P. 1
Laporan Workshop Manajemen Bencana Banjir Bandang Dan Cuaca Ekstrim Sumatera Barat 2012

Laporan Workshop Manajemen Bencana Banjir Bandang Dan Cuaca Ekstrim Sumatera Barat 2012

|Views: 680|Likes:
Published by Arwin Soelaksono
Kegiatan workshop ini adalah rangkaian dari upaya pembelajaran banjir bandang Kota Padang 24 Juli 2012. Pengamatan dan pembelajaran telah dilakukan dan hasil dari pembelajaran tersebut dituangkan dalam dokumen pembelajaran yang dapat dibaca secara online di http://www.scribd.com/doc/115473289/Pembelajaran-Pasca-Banjir-Bandang-24-Juli-2012-Kota-Padang

Untuk mempertajam hasil yang didapat dalam pembelajaran serta memperbesar manfaat bagi masyarakat Sumatera Barat maka diadakanlah workshop ini. Dalam workhop ini para pemangku kepentingan di Sumatera Barat diundang untuk memberi masukan. Tidak terbatas hanya pada BPBD Provinsi Sumatera Barat berserta Kota dan Kabupatennya, para pemangku kepentingan lainnya yakni instansi Kementerian dan Lembaga terkait yang diantaranya adalah Dinas Pekerjaan Umum dan BMKG juga diundang. Dan seperti tertulis dalam rekomendasi pada dokumen pembelajaran maka unsur masyarakat lainnya seperti UN, NGO, forum PRB, dunia usaha serta media massa turut diundang.
Kegiatan workshop ini adalah rangkaian dari upaya pembelajaran banjir bandang Kota Padang 24 Juli 2012. Pengamatan dan pembelajaran telah dilakukan dan hasil dari pembelajaran tersebut dituangkan dalam dokumen pembelajaran yang dapat dibaca secara online di http://www.scribd.com/doc/115473289/Pembelajaran-Pasca-Banjir-Bandang-24-Juli-2012-Kota-Padang

Untuk mempertajam hasil yang didapat dalam pembelajaran serta memperbesar manfaat bagi masyarakat Sumatera Barat maka diadakanlah workshop ini. Dalam workhop ini para pemangku kepentingan di Sumatera Barat diundang untuk memberi masukan. Tidak terbatas hanya pada BPBD Provinsi Sumatera Barat berserta Kota dan Kabupatennya, para pemangku kepentingan lainnya yakni instansi Kementerian dan Lembaga terkait yang diantaranya adalah Dinas Pekerjaan Umum dan BMKG juga diundang. Dan seperti tertulis dalam rekomendasi pada dokumen pembelajaran maka unsur masyarakat lainnya seperti UN, NGO, forum PRB, dunia usaha serta media massa turut diundang.

More info:

Published by: Arwin Soelaksono on Dec 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2014

pdf

text

original

1 Laporan Workshop

LAPORAN WORKSHOP

MANAJEMEN BENCANA BANJIR BANDANG DAN CUACA EKSTRIM DI SUMATERA BARAT
11-12 Desember 2012 Grand Inna Muara Hotel Padang

Arwin Soelaksono Konsultan Protokol Humanitarian dan Hubungan Internasional AIFDR-BNPB

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 2
11 – 12 Desember 2012

Halaman ini sengaja dikosongkan

1 Laporan Workshop

Daftar isi
1. LAPORAN KEGIATAN a. b. c. d. e. f. Latar belakang Tujuan kegiatan Peserta Diskusi dan pembelajaran Rekomendasi Evaluasi kegiatan

2. LAMPIRAN a. Bahan presentasi narasumber i. Pembelajaran Pasca Banjir Bandang Kota Padang 24 Juli 2012, Arwin Soelaksono & Wawan Budianto, AIFDR-BNPB ii. Potensi Bencana Akibat Cuaca Dan Iklim Di Sumatera Barat, Syafrizal, BMKG iii. Memanfaatkan Media dalam Bencana, Jon Nedy Kambang, Jaringan Jurnalistik Siaga Bencana iv. Penataan Daerah Rentan Dan Daerah Penyebab Bencana Banjir Bandang Sebagai Upaya Komprehensif Mitigasi Bencana, Dr.Ir. Feri Arlius Dt. Sipado, M.Sc, Universitas Andalas v. Perencanaan Strategis Daerah Terdampak Bencana Dengan Optimalisasi Seluruh Sumber Daya Untuk Meminimalisasi Akibat Bencana di Masa Mendatang, Dr. Ir. Ribaldi, MSi, Kepala Bidang PWLH BAPPEDA Prov. Sumatera Barat. vi. Peningkatan Para Pemangku Kepentingan dalam Partisipasi Penanggulangan Bencana di Tingkat Daerah, Berton SP Panjaitan Biro Hukum dan Kerjasama BNPB vii. Peningkatan Upaya Pendidikan Siaga Kebencanaan Yang Berkesinambungan Dan Keterlibatan Penuh Pemangku Kepentingan, Rico Rahmad, Ketua Sekber Pecinta Alam viii. Sistem Peringatan Dini dan Pembentukan KSB Drs. Dedi Henidal, MM, Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang ix. Kebijakan Penanggulangan Banjir Bandang Di Sumatera Barat, Ali Musri, ME, Kepala Dinas PSDA Prov. Sumbar b. TOR workshop termasuk susunan acara c. Daftar hadir Foto-foto dalam laporan ini adalah dari Wawan Budianto dan Adi Prasetya.

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 2
11 – 12 Desember 2012

Laporan Kegiatan

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 3
11 – 12 Desember 2012

W

orkshop Manajemen Bencana Banjir Bandang Dan Cuaca Ekstrim Di Sumatera Barat telah dilaksanakan pada tanggal 11-12 Desember 2012 dan bertempat di Grand Inna Hotel Padang. Workshop ini diselenggarakan atas kerjasama yang baik antara BNPB, BPBD Sumatera Barat dan AIFDR. Pada awal workshop, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, DR. H. Ali Asmar, M.Pd. meresmikan kegiatan ini, sementara itu Kepala Pelaksana Harian BPBD Sumatera Barat, Ir. Yazid Fadhli, MM membawakan keynote speech. Workshop ini diusulkan oleh Konsultan Protokol Humanitarian dan Hubungan Internasional AIFDRBNPB, Arwin Soelaksono yang bekerjasama dengan Konsultan Analis Pengurangan Resiko Bencana Propinsi Sumatera Barat AIFDR-BNPB, Wawan Budianto yang bertindak sebagai Ketua Panitia Pelaksana.

Latar Belakang
Kegiatan workshop ini adalah rangkaian dari upaya pembelajaran banjir bandang Kota Padang 24 Juli 2012. Pengamatan dan pembelajaran telah dilakukan dalam kurun waktu sekitar 2 minggu. Pengamatan lapangan dilakukan selama 7 hari dan dimulai sejak terjadinya banjir bandang yakni pada tanggal 24 Juli dan berakhir pada 31 Juli 2012. Kegiatan dilanjutkan dengan desk study yang berakhir pada 7 Agustus 2012. Hasil dari pembelajaran tersebut dituangkan dalam dokumen pembelajaran yang dapat dibaca secara online di http://www.scribd.com/doc/115473289/Pembelajaran-Pasca-Banjir-Bandang-24-Juli-2012-KotaPadang Untuk mempertajam hasil yang didapat dalam pembelajaran serta memperbesar manfaat bagi masyarakat Sumatera Barat maka diadakanlah workshop ini. Dalam workhop ini para pemangku kepentingan di Sumatera Barat diundang untuk memberi masukan. Tidak terbatas hanya pada BPBD Provinsi Sumatera Barat berserta Kota dan Kabupatennya, para pemangku kepentingan lainnya yakni instansi Kementerian dan Lembaga terkait yang diantaranya adalah Dinas Pekerjaan Umum dan BMKG juga diundang. Dan seperti tertulis dalam rekomendasi pada dokumen pembelajaran maka unsur masyarakat lainnya seperti UN, NGO, forum PRB, dunia usaha serta media massa turut diundang.

Tujuan kegiatan
Melalui workshop ini diharapkan BPBD Provinsi Sumatera Barat dapat menghasilkan road map yang komprehensif dalam penanggulangan banjir bandang dan cuaca ekstrim. Selain itu diharapkan BPBD Sumatera Barat dapat mengefektifkan upaya-upaya sinergis dari seluruh sumber daya masyarakat untuk meminimalisir potensi bencana di masa datang. Di bawah ini adalah pembahasan tentang peserta, materi diskusi dan rekomendasi serta evaluasi atas kegiatan. Materi lengkap dari penyajian serta diskusi kelompok dan daftar hadir dapat dilihat pada lampiran.

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 4
11 – 12 Desember 2012

Peserta
Dalam TOR workshop ini direncanakan untuk dihadiri oleh 70 peserta (TOR dapat dilihat pada lampiran). Dalam tabel berikut dapat dilihat target peserta dan jumlah hadirin yang telah berperan serta dalam workshop ini. Total kehadiran adalah 68 peserta dengan perincian sebagai berikut. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Unsur BNPB BPBD Provinsi Sumatera Barat BPBD Kabupaten / Kota SKPD terkait TNI dan POLRI Akademisi NGO dan LSM lokal Sektor privat / CSR Media massa AIFDR Target 2 4 15 11 4 2 16 2 7 7 Hadir 1 10 11 7 3 2 17 2 12 3 (%) 50 250 73 64 75 100 106 100 171 43

70

Total 68

97

Sementara itu dari peserta tersebut diatas tercatat peserta pria berjumlah 56 orang dan peserta wanita 12 orang yakni 18% dari total peserta. Daftar hadir dapat dilihat pada lampiran.

Diskusi dan pembelajaran
Dalam rangkaian paparan yang disampaikan oleh nara sumber dicatat beberapa hal yang mendapat dukungan, usulan maupun tanggapan kritis dari peserta. Beberapa diskusi yang dilakukan untuk menanggapi paparan tersebut diatas adalah sebagai berikut:

1. Tindak lanjut setelah bencana banjir bandang
a. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, BPBD Sumatera Barat dan BPBD Kota Padang telah melakukan perbaikan sistem dan infrastruktur untuk pencegahan banjir bandang di masa datang. b. Berdasarkan pengalaman pembuatan Dokumen Pembelajaran Banjir Bandang kota Padang 24 Juli 2012, maka pembelajaran pasca bencana-bencana yang pernah terjadi di provinsi Sumatera Barat perlu didokumentasikan demi pembelajaran yang lebih luas. c. BAPPEDA Sumbar merencanakan perbaikan dan penambahan program untuk menanggulangi dampak bencana dengan cara penambahan jalan untuk evakuasi, pembangunan shelter dan penambahan program pola ruang kawasan rawan bencana alam. 2. Unsur pemerintah terkait dan implikasi dari multi sektor a. Penanggulangan bencana adalah multi dimensi dan multi sektor hal ini meliputi spektrum yang luas seperti kelestarian hutan dan transparansi pengelolaan dana. Namun tidak semuanya dalam cakupan kerja BPBD.

5 Laporan Workshop b. Pengelolaan dana Penanggulangan Bencana (PB) yang dikumpulkan dari masyarakat perlu didukung dengan mekanisme yang jelas untuk mememenuhi aspek transparansi dan akuntabilitas. c. Penanggulangan bencana banjir bandang seyogyanya tidak dilakukan hanya pada saat terjadi curah hujan yang tinggi saja. Bahkan jauh sebelumnya bencana ini harus segera di cegah pada saat ditemukan kerentanan pada kondisi tanah dan topografi di hulu. d. Dalam kaitan pada hal di atas, diperlukan peta kerawanan daerah hulu sungai dan sosialisasi lingkungan hidup pada masyarakat di daerah tersebut. e. Masih dalam hal lingkungan hidup, masalah-masalah pengalihan fungsi lahan, pengalihan penetapan status hutan lindung perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. f. Dalam hal cuaca, BMKG siap memberikan pembelajaran bagi petugas posko PB agar dapat membaca dan menterjemahkan informasi teknis dibidang meteorologi.

3. Masalah kesiapsiagaan
a. Banjir bandang dapat terjadi dalam waktu sangat singkat (dalam kejadian 24 Juli 2012, terjadi dalam waktu 21/2 jam setelah informasi dari BMKG) sehingga kesiapsiagaan masyarakat sangat penting untuk dibangun.

4. Mitigasi bencana
a. Pemerintah Daerah Sumatera Barat sekarang ini tengah berupaya untuk memasukkan penanggulangan bencana kesemua sektor pembangunan.

5. Kerentanan masyarakat
a. Pertambahan penduduk menambah kerumitan penaggulangan bencana contohnya pada pembangunan real estate baru yang dibangun pada daerah cekungan rentan banjir. Oleh karena itu perlu tindakan tegas pemerintah dalam izin pengadaan perumahan atau permukiman.

6. Pemanfaatan media serta maksimalisasi ICT
a. Salah satu upaya mempercepat dan memperbesar resource penanggulangan bencana adalah membangun sinergi dengan media dan memanfaatkan perangkat social media secara efektif. b. Peranan media juga diperlukan sebagai sarana control untuk transparasi dan akuntabilitas pelaksanan PB termasuk pengelolaan dana-dana yang dikumpulkan dari masyarakat. c. Peranan media dalam menyajikan berita bencana yang komprehensif, adil dan berimbang sangat perlu untuk ditingkatkan kualitasnya. Di sisi lain, media memerlukan nara sumber yang berkompeten untuk mendapatkan informasi yang akurat, ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. d. Tersedia beragam social media yang dapat digunakan untuk pendidikan dan sosialisasi kebencanaan yang diperlukan adalah konsistensi pengisian content untuk mendapatkan kepercayaan dari penggunanya.

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 6
11 – 12 Desember 2012

e. Pentingnya sosialisasi nomor-nomor telepon penting yang reliable untuk dihubungi pada kondisi tanggap darurat.

7. Pendidikan kebencanaan
a. Perguruan tinggi di seperti UNAND, UNP dan UMSB melakukan penelitian kebencanaan dan menyiapkan mahasiswa untuk melakukan sosialisasi pemahaman kebencanaan melalui mahasiswa kerja praktek. b. Kelompok Siaga Bencana (KSB) yang merupakan perpanjangan tangan dari BPBD perlu senantiasa ditingkatkan kapasitasnya dalam aktifitas tanggap darurat. Paparan atau materi presentasi dari para nara sumber dapat dilihat pada lampiran.

Rekomendasi
Sebagai tindak lanjut setelah melakukan diskusi di atas, para peserta workshop diberi kesempatan untuk mengajukan usulan maupun rekomendasi. Rekomendasi untuk manajemen bencana banjir bandang dan cuaca ekstrim ini tidak ditujukan hanya bagi BPBD semata. Namun terdapat institusi terkait yang perlu berperan serta dalam upaya bersama untuk mengantisipasi dan meminimalkan dampak resiko banjir bandang ini. Untuk mendiskusikan rekomendasi ini peserta workshop dibagi dalam 4 kelompok dan diminta untuk secara spesifik merumuskan reklomendasi tersebut. Tiap kelompok mendiskusikan topik yang spesifik sebagai berikut: a. Mitigasi dan efektifitas penyampaian informasi untuk meminimalisasi potensi korban bencana b. Optimalisasi seluruh sumber daya dalam tanggap darurat dan recovery road map daerah terdampak bencana. c. Peningkatan jaringan dan kerjasama seluruh pemangku kepentingan dalam bidang mitigasi bencana. d. Strategi pendidikan siaga bencana yang berkesinambungan dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan.

Hasil diskusi kelompok yang merupakan rekomendasi maupun usulan dapat dilihat pada halaman berikut:

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 7
11 – 12 Desember 2012

Kelompok I

Mitigasi dan Efektifitas Penyampaian Informasi Untuk Meminimalisasi Korban
Rencana mitigasi  Regulasi  Pemetaan daerah rawan bencana beserta jalur evakuasi  Pendataan penduduk di daerah rawan  Memberi informasi kepada masyarakat yg berada di wilayah zona merah tentang kerentanan tempat tinggalnya melalui:
 Sosialisasi peta daerah rawan bencana
◦ ◦ ◦ ◦ Media Cetak & Elektronik Social Network Simulasi & Pelatihan Pembelajaran Di Sekolah

Sudah dilakukan  Regulasi (UU, PERPRES, PERDA, SOP)  Peta kerawanan
◦ Belum sempurna Di beberapa daerah Kapasitas utk gempa & tsunami Belum mencukupi

Pembentukan KSB
◦ ◦

Belum dilakukan  Pendataan penduduk di daerah rawan  Sosialisasi khususnya banjir bandang  Pembentukan KSB
◦ Belum menyeluruh

Kecukupan dana

 

Dana anggaran

(Rencana) relokasi penduduk:
belum terwujud

pembentukan ksb tersedianya dana pendukung pengawasan dinas/instansi terkait instansi & lembaga yg terlibat + koordinasi relokasi penyediaan ews di zona merah dan fasilitas pendukung lainnya (perahu karet,pelampung, dll.)  normalisasi sungai (das) monitoring daerah rawan

     

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 8
11 – 12 Desember 2012

Usulan kegiatan bagi BPBD provinsi Sumatera Barat dan kabupaten/Kota
Nomor Kegiatan 1 Penyempurnaan regulasi 2 Pendataan daerah rawan:  penduduk di sekitar  fasilitas umum dan sosial 3 Penyediaan ews di zona merah & monitoring 4 Normalisasi sungai 5 Penambahan kapasitas ◦ Pengetahuan, keterampilan, sarpras 6 Sosialisasi secara kontinyu melalui media cetak dan elektronik Pembentukan ksb secara menyeluruh serta peningkatan kapasitas ksb yang 7 sudah terbentuk 8 9 Penyediaan anggaran yg cukup Peningkatan pengawasan  terutama pada pra banjir bandang ◦ Waktu Triwulan IV (11 – 12)

Triwulan II Triwulan II – III Triwulan I – IV Triwulan I- IV Triwulan II

Triwulan II (bulan 12/2012) Triwulan I – IV

9 Laporan Workshop

Kelompok II Optimalisasi Seluruh Sumber Daya dalam tanggap darurat dan recovery Road Map daerah terdampak bencana
Kegiatan / masukan Pernyataan kunci Penyusunan Protap/SOP tanggap darurat Banjir Bandang Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat (terpadu/1 komando) yang selanjutnya diturunkan kedalam Protap/SOP ditingkat kota/kabupaten dan disetiap instansi Sosialisasi dari Protap/SOP Geladi/Simulasi Protap Pelatihan tanggap darurat gabungan/bersama koordinasi antar seluruh Instansi terlibat dalam penyusunan Protap/SOP Tanggap Darurat Rincian Aktifitas Protap/SOP : Mencari Informasi dari BMKG dan meneruskan Informasi kepada masyarakat Membentuk Posko utama dan lapangan Penaggulangan Bencana dan struktur komando tanggap darurat (struktur posko) Mengaktifkan kajian cepat & Reaksi Cepat Waktu/ Minggu - bulan BPBD dan instansi terkait dengan satu Komando dari BPBD sesuai UU

Cara & Mekanisme untuk mengoptimalkan sumber daya dalam tanggap darurat

BPBD BPBD reguler per 3 bulan

Mekanisme yang harus direncanakan Tahap Penanganan Masa Tanggap Darurat

rapat koordinasi bulanan Pelaku SKPD : - dinas kesehatan, -dinas Sosial, -PU (prasarana dan sarana), - TNI, - Polri, - Pol PP, Dinas Perhubungan, Waktu/ Minggu - bulan

status bencana banjir bandang tingkat provinsi 15 hari bisa diperpanjang

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 10
11 – 12 Desember 2012

Tahap Penanganan

Penetapan status dan tingkat bencana (kota/kabupaten, provinsi, nasional (kecil/sedang/berat)) dengan mengeluarkan SK status tanggap darurat pelayanan tanggap darurat - evakuasi - mendata - pelayanan kesehatan - distribusi bantuan - dapur umum Rincian Aktifitas Protap/SOP : - perbaikan infrastruktur darurat/vital

PMI, - , Basarnas,-, Masyarakat-, -LSM/NGO, SAR/TRC

Pelaku - dinas kesehatan, -dinas Sosial, -PU (prasarana dan sarana), - TNI, - Polri, - Pol PP, Dinas Perhubungan, PMI, - , Basarnas,-, Masyarakat-, -LSM/NGO, SAR/TRC

Waktu/ Minggu - bulan

- pelayanan air bersih & sanitasi (MCK) - pendirian tenda pengungsian sementara - penerangan Recovery Pembersihan Infrastruktur Pemulihan Infrastruktur Pendirian Huntara Rehabilitasi & Rekonstruksi Pemulihan Trauma

SKPD terlibat : - BPBD, - PU, Dinas Kesehatan, - Dinas Sosial, TNI, - Polri, - Dinas Pendidikan, - PMI, -PLN waktu yang ditentukan sesuai dengan kebutuhan

11 Laporan Workshop

Kelompok III

Peningkatan Jaringan dan kerjasama seluruh pemangku kepentingan dalam bidang Mitigasi
Bagaimana model kerjasama yang telah dilakukan pemerintah, SKPD, Media, Dinas instansi terkait TNI, Polri, Basarnas, BPBD, Damkar, LSM, dll dalam Mitigasi Bencana? NO Bidang 1 Yang sudah dilakukan /yang ada BMKG, jaringan kerjasama yang dilakukan baru bersama BPBD saat terjadi kondisi baru dilaporkan. Bentuk Kegiatan Kerjasama dengan media masa dalam penyampaiaan informasi bencana Waktu/Mingguusulan Bulan memaksimalkan dalam memberikan informasi, kemedia masa, serta adanya Spes kusus yang diberikan media untuk informasi seputaran mitigasi, dan informasi bencanan/ serta Spes yang telah ada di isi oleh lembaga yang konsen dalam mitigasi Bencana.

INFORMASI

Informasi lewat media

Melibatkan Forum dakwah, toga,tomas,Todat media Elektronik, dan media cetak, lemba Pendidikan dalam memberikan informasi tentang kebencanaan

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 12
11 – 12 Desember 2012

NO Bidang 2

Yang sudah dilakukan /yang ada KSB, Membangun kerjasama dengan SAR BTBA dalam melatih dalam meningkatkan kapasitas KSB. BPBD telah melakukan gladi posko dalam melibatkan Seluruh masyarakt dan Instansi terkait, TNI dan Polri Disetiap kegitan dalam meningkatkan SDM agar melibatkan Lembaga/Instansi yang potensial. Pemerintah Kususnya BPBD sudah melakukan kerjasama yang dituangkan dalam bentuk Protab

Bentuk Kegiatan peningkatan kapasitas tenaga siaga bencana dalam bentuk, pelatihan, Seminar, Gladi Posko, Simulasi, pemetaan dan Survey daerah rawan bencana, Studi banding

usulan Peningkatan kualita, intensitas dan waktu pelatihan yang diberikan ( Tepat Sasaran).

Waktu/MingguBulan

Peningkatan kapasitas siaga bencana

3

Protab, Dokumen kebencanaan.

Mempercepat dalam penysunan serta konsekuen dama pelaksaanya

Kebijakan

kerjasama dalam fasilitas Anggaran Forum PRB Sumbar, serta di 5 Kota kabupaten yang telah terbentuk.

publikasi hasil kesepakatan forum

13 Laporan Workshop

Kelompok IV:

Strategi pendidikan siaga bencana yang berkesinambungan dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan.
No 1 TARGET FKSB METODE -Diskusi Pengalaman PB -Teori Pendukung -Narasumber yang Kompeten -Melakukan kajian partisipatif dan mendokumentasikannya termasuk dokumentasi media/ -Keterampilan Tertulis -Ketersediaan Sarana Dan Prasarana SIAPA YANG DIHARAPKAN -Payung hukum atau SK BPBD - BPBD/DINKES/TNI/POLRI/DINSOS/PU MEDIA/ORNOP/akademisi/perusahaan/swasta(melalui dana CSR) -dana bantuan organisasi kemanusiaan internaional -dana APBD/APBN -TNI/POLRI

2

Organisasi mitra pemerintah (PMI, PRAMUKA, RAPI)

3

Organisasi non pemerintah (ORNOP)

-Koordinasi line kegiatan dari ORNOP ke OMP -membangun jaringan penglibatan dalam kegiatan/kegiatan PB(workshop/training dsb.) -Pendalaman skill spesifik/ -Pendalaman PB dan PRB secara umum(holistik) -koordinasi -jaringan -sosialisasi BPBD dan stake holder terkait ke ORNOP -Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan program ke BPBD dan stakeholder terkait -sinkronisasi data antara ORNOP dengan BPBD dan stakeholder terkait dalam PB dan PRB -penyamaan presepsi tentang PB dan PRB -Perbaikan metode dengan memperhatikan aspek dan kearifan lokal

-Pemerintah ->Dana Hibah(APBD KAB/KOTA) -Organisasi struktural diatasnya(CO.IRC.dll) -BUMN dan swasta( CSR) -TNI/POLRI

-Dukungan pemerintah (BPBD dan SKPD terkait)dalam mendukung kegiatan ORNOP -Dana bantuan (ORNOP) -Fundrising - TNI/POLRI

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 14
11 – 12 Desember 2012

No 4

TARGET BPBD

METODE -PROTAP/SOP -Peningkatan kapasitas baik secara teknis (BIMTEK)dan manajemen PB -Merestrukturisasi BPBD menjadi instansi vertikal karena dualisme kebijakan(rekomendasi dari mitra BPBD)

SIAPA YANG DIHARAPKAN -Instansi vertikal -Lembaga yang fokus pada PB dan PRB -Lembaga bantuan internasional -Legislatif -Swasta -Rekomendasi dari mitra BPBD - TNI/POLRI

5

SKPD terkait dan aparatur pemerintah/

-Penyatuan visi dan misi dalam PB -pembagian kerja yang jelas dalam manajemen PB dan PRN -PROTAP dan RENKON di masing masing instansi - Sosialisasi, training, workshop

-Instansi vertikal -Lembaga yang fokus pada PB dan PRB -Lembaga bantuan internasional -Legislatif -Swasta -Rekomendasi dari mitra bpbd - TNI/POLRI -Pressure media -Ornop -Pressure mahasiswa

6

LEGISLATIF

-Workshop khusus khusus dalam kerangka pb dan prb -Hearing dan melibatkan anggota dwan dalam respons -Tema reses terkait PB dan PRB -Melibatkan anggota dewan untuk aktif dalam PB di wilayah dapilnya/ -Departemen CSR mengembangkan bidang khusus PB dan PRB -Diklat memasukkan kurikulum khusus PB dan PRB -mendukung pb dan PRB -keterlibatan perusahan dalam organisasi/manajemen pb ditingkat daerah dan provinsi (pusdalops,forum,PRB,dsb.

7

Swasta

-pressure media yang mendorong adanya bidang khusus pb/dan PRB dalam csr perusahaan - tni/polri

15 Laporan Workshop No 8 TARGET Media METODE -meningkatkan koodinasi media dengan para pelaku PB dan PRB -penguatan PRB dan PB pada forum media -mendelegasikan minimal 1 orang reporter khusus PB dan PRB -pembentukan forum media untuk PB dan PRB didaerah yang belum terbentuk -sinergi media dengan ornop -pengawasan antar media dalam transparasi dan akuntabilitas dana pengelolaan bencana -Intigrasi materi PB dan PRB dalam KBM -UKM khusus PB dan PRB -KKN tematik PB dan PRB -Pengabdian masyarakat khusus PB dan PRB -Penelitian PB PRB dapat diakses oleh semua orang -Dana on call kampus untuk PB SIAPA YANG DIHARAPKAN -Management perusahaan -Pemerintah ( BPBD dan instansi terkait) -Ornop -CSR perusahaan - TNI/POLRI

9

Perguruan Tinggi

-Kampus termasuk kopertis -DIKTI -KEMENDIKNAS -ORNOP -Media -BPBD dan stakeholder terkait -KEMENAG -BPBD -ORNOP -CSR perusahaan -DAUN -swadaya masyarakat -TNI/POLRI -DIKNAS -BPBD dan SKPD terkait -KANWIL MENAG -ORNOP -CSR

10

ORMAS (Asosiasi, Perkumpulan, Paguyuban, Arisan, Olah raga, Pencinta alam dll.)

-KSB terdiri dari perwakilan ormas -pembekalan PB dan PRB

11

Sekolah

-Media edukasi bencana -Integrasi dalam mata pelajaran/ekskul/muatan lokal -Sosialisasi/peyuluhan -Bangunan sekolah difungsikan sebagai shelter (yang standar) -Pelatihan bagi siswa,guru,dan komite sekolah

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 16
11 – 12 Desember 2012

No 12

TARGET PARPOL

13

Organisasi adat

METODE -Penyadaran PB pada pengurus parpol -Penyadaran parpol terhadap PB dan RPB -Pembentukan satgas bencana -Keterwakilan organisasi adat dalam KSB -Pembekalan PB dan RPB -Kearifan lokal dalam PB dan RPB

SIAPA YANG DIHARAPKAN -ELIT PARTAI -MASYARAKAT ATAU KONSTITUSI -MEDIA -BPBD -ORNOP -CSR PERUSAHAAN -DAUN -Swadaya masyarakat -BPBD -ORNOP -CSR PERUSAHAAN -DAUN -Swadaya masyarakat

14

Organisasi agama

-Keterwakilan organisasi agama dalam KSB -Pemanfaatan tokoh agama dalam menyampaikan pesan PB dan RPB -alat informasi suara mesjit untuk ews -rekomendasi dari pihak terkait agar rumah ibadah dijadikan shelter setelah dilakukan pengkajian struktur bangunan/

15

TNI/POLRI

-Koordinasi dengan pelaku PB/PRB yang lain(selain BPBD) -Dukungan personil untuk PB dan PRB terutama yang ditingkat kecamatan/nagari (kelurahan)

-Instansi vertikal -BPBD -Masyarakat -Pemerintah setempat

17 Laporan Workshop

Evaluasi Kegiatan
Kegiatan Workshop Manajemen Bencana Banjir Bandang Dan Cuaca Ekstrim Di Sumatera Barat telah berlangsung dengan mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak. Keterlibatan BNPB, BPBD Sumatera Barat, serta SKPD terkait telah memberikan sinergi yang kuat hingga kegiatan ini dapat dilaksanakan. Di bawah ini adalah beberapa catatan yang merupakan evaluasi dari kegiatan workshop ini.

Peserta
Dari sisi jumlah kehadiran terlihat hadirin hampir mencapai target. Peserta yang terdaftar hadir adalah sebanyak 68 orang yang berarti 97% dari target undangan. Seperti pada tabel di halaman 4 dapat dilihat dari sisi unsur peserta terdapat beberapa yang melampuai target namun sebaliknya ada yang kurang. Namun setiap unsur telah terwakili dalam pokok-pokok pikiran yang dihasilkan lewat paparan nara sumber dan diskusi. Dari sisi komposisi gender, masih terlihat kurangnya peserta wanita yang dapat hadir dalam workshop ini. Kehadiran wanita hanya 12 orang yang berarti hanya 18% dari total peserta. Namun hal ini tidak berarti peserta wanita yang hadir kurang berkontribusi dalam workshop ini. Dalam diskusi pleno maupun kelompok, baik pria maupun wanita cukup berimbang dalam menyampaikan pikiran maupun usulannya. Hal ini seperti dapat dilihat pada video http://www.youtube.com/watch?v=hpIss5RP7D4

Hasil workshop
Workshop ini menghasilkan usulan kegiatan maupun rekomendasi yang perlu untuk segera ditindaklanjuti. Rekomendasi dapat dinilai valid karena merupakan pemikiran multisektor yang saling terkait. Rekomendasi dari workshop inipun tidak dapat dilakukan BPBD sendiri tanpa dukungan dari pemangku kepentingan lain. Beberapa usulan seperti perbaikan hulu sungai sebagai pencegahan banjir bandang malah merupakan porsi yang lebih besar bagi unsur di luar BPBD. Hasil dari workshop ini akan menjadi efektif dan bermanfaat bagi banyak pihak bila laporan ini ditindaklanjuti. Seluruh pemangku kepentingan dibawah arahan BPBD provinsi Sumatera Barat perlu menjadikan laporan ini sebagai acuan dalam membuat detail rencana pelaksanaan. Dengan melihat butir-butir rekomendasi yang dihasilkan dari workshop ini maka dapat dinilai bahwa kegiatan ini memenuhi harapan yang ditulis dalam TOR.

Usulan perbaikan bagi kegiatan mendatang
Workshop ini akan lebih baik bila sebelum ditutup seluruh peserta dengan koordinasi BPBD Provinsi Sumatera Barat dapat menunjuk personel yang akan terlibat dalam pembuatan detail seperti dimaksudkan di atas. Hal ini memang tidak tercantum dalam TOR namun dimasa datang perlu dinyatakan dengan jelas siapa-siapa saja para pemangku kepentingan yang bersedia berkontribusi dalam manajemen bencana banjir bandang dan cuaca ekstrim ini. Laporan ini ditulis untuk mengingatkan komitmen seluruh panitia dan peserta agar detail rencana yang disebutkan di atas dapat direalisasikan.

Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 18
11 – 12 Desember 2012

Ucapan terima kasih
Atas terlaksananya Workshop Manajemen Bencana Banjir Bandang Dan Cuaca Ekstrim Di Sumatera Barat yang telah dilakukan di Padang pada tanggal 11-12 Desember 2012, saya selaku pengusul kegiatan, co-author Pembelajaran Pasca Banjir Bandang 24 Juli 2012 Kota Padang, serta penyusun laporan ini hendak menyatakan terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan yang telah diberikan. Terima kasih ini ditujukan kepada: 1. 2. 3. 4. Kepala Biro Hukum dan Kerjasama BNPB: R. Sugiharto Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Barat: Ir. Yazid Fadli MM Senior Program Manager, Training & Outreach AIFDR: Widya Setiabudi Seluruh peserta workshop

…dan juga kepada rekan-rekan di lapangan: 1. Wawan Budianto, Konsultan Analis Pengurangan Resiko Bencana Propinsi Sumatera Barat AIFDR-BNPB, yang juga selaku co-author Pembelajaran Pasca Banjir Bandang 24 Juli 2012 Kota Padang dan Ketua Panitia Pelaksana workshop. 2. Rissalwan Habdy Lubis, Research Officer AIFDR-BNPB, yang telah memberikan sumbangsih sebagai moderator dalam sesi paparan nara sumber. Terima kasih pula untuk kepemimpinan dalam diskusi sehingga diskusi berlangsung efektif. 3. Elfa Yeni, untuk notulen workshop yang telah dituliskan serta telah memuat catatan-catatan penting dari workshop ini. 4. Adi Prasetya dan Alwi, HK Logistics, atas dukungan penuh sejak dari persiapan hingga workshop ini dapat diselenggarakan dengan baik.

Arwin Soelaksono
Konsultan Protokol Humanitarian dan Hubungan Internasional AIFDR-BNPB

arwinsoelaksono@gmail.com www.humanitarian-development.org

19 Laporan Workshop

Lampiran Bahan presentasi nara sumber

PEMBELAJARAN PASCA BANJIR BANDANG
24 JULI 2012 KOTA PADANG
Arwin Soelaksono & Wawan Budianto
Workshop Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat 11-12 Desember 2012 Grand Inna Muara Hotel Padang

Lingkup bahasan
Peran BPBD Prov dan Kota

Peranan ICT dan media dalam kesiapsiagaan masyarakat

Peranan dunia usaha – peningkatan kinerja - tanggap bencana

Pengaruh program NGO bagi BPBD dan masyarakat dalam kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan masyarakat dalam upaya PRB

Arwin Soelaksono & Wawan Budianto

Kronologis

Arwin Soelaksono & Wawan Budianto

4 Pembelajaran Banjir Bandang

Kota Padang 24 Juli 2012
• Penggunaan Information and communications technology (ICT) yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan mempertinggi kesiapsiagaan.
• Pengaruh pengembangan kapasitas 2010-2011 terhadap bencana banjir bandang serta peluang upaya peningkatan lebih lanjut. • Pendidikan siaga bencana yang menyeluruh dan berkesinambungan • Perbaikan infrastruktur yang terintegrasi dan upaya sinergi program pengurangan resiko bencana.

Arwin Soelaksono & Wawan Budianto

ICT efektif → Pemahaman bencana → Kesiapsiagaan

Siaga Acuh tak acuh
Masa Kritis 15.45 16.00 16.30

Panik
20.30

18.30

BMKG

PUSDALOPS PB

Batang Kuranji

Bandar Gadang 1,2 m Arwin Soelaksono & Wawan Budianto

ICT efektif → Pemahaman bencana → Kesiapsiagaan
Data

•Pemetaan resiko bencana •Data akurat bahaya bencana •Kemampuan interpretasi bencana •Kejelasan tindakan penyelamatan

Pengetahuan

Tindakan

•Aktifasi EWS dengan ICT efektif •Masyarakat siaga bencana

Arwin Soelaksono & Wawan Budianto

Kontribusi Pengembangan Kapasitas 2010-2011 dan kelanjutannya
• Selama pemulihan akibat bencana gempa 2009, terdapat berbagai pelatihan bagi BPBD dan juga NGO lokal. Diantaranya:
o Koordinasi penaggulangan bencana o Pelatihan PRB tingkat dasar dan tingkat fasilitator

• Melihat indikator keberhasilan pengemgangan kapasitas 2010-2011:
o Peranan Kelompok Siaga Bencana (KSB) o Manajemen distribusi bantuan o Mekanisme kerjasama BPBD Provinsi Sumbar dan BPBD Kota Padang
Arwin Soelaksono & Wawan Budianto

Kontribusi Pengembangan Kapasitas 2010-2011 dan kelanjutannya
Dokumentasi program pengembangan kapasitas yang telah dijalankan

Pembuatan modul pengembangan kapasitas

Replikasi program dengan keterlibatan lebih luas
Arwin Soelaksono & Wawan Budianto

Pendidikan siaga bencana yang menyeluruh dan berkesinambungan
• Kesiapsiagaan lebih tinggi ditemukan pada komunitas yang senantiasa dilatih.
• Kesiapsiagaan = pemahaman resiko bencana + pelatihan yang berkesinambungan

Arwin Soelaksono & Wawan Budianto

Pendidikan siaga bencana yang menyeluruh dan berkesinambungan
Kebijakan pemerintah untuk pendidikan siaga bencana yang berkesinambungan

Keterlibatan seluruh pemangku kepentingan termasuk CSR Implementasi lapangan dengan program yang terencana dan terukur
Arwin Soelaksono & Wawan Budianto

Perbaikan infrastruktur yang terintegrasi dan upaya sinergi program pengurangan resiko bencana
Rencana

• Rencana komprehensif dengan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dengan memadukan upaya PRB

Implementasi

• Keterlibatan dalam masyarakat sekitar dalam implementasi untuk memperkuat ownership.

EWS

• Keterlibatan masyarakat sekitar dalam mengefektifkan peringatan dini.

Nama Alamat Pendidikan Kantor

: Syafrizal, SSi : Komplek Pondok Pinang D-12 LB Buaya : Akademi Meteorologi & Geofisika : Sarjana Geografi : Stasiun Meteorologi Minangkabau Jln Raya Bandara Internasional Minang Kabau

Tempat/Tgl Lahir : Padang/ 16 Juni 1965

Negeri Asal
HP

: Bukittinggi
: 081374823448

POTENSI BENCANA AKIBAT CUACA DAN IKLIM DI SUMATERA BARAT

Workshop Manajemen Bencana Banjir Bandang Dan Cuaca Ekstrim Di Sumatera Barat

BMKG

BMKG merupakan Lembaga Pemerintahan Non Departemen ( LPND) Keppres No.46 Th 2002 Yang mempunyai tugas : Memberikan Pelayanan Informasi di Bidang : 1. Meteorologi ( Cuaca ) 2. Klimatologi ( Iklim ) 3. Kualitas Udara ( Pencemaran Udara ) 4. Fenomena Geofisika ( Gempa Bumi & Tsunami )

BMKG

•Informasi Meteorologi
• - Cuaca Penerbangan • - Cuaca Maritim - Cuaca Publik • Informasi Klimatologi dan Kualitas Udara - Prakiraan Musim - Antisipasi Banjir dan Tanah Longsor - Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan - Informasi Kualitas Udara

•Informasi Geofisika
- Gempa, Tsunami

BMKG

GEMPA BUMI

STASIUN METEOROLOGI PENERBANGAN ( BIM ) (CUACA) STASIUN METEOROLOGI MARITIM TL BAYUR (CUACA)

BMKG SUMATERA BARAT

STASIUN KLIMATOLOGI SICINCIN ( IKLIM )

STASIUN GEOFISIKA PADANG PANJANG ( GEMPA )

STASIUN GAW GLOBAL ATMOSFER WATCH BUKIT KOTOTABANG GAS RUMAH KACA

Stasiun METEOROLOGI Ketaping Bandara Int’ Minang Kabau Sumatera Barat
Alamat: Jln Raya Ketaping Bandara Int’ Minag Kabau http://www.bmkgketaping.com E-Mail : Stamet.padang@Yohoo.com Pelayanan informasi cuaca Penerbangan, Pemerintah, Swasta,Masyarakat umum, Pendidikan

BMKG

STASIUN METEOROLOGI MARITIM
Alamat: Jl Cilacap 31.A Teluk Bayur www.stamar.tlb.blogspot.com

LOKASI STASIUN KLIMATOLOGI SICINCIN
BMKG

BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA

STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II SICINCIN PADANG
JL.RAYA PADANG BUKIT TINGGI KM.51 SICINCIN PADANG PARIAMAN TELP: 0751-675100, 0751-676848 FAX: 0751-675100 E-MAIL: Staklim_scn@yahoo.com

BMKG

MEMANTAU PEMANASAN GLOBAL DARI BUKIT KOTO TABANG/ GAW
http://www.gawkototabang.wordpress.com/

BMKG

Stasiun Geofisika Padang Panjang
Gempa & Tsunami

CUACA adalah Kondisi atmosfer pada suatu wilayah untuk periode waktu yang singkat (jam atau harian)

IKLIM adalah kondisi atmosfer rata-rata pada suatu wilayah untuk periode waktu yang cukup lama (biasanya sekitar 30 tahun)

CUACA EKSTRIM adalah Kejadian cuaca yang tidak normal atau tidak lazimYang dapat mengakibatkan kerugian harta dan jiwa

PERUBAHAN IKLIM (CLIMATE CHANGE) adalah

Perubahan Pola cuaca rata-rata dalam rentang waktu Puluhan tahun (suhu,tekanan,kelembaban, hujan, angin dsb nya)

PEMANASAN GLOBAL (GLOBAL WARMING) :

Meningkatnya temperatur rata- rata atmosfer, laut dan daratan bumi Karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect)

 PEMANASAN GLOBAL
Efek rumah kaca (greenhouse effect)

PENYEBABNYA

Sumber : Sri Woro, B.H, 2007

TANDA-TANDA UTAMA PEMANASAN GLOBAL :
1. Kenaikan Suhu Muka Bumi

TANDA-TANDA UTAMA PEMANASAN GLOBAL :
2. Penigkatan Muka Air Laut akibat Melelehnya Es di permukaan bumi

TANDA-TANDA UTAMA PEMANASAN GLOBAL :
3. Meningkatnya fenomena cuaca yang ekstrim

BADAI

PUTING BELIUNG

HUJAN LEBAT

Akibat Pemanasan Global

(Global Warming) akan memicu terjadinya Perubahan Iklim (Climate Change), sehingga akan sering terjadi fenomena Cuaca Ekstrim

Fenomena Cuaca Ekstrim yang sering terjadi : Badai, Puting Beliung, Hujan Lebat, Hujan Es, Kemarau, Badai Pasir, Dll

BENCANA ALAM

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

(81 % BENCANA DI INDONESIA AKIBAT CUACA)

BMKG

BAGAIMANA CUACA DIAMATI ?

BAROMETER DAN BAROGRAPH
BMKG ALAT PENGUKUR TEKANAN UDARA

Barometer

Barograph Keterangan Gambar : 1. Skala Nonius Tekanan (milibar) 2. Layar Background Penerang 3. Skala derajat Panas

BMKG

ANEMOMETER

• MENGUKUR ARAH DAN KECEPATAN ANGIN PERMUKAAN

SUN SHINE RECORDERD
BMKG

ALAT PENGUKUR LAMANYA PENYINARAN MATAHARI (JAM)

BMKG

PILOT BALON

• MENGUKUR ANGIN DI UDARA ATAS

BMKG

RAWIND SONDE

MENGUKUR CUACA DI UDARA ( ANGIN, TEMPERATUR,TEKANAN,KELEMBABAN UDARA )

RADAR CUACA
BMKG

Mengamati

AWAN HUJAN ANGIN

Deskripsi Wilayah Sumatera Barat
• Letak Propinsi Sumatera Barat Persis didaerah khatulistiwa, disekitar pegunungan Bukitbarisan, dan disebelah barat berbatasan langsung dengan samudera Hindia yang luas • Wilayah Sumatera Barat dapat dikelompokkan menjadi tiga karakteristik wilayah, yaitu pantai, dataran, dan perbukitan • Karakteristik dan kondisi alam dan klimatologisnya mempunyai beberapa implikasi terhadap bencana

KONDISI LOKAL

KOTA PADANG

KOTA PADANG

Kondisi lokal

KOTA PADANG

BENCANA ALAM DARI CUACA
1. MUSIM KEMARAU
Suhu Yang relatif tinggi > 34 °C dengan kelembaban <50% pemicu terjadinya Kebakaran hutan /lahan, Ketersedian air terbatas

Kebakaran Hutan

Kekeringan

Polusi Udara

Dampak kebakaran hutan dan lahan akan menganggu jarak pandang (Visibility), serta Merusak Kesehatan
Kabut asap

Kriteria Hujan Menurut BMKG Adalah : Kriteria Hujan ( mm) Sangat Ringan Ringan Normal Lebat Sangat Lebat Intensitas Per Jam (mm) < 0,1 O,1 – 5,0 5,0 – 10 10 – 20 > 20 Intensitas Per Hari (mm) < 5,0 5,0 – 20 20 – 50 50 – 100 > 100

TANAH LONGSOR

BENCANA ALAM DARI CUACA
• 3. Ekstrim Kecepatan Angin • Kecepatan Angin > 65 Km/Jam menyebabkan • Rusaknya bangunan,tumbangnya pohon ,papan reklame,dll

PUTTING BELIUNG

PUTING BELIUNG
Biasanya terjadi pada musim pancaroba pada siang hari suhu udara panas, pengap, dan awan hitam mengumpul, akibat radiasi matahari di siang hari tumbuh awan secara vertikal, selanjutnya di dalam awan tersebut terjadi pergolakan arus udara naik dan turun dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arus udara yang turun dengan kecepatan yang tinggi menghembus ke permukaan bumi secara tiba-tiba dan berjalan secara acak.

PROSES TERJADINYA

PUTING BELIUNG
Angin kencang berpilin-pilin mirip corong memanjang dari permukaan tanah Hingga dasar awan. Keluar dari Awan Cumulonimbus, Kecepatan angin > 40 knot atau 65 Km/Jam. Sifat angin ini mengisap apa saja yang dilewatinya dan meninggalkan jejak Kerusakan disetiap lintasannya. Misalnya rusaknya bangunan, tumbangnya pohon dan tiang, dll Lintasannya sekitar 1 kilometer panjang dan 100 meter lebarnya. Umummya terjadi pada musim Pancaroba. Pada sore hari antara pukul 13.00 – 17.00 Wib.

AKIBAT ANGIN KENCANG

AWAN COMULONIMBUS (Cb) Awan gelap, hitam bergumpal, puncak seperti bunga kol

AWAN COMULONIMBUS (Cb) Mengandung Petir, Penyebab Putting Beliung,
Hujan Badai

HALO MATAHARI

Pembiasan sinar matahari oleh awan tipis. Biasanya terjadi pada hari yang sangat cerah / tidak ada awan Secara meteorologi tidak ada efek bencana besar yang akan terjadi hanya menunjukkan musim panas

BMKG

 INFORMASI CUACA UNTUK PENERBANGAN
 INFORMASI CUACA UNTUK PELAYARAN

 INFORMASI CUACA PUBLIK
 INFORMASI CUACA PERINGATAN DINI CUACA EKSTRI

Dalam operasi penerbangan ada tiga tahap pelayanan informasi cuaca :
• Sebelum Terbang (Before Take off) • Selama Penerbangan (In Flight) • Saat akan Mendarat (Landing)

INFORMASI CUACA LEBARAN,NATAL &TAHUN BARU 2011 WILAYAH SUMATERA BARAT

Peran Utama BMKG terletak pada tahap “sebelum” kejadian BENCANA melalui diseminasi informasi:
CUACA, IKLIM, KUALITAS UDARA, GEMPA BUMI dan TSUNAMI

CEPAT, TEPAT, TELITI, CAKUPAN WILAYAH DAN DIPAHAMI

DISEMINASI INFO BMKG

1. Jaringan khusus 2. DVB/ Digital Voice Broadcast 3. SMS Broadcast 4. Website/Email 5. Fax / Telepon

1. BMKG Pusat 2. Otorita Bandara dan Pelabuhan 3. Media Massa 4. PEMDA melalui BPBD 5. Instansi lain dengan permintaan

KESIMPULAN dan SARAN
• BMKG Siap Memberikan Pelayanan Informasi Untuk Penanggulangan Bencana Akibat Cuaca Ekstrim, Khususnya dalam rangka mitigasi dan kesiapsiagaan melalui sosialisasi dan deteksi dini (early warning system). • SARAN Jika diperlukan BMKG siap memberikan pembelajaran bagi petugas posko PB agar dapat membaca dan menterjemahkan informasi tehnis dibidang BMKG

BMKG

60

DISEMINASI INFO

1. Jaringan khusus 2. DVB/ Digital Voice Broadcast 3. SMS Broadcast 4. Website/Email 5. Fax / Telepon

1. BMKG Pusat 2. Otorita Bandara dan Pelabuhan 3. Media Massa 4. PEMDA melalui BPBD 5. Instansi lain dengan permintaan

19/12/2012

DESIGN BY KARIM PAGARALAM

62

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA

Universitas Andalas

PENATAAN DAERAH RENTAN DAN DAERAH PENYEBAB BENCANA BANJIR BANDANG SEBAGAI UPAYA KOMPREHENSIF MITIGASI BENCANA

DR.IR. FERI ARLIUS DT. SIPADO, M.Sc DR.IR. ABDUL HAKAM, MT
UNIVERSITAS ANDALAS

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

1

Universitas Andalas

PARADIGMA PB

 Relief atau Bantuan Darurat  Pemenuhan kebutuhan darurat  Mitigasi  Identifikasi daerah rawan bencana, mitigasi struktural  Pembangunan  Kerentanan masyarakat  integrasi penanggulangan bencana dan pembangunan  Pengurangan Resiko  teknis dan ilmiah : faktor sosial, ekonomi dan lingkungan
Untuk Kedjajaan Bangsa

feri@sipado

2

Universitas Andalas

BANJIR BANDANG

Banjir yang terjadi akibat hujan yang turun terus-menerus dan muncul secara tiba-tiba. Aliran air banjir dengan kecepatan tinggi akan memiliki daya rusak yang besar, dan akan lebih berbahaya bila disertai dengan longsoran, yang dapat mempertinggi daya rusak terhadap yang dilaluinya.
feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

3

Universitas Andalas

Kajian Lapangan

Titik sampel 2

Titik sampel 1

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

Universitas Andalas

Kajian Lapangan
Parameter w


Tabel 1. Hasil pengujian sampel tanah 1 dan 2 Jenis Pengujian Kadar Air Berat Volume Spesific Gravity Analisa Saringan Nilai Sampel 1 Sampel 2 57.976 50.966 1.772 1.772 2.647 2.653 0.800 3.867 47.467 50.567 51.522 52.965 42.644 45.020 8.878 7.945 0.075 0.089 32.278 36.646 0.806 0.354 0.306 0.181 2.639 1.959 0.256 0.198 0.128 0.086 Satuan % gram/cm3 % % % % %
kg/cm
2

Gs
Gravel Sand LL PL PI

Atterberg's Limit

Direct Shear

c


º
kg/cm kg/cm kg/cm kg/cm
2 2

UCST

UCST remolded
feri@sipado

qu uds qu remolded ST qu PL qu LL

2 2

Untuk Kedjajaan Bangsa

Universitas Andalas

(Faisal dan Salahuddin, UGM 2012)

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

6

PENATAAN DAERAH
Universitas Andalas

(Untuk kasus Galodo Padang I dan II )

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

Universitas Andalas

PENATAAN DAERAH RENTAN • Pengelolaan wilayah sesuai daya dukung  Relokasi • Pengelolaan wilayah terbangun

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

8

Universitas Andalas

RELOKASI
Relokasi / pemindahan penduduk dari daerah rawan bencana ke daerah yang lebih aman merupakan salah satu cara untuk mengurangi kerugian akibat bencana banjir bandang. Namun dalam pelaksanaannya tidak mudah dilakukan. Untuk itu perlu upaya dan cara-cara tertentu dalam menangani masalah ini sesuai dengan situasi dan kondisi daerahnya.

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

9

Universitas Andalas

PENATAAN DAERAH RENTAN

• pemetaan zona-zona rentan banjir bandang • sistem peringatan dini / early warning system (EWS) • Pengontrolan terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana • Pengembangan sistem informasi • Sistem komunikasi modern dan tradisional
feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

10

Universitas Andalas

PENATAAN DAERAH RENTAN

• Pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan, bahaya, dll • Penyediaan dan penyiapan kebutuhan dasar • Jalur evakuasi dan tempat pengungsian • Pembangunan infrastruktur • Pengerukan sungai • Edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

11

Universitas Andalas

PENATAAN DAERAH HULU

Daerah penyebab banjir bandang merupakan daerah yang berada pada hulu sungai.
Penataan Daerah Hulu adalah upaya dalam mengelola hubungan timbal balik antar sumberdaya alam terutama vegetasi, tanah dan air dengan sumberdaya manusia di DAS dan segala aktivitasnya untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan bagi kepentingan pembangunan dan kelestarian ekosistem suatu DAS.

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

12

Universitas Andalas

PARAMETER

Parameter kondisi baik daerah hulu : 1. Debit sungai konstan dari tahun ke tahun 2. Kualitas air baik dari tahun ke tahun 3. Fluktuasi debit antara debit maksimum dan minimum kecil. 4. Ketinggian muka air tanah konstan dari tahun ke tahun

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

13

Universitas Andalas

PENATAAN DAERAH HULU

• • • •

Pengelolaan hutan secara terpadu Pengelolaan DAS Pengelolaan areal pertambangan Menjaga dan melestarikan vegetasi yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya. • Edukasi Masyarakat • Kelembagaan

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

14

Universitas Andalas

PERAN PT

Tri Dharma Perguruan Tinggi : • Pendidikan • Penelitian • Pengabdian kepada Masyarakat

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

15

Universitas Andalas

PERAN PT
Situasi Tidak Ada Bencana

a. b. c. d.
e. f. g. h.

Prabencana

Penanggulangan Bencana (PB)

Perencanaan PB Pengurangan Risiko Bencana Pencegahan Pemaduan dalam perencanaan pembangunan Persyaratan analisis risiko bencana Pelaksanaan dan penegakan tata ruang Pendidikan dan pelatihan Persyaratan standar teknis penanggulangan bencana

Saat terjadi bencana

Situasi Terdapat Potensi Bencana

Mitigasi Peringatan Dini Kesiapsiagaan

Pascabencana

Rehabilitasi

Rekonstruksi

Pengurangan risiko bencana (PRB): upaya mengurangi dampak buruk yang mungkin timbul, terutama dilakukan dalam situasi sedang tidak terjadi bencana Sumber: KEMENTERIAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN DAERAH KHUSUS, ASISTEN DEPUTI URUSAN DAERAH RAWAN KONFLIK DAN BENCANA feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

16

Universitas Andalas

PROGRAM

• Penelitian komprehensif, multi disiplin • Penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat • Pelatihan dan Simulasi • Pembentukan organisasi atau satuan gugus tugas bencana • Perkuatan unit-unit sosial dalam masyarakat, • Pengembangan budaya sadar bencana • Memperkuat ekonomi masyarakat
feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

17

Universitas Andalas

SASARAN

WORKSHOP MANAJEMEN BENCANA BANJIR BANDANG DAN CUACA EKSTRIM DI SUMBAR

“Strategi penyampaian informasi yg lebih efektif dan pendidikan siaga bencana yg berkesinambungan”
Untuk Kedjajaan Bangsa

feri@sipado

18

Universitas Andalas

KKN UNAND 2012
: 3500 orang : 14 Kota dan Kabupaten 200 Nagari, > 900 jorong : 103 orang : 4 Jun – 15 Juli 2012

• Jumlah Mhs • Lokasi

• DPL • Waktu

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

19

Universitas Andalas

KKN PBA MENTAWAI

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

20

Universitas Andalas

Pemutaran Film Siaga Bencana

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

21

Universitas Andalas

SIMULASI dan TRAUMA HEALING

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

22

Universitas Andalas

KEGIATAN KKN

feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

Universitas Andalas

TERIMA KASIH

Dr.Ir. Feri Arlius Dt. Sipado, MSc
ferisipado@fateta.unand.ac.id
feri@sipado

Untuk Kedjajaan Bangsa

24

Disampaikan Oleh: Dr. Ir. RIBALDI, MS.i Kepala Bidang PWLH Bappeda Prov. Sumatera Barat

Bencana
• Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan manusia yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. • Bencana alam yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Potensi Bencana Alam Sumatera Barat
Kondisi geologis dan geografis menyebabkan Sumatera Barat menjadi daerah yang memiliki potensi bencana seperti letusan gunung api, gempa, banjir, longsor (galodo), angin ribut, gelombang pasang dan tsunami. Berikut potensi bencana alam yang ada di Sumatera Barat • Gunung Api Di Sumatera Barat terdapat empat gunung api aktif yaitu Merapi, Tandikat, Talang dan Kerinci yang menyimpan ancaman bahaya. Keberadaan aktifitas kehidupan di Sumatera Barat yang berada di sekitar gunung berapi, maka risiko bencana yang ditimbulkan akan sangat besar.

Lanjutan......

• Banjir
Sumatera Barat memiliki sejumlah sungai besar yang mengalir dari daerah Bukit Barisan di timur menuju muaranya di Lautan Indonesia di barat. Secara tradisional, perkembangan penduduk dimulai dari tepi‐tepi sungai besar seperti di Kabupaten dan Kota Solok, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Agam. Debit aliran yang tiba‐tiba melonjak pada beberapa sungai di Sumatera Barat diperburuk dengan kondisi iklim dan geografis yang beragam, membuat ancaman bencana banjir dan longsor memiliki potensi yang tinggi. Kejadian banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat telah banyak merenggut korban baik nyawa manusia maupun harta benda.

Lanjutan......

• Abrasi
Pertemuan daratan dengan lautan bebas membuat pantai‐pantai di Sumatera Barat telah dan akan terus masuk dalam siklus pergerakan air laut. Siklus ini akan memberikan ancaman abrasi pada pantai‐pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Perkembangan wilayah hunian di wilayah pantai pada masa lalu memberikan risiko yang besar terhadap segala ancaman yang timbul dari lautan.

Lanjutan......
• Gempa Bumi Gempa bumi sering terjadi sebagai akibat dari Letusan Gunung Berapi (disebut juga Gempa Vulkanik) ataupun akibat dari pergeseran lempeng yang ada di Pulau Sumatera. Posisi Sumatera Barat terletak di hadapan jalur pertemuan dua lempeng bumi dan juga segmen patahan bumi sehingga menyebabkan Provinsi Sumatera Barat termasuk salah satu wilayah yang memiliki potensi risiko bencana yang tinggi di Indonesia.

Isu-Isu Strategis Provinsi Sumatera Barat
Dari beberapa isu strategis Provinsi Sumatera Barat yang tertuang dalam RTRW Sumatera Barat, salah satunya adalah Bencana Alam. Berikut beberapa isu strategis yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan wilayah provinsi ini diantaranya : 1. Bencana alam Kebencanaan dituangkan dalam RTRW Sumbar secara khusus karena merupakan isu strategis yang berpengaruh pada pembangunan Sumatera Barat 2. Keterpaduan pemanfaatan ruang dengan provinsi yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat. 3. Sumatera Barat memiliki kultur Minangkabau, dikenal sebagai penganut agama Islam yang kuat dan teguh dengan adat dan tradisi. 4. Perkembangan sosial ekonomi dan sosial budaya 5. Pemekaran Wilayah. 6. Berlakukannya UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 7. Konversi lahan 8. Perkembangan isu Carbon Trade (perdagangan karbon). 9. Potensi pesisir dan laut

Kategori Resiko Bencana
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah menyusun kategori terkait resiko bencana  Resiko I Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menganggap bencana banjir sebagai bencana dengan tingkat resiko yang sama dengan gempa bumi dan tsunami, yaitu Resiko I, sehingga berpotensi menimbulkan jumlah korban yang amat besar dengan kemungkinan terjadi potensi kejadian bencana tersebut amat tinggi serta mendesak untuk ditangani.

Lanjutan......
 Resiko II Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menetapkan bencana gunung meletus, abrasi pantai dan badai termasuk dalam tingkat Resiko II, yaitu bencana yang dengan potensi jumlah korban yang amat besar namun kemungkinan terjadi rendah.  Resiko III Di samping bencana dan potensi bencana di atas, di Provinsi Sumatera Barat juga ditemukan jenis bencana lain seperti longsor, kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan yang termasuk dalam tingkat risiko II dan III.

Kerangka Hukum Penanggulangan Bencana
Pemerintah Sumatera Barat juga telah menyusun dan mensahkan Perda yang memang secara khusus mengatur tentang penanggulangan bencana, yaitu : • Perda Provinsi No.5 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. • Peraturan Daerah Nomor 9 tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat, • Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 115 Tahun 2008 tentang Rencana Penanggulangan Bencana 2008-2012.

Skema Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana

Garis Besar Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
1. Pra Bencana - Tidak Terjadi Bencana  Perencanaan Penanggulangan Bencana;  Pengurangan risiko bencana;  Pencegahan;  Pemaduan dalam perencanaan pembangunan;  Persyaratan analisis risiko bencana;  Penegakan rencana tata ruang;  Pendidikan dan pelatihan;  Persyaratan standar teknis Penanggulangan Bencana. - Terdapat Potensi Bencana  Mitigasi Bencana  Kesiapsiagaan  Peringatan Dini

Garis Besar Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
2. Tanggap Darurat
- Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumber daya - Penentuan status keadaan darurat bencana - Penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana - Pemenuhan kebutuhan dasar - Perlindungan terhadap kelompok rentan - Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital Pemulihan fungsi prasarana dan sarana vital dan memperbaiki dan atau mengganti kerusakan akibat bencana.

Garis Besar Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
3. Pasca Bencana - Rehabilitasi  Perbaikan lingkungan daerah bencana;  Perbaikan prasarana dan sarana umum;  Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat;  Pelayanan kesehatan;  Pemulihan fungsi pemerintahan; dan  Pemulihan fungsi pelayanan publik. - Rekonstruksi  Pembangunan kembali prasarana dan sarana;  Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat;  Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan material yang lebih baik dan tahan bencana;  Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, dan masyarakat;  Peningkatan fungsi pelayanan publik;

Strategi Penanggulangan Bencana
 Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada RPJMD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2010-201 diakomodasi dengan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang salah satu tujuannya adalah terwujudnya kesiapan masyarakat menghadapi bencana Dalam upaya masyarakat untuk meminimalisir dampak bencana, maka diperlukan strategi sebagai berikut:  Menyediakan informasi wilayah rawan bencana Mengurangi risiko bencana dilakukan dengan membangun kesiapsiagaan dan infrastruktur di seluruh lini secara terencana dan terpadu.  Meningkatkan sarana dan prasarana Penanggulangan Bencana Meningkatkan sarana dan prasarana evakuasi bencana.  Peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam penanggulangan bencana Meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam penanggulangan bencana.

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) menyangkut kebencanaan dalam RTRW Sumatera Barat
Perlu dilakukan perbaikan dan penambahan program guna mengantisipasi dan menanggulangi dampak bencana 1. Penambahan kegiatan peningkatan jalan untuk evakuasi. 2. Penambahan kegiatan pembangunan shelter. 3. Penambahan kegiatan pada program pola ruang kawasan rawan bencana alam dengan Pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami dan Pemantapan Tebing Kawasan Rawan Longsor.

Perencanaan Pola Ruang dalam RTRW Sumbar yang bisa meminimalisir dampak bencana
Rencana kawasan lindung di Provinsi Sumatera Barat hingga tahun 2029 dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
 Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, meliputi : kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, dan kawasan resapan air;  Kawasan perlindungan setempat, meliputi : sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau /waduk, dan kawasan terbuka hijau kota;  Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya yang meliputi : kawasan suaka alam, suaka alam laut dan perairan lainnya, suaka marga satwa dan suaka margasatwa laut, kawasan cagar alam dan cagar alam laut, kawasan pantai berhutan bakau, taman nasional dan taman nasional laut, taman hutan raya, taman wisata alam dan taman wisata alam laut, dan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan;  Kawasan rawan bencana alam yang meliputi : kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir;

Perencanaan Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, sempadan mata air, ruang terbuka hijau.

• Kawasan Sempadan Pantai Kawasan sempadan pantai mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Fungsi pantai yang terjaga dapat mencegah terjadinya abrasi. • Kawasan Sempadan Sungai Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. Masih banyak masyarakat menjadikan sungai sebagai tempat membuang sampah, sehingga mengganggu aliran sungai yang bisa menyebabkan banjir. • Kawasan Sekitar Danau atau Waduk • Kawasan Ruang Terbuka Hijau Kawasan ruang terbuka hijau dimaksudkan untuk mengurangi polusi udara yang ditimbulkan dari kendaraan bermotor, penyediaan fasilitas umum untuk masyarakat, dan mengurangi panasnya suhu udara kawasan perkotaan.Keberadaan RTH ini dapat mengurangi dampak cuaca ekstrim yg terjadi. • Kawasan Resapan Air Kawasan resapan air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol tata air permukaan, dapat mengurangi resiko terjadinya banjir.

Contoh Mitigasi Bencana :
Pengelolaan sampah menjadi sumber daya mitigasi bencana banjir

Melakukan daur ulang terhadap sampah anorganik yang tertumpuk, dengan metode 3R, Reduce-Reuse-Recycle, sehingga bisa dimanfaatkan kembali dan berdaya guna bagi masyarakat. Selain dapat menjadi sumber pendapatan yang tak kalah menguntungkan, program ini dapat meminimalisasi terjadinya bencana banjir. Karena masyarakat tidak lagi membuang sampah ke dalam sungai yang sering membuat terhambatnya aliran air yang sering menimbulkan banjir.

TERIMAKASIH

Berton SP Panjaitan Disampaikan dalam Pembelajaran Pasca Banjir Bandang, 24 Juli 2012 di Kota Padang

 UU

24 tahun 2007 tentang PB  Peran Pemerintah dan Pemerintah daerah
 Peran

Masyarakat dalam PB  Pengaturan mengenai pengumpulan sumbangan masyarakat

UUD 1945 : Tugas/tujuan Negara a.l. : melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memajukan kesejahteraan umum. Setiap WNI berhak mendapatkan perlindungan dan hak-hak dasar, termasuk perlindungan dan hak-hak untuk bebas dari rasa takut, ancaman, risiko, dan dampak bencana. Penanggulangan Bencana :  Fungsi pemerintahan.  Tanggung-jawab utama Pemerintah dan Pemerintah Daerah.  Dilaksanakan bersama-sama masyarakat dan dunia usaha/ sektor swasta.

UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana

Peraturan pelaksanaan dari UU 24/2007  Peraturan Menteri  Peraturan Kepala BNPB

3

Pemerintah

Masyarakat Sipil

Lembaga Usaha

3 pilar/komponen pelaku PB :  Pemerintah/pemerintah daerah  Masyarakat Sipil  Lembaga Usaha/sektor swasta

 Psl 5

: Pemerintah/pemerintah daerah menjadi penanggungjawab PB  Psl 26 & 27 : Hak & Kewajiban Masyarakat dalam PB  Psl 28 & 29 : Peran Lembaga Usaha/sektor swasta dalam PB (Corporate Social Responsibility).
4

Politik
Situasi Tidak Ada Bencana
Perencanaan Pencegahan Pengurangan Risiko Pendidikan Pelatihan Penelitian Penaatan Tata Ruang
Mitigasi Peringatan Dini Kesiapsiagaan

Penetapan Kebijakan Pembangunan

Prabencana
Situasi Terdapat Potensi Bencana

Pentahapan

Ekonomi

Saat Tanggap Darurat

Kajian Cepat Status Keadaan Darurat Penyelamatan & Evakuasi Pemenuhan Kebutuhan Dasar Perlindungan Pemulihan

Sosial

Rehabilitasi

Pascabencana
Rekonstruksi

Prasarana dan Sarana Sosial Ekonomi Kesehatan Kamtib Lingkungan

Lingkungan 5

Pandangan Holistik
Pandangan Ilmu Peng. Sosial Pandangan Progresif Pandangan Ilmu Peng. Terapan Pandangan Ilmu Peng. Alam Pandangan Konvensional

Pengurangan Risiko

Pembangunan

Mitigasi

Relief / Bantuan

1.

2.
3.

4.

Bukan hanya tanggap darurat tetapi juga keseluruhan manajemen risiko & pembangunan. Perlindungan sebagai bagian hak asasi dan bukan semata kewajiban pemerintah. Dengan demokratisasi dan otonomi daerah PB menjadi tanggungjawab Pemda & masyarakat. PB bukan hanya tanggungjawab pemerintah tetapi juga urusan bersama masyarakat.

 Pendanaan

dan pengelolaan bantuan bencana ditujukan untuk mendukung upaya penanggulangan bencana secara berdayaguna, berhasilguna, dan dapat dipertanggungjawabkan.  Dana penanggulangan bencana menjadi tanggungjawab bersama antara Pemerintah dan pemerintah daerah serta berasal dari : a. APBN; b. APBD; dan/atau c. masyarakat.

Sumber yang berasal dari Pemerintah meliputi sumber dari APBN melalui pos : Sektoral, Hibah Daerah, serta Subsidi dan Transfer.  Sementara sumber pendanaan daerah berasal dari APBD melalui pos : PAD, DAU, DAK, Dekon.  Pemerintah dan Pemerintah daerah juga dapat menerima sumbangan pendanaan dari sektor Non Pemerintah yang bersumber dari masyarakat dalam negeri dan luar negeri yang berifat voluntary (misalnya mekanisme dana yang ada dalam prosedur CSR) dan Mandatory (mekanisme dana internasional yang berdasarkan konvensi/perjanjian internasional)

Pasal 7 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah mendorong partisipasi masyarakat dalam penyediaan dana yang bersumber dari masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf c. (2) Dana yang bersumber dari masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diterima oleh Pemerintah dicatat dalam APBN. (3) Dana yang bersumber dari masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang diterima oleh pemerintah daerah dicatat dalam APBD. (4) Pemerintah daerah hanya dapat menerima dana yang bersumber dari masyarakat dalam negeri. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pencatatan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pencatatan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri.

Selain yang sudah diatur dalam APBN : 1.Dana kontijensi dan siap pakai tingkat nasional  diatur oleh PMK 2. Dana bantuan sosial berpola hibah  diatur dalam PMK 3. Dana siap pakai daerah  diatur dalam Permendagri 21/2011 ttg Keuangan Daerah 4. Dana masyarakat ?

 Yang

dimaksud dengan masyarakat adalah relawan dan LSM, Dunia Usaha, Ormas, Akademisi, forum, keahlian dll yang memiliki kemandirian, keterampilan, kompetensi dan pengetahuan serta komitmen dan semangat tinggi dalam penyelengaraan bantuan kemanusiaan

• Mengoptimalkan Pemerintah/Pemda dalam

melakukan program PB di masyarakat • Membantu upaya penanggulangan bencana sesuai dengan perencanaan dan pembangunan nasional serta daerah yang lebih terarah dan berkesinambungan. • Menciptakan kemandirian dan ketangguhan masyarakat dalam PB.

      

Menyusun rencana dengan merujuk pada kebijakan PB yang disusun oleh Pemerintah/Pemda Membuat program kegiatan PRB, Melakukan sosialisasi dan kampanye PRB berbasis komunitas Melakukan pemaduan/integrasi program kegiatan dalam perencanaan pembangunan, Mendorong persyaratan analisis risiko bencana dalam setiap pembangunan, Melakukan penguatan infrastruktur di wilayah yang rawan bencana memantau dan mendorong pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang,

 Melaksanakan

pendidikan, pelatihan  Melaksanakan gladi untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan  Membangun kesiapsiagaan masyarakat,  Melakukan sosialisasi peringatan dini  Melakukan kegiatan mitigasi bencana bersama Pemerintah dan pemerintah daerah.  Melakukan kegiatan siaga darurat


 

Membantu pelaksanaan kaji cepat Melakukan watsan Melakukan kegiatan-kegiatan pada masa siaga darurat Membantu kaji cepat dan tepat, SAR, pemenuhan kebutuhan dasar, pelindungan terhadap kelompok rentan, melakukan upaya pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital. Membantu pemberian dan penyaluran jaminan hidup, penyediaan /pembangunan hunian sementara, sarana vital, bantuan permodalan, penyediaan sanitasi dan air bersih, layanan kesehatan, pendidikan dan psikososial serta kegiatan sosial ekonomi, membangun kerukunan sosial budaya kemasyarakatan dilokasi bencana atau pengungsian

 Lembaga/organisasi
 Lembaga

Kemasyarakatan

Komunitas.  Lembaga Adat.  Lembaga Perguruan Tinggi dan Penelitian.  Lembaga Sosial Keagamaan dan Lembaga Kemasyarakatan.  Jaringan  Perkumpulan  Lembaga lainnya sesuai peraturan perundangundangan

1. 2. 3.

4.

5.

Kementrian Keuangan ; Pencatatan APBN Kementrian Dalam Negeri : Pencatatan APBD Kementrian Sosial : dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial  korban bencana ; mengatur pengumpulan dana sumbangan masyarakat BNPB dan BPBD : mendorong partisipasi, menerima dan mengelola dana internasional, pengawasan dan pelaporan penggunaan dana Gubernur/Bupati/Walikota : mendorong partisipasi, menerima dan mengelola dana dalam negeri, pengawasan dan pelaporan penggunaan dana

Pasal 36 dan 37 : 1. Sumber pendanaan peny. kesejahteraan sosial korban bencana  dapat berasal dari sumbangan masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan 2. Usaha pengumpulan dan penggunaan sumber pendanaan yang berasal dari masyarakat bagi kepentingan kesejahteraan sosial selain sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 36 ayat (3) dilaksanakan oleh Menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

1.

2.

Voluntary : publik (sesuai organisasi pemberi/pengumpul atau komunitas dalam negeri atau internasional) Mandatory : dana pen. bencana yang berasal dari mekanisme dana internasional yang berdasarkan konvensi/perjanjian internasional  AHA Center, IMFFDR ??

   

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang; Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2011 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial; Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1980 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan; Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 14 Tahun 1982 tentang Tata Cara dan syarat-syarat pengeluaran sumbangan oleh organisasi sosial; Keputusan Meneteri Sosial RI Nomor 01/HUK/1995 tentang Pengumpulan Sumbangan untuk korban bencana; Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 56/HUK/1996 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan oleh Masyarakat;

Terimakasih

bahwa dalam hal lembaga asing atau lembaga internasional memberikan bantuan dalam bentuk dana/uang maka harus disampaikan langsung (satu pintu) kepada BNPB sesuai prosedure yang berlaku dalam peraturan perundangundangan, setelah berkoordinasi dengan pihak pemerintah yang tanggung jawabnya dibidang luar negeri.

Oleh ; RICO RAHMAD
Disampaikan pada; Workshop Manajemen Bencana Banjir dan Cuaca Ekstrim di Sumatra Barat serta Upaya Penanggulangannya

Becana Banjir Bandang yang terjadi Periode 2011 -2012 di Sumatra Barat
 Pesisir Selatan 4

November 2011  Pasaman 22 February 2012  Padang 24 Juli 2012  Padang 12 September 2012

Penyebab Bencana Banjir Bandang
• Penyebab dari terjadinya banjir bandang adalah tidak adanya kekuatan hutan untuk menahan air dengan curah hujan yang cukup tinggi, hal ini terjadi karena penebangan kayu dilakukan secara masif tanpa ada tindakan tegas dari pemerintah.
• Pembukaan lahan juga menjadi salah satu pemicu dari berkurangnya daya serap kawasan hutan terhadap air dengan intensitas besar. • Kawasan hilir sungai yang tidak mampu menapung debit air yang turun dari hulu dikarenakan pendakalan dan penyempitan kawasan DAS Hilir.

Upaya yang telah dilakukan
1. 2. 3. Respon Bencana Melakukan Investigasi penyebab galodo Pasaman Melakukan investigasi (ground check) Sungai Hulu Batang kuranji, Padang Karuah, Padang Janiah, Danau Limau Manis Hulu Sungai Lasi, kec.Canduang kab. Agam
Melakukan pemetaan kawasan Hulu sungai

4.

5.

Melaporkan kepada pihak terkat hasil temuan dan analisa.
Membangun kesadaran masyrakat serta menyikapi kembali kearifan lokal yang telah mulai pudar.

6.

Peningkatan SDM dalam bentuk Pendidikan dan
Pelatihan

Memasukan materi Mitigasi bencana kedalam kurikulum Pendidikan Dasar Pencinta Alam. Yang terhimpun dari:
1. 2. 3.

Sispala ( Siswa Pencinta Alam) Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) KPA/PPAT (Kelompok Pencinta Alam/penggita Alam)

1. Meningkatkan kesadaran masyarakat disepanjang hulu sungai dan aliran sungai tentang pentingnya menjaga Lingkungan.

2. Memberikan pelatihan – pelatihan tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup serta pengelolaan lingkungan secara benar.
3. Membangun kelompok – kelompok di daerah – daerah yang rentan terhadap ancaman Bencana, serta memberikan pelatihan Mitigasi.

Oleh Drs. Dedi Henidal, MM Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang

PROTAP PENANGGULANGAN BENCANA
•JENIS BENCANA •PENYEBAB TERJADI •PENANGANAN

Bencana

TRC

STATUS DARURAT

KOMANDO TANGGAP DARURAT

•KERUSAKAN •KORBAN •LUAS •KEBUTUHAN

•LOKAL •DAERAH/KECAMATAN •KOTA •PROPINSI •NASIONAL

Kondisi Jembatan Padang Besi

Jembatan Gantung di Batu Busuk

Warga langsung melakukan evakuasi di Mesjid Raya Limau Manis

Kondisi air di Jalanan Pasar Baru

Assesment di Kelurahan Gurun Laweh

Assesment di Kelurahan Tabing Banda Gadang

Pencarian Korban Dilakukan Tim di TKP

Korban Berhasil Ditemukan

Dampak Longsor

Evakuasi Korban Menuju Rumah Duka

Pembersihan Sedimen oleh Tim

Pembersihan Sedimen di Rumah Warga

Tempat Pembuangan Sedimen

Tumpukan Kayu dampak banjir bandang

Siapkan peralatan sebelum bekerja

Kepala BPBD Kota Padang dalam Operasi Batu Busuak

Personel BPBD sedang melakukan pemotongan

PUSAT PENGENDALIAN OPERASI

PUSDALOPS

INFORMASI
TRC DIKERAHKAN
DITERIMA PUSDALOPS KOTA PADANG

LAPORAN KE KALAK BPBD KOTA PADANG
TRC LAKSANAKAN KAJI CEPAT

PENENTUAN STATUS/TINGKAT BENCANA OLEH KODAL KOTA PADANG ATAS REKOMENDASI BPBD BERDASARKAN STATUS BENCANA

•DISTRIBUSI •HT → FREKUENSI TERTUTUP •HD •TELEPON

KODAL DARURAT
PEMBENTUKAN

POS KOMANDO KEDARURATAN

Pos Komando tanggap darurat dan atau Pos Komando lapangan dan Pos Pendukung yang merupakan satu kesatuan sistem penanganan darurat.

Pos Komando Tanggap Darurat Bencana adalah institusi yang berfungsi sebagai pusat komando operasi tanggap darurat bencana, untuk mengkoordinasikan, mengendalikan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan tanggap darurat bencana. Pos Komando Lapangan Tanggap Darurat Bencana merupakan institusi yang bertugas melakukan penanganan tanggap darurat bencana secara langsung di lokasi bencana. Pos Pendukung Tanggap Darurat Bencana adalah pos yang membantu kelancaran akses dan mobilisasi/distribusi bantuan tanggap darurat bencana.

Tugas & Fungsi POSKO TD Bencana Tugas :
Mengumpulkan informasi

Fungsi :
Mengkoordinasikan, mengintegrasikan dan mensinkronisasikan seluruh unsur dalam organisasi komando tanggap darurat untuk pencarian, penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan pengungsi, serta pemulihan sarana dan prasarana vital dengan segera.

Menyusun rencana operasi
Mengajukan permintaan kebutuhan Pengerahan sumber daya Evaluasi dan Pelaporan Kegiatan kepada Kepala BNPB dan BPBD

Menyebarluaskan informasi

Provinsi Sumatera Barat terletak di daerah “Cincin Api Pasifik” dengan tingkat kerentanan dan berpotensi tinggi terjadinya bencana. Khususnya Kota Padang, yang merupakan ibukota provinsi Sumatera Barat memiliki tingkat kerentanan bencana gempa bumi, tsunami, banjir longsor dan bencana alam lainnya. Ditambah lagi Kota Padang merupakan sentra ekonomi dan pendidikan di daerah Sumatera Barat. Oleh karena itu mutlak diperlukan pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana bagi masyarakat yang berada di daerah tersebut.

BPBD Kota Padang berupaya membentukan Kelompok Siaga Bencana dalam meningkatkan kesiapsiagaan dengan membentuk Kelompok Siaga Bencana (KSB) di 104 (seratus empat) Kelurahan pada 11 (sebelas) Kecamatan se-Kota Padang dengan masing-masing anggota 20 (dua puluh) orang per kelurahan. Sehingga peran serta masyarakat dalam Penanggulangan Bencana dapat terlaksana dengan sasaran pengurangan risiko bencana di daerah sesuai standar nasional demi pencapaian ketahanan daerah terhadap bencana.

Sasaran dari kegiatan ini adalah pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan di tingkat Kelurahan, sehingga nantinya upaya-upaya Pengurangan Risiko Bencana dapat dikelola dan di koordinir dengan baik serta dapat meminimalisir jumlah korban yang berkemungkinan terjadi akibat bencana

Pembentukan kelompok siaga bencana tingkat Kelurahan disahkan dengan Surat Keputusan Camat se-Kota Padang. Total Kelompok Siaga Bencana (KSB) di 104 (seratus empat) Kelurahan pada 11 (sebelas) Kecamatan se-Kota Padang dengan jumlah personil seluruhnya adalah 2080 orang. Selanjutnya proses pengukuhan dilaksanakan di masing-masing Kantor Camat yang dikukuhkan oleh Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang

1. Manajemen Penanggulangan Bencana materi ini meliputi :
• • • • Manajemen dan Pengetahuan Kesiapsiagaan Bencana Analisis Risiko Bencana dan Rencana Aksi Komunitas Rencana Evakuasi Prosedur Tetap (PROTAP) Penanggulangan Bencana

Materi ini meliputi :

• Radio Komunikasi dan Informasi • Pemadam Kebakaran • Pertolongan Pertama Gawat Darurat • Manajemen Posko dan Camp Pengungsian

Triase Evakuasi

• Triase ini ditujukan pada korban yang dapat dipindahkan ke RS yang telah siap menerima korban bencana massal • Jika pos medis lanjutan dapat berfungsi efektif jumlah korban dalam status merah akan berkurang • Tenaga medis di pos medis lanjutan berkonsultasi dengan pos komando dan RS tujuan

Pertolongan pertama dilakukan oleh :
Sukarelawan, Tim rescue, petugas pemadam kebakaran, Polisi, Tenaga dari unit khusus
Tim Medis Gawat Darurat, Tenaga Perawat Gawat Darurat Terlatih

Pertolongan pertama dapat diberikan di lokasi seperti berikut :
1. Lokasi bencana, sebelum korban dipindahkan 2. Tempat penampungan sementara

3. Pada tempat “hijau” dari pos medis lanjutan 4. Dalam ambulans saat korban dipindahkan ke fasilitas kesehatan

Pertolongan pertama yang diberikan kepada korban dapat berupa :
Kontrol jalan nafas,fgs pernafasan dan jantung, pengawasan posisi korban, kontrol perdarahan dll

Segera pindahkan korban dari lokasi

Didirikan sebagai upaya untuk menurunkan jumlah kematian dengan memberikan perawatan efektif ( stabilisasi ) terhadap korban secepat mungkin • Upaya stabilisasi mencakup : pemberian infus dll Fungsi pos medis lanjutan ini dapat disingkat menjadi “ Three T Rule” ( Tag, Treat, Transfer ) • Atau Hukum Tiga ( Label, Rawat, Evakuasi )

Lokasi : 50-100 m dari lokasi bencana

Termasuk daerah yang aman

Memiliki akses langsung ke jalan raya tempat evakuasi dilakukan
Berada dekat dengan Pos Komando
Berada dalam jangkauan komunikasi radio

Tenaga Pelaksana : Dokter, ahli anestesi, bedah perawat dll

Merah Kuning
Hijau

• Korban dengan trauma multiple • Dibutuhkan pembedahan • Dokter ahli • Monitoring untuk mempertahankan kestabilan • Dokter umum • Tidak dibawa ke RS • Cukup di Puskesmas atau klinik

Pelayanan Pengobatan Pelayanan Imunisasi Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan Gizi
Pemberantasan penyakit menular dan pengendalian vektor Pelayanan kesehatan jiwa

Pelayanan Promosi Kesehatan

 Posko

KSB  Radio komunikasi (RIG dan HT)  Kartu Identitas  Seragam  Alat tulis kantor  Peralatan Rescue

Hak Cipta: Erison J Kambari

1. KONDISI TOPOGRAFI SUMATERA BARAT
 Daerah Perbukitan Curam Rawan Longsor dan Aliran Debris  Terdapat 4 Gunung Api Aktif (Gunung Marapi, Singgalang, Tandikek dan Gunung Talang )  Terbagi 8 Wilayah Sungai ( 3033 buah sungai)

DAERAH RAWAN LONGSOR DI KAWASAN LEMBAH ANAI, KAB. TANAH DATAR-KAB. PADANG PARIAMAN (DI DAS BT. ANAI), KEJADIAN 21 APRIL 2010 BARU TERJADI, 25 NOVEMBER 2012

Kemiringan Bukit Terjal Rawan Longsor

SURVEY UDARA HULU BATANG KURANJI PASCA BANJIR BANDANG 12 SEPT 2012 (BATANG DANAU LIMAU MANIH), DOKUMENTASI BNPB/BPBD PROV. SUMBAR 15 SEPT 2012

BANJIR BANDANG SEPERTI INI SANGAT SULIT UNTUK DI HINDARI TSUNAMI DARI GUNUNG ; PRINSIP UTAMA SISTEM PERINGATAN DINI & EVAKUASI

Fenomena Banjir Bandang Pasca Gempa; Waspada di Saat Intensitas Hujan Tinggi di Hulu

BENCANA GALODO DI BATANG KURANJI KOTA PADANG
KOTA PADANG

+ 1500 M

Tumpukan Sedimen di Bendung PLTA Batu Busuk

Batang Padang Janiah Batang Padang Karuah Longsoran di Hulu Bt. Kuranji (Danau Limau Manis)

DAS BATANG KURANJI Luas DAS 202,7 km2 terdiri dari 5 sub daerah aliran sungai
Titik Longsoran

CONTOH KASUS DI DAERAH LAIN KEJADIAN BANJIR BANDANG DI AMBON, SUNGAI WAY ELA TANGGAL 13 JULI 2012

CONTOH KASUS DI SUNGAI WAY ELA, PROVINSI AMBON
Puncak Gunung Ulakhatu yang terjadi longsoran Aliran Sungai Way Ela Terbendung

Longsoran

PEMBENDUNGAN ALAM, AKIBAT VOLUME LONGSORAN PERBUKITAN YANG MENIMBUN BADAN SUNGAI HINGGA JEBOL

CONTOH KASUS DI AMBON
LONGSORAN BUKIT YANG MENIMBULKAN PEMBENDUNGAN ALAM (AIR TERGENANG HINGGA KETINGGIAN 150 M)

Kawasan Permukiman Yang Terancam Terendam Banjir Bandang

SALAH SATU KASUS FENOMENA LONGSORAN

2. KEBIJAKAN DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEBIJAKAN ( Konsep, Pedoman, Dasar Rencana, Cara Tindak) Peraturan Perundang-Undangan (Landasan Hukum  Ketaatan/Kepatuhan, Melarang dan Memaksa Tindakan)

 JAKNAS SDA  Kebijakan Pengendalian  UU NO. 7/2004  SUMBER DAYA AIR; Daya Rusak Air dan Pengurangan Dampak Pasal 1 no. 20  Pengendalian Daya Rusak  RPJMD PROVINSI SUMATERA BARAT 2010 Air: upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan – 2015 (hal. 225); Prioritas 9  kualitas lingkungan yang disebabkan oleh Pembangunan Infrastruktur Penunjang daya rusak air; Bab V Pasal 51 – 58. Ekonomi Rakyat; Arah Kebijakan: Angka 1). Mengelola  PP 42/2008  PSDA; Ps 1 no.11 Pengendalian Daya Rusak Air; Bab VII Pasal Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Air 85 - 94 Lainnya; Angka 5). Melindungi kawasan prioritas dari daya rusak air akibat banjir,  PERPRES 33/2001  JAKNAS SDA; Pasal 1 no.3 huruf d  kebijakan pengendalian abrasi pantai dan lahar gunung daya rusak air dan pengurangan dampak api/bencana sedimen;  RENSTRA DINAS PSDA 2010 – 2015;  PERDA NO. 5 TAHUN 2011  RPJMD PROVINSI SUMBAR 2010 – 2015 Program Pengendalian Banjir dan PERDA PSDA (tahap Pengamanan Pantai; Program Konservasi  Rancangan rancangan/naskah akademis) Sungai, Danau dan Sumber Air Lainnya
 Rancangan Kebijakan Provinsi PSDA (dalam tahap awal pembahasan Dewan SDA Prov. Sumbar)  Pengendalian Daya Rusak Air dan Pengurangan Dampak

Sumber daya air terkelola secara adil, menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan untuk kesejahteraan masyarakat Lembaga Pelaksana Pengelolaan SDA Wadah Koordinasi Pengelolaan SDA

Peran Masyarakat dan Dunia Usaha Jaringan Terpadu Sistem Informasi Sumber Daya Air Tujuh Asas: kelestarian, keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan &keserasian , keadilan, kemandirian, transparansi & akuntabilitas

Pengend Daya Rusak Air

Pendayagunaan SDA

Konservasi SDA

KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA DI SUMATERA BARAT
JAKNAS (PERPRES 33/2011)  Kebijakan Peningkatan Konservasi Sumber Daya Air Secara Terus Menerus  Kebijakan Pendayagunaan Sumber Daya Air Untuk Keadilan Dan Kesejahteraan Masyarakat  Kebijakan Pengendalian Daya Rusak Air Dan Pengurangan Dampak  Kebijakan Peningkatan Peran Masyarakat Dan Dunia Usaha Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air  Kebijakan Pengembangan Jaringan Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Nasional Terpadu

JAKKAL /PERATURAN DAERAH

Pengelolaan dan pemanfataan sumber daya air dalam rangka menunjang ketahanan pangan (Perda No/9/2011);  Mitigasi dan Penanganan Kebencanaan (Perda No. 5/2007, Pergub No.115/2008) Pengamanan sumber daya air dalam rangka melindungi kawasan strategis produktf Rancangan Perda PSDA .
 Rancanan Kebijakan Provinsi PSDA (proses awal pembahasan tingkat dewan sda prov. Sumbar)

3. STAKEHOLDERS TERKAIT DAN WADAH KOORDINASI
NO STAKEHOLDERS Kewenangan Program Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai 1 DINAS PSDA PROVINSI SUMBAR WS Lintas Kab/Kota Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Air Lainnya Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai 2 BALAI WS SUMATRA II/III/V/VI WS Lintas Prov/ Strategis Nasional Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Air Lainnya 3 BNPB / BPBD - Penanganan Darurat - Rehab/Rekon Kegiatan - Pembuatan Tanggul Pengendali Banjir - Normalisasi Sungai dan Perkuatan Tebing - Pengaturan Sempadan Sungai - Pemb & OP Checkdam, Groundsill - Pemb. & OP Embung - Pembuatan Tanggul Pengendali Banjir - Normalisasi Sungai dan Perkuatan Tebing - Pengaturan Sempadan Sungai - Pemb & OP Checkdam, Groundsill - Pemb. & OP Embung • Penyediaan Dana On Call / Tanggap Darurat untuk Semua Sektor • Penyediaan Bahan Banjiran / • Penyediaan Tenda Darurat,

3. STAKEHOLDERS TERKAIT DAN WADAH KOORDINASI
NO STAKEHOLDERS Kewenangan Program Kegiatan

4

DINAS ENERGI & SUMBER DAYA MINERAL PROVINSI

Penetapan pengelolaan lingkungan geologi, geologi teknik, kawasan rawan bencana dan kawasan lingkungan geologi di wilayah lintas kabupaten/kota

Penetapan pedoman, kriteria norma, standar, prosedur geologi, lingkungan geologi, geologi teknik, kebencanaan dan kawasan lingkungan geologi
- Inventarisasi

Menetapkan zona rawan bencana geologi terkait air sebagai acuan dalam penyusunan dan perubahan RTRW serta pengendalian pemanfaatan ruang pada setiap WS

5

DINAS KEHUTANAN PROVINSI/BPDAS

Penyelenggaraan inventarisasi hutan produksi, hutan lindung dan taman hutan raya dan skala DAS lintas kabupaten/kota

Hutan; Penunjukan Kawasan Hutan; Pengukuhan Kawasan Hutan; Penataan Batas dan Pemetaan Kawasan Hutan

Menyampaikan informasi tentang kerusakan lahan untuk masukan dalam penetapan kawasan rawan bencana banjir dan longsor

Serta Stakeholders lainnya terkait Pengendalian Daya Rusak Air (Matriks JAKNAS SDA)

HAL-HAL YG DIKOORDINASIKAN OLEH WADAH KOORDINASI
Tingkat Nasional (Dewan SDA Nas) Tingkat Prov/ Tingkat Kab (Dewan SDA) Tingkat WS (TKPSDA-WS)

• Jakstra pengelolaan SDA tk. Nas • Penetapan WS & Cekungan Air Tanah (CAT); • Sistem Informasi Hidrologi, Hidrogeologi, Hidrometeorolog i (H3) Tk Nas • Pola PSDA pada WS Lintas Negara; • Issu SDA yg berdampak Nas.

• Jakstra pengelolaan • SDA tk.Prov/Kab • • Pengusulan WS dan • CAT; • • Sistem Inform H3 Tk.Prov/Kab; •
• Program PSDA di Prov • / Kab • • Alokasi Sumber Daya • PSDA di Prov/Kab; • • Issu SDA yang berdampak thd • kepentingan • Prov/Kab

Pola & Renc Pengelolaan SDA WS;
Renc Alokasi Air ; Pedoman siaga banjir

Program Tahunan PSDA di WS;
Pola Operasi Waduk; Sharing biaya & manfaat Hulu Hilir;

Tarif penggunaan Air & Sumber Air;
Penetapan Sempadan Sungai Pengendalian pencemaran air Pengendalian erosi dan runoff Pengend dampak penambangan, dll 4

4. PENANGANAN YANG TELAH DILAKUKAN DAN UPAYA-UPAYA DALAM MEMINIMALISIR KERUGIAN DAMPAK BENCANA (BAIK FISIK / NON FISIK)
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pengendalian Banjir Batang Arau sepanjang 5,3 km dan Batang Jirak 4,1 km di bangun pada tahun 1992-1994 mengamankan areal seluas 1.173 ha; Pengendalian Banjir Banjir Kanal sepanjang 6,8 km, mengamankan areal seluas 210 ha; Pengendalian Banjir Batang Kuranji 6,4 km mengamankan areal seluas 605 ha; Pengendalian Banjir Batang Air Dingin 2,3 km mengamankan areal seluas 605 ha. Pembangunan groundsill / checkdam Batang Arau 2 unit di bangun pada tahun 1995 dan tahun 2009; Pembangunan groundsill / checkdam Batang Kuranji 2 unit di bangun pada tahun 2000-2003 Pengendalian Banjir Batang Kandis sepanjang 800 m di bangun pada tahun 2008 Pengendalian Banjir Batang Painan, Kab. Pesisir Selatan, sepanjang 2,5 km, mengamankan areal seluas 1.500 ha, dibangun pada tahun 2007-2010 Pengendalian Banjir Batang Naras, Kab. Padang Pariaman, sepanjang 1,5 km seluas 300 ha dibangun pada tahun 2007-2011 Pengendalian Banjir Batang Tiku, Kab. Agam, sepanjang 2,5 km mengamankan areal seluas 1.000 ha, dibangun pada tahun 2007-2011 Pengendalian Banjir Batang Gasan, Kab. Padang Pariaman, sepanjang 3 km, mengamankan areal seluas 1.500 ha, dibangun pada tahun 2007-2011 Pengendalian Banjir Batang Lembang, Kab. Solok sepanjang 1,5 km mengamankan areal seluas 1.500 ha, dibangun pada tahun 2007-2011 Pengendalian Banjir Batang Mangor sepanjang 1 km, mengamankan areal seluas 500 ha, dibangun pada tahun 2009-2011 Pengamanan Pantai Padang sepanjang 18 km, mengamankan areal permukiman seluas 6.000 ha Pengendalian Pantai Padang-Pariaman sepanjang 5 km, mengamankan areal permukiman seluas 500 ha. Pengamanan Pantai Sasak-Air Bangis, Kab. Pasaman Barat sepanjang 1 km, mengamankan areal seluas 500 ha. Pembangunan Checkdam Hulu Batang Suliti, Kab. Solok Selatan 1 unit dibangun pada tahun 1992 Pembangunan Checkdam Batang Lolo, Kab. Solok Selatan 1 unit dibangun pada tahun 2000. Pembangunan Checkdam Batang Malalo, Kab. Tanah Datar 3 unit dibangun pada tahun 2003 Pembangunan Checkdam Batang Lumpo, Kab. Pesisir Selatan, 1 unit, dibangun pada tahun 2008-2010 Pembangunan Checkdam Batang Kamumuan, Kab. Padang Pariaman, 1 unit dibangun pada tahun 2011 Pembangunan Checkam Batang Lakin, Kab. 50 Kota, 1 unit dibangun pada tahun 2011.

11.
12. 13.

14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22.

Gunung Marapi Gunung Singgalang Rencana Checkdam Bt.Jabur, Kab. Tan. Datar

Checkdam Bt. Lakin, Kab. 50 Kota

Rencana Checkdam Hulu Bt. Anai, Kab. Tan. Datar
No 1 Aspek Konservasi Pem. Checkdam dan Pembuatan Embung-Embung Penetapan Kawasan 2 Pengawasan Ilegal Loging Studi Konservasi Kawasan Hulu di 5 DAS Jangka Pendek 2009-2014 Studi Identifikasi, Perencanaan dan Pemb. 5 unit chekdam

Rencana Checkdam Bt. Bangkahan, Kab. Tan. Datar
Jangka Menengah 2009- 2019 Pemb. 5 unit check di 5 DAS rawan aliran debris Penanaman sejuta pohon di 5 DAS kritis Jangka Panjang 20092029 OP Chekdam dan Pemb. 10 unit checkdam dan embung Pemantauan Evaluasi Hasil Studi dan Penanaman Sejuta Pohon Instansi BWSS V, Dinas PSDA Prov. PU Kab/Kota,

Dinas Kehutanan, BPDAS

5. Upaya secara berkelanjutan
 Identifikasi awal pada daerah rentan  struktural dan non struktural  Memberikan pemahaman kewaspadaan, kesiapan dan penanganan secara cepat dan tepat bahwa fenomena daya rusak air seperti banjir bandang, bencana sedimen dan longsor adalah ancaman setiap saat (unexpectedly threats);  Pembelajaran Kebencanaan secara Usia Dini  Hal yang harus diperhatikan adalah kesiagaan, kecekatan dan tanggap kita terhadap fenomena alam yang terjadi  SDM(Perangkat Manusia di berbagai elemen yang terlibat diperkuat dengan pemahaman perilaku alam)  Salah satu strategi adalah pemantauan / Monitoring Real Time on Line (CCTV, BBM, SMS, Facebook, Twitter, dan Jaringan Sosial Lainnya) merupakan alat komunikasi yang efektif dan cepat dalam penyampaian berita dan informasi.

 Sungai Batang Lakin yang Merupakan Hulu Sungai dari WS Inderagiri-Akuaman berada pada di Kawasan Gunung Marapi Berbatasan Kab. 50 Kota – Agam dan Tanah Datar  Di selingkar Gunung Marapi banyak Sungai-Sungai yang Mengalir dan Sangat Rawan Terhadap Aliran Debris  Dampak Positif dari Bangunan Penahan Sedimen ini telah berfungsi dengan baik di saat banjir bandang membawa sedimen batu dan bongkahan kayu  Pelaksanaan kegiatan tahun 2010 - 2012  Foto Banjir tanggal 24 Februari 2012, telah teruji Bangunan Pengendali Sedimen ini

1. Kondisi Alam / Topografi Sumatera Barat  Rawan Gempa Daerah Patahan, Tsunami, Banjir, Gerakan Tanah / Longsor dan Gunung Api. 2. Kebijakan PSDA dan Peraturan Perundang-Undangan terkait Bencana Sedimen  tertuang dalam Jaknas SDA, Agenda RPJMD Prioritas 9 dan 10; Renstra Dinas PSDA 2011-2015, UU No. 7/2004, PP 42/2008; UU 24/2007 3. Stakeholders Terkait dan Wadah Koordinasi (Dewan SDA Prov. Sumbar, TKPSDA Wilayah Sungai) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Prov/Kab/Kota), Bappeda (Prov/Kab/Kota), Dinas PSDA Prov. Sumbar, Balai WSS V, Dinas Prasjaltarkim Sumbar, PU (Prov/Kab/Kota) serta ORNOP. 4. Penanganan yang telah dilakukan dan upaya-upaya dalam meminimalisir kerugian dampak bencana (baik fisik / non fisik). 5. Upaya secara berkelanjutan memberikan pemahaman kewaspadaan, kesiapan dan penanganan secara cepat dan tepat bahwa fenomena daya rusak air seperti banjir bandang, bencana sedimen dan longsor adalah ancaman setiap saat  Sistem Peringatan Dini Terpadu

KESIMPULAN

WASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Lampiran TOR dan susunan acara

Terms of Reference

Workshop Manajemen Bencana Banjir Bandang dan Cuaca Ekstrim di Sumatera Barat serta Upaya Penanggulangannya
Latar Belakang
Bencana banjir bandang telah beberapa kali melanda Provinsi Sumatera Barat, diantaranya yang melanda sebagian kota Padang pada tanggal 24 Juli 2012. Banjir bandang tersebut terjadi sejak pukul 18.30 WIB serta mengakibatkan kerugian yang ditaksir sebesar Rp. 271.365.000.000,-. Nilai kerugian tersebut didapat dari perhitungan pada kerusakan infrastruktur publik serta dampaknya pada 4.399 anggota masyarakat yang menjadi pengungsi. Kejadian banjir berlangsung cepat namun air telah surut pada sekitar pukul 03.54 WIB pagi harinya. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota Padang beserta perangkat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat dan BPBD Kota Padang segera melakukan koordinasi untuk memberi bantuan. Pos Komando (POSKO) Utama yang dipimpin BPBD Kota Padang segera dioperasikan sebagai pusat informasi dan distribusi bantuan. Dari sisi pandang humanitarian kejadian ini perlu dipelajari dan diambil hikmahnya agar korban dan dampak bencana dapat diperkecil. Lebih jauh lagi diharapkan segenap lapisan masyarakat dapat terlibat sepenuhnya untuk membuat masyarakat tersebut lebih siaga terhadap bencana. Oleh karena itu Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction (AIFDR) telah melakukan kajian perihal banjir bandang ini. Observasi lapangan dan kajian ini telah dilakukan oleh team AIFDR yakni oleh Konsultan Protokol Humanitarian dan Hubungan Internasional bersama Konsultan Analis Pengurangan Risiko Bencana Propinsi Sumatera Barat. Hasil dari kajian telah dimuat dalam Buku Laporan Pembelajaran Pasca Banjir Bandang 24 Juli 2012 Kota Padang. Dalam buku laporan tersebut dituliskan 4 butir rekomendasi. Rekomendasirekomendasi tersebut perlu dibahas bersama oleh para pemangku kepentingan di Kota Padang dan Sumatera Barat untuk mempertajam rekomendasi supaya dapat segera diaplikasikan di lapangan.

Kegiatan yang diusulkan
Untuk membuat kebijakan strategis serta komprehensif dalam manajemen bencana banjir badang dan cuaca ekstrim ini, BNPB Biro Hukum dan Kerjasama bersama BPBD Provinsi Sumatera Barat dan AIFDR berencana untuk mengadakan workshop.

Dalam workhop ini para pemangku kepentingan di Sumatera Barat diundang untuk memberi masukan. Tidak terbatas hanya pada BPBD Provinsi Sumatera Barat berserta Kota dan Kabupatennya, para pemangku kepentingan lainnya yakni instansi Kementerian dan Lembaga terkait yang diantaranya adalah Dinas Pekerjaan Umum dan BMKG akan diundang. Dan seperti tertulis dalam rekomendasi pada Buku Laporan maka unsur masyarakat lainnya seperti UN, NGO, forum PRB, dunia usaha serta media massa akan diundang.

Tujuan, Sasaran dan Rencana Tindak Lanjut
Tujuan:
BPBD Provinsi Sumatera Barat menghasilkan road map yang komprehensif dalam penanggulangan banjir bandang dan cuaca ekstrim dengan mengefektifkan upayaupaya sinergis dari seluruh sumber daya masyarakat.

Sasaran:
1. Peserta workshop mendapatkan pengetahuan komprehensif tentang bencana banjir bandang yang terjadi di Sumatera Barat. Pengetahuan ini juga meliputi penyebab banjir bandang serta faktor-faktor yang dapat menggandakan dampak buruk serta mekanisme penanggulangannya. 2. BPBD memiliki strategi penyampaian informasi siaga bencana yang lebih efektif yang memungkinkan peringatan dini dapat disikapi secara lebih proporsional. 3. BPBD memiliki rencana untuk pelaksanaan pendidikan siaga bencana yang berkesinambungan dengan mendapatkan komitmen dari seluruh elemen masyarakat. 4. Berdasarkan ke 3 hal diatas, BPBD dapat menginventarisir point penting bagi penyusunan road map untuk pengurangan dampak bencana banjir bandang dan cuaca ekstrim serta penanggulangannya.

Rencana Tindak lanjut:
Dalam 3 bulan mendatang BPBD Sumatera Barat dapat menghasilkan SOP penanganan banjir bandang dan cuaca ekstrim meliputi fase kesiapsiagaan, peringatan dini, emergency hingga langkah-langkah penanggulangannya. SOP ini juga akan memberi ruang peran sinergis dari seluruh lapisan masyarakat.

Peserta
Peserta kegiatan diperkirakan sebanyak 70 orang dengan perincian seperti dapat dilihat pada bagian akhir TOR ini.

Waktu dan tempat
Waktu: 11-12 Desember 2012. Tempat: Grand Inna Muara Hotel Jln. Gereja No. 34 Padang Sumatera Barat.

Agenda kegiatan
Agenda kegiatan dapat dilihat pada halaman berikut.

Pelaksana kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama BNPB Biro Hukum dan Kerjasama, BPBD Provinsi Sumatera Barat dan AIFDR. Kegiatan ini diusulkan oleh Capacity Development Support Program (CDSP) AIFDRBNPB:   Konsultan Protokol Humanitarian dan Hubungan Internasional AIFDR –BNPB: Arwin Soelaksono. Konsultan Analis Pengurangan Risiko Bencana Propinsi Sumatera Barat AIFDRBNPB: Wawan Budianto.

Agenda kegiatan
Hari 1, 11 Desember 2012 - Sasaran:

-

Penjelasan tujuan workshop Pemaparan hasil pembelajaran banjir bandang 24 Juli 2012 dan rekomendasi bagi BPBD Sumatera Barat. Peserta memahami potensi bencana banjir bandang dan yang diakibatkan cuaca ekstrim untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta menemukan cara penyampaian informasi waspada bencana yang paling efektif. Peserta menemukan titik temu antara unsur pemerintah dan dan seluruh komponen masyarakat untuk penggalangan potensi penanggulangan bencana. Seluruh peserta menggali informasi yang didapat serta membuat kesimpulan dan usulan yang dipresentasikan kepada seluruh peserta. Kegiatan Pendaftaran Pembukaan  Kata sambutan dan peresmian workshop Keynote speech Kesiapsiagaan masyarakat Sumatera Barat untuk memperkecil resiko bencana banjir bandang dan bencana yang diakibatkan cuaca ekstrim Paparan hasil pembelajaran banjir bandang 24 Juli 2012  Penjelasan rangkaian observasi hingga kesimpulan  Penekanan pemaparan pada butir rekomendasi yang sesuai dengan tujuan workshop ini.  Tanya jawab Rehat kopi Panel diskusi (1)  Urgensi peningkatan pemahaman potensi bencana banjir bandang dan cuaca ekstrim untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat.  Strategi penyampaian informasi waspada bencana yang efektif dan berimbang dengan pemanfaatan seluruh aspek media.  Tanya jawab Gubernur Provinsi Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi, MSc Kepala Pelaksana Sumatera Barat Ir. Yazid Fadhli, MM Team AIFDR BPBD Prov. Fasilitator Nara Sumber

Waktu 08.00 - 08.30 08:30 – 09:00 09:00 – 09:30

09:30 – 10:15

Konsultan Protokol Humanitarian dan Hubungan Int’l AIFDR – BNPB Arwin Soelaksono

10:15 - 10:30 10:30 – 11:30

Team AIFDR

1. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika 2. Ketua Jaringan Jurnalistik Siaga Bencana Jon Nedy Kambang

Hari 1, 11 Desember 2012 - Sasaran:

-

Penjelasan tujuan workshop Pemaparan hasil pembelajaran banjir bandang 24 Juli 2012 dan rekomendasi bagi BPBD Sumatera Barat. Peserta memahami potensi bencana banjir bandang dan yang diakibatkan cuaca ekstrim untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta menemukan cara penyampaian informasi waspada bencana yang paling efektif. Peserta menemukan titik temu antara unsur pemerintah dan dan seluruh komponen masyarakat untuk penggalangan potensi penanggulangan bencana. Seluruh peserta menggali informasi yang didapat serta membuat kesimpulan dan usulan yang dipresentasikan kepada seluruh peserta. Kegiatan Panel Diskusi (2)  Penataan daerah rentan dan daerah penyebab bencana banjir bandang sebagai upaya komprehensif mitigasi bencana.  Paparan perencanaan strategis daerah terdampak bencana dengan optimalisasi seluruh sumberdaya, untuk meminimalisasi akibat bencana di masa mendatang.  Tanya jawab. Makan siang Panel Diskusi (3)  Peningkatan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam kegiatan aktif yang mampu mereduksi akibat bencana dan memiliki sinergi dengan program PEMDA Propinsi Sumatera Barat.  Peningkatan upaya pendidikan siaga kebencanaan yang berkesinambungan dengan keterlibatan penuh seluruh pemangku kepentingan..  Tanya jawab. Rehat kopi Pembahasan kelompok (1)  Peserta dibagi 4 kelompok untuk masing-masing mendiskusikan pemaparan pada sesi panel diskusi sebelumnya  Penjelasan tujuan kegiatan diskusi kelompok. Kelompok-kelompok yang dibentuk adalah sebagai berikut: o Kelompok 1: Mitigasi dan efektivitas penyampaian informasi untuk meminimalisasi potensi korban bencana Team AIFDR 1. Kepala Biro Hukum dan Kerjasama BNPB R. Sugiharto 2. Ketua Sekber Pencinta Alam Sumatera Barat Rico Rahmad Fasilitator Team AIFDR Nara Sumber 1. Universitas Andalas 2. BAPPEDA Sumatera Barat

Waktu 11:30 – 12.30

12:30 – 13:30 13.30 – 14.30

14.30-14.45 14.45- 15.15

Setiap kelompok difasilitasi oleh 1 konsultan AIFDR

Hari 1, 11 Desember 2012 - Sasaran:

-

Penjelasan tujuan workshop Pemaparan hasil pembelajaran banjir bandang 24 Juli 2012 dan rekomendasi bagi BPBD Sumatera Barat. Peserta memahami potensi bencana banjir bandang dan yang diakibatkan cuaca ekstrim untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta menemukan cara penyampaian informasi waspada bencana yang paling efektif. Peserta menemukan titik temu antara unsur pemerintah dan dan seluruh komponen masyarakat untuk penggalangan potensi penanggulangan bencana. Seluruh peserta menggali informasi yang didapat serta membuat kesimpulan dan usulan yang dipresentasikan kepada seluruh peserta. Kegiatan o Kelompok 2: Optimalisasi seluruh sumber daya dalam tanggap darurat dan recovery road map daerah terdampak bencana. o Kelompok 3: Peningkatan jaringan dan kerjasama seluruh pemangku kepentingan dalam bidang mitigasi bencana. o Kelompok 4: Strategi pendidikan siaga bencana yang berkesinambungan dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan.  Setiap kelompok dipersiapkan untuk secara spesifik mendiskusikan rencana sesuai sasaran di atas. Presentasi kelompok (1)  Setiap kelompok mempresentasikan tanggapan dan usulan yang telah didiskusikan pada pembahasan kelompok  Point-point penting akan dicatat dan digunakan untuk perumusan usulan dan rekomendasi Rekap hari I Fasilitator Nara Sumber

Waktu

15:15 – 16:30

Team AIFDR

16.30 – 17.00

Team AIFDR

Konsultan Protokol Humanitarian dan Hubungan Int’l AIFDR – BNPB Arwin Soelaksono

Hari 2 , 12 Desember 2012, Sasaran: - Input timbal balik seluruh pemangku kepentingan. Elemen masyarakat melihat rencana dan kegiatan yang sudah direncanakan dan dijalankan BPBD dan PEMDA dalam mengatasi banjir bandang. - BPBD melihat potensi dari usulan yang dipresentasikan peserta workshop. - Merumuskan rekomendasi untuk pencegahan banjir bandang dan Rencana Tindak Lanjut Waktu Kegiatan Fasilitator Nara Sumber Rekap hari I 08.00 – 08.30 08.30 – 10.00 Panel Diskusi (4)  Pemaparan rencana pemerintah yang sedang berjalan dalam penanganan banjir bandang dalam hal strategi dan kebijakan.  Paparan pelaksanaan program pemerintah yang sedang berjalan dalam perbaikan fisik untuk mencegah / mengurangi dampak bencana.  Tanya jawab Rehat kopi Pembahasan kelompok (2)  Usulan / rekomendasi bagi BPBD dan seluruh pemangku kepentingan untuk penanganan banjir bandang dengan mensinergikan program-program yang sedang dijalankan pemerintah  Persiapan presentasi kelompok Makan Siang Presentasi kelompok (2)  Setiap kelompok mempresentasikan rekomendasi pencegahan banjir bandang secara spesifik sesuai dengan kelompoknya. Rehat kopi Perumusan dan Penutupan  BPBD memiliki point-point penting dalam pencegahan banjir bandang dan akibat cuaca ekstrim berdasarkan rekomendasi dari workshop.  BPBD membentuk team perumus yang akan bekerja selama 3 bulan untuk menghasilkan SOP penanganan banjir bandang dan cuaca ektrim.  Penutupan workshop Kepala Pelaksana BPBD Prov. Sumatera Barat Ir. Yazid Fadhli, MM Team AIFDR 1. Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang Drs. Dedi Henidal 2. Kepala PSDA Provinsi Sumatera Barat

10.00 – 10.15 10.00 – 12.30

Setiap kelompok difasilitasi oleh 1 konsultan AIFDR

12:30 – 13:30 13:30 – 15.30

Team AIFDR

15.30-15.45 15.45 – 16.30

Daftar undangan
Daftar undangan untuk mengikuti workshop ini adalah :

A. Unsur BPBD Provinsi dan Kabupaten/Kota
1. Kepala 2. Kepala 3. Kepala 4. Kepala 5. Kepala 6. Kepala 7. Kepala 8. Kepala 9. Kepala 10.Kepala 11.Kepala 12.Kepala 13.Kepala 14.Kepala 15.Kepala 16.Kepala Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD BPBD Sumatera Barat Kota Padang Kab Pesisir Selatan Kab Padang Pariaman Kab Agam Kab Pasaman Kab Pasaman Barat Kab Lima Puluh Kota Kab Tanah Datar Kota Padang Panjang Kota Sawahlunto Kota Solok Kab Solok Selatan Kab Sijunjung Kab Damasraya Kab Payakumbuh

B. Unsur SKPD dan instasi terkait di Provinsi Sumatera Barat
1. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatera Barat 2. Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Barat 3. Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatera Barat 4. Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat 5. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat 6. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Barat 7. Komandan KOREM 032 Sumatera Barat 8. DANLANUD TNI AU Tabing Provinsi Sumatera Barat 9. DANLANTAMAL TNI AL Provinsi Sumatera Barat 10.KAPOLDA Provinsi Sumatera Barat 11.Kepala BASARNAS Provinsi Sumatera Barat 12.Kepala Markas PMI Sumatera Barat 13.Kepala Markas PMI Kota Padang 14.Kepala Pemadam Kebakaran 15.Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

C. Unsur NGO dan UN
1. 2. 3. 4. Mercy Corps, Emergency Capacity Building (ECB) Consortium, OXFAM, World Vision Indonesia,

5. UNDP, 6. WFP, 7. UNICEF, 8. UNFPA, 9. OCHA, 10.KOGAMI, 11.Jemari Sakato 12.Forum PRB 13.PKPU 14.Sekber Pecinta Alam Sumatera Barat 15.WALHI 16.READY 17.Humanitarian Forum Indonesia 18.Plan International 19.Habitat for Humanity Indonesia

D. Unsur jurnalis
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jaringan Jurnalistik Siaga Bencana Kompas TVRI RRI Trans 7 Classy FM Aliansi Jurnalis Independen

E. Unsur CSR
1. Semen Padang 2. Telkomsel Peduli

F. Narasumber
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kepala Biro Hukum dan Kerjasama BNPB Kepala BPBD Sumatera Barat Kepala BAPPEDA Sumatera Barat Kepala PSDA Provinsi Sumatera Barat Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Rektor Universitas Andalas Ketua Sekber Pencinta Alam Sumatera Barat Ketua Jaringan Jurnalistik Siaga Bencana AIFDR

Lampiran Daftar hadir

Arwin Soelaksono
Konsultan Protokol Humanitarian dan Hubungan Internasional AIFDR-BNPB

arwinsoelaksono@gmail.com www.humanitarian-development.org

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->