PEDOMAN PELAKSANAAN PNPM MANDIRI PERKOTAAN
PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM) MANDIRI - PERKOTAAN

Diterbitkan Oleh: Direktorat Jenderal Cipta Karya - Kementerian Pekerjaan Umum

.

KATA PENGANTAR .

melalui 860 ribu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). mengakar dan kondusif bagi perkembangan modal sosial (Social Capital) masyarakat di masa mendatang serta menyiapkan program masyarakat jangka menengah dalam penanggulangan kemiskinan yang menjadi pengikat dalam kemitraan masyarakat dengan pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat. Sejak pelaksanaan P2KP-1 hingga pelaksanaan P2KP-3 saat ini telah terbentuk sekitar 6.125 kecamatan di 235 kota/kabupaten.9 Juta orang pemanfaat (penduduk miskin).838 KSM.405 BKM/LKM yang tersebar di 1.PERKOTAAN .153 kecamatan di 268 kota/kabupaten.000 relawan-relawan dari masyarakat setempat. Program ini sangat strategis karena menyiapkan landasan kemandirian masyarakan berupa lembaga kepemimpinan masyarakat yang representative. telah memunculkan lebih dari 291. ii PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .813 Kelurahan di 995 kecamatan tersebar pada 245 kota/kabupaten. serta telah mencakup 18. Pada tahun 2008 keberlanjutan pelaksanaan P2KP diperluas lagi menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan). Saat ini pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan telah membangun kelembagaan masyarakat lebih dari 11 ribu BKM/LKM yang tersebar di sekitar 1. dengan mengalokasikan tambahan dana yang cukup signifikan pada tahun anggaran 2008 yang mencakup 8. telah memunculkan lebih dari 600 ribuan relawan dari masyarakat setempat. dengan menerbitkan buku Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan. sehingga sejak tahun 2007 P2KP yang merupakan bagian dari PNPM Mandiri telah melakukan penyempurnaan pedoman pelaksanaanya yang lebih fokus pada upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan percepatan pencapaian target sasaran MDGs.P rogram Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dilaksanakan sejak tahun 1999 sebagai suatu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan. melalui 243. Kegiatan ini diharapkan juga dapat mendukung kesepakatan global pada awal tahun 2000 mengenai Millenium Development Goals (MDGs). serta lebih dari 22 Juta orang pemanfaat (penduduk miskin).

P Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum PNPM MANDIRI . diharapkan pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan dapat dilaksanakan oleh seluruh pelaku secara efektif dan optimal untuk mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan jumlah orang miskin di Indonesia dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia sesuai amanat UUD’45.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN iii . September 2012 Budi Yuwono. Jakarta.DAfTAR ISI Melalui buku pedoman pelaksanaan edisi September 2012 yang merupakan revisi dari edisi sebelumnya.

5. 3.PERKOTAAN .6.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR | i DAFTAR ISI | v DAFTAR ISTILAH & SINGKATAN | IX PERIHAL PEDOMAN | 1 BAB I. 3. PELAKSANAAN PROGRAM | 33 Pelaksanaan di Tataran Masyarakat | 34 Pelaksanaan di Tataran Pemerintah Kota/Kabupaten | 47 Indikator Keberhasilan | 51 Rencana Tindak Tata Kepemerintahan yang baik & Pengamanan | 53 Penyelengaraan Audit dan Pemantauan | 58 Sanksi | 61 Pengaduan dan Penyelesaian Konflik | 62 Kebijakan Pengamanan | 67 iv PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . 3.1. 2. 3. 3.8.7. 3.3. 1. KOMPONEN PROGRAM | 19 Pendampingan untuk Masyarakat | 20 Pendampingan untuk Pemdan dan Pemangku Kepentingan | 29 BAB III. Pendekatan dan Dasar Hukum | 11 Tujuan | 13 Sasaran | 13 Strategi | 16 BAB II. GAMBARAN UMUM PROGRAM | 5 1.6. 1. 1.2. 1. 3. 3.2.1.4.3.2. 1.5. 2. Pendahuluan | 6 Kerangka Pemikiran | 7 Prinsip.4.1.

2. 4. Gambar 3. Gambar 1.1 Bagan 4.2.1.2. Gambar 1.4.1 DAFTAR GAMBAR DAN BAGAN Gambar 1.1 Gambar 1. Tabel 3.3.3. Tabel 2.1 Diagram 1.BAB IV. Tabel 2.1 Pandangan PNPM MP Tentang Akar Penyebab Kemiskinan | 8 Penanganan Akar Kemiskinan Oleh masyarakat Melalui PNPM MP | 10 Strategi Transformasi Sosial Masyarakat PNPM MP | 17 Strategi Penguatan Kemandirian Pemda | 18 Siklus Tingkat Masyarakat | 35 Tahapan Siklus Pendampingan TIngkat Kota/kabupaten | 47 Mekanisme Penanganan Pengaduan | 66 Stuktur Organisasi Pengelolaan PNPM MP | 73 Keterkaitan antara Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) dengan PAD dan Pedoman-Pedoman dalam PNPM Mandiri Perkotaan | 4 LAMPIRAN-LAMPIRAN | 89 PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN v .1. 4. Bagan 3. Tabel 2.2.1 Gambar 3.1. MANAJEMEN PROGRAM | 71 Struktur Organisasi Pelaksanaan | 72 Tata Peran Pelaku | 74 Kelompok Sasaran |15 Ketentuan Sifat Penggunaan Dana BLM | 24 Kriteria Kinerja Pinjaman Bergulir | 28 Alur pelaksanaan PJM Pronangkis | 45 Indikator Keberhasilan PNPM Mandiri Perkotaan | 51 DAFTAR TABEL Tabel 1.

DAFTAR ISTILAH & SINGKATAN A Advisory AD/ART AF AMDAL APBD APBN : Penasehat dan perancang program dibawah Kementerian Pekerjaan Umum : Anggaran Dasar/Anggran Rumah Tangga : Additional Financing : Analisis Mengenai Dampak Lingkungan : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara B Bangda : Pembangunan Daerah Bappeda Kab/Kota: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota Bappeda Prop : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BGAP : Better Governance Action Plan BI : Bank Indonesia BKM : Badan Keswadayaan Masyarakat BLM : Bantuan Langsung Masyarakat BOP : Biaya Operasional BPD : Badan Perwakilan Desa BPKP : Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan BPS : Badan Pusat Statistik C CBD CSS Comprehensive DED DIPA DKT Dokumen SPK-D DPPHLN DPRD DPT : Community Based Development : Community Self Survey : Menyeluruh : Detailed Design : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran : Diskusi Kelompok Terarah : Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah : Direktorat Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah : Diskusi Partisipatif Terpadu D vi PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN .

E F EA Fasilitator FGD FKA-BKM FMR : Executing Agency/Penyelenggara Program : Tenaga Pendamping Masyarakat sebagai Agen Perubahan : Focussed Group Discussion / Diskusi Kelompok terarah : Forum Komunikasi Antar BKM Tingkat Kota/Kabupaten : Financial Management Report : Garis Besar Pokok Pengajaran : Government of Indonesia : Akar rumput. masyarakat terkecil : International Bank for Reconstruction Development (World Bank) : Islamic Development Bank : International Competitive Bidding : Indeks Pembangunan Manusia : Komunitas Belajar Kelurahan : Komunitas Belajar Perkotaan : Kecamatan Development Program : Kementerian Pekerjaaan Umum : Konsultan Evaluasi : Konsultan Manajemen Pusat : Konsultan Manajemen Wilayah : Koordinator Kota.PERKOTAAN vii . KMW : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara : Komite Penanggulangan kemiskinan Daerah : Kelompok Swadaya Masyarakat : Kredit Usaha Rakyat : Lembaga Keswadayaan Masyarakat : Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa : Lembaga Pemberdayaan Masyarakat : Lembaga Swadaya Masyarakat | PEDOMAN PELAKSANAAN G GBPP GoI Grassroot IBRD IDB ICB IPM KBK KBP KDP Kemen PU KE KMP KMW Korkot KPPN KPK-D KSM KUR K L LKM LKMD LPM LSM PNPM MANDIRI .

PERKOTAAN .M MDGs MoU Musrenbang : Millennium Development Goals : Memorandum of Understanding : Musyawarah Rencana Pembangunan : Neighbourhood Development : No Objection Letter : Oversight Consultant : Operations and Maintenance : Penguatan Peran Gender : Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan : Project Appraisal Document : Pinjaman Bergulir : Penataan Bangunan dan Lingkungan : Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi : Program Jangka Menengah : Penanggung Jawab Operasional Kegiatan : Pembinaan Kesejahteraan Keluarga : Program Management Unit : Penataan Lingkungan Permukinan Berbasis Komunitas : Peningkatan Penghidupan Masyarakat berbasis Komunitas : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan : Potensi Desa : Petunjuk Operasional Kegiatan : Project Operational Manual : Pejabat Pembuat Komitmen : Pendataan Program Perlindungan Sosial : Penanganan Pengaduan Masyarakat : Program Penanggulangan Kemiskinan : Participatory Rural Appraisal : Pemetaan Swadaya : Pekerjaan Umum : Rencana Anggaran Biaya : Rapat Koordinasi : Warga setempat yang peduli membantu warga miskin di wilayahnya tanpa pamrih : Rencana Kerja N ND NOL OC O&M P P2G P2KP PAD PB PBL PDMDKE PJM PJOK PKK PMU PLPBK PPMK PNPM Mandiri PNPM MP PODES POK POM PPK PPLS PPM PRONANGKIS PRA PS PU R RAB Rakor Relawan Renja viii PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

Kementerrian Keuangan : Sistem Informasi Manajemen : Satuan Kerja Perangkat Daerah : Satuan Kerja Non Vertikal di tingkat Propinsi : Standard Operational Procedures : Surat Perintah Pencairan Dana : Surat Perintah Membayar : Surat Permintaan Pembayaran : Surat Perjanjian Penyaluran Bantuan : Surat Pernyataan Penyelesaian Pekerjaan : Satuan Wilayah Kerja : Strength-Weakness-Opportunity-Treatment : Technical Assistance : Tim Pengarah dan Kelompok Kerja Antar Departemen Terkait di Tingkat Nasional : Tim Koordinasi Pelaksanaan P2KP (tingkat Propinsi dan Kota/Kabupaten) : Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten/Kota : Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Propins : Membangun kepercayaan kepada seluruh pihak : Usaha Kecil Menengah : Unit Pengelola yang dibentuk BKM : Unit Pengelola Keuangan S T TA TIM INTERDEPT TKPP TKPK-Kab/Kota TKPK-Propinsi Trust Building U UKM UP UPK PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN ix .Renstra Renta RK RKPD RKM RPD RPJM RPJMD RPJP-D RTBL RT/RW RTRW RWT SA SATKER-P2KP SE-DJP SIM SKPD SNVT SOP SP2D SPM SPP SPPB SPPP SWK SWOT : Rencana Strategi : Rencana Tahunan : Refleksi Kemiskinan : Rencana Kerja Pemerintah Daerah : Rembug Kesiapan Masyarakat : Rencana Penggunaan Dana : Rencana Pembangunan Jangka Menengah : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah : Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan : Rukun Tetangga/Rukun Warga : Rencana Tata Ruang Wilayah : Rembug Warga Tahunan : Special Account (Rekening Khusus) : Satuan Kerja Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan : Surat Edaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

PERKOTAAN .UPL UPS UPP : Unit Pengelola Lingkungan : Unit Pengelola Sosial : Urban Poverty Project (P2KP) : World Bank W WB x PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

PERIHAL PEDOMAN PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 1 .

MENGAPA DIPERLUKAN PEDOMAN?
Alasan mengapa pedoman sangat dibutuhkan adalah sebagai berikut: • Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM MP) adalah program nasional dengan cakupan wilayah kerja yang sangat luas di, seluruh wilayah Indonesia. • Melibatkan banyak pihak dengan berbagai latar belakang, posisi dan peran dalam program yang beragam, seperti perangkat pemerintah, pusat dan daerah, penerima manfaat, penyandang dana dan sebagainya, sehingga diperlukan persamaan visi, misi dan pemahaman terhadap mekanisme pelaksanaan program. • Memudahkan untuk dilakukan penilaian atas keberhasilan atau kegagalan program secara nasional karena menggunakan mekanisme dan tolok ukur yang sama.

SIAPA PENGGUNA PEDOMAN?
Secara umum Pedoman ini diperuntukkan untuk para pelaku pelaksana PNPM Mandiri Perkotaan utamanya Fasilitator dan pengurus BKM/LKM. Secara rinci pengguna pedoman dan manfaat masing-masing dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Siapa pengguna Buku Panduan
Warga masyarakat dan Kelompok-Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM-KSM) • Organisasi masyarakat (Badan • Keswadayaan Masyarakat • / Lembaga Keswadayaan • Masyarakat (BKM/LKM) dan Unit Pengelola (UP) Proyek (pimpinan dan staf) • • • • • • •

Untuk apa
Memahami berbagai peluang yang ditawarkan PNPM Mandiri Perkotaan Memahami berbagai aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan Membangun kontrol sosial Memberikan pelayanan yang lebih baik kepada warga dan KSM Membangun transparansi dan akuntabilitas Acuan operasional organisasi

Memahami secara menyeluruh program PNPM Mandiri Perkotaan di tingkat masyarakat dan pemda Panduan kerja pengendalian mutu pelaksanaan program Menyusun strategi dan rencana kerja pelaksanaan program Memantau dan evaluasi kemajuan program Acuan untuk melakukan perbaikan dan/atau perubahan Buku Pedoman

Konsultan Pelaksana

2

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

Siapa pengguna Buku Panduan
• • Fasilitator • • •

Untuk apa
Menyusun rencana kerja pelaksanaan proyek di kelurahan/desa Panduan kerja pendampingan masyarakat dan para pemangku kepentingan tingkat kelurahan/desa Pengendalian mutu pekerjaan Memahami secara menyeluruh program PNPM Mandiri Perkotaan Masukan kebijakan dalam rangka integrasi dan koordinasi serta mengembangkan kebijakan penanggulangan kemiskinan lebih lanjut Memahami secara menyeluruh program PNPM Mandiri Perkotaan Menciptakan kesinambungan program Membangun jaringan kerjasama di tingkat pelaksanaan Acuan koordinasi Melakukan kontrol sosial Melakukan advokasi Membangun sinergi Membangun jaringan kelembagaan Memahami secara menyeluruh program PNPM Mandiri Perkotaan Acuan pengembangan kebijakan

Pemerintah

Pemerintah Daerah (propinsi, kota/kabupaten)

• • • • • • • • • •

Para Pemeduli

Anggota Legislatif

BAGAIMANA SISTEMATIKA BUKU PEDOMAN?
Buku Pedoman PNPM Mandiri Perkotaan ini tidak berdiri sendiri tetapi terdiri dari empat kelompok besar buku pedoman sebagai berikut : 1. Pedoman Nasional PNPM Mandiri adalah pedoman yang berlaku nasional untuk seluruh program PNPM di Indonesia. Pedoman yang diterbitkan oleh Menko Kesra ini merupakan induk berbagai buku pedoman untuk PNPM Mandiri Perkotaan, PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Inti lainnya dan PNPM Penguatan.

Di bawah ini adalah pedoman yang diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum: 2. Pedoman Pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan adalah pedoman yang berlaku untuk seluruh pelaku program yang memuat tentang konsep, kebijakan, ketentuan umum, strategi pelaksanaan dan kelengkapan lainnya sesuai dengan kebutuhan program.

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

3

3.

Pedoman Teknis PNPM Mandiri Perkotaan adalah pedoman yang berisi tata cara pelaksanaan teknis kegiatan. Petunjuk Teknis PNPM Mandiri Perkotaan adalah petunjuk rinci bagi pelaku untuk melaksanakan kegiatan.

4.

Diagram 1.1. Keterkaitan antara Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) dengan PAD dan Pedoman-Pedoman dalam PNPM Mandiri Perkotaan

4

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 5 .I GAMBARAN UMUM PROGRAM PNPM MANDIRI .

selanjutnya disebut PNPM MP berorientasi untuk membangun pondasi masyarakat berdaya dengan sejumlah kegiatan intervensi pada perubahan sikap/ perilaku/cara pandang masyarakat yang bertumpu pada nilai-nilai universal. Selanjutanya pada tahap akhir dari transformasi kondisi sosial menuju masyarakat madani. oleh sebab itu mulai tahun 2007. Tahun 2008 secara penuh P2KP menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM MP).1. Diharapkan melalui kegiatan tersebut dapat mendorong peningkatan kemampuan masyarakat dalam 1 Buku Pedoman Umum PNPM Mandiri bab I dan II 6 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . melalui 860 ribu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).PERKOTAAN . Saat ini pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan telah membangun kelembagaan masyarakat lebih dari 11 ribu BKM/LKM yang tersebar di sekitar 1. telah memunculkan lebih dari 600 ribuan relawan dari masyarakat setempat. prinsip dan pendekatan yang ditetapkan dalam PNPM Mandiri juga menjadi tujuan.1. masyarakat dan kelompok peduli setempat dengan berbagai pihak (channelling program) untuk mengakses berbagai peluang dan sumber daya yang dibutuhkan masyarakat. mulai tahun 2007 telah dirintis untuk mengadopsi P2KP menjadi bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Selanjutnya dalam pedoman ini istilah kelembagaan masyarakat menjadi Badan Kelembagaan Masyarakat/Lembaga Keswadayaan Masyarakat (BKM/LKM). kumuh dan termiskin dengan melakukan kegiatan khusus. PNPM MP melakukan intervensi di lokasi padat. Program ini sangat strategis karena menyiapkan landasan kemandirian masyarakat berupa “lembaga kepemimpinan masyarakat” yang representatif. prinsip dan pendekatan PNPM Mandiri Perkotaan1 . begitu juga nama generic lembaga kepemimpinan masyarakat berubah dari BKM menjadi LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat). Sebagai bagian dari PNPM Mandiri maka tujuan. mengakar dan kondusif bagi perkembangan modal sosial (social capital) masyarakat di masa mendatang serta menyiapkan “program masyarakat jangka menengah dalam penanggulangan kemiskinan” yang menjadi pengikat dalam kemitraan masyarakat dengan pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat. Mempertimbangkan perkembangan positif P2KP tersebut. serta lebih dari 22 Juta orang pemanfaat (penduduk miskin).153 kecamatan di 268 kota/kabupaten. PNPM Mandiri Perkotaan. PNPM Mandiri P2KP diarahkan untuk mendukung upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan pencapaian sasaran Millennium Development Goals (MDGs) sehingga tercapai pengurangan penduduk miskin sebesar 50% di tahun 2015. Pada tahap berikutnya berorientasi untuk membangun transformasi menuju masyarakat mandiri yang dilakukan melalui sejumlah intervensi pembelajaran kemitraan dan sinergi antara pemerintah. PENDAHULUAN Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dilaksanakan sejak tahun 1999 sebagai suatu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan secara berkelanjutan.

Lemahnya modal sosial pada gilirannya juga mendorong pergeseran perilaku masyarakat yang semakin jauh dari semangat kemandirian. keswadayaan dll). tidak peduli. parsial atau bahkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. kebersamaan dan kepedulian untuk mengatasi persoalannya secara bersama. ketidakpedulian dan skeptisme di masyarakat. kebijakan dan tindakan yang tidak adil ini banyak terjadi di mana lembaga kepemimpinan masyarakat yang ada belum berdaya. KERANGKA PEMIKIRAN 1. kebijakan dan tindakan dari pengelola program kemiskinan dan pemimpinpemimpin masyarakat yang selama ini cenderung tidak adil. Dalam perjalanan pelaksanaan program dimungkinkan terjadi perubahan kebijakan PNPM MP sebagai perbaikan dan penyempurnaan program dari hasil pembelajaran dan evaluasi tahuntahun sebelumnya dan akan diatur secara khusus dalam bentuk suplemen dan pedoman teknis. Kondisi modal sosial masyarakat yang melemah serta memudar tersebut salah satunya disebabkan oleh keputusan. Keputusan. terciptanya benih-benih fragmentasi sosial. Kondisi kelembagaan pimpinan masyarakat yang tidak mengakar dan tidak dapat dipercaya tersebut pada umumnya tumbuh subur dalam situasi di mana masyarakat secara umum memang belum berdaya.1. Akibatnya menimbulkan kecurigaan. karena dikelola oleh orang-orang yang tidak berdaya yang tidak mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam kebijakankebijakan yang diputuskannya. dan melemahkan modal sosial yang ada di masyarakat (gotong royong. tidak percaya diri.2. 1. kepedulian. mengandalkan bantuan pihak luar untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi. serta memudarnya orientasi moral dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat. tidak transparan dan tidak tanggung gugat.2. tidak mandiri. Mereka kurang memiliki komitmen dan kepedulian pada masyarakat di wilayahnya. Lembaga kepemimpinan semacam ini pada umumnya memang tidak mengakar. musyawarah. misalnya salah sasaran. Kondisi ini justeru akan memperdalam krisis kepercayaan masyarakat terhadap berbagai lembaga kepemimpinan masyarakat yang ada di wilayahnya. Ketidakberdayaan masyarakat dalam menyikapi dan menghadapi situasi yang ada di lingkungannya. yakni terutama PNPM MANDIRI . terutama masyarakat miskin.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 7 . yang pada gilirannya mendorong sikap masa bodoh.mengembangkan kualitas lingkungan permukiman yang berkelanjutan. Akar Penyebab Kemiskinan Berbagai program kemiskinan terdahulu yang bersifat parsial. sektoral dan santunan dalam kenyataannya sering justeru menghasilkan kondisi yang kurang menguntungkan. Pengurusnya tidak dipilih secara benar dan banyak menjadi perpanjangan tangan pihak-pihak tertentu sehingga lebih berorientasi pada kepentingan pihak luar.

1.2.1. di bawah ini: Gambar 1. Dari paparan di atas. keadilan dan kejujuran. 8 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . yaitu ke arah perubahan perilaku/sikap dan cara pandang masyarakat utamanya para pemimpin untuk senantiasa mengambil keputusan dan bertindak berlandaskan pada nilai-nilai luhur universal. PNPM MP sebagai kelanjutan P2KP memahami bahwa kemiskinan adalah akibat dan akar penyebab kemiskinan yang sebenarnya adalah kondisi masyarakat. prinsip-prinsip kemasyarakatan dan pilar-pilar pembangunan berkelanjutan.keikhlasan. sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1. utamanya para pimpinan yang belum berdaya sehingga tidak mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan. Pandangan PNPM-MP tentang Akar Penyebab Kemiskinan 1.2.PERKOTAAN . Penanganan Akar Penyebab Kemiskinan Pemahaman mengenai akar penyebab persoalan kemiskinan seperti di atas telah menyadarkan berbagai pihak bahwa pendekatan dan cara yang dipilih dalam penanggulangan kemiskinan selama ini perlu diperbaiki. cukup jelas menunjukkan bahwa kemiskinan akan tumbuh subur dalam situasi di mana perilaku/sikap dan cara pandang (paradigma) masyarakat yang belum berdaya.

komitmen tersebut pada dasarnya terkait erat dengan proses perubahan perilaku masyarakat. PNPM MP meyakini bahwa pendekatan yang lebih efektif untuk mewujudkan proses perubahan perilaku masyarakat adalah melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat dan penguatan peran pemerintah daerah dalam mengapresiasi dan mendukung kemandirian masyarakatnya. bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 9 . Kemandirian lembaga masyarakat ini dibutuhkan dalam rangka membangun lembaga masyarakat yang benar-benar mampu menjadi wadah perjuangan kaum miskin. agar mampu bertindak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia luhur yang mampu menerapkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari sehingga pada giliran dapat dibangun kepemimpinan moral yang mandiri. Proses pembelajaran di tingkat masyarakat ini berlangsung selama masa Program maupun pasca Program oleh masyarakat sendiri dengan membangun dan melembagakan Komunitas Belajar Kelurahan/desa (KBK). 1. yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka dan mampu mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan publik di tingkat lokal agar lebih berorientasi ke masyarakat miskin dan mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. Proses pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan terus menerus untuk menumbuhkembangkan kesadaran kritis masyarakat terhadap nilai-nilai universal kemanusiaan. Tentu saja hal ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah. melalui pemberdayaan para pelakunya. kerelawanan. karena upaya-upaya membangun kepedulian.2.Perubahan perilaku/sikap dan cara pandang masyarakat ini merupakan pondasi yang kokoh untuk terbangunnya lembaga kepemimpinan masyarakat yang mandiri. NPM Memfasilitasi Masyarakat serta Pemerintah Daerah Untuk Mampu P Menangani Akar Penyebab Kemiskinan Secara Mandiri dan Berkelanjutan Gambaran lembaga masyarakat seperti dimaksud di atas hanya akan dicapai apabila orang-orang yang diberi amanat sebagai pemimpin masyarakat merupakan kumpulan dari orang-orang yang peduli. Penguatan lembaga masyarakat yang dimaksud PNPM MP terutama dititikberatkan pada upaya penguatan pelakunya untuk mampu menjadi pelaku nilai dan pada gilirannya PNPM MANDIRI . memiliki komitmen kuat. ikhlas. tanpa pamrih dan jujur serta mau berkorban untuk kepentingan masyarakat miskin. Dalam hal ini.3. prinsip-prinsip kemasyarakatan dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan sebagai landasan yang kokoh untuk membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

yang pada gilirannya diharapkan dapat tercipta lingkungan perkotaan dengan perumahan yang lebih layak huni di dalam permukiman yang lebih responsif dan dengan sistem sosial masyarakat yang lebih mandiri melaksanakan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. prinsip-prinsip kemasyarakatan (gerakan tata kepemerintahan yang baik) serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (gerakan Tridaya). dilakukan melalui. pelibatan intensif Pemerintah kota/kabupaten pada pelaksanaan siklus kegiatan PNPM MP. Penanganan Akar Kemiskinan oleh Masyarakat melalui PNPM-MP Sedangkan penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam rangka mengedepankan peran dan tanggungjawab pemerintah daerah.mampu menjadi motor penggerak dalam ‘melembagakan’ dan ‘membudayakan’ kembali nilai-nilai luhur universal kemanusiaan (gerakan moral).2. Melalui lembaga kepemimpinan masyarakat tersebut diharapkan tidak ada lagi kelompok masyarakat yang masih terjebak dalam lingkaran kemiskinan.2. Gambaran tentang cara pandang PNPM MP dalam memfasilitasi upaya penanggulangan akar persoalan kemiskinan oleh masyarakat dapat dilihat pada Gambar 1. sebagai nilai-nilai utama yang melandasi aktivitas penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat setempat. 10 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Gambar 1. penguatan peran dan fungsi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPK-D) agar mampu menyusun Dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPK-D) dan melembagakan Komunitas Belajar Perkotaan (KBP).PERKOTAAN .

masyarakat terlibat secara aktif pada setiap proses pengambilan keputusan pembangunan dan secara gotong royong menjalankan pembangunan. PENDEKATAN DAN DASAR HUKUM Secara umum prinsip. Demokratis.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 11 .3. Pemerintah dan masyarakat harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan untuk pengentasan kemiskinan dengan mendayagunakan secara optimal berbagai sumberdaya yang terbatas. Bertumpu pada pembangunan manusia. Kesetaraan dan keadilan gender. teknis. pendekatan dan dasar hukum PNPM-Mandiri Perkotaan menganut yang sudah ditetapkan dalam Pedoman Umum PNPM Mandiri sebagai berikut : 1. masyarakat memiliki kewenangan secara mandiri dan partisipatif untuk menentukan dan mengelola kegiatan pembangunan secara swakelola. b. maupun administratif. i.3. Prinsip a. g. Semua pihak yang berkepentingan dalam penanggulangan kemiskinan didorong untuk mewujudkan kerjasama dan sinergi antar pemangku kepentingan dalam penanggulangan kemiskinan. h. Dalam pelaksanaan PNPM. legal. Masyarakat harus memiliki akses yang memadai terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dipertanggunggugatkan baik secara moral. Laki-laki dan perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di setiap tahap pembangunan dan dalam menikmati secara adil manfaat kegiatan pembangunan. Kewenangan pengelolaan kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan dilimpahkan kepada pemerintah daerah atau masyarakat sesuai dengan kapasitasnya. d. Pelaksanaan PNPM senantiasa bertumpu pada peningkatan harkat dan martabat manusia seutuhnya. Prioritas. PRINSIP. Partisipasi. Keberlanjutan.1. Transparansi dan Akuntabel. Setiap pengambilan keputusan harus mempertimbangkan kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak hanya saat ini tapi juga di masa depan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Setiap pengambilan keputusan pembangunan dilakukan secara musyarawah dan mufakat dengan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat miskin. Berorientasi pada masyarakat miskin. e. k.1. Desentralisasi. Semua kegiatan yang dilaksanakan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat miskin dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Kolaborasi. f. Otonomi. j. c. PNPM MANDIRI .

mudah dipahami. Sederhana. Melalui proses pemberdayaan yang terdiri atas pembelajaran. c. Semua aturan. dan mudah dikelola oleh masyarakat. 1.3. dan keberlanjutan. fleksibel. Pendekatan Penanggulangan kemiskinan membutuhkan penanganan yang menyeluruh dalam skala perwilayahan yang memadai yang memungkinkan terjadinya keterpaduan antara pendekatan sektoral. Mengutamakan nilai-nilai universal dan budaya lokal dalam proses pembangunan partisipatif. 12 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . e. d. Menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan karakteristik sosial dan geografis.2. Dasar Hukum Yang menjadi dasar hukum PNPM MP sebagaimana menjadi dasar hukum PNPM Mandiri adalah Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan dan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan. 1. Dengan demikian PNPM MP akan menekankan pemanfaatan Musrenbang Kecamatan sebagai mekanisme harmonisasi kegiatan berbagai program yang ada sehingga peranan Forum BKM/LKM tingkat kecamatan menjadi sangat vital. kemandirian. mekanisme dan prosedur dalam pelaksanaan PNPM harus sederhana. Menggunakan kecamatan sebagai lokus program. terpadu dan selaras waktu. perwilayahan dan partisipatif yang dalam hal ini dipilih kecamatan sebagai lokus program yang mampu mempertemukan perencanaan dari tingkat Pemerintah kota/kabupaten dan dari tingkat masyarakat.PERKOTAAN . Memposisikan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Di tataran kecamatan inilah rencana pembangunan yang direncanakan oleh SKPD (Satuan Kerja Pembangunan Daerah) bertemu dengan perencanaan dari masyarakat dalam Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) Kecamatan sehingga dapat digalang perencanaan pembangunan yang menyeluruh. b.3. Bersadarkan pemikiran tersebut di atas maka pendekatan atau upaya-upaya rasional dalam mencapai tujuan program dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan program adalah pembangunan yang berbasis masyarakat dengan: a.l.3.

c. transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Terwujudnya pendampingan teknis dan kontribusi pendanaan sesuai dengan Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah (IFKD) dari pemerintah kota/kabupaten dalam PNPM MP serta terwujudnya peningkatan kualitas lingkungan.” 1.1.4.5. berjati diri dan berkelanjutan. d. aspiratif. Secara khusus tujuan PNPM MP yaitu ”Membantu masyarakat miskin perkotaan di kelurahan/ desa peserta program mendapatkan manfaat dari peningkatan kondisi lingkungan dan tata kepemerintahan yang baik. Terwujudnya kemitraan program antara BKM/LKM dengan berbagai pemangku kepentingan.1. termasuk sumber dana lain. dan bertanggung jawab untuk mendorong tumbuh dan kembangnya partisipasi serta kemandirian masyarakat. e. Terbangunnya forum BKM/LKM tingkat kecamatan dan kota/kabupaten untuk mengawal terwujudnya harmonisasi berbagai program daerah. g. TUJUAN Tujuan umum PNPM telah ditetapkan di Pedoman Umum PNPM yaitu ”Meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri”.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 13 . Masyarakat yang sadar. SASARAN 1. Tersedianya Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis) di tingkat kelurahan/desa sebagai wadah untuk mewujudkan sinergi berbagai program penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan sesuai dengan aspirasi serta kebutuhan masyarakat dalam rangka pengembangan lingkungan permukiman yang sehat. yang tepat sasaran. PNPM MANDIRI . serasi. h. Memperkuat dan melembagakan BKM/LKM yang dipercaya.5. Terwujudnya pemanfaatan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). representatif. Relawan dan Relawan khusus (spesialisasi berdasarkan minat) sebagai penggerak proses pembangunan partisipatif di wilayahnya dan forum pemantauan b. Meningkatnya kapasitas pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk bermitra dengan BKM/LKM dalam penyediaan pelayanan bagi masyarakat miskin. f. peduli dan mampu melaksanakan rangkaian kegiatan PNPM MP di wilayahnya secara mandiri dan berkelanjutan sesuai substansi pedoman pelaksanaan PNPM MP. Sasaran Program a.

pengelolaan resiko bencana dan pengembangan tata penghidupan masyarakat. Untuk lokasi dan alokasi penanganan wilayah khusus.3.1. dan Meningkatnya kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah dalam penataan lingkungan pemukiman yang lebih komprehensif.2. Pengelola program akan menerbitkan daftar rincian lokasi dan alokasi dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan secara terpisah dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pedoman pelaksanaan ini. Lokasi Sasaran Lokasi sasaran PNPM MP. partisipatif untuk memastikan pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan berdasarkan PJM Pronangkis. yakni lokasi yang ditetapkan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) sebagai lokasi yang akan menerima stimulan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Kelompok Sasaran di halaman berikut: 14 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . kriteria lokasi dan alokasi dijabarkan secara tersendiri dalam pedoman tata cara seleksi lokasi dan alokasi kegiatan terkait.5. 1.i. 1.5. Kriteria lokasi dan alokasi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan tertuang pada penjelasan surat penetapan lokasi dan alokasi BLM PNPM Mandiri yang dikeluarkan oleh Menkokesra.PERKOTAAN . Kelompok Sasaran Yang menjadi kelompok sasaran dalam PNPM MP dapat dilihat pada Tabel 1.

1.4 Penerima Manfaat Dana BLM PNPM MP Penerima manfaat langsung dari dana BLM yang disediakan melalui PNPM MP adalah keluarga miskin yang diidentifikasi masyarakat sendiri2 dan disepakati serta ditetapkan bersama oleh masyarakat kelurahan.   1.1.       -­‐   Bantuan  Dana  BLM     -­‐           Pemerintah   Propinsi.  Kelompok  Sasaran   Tabel 1.4   Penerima  Manfaat  Dana  BLM  PNPM  MP     Data keluarga miskin yang diidentifikasi masyarakat sendiri dikenal sebagai daftar PS-2   Penerima  manfaat  langsung  dari  dana  BLM  yang  disediakan  melalui  PNPM  MP  adalah   2 keluarga   miskin   yang   diidentifikasi   MANDIRI .  laki-­‐ laki  dan  perempuan.     Bantuan  Dana  BLM     Dana  BLM  diprioritaskan   kepada  warga  miskin.  laki-­‐laki   dan  perempuan.  dengan   syarat  sbb:         • Warga  miskin  terdaftar   dalam  data  Pemetaan   Swadaya  .terutama   masyarakat  miskin.   Pendampingan   Kelompk  peduli   penanggulangan  kemiskinan. Kelompok Sasaran Uraian  Kelompok   Bantuan  Teknik/   Sasaran   Pendampingan   Masyarakat   § Masyarakat  warga   kelurahan/desa  peserta   PNPM  MP.   • Kelompok  masyarakat   miskin  yang  ditetapkan   dalam  PJM  Pronangkis.                     Tabel  1.   refleksi   kemiskinan   dan   pemetaan   swadaya   berorientasi   Indeks   Pembangunan   2 . refleksi kemiskinan dan pemetaan swadaya berorientasi Indeks Pembangunan Manusia dan Tujuan Pembangunan Global (IPM-MDGs).  kota/kabupaten.  s/d   kelurahan/desa  yang  terkait   Bantuan  Teknik/   dengan  pelaksanaan  PNPM   MP.  melalui  proses  musyawarah  warga. melalui proses musyawarah warga.5.5.   dan/atau  kelompok   masyarakat  miskin.  yang  terinci   dalam  lembar  PS  2  terkini   yang  telah  disepakati   warga.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 15 PNPM masyarakat   sendiri   dan   disepakati   serta   ditetapkan  bersama  oleh  masyarakat  kelurahan.   1.   Kota/Kabupaten     Uraian  Kelompok   Sasaran   Para  Pemangku   Kepentingan     terkait                           Perangkat  pemerintahan   propinsi.

Penguatan lembaga masyarakat melalui pendekatan pembangunan bertumpu pada kelompok. pemerintah daerah. Mendorong proses transformasi sosial dari masyarakat berdaya menuju masyarakat mandiri. . salah satu bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah kegiatan penyiapan masyarakat seperti: Rembug Kesiapan Masyarakat. mengakar dan dipercaya dengan nama generik Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM). agar masalah kemiskinan dapat ditangani secara efektif. Dokumen perencanaan masyarakat ini secara generik dikenal dengan dokumen Perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulanan Kemiskinan (PJM Pronangkis).1. Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah penyusunan rencana program masyarakat secara partisipatif berbasis “kebutuhan” bukan “keinginan”. masyarakat. Pembelajaran penerapan konsep TRIDAYA dalam penanggulangan kemiskinan. pemerintah daerah. Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah pembentukan dan pembangunan lembaga masyarakat yang representatif. maka strategi yang dilaksanakan di tingkat masyarakat adalah : a. Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah kegiatan Penanggulangan Kemiskinan Terpadu yang menekankan pada proses pembelajaran kemitraan antara pemerintah pusat. STRATEGI 1. Proses ini setidaknya melalui empat hal : • Internalisasi nilai dan prinsip universal. Kegiatan ini merupakan aplikasi dari pronangkis serta menumbuhkembangkan segenap lapisan masyarakat untuk peduli dan melakukan pengawasan sosial secara obyektif sehingga menjamin pelaksanaan kegiatan yang berpihak pada masyarakat miskin.masyarakat dan kelompok peduli setempat. • • • b. dan kelompok peduli. Strategi Transformasi Sosial Masyarakat Agar terwujud tujuan yang hendak dicapai oleh PNPM MP. Mendorong proses transformasi sosial dari masyarakat tidak berdaya/miskin menuju masyarakat berdaya. Penguatan akuntabilitas masyarakat. Refleksi Kemiskinan dan Pemetaan Swadaya. Proses pembangunan kolaborasi dan sinergi dalam upaya penanggulangan kemiskinan antara pemerintah pusat. proses ini setidaknya terdiri dari dua hal : • Pembelajaran kemitraan antar pemangku kepentingan strategis. Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini kegiatan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Tridaya. 16 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .6.PERKOTAAN . mandiri dan berkelanjutan.

Intervensi untuk mampu mewujudkan transformasi sosial dari kondisi masyarakat mandiri menuju masyarakat madani lebih dititikberatkan pada proses penyiapan landasan yang kokoh melalui penciptaan situasi dan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembangnya masyarakat madani. Strategi Tranformasi Sosial Masyarakat PNPM MP 2.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 17 . maka dapat dijalin kerja sama dan dukungan sumber daya bagi penanggulangan kemiskinan. Strategi Penguatan Kemandirian Pemerintahan Kabupaten / Kota Sejalan dengan upaya intervensi di tingkat masyakarat. Untuk mewujudkan hasil yang ingin dicapai di dalam penguatan kemandirian pemda.3. strategi yang akan dilaksanakan adalah. Dengan membangunan kepedulian dan jaringan sumber daya serta mendorong keterlibatan aktif dari para pelaku pembangunan lain.• Penguatan jaringan antar pelaku pembangunan. Gambra 1. PNPM MP melakukan upaya penguatan kemandirian di tingkat pemda yang bertujuan agar pemda mampu secara mandiri mengelola program penanggulangan kemiskinan di wilayahnya. Bentuk kegiatan pada tahap ini adalah program-program khusus yang lebih komprehensif sekaligus melembagakan tata kelola kepemerintahan yang baik salah satunya adalah program penataan lingkungan permukiman berbasis komunitas. Bentuk intervensi kegiatan pada fase ini adalah kegiatan kemitraan program. Mendorong proses transformasi sosial dari masyarakat mandiri menuju masyarakat madani. c. PNPM MANDIRI .

Strategi Penguatan Kemandirian Pemda 18 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .Gambar 1.4.PERKOTAAN .

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 19 .II KOMPONEN PROGRAM PNPM MANDIRI .

dan meningkatkan kapasitas UPK. Secara rinci pendampingan tersebut dilakukan melalui serangkaian kegiatan pelatihan.1. termasuk penyediaan bahan dan media belajar. masyarakat dan pemerintah daerah termasuk pemangku kepentingan daerah sebagai berikut. Bantuan Teknis Bantuan teknis ini diwujudkan dalam bentuk penugasan konsultan dan fasilitator beserta dukungan dana operasional untuk mendampingi dan memberdayakan masyarakat agar mampu melaksanakan PNPM MP dan mengkoordinasikan berbagai program penanggulangan kemiskinan berbasis komunitas di tingkat kelurahan/desa. • Pelatihan dan bimbingan. 20 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .Komponen Program PNPM MP pada dasarnya memberikan bantuan kepada dua kelompok sasaran utama. UPL dan panitia kerja lainnya yang dibentuk secara khusus. Secara rinci jenis kegiatan pendampingan mencakup: • Pertemuan-pertemuan/musyawarah/diskusi.PERKOTAAN . dan sebagainya di tingkat komunitas kelurahan/desa dan kecamatan baik yang bersifat pengambilan keputusan maupun untuk penyebarluasan informasi (sosialisasi). fasilitasi dan advokasi oleh Tim Konsultan di tingkat kota/kabupaten dan dan tim fasilitator di tingkat masyarakat antara lain untuk: • Membangun BKM/LKM agar mampu mengorganisasikan masyarakat dalam penangulangan kemiskinan. UPS. sosialisasi. 2.1. • Survei swadaya. • Mendukung terbangunnya Forum BKM/LKM. PENDAMPINGAN UNTUK MASYARAKAT Pendampingan untuk masyarakat diwujudkan dalam bentuk bantuan teknis dan bantuan stimulan dana BLM. • Mengorganisasikan dan mendukung KSM/Pokja dalam mengajukan proposal kepada BKM/LKM untuk memanfaatkan berbagai sumber daya program dan melaksanakan program yang tercantum dalam PJM Pronangkis. • Memfasilitasi penyusunan PJM Pronangkis di setiap kelurahan/desa dengan proses yang transparan dan partisipatif dan menyelaraskan PJM Pronangkis dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah. dsb • Memfasilitasi BKM/LKM agar mampu bermitra dengan pemerintah dan pemerintah daerah dalam melaksanakan berbagai program penanggulangan kemiskinan. 2. analisis.1. termasuk identifikasi calon penerima bantuan.

Penggunaan dana BLM mengacu pada rencana tersebut yang menganut menu bebas (open menu).2. Pembelajaran berorientasi tujuan jangka panjang dan menumbuhkan kesadaran kritis bahwa kebutuhan untuk penanggulangan kemiskinan tidak hanya kebutuhan modal dana semata. identifikasi persoalan. • Pemanfaatan dana BLM harus sesuai PJM Pronangkis. Pembelajaran dititikberatkan pada upaya memberi kesempatan masyarakat belajar menangani berbagai persoalan yang ada secara utuh dari pengembangan gagasan. termasuk kontribusi dana BLM dari berbagai sumber pendanaan. • BLM dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tanggap darurat bencana apabila pada tahun yang berjalan terjadi bencana. pelaksanaan. • Perencanaan. melainkan juga kebutuhan yang berkaitan dengan pengembangan modal sosial. Nilai alokasi dana BLM tiap kelurahan/desa harus diinformasikan secara luas dan terbuka kepada seluruh warga kelurahan/ desa.1. PNPM MANDIRI . Dana BLM bersifat stimulan untuk memberi peluang kepada masyarakat agar dapat secara nyata belajar melaksanakan dan mengelola kegiatan penanggulangan kemiskinan yang sudah direncanakan dan tercantum dalam PJM Pronangkis. Dana BLM ini adalah dana publik yang disalurkan melalui BKM/LKM dan pengelolaannya dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggunggugatkan. misalnya pemerintah kota/kabupaten. Bantuan Dana Ketentuan Umum Dana BLM adalah sebagai berikut: • Dana BLM bersifat stimulan dan sebagai alat belajar. Berdasarkan PJM Pronangkis. perencanaan pemecahan persoalan sampai pelaksanaan. disusun rencana tahunan (Renta) dan rencana kegiatan lain yang bersifat teknis sesuai kebutuhan masyarakat miskin dan disepakati warga.• • pembuatan peta tapak dan penulisan laporan. lingkungan fisik. pengawasan dan evaluasi dana BLM harus terbuka dan dapat dipertanggunggugatkan. • Penerima manfaat langsung dana BLM adalah warga miskin yang tercantum dalam daftar PS-2. Kerja kelompok penyusunan program pembangunan untuk kurun waktu 3 tahun dan rencana tahunan dengan rencana investasi tahun pertama penangulangan kemiskinan Pengawasan dan evaluasi pelaksanaan rencana investasi tahunan untuk penanggulangan kemiskinan. masyarakat ataupun dana-dana lain yang dikelola BKM/LKM.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 21 . 2. • Pengelola dana BLM adalah BKM/LKM. di mana masyarakat dapat menyusun usulan kegiatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam upaya penanggulangan kemiskinan. serta ekonomi.

22 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . BLM yang dialokasikan untuk seluruh lokasi PNPM MP setiap tahun anggaran yang besarannya ditetapkan berdasarkan jumlah penduduk. laki-laki dan perempuan. terutama masyarakat miskin. • BKM/LKM memiliki rekening bank dengan minimal 3 spesimen. a. Tata cara pelaksanaan termasuk penetapan lokasi diatur oleh PMU.PERKOTAAN . peningkatan partisipasi perempuan. Dana BLM dibagi ke dalam kategori sebagai berikut: a. Biaya operasional bagi BKM/LKM dialokasikan berdasarkan bagian tertentu sesuai dengan jenis BLM. rencana pengembangan potensi KSM unggulan. prosentase kemiskinan dan kemampuan pemerintah kota/kabupaten dalam mengalokasikan Dana Daerah untuk Urusan Bersama (DDUB). • Memiliki kinerja pembukuan sekretariat minimum memadai. dan monitoring pemanfaatan dana BLM harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat. misalnya rencana penataan lingkungan permukiman. Berdasarkan PJM Pronangkis tersebut. demikian pula tata cara penggunaan Biaya Operasional bagi LKM/ BKM dan/atau Unit Pengelola (UP) diuraikan dalam pedoman tersebut. • BKM/LKM memiliki Anggaran Dasar dan pendiriannya dicatatkan ke Notaris. Prinsip Pemanfaatan : • Usulan kegiatan/program tercantum dalam PJM dan Renta Pronangkis dan atau rencana pemanfaatan dana BLM sesuai kegiatan terkait.• • Proses pengambilan keputusan dalam penyusunan. dana BLM dapat digunakan secara cukup luwes melalui pembelajaran aspek Tridaya3 dan kesepakatan serta kearifan warga sehingga hasilnya dapat memberikan manfaat kepada warga miskin. BLM yang dialokasi untuk kegiatan khusus seperti antara lain penangangan kawasan permukiman miskin di perkotaan melalui pendekatan Tridaya pengembangan penghidupan masyarakat. dsb. pengelolaan resiko bencana. pengelolaan resiko bencana. Prinsip-Prinsip Pencairan dan Pemanfaatan Dana BLM Prinsip Pencairan : • BKM/LKM telah terbentuk secara sah dengan minimum 30% pemilih dewasa di tingkat basis. pelaksanaan. 3 Penjelasan lebih lanjut mengenai konsep TRIDAYA dapat dilihat pada lampiran 1. Penetapan lokasi dan alokasi BLM ini ditetapkan oleh TNP2K dan Pokja Pengendali PNPM Mandiri. • BKM/LKM di lokasi lanjutan telah melaksanakan Rembug Warga Tahunan (RWT). b. dsb.

Tidak ada kasus penyalahgunaan dana yang belum diselesaikan Pencairan dan pemanfaatan dana BLM secara rinci diuraikan di pedoman teknis Pendampingan Pencairan Dana BLM. Kegiatan Skala Kecil. Kelompok peduli lainnya. yaitu kegiatan yang diusulkan oleh KSM yang secara 2) PNPM MANDIRI . tercantum dalam PJM Pronangkis. Swasta. Pengelolaan pendanaan di tingkat masyarakat dari berbagai sumber pendanaan di atas harus mengikuti aturan yang ditetapkan oleh PNPM MP. BUMN. yaitu kegiatan pembangunan yang sudah ditemukan/ dikenali pada saat PS (Pemetaan Swadaya). seperti dana sosial atau dana lainnya. Hasil audit tahun sebelumnya minimal Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion). kelurahan/desa dan/atau antar kelurahan/desa). Penggunaan Dana BLM Kegiatan yang layak didanai dana BLM secara garis besar dapat dibedakan atas dua jenis kegiatan sebagai berikut: 1) Kegiatan Skala Besar. Jika ada tahapan pencairan dan pemanfaatan dana BLM. b. dan dapat dilaksanakan oleh Panitia yang dibentuk oleh BKM/ LKM dan dikoordinasi oleh UPL. d. b. Panitia bertanggung jawab ke BKM/LKM melalui UPL. melalui dana : APBN. maka dana tahap sebelumnya telah dimanfaatkan dan dipertanggungjawabkan secara teknis dan administrasi. APBD.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 23 .• • • • • Terbentuk KSM/Panitia. melalui dana swadaya. Pemerintah. c. dan lain-lain. dengan kata lain diperlakukan seperti BLM. BUMD. c. penyertaan modal. Sumber dana yang berasal dari luar program PNPM MP sejauh tidak diatur secara khusus. Masyarakat. Sumber Pendanaan Sumber pendanaan untuk PNPM Mandiri Perkotaan dapat berasal dari : a. Proposal layak dan diverifikasi oleh fasilitator. maka berlaku aturan PNPM MP. dialokasikan dalam Renta/rencana teknis lainnya sebagai rencana investasi. Kegiatan tersebut memiliki skala besar (kawasan.

 keahlian   dan  organisasi.PERKOTAAN menjadi  kegiatan   sifatnya  berkelanjutan   yang  berkelanjutan   seperti  program   peningkatan  gizi  balita.indikatif sudah direncanakan dalam PJM Pronangkis.  dipilih  warga  miskin   atau  RW  atau   yang  paling   Dusun. Sifat investasi kecil dan dilaksanakan oleh KSM yang bersangkutan. Secara singkat ketentuan penggunaan dana BLM dapat diilustrasikan seperti berikut ini:   Tabel 2.   • Kegiatan  yang   • Kegiatan  sosial  yang   diusulkan  mampu   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .   bersifat  lintas   • Berdasarkan  daftar  PS-­‐ wilayah  (lintas  RT   2.  dst)   membutuhkan   § Menumbuhkan   infrastruktur  dengan   modal  sosial.   dsb   • Kualitas  konstruksi   harus  memenuhi   standar  PU. KSM yang membutuhkan dapat mengusulkan pembangunan jamban tersebut.                     BLM  untuk   Infrastruktur  skala   rumah  tangga  dapat   berbentuk  hibah  atau   pinjaman  sesuai   kesepakatan  warga.         . Ketentuan dan Sifat Penggunaan Dana BLM Sifat  Kemanfaatan   Kegiatan   Status  Pemanfaatan   Dana  BLM   BLM  untuk   Infrastruktur  skala   komunal  merupakan   dana  stimulan  hibah.  gotong   kriteria  yang   royong.1.   miskin  (PS-­‐2)       § Diutamakan   Infrastruktur  bagi  Rumah   kegiatan  yang   Tangga  Miskin   mempunyai  skala   • Warga  miskin  yang   kelurahan  dan  atau   terdaftar  dalam  PS-­‐2.Misalnya pembangunan 20 jamban komunal.           24 Rambu-­‐rambu  untuk   kegiatan  pemanfaatan   Kegiatan   BLM       Infrastruktur  Komunal  bagi   Komponen   § Merupakan     masyarakat  miskin   Lingkungan   investasi       infrastruktur  yang   diidentifikasi   • Prioritas  untuk  wilayah   masyarakat  dalam   dengan  konsentrasi   PJM  Pronangkis   penduduk  miskin  yang   § Kegiatan  yang   tinggi   secara  langsung   • Bersedia  membentuk   memberikan   tim  dan  menyepakati   dampak/manfaat   aturan  bersama   baik  untuk   pengelolaan  dan   kolektif/komunal   pemeliharaan   maupun   • Kualitas  konstruksi   kemanfaatan  untuk   harus  memenuhi   Rumah  Tangga   standar  PU.   disepakati.   • Seluruh  ketentuan    Komponen   Sebagai  dana  stimulan   dan  diharapkan  dapat   menggerakan   pertisipasi  warga  non   miskin  untuk  turut   membantu  dalam   kegiatan  sosial.  integritas.   Komponen   • Kegiatan  yang   • Pelatihan  KSM  bagi   Sosial   berorientasi  pada   warga  miskin  yang   penciptaan   tercantum  dalam  PS-­‐2   lapangan  kerja  bagi   untuk  peningkatan   warga  miskin  (PS-­‐2)   keterampilan. namun lokasinya belum ditentukan.

  pendapatan  keluarga   Kegiatan  yang   miskin.  yang   untuk  peningkatan   Setiap  UPK  wajib   memiliki  akses  ke   kapasitas   membuat  rencana   bermanfaat  langsung   sumber  pinjaman   keuangan   bagi  peningkatan   lainnya.   peserta  yang  memiliki   • rencana  pengembangan   Kegiatan  dilakukan   dalam  kelompok   usaha  yang  jelas   dengan   usaha  sejenis   • Diprioritaskan  bagi   • kegiatan  yang   Dapat  dikembangkan   sistem  bagi  hasil  sesuai   berkelanjutan  dan   kesepakatan  dampak   memberikan  BKM/LKM   dengan  m ekonomi.    Komponen   Komponen     Sosial     Kegiatan   mempunyai  skala   kelurahan  dan  atau   bersifat  lintas   wilayah  (lintas  RT   atau  RW  atau   Dusun.  dipilih  warga  miskin       yang  paling   membutuhkan   infrastruktur  dengan   kriteria  yang   disepakati.   langsung   memiliki  akses  ke   kapasitas   bermanfaat     bagi  peningkatan   sumber  pinjaman   lainnya.  dll.       mampu  mendukung     PNPM MANDIRI .   Kegiatan  yang   harus  sesuai  pada   kewirausahaan.  asyarakat    • Diprioritaskan  bagi   Kegiatan  yang   • peserta  yang  memiliki   Usaha  ekonomi   • Sebagai  pinjaman   rencana  pengembangan   diberikan  kepada   produktif  (definisi  di   kepada  KSM  dan   usaha  yang  jelas   warga  miskin  untuk   petunjuk  teknis)   harus  dikembalikan   • Pengembangan  ekonomi   kegiatan  yang   kepada  UPK   • Diprioritaskan  bagi   kegiatan  yang   menghasilkan   • Sebagai   lokal   berkelanjutan  dan  odal   pendapatan  dan   pendampingan   • Pengembangan  m memberikan  dampak   yang  biasanya  tidak   untuk  peningkatan   ekonomi  keluarga.   • Warga  miskin  yang     terdaftar  dalam  PS-­‐2.       (definisi  di   mampu  mendukung   warga  miskin  untuk   petunjuk  teknis)   harus  dikembalikan     tumbuhnya   kegiatan  yang   kepada  UPK   •   Pengembangan  ekonomi   ekonomi  dan  usaha   Rambu-­‐rambu  untuk   menghasilkan   • Sebagai   lokal   kecil   pendapatan  dan   kesinambungan  PDB:     pendampingan   • Pengembangan  modal   yang  biasanya  tidak   • ekonomi  keluarga.   • Dapat  dikembangkan   Seluruh  ketentuan   harus  spelaksanaan   esuai   kewirausahaan.  yang   ekonomi.   dan  diharapkan  dapat   warga  miskin  yang   berorientasi   menurut     tercantum  dalam  PS-­‐2   menggerakan   penciptaan   kesepakatan  warga   Rambu-­‐rambu  sosial:   pertisipasi  warga  non   untuk  peningkatan   lapangan  kerja  bagi   dan  tertuang  dPS-­‐2)   • Dana  dan  atau  keahlian   keterampilan.  gotong   royong.   dsb   Sifat  Kemanfaatan   Kegiatan   •    Komponen       • Kegiatan   • Komponen   Ekonomi     • Komponen   Ekonomi     • • • kesepakatan  warga.  desuai   .   egiatan   miskin  untuk  turut   warga  miskin  ( alam   kebijakan  LKM   membantu  dalam   harus  berkelanjutan.   yang   Kegiatan   • pendapatan  keluarga   Usaha  ekonomi   • Sebagai  pinjaman   Kegiatan  ykepada   diberikan   ang   produktif   kepada  KSM  dan   miskin.  integritas.   • Rambu-­‐rambu  untuk   Kualitas  konstruksi   Status  Pemanfaatan   kegiatan  pemanfaatan   harus  memenuhi   Dana  BLM   standar  BLM     PU.  dst)   § Menumbuhkan   modal  sosial.   kegiatan  sosial  ini   wajib  belajar  9 t agi   Sebagai  dana  stimulan   • Pelatihan  KSM    bahun.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 25 tumbuhnya     ekonomi  dan  usaha   Rambu-­‐rambu  untuk   .   dan  organisasi.   • Berdasarkan  daftar  PS-­‐   2.   program  penuntasan   sistem  bagi  hasil  s ll.   dalam   menurut     kesepakatan  BKM/LKM   kesepakatan  warga   Rambu-­‐rambu  sosial:   dengan  masyarakat   dan  tertuang  dalam   • Diprioritaskan  bagi   Dana  dan  atau  kegiatan   kebijakan  LKM   harus  berkelanjutan.   • Kegiatan  dilakukan   Kegiatan  sosial  yang   diusulkan  mampu   Sifat  Kemanfaatan   Status  Pemanfaatan   kegiatan  pemanfaatan   dalam  kelompok  dengan     sifatnya  berkelanjutan   menjadi  kegiatan   Kegiatan   Dana  BLM   BLM     usaha  sejenis     seperti  program   yang  berkelanjutan   kegiatan  sosial  ini   wajib  belajar  gizi  balita.     peningkatan   9  tahun.   Kegiatan  yang   Rambu-­‐rambu  untuk   kegiatan  sosial.

• Dapat  dikembangkan   sistem  bagi  hasil  sesuai   kesepakatan  BKM/LKM   dengan  masyarakat   • Diprioritaskan  bagi   peserta  yang  memiliki   rencana  pengembangan   usaha  yang  jelas   • Diprioritaskan  bagi   kegiatan  yang     berkelanjutan  dan   Rambu-­‐rambu  untuk   memberikan  dampak    Komponen   Sifat  Kemanfaatan   Status  Pemanfaatan   kegiatan   ekonomi.  pemanfaatan   Kegiatan   Kegiatan   Dana  BLM   BLM         wajib  belajar  9  t Komponen   • kegiatan  sosial  ini   Kegiatan  yang   • Usaha  ekonomi  ahun,   • Sebagai  pinjaman     harus  sesuai   kewirausahaan,  dll.   Ekonomi     diberikan  kepada   produktif  (definisi  di   kepada  KSM  dan   menurut   warga  miskin  untuk     petunjuk  teknis)   harus  dikembalikan   kesepakatan  warga   • Pengembangan  ekonomi   Rambu-­‐rambu  sosial:   kegiatan  yang   kepada  UPK   dan  tertuang  dalam   • Dana  dan  atau  kegiatan   • Sebagai   menghasilkan   lokal   kebijakan  LKM   pendapatan  dan   pendampingan   • harus  berkelanjutan.   Pengembangan  modal   yang  biasanya  tidak   • Kegiatan  dilakukan   yang   untuk  peningkatan   ekonomi  keluarga,   memiliki  akses  ke   dalam  kelompok  dengan   kapasitas   bermanfaat  langsung   sumber  pinjaman   usaha  sejenis   bagi  peningkatan   lainnya.   • Dapat  dikembangkan   pendapatan  keluarga   • Kegiatan  yang   sistem  b  agi  hasil  sesuai   miskin.     mampu  mendukung   kesepakatan  BKM/LKM     tumbuhnya   dengan  masyarakat       ekonomi  dan  usaha   Rambu-­‐rambu  untuk   • Diprioritaskan  bagi   kecil   kesinambungan  Pemiliki   peserta  yang  m DB:     Rambu-­‐rambu  untuk   • rencana  pengembangan   Setiap  UPK  wajib    Komponen   Sifat  Kemanfaatan   Status  Pemanfaatan   kegiatan  pemanfaatan   usaha  yang  jencana   membuat  r elas   Kegiatan   Kegiatan   Dana  BLM   BLM     keuangan   • Diprioritaskan    bagi   tahunan.(excel   kegiatan  yang   pintar)     • berkelanjutan  dan   untuk   Bunga  mencukupi   biaya-­‐biaya   dampak   memberikan  UPK,  bunga   minimal   ekonomi.  1,5%   • Pinjaman  awal     maksimum  Rp  1 Komponen   • Kegiatan  yang   • Usaha  ekonomi    juta  per   • Sebagai  pinjaman   anggota  K definisi   Ekonomi     diberikan  kepada   produktif  (SM.     di   kepada  KSM  dan   • petunjuk  teknis)  anggota   Masing-­‐masing   warga  miskin  untuk   harus  dikembalikan   KSM  bisa  meminjam   kegiatan  yang   kepada  UPK   • Pengembangan  ekonomi   maksimal  4x.   menghasilkan   • Sebagai   lokal   • Pinjaman  selanjutnya   pendapatan  dan   pendampingan   • Pengembangan  modal   maksimal  Rp  3  juta.   yang  biasanya  tidak   untuk  peningkatan   ekonomi  keluarga,  yang   • bermanfaat  SM  yang   Tabungan  K langsung   memiliki  akses  ke   kapasitas   dititipkan  di  UPK  tidak   sumber  pinjaman   bagi  peningkatan   dapat  digunakan  untuk   lainnya.   pendapatan  keluarga   perguliran.   • Kegiatan  yang   miskin.         mampu  mendukung   •  Menu  tambahan  bisa   tumbuhnya    diberlakukan  untuk  UPK   yang  memiliki  PAR   ekonomi  dan  usaha   Rambu-­‐rambu  untuk   memuaskan  selama   kecil   kesinambungan  PDB:     • satu  tahun  berturut-­‐ Setiap  UPK  wajib   turut.     rencana   membuat   • Dapat  dikembangkan   keuangan   sistem  bagi  hasil  sesuai   kesepakatan  BKM/LKM   dengan  masyarakat           PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN yang  memiliki  keterkaitan  antara   Kegiatan  TRIDAYA  terpadu  adalah  kegiatan   26 kegiatan  lingkungan,  sosial  dan  ekonomi.  Kegiatan  TRIDAYA  terpadu  tersebut   harus  menjadi  prioritas  dalam  pemanfaatan  dana  BLM.  

Kegiatan TRIDAYA terpadu adalah kegiatan yang memiliki keterkaitan antara kegiatan lingkungan, sosial dan ekonomi. Kegiatan TRIDAYA terpadu tersebut harus menjadi prioritas dalam pemanfaatan dana BLM. Kegiatan TRIDAYA terpadu diharapkan memberikan dampak optimal terhadap penanggulangan kemiskinan. Contohnya kegiatan sosial berupa pelatihan keterampilan yang ditindaklanjuti dengan kegiatan ekonomi produktif dengan mendapatkan pinjaman bergulir; pembangunan fasilitas umum yang ditindaklanjuti dengan kegiatan ekonomi yang memanfaatkan fasilitas tersebut; hasil kegiatan ekonomi yang kemudian bisa dilanjutkan ke kegiatan sosial dan infrastruktur, dan sebagainya. Bagi BKM/LKM yang akan melaksanakan kegiatan ekonomi dalam bentuk Pinjaman Bergulir (PB) harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : a) Untuk kelurahan/desa baru, apabila masyarakat telah menyepakati dan menetapkan sebagian dana BLM dialokasikan untuk kegiatan PB sesuai ketentuan PNPM MP, maka pengelolaannya harus dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan pinjaman bergulir yang berorientasi pada masyarakat miskin. Artinya tidak semata-mata berorientasi pada pemupukan dana, namun juga harus mempertimbangkan aspek pelayanan dan kemanfaatannya bagi masyarakat miskin. Sejalan dengan prioritas pada kegiatan dan kemanfaatan kolektif, maksimum dana BLM yang dapat dialokasikan untuk PB sebesar maksimal 30% lokasi baru dan 20% lokasi lama; dari total pagu BLM. Penyempurnaan tata cara dan kelembagaan dengan membentuk dewan pengawas keuangan yang akan diatur lebih lanjut dalam pedoman teknis; Untuk kelurahan/desa lanjutan, maksimum 20% BLM dapat ditambahkan untuk PB bila kinerja pinjaman bergulir mencapai kriteria memuaskan (pinjaman yang beresiko < 10%), serta bersedia melakukan perbaikan kelembagaan dengan membentuk dewan pengawas keuangan yang akan diatur lebih lanjut dalam pedoman teknis. Lihat Tabel 2.2. Kriteria Kinerja Pinjaman Bergulir; Untuk BKM/LKM dengan kinerja pinjaman bersiko (PAR) memuaskan > 6 bulan berturut-turut, maka dapat mengusulkan penambahan BLM untuk PB > 20% sesuai kebutuhan masyarakat; KSM pinjaman bergulir disyaratkan memiliki kegiatan bersama untuk menggalang tabungan kelompok secara aktif minimal 3 bulan sebelum perguliran pinjaman; Bila kinerja Pinjaman berisiko (PAR) mencapai kriteria di bawah minimum, hanya boleh menggulirkan pinjaman kepada KSM lama yang pembayarannya lancar.

b)

c)

d) e)

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

27

diatur   lebih   lanjut   dalam   pedoman   teknis.   Lihat   Tabel   2.2.   Kriteria   Kinerja   Pinjaman  Bergulir;   c) Untuk   BKM/LKM   dengan   kinerja   pinjaman   bersiko   (PAR)   memuaskan   >   6   bulan   berturut-­‐turut,   maka   dapat   mengusulkan   penambahan   BLM   untuk   PB   >   20%  sesuai  kebutuhan  masyarakat;   d) KSM   pinjaman   bergulir   disyaratkan   memiliki   kegiatan   bersama   untuk   menggalang   tabungan   kelompok   secara   aktif   minimal   3   bulan   sebelum   perguliran  pinjaman;   e) Bila   kinerja   Pinjaman   berisiko   (PAR)   mencapai   kriteria   di   bawah   minimum,   hanya  boleh  menggulirkan  pinjaman  kepada  KSM  lama  yang  pembayarannya   UPK diwajibkan melakukan penagihan terhadap pinjaman bermasalah dan lancar.  UPK  diwajibkan  melakukan  penagihan  terhadap  pinjaman  bermasalah   dan   dapat   menggulirkan   pinjaman   kepada   KSM   baru   apabila   telah   berhasil   dapat menggulirkan pinjaman kepada KSM baru apabila telah berhasil menagih menagih  kembali  60%  dari  jumlah  p bermasalah (tunggakan). kembali 60% dari jumlah pinjamaninjaman  bermasalah  (tunggakan)._.       Tabel  2.2.  Kriteria  Kinerja  Pinjaman  Bergulir     Pinjaman   Beresiko  Portfolio   at  Risk  (PAR)      
Indikator   Penghitungan   Memuaskan   Minimum   Penundaan  

Saldo  pinjaman  menunggak   tunggakan  ≥  3  bulan  /  total   saldo  pinjaman  

<10%  

10%  ≤    PAR  <   20%  

  >20%  

Prinsip dasar capaian kinerja pinjaman bergulir adalah sebagai hasil upaya dan kinerja pengelola maupun kemanfaatan penerima dana bergulir, khususnya masyarakat. Capaian kinerja dana pinjaman bergulir yang disebabkan faktor-faktor penyimpangan nilai-nilai luhur yang melandasi keberadaan PNPM MP adalah tidak dibenarkan sama sekali. d. Larangan Penggunaan BLM PNPM MP melarang dana BLM digunakankan untuk hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan upaya penanggulangan kemiskinan, menimbulkan dampak keresahan sosial dan kerusakan lingkungan, berorientasi pada kepentingan individu atau kelompok tertentu dan bertentangan dengan norma-norma sosial, hukum serta peraturan yang berlaku. Secara umum beberapa kegiatan yang tidak boleh dibiayai dengan dana BLM, adalah sebagai berikut: 1) Kegiatan yang berkaitan dengan politik praktis (kampanye, demonstrasi, dll); 2) Kegiatan militer atau semi-militer (pembelian senjata dan sejenisnya); 3) Deposito atau yang berkaitan dengan usaha memupuk bunga bank; 4) Kegiatan yang memanfaatkan BLM sebagai jaminan atau agunan atau garansi, baik yang berhubungan dengan lembaga keuangan dan perbankan maupun pihak ketiga lainnya; 5) Pembebasan lahan; 6) Pembangunan rumah ibadah; 7) Pembangunan gedung kantor pemerintah atau kantor LKM; 8) Kegiatan-kegiatan yang berdampak negatif terhadap lingkungan, penduduk asli dan kelestarian budaya lokal dan lain-lain yang dilarang dalam pengamanan / safeguard; dan 9) Kegiatan yang bertentangan dengan hukum, nilai agama, tata susila dan kemanusiaan serta tidak sejalan dengan visi, misi, tujuan dan nilai-nilai universal.

28

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

2.2.

PENDAMPINGAN UNTUK PEMERINTAH DAERAH DAN PEMANGKU KEPENTINGAN

Pendampingan ini diwujudkan dalam bentuk bantuan teknik kepada Pemerintah Kota/ Kabupaten dan para pemangku kepentingan setempat melalui penugasan konsultan (OC/ KMW, korkot/asisten korkot, tenaga ahli, dsb) untuk melaksanakan program ini dan melakukan pengembangan kapasitas bagi Pemerintah Kota/Kabupaten (propinsi/kabupaten-kota) dan pemangku kepentingan setempat sehingga pada saatnya pemerintah daerah dengan dukungan berbagai pihak mampu mengelola program penanggulangan kemiskinan berbasis masyarakat di wilayahnya masing-masing. Dengan kata lain pendampingan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas Pemda dan Pemangku Kepentingan lainnya sebagai mitra masyarakat dalam pelaksanaan PNPM MP dan mensinergikan berbagai kegiatan penanggulangan kemiskinan di tingkat kelurahan/desa dan masyarakat. Secara rinci pendampingan tersebut dilakukan melalui serangkaian kegiatan pelatihan, sosialisasi, fasilitasi dan advokasi oleh Tim Konsultan di tingkat kota/kabupaten antara lain untuk: • Meningkatkan pemahaman para perangkat pemerintah termasuk pimpinan daerah dan para pemangku kepentingan setempat tentang penanggulangan kemiskinan berbasis masyarakat • Mengembangkan dan melembagakan pemandu pelatihan dari unsur pemda melalui TOT khusus Perangkat Pemda serta penguatan kapasitas Komunitas Belajar Perkotaan dan Tim Koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah (TPKP-D). • Meningkatkan kapasitas pemerintah kota/kabupaten untuk bekerja sama dengan BKM dan Forum BKM dan meningkatkan kesetaraan peran perempuan dan laki-laki, termasuk peningkatan kualitas partisipasi perempuan dan laki-laki dalam menyuarakan aspirasi masyarakat, pengambilan keputusan di sektor publik, serta pelaksanaan siklus program PNPM MP (perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi). • Memfasilitasi penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD); • Memfasilitasi penyiapan rencana untuk pelaksanaan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD); • Memfasilitasi Pemkot/Pemkab dan Pemangku Kepentingan agar mampu mendorong kemitraan dan integrasi PJM Pronangkis dengan rencana pembangunan daerah; • Membangun tata kepemerintahan yang baik dengan Pemkot/Pemkab sebagai pelaku kuncinya. • Peningkatan Kapasitas Pengelolaan dan Pengendalian Sistem Informasi Manajemen (SIM) PNPM Mandiri Perkotaan.

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

29

Peningkatan kapasitas SIM berbasis website di tingkat pemkot/kab ini bertujuan agar pemkot/kab dapat mengelola, mengendalikan serta memantau seluruh perkembangan kegiatan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayahnya secara transparan dan akuntabel. Untuk meningkatkan peran pemkot/kab dalam membangun SIM ini perlu disiapkan sumber daya yang secara khusus menangani SIM oleh pemkot/kab, sebagai tahap awal OC/KMW akan mengawal secara intensif sampai SIM PNPM Mandiri Perkoataan bisa operasional di tingkat pemkot/kab. Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (PPM). Pemkot/kab harus membangun media pengaduan masyarakat untuk menampung berbagai keluhan masyarakat. Tujuannya agar terbangun kontrol sosial warga dalam memonitor seluruh pelaksanaan kegiatan sehingga segala bentuk penyimpangan dapat dikurangi serta diantisipasi lebih dini oleh pemkot/kab dan masyarakat itu sendiri. Pengembangan PPM ini tidak cukup hanya dibangun/dikembangkan di kota/kabupaten, akan tetapi yang lebih strategis adalah mengembangkan PPM sampai ke tingkat masyarakat kelurahan yang dimotori oleh LKM.

Peningkatan kapasitas pemerintah provinsi/kota/kabupaten dan para pemangku kepentingan tersebut diatas pada dasarnya merupakan kegiatan yang berorientasi pada upaya membangun tata kepemerintahan daerah yang baik, khususnya dalam menanggulangi kemiskinan dan mewujudkan pembangunan keberlanjutan yang berbasis nilai-nilai serta prinsip-prinsip universal. Untuk itu bentuk-bentuk bantuan teknik untuk pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan setempat mencakup: • Fasilitasi pertemuan-pertemuan/musyawarah di tingkat daerah, baik yg bersifat reorientasi pemikiran, pendalaman pemahaman (workshop) maupun penyebarluasan informasi (sosialisasi); • Pelatihan dasar, perencanaan partisipatif dan bimbingan, termasuk penyediaan bahan dan media belajar; • Penyediaan media-media sosialisasi; • Kunjungan lapangan baik dalam rangka pendalaman pemahaman maupun penggalian aspirasi masyarakat; • Pengorganisasian monitoring, fasilitasi, supervisi dan evaluasi bersama, dll. Titik berat pelaksanaan bantuan teknis di tingkat Pemerintah Kota/Kabupaten adalah membangun kesadaran kritis perangkat pemda dan kelompok peduli untuk mencapai sinergi antara masyarakat, pemerintah dan kelompok peduli serta reformasi kebijakan, program dan penganggaran yang berorientasi pada masyarakat miskin.

30

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

Dalam pendampingan konsultan kepada Masyarakat, Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan, PNPM MP secara aktif mensosialisasikan pentingnya kesetaraan peran perempuan dan laki-laki, termasuk peningkatan kualitas partisipasi perempuan dan laki-laki dalam menyuarakan aspirasi pembangunan, pengambilan keputusan di sektor publik, serta pelaksanaan siklus program (perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi). Salah satu kegiatan penguatan kualitas partisipasi perempuan di tingkat masyarakat yang dilakukan antara lain melalui: pertemuan khusus perempuan dalam setiap kegiatan siklus kegiatan masyarakat; pelibatan perempuan dalam berbagai kegiatan, misalnya mendukung perempuan sebagai anggota kelompok pinjaman dana bergulir, melakukan pelatihan tentang kesadaran gender bagi masyarakat dan pemda, baik perempuan maupun laki-laki; dsb. Strategi pengarusutamaan gender tersaji pada lampiran 4.

Agar pendampingan kepada Masyarakat, Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan dapat berjalan dengan baik, Tim fasilitator, Tim Korkot dan Tenaga ahli OC/KMW berkewajiban menjunjung tinggi dan melaksanakan secara konsisten pakta integritas pendamping PNPM MP, sebagai berikut : • Pendamping memfasilitasi Masyarakat, Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan agar mampu mengambil keputusan secara rasional dan bertanggungjawab; • Pendamping tidak memberi janji-janji atau iming-iming kepada Masyarakat, Pemerintah Daerah dan Pemangku Kepentingan, termasuk informasi yang tidak sesuai pedoman dan kebijakan program; • Proses perencanaan, penetapan dan pelaksanaan program penangulangan kemiskinan di tingkat masyarakat harus dilakukan oleh masyarakat sendiri, Pendamping memfasilitasi agar proses kegiatan sesuai dengan nilai, prinsip dan ketentuan PNPM MP; • Pendamping tidak diperkenankan menerima dan/atau meminta uang, komisi, hadiah, atau imbalan apapun dari pemerintah/masyarakat; • Pendamping tidak boleh melakukan potongan dana; • Pendamping bertanggungjawab terhadap penyelesaian persoalan yang ada di wilayah dampingannya, termasuk kemungkinan munculnya penyimpangan dan penyalahgunaan yang terjadi, sebagai konsekuensi logis tanggungjawab pendamping mengawal nilai, prinsip dan ketentuan PNPM MP. • Pendamping berkewajiban menyelesaikan persoalan penyimpangan dana yang terjadi di masyarakat dengan mengutamakan mekanisme penyelesaian oleh masyarakat hingga proses hukum sesuai ketentuan

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

31

PERKOTAAN .32 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 33 .III PELAKSANAAN PROGRAM PNPM MANDIRI .

yakni dengan mendorong masyarakat agar mampu meningkatkan kepedulian dan kesatuan serta solidaritas sosial untuk bahu-membahu dan bersatu-padu menanggulangi kemiskinan di wilayahnya secara mandiri dan berkelanjutan. dengan bertumpu pada nilai universal kemanusiaan. PELAKSANAAN DI TATARAN MASYARAKAT Proses pemberdayaan masyarakat dititikberatkan pada memulihkan dan melembagakan kembali modal sosial yang dimiliki masyarakat. refleksi perkara kritis (RPK).PERKOTAAN . Gambaran umum mengenai tahapan pelaksanaan kegiatan PNPM MP di tingkat masyarakat dapat dilihat pada garis besar siklus kegiatan di halaman berikut ini: 34 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Pada tahapan awal pelaksanaan program di lokasi baru. kepedulian. korkot. pemetaan swadaya (PS). kemasyarakatan dan pembangunan berkelanjutan. motivasi. Peran pendampingan pihak luar (fasilitator. berkewajiban melakukan proses pembelajaran masyarakat agar mereka mampu melakukan tahapan kegiatan PNPM MP di wilayahnya atas dasar kesadaran kritis terhadap alasan mengapa dan untuk apa suatu kegiatan itu harus dilakukan. siklus pelaksanaan program PNPM MP adalah siklus kegiatan yang dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat di kelurahan/desa setempat. para pendamping (fasilitator. penyusunan rencana program (PJM Pronangkis) dan Rencana Tahunan (Renta). Oleh sebab itu. dll). hanyalah sebagai pendamping pembelajaran agar prakarsa. siklus pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sepenuhnya dan dilembagakan oleh masyarakat sendiri dipimpin oleh BKM/LKM secara bertahap dengan difasilitasi pendamping yang dititik beratkan pada menjaga koridor-koridor kesesuaian dengan nilai luhur seperti antara lain transparansi dan akuntabilitas. serta kesesuaian dengan kebutuhan nyata masyarakat.3. konsultan dll). serta pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat melalui KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) dari stimulan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Tahapan pelaksanaan kegiatan ini mencakup serangkaian kegiatan yang berorientasi pada siklus rembug kesiapan masyarakat (RKM). Pengorginsasian Masyarakat (BKM/LKM). keputusan dan ikhtiar dari masyarakat benarbenar berbasis pada nilai-nilai luhur dan kebutuhan nyata masyarakat. komitmen. Pada tahapan berikutnya. Pemerintah kota/kabupaten.1.

akan tetapi yang membedakan adalah tingkat kedalaman dari masing-masing kegiatan siklus serta adanya ke3 4 khusus-an yang terkait dengan program-program khusus seperti program untuk penanggulangan bencana atau program untuk penguatan partisipasi perempuan dan penangtanan kawasan kumuh. “Siklus 2 Pelaksanaan SMD dengan SML pada dasarnya sama sebagaimana gambar diatas.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 35 . SOSMAP & RKM 4 PEMANTAUAN DAN EVALUASI 07.PENGORGANISASIAN MASYARAKAT SIKLUS MASYARAKAT PNPM MANDIRI PERKOTAAN 03 .PEMETAAN SWADAYA 05 .REFLEKSI PERKARA KRITIS 1 TAHAP PERSIAPAN 01 . PEMANTAUAN & EVALUASI Gambar 3.1 bahwa PNPM MP dilaksanakan sub REVIEW dilokasi PNPM MP-Dasar selanjutnya dinamakan “Siklus Masyarakat tingkat Dasar (SMD)” dan PNPM MP-Lanjutan selanjutnya dinamakan SIKLUS KOTA Masyarakat tingkat Lanjut (SML)”.PELAKSANAAN KEGIATAN. sebagaimana dijelaskan pada5 bab 3.1. Siklus Tingkat Masyarakat 1 APBD Dalam pelaksanaanya.PENYUSUNAN RENCANA PROGRAM 2 TAHAP PERENCANAAN 3 MEMBANGUN KSM TAHAP PELAKSANAAN 06 . langkah-langkah dan tujuan dari siklus masyarakat untuk Siklus Masyarakat PNPM MANDIRI PERKOTAAN Dasar dan Siklus Masyarakat Lanjutan dijelaskan pada matriks di halaman berikut ini: SIKLUS PENDAMPING TINGKAT KOTA / KABUPATEN PNPM MANDIRI .PENCAIRAN DANA 02 . padat dan miskin.SOSIALISASI.04 . LOBBY KELOMPOK STRATEGIS MEMBANGUN KBP ANALISA AWAL REFLEKSI KEMISKINAN PENILAIAN CAPAIAN MDGs & PEMETANAAN KEMISKINAN MEMBANGUN KBP PELAATIHAN DASAR TKPKD. TKPP & PJOK MEMBANGUN RELAWAN KOTA ANALISA AKEMISKINAN PARTISIPATIF PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH MUSRENBANG KECAMATAN DAN KOTA LOKAKARYA ORIENTASI TK KOTA / KAB PEMBENTUKAN / REVITALISASI / PENGUATAN TKPKD PENGUATAN KELEMBAGAAN PENYUSUSUNAN STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN PENYUSUNAN PROGRAM KEMISKINAN BERORIENTASI PADA MDGs RENSTRA SKPD MEMBANGUN KOMITMEN SIKLUS KOTA DAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KETERANGAN : KEGIATAN INTERVENSI PNPM MANDIRI PERKOTAAN KEGIATAN INTERVENSI PEMDA/REGULER DENGAN INTERVENSI PNPM MANDIRI PERKOTAAN KEGIATAN SIKLUS REGULER PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Secara garis besar.

 dll   kemiskinan  secara   terorganisasi   • Membangun  niat  bersama   utk  menanggulangi   berbagai  permasalahan   kemiskinan  secara   terorganisasi   4   Pemetaan   • Menghasilkan  relawan  yg   • Menghasilkan  relawan   Swadaya  (PS)   mampu  menganalisis   mampu  memfasilitasi  dan   36 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .  dsb)   • Menemukan  akar   dan  pembangunan  yg  hrs   ditanggulangi  bersama   penyebab  kemiskinan   • Menemukan  akar   • Membangun  niat   penyebab  kemiskinan.   Kemiskinan   seperti  refleksi  bencana.     Secara   garis   besar.   • Menumbuhkan   refleksi  kemiskinan  &   refleksi   perempuan.PERKOTAAN .  refleksi   kemiskinan  yg  hrs   bahwa  ada  masalah   kawasan  padat   ditanggulangi  bersama   bersama.   refleksi  bencana.  yaitu   gender.   akan   tetapi   yang   membedakan   adalah   tingkat   kedalaman   dari   masing-­‐masing   kegiatan   siklus   serta   adanya   ke-­‐khusus-­‐an   yang   terkait   dengan   program-­‐program   khusus   seperti   program   untuk   penanggulangan   bencana   atau   program   untuk   penguatan   partisipasi   perempuan   dan   penangtanan   kawasan  kumuh.     sama   sebagaimana   gambar   diatas.   langkah-­‐langkah   dan   tujuan   dari   siklus   masyarakat   untuk   Siklus   Masyarakat  Dasar  dan  Siklus  Masyarakat  Lanjutan  dijelaskan  pada  matriks  bawah  ini:   Tujuan   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   Dasar   Lanjutan   No     Tahapan  Siklus         A.   menanggulangi   persoalan  bencana.   bersama  utk   kesenjangan  gender. TAHAP  PERSIAPAN     Tujuan   1   Sosialisasi  &   • Mendapatkan  gambaran   • Mendapatkan  gambaran   No   Pemetaan  Siklus   Tahapan   Sosial   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   dinamika  sosial   dinamika  sosial   Dasar   Lanjutan   masyarakat   masyarakat   • Penyebarluasan  informasi   • Penyebarluasan  informasi   ttg  akan  adanya  program   ttg  akan  adanya  program   PNPM  MP  di  kel/desa   tambahan/khusus   tersebut     2   Rembug   • Membangun  komitmen   • Pembaharuan  komitmen   Kesiapan   masyarakat  untuk   masyarakat  untuk   Masyarakat   menerima/menolak   penanggulangan   (RKM)   PNPM  MP  dgn  segala   kemiskinan   konsekwensinya       • Menggalang  relawan   • Menggalang  relawan-­‐ yang  sesuai  kriteria   relawan  khusus  yang   • Menghasilkan  relawan   sesuai  dengan  kebutuhan   yang  mampu   dan  minat   memfasilitasi  &   • Menghasilkan  relawan   mengawal  PNPM  MP   (nilai-­‐nilai)   khusus  yang  mampu   memfasilitasi     B   TAHAP  PERENCANAAN   3   Refleksi  Perkara   • Menghasilkan  relawan   • Menghasilkan  relawan   Kritis  (misalnya   yang  mampu   yang  mampu  memfasilitasi   refleksi   memfasilitasi  Refleksi   berbagai  proses  FGD   kemiskinan  /RK.  dll     kesadaran  bahwa  ada   kemiskinan  dan   • Menumbuhkan  kesadaran   masalah  bersama.  padat  dan  miskin.  yaitu  kemiskinan   dan  miskin.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 37 .  nilai-­‐nilai)   berbuat/menyelesaikan   masyarakat   persoalan   kelurahan/desa   • Menghasilkan  data-­‐data   dan  informasi  lingkungan   • Membangun  motivasi   untuk   (tabel  &  peta-­‐peta   berbuat/menyelesaikan   tematik)   persoalan   • Menghasilkan   pemutakhiran  data  dan     prioritasi  pembangunan   5   Pengorganisasian   • Menghasilkan  kriteria   • Menghasilkan  lembaga   Masyarakat   kepemimpinan  moral   masyarakat  yang   (BKM/LKM)   berkinerja  baik.   kemiskinan.   penanggulangan   ekonomi.  lingkungan.   untuk   lingkungan.   orang-­‐orang  baik  dan   • Menghasilkan  unit-­‐unit   tulus   pelaksana  yang  handal   • Terbentuknya  lembaga   sesuai  kebutuhan   kepemimpinan  yang     representatif  dan   mengakar   6   Penyusunan   • Menghasilan   • Menghasilan   Rencana   relawan/BKM/LKM  yang   relawan/BKM/LKM  yang   Program  (Jangka   mampu  melaksanakan   mampu  melaksanakan   Menengah  &   penyusunan  rencana   penyusunan  rencana   Rencana   program   program  yang  lebih   Tahunan)   komprehensif   • Tersusunnya  program   pembangunan  kelurahan   • Tersusunnya  program   jangka  menengah  yang   pembangunan  kelurahan   berorientasi  pada   jangka  menengah  yang   penanggulangan   berorientasi  pada   kemiskinan     penanggulangan   kemiskinan  dan  penataan   PNPM MANDIRI .   nilai-­‐nilai)  masyarakat   kelurahan/desa   • Membangun  kesadaran   akan  realita  persoalan  dan   • Membangun  motivasi   potensi  (sosial.  kreatif  dan   • Tata  cara  menemukan   inovatif.  ekonomi.         Tujuan   No   Tahapan  Siklus   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   Dasar   Lanjutan   masalah  dan  potensi   melaksanakan  Pemetaan   masyarakat   Swadaya  lanjutan   khususnya  potensi   • Membangun  kesadaran   lingkungan  yang  dapat   akan  realita  persoalan   dimanfaatkan  untuk   dan  potensi  (sosial.

 para  pemangku   kepentingan)     TAHAP  PELAKSANAAN   Pelaksanaan   • Menghasilan  relawan   • Menghasilan  relawan   Kegiatan   melaksanakan   melaksanakan   pengorganisasian  KSM   pengorganisasian  KSM   • Terbentuknya  KSM   • KSM  sebagai  satuan  unit   sebagai  satuan  unit  sosial   sosial  yang  yang   yang  saling  tolong  dalam   berorientasi  pada   mengembangkan  diri   penanggulangan   masing-­‐masing   kemiskinan  dan  penataan   anggotanya   lingkungan  permukiman   yang  lebih  baik     • Terbentuknya  KSM   • KSM  ekonomi  yang  sudah   ekonomi  yang  sudah   memiliki  kegiatan   memiliki  kegiatan  bersama   bersama   dan  kerjasama  dengan   berbagai  pihak   Penerima   • Penerima  manfaat  adalah   • Penerima  manfaat  adalah   Manfaat   warga  miskin  yang  dalam   warga  miskin  yang  dalam   data  Pemetaan  Swadaya  .   • Meningkatnya  kualitas     Tahapan  Siklus   38 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .         No   7   C.   pemerintah  daerah.   yang  terinci  dalam  lembar   yang  terinci  dalam  lembar   PS  2  terkini  yang  telah   PS  2  terkini  yang  telah   disepakati  warga.       PEMANTAUAN  DAN  EVALUASI   Pemantauan   • Terbangunnya   • Melembaganya   keterbukaan  dan   keterbukaan  dan  tanggung   tanggung  gugat.   program  secara  berkala   • Melembaganya   dan  mandiri.       pengendalian  sosial.   seluruh  pihak  (masyarakat.   data  Pemetaan  Swadaya  .   disepakati  warga.PERKOTAAN .  para   pemerintah.   10   Tujuan   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   Dasar   Lanjutan   lingkungan  permukiman   yang  lebih  baik     Pemasaran   • Terlaksananya  pemasaran   • Terlembaganya     Program   sosial  tentang  rencana   pemasaran  sosial  tentang   program  kepada  seluruh   rencana  program  kepada   pihak  (masyarakat.   8   9   D.   gugat.   • Terbangunnya  kepedulian   • Melembaganya  proses   masyarakat  untuk   pemantauan  dan   memantau  kemajuan   partisipasi  masyarakat.  pemerintah   pemangku  kepentingan)     daerah.

3   Kegiatan  s umum di tingkat masyarakat untuk pelaksanaan siklus tahun ke 1.   • Diketahuinya  kualitas   • Diketahuinya  kualitas   proses  dan  hasil  program   proses  dan  hasil  program   per  tahap  evaluasi. Pedoman Teknis P2G dan Teknis  P4  dan  Pedoman  Teknis  lainnya.  baik  persoalan  yang   dihadapi.  berikut  ini  penjelasan  mengenai  empat  hal   tersebut  :   3.   Pengorganisasian  Masyarakat  dan  Pembentukan  BKM/LKM   a) Pengertian a)   Pengertian     Pengorganisasian masyarakat dalam tautan PNPM MP adalah upaya terstruktur Pengorganisasian   masyarakat   dalam   tautan   PNPM   MP   adalah   upaya   terstruktur   baik untuk menyadarkan masyarakat akan kondisi yang dihadapinya.   Perihal   siklus   masyarakat   secara   rinci   dapat   dilihat   pada  buku  Pedoman  Teknis  Perencanaan  Partisipatif. dan pengelolaan keuangan masyarakatBKM/LKM.  potensi  dan  peluang  yang  dimiliki. berikut ini penjelasan mengenai keuangan   masyarakat   merupakan  hal  penting  yang  harus  di  perhatikan.   • Diketahuinya  kesesuaian   • Diketahuinya  kesesuaian   dengan  pedoman. masyarakat dilaksanakan menerus agar agar  melembaga. 2.   peraturan  dan  nilai-­‐nilai   peraturan  dan  nilai-­‐nilai   setempat.1.   • Dilakukannya  tindak   • Dilakukannya  tindak  lanjut   lanjut  hasil  evaluasi.     Tahapan siklus iklus  masyarakat  dilaksanakan  menerus  melembaga.   dengan  pedoman. pencairan di   tataran   masyarakat.   dan   pengelolaan  empat hal tersebut : penting yang harus di perhatikan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 39 .   kegiatan   pembangunan   merupakan penyusunan   PJM   Pronangkis.   Tahapan  s       Mengingat di dalam siklus di tataran masyarakat. kegiatan pembangunan BKM/LKM.  Pedoman  Teknis  PRB-­‐BM.   • Terbangunnya   pengendalian  sosial. Pedoman Teknis PPMK. Perihal siklus masyarakat secara rinci dapat dilihat pada buku Pedoman pada tersaji   pada   lampiran   3.   hasil  evaluasi.  Oleh  sebab  itu  proses  pengorganisasian   PNPM MANDIRI .  Pedoman  Teknis  PMPK.   Teknis Perencanaan Partisipatif.   hal PJM Pronangkis.   • Diketahuinya  kesesuaian   • Diketahuinya  kesesuaian   dengan  tujuan  program.  siklus  masyarkat  secara  rinci  dapat  dilihat  pada   Berkaitan dengan kegiatan khusus.     Kegiatan secara ecara  umum  di  tingkat  masyarakat  untuk  pelaksanaan  siklus  tahun  ke  1.1.   per  tahap  evaluasi. Pengorganisasian Masyarakat dan Pembentukan BKM/LKM   3.   dengan  tujuan  program. penyusunan Mengingat   di   dalam   siklus   dana BLM.  laki-­‐laki  dan   perempuan.   setempat. Pedoman Teknis PRB-BM.1.   Pedoman Teknis lainnya. 3 dan 4 tersajidan   4  lampiran 3.   pencairan   dana   BLM.   Berkaitan  dengan  kegiatan  khusus.1.  Pedoman   Teknis PLPBK.         No   Tahapan  Siklus   11   Evaluasi   Tujuan   Siklus  Masyarakat  tingkat   Siklus  Masyarakat  tingkat   Dasar   Lanjutan   dan  kuantitas  partisipasi   masyarakat.2. untuk  menyadarkan  masyarakat  akan  kondisi  yang  dihadapinya. siklus masyarkat secara rinci dapat dilihat pada Pedoman Pedoman  Teknis  PLPBK.

Bukan lembaga yang dibentuk secara otomatis karena perundangundangan atau peraturan pemerintah (baik pusat maupun daerah) sebagai alat kelengkapan lembaga pemerintah. Lembaga kepemimpinan inilah yang kemudian diharapkan mampu memimpin masyarakat dalam gerakan penangulangan kemiskinan secara terorganisasi. sejauh lembaga-lembaga tersebut dapat memenuhi kriteria sbb: a. Pimpinan ini juga harus dijaga untuk tidak jatuh dalam nafsu berkuasa yang bersifat otoriter tetapi tetap menjamin proses demokrasi dalam proses pengambilan keputusan disemua tataran. potensi dan peluang yang dimiliki. Situasi ini membangun semangat untuk kerja.persoalan yang dihadapi. Jadi pengorganisasian masyarakat dalam PNPM MP ini tidak diartikan sebagai membentuk wadah organisasi tetapi lebih merupakan kesepakatan bersama untuk bersatu sebagai sesama masyarakat warga di suatu kelurahan/desa untuk bersama-sama menangulangi kemiskinan sebagai sebuah gerakan moral. b) Ketentuan Umum BKM/LKM Berangkat dari pemikiran tersebut diatas maka konsep lembaga kepemimpinan yang dipilih adalah berbentuk dewan sehingga tidak ada kekuasaan individu. tidak mewakili golongan/kelompok tertentu dan juga tidak mewakili wilayah tertentu jadi persifat impartial. mengapa terjadi kemiskinan di kelurahan/desa mereka dan kemiskinan bukan hanya persoalan kaum miskin sehingga terbangun pemahaman bahwa kemiskinan adalah urusan bersama dan musuh bersama. b. Kebutuhan adanya lembaga pimpinan seperti BKM/LKM tidak berarti secara otomatis harus membentuk lembaga baru. Kekuasaan/kewenangan dan legitimasinya bersumber dari warga masyarakat setempat c.PERKOTAAN . Untuk memimpin gerakan penanggulangan kemiskinan inilah diperlukan pimpinan yang dapat diterima oleh semua pihak yang tidak parsial. Berkedudukan sebagai lembaga kepimpinan kolektif dan oleh karenanya juga berperan sebagai representasi warga yang berhimpun dalam suatu himpunan masyarakat warga setempat yang bersifat organisasi anggota 40 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Oleh sebab itu proses pengorganisasian masyarakat sebenarnya sudah dimulai pada saat RK (Refleksi Kemiskinan) dimana warga berkumpul mengenali dan merumuskan ciri kemiskinan. tetapi lembaga yang prakarsa pembentukan maupun pengelolaannya ditentukan oleh masyarakat. tetapi dapat juga dengan memampukan atau memfungsikan lembaga masyarakat yang telah ada.

d. Diterima. demokratis dan partisipatif.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 41 . PNPM MANDIRI . politik. demokratis. Mampu mempertahankan sifat independen dan otonom terhadap institusi pemerintah. jabatan dan kriteria-kriteria lain yang tidak langsung terkait dengan nilai-nilai kepribadian manusia merupakan nilai tambahan saja. e. f. demokratis dan akuntabel. tertulis. Faktor pendidikan. tanpa pencalonan. agama. atau bertumpu pada anggota. rahasia. h. transparan. Dibentuk secara partisipatif. dan tanpa kampanye maupun rekayasa dari siapapun. dsb. dan inklusif Bekerja secara kolektif. seperti antara lain. jujur. Mekanisme pemilihan anggota BKM/LKM melalui proses pemilihan secara langsung oleh warga masyarakat. Kriteria keanggotaan BKM/LKM pada dasarnya merupakan perwujudan dari nilai-nilai kemanusiaan. status. adil. i. pengalaman. dapat dipercaya masyarakat. j. keterampilan. militer. usaha dan keluarga. berfungsi dan berakar di seluruh lapisan masyarakat setempat (inklusif dan imparsial). ikhlas. artinya keputusan tertinggi ada di tangan anggota Melakukan proses pengambilan keputusan secara kolektif. g. partisipatif.

  perlunya  dibentuk   lembaga  baru   sebagai  BKM/LKM   2   Siapa  yg  berhak   Semua   penduduk   dewasa   melalui   proses   refleksi   menentukan   kepemimpinan  untuk  kemudian  menetapkan  kriteria  yang   kriteria  anggota   didasarkan  pada  nilai-­‐nilai  luhur  hakiki   BKM/LKM   3   Berapa  jumlah   9  s/d  13  orang  dan  harus  ganjil   anggota  BKM/LKM   4   Siapa  yang  berhak   Semua   penduduk   dewasa   yg   memenuhi   kriteria   yang   dipilih   disepakati   5   Siapa  yang  berhak   Semua  penduduk  dewasa.  transparan.     ikhlas.   c)   Pemilihan Anggota BKM/LKM c)   Pemilihan  Anggota  BKM/LKM       Pokok-­‐pokok   Uraian  Ketentuan   BKM/LKM   1   Siapa  yang  berhak   Musyawarah   warga   estela   melalui   proses   refleksi   menentukan   kelembagaan  yang  ada.  dsb     d)   Tugas  Pokok  BKM/LKM   d) • Tugas Pokok BKM/LKM • Merumuskan dan menetapkan kebijakan serta aturan main (termasuk sanksi) secara demokratis dan partisipatif mengenai hal-hal yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat warga kelurahan/desa setempat termasuk penggunaan Dana BLM.  partisipatif. rencana strategis.  dan  inklusif   i.  usaha  dan  keluarga.   pengalaman.  politik.   Faktor   pendidikan.  militer.     j.   status.   dimana   rekam   jejak   tiap   pelaku   dikenali   § Tanpa  pencalonan   § Tanpa  kampanye   § Pemilihan  tertutup  (Secret  Ballot)   § Utusan  yang  terpilih  di  tingkat  RT  kemudian  dipilih  ulang   untuk  menetapkan  utusan  tingkat  RW  (bila  jml  RT  terlalu   banyak)   atau   langsung   dipilih   di   tingkat   kelurahan/desa   (bila  jml  RT  kecil)   § Tidak   ada   perwakilan   karena   anggota   BKM/LKM   dipilih   sebagai   representasi   nilai   bukan   wakil   golongan/kelompok/wilayah. Bekerja  secara  kolektif.   dsb.     h. 42 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .   dsb).PERKOTAAN .  demokratis  dan  akuntabel. Mampu   mempertahankan   sifat   independen   dan   otonom   terhadap   institusi   pemerintah.   keterampilan. Dibentuk  secara  partisipatif. misi.   dukuh/dusun.  bukan  perwakilan  keluarga  (KK)   memilih   6   Bagaimana  cara   § Karena  kriterianya  nilai  maka  pemilihan  didasarkan  pada   pemilihannya   rekam  jejak   § Oleh  sebab  itu  pemilihan  secara  berjenjang   § Pemilihan   utusan   dimulai   dari   komunitas   basis   (RT.  agama. dan rencana program peningkatan kesejahteraan masyarakat tahunan.  demokratis.   jabatan   dan   kriteria-­‐kriteria   lain   yang   tidak   langsung   terkait   dengan   nilai-­‐nilai   kepribadian   manusia  merupakan  nilai  tambahan  saja. Mengorganisasi masyarakat untuk bersama-sama merumuskan visi.

dikoordinasikan dan diintegrasikan dengan program serta kebijakan pemerintah kelurahan/desa. Mendorong berlangsungnya proses pembangunan partisipatif sejak tahap penggalian ide dan aspirasi. pemetaan swadaya atau penilaian kebutuhan. khususnya masyarakat miskin laki-laki dan perempuan di wilayahnya.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 43 . sirkulasi laporan kegiatan dan keuangan bulanan/triwulanan serta rapat-rapat terbuka. kegiatan dan keuangan yang di bawah kendali BKM/LKM. kecamatan dan Kota/Kabupaten. mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan keputusan-keputusan yang telah diambil BKM/LKM termasuk penggunaan dana-dana bantuan program pemberdayaan yang diterima.• • • • • • • • • • • • Memonitor. Melaksanakan Rembug Warga Tahunan dengan dihadiri masyarakat luas dan memberikan pertanggungjawaban atas segala keputusan dan kebijakan yang diambil BKM/LKM kepada masyarakat. Membangun tranparansi masyarakat khususnya dan pihak luar pada umumnya. perencanaan. pelaksanaan. pengambilan keputusan. melalui proses pengambilan keputusan serta hasil keputusan yang adil dan demokratis. Menjamin dan mendorong peran aktif berbagai unsur masyarakat. melalui berbagai media seperti papan pengumuman. Memonitor. untuk dapat dikomunikasikan. pemeliharaan hingga monitoring dan evaluasi. dsb. keputusan. dan pelaksanaan program yang dilakukan oleh unit-unit Satuan Pelaksana (Satlak) berbagai program sektoral. Memfasilitasi aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam perumusan kebutuhan dan usulan program penanggulangan kemiskinan dan pembangunan wilayah kelurahan/perdesaan setempat. PNPM MANDIRI . dalam setiap keputusan maupun pelaksanaan kegiatan pembangunan serta pembangunan lainnya di kelurahan/ desa masing-masing. Mengkoordinasi pengelolaan program-program yang diterima masyarakat. Membuka akses dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk melakukan kontrol terhadap kebijakan. mengawasi dan memberi masukan untuk berbagai kebijakan maupun program pemerintah lokal yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat miskin maupun pembangunan di kelurahan/desa nya. Mengawal penerapan nilai-nilai hakiki. Membangun akuntabilitas kepada masyarakat dengan mengauditkan diri melalui auditor independen serta menyebarluaskan hasil auditnya kepada seluruh lapisan masyarakat. pada setiap tahapan dan proses pengambilan keputusan serta pelaksanaan kegiatan pembangunan kelurahan/desa dengan bertumpu pada kondisi budaya masyarakat setempat (kearifan lokal). Menghidupkan serta menumbuhkembangkan kembali nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat.

meskipun demikian kegiatan sosial ini harus sudah direncanakan keberlanjutannya. 3. atau kegiatan pembangunan prasarana skala kecil yang dapat diusulkan oleh kelompok masyarakat dan termasuk dalam sektor prasarana yang memang diprioritaskan. relawan. 44 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Secara tegas perencanaan partisipatif dalam PNPM MP adalah perpaduan antara perencanaan dari atas yang pada dasarnya merupakan keputusan kaum elit dan perencanaan dari bawah yang lebih mewakili aspirasi masyarakat umum disemua tataran atau sering juga diartikan sebagai perpaduan antara perencanaan makro dan mikro.Perihal Lembaga Keswadayaan Masyarakat secara rinci dan detail dapat dilihat pada Buku Petunjuk Teknis Kelembagaan Masyarakat. PJM Pronangkis adalah suatu hasil dari proses perencanaan partisipatif dengan perspektif waktu 3 tahun dari suatu program penangulangan kemiskinan di suatu kelurahan/desa. Dalam kerangka keberlanjutan program serta sinergi program antara perencanaan dari bawah (bottom up) dengan perencanaan dari atas (top down). proses pelaksanaan PJM Pronangkis secara terus menerus disempurnakan untuk mempermudah proses penyelarasan dan pengintegrasian antara perencanaan masyarakat dengan perencanaan reguler pemerintah (perencanaan mikro dan makro). PJM Pronangkis harus disusun secara partisipatif oleh TPP (Tim Perencana Partisipatif) yang dibentuk oleh BKM/LKM terdiri dari unsur BKM/LKM. warga peduli dan secara interaktif dilakukan konsultasi kepada pemerintah setempat dan masyarakat luas (publik) melalui berbagai media. PJM dapat terdiri dari investasi pembangunan prasarana yang telah diidentifikasi dari awal survei yang pelaksanaannya dapat dilakukan langsung oleh BKM/LKM dengan membentuk panitia pembangunan. Perencanaan Partisipatif dan Penyusunan PJM Perencanaan partisipatif dalam PNPM MP ini diartikan sebagai alternatif ketiga dari perencanaan dari atas (top down) dan perencanaan dari bawah (bottom up). kegiatan pinjaman bergulir yang nantinya menjadi landasan untuk dikembangkan menjadi kredit mikro. Di tataran masyarakat maka BKM/LKM akan merepresentasikan titik temu tersebut. atau kegiatan sosial untuk membantu warga yang benar-benar tidak mampu.2. sedangkan titik temu antara perencanaan masyarakat dgn pemerintah diharapkan terjadi di tingkat kecamatan dimana PJM Pronangkis yang merupakan aspirasi masyarakat bertemu dengan perencanaan makro dari SKPD. Renta ini juga harus dilakukan secara partisipatif. PJM Pronangkis ini kemudian dijabarkan menjadi Renta (rencana tahunan) yang merupakan rencana investasi tahunan dalam upaya penangulangan kemiskinan suatu kelurahan/desa.1.PERKOTAAN .

PNPM MANDIRI . Untuk itu maka BKM/LKM harus dapat mengelola dana tersebut secara benar. Pembukuan. Pemetaan Swadaya Dok. MASALAH POTENSI DAN KEBUTUHAN PRIORITAS KEBUTUHAN MASYARAKAT PENYUSUNAN DRAFT DOKUMEN PJM PRONANGKIS OLEH TIM INTI PP PENYUSUNAN DRAFT DOKUMEN PJM PRONANGKIS OLEH TIM INTI PP Sosialisasi Draft PJM oleh Tim PP 3. RTBL. Renstra SKPD INTEGRASI DAN KORDINASI PROGRAM TK.TK. Pada saat pelaksanaan PNPM MP. merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk menunjukkan kinerja pengelolaan keuangan BKM/LKM.TK. MISI. Pelatihan sejenis diberikan kepada Panitia-Panitia Pembangunan sebelum mereka melaksanakan kegiatan yang telah disetujui. Pengelolaan Keuangan Masyarakat BKM/LKM sebagai penerima dana BLM harus dapat menunjukkan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya telah digunakan secara benar dan dipertanggungjawabkan secara terbuka dan benar juga./DESA (Keterpaduan PJM Pronangkis dengan RPJMD Ke) TIM PERENCANAAN PARTISIPATIF SERANGKAIAN KORDINASI DAN KOMUNIKASI DENGAN SKPD 2 TERKAIT DENGAN SWASTA TENTANG SOSIALISASI PEMAHAMAN PERENCANAAN STRATEGIS MASING-MASING SKPD DAN SWASTA LOKAKARYA PERENCANAAN PARTSIPATIF KELURAHAN/DESA LOKAKARYA PERENCANAAN PARTSIPATIF KELURAHAN/DESA SERANGKAIAN KORDINASI DAN KOMUNIKASI DENGAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAH. maka OC/KMW melalui Tim Fasilitator dan Relawan masyarakat akan membantu pihak BKM/LKM dalam memproses penatabukuan BKM/LKM. Dalam rangka mempersiapkan tertib administrasi BKM/LKM. khususnya dalam masalah administrasi keuangan. Dengan demikian maka semua transaksi keuangan harus dicatat dengan benar agar dapat disusun suatu Laporan Keuangan Bulanan (Untuk dana BOP bila diperlukan dapat dilakukan pencatatan khusus/terpisah dalam buku BOP).3. KECAMATAN . RPJP-D. KOTA/KAB CHANNELING PROGRAM SERANGKAIAN KORDINASI DAN KOMUNIKASI DENGAN PEMKOT/ KAB TENTANG SOSIALISASI PEMAHAMAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAN RENCANA MAKRO PEMKOT/KAB (RTRW.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 45 . KEL.Alur pelaksanaan PJM Pronangkis secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut : Alur pelaksanaan PJM Pronangkis secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut : MUSRENBANG . KELURAHAN TENTANG VISI. maka OC/KMW memberikan pelatihan tentang penatabukuan kepada BKM/LKM dan Unit-Unit Pengelola. Kebijakan Pemda Dok.1. DLL) Dok. KEL./DESA . transparan dan akuntabel.TK.

46 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . OC/KMW melalui koordinator kota dan stafnya juga akan membantu Panitia-Panitia Pembangunan. fasilitator beserta Relawan masyarakat harus membantu KSM yang didampinginya agar pengurus KSM tersebut pada masa berikutnya mampu mengerjakannya secara mandiri. Penatabukuan ini akan dijadikan bahan pelaporan kepada anggota BKM/LKM pada pertemuan bulanan. Perihal pengelolaan keuangan masyarakat secara rinci dan detail dapat dilihat pada Buku Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan. laporan tersebut juga dapat dipakai sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban kepada UPK/BKM/LKM yang telah memberikan pinjaman kepada KSM.PERKOTAAN . Dengan kata lain. sekaligus menjadi alat pantau secara dini terhadap kedisiplinan pengembalian pinjaman anggota. KSM-KSM dan Para Pihak terkait dalam memproses penatabukuan sehingga siap diaudit. Tiap kelompok (KSM) wajib membukukan kegiatannya maupun keuangannya dengan cara yang cukup sederhana yang akan di siapkan oleh OC/KMW.sehingga sesudah akhir tahun buku pihak BKM/LKM sudah siap dalam menerima audit yang akan dilakukan oleh akuntan independen. Disamping itu. Tim Fasilitator beserta Relawan masyarakat membantu proses pembukuan ini dalam kapasitas sebagai pendamping.

maka keberlanjutan penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi keniscayaan.2.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 47 . Gambar 3.PENILAIAN CAPAIAN MDGs . Rangkaian kegiatan tersebut.3. Secara garis besar. Rangkaian kegiatan siklus Kota terutama ditujukan sebagai pengarusutamaan penanggulangan kemiskinan mulai dari identifikasi persoalan kemiskinan. merupakan rangkaian kegiatan intervensi PNPM MP yang ditujukan untuk memperkuat proses perencanaan pembangunan daerah yang berpihak pada masyarakat miskin. sehingga penguatan metodologi yang didorong oleh program menjadi bagian dari siklus perencanaan regular untuk tahun-tahun selanjutnya.PEMETAAN KEMISKINAN 5 4 REVIEW APBD RKPD PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PELATIHAN DASAR TKPKD. penyusunan strategi penanggulangan kemiskinan.ANALISA AWAL REFLEKSI KEMISKINAN . langkah-langkah dan tujuan dari siklus kota dijelaskan pada matriks bawah ini : PNPM MANDIRI . pengarusutamaan penanggulangan kemiskinan dalam RPJMD dan program-program SKPD dan didukung oleh anggaran untuk pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan.2. perbaikan data-data warga miskin. Jika metodologi yang sudah diperkenalkan ini dilakukan secara menerus oleh Pemerintah kota/kabupaten. Tahapan Siklus Pendampingan Tingkat Kota/Kabupaten LOBBY KELOMPOK STRATEGIS MEMBANGUN KBP 1 2 3 . TKPP & PJOK MEMBANGUN RELAWAN KOTA ANALISA KEMISKINAN PARTISIPATIF SIKLUS KOTA MUSRENBANG KECAMATAN DAN KOTA PENYUSUNAN PROGRAM KEMISKINAN BERORIENTASI PADA MDGs RENSTRA SKPD LOKAKARYA ORIENTASI TK KOTA / KAB PEMBENTUKAN / REVITALISASI / PENGUATAN TKPKD PENGUATAN KELEMBAGAAN PENYUSUNAN STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN MEMBANGUN KOMITMEN SIKLUS KOTA DAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KETERANGAN : KEGIATAN INTERVENSI PNPM MANDIRI PERKOTAAN KEGIATAN INTERVENSI PEMDA/REGULER DENGAN INTERVENSI PNPM MANDIRI PERKOTAAN KEGIATAN SIKLUS REGULER PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Pelaksanaan pendampingan siklus disesuaikan dengan waktu pelaksanaan perencanaan dan penganggaran regular. PELAKSANAAN DI TATARAN PEMERINTAH KOTA/KABUPATEN Siklus pendampingan tingkat kota . diharapkan dapat terus berlanjut dalam sebuah siklus yang terus berulang dan dimasukkan menjadi bagian dari mekanisme perencanaan pembangunan daerah.

  kota/kab   .     No   A   1   .PERKOTAAN tingkat  Kota/Kabupaten   kemiskinan   dan   capaian   MDGs   di   tingkat   kota/kabupaten.   • Mendorong   pemerintah   berperan   aktif   dalam   kegiatan   penanggulangan   kemiskinan   dan   berkomitmen   mengalokasikan   dana   penanggulangan   kemiskinan   secara   terus   menerus   B   Penguatan  Kelembagaan   1   Pembentukan/Revitalisasi   • Mendorong   terbentuknya/revitalisasi   TKPKD   TKPKD   sesuai   Peraturan   Menteri   Dalam   Negeri   no   42   tahun   2010   tentang   Tim   Koordinasi   Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah.                     Tahapan  Siklus   Tujuan  Utama   Membangun  Komitmen   Silaturahmi   dan   Lobby   • Memperkenalkan  gambaran  umum  program   kepada  kelompok  strategis       kepada   Pemda   dan   pemangku   kepentingan   tingkat  kabupaten/kota   • Pemda   dan   seluruh   pemangku   kepentingan   mendukung  penuh  terhadap  program   2   Pelatihan  untuk  Pemda   • Merubah   paradigma   para   pelaku   mengenai   dan  Pemangku   pendekatan   pembangunan   partisipatif   Kepentingan  di  tingkat   berbasis   pemberdayaan   masyarakat.     3   Lokakarya  Orientasi  dan   • Memperkenalkan   program   yang   dilakukan   Sosialisasi  tingkat   pada   awal   program   kepada   para   pemangku   kota/kab   kepentingan.       2   Membangun  Relawan   • Mengajak   orang-­‐orang   peduli   untuk   terlibat   Kota/Kabupaten   dalam   kegiatan   penanggulangan   kemiskinan   dan   menjadi   pelopor   perubahan   di   tingkat   kota/kabupaten   3   Membangun  Komunitas   • KBP   dapat   mempengaruhi   kebijakan-­‐ No   Belajar  Perkotaan   Tahapan  Siklus   Tujuan  Utama   kebijakan     dan   tindakan   –   tindakan     yang   A   Membangun  Komitmen   dilahirkan   oleh   lembaga   /   organisasinya   masing-­‐masing   C   Siklus  Kota  :  Perencanaan  dan  Penganggaran  Pro  Poor   Analisa  Awal  Kemiskinan   • Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan   48 1   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .   • Mendorong   TKPKD   menjalankan   peran   dan   fungsi   sesuai   dengan   perundang  –  undangan   dan  memiliki  program  kerja  sehingga  TKPKD   mampu  menjadi  motor  penggerak  kebijakan   –  kebijakan.  program  dan  anggaran  pro  poor.penyebab  kemiskinan   • Pemda   dapat   melakukan   pelatihan   secara   mandiri  dapat  bekerjasama  dengan  lembaga   pelatihan   dari   luar   atau   diklat   yang   mereka   miliki.

    pembangunan   di   kota/kabupaten   untuk   menjadi   bagian   dari   pemecahan   masalah   • Membangun   kesadaran   pelaku   kemiskinan   dengan   berpartisipasi   aktif   pembangunan   di   kota/kabupaten   untuk   dalam   bagian   dari   pemecahan   masalah   menjadi  upaya   –   upaya   penanggulangan   kemiskinan.   kemiskinan     dengan   berpartisipasi   aktif   dalam   upaya   –   upaya   yg  mampu   • Menghasilan  relawan  kota   penanggulangan   kemiskinan.     Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan     kemiskinan   dan   capaian   MDGs   di   tingkat   kota/kabupaten.     • Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan   tingkat  Kota/Kabupaten   • kemiskinan   dan   capaian   MDGs   di   tingkat   Membangun   kesadaran   pelaku   kota/kabupaten.     pembangunan   di   kota/kabupaten   untuk   2   2   Analisa  kemiskinan   Partisipatif   Analisa  kemiskinan   Partisipatif   3   3   Penyusunan  Strategi   Penanggulangan   Penyusunan  Strategi   Penanggulangan   menjadi   bagian   dari   pemecahan   masalah   • Membangun   kesadaran   pelaku   kemiskinan   dengan   berpartisipasi   aktif   pembangunan   di   kota/kabupaten   untuk   dalam   bagian   dari   pemecahan   masalah   menjadi  upaya   –   upaya   penanggulangan   kemiskinan.     • Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan   • kemiskinan   dan   capaian   MDGs   di   tingkat   Membangun   kesadaran   pelaku   kota/kabupaten.     pembangunan   akan   pentingnya   pengumpulan   penggunaan   • Membangun   dan   kesadaran   data   yang   pelaku   sama  untuk  penanggulangan  kemiskinan   pembangunan   akan   pentingnya   pengumpulan  kesadaran   kritis   para   pelaku   dan   penggunaan   data   yang   • Membangun   sama  untuk  penanggulangan  kota/kabupaten   pembangunan   di   tingkat   kemiskinan   (pemerintah   dan   masyarakat   pelaku   • Membangun   kesadaran   kritis   para   peduli)   mengenai     permasalahan   dan   akar   masalah   pembangunan   di   tingkat   kota/kabupaten   kemiskinan.     pembangunan   akan   pentingnya   pengumpulan   penggunaan   • Membangun   dan   kesadaran   data   yang   pelaku   sama  untuk  penanggulangan  kemiskinan   pembangunan   akan   pentingnya   • pengumpulan  kesadaran   kritis   para   pelaku   Membangun   dan   penggunaan   data   yang   sama  untuk  penanggulangan  kota/kabupaten   pembangunan   di   tingkat   kemiskinan   (pemerintah   dan   masyarakat   pelaku   • Membangun   kesadaran   kritis   para   peduli)   mengenai     permasalahan   dan   akar   masalah   pembangunan   di   tingkat   kota/kabupaten   kemiskinan.     (pemerintah   dan   masyarakat   peduli)   • mengenai     permasalahan   dan   akar   masalah   Membangun   kesadaran   pelaku   kemiskinan.     (pemerintah   dan   masyarakat   peduli)   mengenai     permasalahan   dan   akar   masalah   • Membangun   kesadaran   pelaku   kemiskinan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 49 .   kemiskinan     dengan   berpartisipasi   aktif     dalam   upaya   –   upaya   penanggulangan   • kemiskinan.                 No   A   No   A   C   1   C   1   Tahapan  Siklus   Tujuan  Utama   Membangun  Komitmen   Tahapan  Siklus   Tujuan  Utama   masing-­‐masing   Membangun  Komitmen   Siklus  Kota  :  Perencanaan  dan  Penganggaran  Pro  Poor   Analisa  Awal  Kemiskinan   • masing-­‐masing   Mendapatkan  gambaran  awal  permasalahan   tingkat   ota  :  Perencanaan   Siklus  KKota/Kabupaten   dan  kemiskinan   dan  ro  Poor   MDGs   di   tingkat   Penganggaran  P capaian   Analisa  Awal  Kemiskinan   kota/kabupaten.     penyusunan  Dokumen   melaksanakan   • Menghasilan  relawan  kota  yg  mampu   melaksanakan  penyusunan  Dokumen   PNPM MANDIRI .

 berorientasi   • Menurunkan  pengarusutamaan   sudah   4   Penyusunan  Program   penanggulangan  kemiskinan  yang   pada  MDGs   Kemiskinan.PERKOTAAN .3.3.                          3.   Perihal  siklus  tingkat  kota  secara  rinci  dan  detail  dapat  dilihat  pada  Buku  Pedoman   Perihal siklus tingkat kota Pendampingan  tingkat  dapat dilihat pada Buku Pedoman Teknis   secara rinci dan detail Kota.   Perihal  siklus  tingkat  kota  secara  rinci  dan  detail  dapat  dilihat  pada  Buku  Pedoman   Teknis  Pendampingan  tingkat  Kota.  Indikator  Keberhasilan     3.  berorientasi   penanggulangan  PKD  ke  dalam  program  dan   termuat  dalam  S kemiskinan  yang  sudah   pada  MDGs   termuat  dalam  ebih  bke  dalam  program  dan   kegiatan  yang  l SPKD   isa  diukur  dan   kegiatan  yang  lebih  bisa  diukur  dan   dilaksanakan     • dilaksanakan  enstra  dan  program  SKPD   Mendorong  r   • Mendorong  renstra  dan  program  SKPD   memuat  isu  –  isu  kemiskinan  dan  MDGs   • memuat  isu  –  rogram  –  program  SMDGs   Mendorong  p isu  kemiskinan  dan  KPD  yang   • Mendorong  program  –  program  SKPD  yang   diusulkan  dalam  musrenbang  kecamatan   diusulkan  dalam  musrenbang  kecamatan   berdasarkan  kepada  kebutuhan  nyata   berdasarkan  kepada  kebutuhan  nyata   masyaarakat  sehingga  tidak  akan  berbeda   masyaarakat  uehingga  tsluan  warga  yang   jauh  dengan   ssulan  –  u idak  akan  berbeda   jauh  dengan  usulan  –  Dsluan  warga  yang   termuat  dalam  RPJM   ues  maupun  PJM   termuat  dalam  RPJM  Des  maupun  PJM   Pronangkis  Kelurahan/desa.   Teknis Siklus Kota No   A   No   A   Tahapan  Siklus   Membangun  Komitmen   Tahapan  Siklus   Kemiskinan  Daerah   Membangun  Komitmen   Kemiskinan  Daerah   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .  Indikator  Keberhasilan     50 Tujuan  Utama   Tujuan  Utama   Strategi  Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah   • Strategi  Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah   Tersusunnya  Dokumen  Strategi   Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah  yang   • Tersusunnya  Dokumen  Strategi   pro-­‐poor  bugeting  dan  pro-­‐poor  program   Penanggulangan  Kemiskinan  Daerah  yang   secara  partisipatif   dan  pro-­‐poor  program   pro-­‐poor  bugeting  dan  komprehensif   4   Penyusunan  Program   • secara  partisipatif  dan  komprehensif   Menurunkan  pengarusutamaan   Kemiskinan.     para  pemangku   Memberikan  laporan  kepada   Review  Partisipatif   kepentingan   l an  masyarakat  t ara  pemangku   5   • Memberikan  daporan  kepada  pentang  hasil     yang  dicapai   ari  sebuah  kebijakan/program   kepentingan  dan  masyarakat  tentang  hasil     • yang  dicapai  dari  sebuah  kebijakan/program   Melihat  pencapaian   (output/outcome/impact)  program  mampu   • Melihat  pencapaian   mengatasi  masalah  pembangunan  yang  ingin   (output/outcome/impact)  program  mampu   dipecahkan   mengatasi  masalah  pembangunan  yang  ingin   • dipecahkan   Menilai  efisiensi  dari  keluaran  dan  hasil   dibandingkan  masukan/input   • Menilai  efisiensi  dari  keluaran  dan  hasil   • dibandingkan  masukan/input  an  dampak   Menilai  efektifitas  dari  hasil  d terhadap  sasaran  program  sdan   • Menilai  efektifitas  dari  hasil  erta  dampak   • terhadap  sasaran  dampak)  serta  uatu   Menilai  manfaat  (program   dari  s program.   • Menilai  manfaat  (dampak)  dari  suatu   program.     Review  Partisipatif   5   • Pronangkis  Kelurahan/desa.

3.  di  80%   manfaat  dari   kelurahan/desa. lembaga donor serta para pihak lainnya. INDIKATOR KEBERHASILAN Indikator Keberhasilan Program PNPM Mandiri Perkotaan mengacu pada Indikator Keberhasilan PNPM Mandiri sebagaimana ditetapkan dalam Pedoman Umum PNPM Mandiri yang diterbitkan Kantor Menko Kesra.   peningkatan  kondisi   lingkungan  dan  tata   § Tingkat  kepuasan  pemanfaat  terhadap                                                                                                                                                                                                   kepemerintahan   perbaikan  pelayanan  dan  tata   yang  baik   kepemerintahan  setempat  mencapai  80%     Hasil  Antara   Komponen  1:   a. Selain itu Indikator Keberhasilan PNPM Mandiri Perkotaan juga didasarkan pada Project Appraisal Document (PAD).   § BKM/LKM  terbentuk  di  minimum  90%   kelurahan/desa.  30%  penduduk  dewasa  mengikuti   sosialisasi  perlu  diperbaiki.3.     § Min.  40%  tingkat  kehadiran  kaum  miskin  dan   § Menilai  apakah  rancangan   rentan  dalam  pertemuan2  perencanaan  dan   pembentukan  BKM/LKM  dan   pengambilan  keputusan     PJM  Pronangkis  perlu   § Min. Tabel  3. baik Kementerian Pekerjaan Umum sebagai Executing Agency. konsultan.   menyediakan  dana  pendukung:  5%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  rendah. Masyarakat  yang   terorganisasi   dengan   kebutuhan  yang   meningkat  untuk   menyuarakan   pendapatnya         b. masyarakat.  90%  dari  kelurahan/desa  telah   menyelesaikan  PJM  Pronangkis  dan  telah  di   ratifikasi  dalam  musyawarah  warga. Pemerintah   kota/kab   menyediakan   pelayanan  yang   lebih  baik  untuk   masyarakat   miskin.   kelurahan/desa   § Prasarana  lebih  murah  20%  dibandingkan   peserta  program   dengan  yang  dibangun  dengan  pola  tidak   mendapatkan   bertumpu  pada  masyarakat.   § Min.  40%  tingkat  kehadiran  perempuan   diperbaiki     dalam  pertemuan2  perencanaan  dan   § Menetapkan  bilamana  proses   pengambilan  keputusan     pemilihan  BKM/LKM  dan   § Min.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 51 Tinggi   Komponen  2:     Komponen  2:     Komponen  2:     . Indikator Keberhasilan PNPM MP menjadi rujukan bagi semua pihak dalam menilai capaian dampak maupun hasil program. pemerintah pusat dan daerah.  10%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Sedang.   Indikator  Hasil   Kegunaan  Pemantauan  Hasil   Komponen  1:   Komponen  1:   § Min.  Indikator  Keberhasilan  PNPM  MP   Tujuan  Akhir   Indikator  Dampak   Kegunaan  dari  Informasi   Dampak   Menetapkan  apakah  PNPM  MP   memberikan  dampak   kesejahteraan  sosial  dan   ekonomi  sesuai  dengan  yang   diharapkan   § Peningkatan  angka  pengeluaran  keluarga   Membantu   atau  perbaikan  akses  ke  pelayanan  ekonomi   masyarakat  miskin   dan  sosial  di  80%  kelurahan/desa  pada   perkotaan  di   tahun  2012.  80%  Pemerintah  Kota/kab.1.  15%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Tinggi  dan  20%   untuk  Pemkot/Kab  PNPM MANDIRI Sangat   dengan  IFKD  .   pemilihan  BKM/LKM  ditingkat  RT/komunitas   basis.

PERKOTAAN .  40%  tingkat  kehadiran  kaum  miskin  dan   rentan  dalam  pertemuan2  perencanaan  dan   pengambilan  keputusan     § Min.   § Min.   Komponen  2:     BKM/LKM   menyediakan   pelayanan  yang   lebih  baik  utk   masyarakat  miskin   Komponen  2:     Menentukan  apakah   dibutuhkan  tambahan  bantuan   teknik  di  bidang  tertentu.  di  80%   peningkatan  kondisi   kelurahan/desa.                      Adapun  rincian  target  capaian  dari  masing-­‐masing  indikator  terdapat  pada  Lampiran  3.   Indikator  Hasil   Komponen  1:   § Min.  90%  dari  kelurahan/desa  telah   menyelesaikan  PJM  Pronangkis  dan  telah  di   ratifikasi  dalam  musyawarah  warga.       Komponen  3:   Komponen  3:   § 90%  OC/KMW  menyediakan  data  secara   Konsultan   akurat  dan  tepat  waktu  melalui  SIM   menyediakan   bantuan  teknik  dan   § 70%  BKM/LKM  telah  menyelesaikan  audit   keuangan  tahunan     dukungan  dalam   pelaksanaan  proyek     Komponen  3:   § Menilai  apakah  bantuan   teknik  dan  dukungan   pelaksanaan  perlu   diperbaiki/ditingkatkan   § Menyediakan  data  yang   akurat  tepat  waktu  untuk   pengambilan  keputusan  di   tingkat  manajemen.   § BKM/LKM  terbentuk  di  minimum  90%   kelurahan/desa. Masyarakat  yang   terorganisasi   dengan   kebutuhan  yang   meningkat  untuk   menyuarakan   pendapatnya         b.   menyediakan  dana  pendukung:  5%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  rendah.  80%  Pemerintah  Kota/kab.   ekonomi  sesuai  dengan  yang   peserta  program   § Prasarana  lebih  murah  20%  dibandingkan   diharapkan   mendapatkan   dengan  yang  dibangun  dengan  pola  tidak   manfaat  dari   bertumpu  pada  masyarakat.     § Min.   ekonomi  dan  sosial  yang  diselesaikan  di  80%   kelurahan/desa   § Min  70%  dari  prasarana  yang  dinilai  memiliki   kwalitas  baik   § Min  90%  kelurahan/desa  dengan  program   dana  bergulir  memiliki  pinjaman  beresiko   (LAR)  ≥  3  bulan  <  10%   § Min  90%  kelurahan/desa  dengan  program   dana  bergulir  memiliki  rasio  pendapatan  dan   biaya  >  125%   § Min  90%  kelurahan/desa  dengan  program   dana  bergulir  dengan  tingkat  pengembalian   modal  tahunan  >  10%   § Min  30%  anggota  KSM  adalah  perempuan       Kegunaan  Pemantauan  Hasil   Komponen  1:   § Menilai  apakah  rancangan   pembentukan  BKM/LKM  dan   PJM  Pronangkis  perlu   diperbaiki     § Menetapkan  bilamana  proses   pemilihan  BKM/LKM  dan   sosialisasi  perlu  diperbaiki.   52 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .   lingkungan  dan  tata   § Tingkat  kepuasan  pemanfaat  terhadap                                                                                                                                                                                                                                             kepemerintahan   perbaikan  pelayanan  dan  tata   yang  baik   kepemerintahan  setempat  mencapai  80%     Hasil  Antara   Komponen  1:   a.Membantu   § Peningkatan  angka  pengeluaran  keluarga   Menetapkan  apakah  PNPM  MP   masyarakat  miskin   atau  perbaikan  akses  ke  pelayanan  ekonomi   memberikan  dampak   perkotaan  di   dan  sosial  di  80%  kelurahan/desa  pada   kesejahteraan  sosial  dan   kelurahan/desa   tahun  2012.  30%  penduduk  dewasa  mengikuti   pemilihan  BKM/LKM  ditingkat  RT/komunitas   basis. Pemerintah   kota/kab   menyediakan   pelayanan  yang   lebih  baik  untuk   masyarakat   miskin.  40%  tingkat  kehadiran  perempuan   dalam  pertemuan2  perencanaan  dan   pengambilan  keputusan     § Min.  15%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Tinggi  dan  20%   untuk  Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Sangat   Tinggi   Komponen  2:     § Jumlah  dari  setiap  kegiatan  prasarana.  10%  untuk   Pemkot/Kab  dengan  IFKD  Sedang.

perkembangan organisasi dan kegiatan BKM/LKM/UP-UP.4. serta informasi-informasi lain terkait dengan penangulangan kemiskinan di kelurahan/ desa tsb. unsur masyarakat dan atau pemantau independen yang dapat dilakukan setiap saat serta audit independen yang dilakukan sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun. leaflet atau buletin. laporan keuangan. Oleh sebab itu BKM/LKM wajib menyebarluaskan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan. juga wajib dilaksanakan berdasarkan prinsip PNPM MANDIRI . Penerapan Di Tataran Kelurahan/Masyarakat a) Transparansi Pada dasarnya transparansi ini merupakan kewajiban yang dipercaya. • Penyebarluasan melalui surat kepada KSM-KSM dan masyarakat • Pembuatan dan penyebarluasan media warga. kegiatan sosial. yang berisi informasi BKM/LKM dan informasi KSM. KSM dgn anggota KSM yang memperoleh pinjaman beserta besarnya pinjaman dan perkembangan angsuran.3. UP-UP serta pelaku PNPM MP di tingkat kelurahan/desa harus bersifat terbuka memberikan informasi dan data-data yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pemeriksaan oleh OC/KMW.1.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 53 . minimal di 5 lokasi.4. • Laporan triwulanan kepada Forum Relawan b) Akuntabilitas Selain wajib menerapkan prinsip transparansi dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan kegiatan serta keuangan. Jenis papan informasi yang diperlukan adalah papan informasi kegiatan program. dengan ukuran dan bentuk yang mudah dilihat dan dibaca oleh semua warga. dll • Melakukan audit tahunan BKM/LKM dan hasilnya disebar luaskan ke masyarakat melalui rapat tahunan pertanggung jawaban BKM/LKM (lihat akuntabilitas) • BKM/LKM. dengan muatan/isi yang bervariasi sesuai perkembangan dll. yang dalam hal ini adalah BKM/LKM untuk menunjukkan kepada warga bahwa anggota BKM/LKM masih tetap seperti saat dipilih. dengan cara: • Penempelan melalui papan-papan informasi di tempat-tempat yang strategis. panitia dan masyarakat. • Pertemuan-pertemuan rutin dengan KSM. informasi kegiatan pembangunan. Artinya tidak berubah masih tetap mempertahankan nilai-nilai yang menyebabkan mereka dipilih dan tidak menyimpangkan kepercayaan yang diberikan kepada mereka. perangkat pemerintah. PJM dan Renta Pronangkis. RENCANA TINDAK TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK DAN PENGAMANAN 3.

Keppres. Rapat bertujuan selain membahas berbagai masalah dan perkembangan yang ada. BKM/LKM mengadakan rapat evaluasi keputusan untuk ditetapkan sebagai keputusan yang mengikat atau disempurnakan terlebih dahulu sebelum ditetapkan. KSM. Hasil rapat bulanan tersebut disampaikan BKM/LKM kepada KSM. juga membahas rencana BKM/LKM untuk bulan berikutnya. berdasarkan masukan masyarakat yang telah diterima. Penerapan prinsip akuntabilitas harus ditaati secara konsisten oleh semua pelaku PNPM MP. Oleh sebab itu unit pengambilan keputusan seperti BKM/LKM harus melaksanakan proses pengambilan keputusan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Peta Kemiskinan. d) Rapat Koordinasi Triwulan BKM/LKM dengan Masyarakat Anggota-anggota BKM/LKM wajib mengadakan pertemuan koordinasi triwulanan atau sesuai ketentuan AD/ART dengan mengundang seluruh gugus tugas (UP-UP). dan Forum Relawan (sbg unsure masyarakat) untuk menyampaikan perkembangan kegiatan. e) Rapat Bulanan Anggota BKM/LKM Anggota BKM/LKM berkewajiban menyelenggarakan pertemuaan rutin anggota-angota BKM/LKM sekurang-kurangnya satu bulan sekali. bertanya dan atau menggugat pertanggunganjawaban para pengambil keputusan. membahas permasalahan serta merencanakan kegiatan triwulan berikutnya. Pencairan dana BLM. masyarakat dan pemerintah kelurahan/desa. misalnya Pedoman PNPM MP. dsb Untuk tataran masyarakat antara lain dapat dilakukan sebagai berikut : c) Konsultasi Publik Dalam hal BKM/LKM mengambil keputusan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak (misalnya. 54 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Akuntabilitas ini pada dasarnya dapat diterapkan dengan memberikan akses kepada semua pihak yang berkepentingan untuk melakukan audit. tanpa terkecuali.PERKOTAAN .akuntabilitas. termasuk ditataran masyarakat. Pronangkis. AD/ART. KSM penerima manfaat dll). Maksimal dua minggu setelah pelaksanaan konsultasi publik. maka keputusan yang ditetapkan oleh BKM/LKM harus dikonsultasikan ke masyarakat melalui penyebarluasan dan penempelan keputusan tersebut di tempat-tempat strategis.

yang terdiri dari orang-orang peduli dan ikhlas. RTW sekaligus mengesahkan hasil-hasil review partisipatif dan mengesahkan rencana program tahun berikutnya. perangkat pemerintah kelurahan/desa dan kelompok peduli setempat. maka BKM/LKM wajib melakukan audit tahunan termasuk semua unit-unitnya (UP-UP). pemerintah kelurahan/desa dan kelompok peduli terkait perlu menyelenggarakan rembug para-pihak di tingkat kelurahan/desa yang dilaksanakan untuk mengambil keputusan mengenai program perbaikan pelayanan public (good governance) h) Komunitas Belajar Kelurahan/desa BKM/LKM.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 55 . melalui utusan-utusan yang dipilih langsung dari setiap RT/RW. melalui UPS. apabila dibutuhkan dan sesuai dengan AD/ART BKM/LKM. i) Audit dan Pemeriksaan Dalam rangka pelaksanaan akuntabilitas ini. Fungsi utama KBK adalah turut membantu masyarakat setempat dalam rangka menjaga dan melembagakan penerapan nilai-nilai serta prinsip-prinsip universal. g) Rembug Para-Pihak Terkait di Tingkat Kelurahan/desa BKM/LKM. dalam forum kajian reflektif yang disebut dengan Komunitas Belajar Kelurahan/desa (KBK). Masyarakat.f) Rapat Tahunan Warga BKM/LKM wajib menyelenggarakan Rapat Tahunan BKM/LKM yang dilaksanakan minimal satu tahun sekali. dapat menerima atau menolak pertanggungjawaban anggota BKM/LKM tersebut serta menetapkan untuk memperpanjang atau mengganti anggota BKM/LKM. mengkoordinir relawan-relawan setempat. keberadaan KBK juga sebagai embrio dan pondasi untuk mendorong keberlanjutan PNPM MP oleh masyarakat secara mandiri. sehingga kontrol sosial masyarakat tetap terbangun dan BKM/LKM serta UP-UP tetap berorientasi pada perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin maupun pembangunan kelurahan/desa di wilayahnya. Rapat tahunan BKM/LKM tersebut disamping sebagai pertanggung jawaban kegiatan dan keuangan kepada masyarakat (termasuk penyampaian hasil audit) juga dapat sekaligus untuk melakukan penyegaran anggota BKM/LKM. Pada akhirnya. Audit ini harus dilakukan oleh auditor PNPM MANDIRI .

konsep. 3. semua informasi yang berkaitan dengan kegiatan dan keuangan dana bantuan PNPM MP harus dipublikasikan dan disebarluaskan kepada masyarakat luas serta pihak-pihak lainnya secara terbuka melalui papan-papan informasi dan bulletin di tingkat kelurahan/desa. BKM/LKM dengan semua unitnya harus terbuka terhadap berbagai pemeriksaan. baik dari manajemen Program. Karena BGAP yang diterapkan untuk PNPM MP-III tetap relevan. Selain itu.indipenden dan hasilnya disebarluaskan kesemua pihak terkait sesuai ketentuan. Awalnya BGAP (Better Governance Action Plan) diadopsi di bawah PNPM MP-III. pengambilan keputusan. PNPM MP juga berupaya mendorong masyarakat luas untuk memahami hak mereka atas segala informasi yang berkaitan dengan pengelolaan 56 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . a) Penyelenggaraan Transparansi dan Akuntabilitas Transparansi Transparansi dalam pelaksanaan PNPM MP pada dasarnya dapat diterapkan dengan membuka akses kepada semua pihak yang berkepentingan ataupun membutuhkan informasi-informasi mengenai PNPM MP. Disamping itu. akan tetap diadopsi dalam proyek ini. • Penanggulangan kolusi. dan • sanksi dan penyelesaian. dan diajarkan untuk semua fasilitator dan dipublikasikan di website. • Mekanisme penanganan pengaduan. Penerapan Di Tataran Penyelenggara “Rencana Aksi Tata Kepemerintahan yang Lebih Baik “ ini adalah hasil dari upaya kerjasama antara Bank Dunia dan Pemerintah untuk memetakan risiko korupsi dan mengidentifikasi langkah-langkah yang spesifik untuk mengurangi risiko tersebut. Dalam hal ini.2. serta informasi-informasi lainnya dari para pelaku PNPM MP. Di sisi lain. daerah dan masyarakat . Ringkasan BGAP tersebut tersaji pada lampiran 4. pemerintah maupun masyarakat. dan berbagai media yang dimungkinkan cetakan dan elektronik termasuk situs-web. perkembangan kegiatan dan keuangan. • Pengawasan oleh masyarakat. langkah-langkah untuk pengungkapan pembayaran konsultan akan diperkuat. unsur utama dari BGAP meliputi: • Meningkatkan keterbukaan dan transparansi. Sebagian besar strategi utama telah memuaskan dilaksanakan. BGAP akan dimasukkan dalam Pedoman Pelaksanaan. kebijakan.PERKOTAAN .4. penipuan dan nepotisme. termasuk penyebarluasan catatan pembayaran kepada operator utama proyek. baik di tingkat proyek.

mengenai apa saja yang disediakan proyek ke masyarakat dan Pemerintah kota/ kabupaten serta sejauh mana pencapaian proyek. radio. baik dari segi finansial maupun PNPM MANDIRI . antara lain. Transparansi dalam pelaksanaan PNPM MP ini harus dilakukan di semua tataran. • PMU/Satker wajib mengembangkan dan mengelola situs jaringan internet (Website) yang dapat dengan mudah diakses oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap proyek PNPM MP dan masyarakat untuk mendapatkan gambaran terkini dari perkembangan PNPM MP. televisi dan koran. (1) mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan-penyimpangan melalui proses pengendalian diri dan membudayakan integritas para pelaku untuk selalu akuntabel akan apa yang diamatkan kepada mereka. seperti antara lain. harus melakukan hal-hal sebagai berikut : • Secara periodik wajib mendiseminasikan proyek PNPM MP ini secara luas melalui berbagai media masa seperti antara lain. serta (5) agar pelaksanaan PNPM MP dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan. dan • PMU/Satker juga wajib menyelenggarakan audit proyek baik dari segi finansial dan manajemen yang hasilnya dilaporkan ke semua pihak terkait. • Kepada penanggung jawab Dana BLM harus dilakukan audit menjelang akhir tahun anggaran oleh indipenden auditor.kegiatan serta dana bantuan PNPM MP oleh para pelaku-pelaku PNPM MP. prinsip dan nilai PNPM MP. Penerapan transparansi lebih ditekankan kepada para pelaku yang menerima amat untuk melaksanakan PNPM MP secara konsisten dengan maksud. (3) menghindarkan salah informasi dan salah persepsi. (2) membangun kesadaran masyarakat untuk melakukan kontrol sosial. radio. Di tataran daerah Untuk menjaga transparansi pengelolaan proyek di daerah. maka di tataran penyelenggara harus dilakukan hal-hal sebagai berikut: • Secara periodik PMU/Satker wajib mendiseminasikan proyek PNPM MP secara luas. melalui berbagai media masa. maka pemerintah kota/kabupaten. televisi daerah dan koran mengenai apa saja yang ditawarkan oleh proyek ke masyarakat dan sejauh mana pencapaian proyek serta penggunaan Dana BLM. antara lain sebagai berikut: Di tataran penyelenggara proyek Untuk menjaga agar transparansi pengelolaan proyek ini dapat selalu dijaga. khususnya penanggung jawab anggaran PNPM MP. (4) membangun kepercayaan semua pihak (trust building) terhadap pelaksanaan PNPM MP secara keseluruhan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 57 .

yang hasilnya dilaporkan ke semua pihak terkait. serta kantor-kantor bank pemerintah yang ditunjuk sebagai penyalur dana.PERKOTAAN . Jenis audit dalam pelaksanaan PNPM MP. 58 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .5. Dengan demikian harus disusun secara periodik ada kegiatan menyebar luaskan informasi perkembangan PNPM di nasional maupun di daerah baik di koran. PENYELENGGARAAN AUDIT DAN PEMANTAUAN Selain pantauan partisipatif yang dilakukan sendiri oleh para pelaku di semua tingkatan. a) Audit oleh Instansi Pemerintah untuk Seluruh Pelaku Sebagaimana semua proyek/program pemerintah lainnya. di atas dalam buku pedoman ini) Akuntabilitas Di tataran proyek dan daerah akuntabilitas ini dapat dibangun dengan meningkatkan tranparansi melalui berbagai media baik media cetak maupun elektronik.• manajemen. Disamping itu PMU harus memastikan bahwa berbagai informasi yang harus sampai ke masyarakat luas juga disebar luaskan melalui situs jaringan internet (web site) yang secara periodik (tiap bulan) diperbaharui. radio. akan dilakukan pula audit dan pemantauan oleh pihak-pihak yang tidak terlibat secara langsung dalam proses pendampingan.1. Audit dilakukan sekali setiap tahun terhadap KSM. melalui jajaran konsultan sampai dengan fasilitator di lapangan. 3. maupun televisi. Di tataran masyarakat (Lihat Bagian 3.5. maka PNPM MP juga akan diaudit oleh BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan). para konsultan pelaksana. BKM/LKM/UP.4. dan Menjamin pelaksanaan pemeriksaan pengelolaan keuangan proyek yang dilakukan oleh BPKP maupun auditor independen kepada pelaku-pelaku PNPM MP di wilayahnya masing-masing. 3. Artinya bahwa pemerintah (proyek PNPM MP) mempercayakan pelaksanaan audit kepada BPKP. PJOK. Untuk PMU melalui KMP (Konsultan Manajemen Pusat) mengkonsolidasikan berbagai informasi yang diperlukan.1. Lembaga-lembaga pemeriksa akan mengkoordinasikan kegiatan ini untuk menghindari duplikasi antar mereka.

Sedangkan audit terhadap UP-UP (UPL. dan bank yang ditunjuk harus mendokumentasikan catatan-catatan kegiatannya selama tiga tahun dan menyerahkannya kepada auditor independen bila diminta. dan bank. • bukan warga kelurahan/desa di mana BKM/LKM yang akan diaudit berada. titik berat pemeriksaan adalah pada ada atau tidaknya penyimpangan. sedangkan bagi KSM dan BKM/LKM/UP. dan Para-pihak terkait harus mengauditkan diri kepada auditor independen. konsultan pelaksana. b) Audit Independen untuk Pelaksana Kegiatan PNPM MP Masyarakat perlu menyadari pentingnya penilaian pihak luar untuk membuktikan telah dijalankannya prinsip transparansi dan akuntabilitas. Laporan pemeriksaan BPKP harus selesai pada setiap akhir bulan Maret bagi pengeluaran yang terjadi pada tahun fiskal sebelumnya. setiap tahun semua lembaga yang langsung terkait sebagai pelaksana lapangan PNPM MP. yang dikelola oleh masing-masing UP. administrasi pembukuan. para konsultan pelaksana. BKM/LKM/UP. • bersedia mengikuti briefing atau pengarahan dari OC/KMW tentang model kelembagaan “BKM/LKM”. Ketentuan pokok mengenai audit independen adalah sebagai berikut: 1) BKM/LKM melalui musyawarah anggota menyewa auditor independen untuk melakukan audit di lembaga masing-masing dan pihak mitra kerja masingmasing. dan PNPM MANDIRI .Bagi instansi pemerintah pelaksana PNPM MP. Audit oleh auditor independen terhadap BKM/LKM selama masa proyek PNPM MP lebih dititikberatkan pada aspek penyerapan dan penyaluran dana BLM tahap 1 hingga tahap 2. KSM. Audit BPKP terhadap BKM/LKM selama masa proyek PNPM MP lebih dititikberatkan pada aspek substantif. baik untuk aspek keuangan maupun untuk aspek manajemen. lebih pada pendidikan dan pembelajaran masyarakat tentang penatabukuan yang sehat. yang dikelola oleh masing-masing UP.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 59 . dan keuangan. UPS dan UPK) difokuskan pada audit kegiatan. Sedangkan audit BPKP terhadap UP-UP (UPL. Biaya audit wajib dialokasikan oleh BKM/LKM sendiri sebagai bagian biaya operasional pelaksanaan (BOP). sistem pembukuan PNPM MP. 2) Auditor independen harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: • Akuntan Publik yang terdaftar di Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). UPS dan UPK) difokuskan pada audit administrasi pembukuan dan keuangan. Untuk itu. BKM/LKM.

harus dibangun mekanisme pengendalian sosial (social control). Kelompok pemantau independen dapat menyampaikan informasi temuannya kepada rembug-rembug warga kelurahan/desa atau instansi yang berwenang menangani hal tersebut. terutama untuk memeriksa apakah proses pelembagaan di masyarakat dan proses pendampingan yang dilakukan instansi pemerintah pelaksana PNPM MP dan para konsultan pelaksana telah dilakukan sebagaimana mestinya. dan berijasah minimal S-1 akuntansi).• cakupan audit (biaya pengarahan ditanggung oleh auditor). masyarakat kelurahan/desa yang peduli pada PNPM MP dan memiliki komitmen terhadap penanggulangan kemiskinan dapat membentuk Kelompok pemantau independen PNPM MP atau sejenisnya. 3. penyebarlausan salinan hasil audit kepada masyarakat dan dimasukkan ke dalam laporan tahunan dan laporan pertanggungjawaban BKM/LKM. Untuk menyiapkan BKM/LKM (termasuk UP-UP-nya) mengikuti berbagai macam audit tersebut.PERKOTAAN . calon auditor benar-benar bukan warga kelurahan/desa di mana BKM/LKM yang akan diaudit berada. Inisiatif masyarakat untuk mengawasi pelaksanaan PNPM MP harus diakomodasi oleh BKM/ LKM dengan memberikan kemudahan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan mereka.5. Audit independen harus dilakukan setiap tahun selambat-lambatnya satu bulan setelah tutup tahun buku. lulus pengujian yang dilakukan oleh OC/KMW (pengujian hanya dilakukan atas: kesediaan mengikuti pengarahan dan melakukan audit sesuai isi pengarahan. 3) Hasil audit diumumkan oleh BKM/LKM dan para pihak terkait kepada masyarakat baik dengan cara ditempelkan di papan pengumuman.5. Tim khusus ini dapat dibentuk sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu baik keberadaan maupun jadwal pemeriksaannya kepada para pelaku. Kelompok Pemantau Independen PNPM MP Disamping audit resmi tersebut. Meskipun demikian.2. Monitoring Independen oleh Tim Khusus Pemerintah atau perwakilan Bank Dunia dapat membentuk tim khusus di luar yang telah ada untuk melakukan monitoring independen atas pelaksanaan PNPM MP. atau kepada unit pengaduan masyarakat (UPM) yang ada. Kelompok pemantau independen tetap tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan sanksi ataupun kebijakan terhadap BKM/LKM. 3.3. Untuk itu. 60 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

6.2. di wilayah kerja masingmasing. serta • Sanksi pembatalan/pencabutan dana. artinya merupakan keputusan/ hasil rembug warga atau bersifat non-formal dalam bentuk sanksi social. Penetapan dan Penerapan Sanksi Penerapan sanksi merupakan konsekuensi logis dari penegakan prinsip akuntabilitas yang bertujuan untuk menghukum yang salah dan menyebarkan kebajikan dengan menumbuhkan rasa tanggungjawab dari berbagai pihak terkait dalam melaksanakan PNPM MP.terutama audit manajemen dan audit pendanaan. sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Sehingga warga masyarakat miskin yang seharusnya merasakan manfaat program tidak dirugikan dan program dapat berjalan dengan baik serta berkelanjutan. Verifikasi dilakukan oleh tenaga ahli OC/KMW untuk mengecek kesiapan BKM/LKM dalam menerima audit independen. . b) Penerapan sanksi oleh masyarakat Sanksi yang diterapkan masyarakat dapat bersifat formal.1. penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok tertentu. 3. Pengertian Sanksi adalah pemberlakuan hukuman terhadap pelanggaran ketentuan dan/atau aturan yang telah ditetapkan dalam Pedoman PNPM maupun aturan yang ditetapkan masyarakat.6.6. Mekanisme penetapan dan penerapan sanksi yang lazim dilakukan melalui : PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 61 . sebagaimana tercantum pada AD/ART BKM/LKM. a) Penetapan dan penerapan sanksi oleh Pemerintah Pemerintah dapat menetapkan dan menerapkan sanksi dalam bentuk : • Sanksi hukum yang dapat dikenakan pada perangkat pemerintah. terhadap upaya dan/atau penyalahgunaan dana. pengurus BKM/LKM/UP dan warga masyarakat. SANKSI 3. OC/KMW perlu terlebih dahulu mengadakan verifikasi manajemen dan pembukuan kepada semua BKM/LKM. yaitu suatu bentuk sanksi dengan dibatalkan/tidak dialokasikannya dana BLM pada tahap atau tahun berikutnya. konsultan. Ketentuan mengenai pembatalan dana dimaksud dapat dibaca pada ketentuan umum penggunaan dana BLM. tindak korupsi. 3.

1. Media pengaduan dapat berupa lisan. dengan mengunakan media-media yang diinginkan. dsb . PENGADUAN DAN PENYELESAIAN KONFLIK 3. pengadu dapat menyampaikan pengaduan baik pada PPM (Pengelolaan Pengaduan Masyarakat) tempat keberadaan pengadu maupun kepada PPM yang ada di seluruh tingkat. tertulis. Penanganan Pengaduan Pengaduan pada dasarnya merupakan aspirasi. 62 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .7. 3.PERKOTAAN . dan/atau BKM/LKM dianggap tidak lagi mencerminkan kriteria sebagai pimpinan kolektif organisasi masyarakat warga. maka masyarakat kelurahan/desa berhak untuk membubarkan sebagian atau keseluruhan anggota BKM/LKM serta memilih penggantinya melalui mekanisme Rembug Warga Kelurahan/desa. rembug warga tingkat dusun dan akhirnya rembug warga tingkat kelurahan/desa. Dalam hal masyarakat melihat terjadi penyimpangan prinsip serta nilai universal oleh anggota BKM/LKM dan/atau terdapat keputusan BKM/LKM yang ditolak oleh sebagian besar warga.7. Pangaduan dari siapapun dan darimanapun harus mudah untuk disampaikan.• Rembug Warga Kelurahan/desa Rembug warga merupakan mekanisme yang lazim digunakan dalam menetapkan sanksi dan penerapannya. 1) Prinsip Penanganan Pengaduan Sistem penanganan pengaduan di PNPM MP didasarkan prinsip sebagai berikut : a) Kemudahan. Mekanisme rembug warga kelurahan/desa diawali dengan rembug warga tingkat RT/RW. yang relatif melibatkan banyak orang. SMS. baik ke pelaku PNPM MP. Sanksi yang ditetapkan dan diterapkan pada umumnya adalah bersifat sanksi sosial misalnya pengucilan dari kelompok. Pengaduan dapat disampaikan dalam bentuk lisan maupun tertulis. keluhan ataupun ketidakpuasan terhadap implementasi PNPM MP. sering kali juga dilakukan musyawarah kelompok untuk membahas persoalan di tingkat kelompok. Untuk itu. telepon. • Musyawarah kelompok Selain mekanisme rembug warga. media massa dll. Melalui rembug warga ini dapat ditetapkan sanksi sosial dan atau sanksi hukum yaitu dengan menyerahkan oknum yang melakukan penyimpangan ke pihak yang berwajib.

Apabila PPM tingkat kelurahan/desa tidak mampu untuk menangani.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 63 . Namun demikian. yang masing-masing bekerja secara independen dalam suatu jejaring pengaduan masyarakat. Demikian seterusnya. daerah dan masyarakat/ komunitas. Demikian juga keberadaan PPM di seluruh tingkatan harus diketahui oleh masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan. pelaku PNPM MP maupun keberadaan PPM sendiri. Tepat dan Tanggap. Hal ini dapat menumbuhkan kepercayaan terhadap pelaksanaan PNPM MP (atau kegiatan pembangunan lainnya). Hal ini dimaksudkan agar penangan pengaduan dapat ditangani dengan cepat. b) Cepat. baik pemerintah d) 2) a) PNPM MANDIRI . Di samping itu apabila pengaduan dapat diselesaikan di PPM bersangkutan. Penyampaian informasi kemajuan/status penanganan pengaduan kepada: pengadu atau pihak lain yang berkepentingan sangat penting dilakukan. apabila pengaduan tersebut tidak dapat dikelola di PPM bersangkutan karena keterbatasan otoritas penanganan di tingkat PPM bersangkutan. KMP wajib bekerjasama dengan semua pihak peduli termasuk para pemangku kepentingan (stakeholders). Untuk itu. Pengaduan sedapat mungkin dapat diselesaikan di setiap tingkat PPM asal pengadu. tepat dan menguntungkan semua pihak. dapat menjadi media pembelajaran dan pemberdayaan bagi seluruh pihak di level bersangkutan. c) PPM di tingkat yang lebih tinggi harus segera menangani pengaduan yang berasal dari PPM di bawahnya dan segera menyampaikan informasi penanganan serta hasil pengaduan kepada pengadu dan pihak lain yang berkepentingan. maka secepat mungkin sampaikan kepada PPM di tingkat yang lebih tinggi. Untuk itu penanganan pengaduan haruslah tuntas dan memberikan jawaban yang tepat atas persoalan/masalah yang diadukan Manajemen Pengaduan Pembentukan Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (PPM) KMP wajib membangun dan memfasilitasi jaringan Pengelolaan pengaduan masyarakat (PPM) di semua wilayah kerja. Untuk itu mekanisme dan prosedur penanganan pengaduan harus jelas dan dapat diimplementasikan di seluruh tingkatan. maka pengaduan harus segera disampaikan pada PPM di tingkat yang lebih tinggi. pusat.web-site dan media lain yang dapat dipergunakan.

PERKOTAAN . Penyampaian dapat dilakukan dengan berbagai cara: lisan. Sebagai contoh jenis pengaduan dapat dikelompokkan dalam kategori: penyimpangan dana. Untuk memudahkan penyampaian pengaduan. c) Penyelesaian Pengaduan Pada dasarnya adanya pengaduan dari masyarakat menandakan ketidakpuasan dan sengketa antara masyarakat dengan pelaku Program. sms. Untuk itu. maka pengaduan dapat disampaikan ke unit pengaduan masyarakat (UPM) terdekat. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pelaporan dan penanganan penyelesaian pengaduan. Walaupun pada tiap tingkatan pelaku program dikembangkan unit pengaduan. force majeur. hal ini untuk menjamin kesinambungan program setelah Program selesai. Simpul-simpul jaringan tersebut diharapkan akan membentuk PPM-PPM dan akan tetap berfungsi secara berkelanjutan. surat/kotak pos. sehingga diperlukan campur tangan pihak ketiga. Untuk memudahkan penanganan perlu dikembangkan klasifikasi masalah yang bersifat standar dan terkait dengan Sistem Informasi Manajemen (SIM). b) Penyampaian dan Penerimaan Pengaduan serta Keluhan Pengaduan dan keluhan dapat berasal dari perorangan atau kelompok masyarakat. Sebetulnya yang paling baik adalah penyelesaian sengketa dengan cara musyawarah dan mufakat. baik itu sengketa horisontal maupun vertikal. sebagai bagian dari partisipasi masyarakat dalam mengawal pembangunan. kode etik. Namun kenyataannya upaya penyelesaian sengketa dengan cara ini tidak selalu terjadi dengan mudah. dan lainnya. Penyelesaian Secara Hukum Proses penyelesaian secara hukum untuk pengaduan tentang ketidakpuasan maupun sengketa antara masyarakat dengan pelaku Program. akan tetapi yang paling strategis adalah memusatkan pengelolaan pengaduan di tingkat masyarakat atau BKM/LKM. intervensi negatif. dalam rangka membangun simpul-simpul jaringan pengaduan masyarakat di tiap wilayah kerja PNPM MP (pusat. Pencatatan pengaduan dan keluhan pada tiap UPM (Unit Pengaduan Masyarakat) harus dilakukan pada saat penerimaan. dapat dilakukan dalam hal: d) 64 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . email dan sebagainya. telepon bebas pulsa. baik itu sengketa horisontal maupun vertikal. perubahan kebijakan. Artinya penyelesaian pengaduan juga mengacu pada proses penyelesaian sengketa. daerah dan masyarakat).maupun non-pemerintah. fax. berbagai cara lain yang juga dapat dipakai untuk penyelesaian pengaduan adalah melalui arbitrase dan hukum.

rekomendasi dan informasi. konfirmasi.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 65 . Selanjutnya dari hasil konfirmasi.1. UPM membuat rekomendasi kepada pihak yang berwenang menangani masalahnya. Untuk PNPM MP. maka BKM/LKM adalah lembaga yang paling banyak mendapatkan rekomendasi untuk menyelesaikan masalahnya.• • Sengketa tidak dapat didamaikan melalui mekanisme penanganan pengaduan yang disiapkan di PNPM MP. Hasil investigasi yang dilakukan oleh UPM (Unit Pengelola Pengaduan Masyarakat) harus dikonfirmasikan kepada pihak terkait yang tepat. di halaman berikut: PNPM MANDIRI . Terdapat indikasi kuat bahwa persoalan atau peristiwa tersebut berkaitan dengan pelanggaran hukum (pidana maupun perdata). Pada dasarnya penanganan pengaduan dilakukan melalui proses investigasi. Secara diagramatis mekanisme penanganan pengaduan tersebut diatas dapat dilihat pada Bagan 3.

PERKOTAAN . PROFESI.BOX 2222 JKPMT TIM KOORDINASI NASIONAL Koordinasi Penyelesaian KMP Derajat Masalah 4 Dapat Diselesai kan ? PEMDA Prov. KEL. SMS PO. PEDULI Garis Penyelesaian Garis Pengaduan Garis Distribusi Penyelesaian 66 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . LSM. KEL. PT. Telepon.1.    Mekanisme  Penanganan  Pengaduan   Satker PNPM Mandiri PerkotaanRESPEK Tidak Dapat Diselesai kan ? Ya Tidak E-mail. PPM Provinsi Ya OC/KMW Derajat Masalah 3 Tidak Dapat Diselesai kan ? Ya TKPP Kota/Kab.           Bagan  3. Web. Derajat Masalah 2 KORKOT PPM Kab/ Kota FKA LKM Camat PJOK / TIM FASILITATOR Tidak LKM FASILITATOR / RELAWAN Derajat Masalah 1 Lurah/Kades Kantor Kel./ Desa PPM LKM Dapat Diselesai kan ? Ya MASYARAKAT.

• Kelola konflik melalui pengurangan atau penghindaran kekerasan maupun tindakan yang menjurus kekerasan. Program ini merupakan perluasan dari P2KP. apakah konflik laten.8. Pendahuluan 1. KEBIJAKAN PENGAMANAN 3. Formulasikan rencana tindak penanganan konflik. Identifikasi jenis konflik. dengan sebagian besar kecil skala sub-proyek (yaitu toilet umum.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 67 . c.3. sedangkan untuk kegiatan P2KP (P2KP-2. dengan cara mengembangkan tindakan serta perilaku positif yang melibatkan semua pihak atau pelaku. perbaikan perumahan. dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut: a. b.8. dengan cara mentransformasi kekuatan negatif menjadi kekuatan-kekuatan positif. P2KP AF.8. Telah dilaksanakan untuk P2KP-1. yang dapat dikategorikan sebagai berikut: • Cegah terjadinya konflik sejak dini agar terhindar dari munculnya konflik yang lebih luas dan keras. dan P2KP-3) dan PNPM Perkotaan I dan AF berada di bawah pelaksanaan. dll) saat ini sedang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat. 3. • Selesaikan konflik melalui pengakhiran kekerasan dan pertengkaran. Perihal pengaduan masyarakat dan pengelolaan konflik secara rinci dan detail dapat dilihat pada Buku Pedoman Teknis Pengelolaan Pengaduan Masyarakat. Penanganan Konflik Beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan konflik antara dua pihak atau lebih. yang membutuhkan pendekatan berbeda dalam penanganannya. Konflik laten merupakan konflik tersembunyi yang perlu diidentifikasi sejak awal. Langkah-langkah pengamanan sejauh PNPM MANDIRI . fasilitas air. Identifikasi akar persoalan dari konflik yang terjadi. jalan lokal. konflik terbuka ataukah konflik permukaan.2. PNPM Perkotaan dan kegiatan Additional Financing (AF) dari kelurahan/desa yang sebelumnya ke kelurahan/ desa baru. drainase dan sanitasi. proyek ini tetap sebagai Kategori B. Sehubungan dengan isu lingkungan.1. serta • Transformasikan konflik melalui investigasi mendalam secara partisipatif untuk menyelesaikan akar konflik. Proyek ini akan menggunakan kebijakan perlindungan yang telah diadopsi oleh proyek P2KP dan PNPM Perkotaan I dan Pendanaan Tambahan (AF).

terutama di wilayah Perkotaan. meninjau serta menerapkan prosedur penandaan sesuai tingkat risiko yg mungkin terjadi untuk menjamin setiap masalah lingkungan yang terjadi dapat diatasi dan ditandai. Prosedur pengelolaan lingkungan yang resmi digunakan di Indonesia secara umum sama dengan prosedur yang diterapkan oleh Bank Dunia dalam pendekatan PNPM MP. terutama untuk skala kecil sub-proyek investasi 3.8. Tidak diperkenankan untuk membuat suatu kegiatan yang skalanya besar dan kegiatan yang dampaknya tidak dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. PNPM MP berharap dapat menyediakan pembangunan infrastruktur (pagu untuk satu sub-proyek yang diusulkan KSM paling tinggi sebesar Rp.2. Kerangka Kebijakan Pembebasan Lahan dan Permukiman kembali Sebagai sebuah program. 3. Namun demikian. Annex A 3. 68 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . PNPM MP berinvestasi pada sejumlah besar sub-proyek di area miskin di perkotaan. Uraian lengkap tentang prosedur pengelolaan lingkungan dapat dilihat pada Lampiran 5. PNPM MP akan membiayai usulan kegiatan masyarakat yang ada dalam PJM Pronangkis kelurahan/desa seperti sarana prasarana dasar lingkungan. Melalui BLM. dan akan terus diperbarui untuk mengakomodasi pelajaran berkaitan masalah pengamanan. dalam hal ini PNPM MP akan melembagakan mekanisme pemeriksaan. Program ini akan mengadopsi Pedoman Lingkungan. Melalui komponen dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). terutama masyarakat miskin. Berikut ini rangkuman pengalaman di P2KP-2 dan P2KP3 berkaitan dengan isu-isu kebijakan upaya perlindungan.PERKOTAAN .8. kegiatan ekonomi produktif dan program sosial yang berkelanjutan. 100 juta ). ini telah memadai untuk mengurangi masalah pengamanan. Umumnya dampak lingkungan terjadi dari manajemen pembangunan di lokasi miskin selama konstruksi berlangsung. PNPM MP akan mendukung sejumlah bantuan skala kecil (subproyek).3. Oleh sebab itu program ini oleh Bank Dunia ini diberi katagori B untuk klasifikasi lingkungan hidup. Oleh karena program ini relatif kecil. Pengelolaan Lingkungan Sebagai program yang sangat terdesentralisasi. maka diharapkan tidak ada dampak yang signifikan.2. Pembebasan Tanah dan Kerangka Pemukiman Kembali serta Kerangka Masyarakat Adat yang telah diadopsi oleh P2KP dan PNPM Perkotaan I dan AF yang masing-masing disajikan pada Lampiran 5 Kerangka kerja ini telah diuraikan dalam pedoman pelaksanaan dan pedoman teknis.

adalah sebagai berikut : a.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 69 .8. Identifikasi terhadap jumlah penduduk yang terkena dampak dari kegiatan masyarakat hanya dapat dijelaskan pada saat proposal kegiatan sudah diperiksa BKM/LKM untuk usulan penggunaan dana BLM. Tujuan dari perlakuan khusus bagi penduduk asli.program sosial maupun kegiatan ekonomi produktif. Penduduk asli sebagai kelompok khusus patut diterapkan pendekatan yang berbeda dan didukung secara khusus. Menghindarkan atau meminimalkan potensi pengaruh atau dampak PNPM MP yang merugikan bagi penduduk asli. PNPM MP memberikan kebijakan melalui prosedur dan pedoman mengenai penyepakatan kompensasi kepada orang-orang yang terkena dampak kegiatan. PNPM MP merupakan sebuah program yang berbasis pada kebutuhan dan prakarsa masyarakat. Kerangka kebijakan untuk pembebasan lahan dan pemukiman kembali tersebut secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 5. Melalui pendekatan perencanaan partisipatif dan pengambilan keputusan oleh masyarakat diharapkan dapat menjamin bahwa orang-orang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat betul-betul terlibat dalam proses-proses pengambilan keputusan. dan b. Dalam pelaksanaan pendampingan masyarakat. Annex B 3. Oleh karena itu jumlah penduduk yang terkena dampak dari kegiatan pemberdayaan masyarakat ini tidak dapat diidentifikasi sebelumnya. Dari seluruh kegiatan yang akan diusulkan diperkirakan tidak ada kegiatan masyarakat (sub-proyek) yang mempunyai dampak penting dalam hal pembebasan lahan dan/atau pemukiman kembali. Hal ini untuk menjamin bahwa mereka diperlakukan secara adil dengan memberikan kompensasi yang wajar sesuai kesepakatan/harga pasar. tidak dapat dihindari bahwa fasilitator akan berhadapan langsung dengan penduduk asli setempat.4. Untuk setiap kegiatan masyarakat yang berpotensi melaksanakan pembebasan lahan. Menjamin bahwa penduduk asli memperoleh manfaat dari keberadaan program. K bijakan untuk Perlakuan Penduduk Asli atau Masyarakat Rentan e Terisolasi Desain PNPM MP disusun sedemikian rupa untuk menjamin partisipasi dan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat dalam pengambilan keputusan tingkat lokal termasuk dalam hal pemanfaatan sumber daya yang tersedia. PNPM MANDIRI .

PERKOTAAN .Uraian lengkap tentang pedoman perlakuan penduduk asli atau Masyarakat rentan terisolasi dapat dilihat pada Lampiran 5. Annex C 70 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

IV MANAJEMEN PROGRAM PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 71 .

tiap rata-rata 9 kelurahan/desa akan didampingi oleh Tim Fasilitator.PERKOTAAN . Begitu juga untuk di tiap kota dan kabupaten akan dipimpin oleh seorang Korkot (Koordinator Kota) yang berkantor di kota/kabupaten bersangkutan dibantu beberapa tenaga ahli sesuai kebutuhan.4. STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANAAN PNPM MP merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari PNPM Mandiri Nasional oleh sebab itu pengelolaan program ini juga merupakan bagian dari pengelolaan program nasional PNPM Mandiri yang telah diatur dalam Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri yang diterbitkan oleh Pokja Pengendali PNPM Mandiri. untuk melakukan manajemen proyek secara menyeluruh termasuk manajemen konsultan (OC/ KMW) yang akan bertugas di tiap wilayah kerja. Untuk pelaksanaan lapangan.1. 72 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Para relawan ini melalui suatu pelatihan secara khusus oleh OC/KMW akan menjadi Kader Masyarakat PNPM MP yang akan berperan sebagai agen pembangunan dan bekerja bersama warga sebagai relawan untuk meningkatkan kesejahteraan warga di kelurahan/desa masing-masing. Disamping itu di tiap kelurahan/desa. Organisasi penyelenggaraan yang diuraikan di sini adalah khusus organisasi penyelenggaraan PNPM MP saja yang secara struktur organisasi berada di bawah kendali Pokja Pengendali PNPM Mandiri Nasional. Di tingkat kelurahan/desa. Tim Fasilitator ini akan dikontrak oleh SNVT PBL Provinsi yang dalam kerjanya bertanggung jawab langsung kepada Korkot. Direktorat Jenderal Cipta Karya kemudian membentuk Unit Manajemen Proyek atau lebih dikenal sebagai PMU (Project Management Unit) yang dipimpin oleh Direktur Penataan Banguanan dan Lingkungan dan mendapat mandat penuh serta bertanggungjawab langsung kepada Dirjen Cipta Karya dalam melaksanakan kegiatan kegiatan PNPM MP. warga masyarakat didorong untuk memilih para relawan (sekurang-kurangnya 25 orang/kelurahan/desa). PMU melalui Satker mengontrak Konsultan Manajemen Pusat (KMP) yang akan bertindak atas nama PMU sesuai dengan kewenangan yang diberikan PMU. Di tiap wilayah kerja tersebut akan ditangani oleh satu Konsultan Manajemen Wilayah yang berkantor di wilayah bersangkutan dan dipimpin oleh seorang Team Leader. Untuk menyelenggarakan program PNPM MP ini maka Kementerian Pekerjaan Umum sebagai lembaga penyelenggara (executing agency) menugasi Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk menyelenggarakan PNPM MP. terutama warga miskin dan kelompok masyarakat rentan lainnya.

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 73 .1 Struktur Organisasi Pengelolaan PNPM Mandiri Perkotaan PNPM MANDIRI .Secara rinci hubungan kerja antar unsur pelaksana proyek dari tingkat Pusat sampai dengan tingkat masyarakat dapat dilihat pada Bagan 4. di bawah ini: Bagan 4.1.

Tingkat Nasional Penanggung jawab pengelolaan program tingkat nasional PNPM MP adalah Kementerian Pekerjaan Umum yang bertindak sebagai lembaga penyelenggara program (executing agency). Untuk melaksanakan Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) agar dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan dan terciptanya sinergi dengan program lainnya untuk mengoptimalkan hasil yang dicapai dalam rangka keberlanjutan program sekaligus mendukung pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM MP). Secara khusus perangkat pemerintah dituntut agar mampu berperan sebagai katalis pembangunan untuk mendorong terjadinya proses transformasi dan bukan transplantasi. khususnya masyarakat miskin. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan berbagai pihak antara lain pemerintah. (c) melakukan audit untuk semua pelaku PNPM MP dan menjadi wasit Perangkat pemerintah khususnya pemerintah daerah didorong untuk mampu mengalihkan peran dari pelaksana menjadi pemampu. (b) mendorong “pelembagaan” mekanisme yang menjamin terwujudnya komunikasi. telah dibentuk Unit Manajemen Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (PMU P2KP) sesuai Keputusan Menteri Pekerjaan Umum nomor 358/KPTS/M/2008 tanggal 10 Juni 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Manajemen Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (PMU P2KP) 74 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . dari peran birokrasi menjadi fasilitator atau pendamping warga. Semua pihak diharapkan dapat menjalankan peran dan tanggung jawabnya dengan baik dalam memampukan masyarakat sebagai pelaku utama PNPM. koordinasi dan keterpaduan antara pemerintah dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat. dan selalu beorientasi pada pengembangan masyarakat dengan mengedepankan prakarsa masyarakat.4.PERKOTAAN . TATA PERAN PELAKU 1) Pemerintah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat dirancang sebagai gerakan bersama yang terpadu dalam penanggulangan kemiskinan melalui proses pemberdayaan masyarakat. Secara umum. kelompok ahli. dan masyarakat luas. dunia usaha.2. partisipasi dan peran aktif pemerintah yang diharapkan dalam pelaksanaan PNPM adalah : (a) menumbuhkan iklim yang mendukung untuk upaya pemberdayaan masyarakat.

SNVT PNPM MP berperan membantu pelaksanaan tugas PMU-PNPM MP dalam pelaksanaan PNPM MP. monitoring dan pembinaan teknis PNPM MP. b. c. b. Melakukan penanganan pengaduan dari pihak manapun yang berkaiatan dengan PNPM MP.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 75 . e. Memimpin & mengkoordinasikan seluruh personil PMU P2KP. f. c. Menyampaikan informasi yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan PNPM MP. b) SNVT PNPM MP SNVT PNPM MP adalah Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan. pembinaan teknis. jadwal pelaksanaan dan administrasi yang ditetapkan. Melaksanakan kegiatan diseminasi dan sosialisasi. Pemprop dan Pemerintah Kab/Kota. OC/KMW dan KE. d. Melakukan pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan tugas KMP. dan sinkronisasi program PNPM MP dengan instansi terkait serta menyusun strategi keberlanjutan program PNPM MP. Asisten PMU-PNPM MP a. PMU PNPM MP mempunyai fungsi : a.a) Unit Manajemen Program P2KP (PMU-P2KP) Unit Manajemen Program P2KP (PMU P2KP/PNPM MP) adalah sebuah unit kerja yang bertanggungjawab atas keberhasilan pelaksanaan Program PNPM MP dengan tugas pokok melaksanakan koordinasi. Melakukan koordinasi dengan Satuan Kerja terkait dalam upaya mencapai sasaran. Mengadakan kerjasama dengan instansi-instansi terkait dalam lingkungan Pemerintah Pusat. pengendalian. OC/KMW. Asisten Perencanaan dan Pemrograman mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana pelaksanaan. Melakukan kajian dan evaluasi atas pemanfaatan dana PNPM MP. c) PNPM MANDIRI . Melakukan monitoring dan supervisi pelaksanaan kegiatan lapangan KMP. Tanggung jawab dan tugas pokok SNVT PNPM MP adalah: a. dan KE. d. Melaksanakan kegiatan PNPM MP sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dalam dalam NPLN termasuk penyelesaian aplikasi dana pinjaman PNPM MP. e. Untuk melaksanakan tugas tersebut. Menyusun rekomendasi untuk sinkronisasi PNPM MP dengan programprogram lainnya.

Bersama dengan OC/KMW dan TKPKD menindak lanjuti berbagai pengaduan terkait PNPM MP sampai proses hukum/ke tangan penegak hukum dengan tetap mengutamakan penyelesaian secara kekeluargaan. pelaporan dan informasi dalam rangka pelaksanaan PNPM MP. 76 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . d. e. Mempertanggungjawabkan seluruh pengeluaran dana sesuai ketentuan yang berlaku. Memberikan laporan secara berkala kepada Menteri PU melalui Direktur PBL yang ditembuskan kepada Bappeda Propinsi/Kepala Dinas PU serta kepada para pemangku kepentingan lainnya apabila diminta. Pelaporan dan Informasi mempunyai tugas untuk melakukan pengumpulan serta pengolahan data. Asisten Pengembangan Kemitraan mempunyai tugas untuk melakukan koordinasi dan fasilitasi pengembangan kemitraan Lembaga Komunitas dengan berbagai pihak dalam rangka peningkatan akses kepada berbagai sumberdaya untuk masyarakat miskin. Asisten Pengendalian Pelaksanan mempunyai tugas untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PNPM MP mengacu kepada rencana kegiatan yang telah ditetapkan.PERKOTAAN . Asisten Data. d. Sebagai pelaksana ditunjuk Dinas Pekerjaan Umum/Bidang Ke-Cipta Karya-an di bawah kendali/ koordinasi Satker Non Vertikal Tertentu (SNVT) PBL tingkat propinsi. c.b. Mengelola tata pelaporan pelaksanaan PNPM MP. c. Melaksanakan kegiatan teknis dan administratif untuk pelaksanaan PNPM MP sesuai arah kebijakan PMU. Tingkat Propinsi Di tingkat propinsi dikoordinasikan langsung oleh Gubernur setempat melalui Bapeda Propinsi dengan menunjuk Tim Koordinasi Pelaksanaan PNPM yang anggotanya terdiri dari pejabat instansi terkait di daerah di bawah koordinasi TKPKD Propinsi. b. Tingkat Kota/Kabupaten Di tingkat Kota/kabupaten dikoordinasikan langsung oleh Walikota/Bupati setempat melalui Bapeda Kota/kabupaten dengan menunjuk Tim Koordinasi Pelaksanaan PNPM (TKPP) yang anggotanya terdiri dari pejabat instansi terkait di daerah di bawah koordinasi TKPKD Kota/kabupaten. serta penyiapan tindak turun tangan yang diperlukan. TKPKD Kota/Kabupaten dalam PNPM MP berperan mengkoordinasikan TKPP dari berbagai program penanggulangan kemiskinan. Tugas Kepala SNVT PBL Propinsi adalah : a.

Tingkat Kecamatan Di tingkat kecamatan. Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala. d. c. dan (2) Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK) dengan peran dan tugas masing-masing unsur adalah sebagai berikut: PNPM MANDIRI . Menyalurkan dan mengadministrasikan dana BLM PNPM Mandiri Perkotaan. manajemen data dan penataan ruang untuk pengendalian pelaksanaan kegiatan dibawah koordinasi Team Leader OC/KMW.Tim Koordinasi Pelaksanaan PNPM mempunyai tugas : a. Ditjen Cipta Karya cq Direktorat PBL Propinsi mengangkat Koordinator Kota P2KP/PNPM MP yang dibantu beberapa asisten korkot di bidang manajemen keuangan. teknik/infrastruktur. Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala. Sebagai pelaksana administratif ditingkat Kota/kabupaten berdasarkan keputusan Menteri Pekerjaan Umum ditunjuk Satker Non Vertikal Tertentu (SNVT) Kota/kabupaten yang mempunyai tugas : a. unsur utama pelaksanaan PNPM MP adalah (1) Camat dan perangkatnya. Melakukan sosialisasi program PNPM MP kepada camat. e. Melakukan pemantauan pemanfaatan dana yang disalurkan. b. b. f. Memfasilitasi berlangsungnya koordinasi dan konsolidasi dalam pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. Memberikan laporan secara berkala kepada Menteri PU melalui SNVT PBL Propinsi yang ditembuskan kepada Bappeda Kab-Kota/Kepala Dinas PU serta para pemangku kepentingan lainnya apabila diminta Di tingkat Kota/kabupaten. Bersama Korkot dan Para Pemangku Kepentingan lainnya menindaklanjuti berbagai pengaduan terkait dengan PNPM MP di wilayah kerjanya sampai ke proses hukum/ke tangan penegak hukum dengan tetap mengutamakan penyelesaikan secara kekeluargaan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 77 . Melakukan sosialisasi program PNPM MP kepada camat. d. c. PJOK dan perangkat kecamatan di wilayah kerjanya. Melakukan pemantauan pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. PJOK dan perangkat desa/kelurahan di wilayah kerjanya. Memfasilitasi berlangsungnya koordinasi dan konsolidasi dalam pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya.

Laporan tersebut dikirim juga sebagai tembusan kepada Camat dan Lurah/Kades di wilayah kerjanya. Memantau pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya sesuai dengan pentahapan yang sudah ditentukan.PERKOTAAN . d. Laporan bulanan dibuat rangkap tiga untuk diserahkan sebelum tanggal 15 setiap bulan kepada bupati/walikota. memproses SPPB ke bank pembayar dan lain-lain. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Forum BKM/LKM di tingkat kecamatan/kota/kabupaten. Melakukan pemantauan pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya dan menerima serta memverifikasi laporan para lurah/kades. Memfasilitasi berlangsungnya koordinasi dan konsolidasi dalam pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. KSM. PJOK adalah perangkat kecamatan yang diangkat oleh Kepala Satker PBL atas usulan walikota/ bupati untuk pengendalian kegiatan di tingkat kelurahan/desa dan berperan sebagai penanggung jawab administrasi pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. Berkoordinasi dengan PJOK dan Tim Fasilitator dalam penyelesaian persoalan.1) Camat Peran pokok Camat adalah memberikan dukungan dan jaminan atas kelancaran pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. Memfasilitasi berlangsungnya integrasi antara rencana program masyarakat dan program daerah lainnya dalam Musrenbang Kecamatan. maka PJOK sebelumnya harus membuat Berita Acara Serah Terima Pekerjaan kepada PJOK penggantinya. dan kelompok peduli lainnya untuk meningkatkan keberhasilan PNPM MP di wilayah kerjanya. c. Melakukan sosialisasi program PNPM MP kepada lurah dan perangkat kelurahan/ desa di wilayah kerjanya. Mendorong dan mendukung tumbuhnya forum BKM/LKM tingkat kecamatan. Jika terjadi pergantian PJOK antar waktu. konflik dan penanganan pengaduan mengenai pelaksanaan PNPM MP di wilayahnya. b. Membuat laporan bulanan pelaksanaan tugas setiap bulan. Tugas pokok PJOK adalah sebagai berikut: a. Membuat laporan pertanggungjawaban pada akhir masa jabatannya dan menyerahkannya kepada Walikota/Bupati paling lambat satu bulan setelah masa tugasnya sebagai PJOK berakhir. hasil- 78 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . f. 2) Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK) Di tingkat kecamatan ditunjuk PJOK (Penanggung Jawab Operasional Kegiatan). Melaksanakan administrasi program berupa penandatanganan SPPB. d. dengan rincian tugas sebagai berikut: a. c. Berita Acara tersebut memuat pelaksanaan tugas. serta g. b. e.

hasil kegiatan. Memfasilitasi dan mendukung penyusunan Program Jangka Menengah Penanggulangan Kemiskinan dan rencana tahunannya oleh masyarakat PNPM MANDIRI . (4) KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) dengan peran dan tugas masingmasing unsur adalah sbb: 1) Lurah atau Kepala Desa Secara umum peran utama Kepala Kelurahan dan Kepala Desa adalah memberikan dukungan dan jaminan agar pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga tujuan yang diharapkan melalui PNPM MP dapat tercapai dengan baik. e. Memfasilitasi pelaksanaan pemetaan swadaya (Community Self Survey) dalam rangka pemetaan kemiskinan dan potensi sumberdaya masyarakat yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat. b. Memfasilitasi terselenggaranya pertemuan pengurus RT/RW dan masyarakat dengan OC/KMW/Tim Fasilitator. (2) Relawan masyarakat. hasil monitoring dan evaluasi serta dilengkapi dengan uraian dan penjelasan penggunaan dana BOP-PJOK Melakukan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan PNPM MP dengan OC/KMW dan Tim Fasilitator untuk bersama-sama menangani penyelesaian permasalahan dan pengaduan mengenai pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya Melakukan pemeriksaan terhadap penggunaan dana yang telah disalurkan kepada masyarakat (BKM/LKM/KSM/Panitia/dsb) sesuai dengan usulan yang disetujui Fasilitator Tingkat Kelurahan/desa Di tingkat kelurahan/desa. (3) BKM/LKM (Lembaga Keswadayaan Masyarakat). f. d. dan relawan masyarakat dalam upaya penyebarluasan informasi dan pelaksanaan PNPM MP. Membantu sosialisasi tingkat kelurahan/desa dan Rembug Kesiapan Masyarakat yang menyatakan kesiapan seluruh masyarakat untuk mendukung dan melaksanakan PNPM MP. c. Memfasilitasi proses pembentukan BKM/LKM. (Bentuk-bentuk dukungan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.e. unsur utama pelaksanaan PNPM MP adalah (1) Lurah/Kades dan perangkatnya. serta ketentuan PNPM MP).PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 79 . Untuk Itu Lurah/ Kepala Desa dapat mengerahkan perangkat kelurahan/desa atau desa sesuai dengan fungsi masing-masing. Secara rinci tugas dan tanggung jawab Lurah/Kepala Desa dalam pelaksanaan PNPM MP adalah sebagai berikut: a.

Mitra kerja BKM/LKM. Memberi laporan bulanan kegiatan PNPM MP di wilayahnya kepada Camat. i. pengorganisasian KSM. d. relawan masyarakat dan BKM/ LKM. pembentukan BKM/LKM. seperti transparansi. Pelopor perubahan b. pemetaan swadaya.f. peduli dan memiliki komitmen kuat pada kemajuan masyarakat di wilayahnya. Pengerak masyarakat dalam menjalani seluruh proses PNPM MP yang memang direncanakan sebagai uapaya pemberdayaan masyarakat atau peningkatkan kapasitas. adil. dsb oleh sebab itu setelah BKM/LKM terbentuk tim relawan ini harus berfungsi sebagai pengawas partisipatif terhadap keseluruhan proses sehingga terbangun kontrol sosial yang melembaga. peduli dan memiliki komitmen untuk membantu masyarakat dalam melaksanakan seluruh tahapan kegiatan program agar bermanfaat bagi masyarakat miskin serta seluruh masyarakat di wilayahnya. perencanaan partisipatif. jujur. h. oleh sebab itu para Relawan akan membentuk 80 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Masyarakat Kelurahan/desa 1) Relawan Masyarakat Relawan masyarakat adalah pelopor-pelopor pengerak dari masyarakat yang mengabdi tanpa pamrih. PNPM MP mendorong masyarakat di lokasi sasaran agar membuka kesempatan seluas mungkin bagi warga yang ikhlas. yang diorganisasikan oleh lembaga kepemimpinan masyarakat setempat (BKM/LKM). dsb c. sehingga secara rinci relawan diharapkan menjadi pelopor dalam siklus program. dan Berkoordinasi dengan Tim Fasilitator. kejujuran. Memfasilitasi koordinasi dan sinkronisasi kegiatan yang terkait dengan penanggulangan kemiskinan termasuk peninjauan lapangan oleh berbagai pihak berkepentingan. refleksi kemiskinan. Pengawalan nilai-nilai luhur. memfasilitasi penyelesaian persoalan dan konflik serta penanganan pengaduan yang muncul dalam pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. g. ikhlas. demokrasi. Memfasilitasi PJM Pronangkis sebagai program kelurahan/desa untuk dibahas didalam Musrenbang kelurahan/desa. Dengan demikian peran utama para relawan adalah : a.PERKOTAAN .

Sebagai dewan pengambilan keputusan untuk hal-hal yang menyangkut pelaksanaan PNPM MP pada khususnya dan penanggulangan kemiskinan pada umumnya di tingkat komunitas. c. Mempromosikan dan menegakkan nilai-nilai luhur (jujur. Mengorganisasikan warga secara partisipatif untuk merumuskan rencana jangka menengah (3 tahun) penanggulangan kemiskinan (PJM Pronangkis) dan diajukan ke PJOK untuk mencairkan dana BLM. dsb) dalam setiap keputusan yang diambil dan kegiatan pembangunan yg dilaksanakan. transparan. BKM/LKM ini bertanggungjawab menjamin keterlibatan semua lapisan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang kondusif untuk pengembangan keswadayaan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan khususnya dan pembangunan masyarakat kelurahan/desa pada umumnya. f. Menumbuhkan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin agar mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.Forum Relawan dan berhak mendapat informasi perkembangan kegiatan penangulangan kemiskinan yang dipimpin oleh BKM/LKM. Mengembangkan jaringan BKM/LKM di tingkat kecamatan. Oleh sebab itu peran utama BKM/LKM adalah : a. 3) KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) Disamping BKM/LKM di lokasi yang telah menjalani P2KP/PNPM P2KP juga sudah terbentuk KSM atau Kelompok Swadaya Masyarakat adalah nama jenerik untuk kelompok warga masyarakat pemanfaat dana BLM PNPM MP.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 81 . kota/ kabupaten sebagai mitra kerja Pemerintah Daerah dan wahana untuk menyuarakan aspirasi masyarakat warga yang diwakilinya. d. demokratis. b. Untuk itu secara rutin (tiap bulan) harus ada pertemuan antara Forum Relawan dan BKM/LKM 2) BKM/LKM (Badan Keswadayaan Masyarakat/Lembaga Keswadayaan Masyarakat) Dilokasi-lokasi dimana P2KP dan PNPM telah bekerja. Menetapkan kebijakan dan mengawasi proses pemanfaatan dana bantuan langsung masyarakat (BLM). adil. e. yang sehari-hari dikelola oleh UPK. KSM ini diorganisasikan oleh tim relawan dan dibantu oleh tim fasilitator terdiri dari warga kelurahan/desa yang memiliki ikatan kebersamaan (common bond) dan PNPM MANDIRI . maka di lokasi tersebut sudah terbentuk BKM/LKM sebagai “dewan amanah” atau “pimpinan kolektif” himpunan masyarakat warga setempat (kelurahan/desa).

PERKOTAAN . monitoring (pengendalian) dan supervisi (pengawasan). Oleh sebab itu. KMP melakukan perencanaan. b. d. Oleh sebab itu tugas pokok KSM adalah: a. KMP bertanggungjawab kepada PMU mengenai keseluruhan pelaksanaan PNPM MP. demokrasi. Mencatat dan membuat laporan kegiatan dan keuangan kegiatan pembangunan yg diusulkan. Konsultan Pelaksana 1) Konsultan Manajemen Pusat (KMP) Konsultan Manajemen Pusat (KMP) berkedudukan di pusat dengan tugas utama melaksanakan tugas-tugas PMU dalam pelaksanaan PNPM MP utamanya dalam pengendalian mutu yang menyangkut substansi. membangun dgn mutu. KMP juga bertugas membangun dan mengembangkan sistem penanganan permasalahan dan penanggulangan konflik secara berjenjang. KMP bertugas pula membangun dan mengembangkan sistem informasi manajemen (SIM) PNPM MP. pelaporan dan melakukan tindakan penanggulangan terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan PNPM MP. dimulai dari tingkat kelembagaan lokal/BKM/LKM sampai ke tingkat yang lebih tinggi seperti OC/KMW dan KMP. Mengelola dana yang diperolehnya untuk mendanai kegiatan pembangunan yg diusulkan. koordinasi. c. Menyusun usulan kegiatan pembangunan terkait dgn penangulangan kemiskinan. 82 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Lebih dari itu. e. koordinasi. supervisi dan monitoring (pengendalian) terhadap tugas yang dilaksanakan oleh seluruh OC/KMW sehingga kualitas kinerjanya terjamin. KSM ini bukan hanya sekedar pemanfaat pasif melainkan sekaligus sebagai pelaksana kegiatan terkait dgn penangulangan kemiskinan yang diusulkan untuk didanai oleh BKM/LKM melalui berbagai dana yg mampu digalang. Untuk melaksanakan tugasnya KMP dibantu oleh beberapa tenaga ahli sesuai kebutuhan. termasuk menjamin kelancaran dan keakuratan entry data sejak dari tingkat kelurahan/ desa hingga tingkat pusat.berjuang untuk mencapai tujuan bersama. Secara umum tugas KMP meliputi perencanaan. Secara aktif menjadi bagian dari kendali sosial (control social) pelaksanaan penangulangan kemiskinan di wilayahnya. dsb). Menerapkan nilai-nilai luhur dalam pelaksanaan pembangunan yang ditekuninya (transparansi.

b. Team Leader OC/KMW akan berperan sebagai penanggung jawab pelaksanaan kegiatan PNPM MP di wilayah kerja masing-masing. terhadap strategi pelaksanaan PNPM MP di lingkup satuan wilayah kerjanya. mengkoordinasikan antara perangkat pemerintah dan pelaku PNPM MP lainnya. mengawasi pelaksanaan kegiatan oleh OC/KMW. adalah sbb: a. Sosialisasi dan Disseminasi. dengan mendukung dan sebagian terlibat pada proses lokakarya orientasi. Secara khusus OC/KMW juga diberi tanggung jawab tambahan untuk melakukan monitoring dan penguatan jajaran dibawahnya seperti para Korkot. sosialisasi dan kampanye nasional PNPM MP serta kegiatan lainnya. Orientasi dan Persiapan untuk Tingkat Pusat dan Daerah. supervisi. Perencanaan. c. Pelatihan. Koordinasi. 2) Konsultan Manajemen Wilayah (OC/KMW) Tugas utama OC/KMW adalah mendukung seluruh kebutuhan para tenaga alhi OC/KMW dalam melakukan perencanaan. d. persiapan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 83 . f. terutama mendayagunakan OC/KMW dan perangkatnya. Jumlah OC/KMW pada pelaksanaan PNPM_MP ini sebanyak 9 OC/KMW untuk menangani pelaksanaan PNPM MP di seluruh nusantara. pelaksanaan koordinasi. khususnya strategi pelaksanaan PNPM MP. PNPM MANDIRI . Perencanaan. Supervisi. setelah dikonsultasikan dan mendapat persetujuan KMP. mengembangkan strategi sosialisasi yang efektif. monitoring. dan pelaporan seluruh kegiatan pelaksanaan PNPM MP di wilayah kerjanya. yang kemudian disosialisasikan kepada instansi pemerintah daerah setempat dan masyarakat.Dengan demikian ruang lingkup kegiatan KMP. seluruh kegiatan dan menyusun serta mengelola SIM PNPM MP e. g. 2. mengembangkan strategi pelatihan dan menjaga kualitas pelatihan yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam jajaran konsultan. Dalam melaksanakan tugasnya OC/KMW bertanggungjawab langsung dan berada di bawah koordinasi serta kendali Konsultan Manajemen Pusat (KMP). Monitoring. Pengorganisasian. Lingkup kegiatan OC/KMW adalah sebagai berikut : 1. Asiten Korkot dan para Fasilitator.

Fasilitator. h) Menjamin berfungsinya SIM PNPM MP melalui pengelolaan dan penyediaan input data yang akurat. 4. i) Berkoordinasi dengan pemerintah propinsi dan kota/kabupaten dalam rangka menyelesaikan berbagai masalah dan konflik yang ada. kelompok-kelompok masyarakat serta kekuatan-kekuatan sosial yang ada termasuk di dalamnya perangkat pemerintah kota/kabupaten agar memahami esensi dan substansi “PNPM MP”. UPK dan KSM di satuan wilayah kerjanya. Koordinasi. dalam rangka membangun kemitraan serta networking yang saling menguntungkan di antara mereka. terhadap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh Senior Fasilitator. f) Mendorong dan mengembangkan terbentuknya kelompok independen yang berfungsi sebagai sosial kontrol bagi proyek PNPM MP khususnya dan proyek-proyek lainnya yang disponsori pemerintah pada umumnya. 84 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . lembaga komunitas dan masyarakat lokasi sasaran. g) Menumbuhkembangkan dan melembagakan kembali nilai-nilai dan prinsip PNPM MP sebagai bagian organik proses pembangunan lokal. 5.PERKOTAAN .3. LSM lokal. termasuk dinas pemerintah kota/kabupaten. BKM/LKM. Supervisi. khususnya dalam penanggulangan kemiskinan. mengkoordinasi dan mendukung pembentukan Forum BKM/LKM tingkat kota/kabupaten dan menghubungkan dengan stakeholders lainnya. penanganan pengaduan serta mendukung kelancaran pelaksanaan PNPM MP. sehingga dapat memberikan dukungan maupun kontrol yang memadai. terhadap seluruh kegiatan pelaksanaan PNPM MP di satuan wilayah kerjanya dengan membuat laporan yang didasarkan pada data SIM sebagaimana sistem yang telah ada dan disempurnakan oleh KMP. b) Menjamin realisasi pemberdayaan masyarakat dilakukan secara tepat melalui manajemen dan fasilitasi yang benar serta tepat oleh team fasilitator. e) Membangun dan mengembangkan kapasitas pemerintah lokal dan stakeholders lainnya untuk bekerja lebih efektif dengan masyarakat dalam menanggulangi kemiskinan. Pelaksanaan a) Sebagai pelaksana lapangan proyek PNPM MP di wilayah kerja masing-masing. c) Memfasilitasi. d) Mengkondisikan masyarakat. kepada seluruh pihak terkait di wilayah kerja masing-masing yaitu instansi pemerintah daerah. Monitoring.

Rincian tugas-tugas tim fasilitator sebagai pendampingan masyarakat adalah sebagai berikut : a. b) Menjaga kegiatan program (proyek) dari terjadinya salah sasaran dan salah penanganan c) Mencatat semua kemajuan program di lapangan sesuai dengan format SIM yang disediakan d) Melaporkan kemajuan pelaksanaan kegiatan program kepada OC/KMW melalui Korkot sebagai input SIM. Prinsip dan Nilai PNPM MP. Para fasilitator ini akan bekerja dalam satu Tim dan dipimpin oleh seorang fasilitator senior. Melaksanakan kegiatan-kegiatan sosialisasi Termasuk didalamnya adalah: • Menyebarluaskan informasi mengenai PNPM MP sebagai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan dalam penanggulangan kemiskinan kepada seluruh lapisan masyarakat dimana mereka bertugas. Misi. • Menyebarluaskan Visi.3) Tim Fasilitator Tugas utama Tim fasilitator adalah melaksanakan tugas OC/KMW di tingkat komunitas/masyarakat : a) sebagai pelaksana proyek termasuk mencatat setiap perkembangan proyek dan melaporkannya ke OC/KMW sebagai masukan untuk data SIM (Sistem Informasi Manajemen) b) sebagai pendamping masyarakat termasuk mensosialisasikan masyarakat tentang PNPM MP. melalui serangkaian FGD. membangun kesadaran kritis masyarakat agar mampu mengidentifikasikan persoalan kemiskinannya dan perlunya menanggulangi persoalan PNPM MANDIRI . Rincian tugas-tugas tim fasilitator sebagai pelaksana proyek dari tugas-tugas OC/ KMW di tingkat masyarakat adalah sebagai berikut : a) Melaksanakan program PNPM MP sesuai dengan aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Pedoman Pelaksanaan PNPM MP. • Bersama Relawan. Tujuan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 85 . melakukan intervensi dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan membantu masyarakat merumuskan serta melaksanakan kegiatan penanggulangan kemiskinan. Pedoman Teknis dan Prosedur Operasi Baku. Strategi.

di seluruh kegiatan PNPM MP.PERKOTAAN . Termasuk diantaranya membangun tim. praktek atau on the job training dan latihan serta pendampingan intensif. mengenali peluang usaha atau mengembangkan usaha yang ada.• • • kemiskinan secara terorganisasi dan sistematis. Membangkitkan dan menumbuh-berkembangkan kesadaran masyarakat untuk melakukan kontrol sosial pelaksanaan PNPM MP di kelurahan/desanya. Mendorong peran serta dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat umumnya dan masyarakat miskin khususnya. Demikian pula halnya dalam c. Melaksanakan kegiatan-kegiatan pelatihan (training) Termasuk didalamnya adalah: • Memperkuat dan mengembangkan kapasitas relawan sebagai agen pembangunan masyarakat. membantu KSM menyusun proposal usaha. 86 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . • Memperkuat dan mengembangkan kapasitas KSM sebagai kelompok dinamik. memfasilitasi proses penilaian organisasi masyarakat yang ada dan/atau membentuk baru organisasi masyarakat sebagai BKM/LKM. Training dilaksanakan dalam bentuk kelas maupun praktek dalam kelompok Melaksanakan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat Termasuk didalamnya adalah: • Membimbing relawan dan warga masyarakat untuk menemukenali berbagai persoalan penyebab kemiskinan baik di tingkat kelurahan/desa dan skala masyarakat (KSM) • Pengorganisasian Masyarakat. • Memperkuat dan mengembangkan kapasitas BKM/LKM sebagai dewan pimpinan kolektif terpilih kelurahan/desa. dan pengelolaan keuangan secara sederhana. Bersama Relawan/Kader Masyarakat. sesuai kesepakatan bersama masyarakat. Termasuk diantaranya pelatihan dasar dan lanjutan dalam bentuk training kelas. BKM/LKM harus merupakan dewan pimpinan kolektif terpilih yang dibentuk secara partisipatif dan demokratis. b. Memfasilitasi pembangunan dan pengembangan capital sosial (nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan) sebagai kondisi yang dibutuhkan bagi upaya penanggulangan kemiskinan. Dalam hal ini difokuskan pada training dasar serta pendampingan dan on the job training intensif.

• • • • • pembentukan Unit Pengelola Keuangan (UPK) dan gugus tugas BKM/LKM lainnya. memfasilitasi KSM untuk mengidentifikasi peluang usaha. Memfasilitasi Penyusunan PJM Pronangkis (perencanaan partisipatif dalam penanggulangan kemiskinan). memfasilitasi BKM/LKM untuk mengkoordinasi pelaksanaan perencanaan partisipatif dengan masyarakat untuk menyusun Rencana Program Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis). Memperkenalkan berbagai inovasi sederhana dalam manajemen organisasi dan lembaga kredit mikro. dan sebagainya. Advokasi. mediasi dan membangun jalinan kemitraan strategis (networking) antar semua pelaku yang bermanfaat bagi masyarakat dan pihak lainnya PNPM MANDIRI . Bersama dengan relawan/kader masyarakat. termasuk sistem audit. transparansi. proses pengambilan keputusan yang demokratis. kebutuhan pembangunan infrastruktur dan pelayanan lingkungan dasar. tata buku.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 87 . serta menyiapkan mereka agar mampu memformulasikannya dalam bentuk proposal yang layak. Bersama dengan relawan. Termasuk dalam fasilitasi pengorganisasian masyarakat adalah pembentukan KSM-KSM dalam rangka menggalang potensi masyarakat serta memanfaatkan peluang yang ditawarkan PNPM MP. Memfasilitasi dan membimbing masyarakat secara intensif agar masyarakat mengikuti ketentuan Pedoman PNPM MP dalam seluruh tahapan kegiatan pelaksanaan PNPM MP.

PERKOTAAN .88 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .

PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 89 .LAMPIRAN-LAMPIRAN PNPM MANDIRI .

LAMPIRAN 1 KONSEP DASAR TRIDAYA Pada dasarnya pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang tidak menimbulkan persoalan baru. dalam melaksanakan PNPM-MP adalah melalui penerapan konsep Tridaya sebagai berikut. sehat. teratur. dalam pengambilan keputusan maupun pelaksanaan kegiatan yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak. 1) Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection). maupun pemerintah). ekonomi dan lingkungan yang tercakup dalam konsep Tridaya. serasi dan produktif. yang harus layak. tiap langkah kegiatan P2KP harus selalu berorientasi pada upaya membangun solidaritas sosial dan keswadayaan masyarakat sehingga dapat tercipta masyarakat efektif secara sosial sebagai pondasi yang kokoh dalam upaya menanggulangi kemiskinan secara mandiri dan berkelanjutan. 2) 3) 90 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . dalam upaya menyerasikan kesejahteraan material. Pengembangan Ekonomi (Economic Development). ditumbuhkembangkan dan dilestarikan oleh semua pelaku PNPMMP (baik masyarakat. maka didorong agar keputusan dan pelaksanaan kegiatan tersebut berorientasi pada upaya perlindungan/pemeliharaan lingkungan baik lingkungan alami maupun buatan termasuk perumahan dan permukiman.PERKOTAAN . terjangkau. Termasuk didalamnya adalah penyediaan prasarana dan sarana dasar perumahan yang kondusif dalam membangun solidaritas sosial dan meningkatkan kesejahteraan penduduknya. yang dalam kasus PNPM Mandiri Perkotaan diterjemahkan sebagai sosial. Pengembangan Masyarakat (Social Development). Jadi prinsip-pinsip pembangunan berkelanjutan yang harus dijunjung tinggi. bersifat adil intra generasi dan inter generasi. terutama kepentingan masyarakat miskin. Pengembangan masyarakat juga berarti upaya meningkatkan potensi segenap unsur masyarakat. aman. maka upaya-upaya kearah peningkatan kapasitas dan keterampilan masyarakat miskin dan atau penganggur perlu mendapat porsi khusus termasuk upaya untuk mengembangkan peluang usaha dan akses kesumberdaya kunci untuk peningkatan pendapatan. konsultan. terutama kelompok masyarakat yang rentan (vulnerable groups) dan marjinal yang selama ini tidak memiliki peluang/akses dalam program/kegiatan setempat. dengan tetap memperhatikan dampak lingkungan fisik dan sosial. Oleh sebab itu prinsip-prinsip universal pembangunan berkelanjutan harus merupakan prinsip keseimbangan pembangunan.

dengan individu inilah yang menjadi pilar bagi perubahan perilaku kolektif. pemanfaat. Perubahan perilaku individu dari pelaksana...3 sebagai berikut: Gambar I. dan daya ekonomi agar tercipta masyarakat produktif secara ekonomi.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 91 . Oleh karena itu. sehingga pada memberdayakan individu-individu tersebut diharapkanyang memiliki kesadaran kritis) kritis dan akhirnya masyarakat (kumpulan-kumpulan individu dapat membangun kesadaran mampu membangun dan mandiri dan merdeka berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan perubahan perilaku yang positif.1. Gambaran umum mengenai implementasi prinsip-prinsip universal pembangunan berkelanjutan melalui TRIDAYA ini dapat dilihat pada Gambar 1. mandiri dan merdeka berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. daya sosial agar tercipta masyarakat efektif secara sosial. pemanfaat. Perubahan perilaku individu inilah yang menjadi pilar bagi perubahan perilaku kolektif. yaitu daya pembangunan agar tercipta masyarakat yang peduli dengan pembangunan perumahan dan permukiman yang berorietasi pada kelestarian lingkungan.Prinsip-prinsip universal pembangunan berkelanjutan tersebut pada hakekatnya merupakan pemberdayaan sejati yang terintegrasi. Konsep TRIDAYA Membangkitkan daya sosial agar tercipta masyarakat effektif   Manusia Diyakini bahwa pelaksanaan PNPM MP sebagian besar akan sangat ditentukan oleh individu-individu dari pelaksana. sosial dan ekonomi. Oleh karena itu. dengan memberdayakan individu-individu tersebut diharapkan dapat Diyakini bahwa pelaksanaan PNPM MP sebagian besar akan sangat ditentukan oleh individumembangun kesadaran kritis dan perubahan perilaku yang positif. maupun pelaku-pelaku lainnya. Pemberdayaan Sejati Membangkitkan daya lingkungan agar tercipta masyarakat pembangunan Membangkitkan daya ekonomi agar tercipta masyarakat yg produktif PNPM MANDIRI . yaitu pemberdayaan manusia seutuhnya agar mampu membangkitkan ketiga daya yang telah dimiliki manusia secara integratif. yang   universal. sehingga pada akhirnya masyarakat (kumpulan-kumpulan individu yang memiliki kesadaran kritis) mampu membangun dan menumbuhkembangkan keberdayaan masyarakat dalam bidang pembangunan lingkungan.menumbuhkembangkan keberdayaan masyarakat dalam bidang pembangunan lingkungan. maupun pelaku-pelaku lainnya. sosial dan ekonomi.

dan ekonomi di kelurahan Indikator 2: Tingkat kepuasan pemanfaat terhadap perbaikan pelayanan dan tata kepemerintahan setempat Indikator 3: Infrastruktur yang dibangun lebih murah 20% dibandingkan dengan yang dibangun dengan pola tidak bertumpu pada masyarakat Indikator 4: Minimum 90% pengaduan terselesaikan PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . ekonomi dan sosial yang diselesaikan setiap tahun Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. Indikator Kinerja PNPM Mandiri Perkotaan Satuan Th1 (2012) Th1 (2013) Th3 (2014) Frekwensi Sumber Target kumulatif Pengumpulan Data 92 % kelurahan 80% kelurahan Akhir pelaksanaan program (2014) Akhir pelaksanaan program (2014) Tahunan MIS dan Uji petik MIS MIS dan Survey Survey Konsultan evaluasi % pemanfaat ≥ 80% KMP/KMW/ Konsultan evaluasi % kelurahan 80% kelurahan ≥ 90% ≥ 90% ≥ 90% Bulanan 80% kelurahan 80% kelurahan KMP/KMW/ Konsultan evaluasi KMP/KMW % pengaduan 2 40 40 40 4 6 Bulanan Bulanan MIS MIS KMP/KMW KMP/KMW Pemanfaat (dalam Juta Orang ) % pemanfaat perempuan ≥ 40% ≥ 40% Target kumulatif ≥ 40% Tiga Bulanan MIS KMP/KMW Pengumpulan Data % Satuan masyarakat miskin % perempuan Penanggungjawab Tujuan : Untuk memastikan masyarakat miskin di kelurahan peserta PNPM Perkotaan memperoleh manfaat dari perbaikan tata kepemerintahan lokal dan kondisi kehidupannya INDIKATOR HASIL SETINGKAT TUJUAN (OUTCOME) Indikator 1: Peningkatan akses masyarakat miskin terhadap palayanan infrastruktur.Lampiran 2.PERKOTAAN Th1 (2012) ≥ 40% ≥ 30% ≥ 75% Th1 (2013) ≥ 40% ≥ 30% ≥ 80% Th3 (2014) ≥ 40% ≥ 30% ≥ 80% Frekwensi Tiga Bulanan Tiga Bulanan Tahunan Sumber MIS MIS MIS Penanggungjawab KMP/KMW KMP/KMW KMP/KMW % penduduk dewasa % pemerintah daerah % kelurahan Pemanfaat : Total pemanfaat Persentase pemanfaat perempuan INDIKATOR HASIL Indikator Komponen 1: Penguatan Kapasitas Masyarakat dan Pemerintah Daerah Tingkat kehadiran kaum miskin dan rentan dalam pertemuan2 perencanaan dan pengambilan keputusan Tingkat kehadiran perempuan dalam pertemuan2 perencanaan dan pengambilan keputusan Penduduk dewasa mengikuti pemilihan LKM ditingkat RT/komunitas basis. social. Pemerintah Kota/kab. menyediakan Dana Daerah (APBD) sesuai yang disyaratkan 1 Indikator Komponen 2: Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% Tahunan MIS KMP/KMW . ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur.

ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% kelurahan Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. ekonomi dan sosial yang diselesaikan setiap tahun Infrastruktur yang dibangun memiliki kualitas baik Kelurahan dengan program dana bergulir memiliki pinjaman beresiko ≥ 90 hari sebesar < 10% % kegiatan infrastruktur % kelurahan Indikator Komponen 3: Bantuan Teknis % propinsi % LKM ≥ 80% ≥ 90% Tahunan ≥ 80% ≥ 90% ≥ 90% Tahunan Laporan/MIS MIS KMP/KMW KMP/KMW Konsultan propinsi menyediakan data secara akurat dan tepat waktu melalui SIM (Sistem Informasi Manajemen) PNPM MANDIRI . ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% kelurahan ≥ 70% ≥ 35% ≥ 40% ≥ 50% Tiga Bulanan MIS ≥ 70% ≥ 70% Tahunan MIS KMP/KMW KMP/KMW Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. menyediakan Dana Daerah (APBD) sesuai yang disyaratkan Indikator Komponen 2: Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur. ekonomi dan sosial yang diselesaikan di minimum 85% kelurahan Tahunan MIS KMP/KMW ≥ 30% ≥ 30% Tiga Bulanan MIS KMP/KMW Th1 (2013) Th3 (2014) Frekwensi Sumber Penanggungjawab Target kumulatif Pengumpulan Data dan pengambilan keputusan Penduduk dewasa mengikuti pemilihan LKM ditingkat RT/komunitas basis.PERKOTAAN LKM telah menyelesaikan audit keuangan tahunan 2 | PEDOMAN PELAKSANAAN 93 . Pemerintah Kota/kab.Satuan Th1 (2012) perempuan ≥ 30% ≥ 75% ≥ 80% ≥ 80% Tahunan MIS KMP/KMW % penduduk dewasa % pemerintah daerah % kelurahan Jumlah dari setiap kegiatan infrastruktur.

LAMPIRAN 3. motivasi. KEGIATAN DI TINGKAT MASYARAKAT 2. Peran pendampingan pihak luar (fasilitator. 1. Pada tahapan awal pelaksanaan program di lokasi baru. komitmen. Prinsip Dasar Siklus Kegiatan di Masyarakat Beberapa prinsip dasar yang harus dianut dalam melaksanakan siklus di tingkat kelurahan. konsultan dll). pemda. dll). dengan bertumpu pada nilai universal kemanusiaan. kepedulian. § Pada bulan Januari tahun berikutnya maka Renta yang telah disahkan dalam RWT 94 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . MAKNA SIKLUS KEGIATAN DI MASYARAKAT Substansi dasar proses pemberdayaan masyarakat dititikberatkan pada memulihkan dan melembagakan kembali kapital sosial yang dimiliki masyarakat. korkot. siklus pelaksanaan PNPM MP adalah siklus kegiatan yang dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat di desa/kelurahan setempat. siklus pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sepenuhnya dan dilembagakan oleh masyarakat sendiri secara berkala dengan difasilitasi pendamping yang dititik beratkan pada menjaga koridor-koridor kesesuaian dengan nilai luhur.2.1. prakarsa. keputusan dan ikhtiar dari masyarakat berbasis pada nilai2 luhur dan kebutuhan masyarakat. sebagai berikut : § Siklus ini adalah siklusnya masyarakat. Pada tahapan berikutnya. berkewajiban melakukan proses pembelajaran masyarakat agar mereka mampu melakukan tahapan kegiatan PNPM MP di wilayahnya atas dasar kesadaran kritis terhadap substansi mengapa dan untuk apa suatu kegiatan itu harus dilakukan. jadi harus tetap berjalan saat lembaga kepemimpinan masyarakat telah terbentuk sesuai dengan aturan yang telah ditentukan di Pedoman Pelaksanaan PNPM MP dengan nama jenerik BKM/LKM § Tiap Siklus berlaku untuk masa kerja satu tahun kalender dari Januari s/d Desember § Tiap Desember tahun berjalan BKM/LKM harus sudah melakukan RWT (Rembug Warga Tahunan) sebagai rapat pertangungjawaban tahunan kepemimpinan BKM/ LKM dan pengesahan Renta (Rencana Tahunan) tahun berikutnya. para pendamping (fasilitator. hanyalah sebagai pendamping pembelajaran agar inisiatif. kemasyarakatan dan pembangunan berkelanjutan. transparansi dan akuntabilitas.PERKOTAAN . Oleh karena itu. yakni dengan mendorong masyarakat agar mampu meningkatkan kepedulian dan kesatuan serta solidaritas sosial untuk bahu-membahu dan bersatu-padu menanggulangi masalah kemiskinan di wilayahnya secara mandiri dan berkelanjutan.

diajukan dalam Musrenbang Kelurahan untuk diintegrasikan atau diadopsi dalam RPJMDes § Masa bakti anggota BKM/LKM ditetapkan 3 tahun § PJM Pronangkis ditetapkan untuk masa 3 tahun Berdasarkan prinsip tersebut di atas maka siklus pelaksanaan PNPM MP di kelurahan dapat dibedakan menjadi 3 Siklus tahunan berdasarkan urutan PNPM MP masuk ke kelurahan tersebut. pembentukan Lembaga Keswadayaan Masyarakat (BKM/LKM).1 Siklus 1 (Januari s/d Desember tahun pertama) Inti kegiatan PNPM MP di masyarakat kelurahan/desa adalah proses menumbuhkembangkan kemandirian dan keberlanjutan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dari. perencanaan partisipatif menyusun Program Jangka Menengah Penanggulangan Kemiskinan (PJM Pronangkis) berorientasi kinerja peningkatan IPMMDGs dan rencana tahunannya (Renta). yaitu: Siklus 1 : dimana tahun pertama PNPM MP mulai diperkenalkan di suatu kelurahan Siklus 2 : dimana tahun kedua PNPM MP bekerja di kelurahan yang sama Siklus 3 : dimana tahun ketiga PNPM MP bekerja di kelurahan yang sama Pada tahun ke 4 akan dilakukan Siklus 1 seperti pada tahun pertama karena pada tahun ke 3 masa bakti anggota BKM/LKM telah berakhir dan PJM Pronangkis juga telah berakhir 2. PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 95 .3. refleksi kemiskinan (RK).3 GARIS BESAR SIKLUS PNPM MP Siklus PNPM MP disusun untuk 3 tahun kalender yang berulang lagi pada tahun ke empat dengan siklus 1 2. Tahapan pelaksanaan kegiatan ini mencakup serangkaian kegiatan yang berorientasi pada siklus rembug kesiapan masyarakat dan kerelawanan (RKM). pemetaan swadaya (PS) berorientasi IPM-MDGs. serta pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat melalui KSM (kelompok swadaya masyarakat) dengan stimulan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). prinsip-prinsip universal kemasyarakatan. serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). melalui proses pembelajaran dan pelembagaan nilai-nilai universal kemanusiaan (value based development). oleh dan untuk masyarakt.

yaitu kemiskinan yg hrs ditanggulangi bersama • Menemukan akar penyebab kemiskinan • Membangun niat bersama utk menanggulangi kemiskinan secara terorganisasi • Menghasilkan relawan mampu memfasilitasi dan melaksanakan Pemetaan Swadaya • Menghasilkan relawan yg mampu menganalisis masalah dan potensi masyarakat • Membangun kesadaran akan realita persoalan dan potensi (sosial. ekonomi. nilai-nilai) masyarakat kelurahan • Membangun motivasi untuk berbuat/menyelesaikan persoalan • Menghasilkan relawan yg mampu memfasilitasi dan melaksanakan FGD Kelembagaan & Kepemimpinan • Menghasilkan relawan yg mampu menganalisis tata kelembagaan setempat • Masyarakat memahami kriteria kelembagaan yang dapat berperan sebagai BKM/LKM • Masyarakat menyadari kebutuhan lembaga yg dipimpin oleh orang-orang yang menerapkan nilai-nilai universal kemanusiaan • Masyarakat mampu merumuskan kriteria pemimpin masyarakat 2 REMBUG KESIAPAN MASYARAKAT (RKM) 3.Gambaran umum mengenai tahapan pelaksanaan kegiatan PNPM MP di tingkat masyarakat pada tahun pertama atau Siklus 1 dapat dilihat pada siklus kegiatan di bawah ini. lingkungan.PERKOTAAN   3   . Diagram Siklus 1 (Januari s/d Desember tahun pertama) PS BKM/LKM Pencairan  BLM   PJM/ RENTA Pemanfaatan  BLM   RK SOS AWAL/ PEMETAAN SOSIAL RKM KSM Secara matriks. PEMETAAN SWADAYA (PS) 5. PEMBENTUKAN BKM/LKM 96 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . REFLEKSI KEMISKINAN (RK) 4. langkah-langkah Siklus 1 (untuk tahun pertama) adalah seperti tersebut di bawah ini NO 1 TAHAPAN SIKLUS SOSIALISASI AWAL TUJUAN • Mendapatkan gambaran dinamika sosial masyarakat • Mendapatkan gambaran dinamika sosial masyarakat • Penyebarluas-an informasi ttg akan adanya program PNPM MP di kel/desa tersebut • Meminta izin kpd kepala kel/desa untuk melaksanakan proses siklus PNPM MP • Mengumumkan penerimaan relawan • Membangun komitmen masyarakat untuk menerima/menolak PNPM MP dgn segala konsekwensinya • Mendapatkan relawan yang sesuai kriteria • Menghasilkan relawan yang mampu memfasilitasi & mengawal PNPM MP (nilainilai) • Menghasilkan relawan yang mampu memfasilitasi Refleksi Kemiskinan • Menumbuhkan kesadaran bahwa ada masalah bersama.

langkah-langkah Siklus 1 (untuk tahun pertama) adalah seperti tersebut di bawah ini NO 1 TAHAPAN SIKLUS SOSIALISASI AWAL TUJUAN · Mendapatkan gambaran dinamika sosial masyarakat · Mendapatkan gambaran dinamika sosial masyarakat · Penyebarluas-an informasi ttg akan adanya program PNPM MP di kel/desa tersebut · Meminta izin kpd kepala kel/desa untuk melaksanakan proses siklus PNPM MP · Mengumumkan penerimaan relawan 2 REMBUG KESIAPAN MASYARAKAT (RKM) · Membangun komitmen masyarakat untuk menerima/menolak PNPM MP dgn segala konsekwensinya · Mendapatkan relawan yang sesuai kriteria · Menghasilkan relawan yang mampu memfasilitasi & mengawal PNPM MP (nilai-nilai) 3.Secara matriks. yaitu kemiskinan yg hrs ditanggulangi bersama · Menemukan akar penyebab kemiskinan · Membangun niat bersama utk menanggulangi kemiskinan secara terorganisasi · Menghasilkan relawan mampu memfasilitasi dan melaksanakan Pemetaan Swadaya · Menghasilkan relawan yg mampu menganalisis masalah dan potensi masyarakat · Membangun kesadaran akan realita persoalan dan potensi (sosial.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 97 . PEMETAAN SWADAYA (PS) PNPM MANDIRI . lingkungan. REFLEKSI KEMISKINAN (RK) · Menghasilkan relawan yang mampu memfasilitasi Refleksi Kemiskinan · Menumbuhkan kesadaran bahwa ada masalah bersama. nilai-nilai) masyarakat kelurahan · Membangun motivasi untuk berbuat/menyelesaikan persoalan 4. ekonomi.

PENYUSUNAN PJM Menghasilan relawan/BKM/LKM yg mampu melaksanakan penyusunan / RENTA PRONANG. PENGORGANISASIAN KSM (pengorganisasian KSM ini dpt juga dilakukan sth PS) Menghasilan relawan melaksanakan pengorganisasian KSM Terbentuknya KSM sebagai satuan unit sosial yang saling tolong dalam mengembangkan diri masing-masing anggotanya 2.NO 5. yang kemudian disampaikan dalam Rembug Warga Tahunan (RWT). dan kinerja keuangan BKM/LKM.PERKOTAAN .2 Siklus 2 (Januari s/d Desember tahun kedua) Siklus 2 ini diawali dengan serangkaian kegiatan meninjau-ulang kinerja kelembagaan BKM/LKM. Menghasilan panitia yg mampu melaksanakan pembentukan BKM/LKM · Penyusunan draft AD/ART · Kesepakatan aturan main pembentukan BKM/LKM & kriteria utusan/anggota BKM/LKM Memilih utusan RT berdasarkan kriteria nilai luhur (Bila jml RT banyak dpt dilakukan pemilihan saringan di RW) Membangun lembaga kepemimpinan masyarakat yang diisi oleh orang-orang baik. TAHAPAN SIKLUS PEMBENTUKAN BKM/LKM TUJUAN · Menghasilkan relawan yg mampu memfasilitasi dan melaksanakan FGD Kelembagaan & Kepemimpinan · Menghasilkan relawan yg mampu menganalisis tata kelembagaan setempat · Masyarakat memahami kriteria kelembagaan yang dapat berperan sebagai BKM/LKM · Masyarakat menyadari kebutuhan lembaga yg dipimpin oleh orang-orang yang menerapkan nilai-nilai universal kemanusiaan · Masyarakat mampu merumuskan kriteria pemimpin masyarakat · Membentuk Panitia Pendirian BKM/LKM .3. capaian Rencana Tahunan. murni dan benar 6. Adapun peninjauan ulang tersebut minimum meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) Penilaian terhadap kinerja kelembagaan BKM/LKM Mengingat anggota BKM/LKM memiliki masa bakti 3 tahun maka pada tahun kedua 98 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .Pronangkis KIS Tersusunnya program kegiatan penanggulang-an kemiskinan (tiga tahunan & tahunan) 7.

agenda pertemuan rutin.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 99 . akuntabilitas dan demokrasi § Penilaian capaian target indikator kinerja pelaksanaan PNPMM Perkotaan sesuai digariskan dalam pedoman 2) Penilaian terhadap capaian Renta § Apakah semua usulan yang di Renta sdh dilaksanakan semua. § Bila belum mengapa dan berapa yang masih harus diluncurkan di tahun berikutnya § Mutu produk yang dihasilkan (fisik maupun non fisik). dan keterlibatan relawan § Penerapan transparansi. sesuai indikator kinerja yang digariskan dalam SOP pengukuran kinerja pembukuan BKM/LKM § Penilaian kinerja UPK (Unit Pengelola Keuangan) sebagai pengelola dana bergulir sesuai dengan indikator kinerja yang digariskan dalam SOP pengukuran kinerja pembukuan UPK § Besarnya dana yang dapat digalang BKM/LKM dari berbagai sumber § Penilaian kesesuaian pemanfaatan dana dengan prosedur yang sudah ditentukan. manfaat terhadap KK miskin. serta kesesuaian dengan Renta atau arah PJM § Penerapan transparansi. termasuk keaktifan anggota. yang memberikan lingkup kemanfaatan lebih luas bagi masyarakat kelurahan 3) Penilaian kinerja keuangan BKM/LKM § Penilaian kinerja keuangan Sekretariat BKM/LKM. dan ekonomi § Disusun Renta tahun berikutnya dengan memperhatikan capaian tahun berjalan. sosial. dst). Kegiatan infrastruktur yang diprioritaskan dalam Renta adalah kegiatan yang secara langsung memberikan dampak/manfaat secara kolektif bagi masyarakat dan diutamakan kegiatan yang bersifat lintas wilayah (lintas RT atau RW. kelengkapan struktur organisasi BKM/LKM.ini yang dinilai adalah kinerja BKM/LKM yang mencakup : § Penilaian kinerja BKM/LKM sesuai digariskan dalam AD/ART BKM/LKM. partisipasi dan realisasi kontribusi masyarakat § Status penyelesaian pertanggungjawaban KSM/panitia dalam melaksanakan kegiatan infrastruktur. akuntabilitas dan demokrasi dalam pengelolaan dana § Pelaksanaan audit keuangan BKM/LKM Setelah peninjauan ulang ketiga hal tersebut maka dapat dibuatan rencana kerja untuk perbaikan sehingga diperoleh : PNPM MANDIRI .

100 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN . 2) Renta tahun berikutnya dengan memperhitungkan capaian Renta tahun berjalan untuk nantinya diajukan dalam Musrenbang tingkat Kelurahan dilanjutkan ke Musrenbang Kecamatan 3) Laporan keuangan yang telah disetujui oleh Askot MK Ketiga hal tersebut diatas harus menjadi bagian utama dalam dokumen pertanggungjawaban atau LPJ BKM/LKM yang dimusyawarahkan dalam Rembug Warga Tahunan di bulan Desember tiap tahun.1) Rencana perbaikan kinerja BKM/LKM dan bila diperlukan melakukan penggantian terhadap anggota yang non aktif dengan menggunakan daftar warga terpilih sebagai anggota BKM/LKM pada waktu pemilihan anggota BKM/LKM pada 2 tahun yang lalu. Setelah melakukan ini maka BKM/LKM berhak mendapat tambahan BLM.

Kec dan Kab/Kota           Musrenbang Desa/Kel.3.3.3 Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Pada dasarnya Siklus 3 adalah sama dengan Siklus 2 karena BKM/LKM juga masih pada kurun masa Siklus 3 PJM juga masih berlaku meskin tidak BKM/LKM juga masih Pada dasarnyabakti dan adalah sama dengan Siklus 2 karena menutup kemungkinan Pada dasarnya Siklus dan PJM juga masih Siklus 2 karena tidak menutup pada kurun masa bakti3 adalah sama dengan berlaku meskin BKM/LKM juga masih untuk revisi pada kurun masa bakti dan kemungkinan untuk revisi PJM juga masih berlaku meskin tidak menutup kemungkinan untuk revisi Diagram Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Diagram Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Diagram Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) Musrenbang Desa/Kel. BKM/LKM.3. PJM   Kec dan Kab/Kota sebagai input bagi RPJM     PJM/ RENTA PJM/ RENTA Pencairan & Pemanfaatan BLM Pencairan & Pemanfaatan BLM Des/Renstra Kel PJM sebagai input bagi RPJM dan Renta sebagai Des/Renstra Kel input bagi RKP dan Renta sebagai Desa atau Renja input bagi RKP Kel Desa atau Renja Kel KEUANGAN 2.3 2.Diagram Siklus 2 (Januari s/d Desember tahun kedua) Diagram Siklus 2 (Januari s/d Desember tahun kedua) Musrenbang Diagram Siklus 2 (Januari s/d Desember tahun kedua) Desa/Kel. Kec dan Kab/Kota Kec dan Kab/Kota Musrenbang Desa/Kel. KINERJA dan BKM/LKM. BKM/LKM. dan dan KEUANGAN KEUANGAN KSM KSM Tambahan BLM Tahun ke-3 Tambahan BLM Tahun ke-3 PNPM MANDIRI . KEUANGAN dan KSM KSM Tambahan BLM Tahun ke-2 Tambahan BLM Tahun ke-2 2. REVIEW KINERJA RENTA. RENTA. KINERJA KINERJA BKM/LKM.3 Siklus 3 (Januari s/d Desember tahun ketiga) REVIEW RENTA.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 101 .             PJM/ PJM/ RENTA RENTA PJM sebagai input bagi RPJM bagi RPJM Des/Renstra Des/Renstra Kel Kel dan Renta sebagai dan Renta sebagai input bagi RKP input bagi RKP Desa atau Renja Desa atau Renja KelKel PJM sebagai input Pencairan &   Pemanfaatan BLM Pencairan &   Pemanfaatan BLM REVIEW REVIEW RENTA.

PERKOTAAN .2. maka pada Siklus 4 dimulai dengan putaran awal Siklus 1 Diagram Siklus 4 (Januari s/d Desember tahun keempat) Diagram Siklus 4 (Januari s/d Desember tahun keempat) Musrenbang Desa/Ke.3. PJM juga sdh selesai pada Siklus 3.3.4 Siklus 4 (Januari s/d Desember tahun keempat) BKM/LKM sudah selesai masa baktinya pada Siklus 3. Kec dan Kab/Kota PS BKM/LKM   RK PJM/ RENTA PJM sebagai input bagi RPJM Des/Renstra Kel dan Renta sebagai input bagi RKP Desa atau Renja Kel REFLEKSI 3 TH PNPM MP DI KELURAHAN   Pencairan  dana  (hasil  sinergi   program/  channeling)   KSM 102 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . BKM/LKM sudah selesai4masa baktinya pada Siklus 3.4 Siklus 4 (Januari s/d Desember tahun keempat) 2. Siklus juga sdh selesai pada maka pada Siklus dimulai dengan putaran awal PJM 1 Siklus 3.

oleh dan untukuniversal kemasyarakatan masyarakt.  RK. Dengan demikian. melalui proses kemanusiaan (value based development). serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).  BLM RWT Pra-­‐Musrenbang Tahun  ke-­‐2  dan  Tahun  ke-­‐3 Mei Jun Jul Ags Jan Feb Mar Apr Sep Okt Nop Des Pencairan  dan  Pemanfaatan  BLM Audit  BPKP  dan  Inspektorat  Kab/Kota Review  Partisipatif. melalui proses pembelajaran dan pelembagaan nilai-nilai universal ya-upaya penanggulangan kemiskinan dari.5. prinsip-prinsip pembelajaran dan pelembagaan nilai-nilai universal kemanusiaan (value based develop(good governance).5.Kec : MusrenbangKemiskinan RK : Refleksi Kecamatan Msrb.  BKM/LKM.  Kel/ds.  PJM.  PS. 3. 2.4. keberlanjutan upamasyarakt. Skenario Pelaksanaan Skenario   Pelaksanaan Intervensi  Program Siklus  Masyarakat Proses  Musrenbang Skenario   Pelaksanaan Intervensi  Program Siklus  Masyarakat Proses  Musrenbang Skenario   Pelaksanaan Intervensi  Program Siklus  Masyarakat Proses  Musrenbang 4. Review BKM/LKM sesuai AD/ART Review kinerjakinerja BKM/LKM sesuai AD/ART 4.Kab/Kota : Musrenbang Kabupaten/Kota Msrb.  RWT Audit  Independen Msrb.  KSM. Skenario Pelaksanaan Jan Feb Mar Apr Mei Tahun  ke-­‐1 Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des RKM. Review Keuangan BKM/LKM melalui penilaian kinerja Sekretariat dan UPK serta Audit Review Keuangan BKM/LKM melalui penilaian kinerja Sekretariat dan UPK serta Audit Keterangan : RWT : Rembug Warga Tahunan Msrb.  Kab/Kt Tahun  ke-­‐4 Jun Jul Pra-­‐Musrenbang Jan Feb Mar Apr Mei Ags Sep Okt Nop Des Pencairan  dan  Pemanfaatan  BLM Audit  BPKP  dan  Inspektorat  Kab/Kota Refleksi  3  th  PNPM  MP  di  Kel/desa  (Perencanaan  Partisipatif.Kab/Kota : Musrenbang Kabupaten/Kota RKM : Rembug Kesiapan Masyarakat RK : Refleksi Kemiskinan PS : Pemetaan Swadaya BKM/LKM : Badan Keswadayaan Masyarakat/ Lembaga Keswadayaan Masyarakat PS : Pemetaan Swadaya PJM : Perencanaan Jangka Menengah BKM/LKM: Rencana Keswadayaan Masyarakat/ : Badan Tahunan Renta Lembaga Keswadayaan Masyarakat BLM : Bantuan Langsung Masyarakat PJM : Perencanaan Jangka Menengah Renta : Rencana Tahunan BLM : Bantuan Langsung Masyarakat   Dengan demikian. Untuk tahun ke-2 : Review Renta Tahun ke-1 & Penyusunan Renta Tahun ke-2 Untuk tahun ke-3 :ke-3 : Review Renta Tahunke-2 &Penyusunan Renta Tahun ke-3 ke-3 2.3. dapat disimpulkan bahwa Inti kegiatan PNPM MPkemandirian dan di masyarakat kelukelurahan/desa adalah proses menumbuhkembangkan keberlanjutan upaya-upaya penanggulangan kemandirian dan oleh dan untuk rahan/desa adalah proses menumbuhkembangkankemiskinan dari.  Kec. prinsip-prinsip universal kemasyarakatan (good governance).Kel/Ds : MusrenbangKesiapan Masyarakat RKM : Rembug Kelurahan/Desa Msrb.  BKM/LKM.  Kec.  Kab/Kt Pra-­‐Musrenbang 1. Untuk tahun Review Renta Tahun ke-2 & Penyusunan Renta Tahun 3. ment).PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 103 .Kec : Musrenbang Kecamatan RWT : Rembug Warga Tahunan Msrb. 4. Agenda Review Partisipatif : Agenda Review : Review Untuk tahun ke-2Partisipatif : Renta Tahun ke-1 & Penyusunan Renta Tahun ke-2 1. dapat disimpulkan bahwa Inti kegiatan PNPM MP di masyarakat PNPM MANDIRI . serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).Kel/Ds Keterangan : : Musrenbang Kelurahan/Desa Msrb.  RWT Audit  Independen Msrb.  KSM).  Kel/ds.3.

identifikasi perempuan. Strategi gender menyediakan layanan yang untuk UPP 3 dan PNPM kebutuhan Hal ini juga penting untuk berikut ini dikembangkan merespon tidak hanya untuk masyarakat luas. issue budaya lokal yang spesifik. • 2 Penguatan Kapasitas untuk Pemerintah Daerah • • 3 Konsultan dan Fasilitator • • • • 4 5 Pelatihan Konsultan dan Fasilitator Pedoman/brosur Sederhana tentang • • • • 104 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Strategi gender berikut ini dikembangkan untuk UPP 3 gender agar lebih sistematis ini kesetaraan. Strategi dantelah diperbarui untuk PNPM MP-III untuk pengarusutamaan gender agar lebih sistematis dan kesetaraan.tersebut. Lampiran 4 : Strategi untuk Memastikan Kesetaraan dan Pengarusutamaan Gender Partisipasi perempuan dalam proses pembangunan masyarakat merupakan faktor kunci PNPM MP 2012-2014 dalam membangun organisasi yang benar-benar mewakili semua orang di masyarakat. Semua kontrak harus mencakup cuti hamil bagi perempuan Sertakan isu-isu yang berkaitan dengan gender (teknik pertemuan. menggunakan apapun media dan bahasa yang sesuai. waktu. perempuan harus mendapatkan prioritas Diharapkan minimal sepertiga dari konsultan dan fasilitator per provinsi adalah perempuan Cuti hamil akan sesuai dengan hukum yang berlaku pada waktu sekarang.PERKOTAAN 1 . 1. selebaran Evaluasi cepat berkala oleh fasilitator harus mengidentifikasi efektivitas bahan yang digunakan dan juga mengidentifikasi mereka yang tidak menerima informasi dalam kelurahan sehingga inisiatif baru dapat diperkenalkan Membahas perlunya Pengarusutamaan Utama Gender dan Anggaran yang Responsif Gender dalam setiap kegiatan sosialisasi maupun lokakarya di tingkat propinsi. kabupaten/kota sampai tingkat Lurah/Kades Memberikan tambahan materi pelatihan pada kegiatan pelatihan penguatan pemda maupun TOT Pemda Iklan untuk semua staf proyek baru harus menyatakan bahwa 'perempuan sangat dianjurkan untuk mengirim lamaran' Jika ada kedua kandidat memenuhi syarat pria dan wanita untuk posisi. radio. misalnya. dll) Mengidentifikasi cara-cara khusus dan dapat diterima lokal untuk (a) memastikan perempuan dapat berpartisipasi dalam semua aspek program.LAMPIRAN 4 STRATEGI UNTUK MEMASTIKAN KESETARAAN DAN PENGARUSUTAMAAN GENDER PNPM MP 2012-2014 1. Hal ini juga penting untuk menyediakan layanan yang merespon tidak hanya untuk maPartisipasi perempuan dalam proses pembangunan masyarakat merupakan faktor kunci syarakat luas. Sedikitnya 30% dari fasilitator dipilih harus perempuan. No 1 Di bawah ini adalah implementasi dari strategi kemajuan dalam PNPM MP: :MP: : Di bawah ini adalah implementasi dari strategi kemajuan dalam PNPM Kegiatan Sosialisasi dan diseminasi di tiap tingkatan (level nasional sampai kelurahan/desa) • • • Langkah-langkah untuk Memastikan Pengarusutamaan Gender dan Kesetaraan Menjelaskan dan membahas betapa pentingnya partisipasi perempuan adalah untuk pengurangan kemiskinan Jelaskan tujuan gender dari proyek dalam strategi kemiskinannya Ahli strategi komunikasi bertanggung jawab untuk menentukan cara terbaik untuk memastikan bahwa perempuan di semua tingkatan menerima informasi yang sama dengan pria. 2. PNPM MP-I. fasilitas. drama. Strategi ini telah diperbarui untuk PNPM MP-III untuk pengarusutamaan dan memiliki kebutuhan tersebut. tetapi organisasi yang spesifik bahwa perempuan mungkin memiliki dalam membangun juga untuk kebutuhanbenar-benar mewakili semua orang di masyarakat. Dalam kontrak konsultan dan fasilitator harus dijelaskan ketentuan tambahan biaya untuk penyediaan imbalan bersalin yang harus dimasukkan dalam biaya sosial dari kontrak tersebut. poster. 2. tetapi juga untuk kebutuhan spesifik bahwa perempuan mungkin MP-I.

misalnya. identifikasi perempuan. waktu. 4 No 1 5 No 6 7 8 2 9 3 10 11 12 13 4 5 14 Partisipasi perempuan • Jika ada keduapembangunan masyarakatdan wanita untuk posisi. perempuan Jika ada dua kandidat pria dan wanita harus dijelaskan ketentuan tambahan harus untuk penyediaan imbalan bersalin yang harus dimasukkan dalam biaya mendapatkan prioritas Penyusunan Proposal • biaya sosial dari kontrak tersebut. waktu. Strategi ini telah kontrak konsultan dan PNPM MP-IIIdijelaskan pengarusutamaan biaya untuk penyediaan gender agar lebih sistematis dan kesetaraan. issue budaya lokal yang spesifik. Rembug/Rapat dalam sampai kelurahan/desa) •• Sedikitnya 30% dari peserta harus perempuan menentukan cara terbaik Ahli strategi komunikasi bertanggung jawab untuk pemilihan relawan • Memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dalam pemilihan untuk memastikan bahwa perempuan di semua tingkatan menerima 1 masyarakat relawan yang sama dengan pria. poster. kabupaten/kota sampai tingkat Lurah/Kades Peserta seleksi untuk • Coba dan memastikan selama pelatihan pada kegiatan pelatihan penguatan • Memberikan tambahan materi sosialisasi bahwa 50% peserta adalah Pemetaan Swadaya dan perempuan pemda maupun TOT Pemda pelatihan perencanaan • Iklan untuk semua stafdari anggota Surveymenyatakan bahwa 'perempuan Konsultan dan Fasilitator • Setidaknya sepertiga proyek baru harus Swadaya harus perempuan partisipatif sangat dianjurkan untuk mengirim lamaran' Mengembangkan • Mencobakedua kandidat memenuhi syarat pria dan wanita untuk posisi. tetapi juga untuk kebutuhan spesifik bahwa perempuan mungkin • Cuti hamil akan sesuai berikut ini dikembangkan untuk sekarang. dll untuk meningkatkan kinerja jika diperlukan1 • Membuat data terpilah laki-laki dan perempuan dalam SIM • Strategi untuk menjamin transparansi harus memastikan bahwa perempuan memiliki akses yang mudah ke sumber informasi dan bahwa mereka memahami tanggung jawab mereka untuk memantau penggunaan dana. kunci dalam proses kandidat memenuhi syarat pria merupakan faktor perempuan yang benar-benar dalam membangun organisasi harus mendapatkan prioritasmewakili semua orang di • Diharapkan minimal sepertiga dari konsultan dan merespon tidak masyarakat. • Sedikitnya 30% dari fasilitator dipilih harus perempuan. issue budaya lokal yang Gender dan Kesetaraan Sosialisasi dan • Mengidentifikasi cara-cara khusus untuk Memastikan untuk (a) membahas betapa pentingnya partisipasi Pedoman/brosur • Menjelaskan danLangkah-langkahdan dapat diterima lokal perempuan Kegiatan diseminasi tentang adalah untuk perempuan dapat berpartisipasi dalam semua aspek program. issue budaya lokal yangmengidentifikasi mereka yang tidak bahan yang digunakan dan juga spesifik.1. memiliki kebutuhan tersebut. Menentukan prioritas • Pastikan KSM perempuan yang diusulkan dapat perempuanpertemuan (yaitu • Semua kontrak harus mencakup cuti hamil bagi datang ke proposal dalam Pelatihan Konsultan dan • perhatikan masalah tempat dan waktu pertemuan untuk pertemuan. Di bawah ini adalah implementasi dari strategi kemajuan dalam PNPM MP: : • Semua kontrak harus mencakup cuti hamil bagi perempuan Langkah-langkah untuk Memastikan Pelatihan Konsultan dan • Sertakan isu-isu yang berkaitan dengan gender (teknik pertemuan. • Jika ada dan memastikan bahwa 40% dari peserta pertemuan adalah Lembaga Masyarakat perempuan harus mendapatkan prioritas perempuan (BKM/LKM) proses dari • Diharapkan minimal sepertiga dari konsultan dan fasilitator per provinsi • Pastikan melalui sosialisasi bahwa masyarakat menyadari bahwa RT / RW / Dusun sampai perempuan memiliki adalah perempuan kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota tingkat kelurahan/desa BKM • Cuti hamil akan sesuai dengan hukum yang berlaku pada waktu sekarang. pengurangan kemiskinan Sederhana di tiap memastikan Pengarusutamaan Gender dan Kesetaraan Gender (level nasional dan (b) untuk menyebarluaskan informasi strategi kemiskinannya tingkatan • Jelaskan tujuan gender dari proyek dalam kepada perempuan. dll) Diskusi Kelompok • Mengadakan diskusidalam kelurahan sehinggauntuk perempuan (terpisah menerima informasi kelompok terarah khusus inisiatif baru dapat Terarah/FGD khusus dari laki-laki) diperkenalkan pada identifikasi Penguatan Kapasitas • Pastikan bahwa pendekatan gender sensitif / metode yang digunakan yang • Membahas perlunya Pengarusutamaan Utama Gender dan Anggaran kemiskinan dan analisis untuk Pemerintah Daerah sesuai dengan kondisi lokal (tempat. 2. Seleksi UPK • Dalam kontrak konsultan dan fasilitatoryang memenuhi syarat. Kegiatan Pengarusutamaan spesifik. identifikasi perempuan. imbalan bersalin yang harus dimasukkan dalam biaya sosial dari kontrak tersebut. termasuk rapat. Hal ini juga penting untuk menyediakan layanan yangfasilitator per provinsihanya adalah perempuan untuk masyarakat luas. waktu. kondisi lokal mereka) warga' • Berikan prioritas untuk proposal perempuan jika mereka memenuhi kriteria Pedoman/brosur • Mengidentifikasi cara-cara khusus dan dapat diterima lokal untuk (a) menurut tim verifikasi dapat berpartisipasi dalam semua aspek program. waktu. drama. dll) Responsif Gender dalam setiap kegiatan sosialisasi maupun lokakarya di kelembagaan lokal tingkat propinsi. Evaluasi isu-isu yang oleh fasilitator harus mengidentifikasi efektivitas fasilitas. Strategi genderdengan hukum yang berlaku pada waktu UPP 3 dan Dalam diperbarui untuk fasilitator harus untuk ketentuan tambahan PNPM MP-I. dll) Fasilitator fasilitas. Gunakan metode partisipatif untuk monitoring di tingkat kelurahan/desa PNPM MANDIRI . Sederhana tentang memastikan perempuan Format Monitoring dan • Pastikan format untuk monitoring dan evaluasi mengumpulkan informasi Evaluasi tentang partisipasi perempuan dalam semua aspek proyek. radio. Memastikan bahwa perempuan menyusun sendiri proposal KSM (dengan KSM bantuan dari komunitas kader / fasilitator jika diperlukan) • Sedikitnya 30% dari fasilitator dipilih harus perempuan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 105 . perempuan penerima manfaat. Sertakan isu-isu yang berkaitan dengan gender (teknik memungkinkan pertemuan 'rembug perempuan dapat berpartisipasi mengingatidentifikasi perempuan. menggunakan apapun media dan bahasa informasi • Sedikitnya 30% dari relawan masyarakat terpilih harus perempuan yang sesuai. selebaran Pelatihan Relawan •• Sertakan cepat berkalaberkaitan dengan gender (teknik pertemuan. dll) Fasilitator fasilitas. teknik fasilitasi.

yang diadopsi pada tahun 2008. dan • Sanksi dan penyelesaian. dan membuat informasi relevan yang tersedia melalui website PNPM MP. Mengurangi korupsi dimulai dengan mengidentifikasi sumber risiko korupsi. Lampiran ini merangkum fitur kunci dari BGAP PNPM MP. papan pengumuman dan sarana lainnya. Untuk penyusunan BGAP.PERKOTAAN . dan hasil implementasi per Oktober 2011. Untuk mencapai tujuan ini. 4. Informasi ini mencakup: • (Diperbaharui) rencana pengadaan tahunan dan jadwal. RENCANA AKSI TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG LEBIH BAIK PNPM MANDIRI PERKOTAAN 2012-2014 1. dalam menanggapi pelajaran selama pelaksanaan program dan beradaptasi dengan risiko baru jika hal ini harus muncul. Bank dan Kementerian Pekerjaan Umum (Instansi Pelaksana PNPM MP) telah mengidentifikasi sumber resiko korupsi di 15 daerah. • Pengawasan oleh masyarakat. Tujuan keseluruhan dari BGAP PNPM MP adalah untuk meminimalkan resiko korupsi untuk seluruh program. Pendahuluan. Rencana Aksi Pemerintahan yang Lebih Baik (BGAP) telah menjadi bagian dari desain Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dan proyek-proyek perkotaan serta pedesaan pendahulunya. Perlu dicatat bahwa BGAP diharapkan dapat berubah seiring waktu. BGAP menginginkan: • mengidentifikasi risiko korupsi (pemetaan korupsi). Sejak tahun 2003. untuk mengidentifikasi risiko baru dan menggabungkan inovasi dan pelajaran selama pelaksanaan PNPM MP. dan mengidentifikasi langkah-langkah untuk mengurangi risiko ini. Elemen 1: ketentuan peningkatan keterbukaan dan transparansi. Pemetaan korupsi. Pelaksanaan Rencana Aksi 3.: • Meningkatkan keterbukaan dan transparansi.LAMPIRAN 5. 106 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . pertemuan publik. • Penanggulangan kolusi. dan • melaksanakan suatu rencana aksi untuk mengurangi risiko korupsi. Tindakan yang dilakukan merupakan tambahan persyaratan dari sistem kontrol standar yang digunakan oleh Bank. BGAP telah mengadopsi ketentuan terbaru Bank tentang keterbukaan. Identifikasi Risiko Korupsi (Pemetaan Korupsi) 2. Kunci elemen BGAP yang BGAP ini terdiri dari lima elemen utama berikut. Pemetaan korupsi akan dilakukan secara periodik. • Mekanisme penanganan pengaduan. penipuan dan nepotisme.

• Evaluasi periodik oleh konsultan evaluasi yang disewa oleh PNPM MP. tetapi juga untuk mempertahankan akuntabilitas tingkat tinggi dan pemerintahan yang baik. Pengaduan. Risiko tindakan mitigasi meliputi: • Kegiatan pengadaan diiklankan secara baik dan transparan. 5. Permintaan Proposal. dengan menyediakan narasumber untuk pengembangan PJM Pronangkis. Elemen 2: pengawasan oleh masyarakat. proposal. seperti pengawasan tambahan oleh tenaga ahli pengadaan dan manajemen keuangan. dan Tindakan yang dilakukan oleh PMU dan lembaga lainnya. termasuk yang ditangani di pengadilan untuk menyelesaikan laporan pengaduan. sebagai kapasitas sangat bervariasi antara daerah. Selain itu. dan dis- 6. pendekatan yang berbeda diperlukan untuk memobilisasi masyarakat dalam program ini. tidak hanya untuk meningkatkan kualitas kegiatan yang dilaksanakan dengan dukungan dana dari program ini. Di banyak kota. Elemen 3: Penanggulangan kolusi. Korkot mengembangkan komunitas belajar. dan evaluator (secara ad-hoc). penipuan dan nepotisme PNPM MP dirancang untuk mengurangi kolusi. yang terdiri dari wakil dari berbagai elemen masyarakat termasuk LSM dan Perguruan Tinggi setempat. media lokal secara efektif yang menyediakan pengawasan. Laporan Audit. penipuan dan nepotisme. Rancangan program ini didasarkan pada pemikiran bahwa pengawasan oleh masyarakat adalah dimungkinkan untuk mengurangi risiko korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Berdasarkan pengalaman dalam proyek-proyek UPP sebelumnya. Karena PNPM MP langsung melibatkan kelompok masyarakat dalam pemantauan hasil subproyek. LSM dan organisasi masyarakat sipil lainnya yang terlibat dalam program melalui partisipasi dalam lokakarya regional.• • • • • Dokumen Pelelangan. Di tempat lain. dan kutipan (setelah pemenang diumumkan). Tingkat partisipasi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat adalah sangat penting untuk keberhasilan PNPM MP. sebagai penyedia pelatihan. BGAP ini telah dikembangkan untuk meningkatkan tata kelola kegiatan proyek baik di tingkat pusat (dengan Kementerian Pekerjaan Umum sebagai Instansi Pelaksana) dan tingkat masyarakat (di mana pelaksanaan subproyek terjadi). BGAP memerlukan PMU untuk mengungkapkan kepada semua peserta tender ringkasan hasil evaluasi penawaran. PNPM MANDIRI . • Tambahan audit dan prosedur pengadaan. pendekatan ini telah terbukti tidak efektif di beberapa daerah di mana masyarakat telah diperas oleh “wartawan”. dan evaluasi kualitas barang dan jasa yang dibiayai oleh dana BLM kelurahan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 107 .

Selain itu. masalah yang mungkin dalam bidang program ini. atau langsung ke fasilitator atau pejabat pemerintah daerah.071 kasus dana disalahgunakan. 23 kasus telah dibawa ke kantor polisi dan jaksa.eminasi hasil evaluasi kepada pihak teknis terkait. yang mungkin termasuk penggunaan ICT. sistem telah penuh dengan lebih dari 60. peningkatan prosedur. sebagaimana diamanatkan oleh hukum Indonesia (dalam hal intra-masyarakat. Elemen 4: penanganan pengaduan. yang dipublikasikan di website PNPM MP. dan tanpa resiko pembalasan untuk “whistleblower”. Pengalaman dengan proyek-proyek pem- 8. penipuan kolusi dan nepotisme. Sebuah unit penanganan pengaduan di Instansi Pelaksana meneliti dan berusaha untuk menyelesaikan setiap keluhan. • Daerah yang perlu penguatan berhubungan dengan “pemeriksaan invoice” konsultan oleh PMU. seperti kinerja konsultan dan fasilitator. Setiap keluhan. SMS. Kapasitas untuk menyelesaikan keluhan perlu ditingkatkan dengan melibatkan pemerintah daerah. Sistem saat ini telah berhasil dalam menerima banyak keluhan (sekitar 50/ hari). dll Elemen 5: sanksi dan penyelesaian. Namun. tren dalam penegakan hukum. email. email biasa. Juga. serta melalui tekanan publik. termasuk informasi mengenai tindak lanjut dan sanksi diterapkan. penipuan dan nepotisme ke kantor Jaksa Agung. 108 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . tambahan verifikator. PNPM MP dirancang untuk mendorong resolusi pengaduan lokal melalui jalur formal. 7. Data-data perusahaan harus sistematis untuk memungkinkan prioritas. PMU perlu meningkatkan kapasitas untuk meninjau dan menganalisis data ini untuk mengidentifikasi tren risiko. kasus akan dilaporkan dan dibahas sebagai pertemuan masyarakat sebelum diajukan kepada hukum penegak hukum). PNPM MP telah menempatkan sistem keluhan komprehensif penanganan di tempat yang memungkinkan warga untuk menyampaikan pengaduan atau pertanyaan ke unit manajemen program melalui telepon. secara profesional dan tepat waktu. dan meningkatkan secara acak vendor checking. peningkatan kapasitas dari verifikator. Sistem ini banyak digunakan untuk pengendalian manajemen.PERKOTAAN . • Analisis laporan SIM untuk kasus kolusi.000 keluhan selama beberapa tahun terakhir. Proyek ini akan membantu PMU untuk mengembangkan sistem yang lebih transparan untuk pemeriksaan invoice. penipuan dan nepotisme sebagai bagian dari Laporan Tata Kelola dua tahunan untuk mengidentifikasi tren dalam penipuan dan korupsi dan risiko baru mungkin untuk tujuan Proyek. Dari 1. dan • Pelaporan langsung dari kasus kolusi.

Harus ditekankan bahwa BGAP menganggap sanksi berbasis masyarakat sebagai pelengkap . pemerintah kota dapat perkecualian dari partisipasi dalam PNPM MP jika ada bukti bahwa penyalahgunaan dana adalah sistemik dalam beberapa kelurahan di Kabupaten / kota. dan hukuman tambahan (seperti denda dan daftar hitam/black list) dapat dikenakan sesuai peraturan antara Bank dengan dan Pemerintah Indonesia. BKM dapat (sementara atau seterusnya) ditunda akses ke dana PNPM dalam kasus di mana diduga ada penyalahgunaan besar dana.1 di bawah ini menunjukkan status implementasi BGAP dan pelajaran. yang juga dapat diterapkan. LSM. Status dan Hasil Pelaksanaan BGAP (per Oktober 2011) 9. anggota masyarakat. Demikian pula.dan bukan sebagai pengganti . yang terbebani dan lambat (ini terutama keuntungan bagi kasus yang lebih kecil dari korupsi).PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 109 . Semua kontrak yang dibiayai oleh PNPM MP mengandung klausul yang menyatakan bahwa setiap bukti korupsi. Tabel ini akan diperbarui dari waktu ke waktu.Keuntungan utama dari pengenaan sanksi berbasis masyarakat adalah bahwa dapat lebih mudah dan efektif diterapkan sebagai lawan hukum formal.bangunan berbasis masyarakat lainnya telah menunjukkan bahwa resiko korupsi dapat dikurangi secara efektif dengan menggunakan sanksi berbasis masyarakat (atau ancaman menggunakan sanksi tersebut). kolusi dan nepotisme akan mengakibatkan pemutusan kontrak itu. PNPM MANDIRI . Ini berarti bahwa setiap pejabat pemerintah. Tabel. sebagian besar strategi telah diimplementasikan dengan berbagai tingkat efektivitas. Secara keseluruhan. sehingga PNPM MP mendorong masyarakat untuk menjatuhkan sanksi terhadap warga negara yang dipercayakan kepada mereka memiliki wewenang yang disalahgunakan . Pemerintah telah menyebarluaskan BGAP ke fasilitator dan memberikan pelatihan pada pelaksanaannya.dengan ketentuan bahwa sanksi ini sudah wajar dan sesuai (program secara tegas TIDAK mendukung main hakim sendiri atau bentuk-bentuk ekstrimisme). atau perusahaan swasta berpartisipasi dalam program ini dapat diajukan kepada polisi dan kantor kejaksaan agung untuk penuntutan jika ada bukti yang cukup tersedia.sanksi formal. Pada skala yang lebih besar.

PERKOTAAN 110 . dan papan • Pembukuan laporan pengumuman. termasuk • Min 5 Papan informasi untuk informasi perlu dibuat agar rapat-rapat umum tersedia di setiap kelurahan. Belum • sebagai nara sumber kunci untuk pengembangan   4   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .Permintaan cara. proposal. untuk dokumen penawaran dan permintaan proposal. dan kutipan. LSM telah terlibat sebagai peserta dalam berbagai lokakarya PNPM MP di tingkat provinsi dan tingkat kabupaten. Menginformasikan hasil laporan audit Sebagian. antara lain: • melalui partisipasi dalam lokakarya regional. Tanggapan laporan audit di upload di 'web-site ‘ PNPM MP . p2kp. setelah pemenang diberitahu. sepenuhnya efektif.org) Tidak ada masalah dengan jenis keterbukaan yang sampai saat inil dan tindakan penanganan umumnya telah diterima sebagai bagian dari elemen transparansi program. LSM kredibel terlibat. Hal ini berguna untuk tujuan tindak lanjut. penawaran. Pengawasan oleh Masyarakat Sipil Libatkan LSM dan organisasi masyarakat sipil lainnya dalam berbagai cara. laporan Audit tahunan proyek diupload di website BPKP. Rencana pengadaan untuk 2014-2015 akan dimuat di website proyek (www. terutama yang terkait dengan temuan penyalahgunaan dana. Sama seperti di atas. Menginformasikan rencana pengadaan tahunan dan jadwal (dan update mereka).Panitia tender telah mengirimkan surat kepada semua peserta tender. Menginformasikan kepada semua peserta tender dari ringkasan evaluasi dan perbandingan penawaran. karena banyak LSM tidak memiliki kapasitas untuk keterlibatan.Tabel 1: Kemajuan dalam Rencana Aksi Tata Kelola yang lebih baik dari PNPM MP Rencana Aksi Kemajuan PNPM Perkotaan Pembelajaran Peningkatan Membuat informasi • Berbagai pertemuan telah Menyediakan informasi di papan Ketentuan penting tersedia dilakukan untuk pengumuman tanpa pendidikan yang keterbukaan & bagi masyarakat menyebarkan informasi layak kepada masyarakat tidak Transparansi dengan berbagai proyek di tingkat kelurahan. Sebagian. Selesai di GPN. lebih efektif. bulanan BKM harus diumumkan di papan pengumuman.

Hasil terbaik telah terjadi ketika perwakilan pemerintah daerah juga membantu dalam proses resolusi. penyalahgunaan Komite belum dibentuk. Komite ini akan mengedarkan hasilnya kepada pihak teknis terkait. meskipun demikian tenaga ahli dengan pengalaman internasional tetap dibutuhkan. Namun. dan Belum • sebagai penyedia Dilakukan secara parsial pelatihan dalam bidang keterampilan tertentu. Tenaga Ahli manajemen keuangan ditempatkan di NMC dan tingkat OC. Penyalahgunaan Dana & Nepotisme Menetapkan tenaga ahli pengadaan dan manajemen keuangan untuk setiap wilayah. • sebagai evaluator sewaktu-waktu. Penanggulangan Kolusi. namun keterlibatan pejabat pemerintah daerah mutlak diperlukan. Untuk kasus yang kecil terbukti menjadi sulit dan tidak tepat ditindaklanjuti karena prioritas kurang disediakan. tetapi terutama kepada polisi. Dilanjutkan dengan perekrutan tenaga ahli pengadaan telah dibantu Pemerintah.   PNPM MANDIRI .PERKOTAAN 5   | PEDOMAN PELAKSANAAN 111 . Lebih dari 1000 fasilitator FM telah dimobilisasi.PJM Pronnagkis. sebagaimana diamanatkan oleh hukum Indonesia. Tenaga Ahli pengadaan ditugaskan di tingkat nasional. Laporan terbuka dalam rembug warga sebelum diajukan kepada kantor jaksa agung dalam hal intramasyarakat. Dilakukan sesuai kebutuhan. Laporan kasus kolusi. di beberapa daerah kapasitas tenaga ahli FM rendah dan tambahan pelatihan khusus akan diperlukan. Mobilisasi tenaga ahli FM telah meningkatkan kualitas pengawasan proyek. penyalahgunaan dana dan nepotisme langsung ke kantor Jaksa Agung. Membentuk sebuah komite di tingkat pusat untuk secara teratur mengevaluasi kinerja konsultan yang dipekerjakan dalam proyek ini. Pelaporan ke polisi telah menjadi lebih tepat untuk kasus-kasus kecil di tingkat masyarakat. Dilakukan di mana hal itu terjadi Ini efektif dalam banyak kasus.

Namun. tidak akan bertahan sangat lama. pnpm-perkotaan. tindak lanjut. tindak lanjut. seperti efek untuk manajemen proyek dengan tidak adanya konsultan. • Alamat email: ppm@pnpm- Karena proyek ini dibiayai dari berbagai sumber. NMC sebelumnya dalam PNPM III telah ditetapkan “daftar hitam” karena praktek penipuan dalam proyek lain. Alamat ini akan diposting ke papan kelurahan itu. sistem peringatan dini perlu dikembangkan untuk mengatasi masalah diawal.Semua informasi tentang proyek tersebut harus meliputi SMS untuk pengaduan. Penyebaran informasi harus terus menerus dan ketat. termasuk kemungkinan peningkatan dalam kebocoran dengan tidak adanya pengawasan yang tepat. Hal ini hanya berlaku untuk beberapa kelurahan 6     112 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Khusus poster untuk penanganan pengaduan.org Sanksi & penyelesaian INT telah menetapkan daftar hitam beberapa perusahaan di Indonesia yang mengirimkan faktur fiktif dan isu F & C lain. penanganan pengaduan difasilitasi oleh ahli penanganan pengaduan dan didukung oleh tim Korkot dan TA Monev. Memutus kontrak pengadaan bila terbukti korupsi. Dana BLM Kelurahan di dua kabupaten dan kelurahan telah banyak ditahan terkait dengan penyalahgunaan dana. menanggapi keputusan daftar hitam harus mencakup penilaian hati-hati dan langkah-langkah mitigasi untuk meminimalkan efek negatif dari daftar hitam untuk pelaksanaan proyek. Daftar hitam telah membantu dalam menciptakan kesadaran perilaku etis. dengan hukuman tambahan berpotensi dikenakan (seperti denda. dll) sesuai dengan peraturan Bank dan Pemerintah. daftar hitam. Pada tingkat OC. Pada tingkat OC struktur yang ada dapat dipertahankan.PERKOTAAN . Sampai saat ini tidak ada tindakan dari program PNPM terkait perusahaan yang telah ditetapkan oleh INT tersebut. itu akan lebih baik jika konsultan dikontrak secara individual oleh PMU bukan NMC. Namun. Peran SIM sangat penting dalam pengertian ini.Mekanisme Penanganan Pengaduan dana. sementara berguna sampai batas tertentu. dan mekanisme berbasis SMS. Kecualikan seluruh kota (s) dari partisipasi dalam Tidak ada kasus sejauh ini. dan sanksi yang diterapkan melalui web-site telah tersedia di : www. Menginformasikan alamat mail pengaduan. Menetapkan unit khusus untuk penanganan pengaduan di NMC dan OC untuk menyelidiki dan memfasilitasi penyelesaian pengaduan dan masalah.pnpm-perkotaan. perkotaan. kolusi dan nepotisme. Pendekatan ini efektif. NMC baru akan diberlakukan untuk proyek ini. dan memberikan pesan yang kuat ke industri. Publikasikan melalui web-site database pengaduan.org Berikut adalah alamat untuk penanganan pengaduan: • SMS: +62 817 148 048. Permintaan untuk informasi perlu ditingkatkan dan presentasi dapat ditingkatkan dengan penyajian yang dapat disesuaikan degan kebutuhan. dan sanksi yang diterapkan. Unit khusus untuk penanganan pengaduan telah ditunjuk untuk memfasilitasi penanganganan pengaduan. Suspend penarikan dana dari rekening proyek khusus untuk BKMs dalam kasus di mana diduga terjadi penyalahgunaan besar dana. kolusi dan nepotisme. Pada 2010-2011. Database pengaduan. Ini akan memungkinkan mereka untuk lebih mengakses informasi dari semua program.org • Pengaduan Online: www.

dan akan ditetapkan sebagai dasar untuk • Proposal ditolak karena ditetapkan sebagai dasar untuk • Proposal ditolak karena pengadaan apapun.. • Pengembangan pedoman proyek • Pengembangan pedoman proyek untuk merampingkan semua untuk merampingkan semua prosedur dan mekanisme sanksi // prosedur dan mekanisme sanksi penanganan keluhan. Kesepakatan Legal. termasuk sertifikasi staf pengadaan. lebih disukai” sehingga tidak • Taksiran anggaran untuk masinglebih disukai” sehingga tidak • Taksiran anggaran untuk masingada konsultan lain masing paket kontrak akan ada konsultan lain masing paket kontrak akan 7   7   PNPM MANDIRI . termasuk sertifikasi staf sesuai dengan Keppres 80/2003.8 milyard rupiah dengan signifikan tinggi diberikan diatas 1. lain. dimana terjadi pembelajaran terjadi pembelajaran dan dana dapat dan dana dapat dikembalikan. pembinaan operator proyek. kepada konsultan “yang pagu anggaran akan diikuti. dikembalikan.p2kp. • Penundaan proses evaluasi • Rencana Pengadaan.p2kp. Kesepakatan Legal. dengan jangka • Penundaan proses evaluasi • Rencana Pengadaan. akan diikat dalam yang akan menguntungkan waktu yang jelas. Meng-upload berguna tapi tidak Meng-upload berguna tapi tidak cukup untuk mendapatkan efek cukup untuk mendapatkan efek maksimum. dengan jangka yang akan menguntungkan waktu yang jelas. Bahasa). dana tersebar luas. proposal yang tidak beralasan. tersebut. Keputusan evaluasi konsultan. dimana yang berhasil. • Kriteria evaluasi untuk penetapan • Kriteria evaluasi untuk penetapan daftar pendek harus seobyektif daftar pendek harus seobyektif mungkin dengan menggunakan mungkin dengan menggunakan ukuran kuantitatif yang jelas serta ukuran kuantitatif yang jelas serta menghilangkan unsur subyektifitas menghilangkan unsur subyektifitas Kapasitas Pimpro dan Kapasitas Pimpro dan Panitia Tender/ Panitia Tender/ Evaluasi Evaluasi MEDIUM MEDIUM (Pusat) (Pusat) Evaluasi Proposal Evaluasi Proposal MEDIUM MEDIUM • Penasehat pengadaan yang dibiayai • Penasehat pengadaan yang dibiayai oleh proyek untuk mengawasi proses oleh proyek untuk mengawasi proses pengadaan pengadaan • Pengembangan kapasitas untuk • Pengembangan kapasitas untuk semua pelaku yang terlibat dalam semua pelaku yang terlibat dalam pengadaan. Artikel telah diupload dalam Artikel telah diupload dalam proyek web-situs proyek web-situs www.org (dalam www. Keputusan cenderung bias terhadap cenderung bias terhadap konsultan sesuai “yang konsultan sesuai “yang diinstruksikan” oleh pejabat diinstruksikan” oleh pejabat yang lebih tinggi atau pihak yang lebih tinggi atau pihak lain. penanganan keluhan. • Skor teknis yang cukup • Prosedur untuk kontrak konsultan • Skor teknis yang cukup • Prosedur untuk kontrak konsultan signifikan tinggi diberikan diatas 1.org (dalam Bahasa). alasan yang tidak terkait pengadaan apapun. dan akan konsultan (tertentu). Menyebarkan Menyebarkan informasi tentang informasi tentang penanganan kasus penanganan kasus yang berhasil. Perlu dimasukkan ke maksimum. Matriks Pemetaan Korupsi Bidang Pemetaan Bidang Pemetaan Korupsi Korupsi PENGADAAN PENGADAAN Penyiapan Short List // Penyiapan Short List daftar pendek daftar pendek Tingkat Tingkat Resiko Resiko MEDIUM MEDIUM Peluang Korupsi Peluang Korupsi Aksi Mitigasi Aksi Mitigasi Manipulasi proses penetapan Manipulasi proses penetapan daftar pendek untuk daftar pendek untuk mengeluarkan perusahan yg mengeluarkan perusahan yg dapat menjadi saingan degan dapat menjadi saingan degan calon yang sebenarnya sudah calon yang sebenarnya sudah dipilih/ memasukkan dipilih/ memasukkan perusahaan yang tidak akan perusahaan yang tidak akan menawar lebih rendah menawar lebih rendah Penilaian yang tidak Penilaian yang tidak independen dalam proses independen dalam proses evaluasi konsultan. akan diikat dalam konsultan (tertentu). alasan yang tidak terkait dengan kapasitas • Bank akan menyatakan pengadaan dengan kapasitas • Bank akan menyatakan pengadaan konsultan dalam yang tidak sesuai (misprocurement) konsultan dalam yang tidak sesuai (misprocurement) melaksanakan jasa untuk perpanjangan validitas melaksanakan jasa untuk perpanjangan validitas tersebut. . proposal yang tidak beralasan. Sub Lampiran 1. sesuai dengan Keppres 80/2003.8 milyard rupiah dengan kepada konsultan “yang pagu anggaran akan diikuti. Perlu dimasukkan ke dalam bahan pelatihan dan untuk dalam bahan pelatihan dan untuk pembinaan operator proyek. Matriks Pemetaan Korupsi Sub Lampiran 1.fase berikutnya jika fase berikutnya jika penyalahgunaan penyalahgunaan dana tersebar luas.PERKOTAAN     | PEDOMAN PELAKSANAAN 113 .

Kualitas pelayanan yang diberikan MEDIUM • • • • Keterlibatan pengawasan masyarakat madani dan konsultan pengawas (sebagai contoh: KMP dalam kasus KMW. • Risiko meminta uang dan praktik kolusi untuk “memberikan” kontrak kepada konsultan “yang lebih disukai”. dan kualitas Pengadaan secara umum MEDIUM   114 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Informasi palsu yang diberikan oleh konsultan dan tidak diuji oleh tim panitia. • Peningkatan keterbukaan informasi. dan pejabat mungkin mengambil keuntungan melalui perbedaan tersebut. Perubahan siginifikan staf kunci konsultan pada tahap awal penugasan Secara sengaja melakukan pengawasan yang longgar terhadap kontrak dan mendapatkan uang balik dari konsultan. dan sanksi seperti dirumuskan dalam Keppres 80/2003. Tagihan yang berlebihan/ganda Aksi Mitigasi didasarkan pada pengalaman aktual yang ditentukan melalui survei ekstensif paket yang sejenis yang dilaksanakan pada P2KP 1 dan 2. dan KE dalam kasus KMP) dalam pemeriksaan jasa yang telah diberikan. dan pengumuman rencana pengadaan pada ranah publik. panitia mungkin meamanipulasi nilai penawaran akhir dengan bekerjasama dengan penawar Pelayanan yang diberikan lebih rendah kualitasnya daripada yang ditentukan dalam KAK (TOR). • Pemeriksaan lapangan • Tagihan ongkos penerbangan harus disertai tiket dan boarding pass • Lebih sering melakukan pemeriksaan lapangan • Mengunakan kelompok penerima sebagai utk verifikasi • Menayangkan tagihan konsultan di web PNPM • Peninjauan wajib oleh Bank terhadap perencanaan pengadaan.PERKOTAAN . termasuk untuk satu sub-proyek MEDIUM • Risiko penggelembungan (mark–up) anggaran untuk memberikan kesmpatan manipulasi tender. termasuk nilai kontrak. • Memberlakukan sistem ganjaran dan hukuman seperti dirumuskan dalam Keppres 80/2003.Bidang Pemetaan Korupsi Tingkat Resiko Peluang Korupsi mengalahkan proposal mereka tanpa memperdulikan harga yang dapat menghasilkan harga yang tinggi. • Penajaman mekanisme penanganan keluhan. • Penentuan Pemenang Kontrak MEDIUM • • Keamanan proposal biaya melalui pihak lain yang dipercaya • Mewajibkan pengumuman pemenang kontrak. • Keterlibatan kelompok masyarakat dalam pemantauan kualitas hasil (deliverable) konsultan. • Peningkatan kapasitas pejabat yang 8   Pengawasan terhadap barang masuk MEDIUM • Perencanaan pengadaan.8 milyard rupiah. penanganan keluhan. Untuk kontrak konsultan diatas 1.

Bendaharawan.. Satker dan PPK disepakati oleh Bank telah dimasukan dalam PMM dan akan digunakan sebagai dasar peninjauan kinerja tahunan staf yang relevan. • BKM/LKM akan bertemu secara reguler untuk membuat keputusan kolektif mengenai isu strategis. Publikasi Laporan Audit MEDIUM Risiko ketidaktersediaan informasi mengenai kemajuan dan hasil pelaksanaan proyek (termasuk penyalahgunaan. Satker dan PPK. BKM/LKM juga akan melaksanakan pertemuan tahunan dengan masyarakat umum untuk mempertanggungjawabkan 9   PENGELOLAAN PROGRAM Daftar final staf PMU Satker dan PPK dengan kriteria (i) pengalaman menangani proyek yang didanai donor. Satker dan PPK. Tidak adanya pengalaman setempat dapat menyebabkan kasus penyalahgunaan dalam masyarakat. staf keuangan dan monev (monitoring dan evaluasi). Mekanisme Akuntabilitas Lokal MEDIUM   PNPM MANDIRI . Kebendaharaan dan pelatihan pedoman pelaksanaan untuk staf PMU. staf pengadaan. Aksi Mitigasi terlibat dalam pengambilan keputusan tentang pengadaan. dan (ii) sejarah pengelolaan proyek atau pelatihan bendaharawan yang diikuti MEDIUM • Risiko kapasitas staf PMU. staf perencana. Satker dan PPK yang tidak memadai. Staf PMU. • Ketentuan pedoman pelaksanaan sebagai pedoman bagi pelaksanaan proyek. • Pengembangan pedoman proyek. dan meninjau rekening UPK berkenaan dengan penggunaan dana. jika ada). dan semua tanggapan formal pemerintah. Instansi pelaksana akan mengumumkan segera setelah menerima laporan akhir audit yang disusun sesuai dengan kesepakatan pinjaman/kredit. praktik kolusi dan nepotisme. • Peningkatan sistem pengendalian (internal dan eksternal) termasuk keterlibatan profesional anggota masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang pengadaan. • Kriteria dan indikator kinerja Pimpinan Proyek. • Memperketat pengawasan oleh Bank. • Pelatihan tahunan yang disepakati oleh Bank mengenai staf PMU. • Disain proyek mencakup pengawasan dan supervisi untuk menekan risiko tersebut. termasuk merekrut konsultan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 115 .Bidang Pemetaan Korupsi Tingkat Resiko Peluang Korupsi pelayanan yang lebih rendah. • Ketentuan Pengelolaan Proyek Pemerintah.

Mekanisme untuk memeriksa dan menerapkan sanksi akan dikembangkan untuk mereka yang membuat pernyataan yang salah (sanksi mungkin mencakup pemisahan pekerjaan). Hasil audit akan dilaporkan kepada masyarakat pada rapat pertanggungjawaban akhir tahun BKM/LKM. Strategi sosialisasi dipicu untuk membuat masyarakat sadar mengenai tujuan proyek dan peraturannya. dan focus group discussions. Sosialisasi tersebut juga mencakup kampanye melalui media massa. dan bagaimana membuat masing-masing bertanggungjawab terhadap tindakan 10   116   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . seperti surat kabar dan program radio. yang menegaskan bahwa mereka memeriksa pembukuan tersebut dan menganggapnya memuaskan. Ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa para pelaku mengetahui peran dan tanggung jawab mereka. masing-masing BKM/LKM harus dikunjungi sekurang-kurangnya dua kali per tahun oleh KMP/KMW. kecamatan. Idealnya. • Sosialisasi akan dilaksanakan melalui pertemuan (musyawarah. lokakarya.PERKOTAAN . kota/kabupaten dan provinsi.dll) pada tingkat kelurahan/desa/desa. fasilitator diminta untuk memeriksa secara teratur pembukuan BKM/LKM dan UPK.Bidang Pemetaan Korupsi Tingkat Resiko Peluang Korupsi Aksi Mitigasi kegiatannya sepanjang tahun tersebut. PARTISIPASI MASYARAKAT Diseminasi secara terbatas informasi mengenai program RENDAH Informasi dibatasi pada peredarannya atau diberikan hanya pada kelompok tertentu sehingga proposal yang tidak layak mungkin terjadi. • Keuangan BKM/LKM akan diaudit setiap tahun oleh akuntan setempat. Mereka juga perlu menandatangani dan membuat “pernyataan representasi” secara teratur. • Untuk meningkatkan kualitas supervisi konsultan di bawah proyek tersebut. KMW pada tingkatan yang lebih tinggi akan memeriksa secara acak pernyataan fasilitator dan juga akan diminta menandatangani dan membuat pernyataan yang sama.

dengan penarikan pertama 20% berdasarkan penyelesaian pekerjaan yang memuaskan sesuai PJM Pronangkis . persyaratan penarikan dana kepada BKM/LKM terkait dengan kinerja bukannya input. Berita acara. Untuk Hibah Kelurahan/desa/desa. yakni rekening BKM/LKM/BKM. Karena masyarakat mengetahui berapa banyak mereka harus terima. • KSM diminta untuk menyusun dan mengajukan laporan mengenai kemajuan dan penggunaan dana proyek ke BKM/LKM.Bidang Pemetaan Korupsi Pemilihan anggota BKM/LKM Tingkat Resiko RENDAH Peluang Korupsi Proses pemilihan anggota BKM/LKM yang tidak transparan sehingga menyebabkan rendahnya integritas. • Proses pemilihan anggota BKM/LKM akan dilaksanakan melalui proses pemilihan yang transparan dan adil. • Semua informasi keuangan yang dibuat tersedia untuk publik dan ditampilkan di kelurahan/desa/desa. kriteria eligibilitas untuk penerima manfaat. dan penarikan ketiga 30% berdasarkan indikator keberlanjutan BKM/LKM. dan kondisi untuk penarikan semua disederhanakan dan dirumuskan di depan untuk menjamin bahwa para pelaku dapat memahaminya dengan mudah. Aksi Mitigasi mereka. mengikuti permintaan dari PJOK (setelah verifikasi oleh Konsultan Manajemen Wilayah). ukuran dan kriteria untuk merumuskan hibah. Bila penerima manfaat memenuhi persyaratan yang ditentukan. status keuangan bulanan BKM/LKM. maka seharusnya akan lebih sulit bagi pejabat untuk mengambil keuntungan. dan nama dan nilai proposal yang didanai ditempelkan pada papan 11   Penyaluran dana MEDIUM Pelaksanaan investasi sub proyek MEDIUM Penyalahgunaan dana oleh BKM/LKM dan KSM   PNPM MANDIRI . Meminta bagian untuk pejabat pemerintah. penarikan kedua 50% berdasarkan indikator penggunaan dana dan pengelolaan keuangan yang memuaskan. dengan partisipasi siginifikan dari anggota masyarakat • Dana PNPM MP ditujukan langsung kepada masyarakat. dana dikirim dari Rekening Khusus dalam beberapa hari. • Prosedur.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 117 .

  12   PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .PERKOTAAN 118 . Untuk pembelian yang lebih kecil. Untuk pembelian di atas Rp 15 juta. • Keuangan BKM/LKM akan diaudit setiap tahun oleh akuntan setempat. proyek meminta BKM/LKM untuk melaksanakan penawaran terbatas dimana penawaran harus diumumkan kepada publik. pembelian harus dilaksanakan oleh dua orang yang akan meminta penawaran dari pemasok lokal. Kebebasan pelaku dibatasi dengan menetapkan aturan bahwa semua transaksi keuangan memerlukan sekurang-kurangnya tiga tanda tangan dari anggota BKM/LKM terpilih.Bidang Pemetaan Korupsi Tingkat Resiko Peluang Korupsi Aksi Mitigasi pengumuman yang diletakkan di sekitar kelurahan/desa/desa. Hasil audit akan dilaporkan kepada masyarakat pada rapat pertanggungjawaban akhir tahun BKM/LKM.

jalan lokal. Telah dilaksanakan untuk P2KP-1. PNPM MANDIRI . Tabel 1 di bawah memberikan rincian untuk sub-proyek di UPP2 dan UPP3.LAMPIRAN 6. dan prosedur operasi standar untuk mitigasi lingkungan (seperti per PNPM MP-1) terbukti memadai 5. Ukuran kecil dan sifat kegiatan ini berarti bahwa tidak ada dampak lingkungan yang merugikan. toilet umum (8%). Pembebasan Tanah dan Kerangka Pemukiman Kembali serta Kerangka Masyarakat Adat yang telah diadopsi oleh PNPM MP III yg terus menerus dikembangkan dari yang digunakan oleh PNPM PerkotaanPNPM MP I dan II yang masing-masing disajikan pada Lampiran 10A. KERANGKA KEBIJAKAN PENGAMANAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI PERKOTAAN-3 Pendahuluan 1. proyek ini tetap sebagai Kategori B. dll) saat ini sedang dilaksanakan oleh kelompok masyarakat.000.7. perbaikan perumahan. Kegiatan ini terdiri dari jalan dan perbaikan jembatan tersier (50%). Proyek ini akan menggunakan kebijakan perlindungan yang telah diadopsi oleh proyek P2KP dan PNPM MP I dan Pendanaan Tambahan (AF). P2KP AF. dengan total biaya sebesar US $ 297. Kerangka kerja Pengamanan ini telah diuraikan dalam pedoman pelaksanaan dan pedoman teknis. 10B dan 10C. Perkara Lingkungan 4. Berikut ini rangkuman pengalaman di P2KP-2 dan P2KP-3 berkaitan dengan isu-isu kebijakan upaya perlindungan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 119 . menunjukkan ukuran rata-rata proyek US $ 880 (Rp. dengan sebagian besar kecil skala sub-proyek (yaitu toilet umum. drainase dan sanitasi. Program ini merupakan perluasan dari P2KP. kegiatan sanitasi (1. dan P2KP-3) dan PNPM MP I dan AF berada di bawah pelaksanaan. 3.95 juta). PNPM MP dan kegiatan Additional Financing (AF) dari kelurahan yang sebelumnya ke kelurahan baru. Langkah-langkah pengamanan sejauh ini telah memadai untuk mengurangi masalah pengamanan.000. Program ini akan mengadopsi Pedoman Lingkungan. Sehubungan dengan isu lingkungan.5%) dan pasokan air (5%). dan akan terus diperbarui untuk mengakomodasi pelajaran terkait masalah pengamanan.140 sub-proyek infrastruktur. fasilitas air. kegiatan drainase (18%). terutama untuk skala kecil sub-proyek investasi. 2. sedangkan untuk kegiatan P2KP (P2KP-2. P2KP / PNPM MP telah membiayai sekitar 336.

923. Dalam kasus dimana seluruhan Sumber Daya 7.Badan Keswadayan Masyarakat Lembaga Keswadayaan Masyarakat .413.900.256 32. keagamaan. 120 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .037 2.533.356. atau perubahan fisik lingkungan.441 8.840. penghancuran dan pemindahan tanah.656 23.036.548.914 141.788 2. arsitektur.585 19. obyek-obyek alam dan pemandangan yang memiliki nilai arkeologi.Tabel 1 : Kegiatan Sub Proyek di P2KP Jumlah BKM yang melakukan kegiatan 2430 1765 1455 1575 541 756 8522 No Jenis Kegiatan Perbaikan Jalan Lingkungan Drainase Air Bersih MCK Umum Limbah Padat Others TOTAL Volume Unit Biaya (Rp) Swadaya Masyarakat 98.919 173. paleontologi. Bila kegiatan proyek memungkinkan menimbulkan dampak negatif terhadap Sumber Daya Budaya Fisik maka BKM/LKM .191 23. sejarah.143 Sumber MIS. struktur atau kumpulan struktur.980. dan iii) kegiatan yang direncanakan untuk mendukung manajemen atau konservasi Sumber Daya Budaya Fisik. Cagar Budaya mungkin terletak di lingkungan perkotaan dan mungkin di luar atau di dalam wilayah komunitas Internasional. Sumber Daya Budaya Fisik disini diartikan sebagai obyek budaya yang bergerak dan tidak bergerak seperti tempat.978.PERKOTAAN . November 2011 Sumber Daya Budaya Fisik 6.621 meter meter units units units 82.529. Sumber Daya Budaya Fisik penting sebagai sumber informasi ilmiah dan sejarah. atau pinggiran dari obyek-obyek warisan budaya.125. estetika atau nilai budaya yang signifikan. ii) kegiatan yang terletak didalam.499.205.059.691.240 109.141.485.sebagai pelaku kunci harus mencari langkah-langkah yang tepat untuk menghindari hal tersebut terjadi atau menangulangi dampak tersebut sebagai bagian dari penyiapan atau peninjauan kembagi PJM Pronangkis dan atau RPPRPLP (Rencana Penataan PermukimanRencana Penataan Lingkungan Permukiman) dari program khusus di tingkat kelurahan.189.490.230 3. sebagai asset untuk pengembangan ekonomi dan pembangunan social dan sebagai bagian integral dari ciri budaya masyarakat mau kehidupan praktis Kebijakan Sumber Daya Budaya Fisik berlaku untuk : i) kegiatan yang melibatkan penggalian yang cukup besar.892 15.672 28.274.913.141.523 13. 8.299 24. banjir.745.071.697.692 1 2 3 4 5 6 5.

Sebagai proyek yang berbasis masyarakat dan proyek partisipatif maka subproyek diusulkan. Hal ini akan dilakukan selama proses penyiapan PJM dan Rencana Penataan PermukimanRencana Penataan Lingkungan Permukiman. disamping lahan. kontribusi sukarela dari masyarakat mencakup dana tunai dan tenaga kerja. termasuk penyiapan pengelolaan peluang pendanaan and setiap langkah yang dibutuhkan untuk memperkuat kemampuan kelembagaan serta sistem monitoring untuk melacak kemajuan kegiatan tersebut.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 121 . Pembebasan Lahan Sukarela dan Permukiman Kembali yang Dipaksakan 11. direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat. KMWKMW/OC dan BKM/ LKM harus meninjau kembali dan memverifikasi dokumentasi tersebut. Sifat partisipatif yang tinggi dari proyek akan menjamin bahwa komunitas/masyarakat dapat mengidentifikasi kalau sub proyek yang diusulkan akan memberikan dampak pada Sumber Daya Budaya Fisik dan memastikan bahwa dampak tersebut bukan dampak yang buruk terhadap Sumber Daya Budaya Fisik. Sebagai bagian integral dari proses penyusunan PJM dan RPPRPLP (Rencana Penataan PermukimanRencana Penataan Lingkungan Permukiman) BKM/LKM harus mengenbangkan rencana pengelolaan Sumber Daya Budaya Fisik yang mencakup langkahlangkah untuk menghindari atau menangulangi dampak negative yang terjadi terhadap Sumber Daya Budaya Fisik. KMW/OC dan Fasilitator harus memastikan bahwa kontribusi sukarela dari tanah diputuskan melalui proses konsultatif dengan pemilik lahan dan penerima manfaat tanpa tekanan dan didokumentasikan dengan baik. Rencana tersebut akan termasuk dalam PJM dan RPPRPLP (Rencana Penataan PermukimanRencana Penataan Lingkungan Permukiman).-) PNPM MANDIRI . Sepertinya hampir tidak mungkin subproyek yang diusulkan akan memberikan dampak negatif kepada Sumber Daya Budaya Fisik. tindakan ini dapat mencakup perlindungan seluruh tapak atau penangulangan selektif termasuk penyelamatan dan dokumentasi 9. Lebih lanjut dokumentasi dari proses konsultatif dan informasi pendukung akan termasuk dalam usulan sub proyek. Oleh sebab rata-rata subproyek yang mendapat kontribusi lahan sukarela sangat kecil (US$485. Karena pembangunan di wilayah lindung adalah salah satu daftar negatif tidak ada pembangunan baru atau perluasan yang akan didukung di wilayah lindung. termasuk konserfasi budaya dalam proyek ini.Budaya Fisik yang ada hancur. Hampir semua kebutuhan tanah untuk kegiatan subproyek adalah kontribusi sukarela dari masyarakat. Dengan demikian usulan sub proyek menuntut identifikasi tiap kegiatan yang akan dilakukan dan pengelompokan usulan subproyek sesuai dengan tindakan mitigasi yang layak. 10.

10 tentang Penduduk Asli 122 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Sampai saat ini tidak ada penduduk setempat yang terlibat atau terpengaruh didalam P2KP-2 dan P2KP-3. Kalimantan Timur. pedoman pelaksanaan dan pedoman teknis dari PNPM MP III yang masih berjalan dan selalu dipadukan dengan OP/BP 4. 12. Gorontalo. maka tidak ada jumlah yang cukup signifikan dilihat sebagai investasi tanah oleh masyarakat. keberadaan penduduk asli seperti dirumuskan di O.PERKOTAAN . Keputusan kontribusi lahan diambil berdasarkan proses konsultatif partisipatif yang intensif antar warga masyarakat selama persiapan subproyek. Kalau ada. Oleh sebab proyek ini akan tetap membiayai sub rpoyek infrastruktur skala kecil. Sulawesi Tengah.10 di kelurahan di 8 provinsi harus diverifikasi dan konfirmasi ulang selama proses pelaksanaan proyek. Proyek ini akan mengadopsi IPPF yang telah diperbaharui.P 4. pengalaman P2KP dan PNPM Perkotaan PNPM MP menunjukkan bahwa bahwa tanah dibutuhkan untuk tiap subproyek (termasuk untuk pilot penataan permukiman) pada umumnya kecil. utamanya untuk pelurusan jalan.kontribusi lahan suka rela per subproyek juga sangat kecil. jaringan air minum dan fasilitas sanitasi. Praktek-praktek semacam ini akan tetap dilanjutkan dalam proyek ini. dimana penduduk asli adalah termasuk dari penerima manfaat atau mungkin atau tidak terkena dampak subproyek hanya akan diketahui dalam proses pelaksanaan subproyek. Irian Jaya Barat). Jadi sejauh ini belum ada pengaduan terkait dengan lahan. Mereka mungkin atau tidak terlibat atau terkena dampak proyek. NTT. Sulawesi Selatan. Skreening awal dilakukan menace IP Study (2010) yang disiapkan Bank Dunia menunjukan bahwa penduduk asli ada di 11 desa di 8 Propinsi di luar Jawa (Aceh. Mengingat study tersebut disiapkan menggunakan berbagai pemahaman tentang karakteristik penduduk asli dan informasi lama dari berbagai pihak termasuk pemerintah. Pengamatan lapangan mengusulkan bahwa untuk MCK umum lahan yang dibutuhkan 30m2. Untuk perbaikan drainasi/kanal pada umumnya lahan dibutuhkan untuk memperluas atau pelebaran saluran. Baik dalam PNPM MP-1 dan AF. Meskipun berbeda per subproyek. Seperti P2KP dan PNPM MP semua lahan yang dibutuhkan untuk membangun subproyek infra adalah kontribusi sukarela dari para pemanfaat. Penduduk Asli atau Masyarakat Rentan Terisolasi 13. seperti dalam kasus dimana teridentifikasi adanya potensi dampak lingkungan dan kebutuhan lahan. Kalimantan Selatan.

air bersih untuk rumah tangga individu. dikombinasikan dengan jenis kegiatan diharapkan akan dibiayai (jalan / jembatan perbaikan. Hal ini diharapkan dapat memberikan kredit mikro untuk kegiatan yang menghasilkan pendapatan. serta menghindari kawasan lindung yang telah ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. PNPM MANDIRI . dan “red-flag” prosedur untuk memastikan bahwa masalah yang dikoreksi. kecuali jika usulan kegiatan tersebut untuk mengembangkan kawasan lindung. dan c. Proyek telah diklasifikasikan sebagai Bank environmental kategori B.ANNEX A: PEDOMAN LINGKUNGAN UNTUK PNPM MP INDONESIA: PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERKOTAAN-3 Pendahuluan 1. PNPM MP akan mendukung sejumlah besar investasi proyek kecil di wilayah perkotaan. drainase tersier. untuk meninjau. Usulan tersebut harus mengacu pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail Tata Ruang (RTDR). Prosedur lingkungan di Indonesia meninjau umumnya konsisten dengan Bank dan akan membentuk kerangka pendekatan PNPM MP untuk pengelolaan lingkungan Prinsip Dasar 3. pengumpulan sampah melalui handcarts) menunjukkan bahwa tidak satupun dari investasi ini memiliki skala besar .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 123 . Usulan tersebut harus telah mengkaji alternatif desain lainnya yang tepat untuk memperkecil dampak negatifnya. melalui hibah kelurahan. rumah tangga yang baik akan sangat dipromosikan. Prinsip-prinsip dasar dalam penilaian kelayakan lingkungan adalah sebagai berikut: a. Sebagai sebuah proyek yang sangat desentralisasi. Usulan yang diajukan sedapat mungkin menghindari atau mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. signifikan atau dampak ireversibel. Dampak lingkungan akan datang sebagian besar dari site manajemen yang buruk selama kegiatan proyek konstruksi.050). harus dilengkapi dengan suatu perencanaan pengelolaan dampak lingkungan untuk mengurangi dampak negatifnya. Usulan yang membawa dampak negatif terhadap lingkungan. dan keuangan infrastruktur skala kecil dan layanan lainnya (plafon untuk sub-proyek individu per kelompok adalah Rp 50 juta atau US $ 5. b. karena itu. Lampiran ini menguraikan prosedur penyaringan lingkungan dan pedoman untuk mengidentifikasi. plafon rendah untuk kegiatan individu. 2.

124 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . tipe proyek. dan prosedur untuk mengendalikan dampak negatif pada stasiun mentransfer limbah padat.Kriteria Pemeriksanaan Lingkungan 3. Proyek/subproyek semacam ini tidak akan didanai oleh PNPM MP. di mana konstruksi tidak. dll ). Proposal yang membutuhkan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) secara menyeluruh yang untuk itu Kantor Menteri Negara Lingkungan telah menetapkan kriterianya (lihat Tabel 1).. c. Diharapkan bahwa beberapa sub-proyek dapat jatuh dalam kategori ini. spesifikasi untuk pengurukan dan revegetasi daerah terganggu untuk mencegah erosi. Mereka yang membutuhkan manajemen lingkungan dan rencana pemantauan (UKL dan UPL) didasarkan pada studi terbatas tetapi site-specific. Diharapkan bahwa beberapa sub-proyek dapat jatuh dalam kategori ini. Pada pemeriksaan awal. Setiap proposal kegiatan program (proyek/sub-proyek) akan diperiksa dengan kriteria pemeriksaan lingkungan Pemerintah Indonesia untuk memastikan tidak ada sub-proyek/ proyek yang membutuhkan pemeriksaan lingkungan secara penuh. ini akan berlaku untuk sub-proyek yang akan dibiayai bawah NUS KBG.PERKOTAAN . Mereka yang tidak memerlukan studi lingkungan. kebisingan dan lalu lintas di lokasi konstruksi. di mana praktek yang baik generik akan melindungi lingkungan secara memadai. skala. b. Kementerian Pekerjaan Umum telah menetapkan kriteria untuk menentukan kebutuhan untuk UKL / UPL (lihat di bawah). Diharapkan bahwa tidak ada proposal yang diajukan di bawah baik PAPG atau hibah kelurahan akan jatuh di bawah kriteria ini. Dirjen Pemukiman memiliki pedoman SOP untuk beberapa jenis proyek (termasuk langkah-langkah untuk mengendalikan debu. Mereka yang prosedur operasi standar (SOP) cukup. sensitifitas dan potensi dampak terhadap alam dan lingkungan hidup akan diidentifikasi untuk menentukan proposal tersebut masuk dalam yang mana dari 4 kategori berikut ini: a. lokasi. Namun. gangguan tanah atau air atau pembuangan polutan yang terlibat. d.

Tabel 1. Kriteria Pemeriksaan Lingkungan (berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia) SEKTOR/PROYEK Penyediaan Air Bersih Pengambilan Air Baku Transmisi (kota besar) Distribusi (kota besar) Jalan Kota Pembangunan baru : a. KEPMEN PU. atau ha 5 10 30 1-<5 atau 2 – <5 3-<10 atau 5 .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 125 . kota besar b. atau ha Km Km. kota sedang c. dan PERMENLH-13/2010 mengenai UKL-UPL dan SPKPPL. PNPM MANDIRI .<10 5-<30 >/= 10 (jika pembebasan tanah) >/= 500 >/= 20 >/= 60 Liter/ Detik Km Ha 250 10 500 50 -<250 10 – 2 100-<500 UNIT ANDAL > UKL/UPL Sumber: PERMENLH-11/2006 untuk ANDAL (Mengenai Jenis Kegiatan Usaha yang Membutuhkan ANDAL)). atau ha Km. kota kecil (desa) Perbaikan kampong Kota besar Kota sedang Upgrading Ha Ha Ha 5 200 >/= 1 >/= 2 >/= 1 Km Km Km 5 10 1-< 5 3-< 10 5-<15 ha atau ton ha atau ton 10 atau 1000 5 atau 5000 1000 < 10 atau < 10000 < 5 atau < 5000 < 1000 Ha Ha Ha 2 500 3 < 2 ha < 500 <3 M M Km. kota sedang c.17/ KPTS/M/2003 untuk UKL/UPL (Mengenai Keputusan Jenis Kegiatan di Bidang Pekerjaan Umum yang membutuhkan UPL and UKL). kota kecil Pelebaran (kota besar) Jembatan Jembatan di kota besar Jembatan di kota kecil Limbah Cair dan Sanitasi IPLT (Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu Sistem Perpipaan Air Limbah IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) Persampahan Timbunan (sanitary landfill)/TPA TPA (Tempat Pembuangan Akhir) – didaerah pasang surut Transfer station Drainase & Pengendalian Banjir a. kota besar b.

Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup RI No. Tidak ada kegiatan yang menghasilkan emisi atau limbah polutan yang akan didanai kecuali jika: (a) operasinya dalam skala kecil. Pemeriksaan khusus akan diterapkan pada kasus-kasus berikut ini (daftar negatif) : · · Perikanan: standar dari Dinas Perikanan akan diterapkan untuk semua proposal subproyek perikanan. bantaran sungai. Material dan buangan berbahaya. substansi yang dapat menipiskan ozon. · · · · · · 126 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Langkahlangkah mitigasi khusus untuk menangani isu asbes yang ada saat ini dalam setiap subproyek yang diajukan (seperti renovasi bangunan sekolah yang mungkin sudah menggunakan asbes) akan diterapkan. korosif atau eksplosif atau menghasilkan buangan B3. atau memindahkan material berbahaya (beracun. taman nasional. wilayah sekitar danau dan bendungan. area konsevasi alam. Dimana permukiman sudah ada. daerah sekitar mata air. proposal untuk pendanaan PNPM MP di bawah dapat digunakan oleh warga yang ada dengan menggunakan standar UPP 2 dan UPP 3 prosedur dan sesuai dengan lokal peraturan tentang pengelolaan lahan yang didefinisikan oleh rencana pengelolaan kawasan lindung. daerah tangkapan air. area hutan bakau sepanjang pantai. taman wisata alam. Hal ini juga meliputi: wilayah perlindungan hutan. dan jika itu adalah kebijakan pemerintah lokal untuk memungkinkan penyelesaian untuk tetap. menyimpan. wilayah penelitian ilmu pengetahuan. Tidak ada subproyek yang akan didanai yang menggunakan. tepi pantai. T idak ada pemukiman baru atau perluasan permukiman akan didukung di kawasan lindung dalam proyek. tembakau atau produk tembakau: Subproyek yang menggunakan atau menghasilkan material-material ini tidak akan didanai. daerah konservasi laut/sungai. PERMENLH-11/2006 mengenai Jenis-Jenis Aktivitas yang Membutuhkan ANDAL. (b) Bapedalda mengkaji desainnya dan mensertifikasi bahwa operasi tersebut mengikuti standar pengendalian polusi air dan udara yang dapat diterapkan. menyebutkan bahwa setiap usaha atau kegiatan yang berlokasi di wilayah yang dilindungi atau yang memungkinkan akan merubah tujuan atau peruntukan wilayah yang dilindungi diharuskan menyiapkan ANDAL (lihat di atas). menghasilkan. A sbes.PERKOTAAN .4. peninggalan budaya. taman hutan. Penebangan: subproyek yang melibatkan kegiatan penebangan atau pembelian peralatan penebangan tidak akan didanai Pembangunan area yang dilindungi. P estisida. area yang rentan terhadap kerusakan alam. S ubproyek yang menghasilkan limbah atau emisi cair atau gas. Tidak ada kegiatan yang menggunakan asbes yang akan didanai. area gambut.

Tenaga ahli KMW/OC dan KMP akan merangkum semua perkembangan. 5. yg menjadi bagian dari Pedoman Operasional Umum ini. persyaratan teknik dan kesesuaiannya dengan berbagai aturan yang berlaku. jalan kota.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 127 . ditandatangani oleh para anggota kelompok. Semua proposal akan dinilai oleh staf proyek untuk kelayakannya. Proposal-proposal tersebut mencakup uraian tentang kegiatan yang diusulkan dan harus memenuhi semua aturan pengelolaan dampak lingkungan yg disyaratkan (termasuk pembebasan tanah/aset dan dampak terhadap masyarakat/penduduk asli). pasar dan jembatan akan diterapkan untuk PNPM MP dalam bentuk Prosedur Operasi Standar (SOP). kegiatan ekonomi yang memberikan dampak lingkungan harus dijamin memenuhi persyaratan/ standar yang ditetapkan. irigasi). Pedoman akan mencakup matriks dari kemungkinan dampak lingkungan yang negatif dan langkah-langkah untuk menangulanginya. Proses Pemeriksanaan Lingkungan 6. Fasilitator dan KMW/OC akan mengumpulkan dan meninjau laporan lingkungan dan menandai dgn bendera pada laporan tigabulanan mereka. Tenaga ahli proyek secara teliti akan menyaring proposal terkait dgn dampak lingkungan berdasarkan pada pedoman diatas. Spesifikasi desain termasuk pertimbangan pengelolaan lingkungan untuk penyediaan air bersih. PNPM MANDIRI . TPS.· Tidak ada pembangunan jalan atau rehabilitasi apapun akan diizinkan di dalam delimited atau kawasan lindung yang diusulkan. Hal ini termasuk penyaringan khusus untuk semua subproyek yang melibatkan perubahan tanah dan air (seperti reklamasi. memonitor dan mengukur dampak lingkungan dari program sebagai bagian dari evaluasi kinerja program. toilet umum. Setiap KSM harus menyiapkan proposal subproyek dalam format standar yang disediakan oleh fasilitator. LKM dengan bantuan fasilitator harus memastikan tindakan pengurangan dampak lingkungan dilakukan. sebelum kemudian di nilai oleh LKM. Mengingat kegiatan semacam ini kemungkinan dibiayai melalui ”Paket/PAPG” maka harus dimungkinan SOP daerah diberlakukan. Format standar akan mencakup hal-hal tersebut diatas yang tidak dapat dibiayai sebagai bagian dari daftar negatif. Pemilihan proposal yang menggunakan dana BLM oleh LKM akan dilakukan dalam suatu pertemuan yang diumumkan sebelumnya dan terbuka untuk umum Pelaporan 7.

dan akses air yang tidak terkontrol) dan kurangnya pemeliharaan adalah dua alasan utama mengapa struktur drainase sering dikaitkan dengan masalah kesehatan lingkungan b. Selain itu. jembatan. terutama dari gangguan tanah tidak stabil yang sensitif terhadap tanah longsor dan / atau dari perubahan dalam aliran air. juga bisa menyebabkan erosi. drainase : 10. Cuci dan Kakus) adalah dua sumber utama dari masalah kesehatan masyarakat. Kegiatan pada musim hujan. Proyek air bersih dan sanitasi proyek (MCK umum . Resiko lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan toilet umum. 9. pemantauan dan pengawasan oleh fasilitator dan KMW/OC selama tahap perencanaan dan pelaksanaan. Drainase yang tidak benar dari jalan di daerah curah hujan tinggi dapat merusak jalan dan memiliki dampak pada lahan yang berdekatan. Dalam P2KP sebelumnya.Mandi. Subproyek PNPM MP akan direncanakan dan dilaksanakan melalui proses partisipatif yang intensif di tingkat KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat / Kelompok Masyarakat) dan BKM (Badan Keswadayan Masyarakat / Dewan Pengawas Masyarakat). jembatan dan kegiatan drainase adalah erosi. Desain yang tidak benar (berkontribusi terhadap kecepatan aliran rendah dan tidak teratur. Semua kegiatan konstruksi akan memiliki beberapa dampak terhadap lingkungan.PERKOTAAN . Pengamatan di beberapa sub-proyek di P2KP sebelumnya menunjukkan bahwa isu isu lingkungan terkait terutama terjadi karena pendampingan. Dampak lingkungan utama yang langsung berhubungan dengan jalan. meskipun signifikansinya sebagian besar sebanding dengan skala. atau metode konstruksi yang tidak benar yang meninggalkan tanah tidak perlu terkena. Resiko lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan jalan tersier. jembatan dan kegiatan drainase. masalah kesehatan (misalnya air terkait vector-borne disease) dapat muncul ketika ada kurangnya perencanaan untuk pengaturan drainase untuk menjaga sistem drainase terhubung baik dengan drainase bawah permukaan atau outlet drainase permukaan kanal. rembesan tinggi. PNPM MP perhatian untuk melestarikan lingkungan dan memastikan bahwa setiap efek negatif dari kegiatan PNPM MP dihindari atau setidaknya dikurangi. dan (b) pasokan toilet umum. sanitasi dan air bersih : 11. pengalaman di bawah P2KP sebelumnya untuk dua kelompok kegiatan yang berkontribusi terhadap risiko lingkungan: (a) jalan tersier. a. sanitasi dan air bersih. Ada hubungan erat antara adanya kelebihan air (karena kurangnya drainase yang memadai / drainase yang tersumbat) dan penularan penyakit vector-borne air terkait.Review Pengalaman Terkini 8. lereng tanggul rendah. ditemukan 128 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Selain itu.

Setiap subproyek harus diperiksa oleh fasilitator teknik untuk menentukan berbagai tindakan yang harus dilakukan dalam rangka mencegah atau memperbaiki persoalan lingkungan.bahwa beberapa komunitas dibangun MCK tanpa septic tank atau dekat dengan sumber air. Pada pertengahan proses kontruksi daftar yang sama di cocokkan lagi disaat peluang untuk memperbaiki masih dapat dilakukan. terutama pada pemilihan lokasi untuk proyek air dan sanitasi. kontaminasi sumber air dengan air permukaan yang masuk dari luar. Untuk jenis penyimpangan lingkungan pada proyek-proyek masyarakat. 12. Untuk setiap subproyek. atau kontaminasi air tanah oleh sistem limbah buruk dirancang atau dibangun kontrol). BKM dan lurah/kades harus mendapatkan bantuan dari Dinas Kesehatan (badan kesehatan lokal) dalam mendapatkan pembacaan kualitas air dan menerapkan rekomendasi dari Dinas. Tes kualitas air harus diambil setelah penyediaan air pasokan lengkap. PNPM MANDIRI . 14. Jenis proyek membawa kemungkinan kontaminasi meningkat (Misalnya. rembesan untuk latrine atau tanki septik harus berjarak sekurang-kurangnya 10 m dari sumber air bersih dan diletakkan di bawah aliran air dan penampungan air bersih tidak boleh dekat dengan semua sumber kontaminasi. penggunaan kualitas air diuji dari sumur . Selanjutnya. sampai saat ketentuan sebagian besar telah dibangun tanpa pembacaan kualitas air. Contoh. Pendekatan Pengendalian Dampak Lingkingan dalam PNPM MP 13. mitigasi yang diusulkan dan metode pencegahan pelatihan yang tepat (pada langkahlangkah teknis yang spesifik) dan pemantauan pengawasan insinyur lapangan. Di akhir konstruksi daftar yang sama dicocokkan lagi dibandingkan dengan rencana aslinya. terutama untuk air bor / sumur. saluran drainasi untuk jalan harus dipasang dengan gorong-gorong dilintasan masuk agar menjamin kelancaran aliran air.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 129 . Ahli lingkungan di NMC harus selalu memutakhirkan daftar periksa kemungkinan persoalan lingkungan untuk menemukenali perkara lingkungan dan usulan mitigasinya. disediakan standar teknik dalam pedoman. dan pemeliharaan fasilitas. Prinsip dasar yang melandasi pengendalian dampak lingkungan dalam PNPM MP adalah meminimumkan efek negatif dan memaksimumkan dampak positif dari setiap kegiatan konstruksi. sebagaimana diperlukan. Masyarakat harus mempertimbangkan pembentukan tim operasional dan pemeliharaan proyek-proyek air atau sanitasi. Dalam proses perencanaan digunakan daftar periksa (checklist) kemungkinan/potensi persoalan lingkungan (lihat Tabel dibawah) yang kemudian harus ditindak lanjuti selama dan sesudah konstruksi oleh kelurahan/desa dan Tim Fasilitator. meskipun penyediaan air pasokan adalah salah satu infrastruktur utama yang diusulkan oleh masyarakat.

kesehatan · Gunakan kemiringan alami yg lebih tanah terhadap erosi Tindakan Mitigasi 130 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . pengisian dan drainasi lainnya · Ubah jalur untuk menghidari kemiringan yg curam · Bangun turap penyangga dinding tanah Jalan dan jembatan di lokasi yang rawan erosi · Gunakan tanaman untuk mencegah erosi dan dan longsor longsor pada kemiringan · Gunakan teknologi khusus seperti sistem pengeringan (drain) · Pemeliharaan harus membersihkan sumbatan secara berkala Saluran yg tersumbat karena kesalahan · Gunakan saluran dari beton atau tembokan.15. perencanaan dan pemeliharaan yg saluran tanah membutuhkan tempat lebih menyebabkan genangan air yg berdampak ke banyak pemeliharaan yg lebih intensif. di bawah ini daftar masalah lingkungan dan langkah-langkah mitigasi untuk diterapkan dalam PNPM MP: Potensi Dampak Negatif Jalan. Berdasarkan pengalaman di P2KP sebelumnya. Jembatan dan Saluran Drainasi · Batasi kegiatan memindahkan tanah hanya pada waktu musim kering/panas · Lindungi permukaan tanah yang rentan dengan jerami Erosi dari jalan yang sedang dilakukan cut and · Lindungi saluran drainasi dgn pembatas atau fills dan menyebabkan sedimentasi di saluran berm · Instalasi ruang sedimentasi. tanami permukaan yg rawan erosi secepat mungkin · Pilih jalur yang lebih aman dari gangguan · Lakukan pemeliharaan tepat waktu Terjadinya genangan air yang menjadi tempat Lakukan tindakan untuk mencegah dengan pertumbuhan nyamuk dan vektor penyakit perbaikan pertamanan.PERKOTAAN .

Potensi Dampak Negatif Kakus Umum. Sumur harus diletakkan hulu aliran · Bangun rembesan sejauh mungkin dari sumur · Bangun bak air yg diissi dari melalui pipa atau ember · Jaga agar kakus tetap bersih dan jauh dari sumur Sumur dalam kakus kontaminasi yang pasti rawan Pipa sanitasi dipermukaan tanah yang sangat · Tanam pipa sanitasi dari kakus ke tangki septik rawan thd sinar matahari.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 131 . terinjak. Sanitasi dan Penyediaan air bersih Permukaan air sumur hampir sama dengan rembesan. sumur terlalu dekat dgn tangki septik Tindakan Mitigasi · Cek arah aliran air tanah. Kakus Ventilasi kakus Bak air dgn kran air/sambungan air dan lubang pembuangan · Ada tempat untuk mencuci yg lebih tinggi · Ada kran air utk isi ember · Ada parit sekeliling lantai untuk membuang air ke saluran pembuangan Tangki septik yang tidak bagus strukturnya MCK yang tidak memenuhi syarat Saluran limbah manusia yg mengandung libah · Saluran libah manusia harus disalurkan ke patogen harus dilakukan pengolahan sebelum tempat pengolahan/tangki septik dibuang ke badan air yang ada · Tangki septik juga berfungsi sebagai pengolah PNPM MANDIRI . dan · Buat lubang kontrol dan pipa udara utk tangki kenakalan manusia septik Tangki septik yang bagus paling tidak terdiri dari: · Ada lubang kontrol dgn penutup · Pipa masuk kotoran · Bilik yang terbagi dgn dinding pembatas · Pipa luapan disambung dgn rembesan · Pipa udara (ventilasi) · · · · Semua unsur utama MCK harus ada.

Identifikasi jumlah orang yang terkena subproyek hanya dapat didefinisikan sekali proyek proposal yang dievaluasi oleh organisasi masyarakat (BKM) untuk hibah kelurahan. dan jalan setapak.ANNEX B: KERANGKA KEBIJAKAN PEMBEBASAN LAHAN DAN PERMUKIMAN KEMBALI INDONESIA: PNPM MP-3 I. Pembebasan lahan terbesar adalah 200 m2. P2KP-3 dan PNPM MP 4. Karena semua sub-proyek yang berskala kecil. PNPM MP juga sebuah proyek berbasis komunitas. Untuk sub-proyek yang membutuhkan lahan. proyek ini diharapkan menyediakan untuk kegiatan kredit mikro yang menghasilkan pendapatan. Subproyek yang memerlukan tanah sebagian besar toilet umum. Tidak ada sub-proyek ini diharapkan memiliki dampak signifikan karena pembebasan lahan dan / atau pemukiman kembali. Ukuran rata-rata lahan yang diperoleh adalah sekitar 6 m2. Melalui komponen hibah kelurahan. terutama di daerah perkotaan. Sebagai proyek yang sangat terdesentralisasi. yang melibatkan pemilik tanah 1-5. hanya 14% dari sub-proyek yang terlibat akuisisi tanah atau lahan yang dibutuhkan. PNPM MP akan mendukung sejumlah besar proyek investasi kecil. ada tiga skema akuisisi lahan 132 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . seluruh pendekatan proyek harus menjamin bahwa orang yang terkena proyek akan terlibat dalam proses pengambilan keputusan. 3. drainase. waduk penyediaan air dan distribusi terkait. misalnya.PERKOTAAN . Penyaringan ini akan men-drop sub proyek jika terjadi pemukiman kembali secara signifikan. Pembelajaran dan Proses Pembebasan Lahan di P2KP-2. 2. II.050 atau Rp 50 juta). mereka diharapkan memiliki jumlah signifikan dari pembebasan lahan. Subproyek tidak akan diidentifikasi terlebih dahulu. sumur. Sejak perencanaan partisipatif dan pengambilan keputusan dari tingkat basis untuk proyek. Dalam P2KP-2. Karakteristik Proyek 1. Dua tabel di bawah ini menyajikan situasi akuisisi tanah di P2KP-2. dan untuk membiayai infrastruktur skala kecil dan layanan lainnya (pembiayaan untuk sub-proyek individu adalah US $ 5.

56 1757 59.61 1152 39. Data dari KMW/OCs dan pengawasan lapangan menunjukkan bahwa hanya sejumlah kecil sub-proyek telah memperoleh tanah melalui kompensasi uang tunai.78 Jalan & Jembatan 179 62. 3.71 2951 100 53.9 4 0.14 942 685 Sanitasi & Drainase Fasilitas Umum 504 56.8 372 41. 5.35 287 9. **) Hal ini diyakini bahwa kategori ini terdiri terutama kontribusi tanah dari individu yang mendapatkan keuntungan dari investasi dari subproyek. data diatas meliputi 24 kelurahan.23 1 0.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 133 . 14.84 45 2.37 92 Perumahan 4 100 0 0 0 0 0 0 4 0. 6.03 108 3.9. Pembebasan Lahan dalam kegiatan Infrastruktur Masyarakat yang dibiayai oleh P2KP-2 di Kota Makasar No 1. PNPM MANDIRI . 7. 8.18 Note : *) Tidak termasuk OC 2. 2.66 50 1.6 38.9 85 4.45 888 30. 9.4 Lainnya 12 80 3 20 0 0 0 0 15 0. Tipe Sub Proyek Drainase MCK Umum Jalan Setapak Jalan Lokal Air Bersih Pembuangan Sampah Sementara Jembatan Penerangan Umum Fasilitas Kesehatan Masyarakat Lainnya Jumlah Sub Proyek 35 13 (67 units) 18 25 12 (73 units) 18 (285 units) 11 (296 m) 9 (164 units) 2 11 (98 units) Jumlah yg telah Pembebsan Lahan 0 4 (30 units) 1 1 1 (10 units) 0 0 0 0 0 Sifat & Intensitas Pembeasan Lahan Skema Pembebasan Lahan 0 Rata-2 kurang dari Swadaya 20m2*) 103 m length NA 154 m length Swadaya Kurang dari 20 m2*) Swadaya 0 0 0 0 0 - Note: *) estimasi berdasarkan observasi lapangan P2KP 2 di Kota Makasar terdiri dari 26 Kelurahan. 4.Ringkasan Tingkat Pembebasan Lahan di 13 KMW/OC/OC*) Skema Pembebasan Lahan Swadaya (%) Not clear**) (%) Individu (%) Lahan Desa (%) Total (%) 32.89 8 0. 10.06 15 5.51 Total 1641 55.

Skema pembebasan tanah yang paling umum adalah swadaya tanah dari penerima manfaat proyek. Skema kedua untuk pembebasan lahan adalah melalui kompensasi. yang melibatkan salah satu pemilik tanah dan sekitar 100 m2 tanah. pemerintah setempat menyediakan lahan untuk pengembangan fasilitas yang dibiayai bersama oleh mereka dan oleh BLM A.PERKOTAAN . Kunjungan lapangan ke kelurahan terpilih dan laporan dari OC menegaskan bahwa. Fasilitas berada dekat dengan penerima manfaat dan pembangunan setelah persetujuan usulan sub proyek dilaksanakan relatif cepat sebagai tanah mudah tersedia. P2KP memiliki tiga skema untuk mendapatkan lahan yang dibutuhkan untuk sub-proyek: kontribusi dari anggota masyarakat. Dana kompensasi adalah kontribusi dari penerima manfaat.5. P2KP-3. Salah satu item yang termasuk dalam proposal. kontribusi lahan sukarela telah memberikan dampak positif pada penerima manfaat. Dalam satu kasus yang dihadapi selama pengawasan P2KP-3. Hal ini juga percaya bahwa 40% lainnya dari sub-proyek yang membutuhkan lahan juga mendapatkan tanah dari swadaya masyarakat secara sukarela. Tanah ini diperoleh melalui konsultasi penuh / negosiasi antara pemilik lahan dan penerima manfaat. Skema ketiga untuk pembebasan lahan adalah lahan yang disediakan oleh pemerintah daerah. Ini sekitar 56% dari sub-proyek yang membutuhkan tanah. Subproyek yang paling dalam P2KP-2. dan AF P2KP-2 mendapatkan tanah melalui kontribusi sukarela dari penerima 7. Bahkan. Proses untuk mendapatkan tanah melalui kontribusi lahan adalah sebagai berikut: (a) KSM mengajukan proposal kepada BKM untuk diperiksa dan disetujui. Kontribusi Lahan dari Masyarakat 8. Dalam kasus yang sangat sedikit. Seperti disebutkan di atas. meskipun identifikasi jelas dalam laporan konsolidasi. 9. dalam beberapa kasus. untuk kategori ini. Hal ini karena keputusan-keputusan pada kontribusi lahan dibuat secara sukarela pada inisiatif pemilik tanah ‘dengan konsultasi yang baik di antara anggota masyarakat dan sejumlah kecil yang relatif luas lahan terlibat dalam setiap proyek. Kunjungan lapangan terbaru untuk kelurahan terpilih P2KP-3 menunjukkan bahwa hanya satu proyek yang diperoleh melalui kompensasi tanah. kompensasi uang tunai. Dalam kasus bahwa proyek yang diusulkan 134 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . tanah diperoleh melalui swadaya masyarakat. dan kontribusi dari pemerintah daerah. yang telah terjadi dalam kasus-kasus sangat sedikit dalam proyek. adalah identifikasi lahan yang dibutuhkan dan bagaimana tanah itu akan diperoleh. 6. Kunjungan lapangan ke kelurahan yang dipilih menunjukkan bahwa tidak ada dampak sosial negatif kepada anggota masyarakat sebagai hasil dari kontribusi lahan sukarela. tanah diperoleh melalui kompensasi uang tunai dengan konsultasi penuh dengan pemilik tanah dan didanai oleh kontribusi kas dari penerima manfaat dari proyek.

antara lain.membutuhkan lahan. Proposal tersebut menyebutkan bahwa tanah sudah akan diperoleh melalui kompensasi tunai. tujuan sumbangan tanah. usulan sudah mengidentifikasi bahwa tanah tersedia melalui kontribusi dari anggota masyarakat. PNPM MANDIRI . Biasanya tanah diperoleh melalui skema ini adalah area yang tak tergantikan oleh daerah lain karena kebutuhan spesifik dan pemilik tanah kemungkinan besar tidak mendapatkan manfaat langsung dari fasilitas tersebut. Bank mengamati ini sebagai kasus untuk fasilitas penampungan air yang terletak dekat dengan mata air. (d) BKM dan fasilitator memverifikasi proses dan ketersediaan lahan sebelum persetujuan proposal. Usulan proyek disusun bersamasama antara BKM dan pemerintah setempat dan diserahkan ke panitia seleksi di tingkat pemerintah daerah. lokasi dan luas tanah disumbangkan. Mereka juga memastikan bahwa kontribusi tanah dilakukan melalui mekanisme partisipatif. pemilik tanah menunjukan lokasi definitif untuk membangun prasarana. dan oleh saksisaksi lainnya . Penyediaan Lahan oleh Pemerintah Daerah 11. prosesnya adalah sebagai berikut: (a) KSM mengajukan proposal kepada BKM untuk diperiksa dan disetujui. nama dan alamat penyumbang tanah. Penyediaan Lahan melalui Konpensasi 10. Bank mencatat bahwa pemerintah daerah menyediakan tanah negara untuk fasilitas publik yang dibiayai bersama antara pemerintah daerah dan hibah proyek. BKM dan fasilitator berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan masyarakat membahas kontribusi lahan untuk proyek tertentu. (e) BKM memperoleh surat transaksi untuk tanah dari masyarakat dan tercantum pada proposal C.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 135 . Staf BKM dan proyek memperoleh surat pernyataan (terlampir pada proposal) yang ditandatangani oleh anggota masyarakat yang menyumbangkan lahan dan disaksikan oleh ketua masyarakat (“Kepala dusun”) atau kepala desa. (b) anggota masyarakat kemudian membahas dan menyepakati bagaimana kompensasi akan dibagi di antara mereka. B. Dalam hal bahwa tanah diperoleh melalui kompensasi. OC dan panitia seleksi (yang terdiri dari perwakilan badan-badan lokal yang relevan dan BKM) memverifikasi ketersediaan lahan. Surat tersebut berisi. dan setuju dengan tingkat kompensasi. Dalam banyak kasus. Dalam beberapa kasus tanah yang disediakan oleh pemerintah setempat. (b) BKM dan staf proyek (fasilitator) memverifikasi di lapangan dan memastikan bahwa kontributor secara sukarela setuju untuk menyumbangkan / nya / lahan tanah mereka untuk proyek yang diusulkan. (c) setelah usulan proyek disetujui oleh BKM. (c) masyarakat membayar kompensasi kepada pemilik tanah. Penerima dibahas dan dinegosiasikan dengan pemilik tanah.

13. (j) ketersediaan dokumen pendukung (notulen rapat.PERKOTAAN . (i) sertifikasi. foto. (e) skema pembebasan lahan. Pada Koordinator BKM dan Kota (“korkot”) dan tingkat OC. dokumentasi proses harus dipersiapkan 14. (b) dokumentasi proses konsultasi / negosiasi dan perjanjian pada kontribusi lahan / transaksi perlu ditingkatkan.12. PNPM MP adalah proyek pengulang dari P2KP. dokumentasi perlu ditingkatkan. atau keuntungan tidak adil dengan diberi kompensasi yang secara signifikan lebih tinggi per meter persegi dari pemilik lain yang menjual tanah di dekatnya yang serupa di pasar bebas. kerangka kebijakan dan pedoman menyediakan prosedur untuk menyetujui kompensasi bagi orang-orang yang terpengaruh oleh proyek dalam rangka untuk memastikan bahwa mereka tidak diperlakukan tidak adil dengan diberi kompensasi yang rendah . (c) luas lahan yang dibutuhkan / diperoleh. Jika ada proyek melibatkan akuisisi tanah atau pemukiman kembali yang memicu OP 4. Dalam hal masyarakat dan pemerintah daerah secara sukarela berkontribusi tanah. proyek ini akan menggunakan pembebasan lahan dan pemukiman kembali kerangka kebijakan P2KP-3. dll) 15. diharapkan bahwa PNPM MP akan memiliki situasi yang sama dimana sebagian besar subproyek yang membutuhkan lahan akan memperoleh melalui kontribusi masyarakat. Pada tingkat KSM dan BKM: (a) proposal proyek yang membutuhkan lahan harus mencakup rencana yang lebih rinci untuk memperoleh tanah.12 tidak dipicu. daftar hadir. (f) proses akuisisi lahan. (g) pendanaan / sumber dana jika uang kompensasi. Dokumentasi ini akan disiapkan dengan mengacu pada daftar melekat pada usulan proyek. OP 4. (h) ketersediaan kesepakatan yang cukup pada kontribusi tanah. (b) site / lokasi. yang diadopsi pada AF P2KP-2 dan PNPM MP I dan AF. jika uang kompensasi. laporan konsolidasi yang lebih sistematis tentang pengambilalihan tanah perlu dipersiapkan per triwulanan. Pembelajaran dari pengalaman P2KP-3. (d) nomor pemilik tanah yang terkena dampak. Meskipun sejumlah kecil tanah yang diperoleh dan konsultasi / negosiasi yang baik selama sebagian besar dari proses pembebasan tanah. Namun. yang meliputi informasi mengenai (a) jenis dan ukuran investasi. Dalam kasus pembebasan lahan sukarela terjadi. 136 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI .Dokumentasi Proses Pembebasan Lahan pada Tahap Usulan Subproyek 12.

dan semua aset tetap pada tanah dan bangunan dan tanaman dan pohon c. secara keseluruhan atau sebagian. Definisi yang digunakan dalam Kerangka Kebijakan : a. Tanggal Sensus adalah titik cut-off terbaru untuk merekam orang-orang di daerah Subproyek yang akan menerima kompensasi. “Sensus” berarti jumlah kepala orang-orang di bawah Subproyek yang diusulkan agar memenuhi syarat sebagai pengungsi. e. “Kompensasi” berarti kompensasi biaya penggantian sebagaimana ditentukan dalam Bagian V Kerangka Kerja diberikan dalam pertukaran untuk mengambil tanah dan bangunan. mengakibatkan dampak buruk pada kehidupan orang tersebut. “Orang yang tergusur” berarti seseorang yang pada pelaksanaan proyek. “Bantuan Rehabilitasi” berarti penyediaan uang tunai atau aset atau bentuk lain dari dukungan untuk mengaktifkan para Pengungsi tanpa hak hukum untuk aset yang diambil oleh Proyek untuk setidaknya sama atau meningkatkan standar hidup mereka. pemukiman kembali dan / atau bantuan penghapusan dan rehabilitasi. atau (C) kehilangan sumber penghasilan atau sarana penghidupan.III. telah mengalami atau akan mengalami dampak ekonomi dan sosial secara langsung yang disebabkan oleh: (i) pengambilan tanah secara paksa. “Pembebasan Lahan” berarti suatu aktivitas yang memerlukan perolehan tanah.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 137 . atau (ii) kurang dari 50% tanah mereka atau bangunan yang dipengaruhi oleh proyek jika bagian yang tersisa tidak ekonomis atau layak huni. secara kolektif. bangunan atau aset lainnya dari pihak yang terkena dampak untuk kepentingan subproyek terhadap pemberian kompensasi dan bantuan d. (B ) kehilangan aset atau akses ke aset. dan “orang yang tergusur” berarti. f. apakah atau tidak orang tersebut harus pindah ke lokasi lain. sehingga: (A) relokasi atau kehilangan tempat tinggal. “Orang yang tergusur secara fisik” berarti orang-orang yang dipaksa pindah dari lokasi sebelumnya mereka karena (i) semua atau sebagian besar (50% atau lebih) dari tanah mereka atau bangunan yang dipengaruhi oleh sub-proyek. atau (ii) pembatasan secara paksa akses ke taman-taman secara hukum yang ditunjuk dan kawasan lindung. semua orang yang tergusur tersebut. b. Definisi 16. PNPM MANDIRI .

tingkat pendapatan dan kapasitas produksi ke tingkat sebelum proyek. (a) mengambil tanah mengakibatkan: (i) relokasi atau kehilangan tempat tinggal. prinsip-prinsip keseluruhan untuk Kerangka ini adalah sebagai berikut a. c. Proposal subproyek harus meminimalkan tanah dan akuisisi aset dan pemindahan paksa. Prinsip-Prinsip Dasar 17. Biaya kompensasi akan ditutupi melalui dana masyarakat sendiri ‘atau dana pemerintah (dana Pinjaman Bank Dunia tidak akan digunakan untuk membiayai kompensasi). kemiskinan dan kerusakan lingkungan kecuali tindakan yang tepat secara hati-hati direncanakan dan dilaksanakan. b. “Pemukiman Kembali” berarti upaya / kegiatan untuk memindahkan para Pengungsi ke pemukiman baru yang baik seperti yang disebutkan dalam bagian Vb sehingga mereka dapat mengembangkan kehidupan yang lebih baik. g. “Penggusuran non swakarsa” berarti salah satu tindakan.PERKOTAAN . Kelompok yang akan mengusulkan sub-proyek harus menggunakan proses yang transparan dan partisipatif untuk memastikan bahwa semua pengungsi setuju pada setiap proyek yang diusulkan yang melibatkan akuisisi tanah atau pemukiman kembali. h. (ii) kehilangan aset atau akses ke aset. atau (iii) hilangnya sumber penghasilan atau mata pencaharian. apakah atau tidak pengungsi harus pindah ke lokasi lain. Kelompok mengusulkan subproyek harus memiliki desain dieksplorasi alternatif untuk meminimalkan perpindahan. atau (b) pembatasan paksa akses ke taman-taman yang ditunjuk secara hukum dan kawasan lindung mengakibatkan dampak buruk pada mata pencaharian para pengungsi. Pemukiman kembali non swakarsa yang parah dapat mengakibatkan penderitaan dalam jangka panjang. 138 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . “Subproyek” berarti investasi proyek infrastruktur yang spesifik dilakukan dengan dana dari komponen BLM IV. Kelompok yang akan mengusulkan sub-proyek harus setuju untuk menggabungkan biaya untuk akuisisi tanah dan / atau pemaksaan pemukiman kembali di proyek proposal mereka sebagai bagian dari biaya proyek. ketika mereka terjadi tanpa persetujuan Pengungsi atau kekuatan pilihan. i. Untuk alasan ini.

anggota masyarakat dapat memilih untuk secara sukarela memberikan kontribusi tanah atau aset dan / atau relokasi sementara atau permanen dari tanah mereka tanpa kompensasi. dan (c) skema kompensasi yang sesuai dengan pedoman kompensasi seperti tertera dalam bagian V dan telah disetujui oleh orang-orang yang terkena dampak dan masyarakat yang mengusulkan sub-proyek/program yang dikoordinasi oleh LKM. Pengungsi harus dibantu dalam upaya mereka untuk meningkatkan mata pencaharian mereka dan standar hidup atau setidaknya untuk memulihkan mereka. Kerangka 18. e. maka usulan sub-proyek/program tersebut harus sudah mengidentifikasi kebutuhan lahan yang perlu dibebaskan. Usulan/proposal yang akan mengakibatkan dampak pada 200 orang atau lebih. Sesuai dengan praktik tradisional. sosial dan hukum bahwa tindakan seperti itu pada orang yang memberikan aset dan yang bertindak secara bebas dan sukarela.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 139 . KMP/KMW/OC perlu mendapatkan persetujuan Bank Dunia terhadap LARAP dan pembiayaannya. dan melakukan perubahan-perubahan apabila bank menganggap perlu. untuk pra-perpindahan tingkat atau tingkat yang berlaku sebelum awal pelaksanaan proyek. mana yang lebih tinggi V. (a) survei identifikasi karakteristik sosial dan ekonomi dari orang yang terkena dampak.d. biasanya akan memerlukan waktu lama (jangka panjang). Penjelasan lebih rinci mengenai LARAP terlampir. LARAP tersebut akan mencakup. dan diperkirakan melampaui cakupan jangka waktu proyek. Usulan sub-proyek/program (proposal) perlu menjelaskan pula sumber dana untuk kompensasi yang diperlukan (dana dari PNPM MP tidak boleh digunakan untuk membiayai kompensasi). 20. (b) rencana menyeluruh untuk pembebasan lahan dan pemukiman kembali. 19. jumlah dan nama-nama orang yang terkena dampak proyek (tergeser dan tergusur). Untuk setiap usulan kegiatan masyarakat (sub-proyek/program) yang memerlukan PNPM MANDIRI . Dalam hal sebuah usulan kegiatan masyarakat (sub-proyek/program) memerlukan pembebasan lahan dan/atau pemukiman kembali. dan perkiraan anggaran biaya yang diperlukan untuk kompensasi. Dalam hal yang sangat tidak diharapkan bahwa lebih dari 200 orang yang akan terkena dampak dan memerlukan kompensasi. secara riil. Sukarela dalam konteks ini akan berarti sumbangan atau pemberian tanah dan aset lainnya dengan pengetahuan penuh dari tujuan yang aset sedang dibuat tersedia dan konsekuensi ekonomi. tanpa ada jenis kohesi. maka KMW/OC akan memeriksa untuk meyakinkan bahwa semua usulan tersebut dilengkapi dengan Rencana Tindak Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali (Land Acquisition and Resttlement Action Plan = LARAP).

pemukiman kembali kurang dari 200 orang. h) Surat persetujuan atau kesepakatan. l) Tidak boleh ada pembebasan lahan atau aset-aset dari orang yang akan digusur/ 140 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . baik dalam hal kompensasi atau merupakan sumbangan sukarela untuk subproyek tersebut.PERKOTAAN . juga disertakan dalam usulan sub-proyek/program. maka persetujuan tertulis harus dibuat dengan jelas untuk semua orang yang dipindahkan dengan mencantumkan. serta perkiraan biaya untuk kompensasi pembebasan lahan dan/atau pemukiman kembali. skema kompensasi dan atau pemukiman kembali. jumlah dan nama-nama orang yang terkena dampak. Dalam kasus sumbangan sukarela. sedangkan dalam kasus masyarakat terpaksa memberikan kontribusi maka cara penilaian kontribusinya harus dilakukan sesuai dengan sub Bab 4 di bawah ini. Dana dari PNPM MP hanya dapat digunakan untuk membiayai pekerjaan kecil yang membuka kesempatan kerja bagi anggota masyarakat yang akan dipindahkan (dimukimkan kembali). maka usulan kegiatan (sub-proyek/program) tidak perlu dipertimbangkan untuk didanai. nama-nama penyumbangnya dan rincian sumbangan yang diberikan. g) Sebuah format persetujuan sederhana untuk hal tersebut. harus menjelaskan bahwa dana untuk biaya kompensasi akan berasal dari masyarakat atau kontribusi pemerintah. dan telah menyepakati hasil negosiasi dengan kelompok pengusul. c) Persetujuan dibuat secara tertulis melalui sebuah proses yang transparan dan partisipatif d) Orang yang dipindahkan harus disadarkan akan hak mereka untuk mendapat kompensasi atau bantuan lain sesuai dengan bagian V. LKM bersama Fasilitator dan tenaga ahli KMW/ OC akan membantu pembuatan usulan untuk menjamin bahwa langkah-langkah berikut diterapkan : a) Kelompok pengusul harus melakukan ”sensus” dari orang-orang yang terkena dampak sub-proyek/program yang teridentifikasi sebagai orang akan dipindahkan b) Orang-orang yang terkena dampak setuju pada usulan kegiatan masyarakat (subproyek/program). Hal ini harus sdh disetujui oleh kelompok yang mengusulkan sub-proyek/ program dan mencantumkannya dalam surat persetujuan j) Rincian kesepakatan/persetujuan akan diperiksa oleh KMW/OC/Tim Fasilitator yang bertugas sebelum LKM mempertimbangkan untuk mendanai. Apabila terjadi tidak adanya kesepakatan yang dapat dicapai dalam hal bentuk atau jumlah kompensasi. persetujuan ini harus menjelaskan alasan mengapa hal tersebut dilakukan dan juga fakta bahwa yang bersangkutan sebenarnya punya pilihan untuk tidak menyumbang. Surat persetujuan ini harus secara jelas menggambarkan setiap persil lahan dari masing-masing pemilik yang dibutuhkan untuk dibebaskan atau pemukiman kembali. e) Dalam hal sumbangan sukarela dalam bentuk lahan atau aset-aset yang ada. dan semua ini diperiksa dan secara teknis disetujui oleh KMW/OC.

orang yang tergusur (displaced persons) dapat memilih untuk menerima kompensasi tunai. rumah sederhana. meskipun lebih tinggi. pertukaran lahan yang sama ukurannya atau sama produktifnya. perumahan yang dibangun pengembang dengan fasilitas kredit. berlokasi tidak terlalu jauh dari lahan yang lama. Dari semua pilihan tersebut. Orang yang terkena dampak pemindahan memiliki hak untuk menerima biaya penggantian/ pemindahan yang sebenarnya adalah: a. Pedoman untuk Kompensasi. penggarapan lokasi pemukiman kembali. Untuk lahan di wilayah perkotaan. Pilihan lainnya termasuk kapling siap bangun. ditambah PNPM MANDIRI . Pemukiman Kembali dan Bantuan Lain 21. atau lainnya harus cukup memadai untuk mencapai perbaikan atau sekurangnya tetap seperti sebelum proyek dalam hal kwalitas hidup. dengan yang sejenis atau dengan pelayanan prasarana dan sarana umum yang lebih baik. b. n) Sistem monitoring dan evaluasi terhadap kompensasi akan dilakukan untuk meyakinkan bahwa orang yang terkena dampak telah menerima kompensasi mereka seperti yang telah disepakati. jumlah kompensasi. nilai lahan sebelum sub-proyek/program atau sebelum pemindahan. serta berlokasi tidak terlalu jauh dari lahan yang terkena proyek.dipindahkan sebelum mereka menerima kompensasi seperti yang disepakati dan dijelaskan pada usulan sub-proyek/program. penghasilan dan produktifitas dari orang yang tergusur. Untuk lahan pertanian. ditambah biaya-biaya untuk pendaftaran. Monitoring akan dilakukan oleh KMW/OC melalui survey penuh atau sample bergantung pada jumlah keluarga yang terkena dampak. apartemen. pemindahan penduduk. Lahan pengganti harus sama produktifnya atau potensi penggunaannya. orang yang tergusur akan mendapatkan sebidang lahan dimana mereka tidak perlu membayar lebih dari pengeluaran rutin mereka sebelumnya. m) Pembayaran kompensasi.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 141 . Konpensasi 22. nilai pasar dari lahan di lokasi sebelum dipindahkan dengan ukuran dan penggunaan yang sama. seperti yang telah disetujui harus sudah selesai dilaksanakan sebelum memulai dengan kegiatan sub-proyek/program. biaya balik nama dan pajak. pemukiman kembali atau pilihan-pilihan lain. pemukiman kembali. atau skema lainnya. termasuk biaya-biaya untuk penyiapan lahan sehingga menyerupai lahan sebelumnya. A. Laporan dari hasil dan rekomendasinya akan diumumkan dan dipublikasikan oleh KMW/OC kepada masyarakat dan KMP VI. Berdasarkan pada persetujuan yang dicapai dalam negosiasi. Dalam semua kasus.

Tapak Permukiman Kembali 25. dan (f) fasilitas transportasi umum untuk mencapai kehidupan yang layak. ditambah biaya-biaya untuk pendaftaran. sesuai dengan ukuran jumlah komunitas yang baru. memiliki pilihan dimasukkan sebagai orang-orang yang secara fisik dipindahkan/tergusur dan mendapat kompensasi untuk aset yang terkena dampak. 26. (c) sisa lahan pertaniannya kurang dari 50% dari ukuran tertentu sehingga secara ekonomi tidak menguntungkan. Untuk rumah-rumah dan bangunan lainnya. nilai pasar dari material untuk membangun sebuah bangunan pengganti. dan biaya balik nama dan pajak. maka harus ada sumur dangkal yang memenuhi standar kesehatan). (b) sistem drainase. 23. perlu dijelaskan bahwa depresiasi dari aset dan nilai dari sejumlah material tidak dimasukkan ke dalam perhitungan. Mereka juga akan mendapat kompensasi di lokasi baru sesuai kerugian mereka. pohon-pohon. Orang yang terkena dampak yang sisa lahannya kurang dari 60 m2 dan bangunannya kurang dari 21 m2. (c) penyediaan air bersih (jika distribusi air melalui pipa tidak memungkinkan.biaya-biaya untuk pendaftaran.PERKOTAAN . Nilai kompensasi akan bergantung pada status penguasaan atas lahan dan bangunan dari orang yang akan dipindahkan seperti ditetapkan pada bagian VI. atau untuk memperbaiki sebagian bangunan yang terkena. dan fasilitas olahraga. atau (b) sisa lahannya kurang dari 60 m2. dan juga tidak diperhitungkan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari kegiatan sub-proyek/program yang dikerjakan. Orang yang terkena dampak yang . termasuk (a) jalan dan jalan setapak yang diperlukan. Dalam hal perhitungan biaya penggantian dari sebuah aset yang terkena dampak. ditambah biaya buruh dan jasa kontraktor. akan memperoleh pilihan untuk pindah ke sebuah lokasi baru pada persil minimum seluas 60 m2 dan bangunan minimum seluas 21 m2. ditambah biaya pengangkutan material bangunan ke lokasi pembangunan. Orang yang tergusur akan pindah ke lokasi baru setelah sarana dan prasarana di lokasi pemukiman kembali selesai dan layak untuk dihuni yang dinyatakan oleh KMW/OC dan 142 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . (d) listrik. dan aset lainnya akan didasarkan pada nilai penggantian dengan menggunakan harga yang ada per pohon yang disiapkan oleh lembaga / dinas terkait. 24. Tapak atau lahan pemukiman kembali yang disediakan untuk orang-orang yang tergusur akan termasuk juga sarana dan prasarana umum sehingga baik untuk tinggal dan memungkinkan pengembangan sebuah kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih baik. fasilitas keagamaan. c. pendidikan. diambil dari perhitungan harga pasar setempat (lokal). Kompensasi dari tanaman. atau (d) sisa bangunan kurang dari 21 m2. tempat kerja. (e) fasilitas kesehatan. dan biaya balik nama dan pajak. (a) sisa lahan dan bangunannya tidak bisa digunakan untuk hunian atau tempat bekerja. B.

Orang yang terkena dampak akan diinformasikan tentang penyelesaian dari lahan pemukiman kembali sekurangnya satu bulan sebelum pemindahan. Pelatihan dan bantuan yang dapat disediakan termasuk. girik. industri atau tanah negara atau tapak sarana publik di wilayah sub-proyek/program tetapi yang saat sensus atau pra studi kelayakan dilakukan sudah tinggal disitu. atau tinggal di tapak prasarana atau sarana publik seperti sungai. C. sarana publik lainnya di wilayah sub-proyek/ program tetapi tidak memiliki sertifikat tanah atau bukti hak atas tanah lainnya yang legal. industri dan tanah negara atau tapak sarana publik di wilayah sub-proyek/program dan baru mulai tinggal di lokasi tersebut setelah sensus atau pra studi kelayakan dilakukan. pengembangan pemasaran. bimbingan untuk memulai dan mengembangkan usaha kecil. jalan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 143 . VIi. PNPM MANDIRI . atau hak adat. (b) secara hukum setempat/adat dinyatakan memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan. Lokasi yang disediakan (dicadangkan) untuk pemukiman kembali secara luas akan dipublikasikan sehingga masyarakat secara luas akan mendapat informasi. pengembangan motivasi. (d) para penyewa. 27. Kompensasi harus diberikan secara berbeda sesuai dengan kategori tersebut di atas. komersial. komersial. perlu diperhatikan untuk harmonisasi komunitas baru dengan masyarakat setempat di wilayah pemukiman kembali melalui upaya-upaya pendampingan dan upaya integrasi sosial. bantuan selama periode transisi. (c) tidak memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan. dan penguatan dari organisasi masyarakat dan pelayanan lainnya. ruang terbuka. Orang yang terkena dampak sub-proyek/program yang kehilangan pekerjaan/sumber pendapatan. Bentuk-bentuk bantuannya akan dikonsultasikan oleh LKM dan disepakati oleh KMW/OC. Tapak pemukiman sudah harus ada sebelum mulai dengan subproyek terkait. Orang yang terkena dampak dapat dikelompokan ke dalam golongan orang-orang sebagai berikut : (a) memiliki sertifikat lahan (akte hak milik). Pendampingan dapat dikaitkan dengan program-program dan sumberdaya yang ada lainnya. Kriteria Seleksi Orang-Orang yang Terkena Dampak (Tergusur) 29. kredit usaha kecil. dan mereka akan diundang untuk meninjau lokasi baru tersebut. Bantuan Lainnya 28. komersial. pelatihan keterampilan dan jenis pekerjaan tertentu. (f) mereka yang kehilangan pekerjaan karena kehilangan lahan. (g) tidak memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan.LKM. atau industri di dalam wilayah proyek. akan menerima bantuan untuk memulihkan ini. Dalam pelaksanaan bantuan melalui pendampingan.

a. Orang-orang yang memiliki sertifikat tanah, girik atau hak adat · Orang yang terkena dampak yang memiliki sertifikat tanah, girik atau hak adat akan menerima kompensasi untuk tanah, bangunan, dan aset-aset tetap. · Orang yang terkena dampak yang dipindahkan oleh proyek dapat memilih untuk menerima kompensasi tunai atau pilihan lain seperti dijelaskan di paragraf 21). · Persil-persil di lahan pemukiman kembali akan memiliki status hak tanah dengan tingkat yang sama atau lebih tinggi dari yang dimiliki sebelumnya, dan sertifikat akan dikeluarkan dalam waktu satu tahun setelah pemindahan dari orang-orang yang terkena dampak. · Orang yang terkena dampak akan menerima biaya transportasi untuk memindahkan barang-barang miliknya. · Orang yang terkena dampak juga akan mendapat bantuan pendampingan dan pelatihan seperti tercantum dalam paragraf 28). b. Orang-orang yang berdasarkan hukum setempat dinyatakan memiliki hak untuk tinggal; di kawasan permukiman, komersial atau industri di dalam wilayah proyek, tetapi tidak memiliki bukti sertifikat tanah atau bukti legal lainnya, begitu juga mereka yang berdasarkan hukum adat sudah tinggal di tanah negara atau tapak sarana publik pada saat dilakukan sensus: · Akan menerima kompensasi dari lahan, bangunan, dan aset-aset tetap menurut lamanya mereka menempati dan nilai penggantian dari aset mereka. · Dapat memilih untuk menerima kompensasi tunai atau pilihan lainnya seperti dijelaskan di paragraf 21). · Persil-persil pada lahan pemukiman kembali akan memiliki hak pakai atau hak tanah lainnya yang lebih tinggi, dan sertifikat akan dikeluarkan dalam waktu satu tahun setelah pemindahan dari orang-orang yang terkena dampak. · Orang yang terkena dampak akan menerima biaya transportasi untuk memindahkan barang-barang miliknya. · Orang yang terkena dampak juga akan mendapat bantuan pendampingan dan pelatihan seperti tercantum dalam paragraf 23 ini). c. Orang yang tidak memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan, komersial, industri atau tanah negara atau tapak sarana publik di wilayah sub-proyek/ program tetapi yang saat sensus atau pra studi kelayakan dilakukan sudah tinggal disitu: · Akan menerima bantuan rehabilitasi/pemulihan seperti yang diuraikan di paragraf 21 pada kompensasi yang cukup untuk tanah yang diduduki dalam jumlah yang cukup untuk mencapai tujuan dari Kerangka Kebijakan ini, dan kompensasi untuk penggantian biaya bangunan, barang tak bergerak begitu juga

144

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

· · · ·

tanaman dan pohon sesuai dengan harga pasar. Mereka dapat memilih antara kompensasi tunai atau pilihan lainnya seperti diuraikan di paragraf 21) Persil ditempat yang baru akan mendapatkan status ”hak pakai” atau lebih tinggi dan sertifikat akan diterbitkan dalam waktu 1 tahun setelah penggusuran Mereka akan mendapat biaya transport untuk memindahkan milik mereka Mereka akan mendapat bantuan pendampingan dan pelatihan seperti tercantum dalam paragraf 21 ini).

d. Orang-Orang Penyewa: · Akan dibantu dengan biaya sewa selama 6 (enam) bulan yang diperhitungkan dengan dasar rata-rata harga sewa dari perumahan sejenis di dalam areal yang sama. · Akan mendapat bantuan pendampingan dan pelatihan serta transport untuk memindahkan milik mereka. e. Orang-orang yang kehilangan pekerjaan akibat tanahnya terambil dimana mereka bekerja dan urusan pendapatan mereka akan dibantu dengan bentuk bantuan yang dijelaskan dalam paragrap 2 f. Orang-orang yang tidak memiliki hak untuk menempati lahan di kawasan perumahan, komersial, industri dan tanah negara atau tapak sarana publik di wilayah sub-proyek/ program dan baru mulai tinggal di lokasi tersebut setelah sensus, mereka tidak akan mendapat kompensasi maupun bantuan apapun termasuk penggantian bangunbangunan yang mereka bangun atau tanaman yang mereka tanam.

VIII.

Konsultasi dan Pengaduan

30. Kerangka kebijakan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari manual proyek dan pedoman, KMP, KMW/OC maupun Tim Fasilitator wajib menerapkannya. Pendekatan proyek secara keseluruhan dalam mengembangkan transparansi dan konsultasi diharapkan mampu memberi pemecahan persoalan di tingkat lokal, cepat, dan efektif. Jika ada orang yang terkena dampak proyek, atau anggota masyarakat lainnya memiliki keluhan berkaitan dengan kerangka kebijakan ini atau praktek pelaksanaannya, proyek memiliki sebuah sistem yang baku untuk menangani keluhan/pengaduan pada tingkat kelurahan/ desa, tingkat kota/kabupaten begitu juga pada tingkat propinsi maupun nasional, dengan staf yang penuh dedikasi dan ditugasi untuk menangani dan menindak-lanjuti pengaduan tersebut. Pengaduan yang tidak dapat dipecahkan melalui sistem pengelolaan pengaduan

PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

| PEDOMAN PELAKSANAAN

145

di tingkat LKM akan dirujuk ke KMW/OC, dan jika perlu ke KMP atau PMU. Namun, bila dalam musyawarah yang telah dilakukan berulang kali selama jangka waktu yang panjang, tetapi tidak melebihi satu tahun, untuk mencapai konsensus, dan tidak ada konsensus yang disepakati pada bentuk dan jumlah kompensasi, penyelesaian sengketa akan mengikuti Keputusan Presiden No 36/2005 dan No 65/2006 serta Peraturan BPN No 3 / 2007. 31. Kemajuan dari pelaksanaan pembebasan lahan dan pemukiman kembali serta bantuan lainnya akan dilaporkan kepada Bank Dunia secara teratur oleh KMW/OC/KMP. Jika diperlukan sebuah pemantau independen dapat diperbantukan untuk melakukan monitoring dan evaluasi tentang pelaksanaan dari LARAP. Perusahaan tersebut harus memiliki tenaga ahli yang berpengalaman dan kerangka acuan kerja (TOR) untuk hal tersebut harus disetujui oleh Bank Dunia.

146

PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI - PERKOTAAN

Besaran dari kehilangan yang dapat diperkirakan – total atau sebagian – dari asetaset. Jumlah dari orang dan keluarga yang terkena dampak/dipindahkan Karakteristik sosial yang gayut dari orang-orang yang terkena dampak (umur. 3. tingkat produksi dan pendapatan yang dihasilkan secara formal dan informal dari kegiatan usaha/ekonomi). tingkat kwalitas kehidupan (termasuk status kesehatan).ANNEX 10B: LAMPIRAN 1 INDONESIA: PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERKOTAAN-3 Persyaratan untuk Rencana Tindak Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali (LARAP) untuk sub-proyek di bawah Hibah Kemitraan Penanggulangan Kemiskinan mempengaruhi lebih dari 200 orang 1. 25-50%. dan. Tanggal dari survey/sensus ini merupakan patokan waktu untuk mencatat orang-orang di wilayah sub-proyek/program yang akan menerima kompensasi. LKM dan Dinas terkait akan dibantu dan didampingi oleh KMW/OC. 2. jenis kelamin. dsb) Karakteristik ekonomi yang gayut dari orang-orang yang terkena dampak seperti mata pencaharian (termasuk seperti halnya. pendidikan. (ii) mengumpulkan data tentang kondisi sosial dan ekonomi dari orang-orang yang terkena dampak dan kondisi fisik dari wilayah proyek. 75-100% terkena dampak). maka kelompokkelompok yang mengusulkan sub-proyek/program. Berdasarkan hasil survei sosial ekonomi tersebut. secara fisik atau ekonomi. KMW/OC akan membantu kelompok yang PNPM MANDIRI . Rincian sensus dan survei sosial-ekonomi akan mencakup hal-hal berikut (selanjutnya disebut sebagai survey sosio-ekonomi) akan mencakup antara lain: · · · · Ukuran. untuk melakukan survey sosial-ekonomi penduduk yang terkena dampak agar : (i) menetapkan jumlah orang yang terkena dampak. pemukiman kembali dan/ atau pemindahan maupun bantuan rehabilitasi. Informasi tentang kelompok rentan atau orang-orang rentan dimana tindakan khusus perlu dilakukan · · 4.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 147 . dan (iii) menetapkan potensi dampak dari sub-proyek/program. status legal dari tanah dan bangunan-bangunan (didaftar dalam kelompok yang terkena dampak mulai 0-25%. Jika kegiatan masyarakat yang diusulkan (sub-proyek/program proposal) mengindikasi bahwa lebih dari 200 orang akan terkena dampak oleh sub-proyek/program. dan dampak pemindahan. kondisi.

Hal ini akan diuraikan dalam sebuah ”Rencana Tindak Pembebasan Lahan dan Pemukiman Kembali” (LARAP) yang harus dikirim ke Bank Dunia untuk mendapatkan persetujuan. dan (b) perkara hukum yang terkait dalam pemukiman kembali. Metodelogi dan Prosedur-Prosedur · Metode yang digunakan dalam menilai kerugian untuk menetapkan biaya penggantian.PERKOTAAN . Deskripsi tentang dampak sub-proyek dan analisisnya · · · · · · · Uraian tentang sub-proyek/program dan batas-batas lokasi sub-proyek/program Identifikasi (i) komponen sub-proyek/program atau kegiatan-kegiatan yang menyebabkan pemukiman kembali. dan (iv) mekanisme yang dibangun untuk meminimalkan pemukiman kembali sejauh mungkin. Apabila ada sesuatu yang di dalam daftar tidak sesuai (relevan) dengan situasi proyek. uraian tentang usulan bentuk dan tingkat kompensasi menurut aturan setempat dan sejumlah suplemen tindakan yang dibutuhkan untuk mencapai biaya penggantian yang tepat dari kehilangan asset mereka. Tujuan utama dari program pemukiman kembali Temuan-temuan dari kajian sosial-ekonomi Temuan-temuan dari analisis kerangka hukum Temuan-temuan dari analisis kerangka kelembagaan Definisi tentang orang-orang yang terkena dampak/dipindahkan dan kriteria persyaratan untuk mendapat kompensasi dan bantuan pemukiman kembali lainnya termasuk batas waktu patokan pencacahan penduduk. harus dicatat di dalam rencana pemukiman kembali: a. Lingkup dan tingkat kerincian dari LARAP akan bervariasi sesuai dengan dampak dan kompleksitas dari pemukiman kembali. Daftar berikut menjelaskan halhal yang biasanya perlu dimasukkan di dalam LARAP dan harus diikuti sebagai pedoman umum dalam penyiapan LARAP. pemukiman kembali dan bantuan rehabilitasi untuk orang yang terkena dampak proyek sesuai dengan prinsip-prinsip dari kerangka kebijakan ini. Rencana tersebut harus didasarkan pada data dan informasi terkini yang ada tentang : (a) pemukiman kembali yang diusulkan dan dampakdampaknya pada orang yang dipindahkan dan kelompok-kelompok lain yang dirugikan. selama pelaksanaannya. 148 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . penyediaan kompensasi. (iii) alternatif-alternatif yang dipertimbangkan untuk menghindarkan atau meminimalkan pemukiman kembali. b. (ii) wilayah dampak dari komponen tersebut atau kegiatan-kegiatan. 5.mengusulkan sub-proyek/program dalam menyiapkan sebuah rencana yang menyeluruh mengenai pembebasan aset-aset untuk tujuan sub-proyek/program.

Alternatif Relokasi · Pengaturan kelembagaan dan teknis untuk identifikasi dan penyiapan lahan relokasi. seperti keuntungan lokasi. · Penataan hukum untuk mengatur hak penguasaan dan pengalihan hak kepada orang-orang yang dipindahkan. PNPM MANDIRI . yang tidak memiliki lahan.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 149 . dan faktor-faktor lain sekurang-kurangnya sebanding dengan keunggulan dari lahan sebelumnya. d. pola memindahkan sebagai kelompok keluarga lepas atau sebagai bagian dari masyarakat yang sudah ada sebelumnya atau kelompok kekerabatan. termasuk pilihan-pilihan terhadap bentuk-bentuk kompensasi dan bantuan pemukiman kembali. Kompensasi akan dihitung berdasarkan uraian pada bagian V. o Tinjauan dari alternatif-alternatif diajukan dan pilihan yang dibuat oleh orangorang yang dipindahkan terhadap alternatif-alternatif yang tersedia bagi mereka. dimana kombinasi dari potensi produktif. o Melembagakan mekanisme dimana orang-orang yang dipindahkan dapat mengkomunikasikan kepentingan/kebutuhan mereka pada otoritas proyek melalui perencanaan dan pelaksanaannya. yang akan membantu tiap kategori dari orang-orang yang terkena dampak/dipindahkan sehingga tercapai tujuan Kerangka Kebijakan ini. dan o Rencana tindakan untuk menjamin bahwa kelompok-kelompok masyarakat seperti masyarakat tertinggal/rentan. Paket Konpensasi Uraian paket-paket kompensasi dan aturan pemukiman kembali lainnya. o Ringkasan dari pendapat dan pandangan yang dikemukakan dan bagaimana hal tersebut tertuang dalam rencana pemukiman kembali. dan kaum perempuan cukup terwakili. untuk melestarikan pola organisasi masyarakat dan kekayaan budaya yang ada. · Prosedur untuk pemindahan secara fisik di dalam sub-proyek/program. · Perkiraan waktu untuk membebaskan dan mengalihkan lahan dan bantuan lainnya. · Langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah spekulasi lahan dan masuknya orang-orang yang tidak berhak pada lokasi yang dipilih.· Sebuah deskripsi tentang strategi konsultasi dan partisipasi dari orang-orang yang dipindahkan maupun penduduk asli setempat di dalam rancangan dan pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan pemukiman kembali mencakup. c. baik perdesaan maupun perkotaan. termasuk jadwal untuk penyiapan lahan dan penyerahannya.

· · · Rencana untuk penyediaan.PERKOTAAN . dan semua pelaku kunci (stakeholders) termasuk LSM selama perencanaan dan pelaksanaan LARAP. atau pendanaan orang-orang yang dipindahkan. termasuk target waktu pencapaian manfaat yg diharapkan bagi orang yang dipindahkan maupun masyarakat setempat dan pengakhiran dari semua bantuan. prasarana dan fasilitas pelayanan sosial bagi orang-orang yang dipindahkan (dengan mempertimbangkan keserasian pelayanan dengan penduduk setempat). Pelaksanaan Permukiman Kembali · Kerangka organisasi untuk pelaksanaan pemukiman kembali. f. Harus dilakukan konsultasi secara periodik (reguler) dengan orang-orang yang terkena dampak. · Jadwal pelaksanaan (implementasi) yang mencakup semua kegiatan pemukiman kembali mulai dari persiapan hingga pelaksanaan. penyediaan perumahan. Rencana tindakan untuk mencegah dampak pemukiman kembali ini pada masyarakat setempat yang ada. e. Biaya-Biaya · Rincian biaya untuk paket-paket kompensasi menyeluruh. dan penilaian terhadap dampak lingkungan dari usulan pemukiman kembali dan rencana tindakan untuk pencegahan dan pengelolaan dampak lingkungan (terkoordinasi secara tepat dengan penilaian lingkungan dari keseluruhan pemukiman kembali). · Uraian tentang tata cara pengaduan 6. 150 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Monitoring dan Prosedur Pengaduan · Penyiapan untuk monitoring dari kegiatan pemukiman kembali oleh Lembaga Pelaksana (PMU). biaya pemukiman kembali dan semua biaya-biaya yang terkait · Identifikasi sumber-sumber pendanaan (dana bank tidak dapat digunakan untuk membiayai kompensasi uang tunai untuk pembebasan lahan) g. Deskripsi dari batas-batas dari wilayah relokasi. maupun pengembangan tapak yang perlu dan rancang bangun dari fasilitas-fasilitas tersebut. termasuk identifikasi lembaga-lembaga yang bertanggung jawab untuk menyediakan aturan-aturan pemukiman kembali dan penyediaan jasa. diperkuat dengan pengamat independen yang juga dinilai cukup mampu (capable) oleh Bank Dunia.

dengan bantuan KMW/OC dan selanjutnya dikonsultasikan ke Bank Dunia melalui KMW/OC/KMP. Apabila persetujuan Bank Dunia sudah diperoleh. maka akan disebarluaskan oleh KMW/OC dan dinas terkait kepada orang-orang yang terkena dampak. Persetujuan untuk penandatanganan kontrak dari sub-proyek/program yang perlu LARAP akan dipertimbangkan oleh Bank Dunia setelah diterimanya laporan kemajuan dari KMW/ OC/KMP yang menggambarkan pelaksanaan substansial dari LARAP.7. kantor kelurahan/desa yang terkait. PNPM MANDIRI . 8. LARAP. LARAP yang dijelaskan diatas akan dipersiapkan bersama LKM yang mengusulkan subproyek/program.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 151 . termasuk pembebasan semua lahan di lokasi-lokasi kritis. maka hal ini akan dikeluarkan sebagai surat keputusan (SK) Walikota/Bupati. akan dipublikasikan di kantor KMP dan kantor-kantor KMW/OC terkait. 9. Apabila SK walikota/bupati tentang hal ini telah dikeluarkan. termasuk peta-peta terkait dan lampiran-lampiran. dan kantorkantor BKM/LKM yang terkait.

Dokumen ini selanjutnya akan menggunakan istilah “masyarakat rentan terisolasi” 5. dalam kasus yang melibatkan Proyek IVP. yang diadopsi di P2KP-2 AF. Definisi 4. proyek ini mengakui bahwa Masyarakat Adat membentuk kelompok tertentu yang manfaat pendekatan yang berbeda dan dukungan spesifik. kerangka berikut untuk mengatasi masyarakat adat akan diadopsi untuk proyek. Namun. · Menghindari atau meminimalkan efek berpotensi merugikan dari proyek pada masyarakat adat. Untuk saat ini.PERKOTAAN . Rancangan proyek ini disusun untuk menjamin partisipasi dan keterlibatan berbagai kelompok dalam masyarakat di pengambilan keputusan tingkat kelurahan/desa atas alokasi sumber daya. Untuk keperluan proyek ini. masyarakat rentan terisolasi didefinisikan sebagai mereka yang 152 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . seperti PNPM akan mencakup lebih banyak kelurahan di pulau-pulau timur. Tujuan dari kerangka ini adalah untuk: · Memastikan bahwa masyarakat adat berpartisipasi dalam dan memperoleh manfaat dari proyek tersebut. Seperti dalam kasus lingkungan dan pembebasan lahan / pemukiman kembali dampak. Namun. Tujuan 2. meskipun sangat tidak mungkin. Penyaringan dilakukan pada proposal proyek oleh BKM dan fasilitator. ia akan menggunakan kerangka kebijakan IVP dari P2KP-3. dampak potensial atau keterlibatan IVP diidentifikasi dalam proposal subproyek yang diajukan oleh kelompok masyarakat (KSM).20. 3.20. Semua misi pengawasan telah mengkonfirmasikan bahwa tidak ada IVPs terlibat atau dipengaruhi oleh proyek. tidak ada laporan tentang keterlibatan atau dampak pada IVP. sesuai dengan OD 4.ANNEX C: KEBIJAKAN UNTUK PERLAKUAN PENDUDUK ASLI ATAU MASYARAKAT RENTAN TERISOLASI INDONESIA: PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERKOTAAN-3 Pengalaman dari P2KP 1. di semua program P2KP. dan. karena semua subproyek yang terletak di daerah urban. “Masyarakat rentan terisolasi” adalah istilah yang digunakan secara resmi oleh Pemerintah Indonesia untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang memiliki karakteristik “masyarakat adat” sebagaimana digunakan dalam OD 4. Oleh karena itu.

Di lokasi dimana komunitas asli berbicara dengan bahasa yang berbeda dari bahasa Indonesia. KMW/ OC akan mengorganisasi pelatihan atau lokakarya orientasi bagi fasilitator terkait tentang bagaimana bekerja dengan komunitas asli tersebut dgn cara yang tepat dan bermanfaat untuk mengidentifikasi mekanisme partisipasi yang efektif. d. Alokasi dana telah disediakan dalam anggran proyek untuk penterjemahan tambahan bagi dokumen-dokumen proyek yang relevan. maka dokumen dan brosur yang terkait akan diterjemahkan dalam bahasa setempat. sehingga lebih memudahkan komunikasi dengan kelompok komunitas asli tersebut. berbeda dari bahasa daerah pada umumnya (misalnya Jawa). Komunitas penduduk asli tidak terdapat secara umum di semua lokasi proyek mereka mungkin ditemukan di kota/kabupaten tertentu atau propinsi tertentu. dan · Terutama berorientasi subsisten produksi Kerangka Kerja 6. f. maka mereka diharapkan lebih memahami kelompok komunitas asli tersebut. · Keberadaan lembaga-lembaga sosial dan politik adat. a. PNPM MANDIRI . g. misalnya bagaimana berhubungan dengan komunitas asli yang mungkin akan konflik dengan komunitas masyarakat yang lebih besar. Selama pelatihan fasilitator. Di lokasi keberadaan penduduk asli yang telah teridentifikasi tersebut. Melalui kajian Pemetaan Swadaya (Community Self Survey) dan Refleksi Kemiskinan. Fasilitator mungkin dirotasi sesuai kebutuhan dan untuk menjamin bahwa mereka yang telah dilatih bekerja dengan komunitas asli-atau setidaknya memiliki keterampilan khusus yang akan bermanfaat dalam bekerja dengan komunitas asli harus ditempatkan di lokasi yang tepat. fasilitator mengidentifikasi keberadaan dan jumlah penduduk asli di masyarakat sasaran dan memberikan laporan secara tertulis ke KMW/OC. serta ditujukan langsung mengatasi tantangan khusu dalam bekerja dengan komunitas tersebut. · Identifikasi sendiri dan identifikasi oleh orang lain sebagai anggota dari kelompok budaya yang berbeda. b. fasilitator akan memperoleh pemahaman mengenai bagaimana mengidentifikasi penduduk-penduduk asli.PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 153 . · Bahasa adat. Langkah-langkah berikut dibawah ini merupakan upaya untuk menjamin bahwa program-tempat komunitas asli tersebut berada-akan memenuhi kebutuhan khusus mereka. Manajemen fasilitator merupakan tanggung jawab KMW/OC. Mengingat fasilitator sangat mungkin dikontrak dari penduduk setempat. Di lokasi keberadaan penduduk asli yang telah teridentifikasi sebelumnya. akan dilakukan upaya-upaya yang dapat menjamin bahwa setidaknya tersedia dua relawan laki-laki dan perempuan yang berasal dari komunitas asli tersebut.hadir dari berbagai kalangan dengan karakteristik berikut: · Kedekatan dengan wilayah leluhur dan sumber daya alam di daerah-daerah.

Bagi penduduk asli yang peduli. Kerangka acuan KMW/OC dan KMP termasuk tanggungjawab untuk memonitor perlakuan atau penanganan komunitas penduduk asli dalam PNPM MP. SIM PNPM Mandiri akan mengakomodasi data tersebut utk dapat selalu memonitor keterlibatan penduduk asli dalam PNPM MP. maka KMW/OC harus melaporkan partisipasi komunitas tersebut dalam proyek. sadar akan hak dan tanggung jawab. Langkah-langkah ini akan ditujukan untuk memastikan bahwa orang-orang yang rentan terisolasi berpartisipasi penuh dalam proyek.7. Selain itu. tingkat KMW/OC (termasuk tingkat kota/ kabupaten atau tingkat propinsi). mereka akan didorong untuk mengajukan proposal subproyek yang memenuhi kebutuhan kelompok mereka.PERKOTAAN . Proyek ini memiliki sistem pengaduan yang memungkinkan masyarakat untuk mengadu diberbagai tingkatan. maka fasilitator/KMW/OC menjamin bahwa mekanisme pengaduan dibangun secara tepat berdasarkan budaya setempat. Ditingkat KMW/OC dan KMP yang ditunjuk petugas khusus yg bertanggung jawab untuk menangani pengaduan dan menjamin bahwa pengaduan tersebut ditangani dgn tepat dan layak. Studi evaluasi proyek akan mencakup pemantauan dan evaluasi dampak dari proyek pada orang yang rentan terisolasi 154 PEDOMAN PELAKSANAAN | PNPM MANDIRI . Dalam hal ada komunitas penduduk asli. sama halnya waktu selama misi supervisi. tingkat kelurahan/desa. Hal tersebut akan dilakukan juga oleh KMP. 9. Monitoring Prosedur Pengaduan 8. dan pada tingkat nasional. dan mampu menyuarakan kebutuhan mereka selama latihan Pemetaan Swadaya dan dalam perumusan Rencana Pengembangan Masyarakat.

PNPM MANDIRI .PERKOTAAN | PEDOMAN PELAKSANAAN 155 .

PNPM MANDIRI .PERKOTAAN 2012 | PEDOMAN PELAKSANAAN 155 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful