1

I.

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga Nama Responden Alamat lengkap Bentuk Keluarga

: Tn. D : Sdr. F : Ds. Karang Tengah RT1 RW4 Kembaran : Extended family

Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah

No Nama 1 Ny. K

Status Nenek

L/P Usia Pendidikan P 60 SD

Pekerjaan Ibu Rumah tangga

Ket

2. 3

Tn. D Ny. S

KK (paman) Bibi

L P

45 27

SD 3 SMA

Buruh Pasir Karyawan Pabrik

4

Nn. Ku

Bibi

P

18

SMP

Karyawan Pabrik

5

F

Keponakan

P

21

SMA

Karyawan Pabrik

Responden

6

L

Keponakan, anak Ny. S

P

2,5

-

-

7

Tn. A

Suami Ny. S

L

28

SMP

Supir

Kesimpulan : Keluarga Sdr. F merupakan keluarga besar atau extended family.

2

II. STATUS PENDERITA

A. PENDAHULUAN Laporan ini disusun berdasarkan kasus yang diambil dari seorang perempuan berusia 21 tahun yang menjalani pengobatan di Puskesmas 1 Sokaraja.

B. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis kelamin Status Agama Suku Kewarganegaraan Pekerjaan Pendidikan Penghasilan/bulan Alamat :F : 21 tahun : Perempuan : Belum menikah : Islam : Jawa : Indonesia : Karyawan Pabrik : SMA : ± Rp 750.000,00 : Desa Karang Tengah Rt 01 Rw 04 Kembaran Tanggal periksa A. ANAMNESIS 1. Keluhan Utama : Panas : 1 November 2012

2. Riwayat Penyakit Sekarang : Onset : 4 hari yang lalu sebelum masuk puskesmas Kuantitas Kualitas Faktor memperberat Yang memperingan Gejala penyerta : semakin lama semakin memberat : Mengganggu aktivitas : Jika beraktivitas : Obat-obatan dari dokter : mual, nyeri ulu hati, kembung, lemas, pusing, tidak nafsu makan

3

3. Riwayat Penyakit Dahulu a. Riwayat penyakit yang sama : disangkal b. Riwayat penyakit jantung c. Riwayat diabetes mellitus d. Riwayat hipertensi e. Riwayat mondok : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

f. Riwayat alergi obat/makanan : telur g. Riwayat pengobatan h. Riwayat trauma 4. Riwayat Penyakit Keluarga a. Keluhan yang sama dengan anggota keluarga lain : disangkal 5. Riwayat Sosial dan Exposure a. Community : Rumah pasien berada di daerah pemukiman yang padat penduduk dengan jarak rumah yang satu dengan rumah yang lainnya berdekatan. Pasien tinggal tidak bersama dengan kedua orang tuanya, melainkan dengan keluarga besarnya, yaitu nenek dari bapak, paman dari bapak, kedua bibi dari bapak, dan sepupunya. b. Home : Rumah keluarga Sdr. F terdiri dari 5 ruangan. Terdiri dari 3 kamar tidur berukuran 2 m x 2 m , 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga berukuran 4 m x 3 m, 1 dapur berukuran 5 m x 2 m. Sumber air diambil dari sumur yang terletak dibelakang rumah. Jarak septik tank dengan sumber air ± 5 m. Tidak semua ruangan terdapat ventilasi. Di ruang tamu terdapat 3 jendela , ruang keluarga terdapat 1 jendela, kamar tidur terdapat 1 ventilasi, dan dapur tidak terdapat ventilasi sehingga secara umum rumah ini belum dikatakan sehat. c. Hobby d. Occupational : Menonton tv : Karyawan pabrik : pengobatan sakit gigi : disangkal

4

e. Personal habit : Pasien memiliki kebiasaan makan makanan pedas dan asam serta jajan di pinggir jalan dan memanjangkan kuku. f. Diet g. Drug 6. Riwayat Gizi : Pasien dalam kesehariannya tinggal bersama keluarganya. Pasien makan sebanyak 2-3 kali sehari. Terkadang makan hasil masakan nenek atau membeli makan diluar. Menu makanan yang biasa dikonsumsi adalah nasi, lauk pauk seperti tahu, tempe, telur dan sayur-sayuran. 7. Riwayat Psikologi : Pasien termasuk orang agak pendiam. Pasien relatif lebih sering menyimpan masalahnya sendiri. Namun, untuk mengantisipasinya, pasien terkadang menceritakan masalah pribadinya teman dekatnya. 8. Riwayat Ekonomi : Pasien berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah ke bawah. Pekerjaan nenek sebagai ibu rumah tangga, pekerjaan pamannya sebagai buruh angkut pasir dan supir, pekerjaan bibinya sebagai karyawan pabrik sama seperti pasien. 9. Riwayat Demografi : Hubungan antara pasien dengan keluarganya dapat dikatakan kurang harmonis. Hal tersebut dapat terlihat dari kurang tebukanya pasien terhadap keluarganya. 10. Riwayat Sosial : Penyakit yang diderita pasien dirasakan mengganggu aktivitas karena pasien menjadi tidak bisa bekerja dan hanya ingin : Pasien suka makanan yang asam dan pedas : Obat dari dokter gigi

berbaring/istirahat. Pasien kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. 11. Review of System : a. Keluhan Utama b. Kulit c. Kepala : Pusing : Warna kuning langsat : Simetris, ukuran normal

nyeri perut bagian atas (+). Tekanan darah b. Nadi c. : buang air kecil normal : Atas Bawah B. dan status gizi baik. muntah (-). Sariawan (-). batuk (-) : nyeri dada (-) : mual (+). luka (-) bengkak (-). Ekstremitas : lemas (+). PEMERIKSAAN FISIK 1. IMT Kesan status gizi 4. luka (-) . Tanda Vital a. Hidung : Simetris. regular : 20 x /menit : 37O C : : bengkak (-). TB c. mengi (-). thypoid tongue (+) h. Keadaan Umum Tampak lemah. Sistem Genitourinaria n. Pernafasan j. kesadaran compos mentis. Mata : Edema palpebra (-/-). 2. RR d. BB b. Status gizi a. Mulut : Pendengaran jelas. Telinga g. mata cekung e. BAB (+) normal. mulut kering (+).5 d. discharge (-) f. konjungtiva anemis (+/+). Tenggorokan i. turgor kulit kembali cepat (< 1 detik). Suhu 3. Sistem Gastrointestinal : sakit menelan (-) : sesak nafas (-). nafsu makan menurun (+) l. nafas cuping hidung (-). : 120/80 mmHg : 78 x/menit. Kulit : 40 kg : 155 cm : 19. kembung (+). Sistem Kardiovaskuler k. (-) sklera ikterik (-/-). Sistem Muskuloskeletal m.55 kg/m2 : baik : sianosis (-). keluar cairan (-) : Bibir pucat (+).

bising (-). sikatrik retraksi tidak ada. venektasi tidak ada. : bentuk kepala normal. 7. pusing (+) Mata : edema palpebra (-/-). Tenggorokan : hiperemis (-) 9. kifosis (-). air mata (-). Leher 10. thypoid tongue (+) 8. Thoraks Cor Inspeksi : bentuk dada normal simetris. tidak ada Palpasi : Simetris. ketinggalan gerak . Abdomen Inspeksi : skoliosis (-). retraksi (-) Batas bawah kanan : SIC IV LPS dextra Pulmo Inspeksi : : Dinding dada simetris pada saat statis dan dinamis. Hidung Telinga : bentuk normal. benjolan (-). sekret (-/-) ikterik (-/-). thrill (-) : Batas atas kiri Batas atas kanan Batas bawah kiri : SIC II LMC sinsitra : SIC II LPS dextra : SIC V LMC sinistra : deviasi trakea (-). simetris. Punggung 12. benjolan (-). ketinggalan gerak tidak ada Perkusi Auskultasi : Sonor kedua lapang paru : Suara dasar: vesikuler kanan dan kiri Suara tambahan tidak didapatkan 11. lesi (-) Auskultasi : bunyi jantung normal (S1>S2). konjungtiva anemis (+/+). denyut jantung reguler Palpasi Perkusi : nyeri tekan (-). sekret (-/-) Mulut : bibir pucat (+). mulut kering (+). : napas cuping hidung (-). jejas (-). pembesaran kelenjar limfe (-) : bentuk simetris normal. lordosis (-) : : Perut datar. sklera mata cekung (-/-) 6. vokal fremitus kanan sama dengan kiri.6 ikterus (-) Kepala 5.

7 tidak ada. kultur darah pada minggu pertama. pemeriksaan darah tepi tebal maupun tipis. defans muskular tidak ada. Leukosit. jejas (-/-). nyeri ketok costovertebra (-) : tidak dilakukan : tidak dilakukan : : Edema (-/-). tidak tampak massa. tidak teraba massa. akral dingin (-/-) : Edema (-/-). jejas (-/-). ballotemen tidak ada. Pemeriksaan Neurologik Fungsi Luhur Fungsi Vegetatif Fungsi Sensorik Fungsi motorik K 5555 5555 5555 5555 : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : T N N N N RF + + + + RP - C. Anorektal 15. Trombosit. Auskultasi Palpasi : Terdengar suara bising usus normal : hepar dan lien tidak teraba. PEMERIKSAAN PENUNJANG Uji Widal : S. Genitalia 14. nyeri tekan epigastrium (+). akral dingin (-/-) 16. atau urin pada minggu ketiga. D. buli-buli tidak teraba. Perkusi 13. Ekstremitas Superior Inferior : timpani. RESUME Penderita F usia 21 tahun datang ke Puskesmas 1 Sokaraja dengan . typhi H 1/160 1/160 Disarankan untuk melakukan pemeriksaan penunjang: Laboratorium (darah lengkap) seperti Hb. feses pada minggu kedua. typhi O S.

Kondisi psikologi keluarga kurang baik. Status ekonomi pasien termasuk kelas menengah ke bawah. Concern : pasien mengaku merasa lemas dan pusing dan hanya mampu berbaring/istirahat. tidak nafsu makan. Pasien tinggal dalam satu rumah bersama nenek. Sehari sebelum masuk puskesmas. pasien pingsan sepulang dari kerja. seperti jarak septic tank dengan sumber air minum hanya ± 5 m. Kedaan ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari terutama dalam pekerjannya di pabrik. dan perut kembung. perut sakit dan kembung. . Pasien juga mempunyai kebiasaan makan makanan pedas dan asam serta senang memanjangkan kuku. pusing. kedua bibi. Anxiety : Pasien takut akan kondisi kesehatannya. Aspek Personal Pasien mengeluh panas yang hilang timbul dan sudah berlangsung selama 4 hari.8 keluhan panas sudah 4 hari sebelum masuk puskesmas dan disertai mual. sehingga tidak bisa beraktivitas (produktivitas menurun). dan sepupunya. lemas. E. pusing. Expectacy : pasien mempunyai harapan segera sembuh dari penyakitnya. Pasien merasakan keluhan setelah mengkonsumsi makanan pedas. mual. DIAGNOSTIK HOLISTIK 1. Diagnosis pasien adalah demam tifoid. nyeri ulu hati. paman. Infeki Saluran Kemih Gejala klinis : demam. Idea : pasien berpendapat bahwa penyakit yang dialaminya dapat segera disembuhkan. Awalnya demam hanya gelemeng tetapi lama kelamaan semakin memberat dan dirasakan terutama pada sore sampai malam hari. 2. pencahayaan kurang. lemas. Rumah pasien kurang memenuhi kriteria rumah sehat. ventilasi kurang. Aspek Klinis Diagnosis : Suspek demam tifoid Diff diagnosis : dengue fever.

yaitu ± 5 meter. c. F adalah skala 2. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu a.9 nafsu makan menurun 3. F Berdasarkan kasus. hanya . Alat memasak di rumah masih menggunakan tungku kayu bakar. bekerja seperti sebelum sakit (tidak di dalam dan di luar ada kesulitan) Skala 2 rumah (mandiri) mengurangi kerja Mampu melakukan pekerjaan Mulai ringan sehari-hari di dalam aktivitas dan di luar rumah (sedikit (pekerjaan kantor) kesulitan) Skala 3 Mampu melakuka perawatan Perawatan diri masih diri. tetapi mampu melakukan bisa dilakukan. 5. b. Sumber air yang digunakan di rumah pasien berdekatan dengan septik tank. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial Skala fungsi Sdr. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu a. Kebiasaan pasien yang senang memanjangkan kuku menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. Pendidikan anggota keluarga lain tergolong rendah. Kemampuan dalam Skala Fungsional Akltivitas Menjalankan Fungsi menjalani kehidupan untuk tidak tergantung pada orang lain Skala 1 Mampu melakukan pekerjaan Perawatan diri. b. skala fungsional Sdr. 4. Kebiasaan pasien senang makan makanan yang pedas dan asam serta jajan di pinggir jalan. yaitu SD dan SMP.

tidak mampu berbuat pelaku rawat apa-apa. berbaring pasif pada F. Non-medikamentosa 1) Istirahat total . hitung jenis leukosit biasanya didapatkan hasil neutropenia dengan limfositosis relatif. Tidak melakukan melakukan kerja. Personal Care a. aktivitas namun sebagian besar tergantung pekerjaan hanya duduk dan keluangan berbaring (banyak kesulitan) Skala 5 Perwatan diri dilakukan orang Tergantung lain. kultur bakteriologis darah pada minggu pertama. dan urin pada minggu ketiga. trombosit dapat noemal atau menurun. feses pada minggu kedua. LED meningkat. kimia klinik seperti fungsi enzim hati (AST dan ALT) dimana biasanya terjadi peningkatan. PENATALAKSANAAN 1. pada masih mampu merawat diri. Medikamentosa 1) Infus RL 250 cc 2) Tiamfenikol 3x1 3) Paracetamol 3x1 4) Antacyd syrup 3x2 cth c. tes immunoglobulin seperti PCR dan ELISA.10 pekerjaan ringan (beberapa mampu kesulitan) Skala 4 Dalam keadaan kerja ringan tertentu. b. Initial Plan Pemeriksaan Penunjang : Laboratorium (darah lengkap) seperti hemoglobin yang biasanya didapatkan hasil normal atau menurun jika ada penyulit. leukosit biasanya leukopeni tetapi tidak menutup kemungkinan normal atau bahkan meningkat.

dan prognosis. serta tidak nafsu makan O : Keadaan umum tampak lemah. penyebab. Local Community Care Memberikan edukasi mengenai penyakit demam tifoid dan cara mengatasi/mencegahnya kepada masyarakat sekitar. terutama dukungan moral. Adanya dukungan moral dari keluarga dalam pengendalian penyakit pasien. 1 November 2012 S : panas. komplikasi. 3. nyeri ulu hati. air mata (+). faktor risiko. penatalaksanaan. turgor kulit kembali cepat (<1 detik). mulai dari definisi. KIE (Konseling.11 2) Konsumsi makanan rendah serat 3) Kurangi aktifitas fisik yang berat. FOLLOW UP Kamis. 2. nyeri tekan epigastrium (+). Memberikan edukasi pada keluarga untuk ikut mendukung dalam kontrol dan pengobatan pasien. G. 4) Diet bubur halus 5) Jaga higeinitas 6) Jaga daya tahan tubuh. mulut kering (+). reguler Suhu : 37° C A : Suspek Demam Tifoid . Family Care a. tidak tampak haus. lidah kotor (+) VS : Tensi Nadi : 120/80 mmHg : 78 x/mnt RR : 20 x/mnt. perut kembung dan sakit. d. b. mual. Informasi. patofisiologi. mata cekung (-). badan terasa lemas. 2) Memberikan langkah-langkah dalam mencegah terjadinya demam tifoid. dan Edukasi) 1) Memberikan informasi mengenai penyakit demam tifoid.

sudah tidak demam O : Keadaan umum tampak lemah. sudah tidak mual. penderita dianjurkan istirahat cukup. dan sakit perut O : Keadaan umum tampak baik. reguler Suhu : 36° C Sabtu. lemas. nyeri tekan epigastrium (+). RR : 16 x/mnt. air mata (+). VS : Tensi : 100/70 mmHg Nadi : 88 x/mnt A : Suspek Demam Tifoid P : Habiskan obat yang diberikan. nyeri tekan epigastrium (+).12 P : IVFD RL 20 tetes per menit Tiamfenikol 500 mg 3x1 Paracetamol 500 mg 3x1 Antacyd syrup 3x2 cth Jum’at. 2 November 2012 S : pusing. VS : Tensi : 100/90 mmHg Nadi : 74 x/mnt A : Suspek Demam Tifoid P : Habiskan obat yang diberikan. tidak tampak haus. reguler Suhu : 36° C Kesimpulan : . 3 November 2012 S : pusing saat berjalan. mata cekung (-). mata cekung (-). turgor kulit kembali cepat (<1 detik). RR : 16 x/mnt. sudah tidak mual. penderita dianjurkan istirahat cukup. hindari telat makan dan makanan yang dapat memicu seperti makanan pedas dan asam. mulut kering. air mata (+). turgor kulit kembali cepat (<1 detik). mulut kering. dan perut masih sakit. lemas. demam. tidak tampak haus. hindari telat makan dan makanan yang dapat memicu seperti makanan pedas dan asam.

Antacyd syrup 3x2 cth 2 11 November 2012 Sudah tidak ada keluhan 110/70 80x/m 20x/m - Sembuh III. Tiamfenikol 500 mg 3x1 2. FLOW SHEET Nama : Sdr. IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA . Paracetamol 500 mg 3x1 3. 5 November 2012 Tgl Problem Sakit perut dan lemas T mmHg 110/60 N x/1’ 74x/m R x/1’ Planning Target Rasa mual hilang 20x/m 1.13 Dari follow up yang telah dilakukan pada 1 November 2012. H. 2 November 2012. dan 3 November 2012 dapat disimpulkan pasien mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik dan keluhan juga sudah berkurang. F Diagnosis : Suspek Demam Tifoid Flow Sheet No 1.

dan paman ipar suami dari Ny. S (2. F kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. tetapi kepada teman terdekatnya. Fungsi Sosial Sdr. Sdr L yang merupakan anak dari Ny. Sdr. 21 tahun). Oleh karena itu. 4. 2. bibi dari bapak (Nn. Biaya . hanya saja kepribadian pasien yang tertutup dan pendiam sehingga jika ada permasalahan jarang menceritakan kepada keluarganya. hanya pada hari minggu semuanya dapat berkumpul. D yaitu sekitar Rp 500. FUNGSI HOLISTIK 1. F jarang mengikuti perkumpulan dengan tetangga atau berorganisasi di lingkungan sekitarnya. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan Penghasilan keluarga berasal dari penghasilan Tn. Pasien dan anggota keluarga lainnya jarang bertemu karena sibuk bekerja sampai malam. F atau anggota keluarga mengalami sakit. 45 tahun). A.. Fungsi Biologis Keluarga terdiri dari penderita (Sdr. pasien berseta anggota keluarga lainnya ikut membantu keuangan keluarga. D sebagai kepala keluarga. F merupakan keluarga yang cukup mengerti tentang kesehatan. S (Tn.S. D. Saat Sdr. 60 tahun).00 sebulan. nenek (Ny. pasien langsung memeriksakan keadaannya ke dokter atau ke Puskesmas. Sdr. Keluarga termasuk keluarga besar (extended family) dimana Tn. Keluarga Sdr.000. F. Kedua orang tua Sdr. bibi dari bapak (Ny. 3. Karena kesibukannya dalam bekerja. Ku. 27 tahun). 28 tahun).5 tahun). F tinggal di Banjarnegara bersama adiknya. F tinggal bersama neneknya sejak selesai sekolah. 18 tahun). Penghasilan ini tidak stabil dan dirasa masih kurang mencukupi untuk keperluan hidup sehari-hari.14 A. K. paman dari bapak (Tn. Fungsi Psikologis Hubungan pasien dan keluarga secara umum terjalin cukup baik.

A. ADAPTATION Dalam menghadapi masalah selama ini penderita selalu jarang menceritakannya kepada keluarga. Nilai rata-rata 1-5 = jelek. setelah lulus dari sekolah. Kesimpulan : Sdr. AFFECTION . meskipun waktu kebersamaan dirasa singkat. Hubungan kekeluargaan cukup baik tetapi Sdr. 8-10 = baik.P.G. Jika penderita menghadapi suatu masalah selalu menceritakan kepada teman dekatnya. F merupakan seorang karyawan pabrik yang bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam setiap hari senin sampai sabtu.P. hampir tidak pernah = 0. FUNGSI FISIOLOGIS (A.G. GROWTH Pasien merasa bersyukur masih dapat mengurusi kebutuhan rumah tangganya. 5-7 = sedang. F berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.R SCORE dengan nilai hampir selalu = 2. B.R SCORE) Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A. Sdr.15 pengobatan pasien dan keluarga di Puskesmas menggunakan biaya umum karena tidak memiliki kartu Jamkesmas. A.A. F kurang terbuka kepada keluarga jika mempunyai masalah. Namun. F tinggal bersama neneknya sejak 2 tahun terakhir.R SCORE disini akan dilakukan pada masing-masing anggota keluarga dan kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi fisiologis keluarga secara keseluruhan. kadang = 1.G.A.P. Penghasilan kepala keluarga dirasakan masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sdr. PARTNERSHIP Komunikasi terjalin satu sama lain. pada hari minggu keluarga semuanya berkumpul.

Hampir tidak selalu kadang Ö pernah masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih Ö Ö sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan.P. dan sepupunya berjalan dengan baik dan harmonis. RESOLVE Rasa kasih sayang yang diberikan kepada pasien cukup.G.P.R Sdr. bibi.A.Hampir tidak selalu kadang pernah Ö . perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Total poin = 7 A. baik dari keluarga besar maupun dari saudara-saudara.16 Pasien merasa hubungan kasih sayang dan interaksi dengan nenek.F Terhadap Keluarga A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi Ö Hampir Kadang.G. Nilai APGAR dari pasien A. paman.A. K Terhadap Keluarga Hampir Kadang.R Ny.

D Terhadap Keluarga A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi Hampir Kadang.17 A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Ö P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi Ö masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih Ö Ö sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan. perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Total Poin =9 Ö A.Hampir tidak selalu Ö kadang pernah Ö masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan Ö .G.A.P.R Tn.

Hampir tidak selalu Ö kadang pernah Ö masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih Ö Ö sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan.R Ny. perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu Ö .G.P.A. S Terhadap Keluarga A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi Hampir Kadang.18 kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih Ö sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan. perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Total Poin= 6 Ö A.

R Nn.G.A.P.P.Hampir tidak selalu Ö kadang pernah Ö masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih Ö Ö sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan.Hampir tidak selalu kadang Ö pernah Ö .R Tn. perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Total poin= 7 Ö A. A Terhadap Keluarga A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga Hampir Kadang. Ku Terhadap Keluarga A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi Hampir Kadang.19 bersama-sama Total poin= 9 A.A.G.

G.P. Ö C.R.R SCORE keluarga pasien = (7+9+6+9+7+6)/6 = 7.P.C.A.R dari keluarga pasien adalah 7.R. sehingga rata-rata A.G.E. FUNGSI PATOLOGIS (S.C.G.E.P. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien dalam keadaan sedang.E.20 saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih Ö Ö sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan. perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Total poin= 6 A.A.3 Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga pasien sedang Secara keseluruhan total poin dari A.3. F dinilai dengan menggunakan S.M) Fungsi patologis dari keluarga Sdr.R keluarga pasien adalah 44.M sebagai berikut : Nilai SCREEM dari keluarga pasien SUMBER PATOLOGI KET .E.A.

tata krama dan kesopanan. pendapatan hanya cukup untuk memenuhi keburuhan primer kebutuhan sekunder masih belum bisa terpenuhi. F masih menganut tradisi jawa. c) Religion (-) artinya keluarga Sdr. hal ini terbukti keluarga Sdr. Economic Ekonomi keluarga ini tergolong rendah. d) Economic (+) artinya ekonomi keluarga pasien masih tergolong . hal ini dapat dilihat dari penderita dan keluarga yang rutin menjalankan sholat lima waktu. b) Cultural (-) artinya keluarga Sdr. F sudah memiliki pemahaman agama yang cukup. Keterangan : a) Social (+) artinya keluarga Sdr. Pendidikan dan pengetahuan penderita kurang. hal ini dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam keluarga maupun di lingkungan. + Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik. partisipasi mereka dalam kegiatan kemasyarakatan kurang aktif. hal tersebut dapat dilihat dari pemeliharaan shalat 5 waktu. Religion Pemahaman agama cukup. Penerapan ajaran juga baik. Education Pendidikan anggota keluarga kurang memadai. Keluarga Sdr. tata krama dan kesopanan. F belum berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. F masih menggunakan bahasa jawa. Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga menggunakan Medical pelayanan puskesmas dan tidak menggunakan kartu + + - Jamkesmas/ASKIN untuk berobat. banyak tradisi budaya yang masih diikuti.21 Social Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga dengan saudara. Kemampuan untuk memperoleh dan memiliki fasilitas pendidikan seperti buku dan koran terbatas. F masih aktif dalam pergaulan seharihari. - Menggunakan bahasa jawa.

e) Education (+) artinya keluarga Sdr. f) Medical (-) artinya dalam mencari pelayanan kesehatan pasien sudah baik. tidak berobat ke dukun atau yang semisalnya.S Nn. GENOGRAM Alamat : Karang Tengah RT/RW : 01/04 Kec : Kembaran Kab : Banyumas Prop : Jawa Tengah Bentuk Keluarga : Extended Family Genogram Keluarga Sdr. F fungsi patologis yang positif adalah Fungsi Sosial. namun untuk memenuhi kebutuhan primer sudah bisa tercukupi. dan Fungsi Edukasi. Kesimpulan : Dalam keluarga Sdr. Fungsi Ekonomi. F Ny. F kurang memiliki pengetahuan yang cukup.22 rendah. khususnya mengenai permsalahan kesehatan dan pentingnya pendidikan. D. yaitu dengan langsung mengunjungi Puskesmas terdekat. Ku .

F . POLA INTERAKSI KELUARGA Pola Interaksi Keluarga Sdr.23 Keterangan : : Pasien : Laki-laki : Perempuan : Tinggal dalam satu rumah E.

F dinilai cukup harmonis dan saling mendukung. 5 November 2012 Keterangan : hubungan baik Kesimpulan : Hubungan antara anggota keluarga di keluarga Sdr. D 45 tahun Sdr F 21 tahun Nn. K 60 tahun Tn.24 Ny.5 tahun Ny S 27 tahun Tn A 28 tahun Sumber : Data Primer. Ku 18 tahun Sdr L 2. .

keluarga ini termasuk keluarga ekonomi bawah. Faktor Perilaku Pasien mulai menderita demam 4 hari sebelum masuk Puskesmas. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN A. serta pengetahuan yang ala kadarnya di bidang kesehatan. dikeluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit yang sama. Faktor Non Perilaku Dari segi ekonomi. Keluarga ini menyadari arti penting kesehatan. 2.25 IV. terutama perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Keluarga ini menyadari pentingnya kesehatan karena apabila mereka sakit. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan ekonomi pasien dan keluarga. Sebelum demam. D selaku kepala keluarga yang bekerja sebagai buruh angkut pasir tetapi karena dirasakan kurang maka anggota keluarga lain pun membantu untuk . namun belum memiliki standar hidup sehat. pasien mengkonsumsi makanan pedas. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga 1. Rumah pasien memiliki jamban sendiri hanya jarak antara septic tank dengan sumber air berjarak ± 5 meter. serta senang memanjangkan kuku. Kebutuhan ekonomi keluarga sehari-hari dipenuhi oleh Tn. Perilaku di dalam keluarga ini sebagian besar dipengaruhi oleh tingkat pendidikan pada anggota keluarga. Keluarga ini meyakini bahwa sakitnya disebabkan oleh kebiasaan telat makan. Pasien tinggal di daerah pedesaan dengan kepadatan penduduk yang padat. Pasien mempunyai kebiasaan makan makanan pedas dan asam. Makanan yang dikonsumsi setiap harinya terkadang membeli di depan tempat kerjanya yang berada di pinggir jalan tanpa memperhatikan kebersihan makanan tersebut. mereka menjadi tidak dapat bekerja lagi sehingga otomatis pendapatan keluarga akan berkurang. Saat ini. Pasien juga memiliki sifat tertutup dan cenderung menyimpan masalahnya sendiri atau bercerita kepada temannya.

Kemudian. Selain itu jarak antara rumah pasien dengan pelayanan kesehatan terdekat cukup jauh. Waktu yang ditempuh untuk ke Puskesmas sekitar 30 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. dapur di rumah pasien menggunakan tungku kayu bakar tanpa cerobong asap. Jarak septic tank dengan sumber air tidak memenuhi kriteria sehat.26 memenuhi kebutuhan . . Rumah yang dihuni keluarga ini tidak termasuk rumah sehat dikarenakan sirkulasi udara kurang yang menyebabkan udara di dalam rumah lembab. yaitu ± 5 meter. Orang tua pasien tidak mengetahui penyakit apa yang diderita oleh pasien dan apa yang harus dilakukan pada saat pasien sakit. Rumah pasien berada di daerah pegunungan. Hal ini menyebabkan pengetahuan dan kesadaran dari keluarga pasien mengenai kesehatan menjadi kurang. Anggota keluarga dalam satu rumah termasuk pada pendidikan rendah yaitu SD-SMP.

sumber air dekat dengan septic tank Sikap: Kesadaran pasien akan kesehatan kurang Pelayanan Kesehatan: Keluarga Sdr. F Jika sakit berobat ke dokter dan puskesmas tetapi jarak pelayanan kesehatan dengan rumah cukup jauh Tindakan: Kebiasaan pasien yang senang memanjangkan kuku serta makan makanan pedas dan asam serta tidak memperhatikan kebersihan makanan tersebut Komunikasi: Pasien adalah anak yang tertutup. Pasien jarang bercerita mengenai masalahnya kepada keluarga : Faktor Perilaku : Faktor Non Perilaku .27 Faktor Perilaku dan Non Perilaku Pengetahuan : Keluarga kurang mengetahui penyakit penderita Lingkungan: Lingkungan rumah lembab.

1 kamar mandi. Rumah ini mempunyai 1 lantai dan terdiri dari ruang tamu. 3 kamar tidur. Jendela rumah ditutup dengan kaca dan menggunakan gorden. Atap rumah memakai bambu dan bagian dalam. Memiliki pekarangan rumah. Rumah pasien dekat dengan rumah tetangganya. dapur tempat makan. Gambaran Lingkungan Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 7x5 m2. Denah Rumah wc Tempat makan Kolam ikan dapur Kamar 3 Ruang keluarga+tv Kamar 2 sumur Ruang tamu Kamar 1 Septic tank PEKARANGAN PEKARANGAN . Identifikasi Lingkungan Rumah 1. 2.28 B.

F jauh dari tempat pelayanan kesehatan Ekonomi keluarga menengah ke bawah Kebiasaan makan makanan pedas dan asam serta memanjangkan kuku Sdr. Masalah non medis : 1. Sdr. F dan keluarga kurang pengetahuan mengenai penyakit demam tifoid. C. 6. Masalah medis : Suspek Demam Tifoid B.29 V. F kurang mengerti akan penyakit demam tifoid Sdr. F cenderung pendiam dan tertutup . Masalah kehidupan terutama ekonomi rumah tangga (ekonomi menengah ke bawah). Diagram Permasalahan Pasien (Menggambarkan hubungan antara timbulnya masalah kesehatan yang ada dengan faktor-faktor risiko yang ada dalam kehidupan pasien). Kondisi rumah Sdr. 4. F ventilasi dan sirkulasi. Pasien memiliki sifat cenderung pendiam dan menyimpan masalahnya sendiri. dapur masih menggunakan tungku dan jarak sumber air dengan septic tank berdekatan yaitu ± 5 meter. Rumah pasien jauh dari tempat pelayanan kesehatan. Kebiasaan pasien yang senang dengan makanan pedas dan asa serta senang memanjangkan kuku yang menjadi tempat berkembangbiaknya kuman. 3. 5. F 21 tahun dengan suspek demam tifoid Rumah Sdr. 2. DAFTAR MASALAH DAN PEMBINAAN KELUARGA A. Diagram Permasalahan Pasien Rumah tidak memenuhi kriteria sehat Keluarga Sdr.

F dan keluarga kurang pengetahuan mengenai 3 S 3 SB 4 5 Mn 5 Mo 4 Ma 3 600 penyakit demam tifoid.30 D. Sdr. 1996). Rumah tidak memenuhi kriteria sehat 3. 5 Kebiasaan makan makanan pedas dan asam serta 4 5 3 5 3 3 4 600 rumah tangga ke 2 2 3 3 3 4 3 210 memiliki pendiam sifat dan 2 2 3 2 3 3 2 116 4 4 4 3 2 1 3 216 menengah memanjangkan kuku 6 Rumah jauh dari tempat pelayanan kesehatan 2 2 3 3 3 3 3 252 Keterangan : I : Importancy (pentingnya masalah) P : Prevalence (besarnya masalah) S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah) SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah) T : Technology (teknologi yang tersedia) R : Resources (sumber daya yang tersedia) . Ekonomi (ekonomi bawah). Matrikulasi Masalah Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks (Azrul. 2. Pasien cenderung tertutup 4. Matrikulasi Masalah No. Daftar Masalah I T R Jumlah IxTxR P 1.

kegunaan dan efek samping obat. F adalah sebagai berikut : a. maka urutan prioritas masalah keluarga Sdr. . penyebab. tanda dan gejala. Rencana Pembinaan Keluarga 1. F. Tujuan Khusus : Setelah diberikan konseling diharapkan keluarga dan penderita dapat: a. Sdr. Mengetahui tentang pengertian. f. dan cara mencegah penyakit demam tifoid. Pasien memiliki sifat cenderung pendiam dan tertutup Kesimpulan : Prioritas masalah yang diambil adalah Sdr. F dan keluarga kurang pengetahuan mengenai penyakit demam tifoid. Tujuan Tujuan Umum Setelah diberikan konseling diharapkan keluarga dan penderita lebih memahami mengenai pengetahuan keluarga mengenai demam tifoid. Ekonomi rumah tangga (ekonomi menengah ke bawah). F dan keluarga mempunyai pengetahuan yang kurang mengenai penyakit demam tifoid. Prioritas Masalah Berdasarkan kriteria matriks diatas. Kebiasaan makan makanan pedas dan asam serta memanjangkan kuku c. b. Rumah jauh dari tempat pelayanan kesehatan d. Rumah tidak memenuhi kriteria sehat e.31 Mn : Man (tenaga yang tersedia) Mo : Money (sarana yang tersedia) Ma : Material (pentingnya masalah) Kriteria penilaian : 1 2 3 4 5 : tidak penting : agak penting : cukup penting : penting : sangat penting E.

2. kegunaan dan efek samping obat. Tempat 3. Cara Evaluasi Evaluasi dengan melakukan sesi tanya jawab dengan pasien dan keluarga. Pembinaan dilakukan dengan cara diskusi dan memberikan edukasi pada pasien dan keluarga. Mengetahui cara perawatan pasien dengan penyakit demam tifoid. dalam suatu pembicaraan santai sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima. Materi Materi yang diberikan kepada pasien dan keluarga berupa pengetahuan mengenai demam tifoid dalam bentuk diskusi dan edukasi mengenai pengertian. tanda dan gejala. Target Waktu 1. Sasaran Individu Sasaran dari pembinaan keluarga ini adalah pasien dan keluarganya. Mengetahui tentang pentingnya peran keluarga dalam perjalanan penyakit demam tifoid dan cara pola hidup sehat. c. Waktu 5. Cara Pembinaan Pembinaan dilakukan di rumah pasien pada tanggal 11 November 2012. penyebab.32 b. 4. 3. dan cara mencegah penyakit demam tifoid . Hari Tanggal 2. Sasaran dari pembinaan ini adalah pasien dan keluarganya. : Minggu : 11 November 2012 : Desa Karang Tengah RT1 RW4 Kembaran : 13:00 WIB .

Salmonella merupakan bakteri batang gram negatif yang bersifat motil.4º C (130º F) selama 1 jam atau 60 º C (140 º F) selama 15 menit. 1993). Demam yang disebabkan oleh s. 2008). Antigen O Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman. TINJAUAN PUSTAKA A. fimbriae atau fili S. Antigen ini tahan terhadap pemanasan 100°C selama 2–5 jam. Organisme salmonella tumbuh secara aerob dan mampu tumbuh secara anaerob fakultatif. Salmonella memiliki antigen somatik O dan antigen flagella H. tidak membentuk spora. Kebanyakan spesies resistent terhadap agen fisik namun dapat dibunuh dengan pemanasan sampai 54. 2. dan S. . typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal yang juga dimiliki beberapa Salmonella lain. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di atas suhu 60°C dan pada pemberian alkohol atau asam (Rampengan dan Laurent. bahan makanan kering. Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. 2008). Typhi. dan tidak berkapsul. typhi dan berstruktur kimia protein. Paratyphi B dan kadang-kadang jenis salmonella yang lain. 1993). Mikrobiologi Salmonella Typhi Demam tifoid disebabkan oleh jenis salmonella tertentu yaitu s. Typhi cenderung untuk menjadi lebih berat daripada bentuk infeksi salmonella yang lain (Cleary. Paratyphi A.33 VI. alkohol dan asam yang encer (Rampengan dan Laurent. Antigen H Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela. dan bahan tinja (Cleary. S. 1. Salmonella tetap dapat hidup pada suhu ruang dan suhu yang rendah selama beberapa hari dan dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu dalam sampah. s. 1993). Antigen O adalah komponen lipopolisakarida dinding sel yang stabil terhadap panas sedangkan antigen H adalah protein labil panas (Rampengan dan Laurent.

Patofisiologi Demam Tifoid HCL (asam lambung) dalam lambung berperan sebagai penghambat masuknya Salmonella spp dan lain-lain bakteri usus. Pada awal minggu kedua dari penyakit demam tifoid terjadi nekrosis superfisial yang disebabkan oleh toksin bakteri atau yang lebih utama disebabkan oleh sumbatan pembuluh-pembuluh darah kecil oleh hiperplasia sel limfoid (disebut sel tifoid). Salmonella spp memasuki saluran limfe dan akhirnya mencapai aliran darah. terutama jaringan limfoid usus kecil. Setelah itu. . dasar ulkus dapat mencapai dinding otot dari usus bahkan dapat mencapai membran serosa (Sudoyo dkk. yang dalam minggu ketiga akan lepas sehingga terbentuk ulkus yang berbentuk bulat atau lonjong tak teratur dengan sumbu panjang ulkus sejajar dengan sumbu usus. Jika Salmonella spp masuk bersama-sama cairan. Dengan melewati kapiler-kapiler yang terdapat dalam dinding empedu atau secara tidak langsung melalui kapiler-kapiler hati dan kanalikuli empedu. bereplikasi dengan cepat untuk menghasilkan lebih banyak Salmonella spp (Sudoyo dkk. Dengan demikian terjadilah bakteremia pada penderita.34 B. 2006). maka bakteria dapat mencapai empedu yang larut disana. kelenjar limfe abdomen. Melalui empedu yang infektif terjadilah invasi ke dalam usus untuk kedua kalinya yang lebih berat daripada invasi tahap pertama. 2006). contohnya sistem hematopoietik yang membentuk darah. Daya hambat HCL ini akan menurun pada waktu terjadi pengosongan lambung. maka terjadi pengenceran HCL yang mengurangi daya hambat terhadap mikroorganisme penyebab penyakit yang masuk. Demam tifoid merupakan salah satu bekteremia yang disertai oleh infeksi menyeluruh dan toksemia yang dalam. Mukosa yang nekrotik kemudian membentuk kerak. 2006). Salmonella spp kemudian memasuki folikel-folikel limfe yang terdapat di dalam lapisan mukosa atau submukosa usus. limpa dan sumsum tulang (Sudoyo dkk. Berbagai macam organ mengalami kelainan. Invasi tahap kedua ini menimbulkan lesi yang luas pada jaringan limfe usus kecil sehingga gejala-gejala klinik menjadi jelas. sehingga Salmonella spp lebih mudah masuk ke dalam usus penderita. Pada umumnya ulkus tidak dalam meskipun tidak jarang jika submukosa terkena.

2006). Risiko terjadinya komplikasi fatal terutama dijumpai pada anak besar dengan gejala klinis berat. beratnya penyakit demam tifoid tidak selalu sesuai dengan beratnya ulserasi. keadaan umum atau status gizi serta status imunologis pasien. Lamanya masa inkubasi berkorelasi dengan jumlah kuman yang ditelan. Maka penderita merupakan urinary karier penyakit tersebut (Sudoyo dkk. Demam tifoid pada anak terbanyak terjadi pada umur 5 tahun atau lebih dan mempunyai gejala klinis ringan ataupun tanpa gejala (asimptomatik) (Rampengan dan Laurent. ginjal kadang-kadang masih tetap mengandung kuman Salmonella spp sehingga terjadi bakteriuria. Walaupun gejala demam tifoid ini bervariasi namun secara garis besar dapat dikelompokan. Kedua komplikasi tersebut yaitu perdarahan hebat dan perforasi merupakan penyebab yang paling sering menimbulkan kematian pada penderita demam tifoid. 2006). Inkubasi terpendek 3 hari dan terlama 60 hari. otot jantung membesar dan melunak. Sedangkan perdarahan usus dan perforasi menunjukkan bahwa telah terjadi ulserasi yang berat. Tromboflebitis. yang menyerupai kasus dewasa. Gejala Klinis Demam Tifoid Perbedaan antara demam tifoid pada anak dan dewasa adalah mortalitas (kematian) demam tifoid pada anak lebih rendah bila dibandingkan dengan dewasa. Pada stadium akhir dari demam tifoid.35 Pada waktu kerak lepas dari mukosa yang nekrotik dan terbentuk ulkus. Meskipun demikian. 1993). Akibatnya terjadi miokarditis toksik. Anak-anak dapat mengalami perikarditis tetapi jarang terjadi endokaritis. 1993): . maka perdarahan yang hebat dapat terjadi atau juga perforasi dari usus. Pada serangan demam tifoid yang ringan dapat terjadi baik perdarahan maupun perforasi (Sudoyo dkk. periostitis dan nekrosis tulang dan juga bronkhitis serta meningitis kadang-kadang dapat terjadi pada demam tifoid (Sudoyo dkk. C. antara lain (Rampengan dan Laurent. 2006). Masa inkubasi rata-rata bervariasi 7-20 hari. Toksemia yang hebat akan menimbulkan demam tifoid yang berat sedangkan terjadinya perdarahan usus dan perforasi menunjukkan bahwa telah terjadi ulserasi yang berat.

Pembesaran limpa pada tifoid tidak progresif dengan kosistensi lebih lunak (Darmowandowo. Penegakan Diagnosis Demam Tifoid Penegakan diagnosis demam tifoid didasarkan pada manifestasi klinis yang diperkuat oleh pemeriksaan laboratorium penunjang. serta hilang pada penekanan. Dalam minggu pertama. 1997). pembesaran hati dan limpa. dan gangguan kesadaran. dilapisi selaput tebal. Setelah minggu kedua maka gejala dan tanda klinis makin jelas. kadang-kadang mempunyai gambaran klasik berupa stepwise pattern. Limpa pada umumnya sering membesar dan sering ditemukan pada akhir minggu pertama dan harus dibedakan dengan pembesaran oleh karena malaria. mungkin disertai gangguan kesadaran dari yang ringan sampai dengan yang berat (Rampengan dan Laurent. nyeri kepala. 1993). Bila penyakit makin progresif akan terjadi deskuamasi epitel sehingga papila lebih prominem (Rampengan dan Laurent. dan konstipasi. Demam yang terjadi pada penderita anak tidak selalu tipikal seperti orang dewasa. dan kadang-kadang daerah pantat maupun bagian flexor lengan atas (Darmowandowo. lidah tifoid. 2002). Pemeriksaan . muntah. berwarna merah pucat. Roseola ini merupakan emboli kuman dimana di dalamnya mengandug kuman salmonella dan terutama didapatkan di daerah perut. Merupakan nodul kecil menonjol dengan diameter 2-4 cm. Roseola lebih sering terjadi pada akhir minggu pertama dan awal minggu kedua. mual. D. Gangguan pencernaan. keluhan dan gejala menyerupai infeksi akut pada umumnya. 1993. perut kembung. demam tifoid. seperti demam. Lidah tifoid terjadi beberapa hari setelah panas meninggi dengan tanda-tanda antara lain lidah tampak kering. 2002).36 - Demam satu minggu atau lebih. di bagian belakang tampak lebih pucat. berupa demam remiten. anoreksia. dada. dapat pula mendadak tinggi dan remiten (39-41◦C) serta dapat juga bersifat ireguler terutama pada bayi dan tifoid kongenital (Rampengan dan Laurent. di bagian ujung dan tepi lebih kemerahan. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan yang meningkat. 1997).

Hitung leukosit sering rendah (leukopenia). Hitung jenis leukosit: sering neutropenia dengan limfositosis relatif. Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosis. SGPT) sering meningkat dengan gambaran peradangan sampai hepatitis Akut (Risky dan Ismoedijanto. 1. 3. 2005). 2008). Hasil positif dinyatakan dengan adanya aglutinasi. LED ( Laju Endap Darah ) : Meningkat Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia) (Risky dan Ismoedijanto. antara lain pernah mendapatkan vaksinasi. 2008). Hematologi Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit perdarahan usus atau perforasi. urinalis.37 Laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi. Imunorologi Tes Widal Pemeriksaan serologi ini ditujukan untuk mendeteksi adanya antibodi (di dalam darah) terhadap antigen kuman Samonella typhi atau paratyphi (reagen). memantau perjalanan penyakit dan hasil pengobatan serta timbulnya penyulit (Risky dan Ismoedijanto. menetapkan prognosis. . 2008). Hasil uji ini dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga dapat memberikan hasil positif palsu atau negatif palsu. Kimia Klinik Enzim hati (SGOT. kimia klinik. Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh faktor-faktor. Urinalisis Protein: bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam) Leukosit dan eritrosit normal. dan biologi molekular. 4. 2. Karena itu antibodi jenis ini dikenal sebagai Febrile agglutinin (Puspa dkk. Sebagai uji cepat (rapitd test) hasilnya dapat segera diketahui. tetapi dapat pula normal atau tinggi. mikrobiologi. imunoreologi. bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit (Risky dan Ismoedijanto. Uji ini merupakan test kuno yang masih amat popular dan paling sering diminta terutama di negara dimana penyakit ini endemis seperti di Indonesia. 2008).

Elisa Salmonella typhi atau paratyphi lgG dan lgM Pemeriksaan ini merupakan uji imunologik yang lebih baru. Interpretasi hasil : jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk Demam Tifoid atau Paratifoid. 2005). 2005). 2005). Diagnosis Demam Tifoid atau Paratifoid dinyatakan bila titer O = 1/160. Hasil negatif palsu dapat disebabkan oleh karena antara lain penderita sudah mendapatkan terapi antibiotika. yang dianggap lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal untuk mendeteksi Demam Tifoid atau Paratifoid.38 reaksi silang dengan spesies lain (Enterobacteriaceae sp). belum tentu bukan Demam Tifoid atau Paratifoid. reaksi anamnestik (pernah sakit). Sebalikanya jika hasil negatif. Diagnosis Demam Typhoid atau Paratyphoid dinyatakan apabila lgM positif menandakan infeksi akut dan jika lgG positif menandakan pernah kontak atau pernah terinfeksi atau reinfeksi atau daerah endemik (Puspa dkk. bahkan mungkin sekali nilai batas tersebut harus lebih tinggi mengingat penyakit demam tifoid ini endemis di Indonesia. Melihat hal-hal di atas maka permintaan tes widal ini pada penderita yang baru menderita demam beberapa hari kurang tepat. waktu pengambilan darah kurang dari 1 minggu sakit. 5. Mikrobiologi Kultur (Gall culture/ Biakan empedu) Uji ini merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan Demam Typhoid atau paratyphoid. dan adanya penyakit imunologik lain (Puspa dkk. yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit kurang dari 2mL). saat pengambilan . Titer O meningkat setelah akhir minggu 1. Bila hasil reaktif (positif) maka kemungkinan besar bukan disebabkan oleh penyakit saat itu tetapi dari kontak sebelumnya (Puspa dkk. Sebagai tes cepat (Rapid Test) hasilnya juga dapat segera di ketahui. darah tidak segera dimasukan ke dalam medial Gall (darah dibiarkan membeku dalam spuit sehingga kuman terperangkap di dalam bekuan). karena hasil biakan negatif palsu dapat disebabkan oleh beberapa faktor. keadaan umum pasien yang buruk. dan adanya faktor rheumatoid (RF).

2008). 6. dan diuresis hemoragi (Sudoyo dkk. Upaya Pencegahan Demam Tifoid Pencegahan demam tifoid diupayakan melalui berbagai cara: umum dan khusus/imunisasi. bila belum ada pertumbuhan koloni ditunggu sampai 7 hari). cairan tubuh lainnya serta jaringan biopsi (Risky dan Ismoedijanto. Pada cara ini di lakukan perbanyakan DNA kuman yang kemudian diindentifikasi dengan DNA probe yang spesifik. 2006). E. F. limfadenopati. 2006). ruam. Pada waktu fase ini pasien sudah tidak demam. Kekurangan uji ini adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui karena perlu waktu untuk pertumbuhan kuman (biasanya positif antara 2 7 hari. urin. akan tetapi mempunyai resiko untuk terjadi renjatan jika mendapat pengobatan tidak adekuat (Sudoyo dkk. Pilihan bahan spesimen yang digunakan pada awal sakit adalah darah. kemudian untuk stadium lanjut atau carrier digunakan urin dan tinja (Risky dan Ismoedijanto. trobositopenia. (Penyediaan air bersih. Termasuk cara umum antara lain adalah peningkatan higiene dan sanitasi karena perbaikan higiene dan sanitasi saja dapat menurunkan insidensi demam tifoid. Menjaga kebersihan pribadi dan menjaga apa yang . Diagnosis Banding 1. Spesimen yang digunakan dapat berupa darah. yang diikuti dengan fase kritis selama 2-3 hari. dan sudah mendapat vaksinasi (Risky dan Ismoedijanto. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang terdapat dalam jumlah sedikit (sensitifitas tinggi) serta kekhasan (spesifitas) yang tinggi pula. dan atau nyeri sendi yang disertai leukopenia. sudah mendapatkan terapi antibiotika. nyeri otot. Biologi molekular PCR (Polymerase Chain Reaction) Metode ini mulai banyak dipergunakan.39 darah masih dalam minggu pertama sakit. 2008). Dengue Fever Dengue fever adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam. 2008). Pada umumnya pasien mengalami fase demam selama 2-7 hari. pembuangan dan pengelolaan sampah).

40 masuk mulut (diminum atau dimakan) tidak tercemar Salmonella typhi. Dosis ulangan diperlukan setiap dua tahun untuk orang resiko tinggi (Rampengan dan Laurent. 1993). Yang tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid diinaktivasi (per injeksi) adalah orang yang memiliki reaksi yang berbahaya saat diberi dosis vaksin sebelumnya. maka ia tidak boleh mendapatkan vaksin dengan dosis lainnya. Satu dosis sudah menyediakan proteksi. . Pemberian vaksin tifoid secara rutin tidak direkomendasikan. 1993). orang yang memiliki sistem imunitas yang lemah maka tidak boleh mendapatkan vaksin ini. Dosis ulangan diperlukan setiap 5 tahun untuk orangorang yang masih memiliki resiko terjangkit (Rampengan dan Laurent. Ada dua vaksin untuk mencegah demam tifoid. Pemutusan rantai transmisi juga penting yaitu pengawasan terhadap penjual (keliling) minuman/makanan (Rampengan dan Laurent. 1993). Dosis terakhir harus diberikan sekurangkurangnya satu minggu sebelum bepergian supaya memberikan waktu kepada vaksin untuk bekerja. 1993). Yang pertama adalah vaksin yang diinaktivasi (kuman yang mati) yang diberikan secara injeksi. Orang yang tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid yang dilemahkan (per oral) adalah : orang yang mengalami reaksi berbahaya saat diberi vaksin sebelumnya maka tidak boleh mendapatkan dosis lainnya. vaksin tifoid hanya direkomendasikan untuk pelancong yang berkunjung ke tempat-tempat yang demam tifoid sering terjadi. Empat dosis yang diberikan dua hari secara terpisah diperlukan untuk proteksi. Vaksin tifoid yang dilemahkan (per oral) tidak boleh diberikan kepada anak-anak kurang dari 6 tahun. Yang kedua adalah vaksin yang dilemahkan (attenuated) yang diberikan secara oral. orang yang kontak dengan penderita karier tifoid dan pekerja laboratorium (Rampengan dan Laurent. Ada beberapa orang yang tidak boleh mendapatkan vaksin tifoid atau harus menunggu. Vaksin tifoid yang diinaktivasi (per injeksi) tidak boleh diberikan kepada anak-anak kurang dari dua tahun. oleh karena itu haruslah diberikan sekurang-kurangnya 2 minggu sebelum berpergian supaya memberikan waktu kepada vaksin untuk bekerja. mereka hanya boleh mendapatkan vaksin tifoid yang diinaktifasi.

sefriakson 80 mg/kgBB/hari selama 7 hari e. sebagaimana obat-obatan lainnya. Memperbaiki keadaan umum : koreksi elektrolit atasi dehidrasi. penderita kanker dan orang yang mendapatkan perawatan kanker dengan sinar X atau obat-obatan. Tirah baring bila perlu isolasi penderita . bisa menyebabkan problem serius seperti reaksi alergi yang parah. reaksi ringan yang dapat terjadi adalah : demam (sekitar 1 orang per 100). Pengobatan dietetik tergantung kondisi penderita bila perlu makanan lunak/ cair mudah dicerna tinggi kalori dan protein 5. muntah-muntah atau ruam-ruam (jarang terjadi) (Rampengan dan Laurent. sakit kepada (sekitar 3 orang per 100) kemerahan atau pembengkakan pada lokasi injeksi (sekitar 7 orang per 100). kotrimoksasol dengan dasar trimetropin 8-10 mg/kgBB/ hari aau sulfameoksasol 40-50 mg/kgBB/hari selama 7 hari c. perut tidak enak. Managemen Penatalaksanaan Demam Tifoid 1. Resiko suatu vaksin yang menyebabkan bahaya serius atau kematian sangatlah jarang terjadi. Pada vaksin tifoid yang diinaktivasi.41 diantara mereka adalah penderita HIV/AIDS atau penyakit lain yang menyerang sistem imunitas. mual. reaksi ringan yang dapat terjadi adalah demam atau sakit kepada (5 orang per 100). Problem serius dari kedua jenis vaksin tifoid sangatlah jarang. Pengobatan kausal a. orang yang sedang mengalami pengobatan dengan obat-obatan yang mempengaruhi sistem imunitas tubuh semisal steroid selama 2 minggu atau lebih. Pengobatan suportif : roboronsia 4. kloramfenikol/ tiamfenikol 100 mg/ kgBB/ hari dibagi 3-4 dosis selama 10 hari b. Suatu vaksin. sefiksim 15-20 mg/kgBB/hari selama 10 hari 2. G. amoksisilin 100mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis selama 14-21 hari d. hipoglikemi 3. 1993). Pada vaksin tifoid yang dilemahkan. Vaksin tifoid oral tidak boleh diberikan dalam waktu 24 jam bersamaan dengan pemberian antibiotik.

Transfusi darah sesuai keperluan (Sudoyo dkk. Pada kasus berat deksametason 1-3 mg/kgBB/ hari dengan antibiotik yang sesuai 7. .42 6. 2006).

Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu a. . c. Kesimpulan 1. Aspek Personal Pasien mengeluh panas yang hilang timbul dan sudah berlangsung selama 4 hari. Kebiasaan pasien senang makan makanan yang pedas dan asam serta jajan di pinggir jalan. Idea : pasien berpendapat bahwa penyakit yang dialaminya dapat segera disembuhkan. Infeki Saluran Kemih : demam. Anxiety : Pasien takut akan kondisi kesehatannya. Aspek Klinis Diagnosis Diff diagnosis Gejala klinis : Demam tifoid : dengue fever. mual. b. yaitu SD dan SMP. nafsu makan menurun 3. Kebiasaan pasien yang senang memanjangkan kuku menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. perut sakit dan kembung. PENUTUP A.43 VII. sehingga tidak bisa beraktivitas (produktivitas menurun). yaitu ± 5 meter. Kedaan ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari terutama dalam pekerjannya di pabrik. 2. pusing. 4. b. lemas. Expectacy : pasien mempunyai harapan segera sembuh dari penyakitnya. Concern : pasien mengaku merasa lemas dan pusing dan hanya mampu berbaring/istirahat. Pendidikan anggota keluarga lain tergolong rendah. Alat memasak di rumah masih menggunakan tungku kayu bakar. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu a. Sumber air yang digunakan di rumah pasien berdekatan dengan septik tank.

Kuratif : pasien minum obat dengan teratur. Saran 1.44 B. Preventif : meningkatkan higienitas makanan dan sanitasi lingkungan sekitar 3. Promotif : Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakit demam tifoid. 4. Rehabilitatif : Penyesuaian aktivitas sehari-hari serta dukungan keluarga dalam proses kesembuhan pasien. . 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful