P. 1
Makalah Adat Istiadat

Makalah Adat Istiadat

|Views: 3,555|Likes:
Published by Destya Purnawita

More info:

Published by: Destya Purnawita on Dec 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2014

pdf

text

original

A.

Pendahuluan Antropologi kebudayaan atau lebih sering kita dengar sebagai antropologi budaya (terjemahan dari Cultural Anthropogy), merupakan salah satu cabang dari studi antropologi yang mengambil kebudayaan sebagai objek studinya. Ilmu Antropologi, tidak seperti beberapa ilmu lain (misalnya, geografi) mempunyai kejelasan posisi dalam dikotomi bidangbidang ilmu pengetahuan, apakah termasuk bidang eksakta atau noneksata, ilmu pengetahuan alam atau sosial. Ilmu Antropologi adalah salah satu ilmu yang termasuk ke dalam kategori ilmu sosial. Adat Istiadat merupakan komponen yang tidak bisa lepas dari antropologi kebudayaan. Karena di dalam antropologi membahas tentang kehidupan manusia secara mendalam termasuk juga adat istiadat yang kental dengan kehidupan masyarakat. Saat ini, ilmu antropologi budaya mempunyai peranan penting dalam pembangunan bangsa di Indonesia dan telah cukup mendapat perhatian oleh pemerintah. Hal ini tampak dengan adanya pengembangan ilmu ini di beberapa universitas negeri, seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Sumatra Utara, Universitas Andalas, Universitas Udayana, Universitas Hasanuddin, Universitas Cendrawasih.

1.

B. Adat-Istiadat

Adat istiadat merupakan kebiasaan sosial yang sejak lama ada dalam masyarakat dengan maksud mengatur tata tertib. Ada pula yang mengikat norma dan kelakuan di dalam masyarakat, sehingga dalam malakukan suatu tindakan mereka akan memikirkan dampak akibat dari berbuatannya atau sekumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya. Terwujudnya adat-istiadat ini diibaratkan menanam tumbuhan yang tidak terlalu kuat pohonnya seperti kacang panjang dan lada, gadangnyo diambak tingginya dianjuang. Kacang panjang atau lada menjadi kuat batangnya hanya jika tanah di sekitarnya selalu (digemburkan) sehingga kandungan oksigen dalam tanah lebih banyak dan akarnya mudah menembus tanah. Pohon dapat berdiri tegak dan makin tinggi jika diberi kayu anjungan. Pada saat orang lupa mengambak dan mengajung, maka tumbuhan menjadi kerdil atau mati sama sekali. Demikian pula pelaksanaan adat-istiadat ini di tengah-tengah masyarakat.

C. Integrasi dan dialektika kebudayaan
 Integrasi

Integrasi bersal dari bahasa inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. Integrasi bias diartikan juga sebagai suatu keadaandimana suatu kelompokkelompok etnik beradaptasi dan bersifat konformitas trehadap kebudayaan mayoritas masyarakat dan masih mempertahankan kebudayaan masing- masing . integrasi mempunyai 2 pengertian, yaitu: 1. Pengendalian terhadap konflik dan pinyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial dalam suatu sistem sosial tertentu. 2. Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur- unsur tertentu. Sedangkan integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur- unsur sosial atau kemasyarakatan. Suatu integrasi social diperlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai macam tantangan. Baik berupa tantangan fisik dan konflik yang trjadi secara sosial budaya. Menurut

para penganut funsionalisme stuktur sistem social senantiasa terintegrasi diatas 2 landasan berikkut : 2. Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi diatas tumbuhnya konsesnus (kesepakatan) diantara bagian sebagianberanggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat pundamental (mendasar).

Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus manjadi anggota dalam berbagai satu kesatuan sosial (cross-cutting affilinantion).setiap konflik yang terjadi diantara kesatuan social dengan kesatuan social lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitasganda dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan social . Penganut konflik berpendapat bahwa masyarakat terintegrasi atas paksaan dan karena adanya saling ketergantungan diantara berbagai kelompok. Integrasi akan terbentuk apabila sebagian masyarakat memiliki kesepakatan batas-batas tretorial, nilai-nilai, normanorma dan peranata- peranata sosial.

Dialektika Kebudayaan

Pengertian dialektika yaitu hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat yang saling terkait satu sama lain. Tiga tahap dalam proses dialektis yaitu : 1. Eksternalisasi : Proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. 2. Obyektivasi : Proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. 3. Internalisasi : Proses dimana manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat

3.

D.

Kebudayaan dan peradaban

Kebudayaan dan peradapan merupakan aspek-aspek kehidupan sosial manusia. Sebuah deskripsi mengenai kontras-kontras antara kebudayaan dan peradaban dijelaskan secara menarik oleh Alija Izebegovic dalam Membangun Jalan Tengah. Karena peradaban dan kebudayaan adalah dua aspek dalam kehidupan manusia, ada interelasi antara keduanya. Sebagaimana interelasi antara aspek spiritual, mental dan material dalam diri manusia. Ide utama yang terkandung dalam peradaban adalah kemajuan, perkembangan (progress dan development). Tetapi sebuah masyarakat memiliki nilai-nilai, pemikiran-pemikiran dasar yang tetap, yang menjadi identitas kulturalnya. Nilai-nilai yang tidak hilang begitu saja ketika sebuah peradaban mundur atau hancur. Yang terjadi adalah nilai-nilai itu menjadi tidak efektif secara sosial. Sebuah peradaban mengalami siklus dalam ruang dan waktu. Ia mengalami pasang dan surut. Sedang kebudayaan lepas dari kontradiksi ruang dan waktu. Ia memiliki ukuran tersendiri (ukuran benar salah, tepat tidak atau berguna tidak) di dunai pemikiran. Membangun peradaban tidak bisa dengan sekedar menumpuk-numpuk produk peradaban lain. Sebuah peradaban diukur dari pencapaiannya. Untuk membangun peradaban perlu adanya jaringan sosial (dalam terminologi Bennabi) atau inovasi sosial (dalam terminologi Drucker) yang menciptakan pranata (institusi) sosial yang memungkinkannya menerima dan mengembangkan produk-produk peradaban lain dalam konteks kebudayaan sendiri. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan di jabarkan lebih dalam apa itu peradapan dan apa itu kebudayaan?

 Peradaban
Adapun istilah “peradaban” dalam bahasa Inggris disebut civilization. Istilah peradaban ini sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan. Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya yang berwujud unsur-unsur budaya yang halus, indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi. Seperti yang diungkapkan Arnold Toynbee “The Disintegrations of Civilization” dalam Theories of Society, (New York, The Free Press, 1965), hal. 1355, peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.

Pengertian yang lain menyebutkan bahwa peradaban adalah kumpulan seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek). Huntington memberi definisi bahwa peradaban adalah sebuah identitas terluas dari budaya, yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif. Berangkat dari definisi ini, maka masyarakat Amerika –khususnya Amerika Serikat- dan Eropa yang sejauh ini disatukan oleh bahas, budaya dan agama dapat diklasifikasikan sebagai satu peradaban, yakni peradaban barat. Lebih lanjut Huntington menyatakan bahwa term “Barat”, secara universal, digunakan untuk menunjuk pada apa yang disebut dunia Kristen Barat. Dengan demikian, “Barat” merupakan sebuah peradaban yang dipandang sebagai “penunjuk arah” dan tidak diidentikkan dengan nama orang-orang tertentu, agama, atau wilayah geografis. Akan tetapi pengidentifikasian ini mengangkat peradaban dari historitas, wilayah geografis, dan konteks kulturalnya. Secra historis, peradaban Barat adalah peradaban Eropa, namun di era modern ini yang dimaksud dengan peradaban Barat adalah peradaban Eroamerika (Euroamerican) atau Atlantik Utara. Mengenai pertentangan antara budaya Barat dan budaya Timur, Kun Maryati dan Juju Suryawaty menagatakan: “Dalam masyarakat dunia, ada pandangan yang menganggap budaya Barat sebagai budaya progresif atau maju yang sarat dengan kedinamisan (hot culture). Sebaliknya, budaya Timur diidentikkan dengan budaya yang dingin dan kurang dinamis (cold culture). Pertentangan ini cenderung Eropa-sentris sehingga mengakibatkan westernisasi di berbagai bidang kehidupan”. Sebelum adanya peradaban Eroamerika yang menguasai dunia peradaban sekarang ini sudah barang tentu terlebih dahulu sudah ada peradaban yang disebut dengan peradaban dunia; kuno atau klasik pra-Islam. Di antara peradaban-peradaban itu adalah: 1. Peradaban Irak, di antara peradaban yang terpenting adalah Sumeria, Akkadia, Ayalamiyah, Babilonia, Asyuriah, dan Kaldaniah 2. Peradaban Syam, di antara peradaban yang terpenting adalah Amuriyah, Vinikia, Kan‟an,. Aramiyah, Anbath, Tadmur, Ghassan, dan Munazarah 3. Peradaban Mesir, peradaban yang terpenting adalah peradabaan Fir‟aun dan peradaban Heksus 4. Peradaban Yaman, di antaranya Ma‟in, Saba‟, Himyar, dan Qatban. 5. Peradaban Persia 6. Peradaban Yunani dan Romawi

Peradaban Fir‟aun dan Sumeria adalah dua peradaban paling awal yang ada dalam sejarah manusia1. Dari beberapa pengertian “kebudayaan” dan “peradaban” tersebut di atas tampak sekali terdapat perbedaan di antara keduanya. Di sini pemikiran yang lebih jelas tentang perbedaan “kebudayaan” dan “peradaban” dapat dijumpai dalam filosof mazhab Jerman, seperti Edward Spranger yang mengartikan “kebudayaan” sebagai segala bentuk atau ekspresi dari kehidupan batin masyarakat. Sedangkan peradaban ialah perwujudan kemajuan teknologi dan pola material kehidupannya. Dengan demikian, maka sebuah bangunan yang indah sebagai karya arsitektur mempunyai dua dimensi yang saling melengkapi: dimensi seni dan falsafahnya berakar pada kebudayaan, sedangkan kecanggihan penggunaan material dan pengolahannya merupakan hasil peradaban. Dengan kata lain, kebudayaan ialah apa yang kita dambakan, sedangkan peradaban ialah apa yang kita pergunakan. Kebudayaan tercermin dalam seni, bahasa, sastra, aliran pemikiran, falsafah dan agama, bentuk-bentuk spritualitas dan moral yang dicitacitakan, falsafah dan ilmu-ilmu teoritis. Peradaban tercermin dalam politik praktis, ekonomi, teknologi, ilmu-ilmu terapan, sopan santun pergaulan, pelaksanaan hukum dan undangundang. Sejalan dengan pemikiran Spranger ini adalah Effat al-Syarqawi yanhg mengartikan “kebudayaan” sebagai khazanah sejarah suatu bangsa/masyarakat yang tercermin dalam pengakuan/kesaksiannya dan nilai-nilainya, yaitu kesaksian dan nilai-nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rohaniah yang dalaam, bebas dari kontradiksi ruang dan waktu. Dengan kata lain, “kebudayaan” adalah struktur intuitif yang mengandung nilai-nilai rohaniah tertinggi, yang menggerakkan suatu masyarakat melalui falsafah hidup, wawasan moral, citarasa estetik, cara berpikir, pandangan dunia (weltanschaung) dan sistem nilai-nilai. Adapun “peradaban” ialah khazanah pengetahuan terapan yang dimaksudkan untuk mengangkat dan meninggikan manusia agar tidak menyerah terhadap kondisi-kondisi di sekitarnya. Di sini „peradaban‟ meliputi semua pengalaman praktis yang diwarisi dari satu generasi ke generasi lain. Peradaban tampak dalam bidang fisika, kimia, kedokteran, astronomi, ekonomi, politik praktis, fiqih mu‟amalah, dan semua yang berkaitan dengan penggunaan ilmu terapan dan teknologi.

 Kebudayaan
Dilihat dari pengertian dari “Kebudayaan” dan “Peradaban” secara umum maka keduanya adalah hampir mirip akan tetapi sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Kebudayaan melahirkan peradaban dan peradaban lahir dari kebudayaan, dan tidak ada manusia yang tidak berbudaya karena tidak ada manusia yang hidup sendirian. Dari karena itulah maka sekelompok manusia yang membentuk masyarakat pasti melahirkan sebuah kebudayaan yang berkembang menjadi peradaban.

1

H.J Wills dalam Short History of the World halaman 62.

Kata ”kebudayaan” berasal dari (bahasa Sansekerta) buddayah yang merupakan bentuk jamak dari kata “budhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan adalah

6. keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil yang harus didapatkannya dengan belajar, dan semua itu tersusun dalam kehidupan masyarakat2. merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, cipta, dan rasa masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat3. “Kebudayaan” dalam bahasa Inggris disebut culture. Sebuah istilah yang relatif baru karena istilah „culture‟ sendiri dalam bahasa Inggris baru muncul pada pertengahan abad ke19. Sebelum tahun 1843 para ahli anthropologi memberi arti kebudayaan sebagai cara mengolah tanah, usaha bercocok tanam, sebagaimana tercermin dalam istilah agriculture dan holticulture. Hal ini dapat dimengerti karena istilah culture berasal dari bahasa Latin colere yang berarti pemeliharaan, pengolahan tanah pertanian. Dalam arti kiasan kata itu juga diberi arti “pembentukan dan pemurnian jiwa”. Seorang antropolog lain, E.B. Tylor (1871 mencoba memberikan definisi mengenai kebudayaan sebagai yaitu; “Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggot masyarakat”4.

2

Setangkai Bunga Sosiologi (Jakarta:Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964), hal 113 3 Ibid, 114 4 Primitive Culture (New York; Brentano‟s, 1924), hal 1

7.

Kesimpulan
1. Adat-istiadat merupakan tradisi suatu masyarakat yang sudah ada sejak jaman nenek moyang (dahulu) dan masih di pegang teguh oleh masyarakat sampai sekarang. Mereka akan mewariskannya ke anak cucu mereka agar dapat dilestarikan. 2. Pengertian dialektika yaitu : Hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat yang saling terkait satu sama lain 3. Integrasi pengendalian terhadap konflik dan pinyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial dalam suatu sistem sosial tertentu. 4. Peradaban adalah kumpulan sebuah identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif. 5. Kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan dan kebiasaan.

.

8. DAFTAR PUSTAKA Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Penj. Samson Rahman, Jakarta, Akbar Media, 2010. Al-Syarqawi, Effat, Filsafat Kebudayaan Islam, Penj. A. Rofi‟ Usmani, Bandung, Pustaka, 1986. Eisenstadt, S.N, Revolusi Transformasi Masyarakat, Penj. Chandra Johan, Jakarta, Rajawali, 1986. Elisanti dan Rostini, Tinitin, Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII IPS, Jakarta, Indradjaya, 2007. Marliany, Rosleny, Psikologi Umum, Bandung, Pustaka Setia, 2010. Maryati, Kun dan Suryawaty, Juju, Seri Pendalaman Materi Sosiologi SMA dan MA Siap Tuntas Menghadapi Ujian Nasional, Jakarta, Erlangga, 2008. Huntington, Samuel P, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, Penj. M. Sadat Ismail, Yogyakarta, Qalam, 2004. Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Raja Grafindo,2007. Waridah Q, Siti dkk, Sosiologi untuk SMA Kelas II, Jakarta, Bumi Aksara, 2005. Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Hidakarya Agung, 1989.

iv.

MAKALAH Kebudayaan
(adat istiadat, integrasi dan dialektika kebudayaan, peradapan kebudayaan)
(Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Mata kuliah )

Pengantar Antropologi

Disusun Oleh:
1. Bramantya Hoetomo (B76208080/2f3) 2. Yeni Koesworo (B36211098/2f3)

3. Haidayati Kusuma Pertiwi (B06211058/2f3)

PRODI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2011-2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat serta hidayahnya kepada kita semua sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan. Pada kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih semua pihak yang telah membantu kami, baik berupa tenaga maupun pikirannya hingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan yang terdapat di dalamnya, maka pemakalah berharap agar pembaca dapat memberikan saran dan kritikan yang membangun agar lebih terciptanya kesempurnaan pada penulisan tugas berikutnya. Semoga tugas ini dapat bermanfaat khususnya bagi pemakalah dan pembaca pada umumnya. Amin.

Surabaya,

September 2011

Tim Penyusun

ii.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR................................................................................................................ii DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .................................................................................................................... 1 BAB II PEMBAHASAN

B. Pengertian adat istiadat ........................................................................................... 2 C. Integrasi dan dialektika kebudayaan.... ................................................................. 2 D. Peradapan dan kebudayaan……… ………………....................……...……….. 4
BAB II KESIMPULAN ...................................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................................... iv

 

Adat istiadat yaitu sekumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannya karena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya. Integrasi bias diartikan juga sebagai suatu keadaandimana suatu kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersifat konformitas trehadap kebudayaan mayoritas masyarakat dan masih mempertahankan kebudayaan masing- masing. Dialektika yaitu hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat yang saling terkait satu sama lain. Kebudayaan dan peradapan merupakan aspek-aspek kehidupan sosial manusia. Sebuah deskripsi mengenai kontras-kontras antara kebudayaan dan peradaban dijelaskan secara menarik oleh Alija Izebegovic dalam Membangun Jalan Tengah. Karena peradaban dan kebudayaan adalah dua aspek dalam kehidupan manusia, ada interelasi antara keduanya. Sebagaimana interelasi antara aspek spiritual, mental dan material dalam diri manusia. Ide utama yang terkandung dalam peradaban adalah kemajuan, perkembangan (progress dan development). Tetapi sebuah masyarakat memiliki nilai-nilai, pemikiran-pemikiran dasar yang tetap, yang menjadi identitas kulturalnya. Nilai-nilai yang tidak hilang begitu saja ketika sebuah peradaban mundur atau hancur. Yang terjadi adalah nilai-nilai itu menjadi tidak efektif secara sosial.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->