LAPORAN KASUS A.

IDENTITAS PASIEN Nama pasien Pendidikan Umur Jenis kelamin Alamat Agama Nomor RM Tanggal masuk RS Tanggal operasi B. ANAMNESIS
1. Keluhan utama

: Ny. Tanti Mulyantini : S1 : 41 Tahun : Perempuan : RT 05 / 16 kelurahan Bacapi, Cirebon. : Islam : 755585 : 23 November 2012 : 23 November 2012

Keluar darah dari jalan lahir.

2. Riwayat Penyakit Sekarang G3P2A0 merasa hamil sembilan bulan, masih merasakan gerakan janin Tgl 19 November 2012 Tgl 23 November 2012 : keluar darah merah segar dari jalan lahir, berlangsung selama 4 hari, tidak terasa nyeri. : pukul 20.30 wib keluar darah dari jalan lahir, warna merah segar, lebih banyak dari sebelumnya. pukul 21.30 wib pasien pergi ke bidan, lalu di rujuk kr Rs. pukul 23.10 wib pasien tiba di VK

3. Riwayat Penyakit Dahulu
1

– Riwayat darah tinggi – Riwayat penyakit kencing manis – Riwayat asma/alergi – Riwayat penyakit jantung

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga – Riwayat darah tinggi – Riwayat penyakit kencing manis – Riwayat asma/alergi – Riwayat penyakit jantung 5. Riwayat Perkawinan Perkawinan yang pertama 6. Riwayat obstetric •

: disangkal. : disangkal. : disangkal : disangkal

Aterm/spontan/bidan/perempuan umur sekarang 12 tahun hidup Aterm/spontan/bidan/perempuan umur sekarang 9 tahun hidup Sekarang

7. Kehamilan sekarang HPHT HPL : 03-03-2012 : 10-12-2012

8. Riwayat ANC Sudah kebidan lebih dari 8, dimana: bidan Masri C. PEMERIKSAAN FISIK
2

HASIL LABORATORIUM 3 . bentuk normal. akral hangat (+). edema (-). : konjungtiva anemis : memanjang presentasi kepala punggung kiri : 141 x/menit :- D.1. tidak teraba masa. pembesaran kelenjar limfe (-). Status Generalis – Keadaan umum : Baik – Kesadaran – Tanda vital : compos mentis. VBS + peristaltik (+) N. sklera ikterik (-/-). supel. hepar dan lien tidak teraba. NT (+) suprapubik.10C – Berat badan Tinggi badan – Kepala – Leher – Thorak – Abdomen – Ekstremitas pemeriksaan obstetric: pemeriksaan luar: TFU Letak anak DJJ His : 38cm : : : : : : 60 kg 155 cm (-/-). simetris. cor dan pulmo dalam batas normal. : TD Nadi Respirasi Suhu 120/80 mmHg 72 x/ menit 22 x/ menit 36.

55 4.1 30. ACC operasi dengan spinal anestesi G.0 – 18.5 2. DIAGNOSA G3P2A0 gravida 37-38 minggu dengan perdarahan pervaginam ec.8 UI UI Mg/dl Mg/dl 0 – 25 0 – 29 15 – 45 Negative HbSAg Negative E.0 – 11. suspek plasenta previa F.Pemeriksaan Hb Hematokrit Leukosit Trombosit Gol darah GDS Hasil 10. KESIMPULAN Berdasakan pemeriksaan fisik.8 35.0 150 – 400 Mg/dl < 140 SGOT SGPT Ureum Creatinin 27 15 10. diklasifikasikan dalam ASA (II) pasien tanpa penyakit sistemik ringan-sedang dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. PENATALAKSANAAN Terapi Operatif : SC 4 .0 323 - Satuan gr/dl % 103 uL 103 uL Nilai Normal 11.

vital sign TD : 120/80. • Untuk mempertahankan oksigenasi diberikan oksigen 2 liter/menit. saturasi O2 100 % • Pasien diminta membungkuk agar tulang belakang lebih menonjol. Peri-operatif • Pasien masuk ke ruang OK. Setelah jarum dicabut. Nadi relative tidak stabil. Saturasi oksigen relative stabil dengan kisaran 99-100%. diukur kembali tekanan darah. Tekanan darah sistolik dan diastolik relative tidak stabil.Keadaan umum baik . nadi dan saturasi TD : 130/90 mmHg. bekas injeksi ditutup dengan menggunakan plester. nadi : 84 x/menit. setelah LCS tampak keluar melalui jarum (LCS jernih) maka di injeksikan Bupivacain 20 mg. Setelah pasien tidak memberikan respon sensorik maupun motorik. 25 pada sub arachnoid kanalis spinalis region antara lumbal 3-4. Selama operasi berlangsung terjadi perdarahan minimal ± 25 ml. Pasien diminta tidur terlentang di atas meja operasi dengan kepala di atas bantal. Selama tindakan anestesi berlangsung. . TINDAKAN ANESTESI a.Pasien puasa 5 jam pre-operatif .H. 5 . diposisikan di meja operasi.Pre-loading cairan : Cairan yang digunakan Ringer laktat Kebutuhan cairan 24 jam dewasa Pre-load operatif = 30-35 ml/kgBB/24 jam = 30 ml x 60 kg = 1800ml/24 jam =10-20 ml/kgBB dalam 15 mneit = 600-1200 Pasien Puasa ± 5 jam pengganti cairan puasa 500 ml/5jam b. Pre-operatif . tindakan aseptic pada daerah yang akan diinjeksi. N : 100 x/menit. maka tindakan operasi dapat dilakukan. tekanan darah dan nadi senantiasa dikontrol setiap 5 menit. Dilakukan spinal Dilakukan anestesi dengan menggunakan jarum spinal no.

nadi serta skor aldrete.30 16.35 16. TD: 117/89 mmHg.50 16. 6 . • Operasi berjalan 30 menit Tabel Hasil monitoring tanda vital selama operasi Pukul (WIB) 16. dipantau tekanan darah. N : 89 x/menit.15 17. skor aldrete 9 atau 10 Pasien dipindahkan ke bangsal.45 16.20 Tekanan Darah (mmHg) 130/90 120/83 120/83 129/83 104/65 113/56 107/79 112/62 117/73 117/72 126/78 SpO2 Nadi (x/menit) Keterangan 100 98 98 100 100 100 100 100 99 100 100 122 117 126 126 86 89 105 99 101 96 88 Mulai operasi ] Ondansetron 4mg + O2 2 L/menit Ergometrin + oxytocin Ephedrin (95/56/) Ephedrine midazolam 2cc Operasi selesai (92/53) + c. Post-operatif • • • • • Operasi berakhir pukul 10. Selesai operasi pasien dipindahkan ke ruang recovery.10 17.55 17.05 17.15 WIB Post-operatif pasien diberikan injeksi tramadol 30 mg didalam infuse Ringer Laktat.40 16.00 17. tidak perlu dilakukan transfuse.• Resusitasi cairan peri-operatif : Stress operasi besar = 8 ml/kgBB/jam = 8 ml x 60 = 480 ml/jam Perdarahan peri-operatif < 10 %.

Intravenous regional anesthesia : injeksi obat anestesi lokal intravena ke ekstremitas atas/bawah lalu dilakukan isolasi bagian tersebut dengan tourniquet 7 fungsi 2. hati. Field Block : injeksi obat anestesi lokal langsung ke tempat lesi : membentuk dinding analgesia di sekitar lapangan operasi 4. Infiltrasi lokal 3. Anestesi umum bekerja untuk menekan aksis hipotalamuspituitari adrenal.TINJAUAN PUSTAKA Teknik anestesi secara garis besar dibagi menjadi dua macam. A. Chlor ethyl) 5. Banyak pasien dengan penyakit jantung ringan mendapat manfaat dari vasodilatasi yang menyertai anestesi spinal kecuali orang-orang dengan penyakit katub pulmonalis atau hipertensi tidak terkontrol. blok epidural. Beberapa teknik anestesi regional yang biasa digunakan pada pasien obstetri yaitu blok paraservikal. Anestesi spinal sangat cocok untuk pasien yang berusia tua dan orang-orang dengan penyakit sistemik seperti penyakit pernapasan kronis. Surface analgesia : obat dioleskan atau disemprotkan (EMLA. Teknik anestesia yang lazim digunakan dalam seksio sesarea adalah anestesi regional. ANESTESI REGIONAL Anestesi regional adalah hambatan impuls sensorik. Sangat cocok untuk menangani pasien dengan trauma yang telah mendapatkan resusitasi yang adekuat dan tidak mengalami hipovolemik. Neroaxial Block : Spinal dan Epidural . blok subarakhnoid. dan blok kaudal. ginjal dan gangguan endokrin seperti diabetes. yaitu anestesi umum dan anestesi regional. sementara anestesi regional berfungsi untuk menekan transmisi impuls nyeri dan menekan saraf otonom eferen ke adrenal. tapi tidak selalu dapat dilakukan berhubung dengan sikap mental pasien. nyeri suatu bagian motorik tubuh dapat sementara dengan hambat impuls syaraf terpengaruh sebagian/seluruhnya. Klasifikasi regional anestesi : 1.

Spinal anestesi telah digunakan secara luas dan aman selama kurang lebih 100 tahun. Spinal anestesi dianjurkan untuk operasi di bawah umbilikus misalnya hernia. Intraabdomen bawah : T6 B. Intraabdomen lain : T12 : T10 : T10 : T10 : T8 : T8 : T4 g. Injeksi ini biasanya dilakukan pada tulang belakang regio lumbal bawah dimana sumsum tulang belakang berakhir (L2). Uterus-Vagina d. Spinal anestesi mudah untuk dilakukan dan memiliki potensi untuk memberikan kondisi operasi yang sangatbaik untuk operasi di bawah umbilikus. Tungkai bawah f. ginekologi dan operasi urologis dan setiap operasi pada perineum atau alat kelamin. perineum dan ekstremitas bawah. Testis ovarium h. Ketinggian dermatom anestesi regional sesuai pembedahan : a. Tungkai bawah b.Anestesi Spinal Anestesi spinal adalah salah satu metode anestesi yang diinduksi dengan menyuntikkan sejumlah kecil obat anestesi lokal ke dalam cairan cerebro-spinal(CSF).(BIER BLOCK) Anestesi regional secara intratekal merupakam suatu alternatif yang dapat diberikan untuk analgesia selama tindakan operasi dan untuk memberikan analgesia pada periode dini pasca operasi. Buli-buli prostat e. Teknik anestesi regional dan obat anestesi lokal yang baik sangat penting untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dan aman. terutama untuk operasi-operasi pada daerah abdomen bawah. 8 . Panggul c. Semua operasi pada kaki.

Trauma saraf 6. Bedah abdomen bawah Kontra indikasi anestesi spinal 1. syok 5.tapi amputasi meskipun tidak sakit. Tekanan intracranial meningkat Komplikasi anastesi spinal dibagi menjadi komplikasi dini dan komplikasi delayed. Hipoventilasi : Akibat paralisis saraf frenikus atau hipoperfusi pusat kendali nafas 4. Bedah urologi 5. Trauma pembuluh saraf 5. Bedah panggul 3. Bradikardia : Dapat terjadi tanpa disertai hipotensi atau hipoksia. Mual –muntah 7. Blok spinal tinggi atau spinal total Komplikasi pasca tindakan: 9 .terjadi akibat blok sampai T-2 3. Hipotensi berat: Akibat blok simpatis terjadi venous pooling. 2. Hipovolemik berat. Gangguan pendengaran 8. Alergi terhadap obat anestesi 2. Pada dewasa dicegah dengan memberikan infus cairan elektrolit 1000ml atau koloid 500ml sebelum tindakan. Indikasi anestesi spinal : 1. Bedah ektremitas bawah 2. mungkin merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan untuk pasien yang dalam kondisi terjaga. Dalam situasi ini dapat menggabungkan tehnik spinal anestesi dengan anestesi umum. Komplikasi tindakan : 1. Bedah obstetrik-ginekologi 4. Infeksi pada tempat suntikan 4. Infeksi sistemik 3.

fenilefrin) dan tambahan cairan kristaloid. seksio sesarea yang dilakukan karena nonreasurring FHR tidak perlu menghindari penggunaan anestesi regional. Sebagai tambahan bisa diberikan H2-reseptor antagonis (contohnya simetidin. Nyeri tempat suntikan 2. metklopramid atau keduanya untuk menguragi keasaman dan mempercepat pengosongan lambung. Seksio sesarea dilakukan dengan indikasi djj yang tidak normal . Anestesia spinal Anesti spinal adalah pilihan utama untuk kebanyakan pasien seksio sesarea berencana dan emergensi. dan kinerja cepat. janin dan ibu harus di evaluasi. Bupivacain 12 mg memeneri anastesi ungtuk 1-2 jam . Komplikasi tersering adalah hipotensi yang dapat dikurangi dengan cairan kristaloid 5001000 ml yang tidak mengandung glukosa pada saat spinal. blok yang mantap. Sehubung dengan pemilihan anastesi . Level sensorik pada paling tidak T-4 dilakukan untuk meminimalkan rasa yang tidak nyaman selama operasi. Untuk mencegah komplikasi aortokaval . Meningitis PERSALINAN DENGAN SEKSIO SESAREA Kebanyakan seksio sesarea dilakukan dengan anastesi spinal atau epidural. Hipotensi yang terjadi diatasi dengan pemberian vasopresor (efedrin. Anesthesia epidural Anesthesia epidural adalah pilihan yang tepat untuk kebanyakan pasien yang menerima anastesi epidural selama proses persalinan dan pasien yang setelah itu memerlukan seksio sesarea. ranitidine). Nyeri kepala karena kebocoran liquor 4. 10 .1. Monitor detak jantung janin harus terus dilakukan sampai persiapan pembedahan di mulai. Nyeri punggung 3. antasida nonpartikel (contoh sodium sitrat diberikan secara oral untuk mengurangi resiko meningkatnya aspirasi pneumonitis pada ibu. Derajat gawat janinnnya harus dipertimbangkan dalam mempertimbangkan anastesi yang dilakukan . anastetik lokal yang digunakan untuk anastesi spinal biasanya dalam bentuk cairan hiperbarik Keuntungan anastesia spinal pada seksio sesarea adalah mudah. Retensio urine 5. Sebelum dilakukan persalinan dengan seksio sesarea . posisi pasien dibuat sedikit ke kiri (30 derajat) sampai bayi lahir.

mudah diprediksi dan mula kerja cepat. 7. Tambah infiltrasi anastesi lokal 3.Mudah pelaksanaannya. Keadaan ini dapat membahayakan keadaan janin.Memberikan analgesi yang adekuat pada seluruh kala persalinan 6. Jika waktunya memungkinkan dokter spesialis anastesiologi harus memastikan dulu apakah blok yang terjadi sudah adekuat atau belum karena beberapa pasien mengalamai blok yang tidak adekuat .Pada masa lalu keburukan anastesi spinal adalah tingginya angka kekerapan sakit kepala pasca spinal. gangguan respirasi. bila hal ini terjadi: 1. Menurut Campbell 1997 syarat anestesi pada persalinan yang ideal adalah : 1.Konsisten.Mampu memberikan analgesi pada kala I dan II persalinan 5. Anestesia spinal aman untuk janin. Tambah analgesia sistemik sepwrti N2O atau dosis kecil opioid atau ketamin 4.dan gangguan kardiovaskular. 4. bahkan dapat menimbulkan kematian ibu. namun selalu ada kemungkinan bahwa tekanan darah pasien menurun dan akan menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi ibu dan janin. 11 . sehingga memungkinkan ibu bergerak aktif dan mampu memposisikan tubuhnya selama persalinan. Beberapa kemungkinan terjadinya komplikasi pada ibu selama anestesia harus diperhitungkan dengan teliti.Tidak menghilangkan kemampuan ibu untuk mengejan 8. 3.Memungkinkan pemberian tambahan obat analgesi bahkan anestesi untuk pembedahan tanpa adanya prosedur invasif tambahan. Akan tetapi saat ini dengan menggunakan jarum tumpul (whitacre) atau jarum tajam nomor 27 G atau 29 G.Tidak menimbulkan blok motorik. sangat ideal untuk melakukan manual plasenta selama keadaan hipovolemia dapatdisingkirkan. Ada keuntungan pasti bagi ibu dan bayi dalam menggunakan anestesi spinal untuk operasi caesar. Ubah menjadi anastesi umum endotrakeal Di kebidanan. angka kekerapan kurang dari 1 %.Memungkinkan ibu merasakan adanya kontraksi rahim pada kala IIsehingga siap mengejan. 9.Aman bagi ibu dan bayinya 2. Lakukan lagi anastesi spinal 2.Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain aspirasi paru.

Apabila tensi turun dibawah 100 mmHg atau turun lebih dari 20 mmHgdibanding semula. sehingga tidak perludiberikan metergin IV oleh karena sering menimbulkan mual dan muntah-muntah yang mengganggu operator. 11.5 cc. Setelah bayi lahir biasanya kontraksi uterus sangat baik. disuntikan xylocain 5% sebanyak 1.Tensi penderita diukur tiap 2 . dengan bokong kanan diberi bantal sehingga perut penderita agak miring ke kiri.Penderita diletakan terlentang. tanpa posisi Trendelenburg.Infus Dextrosa/NaCl/Ringer laktat sebanyak 500 . 10.Sebelum penusukan betadin yang ada dibersihkan dahulu.1500 ml.Kepala memakai bantal dengan dagu menempel ke dada. 13.Posisi lateral merupakan posisi yang paling enak bagi penderita 4.Oksigen diberikan dengan masker 6 . 12.L3 .8 L/mt 3.Teknik Anestesi Spinal : 1. apabila penderita sudah operasi boleh mulai.1.Setelah penderita melihat bayinya yang akan dibawa ke ruangan. efedrin diberikan 10 – 15 mgl. 5.Untuk skin preparation. 6. juga tanpa introducer dengan bevel menghadap ke atas. 15. kedua tanganmemegang kaki yang ditekuk sedemikian rupa sehingga lutut dekat ke perutpenderita.4 (papila mammae kebawah): 12 .23 dapat disuntikkan langsung tanpa lokal infiltrasi dahulu. Syntocinon dapat diberikan per drip.Kalau liquor sudah ke luar lancar dan jernih.Skin preparation dengan betadin seluas mungkin 7.3 menit selama 15 menit pertama. biasanya agak susah oleh karena adanya edemajaringan.4 interspace ditandai. 14. 2. dapatdiberikan sedatif atau hipnotika Indikasi anestesi spinal pada seksio sesarea Biasanya anestesi spinal dilakukan untuk pembedahan pada daerah yang diinervasi oleh cabang Th.Jarum 22 .V. 8. selanjutnyatiap 15 menit. 9.25 .

Hipotensi.Alergi obat lokal anstesi 6.Tekanan intrakranial meninggi 5.Syok hipovolemik 9.Operasi perineum 5.Lidocain 1-5 %2.Pasien menolak 8.1.Infeksi tempat penyuntikan 2.25-0. 13 .Gangguan fungsi hepar 3. Bupivacain 0.75 % Komplikasi anestesi spinal pada seksio sesarea 1.Gangguan koagulasi 4.Ekstremitas inferior 3.Seksio sesarea 4.Operasi urologic Kontra indikasi anestesi spinal pada seksio sesarea 1.Sepsis Obat anestesi spinal yang sering digunakan pada seksio sesarea adalah : 1.Vaginal delivery 2.Hipertensi tak terkontrol 7.

lidokain. Kontraindikasi untuk pemberian bupivacaine adalah anestesi regional IV(IVRA) karena potensi risiko untuk kegagalan tourniket dan adanya absorpsi sistemik dari obat tersebut. tetrakain.Bupivacaine kadang diberikan pada injeksi epidural sebelum melakukan operasi athroplasty pinggul.Brakikardi. Bila sama (isobarik). serabut anestesi anestesi intratekal.Penurunan tekanan intracranial 10.2. atau bupivakain.Bupivacaine adalah obat anestetik lokal yang termasuk dalam golongan amino amida. Pada anestesi spinal jika berat jenis obat lebih besar dari berat jenis CSS (hiperbarik). Berat jenis obat anestetik lokal mempengaruhi aliranobat dan perluasan daerah teranestesi. Bupivacaine bekerja dengan cara berikatan secara intaselular dengan natrium dan memblok influk natrium kedalam inti sel sehingga mencegahterjadinya depolarisasi.Sakit kepala spinal (pasca pungsi) 4. obat akan berpindah dariarea penyuntikan ke atas. 3.Meningitis 11.Total spinal 8.Depresi nafas 7.Bupivacaine dapat diberikan bersamaan dengan obat lain untuk memperpanjang durasi efek obat seperti misalnya epinefrin. dan fentanil untuk analgesi epidural. pada penggunaan epidura anestesi dan lokal termasuk anestesi infiltrasi. Bupivacaine blok di indikasi saraf.Mual-muntah 6. Jika lebih kecil (hipobarik).Menggigil 5. obat akan berada di tingkat yang sama di tempat penyuntikan.Sequelae neurologic 9. maka bupivacaine dapat berdifusi dengan cepat ke dalam serabut saraf nyeri 14 . Obat tersebut juga biasa digunakan untuk luka bekas operasi untuk mengurangi rasa nyeri dengan efek obat mencapai 20 jam setelah operasi. maka akan terjadi perpindahan obat ke dasar akibat gravitasi. Dikarenakan serabut saraf yang menghantarkan rasa nyeri mempunyai serabut yang lebih tipis dan tidak memiliki selubung mielin. glukosa.Retensi urine Bupivacaine Obat anestetik lokal yang sering digunakan adalah prokain.

dibandingkan dengan serabut saraf penghantar rasa proprioseptif yang mempunyai selubung mielin dan ukuran serabut saraf lebih tebal. (A) Posterior and (C) Lateral views of the human spinal column The inset (B) depicts the variability in vertebral level at which the spinal cord terminates 15 .

16 .

17 .

18 .

19 .

usia 2.bentuk konfigurasi kolom tulang belakang 4. Peninggian tingkat blokade sensoris didapat dengan menggunakan dosisbupivacine hiperbarik yang lebih besar.volume obat anestesi yang di injeksikan Dosis obat anestesi lokal yang digunakan mempengaruhi penyebarannyadalam ruang subarachnoid.densitas cairan serebrospinalis 8. 20 . dimana dari penelitian sebelumnya hanya mencapai tingkat dermatom T10dan C4. Penggunaan dosis yang lebih besar dariobat anestesi lokal akan memberikan keuntungan berupa memperpanjang efek analgesia tetapi disisi lain juga meningkatkan risiko terjadinya efek samping.dosis obat anestesi local 11. Sebagaimana hasil yang didapatkan dari penelitianbahwa tingkat blokade sensorik paling tinggi dapat mencapai dermatom T8 danT2.densitas dan baritas dari obat anestesi yang di injeksikan 9.volume cairan serebrospinalis 7.arah jarum pada saat melakukan injeksi 6.posisi pasien 10. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah 1. Hubungan Panjang Spinal Dari hasil penelitian didapatkan 11 faktor yang dapat mempengaruhidistribusi obat anestesi lokal dalam ruang subarachnoid dengan berbagai keadaanklinis yang berbeda.tinggi badan 3.C.tempat injeksi 5.

21 .

uterus. expiratory reserve volume dan residualvolume menurun. susunan saraf pusat.dermatologi. Pada wanita hamil mulai 3 bulan terakhir. regurgitasi dan aspirasi setiap saat. asthma bronkhial. Peningkatan ini disebabkan kebutuhan metabolisme untuk foetus. FRC (Functional Residual Capacity) menurun 15-20%. fisiologifoetal. Peningkatan konsentrasi progesteronselama kehamilan menurunkan ambang pusat nafas di medula oblongata terhadap CO2. gastrointestinal.kardiovaskuler.Peningkatan volume semenit ini disebabkan karena peningkatan volume tidal (40%) dan peningkatan frekuensi nafas (15%).Ventilasi semenit meningkat pada aterm kira-kira 50% diatas nilai waktu tidak hamil. Pada Sectio Caesarea dengan pasien normal. Dalam kenyataannya. — Adanya resiko muntah. menimbulkan peningkatan "Shunt" dan kurangnya reserve oksigen.FISIOLOGI WANITA HAMIL Anestesi untuk obstetri berbeda dengan tindakan anestesi yang lain karena : — Ibu masuk rumah sakit pada hari saat akan melahirkan. Perubahan fisiologi dananatomi selama kehamilan menimbulkan perubahan dalam fungsi paru. terjadi perubahan fisiologi sistim respirasi. Perubahan pada parameter respirasi mulai pada minggu ke-4 kehamilan. ventilasi dan pertukarangas. dan mata. "airway closure" bertambah pada 30% gravida aterm selama ventilasi tidal. Perubahan-perubahan ini disebabkan karena diaphragma terdorong keatasoleh uterus yang gravid. — Terjadi perubahan-perubahan fisiologi yang dimulai pada tiga bulan terakhir kehamilan. karena perubahan tersebut akan mempengaruhi tindakan anestesi. muskuloskeletal. uterine blood flow sehingga dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas. kita harus memperhatikan perubahan-perubahan fisiologi dan anatomi. Ventilasi alveoli meningkat seperti volume tidal tetapi tanpa perubahan pada dead space anatomi. jaringan mammae. maka tindakan anestesinya akan lebih spesifik lagi. Produksi CO2 juga berubah sama sepertiO2. yaitu Ibu dan bayi yang akan dilahirkan. Kebutuhan oksigen meningkatsebesar 30-40%. 22 .Pada kehamilan aterm PaCO2 menurun (3235mmHg). susunan saraf perifer. placentaserta adanya peningkatan kerja jantung dan respirasi. Bila pasien disertai penyulit lain seperti preeklampsi. Untuk hal itu diperlukan pengetahuan yang mendalam mengenai fisiologi Ibu hamil. Pada kehamilan aterm functional residual capacity. — Efek obat yang diberikan dapat mempengaruhi bayi karena menembus barier placenta. — Ada dua insan yang perlu diperhatikan.

sebelum induksi pasien mutlak harus diberikanoksigen 100% selama 3 menit (nafas biasa) atau cukup 4 kali nafas dengan inspirasi maksimal (dengan O2 100%). hematokrit 35%).Faktor-faktor ini akan menimbulkan penurunan yang cepat dari PaO2 selama induksianestesi. peningkatan ventiiasi semenit. Pemberian analgetik (misal: epidural analgesia) akan menolong. Peningkatan volume darah mempunyai beberapa fungsi penting: — Untuk memelihara kebutuhan peningkatan sirkulasi karena ada pembesaran uterus danunit foeto-placenta. Semua parameter respirasi ini akan kembali ke nilaiketika tidak hamil dalam 6-12 minggu post partum b. progesteronmungkin berperan dalam mekanisme. mukosa menjadi vaskuler. seldarah merah dan sel darah putih. 23 . — MAC menurun. Disebabkan hemodilusi ini. Pada proses kehamilan. XII danfibrinogen meningkat. untuk menghindari kejadian ini. Volume darah.Terjadi perubahan-perubahan anatomis. Penurunan functional residual capacity. jumlahthrombosit menurun. ada risiko terjadinya DIC. tetapi beberapahormon seperti renin-angiotensin-aldostefon. sedangkan sel darah merah meningkat 15-20% yang menyebabkan terjadinya anemia fisiologis (normal Hb : 12gr%. tersebut.Pada kala 1 persalinan. X. estrogen. dapat terjadi hiperventilasi karena adanya rasa sakit (his) yang dapatmenurukan PaCO2 sampai 18 mmHg. dan menimbulkan asidosis foetal. Volume plasma meningkat 40-50%. — pengenceran gas inhalasi lebih sedikit karena menurunnya FRC. Vital capacity dan resistensi paru-paru menurun. Cepatnya induksi dengan obat anestesi inhalasi karena : — hiperventilasi akan menyebabkan lebih banyaknya gas anestesi yang masuk ke alveoli. viskositas darah menurun kurang lebih 20%. edematus dan gampangrusak. dengan bertambahnya umur kehamilan. termasuk peningkatan volume plasma. faktor I. Karena placenta kaya dengan thromboplastin. VII. Perubahan Volume Darah Volume darah Ibu meningkat selama kehamilan.Mekanisme yang pasti dari peningkatan volume plasma ini belum diketahui. maka harus dihindari intubasi nasal dan ukuran pipa endotrakheal harus yang lebih kecildaripada untuk intubasi orotrakheal. maka bila pada Solutio placenta. atrial natriuretic peptide. juga penurunan MACakan menyebabkan parturien lebih mudah dipengaruhi obat anestesi inhalasi dari pada penderitayang tidak hamil. Perubahan-perubahan ini adalah untuk perlindungan terhadap perdarahankatastropik tapi juga akan merupakan predisposisi terhadap fenomena thromboemboli.

— Melindungi Ibu dari pendarahan pada saat melahirkan. 10%dari wanita hamil menjadi hipotensi dan diaphoretik bila berada dalam posisi terlentang. yang bila tidak dikoreksi dapat menimbulkan penurunan uterine blood flow dan foetal asfiksia. mitral stenosis) atau penyakit jantung 24 . — Selama kehamilan Ibu menjadi hiperkoagulopati. Segera pada periode post parrum.Peningkatan cardiac output mula-mula tergantung dari peningkatan stroke volume dankemudian dengan peningkatan denyut jantung. Efek ini akan lebih hebat lagi pada pasien dengan polihidramnion atau kehamilan kembar. cardiac output meningkat secara maksimal dan dapat mencapai 80%diatas periode pra persalinan dan kira-kira 100% diatas nilai ketika wanita tersebut tidak hamil. Delapan (8) minggu setelah melahirkan volume darah kembali normal. CVP meningkat 4-6cm H2O karena ada peningkatan volume darah Ibu. tetapi lebih besar perubahan stroke volumedaripada perubahan denyut jantung. Permulaannya peningkatan denyut jantung ketinggalan dibelakang peningkatan cardiacoutput dan kemudian akhirnya meningkat 10-15 kali permenit pada kehamilan 28-32 minggu. Perubahan sistim Kardiovaskuler Cardiac output meningkat sebesar 30-40% dan peningkatan maksimal dicapai pada kehamilan 24minggu. Cardiac output bervariasi tergantung dari besarnya uterus dan posisi Ibu saat pengukuran dilakukan. Peningkatan stroke volume dan denyut jantung adalah unruk mempertahankan peningkatancardiac output. Jumlah perdarahan normal partus pervaginarn kurang lebih 400-600ml dan 1000ml bila dilakukan sectio caesarea. tapi pada umumnya tidak perlu dilakukan tranfusi darah c. Pembesaran uterus yang gravid dapat menyebabkan kompresi aortocaval ketika wanita hamiltersebut berada pada posisi supine dan hal ini akan menyebabkan penurunan venous return danmaternal hipotensi. Peningkatan cardiac output ini tidak bisa ditoleransi dengan pada pasien dengan penyakit jantungvalvula (misal : aorta stenosis.— Mengisi peningkatan reservoir vena. Dengan ekhokardiographi terlihat adanya peningkatanukuran ruangan pada end diastolic dan ada penebalan dinding ventrikel kiri. menimbulkan keadaan yang disebut supine hypotensive syndrome.hal ini disebabkan karena pada saat kontraksi uterus terjadi placental autotranfusisebanyak 300-500ml. Cardiacoutput meningkat selama persalinan dan lebih tinggi 50% dari saat sebelum per-salinan.

glukosa dan asam amino tidak diabsorpsi denganefisien. selama persalinan dan segera setelah persalinan. Selamakehamilan jantung tergeser ke kiri dan atas karena diaphragma tertekan ke atas oleh uterus yang gravid. tekanan darah sistolik tidak berubah selamakehamilan. Cardiac output. blood urea nitrogen. maka glikosuri dan amino acid uri merupakan hal yang normal pada Ibu hamil. Kreatinin. Nilai BUN dan kreatinin normal pada parturien (BUN 89 mg/dl. Hormon-hormon kehamilan seperti estradiol-17-βdan progesteron mungkin berperan dalam perubahan vaskuler ini. Pasien preeklampsi mungkin ada diambang gagalginjal. Maka bila pada wanita hamil. T. Diuresis fisiologi pada periode post partum. walaupun hasil pemeriksaan laboratorium normal. stroke volume menurun ke sampai nilai sebelum persalinan pada 24-72 jam post partum dan kembali ke level saat tidak hamil pada 6-8 minggu setelahmelahirkan. Gambaran EKG yang normal pada parturien : — Disritmia benigna — Gelombang ST.4 mg/dl) adalah40% lebih rendah dari yang tidak hamil. Renal blood flowdan Glomerular filtration rate meningkat 150% pada trimester pertama kehamilan. kreatinin 0. tetapi. Pelvisrenalis dan ureter berdilatasi dan peristaltiknya menurun. terjadi antara hari ke-2 dan ke-5. tetapi. Suatu peningkatan dalam filtration rate menyebabkan penurunan plasma blood urea nitrogen (BUN) dan konsentrasi kreatinin kira-kira 40-50%. Kecuali peningkatan cardiac output. tetapimenurun lagi sampai 60% diatas wanita yang tidak hamil pada saat kehamilan aterm. Hal iniakibat pengaruh hormon progesteron. tekanan diastolik turun l-15mmHg. uric acid juga menuruntapi umumnya normal.koroner.Decompensatio cordis yang berat dapat terjadi pada kehamilan 24 minggu. Reabsorpsinatrium pada tubulus meningkat.Turunnya pengaturan α dan β reseptor juga memegang peranan penting. GFR dan kadar BUN kembali ke keadaan sebelum hamil pada minggu ke-6 post partum. Ada penurunan MAP sebab ada penurunan resistensi vaskuler sistemik. Perubahan pada Ginjal GFR meningkat selama kehamilan karena peningkatan renal plasma flow. Q terbalik — Left axis deviation d. denyut jantung. nilainya sama sepertiyang tidak hamil berarti ada kelainan ginjal. 25 .

e. sehingga tekanan intragastrik akan meningkat. Halotane menurun 25%. Walaupun dosis moderat succynil choline umumnya dimetabolisme.5 mg/kg) tidak dihubungkan dengan memanjangnya blokade neuromuskuler selama kehamilan. Uterus yang gravid menyebabkan peningkatan tekananintragastrik dan merubah posisi normal gastro oesophageal junction. Walaupun efek mekanis dariuterus yang gravid pada lambung hilang dalam beberapa hari tetapi perubahan GIT yang lainkembali ke keadaan sebelum hamil dalam 6 minggu post partum. pergerakan GIT.dengan tidak mengindahkan waktu makan terakhir misalnya walaupun puasa sudah > 6 jamlambung bisa saja masih penuh. Karena perubahan-perubahan tersebut wanita hamil harus selalu diperhitungkan lambung penuh. Susunan Saraf Pusat dan Susunan Saraf perifer berubah selama kehamilan. Aktivitas serum cholin esterase berkurang 24% sebelum persalinan dan paling rendah (33%) padahari ke-3 post partum. kcmungkinan disebabkan karena sintesanya yangmenurun dan karena hemodilusi. f. Peningkatan sekresi hormon gastrinakan meningkatkan sekresi asam lambung. methoxyflurane 32%.Peningkatan konsentrasi progesteron dan endorphin adalah penyebab penurunan MAC tersebutTetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi endorphin tidak meningkat selamakehamilan sampai pasien mulai ada his. Pembesaran uterus akan menyebabkan gaster terbagi menjadi bagianfundus dan antrum. Walaupun aktivitas lebih rendah. Penggunaan antasid yang non-partikel secara rutin adalah pentingsebelum operasi Caesar dan sebelum induksi regional anestesi. Alkali fosfatase meningkat. pasien dengan penurunan aktivitas cholinesterase ada risiko pemanjangan blokade neuro-muskuler. Obat-obat analgesik akan memperlambat pengosongan gaster. isoflurane 40%.Terdapat 26 . MAC rnenurun 2540% selama kehamilan. Perubahan pada GIT Perubahan anatomi dan hormonal pada kehamilan merupakan faktor predisposisi terjadinyaoesophageal regurgitasi dan aspirasi paru. dosis normal succinyl choline untuk intubasi (1-1. Disebabkan karena peningkatan kadar progesteron plasma. absorpsi makanandan tekanan sphincter oesophageal bagian distal menurun. maka mungkin endorphin tidak berperan dalamterjadinya perbedaan MAC tetapi yang lebih berperan adalah akibat progesteron. Perubahan SSP dan susunan saraf perifer. Plasma cholinesterase menurun kira-kira 28%.

dimana darah Ibu dalam rongga intervillous berasal dari 27 . Tetapi penelitian-penelitian yang baru menunjukkan bahwa perbedaan ini sudah ada pada kehamilan muda (8-12 minggu) dirnana uterus masih kecil sehingga efek obstruksimekanik masih sedikit ada maka faktor-faktor lain penyebabnya. — Penurunan protein plasma atau protein likuor cerebro spinal.penyebaran dermatom yang lebih lebar pada parturien setelah epidural anestesi biladibandingkan dengan yang tidak hamil. dermatologi. Tekanan intra oculer menurun selama kehamilankarena peningkatan kadar progesteron. mammae dan mata: Hormon relaxin menyebabkan relaksasi ligamentum dan melunakkan jaringan kolagen. Buah dada membesar. penurunan produksi humor aqueusdisebabkan peningkatan sekresi chorionic gonado trophin. leher.Terjadi hiperpigmentasi kulit daerah muka. Perubahan sistim muskuloskeletal. garis tengah abdomen akibat Melanocytstimulating hormon. h. 1. Akibat relaksasi ligamentum dankalogen pada kolumna vertebralis dapat terjadi lordosis. Perubahan pada tekanan intraoculer bisa menimbulkan gangguan penglihatan. Anatomi fisiologi PlasentaPlasenta terdiri dari tonjolan jaringan janin (villi) yang terletak dalam rongga vaskuler Ibu(intervillous). Walaupun mekanisme pasti dari peningkatan sensitivitas SSP dan SS perifer pada anestesiumum dan antesi regional belum diketahui tetapi dosis obat anestesi pada wanita hamil harusdikurangi. Sebagai akibat dari susunan ini kapiler-kapiler janin dalam villi dapat melakukan pertukaransubstansi dengan darah Ibu. nutrisi dan eksresi janin tergantung dari plasenta. adanya relaxin. Faktor-faktor lain itu adalah — Respiratory alkalosis compensata. plasentadibentuk dari jaringan Ibu dan janin serta mendapat pasokan darah dari kedua jaringan tersebut. g. — Hormon-hormon selama kehamilan (progesteron). Plasenta Fungsi pertukaran gas respirasi. Pembesaran buah dada terutama padaIbu dengan leher pendek dapat menyebabkan kesulitan intubasi. Peningkatan sensitivitas terhadap lokal anestesi untuk epidural atau spinal anestesitetap ada sampai 36 jam post partum. Hal ini karena ruangan epidural menyempit karena pembesaran plexus venosus epidural disebabkan karena kompresi aortocaval oleh uterus yangmembesar.

seperti pada glukosa 28 . Facilitated diffusion. kebanyakan obat-obatyang digunakan dalam anestesi mempunyai berat molekul dibawah 1000 dan dapat berdifusimelewati plasenta. Darah janin dalam villi berasai dari 2 buah arteri umbilikal dan kembali ke janin melalui sebuah venaumbiiikal. Difusi:Gas respirasi dan ion-ion yang kecil ditransportasi melalui proses difusi. d. Pynositosis :Molekul yang besar seperti immunoglobuiin ditranspor melalui pynositosis. b. 2. c.sedangkan obat-obat dengan ionisasi yang tinggi seperti semua obat pelumpuh otot sulit berdifusi.arterispiralis cabang arteri uterina dan kemudian mengalir kembali melalui vena uterina.Obat-obat dengan ikatan protein tinggi seperti bupivacaine juga sulit berdifusi melewati plasenta. Pertukaran pada plasentaPertukaran plasenta dapat terjadi terutama melalui salah satu dari empat mekanisme dibawah ini. Zat yang larut dalam lemak seperti thiopentone paling cepat berdifusi. Transpor aktif:Asam ammo. vitamin dan beberapa ion seperti calcium dan zat besi menggunakan mekanismeini. a.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.