P. 1
Injektor, Injector

Injektor, Injector

|Views: 393|Likes:
Published by adi pamungkas
cara kerja injektor
cara kerja injektor

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: adi pamungkas on Dec 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2014

pdf

text

original

MAKALAH SISTEM KONTROL ELEKTRONIK

“INJEKTOR”

Disusun oleh : Lutfi Rahmad W. Adi Pamungkas Catur Apriyadi 09504241019 09504241020 09504241021

PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

PENDAHULUAN

Isu penting saat ini bagi sebagian besar masyarakat dunia adalah perubahan iklim global disebabkan oleh pencemaran lingkungan. Permasalahan polusi menjadi semakin pelik selain karen ajumlah penghasil polusi yang semakin banyak, juga jumlah pendudukan yang terus meningkat juga akan mempengaruhi pertumbuhan polutan yang menyebabkan polusi. Dampat yang paling gencar di kampanyekan saat ini adalah pemanasan global atau global warming yang memicu perubahan iklim di dunia. Pencemaran udara di dunia tidak akan terlepas dari polusi akibat gas buang kendaraan. Gas buang kendaraan yang mengadung berbagai macam zat berbahaya terus menerus dan dalam jumlah yang semakin banyak akan mengotori udara. Gas CO, NOx, HC yang merupakan gas berbahaya bagi makhluk hidup. Efek yang lebih jauh lagi adalah menjadi salah satu penyebab terbentuknya rumah kaca pada atmosfer yang mengakibatkan meningkatnya suhu permukaan bumi. Berdasarkan hal tersebutlah, teknologi pada kendaraan khususnya kontrol emisi semakin di kembangkan. Setiap produsen berlomba-lomba menciptakan teknologi baru dan mengklaim bahwa produk mereka adalah yang paling ramah lingkungan dan minim polusi gas buangnya. Teknologi yang berkembang sudahlah sangat canggih, dan sebagai dasar perubahan teknologi kontrol emisi ini adalah sistem injeksi bahan bakar yang dikontrol secara elektronik. Dengan perhitungan takaran dan waktu penginjeksian yang tepat, akan menghasilkan tenaga maksimal namun juga emisi gas buang yang rendah. Prinsip dasar dari sebiak kontrol elektronik adalah sebuah komputer akan menerima sinyal-siyal dari sensor, kemusian mengolahnya berdasarkan data yang tersimpar dalam memori,kemudian akan menterjemahkannya menjdai suatu tindakan oleh aktuator untuk diwujudkan menjadi kerja aktual. Berdasarkan prinsip itulah berbagai perkembangan kontol elektronik berkembang sampai saat ini. Dalam makalah ini kami akan membahas salah satu komponen aktuator yaitu injektor sebagai komponen vital dalam sistem injeksi bahan bakar elektronik.

PEMBAHASAN INJEKTOR

Pendahuluan Injektor iadalah suatu injeksi atau semprotan dari jarum dengan solenoid yang dikontrol oleh ECM. Berdasarkan jumlah udara yang masuk dan putaran mesin, ECM menghitung dasar waktu injeksi bahan bakar, dan menghitung secara tepat lamanya waktu injeksi bahan bakar berdasarkan temperatur pendingin mesin, sinyal umpan balik dari oxygen sensor selama close-loop-control, kondisi laju kendaraan termasuk akselerasi dan deselerasi, serta status pengisian battery, dengan tujuan mengontrol injektor melalui sinyal pulsa yang konstan, dan tekanan injeksi dikontrol agar tetap konstan. Kemudian jumlah bahan bakar yang dinjeksikan akan ditentukan berdasarkan lamanya waktu penginjeksian bahan bakar melalui kerja solenoid yang menahan needle valve agar terbuka, menggunakan Pulse Width Modulation (PWM) yang dikirim dari ECM. Semakin lama waktu injeksi bahan bakar (pulse width semakin lama) maka bahan bakar yang disemprotkan oleh injektor juga akan semakin banyak. Berdasarkan keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kerja sistem injeksi bahan bakar elektronik adalah: injeksi dipengaruhi oleh injektor. Banyaknya bahan bakar yang disemprotkan ditentukan oleh lamanya waktu injeksi oleh injektor yang dihitung oleh ECM berdasarkan kwantitas udara yang masuk, dan kondisi laju kendaraan. Umumnya ada dua macam sistem injeksi yang digunakan: 1. MPI (Multi-Point Injection) 2. SPI (Single-Point Injection) Kedua sistem tersebut memerlukan pompa bahan bakar yang setiap saat harus mengirim bahan bakar ke mesin melalui fuel filter dari fuel tank. Pompa bahan bakar bisa dipasang di dalam atau diluar fuel tank. Injektor menginjeksi bahan bakar pada intake manifold, dan sistem tekanannya diatur oleh pressure regulator sehingga tekanannya tetap konstan. Pada sistem SPI, uap bahan bakar diinjeksikan oleh satu injektor yang letaknya di tengah atas throttle valve. Pendistribusian campuran bahan bakar udara yang didistribusikan ke setiap cylinder akan tercapai di intake manifold. Untuk sekarang ini sistem tersebut sudah tidak dipakai lagi karena distribusi injeksi bahan bakarnya tidak bagus. Untuk sistem MPI, masing-masing cylinder mempunyai satu injektor, yang dipasang di intake-manifold dan menginjeksikannya ke intake valve masing-masing cylinder. Suplai bahan bakar ke setiap injektor mengandalkan fuel rail.

1. MPI system Gambar 1 (a) memperlihatkan tipikal konfigurasi suplai bahan bakar sistem MPI. Dengan menggunakan beberapa sensor, MPI system secara kontinyu mengukur kondisi mesin, dan menghitung kwantitas bahan bakar secara tepat mengandalkan ECM yang ukurannya sudah diset sebelumnya, sehingga jumlah suplai menjadi optimal. Karena itulah output mesin, momen mesin, emisi, pamakaian bahan bakar dan kemampuan kendaraan bisa diberikan sesuai dengan rancangan kebutuhan mesin. Kwantitas bahan bakar yang telah dikalkulasi tersebut secara langsung akan disemprotkan ke intake valve mesin, dan hanya udara saja yang melewati intake manifold, sehingga dapat meningkatkan fleksibilitas. MPI System mempunyai beberapa keunggulan dibanding dengan sistem karburator, dan sudah dipakai sejak tahun 1980, adapun keunggulannya adalah sebagai berikut ; 1. Hitungan kwantitas bahan bakar sangat akurat baik dalam kondisi stabil maupun tidak (akselerasi meningkat, proses pemanasan mesin lebih baik, dst) 2. Selama proses penyaluran bahan bakar di intake manifold, tidak ada sisa bahan bakar yang menempel di dinding bagian dalam intake manifold. 3. Distribusi bahan bakar pada saat beban kosong akurat 4. Desain intake manifold bisa lebih fleksibel 5. Penggunaan kontrol loop lambda menjadi simpel dan efektif 6. Emsisi rendah 7. Lelbih mudah didiagnosa dan diperbaiki Keunggulan-keunggulan diatas bisa meningkatkan beberapa variabel yang ada pada mesin dan tentunya juga peningkatan output yang tinggi. Namun apabila penyetelan untuk idling kurang baik, maka bisa berakibat menjadi suatu kelemahan.

(a) MPI System

(b) SPI System

Gambar 1 Suplai bahan bakar sistem MPI dan SPI

Gambar 2 MPI System

Gambar 3 Grafik kerja Injektor

2. SPI System Sistem SPI pertama kali diperkenalkan pada tahun 1979 oleh GM dan Ford, dan sukses penggunaannya melalui Chrysler di USA dan Mitsubishi di Jepang. Merek yang beredar adalah Bendix, Bosch, Holley dan Hitachi dengan spesifikasi masing-masing. Sistem SPI ini menggunakan satu injektor (khusus untuk dua barrel intake manifold mesin V6 atau V8 menggunakan dua injektor) untuk menginjeksikan bahan bakar melalui bagian atas throttle plate. Pada tipe injeksi ini, bahan bakar diinjeksikan melalui celah antara throttle plate dan dinding intake manifold, sehingga bentuknya konfigurasinya adalah kerucut. Gambar 1 (b) adalah tipikal ilustrasi konfigurasi sistem suplai bahan bakar SPI. SPI mempunyai beberapa keunggulan yang sama yang dimiliki oleh sistem MPI. Yaitu sistem SPI mengukur jumlah bahan bakar berdasarkan waktu bukaan injektor opening atau frekwensi penginjeksian, untuk mempermudah kontrol-komputer dan menyediakan ukuran bahan bakar yang akurat. Sebagai tambahan, sistem ini mempunyai keunggulan dalam hal istalasi, kontrol looping terturup,lebih mudah didiagnosa dan diperbaiki, serta mempunyai karakter pengukuran skala kecil saat idling dengan satu titik penginjeksian. Sistem SPI juga mempunyai kelemahan yang sama yang dimiliki oleh sistem karburator. Yaitu, ada ketidak samaa distribusi diantara cylinders, dan suplai bahan bakar bisa terlambat. Pada sistem ini apabila range aktif injektor meningkat dan tekanan bahan bakarnya rendah ketika proses warming-up, maka bisa menurunkan performa. Keunggulan sistem SPI ini dibandingkan dengan sistem karburator adalah dalam hal performa dan kontrol emisi.

Gambar 4 Injektor Circuit and Terminal

Gambar 4adalah ilustrasi circuit dan terminal pada injektor. No. 1 adalah terminal yang menerima sinyal injeksi dari ECM dan dikontrol oleh kerja power TR di dalam ECM. No. 2 adalah terminal menerima power dari control relay. Konfigurasi dan Prinsip Kerja 1. Konfigurasi Seperti terlihat pada gambar 5, injektor itu terdiri dari beragam komponen. Namun dapat dikelompokan menjadi tiga group: a. Coil assembly yang menghasilkan gaya menggunakan suplai power. b. Magnetic Circuit yang berperan sebagai jalan muatan magnet c. Katup yang mengontrol valve group controls fuel quantity.

Coil assembly terdiri dari coil wire, Bobbin dan terminal. Magnetic circuit terdiri dari inlet tube, shell, armature dan seat carrier. Group katup adalah yang mengontrol jumlah bahan bakar, termasuk di dalamnya needle assembly (Bail, Needle Shaft dan Armature) dan valve seat complete (Valve Seat dan Spray Hole Plate).

Gambar 5 Struktur bagian dalam fuel injektor EV 6 2. Prinsip Kerja Sistem MPI dapat dipisahkan menjadi dua tipe berdasarkan jalur intake bahan bakar ke dalam injektor. Yaitu tipe bottom feed yang melontarkan bahan bakar dari atas atau samping dan tipe top feed yang melontarkan bahan bakar dari atas. Keduanya menggunakan lubang penyembur untuk menginjeksikan bahan bakar. Gambar 5 adalah struktur bagian dalam injektor. Bahan bakar mengalir melalui saringan yang letaknya di inlet ke komponen pengukur bahan bakar. Pengukuran bahan bakar dilakukan pada bagian dudukan katup ke lubang penyemprot. Ketika pulsa tidak

berdekatan ke coil assembly, maka power tidak disuplai, gaya pegas dan sistem tekanan akan menekan jarum mengarah ke valve seat, untuk mencegah agar injektor tidak bekerja dan bocor. Pada saat pulsa diberukan ke coil assembly dan membentuk bidang magnet, maka gaya magnet tesebut akan menarik jarum dari valve seat dan membuat ruang saluran bahan bakar antara valve seat dan jarum. Bahan bakar tersebut kemudian akan lewat melalui celah yang ada dan kemudian menyemprotkan bahan bakar ke luar. Pada saat coil tidak menerima pulsa, maka jarum tersebut akan kembali ke posisi menutup karena gaya pegas. Kebutuhan Dasar suatu injeksi dan pola pengabutannya 1. Kebutuhan Dasar Injektor mempunyai persyaratan dasar yang harus dipenuhi agar bisa bekerja dalam semua kondisi seperti cepat atau lamanya penginjeksian, start dingin, start panas, dst, persyaratan dasar tersebut adalah karakteristik pengaliran dan ketahanan. Diantara enam item dibawah, lima pertama adalah kebutuhan dasar dan item ke 6 merupakan tambahan yaitu ketahanan. a. Bahan bakar yang disuplai harus presisi atau tepat b. Stabil baik untuk range aliran rendah maupun tinggi c. Daya semprotannya baik d. Tidak bocor e. Noise rendah f. Tahan lama

2. Karakteristik Pengabutan Karakteristik semprotannya dapat dianalisa berdasarkan bentuk semprotannya, pola semprotan, dan karakteristik penyebarannya. Berikut penjelasan lebih lanjut. a. Pencil Beam Pencil Beam adalah bentuk pola bahan bakar yang diinjeksikan oleh injektor dengan tipe satu lubang. Umumnya bentuk pola semprotan ini penggunaannya terbatas dengan tujuan khusus.

Gambar 6 Perbedaan Pola Semprotan b. Conical Spray (Injektor tipe pintle) Ujung katup jarum dibuat membentuk kerucut dengan tingkat presisi yang tinggi dipasang pada fuel outlet, dapat memenuhi kebutuhan sudut pengabutan yang berbedabeda sesuai kebutuhan mesin. Sebagai catatan bentuk kerucut pada ujung outlet dapat memberikan suplai bahan bakar dengan baik. c. Conical Spray (empat lubang injektor) Empat lubang injektor mempunyai keunggulan ketepatan dan sudut pengabutan dibandingkan dengan injektor tipe pintle. Masing-masing pengabutan tipis akan dibentuk oleh ke empat lubang yang dipasang pada orifice plate dengan sudut tertentu menghadap arah sumbu injektor. Masing-masing akan membentuk kabut dengan sudut tertenntu dan memberikan efek pengabutan bahan bakar yang lebih baik, digunakan secara bersamasama dengan protective sleeve (klep pelindung). d. Two-Spray Injektor Mesin yang mempunyai dua inlet per cylinder, menggunakan injektor ini. Garis tengah pengabutan mengarah ke intake valves. Kemudian injektor menghasilkan dua pengabutan terpisah dengan sudut pengabutan yang berbeda. e. Multi-Hole Injektor Lubang-lubang pada orifice plate dapat menghasilkan efek pengabutan yang lebih baik, dan sudut yang berbeda-beda pada lubangnya bisa mencegah pengabutan partikel dari confinement (kurungan) yang kemungkinan timbul oleh penurunan momentum pengebutan bahan bakar.

Pemeriksaan injektor Injektor secara keseluruhan harus diperiksa yang meliputi noise, tahanan injektor, jumlah injeksi bahan bakar, pola bentuk pengabutan (sudut pengabutan, rear trace, dsb). Namun demikian tidaklah mudah untuk dapat memeriksa jumlah bahan bakar yang diinjeksikan atau pola bentuk pengabutannya langsung ke kendaraan. Periksa status sambungan connectors, dan kabel-kabeil dari kemungkinan lepas atau short. Periksa juga apakah injektors sudah terpasang dengan benar. Noise yang ditimbulkan ke injektor bekerja sebenarnya dapat diperiksa dengan menggunakan alat stethoscope bila suata mesin tidak begitu berisik, kemudian periksa tekanan bahan bakar dan injektor dari kemungkinan bocor. Jika saat mesin di- cranking injektor injektor tidak bekerja, maka periksalah power suplai yang ke sirkuit ECM dan grounding circuit, control relay, crank angle sensor atau sensor TDC cylinder No. 1 dari kemungkinan rusak. Jika ketika idling salah satu injektor dimatikan namun tidak ada perubahan status idling, periksalah injektor harness, ignition plugs, high voltage cable, tekanan kompresi, dsb. Catatan ; jika setelah diperiksa injektor harness dan semua komponen dalam keadaan normal, namun periode waktu

penginjeksiannya diluar spesifikasi, maka periksa ruang bakar di dalam cylinder apakah proses pembakarannya sempurna (kerusakan ignition plugs, ignition coils, tekanan kompresi, dsb) dan apakah katup EGR bekerja normal. Berikut ini adalah pemeriksaat yang dilakukan pada injektor. a. Untuk pemeriksaan tahanan, ukurlah segera tahanannya setelah injektor connector dilepas. Kemudian, kondisi bagian dalam coil injektor dapat diperiksa.

b. Untuk memeriksa suara ketika injektor bekerja, gunakan stethoscope dan dekatkan ke injektor ketika sedang bekerja. Suara yang ditimbulkan pada plunger atau needle valve dapat diperiksa.

c. Untuk memeriksa kerja injektor dengan menggunakan test lamp, hubungkan ujung test lamp ke terminal battery (+), kemudian hubungkan ujung lainnya ke terminal ECM yang ada pada injektor. Kemudian putar atau idle mesin untuk memeriksa apakah lampu test bisa berkedip. Dengan tes ini, kita dapat memeriksa apakah ECM dapat mengontrol injektor atau ada masalah pada wiring.

d. Untuk memeriksa dengan menggunakan grafik, kita dapat memeriksanya pada sisi kabel ECM. Grafik Injektor pada saat crangking atau idle terlihat pada gambar dibawah.

Pada grafik injektor, tegangan sebelum dan sesudah injeksi harus sama dengan tegangan battery. Bila tidak, maka ada masalah pada sistem power suplai dari terminal battery positive ke injektor. Selain itu, ketika injektor bekerja tegangannya harus mendekati 0 volt seperti tampak pada gambar. Jika tidak, maka kemungkinan ada masalah pada ECM dan wirings dari injektor ke ECM ground.

Penganalisa Pola Injeksi Bahan Bakar 1. Drive Circuit (Sirkuit penggerak) Injektor Penggerak Injektor ke dalam pick and hold type injektor dan voltage drive type injektor. Dan injektor bisa dikelompokkan menjadi low resistance injektors dan high resistance injektors tergantung dari tingkat tahanan injektor-nya. Voltage drive injektors termasuk ke dalam low resistance injektors dan high resistance injektors, khusus untuk tipe low resistance coil tahanannya adalah sekitar. 0.6 ~ 3•, dan menggunakan external resistance secara bersama-sama. Penggunaannya ditujukan untuk meningkatkan respon dan ketahanan injektors, dicapai melalui mengurangan jumlah waktu kumparan solenoids. Melalui penurunan kumparan yang ada pada solenoid coils, maka arus akan naik sehingga kerja injektors menjadi lebih baik. Namun begitu, arus yang berlebihan bisa mengalir melalui solenoids sehingga bisa merusak coil atau mengurangi ketahanannya. Karena itulah dipasang external resistance secara bersamaan untuk menghidari kerusakan tersebut. High resistance injektors mempunyai tahanan sekitar 12 ~ 17• untuk menambah tahanan solenoid coil agar arus yang lewat bisa dibatasi. Tipe penggerak tegangan ini mempunyai konfigurasi yang sederhana, namun mempunyai daya hambat yang tinggi, sehingga arus pada injektor bisa diturunkan untuk gaya hisap injektor, sehingga batasan kedinamisannya relatif sedikit. Gambar 2-5 adalah contoh konfigurasi sirkuit voltage drive type injektor.

Gambar 7 Peak and Hold Type Injektor Circuit Peak and hold injektors mempunyai sirkuit peak and hold (ambil dan tahan) oleh ECM, dan ketika sinyal injeksi dalam keadaan ON, maka arus yang dihantarkan ke injektor akan barubah. Pada saat stadium inisilisasi injektor bekerja, maka arus akan mengalir untuk menaikkan gaya megnetik dan menurunkan inertia pada solenoid agar proses inisialisai bisa dilakukan, dan menggunakan arus rendah setelah needle valve terbuka. Tipe Peak and hold ini mempunyai konfigursi sirkuit yang rumit, namun daya hantar sirkuitnya rendah agar karakteristik ke dinamisan injektor-nya lebih unggul. Gambar 7 adalah salah satu contoh sickuit penggerak injektor tipe peak and hold. Sebagai tambahan Soho circuit pada injektor drive circuit dapat melindungai power transistor dari gaya balik electromotive yang dihasilkan dari solenoid coil pada saat sinyal injeksi mati (OFF), dan menghilangkan arc (loncatan api) untuk mengurangi waktu penutupan katup injektor. 2. Mengukur grafik injeksi bahan bakar Gunakan oscilloscope yang ada pada Hi-scan pro untuk mengamati grafik, sehingga anda dapat mengecek secara visual status sinyal penggerak injektor yang keluar dari engine ECM.

Gambar 8 Pengukuran grafik injeksi bahan bakar dengan menggunakan Oscilloscope

Gambar 9 Karakteristik keluaran gelombang pada terminal Injektor(+) Gambar 8 adalah contoh pengukuran injeksi bahan bakar menggunalan grafik untuk tipe injeksi penggerak tegangan rendah. Gambar 2-8 adalah ukuran normal glombang injektor ketika dalam keadaan idling. Pada gambar 2-8 terlihat sinyal tegangan battery ketika ECM transistor dalam keadaan OFF, namun bentuk gelombang yang terlihat pada gambar tersebut akan berbeda apabila transistor dalam keadaan ON karena pengaruh tahanan external. Ketika transistor dihidupkan 'ON', maka tegangan injektor akan turun jika injektor dipengaruhi hanya oleh tahanan. Namun demikian gaya balik elekromagnet dari injektor coil bisa membuat tegangan turun sepanjang kurva B. sebaga tambahan ketika transistor dipindahkan ke status 'OFF ' injektor akan kembali ke tegangan battery dan voltage dimatikan. Kemudian arus tersebut di coil akan terputur, akibatnya tegangan sementara akan naik diatas tegangan battery dan kembali stabil. Naiknya bagian titik A adalah

merupakan perubahan tegangan yang disebabkan oleh berubahnya pergerakan plunger, melalui magnetic field yang dibangkitkan oleh solenoid coil. Artinya, plunger bersinggungan pada stopper atau dihentikan. Jika tidak ada kenaikan, berarti plunger tersebut tidak bergerak atau macet diposisi terbuka atau tertutup.

Gambar 10 Grafik output terminal tegangan (-) Drive Type Injector Gambar 10, B adalah gelombang output dari grounding injector terminal (-). Gelombang injeksi bahan bakar oleh Injector umumnya diukur dari terminal (-). Kemudian hasil gelombannya akan berbeda oleh injector drive circuit. Gambar 10 adalah gelombang output pada terminal drive type injector (-). Pada gambar 10, titik A merupakan suplai tegangan ke injector. Titik B merupakan injector drive transistor ECM yand dihidupkan 'ON', kemudian injector plunger akan ditarik ke stopper sehingga proses injeksi akan dimulai. Titik C adalah periode waktu injeksi bahan bakar dari injector. Titik D adalah arus dari injector yang secara tiba-tiba diinterupsi sehingga terjadi gaya balik electromotive. Titik E adalah injector drive transistor ECM dimatikan 'OFF ' sehingga injeksi bahan bakar dihentikan.

Gambar 11 Gelombang Output PWM Drive Type Injector Pada gambar 11 terlihat gelombang output injector PWM (Pulse Width Modulated). PWM injector arusnya akan tinggi pada saat injector mulai membuka, dan selama periode injeksi setelah waktu pembukaan, arus yang diberikan ke injector akan di on/off-pulse-

controlled dengan cara di-grounding. Pada gambar 11titik A adalah suplai tegangan dari injector, Titik B adalah injector drive transistor ECM yang dihidupkan 'ON', kemudian menarik injector plunger ke arah stopper, selanjutnya injector mulai menginjeksikan bahan bakar. Titik C adalah periode waktu penginjeksian bahan bakar oleh injector. Titik D artinya adalah periode dimana arus yang mengalir melalui injector solenoid coil dibatasi. Kesimpulannya adalah pada saat mulai pembukaan, arus tinggi akan mengalir untuk mejalankan injector dengan karakteristik lebih baik, dan setelah terbuka arus akan dibatasi ke level minimal untuk menjaga status 'open/buka' . Titik E adalah pembesaran gaya balik electromotive yang dihasilkan pada solenoid coil ketika arus injector secara tiba-tiba diinterupsi. Titik F adalah bersar tegangan kembali seperti semula.

Gambar 12 Pola output gelombang Peak and Hold Injektor. a. Salah satu injektors yang dipakai pada tipe ini adalah sistem injeksi bahan bakar TBI (Throttle Body Injection). Pada gambar 12, Titik A adalah suplai tegangan yang berikan ke injektor, Titik B adalah injektor drive transistor ECM yang dihidupkan ‘ON’ sehingga proses injeksi bahan bakar dimulai. Titik C adalah tegangan tinggi yang mengalir pada saat awal injektor membuka, kemudian arus akan turun kemudian injektor solenoid coil menghasilkan gaya balik electromotive. Titik D artinya adalah setelah katup injektor terbuka, maka arus yang mengalir adalah minimum dengan tujuan menjaga status bukaan. Titik E adalah periode waktu injeksi. Titik F adalah injektor drive transistor ECM dimatikan kemudian injeksi bahan bakar akan berhenti, dan tegangan kembali ke supply voltage.

b. Analisa grafik injeksi bahan bakar

Gambar 13 Analisa grafik injeksi bahan bakar Pemeriksaan grafik penginjeksian dilakukan apabila ada kelainan pada mesin, tenaga mesin kurang, mesin susah dihidupkan, geterannya terlalu tinggi, dsb. Grafik penginjeksian bahan bakar umumnya menggambarkan suplai arus seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun begitu injektor drive transistor ECM dihidupkan dan mengirimkan sinyal injeksi, maka grafiknya akan 'ON' (grounded) dan akan terus tetap 'ON'. Sebagai tambahan ketika ECM mematikan transistor, maka solenoid coil akan menghasilkan gaya balik electromotive akibat tegangan puncak yang kembali ke suplai tegangan. Karena itulah pemeriksaan gelombang injeksi bahan bakar oleh injektor harus difokuskan seperti tampak pada gambar 13, titik A & B. Dimana titik A adalah pembesaran gaya balik electromotive. Anda harus memeriksa apakah nilai maksimal yang diperoleh dari injektor pada seluruh cylinder semuanya konstan. Umumnyal nilai maksimal gaya electromotive ini sekitar 80 Volt. Jika selisihnya lebih dari 5 Volt, maka pastikan apakah injektors terpasamg dengan benar, kemudian periksa power suplai injektor dan grounding . Titik B adalah pembesaran tegangan pada wiring antara terminal injektor(-) dan ECM grounding selama periode waktu penginjeksian bahan bakar. Nilai tegangan dV adalah sekitar 1 Volt atau kurang. Jika angkanya lebih tinggi, maka kemungkinan ada elemen penahan dalam proses pembentukan voltage drop (penurunan tegangan) yaitu antara terminal injektor(-) dan ECM grounding. Anda harus memeriksanya apakah bagian bawah yang mirin tersebut sudah kasar atau tergores juga grounding injektor harus turut pula diperiksa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Actuators And Troubleshooting Training Support & Development. Zainal Arifin dan Sukoco. Pengendalian Polusi Kendaraan. Yogyakarta : Alfabeta, 2009.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->