yang dihadapi selama pengawasan P2KP-3. dalam beberapa kasus. dan kontribusi dari pemerintah daerah. adalah identifikasi lahan yang dibutuhkan dan bagaimana tanah itu akan diperoleh. tanah diperoleh melalui kompensasi uang tunai dengan konsultasi penuh dengan pemilik tanah dan didanai oleh kontribusi kas dari penerima manfaat dari proyek. Dalam kasus bahwa proyek yang diusulkan 134 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . dan AF P2KP-2 mendapatkan tanah melalui kontribusi sukarela dari penerima 7. Subproyek yang paling dalam P2KP-2. Salah satu item yang termasuk dalam proposal. Skema pembebasan tanah yang paling umum adalah swadaya tanah dari penerima manfaat proyek. Kontribusi Lahan dari Masyarakat 8. kontribusi lahan sukarela telah memberikan dampak positif pada penerima manfaat. Dalam kasus yang sangat sedikit. Skema ketiga untuk pembebasan lahan adalah lahan yang disediakan oleh pemerintah daerah. Kunjungan lapangan ke kelurahan terpilih dan laporan dari OC menegaskan bahwa. pemerintah setempat menyediakan lahan untuk pengembangan fasilitas yang dibiayai bersama oleh mereka dan oleh BLM A. Hal ini karena keputusan-keputusan pada kontribusi lahan dibuat secara sukarela pada inisiatif pemilik tanah ‘dengan konsultasi yang baik di antara anggota masyarakat dan sejumlah kecil yang relatif luas lahan terlibat dalam setiap proyek. kompensasi uang tunai. Fasilitas berada dekat dengan penerima manfaat dan pembangunan setelah persetujuan usulan sub proyek dilaksanakan relatif cepat sebagai tanah mudah tersedia. 6. P2KP memiliki tiga skema untuk mendapatkan lahan yang dibutuhkan untuk sub-proyek: kontribusi dari anggota masyarakat. tanah diperoleh melalui swadaya masyarakat.

(b) anggota masyarakat kemudian membahas dan menyepakati bagaimana kompensasi akan dibagi di antara mereka. Surat tersebut berisi. tujuan sumbangan tanah. nama dan alamat penyumbang tanah. (d) BKM dan fasilitator memverifikasi proses dan ketersediaan lahan sebelum persetujuan proposal. (e) BKM memperoleh surat transaksi untuk tanah dari masyarakat dan tercantum pada proposal C. Bank mencatat bahwa pemerintah daerah menyediakan tanah negara untuk fasilitas publik yang dibiayai bersama antara pemerintah daerah dan hibah proyek. OC dan panitia seleksi (yang terdiri dari perwakilan badan-badan lokal yang relevan dan BKM) memverifikasi ketersediaan lahan. usulan sudah mengidentifikasi bahwa tanah tersedia melalui kontribusi dari anggota masyarakat. Biasanya tanah diperoleh melalui skema ini adalah area yang tak tergantikan oleh daerah lain karena kebutuhan spesifik dan pemilik tanah kemungkinan besar tidak mendapatkan manfaat langsung dari fasilitas tersebut. dan setuju dengan tingkat kompensasi. Dalam beberapa kasus tanah yang disediakan oleh pemerintah setempat. B. Penyediaan Lahan melalui Konpensasi 10. Dalam hal bahwa tanah diperoleh melalui kompensasi. Staf BKM dan proyek memperoleh surat pernyataan (terlampir pada proposal) yang ditandatangani oleh anggota masyarakat yang menyumbangkan lahan dan disaksikan oleh ketua masyarakat (“Kepala dusun”) atau kepala desa. (c) masyarakat membayar kompensasi kepada pemilik tanah. prosesnya adalah sebagai berikut: (a) KSM mengajukan proposal kepada BKM untuk diperiksa dan disetujui. Bank mengamati ini sebagai kasus untuk fasilitas penampungan air yang terletak dekat dengan mata air. Penerima dibahas dan dinegosiasikan dengan pemilik tanah. pemilik tanah menunjukan lokasi definitif untuk membangun prasarana. PNPM MANDIRI . dan oleh saksisaksi lainnya . antara lain. BKM dan fasilitator berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan masyarakat membahas kontribusi lahan untuk proyek tertentu. (b) BKM dan staf proyek (fasilitator) memverifikasi di lapangan dan memastikan bahwa kontributor secara sukarela setuju untuk menyumbangkan / nya / lahan tanah mereka untuk proyek yang diusulkan. Penyediaan Lahan oleh Pemerintah Daerah 11.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 135 . Proposal tersebut menyebutkan bahwa tanah sudah akan diperoleh melalui kompensasi tunai. Dalam banyak kasus. (c) setelah usulan proyek disetujui oleh BKM. Mereka juga memastikan bahwa kontribusi tanah dilakukan melalui mekanisme partisipatif. lokasi dan luas tanah disumbangkan.membutuhkan lahan. Usulan proyek disusun bersamasama antara BKM dan pemerintah setempat dan diserahkan ke panitia seleksi di tingkat pemerintah daerah.

dokumentasi proses harus dipersiapkan 14. (j) ketersediaan dokumen pendukung (notulen rapat. Pada tingkat KSM dan BKM: (a) proposal proyek yang membutuhkan lahan harus mencakup rencana yang lebih rinci untuk memperoleh tanah. Pembelajaran dari pengalaman P2KP-3. (f) proses akuisisi lahan. (b) site / lokasi. Dalam kasus pembebasan lahan sukarela terjadi. proyek ini akan menggunakan pembebasan lahan dan pemukiman kembali kerangka kebijakan P2KP-3. yang meliputi informasi mengenai (a) jenis dan ukuran investasi. Namun. laporan konsolidasi yang lebih sistematis tentang pengambilalihan tanah perlu dipersiapkan per triwulanan.PERKOTAAN . (i) sertifikasi. Pada Koordinator BKM dan Kota (“korkot”) dan tingkat OC. dll) 15. (b) dokumentasi proses konsultasi / negosiasi dan perjanjian pada kontribusi lahan / transaksi perlu ditingkatkan. foto. (e) skema pembebasan lahan. Dokumentasi ini akan disiapkan dengan mengacu pada daftar melekat pada usulan proyek. 13. 136 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Meskipun sejumlah kecil tanah yang diperoleh dan konsultasi / negosiasi yang baik selama sebagian besar dari proses pembebasan tanah. kerangka kebijakan dan pedoman menyediakan prosedur untuk menyetujui kompensasi bagi orang-orang yang terpengaruh oleh proyek dalam rangka untuk memastikan bahwa mereka tidak diperlakukan tidak adil dengan diberi kompensasi yang rendah . PNPM MP adalah proyek pengulang dari P2KP. (d) nomor pemilik tanah yang terkena dampak.12 tidak dipicu. daftar hadir. diharapkan bahwa PNPM MP akan memiliki situasi yang sama dimana sebagian besar subproyek yang membutuhkan lahan akan memperoleh melalui kontribusi masyarakat. yang diadopsi pada AF P2KP-2 dan PNPM MP I dan AF. (g) pendanaan / sumber dana jika uang kompensasi. atau keuntungan tidak adil dengan diberi kompensasi yang secara signifikan lebih tinggi per meter persegi dari pemilik lain yang menjual tanah di dekatnya yang serupa di pasar bebas. Dalam hal masyarakat dan pemerintah daerah secara sukarela berkontribusi tanah. jika uang kompensasi.Dokumentasi Proses Pembebasan Lahan pada Tahap Usulan Subproyek 12. dokumentasi perlu ditingkatkan.12. (h) ketersediaan kesepakatan yang cukup pada kontribusi tanah. OP 4. Jika ada proyek melibatkan akuisisi tanah atau pemukiman kembali yang memicu OP 4. (c) luas lahan yang dibutuhkan / diperoleh.

dan semua aset tetap pada tanah dan bangunan dan tanaman dan pohon c.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 137 . semua orang yang tergusur tersebut. “Orang yang tergusur” berarti seseorang yang pada pelaksanaan proyek. Definisi 16. “Bantuan Rehabilitasi” berarti penyediaan uang tunai atau aset atau bentuk lain dari dukungan untuk mengaktifkan para Pengungsi tanpa hak hukum untuk aset yang diambil oleh Proyek untuk setidaknya sama atau meningkatkan standar hidup mereka. “Orang yang tergusur secara fisik” berarti orang-orang yang dipaksa pindah dari lokasi sebelumnya mereka karena (i) semua atau sebagian besar (50% atau lebih) dari tanah mereka atau bangunan yang dipengaruhi oleh sub-proyek. secara keseluruhan atau sebagian. Tanggal Sensus adalah titik cut-off terbaru untuk merekam orang-orang di daerah Subproyek yang akan menerima kompensasi. Definisi yang digunakan dalam Kerangka Kebijakan : a.III. b. PNPM MANDIRI . “Pembebasan Lahan” berarti suatu aktivitas yang memerlukan perolehan tanah. bangunan atau aset lainnya dari pihak yang terkena dampak untuk kepentingan subproyek terhadap pemberian kompensasi dan bantuan d. “Sensus” berarti jumlah kepala orang-orang di bawah Subproyek yang diusulkan agar memenuhi syarat sebagai pengungsi. atau (C) kehilangan sumber penghasilan atau sarana penghidupan. atau (ii) pembatasan secara paksa akses ke taman-taman secara hukum yang ditunjuk dan kawasan lindung. mengakibatkan dampak buruk pada kehidupan orang tersebut. “Kompensasi” berarti kompensasi biaya penggantian sebagaimana ditentukan dalam Bagian V Kerangka Kerja diberikan dalam pertukaran untuk mengambil tanah dan bangunan. secara kolektif. apakah atau tidak orang tersebut harus pindah ke lokasi lain. e. atau (ii) kurang dari 50% tanah mereka atau bangunan yang dipengaruhi oleh proyek jika bagian yang tersisa tidak ekonomis atau layak huni. telah mengalami atau akan mengalami dampak ekonomi dan sosial secara langsung yang disebabkan oleh: (i) pengambilan tanah secara paksa. (B ) kehilangan aset atau akses ke aset. sehingga: (A) relokasi atau kehilangan tempat tinggal. dan “orang yang tergusur” berarti. f. pemukiman kembali dan / atau bantuan penghapusan dan rehabilitasi.

ketika mereka terjadi tanpa persetujuan Pengungsi atau kekuatan pilihan. apakah atau tidak pengungsi harus pindah ke lokasi lain. Pemukiman kembali non swakarsa yang parah dapat mengakibatkan penderitaan dalam jangka panjang. Prinsip-Prinsip Dasar 17. atau (iii) hilangnya sumber penghasilan atau mata pencaharian. 138 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN . Kelompok mengusulkan subproyek harus memiliki desain dieksplorasi alternatif untuk meminimalkan perpindahan. kemiskinan dan kerusakan lingkungan kecuali tindakan yang tepat secara hati-hati direncanakan dan dilaksanakan. h. i. “Subproyek” berarti investasi proyek infrastruktur yang spesifik dilakukan dengan dana dari komponen BLM IV. b. Proposal subproyek harus meminimalkan tanah dan akuisisi aset dan pemindahan paksa. g. Kelompok yang akan mengusulkan sub-proyek harus menggunakan proses yang transparan dan partisipatif untuk memastikan bahwa semua pengungsi setuju pada setiap proyek yang diusulkan yang melibatkan akuisisi tanah atau pemukiman kembali. “Penggusuran non swakarsa” berarti salah satu tindakan. “Pemukiman Kembali” berarti upaya / kegiatan untuk memindahkan para Pengungsi ke pemukiman baru yang baik seperti yang disebutkan dalam bagian Vb sehingga mereka dapat mengembangkan kehidupan yang lebih baik. prinsip-prinsip keseluruhan untuk Kerangka ini adalah sebagai berikut a.tingkat pendapatan dan kapasitas produksi ke tingkat sebelum proyek. Biaya kompensasi akan ditutupi melalui dana masyarakat sendiri ‘atau dana pemerintah (dana Pinjaman Bank Dunia tidak akan digunakan untuk membiayai kompensasi). (a) mengambil tanah mengakibatkan: (i) relokasi atau kehilangan tempat tinggal. c. Kelompok yang akan mengusulkan sub-proyek harus setuju untuk menggabungkan biaya untuk akuisisi tanah dan / atau pemaksaan pemukiman kembali di proyek proposal mereka sebagai bagian dari biaya proyek. Untuk alasan ini. atau (b) pembatasan paksa akses ke taman-taman yang ditunjuk secara hukum dan kawasan lindung mengakibatkan dampak buruk pada mata pencaharian para pengungsi. (ii) kehilangan aset atau akses ke aset.

jumlah dan nama-nama orang yang terkena dampak proyek (tergeser dan tergusur).d. Usulan sub-proyek/program (proposal) perlu menjelaskan pula sumber dana untuk kompensasi yang diperlukan (dana dari PNPM MP tidak boleh digunakan untuk membiayai kompensasi). Dalam hal sebuah usulan kegiatan masyarakat (sub-proyek/program) memerlukan pembebasan lahan dan/atau pemukiman kembali. untuk pra-perpindahan tingkat atau tingkat yang berlaku sebelum awal pelaksanaan proyek. 20. (a) survei identifikasi karakteristik sosial dan ekonomi dari orang yang terkena dampak. 19. secara riil. dan perkiraan anggaran biaya yang diperlukan untuk kompensasi. Pengungsi harus dibantu dalam upaya mereka untuk meningkatkan mata pencaharian mereka dan standar hidup atau setidaknya untuk memulihkan mereka. Kerangka 18. maka KMW/OC akan memeriksa untuk meyakinkan bahwa semua usulan tersebut dilengkapi dengan Rencana Tindak Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali (Land Acquisition and Resttlement Action Plan = LARAP).PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 139 . biasanya akan memerlukan waktu lama (jangka panjang). Untuk setiap usulan kegiatan masyarakat (sub-proyek/program) yang memerlukan PNPM MANDIRI . maka usulan sub-proyek/program tersebut harus sudah mengidentifikasi kebutuhan lahan yang perlu dibebaskan. dan diperkirakan melampaui cakupan jangka waktu proyek. LARAP tersebut akan mencakup. Sesuai dengan praktik tradisional. anggota masyarakat dapat memilih untuk secara sukarela memberikan kontribusi tanah atau aset dan / atau relokasi sementara atau permanen dari tanah mereka tanpa kompensasi. tanpa ada jenis kohesi. Usulan/proposal yang akan mengakibatkan dampak pada 200 orang atau lebih. e. Sukarela dalam konteks ini akan berarti sumbangan atau pemberian tanah dan aset lainnya dengan pengetahuan penuh dari tujuan yang aset sedang dibuat tersedia dan konsekuensi ekonomi. dan (c) skema kompensasi yang sesuai dengan pedoman kompensasi seperti tertera dalam bagian V dan telah disetujui oleh orang-orang yang terkena dampak dan masyarakat yang mengusulkan sub-proyek/program yang dikoordinasi oleh LKM. KMP/KMW/OC perlu mendapatkan persetujuan Bank Dunia terhadap LARAP dan pembiayaannya. sosial dan hukum bahwa tindakan seperti itu pada orang yang memberikan aset dan yang bertindak secara bebas dan sukarela. (b) rencana menyeluruh untuk pembebasan lahan dan pemukiman kembali. dan melakukan perubahan-perubahan apabila bank menganggap perlu. mana yang lebih tinggi V. Penjelasan lebih rinci mengenai LARAP terlampir. Dalam hal yang sangat tidak diharapkan bahwa lebih dari 200 orang yang akan terkena dampak dan memerlukan kompensasi.

Hal ini harus sdh disetujui oleh kelompok yang mengusulkan sub-proyek/ program dan mencantumkannya dalam surat persetujuan j) Rincian kesepakatan/persetujuan akan diperiksa oleh KMW/OC/Tim Fasilitator yang bertugas sebelum LKM mempertimbangkan untuk mendanai. persetujuan ini harus menjelaskan alasan mengapa hal tersebut dilakukan dan juga fakta bahwa yang bersangkutan sebenarnya punya pilihan untuk tidak menyumbang. sedangkan dalam kasus masyarakat terpaksa memberikan kontribusi maka cara penilaian kontribusinya harus dilakukan sesuai dengan sub Bab 4 di bawah ini. Dalam kasus sumbangan sukarela. Surat persetujuan ini harus secara jelas menggambarkan setiap persil lahan dari masing-masing pemilik yang dibutuhkan untuk dibebaskan atau pemukiman kembali. skema kompensasi dan atau pemukiman kembali. e) Dalam hal sumbangan sukarela dalam bentuk lahan atau aset-aset yang ada. c) Persetujuan dibuat secara tertulis melalui sebuah proses yang transparan dan partisipatif d) Orang yang dipindahkan harus disadarkan akan hak mereka untuk mendapat kompensasi atau bantuan lain sesuai dengan bagian V. dan telah menyepakati hasil negosiasi dengan kelompok pengusul. l) Tidak boleh ada pembebasan lahan atau aset-aset dari orang yang akan digusur/ 140 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .pemukiman kembali kurang dari 200 orang. jumlah dan nama-nama orang yang terkena dampak. maka persetujuan tertulis harus dibuat dengan jelas untuk semua orang yang dipindahkan dengan mencantumkan. baik dalam hal kompensasi atau merupakan sumbangan sukarela untuk subproyek tersebut. Dana dari PNPM MP hanya dapat digunakan untuk membiayai pekerjaan kecil yang membuka kesempatan kerja bagi anggota masyarakat yang akan dipindahkan (dimukimkan kembali). maka usulan kegiatan (sub-proyek/program) tidak perlu dipertimbangkan untuk didanai. serta perkiraan biaya untuk kompensasi pembebasan lahan dan/atau pemukiman kembali.PERKOTAAN . juga disertakan dalam usulan sub-proyek/program. h) Surat persetujuan atau kesepakatan. g) Sebuah format persetujuan sederhana untuk hal tersebut. LKM bersama Fasilitator dan tenaga ahli KMW/ OC akan membantu pembuatan usulan untuk menjamin bahwa langkah-langkah berikut diterapkan : a) Kelompok pengusul harus melakukan ”sensus” dari orang-orang yang terkena dampak sub-proyek/program yang teridentifikasi sebagai orang akan dipindahkan b) Orang-orang yang terkena dampak setuju pada usulan kegiatan masyarakat (subproyek/program). dan semua ini diperiksa dan secara teknis disetujui oleh KMW/OC. harus menjelaskan bahwa dana untuk biaya kompensasi akan berasal dari masyarakat atau kontribusi pemerintah. Apabila terjadi tidak adanya kesepakatan yang dapat dicapai dalam hal bentuk atau jumlah kompensasi. nama-nama penyumbangnya dan rincian sumbangan yang diberikan.

pemukiman kembali atau pilihan-pilihan lain. pemukiman kembali. penggarapan lokasi pemukiman kembali. Orang yang terkena dampak pemindahan memiliki hak untuk menerima biaya penggantian/ pemindahan yang sebenarnya adalah: a. pemindahan penduduk. A. Konpensasi 22.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 141 . Monitoring akan dilakukan oleh KMW/OC melalui survey penuh atau sample bergantung pada jumlah keluarga yang terkena dampak. berlokasi tidak terlalu jauh dari lahan yang lama. Untuk lahan di wilayah perkotaan. meskipun lebih tinggi. Pemukiman Kembali dan Bantuan Lain 21.dipindahkan sebelum mereka menerima kompensasi seperti yang disepakati dan dijelaskan pada usulan sub-proyek/program. termasuk biaya-biaya untuk penyiapan lahan sehingga menyerupai lahan sebelumnya. Berdasarkan pada persetujuan yang dicapai dalam negosiasi. nilai pasar dari lahan di lokasi sebelum dipindahkan dengan ukuran dan penggunaan yang sama. orang yang tergusur (displaced persons) dapat memilih untuk menerima kompensasi tunai. jumlah kompensasi. Laporan dari hasil dan rekomendasinya akan diumumkan dan dipublikasikan oleh KMW/OC kepada masyarakat dan KMP VI. Dari semua pilihan tersebut. serta berlokasi tidak terlalu jauh dari lahan yang terkena proyek. Dalam semua kasus. Pedoman untuk Kompensasi. n) Sistem monitoring dan evaluasi terhadap kompensasi akan dilakukan untuk meyakinkan bahwa orang yang terkena dampak telah menerima kompensasi mereka seperti yang telah disepakati. Lahan pengganti harus sama produktifnya atau potensi penggunaannya. rumah sederhana. penghasilan dan produktifitas dari orang yang tergusur. m) Pembayaran kompensasi. apartemen. atau lainnya harus cukup memadai untuk mencapai perbaikan atau sekurangnya tetap seperti sebelum proyek dalam hal kwalitas hidup. b. atau skema lainnya. ditambah PNPM MANDIRI . Pilihan lainnya termasuk kapling siap bangun. Untuk lahan pertanian. pertukaran lahan yang sama ukurannya atau sama produktifnya. perumahan yang dibangun pengembang dengan fasilitas kredit. biaya balik nama dan pajak. orang yang tergusur akan mendapatkan sebidang lahan dimana mereka tidak perlu membayar lebih dari pengeluaran rutin mereka sebelumnya. seperti yang telah disetujui harus sudah selesai dilaksanakan sebelum memulai dengan kegiatan sub-proyek/program. dengan yang sejenis atau dengan pelayanan prasarana dan sarana umum yang lebih baik. ditambah biaya-biaya untuk pendaftaran. nilai lahan sebelum sub-proyek/program atau sebelum pemindahan.

dan (f) fasilitas transportasi umum untuk mencapai kehidupan yang layak. (d) listrik. memiliki pilihan dimasukkan sebagai orang-orang yang secara fisik dipindahkan/tergusur dan mendapat kompensasi untuk aset yang terkena dampak. ditambah biaya pengangkutan material bangunan ke lokasi pembangunan.biaya-biaya untuk pendaftaran. dan aset lainnya akan didasarkan pada nilai penggantian dengan menggunakan harga yang ada per pohon yang disiapkan oleh lembaga / dinas terkait. ditambah biaya-biaya untuk pendaftaran. 23. (c) sisa lahan pertaniannya kurang dari 50% dari ukuran tertentu sehingga secara ekonomi tidak menguntungkan. akan memperoleh pilihan untuk pindah ke sebuah lokasi baru pada persil minimum seluas 60 m2 dan bangunan minimum seluas 21 m2. B. dan fasilitas olahraga. ditambah biaya buruh dan jasa kontraktor. dan juga tidak diperhitungkan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari kegiatan sub-proyek/program yang dikerjakan. fasilitas keagamaan. atau (b) sisa lahannya kurang dari 60 m2. (c) penyediaan air bersih (jika distribusi air melalui pipa tidak memungkinkan. termasuk (a) jalan dan jalan setapak yang diperlukan. atau untuk memperbaiki sebagian bangunan yang terkena. Orang yang terkena dampak yang . (a) sisa lahan dan bangunannya tidak bisa digunakan untuk hunian atau tempat bekerja. Kompensasi dari tanaman. c. 24. perlu dijelaskan bahwa depresiasi dari aset dan nilai dari sejumlah material tidak dimasukkan ke dalam perhitungan. Orang yang tergusur akan pindah ke lokasi baru setelah sarana dan prasarana di lokasi pemukiman kembali selesai dan layak untuk dihuni yang dinyatakan oleh KMW/OC dan 142 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . pohon-pohon. Dalam hal perhitungan biaya penggantian dari sebuah aset yang terkena dampak. Mereka juga akan mendapat kompensasi di lokasi baru sesuai kerugian mereka. maka harus ada sumur dangkal yang memenuhi standar kesehatan). Orang yang terkena dampak yang sisa lahannya kurang dari 60 m2 dan bangunannya kurang dari 21 m2. dan biaya balik nama dan pajak. pendidikan. dan biaya balik nama dan pajak. 26. tempat kerja. Tapak atau lahan pemukiman kembali yang disediakan untuk orang-orang yang tergusur akan termasuk juga sarana dan prasarana umum sehingga baik untuk tinggal dan memungkinkan pengembangan sebuah kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih baik. Tapak Permukiman Kembali 25. diambil dari perhitungan harga pasar setempat (lokal). sesuai dengan ukuran jumlah komunitas yang baru. (b) sistem drainase. atau (d) sisa bangunan kurang dari 21 m2. nilai pasar dari material untuk membangun sebuah bangunan pengganti. (e) fasilitas kesehatan. Nilai kompensasi akan bergantung pada status penguasaan atas lahan dan bangunan dari orang yang akan dipindahkan seperti ditetapkan pada bagian VI.PERKOTAAN . Untuk rumah-rumah dan bangunan lainnya.

(g) tidak memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan.LKM. (b) secara hukum setempat/adat dinyatakan memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan. pelatihan keterampilan dan jenis pekerjaan tertentu. jalan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 143 . atau hak adat. dan mereka akan diundang untuk meninjau lokasi baru tersebut. Bantuan Lainnya 28. bimbingan untuk memulai dan mengembangkan usaha kecil. komersial. perlu diperhatikan untuk harmonisasi komunitas baru dengan masyarakat setempat di wilayah pemukiman kembali melalui upaya-upaya pendampingan dan upaya integrasi sosial. bantuan selama periode transisi. pengembangan motivasi. girik. pengembangan pemasaran. sarana publik lainnya di wilayah sub-proyek/ program tetapi tidak memiliki sertifikat tanah atau bukti hak atas tanah lainnya yang legal. Bentuk-bentuk bantuannya akan dikonsultasikan oleh LKM dan disepakati oleh KMW/OC. Pelatihan dan bantuan yang dapat disediakan termasuk. atau tinggal di tapak prasarana atau sarana publik seperti sungai. (c) tidak memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan. Lokasi yang disediakan (dicadangkan) untuk pemukiman kembali secara luas akan dipublikasikan sehingga masyarakat secara luas akan mendapat informasi. kredit usaha kecil. dan penguatan dari organisasi masyarakat dan pelayanan lainnya. Dalam pelaksanaan bantuan melalui pendampingan. (f) mereka yang kehilangan pekerjaan karena kehilangan lahan. Tapak pemukiman sudah harus ada sebelum mulai dengan subproyek terkait. Orang yang terkena dampak sub-proyek/program yang kehilangan pekerjaan/sumber pendapatan. Kompensasi harus diberikan secara berbeda sesuai dengan kategori tersebut di atas. C. Orang yang terkena dampak akan diinformasikan tentang penyelesaian dari lahan pemukiman kembali sekurangnya satu bulan sebelum pemindahan. ruang terbuka. Kriteria Seleksi Orang-Orang yang Terkena Dampak (Tergusur) 29. 27. atau industri di dalam wilayah proyek. Pendampingan dapat dikaitkan dengan program-program dan sumberdaya yang ada lainnya. PNPM MANDIRI . VIi. komersial. industri dan tanah negara atau tapak sarana publik di wilayah sub-proyek/program dan baru mulai tinggal di lokasi tersebut setelah sensus atau pra studi kelayakan dilakukan. komersial. (d) para penyewa. industri atau tanah negara atau tapak sarana publik di wilayah sub-proyek/program tetapi yang saat sensus atau pra studi kelayakan dilakukan sudah tinggal disitu. Orang yang terkena dampak dapat dikelompokan ke dalam golongan orang-orang sebagai berikut : (a) memiliki sertifikat lahan (akte hak milik). akan menerima bantuan untuk memulihkan ini.

a. Orang-orang yang memiliki sertifikat tanah, girik atau hak adat · Orang yang terkena dampak yang memiliki sertifikat tanah, girik atau hak adat akan menerima kompensasi untuk tanah, bangunan, dan aset-aset tetap. · Orang yang terkena dampak yang dipindahkan oleh proyek dapat memilih untuk menerima kompensasi tunai atau pilihan lain seperti dijelaskan di paragraf 21). · Persil-persil di lahan pemukiman kembali akan memiliki status hak tanah dengan tingkat yang sama atau lebih tinggi dari yang dimiliki sebelumnya, dan sertifikat akan dikeluarkan dalam waktu satu tahun setelah pemindahan dari orang-orang yang terkena dampak. · Orang yang terkena dampak akan menerima biaya transportasi untuk memindahkan barang-barang miliknya. · Orang yang terkena dampak juga akan mendapat bantuan pendampingan dan pelatihan seperti tercantum dalam paragraf 28). b. Orang-orang yang berdasarkan hukum setempat dinyatakan memiliki hak untuk tinggal; di kawasan permukiman, komersial atau industri di dalam wilayah proyek, tetapi tidak memiliki bukti sertifikat tanah atau bukti legal lainnya, begitu juga mereka yang berdasarkan hukum adat sudah tinggal di tanah negara atau tapak sarana publik pada saat dilakukan sensus: · Akan menerima kompensasi dari lahan, bangunan, dan aset-aset tetap menurut lamanya mereka menempati dan nilai penggantian dari aset mereka. · Dapat memilih untuk menerima kompensasi tunai atau pilihan lainnya seperti dijelaskan di paragraf 21). · Persil-persil pada lahan pemukiman kembali akan memiliki hak pakai atau hak tanah lainnya yang lebih tinggi, dan sertifikat akan dikeluarkan dalam waktu satu tahun setelah pemindahan dari orang-orang yang terkena dampak. · Orang yang terkena dampak akan menerima biaya transportasi untuk memindahkan barang-barang miliknya. · Orang yang terkena dampak juga akan mendapat bantuan pendampingan dan pelatihan seperti tercantum dalam paragraf 23 ini). c. Orang yang tidak memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan, komersial, industri atau tanah negara atau tapak sarana publik di wilayah sub-proyek/ program tetapi yang saat sensus atau pra studi kelayakan dilakukan sudah tinggal disitu: · Akan menerima bantuan rehabilitasi/pemulihan seperti yang diuraikan di paragraf 21 pada kompensasi yang cukup untuk tanah yang diduduki dalam jumlah yang cukup untuk mencapai tujuan dari Kerangka Kebijakan ini, dan kompensasi untuk penggantian biaya bangunan, barang tak bergerak begitu juga

144

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

· · · ·

tanaman dan pohon sesuai dengan harga pasar. Mereka dapat memilih antara kompensasi tunai atau pilihan lainnya seperti diuraikan di paragraf 21) Persil ditempat yang baru akan mendapatkan status ”hak pakai” atau lebih tinggi dan sertifikat akan diterbitkan dalam waktu 1 tahun setelah penggusuran Mereka akan mendapat biaya transport untuk memindahkan milik mereka Mereka akan mendapat bantuan pendampingan dan pelatihan seperti tercantum dalam paragraf 21 ini).

d. Orang-Orang Penyewa: · Akan dibantu dengan biaya sewa selama 6 (enam) bulan yang diperhitungkan dengan dasar rata-rata harga sewa dari perumahan sejenis di dalam areal yang sama. · Akan mendapat bantuan pendampingan dan pelatihan serta transport untuk memindahkan milik mereka. e. Orang-orang yang kehilangan pekerjaan akibat tanahnya terambil dimana mereka bekerja dan urusan pendapatan mereka akan dibantu dengan bentuk bantuan yang dijelaskan dalam paragrap 2 f. Orang-orang yang tidak memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan, komersial, industri dan tanah negara atau tapak sarana publik di wilayah sub-proyek/ program dan baru mulai tinggal di lokasi tersebut setelah sensus, mereka tidak akan mendapat kompensasi maupun bantuan apapun termasuk penggantian bangunbangunan yang mereka bangun atau tanaman yang mereka tanam.

VIII.

Konsultasi dan Pengaduan

30. Kerangka kebijakan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari manual proyek dan pedoman, KMP, KMW/OC maupun Tim Fasilitator wajib menerapkannya. Pendekatan proyek secara keseluruhan dalam mengembangkan transparansi dan konsultasi diharapkan mampu memberi pemecahan persoalan di tingkat lokal, cepat, dan efektif. Jika ada orang yang terkena dampak proyek, atau anggota masyarakat lainnya memiliki keluhan berkaitan dengan kerangka kebijakan ini atau praktek pelaksanaannya, proyek memiliki sebuah sistem yang baku untuk menangani keluhan/pengaduan pada tingkat kelurahan/ desa, tingkat kota/kabupaten begitu juga pada tingkat propinsi maupun nasional, dengan staf yang penuh dedikasi dan ditugasi untuk menangani dan menindak-lanjuti pengaduan tersebut. Pengaduan yang tidak dapat dipecahkan melalui sistem pengelolaan pengaduan

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

145

di tingkat LKM akan dirujuk ke KMW/OC, dan jika perlu ke KMP atau PMU. Namun, bila dalam musyawarah yang telah dilakukan berulang kali selama jangka waktu yang panjang, tetapi tidak melebihi satu tahun, untuk mencapai konsensus, dan tidak ada konsensus yang disepakati pada bentuk dan jumlah kompensasi, penyelesaian sengketa akan mengikuti Keputusan Presiden No 36/2005 dan No 65/2006 serta Peraturan BPN No 3 / 2007. 31. Kemajuan dari pelaksanaan pembebasan lahan dan pemukiman kembali serta bantuan lainnya akan dilaporkan kepada Bank Dunia secara teratur oleh KMW/OC/KMP. Jika diperlukan sebuah pemantau independen dapat diperbantukan untuk melakukan monitoring dan evaluasi tentang pelaksanaan dari LARAP. Perusahaan tersebut harus memiliki tenaga ahli yang berpengalaman dan kerangka acuan kerja (TOR) untuk hal tersebut harus disetujui oleh Bank Dunia.

146

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

jenis kelamin. tingkat produksi dan pendapatan yang dihasilkan secara formal dan informal dari kegiatan usaha/ekonomi). LKM dan Dinas terkait akan dibantu dan didampingi oleh KMW/OC. tingkat kwalitas kehidupan (termasuk status kesehatan). 2. KMW/OC akan membantu kelompok yang PNPM MANDIRI . untuk melakukan survey sosial-ekonomi penduduk yang terkena dampak agar : (i) menetapkan jumlah orang yang terkena dampak.ANNEX 10B: LAMPIRAN 1 INDONESIA: PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERKOTAAN-3 Persyaratan untuk Rencana Tindak Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali (LARAP) untuk sub-proyek di bawah Hibah Kemitraan Penanggulangan Kemiskinan mempengaruhi lebih dari 200 orang 1. Tanggal dari survey/sensus ini merupakan patokan waktu untuk mencatat orang-orang di wilayah sub-proyek/program yang akan menerima kompensasi. Rincian sensus dan survei sosial-ekonomi akan mencakup hal-hal berikut (selanjutnya disebut sebagai survey sosio-ekonomi) akan mencakup antara lain: · · · · Ukuran. 3. Jumlah dari orang dan keluarga yang terkena dampak/dipindahkan Karakteristik sosial yang gayut dari orang-orang yang terkena dampak (umur. status legal dari tanah dan bangunan-bangunan (didaftar dalam kelompok yang terkena dampak mulai 0-25%. 75-100% terkena dampak). (ii) mengumpulkan data tentang kondisi sosial dan ekonomi dari orang-orang yang terkena dampak dan kondisi fisik dari wilayah proyek. maka kelompokkelompok yang mengusulkan sub-proyek/program. dan dampak pemindahan. Besaran dari kehilangan yang dapat diperkirakan – total atau sebagian – dari asetaset. pendidikan. pemukiman kembali dan/ atau pemindahan maupun bantuan rehabilitasi. 25-50%. kondisi. Informasi tentang kelompok rentan atau orang-orang rentan dimana tindakan khusus perlu dilakukan · · 4.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 147 . dan. Berdasarkan hasil survei sosial ekonomi tersebut. dsb) Karakteristik ekonomi yang gayut dari orang-orang yang terkena dampak seperti mata pencaharian (termasuk seperti halnya. Jika kegiatan masyarakat yang diusulkan (sub-proyek/program proposal) mengindikasi bahwa lebih dari 200 orang akan terkena dampak oleh sub-proyek/program. dan (iii) menetapkan potensi dampak dari sub-proyek/program. secara fisik atau ekonomi.

dan (iv) mekanisme yang dibangun untuk meminimalkan pemukiman kembali sejauh mungkin. b. 5. Daftar berikut menjelaskan halhal yang biasanya perlu dimasukkan di dalam LARAP dan harus diikuti sebagai pedoman umum dalam penyiapan LARAP. Lingkup dan tingkat kerincian dari LARAP akan bervariasi sesuai dengan dampak dan kompleksitas dari pemukiman kembali. Hal ini akan diuraikan dalam sebuah ”Rencana Tindak Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali” (LARAP) yang harus dikirim ke Bank Dunia untuk mendapatkan persetujuan. 148 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . selama pelaksanaannya. penyediaan kompensasi. harus dicatat di dalam rencana pemukiman kembali: a. (ii) wilayah dampak dari komponen tersebut atau kegiatan-kegiatan. Tujuan utama dari program pemukiman kembali Temuan-temuan dari kajian sosial-ekonomi Temuan-temuan dari analisis kerangka hukum Temuan-temuan dari analisis kerangka kelembagaan Definisi tentang orang-orang yang terkena dampak/dipindahkan dan kriteria persyaratan untuk mendapat kompensasi dan bantuan pemukiman kembali lainnya termasuk batas waktu patokan pencacahan penduduk. Deskripsi tentang dampak sub-proyek dan analisisnya · · · · · · · Uraian tentang sub-proyek/program dan batas-batas lokasi sub-proyek/program Identifikasi (i) komponen sub-proyek/program atau kegiatan-kegiatan yang menyebabkan pemukiman kembali. (iii) alternatif-alternatif yang dipertimbangkan untuk menghindarkan atau meminimalkan pemukiman kembali. dan (b) perkara hukum yang terkait dalam pemukiman kembali.PERKOTAAN . uraian tentang usulan bentuk dan tingkat kompensasi menurut aturan setempat dan sejumlah suplemen tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai biaya penggantian yang tepat dari kehilangan asset mereka.mengusulkan sub-proyek/program dalam menyiapkan sebuah rencana yang menyeluruh mengenai pembebasan aset-aset untuk tujuan sub-proyek/program. Apabila ada sesuatu yang di dalam daftar tidak sesuai (relevan) dengan situasi proyek. pemukiman kembali dan bantuan rehabilitasi untuk orang yang terkena dampak proyek sesuai dengan prinsip-prinsip dari kerangka kebijakan ini. Rencana tersebut harus didasarkan pada data dan informasi terkini yang ada tentang : (a) pemukiman kembali yang diusulkan dan dampakdampaknya pada orang yang dipindahkan dan kelompok-kelompok lain yang dirugikan. Metodelogi dan Prosedur-Prosedur · Metode yang digunakan dalam menilai kerugian untuk menetapkan biaya penggantian.

dan o Rencana tindakan untuk menjamin bahwa kelompok-kelompok masyarakat seperti masyarakat tertinggal/rentan. d. untuk melestarikan pola organisasi masyarakat dan kekayaan budaya yang ada. pola memindahkan sebagai kelompok keluarga lepas atau sebagai bagian dari masyarakat yang sudah ada sebelumnya atau kelompok kekerabatan. termasuk jadwal untuk penyiapan lahan dan penyerahannya. o Melembagakan mekanisme dimana orang-orang yang dipindahkan dapat mengkomunikasikan kepentingan/kebutuhan mereka pada otoritas proyek melalui perencanaan dan pelaksanaannya.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 149 .· Sebuah deskripsi tentang strategi konsultasi dan partisipasi dari orang-orang yang dipindahkan maupun penduduk asli setempat di dalam rancangan dan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan pemukiman kembali mencakup. Paket Konpensasi Uraian paket-paket kompensasi dan aturan pemukiman kembali lainnya. seperti keuntungan lokasi. dan kaum perempuan cukup terwakili. · Penataan hukum untuk mengatur hak penguasaan dan pengalihan hak kepada orang-orang yang dipindahkan. c. Alternatif Relokasi · Pengaturan kelembagaan dan teknis untuk identifikasi dan penyiapan lahan relokasi. · Perkiraan waktu untuk membebaskan dan mengalihkan lahan dan bantuan lainnya. Kompensasi akan dihitung berdasarkan uraian pada bagian V. PNPM MANDIRI . yang akan membantu tiap kategori dari orang-orang yang terkena dampak/dipindahkan sehingga tercapai tujuan Kerangka Kebijakan ini. yang tidak memiliki lahan. baik perdesaan maupun perkotaan. o Tinjauan dari alternatif-alternatif diajukan dan pilihan yang dibuat oleh orangorang yang dipindahkan terhadap alternatif-alternatif yang tersedia bagi mereka. · Prosedur untuk pemindahan secara fisik di dalam sub-proyek/program. o Ringkasan dari pendapat dan pandangan yang dikemukakan dan bagaimana hal tersebut tertuang dalam rencana pemukiman kembali. dan faktor-faktor lain sekurang-kurangnya sebanding dengan keunggulan dari lahan sebelumnya. dimana kombinasi dari potensi produktif. termasuk pilihan-pilihan terhadap bentuk-bentuk kompensasi dan bantuan pemukiman kembali. · Langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah spekulasi lahan dan masuknya orang-orang yang tidak berhak pada lokasi yang dipilih.

atau pendanaan orang-orang yang dipindahkan. dan penilaian terhadap dampak lingkungan dari usulan pemukiman kembali dan rencana tindakan untuk pencegahan dan pengelolaan dampak lingkungan (terkoordinasi secara tepat dengan penilaian lingkungan dari keseluruhan pemukiman kembali). penyediaan perumahan. biaya pemukiman kembali dan semua biaya-biaya yang terkait · Identifikasi sumber-sumber pendanaan (dana bank tidak dapat digunakan untuk membiayai kompensasi uang tunai untuk pembebasan lahan) g. Harus dilakukan konsultasi secara periodik (reguler) dengan orang-orang yang terkena dampak. Deskripsi dari batas-batas dari wilayah relokasi. · Uraian tentang tata cara pengaduan 6. termasuk target waktu pencapaian manfaat yg diharapkan bagi orang yang dipindahkan maupun masyarakat setempat dan pengakhiran dari semua bantuan. 150 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Monitoring dan Prosedur Pengaduan · Penyiapan untuk monitoring dari kegiatan pemukiman kembali oleh Lembaga Pelaksana (PMU). Biaya-Biaya · Rincian biaya untuk paket-paket kompensasi menyeluruh. diperkuat dengan pengamat independen yang juga dinilai cukup mampu (capable) oleh Bank Dunia. dan semua pelaku kunci (stakeholders) termasuk LSM selama perencanaan dan pelaksanaan LARAP. termasuk identifikasi lembaga-lembaga yang bertanggung jawab untuk menyediakan aturan-aturan pemukiman kembali dan penyediaan jasa. Pelaksanaan Permukiman Kembali · Kerangka organisasi untuk pelaksanaan pemukiman kembali. e. maupun pengembangan tapak yang perlu dan rancang bangun dari fasilitas-fasilitas tersebut. Rencana tindakan untuk mencegah dampak pemukiman kembali ini pada masyarakat setempat yang ada. f.· · · Rencana untuk penyediaan. prasarana dan fasilitas pelayanan sosial bagi orang-orang yang dipindahkan (dengan mempertimbangkan keserasian pelayanan dengan penduduk setempat).PERKOTAAN . · Jadwal pelaksanaan (implementasi) yang mencakup semua kegiatan pemukiman kembali mulai dari persiapan hingga pelaksanaan.

dan kantorkantor BKM/LKM yang terkait. LARAP. maka hal ini akan dikeluarkan sebagai surat keputusan (SK) Walikota/Bupati. maka akan disebarluaskan oleh KMW/OC dan dinas terkait kepada orang-orang yang terkena dampak. Apabila persetujuan Bank Dunia sudah diperoleh. LARAP yang dijelaskan diatas akan dipersiapkan bersama LKM yang mengusulkan subproyek/program. dengan bantuan KMW/OC dan selanjutnya dikonsultasikan ke Bank Dunia melalui KMW/OC/KMP. akan dipublikasikan di kantor KMP dan kantor-kantor KMW/OC terkait. termasuk peta-peta terkait dan lampiran-lampiran.7. kantor kelurahan/desa yang terkait. Apabila SK walikota/bupati tentang hal ini telah dikeluarkan. PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 151 . termasuk pembebasan semua lahan di lokasi-lokasi kritis. 9. Persetujuan untuk penandatanganan kontrak dari sub-proyek/program yang perlu LARAP akan dipertimbangkan oleh Bank Dunia setelah diterimanya laporan kemajuan dari KMW/ OC/KMP yang menggambarkan pelaksanaan substansial dari LARAP. 8.

Untuk saat ini.20. Rancangan proyek ini disusun untuk menjamin partisipasi dan keterlibatan berbagai kelompok dalam masyarakat di pengambilan keputusan tingkat kelurahan/desa atas alokasi sumber daya. karena semua subproyek yang terletak di daerah urban. meskipun sangat tidak mungkin. tidak ada laporan tentang keterlibatan atau dampak pada IVP. Seperti dalam kasus lingkungan dan pembebasan lahan / pemukiman kembali dampak. ia akan menggunakan kerangka kebijakan IVP dari P2KP-3. Namun. dan. di semua program P2KP. Namun. dampak potensial atau keterlibatan IVP diidentifikasi dalam proposal subproyek yang diajukan oleh kelompok masyarakat (KSM). Tujuan 2. “Masyarakat rentan terisolasi” adalah istilah yang digunakan secara resmi oleh Pemerintah Indonesia untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang memiliki karakteristik “masyarakat adat” sebagaimana digunakan dalam OD 4. Dokumen ini selanjutnya akan menggunakan istilah “masyarakat rentan terisolasi” 5. Tujuan dari kerangka ini adalah untuk: · Memastikan bahwa masyarakat adat berpartisipasi dalam dan memperoleh manfaat dari proyek tersebut. seperti PNPM akan mencakup lebih banyak kelurahan di pulau-pulau timur. sesuai dengan OD 4.20. Untuk keperluan proyek ini. dalam kasus yang melibatkan Proyek IVP. masyarakat rentan terisolasi didefinisikan sebagai mereka yang 152 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . yang diadopsi di P2KP-2 AF. proyek ini mengakui bahwa Masyarakat Adat membentuk kelompok tertentu yang manfaat pendekatan yang berbeda dan dukungan spesifik. 3. Penyaringan dilakukan pada proposal proyek oleh BKM dan fasilitator. · Menghindari atau meminimalkan efek berpotensi merugikan dari proyek pada masyarakat adat.PERKOTAAN . Oleh karena itu.ANNEX C: KEBIJAKAN UNTUK PERLAKUAN PENDUDUK ASLI ATAU MASYARAKAT RENTAN TERISOLASI INDONESIA: PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERKOTAAN-3 Pengalaman dari P2KP 1. Semua misi pengawasan telah mengkonfirmasikan bahwa tidak ada IVPs terlibat atau dipengaruhi oleh proyek. kerangka berikut untuk mengatasi masyarakat adat akan diadopsi untuk proyek. Definisi 4.

fasilitator mengidentifikasi keberadaan dan jumlah penduduk asli di masyarakat sasaran dan memberikan laporan secara tertulis ke KMW/OC. PNPM MANDIRI . dan · Terutama berorientasi subsisten produksi Kerangka Kerja 6. serta ditujukan langsung mengatasi tantangan khusu dalam bekerja dengan komunitas tersebut. maka dokumen dan brosur yang terkait akan diterjemahkan dalam bahasa setempat. Fasilitator mungkin dirotasi sesuai kebutuhan dan untuk menjamin bahwa mereka yang telah dilatih bekerja dengan komunitas asli-atau setidaknya memiliki keterampilan khusus yang akan bermanfaat dalam bekerja dengan komunitas asli harus ditempatkan di lokasi yang tepat. Mengingat fasilitator sangat mungkin dikontrak dari penduduk setempat. f. Alokasi dana telah disediakan dalam anggran proyek untuk penterjemahan tambahan bagi dokumen-dokumen proyek yang relevan. fasilitator akan memperoleh pemahaman mengenai bagaimana mengidentifikasi penduduk-penduduk asli. b.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 153 . sehingga lebih memudahkan komunikasi dengan kelompok komunitas asli tersebut. · Bahasa adat. Melalui kajian Pemetaan Swadaya (Community Self Survey) dan Refleksi Kemiskinan. · Keberadaan lembaga-lembaga sosial dan politik adat. a.hadir dari berbagai kalangan dengan karakteristik berikut: · Kedekatan dengan wilayah leluhur dan sumber daya alam di daerah-daerah. Selama pelatihan fasilitator. Di lokasi dimana komunitas asli berbicara dengan bahasa yang berbeda dari bahasa Indonesia. maka mereka diharapkan lebih memahami kelompok komunitas asli tersebut. Di lokasi keberadaan penduduk asli yang telah teridentifikasi sebelumnya. Komunitas penduduk asli tidak terdapat secara umum di semua lokasi proyek mereka mungkin ditemukan di kota/kabupaten tertentu atau propinsi tertentu. d. Langkah-langkah berikut dibawah ini merupakan upaya untuk menjamin bahwa program-tempat komunitas asli tersebut berada-akan memenuhi kebutuhan khusus mereka. Di lokasi keberadaan penduduk asli yang telah teridentifikasi tersebut. KMW/ OC akan mengorganisasi pelatihan atau lokakarya orientasi bagi fasilitator terkait tentang bagaimana bekerja dengan komunitas asli tersebut dgn cara yang tepat dan bermanfaat untuk mengidentifikasi mekanisme partisipasi yang efektif. misalnya bagaimana berhubungan dengan komunitas asli yang mungkin akan konflik dengan komunitas masyarakat yang lebih besar. g. · Identifikasi sendiri dan identifikasi oleh orang lain sebagai anggota dari kelompok budaya yang berbeda. akan dilakukan upaya-upaya yang dapat menjamin bahwa setidaknya tersedia dua relawan laki-laki dan perempuan yang berasal dari komunitas asli tersebut. berbeda dari bahasa daerah pada umumnya (misalnya Jawa). Manajemen fasilitator merupakan tanggung jawab KMW/OC.

Proyek ini memiliki sistem pengaduan yang memungkinkan masyarakat untuk mengadu diberbagai tingkatan. maka fasilitator/KMW/OC menjamin bahwa mekanisme pengaduan dibangun secara tepat berdasarkan budaya setempat. Monitoring Prosedur Pengaduan 8. mereka akan didorong untuk mengajukan proposal subproyek yang memenuhi kebutuhan kelompok mereka. Dalam hal ada komunitas penduduk asli. 9. tingkat kelurahan/desa. dan mampu menyuarakan kebutuhan mereka selama latihan Pemetaan Swadaya dan dalam perumusan Rencana Pengembangan Masyarakat.PERKOTAAN . SIM PNPM Mandiri akan mengakomodasi data tersebut utk dapat selalu memonitor keterlibatan penduduk asli dalam PNPM MP. Ditingkat KMW/OC dan KMP yang ditunjuk petugas khusus yg bertanggung jawab untuk menangani pengaduan dan menjamin bahwa pengaduan tersebut ditangani dgn tepat dan layak. sadar akan hak dan tanggung jawab. Bagi penduduk asli yang peduli. dan pada tingkat nasional.7. Selain itu. Studi evaluasi proyek akan mencakup pemantauan dan evaluasi dampak dari proyek pada orang yang rentan terisolasi 154 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . tingkat KMW/OC (termasuk tingkat kota/ kabupaten atau tingkat propinsi). maka KMW/OC harus melaporkan partisipasi komunitas tersebut dalam proyek. sama halnya waktu selama misi supervisi. Kerangka acuan KMW/OC dan KMP termasuk tanggungjawab untuk memonitor perlakuan atau penanganan komunitas penduduk asli dalam PNPM MP. Hal tersebut akan dilakukan juga oleh KMP. Langkah-langkah ini akan ditujukan untuk memastikan bahwa orang-orang yang rentan terisolasi berpartisipasi penuh dalam proyek.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 155 .PNPM MANDIRI .

PERKOTAAN 2012 | PEDOMAN PELAKSANAAN 155 .PNPM MANDIRI .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful