P. 1
MAKALAH LAPISAN MASYARAKAT

MAKALAH LAPISAN MASYARAKAT

3.0

|Views: 801|Likes:
Published by Ahmad Wardani

More info:

Published by: Ahmad Wardani on Dec 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Arteriosklerosis merupakan keadaan pada pembuluh arteri yang mengakibatkan penebalan arteriol dan pengerasan pada pembuluh darah arteri diakibatkan oleh penumpukan lemak. Aterosklerosis merupakan jenis yang penting dari arteriosklerosis, istilah aterosklerosis merupakan sinonim dari arteriosklerosis. Aterosklerosis merupakan penyakit yang melibatkan cabang-cabang aorta yang besar dan arteri berukuran sedang, seperti arteri yang menyuplai darah ke bagian-bagian ekstremitas, otak, jantung dan organ dalam utama. Penyakit ini multifokal, dan lesi unit, atau ateroma (bercak aterosklerosis), terdiri dari masa bahan lemak dengan jaringan ikat fibrosa. Sering disertai endapan sekunder garam kalsium dan produk-produk darah. Bercak aterosklerosis mulai pada lapisan intima atau lapisan dalam dinding pembuluh tetapi dalam pertumbuhannya dapat meluas sampai melewati tunika media atau bagian muskuloelastika dinding pembuluh. Sekarang aterosklerosis tak lagi dianggap merupakan proses penuaan saja. Timbulnya “bercak-bercak lemak” di dinding arteria koronaria merupakan fenomena alamiah bahkan sejak masa kanak-kanak dan tidak selalu harus menjadi lesi aterosklerotik; terdapat banyak faktor saling berkaitan yang dapat mempercepat proses aterogenik. Telah dikenal beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis koroner pada individu tertentu. Aterosklerosis adalah perubahan dinding arteri yang ditandai akumulasi lipid ekstrasel, recruitment dan akumulasi lekosit, pembentukan sel busa, migrasi dan proliferasi miosit, deposit matriks ekstrasel, akibat pemicuan patomekanisme multifaktor yang bersifat kronik progresif, fokal atau difus, bermanifestasi akut maupun kronis, serta menimbulkan penebalan dan kekakuan arteri.Aterosklerosis disebabkan faktor genetik serta intensitas dan lama paparan faktor lingkungan (hemodinamik, metabolik, kimiawi eksogen, infeksi virus dan bakteri, faktor imunitas dan faktor mekanis), dan atau interaksi berbagai faktor tersebut.

1

Atherosklerosis bukanlah penyakit yang baru dikenal. Pembuluh darah mummi Mesir, lebih dari 3500 tahun yang lalu, ternyata telah mengidap penyakit ini. Otopsi pertama yang dilakukan pada tahun 1931menunjukkan adanya tanda-tanda pengapuran pada pembuluh koroner seorang mummi wanita berusia 50 tahun. Otopsi pada 200 serdadu yang mati muda dalam perang Korea menunjukkan 50 persen serdadu itu menunjukkan tanda-tanda pengapuran pada pembuluh koronernya walaupun mereka tidak mempunyai keluhan sama sekali. Di Amerika Serikat, 46 persen dari anak muda yang mati karena kecelakaan lalu lintas ternyata sudah mengidap pengapuran koroner yang nyata, tetapi tetap tanpa gejala yang nyata. Penyakit jantung koroner (PJK) yang berawal dari aterosklerosis telah menjadi penyebab utama kematian dewasa ini. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 117 juta orang meninggal akibat PJK di seluruh dunia pada tahun 2002. angka ini diperkirakan meningkat 11 juta orang pada tahun 2020. Di Indonesia, kasus PJK semakin sering ditemukan karena pesatnya perubahan gaya hidup. Meski belum ada data epidemiologis pasti, angka

kesakitan/kematiannya terlihat cenderung meningkat. Hasil survey kesehatan nasional tahun 2001 menunjukkan tiga dari 1.000 penduduk Indonesia menderita PJK. Perbaikan kesehatan secara umum dan kemajuan teknologi kedokteran menyebabkan umur harapan hidup meningkat, sehingga jumlah penduduk lansia bertambah. Survey di tiga kecamatan di daerah Djakarta Selatan pada tahun 2000 menunjukkan prevalensi lansia melewati angka 15% yang sebelumnya diperkirakan hanya 7,5% bagi Negara berkembang. Usia lansia yang didefinisikan sebagai umur 65 tahun ke atas (WHO) ditenggarai meningkatkan berbagai penyakit degeneratif yang bersifat multiorgan. Prevalensi PJK (Penyakit Jantung Koroner) diperkirakan mencapai 50% dan angka kematian mencapai lebih dari 80% yang berarti setiap 2 (dua) orang lansia satu mengidap PJK dan jika terserang PJK maka kematian demikian tinggi dan hanya 20% yang dapat diselamatkan. Melihat dari data yang telah dikembangkan, banyaknya pasien yang tercatat menderita aterosklerosis kemudian berlanjut ke jantung koroner, penulis tertarik untuk mempelajari tentang ateroskleosis lebih dalam. B. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata ajar Keperawatan Medikal Bedah dan untuk lebih jauh memahami tentang konsep dasar penyakit ateriosklerosis mulai dari pengertian, penyebab, patofisiologi, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostik, dan penatalaksanaan medic.
2

C. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode perpustakaan sebagai bahan dalam mengerjakan makalah ini.

D. Sistematika Penulisan Sistematikan penulisan makalah ini terdiri dari empat bab, yaitu: BAB I : Pendahuluan Yang Terdiri Dari Latar Belakang, Tujuan, Metode Penulisan dan Sistematika Penulisan. BAB II : Landasan Teori, Terdiri Dari; Pengertian Pengertian Lapisan Masyarakat Terjadinya Lapisan Masyarakat, Sifat Sistem Lapisan Masyarakat, KelasKelas Dalam Masyarakat Sosial (Social Classes), Dasar Lapisan Masyarakat, Unsur-Unsur Lapisan Masyarakat, Bentuk – Bentuk Stratifikasi Sosial Danmobilitas Sosial (Social Mobility) BAB III : Penutup Yang Berisi Kesimpulan dan Saran.

3

BAB II LANDASAN TEORI
A. Konsep dasar Penyakit 1. Anatomi fisiologi Pembuluh darah adalah prasarana jalan bagi aliran darah ke seluruh tubuh. Saluran darah ini merupakan sistem tertutup dan jantung sebagai pemompanya. Fungsi pembuluh darah mengangkut (transportasi) darah dari jantung ke seluruh tubuh ke seluruh bagian tubuh dan mengangkut kembali darah yang sudah dipakai kembali ke jantung. Fungsi ini disebut sirkulasi darah dibagi menjadi dua, yaitu arteri dan vena. Terdiri dari 3 lapisan yaitu tunika intima (interna), tunika media, dan tunika eksterna (adventitia). Darah ini biasanya mengandung oksigen, pengecualian dibuat untuk paru dan arteri umbilikalis. Sistem peredaran darah ini sangat penting untuk mempertahankan hidup dan kehidupan manusia. Fungsi tepatnya adalah bertanggung jawab atas pengiriman oksigen dan nutrisi ke semua sel didalam tubuh, serta penghapusan karbondioksida dan produk-produk limbah, pemeliharaan optimum pH, mobilitas dari unsur protein dan selsel dari sistem kekebalan tubuh. Di negara maju, ada dua penyebab utama

meningkatnya kematian yaitu infark miokard dan stroke. Pembuluh darah utama dimulai dari aorta yang keluar dari ventrikel sinistra melalui belakang kanan arteri pulmonalis, membelok ke belakang melalui radiks pulmonalis kemudian turun sepanjang kolumna vertebralis menembus diafragma, selanjutnya ke rongga panggul dan berakhir pada anggota gerak bawah. Fungsional sirkulasi bagian-bagian yang berperan dalam sirkulasi adalah : a. Arteri : mentranspor darah di bawah tekanan tinggi ke jaringan. Arteri mempunyai dinding yang tebal dan kuat karena darah mengalir dengan cepat pada arteri; b. Arteriola : cabang kecil dari arteri, berfungsi sebagai kendali dimana darah dikeluarkan ke dalam kapiler dan mengubah aliran darah ke kapiler sbagai respons terhadap kebutuhan jaringan; c. Kapiler : berfungsi untuk pertukaran cairan, zat makanan, elektrolit hormone, dan lain-lain. Bersifat sangat tipis dan permeable, terhadap molekul kecil; d. Venula : berfungsi mengumpulkan darah dari kapiler secara bertahap dan bergabung menjadi vena yang semakin besar;
4

e. Vena : saluran penampung mengangkut darah dari jaringan kembali ke jantung. Oleh karena tekanan pada system vena sangat rendah, maka dinding vena sangat tipis, tetapi dinding vena mempunyai otot untuk berkontraksi sehingga darah ekstra dapat dikendalikan berdasarkan kebutuhan tubuh. Secara anatomis sistem vaskular terdiri atas sistem-sistem yaitu : 1. Sistem distribusi : arteri dan arteriola berfungsi sebagai pentranspor dan penyalur darah ke semua organ, jaringan, dan sel tubuh, serta mengatur alirannya kebagian tubuh yang membutuhkan. 2. Sistem difusi : pembuluh darah kapiler yang ditandai dengan dinding yang tersusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan terjadinya proses difuusi bahan di dalamnya seperti karbondioksida, oksigen, zat gizi, dan sisa metabolisme sehingga sel darah dapat melaluinya. 3. Sistem pengumpul : berfungsi mengumpulkan darah dari kapiler dan pembuluh limfe langsung dari system vena yang berfungsi mengalirkan darah kembali ke jantung. System sluran vaskuler merupakan system tertutup. Kontraksi dan relaksasi jantung menimbulkan perrubahan tekanan yang mampu memompakan darah dari jantung kembali ke jantung.

a. Anatomi Jantung 1) Beban Awal Beban awal adalah derajat peregangan serabut miokardium pada akhir pengisian ventrikel atau diastolik. Meningkatnya beban awal sampai titik tertentu memperbanyak tumpang tindih antara filament-filamen aktin dan miosin, sehingga kekuatan kontraksi dan curah jantung meningkat. Hubungan ini dinyatakan dengan Hukum Starling, yaitu peregangan serabut-serabut miokardium selama diastol akan meningkatkan kekuatan kontraksi pada sistol (Carleton,P.F dan M.M. O’Donnell, 1995). Beban awal dapat meningkat dengan bertambahnya volume diastolik ventrikel, misalnya karena retensi cairan, sedangkan penurunan beban awal dapat terjadi pada diuresis. Secara fisiologis, peningkatan volume akan meningkatkan tekanan pada akhir diastol untuk menghasilkan perbaikan pada fungsi ventrikel dan curah jantung, namun pada ventrikel yang gagal, penambahan volume ventrikel tidak selalu disertai perbaikan fungsi ventrikel. Peningkatan tekanan yang berlebihan dapat
5

mengakibatkan bendungan paru atau sistemik, edema akibat transudasi cairan dan mengurangi peningkatan lebih lanjut dari volume dan tekanan. Perubahan dalam volume intrakardia dan perubahan akhir pada tekanan bergantung pada kelenturan daya regang ruang-ruang jantung. Ruang jantung yang sangat besar, daya regangnya dapat menampung perubahan volume yang relative besar tanpa peningkatan tekanan yang bermakna. Sebaliknya, pada ruang ventrikel yang gagal, yang kurang lentur, penambahan volume yang kecil dapat mengakibatkan peningkatan tekanan yang bermakna dan dapat berlanjut menjadi pembendungan dan edema ( Carleton,P.F dan M.M. O’Donnell, 1995 ).

2) Kontraktilitas Kontraktilitas menunjukkan perubahan-perubahan dalam kekuatan kontraksi atau keadaan inotropik yang terjadi bukan karena perubahanperubahan dalam panjang serabut. Pemberian obat-obat inotropik positif seperti katekolamin atau digoksin, akan meningkatkan kontraktilitas, sedangkan hipoksia dan asidosis akan menekan kontraktilitas. Pada gagal jantung terjadi depresi dari kontraktilitas miokardium ( Carleton,P.F dan M.M. O’Donnell, 1995 ).

3) Beban Akhir Beban akhir adalah besarnya tegangan dinding ventrikel yang harus dicapai untuk mengejeksikan darah sewaktu sistolik. Menurut Hukum Laplace , ada tiga variabel yang mempengaruhi tegangan dinding yaitu ukuran atau radius intraventrikel, tekanan sistolik ventrikel dan tebal dinding. Vasokonstriksi arteri yang meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel dapat meningkatkan tekanan sistolik ventrikel, sedangkan retensi cairan dapat meningkatkan radius intraventrikel. Pemberian vasodilator dan hipertrofi ventrikel sebagai

konsekuensi lain dari gagal jantung dapat mengurangi beban akhir ( Carleton,P.F dan M.M. O’Donnell, 1995 ).

6

b. Fisiologi Perfusi yang adekuat menghasilkan oksigenasi dan nutrisi terhadap jaringan tubuh dan sebagian bergantung pada sistem kardiovaskuler yang berfungsi baik. Aliran darah yang memadai bergantung pada kerja pemompaan jantung yang efisien. Pembuluh darah yang paten dan respons, serta volume sirkulasi darah yang cukup. Aktivitas sistern saraf, kekentalan darah dan kebutuhan metabolisme ja¬ringan menentukan kecepatan aliran darah sehingga mempengarulii juga aliran darah yang adekuat. Sistem vaskuler terdiri atas dua sistem yang saling bergantung: jantung kanan memompa darah ke paru melalui sirkulasi paru, dan jantung kiri memompa darah ke semua jaringan tubuh lainnya melalui sirkulasi sistemik. Pembuluh darah pada kedua sistem merupakan saluran untuk pengangkutan darah dari jantung ke jaring¬an dan kembali lagi ke jantung. Kontraksi ventrikel menyuplai tcnaga dorong untuk mengalirkan darah mela¬lui sistem vaskuler. Arteri mendistribusikan darah teroksigenasi dari sisi kiri jantung ke jaringan, sementara vena mengangkut darah yang terdeoksigenasi dari jaringan ke sisi kanan jantung. Pembuluh kapiler, yang terletak di antara jaringan, menghubungkan sistem arteri dan vena dan merupakan tempat pertukaran nutrisi dan sisa meta¬bolisme antara sistem sirkulasi dan jaringan. Arteriol dan venula yang terletak tepat disebelah kapiler, bersama dengan kapiler, menyusun sirkulasi mikro. Sistem limfa melengkapi fungsi sistem sirkulasi. Pembuluh limfa mengangkut limfa (cairan serupa plasma) dan cairan jaringan (mengandung protein kecil, sel, debris jaringan) dari ruang interstisial ke sistem vena. 1. Fisiologi otot jantung Terdiri dari tiga tipe otot jantung yang utama yaitu otot atrium, otot ventrikel, dan serat otot khusus pengantar rangsangan, sebagai pencetus rangsangan. Tipe otot atrium dan ventrikel berkontraksi dengan cara yang sama seperti otot rangka dengan kontraksi otot yang lebih lama. Sedangkan serat khusus penghantar dan pencetus rangsangan berkontraksi dengan lemah sekali sebab serat-serat ini hanya mengandung sedikit serat kontraktif malahan serat ini menghambat irama dan berbagai kecepatan konduksi sehingga serat ini bekerja sebagai suatu sistem pencetus rangsangan bagi jantung.
7

Fungsi umum otot jantung a) Sifat Ritmisitas / otomatis Otot jantung secara potensial dapat berkontraksi tanpa adanya rangsangan dari luar. Jantung dapat membentuk rangsangan (impuls) sendiri. Pada keadaan fisiologis, sel-sel miokardium memiliki daya kontraktilitas yang tinggi. b) Mengikuti hukum gagal atau tuntas Bila impuls yang dilepas mencapai ambang rangsang otot jantung maka seluruh jantung akan berkontraksi maksimal, sebab susunan otot jantung merupakan suatu sinsitium sehingga impuls jantung segara dapat mencapai semua bagian jantung. Jantung selalu berkontraksi dengan kekuatan yang sama. Kekuatan berkontraksi dapat berubah-ubah bergantung pada faktor tertentu, misalnya serat otot jantung, suhu, dan hormon tertentu. c) Tidak dapat berkontraksi tetanik Refraktor absolut pada otot jantung berlangsung sampai sepertiga masa relaksasi jantung, merupakan upaya tubuh untuk melindungi diri. Kekuatan kontraksi dipengaruhi panjang awal otot.Bila seberkas otot rangka diregang kemudian dirangsang secara maksimal, otot tersebut akan berkontraksi dengan kekuatan tertentu. Serat otot jantung akan bertambah panjang bila volume diastoliknya bertambah. Bila peningkatan diastolik melampaui batas tertentu kekuatan kontraksi akan menurun kembali.

2.

Pengertian Aterosklerosis juga dikenal sebagai penyakit Vaskuler arteriosclerotic atau ASVD berasal dari bahasa Yunani: athero (yang berarti bubur atau pasta) dan sklerosis (indurasi dan pengerasan). Aterosklerosis atau pengerasan arteri adalah suatu keadaan arteri besar dan kecil yang ditandai oleh deposit substansi berupa endapan lemak, trombosit, makrofag, leukosit, kolesterol, produk sampah seluler, kalsium dan berbagai substansi lainnya yang terbentuk di dalam lapisan arteri di seluruh lapisan tunika intima dan akhirnya ke tunika media. Aterosklerosis merupakan proses yang berbeda. yang menyerang intima arteri besar dan medium. Perubahan tersebut meliputi penimbunan lemak, kalsium. komponen darah, karbohidrat dan jaringan
8

fibrosa pada lapisan intima arteri. Penimbunan tersebut dikenal sebagai aleroma atau plak. Karena aterosklerosis merupakan penyakit arteri umum, maka bila kita menjumpainya di ekstremitas, maka penyakit tersebut juga terdapat di bagian tubuh yang lain. (Brunner & Suddarth, 2002) Pertumbuhan ini disebut dengan plak. Plak tersebut berwarna kuning karena mengandung lipid dan kolesterol. Telah diketahui bahwa aterosklerosis bukanlah suatu proses berkesinambungan, melainkan suatu penyakit dengan fase stabil dan fase tidak stabil yang silih berganti. Perubahan gejala klinik yang tiba-tiba dan tidak terduga berkaitan dengan rupture plak, meskipun rupture tidak selalu diikuti gejala klinik. Seringkali rupture plak segera pulih, dengan cara inilah proses plak berlangsung. Aterosklerosis adalah kondisi dimana terjadi penyempitan pembuluh darah akibat timbunan lemak yang meningkat dalam dinding pembuluh darah yang akan menghambat aliran darah. Aterosklerosis bisa terjadi pada arteri di otak, jantung, ginjal, dan organ vital lainnya serta pada lengan dan tungkai. Jika aterosklerosis terjadi didalam arteri yang menuju ke otak (arteri karoid) maka bisa terjadi stroke. Namun jika terjadi didalam arteri yang menuju kejantung (arteri koroner), maka bisa terjadi serangan jantung. Biasanya arteri yang paling sering terkena adalah arteri koroner, aorta, dan arteri-arteri serbrum. Beberapa pengerasan dari arteri biasanya terjadi ketika seseorang mulai tua. Namun sekarang bukan hanya pada orang yang mulai tua, tetapi juga pada kanak-kanak. Karena timbulnya bercak-bercak di dinding arteri koroner telah menjadi fenomena alamiah yang tidak selalu harus terjadi lesi aterosklerosis terlebih dahulu. (Hanafi, Muin R, & Harun, 1997)

3. Penyebab Aterosklerosis bermula ketika sel darah putih yang disebut monosit, pindah dari aliran darah ke dalam dinding arteri dan diubah menjadi sel-sel yang mengumpulkan bahan-bahan lemak. Pada saatnya, monosit yang terisi lemak ini akan terkumpul, menyebabkan bercak penebalan di lapisan dalam arteri. Setiap daerah penebalan yang biasa disebut plak aterosklerotik atau ateroma, terisi dengan bahan lembut seperti keju yang mengandung sejumlah bahan lemak, terutama kolesterol, selsel otot polos dan sel-sel jaringan ikat. Ateroma bisa tersebar di dalam arteri sedang dan juga arteri besar, tetapi biasanya mereka terbentuk di daerah percabangan, mungkin karena turbulensi di daerah ini menyebabkan cedera pada dinding arteri, sehingga disini lebih mudah terbentuk ateroma. Arteri yang terkena aterosklerosis akan kehilangan kelenturannya dan karena ateroma terus tumbuh, maka arteri akan menyempit. Lama-lama ateroma mengumpulkan endapan kalsium, sehingga ateroma menjadi rapuh dan bisa pecah. Dan kemudian darah bisa masuk ke dalam
9

ateroma yang telah pecah, sehingga ateroma akan menjadi lebih besar dan lebih mempersempit arteri. Ateroma yang pecah juga bisa menumpahkan kandungan lemaknya dan memicu pembentukan bekuan darah atau trombus. Selanjutnya bekuan ini akan mempersempit bahkan menyumbat arteri, dan bekuan darah tersebut akan terlepas dan mengalir bersama aliran darah sehingga menyebabkan sumbatan di tempat lain (emboli). Ada 7 resiko terjadinya peningkatan aterosklerosis yaitu: v Tekanan darah tinggi v Kadar kolesterol tinggi v Perokok v Diabetes (kencing manis) v Kegemukan (obesitas) v Malas berolah raga v Usia lanjut Pria memiliki resiko lebih tinggi dari wanita. Penderita penyakit keturunan homosistinuria memiliki ateroma yang meluas, terutama pada usia muda. Penyakit ini mengenai banyak arteri tetapi tidak selalu mengenai arteri koroner (arteri yang menuju ke jantung). Sebaliknya, pada penyakit keturunan hiperkolesterolemia familial, kadar kolesterol yang sangat tinggi menyebabkan terbentuknya ateroma yang lebih banyak di dalam arteri koroner dibandingkan arteri lainnya.

B. Terjadinya Lapisan Masyarakat Adanya system lapisan masyarakat dapat teradi dengan sendirinya (dalam pertumbuhan masyarakat itu) tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama). Pembedaan atas lapisan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian dari system social setiap masyarakat. Untuk meneliti terjadinya proses lapisan dalam masyarakat, pokok – pokoknya adalah :

10

1. Sistem lapisan berpokok pada system pertentangna dalam masyarakt. Sistem demikian hanya mempunyai arti khusus bagi masyarakat – masyarakat tertentu yang menjadi obyek penyelidikan. 2. Sistem lapisan dapat dianilisis dalam arti – arti berikut : a. distribusi hak – hak istemewa yang obyektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan (kesehatan, laju kesehatan). b. Sistem pertanggan yang diciptakan oleh para warga masyarakat (prestise dan penghargaan) c. kiteria system pertanggaan dapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu , milik , wewenang atau kekuasaan. d. lambing – lambing kedudukan, seperti tibgkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan selanjutnya. e. mudah – sukarnya bertukar kedudukan, f. soladaritas di antara indivindu atau kelompok – kelompok sosial yang menduduki kedudukan yang sama dalam system sosial masyarakat, seperti sebagai berikut : 1) Pola – pola interaksi (struktur klik, keanggotaan organisasi, perkawinan dan sebaginya). 2) kesamaan atau ketidaksamaan system kepercayaan, sikap dan nilai – nilai 3) kesadaran akan kedudukan masing – masing 4) aktivitas sebagai oragan kolektif.

C. Sifat Sistem Lapisan Masyarakat Sifat sistem lapisan masyarakat dapat tertutup (closed social stratification) dan dapat pula terbuka (open social stratification). Yang bersifat rertutup tidak memungkinkan pindhnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik gerak pindahnya itu ke atas atau ke bawah. Di dalam sistem yang demikian, satu-satunya jalan untuk masuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran. Sebaiknya di dalam sistem terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan atau bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas ke lapisan di bawahnya.

11

D. Kelas-Kelas Dalam Masyarakat Sosial (Social Classes) Kelas sosial adalah semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukannya di dalam suatu lapisan, sedang kedudukan mereka itu diketahui serta diakui oleh masyarakat umum. Kurt B. Mayer berpendapat bahwa istilah kelas hanya dipergunakan untk lapisan yang bersandarkan atas unsur-unsur ekonomis, sedangkan lapisan yang berdasarkan atas kehormatan kemasyarakatan dinamakan kelompok kedudukan (status group). Selanjutnya dikatakan bahwa harus diadakan pembedaan yang tegas antara kelas dan kelompok kedudukan tersebut. Seoang sarjana lain yaitu Max Weber mengadakan pembedaan antara dasar-dasar ekonomis dan dasar-dasar kedudukan sosial, akan tetapi dia tetap menggunakan istilah kelas bagi semua lapisan. Adanya kelas yang bersifat ekonomis di baginya lagi dalam yang bersandarkan atas pemilikan tanah dan benda-benda serta kelas yang bergerak dalam bidang ekonomi dengan menggunakan kecakapannya kecakapannya. Di samping itu, Max Weber masih menyebutkan adanya golongan yang mendapat kehormatan khusus dari masyarakat dan di namakan stand. Josep Schumpeter mengatakan bahwa terbentuknya kelas dalam masyarakat karena diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata, akan tetapi ana dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti dengan benar apabila diketahui riwayat terjadinya. Apabila pengertian kelas di tinjau dengan lebih mendalam maka akan dijumpai beberapa kriteria tradisional, yaitu : 1. Besar atau ukuran jumlah anggota-angotanya 2. Kebudayaan yang sama, yang menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban warganya 3. Kelanggengan 4. Tanda-tanda atau lambang-lambang yang merupakan cirri-ciri khas 5. Batas-batas yang tegas (bagi kelompok lain) 6. Antagonis tertentu

Sehubungan dengan kriteria tersebut di atas, kelas menyediakan kesempatan atau fasilitas-fasilitas hidup tertentu. Sosiologi menamankannya life chances.

E. Dasar Lapisan Masyarakat

12

Diantara lapisan atas dengan yang terendah, terdapat lapisan dengan jumlah yang relatif banyak. Biasanya lapisan atasan, tidak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang di hargai masyarakat. Akan tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Artinya mereka yang mempunyai uang banyak, akan mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan. Ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untung menggolong – golongkan anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan adalah sebagai berikut : a. Ukuran kekayaan (material) Barangsiapa yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut, misalnya dapat dilihat pada bentuk rumah yang bersangkutan, mobil – mobil pribadinya, cara – caranya mempergunakan pakaian serta bahan pakaian yang di pakainy, kebiasaan untuk berbelanja barang – barang mahal dan seterusnya. b. Ukuran kekuasaan Barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau yang memiliki wewenang terbesar, menempati lapisan atasan. c. Ukuran kehormatan Ukuran kehormatan tersebut tidak terlepas dari ukuran – ukuran kekayaan dan kekuasaan. Orang yang paling disegani dan di hormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini banyak ditemukan pada masyarakat – masyarakt tradisional. d. Ukuran ilmu pengetahuan

F. Unsur-Unsur Lapisan Masyarakat Hal yang mewujudkan unsur-unsur baku dalam teori sosiologi tentang sistem lapisan dalam masyarakat adalah kedudukan (status) dan peranan (role). Kedudukan, sebagai mana lazimnya dimengerti, mempunyai dua arti. Secara absrak,kedudukan berarti tempat seseorang dalam suatu pola tertentu. Dengan demikian seseorang dikatakan

mempuyai beberapa keduduan, oleh karena seseorang biasanya ikut serta dalam pelbagai pola-pola kehidupan. Pengertian tersebut menunjukkan tempatnya sehubungan dengan kerangka masyarakat secara menyeluruh. Apabila dipisahkan dari individu yang memiliknya, kedudukan hanya merupakan kumpulan hak-hak dan kewajiban. Oleh karena

13

hak dan kewajiban hanya dapat telaksana melalui perantaraan individu maka agak sukar untuk memisahkannya secara tegas dan kaku. 1. Kedudukan (status) Kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Secara abstrak, kedudukan berarti tempat seseorang dalam suatu pola tertentu. Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan, yaitu : 1) Accribed status Kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaanperbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran

2) Acbieued status Kedudukan yang di capai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini tidak diperoleh atas dasar kelahiran akan tetapi bersifat terbuka bagi siapa saja, tergantung dari kemampuan masing-masing dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya.

Kadang-kadang di bedakan lagi satu macam kedudukan yaitu assigned-status, yang merupakan kedudukan yang di berikan. Assigned status tersebut sering mempunyai hubungan yang erat dengan achieved status dalam arti bahwa suatu kelompok atatu golongan memberikan kedudukan yang lebih tinggi kepada seseorang yang berjasa, yang telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Adakalanya antara kedudukan-kedudukan yang dimiliki seorang timbul pertentangan-pertentangan atau konflik, yang dalam sosiologi dinamakan status-conflik. Kedudukan tertentu yang dimiliki seseorang atau yang melekat ada diri seseorang tecermin pada kehidupan sehari-harinya melalui cirri-ciri tertentu. Sosiologi menyebutnya status symbol.

2. Peranan (role) Peranan (role) merupakan aspek dinams dai kedudukan. Apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka ia sedang menjalankan suatu peranan. Peranan yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dalam posisi
14

pergaulan dalam masyarakat. Peranan lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. Jadi, seseorang menduduki serta menjalankan suatu peran dalam masyarakat Suatu peranan mencangkup paling sedikit tiga hal, yaitu : 1) Peranan adalah meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturanperaturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan. 2) Peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi 3) Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial.

Selanutnya dengan adanya status-conflict, juga ada conflict of roles dan bahkan kadang-kadang suatu pemisahan harus dilaksanakan. Hal yang terakhir di dalam ilmu sosiologi dinamakan role-distance. Pembahasan perihal aneka macam peranan yang melekat pada individu dalam masyarakat penting karena hal-hal sebagai berikut : a. Peranan-peranan tertentu harus dilaksanakan apabila struktur masyarakat hendak dipertahankan kelangsungannya. b. Peranan-peranan seyoganya dilekatkan pada individu-individu yang oleh masyarakat dianggap mampu untuk melaksanakanya. Mereka harus telah terlatih dan mempunyai hasrat untuk melaksanakannya. c. Dalam masyarakat kadang-kadang di jumpai individu yang tak mampu melaksanakan peranannya sebagaimana diharapkan masyarakat karena mungkin pelaksananya memerlukan pengorbanan kepentingan-kepentingan pribadinya yang terlalu banyak. d. Apabila semua orang sanggup dan mampu melaksanakan peranannya, belum tentu masyarakat akan dapat memberikan peluang-peluang yang seimbang. Bahkan ssering kali terlihat betapa masyarakat terpaksa membatasi peluang-peluang tersebut.

Chester I. Barnard secara khusus membahas sistem lapisan yang sengaja disusun dalam organisasi-organisasi formal untuk mengejar suatu tujuan tertentu. Menurut Barnard, sistem kedudukan dalam organisasi-organisasi formal timbul karena perbedaan-perbedaan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan individu. Sistem
15

pembagian kekuasaan dan wewenang dalam organisasi-organisasi tersebut dibedakan ke dalam : a. Sistem fungsional yang merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukannya yang sederajat dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat. b. Sistem scalar yang merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga kedudukan dari bawah ke atas.

G. Bentuk – Bentuk Stratifikasi Sosial 1. Stratifikasi usia (age stratification), dalam sistem ini anggota masyarakat yang berusia lebih muda mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda dengan anggota masyarakat yang lebih tua. Misalnya, dalam adat Jawa, anak sulung memperoleh prioritas dalam pewarisan harta atau kekuasaan. 2. Stratifikasi dalam bidang pekerjaan (occupational stratification), misalnya, hubungan erat antara usia karyawan dengan pangkat mereka dalam organisasiatau persamaan usia antara karyawan yang memangku jabatan sama. 3. Stratifikasi jenis kelamin (sex stratification), sejak lahir laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda dan perbedaan itu sering mengarah ke satatus yang hirarki. 4. Stratifikasi atas dasar kekerabatan, perbedaan hak dan kewajiban antara ibu, ayah, anak. 5. Stratifikasi pendidikan (education stratificatian), perbedaadn masyarakat yang membeda – bedakan atas dasar tingkat pendidikan formal yang berhasil mereka raih. 6. Stratifikasi ekonomi ( economis stratification), pembedaan masyarakat berdasrkan kekuasaan dan kepemilikan materi.

16

H. Mobilitas Sosial (Social Mobility) Gerak sosial atau social Mobility adalah gerak dalam struktur sosial, yaitu polapola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencangkup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompo itu dan hubungan antar individu dengan kelompoknya. Tipe-tipe gerak sosial yang prinsipil ada dua macam, yaitu gerak sosial yang horizontal dan vertikal. Dengan gerak sosial yang horizontal dimaksudkan suatu perihal individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Dengan gerak sosial yang vertikal dimaksudkan sebagai perpindahan individu atau obyek sosial dari suatu kedudukan sosial kedudukan lainnya, yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, maka terdapat dua jenis gerak sosial yang vertikal yaitu yang naik (social climbing) dan yang turun (social sinkng). Para sosiologi meneliti gerak-gerak sosial terutama untuk mendapatkan keterangan-keterangan perihal kelanggengan dan keluwsan struktur sosial suatu masyarakt tertentu. Prinsip-prinsip umum gerak sosial yang vertikal adalah sebagai berikut : a. Hamper tak ada masyarakat dengan sistem lapisan yang tertutup secara mutlak b. Betapapun terbukanya sistem lapisan dalam suatu masyarakat, tak mungkin gerak sosial vertikal dilakukan dengan bebas, sedikit banyaknya aka nada hambatan-hambatan. c. Gerak sosial vertikal yang umum berlaku bagi semua masyarakat tak ada. setiap masyaraat mempunyai ciri-ciri khas bagi gerak sosialnya yang vertikal. d. Laju gerak sosial vertikal yang disebabkan oleh factor-faktor ekonomi, politik serta pekerjaan adalah berbeda. e. Berdasarka bahan-bahan sejarah, khususnya dalam gerak sosial vertikal yang disebabkan factor-faktor ekonomi, politik dan pekerjaan. Tak ada kecenderungan yang kontinu perihal bertambah atau berkurangnya laju gerak sosial. Saluan-saluran yang terpenting adalah angkatan bersenjata, lembaga-lembaga keagamaan, sekolah, organisasi politik, ekonomi dan keahlian dalam pelaksanaan gerak sosial vertikal di dalam masyarakat. Mau tidak mau ada sistem lapisan masyarakat, oleh karena gejala tersebut sekaligus memecahkan persoalan yang diahadapi masyarakat yaitu penempatan individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur sosial dan mendorongnya agar melaksanakan kewajibannya yang sesuai dengan kedudukan serta peranannya.
17

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan Selama dalam satu masyarakat ada sesuatu yang dihargai dan setiap masyarkat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai, maka barang sesuatu itu akan menjadi bibit yang menimbulkan adanya system lapisan dalammasyarakat itu. Barang sesuatu yang dihargai di dalam masyarakaat mungkin berupa uang atau benda-benda yang bernilai ekonomis, mengkin juga berupa tanahkekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan dalam agama dan mungkin juga keturunan yang tehormat. Sistem lapisan dalam masyarakat dalam sosiologi dikenal dengan istilah social starification yang merupakan pembedaaan pendududk atau masyarakat kedalam kelas – kelas secara bertingkat ( secara hirarkis). B. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas penulis menyarankan kepada seluruh pembaca khususnya mahasiswa/i STIKES YARSI PONTTIANAK untuk bisa memahami LapisanLapisan Masyarakat dari makalah yang kami buat ini.

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->